Skip to main content

Majalah Sawit Edisi 21

Page 1

DAFTAR ISI

SAWIT DISUKAI, SAWIT DIMUSUHI

Hal. 05

Bupati Pelalawan Resmikan Pembangunan Jembatan Desa Tambak Dan Desa Sotol Hal. 10

Bangkit Saat Pandemi, Orang Teluk Rimba Budidayakan Lebah Melifera Hal. 18

Dukung Program Vaksinasi, Wilmar Bagikan Minyak Goreng Hal. 21

Galeri Foto Pelantikan Pengurus Gapki Riau Periode 2020-2025 Hal. 22

WAWANCARA KHUSUS

JATMIKO SANTOSA:

Sawit Penyangga Ekonomi Nasional Hal. 12

APKASINDO dan Asian Agri Jalin Kerjasama Percepat PSR

Hal. 26

64 Tahun, Sudah Sejahterakah Petani Sawit Riau?

Hal. 28

Astra Agro Gandeng Kimia Farma Vaksinasi Pekerja Perkebunan dari Aceh-Sulawesi

Hal. 31

Herman: PT AA-APP Ajarkan Kami Buka Lahan Tanpa Membakar

Hal. 36

Pendiri: Alm. Djoko Suud Sukahar Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab: H. Syafei Pimpinan Perusahaan: Herlina, S.Sos Dewan Redaksi: Herlina, S.Sos, S.Kom.I, Eli Suwanti, Bayu Derriansyah Putra, Ian Tanjung Cover/Desain: Makmur HM Sirkulasi: Hendra Gunawan IT Support: Afandi Alamat Kantor: Jl. Cempedak 1 No. 5 Kota Pekanbaru, Riau | Info Iklan: 0812 7698 0551 / WA: 0811 754 1174 E-mail: sawitpluss2019@gmail.com | Website: www.sawitplus.co | No. Rek. Mandiri: 108-00-2018999-0 a/n PT. Media Sawit Indonesia

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

03


EDITORIAL

Politik Dagang Tak ada upaya politik tak berujung ekonomi. Tak ada capaian ekonomi tanpa upaya politik. Politik itu memang urusan ekonomi. Urusan perut. Urusan kenyang dan kelangsungan hidup. Dagang juga tidak lepas dari urusan politik. Kalau dua kata ini digabung jadi politik dagang. Kalau politik defenisinya meraih kekuasaan. Kalau dagang yang jual beli. Digabung lagi jadi kekuasaan yang mengatur jual beli. Dan produk unggulan Indonesia sawit pun jadi korbannya.

Parlemen Eropa menghapus kebijakannya

Banyak negara yang membutuhkan minyak sawit Indonesia. Salah satunya ialah negaranegara di Uni Eropa. Uni Eropa menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia. Jenis yang paling banyak dibutuhkan ialah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang nantinya akan diolah menjadi produk turunan menjadi seperti makanan maupun campuran biodiesel. Anehnya (sebenarnya tidak aneh), Parlemen Eropa mengesahkan Resolusi Sawit yang berisi pelarangan minyak sawit Indonesia untuk masuk ke Uni Eropa pada tahun 2017. Larangan yang dimaksud ialah minyak sawit yang diperuntukkan untuk bahan campuran biodiesel dengan alasan bahwa minyak sawit Indonesia tidak ramah lingkungan dan mengancam habitat satwa hutan. Indonesia pun meradang dan menganggap Uni Eropa melakukan “kampanye hitam”. Indonesia kemudian melakukan upayaupaya diplomasi dengan harapan

04

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

tersebut. Sayangnya, upaya diplomasi tersebut hingga sekarang masih belum berhasil. Kampanye hitam terus dilakukan secara massif dan bahkan stakeholder nasional pun masih terpengaruh dan menganggap sawit tanaman yang merusak keanekaragaman hayati. Padahal semua sudah diatur dalam UU no 41 tentang kehutanan dan UU Tata Ruang Indnesia No 26/2007 sudah menetapkan 30 persen daratan adalah hutan. Sedang 70 persen lainnya adalah untuk semua sektor pembangunan seperti pertanian, perkebunan, perumahan, perkotaan dan lainnya. Dari 187 juta ha luas lahan di Indonesia 47 persennya adalah kawasan hutan. Sedang kawasan pertanian-perkebunan hanya 29 persen. Dari 29 persen itu luas sawit 10,7 juta ha itu setara dengan 5 persen dari luas daratan Indonesia. Jadi apanya yang merusak hutan? Boleh jadi ada kekhawatiran industri minyak nabati mereka bisa kalah saing di pasar internasional. Maka potensi gemilang ini lalu disudutkan dengan kampanye hitam. Di sisi lain politik dagang juga memainkan peran. Dengan tekanan terhadap produk sawit Indonesia di pasar luar negeri maka negara importir bisa membeli CPO dengan harga murah. Fakta lain yang perlu diketahui bahwa isu kampanye negatif tentang sawit berbanding lurus dengan impor dari negara-negara UE.

HELFIZON ASSYAFEI Kolomnis dan Pengamat Sosial. Tinggal di Pekanbaru.

Tegasnya lagi dari fakta lapangan bahwa ketergantungan Uni Eropa terhadap minyak sawit ternyata sangatlah tinggi. Makanya, Eropa ingin membeli CPO Indonesia dengan harga semurah mungkin. Itulah politik dagang. Bukan dagang politik. Meski mirip-mirip juga sih. (*)


LAPORAN UTAMA

Sawit Disukai, Sawit Dimusuhi

Minyak kelapa sawit adalah suatu komoditas primadona bagi Indonesia. Indonesia memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekitar 11 juta hektar menjadikan Indonesia sebagai negara dengan produksi sawit paling besar di dunia. Banyak negara yang membutuhkan minyak sawit Indonesia.

S

alah satunya ialah negaranegara di Uni Eropa. Uni Eropa menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia. Jenis yang paling banyak dibutuhkan ialah minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang nantinya akan diolah menjadi produk turunan menjadi seperti makanan maupun campuran biodiesel. Anehnya, Parlemen Eropa mengesahkan Resolusi Sawit yang berisi pelarangan minyak sawit Indonesia untuk masuk ke Uni Eropa pada tahun 2017. Larangan yang dimaksud ialah minyak sawit yang diperuntukkan untuk bahan campuran biodiesel dengan alasan Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

05


LAPORAN UTAMA bahwa minyak sawit Indonesia tidak ramah lingkungan dan mengancam habitat satwa hutan. Indonesia pun meradang dan menganggap Uni Eropa melakukan “kampanye hitam”. Indonesia kemudian melakukan upayaupaya diplomasi dengan harapan Parlemen Eropa menghapus kebijakannya tersebut. Sayangnya, upaya diplomasi tersebut hingga sekarang masih belum berhasil. Padahal potensi produk komoditas alam Indonesia seperti sawit amatlah gemilang. Sebab sawit bisa dikonversi jadi bahan makanan, energy dan juga bahan keperlaun lainnya. Kelebihan lainnya sawit hanya bisa tumbuh baik di iklim tropis membuat negara-negara Eropa tak bisa melakukan hal yang sama. Produk minyak nabati mereka jauh lebih besar biaya dan dampak lingkunganya daripada sawit. Boleh jadi ada kekhawatiran industri minyak nabati mereka bisa kalah saing di pasar internasional. Maka potensi gemilang ini lalu disudutkan dengan kampanye hitam. Menurut Direktur

Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung, menjelaskan bahwa kampanye hitam kepada komoditas alam seperti sawit dan produk kehutanan di Indonesia sudah berlangsung semenjak 1980an, ketika perkebunan dan kehutanan mulai berkembang. Pemerintah harus mewaspadai penurunan daya saing ekspor komoditas alam Indonesia dalam jangka panjang akibat kampanye hitam yang dijalankan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Tergerusnya daya saing ini disebabkan serangan kampanye hitam yang ditujukan kepada konsumen agar produk sawit kehilangan market.

TUNGKOT SIPAYUNG

“Saat ini, kelapa sawit dan kehutanan diserang kampanye hitam karena menggunakan isu yang mengada-ada dan berlebihan. Beragam isu tadi harus diwaspadai karena dapat menekan daya Indonesia di pasar internasional,” ujar Tungkot dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

06

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

Menurutnya, pola dan isu kampanye hitam berupaya mempengaruhi perilaku orang supaya tidak lagi menggunakan komoditas alam yang merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia. Kampanye ini membidik negara-negara konsumen seperti di Eropa, Tiongkok, dan India. Untuk mengubah selera konsumen terhadap sawit misalkan, dikatakan Tungkot, dimunculkan kampanye palm oil free (bebas minyak sawit) di sejumlah produk makanan. Kampanye hitam ini didukung beragam isu yang memojokkan kelapa sawit seperti merusak ekosistem lingkungan, pembakaran secara masif hingga isu eksploitasi masyarakat lokal.

Perang Dagang dan Politik Dagang Mengapa tanaman sawit selalu dipojokkan? Selalu dianggap sebagai perusak lingkungan? Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Riau, Jatmiko mengatakan semua itu tak lepas dari perang dagang. Perang kepentingn bisnis sehingga mengorbankan hal-hal yang sebenarnya positif jadi seolah negatif. Menurutnya kampanye hitam (blackcampaign) selama ini begitu sistematisnya dilakukan sehingga tidak saja di pasar luar negeri tapi sudah merasuk juga ke sendisebdi masyarakat kita. “Ada NGO pemberian makanan penangkaran hewan di beberapa titik di jawa yang mengalami kesulitan pendanaan karena masa pandemi. Sebenarnya PTPN bisa


LAPORAN UTAMA

JATMIKO KRISNA SANTOSA

GULAT ME MANURUNG

memberi bantuan karena konsern lingkungan hidup. Tapi ditolak karena sawit dianggap rusak lingkungan,” ujarnya.

sawit sebagai produksi nasional kita itu banyak positifnya dibanding negatifrnya,” ujar Jatmiko lagi.

Kadang dianggap merusak hutan karena membuka lahan baru untuk sawit. Padahal 1 ton energi yang dihasilan katakanlah dari 6 hektar sawit bila dihasilkan oleh produk nabati lainnya seperti bunga matahatri dengan luas lahan lebih luas dari sawit dengan hasil yang sama.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Gulat Manurung menegaskan kampanye negatif dengan kedok lingkungan selama ini adalah bagian politik dagang internasional. Tujuannya negara importir bisa membeli CPO dengan harga murah. Fakta lain yang perlu diketahui bahwa isu kampanye negatif tentang sawit berbanding lurus dengan impor dari negara-negara UE.

Menurutnya lagi sawit juga dituding tanaman yang rakus air. “Data ilmiah justru kedelai memerlukan air dari sawit. Repersit dan tebu itu tumbuhan paling menyerap air. Di nasional ikita sendiri banyak stake holder yang tak mau memhami bahwa kekuatan

“Ketergantungan Uni Eropa terhadap minyak sawit sangatlah tinggi. Makanya, Eropa ingin membeli UE CPO Indone-

sia dengan harga semurah mungkin,” tegasnya. Gulat menyatakan Indonesia harus berani menyerang apabila sawit terus ditekan negara lain. Ibaratnya, “berhenti menjadi penjaga gawang” lalu beralih menjadi penyerang. Harus dipahami bahwa sebagian besar minyak kanola dan minyak bunga matahari dihasilkan oleh petani lokal di Eropa. “Tak terbantahkan bahwa kampanye negatif tentang sawit bagian politik dagang. Produktivitas sawit yang jauh lebih tinggi membuat penggunaan lahan jauh lebih kecil dibandingkan minyak nabati lainnya. Kalau sawit di-phase out akan memicu deforestasi lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan dunia,” pungkas kandidat Doktor Lingkungan ini.

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

07


KASAN MUHRI

LAPORAN UTAMA

Sawit, Kekayaan Nasional yang Harus Dijaga Sementara itu Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri menjelaskan bahwa komodias sawit sebenarnya adalah kekayaan nasional yang bahkan jadi penyangga ekonomi Indonesia di kala pandemic. Harga sawit relative stabil karena memang dibutuhkan baik untuk produk makanan maupun energy. Menurutnya maraknya kampanye negatif ditujukan untuk menekan daya saing Indonesia di pasar internasional. Lantaran, tingginya produktivitas komoditas dalam negeri seperti sawit yang menjadi ancaman bagi industri yang dihasilkan negara-negara di Uni Eropa. “Sebenarnya, hambatan nontarif ini bagian persaingan dagang. Sawit, misalnya, ini head to head dengan minyak nabati lain di Eropa seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan kanola. Karena, minyak nabati non sawit ini kalah dari segi produktivitas dan harga. Akibatnya sawit terus diganggu dengan kampanye negatif,” jelas Kasan.

08

Kasan juga memaparkan bahwa kontribusi sawit terhadap ekspor non migas sebesar 13,6 persen sepanjang 2020. Capaian ini menunjukkan selama pandemi, industri sawit tetap tangguh. Sebab, kelapa sawit menjadi bagian dari bahan baku produk sektor makanan, kebersihan, dan kesehatan. Meski demikian, di pasar internasional ekspor sawit Indonesia masih terus menghadapi tantangan dari hambatan non tarif seperti isu lingkungan dan kesehatan yang dikampanyekan sejumlah LSM internasional seperti yang dilakukan Greenpeace, Mighty Earth, Rainforest Action Network (RAN) dan lainnya belakangan ini. Saat ini, hambatan utama perdagangan sawit masih berasal dari kebijakan nontarif terutama di Uni Eropa. Maraknya kampanye negatif ditujukan menekan daya saing sawit. Lantaran, tingginya produktivitas minyak sawit menjadi ancaman bagi minyak nabati yang dihasilkan negara-negara di Uni Eropa. “Jadi kita berharap stakeholder di nasional sendiri memahami hal ini dan tidak ikut-ikutan memusuhi kekayaan sendiri karena tak memahami apa yang sebena-

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

rnya berlaku,” ujarnya. Menurutnya ke depan peran media dan juga asosiasi-asosiasi yang bergerak di bidang sawit penting artinya ikut membantu edukasi publik terhadap potensi ekonomi negara yang selalu dituding lewat kampanye hitam itu padahal sebenarnya tiang penyangga ekonomi nasional. (hzn)


LAPORAN UTAMA

Ucapan HUT Riau Asian Agri

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

09


ADVERTORIAL

BUPATI PELALAWAN D RESMIKAN PEMBANGUNAN Jembatan Desa Tambak Dan Desa Sotol Sebentar lagi Masyarakat Desa Tambak dan Desa Sotol, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan mempunyai jembatan yang sudah lama didambakan, pembangunan ini jembatan penghubung dua desa masyarakat Desa Tambak dan Desa Sotol terwujud. Dimana momen yang bahagia ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan membangun jembatan penghubung tersebut.

Zukri Misran Bupati Pelalawan

alam pembangunan jembatan tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Pelalawan Zukri Misran didampingi Ketua DPRD Kabupaten Pelalawan Baharuddin SH dengan peletaka tiang pancang pertama bulan lalu. Pada peresmian pemancangan tiang pertama jembatan penghubung dua desa tersebut tampak berbeda, dimana juga dihadiri mantan Bupati Pelalawan periode yakni 2011-2016 dan 2016-2021 HM Harris. Dengan dibangun jembatan tersebut, tokoh masyarakat Riau berharap jembatan Desa Tambak dan Desa Sotol nantinya dapat digunakan dengan baik, khususnya bagi masyarakat di Kecamatan Langgam khususnya kedua tersebut dalam menggeliatkan perekonomian desa. Dalam kegiatan tersebut, dihadiri oleh Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pelalawan Syafrizal SE dan anggota DPRD Kabupaten Pelalawan Junaidi Purba serta Monang Pasaribu, Asisten Administrasi Pembangunan Setdakab Pelalawan Atmonadi, Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Pelalawan MD Rizal,Kepala Bappeda Kabupaten Pelalawan Ir M Syahrul Syarif, Kepala Diskop, UKM dan Perindag Pelalawan Fakhrizal, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan masyarakat. Demikian disampaikan Bupati Pelalawan Zukri Misran mengatakan, bahwa jembatan ini sangat penting bagi masyarakat kedua desa ini, bilamana merupakan akses bagi masyarakat. Kalau jembatan ini sudah siap dibangun, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Dimana Desa Tambak merupakan daerah perkebunan dan objek wisata mancing bagi masyarakat tempatan dan dari luar. “Ya, kita senang sekali, akhirnya impian masyarakat untuk dibangun jembatan penghubung dua desa bisa terwujud. Dengan peresmian tiang pancang pembangunan jembatan penghubung Desa Tambak dan Desa Sotol, saya meminta kepada masyarakat untuk berdoa, semoga cepat selesai pembangunan masyarakat. Dan bisa meningkat ekonomi masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian,menuju keobjek wisata mancing dan bisa dilintasi anak-anak kita untuk menempuh pendidikan,” jelasnya. Sambung Zukri, kalau sudah jadi jembatan tersebut, kedua desa akan mengalami

10

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


ADVERTORIAL

kemajuan. Maka diri itu, dirinya berpesan kepada masyarakat jangan pernah menjual aset masyarakat seperti tanah. Jadikan aset buat anak, jangan sampai menyesal dikeludoan hari, kalau aset tanahnya dijual. Bagi rekanan pengerjaan, bangun sesuai bastek. “Bangun sesuai dengan perencanaan, jangan asal-asal saja. Karena jembatan ini dibangun untuk waktu yang lama, bukan untuk sebentar,” ujarnya.

Hal yang lain juga disampaikan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pelalawan, MD Rizal menambahkan, bahwa jembatan yang dibangun, panjangnya sekitar 110 meter dan lebar 7 meter. Dalam pembangunan jembatan ini menghabiskan anggaran sebesar kurang lebih Rp 23,4 Milyar. Pembangunan jembatan ini dimulai dari tanggal 8 Juni sampai 23 Desember. “Pembangunan jembatan ini sangat penting, dimana jalan desa tambak dan Sotol merupakan akses jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten tetangga dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat tempatkan. Saya berpesan kepada masyarakat, untuk menjaga baik kalau jembatan ini selesai dibangun,” tutupnya. (Advertorial/Adi)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

11


WAWANCARA KHUSUS

Pemimpin BUMN yang satu ini enerjik dan inovatif. Memiliki segudang pemikiran segar dan mampu mengaplikasikan di lapangan secara terukur. Semangat mudanya mampu menstimulus tiap lapisan pekerja, termasuk kelompok milenial untuk terus mengukir prestasi. Tak heran, Chief Executive Officer PTPN V Pekanbaru, Riau ini menyabet beragam pengakuan berupa penghargaan di tingkat nasional.

B

ahkan di tengah melandainya ekonomi bangsa akibat hantaman pandemi Covid-19, Jatmiko yang menjadi nakhoda perusahaan perkebunan negara dengan komoditas sawit dan karet itu bergerak cepat merubah haluan kapal melalui beragam transformasi dan teknologi serta digitalisasi. Langkah itu berhasil membuat alumni Universitas Indonesia tersebut tidak hanya menyelamatkan kapal, namun membawanya ke arah lebih baik. Alhasil, sang nakhoda mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Diawali dengan gelar TOP CEO in Digital Transformation for Agro-Palm Oil Industry 2020 dalam ajang TOP Digital Innovation Award 2020. Penghargaan tersebut semakin lengkap kala perusahaan yang ia pimpin juga mendapat predikat TOP Digital Service On Intelligent Data Center for Agro-Palm Oil Industry 2020. Selanjutnya, secara berturut-turut beragam pengakuan berhasil diraih, seperti dalam ajang 10th Anugerah BUMN 2021 dan I-Tech Digital Technology & Innovation (Digitech) Award 2021.

12

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


WAWANCARA KHUSUS Dalam kedua ajang itu, tiga penghargaan sekaligus direbut oleh perusahaan yang ia pimpin, yakni Special Recognition Consistent Growth Productivity 2021, The Best CEO Strategic Orientation 2021 yang diraih Jatmiko K Santosa dan The Best IT Development and Innovation in Agro Industries. Terbaru, tata kelola perusahaan juga diakui oleh para expert dalam ajang GRC and Performance Excellence Awards 2021. Dalam ajang tersebut, PTPN V merebut The Best GRC For Corporate Governance 2021 serta The Best CEO 2021. Penghargaan dengan penilaian berupa empat Diamond tersebut diraih PTPN V untuk kategori Agro Business Industries. Pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya menjadikan pribadi generalis, persistensi, dan memiliki kemampuan inovasi. Dalam memulai karir hingga kini, terlihat kemampuan melakukan turn around di tiga industri dari sektor berbeda yakni perkebunan, infrastruktur, dan pariwisata. Dulu saat berkiprah di salah satu BUMN yang bergerak di bidang pariwisata, Jatmiko berhasil membuktikan diri dengan melalui perubahan corporate culture, dengan pengembangan satu lini menjadi empat lini bisnis. Terobosan juga dilaksanakan dari sisi keuangan serta perolehan pembiayaan development bank dalam skema Sovereign Loan. Dalam bekerja, sosok yang membawa filosofi “Great Things Never Came From a Comfort Zones” turut mengukir proses turnaround BUMN menjadi salah satu BUMN yang masuk daftar Fortune 500. Majalah Sawit Plus berkesempatan wawancara khusus dengan Jatmiko Krisna Santosa yang saat ini menjabat CEO PTPN V Pekanbaru-Riau setelah beliau terpilih menjadi Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Riau periode 2021-2025. Berikut petikan perbincangannya; Selamat terpilih jadi Ketua GAPKI Riau. Apa yang menyebabkan menerima amanah ini? Alhamdulillah terimakasih. Ini amanah yang harus ditunaikan dengan

kerjasama dan dukungan semua anggota. Saya tahu ada banyak hal yang harus kami lakukan. Tanpa dukungan semua anggota tentu hal itu tidak mudah mewujudkannya. Yang mendorong saya menerima amanah ini karena keinginan kuat anggota GAPKI Riau untuk bangkit dan maju bersama dengan potensi sawit yang begitu besar di provinsi ini. Apa yang akan Anda lakukan setelah terpilih jadi Ketua GAPKI Riau? Kalau bicara GAPKI ada banyak ‘PR’ (pekerjaan rumah) yang harus dituntas-

kan. Di GAPKI Riau, target pertama saya adalah konsolidasi keanggotaan sebelum akhir tahun ini. Awal saya masuk ini ada 64 perusahaan yang jadi anggota. Saya berupaya sebisanya bisa mendekati 100 perusahaan di akhir tahun. Ini tak mudah. Apalagi masa pandemi ini. Kedua, bermitra dengan pemerintah menjalankan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) atau kita kenal sebagai Replanting. Itu merupakan upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat dengan melakukan penggantian tanaman tua atau tidak produktif dengan tanaman baru. Dan

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

13


WAWANCARA KHUSUS sudah barang tentu costnya tinggi. Pemerintah membantu petani dengan dana subsidi hibah. Dan kita memberikan kemudahan melalui program kemitraan. Ketiga, edukasi anggota dan non anggota serta public bahwa sawit itu potensi besar yang juga sokoguru (penyangga utama) ekonomi nasional. Mengapa konsolidasi anggota jadi target pertama? Sebab bila sudah satu langkah kemajuan bersama akan lebih mudah dicapai. Apalagi kita berada di provinsi yang luasannya (perkebunan sawit) terbesar di Indonesia. Bahkan dua kali lipat dibanding Sumut yang jadi pelopor utama sawit ini. Sekarang (Riau) jadi barometer nasional. Faktanya, keanggotaan GAPKI Riau, dari 1,2 juta hektare sekian sawit yang diusahakan korporasi, hanya 400 ribu Ha yang bergabung sebagai anggota GAPKI Riau. Apa tujuan konsolidasi itu? Perlu konsolidasi. Tujuannya agar kerjasama mencapai tujuan lebih cepat. Adapun caranya tunjukkan pada anggota dan non anggota bahwa organisasi ini bermanfaat buat mereka. Bahkan sebelum pelantikan, kita langsung buat sosialisasi UU Cipta kerja. Juga UU lingkungan dan hutan. Di internal sendiri konsolidasi juga dilakukan. Salah satunya karena perlunya pemerataan kemampuan produksi crude palm oil (CPO). Saat ini, kemampuan masing-masing anggota juga berbeda. Ada yang sudah 6 ton CPO/hektare/tahun, ada yang baru 4-5 ton CPO/hektare/tahun. Padahal sawit ini ilmu yang sudah puluhan tahun lalu. Kita di GAPKI juga punya kompartemen riset dan teknologi yang tugasnya menciptakan kegiatan yang saling sharing. Misalnya best practise di Asian Agri, Astra Agro Lestari, Sinarmas, maupun di PTPN V, kita sharing ke teman-teman anggota. Jadi mereka bisa melakukan copy paste dan diterapkan di kebun masing-masing. Manfaat lainnya kalau sudah terkonsolidasi, pemerintah juga lebih mudah saat harus bicara dengan stakeholder sawit. Tak harus menemui ratusan pengusaha sawit. Cukup bicara dengan Gapki. Pada

14

saat buat rumah oksigen. Gapki sudah dianggap mewakili industri sawit padahal kita Cuma 1/3 dari industri sawit. Bahkan ada ekstra ordinary income dimasa pandemi. Wajar alokasi CSR nya juga tinggi. Tapi sisi lain iuran Gapki ini rata saja setiap tahun. Padahal ada potensi 2/3 lain yang bisa juga pemerintah optimalkan CSR nya.

dan inward looking. Apa yang bisa kita buat untuk itu.Tiga masalah utama yakni konsolidasi anggota dan non anggota. Menyiapkan program memberikan manfaat langsung pada anggota-non anggota. Sosialiasi UU Cipta Kerja. Sharing knowledge pengolahan sawit, advokasi regulasi dan juga pelatihan sertifikasi auditor ISPO.

Apa manfaat konsolidasi anggota ini?

Kedua, perbaikan ke luar dimana non anggota menjadi tahu dan paham apa manfaat menjadi anggota GAPKI. Selain itu GAPKI juga membantu program penyiapan perumahan untuk pekerja sawit lewat BPJS Ketenagakerjaan.

Pertama perbaikan dari dalam dulu. Menjadi anggota GAPKI itu apa manfaatnya. Bisa dapat akses ini dan itu, misalnya. Kita bicara forward looking

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


WAWANCARA KHUSUS Apa anda melihat ada problem di sektor industri sawit ini? Ya ada. Kampanye hitam terhadap sawit. Sawit dipandang mengancam perekonomian dunia oleh negara-negara yang tidak bisa tumbuh sawit karena bisa menyaingi produk energi mereka selama ini. Sehingga terjadilah black campaign yang sebenarnya itu urusan perang dagang. Begitu sistematisnya black campaign ini tidak saja di pasar luar negeri tapi sudah merasuk juga ke sendi-sendi masyarakat kita. Ada NGO (non government organisation) peduli satwa liar di salah satu universitas yang sempat kesulitan mencari pendanaan untuk pemberian makanan penangkaran hewan di beberapa titik di Jawa. Sebenarnya PTPN bisa memberi bantuan karena kami juga peduli lingkungan hidup. Tapi ditolak karena sawit dianggap merusak lingkungan. Mahasiswa di Bandung yang tak pernah lihat pohon sawit juga menganggap sawit itu merusak. Saat kuliah umum di universitas yang ada di Riau saja tempat sawit begitu banyak ada yang nanya ke saya hal yang sama.

Perang dagang, maksudnya? Sawit ini kan bisa dikonversi jadi sumber energi nabati dan juga makanan. Secara produksi, sawit lebih efisien dibanding produk energi nabati seperti bunga matahari yang umum di Eropa. Perlu diketahui bersama, bahwa berdasarkan penelitian, ternyata sawit adalah salah satu tanaman yang paling hemat dalam menkonsumsi air yakni 75m3/giga joule. Ya kalau mau fair kita harus ukur konsumsi air dengan energi yang dihasilkan. Bandingkan dengan rapeseed yang butuh 184 m3/gigajoule energi. Serapan air sawit juga masih lebih kecil jika dibandingkan dengan bunga matahari, kedelai, dan jagung. Kemudian dari sisi produktivitas, sawit ternyata jauh lebih optimal. Total luas lahan minyak kedelai di dunia tahun 2019 adalah 122,57 juta Ha, atau 41% dari luas areal minyak nabati dunia. Tapi, produksi soybean oil itu cuma 57,2 juta ton pertahun. Bandingkan dengan luas lahan sawit dunia yang hanya 94,73 juta Ha (34% dari total areal

minyak nabati dunia) tapi ternyata mampu memproduksi 76,01 juta ton CPO pertahun. Artinya, dari segi lingkungan yang memerlukan pembukaan lahan atau hutan yang lebih besar tentu saja produk nabati mereka dari pada sawit. Makanya, sawit ini bisa jadi saingan berat produk nabati mereka sehingga perlu dikambinghitamkan sebagai perusak lingkungan. Sehingga pasar ekspor bisa menekan harga saat produk kita dipasarkan. Apa langkah mengantisipasi hal ini menurut Anda? Edukasi. Perlu kerjasama semua stake holder untuk menyadari bahwa kampanye hitam ini merugikan potensi ekonomi nasional kita. Apalagi sawit sebuah keunggulan nasional yang bisa menjadi penyangga/soko guru ekonomi nasional. Terbukti selama Pandemi ini ternyata produksi dan harga bisa stabil. Sawit ini tidak bisa tumbuh di setiap negara karena tergantung iklim. Misalnya seperti di Eropa yang mengenal empat musim membuat sawit tidak cocok karena sawit cocoknya di negara-negara beriklim tropis seperti negara kita Indonesia. Di nasional, kita sendiri banyak stakeholder yang tak mau memahami bahwa sawit kita itu banyak positifnya dibanding negatifnya. Pengusaha juga harus memiliki rasa ini tugas kita juga untuk mengedukasi masyarakat.

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

15


WAWANCARA KHUSUS

Ketika di Kampar terjadi kasus black campaign sawit di materi ujian SD, saya tidak menuntut mereka. Tapi saya datang ke sana jelaskan sawit itu seperti apa. Ini peran yang bisa dijalankan GAPKI Riau maupun nasional. Edukasi luar dan dalam negeri sendiri. Setelah dijelaskan, guru yang semula berpandangan negatif terhadap sawit jadi berubah.

pemerintah dalam bentuk hibah. GAPKI dalam hal ini berfikir posisi kita harus berbagi untuk bangsa ini. Dengan cara mendukung program PSR. Target 200.000 an hektare pertahun tapi selama ini yang baru terealisasi cuma 19 ribu hingga 20 ribu hektare. Ya harus diakui ada begitu banyak persoalan entah itu lahan yang masuk area hutan tadi, kepengurusan yang tidak profesional, masalah tanah.

Bahkan beliau mengusulkan agar sawit jadi muatan lokal pelajaran di daerah. Ini menarik dan bisa dibicarakan dengan forkompinda. Ini kekuatan strategis bangsa ini yang bukan dihancurkan tapi dirawat. Bahwa efek negatif memang ada tetapi lebih besar positifnya. Yang negatifnya kita atur agar tidak berdampak pada masyarakat.

Apa manfaatnya GAPKI membantu petani non anggota? Produksi nasional itu perlu pasokan sawit yang banyak. Jadi membantu petani sebenarnya membantu pengusaha juga. Bila pengusaha mencermatinya dengan baik, maka membantu petani bisa memberi sesuatu pada bangsa ini. Kalau para petani datang dengan hasil produksi kualitas bagus dan pengusaha yang punya PKS dan turunan CPO kan dapat minyak yang bagus juga.

Apa manfaat GAPKI bagi non anggota seperti petani sawit misalnya? Banyak petani masuki masa replanting. Tidak semua petani bisa kelola uang sehingga punya dana untuk replanting (tanam ulang). Ini jadi kewajiban moral GAPKI bukan dalam arti biaya tapi simbiosis mutualisme dengan petani. Kalau petani paling punya 2-3 hektare yang hanya menghasilkan produktivitas CPO antara 1-3 ton/hektare/tahun. Sementara produksi CPO pengusaha sudah mencapai 6 ton. Ini jomplang sekali. Padahal untuk memenuhi kebutuhan nasional perlu banyak.

16

Jadi GAPKI bisa berperan membantu petani dalam program pemerintah PSR. Upaya pemerintah ini suatu hal yang nyata wujud kesadaran pemerintah bahwa sawit ini kritikal. Buat ekonomi bangsa objek vital perekonomian nasional. Makanya pemerintah menyiapkan lebih 50 persen dari biaya investasi tanam ulang disiapkan

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

Jika pendapatan petani meningkat tidak lagi meributkan hal yang tak perlu diributkan lagi seperti BOTL (biaya operasional tidak langsung). Harga TBS lah. Petani lebih sejahtera dan produksi kita tak perlu lagi lewat metode ekstensifikasi (memperluas lahan) tapi meningkatkan produksi di lahan yang sudah ada lewat intensifikasi.


WAWANCARA KHUSUS

Soal sosialisasi UU Cipta Kerja yang dilakukan GAPKI apa tujuannya? Kita mesti mempelajari dan menyikapi UU Cipta Kerja. Begitu banyak aturan baru di situ. UU Cipta Kerja bisa jadi solusi, bisa jadi penghalang, bila tak bisa menyikapinya dengan benar. Harus kita kenali dan pahami seperti apa. Kalau kami sendiri melihatnya satu sisi pemahaman yang sama dan keyakinan yang sama bahwa UU ini dibuat untuk menyelesaikan persoalan yang tak bisa diselesaikan oleh UU sebelumnya. Itu spiritnya. Yang tak boleh diubah itu hanya kitab suci. Selain itu bisa. Bisa terjadi UU sudah bagus tapi saat implementasi ke bawah bisa belok kanankiri juga. Spiritnya bagus menyelesaikan beragam hambatan. GAPKI Riau juga bisa cermati perda-perda yang spiritnya tidak lari dari spirit awalnya. Konsep kita mesti all out. Apa tidak kesulitan membagi waktu aktif di GAPKI dan juga di PTPN? Dua tahun pertama saya di PTPN sudah ada teman yang ajak agar saya terlibat aktif di GAPKI. Namun ketika itu saya belum siap karena banyak pembenahan yang harus saya lakukan di BUMN ini. Setelah semua berjalan on the track

terutama setelah transformasi teknologi, kerja jadi lebih efisien. Tiap senin pagi meeting. Minggu sore saya sudah briefing lewat teknologi. Setelah itu barulah saya menerima untuk aktif di organisasi. Selain itu di GAPKI kita ada sekretaris Eksekutif GAPKI Riau. Sehingga, dengan beliau banyak bagi-bagi tugasnya dengan saya. Apalagi pengurus inti sudah terbiasa di new era lewat teknologi. Bagaimana membagi waktu untuk keluarga? Hari libur biasanya jadi waktu untuk keluarga. Seperti kemarin, pas hari ahad waktu saya buat keluarga. Sampai pak Kepala Dinas Perkebunan kesulitan mengontak saya. Lalu beliau menghubungi staf saya bertanya pak Dirut kemana? Ya begitulah dinamikanya. Menurut saya waktu untuk keluarga itu penting. Daripada nanti menyesal kehilangan kebersamaan karena tak menyediakan waktu untuk itu. (HZN)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

17


Bangkit Saat Pandemi

Orang Teluk Rimba

Budidayakan Lebah Melifera Selain bertani di tanah sendiri, warga Dusun Segintil, Desa Teluk Rimba di pedalaman Riau juga beternak lebah. Mereka tinggal di rumah-rumah yang berjarak dalam kepungan perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI).

D

usun Segintil adalah dusun paling terpencil dari Desa Teluk Rimba, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Menjejaki dusun ini dari Siak, harus melewati perkebunan luas milik berbagai korporasi menjajaki jalan-jalan tanah yang berlubang, sebagian kecilnya sudah beraspal. Jalan menuju dusun ini belum rata, tetapi pembangunan dari Pemerintah Kabupaten Siak mulai berangsur masuk.

18

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


Dusun Segintil dipisahkan Sungai Siak dari induk desanya. Untuk sampai ke pinggir dusun Segintil, harus menggunakan sampan mesin dengan dengan ongkos Rp 5 ribu. Dusun ini didiami 100 kepala keluarga (KK). Warga di dusun ini hidup rukun dan berpenghasilan cukup, rata-rata mereka berkebun sawit dan karet. Meski hanya dihuni 100 KK, namun dusun ini sangat luas, jalannya berkilo-kilometer. Dari jalan yang panjang itu, kurang 1 Km saja jalan yang sudah disemenisasi, sisanya jalan tanah dengan kubangan lumpur. “Pemerintah tidak bisa mengaspal jalan ini, karena katanya tanah konsesi PT Arara Abadi,” kata Rahmat, warga Segintil. Rahmat memperlihatkan penangkaran lebah melifera yang menghisap saripati daun-daun dan bunga tumbuhan akasia dan mengahasilkan madu berkualitas. Dari kediamannya, digunakan mobil pick up mengikuti jalur lumpur-lumpur hidup sepanjang 3 Km. Dari kejauhan, terlihat hamparan luas tumbuhan akasia, bahan baku untuk produk yang dihasilkan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) - APP Sinar Mas Grup dengan pipa-pipa asap yang menjulang di Perawang, Kecamatan Tualang.

Pandemi Covid-19 tahun lalu. “Anggota kelompok tani kami ini 22 orang mendirikan penangkaran lebah melifera ini sejak Juli 2020 lalu. Kami terinspirasi dari jemaah tabligh yang masuk ke sini dan mengenalkan kami dengan lebah melifera ini,” kata Amri.

“Akasia ini milik PT Arara Abadi, sebagian permukiman kami ini katanya berada di lahan konsesi mereka sebagian lain berada salam hutan tanaman rakyat (HTR). Kami tidak begitu mengerti dengan istilah itu, tapi sekarang kami sudah mencoba mengurus surat tanah kami sendiri,” kata Rahmat. Dalam perjalanan itu, kebun sawit dan kebun akasia dibelah jalan tanah selebar 7 meter. Sebelah kanan kami, hamparan akasia membentang sejauh mata memandang dan, sebelah kiri terlihat kebun sawit yang setengah semraut. Di dalam kebun sawit itu terlihat ratusan kotak dipajang tak beraturan. Itulah penangkaran lebah melifera milik Kelompok Tani Duo Rimbo Madu yang diketuai Amri (41). Penangkaran lebah melifera tersebut baru dimulai sejak Juli 2020. Hasil produksinya sudah dijual kemanamana, bahkan sudah sampai ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Karakter madu yang dihasilkan juga cukup unik, warnanya coklat mengkilat kehita-

man dan rasanya kental dan manis.Meski hasil produksi lebah melifera mereka diminati, tetapi Kelompok Tani Duo Rimbo Madu ini belum mendapatkan pelanggan tetap.

Amri bertutur, saat ini kelompoknya sudah mempunyai 700 kotak penangkaran. Satu kotak penangkaran menghasilkan madu paling sedikit 2 Kg dan paling banyak 4 Kg.Sebanyak 700 kotak yang dimiliki bisa menghasilkan 2 ton madu, dengan masa panen 2 minggu sekali. “Selama ini kami menjualnya kepada pemesan dengan kemasan jerigen 50 Kg, dengan harga Rp 4 juta, rata-rata 1 Kg seharga Rp 80 ribu,” kata Amri

Informasi ini yang membuat PT Kimia Tirta Utama (KTU), Astra Agro Lestari Grup tertarik untuk membantunya. Administratur PT KTU Hubbal K Sembiring dan Asisten CSR PT KTU Slamet Riyadi datang ke Segintil, menyusul Bupati Siak Alfedri dan Wakil Ketua I DPRD Siak Fairus dan rombongan.

Jika rata-rata hasil panennya 2 ton per dua minggu, kelompok tani yang diketuai Amri ini menghasilkan uang Rp 160 juta. Sebulan 22 orang yang tergabung dalam kelompok tani itu menghasilkan uang Rp 340 juta. “Kami beruntung memulai usaha ini sejak Juli 2020 lalu, ada usaha pada masa pandemi Covid 19 ini yang sangat menguntungkan,” katanya.

Mereka melihat penangkaran lebah madu melifera yang baru eksisting sejak masa

Menurut Amri, hasil panen madu yang melimpah saat cuaca tidak terlalu panas

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

19


dan tidak hujan. Bila musim hujan atau panas terik hasil panen agak berkurang. Ia menerangkan, penangkaran lebah melifera itu sengaja dibuat berdekatan dengan hamparan akasia, karena karakter lebahnya memakan saripati daun dan bunga akasia. “Lebah ini unik tidak menyengat, kita buat penangkaran yang berdekatan dengan makanannya,” katanya. Kotak-kotak penangkaran itu didatangkan dari Jawa termasuk dengan lebahnya sendiri. Dalam satu kotak berisi 8 jaringan yang akan menjadi sarang para lebah. Penangkaran ini juga menciptakan ratu lebah untuk mengahasilkan telur di setiap jaringan di dalam kotak. Sehingga lebah ini terus bereproduksi dan berproduksi sepanjang waktu. “Saat ini kami keteteran untuk pemasaran, kami berharap PT KTU membantu pemasaran kami,” kata Amri. Selain musim yang menjadi kendala, hewan endemik di kawasan itu juga mengancam. Namanya di kawasan hutan yang berubah menjadi HTI, sisa -sisa generasi hewan buas yang terancam punah semacam beruang masih berkeliaran di sana. Amri terpaksa mendirikan pondok dan menyewa penjaga penangkarannya. “Bila datang beruang, penjaga yang mengusirnya dengan mercon. Kalau tidak dijaga madu -madu ini bisa habis sama beruang,” kata dia. Kepala desa/penghulu kampung Teluk Rimba, Mubarok mengatakan, Kelompok Tani Duo Rimbo Madu ini mandiri, modalnya merupakan patungan para anggota. Di Segintil, juga terdapat kelompok tani lain yang mempunyai penangkaran lebah melifera. “Kelompok tani ini yang asli warga Segintil, sedangkan yang lain adalah pihak luar yang membuka usaha penangkaran di Segintil,” kata Mubarok.

menyampaikan, dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan perlu adanya apresiasi kinerja MPA, yaitu melalui stimulus peningkatan ekonomi. Menurutnya ada beberapa alternatif kegiatan yang dapat dilakukan guna meningkatkan ekonomi, yaitu budidaya lebah madu hutan mellifera. Prinsip utama dalam usaha peningkatan ekonomi MPA adalah harus melihat potensi lokal yang ada, disusul dengan proses pemanfaatan dan pemberdayaan. Pada kesempatan ini PT KTU membantu pengadaan botol kemasan untuk kelompok tani tersebut. Tujuannya untuk mendongkak penjualan madu yang dihasilkan oleh kelompok tani Duo Rimbo Madu dusun Segintil. “Kegiatan kelompok tani Duo Rimbo Madu sangat membantu untuk patroli pencegahan Karhutla sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat,” kata dia. Sementara itu, Bupati Siak Alfedri mengatakan, budidaya lebah madu melifera memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. “Kami lihat usaha ternak madu di sini cukup produktif, dapat membantu mengerakan ekonomi masyarakat,”ujarnya.

Anggota kelompok tani Duo Rimbo Madu tersebut juga merupakan Mayarakat Peduli Api (MPA). Hal itu menambah alasan PT KTU hadir ke penangkaran itu dengan memberikan bantuan botol kemasan. “MPA merupakan ujung tombak dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Kabupaten Siak dan wilayah kerja PT KTU,” kata Administratur PT KTU Hubbal K Sembiring. Pihaknya perlu memberikan penguatan kepada MPA berbasis usaha ekonomi di Segintil Desa sebagai bentuk apreasiasi dan stimulan. Hubbal K Sembiring

20

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

Dari diskusi yang berjalan, para peternak lebah mengeluhkan sulitnya pemasaran, terutama saat panen madu melimpah. “Melalui dinas Koperasi dan UMKM kita minta nanti mencari jalan keluar bagaimana pemasaran madu ini bisa lancar. Apakah kita bentuk kelembagaan yang khusus menanggani pemasaran mulai dari lebel, kemasan dan stok harapan kita, madu Siak bisa di ekspor ke Malaysia,” harapnya. Alfedri juga meminta pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah Koto Gasib seperti PT Kimia Tirta Utama turut membantu membentuk kelompok ternak lebah baru di kampung lain. “Kami minta PT KTU Gasib selain memberikan bantuan kemasan madu juga membantu pemasaran madu, dengan meminta karyawan membeli madu dari kelompok tani Duo Rimbo Madu. Selain itu juga dapat membentuk kelompok baru di desa lain, seperti di Buatan Satu di sekitar wilayah oprasional PT KTU,” katanya. Ia berharap, Budidaya ternak lebah madu di Teluk Rimbo menjadi contoh bagi kampung lain. Budidaya lebah madu juga dimasukkan ke dalam program 1000 UMKM di Pemkab Siak. (lin)


Wilmar Group Indonesia mendukung upaya pemerintah mempercepat vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat di DKI Jakarta, dengan memberikan minyak goreng kepada pesera vaksinasi. Hal itu dilakukan demi mendorong antusiasme warga agar semakin banyak yang melakukan vaksinasi. Menurut Ketua Panitia Program Vaksinasi Wilmar Erlina Panitri, dalam program tersebut pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Wilmar berupaya membantu pemerintah agar semakin banyak masyarakat yang divaksinasi. Salah satu caranya adalah dengan mendekatkan akses ke masyarakat, karena ada sebagian yang kesadarannya masih kurang. “Yang kami lakukan adalah jemput bola, yaitu dengan membantu mendekatkan akses vaksin ke masyarakat di titik-titik yang tingkat vaksinasinya masih rendah,” kata Erlina melalui siaran pers. Dukungan yang dilakukan perusahaan juga berupa penyediaan tenaga dan peralatan kesehatan. Dalam penyediaan tenaga kesehatan, perusahaan bekerjasama dengan Rumah Sakit Mulya,

Dukung Program Vaksinasi

Wilmar Bagikan Minyak Goreng Tengerang. Kegiatan vaksinasi tersebut digelar di 10 titik di tujuh kelurahan di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. “Titik-titik ini merupakan rekomendasi dari Dinas Kesehatan dan kami telah berkoordinasi juga dengan Puskesmas Tambora,” ujar dia. Erlina menilai, vaksinasi merupakan

salah satu hal krusial dalam menanggulangi penyebaran Covid-19. Dengan bantuan semua pihak agar dapat membantu pemerintah dalam mempercepat pelaksanaan vaksinasi. Wilmar terus berkordinasi dengan pemerintah daerah untuk melihat potensi dilaksanakannya program serupa jika masih diperlukan. (lin)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

21


GALERI FOTO

PELANTIKAN PENGURUS GAPKI RIAU PERIODE 2020-2025 Setelah terpilih pada Musyawarah Cabang VI GAPKI Riau pada 16 Desember 2020 lalu, Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Jumat (26/3/21) sudah dilantik. Pelantikan langsung Ketua Umum GAPKI Pusat, Joko Supriono secara virtual. CEO PTPN V, Jatmiko Krisna Santosa yang dilantik sebagai Ketua Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau 2021-2025, mengatakan bahwa ia ingin membawa GAPKI Riau sebagai wadah yang memiliki dampak positif yang menguntungkan bagi pelaku usaha kelapa sawit di provinsi Riau yang saat ini memiliki luas kebun sawit terbesar di Indonesia. "Yang jadi concern kita berkaitan dengan peremajaan sawit rakyat. Kita tahu persis kalau bicara CPO (crude palm oil) perusahaan mendekati 5 ton per hektare. Sementara petani hanya 2 ton hektare. Ini masih jadi pekerjaan rumah besar," kata Jatmiko K Santosa, usai pelantikan pengurus GAPKI Cabang Riau Periode 2020-2025 di Kota Pekanbaru.

GAPKI dan pemerintah pusat. Bersama pemerintah, GAPKI Pusat berupaya mengakselerasi program tersebut sebagai salah satu upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional. Ia menegaskan GAPKI Riau segera berkoordinasi dengan Pemerintah setempat untuk memetakan daerah di Riau yang memiliki potensi besar dalam pelaksanaan PSR. "Saat ini, Pelalawan menjadi salah satu kabupaten percontohan pelaksanaan PSR melibatkan perusahaan di Riau. GAPKI Riau segera berkoordinasi dengan Pemer-

Jatmiko mengatakan peremajaan sawit rakyat (PSR) juga telah menjadi prioritas

22

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

intah setempat untuk memetakan daerah di Riau yang memiliki potensi besar dalam pelaksanaan PSR," terangnya. Menurutnya, kerjasama yang baik antara pengusaha dan petani sawit akan berimplikasi besar dalam melawan kampanye hitam sektor perkebunan sawit. Ia mengatakan langkah sertifikasi perkebunan sawit rakyat dengan perusahaan menjadi solusi yang bisa dipilih dalam melawan kampanye hitam negara produsen pesaing. (*)


GALERI FOTO

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

23


Asian Agri Bersama Tanoto Foundation Donasikan

24 Ton Oksigen Bagi Pasien Covid-19 Asian Agri bersama Tanoto Foundation, lembaga filantropi independen dalam bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, hari ini mendonasikan 24 ton oksigen untuk membantu memenuhi kebutuhan oksigen bagi pasien Covid-19 di provinsi Jambi melalui koordinasi dengan Gubernur Provinsi Jambi dan Kepolisian Daerah Provinsi Jambi. Lonjakan pasien Covid-19 menyebabkan ketersediaan oksigen untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mulai terbatas. Pasien-pasien Covid-19 dalam kondisi bergejala berat / kritis yang dirawat di rumah sakit sangat membutuhkan oksigen, sementara pasokan oksigen di tanah air mulai terbatas. Oleh karenanya Asian Agri bersama dengan Tanoto Foundation tergerak untuk turut berkontribusi membantu Pemerintah dalam pengadaan oksigen bagi para pasien Covid-19 di tanah air khususnya di provinsi Jambi. Pengiriman dilakukan dari Pangkalan Kerinci menuju Jambi pada 6 Agustus 2021 yang dikawal oleh jajaran kepolisian Jambi dan tiba pada tanggal 7 Agustus

24

2021 yang disambut antusias oleh Gubernur Provinsi Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos, M.H dan Kapolda Provinsi Jambi, Irjen. Pol.A. Rachmad Wibowo di rumah dinas Gubernur. “Kami sangat menyambut baik bantuan

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

yang diberikan oleh Asian Agri dan Tanoto Foundation oleh karenanya saya membentuk tim khusus yang saya tugaskan untuk mengawal truk oksigen hingga dapat tiba ditujuan dengan aman, karena bantuan oksigen ini amat sangat berharga untuk para pasien Covid-19 yang


ada di provinsi Jambi ini,” jelas Irjen. Pol. A. Rachmad Wibowo melalui Siaran Pers Gubernur Provinsi Jambi, Al Haris mengapresiasi bantuan Asian Agri dan Tanoto Foundation. Saat ini katany, ketersediaan oksigen di provinsi Jambi menjadi sangat langka, terlebih dengan melonjaknya angka pasien penderita Covid-19 yang harus dirawat di rumah sakit dengan gejala berat hingga kritis. “Oleh karenanya kami sangat mengapresiasi bantuan oksigen yang berikan oleh Asian Agri dan Tanoto Foundation karena kami yakin akan dapat membantu para pasien rawat inap yang tersebar di banyak rumah sakit di provinsi ini. Kami berharap pandemi ini dapat segera berakhir dan masyarakat dapat kembali menjalankan kesehariannya seperti sediakala.” tuturnya. Board of Trustee Tanoto Foundation, Anderson Tanoto menyampaikan, pihaknya terpanggil untuk merespon dengan cepat ketika mendapatkan informasi bahwa ketersediaan oksigen bagi rumah sakit-rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 mulai terbatas. “Oleh karena itu, kami segera melakukan koordinasi untuk secepat mungkin meny-

alurkan oksigen yang diproduksi oleh pabrik PT RAPP di Pangkalan Kerinci, Riau ke Jambi untuk membantu memasok oksigen bagi rumah sakit-rumah sakit yang membutuhkan di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.”ungkapnya. Lanjutnya, semoga oksigen yang kami salurkan ini dapat membantu menyelamatkan para pasien COVID-19 yang harus dirawat di rumah sakit-rumah sakit

khususnya di Provinsi Jambi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, kebutuhan oksigen medis di Indonesia mengalami kenaikan lebih dari enam kali lipat dari biasanya. Dalam keadaan pandemi sebelum terjadi lonjakan jumlah pasien Covid-19, kebutuhan oksigen medis di Indonesia berkisar 400 ton per hari. Namun kini, kebutuhan oksigen medis mencapai 2.500 ton per harinya. (lin)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

25


APKASINDO

APKASINDO dan Asian Agri

Jalin Kerjasama Percepat PSR DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) dan PT Inti Indosawit Subur, unit bisnis Asian Agri, telah menandatangani nota kesepahaman dalam rangka peningkatan produktivitas sawit rakyat dan mendukung Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dengan meningkatnya produktivitas kelapa sawit rakyat akan menguntungkan semua pihak terkhusus dari segi ekonomi, sosial dan ekologi. “APKASINDO telah merangkul beberapa perusahaan besar kelapa sawit di Indonesia yang tersebar di 22 Provinsi perwakilan APKASINDO. Di tengah pandemi, semua pola kerjasama kemitraan ini tetap dilakukan karena petani sawit tidak pernah menyerah. Saat ini, kemitraan baru dijalankan bersama anggota GAPKI sebagai bagian amanah dari UU Cipta Kerja,” ujar Dr cn Ir Gulat Manurung, MP.,C.APO, Ketua Umum DPP APKASINDO, Selasa, 12 Agustus 2021.

26

Dalam 7 bulan terakhir, kerjasama kemitraan APKASINDO dengan berbagai pihak telah berjalan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Papua, Jambi, Aceh dan Riau.

(Int.Bus), CC,CL dan Ketua Tim Percepatan PSR DPW APKASINDO Riau, Eko Jaya Siallagan, SP.,M.Si.,C.APO. Dari Pihak Asian Agri dihadiri oleh Regional Head Asian Agri wilayah Riau, Omri Samosir dan jajaran pengurus lainnya.

Hadir dalam penandatanganan MoU antara lain Sekjen DPP APKASINDO, Rino Afrino, ST., MM., C.APO, serta mewakili DPW APKASINDO Riau, Sekretaris Wilayah, Djono A Burhan, S.Kom., MMgt

Dalam nota kesepahaman ini, ada empat poin utama dalam kerjasama kedua belah pihak. Diantaranya peningkatan kerjasama penyediaan bibit unggul kelapa sawit untuk perkebunan sawit rakyat,

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


APKASINDO

peningkatan kerjasama dalam pemasaran dan pendampingan yang berkaitan dengan benih unggul kelapa sawit untuk perkebunan sawit rakyat. Selanjutnya, pelaksanaan kerjasama pembangunan penangkar bibit di wilayah potensial. Berikutnya yaitu peningkatan kerjasama dalam mendukung dan mensukseskan kelangsungan program peremajaan sawit rakyat berbasis kemitraan perusahaan dengan petani melalui KUD dan Poktan. “Sebenarnya, sebelum adanya penandatangan MoU ini baik Asian Agri dengan APKASINDO telah terjalin hubungan baik lama. Baru-baru ini terjalin kerjasama Pembangunan Pusat Pembibitan Sawit yang ditujukan mendukung program Santripreneur Berbasis Sawit pada Oktober 2020,” ujar Gulat.

Tataniaga TBS diarahkan bagi petani untuk menjalin kemitraan. Makanya, kami mengajak semua petani sawit di seluruh Indonesia supaya melakukan kemitraan dengan korporasi dan pendamping kemitraan ini. “Kemitraan bukan sebatas kemitraan pasokan TBS tapi juga PSR. Petani swadaya sangat berpotensi menjalin kemitraan dengan Korporasi seperti Asian Agri. Dalam UU Cipta Kerja juga disebutkan 20% kebun korporasi itu harus bermitra dengan kebun masyarakat. Disinilah APKASINDO memainkan peranannya,” ujar Rino yang juga putra asli

Kampung Tapung, Riau ini. Ia mengatakan banyak manfaat dari kemitraan terutama bagi manajemen karena memberikan kepastian harga TBS. Dalam hal ini APKASINDO menawarkan Model Kemitraan Setara antara Petani dengan Korporasi, kata kunci setara disini adalah sama-sama untung dan sama-sama maju dengan sistem terbuka dan APKASINDO hadir ditengahnya. “Kepada Asian Agri kami sudah memetakan sebaran petani binaan APKASINDO untuk segera menjalin PSR bersama Asian Agri,” harapnya. (*)

Dikatakan Gulat bahwa Riau salah satu pilot project program Santripeneur Sawit. Itu sebabnya, DPP APKASINDO bekerjasama dengan beberapa produsen benih sawit salah satunya Asian Agri. “Memang sejak dulu, sudah terjalin chemistry bagus antara APKASINDO dan Asian Agri. Jadi MoU ini bukan seperti biasanya karena kami sudah bekerjasama semenjak dahulu,” ujar auditor ISPO ini. Rino Afrino menguraikan kemitraan antara petani dengan korporasi sangatlah penting karena kemitraan ini sesuai dengan aturan pemerintah dan daerah. Di peraturan gubernur Riau mengenai Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

27


APKASINDO

64 Tahun, Sudah Sejahterakah

Petani Sawit Riau? Bertepatan Senin (9/8/2021), Provinsi Riau merayakan hari jadi yang ke-64 tahun. Riau merupakan provinsi yang dikenal dengan kekayaan minyaknya, baik dari bawah yakni minyak buminya maupun dari atas, yakni minyak dari perkebunan sawit.

Jono Albar Burhan Sekretaris DPW Apkasindo Riau

28

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

R

iau bahkan provinsi dengan perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Dikutip dari beritadaerah.co.id, menurut buku statistik kelapa sawit yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS), luas perkebunan kelapa sawit di Riau pada tahun 2020 mencapai 2,85 juta hektare dari hampir 15 juta hektare luas keseluruhan di Indonesia. Dengan perkebunan terluas, tentu Riau menjadi penghasil CPO tertinggi di tanah air. Dengan kondisi ini, apakah para petani kelapa sawit di Riau sejahtera?


APKASINDO Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau, Jono Albar Burhan, menyebutkan, saat ini kesejahteraan petani kelapa sawit di Provinsi Riau sudah mulai membaik. Apalagi saat ini kondisi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau sudah mencapai harga tertingginya. Berdasarkan penetapan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Riau, harga TBS periode lalu sudah mencapai Rp 2.760/Kg. “Sampai tahun ini, berhubung harga TBS membaik di 2021, jadi kesejahteraan petani meningkat secara keseluruhan. Karena harganya dari paling ujung hingga ke petani swadaya pun mereka masih merasakan harga yang bagus,” kata Jono. Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Riau. Di mana industri lain banyak yang tumbang akibat pandemi covid-19, namun industri sawit justru tumbuh subur dan semakin membaik. Hal ini tentu membantu kesejahteraan petani sawit saat pandemi. “Untuk ke petani tentu yang paling kita lihat TBS. Berkaca dari harga TBS yang sudah naik signifikan di kala pandemi ini, di mana industri banyak yang terpuruk, tapi sekarang sawit justru lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Itu juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Selain itu juga program PSR yang tengah dikerjakan pemerintah saat ini, sehingga produktivitas petani semakin terjaga dan

bahkan meningkat,” ujar Jono. Jono berharap, dengan usia Provinsi Riau yang sudah menginjak 64 tahun ini, Pemerintah Provinsi Riau dapat mengambil kebijakan-kebijakan yang dapat membantu menjaga kesejahteraan para petani. Salah satunya adalah dengan menjaga konsumsi sawit untuk dalam negeri. “Berhubungan dengan petani, tentu yang diharapkan saat ini adalah penyerapan dalam negeri. Karena sekarang tidak terlepas dari biodiesel juga. Jadi harapan kita dorongan seperti itu terus berlanjut,” harapnya. Bukan hanya itu, dia juga berharap agar

pemerintah mendukung anak para petani sawit untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan mempermudah regulasi untuk bagi anak para petani untuk memperoleh beasiswa dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). “Untuk beasiswa juga saat ini, anakanak petani saat ini sedang berusaha untuk masuk ke beasiswa BPDPKS. Jadi kalau bisa itu dipermudah, karena banyak anak-anak petani yang berada di pedesaan yang tidak begitu mengetahui soal administrasi dan lainnya. Ya mungkin peraturan dan administrasinya dipermudah, sehingga anak petani bisa mengakses beasiswa BPDPKS ini,” ujar Jono. (Bayu)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

29


Management PT EDI Bagikan Masker dan Beri Imbauan Taati Prokes di Masa PPKM Level 4

P

ihak PT Ekadura Indonesia (EDI) anak group Astra, lakukan pencegahan mengantisipasi penyebaran Covid 19 masuk ke wilayah perusahaan Antisipasi pencegahan penyebaran Covid 19 diakui Management PT.Edi melalui CDO PT. Edi Ginanjar Maolid, bulan lalu, setelah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul)

dilakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4. Ginanjar bersama karyawan laim serta petugas Kepolsian, bagikan masker ke karyawan dan non karyawan yang berada di lingkungan perusahaan, sekaligus mensosialisasikan agar selurunya taati protokol kesehatan.

“Sejak masa pandemi, PT.EDI khususnya perusahaan di bawah Group Astra komitmen menerapkan Prokes baik bagi karyawan termasuk bagi tamu yang berkunjung ke perusahaan, upaya agar perusahaan bebas dari Covid 19,” jelas Ginanjar. Ginanjar juga menyebutkan, PT.EDI yang merupakan anak Group Astra, sejak masa pendemi Covid 19 selalu intens lakukan pencegahan bukan hanya di lingkungaan perusahaan, namun juga terhadap masyarakat yang berada di desa desa sekitar perusahaan “Bahkan saat ini, karyawan yang keluar untuk urusan penting, maka saat akan masuk ke perusahaan kembali harus dilakukan dulu tes apakah sudah bebas Covid 19. Ini bentuk komitmen perusahaan terutama di masa PPKM level 4 agar Covid 19 hilang di Rohul ini,” harap Ginanjar. (hen)

30

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


Astra Agro Gandeng Kimia Farma

Vaksinasi Pekerja Perkebunan dari Aceh-Sulawesi Perusahaan perkebunan kelapa sawit Grup Astra International, PT Astra Agro Lestari Tbk. bekerja sama dengan PT Kimia Farma Diagnostika (KFD), cucu usaha PT Kimia Farma Tbk. untuk memvaksinasi pekerja dan keluarga mereka. Total target vaksinasi mencapai 36.000 peserta.

L

okasi perkebunan Emiten berkode saham AALI itu berada di delapan Provinsi yaitu Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Sekitar 36.000 pekerja perkebunan Grup Astra Agro beserta keluarganya mengikuti program vaksinasi. Program Vaksinasi Gotong Royong (VGR) Astra Agro sudah berjalan sejak pertengahan Juli dan ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2021. Sejumlah pimpinan Kimia Farma meninjau beberapa lokasi vaksinasi pada Jumat (13/8) untuk memastikan kelancarannya. Mereka adalah Dirut PT Kimia Farma Apotek (KFA) Nurtjahjo Walujo Wibowo, Direktur Pengembangan Bisnis KFA Muhardi-

man, Plt. Direktur Utama KFD Agus Chandra dan Direktur KFD Abdul Aziz. Tiga lokasi vaksinasi yang dihadiri pimpinan Kimia Farma adalah PT Tribuana Mas, Desa Buas-Buas, Kecamatan Candi Laras Utara, Kalimantan Selatan; PT Karya Tanah Subur, Meulaboh, Banda Aceh; dan PT Letawa di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Eko P. Wibisono, Chief of Human Capital Officer PT Astra Agro Lestari Tbk. menyampaikan bahwa herd immunity sangat penting bagi pengendalian dan penanganan pandemi Covid-19. “Sejalan dengan kebijakan pemerintah dan kepedulian kami terhadap isu kesehatan, Grup Astra Agro melakukan vaksinasi terhadap pekerja beserta keluarganya,” kata Eko.

Eko menjelaskan, sebagai perusahaan yang bergerak di perkebunan kelapa sawit, anak usaha Grup Astra Agro beroperasi di Aceh hingga Sulawesi. Tidak sedikit lokasi yang harus ditempuh dalam waktu berjam-jam menggunakan transportasi udara, darat maupun air. Selain menerapkan protokol kesehatan secara ketat, upaya serius untuk melindungi karyawan beserta keluarganya juga dilakukan perusahaan dengan menggelar program vaksinasi.

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

31


Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek Nurtjahjo Walujo Wibowo menyatakan pihaknya memberikan pelayanan vaksinasi secara profesional terhadap para pekerja dan perkebunan Astra Agro Lestari dan keluarga mereka untuk mempercepat pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) di sektor perkebunan. “Kami senang dapat memberikan vaksi-

nasi kepada para pekerja perkebunan Astra Agro Lestari yang sebagian besar berada di remote area agar terhindar dari ancaman Covid-19.

meninjau vaksinasi pekerja perkebunan PT Tribuana Mas, Desa Buas-Buas, Kecamatan Candi Laras Utara, Kalimantan Selatan, Jumat (13/8).

Sebagai bagian dari Holding BUMN Farmasi, Kimia Farma siap mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat herd immunity dalam hal ini di sektor perkebunan kelapa sawit,” ujarnya saat

Kimia Farma Diagnostika telah memberikan pelayanan VGR sejak 18 Mei 2021 saat penyuntikan perdana (kick off) yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Kawasan Industri Jababeka, Jawa Barat. KFD telah memberikan pelayanan VGR kepada karyawan/karyawati sektor manufaktur, perbankan, media, ride hailing, migas, pertambangan, dan sekarang masuk ke sektor perkebunan kelapa sawit yang sebagian besar berada di wilayah terpencil (remote area). Plt. Direktur KFD Agus Chandra menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjalankan penugasan vaksinasi di setiap pelosok Indonesia. Dia juga berharap vaksinasi ini dapat meningkatkan imunitas pekerja perkebunan sehingga produksi minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebagai komoditas unggulan ekspor Indonesia tetap terjaga. “Kimia Farma berdedikasi dalam membantu pemerintah menanggulangi

32

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


pandemi melalui vaksinasi. Setelah melayani di Papua Barat, kini kami memberikan layanan vaksinasi di Serambi Makkah, Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Tentu banyak tantangan terutama dalam pengiriman vaksin ke lokasi remote area seperti di kawasan perkebunan di pedalaman. Kualitas vaksin harus terjaga, vaksinator profesional dan seluruh proses vaksinasi berjalan sesuai prosedur,” ucapnya. Agus menyambut baik langkah AALI yang memprioritaskan vaksinasi para pekerja perkebunan dan keluarga mereka. Kimia Farma dan Astra Agro Lestari memiliki persamaan pandangan bahwa percepatan perekonomian nasional melalui sektor perkebunan kelapa sawit harus dilindungi. Sektor ini sangat strategis, karena menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa negara. Selain itu, industri kelapa sawit juga berkontribusi besar dalam transisi energi fosil menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan melalui bauran 30% biodiesel (B30). Produk turunan dari minyak sawit juga menjadi bahan pembuatan hand sanitizer. “Keberlangsungan produksi kelapa sawit perlu dijaga. Vaksinasi para pekerja perkebunan menjadi salah satu cara untuk menjaminnya. Ini merupakan sinergi BUMN Farmasi dan industri perkebunan kelapa sawit nasional untuk mempercepat pemulihan perekonomian nasional,” tuturnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23/2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulan-

gan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), pemerintah menugaskan PT Bio Farma (Persero) dalam pengadaan dan pendistribusian vaksin Covid-19, peralatan pendukung, serta logistik. Vaksinasi Gotong Royong (VGR) merupakan pelaksanaan vaksinasi kepada karyawan/ karyawati, keluarga dan individu lain terkait dalam keluarga yang pendanaannya ditanggung atau dibebankan pada badan hukum/badan usaha. Sementara itu, perusahaan yang akan

menjadi peserta Vaksinasi Gotong Royong (VGR) melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui Kadin Indonesia atau Bio Farma (Holding Farmasi). Selanjutnya, Kadin bekerja sama dengan Bio Farma melalui anak usahanya PT Kimia Farma Tbk dalam pendistribusian dan penyuntikan VGR. Emiten farmasi berkode saham KAEF itu menunjuk cucu usahanya, PT Kimia Farma Diagnostika untuk memberikan pelayanan VGR. Kimia Farma Diagnostika merupakan anak usaha PT Kimia Farma Apotek. (Lin)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

33


GAPKI RIAU

Gapki Riau Dukung Program Vaksinasi atasi Pandemi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) cabang Riau mendukung program vaksinasi yang tengah digencarkan di seluruh Indonesia. Seperti yang ditekankan pemerintah, agar pandemi Covid 19 segera teratasi maka sangat diperlukan kerja sama dan dukungan banyak pihak. “GAPKI mendukung program vaksinasi dan program-program lain dalam rangka mengendalikan pandemi Covid-19,” kata Maryanto, Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Riau. Menurut Maryanto, sebagian besar perusahaan di Riau bergerak di industri kelapa sawit. Kontribusi terhadap percepatan jumlah masyarakat yang telah divaksin tentu akan baik bagi upaya menjaga dan melindungi kesehatan masyarakat. “Kesehatan menjadi kunci yang sangat penting bagi kesejahteraan,” lanjut Maryanto yang sekaligus berharap program vaksinasi dapat membuat masyarakat aman dan nyaman dalam bekerja. GAPKI juga ikut berkontribusi dalam

34

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


GAPKI RIAU Program pembangunan Rumah Oxygen di Pekanbaru. GAPKI Riau berharap program tersebut juga bisa turut berkontribusi dalam penanganan pandemi. Pandemi Covid-19 di Provinsi Riau masih menunjukkan angka yang terus naik. Hingga saat ini, angka kasus aktif sebanyak 2.000 kasus baru. Anak-anak usaha grup Astra Agro di Riau yang juga tergabung dalam GAPKI menggelar program Vaksin Gotong Royong. Perusahaan kelapa sawit tersebut beroperasi di 4 kabupaten yakni Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Rokan Hulu. Mereka adalah PT Sari Lembah Subur (SLS), PT Sawit Asahan Indah (SAI), PT Kimia Tirta Utama (KTU), PT Ekadura Indonesia (EDI) dan PT Tunggal Perkasa Plantation (PT TPP). Sekda Kabupaten Pelalawan, Drs. H. Tengku Muhklis, yang mewakili Bupati menyatakan bahwa Pemerintah Daerah mengucapkan terimakasih dan sangat mengapresiasi peran serta perusahaan. "Ini sangat membantu pemerintah dalam membangun kekebalan imun masyarakat kita. Kita butuh kontribusi banyak pihak termasuk stakeholder maupun perusahaan, agar target vaksinasi 70% dari masyarakat kita akan segera terealisasi," jelasnya sambil menegaskan bahwa vaksinasi tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah Daerah semata, perlu kontribusi semua pihak termasuk perusahaan. Dede Kurniawan, Community Develop-

ment Area Manager (CDAM) Astra Agro Riau, vaksinasi tersebut merupakan aplikasi dari program Vaksin Gotong Royong. “Keikutsertaan kami pada program ini merupakan komitmen kami untuk bersama-sama mempercepat imunitas kolektif agar pandemik Covid-19 ini dapat segera berakhir,” ungkapnya. Program ini direncanakan akan selesai pada tanggal 9 Agustus 2021. “Kami

menargetkan seluruh karyawan dan keluarga mendapatkan vaksinasi,” lanjutnya. Pada periode ini, sebanyak 9.910 peserta akan mendapatakan vaksin. “Semoga dengan program ini, herd immunity dapat segera tercapai. Dengan demikian aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal agar dapat terus menggerakkan roda perekonomian, terutama di Provinsi Riau,” ungkap Dede. (Lin)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

35


KISAH SUKSES

HERMAN:

PT AA-APP AJARKAN KAMI BUKA LAHAN TANPA MEMBAKAR Herman, Petani Sayur Asal Desa Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak-Riau mengaku sejak bermitra dengan PT Arara Abadi (AA) dan Asia Pulp & Paper (APP) mengaku tidak lagi membuka lahan dengan membakar.

36

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021


KISAH SUKSES

“Dulu karena keterbatasan ekonomi, saya selalu membakar lahan dulu untuk bisa bercocok tanam. Namun ketika kami diajak bermitra dengan PT AA dan APP, kami baru sadar membakar lahan itu hanya akan memperburuk kondisi tanah dan menimbulkan masalah kepada orang lain,” Ucap Herman di acara webinar yang ditaja UMRI dan JKR bulan lalu bertempat di kampung UMRI Pekanbaru. Kata Herman, dari Program Kemitraan DMPA (Desa Makmur Peduli Api) dia sudah Membersihkan Lahan Dengan Tidak Membakar. “Awalnya saya adalah petani atau pekebun sawit dengan 2 ha dan jadi buruh tani, karena ekonomi saya tidak mendapatkan hasil yang baik dari kewbun sawit sawit tadi, namun perlahanlahan sebagian areal sawit saya tersebut saya rubah dan saya tanami dengan tanaman pertanian holtikultura seperti Bayam dan Kangkung seluas seperempat ha, sisanya sawit dan buah melon, dari seperempat ha,” jelas Herman. Lanjut Herman, Jika dibanding dengan hasil kebun sawit saya, dia hanya mendapatkan sekitar Rp2,5 juta perbulan dari kebun sawit. Jadi sangat jauh sekali perbedaan hasil kebun sawit saya dengan hasil pertanian holtikultura. “Usaha yang saya lakukan saat ini sedikitpun dalam

membersihkan lahan pertanian holtikultura ini saya tidak menggunakan api atau membakar untuk membersihkan lahan saya. Bagi saya jika membakar akan merusak unsur tanah, dan bisa membuat “pentil” dan “bunga” tanaman rontok, dan itu merugikan Petani, juga merugikan anak kita yang tidak bisa bersekolah karena asap, belum lagi kerusakan lingkungan, kesehatan,” paparnya. Sementara itu, Wakil Gubernur Riau, Edi Natar memberikan apresiasi acara webinar ini, terutama pada petani yang membuka lahan tanpa membakar. Katanya, Riau sangat konsen dengan pencegahan pembakaran lahan dan hutan karena itu, edukasi yang dilakukan melalui webinar seperti ini sangat dibutuhkan. “Saat ini Pemprov bekerjasama dengan pemerintah daerah baik Kabupaten dan

kota untuk memetakan daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan. Bahkan kita sudah mengiventaris izin perusahan dan membuat embung di lahan gambut serta penetapan siaga darurat yang dimulai sejak Februari kemarian,” paparnya. Senada dengan itu, Dr Mubarak, MSi selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Riau termasuk akademisi dan kampus. Katanya, tantangan karhutla yang sangat besar dan ini melibatkan semua pihak. “Kita tahu Riau sudah memiliki image langganan kebakaran lain setiap tahunnya. Dengan bekerja sama kita ingin menghilangkan image tersebut dan kebakaran hutan di Riau tidak lagi terjadi,” tuturnya, seiring itu dia juga akan melibatkan mahasiswa dengan program praktek kerja lapanganya untuk mendampingi petani membuka lahan tanpa mambakar. (lin)

Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

37


TANYA JAWAB

GULAT MEDALI EMAS

MANURUNG

(Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit) PERTANYAAN: Bagaimana tahapan penyelesaian permasalahan sawit dalam kawasan hutan sesuai dengan Undang-Udang Cipta Kerja (UUCK) tahun 2020? JAWABAN: Undang-undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang diundangkan pada tanggal 2 November 2020, pada sektor Kehutanan bahwa Kebun Kelapa Sawit yang masuk dalam kawasan hutan, dapat diselesaikan permasalahan penguasaan tanah dalam kawasan hutan sesuai dengan regulasi yang diatur pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 07 Tahun 2021, serta tertuang juga dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2021 pada Pasal 110 A dan 110 B. Tahap awal yang harus dilakukan yakni melakukan inventarisir (pemetaan kebun

38

sesuai koordinat) kebun kelapa sawit yang masuk dalam kawasan hutan. Pemetaan tersebut dilakukan guna memastikan supaya kebun kelapa sawit yang masuk dalam kawasan hutan dipastikan sesuai dengan by name, by address, by location. Terkait Pemetaan kebun sawit yang masuk dalam kawasan hutan, pihak DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) dapat mendampingi dan memfasilitasi inventarisasi kebun. Setelah dilakukan inventarisasi sawit dalam kawasan hutan, selanjutnya dilakukan indentifikasi tipologi Pekebun

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 21 Tahun 2021

sesuai dengan teknik penyelesaian yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2021. Bahwa Indentifikasi Tipologi tersebut terbagi atas 3 tipologi, yakni: a. Tipologi Pertama : Sesuai dengan pasal 110 A UU Cipta Kerja b. Tipologi Kedua : Sesuai dengan pasal 110 B ayat 1 UU Cipta Kerja c. Tipologi Ketiga : Sesuai dengan pasal 110 B ayat 2 UU Cipta Kerja Setelah sesuai dengan Tipologi – tipologi tersebut, selanjutnya penyelesaian permasalahan sawit dalam kawasan hutan diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk di proses, pengajuan pelepasan sawit dalam kawasan hutan juga sudah dapat menggunakan metode online. DPP APKASINDO bersedia mendampingi dalam penyelesaian permasalahan sawit dalam kawasan hutan. ***

------------------------------------------Rubrik Konsultasi ini dikelola oleh: Ir. Gulat ME Manurung, MP (Auditor ISPO) Eko Jaya Siallagan, SP (Auditor ISPO)


Edisi 21 Tahun 2021 ~ MAJALAH SAWIT

39


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah Sawit Edisi 21 by Majalah Sawit Plus - Issuu