Issuu on Google+

Edisi 39/ Thn.IX/ Juni/ 2007


Selamat pagi sobat kampus! Selamat datang kami ucapkan kepada seluruh mahasiswa baru di lingkungan kampus Universitas Tanjungpura dan salam kenal dari redaksi Civitas Mimbar Untan. Memang selama dua bulan ini Civitas Mimbar Untan tidak memberikan informasi kepada sobat kampus seperti biasa, hal ini dikarenakan dua bulan itu adalah masa tenang bagi sebagian kru kami dan mahasiswa Untan pada umumnya. Kini, kami hadir dengan Civitas Edisi Khusus Mahasiswa Baru (Maba) yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1430 H. Berhubung ini adalah Civitas Edisi Khusus, maka kami berusaha membuatnya menjadi lebih beda dari biasanya. Kami telah bekerja sebaik mungkin untuk menyajikan yang terbaik bagi sobat kampus terutama bagi pendatang baru di lingkungan kampus Untan. Isu yang diangkat pun sebagian besar sebagai masukan bagi sobat kampus agar dapat menjalani kehidupan kampus dengan mudah. Dalam Civitas kali ini kami menyuguhkan menu-menu istimewa, antara lain Untan 2 Dimensi, Kisruh BEM, Pembuatan lapangan 3 in 1 FKIP serta tak ketinggalan info-info seputar organisasi si lingkungan kampus Untan serta tipstips menarik bagi Maba agar lebih mudah beradaptasi dan menjalani kehidupan di kampus. Segenap kru Civitas Mimbar Untan mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan dan berharap agar Civitas ini berguna bagi sobat kampus. Kami sangat mengharapakan kritik dan saran yang bersifat konstruktif agar kami dapat berkarya lebih baik lagi di masa mendatang. Hidup pers mahasiswa !!!

Kebon jeruk Faperta.

Assalamualaikum. Terimakasih kepada redaksi Mimbar Untan yang bersedia memuat surat saya ini. Saya mahasiswi Pertanian angkatan 2008. Saya ingin mengungkapakan keprihatinan saya terhadap perkebunan jeruk yang ada di Fakultas kami, tepatnya di depan laboratorium kultur jaringan. Saya perhatikan kebun jeruk itu kurang dirawat sehingga banyak ditumbuhi rumput-rumput liar dan banyak pohon yang mati akibat kekeringan. Padahal kebun jeruk itu banyak menghasilkan buah yang dapat bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Pertanian. Saya ingin mempertanyakan siapa yang mengurus kebun jeruk tersebut dan kenapa kebun tersebut kurang mendapatkan perawatan. Terima kasih dan wassalam.

Yanti Faperta

OPSPEK never die‌ Assalamualaikum. Mohon kepada birokrasi kampus yang kami hormati, agar kegiatan opspek jangan sampai dihilangkan. Sebab tidak dapat dipungkiri opspek memberikan manfaat berupa pengenalan dunia kampus kepada mahasiswa baru. Kalaupun harus diawasi, jangan terlalu mendikte panitia, cukup diberikan batasan-batasan yang jelas tentang pelaksanaan opspek. Karena saya percaya rekan-rekan panitia juga tahu apa yang harus dilakukan demi kebaikan para juniornya dan apa yang tidak. Thanx‌

Ardi, mahasiswa FKIP.

buletin Mimbar Untan Civitas Diterbitkan oleh : Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura Pontianak Ketua Umum : Sri Pujiyani Sekretaris Umum : Jumardi Budiman Bendahara Umum : Tri Mulyani Divisi PSDM : Odilo Tarigasa, Neneng Purwanti Divisi Litbang : Riya Yulharmaini, Laurika Divisi Penerbitan :

2

Agustinah Divisi Penyiaran : Ellia Marliyanti, Suri Mayanti Divisi Peusahaan : Iswandi, Yulia Citra Pemimpin Redaksi : Jumardi Budiman Sekretaris Redaksi : Laurika Redaktur : Sri P, Agustinah, Odllo T,

Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

Surat Pembaca

Kembali ke Fitrah dengan semangat baru..

Tri M, Riya Y Reporter : Jumardi B, Odilo T, Laurika, Neneng P Fotografer : Yulia C, Suri M Ide Karikatur : Is_Batista Lay outer : Odilo

REDAKSI Alamat Redaksi : Jl. Daya Nasional Gedung MKDU Untan, Telepon : (0561) 7068136. e-mail : lpm_untan@yahoo.com atau : gelora_lpmu@yahoo.co.id Percetakan : Artha Grafistama, Jl. Pahlawan No. 20 Telp.(0561) 765000-766000 (Isi diluar tanggung jawab penerbit).

Redaksi menerima tulisan berupa opini, essai, laporan kegiatan kampus, cerpen,hasil investigasi, surat pembaca disertai identitas diri. Tulisan diketik di lembaran folio dengan spasi ganda. Kirimkan ke Sekretariat LPM Untan, langsung. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah makna tulisan.


Civitas Opini Opini Civitas Opini Civitas

Mahasiswa; Antara Intelektualitas, Gerakan Moral dan Tindakan Anarki Mahasiswa adalah agent of change. Slogan itulah yang selalu disuarakan oleh kebanyakan mahasiswa. Slogan yang terlanjur melekat dan didentikkan pada seorang mahasiswa. Hanya saja slogan seperti ini harusnya diberikan pada mahasiswa dengan kriteria yang seperti apa? Tentunya pada mahasiswa yang bisa membawa perubahan positif bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negaranya. Ketika bicara mengenai mahasiswa kaitannya dengan generasi muda, dengan semangat muda tentunya masih kreatif sehingga sangat produktif sebagai elemen potensial bagi progress sebuah negara. Untuk itu mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa yang kehidupannya dipenuhi dengan spirit idealisme tinggi, penuh kreatifitas dan mempunyai aura positif dalam menyikapi segala masalah, baik yang internal maupun yang eksternal. Mahasiswa secara harfiah tentu akan terkait dengan ciri-ciri tradisi intelektualitas mahasiswa, yang harus memiliki poin-poin seperti punya rasa ingin tahu yang tinggi, punya rasa disiplin, berpikir yang ilmiah, inovatif, kreatif, objektif, mandiri, terbuka, berwawasan luas, progresif dan produktif yang mana semua itu terwujud dalam tradisi reading, writing, discussing and organizing. Sekarang banyak mahasiswa yang merasa bangga atau �proud� ketika menyandang predikat mahasiswa, apalagi dengan slogan tambahan lainnya seperti mahasiswa sebagai agent of change, agent of control dan agent of development. Padahal dengan predikat yang mereka sandang akan muncul banyak tuntutan yang wajib dilakukan yakni keharusan untuk memberikan kontribusi riil minimal bagi kehidupan mereka sendiri. Jika dirunut, sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peran kepemudaan masa itu yang sebagian besar pelajar STOVIA. Ketangguhan mahasiswa juga terbukti dengan keikutsertaan mahasiswa menurunkan rezim-rezim. Namun kini pemuda termasuk mahasiswa sangat dimanjakan oleh keadaan dimana mereka tidak lagi harus berjuang dengan keras. Keadaan inilah yang membuat sebagian pemuda tidak lagi respect dengan

kondisi sosial saat ini yang semakin terpuruk. Bahkan untuk menghidupkan dinamika organisasi saja sudah kehilangan gairah. Contoh kecil banyak organisasi kepemudaan atau kemahasiswaan yang vakum karena kehabisan kader dengan idealisme tinggi. Seperti kampus yang kian hedonis dan memudar intelektualitasnya, apalagi organisasi kepemudaan seperti KNPI yang lebih tepat sebagai organisasi Kakek Nenek Pemuda Indonesia ketimbang Komite Nasional Pemuda Indonesia. Saat generasi kepemudaan mengalami kebobrokan dalam organ positif justru semakin marak muncul organ-organ yang mengidentifikasikan dirinya sebagai perkumpulan pemuda primordial yang tidak jelas visi-misinya serta apa yang akan menjadi kontribusi mereka untuk bangsa dan negaranya. Satu lagi tanda-tanda dari semakin terpuruknya karakteristik dari mahasiswa/pemuda yang biasa diidentikkan sebagai agen perubahan dan pembangunan, yakni semakin maraknya aksi brutal dan anarki dari kalangan mahasiswa yang katanya kaum intelektual dan berperan sebagai penyalur aspirasi rakyat sebagai wujud kepekaan terhadap masalah-masalah sosial. Hal ini jelas menjatuhkan kredibilitas mahasiswa sebagai generasi pejuang pembela kaum tertindas! Beda kasusnya ketika gerakan kepemudaan (Mahasiswa) yang terjadi pada tahun 1998 dimana saat itu mereka benar-benar memperjuangkan kebebasan berdemokrasi secara murni sebagai gerakan moral tanpa ada unsur kepentingan yang lain, sehingga gerakan mahasiswa pada saat itu mendapat reward yang luar biasa dari masyarakat. Dalam memahami gerakan mahasiswa, perlu dilihat dari platform gerakannya. Sejak awal gerakan mahasiswa mengidentifikasikan dirinya sebagai

Oleh Neneng Purwanti* gerakan moral, dengan tuntutan seputar keadilan, kebebasan, pemerataan kesejahteraan, dan hak-hak asasi manusia. Ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa sarat dengan visi kebangsaan, keagamaan dan kemanusiaan. Seharusnya ini yang terus digalakkan, sehingga gerakan mahasiswa tetap pada jalurnya. Namun bermasalah jika mengartikulasikan suatu gerakan dengan keanarkisan, karena malah akan menyudutkan dan menjadi gambaran keterpurukan mahasiswa saat ini. Apalagi memang sudah terlihat mayoritas mahasiswa dan pemuda saat ini menjadi korban life style yang hedonis kapitalistik, dengan tersedianya segala hal yang diinginkan meskipun secara sadar bahwa semua itu tidak terlalu mereka butuhkan. Menurut Romy Febri, mantan aktivis dan wartawan senior Tempo, ada lima jenis mahasiswa yang dapat diidentifikasi, yakni mahasiswa dengan tipe strukturalis, profesional, hedonis konsumtif, idealis dan oportunis. Sekarang tipe yang banyak bermunculan di kalangan mahasiswa adalah tipe hedonis dan oportunis, sehingga cukup sudah gambaran yang sangat nyata terlihat bahwa keterpurukan itu terjadi baik secara dinamika organisasi ataupun secara personal. Jika ini terus terjadi, maka Indonesia akan benar-benar mengalami krisis generasi muda produktif yang menjadi pengemban tugas bangsa dan negaranya sebagai generasi pro-perubahan. Indonesia masih mengalami keterjajahan, masih banyak kemiskinan dan keterbelakangan, mudah-mudahan jangan ditambah lagi dengan keterpurukan generasi muda terutama mahasiswa yang seharusnya menjadi gerbong pro perubahan. Bergerak dan bergeraklah mahasiswa Indonesia, bangkitlah bersama-sama melawan keterjajahan melawan penindasan dan memperjuangkan perubahan! * Penulis adalah Mahasiswi Fisip ’07 Untan Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

3


Headline Civitas Civitas Headline

UNTAN 2 DIMENSI Oleh : ODILO TARIGASA 64 tahun sudah Indonesia merdeka dan sejak 50 tahun lalu Untan berkarya bagi bangsa. Kehadiran Untan merupakan perjuangan panjang rakyat Kalimantan Barat. Namun, apakah para civitas akademika di lingkungan Universitas Tanjungpura sudah mengenal betul arti dari ikon intelektualitas masyarakat Kalbar ini? Doc. Miun

P

redikat yang disandang Universitas Tanjungpura sebagai universitas dengan lahan terluas se-Indonesia, ternyata tidak serta merta menggambarkan kebesaran hasil karya para kaum intelektual yang terdidik di lembaga pendidikan kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat tersebut. Meskipun demikian, tentunya masih ada rasa bangga atas predikat yang cukup mengharumkan nama almamater kita. Dan percaya atau tidak, rasa bangga dapat membuat orang terlena akan fokus yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun rasa bangga ini hendaknya dapat dimanajemen sedemikian rupa sehingga menjadi motivasi untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik. Kecenderungan untuk mengabaikan sejarah telah membuat banyak orang kurang menghargai apa yang telah ada saat ini. Hal tersebut tentunya bertolak belakang dengan inti dari pidato yang pernah disampaikan oleh Bapak Negara Indonesia I Ir. Soekarno yang berjudul “Jas Merah� yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak melupakan sejarah. Melalui pemahaman mengenai sejarah, kita lebih dapat mengenal sesuatu jauh lebih dalam. Tidak hanya sekedar rasa kagum terhadap popularitas objek tersebut. Demikianlah yang dapat kita terapkan untuk dapat mengenal Kampus Universitas Tanjungpura. Kembali lagi mengingat dimensi masa lalu, kehadiran Perguruan Tinggi Untan yang awalnya bernama Universitas Daya Nasional (20 Mei 1959) sebagai bagian dari sistem Pendidikan Nasional yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional merupakan hasil perjuangan masyarakat Kalbar untuk dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya. Pada masa tersebut, keadaan masyarakat kita relatif masih tertinggal dengan daerah-daerah lain di Indonesia sehingga Untan bertugas untuk mengejar ketertinggalan di segala bidang. Selama perjalanannya, Untan cukup banyak melakukan berbagai perubahan sebagai langkah perbaikan kualitas dan kuantitas lulusannya.

4

Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

Pada awalnya, status perguruan tinggi Daya Nasional ialah swasta. Di masa ini tidak banyak tercatat sejarahnya karena kondisi pada waktu itu lebih menuntut semangat hidup dan mempertahankan diri. Tenaga pengajar pada waktu itu mempergunakan tenaga sarjana dan sarjana muda yang ada di daerah ini, sehingga tidak seorangpun yang berstatus dosen tetap. Namun dengan keluarnya SK Menteri PTIP No. 53 tahun 1963 tanggal 16 Mei 1963, Universitas Daya Nasional dinegerikan menjadi Universitas Negeri Pontianak (UNEP) yang ditetapkan pada tanggal 20 Mei 1963. 2 tahun berselang perubahan status, Universitas ini pun kembali mengalami perubahan nama menjadi Universitas Dwikora. Perubahan ini dikarenakan adanya penyesuaian terhadap perkembangan situasi politik dan kenegaraan di tahun 1965. Dalam keadaan tersebut,

Doc. Miun


Headline Civitas

Doc. Miun

Universitas Dwikora hanya terdapt 5 fakultas. Selanjutnya dengan SK Presiden RI Nomor 171 tahun 1967 terhitung tanggal 15 Agustus 1967 ditetapkan perubahan nama dari Universitas Dwikora menjadi Universitas Tanjungpura. Tercatat Letkol CKH. Muhammad Isja, SH sebagai rektor pertama Untan. Seiring berjalannya waktu, kursi kepemimpinan Untan telah diduduki oleh 9 orang berbeda mulai dari Letkol CKH. Muhammad Isja, SH, Prof. Drs. Hindersah Wiraatmadja, Drs. Wan Usman, Ir. Soepartono Siswopranoto, Prof. Dr.H. Hadari Nawawi, Mahmud Akil,SH, Ir. Hj. Purnamawati, Prof. Hj. Asniar Ismail, S.E., M.M., dan saat ini dipimpin oleh Prof. Dr. H. Chairil Effendi,M.S. Dimensi masa depan Untan tercermin dari visi dan misi yang dimiliki dan existensi dalam pelaksanaannya. Menjadi institusi preservasi dan pusat informasi ilmiah Kalimantan Barat serta menghasilkan luaran

Headline Civitas Headline yang bermoral Pancasila danCivitas mampu berkompetisi baik di tingkat daerah, nasional, regional maupun internasional pada tahun 2020 merupakan visi Untan dalam Upaya membangun bangsa k h u s u s n y a Kalimantan Barat. Visi mulia tersebut tentunya berusaha untuk diwujudkan m e l a l u i penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara berkualitas sehingga dapat menghasilkan Doc. Miun luaran yang mampu mengikuti, mengembangkan, dan memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta mampu memberikan arah bagi pembangunan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing[*].

Karikatur: Iswandi

Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

5


Headline Civitas

Ketika OPSPEK Dihentikan Oleh : MARIA E V LAURIKA L S

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) ataupun kegiatan yang selama ini kita kenal dengan Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus (OPSPEK), merupakan salah satu kegiatan tahunan yang bagi sebagian Mahasiswa Baru (Maba) merupakan momok menyeramkan, di satu sisi merupakan kegiatan menyenangkan yang ditunggutunggu bagi para mahasiswa senior. Kegiatan tahunan (Untan) ini di prakarsai sebagai ajang pengenalan dan pengakraban diri terhadap dunia kampus, yang merupakan hal baru bagi para Maba. Namun bagaimana jika Opspek Untan tahun 2009 ini ditiadakan? Eddy Suratman, Pembantu Rektor Tiga, menegaskan bahwa kegiatan OPSPEK Universitas Tanjungpura pada tahun 2009, ditiadakan. Hal ini merujuk pada Keputusan Dikti NOMOR 38/DIKTI/Kep/2000, yang mana memutuskan bahwa pengenalan terhadap program studi dan program pendidikan di perguruan tinggi (Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional hanya boleh dilakukan dalam rangka kegiatan akademik dan dilaksanakan oleh pimpinan perguruan tinggi, serta menghapus segala kegiatan penerimaan Maba di perguruan

6

tinggi di luar ketetapan butir p e r t a m a . Penghentian kegiatan Opspek ini, lanjut Eddy, baru bisa dilaksanakan setelah Untan selama delapan tahun ‘nakal’ tetap melaksanakannya. Kegiatan OPSPEK yang berjalan selama delapan tahun itupun ternyata masih menyimpan banyak penyelewengan yang terjadi, serta adanya keluhan dari para dosen tentang penyelenggaraan OPSPEK yang menyita kegiatan akademis ataupun yang jangka waktu kegiatannya berlangsung cukup lama (hingga satu tahun). Kegiatan perkuliahan yang mulai aktif pada tanggal 1 September 2009, langsung diikuti oleh para mahasiswa baru dengan upacara penerimaan Mahasiswa baru yang diadakan oleh BEM Untan pada pukul 07.30, bertempat di lapangan Rektorat Untan. Setelah kegiatan upacara, para mahasiswa baru diarahkan kembali ke fakultas masingmasing untuk memulai kegiatan akademik. Adapun kegiatan perkenalan kampus dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu, dimulai dari tanggal 01 September 2009 hinggga tanggal 09 November 2009 berlokasi di dalam kelas masing-masing, dengan pengawasan tiap-tiap fakultas. Pengenalan Unit Kerja Mahasiswa (UKM) Universitas Tanjungpura, tutup Eddy, akan dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri. Apa pendapat mahasiswa tentang hal ini? Iwan, Alummi Fakultas Ekonomi ‘09 Hal ini menurut saya kurang wajar, karena OPSPEK melatih mahasiswa baru untuk bersosialisasi dengan lingkungan kampus. Tanpa OPSPEK, hubungan kekeluargaan antara mahasiswa baru dengan senior

Edisi Thn.IX/Juni/ 2007 Edisi 39/ Khusus/Thn.XI/September/2009

maupun sesama mahasiswa baru tentu akan renggang dan sulit. Tapi jika penghentian OPSPEK benar-benar direalisasikan, ada baiknya kita melihat dulu apakah hal ini akan berjalan dengan baik atau tidak. Harsen H Simatupang, Mahasiswa Fakultas Hukum Angkatan 07 Kegiatan OPSPEK dihentikan atau tidak, bukanlah pengaruh besar. PMB tetap akan dilaksanakan baik secara terbuka ataupun diamdiam. Teddy, Ketua Pengenalan Wawasan Akademis Angkatan 09 (Pawang’09) Fakultas Teknik Kami, dalam kegiatan pawang ini sebenarnya meningkatkan ketakwaan kapada Tuhan yang Maha Esa, meningkatkan daya kritis mahasiswa, loyalitas terhadap kampus, dan meningkatkan kebersamaan, apalagi selama bulan Ramadhan ini kami lebih menitik beratkan pada kegiatan keagamaan. Jika OPSPEK dihentikan, siapa yang nanti akan menjadi penerus-penerus BEM dan organisasi kemahasiswaan lainnya. Berlatar belakang hal itu, saya pribadi, dan saya yakin semua teman-teman teknik dan fakultas lain juga berpendapat sama, OPSPEK harus ada dan dilaksanakan seperti adanya. Kami tidak memungkiri kekhawatiran pihak rektorat akan prakter pelaksanaan lapangan dari kegiatan OPSPEK ini, karena memang pada saat disampaikan di lapangan kondisinya berbeda. Dengan waktu pelaksanaan kegiatan pengenalan kampus yang diberikan oleh pihak rektorat, saya rasa sangat tidak cukup untuk pembentukan karakter diri, karena dalam draft acara kami telah mencanangkan kegiatan seperti pembentukan panitia Humanity Night Project (HNP), yang merupakan pengabdian kami terhadap masyarakat dan pelatihan mahasiswa baru terhadap kegiatan berorganisasi, dan juga ada pembahasan soal-soal Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester, sudah kami rangkum dalam kegiatan pawang tahun ini. Apalagi dengan waktu yang diberikan yaitu hari Sabtu dan Minggu, kami rasa hal itu akan menjadi sangat tidak efektif karena hari Minggu digunakan bagi umat Nasrani untuk melaksanakan kegiatan keagamaannya. Walaupun OPSPEK kemudian jadi dihentikan, kami akan menjalankan keputusan yang diambil oleh rektorat, tapi selama keputusan tersebut sejalan dengan apa kami rencanakan sebelumnya. Jika pihak rektorat meminta kegiatan OPSPEK digantikan dengan kegiatan pembinaan akademis, akan kami jalankan. Namun jika OPSPEK dihentikan, kegiatan apakah yang bisa menggantikan OPSPEK tersebut, siapa yang akan menjadi penerus BEM dan organisasi lainnya, hal itu harus menjadi bahan pertimbangan[*].


Kampus Civitas

Mengenal UKM di Lingkungan Oleh : JUMARDI BUDIMAN Unit Kegiatan Mahasisiwa (UKM) dan organisasi mahasiswa merupakan tempat penyalur minat dan bakat, dapat dikatakan sebagai “Kampus Tanpa Kelas”, karena banyak ilmu, terutama ilmu terapan yang dapat dipelajari bila menjadi anggotanya. Tidak sedikit sarjana memperoleh pekerjaan berdasarkan ilmu yang didapatnya ketika menjadi anggota sebuah organisasi mahasiswa, yang tidak berhubungan dengan bidang ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah. Berikut adalah UKM dan oraganiasasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Tanjungpura yang juga beralamat di Jl. M. Isja Komp. PKM Untan. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pada awalnya BEM dikenal dengan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), dan pada tanggal 28 Maret 1999 berubah nama menjadi BEM. Berada di bawah naungan rektorat, dan setingkat UKM, berfungsi sebagai pemerintahan mahasiswa Untan yang tugas dan wewenangnya hampir sama dengan badan eksekutif pemerintah RI, hanya saja yang menjadi rakyatnya ialah mahasiswa Untan yang ketuanya disebut dengan Presiden mahasiswa ( Presma) dibantu wakil dan para menteri. Jenis kegiatan BEM antara lain mengakomodasi minat dan bakat mahasiswa, penalaran ilmiah, advokasi, seminar dan sebagainya sesuai dengan progaram kerja. Saat ini BEM Untan diketuai oleh Aditya Nugroho.

Foto: Lau/Miun

Lingkar Ilmiah Studi Mahasiswa ( Lisma ) Organisasi ini cocok bagi mahasiswa yang suka dengan dunia tulis menulis. Teknik penulisan karya ilmiyah ini akan didapati di organisasi ini. Membangun anggotanya dengan kecerdasan : IQ, EQ, SQ & FQ dan akan dibimbing menjadi mahasiswa yang memiliki pengalaman dalam penulisan karya ilmiah agar dapat membuat karya tulis yang baik. Organisasi yang diketuai oleh Marwan ini memiliki beberapa kegiatan tahunan seperti Presentasi Rutin Karya Tulis, Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) se–Untan & se–Kalbar, dengan beberapa diklat seperti diklat dasar anggota baru Lisma Untan, diklat metodologi penelitian dan penulisan ilmiah, dan diklat penulisan ilmiah populer SMP dan SMA se-Kalbar. Sekretariat Lisma beralamat di Jalan Daya Nasional, Komplek gedung MKDU Untan.

Foto: Lau/Miun

Foto: Lau/Miun

Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Untan Organisasi kerohanian ini berdiri pada tanggal 1 Juli 1990. Bertujuan sebagai wadah pengembangan kreativitas dan potensi mahasiswa katolik serta menghimpun organisasi mahasiswa katolik di lingkungan Untan. Dibawah kepemimpinan Alias Jamil, organisasi ini mengadakan kegiatan setiap tahunnya seperti yaitu Orientasi Kegiatan Pembinaan (Orkabina), Latihan Kepemimpinan KMK, Kemah Bakti Sosial Mahasiswa Katolik (Kebasisto), Dies Natalis, serta Natal dan Paskah Oikumene. Selain KMK, organisasi keagamaan yang ada di Untan antara lain ; Badan Kerohanian Mahasiswa Untan (BKMI) yang dikhususkan bagi mahasiswa yang beragama islam dan membawahi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang ada di setiap Fakultas dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PKM) dengan sekretariat di GOR Untan. Edisi 39/ Thn.IX/ Juni/ 2007 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

7


Kampus Civitas Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Untan Bagi kamu yang suka berpetualang dan melakukan perjalanan, pasti kamu akan tertarik bergabung dengan organisasi ini. Berdiri pada 28 Oktober 1982, dengan visi dan misi pelestarian alam dan lingkungan hidup (LH), serta pengadian kepada masyarakat. Selain berpetualang, disini juga bisa mengembangkan kecintaan terhadap alam dan LH secara sistematis organisasi yang diketuai oleh Barry ini memiliki agenda tahunan seperti Pendidikan LH, Bina Desa Mapala, dan Ekspedisi Wajib.

Racana Karang Tanjung Junjung Buih Untan Bagi kamu yang aktif atau tertarik dengan kegiatan kepramukaan, torganisasi ini cocok untuk kamu. Organisasi yang berdiri pada tanggal 13 Desember 1981 ini berlatar belakang usaha pembinaan dan pengembangan kepramukaan, bertujuan untuk pengembangan potensi pribadi mandiri yang siap membantu sesama, bertanggung jawab dan berkomitmen. Agenda tahunannya seperti Sang Prabu, Kemah Kerja Bakti Pramuka, dan Tanjungpura Scoutmenship Camp, diharapkan dapat menunjang misi pramuka dalam membentuk anggota yang berjiwa dan berwatak pramuka yang berlandaskan iman dan takwa serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini organisasi ini diketuai oleh Halid, mahasiswa FKIP jurusan PGSD. Foto: Lau/Miun

Korps Suka Rela (KSR) PMI Unit Untan UKM ini dibentuk untuk menyalurkan minat mahasisiwa aktif dalam kegiatan kemanusiaan, setiap anggota akan mendapat pelatihan kepalang merahan dan kesehatan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi yang diketuai oleh Junita ini memiliki 3 bidang kegiatan yakni Pertolongan pertama (PP), perawatan keluarga (PK), serta search and rescue (SAR) sesuai dengan tujuh prinsip dasar kepalangmerahan kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan. Rutinitas tahunan KSR ialah mengadakan serangkaian kegiatan memperingati Hari Kesehatan Dan Kepalangmerahan Sedunia (HKPMS), pelatihan dan pendidikan dasar (diksar), berbagai pelatihan kepalangmerahan. Selain melaksanakan kegiatan di atas, UKM ini juga memiliki beberapa sekolah binaan baik SMP maupun SMA yang meminta anggota KSR menjadi pelatih kegiatan PMR di sekolah mereka.

Resimen Mahasisiwa ( Menwa) Satuan 06 Untan Organisasi ini merupakan satu-satunya unit kegiatan mahasiswa yang menerapkan sistem pendidikan dan pelatihan semi militer. Organisasi ini lebih menitik beratkan pada pembentukan kedisplinan dan belajar memanajemen diri. Peran Menwa adalah membantu menjaga ketertiban dan ketentraman lingkungan kampus Untan. Organisasi yang dikomandani oleh Tusiman ini terbentuk pada tanggal 30 Juli 1964 dengan salah satu tujuannya sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dalam olah keprajuritan. Jumlah anggota Menwa saat ini sebanyak 35 orang. Adapun kegiatan tahunan Menwa Untan antara lain, Pradiksar, Pendidikan Dasar, Kursus Kader Pelaksana, Kursus Kader Pemimpin serta berbagai kegiatan pelatihan yang kesemuanya didasarkan pada visi Menwa, yakni meneruskan tradisi TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), TP (Tentara Pelajar), CM (Corp Mahasiswa) yang ujud aktulasasi kesadaran bela negara dan telah teruji dalam pembelaan negara di era revolusi kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

8

Edisi Thn.IX/Juni/ 2007 Edisi39/ Khusus/Thn.XI/September/2009

Koperasi mahasiswa ( Kopma ) Untan Sesuai namanya, UKM ini lebih menekankan pada kegiatan perkoperasian sekaligus sebagai tempat untuk belajar berwirausaha.Unit kegiatan yang beralamat di Jalan M.Isja ini juga menyediakan tempat pelayanan mahasiswa, seperti ; tempat fotocopy, warnet dan wartel. Secara rutin, Kopma mengadakan kegiatan pelatihan koperasi bagi mahasiswa dan pelajar setiap tahunnya. Persatuan Olahraga Beladiri Untan ( POBU ) Organisasi ini dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin belajar dan berlatih olahraga beladiri seperti karate, tae kwon do, boxing, kempo dan olahraga beladiri lainnya. Pelatih POBU didatangkan dari dalam dan luar lingkungan kampus Untan yang sebagian besar merupakan atlet beladiri. Selain mahasiswa Untan, UKM yang melatih kekuatan fisik dan mental ini juga menerima anggota dari kalangan pelajar. Anggota POBU biasanya berlatih di aula UKM Untan yang letaknya di depan sekretariat POBU dan masih dalam kawasan komplek UKM Untan. Saat ini diketuai oleh Maryadi.


Kampus Civitas Peduli Lingkungan Hidup “Hijau Bersih�( Hiber) UKM yang baru berdiri pada tanggal 8 Oktober 2008 dibentuk untuk membantu upaya-upaya peningkatan kualitas Lingkungan Hidup (LH) dengan misi mengajak masyarakat dan mahasiswa melaksanakan pola hidup ramah lingkungan, khususnya anggota UKM Hiber. Kegiatan Hiber Untan berdasarkan program kerja pengurus periode 2008-2009, antara lain rekrutmen dan pelatihan dasar anggota baru, peningkatan sarana informasi (mading, internet, kliping), evaluasi perubahan sikap, edukasi internal, dan event lingkungan ( Green Mission 2009 ). Organisasi yang diketuai oleh Beny Thanheri ini telah memiliki 20 orang dan 17 anggota komunitas yang keanggotaannya berasal dari masyarakat. Foto: Lau/Miun Selain UKM yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa unit kegiatan lain yang dengan jenis kegiatan yang berbeda seperti UKM seni mahasiwa Untan dan Lembaga Pers Mahasiswa Untan yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Akhirnya,kami hanya dapat berharap semoga informasi tentang UKM yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi mahasiswa baru dalam menentukan pilihan berorganisasi yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing sehingga dapat mengembangkan potensi demi mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hidup Mahasiswa !!!.

Edisi 39/ Thn.IX/ Juni/ 2007 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

9


Tips Civitas

Kiat Masuk ke Lingkungan Kampus Oleh CITRA Kiat Masuk ke Lingkungan Kampus Oleh Citra Sebagai mahasiswa baru (Maba) tentu kamu nggak berani buat berekspresi di kampus, faktornya karena malu, merasa takut sama senior dan merasa asing dengan lingkungan baru. Nah buat membantu kamu, ini ada tips ala Lembaga Pers Mahasiswa Untan yang mudahmudahan bisa membantu kamu sebagai Maba. 1. Belajar Buta Ramah Jika kamu berada dikalangan mahasiswa. Itu awal bagimu untuk bisa bersosialisasi, dan kamu akan lebih disukai banyak teman baru karena ramah dan murah senyum.

10

Tetapi kamu jangan senyum-senyum sendiri, nanti kamu dikira nggak waras. 2. Perbanyak Teman Dari Daerah Bagi kamu yang berasal dari daerah, kamu akan merasa senasib seperjuangan, karena merasa sebagai pelajar perantau yang jauh dari keluarga. Nah jika punya teman yang sama-sama dari daerah, kamu bisa berbagi suka dukanya tinggal didaerah orang. 3. Kenali Kampusmu Sebagai Maba kamu mesti kenali kampusmu terlebih dahulu. Biasanya dunia baru, akan terasa asing bagimu, nah agar lebih mudah dan kamu merasa lebih gampang mencari tempat-tempat penting seperti lab-lab, tempat fotokopian dan kantin, bahkan ruangruang dosen yang nantinya akan kamu butuhkan saat perkuliahan. 4. Kunjungi Papan Pengumuman Biar kamu nggak ketinggalan informasi seputar kampus, kunjungi papan pengumuman di fakultas. Selain itu, ikuti organisasi yang bermanfaat di kampus. Karena organisasi itu berguna untuk melatih kamu menjadi mahasiswa yang kritis, terampil dan independent. 5. Gunakanlah fasilitas Kampus Gunakanlah fasilitas kampus yang sudah tersedia, agar kamu bisa mengirit uang saku dan bisa kamu tabung buat

Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

hal-hal yang penting disaat kamu memerlukannya. Apalagi Maba yang berasal dari daerah. Bukan berarti Maba asal kota (tuan rumah) nggak bisa menggunakan fasilitas kampus untuk ngirit. Bahkan sebagai Maba asal kota, kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu juga bisa irit uang saku. 6. Cintailah Kampusmu Sebagaimana kamu mencintai rumahmu, sayangi teman, hormati dosen dan rawatlah kampusmu seperti kamu merawat diri kamu sendiri. Yakin dech kamu akan betah dikampus dan merasa kampus itu sebagai rumah keduamu. Nah..semoga tips ini bermanfaat buat Mahasiswa Baru. Dan yakinlah, Menjadi seorang sarjana yang berprestasi itu bukan karena latar belakang orang tuanya, tetapi kemauan dan niat dari mahasiswanya itu sendiri. Karena tanpa kemauan, harta tidak dapat berperan penting. apalagi di Untan ada beasiswa yang bisa membantu kamu untuk semakin giat belajar dan berprestasi.....SUKSES[*].


Profil Civitas

LPM UNTAN LAHIRKAN WARTAWAN KAMPUS dan PENYIAR RADIO Oleh: AGUSTINAH

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) adalah UKM yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Melatih kamu-kamu yang tertarik untuk menjadi wartawan kampus dan penyiar radio. Sebelum menjadi LPM, dulunya UKM ini dikenal dengan nama Mimbar Untan (Miun) berdiri pada tahun 1984 berada dibawah naungan humas Untan. Berfungsi sebagai media wahana informasi dan kontrol sosial yang membahas permasalahan yang terjadi di seputar Untan dan masyarakat.

Sebagai UKM yang bergerak dalam bidang jurnalistik LPM memiliki motto yaitu Kritis, Ilmiah, Religius dan Independen (KIRI). LPM Untan berupaya untuk membentuk mahasiswa yang Doc. Miun k r i t i s , berkepribadian dan berwawasan ilmiah. Produk-produk yang dihasilkan berupa Civitas 1-2 bulan sekali, informasinya berupa berita seputar Untan. Produk berikutnya yaitu tabloid Mimbar Untan yang terbit tiap semester yang informasinya berupa seputar Untan dan isu-isu diluar kampus yang berhubungan dengan masyarakat. Produk berikutnya yang tidak kalah penting ialah majalah Mimbar Untan yang terbit Doc. Miun

1 tahun sekali. Struktur organisasi LPM sama seperti UKM lain, jabatan tertinggi dipegang oleh ketua umum,yang sekarang dipegang oleh Sri Pujiyani, dibawahnya terdapat jabatan bendahara, dan sekretaris. Selain itu terdapat beberapa divisi seperti Divisi Perbitan yang tugasnya memantau jalannnya terbitan agar tepat waktu. Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), bertugas untuk mencari kader yang berkualitas. Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang), yang tugasnya ialah melakukan berbagai riset baik untuk lembaga dan penerbitan. Berikutnya ialah Divisi Perusahaan yang bertugas untuk mencari subsidi lain selain subsidi yang diberikan oleh rektorat. Kebutuhan akan informasi yang lebih besar, membuat LPM Untan membuat sebuah radio yang berdiri pada tahun 2002 yang dikenal dengan Untan Voice Radio (UV). UV bertujuan untuk menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan. Mempunyai fungsi pendidikan, kontrol sosial dan penyebar informasi sosial, agenda siarannya berbeda dengan radio komunitas dan lebih menekankan pada acara-acara pendidikan. Saat pengkaderan awal, calon anggota akan dilatih teknik penulisan, bagaimana menjadi fotografer, dan penyiar radio, selanjutnya bila menjadi anggota, pelatihan tingkat lanjut, dimana anggota akan lebih dalam diajarkan menjadi wartawan kampus dan penyiar radio UV. Ingin tahu lebih banyak tentang LPM Untan, datang saja ke Sekretariat LPM Untan di Jalan Daya Nasional Komplek Gedung MKDU Untan.

Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

11


Seremonial Civitas

Menulis memang gampang Oleh: JUMARDI BUDIMAN Cuaca sudah mulai panas ketika saya dan beberapa rekan dari Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Tanjungpura tiba di gedung Rektorat Untan. Kami bermaksud mengikuti seminar nasional dengan tema ”Menulis buku itu gampang” yang diselenggarakan oleh Lentera Community. Salah satu pembicara yang hadir yakni Radithya Dika, penulis dan pemeran utama film “Kambing Jantan” serta tiga orang pembicara lain Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan Aswandi, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Leo sutrisno, dan Jonru selaku pengajar di Sekolah Menulis Online. Jonru memberikan materi tentang proses penerbitan, mulai dari pengajuan naskah sampai pencetakan. ”Alur kerja penerbitan itu pengajuan naskah, editing, desain, cetak dan terakhir baru proses distribusi” jelas Jonru. Selain itu, ia juga memberikan kiat-kiat bagi penulis pemula yang ingin mengajukan naskah kepada penerbit antara lain penulis harus tahu karakteristik penerbit, standar naskah yang ditetapkan dan seberapa besar perusahaan penerbitan itu. Dengan

demikian, penulis akan dapat menentukan penerbit mana yang kemungkinan besar dapat menerbitkan naskahnya. Bila penulis ingin menerbitkan sendiri naskahnya, maka penulis dapat langsung mengantarkan ke percetakan atau mencetak dan menjilid sendiri baru kemudian diedarkan. ”Tapi penulis harus mempunyai modal yang banyak atau memiliki sponsor yang bersedia menanggung semua biayanya” tambah Jonru. Sedangkan Leo Sutrisno memberikan materi tentang langkah-langkah penulisan yang baik dan benar sesuai dengan sistematika penulisan sehingga tulisan yang dihasilkan akan mempunyai ”ruh” dan enak dibaca. Langkah-langkah itu antara lain menentukan latar belakang penulisan, masalah yang akan dibahas, tujuan penulisan, serta manfaat yang akan diperoleh dari tulisan yang kita buat. Menurut dosen FKIP ini, langkah-langkah tersebut akan mempengaruhi gaya dan isi tulisan. Bila tujuannya hanya ingin menghibur

KARIKATUR CIVITAS

Karikatur: Iswandi

12

Edisi Thn.IX/Juni/ 2007 Edisi39/ Khusus/Thn.XI/September/2009

pembaca sebaiknya gunakan gaya dan bahasa penulisan yang santai dan mudah dicerna namun bila ingin membuat karya ilmiah harus memperhatikan sitematika diatas dan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Adapun Raditya Dika, pembicara sekaligus bintang tamu dalam seminar tersebut lebih banyak melakukan sharing dan menghibur peserta dengan ceritacerita lucu serta berbagi pengalaman dalam menulis. Berbeda dengan pembicara lain yang lebih memilih duduk dalam menyampaikan materi, Radith malah berdiri di depan peserta saat memberikan seminar. Dalam kesempatan itu ia juga menceritakan bagaimana pegalamannya ketika pertama kali menawarkan naskah tulisan dari blog-nya yang sempat dikira tulisan tentang dunia fauna oleh pemimpin redaksi, karena judul naskahnya ”Kambing Jantan”. Ia mengatakan bahwa alasan awal ia menulis adalah ingin berbagi dan bercerita kepada orang lain tentang kejadian sehari-hari yang ia alami. Ternyata banyak pengunjung blog yang menyukai tulisannya. Hal itulah yang mendorong Radit untuk mengajukan naskahnya ke penerbit. ”Bila ingin jadi penulis yang baik, harus banyak membaca dan tentunya berlatih menulis, karena gaya penulisan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh buku yang ia baca. Semakin banyak buku yang dibaca , maka akan semakin banyak pengetahuan tentang gaya penulisan yang diperoleh dan suatu saat ia akan menemukan gaya penulisannya sendiri yang berbeda dari orang lain, yang penting, menulis harus dengan ”hati” agar pembaca menjadi lebih menghayati maksud tulisan yang dibuat” kata Radit. ”Jangan takut salah dan terlalu terbebani dengan aturan penulisan yang baku, tulislah apa yang menurut kamu asik buat di tulis. Semakin terbiasa kita menulis, maka keinginan untuk memperbaiki tulisan sesuai dengan sistematika yang benar otomastis juga akan muncul,” pesannya.


Kampus Civitas Oleh: NENENG PURWANTI Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemirama) Universitas Tanjungpura (Untan) tahun 2009 yang berlangsung pada Maret lalu, telah menghantarkan pasangan Aditya Nugroho dan Riza Fachrozi melenggang menjadi BEM Untan terpilih 2009 dengan mendapatkan total suara berkisar 1.243 suara. Hal ini menandakan berakhirnya masa kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untan demisioner periode 2008/2009. Apalagi dengan dilakukannya Sidang Umum Keluarga Besar Mahasiswa (SU KBM) Untan, Juni lalu di Fakultas Pertanian. SUKBM merupakan agenda rutin tahunan saat berakhirnya kepengurusan BEM, DPM Untan demisioner pasca pemirama sekaligus pelantikan kepengurusan BEM/ DPM terpilih. Proses demokrasi yang cukup panjang dijalani oleh pasangan BEM terpilih ini memakan waktu yang cukup lama sekitar tiga bulanan. Kondisi ini menyebabkan kevakuman kepengurusan BEM selama beberapa saat. Hal ini terlihat secara jelas ketika markas BEM yang terletak di Jalan M. Isya, komplek UKM Untan ini kosong menunggu penghuni barunya. Selain itu keterlambatan pengukuhan kepengurusan ini membuat agenda BEM banyak yang tertunda.

JALAN BERLIKU PEMIRAMA BEM UNTAN Hal ini memancing opini masyarakat kampus bahwa pemirama Untan tahun ini kurang sukses dan menimbulkan kecurigaan yang didasari adanya indikasi-indikasi yang tidak baik dalam proses demokrasi di kalangan mahasiswa Untan. Namun, fakta lain diungkapkan mantan ketua DPM Untan, Sutami mengatakan pada dasarnya masalah BEM terpilih ini sudah clear. “Dari pihak KPRM kan sudah memberikan surat keputusan, berarti sudah ada kepastian dari KPRM jadi tinggal inisiatif dari BEM yang terpilih untuk kapan melakukan pelantikan atau pengukuhan kepengurusan mereka,” tambah mantan ketua DPM demisioner tersebut. Hal senada diungkapkan oleh Purek III Edy Suratman. Ketika dimintai tanggapan mengenai lama proses pelantikan BEM Untan, Edi mengatakan bahwa masalah ini sudah clear dengan bukti sudah dilakukannya. Jadi tinggal menunggu SU dari DPM terpilih saja. Dalam hal ini Purek III merasa harus mengintervensi karena prosesnya dinilai terlalu bertele-tele. “BEM mengalami kevakuman yang terlalu lama, saya harus mengintervensi masalah ini,” ungkapnya. Saat ditanya mengenai harapan terhadap BEM terpilih, beliau mengungkapkan keoptimisan terhadap kinerja BEM kedepannya. “Saya optimis, apalagi saya melihat wajah-wajah mereka adalah orang yang bertanggung jawab, dan saya bisa bekerja sama dengan siapa saja yang terpilih tapi kita sama-sama tahu bahwa

saat ini yang diperlukan adalah pemimpin yang bertanggung jawab dalam segala hal, termasuk dalam memanajemen organisasi,” lanjutnya. Selain itu, mengenai isu-isu yang membuat situasi tidak kondusif yang mewarnai pemirama tahun ini beliau berkomentar harus adanya sistem demokrasi yang bersih yaitu sikap sportif dari peserta pemirama. Riza Fachrozi, wakil presiden mahasiswa terpilih mengatakan ada pihak-pihak yang tidak puas atas pelaksanaan SUKBM yang berlangsung di Fakultas Pertanian kemarin dengan alasan pemindahan tempat tanpa klarifikasi dan pemilihan ketua DPM seharusnya dilakukan pasca SU KBM bukan pada saat berlangsungnya SU KBM tersebut. Merujuk pada esensi peran BEM sebagai badan eksekutif tertinggi di lingkungan Untan, banyak harapan dari pasangan presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa terpilih. Banyaknya harapan ini memotivasi agar BEM menjadi cerminan bagi peradaban universitas yakni diwujudkan dengan perekrutan pengurus BEM yang kualifikasi dan transparansi sehingga bisa menjadikan BEM sebagai wadah aspirasi yang kompeten dari mahasiswa Untan.

Lapangan 3 in 1 FKIP Untan Wujud Pengabdian Kepada Kampus Oleh: JUMARDI BUDIMAN Tidak lama lagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan akan memiliki tambahan sarana olahraga berupa lapangan olahraga 3 in 1 yakni lapangan futsal, lapangan voly dan lapangan basket. Lapangan ini dibuat oleh mahasiswa non reguler sebagai bukti nyata dari program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). “Pembuatan lapangan ini sebagai tindak lanjut dari konsep kampus dalam taman yang di cetuskan oleh dekan,” kata M Basri selaku sekretaris unit KKM FKIP. Adapun untuk target waktu penyelesaian pembuatan lapangan tersebut, beliau belum bisa memastikan

apakah ini termasuk dalam program jangka pendek atau jangka panjang karena hal itu sangat tergantung dari besar dana pembuatan yang berasal dari mahasiswa. Basri menambahkan bahwa dana tersebut sepenuhnya dikelola oleh mahasiswa itu sendiri. Saat ditanya tentang jumlah dana yang terkumpul, ia eng gan untuk menyebutkan angka pasti. Dijelaskan oleh M.Basri, bahwa pihaknya telah menyediakan tiga model atau kelompok kerja. Model pertama, mahasiswa bekerja setiap hari dari Senin sampai Jumat. Model kedua, hanya bekerja Sabtu dan Minggu pada waktu pagi atau

sore, dan model yang terakhir mahasiswa bekerja Sabtu dan Minggu setiap pagi dan sore. Semua model ini memiliki jumlah jam kerja yang sama yakni 122 jam dengan intensitas 22 kali pertemuan. Pemilihan model pekerjaan ini tergantung dari kebutuhan dan kemauan mahasiwa sendiri. Jika memilih model yang pertama, maka otomatis pekerjaan akan cepat selesai dan kalau memilih model yang kedua atau ketiga, maka waktu pengerjaannya juga akan lama. ”Yang jelas, jumlah jam kerjanya sama rata,” tandas M Basri. Ketika dikonfirmasi tentang adanya keluhan

mahasiswa tentang pembagian kerja, ia mengatakan itu hanya kesalahpahaman karena pada saat pembekalan sebelum kegiatan KKM, mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih model kerja yang ditawarkan oleh unit pengelola KKM. Sedangkan menurut Agus Syahrani selaku Staff Unit pengelola KKM FKIP Untan, kesalahpahaman itu terjadi karena antar kelompok kerja itu tidak pernah saling bertemu dan bekerja dalam waktu yang bersamaan sehingga ada beberapa mahasiswa yang mengganggap kelompok lain tidak bekerja Adapun masalah pendanaan, ia sepakat dengan M.Basri, bahwa

bersambung ke halaman 14

Edisi 39/ Thn.IX/ Juni/ 2007 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

13


Foto Civitas Demo gabungan Mahasiswa Kalimantan Barat dengan Masyarakat dalam Mengkritik Kinerja PLN bertempat di Kantor Pusat PLN Jl. Ayani Ptk tanggal 18 Agustus 2008

Semangat dalam menyuarakan tuntutan namun tetap tertib sepanjang perjalanan menuju kantor PLN.

Cuaca panas tidak menghalangi para Ibu dan anaknya ikut serta menyuarakan tuntutan.

“Dengarlah tuntutan-tuntutan kami!”

“Kami telat bayar, kalian denda! Kenapa sekarang barang elektronik kami rusak karena kinerja PLN jelek masyarakat tidak boleh menuntut ganti rugi?!” Demo yang terarah, polisi pun tenang walau tetap siap siaga.

Foto: Lau/Miun

Lapangan 3 in 1 FKIP Untan Wujud Pengabdian Kepada Kampus Sambungan halaman 13 ( . . . ) pengelolaan dana itu diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa. ”Semua dana yang dikumpulkan dari mahasiswa itu dikelola sendiri oleh mahasiswa, dari mulai pembelian bahan, penyewaan alat konstruksi sampai membayar tukang untuk pengecoran, dan kalau tidak selesai tahun ini bisa dilanjutkan oleh kelompok KKM tahun berikutnya,” tandasnya. Salah satu mahasiswi non reguler jurusan PIPS angkatan 2005, Linda,

14

mengatakan bahwa setiap mahasiwa dikenakan biaya sekitar 300 ribu dan diserahkan dan dikelola oleh ketua kelompok yang juga berasal dari kalangan mahasiswa. Setiap kelompok mendapat tugas dan waktu pengerjaan yang berbeda. Ia juga berharap agar lapangan ini dapat segera dirampungkan sehingga bisa dapat dimanfaatkan demi menyalurkan minat dan bakat mahasiswa FKIP Untan dalam bidang olah raga. ”Kami berharap semoga lapangan yang dibuat tidak sia-sia dan dapat bermanfaat

Edisi Thn.IX/Juni/ 2007 Edisi39/ Khusus/Thn.XI/September/2009

bagi mahasiswa,” ujar Linda. Lapangan ini sendiri akan dihibahkan oleh kelompok KKM mahasiswa non reguler kepada pihak fakultas untuk kemudian dikelola dan dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa FKIP Untan baik reguler maupun non reguler. Kondisi lapangan tersebut sampai saat ini masih berupa fondasi dasar yang masih kasar dan terdapat beberapa keretakan akibat pengecoran yang belum sempurna dan cuaca yang tidak menentu.


Cerpen Civitas

Mimpi atau....... Oleh : MARIA E V LAURIKA L S Siang hari yang panas. Jalanan yang sudah padat, menjadi semakin padat lagi ketika waktunya para pegawai kantoran dan pelajar pulang setelah menunaikan tugasnya. Di sebuah gang terpencil, di salah satu sudut kota, keramaian kota semakin menjadi-jadi. Banyak polisi berkeliaran di sekitar gang tersebut, berusaha menghalau kerumunan massa yang semakin membeludak karena ingin mengetahui peristiwa apa yang telah terjadi. Udara semakin pengap. “Ada apa sih?” Seorang gadis menjulurkan kepalanya dari dalam bis kota. Wajahnya yang manis menyiratkan suatu keingintahuan yang besar. Matanya melirik ke arah penumpang lainnya. Sayang, hasilnya nihil. Bibirnya mulai tersenyum ketika ada penumpang yang naik dari sekitar gang tersebut. Dengan cepat diburunya penumpang tersebut. “Permisi Pak, ada apa ya... di gang itu? Kok rame banget?” tanyanya setelah sekian kali tergencet oleh penumpang lain. “Yang saya dengar sih, ada mayat yang ditemukan disana. Kalau nggak salah anak cewek,.” Gadis itu terdiam, merasa suatu firasat melintas di hatinya, firasat tentang sahabat yang amat dirinduinya. *** Gelap... Kugosok mataku kuat-kuat. Uhk...gelap banget! Nah... akhirnya kelihatan juga. Kukerjapkan mataku berkali-kali. Setelah berhasil melihat, aku bingung sendiri. Ini dimana ya? Perasaan tadi aku hanya berjalan tanpa arah, tibatiba kok gelap kayak gini? Tunggu dulu, sepertinya aku kenal tempat ini. Kulangkahkan kakiku dengan mantap, kutolehkan kepalaku kekiri dan kanan. Tempatnya sempit, seperti sebuah gang kecil di pinggir kota. O... yeah, aku kenal tempat ini. Hampir tiap hari aku melewatinya, yah... berkunjung ke rumah sahabatku. Lebih tepatnya mantan sahabatku. Mantan... aku jadi teringat ketika kami bertengkar hari itu. Hanya

masalah sepele memang, tapi ternyata kami bertengkar sampai sebesar ini kan? Masalah prinsip, itu alasannya. Huh, sudahlah. Tapi... aku berada disini karena aku bimbang kan? Jujur saja, aku rindu padanya. Amat sangat rindu. Aku kangen pada suaranya, tingkah lakunya, bahkan pada nasihatnya yang menurutku amat mengganggu. Tapi kenapa kami seperti saling membenci hanya karena hal yang sepele?? Jadi disinilah aku, dalam kebimbangan yang sama sepelenya. Aku ingin sekali minta maaf padanya. Tapi... aku malu. Harga diriku terlalu tinggi. Hiks... hiks... suara tangisan mengiringi tarikan pelan di ujung bajuku. Sontak aku menoleh ke bawah. “Eh...,” aku tercengang. Sambil menarik bajuku, seorang anak kecil menangis, air matanya berjatuhan kemana-mana. “Lapar...,” lirih anak itu pelan, tangannya mengelus perutnya sendiri. Dan akhirnya disinilah aku, duduk di depan sebuah mini market, sambil memandang anak tadi makan. Lumayan.... pahala walau rugi 2000. “Nama kamu siapa?” selidikku pelan. “Mia,” sengaunya dengan mulut penuh roti. “Rumah kamu dimana?” Matanya yang bulat memandang ragu padaku, “Nggak ada,” Waduh nih anak! Aku apes benar hari ini. Boro-boro dapat uang di jalan, ini malah dapat anak di jalan! Mendingan nanti aku tinggalin aja dia di depan kantor polisi, daripada panjang cerita lagi. “Udah, habisin dulu rotinya. Nanti aku antarin pulang,”sahutku. Anehnya, anak itu malah tertawa, “Kakak ini bagaimana sih? Aku kan udah bilang kalo nggak punya rumah,” Grrrrr, nih anak! “Orangtua kamu mana?” Anak itu mengusap mulutnya pelan, “Nggak tau,” jawabnya tenang. Huh...... “Makannya udah selesai kan? Ayo kita jalan, kita ke kantor polisi. Kita cari orangtuamu,” sahutku sambil berdiri. Anak itu menggelengkan kepalanya,

“Nggak mau,” Tuh kan, masalah lagi! “Aku boleh nginap tempat kakak nggak? Satu malam aja,” Huh....nyusahin aja. Aku sudah ingin berkata tidak. Namun melihat matanya yang besar dan jernih itu, tanpa memperdulikan bahwa aku baru saja bertemu dengannya, tidak tahu asal-usulnya, atau apapun tentang dia, aku berkata “Iya,” Untung saja orangtuaku sedang pergi ke luar kota, jadi anak itu bisa tidur di rumahku tanpa harus diintrogasi oleh keduanya. Kusuruh anak itu mandi, kucarikan pakaian pantas untuknya. “Siapa yang disebelah kakak itu?” sahut anak itu sambil menunjuk fotoku dan sahabatku yang ada di meja belajar. Rupanya dia sudah selesai mandi, “Sahabatku. Nih pakai!” sahutku ketus sambil menyodorkan pakaian arahnya. “Kakak kelahi ama dia ya?” ujarnya polos. Aku menatap heran padanya, kok anak ini bisa tahu? “Nggak, cuma ada masalah sedikit, emang kenapa?” “Dulu sebelum Ibu mati, Ayah marahan sama Ibu. Ibu lalu pergi keluar, dan satu hari itu Ibu nggak pulang ke rumah. Ayah cemas, nanya ama tetangga, nggak ada yang tau. Rupanya Ibu kena tabrak. Ayah jadi kayak orang gila, terus-terusan teriak maaf, maaf, maaf,” celotehnya panjang lebar. Aku tertegun mendengarnya. Aku teringat aku belum pernah minta maaf sejak seminggu terakhir aku bertengkar dengannya. Aku merenungi kembali, masalah apa sih kami perdebatkan, cuma masalah sepele. Tapi kenapa sukar bagiku untuk hanya sekedar berkata, “Maaf.”? “Udah malam,”sahutku sambil memotong celotehan anak itu. “Sana kamu tidur di kasurku.” Anak itu mematuhinya. Dia segera beranjak ke atas tempat tidur dan segera terlelap. Aku sendiri tidur di lantai kamarku dengan harapan, semoga sahabatku memaafkan aku ketika aku minta maaf keesokan harinya. Ketika aku terbangun

keesokan harinya, anak itu menghilang dari atas tempat tidurku dan tidak ada dimanapun di sudut rumahku. *** “Nak, kamu kenapa?” Bapak itu berusaha menegur gadis yang tadi bertanya kepadanya. Gadis itu tertegun sesaat, kemudian seperti kesetrum, dia segera berteriak, “Berhenti!!” Dengan tergesa-gesa, gadis itu langsung melangkahi tangga bis kota. Dengan berlari, dia kembali ke gang tersebut, dan di sana dia bertemu dengan sahabatnya, dan dengan luapan kegembiraan, dipeluknya sahabatnya itu. Sahabatnya langsung berteriak kaget. “Woaa... satu minggu kita bertengkar, kau jadi makin agresif ya?” canda sahabatnya. “Jangan bercanda! Aku kira kau yang mati di dalam sana!” sahutnya garang tapi dengan wajah yang tersenyum. “Jangan bodoh! Yang mati itu katanya mati kelaparan tau! Nggak mungkin kan baru seminggu kita tidak bicara, tiba-tiba hari ini kamu ketemu mayatku yang tragisnya mati karena kelaparan?!” Sahabatnya menjitak kepalanya. “Begini, aku minta maaf! Kemarin aku yang salah. Sorry ya?” “Aku juga salah, terlalu memaksamu. Maaf juga ya...?” Gadis itu tersenyum sumringah.”Kita sama-sama minta maaf!” teriak mereka bersamaan, lalu tertawa terbahak-bahak sampai massa disitu menoleh pada mereka. “Ups... kalo bukan kamu, jadi siapa dong yang ninggal?” gadis itu mengeryit “Mana aku tahu. Eh tuh, mayatnya lewat. Lihat yuk.” Mereka berdua berjalan mendekati rombongan polisi yang mengangkat mayat itu. Tanpa sengaja, ketika akan dimasukkan ke dalam ambulans, penutup kepalanya terbuka. Gadis tersebut keheranan melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja pucat. “Kamu kenapa?” tanyanya. Sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku bertemu dengan anak itu tadi malam.”

Edisi 39/ Thn.IX/ Juni/ 2007 Edisi Khusus/Thn.XI/September/2009

15


Iklan Civitas

16

Edisi Thn.IX/Juni/ 2007 Edisi39/ Khusus/Thn.XI/September/2009


Civitas Edisi 47