KMKL Bercerita

Page 1




Dago dan Kisah di Baliknya

2

Frederick Gavin

Setitik Canggung, Beragam Canda

6

Gousa Lexy Luqmana

Zumba Ceria!

9

Firdha Gina Qolbiyah

Kompak itu Seru!

12

Taaba Gading Salsabiyla

Lelah yang Terbayarkan

15

Riska Yuni Pratiwi

Memori Langka

19

Pangrango Putra Paskala

Kehangatan Mentari dan Masyarakat Temmy Sugiyana

daftar cerita

22


kmkl bercerita

25

Peran Tanpa Batas Prayla Putri Annani Barli

29

Istirahat Batin Dewa Gede Pradnyanata

32 Fatamorgana Fahmi Octavialdo

35Abhipraya Muhammad Rizki Ziarieputra

39 Pembelajar Sejati Muchamad Raihan Nafis

42 Sang Perintis Mentari Aprilia Cahya Safira

46 Warna-Warni Keceriaan Adik Kartika Putri

50 Momen Perubahan Muhammad Syahrul Hikam



Narasumber

: Frederick Gavin

Saat pertama saya mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari adalah kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2019. Termotivasi oleh kerelaan untuk menolong sesama, saya pun tergerak karena ingin menyalurkan apa yang saya punya. Selain itu, saya ingin belajar bagaimana komunikasi yang baik dengan anak-anak maupun masyarakat sekitar.

lebih banyak waktu bersama anakanak untuk bermain, namun tidak melupakan waktu belajar. Pada kesempatan pertama saya mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari, keseruan terletak pada saat saya diminta oleh anak-anak untuk membuat gerakan senam. Padahal seharusnya kegiatan diisi dengan mengajar anak-anak di Sekolah Mentari, tetapi karena anakanak mulai jenuh dan mereka meminta saya membuat gerakan senam, saya pun meminta izin ke Kak Rifqi dan Kak Antal untuk mengajak sebagian anakanak keluar untuk senam. Akhirnya saya, Evan, dan Putri mengajak anakanak ke dekat mushola untuk mencari ruang kosong agar mereka bisa

Awalnya, saya pikir kegiatan di Sekolah Mentari hanya datang, mengajar, lalu pulang. Ternyata, perkiraan saya salah dan kegiatan di Sekolah Mentari jauh melebihi perkiraan saya. Saya malah memiliki

2


bergerak dengan bebas saat senam. Saya pun memutar lagu dan memimpin senam pada hari itu hingga anak-anak sudah merasa cukup gerak. Kesempatan pertama saya mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari sangatlah menarik. Walaupun tiba-tiba harus mengatur anak-anak yang belum kita kenal sebelumnya, namun hal itu menjadi keseruan tersendiri bagi saya.

kesenjangan yang luar biasa. Kesenjangan yang saya temukan diantara keseruan-keseruan bersama anak-anak di sana menjadi hal sedih yang saya temukan. Kesenjangan itu pun nampak dari aspek pendidikan dimana kita bisa meliht adanya fasilitas-fasilitas belajar yang kurang memadai, tidak meratanya pendidikan, yang memberi dampak kepada perkembangan mereka. Saat itu saya semakin tergerak untuk bisa membantu desa tersebut semakin maju. Sebagai mahasiswa, saya sadar masih banyak pr yang harus dikerjakan untuk bisa membantu sebuah desa untuk maju. Seharusnya kita mulai dari hal kecil, salah satunya, yaitu mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari. Maka dari itu, sangat penting adanya peran mahasiswa, terutama anggota KMKL-ITB, untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan di Sekolah Mentari agar kelak KMKL-ITB dapat menjadi panutan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Dua kali mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari, tentu ada perubahan yang saya alami antara sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan. Perbedaan yang paling terlihat, yaitu pada kepekaan akan bermasyarakat. Tidak perlu jauh-jauh, di sekitar kampus kita, ada masyarakat yang sebenarnya perlu mendapatkan perhatian atau sekedar komunikasi dengan kita sebagai mahasiswa. Selama berkuliah di ITB, pastinya mahasiswa ITB memiliki fokus yang tinggi pada akademik, kajian-kajian, dan lain sebagainya. Tetapi, dengan mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari

Kali kedua saya ikut kegiatan di Sekolah Mentari adalah saat penutupan kegiatan Sekolah Mentari untuk semester ganjil. Hal berkesan yang saya rasa pada hari itu adalah saat kita bisa ngaliwet bersama anakanak dan ibu-ibu di sana. Bahkan, saat itu saya bisa makan hingga 8 buah tahu dan 7 buah tempe, hehe. Selain hal berkesan, saat itu juga saya menyadari bahwa di dekat saya, daerah Dago, dapat ditemukan

3


seperti membuka kebenaran mengenai kondisi masyarakat yang benar-benar terjadi. Sehingga, tidak hanya melalui televisi, namun saya dapat melihat masyarakat yang kurang beruntung secara langsung. Selain itu, ketulusan untuk membantu sesama menjadi perubahan lain yang saya rasakan. Tidak ada salahnya ketika kita membagikan hal berlebih yang kita punya kepada mereka yang membutuhkan. Toh, tidak ada ruginya kita melakukan itu.

4



SETITIK CANGGUNG, BERAGAM CANDA Narasumber : Gousa Lexy Luqmana Awal lihat pengumuman di grup Anggota Biasa mengenai kegiatan Eksploraksi, saya pun langsung memutuskan untuk ikut. Kebetulan saat itu saya sedang gabut sekaligus ingin juga punya pengalaman di kegiatan pengabdian masyarakat. Sebenarnya sih, saya sempat mengira kegiatan Eksploraksi bakal dilaksanakan di desa atau sejenisnya. Ternyata kegiatan Eksploraksi diadakan di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas atau PSRPD yang sebelumnya awam

bagi saya. Saya sebenarnya punya keinginan untuk ikut pengabdian yang bentuknya kayak bangun desa atau sejenisnya. Namun, saya rasa sekadar bermain ke panti disabilitas juga bagus buat permulaan untuk mengikuti kegiatan pengabdianpengabdian selanjutnya. Dan yang paling utama sih, saya penasaran dengan kehidupan teman-teman disabilitas dan ingin melihatnya secara langsung karena saya nggak pengen ada gap diantara saya dan teman-teman disabilitas.

6


Setelah memutuskan mendaftar diri untuk mengikuti kegiatan Eksploraksi, saya pun mulai membayangkan bakal seperti apa panti disabilitas, mulai dari lingkungannya sampai orangorangnya. Sempat khawatir juga tentang cara berinteraksi dengan mereka, takutnya menyakiti hati atau bahkan bisa memberi dampak ke hal lain. Ternyata, saat hari pelaksanaan tiba, semua berbeda sekali dari bayangan saya. Komunikasi dengan mereka pun tidak sesulit yang saya bayangkan, bahkan yang awalnya merasa canggung pun jadi biasa saja dan malahan bisa ketawa-ketawa. Teman-teman PSRPD pun baik-baik, bahkan sangat welcome ke kami. Malahan, kami sempat diajarkan bahasa isyarat. Saya pun terkesan dengan bagaiman mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Mereka pun bercerita kegiatan mereka di panti, yang menurut saya sama seperti sekolah pada umumnya tetapi ditambah kelas keterampilan. Hal lain yang baru saya tahu ketika mengunjungi teman-teman di PSRPD ini adalah mereka tidak hanya dibantu untuk dapat beraktivitas seperti pada orang umumnya, namun mereka pun

disiapkan untuk bekerja seperti orang pada umumnya. Mengikuti kegiatan Eksploraksi ini membuat saya terkesan dengan teman-teman PSRPD, baik guru-guru maupun murid-muridnya, terutama temanteman kelompok saya dulu. Kegiatan eksploraksi ini merubah cara pandang saya terhadap temanteman di PSRPD ini, sekaligus cara pandang saya terhadap kegiatan pengabdian masyarakat itu sendiri. Pengabdian tidak hanya perlu melulu mengenai membenahi desa atau mendidik anak-anak tetapi sekadar berbagi cerita pada orang lain juga bisa dianggap pengabdian. Selain itu, bertemu teman-teman di PSRPD menambah pandangan baru bagi saya mengenai bagaiman temanteman PSRPD memandang dirinya sendiri. Mereka pun bahkan tak canggung untuk membuat candaan dari kelebihan mereka. Sehingga membuat saya yang awalnya canggung saat berkomunikasi dengan mereka menjadi biasa-biasa saja. Terima kasih sebesar-besarnya pada seluruh elemen KMKL-ITB dan teman-teman di PSRPD yang telah memfasilitasi saya untuk belajar tentang pengabdian masyarakat.

7



ZUMBA CERIA! Narasumber: Firdha Gina Qolbiyah

Berawal dari niat sesederhana ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain, Aku menjadikan Eksploraksi sebagai awalan bagi Aku untuk berbagi manfaat walaupun hal sekecil berupa kebahagiaan. Sebab, itulah hal termudah yang dapat kita lakukan sebagai manusia.

berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Sesampainya di sana, Aku semakin nervous ketika diminta oleh panitia untuk memimpin zumba. Mau tak mau, aku harus menyiapkan gerakan secara dadakan dong. Padahal Aku baru melakukan zumba 8 kali hingga saat itu, tapi orangorang beranggapan seolah Aku telah melakukannya 100 kali huftt. Peserta acara berbaris rapih di lapangan dan langsung melakukan pemanasan. Kemudian dilanjutkan zumba bersama. Meskipun hanya satu lagu namun terasa sangat lama. “Oke, aku harus percaya diri�, aku bergumam dalam hati berusaha meyakinkan diri

Bertemu dengan kawan-kawan di PSRPD MENSENETRUWITU menjadi salah satu langkahku dalam kegiatan berbagi. Sejak sebelum aku berangkat ke sana, Aku diselimuti rasa excited namun juga rasa khawatir: apakah Aku dapat melakukan ini dengan baik? Maklum, waktu itu aku belum pernah

9


sendiri. Hasilnya? Ya menurutku sih sedikit memalukan tapi karena mayoritas peserta masih mau bergoyang jadi sepertinya masih oke aja haha. Zumba dadakan itu pengalaman yang unik buat Aku ketika Eksploraksi kemarin.

kami semua sudah sudah saling mengenal seperti teman lama. Kita saling terbuka satu sama lain sehingga mudah akrab dan menciptakan suasana yang hangat. Setelah games, kami beranjak ke kegiatan seru lainnya. Kami dan peserta saling berbagi cerita dengan suasana yang santai di sesi sharing. Mendengarkan cerita mereka ternyata menyadarkan aku bahwa kita semua sama dan bahkan mereka dapat menjadi inspirasi buat kita. Mereka juga punya cita-cita dan kehadiran mereka di panti itu adalah salah satu usaha mereka untuk mewujudkannya. Mereka berusaha belajar sesuai jurusan yang digeluti seperti tata rias, otomotif (bengkel), kesenian, dan lainnya untuk nantinya dapat bekerja sesuai dengan keinginan. Mereka melakukan apa yang mereka suka, apa yang menarik dari mereka, dan tanpa merasa gengsi. Itu yang membuat Aku kagum, setidaknya mereka mau untuk berjuang dalam hidup.

Di kegiatan selanjutnya, kami bersenang-senang bersama peserta lainnya dengAn bermain games. Mungkin, awal mula mengenal mereka, Aku merasa sedikit sulit memahami mereka. Aku jadi teringat ketika masih kecil Aku suka merasa takut berinteraksi dengan orang penyandang disabilitas. Namun, suasana yang hangat dan keterbukaan saat acara membuat kita cepat akrab satu sama lain. Games tentu membuat kami semakin akrab karena banyak tawa yang mengiringi selama kegiatan tersebut. Sepertinya, semua orang yang terlibat dalam Eksplorasi membuat acara semakin berkesan. Karena semuanya berpartisipasi, bersenang senang, tertawa, dan melakukannya dengan spontanitas, jadinya seolah

10



KOMPAK ITU SERU! Narasumber : Taaba Gading Berawal dari pengumuman di social media KMKL dan berkat perasaan penasaran sekaligus iseng, aku tergerak untuk mendaftarkan diri mengikuti kegiatan Eksploraksi yang diadakan oleh Divisi Pengabdian Masyarakat. Kegiatan Eksploraksi diadakan di Panti Sosial Rehabilitas Penyandang Disabilitas atau PSRPD. Aku pun penasaran dengan tempat dari teman-teman panti disabilitas.

Ketika aku sampai di panti, aku sempat mengira teman-teman panti umurnya akan jauh lebih muda, ternyata umur mereka hampir sama dengaku, bahkan ada yang lebih tua. Kegiatan Eksploraksi diawali dengan senam bersama antara relawan dan teman-teman panti. Gerakan senam yang unik, sekaligus sulit, menjadi keseruan tersendiri. Kemudian, kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang berisi panitia dan teman-teman

12


panti, kebetulan pada saat itu kelompokku hampir semuanya cowok, untuk mengikuti permainan. Permainan yang diisi dengan permainan berkelompok membuat kami harus bisa kompak. Benar saja, kami bisa membuat kelompok yang kompak, walaupun sedikit dibumbui kecurangan yang sebenarnya membuat permainan semakin seru. Permainan diakhiri dengan joget bareng dengan iringan lagu “entah apa yang merasukimu�. Seluruh kegiatan tersebut menjadi sangat berkesan menurutku. Cuy, itu seru banget!

sempat belajar bahasa tubuh yang menjadi bahasa mereka hampir di seluruh kegiatannya dan tak lupa kami sempat berfoto bersama. Selain belajar bahasa tubuh, aku mendapatkan banyak manfaat lain, aku mendapatkan cara pandang baru, wawasan baru, dan tentu saja, teman baru. Aku jadi tahu banyak mengenai teman-teman panti disabilitas, kegiatan apa saja yang mereka lakukan sehari-harinya, atau bahkan aku jadi tahu apa saja hobi mereka. Kegiatan ini juga banyak merubah cara pandangku terhadap teman-teman panti yang berbeda dengan pandanganku diawal. Aku merasa tidak salah memilih untuk mengikuti kegiatan ini karena hari Sabtuku jadi diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi mentoring yang diisi cerita-cerita dari teman panti dan relawan. Di sela-sela sesi mentoring, kami

13



LELAH YANG TERBAYARKAN Narasumber : Riska Yuni Pratiwi

Jujur saja, awalnya aku ikut kegiatan di Sekolah Mentari karena disarankan oleh Divisi Sekretaris saat aku magang. Aku bahkan tidak tahu seperti apa Sekolah Mentari dan kegiatan apa yang akan dilakukan di sana. Tetapi, setelah mendengar cerita dari kakak tingkat dan teman-teman yang mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari, ternyata kegiatan yang diisi

dengan bermain, berbagi ilmu, serta cerita bersama anak-anak terdengar seru juga. Aku jadi tertarik mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari yang dilaksanakan pada 10 November 2019 dan bertepatan dengan Hari Pahlawan. Pada hari itu, aku dan kambing (kakak pembimbing) lainnya jalan kaki dengan penuh semangat untuk sampai


ke Sekolah Mentari, akses menuju ke Sekolah Mentari hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki karena letaknya lumayan jauh dari jalan utama. Ternyata, setelah sampai di Sekolah Mentari, anak-anak di sana sedang pergi ke taman. Jujur, aku agak sedih ketika mendapati mereka tidak ada di Sekolah Mentari karena lokasi taman yang lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Akhirnya kami tetap pergi ke taman menyusul anakanak tersebut. Setelah sampai di taman, aku merasa capek banget karena harus jalan jauh, tetapi berbeda dengan anak-anak Sekolah Mentari yang dengan ceria menyambut kami dan antusias mengajak kami bermain. Aku pun jadi tertular oleh semangat mereka dan dengan senang hati memulai kegiatan bersama anakanak. Anak-anak Sekolah Mentari juga ramah-ramah, mereka yang terlebih dulu mengajak aku berkenalan dan bercerita. Aku yang tadinya canggung karena baru pertama kali bertemu jadi mudah berbaur dengan mereka. Salah satu kegiatan pada hari itu adalah kuis tentang pengetahuan umum Indonesia dan seperti anakanak pada umumnya, mereka pun cerewet bertanya mengenai hal ini dan itu. Senang sekali lihat mereka aktif saat berebut menjawab kuis tentang pengetahuan umum Indonesia. Meskipun kadang ada yang menjawab dengan salah, tetapi mereka tetap ceria dan bersemangat. Selain membuatku senang, ketika melaksanakan kuis itu juga bikin aku sedih sekaligus bangga. Ternyata sangat penting untuk mengenalkan

identitas Indonesia, seperti jumlah pulau, suku, bahasa, agama, lagu kebangsaan, lagu wajib nasional, dan beberapa pahlawan nasional pada anak-anak sejak dini agar rasa nasionalisme dapat tertanam dalam diri mereka. Selain aktif saat mengikuti kuis tentang pengetahuan umum Indonesia, mereka pun aktif sekali bermain, ada yang lari-larian, ada yang merengek meminta hadiah snack padahal tidak menjawab saat kuis, dan lainnya. Akan tetapi, hal-hal tersebutlah yang membuat acara ini menjadi seru. Momen seru lainnya, yaitu saat bernyanyi bersama anakanak. Meskipun hari sudah siang dan cuaca pun mulai panas tetapi mereka kembali bersemangat saat menyanyikan lagu anak-anak yang dipandu kak Antaliesta. Aku pun sangat kagum sama orang-orang dari Divisi Pengabdian Masyarakat yang sudah biasa mengajak bermain anak kecil. Banyak pengalaman seru yang bisa ku dapatkan ketika berkegiatan di Sekolah Mentari walaupun hanya satu hari. Intinya, aku kagum banget sama anak-anak di Sekolah Mentari yang tetap antusias mengikuti kegiatan Sekolah Mentari meskipun dilaksanakan saat weekend dan sulit rasanya untuk menceritakan segala hal ya kulakukan di Sekolah Mentari secara lengkap, lebih baik langsung coba saja datang dan ikut berkegiatan di Sekolah Mentari.


Mengikuti kegiatan di Sekolah Mentari membawa perubahan tersendiri bagiku, salah satunya jadi lebih peduli dengan lingkugan sekitar. Sekecil apapun tindakan yang kita lakukan, pasti akan bermanfaat untuk masyarakat. Tidak perlu muluk-muluk, cukup sesuai kemampuan saja. Contohnya, sebagai mahasiswa aku dapat membagi sedikit ilmu pengetahuanku pada anak-anak dengan cara bermain dan belajar melalui kegiatan di Sekolah Mentari. Aku pun jadi terpacu untuk dapat memberikan yang lebih lagi pada masyarakat. Selain itu, aku juga jadi lebih menjaga tingkah laku. Tentu saja, di depan anak-anak yang masih mudah menyerap dan meniru banyak hal, aku berusaha bertingkah dan bertutur kata dengan sopan. Sebagai insan yang terdidik, aku juga harus menjaga nama baik almamaterku di masyarakat, akibatnya aku sekarang lebih berpikir atas tindakan dan ucapanku.

17



MEMORI LANGKA Narasumber : Pangrango Putra Paskala

Menurutku, Eksploraksi itu seru banget. Awalnya, aku hanya ikut karena penasaran belum pernah berkunjung ke panti seperti ini. Panti yang ku kunjungi merupakan Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas atau bisa ku bilang sebuah panti bagi teman-teman disabilitas. Pertemuan pertama dengan teman-teman PSRPD cukup membuat kaget karena ternyata kebanyakan dari mereka tunawicara atau memiliki keterbatasan dalam berbicara. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri dalam interaksi

kami. Untungnya, salah satu anggota kelompok ku ada yang bisa menerjemahkan bahasa isyarat. Oiya, kegiatan ini dimulai dengan membuat kelompok-kelompok yang berisikan teman-teman panti dan teman-teman relawan KMKL-ITB. Pada awalnya, komunikasi kita rasanya hampir seperti permainan tebak kata tetapi ini serunya. Ketidak-pahaman dalam berkomunikasi membuat kami kadang tertawa-tawa sendiri. Ada suatu momen dimana teman-teman PSRPD penasaran dengan jurusan

19


Teknik Kelautan, bingung banget, Di PRSPD ini mereka memang hampir sepuluh menit aku mencoba disiapkan untuk dapat bekerja dan menjelaskan dengan bahasa isyarat mereka akan melalui satu tahun tebak kata ku, terlebih aku harus program hingga dinyatakan lulus dan menjelaskan teknik kelautan yang siap untuk bekerja. Aku sempet bahkan bagi orang ngobrol dengan salah umum saja belum satu teman di PRSPR, tentu semua tahu. dan dia bilang jika dia "Duh, urang tuh selama ini Untungnya, ada kakak sudah tidak punya dikasih kehidupan yang penerjemah dari keluarga. nikmat tapi masih banyak PRSPD yang datang Ia pun masuk ke panti ngeluh banget.� dan membantuku karena pada awalnya menerjemahkan saat memiliki saudara di menjelaskan apa itu Cimahi. Namun, teknik kelautan. sekarang dia sudah tidak memiliki Kejadian ini bisa aku bilang sebagai siapa-siapa. Maka dari itu, dia serius permainan tebak kata paling intense belajar dan menjalani program di yang pernah aku lakukan. Sungguh, PRSPD ini agar bisa kerja. Sedihh memori dan pelajaran yang langka. banget aku, yang kondisi beruntung Lumayan, sekarang aku sedikit bisa saja masih ingin dimanja ama ortu. bahasa isyarat, hehe. Banyak refleksi diri yang aku rasakan. Ya, aku jadi berfikir untuk 8Selepas dari acara Eksploraksi, jujur terus bersyukur dan sadar di belahan aku merasa sangat terkesan dengan dunia lain masih banyak orang yang seluruh teman-teman di PSRPD. hidupnya jauh lebih susah daripada Walaupun mereka hidup dengan aku. keunikannya, namun keinginan mereka untuk hidup mandiri besar banget. Bahkan, banyak dari mereka yang mau bekerja seusai lulus dari PRSPD ini.

20



KEHANGATAN MENTARI DAN MASYARAKAT Narasumber : Temmy Sugiyana Pada awalnya, aku hanya mengetahui kalau kegiatan di Sekolah Mentari merupakan salah satu program kerja milik Divisi Pengabdian Masyarakat dan tidak ada hal lainnya yang kutahu. Kemudian, aku mendengar kegiatan di Sekolah Mentari dari temantemanku dan menurut mereka, kegiatan di Sekolah Mentari sangatlah seru, apalagi dapat bermain dengan anak-anak. Tapi,

ada hal lain yang membuatku lebih tertarik, yaitu bagaimana kami, sebagai kakak pembimbing juga dapat berinteraksi dengan masyarakat sekitar Sekolah Mentari. Kegiatan Sekolah Mentari yang aku ikuti merupakan kegiatan terakhir pada semester I lalu. Kegiatan pada hari itu diisi oleh kegiatan belajar, bermain, dan kegiatan pa mungkas, yaitu makan-makan. Karena

22


makanan menuju paguron. Paguron sendiri merupakan tempat bermain anak-anak dimana ada lapangan dan rumah panggung. Karena pikirku akan banyak orang yang makan, maka aku segera menuangkan seluruh makanan. Ternyata, kami memasak kebanyakan hingga aku pun makan sampai 3 porsi. Pemandangan hari itu menjadi kesan tersendiri bagiku. Sedikit menoleh dari hiruk pikuk perkotaan, aku bisa melihat kebersamaan dan keperdulian antar sesama di Sekolah Mentari ini. Aku terkesan, sekaligus bangga bisa melihat kak Antal ketika di Sekolah Mentari yang bisa langsung connect dengan anak-anak dan ibu-ibu disana. Tak lupa, anakanak yang bertingkah tanpa adanya beban pikiran menjadi sebuah kebagaiaan tersendiri bagiku.

ketertarikanku untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat dan sebagai lelaki yang suka memasak, tanpa pikir panjang aku memutuskan untuk memilih kegiatan memasak bersama ibu-ibu setempat. Walaupun hampir seluruh pekerjaan memasak dikerjakan oleh ibuibu tetapi kehangatan bersama mereka sangatlah terasa. Tak lupa, cerita mereka mengenai sekolah mentari dan juga candaan mereka yang sempat membanggakan bumbubumbu masak yang mereka dapat dari sebuah seminar. Aku pun sangat senang lantaran sebuah pujian yang kudapat dari hasil memasak tempe yang lebih bagus dibanding milik temanku. Setelah kegiatan memasak, aku dan kelompokku beranjak mengantarkan

23



S

PERAN TANPA BATAS Narasumber : Prayla Putri Annani Barli Kalau ditanya kenapa pengen banget ikutan acara ini, sejujurnya aku tuh selalu tertarik lihat interaksi antar manusia (ala sosiolog, haha) . Nah, aku pikir ‘Eksploraksi’ ngasih aku kesempatan itu. Terlebih lagi, aku dan teman-teman akan berinteraksi dengan banyak orang yang jarang kami temui. “Akan jadi pengalaman yang menarik nih�, pikirku. Kedua, aku tertarik karena aku yakin kalau kita berbagi waktu dan tenaga di suatu tempat, suasana, dan lingkungan yang baru, kita dapat mencari tahu sejauh mana kita bisa beradaptasi, memahami, dan bahkan ikut melebur dalam lingkungan baru. Sesuai

Sebenarnya, cerita tentang Eksploraksi itu sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, ketika teman-teman dari divisi pengmas ngebungkusin bingkisan-bingkisan buat di PSRPDS nanti. Waktu itu, aku gak bisa ikut bantu karena lagi ada KLeague dan di Sekre kondisinya tuh penuh banget. Aku berangkat ke panti Sabtu pagi, berpakaian baju olahraga biar siap gerak-gerak dan keringetan. Biasanya sih, aku hampir selalu ada kegiatan lain, tapi untuk di hari Sabtu ini, agendaku khusus buat ikut eksploraksi dan sudah ku rencanakan dari jauh-jauh hari.

25


dengan nama acaranya, ‘kan? Kita mengeskplorasi diri di acara ‘Eksploraksi’, keren banget gak sih, hehe. Pertanyaannya, apakah waktu itu aku mendapatkan kedua hal di atas? Ya, tentu aku dapet apa yang aku cari lengkap dengan segala keseruannya.

dengan beragam suara tawa di mana-mana. Kami ikhlas kok ketawanya, ya walaupun sebenarnya kita ada ambisi buat menang, hehe. Walaupun pada akhirnya kelompokku gak masuk babak final, kami tidak pernah berkecil hati dan tetap kompak ngetawain orangorang yang main di babak final.

Sesampainya di PSRPD, ternyata aku deg-degan! Pertama, aku dan beberapa teman-teman KMKL lainnya datang terlambat. Kedua, aku gak tahu nanti akan ketemu siapa, terus aku gak terpikiran, reaksi mereka gimana, dan apa yang harus aku lakukan di sini juga kurang lebih masih sebuah misteri. Apakah kekhawatiranku bisa diwajarkan? Iya. Apakah terjadi hal yang tidak diinginkan? Untungnya tidak. Karena, akhirnya pun kami bertemu dengan teman-teman penghuni PSRPD dan semuanya mengalir begitu saja. Canggung sih, awalnya. Tapi semua menjadi cair ketika suara musik dan gerakan penuh tawa memeriahkan suasana. Aku tertawa seru dan biarpun sejenak aku bisa ngelupain dulu semua ‘kombinasi maut’ tugas “Pelabuhan-Lila-Alapan-KP”.

Mungkin bagi teman-teman KMKL yang lebih nyaman bersosialisasi di forum komunal, acara senam bersama dan games tadi tuh pasti dapet banget feel-nya. Setelah tertawa bersama dengan penuh keseruan, tentu aku dan temanteman KMKL lainnya bisa lebih dekat dan terbuka dengan penghuni panti. Nah, setelah games, acaranya semakin hangat karena dilanjutkan dengan sesi mentoring. Cocok banget buat yang suka ngobrol. Waktu itu, kami duduk melingkar di tengah-tengah aula dan ngobrol tentang cita-cita dan mimpi masingmasing, tentang kegiatan dan kebiasaan masing-masing. Intinya, kami bercerita dan berbagi. Obrolannya berat? Ah, gak juga, sih. Mendengarkan anak-anak panti bercerita dengan anstusias, aku jadi berpikir sendiri, kadang dunia itu lucu, ya? Mereka yang sering dianggap punya keterbatasan ternyata gak pernah membatasi dirinya. Eh, kita yang gak punya, kadang membatasi diri sendiri dengan bilang “Ah, aku gak bisa ini, aku gak bisa itu”. Aku dapat banyak pandangan baru tentang bagaimana seharusnya kita mencari peran kita masing-masing di dunia ini, tanpa batasan. Aku melihat bagaimana teman-teman disabilitas di PSRPD meng ingatkanku

Kemudian, kami bergabung dengan penghuni panti dalam beberapa kelompok besar, membentuk tim bermain di beberapa games seru. Game pertama masih oke lah ya, kami balapan sarung dan masih beraturan. Tapi, game kedua kok tiba-tiba jadi keos, aturan mainnya kayaknya bikin sendiri-sendiri deh, haha. Lalu, di game ketiga kami semua kompak berpikiran, “Ah bodo amat yang penting hepi” haha. Selain teriknya sinar matahari, semua rangkaian games kami lengkapi

26


cikian dan salam perpisahan. Saat

bahwa kita bisa jadi apa saja yang kita inginkan asal mau usaha. Mereka dengan bangganya menceritakan bahwa mereka baru saja membuat pameran karya di PSRPD, keren gak sih? Otomatis aku juga terdorong untuk semangat berkarya layaknya mereka.

bersalaman, banyak dari temanteman panti yang bilang, “makasih ya, kak!”. Aku masih bertanya-tanya sampai sekarang, berterima kasih untuk apa? Jutru seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih atas kesempatan berbaginya; Terima kasih masih mau menunggu kami yang terlambat; Terima kasih atas tawa bahagia bersama; Terima kasih telah mau mengajarkan sedikit bahasa isyarat; dan yang paling penting, terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk sekali lagi merenungi peranku dalam hidup ini.

Di kesempatan ini, aku juga coba belajar bahasa isyarat! Susah loh, ternyata ☹. Aku cuma ingat “kamu” dan “bawel”, wkwk. Bahasa isyarat ini sampai sekarang jadi guyonan antara aku dan teman-teman. Kegiatan ‘Eksploraksi’ ditutup dengan foto bersama, bagi-bagi ciki-

27



ISTIRAHAT BATIN Narasumber: Dewa Gede Pradnyanata Kegiatan pengabdian masyarakat di KMKL-ITB merupakan program yang sangat aku nantikan semenjak masuk jurusan dan ketika momen itu datang, tentu akan aku manfaatkan semaksimal mungkin. Walaupun di awal pengumuman diadakannya kegiatan Gerakan Berbagi yang dilaksanakan di Pondok Lansia Tulus Kasih, aku sempat ragu untuk mendaftar mengingat kegiatanku yang sangat padat bahkan hampir tiada henti. Namun, “melihat� batin yang sudah lelah, akhirnya aku memutuskan untuk

“mengistirahatkannya� dari kehidupan kampus. Kehidupan di kampus yang sangat melelahkan dan terlalu kaku, membuat aku berpikir, dengan mengikuti Gerakan Berbagi bisa membuatku refreshing dari penatnya kuliah. Terlebih, berbagi itu menyenangkan, apalagi bisa meihat orang lain tersenyum karena kita. Ketika sampai di lokasi kegiatan, aku bertemu dengan Eyang Kakung, salah satu oppa di Pondok Lansia Tulus Kasih. Eyang orang asli Jogja, dulu beliau merupakan dosen di UGM.

29


Sekarang, Eyang sudah tinggal beristirahat menikmati indahnya dunia dan mungkin, Bandung memang tempat yang cocok untuk itu. Eyang bercerita banyak tentang hidupnya dulu sebagai pengajar, tentang kehidupan Jawa jaman dulu. Eyang juga memberi banyak petuah kepadaku, sebagai generasi muda yang kelak akan menjalankan negeri ini. Salah satu petuah Eyang yang sampai saat ini kuingat adalah

kita kerjakan karena ketika semua kita jalankan dengan cinta dan ikhlas, maka semua akan berjalan indah dan kita dapat menikmati segala prosesnya. Dari petuah Eyang yang aku pelajari, membuatku tersadar bahwa seluruh proses yang aku jalani di kampus ini bukanlah hal yang nyaman bagiku. Namun, aku percaya proses ini kelak akan membentukku menjadi pribadi yang siap di dunia nyata. Maka itu, aku harus mencintai apa yang sedang aku kerjakan saat ini agar aku bisa menikmati segala proses yang sedang aku alami.

Eyang mengajarkan bahwa kita harus dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi. Bekerja sesuai hobi atau minat memang indah. Namun, tidak selamanya kesempatan bekerja sesuai minat itu akan datang. Memang, berbagai kesempatan tentu akan datang. Namun, bisa jadi kesempatan yang datang bukanlah kesempatan yang sesuai dengan minat kita tetapi kesempatan yang kita butuhkan. Eyang mengajarkan agar kita dapat mencintai apa yang

Setelah mengikuti kegiatan Gerakan Berbagi, aku merasakan kembalinya sebagian diriku yang sempat hilang karena kesibukan di kampus. Aku merasa bahagia dan mendapat banyak insight baru dari oma dan opa di sana.

“Cintai apa yang kamu kerjakan atau yang kamu dapatkan saat ini, jangan tertutup terhadap peluang yang datang karena mengejar hal-hal yang kalian sukai (hobi), yang belum tentu bisa kalian dapati.�

30



FATAMORGANA Narasumber : Fahmi Octavialdo Aku tidak mau menyebut kunjungan ke Pondok Lansia Tulus Kasih sebagai kegiatan yang seru. Serius! Keceriaan acara pengmas tidak membuat suasana pondok menjadi bahagia seterusnya. Hal pertama yang terlintas dengan mengikuti kegiatan ini adalah aku yang mendapatkan insigth baru. Hanya dengan masuk ke ruangan para lansia, akan langsung terasa sedu sedan dari masing-masing penghuni pondok yang terasa hanya dengan melihat foto-foto masa lalu mereka. Sangat kontras jika dibandingkan

dengan foto-foto yang terpampang di ruang tengah, yang diisi dengan foto-foto kunjungan dari berbagai pihak. Bahagianya foto-foto di ruang tengah hanya berbatas dinding tipis dengan foto-foto pilu dari masa lalu mereka. Tahukah kamu bahwa para lansia sangat ingin kunjungan tersebut ada selamanya? Mereka sebenarnya ingin setiap hari selalu ramai seperti keadaan mereka pada saat muda dengan keluarganya. Untung saja, Pondok Lansia Tulus Kasih memiliki banyak kegiatan. Seperti salah satu

32


kegiatan dimana kami, sebagai relawan, berbincang-bincang dengan para lansia. Aku pun terkesan dengan orang-orang yang pandai berbicara karena dapat dengan baik berbincang dengan para lansia walaupun mereka ada yang pendiam.

mengenai keluarganya walaupun kami tidak menanyakannya karena memang tidak diperbolehkan untuk bertanya mengenai latar belakang mereka berada disana.

Diantara para lansia yang ada di pondok tersebut, ada yang hanya bias terbaring di kasur. Tentu saja pikirannya ingin sekali bergerak dan ikut dalam kegiatan apapun di pondok tersebut. Jika memang hanya bisa terbaring di kasur, hal pertama yang kupikirkan ialah

Mereka hanya bisa berbaring sambil menatap foto diiringi imajinasi kegiatan masa lalu, kebahagiaan di masa lalu, kehangatan keluarga, dan canda dan tawa di waktu berkumpul bersama keluarga. Sekarang, keluarga mereka sudah hidup masing-masing. Sekarang, keluarga mereka sudah banyak yang mendahului mereka. Sekarang, mereka hanya bisa berbaring dengan segala keterbatasan fisik yang lain. Boleh jadi, hanya otak yang “bekerja� yang menjaga mereka tetap hidup. Pada saat kegiatan berlangsung, beberapa lansia disana bercerita

33

GERAKAN BERBAGI

“Tuhan, cepatlah ambil nyawaku. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk hidup. Keluargaku sudah meninggalkanku. Aku hanya beruntung berada di sini dan ada yang mengurusiku. Kenapa Engkau tidak cepat mengambil nyawaku?�



ABHIPRAYA Narasumber : Muhammad Rizki Ziarieputra “Walau kering, bisakah kita tetap membasuh?� –Hindia, Membasuh Pengabdian, kata yang cukup asing dalam lingkup KMKL-ITB sebelum kepengurusan periode ini dimulai. Lebih lagi pengabdian masyarakat, massa KMKL yang mendengar akan dipenuhi dengan kebingungan. Pengabdian dengan kegiatan seperti apa? Masyarakat yang mana? Halhal ini yang menjadi bahasan yang terus menerus dibicarakan dengan kekhawatiran tidak didapatkan jawaban yang diinginkan.

Pada kepengurusan kali ini, dibawa gagasan bahwa pengabdian masyarakat walaupun dengan segala kebingungan dan ketidakpastian di dalamnya tetapi hal-hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bergerak. Mahasiswa yang menjadi subjek utama dalam proses pendidikan tinggi yang dimana di dalamnya termasuk kegiatan pengabdian masyarakat sudah cukup menjadi alasan untuk melaksanakan kegiatan atau

35


pergerakan dalam pengabdian masyarakat.

bidang

pengabdian yang menerus sehingga pelaku pengabdian pun diharapkan dapat memaknai pengabdian ini dengan sebaik mungkin dan nilai kepedulian pun tumbuh dengan alaminya dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Pengabdian masyarakat dalam lingkup KMKL-ITB kemudian dirumuskan dengan langkah awal yang perlu dibuat adalah pembentukan sifat peduli pada anggotanya. Pengabdian masyarakat ini diharapkan menghasilkan modal yang membawa anggota untuk kedepannya bisa terus mengabdi dengan skala yang semakin besar dan modal yang digunakan adalah nilai kepedulian.

Pada awalnya ada keraguan pada penyusunan kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat ini. Tidak adanya preseden yang dekat dan kurangnya pengalaman pengabdian masyarakat di KMKL-ITB tentu menjadi suatu tantangan untuk keberhasilan kegiatan-kegiatan yang dirancang. Tetapi benar, apa yang baik pasti akan diikuti hal-hal yang baik. Terbukti, antusiasme massa yang luar biasa baik dalam mengikuti kegiatan-kegiatan, tanggapan yang positif bagaimana kegiatan yang ada mempengaruhi pribadi dari masing-masing pelaku pengabdian terutama perihal nilai kepedulian, serta respon baik dari masyarakat yang menjadi target pengabdian menunjukan bahwa kegiatan pengabdian itu telah dan akan terus berdampak baik.

Kegiatan-kegiatan yang dirancang kemudian berkiblat pada tujuan untuk membentuk nilai kepedulian. Untuk mencapai nilai kepedulian yang diinginkan, maka ditentukan konteks masyarakat yang menjadi target pengabdian adalah masyarakat yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak perlu muluk-muluk masyarakat yang nun jauh disana yang butuh bantuan dari pengabdian mahasiswa, nyatanya masyarakat yang dekat dan membutuhkan pun masih sangat banyak yang belum mendapatkan perhatian dari kita. Bentuk kegiatan juga dibangun untuk fokus kepada para pelaku pengabdian agar tumbuh rasa bahwa mereka harus kembali ke masyarakat dan masyarakat pun telah menunggu mereka.

Dari segala hal yang telah dilaksanakan dalam kegiatankegiatan di pengabdian masyarakat KMKL-ITB, didapatlah suatu harapan baik. Harapan mengenai akan bagaimana kelak kegiatan pengabdian masyarakat di KMKLITB. Sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa mahasiswa adalah bagian dari masyarakat dan pada akhirnya akan kembali ke masyarakat. Begitu juga mahasiswa

Kegiatan-kegiatan yang dirancang pun disusun menjadi suatu alur dengan dimulai dari adanya pendidikan, kemudian penyadaran, dan diikuti dengan kegiatan

36


teknik kelautan. Kita akan selalu mau untuk kembali dan masyarakat pun telah memanggil untuk bagiannya yang kadang sering merasa terpisah untuk kembali. Tentu, harapan yang ada adalah agar pergerakan dalam bidang pengabdian masyarakat tidak akan pernah berhenti di KMKLITB, skala pergerakannya terus berkembang, serta memberikan dampak yang semakin besar untuk kemaslahatan masyarakat.

orang yang menginginkannya. Solusi tersebut bisa jadi ada di dalam KMKL-ITB sendiri atau mungkin berada di luar. Hal terpenting adalah mengenai kesiapan kita untuk melaksanakan solusi tersebut. Hal yang terpenting dan harapannya akan terus digaungkan adalah jangan pernah berhenti bergerak. Karena pergerakan itu penting dijaga momentumnya. Cukuplah sudah ada modal dari kepengurusan ini untuk pergerakan kedepannya. Aku yakin akan selalu ada ksatria-ksatria pengabdian masyarakat yang akan terus membawa pergerakan ini lebih jauh dan lebih jauh lagi dari sebelumnya.

Sebagai suatu kelompok yang berisikan orang-orang dengan minat serta keilmuan yang sama, tentu anggota KMKL-ITB menginginkan untuk bisa mengimplementasikan minat serta keilmuannya dalam pergerakan di bidang pengabdian masyarakat. Tentu dengan keinginan tersebut akan ada tantangan yang perlu dihadapi tetapi yakinlah bahwa solusi itu pasti ada untuk orang-

Sedikit pepatah dariku untuk temanteman yang akan melanjutkan pergerakan,

“Apa yang diberikan dari hati, pasti akan diterima oleh hati� –Ayunda Nisa Chaira, 2019

37



PEMBELAJAR SEJATI Narasumber : Muchamad Raihan Nafis Awal pertama ikut Sekolah Mentari karena ajakan dari teman yang sebelumnya sudah dulu ikut Sekolah Mentari, katanya, aktivitas di Sekolah Mentari lumayan seru dan bermanfaat. Dari situ aku mulai cari tahu tentang Sekolah Mentari, dan ternyata, apa yang dibilang temanku itu benar adanya. Sekolah Mentari pertama ku cukup membuka sudut pandang baru tentang bagaimana keadaan anak-anak kecil yang

kurang mendapat perhatian dan edukasi yang memadai sejak dini. Kalau mencoba kilas balik apa yang sudah dilakukan saat Sekolah Mentari, cukup banyak yang bisa diceritakan. Bagian yang membuat Sekolah Mentari suatu kegiatan yang tidak membosankan yaitu saat aku mampu mengajarkan mereka banyak hal seperti menggambar, menulis, dan berbagai keterampilan dasar lainnya.

39


Sekolah Mentari aku rasakan sangat seru karena aku sendiri sangat senang belajar banyak hal baru dari orang lain, baik mengajar maupun diajarkan. Disamping itu, kita sebagai kakak pembimbing, selain waktu dan tenaga untuk berbagi ke sekitar, juga mendapat pembelajaran penting mengenai bagaimana menjadi pribadi yang lebih berempati, proaktif, dan peduli terhadap hal-hal di sekitar kita. Aku percaya kalau program ini secara kontinu dilakukan, anak-anak kecil di Sekolah Mentari akan mendapat manfaat jangka panjang yang lebih besar lagi. Memang tidak semua orang memiliki privilege yang sama, tetapi itu bukan alasan untuk kita yang sudah berkesempatan mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi untuk tidak menebar kebaikan sebagai salah satu tanggung jawab sosial. Aku yakin anak-anak kecil diluar sana banyak yang masih belum terpenuhi kebutuhan dasarnya dalam hal edukasi, maka dari itu, ekspektasi aku tinggi terhadap capaian program Sekolah Mentari ini bila diteruskan.

baik untuk aku. Selain bisa berbaur dan bermain bersama mereka, kita bisa menghadirkan manfaat untuk mereka seperti mengajarkan cara membaca atau membantu menjelaskan pelajaran yang ada di sekolah. Menurut aku, Sekolah Mentari merupakan sebuah kombinasi yang tepat diantara memajukan taraf kehidupan masyarakat dan melepas penat dengan bermain bersama mereka. Mungkin kalau subjek utamanya bukan mereka akan berbeda cerita. Kurang lebih seperti itulah pengalaman ku dalam Sekolah Mentari, kalau ditanya �apakah ada perubahan pada diri sendiri setelah mengikuti Sekolah Mentari?� jawabannya tentu iya, karena yang pertama kita yang sudah mengikuti Sekolah Mentari secara tidak langsung diajarkan bagaimana cara berinteraksi, memahami perasaan, dan juga membuat suasana yang menyenangkan untuk mereka. Lalu yang kedua aku merasa lebih tersadarkan mengenai pendidikan anak sejak dini. Yang dimaksud disini adalah belum terpenuhinya kebutuhan subjek pengabdian masyarakat akan figur teladan yang baik yang bisa mereka ikuti semenjak kecil hingga mereka beranjak dewasa. Maka dari itu aku berharap program Sekolah Mentari bisa terus menerus menghadirkan sosok teladan atau sebutannya “kakak pembimbing� yang dapat mereka ikuti.

Mungkin saran untuk program ini bila diteruskan, lebih diperbanyak kegiatan edukatif seperti peningkatan literasi sejak dini disamping bermain bersama mereka sehingga program ini menyalurkan kegiatan yang seimbang untuk anakanak usia dini. Kehadiran anak-anak kecil sebagai fokus utama program ini meninggalkan kesan yang sangat

40



Narasumber : Aprilia Cahya Safira

Berawal dari rasa penasaran, aku bisa kesampaian buat ikut berbagi di kegiatan Sekolah Mentari. Waktu itu, aku ikut berpartisipasi di edisi epilog dari rangkaian kegiatan Sekolah Mentari di semester lalu. Edisi ini diisi dengan kegiatan belajar, bermain games, dan memasak. Secara umum, aku dan teman-teman volunteer (kakak pembimbing) terbagi menjadi tiga kelompok sesuai kegiatan tersebut. Edisi epilog ini agak spesial karena di penghujung kegiatan kami disuguhi santapan siang berupa nasi

liwet, ayam goreng, lengkap dengan aneka sambal dan lalapannya. Kebetulan aku tergabung dalam kelompok pos memasak. Santapan siang hari itu dimasak di dapur warga, tepatnya di dapur rumah Bu Dewi. Ya sebetulnya kami tidak membantu banyak, hanya sekadar membantu mengiris mentimun, menggoreng ayam dan tempe, serta mengupas daun kol. Tapi, kebersamaan kami dengan para ibu-ibu di dapur menjadi hal yang berkesan karena diselingi dengan obrolan-obrolan hangat. Aku jadi 42


mengetahui sedikit hal yang dibicarakan oleh ibu-ibu di sana. Dan juga, pikiranku langsung terbuka dan menyadari bahwa banyak sekali hal yang aku tidak ketahui yang terjadi di sekitar tempat Sekolah Mentari diadakan.

Saat pertama kali datang ke kawasan tempat Sekolah Mentari berada, aku terkejut dengan jalan akses yang berupa jalan setapak yang sangat curam dan sempit. Selain itu, rumah-rumah disana juga sangat berdempetan membuat lingkungan terlihat kumuh. Namun, saat aku Ibu Dewi, sang pemilik rumah, sampai di dalam rumah Sekolah adalah sosok yang paling berkesan Mentari, terlihat wajah-wajah ceria dan paling banyak berinteraksi dengan anak-anak yang menunggu kami. Beliau bercerita tentang oknumkedatangan kami. Sontak aku merasa oknum pemilik cafĂŠ di sekitar terharu banget mereka bisa se-ceria pemukiman dekat Sekolah Mentari itu dan begitu antusiasnya. Lalu, anakyang sangat mengganggu ketenangan anak disana memang sedikit “bar-barâ€?, penduduk di sana. Aku menyimak tapi aku tahu kalau sifat itu adalah ciri dengan seksama dan sedikit tersentuh khas anak-anak yang aktif. Penduduk hatinya ketika Bu di sana juga sangat Dewi berkisah ramah dan baik. Di tentang berdirinya luar dapur, beberapa Bahwa, hari ini, melalui Sekolah Mentari, Sekolah Mentari. orang tua siswa Dari penuturannya, aku lebih mengenal lingkungan sekitar dan Sekolah Mentari pun Aku sedikit menyapa kami baik tersadarkan untuk menjadi pribadi yang menangkap ketika datang dan berbagai perjuangan lebih bersyukur lagi. juga saat kami yang tersirat ketika beranjak pulang. beliau berusaha memberdayakan masyarakat sekitar. Menjelang siang, aku dan tim Mau tidak mau, aku terkagum sepenuh dapur beranjak mengantarkan hati dengan kedermawanan ibu ini. makanan menuju lapangan yang biasa Beliau ini sangat tulus menjaga disebut Paguron. Setibanya di Sekolah Mentari, berharap bahwa lapangan, tampak anak-anak sedang anak-anak di sini masih punya masa bermain dengan teman-teman yang depan yang cerah di tengah lain, bermandikan sinar mentari pagi keterbatasan yang ada. Hingga kini, lengkap dengan semua beliau tak luput untuk menyisihkan kehangatannya. Ngeliatnya aja tuh sebagian dari pendapatannya untuk udah hiburan gitu, lupa sama kerjaan perawatan Sekolah Mentari. Sedikit dan masalah yang lagi aku hadapi. lebih beliau telah berjasa ketika anakBawaannya sangat enjoy aja gitu, anak di sana dapat begitu sangat melihat anak-anak kejar-kejaran ceria di tengah-tengah kekurangan. menjadi hiburan tersendiri meskipun waktu itu cuaca lagi lumayan panas. Namun, aku tidak ikut makan bersama

43


karena ada urusan lain di kampus. Jadi, setelah mengantarkan dan menyiapkan makanan untuk adikadik, aku pulang duluan. Tapi aku tetap senang sekali kok bisa hadir hari itu, banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa aku dapatkan. Saat di jalan pulang, terbersit di benakku sebuah kesimpulan. Bahwa, hari ini, melalui Sekolah Mentari, aku lebih mengenal lingkungan sekitar dan tersadarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur lagi.

44



WARNA-WARNI KECERIAAN ADIK Narasumber : Kartika Putri Ini pertama kali buat saya mengikuti pengabdian masyarakat. Yang buat saya tergerak untuk ikut berbagi dalam kegiatan sekolah mentari yaitu sadar akan berbagi untuk sesama manusia atau lebih tepatnya untuk yang membutuhkan itu sangatlah penting. Karena dengan kita berbagi, bukan hanya orang2 yang menerima itu yang mendapatkan keuntungan tetapi kita yang berbagi pun mendapatkan keuntungan seperti kita mendapatkan pengalaman, dapat bersosialisasi dengan penduduk sekitar, dan sebagainya. Kita mendapatkan ilmu dan sesuatu yang bermanfaat juga dari orang lain, jadi

apa salahnya juga kita menyebarkan hal positif ke yang lain. Oh ya selain alasan itu, saya tergerak juga karena saya suka banget yang berhubungan dengan anak kecil. Untuk sebelum acara, saya biasanya lebih malas tahu untuk segala hal dan akupun orang yang termasuk mager apabila sudah di atas kasur. Tetapi, setelah saya ikut acara ini aku lebih bermotivasi bangun pagi di weekend karena pengen ketemu dengan adikadik di sekolah mentari tersebut, dan sayapun jadi lebih sabar menghadapi macam-macam emosi atau sikap dari adik-adik tersebut. Karena ternyata semua anak punya emosi

46


dan perilaku yang berbeda. Dan mau gak mau saya yang harus menyesuaikan diri dengan mereka. Tapi it’s okay mereka tetap baik-baik semua kok. Seneng bangetlah bisa berbagi dan bermain sama mereka.

yang buat saya gemesss dengan adik-adik di sana karena mereka sangatlah polos ketika mempraktikkan gerakan sesuai gambar yang di kasih. Oh iya selain itu, ada juga hal yang sangat berkesan ketika Menurut saya yang main ayunan di “Dan pada saat selesai membuat Sekolah pohon yang berada ikut acara ini, biasa saya Mentari ini di belakang langsung telpon adik saya berkesan yaitu Kak pemukiman. Seru Antal dan staffbanget karena yang di rumah� staff pengmas semuanya dari anak yang lain. Karena mereka, sekolah kecil sampe kakak-kakak mentari ini ada dan lihat kesabaran pembimbingnya pada naik dan pada mereka juga ngurus sana sini yang berayun di atas pohon sampai ada harus komunikasi dengan penduduk yang hamper jatuh wkwkwk. di sana agar sekolah mentari ini jalan. Dan tentunya kesabaran sama kita Keseruan yang saya dapat di juga yang ikut ke sana yang kadang Sekolah Mentari sangatlah banyak masih ada yang dari sejak awal telat atau batal ke sana saya ikut mendadak sangat gemes di hari-H, misal melihat kelakuan kayak saya anak-anak di heheh. Oh ya sana. Apalagi selain kak Antal ada adek-adek dan staff-staff yang cantik dan pengmas lain, ganteng heheh. yang buat Dari semua berkesan kegiatan yang sekolah mentari pernah saya ini juga adikikutin di acara adik yang di sana. Karena mereka tersebut, saya sangat suka kegiatan pun juga acara ini jadi lebih berwarna, main tebakan gambar sih wkwkwk. lebih aktif, dan lebih seru terutama. Karena saya juga ikutan main sama Banyak hal-hal positif yang saya adik-adik di sana dengan gelagat dapat dari mereka. Hal yang mereka yang sangat polos ketika membuat terkesan menurut saya memperagakan sesuai gambar itu yaitu waktu main tebak gerakan. yang buat saya pengen cubitin pipi Yang seharusnya main yaitu adikmereka saking gemeeesnyaa. adik tapi saya malah ikutan main Kadang ketika bermain sama mereka untuk memberikan gerakan dan ikut saya jadi teringat adik saya yang menebak yang diperagakan sama paling kecil karena ada yang adik-adik di sana. Permainan itu seumuran dengan adik saya, lupa sangatlah seru banyak kejadian lucu Namanya tapi kayaknya dia juga

47


berumur 3 tahun sama kayak adikku yang di rumah. Dan pada saat selesai ikut acara ini, biasa saya langsung telpon adik saya yang di rumah heheh. Sekolah Mentari ini sangat saya sukai karena anak-anaknya itu lohh. Ada anak yang nakal, anak yang bawel, anak yang kalem, yang pinterrr, yang hiperaktif banget, dan masih banyak lagi lah. Suka bangetlah sama anak kecil. Tapi aku nyesel gak ikut kegiatan Pengabdian Masyarakat yang ke panti :(( karena ketiduran. Aku harap pengabdian masyarakat ada lagi di semester selanjutnya dan tetap jadi kegiatan rutin dan aku janji bakal rajin ikut kegiatan-kegiatannya. Dari Pengabdian Masyarakat ini, aku banyak dapat pengalaman, hal-hal lucu, hal-hal berkesan, dan yang paling utama aku makin suka dengan anak kecil.

48



MOMEN PERUBAHAN Narasumber : Syahrul Hikam Berawal dari iseng dan tahu ada kegiatan Gerakan Berbagi, akhirnya ikut mendaftar karena punya keinginan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Setelah diberi tahu panitia, ternyata Gerakan Berbagi itu kegiatan pergi ke Pondok Lansia Tulus Kasih yang merupakan panti sosial bagi para lansia yang diisi dengan kegiatan buka puasa bersama dan memberi bantuan, aku pun makin tergerak untuk ikut, terlebih kegiatan dilaksanakan pada bulan puasa yang bakal baik banget

diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk dapet pahala, hehe. Keseruan bermula dari saat aku sampai di panti pada hari pelaksanaan kegiatan dimana saat sampai disana aku melihat raut wajah para lansia yang sangat antusias dengan kehadiran kami. Walaupun mereka sempat menunggu beberapa menit, namun terlihat sekali mereka sangat sabar dan sangat menanti kegiatan kami. Kegiatan dimulai dengan saling memberi sambutan, kami pun

50


disambut oleh yel yel khusus yang diberikan para lansia dan disitu terlihat mereka sangat bersemangat. Sembari menunggu waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan bermain games untuk mendandani 3 orang relawan dari KMKL-ITB yang rela wajahnya dirias oleh para lansia. Saat itu aku ngeliat wajah mereka yang semakin antusias saat mendandani Kiki, Adam, dan Diwa yang menjadi relawan dengan alat rias berupa bedak, lipstick, dan lainlain. Beberapa saat kemudian, wajah yang lucu banget mulai terlihat karena wajah mereka sudah dihiasi lipstick dan make up lainnya, padahal semua relawan yang wajahnya dirias itu cowok. Setelah wajahnya dirias, para relawan ini pun harus unjuk kebolehan menjadi model dengan wajah yang sudah dirias dan menunjukkannya kepada para lansia yang lain, mereka pun sangat senang dan tertawa.

namun ada pula cerita pilu yang kami dengar. Cerita bagaimana mereka ditinggalkan oleh anak-anaknya karena hal tertentu menjadi kesan tersendiri dan membuatku makin sayang kepada orang tua dirumah. Cerita-cerita ini pun memberi perubahan tersendiri bagiku yang pada awalnya kurang bisa bersimpati kepada orang menjadi mau lebih menghargai orang lain, terutama kepada orang tua dirumah. Pada saat adzan maghrib berkumandang, semua bergegas membagikan makanan untuk berbuka puasa dan setelahnya kami pun bergegas untuk pamit dengan para lansia. Ketika kami pamit dan bersalaman dengan satu per satu lansia, kami pun diberi nasihat-nasihat oleh lansia di sana. Mereka pun mengucapkan banyak terima kasih kepada kami ketika bersalaman. Mereka sangat berterima kasih dengan kami yang menyempatkan diri menengok mereka, kesenangan pun terlukis di raut wajah mereka karena kehadiran kami hari itu.

Setelah bermain games, kami mengobrol dengan para lansia dan mendengar cerita-cerita mereka, ada cerita yang menyenangkan

51