Page 1

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

1


2

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Dapur Redaksi

Redaksi Buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh: Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Irwan Kurniawan Sekretaris Umum : Anwar Bendahara Umum : Nabu Divisi PSDM : Wisda Seprima, Sam�an Divisi Litbang : Asmadi, Rahman Divisi Penerbitan : Tan Erwin, Siti Nurfiqah, Zulfian Divisi Penyiaran : Happy, Helen. Divisi Perusahaan : Atem, Nikodemus Niko Pemimpin Redaksi : Eca Sekretaris Redaksi : Fiqa Redaktur : Ikur, Fiqa, Erwin, Reporter : Dody, Rusnani, Gusti, Talino, Tiwi, Utin, Arin, Yulius, Ratna, Putri, Anggi, Rino Fotografer : Wisda Karikatur: Meydi Layouter : Tim Guardian of MU Alamat Redaksi :

Jl. Daya Nasional Gedung MKDU Untan Pontianak 78124 HP: 0853 47 674 666.

Email: lpm_untan@yahoo.com,

Blog :persmauntan.blogspot.com Redaksi menerima tulisan berupa opini, essai, laporan kegiatan kampus, cerpen, hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. Karena berkat ridho dan karunianyalah kini Mimbar Untan dapat kembali menghadirkan informasiinformasi melalui Civitas edisi 60 ini Pertama-tama kami ucapkan selamat pada kawankawan yang baru saja bergabung dalam keluarga besar Mimbar Untan atas terbayarnya kerja keras kawan-kawan dalam penulisan pada civitas terbitan ini. Kami harap kawan-kawan dapat terus berkreativitas dengan baik. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih pada rekan-rekan yang telah terlibat dan bekerja sama untuk kesuksesan Civitas edisi 60. Pada civitas edisi 60 ini, kami juga mengangkat tentang portal yang kurang menjamin keamanan kampus, sebagai headline. Mimbar Untan juga akan sedikit membahas tentang PLPG (Pendidikan Latihan dan Profesi Guru), yang saat ini pendidikan begitu penting dalam meningkatkan mutu dalam pembelajaran. Serta berita-berita lain yang tidak kalah pentingnya, yang di muat dalam lembaran - lembaran yang pasti tidak membuat para pembaca merasa jenuh. Kami mohon maaf atas segala kekurangan dan keterlambatan terbitnya Civitas edisi 60 ini, kami harap hal ini dapat menjadi pembelajaran agar kedepannya kami dapat menyajikan Civtas dengan lebih baik lagi Salam Pers Mahasiswa!

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

3


Surat Pembaca Terima kasih kepada rekanrekan di Mimbar Untan. Kepada pihak rektorat mohon di­per­jelas rambu-rambu jalan yang ada. Saya selaku mahasiswa baru merasa kebingungan dengan rambu-rambu yang ada. Takutnya terjadi kecelakaan yang tidak kita inginkan bersama. Mahasiswa FKIP ‘11

Terima kasih kepada Mimbar Untan. Saya sebagai mahasiswa yang baru menginjak dunia kampus merasa bingung dengan Pembangunan di Untan, terutama di area Jl. Dr. Hadari Nawawi depan Fak. Teknik. Padahal belum lama ini diperbaiki, tetapi sudah dihancurkan. MENGAPA? Mahasiswa Pertanian ‘11 Terima kasih kepada Mimbar Untan. Saya sebagai mahasiswa yang sudah lama menginjak dunia kampus merasa kesal karena jalan di depan FKIP Untan seperti gelombang di lautan. Mohon pihak yang berwenang untuk segera menanggapinya dengan tindakan nyata. Mahasiswa FKIP 208

Terima kasih kepada Mimbar Untan. Dari tahun ke tahun proses daftar ulang mahasiswa masih saja tidak efektif, antrian yang panjang, waktu yang sempit, loket yang terbatas, dan sangat banyak lagi. Mohon kiranya pihak Universitas dapat mencari solusi yang lebih baik lagi sebab mahasiswa semakin bertambah di sebabkan banyak prodi-prodi baru di Untan. Irwan Kurniawan Mahasiswa FKIP 2007

4

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Opini

Pendidikan di Orde Paling Baru Oleh: Tan Erwin Pendidikan sudah menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh insan manusia akan tetapi tergantung persepsi masing-masing. Menurut UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Setiap tahunnya diperingati Hari Pendi­ di­ kan Nasional (Hardiknas). Pertanyaannya, menga­ pa sampai sekarang pendidikan yang ada di Indonesia belum maksimal dan banyak melahirkan generasi tak bermoral dan bejat meski Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sudah berusaha untuk membenahi keadaan pendidikan ? Jawabanya, ialah ada­ nya sistem yang salah da­ lam proses penyelenggara­­­­­an pen­­­­­­didikan. Pendidikan di­ pandang hanya sebagai salah satu syarat untuk mema-

suki dunia PNS, mengambil Ijazah, dan menyombongkan diri. Pandangan ini jelas sangat bertentangan dengan UU No. 20 tahun 2003 dan bertentangan dengan pendidikan Integralistik yang dipelopori oleh Muhammad Natsir. Bentuknya ialah tidak sesuainya fakta dengan harapan UU tersebut. Harapan untuk anak bangsa agar menguatkan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan. Menjadi suatu yang nihil. Hasil pendidikan sekarang tidak mencerminkan harapan UU Sisdiknas. Para Founding Father juga telah memperjuangkan pendidikan nasional. Adalah Muhammad Natsir yang telah memaparkan pemikirannya lewat bukunya yang berjudul Pendidikan Integralistik. Beliau mengatakan di dalam bukunya (2003: 125). “Memang tidak ada dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum”. Pandangannya sangat relevan untuk memperbaiki pendidikan sekarang. Pemikiran yang dikemukakannya tidak membuang pendidikan agama dan juga tidak membuang pendidikan umum. Sama-sama diperhatikan dan perannya samasama penting. Pendidikan keagamaan

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

dikembalikan ke agamanya masingmasing d a n dapat d i s elingi dengan hal-hal budaya sehingga dapat me­ng­u­­­bah perilaku-peri­­laku peserta didik untuk menjadi genarasi emas. Begitu pula dengan pendidikan umum, ini dapat menunjang keberlangsungan hidup peserta didik untuk menambah wawasan dan meningkatkan keintelektualan peserta didik serta dapat mengembalikan hakikat pendidikan sebe­ narnya, yaitu menuju pendewasaan diri. Tenaga pendidiklah yang mengerti seluk-beluk peserta didik dan peran pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Apalagi zaman sekarang pemerintah mencana­ ngkan program pendidikan karakter. Semoga dengan adanya pendidikan karakter dapat mengubah kepribadian anak bangsa dan mengubah persepsi setiap insan manusia. Kita berharap besar agar pemerintah tidak bosan dalam berusaha untuk mengembalikan hakikat pendidikan sebenar-benarnya.

5


Headline

Portal Belum Menjamin Keamanan

Oleh: Gusti dan Dody Demi meningkatkan keamanan di lingkungan Universitas Tanjungpura, Pihak Untan melakukan pemasanggan portal pada setiap jalur masuk kampus. Dengan dilakukannya pemasangan portal ini, diharapkan dap­at men­ ingkatkan keamanan di lingkungan Untan sehingga proses perkuliahan dapat berjalan dengan lancar.

6

Namun, pemasangan portal di li­ ngkungan kampus Untan ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak terutama kalangan akademisi. Portal dinilai belum sepenuhnya efektif oleh kalangan mahasiswa. Hal ini dikarenakan tidak adanya penjagaan disetiap titik portal. “Seharusnya ada pos penjagaan di setiap titik por-

tal untuk menjaga keamanan.” ungkap NN mahasiswa tehnik. Hal senada juga di ungkapkan oleh Yoga Mandala mahasiswa FKIP, menurutnya harus ada satpam yang jaga di setiap portal agar bisa memantau keamanan secara langsung. Menanggapi hal diatas penjaga keamanan kampus

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Headline

Untan Dian Krisna turut angkat bicara, beliau menegaskan bahwa pemasangan portal sebenarnya sudah efektif “Ketidak efektifan itu karena mahasiswanya,” ung­kapnya. “Sesuai ketentuan yang diberikan kepada kami tutup jam 22.30 dan di buka jam 06.00 tapi mahasiswa yang kuliah malam kadangkadang pulangnya 23.00

atau 24.00 jadi kami kadangkadang menutup pintu keluar pukul 23.00 atau 23.30 namun pintu masuk tetap pukul 22.30,” tambahnya. Petugas keamanan sendiri berjumlah 18 belas orang setiap regunya ada 5 atau 6 orang, setiap malamnya petugas keamanan berkeliling untuk memantau langsung lingkungan kampus dan setiap titik portal. Ditanya mengenai ada kah keluhan dari warga sekitar yang sering menggunakan akses jalan melewati kampus untan, beliau mengungkapkan bahwa “untuk saat ini belum ada keluhan dari warga sekitar lagi pula sudah ada pemberitahuan pada RT setempat dan setiap kampusnya mengenai pem­ asangan portal.” Katanya. Menyinggung soal keamanan beliau juga mengungkapkan “sejau­h in­i sudah sedikit aman dengan adanya portal keluar masuknya berkurang jadi orang luar susah masuk dan hanya mahasiswa yang mudah masuk,” tambahnya lagi. Hal ini berbeda jauh dengan ungkapan Sanusi, ketua RT 04 RW 07 Kelurahan Pasir Laut sepakat 2. “Waktu itu memang pernah ada satpam yang patroli menyampaikan bahwa akan ada pemberitahuan pada masyarakat sekitar mengenai pemasangan portal ini,” katanya.

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

Sampai saat ini pihak UNTAN belum memaksimalkan pemberitahuan kepada masyarakat sekitar. Masyarakat menerima dengan adanya portal. Namun, dari kalangan mahasiswa yang tinggal di dekat kampus. “Kami tidak keberatan dengan adanya portal ini, namun mahasiswa yang tinggal di sekitar sini mungkin keberatan karena mereka yang sering menggunakan akses jalan ini,” tambah Sanusi selaku RT setempat. Tangdililing, Pembantu Rektor 4 angkat bicara mengenai pemasangan portal ini “Fungsi portal itu sebenarnya unt­ uk penertiban dan keamanan, um­­­­pamanya malam hari, ada jalur-jalur tertentu yang harus diportal untuk menjaga keamanan kampus,” ungkapnya. Beliau juga mengungkapnya bahwa den­ gan pemasangan portal ini juga berfungsi untuk menghindari orang-orang yang masuk ke lingkungan kampus tanpa kepentingan. Tapi menurutnya setiap titik portal idealnya harus ada pos penjagaan tapi karena dua hal, keterbatasan dana dan personil maka untuk saat ini portal belum ada posnya. Tapi kedepannya itu akan di pikirkan lagi demi keamanan kampus.

7


Kampus

Ketidakmerataan Pembangunan Jalan Untan Oleh : Ratna dan Putri Silalahi Jalan­ merupakan salah satu jalur transportasi untuk memudahkan kita tiba di suatu tempat yang dituju. Cepat atau tidaknya kita sampai ke suatu tempat tersebut juga tergantung pada kondisi jalan itu sendiri. Salah satu akses yang biasa dilewati mahasiswa atau kalangan masyarakat di wilayah Pontianak adalah jalan di kawasan Untan. Mengingat skala prioritas tersebut, pihak Untan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk kenyamanan berlalulintas dan melaksanakan kegiatan dengan lebih baik lagi. Namun sayangnya tingkat ketidakmerataan jalan di kawasan Untan masih kian terasa. Ini terbukti dari masih terlihatnya jalan yang kurang bagus di beberapa titik. Saat ditemui di sela-sela

8

kegiatannya, beberapa mahasiswa yang baru lulus di Untan melalui jalur undangan yang mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki ke kawasan Untan ini mengatakan bahwa kondisi jalan kawasan untan sudah lumayan bagus. “S­ebenarnya sih jalan di Untan sudah lumayan bagus, tapi masih ada jalan yang perlu diperbaikan seperti di de­pan Fisipol, terus depan Rektorat pun kami agak takut mau melewatinya, karena jalan berpasir. Kalau bisa sih jalannya dirapikan lagi dan pasirnya dibersihkan” ungkap Ikhsan dan Hardianto mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2012 ini. Se­lain ketidakmerataan jalan di Untan, ternyata ada mahasiswa yang mengeluhkan material pembuatan jalan itu sendiri. “Jalan Untan sebagian kecil sudah luma-

yan bagus, tapi sepenuhnya belum dan tolonglah kalau bisa jangan pakai pasir dan batu kerikil yang kecil terus digilas kemudian dikasih aspal, itu tidak akan bertahan lama, cobalah pakai batu besi supaya tidak cepat rusak”. Ujar mahasiswa Fakultas Hukum yang tidak mau menyebutkan namanya ini. Untan merupakan satusatunya Universitas Ne­ geri yang ada di Kalimantan Barat. Jadi memang sudah sela­yaknya infr­astruktur terutama jalan lebih diperhatikan. “Untan ini kan Representasi kebanggaan daerah ini, masa orang kampung masuk kesini melihat jalan di kampung lebih bagus dari jalan di komplek Untan”. Ungkap Jumhur. Jalan di komplek Untan bukan hanya digunakan para pengguna kendaraan saja akan tetapi juga dapat di gunakan

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Kampus untuk melakukan kegiatan olahraga seperti jogging. Jika dilihat ketika sore hari banyak orang-orang y­ ang ramai mengisi jalanan untan untuk berolahraga atau jalan-jalan sekedarnya saja. “Kalau jalan Untan perbaikannya sudah rampung dan merata maka dapat dipastikan orang-orang akan lebih banyak menggunakan jalan Untan sebagai wadah untuk berolahraga atau yang lainnya” tambah salah satu dosen di Fakultas Ekonomi ini. “Universitas TanjungPura merupakan institusi yang berkembang dari tahun ke tahun. Ini terbukti dari penambahan fasilitas baru seperti Rumah Sakit pe­ ndidikan kedokteran di Untan. ­Proble­mnya yang saya lihat adalah penambahan fasili­tas yang tidak di dukung ol­ eh kondisi jalan bukan masalah kemacetan tapi bermasalah dari segi aksesibilitas” ungkap Rudi S. Sugiono. Pemeliharaan jalan wajib dila­­kukan tiap tahunnya, namun akan jauh lebih baik lagi jika jalan diperbaiki daripada me­ mbiarkan jalan itu rusak hingga makin tambah parah. Dan pada akhirnya akan menelan biaya yang besar untuk memperbaikinya kembali. “Perlu adanya pemeliharan tiap tahunnya,” tambah dos­ en Fak­ ultas Teknik ini. Belia­u juga menjelaskan perlu ada 2 jenis pemeliharaan yaitu pemeliharan rutin ( selama 1 tahun

sekali) dan pemeliharaan berkala (selama 5 tahun sekali). Tuju­annya adal­ah agar 10 atau bahkan 20 tahun mendatang jala­n di untan masih berfungsi dengan bagus dan dapat berfungsi secara­­optimal. ­Rud­i juga menjelaskan bahwa dalam pembangunan jalan di Untan, perlu adanya perbaikkan gambutnya karena tanah di Untan merupakan jenis gambut, jadi sebelum di bangun jalan baru perlu adanya perbaikan dulu dan setelah itu diberi pondasi yang kuat. B­eliau juga m­en­gatakan, “Bukan saya menyalahkan yang melaksanakannya. Ya yang melaksanakannya bisa saja benar, tapi di bidang kontrolnya kurang baik, bisa juga yang melaksanakannya su­ dah benar tapi materialnya kurang baik, mungkin juga semuanya sudah benar tapi ada hal yang salah,” tuturnya. Salah satu dosen di fakultas Teknik ini juga memaparkan beberapa unsur yang harus dimiliki yaitu proses perencanaan, proses pelaksanaan, proses pen­ gawasan, d­an yan­g terakhir adalah proses perawatan. Keempat unsur tersebut merupakan proses yang harus berkesinambunggan dan juga harus berjalan dengan baik. Adapun jalan kawasan Untan meliputi: ja­lan fakult­ as Tehnik sampai Ekonomi, da­ ri jalan Daya Nasional

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

sampai Imam Bonjol , karangan, silat. Namun jalan Daya Nasional menurut Tangdililiang, sudah di serahkan ke pihak Pemerintah Kota, karena yang menggunakannya bukan hanya bagian dari Kampus Untan saja, tetapi masyarakat luas sudah banyak yang menggunakan jalan tersebut. “Jalan di kawasan Untan cukup bagus, a­ kan tetapi kualitasnya harus dit­ ingkaatkan,” ujar Tangdililiang Sab­ tu (16/6). Namun dapat dilihat jalan yang baru saja diperbaiki di de­pan Rektorat Universitas Tanjungpura, ternyata dibu­at menggunakan bahan semen. Saat tim menemui Pak Tandi selaku Pembantu Rektor 4 untan. Beliau mengatakan itu merupakan kebijakkan Rektor, selain itu dia juga menjelaskan bahwa hal itu terjadi juga karena kurangnya dana. Lamanya proses perbaikkan atau pemerataan jalan selalu terkendala dengan masalah biaya yang sangat minim. Walaupun setiap ingin mel­ akukan pena­ mbahan atau perbaikan jalan selalu membuat proposal, akan tetapi dananya tetap saja kurang. Beliau juga berharap kepada pihak pemerintah Provinsi ataupun pihak pemerintah Pusat dapat lebih memperhatikan dan lebih meningkatkan dana khusus untuk perbaikkan jalan di Untan.

9


Kampus

Pesona Untan dalam SNMPTN Oleh: Yulius dan Putri

Perjalanan Sele­ ksi Nasional Masu­­k Perg­uruan Tinggi Negeri atau yang lebih dikenal dengan SNMPTN, kini telah usai. Selama dua hari berturut – turut, yang dimulai dengan hari Selasa dan Rabu, tanggal 12 - 13 Juni ­ 2012, seluruh Universitas Negeri di Indonesia menjalankannya secara serempak, tak terkecuali dengan Universitas Tanjun­gpura (UNTAN) Pontianak. Kali ini, Untan yang merupakan Univers­itas Negeri satu – sa-

10

tunya di Pontianak, b o l e h berbangga hati karena d a r i tahun ke tahun jumlah peserta yang daftar semakin meningkat, demikian juga dengan tahun 2012 ini, tercatat ada 10.434 peserta terdaftar yang mengikuti ujian SNMPTN tahun ini. Hal ini bukanlah jumlah yang sedikit apalagi mengingat jumlah Mahasiswa yang nanti akan lulus dan terdaftar tidak akan mencapai setengah dari nominal tersebut. “Kita boleh berbangga hati dengan pe­ serta SNMPTN tahun ini, karena saking tidak muatnya ruangan yang dis­ediakan oleh pihak UNTAN, maka s­ebagian kecil peserta harus mengikuti ujian di Gedung Olahraga (GOR),” kata Masudy, salah satu panitia penanggungjawab sektor lokasi di bagian

MKU UNTAN. Keseriusan dari peserta sendiri selama mengikuti tes SNMPTN ini sangat patut diacungkan jempol, bagaimana kerja keras mereka dan berusaha bersih dari tindakantindakan menyimpang layak kita beri pujian yang tulus. “Suasana kelas kondusif dan mendukung sekali dan pelayanan maupun keamanan dari pihak panitiapun sudah bagus.” Begitu kata Yuni Kartika, salah satu peserta asal Pontianak yang mengambil jurusan FKIP Prodi Ekonomi dan Sosiologi tersebut. Persiapan dari peserta itu sendiri bermacam-macam “Persiapan belajarnya tentu ada dong sekitar dua minggu aku udah mempersiapkan untuk tes hari ini, dengan cara latihan-latihan soal SNMPTN tahun lalu, review buku – buku ujian SMA, bertanya pada senior yang udah pengalaman, dan tentunya tidak lupa untuk berdoa,” ujar Levi, salah satu peserta yang mengambil jurusan Ekonomi Manajemen dan FKIP Sosiologi ini. Nada serupa juga diungkapkan dua gadis cantik, Kiki

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Kampus dan Nana, yang sama – sama mengambil jurusan Ekonomi Manajemen dan Akuntansi di Untan, “kita udah belajar dari awal kok, jadi tetap optimis aja buat lulus,” katanya. Perjalanan suks­es SNMP­ TN, tent­ u tidak lepas dari kinerja para Panitia, Pengawas ruangan maupun orangorang yang berkecimpung di dalamnya. Persiapan itu sendiri memang sudah jauh hari dilaksanakan. “Persiapan kami para panitia untuk SNMPTN ini sudah jauh hari kami lakukan, di antaranya penyiapan lokasi dan pengirimannya ke IT pusat, lalu menyiapkan posko informasi untuk membantu peserta, mengurus segala yang berkaitan dengan administrasi, dan masih banyak lagi. Dan untuk tes SNMPTN inipun sebenarnya ada dua taha­ p, yaitu jalur Undangan dan Ujian Tertulis. Jalur Undangan sudah kita lewati kemarin, dan sekarang jalur Ujian Tertulis lagi,” ungkap Ida Fitria, selaku Koordinator Tim Humas. Suasana tes SNMPTN di Untan sendiri terbilang sukses, terbukti dari antusias peserta mengikuti ujian dan tentunya tidak lepas dari kerja keras Pengawas Ruangan dan pihak keamanan, walaupun ada beberapa kendala sederhana, itu adalah hal wajar .

“Kalau untuk di ruangan saya, sejauh ini belum ada kendala-kendala yang berarti, masih lancar-lancar saja, hanya kemarin dihari pertama, ada peserta yang dapat menjawab soal-soal dengan baik, namun tidak dipindahkan dan dilingkari pada lembar jawaban, alhasil ketika waktu telah selesai, dia hanya sempat melingkari empat jawaban. Dan antisipasi yang akan saya lakukan, lima belas menit sebelum waktu berakhir, saya akan beri kode, agar hal-hal serupa tidak akan terulang lagi,” ujar M. Thamrin, Penanggungjawab sekaligus Pengawas Ruangan 81 di kampus FKIP UNTAN. Kendala klasik juga seringkali terjadi di kegiatan SNMPTN ini. Ocha, salah satu Panitia Pengawas bagian Informasi menambahkan bahwa masih ada peserta yang tidak tahu ruangan dan datangnya terlambat, akhirnya solusi yang bisa ditawarkan adalah membimbing peserta tersebut hingga menemukan ruangannya. Sadarnya minat masyarakat untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan, tentu ada tujuan dan cita-cita yang terkandung di dalamnya, dan pilihan maupun perjalanan untuk mereka kuliah itu sendiri beramacam – macam, untuk lingkungan Untan, kampus yang masih menjadi

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

primadona dari tahun ke tahun adalah FKIP, menyusul kemudian Fakultas Ekonomi dan Fakultas Tehnik. Alasan peserta memilih kampus favorit, yaitu FKIP sangatlah beragam. Salah satu alasan yang dominan ialah mudah mendapatkan kerja. Hal ini diungkapkan oleh dua orang gadis kembar dari Sekadau. “Dapat kerjaannya mudah, selain daripada itu juga memang udah cita-cita,” ucap Noria dan Novia, dua gadis kembar asal Sekadau yang mengambil FKIP PGSD ini. Kabar baik datang dari Untan tahun ini dalam hal penerimaan Mahasiswa Baru yang nanti pertengahan Juli akan diumumkan yaitu tahun 2012 ini, daya tampung akan naik 10% dari tahun sebelumnya, akibat perluasan akses untuk kuliah di Universitas Negeri. Keadaan tersebut juga menyebabkan ruangan akan semakin dimaksimalkan, dan kinerja para Dosen pasti akan semakin dituntut. Tapi mengingat para dosen Universitas Tanjungpura sudah banyak yang berusia lanjut. Seharusnya memang ada antisipasi dan solusi untuk mencegah dosen-dosen yang usia lanjut.

11


Khusus

Untan Berbisnis Sawit Oleh: Talino dan Rusnani

Untan dengan luas lahan di tiap Fakultas mulai dilirik oleh pihak Rektorat, hal ini berkaitan dengan lahan tidur yang ada di Fakultas Ekonomi, yan­ g saat ini sudah ditanami sawit. Tak hanya di belakang Fakultas Ekonomi, tapi di pekarangan tiap kantor yang ada di lingkungan Untan sudah banyak ditanami sawit bahkan sudah tumbuh subur sejak beberapa tahun yang lalu. Menurut Ali selaku Kabag UHTP Untan, tidak hanya di belakang Fakultas Ekonomi dan lingkungan Untan saja yang ditanami sawit namun ada juga di daerah Toho yang sudah ditanami sekitar 1500 pohon sawit. Sementara di belakang Fakultas Ekonomi direncanakan ditanami sawit seluas 2 Ha, namun hanya sebagian yang ditana-

12

mi sawit, sebenarnya kebun ini adalah kebun pendidikaan, wisata dan penelitian. “Saya kira kebun ini untuk penelitian mahasiswa, saya setuju saja makanya penanamannya terbatas,” jelasnya. Beliau juga menjelaskan bahwa penanaman sawit ini bekerja sama dengan PT.PNXIII dan semua biaya operasional dibiayai oleh pihak perusahaan. Beliau juga mengungkapkan mengenai alasan pihak Untan yang memanfaatkan lahan kosong yang ada d­i belakang Fakultas Ekonomi “karena tanah kosong dan dimanfaatkan kenapa tidak,” tambahnya lagi. Saat dimintai keterangan mengenai dampak negatif dari kegiatan ini beliau menjawab tidak terlalu mengetahui. “ ka­­lau dari segi negatif saya tidak

tau, yang tau hanya orang pertanian kalau sudah tau tidak baik kenapa ditanam di untan,” ujarnya. Ia juga membeberkan mengenai rencana yang tidak terealisasi yang dulunya sudah dibuat kaplingan tanah untuk menanam pohon seperti jambu, durian, karet, nangka, cempedak, mangga, jagung, rambutan dan semua yang menghasilkan namun hanya sawit yang berkembang. “ Intinya perkebunan ini hanya untuk penelitian dan pariwisata saja semua untuk bersama dan untuk penghijauan,” te­ga­­snya kembali. Berkaitan dengan sawit ini, banyak menuai pro dan kontra. Salah satunya datang dari seorang mahasiswa, ripin mahasiswa angkatan 2010 “ selagi itu

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Khusus tak merugikan mahasiswa dan lingkungan dan juga ada keuntungan yang didapat mahasiswa dan Untan, saya setuju,”ujarnya. Dia juga mengatakan, masalah penanaman sawit ini dapat me­ nambah penghasilan dari segi ekonominya. “Begitu juga dengan membuka usaha lapangan kerja,”tambahnya. Tuturnya lagi dari segi dampak negatif dapat merusak struktur tanah dan tanah menjadi tandus. Tidak hanya itu mardianto mahasiswa angkatan

2010 Fakultas Pertanian jurusan Agroteknologi juga mengatakan, kalaupun tanaman sawit menyebabkan banyak kerugian, tanaman sawit tidak akan secepatnya merubah keadaan tanah dan lingkungan, semua tergantung cara budidayanya lagi. “ kalau budidayanya sesuai dan tidak merusak lingkungan saya setuju begitu juga dengan cara pemupukan dan drainase yang baik,” tegasnya. Dari segi positif mardianto juga mengungkapkan, mahasiswa Fakultas Perta-

nian dan Kehutanan serta Fakultas yang ada di Untan yang akan melakukan penelitian tidak sulit dan tidak perlu jauh – jauh pergi ke keluar untuk penelitian sawit. “ Selain mudah dijangkau juga menghemat biaya, ” ujarnya. Ia juga berpend­ apat negatif tentang sawit ini, setiap proyek selalu ada korupsi. “Kalau pengelolaan yang tidak benar akan merugikan ling­kungan juga, dan yang harus bertanggung jawab adalah pihak Untan,”sarannya.

Fasilitas Untuk Fisip Oleh: Tiwi

Sistem pendidikan di Universitas Tanjungpu­ra (Untan) sudah­megalami kemajuan yang cukup pesat, namun semua itu tidak didukung dengan ketersediaan dan kelayakan fasilitasfasilitas yang ada di dalam setiap Fakultas. Masih kurangnya ketersedian fasil­itas yang dapat mendukung pro­ses belajar-mengajar dis­e­tiap Fakultas akan berdampak pada kenyamanan dan antusias mahasiswa dalam belajar. Salah satunya fasilitas yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Seperti masih kurangnya fasilitas ruangan kelas, dan fasilitas penunjang proses belajar-mengajar, diantaranya Infokus, dan AC.

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

13


Khusus Beberapa keluhan dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) mengenai sarana dan prasarana di kampusnya semakin terdengar baik dari segi ruang, alat pendukung dan kenyamanan dalam proses belajar. Hikman Al-wizar, mengungkapkan apa yang ia lihat di kampusnya sendiri,. “Sarana di kampus Fisip itu sendiri sudah lengkap namun kurang memadai dan terawat contohnya saja lab komputer, komputernya sih banyak tapi kalau jaringan internetnya kurang memadai, begitu juga dengan ruang kelas ada beberapa kelas yang kalau hujan atapnya bocor sehingga mengganggu ke­ nyamanan saat belajar.” Ungkap mahasiswa ilmu administrasi negara ini. Ia juga mengatakan selain masalah sarana dan prasarana kampus yang masih kurang, masalah keamanan juga perlu ditingkatkan. “Satpam di kampus itu cuma ada satu dan itu pun sudah tua, namanya Pak Madun, karena sudah cukup umur dan cuma sendiri , beliau jadi kurang awas dalam menjaga kampus sehingga kampus setiap hari ada kehilangan helm terus terutama jam siang.” Salah satu mahasiswi prodi Ilmu politik juga angkat bicara mengenai insfrastruktur kampu­­­snya.Ia mengata­kan prasarana dikampusnya masih belum maksi-

14

mal. “Contoh simple saja di toilet, airnya kurang dan bahkan tidak mengalir dan juga kaca-kaca banyak yang sudah pecah, laboratorium komputer juga banyak yang rusak.” Ungkap Eparia. Di satu sisi, mengenai perpustakaan fisip itu sendiri, persediaan bukunya masih belum lengkap sehingga sulit jika ingin mencari tugas. Dari beberapa narasumber yang mengungkapkan mengenai sarana dan prasarana Fisip itu. Tampak jelas masih kurangnya sarana dan prasarana Fisip. Moctaria, selaku Dekan Fisip mulai menanggapi hal tersebut ia mengatakan. “Fasilitas fisip dari segi perkuliahan sudah memenuhi standar minimum dan sudah termasuk layak dan mencukupi hanya saja perlu ditingkatkan terutama dalam kegiatan pembelajaran mengenai ruang kuliah atau jumlah mahasiswa sudah mencukupi, begitu juga mengenai sarana seperti infokus, taman bacaan sudah tersedia tetapi perlu penambahan

dan perbaikan.“ Ujarnya. Selain sudah memenuhi standar minimum, Mochtar juga mengakui ada beberapa kekurangan yang ada dalam Fisip itu, beliau menuturkan, “Memang masih kurang sarana dan prasarana di Fisip tersendiri contohnya dalam penambahan ruang kelas, kapasitas laboratorium komputer, multimedia, dan tata ruang perpustakaan yang masih perlu dibenahi tetapi sudah ada permohonan pengajuan untuk hal itu, meski masih ada kendala dengan persetujuan dari tingkat Universitas dan itu berkenaan dengan manajemen perencanaan keuangan, jadi belum tentu apa yang diajukan terealisasikan.” Ujarnya Selain itu Beliau mengunggapkan akan ada program baru dalam waktu dekat ini, yaitu penambahan jurusan Ilmu Komunikasi. “Pada tahun ini Ilmu Komunikasi akan Konsentrasi dibawah jurusan Ilmu Adminisrasi, program ini disiapkan di lab Multimedia dan proses pengajuan sudah selesai.“ Ungkapnya .

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Jepretan

turis yang bangga dengan Indonesia, buktinya dengan menggunakan atribut Indonesia ketika menghadiri sebuah acara di Kafe Nineteen (Miun/ Wisda)

Pengemudi mobil parkir didepan pertokoan dan mengabaikan rambu-rambu yang terdapat didepannya (Miun/ Wisda)

Portal yg berada di depan RUSUN mahasiswa Untan. Apakah efektif? (Miun/ Wisda)

Miris, melihat keadaan terminal Batu Layang yang tidak terawat dan sepi penumpang (Miun/ Wisda) (Miun/ Wisda)

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

15


Sastra

HAMPA ASA Serasa apa hidup yang terbang mati............... Memandang musim yang mengandung luka... Serasa apa kisah sebuah dunia begini Pada ku hampa asa dengan luka Diri mengeras dalam kehidupan Kehidupan mengeras dalam diri Buih-buih angan merembes ke permukaan Permukaan basah namun hampa asa Dalam hati bagai kota mati Kegelisahan, kesunyian, kehancuran bersarang dihati Aku,,,,,,,hidupku hampa asa!!!!!!!!!!! oleh : ino

Tangisan rindu Oleh: Nikodemus Niko

Rintik hujan di pagi ini menyapaku lembut............ Terasa dingin menembus dinding kulit ku........... Aku masih berbungkus selimut di sini............... Menikmati indahnya mimpi-mimpi.................. Bayang mu terlintas kembali untuk yang kesekian kali nya............ Mimpi ini indah sekali ku rasakan....... Namun, ketika ku terjaga..... Sungguh sangat menyakit kan....................... Kau kini jauh dari ku.................. Mata ini tak ingin lagi terpejam........... Tak ingin kau kembali membuat ku terisak.............. Aku hanya terdiam, merenungi semua yang telah kita lalui........... Butiran bening ini tak terasa menyapu pipi ku.......... Malam.......... Pecah kan rindu ini pada nya............... Bunuh rasa ini untuk nya.................. Biarlah dia menjadi yang terindah dalam hidup ini........... Meski hanya perih yang bisa ku raih..................

16

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Religi

Jika Detik ini, Kematian Menjemputmu ‘’KEMATIAN’’ mungkin merupakan kata yang sering akrab didengar telinga kita. Tapi, bagaimana jika pada detik ini kau mengalaminya. Ketika malaikat Izrail datang menjemputmu karena masa hidupmu sudah berakhir waktunya. Lalu seperti apakah reaksimu saat semuanya yang menjadi milikmu kemudian dengan waktu yang tak pasti harus diambil tanpa menunggu kau siap atau tidak. Semuanya akan meminta pertanggungjawaban darimu karena Allah telah memberikan amanah kepadamu untuk menggunakan apa yang kau miliki agar digunakan dengan sebaiknya. Tapi, terlalu banyak nikmat-Nya yang kau sia-siakan. Saat waktumu berakhir, tak ada lagi yang dapat menolongmu, selain amal baik yang dulunya sering kau abaikan. Kau lebih senang menghabiskan waktumu untuk memperjuangkan kesenangan hidupmu didunia tanpa kau ingat bahwa kau telah melupakan akheratmu. Dan ketika waktu itu datang, semua yang kau miliki akan meninggalkanmu. Mereka semua akan menangisi kepergianmu. Orang tua yang selama ini kau sia-siakan kehadiran dan perjuangan mereka untuk hidupmu, saudara-saudaramu yang sering kau abaikan, dan teman-teman yang kau sakiti hatinya, kini hanya dapat menangisi dan mendo’akan kepergiamu. Tubuhmu kini diam, kaku, dan membisu. Kau kini lemah tak berdaya, sarafsarafmu mati, matamu yang dulunya sering kau gunakan untuk melihat kemaksiatan kini telah menutup. Telingamu yang dulu-

nya sering digunakan untuk mendengar keburukan orang lain, kini telah menjadi tuli. Mulutmu yang sering kau gunakan menyakiti hati orang lain, kini telah membisu diam seribu bahasa. Hari itu, dimana kamu dimandikan, dikafankan, dan disholatkan oleh orang-orang yang menyayangimu. Lalu kau akan diantarkan menuju tempat istirahat terakhirmu yaitu suatu lubang didalam perut bumi yang gelap, sempit, dan kau hanya sendiri didalamnya. Mereka semua akan meninggalkanmu seorang diri didalam tempat itu. Kau akan disiksa karena amal burukmu lebih banyak dibandingkan amal baikmu. Siksa yang tak pernah kau bayangkan sakitnya didunia, kini akan kau rasakan sendiri. Panasnya api neraka yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya, kini akan membakar tubuhmu. Kau hanya bisa menangis dan menyesal, berharap kau akan memiliki kesempatan hidup yang kedua dan memperbaiki semuanya. Dan kini kau terbangun dari tidurmu, ternyata Allah masih sayang kepadamu. Kau bisa berubah jika kau mau, kau tetap dapat memperbaiki semuanya sebelum kau sempat menyesali semuanya. Kau tetap dapat memperbaiki sholatmu yang sering kau lalaikan, kau masih bisa meminta maaf kepada setiap orang yang kau sakiti karena perbuatanmu, kau masih bisa melihat dan membahagiakan orang tuamu, kau masih bisa beristighfar meminta ampunan kepada Allah yang selama ini kau siasiakan nikmat yang diberikan-Nya. (bbv)

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

17


Profil

Mengenal Sosok Hamzar Oleh: Tan Erwin

H

amzar, begitulah biasa ia disapa oleh teman seangkatannya. Pria kelahiran Mensere, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, 11 April 1965. Pria ini tidak dikenal banyak orang di kalangan mahaiswa, Tapi, pria ini juga seorang mahasiswa, Mahasiswa Guru dalam Jabatan 2011/2012, Mulai dari 26 Juni-09 Juli 2012. Kesungguhan hati untuk belajar dan belajar yang ditanamkan dalam hati. Pria ini juga pernah kuliah di Universitas Tanjungpura di Fakultas FKIP jurusan Matematika, pada tahun 1987 sebagai Diploma II (DII). Kesungguhan hati untuk bekerja melekat pada diri Hamzar. Setelah menamatkan perkuliahan pada tahun 1990 sebagai DII, Beliau langsung mengabdikan diri ke kampong halaman, Mensere. Beliau mengajar sebagai guru honorer di SMP Bakti pada tahun 1990 dengan gaji perbulan Rp 24.000. Namun, dengan gaji tersebut sekali pun tak menyurutkan semangatnya untuk mengajar di berbagai sekolah.” Sejak tamat kuliah tahun 90, saya mulai mengajar diberbagai seko-

18

lah, seperti SMP Bhakti, At Taqwa, dan A Falah.” Kata Hamzar. Beberapa lama ia mengajar mengabdikan diri di kampung halaman. Hamzar ditunjuk sebagai kepala sekolah oleh Yayasan Bhakti di SMP Bhakti 2000-2002. Setelah itu, menjadi kepala sekolah Madrasah Aliah 20032005. Perjalanan waktu yang demikian panjang, ternyata Hamzar tak hanya menjadi guru honorer di daerahnya. Jiwa dedikasi yang melekat dalam dirinya, ia dipercaya sebagai Kepala Desa (Kades) di desa Mensere pada tahun 2005. Mengajar mengabdi kepada siswa sekaligus menjadi orang nomor satu di desanya untuk melayani masyarakat setempat. Tepatlah pada tahun 2007. Hamzar diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sambas, Kecamatan Sambas, Desa Tebas. “Pada tahun 2007 saya mengikuti tes PNS dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Saya lulus sebagai PNS.” Katanya sembari menghela rambut. Setelah tamat kuliah dan menjadi guru, kini Ham-

zar kembali kuliah dan menjadi mahasiswa. Suka duka menjalani kehidupan mahasiswa pun dirasakannya. Mengalami Ospek yang dikerjakan oleh senior. “Saya juga merasakan dikerjakan senior waktu ospek. Saya disuruh sikat gigi tanpa odol dan tanpa air.” Kenangnya. Pesan yang disampaikannya kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa yang merantau untuk jangan menyia-nyiakan waktu. “Waktu jangan disiasiakan karena orang tua menunggu ke­­ su­k­­­­­­­­­­ses­an kita.” Katanya.

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012


Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

19


20

Edisi 60 / Th XIV/ Juli-Agustus / 2012

Buletin Terbitan LPMU 2012  

Buletin Terbitan LPMU 2012

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you