Page 1

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

MENANTANG MAHASISWA BERWIRAUSAHA

Jepret Hal 13 Tragedi Pasar Projo Ambarawa

Perjalanan Hal 12

Laweyan, Tempat Unik Belajar Mbatik


2

SALAM REDAKSI

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Menantang Mahasiswa Berwirausaha!

“M

ahasiswa masih bisa berwirausaha”. Slogan itu nampak empuk ketika dibicarakan di seminar, perkuliahan, jejaring sosial bahkan meja pemerintahan. Memang benar mahasiwa bisa berwirausaha, bahkan bisa jadi apapun. Setelah beberapa bulan lalu tabloid ini mengupas keberadaan pekerjaan strategis berinisial PNS. Kini kami mencoba mengupas hal yang erat kaitannya dengan, akan jadi apa mahasiswa setelah lulus. Dikti menetapkan program yang memfasilitasi mahasiwa untuk berwirausaha, yaitu Program Kreatrifitas Mahasiswa Kewirausahaan dan Program Mahasiswa Wirausaha. Melalui program ini diharapkan mahasiswa bisa mandiri ketika mereka lulus, serta berani mengembangkan diri dalam membangun iklim usaha tanpa harus mencari kerja. Dari hal ini kemungkinan angka pengangguran bisa berkurang. Namun, ini tak bisa jadi faktor tunggal penentu keberhasilan. Fak-

SLENTINGAN

tor yang lebih dominan barangkali bisa kita lihat pada mentalitas mahasiswa. Apa mereka sudah cukup siap terjun ke dalam pusaran modal yang diperoleh dari Dikti. Bisa jadi, alihalih menyiapkan kader berwirausaha, program ini hanya mencetak para koruptor baru. Sebab mark up tak bisa lepas dari pundi-pundi yang digunakan untuk menjalankan program. Di sisi lain, universitas yang tercipta sebagai ruang bebas mencari pengetahuan, kini malah terkekang dengan rumus-rumus tertentu. Pencetak calon pekerja, penerus kepemimpinan atau bahkan agen pewaris kesejahteraan. Di masa perang dunia pertama, universitas memerankan pusat riset pengembangan ilmu pengetahuan. Hingga pada akhirnya ia menjelma sebagai area politis persetujuan perang dunia kedua. Hingga kini ia berevolusi sebagai lahan industri. Pencetak tenaga kerja atau bahkan kader pengusaha. Padahal praktek perkuliahan yang dijalani telah mematok rumus bernama kredit SKS. Tatap muka dan tugas. Umpamakan setiap mata kuliah

diwajibkan untuk memberian tugas sebagai pengasah kemampuan. Pertanyaannya, apakah cukup jeda waktu digunakan untuk menjalankan program berwirausaha? Tentu dibutuhkan kemampuan dan mentalitas mengontrol diri yang sangat dahsyat. Ah, persepsi buruk bisa-bisa hadir dari program ini. Yaitu program yang dijalankan hanya sekadar abal-abal. Untuk mengeruk pundi-pundi rupiah, dari jerih keringat rakyat. Mungkinkah budaya akan terus bergeser hingga pada akhirnya universitas akan menjadi, ah, kami tak cukup berani meramalkan. Tampaknya kesalahan memang tak dapat lepas dari sebuah program. Akankah kesimpulan hanya mematok harga diri setiap individu? Apa bisa kita menaruh harapan pada sistem yang sudah menghalalkan prakteik mark up? Nuansa akan mengupas melalui perspektif kami. Pastia ada keterbatasan. Kami akan terbuka menerima masukan. Selamat membaca. Salam.[]

NANSTRIP

Banyak orang takjub melihat taman Unnes. Coba deh lebih masuk sedikit, masih kagum ga ya..? PKM Kewirausahaan mahasiswa Unnes banyak didanai Dikti. Mungkin lagi musim. Unnes menambah jumlah security. Bahkan hotspot pun disecurity. Mahasiswa tanggal tua bingung. Makanya usaha…

Cak Nans

Tabloid Mahasiswa NuansA diterbitkan oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang Merupakan media komunikasi, informasi dan kreasi sivitas akademika yang memadukan idealisme, objektivitas, dan kreativitas mahasiswa. Terbit Berdasarkan SK Rektor IKIP Semarang nomor 53/1983 Alamat Redaksi Kantor BP2M Unnes, gedung UKM lt.2 Kampus Unnes Sekaran, Gunungpati Semarang 50229 Telp. (024) 70789389 Website: www.bp2munnes.com Email: nuansa@bp2munnes.com

Pembina: Rektor Universitas Negeri Semarang; Penasihat: Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan; Penanggung Jawab: Drs. Ubaidillah Kamal; Pendamping: Drs. Eko Handoyo, MSi; Pemimpin Umum: Debi Permatasari; Sekretaris Umum: Fakhy Walidah; Pemimpin Perusahaan: Aditya Rustama; Bendahara Umum: Yusri Maulina; Litbang: Marfu’ah; Pemimpin Redaksi: Heru Ferdiansyah; Sekretaris Redaksi: Endang Triyani; Bendahara Redaksi: IIn Septi; Redaktur Pelaksana: Septi Indrawati; Editor: Siti Zumrokhatun, Ambar Kurniawati; Redaktur Foto & Artistik: Aditya Rustama; Reporter: Yusri, Didit, Ambar, Endang, Mahda, Rima, Septi, Sugi, Vera; Fotografer: Aditya Rustama, Sugiyarto; Ilustrator: Yusuf Arief; Lay Out: Aditya Rustama; Cover: Syaifudin. ~ Redaksi menerima tulisan berupa artikel, opini, cerita pendek, puisi, dan naskah lain yang sesuai dengan visi dan misi NuansA. Redaksi berhak mengubah naskah sepanjang tidak menyalahi isi. Semua naskah yang masuk menjadi hak redaksi. Penulis naskah yang dimuat akan mendapat imbalan sepantasnya ~


3

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

SURAT PEMBACA

Kesadaran Nyampah

S

uatu sore, Saya dan teman Saya berjalanjalan menuju taman kampus. Duduk di bangku taman sambil memanjakan mata dengan pemandangan hijaunya taman, cukup menghilangkan penat setelah seharian penuh aktifitas, baik itu kuliah, mengerjakan tugas, kegiatan organisasi, dan sebagainya. Saya begitu menikmati segarnya angin sepoi-sepoi di taman tersebut. Namun, kenyamanan itu rasanya sedikit terusik setelah melihat sampahsampah plastik berserakan di area taman. Padahal di area taman sudah tersedia tempat

menafsirkan sampah dalam sudut pandang yang lain, yaitu sudut pandang di mana tidak semua jenis sampah merupakan sesuatu yang kotor dan tidak berguna. Karena sampah dapat menjadi suatu barang yang berguna apabila kita mampu memilah serta mengolahnya dengan baik. Bahkan sampah ternyata dapat berubah menjadi sebuah harta k a r u n juga. Na mun,

penting dalam hal ini adalah kesadaran dari setiap individu, khususnya kesadaran dari tiap mahasiswa itu sendiri. Namun, terkadang ketidakkonsistenan serta berbagai aktifitas yang menyibukkan bagi mahasiswa membuat mereka mengabaikan benda yang disebut sampah tersebut. Padahal kampus tercinta kita, sudah mendeklarasikan diri sebagai kampus konservasi yang salah satunya adalah konservasi lingkungan, di mana konservasi ini mengantarkan Unnes menjadi Green Campus yang peduli terhadap lingkungan. Seharusnya sebagai mahasiswa, kita mendukung program terse-

sampah. Saya pun memungut sampah plastik tersebut dan berniat membuangnya. Saya pun kembali merasa heran, ketika melihat tempat sampah yang bertuliskan anorganik itu ternyata isinya tak hanya sampah anorganik saja, tapi segala jenis sampah. Aneh ya, apakah orang-orang tidak bisa membaca tulisan organik dan anorganik sehingga mereka memasukkan sampah semaunya saja, tanpa peduli jenis sampahnya. Sebagai mahasiswa, kita mestinya memiliki kelebihan intelektual dibandingkan masyarakat biasa. Seharusnya kita mampu melihat dan

sekali lagi hal ini berlaku ketika kita mampu memilah dan mengolahnya dengan baik. Pertanyaannya, apakah semua orang mau dan mampu mengolah sampah-sampah yang dianggap kotor dan tidak berguna tersebut? Tentunya tidak kan? Sehingga di sinilah peran mahasiswa sebagai wadah penggerak serta pemberi contoh konkrit kepada khalayak tentang pentingnya mengolah sampah dan pentingnya menjaga agar sampah-sampah tersebut tidak dibiarkan berserekan bukan di tempatnya. Sekarang yang paling

but. Mulai dari diri sendiri dulu, seperti membuang sampah pada tempatnya. Hal kecil ini jika dilakukan ternyata dapat membawa dampak yang besar yaitu lingkungan kampus yang bersih, indah, nyaman dan tentunya sehat. Tidak susah kan melakukannya? Sekadar beranjak dari tempat duduk dan berjalan sebentar untuk membuang sampah. Tentu hal ini tak akan mengurangi kenyamanan kita menikmati indahnya taman kampus tercinta ini kan? Septi Indrawati Mahasiswi Ilmu Hukum 2010

TESA

S

Pintar

D

i setiap sisi kehidupan duniawi mana yang tak membutuhkan orang pintar atau orang pandai. Perusahaan mana pula yang tidak rela membayar mahal orangorang pintar yang bekerja dalam perusahaan itu. Apa pula tujuan setiap orang berbondongbondong memperebutkan bangku sekolah dan menekuni beberapa disiplin ilmu, kalau tidak agar mereka pintar. Bahkan, Negara Indonesia pun berani menjamin akan mencerdaskan kehidupan bangsanya seperti yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ya, kata pintar memang sesuatu yang membanggakan bagi setiap orang yang mendapatkan label tersebut. Mengapa demikian? Karena kepintaran tak bisa diperoleh dengan mudah. Diperlukan keuletan dan ketekunan menata ilmu-ilmu yang didapat dan menyimpannya dalam saraf-saraf otak yang lebih rumit daripada ilmu yang di dapat itu. Kepintaran itu pula yang membuat manusia lebih sempurna dibanding makhluk hidup yang lain. Namun, yang sering disayangkan adalah kecen-

derungan setiap orang menilai kepintaran seseorang dengan nilai akademik yang diperoleh. Padahal makna sebuah kepintaran lebih luas dari itu. Sang Pencipta membentuk kepintaran dalam diri seseorang dalam bentuk beruparupa. Salah satunya, kemampuan seseorang untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Hal itu merupakan sisi kepintaran seseorang dalam mengolah dan mengontrol emosi. Kepintaran atau kepandaian memang memiliki banyak manfaat baik bagi diri seseorang maupun lingkungan. Namun, terkadang karena kepintaran anak manusia itu pula, hampir separuh permukaan bumi ini hancur. Setiap orang memang berhak dan layak untuk pintar. Tapi yang terpenting adalah mau dibawa ke mana kepintaran yang dimiliki oleh masing-masing manusia itu. Apakah kepintaran itu akan memberi banyak manfaat bagi orang lain atau justru membuat orang lain menangis dan bumi murka? Vera Hardiyana Pendidikan Kimia 2010

Kuliah bukan Jaminan

ebagian besar masyarakat kita saat ini masih beranggapan bahwa sekolah atau menuntut ilmu hanya bisa dilakukan di jalur formal semata, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi (PT). Anggapan ini berlatar pemahaman bahwa pendidikan formal dipercaya mampu mengantarkan seseorang menuju kesuksesan, baik secara materi maupun non-materi. Tak peduli apapun latar belakang ekonomi keluarga, menguliahkan anak menjadi prioritas utama. Meski demikian, banyak mahasiswa memiliki persepsi. Mereka menganggap bahwa setelah selesai kuliah mereka akan segera bekerja di sebuah perusahaan atau intansi dan mempunyai gaji yang tinggi, tetapi faktanya tidak. Setelah lulus mereka justru tidak bekerja dan berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dan ideal untuk karir kehidupannya. Setelah itu, mereka mengeluh dengan dirinya karena susahnya mencari pekerjaan. Jadi, dengan melihat kenyataan angka

pengangguran yang semakin mening- untuk pamer baju. Apakah seperti kat dewasa ini, mestinya masyarakat itu cerminan mahasiswa? Seharusnya, tidak menggantungkan nasib hanya bagi kita yang punya uang untuk indari modal kuliah semata. Rumusan vestasi kuliah mestinya disyukuri dan bahwa kuliah menjamin pekerjaan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Lulusan PT Sulit Kerja? mapan seharusnya ditinggalkan. Setidaknya ada tiga alasan menPerlu kita ingat bahwa kuliah tidak benar-benar menjamin kehidupan dasar yang berkaitan dengan masalah yang berkualitas untuk anak didiknya sulitnya lulusan PT bisa diterima dusetelah lulus. Jadi sebetulnya, pendidi- nia kerja. Pertama, institusi pendidikan itu untuk mendewasakan mental kan telah menjadi alat politik untuk meraih kekuasaan hingga agar mampu menyelesaiakhirnya sulit memajukan kan setiap masalah yang pendidikan itu sendiri. ada. Dengan pendidikan Kedua, kurikulum yang hendaknya mahasiswa diajarkan sejak awal tidak dapat berpikir logis dan berorientasi pada kebutuahli di bidangnya agar han pasar. Akibatnya terdapat diaplikasikan sejadi overload lulusan pada cara maksimal di kemujurusan tertentu. Ketiga, dian hari. kesejahteraan pendidik Jangan dikira dengan (guru maupun dosen) sering membolos dan masih rendah. Akibatmengabaikan tugas, senya, mengajar bukan lagi orang mahasiswa dapat menjadi profesi utama meningkatkan kualitas Septi Indrawati dirinya. Apalagi jika be- Mahasiswa FH 2010 melainkan sampingan. Tentu saja pendidirangkat kuliah hanya

kan diperlukan untuk menghadapi persaingan global. Akan tetapi, hendaknya masyarakat jangan lagi terjebak pada stereotip bahwa kuliah adalah cara paling ideal meraih sukses. Berbagai penelitian di Amerika, seperti yang dilakukan Thomas Stanley terhadap lebih dari 730 miliarder ternyata memiliki bisnis sendiri (entrepreneur) dan sisanya profesional yang bekerja sendiri (self employee) seperti dokter dan akuntan publik. Riset ini, membuktikan bahwa kuliah ternyata tidak mampu menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kemakmuran hidup. Oleh karena itu, belajar tidak harus di lembaga pendidikan formal. Sebab, ilmu ada di mana-mana. Dengan bahasa lain, mari ubah pola pikir bahwa sukses (kemakmuran, kekayaan, dan penghasilan tinggi) tidak selalu identik dengan gelar akademik, tetapi sukses adalah hak semua orang meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah sekali pun.


4

TESA

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Sudah Relevankah Biaya yang Dipatok Universitas dalam Merubah Nasib Mahasiswa?

SPL, Dari dan Untuk Mahasiswa

D

isadari atau tidak, untuk menunjang peranan universitas secara maksimal dibutuhkan adanya sumbangan pengembangan yang sering disebut SPL. Sumbangan ini dibebankan kepada setiap mahasiswa baru yang telah ditentukan sesuai dengan kebijakan universitas. Baik secara langsung maupun tidak langsung SPL memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan sarana dan prasarana untuk menunjang kualitas lulusanya. Tidak hanya dalam pengembangan sarana dan prasarana namun dalam bidang lainnya seperti pengembangan organisasi kemahasiswaan yang berkaitan langsung dengan mahasiswa. Meskipun tidak dipungkiri muncul permasalahan adanya kesenjangan SPL tahun 2010 dan 2011 yang signifikan dan sempat menjadi pertanyaan besar dalam benak mahasiswa khususnya angkatan 2010. Namun sebesar apa pun biaya pengembangan tersebut, digunakan untuk kepentingan mahasiswa meskipun tidak berkaitan secara langsung yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan mahasiswa.

K

Setiap universitas lagi sebagai perguruan pasti memiliki tujuan tinggi negeri jelmaan mencetak lulusan yang Insitut Keguruan dan berkualitas yang nantinIlmu Pendidikan (IKIP), ya terampil dalam dunia Unnes memberikan perkerja. Sering kali tujuan hatian besar pada bidang untuk kuliah dikaitkan kependidikan. dengan perolehan pekerjaan yang sesuai dengan Butuh Lebih Dari Disiharapan. Padahal peran plin Ilmu universitas adalah sebagai Selain penguasaan dijembatan untuk mewusiplin ilmu, kepribadian judkan tujuan tersebut. atau karakter yang diperHal yang terpenting adaoleh melalui organisasi Na’imatul Jannah lah proses mencari ilmu, khususnya organisasi keMahasiswa FMIPA tak hanya dalam bidang mahasiawaan. Pendidiakademik namun juga kan karakter ini memidalam pembentukan karakter, sosial liki peran penting dalam pembenyang diwujudkan melalui berbagai tukan kepribadian atau pembawaan organisasi kemahasiswaan. Ketika seseorang yang menjadi pertimbaseorang mahasiswa telah menyerap ngan dalam dunia kerja. Selanjutnya ilmu dengan benar akan memudah- adanya kompetensi secara sosial yang kan ia dalam memperoleh nilai yang diperoleh melalui interaksi dalam nantinya digunakan sebagai tolok setiap kegiatan baik dengan dosen ukur seberapa besar kemampuan ma- maupun teman. hasiswa memenuhi kompetensi sebaJadi peranan universitas hanya segai seorang calon tenaga pendidik. bagai jembatan yang memudahkan Namun kemampuan hanya dalam seseorang lulusan untuk memperoleh akademik tidak dapat menjamin se- kemudahan dalam dunia kerja. Naorang lulusan memperoleh pekerjaan mun semua itu dikembalikan kepada sesuai dengan yang ia inginkan. Apa- mahasiswa bagaimana ia mengem-

bangkan kemampuannya dalam memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Sebagai calon tenaga kependidikan lulusan Unnes harus mampu memenuhi persyaratan kemampuaan secara paedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Kompetensi pedagogik berupa dalam mengelola interaksi pembelajaran yang meliputi pemahaman dan pengembangakan potensi peserta didik. Kemampuan secara profesional menuntut seorang mahasiswa memiliki kemampuan dalam menguasai disiplin ilmu yang telah dipilih mulai dari perencanaan materi hingga evaluasi pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan perkuliahan. Tak hanya pada bidang kependidikan, ketika lulusan memilih pada bidang nonkependidikan pun ia harus memenuhi kompetensi secara profesional yang didapatkan dalam proses perkuliahan. Pengadaan SPL hendaknya diimbangi perkembangan dan perlengkapan fasilitas yang dibutuhkan agar perjalanan menuntut ilmu menjadi nyaman.

Universitas Bukan Jaminan

etika musim wisuda datang, banyak orang, khususnya mahasiswa yang akan diwisuda dan orang-orang terdekatnya yang disibukkan dengan segala hal ihwal perwisudaan. Mulai mempersiapkan baju yang akan dikenakan, di salon mana dia akan dirias, siapa saja yang akan mendampingi, hingga mobil apa yang akan dikendarai semua telah disiapkan jauh-jauh hari. Momen yang hanya berlangsung sehari itu mampu merebut semua perhatian wisudawan dan keluarganya. Segalanya harus perfect ketika menghadiri acara pemberian ijazah sebagai bukti proses belajar yang telah ditempuh selama di universitas itu. Namun, setelah itu banyak di antara wisudawan yang kalang kabut karena belum mempersiapkan hal apa yang akan mereka lakukan setelah lulus. Sebagian besar dari mereka menganggur. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bingung. Ya, sekadar bingung tanpa ada tindakan real untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan tidak jarang mereka justru mengubur ilmu yang telah didapat dengan susah payah di dalam kamar. Jika kita lihat dari input-nya. Kita tentu akan tercengang mendapatkan output semacam ini. Untuk masuk ke sebuah universitas kita harus mengikuti seleksi yang sangat ketat. Mulai dari tes akademik hingga kelengkapan administrasi. Namun, faktanya kualitas lulusan tetap saja biasa. Mengantongi ijazah universitas tidak lantas menjadikan mereka mampu memperoleh pekerjaan. Memang tidak semua mahasiswa seperti itu. Banyak juga lulusan yang langsung

bekerja. Istilahnya tak ada waktu un- nya referensi di perpustakaan bisa tuk bermalas-malasan bagi mereka jadi dapat menurunkan semangat karena waktu teramat berharga. Na- mahasiswa. Bagaimana tidak setiap mun, tidak bisa dipungkiri jika lebih kali mendapat tugas, secara otomabanyak lulusan yang tidak tahu harus tis mereka akan mencari referensi di berbuat apa setelah diwisuda. perpustakaan. Namun, acap kali meMenjadi sarjana bukan jaminan reka harus kecewa karena buku yang seseorang akan mendapatkan peker- dibutuhkan tidak ada atau sering kali jaan dengan mudah. Universitas yang sudah dipinjam orang. Kalau sudah kini telah dipercaya dabegini, hal yang akan pat merubah nasib orang mereka lakukan adalah pun tidak dapat berbuat mencari referensi di inbanyak. Ijazah dari uniternet. Tinggal klik, copy versitas ternama sekali kemudian paste tanpa pun tidak ada gunanya, dibaca bagaimana isinya. jika lulusannya tidak Tugas yang penting asal berkualitas. Ketika sesjadi, dapat nilai, beres. eorang hendak masuk ke Tentu hal ini yang lambat sebuah universitas, tak laun akan menurunkan sedikit biaya yang digekualitas lulusan karena lontorkan. Hingga pusejak awal mereka suluhan juta guna membadah akrab dengan dunia yar SPL saja. Belum lagi copy dan paste. Tidak ada Ambar Kurniawati buku-buku penunjang, hal-hal baru yang dapat SPP dan lain sebagainya Mahasiswa FBS 2010 mereka ciptakan karena yang juga memakan baplagiatisme yang sudah nyak biaya. Namun, hal mengakar. itu tidak menjamin kualitas lulusanKemudian faktor dari luar lainnya akan di atas rata-rata. nya yang juga sangat berpengaruh Menurut saya ada dua faktor yang terhadap kualitas lulusan yaitu tenaga melatarbelakangi baik tidaknya kuali- pengajar atau dosen. Ketika dosen tas lulusan yaitu faktor dari dalam bisa memegang profesionalisme dendan faktor dari luar. Kedua faktor itu gan baik, mahasiswa pun akan semasaling berkesinambungan. Faktor dari ngat. Namun, sayangnya fakta di lapadalam diri lulusan itu semangat me- ngan tidak demikian. Sebagian dosen reka dalam memperoleh ilmu. Tentu- sering meninggalkan mahasiswanya nya hal itu akan terwujud jika didu- ketika perkuliahan. Cukup meningkung oleh faktor dari luar seperti sa- galkan tugas, maka semua dianggap rana dan prasarana perkuliahan yang selesai. Padahal hal-hal semacam itu baik, serta fasilitas yang memadai. hanya akan membuat mahasiswa Bayangkan bagaimana seseorang menjadi plagiat andal. Ketika ada bisa menimba ilmu dengan baik, jika satu mahasiswa yang dianggap mumfasilitasnya kurang memadai. Misal- puni mengerjakan tugas itu maka dia nya saya mengambil contoh sedikit- lah yang akan dijadikan ladang copy

dan paste. Tidak jarang satu kelas tugasnya sama persis, karena hanya satu yang mengerjakan kemudian disalin secara berjamaah. Berbeda ceritanya jika dosen itu sering masuk. Mengajar dengan gaya yang asyik. Mampu mengajarkan hal-hal sulit kepada mahasiswa dengan cara sederhana yang mudah dimengerti. Tentu hal ini akan memacu semangat mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan dengan baik. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas lulusan, dapat dimulai dahulu dengan meningkatkan fasilitas yang mendukung dan sumber daya manusianya.

Tesa Edisi Depan Lulus kuliah ternyata tidak hanya dengan ujian skripsi, tapi ada ujianujian lain, seperti di Jurusan Bahasa Indonesia ada ujian EYD, di FH ada ujian komprehensif. Mahasiswa yang belum lulus ujian tersebut, belum bisa lulus. Padahal Ujian EYD dan ujian komprehensif tidak masuk dalam SKS, tapi kenapa harus lulus ujian tersebut? Bagaimana pendapat Anda mengenai hal tersebut? Kirim tulisan Anda untuk rubrik Tesa edisi depan. Tulis pendapat anda sepanjang 3.500 karakter with space, kirim ke nuansa@bp2munnes.com atau langsung ke kantor kami, Gedung UKM Lantai 2.


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

5

LAPORAN UTAMA

Alternatif Ladang Keuntungan

S

eorang lelaki bernama Muhammad Muhdlori sedang sibuk di depan komputer melayani pelanggan. Sebagai pemilik rental RAMM di jalan Taman Siswa kesibukan menjadi hal lumrah setiap hari. Di kawasan kampus, bisnis ini sangat menjanjikan. Dia mengaku agak sedikit lega karena kini keuntungan sudah bisa diraih dari usaha rental komputer. Bagi laki-laki asal Rembang yang telah melunasi anjungan kredit untuk usaha ini, wirausaha adalah soal tekad dan ketekunan. Jika dilakukan dengan main-main atau masih ada tannggung jawab yang lain, sulit untuk bisa behasil. Karena wirausaha butuh banyak waktu dalam menjalankan bisnis. Setelah lulus dari IAIN Walisongo, Muhdlori pernah menganggur selama setahun. Awalnya Muhdlori kesulitan untuk mencari kerjaan. Hingga akhirany ia terketuk untuk kembali lagi ke Semarang dengan bekerja di rental komputer sebagai karyawan, “yang penting karja, Mas,” lanjutnya. Sembari menjadi karyawan ia juga mencari lownga pekerjaan. Satupun tak ada yang menerima. Lelaki yang mempelajari Dakwah Islam ketika kuliah ini mengaku tak mengerti sama sekali konsep wirausaha. Namun ia bertekad agar tak menjadi karyawan terus menerus. “Jika jadi karyawan, bagaimana bisa untung,” tegas Muhdlori. Setelah setahun menjadi karyawan rental RAMM, pemilik rental tersebut yang sudah percaya dengan Muhdlori berniat ingin menjualnya. Muhdlori berpikir untuk membelinya. “Walau haraganya tinggi, jika tidak berani. Kapan lagi?” Ia memberanikan diri meminjam dana 25 juta. Kala itu Muhdlori juga kebingungan jika sampai tak dapat mengembalikan pinjaman. Alhasil, setahun yang lalu ia mampu mengembalikan utuh. Katanya ia merasa ketagihan untuk menjalankan usaha lagi. Di rumahnya, ia membangun

usaha warnet yang kini di kelola adiknya. “Pas buka warnet, saya juga pinjam 20 jt,” terangnya. Pengembangan Kini terhitung telah tiga tahun ia begelut sebagai wirausaha di bidang rental dan warnet komputer. Walau keuntungannya tak tentu, ia merasa hanya butuh tekun. Di rumahnya kini sudah terbangun empat ruko yang akan dijadikannya sebagai usaha yang lain. “Kalu usaha itu ndak usah terlalu banyak mimpi, nanti jika tekun akan ada jalan sendiri.” Rencananya, Muhdlori akan membeli mesin fotokopi untuk melengkapi peralatan di rentalnya. Jika ada fotokopi, ia mengaku bisa mendapatkan pendapatan yang lebih. Ia be kerja dibantu dua karyawan yang pada liburan ini tidak diperbantukan karena suasana kampus tengah sepi. “Libur, jadi tak kerjakan sendiri dulu,” terang lelaki berumur 31 tahun ini. Belajar mengenai proses usaha, Muhdlori mengungkapkan, ia belajar dari kawan-kawan sewaktu masih ada perkumpulan rental di Unnes. Kini perkumpulan itu hanya tinggal beberapa anggota saja. Sebagai seorang perantau, di ruko yang kini ditempati Muhdlori, ia sering merasa kesepian. Saat ditanya perihal teman, ia masih berhubungan dengan teman lama waktu membangun usaha rental ini. Walau demikian, ia tak lantas terasing. Baginya inilah yang dinamakan berwirausaha, mampu menempatkan dan membawa diri. Karena kesibukan yang banyak, barangkali ia telah melupakan untuk mampu bersantai-santai kembali. Namun ia masih berharap agar dapat menjalankan usahanya dengan mengkoordinasi beberapa hal yang telah dibangunnya hingga kini. Bercerita soal awalnya, Muhdlori tak pernah mengira dapat menjalani kehidupannya semacam ini. Walau jika dipandang dari aspek kesuksesan yang megah, ia masih terlihat kurang.

Tapi ia yakin selama terus bergerak ia akan mendapatkan cara untuk sekadar melanjutkan hidup. “Wah, ndak bayangin, yang penting jalan terus usahanya,” uajrnya. Kisah Muhdlori mempertegas bawawirausaha bukan soal rencana matang, tapi lebih pada tekad dan konsistensi. Demi menanggulangi angka pengangguran di kalangan sarana, Dikti mengadakan program wirausaha bagi mahasiswa. Peminatnya tentu banyak. Karena ini soal kekhawatiran masa depan. Akan tetapi, munculnya program wirausaha di kalangan akademisi mengantarkan kecurigaan runtuhnya nilai intelektual dari lembaga pendidikan. Pasalnya, orientasi yang berkembang adalah hegemoni mencari alternatif ladang keuntungan semata. Lihat saja, dalam bebagai penelitian, anggaran yang terpatok hanya sebagian yang digunakan untuk menjalankan program. Selebihnya masuk kantong. Proses peranggungjawabnnya pun dilakukan secara curang. Ada mark-up anggaran dalam pembutannya. Pertanyaannya, betapa program ini telah membangun mental korup? Terjadi degradasi moral. Padahal, dalam berbagai diskusi kewirausahaan sering disebutkan bahwa modal utama dari menjalankan usaha adalah mampu membawa tekad untuk tidak menyerah. Bukan mental kokoh, jujur dan ulet yang terbangun, melainkan kecurangan dalam mencari untung hanya akan mencederai itikad ini. Edisi ini NuansA akan mengupas mengenai mahasiswa berwirausaha. Entah melalui program atau mandiri. Nampaknya, program ini perlu evaluasi. Misalnya dana penelitian digunakan untuk kredit usaha mandiri bagi mereka yang menganggur. Dari pada harus ada kecurangan? Apakah rela, jika program ini hanya mencetak kader koruptor baru?

NuansA/Rustama

Ruko baru di Jalan Taman Siswa, Banaran. Wirausaha menjadi salah satu alternatif mahasiswa mencari keuntungan. Bahkan dalam penelitian.


6

LAPORAN UTAMA

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Mahasiswa, Saatnya Berwirausaha! Seolah wirausaha merupakan kata sakti di mana semua masalah akan selesai dengannya, maka hampir setiap hari ada saja seminar atau pelatihan yang bertema “Menjadi Pengusaha Sukses” dengan jargon yang bermacam-macam meskipun sebenarnya serupa. Sehingga tak jarang masyarakat mulai berlomba-lomba menggelar usaha dengan maksud memperoleh peruntungan.

J

alur alternatif Brebes-Cirebon yang melintasi Kecamatan Kersana sudah mulai lengang. Memang, masih ada beberapa kendaraan roda dua, mobil pribadi, dan angkutan yang melintas, tapi tidak seramai pagi hari. Semenjak dibangunnya area tol Kanci-Pejagan tahun lalu, jalan yang melintasi Kecamatan Kersana menuju Cirebon ini memang selalu tampak ramai setiap harinya. Tak jarang berderet-deret mobil menimbulkan kemacetan, serta jalan aspal nampak berlubang di sana-sini. Kawasan ini pun kemudian semakin nampak dijadikan area komersil dari mulai de ngan dibangunnya berderet-deret ruko (rumah toko) yang berdiri di pinggir jalan, sampai mobil-mobil yang berderet di bawah pohon yang menawarkan berbagai produk dan jasanya, juga para pedagang kaki lima yang menggelar lapak di bawah pohon. Edi Satmoko masih mengerjakan rutinitasnya di tempatnya bekerja. Sebuah ruko 3x4 meter ini menjadi tempat tinggalnya sekaligus tempatnya mencari nafkah. Mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal ini adalah salah satu di antara para wirausahawan yang menempati ruko-ruko tersebut. Menurut lelaki 24 tahun ini, wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan dalam rangka meraih kesuksesan. Berbekal ilmu yang dimiliknya dan keberanian untuk bersikap dan mengambil risiko, pria berperawakan tinggi besar ini memulai usahanya semenjak duduk di SMK. “Usaha yang saya jalani ini berawal semenjak saya duduk di SMK. Karena waktu SMK kebetulan saya jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, jadi usaha yang saya geluti adalah dibidang IT di antaranya, maintenance dan perakitan komputer, instalasi jaringan, dan lain-lain. Usaha ini saya rintis bersama teman–teman yang sejurusan dengan saya. Asal berani sajalah,”

tuturnya, Sabtu (11/2). Sembari memperlihatkan beberapa brosur-brosur miliknya, Edi bercerita bahwa awalnya ia memulai usahanya dengan reparasi hardware dengan modal dari orang tuanya. Usahanya rupanya dipantau oleh salah satu guru di sekolahnya. Edi pun ditawari oleh seorang guru untuk memasang instalasi jaringan, dan merakit komputer komplit dengan aplikasi-aplikasinya di sebuah lembaga pendidikan. Setelah tamat dari SMK usaha ini masih tetap berjalan, namun kurang efektif disebabkan teman–temannya melanjutkan ke perguruan tinggi yang berbeda – beda. Selain usaha di bidang IT, Edi juga usaha download aplikasi HP seperti isi mp3, game, dsb. Kerja keras dan semangatnya nampaknya mampu membawa Edi sampai dengan sekarang. Meskipun kini ia tak lagi bekerjasama dengan teman-temannya, usahanya masih tetap berjalan sampai saat ini. Seolah tak mau kalah dengan Edi, Fita Fitriana Mahasiswa semester 6 ini juga membentuk Airlangga Entrepreneur Community (AEC) yaitu kumpulan mahasiswa yang sudah atau ingin belajar memiliki usaha sendiri selama kuliah. Targetnya adalah mahasiswa se-Surabaya. sampai saat ini anggota AEC mencapai 70-an mahasiswa dan dibimbing langsung oleh para pengusaha tingkat lokal maupun nasional secara cuma-cuma. AEC ini mengadakan pertemuan setiap Rabu malam di Unair. Selain itu, ia menuturkan bahwa dirinya selalu mengikuti seminar entrepreneurship dan dari seminar-seminar tersebut ia selalu mendapat inspirasi dan semangat baru serta relasi untuk berjuang mengembangkan usaha. Mahasiswi berkacamata ini mengaku bahwa tertarik berwirausaha karena terinspirasi dari lingkungan awal dia semester 1 kuliah dulu. “Awal aku membuka usaha adalah usaha sharing sama temen yaitu buka gift shop sama temanku dan hasilnya alhamdulillah meski belum sesuai target tapi cukup memuaskan,” terang-

nya, Sabtu (18/2). Maraknya kisah-kisah sukses wirausahawan serta seminar-seminar entrepreunership yang menggembargemborkan tentang keuntungan berwirausaha, telah banyak menarik perhatian masyarakat. Seolah wirausaha merupakan kata sakti di mana semua masalah akan selesai dengannya, maka hampir setiap hari ada saja seminar atau pelatihan yang bertema “Menjadi Pengusaha Sukses” dengan jargon yang bermacam-macam meskipun sebenarnya serupa. Sehingga tak jarang masyarakat mulai berlomba-lomba menggelar usaha dengan maksud memperoleh peruntungan. Salman Al Farisi, guru SD yang kerapkali mengikuti berbagai seminar, menjelaskan bahwa dari sekian banyak seminar dan pelatihan yang pernah dia ikuti, dirinya bisa menyimpulkan tiga hal. “Pertama, semuanya bertujuan untuk membantu Anda memperbaiki diri. Kedua, beberapa menawarkan peluang bisnis (contohnya MLM). Ketiga, banyak pengisi acaranya meski mengaku sukses sebagai pengusaha, sebenarnya bisnis pelatihan itulah bisnis utamanya. “Beberapa kali, saya pernah

jadi peserta, sempat juga jadi panitia sebuah acara training. Si trainer bilang dirinya pengusaha dan punya bisnis di sana sini. Lama kelamaan saya faham itu semuanya bisnis dia yang lama dan sedang mandek,” ungkapnya, Sabtu (11/2) Nampaknya euforia wirausaha pun tak hanya marak di kalangan masyarakat yang sudah matang dalam hal usaha saja, geliat usaha pun mulai terlihat di kalangan mahasiswa. Sebagai salah satu buktinya, hal ini terlihat dari banyanknya mahasiswa yang lebih tertarik dengan membuat proram kreativitas mahasiswa dengan jenis PKMK (kewirausahaan). Dari 7005 jumlah proposal yang didanai dikti pada tahun 2012, sebanyak 2087 proposal dengan jenis PKMK dan 510 berjenis PKMKC. Sedangkan sisanya masih terbagi dalam tiga jenis PKM lainnya meliputi PKMM, PKMP, PKMT. Risma Sakti Prambudi, salah satu mahasiswa yang lolos PKMK didanai dikti menuturkan bahwa dengan wirausaha, banyak hal yang diperolehnya termasuk bermanfaat bagi orang lain. PKMK merupakan salah satu jalan untuk membangun usaha, karena dengan PKMK mahasiswa sebagai pembaharu bangsa pastinya punya ide yang cemerlang untuk karya yang lebih baik. Selain menghasilkan karya, juga dapat memberi sarana bagi masyarakat seiring majunya teknologi dan bersaingnya konsumsi masyarakat. Saat ditanyai pendapatnya mengenai banyaknya PKMK yang lolos, perempuan berkelahiran 14 Mei ini menuturkan bahwa dengan semakin banyaknya persaingan di bidang kewirausahaan malah akan semakin banyak ide yang tertuang. Mengenai alasannya memilih PKMK, ia mengaku bahwa hasil yang didapat dari PKMK tidak cuma-cuma. “Aku pilih PKMK karena hasil yang didapat nggak cuma-cuma, bisa menghasilkan untung yang bisa digunakan untuk modal usaha lagi, sehingga tidak hanya menghasilkan karya,” terangnya, Minggu (19/2).Yusri Maulina

PMW Ciptakan Pengusaha Pemula

P

MW atau sering kali disebut dengan Program Mahasiswa Wirausaha merupakan tindak lanjut dari program-program yang sebelumnya telah diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Coorperative Education (Co-op), serta Mata Kuliah Kewirausahaan. PMW bertujuan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi dapat men-

jadi pencipta lapangan kerja bukan pencari kerja. Untuk mendapatkan dana PMW, harus melakukan pendaftaran secara daring dan mengumpulkan berkasberkas sesuai syarat yang ditentukan. Apabila telah lolos seleksi dana akan cair. Dana PMW bersifat pinjaman sehingga mahasiswa wajib mengembalikannya. Program PMW juga telah menghasilkan beberapa pengusaha pemula yang ingin belajar untuk mnjadi seorang enterpreneur. Salah satunya ialah Eko Nur Pujiyanto, mahasiswa

Mahasiswa berwirausaha


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

LAPORAN UTAMA

7

Aplikasikan Ilmu Melalui Usaha Batik Mukhamad Guruh Mawardi menyambut dengan semringah ketika ditanya seputar usaha yang tengah digelutinya. Mengenakan baju batik berwarna biru muda dipadu dengan celana kain berwarna gelap membuatnya tampak elegan. Sepatu kulit berwarna hitam semakin mempertegas penampilan mahasiswa semester empat belas Program Studi Pendidikan Kewarganegaraaan Unnes ini.

G

uruh yang saat diwawancara tengah mengikuti workshop di Gedung Balai Pelayanan Kesehatan (Bapelkes) Semarang, mengaku senang menggeluti usahanya. Dengan tersenyum malu dia mengaku dulu sering membolos kuliah demi usahanya ini. Bahkan dia juga sempat mandeg kuliah selama tiga semester karena terlalu konsen dengan dunia batiknya. Dia bercita-cita membangun usaha yang prospek ke depannya bagus, sehingga bisa berkembang dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Sudah tujuh tahun Guruh mempelajari berbagai teori tentang budi pekerti di kampus. Tapi dia tak berniat mengaplikasikan ilmunya di dunia pendidikan setelah menggeluti usaha batiknya. “Menularkan ilmu itu tidak harus menjadi seorang guru. Melalui batik pun kita bisa menerapkan nilainilai. Karena setiap motif batik itu mengandung makna tersendiri. Batik tulis itu ada falsafahnya “babat seko setitik” jadi sarat makna. Sehingga saya bisa mengaplikasikan ilmu tentang budi pekerti yang saya pelajari di kampus melalui batik,” ungkapnya diplomatis dengan senyum mengembang sembari mengelus janggut, Kamis (29/3). Guruh mengaku sudah berkecimpung dalam dunia wirausaha sejak masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kakaknya yang merupakan produsen batik membuatnya terpacu untuk berwirausaha. Sejak SMA dia sudah memulai kiprahnya berjualan batik. Hal tersebut berlanjut ketika dia tercatat sebagai mahasiswa Unnes, tepatnya saat semester dua. Keinginannya berwirausaha di Unnes berawal dari ibu kos yang nitip dibelikan seprai batik sebanyak dua puluh potong. Sejak itu dia mulai berjualan batik lagi. “Saya ingat saat itu setiap sore saya keliling kampung se-Kecamatan Gunung Pati untuk menjajakan batik, sementara temanteman saya bisa tidur,” ungkap lelaki asli kota Batik ini menerawang. Tidak hanya di sekitar Kecamatan Gunung Pati, Guruh juga keliling sampai ke Sampangan, Lamongan, hingga Tlogorejo guna mengenalkan batik tulis asli daerahnya. Dia juga tidak menyia-nyiakan peluang usaha di kampus. Dia membawa batik-batik itu ke kampus untuk dijajakan kepada

rekan-rekannya. Hingga suatu hari dia mendapatkan order sutera sebanyak seratus potong. Dengan keuntungan yang diperolehnya Guruh mulai mengontrak sebuah kios di daerah Patemon. “Saya sudah enam tahun ini ngontrak di sana. Dulu pemikirannya sangat sederhana bagaimana saya bisa tinggal gratis di Unnes sekaligus bisa cari uang. Makanya saya memilih ngontrak tempat untuk kios batik,” paparnya dengan senyum mengembang. Guruh tidak tahu pasti mengenai berapa omset penjualan perbulannya, karena berjualan batik berbeda de ngan berjualan pakaian remaja pada umumnya. “Jika kios yang menjual pakaian remaja sepi pengunjung maka bisa dipastikan omsetnya rendah. Tetapi kalau jualan batik meski kelihatan sepi, belum tentu omzetnya rendah. Karena bisa jadi sekali mendapat order besar. Dari omzet itu sudah cukup untuk membayar kontrakan sekaligus pekerja selama satu tahun,” terangnya. Suami dari Eka Khikmawati ini mengaku tidak suka dengan keribetan. Ketika ditanya mengenai modal awal dia mengaku hanya modal dengkul alias modal niat. Dulu pernah diminta kakaknya yang juga dosen Bahasa Jawa Unnes untuk mendaftar Program Mahasiswa Berwirausaha (PMW). Namun, karena dia sudah tidak berminat sebelumnya dia pun melakukannya dengan setengah hati, sehingga tidak lolos. Ayah satu anak ini memiliki prinsip mandiri. “Ketika saya mampu kenapa harus meminta. Saya juga ingin memberikan kesempatan bagi teman-teman yang lain, agar bisa berwirausaha dan berkembang bersama,” ungkapnya. Guruh yang awalnya mendapat tentangan keras dari kedua orang tuanya tidak patah arang. Dia berusaha berdiri sendiri dan mencari jaringan sebanyak mungkin. Berbagai pameran dan workshop dia ikuti untuk mengenalkan seni batik tulisnya. Dengan begitu kemungkinan besar untuk bertemu dengan orang-orang besar lebih tinggi. Dia mengaku

Memamerkan batik

Jurusan Ilmu Fisika. Dia memulai usahanya dalam bidang kuliner yaitu “rengginang” yang merupakan usaha yang ditekuni orang tua mahasiswa asal Wonosobo ini sebelumnya. Saat ditanya mengenai kenapa memilih usaha yang sama, pria lulusan SMA N 1 Wonosobo ini mengungkapkan bahwa dia ingin memberikan inovasi pada usaha yang digelutinya sehingga dapat berkembang dan mampu memberikan manfaat pada masyarakat di sekitarnya. Dalam hal pemasaran Eko tidak terlalu repot untuk menawarkan ba-

rangnya kesana kemari. Karena, rengginangnya akan diambil oleh pedagangpedagang di sekitarnya. Tidak hanya itu saja, dia juga melayani pembelian secara eceran. Harga rengginang yang ditawarkan pun bervariasi, harga rengginang

mentah Rp 15.000/kg, sedangkan untuk rengginang matang rasa manis Rp 7500/bungkus, dan rasa gurih Rp 6000/bungkus. “Saya berencana membuat inovasi rasa rengginang, rencananya akan ada rasa keju, udang, dan pandan. Sampai saat ini saya belum mempunyai komposisi yang pas untuk membuat rasa-rasa tersebut, sehingga saya masih melakukan percobaan-percobaan untuk mendapatkan rasa yang sesuai,” katanya sembari tersenyum. Eko juga menambahkan jika dana dari PMW tidak hanya untuk

pernah menerima order pembuatan seragam batik untuk pegawai Departemen Agama (Depag) se-Provinsi Aceh. “Dalam waktu dekat ini saya akan merampungkan order dari Nusa Tenggara Barat. Inilah senangnya selain bisa mengenalkan batik tulis ke luar pulau Jawa, bisa sekaligus keliling nusantara,” ungkapnya bangga. Guruh mengutarakan jika dia menjual seni bukan pakaian. Sehingga kelak di kemudian hari dia ingin membuka sebuah Galeri Batik yang di dalamnya akan terpajang batikbatik tulis lama dan jenis batik yang berbau seni guna melestarikan aset budaya Indonesia. Sudut Pandang Kewirausahaan Menurut Suripto dosen Kewirausahaan Teknologi Pendidikan FIP Unnes ada rasa kepuasan tersendiri ketika seseorang bisa mencari uang dengan hasil keringatnya, apalagi mahasiswa yang masih meminta jatah kepada orang tua kemudian secara mandiri mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung kepada mereka lagi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang mahasiswa memilih terjun di dunia usaha. “Boleh jadi karena pengalaman pribadi yang terdesak ekonominya, dia eksis menghidupi diri sendiri tanpa ingin menyusahkan orang lain. Selain itu, bisa juga karena faktor kebebasan. Ketika dia menekuni dunia usaha dia bisa menemukan kebebasan untuk bertindak tanpa diatur oleh orang lain, tanpa terikat aturan-aturan yang mutlak sehingga dia bisa melakukan pekerjaannya dengan bebas. Bebas bertindak dengan profit yang besar,” papar dosen berkumis lebat ini. Menurutnya setiap mahasiswa

yang ingin berwirausaha pada dasarnya “bisa” asal dia mampu memenejemen waktu dengan baik. Dia juga sempat menceritakan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa dulu. Dia merupakan praktisi yang sudah berkecimpung di dunia usaha sejak semester 3. Dia mengaku mampu berwirausaha tanpa mengganggu kuliahnya. Suripto memiliki beberapa kriteria seseorang yang mampu merintis usahanya hingga menjadi sukses. “Seorang pengusaha harus memiliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkan mimpinya, istilahnya dalam bidang kewirausahaan orang bisa bermimpi berjuta-juta lantas dia bisa mewujudkan salah satunya. Pengusaha juga harus memiliki daya saing yang tinggi, berani bersaing dalam hal kualitas dan harga, misalnya dengan kualitas terbaik dia berani memasarkan dengan harga terjangkau,” ungkapnya. Selain itu, menurutnya pengusaha yang supel dan lihai dalam melakukan lobi-lobi dengan mitra usaha akan mudah dalam proses pemasarannya. Dari beberapa kriteria yang disebutkan di atas masih ada satu kriteria yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha, yaitu berani menanggung resiko “Misalnya dia sadar usaha yang dia jalankan belum tentu berhasil namun, dia berani menjalankannya. Risiko terburuk adalah ketika usahanya gagal dan dia berani menanggungnya bahkan mampu menganggap kegagalan itu sebagai hal yang biasa, mampu mengintrospeksi diri dan mencari penyebab kegagalannya kemudian bangkit kembali. Hal-hal demikian itu yang harus dimiliki oleh seseorang yang mengaku enterpreneurship,” ungkapnya sembari menaikkan kacamatanya yang sedikit turun, Jumat (14/10). Ambar Kurniawati.

usaha rengginang saja, akan tetapi dana tersebut juga digunakan untuk usaha budidaya lele yang baru-baru ini mulai dirintis. ”Dalam budidaya lele ini saya tidak hanya mengandalkan modal dari PMW saja. Tapi, saya juga menggadaikan motor saya untuk menambah modal usaha pembudidayaannya,” jelasnya. Dengan adanya PMW dia berharap dikemudian hari akan ada program-program lain sejenis, sehingga mahasiswa yang ingin berwirausaha dapat terbantu dalam permodalan. Sugiyarto.


8

LAPORAN UTAMA

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Ketika Penelitian Mulai Dibudayakan pengembangkan budaya penelitian di kalangan sivitas akademika. Sudah cukup banyak program yang dijalankan pihak birokrat terkait hal tersebut. LP2M sebagai lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat memfasilitasi mahasiswa dan dosen melalui program fasilitasi penelitian mahasiswa maupun dosen. Ditelisik lebih lanjut program fasilitasi penelitian atas prakarsa LP2M ini mencapai kuota 50 judul proposal tiap tahunnya. “Jumlah sekian memang masih tergolong sedikit, mengingat banyaknya jumlah sivitas akademika kita. Akan tetapi kedepan pihak kami akan terus berupaya untuk meningkatkan kuota fasilitasi penelitian,” tandasnya. Mengenai sistematika pengirman proposal, LP2M telah mencanangkan pengirman proposal secara online, dari proposal yang dikrimkan secara online tersebut dilakukan proses seleksi administratif. Tahap awal baru dilanjutkan dengan penyerahan proposal hardcopy. Dengan sistem seleksi online yang mirip dengan seleksi proposal PKM ini dapat ditanamkan sikap kritis untuk selalu berkompetisi. LP2M sendiri rutin melakukan pelatihan penulisan proposal tiap tahunnya dengan kuota yang dibatasi hingga 200 peserta saja, mengingat keterbatasan kapasitas ruang pertemuan. Dia pun mengimbau agar sivitas akademika selalu membuka portal LP2M agar dapat meng-update program-program yang akan dilaksanakan LP2M serta aktif mengikuti kegiatan tersebut. Selain LP2M, dari pihak Bidang Kemahasiswaan juga mengelola program sejenis melalui PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) atas prakarsa DIKTI. Menanggapi kenaikan pengiriman PKM yang tahun ini mencapai angka 3.000, dia berpendapat bahwa jumlah sekian dinilai masih kecil dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Unnes yang kurang lebih berjumlah 25.000. akan tetapi kenaikan ini cukup bagus,

NuansA/Rustama

“P

ada dasarnya beragam program yang kami jalankan guna memacu pihak dosen maupun mahasiswa untuk selalu berkarya dalam bidang penelitian. Penelitian yang dihasilkan pun sejatinya tidak hanya terukur dari segi jumlahnya (banyak) akan tetapi juga dari segi kualitasnya”, jelas Prof. Dr. Totok Sumaryanto, M.Pd selaku Sekretraris LP2M Unnes. Ditemui di Gedung G ruang sekretaris LP2M, dia memaparkan empat indikator kinerja utama dalam penelitian yang meliputi; 1) minimal buku ajar, 2) teknologi tepat guna, 3) jurnal nasional maupun internasional, yang berujung pada, 4) HAKKI (Hak Atas Karya Kekayaan Intelektual). Semakin banyak dan berkualitasnya penelitian yang diciptakan oleh sivitas akademika Unnes, maka cita-cita Unnes tercinta untuk dapat meraih gelar World Class University pun semakin dekat terwujud. Penelitian sejatinya tak dapat dilakukan secara instan, karena mereka yang melakukan penelitian setidaknya harus memiliki basik kemampuan terlebih dahulu. Sementara itu basik kemampuan seorang peneliti haruslah diperkuat dengan pengembangan teori dan pengetahuan yang relevan dengan objek penelitiannya. Setelah kemampuan basik tersebut terpenuhi, baru seorang peneliti terjun ke arah penerapan. Dalam tahap ini peneliti mulai menerapkan apa-apa saja yang telah dirancang sebelumnya. Tahap penerapan ini bisa disebut juga dengan tahap eksperimen, guna mempercobakan apa-apa saja yang menjadi inovasi peneliti. Hingga berujung pada tahap menghasilkan suatu produk. Produk ini merupakan hasil penelitian yang tentunya telah melalui proses yang namanya proses eksperimentasi (seperti yang telah disebutkan sebelumnya). Menilik upaya Unnes mengelola

sehingga harapannya kedepannya pengiriman proposal juga semakin meningkat kuantitas maupun kualitasnya. “Sepengetahuan saya tingkat kelolosan proposal kurang lebih diambil 30 % dari jumlah proposal yang dikirim oleh universitas yang bersangkutan. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa ketika produk berupa proposal dari Unnes semakin meningkat maka kesempatan lolos seleksi untuk maju ke PIMNAS pun semakin meningkat,” tambahnya. Seperti yang telah kita ketahui salah satu strategi yang dijalankan pihak berwenang dalam rangka meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya membudayakan penelitian adalah melalui kewajiban membuat proposal PKM bagi mahasiswa penerima beasiswa. Ketika dimintai tanggapannya terkait adanya pernyataan tersebut, Sekretaris LP2M itu menunjukkan sikap apresisasi terhadap ketentuan tersebut. “Bahkan nyatanya pencanangan ketentuan tersebut efektif guna meningkatkan kesadaran mahasiswa membuat proposal penelitian melalui PKM. Sementara pengelolaannya pun terus kami perbaiki. Melalui pembinaan yang benar-benar tertata, mulai dari pendampingan dalam pembuatan proposal dan membuat instrument, serta pemantauan saat pelaksanaan di lapangan,” tegasnya. Dia menambahkan, bahwa kini justru semakin banyak mahasiswa yang kreatif. Dapat dilihat dari banyaknya ide-ide baru

yang inovatif lahir dari pemikiran mahasiswa. Suatu barang yang sepengetahuan orang awam tidak berdaya guna justu dapat diolah secara kreatif menjadi barang dengan nilai guna tinggi. Sementara itu mengenai fenomena plagiarisme, ke depan pihak LP2M berencana mengembangkan suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang dapat langsung membacklist proposal-proposal di mana komponen di dalamnya maupun persyaratan adminstratifnya didapati kesamaan. Sistem ini sebagai upaya menanggulangi plagiarisme yang merebak dan ditemukannya penyusun proposal yang sama. Rencana ini merupakan kerjasama dari sistem informasi penelitian dan pengabdian dengan tim pengembang jurnal Menutup perbincangan, Pak Totok begitu beliau akrab disapa menyampaikan harapannya agar mahasiswa Unnes selalu membudayakan penelitian dan menjadikan penelitian sebagai suatu kegemaran. Dari pihak pengajar untuk dapat memperbaiki kurikulum dan perangkat pembelajaran terutama yang terkait dengan mata kuliah metodologi penelitian. Selain itu staf pengajar juga sekiranya dapat berinovasi dalam segala hal yang berkaitan dengan pembelajaran. “Strategi saya secara pribadi ke depan ingin membuat suatu kompetisi bagi para pendidik untuk membudayakan penelitian. Asta Rima

Berwirausaha, Siapa Takut?

J

umlah pengangguran dari berbagai jenjang pendidikan semakin meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2010, menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi menempati peringkat teratas sebagai pengangguran terbuka. Dari 8,59 juta penduduk yang menganggur, sebanyak 15,7 persen diploma dan 14,2 persen sarjana. (Pikiran Rakyat, 6 Agustus 2010). Untuk mengantisipasi jumlah pengangguran di mana jumlah tenaga kerja yang tidak sebanding dengan lapangan yang tersedia. Banyak berbagai pihak baik mahasiswa atau pun perguruan tinggi gencar melakukan program wirausaha seperti yang dilakukan pihak Unnes sendiri melalui Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Hal inilah yang melatarbelakangi redaksi NuansA mengadakan polling untuk mengetahui sejauh mana minat mahasiswa Unnes dalam berwirausaha dengan mengambil populasi seluruh mahasiswa Universitas

Negeri Semarang kategori Reguler dan Paralel yang aktif dalam semester gasal tahun ajaran 2011/2012 kecuali mahasiswa program Pascasarjana. Sampel yang digunakan dalam polling yaitu melibatkan 333 responden dari 8 fakultas yang ada di Universitas Negeri Semarang. Polling dilakukan pada bulan November 2011 dengan menggunakan teknik Purposive Simple Random Sampling. Hasil poling memilik taraf kepercayaan 95% namun tidak mewakili suara mahasiswa secara keseluruhan. Dari hasil polling diketahui bahwa 83,8 % mahasiswa Unnes berkeinginan untuk berwirausaha, sedangkan 15,6 % tidak berkeinginan dan 0,6% responden lainnya memilih untuk abstain. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Unnes sudah memiliki keinginan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Terkait mata kuliah Kewirausahaan yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa Unnes. 45,87 % responden menyatakan bahwa mata kuliah kewirausahaan sudah cukup

membantu mahasiswa dalam memperoleh gambaran dalam mendirikan usaha. Namun 50,13 % menyatakan belum mendapat gambaran setelah menerima mata kuliah tersebut dan 4% responden lainnya menyatakan abstain. Mengingat berwirausaha membutuhkan modal yang cukup besar. 68,8% responden menyatakan sanggup menyediakan modal sendiri dalam merintis wirausaha. 29,4% menyatakan tidak sanggup menyediakan modal sendiri dan memerlukan suntikan modal dari pihak lain dalam merintis wirausaha. Sedangkan 1,8% responden memilih absen. Terkait wirausaha menjadi alternatif pekerjaan ketika sudah menjadi sarjana/ lulus. 83,8% mahasiswa memilih wirausaha menjadi alternatif dalam memperoleh pekerjaan. 15% memilih bekerja di bidang lain, sedangkan 1,2% responden belum tahu apakah wirausaha menjadi alternatif pekerjaan di masa mendatang atau bekerja pada sektor lain. Ketika masyarakat pada masa

sekarang banyak memilih menjadi wirausahawan membuat persaingan pasar menjadi ketat. 85,6% responden merasa siap menjalani wirausaha walau mengingat persaingan pasar semakin ketat. 12,9 % responden merasa belum siap dan1,5% responden lainnya merasa tidak siap. Dari hasil polling secara keseluruhan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa Unnes yang sudah berkeinginan untuk merintis wirausaha sebagai alternatif mencari pekerjaan di masa kini dan mendatang. Namun perlu adanya pemantapan dalam mata kuliah kewirausahaan sehingga mahasiswa memiliki gambaran dan patokan dalam merintis wirausaha. Bagi mahasiswa yang berminat dalam berwirausaha kebanyakan dari mereka memerlukan suntikan modal dari pihak lain dan mahasiswa Unnes sendiri pun merasa siap merintis usaha dalam keadaan persaingan pasar yang ketat.(NuansA/Litbang)


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

9

WAWANCARA

S. Martono

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan di Bangku Kuliah

A

ngka kelulusan sarjana yang tinggi menuntut wisudawan untuk terus bersaing danberkembang. tidak hanya setelah lulus saja, mahasiswa kini dituntut untuk bisa mengasah jiwa wirausaha ketika mereka masih di bangku kuliah. Berikut petikan wawancara Tabloid Nuansa dengan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Mengapa Mata Kuliah Kewirausahaan masuk dalam kurikulum perkuliahan? Pertama adalah aspek ekonomi di mana selalu ada peluang untuk berwirausaha. Kedua, aspek sumber daya baik Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Karena bahwasannya berwirausaha tidak hanya sekadar menjual, namun dalam berwirausaha dituntut untuk terus mengembangkan nilai tambah suatu barang dan meningkatkan daya kreasi penjualnya. Kapan dan siapa yang mempeloporinnya? Di Fakultas Ekonomi, mata kuliah kewirausahaan sudah ada semenjak FE masih sebagai jurusan. Sedangkan di jurusan lain ada atau tidaknya mata kuliah tersebut sudah menjadi kebijakan masing-masing jurusan. Bagaimana gambaran umum Mata Kuliah Kewirausahaan? Pada umumnya dalam Mata Kuliah Kewirausahaan selalu diajarkan aspek-aspek kelayakan bisnis, bagaimana cara mengembangkan nilai tambah suatu barang, dan yang terpenting bagaimana caranya jiwajiwa wirausaha mahasiswa dapat ditumbuhkan dalam mata kuliah kewirausahaan. Apakah materi pembelajaran dalam mata kuliah kewirausahaan disesuaikan dengan jurusannya?

Mata Kuliah Kewirausahaan dikelola oleh masing-masing jurusan sehingga otomatis materi pembelajarannya disesuaikan dengan jurusan itu sendiri sehingga Mata Kuliah Kewirausahaan bukan Mata Kuliah Umum (MKU). Tetapi, selalu tetap ada aspek-aspek kelayakan bisnis dalam berwirausaha apa pun jurusannya. Apa target yang ingin dicapai dalam Mata Kuliah Kewirausahaan? Target yang ingin dicapai adalah menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha dalam diri mahasiswa yang ulet, mandiri, dan mampu bekerjasama. Selain menonjolkan nilai-nilai kewirausahaan. Seberapa besar pengaruh Mata Kuliah Kewirausahaan dalam menumbuhkan jiwa wirausaha? Saya rasa secara mikro pengaruhnya sudah cukup tampak, buktinya sekarang ini sudah banyak mahasiswa yang sudah mencoba membuka usaha dengan membuka berbagai counter, warung, dan usaha yang lain. Kita pun tahu sendiri PKM kewirausahaan mahasiswa Unnes menjadi yang terbanyak di danai oleh pihak Dikti. Munurut Bapak, kewirausahaan masuk ke dalam Tri Dharma perguruan tinggi yang mana? Menurut saya wirausaha masuk dalam ketiga-tiganya. Dalam aspek pendidikan, Mata Kuliah Kewirausahaan sudah masuk dalam kurikulum, aspek pengabdian masyarakat, FE kini memiliki desa binaan, di mana dalam desa binaan tersebut Fakultas Ekonomi bekerjasama dengan pihak lain memberdayakan penduduk sekitar

dalam mengelola SDA yang ada untuk berwirausaha. Sedangkan dalam aspek penelitian, ditunjukkan dengan adanya analisis-analisis kebutuhan warga yang dapat digunakan dalam mencari prospek peluang usaha. Bila mengingat mahasiswa dalam kesehariaanya selalu dituntut dengan kewajiban perkuliahan, bagaimana agar mahasiswa terus sukses dalam usahanya? Mahasiswa harus menjadi entrepreneur bukan menjadi kuli. Maksud entrepeneur di sini adalah apa pun kegiatan wirausaha yang sedang dia geluti, tidak dikerjakan sendiri tapi dalam dia bekerjasama dengan pihak lain, istilahnya mendayagunakan orang lain. Tapi dalam berwirausaha aspek kemandirian tetap harus selalu ada. Bagaimana jika bidang yang digeluti dalam berwirausaha bertolak belakang dengan ilmu yang dituntut selama perkuliahan? Hal tersebut tidak menjadi suatu permasalahan. Malah memperkaya seseorang dalam suatu ilmu, karena tidak hanya menguasai salah satu disiplin ilmu. Namun, akan lebih baik lagi jika ilmu-ilmu yang didapatkan dalam perkuliahan diterapkan dalam bidang wirausaha yang sedang digeluti. Bagaimana kebijakan di Fakultas Ekonomi bila ada mahasiswa yang mengalami kebangkrutan dalam berwirausaha? Mahasiswa FE dalam melakukan usahanya masih dalam binaan Tim kewirausahaan, Pusat Pengembangan Kewirausahaan milik FE, jika mereka mengalami kebangkrutan maka pihak FE pasti akan berusaha membantu usahanya. Vera Hardiyana

Biodata Narasumber Nama : S. Martono Tempat, tanggal lahir : Rembang, 08 Maret 1966 Alamat : Jl. Anggrek Bulan 157, Plamongan Sari, Semarang, Jawa Tengah. RiwayatPendidikan : 1. SD Induk Sumber Rembang. 2. SMPN 1 Rembang 3. SMEA K Yos Sudarso Rembang 4. Program Studi Pendidikan Dunia Usaha Bidang Adm. Perkantoran FPIPS IKIP Semarang 1988 5. Magister Ilmu Manajemen, Bidang Ilmu Manajemen, Universitas Airlangga 2001 Pekerjaan : 1. 1993-1995 Pendamping Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ekonomi 2. 2001-2004 Kepala Prodi Manajemen Perkantoran 3. 2004-2006 Ketua Laboratorium Jurusan Ekonomi 4. 2009 Sekretaris Pusat Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Pendidikan pada LP3 5. 2009 Sekretaris SP 4 Unnes 6. 2010-2011 Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Ekonomi 7. 2011-Sekarang Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.


10

L APORAN KHUSUS

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Kontrak Bidik Misi Ajak Mahasiswa Disiplin

E

ka Nur Azizah, Mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni ini menarik napas dalam-dalam jika mengingat kontrak bidik misi yang sudah ia tandatangani sekitar bulan November tahun lalu. Ia mengaku sedikit keberatan dengan salah satu poin dalam kontrak bidik misi tersebut, di mana mahasiswi bidik misi wajib menghadiri seluruh kegiatan yang diwajibkan Universitas, seperti upacara, seminar, dan sebagainya. “Kegiatan-kegiatan tersebut seringkali diadakan pada waktu yang sama dengan waktu kuliah Saya. Sehingga Saya bingung harus mengikuti kegiatan yang mana,” ungkapnya, Selasa (3/7), ketika ditemui di kamar kosnya. Lain halnya dengan Indah Kikmatussofa, mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Jasmani Sekolah Dasar ini begitu antusias ketika ditanyai mengenai kontrak bidik misi. Mahasiswi penerima bidik misi asal Kendal ini, mengaku sama sekali tak keberatan dengan adanya kontrak bidik misi tersebut. Menurutnya poin-poin yang tertuang dalam kontrak tersebut justru memotivasinya untuk lebih giat belajar. Perasaan tertekan terhadap adanya kontrak bidik misi yang dialami oleh beberapa mahasiswa penerima bidik misi Unnes, ditanggapi oleh Herry Kismar yono, kepala Biro Administrasi Akademik, Kewirausahaan, dan Kerjasama (BAAKK). Dia megungkapkan bahwa hal itu seharusnya tidak perlu terjadi. Kontrak tersebut dibuat untuk mendorong mahasiwa penerima beasiswa bidik misi, menjadi mahasiswa yang ideal dan berkualitas. Kontrak bidik misi yang disusun oleh tim bidang Kemahasiswaan Unnes itu,

Edy Purwanto sebenarnya merupakan perpaduan dari aturan Unnes, aturan bidik misi, etika mahasiswa dan karakter mahasiswa yang baik. Sehingga diharapkan mahasiswa bidik misi menjadi mahasiswa yang unggul, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Hal tersebut diamini Alamsyah, staf PR III sekaligus Pembina mahasiswa bidik misi. Dia juga mengungkapkan bahwa kontrak bidik misi yang disusun tersebut bertujuan menjadikan mahasiswa penerima beasiswa lebih baik dan unggul, dibandingkan mahasiswa yang lain. Herry, saat ditemui di ruangannya, Rabu (4/7) menambahkan, “Kontrak bidik misi tersebut bukanlah kontrak yang membebani mahasiswa. Karena poin-poin dalam kontrak tersebut berisikan halhal realistis yang seharusnya dicapai oleh mahasiswa pada umumnya. Menurut Saya, tidak mungkin ada mahasiswa yang menginginkan lulus lebih dari delapan semester.” Selain itu, menurut pria asal Purbalingga itu, kontrak bidik misi yang di antaranya berisi Indeks Prestasi mahasiswa tiap semester

harus di atas tiga, mahasiswa wajib membuat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mahasiswa harus lulus tepat waktu, bukanlah suatu hal yang membebani mahasiswa. Hal tersebut justru menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk lebih berprestasi. “Sebenarnya jika mahasiswa bersikap biasa saja dan tidak neko-neko, tentu tidak akan bermasalah dengan kontrak tersebut,” imbuhnya dengan senyum mengembang. Setelah penandatanganan kontak bidik misi tersebut, pengontrolan pun dilakukan oleh pihak universitas. Pihak universitas melakukan pengontrolan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi Indeks Prestasi mahasiswa, presensi kegiatan universitas, pendaf taran online PKM, dan sebagainya. “Pengawasan berjalannya kontrak bidik misi juga atas kerjasama dengan pihak lain, seperti mahasiswa, dosen, dan masyarakat. Sehingga tidak ada yang luput dari pengawasan kami,” ungkapnya lagi. Tak Usah Risau Menurut Edy Purwanto, kepala Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Unnes, perasaan terkekang yang dialami beberapa mahasiswa bidik misi ini timbul dari diri mereka sendiri karena adanya ketidakmandirian akademik dalam diri mereka. Ketidakmandirian yang dimaksud adalah mereka belum mengetahui tujuan utama mereka kuliah dan bagaimana cara mencapai tujuan itu. “Menurut Saya, poin-poin dalam kontrak bidik misi itu sangat wajar. Segala sesuatu memang harus ada konsekuensinya. Begitu pula mahasiswa bidik misi, mereka sudah mendapatkan fasilitas yang lebih daripada mahasiswa pada umumnya. Jadi sudah seharusnya mereka lebih berprestasi.”

Semua orang seharusnya mampu menyesuaikan diri di mana pun dia berada. Begitu pula mahasiswa bidik misi, seharusnya mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku di Unnes. Penyesuaian itu antara lain terhadap segala jenis kegiatan, hubungan sosial, dan tuntutan kemampuan. “Jika mereka mampu menyeimbangkan ketiganya, tentu mereka akan menikmati kuliah di Unnes, tidak lagi merisaukan kontrak bidik misi. Toh, kontrak tersebut tidak melebihi batas kemampuan mahasiswa,” ungkap Edy. Dia menambahkan bahwa pihak universitas sangat memperhatikan mahasiswa penerima bidik misi. Hal ini terbukti dari adanya rusunawa dan pelatihan-pelatihan khusus di rusunawa tersebut, se perti pelatihan bahasa Ingggris dan keagamaan. Selain itu, pihak universitas juga banyak mengadakan pelatihan softskill dalam rangka mendukung proses akademik mahasiswa bidik misi di Unnes. Namun, dia juga mempertanyakan apakah kontrak bidik misi tersebut sudah diketahui mahasiswa sebelum mereka menjadi mahasiswa bidik misi. Jika memang dari awal pendaftaran mahasiswa sudah tahu mengenai hal ini, tentu kontrak bidik misi dapat menjadi pertimbangan me reka sebelum mendaftar menjadi mahasiswa bidik misi Unnes. Namun, jika mereka baru mengetahui kontrak itu setelah menjadi mahasiswa bidik misi, seharusnya mereka mampu menjalankan peraturan tersebut dengan baik. “Seandainya mereka tidak mampu menjalankan peraturan itu, lebih baik mengundurkan diri sebagai mahasiswa bidik misi,” ungkapnya mengakhiri pembicaraan. Septi Indrawati, Vera Hardiyana.


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

PESONA

11

Makam di Tengah Lautan

NuansA/Sugiyarto

Gerbang masuk anaknya, Sudiono. Menurut Sudiono, makam itu dulu bukanlah tempat wisata. Namun karena banyaknya orang yang ingin berziarah, maka dibangunlah makam tersebut. Pembangunan makam dengan menggunakan dana hasil swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah setempat. Selain makam, Pulau Panjang dikeli lingi oleh hutan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis hewan, seperti ular, komodo, burung, dan sebagainya. Tak heran, banyak masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi pulau ini. Selain berziarah, dapat berwisata pula. Wisata alam dan wisata pantai dengan butiran pasir putih yang terhampar luas. Untuk dapat sampai di Pulau Panjang, pengunjung dapat menggunakan perahu mesin dari pulau Bandengan. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Cukup membayar Rp 10.000, pegunjung dapat menikmati bagaimana rasanya naik perahu mesin menyusuri perjalanan ke pulau Panjang, memanjakan mata dengan pemandangan air laut yang bergelombang. Ketika sampai di Pulau Panjang, pengunjung disambut hamparan pasir putih dengan kerang-kerang yang berserakan, hijaunya pohon-pohon bakau, angin yang sepoi-sepoi dan suasana yang sejuk. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dengan pemandangan air laut yang begitu memesona, rasa lelah menghampiri. Namun, pengunjung tidak perlu khawatir ada warung-warung yang menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman. Pengunjung dapat menemukan ikan asin jumbo yang menjadi oleh-oleh khas pulau ini. Panjangnya mencapai 30 hingga

Akses menggunakan perahu

Tidak semua orang diizinkan berziarah di makam yang konon penuh berkah ini. Wanita yang sedang menstruasi tidak dapat ikut berziarah. Saat berziarah pun harus fokus dalam berdoa, tidak boleh melamun atau memikirkan hal-hal aneh lainnya. Jika hal ini dilanggar, konon akan menyebabkan kesurupan. Usai melaksanakan ziarah, pengunjung dapat mengunjungi sebuah pendopo yang letaknya kurang lebih 10 m dari pendopo makam. Dalam pendopo yang kira-kira berukuran 3x3 m ini terdapat dua gentong besar berisi air. Air yang berasal dari saluran air makam ini disebut air barokah yang berarti berkah. Konon dapat menyembuhkan segala penyakit, membuat awet muda, dan banyak membawa keberkahan lainnya. Cukup dengan membasuh muka lalu meminum air tersebut secukupnya. Sekilas, air tersebut seperti air putih biasa tapi jika diminum rasanya agak asin bercampur pahit dan sedikit berlendir. Jika pengunjung ingin membawa pulang air tersebut juga diperbolehkan, tapi anehnya sesampai di rumah air tersebut rasanya berubah hanya seperti air putih biasa. Selain menikmati keunikan Pulau Panjang tersebut, pengunjung dapat sekaligus menikmati keindahan alam pantai Bandengan. Pantai yang letaknya sekitar 7 km dari pusat Kota Jepara ini, menyajikan wisata pantai yang begitu mempesona. Deburan ombak pantai yang tak henti-hentinya bergemuruh bagai lantunan irama musik alam yang membuat perasaan damai dan betah lama-lama duduk santai di tepi pantai. Di tepi pantai terdapat banyak pohon besar yang rindang, ada juga beberapa gazebo untuk tempat istirahat dan ada berbagai sarana permainan anak. Kemudian tersedia warung-warung yang menjual berbagai makanan dan pernak pernik khas pantai Bandengan. Tempat parkirnya juga luas. Tak heran banyak pengunjung yang berwisata di pantai ini, selain tempatnya yang indah, harganya pun terjangkau, cukup membeli tiket masuk seharga Rp 5000. Septi Indrawati, Debi PS

NuansA/Sugiyarto

Monumen bagian daratan yaitu Pulau Mandalika dan Pulau Panjang. Dahulu pulau ini bernama Pulau Sepanjang atau bahasa Jawanya nggili dawa, tapi karena perkembangan zaman, pulau ini dinamakan pulau Panjang. Pulau ini ditemukan pada tahun 1967 oleh seorang warga Pekalongan, Mbah Ahli Krama yang sekaligus menemukan makam Syeikh Abu Bakar tersebut. Kemudian dirawatlah makam tersebut oleh Mbah Ahli Krama, hingga ia meninggal dan kini dirawat oleh

NuansA/Sugiyarto

S

aat mendengar kata makam, pasti tak pernah terlintas di pikiran kita makam di tengah lautan. Sepertinya hal itu tak mungkin. Tapi kali ini tidak. Makam yang dipercaya masyarakat setempat merupakan makam Syeikh Abu Bakar bin Yahya Ba’alwy, cucu ke 29 Nabi Muhammad SAW ini berada di tengah daratan yang dikelilingi lautan yaitu di Pulau Panjang. Pulau seluas 35 hektar ini berada di tengah lautan daerah Bandengan, Jepara. Dahulu Pulau Panjang bukanlah sebuah pulau, melainkan sebuah gunung yaitu Gunung Muria. Menurut cerita, sekitar 300 tahun yang lalu, Gunung Muria meletus lalu terpisah menjadi dua

45cm, sedangkan lebar ikan asin tersebut sekitar 10-15cm. Harga nya cukup terjangkau, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 15.000-20.000 per kg. Selain itu, di warung-warung ini juga menjual berbagai pernak-pernik khas Pulau Panjang yang terbuat dari kerang. Ada yang berbentuk hewan, bu nga, bahkan replika makam. Pernak-pernik nan indah ini harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp 10.000 per buah. Kemudian jika akan berziarah, pengunjung harus izin terlebih dahulu kepada penjaga makam, yaitu Sudiono. Warga asal Pekalongan ini sudah 11 tahun menjaga dan merawat makam. Menurutnya, setiap hari pasti ada saja orang yang akan berziarah. Makam tersebut berada di dalam sebuah pendopo yang tertutup. Pintu cungkup makam hanya dibuka setiap 40 hari sekali pada hari Jumat, pagi pukul 08.00-12.00 WIB, kemudian malam pukul 20.00-00.30 WIB. Sedangkan di hari-hari biasa kalau peziarah banyak, makam dapat dibuka tapi kalau pengunjung sedikit makam tidak dibuka. Ziarah di makam ini tidak dikenakan biaya yang pasti, hanya disediakan kotak amal, terserah pengunjung mau mengisinya berapa. Ketika ditanyai tentang waktu buka makam, Sudiono mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia hanya menjalankan amanat dari penjaga makam sebelumya, Mbah Ahli Krama, ayahnya. Ia juga mengaku sangat bersyukur dapat merawat makam cucu Nabi tersebut. Ada banyak berkah yang ia terima. Sosok Habib Abu Bakar selalu menginspirasi dirinya bahwa kehidupan di dunia tidaklah abadi, tak perlu ada kesombongan dalam hidup karena sesungguhnya hidup di dunia hanyalah sementara. Selain itu, menjaga makam tersebut juga dapat melindungi dirinya dari bahaya. “Sekitar tahun 2007, terjadi angin punting beliung. Daerah Bandengan banyak terjadi kerusakan, tapi anehnya daerah makam tersebut seperti terlewati angin, tak ada kerusakan sedikit pun. Subhanallah, Allah sungguh melindunginya,� ungkapnya, Sabtu (2/6).


12

PERJALANAN

NuansA Edisi NUANSA Edisi131 131TH THXXIV/ XXIV/2012 2012

Laweyan, Tempat Unik Belajar Mbatik Laweyan merupakan kampung batik yang unik. Warna-warni arsitektur menghiasi daerah ini, dari rumah bergaya Jawa, Indisch, hingga Eklitik. Banyak rumahrumah kuno yang tetap terjaga dan dijadikan galeri-galeri batik yang unik nan eksotis.

G

dan halaman rumah yang cukup luas. Tidak hanya bercorak keraton, beberapa rumah di Laweyan juga ada rumah yang berarsitektur Indisch (perpaduan Jawa-Eropa). Tembok yang tebal, langitlangit yang tinggi serta beranda dengan kursi-kursi sebagai tempat menghabiskan waktu luang merupakan beberapa ciri dari rumah bergaya Indisch. Pengunjung juga dapat menemukan beberapa rumah atau show room yang mempunyai taman yang terdiri atas kolam, air mancur, dan jembatan mini. Sebuah penataan yang identik dengan arsitektur khas Eropa. Kesan eklitik juga dapat ditemui di kampung ini. Sebuah gaya yang memadu-

Proses membatik

kan gaya modern dengan ciri khas tradisional. Kursi klasik dengan penutup kain berenda, motif bunga, sulur atau tanaman di sudutsudut ruangan, serta mini bar terbuat dari kayu nan artistik dan di atasnya dipadu dengan lampu klasik. Unik, menarik dan layak untuk dinikmati.

yang digunakan, serta proses batik yang tidak hanya sekali jadi, melainkan membutuhkan proses yang berulang-ulang bergantung pada warna yang ingin ditampilkan dalam batik tersebut. Belum puas hanya dengan melihat pembuatan batik, pengunjung dapat mencoba merasakan asyiknya membuat batik. Di atas kain 30 x 30 cm pengunjung dapat mengekspresikan diri melalui motif yang diinginkan dengan media canthing. Selama dua jam pengunjung akan diberi kursus pendek cara pembuatan batik. Pengunjung akan mendapatkan pengalaman serta bagaimana sulitnya membuat batik, dari membuat pola, mencanthing, mewarnai dan proses-proses selanjutnya yang membu-

Membatik Rasanya tidak lengkap jika hanya berkunjung dan berbelanja batik tanpa mengetahui cara pembuatannya. Di Laweyan terdapat toko batik yang memasarkan batik hasil produk sendiri. Pengunjung diperbolehkan masuk ke dapur pembuatan batik untuk sekadar melihat-lihat atau bertanya-tanya. Pengunjung dapat dengan leluasa melihat proses pembuatan batik, dari molani (membuat pola), nyanthingi (melukis dengan lilin), ngeliri (mewarnai), dan ngelorot (menghilangkan lilin). Jika ingin mengetahui lebih jauh bagaimana proses pembuatan batik pengunjung dapat bertanya-tanya dengan karyawan pembuat batik. Mereka akan dengan ramah menerangkan cara pembuatan batik, alat-alat Menjemur batik

tuhkan kesabaran dan ketelitian. Tidak ada salahnya jalan-jalan ke Laweyan, berwisata dan berbelanja untuk menghilangkan penat setelah mengerjakan tugas-tugas kuliah atau melupakan sejenak segala rutinitas harian. Selain berwisata pengunjung juga bisa mendapatkan ilmu bagaimana cara membuat batik. Dapat mengapresiasi seni batik dan mengerti proses panjang yang penuh ketelitian, sehingga tidak mengherankan jika harga batik cukup mahal. Sudah sepantasnya sebagai generasi penerus bangsa, kita bangga akan produk dalam negeri tak terkecuali batik. Mahda Haidar

NuansA/Mahda

berbelanja. Tidak usah khawatir ditinggal tukang becak dan kesulitan mencari becak ketika ingin melanjutkan perjalanan, dengan sabar tukang becak akan menunggu wisatawan ketika berbelanja atau sekadar melihat-lihat. Toko-toko batik berjejer dan berhadap-hadapan seolah membusung sombong saling memamerkan koleksi batik yang dimiliki. Bagi pengunjung, ini merupakan keuntungan untuk melihatlihat dan berbelanja batik dengan banyak pilihan motif dan harga bersaing serta batik yang berkualitas. Jika lapar, haus atau sekadar melepas lelah dapat rehat sejenak di kafe atau warung-warung yang banyak dijumpai di Laweyan.

NuansA/Mahda

Galeri Laweyan

Unik Walaupun jalan-jalan diapit oleh bangunan dan tembok-tembok yang tinggi layaknya bangunan khas keraton Solo dan Jogja, Laweyan bukanlah pemukiman bangsawan. Meskipun di sana terdapat banyak kekayaan dan rumah-rumah penduduk khususnya saudagar batik banyak yang mirip dengan corak rumahrumah bangsawan Jawa. Hal tersebut karena pengaruh perdagangan batik yang bersinggungan langsung dengan keraton dan para bangsawan. Pagar-pagar yang tinggi melahirkan gang-gang sempit yang merupakan ciri khas Laweyan. Selain sebagai keamanan, pagar yang tinggi juga merupakan salah satu usaha dari pengusaha batik untuk mendapatkan privasi dan pengakuan sosial. Kemiripan yang lain terlihat dari adanya pendopo, ndalem, paviliun, pabrik

NuansA/Mahda

apura berwarna putih pucat menyambut setiap orang yang datang ke kampung batik Laweyan. Gapura yang ujungnya dihubungkan dengan besi melengkung bertuliskan “Kawasan Sentra Batik, Laweyan Solo� mengisyaratkan di balik gapura merupakan sentra batik, baik itu tempat pembuatan maupun penjualan. Melangkah menyusuri jalan-jalan dan gang-gang yang diapit dengan tembok-tembok yang tinggi nan kokoh membawa imaji kepada kawasan keraton Solo maupun Jogja. Mobil-mobil yang berjajar di kanan kiri jalan siap mendistribusikan produksi batik kampung Laweyan. Tidak kalah dengan mobil, becak pun banyak berjejer menunggu penumpang untuk diantar berkeliling Kampung Laweyan untuk sekadar jalan-jalan atau


NuansAEdisi Edisi 131 131 TH TH XXVI/ XXIV/ 2012 2012 NUANSA

13

JEPRET

Tragedi Pasar Projo Ambarawa

K

eramaian mendominasi di Pasar Projo Ambarawa, setelah kebakaran yang melanda pasar itu Jumat malam (20/7). Bukan karena mereka telah melupakan kejadian yang telah meratakan barang dagangan dan aset hidup. Hanya melanjutkan setiap hal yang terjadi. Bagimanapun juga tragedi yang membawa untuk menyerah itu telah terjadi. Romlah salah satu pedagang sayuran yang memiliki dua kios di lantai dua mengaku, masih trauma dengan kejadian yang telah menghabiskan peralatan dan barang dagang. Ketika bercerita matanya berkaca, “Innalillahi wa innailaihi rajiun,” kata itu terucap saat mengingat kebakaran lusa. Sudah dua puluh tahun lebih Romlah berdagang sayuran di Pasar Projo. Konon kejadian kebakaran telah menjadi agenda dua puluh tahunan. “Bayangkan mas, sudah dua kali ini saya mendapati pasar ini terbakar,” ungkapnya yang seolah membayangkan bagimana ia dulu jatuh bangun dari penglaman pertama terbakarnya Pasar Projo. Walau masih ada beberapa kios yang tersisa, namun hampir 90 persen bangunan utama terbakar. Setelah dua hari kejadian, puing-puing masih berserakan. Api kecil menyala di beberapa bagian. Asap mengepul di beberapa bagian. Satpam terlihat siap siaga mengamankan pasar. Agar tak ada kejadian yang tak diharapkan. Kala itu pasar terlihat cukup ramai. Hanya saja raut wajah yang lesu masih terbalut harapan-harapan untuk melanjutkan penghidupan. Dengan memanfaatkan jalan untuk mendirikan kios cadangan. Kios penyambung hidup, tetapi aktifitas masih terasa lengang. Belum banyak pedagang yang membuka kios lagi. Cerita-cerita menjadi bumbu baru keramaian pasar itu. Sekadar obat penasaran pembeli yang ingin memahami keluh kesah para pedagang. Seorang anak yang membantu Ibunya berjualan, atau kegiatan membersihkan puing-puing kios yang terlihat hitam arang. “Pas apinya belum besar, kami mencoba menyelamatkan beberapa barang,” ungkap salah seorang pedagang daging pada pembeli. Rumor berlalu-lalang. Tentang kronoligi atau sekadar sebab musabab Puing-puing setelah kebakaran kebakaran. Nyaris, sebuah tragedi tak bisa ditebak dan dinginkan siapapun. Tapi cerita akan selalu muncul dari sebuah tragedi. Entah itu pahit bahkan manis sekalipun. Soal kerja keras, asa dan kebangkitan. Yang pasti tragedi adalah upaya Sang Pencipta untuk mengajari rela dan bijak dalam memahami peristiwa. Teks dan Foto : Aditya Rustama

Ibu Romlah (kiri) dan adiknya yang juga berjualan sayuran di Pasar Projo

Membersihkan puing

Memanfaatkan jalan untuk berjualan


14

R AGAM

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

KREATIF

D’nayel, Si Kenyal Kaya Manfaat

S

egar dan kaya manfaat. Begitulah kesan yang sering timbul ketika kita melihat kedua buah ini. Tomat dan Kelapa. Kedua buah ini merupakan contoh buah-buahan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Selain karena pengembangannya yang sangat mudah, kedua buah ini pun sangat cocok dibudidayakan di negara kita yang beriklim tropis. Seolah tak mau melewatkan peluang usaha begitu saja, Nova Shintia Bokau beserta empat rekannya yang lain yaitu Tania Prameswari, Christianti Devita, Dyah Setyaningrum dan Natanel ini mengolah kedua buah ini menjadi salah satu pangan yang digemari. Tomat yang oleh para ahli botani disebut sebagai Lycopersicum esculentum mil ini merupakan tanaman dari famili Solanaceae, yaitu berbunga seperti trompet. Bentuk, warna, rasa, dan tekstur buah tomat sangat beragam. Ada yang bulat, bulat pipih, keriting, atau seperti bola lampu. Warna buah yang masak juga bervariasi dari mulai kuning, oranye, sampai merah, bergantung dari jenis pigmen yang dominan. Rasanya pun bervariasi, dari masam hingga manis. Buahnya tersusun dalam tandantandan. Keseluruhan buahnya berdaging dan banyak

mengandung air. Tomat dapat digunakan baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahannya. Dalam bentuk segar, tomat sering kali digunakan sebagai bahan pelengkap masakan (sayur), untuk salad, sandwich, sambal, dan sebagainya. Dalam bentuk olahan, tomat dapat dibuat menjadi berbagai macam produk kalengan, seperti tomat utuh, potongan tomat, saus, dan pure. Selain itu, dapat dibuat sari buah dan dipekatkan untuk menghasilkan pasta tomat. Selama ini hasil olahan tomat yang telah dikenal luas oleh masyarakat adalah sari buah dan saus tomat. Sari buah (fruit juice) adalah cairan yang tidak mengalami proses fermentasi, tetapi diperoleh dari proses pengepresan buah yang masih segar dan telah masak. Dengan pengolahan buah tomat menjadi sari buah ini, selain dapat menghasilkan produk yang lebih awet juga merupakan minuman yang praktis, rasanya enak dan menyegarkan, juga bermanfaat bagi kesehatan. Selain buah tomat, kelapa merupakan salah satu komoditi terbesar di Indonesia. Pemanfaatan buah kelapa saat ini mulai beragam, dari yang hanya sebagai bajan untuk memasak, hingga nata de coco. Kelapa (Cocos nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota

tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, Kelapa juga sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini. Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Dari mulai sabut, tempurung, batang dan buahnya dapat dimanfaatkan dan diperdagangkan. Buah kelapa yang sudah tua mengandung kalori yang tinggi, sebesar 359 kal per 100 gram; daging kelapa setengah tua mengandung kalori 180 kal per 100 gram dan daging kelapa muda mengandung kalori sebesar 68 kal per 100 gram. Sedang nilai kalori rata-rata yang terdapat pada air kelapa berkisar 17 kalori per 100 gram. Air kelapa hijau, dibandingkan dengan jenis kelapa lain banyak mengandung tanin atau antidotum (anti racun) yang paling tinggi. Kandungan zat kimia lain yang menonjol yaitu berupa enzim yang mampu mengurai sifat racun. Komposisi kandungan zat kimia yang terdapat pada air kelapa antara lain asam askorbat atau vitamin C, protein, lemak, hidrat arang, kalsium atau potassium. Mineral yang terkandung pada air kelapa ialah zat besi, fosfor dan gula yang terdiri atas glukosa, fruktosa dan sukrosa. Kadar air yang terdapat pada buah kelapa sejumlah 95,5 gram

dari setiap 100 gram. Dalam rangka memanfaatkan sumber daya alam yang ada dan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, Nova dkk mengolah kedua buah kaya serat ini menjadi nata dengan bahan dasar tomat dan kelapa. Bahannya Air kelapa, tomat, gula pasir, air cuka, pupuk ZA, dan starter. Cara pengolahannya dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, air kelapa disaring dan dimasak hingga mendidih. Tambahkan air gula, larutan pupuk dan air cuka. Aduk. Kedua, blender tomat, masak sarinya hingga mendidih. Tambahkan air gula, larutan pupuk dan air cuka. Aduk. Diamkan dua larutan tersebut selama satu malam. Tambahkan starter sebanyak 2.5 % dari seluruh jumlah larutan. Kemudian ditutup dengan kertas koran yang sudah disterilkan, didiamkan selama satu minggu tanpa perlakuan apa pun. Ketiga, cuci dan rendam lapisan nata yang telah didiamkan selama satu minggu, dengan air selama empat hari. Dalam empat hari ini nata yang direndam harus diganti air setiap harinya. Setelah empat hari, nata yang berupa lembaran dipotongpotong sesuai selera dan masak potongan nata dengan larutan gula+daun pandan/ atau sirup buah. Selain rasanya enak dan

kaya serat, kedua buah ini mempunyai banyak manfaat di antaranya bagus untuk sistem urinari (dapat menghilangkan batu ginjal) dan reproduksi, mengurangi plak pada arteri, menyeimbangkan kolesterol jahat dan baik, baik untuk sirkulasi darah juga dapat melancarkan metabolisme. Nata ini juga aman bagi pengidap diabet. Kandungan Cytokinin dalam buah tersebut dipercaya sebagai bahan anti penuaan dan anti kanker. Dan yang terakhir, nata D’nayel ini dijadikan alternatif peningkatan taraf hidup masyarakat. Pembuatan olahan ini pun dilakukan dalam rangka Chemo Entrepreunership atau CEP, yang merupakan salah satu mata kuliah di jurusan kimia. Dalam CEP ini, Nova dkk tidak hanya diajari me ngenai perubahan makanan oleh bakteri saja, tetapi juga aplikasinya. Selain itu dapat menginspirasi siapa saja dan dapat menjadi peluang usaha yang sangat mudah untuk dilakukan. Nama “De nayel” ini, Nova mengaku bahwa menyebut “De Nayel” karena teksturnya yang kenyal. “Yang pertama karena uniknya, kan tujuannya bisa buat wirausaha, kita inovasi menjadi de nayel. Selain itu dari nama anggota dan juga karena teksturnya yang kenyal itu sehingga diberi nama D’nayel,” tuturnya. Yusri Maulina

ANEKDOT

Uang Receh

H

ari Selasa di bulan Mei, terpaksa ia harus pulang sekolah lebih sore. Ketika itu ia masih duduk di bangku SMP dan rambutnya yang tidak pernah terlihat pendek itu masih saja dikepang. Dengan langkah gontai, ia mendengus kesal kelelahan. Letak sekolahnya yang berada di tengah perkampungan, mengharuskannya berjalan cukup jauh untuk menuju jalan raya. Wajahnya tampak kusut, di sekolah tadi ia harus meladeni permintaan gurunya untuk mengikuti ulangan susulan tiga mata pelajaran sekaligus. Di tengah perjalanan menuju jalan raya, kira-kira 100 meter dari tempatnya berdiri, ia melihat sosok

pengemis yang memintaminta kepada pejalan kaki lain. Melihat sosok pengemis itu, ia teringat uang receh yang ia punya. Sebelum keluar dari gerbang sekolah, ia sempat menghitung uang recehnya itu, ada 1 keping logam 500 rupiah dan 5 keping logam 100 rupiah. Setiap hari, uang sakunya 1000 rupiah. “Kalau sudah sampai jalan raya, saya hanya membutuhkan 700 rupiah untuk naik angkot. Berarti masih sisa 300 rupiah, sekali-sekali saya berikan kepada pengemis tua itu saja ah,” pikirnya. Ketika sang pengemis mendekati dirinya, langsung saja ia merogoh saku bajunya dan memberikan kepingan-kepingan uang receh kepada pengemis itu. “Senang sekali rasanya, baru kali ini saya bisa sedekah,” ia

bicara dalam hati. Namun, ketika sampai di jalan raya, ia kaget, panik, dan ketakutan melihat sesuatu terjadi pada saku bajunya. Tanpa pikir panjang ia pun berlari menyeberang jalan raya kembali ke jalan menuju sekolahnya. Ia berharap pengemis tadi masih berada di sekitar sana. Untunglah sang pengemis tadi masih ada. Dengan napas tersengal–sengal dan setengah malu ia berkata, “Nek, uang yang tadi saya berikan ternyata kelebihan dengan yang saya kira.“ Pengemis tua itu pun berkata, “Silahkan ambil saja Nak. Ternyata saya lebih kaya daripada Anda,“ sembari menyodorkan bungkusan kain kumal yang penuh dengan uang receh.


15

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

PENGETAHUAN

Jam Gadang, Markah Tanah Kota Bukit Tinggi

J

am Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukit Tinggi, Provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang adalah sebutan yang diberikan masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang”, atau “jam yang besar” (jam gadang = jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau). Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan

Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukit Tinggi pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke rah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13x4 m, sedangkan tingginya 26 m. Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm. Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudu-

kan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau. Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Namun hal itu terbayar dengan terkenalnya Jam Gadang ini sebagai markah tanah yang sekaligus menjadi lambang atau ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga ditetapkan sebagai titik nol Kota Bukittinggi. Ada satu keunikan dari angkaangka Romawi pada muka Jam Gadang ini. Bila penulisan angka Romawi biasanya mencantumkan simbol “IV” untuk melambangkan angka empat romawi, maka Jam Gadang ini bertuliskan angka empat romawi dengan simbol “IIII” (umumnya IV). Yusri Maulina

KULINER

Es Galau Obat Anti Galau

S

impang lima, Semarang memang menjadi kawasan yang selalu ramai dikunjungi, apalagi disore hingga malam hari. Banyak orang mengunjungi kawasan ini, hanya sekadar untuk belanja, jalan-jalan, atau duduk santai melepas penat. Seperti yang kami lakukan sore itu, Rabu, (20/6), kami menyusuri jalan di sepanjang kawasan ini dengan santai untuk me-refresh otak setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Berbagai jenis kedai makanan dan minuman berjajar di kawasan ini. Kami pun tertarik mengunjungi salah satu kedai makanan yang unik. Kedai tersebut adalah Kedai “Bukit Tinggi “ milik Yakarema yang menjual berbagai jenis makanan khas daerah Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Ada rendang, gulai otak sapi, gulai tunjang, gulai tambusu, pangek mujair, pangek masin, telur balado, ayam pop, ayam kalio, dan lain-lain. Namun yang paling diminati pengunjung adalah ayam pop. Kami pun tertarik men-

coba menu yang katanya istimewa ini. Sekilas memang tak berbeda dengan masakan ayam lain, tapi yang membuatnya istimewa adalah bumbu ayam pop ini dibuat degan 12 macam bumbu rahasia khas Sumatra Barat, kemudian dimasak dengan santan selama kurang lebih satu jam. Karena proses pemasakkan yang lama inilah, ayam ini dinamakan ayam pop. Dagingnya menjadi empuk dan gurih, apalagi ditambah sambal cabe hijau yang makin menggugah selera. Harga tiap porsinya juga tak begitu membuat kantong kering, hanya empat belas ribu rupiah saja. Tak heran, kedai berukuran sekitar 4x4 m yang buka sejak pukul 15.00 hingga 23.30 ini tak pernah sepi pegunjung. Menurut pria berusia 64 tahun ini, ia sudah berdomisili di Semarang sejak tahun 1968, tepatnya di daerah Kalibanteng. Namun, ia baru mendirikan usaha kedai makan ini sejak satu tahun yang lalu. Terinspirasi dari daerah asalnya Bukit Tinggi, Sumatra Barat, maka

ia bersama istrinya membuka kedai makan ini. “Satu hal yang membuat Saya bangga dengan makanan khas Sumatra Barat, bahwa selama ini belum pernah ada konsumen yang mengeluhkan rasanya atau bahkan sampai keracunan. Selain itu, dibandingkan makanan daerah lain, makanan daerah Sumatra le bih tahan lama, bisa tahan basi sampai satu minggu karena memang proses memasaknya yang sangat lama,” ungkap pria berkumis tipis ini. Rasanya menikmati ayam pop yang gurih saja tak cukup tanpa menikmati pula segarnya es galau di kedai aneka es “Prasojo” yang berada tak jauh dari kedai Bukit Tinggi tadi. Kedai milik Silvia Indriani ini juga baru satu tahun berdiri. Meski demikian, kedai ini tak pernah sepi pengunjung. Hal ini dikarenakan menu-menu yang disajikan unik. Salah satunya yaitu “Es Galau”. Siapa sih yang tak kenal kata galau? Bahasa gaul anak muda masa kini jika sedang diliputi perasaan sedih karena patah hati, kesal, tidak bersemangat, dan sebagainya. Dari situlah perempuan berusia 21 tahun ini terinspirasi untuk membuka usaha minuman dengan nama es galau. “Menurut Saya, orang yang galau cocok makan makanan yang manis-manis dan segar. Jadi Saya menciptakan es galau yang manis sehingga bisa

menyegarkan pikiran,” ungkapnya dengan senyum mengembang. Es yang terdiri atas potongan pisang raja, mutiara, nata de coco, serutan kelapa, cincau, kacang, dan susu cokelat ini dijual dengan harga yang terjangkau, hanya tujuh ribu rupiah saja per porsi. Campuran berbagai bahan tersebut ditata apik

dalam mangkuk, kemudian diberi serutan es dan disiram susu kental manis coklat. Rasanya manis dan sangat segar. Selain es galau, perempuan yang akrab disapa Mbak Via ini juga menyediakan banyak menu lain yang unik. Di antaranya yaitu “Es Klenger” yang sebenarnya sama dengan es teler. Dinamakan es klenger dikarenakan untuk membedakan dengan es teler pada umumnya. Isinya juga lebih lengkap, ada alpukat, kolang-kaling, kelapa muda, agar-agar, santan dan susu kental manis putih. Semua bahan diracik dalam gelas berkaki yang membuatnya terlihat begitu menarik. Apalagi dengan harga yang relatif terjangkau, hanya enam ribu rupiah per porsinya. Septi, Ambar


16

N

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

OPINI Fenomena K-Pop dan I-Pop di Indonesia

ggak nggak nggak kuat.. Aku nggak kuat sama playboy.. playboy.. Penggalan lirik di atas sudah tidak asing dide-ngar oleh telinga kita. Lirik di atas merupakan sebuah lagu dari girl band Indonesia yang terinspirasi dari Korean Pop (K-Pop) yang bernama 7 Incons. K-Pop merupakan salah satu pengaruh dari Korean Wave (demam Korea). Fenomena K-Pop telah merajai Indonesia sejak tahun 2002 silam, diawali dengan diputarnya ikon popular Negeri Gingseng berjenis drama serial yang berjudul Endless Love di salah satu televisi swasta di Indonesia. Ternyata drama serial ini mendulang kesuksessan yang menyebabkan semakin banyaknya Drama Korea (K-drama) yang menjalar di Indonesia, setelah generasi Endless Love kemudian muncul Full House yang dibintangi oleh mega bintang Korea, Rain. Fenomena inilah yang memberikan ruang gerak bagi K-drama untuk mengembangkan pengaruhnya di dunia entertainment, tidak hanya dalam serial drama saja tetapi juga pada musik pop, animasi, pernak-pernik, games, hingga life style. Korean Wave Korean Wave dapat disebut juga dengan Hallyu. Hallyu merupakan istilah yang kali pertama dimunculkan oleh para jurnalis di China mengikuti kepopuleran yang luar biasa dari drama Korea “What Is Love All About” pada tahun 1998 yang meraih rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian Cina. Hallyu mulai merebak di banyak negara Asia dan mungkin banyak lapisan masyarakat belum menyadari bahwa Indonesia pun tidak luput dalam terpaan Hallyu ini karena kebanyakan hanya mengerti akan trend saat ini ya trend Korea. Mengguritanya K-Pop di Indonesia Sejarah K-Pop dimulai dengan munculnya boyband yang beranggotakan tiga orang seperti: Seo Taiji dan Boys pada tahun 1992, yang kemudian berkembang menjadi beberapa nama boyband maupun girlband yang sedang naik daun saat ini seperti : TVXQ, Se7en, Lee Hyori, Shinhwa, Wonder Girls, Epik High, Super Junior, Big Bang, SS501, Girls ‘Generation. Sejak tahun 2011 hingga saat ini, K-Pop menduduki peringkat atas dan dapat dikatakan meledak luar biasa dalam atmosfer dunia hiburan di dunia, termasuk di Indonesia. Apalagi setelah adanya konser fenomenal KIMCHI KPOP (Korean Idols Music Concert Hosted in Indonesia) tanggal 4 Juni 2011 yang bertempat di Istora Senayan Jakarta. Dalam konser tersebut, Super Junior (Suju) tampil yang juga menghadirkan bintang tamu lain dari Korea yaitu Park Jung Min, The Boss, Girl’s Day dan X-5. K-Pop mampu membuat kawula muda tidak segan merombak selera, life style, hingga inden-

Oleh KHAMADILA FITRIYANINGSIH

titas dirinya agar dapat dikatakan penggemar sejati K-Pop dan K-Pop pun akhirnya mampu memiliki penggemar fanatik di Indonesia dalam waktu yang singkat. Inspirasi untuk membentuk IPop Popularitas K-Pop di Indonesia ternyata mampu memberikan inspirasi bagi insan musik tanah air untuk membuat kemasan musik menjadi boyband mapun girlband hingga terbentuknya Indonesian Pop (I-Pop). I-Pop dikenal secara cepat di Indonesia saat kemunculan boy band SM*SH dengan single andalan Cenat Cenut nya yang kemudian merambah pada film serial dengan judul Cinta Cenat Cenut. Boyband ini mampu menginspirasi terbentuknya I-Pop, baik boyband maupun girlband. Kesuksessan SM*SH ternyata diikuti oleh 7 Icons sebagai girlband, Cherrybelle, XOIX, hingga Cowboy Junior. Penggemar berat K-Pop dan IPop tidak hanya usia remaja saja, bahkan tidak sedikit anak balita hingga usia produktif. Lagu-lagu I-Pop sering diputar di pusat-pusat perbelanjaan, pameran, live on television¸radio, hingga di rumahrumah warga yang semakin membuat kental nuansa I-Pop sebagai ciri khas budaya saat ini, bahkan tidak jarang dikatakan ketinggalan zaman atau norak bila tidak kenal dan hafal lagu-lagu I-Pop. Secara Sosiologis Secara sosiologis, baik K-Pop maupun I-Pop merupakan sebuah budaya populer atau yang sering disebut dengan “budaya pop” (pop culture) atau “budaya massa” yang selalu menarik untuk dikaji karena fenomenanya yang unik dan selalu berkembang dalam masyarakat. Budaya pop atau budaya massa sebenarnya memiliki keterkaitan dengan budaya komersil. “Budaya Populer” merupakan penggabungan dari dua kata yaitu kata “Budaya”, dan “Populer”. Sementara kata Budaya dapat diartikan ”segala sesuatu untuk mengacu pada suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis” (Williams, 1983). Rumusan ini merupakan rumusan budaya yang paling mudah dipahami, dengan mengaitkan tentang perkembangan budaya Eropa Barat dengan merujuk pada faktorfaktor intelektual, spiritual, estetis seperti pernyataan para filsuf besar, seniman, dan budayawan terutama pada masa pascaindustrialisasi. Kata lain juga bisa berfungsi sebagai “pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu” (Williams, 1983). Pernyataan ini menegaskan bahwa kebudayaan adalah pandangan hidup seseorang dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat, di mana pegangan hidup sebagai faktor pengendalian, bisa berwujudkan pada aturan-aturan tertentu yang diyakini dan disepakati bersama pada suatu masyarakat sebagai pedoman atau pegangan hidup dan juga terikat oleh aturan-

aturan ritual tertentu. Williams (1983) mendefinisikan kata ”populer” menjadi empat pengertian yaitu (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri. Kemudian di terangkan lebih lajut oleh Antonio Gramsci (1971), bahawa budaya pop bisa dikaitkan dengan konsep hegemoninya, yaitu mengacu pada cara kelompok dominan dalam suatu masyarakat mendapatkan dukungan dari kelompok subordinasi melalui proses kepemimpinan, intelektual, dan moral. Jadi, budaya pop adalah ”budaya massa”, budaya yang dipro duksi untuk konsumsi massa. Budaya massa biasanya terdapat dalam dunia industri musik dan film yang kemudian dikembangkan dengan adanya industri media. Budaya massa ini diciptakan melalui prosedur dan trik industrial yang cenderung berorientasi pada profit karena untuk dapat bertahan hidup dan mendulang keuntungan perlu menciptakan produk-produk yang menurut perkiraan sedang disukai, digandrungi, bahkan dibutuhkan massa, sehingga ada relevansi antara popular culture dengan commercial culture (kebudayaan komersil). Hal ini menjadi budaya massa ketika dibutuhkan untuk konsumsi massal (common people) dan menjadi perhatian utama karena merupakan sebuah kebutuhan massa. Budaya Pop dapat menjadi suatu ciri khas, komunitas, dan indentitas bagi masyarakat Indonesia saat ini, terutama bagi kawula mudanya. Dikatakan ciri khas apabila budaya pop sudah merupakan sebuah kewajaran dalam keseharian suatu masyarakat dan sesuai dengan harapan masyarakat. Ciri khas ini tidak hanya dilihat dari sisi musik dan life style nya saja, tetapi juga pada moral bangsa. Sadar atau tidak, budaya popular mampu membuat angka penjualan celana hot pant, sepatu high heel, dan pernak pernik ala bintang pujaan semakin menaik tajam. Di sisi moral, baik pemerintah sedang berusaha keras dalam penanaman nilai-nilai karakter bangsa bagi semua jenjang pendidikan. Namun apa jadinya jika penanaman karakter bangsa dapat berjalan dengan efektif dan menjadi bermakna sedangkan masih diracuni oleh budaya pop yang bersahabat baik dengan industri media. Bayangkan bagaimana bila budaya pop bisa menimbulkan hegemoni dalam masyarakat sebegitu cepat dan dahsyat. Budaya pop merupakan suatu komunitas bila penggemarnya mampu memunculkan faktor kesamaan akan suatu hal dan kebutuhan yang sama dalam aktualisasi diri. Budaya pop mampu menjadi komunitas kuat bahkan ekstrim bila penggemar fanatiknya mampu membuat “kotakisasi” dalam masyarakat, maksudnya adalah mampu mengkotak-kotakkan dan mengelompokkan dirinya dengan

suatu konsep tertentu, dalam hal ini adalah K-Pop dan I-Pop. Pada dasarnya baik K-Pop maupun IPop merupakan salah satu dampak dari Korean Wave yang sudah di singgung di atas. Namun kenyataan dalam masyarakat mengatakan bahwa hal ini memunculkan permasalahan tersendiri, bahwa I-Pop merupakan jiplakan dari K-Pop dan memicu terbentuknya “kotak” K-Pop dan “kotak” I-Pop. Bagi penggemar fanatik KPop, kualitas musik I-Pop dinilai sangat minim atau bahkan tidak sama sekali, ini dikarenakan kualitas vokal personil yang diragukan sebagai dampak negatif dari se ringnya lipsync ketika di panggung, kurangnya kekompakan dalam menari, kurang matangnya training sebelum debut album, peniruan total atas tarian, kostum, dan lagu baik lirik maupun musik. Jika kotak-kotak ini semakin nyata dalam masyarakat, maka akan tumbuh stereotip negatif atas I-Pop dan anggapan bahwa musik I-Pop adalah musiknya kaum urban dari desa. K-Pop dan I-Pop dapat pula menjadi identitas bagi penggemarnya karena adanya proses interaksi yang saling memengaruhi antara individu dengan struktur sosial yang lebih besar lagi (masyarakat). Mula-mula pengaruh K-Pop hanya di Korea saja namun sekarang hingga merasuki kawula muda di Indonesia, bahkan mampu memberi inspirasi untuk membentuk I-Pop. Pengaruh interaksi ini sangat kuat karena juga didukung dengan industri media yang akhirnya menjadikan masyarakat Indonesia, terutama remajanya, begitu menggila akan genre K-Pop dan I-Pop sampai membentuk identitas dirinya sebagai penggemar fanatik K-Pop maupun I-Pop. Sesuai dengan teori identitas yang dikemukakan oleh Styker (1980) yang mengombinasikan konsep peran (dari teori peran) dan konsep diri/self (dari teori interaksi simbolis), bahwa kita mempunyai definisi tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang lain, yang dinamakan “identitas”. Perilaku kita dalam suatu interaksi, dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita, begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita. Maksudnya adalah, baik K-Pop maupun I-Pop masingmasing penggemarnya memiliki definisi tersendiri tentang genre mereka dan alasan mengapa mereka memilih genre tersebut. Definisi dan alasan inilah yang menjadikan suatu identitas bagi mereka yang dipengaruhi oleh harapan-harapan sosial. Baik buruknya pengaruh K-Pop maupun I-Pop semua bergantung dari perspektif mana kita melihat dan menyikapinya.

KHAMADILA FITRIYANINGSIH Mahasiswa Jurusan Sosiologi dan Antropologi 2010


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

17

OPINI

“Sabar” di Dunia yang Serba Instan Oleh DYAH ASIH PRANAWITA

S

abar” satu kata yang tak asing lagi terucap dan terdengar. “Sabar ya...” kata yang sering terucap saat seseorang mencoba menghibur kita. Namun, benarkah selama ini kita sudah cukup bersabar dalam menghadapi masalah yang kita dapati? “Sabar itu juga ada batasnya...”, kita juga sering mendengar istilah ini, bahkan mungkin banyak di antara kita sepaham dengan istilah populer ini. Kata-kata ini membuat saya berpikir, apakah memang ada batasan kesabaran itu? karena saya pun terkadang merasa ingin menyerah pada masalah yang saya hadapi. Lalu apa sebenarnya makna dari sabar itu? Tuntutan masyarakat ditengah segala hal yang serba cepat dan instan, memaksa diri kita untuk terbiasa dengan hal yang instan, membuat pola pikir kita menginginkan segala hal dengan segera. Sehingga pemikiran mengenai kesabaran hanya terlintas di kepala tanpa dicerna maknanya. Itulah sebabnya, mengapa kesabaran sulit dipahami dan digunakan sebagai kekuatan untuk menghadapi segala permasalahan. Setiap individu pastinya memiliki masalah. Terlepas dari besar-kecilnya masalah yang kita hadapi, yang berbeda dari tiap individu adalah cara menanggapi dan menyelesaikan masalahnya. Sabar adalah salah satu

cara menyelesaikan masalah yang harus dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang menganggap bahwa kesuksesan  orang lain merupakan perpaduan dari bakat dan keberuntungan. Padahal mungkin kita tidak melihat kerja keras yang mereka lalui selama bertahun-tahun sebelum mereka mencapai sebuah kesuksesan. “Jika saya berhasil membuat sebuah penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya dibandingkan dengan keahlian lain yang saya miliki.”- Sir Isaac Newton -. Kutipan ini bisa kembali menyadarkan kita, bahwa bersabar adalah kunci dari segala kebaikan yang akan kita terima. Betapa dengan kesabaran kita akan lebih memiliki kekuatan dan lebih bijak dalam menghadapi permasalahan kita. Sering kita gagal namun masyarakat sekeliling kita tidak menerima kegagalan tersebut. Sering juga kita merasa tak sabar menghadapi proses kehidupan ini, tanpa kita sadar sebenarnya kita sedang diajarkan untuk mencoba lebih bersabar. Maka segera damaikan hati dan sabarkan diri sendiri! Ada sebuah pernyataan “batasan kesabaran setiap orang berbeda”. Saya sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Pada dasarnya manusia merupakan makhluk sempurna yang diberi kelebihan oleh Sang Pencipta berupa akal, pikiran, dan rasa. Sehingga di balik semua

alasan yang membuat batasan kesabaran diri kita berbeda, kita seharusnya mampu membuat batasan kesabaran yang tak terbatas. Namun dalam kehidupan seharihari faktanya memang tingkat kesabaran orang berbeda. Ada beberapa orang yang hanya diberi cobaan/ masalah “secuil” sudah down dan terpuruk, seakan batas kekuatan mereka sudah habis diterpa masalah tersebut. Akan tetapi, ada juga orang yang tetap strong dan tegar menghadapi masalahnya, meskipun masalah yang ia hadapi cukup besar. Sudut pandang besar kecilnya suatu masalah memang berbeda, tergantung pada banyaknya pengalaman serta kekuatan kepribadian kita. Biasa atau tidaknya kita menghadapi masalah juga mempengaruhi kesiapan diri dalam menghadapi masalah. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi batasan kesabaran setiap orang berbeda. Salah satunya adalah lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal sangat memegang peranan penting dalam terbentuknya sifat sabar dalam tubuh seseorang. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memberikan segalanya dengan mudah kepada sang anak, lebih “ringkih” dalam menghadapi masalah ketika ia dewasa, jika dibandingkan dengan seorang anak yang dibiasakan berusaha lebih dahulu untuk menda-

patkan apa yang ia ingingkan (do and get). Sebuah kutipan mengenai kesabaran yaitu “Bersabarlah dalam segala hal, namun yang terpenting adalah bersabar terhadap diri anda sendiri. Jangan sampai keberanian anda hilang karena anda menyadari ketidaksempurnaan anda, sebaliknya berpikirlah untuk memperbaikinya setiap hari mulailah dengan baru.”- St. Francis de Sales. Jadi, sebenarnya tak ada alasan untuk dapat mengatakan bahwa kesabaran seseorang ada batasnya. Dengan semakin dewasanya kita, seharusnya semakin luas juga pola pikir kita. Semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jadi tidak ada pilihan lain untuk kita, selain bersabar dan mencoba lagi usaha kita. Di tengah ratusan kegagalan, jangan pernah lupakan kebangkitan. Di tengah jalannya kehidupan yang kadang tak sesuai keinginan, jangan pernah lupakan rasa bersyukur pada Tuhan. Di tengah tuntutan yang serba instan, jangan pernah lupakan usaha dan kesabaran yang tak terbatas. Keep Patient...

DYAH ASIH PRANAWITA

Mahaisswi Prodi Bahasa Jepang FBS Unnes

Memamah Ideologi Konseptual

M

embicarakan identitas bangsa tentunya tak lepas dari budaya bangsa itu sendiri. Budaya bangsa yang mempunyai berbagai bentuk, baik itu dari segi karya seni maupun kebiasaan masyarakat di sebuah wilayah. Beberapa waktu lalu salah satu produk budaya kita kembali diklaim negara tetangga dan masyarakat kembali dipancing kemarahannya. Kemarahan ini tak hanya terlihat di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Seperti dalam facebook atau twitter, ramai membicarakan hal tersebut, baik mengkritisi, mengasihani hingga memaki negara yang mengklaim tarian Tor-tor kita itu. Hal semacam ini sudah terjadi berulang kali dan kebanyakan orang hanya bisa memaki melalui situs jejaring sosial. Tidak menutup kemungkinan hal in terulang lagi dan kembali banyak orang berbondong-bondong memaki melalui situs jejaring sosial itu lagi. Ada dua hal yang menurut saya perlu kita cermati dalam kasus ini, mengenai bagaimana kesadaran masyarakat melestarikan budaya sebagai identitasnya dan bagaimana cara mempertahankan kebudayaan tersebut sebagai identitas bangsa. Kesadaran masyarakat jelas masih dalam tataran kesadaran naif.

Oleh JAKA HENDRA BAITTRI Paham akan masalah yang terjadi, tapi tak mempunyai ide dalam penyelesaiannya. Sehingga yang terlontar hanya makian-makian sebentar lantas tak terdengar lagi riaknya. Terkait dengan kesadaran naif yang dipertegas oleh tingginya tingkat konsumsi masyarakat mengenai jejaring sosial, mengingatkan saya akan pesan Gus Dur bahwa seorang intelektual harus mempunyai cara baru. Metode baru yang dikatakan Gus Dur adalah metode kontekstual yang mudah dimengerti oleh masyarakat. Konteks masyarakat sekarang yang labil secara identitas seharusnya tidak dikatakan sebagai masyarakat yang apatis, tapi harus dimanfaatkan sesuai dengan konteks masyarakat. Hal ini membuat kita mempelajari hal-hal yang baru dan tidak teralienasi dengan metode-metode lama. Jikalau Marxian mengatakan manusia teralienasi oleh pekerjaannya dahulu kala, kini kita dapat mengatakan bahwa ketika Marxian tak mampu menyadarkan masyarakat maka ia teralienasi gara-gara metodologinya sendiri. Metodologi ini pun seharusnya ideologis. Karena intelektual sekarang hidup dalam dunia ketiga maka intelektual harus mempunyai mata dan hati yang tentunya lebih peka

terhadap keadaan di sekitar kita. Maka ideologinya pun harus jelas dalam pengabdian dalam masyarakat. Contoh dari cara-cara baru ini banyak sekali, seperti sekolah Qaryah Tayyibah yang sangat kontekstual dengan kebutuhan masyarakatnya. Sekolah anak jalanan Taman Hijau Ceria yang didirikan oleh beberapa mahasiswa IPB. Hingga Komunitas Penduduk Panas Dalam yang bermula dari sebuah band kemudian bertransformasi layaknya LSM. Namun, Komunitas yang berdomisili di Bandung ini mempunyai metodologi yag amat unik. Komunitas Panas Dalam mempunyai komunitas musik, Panas Dalam Institute, hingga geng motor yang bernama SBR. Gagasan-gagasan lama seperti anti-kapitalisme yang tak mau bergaya seperti borjuis sudah menjadi terminologi yang sangat kuno jika dilakukan secara mentah. Seperti ketika berada dalam masyarakat yang hobi ke kafe atau masyarakat yang mempunyai hobi mahal seperti geng motor yang tak jelas manfaatnya apa. Tentu hal itu menjadi sebuah pertanda bahwa kita perlu cara baru dalam mensirkulasikan ideologi dan penyadaran kritis seorang intelektual terhadap masyarakatnya. Karena dalam keadaan sekarang sulit membedakan mana masyarakat borjuis dan mana yang tidak. Oleh

karena itu melalui budaya massa yang ada, kita bisa memperbarui cara kita ber-ideologi. Kebaruan ini mengingatkan saya pada perhitungan matematis rumit milik Alain Badiou yang memecah kebisuan masa depan Marxisme dalam dunia politik. Badiou melalui perhitungannya yang panjang mengeluarkan salah satu tesis bahwa ciri khas kebenaran dari setiap peristiwa emansipatoris adalah “kebaruannya”. Karena menurut Badiou kebenaran selalu merupakan kebaruan karena ia tak dapat dipilah oleh ensiklopedia situasi yang lama. Seperti kebenaran mahasiswa yang tak mampu diartikulasikan masyarakat pedesaan, kebenaran orde baru yang mengartikulasikan komunisme, hingga kapitalisme global yang tak dapat dimengerti oleh masyarakat pinggiran kota di Indonesia. Maka dari itu mari memperbarui paradigma kita dengan lebih kritis dan kontekstual dan tak lagi hanya melulu menyakahkan masyarakat an sich dalam mengusahakan kesadara masyarakat akan identitasnya.

JAKA HENDRA BAITTRI

Jurnalis LPM EKSPRESI Universitas Negeri Yogyakarta


18

OPINI

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Membaca dan Menulis, Mengapa Tidak?

P

agi yang cerah di hari libur itu saya masih enggan beranjak dari kasur empuk kos. Bukan tanpa alasan saya enggan meninggalkan tempat yang setiap hari saya gunakan untuk mengistirahatkan badan setelah seharian beraktivitas itu. Namun, mata saya tak ingin terpejam lagi. Justru sebaliknya, ketika saya menghidupkan layanan televisi di handphone saya, sebuah chanel televisi menghadirkan sosok yang menginspirasi saya bahkan mungkin sebagian besar orang di Indonesia. Dia adalah seorang yang menulis novel best seller Laskar Pelangi. Jika saya bertanya siapakah sosok itu, pasti Anda bisa menjawabnya, bukan? Tepat sekali. Dialah Andrea Hirata. Sosok Andrea Hirata dari tanah Belitong telah menginspirasi saya untuk menyelami nilai-nilai kehidupan dan mengritisi sisi-sisi kehidupan dalam sebuah tulisan yang apik dan enak untuk dibaca. Andrea Hirata dengan gaya tulisannya yang komunikatif telah membawa para pembaca tetralogi novel Laskar Pelangi berselancar dalam dunia yang dibangun sang penulis. Nilainilai sosial, pendidikan, keberagaman dalam multikultural telah dihadirkan oleh Andrea Hirata sehingga mampu memikat banyak orang di dunia. Ini terbukti dari informasi yang saya peroleh saat menonton siaran televisi pagi itu. Di tahun 2012 ini, novel Andrea yang berjudul Laskar Pelangi telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa di dunia. Sungguh mengagumkan. Andrea telah mengikuti jejak penulis besar terdahulunya, Pramoedya Ananta Toer. Andrea Hirata telah membuktikan bahwa penulis

Oleh WALIDAH F KHIKMAH Indonesia di zamannya mampu go internasional. Jika dilihat, semangat yang diusung sang penulis ini sematamata bukan karena keinginan untuk go internasional atau dikenal dunia luas. Tetapi lebih pada nilai dan amanat dari karyanya yang ingin Andrea sampaikan. Setelah menyimak informasi tadi, saya jadi berangan-angan sejenak. Apakah di masa sekarang atau masa mendatang akan muncul Andrea Hirata-Andrea Hirata yang baru? Atau akankah di antara kita ada yang bisa mengikuti jejak Pramoedya? Harapan saya ini, bukan menginginkan kita sama persis dengan Andrea atau Pram (caranya bertutur dalam sebuah karya). Namun harapan saya lebih pada semangat generasi penerus bangsa untuk mampu menghasilkan sebuah karya. Sebuah tulisan yang mampu menginspirasi, menghibur, dan memberikan pengetahuan lebih untuk para pembaca. Lalu, sudahkah bangsa kita dapat disebut bangsa yang gemar menulis? Atau justru sebaliknya? Saya jadi teringat setiap kali saya di kelas, menunggu dosen hadir untuk memberikan materi kuliah, teman-teman saya dan bahkan saya sendiri pun asik mengobrol. Indonesia banget! Menurut KBBI, “obrol” atau “ngobrol” berarti bercakap-cakap atau berbincang-bincang secara santai tanpa pokok pembicaraan tertentu. Tak selamanya ngobrol dikonotasikan kegiatan yang negatif dan tak kreatif. Ngobrol dapat saya katakan sebagai aktivitas yang bermanfaat jika dengan ngobrol kita menemukan informasi baru yang dapat memperkaya pengetahuan. Ngobrol pun membuat penuturnya belajar untuk bersosial,

berkomunikasi, dan memahami karakter banyak orang. Jadi tak selamanya ngobrol selalu identik dengan aktivitas tanpa manfaat. Tak hanya budaya ngobrol. Masyarakat Indonesia khususnya masih terbiasa dengan budaya menonton. Setiap ada film baru misalnya, kebanyakan dari kita berbondong-bondong mendatangi bioskop atau mengunduhnya lewat internet. Sebenarnya hal penting bagi kita untuk dapat menyeimbangkan antara budaya ngobrol atau bicara, menonton atau menyimak, membaca dan menulis. Sebab, jika semua hal itu dapat seimbang, bukan tak mungkin masyarakat kita (bahkan kita sendiri) menjadi masyarakat yang selangkah lebih berkembang menuju kemajuan intelektual. Jika dibandingkan dengan negeri Sakura, bangsa kita masih tertinggal jauh. Ibarat berlari dengan start yang sama, Jepang sudah mencapai 1000 meter sedangkan kita baru 10 meter. Kemajuan Jepang di bidang Iptek bukan tanpa sebab musabab. Ada sebuah sisi yang belum kita terapkan dan aplikasikan layaknya budaya Jepang. Itulah budaya membaca. Ketika menunggu bus saja di halte, orang Jepang lebih memilih untuk mengisi waktu dengan membaca. Berbeda halnya di Indonesia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, di bangku pendidikan saja, orang-orang Indonesia lebih memilih ngobrol. Apalagi jika orang-orang Indonesia berada di halte. Sibuk ngobrol, melamun atau sms-an ya? Untuk menuju kemajuan dan kebaikan dalam rangka mewujudkan cita-cita negara seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu

mencerdaskan kehidupan bangsa, memang bukanlah jalan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua membutuhkan proses. Seperti halnya mengubah kebiasaan dan budaya masyarakat Indonesia untuk gemar membaca dan menulis. Hal itu membutuhkan proses yang tak singkat. Bagi masyarakat kita, budaya membaca dan menulis perlu dibiasakan dan diulang-ulang. Pada dasarnya jika di dalam otak kita sudah tertanam keinginan untuk melakukan sebuah gerakan perubahan menuju hal yang positif tentunya, mengapa dalam sehari kita enggan meluangkan waktu sebentar saja untuk membaca dan menulis? Toh, waktu yang kita miliki dalam sehari ada 24 jam. Saya dan Anda sudah mengetahui bahwa kesuksesan yang didapat sang penulis, Andrea Hirata begitu mengagumkan. Apakah Anda dan saya tak menginginkannya? Apakah kita tak menginginkan sebuah perubahan lebih baik yang mampu memberi pencerahan pada diri anda dan banyak orang di sekitar kita? Semua kembali lagi pada kita. Membaca dan menulis itu pada dasarnya menyasikkan. Tinggal bagaimana kita memperlakukan bahasa tulis yang ada dihadapan kita. Lalu selebihnya tinggal bagaimana kita menuangkan bahasa kita yang masih dalam bentuk konsep di otak menjadi bahasa tulis yang estetis dan komunikatif untuk dinikmati para pembaca. WALIDAH F KHIKMAH Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes

Zat Kimia Vs Racun

D

ewasa ini, pandangan masyarakat awam terhadap bahan-bahan kimia sebagai racun semakin berkembang. Apalagi ketika kita sendiri sering melihat berita-berita investigasi terhadap kelakuan para pedagang nakal yang dengan sengaja menambahkan sejumlah bahan kimia berbahaya ke dalam makanan dagangannya. Padahal bahan kimia akan menjadi racun bagi tubuh bila tertelan dalam jumlah banyak. Tak ayal pula kita sering kali mendengar ibu-ibu rumah tangga berkata kepada anaknya, “ Jangan jajan di luar, banyak bahan kimianya.” Dalam Kamus lengkap kimia, definisi racun itu sendiri adalah segala sesuatu yang merusak dan membahayakan atau suatu zat yang melalui kerja kimianya dapat melemahkan, melukai atau membunuh suatu organisme. Anggapan masyarakat bahan kimia adalah racun memang tak sepenuhnya salah. Perlu diakui deretan unsur-unsur kimia yang berjejer dalam suatu sistem periodik Unsur sebagian besar tergolong sebagai racun. Kasus kematian aktifis HAM Munir dan Tokoh dunia Napoleon

Oleh RARA PALASTRI VH Bonaparte yang diduga diracun dengan unsur Arsen adalah sepenggal buktinya. Kabar terbaru yang di langsir dalam Suara Merdeka, kamis (05/7) seorang tokoh perjuangan Palestina dan peraih Nobel, Yasser Arafat yang meninggal dunia tahun 2004 silam pun diduga diracun dengan zat radioaktif, Polonium. Arsen merupakan suatu unsur kimia yang apabila tertelan dalam tubuh manusia dapat dengan cepat mengganggu pencernaan dan menyebabkan muntah-muntah. Orang yang menelan zat ini akan meninggal dengan ekspresi terkejut. Sedang Polonium, adalah zat radioaktif yang dapat membunuh manusia secara pelan-pelan bila tertelan. Zat ini akan merusak pernapasan, perusakan lapisan pembuluh darah, kerusakan jantung, dan ginjal. Korban akan meninggal dalam kurun waktu 3-4 bulan setelah menelan polonium. Perlu diketahui pula oleh masyarakat awan, bila sayuran dan buah yang kelihatan sehat dan bergizi pun bisa jadi mengandung senyawasenyawa beracun dalam jumlah kecil. Senyawa alkaloid steroidal yang terdapat dalam kentang dan terong da-

pat mempengaruhi transmisi impuls saraf bila tertelan terlalu banyak. Senyawa nitrit dalam bayam beku pun dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Sehingga mengakibatkan muntah-muntah bahkan juga dapat menyebabkan kematian. Namun, semakin bertambahnya waktu, merubah perspektif masyarakat awam yang menganggap bahanbahan kimia sama dengan beracun perlulah dilakukan. Hal ini dikarenakan bahan-bahan kimia juga memiliki berbagai banyak manfaat. Masih banyak senyawa-senyawa kimia yang belum dimanfaatkan secara maksimal bagi kehidupan umat manusia. Bila masyarakat terus takut untuk mencoba “mendekat” dan mempelajari lebih lanjut senyawa-senyawa kimia yang ada, tentunya membuat senyawa-senyawa kimia yang ada kurang maksimal dimanfaatkan dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan manusia. Secara otomatis manusia akan semakin tertinggal. Perasaan takut masyarakat awam terhadap bahan-bahan kimia disebabkan faktor ketidaktahuan. Masyarakat kurang paham manfaat dari bahanbahan kimia itu dan kurang mengeta-

hui penggunaan bahan-bahan kimia sebagaimana mestinya. Sehingga dengan mudahnya ibu-ibu rumah tangga mengatakan formalin adalah racun karena pedagang nakal menambahkan makanandagangannya dengan formalin. Ibu rumah tangga itu tidak mengetahui manfaat lain dari formalin dan pedagang nakal tidak mengetahui pula penggunaan formalin sebagaimana mestinya. Faktor lain masyarakat “menjauh” dari bahan kimia akibat kesalahan persepsi. Masyarakat terburu-buru menilai bahan kimia adalah racun, ketika seringnya masyarakat melihat kasus-kasus keracunan. Pada kasus keracunan dimungkinkan ada faktor ketidaksengajaan dan faktor kesengajaan. Dimana pada intinya bahanbahan kimia tidak akan beracun bila kita benar dan bertanggungjawab dalam proses pemanfaatannya. Lantas, masih takutkah dengan bahan kimia? Bukankah tubuh kita juga terdiri atas zat-zat kimia?

RARA PALASTRI VH

Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia FMIPA Unnes


19

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

BUDAYA

Keblinger Budaya Santun

S

antun dalam budaya Jawa sudah melekat dan menjadi identitas. Sesiapa pun yang mendengar kata Jawa agaknya tidak lagi meragukan kesantunan dan keramahan -setidaknya dahulu. Tetapi, bagaimana jika santun dimaknai sebagai sarana untuk mencapai keinginan tertentu. Mencari posisi namun dengan kualitas dan potensi yang tergolong rendah. Sekarang ini, santun mengalami pergeseran esensi dan arah. Hakikat santun adalah menghormati orang lain baik individu maupun kelompok. Lebih dari itu, santun acap kali diterapkan kepada orang yang lebih tua, lebih tinggi derajatnya, dan pantas untuk dihormati. Selain itu kesantunan adalah bagaimana cara miraga (sikap), micara (bicara), mirama (irama/gaya), dan mirasa (rasa). Empat hal tersebut harus bisa diimplementasikan dalam satu kesatuan tindakan nyata di semua lini kepada siapa pun bukan hanya sekadar teori. Di kalangan mahasiswa, santun sudah selayaknya diterapkan kapan dan di mana saja. Tetapi, agaknya pergeseran itu telah nampak. Mahasiswa sekarang memaknai santun sebagai sikap diam sebagai pertanda setuju dan mengiyakan apa yang dikatakan dosen, misalnya. Lantas di mana daya juang agen perubahan ini?

Oleh WIDODO Bukan Hal Wajar Kecenderungan mahasiswa diam, tidak bisa dianggap sepele dan sebatas kewajaran. Ini justru masalah yang mendesak dan harus segera dicarikan jalan keluar supaya tidak menggejala dan berlarut larut sebagai identitas negatif. Sekarang, tidak sedikit mahasiswa yang ketika ke kampus hanya datang, duduk, presensi, diam, dan pulang. Datang mengikuti kuliah adalah etiket yang baik. Lebih dari itu, kategori mahasiswa yang bagus adalah bertanya, mahasiswa yang hebat adalah mendiskusikan persoalan, dan mahasiswa yang agung adalah menemukan solusi. Keharusan seorang mahasiswa bukan hanya datang saja

saat kuliah tetapi juga harus mampu bertukar ide maupun gagasan dengan orang lain untuk mencari solusi. Harus ada perubahan paradigma dalam dunia akademik yaitu diam bukan berarti emas, tapi diam adalah wujud ketidakmauan untuk ingin tahu akan sesuatu yang belum diketahuinya. Secara sikap santun bukan hanya sekadar cium tangan di manapun ketika bertemu dosen. Tetapi, bagaimana bisa mengeluarkan suatu ide dan gagasan. Santun bukan hanya menunduk dan tidak sekadar ngestokaken dhawuh atau keplok mboto rubuh pertanda setuju. Di sisi lain, tidaklah sekadar ganep tatane dan benar secara unggah-ungguh. Ada anggapan bahwa santun jika cara bicaranya benar sesuai trap-trapan bahasa khususnya

dalam bahasa Jawa. Kesantunan hendaknya pula diintegrasikan ke dalam tindakan, sehingga siapa pun akan segan dan juga menaruh rasa hormat. Pergeseran Sikap Esensi lain yang mengalami perubahan di kalangan mahasiswa dalam hal kesantunan adalah ketika dihadapkan pada masalah atau diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan. Kecenderungan untuk mencari yang gampang, instan, dan tanpa risiko lebih-lebih tidak berpikir berat, telah menjadi kebiasaan kaum muda tak terkecuali mahasiswa. Masalah yang mudah dan tidak memerlukan pemikiran ini yang menjadi ujung tumpulnya pemikiran dan tidak tajamnya ide. Dalam hal ini mahasiswa kemudian jarang berhadapan dengan berbagai macam persoalan yang sebenarnya akan menjadi bekal di kemudian hari. Terlebih lagi, kebiasaan copy-paste hampir-hampir tidak dapat terbendung. Dari sini mahasiswa terbiasa tidak jujur. Hasilnya? Longa-longo, setor jeneng setor rai.

WIDODO alumnus Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang

PUISI

Tersesat dalam Kegelapan

Melodi yang Tertinggal

Aku ingin bercerita kepadamu Sebuah kisah Sebuah kisah yang sangat menyiksaku Dalam gelapnya siang yang diracuni malam Diiringi dengan nyanyian yang penuh kesia-siaan Bersama dengan tarian yang penuh godaan

Berdebu dan bau Dentingku tak senyaring dulu Senar-senar mencuat dari tubuhku Menyembul di balik bodi kayu Yang tak selicin keningmu

Apakah ini mimpi buruk? Terdengar jeritan keputusasaan di mana-mana Kucoba melukisnya di atas kanvas Tapi kuas ini meneriakiku dengan lantang Dan rasa takut semakin kuat menyiksaku Para setan jalanan pun dengan bangga berkhotbah kepadaku Menyeretku ke dalam labirin kesesatan

Lama nian tak bergetar tubuhku Tak kau dekap dalam pangkuanmu Lama nian tak berdenting senarku Tak kau petik dengan jemari tanganmu

Di manakah diriku? Terombang-ambing dalam arus ketidakpastian Terdampar di selat kesewenang-wenangan Terikat oleh sulur-sulur kekejaman Ditemani tawa riang iblis Yang merasa bosan menikmati keindahan surge Wahai kau malaikat kegelapan Bimbinglah aku menuju hangatnya pelukan sang mentari Sampai tiba waktuku menyambut datangnya Senyum kematian Estu Winantu Untoro Aji Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2010

Thang thing thang thing Jreenngg jreenngg jreenngg Ahh, suaraku tak semanis dulu Kini hanya nada-nada sumbang Yang kerap datang, tanpa malu Ambar Kurniawati Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Kau dan Unnes

Ku bilang kau kucing Ikan ku lempar kau tak mau Ku bilang kau ikan Kail ku lepas tak kau tangkap Daging tidak Bola apalagi Ku kira kau patung Liberty Ingin mengusung “kebebasan� kelak merubah zaman Cuma senyuman boi Cuma senyuman kau tampilkan Teori dibungkam dengan kepasifan Pengemis-pengemis jalanan dipersalahkan Praktik asal ada proposal dan laporan Itu pun: asal Datang asal presensi Tugas asal jadi Baca asal nyari Wisuda asal dasi Tapi tak ada kau hadir di hari “itu� Dengan sesuatu kesungguhan, Memperdebatkan teori hingga zaman ikut berkontemplasi Kau dan Unnes: sebuah miniatur negeri Butuh revolusi Atau sudah takdir begini? Ayolah boi! Tak perlu Belanda datang Untuk beranjak lebih dari ini Arifa Amalia Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2010


20

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

BUDAYA CERPEN

Panggung OLEH JANOARY M. WIBOWO

S

ekadar ingin tahu pendapatmu. Sebenarnya untuk apa kita melakukan semua ini? Akan kukatakan padamu apa yang baru saja melintas di kepalaku. Karena dunia ini menyedihkan, penuh penderitaan. Kita melakukan semua ini karena kita tahu itu. Dan, semua orang pun tahu. Entah mereka meyakini yang mereka tahu atau sekadar tahu. Tapi, bagaimanapun juga, dunia ini menyedihkan. Itu menurutku. Bagaimana menurutmu, Merad? Tidakkah kau lihat raut kekaguman mereka ketika kau keluarkan kelinci dari topi tadi? Ketika kau bakar sapu tangan lalu seekor merpati tiba-tiba muncul dari tanganmu? Tidakkah kau lihat kekaguman mereka? Orang-orang butuh terkagum-kagum. Rutinitas sehari-hari membuat orangorang lelah. Menderita. Mereka butuh bertepuk tangan dengan lepas. Tertawa lepas. Bahkan oleh tipuan sulap kuno dan lelucon konyol seperti yang kau lakukan tadi. Tak bisa dipungkiri, semua orang butuh mimpi. Mimpi untuk sejenak keluar dari rutinitas. Dan, kitalah penjaga pintu itu, Merad. Pintu tempat orangorang yang sedih itu keluar masuk. Keluar dari rutinitas realitas yang menjemukan, dan masuk ke mimpi yang melegakan. Di panggung ini, kita menyediakan mimpi. Ya, hanya pesulap yang mampu melakukannya. Pesulap tidak mengatakan semua mimpi bisa terwujud. Pesulap menunjukkannya, tepat di depan mata mereka. Orang-orang itu terlalu sedih untuk berani mengakui kesedihannya. Namun, mereka rela membayar berapapun untuk keluar dari kesedihan itu. Hari-hari kerja yang menjemukan, masalah suami-istri yang tak kunjung rampung, waktu yang terus berjalan dan tidak sedikit pun memberi jeda. Orangorang butuh jeda. Untuk itulah, mereka datang ke bangku-bangku itu, di depan panggung ini. Menyaksikan mimpi-mimpi yang terwujud. Menikmati jeda. “Tapi, Hudi. Dari pekan ke pekan, panggung makin sepi.” “Karena mimpi itu

berlari, kawan.” “Berlari?” “Ya, berlari. Yang sudah terwujud menjadi tak menarik lagi.” “Lalu mimpi yang masih menarik itu seperti apa?” Itulah, Merad, kawanku. Tugas kita adalah menemukan mimpimimpi baru. Dan di depan mereka, kita mewujudkan semua itu. Bukankah kita dibayar untuk itu? Komitmen, Merad. Mereka telah menukar kesedihan-kesedihan mereka dengan tiket panggung ini. Komitmen, Merad. Kita mesti menghormati mereka. Menghormati hukum alam. Yang memberi akan menerima. Bukankah makanan yang kau makan barusan itu dari mereka? Kostum-kostum yang rusak itu diperbaiki dengan uang tiket? Juga sewa panggung ini. Mereka sudah memberi kita hidup, kita mesti memberi mereka mimpi yang terwujud. Di panggung ini. Dan, karena itulah, saudaraku, Merad. Kau dan aku di sini, di panggung sepi ini. Menyiapkan mimpi untuk esok hari. Tapi, mimpi apa? Adakah yang bisa kautemukan di kepalamu? “Membebaskan diri di air?” “Kau lahir kapan? Itu kuno.” “Tubuh yang dipotong?” “Masochist?” “Ah, mengapa kau mentahkan langsung?” “Karena usulanmu tak

berdasar.” “Semua orang suka bernostalgia,” “Lalu?” “Dan semua orang suka menonton darah tercecer?” “Jenius.” “Yang mana?” “Yang ‘dan’ tentunya.” “Dan?” Ya, dan. Orang-orang suka bernostalgia dan orangorang suka menonton darah tercecer. Kita gabungkan dua trik lama, dan ciptakan hal baru. Bukankah begitulah awal mula sebuah kreatifitas? Oh, Merad, tiba-tiba aku ingin menciumimu. Bukan. Bukan. Maksudku, menciumi kepalamu dan kreatifitas yang dihasilkannya. “Oh, itu dari kepalaku ya?” **** Sempurna. Peti kaca berisi air yang diputar seperti kincir. Akan memberi kesan dramatis. Air yang tidak terlalu penuh membawa kesan logis. Seperti mengatakan, pesulap sedang tidak berjuang membebaskan diri sambil melawan batas kemampuan menahan napas. Tapi melawan laju pisau yang akan segera melintas, menyayat apa yang ada di lintasannya. Bisa jadi itu tubuhku. Pada kemiringan tertentu, kepalaku akan tidak tenggelam. Aku masih bisa mengambil napas. Dan kondisi setengah badan dalam air, setengahnya lagi di luar air, akan memberikan efek patah. Tubuhku akan patah. Seperti pensil dalam gelas. Pelajaran di sekolah dasar, Merad. Ternyata kau

masih mengingatnya. Juga jalur pisau yang dipasang melintang. Itu brilian. Pisau yang menempel di rusuk bawah akan melesat melintang ke rusuk di seberangnya. Berbeda dengan trik potong tubuh lama yang membelah peti kaca menjadi dua buah kotak. Pisau diagonal ini akan membelahnya menjadi dua segitiga. Mengubah sedikit sebuah trik bisa berarti membuat trik baru. Kau memang jenius, Merad. Aku semakin ingin menciumi kepalamu. “Tapi aku belum tahu bagaimana kau akan membebaskan diri?” “Dengan keluar dari peti kaca itu hidup-hidup tentu saja,” “Bagaimana?” Biar kupikirkan. Ah, iya. Bagaimana jika tangan dan kakiku dirantai di tiap ujung peti kaca? Jadi, hanya ada dua cara aku bertahan hidup, meringkuk di bawah jalur pisau atau bergantung di atasnya. Tentu saja, meringkuk lebih mudah. Karena melepaskan rantai di tangan lebih mudah dari melepaskan rantai di kaki. Kau tahu sendiri, rekor pribadiku adalah 40 detik untuk trik itu. “Dengan peti yang diputar?” “Itu tak menambah kesulitan,” “Satu menit?” “Ya, cukup.” Dengan latihan, semua akan makin sempurna. Ya, semua akan sempurna. Sesempurna mimpi yang

terwujud. Sesempurna panggung ini mengantar orang-orang yang duduk di bangku itu, dari rutinitas dunia yang menyedihkan menuju mimpi yang melegakan. Di depan panggung kita, di bangkubangku itu, orang-orang akan merasakan kesedihan mereka terbang. Di dada mereka, hanya ada jeda. Mimpi yang terwujud. Dan lega. “Bagaimana jika kita tambahkan warna merah pada air?” “Darah?” “Menambah ketegangan pada saat pisau melesat?” “Oh, iya, membuat ragu.” “Ragu?” Keraguan itu melahirkan kekaguman. Bawa mereka sejenak pada kondisi ragu. Apakah pesulap itu masih hidup? Apakah trik ini gagal? Lalu, abakadabra, pesulap berhasil. Trik ini berhasil. Mereka terpana. Mereka kagum. Dan setelah hentakan itu membangunkan mereka dari keraguan, kepuasan akan mengguyur mereka lebih dari yang mereka harapkan. Itu semua karena darah. **** Pamflet sudah tersebar ke seluruh penjuru kota, bukan? Ah, sudah seminggu lalu ya? Itulah mengapa aku membutuhkanmu, Merad. Aku tak perlu mencemaskan hal lain di luar panggung ini. Berapa tempat duduk yang sudah dipesan? Setengah, ada? Bagus, jika begitu panggung tak akan terlalu sepi. Kita akan membebaskan banyak orang. Ya, sebentar lagi. Di balik tirai ini, kita akan menyaksikan wajah-wajah yang terbebaskan walau sejenak. Itulah tugas kita, sebentar lagi. Sekarang keluarlah, Merad. Sambutlah mereka. Sambutlah mereka yang memenuhi ruangan ini. Keluarkan trik-trik pembuka. Lalu, siapkan panggung untuk peti kaca itu. Jangan biarkan mereka terlalu lama menunggu mimpi mereka terwujud. Tugas kita terselesaikan. Keluarlah, Merad. Aku akan bersiap. “Selamat malam, Hadirin. Malam ini, akan kita saksikan apa yang telah kita tunggu, sebuah mimpi yang terwujud di depan mata. Bagi yang


21

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

BUDAYA

Membaca “Idol Industry”

D

OLEH SURAHMAT

elapan belas ribu anak muda antre dalam sebuah pemilihan idola. Mereka bertahan di bawah terik matahari, di antara lalu kendaraan bermotor. Ketika mereka dinyatakan lolos, ekspresi bahagia membuncah. Sambil menunjukan “golden ticket” mereka berujar “Ini untuk Ibu saya.” Sebuah ekspresi yang dalam dan substansial. Sementara mereka yang gagal, keluar dengan lemas, bahkan tak sedikit yang berderai air mata. Hasrat menjadi idola, pusat perhatian, dan dihargai barangkali motif paling sederhana untuk membantu kita memahami tindakan mereka. Maslow, jauh-jauh hari telah mengemukakan tesis itu, dengan menyodorkan Maslow Hierarchi. Namun, teori itu terasa belum cukup lengkap menjelaskan “kerja keras” ribuan anak muda itu. Di balik hasrat beraktualisasi ada mekanisme industri yang bekerja merepresi. Dan, bisa jadi, tidak disadari. Posisi ribuan anak muda yang berambisi menjadi idola perlu diperjelas dengan mengurai tipe relasi dengan industri di belakangnya. Pasalnya, pemilihan idola hampir selalu dikonsep sebagai materi industri hiburan. Dan, adalah watak industri untuk mengeksploitasi pihak lain dalam aneka bentuk transaksi. Ketika relasi itu melibatkan televisi, yang massal, akibat yang ditimbulkannya kemudian memiliki faktor kali. Postulat pemasaran lama, setidaknya yang dapat kita baca pada versi awal gagasan Kotler, menyebut transaksi terjadi karena ada supply dan demand. Namun belakangan terjelaskan, demand bisa diciptakan, melalui iklan. Industri menciptakan rasa ingin, membangkitkan imajinasi melalui media. Iklan kemudian digunakan sebagai juru doktrin, yang intens dan tampak bersahabat. Maka tak heran kalau Jobs, pendiri Apple, kemudian membuat postulat baru “Banyak orang tidak menyadari apa yang mereka butuhkan, sebelum anda menunjukannya.” John M. Echols mengartikan idola sebagai bintang film pujaan. Idola, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna gambar, pa-

mempunyai trauma terhadap keadaan tenggelam, silahkan meninggalkan ruangan. Sebab, yang akan anda sekalian saksikan sebentar lagi adalah yang paling mencengangkan. Dari semua adegan tenggelam, inilah yang paling membuatku cemas. Bolehkah aku meninggalkan ruangan?” “Baiklah, sebelum kecemasanku menghalangiku untuk tampil, langsung saja kita lakukan,” “Selamat menyaksikan,” Semangka itu akan menjadi bukti pisau yang melesat di dalam peti kaca

tung, atau orang yang dijadikan pujaan. Pujaan, sebagai objek material adalah sesuatu yang mengundang rasa kagum. Sederhananya, menjadi idola adalah menjadi sosok yang dikagumi orang lain. Idola, pujaan, dan kekaguman berada pada wilayah psikologis. Maka, dengan simplifikasi, hasrat menjadi idola adalah hasrat memenuhi kebutuhan psikologis. Namun, ketika idola dikemas d a l a m industri hiburan, i m p likasinya melebar p a d a urusan ekonomi. Keyakinan ini tertanam melalui proses observasi bahwa sebagian besar orang yang menjadi idola (di industri hiburan) menjadi kaya. Citra yang dibangun industri hiburan adalah proposal yang ditawarkan pada segenap pemirsa. Proposal yang ditawarkan melalui iklan dan sinetron. Tawaran menjadi terkenal dan sekaligus kaya tentu saja menggiurkan. Karena itu, belasan ribu anak muda meyakinkan diri layak menjadi idola. Kemudian, mereka menganggap kesusahan yang menyertai pencapaiannya sebagai jalan perjuangan. Demikian agresifkah iklan dan sinetron memainkan persepsi khalayak? Budiman (2001) mengemukakan, menyaksikan televisi bukan semata mengarahkan pandangan pada layar. Jauh dalam dari itu, penonton memberi inteprestasi tayangan yang disaksikannya kemudian mengonstruksi situasi pada tayangannya sebagai situasi baru dalam hidupnya. Oleh karena itu, menyaksikan televisi sejatinya juga praktik konsumsi. Dalam diam, para penonton tengah bertransaski nilai dengan para pengiklan dan pengelola televisi.

itu asli. Ya, peti kaca yang nanti akan diisi air dan aku berusaha membebaskan diri di dalamnya. Setelah aku membebaskan diri, kalian akan terbebaskan. Ya, satu menit setelah aku masuk ke dalam peti kaca itu, kalian akan terbebaskan. Selamat terbebaskan, walau sejenak. Craakkk!! Pisau sudah melintas cepat di jalurnya, air dalam peti kaca yang berputar sekejap berwarna merah. Darahku? Kalian tak akan tahu. Yang kalian tahu, kalian terpana. Kalian bertanya-tanya. Kalian ragu. Kalian ketakutan mimpi

Pengaruh televisi menjadi semakin kuat karena apa pun yang ditampilkannya selalu berefek performatif. Setiap tuturan tidak semata-mata menyatakan sesuatu (to say things) melinkan juga secara aktif dan simultan menyatakan sesuatu (to do things). Jika muncul slogan “cantik itu kulit mulus bebas bulu” pada iklan pemulus kulit, iklan sebenarnya meminta pemirsa untuk membeli produk tersebut.

Kondisi semacam itu tidak hanya terjadi pada iklan, yang secara terangterangan memiliki hasrat ekonomi, tetapi pada tayangan-tayangan lain seperti sinetron dan berita. Sinetron yang menampakan perempuan berpakaian mewah, tubuh langsing, dan menerima penghargaan dari lingkungannya juga menggerakan penonton untuk meniru. Atau acara masak-memasak, misalnya, yang mempertontonkan dapur indah, berhias keramik, dengan perlengkapan mahal, juga telah melahirkan demonstration effect pada penonton. Ilusi Panggung Panggung adalah ilusi. Di sanalah segenap angan dan ambisi digantungkan. Ilusi diciptakan industri untuk memelihara hasrat mengonsumsi. Dalam relasi “idol” peserta pemilihan idola sebenarnya adalah konsumen pemikiran. Mereka mengonsumsi nilai yang ditawarkan industri hiburan melalui iklan, sinetron, film, dan tayangan infotainment. Sugesti bertubi-tubi ternyata mendapat tempat di tengah komunitas yang mempercayai keajaiban. Mitos “gadis biasa dipersunting

kalian tak terwujud. Apakah pisau tadi mengirisku? Apakah aku masih hidup? Air merah itu akan dikeluarkan dari lubang di bawah peti kaca. Pelanpelan. Sangat pelan hingga kalian bisa merasakan detak di dada kalian semakin cepat. Ya, pelan-pelan kalian akan melihat aku meringkuk di bawah jalur pisau, melepaskan rantai di kakiku. Plok..plok..plok… Tepuk tanganlah karena kalian bebas. Bukankah terbebaskan dari yang bukan penjara itu sangat melegakan? Sangat. Ya, sangat.

pengeran” bersemayam dalam ingatan kolektif masyarakat. Menjadi sejahtera tak harus dilakukan dengan kerja keras dan menabung. Selain jalan linear itu, menjadi idola adalah cara yang lebih pintas. Kondisi mental demikian juga dipengaruhi kondisi sosial ekonomi. Jalan pintas kerap menjadi pilihan dalam lingkungan sosial yang tak menghargai proses. Kerja keras, bagian tak terpisahkan proses, tak menjamin tujuan tercapai. Pada saat yang sama kemiskinan personal dan sosial tak menawarkan banyak jalan supaya seseorang bisa hidup sejahtera. Maka, spekulasi dengan memanfaatkan jalur mobilisasi tak terhindarkan. Menjadi idola adalah kesempatan langka. Dengan konteks yang berbeda, kompetisi menjadi idola pernah dikisahkan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dhukuh Paruk. Srinthil bocah belasan tahun mendadak terkenal setelah ditasbihkan menjadi the next ronggeng di Dukuh Paruk karena pesonanya. Kehidupannya pun berubah drastis dari anak yang biasa bermain di kebun menjadi idola yang menari di panggung besar. Ia menghidupkan kembali suasana dukuh yang hampir mati menjadi begitu bergairah. Dalam kondisi seperti ini eksploitasi sosial ekonomi terhadap “keidolaan” tak terhindarkan. Seorang laki-laki dewasa di Dhukuh Paruk misalnya, merasa bangga jika mampu ngibing bersama Srinthil. Tentu saja dengan terlebih dulu memberi sawer. Bahkan pada itu, keperawanan sang idola dilelang. Laki-laki mana pun, asal membawa banyak uang, bisa “memetik” mahkota sang idola. Bisnis pertunjukan berkembang pesat kini. Jika Srinthil menjadi idola dengan tampil dari panggung ke panggung, “idola” menyasar jutaan pasang mata. Uang, motif paling purba pelaku industri, yang berputar pun miliaran. Meski dalam rupa yang tak sama, eksploitasi terhadap idola tentu bakal terjadi.

SURAHMAT

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes, pemimpin redaksi PortalSemarang.Com

“Terima kasih,” Tangan kananku melintang, memegangi dada kiri. Aku yang basah membungkuk memberi hormat. Di tengah panggung. Di sayap kanan. Juga di sayap kiri. “Terima kasih, sekali lagi. Dan selamat malam.” Selamat terbebaskan, wahai kalian. Ya, tepuk tanganlah. Bersoraklah. Iringi perjalananku ke belakang panggung dan tirai yang turun dengan tepuk tangan dan sorak sorai. Ya, terbebaskanlah. Nikmati selagi bisa, sebelum kalian kembali ke dunia yang

menyedihkan. Merad, kini kau mengerti bagaimana menyedihkannya dunia. Bagaimana besar tugas kita di dunia ini. Merad, jika kau melihat tatapan mereka tadi, seharusnya kau mengerti. Peluklah aku, Merad. Aku berhasil menjalankan tugasku. Kita berhasil. “Dadamu berdarah, Hudi?” “Hanya bekas air tadi.” “Itu darah?” “Siapa peduli?” Kurasakan kedua lututku menghantam lantai. Februari 2011


22

KOMUNITAS

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Go Blog, Hobi yang Menghasilkan! dengan sebuah link atau alamat akun sebuah situs yang diberikan oleh temannya. “Dalam alamat tersebut saya menemukan sebuah laman yang berisikan mengenai ajakan menjadi blogger, sebutan untuk pemilik web personal untuk turut mempopulerkan kota Semarang melalui media blog,” ungkap lajang yang saat itu mengenakan baju merah bertuliskan Ayo go Blog,! saat di temui di sebuah kafe di bilangan Pamularsih (15/6). Pada awalnya blog adalah sebuah situs pribadi yang dapat dibuat oleh seorang yang awam sekalipun terhadap internet. Blog digunakan untuk menuliskan hal-hal pribadi yang lazim dituliskan menggunakan buku catatan harian. Bedanya catatan tersebut diunggah ke internet. Sehingga blog lazim disebut sebagai diary online. Menurut lajang dua puluh tahun tersebut, saat itu ketertariakannya mengikuti komunitas semacam ini tidak begitu tinggi. Karena dulu, dia pernah ditawari teman link seperti itu, tapi ternyata spam (sampahred). “Dulu awalnya saya hanya ingin menaikkan jumlah pengunjung blog saya, tapi setelah lama-kelamaan tertarik juga

B

anyak cara dilakukan oleh seseorang untuk membuat bangga dan mempopulerkan kotanya. Salah satunya dengan menggunakan blog, seperti komunitas NetBlog. Sebuah komunitas yang beranggotakan sebanyak tujuh puluh lima orang blogger aktif dan seratus lima puluh lima blogger nonaktif yang mayoritas anggotanya berusia 18-25 tahun. Komunitas ini telah berdiri selama dua tahun di Kota Semarang. Menurut Surya Permana Putra salah satu anggota NetBlog yang telah setahun terakhir bergabung dengan komunitas ini, pada awalnya dia tertarik

Kumpul Bareng di Cafe

apalagi waktu ikut kopdarnya (kopi darat). Ternyata anaknya asyik-asyik tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya,” ungkapnya lebih lanjut. Surya panggilan akrabnya, yang sudah aktif di dunia blog sejak bangku SMA ini mengaku semakin tertarik bergabung setelah mengetahui bahwa setiap blogger harus mengunggulkan kota Semarang. “Waktu itu, ada simpulan bahwa sebagai blogger yang tidak mengenal batas wilayah, kami harus mempromosikan kota Semarang melalui blog yang kita miliki. Dengan tujuan agar Semarang menjadi salah satu kota tujuan wisata di Jawa Tengah,” ujarnya sambil

Anggota NetBlog

meminum kopi espresso “Sebagai warga asli kota Semarang, saya memiliki kewajiban untuk membantu mengenalkan potensi kota saya. Ya semacam balas budi terhadap kota sendiri, masak yang dikenal dari Semarang selama ini hanya Lawang Sewu dan banjirnya saja,” tuturnya lebih lanjut. Dia juga menjelaskan bahwa NetBlog adalah kumpulan dari blogger-blogger yang mulanya aktif di milis yang dibuat dan saling menukar link alamat laman sebuah situs untuk mempromosikan laman yang dikelola. Setelah diadakan pertemuan di Starbuck Paragon Mall yang dihadiri lima belas dari tujuh puluh anggota yang saat itu terdaftar di milis mereka, dihasilkan sebuah rencana jangka pendek yang akan digarap selama dua tahun mendatang. Rencana mereka antara lain mempopulerkan virus blogging dan mengajak pendidik dan pemuda di Semarang untuk aktif mengelola sebuah blog. Selain mempopulerkan virus blogging, komunitas ini juga aktif dalam mempromosikan potensi-potensi yang ada di kota Semarang. Acara-acara untuk mempopulerkan komunitas ini sering digelar, antara lain jalan-jalan keliling Kota Lama serta aktif menjadi pembimbing ekstrakurikuler di SMP-SMA di Kota Semarang. Dalam setiap pertemuan, komunitas mengagendakan di sebuah kafe di bilangan Pamularsih yang juga milik salah satu anggota komunitas ini setiap Jumat malam. Usaha Sampingan Menurut Surya, dalam bermain blog, blogger juga mendapat tambahan penghasilan dalam bentuk dollar atau pun rupiah. ”Jika ditekuni lebih lanjut dan serius, ngeblog dapat menjadi usaha sampingan yang hasilnya menggiurkan,” ujarnya. Penghasilan yang didapat bersumber dari iklan yang dipasang di sebuah blog. Untuk menentukan sedikit banyaknya

iklan yang bisa diperoleh, seorang blogger harus pandai menarik pengguna internet ke laman yang dimiliki. “Ya, semakin tinggi peringkat kita di mesin pencari nanti iklan datang sendiri. Awalnya kita harus nombok dulu untuk membeli domain atau pun untuk tetek bengeknya seperti biaya modem dan sebagainya. Tetapi nanti jika iklan sudah banyak, biaya-biaya tersebut sudah kembali dengan sendirinya. Bahkan teman-teman di komunitas sudah ada yang memiliki penghasilan sendiri sekitar 2-3 juta/ bulan hanya dari satu blog saja. Coba bayangkan sendiri jika dia memiliki empat blog dan setiap blog menghasilkan dua juta, delapan juta setiap bulan ditangan hanya duduk-duduk saja,” jelasnya. Lebih lanjut dia mengungkapkan, lama atau tidaknya suatu blog menghasilkan uang, bergantung dari si pengelola blog sendiri. Namun, rata-rata 6-12 bulan jika ditekuni dengan serius maka sudah mulai menghasilkan keuntungan walaupun keuntungan yang didapat belum terlalu banyak dan menutupi biaya yang dikeluarkan. “Intinya kita harus seringsering posting di blog minimal enam posting-an. Semakin banyak jumlah posting-an kita, maka semakin banyak pula jumlah pengunjung yang didapat dan berimbas pada iklan,” tuturnya. Untuk mem-posting, blogger juga harus memperhatikan etika yang ada. “Di NetBlog, jika ada anggota yang ketahuan mengopi dari anggota yang lain tanpa mencantumkan sumbernya maka posting-an tersebut kita suspend untuk diunggah. Tujuannya untuk menghormati Hak Atas Kekayaan Intelektual dan tidak asal copas. Kita juga menggerakan teman-teman blogger yang lain untuk berinternet yang sehat dengan tidak mengunggah konten-konten yang berbau pornografi dan pornoaksi,” tuturnya menutup pembicaraan. Ellectra A.A.


NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

RESENSI

23

BUKU

The Last Lecture

D

iceritakan dalam buku ini, bahwa Randy Pausch adalah seorang profesor ilmu komputer di Carnegie Mellon. Lantas, apa hebatnya Randy? Randy divonis terkena kanker pankreas. Dokter bahkan mengatakan kalau waktunya mungkin hanya tinggal hitungan bulan. Adalah sebuah kebiasaan di Carnegie Mellon bagi para profesornya menyampaikan kuliah terakhir mereka. Kali ini giliran Randy. Saat kuliah terakhir, para peserta kuliah diajak untuk memikirkan pertanyaan yang sama, yaitu “kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?” Kuliah terakhir yang disampaikan Randy tidak bicara tentang kematian, sebaliknya justru tentang kehidupan dan harapan, tentang MIMPI MASA KECIL. What is your childhood dream? then, make it real... Kuliah terakhir Randy berjudul

Judul Buku Pengarang Harga Penerbit

: The Last Lecture : Randy Pausch : Rp. 59.900,: Ufuk Press

“Really Achieving Your Childhood Dream” . Inilah yang kemudian mengubah seluruh sisi kehidupannya dan memberi dampak positif terhadap hadirin yang mendengarkannya. Lalu apa sebenarnya isi kuliahnya? Randy menceritakan apa saja mimpimimpi masa kecilnya, mulai dari mendapatkan boneka beruang paling besar di pasar malam, menjadi salah satu designer animasi walt disney (walt disney imagineering), merasakan berada di ruang hampa, menulis artikel untuk World Encyclopedia, bermain untuk NFL (National Football League), dan menjadi Captain Kirk dalam film Star Trek. Hebatnya, hampir semua mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan dengan keunikan

caranya masing-masing. Bagi sebagian orang, mungkin mimpi-mimpi itu hanyalah mimpi “kecil”. Tapi kemudian justru mimpi-mimpi itulah yang mengubah kehidupan Randy, menjadikannya manusia yang berbeda. Bagaimana ia berusaha untuk membantu setiap orang yang dikenalnya (minimal adalah para mahasiswanya) untuk dapat merealisasikan mimpi-mimpi masa kecil mereka, serta bagaimana kita dapat memaknai hidup bila kita tahu kalau kita hanya punya sedikit kesempatan, dan kesempatan itu akan segera habis. “If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.” Itulah salah satu pesan dari Randy, dan itulah keyakinan yang terus menuntun Randy hingga akhir

hidupnya. Melalui rekaman kuliah terakhir tersebut, Randy ingin mengajarkan pada anak-anaknya, “how to live this life through achieving your childhood dreams” sebagai suatu bentuk pelajaran tentang kehidupan. Randy memberikan kuliah terakhirnya pada 18 September, 2007. Dan Jumat, 25 July 2008 yang lalu, Prof. Randy Pausch, akhirnya dikalahan oleh penyakitnya. Tetapi, Randy telah meninggalkan warisan yang besar, bukan hanya untuk anak-anaknya tetapi juga untuk semua orang yang mengenalnya (meski hanya melalui buku dan rekaman kuliah terakhirnya), tentang bagaimana memaknai hidup dan kehidupan, bagaimana membuat mimpi menjadi nyata, dan pelajaran tentang harapan. “Brickwalls are there for a reason. They give us a chance to show how badly we want something. Only those who want it so badly can scale that brickwall., …Experience is what you get when you didn’t get what you wanted” (Randy Pausch, 2007). Rimastari (Dari berbagai sumber)

FILM

Berpacu untuk (tidak) Mati

W

aktu menjadi sangat berharga. Saking berharga, mereka tak sempat bertanya kenapa mereka dilahirkan. Secara genetik setiap orang dalam film ini berusia 25 tahun. Setelah mencapai usia 25 tahun orang-orang harus bejuang untuk sekadar medapatkan hidup. Mereka bekerja untuk mendapat usia. Sisa usia menjadi patokan harga. Uang hilang. Siapapun jika mau makan, harus bayar dengan usia. Usia telah menjadi menjadi mata uang. Orang-orang bekerja untuk mendapatkan usia dan membayar ketika mecukupi kebutuhan. Propaganda yang ingin dimunculkan adalah bahwa usia begitu mahal. Konspirasi mencuat setelah Henry Hamilton mewariskan waktu yang ia miliki kepada Will Salas yang diperankan oleh Justin Timberlake. Henry yang telah hidup 106 tahun dan masih memiliki sisa usia seabad, memilih mewariskan usianya. Berbeda dengan yang lain, bahwa mereka mati-matian untuk mencari usia. Tapi Henry menyiakan. Katanya setiap manusia butuh mati. Dia sudah begitu lelah karena telah hidup bertahun-tahun. Will tokoh utama dalam film ini memahami bahwa usia sangat berharga. Dalam beberapa tahun ia harus berjuang untuk hidup. Setelah mendapat warisan waktu dari Henry, ia sebenarnya ingin merayakan dengan Ibunya. Namun belum sempat merayakan, Ibunya lebih dulu meninggal. Ibunya meninggal di pangkuan Will setelah berlarikarena tak cukup membayar tarif bus.

Judul Film Sutradara Pemain Rilis

: In Time : Andrew Niccol : Amanda Seyfried, Justin Timberlake, Cillian Murphy : 28 Oktober 2011

Jika tarif bus tidak naik mungkin mereka masih bisa bertemu. Takdir berkehendak lain. Will terus berjalan, ia memutuskan untuk meninggalkan Ghetto menuju Greenwich, sebuah zona lain bagi mereka yang memiliki usia panjang. Dari sinilah Will mengetahui ada kapitalis usia. Di Ghetto orang mati di pinggir aln sudah biasa, di Greenwich setiap orang menjalani hidup lebih santai.

Ketika tiba di Greenwich Will diperhatikan oleh Sylvia Weis anak dari Philippe Weis. Philippe Weis adalah konglomerat pemilik Bank yang memberikan layanan peminjaman usia. Kepergian Will ke Greenwich tidak berjalan mulus. Ia dituduh oleh Penjaga Waktu telah mencuri waktu dari Henry Hamilton. Walau Will telah menjelaskan kenyataan bahwa Henry memang menginginkan mati dan mewariskan umurnya pada Will, Penjaga Waktu tidak percaya.

Will melarikan diri dengan menculik Sylvia menuju Ghetto. Dengan sisa usia yang tak mencapai satu hari, karena usia Sylvia dicuri Genk di Ghetto, mereka melanjutkan hidup. Dari sini pengalaman dari seorang Will terlihat ketika mereka terjebak dalam suatu situasi dimana mereka berdua akan mati. Will dengan cekatan mampu mencari jalan keluar dari apa yang mereka alami. Sylvia terlihat ketakutan, karena itu merupakan pengalaman pertama jika ia hampir meninggal. Sylvia yang memang jarang mendapati umurnya tinggal satu hari terlihat khawatir. Will berhasil meyakinkan Sylvia bahwa banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu satu hari. Romantisme muncul dari film ini ketika Sylvia memilih mengikuti apa yang dilakukan Will. Mereka merampok deposit usia satu miliar tahu yang disimpan Ayah Sylvia. Lalu memberikannya kepada orang lain. Bagi Sylvia, keinginan untuk melakukan hal bodoh yang pernah diucapkan ketika pertama meilhat Will menjadi kenyataan. Namun ia tak kecewa dengan apa yang ia lakukan. Hidup

tanpa melakukan kesalahan berarti tidak pernah mencoba apapun sama sekali. Dalam film ini setiap hal dikemas secara menarik. Namun ketergesaan terasa sangat peka dalam perjalanan film ini. Pesan-pesan yang dimunculkan juga masih sulit ditangkap. Misalnya soal sistem yang dirancang dalam pelaksanaan sebuah wilayah dan proses keadilan. Bisa jadi ini juga menjadi kritik yang ingin dimunculkan dalam film ini, bahwa sistem peradilan memang masih sulit untuk diterapkan karena kita berhadapan dengan berbagai keinginan dan kebutuhan hidup dari berbagai individu. Justin Timberlake dan Amanda Seyfried memerankan karakter mereka dengan baik. Wajah Justin yang serius menjadikan karakter Will memang benar-benar orang yang terlahir dari daerah Ghetto. Daerah dimana pencurian, perampokan dan pencarian terhadap waktu getol dilakukan. Sementara Sylvia, memahami hidupnya dengan kebahagiaan dan hanya sekadar menjalaninya saja. Yang menarik dari film ini sebenarnya dekonstruksi konsep uang. Orang-orang saat ini mati-matian mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan-atau sekadar melayani hasrat memiliki. bagaimana jika uang itu diganti usia. Uang hilang. Usia menjadi alat tukar. Mau makan, bayar dengan usiamu. Mau minum bayar dengan usiamu. Jika kau punya usia 1 jam dan harga bir 30 menit, relakah kau membelinya lalu mabuk selama 30 menit lalu mati? Aditya Rustama


24

PROFIL Ukir Prestasi di Kampus Konservasi

U

KM Penelitian, mungkin di kalangan mahasiswa umum kurang begitu popular. Namun siapa sangka, ternyata UKM ini berhasil meraih penghargaan UKM Penelitian terbaik ke-2 tingkat nasional yang diberikan oleh MITI (Masyarakat Ilmuwan Tingkat Indonesia). Mahasiswa asal Cilacap ini pernah menjuarai Olimpiade Sains Nasional MIPA Ditjen DIKTI Bidang

RILEKS

K

ebetulan malam ini saya mau menyempatkan diri untuk membuka komputer Redaksi. Di saat teman-teman pulang kampung, sekadar menghabiskan long weekend di pertengahan Mei. Kebetulan juga saya telah rampung membaca sebuah buku. Nanti akan saya ceritakan buku itu di rubrik ini. Bisa jadi kebetulan juga saya diberi mandat untuk menulis dan akan diterbitkan oleh taboid ini. Wah sepertinya terlalu banyak kebetulan yang saya alami. Tapi memang benar bahwa yang saya alami hanyalah soal kebetulan. Entah ini yang dinamankan takdir atau nasib, saya tidak ingin membahasnya lebih jauh. Karena apa yang saya alami hari ini adalah karunia terindah, dan saya cukup mampu bersyukur. Tunggu dulu, bukan berarti saya memilih bercerita soal “kebetulan” yang saya alami karena kebetulan. Ini sudah saya rencanakan. Rencananya simpel. Kejaran deadline kian mengekang. Mungkin terlalu banyak tanggung jawab. Suatu ketika saya galau karena tanggung jawab. Kita semua mungkin mengalami. Pepatah klasik menceritakan bahwa seorang tanpa keinginan, berarti ia telah mati. Ada benarnya juga. Tapi, bukan berarti lepas dari kesalahan. Nah tanggung jawab itu saya anggap sebagai sebuah keingi-

Kimia di UNS Surakarta tahun 2010, Olimpiade Sains Nasional Bidang Kimia PT. Pertamina di Universitas Diponegoro tahun 2011. Mahasiswa berprestasi II tingkat Jurusan Kimia FMIPA 2011 ini juga berhasil mendapat penghargaan The Best Paper Indonesia Model United Nations 2010 di Universitas Indonesia, Depok dan The Best Paper NTU Model United Nations 2011 di Nanyang Technological University, Singapura. Tak hanya itu, kecintaannya dalam penelitian juga mengantarkan dirinya meraih juara II ICP terbaik Ekspedisi Ilmiah Mahasiswa Unnes-IKIP PGRI Semarang 2011. Banyak meraih prestasi akademik bukan berarti Kustomo tak aktif di organisasi. Selain menjadi ketua UKM P, ia juga aktif di Rohis jurusan Kimia, UKM EDS (English Debating Society), MSF (Moslem Scientific Forum, dan ILP2MI (Ikatan Lembaga Penelitian dan Penalaran Mahasiswa Indonesia). Mahasiswa kelahiran 1988 ini mengaku semua prestasi yang ia raih tak lain adalah buah kerja kerasnya dan doa orang tua untuk tetap tegar dan sabar dalam menjalani hidup. Septi Indrawati

NuansA Edisi 131 TH XXIV/ 2012

Terinspirasi Rumah Eyang

S

uasana pedesaan yang belum tertata semakin membuat Ari berimajinasi untuk merubahnya. Dari pengalaman melihat rumah Eyang di Demak, Ari beranggapan untuk merubah konsep rumah yang ada di desa, dimana rumah di desa segala hal dilakukan dalam satu konsep ruangan. “Dapur, kandang ayam dan tempat makan jadi satu,” katanya tersenyum, seperti mengupas memorabilia masa kecil. Dari pengalamannya itu muncul pertanyaan, kenapa rumah tidak dibuat lebih teratur dengan membuat ruang-ruang berbeda sesuai fungsinya. Itulah yang membawa perempuan kelahiran Semarang, 12 April 1979 yang sejak SD hingga SMA tinggal di Jakarta ini untuk memilih berkonsentrasi di bidang Arsitektur rumah. Lulusan S1 Arsitek dan S2 Perencanaan Penegmbangan Wilayah Universitas Diponegoro Semarang tersebut telah membuat buku popular berjudul, Membangun Rumah Sehat Hemat Energi. Dalam bukunya, Ari menjelaskan mengenai konsep rumah hijau. Dia menyebutkan bahwa sekarang ini banyak konsep rumah “hijau” (ramah lingkungan) yang telah banyak digagas. Hanya saja, “hijau” yang diterapkan tidak benar-benar efisien. Perempuan yang memiliki senyum manis ini tengah menempuh kuliah Doktor di Karlsruhe Institut for Technologies Jerman. Dosen aktif di Universitas Negeri Semarang ini mengatakan bahwa rumah “hijau” adalah salah satu upaya untuk menjaga bumi. “Selain kenyamanan yang bisa dinimati penghuni, kita juga dapat membantu penanggulangan global warming,” jelas penyuka batik ini. Aditya Rustama

Kebetulan

nan. Keinginan untuk segera menyelesaikannya. Dan akan selalu ada tanggung jawab baru. Untuk diselesaikan. Seperti yang saya janjikan, saya akan bercerita soal buku yang telah selesai saya baca. Ini juga tanggung jawab. Awalnya saya tak suka baca buku. Menulis pun juga tidak. Tapi entah kenapa saya bisa menulis tulisan ini. Saya mencoba meruntutnya. Ternyata semua berawal dari keinginan. Keinginan untuk menjadi fotografer di media kampus. Lah bukan menjadi fotografer, saya malah dimandati untuk jadi redaktur. Jabatan yang yahud bagi orang yang menginginkan karir. Saya mengiyakan. Tentu tidak dengan bangga, tapi ketakutan. Ketakutan sering menghantui, jika saya diberi mandat yang besar. Bukan berarti menyerah. Itu sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki diri. Soal pengetahuan, kemampuan atau tindakan. Dari ketkutan itu saya mencoba mencari tahu, kenapa saya takut. Saya mulai bertanya kepada senior. Kenapa saya yang dipilih jadi redaktur. Saya tidak menginginkannya. Beberapa senior bilang ke saya, karena kamu mampu. Mampu dari mana, pikir saya. Sejak SD sampai SMA saya tak suka berorganisasi. Terlalu sistematis. Berbelit-belit. Sampai sembelit. Wah, penghinaan ini. Lhawong saya saja liat kasus korupsi di tivi-tivi pernah muntah. Bahkan

sampai memboikot televisi, ndak mau nonton. Mending kluyuran mendaki gunung, naik Vespa dan mencari petuah soal hidup. Dan tetap sosialis. Nah ini, saya malah disuruh jadi redaktur. Jabatan yang lebih tinggi dari reporter. Yang mengurusi korupsi, berhubungan dengan sistem dan harus cerdas. Tapi okelah, toh manusia memang dianjurkan untuk selalu belajar. Dan mandat ini adalah proses belajar sekaligus pencerahan. Supaya bisa tahu tentang keinginan masyarakat, kinerja pejabat dan sistem yang bermartabat. Kira-kira waktu itu ada jeda satu bulan sebelum benar-benar menjadi real redaktur. Galau semakin mendominasi. Apakah saya mampu, apakah saya mampu? Pertanyaan galau itu selalu menghantui. Ternyata galau ada manfaatnya. Dari galau saya bisa me ngukur kemampuan, pengetahuan bahkan kualitas hidup. Tiba-tiba dari galau, kebetulan, saya mendapat wasiat. Saya harus belajar dan segera bertindak. Saya mulai dari meminjam buku di perpus. Lima sekaligus. Hampir tiap minggu. Awalnya sangat membingungkan. Mata lelah. Pikiran juga tak kunjung nyantol dengan istilah. Kebiasaan ini berjalan satu bulan. Semuanya ndak saya baca. Sebisanya. Yang penting ada kemauan datang dan meminjam.

Malah saat ini, saya punya hobi baru. Beli buku di pameran. Pilihan saya jatuh pada yang murah dan berkualitas. Biar koleksinya nambah banyak. Eits, bukan buku ”Mantra mujarab menjadi kaya, dan suami yang sukses” lho. Bagi saya, itu buku menyesatkan. Sepertinya saya terlalu panjang bercerita, barangkali, kebetulan Anda juga berpikir demikian. Begini, memang itulah proses kebetulan yang saya alami secara sadar. Oke, saya mulai untuk bercerita soal buku yang telah saya baca. Buku itu -bagi saya bagus, seru banget. Maklum, komentar seorang yang baru saja kenal dengan penulis melalui buku. Namanya Bre Redena. Siapa Bre Redena? Wah saya tak bisa bercerita panjang. Karena saya juga masih ingin tahu siapa dia. Kebetulan rubrik ini tidak mengijinkan saya bercerita terlalu banyak. Kebetulan juga Anda baca rubrik ini. Ibaratkan dari seluruh mahasiswa atau dosen, hanya sebagian yang mendapatkan tabloid yang Anda pegang. Kini tinggal Anda mau memanfaatkan kebetulan ini atau tidak. Untuk belajar. Entah mencari tahu Bre Redena, Tabloid Nuansa atau apa bahkan siapa saja. Ini bukan soal saya yang –kebetulan- memulai bercerita. Tapi Anda mau melanjutkan cerita atau tidak. Jika rumit melanjutkan cerita, hati-hati ketika Anda di warung kopi. Terlalu banyak cerita disana. Salam.[] Aditya Rustama

Nuansa 131  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you