Page 1


daftar isi

Bubarkan BRG Pak Jokowi!

Hal. 05

Revitalisasi BUMDES Demi Peningkatan PADES Hal. 18

Pengambilan Sumpah Anggota DPRD Riau Periode 2019-2024 Hal. 20

Apkasindo dan Gapki Jalin Kemitraan Yang Berkelanjutan Hal. 23

67 Persen Anggota Gapki Riau Sudah ISPO Hal. 30

Wawancara Khusus

Drs. H. Syarifuddin AR, M.Si.

Kemakmuran Desa, Kesejahteraan Akar Rumput Hal. 10

GAPKI Riau dan Bupati Apel Siaga Perbarui Spirit Tangani Karhutla

Hal. 32

PT KTU Turunkan Tim Bantu Atasi Karhutla

Hal. 34

PT SLS Bantu Padamkan Karhutla Desa Pangkalan Tampoi

Hal. 35

Yaos Budiman, Sarjana Hukum Nekat Jadi Petani

Hal. 36

Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab: Djoko Suud Sukahar Pimpinan Perusahaan: Herlina, S.Sos Dewan Redaksi: Djoko Suud Sukahar, Herlina, S.Sos, S.Kom.I, Eli Suwanti, Hamdan Tambunan, Cover/Desain: Makmur HM Sirkulasi/Distribusi: Hendra Gunawan IT Support: Afandi Kantor Perwakilan Jambi: Saman. 08117454949. Jl Sersan Anwar Bay No 1. Kenali Besar. Jambi Alamat Kantor: Jl. Bakti Perum. Bakti Indah No 3 Pekanbaru, Riau | Info Iklan: 0812 7698 0551 / WA: 0811 754 1174 E-mail: redaksi@sawitplus.co | Website: www.sawitplus.co | No. Rek. Mandiri: 108-00-2018999-0 a/n PT. Media Sawit Indonesia

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

03


editorial apapun yang ada, dan terjadi dramatisasi habis-habisan. Soal kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) itu sudah lama disoal. Dari seabreg perbincangan arahnya hanya mono-interpretable, dimaknai satu, bagaimana menyalahkan pekebun dan perkebunan sawit.

Foto: Internet

Kabut Asap Lagi Pulau Sumatera dikepung kabut asap. Lahan dan hutan yang terbakar menimbulkan asap. Di dalam asap itu kini segala kegiatan dilakukan. Dalam keremangan kehidupan berlangsung. Warga tak bertegur sapa sebelum dekat. Itu karena semua menderita rabun jauh. ‘Panen asap’ ini bukan setahun dua tahun. Ini musiman. Saban kemarau tiba kebakaran terjadi, dan asap pekat membungkus Pulau Sumatera dalam bingkai gelap gulita.

Dari berbagai diskusi kritis dengan menghadirkan para pakar tidak bisa mengubah mainstream para penggiat lingkungan disponsori asing. Mereka tetap kukuh pekebun dan perkebunan sawit yang harus disalahkan, tidak perduli fakta membuktikan lain. Tahun-tahun ketika ‘panen asap’, banyak aturan dilahirkan. Aturan itu mengikat, bahkan terkesan diskriminatif dalam sisi hukum. Jika ada lahan terbakar, tak perduli karyawan atau tetangga kebun yang membuatnya terbakar, sanksi berat dikenakan pada perusahaan yang lahannya terbakar. Dari denda hingga pencabutan hak guna usaha. Perusahaan ditutup. Memang, pengusaha itu profit oriented, orientasinya keuntungan. Namun adakah mereka kemudian ngawur demi keuntugan itu? Hanya demi keuntungan melakukan spekulasi yang membuatnya buntung? Pasti tidak !

Yang terparah terjadi tahun 2015. Selain negara tetangga Malaysia dan Singapura kita ajak dalam ‘pesta asap’, warga Palembang, Jambi, dan Provinsi Riau berselimut asap tebal.

Dan di tengah asap yang kembali menebal itu tudingan para penggiat lingkungan yang rata-rata disponsori asing tertohok. Penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan aparat gabungan, Polri, TNI dan Kementerian LHK membuktikan, hanya dua perusahaan yang terindikasi bakar lahan, selain puluhan pekebun.

Saking tebalnya asap, jalur udara tertutup rapat. Jarak pandang tidak memungkinkan dari dan ke Pekanbaru dibuka. Semua terkungkung dalam kabut asap tebal, dan kalaulah ingin menghindar, maka hanya satu cara, lewat jalan darat.

Hampir pasti perusahaan yang melakukan itu adalah perusahaan yang tidak profesional. Bondo cupet sehingga berani menabrak aturan.

Memang setiap musibah ada hikmah. Dan itu dirasakan Sumatera Barat (Padang). Daerah ini masih aman dari asap, yang menjadi alternatif bagi warga di provinsi sekitarnya. Jika ingin melancong jauh, mereka harus menyusuri jalan darat delapan jam sebelum terbang ke daerah yang disuka.

Kasim II Riau masih lancar-lancar saja.

Sedang rakyat yang membuka lahan dengan cara bakar, mereka adalah warga yang belum tahu, belum tersentuh sosialisai dengan aturan baru. Buka lahan dua hektar yang dulu boleh, kini tidak diperbolehkan lagi.

Untuk kabut asap yang terjadi di tahun 2019 ini memang tidak terlalu parah. Indikatornya Malaysia dan Singapura belum berteriak-teriak karena asap, dan penerbangan dari Bandara Sultan Syarif

Namun karena baru saja digelar Pemilu, dan makin berkuasanya media sosial, maka asap yang terjadi mendapat porsi pemberitaan yang berlebih. Kabar yang tersebar itu mengalahkan fakta sekecil

Terus bagaimana cara menyudahi kabut asap yang berlaku tahunan ini? Adakah kita mampu mengatasinya? Mampu! Coba simak laporan utama Majalah Sawit edisi ini.***

04

Djoko Suud Sukahar Kolumnis dan Pemerhati Sosial Budaya. Penulis Tinggal di Jakarta.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


laporan utama

Bubarkan BRG Pak Jokowi! Kebakaran yang rutin terjadi dan menimbulkan asap tebal dituding karena lahan gambut. Lahan ini biang keladinya, yang membuat warga sesak nafas, mencemari udara, dan membuat Malaysia protes karena asap sudah menyebar sampai ke negeri jiran itu.

Foto: Internet

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

05


Laporan utama

Foto: Internet

Apa betul negeri ini disiksa gambut? Kalau ya, betapa piciknya negeri ini, sampaisampai menjinakkan gambut saja tidak mampu. Padahal di berbagai negara lahan gambut sebagai kekayaan, dan diolah, salahsatunya, sebagai bahan bakar. Ini pengulangan sejarah kebodohan saat kita ekspor biji coklat dan impor bubuk coklat di sepuluh tahun lalu. Kita sebagai bangsa, ternyata menghancurkan biji coklat saja tidak mampu. Kita harus impor untuk itu. Begitu juga dengan kebakaran karhutla dan kabut asap ini. Di tengah kita saban hari panik dengan kebakaran lahan yang menimbulkan asap tebal, di Serawak

tetangga kita, mereka tenang-tenang saja. Mereka menikmati hidup tanpa direcoki kebakaran. Mereka tak ribut dengan hotspot dan firespot yang di Indonesia menjadi monster. Mereka justru asyik panen buah sawit yang jumlahnya kian berlimpah akibat perluasan lahan di kawasan itu. Kalaulah Serawak harus prihatin, itu karena kebetulan harga buah ini lagi jatuh, dan masa depannya direcoki Uni Eropa. Kenapa kita mencontohkan kebakaran lahan dan hutan di Indonesia dengan Serawak, karena wilayah Malaysia itu hampir seluruh lahan yang ada merupa-

kan tanah gambut. Bentuk tanah yang di Indonesia dituding sebagai biang musibah. Di belakang pengelolaan gambut di Serawak yang tidak menimbulkan kebakaran itu ada sebuah lembaga yang bernama Sarawak Tropical Peat Research Institute, Sarawak, Malaysia. DR Lulie Melling yang bertanggungjawab teradap lembaga yang berperanan ‘mengakrabi’ lahan gambut menjadi produktif. Menurut Lulie Melling yang acap diundang ke Indonesi itu, tanah gambut yang dibiarkan memang membuat gampang terbakar. Tapi kalau dikelola dengan baik, maka akan produktif. Tanah Sarawak, kata Lulie, hampir semuanya adalah tanah gambut. Dulu sebelum dikelola, nasibnya sama dengan Indonesia. Setiap musim kemarau tiba, tanah itu menjadi masalah. Hotspot bermunculan yang kemudian berubah firespot, dan terjadilah kebakaran.

Foto: Internet

06

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

“Ini , semua tanaman sawit ini, semuanya tumbuh di atas tanah gambut. Tanah gambut mensejahterakan rakyat Sarawak. Kita tidak pernah ribut setiap tahun dengan kebakaran. Berkat tanah gambut pendapatan


laporan utama negara dan rakyat Sarawak meningkat,” katanya. Tatkala di Indonesia tanah gambut tidak boleh ditanami dan pemerintah membentuk badan yang dinamai Badan Restorasi Gambut (BRG), maka komentar Lulie adalah : “Ini aneh, tanah yang di Sarawak membuat rakyat sejahtera, justru di Indonesia dilarang”. Soal BRG ini, sejak kelahirannya di tahun 2015 sudah punya masalah. Badan ini tujuannya merestorasi tanah gambut. Mengembalikan lahan yang ada untuk kembali ‘alami’. Di tengah kian maraknya isu lingkungan dan asing dipersilakan masuk, - bantuan Norwegia diterima dengan realisasi pencairan dananya kemudian tidak jelas, serta SBY yang masuk kapal Greenpace, maka BRG diasumsikan sebagai ‘program tinggalan’. Dengan latar belakang seperti itu, maka banyak yang menuding, BRG adalah pesanan asing. Intervensi asing yang menyusup ke dalam jantung negeri ini, untuk menjaga kepentingannya, berkedok isu menjaga lingkungan. Tudingan itu masuk akal. Sebab dengan mensterilkan lahan gambut, sekali dayung dua pulau terlampaui. Pertama, gambut itu memberi perimbangan Eropa membangun pabriknya. Dan kedua, sawit yang menjadi pesaing berat terhadap rapseed, bunga matahari dan minyak kacang bisa sekaligus disudahi. Tatkala badan ini disahkan, masalah maki meruncing. Penolakan terhadap programprogram badan ini mengalir. Pemerintah daerah banyak yang menolak. Yang mencuat ke permukaan adalah penolakan dari Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Riau. Sebagai sentra sawit, dua daerah itu telah menghitung, bagaimana kepanika rakyatnya kelak, yang kebun sawitnya harus ditumbangkan. Mereka juga menghitung, seberapa besar menyusutnya pendapatan daerah atas program yang tidak ‘berpijak di tanah’ itu. Sebab jika ini berjalan, di Provinsi Riau saja, hamparan gambut di Meranti yang sudah ditanami itu harus hengkang.

Foto: Internet

Rakyat akan terusir dari tanahnya. Kalau diganti di tanah yang lain? Rakyat belum percaya itu akan terjadi. Dan kalaulah pemerintah anggap saja mampu melakukan itu, terus tanah pengganti itu berada di mana?

produkrif, mensejahterakan rakyat Indonesia, atau minimal mensterilkan lahan gambut yang dituding pesanan asing. Bubarkan saja badan ini Pak Jokowi! (Djoko Su’ud Sukahar)

Di tengah penolakan itu BRG berjalan. Dalam perjalanan itu rakyat mulai gamang terhadap penolakannya. Mereka berharap, siapa tahu BRG benar. ‘Penyakit’ yang bertahun-tahun diidap negeri ini, terutama untuk wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi sembuh. Apa itu? Kebakaran hutan dan asap tebal! Ternyata, di tahun 2019 ini kebakaran kembali menjadi-jadi. Pulau Sumatera dan kalimantan dikepung kabut asap. Lahan dan hutan terbakar menimbulkan asap. Dan di dalam asap itu segala kegiatan dilakukan. Asap telah menyebabkan hidup kita remang-remang. Semua warga menderita rabun jauh massal. Sampaisampai mereka tidak bertegur sapa sebelum saling derdekat-dekat. Terus di mana BRG? ‘Penguasa’ gambut yang sudah bekerja bertahun-tahunn itu? Rasanya badan ini harus dibubarkan jika tidak mampu menaklukkan gambut. Caranya dengan meniru Sarawak yang mampu mencegah kebakaran dengan cara

Foto: Internet

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

07


Laporan utama

Bakar,

Bakar! Kebakaran terjadi dimana-mana. Tidak hanya di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, tetapi juga di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

08

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

Foto: Internet


laporan utama Kebakaran itu menyebabkan lahan dan hutan yang ada hangus, dan kehidupan terganggu. Ini makin parah, karena terjadi di musim kemarau kering yang sulit untuk didapatkan sumber air. Di Pulau Jawa dan Bali, yang terbakar adalah hutan-hutan yang ada di pegunungan. Hutan itu mengering, tergesek angin menimbulkan panas, dan panas itulah yang meluluh-lantakkan area sekitarnya. Kebakaran terjadi hampir di seluruh gunung yang ada. Api tak bisa dikendalikan, dan berpekan-pekan api itu melahap semua tanaman yang ada di hutan-hutan itu. Dari Gunung Ciremai, Gunung Lawu, Slamet, di Jawa Barat dan Jawa Tengah, disusul kebakaran hebat Gunung Arjuno, Semeru, Ijen, Panderman di Jawa Timur, sampai Batukaru dan Gunung Agung yang ada di Pulau Bali semuanya membara. Terbakar dan tidak bisa secara cepat dipadamkan. Sedang di wilayah NTT, sabana dan semak terbakar. Api merambat dari satu daerah ke daerah yang lain dan susah untuk dipadamkan. Sebab ketika padam, saat angin panas bertiup lagi, maka semak dan sabana itu kembali menjadi bara. Namun kebakaran yang terjadi di Pulau Jawa, Pulau Bali serta NTT tidak menimbulkan kegemparan. Sebab api itu tidak menyebabkan asap tebal. Itu karena selain lokasinya yang berpencar-pencar, juga ketebalan semak serta sabana tidak sedalam hutan gambut yang ada di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Foto: Internet

institusi pencatat iklim dunia memaparkan, bahwa terdapat kenaikan suhu panas yang mengkhawatirkan. Selain kawasan yang dilewati garis katulistiwa, cuaca panas itu juga merata terjadi di berbagaai negara di dunia. Benua Eropa yang dingin dan sejuk, di tahun 2019 ini panasnya mencapai 40 derajat Celsius. Akibat itu tidak hanya kegerahan yang

dirasakan, tetapi korban jiwa juga tidak terelakkan. Di Belanda, selain sekolahsekolah diliburkan, juga tercatat ada seratus penduduknya meninggal dunia. Juga di Prancis, Spanyol dan Swiss. Dan yang paling banyak disoal hingga hari-hari ini adalah Brasil. Hutan Amazon yang 60% wilayahny masuk Negeri Samba itu terbakar hebat. Disebut, hampir setiap menit hutan yang ada di negara ini hilang.

Maka berdasar data BMKG, kendati lahan yang terbakar lebih besar di NTT ketimbang kebakaran yang ada di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, namun kebakaran itu tidak banyak disoal. Begitu juga dengan kebakaran hutan di gunung-gunung Pulau Jawa. Kebakaran itu terlokalisasi, dan langsung selesai tatkala sudah bisa dipadamkan. Selain, tentu, lokasi-lokasi itu ada yang menjaga, mengawasi, dan dikitari pemukiman. Terpanas Sepanjang Sejarah Panas tahun ini mencatat rekor terpanas sepanjang sejarah. Data dari berbagai

Foto: Internet

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

09


Laporan utama terletak di wilayah Brasil. Dari data Penelitian Antariksa Nasional (Inpe), jumlah kebakaran pada periode Januari hingga Agustus 2019, kenaikan kebakaran itu terjadi dua kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Akibat kebakaran itu, maka Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menerima kecaman dari dalam negeri dan dunia internasional. Dia dianggap gagal melindungi kawasan Amazon di negaranya.

Foto: Internet

Padahal, hutan itu selain ruang konservasi dunia, juga menjadi paru-paru untuk meredam percepatan panas global.

untuk bahu-membahu mengumpulkan dana untuk menyelamatkan Hutan Amazon.

Hingga hari ini, tercatat ada 80 ribu titik api. Kebakaran itu merata di hutan ini, tidak ada yang mampu memadamkan, dan berbagai negara mulai gotong royong

Itu karena hutan ini merupakan penyimpan karbon yang vital, yang fungsinya adalah untuk memperlambat proses pemanasan global, di mana 60% areanya

Foto: Internet

10

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

Menerima cercaan itu, Presiden Brasil itu marah. Dia bahkan menolak bantuan Prancis, sebelum presiden negara mode itu meminta maaf. Alasannya, seluruh dunia berkepentingan terhadap hutan Amazon, tetapi rakyat Brasil masih dicengkeram kemiskinan. Dia membolehkan hutan itu dibudidayakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Dan pernyataan ini yang makin memperuncing situasi di balik kebakaraan hutan Amazon. Bagaimana dengan kebakaran hutan dan lahan yang ada di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera? (*)


Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

11


wawancara khusus

Jika hari-hari ini bertandang ke desa-desa di Provinsi Riau, maka ada pemandangan yang menyejukkan hati. Warga punya kesibukan yang menghasilkan, dan itu yang mengangkat ekonomi mereka, taraf hidup warga desa.

Drs. H. Syarifuddin AR, M.Si. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Riau

Kemakmuran Desa,

Kesejahteraan Akar Rumput

12

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


wawancara khusus

Hampir tiap desa terjadi pertumbuhan di sektor ini. Karena desa-desa itu punya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang dikelola masyarakat desa, memberi pendanaan, serta memberi arahan untuk mengangkat potensi yang ada.

Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Apalagi Pemprov Riau terus menggesa pertumbuhan desa agar bisa berkembang cepat, baik SDM hingga potensi desa setempat.

Kejayaan yang bakal datang itu bukan berjalan natural. Ada penggerak yang sekarang tinggal menunggu hasil dari olah kreasinya. Itu adalah badan yang disebut Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Riau.

Pertumbuhan itu tidak hanya terjadi di beberapa desa, tetapi sudah meluas hampir se Provinsi Riau. Di provinsi ini tercatat, sebanyak 1.859 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri atas 1.591 desa. Selain itu juga ada 268 kelurahan yang tersebar di 12 kabupaten/kota.

Jika ini berhasil tergarap secara cepat, maka desa berdikari dan mandiri tak lama lagi akan menjadi lokomotif kemajuan di Provinsi Riau. Desa menjadi makmur dan sejahtera, mengangkat struktur di atasnya. Dari kecamatan, kabupaten, dan tentu, Provinsi Riau.

Nah untuk melihat bagaimana kiprah dinas ini hingga mampu menyulap desadesa yang dulu terbelakang menjadi pioner-pioner kemajuan, MAJALAH SAWIT mengajak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Riau (DPMD), Drs. H. Syarifuddin AR, M.Si.

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

13


wawancara khusus

MAJALAH SAWIT : Ini sebuah program yang tak hanya luar biasa, tetapi juga mulia. Mengangkat derajat desa yang implisit (secara tidak langsung) menaikkan derajat di atasnya, yaitu kecamatan, kabupaten, dan provinsi.

Saya yakin dan optimis, bila suatu desa mampu berkembang, maka dengan sendirinya akan berdampak pada pertumbuhan pemerintahan di atasnya, Kecamatan maupun Kabupaten.

Biasanya, program dulu-dulu, pembangunan dilakukan dari atas kemudian ke bawah. Kali ini dari bawah ke atas (bottom up). Program ini dilandasi apa ya? SYARIFUDDIN : Memang ada program dari pusat. Yang intinya, dalam program itu bagaimana menjadikan desa mandiri, yang filosofinya, jika desa sejahtera dan makmur, maka yang ada di atasnya, kecamatan, kabupaten, dan kemudian provinsi, juga akan ikut sejahtera dan makmur.

didorong potensi desa maupun anggaran yang dialokasikan pemerintah pusat maupun provinsi, diyakini akan membangkitkan pertumbuhan. MAJALAH SAWIT : Setiap desa memang punya potensi. Adakah potensi desa itu sudah diinventarisasir? Sebab jika tidak,

DPMD Riau menilai, bahwa untuk memajukan suatu wilayah, khususnya di kabupaten, harus dimulai dari desa. Ini artinya kemajuan itu harus dimulai dari bawah (desa), bukan sebaliknya. Dan saya yakin, saya optimis, bila suatu desa mampu berkembang, maka dengan sendirinya akan berdampak pada pertumbuhan pemerintahan di atasnya, Kecamatan maupun Kabupaten. Dengan konsep merangkai desa dengan

14

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

potensi itu dikhawatikan ke depan justru menjadi kelemahan. Misal seluruh desa punya potensi untuk menanam cabai (lombok). Jika semua desa menanam cabai, maka harga cabai di pasaran akan murah, yang merugikan petaninya karena stok cabai melimpah.


wawancara khusus

Apakah itu sudah dipikirkan pak? Dan kalau boleh tahu, kami minta daftar potensi desa dengan program pengembangannya. SYARIFUDDIN : Pemetaan potensi sudah kita lakukan sejak dini. Namun jujur, belum sampai sedetail itu. Sebab potensi itu harus diikuti dengan ketersediaan SDM desa setempat, serta minat. Itu membutuhkan proses panjang. Padahal kita harus langsung jalan. Namun kita sudah mendapat modal regulasi. Sejak tahun 2014, pemerintah pusat telah menerbitkan UU Desa yang merupakan komitmen besar untuk mendorong perluasan kesejahteraan di seluruh lapisan masyarakat. Untuk mensejahterakan masyarakat itu diperlukan pembangunan sampai ke desadesa. Jadi memang diharapkan tidak ada lagi desa yang akan tertinggal. Semua desa harus maju, sejahtera, dan makmur. MAJALAH SAWIT : Potensi dan hasil produksi sebuah desa biasanya besar tetapi tidak menguntungkan karena pasar yang belum disiapkan. Adakah dalam program ini DPMD sudah menyiapkan itu? Dan seperti apa gambarannya? SYARIFUDDIN : Dalam merealisasi Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

15


wawancara khusus program ini, DPMD sudah menyiapkan perangkat dan sistem. Ada pendampingan untuk menjalankan program itu. Pendamping itu yang memberi arahan di lapangan, juga menyiapkan kader-kader di desa bersangkutan. Selain itu, ada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang menjadi sentra dari hampir seluruh kegiatan ini.

Di BUMDes tidak hanya menyalurkan modal bagi warga desa, tetapi juga sebagai sentra market sekaligus agen perubahan. Di sinilah yang terus kita monitor dan kita pandu agar mekanisme lembaga ini sesuai dengan target ke depan. MAJALAH SAWIT : Variasi program memang amat penting untuk mempercepat kemakmuran desa. Apa bisa disebutkan bagaimana variasi yang akan dilakukan DPMD nanti? SYARIFUDDIN : Kita sudah lakukan itu, kendati belum terintegrasi. Namun sejauh ini, variasi itu sudah berjalan, mekanis, dengan asas ekonomi yang umum berlaku, supply and demand. Ada permintaan, ada pasokan. Ini harus berimbang agar harmonis. Harga produk tidak mahal dan tidak juga terlalu murah. MAJALAH SAWIT : Dalam manajemen disebut, bahwa sebuah usaha (program) akan sukses jika ada tiga unsur, man, money, dan methode. SDM yang bagus, modal yang cukup, dan sistem.

16

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


wawancara khusus

Barangkali bisa diterangkan tentang itu? Bagaimana pula menyiapkan SDM, menyiapkan modalnya (uang), dan bagaimana menyiapkan sistemnya (metodenya) agar program itu berjalan konsisten dan punya prospek ke depan (prospektif). SYARIFUDDIN : Dalam sebuah program, pola seperti itu sudah menjadi pegangan. Ini sudah berjalan. Itu terlihat jelas dari kemajuan dan pertumbuhan masyarakat desa binaan, juga BUMDes. Kalau kita lihat data aset dari masingmasing pihak, kenaikannya sangat drastis. Mencengangkan. Kadang kita malah kaget, betapa perkembangan usaha yang dijalankan melejit dengan cepat. Dengan kenyataan itu, maka harapan lain adalah, bahwa program ini dapat menjadi salah satu lompatan sejarah sebagai proses pembangunan yang sedang berlangsung.

Apalagi Undang-Undang desa dapat menjadi salah satu komitmen program yang berpihak pada rakyat sebagai dasar pembangunan 10 tahun terakhir. Ini

wujud keberpihakan kepada kelompok masyarakat akar rumput yang dalam piramida kependudukan berada paling bawah. (jss)

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

17


Tim Pengabdian Universitas Riau foto bersama dengan Aparatur Desa Tanjung Alai dalam kegiatan Penguatan dan Pendampingan Tata Kelola Dana Desa dan Revitalisasi Bumdes untuk peningkatan Pendapatan Asli Desa.

Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Revitalisasi BUMDES Demi Peningkatan PADES Kehadiran Dana Desa menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan empat tahun terakhir pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Mulai dari forum diskusi kedai kopi diberbagai pelosok negeri sampai ke forum bergensi yang biasanya dikuti oleh para akademisi, politisi dan professional yang memiliki atensi terhadap fenomena dana Desa. Salah satunya Dr. Enni Savitri SE MM AK CA akademisi dan peneliti Universitas Riau ini juga tunak dan focus mengkaji dana desa dalam berbagai penelitiannya. Ibu dari dua orang anak tersebut memang menghibahkan dirinya utuk mentelaah secara terperinci hal-hal yang berhubungan dengan dana desa, mulai dari sisi regulasi, implementasi, akuntabilitas pengelolaan Dana Desa sampai ke dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat desa berkat kehadiran kucuran dana segar tersebut yang

18

memang sudah menjadi amanah dari Undang-Undang Desa. Selain meneliti tentang seluk beluk Dana Desa, Doktor dari Universitas Brawijaya tersebut juga memfokuskan kegiatan pengabdiannya di bidang tatakelola Dana Desa sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pengajaran, Peneltian dan Pengabdian Kepada Masyarakat yang sudah menjadi tugas mulia dan rutinitas para pengajar di Univeristas. Tahun ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Riau (UR) ini menyelanggarakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Tanjung Alai Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau. Berbekal Tim Pengabdian yang terdiri dari Dr Enni Savitri, SE MM AK.CA selaku Ketua, Dr Andreas, MM AK CPA

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

CA dan Volta Diyanto, SE M.Si CA selaku anggota yang ketiga-tiganya merupakan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Riau. Dalam sambutannya, Bu Enni, begitu mahasiswa memanggilnya menuturkan kegelisahannya sebagai akdemisi terhadap sebuah potensi besar berupa dana segar yang diberikan oleh Negara kepada desa, namun dalam banyak kasus, Dana yang bersumber dari APBN itu masih kurang dalam hal tatakelola dan penggalian potensi. Bahkan, Sejauh ini Pemerintah Pusat telah mengalokasikan anggaran dana desa mencapai Rp 257 triliun sejak 2015 hingga 2019. Kalaulah dana ini dikelola dengan baik, tambah Enni dan menggali potensi yang


ada di desa secara cermat, kami yakin dan percaya Dana Desa ini akan memberikan dampak yang lebih besar lagi kepada masyarakat.”Maka, atas dasar inilah, Alhamdulillah kami sampai ke kampung kita ini dalam rangka Pengabdian dengan mengangkat tema “Peningkatan Pendapatan Asli Desa Melalui Pembinaan dan Revitalisasi dan Tata Kelola Dana Desa pada Desa Tanjung Alai Kec. XIII Koto Kampar Kab. Kampar Riau” yang pada akhirnya akan melahirkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang professional, sehat serta memiliki unit bisnis yang berkembang sehingga bermuara kepada peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADES) dari pembagian keuntungan Bumdes setiap tahunnya,”tambah Enni. Zulfan Alwi selaku Kepala Desa sangat berterimakasih dan bangga dengan kedatangan akademisi dari Universitas Riau. Dalam Sambutannya, Zulfan menuturkan bahwa desa ini sangat mengharapkan sekali kehadiran Bapak-Ibu dari akademisi Perguruan Tinggi untuk memberikan penguatan, pembinaan dan asistensi kinerja kami dalam menjalankan roda pemerintahan di Desa sesuai dengan semangat dan filosofis dari UndangUndang Desa. “Kehadiran para peneliti ini dalam nuansa Pengabdian Kepada Masyarakat tentunya bagi kami sangat memberikan kontribusi yang sangat positif, sehingga ilmu yang Bapak Ibu berikan ini hendaknya semakin meningkatkan kinerja kami dalam mengelola dana Desa yang akan bermuara kepada kesejateraan masyarakat kampung kami ini,” kata Zulfan. Abdul Aziz selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kecamatan XIII Koto Kampar juga memberikan apresiasi tak terhingga atas kesediaan dari keluarga besar Universitas Riau untuk memberikan penguatan kepada Aparatur Desa. “Bimbinglah kami Bu, ajarkan kami bagaimana mengelola dana desa ini sesuai dengan ketentuan regulasi sehingga tidak bermasalah dibelakang hari nanti, serta masyarakat bisa merasakan efek nyata dari kehadiran dana desa ini,” tutup Aziz. Mengawali penampilan ketua pengabdian, Enni Savitri memberikan penguatan dan asistensi tentang revitalisasi dan tata kelola dana desa sesuai dengan regulasi yang ada, hal ini bertujuan: pertama, sebagai early worning system bagi kepala desa selaku Kuasa Pengguna Anggaran

(KPA) Dana Desa dari jeratan hukum dikemudian hari dengan cara mengelola Dana Desa dengan prinsip-prinsip pengelolaan dana desa yaitu transparan, akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Kedua, Dampak kehadiran dana desa itu memang dirasakan oleh seluruh masyarakat Tanjung Alai sehingga kesejahteraan masyarakat bertumbuh secara inklusif. Ketiga, mengingat desa merupakan organisasi pemerintahan berbasis masyarakat (self governing community dan local self government) yang keberadaannya berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, disinilah kehadiran Bumdes menjadi instrumen penguatan otonomi desa dan sebagai instrumen kesejahteraan masyarakat Desa Pemaparan kedua yaitu disampaikan oleh Volta Diyanto, SE M.Si CA yang memberikan pengetahun yang renyah dan bisa dicernah oleh jajaran direksi bumdes dengan bahasa sederhana. “Mengawali slidenya bahwa Badan Usahan Milik Desa yang dibawahnya aka nada unit-unit usaha, dalam tataran ideal harus ada dulu analisa kelayakan bisnis dan Business Plan, sehingga penyertaan Modal yang bersumber dari Dana Desa yang notabenenya adalah dana masyarakat ini terkelola secara professional dan mendatangkan keuntungan bagi bumdes,” tutur Volta. Selain dosen UR, Tim Pengabdian juga mengundang Assyari Abdullah, S.Sos MIKom. selaku akademisi muda

UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Mantan Information, Education and Communication Specialist Program Nasional Pemberdayan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Provinsi Kepualan Riau menyampaikan materinya tentang “Revitalisasi Bumdes Untuk Peningkatan Pendapatan Asli Desa”. Dalam pemaparannya, Tenaga Pengajar Komunikasi tersebut membeberkan ada sekitar 12.115 Bumdes yang ada di Indoensia, meskipun dia mengakui datanya ini perlu di-update lagi. Artinya, tambah Assyari, ada 12.115 Badan Usaha berskala desa yang akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan dan peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADES) tentunya ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Desa yaitu Desa Membangun Indonesia. Secara santai, Mantan Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3MD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kabupaten Rokan Hulu ini menjelaskan urgensi Bumdes ditengahtengah kehidupan masyarakat Desa yaitu Bumdes Sebagai penyediaan pelayanan publik, untuk Mendorong pembangunan ekonomi desa dan Peningkatan kapasitas pemerintah desa menuju kemandirian. Dalam pemaparannya, Mantan Kaprodi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau tersebut juga menarasikan potensipotensi yang bisa dikelola oleh Bumdes di Desa Tanjung Alai. Assyari mencontohkan, Masyarakat Tanjung Alai mayoritas adalah petani karet, dan dalam hitungan kasar ada sekitar 30 ton karet yang dihasilkan perminggu. (ist)

Enni Savitri (kanan), Assyari Abdullah dan Volta Diyanto memberikan materi dalam Pembinaan dan Revitalisasi dan Tata Kelola Dana Desa bagi Aparatur Desa Tanjung Alai untuk untuk menghasilkan Bumdes yang bisa memberikan kontribusi dalam peningkatan Pendapatan Asli Desa. Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

19


advertorial

28 Orang Wajah Lama

Pengambilan Sumpah Anggota DPRD Riau Periode 2019-2024 Sebanyak 65 Anggota DPRD Riau resmi diambil sumpah jabatan pada Jumat (6/9) di Gedung Paripurna DPRD Riau, Pekanbaru. Pengucapan sumpah jabatan dipandu Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Riau, DR Moh Eka Kartika, SH MH, atas nama Ketua Makamah Agung RI yang disaksikan lebih seribuan undangan yang hadir, Anggota Dewan terpilih mengucapkan sumpah dan janji jabatan dengan khidmat dan sakral. Usai pengambilan sumpah dilanjutkan penandatanganan yang diwakilkan Ketua DPRD Riau Sementara Sukarmis dari Partai Golkar. Kemudian diserahkan penyerahan palu kepada pimpinan Ketua DPRD Riau Sementara dari dua partai peraih suara terbanyak, yakni Sukarmis dari PG dan Zukri Miswan dari PDIP.

Penyerahan palu dan buku memori diserahkan oleh Ketua DPRD Riau Septina Primawati kepada Sukarmis, selanjutnya memimpin dan sambutan perdana rapat paripurna DPRD RIau. Sidang paripurna dipimpin Ketua DPRD Riau periode 2014-2019 Hj Septina Primawati didampingi tiga Wakil Ketua DPRD Riau. Hadir Gubernur Riau H Syamsuar beserta Wagub Riau Edy Natar Nasution.

Rapat Paripurna pengucapan sumpah/ janji anggota DPRD Riau 2019-2024 merupakan momen penting dan bersejarah bagi anggota DPRD Provinsi Riau. Dengan diambil sumpah maka secara resmi mulai bertugasnya Anggota DPRD Masa Jabatan 2019-2024.

Ketua DPRD RIau masa jabatan 20142019 Hj Septina Primawati, pada sambutannya mengaku bahwa paripurna yang dipimpinnya merupakan pertemuan terakhir anggota DPRD Riau 2014-2019.

Walau tugas kedewanan 5 tahun ke depan akan beralih tanggung jawabnya kepada Anggota DPRD Riau 2019-2024, yang mencakup tiga fungsi yang merupakan tugas pokok anggota dewan, yakni fungsi

SONIWATI, salah satu perwakilan anggota DPRD Riau menandatangani sumpah dan janji.

20

Dan merupakan momentum penting dalam perjalanan kehidupan politik pemerintahan di Riau.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2018

ANGGOTA DPRD Riau periode 2019-2024 foto bersama Gubri dan Pimpinan Forkopimda Riau.


advertorial Pembentukan Peraturan Daerah, fungsi penganggaran dan fungsi pengawasan. Tahapan kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman pimpinan DPRD Riau sementara yang disampaikan oleh Sekretaris Dewan Kaharuddin. Sementara, Gubernur Riau, H Syamsuar atas nama Menteri Dalam Negeri RI mengajak anggota DPRD Riau periode 2019-2024 bersinergi dengan Pemprov Riau dalam menyejahterakan masyarakat. “Kami atas nama Pemprov Riau beserta jajaran dan pribadi mengucapkan selamat kepada anggota DPRD Riau periode 2019-2024 yang telah resmi dilantik dan mengucapkan sumpah janji,” ungkapnya. Syamsuar berharap kepada anggota DPRD Riau yang baru, beserta pimpinan DPRD Riau sementara untuk dapat meneruskan kerjasama yang telah terjalin salama ini.

UNSUR pimpinan DPRD Riau periode 2014-2019 dan Gubernur Riau menyanyikan lagu Indonesia Raya pada pembukaan paripurna DPRD Riau. “Kami berharap kerjasama yang selama ini terjalin agar dapat diteruskan, dan ditingkatkan dengan lebih harmonis dalam upaya kita mensejahterakan masyarakat,” ajaknya.

hargaan kepada anggota DPRD Riau periode 2014-2019 yang telah mengakhiri masa jabatannya. “Terima kasih telah menjalankan tugas dengan baik selama pengabdiannya lima tahun, dan atas kerjasama yang terjalin dengan Pemprov Riau,” tukasnya. ***

Gubernur juga menyampaikan peng-

Dua Partai Besar Pimpinan Sementara DPRD Riau

S

etelah dilakukan penyerahan palu kepada pimpinan Ketua DPRD Riau Sementara dari dua partai peraih suara terbanyak, yakni Sukarmis dari PG dan Zukri Miswan dari PDIP, selanjutnya memimpin dan sambutan perdana rapat paripurna DPRD RIau. Sukarmis selaku ketua DPRD Riau Sementara melanjutkan paripurna pertama sebagai pimpinan sidang. Dalam sambutannya, Sukarmis mengatakan kedudukan pimpinan sementara sebagai wadah menfasilitasi tugas terbatas sesuai pedoman tata tertib DPRD Riau.

Pemprov Riau beserta instansi lainnya untuk menyatukan langkah kerja dalam mencapai visi dan misi Riau. Masa depan Provinsi Riau ada di tangan kita semua,” ucapnya. Oleh sebab itu, hanya kesamaan tekad dan langkah serta semangat bekerjasama dalam meraih cita-cita dan mimpi seluruh rakyat Riau sebagaimana dicantumkan dalam Visi Riau 2025 yaitu; “Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu Dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis sejahtera Lahir dan Bathin Di

Asia Tenggara Tahun 2025”.Kini, saatnya menyatukan langkah dan merapatkan barisan sesuai ungkapan tunjuk ajar Melayu. Suasana pelantikan dalam gedung DPRD penuh sesak. Selain dihadiri oleh 65 anggota DPRD Riau, tamu undangan juga terlihat memenuhi ruang pelantikan dan menyebabkan gedung penuh sesak. Mengantisipasi padatnya ruangan rapat paripurna, aparat keamanan membatasi keluarga dan masyarakat yang ingin masuk ke dalam ruang rapat paripurna.***

“Adapun tugas pimpinan sementara yakni sebagai pimpinan sidang paripurna, memfasilitasi terbentuknya fraksi dan alat kelengkapan dewan, memfasilitasi rancangan peraturan daerah tentang tatib dewan, kemudian memfasilitasi proses pimpinan DPRD Riau definitif,” ucap Mantan Bupati Kuantan Singingi dua periode tersebut. Sukarmis menekankan, pentingnya hubungan yang harmonis terjalin antara eksekutif dan legislatif setempat. “Dalam mengemban tugas yang baru ini, kami tidak mungkin bekerja sendiri. Kami mengharapkan dukungan semua pihak

PIMPINAN sementara DPRD Riau H Sukarmis dan H Zukri Misran saat memimpin rapat paripurna perdana. Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

21


22

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


apkasindo riau

A

sosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia ( GAPKI) sepakat membangun pola kemitraan yang lebih luas dalam rangka mendukung keberlanjutan dan kesejahteraan industri sawit di Indonesia. Hal ini dinyatakan dalam pertemuan antara kedua asosiasi sawit di Jakarta, Selasa (3 September 2019). Pertemuan ini dihadiri pengurus GAPKI antara lain Joko Supriyono (Ketua Umum), Togar Sitanggang (Wakil Ketua Umum Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan), Susanto (Wakil Ketua Umum Urusan Kebijakan Publik), Kanya Lakshmi (Sekretaris Jenderal), Mukti Sardjono (Direktur Eksekutif), Suryanto Bun (Ketua Bidang Kemitraan dan Pembinaan Petani), dan Norman Fajar (Kompartemen Sektor Publik). Dari APKASINDO hadir pengurus yaitu Gulat ME Manurung (Ketua Umum), Rino Afrino (Sekretaris Jenderal), Amin Nugroho (Ketua Bidang), dan Kasriwandi (Ketua Bidang). Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO, mengapreasi pertemuan ini karena menjadi pertemuan bersejarah karena petani maupun pengusaha menghadapi masalah yang sama yaitu kampanye negatif sawit dari luar negeri dan perkebunan sawit yang terjebak dalam kawasan hutan. Baik APKASINDO dan GAPKI akan bekerjasama menyelesaikan persoalan ini supaya industri sawit tidak ditekan terus menerus oleh berbagai pihak. Kerjasama ini merupakan lanjutan Implementasi MoU yang sudah ditandatangani tahun 2017 di Bali dan kerjasama ini adalah untuk yang kesekian kali dilakukan GAPKI dengan APKASINDO. Dalam catatan Gulat, ada lima poin penting dalam pertemuan tersebut. Pertama, Petani anggota Apkasindo sepakat membangun kemitraan yang lebih kuat bersama perusahaan sawit anggota Gapki. Tujuannya adalah membangun kepastian harga dan membantu praktik sawit yang berkelanjutan di perkebunan sawit petani. Kedua adalah perusahaan anggota Gapki berkomitmen mengadakan pelatihan petani secara periodik untuk meningkatkan kompetensi SDM Petani. Ketiga, baik Gapki dan Apkasindo saling mendukung untuk melawan kampanye negatif sawit dan menggencarkan kampanye sawit positif

Apkasindo dan Gapki

Jalin Kemitraan Yang Berkelanjutan baik secara bersama-sama maupun dilakukan secara organisasi masing-masing. Point keempat, kata Gulat, Gapki sangat mendukung program Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan berharap Petani Apkasindo dapat mengikuti komitmen yang sudah di deklarasikan Gapki, namun Gapki dapat memahami bahwa masih cukup banyak persoalan yang dihadapi Petani, terkhusus masalah sawit Petani dalam kawasan hutan dan ketelusuran dokumen sumber bibit yang ditanam petani. Dan Gapki berharap Peran penting pemerintah untuk membantu Petani menyelesaikan hambatan tersebut. “Poin kelima yaitu mengadakan pertemuan rutin antara petani anggota Apkasindo dengan cabang Gapki di daerah,” jelas Gulat. Joko Supriyono mengapreasiasi pertemuan ini karena Apkasindo maupun Gapki sama-sama telah menjalin hubungan baik semenjak lama. Kerjasama kedua organisasi ini perlu diperkuat karena menghadapi persoalan sama. “Sebagai bagian supply chain (red-rantai

pasok) sawit, maka Gapki dan Apkasindo harus bergandengan tangan. Ibaratnya, kita punya medan perang sama yang mesti dihadapi keduanya. Semua bagian industri sawit harus dimajukan baik itu petani, perusahaan, dan biodieselnya,” ujar Joko. Ia menambahkan kemitraan petani dengan plasma sebaiknya perlu dibantu oleh pemerintah daerah. Sebagai contoh, kabupaten membuat rekomendasi kepada calon peserta plasma (CPP) bagi petani yang akan dimitrakan, jadi peran Bupati dikedepankan. Hal ini dapat di mitrakan dengan Perusahaan yang beroperasi di suatu daerah dimana Petani sawit ada disekitar daerah HGU perusahaan tersebut. Fokus lainnya adalah serangan kampanye negatif sawit kepada industri sawit. Joko mengakui kedua organisasi punya perhatian sama untuk melawan kampanye negatif dan hambatan dagang di negara tujuan ekspor sawit. Untuk itu, masalah ini tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. “Semua harus bersatupadu menghadapi tekanan terhadap industri sawit. Kampanye hitam harus dilawan bersama dengan segala potensi masingmasing,” tegas Joko. (ist)

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

23


24

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


tanya jawab

GULAT Medali emas

MANURUNG

(Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit) PERTANYAAN: Bagaimana teknis pembuatan pasar pikul yang tepat pada kebun kelapa sawit, terkait hubungannya dengan konservasi tanah dan air serta efektifitas pemupukan? jawaban: Pasar pikul adalah jalan setapak untuk mengeluarkan tandan buah segar dari dalam blok ke luar yakni ke TPH (tempat pengumpulan hasil). Selain berperan penting dalam meningkatkan prestasi panen, pasar pikul juga merupakan akses memudahkan untuk aplikasi pupuk, kontrol blok dan sensus hama/penyakit. Pasar pikul yang tepat dan ideal memiliki lebar sekitar 1 meter saja, dengan panjang 250-300 m (sesuai dengan luas blok) dengan perbandingan 2:1 yakni setiap 2 baris tanaman kelapa sawit memiliki 1 pasar pikul, terdapat di antara tanaman. Pasar pikul harus terbebas dari pelepah yang melintang,

terutama pelepah yang berduri selain membahayakan kaki pemanen juga dapat merusak ban angkong dan dapat menggangu pelangsiran TBS ke TPH. Penyemprotan yang dilakukan di pasar pikul, harus menggunakan herbisida sesuai degan jenis gulma yang ada di pasar pikul. Perawatan pasar pikul umumnya dilakukan dengan melakukan penyemprotan menggunakan herbisida sistemik yaitu glyphosate dengan konsentrasi 60 cc/15 liter air sedangkan herbisida kontak yaitu paraquat dengan konsentrasi 70 cc/15 liter air. Perawatan pasar pikul ini biasanya dilakukan dengan rotasi 3 kali dalam setahun.

Lebar pasar pikul disarankan supaya tidak terlalu lebar, yang terpenting tidak menggangu pemanen untuk melakukan aktifitas panen. Hal ini memiliki hubungan dengan konservasi tanah dan air serta efisiensi pemupukan. Semakin lebar pasar pikul maka akan semakin memungkinkan tanah menjadi erosi khususnya bagian tanah subur (top soil) karena kondisi tanah yang terbuka, dengan kondisi tersebut akan meningkat evaporasi tanah (penguapan air tanah) dan cederung kehilangan unsur hara (pupuk) melalui run off saat hujan deras. Sebaiknya rumput lunak dan Nepholepis biserrata yang di sebelah kanan - kiri pasar pikul tidak disemprot sehingga tetap terjaga kelembapan dan kadar air tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Dengan penjelasan diatas diharapkan petani kelapa sawit dapat mengetahui teknis pembuatan pasar pikul supaya dapat mewujudkan kebun kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.*** ------------------------------------------Rubrik Konsultasi ini dikelola oleh: Ir. Gulat ME Manurung, MP (Auditor ISPO) Eko Jaya Siallagan, SP (Auditor ISPO)

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

25


26

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


Para Ibu, Waspada

Kanker Serviks!

Bagi kaum hawa sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh karena ada beberapa penyakit yang hanya terjadi pada perempuan. Di samping itu, mereka pun sepatutnya mencari tahu dan mengenali penyakit yang hanya menyerang kaum hawa. Satu di antaranya ialah Kanker Serviks. Memang penyakit ini tidak terasa asing di telinga kaum perempuan. Namun, apakah mereka sudah mengetahui mengenai kanker serviks secara detail? Seperti seorang ibu rumah tangga, Resti (37) yang dijumpai di salah satu pusat perbelanjaan di Pekanbaru beberapa waktu yang lalu. Ia mengaku sudah pernah mendengar melalui obrolan bersama rekan-rekannya apa itu kanker serviks. “Kanker serviks itu kan yang menyerang rahim perempuan yang disebabkan oleh bakteri atau kuman dan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya. Namun, saat ditanya apakah sudah pernah memeriksakannya kepada dokter, ia berkilah bahwa tubuhnya sehat-sehat saja. Mengenai kejadian di atas, Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Uroginekologi Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, dr. Edy Fakhrizal, SpOG(K) memaparkan bahwa gejala kanker serviks memang tidak terlalu dirasakan oleh tubuh. “Adapun gejala kanker serviks ini ialah munculnya keputihan yang berkelanjutan dan pendarahan serta flek-flek di area rahim. Memang, gejala ini membutuhkan waktu 3 sampai 17 tahun hingga dikatakan sudah terjangkit kanker serviks,” terangnya. Lebih rinci, dirinya menjelaskan bahwa setiap perempuan sangat berpotensi terkena kanker serviks. “50 persen wanita itu pasti sudah menginap gejala kanker serviks, namun 5 sampai 10 persen dapat dipastikan pasti akan terjangkit kanker rahim,” sambungnya.

Sedangkan untuk di Kota Bertuah, Edy menyampaikan penderita kanker serviks sangat banyak. “Dan biasanya baru datang ke rumah sakit ketika kanker serviksnya sudah parah alias sudah menyebar hingga ke ginjal,” tegasnya.

kan waktu sekitar 3 hingga 17 tahun. Virus HPV ini tidak menular namun bisa menyerang organ vital lainnya. Biasanya, jika tidak ditangani sejak dini maka dapat menjangkiti ginjal, paru bahkan hingga ke otak. Maka tidak heran jika banyak ditemukan wanita yang meninggal akibat kanker rahim.

Oleh karena itu, Edy menganjurkan agar sedini mungkin memeriksakan keadaan rahim seorang ibu agar bisa dicegah proses perkembangannya. “Karena satu-satunya kanker yang bisa dideteksi ialah Kanker Serviks melalui layanan papsmear. Dengan layanan ini maka kita bisa mengambil tindakan serta mengantisipasi bilamana kanker rahim semakin parah,” pungkasnya. Penyebab Kanker Serviks

Pertanda awal kanker rahim sudah mulai parah ialah penderita akan mengalami kesulitan dalam buang air kecil. Sebab, virus sudah menjangkiti kandung kemih dan menghambat proses buang air kecil. Akibatnya, tubuh penderita akan terlihat pucat. Jika sudah pada kondisi ini, maka disarankan agar membawa ke rumah sakit secepatnya.

Penyebab kanker rahim atau serviks adalah virus Human Papillomavirus atau HPV. Virus ini akan menyerang bagian leher rahim perempuan. Virus ini kerap menyerang kaum hawa yang sudah berumur 35 tahun ke atas dan sudah berumah tangga.

Tips Menghindari Kanker Serviks

Adapun penyebab virus ini muncul antara lain sering terpapar penyakit menular seks, keputihan dan rokok juga bisa menjadi penyebabnya.

2. Cukup Dua Anak Saja

Tidak hanya itu, kurang istirahat, imunisasi dan antioksidan juga bisa merangsang pertumbuhan virus ini. Dan perlu diketahui, seorang ibu dengan jumlah anak lebih dari 2 sangat berpeluang terjangkit virus ini. Gejala dari kanker serviks pasti terjadi di setiap kaum hawa yang sudah berumah tangga dan pernah melakukan hubungan intim. Hanya saja, proses perkembangannya hingga dikatakan kanker serviks membutuh-

1. Hindari Menikah di Bawah Umur 20 Tahun Secara ilmu medis, perempuan yang menikah dini atau di bawah usia 20 tahun sangat berpotensi terjangkit virus HPV.

Jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu sangat mempengaruhi akan dijangkit oleh virus HPV. Oleh karena itu, dua orang anak saja cukup. Disamping itu, populasi dunia pun semakin padat tiap tahunnya. 3. Konsumsi Buah dan Sayur Selalu usahakan mengkonsumsi buah dan sayur karena dapat menekan pertumbuhan virus HPV. Dan juga, kedua komponen ini sangat kaya akan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh dalam menjaga kesehatan. ***

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

27


galeri foto

Ulang Tahun ke-21 RS Awal Bros Sudirman

Foto bersama jajaran Direksi, Dokter dan Karyawan RS Awal Bros Pekanbaru.

Puncak HUT ke-21 RS Aw P

uncak Hari UlangTahun (HUT) ke 21 Rumah Sakit (RS) Awal Bros Pekanbaru di area lobi gedung baru ber langsung meriah, Kamis (29/8/2019).

Perayaan ini dihadiri oleh Direktur RS Awal Bros Pekanbaru. dr Jimmy Kurniawan MKK dan Direktur Utama PT Perdana Utama Mandiri sekaligus CEO Awal Bros Hospital Group Ir Arfan Awaloeddin MARS, serta Karyawan RS Awal Bros Grup.

Penyerahan tumpeng oleh Direktur kepada Ibu Mainiar Awaloeddin, salah satu Komisaris RS Awal Bros Pekanbaru.

Kemeriahan sontak pecah saat seluruh manajemen RS Awal Bros Pekanbaru menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan tiup lilin dilanjutkan pemotongan tumpeng serta kue ulang tahun secara bersama oleh seluruh direksi RS Awal Bros Pekanbaru. Direktur RS Awal Bros Pekanbaru. dr Jimmy Kurniawan MKK menjelaskan, memasuki usia ke 21 tahun, RS Awal Bros terus bertekad untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Pemotongan Kue Ulang Tahun.

28

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

“Kami akan semakin termotivasi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi bagi masyarakat, di masa kini, maupun di masa mendatang,� ujarnya.


galeri foto

Karywan Favorit RS Awal Bros Pekanbaru.

al Bros Pekanbaru Meriah Apalagi katanya, RS Awal Bros Pekanbaru merupakan rumah sakit pertama yang dibangun dari total 11 jaringan rumah sakit yang ada di RS Awal Bros Group saat ini di seluruh Indonesia.

Selama 21 tahun beroperasi, RS Awal Bros Pekanbaru yang memiliki visi menjadi rumah sakit unggulan dan terpercaya di Sumatera dan dari Riau untuk Indonesia, juga telah banyak menoreh kan prestasi, penghargaan, sertifikat dan pengakuan baik skala nasional maupun internasional. Dalam acara puncak HUT ke 21 tahun, kemarin, RS Awal Bros Pekanbaru juga meresmikan Klinik Tumbuh Kembang Anak yang membuka jam operasional lebih panjang yaitu mulai pukul 08.00 WlB hingga puku 12.00 WIB.

Ucapan selamat dari CEO RS Awal Bros Group didampingi Direktur kepada Karyawan teladan RS Awal Bros Pekanbaru tahun 2019 dr. Hadil Fikry.

Berbagai fasilitas ditawarkan tentang layanan klinik tumbuh kembang anak seperti terapi fisio (flsioterapi), terapi sensori integrasi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi perilaku. “Kami berharap dengan adanya beragam layanan terbaru ini, masyarakat Riau dapat lebih terbantu,� ujarya. (ist)

Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Awal Bros. Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

29


gapki riau

Gapki Riau Gelar Sosialisasi dan Klinik ISPO

67 Persen Anggota Gapki Riau Sudah ISPO G abungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau, Rabu (5/9) menggelar sosialiasi dan klinik Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) di Hotel Pangeran Jalan Pekanbaru. Dalam acara ini terungkap 67 persen anggota Gapki Riau sudah menggantongi isi ISPO dan sisanya di akhir 2020 nanti sudah semua anggota Gapki Riau sudah ISPO.

Sementara itu, Sosialisasi dan Klinik ISPO ini di hadir oleh Kompartemen Sertifikasi ISPO Gapki Pusat Ismu Zulfikar, Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Riau, Ferry HC, Wakil Ketua Gapki Riau Lichwan Hartono beserta pengurus Gapki Riau dan juga para undangan baik anggota Gapki maupun bukan anggota Gapki. Wakil Ketua Gapki Riau Lichwan Hartono mengatakan, sosialisasi dan klinik ISPO ini merupakan bagian dari perwujudan visi Gapki untuk mewujudkan industri sawit nasional berkelanjutan sebagai sumber kesejahteraan.

30

“Selain itu salah satu misi Gapki yaitu mendorong anggota untuk melaksanakan tata kelola industri sawit berkelanjutan,” kata dia.

Kemudian juga membantu percepatan sertifikasi ISPO perusahaan perkebunan kelapa sawit di Riau. “Sertifikasi ISPO memiliki empat tujuan utama yaitu mendorong usaha perkebunan untuk mentaati peraturan yang telah dikeluarkan pemerintah, meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit untuk memperbaiki lingkungan, melaksanakan pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dan meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar internasional,” ujar Hartono. Saat ini tambah-

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


gapki riau

nya, ada sekitar 68 perusahaan yang sudah bergabung dengan Gapki Riau dari 400 perusahaan. “Dari 68 itu yang sudah mendaftar untuk mendapatkan sertifikat ISPO sebanyak 67 persen dan sisanya masih dalam proses pengurusan,” ucap Hartono. Kompartemen Sertifikasi ISPO Gapki Pusat Ismu Zulfikar menyampaikan saat ini total penerima ISPO di Indonesia sebanyak 566 perusahaan dan sekitat 502 perusahaan adalah anggota Gapki.

sangat bagus dan sangat bermanfaat bagi perusahaan sawit. “Apalagi kegiatan ini diikuti 97 perusahaan dan 70 diantaranya sudah bergabung dengan Gapki Riau,” ujar Ferry. Oleh karena itu Ferry berharap dalam pengurusan sertifikat ISPO regulasinya jangan terlalu bersifat administratif,

karena itu bisa mempersulit perusahaan mengurusnya. “Kemudian audiotornya betul-betul orang yang kenal dengan sawit,” ucap Ferry. Apalagi saat ini tambah Ferry Sawit termasuk penggerak ekonomi Indonesia, karena Sawit adalah Indonesia dan Indonesia adalah sawit. (lin)

“Jadi ada sekitar 67 persen lagi perusahaan yang belum menerima sertifikat ISPO,” ujar Ismu. Makanya untuk percepatan kata Ismu dilakukan sosialisasi dan klinik ISPO. “Jadi tujuan sosialisasi dan klinik ISPO ini kita lakukan untuk membantu perusahaan menerima sertifikat ISPO,” ucap Ismu. Saat ini kendala yang dialami perusahaan untuk menerima sertifikat ISPO adalah terkait masalah izin lahan dan juga HGU yang berbenturan dengan Kawasan Hutan. “Untuk itulah kita harapkan tahun 2020 nanti seluruh perusahaan sawit di Indonesia sudah memiliki sertifikat ISPO,” ungkap Ismu. Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Riau, Ferry HC, yang membuka sosialisasi dan klinik ISPO menyampaikan kegiatan ini tentunya Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

31


gapki riau

GAPKI Riau dan Bupati Apel Siaga Perbarui Spirit Tangani Karhutla Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Siak, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Bupati Siak serta PT KTU mengadakan Apel Siaga Karhutla, akhir Agustus kemari. “Apel Siaga Karhutla ini dimaknai sebagai komitmen penanggulangan karhutla dan memperbarui spirit terbarukan untuk menanggulangi karhutla di Siak dan Propinsi Riau,” ucap Bupati Siak, Alfedri, yang menjadi pembina Apel Siaga Karhutla.

Dia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada GAPKI Riau dan PT KTU yang telah menyelenggarakan apel siaga ini. Sebagaimana diketahui Karhutla telah banyak memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Masyarakat terdampak secara kesehatan seperti penyakit ISPA.

Menurutnya, Apel Siaga yang di selenggarakan PT Kimia Tirta Utama (PT KTU) yang ditunjuk GAPKI Riau ini menambah semangat seluruh stakeholder untuk bersama-sama menanggulangi karhutla. “Kami melihat langsung kawan-kawan berjibaku di lapangan. Semua pihak telah berupaya dengan sungguhsungguh, baik BPBD, Kepolisian, TNI, Manggala Agni, MPA, camat, dan juga perusahaan,” lanjut Alfedri.

32

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

Selain itu, pada bidang pendidikan, asap menyebabkan diliburkannya sekolah. Secara ekonomi, banyak usaha yang harus tutup, termasuk bandara. Banyak sumberdaya yang haris dikerahkan personel alat berta helikopte hujan buatan.


gapki riau

Kesiapan Korporasi GAPKI secara aktif melakukan koordinasi kepada seluruh anggota untuk bersama mencegah dan menaggulangi karhutla. Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Riau, Maryanto, mengatakan, “GAPKI melakukan pertemuan-pertemuan untuk berbagi pengetahuan tentang penceganan dan penanggulangan kebakaran.” Diharapkan, seluruh perusahaan anggota GAPKI dapat melakukan pencegahan dan penanggulangan dengan cepat dan tepat. PT KTU sebagai anggota GAPKI juga telah melaksanankan pencegahan dan penanggulangan. “Dalam rangka menghadapi musim kemarau dan bahaya kebakaran tahun ini, PT KTU telah membentuk dan melakukan pelatihan kepada Organisasi Tanggap Darurat, yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat, Fire Brigade, Regu Pemantau dan Regu Patroli Api,” ungkap Ahmad Wahyudi, Fire Protection Manager PT Astra Agro Lestari Tbk. PT KTU juga melengkapi berbagai jenis peralatan dan sarana penanggulangan kebakaran seperti alat pemantau (berupa menara dan drone), peralatan pemadam

manual, pompa-pompa pemadam portable, peralatan komunikasi, serta mobil pemadam kebakaran.

karan,” tegasnya.

“Alat-alat ini selalu dipelihara dan siap digunakan untuk menjamin respon yang cepat saat diketahui terjadinya keba-

Untuk memperkuat sistem pencegahan dini, PT KTU mengembangkan sistem peringatan dini melalui SMS Broadcast bekerjasama dengan provider Telekomunikasi. (lin)

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

33


Dengan dasar kemanusiaan, kata pekerja bagian rawat PT KTU yang ditugaskan juga untuk mencegah dan mengatasi kebakaran ini, ia mengaku terjun di lapangan sejak hari pertama terjadi kebakaran lahan. Tidak hanya angin, bentang kawasan yang luas membuat pemadaman makin menyusahkan. Penangannya sangat menguras keringat. Yang jelas, kemarau panjang ini memang meningkatkan potensi api melahap lahan. Ia berharap semua pihak mencegah dan menjaga lingkungan masing-masing. “Pakai dasar kemanusiaan saja,� katanya seakan hendak mengingatkan banyak pihak untuk peduli pada lingkungan karena dampak buruk kebakaran sangat merugikan.

PT KTU Turunkan Tim

Bantu Atasi Karhutla S udah dua minggu lebih kebakaran lahan terjadi Desa Sri Gemilang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Riau. Di beberapa titik asap masih mengepul.

Tim pemadam kebakaran masih berjibaku di lapangan, termasuk tim tanggap darurat kebakaran lahan dari PT Kimia Tirta Utama (KTU), perusahaan perkebunan kelapa sawit anak usaha

34

Grup Astra Agro Lestari yang berlokasi di Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Riau.

“Yang menjadi kendala, angin bertiup kencang,� kata Halason Sihite, anggota tim tanggap darurat kebakaran lahan PT KTU. Di lokasi, ia bahu membahu bersama personil kepolisian dan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Kebakaran sudah mulai tertangani.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019

PT KTU sendiri, tempat Halason bekerja, memiliki kepedulian yang sama. Tidak hanya membentuk satuan tugas internal perusahaan yang bertugas mencegah dan mengatasi kebakaran lahan, sejak 2016 perusahannya membentuk kelompok-kelompok di tingkat desa yang diberi nama Masyarakat Peduli Api. Ada empat MPA, yaitu MPA desa Pangkalan Pisang, Buatan Satu, Teluk Rimba, dan Kuala Gasib. Selain itu, perusahaan juga bekerja sama dengan Manggala Agni, menggelar pelatihan, patroli rutin, dan bekerja sama dengan provider seluler menyebar pesan yang menghimbau agar masyarakat waspada, peduli dan ikut mencegah bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (ist)


PT SLS Bantu Padamkan Karhutla Desa Pangkalan Tampoi K ebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mulai merebak di beberapa lokasi juga terjadi di Desa Pangkalan Tampoi, Kecamatan Kerumutan, Pelalawan, Riau. Ketika lahan masyarakat itu terbakar, asap kebakaran terlihat melalui menara pantau tim pengendalian kebakaran PT Sari Lembah Subur (SLS), perusahaan perkebunan kelapa sawit Grup Astra Agro, yang berjarak sekitar 4 km dari titik lokasi.

“Kami segera bergerak dan menerjukan tim untuk membantu masyarakat memadamkan api,” kata Yudita Roby Castomo, Fire Protection PT SLS. “Pertama kali kami berusaha memadamkan titik api dan mengisolasi agar dampak kebakaran tidak meluas,” lanjutnya. Langkah ini sangat diperlukan, menurut Yudita, karena situasi di lapangan angin bertiup kencang sehingga api mudah menyebar.

Tim pengendali api dari PT SLS dengan peralatan lengkap untuk pemadaman lahan bekerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA), aparat kepolisian dan Manggala Agni yang merupakan organisasi yang disiapkan untuk mengantipasi dan mengatasi karhutla. “Pemadaman masih berlangsung. Semoga cepat selesai,” kata Yudita yang sudah hadir di lokasi kebakaran lahan milik masyarakat sejak kebakaran itu terjadi dari akhir Juli lalu.

Selain membangun tim yang siap sedia, menurutnya, beberapa bulan sebelum kemarau membuka peluang terjadinya kebakaran lahan, sejumlah langkah juga telah dilakukan dalam rangka mengantisipasi, mencegah maupun mengendalikan bahaya karhutla. Diantaranya, PT SLS menggelar pelatihan untuk para personil, mempersiapkan seluruh peralatan pemad-

aman agar dalam kondisi yang siap pakai (ready to use), serta pemeriksaan dan penyediaan sumber-sumber air. Sejak tahun 2015 perusahaan juga telah membentuk organisasi di tingkat masyarakat yang disebut dengan Masyarakat Peduli Api (MPA). Di PT SLS ada 6 MPA, yang masing-masing bertugas menjaga bahaya karhutla di Desa Pangkalan Tampoi, Desa Tanjung Kuyo, Kelurahan Kerumutan, Desa Mak Teduh, Desa Pangkalan Kulim serta tahun 2018 ditambah dengan kelompok nelayan peduli lingkungan Lubuk Bungkuk. Beberapa bulan sebelumnya bahkan perusahaan menyebar pesan massal melalui sms (broadcast message). Dengan menggandeng provider telepon seluluer PT SLS menekankan perlunya masyarakat waspada dan turut membantu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. (*)

Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

35


kisah sukses Saat ini, menjadi petani bagi mereka yang jebolan sarjana apalagi Sarjana Hukum sangatlah langka. Biasanya mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia kampus dan lulus sebagai sarjana akan mencari pekerjaan kantoran atau pengusaha.

Tapi tidak bagi Yoas Budiman, pria asal desa Gasib, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak Provinsi Riau ini malah memilih jadi petani dan mendapat dukungan dari PT Kimia Tirta Utama (KTU). Usai menamatkan diri di fakultas Hukum UIR, Budiman langsung kembali ke kampungnya dan menghabiskan hidupnya dengan memegang cangkul dan sabit. "Sempat dianggap aneh, saya kok milih jadi petani dari pada kerja orang kantoran. Apalagi orangtua saya yang petani sawit punya impian untuk menjadikan saya sebagai pengacara hebat, namun karena jiwa wiraswasta yang kuat memembuat saya berani terjun jadi petani," ucap Budiman memulai percakapannya dengan majalah Sawit. Budiman yang tidak sendiri, pria lajang ini didampingi beberapa petani lainnya. Bahkan Budiman juga mendapat dukung dari perusahaan sawit PT KTU yang merupakan anak perusahan Astra Agro

Yaos Budiman

Sarjana Hukum NekatDapat Jadi Petani Dukungan PT KTU 36

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


kisah sukses

Lestari untuk memajukan usahanya," Saya tidak sendiri, ada banyak petani yang saya rekrut untuk menggarap lahan seluah 8 hektar hektar yang sebelumnya 12 hektar ditanami sawit. Saya dan teman teman sudah menanam cabe merah, jagung dan tanaman palawija yang sering dikonsumsi warga," tuturnya. Kemampuan bertani dan berkebun yang dimiliki Budiman tak bisa diragukan. Sejak menetap di Gasib dia justru menjadikannya sebagai teladan bagi petani lain. Ilmu pertanian banyak dipelajarinya dari beberapa literatur internet yang bisa di akses dimana saja dan ini mendapat perhatian dari PT KTU yang kebunnya bersebelahan dengan kebun perusahaan sawit ini.

kebun sawit yang luas dan tanahnya dan bisa saya garap untuk tanaman lainnya. Disamping itu saya juga ingin memberikan manfaat kepada warga setempat yang tidak punya pekerjaan tetap dan mereka bisa bergabung disini bersama saya," jelasnya. Saat ini sudah ada 10 orang warga yang mau bergabung menjadi petani, meski baru satu tahun ini membuka lahan Budiman optimis hasil tanahamannya akan berhasil, apalagi dari beberapa petani sudah berpengalaman. " Kita terus

memperdalam ilmu pertanian palawija ini, apalagi sebelumnya hasil panen jagung kami banyak diminati warga," ujar Budimann dimana sebelumnya dia juga pernah membuka usaha ternak lele dan juga sudah panen. "Intinya saya beryukur kepada PT KTU karena dari awal sudah memndukung saya terutama pendanaan untuk pembelian bibik dan pupuk serta sarana dan prasarana lainnya. Karena dengan bantuan ini usaha pertanian kami bisa maju," tegasnya. (lin)

“Tidak pernah saya merasa malu menjadi petani. Bahkan, saya merasa bangga karena bisa memberikan manfaat dan berbagi pengetahuan baru kepada petani lain, meskipun umurnya lebih tua dari pada saya. Saya juga makin bersemangat karena dapat bantuan sarana dan prasarana dari PT KTU meski saya tidak menggarap kebun sawit,� terang Budiman. Budiman Tidak bisa memungkiri, latar belakangnya sebagai anak petani membuatnya bersikukuh menjadi petani. “Sampai kapan pun, saya tetap ingin menjadi petani. Apalagi saya juga diwarisi Edisi 15 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

37


Mupid juga menjelaskan, saat presentasi dihadapan peserta lelang komoditas agro, Pupuk organiknya langsung dipesan beberapa peserta. Pasalnya di acara tersebut banyak peserta lain yang juga bercocok tanam untuk tumbuhan holtikultura tapi belum menemukan pupuk yang berkualitas dengan harga terjangkau. “Terus terang saya bersyukur karena bisa mewakili kabupaten Inhu untuk mempresentasikan produk hasil buatan saya sendiri. Apalagi pupuk organik plus saya ini sudah dikonsumsi petani petani sawit dan sudah terbukti tidak merusak tanah sedikitpun.” ulasnya.

Ramaikan Pasar Lelang Komoditi Agro

Pupuk Organik STU Dilirik Peserta P upuk organik plus merek Sarana Tani Utama (STU) mendapat perhatian dari peserta pasar lelang komoditi Agro yang digelar Dinas Perindustrian dan perdagangan di Hotel Jatra Rabu (04/09/19). Pasalnya pupuk organik plus ini bisa digunakan untuk semua tanaman selain sawit. Mupid owner pupuk organik plus STU mengatakan, Pupuk organik plus nya sudah teruji dan banyak di konsumsi petani petani sawit di wilayah Inhu bahkan Riau dan provinsi tetangga lainnya.

Menurutnya, Pupuk organik ini disamping digunakan untuk sawit, Pupuk hasil produk nya juga bisa digunakan untuk tumbuhan holtikultura yang lain yang tumbuh diantara sawit yang tumbuh 10 tahun ke atas. “Saya dan warga sekitar sudah mempraktekkan sendiri, tentang waktu 5 sampai 6 tumbuhan cabe dan jahe yang saya tanam di antara sawit usia 10 tahun menghasilkan panen yang banyak dan berkualitas. Tidak hanya itu, dengan menggunakan pupuk organik ini tumbuhan sawit sendiri otomatis ikut tumbuh subur juga,” paparnya.

Untuk itu, para petani sawit yang ingin melakukan tumpang sari tanaman diantara pohon sawit di Riau khususnya tak perlu khawatir. Karena ada pupuk murah organik Plus STU yang harganya terjangkau tapi kualitas tetap terjamin. “Pupuk Organik Plus STU, Harganya murah tapi kualitasnya bagus. Saya jamin, silahkan lihat ke pabriknya di Belilas, Indragiri Hulu bagaimana bahannya, produksi, kualitas dan ketersediaannya,” kata Pemilik Pabrik Pupuk Organik Plus STU. Dia mengatakan bahwa bahan baku pupuk ini banyak, namun yang dominan adalah dari kotoran ayam. Keunggulannya memiliki unsur hara Makro dan Mikro yang lengkap juga Mikroba dan Hormon. Diantaranya 10 macam mikro organisme yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Pupuk akan menggemburkan tanah dan memperbaiki struktur tanah walau sudah sangat kritis sekalipun serta menyuburkan tanaman. Setelah itu akan menambah bobot buah, hasil panen, dan mengurangi masa trek buah. Pembelian pupuk dilakukan dalam satu sak dengan berat 50 kg. Untuk sawit pemakainannya tergantung umur. Umur 2-3 tahun 1 kg per batang, 3-5 tahun 2 kg per batang, 5-10 tahun 3 kg per batang, danbyang lebih dari 10 tahun 4 kg per batang. Pemakaian dilakukan setiap empat bulan atau tiga kali setahun. Selain Sawit, pupuk ini bisa juga digunakan untuk segala tanama mulai dari palawija sampai tumpang sari. Umurnya pun bisa mulai dari kecambah sampai jelang diremajakan. (lin)

38

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 15 Tahun 2019


Edisi 15 Tahun 2018 ~ MAJALAH SAWIT

39


Profile for Majalah Sawit Plus

Majalah Sawit Edisi 15  

-

Majalah Sawit Edisi 15  

-

Profile for sawitplus
Advertisement