Page 1


daftar isi

Solusi Harga Sawit Anjlok

Hal. 05

Moeldoko Kukuhkan DPP Apkasindo Kepengurusan Gulat Manurung Hal. 20

APKASINDO Mengukir Sejarah, Membangun Petani Melek Teknologi Hal. 22

Silaturahmi dengan Gubernur Riau, Apkasindo Keluhkan Harga Sawit Anjlok Hal. 24

Sukseskan B30, Gapki Riau Jamin Ketersediaan Bahan Baku Hal. 28

Wawancara Khusus

husni thamrin

mutiara hitam dari pelalawan Hal. 10

Koperasi Binaan Astra Agro Raih Koperasi Terbaik Nasional

Hal. 18

Asian Agri Serahkan Reward Desa Bebas Api

Hal. 30

“Harga TBS Anjlok, Naikkan Sawit Untuk Campuran Biodiesel�

Hal. 32

Sukamto: Ekonomi Kami Makin Naik Karena Binaan PT KTU

Hal. 36

Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab: Djoko Suud Sukahar Pimpinan Perusahaan: Herlina, S.Sos Dewan Redaksi: Djoko Suud Sukahar, Herlina, S.Sos, S.Kom.I, Eli Suwanti, Hamdan Tambunan, Ridho Haztil Cover/Desain: Makmur HM Sirkulasi/Distribusi: Hendra Gunawan IT Support: Afandi Kantor Perwakilan Jambi: Saman. 08117454949. Jl Sersan Anwar Bay No 1. Kenali Besar. Jambi Alamat Kantor: Jl. Bakti Perum. Bakti Indah No 3 Pekanbaru, Riau | Info Iklan: 0812 7698 0551 / WA: 0811 754 1174 E-mail: redaksi@sawitplus.co | Website: www.sawitplus.co | No. Rek. Mandiri: 108-00-2018999-0 a/n PT. Media Sawit Indonesia

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

03


editorial

Harga Turun Tetap Optimis Harga Tandan Buah Segar (TBS) lagi anjlok. Jika kita sedang berada di desa-desa sentra sawit, maka yang terdengar adalah nyanyian fals. Itu karena mereka memang tidak sedang bernyanyi, tetapi merintih. Mereka merintih karena harga TBS tak lagi menyejukkan. Tingkat lokal di bawah Rp1.300 per kilogram untuk petani plasma, dan kian jatuh lagi harganya untuk petani swadaya, berkisar antara Rp400-Rp700 per kilogram.

memasok kedelai ke China di saat berlangsungnya perang dagang. Negara-negara itu ‘panen raya’ dan memberi ‘pilihan’ terhadap China di saat-saat kritis. Maka ketika perang dagang ChinaAmerika Serikat berlangsung dan banyak pihak berasumsi Indonesia bisa memanfaatkan situasi itu, ini hanyalah angin surga. Mencoba menyenangkan diri di balik ketakutan yang ditakutkan bakal terjadi.

Memang kita tidak tahu persis berapa kebutuhan hidup petani dan berapa pula biaya saprotan yang harus dikeluarkan. Tapi kalau merujuk pada penelitian Prof. Almasdi, standar harga TBS itu sudah tidak layak. Kelayakan harga menurutnya adalah Rp1.500 per kilogram.

Adakah dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu Indonesia harus pesimis melihat hari depan sawit kita? Rasanya kok tidak harus begitu.

Namun adakah hanya petani yang merintih dengan penurunan harga sawit dan turunannya itu? Ternyata tidak. Nyanyian sumbang itu juga didendangkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Dalam rilisnya terbaru menyebut, selain ekspor menurun, harga Crude Palm Oil (CPO) dunia juga merosot. Pangkal kemerosotan itu tidak melulu karena pasar yang melandai, tetapi terbesar justru diakibatkan regulasi yang tidak memihak sawit Indonesia. Efek kampanye negatif Uni Eropa mulai terasakan dalam tahun ini. India menerapkan pajak impor maksimal sembari memberi ruang Malaysia untuk memenangi persaingan di Negeri Taj Mahal itu. Dan yang tak bisa dipungkiri, imbas perang dagang ChinaAmerika Serikat mulai memberi

04

Djoko Suud Sukahar Kolumnis dan Pemerhati Sosial Budaya. Penulis Tinggal di Jakarta.

tambahan beban. Berbagai faktor itu yang berperanan terhadap penurunan ekspor sawit dan turunannya. Memang betul perang dagang China-Amerika Serikat sudah reda. Dua raksasa itu berdamai, dan mulai menyusutkan sanksi balas-membalas pajak tinggi yang diberlakukan terhadap produk masing-masing. Tetapi luberan kedelai Amerika Serikat yang ‘ditolak’ masuk China telah memenuhi pasar Pakistan –pasar tradisional- minyak sawit mentah Indonesia, juga Bangladesh. Yang untung adalah negaranegara Amerika latin yang

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

Pasar masih terbuka lebar. Baik pasar di dalam maupun luar negeri. Dalam negeri mulai direalisasi campuran biodiesel dan listrik, sedang di luar negeri melalui diplomasi sawit dibuka pasar-pasar baru serta mengenalkan sawit ke berbagai negara. Sebagai tanaman yang efektif dan efisien, sawit akan sulit tersaingi minyak nabati lainnya di pasar global. Itu karena populasi manusia yang tumbuh pesat, secara alami membutuhkan pasokan makanan yang tidak perlu banyak lahan. Kini jumlah manusia sudah mencapai 7,7 miliar (7,53 miliar tahun 2017), dan diprediksi tahun 2050 akan meningkat menjadi 9,7 miliar. Saat manusia dibingungkan dengan kebutuhan pangannya, saat itulah sawit bakal menjawabnya. Sawit memang harapan masa depan.***


laporan utama

Solusi Harga Sawit

Anjlok Harga sawit sedang anjlok. Penurunan harga itu membuat berbagai pihak dirundung masalah. Sebab akan menyebabkan penumpukan stok, memaksa penurunan produksi, dan butuh waktu menormalkan kembali.

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

05


Laporan utama Di tengah pasar yang menurun dan harga yang rendah itu, sawit juga sedang diuji masa depannya. Uni Eropa (UE) masih tetap kukuh menghalangi masuknya sawit ke wilayahnya. Larangan ini diasumsikan direalisasi karena menyangkut kepentingan masingmasing negara di Benua Biru itu. Sebagai penghasil minyak ginola, bunga matahari, dan rapseed, mereka akan berjuang demi petaninya. Juga Amerika Serikat dengan kedelainya. Maka kendati ada banyak beleid yang tidak masuk akal dipakai untuk membenarkan alasan larangannya terhadap masuknya minyak sawit ke UE, mereka akan tetap memaksakan itu hanya demi ‘sopan santun’. Untuk itu, selain harus tetap berjuang untuk mematahkan alasan mereka melarang sawit masuk UE, tetapi tidak perlu optimisme berlebihan, bahwa itu akan berhasil.

Langkah produktif dan strategis yang sudah dilakukan selama ini perlu lebih diseriusi. Langkah itu adalah membuka pasar-pasar baru dengan diplomasi ‘pertemanan’, serta pasar dalam negeri yang masih sangat terbentang luas. Program B20 yang sudah direalisasi dan ditingkatkan menjadi B30 perlu lebih diseriusi. Dan jika ini bisa dinaikkan menjadi B100, maka rasa-rasanya pasar luar negeri tidak lagi menjadi tumpuan. Belum lagi program sawit untuk pembangkit listrik. Maka di tengah ekspor loyo dan harga sawit yang anjlok sekarang ini, masih terlihat banyak harapan tentang sawit masa depan. Tanaman yang efektif dan efisien ini masih memberi harapan bagi bangsa ini dalam percaturan global. Gagasan GAPKI Ekspor minyak sawit Indonesia mulai tergerus karena dampak dari regulasi beberapa negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia.

06

Dalam catatan GAPKI, pada April 2019 ekspor minyak sawit Indonesia secara total (CPO dan turunan, olechemical dan biodiesel) mengalami penurunan 18% dibandingkan total ekspor pada Maret lalu, atau dari 2,96 juta ton menurun menjadi 2,44 juta ton. Pada bulan Mei kinerja ekspor mulai merangkak naik tetapi masih di bawah ekspektasi. Pada Mei 2019 total ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 2,79 juta ton atau naik 14% dibandingkan dengan

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

total ekspor pada bulan sebelumnya. Sementara itu total ekspor khusus CPO dan turunannya (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) pada April 2019 mencatatkan penurunan 27% atau dari 2,76 juta ton di Maret menurun menjadi 2,01 juta ton di April. Sedang pada bulan Mei total ekspor tercatat mencapai 2,40 juta ton atau meningkat 18% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.


laporan utama

Melemahnya pasar ekspor minyak sawit Indonesia tentu menjadi pekerjaan rumah bagi industri sawit Indonesia. Beberapa negara tujuan ekspor utama memberlakukan regulasi yang sudah masuk dalam kategori hambatan dagang. Contoh India, yang menaikkan tarif bea masuk minyak sawit sampai pada batas maksimum. Malaysia sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua mengambil langkah sigap menghadapi regulasi India dengan memanfaatkan perjanjian dagang berupa Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) yang telah ditandatangani sejak tahun 2011 dengan perundingan lanjutan di Free Trade Agreement yang menghasilkan diskon bea masuk impor refined products yang lebih rendah dibandingkan bea masuk yang dikenakan kepada Indonesia. Tarif bea masuk refined product dari Malaysia 45% dari tarif yang berlaku 54%. Alhasil, dari diskon tarif bea masuk yang dinikmati Malaysia, pasar minyak sawit Indonesia ke India kian tergerus. Pasar

India didominasi oleh Malaysia. Menyikapi ini, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi kerja sama ekonomi dengan India. Itu agar ada pemberlakuan tarif impor yang sama, sehingga Indonesia dapat berkompetensi meramaikan pasar India. Berikutnya adalah Uni Eropa. Sejak diadopsinya Delegated Act RED II Maret lalu, tidak dapat dipungkiri telah ikut membangun sentimen negatif pasar minyak sawit Indonesia di Eropa. GAPKI mencatatkan ekspor CPO dan turunannya ke Benua Biru ini terus tergerus. Pada April 2019 ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia tercatat menurun 37% dibandingkan Maret lalu, kemudian pada Mei kembali melorot 4% dibandingan April (Maret 498,24 ribu ton, April 315,24 ribu ton dan Mei 302,16 ribu ton).

Melemahnya pasar ekspor minyak sawit Indonesia tentu menjadi pekerjaan rumah bagi industri sawit Indonesia. Beberapa negara tujuan ekspor utama memberlakukan regulasi yang sudah masuk dalam kategori hambatan dagang.

Lagi-lagi regulasi negara tujuan ekspor yang menjadi hambatan dagang. Pasar utama ekspor lain yang juga mengalami dinamika negatif itu adalah China. Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

07


Laporan utama Pada April membukukan kenaikan impor sebesar 41% dibandingkan Maret (dari 353,46 ribu ton meningkat menjadi 499,57 ribu ton), kemudian pada Mei melorot 18% (atau dari 499,57 ribu ton turun menjadi 410,56 ribu ton). Ini juga diikuti oleh Bangladesh. Untuk penyerapan Biodiesel di dalam negeri, sepanjang April serapan biodiesel di dalam negeri hanya mampu mencapai 516 ribu ton atau terkikis 2% dibandingkan Maret lalu. Pada bulan Mei, serapan menunjukkan progres yang positif yaitu mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8% dibandingkan April. Melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, berkombinasi dengan cukup tingginya stock di Malaysia dan Indonesia, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah road test/uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober nanti. Begitu juga PLN yang semestinya dapat segera merealiasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal (B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton), maka akan meningkatkan serapan pasar domestik dan mengurangi dampak tingginya stok.

08

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

Melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, berkombinasi dengan cukup tingginya stock di Malaysia dan Indonesia, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah road test/uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober nanti.


laporan utama

Pada saat yang sama Indonesia dapat mengurangi impor minyak bumi, dan tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada pasar global, khususnya Eropa.

Pada saat ini juga adalah waktu yang tepat untuk mempercepat program peremajaan kebun sawit/ replanting untuk menjaga keseimbangan stok. Replanting akan mengurangi produksi untuk beberapa tahun ke depan, dan Indonesia akan memperbaiki produktivitas serta efisiensi dalam jangka panjang. Dari sisi harga, sepanjang Mei harga CPO CIF Rotterdam bergerak di kisaran US$ 492,5 – US$ 535 per metrik ton dengan harga rata-rata US$ 511,9 per metrik ton produksi minyak sawit pada April dan Mei menunjukkan trend kenaikan. Produksi April mencapai 4,64 juta ton dan Mei 4,73 juta ton. Faktor cuaca yang masih baik mendorong kenaikan produksi. Sementara stok minyak sawit Indonesia mulai menumpuk. Sampai pada Mei, stok bertengger di 3,53 juta ton atau naik 11% dibandingkan dengan stok April sebesar 3,18 juta ton. * Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

09


wawancara khusus

Provinsi Riau kaya. Dalam pameo disebut, provinsi ini sebagai daerah yang bermandi minyak. Di dalam tanah tertimbun minyak bumi (minyak fosil), sedang di atas tumbuh subur minyak sawit.

Husni Thamrin

Mutiara Hitam

dari Pelalawan 10

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


wawancara khusus Ketika minyak fosil masih melimpah di Provinsi Riau, dari ekspor minyak itu nadi kehidupan Riau berdenyut. Tetapi kehidupan itu kemudian meredup sejalan kian mengecilnya produksi minyak fosil. Untung, di saat yang bersamaan, minyak sawit mulai moncer. Pasar dunia menggeliat, produksi meningkat, dan akhirnya mampu mengkafer minyak fosil yang kini tinggal sisa-sisanya. Minyak bumi, kendati memberikan devisa besar terhadap negara dan daerah, tetapi tidak dinikmati langsung oleh rakyat. Itu berbeda dengan sawit. Sawit dibudidayakan perusahaan swasta dan BUMN, juga rakyat. Malah yang terakhir ini pegang peran penting. Berkat sawit kehidupan rakyat berkembang. Itu tampak dari desa-desa yang dulu terisolasi di Riau ini, sekarang menjadi kota-kota baru yang gemerlap. Itu sebagai indikator kuat, bahwa sawit memang langsng dirasakan rakyat, mampu mensejahterakan rakyat. Profesor Almasdi dalam presentasinya membenarkan itu. Penelitian yang dilakukan di berbagai daerah menyebut tentang potensi sawit ini. Malah, katanya, ekonomi Provinsi Riau berdenyut, jika harga sawit bagus, dan sebaliknya mandeg jika harganya merosot. Batasan harga bagus itu adalah jika harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit berada di kisaran Rp 1.500 per kilogram. Selagi sawit masih di harga ini, maka ekonomi Riau tidak akan guncang. Petani sawit hidup tenang, dan itu menentramkan perekonomian Provinsi Riau. Akhir-akhir ini APBD Provinsi Riau banyak direvisi. Itu karena taksiran pemasukan Riau menurun. Untuk itu, sektor-sektor tertentu dikurangi atau malah dihapuskan, dan gara-garanya adalah sawit. Ekspor minyak sawit Riau kendati masih terbanyak di Indonesia, tapi jumlahnya mengalami penurunan dibanding tahuntahun sebelumnya. Selain itu, pasar global yang fluktuatif, serta kebijakan Uni Eropa yang berniat menghapus minyak sawit mentah (CPO) dalam kehidupan mereka di tahun 2020 telah menyebabkan harga sawit anjlok.

Itu di tingkat global. Sedang di tingkat regional, petani masih harus berperang melawan produktifitas yang belum kunjung membaik, serta status lahan yang masih carut-marut. Untuk mengurai berbagai persoalan sawit ini, Majalah Sawit mengajak Husni Thamrin untuk membedahnya. Dia adalah wakil rakyat dari Partai Gerindra selama dua periode. Dia lahir di Kabupaten Pelalawan, Riau,

besar di daerah ini, dan sekarang menjadi wakil rakyat di daerahnya sendiri. Sebagai putra daerah, Husni Thamrin bercita-cita berjuang untuk mencerdaskan rakyatnya, mensejahterakan, dan bersama merengkuh masa depan gemilang. Inilah gagasan dan langkah yang akan dilakukan putra daerah yang disebut sebagai ‘Mutiara hitam dari Pelalawan’ itu. Majalah Sawit : Kira-kira apa yang akan

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

11


wawancara khusus Anda lakukan untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks itu? Husni Thamrin : Memang persoalan sawit itu tidak bisa diselesaikan sendiri. Harus banyak melibatkan lembaga dan orang. Namun yang paling pokok adalah memberi penyadaran terhadap rakyat, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah demi mereka, demi keuntungan dan kesejahteraannya. Sebab selain persoalan teknis dalam berladang, sawit ini juga rentan secara global. Ada persaingan ketat di sana, dengan negara-negara penghasil minyak nabati dunia yang selama ini menguasai pasar global. Sosialisasi persoalan ini penting kita lakukan, agar petani sawit paham, bahwa harga dan produktifitas yang kadang tidak baik, bisa diselesaikan secara bersama. Tidak terjadi konflik karena kekurangpahaman persoalan.

Yang paling pokok adalah memberi penyadaran terhadap rakyat, bahwa apa yang kita lakukan itu adalah demi mereka, demi keuntungan dan kesejahteraannya. HUSNI THAMRIN

12

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


wawancara khusus kan pendapatan petani. Majalah Sawit : Betul, asas supply and demand . Terus ada persoalan yang membenahi petani sawit, yaitu sertifikasi. Banyak lahan petani yang belum tersertifikasi. Husni Thamrin : Memang betul, itu hambatan besar yang tidak hanya membebani petani, tetapi juga beban bagi pemerintah. Sebab jika persoalan ini tak kunjung selesai, maka program pemerintah untuk petani juga tidak akan jalan.

Misalnya, petani sawit yang menjual produknya berupa Tandan Buah Segar (TBS) pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS), harganya kan bisa dirundingkan, selain sudah ada harga patokan dari Pemprov Riau. Konflik yang bersifat ‘ekonomis’ ini memang kerap terjadi. Itu karena tidak hanya mencakup persoalan regional,

tetapi juga global. Harga minyak sawit, Crude Palm Oil (CPO), karena 70% adalah ekspor, maka fluktuasi harga itu ditentukan oleh harga di pasar dunia. Ya, kita berharap, bahwa program pemerintah dengan B30 secepatnya ditingkatkan menjadi B100, sehingga serapan CPO dalam negeri tinggi, hingga bisa mengerek harga TBS, yang secara otomatis menaik-

Sepengetahuan saya, langkah untuk menyelesaikan sengketa lahan ini sudah berjalan. Pemerintah turun ke lapangan dan mempetakan ini, serta pemberian sertifikat-sertifikat untuk lahan-lahan yang sudah bisa dipetakan. Memang masih banyak yang belum rampung, terutama lahan yang berada dalam kategori hutan dan hutan lindung. Untuk yang ini butuh proses panjang. Dibutuhkan kerja keras dan kejelian melihat dan mengamati petani sawit

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

13


wawancara khusus yang tinggal di area itu. Adakah mereka petani tempatan atau pendatang, yang semuanya harus dibuktikan. Majalah Sawit : Tapi ada banyak warga yang sudah tinggal di kawasan itu sebelum ditetapkan sebagai hutan lindung. Ada yang menanam sawit hingg sudah replanting. Husni Thamrin : Kalau yang seperti itu akan kita perjuangkan. Itu artinya kan mereka sudah tinggal di kawasan itu lebih dari 25 tahun. Majalah Sawit : Nah, sekarang persoalan produktifitas. Lahan petani tidak produktif. Dibanding swasta, hasil TBS petani jauh tertinggal. Berbanding 3 hingga 5 kali lipat. Itu konon katanya karena etos kerja (petani malas), dan masalah perawatan serta teknologi. Apa kiat Anda mengatasi ini? Husni Thamrin : Itu sebenarnya persoalan klasik. Memang ada benarnya. Tetapi persoalan kemalasan ini sudah mulai berkurang. Generasi kedua dari ‘transmigran’ sebagai pemula bertanam sawit di Riau ini pendidikannya membaik. Itu nanti yang mengubah ‘etos malas’ itu. Memang belum semua. Tetapi dengan terus memberi motivasi, mengajaknya berfikir kreatif, maka mereka akan punya etos kerja yang luar biasa. Juga untuk para petani sawit tempatan. Yang terakhir ini tanggungjawab besar saya ada di sana. Tetapi ada pola lain yang lebih gampang, yaitu dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan swasta. Pola ini sebenarnya nafas dari moratorium sawit yang diputuskan tahun lalu. Dengan tidak adanya pembukaan lahan kebun sawit baru, maka dengan mudah terjalin kemitraan antara petani dengan perusahaan kelapa sawit. Di sini bertemu, antara kebutuhan TBS pabrik kelapa sawit dengan lahan yang kurang produktif milik petani. Dengan begitu, lahan petani bakal produktif karena ‘digarap’ perusahaan besar yang membutuhkkan banyak TBS agar pabriknya berjalan. Dan inheren lahan petani berubah produktif, kendati produktifitas itu secara esensial belum menyentuh petaninya. Kita akan kawal ini, sehingga kelak jika

14

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

Dengan terus memberi motivasi, mengajaknya berfikir kreatif, maka mereka akan punya etos kerja yang luar biasa. Juga untuk para petani sawit tempatan. Yang terakhir ini tanggungjawab besar saya ada di sana.


wawancara khusus

petani mandiri, atau melangkah dengan mendirikan pabrik CPO sendiri, mereka akan benara-benar siap. Ini kan sudah diwacakan ke sana, petani sawit punya PKS dan memproduksi CPO.

Jika ini bisa diwujudkan, maka pertanyaan Anda tadi sudah terjawab. Nah jika tidak berjalan sesuai skenario itu terus bagaimana? Ini kita harus bersilat lidah. Sebab untuk menggarap pasar global masih butuh ‘perang’ dan diplomasi yang tidak hentihenti, utamanya untuk pasar Eropa.

Majalah Sawit : Akhir-akhir ini, bahkan sampai pertengahan tahun 2019 ini, harga TBS tidak membaik. Di Riau harga untuk TBS umur 10-20 tahun di bawah Rp1.500 per kilogram. Harga CPO yang diperdagangkan di Malaysia juga stagnan di kisaran angka 2.000 ringgit. Bagaimana ini?

Memang kita sudah punya ‘pasar tradisional’ India, China, dan Pakistan, selain berharap tumbuhnya pasar-pasar baru yang sudah dibuka.

Husni Thamrin : Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit sangat berperan. Harga murah petani merugi, tapi harga mahal siapa yang beli. Semua itu ditentukan kebutuhan nasional dan global.

Tetapi untuk pasar Eropa ini sangat penting. Selain kuotanya besar, negara-negara ini juga ‘pencipta tren’. Apa yang buming di Eropa, maka akan cepat menyebar sebagai tren dunia.

Kebutuhan nasional baru saja direalisasi program B30 yang memungkinkan pemerintah menyerap minyak sawit mentah 30% untuk campuran biodiesel. Kita berharap ini meningkat hingga seratus persen.

Intinya mas, apapun yang terbaik untuk rakyat Pelalawan, saya akan berjuang mati-matian.

Jika itu bisa direalisasi pemerintah, tidak

hanya harga CPO dalam negeri membaik, dan pendapatan petani naik, tetapi Indonesia juga bisa menghemat devisa setara Rp100 triliun. Itu karena kita tidak impor minyak fosil lagi.

Tidak hanya untuk sawitnya, tetapi untuk apa saja demi kemakmuran dan kesejahteraannya. Saya pasang badan untuk itu, untuk rakyat tanah kelahiranku.***

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

15


Pengenalan sawit dan permasalahannya sejak dini memang sangat penting, agar generasi nantinya sudah memahami sawit dan seberapa besar manfaatnya kepada ekonomi masyarakat. Adelia Nazwah, Salah seorang Siswa kelas VIII SMP Kimia Tirta Utama merupakan sekian dari siswa yang sangat paham sekali tentang gambut dan sawit serta permasalahannya. “Sebagai generasi muda dan anak petani sawit tentunya saya dan teman teman harus mengetahui apa itu sawit, apa itu restorasi gambut dan hubungannya. Terlebih saat ini banyak media media baik nasional dan international yang menggebu gebu menyudutkan sawit dan merusak lingkungan. Namun setelah saya mengikuti edukasi restorasi gambut saya semakin mengerti bahwa itu adalah akal akalan bagi mereka yang tidak suka sawit,” tutur gadis cantik ini.

PT KTU Edukasi Siswa

Soal Gambut

PT Kimia Tirta Utama (KTU) yang merupakan grop Astra Agro Lestari yang berada di Kecamatan Koto Gasib, Siak, Riau selalu melakukan edukasi kepada anak anak di sekolah seputar gambut dan sawit. Bahkan anak anak di sekolah Kimia Tirta Utama ini sangat paham ketika ditanya seputar sawit dan permasalahannnya.

Adelia juga mengatakan, sejak mengikuti edukasi restorasi gambutnya ini, dia dan teman teman juga suka belajar dan mencari tahu sendiri. Bahkan beberapa literatur yang berhubungan dengan restorasi gambut sudah dia lahap. “Sekarang teknologi sudah canggih, kita bisa mengetahui perkembangan apa aja, isu apa saja. Sebagai anak muda kita jangan hanya sekedar menerima begitu saja stateman atau pemberitaan yang ada, kita harus terus menggali berita tersebut apalagi saat ini isu negatif sawit yang terus menyudutkan petani membuat kami sebagai anak anak petani sawit harus bangkit dan berjuang memerangi kampaye negatif eropa,” tuturnya dan diamini beberapa teman teman Adelia lainnya. Asisten Edukasi PT KTU, Slamet Riyadi mengatakan, para siswa itu diberikan pembekalan mengenal berbagai alat peraga ekosistem dan restorasi gambut. ”Materi yang diberikan juga sesuai dengan kurikulum mata pelajaran utama siswa yakni Matematika, Bahasa Indonesia serta Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selain itu, kita juga mengemasnya dengan bentuk permainan edukatif,” kata Slamet. Menurut Slamet, pelatihan mengenal ekosistem dan restorasi gambut itu awalnya didasari dengan strategisnya industri minyak kelapa sawit saat ini bagi perekonomian di Indonesia. Namun, berbagi isu sosial selalu muncul mulai dari LSM Ekonomi dan lingkungan, mengampa-

16

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


nyekan secara negative terhadap industri minyak sawit Indonesia. ”Edukasi ini juga bagian dari mengkoreksi pandangan yang terlanjur keliru di masyarakat tentang industri minyak sawit di Indonesia,” ujarnya. Sebelumnya kata Slamet, pihak sekolah menerima banyak materi tentang Industri minyak sawit Indonesia dan pengelolaan lahan gambut di PT KTU. ”Yang mana data ketahui juga luasan total lahan gambut di Indonesia saat ini berdasarkan data Global Wetlands yang diakses pada 16 April 2019 terbesar kedua dengan luas mencapai 22,5 juta hektar,” katanya. Administratur (ADM) PT. Kimia Tirta Utama (KTU), Achmad Zulkarnaen mengatakan, edukasi bersama ini gelar oleh Perusahan PT Kimia Tirta Utama (KTU) yang saat ini juga ditunjuk sebagai wilayah yang pengelolaan gambutnya baik sekali. Terletak di lanskap terdegradasi yang telah dikembangkan untuk kegiatan kebun yang produktif.

merupakan lahan gambut tropis terluas di dunia, dengan total luas ±21 juta hektar. Lahan gambut merupakan bank karbon tetapi dapat berubah menjadi pelepas karbon yang signifikan akibat kerusakan lahan gambut. Kerusakan lahan ini meliputi pembukaan lahan, pengeringan, dan kebakaran. Indonesia menempati urutan ketiga daftar negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Penentuan urutan penghasil emisi karbon tersebut dipengaruhi oleh faktor emisi dimana setiap lembaga memiliki penilaian yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan

untuk mengembangkan faktor emisi kebakaran lahan gambut di Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatra dengan menggunakan metode tier yang lebih tinggi yaitu tier 2 atau 3 dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap faktor emisi seperti jumlah sampel, kadar karbon, efisiensi dan tipe fase pembakaran. “Hingga saat ini tanah gambut yang ada di kebun KTU ini merupakan gambut yang paling baik pengelolaannya, hal ini tentu karena faktor perawatan tanah yang baik dan berkelanjutkan. Tak heran saat ini kita masih dipercaya sebagai kebun yang sukses merawat kebun dengan lahan gambutnya,” ungkap Zulkarnaen. (lin)

Tak heran PT KTU dijadikan salah kebun di lahan gambut yang ditunjuk Penelitian/ Research Collaboration Faferta, IPB dan PT Astra Agro Lestari pada tahun 20182021 nanti. Dimana penelitian ini sendiri didanai oleh Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kepala Sawit (BPDPKS) Indonesia Oil Palm Estate Fund. Kata Zulkarnaen, lahan gambut Indonesia Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

17


Koperasi Binaan Astra Agro Raih Koperasi Terbaik Nasional

K

operasi Unit Desa (KUD) Karya Mukti yang beroperasi di dusun Karya Harapan Mukti, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi kembali mendapatkan gelar sebagai koperasi terbaik nasional 2019 untuk kategori pemasaran. Penghargaan diberikan dalam rangka hari koperasi nasional ke-72 oleh menteri Koperasi dan UKM Puspoyoga pertengahan bulan Juli. Koperasi yang berbasis komoditas kelapa sawit ini sebelumnya telah menerima penghargaan serupa di tahun 2013 dan 2016. Saat ini KUD Karya Mukti telah memiliki 18 unit usaha. Dalam menjalankan bisnisnya KUD Karya Mukti bermitra dengan PT Sari Aditya Loka 2 dan 3 (SAL) yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk. Kemitraanpun telah dilakukan sejak tahun 90-an hingga saat ini. “Kami menjadi besar berkat program kemitraan. Kami menjalankan koperasi dengan modal saling percaya antara perusahaan, pengurus dan juga anggota koperasi. Tanpa kepercayaan roda

18

koperasi bisa hancur”. ungkap Ketua KUD Karya Mukti Riswanto. Pria yang telah mendapat Penghargaan Bakti Koperasi dan UKM Tingkat Nasional pada tahun 2017 ini kembali mengenang kisah sukses KUD yang dibinanya. Riswanto menuturkan, anggota KUDnya yang merupakan warga transmigran telah mencoba menggarap berbagai komoditas namun tidak membuahkan hasil yang diharapkan. “tahun 90-an datang PT SAL menawarkan kemitraan perkebunan kelapa sawit melalui program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) untuk transmigrasi mulailah kami membangun ekonomi desa kami. Selain itu dibentuk juga Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) yang menjadi modal para petani setempat (Anggota)”. Jelas Riswanto. Untuk pengembangan, KUD Karya Mukti mempekerjakan 40 karyawan muda. Semua karyawan adalah anak-anak Desa Karya Harapan Mukti, tempat KUD Karya Mukti berdomisili. Pengembangan

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

SDM menjadi fokus utama, Kini KUD Karya Mukti menjadi tujuan karier bagi masyarakat Desa Karya Harapan Mukti. “Anak-anak petani ini sekarang sudah pada sekolah di Jawa, bahkan ada yang lulusan S2. Kami ingin anak-anak muda ini menjadi kader agar koperasi ini terus berjalan.” Lanjut Riswanto. Community Development Area Manager Jambi, PT Astra Agro Lestari, Suharto menyatakan komitmen Astra Agro untuk terus membangun kemitraan dengan petani. Bahkan meningkatkan kemitraan kini menjadi program prioritas 2019 dari perusahaan. Riseanto juga menyampaikan bahwa Kompetensi yang dimikili perusahaan juga berikan kepada petani binaan agar bisa berkembang bersamasama. Perusahaan juga terus mendukung pelaksanaan tata kelola perkebunan petani yang memegang prinsip keberlanjutan / sustainable palm oil. Hal ini terbukti dengan telah diberikannya sertifikat ISPO bagi KUD Karya Mukti Tahun 2017 lalu. (lin)


Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

19


laporan khusus Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Moeldoko mengukuhkan 56 orang pengurus Harian DPP Apkasindo periode 2019-2020. Peresmian itu juga dihadiri sejumlah pejabat antara lain Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia Agus Pakpahan, dan Dirjen Perkebunan Kemtan. Moeldoko yang juga Kepala Staf Kepresidenan berpesan agar Apkasindo menjadi organisasi yang mondern dan menjadi petani-petani tangguh dan bukan hanya sekedar organisasi biasa yang diisi petani biasa. “Sebab jika petani sudah tangguh, maka negara ini juga akan semakin kuat. Jadilah perekat bangsa, pionir pergerakan ekonomi negara,� ujar Moeldoko usai mengukuhkan DPP Apkasindo di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pertengahan bulan Juli. Sementara itu, Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung mengatakan, pengukuhan pengurus harian Apkasindo merupakan bagian dari upaya Apkasindo untuk lebih memacu langkah menjadi petani kelapa sawit modern dan berkelanjutan. Ia menerangkan, ada sejumlah pekerjaan besar yang tengah dikerjakan pengurus Apkasindo saat ini. Mulai dari menata para petani kelapa sawit supaya tampil sebagai petani yang punya kelembagaan, menyodorkan konsep tata niaga Tandan Buah Segar (TBS) kepada 22 gubernur se-Indonesia.

Moeldoko Kukuhkan

DPP Apkasindo Kepengurusan Gulat Manurung

“Hingga menata lahan-lahan petani sawit berbasis online yang terkoneksi dengan Kartu Tanda Anggota (TKA), ujar Gulat. Ia melanjutkan, pengurus baru juga mesti meng-upgrate diri menghadapi revolusi industri 4.0 yang mengunggulkan teknologi. Ia berharap ke depan petani tidak lagi perlu repot menyuguhkan data dan lokasi lahannya karena sudah digantikan teknologi. Ia juga mengajak pemerintah dan stakeholder terkait untuk duduk bersama,

20

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2018


laporan khusus

mencari solusi yang paling pas untuk mengeluarkan lahan para petani dari kawasan hutan.

petani unggul, komunitas petani kelas dunia, tidak lagi sekadar membangun tanaman,” katanya.

“Kalau urusan kawasan hutan beres, berarti 75% persoalan perkebunan rakyat kelar,” katanya.

Pada acara ini juga dilaksanakan Nota

Kerjasama DPP Apkasindo dengan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN yang membawahi 6 Lembaga Riset Perkebunan serta Pupuk Kaltim, dan IPB Bogor. ***

Saat ini kata Gulat, Apkasindo tersebar di 22 DPW, 116 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan ribuan Dewan Pimpinan Unit (DPU). “Dari sekitar 14 juta hektar kebun kelapa sawit di Indonesia, 45 persen adalah kebun milik petani. Kebun terluas ada di Riau, mencapai 2,2 juta hektar,” terangnya. Dengan banyaknya para petani tadi pekerjaan Apkasindo juga tidak akan ringan. Selain hal-hal berat yang bakal diselesaikan, tadi masih ada sederet pekerjaan yang tak kalah berat yang juga musti diselesaikan. “Intinya itu tadi, kami petani kelapa sawit musti bisa menjadi petani modern dan sustainable,” tegasnya. Sementara itu, Agus Pakpahan menambahkan bahwa petani kelapa sawit tidak lagi eksklusif dan tidak cerdas, melainkan menjadi petani inklusif dan cerdas (inclusive and smart plantation). “Saya yakin petani sangat bisa untuk itu, sebab seribu satu macam produk bisa dibikin dari TBS hasil produksi petani. Di sinilah peran Apkasindo ditantang. Sudah tiba masanya kita membangun komunitas Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

21


laporan khusus

APKASINDO Mengukir Sejarah

Membangun Petani Melek Teknologi Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mengukir sejarah. Organisasi petani sawit itu dikukuhkan kepengurusannya oleh Ketua Dewan Pembinanya, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APKASINDO periode 2019-2024 yang dilantik dan dikukuhkan itu adalah Gulat Manurung selaku Ketua Umum, dengan Ketua Harian Gus Dalhari Harahap, dan Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO Rino Afrino. Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina APKASINDO, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, bahwa APKASINDO harus menjadi organisasi yang inovatif. Mampu memberikan nilai nyata kepada petani, terutama pada industri sawit. Pengukuhan kepengurusan DPP APKASINDO periode 2019-2024 itu berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (9 Juli 2019).

22

Dalam acara ini hadir Prof. Agus Pakpahan, Doris Pandjaitan (adik dari Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan), Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara, S IP sebagai Anggota Dewan Pembina DPP APKASINDO. Juga nampak Prof.Sudirman Yahya, Direktur Utama PPKS. Dr. Iman Yani Harahap, Dr. Donald Siahaan, Prof. Yusmar Yusuf, Dr.Fachri Yasin, Dr. Sadino, Wayan Supadno, serta Ir. Darmansyah Basyaruddin (Anggota Dewan Pakar APKASINDO). Hadir pula Dr. Teguh Wahyudi (Dirut PT RPN), Mukti Sardjono (Direktur Eksekutif GAPKI) serta perwakilan Kemenko Kemaritiman, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, dan Direktur Pengukuhan Hutan KLHK.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

Sedang dari kalangan akademisi nampak hadir Dr. Arif Satria (Rektor IPB), Direktur Pupuk Kaltim, Direktur LPP, serta Direktur AKPY Stiper. Dalam acara itu Moeldoko menyampaikan, bahwa sektor kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Luas areal perkebunan sawit pun terus meningkat. Volume ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai 27.54 ton dengan nilai ekspor mencapai 18.513 juta dolar Amerika Serikat. Menurut Moeldoko, meskipun ada tantangan internal dan eksternal, seperti legalitas lahan, sarana-prasarana, harga tandan buah segar (TBS), serta hambatan di beberapa negara tujuan ekspor, namun


laporan khusus pihaknya masih optimis prospek sawit masih sangat bagus. “Kita harus optimis dan bekerja penuh untuk kemajuan sawit di Indonesia,” kata Moeldoko. Itu, kata Moeldoko, karena sektor sawit mampu menciptakan 4,2 juta lapangan kerja langsung dan melibatkan lebih dari 12 juta lapangan kerja tidak langsung. “Selain itu ada 20 juta rumah tangga petani bergantung pada sektor sawit khususnya di perkebunan rakyat, untuk itu kibarkan bendera sawit untuk kesejahteraan dan kemajuan sawit,” tambahnya. Demi kesejahteraan petani sawit itu, jenderal purnawirawan asal Kediri ini berpesan, agar APKASINDO menjadi organisasi penghubung petani sawit dengan pemerintah, dan menjadi jembatan kepada pengusaha dan kelompok lainnya. “Bekerjalah secara penuh dan inovatif. Lakukan perubahan yang progresif, sehingga keberadaan organisasi ini memiliki nilai positif kepada masyarakat dan petani sawit khususnya. Gunakan energi positif itu untuk sesuatu yang positif. Kalau tidak, tidak ada gunanya,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Ketua Umum DPP APKASINDO, Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP mengatakan, bahwa pengukuhan pengurus harian itu adalah

bagian dari langkah APKASINDO untuk lebih memacu langkah menuju petani kelapa sawit modern yang berkelanjutan. “Memang ada sederet pekerjaan besar yang sedang kami kerjakan sebelum dan setelah pengukuhan ini. Mulai dari menata para petani kelapa sawit biar muncul sebagai petani yang punya kelembagaan, menyodorkan konsep tata niaga Tandan Buah Segar (TBS) kepada 22 gubernur se-Indonesia, hingga menata lahan-lahan petani kelapa sawit berbasis online yang terkoneksi dengan Kartu Tanda Anggota (KTA),” kata Gulat. Biarpun hanya petani kelapa sawit, kata mantan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKASINDO Provinsi Riau ini, petani juga musti melek dengan yang namanya teknologi, khususnya teknologi

yang berbasis aplikasi. “Kami juga musti mengupgrade diri oleh munculnya revolusi industri 4.0. Lewat teknologi itu, petani tidak akan repot lagi menyuguhkan data dan lokasi lahannya,” kata Gulat. Sebab, menurut Gulat, hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit. Tercatat 22 provinsi dengan luas areal mencapai 14 juta hektar dengan produksi minyak sawit mentah mencapai 40 juta ton. Dan APKASINDO memiliki visi besar untuk mempertahankan Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terkemuka di dunia melalui pemberdayaan sumber daya pekebun, teknologi dan industri secara berkesinambungan yang berwawasan lingkungan. ***

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

23


apkasindo riau Menurutnya ada 4 hal yang dicurhatkan Apkasindo Riau. Pertama masalah kebun sawit rakyat yang berada di kawasan hutan yang memicu konflik perkebunan. Kedua, masalah perlindungan harga TBS sawit melalui pergub, ketiga adalah masalah peremajaan sawit rakyat dan sarana prasarana. “Terakhir adalah meminta pemprov Riau memfasilitasi penguatan kelembagaan asosiasi perkabunan,” kata Gulat Manurung. Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan bahwa pemprov Riau memberikan apresiasi kepada Apkasindo Riau. Menurutnya, pemprov Riau akan menjalankan kebijakan sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat.

Silaturahmi dengan Gubernur Riau

Apkasindo Keluhkan Harga Sawit Anjlok

A

pkasindo Riau bersilaturahmi dengan Gubernur Riau, Syamsuar di kediaman Gubernur Riau awal bulan Juli. Dalam acara silaturahmi ini Apkasindo mengeluhkan harga sawit yang terus anjlok beberapa waktu ini.Hadir dalam acara silaturahmi, Katua DPP Apkasindo, Gulat Manurung, seluruh ketua DPD Apkasindo Kabupaten/ Kota se-Riau, Kadisbun Riau, Ferry HC. Selain memperkenalkan ketua DPD Apkasindo Kabupaten/Kota se Riau, Katua DPP Apkasindo, Gulat Manurung juga curhat mengenai anjloknya harga sawit yang cukup meresahkan anggota Apkasindo

24

diseluruh Indonesia. “Silaturahmi yang dilakukan Apkasindo bersama Gubernur Riau ini diharapkan akan dapat memberikan solusi angin segar bagi petani kelapa sawit Riau swadaya di Riau khususnya,” terangnya. Gulat menerangkan bahwa dari lebih 4 juta ha kebun sawit di Riau, 2,1 juta ha nya adalah milik petani swadaya di Riau. 1 juta ha nya masih berada di kawasan hutan. “Saya berharap Gubernur Riau mau memberikan kebijakan kebijakan yang dapat membantu petani sawit yang lahannya masih berada di kawasan hutan,” terangnya.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

“Untuk itu, perlu memang dilakukan pembahasam secara bersama oleh pihak terkait yang harus menaungi seluruh elemen,” terangnya.Terkait harga, banyak kaitannya demgan faktor lingkungan. Jika aturan kelestarian lingkungan dijalankan oleh petani, menurut Gubri, maka harga akan bagus. Gubri menambahkan, bahwa pemerintah memang perlu adanya industri untuk merubah Crude Palm Oil menjadi bahan bakar minyak (BBM). Karena menurut Gubri Indonesia masih membutuhkan BBM. “Sudah waktunya petani punya Pabrik Kelapa Sawit. Sudah waktunya petani memiliki industri hilir sawit,” katanya. Gubri mengatakan bahwa dengan kedekatan Ketua Apkasindo dengan pemerinyah pusat, bisa meminya fasilitas pemerintah pusat untuk membangun Pabrik Kelapa Sawit di Riau. Termasuk membangun industri hilir sawit di Riau.***


tanya jawab

dan pelepah dan anak daun tanaman memendek.

GULAT Medali emas

MANURUNG

Untuk mencukupi kebutuhan unsur hara Cu dan Zn tanaman kelapa sawit di lahan gambut, maka dapat memberikan pupuk CuSO4 dan pupuk ZnSO4 dengan dosis antara 100 g -150 g/tanaman.

(Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit) PERTANYAAN:

Selain perlakuan pemupukan, tindakan menjaga ketinggian muka air tanah di gambut juga dapat mengurangi resiko kehilangan unsur Cu dan Zn dalam tanah. Kekahatan unsur Cu dan Zn hanya dapat dicukupkan dengan melalui Pemupukan.

Mengapa di lahan gambut sering ditemukan tanaman kelapa sawit mengalami defisiensi unsur hara Cu dan Zn? jawaban: Unsur hara Cu adalah singkatan dari Copper (tembaga), unsur hara Cu merupakan salah satu unsur mikro esensial berfungsi untuk pertumbuhan tanaman, pembentukan klorofil (hijau daun) dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Sedangkan unsur hara Zn adalah singkatan dari Zinc (besi), unsur hara Zn merupakan unsur mikro esensial yang berperan dalam metabolisme asam nukleat, pembelahan sel dan sintesis protein. Selain itu dapat berfungsi meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman. Defisiensi unsur hara Cu dan Zn di gambut dikarenakan sebagian besar hara mikro terutama Cu dan Zn dikhelat cukup kuat oleh bahan organik sehingga tidak tersedia bagi tanaman, kondisi seperti ini yang menyebabkan tanaman

pada tanah gambut sering mengalami kekahatan Cu dan Zn. Dengan memperhatikan peran penting dari dari Unsur Zn dan Cu terhadap tanaman kelapa sawit maka unsur tersebut merupakan salah satu Faktor pembatas untuk pertumbuhan kelapa sawit. Kekurangan unsur Cu dan Zn akan berakibat fatal bagi tanaman. Besaran kandungan Cu di daun yang optimal, untuk umur tanaman menghasilkan (TM) berada pada range 5-8 ppm sedangkan kandungan Zn di daun untuk umur tanaman menghasilkan (TM) berada pada range 12-18 ppm. Gejala tanaman yang mengalami defisiensi unsur hara Cu dan Zn dapat kita lihat dengan gejala daun muda akan menguning, pertumbuhannya tertekan, kemudian berubah memutih

Pupuk yang diberikan dapat dengan menggunakan Pupuk Tunggal Cu dan Zn, namun saat ini pupuk Majemuk sudah banyak memasukkan unsur Zn dan Cu sebagai Unsur penting di kombinasi kandungan hara Pupuk Majemuk (NPKCuZn). Akan lebih efisien jika menggunakan pupuk Majemuk NPKCuZn pada tanahtanah yang kahat akan unsur mikro tersebut. Dengan penjelasan diatas, diharapakan petani kelapa sawit khususnya yang ada di lahan gambut dapat mengatasi defisiensi Cu dan Zn.*** ------------------------------------------Rubrik Konsultasi ini dikelola oleh: Ir. Gulat ME Manurung, MP (Auditor ISPO) Eko Jaya Siallagan, SP (Auditor ISPO)

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

25


26

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


Kenali Jenis Anemia dan Pemeriksaan Laboratorium pada Anemia

Anemia atau yang secara awam dikenal dengan kurang darah, merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) di dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh sehingga kebutuhan oksigen jaringan tidak terpenuhi. Nilai normal hemoglobin tergantung pada umur dan jenis kelamin. Menurut WHO, anemia pada laki-laki dewasa jika kadar hemoglobin < 13 g/dl, pada wanita dewasa tidak hamil jika kadar hemoglobin < 12g/dl, pada wanita hamil jika Hb < 11 g/dl dan anemia pada anak usia 6 bulan sampai 6 tahun jika kadar Hb < 11 g/dl. Seperti apa gejala Anemia? Gejala anemia bergantung pada derajat anemia dan kecepatan terjadinya anemia. Gejala akan lebih ringan pada anemia yang ringan dan anemia yang terjadi perlahan-lahan, karena ada kesempatan bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan dengan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen. ‘’Gejala anemia muncul sebagai akibat berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan sehingga gejala anemia dapat muncul pada berbagai sistem/organ di dalam tubuh. Gejala utama anemia adalah pucat, lesu, lemah, kram otot, sesak pada saat beraktifitas, jantung berdebar, pusing. Pada anemia berat atau anemia yang disebabkan oleh perdarahan akut yang banyak, gejala yang terjadi dapat lebih berat dan mengancam jiwa seperti penurunan kesadaran, gangguan irama jantung, gagal jantung dan kematian,’’ ujar Dokter Spesialis Patologi Klinis Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dr Fatmawati SpPK, Jumat (2/2) lalu. Menurut dr Fatmawati, anemia bukan penyakit, tetapi merupakan gejala/tanda adanya suatu penyakit atau kelainan yang harus dicari penyebabnya. Oleh karena anemia merupakan gejala, maka penyebab utama atau penyebab yang mendasarinya harus dicari sehingga gejala dan penyebab anemia tersebut dapat segera tertangani.

atau anemia akibat gangguan pembentukan hemoglobin pada penyakit radang kronik (anemia pada penyakit kronik). 3. Meningkatnya destruksi/pemecahan sel darah merah (anemia hemolitik) Dalam keadaan normal sel darah merah berumur 120 hari setelah dibentuk di sumsum    tulang, setelah berumur 120 hari sel darah merah akan dihancurkan di limpa dan di hati. Pada penyakit tertentu seperti pada infeksi malaria, pada penyakit talasemia atau karena obat tertentu sel darah merah dihancurkan  lebih cepat dari seharusnya sehingga keadaan ini            menimbulkan anemia yang disebut dengan anemia hemolitik. ‘’Anemia hemolitik juga dapat             terjadi akibat penyakit autoimun seperti pada penyakit lupus yang diderita oleh seorang pasien,’’ jelasnya.   Berdasarkan penyebab anemia, maka anemia dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu; anemia akibat perdarahan, anemia gizi (anemia defisiensi besi, anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12), anemia pada penyakit kronik (anemia pada infeksi HIV, pada penyakit rematik, anemia pada keganasan dan lain-lain), anemia akibat kegagalan produksi sel darah merah di sumsum tulang.

Penyebab anemia dapat disebabkan oleh 1 atau lebih dari 3 mekanisme 1. Kehilangan darah Perdarahan yang dapat mengakibatkan anemia dapat berupa mimisan, batuk darak, BAB berdarah, gusi berdarah, menstruasi yang banyak dan lama, BAK berdarah dan perdarahan di kulit seperti lebam-lebam di kulit. Perdarahan yang lama biasanya menimbulkan anemia defisiensi besi. 2. Berkurangnya produksi sel darah merah di sumsum tulang Produksi sel darah di sumsum tulang tergantung kepada sumsum tulang yang berfungsi dengan baik, ketersediaan bahan-bahan/nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah seperti protein, vitamin B12, asam folat dan zat besi, ketersediaan hormon yang cukup untuk produksi sel darah merah (hormon eritropioetin, hormon tiroid) serta tergantung pada kemampuan tubuh untuk membentuk hemoglobin yang normal. Apabila terjadi gangguan pada sumsum tulang seperti pada anemia aplastik, leukemia dan penyebaran sel tumor ganas ke sumsum tulang maka terjadi penurunan produksi sel darah merah di sumsum tulang sehingga terjadi anemia. Begitu juga apabila terdapat kekurangan salah satu bahan yang diperlukan untuk membentuk sel darah merah seperti pada kekurangan/defisiensi besi maka terjadi anemia defisiensi besi (anemia gizi). Anemia juga dapat terjadi jika terdapat gangguan  pembentukan hemoglobin oleh kelainan darah yang diturunkan (kelainan genetik) seperti pada penyakit talasemia

Anemia yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah anemia defisiensi besi, diikuti oleh anemia pada penyakit kronis. Pada anemia defisiensi besi terdapat penurunan zat besi yang dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin. Anemia pada penyakit kronik terjadi gangguan dalam penggunaan zat besi untuk pembentukan hemoglobin. Pada penyakit/radang kronik zat besi di dalam tubuh tidak dapat digunakan karena proses radang yang terjadi menghambat penggunaan zat besi untuk membentuk hemoglobin. Karena penyebab utamanya adalah radang maka anemia ini dapat terjadi pada siapa saja yang mengalami penyakit/peradangan. Siapa sajakah yang paling berisiko terkena anemia? Dr Fatmawati menuturkan, anemia dapat terjadi pada semua usia, jenis kelamin dan ras/etnis. Wanita usia subur dan wanita hamil memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami anemia. Bayi dan anak-anak usia pertumbuhan juga memiliki risiko tinggi mengalami anemia terutama anemia gizi akibat kekurangan zat besi. ***

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

27


gapki riau Pemerintah serius untuk menerapkan program penggunaan bauran minyak sawit dalam solar sebesar 30% (B30) kepada seluruh kendaraan bermesin diesel di Indonesia. Hal ini jadi strategi pemerintah untuk terus mengoptimalkan penggunaan biodiesel dan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional. Sementara Pertamina tegaskan komitmen mengolah dan menyalurkan B20 maupun B30 dengan penunjukkan badan usaha penyalur tunggu road test B30. â&#x20AC;&#x153;Dengan produksi CPO yang melimpah, pengembangan biodiesel tidak mengalami masalah baku,â&#x20AC;? kata Wakil Ketua Gapki Riau, Rahmen.

Sukseskan B30

Gapki Riau Jamin Ketersediaan Bahan Baku

28

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


gapki riau

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif GAPKI Riau Maryanto mengungkapkan, Peraturan B20 bisa menguntungkan perusahaan-perusahaan kelapa sawit. Sebab kebijakan tersebut kelak tidak hanya bagi public service obligation (PSO), namun juga nanti akan diterapkan untuk non PSO. Sekedar info, kata Maryanto, dari data Kemprin, Indonesia masih mencukupi bahan baku untuk produksi biodiesel, yakni crude palm oil (CPO). Kapasitas CPO nasional mencapai 38 juta ton pada tahun 2017. Sebanyak 7,21 juta ton di antaranya untuk keperluan ekspor dan

kebutuhan pangan nasional sebesar 8,86 juta ton. Setelah menuai hasil positif dengan implementasi Program pencampuran Biodiesel ke dalam solar sebesar 20% atau program B20, Pertamina mendukung uji coba penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermesin Diesel di Kantor Kementerian ESDM. Uji jalan atau road test B30 dilakukan dengan target tempuh 40.000 dan 50.000 km serta untuk membuktikan bahwa penggunaan B30 pada mesin diesel tidak mempengaruhi kinerja mesin.

Sebelumnya Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan, sebagai pemegang mandat pemerintah terkait program Biodiesel, Pertamina secara aktif mensupport penuh pelaksanaan uji jalan atau road test B30 dengan menyediakan produk solar sejumlah 66,5 KL. â&#x20AC;&#x153;Salah satu dukungan kami adalah turut aktif mensosialisasikan program biodiesel yang diamanatkan kepada Pertamina, selain menyediakan bahan bakar B30 untuk diuji coba pada 3 unit truk dan 8 kendaraan berpenumpang mesin Dieselâ&#x20AC;? jelasnya.***

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

29


Asian Agri Serahkan Reward

Desa Bebas Api S ebanyak 2 desa di Riau awal Juli memperoleh penghargaan atas komitmen desa terhadap pencegahan kebakaran lahan. Desa yang tergabung dalam program Desa Bebas Api binaan Asian Agri yakni Desa Rantau Baru dan Desa Tambak masingmasing menerima penghargaan sebesar 100 juta rupiah dan 50 juta rupiah untuk kategori desa tanpa kebakaran dan desa dengan luas terbakar di bawah 1 hektar.

Penyerahan penghargaan diserahkan oleh Pengarapen Gurusinga Regional Head Asian Agri wilayah Riau kepada Kepala Desa sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan atas komitmen dan usaha yang dilakukan oleh masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran lahan selama satu tahun ke belakang. â&#x20AC;&#x153;Program Desa Bebas Api dirancang sebagai suatu bentuk sinergi bersama antara

30

masyarakat, pemerintah dan perusahaan dalam menekan angka kebakaran lahan yang berfokus pada pencegahan dan antisipasi dini,â&#x20AC;? ujar Pengarapen Gurusinga Regional Head Asian Agri wilayah Riau. Program ini didukung oleh masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api yang secara sukarela bertanggung jawab untuk melakukan sosialisasi kepada warga desa dan bersiap siaga untuk melakukan antisipasi dini ketika terjadi kebakaran lahan.

tuhkan untuk mencegah kebakaran,â&#x20AC;? ujar Gurusinga.

â&#x20AC;&#x153;Masyarakat sebagai pihak yang paling dekat dengan lokasi terjadinya kebakaran lahan memiliki peran penting dalam melakukan pencegahan dan juga antisipasi dini sebelum api meluas ke daerah lainnya. Di Asian Agri kami memberdayakan masyarakat untuk memiliki pengecahuan dan keahlian yang dibu-

Melalui program Desa Bebas Api, Asian Agri bermitra dengan desa-desa yang berlokasi di sekitar daerah operasional perusahaan untuk mencegah dan melakukan antisipasi dini terhadap kebakaran. Dimulai pada tahun 2016, saat ini perusahaan telah bermitra dengan 16 desa di Riau dan Jambi. (lin)

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


MPA Binaan Asian Agri Kembangkan Madu Kelulut

U

saha madu kelulut menjadi salah satu opsi ekonomi lokal yang saat ini mulai dikembangkan di Provinsi Riau. Salah satu kelompok masyarakat yang menggeludnya adalah warga yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MFA) dari Desa Tambak Riau yang merupakan desa mitra program Desa Bebas Api binaan Asian Agri. Madu kelulut dihasilkan dari lebah kelulut yang tergolong ke dalam lebah yang tidak bersengat dan mampu menghasilkan madu sama seperti lebah madu. Keberadaan lebah kelulut saat ini dapat dengan mudah ditemui di hutan-hutan, khususnya hutan di Indonesia. Usaha madu kelulut yang merupakan hasil pendampingan dari program Desa Bebas Api Asian Agri saat ini telah juga mulai

dipasarkan ke masyarakat sekitar. â&#x20AC;&#x153;Melalui program Desa Bebas Api, kami turut mendukung kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi ekonomi lokal yang sekiranya cocok untuk ditekuni, disamping tentu-

nya turut bermitra dalam melakukan usaha pencegahan kebakaran,â&#x20AC;? ujar Pengarapen Gurusinga Regional Head Asian Agri wilayah Riau di acara halal bihalal Asian Agri bersama media dan penyerahan penghargaan Desa Bebas Api di Riau. (lin)

Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

31


wawancara khusus

Menrizal, Ketua Apkasindo Pekanbaru

â&#x20AC;&#x153;Harga TBS Anjlok, Naikkan Sawit Untuk Campuran Biodieselâ&#x20AC;? Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit sedang anjlok. Harga ketetapan yang diputuskan Tim harga Provinsi Riau di Pekanbaru berkisar Rp1.300-an. Tapi itu untuk petani plasma. Sedang untuk petani swadaya, harga itu lebih anjlok lagi, yaitu berkisar antaraa Rp400 sampai Rp700 per kilogram. Ini yang membuat mereka kesulitan. Sebab dengan harga itu, maka untuk biaya operasional saja sudah tekor. Jangan lagi untuk biaya hidup. Harga merupakan persoalan sangat vital bagi petani. Mereka hidup dari harga. Harga TBS membaik kehidupan mereka membaik, dan harga yang jauh dari kelayakan untuk hidup mereka, maka petani pun menjerit karena merugi.

32

Sebenarnya seperti apa yang kini terjadi pada petani sawit akibat harga yang anjlok itu? Bagamana anggapan mereka terhadap harga yang tidak bersahabat itu? Dan apa yang menjadi harapan mereka terhadap pemerintah untuk mendongkrak kembali harga TBS itu? Untuk melihat itu, Majalah SAWIT mengajak Menrizal, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Pekanbaru untuk berdialog soal itu. Inilah wawancaranya:

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

Majalah SAWIT : Menurut Anda, apa yang sedang terjadi? Mengapa harga itu bisa anjlok seperti itu. Biasanya untuk ketentuan harga masih di atas Rp1.500 per kilogram, tapi sekarang tinggal Rp1.300-an saja per kilogramnya. Menrizal : Ranah kami sebenarnya bukan di wilayah itu. Kami hanya fokus pada produktifitas, dan mengedukasi angggota petani kami untuk makin profesional, yang tujuannya adalah untuk kesejahteraan para petani.


wawancara khusus Namun dengan kondisis harga yang tidak baik sekarang ini, terpaksa kami nguping untuk mencari tahu penyebab merosotnya harga TBS. Sejauh yang kami dengar, kemerosotan harga ini diakibatkan banyak faktor. Faktor luar karena permintaan yang merosot dan banyaknya aturan baru yang dikenakaan negara-negara importir terhadap sawit, dan itu berimbas pada penurunan harga dan permintaan terhadap minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Ini memang masuk akal bagi kami, karena sawit masih didominasi permintaan luar negeri. Sepengetahuan kami, 70% sawit itu masuk pasar ekspor. Namun bagi kami, harga serendah sekarang bukan soal masuk akal atau tidak, tapi harga itu mampu membuat kami makan sekeluarga atau tidak. Itu persoalan bagi petani.. Majalah SAWIT : Harga TBS untuk petani swadaya dengar-dengar hanya Rp400Rp700 per kilogram. Harganya sangat jauh dengan harga yang diperoleh petani plasma. Benarkah harga itu? Dan kalau benar, mengapa petani swadaya tidak menjadi petani plasma yang lebih menguntungkan? Kendalanya apa? Menrizal : Memang benar. Itu hambatan lain yang dirasakan para petani swadaya. Kami sedang mengedukasi agar harga yang terpaut jauh itu semakin mendekat. Kami tahu Pemerintahan Jokowi sudah sangat bagus programnya untuk petani sawit, seperti moratorium sawit yang dilakukan tahun lalu. Program ini dimaksud agar lahan sawit rakyat yang sangat luas itu bisa diefektifkan. Caranya adalah membangun kemitraan, antara petaani dengan perusahaan. Itu karena Pabrik Kelapa sawit (PKS) butuh pasokan TBS, sdang petani sawit punya lahan banyak tetapi kurang produktif, jadi saling merangkul. Tetapi untuk melangkah ke sana, kendala juga masih membebani petani. Sebab lahan-lahan itu juga masih banyak yang belum punya sertifikat, maklum petani memang sering tidak berpikir ke hal-hal yang bersifat teknis begini. Majalah SAWIT : Saya dengar hari-hari ini

banyak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang tidak mau membeli TBS petani swadaya. Alasan mereka kebun berada di kawasan hutan, atau tangki penampung CPO sudah penuh. Benarkah itu? Menurut Anda, apakah itu bukan hanya alasan belaka? Menrizal : Untuk persoalan ini memang kompleks. Tapi kami, petani kelapa sawit yang tergabung dalam Apkasindo mulai berwawasan luas. Kami tidak melihat segalanya secara emosional, tetapi berusaha berpijak pada data dan fakta yang ada. Kami memang terus melakukan edukasi terhadap anggota-anggota kami yang kadang melihat sesuatu secara parsial. Dan ini yang sekarang sudah membuahkan hasil. Naik dan turunnya harga TBS Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

33


wawancara khusus

mulai dilihat secara jernih, kendati kita prihatin. Majalah SAWIT : Apa benar, harga yang murah untuk TBS petani swadaya terbanyak dijual pada tengkulak. Tengkulak kemudian menjualnya ke PKS. Ini menunjukkan PKS bekerjasama dengan tengkulak. Bisa anda ceritakan bagaimana itu bisa terjadi, dan harusnya seperti apa agar petani swadaya bisa memperoleh untung setara petani plasma atau syukursyukur lebih. Menrizal : Itu betul. Itu yang masih kita perjuangkan. Dan perjuangan itu butuh waktu. Setahap demi setahap kesetaraan itu akan menjadi kenyataan. Sabar dulu.

Majalah SAWIT : Menghadapi harga TBS yang anjlok ini, apa saran Anda untuk pemerintah? Menrizal : Petani sawit berharap hidupnya sejahtera. Dan itu bisa terwujut jika harga TBS membaik. Kami melihat dan mengapresiasi terhadap langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dengan membuka pasar-pasar baru di dunia. Juga soal campuran sawit untuk biodiesel. Tapi dalam kondisi emergency harga TBS yang anjlok sekarang ini, maka pemerintah harus melakukan dua hal. Pertama

Yang penting, bahwa Apkasindo itu akan terus memberi edukasi anggotanya, dan kelak anggota akan merasakan buahnya. Sekarang saja sudah dirasakan, bahwa petani sawit tidak lagi puritan. Kita sudah jauh meninggalkan ketidak-tahuan itu. Teknis budidaya, replanting, dan berbagai aturan soal persawitan kita sudah paham. Itu yang membuat kita, para petani sawit tidak lagi dikucilkan. Pengetahuan petani sawit itu yang menjadikan pendapat kritis kita menjadi acuan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

34

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

memberi subsidi terhadap sawit petani melalui BPDKS, seraya mempercepat peningkatan program B20 dan sawit untuk listrik. Untuk program kedua itu tidak hanya akan menghemat devisa dan menjamin kesejahteraan petani, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat bangsa ini. Kita menjadi bangsa yang mandiri. Sawit kita tidak dipermainkan pasar luar negeri. Dan satu lagi, soal regulasi pemerintah untuk PKS. Ketentuan harga yang sudah disepakati agar dipatuhi. Jika tidak, PKS harus diberi sanksi yang tegas. ***


PT TPP Salurkan Bibit

B

Kelapa Hibrida ke Desa

ukti nyata manfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Desa Sungai Sagu, Kecamatan Lirik mendapat bantuan jenis tanaman keras. Itu sebagian bentuk Coorporate Sustainable Responsibility dari PT. Tunggal Perkasa Plantations (TPP). Anak perusahaan dari PT. Astra Agro Lestari Tbk ini, yang berada di walayah Kabupaten Indragiri Hulu, Riau tepatnya di Kecamatan Pasir Penyu pada Kamis (27/06/19) telah menyalurkan 1.000 batang bibit pohon kelapa sayur. Januar Wahyudi selaku ADM PT TPP melalui CDO nya Hadi Sukoco mengatakan Jumat (28/06/19), kegiatan ini sesuai dengan program rutin CSR. â&#x20AC;&#x153;Semoga apa yang telah kita salurkan dapat dimanfaat oleh warga Desa Sungai Saguâ&#x20AC;?, ucapnya.

ini bentuk upaya perusahaan membantu ekonomi masyarakat. Apalagi saat ini ekonomi terasa sangat sulit. Kegiatan itu secara simbolis diterima oleh Hendry Suyanto selaku kepala Desa Sungi Sagu, tambahannya CDO PT TPP saat dihubungi melalui seluler.

Seperti diketahui, PT TPP bergerak di perkebunan kelapa sawit. Tak hanya tanaman keras saja yang telah di salurkan pihak perusahaan. Dimulai dari dunia pendidikan, kesehatan, sosial hingga perbaikan badan jalan tiap tahun dilakukan. (dan)

PT TPP berharap kepada masyarakat agar bantuan bibit tersebut ditanam di lahan kosong milik warga. Hal ini bentuk upaya perusahaan membantu ekonomi masyarakat. Apalagi saat ini ekonomi terasa sangat sulit.

Lanjutnya, PT TPP berharap kepada masyarakat agar bantuan bibit tersebut ditanam di lahan kosong milik warga. Hal Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

35


kisah sukses Bermodalkan nekat dan tekad kuat, Sukamto meninggalkan kampung halamannya dari Medan menuju daerah yang begitu kecil di daerah Kabupaten Siak Provinsi Riau. Berat memang. Tetapi nasib yang kurang baik memaksanya mengambil pilihan tersebut. “Dikampung pada saat itu nggak ada pekerjaan tetap, sehingga kami tidak begitu memiliki mata penghasilan yang memadai. Untuk modal makan sehari hari aja pada saat itu kami mesti gali lobang tutup lobang,” ungkap Sukamto mengawali kisahnya hingga menjadi petani sukses binaan PT Kimia Tirta Utama grop Astra Agro Lestari ini.

memberanikan diri datang ke Riau untuk membeli kebun sawit seluas dua hektar seharga Rp500 ribu. Dimana sebelumnya kata Kamto dia membeli kebun sawit tersebut berkat anjuran adeknya yang sudah duluan jadi transmigran di Riau tepatnya kecamatan Kota Gasib Kabupaten Siak Provinsi Riau.

Kamto, itu sapaan bapak dua anak ini mengaku, pada tahun 1999 silam dia

“Terus terang saya tak ada pengalaman bertanam sawit, namun karena melihat ekonomi adek saya sudah mulai membaik, saya

berpikir untuk bisa mengikuti jejaknya sebagai petani sawit. Meski tapi tahun 1999 itu saya harus banting tulang untuk merambah hutan yang pada saat itu belum menjadi kebun sawit seperti sekarang ini. Namun karena tekat yang kuat saya sedikit demi sedikit memmberanikan diri untuk membuka lahan dan menanamnya.” ujarnya. Sukamto juga menyebutkan, pada saat ini dia belum menetapkan karena kondisi kebun masih hutan dan belum layak untuk ditinggali. Namun pada tahun 2002 Sukamto sudah berani memboyong keluarganya dan membangun gubuk kayu yang bisa ditempati seadanya. Meski belum punya penghasilan yang memadai Sukanto tetap berjuang untuk keluarganya, bahkan dia rela kerja ‘mocok mocok’ dengan tetangga yang membutuhkan tenaganya,” Namanya kita bukan orang Transmigran jadi semua pakai modal sendiri. Sehingga mau

Sukamto

Ekonomi Kami Makin Naik Karena Binaan PT KTU 36

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019


kisah sukses

punya uang berapapun tak cukup, apalagi saya kan tidak punya pekerjaan tetap, jadi mau tak mau saya harus kerja serabut gitu, apa aja yang penting pulang bisa bawa beras dan ikan ke rumah,”tuturnya berkisah. Namun pada tahun 2006 -2007 sudah mulai nampak sedikit perubahan, dimana produksi sawitnya mulai banyak, sehingga Sukamto berpikir kenapa tidak menjual langsung ke perusahaan yang ada di sekitas kebunnya. Karena katanya sebelum sebelumnya dia dan warga sekitar menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga yang kadang kala tidak sesuai dengan semestinya. “Akhinya tahun 2007 itu saya memberanikan diri mendatangi salah satu perusahan sawit yang ada di dekat kami. Dan syukurnya kami direspon. Dimana awalnya kami mengajukan bantuan transpor dan pembinaan tetang pengelolahan kebuh sawit yang benar. Tidak berapa lama akhinya kami diberikan kesempatan untuk menjadi patner dari salah satu abdiling PT KTU,” jelasnya. Dari keuletannya, ia akhirnya dia dan teman teman lain mendapatkan bantuan dari KTU dimana awalnya mereka diberikan rekomendasi untuk mendapatkan satu unit truck Dyna dan yang tunai untuk pemupukan,” Bantuan ini tentu saya sangat menguntungkan kami, ibaratnya dapat dana segar tanpa bunga kami bisa mengelola kebun dengan benar. Karena

tim dari KTU terus ikut memantau kami bagaiman barkebun sawit dan benar bagaimana pemupukannya sehingga menghasilkah buah yang memenuhi standar menjadikan kami yang tergabung dengan KUD Tanda Bertuah ini makin terangkat perekonomiannya. Sukamto sendiri mengaku saat ini dia sudah memiliki beberapa hektar kebun sawit yang semuanya menghasilkan tandan sawit yang bagus,”Saya dan semua masyarakat di sini, sangat berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk mengelola sawit. Jerih payah sudah terbayarkan. Sekarang saya punya hal baik untuk diteruskan nanti oleh anak-anak saya,” tandas Sukamto. Sukamto berharap apa yang sekarang dirasakan juga dirasakan oleh kawan kawannya, karena katanya masa depan sawit masih sangat menjanjikan meski saat ini masih naik turun namun kedepan sawit adalah komoditas yang menjanjikan,”Saya tiada henti bersyukur dengan sawit ini saya bisa merasakan dan menikmati hidup ini makin baik. Anak anak saya bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan saya juga beberapa kali dapat kehormatan dari PT KTU untuk menghadiri acara acara skala nasional dan baru baru ini saya diundang ke Bali untuk acara sekelas International dan semua ini berkat doa dan dukungan KTU sendiri,” tegasnya. (lin) Edisi 14 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

37


M

emanfaatkan perhelatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 yang berlangsung 18-28 Juli di ICE BSD City Tangerang, PT Toyota-Astra Motor (TAM) memperkenalkan tiga mobil baru diantaranya Toyota GR Supra, yang merupakan legendary sport car Toyota, Hiace dengan konsep baru, dan New Fortuner TRD Sportivo yang akan melengkapi jajaran lineup di segmen high SUV. Selain itu, terdapat 9 dress up cars yang mendapat sentuhan lokal karya anak bangsa, sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan SDM. “Kehadiran mobil-mobil baru dan juga dress up ini merupakan wujud apresiasi kami kepada pelanggan sekaligus menunjukkan semangat Toyota yang senantiasa berupaya menghadirkan produk, teknologi, dan Iayanan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat yang semakin modern. Toyota juga ingin menegaskan komitmen untuk senantiasa melakukan continous improvement dalam menghadirkan produk produk terbaik melebihi ekspektasi, yang juga memiliki fitur-fitur keselamatan yang Iengkap sejalan dengan semangat mewujudkan Ever

38

Toyota Perkenalkan

3 Mobil Terbaru di GIIAS 2019 Betters Cars bagi para pelanggannya,” kata President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Yoshihiro Nakata.

Sejalan dengan semangat Let’s Go Beyond yang dilandasi pilar Beyond Product, Beyond Technology, dan Beyond Service, Toyota senantiasa berupaya menghadirkan mobil yang mampu melebihi ekspektasi pelanggan. Dalam mengimplementasikan semangat tersebut, tradisi Kaizen atau Continous Improvement akan selalu dipegang teguh agar komitmen Toyota dalam mewujudkan Total Ownership Experience bagi pelanggan bisa tercapai. Kehadiran Toyota GR Supra merupakan bagian komitmen Toyota menghadirkan produk yang selaras dengan kebutuhan dan kepuasan konsumen yang kian

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 14 Tahun 2019

dinamis. Mobil balap Toyota yang sudah melegenda ini merupakan wujud apreasi Toyota kepada pelanggan yang menginginkan sebuah kendaraan berkarakter balap namun dapat dikendarai di jalan raya dengan aman dan nyaman.

Toyota GR Supra adalah model global pertama produksi TOYOTA GAZOO Racing. Sejak pertama kali berkompetisi dalam balap ketahanan Niirburgring 24 ] am di lerman pada tahun 2007, TOYOTA GAZOO Racing fokus dalam kegiatan motorsport untuk mengembangkan mobil serta sumber daya manusianya dengan tujuan “making everbetter cars”. Toyota GR Supra menekankan upaya mencapai kinerja performa yang tinggi untuk melahirkan kegembiraan. Selain membuat setiap dinamika atau


gerak mobil bisa menghadirkan emosi kegembiraan, kinerja ini juga mampu menghasilkan driveability yang kuat menjadi salah satu poin utama dari Fun to Drive dalam pengembangan Toyota GR Supra. Di GIIAS kali ini, Toyota akan memperlihatkan tak cuma perkembangan kendaraan passenger namun juga komersial. Kendaraan HiAce yang memiliki konsep baru akan turut dipamerkan. Hal ini sejalan dengan perkembangan pasar kendaraan komersial di Indonesia termasuk di segmen commercial Van. Keberhasilan Pemerintah meningkatkan jaringan infrastruktur yang telah mendorong pertumbuhan berbagai sektor ekonomi dengan pesat telah membuka peluang pasar bagi HiAce sebagai sarana transportasi yang makin memberikan kenyamanan, keamanan, dan daya tahan yang sudah teruji, tidak terkecuali untuk angkutan di sektor pariwisata. Kehadiran New Fortuner TRD Sportivo merupakan upaya Toyota memperkuat karakter varian Fortuner TRD Sportivo dari high-SUV yang sporty dan agresif menjadi mobil yang semakin siap

menjelajahi segala medan. Improvement yang dilakukan di sejumlah titik membuat penampilan pemain utama di segmennya ini menjadi lebih kokoh. New Fortuner TRD Sportivo mengalami perubahan desain di sejumlah bagian seperti bumper, fog lamp, radiator grille,

kap mesin, velg, disamping penambahan fitur baru yaitu kick sensor. Kehadiran Toyota GR Supra, HiAce Premio, dan New Fortuner TRD Sportivo juga tak Iepas dari sentuhan semangat Toyota Letâ&#x20AC;&#x2122;s Go Bey. (rilis)

Edisi 14 Tahun 2018 ~ MAJALAH SAWIT

39


Profile for Majalah Sawit Plus

Majalah Sawit Edisi 14  

Majalah Sawit Edisi 14  

Profile for sawitplus
Advertisement