UKDW Koran Kampus Agustus 2025

Page 1


UKDW Yogyakarta

UKDW Yogyakarta @ukdwyogyakarta

Alamat Redaksi: Kantor Biro IV UKDW

Gedung Hagios Lantai 1

Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, D I Yogyakarta

Koran Kampus UKDW korankampus@staff ukdw ac id

B E R I T A U T A M A

UKDW

Tambah Guru Besar di Bidang Teologi, Perkuat Kapasitas Akademik

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) kembali

meneguhkan komitmennya dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi dengan bertambahnya satu lagi Guru Besar. Pada Senin, 4 Agustus 2025, bertempat di Ruang Seminar Didaktos, dilaksanakan acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri

2648/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen kepada Pdt. Dr. Asnath Niwa Natar, M.Th., sebagai Guru Besar atau Profesor dalam Bidang Ilmu Teologi dengan Kepakaran Teologi Pastoral dan Teologi Feminis.

SK Guru Besar diserahkan oleh Prof. Setyobudi Indartono, M.M., Ph.D., Kepala LLDIKTI Wilayah V, kepada Pdt. Dr. Asnath Niwa Natar, M.Th. disaksikan oleh Rektor UKDW, Dekan Fakultas Teologi, dan tamu undangan lainnya. Pdt. Prof. Dr. Asnath Niwa Natar, M.Th. menjadi guru besar aktif ke-7 yang dimiliki oleh UKDW. Dalam sambutannya, Pdt. Prof. Dr. Asnath Niwa Natar, M.Th. mengungkapkan rasa syukur atas pertolongan dan kasih karunia Tuhan Ia menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen istimewa bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab akademik dan moral. “Jabatan Guru Besar adalah amanah besar dalam tri dharma perguruan tinggi. Saya berharap jabatan ini dapat menjadi berkat bagi semua orang yang saya layani melalui ilmu dan karya,” ujarnya.

Dekan Fakultas Teologi, Pdt Prof Robert Setio, Ph D , menyampaikan bahwa pencapaian Prof. Asnath menjadikan Fakultas

Teologi sebagai fakultas dengan jumlah profesor terbanyak di UKDW. Ia menegaskan pentingnya menjadikan teologi sebagai ilmu yang

tidak eksklusif, tetapi terus dikembangkan secara interdisipliner dan kolaboratif lintas ilmu serta lintas institusi, seperti

dengan ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies)

UGM dan UIN.

Rektor UKDW, Dr. -Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengucapkan selamat dan terima kasih atas pencapaian yang membanggakan ini. Ia menyatakan bahwa UKDW terus mendorong pemetaan jabatan akademik dan pengembangan SDM yang sejalan dengan program LLDIKTI serta Renstra perguruan tinggi “Kami berharap Prof Asnath akan segera disusul oleh dua dosen lainnya yang tengah dalam proses pengajuan Guru Besar,” ujarnya.

Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., Kepala LLDIKTI Wilayah V, menegaskan bahwa dengan penyerahan SK ini, UKDW kini memiliki tujuh Guru Besar aktif. Ia menyoroti pentingnya kontribusi keilmuan yang menyentuh realitas dan tantangan bangsa. “Kehadiran Guru Besar harus memperkuat tri dharma. Target kita ke depan adalah akselerasi kualitas menuju akreditasi unggul pada tahun 2028,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi UKDW sebagai salah satu dari 9 PTS di Yogyakarta yang telah terakreditasi unggul dari 100 PTS. Acara ini menjadi momen yang tidak hanya menggembirakan, tetapi juga menyadarkan seluruh civitas academica akan tanggung jawab besar dalam memajukan pendidikan tinggi. Semangat dan dedikasi Prof. Asnath diharapkan menjadi inspirasi dan energi positif bagi kemajuan institusi dan bangsa. Capaian ini menjadi momen membahagiakan dan diharapkan menjadi inspirasi bagi dosen-dosen UKDW lainnya. [mpk]

Prodi Informatika Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Reputasi di Bidang Teknologi Informasi

Program Studi Informatika, Fakultas

Teknologi Informasi (FTI), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, resmi meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri I n f o r m a t i k a d a n K o m p u t e r ( L A M INFOKOM). Predikat tertinggi ini diperoleh berdasarkan Surat Keputusan Nomor 223/SK/LAM-INFOKOM/Ak/S/VII/2025 yang berlaku mulai 21 Agustus 2025 hingga 17 Agustus 2030.

Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan Prodi Informatika UKDW, sekaligus mengukuhkan kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai Kristiani yang dijalankan Saat ini, Prodi Informatika UKDW menjadi salah satu dari empat Prodi Informatika di wilayah LLDIKTI V yang meraih Akreditasi Unggul dari total 25 prodi yang ada.

Dekan FTI UKDW, Restyandito, S.Kom., MSIS., Ph.D., menyampaikan rasa syukurnya atas peringkat Akreditasi Unggul yang berhasil diraih Prodi Informatika ini Menurut Restyandito, pencapaian tersebut adalah bukti nyata dari kerja keras dan kolaborasi seluruh civitas academica, mulai

dari dosen, mahasiswa, hingga staf “Ini bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan validasi atas kualitas proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang kami jalankan, telah memenuhi standar tertinggi Akreditasi Unggul ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi, melahirkan lulusan yang kompeten, berdaya saing global, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Salam AMPUH,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Program Studi

Informatika UKDW, Joko Purwadi, S.Kom., M K o m , m e n e g a s k a n b a h w a P r o d i

Informatika UKDW hadir sebagai bentuk kontribusi nyata UKDW dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi

informasi secara global “Kurikulum kami dirancang untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam masyarakat. Komitmen kami adalah menciptakan lulusan yang siap bekerja dan berdampak langsung di

industri,” jelasnya.

Data tracer study menunjukkan bahwa rata-rata lulusan Informatika UKDW mendapatkan pekerjaan pertama dalam waktu tiga bulan setelah lulus. Selain itu, tingkat kesesuaian antara pekerjaan yang diperoleh dan bidang keilmuan program studi juga sangat tinggi Hal ini mencerminkan relevansi kurikulum Informatika UKDW dengan kebutuhan dunia kerja.

Prodi Informatika UKDW dikenal adaptif dalam pengembangan kurikulum, khususnya berbasis teknologi sistem cerdas (Artificial Intelligence/AI), dan mendorong kemandirian mahasiswa dalam berinovasi di berbagai bidang IT. Prodi ini juga secara konsisten menanamkan karakter “kedutawacanaan” –yaitu semangat melayani, integritas, dan kemanusiaan – sebagai nilai dasar dalam pembentukan profesional muda yang humanis dan kolaboratif.

Dengan predikat Akreditasi Unggul, Prodi Informatika UKDW semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu program studi unggulan di Indonesia dalam bidang teknologi informasi. [mpk]

10
Walking in Integrity – Hidup dalam Kejujuran Amsal 10:9
9 Orang Besar dari Kota Kecil
Dr. dr. Yanti Ivana Suryanto, M.Sc.: Merangkai Ilmu, Pengabdian, dan Kepemimpinan 2
melalui kerja sama
bersama
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

2 Profil Bulan Ini

Setiap perjalanan besar selalu dimulai

dari langkah kecil Demikian pula dengan kisah Dr dr Yanti Ivana Suryanto, M.Sc., yang lahir di Magelang pada 31 Mei 1979 Mengawali pendidikan dari bangku SD St Yoseph di Muntilan, SMP Negeri 1 Muntilan, dan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta, jejak pendidikan Dr. dr. Ivana terus membawanya semakin dekat pada panggilan hati: menjadi seorang dokter.

Setelah menamatkan pendidikan dokter umum sekaligus profesi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. dr. Ivana melanjutkan studi S2 di bidang Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis (minat Ilmu Faal) di tempat yang sama Tidak berhenti di situ, pada tahun 2024, ia berhasil menuntaskan studi doktoralnya pada Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

Sebelum aktif di dunia akademik, Dr. dr. Ivana pernah mengabdi di RS St. Yusup Boro, Kalibawang (2004–2009) dan RSU Bethesda Lempuyangwangi (2005–2015). Sejak tahun 2009, ia bergabung dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Mengawali kiprah mengajar, mendampingi mahasiswa, sekaligus melayani masyarakat di tahun tersebut, di tahun 2024 Dr. dr. Ivana diberi kepercayaan lebih untuk memegang jabatan sebagai Wakil Dekan 1 di Fakultas Kedokteran (FK) UKDW. Menariknya, meski lahir dari keluarga pedagang, Dr. dr. Ivana justru memilih jalur berbeda Hanya satu anggota keluarga yang lebih dulu menapaki profesi dokter, yakni tantenya yang tinggal di kota lain Mungkin dari sanalah inspirasi tumbuh, untuk menjadi dokter yang bukan hanya mengobati, tetapi juga mendidik dan memimpin dengan hati.

Bagi Dr. dr. Ivana, keputusan melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor bukan semata pilihan, melainkan panggilan Tuntutan profesi dan karir, keinginan untuk menjadi versi dirinya yang lebih baik, serta tekad untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai menjadi motivasi bagi Dr. dr. Ivana. “Kalau sudah melangkah, rasanya harus sampai garis akhir. Apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, ” ujarnya penuh keyakinan.

Namun perjalanan meraih gelar doktor tentu tidak mudah. Tantangan terbesar justru datang dari bagaimana ia harus menjalani

seluruh proses dengan segala dinamika yang menyertainya. Ia sering merenungkan bahwa setiap hal kecil dalam perjalanan akademik ibarat kepingan puzzle. Ada kalanya potongan itu sudah ada di depan mata, tetapi belum juga terpasang karena memang belum waktunya. Sebaliknya, ada kepingan yang terasa jauh, tetapi ketika waktunya tiba, semua bisa terangkai dengan indah membentuk kesatuan yang apik. Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi pada waktu-Nya membuatnya terus melangkah dengan tenang.

Di balik keberhasilan ini, Dr. dr. Ivana tidak berjalan sendirian Ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, kolega, dan institusi. Suami yang tidak banyak menuntut serta anak-anak yang low maintenance membuat hari-hari studi doktoralnya tetap terasa ringan. Rekan-rekan sejawat pun bahum

akademik tetap terpenuhi setiap semester. Tidak ketinggalan, dukungan dari institusi menjadi pondasi penting yang membuat proses penelitian dan penulisan disertasi dapat berjalan dengan lancar Semua ini menjadi bukti bahwa keberhasilan akademik sejatinya adalah hasil kerja bersama, bukan hanya perjuangan pribadi.

Peran sebagai Wakil Dekan

Menjadi seorang Wakil Dekan tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Bagi Dr. dr. Ivana, menyeimbangkan tanggung jawab akademik, administratif, dan penelitian masih merupakan proses belajar yang terus berlangsung. Ia mengakui bahwa selama ini

dirinya sering terdorong oleh tenggat waktu, namun selalu berusaha fokus menyelesaikan satu hal dalam satu waktu sambil mencari cara yang paling mudah dan efektif. “Masih harus banyak belajar, tapi sedikit demi sedikit saya menemukan ritmenya,” tuturnya. Sebagai pemimpin, ia memiliki visi agar FK UKDW menjadi tempat bertumbuh dan berkembang bagi seluruh civitas academica. Suasana kekeluargaan, saling mendukung, dan saling membantu menurutnya menjadi kunci agar semua dapat maju bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri. “Kalau keluarga bisa maju bersama, maka visi bersama akan tercapai,” ungkapnya.

Penelitian dan Kontribusi

Dalam disertasinya yang berjudul “Pengaruh Ibadah Taize terhadap Resiliensi Stres, Tingkat Stres, dan Tingkat Spiritualitas Dewasa Muda – Kajian Terhadap Fungsi Sistem Saraf Otonom, Kardiovaskular, dan Endokrin, serta Perubahan Gelombang Otak”, Dr. dr. Ivana memberi perhatian pada isu yang sangat relevan dengan generasi muda: resiliensi terhadap stres. Ia meneliti bagaimana penguatan spiritual melalui ritual ibadat Taizé yang berisi doa, nyanyian, pembacaan Kitab Suci, serta meditasi yang dapat memberi pengaruh positif, tidak hanya secara spiritual dan psikologis, tetapi juga fisik.

Penelitian ini memiliki keunggulan karena menjodohkan antara sains dengan spiritual, dimana ia berusaha untuk menjelaskan mekanisme kerja ibadat Taize pada mahasis-

wa dalam menghadapi stres dalam kehidupan sehari-hari. Mekanisme ini dilihat dari proses fisiologis yang melibatkan sistem kardiovaskular, sistem saraf otonom, endokrin, dan mengamati perubahan yang terjadi pada gelombang otak.

Hasil penelitian ini membuka peluang besar bagi pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Menurut Dr. dr. Ivana, temuan ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan, baik dengan ritual yang sama maupun dengan bentuk ibadat lain Selain memperkaya wawasan akademik, hasil penelitian ini juga bisa menjadi dasar untuk mendorong pelaksanaan ibadat Taizé secara rutin, sehingga kaum muda semakin kuat menghadapi tekanan hidup melalui nyanyian, doa, dan meditasi.

Pengalaman Berpartisipasi di Program UB Fellows

Tidak berhenti di ruang akademik, Dr. dr. Ivana juga menggunakan kesempatan berharga dengan mengikuti program UB Fellows, sebuah program internasional yang diselenggarakan oleh United Board for Christian Higher Education in Asia ( U B C H E A ) , y a n g b e r f o k u s p a d a pengembangan kepemimpinan. Program ini membuka wawasannya tentang “being a leader” sekaligus memberi ruang luas untuk berjejaring dengan sesama pemimpin di Asia. Perjalanan setahun penuh dimulai dengan pembekalan intensif selama lima hari di Singapura, kemudian berlanjut dengan perancangan serta pelaksanaan program di institusi, ditambah berbagai materi terkait leadership.

Bagi Dr. dr. Ivana, pengalaman tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan modal untuk berkontribusi lebih besar bagi UKDW. Harapannya sederhana namun kuat: agar program ini tidak berlalu begitu saja tanpa bekas. Ia ingin memastikan ada penguatan bagi dosen sekaligus jejaring yang lebih luas bagi mahasiswa, sehingga semua pihak dapat merasakan manfaat nyata. Perjalanannya adalah cerita tentang ketekunan, komitmen, dan keberanian untuk terus belajar Dari bangku kuliah hingga ruang pelayanan, dari laboratorium hingga ruang kerja pimpinan, Dr. dr. Ivana selalu hadir dengan dedikasi yang menginspirasi banyak orang di sekitarnya. [ai]

PENANGGUNG JAWAB : Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D.

PIMPINAN REDAKSI :Dr. Phil. Lucia Dwi Krisnawati, S.S., M.A. Dr. Paulus Widiatmoko, M.A.

WAKIL PIMPINAN REDAKSI : Anna Iritasari.

Redaksi menerima tulisan dari warga

kirim

KORAN KAMPUS
Doc. Pribadi

Universitaria

Kunjungan Fakultas Teologi UKI Tomohon, UKDW Buka Peluang Kolaborasi Strategis

Universitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) Yogyakarta menerima kunjungan kerja dari Fakultas Teologi

Universitas Kristen Indonesia (UKI) Tomohon pada Rabu, 20 Agustus 2025 Pertemuan yang berlangsung di Ruang Seminar Pdt Dr Harun Hadiwijono ini

m

mempererat hubungan antarperguruan tinggi Kristen di Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi strategis di berbagai bidang.

Rombongan UKI Tomohon dipimpin langsung oleh Rektor, Dr. Ir. Sandra A. Korua, M Si , didampingi oleh Wakil Rektor III, Dekan Fakultas Teologi, Wakil Dekan II, Ketua Program Studi S1 dan S2, serta dosendosen Fakultas Teologi.

Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S T , M T , menyambut hangat kunjungan tersebut dan memaparkan perkembangan terkini UKDW, termasuk pembangunan Kampus 2 di Sedayu yang diperuntukkan bagi pengembangan Fakultas Kedokteran. Ia juga menekankan bahwa UKDW memiliki tujuh fakultas yang terus mendorong sinergi lintas disiplin “Kami berharap kunjungan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Tidak ada institusi yang bisa berjalan sendiri, kita perlu bergandengan tangan demi kemajuan bersama,” ujarnya.

Rektor UKI Tomohon menyampaikan apresiasi atas sambutan yang hangat dari UKDW dan mengungkapkan kekagumannya atas pesatnya perkembangan UKDW. “Kami berharap kunjungan ini dapat ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman

Diskusi antara kedua institusi berlangsung dinamis, membahas beragam topik strategis seperti pengembangan mutu pendidikan, kurikulum teologi kontekstual, sistem informasi akademik, pembinaan spiritual, hingga upaya internasionalisasi. (MoU), khususnya dalam pengembangan bersama Fakultas Teologi,” jelasnya.

Dekan Fakultas Teologi UKDW, Pdt. Prof. Robert Setio, Ph.D., menekankan pentingnya menjaga kualitas pendidikan di perguruan tinggi swasta serta membangun daya tarik bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi teologi. UKDW dikenal dengan pendekatan teologi yang integratif, memadukan dimensi akademik dan spiritualitas, didukung oleh pengajar dari 12 sinode gereja.

“Kami memiliki kekuatan dalam menyatukan aspek spiritualitas dan akademik Fasilitas seperti asrama khusus mahasiswa teologi kami hadirkan untuk mendukung pembinaan karakter dan spiritualitas mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teologi UKI

Tomohon, Pdt Dr Denny A Tarumingi, M.Pd.K., menyoroti pentingnya peningkatan kualitas dosen dan mahasiswa, serta perlunya kolaborasi dalam pengembangan kurikulum, riset bersama, dan pertukaran dosen.

Dalam bidang teknologi informasi, Dr Parmonangan Manurung, S T , M T , IAI , selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Informasi, dan Inovasi UKDW, mempresentasikan sistem informasi terpadu satu.ukdw.ac.id, yang telah mengintegrasikan lebih dari 30 sistem ke dalam satu platform dengan fitur single sign-on, mendukung transparansi dan efisiensi layanan. UKDW juga menyatakan kesiapan untuk membantu pengembangan sistem informasi di UKI Tomohon.

Wakil Rektor III UKI Tomohon, Pdt. Prof. Franky Tulungen, menyambut baik kemungkinan kerja sama ini dan menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, khususnya dalam pengembangan teknologi informasi. “Kami kekurangan tenaga IT untuk mengikuti perkembangan teknologi, sehingga

belajar dari UKDW adalah langkah strategis ke depan,” ujarnya. Salah satu peluang kolaborasi yang juga dibahas adalah pengembangan kelas kolaborasi internasional, seperti dijelaskan oleh Pdt. Handi Hadiwitanto, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teologi UKDW Program ini memungkinkan pelaksanaan kelas daring bersama antara dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri, khususnya pada jenjang magister dan doktoral. Topik lainnya mencakup pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pendekatan pembinaan mahasiswa berbasis spiritualitas, riset kontekstual, dan studi lintas agama. UKDW juga membagikan pengalaman mereka dalam program pendampingan spiritual mahasiswa dan sosial immersion ke berbagai lembaga mitra di Indonesia.

Pertemuan ini ditutup dengan komitmen untuk merealisasikan kerja sama melalui penandatanganan dokumen formal seperti MoU, MoA, dan Implementation Agreement (IA). Kerja sama ini mencakup pengembangan kurikulum, riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta integrasi sistem informasi.

Kunjungan kerja ini menjadi langkah awal yang menjanjikan untuk sinergi antarperguruan tinggi Kristen dalam menjawab tantangan zaman, meningkatkan mutu pendidikan, serta menghadirkan teologi yang relevan dan kontekstual di Indonesia. [mpk]

UKDW Sambut PGI: Sinergi untuk Pelayanan Gereja yang Berdampak

Universitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) menerima kunjungan dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Ruang Seminar Pdt. Dr. H a r u n H a d i w i j o n o K u n j u n g a n i n i merupakan bagian dari agenda Capacity Building PGI 2025, sekaligus tindak lanjut kerja sama strategis yang telah dibangun sejak tahun sebelumnya.

Hadir dalam rombongan PGI antara lain Ketua Umum PGI, Sekretaris Umum, Wakil Sekretaris Umum, alumni Fakultas Teologi UKDW, serta sejumlah anggota PGI lainnya.

Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyambut hangat kunjungan ini dan menegaskan komitmen UKDW untuk terus memperkuat kerja sama dengan PGI, baik melalui kolaborasi akademik maupun dukungan teknologi informasi.

“UKDW memiliki tujuh fakultas, dan kami siap menjalin kolaborasi, baik melalui keterlibatan tenaga ahli, riset bersama, hingga penguatan tata kelola organisasi gereja. Kami

juga menawarkan pemanfaatan sistem informasi UKDW untuk mendukung PGI,” jelasnya. Ia menambahkan, saat ini UKDW sedang mengembangkan kampus kedua di Sedayu, termasuk pembangunan rumah sakit pendidikan sebagai bagian dari dukungan terhadap Fakultas Kedokteran. Dalam bidang pendidikan berkelanjutan, UKDW juga membuka peluang kerja sama melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memungkinkan staf gereja melanjutkan studi secara daring.

Dekan Fakultas Teologi UKDW, Prof. Dr. Robert Setio, menjelaskan bahwa UKDW merupakan hasil penggabungan Akademi Theologia Jogjakarta dan Sekolah Theologia Bale Wiyata, Malang, dengan dukungan dari 12 gereja pendiri dari berbagai wilayah Indonesia. “UKDW bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan bagian dari kompleks pelayanan Kristen yang mencakup rumah sakit Bethesda, sekolah menengah, dan gereja. Ini warisan yang perlu terus dijaga,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa semangat ekumenis dan kebersamaan menjadi fondasi utama dalam pengembangan kampus, dan harus terus diperkuat dalam konteks gereja masa kini.

langsung. “Kami melayani 105 gereja anggota, namun sering kali hubungan yang terjalin bersifat administratif. Karena itu, kami turun langsung ke wilayah agar staf PGI bisa memahami realitas pelayanan di lapangan dan menjalin koneksi yang lebih hidup,” ujarnya Ia mencontohkan inisiatif lokal seperti pengembangan biogas oleh GKJTU yang berhasil menjangkau Papua, sebagai bentuk pelayanan gereja yang berdampak namun kerap luput dari narasi besar ekumenis. “Cerita seperti ini sangat penting. Kami berharap sinergi dengan UKDW bisa memperkuat peran PGI dalam menghadirkan wajah kekristenan yang relevan di tengah bangsa,” tambahnya.

Sekretaris Umum PGI, Pdt Darwin Lumbantobing, yang juga merupakan alumni Fakultas Teologi UKDW, menyoroti dua isu utama yang menjadi perhatian PGI saat ini: pendidikan Kristen dan krisis lingkungan hidup “Sidang Raya PGI mengidentifikasi pendidikan sebagai salah satu simpul krisis. Kami mengajak UKDW untuk bersama-sama membangun kesadaran dan visi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Kristen,” tegasnya. Ia juga meminta dukungan UKDW untuk menjadi tuan rumah Konsultasi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pada Oktober mendatang, sebagai respons gereja terhadap isu lingkungan yang semakin mendesak.

Ketua Umum PGI, Pdt Jacklevyn Frits Manuputty, mengapresiasi sambutan hangat dari UKDW dan menekankan pentingnya kunjungan lapangan sebagai cara untuk menyerap dinamika pelayanan gereja secara Wakil Rektor IV UKDW, Pdt. Wahju Satria

Wibowo, Ph D , menambahkan bahwa kolaborasi antara PGI dan UKDW selama ini lebih banyak terfokus pada Fakultas Teologi. Namun, ke depan, kerja sama diharapkan dapat mencakup fakultas lain serta pusatpusat studi di bawah LPPM UKDW. “Kami membuka peluang kerja sama dalam isu kebencanaan, pengembangan sistem informasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini menjadi awal baru bagi kontribusi bersama UKDW dan gereja-gereja di Indonesia,” ujarnya.

Pertemuan strategis ini menegaskan pentingnya sinergi antara gereja dan perguruan tinggi Kristen dalam menghadirkan pelayanan yang relevan, kontekstual, dan berdampak bagi masyarakat Dengan semangat oikoumene, UKDW dan PGI berkomitmen membangun wajah kekristenan yang inklusif, kolaboratif, dan bermakna di tengah bangsa yang majemuk. [mpk]

Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

Universitaria

UKDW Dorong Gerakan Sadar Sampah, Komitmen Nyata dari Kampus untuk Bumi

Universitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) kembali menunjukkan komitmennya dalam isu pelestarian lingkungan melalui tahap kedua sosialisasi Gerakan Sadar Sampah yang digelar pada Selasa, 19 Agustus 2025 di Auditorium Koinonia. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya membangun budaya sadar lingkungan di area kampus. UKDW ingin menanamkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar tren sesaat, melainkan tanggung jawab kolektif yang dimulai dari hal-hal kecil seperti mengelola sampah secara bijak.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kapasitas SDM, Promosi, dan Jejaring UKDW, Pdt. Wahju Satria Wibowo, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya semangat “UKDW SERU”, yang mengusung nilai keberlanjutan atau sustainability. “Isu lingkungan seperti kerusakan akibat pertambangan menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa terus-menerus mengambil dari alam tanpa mengelolanya secara bijak UKDW sebagai lembaga pendidikan harus mampu bertahan, berkembang, dan ikut ambil bagian dalam isu-isu sosial, termasuk pengelolaan sampah,” ujar Wahju.

Hadir sebagai narasumber, Vira Maya Permatasari dari Paguyuban Eco Sae Migunani mendorong kampus untuk mengambil langkah konkret dalam mengatasi persoalan sampah. Menurutnya, langkah awal seperti membentuk bank sampah dapat menjadi gerakan yang berdampak luas jika dilakukan secara konsisten. “Permasalahan sampah bisa

diatasi dari sumbernya Tujuannya bukan hanya mengurangi volume sampah ke TPA, tapi juga membangun pola pikir dan perilaku baru yang peduli lingkungan,” jelas Vira.

Vira memperkenalkan tiga langkah sederhana dalam pengelolaan sampah: Ia juga mengajak peserta untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, yaitu sistem yang memaksimalkan penggunaan kembali limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna, seperti sabun dari minyak jelantah atau kerajinan dari sampah anorganik.

Ÿ Cegah – Hindari penggunaan barang

sekali pakai Bawa wadah makan dan tumbler pribadi.

Ÿ Pilah – Pisahkan sampah sesuai jenis: organik, anorganik, dan residu.

Ÿ Olah – Memanfaatkan limbah untuk produk baru yang berguna.

Sebagai bentuk komitmen, UKDW telah menyediakan tempat sampah terpilah dan menerbitkan surat edaran tentang kebijakan pengurangan sampah plastik sekali pakai di lingkungan kampus Civitas academica didorong untuk membawa tumbler pribadi, menggunakan tempat makan sendiri saat

memesan makanan, dan mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan sekali pakai pada berbagai kegiatan kampus.

Staf Fakultas Teknologi Informasi, Silvanius Satno Nugraha, S.Kom., menyebut FTI telah menerapkan pemisahan sampah organik dan anorganik. Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam pengelolaan sampah residu, yaitu jenis sampah yang tidak dapat didaur ulang.

Dukungan Kebijakan Jadi Kunci Vira menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kesadaran individu, tetapi juga perlu didukung oleh kebijakan kampus yang kuat. Mulai dari penyediaan infrastruktur, edukasi berkelanjutan, hingga regulasi yang mengatur tata kelola sampah secara menyeluruh.

“Sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga bisa memberikan manfaat ekonomi. Ini bukan hanya peluang, tapi juga tanggung jawab kita bersama,” tutupnya.

UKDW berharap gerakan sadar sampah ini tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berkembang menjadi budaya kampus yang berkelanjutan Melalui langkah kecil yang konsisten, civitas academica diajak menjadi agen perubahan dalam menjaga bumi.

Dengan menjadikan kampus sebagai laboratorium perubahan, UKDW tengah membentuk generasi masa depan yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. [mpk]

UKDW & Kampung Wisata Cokrodiningratan Sulap Limbah Tutup Botol Jadi Souvenir Bernilai

Pr o g r a m S t u d i D e s a i n P r o d u k

Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjalin kerja sama strategis dengan Kampung Wisata Cokrodiningratan dan Lelaku Studio melalui sebuah kegiatan bertajuk Co-Design Workshop: Eco-Gift Berbahan Tutup Botol Bekas. Kegiatan ini berlangsung pada hari Selasa, 19 Agustus 2025 di Pendopo Kelurahan Cokrodiningratan dan melibatkan masyarakat serta komunitas setempat, termasuk bank sampah.

Workshop ini bertujuan mengembangkan potensi wisata lokal dengan menghadirkan souvenir berbasis daur ulang yang ramah lingkungan. Tutup botol plastik bekas dipilih sebagai bahan utama, sekaligus untuk mendorong kesadaran akan pengelolaan

limbah dan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Kegiatan dibuka oleh Kristian Oentoro, S.Ds., M.Ds., Dosen Desain Produk UKDW, yang menyampaikan rangkaian acara serta tujuan kolaborasi ini Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan dokumen kerja sama antara Prodi Desain Produk UKDW dengan Kampung Wisata Cokrodiningratan (Kasaningrat), sebagai langkah awal kerja sama jangka panjang.

Kepala Program Studi Desain Produk UKDW, Winta T. Satwikasanti, M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya memperkenalkan visi dan fasilitas program studi, serta menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas, dan masyarakat. Ia menutup sambutannya dengan tembang

macapat yang sarat makna nilai luhur dan kerja sama.

Ketua Kasaningrat, Ambarwati, menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjadikan Kampung Wisata Cokrodiningratan lebih kreatif, inovatif, dan mandiri. Ia berharap, melalui workshop ini, produk souvenir berbasis limbah dapat menjadi ciri khas sekaligus daya tarik wisata yang baru bagi Kampung Wisata Cokrodiningratan.

Lurah Cokrodiningratan, Andityo Bagus Bagaskoro, S T , M Eng , turut hadir dan menyampaikan pentingnya souvenir dalam pengembangan citra kampung wisata Ia berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan menjangkau sektor-sektor kreatif lainnya, termasuk kuliner.

Sesi workshop dipandu oleh tim dari Lelaku Studio, yang berbagi pengalaman serta teknik mengolah limbah tutup botol menjadi karya seni. Partisipasi aktif peserta terlihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti proses penciptaan souvenir secara langsung.

Salah satu peserta, Tri, mengapresiasi inisiatif ini. Menurutnya, kegiatan kolaboratif semacam ini membuka ruang dialog dan inovasi lintas sektor yang berdampak positif bagi masyarakat.

Kegiatan ini menjadi contoh konkret sinergi antara perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam menciptakan solusi berbasis desain yang berkelanjutan dan berdampak nyata. [jonathan]

Mengelola Sampah dari Hulu ke Hilir
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

Universitaria

Universitas Kristen Duta Wacana

( U K D W ) Y o g y a k a r t a k e m b a l i

m e n y e l e n g g a r a k a n O r i e n t a s i

Kehidupan Akademika (OKA) untuk menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan tahunan ini menjadi pintu gerbang awal bagi para mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus, membangun relasi, serta memahami nilainilai Kedutawacanaan yang akan menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan akademik dan sosial di UKDW. OKA 2025 ini berlangsung dari tanggal 25 hingga 30 Agustus 2025. Tahun ini, OKA mengusung tema besar yang sangat relevan dengan tantangan generasi masa kini yakni kesehatan mental. Menghadirkan konsep reflektif bertajuk “Ātma-Darśana” (आ-दशन), yang berarti penglihatan menuju diri sejati. Melalui tema ini, OKA 2025 mengajak mahasiswa baru untuk melakukan refleksi mendalam terhadap diri sendiri di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan.

Di era digital saat ini, mahasiswa seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan psikologis, seperti kecemasan, depresi, kelelahan mental (burnout), hingga kecanduan media sosial Fenomena social comparison yang marak di platform digital turut memicu rasa tidak percaya diri, ketakutan akan tertinggal (FOMO), serta perasaan tidak cukup. Media sosial pun tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga berpotensi menjadi pemicu krisis identitas dan ancaman bagi kesehatan mental.

OKA 2025: Kenali Diri, Siap Berkarya

Melalui Ātma-Darśana, OKA 2025 menekankan bahwa nilai seorang individu tidak semata-mata diukur dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau capaian akademik, melainkan dari kesadaran diri untuk terus belajar dan berkembang Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa perjalanan di bangku kuliah adalah proses menemukan jati diri, bukan sekadar mengejar prestasi Nilai seorang manusia tidak ditentukan hanya oleh gelar atau angka, tetapi oleh kedewasaan dalam mengenal diri dan semangat untuk terus bertumbuh.

Salah satu inovasi menarik tahun ini adalah hadirnya panggung “Lapor OKA”, yang menjadi ruang ekspresi dan refleksi bagi

mahasiswa baru. Tidak hanya mengenalkan kampus, “Lapor OKA” juga membuka ruang dialog untuk menyuarakan isi hati,

pendekatan ini, OKA 2025 ingin menegaskan b

pergumulan maupun perjuangan masingmasing, dan pentingnya untuk merawat kesehatan mental selama menjalani kehidupan akademik.

OKA 2025 bukan sekadar acara orientasi yang digelar tiap tahun, tetapi sebuah proses pembentukan karakter sebagai bagian dari komunitas UKDW Dengan menghadirkan pembicara inspiratif dan berbagai aktivitas reflektif, mahasiswa baru diharapkan dapat

menyambut fase baru kehidupannya dengan semangat yang sehat dan utuh, untuk dapat belajar dan tumbuh bersama.

OKA 2025 menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk bertumbuh dan mengenal diri lebih dalam Dengan semangat ini, mahasiswa baru UKDW siap melangkah menjelajahi dunia baru dan membangun masa depan yang bermakna.

Selamat datang, mahasiswa baru UKDW 2025! Semoga setiap proses yang dijalani menjadi pijakan untuk bertumbuh, hari ini dan di masa depan. SORBUM! [Imel]

Menggali Potensi Gunungkidul Melalui Riset Dan Keahlian

Dosen Studi Humanitas UKDW

Gunungkidul, salah satu kabupaten di

Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal karena keindahan alamnya yang eksotis dan kekayaan budayanya yang unik. Keindahan alam terlihat dari pantaipantai berpasir putih hingga deretan perbukitan karst (kapur). Di balik pesonanya, Gunungkidul menyimpan potensi yang tersembunyi dan unik karena belum sepenuhnya tergarap, khususnya di wilayah Kalurahan Kampung yang memiliki keindahan Gunung Gambar, Watu Keren, Sunrise, Sunset, kenimatan kopi Gununggambar, industri kerajinan bambu, dan makanan tradisional yang sulit ditemukan saat ini Menyadari pentingnya peran akademisi dalam pengembangan wilayah, dosen Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta melakukan riset awal untuk menggali dan memetakan potensi Kampung secara holistik. Riset ini diawali dengan observasi dan wawancara kepada Camat Ngawen, Lurah Kampung, tokoh masyarakat atau kelompok, dan peninjauan lokasi sebagaimana ditujukan pada gambar berikut ini.

Riset ini bertujuan untuk mengubah stigma Kampung dari daerah miskin, kawasan geologi, dan deretan bukit karst menjadi destinasi wisata serta sumber ekonomi unggulan pada masa mendatang Studi Humanitas (S1) UKDW merupakan salah satu Program Studi yang sangat diminati oleh mahasiswa karena berorientasi membantu pemberdayaan potensi masyarakat lokal berbasis digital. Hasil pemetaan dosen Studi Humanitas UKDW menemukan potensi K a l u r a h a n K a m p u n g d i K a b u p a t e n Gunungkidul sebagai berikut:

1. Potensi Letak Geografis dan Demografi

Secara geografis Gunungkidul didominasi kawasan perbukitan dan pegunungan kapur (karst) yang bervariasi antara datar hingga sangat curam yaitu Datar (0-2%): 26.768 Ha; Bergelombang (3-15%): 41.435 Ha; Curam (16-40%): 59 452 Ha, dan Sangat Curam (>40%): 20.881 Ha. Selain itu, menghadirkan lanskap karst khas, goa, dan sungai bawah tanah, dan rentan kekeringan di musim kemarau Kondisi ini membuat sektor

pertanian tradisional mengalami kendala Kemiskinan di Gunungkidul termasuk Kalurahan Kampung menunjukkan tren penurunan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 17,07% pada tahun 2020 menjadi 15,18% pada tahun 2024. Penurunan angka kemiskinan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pertumbuhan sektor pariwisata, pertanian, dan intervensi program pemerintah. Pemerintah daerah menargetkan penurunan kemiskian tahun 2025 sebesar 0,34 poin dengan alokasi anggaran Rp217,1 miliar untuk pelaksanaan 51 program dan 148 sub-kegiatan yang menyasar aspek seperti sanitasi, perumahan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi. Secara keseluruhan upaya pengentasan kemiskinan dari Pemerintah Daerah Gunungkidul menunjukkan hasil positif Luas wilayah Kalurahan Kampung 8,810 km² dan penduduknya berjumlah 6.898 jiwa (laki-laki 3.449 jiwa dan perempuan 3.449 jiwa). Mata pencahariannya bertani, berkebun, beternak, berdagang, wiraswasta, sektor pariwisata, pengrajin, dan lain-lain. Berdasarkan data Lurah Kampung serta website desa bahwa mayoritas penduduknya bekerja pada sektor pertanian/ perkebunan sekitar 27,17%.

Secara umum Gunungkidul dikenal dengan kekayaan alam seperti pantai (Baron, Krakal, Drini), goa karst (Pindul, Kalisuci), air terjun Jogan, serta formasi geologi seperti Nglanggeran, Gununggambar, Watu Keren, dan batu watu wayang. Potensi wisata serta kearifan lokal di Kalurahan Kampung terlihat dari keindahan Gunung Gambar dan Watu Keren yang menawarkan pengalaman ekowisata dan wisata minat khusus Keindahan Gunung Gambar sebagai “laboratorium alam” yang menarik untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat karena menyimpan misteri sejarah pertapaan Raden Mas Said sekitar abad ke-18 untuk menyusun strategi melawan Belanda. Penataan Kawasan wisata dan infrastruktur desa sangat diperlukan di wilayah ini. Jalur hiking dan trekking sangat dibutuhkan oleh wisatawan, para pencinta alam, dan fotografi dalam mengeksplorasi keindahan alam, gua, dan keunikan budaya

daerah ini. Masyarakatnya masih memegang teguh tradisi dan kearifan lokal. Makanan tradisional seperti gathot dan thiwul juga menjadi ikon dan ekonomi lokal. Wisatawan dapat merasakan kehidupan pedesaan yang otentik dan berinteraksi langsung dengan penduduk, menambah pengalaman perjalanan yang bermakna Potensi wisata Kampung dapat dikembangkan melalui konsep destinasi wisata kekinian berbasis agro edu heritage. Potensi ini dapat menjadi destinasi ekowisata dan geowisata.

Sumber pendapatan masyarakat di Gunungkidul dan khususnya di Kalurahan Kampung yaitu sektor pertanian, peternakan, dan kerajinan. Pertanian merupakan sektor unggulan yang berpotensi dikembangkan sebagai agrowisata melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dan digital. Pertanian di daerah ini berbasis lahan kering, namun memiliki potensi besar dalam meningkatkan ekonomi serta kesejahteran masyarakat Komoditas seperti singkong, jagung, madu hutan, dan aneka umbi-umbian dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan komoditas unggulan Riset maupun pendampingan dosen UKDW ke depannya, yang telah diawali melalui penandatanganan MoU antara Rektor UKDW dengan Bupati Gunungkidul tahun 2021 dan pelaksanaan KKN mahasiswa tahun 2022-2023 Kalurahan Kampung, Ngawen, diharapkan dapat melatih masyarakat dalam manajemen pengolahan hasil pertanian dan pemasaran secara digital Pendampingan ini dapat membuka jalan bagi industri kreatif lokal, seperti kerajinan bambu, petani kopi, pembuatan keripik singkong, tepung mocaf, atau jajanan tradisional yang dapat dipasarkan kepada wisatawan maupun industri.

Salah satu contoh yang berhasil mengembangkan agrowisata di Gunungkidul yaitu Desa Pampang Keberadaan petani milenial melalui pengembangan agrowisata mampu memberikan harapan baru bagi perubahan sektor pertanian di Desa Pampang dengan memanfaatkan teknologi dan informasi. Keberhasilan Desa Pampang ini dapat diterapkan di Kalurahan Kampung

dengan konsep pengembangan pertanian berbasis agro edutourism.

4. Potensi Industri Kreatif dan Ekonomi Digital

Industri kreatif seperti kerajinan bambu dan kayu menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Pengembangan potensi industri kreatif dan ekonomi digital pada masyarakat Kampung dapat terwujud melalui pelatihan dan pendampingan dosen-dosen UKDW ke depan. Riset awal yang dilakukan oleh dosen Studi Humanitas UKDW bertujuan untuk memetakan potensi yang dimiliki oleh masyarakat Kampung. Kehadiran dosen dan mahasiswa Studi Humanitas yang memiliki kompetensi pada bidang digital dan kreator, maka dapat membantu masyarakat dalam memasarkan produk-produk lokal melalui pelatihan konten kreator, pembuatan toko daring atau pemasaran e-commerce, media sosial, dan pengembangan brand lokal. Hal ini mendorong kewirausahaan lokal serta membuka peluang kolaborasi dengan investor yang tertarik pada pengembangan ekonomi kreatif. Strategi pemasaran digital ini menjadi kunci untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan masyarakat Kalurahan Kampung.

Peran dosen UKDW melalui riset dan pengabdian masyarakat yang telah dan akan terus dilakukan secara berkelanjutan, maka dapat menggali serta memetakan secara menyeluruh potensi wilayah Kalurahan Kampung Hasil pemetaan ini dapat dikembangkan berdasarkan peta potensi wisata alam, budaya, produk lokal, dan industri kreatif yang dapat dipromosikan melalui digital marketing, sehingga meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya Kolaborasi riset dan pengabdian dari dosen UKDW akan menjadi katalis bagi transformasi desa-desa di Kabupaten Gunungkidul menuju desa inovatif, kreatif, dan berdaya saing melalui pemanfaatan teknologi tepat guna serta ramah lingkungan. (Dr. Dermawan Waruwu, S.Th., M.Si)

2. Potensi Wisata dan Kearifan Lokal
3. Potensi Pertanian dan Agrowisata
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

Gelar Pemeriksaan Gratis di Alun-Alun Kidul, FK UKDW Ajak Warga Cegah Penyakit Sejak Dini

Suasana Alun-Alun Kidul Yogyakarta

pada Minggu pagi, 3 Agustus 2025, terlihat berbeda dari biasanya. Ratusan warga berkumpul di sisi timur Sasana Hinggil Dwi Abad untuk mengikuti kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta.

Pemeriksaan yang tersedia meliputi tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Selain itu, warga juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan tenaga medis yang hadir. Sebanyak 244 peserta memanfaatkan layanan ini tanpa dipungut biaya.

Lima dokter dari FK UKDW, bersama dengan sejumlah dokter muda, turun langsung memberikan edukasi dan konsultasi kesehatan kepada para peserta. Edukasi yang disampaikan mencakup gaya hidup sehat, pengendalian stres, serta pencegahan komplikasi penyakit tidak menular.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Dies Natalis ke-16 FK UKDW, yang mengusung tema "Mewujudkan Masyarakat Sehat Melalui Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular " FK UKDW lantas menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi medis gratis bagi masyarakat. "Deteksi dini sangat penting untuk

mencegah komplikasi yang lebih serius. Kami ingin agar masyarakat semakin sadar dan aktif dalam menjaga kesehatannya," ujar dr. Lenggana Relung Atmadi, M Biomed, Koordinator Pengabdian Masyarakat FK UKDW.

Banyak peserta yang mengungkapkan rasa puas terhadap pelayanan yang diberikan Salah seorang peserta mengungkapkan, “Pemeriksaan seperti ini biasanya memerlukan biaya, namun hari ini kami bisa mendapatkannya secara gratis dan dilayani dengan ramah oleh mahasiswa serta dokter yang hadir”.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga

Fmemberikan doorprize kepada peserta yang hadir. Kegiatan ini berjalan dengan tertib dan mendapat respons positif dari masyarakat. Menurut dr Widya Christine Manus, M Biomed , FINEM, Ketua Panitia Dies Natalis ke-16 FK UKDW, kegiatan serupa akan kembali digelar di Plaza Ambarrukmo pada 4–5 Oktober 2025. Kegiatan tersebut akan mengusung format expo kesehatan dan edukasi publik yang lebih luas, dengan tujuan menjangkau lebih banyak masyarakat serta membe

mengenai dunia kedokteran. [Cika]

Fakultas Kedokteran UKDW

Gelar Pelatihan Kesehatan Mental untuk Guru di Sumba

akultas Kedokteran Universitas Kristen

Duta Wacana (FK UKDW) Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam bidang pengabdian masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, melalui penyelenggaraan Mental Health Workshop bagi guru-guru Yayasan Pendidikan Masehi di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pelatihan ini diselenggarakan dalam dua sesi, yaitu secara daring pada 24 Juli 2025 dan secara luring pada 29 Juli 2025 di Anakalang, Sumba Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para guru dengan pemahaman dan keterampilan dasar terkait kesehatan mental, komunikasi efektif, serta resiliensi dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan.

Guru memiliki peran strategis dalam membentuk perkembangan akademik sekaligus ketahanan mental-emosional peserta didik Dalam menjalankan peran tersebut, guru terlibat dalam interaksi intensif dengan siswa yang beragam latar belakang dan karakter. Hal ini menuntut tidak hanya kompetensi pedagogis, tetapi juga kemampuan komunikasi yang baik serta ketahanan mental.

Di tengah tekanan pekerjaan dan beban tanggung jawab yang tinggi, guru kerap

mengalami stres, burnout, hingga distres emosional Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap proses belajar-mengajar dan kesejahteraan siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memiliki tingkat resiliensi yang baik guna menjaga kesehatan mental dan performa profesional. Workshop ini me ng hadirkan tig a narasumber berpengalaman, yaitu Dr dr

Yanti Ivana Suryanto, M Sc , dr Johan Kurniawan, M.Biomed., Ch.T., Sp.KJ., dan dr. Lucas Nando Nugraha, M.Biomed. Mereka menyampaikan materi yang relevan dan mudah dipahami oleh para guru, mulai dari pemahaman dasar tentang kesehatan mental, deteksi dini gangguan psikologis pada anak dan remaja, hingga strategi membangun lingkungan belajar yang sehat dan men-

dukung kesejahteraan mental.

Pelatihan ini juga menekankan pentingnya komunikasi efektif antara guru dan siswa sebagai kunci menciptakan interaksi yang positif dan mendukung perkembangan peserta didik secara optimal.

Kegiatan ini merupakan bagian dari k o m i t m e n F K U K D W d a l a m m e n gimplementasikan visi sebagai fakultas kedokteran yang unggul dan berdaya saing global, berlandaskan pada nilai-nilai Kristiani Pelatihan ini sekaligus menjadi bentuk pengabdian masyarakat yang sejalan dengan misi FK UKDW untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan kedokteran yang holistik, humanis, serta berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

Dengan membekali para guru pemahaman yang tepat tentang kesehatan mental, FK UKDW berharap mereka dapat meningkatkan pengetahuan mengenai resiliensi dan komunikasi, sekaligus membangun relasi dengan para pemangku kepentingan potensial di daerah Sumba. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan mendukung perkembangan siswa secara optimal. [cvp]

Doc. Panitia
Doc. Panitia
Doc. Panitia

Pojok Suara Humanitas

Kolaborasi Guru SMP BOPKRI 1 dan Gen Z dalam Dunia Digital

Se b a g a i b e n t u k u p a y a u n t u k

memperkenalkan program studi yang

dimiliki Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, tim promosi UKDW dan tim promosi prodi Studi Humanitas berkolaborasi mengadakan acara pelatihan bagi guru dan karyawan SMP BOPKRI 1 Yogyakarta. Tema yang dibawakan adalah “ Seminar Strategi Pelayanan Prima untuk Guru & Karyawan”. Diikuti oleh seluruh guru dan karyawan SMP BOPKRI 1 Yogyakarta.

Pelatihan ini dipandu oleh dosen Prodi Studi

Humanitas, Dra Endah Setyowati, M Si , M.A. Pada pertemuan ini, turut mengundang dua mahasiswa Prodi Studi Humanitas UKDW yaitu Diandra Elisabeth Hutama angkatan 2023 dan Ika Gracia Wulandari a

perwakilan dari Gen-Z.

Pengalaman ini sangat menyenangkan dan berkesan. Bersama guru dan karyawan SMP

BOSA Yogyakarta, kami dapat saling berbagi pendapat serta pengalaman mengenai peran dunia digital dalam proses pembelajaran siswa Sharing pengalaman pribadi terkait

proses belajar yang didapatkan dulu di masa sekolah dan membagi ilmu cara penerapan media sosial sebagai sarana prasarana pendukung kegiatan belajar. Selama sesi sharing, kami selaku mahasiswa tidak hanya didengarkan, namun para guru-guru SMP BOPKRI juga mengapresiasi pendapat kami yang membuat kami nyaman untuk berbicara sebagai generasi Z Pengalaman tersebut menjadi pengalaman yang luar biasa karena ikut serta berkolaborasi dengan para guruguru serta dosen yang sama-sama mau belajar dan juga menghargai pendapat kami yang secara status sosial lebih rendah ketimbang

dosen dan para guru Kami hanyalah mahasiswa yang ingin didengarkan suaranya.

Berdasarkan pengalaman yang kami rasakan selama mengikuti kegiatan bersama para pengajar SMP BOPKRI 1, kami menyadari bahwa keterlibatan langsung dalam kegiatan bersama dosen, guru, karyawan, dan mahasiswa juga membuka kesempatan bagi kami untuk saling belajar, berbagi gagasan atau pendapat, serta memahami apa yang menjadi tantangan pendidikan di era digital sekarang khususnya

mahasiswa/i. Selaku mahasiswa Prodi Studi Humanitas, kami juga berlatih public speaking, dan mempraktekkan mata kuliah yang sudah kami ambil, yaitu Storytelling.

Kami juga berharap semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan agar semakin banyak dosen, guru, karyawan dan mahasiswa yang d

pengalaman, serta inspirasi Dengan demikian, kerja sama antara dunia akademik dan praktisi pendidikan dapat semakin erat, mendukung pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman, serta membangun generasi yang siap menghadapi tantangan global. [DEH, IGW]

Webinar Gender dan Teknologi: Refleksi Harapan Anak Muda atas Fenomena Bias Gender di Media Sosial Sebagai Implementasi Program Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Lintas

Iman

Pada tanggal 25 Juli 2025 mahasiswa

perwakilan UKDW dalam kegiatan Program Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Lintas Iman yang diikuti oleh 35 mahasiswa perguruan tinggi berbasis agama di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Salah satu tindak lanjut dari dua kegiatan workshop di bulan Mei dan Juni adalah kelompok mahasiswa setiap perguruan melakukan advokasi dialog antara iman dan isu-isu GEDSI, Kegiatan pertama yang dilakukan mahasiswa perwakilan UKDW adalah melaksanakan webinar bertemakan “Gender dan Teknologi: Refleksi Harapan Anak Muda atas Fenomena Bias Gender di Media Sosial”

pada tanggal 25 Juli 2-25. Webinar yang dihadiri oleh 60 peserta membahas dampak perkembangan teknologi terhadap isu-isu gender,membahas tentang social inclusion dalam dunia digital dimana literasi media berperan penting dalam dunia digital serta refleksi anak muda terhadap fenomena tersebut. Narasumber webinar adalah Hendra sigalingging, dosen Prodi Studi Humanitas, Pdt, Nani Minarni (Ketua LPKKSK) dan Natasha Wahyuningsih, mahasiswa PSH

Refleksinya

Ketidakadilan gender di era digital yang terjadi pada saat ini tidak lepas dari aktivitas

kita saat ini berada di dunia maya setiap harinya, informasi yang dapat kita jangkau dengan mudah tetapi juga berpotensi menjerumuskan kita kepada disinformasi dan misinformasi apabila tidak disertai literasi digital yang memadai Demikian halnya dengan stereotip dan pelabelan yang mengakibatkan ketidakadilan dan potensi kekerasan yang dialami gender tertentu, khususnya perempuan. Perempuan memang diberi beban lebih secara budaya maupun agama untuk menjadi indikator moralitas masyarakat. Beban ini tidak ditimpakan secara seimbang kepada laki-laki. Oleh karena itu tantangan kita sebagai orang muda adalah

bagaimana memilah informasi dengan mengembangkan berpikir kritis karena dalam budaya dan agama terdapat nilai-nilai kesetaraan dan penghormatan pada setiap gender dengan landasan sebagai manusia ciptaan Tuhan. UKDW sebagai perwakilan dari Program Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Lintas Iman mengadakan webinar ini dengan harapan semakin banyak orang muda yang menyadari bahwa dunia maya dapat menjadi sumber informasi dan sekaligus disinformasi yang menjadi keharusan untuk mengembangkan sikap kritis, mau belajar dan bertindak adil gender dalam keseharian. [RN]

doc.Pribadi
doc.Pribadi

Branches of Linguistics: Syntax and Pragmatics

Linguistics is all about studying language

scientifically—how we form it, learn it, process it, and use it every day. Within linguistics, there are many different branches, but two of the most important are syntax and pragmatics These two areas may sound technical, but they play a big role in how we communicate and how language learners, especially English learners, can improve their skills.

Syntax is the branch of linguistics that studies how words and phrases are arranged to form grammatical sentences. For language learners and educators, syntax is essential because it explains how meaning is built through sentence structure and word order. By understanding correct patterns, learners can express ideas clearly and avoid confusion. In this way, syntax is not just about rules—it is the foundation of effective communication.

Pragmatics, on the other hand, focuses on how language is used in context and what speakers intend when they communicate. It

Texplores how meaning is shaped not only by words but also by situations, relationships, and purposes. Within pragmatics, concepts such as speech acts, turn-taking, and adjacency pairs help explain how sentences a r e i n t e r p r e

communication settings. For learners, this means that mastering grammar and vocabulary is not enough; they must also know how to use language appropriately in line with context and intention.

Together, syntax and pragmatics give us a fuller picture of how language works. Syntax helps us build correct sentences, while pragmatics helps us use those sentences effectively in real conversations. For teachers and learners of English, understanding both is crucial Syntax ensures clarity, and pragmatics ensures appropriateness Put simply, knowing the rules of structure and the art of context can make anyone a better communicator. [K.V.S.]

Depiction of Balinese Culture in the Folklore Garuda Wisnu Kencana

he legend of Garuda Wisnu Kencana

(GWK) is one of Bali’s most famous folktales. It tells the story of Garuda, the mighty bird and son of Resi Kasyapa and Dewi Winata. When his mother was enslaved by Kadru and her nine serpent children, Garuda was heartbroken. To win her freedom, he had to fetch the sacred water of Tirta Amartha, guarded by the gods themselves After countless trials, Garuda succeeded thanks to his courage and intelligence. But his victory came with a price—he became the mount of Lord Vishnu.

Like many folktales, the story is more than entertainment It carries values that the Balinese hold dear: courage, sacrifice, loyalty, and responsibility. Garuda’s devotion to his mother, his struggles against overwhelming odds, and his ultimate role beside Vishnu all reflect the belief that true goodness, born of sincerity, will always triumph over evil. For generations, this story has been a moral compass, teaching children about integrity, respect, and community.

The story continues to shape Balinese identity today. It reflects not only historical beliefs but also the way tradition interacts with modern life. In an age of globalization, GWK offers insight into how Bali balances cultural preservation with rapid change.

and ceremonies. At the same time, the growth of tourism has created both opportunities and

while others see it as an important way of sharing Balinese heritage with the world What matters most is that the values behind the story devotion, sincerity, and moral courage—remain woven into daily life.

The GWK legend also highlights how Balinese society is built on mutual respect and spiritual devotion Just as Garuda honored his promise to serve Vishnu, Balinese people continue to honor their gods through regular ceremonies and offerings, expressing gratitude for life’s blessings These rituals are not just traditions but living reminders of the values the story carries. In the end, Garuda Wisnu Kencana is more than folklore It is a mirror of Balinese identity, blending myth, moral guidance, and cultural expression in ways that continue to evolve with the times. Garuda stands as a symbol of courage and justice, showing that sincerity and goodness will always prevail. For the Balinese, and for anyone who listens, this t

understanding of a culture that thrives by holding onto its roots while embracing the modern world. [Putu Theana]

Across the island, the spirit of Garuda is celebrated through art, dance, festivals,
challenges The towering Garuda Wisnu Kencana Cultural Park statue has turned the story into a global attraction. Some worry that this shift risks turning folklore into spectacle,

doc.Pribadi

Bahasa Indonesia kini bukan hanya

milik bangsa Indonesia, tetapi telah menjadi bagian dari warisan dunia Hal ini dibuktikan dengan penetapannya sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO pada 20 November 2023. Seiring waktu, semakin banyak orang di berbagai b e l a h a n d u n i a y a n g t e r t a r i k u n t u k mempelajari bahasa ini baik mahasiswa asing yang datang untuk studi, peneliti, pekerja yang berinteraksi dengan mitra dari Indonesia, maupun warga negara asing yang tinggal di luar negeri dan memiliki hubungan darah dengan Indonesia.

Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, sebagai salah satu pusat bahasa terkemuka di kota ini, turut berkontribusi dalam pengembangan dan penyelenggaraan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Program ini dirancang untuk membantu penutur asing mempelajari bahasa Indonesia secara terstruktur, sekaligus memperkenalkan budaya, adat istiadat, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.

Melalui program BIPA, PPB UKDW tidak hanya memberikan pembelajaran bahasa,

Resensi Buku

Kumpulan tulisan ini adalah kisah dari

" orang besar dari kota kecil" Mengambil latar di Blora, Jawa Tengah, dekat dengan pesisir Utara, Mas Toer, demikian nama beliau, adalah tokoh utama dalam buku ini. Segi-segi kehidupan Mas Toer diceritakan oleh anak-anaknya, adiknya, tetangganya, dan banyak orang lainnya. Cerita-cerita inilah yang kemudian ditulis sekaligus diedit oleh Koesalah Soebagyo Toer, yang tidak lain adalah putra dari Mas Toer sendiri Koesalah, yang menyelesaikan studi pasca sarjananya di Uni Sovyet dalam bidang sejarah, merupakan adik dari sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, sudah tersohor sebagai penerjemah dan penulis sejarah di Indonesia.

Buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah perjuangan untuk mengangkat segi-segi penting dari Pak Mas Toer (kelak atribut 'mas' itu dicoret sendiri oleh beliau, sehingga namanya jadi pak Toer begitu saja) yang harus diketahui publik. Bahwa, di kota kecil Blora sebenarnya pernah ada seorang pejuang yang gigih menggunakan jalur pendidikan sebagai sarananya. Dan perjuangan orang kecil ini besar dampaknya, bukan hanya pada anakanaknya yang kelak akan jadi penulis-penulis h e b a t , n a m u n j u g a p e r j u a n g a n n y a menginspirasi orang lain, dalam hal perlawanan terhadap sistem pendidikan yang mengesampingkan pribumi.

Pak Mas Toer lahir di Pare, Jawa Timur pada tahun 1896, dan baru diketahui kebesarannya kelak, setelah kehidupannya sebagai seorang guru itu selesai. Itu pun harus diperjuangkan oleh banyak pihak yang merasakan kebesarannya Beliau menjadi guru setelah mengikuti pendidikan guru di

Pusat Pelatihan Bahasa

PPB UKDW Tawarkan Pengalaman Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia

persahabatan antarbangsa. Berbagai kegiatan interaktif, seperti kunjungan ke pasar tradisional, tur budaya di sekitar Yogyakarta, dan pengalaman tinggal bersama keluarga Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran ini.

Testimoni Mahasiswa BIPA

Program BIPA UKDW mendapatkan apresiasi tinggi dari para pesertanya. Salah satunya adalah Dexter Resta, mahasiswa dari Yale University yang saat ini mengikuti kelas BIPA di PPB UKDW. Dexter mengungkapkan pengalamannya belajar bahasa Indonesia, yang tidak hanya mencakup pembelajaran tata bahasa (mendengar, menulis, dan berbicara), tetapi juga belajar sejarah dan budaya Indonesia dalam suasana yang menyenangkan di kelas.

“Saya sangat senang karena mendapatkan kesempatan untuk berbicara langsung dengan penutur asli bahasa Indonesia, baik dengan mahasiswa, staf, maupun masyarakat yang saya temui dalam kunjungan budaya dan kuliner,” ujar Dexter.

Restyandito, salah seorang host family yang menerima mahasiswa BIPA, menambahkan, “Tinggal bersama mahasiswa Yale University selama sebulan merupakan pengalaman berkesan yang memperkaya wawasan, mempererat persahabatan lintas negara, dan menumbuhkan rasa saling menghargai antarbudaya”.

Pengalaman Budaya dalam Program BIPA

Program BIPA di PPB UKDW memang d

pembelajaran bahasa dengan pengalaman budaya yang mendalam Mahasiswa BIPA tidak hanya diajarkan hingga fasih berbahasa Indonesia, tetapi juga diperkenalkan dengan

kekayaan budaya Nusantara Beberapa kegiatan budaya yang diikuti oleh mahasiswa BIPA antara lain:

● Mengunjungi Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Gereja yang memadukan iman Katolik dengan budaya Jawa dalam arsitektur bangunannya, menjadikannya simbol harmoni antara agama dan budaya lokal.

● Mengunjungi Kebun Binatang Gembira Loka untuk melihat berbagai satwa khas Indonesia, seperti orangutan, burung kakaktua jambul kuning, dan kerbau air.

● Mengunjungi Museum Coklat Monggo, museum dengan nuansa rumah joglo, salah satu ciri khas rumah Jawa, serta mempelajari sejarah dan proses pembuatan coklat khas Indonesia.

● Mengunjungi Toko Buku Gramedia untuk memperkenalkan kebiasaan membaca di Indonesia melalui eksplorasi berbagai rak buku. Mulai dari novel hingga dongeng khas Indonesia. Mahasiswa juga dapat membaca sinopsis buku dalam bahasa Indonesia dan berlatih berinteraksi dengan staf toko menggunakan bahasa Indonesia.

● Mencicipi Jamu Tradisional. Mengikuti kelas budaya yang memperkenalkan jamu tradisional, salah satu warisan kuliner dan pengobatan Indonesia yang memanfaatkan berbagai tumbuhan alami.

● Memasak Martabak Telur. Dengan rasa gurih yang khas dan cara pembuatan yang s e d e r h a n a , m e n u i n i d i p i l i h u n t u k memperkenalkan jajanan populer Indonesia. Mahasiswa juga belajar tentang berbagai jenis bumbu tradisional yang digunakan dalam kuliner Indonesia.

● Mencicipi Jajan Pasar Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan beragam makanan tradisional Indonesia yang kaya rasa dan cerita. Beberapa makanan yang dicicipi antara lain: lemper, jenang, moci, kue

Orang Besar dari Kota Kecil

Kweekschool di Yogyakarta dan mengenal gerakan para Priyayi Jawa yang bernama Boedi Oetomo. Di awal abad (1921) beliau mengajar di HIS kota Rembang, dan kemudian menjadi Kepala Sekolah Partikelir yang tidak mendapat subsidi dari Pemerintah Kolonial Semangat nasionalisnya tumbuh dalam pergaulannya dengan para tokoh seperti Sukarno, dr Soetomo, dll Dalam semangat ini pula Pak Mas Toer melakukan perlawanan terhadap Undang-Undang Sekolah Liar, yakni aturan yang mengenalkan atribut “liar” pada sekolah-sekolah yang tidak mau mengikuti kurikulum Pemerintah Kolonial.

Begitulah, sejarah memang sering kali tidak adil: hanya berpihak pada orang-orang tertentu saja. Hanya mengisahkan kehidupan orang-orang besar saja. Entah besar karena keturunan, entah besar karena menduduki jabatan tinggi dalam masyarakat. Entah besar k a r e n a p e n g a r u h n y a a t a u k a r e n a kekayaannya. Tapi dalam buku ini Pak Mas Toer digambarkan bukan sebagai itu semua. Pak Mas Toer hidup dalam masa yang bergolak di awal abad ke-20. Karena hidup di masa yang bergolak, maka bisa dimaklumi bila kumpulan fakta yang disajikan dalam buku ini lebih mirip kumpulan arsip dari fakta yang berserak. Kumpulan catatan yang tidak lengkap. Bahkan mirip arsip yang masih aktif, masih bisa ditambahi atau dikurangi, tapi isinya mengharuskannya terbit di hadapan publik pada hari-hari ini Lalu, apa relevansinya buku yang mengisahkan “orang kecil” yang hidup di kota kecil Blora ini harus ditulis untuk kita di masa kini?

Seorang individu hebat, adalah orang yang sanggup memberi respons yang tepat pada

kondisi semasanya Dan Pak Mas Toer ini diperlihatkan dengan cukup beragam: bagaimana karakternya, pendidikannya, caranya mengelola keluarga, istri dan anakanak, aliran politiknya, tanggapan pers semasa pada aktivitas beliau, kontribusinya pada pergerakan nasionalisme, dan berbagai segi lain yang menyadarkan kita bahwa kondisi sosial politik suatu masa menghadirkan sosok yang khas mewakili jamannya. Individu hebat t e r b e n t u k o l e h l i n g k u n g a n y a n g memungkinkannya tampil hebat, tampil tepat pada waktunya.

Pada masanya, Pak Toer telah berjuang, meski tidak banyak yang mengakuinya, meski di pihak yang disalahkan oleh pemerintah. Demikian pula, penulisan buku ini merupakan perjuangan untuk mengajak publik melihat agar Pak Toer nampak kebesarannya, di tengah terbitnya buku-buku biografi dari tokoh-tokoh yang sebenarnya memalukan bangsa Indonesia.

Para putranya, saudaranya, dan pihakpihak yang ikut menuliskan kenangannya nampak dengan bangga mengisahkan kehidupan Pak Mas Toer. Pak Mas Toer bagi mereka adalah pahalawan.

Pahalawan?

Ya, orang yang berpahala Orang yang memiiki karunia khusus sehingga dia pantas untuk menerima pahala untuk tampil dalam panggung sejarah.

Bagi yang memerlukan pandangan subyektif dan personal mengenai pergolakan sosial politik paruh pertama abad ke-20, buku ini penting Di buku ini kita dibuat sadar bahwa tiap jaman melahirkan pahalawannya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan keluarga kita,

mangkok, bakwan udang, martabak, dan misoa goreng.

Membangun Jembatan Persahabatan Lintas Bangsa

Melalui program BIPA, PPB UKDW tidak hanya mengajarkan keterampilan berbahasa, tetapi juga membangun persahabatan lintas budaya Setiap pertemuan, percakapan, tawa, dan canda yang terjadi selama proses pembelajaran menjadi perekat persahabatan antarbangsa, serta memperkaya pemahaman budaya.

Kami percaya bahwa bahasa adalah pintu, dan persahabatan adalah tembok yang membuka dunia. Dengan langkah-langkah kecil yang dimulai di PPB UKDW, semoga program ini dapat terus memberi makna bagi masa depan, mempererat hubungan

kekayaan budaya Indonesia ke dunia [ambarmarsono]

9

kampus kita, apakah sudah menjadi tempat yang ideal untuk berseminya calon-calon pahalawan? Kisah pak Toer memperlihatkan bahwa lingkungan dan jaman tempatnya tumbuh, telah memungkinkan lahirnya seorang besar. Meski itu di kota kecil. [MM]

Penulis : Penerbit :

Judul buku : Mastoer: Bapak Kami Koesalah Soebagyo 2022 Pataba Press

Tahun terbit :

doc.Pribadi

Dari Sumba ke Yogyakarta: Pendeta GKS Memperkuat Jiwa dan Pelayanan

doc.Pribadi

Suasana hangat dan penuh sukacita

menyelimuti Kapel Duta Wacana pada Jumat, 8 Agustus 2025, ketika 120 pendeta dari Gereja Kristen Sumba (GKS) berkumpul untuk mengikuti Workshop Kesehatan Mental dan Spiritualitas: Pelayan GKS yang Sehat Mental-Spiritual. Kegiatan ini merupakan bagian dari Konven Pendeta GKS yang diselenggarakan di Pulau Jawa, sekaligus mempererat hubungan GKS sebagai gereja pendukung Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Menanggapi Tantangan Pelayanan di Sumba

Workshop ini lahir dari keprihatinan terhadap beratnya tantangan pelayanan di Sumba. Dalam sambutannya, Ketua Umum BPMS GKS, Pdt Marlin Lomi, S Th , menjelaskan, "Mayoritas pendeta GKS melayani di desa-desa yang menghadapi masalah sosial kompleks, seperti kemiskinan, rendahnya akses pendidikan, kekerasan dalam keluarga, hingga pengaruh buruk media sosial yang membentuk ekspektasi tak realistis di tengah jemaat”.

Lebih lanjut, Pdt. Marlin menegaskan bahwa Konven Pendeta 2025 ini bukan hanya ajang pertemuan, tetapi juga perjalanan spiritual. "Konven adalah kesempatan untuk keluar dari

rutinitas, memperkuat kebersamaan, dan memperbaharui komitmen dalam pelayanan. Pendeta juga manusia biasa yang bisa lelah secara fisik, mental, dan spiritual. Kadang, kita terlihat kuat, tapi tantangan hidup bisa membuat pendeta merasa stres dan terluka batin," ungkapnya.

Kerjasama yang Menguatkan

Kerja sama antara Sinode GKS dan UKDW, khususnya melalui Lembaga Pelayanan Kerohanian, Konseling, dan Spiritualitas Kampus (LPKKSK), dalam penyelenggaraan workshop, dianggap sebagai solusi yang tepat.

"Kami bersyukur dapat mengikuti pelatihan tentang kesehatan mental yang membantu kami mengenali diri dan mengelola stres, agar bisa kembali melayani dengan lebih baik. Atas nama Sinode GKS, kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan dan keramahtamahan yang diberikan oleh UKDW," tambah Pdt Marlin.

Menurutnya, pendeta tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pemimpin rohani, tetapi juga sebagai konselor, mediator konflik, serta penggerak pembangunan jemaat, yang sering kali bekerja di bawah tekanan tanpa henti.

Rektor UKDW, Dr -Ing Wiyatiningsih, dalam sambutannya menekankan pentingnya dukungan universitas bagi gereja-gereja pendukungnya "Pelayanan UKDW tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk pelayan jemaat yang menopang UKDW. Kami berharap, para pendeta pulang dengan semangat baru untuk melanjutkan panggilan pelayanan,” ujarnya.

Workshop Tiga Sesi

Workshop ini dirancang dalam tiga sesi untuk mendalami pentingnya kesehatan mental dalam pelayanan gereja. Sesi pertama mengedukasi peserta mengenai kesehatan mental, termasuk skrining DASS-21 untuk

mengidentifikasi tingkat stres, kecemasan, dan depresi Sesi kedua menggunakan metode metode Bingo Emosi untuk mengenali perasaan dan Guided Personal Discovery (GPD) untuk mengolah pengalaman pribadi, serta refleksi diri terkait disposisi sebagai pelayan Tuhan. Sementara sesi ketiga ditutup dengan mindfulness relaxation untuk memulihkan kesadaran penuh tubuh, pikiran, dan roh.

Banyak peserta yang merasa terbantu dan diberkati oleh kegiatan ini. Pdt. Aprianus Meta Djangga Uma, misalnya, menceritakan bagaimana ia hampir menyerah dalam pelayanan karena tekanan berat. "Saya kembali diingatkan bahwa tidak ada cinta, kasih sayang, kebaikan yang sia-sia Tuhan melebihi segalanya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Salah satu momen tak terduga terjadi ketika Pdt Aprianus bertemu dengan Jitendrio Wardhana Abhiyoga, salah satu fasilitator workshop, yang ternyata adalah muridnya 19 tahun lalu di SMP Kristen Satya Wacana, Salatiga. "Saya dulu murid nakal, tapi Pak Apri selalu merangkul kami. Pertemuan kami di sini seperti berkat yang tidak saya sangka," kata Jitendrio, yang kini bekerja sebagai staf konseling di Campus Ministry UKDW Ia m e n g a k u t e l a d a n s a n g g u r u t e l a h menginspirasinya dalam mendampingi para mahasiswa UKDW dengan perhatian, ketulusan, dan kepedulian. Peserta lainnya, Pdt Dominggu Boro, menggambarkan pelayanan sebagai perjalanan panjang yang penuh tantangan "Tetaplah melangkah walau terhuyung, karena ada tangan Tuhan yang terus merangkul," pesannya Sementara Pdt. Ria Sabaora mengajak rekanrekannya untuk melihat setiap pengalaman tak terduga sebagai intervensi kasih Tuhan, mengutip 1 Korintus 2:9: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang

disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”.

Peran UKDW dalam Mendukung Pendeta

Ketua panitia acara dari pihak UKDW, Pdt. Nani Minarni, S Si , M Hum (Ketua LPKKSK), menegaskan bahwa workshop ini adalah bentuk nyata pengabdian LPKKSK kepada gereja-gereja yang mendukung UKDW. "Campus Ministry hadir bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk gerejagereja yang menopang UKDW. Pendeta pun manusia yang butuh dirangkul dan diingatkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan rohani," ujar Pdt. Nani.

Selama workshop, interaksi antara peserta dan fasilitator menciptakan suasana saling mendukung Beberapa pendeta berbagi pengalaman tentang tantangan dalam pelayanan, seperti jemaat yang menolak perubahan, pergumulan keluarga, atau konflik internal majelis. Mereka juga saling menguatkan dengan doa dan berbagi kisahkisah keberhasilan kecil dalam pelayanan.

Menjelang penutupan, seorang peserta menyampaikan rasa terima kasih dan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan lagi di masa depan. "Kami pulang bukan hanya membawa materi, tetapi juga membawa hati yang dikuatkan Semoga ini bukan yang terakhir," ungkapnya, disambut tepuk tangan hangat dari seluruh peserta.

Konven Pendeta GKS kali ini membuktikan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan gereja dapat menghasilkan sinergi yang nyata. UKDW tidak hanya memberikan ruang untuk belajar, tetapi juga menciptakan pengalaman yang menyentuh hati para pelayan Tuhan Seperti yang diungkapkan salah satu peserta, "Ini bukan sekadar workshop Ini adalah kunjungan Tuhan di tengah lelah kami”. [Adham]

Walking in Integrity – Hidup dalam Kejujuran

BACAAN: AMSAL 10:9

"Siapa yang hidup dengan jujur, aman jalannya, tetapi siapa yang berliku-liku jalannya akan diketahui."

Integritas adalah salah satu nilai luhur yang

dihidupi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Nilai ini bukan sekadar jargon atau semboyan, tetapi arah hidup yang harus dijalani seluruh civitas academica baik mahasiswa, dosen, maupun staf. Dalam tradisi iman Kristen, integritas berarti keselarasan antara hati, pikiran, ucapan, dan tindakan

Tidak ada kepura-puraan, tidak ada manipulasi, tidak ada kebohongan melainkan h i d u p y a n g t r a n s p a r a n d a n d a p a t dipertanggungjawabkan dihadapan manusia maupun Allah

Amsal 10:9 menegaskan, “Siapa yang hidup dengan jujur, aman jalannya, tetapi siapa yang berliku-liku jalannya akan diketahui.” Ayat ini memberi kita gambaran yang jelas: orang yang jujur tidak perlu takut, sebab kejujuran memberikan rasa aman Sebaliknya, orang yang hidup penuh tipu daya suatu saat akan terbongkar Inilah hukum kehidupan yang berlaku sepanjang zaman.

Integritas dalam Dunia Akademik Di lingkungan akademik, integritas diuji setiap hari Mahasiswa ditantang untuk mengerjakan tugas, ujian, dan skripsi dengan jujur. Bagi dosen, integritas tampak dalam cara mengajar, menilai, dan membimbing mahasiswa. Bagi staf, integritas hadir dalam kesetiaan menjalankan tugas pelayanan dan administrasi, bahkan dalam hal-hal kecil yang kadang tidak dilihat orang lain.

Namun kita tidak bisa menutup mata terhadap fenomena yang akhir-akhir ini

s e m a k i n m a r a k s e p e r t i p e n g g u n a a n kecerdasan buatan (AI) sebagai jalan pintas. M e m a n g , t e k n o l o g i A I a d a l a h h a s i l perkembangan ilmu yang patut disyukuri. AI dapat membantu kita dalam mencari referensi, mengolah data, atau mempercepat proses analisis. Tetapi persoalannya muncul ketika AI dipakai secara tidak bertanggung jawab, misalnya mahasiswa menggunakannya untuk menulis makalah, paper, bahkan skripsi, lalu menyerahkannya seolah-olah itu hasil kerja

pribadi. Tindakan semacam itu bukan hanya melanggar aturan akademik, tetapi juga merusak karakter Mahasiswa mungkin berpikir ia sedang menghemat waktu dan tenaga, tetapi sesungguhnya ia sedang menanam bibit kebiasaan curang Pada akhirnya, kebohongan akan membentuk karakter yang rapuh, tidak tahan menghadapi kesulitan, mudah mencari jalan pintas, dan tidak mampu bertanggung jawab atas pekerjaannya.

AI: Sahabat atau Jerat?

Kecerdasan buatan sebenarnya bisa menjadi sahabat kita dalam belajar Sama seperti kalkulator bagi seorang ahli matematika, atau software desain bagi seorang arsitek, AI bisa dipakai untuk membantu, memperluas wawasan, dan mempercepat proses. Tetapi AI akan berubah menjadi jerat jika digunakan dengan niat curang. Sama seperti pisau yang bisa dipakai untuk memasak atau melukai, AI netral, manusialah yang menentukan bagaimana menggunakannya Integritas mengajarkan kita untuk tidak membiarkan teknologi menguasai hati. AI boleh membantu proses belajar, tetapi hasil akhir tetap harus lahir dari kerja keras pribadi.

Dampaknya apa dari Ketidakjujuran? Mari kita sejenak membayangkan sebuah cerita sederhana. Ada seorang mahasiswa yang tampak selalu mendapat nilai tinggi. Setiap kali ada tugas, ia cepat mengumpulkan, tulisannya rapi, referensinya lengkap. Teman-temannya kagum, dosen pun semula percaya. Namun ketika tiba saat ujian komprehensif, semua itu terbongkar Mahasiswa tersebut bingung menjawab pertanyaan dasar, karena selama ini ia hanya mengandalkan jalan pintas Nilai akademiknya memang terlihat indah, tetapi kapasitas dirinya kosong. Ketika akhirnya ia masuk ke dunia kerja, ketidakmampuannya tidak bisa lagi ditutupi, dan reputasi yang dulu dibangun dengan kepalsuan pun runtuh seketika. Kita bisa juga melihat dari sisi dosen.

Bayangkan seorang dosen yang menyadari ada mahasiswa memakai jalan pintas, tetapi memilih diam. Ia tidak mau repot menegur, tidak mau terlihat keras, dan akhirnya membiarkan praktik curang berkembang Lama-kelamaan, suasana kelas menjadi rapuh. Mahasiswa tidak lagi sungguh-sungguh belajar, karena merasa dosennya tidak peduli Integritas dosen sebagai pendidik ikut dipertanyakan, sebab peran utamanya bukan hanya mengajar materi, melainkan juga menanamkan nilai kehidupan. Tidak berhenti di situ, mari kita lihat dampaknya bagi staf dan institusi. Jika praktik ketidakjujuran dibiarkan, lambat laun masyarakat akan tahu. UKDW, yang selama ini dikenal menjunjung tinggi integritas, bisa kehilangan kepercayaan. Nama baik kampus yang dibangun dengan susah payah oleh generasi sebelumnya bisa tercoreng hanya karena kebiasaan curang yang tidak pernah ditindak Reputasi institusi runtuh bukan karena kekurangan fasilitas atau minimnya prestasi, tetapi karena kehilangan nilai dasar yang seharusnya menjadi roh kehidupan kampus Dengan kata lain, ketidakjujuran bukan sekadar urusan pribadi antara mahasiswa dengan tugasnya, atau dosen d e n g a n k e l a s n y a , a t a u s t a f d e n g a n pekerjaannya. Ketidakjujuran adalah penyakit yang menular, merusak tatanan komunitas, dan mencederai nilai yang kita hidupi bersama Integritas adalah fondasi. jika fondasi ini retak, maka seluruh bangunan kehidupan bersama pun terancam roboh.

Jalan Hidup yang Lurus

Hidup berintegritas memang tidak selalu mudah. Mengakui keterbatasan diri, berjuang keras menyelesaikan tugas, dan menghadapi kegagalan bukanlah hal yang menyenangkan. Tetapi jalan yang lurus itulah yang membawa rasa aman, sebagaimana kata Amsal. Ketika kita berintegritas, kita tidak perlu takut jika diperiksa, diuji, atau ditantang, sebab yang kita kerjakan memang sungguh-sungguh lahir dari

Panggilan bagi Civitas Academica UKDW kerja keras dan kejujuran. Sebaliknya, jalan berliku penuh tipu daya hanya memberikan kesenangan sesaat. Pada akhirnya, kebenaran akan terungkap. Dunia bisa menilai siapa yang benar-benar belajar, dan siapa yang hanya berpura-pura.

Sebagai bagian dari keluarga besar UKDW, mari kita melihat kembali nilai Walking in Integrity bukan sekadar sebagai semboyan, tetapi sebagai panggilan iman Sebagai mahasiswa, beranilah belajar dengan sungguh-sungguh. Jangan takut gagal, sebab kegagalan adalah bagian dari proses. Jangan biarkan diri tergoda untuk menyerahkan pekerjaan yang bukan hasil jerih payah sendiri. Ingat, integritas yang Anda bangun sekarang akan menjadi fondasi kehidupan Anda kelak Juga sebagai dosen, jadilah teladan dalam kejujuran akademik. Berikan penilaian yang objektif, bimbing mahasiswa dengan sabar, dan jangan kompromi terhadap praktik tidak jujur. Tidak lupa sebagai staf, laksanakan pekerjaan sehari-hari dengan setia, meskipun sering tidak terlihat orang lain. Integritas bukan soal besar atau kecil, tetapi soal setia pada tanggung jawab.

Penutup

Hidup berintegritas berarti berani berjalan di jalan yang lurus, meski kadang terasa lebih sulit Namun ingatlah janji firman Tuhan: “Siapa yang hidup dengan jujur, aman jalannya.” Keamanan sejati tidak lahir dari nilai yang tinggi, sertifikat yang banyak, atau gelar yang megah, melainkan dari hati yang murni dan hidup yang jujur Marilah kita bersama-sama baik mahasiswa, dosen, dan staf, menjadi komunitas yang berani hidup dalam integritas. Dengan demikian, UKDW akan terus menjadi tempat di mana iman dan ilmu dipadukan, bukan hanya dalam katakata, tetapi juga dalam sikap hidup yang nyata. [Pedro Damar Pradipta]

Office of International Affairs

Bridging Borders, Serving Communities: UKDW–PolyU’s International Service-Learning Collaboration

In this era of rapid globalization, universities

are challenged to stay competitive while remaining relevant to society. Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta is rising to that challenge Through its International Service-Learning (ISL) program, UKDW is creating opportunities for students to gain global experience while contributing directly to local communities.

This July, UKDW partnered with The Hong Kong Polytechnic University (PolyU) to launch three ISL programs: ISL-Health, ISL-Electrical and Electronic Engineering (EEE), and ISL-Eye Care.

Carrying the theme “Local Wisdom-Based Community Empowerment Focusing on Elderly Assistance Program and Utilization of Local Resources,” the ISL-Health program was held from July 7–18, 2025 across five hamlets in Argosari, Sedayu, Bantul, Yogyakarta The program involved 30 students from UKDW, 21 students from PolyU, 2 lecturers from UKDW, and 2 lecturers from PolyU.

Dr. Freddy Marihot Rotua Nainggolan, S.T., M.T., IAI., Head of the Institute for Research and Community Service UKDW, explained that the location was selected based on alignment with local government programs as well as the potential and needs of the target beneficiaries at Argosari.

“The ISL-Health activities support initiatives that have been established by Kapanewon S e d a y u a s o u t l i n e d i n t h e R e n c a n a Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Through elderly assistance programs, regular health check-ups, elderly exercise routines, optimization of community-based services such as mobile health centers, and education on the use of family medicinal plants with simple technologies, the ISL-Health program aims to explore and strengthen community potential, especially in terms of elderly care and the utilization of local resources in Kalurahan Argosari,” he said.

Continuing the ISL-Health program, ISLEEE and ISL-Eye Care were held from July 19–28, 2025 ISL-EEE took place at SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, while ISL-Eye Care was conducted at SD Teruna Bangsa Yogyakarta, SD Kalam Kudus Yogyakarta, SD Pangudi Luhur Yogyakarta, and Lintang Songo

With the theme “Promoting Digital Literacy in Developing Societies,” the ISL-EEE program involved 20 students from UKDW, 27 students from PolyU, along with 1 lecturer from UKDW and 3 lecturers from PolyU serving as supervisors The program was designed to foster creativity and enhance digital literacy among 172 students from grades 8 and 9 at SMP Pangudi Luhur 1 through interactive workshops covering the fundamentals of information technology such as computer hardware, software, the internet, and cybersecurity—as well as more advanced topics like programming, robotics, and artificial intelligence.

In addition, an IT Fun Fair was organized to showcase students’ IT skills and projects, including robotic cars, games, apps, and websites, while also engaging the wider community and local students through interactive activities.

While promoting digital literacy equips communities with essential skills for the digital age, addressing physical health especially vision remains equally vital in enabling individuals to fully participate in learning and development. This is where the ISL Eye Care program comes in, offering hands-on learning opportunities through the provision of eye care and vision health services to underserved communities.

In accordance with the recommendations of the World Health Organization (WHO), regular

refractive error screenings are especially recommended for preschool- and school-aged children. Routine eye health examinations can help prevent amblyopia (lazy eye) and reduce the risk of permanent vision loss during critical visual development stages. To support this, the ISL-Eye Care program was held under the theme “Learning through Providing Eye Care and Vision Health to the Community.” The program included promotive services (eye health education for students and parents), preventive services (screenings and eye examinations for students), and curative services (distribution of free eyeglasses or referrals for students in need) were conducted using a station-based system to ensure an orderly service flow and the accuracy of the results.

ISL-Eye Care involved 30 students from UKDW and 40 students from PolyU as participants, along with 1 lecturer from UKDW and 5 lecturers from PolyU as supervisors, and served 174 students at SD Teruna Bangsa Yogyakarta, 245 students at SD Kalam Kudus Yogyakarta, 375 students at SD Pangudi Luhur Yogyakarta, and around 200 students and community members at Lintang Songo Islamic B o a r d i n g S c h o o l T h e s e s c h o o l s a n d communities were selected because no previous vision screening programs had been conducted there This approach is also supported by literature showing that school-based eye health screening is effective in identifying children with uncorrected refractive errors and ensuring

The implementation of the ISL-Eye Care program successfully achieved its goals in raising eye health awareness, enabling early detection of visual disorders, and providing appropriate interventions for primary school students in Yogyakarta. The combination of promotive, preventive, and curative services proved effective in identifying uncorrected refractive errors and delivering timely interventions. timely intervention.

With PolyU as a strategic partner, UKDW has successfully carried out a collaborative program that promotes the enhancement of learning quality, research, international publications, academic mobility for both faculty and students, as well as community service within a global framework.

Regarding the collaboration, Sean Leung, staff member of the Service-Learning and Leadership Office (SLLO) at PolyU, stated that PolyU chose UKDW as its partner because of UKDW’s extensive experience in international collaboration with various universities Furthermore, UKDW has demonstrated best p r a c

h e I S L (International Service-Learning) program for years.

“Since 2012, PolyU has emphasized social responsibility among students by integrating academic study with meaningful community engagement. We sought a partner university in Indonesia that had already gained substantial experience in conducting ISL programs long before we began. UKDW shares our vision, and this shared commitment has sustained our collaboration since 2012 Today, ServiceLearning has become a vital part of our academic curriculum, and we hope this partnership will continue,” he said.

Sean also stressed the importance of lasting impact. “UKDW has provided our students with valuable experiences to apply their academic knowledge in the Indonesian community context. Beyond that, we hope the ISL program will empower local communities, including villagers and st

, to independently continue the initiatives we have introduced. If this sustainability is achieved, the impact will undoubtedly be even greater,” he added. [ai]

UKDW and UNDHIRA Host Summer Camp: Students from Four Countries Explore Visual Ethnography

niversitas Kristen Duta Wacana

(UKDW) Yogyakarta, in collaboration w i t h U n i v e r s i t a s D h y a n a P u r a (UNDHIRA) Bali, once again offered an enriching cross-cultural and interdisciplinary learning experience through the 2025 Summer Camp “Visual Ethnography”, held from August 1 to September 8, 2025.

Adopting a blended learning format, the program brought together 17 students from four countries Indonesia, Japan, Italy, and Uruguay representing a wide range of a

Participants engaged in online lectures, on-site fieldwork in Yogyakarta and Bali, focus group discussions, and final project presentations.

In her opening remarks, UKDW Rector Dr.Ing. Wiyatiningsih stressed that the program went beyond classroom learning “This is a space of intercultural encounters where nations and cultures meet, collaborate, and learn from one another Participants come together to grow and explore culture in a dynamic and personal way,” she said.

She also thanked UKDW’s partners and organizing team for making the summer camp possible through strong institutional collaboration “To all participants, may this program be a space to learn, to connect, and to inspire one another,” she added.

Dr phil Lucia Dwi Krisnawati, Head of UKDW’s Office of Partnerships and Public Relations, explained that the program was designed with an interdisciplinary approach to prepare students for global challenges in the digital era. Visual ethnography, she noted, was chosen as the theme because it resonates with the ways younger generations—especially Gen

Z engage with images, video, and digital storytelling.

Visual ethnography is a research method that blends theory and practice, using visual media to understand and communicate cultural insights Through this approach, students exchanged perspectives on traditions and ways of life in Java and Bali, while also exploring

applications in product design, journalism, and social media.

“This program is not just about visiting new places, taking photos, or recording videos,” Dr. Lucia emphasized. “It’s about learning to see people and cultures differently, telling stories through the lens of a camera with respect,

Participants were grouped and assigned projects related to Javanese and Balinese culture, local wisdom-based farming, community-based eco-tourism, and personal and spiritual well-being.”

Working under faculty guidance, students were free to shape their own projects. The program also carried academic weight, convertible into 2–3 university credits, and could be transferred toward community service (KKN) or a Cultural Appreciation course.

For many, the summer camp was a transformative journey. Paola from Uruguay reflected, “When I saw this program, I thought it would be a great opportunity to study at another university, on another continent, and gain insight into perspectives from this region of the world. It also helps me keep improving my knowledge of ethnographic techniques for my future academic plans.”

Nicole from Italy shared a similar excitement about cultural immersion. “Today we visited museums, the Yogyakarta Sultan Palace, and Kampung Purbayan. We learned about Javanese culture, saw how the community leads tourism here and how the community bonded with each other. It was such an interesting day—we tasted local food, talked with many people, and I learned a lot!”

The Summer Camp on Visual Ethnography 2025 showed that international learning does not have to be formal or conventional By blending ethnographic methods, cross-country collaboration, and interdisciplinary approaches, the program created a unique space for young people to grow as global learners reflective, empathetic, and adaptable in an interconnected world. [drr]

Islamic Boarding School in Yogyakarta.
doc.BiroIV
doc.BiroIV
doc.BiroIV

12 Daftar Nama Wisudawan

periode Agustus 2025

TEMI SETYOWATI

DIVINA EIRENE SAMUEL PUTRI

JESSICA SINDY WINATA

YOANNA RISSA M. SUGIYARTO

PRODI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

YANSEN ANGGRITA MIRANDANA

PRODI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

Ÿ PATRICK HUWAE CHRISVA LEE

SAMUEL FELIX VANUAL TALUBUN

GEORGE SATRIA MAURY

Ÿ DARIUS ROWA NYANYI

CHRISPINUS RENALDY RADIUS

HENDRIK DANIEL ALEXANDER MOFU

Ÿ IGNATIUS LOYOLA RAJA

SERVASIUS PASERANDA

Ÿ MARTIN SIMANJUNTAK

Ÿ ALEXANDRO JUANITO NGAMEL

FIDELIS A. ABSALOM JAPSENANG

Ÿ KEVIN JANDRI SUNDUNGLANGI

SIMON ELDAN ALEXANDER MATATULA

YOHANNES PATTHON SIREGAR

Ÿ ELIYESER MARA LEO

UMBU SORU PEKUJAWANG

FRANSISKUS RIKIANTO TANAN

Ÿ MARCIELLO FIGO HANDOKO

GILBERT YEREMIA KRISTIAN MAMESAH

IGNASIUS RAHARDIAN KRISNA HADJON

Ÿ FRANXISCUS BILLY A. WIBOWO APRIKURNIAWAN

Ÿ CHRISTIAN MIKHAIL SUPIT

BERNALDO EKA PUTRA ATMAJA

Ÿ YOHANA FITRYANTI TASENG CHRISTIN ANASTASIA SIAGIAN HERVINCENT

GAUDENSIUS A. WINANTO

Ÿ FRANSESCO J. YEHEZKIEL BARUS

ISADORA CANTIKA GUNAWAN STEFANI VANESA ANGEL

Ÿ VINCENT AURELIO ADAMMAS VINCENTIUS FEBRI SETIAWAN

MARIA CAROLINA WHIO

Ÿ CHERYL NAVELLA HERMANTO

SIFERA GLORY ARIANA WIDODO

Ÿ MEZYA MAHESVARATU GLORYZABETH

MULYA CAHYADI

Ÿ TRIE DENADA HABA STEFANUS BUDIMAN ADILUHUNG

LEVINA PUTRI SANTOSO

JEANETE RAMBU KABIDA

Ÿ VALENTINUS INDRATUA SINAGA

EDWIN PRASETYO WIJOYO

YUSTINUS DWI ANDRE RAKASIWI

Ÿ ALBERT MULIAWAN SAPUTRA

RADEN RORO S. W. SETYA WIDHIHATI

ANANDA PETRONELA PLAIKOIL

Ÿ SANDY SATRIO S. KULLA

AGISTA NARES WARINING PANANDITA

Ÿ MARIA ESTEFANIA CANDRA

ISHECHA KHARISMA DEWI

EKA RISTI

Ÿ VANIA ZHA ZHA KARISMA MAWAR MARCELLINA SIANIPAR

ELISA MEISEYANTI

Ÿ DIAN PRISTICIA RADJABAYCOLLE

VINCENT TANTOWI

WAYAN ARMANDITO JULPAN ADVENTIO

Ÿ KETUT DIANA SARI

WENDY ANDERSON CU

CORNELIA GERALDA BATA

Ÿ CHRIST DE NOFAN SINAGA

LING MIYATI Ÿ NATASYAH SAURAN BATTUNG

JUNITA THERESIA

EIRELIA PRASASTI JOYCE YIHAN ONGSOR

BR SITANGGANG

Sarjana Manajemen

Ÿ FEBRINAL MARSANDA TANDONDO

FEBRYAN UNEPUTTY

MONIKA TAMARA PAKPAHAN

Ÿ MIKHA RAFAEL RADITYA SURYANTO

MARSCHELIA HARDIKA PUTERI

NOVIYANTI PUSPITA PUTRI

Ÿ DONNI JOSUA SITOMPUL FANUEL PAULY R. ARONGGEAR LEPAR

EVELYNE ANGGUN RACHEL KAMBU

AYDOS GIENOTY OEMBOE DJAMA

Ÿ MAXIMILIANA RISNA PRADITA

Ÿ NADIAWATI GALLA

ELISABET SAGRIM

Ÿ JUSUP RICHAD NAIBAHO

LEONARDA MARIA OKTAVIA WINDA UN

NELSY MANGANDE

Ÿ MARLON REVELINO MAYOR

SELINA ENJELIN MOBILALA MARIA ALVA AMADEA

PRODI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

Ÿ EMME OKTAVIANI SINULINGGA

OTMAR AJULPON PURBA

Ÿ BENEDIKTUS JORDAN NIMANUHO

Ÿ MARGARETHA AGNESTA EKA KEDANG

SANTO FRANS MARE

Ÿ RIO MAHENDRA KRISTIAWAN

KEZIA LAURENT YAURI INGGI RAMBU NGANA

Ÿ MARGARETHA NATHALIE LEWIS

MARIA HESTI KUSUMASTUTI

FLORENTINA YODINDA SAPHIRANI

Ÿ ANANDA APRILIA WIJAYANTI

JULIAN DWICKY CHANDRA

KISE MEASEKA

Ÿ DESAK MADE AUDYA MAHARANI IVAN SETYO AJI

Ÿ ADRIAN SEBASTIAN SUSANTO

GRACELLA MUNDE GESIRADJA

I GDE MADE W. MAHESAWIJAYA

Ÿ ARI KARUNIAWATI

JOSEFFIN LEORA CHRISTIAN

REIN YONESTA

Ÿ AGUS SAMUEL

YOSEF HARYO SOTYO WIWOHO

NARANSHA DHARMESTHA

Ÿ ELAINE

CLARA INTAN JAVANIAS ZILIWU

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

Ÿ MORGAN STEPHEN HALOHO

LEONARDO MINTORO

HELENA MONICA S. TANUJAYA

Ÿ MARCELLINO KHRISNA NURSETYO

HERIANSYAH VIOLA NEXTZITA

Ÿ CARITTA ANGEL WIJAYA

Ÿ LAURA KEZIA NATHANIA

MICHAELLA IVANA SULISTIO

Ÿ RENE DECKHARTEZ LARINDA

CHRISTIE FIONA

TANTI WINDA ASRANI MANULLANG

Ÿ LISYA MARIA LIWANTO

SULE DATU PONGMANGNGATTA

AMARISSA AYOE KRISTANTIE

Ÿ MICHAELN MANAN PARANDUK

AGUSTINA R. PANGARIBUAN

PASKAH ENJEL LAOLI

Ÿ EM ALATTA BR SEMBIRING

Ÿ ANDRIANITA CHRISTIANINGRUM

NI PUTU GITA RAHMANIATI

MAGDALENA EDWINA KARTIKA PUTRI

Ÿ DEVINA PRATYA RUGATI

EZRA SUDARSONO

RORO DIAH KUSUMAWATI

Ÿ CHRISTIJOMA TOISUTA

YOHANA FELISBELLA RYSZE

Ÿ ANGGA FRANATA

Ÿ LAMHOT SINAGA

ANBIER R. P. BUTAR BUTAR

Ÿ VERONICA TIARA KUSUMAWARDANI

PRODI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

ANDI MAESARA PRAKOSA

KEZIA VANESSY SOEBIJANTONO

Ÿ SELVI BOENG

HUTDI NUR CAHYONO

FREBIN THEA RONA

Ÿ RENNY PUSPITA HARDINI

LORA SIMATAUW

CLAUDIA NIKITA W. E. PURNOMO

Ÿ ANGELIA ANGGRAINI

WINNER PANANJAYA

Ÿ MIRAWATI BR TARIGAN

Ÿ AGUS BUDI KRISTANTO

MAGDALENA SARI NOVITA S.DEPARI

Ÿ ORIZA SATIVA NOVIANTA

WINA CITRA SEMBIRING

MARIA THERESIA VITA PUJI

Ÿ SONDANG TALENTA NOVIANA SIMAMORA

MARIA CHRISTIANI

ZERA RIANJERRY

BERLIANTRI FLOURENSIA LIMBA

Ÿ AMELIA ANGGRAENI NATASYA

DIMITRIJ H WALMAN RATU

Ÿ EUODYA REDJYO WURU

FRANSCHICO WILLIAM MANDESSY

ADI PUTRA PERKASA PALA

Ÿ WAHYU AJI PAMUNGKAS JEMBRISON SENTUF

DENDI ALFINDO NGGAU BEHAR

Ÿ IRFAN QADHAFI

GRIFFITA LIUNSANDA

NABILA NOER SETYANINGRUM

Ÿ KEZIA PUTRI WINDYARTI

MARCELINUS S. CHANDRA PERKASA

YOSAFAT YOAKIM KURNIA

MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

Ÿ KLAUDIUS RANGGA

KARIN PATRICIA RAMBU PODU LOYA

Ÿ BRANDON MARK CAWARO UBORO

RUSSELL IVANOVIC

TALABU TUMIMMAN K. K. BUULOLO

Ÿ YAP GRACE AVI'EL LEWI

HIRONIMUS V.S SUBARNO

DAN LUTAYA SADRINAS

Ÿ AZ-ZAHRA INDIRA

I GEDE AGUNG EKA PUTRA MAHENDRA

JORDANIA FIDEL SMART TANJUNG

Ÿ EMIA SABILLA JEVITA BR GINTING

SAMUEL NONO

Ÿ KEVIN TASLIM PHILIPUS

SIMRAN LEYN RAYMOND

JATI DASSI

Ÿ BILLY SEAN CONERYO GULO

ENDRYANO JAOW RIDHO

JUAN YUST ABEL

Ÿ FATHIYYAH

AGNES KUSUMA NINGRUM

ABRAHAM AARON KRISTALPU SAMPE

Ÿ OKTAVIUS ALFRED SIMANJUNTAK GLENN IGNATIO TAMNGE

ALDI FITRIAN

Ÿ PASKAL MATIPPANNA

EMMANUEL E. PRAMUDYA PUTRA

Ÿ RAHEL WIBOWO

Ÿ EVELIN AMELIA HALIM

SHEILA VANESSA HARTONO

Ÿ SOPHIE JUSTINA PRATIKNO

SAMUEL NICHOLAS SUYOSO

MARCELINO HERMAWAN

Ÿ AGNES JENNIFER SANTOSO

MIKAEL ERLANGGA NAFIRI NUGRAHA

NATHANIA CLARISA ARIVO

Ÿ KATHLEENA CHANDRA SAPUTRA PRISKILA AGUNG

SAMANTHA SUTEJO

Ÿ DANIEL NOVERIAN SETIAWAN

VANIA VALENTINA WIJAYA

Ÿ SAMUEL

PRODI MANAJEMEN PROGRAM MAGISTER

MICHAEL ADHIKA SATRIA DAMARSASI

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ars.)

(S.Ds.)

(S.Ds.) (S.Ds.) (S.Ds.) (S.Ds.) (S.Ds.) (S.Ds.)

Ÿ

(S.Ds.)

PRODI MAGISTER ARSITEKTUR

(M.Ars.) (M.Ars.)

(M.Ars.)

TICOALU

Ÿ CHARLES UMBU DUKA KADIWANO

YOGA SETIAWAN Ÿ KEVIN TRIANTAMA PRAYITNO

KEVIN JOSUA JASON THE VINCENTSIUS FELMI AJANG

Ÿ RENDY REZKY PASORONG

INGGRID LANGGIDA

YONATHAN OKTA PRADANA

PRODI MANAJEMEN

Ÿ DEVI MARLINE MUHAMMAD

ANDERSEN

Ÿ IMANUEL DAVID PRATISTA

Ÿ ANDREW WILSON

ABILIO KRISMANUEL

Ÿ TRI HADIONO

DEON BINTANG SANJAYA

IVAN REYNALDO

Ÿ ARMANDO SURAMANA SITEPU

EDITH FELICIA PUTRI

DAVIN DIPA WIJAYA

Ÿ RENALDO SURYA SAPUTRA

SETYA KRISTENDY CIANJUR

NATHANAEL VITO KRISTIANTO

Ÿ KALEB COYO WAGITO

GIAN PRADIPTA GUNAWAN

Ÿ ANDREAS ANDITYA PURNAMA

Ÿ VINCENT RONALD SETIAWAN

JONATHAN JESSE SALIM

Ÿ TIRSA WASTY MAKMARA

(S.Kom.)

Ÿ GABRIEL SEAN BING APRILYA CLAUDIA TONY

CLAIRINE NITA AGUSTINE

VAREL KRISNA WIBOWO

(M.Ars.) (M.Ars.) (M.Ars.) STEFANUS AUDY ADVENT KRISTY JOSEPH FERNANDO

(S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.)

Ÿ MARIA SYANTIKA MAHARANI

FETHY ANGELINA FREDERICK CANDRA

Ÿ LEO SAPUTRA

ITASA HARANI Ÿ JOANA PRAWESTRI UTAMI

Ÿ VALENTINO RAVIENDRA CHRISTANDO

ALBERTUS BRIAN HARI KAMAJAYA

Ÿ AMELIA CHRISTINA ADIPUTRI

GAMALIEL LEXI TULUS

Ÿ ZELLYNE OCTAVIANI

Ÿ I MADE SUARSABAWA Ÿ

RETA BUDIARTI ADELIA CHRISTINE SILABAN Ÿ BRYAN NICHOLAS WINATA

ZELA POIEMA C. M. NAPITUPULU

INGGRIED ANGELICA NICO

Ÿ EOUDIA ESTER

YOGA BUDITAMA

Ÿ STEPANI APU

Ÿ PUTU JEEVALLUCAS J. S. GAUTAMA

EUNIKE LARASATI ZIPORA ALELANG

RAINER BUNNU’ THEODORA MERCYANA SIAHAYA

(S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.)

Ÿ CHAROLENAWATI RUSANTO CINDY CHANDRA Ÿ

(S.Kom.) (S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.)

(S.Kom.)

(S.Kom.) (S.Kom.)

PRODI DESAIN PRODUK
PRODI SISTEM INFORMASI

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.
UKDW Koran Kampus Agustus 2025 by Koran Kampus UKDW - Issuu