Page 1

Kehidupan Bermasyarakat dalam Ruang Publik Kampung Kota Studi Kasus: Kampung Dadapsari, Sangkrah. Surakarta Tiara Annya, Leny Indah Sari, dan Dr. Eng. Kusumaningdyah NH., S.T., M.T1 Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta, uns.ac.id

Corresponding author: Tiara Annya (annya.tiara@student.uns.ac.id), Leny Indah Sari (lenyindah@student.uns.ac.id), Dr. Eng. Kusumaningdyah NH., S.T., M.T (kusumaningdyah.nh@staff.uns.ac.id) ABSTRAK Permukiman kota yang biasa disebut dengan kampung kota saat ini menjadi produk pembangunan yang termarginalisasikan. Dianggap kumuh, tidak sehat, tempat bagi orang-orang miskin dan berpendidikan rendah. Bagoes P. Wiryomantono memberikan arti yang lebih tepat bagi kampung kota yakni permukiman yang tumbuh di kawasan urban tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Padahal, eratnya ikatan kekeluargaan dan kentalnya lokalitas budaya merupakan aset yang masih dipertahankan oleh kampung dalam tatanan lingkungan sosial khas Indonesia. Keterbatasan lahan pada kampung kota, membuat masyarakat dituntut untuk kreatif menciptakan ruang publik untuk mereka dengan memanfaatkan ruang untuk saling berinteraksi. Ruang publik merupakan wadah aktivitas bersama yang dapat dilakukan secara fleksibel dan menjadi salah satu sarana yang berpengaruh dalam meningkatkan kehidupan sosial masyarakatnya. Oleh karenanya, penelitian mengenai karakteristik ruang publik kampung kota penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan pemetaan di lapangan bersama warga, melakukan FGD untuk mencari permasalahan disetiap titik ruang publik dan survey lapangan untuk verifikasi data. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan tipologi ruang publik kampung kota yang memiliki keberagaman dan menciptakan keunikan dalam menyesuaikan kebutuhan masyarakatnya. Analisis dalam menemukan karakteristik ruang publik kampung kota dan pola penggunaannya oleh masyarakat dilakukan untuk menggali potensi masyarakatnya. Dalam penelitian ini, ditemukan fleksibilitas penggunaan ruang, keberagaman aktor, dan keterkaitan antar ruang dalam beraktivitas. Keberhasilan dalam menstimulasi masyarakat untuk mendesain bersama dalam merancang ruang publik merupakan hasil dari penelitian ini.

Kata Kunci: ruang publik, kampung kota, fleksibilitas ruang. ABSTRACT Urban settlements commonly known as Kampung Kota is currently marginalized. Considered as slum area, unhealthy, place for the poor and them with low education. Bagoes P. Wiryomantono give a more precise meaning for kampong kota, a settlement that arises in urban area without infrastructure planning and economic network of the city. In fact, the strong bonds of its people and the strong of cultural locality is the asset that is a traditional type of environmental order in Indonesia. It includes public space has a specific spatial character. Because of their limited land, the people should be creative to create a public space for them to exploit any space that could be used as a public space to interact. Public space is a place for joint activities that can be done flexibly and became one of the place of social influence in improving the lives of its people. Given the creativity, there are the kinds of characteristics of public space in the hometown. The data collection is done by mapping the field with the people, do the FGD to find out the problems at every point of public space and survey the field to verify the data. The analysis in finding the characteristics of public space of kampung kota and the pattern of utilize by the people is made to explore the potential of its people. Creating a design framework is the result of the analysis conducted with the people to build and develop the public spaces. This study aims to document the public space of kampung kota typology that has diversity and create uniqueness in adjusting the needs of the people who have a good value of social life.

Keyword: public space, kampung kota, flexibility of space.


1. PENDAHULUAN Kampung kota memiliki berbagai macam pengertian, kebanyakan orang menganggap kampung adalah tempat yang kumuh, padat, miskin dan orangorangnya berpendidikan rendah. Bagoes P. Wiryomartono (1995) mengartikan Kampung kota sebagai permukiman yang tumbuh di kawasan urban tanpa perencanaan infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. Tingginya tingkat urbanisasi menyebabkan berkurangnya lahan untuk bermukim yang berdampak pada tingginya densitas pemukiman kampung kota. Ketersediaan ruang publik sebagai sarana sosialisasi masyarakat semakin terancam karena adanya komersialisasi ruang yang akhirnya menyudutkan kampung [2]. Padahal ruang publik adalah sarana yang dapat digunakan oleh siapapun dalam berinteraksi maupun merelaksasi diri. Ruang untuk saling guyub rukun, menciptakan kebersamaan dan kesetiakawanan. Sunarto (2008) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Sosiologi, Ferdinand Tonnies mengungkapkan bahwa paguyuban merupakan suatu kelompok sosial yang memiliki bentuk kegiatan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta relatif langgeng. Salah satu konsep yang menjadikan masyarakat guyub rukun adalah konsep gotongroyong yang semakin berkembangnya zaman, konsep ini semakin memudar. Melakukan sesuatu dengan cara yang praktis menjadikan masyarakat semakin bersikap individualis dalam menjalankan kehidupan. Padahal, konsep gotong-royong dapat diterapkan sebagai budaya pada berbagai macam aktivitas masyarakatnya dalam proses perkembangan kota. Gotong-royong biasanya diterapkan pada lingkungan setingkat kelurahan. (Subanu, 2008) Kampung Sangkrah merupakan salah satu kampung pinggiran kota yang terletak di bantaran Kali Pepe, Surakarta. Kampung ini terdiri dari 13 RW, 58 RT, dan 3691 KK. Dari data jumlah kependudukan Kota Surakarta. Kampung Sangkrah merupakan kampung yang memiliki tingkat kependudukan yang paling tinggi di diantara yang lainnya di Surakarta. Selain kepadatan penduduk, Kampung Sangkrah juga termasuk kampung yang memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi. Namun dengan berjalannya waktu, masyarakat dan pemuda di kampung Sangkrah sadar akan kondisi kampungnya. Dengan mempertimbangkan latar belakang Kampung Sangkrah sebagai kampung yang memiliki gerakan menuju ke arah yang lebih baik, pemuda dan masyarakatnya semakin tanggap akan kondisi

kampungnya yang terlanjur dinilai sebagai kampung yang memiliki reputasi buruk. Kesadaran pemuda dan masyarakatnya menjadikan mereka memiliki keinginan untuk merubah image kampung yang telah mereka miliki. Tepatnya di kampung Dadapsari Sangkrah merupakan kampung yang telah memiliki sebutan daerah hitam. Bahkan telah memiliki sifat gebyah uyah [7] atau disamaratakan, bahwa apabila seseorang berasal dari kampung Dadapsari, sudah dipastikan orang-orang yang berperilaku negatif atau buruk.

Gambar 1: Lokasi Kampung Sangrah pada Peta Surakarta Sumber: solokotakita.org

Ketersediaan ruang publik menjadi dasar untuk dapat menjadikan kampung Dadapsari Sangkrah lebih baik. Sifat ruang publik yang memiliki tingkat privasi yang rendah dan menciptakan interaksi yang dapat memicu kebersamaan yang erat, menjadikan ruang publik kampung kota sangat penting dalam mengubah perilaku dan bahkan image kampung. Maka, sangat memungkinkan bahwa interaksi sosial dapat mengubah pola pikir masyarakat dan menggerakan masyarakatnya untuk hal yang lebih baik bagi kampungnya. 2.

METODA Dengan menggunakan Community Participation, penelitian ini melibatkan masyarakat kampung Dadapsari Sangrah dan pemuda-pemuda di kampung ini. Community Architecture terlibat di dalamnya sebagai jembatan yang mengubungkan arsitektur kepada masyarakat dalam proses perancangan maupun pembangunan sebuah lingkungan atau kawasan kota, karena arsitektur merupakan produk budaya yang tidak terlepas dari manusia atau masyarakat yang membuat dan menggunakannya. Tahapan yang dilalui dalam metode ini antara lain:1) Participatory Mapping: pemetaan ruang publik bersama warga dan pemetaan aktivitas warga; 2) Participatory Design: Focus Group Discussion, yang


terdiri dari menggali permasalahan dan karakteristik ruang publik kampung kota, merekomendasikan desain, dan menentukan desain terpilih; dan 3) eksekusi desain bersama warga. 3.

HASIL Menggunakan pendekatan Community Participation, tahapan pertama yang dilakukan adalah mengamati ruang publik dengan cara memetakan titik kumpul pada wilayah kampung Dadapsari Sangkrah tepatnya pada wilayah RW 03. Dari pemetaan ini ditemukan beberapa titik kumpul yang biasa digunakan warga untuk berinteraksi. Kemudian, Participatory Design bersama Community Architecture yang dilakukan dengan cara memberikan Focus Group Discussion (FGD). FGD dilakukan sebanyak tiga kali. FGD pertama dilakukan bersama warga untuk membuktikan kebenaran hasil pemetaan; FGD kedua dilakukan untuk menentukan ruang publik mana yang direkomendasikan oleh warga untuk dikembangkan, sekaligus untuk mendapatkan masukan ide desain yang diinginkan oleh warga; FGD ketiga dilakukan untuk memaparkan beberapa alternatif desain yang merupakan hasil analisa dari masukan warga pada FGD sebelumnya. Eksekusi desain dilaksanakan setelah desain dan timeline kerja mendapat persetujuan dari warga. 4. PEMBAHASAN Berikut merupakan hasil dari metoda yang dilakukan: a. Participatory Mapping: Pemetaan Titik Kumpul Warga

Dalam melakukan pemetaan kampung Sangkrah khususnya RW.03, masyarakat memiliki andil yang besar dalam menganalisa macam ruang publik di daerahnya. Selama pemetaan berlangsung, para pemuda Kampung Sangkrah secara aktif memberikan informasi terkait titik-titik yang biasa dijadikan sebagai ruang berkumpul oleh masyarakatnya. Pemetaan di RW.03 dilakukan untuk mengetahui kondisi ruang publik asli Kampung Dadapsari, Sangkrah RW.03. Hasil pemetaan ini digunakan sebagai acuan menentukan lokasi yang akan dikembangkan dan metode desain rancangan. Pemetaan dilakikan untuk menentukan  elemen fisik seperti lokasi tempat ekonomi; tempat bersosialisasi; ataupun tempat kebutuhan vital warga, dan  Memetakan elemen non fisik seperti pola aktivitas warga, kegiatan yang banyak dilakukan warga, ataupun usia dan gender warga yang banyak beraktivitas di tiap lokasi. Metoda yang dilakukan antara lain; menyusuri tiap sudut RW.03, wawancara dengan warga, mendokumentasikan dan mengukur lokasi ruang-ruang publik warga. (Gambar 2) Selain memetakan elemen fisik, elemen non fisik juga dilakukan. Elemen non fisik merupakan aktivitas yang dilakukan oleh warga pada Kampung Dadapsari, Sangkrah. (Tabel 1)

Gambar 2: Hasil Pemetaan Ruang Publik di Kampung Dadapsari Sangkrah Sumber: Analisa Tim dan warga, 2016


Rumah Baca

Tabel 1: Analisis Pemetaan Aktivitas Warga Pada Ruang Publik Intensitas Kegiatan

MCK Bok Jalan Angkringan GOR Samudra Masjid Al Amanah Ruang Serbaguna

Siang

+

+

Pengguna

Pengelola dan orang tua.

Pengelola

Aktivitas

Menunggu anak sekolah, mengobrol.

Mengurus Rumah Baca

Intensitas Kegiatan

Gang

Pagi

Pengguna

Malam

+++

++

Pengelola, Relawan, anak-anak, pemuda, dan dewasa. Mengobrol, bermain, belajar, pelatihan.

Belajar, bermain, mengobrol.

+++

++

+++

+

Masyarakat sekitar MCK

Masyarakat sekitar MCK Mandi, cuci, kakus, mengobrol.

Masyarakat sekitar MCK

Aktivitas

Mandi, cuci, kakus, mengobrol.

Cuci, kakus, mengobrol.

Intensitas Kegiatan

+++

+

++

Pengguna

Orang tua

Orang tua

Pemuda dan orang tua

Aktivitas

Menunggu anak sekolah, makan, mengobrol.

Mengobrol.

Mengobrol, menonton tv, makan.

-

-

Intensitas Kegiatan

Anak-anak, pemuda, dan Dewasa.

Masyarakat sekitar MCK

Pengguna

-

-

Aktivitas

-

-

Intensitas Kegiatan

-

-

-

-

Kakus, mengobrol +++ Pemuda dan orang tua. Mengobrol, menonton tv, makan.

++

+++

Penjual, Pemuda, Dewasa, Orang tua. Makan, mengobrol, menonton tv.

Penjual, Pemuda, Dewasa, Orang tua. Makan, mengobrol, menonton tv.

++

+++

Aktivitas Intensitas Kegiatan Pengguna

-

-

Bermain badminton.

Pengguna lapangan badminton, pengelola. Bermain badminton.

+

+

++

++

Masyarakat Sekitar

Masyarakat Sekitar

Masyarakat Sekitar

Masyarakat Sekitar

Aktivitas

Sholat

Sholat

Sholat, mengaji.

Sholat, mengaji.

Intensitas Kegiatan

-

-

-

++

Pengguna

-

-

-

Orang tua.

Aktivitas

-

-

-

Kumpulan RW.

Intensitas Kegiatan

+++

++

+++

Pengguna lapangan badminton, pengelola.

Pengguna

Pengguna

Masyarakat Kampung

Masyarakat Kampung

Masyarakat Kampung

Aktivitas

Jalan, berkendaraan bermotor, bermain, mengobrol.

Jalan, berkendaraan bermotor, bermain, mengobrol.

Jalan, berkendaraan bermotor, bermain, mengobrol.

Sumber: Analisa Tim

Keterangan :

Sore

: Ruang publik tak terbatas : Ruang publik terbatas

b. Partisipatory Design: Focus Group Discussion (FGD) Focus Group Discussion melibatkan masyarakat dan Community Architecture dalam menjembatani pemikiran masyarakat dalam desain ruang publik kampung kota. Dalam melakukan Focus Group Discussion yang dilakukan sebanyak tiga kali, masyarakat berperan sangat aktif dalam menunjukkan opininya terkait ruang publik yang terdapat di Kampung Dadapsari, Sangkrah. FGD pertama, dilakukan bersamaan dengan malam selikuran warga. FGD pertama, bertujuan

+ ++ +++

++ Masyarakat Kampung Jalan, berkendaraan bermotor, bermain, mengobrol.

: Tidak ada aktivitas : Aktivitas Sedikit : Aktivitas Sedang : Aktivitas Ramai

untuk memverifikasi kebenaran temuan-temuan titik ruang publik yang didapatkan selama proses pemetaan serta mendapatkan rekomendasi ruang publik untuk dikembangkan. Selama FGD berlangsung, tim dari Community Architecture memperkenalkan tipe ruang publik kampung kota dan memberikan beberapa gambar yang diambil saat pemetaan untuk mewakili setiap titik tersebut. Hasil dari diskusi mengarah pada pengembangan Rumah Baca Sangkrah. Hal ini didasari atas opini warga yang menyatakan sejak berdirinya Rumah Baca Sangkrah, anak-anak tidak bermain terlalu jauh dan


mereka tidak hanya bermain namun juga belajar di rumah baca tersebut. Proses FGD kedua, dilakukan bersama pengelola Rumah Baca Sangkrah, dan para Pemuda di Rumah Baca Sangkrah. FGD kedua, mempresentasikan hasil rekomendasi warga dan berdiskusi untuk mengenali Rumah Baca Sangkrah lebih dalam. Hasil dari melakukan FGD kedua adalah konsep desain awal yang dilakukan oleh pengelola Rumah Baca Sangkrah dan para pemuda setempat yang turut aktif dalam mengelola Rumah Baca Sangkrah.

Proses FGD ketiga, kembali dilakukan di Rumah Baca Sangkrah bersama pengelola dan para pemuda dari Kampung Dadapsari Sangkrah. Beberapa keterbatasan menjadi pertimbangan dalam mendesain ruang publik yang akan dikembangkan. Diskusi dilakukan dalam menyeleksi jenis material yang akan digunakan dan mempertahankan ekspektasi fungsi dalam lahan yang terbatas. Desain final hasil diskusi tersebut kemudian diolah lagi hingga sesuai dengan keinginan masyarakat dan pemuda dan dibuatlah timeline kerja yang dapat menyesuaikan waktu mereka.

Tabel 2. Proses Focus Group Discussion Proses

FGD 1

FGD 2

FGD 3

Presentasi

Gambar 3: Mempresentasikan hasil pemetaan.

Gambar 4: Mempresentasikan rekomendasi warga dan rekomendasi desain.

Gambar 5: Mempresentasikan hasil akhir diskusi desain halaman ruang publik Rumah Baca Sangkrah

Diskusi

Gambar 8: Diskusi FGD 3 Gambar 6: Diskusi FGD 1

Gambar 7: Diskusi FGD 2

Hasil

Gambar 9: Menghasilkan titik urgensi dan potensi ruang publik serta merekomendasikan ruang publik terdesain.

Gambar 10: Revisi desain sesuai dengan batasan-batasan baik dari Community Architecture maupun masyarakat.

Gambar 11: Mendapat persetujuan dan menentukan timeline eksekusi desain.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

c.

Eksekusi Desain Eksekusi desain merupakan hasil dari keputusan desain bersama warga yang dilakukan sebelumnya pada tahapan Focus Group Discussion (FGD). Penentuan waktu pengerjaan (timeline) merupakan

metoda yang dilakukan bersama warga dalam memulai eksekusi desain. Waktu pengerjaan dan urutan pengerjaan dalam eksekusi desain yang telah didiskusikan bersama warga meliputi;








Pekerjaan Pembersihan Lahan, Pekerjaan pembersihan lahan, saat itu dilakukan selama 4 hari, pada minggu ke-4 Mei 2016. Pekerjaan pembersihan lahan dilakukan dengan membongkar lapisan semen dan bata hingga tanah asli di halaman Rumah Baca Sangkrah. Pekerjaan Pemasangan Paving, Pekerjaan pemasangan paving dilakukan selama 3 hari, pada minggu ke-5 Mei 2016. Pekerjaan pemasangan paving dilakukan dengan menata paving dengan komposisi lapisan tanah asli-pasir-paving. Lalu ditata dengan alur lengkung untuk membentuk suasana yang hidup untuk anak-anak. Pekerjaan Pemasangan Furnitur, Pekerjaan pemasangan paving dilakukan



selama 4 hari, pada minggu ke-2 Juni 2016. Pekerjaan pemasangan furnitur dilakukan dengan memasang pergola kanopi, bangku, dan tanaman vertikal. Pemasangan pergola kanopi dilakukan tukang las. Bangku memakai sisa bahan yang ada. Tanaman vertikal mengadaptasi ilmu menanam vertikal dari seorang pegiat lingkungan yaitu bu Ester. Pekerjaan Penyelesaian. Pekerjaan penyelesaian dilakukan selama 3 hari, pada minggu ke-3 Juni 2016. Pekerjaan penyelesaian dilakukan dengan menghias lansekap, bangku, dan menyiapkan tanaman vertikal. Namun, sebelum pengerjaan penyelesaian ini, terjadi banjir besar di Kota Surakarta. Rumah Baca Sangkrah termasuk yang terkena dampaknya sehingga memakan waktu untuk perbaikan selama 2 hari.

Tabel 3. Eksekusi Desain bersama Masyarakat Kampung Sangkrah Pekerjaan Pembersihan Lahan

Gambar 2: Pemuda dan orang dewasa bersama Community Architecture bergotong-royong membersihkan lahan.

Pekerjaan Pemasangan Paving

Gambar 3: Pemasangan Paving dilakukan oleh masyarakat setempat.

Pekerjaan Pemasangan Furnitur

Gambar 4: Pemuda bersama dengan Community Architecture meciptakan furniture dari desain para pemuda dan material bekas.

Pekerjaan Penyelesaian

Gambar 5: Finishing dilakukan oleh anak-anak yang mengecat dan menanam benih sayuran.

Sumber: Dokumentasi Pribadi 5.

KESIMPULAN

Kampung Dadapsari Sangkrah merupakan sebuah kampung yang memiliki karakteristik kelompok sosial paguyuban. Hal ini didapat berdasarkan pengamatan dan wawancara bersama masyarakat. Warga Kampung Dadapsari masih memiliki rasa kepedulian terhadap sesama anggota masyarakatnya. Mereka memiliki rasa setia kawan yang tinggi, rasa kebersamaan yang kental, dan sikap toleransi yang membuat mereka dapat hidup rukun dengan tetangganya. Sikap guyub ini dapat dilihat dari interaksi mereka di ruang publik.

Proses yang dilalui Community Architecture dengan menggunakan pendekatan Community Participation dari masyarakat Kampung Dadapsari menunjukan bahwa antusiasme masyarakat dalam membangun lingkungannya masih sangat besar. Ruang publik memiliki peran yang besar dalam hal menjembatani interaksi sosial masyarakat kampung. Ruang publik kampung kota yang multifungsi menjadikan mereka dapat bertukar cerita, pengalaman, dan keluh kesah mereka. Di sisi lain, ruang publik juga dapat menjadi sarana edukasi nonformal dan informal, karena di ruang publik itu pula orangtua dapat mendidik anaknya terkait perilaku


sosial yang mereka anut, atau menjadi sebuah fasilitas belajar dan mengembangkan diri bagi masyarakatnya. Pada kenyataannya, Kampung Dadapsari Sangkrah yang telah ditandai dan dikenal sebagai area hitam karena terdapat banyak perilaku yang menyimpang, mereka masih memiliki jiwa kesetiakawanan, toleransi, kebersamaan, tanggap untuk saling tolong-menolong, yang tak lain adalah representasi jiwa gotong-royong masyarakat Indonesia. Antusiasme masyarakat dalam membangun ruang publik di kampungnya sangat terasa. Metoda Community Participation membuktikan bahwa masyarakat kampung masih memiliki jiwa tanggap terhadap setiap hal yang terjadi di kampungnya. Melalui Community Architecture, masyarakat juga semakin mengerti dalam mengatasi masalah ruang publik sebagai bagian vital dalam berinteraksi antar masyarakat. Dari berbagai kalangan usia selalu mengikuti proses yang dilakukan oleh Community Architecture dalam mengembangkan ruang publik pada Kampung Dadapsari Sangkrah. 25

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih kami sampaikan terutama untuk warga Kampung Dadapsari Sangkrah, dan pemuda Karang Taruna kampung Sangkrah, Pengelola Taman Baca Teratai Sangkrah, Ibu Ester selaku aktivis pemeliharaan tanaman hidroponik, tim Mata Kuliah Kampung Kota Arsitektur UNS. Staff pengajar Arsitektur UNS, ibu Kusumaningdyah Rully sebagai dosen pembimbing penelitian, Ibu Maya Andria, Ibu Leny Pramesti, dan Ibu Ana Hardiana selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Kampung Kota, Bapak Amin Sumadyo selaku kaprodi Arsitektur, Bapak Penjaga Perpustakaan, teman-teman tim Sangkrah Bahagia, teman-teman jurusan Sosiologi UNS, Media Kampungesia, Tim Urban Rural Design and Conservation Research Group (URDC), Tim Urbanisme Warga, Media Rujak Center for Urban Studies dan Fordfondation.

REFERENSI

[1] [2]

20 15 10 5 0 Pemetaan

FGD 1

FGD 2

Orang Tua

Pemuda

FGD 3

Eksekusi Desain

[3]

Anak-anak

Grafik 1: Antusiasme dan keterlibatan masyarakat Kampung Dadapsari Sangkrah dalam partisipasi mendesain Ruang Publik. Sumber: Analisa tim

Dari hasil antusiasme masyarakat Kampung Dadapsari (grafik 1), menunjukan bahwa masyarakat secara kondisional tanggap terhadap proses yang sedang dilakukan. Pemuda menjadi partisipator paling dominan diantara yang lainnya karena dilatarbelakangi oleh keinginan untuk merubah image Kampung Dadapsari yang lebih baik. Masyarakat dengan bijak mudah beradaptasi menjadi bagian penting dalam meminimalisir keramaian orang asing yang ada di kampung mereka.

[4]

[5]

[6]

Rahayu, Eta, (2013). Menilik Kembali Kampung Kota Kita. Kompasiana. Ramdon, Akhmad, (2015, 15 September). “Kampung Kota dan Kota Kampung: Tantangan Perencanaan Kota di Indonesia #1”. Diperoleh pada 17 September 2016, pukul 11.28, dari http://kampungnesia.com/berita-kampungkota-dan-kota-kampung-tantanganperencanaan-kota-di-Indonesia-1.html Kusumaningdyah, N.H,. & Deguchi, A., & Sakai, T. (2011). Participatory Mapping In Surakarta - Case Study of Mini Atlas Solo Kota Kita. Journal of Habitat Engineering 2011, 3 (2), 189-200. Sunarto, Kamanto, (2014). “Pengantar Sosiologi”. Edisi Revisi. Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Aziz, Yuzni (2011,10 Desember). ”Gotong- Royong dan Ruang Publik”. Diperoleh 29 September 2016 pukul 20.30, dari http://membacaruang.com/gotong-royongdan-ruang-publik.html Ramdon, Akhmad, (2013, 28 Desember). “Sangkrah, Kampung (Sebelah) Sungai”. Diperoleh 30 Maret 2016 pukul 13.46, dari http://kampungnesia.org/berita-kampung-


[8]

[9]

sebelah-sungai.html Rumah Baca Teratai. (2015). “Profile: Rumah Baca Teratai dan Perkembangannya”. Diperoleh 23 Juni 2016, pukul 14.25. http://rumahbacasang krah.com/profile/sejarah-rumah-bacateratai-dan-perkembangannya.html James Midgley, (1986). “Community

Participation, Social Development, and the State.”. London: Methuen & Co. Ltd, pp. 3. [10] William H. Whyete. (1980). “The Social Life of Small Urban Space”. Washington DC: The Conservation Foundation.

Profile for lenyindah

Kehidupan Bermasyaakat dalam Ruang Publik Kampung Kota  

Hasil karya tulisan ilmiah dari sebuah mata kuliah Kampung Kota dengan fokus Ruang Publik Kampung Kota yang diikutsertakan dalam Olimpiade N...

Kehidupan Bermasyaakat dalam Ruang Publik Kampung Kota  

Hasil karya tulisan ilmiah dari sebuah mata kuliah Kampung Kota dengan fokus Ruang Publik Kampung Kota yang diikutsertakan dalam Olimpiade N...

Profile for lenyindah
Advertisement