Page 1

Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006 Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

1


ALHAMDULILLAH, berbekal iringan doa dan perjuangan yang begitu panjang akhirnya Civitas kali ini terbit jua. Lantunan sebuah voice yang kerap mengalun dari studio berukuran 2x3 m “Tetap semangat dan teguhkan hati disetiap hari, sampai nanti, sampai mati”, yang selalu menambah semangat bagi writer dan reporter untuk menulis dan terus menulis. Tambah lagi setelah menikmati suguhan Lentera Merah -film bernuansa kampus- yang banyak memberi inspirasi kepada kami, yakni sebuah kesolidan dan kekompakan dalam organisasi serta mental yang kuat untuk membuktikan sebuah kebenaran. Kebenaran itu harus terungkap meski pedih dan menyakitkan serta menakutkan. Lalu apa hubungannya dengan Civitas? Lagilagi civitas kali ini sedikit telat lantaran krisis air yang melanda sekre tercinta ini. Memang sih nggak ada hubungannya. Tapi kalau dipikir-pikir banyak reporter yang nggak pede wawancara lantaran belum mandi. Percaya nggak? Tapi tidak mandi tidak menyurutkan semangat untuk terus mengejar berita. Wah... lagi minggu tenang ya? Jangan sampai kamu juga ikutan tenang, terhanyut hingga ujiannya kebablasan. So, don’t forget belajar dan sempatin diri tuk baca suguhan dari kami. Soalnya banyak info menarik yang kamu mesti tahu biar dibilang nggak kuper (kurang pergaulan-red). Seputar pertikaian dua kampus yang barubaru ini menghangat mengisi ruang Headline. Ada juga mengenai asuransi yang menuai masalah di kalangan mahasiswa yang patut menerimanya. Serta liputan hangat lainnya yang mengisi lembar demi lembar civitas kali ini. Gempa yang menghantam Yogya pekan lalu juga menuai duka di hati kami. Hanya sebatas doa yang dapat kami panjatkan, semoga Indonesia tak lagi dirundung bencana. Di ruang sempit ini hanya sepatah kata yang dapat kami ucapkan. “Selamat membaca, tetap semangat, Selamat Menempuh Ujian Akhir.[]

Sarana Belajar Mengajar Bisa Menjadi Efektif

TERIRING terima kasih kepada Mimbar Untan yang telah rela memberi ruang kosong pada saya untuk suara saya. Fakultas KIP adalah menciptakan seorang guru baik dalam segala hal, yang tentunya disenangi, dihargai, dihormati oleh muridnya dan tidak sebaliknya. Karena itu jangan sampai seorang guru tidak tahu dalam mengajarkan pada anak didiknya untuk mengembangkan kreatifitas. Saya salah satu mahasiswa FKIP yang nantinya bakalan menjadi guru, dimana saya dapatkan sekarang tidak berarti apa–apa yang natinya akan saya terapkan kepada anak murid saya. Sekarang yang terjadi di Fakultas KIP hanya perbaikan administrasi saja, percepatan pengisian LIRS salah satu contoh, sedangkan untuk sarana belajar seperti tempat balajar atau ruangan kelas saja masih ada yang bocor, spidol ketika waktu belajar tidak ada serta penghapus papan tulis itu masih mencari ketika belajar. Dan saya harapkan bukan hanya administrasi yang harus diurus oleh fakultas tetapi juga sarana untuk belajar, sekarang zamannya teknologi canggih, sudah saatnya untuk memakai CPU dan laptop serta teknologi lainnya untuk sarana belajar mengajar di kelas, agar mahasiswa dapat dengan mudah untuk belajar dan mengambil data tersebut

Nama dan alamat ada pada Redaksi

UKM Ku Perlu Diperhatikan ! Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang merupakan wadah untuk pengembangan dan penyaluran aspirasi diri pribadi mahasiswa secara minat dan bakat dan juga sebagai tempat pengkritisan dan pemikiran yang bersifat membangun dan berideologisme untuk pemrosesan belajar dalam sebuah organisasi. Harus kita akui peran UKM dalam sebuah universitas maupun di tingkat fakultas menjadi suatu sumber peranan yang penting, tanpa UKM kehidupan dalam dunia mahasiswa untuk berkarya tidak akan kelihatan hanya bagaikan bayangan semu dari sebuah universitas. Tapi mengenai kondisi dan keadaan dari pondok UKM yang ada sekarang ini, sungguh memprihatinkan dan memilukan bagi yang aktif pada UKM tersebut. Sungguh ironis ketika UKM ini menunggu kalimat By the it information on factoring setiap kali dipermasalahkan untuk menuntut hak perawatan dan perbaikan dari sebuah bangunan UKM. Saya hanya menginginkan tidak adanya permasalahan yang semakin hari terus menjadi pikiran bagi kaum intelektual untuk mengeluarkan aspirasi diri pribadi secara progresif, revolusioner, dan dinamis. Untuk itu marilah kita (UKM dan pihak rektorat) bersama-sama mencari solusi dan melakukan penyatuan pikiran untuk perkembangan UKM dan mengadakan pertemuan dalam satu tekad dengan rasa kepedulian dan kesolidaritasan, sehingga hal ini dapat terwujud bagi membangun Universitas Tanjungpura yang kedepannnya nanti. [] Rudilamsyah, mahasiswa Fakultas Ekonomi

buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Nina Soraya Sekretaris Umum : Iskandar Bendahara Umum : Aini Sulastri Divisi PSDM : Syf Ratih KD,Tantra, Azwar Divisi Litbang : Maya N Sari, Fitri J, Ratna M Harahap

2

Divisi Penerbitan : Henny Kristina, Heri Usman, Sri Pujiani Divisi Penyiaran : Mulfi H, Sudardi, Ashri I, Dwi Lestiana Divisi Perusahaan : Rianto, Bahasmiati, Ahdika F, Mahmud Pemimpin Redaksi : Ratna M Harahap Sekretaris Redaksi :

Edisi 32 / Thn.VIII/ Mei/ 2006

Surat Pembaca

Ada Yang Belum Mandi ....

Dwi Lestiana Redaktur : Henny, Nina, si Is Artistik : Iskandar Reporter : Dwi, Geno, Sri, Mahmud, Fitri, Sudardi Fotografer : Dwi,Geno Lay outer : siIs-Ripal/Heri

REDAKSI Alamat Redaksi : Jl. Daya Nasional Gedung MKDU Untan, Telepon : (0561) 7068136. e-mail : lpm_untan@yahoo.com atau is_data@plasa.com, Percetakan : Artha Grafistama, Jl. Pahlawan No. 20 Telp.(0561) 765000-766000 (Isi diluar tanggung jawab penerbit).

Redaksi menerima tulisan berupa opini,essai, laporan kegiatan kampus, puisi, cerpen,hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.


OpiniCivitas Civitas Opini

Perlu Kesadaran Untuk Membenahi Pendidikan Kalbar D

ALAM membangun peradaban suatu bangsa, modal utamanya adalah pendidikan. Melalui pendidikan yang baiklah, akan memunculkan anak-anak bangsa yang cerdas dan memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa itu sendiri. Usaha meningkatkan kualitas pendidikan merupakan upaya membangun kualitas bangsa. Dengan kualitas bangsa yang handal, akan mampu bersaing di era yang kompetitif sekarang ini. Untuk itulah diperlukan kemampuan bersikap dan dengan penuh kesadaran untuk mengembangkan pendidikan. Kemampuan bersikap di sini, mengharuskan seluruh instansiinstansi pemerintah maupun stakeholder terkait untuk konsisten dalam memperbaiki sektor pendidikan ini. Masing-masing instansi-instansi pemerintah harus tetap mampu menjadi kontribusi yang baik. Bukannya lain presiden, lain menteri, lain juga kebijakan yang dikeluarkan. Propinsi Kalimantan Barat, tingkat pendidikan saat ini sangatlah terpuruk. Pada Indeks Pembangunan Sumber Daya Manusianya saja, posisi Kalbar berada pada level 27 dari 32 propinsi yang ada di Indonesia, dengan skor 62,50. Ini dikarenakan, kemampuan bersikap dan kesadaran mereka yang semakin berkurang terhadap instansi-instansi pemerintah yang menanganinya (dunia pendidikan), menyebabkan terpuruknya dunia pendidikan kita sekarang ini. Memang benar, kemampuan bersikap dan kesadaran yang tidak serius dalam pendidikan daerah kita ini mengakibatkan 224648 anak usia 7-15 tahun belum mendapatkan layanan pendidikan. Bahkan persentase penduduk kurang lebih (9,7%), buta huruf, yang usianya 15 tahun. (Berbagai sumber : AP Post, Kompas, dll). Hancurnya pendidikan di Kalimantan Barat tampaknya dianggap hal yang biasa saja oleh ‘pelaku’ yang mempunyai kebijakan terhadap dunia pendidikan. Buk-

Oleh HERI USMAN*

tinya, anggaran pendidikan daerah ini belum mencapai 20 % seperti yang diberitakan oleh berbagai media baru-baru ini (Kompas, Metro TV). Anehnya lagi, para penguasa daerah ini menaikkan tunjangannya. Inilah yang dikatakan pembohongan publik, kalau APBD kita tidak cukup untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20%, mengapa tunjangan seperti itu dapat dinaikkan? Jelaslah, instansi-intansi pemerintah yang terkait terhadap dunia pendidikan dan para penentu kebijakan tidak mempunyai kemampuan bersikap dengan kesadaran, sehingga kondisi ruang kelas yang rusak berat untuk tingkat SD mencapai 23,89% dan untuk tingkat SMP ruang kelas yang rusak berat 2,23% serta SMA 1,79% tidak diperbaiki. Persoalan lain yang menjadi benang kusut di daerah kita ini adalah cara dan upaya rekruitmen yang dilakukan instansiinstansi pemerintah terhadap para tenaga pendidik. Banyaknya tenaga pendidik yang menumpuk di perkotaan, juga menjadi penyebab masih banyaknya daerah yang masih tertinggal. Belum lagi kondisi kualifikasi akademik guru disemua jenjang pendidikan, terdapat 75 % ketidaksesuaian latar belakang pendidikan guru SMP dan SMA di Kalbar. Apakah pendidikan daerah kita ini bisa maju dengan background pendidiknya

seperti itu? Belum lagi, kesejahteraan guru yang pasti harus ditingkatkan, inilah yang lebih tepat, supaya bisa berkonsentrasi atas profesi yang mereka emban. Karena profesi guru adalah bagian/unsur untuk mengembangkan SDM orang lain. Sungguh sulit untuk dikatakan masuk akal, para pendidik berusaha untuk memberikan kualitas pada diri orang lain sedangkan kualitas kehidupan dirinya sendiri sebagai guru saja pas-pasan, bahkan kadang kekurangan. Ditambah lagi banyaknya saudara-saudara kita yang ingin berpendidikan tapi tidak mempunyai sarana pendukung untuk belajar. Kembali ke bangsa ini, sektor pendidikan merupakan komponen yang sangat vital dari sebuah bangsa. Jadi merupakan hal yang wajar jika di era Globalisasi sekarang ini, sangat menuntut kita untuk meningkatkan SDM. Kita sadar betul bahwa Kalbar adalah bagian dari sebuah kesatuan dari bangsa Indonesia. Ketika SDM Kalbar berkualitas maka tidak menutup kemungkinan untuk membawa bangsa ini menjadi maju dan bisa berkompetisi dengan daerah atau bahkan bangsa lain. Paling tidak untuk masyarakatnya sendiri. Jika saja hal ini dapat diwujudkan, bukannya tidak mungkin Kalbar akan dijadikan objek percontohan bagi daerah lain. Dan merupakan hal yang tak terbantahkan dalam membangun dunia pendidikan sekarang yang sedang terpuruk, agar masingmasing pihak mengontrol pendidikan di daerah kita ini. Dan yang terpenting adalah meningkatkan komitmen untuk memajukan kualitas pendidikan. Yaitu dengan melakukan pemanfaatan anggaran pendidikan secara efektif dan efisien. Karena yang sering terjadi selama ini adalah disalokasi (salah sasaran) dalam pembiayaan pendidikan. *)Penulis Mahasiswa FKIP Untan, aktif di KDA (Kelompok Diskusi Alternatif) juga di LPM Untan. Edisi 32 / Thn.VIII/ Mei/ 2006

3


Headline Civitas

Liga Bola Mahasiswa Menjadi Liga Massa Oleh AZWAR GOL penentu kemenangan tim Fakultas Hukum atas Teknik Untan dalam Kompetisi Sepak Bola Mahasiswa (KSBM) Khatulistiwa 2006 yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan ini menyudahi perlawanan sengit dan “perang “ yel-yel antara suporter fanatik dari dua kesebelasan yang bertanding dengan skor akhir 3-2.

SAYANGNYA, buntut dari kemenangan ini adalah berakhir dengan penyerangan pada kampus pemenang KSBM tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (25/5) sore itu memang sangat mengejutkan, diyakini penyebabnya adalah kemarahan para suporter yang tidak terbendung akibat saling melempar seruan-seruan dan pernakpernik yang memancing serta membakar emosi ketika di lapangan. Akibat dari pertikaian ini, kedua kampus sama-sama menderita kerugian baik yang sifatnya materil seperti pecahnya kaca jendela dan pintu, rusaknya satu sekretariat UKM, serta beberapa buah kendaraan milik mahasiswa. Selain itu kerugian dalam bentuk fisik tidak terhindari, hal ini menimpa pada diri empat mahasiswa. Puncaknya pada Senin (29/5) siang nyaris timbul pertikaian, tapi aksi ini telah tercium oleh aparat keamanan yang menengahi bentrokan tersebut. Bahkan Kapolda Kalbar, Nanan Soekarna turut turun ke lapangan melerai. Upaya dari pihak kepolisian untuk meredam ketegangan dua kelompok ini ditangani langsung oleh tim gabu-

4

Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

ngan dari kepolisian Sektor Selatan dan juga Poltabes Pontianak Kota. WakapoltabesPontianak, AKBP Andi Musa turun langsung memberikan arahan yang isinya meminta kedua belah pihak untuk tetap bersabar. Hal ini ditanggapi positif oleh kedua belah pihak, ditandai dengan adanya jaminan dari senior masing-masing fakultas yang bertikai untuk tidak bertindak lebih lanjut. Ditanya mengenai kemungkinan kasus ini akan ditangani secara hukum, alumni Fisipol Untan ini mengatakan untuk mempercayakan sepenuhnya mekanisme penyelesaian kasus ini kepada intern universitas, dalam hal ini pihak rektorat. “Tapi bila ada laporan yang masuk tentunya akan kita proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” tambahnya mengakhiri pembicaraan. Semua pihak tentunya sangat menyayangkan peristiwa ini, termasuk Purek III Untan, Maryadi Ramsyah Bakrie yang ditemui kru MIUN di tempat kejadian menyatakan hal ini sudah mengacu kepada tindak pidana karena sudah mengarah kepada pengrusakan, namun bapak yang cukup akrab

dengan mahasiswa ini menghimbau agar kedua belah pihak dapat saling menahan diri agar situasi tidak bertambah parah sambil menunggu tindakan yang akan diambil oleh pihak rektorat. Hal serupa juga diungkapkan oleh Usman Gani, Pudek III Fakultas Teknik. Menurutnya di tingkat elite fakultas tidak ada masalah yang harus diselesaikan karena pada dasarnya mereka sepakat perdamaian bagi kedua belah pihak.Baginya, pihak yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah mahasiswa itu sendiri karena konflik yang terjadi sesungguhnya adalah konflik horizontal dimana mahasiswalah sebagai pihak yang perlu untuk diakomodir segala permasalahannya sehingga kejadian ini tidak akan berlarut-larut bahkan mungkin bisa saja tidak akan pernah terjadi lagi. “Hanya saja ada dua hal yang perlu saya tekankan pada saat ini yaitu pertama kepada kedua kubu mahasiswa untuk saling bertahan dan mengendalikan massanya agar tidak memulai sesuatu yang sekiranya dapat menambah panas suasana, selain itu diharapkan ada pihak yang bersedia menjadi penengah atau fasilitator bagi pertemuan antara para elite Fakultas Teknik dan Hukum, serta mahasiswa Teknik dan juga mahasiswa Hukum untuk menyelesaikan masalah ini”. Dikalangan mahasiswa sendiri, komentar dan pernyataan yang dilontarkan pun cukup beragam. Namun sebagian besar sangat menyesalkan terjadinya insiden ini dan menghendaki agar kalangan-kalangan yang berseteru segera mengusahakan pemecahan permasalahan dengan kepala dingin dan tidak mengedepankan emosi dan sentimen fakultas masing-masing saja agar tercipta suasana yang kondusif dan mendukung untuk terwujudnya sebuah persatuan yang tentu saja berdampak positif dalam menunjang proses belajar mengajar. Serta kegiatan-kegiatan lain yang berguna dalam pengembangan kapasitas sebagai mahasiswa di satu-satunya kampus


Headline Civitas universitas negeri provinsi yang berada di belahan barat bumi Kalimantan ini. Tak ayal lagi peristiwa ini tentu saja menguak kembali luka lama, sejarah hitam kedua kampus dalam masalah hubungan baik. Pertikaian yang sama pernah beberapa kali terjadi, seolaholah mengindikasikan bahwa perdamaian yang selama ini mulai tercipta dari kedua pihak ternyata belum sepenuhnya dijalankan. Padahal pada pertemuan terakhir di pertengahan tahun 2003, saat diselenggarakannya kegiatan penyambutan mahasiswa baru yang juga berakhir dengan bentrokan, telah diperoleh kata sepakat untuk mengakhiri ketegangan. Rektorat Mediasi Pertemuan Antara Dua Belah Pihak Setelah sempat tertunda beberapa jam akibat adanya salah pengertian antara rektor dengan stafnya dalam memfasilitasi penyelesaian masalah yang melibatkan kampus yang identik dengan warna merah dan warna biru langit itu, akhirnya pertemuan pada Senin (29/5) sore dengan dihadiri tidak hanya pihak terkait tapi juga seluruh BEM ditataran fakultas dan Untan, dekan serta pudek III . Pertemuan yang sedianya diselenggarakan pada pagi harinya itu membicarakan mengenai jalan tengah yang akan ditempuh guna mencapai kesepakatan damai antara kedua belah pihak. Pada kesempatan ini Fakultas Hukum diwakili oleh Ketua BEM, Idit, sedangkan Awang(Presma Tekhnik) yang tampak didampingi oleh beberapa orang seniornya mewakili fakultas yang terletak berseberangan dengan kampus Pertanian itu, berlang-

POJOK Tahun depan KampanyePemilihan Presma-Wapresma menggunakan sistem partai. Asal jangan jadi bulan-bulanan partai beneran aja .... Perusahaan rokok mensponsori Dies Natalies Untan yang ke 47. Kita ini krisis keuangan, jadi tak peduli mana yang etis dan yang tidak, yang penting kegiatan lancar, it’s oke !

sung dalam kondisi yang cukup cair, walaupun sempat terjadi perbedaan pendapat terutama ketika pembicaraan mulai memasuki pada inti dari permasalahan, yaitu pencarian jalan keluar yang terbaik dari kasus yang cukup menarik minat mahasiswamahasiswa dari fakultas lain untuk menantikan kelanjutan dari kisah “reuni” dua “sahabat lama” yang berlangsung dua hari sebelum bencana gempa tektonik melanda wilayah Jogjakarta dan sekitarnya ini. Dari pihak mahasiswa Hukum menekankan pada proses hukum serta ganti rugi terhadap pihaknya berkaitan dengan kasus pengrusakan yang terjadi, sementara dipihak lain mahasiswa Teknik lebih menitikbertakan pada kepastian status kedua belah pihak yang menurutnya masih rancu sehingga tentu saja kurang bisa dijadikan sebagai jaminan tidak adanya aksi-aksi yang kurang diinginkan oleh semua pihak sehingga perlu untuk diupayakan kepastiannya. Namun semua itu dapat diketengahi rektor dengan jaminan untuk mengkondusifkan situasi dikedua fakultas dimana rektor meminta untuk mengurangi konsentrasi massa di kampus dan hal tersebut disepakati oleh dekan kedua fakultas. Pertemuan yang berakhir sekitar pukul 17.30 itu terkesan kurang menghasilkan banyak hal, kecuali adanya kesepakatan untuk menindaklanjuti permasalahan pengrusakan yang dilakukan oleh kedua belah pihak terhadap sarana fisik yang disebutkan oleh rektor sebagai asset negara serta pengusutan kasus pemukulan dan penganiayaan yang juga ditenggarai oleh “kader-kader intelektual” kedua fakultas dan juga adanya jaminan dari masing-masing petinggi kedua kampus untuk mengurangi konsentrasi

massa yang terdapat diwilayahnya. Namun dari pertemuan tersebut terdapat sebuah wacana menarik yang mungkin perlu dipikirkan oleh semua pihak terutama yang berwenang mengurusi masalah kemahasiswaan, yaitu mengenai usul yang dikemukakan oleh Prof Slamet Rahadjo SH, Dekan Fakultas Hukum, untuk mengkolaborasikan mahasiswa dalam suatu perlombaan ataupun pertandingan yang diselenggarakan oleh yang bersifat lokal maupun yang bersifat nasional, sehingga nantinya nama yang diemban oleh mahasiswa bukanlah nama fakultas saja namun juga mengusung bendera almamater,yaitu Universitas Tanjungpura.Hal yang sama juga pernah terungkap dari pemikiran Pudek III Fakultas Teknik, Usman Gani dimana ia mengatakan bahwa mungkin sudah saatnya Untan memiliki lembaga seni yang dapat menampung kreativitas dan potensi seni seluruh mahasiswa di tingkat universitas, tanpa memandang dari fakultas mana ia berasal sehingga diharapkan suatu saat persatuan dan kesatuan mahasiswa dapat diwujudkan. Hal tersebut tentu saja bukan suatu hal yang mustahil, karena setelah melihat seringnya terjadi peristiwa-peristiwa serupa dalam beberapa tahun belakangan ini, bukan tak mungkin pihak rektorat akan mencari metode yang tepat untuk meminimalisir bibit-bibit konflik. Pengamatan kru MIUN selama mengikuti pertemuan di rektorat lantai II, dimana pada dasarnya mahasiswa kedua fakultas sudah memiliki itikad baik berkaitan dengan keinginan untuk menyelesaikan permasalahan dan juga permusuhan yang telah berlangsung cukup lama itu hanya saja belum ditemukan kata sepakat mengenai mekanisme yang akan digunakan.[]

Klarifikasi Pemberitaan dari BEM Fak Teknik pada bulletin Civitas Mimbar Untan edisi 31/Thn.VIII/April 2006 tentang “Teknik Boikot Pemirama.” Dengan ini kami menegaskan bahwa kesepakatan antara BEM dan UKMUKM pada tanggal 25 Maret 2006 yaitu menyepakati bahwa Teknik tidak mendukung salah satu pasangan calon akan tetapi Pemirama Untan akan tetap berlangsung dengan ketentuan tidak ada propaganda dan pengerahan massa. Kenyataannya pada hari “H,” Pemirama Untan terdapat selebaranselebaran yang isinya berupa propaganda dan adanya penggiringan massa pada lokasi TPS. Sesuai dengan kesepakatan pada hari sabtu (25/3) maka kami selaku pengurus BEM dan UKM menyepakati untuk tidak melanjutkan Pemirama Untan di Fakultas Teknik. Kesepakatan untuk tidak melanjutkan Pemirama Untan ini kami konfirmasikan dengan BEM dan MPM serta KPRM Untan, sehingga dari kesepakatan itu surat suara dari pemilih itu dianggap tidak sah/ diakui. Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

5


Liputan Civitas Headline Civitas

Nilai KKN Menuai Protes DITEMPELNYA pengumuman nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2006 mahasiswa Fakultas Pertanian Untan pada 29/2 kemarin memberikan harapan terhadap nilai yang akan diperoleh. Namun sangat disayangkan, ada beberapa kelompok KKN yang memperoleh nilai B dan C. Hal tersebut menuai protes dari sebagian mahasiswa peserta KKN karena merasa tidak puas dan kecewa atas nilai yang dikeluarkan oleh Tim Pengelola KKN. ENGAN dikeluarkannya nilai KKN, ternyata meninggalkan beberapa pertanyaan dari mahasiswa peserta KKN dan masyarakat kampus Pertanian. Bahkan rumor negatif terhadap nilai KKN sempat menghangat karena kegiatan lapangan ini sebelumnya tidak pernah memperoleh nilai B dan C. Beragam opini publik Pertanian mulai terbentuk setelah beberapa mahasiswa peserta KKN melancarkan aksi protesnya. Menurut Nopan Dwikasni, mahasiswa peserta KKN daerah Sungai Deras berpendapat, nilai yang diperoleh tidak sesuai dengan pengorbanan dirinya dan teman-temannya di lapangan. Lagipula hanya kelompok mereka yang memperoleh nilai B dan C serta kelompok Sungai Nipah yang nilainya B semua. Sedangkan kelompok lain (Sungai Ambawang dan Rasau Jaya-red) tidak demikian. “Tampaknya ada yang tidak beres dengan kelompok kami,” ujar Nopan. Tidak hanya mahasiswa peserta KKN saja yang merasa kecewa, Tammie, mahasiswa Agrobisnis Pertanian 2002 merasakan ada keanehan terhadap nilai yang diperoleh peserta KKN. Menurutnya ini tidak adil, karena nilai tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka keluarkan di lapangan, seperti waktu, tenaga, bahkan finansial yang lumayan besar. “Kegiatan ini kan hanya dua SKS, jadi tidak sesuailah,” ujarnya. Klarifikasi Nilai KKN Rasa tidak puas dan penasaran terhadap nilai yang diperoleh, mereka (peserta

D

6

Oleh MAYA NURINDAH SARI KKN-red) lampiaskan dengan menanyakan kepada Ketua Tim Pengelola KKN Fakultas Pertanian Untan, Warganda. Selain itu, mereka juga berdiskusi dengan masyarakat di desa Sungai Deras untuk menggalang dukungan jika yang mereka inginkan tidak terpenuhi. Menurut Nopan, Iman selaku DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) Sungai Deras menyatakan bahwa laporan kami tidak sistematis, tidak ada lampiran, notebook, bahkan coretan-coretan rapat KKN pun tidak ada.

“Intinya ada beberapa komponen yang diminta tidak dilampirkan,” ujar mahasiswa Agribisnis berkacamata minus ini. Hal ini dibenarkan oleh Warganda, menurutnya terdapat kelalaian dari kedua belah pihak, yakni mahasiswa dan DPL. Laporan kelompok mereka sedikit bermasalah karena ada dua laporan yaitu laporan awal dan laporan pelengkap. “Nah, laporan pelengkap inilah yang tercecer, karena mereka tidak menyerahkan langsung ke DPLnya, tapi di-

letakkan saja di meja kerja,” tukasnya. Laporan yang tercecer ini tidak ditemukan sampai nilai keluar. Jadi nilai C tak pelak mereka dapatkan. “Wajar kan mereka memperoleh nilai C karena ada beberapa komponen nilai yang kosong, dan itu yang terdapat di laporan yang tercecer,” ujar staf pengajar Faperta Untan rinci. Katanya lagi, peluang untuk merubah nilai C yang telah dikeluarkan tetap ada. Tapi nilainya tidak tahu, karena akan dikeluarkan bersamaan dengan sertifikat Setelah mendapat statement (kejelasan-red) dari Ketua Pengelola mengenai nilai yang dapat dirubah, mereka (peserta KKN-red) yang melancarkan klarifikasi hanya bisa menunggu sampai awal Juni. “Kami hanya bisa pasrah dengan nilai yang dirubah, meski nilai kami tidak C lagi, kami harap nilai tersebut mewakili pengorbanan kami selama di lapangan,” papar Nopan mengenai nilai KKN yang keluar.[].

Banyak PR bagi Pengurus BEM Untan BERTEMPAT di gedung Oleh RATNA HARAHAP kampus yang mubazir, peninRektorat lantai 3 Kamis (18/ jauan ulang lembaga kema5) berlangsung pengukuhan pengurus BEM hasiswaan, masalah plaza MTQ, serta mengaUntan periode 2006/2007. Pengukuhan di- wal Pemilihan Rektor,” jelasnya. lakukan oleh Rektor Untan, Asniar Ismail Persoalan eksternal juga tak luput dari berdasarkan Surat Keputusan no 471/J22/ agenda BEM periode ini. Sesuai dengan visi KN/2006 tentang penetapan Presma dan dan misi Galih-Bima saat mencalonkan diri menWapresma Untan periode 2006/2007. jadi Presma dan Wapresma diantaranya, meAcara yang bertemakan “Quo Vadis In- ngawal RUU APP, pencerdasan politik masyatelektual Mahasiswa Dalam Transisi Demok- rakat, serta isu-isu lokal maupun nasional yang rasi” ini dihadiri Purek, Dekan, Pudek serta sedang berkembang. UKM-UKM tingkat Universitas. Asniar yang ditemui setelah pengukuhan, Galih yang ditemui kru MIUN memapar- mengungkapkan dalam pemilihan periode kali kan program kerjanya setahun mendatang. ini berjalan cukup lancar dan ia berharap pe“Kedepannya BEM akan menyikapi persoa- milihan BEM Untan dari tahun ke tahun semalan kampus yang harus di advokasi baik per- kin baik. “Semoga BEM dapat menjalankan soalan dana lembaga mahasiswa, fasilitas tugasnya dengan baik,” harapnya.[]

Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006


Liputan Civitas Liputan Civitas

Tidak Ada Demokrasi di Untan Oleh GENOVEVA

Sampaikan Aspirasi : Beberapa elemen mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi dan Transparansi menuntut agar Pemilihan Rektor (Pilrek) Untan tahun 2007 nanti diselenggarakan secara langsung.

PEMILIHAN Rektor (Pilrek) periode 2007-2011 pada penghujung tahun ini akan menggunakan sistem semi langsung, dimana bakal calon dipilih oleh dosen selanjutnya diajukan ke senat. Tiga suara terbanyak diajukan ke Menteri Pendidikan Nasional untuk diputuskan siapa yang akan menjadi Rektor Untan mendatang. Hal ini ditanggapi oleh Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi dan Transparansi yang beberapa waktu lalu mengajukan tatib pemilihan rektor versi mahasiswa menyatakan akan menga-

dakan dialog dengan Senat Untan terkait public hearing yang diajukan. “Kami sudah bertemu dengan Ketua Senat dan beberapa anggotanya untuk mengagendakan dialog mengenai public hearing, rencananya pada awal Juni nanti,” ungkap Agus Setiadi, anggota Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi dan Transparansi. Menurutnya dipilihnya awal Juni dikarenakan senat yang terdiri dari unsur pimpinan fakultas serta universitas ini masih terfokus pada kegiatan Dies Natalis.

Fakultas Kedokteran

Menggali Potensi dari Kekayaan Alam “LULUSAN Fakultas Kedokteran Untan harus bisa mengembangkan riset dan membuat produk dari hasil riset tersebut,” kata dr Minaldi Rasmin, Dekan FK UI pada peletakan batu pertama pembangunan FK Untan (2/5). Keanekaragaman flora dan fauna di Kalbar menurutnya merupakan potensi bagi FK Untan untuk melakukan riset. “Sehingga etnofarmakologi sudah tepat untuk dikembangkan di Untan,” katanya. Dikatakannya posisi Kalbar yang bertetangga dengan Malaysia merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Untan. “Dalam hal vaksin dan obat-obatan jangan sampai kita beli dari luar,” ujarnya. Pendidikan kedokteran dilakukan

Oleh FITRI JUNIA dengan basis akademik yang menggunakan sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi-red). Dikatakannya dokter Indonesia harus mempunyai 10 kompetensi, 7 kompetensi dasar, diantaranya komunikatif dan empatik dan 3 kompetensi tambahan yang sesuai dengan masing-masing universitas. “Cetaklah dokter bukan dilihat dari SPPnya tapi karena mutu dan kesejawatannya,” harapnya. Kedokteran menurutnya merupakan pendidikan paling mahal karena berhubungan dengan manusia dan riset. “Kalau bisa gratis, karena mengarah pada kemanusiaan. Dokter yang baik yaitu dokter yang berhutang pada kemanusiaan.” Menelan Dana 75 M Dengan lahan seluas 4,5 Ha gedung

Ia juga menambahkan, agenda dialog ini sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap Untan, karena pemilihan tersebut dilakukan oleh dosen dan langsung diserahkan ke senat tanpa melibatkan mahasiswa dan tidak melalui penjaringan serta uji kompetensi dari pihak senat. “Pentingnya memasukkan unsur penjaringan bagi calon rektor mendatang karena yang diperlukan adalah rektor yang siap menghadapi segala tantangan Untan ke depan bukan hanya rektor yang lulus administrasi saja, tapi juga mempunyai kompetensi menjadikan Untan lebih baik”, ungkapnya lagi. Sementara Galih, Presma Untan mengatakan Pemilihan Rektor ini bukan hanya milik kaum elit saja, melainkan perlu keterlibatan mahasiswa khususnya dalam pengawasan tatib. “Tapi, yang kita lihat justru tertutup untuk kalangan mahasiswa,” papar mahasiswa FKIP ini. Ia juga menambahkan selama ini Untan masih menggunakan gaya-gaya lama menyangkut persoalan-persoalan yang terjadi. “Padahal sudah saatnya masalah yang terjadi itu dibuka karena kampus harus menjadi pemancar demokrasi. Tapi, pihak rektorat belum menganggap mahasiswa sebagai jantung dalam suatu tugu sebuah universitas,” ujarnya mengakhiri pembicaraan [] “Cetaklah dokter bukan dilihat dari SPPnya tapi karena mutu dan kesejawatannya” Fakultas Kedokteran akan dibangun dengan arsitektur yang mencirikan 3 etnis utama di Kalbar, Melayu, Dayak dan Cina. Ini diungkapkan I Nyoman Sudani, ketua panitia pembangunan (2/5). Pembangunan FK ini menurut Gubernur Kalbar, Usman Ja’far akan memakan waktu selama 5 tahun dengan dana sebesar 75 milyar. “35 milyar untuk pembangunan fisik, 20 milyar peralatan laboratorium, dan 20 milyar lagi untuk membayar jasa UI,” jelasnya. Tiap kabupaten dihimbau untuk memberikan dana 15 milyar setahunnya (total dari semua kabupaten/kotared). “Ini merupakan komitmen dan kewajiban bersama karena mereka (kabupaten/kota-red) mengirimkan 3 orang calon dokternya,” kata Usman.[]. Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

7


Liputan Civitas MALANG tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mungkin itulah ungkapan pepatah yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang dialami Evi Novianti, salah seorang mahasiswa yang tiap kali mengikuti kejuaraan karate ini, mengalami hal pahit dengan kecelakaan pertengahan April lalu. Kecelakaan tersebut menyisakan memar pada tulang rusuknya yang kerap terasa perih ketika menggerakkan tubuhnya. Namun, ketika mengajukan hak klaim, ia tersandung dengan minimnya informasi mengenai asuransi.”Terus terang saya merasa kebingungan untuk memenuhi persyaratan pengajuan klaim ini, memang tidak hanya saya saja yang mengurusi persyaratan pengklaiman ini, saya juga dibantu dengan Ketua Kopma, Juni Wardana,” keluhnya kepada Miun, Rabu (17/5) lalu. “Lagi pula Asuransi Jasindo inikan merupakan perusahaan jasa, jadi yang terpenting dari perusahaan jasa ini adalah kepuasan pengguna jasa. Mengapa sih pihak rektorat tetap menggunakan asuransi ini, kalau telah terbukti bahwa perusahaan ini mengundang ketidakpuasan pengguna jasanya,” ungkap Evi seraya mengkritisi. Hal serupa dialami Pamuji, mantan ketua BEM FKIP yang menderita patah tulang di lengannya, akibat kecelakaan saat perjalanan pulang bersama Imam Wahyudi, temannya. Selang tiga hari setelah kecelakaan, Imam berusaha mengajukan klaim asuransi atas kecelakaan yang dialami Pamuji. Ia tertahan dengan adanya sebuah kalimat yang tertera di brosur: “Pengklaiman hanya dapat dilakukan tiga hari setelah kecelakan berlangsung.” “Masalahnya tuh, itu adalah hari terakhir. Jadi tak sempat lagi buat nguruskan surat-surat. Apalagi kecelakaannya di Bengkayang,” kata ketua HMJ P.IPS FKIP Untan ini. Selain korban yang belum mendapatkan pembayaran tersebut, terdapat pula klaim yang telah dibayarkan yaitu klaim atas mahasiswa Fisip dan mahasiswa Kehutanan. Kurangnya sosialisasi dan pelayanan yang kurang memuaskan dari pihak Jasindo menyebabkan Juni Wardana menyampaikan kritiknya. “Intinya ndak usah ada asuransi kalo’ hanya rektorat jak yang tahu,” tegas Juni. Tetap dipertahankan Asuransi Jasindo merupakan salah satu jenis asuransi kecelakaan yang sejak Agustus 2002 lalu, menjalin kerja sama dengan Universitas Tanjungpura. Hubungan ini diperpanjang hingga Agustus 2007 mendatang.

8

Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

Menyibak Problematika Asuransi di Untan

Oleh SRI PUJIANI “Kami tetap menjalin kerja sama dengan Asuransi Jasindo, karena preminya hanya Rp 4.250. Jumlah tersebut lebih murah apabila dibandingkan dengan lima asuransi lain,” kata Suyono Sadeli, Kabag Kemahasiswaan Untan. Menurutnya pembayaran untuk korban kecelakaan sudah ditetapkan oleh pihak Jasindo. “Kalau mengenai pembayaran klaim bagi korban meninggal akan mendapatkan Rp 2.000. 000. Sedangkan untuk korban yang menderita cacat tetap memperoleh dana Rp 4.000.000. Selain itu, untuk biaya pengobatan akan mendapatkan Rp 750.000, bahkan jika meninggal normal juga akan mendapatkan Rp 500.000,” jelasnya. Dokumen–dokumen yang harus dilengkapi bagi korban luka berat/ ringan untuk mempercepat proses penyelesaian klaim berupa copy polis/kartu peserta, keterangan kesehatan korban akibat kecelakaan, kwitansi asli dari Dokter/RS/Puskesmas/Apotik. Untuk korban meninggal harus ditambah surat keterangan kematian dari lurah atau rumah sakit dan laporan visum et revertum. Sedangkan dokumen–dokumen yang disediakan Jasindo adalah lapo-

ran klaim asuransi kecelakaan diri, laporan kerugian kecelakaan dan surat keterangan. Menanggapi keluhan mahasiswa mengenai kurangnya sosialisasi Asuransi Jasindo, Suyono mengatakan bahwa pihak rektorat telah menyebarkan brosur-brosur dengan melibatkan Pembantu Dekan III agar ditempel di tiap fakultas. ”Selain itu, juga bekerja sama dengan pihak BEM Untan untuk mensosialisasikan hal tersebut lebih lanjut. Namun, dikarenakan masa jabatan BEM Untan hanya satu tahun, maka sosialisasinya juga tidak begitu meluas kepada seluruh mahasiswa Untan,” katanya. Mengenai kasus mahasiswa FKIP, Pamuji, Suyono mengatakan, “ Untuk masalah itu, ia tidak perlu khawatir karena batas waktu pengajuan klaim dapat diperpanjang sesuai dengan keperluan, tidak hanya pada apa yang tertera di brosur pengajuan klaim.” Suyono mengatakan bahwa pengajuan klaim ini tidaklah begitu sulit, asal cepat melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola yang bertempat di BAAK lantai 3. “Kalau mengenai birokrasi, persyaratan tersebut sangatlah diperlukan untuk membuktikan bahwa pengajuan klaim itu bukanlah hasil rekayasa belaka, dan merupakan ketentuan dari badan usaha per-


Liputan Civitas

sero ini,” tambahnya. “Mengenai kualitas pelayanan asuransi, saya rasa telah cukup memuaskan. Yang penting persyaratannya dapat terpenuhi tanpa memakan waktu lama. Kita juga mempertimbangkan kesanggupan mahasiswa, takut–

takut mahasiswa sendiri akan melakukan tindakan yang tidak diinginkan,” katanya. Tidak lama ini rektorat juga sedang mengusahakan perubahan prosedur hak klaim mahasiswa. “Selain hak klaim mengenai kecelakaan berkendara,

rektorat juga berupaya untuk mengusulkan pendapatan polis mengenai kecelakaan yang dikarenakan kegiatan olahraga serta kecelakaan ketika melakukan aksi atau berdemo yang digelar oleh mahasiswa,” katanya lagi.[]

Program Kongkrit Pembangunan Temajo SETELAH lama terbenam, rencana pembangunan Pulau Temajo dan sekitarnya sebagai kawasan pembangunan pelabuhan internasional kembali digaungkan. Seperti diketahui tahun 2000 yang lalu pemerintah daerah provinsi Kalimantan Barat menunjuk PT TBI untuk melanjutkan pembangunan pelabuhan Temajo dan kawasannya serta berminat dengan konsorsium konsultan PT Austraining Nusantara cs dan membiayai pelaksanan pembangunannya. Hal ini tercuat dalam seminar “Realisasi Pembangunan Pelabuhan Samudera Internasional Temajo; Antara Harapan dan Kenyataan” di rektorat lantai 3 Selasa, (9/ 5) yang dimotori Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Pontianak (Primakapon). Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini mantan Gubenur Kalbar, Aspar Aswin, Bupati Kabupaten Pontianak, Ir Agus Salim, Kepala Bapeda Kalbar Ir Farhan A Rasid MAg, Ketua DPRD Pontianak Ir Zulfadli.

Oleh HERI USMAN

Salah seorang pembicara, Ketua DPRD Ir Zulfadli memberikan saran kepada pemerintah provinsi sebagai leader, bersama Pemerintah Kabupaten dengan Pemerintah Pusat agar bersama-sama menyusun program yang kongkrit, untuk segera melanjutkan pembangunan pelabuhan Temajo, sehingga masyarakat melihat ada harapan bukan mimpi. Menurut Zulfadli, sangat penting pembangunan pelabuhan Temajo dari kajian apapun, dari kajian letak, teknis, dan semuanya. “Yang perlu kita tanyakan mulai kapan dan bagaimana cara kita untuk mewujudkan pelabuhan Temajo ini,” katanya. Sedangkan menurut Aspar Aswin, pihaknya sudah tiga kali bertemu dengan investor, namun belum ada kepastian karena melihat kondisi di Indonesia masih dipertanyakan oleh pihak luar, apakah Indonesia benarbenar aman seperti pemerintahannya, politiknya serta kebijakan-kebijakan, selama ini keadan tidak kondusif untuk iklim investasi di Indonesia. ”Siapa yang ingin memberikan modal suatu daerah kalau tidak ada jaminan investasi dalam bentuk peraturanperaturan, tidak ada jaminan keamanan dari pihak pemerintah daerah kabupaten serta pemerintah provinsi,” papar Aswin. Menurutnya, desain awal Temajo itu sudah dilakukan diskusi panjang di Kalimantan Barat sendiMegah : Spanduk Dies Natalies Untan yang ke 47 di spon- ri. Sampai ada pemsori oleh perusahaan Rokok terbesar yang terpampang di bandingan untuk pembangunan pelabundaran Untan.

buhan Temajo ini, seperti Telok Air dan Tanjung Gundul, dipilih Temajo. “Temajo tertunda dibangun memang benar, karena sekitar 20-an hektar pembebaskan lahan,” katanya. Menurut Farhan, pemerintah daerah ingin lebih serius dan konsisten dalam perencanaan dan dalam pelaksanaan pembangunan pelabuhan Temajo ini. Ini bukan dari dana APBD atau APBN tapi dari swasta. “Maka, bagaimana kita memberikan sistem pelayanan yang baik untuk investor. Dan sekarang tinggal bagaimana bersama-sama untuk membangun sinergis dari pemerintah provinsi dan pemerintah daerah untuk membangun pelabuhan Temajo ini. Yang penting, di sana senang disini senang, dimana-mana hatiku senang, dan maju tak gentar,” kata Sekda Kalbar ini. Sama halnya apa yang dikatakan Agus salim, bagaimana sama-sama untuk membangun Temajo, hasil yang sudah berjalan, tetap pada konsep semula, karena akan disiapkan Perda untuk pembangunan Temajo ini. “Kalau Perda ini sudah ditetapkan akan menjadi salah satu dukomen penting bagi Pak Aspar Aswin untuk lebih meyakinkan investor bahwa ini sudah kuat karena sudah ada Perdanya. Apalagi kalau sudah disahkan oleh pemerintah provinsi, supaya yang direncanakan kabupaten itu terintegrasi dengan program propinsi, karena perda itu bukan ditetapkan oleh propinsi tapi ditetapkan oleh kabupaten,” ujar Bupati Kabupaten Pontianak ini. Ditambahkannya bahwa sangat penting untuk memberikan dana untuk survei investigasi agar ada langkahlangkah lanjutan, dan melibatkan dari aspek masyarakat. Selama ini masyarakat menyambut positif. “Apabila 5 tahun ke depan ini belum jadi maka, pelabuhan pontianak menjadi sangat ramai,untuk mencegah hal ini, dibangunlah pelabuhan Temajo,” katanya. [] Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

9


Suplemen Civitas

Teater Competition Sanggar Kiprah MEMPERINGATI Hari Pendidikan Nasional, Sanggar Kiprah FKIP Untan mengadakan Lomba Teater Pelajar Se-Kota Pontianak 24-28 Mei lalu. Kegiatan yang bertemakan ’Dengan Student Theater Competition, Kita Tingkatkan Kreativitas Seni Teater Pelajar di Kota Pontianak’ ini merupakan gebrakan baru bagi Sanggar Kiprah setelah vakum selama 3 tahun. “Sekarang kami bangkit kembali untuk turut memajukan seni teater,” kata Dian Tri Lestari, Ketua Umum Sanggar Kiprah. “PERHATIAN pemerintah terhadap pendidikan masih kurang dan belum mempunyai visi yang jelas mau dibawa ke arah mana dan seperti apa pendidikan di Indonesia sehingga membuat semuanya menjadi tidak jelas”. Demikian salah satu poin yang terlontar dalam seminar pendidikan yang diusung Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI), Rabu (10/5). Dewi Alfianti, peserta dari Universitas Lambung Mangkurat mengungkapkan kurikulum yang tidak konsisten membuat guru dan mahasiswa ke-

Oleh FITRI JUNIA “Lomba ini terdiri atas 7 kategori yakni pemilihan aktor terbaik, aktris terbaik, aktor pembantu terbaik, aktris pembantu terbaik, sutradara terbaik, penyaji terbaik I, dan penyaji terbaik II,” kata Essupriyanto, Ketua Panitia. Acara yang dibuka pukul 17.00 WIB (24/5) diisi oleh 2 teater dari SMA YKIA yang berjudul Malin Kundang dan Ospek. Lomba ini diikuti oleh 6 grup teater pelajar Pontianak. Penutupan acara diadakan Sabtu

Pendidikan Tak Punya Arah dan Visi Oleh DWI LESTIANA pendidikan yang nantinya lulus menjadi guru sulit untuk beradaptasi dengan kurikulum yang selalu berganti-ganti. “Malahan ada kalimat yang menyebutkan bahwa ganti kabinet, ganti kurikulum, hal inilah yang harus diperhatikan pemerintah untuk mengambil kebijakan dalam pendidikan,” kata mahasiswa 2003 yang menjabat sebagai Ketua BEM FKIP Unlam ini. Zulfadli, Ketua DPRD yang menjadi

Pemilihan Langsung Ketua Ekstensi Hukum Oleh HENNY KRISTINA FAKULTAS Hukum Untan mengadakan pemilihan langsung ketua program S1 non reguler untuk yang pertama kalinya di Untan, Rabu (17/5) lalu. Acara ini dihadiri oleh dekan, dosen-dosen beserta karyawan kampus Hukum. “Berdasarkan SK Rektor Untan No. 512/J22/PP/2004 tentang tatib pemilihan calon program non reguler, maka untuk yang pertama kalinya diadakan pemilihan ini,” kata Ibrahim Sagio, ketua panitia, Kamis (18/5) siang. Pada tahap verifikasi, ditetapkan 5 orang bakal calon yang lolos yaitu Ahmad Zahari, Azron Muflikin, M.Noor Ramli, Khairul Sony, dan Sadeli. Masing-masing calon diberikan waktu 5 menit untuk menyampaikan visi dan misinya. Pemilihan yang dilakukan dengan dua kali putaran ini dimulai pukul 10.00. “Alhamdulillah semua berlangsung meriah dan kekeluargaan,” kata Ibrahim.

10

Edisi 32 /Thn.VIII/Mei/ 2006

(28/5) malam di Aula FKIP Untan dimeriahkan Arthur Band. Malam ini juga diumumkan 7 kategori terbaik hasil penilaian juri. Yunandar Mahanapi dan Eka Nursiya dinobatkan menjadi aktor dan aktris terbaik. Masing-masing berasal dari SMA Muhammadiyah 2 dan SMKN 3. Sementara aktor dan aktris pembantu terbaik diraih Primadeny dari SMA Muhammadiyah 2 dan Anton Priyadi dari SMKN 3. Penyaji terbaik pertama dari SMKN 3 sedangkan SMA Muhammadiyah 2 sebagai penyaji terbaik kedua.[].

Perhitungan suara dilakukan satu jam setelahnya dengan total suara yang masuk ke TPS 66 suara. Dari hasil perhitungan diperoleh 2 suara terbanyak yang masuk pada putaran kedua, Ahmad Zahari dan Azron Muflikin, masing-masing 30 dan 14 suara. Namun, setelah ditanyakan ketersediaan kepada kedua calon ini, Azron yang juga dosen mata kuliah Ilmu Negara mengundurkan diri pada pemilihan putaran kedua. “Prinsip kebersamaan yang kami tegakkan untuk satu tujuan yang sama, jadi bukan untuk memperoleh suatu jabatan,” ujarnya mengenai alasan pengunduran diri Azron. Dengan adanya pernyataan pengunduran diri tersebut maka Ahmad Zahari menjadi calon terpilih ketua program S1 non reguler Fakultas Hukum dan akan disahkan oleh Rektor Untan, Asniar Ismail. “Selambat-lambatnya 2 minggu setelah pelaksanaan rapat senat hasil ini diajukan ke Rektor,” kata Ibrahim. [].

pembicara mengatakan pengembangan kurikulum harus memperhatikan analisa kebutuhan, perencanaan, dan komponen kurikulum yang sesuai kebutuhan serta berorientasi pada masa depan. Dalam kesempatan itu ia juga menyinggung masalah kemitraan LPTK dengan pihak lain, dimana dalam pembentukan kompetensi guru dan tenaga kependidikan diperlukan keterlibatan berbagai pihak terkait diluar LPTK seperti sekolah, pemerintah daerah, industri, asosiasi profesi kependidikan dan lembaga lain yang relevan. “Diperlukan adanya Jaringan Kemitraan (Partnership Network) yang berprinsip keuntungan timbal balik,” katanya. Selain itu, mantan dosen Pertanian Untan ini juga menyampaikan program kemitraan LPTK dengan Pemda yang dapat ditempuh dengan cara pendidikan profesi guru dan pengembangan kurikulum. Pendidikan Profesi Guru ini terbagi menjadi 4 program, yaitu: Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi, Program Pendidikan Guru Bersambung, Program Tailor Made, dan Program Revalidasi Kompetensi Profesi. Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Ali Kadir menambahkan untuk membangun kemitraan dapat dilakukan dengan kerjasama kesetaraan program sesuai dengan kebutuhan dan peran masing-masing pihak, menggalang penyertaan dan partisipasi dana dari masyarakat, menciptakan hubungan yang sinergistik antara lembaga-lembaga yang ada, dan kerjasama yang saling melengkapi, memperkuat serta pembinaan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat.[].


Suplemen Civitas

Dies Natalis Untan ke 47 : Teleconference Pertama di Untan PADA acara syukuran Dies Natalis Universitas Tanjungpura ke-47 di Auditorium Untan, Sabtu (20/5), yang dihadiri oleh Gubernur Kalbar, Rektor Untan serta beberapa mantan Rektor Untan ini diadakan Teleconference Academic Online. Rektor Untan, Prof Hj Asniar Ismail mengadakan komunikasi langsung dengan salah satu orang tua mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berada di Sintang. Namun, dalam teleconference yang baru pertama kali diadakan ini tidak tampak wajah orang tua mahasiswa tersebut, selayaknya teleconference biasanya. Hanya terdengar suara saja, seperti menelpon biasa. Dengan adanya academic online i-

Oleh RATNA ni, maka orang tua mahasiswa yang berada jauh di luar Pontianak dapat dengan mudah mengontrol dan mengetahui kegiatan anaknya. Sehingga dengan academic online ini mahasiswa harus berhati-hati karena kegiatan mereka akan dapat diketahui oleh o-

LKG GEMPA Fisip Untan :

Belajar dari Alam Oleh TANTRA N .ANDI DALAM rangka memperingati Hari Bumi pada 22 April dan Dies Natalies

Seminar Internasional Tentang Kesehatan MEMPERINGATI Dies Natalis ke47, Untan bekerjasama dengan Rumah Sakit Normah Kuching mengadakan Seminar Internasional tentang kesehatan di Rektorat lantai 3, Senin (15/5). Hadir di sana Walikota Pontianak, Rektor Untan, Dekan fakultas, berbagai instansi pemerintah serta mahasiswa Fakultas Kedokteran Untan. Acara yang dimulai pukul 11.30 ini menghadirkan DR Peter Wong Mee Tong yang memberikan materi tentang penyakit jantung. Dokter yang juga merupakan Consultant Cardiologist di RS Normah ini memberikan penjelasan mengenai terapi

rang tua mereka tanpa harus bertanya langsung kepada mahasiswa tersebut. Academic online sekarang sudah diterapkan di 3 fakultas yaitu Fekon, FKIP, FMIPA. Namun, awal tahun 2007, Rektor Untan mencanangkan agar program ini dapat di realisasikan di seluruh fakultas di Untan[]

Oleh RATNA dan GENOVEVA (pengobatan-red) untuk penderita jantung. Materi kedua disampaikan oleh DR Prasad Yalarvathi mengenai penyakit kanker payudara (breast cancer). Menurut Dr An an, dosen Fakultas Kedokteran Untan selanjutnya Untan akan menjalin kerjasama dengan RS Normah. “Bisa jadi nanti mahasiswa kita (Kedokteran-red) akan melakukan koas di sana,” kata dosen lulusan Fakultas Kedokteran UGM ini. []

Untan ke 47, Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (GEMPA) FISIP Untan pada 12-14 Mei lalu sukses mengadakan kegiatan Lomba Kebut Gunung di Dusun Longkong, Desa Senakin Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak. LKG kali ini diikuti 24 peserta yang terdiri dari 7 orang putri dan 17 orang putra yang merupakan utusan dari Mapala, Sispala, Pramuka, dan umum. Elis Rokanti, Ketua panitia menuturkan, tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan kondisi alam Indonesia khususnya Kalimantan Barat, serta mengajak generasi muda dalam kegiatan yang positif juga mencari generasi muda yang berkualitas dalam dunia kepecintaalaman. “LKG ini juga diharapkan sebagai media guna menyalurkan bakat dan minat dalam kegiatan di alam bebas dan menumbuhkan semangat sportivitas dan kreatifitas di kalangan generasi muda Kalimantan Barat,” tuturnya. Ditambahkan Dede Purwansah, Ketua Umum Gempa Fisip Untan, event yang memperebutkan piala bergilir Kapolda Kalbar (putra) dan piala bergilir Rektor Untan (putri) juga merupakan ajang untuk menumbuhkan tanggungjawab generasi muda terhadap alam Kalbar dan mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam dan masyarakat. “Hasil akhir dari LKG ini, penilaian Dewan Juri memutuskan Herman Suparman Simanjuntak, mahasiswa Fakultas Kehutanan, utusan Green Equator sebagai juara pertama kategori Putra. Sedangkan untuk kategori putri diraih Suwindari, mahasiswa Fakultas Ekonomi, utusan MEPA,” ujar Dede.[]. Edisi 32 /Thn.VIII/Mei/ 2006

11


Cerpen Civitas

pesan yang belum sampai CERAHNYA pagi itu berbalik belakang dengan keadaan yang dialami Haru. Kondisi tubuh Haru yang tampak lemah serta sakit yang kian memburuk seakan mengisi hari-harinya yang suram karena serangan virus Tifus yang bercokol.

Oleh ISKANDAR MEMASUKI ketiga bulan terakhir ini, keadaan yang lemah dan kurang bersahabat kembali menerpa Haru. Hari-harinya diisi dengan banyak istirahat dan tidur. Keadaan ini karena penyakit lama yang diidap Haru kambuh kembali. Bercokolnya Virus tifus membuat aktifitasnya hanya seputar makan (yang kini hanya setengah dari porsi biasanya), ke Kampus sebentar, serta minum obat, tidur yang lebih lama dari hari biasanya. Banyak rencana tidak dapat terlaksana, yang kadang menambah kepalanya jadi pusing. Tugas kuliah yang tidak kelar-kelar dan kunjung bertambah. Keinginan untuk bersua dengan teman-teman serumah dengannya, yang kini sudah jarang lagi mereka lakukan. Belum lagi kalau mengingat orang tua serta kedua adiknya dikampung, seakan menambah kerinduannya untuk selalu bersama mereka dalam mengisi harihari yang tersisa. Setelah vonis dokter menghampiri dua hari yang lalu, sebuah tanda keputusasaan dan rasa was-was selalu menerpa hati dan pikiran Haru yang tertuang kecemasan yang selalu menyelimuti wajahnya, dan kini hanya terbayang ‘pintu lebar’ menganga terang di depannya. Namun dengan kekuatan yang tersisa, walau badan dan mata terasa panas, ditambah lagi dengan tenggorokan yang kering serta isi perut yang sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Haru mulai merasa tubuhnya terasa tidak karuan dan memutuskan untuk membatalkan keikutsertaannya dengan mengabari seorang teman yang sebelumnya Haru telah berjanji bahwa kemungkinan besar Ia bisa bergabung bersama dalam suatu kunjungan liburan ke daerah pedalaman bersama, dengan hanya istirahat yang dilakukan Haru dua hari penuh ini. Temannya dapat memaklumi keadaan Haru itu. Akan tetapi ada seseorang yang cukup menjengkelkan yang mencoba menguji kesabarannya dengan mengatakan Haru

12

Edisi 32/ Thn.VIII/ Mei/ 2006

lemah dengan penyakit yang tidak seberapa. Ditambah lagi perlakuan yang kadang tidak menyenangkan, karena Haru sendiri sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau selenehan dihari-harinya itu. Haru tahu awalnya dia bercanda, akan tetapi tetap saja hal tersebut cukup membuatnya risih karena Haru sangat ingin ikut dengan mereka. Dengan berharap untuk dapat sedikit membuat hatinya senang dan mensyukuri sisa hidupnya. Itu adalah kesempatan terakhir yang belum terlaksana, setelah keikutsetaan Haru dalam kegiatan kampus bersama teman-teman sejurusan mengadakan kegiatan kampus. Haru berusaha untuk ikut walau penyakit terus bersarang di tubuhnya. Saat itu Haru ikut saja, dengan mengendarai Supra hitam yang kebetulan dititipkan sang ayah kepada Haru. Itu yang terjadi di bulan keempat hari kelabu Haru, di bulan berikutnya masih tetap kelabu. Ternyata penyakit yang diderita kian memperburuk kondisi tubuh Haru. Namun Haru justru malu kalau harus berbagi cerita dengan orang lain akan keadaannya. Haru hanya berfikir, cukuplah dia saja yang mengetahui, tak perlu orang lain. Lagipun kalaupun orang lain tahu, bakalan menambah beban orang tersebut untuk memikirkan dan bersimpati kepadanya. *** 15 Juni (2 bulan setelahnya), keadaan Haru semakin parah. Haru

sengaja tidak mau sering-sering ke Markas, tempat teman-teman seorganisasinya ngumpul. Ini karena kekhawatiran Haru terhadap temantemannya mengetahui penyakitnya yang telah semakin kritis. Otomatis ia hanya tinggal di rumah kontrakannya yang sepi. Teman-teman serumah dengannya lama laun mulai curiga dengan kondisi Haru yang semakin buruk. Dan mencoba menanyakan keadaan haru sebenarnya. Namun jawaban yang tidak memuaskan yang selalu diberikan. Semula teman-teman serumah bisa memahami, namun semakin hari semakin mencurigakan. Dan salah seorang teman serumahnya diam-diam mencari tahu yang terjadi pada Haru. Alhasil banyak obat-obatan yang mendukung untuk menyimpulkan bahwa keadaan Haru sudah parah, dan diam-diam teman serumah Haru berembug dengan yang lain untuk mencari tahu yang terjadi pada Haru, serta memberikan kabar kepada orangtua Haru di Desa tentang Haru. Terbukti dua minggu berikutnya, Haru tidak keluar dari kamarnya, dan tiada suara lagi yang terdengar dari kamar itu. Kamar yang terkunci dari dalam membuat Ade, salah seorang teman sekontrakan menjadi curiga, apa yang sebenarnya yang telah terjadi hari itu. Setelah puas memanggil dari luar kamar, Ade kemudian mendobrak pintu kamar, dengan kesepakatan teman-teman lain tentunya. Ternyata Haru telah pergi, dengan sebuah kertas obat-obat/ resep dokter tentang Tifus yang terlanjur parah dideritanya. Belum sempat kabar yang hendak dikirimkan Ade bersama temantemannya ke kampung halaman Haru. Namun Haru harus pergi terlebih dahulu dengan ditemani virus Tifus yang bersarang pada tubuh Haru. Virus yang kini telah dengan setia menemani dalam mengahiri hidup Haru dan membawanya ke ruang lain yang terang namun sepi. Ada satu lagi yang tersisa dan bisa terbaca dari hp Nokia yang ada disamping jasad Haru yang belum sempat terkirim kepada orang tuanya di kampung, “Ayah, ibu serta adikadikku, maafkan atas dosaku, tolong ikhlaskan semua yang telah engkau berikan kepadaku.�[]. * pandan_putih ’02.

Civitas edisi 32  

Buletin Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak