Page 1

Mimbar Untan Civitas edisi 36 terbit 16 halaman

Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006


Assalamualaikum,Wr.Wb…… BALIK lagi nih kita dari tim civitas buat ngobatin rasa kangen teman-teman dengan infoinfo pemberitaan yang kita punya. Sekedar info aja, sekarang keredaksian civitas diisi oleh temanteman anggota baru (‘cub reporter’) LPM Untan. Jumlahnya sih gak ramai-ramai banget, tapi dengan semangat tempur mereka bisa membuktikan kuantitas bukanlah segalanya. News lainnya tentang LPM yakni, masih ingat gak dengan kru Civitas tiga edisi lalu? Mereka sekarang udah dilantik, malah pakai cara ala ’Lentera Merah’ lho. Kebayang donk serunya prosesi pengesahan anggota?! Ada juga schedule LPM mendatang, klo kita bakal merayakan ultahnya Untan Voice Radio, acara puncaknya tanggal 7 Desember nanti. Ok, pasti pengen tahu khan, apa aja menu kita kali ini. Tenang guys, kita punya bocoran news-news nya. Pertama, tentu aja dari putaran pemilihan rektor. Penjaringan orang nomor satu di Untan udah nyaris ditahap akhir. Hasil pemilihan tingkat dosen dan senat udah positif bahwa Dr Chairil Effendi sebagai calon terpilih. Sekarang hanya tinggal menunggu hasil keputusan Menteri Pendidikan. Info lainnya yang MIUN punya yakni pembongkaran masjid di FKIP yang berbuntut perseteruan panjang antara seorang dosen dengan calon rektor terpilih. Yap, cukup deh bocorannya, lainnya silahkan buka sendiri. Sebelum ditutup, segenap Keluarga Besar Lembaga Pers Mahasiswa Untan turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Prof Ir Sakunto MSc, yang sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan, semoga almarhum mendapatkan tempat selayak-layaknya di sisi Sang Pencipta. Amin... [Redaksi].

Dana Kemahasiswaan Telat, Kegiatan Terhambat SEBAGAI unit kegiatan di lingkup fakultas, saya menyesali ketika pihak rektorat lamban dalam pemberian dana budget kemahasiswaan. Tentu saja mengakibatkan banyak kegiatan terhambat. Dana tersisa dirasakan kurang untuk pelaksanaan kegiatan. Bahkan minus. Proposal telah lama kita ajukan. Dengan pertanyaan sering dilayangkan. Namun tetap saja tidak ada jawaban pasti. Menurut Suyono, Kabag Kemahasiswaan, masalah ini perlu dirapatkan lagi. Padahal, menurut saya dana tersebut merupakan hak setiap kegiatan mahasiswa baik itu di lingkungan fakultas maupun universitas. Paling tidak, selanjutnya pembagian dana budget kemahasiswaan dilakukan secara profesional dan tepat waktu. Dengan kepengurusan yang sebentar lagi berakhir. Saya cukup resah bila dana tidak segera dicairkan. Ini berdampak pada agenda kepengurusan sebagian tidak terlaksana. Hemri Yansa, Ketua BEM FKIP Mahasiswa FKIP ‘02 Jurusan Ekonomi Akuntansi

Buku di UPT Perpustakaan ‘kok’ berantakan sich....?! SEBELUMNYA terima kasih kepada Mimbar Untan Civitas kalau saja tulisan ini dimuat. Beberapa hari yang lalu aku ’pengen’ meminjam buku di UPT Perpustakaan. Tapi kenapa berantakan ’gitu’ ya? Puluhan buku berserakan dan bertumpuk-tumpuk di lantai, seperti tidak bernilai. Dan lagi, seharusnya buku-buku yang sudah memiliki kode disimpan di tempatnya. Tapi kenapa buku-buku di UPT Perpustakaan terkesan tidak mengikuti penempatan yang tertera pada komputer disana. Belum lagi, buku-buku di UPT Perpustakaan yang merupakan terbitan zaman ‘bahaula’ (sudah lama-red) yang telah dikeluhkan oleh ribuan mahasiswa di Untan termasuk saya. Mohon bagi pihak perpustakaan untuk memperhatikannya. Sri_8288@yahoo.com

buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Nina Soraya Sekretaris Umum : Iskandar Bendahara Umum : Aini Sulastri Divisi PSDM : Syf Ratih KD, Tantra, Azwar Divisi Litbang : Maya N Sari, Fitri J, Ratna M Harahap

2

Divisi Penerbitan : Henny Kristina, Heri Usman, Sri Pujiani Divisi Penyiaran : Mulfi H, Ashri I, Sudardi, Divisi Peusahaan : Riant M, Mahmud M, Tati Pemimpin Redaksi : Nur Maya Sari Sekretaris Redaksi : Wanti Eka Jayanti Redaktur :

Edisi 36/Thn.VIII/Nopember/2006

Nina, Ratih Artistik : Iskandar Reporter : Yiyi, Lina, Burhanady, Galuh, Eka, M Susiyanto, Ummi Fotografer : Burhanady, Yayan Lay outer : siIs

REDAKSI Alamat Redaksi : Jl. Daya Nasional Gedung MKDU Untan, Telepon : (0561) 7068136. e-mail : lpm_untan@yahoo.com atau : gelora_lpmu@yahoo.co.id Percetakan : Artha Grafistama, Jl. Pahlawan No. 20 Telp.(0561) 765000-766000 (Isi diluar tanggung jawab penerbit).

Redaksi menerima tulisan berupa opini, essai, laporan kegiatan kampus, cerpen,hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.

Surat Pembaca

Cub Reporter


OpiniCivitas Civitas Opini

Sekilas dari cerita Pilrek Untan 2006

Pilrek dan Feodalisme Senat Oleh ISKANDAR* EMILIHAN Rektor Untan 2006 yang diselenggarakan pada bulan Nopember kemarin, mampu membuat sejarah tersendiri di Untan. Bagaimana tidak, Rektor yang sebelumnya dipilih oleh Senat Universitas, yakni utusan setiap fakultas yang ada di Untan. Untuk kali ini, harus dipilih melalui dua tahap pemilihan. Pada tahap pertama, pemilihan berada di kalangan dosen, selanjutnya rektor akan dipilih oleh senat. Pemilihan Rektor akan menjadi berbeda jika dilihat lebih jauh lagi. Untan merupakan miniatur perjalanan demokratisasi di Kalimantan Barat. Ini disebabkan, Untan merupakan mercusuar perguruan tinggi negeri di Kalimantan Barat. Yang berarti, Untan menjadi tolak ukur sejauh mana proses demokratisasi di wilayah ini telah berjalan. *** TEPATNYA 15 dan 22 Nopember 2006, serangkaian peristiwa dilalui dengan baik demi mensukseskan Pilrek sendiri, dari penggiringan sampai pengawalan proses Pilrek tersebut. Tujuannya supaya Rektor terpilih nantinya dapat membawa aspirasi civitas akademika serta membawa universitas ini lebih maju lagi. Terlebih dalam persiapan Untan menghadapi Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) mendatang. Seperti Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa Untan, salah satu UKM yang menyelenggarakan polling/ kuesioner tentang siapa rektor pilihan mahasiswa, Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi, hingga BEM Untan yang mengkampanyekan untuk tidak memilih calon rektor bermasalah sebagai Rektor Untan di masa mendatang. Bergaining Mahasiswa Masih Lemah MERUNUT ke belakang, pada dasarnya mahasiswa yang tergabung baik dalam Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa Untan, Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi, BEM Untan serta berbagai himpunan cukup mengawal. Mulai dari pembahasan tatib hingga Pemilihan Rektor Untan.

P

Supaya kali ini dapat melibatkan seluruh mahasiswa Untan secara aktif. Dimana, mereka juga merupakan ‘pelaku’ dalam ‘perhelatan’ kampus Untan. Paling tidak, maju-mundurnya Untan yang merasakan dampak juga mahasiswa itu sendiri. Kehebatan yang dimiliki Senat utusan berbagai kampus (fakultas) dapat mematahkan argumen yang disuarakan oleh mahasiswa. Walau ada juga segelintir senat berkenginan sama dengan mahasiswa (Pro Mahasiswa) yakni agar pemilihan Rektor juga melibatkan mahasiswa. Namun pada gilirannya, jalan tengah yang bisa diambil adalah membagi prosesi Pilrek Untan 2006 menjadi dua tahap, tahap pertama pada kalangan dosen dan karyawan, lalu tahap kedua oleh para Senat Untan, dan selanjutnya hasil dua proses tersebut untuk disahkan kepada Mendiknas. Tampak jelas dari peristiwa Pilrek Untan 2006, bergaining mahasiswa saat ini masih lemah. Ada selentingan yang mengatakan, “Senat lebih banyak makan garam daripada mahasiswa, dosen (gurunya mahasiswa) juga masih belum mampu, apalagi mahasiswa.” Kemudian ada juga yang mengatakan Pilrek Untan merupakan tahapan untuk Pilrek secara langsung dimasa mendatang dengan (sekarang ini) Pilrek yang diselenggarakan setengah langsung (masa

transisi). Terlepas dari itu semua, di sini banyak kemungkinan yang bisa ditebak. Seperti adanya ketakutan pihak senat untuk suaranya disamakan dengan dosen dan karyawan. Seolah-olah senatlah lebih tinggi kedudukannya (jika tidak mau dikatakan ’maha tinggi’). Namun yang lebih mengherankan lagi, sejumlah dosen yang memilih 7 calon rektor hanya sebatas menjaring 3 besar saja. Sedangkan selebihnya, terserah Senat. Maksudnya, pemilihan selanjutnya diserahkan pada rapat senat. Ya beginilah Pilrek Untan saat ini. Untan yang tadinya merupakan miniatur serta mercusuar perguruan tinggi di Kalbar seharusnya merasa malu dengan sistem demokrasi yang diterapkan saat ini. Dimana sekarang ini, Pemilu Indonesia dilaksanakan dengan pemilihan secara langsung oleh masyarakatnya. Sementara di internal Untan sendiri belum dapat terealisasi. Namun, proses Pilrek Untan 2006 telah selesai melewati dua tahap. Tinggal pengesahan. Nasi telahpun menjadi bubur, dan tinggal bagaimana membumbui bubur tersebut agar lebih nikmat dan gurih (tentunya juga bergizi dan berkah) saat disantap. Tapi ada sedikit pelajaran yang dapat diambil. Yakni kita sadar bahwa bergaining mahasiswa saat ini masih lemah. Mahasiswa masih banyak yang bersikap apatis, tidak peduli siapa yang akan memimpin, siapa nanti yang membuat kebijakan, serta seberapa besar peran yang diambil mahasiswa dalam menggiring, mengawal dan memantau kinerja Rektor mendatang agar Untan ke depan merupakan universitas yang memang menjadi ‘mercusuar’ dan pusat informasi di Kalbar. Untuk itu diperlukan kekritisan seluruh komponen mahasiswa sebagai agen perubah baik itu di internal maupun eksternal kampus.[]. *) Mahasiswa Untan/ tim gambreng. Edisi 36/Thn.VIII/Nopember/2006

3


Headline Civitas

Pembongkaran Mesjid FKIP Untan Berbuntut Panjang Oleh FAHMI

Memicu Ketegangan Seorang Dosen dan Salah Satu Mantan Dekan

Dr M Rif ’at MPd mengajukan surat mengenai penetapan status zakat mal yang disalurkan untuk pembangunan Masjid At-Tarbawi FKIP kepada Dr Aswandi (Dekan FKIP sekarang-red) sehubungan dengan dibongkarnya masjid tersebut. Buntutnya, malah terjadi saling tuding antara Rif ’at dengan DR. Chairil Effendi, mantan dekan FKIP sebelumnya.

dok : Istimewa.

Terbengkalai : Bangunan Mesjid At-Tarbawi FKIP Untan, terbengkalai dalam pengerjaanya dan sudah tidak layak untuk digunakan. Padahal sudah di konsultasikan pada ahlinya.

EPATNYA 10 Oktober lalu, Dr M Rif’at MPd mengajukan surat pertama permohonan tentang pertimbangan jalan keluar mengenai nasib zakat yang diberikan oleh Yahya (pemberi zakat-red). Kebijakan ini diambilnya karena adanya desakan dari Yahya dan keluarga yang memberi zakat tersebut untuk mengetahui secara jelas nasib zakat yang telah disalurkan. Mulanya zakat tersebut disalurkan dan direalisasikan dalam bentuk pembangunan Masjid At-Tarbawi, tapi apa mau di kata belum sepenuhnya jadi, masjid tersebut sudah dibongkar. Pembangunan masjid tersebut, dilakukan pada masa Drs H Sugiatno MPd selaku Dekan FKIP (2001-2004). Dan Rif’at sendiri sebagai ketua panitia pendirian masjid. Akan tetapi, karena adanya gonjang-ganjing penjatuhan Sugiatno, maka pembangunan masjid terhenti. Masjid tersebut telah dinilai

T

4

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

jadi sebesar 60%. Kemudian setelah jatuhnya Sugiatno dan digantikan Dr Chairil Effendi MS, malah pembangunan masjid semakin terbengkalai sehingga banyak bangunan yang rusak. “Kemudian bangunan masjid yang terbengkalai itu, dirobohkan atas keputusan Chairil Effendi karena pondasinya tidak kuat dan bangunannya tidak layak pakai. Anehnya peruntuhan masjid tersebut diputuskan oleh Chairil Effendi sendiri tanpa adanya pemberitahuan kepada pemberi zakat dan para donatur, terutama saya sendiri selaku ketua panitia,” beber Rif’at. Saling Tuding TETAPI perkataan Rif’at ini, dibantah keras oleh Chairil Effendi yang juga ikut mencalonkan diri dalam bursa pemilihan Rektor Untan. “Pada waktu akan dibongkarnya (pondasi mesjidred), sudah saya bicarakan dan konsultasikan dengan Ir Widyanto (Kon-

sultan Teknik) dan Ir Andi (Cipta Karya). Mereka mengatakan, bangunan ini sudah tidak bisa dilanjutkan. Kemudian saya bawa ke rapat senat, dosen-dosen, termasuk kepada Rif’at sendiri. Dan pada waktu pembongkarannya juga sudah disetujui dan disaksikan oleh Yahya (pemberi zakat),” bantah Chairil. Menurutnya, mesjid tersebut dibongkar karena tidak layak pakai dan tidak layak dilanjutkan lagi, sesuai dengan keadaan pondasi dan bangunan tersebut yang belum sepenuhnya jadi. Bahkan, baginya pembuatan mesjid ini, asal-asalan saja. Sebabnya jika dilanjutkan, akan berakibat buruk kepada para jama’ah yang beribadah dan akan memakan korban jiwa. “Makanya mesjid tersebut saya bongkar, dan akan saya bangun mesjid kembali dengan pondasi yang lebih kuat dan tidak asal-asalan,” kata nya lagi.


Headline Civitas

Bahkan Chairil menuduh Rif’at sengaja mengejarnya dengan berbagai masalah. “Apakah dia sengaja mencari kesalahankesalahan saya untuk menjatuhkan saya sebagai Calon Rektor,” sambungnya. Tidak terima dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Chairil, Rif’at menegaskan sekali lagi bahwa saat pengerjaan mesjid tersebut telah memakai jasa arsitektur yang sudah ahli dalam bidangnya. “Bukannya orang yang asal-asalan,” bantah Rif’at. “Saya juga mendengar dari mulut teman-teman saya, bahwa Chairil ada menyebutkan terjadinya indikasi korupsi dalam keuangan dan dalam laporan keuangan juga terdapat adanya

bantuan dari negara Timur-Tengah. Saya tidak peduli dengan berita yang telah ditujukan kepada saya,” katanya kepada MIUN. Entah siapa yang akan dipersalahkan dalam kasus ini, yang pasti sepertinya kasus ini tetap akan berlanjut. Buktinya, surat kedua kembali dilayangkan kepada Dekan, dengan harapan pemimpin FKIP tersebut mampu memberikan kebijakan untuk memfasilitasi MUI Kalbar (Majelis Ulama Islam Kalimantan Barat) guna memberikan pertimbangan atau keputusan hukum yang terkait. Surat ini juga akan disampaikan kepada Rektor Untan, Ketua MUI Kalbar, serta masyarakat pemberi sadaqah untuk Masjid At-Tarbawi FKIP.[*]

Spanduk Dibakar, BEM Dihajar Oleh YAYAN dan GALUH

Berniat memadamkan api yang telah membakar spanduk, anggota BEM malah dikeroyok. Apakah ini membuktikan bahwa mahasiswa lebih senang menyelesaikan masalah dengan otot ketimbang otak?

K

AMPUS seharusnya menjadi tempat yang kondusif bagi para mahasiswa dalam menuntut ilmu. Tapi situasi yang kondusif itu tidak selamanya dapat dipertahankan. Lalu, bagaimana jika di lingkungan universitas tersebut terjadi keonaran? Seperti yang terjadi pada Sabtu (11/11) sekitar pukul 03.00 WIB. Dari arah bundaran Untan dikejutkan dengan adanya kobaran api yang cukup besar. Setelah ditelusuri ternyata api berasal dari spanduk yang terbakar. Beberapa orang anggota BEM Untan yang sedang berada di Kopma (Koperasi Mahasiswa) melihat adanya kobaran api dan langsung menuju ke arah bundaran dan berusaha memadamkan api. Namun malang bagi mereka, selang beberapa saat datang segerombolan orang yang kemudian mengeroyok mereka. Salah seorang korban, Galih Usmawan saat dikonfirmasi mengungkapkan dirinya beserta beberapa orang rekannya sempat menegur orang-orang tersebut, tapi mereka tidak menggubris. “Waktu kami tegur mereka tidak terima malah langsung menghajar kami,” ungkap ketua BEM Untan ini. Salah seorang rekannya sempat dihajar oleh orangorang tersebut hingga babak belur. Namun mereka berhasil melarikan diri. “Rinto teman kami sampai bonyok, namun kami berhasil melarikan diri ke Menwa (Resimen Mahasiswa-red) dan berlindung di sana,” tambahnya lagi. “Saat itu anggota kami sedang beristirahat, kemudian datang beberapa anggota BEM Untan, mereka meminta perlindungan ke sini (Menwa-red). Pada saat yang hampir

bersamaan datang pula beberapa orang, waktu itu sedikitnya sepuluh orang, dan ada tiga sampai empat orang masuk dan sempat menggeledah ruangan untuk mencari anggota BEM yang mereka cari,” jelas Fangky, Wakil Komandan Menwa. Berdasarkan informasi dari Menwa diduga pelaku pengeroyokan adalah mahasiswa salah satu fakultas yang saat itu sedang di bawah pengaruh minuman keras. Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Kemahasiswaan, Suyono Sadeli membenarkan kejadian pengeroyokan dan pembakaran spanduk yang terjadi di bundaran Untan. “Kami sudah mendapat informasi mengenai adanya kejadian tersebut (pengeroyokan dan pembakaran spanduk-red). Namun hingga saat ini kami belum mengetahui identitas para pelaku, dan sedang ditangani pihak kepolisian,” papar Suyono kepada Miun.[] Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006

5


Liputan Civitas

RUU Partai Politik Mahasiswa Tuntas Dibahas Oleh LINA FEBRIYANTI

Senin (27/11), di Rektorat Untan lantai 3 dilaksanakan rapat dengar pendapat tentang RUU partai mahasiswa. Rapat ini

ANSUS (Panitia Khusus) yang dibentuk pada 28 Juli 2006 dan beranggotakan orang-orang DPM sendiri sebagai fasilitator acara rapat dengar pendapat tersebut. Dihadiri oleh perwakilan BEM-BEM fakultas tetapi tidak semua BEM fakultas datang. Dalam pembahasan tersebut terjadi perdebatan terhadap pasal-pasal dalam RUU. Sebut saja pasal 10 Bab VI yang berbunyi, “a) Anggota partai mahasiswa adalah mahasiwa Untan dengan studi SO dan SI yang masih terdaftar secara akademis. b) Keanggotaan partai mahasiswa bersifat sukarela, terbuka, dan tidak diskriminatif bagi setiap mahasiswa Untan yang menyetujui pedoman dasar dan pedoman rumah tangga partai yang bersangkutan.” “Saya kira mahasiswa reguler dan non reguler perlu ditampung aspirasinya, agar tidak terjadi kontradiksi dan indikasinya tidak diskriminatif, “ujar Galih Usmawan, Ketua BEM Untan. Hal senada juga diungkapkan oleh ketua BEM Fisip, Andri Candra, DPM wajib membentuk struktur organisasi di setiap fakultas yang ada di Untan. “Aspirasi mahasiswa yang ada di setiap fakultas bisa tersalurkan,” ungkapnya dalam forum. Dilarang Buat Parpol MENURUT Wahyudi, Ketua DPM Untan, pengurus parpol dilarang mendirikan parpol baru. “Pengurus parpol yang berhenti dan diberhentikan dalam organisasi parpol mahasiswa tidak boleh membentuk partai baru dengan lambang ataupun nama yang sama,” katanya. Karena menurutnya sering ditemukan kontradiksi dalam setiap organisasi khususnya parpol mahasiswa, sehingga terjadilah perpecahan dari dalam parpol itu sendiri. “Dalam sebuah organisasi harus terjalin eksistensi antara sesama. Khususnya pengurus dan anggota, serta saling ber-

merupakan rapat lanjutan yang belum menuai sukses dan dianggap sebagai langkah awal dalam pelaksanaan Pemirama

P

6

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

(Pemilu Raya Mahasiswa) pada awal April mendatang dengan memakai sistem partai.

Foto : Yayan/Miun

Tampak Serius : Pembahasan Partai Politik Mahasiswa melalui tahapan yang panjang dan membutuhkan pemikiran yang matang agar partai yang menjadi wadah mahasiswa nantinya dapat mengusung aspirasi mahasiswa (pendukungnya).

disahkan pada rapat Paripurna Kamis

“Saya kira mahasiswa regu- (30/11), yang ternyata juga gagal ler dan non reguler perlu di- digelar.[*] tampung aspirasinya, agar tidak terjadi kontradiksi dan inPOJOK dikasinya tidak diskriminatif” Galih, Ketua BEM Untan Karena sibuk Pilrek, dana kemahasiswaan terlambat koordinasi agar tidak terjadi kesenjadicairkan..? ngan serta kontroversi antar anggota,” Sekali lagi mahasiswa di rugikan. pesannya. Banyaknya masukan-masukan peserta rapat yang hadir membuktikan ternyata RUU parpol mahasiwa Untan masih banyak yang perlu diperbaiki dan direvisi kembali oleh DPM Untan. Namun sepertinya dari rapat dengar pendapat tentang RUU Partai Mahasiswa dapat disimpulkan bahwa RUU dapat diterima oleh peserta sidang. RUU akan dibahas kembali dan

Nasib jalan-jalan di Kalbar yang rusak tak jauh beda dengan nasib jalan di Untan. Kapan ya dibetulkan? nunggu Fakultas Kedokteran tuntas dibangun atau nunggu jatuh korban dulu ya ....


Liputan Civitas

Rektor Terpilih, Jangan Hanya Berwacana Oleh BURHANADY VENT akbar yang digelar Untan dalam pemilihan rektor, mengisahkan cerita panjang dilalui rektor ke depan. Program kerja yang dibuat harus dapat dipertanggungjawabkan pada civitas akademika. Sehingga dapat melahirkan generasi bermoral, berkualitas, dan menjadi mental bertanggung jawab, kompetitif, inovatif serta akuntable. Dari proses pemilihan balon rektor, Rabu (16/11) di Gedung Auditorium Dr Chairil Effendy menang dengan 259 suara. Kemudian Prof Dr Maswardi M Amin MPd dengan 119 suara dan Prof Ir Alamsyah HB dengan 114 suara. Selanjutnya Ir H Syafaruddin AS MM 113 suara, Dr Ir Abdurrani Muin MS 55 suara, Prof Slamet Rahardjo SH 42 suara serta Prof Dr Syrif Ibrahim Alqadrie MSc 29 suara. Dengan demikian tiga kandidat suara terbanyak berkompetisi ditingkat senat selanjutnya diserahkan ke pemerintah pusat (Presiden RI melalui Menteri Pendidikan Nasional). Tidak mengalami perubahan posisi saat pemilihan di tingkat senat Untan yang digelar Rabu (22/11), Chairil

E

Nama : Chairil Effendy. NIP : 131417289. Tempat, Tgl Lahir : Singkawang, 9 Mei 1957. Kegemaran : Baca Buku, Menulis, Diskusi. Peng Organisasi : KAGAMA Kalbar (1986-1989), Himpunan SarjanaKesusastraan Indonesia (2000-sekarang), Dewan Kesenian Kalbar (1997-2000), IKA KPMKB Yogyakarta di Pontianak (2000sekarang), Yayasan Almakarta (2000sekarang), Yayasan Kharisma (2000-sekarang), Majelis Wil KAHMI Kalbar (2000-sekarang), Majelis Adat Budaya Melayu Kalbar (1997sekarang), Majelis Nasional KAHMI (2001sekarang). Pekerjaan : Dosen FKIP Untan. Alamat Rumah : Jl Tanjung Sari No 204 Komplek Untan. Effendy mengungguli calon-calon lainnya. Selanjutnya tinggal menunggu keputusan dari pemerintah pusat (Presiden RI melalui Menteri Pendidikan Nasional) dengan mempertimbangkan hasil pemilihan tersebut. Mengusung Program Kerja Hadapi BHPT DILIHAT dari program strategis dan rencana. Chairil Effendy kandidat Rektor Untan, memprogramkan persiapan menjadi otonom dalam kerang-

Foto : Yayan/Miun

Jumlah Suara Terbanyak : Salah seorang panitia pelaksana Pemilihan Rektor Untan (tahap pertama) menunjukkan jumlah terbanyak, yakni pada posisi teratas (nomor urut 1) dengan jumlah 259 suara.

DR. Chairil Effendy ka Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT). Dimana berlandaskan kebijakan pokok pembangunan pendidikan (tinggi) nasional dengan pemerataan, perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi, daya saing serta penguatan tata kelola. Lain halnya dengan Maswardi Muhammad Amin, merencanakan guna peningkatan kinerja Untan kedepan. Serta menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sehingga, lulusan mampu mengaplikasi dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Untuk M Alamsyah, paling tidak Untan mampu mengidentifikasi dan merancang rencana pengembangan jangka pendek (konsolidasi internal dan eksternal) dan jangka menengah sebagai penggerak. Serta merencanakan program pengembangan manajemen, kelembagaan, Tri Dharma dan kemahasiswaan. Siapapun yang akan disahkan Dikti menjadi rektor Untan mendatang , mahasiswa hanya berharap, dia dapat menjalankan program-program kerja yang telah dibuat secara relevan, dan selalu mengedepankan aspirasi maupun kepentingan mahasiswa dan segenap civitas akademika. “Jangan hanya berwacana saja tapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata,� tegas Ali, mahasiswa Hukum.

Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006

7


Lensa Civitas

U ntan Untan

doeloe Tempoe Tempoe doeloe

Praktikum mahasiswa Fakultas Teknik Untan Mahasiswa Fakultas Teknik Untan ini sedang men tor pembangkit listrik. Lokasi Laboratorium adala MKDU Untan.

Pembukaan Opspek Universitas, September 1986: Telinga beberapa calon mahasiswa memang perlu dibersihkan, agar bisa mendengarkan dan memahami perkuliahan dan peraturan Universitas dengan baik

Penggunaan Auditorium Untan, Januari 1987: Untuk yang pertama kalinya, Auditorium Untan digunakan pada tanggal 7 Januari 1987 yang diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat I Kalbar, H Soedjiman, bertepatan dengan saat pelantikan Rektor Untan. 8

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

Supir Bis Kampus, Desember 1986: Bang ‘In, begitu panggilannya. Bang In merupaka dilupakan dalam pengabdiannya sebagai Sopir Bis (1986) yang sekarang ini, Bis Kampus dikenal den

Tugu Perempatan, Maret 1987: Pembangunan ‘Tugu Perempatan’ atau dikenal jug Kemerdekaan (sekarang dikenal dengan Tugu Dig bundaran Untan (terletak di jalan Ahmad Yani da


k Untan, Maret 1987: ang mencoba membuat generaum adalah di komplek gedung

erupakan orang yang tak bisa opir Bis Kampus di waktu itu enal dengan nama Bis Yusra.

kenal juga dengan Tugu Perintis Tugu Digulis) yang terletak di Yani dan Kampus Untan).

Lensa Civitas ADA keunikan tersendiri, jika kita melihat foto/gambar yang disajikan ini. Suasana kampus Untan pada dekade 1980-an (tepatnya 1986-1987) ini sekedar untuk mengenang kembali Untan dulu, yang sekarang telah jauh berbeda (baik bangunan fisik, luas, serta tradisinya). Apalagi Rektor dan Mahasiswanya pastinya juga sudah berganti. Ya.. Khannnn.... ?! Pada foto/gambar ini juga dihadirkan untuk memberikan informasi bagi mahasiswa Untan (pembaca) saat ini (yang mungkin, kita semua banyak yang belum tahu sejarahnya). Ohh.. begini lho Untan jaman dulu... Beberapa gambar/foto iyang disajikan antara lain : Praktikum mahasiswa Teknik Untan di Laboratorium Fakultas Teknik atau yang dikenal dengan lab digital FT (sekarang yang berada di komplek gedung Mata Kuliah Dasar Umum/MKDU Untan). Sekarang masih ada kok rongsokannya (kerangkanya).’ foto selanjutnya, Pembukaan Opspek, yang hingga sekarang nama Opspek telah beberapa kali berubah nama. Beruntung, sekarang ini lebih bernuansa akademik. Kemudian Auditorium, yang sekarang sering digunakan baik oleh kalangan civitas akademika Untan sendiri maupun dari luar Untan dalam mensukseskan acara mereka. Lalu ada yang namanya Tugu Perintis Kemerdekaan (Tugu Digulis), sekarang ini selalu di lewati mahasiswa saat mau masuk kampus ternyata tua juga usianya. Foto berikutnya, seorang sopir Bis Kampus beserta Bis-nya (sekarang Bis Yusra). Ternyata tahun 1986 sudah ada. Serta kegiatan (perlombaan) pada Hari Ulang Tahun (HUT) Asrama Untan, asramanya mahasiswa Untan yang ke 14 dilangsungkan dengan kemeriahan dan ke-khasan-nya. Semua foto/gambar merupakan dokumentasi dari Media Informasi Mahasiswa “Mimbar Untan� yang sempat terarsif sekarang ini. [Is].

Tarik Tambang, Perlombaan yang Merakyat, Oktober 1986: Istirahat sejenak, lalu tarik nafas..., akhirnya tarik bukumu lagi. Sanak saudaramu di kampung, yang menarik cangkul. Ingin menyaksikan saat-saat Rektor menarik tali di topi sarjanamu. (Tarik Tambang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Asrama Untan XIV). Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006

9


Liputan Civitas

Tambahan Dana Kelembagaan Mahasiswa Oleh EKA S dan UMMI K

PEMPROV Kal Bar telah mengucurkan dana sebesar 95 juta rupiah kepada Untan yang akan dialokasikan untuk kegiatan mahasiswa. AHUN ini kembali Untan dapat kucuran dana bantuan dari Pemprov Kalbar (Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat) sebesar 95 juta rupiah. Dana tersebut dialokasikan untuk delapan fakultas, yang masing-masing fakultas mendapatkan dana 10 juta rupiah. H Maryadi Ramsyah Bakri, Pembantu Rrektor III Untan mengatakan selain fakultas, 15 UKM (Unit Kerja Mahasiswa) tingkat universitas juga akan mendapatkan dana tersebut. “Tiap–tiap UKM memperoleh dana sebesar 1 juta rupiah,” jelasnya kepada MIUN. Berdasarkan keterangan dari Drs Suyono Sadeli, Kabag Kemahasiswaan Untan bahwa bantuan dana ini adalah kali kedua diberikan. Sebelumnya Untan juga pernah memperoleh dana serupa, tahun 2004 lalu. Menurutnya, dana ini dipakai untuk kegiatan mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak perlu lagi mengajukan proposal ke Pemprov, namun cukup cukup mengajukan proposal ke pihak universitas. Namun ternyata ada beberapa UKM yang merasa bahwa dana tersebut tidak cukup, salah satunya BKMI. “Dana budget kemahasiswaan yang selama ini kami dapatkan sebesar 6 juta rupiah setahun ditambah dana bantuan yang hanya satu juta ini masih sangat kurang untuk porsi kegiatan-kegiatan BKMI yang cukup banyak,” ungkap Rony Mardiansyah selaku ketua BKMI Untan. Khusus untuk dana 10 juta rupiah untuk tiap-tiap fakultas telah diberikan kepada Pembantu Dekan III di tiaptiap fakultas untuk dikelola. Sebut saja misalnya Pembantu Dekan III FKIP, Drs Edy R Yacob MSi mengaku telah menerima dana bantuan10 juta rupiah

T

10

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

tersebut awal bulan lalu. Menurutnya dana tersebut akan dititikberatkan pada kegiatan mahasiswa yang bersifat penalaran maupun akademis karena lebih bermanfaat daripada untuk kegiatan pembangunan fisik. Selain itu dana tersebut juga akan digunakan untuk dana penugasan dosen pembimbing dalam suatu kegiatan. Untuk memperoleh dana tersebut, HMJ, BEM, DPM maupun organisasi-organisasi lain tingkat fakultas harus mengajukan proposal terlebih dahulu ke dekan III. Besar kecilnya dana yang akan diterima bergantung pada besar kebutuhan yang tercantum dalam proposal kegiatan serta pertimbangan dari pihak dekan. “Tentu saja untuk organisasi fakultas yang tidak mengajukan proposal karena tidak ada kegiatan maka ia tidak akan memperoleh dana bantuan kelembagaan tersebut,” tambahnya lagi. Berbeda dengan dana tiap-tiap fakultas, dana 1 juta rupiah bagi tiaptiap Unit Kerja Mahasiswa (UKM) tidak langsung dibagikan kepada tiaptiap UKM namun dana itu masih dipegang oleh pihak universitas. Bila suatu UKM ingin mengadakan kegiatan dan ingin mengambil dana bantuan tersebut maka harus mengajukan proposal terlebih dahulu ke pihak universitas. “Sebaiknya dana tersebut diambil 2 kali dalam masa satu tahun, misalnya semester pertama mengambil 500 ribu rupiah dan semester kedua mengambil 500 ribu rupiah

lagi,” kata Maryadi menyarankan. Mengenai sama ratanya dana bantuan ini diberikan baik yang tingkat fakultas maupun bagi UKM-UKM Universitas, dia menjelaskan bahwa pembagian jumlah dana bantuan itu telah ditentukan Pemprov Kalbar. “Kita hanya menerima hak dan kita harus berikan hak itu,” ujarnya. Ia pun menjelaskan jika seandainya ada UKM yang tidak memiliki kegiatan sehingga belum mengambil dana tersebut maka perwakilan dari UKM itu akan dipanggil dan ditanyakan masalah dana tersebut hingga jika memang tidak ada kegiatan maka dana tersebut akan dialirkan pada UKM lain yang lebih memerlukan dana tersebut. Mengomentari adanya bantuan dana tersebut, presiden mahasiswa Untan, Galih Usmawan menyarankan agar setiap ada dana bantuan ke pihak universitasa maupun masalah dana lainnya hendaknya disosialisasikan oleh pihak universitas. Menjawab usulan tersebut, dengan santainya pembantu rektor tiga tersebut mengatakan bahwa masalah sosialisi itu hendaknya dilakukan oleh pembantu dekan tiga karena dana bantuan ini tidak terjamin kelanjutannya di tahun-tahun mendatang. Dana bantuan ini tentu saja harus dipertanggungjawabkan pada pihak universitas.Baik dana bantuan 10 juta yang dikelola fakultas maupun dana yang digunakan oleh tiap-tiap UKM universitas.[*]

KLARIFIKASI : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura (LPM Untan) Pontianak (baik atas nama Lembaga (LPM Untan) maupun atas nama produknya (Mimbar Untan atau Untan Voice 106,4 FM) menyatakan tidak pernah mengirim utusan untuk bergabung dalam Koalisi Mahasiswa Pro Demokrasi seperti yang diberitakan media lokal Kalbar (Equator) pada 11 November 2006. Kehadiran tim MIUN hanya untuk kepentingan (Liputan) pemberitaan pada media kami. [Pengurus LPM Untan]


Iklan Civitas

Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006

11


Liputan Civitas

Mapala Untan oh Mapala .....? Oleh NURMAYASARI

Foto : Burhan/Miun

Mapala sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berorientasi pada alam bagi mahasiswa penyuka survival. Awalnya, Mapala Untan didirikan guna menyatukan pencinta alam di tingkat fakultas. Tetapi, kerenggangan akhir-akhir ini terjadi. Bagaimana Mapala Untan menanggapi hal itu? Paling tidak, Mapala Untan dapat mencover seluruh aspirasi pada Mapala di tingkat fakultas.

M

APALA Untan sekarang berumur 24 tahun dan lahirnya bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. Tetapi, sebelumnya 17 Juni 1977 terbentuk mapala Teknik yang merupakan embrio dari mapala Untan. Menurut Ketua Umum Mapala GEMPA Fakultas Isipol,

12

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

Dede Purwansyah, sebenarnya awal pembentukan mapala Untan sebagai wadah pertemuan mapala di tingkat fakultas. Seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut berubah. Malahan, sikap bersahabat yang diberikan oleh mapala Untan dinilai kurang. “Ini dapat dilihat, jika mapala di tingkat fakultas mengadakan acara mapala Untan tidak pernah menghadiri. Walaupun diundang secara resmi,” keluhnya. Hal senada dilontarkan Firman, Ketua Umum MEPA (Mahasiswa Ekonomi Pencinta Alam). Kurangnya sifat welcome yang ditunjukkan oleh Mapala Untan sangat dirasakan. Misalnya dalam penyelenggaraan event, mapala Untan tidak pernah mengirimkan wakil untuk mengikuti acara tersebut. Sebagai mapala di tingkat universitas, mestinya berfungsi sebagai wadah pemersatu mapala di tingkat fakultas. “Bukannya merasa lebih hebat dengan membandingkan dirinya dengan mapala di tingkat fakultas,” ungkap Amrul Ketua Umum MAPALA Teknik. Ini disangkal Janiarto, anggota mapala Untan, dimana mapala Untan tidak pernah merasa sombong ataupun lebih hebat. “Karena sesama mapala kita mempunyai tujuan yang sama sesuai kode etik pencinta alam. Acuan ini sering digunakan sebagai dasar setiap melakukan kegiatan kepecintaalaman,” tandas mahasiswa MIPA prodi Biologi. Jayusman, Ketua Umum Mapala Untan, mengungkapkan mapala di tingkat fakultas dan mapala Untan tidak mempunyai hubungan internal maupun keorganisasian. Masing-masing memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sendiri. “Selain itu, mengenai hubungan keorganisasian mapala Untan di bawah rektorat, sedangkan mapala di tingkat fakultas di bawah dekan,”tutur Mahasiswa Ekonomi Jurusan Akuntansi 2003. Saat ini, mapala Untan memfokuskan pada kegiatan bina desa. Ini merupakan kegiatan tahunan. Jadi, bila ada kegiatan di mapala tingkat fakultas jarang menghadirinya. “Apabila mengikuti itupun nama pribadi (freelance) bukan nama organisasi mapala Untan,” ujar Badol anggota mapala Untan juga mahasiswa Kehutanan angkatan 2002. Lanjut Janiarto, alangkah baiknya sesama mapala yang ada di lingkup Universitas Tanjungpura dapat berjalan seiringan. Tanpa adanya rasa curiga antara sesama mapala. Untuk lebih menjaga solidaritas dan menjunjung tinggi kode etik pencinta alam.[***]


Iklan Civitas

Edisi 36/ Thn.VIII/ Nopember/ 2006

13


Suplemen Civitas Ekspedisi Mapala Untan

Kelam, Bukit Batu Terbesar Kedua Dunia Oleh BADOL ERPETUALANG di alam bebas, tempat asyik guna mengenal lebih dekat dengan alam. Bukit Kelam yang terletak di Kabupaten Sintang, dipilih sebagai tempat pilihan sehabis lebaran. Bukit batu terbesar kedua di dunia setelah Great Stone merupakan surga bagi pemanjat tebing. Hamparan tebing dengan jalur tracking variatif menjadikan kelam tempat latihan yang baik. Sabtu (4/11) tujuh anggota menjelajahi pesona Kelam. Tak hanya itu, bantuan pun datang dari Media Adventure. Dua pemanjat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kapuas Hulu, mengikuti ekspedisi tersebut. Udara dingin pagi hari, tidak mengendorkan semangat untuk melakukan pemanjatan. Jalur yang ditempuh pernah dibuat pada latihan divisi panjat tebing Mapala Untan 2003. Jalur ini

B

14

Edisi 36 /Thn.VIII/Nopember/ 2006

dok : Mapala Untan

Pemanjatan Bukit Kelam : Selain memerlukan kerjasama yang tinggi dalam pendakian, stamina yang prima juga mutlak diperlukan.

terletak di sebelah kiri tangga besi sebelum puncak. Pemanjatan dilakukan dengan sistem artificial dan sistem hanging belay yaitu pengamanan pemanjat yang dilakukan dengan bergantung di tebing. Tebing kelam merupakan batuan andesit dimana pemanjatan banyak menggunakan bor tebing daripada pengamanan lain seperti phiton, stopper, friend dan hexentrik. Anggrek dan kantong semar yang tumbuh di tebing menambah pesona Kelam. Untuk fotografi, Tebing Kelam memang tempat yang paling cocok. Keringat yang bercucuran telah terbayarkan dengan indahnya langit senja dan kepakan sayap beberapa elang yang sedang menikmati terbangnya dalam keheningan. Meski letih, obrolan ditemani kopi membangkitkan semangat untuk kembali. “Lain waktu kami akan melanjutkannya,� ungkap Novian.[***]


Wawancara Civitas

Malam Pesona Hukum yang dipersembahkan angkatan 2006 menampilkan Saint Loco yang berlangsung (30/11) lalu, benar-benar mempesona para penonton yang memenuhi ruang Auditorium Untan. Band pelopor musik hip hop yang beranggotakan Joe (vocal), Billy (vocal rap), Willberd (drum), Gilbert (basis), Iwan (gitaris) dan DJ Titus membawakan lagu-lagu di album kedua mereka. Pelantun lagu ‘Perdamaian’ yang berasal dari Jakarta ini bercerita banyak kepada MIUN. Yuk, simak ceritanya! Oleh Nita dan Tatia IMANA nich perasaanya pertama kali datang ke Pontianak ? DJ Titus : Kalau gue udah yang ketiga kalinya datang ke Ponianak. Sebelum gabung dengan Saint Loco. Gue pernah ke sini sama Glenn dan yang satunya gue lupa sama siapa. Kalau sama Saint Loco ini yang pertama. Gilbert : Sebelum kesini gue ngira Pontianak tuch panas. Apalagi gue tau ini Kota Khatulisiwa. Tapi pas nyampai di Pontianak yang gue rasa tuh dingin mungkin pas musim hujan ya? Dan yang gue suka Pontianak tuh hijau banget, masih banyak hutan, dan jalanan gak macet, orang-orangnya juga ramah. Joe : Gue setuju dengan Gilbert kalo Pontianak ini hijau banget padahal sebelumnya gue ngebayangi kalo Pontianak tuh panas. Kapan sich terbentuknya Saint Loco ? Gilbrt : Kita terbentuknya 23 September 2003. Kita dulunya emang teman main, teman sekolah. Dari dulu emang udah sering sama-sama. Gak tau kenapa kita baru bentuk band tahun 2003. Trus arti Saint Loco sendiri ? Billy : Nama Saint Loco itu, idenya gue. Di tahun 2002 kita pernah gabung namanya ‘Seven.’ Karna udah terlalu banyak yang makai nama itu kita ubah menjadi ‘Saint Loco’ tahun 2003. dulu juga formasinya gak kaya gini. Sekarang khan ada DJ Titus yang ikut gabung. Balik lagi ke nama, kalau kita artiin dari kata perkata Saint itukan artinya orang-orang yang melakukan penemuan baru pada zamanya. Loco itu bahasa prokemnya Spanyol yang

G

artiya sesuatu yang gila. Jadi dari arti Saint Loco itu kita pengen nemuin halhal yang baru walaupun kadang-kadang kita gunain hal-hal yang gila. Gimana sih konsep musik kalian ini? Gilbert : Hip-hop. Tapi kita gak pernah ngebatasin musik itu sendiri. Misalnya ini terlalu pop nich atau ini terlalu ngerock nich. Kita dari latar belakang musik yang beda-beda. Kalau gue sebenarya musik punk trus iwan itu di jazz.. Apa gak pernah ada beda pendapat dalam kerjasama kalian? Gilbert : Beda pendapat itu pasti tapi kita gak pernah sampai berantem. Malah perbedaan itu buat musik kami jadi lebih unik. Di album ‘Vision for Transition’ ini yang menjadi lagu andalan kalian kan Perdamaian. Siapa sih yang ciptain? Inspirasinya dari mana? Billy : Kita ngerjain sama-sama dan inspirasi dari kita berenam. Gilbert : Gue cerita dikit nich ya? Gue dapat inspirasi itu dari pengalaman gue waktu ngendarain mobil sendirian. Waktu itu jalanan macet banget. Gue gak tahu kalau disamping mobil gue ada pengendara motor yang kakinya kena ban mobil gue. Gue gak tahu, dan gue juga gak dengar dia maki-maki gue, kalu dia gak ngetok kaca mobil gue. Nah di saat itu ada dua pilihan. Pertama, gue tinggalin aja, toh gue juga gak sengaja. Ke dua gue turun dan minta maaf. Dan gue ngambil keputusan yang ke dua. Gue mikir gue enak-enakan didalam mobil ber-AC lagi sedangkan orang itu mengendarain motor di siang hari yang udaranya panas banget. Lalu gue turun dan minta maaf. Orang yang tadinya maki-maki gue malah nasehatin gue supaya hati-hati dengan suara yang lembut. Ternyata kedamaian itu indah banget.

(Wah, menyentuh banget ya). Gimana pendapat kalian dengan fans-fans di Pontianak? Billy : Gue gak nyangka banget, kalau anak-anak muda Pontianak antusias sekali dengan musik kita. Gilbert : Gue juga gak nyangka, kalau performance kita yang pertama ini ramai banget jadi pengen ke sini lagi. Aliran musik favorit kalian masingmasing apa? Joe : Gue sih apa aja, yang penting enak di dengar (Sambil melempar senyum termanis yang di miliki). Gilbert : Kalau gue suka musik yang agak pop alternatif gitu sambil jingkrak-jingkrak. Sempat jalan-jalan gak di Pontianak? Billy : Kita besok pagi jam 6 harus berangkat ke Solo. Kita kan lagi promo album, jadi besok kita manggung di Solo. Mungkin besoknya lagi baru kita pulang ke Jakarta. Gilbert : Padahal gue pengen banget ngerasain bubur pedas. Mungkin lain kali kalau ke sini lagi. Harapan kalian ke depan? Semua : Kita pengen lebih banyak berkarya, bisa go internasional, musik kita bisa lebih akrab lagi di telinga pendengar dan yang pastinya kita pengen manggung lagi di Pontianak ini. Yang terakhir, Apa nich pesannya buat fans-fans di Pontianak Gilbert : Life is so beautiful, so don’t waste it ! Joe : Buka mata dengan bisa melihat kesempatan yang ada di depan mata, so pertanggung jawabkan hidupmu di hadapan manusia dan Tuhan.[*] Edisi 36 /Thn.VIII/Nipember/ 2006

15


Cerpen Civitas

Puteri Malaikat Puteri Malaikat Oleh ISKANDAR

B

EBERAPA waktu terakhir ini aku selalu merindukan perempuan yang ikut bersama mimpiku. Ia selalu berkelebat di setiap pikiranku terlena. Tapi perempuan itu tak pernah bisa ku sentuh, atau kuapakan lagi. Hanya suaranya yang selalu singgah di telingaku. Aku kadang tertawa sendiri, entah gila atau sekedar terlena oleh sandiwara yang selalu kumainkan. Tapi bukan sandiwara percintaan seperti yang sering kulihat di sinetron-sinetron televisi atau film-film yang biasa ku. Entah sejak kapan perselingkuhan ganjil ini kumulai. Tiba-tiba segalanya mengalir begitu saja. Mulai dari bangun tidur sampai aku memejamkan mata, saat aku merasa sendirian, bayangan perempuan yang selalu lekat dengan kerudung lebar putih serta pakaiannya yang serba putih itu selalu mengikutiku. Sesekali mengirimiku selimut atau sekedar mengucapkan, “Selamat Mimpi Indah” kadang menyita waktu tidurku yang biasanya kumulai saat jarum jam di atas kepala atau kadang hampir pagi menjelang. Aku merindukannya, tapi juga membencinya. *** “MAAF anda siapa ya?” kataku suatu senja entah ke berapa kalinya. “Anda tak perlu tahu siapa aku, seperti aku tak pernah mau tahu siapa kamu!” Seperti biasa, selesai bicara dia selalu menaburkan bunga diatas kepalaku. Bunga yang tak berwarna dan tak pernah kering. “Kamu mau apa dari ku?” ucapku lagi. “Mauku yang kamu mau. Tak usah marah! Nikmati saja permainan ini. Aku sengaja datang untuk menemanimu. Dan aku tak pernah berniat jahat kepadamu. Maaf juga karena kamu tak bisa merabaku, seperti kamu meraba huruf-huruf di keyboard atau di kaca monitor. Kamu juga tidak bisa menghayalkanku, seperti saat kamu membuat cerita-cerita.” Aku berfikir, apakah dia ini jin. “Jangan kasar! Belum saatnya kamu tahu siapa aku. Mungkin aku lebih manusia dari pada kamu!!!” Kemudian berkelebat secara perlahan, suara dan bayangan itu lenyap ditelan gerimis. *** 21 malam pun berlalu. Perempuan itu juga menghilang beberapa waktu. Tak pernah lagi kudengar suaranya. Aku rindu juga akan bayangan putihnya. Namun tak ada lagi yang

16

Edisi 36/ Thn.VIII/Nopember/ 2006

menemaniku menghabiskan malam di sekitar rumah kontrakanku. Aku mulai membencinya, karena baru kusadari senja terasa asing tanpa kehadirannya. Kemudian dia muncul lagi, juga saat senja atau mulai malam. Sejak itu aku menamainya ‘Perempuan Bayang Putih,’ karena memang dia sering datang dengan pakaian panjangnya berwarna putih bersih. Hanya sesekali tengah malam atau bahkan pagi-pagi sekali. Dia juga sudah mulai mengucapkan, “Selamat pagi, bagaimana tidurnya semalam?” Seperti biasa aku selalu mengatakan bangun kesiangan, karena semalaman terlalu asyik mengasah imajinasi. “Jadi kamu lagi-lagi tidak melakukan kewajibanmu menghadap Penciptamu?” “Ya, mungkin!,” ujarku santai. “Sungguh sial nasibmu!” “Tapi aku selalu bisa menikmati malam!” Kemudian dia tertawa. Aku tak tahu maksudnya. “Aku ingin menemanimu, dan aku ingin juga mengingatkanmu, itupun jika kamu tidak keberatan.” “Aku pikir-pikir, tapi pasti aku akan memerlukanmu,” ujarku santai tapi serius. Sejak saat itu, aku mulai tidak pernah bertemu dengannya. Entah beberapa lama. Aku pernah mencoba mencarinya di mesjid atau musholla. Siapa tahu perempuan itu ada disana, atau dia berada pada salah satunya. Namun tetap saja hasilnya nihil. Tapi yang mengherankan dan membuatku penasaran, dia bisa muncul kapan saja dan menghilang semaunya. Kemudian setiap malam beranjak, aku juga sering mampir ke kampuskampus, mesjid kampus, siapa tahu bayangan tersebut juga merupakan wujud nyata. “Mencari siapa?” tanya seorang tukang parkir yang mungkin curiga melihat aku mondar-mandir di depan

kampus, di wilayah penjagaannya. “Mencari kawan.” “Siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya?” “Lupa namanya, tapi dia seorang perempuan, biasa berpakaian panjang berwarna putih.” “Bingung saya, anda tidak tahu namanya. Kalau ciri-cirinya seperti itu mungkin saja di Mushola kampus, tu, coba masuk kesana,” kata penjaga parkir itu menunjuk kearah musholla kampus yang tidak begitu jauh dan diarahkan melalui telunjuknya. “Terima kasih sekali.” Aku mencarinya, sempat juga menunggu sampai habis waktu Isya, namun yang kucari tetap saja tak ku temui. Dan kelewat seringnya sehingga aku putus asa mencarinya dan membiarkan saja semua pengalaman pribadiku itu. *** ENTAH keberapa malam ku lalui dengan kesendirianku. Namun sekarang entah mengapa, perempuan itu hadir kembali, perasaan ku yang hampir kecewa dan sempat untuk melupakannya karena cukup lama dia tidak hadir menemaniku. Setelah sempat menghilang, perempuan itu selalu menemaniku lagi. Hampir setiap malam, kala aku sendiri. Ia perempuan yang kemudian menjelma menjadi teman, pacar atau entah apa lagi. Dia selalu mengingatkanku untuk menghadap-Nya, saat aku hampir terlupa. Bahkan sebelumnya, dia yang mengingatkanku untuk menghadap Sang Pencipta karena, saat itu aku sangat menyepelekan yang namanya ibadah. Kadang aku sempat menamai perempuan berkerudung panjang dan berbayang putih bercahaya tersebut, sebagai “puteri malaikat,” mungkin julukan itu cukup berlebihan karena aku tidak pernah membaca atau mendengar ayat Alqur’an yang menyebutkan malaikat itu punya puteri atau istri. Tapi maksudku bukan untuk hal yang ilmiah dan perlu dipercayai, tapi hanya sekedar julukan padanya. Perempuan yang selalu menemaniku di kala kesepianku, tanpa bisa disentuh, tanpa bisa kupandang wajahnya, tapi kuyakin dia perempuan yang luar biasa, karena merdu suaranya, dan indah tutur kata serta bahasanya. Dan pada akhirnya, aku sendiri tidak mengerti, apakah aku ini masih waras, dengan keadaan seperti itu. Atau juga apakah itu semua hanya imajinasiku. Padahal aku selalu bersamanya, saat kesepianku. Aku tidak merasa sendiri. Kadang ia juga hadir dalam mimpiku, tapi juga dalam kesadaranku.[*] Pandan_putih ‘02- Pontianak, 7 Okt’ 2006.

Civitas edisi 36  

Buletin Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak