Issuu on Google+

Kopkun.com

Edisi Maret 2013 Volume III, Issue 21

Kopkun Corner

Inside this issue:

Umpama Lagu, Kopkun Itu? Umpama Lagu, Kopkun Itu?

1

Helatan Tahunan, RAT ke-6 Kopkun

2

TTS Berhadiah

3

Musik dan Kehendak

4

Mengapa Mereka 5 Jadi Anggota?

The Day of Music

6

Pojok Kopkun • Lagu apa yang tepat untuk Kopkun? • Jangan lupa hadir di RAT ya! • Ada TTS berhadiah lho! • Apa sebenarnya musik itu? • Mengapa mau jadi anggota Kopkun? • 9 Maret itu hari? Baca!

B

ulan Oktober, enam tahun yang lalu, mimpi itu mewujud dalam ruang bernama Kopkun. Mimpi itu kita sebut sebagai Koperasi Civitas Akademika (Kocika). Berbeda dengan negara-negara lain, ihwal Kocika adalah hal baru dan asing di Indonesia. Kaprahnya memang bukan Kocika, melainkan Koperasi Mahasiswa (Koperma), Koperasi Dosen (Kopdos) atau Koperasi Karyawan (Kopkar). Kocika lahir membawa mimpi menyinergikan seluruh elemen kampus dalam satu bangunan koperasi. Pasalnya International Cooperative Alliance (ICA) menggariskan salah satu prinsip koperasi, “Keanggotaan bersifat terbuka dan sukarela”. Dan Kocika, terbuka bagi: mahasiswa, dosen, karyawan, alumni dan masyarakat sekitar. Tua-muda, laki-perempuan berkumpul di sana. Berbagai perbedaan ditampung dalam satu wadah, Kopkun berdiri di atas keragaman anggotanya. Dan bila diumpamakan lagu, boleh jadi Kopkun nampak seperti “Laskar Pelangi”. Giring (Nidji) menulis “Laskar Pelangi, takkan terikat waktu, jangan berhenti mewarnai, jutaan mimpi di bumi”. Para kader Kopkun tak terikat waktu, mulai dari yang tua sampai muda siap sedia mencurahkan energi, pikiran dan tenaganya untuk besarkan Kopkun. Bedanya, kader Kopkun belum warnai jutaan mimpi, namun semangat untuk itu terus terpatri. Ini hanya soal lembaran kalender! Mimpi itu besar, meskipun harus dimulai dari praktika yang kecil. Melalui swalayan moderen, Kopkun bermimpi kembangkan model koperasi konsumen moderen di Indonesia. Yang mana konsumen-konsumennya bisa menjadi anggota. Yang artinya mereka pemiliknya! Sering ada yang bertanya, “Siapa sebenarnya pemilik Kopkun?”. Pemiliknya menunjuk pada anggota-anggotanya, yang saat ini mencapai 800an orang dari beragam latar belakang. Tak ada pemilikan tunggal atau pesaham yang menyertakan modal tertentu. Melalui ruang di Jl. HR. Boenyamin No. 525 itu, mimpi itu senantiasa dirawat. Agar Kopkun menjadi koperasi tangguh yang dapat mempengaruhi kebijakan negara dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Itulah mimpi yang mewujud sebagai visi lembaga. Dan “Laskar Pelangi” itu harus melakukan kerja keras-cerdas, bagaimana menjadi koperasi teladan yang besar, benar dan mengakar. Bukan perkara mudah, memang. Butuh konsistensi, bukan sekedar letupan semangat yang sporadis dan acak. Butuh ketelatenan, kesabaran juga kemauan. Namun kader-kader Kopkun, Si “Laskar Pelangi”, tak lupa juga untuk menari dan terus tertawa. Agar optimisme selalu memancar. Ini hanya soal lembaran kalender! []


Page 2

Kopkun Corner

Volume 3, Issue 21

Helatan Tahunan, RAT ke-6 Kopkun “RAT ke-6 akan dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Maret 2013 di Aula FISIP Unsoed. Jangan lupa!”

S

Suasana saat Pengurus Kopkun menyampaikan Laporan pertanggungjawaban periode 2006-2011 pada RAT ke-5, Maret 2012.

emangat Koperasi, Kreativitas Tanpa Batas, itulah tema yang diusung Panitia RAT ke-6 Kopkun. Asad, Ketua Panitia, mengatakan “Harapannya agar Kopkun dan kader-kadernya selalu melahirkan inovasi dan kreativitas-kreativitas baru”. Rencananya agenda tahunan ini akan digelar pada hari Kamis, 28 Maret 2013. Mengapa hari Kamis, “Karena anggota Kopkun ada juga karyawan dan dosen. Nah, biasanya mereka justru sulit datang jika memilih hari Sabtu atau Minggu, ya maklum, mungkin family time”, ujarnya. Terkait dengan agenda RAT ke-6 ini, Panitia me ngatakan seperti RAT-RAT sebelumnya. Hanya saja tidak ada proses pemilihan Ketua dan Badan Pengawas, karena proses itu baru terjadi tahun lalu. RAT ke-6 akan fokus pada pembahasan Laporan Kinerja Pengurus berikut evaluasi dari anggota. Kemudian menentukan arah pengembangan atau kebijakan-kebijakan Kopkun setahun ke depan. Yang menarik dari RAT tahun ini akan digelar juga Donor Darah. Sehingga bagi anggota yang ingin mendonor, bisa langsung saat itu juga. Dalam kegiatan itu Panitia akan bekerjasama dengan PMI Kab. Banyumas. “Memang ini salah satu program rutin Kopkun. Biasanya dilaksanakan tiga bulan sekali”, ujar Anis, Seksi Acara. Ditanya target peserta, mahasiswa yang tergabung juga dalam Paguyuban Mahasiswa Anak Transmigran (PMAT), itu menyebut kurang-lebih 300 peserta. “Memang benar anggota Kopkun mencapai 800an orang. Berbagai cara kita lakukan untuk mengundang dan menyosialisasikan agenda ini. Namun dari tahun ke tahun biasanya peserta di angka 200an”, terang Asad. Rencananya RAT ini dilaksanakan di Aula FISIP

Unsoed. Aula ini dipilih karena mudah relatif dikenal oleh anggota, tempatnya strategis dan fasilitas penunjangnya juga mencukupi. Harapannya agar anggota dan tamu undangan lainnya bisa menjangkaunya dengan mudah. RAT merupakan agenda tahunan yang wajib dilaksanakan setiap koperasi. Biasanya dilaksanakan maksimal bulan Maret terhitung dari tahun tutup buku. RAT juga merupakan salah satu indikator kesehatan koperasi. Dan merupakan forum tertinggi di koperasi dimana setiap anggota berhak menyampaikan uneg-unegnya. “Kopkun akan membagikan kalender, dorprize dan juga vocer belanja bagi peserta yang hadir. Jadi jika Anda anggota Kopkun, lebih baik hadir daripada tidak”, terang mahasiswa periang itu. Ingat-ingat, 28 Maret 2013. Ting! []


Page 3

Kopkun Corner

Volume 3, Issue 21

Teka-teki Silang Bulanan “Berhadiah Berlangganan Koran Tertentu Selama Satu Bulan dan Merchandise

Mendatar: 1. Pelantun Imagine 4. Avtomat Kalashnikova 47 6. Aktris, pacar Diego Michel 7. Versi Windows 8. Sudah meninggal 9. Penyanyi aliran New Age 10. Negeri pengobar anti terorisme 11. H20 13. Makelar 15. Peraih Nobel Ekonomi (1994) film Beautiful Mind

Menurun: 1. Nama belakang master catur dunia 3. Menjangkau keluar (Inggris) 5. Musik instrumental Jepang 7. Kota bisnis di Amerika 12. Kode domain India 14. Pelantun My December

Ketentuan: 1. TTS Berhadiah ini terbuka untuk semua orang di wilayah Purwokerto. 2. Jawaban dikirim ke Kopkun dengan menyertakan Nama, No. HP dan struk belanja miminal Rp. 10.000 di Kopkun Swalayan. Atau email ke: kopkun_unsoed@yahoo.co.id dengan menyertakan scanan/ foto struk belanja. 3. Jawaban paling lambat tanggal 29 Maret 2013 pukul 17.00 WIB. 4. Tiap bulan akan dipilih satu pemenang yang menjawab dengan benar. 5. Pemenang berhak atas langganan koran selama satu bulan dan merchandise menarik. 6. Pemenang akan dihubungi via telepon.


Page 4

Kopkun Corner

Volume 3, Issue 21

Musik dan Kehendak | Oleh: Henrikus Setya “Musik dapat merubah wajah dunia yang nampak depresi terlihat menjadi berseriseri”

M

Henrikus Setya, mahasiswa Fisip, rapper dan concern pada pemberdayaan sosial sebagai Sekretaris Sekolah Rakyat Bhineka Ceria.

usik adalah ekspresi. Musik adalah bahasa perasaan dan penderitaan manusia. Sedangkan kata-kata merupakan bahasa akal budi. Dalam kodrat manusia yang paling dasar ada suatu kehendak yang selalu ingin dipuaskan. Jika suatu keinginan tercapai, artinya ia peroleh satu kepuasan dan akan menuntut pemenuhan keinginan baru lainnya. Dan penderitaan muncul bilamana kepuasan itu tak terpenuhi. Dalam musik, kehendak diwakili melodi. Melodi mengungkap berbagai usaha kehendak dan kepuasan yang tercermin dalam interval-interval harmonis serta nada dasar. Melodi sebagai pengungkapan perasaan dan kehendak manusia yang paling dalam. Seperti juga kebahagiaan atau penderitaan yang merupakan rasa puas yang terpenuhi atau rasa puas yang tidak terpenuhi. Rasa senang atau gembira digambarkan dengan melodi yang ceria, lincah serta interval konsonan, sedangkan rasa sedih atau penderitaan diwakili melodi yang lambat, melankolis, interval disonan yang menunjukkan kepedihan, keputusasaan atau kegalauan. Seseorang yang dapat menyelaraskan dirinya dengan sebuah simponi, akan melihat semua peristiwa hidup dan dunia berlangsung di dalamnya. Dan jika ia mau merenungkannya musik menampilkan gambar kehidupan dan dunia dengan makna lebih tinggi, karena melodinya setara dengan esensi roh dari fenomena yang tampil ke permukaan. Schopenhauer bilang, “Musik bukan merupakan ungkapan sang kehendak, tetapi adalah kehendak itu sendiri”. Musik memiliki pengaruh sangat kuat pada inti kodrat manusia. Oleh karena itu, musik dimengerti dalam kesadaran sebagai bahasa universal. Bagi sebagian orang, musik merupakan bahasa yang dapat mengantarkan pesan. Melalui musik orang lain dapat mengetahui apa makna yang

disampaikan. Baik melalui nada maupun liriknya. Musik dapat merubah wajah dunia yang nampak depresi terlihat menjadi berseri-seri. Imam Khomaeni mengingatkan, ”Seni haruslah mencerminkan realitas dan memperlihatkannya kepada manusia. Seni adalah gambaran yang jelas tentang keadilan dan kemuliaan serta pengejawantahan nestapa orang-orang yang lapar dan tertindas. Seni yang menempati posisinya yang sejati adalah yang membongkar kebusukan orang-orang yang merasa nikmat saat menghisap darah peradaban yang asli, peradaban keadilan dan kesucian. Seni yang protes pada kehidupan yang berbalut kemewahan dan kesia-siaan.” Terlepas dari apapun itu, musik selalu membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Faktanya, selama berabadabad musik selalu mengiringi manusia dalam aktivitas kesehariannya. Musik adalah yang sejatinya manusia rasakan tanpa antara. []


Page 5

Kopkun Corner

Volume 3 Issue 21

Mengapa Mereka Jadi Anggota? “Mengapa orang mau jadi anggota Kopkun? Apa saja harapan mereka? Inilah kesaksian mereka!”

“Kesan positif bagus. Semakin maju dari yang sebelum-sebelumnya. Pelayanannya juga sangat bagus dan cekatan. Mungkin karena yang terjun langsung adalah mahasiswa-mahasiswi yang cerdas. Ikatan persaudaraannya pun bagus. Itu yang penting jangan sampai ada mis-mis antar anggota keluarga kita. Tetapi tetap masih harus ada perbaikan dan peningkatan”. Ir. SJA. Setyowati - Dosen Fak. Peternakan Unsoed

“Kesan yang saya dapatkan saat menjadi anggota Kopkun adalah kesigapan para karyawan dalam melayani anggota dan para pengurus serta karyawan yang inovatif dan kreatif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi yang jarang ditemukan di koperasi lainya. Kebetulan saya juga menjadi anggota di beberapa koperasi di Banyumas sehingga saya dapat merasakan perbedaanya secara langsung”. Eko Waskito - Karyawan Fak. Hukum Unsoed

“Saya senang karena bisa bertemu dengan orang-orang yang berjiwa wirausaha. Dan itu menjadi cita-cita saya sejak kecil, juga berkumpul dengan orang-orang kreatif. Manfaat yang telah diterima setelah menjadi anggota yakni saya bisa belajar menjadi kreatif, eksplorasi ide dan ikut berkreatifitas bersama teman-teman lainnya. Seperti saat ini saya ikut siaran di Kopkun Radio”. Yogi Prasetyo - Mahasiswa FISIP Unsoed

“Kita ingin kopkun mampu berproduksi sendiri bukan hanya sebagai swalayan yang hanya menjual produk ke konsumen sperti yang sekarang sedang berjalan. Kita mengharapkan kopkun mampu mempunyai merek yang dijual sendiri, mampu menjadi produsen dan pemasok barang yang kopkun produksi kepada swalayan yang ada dan di toko-toko yang ada di masyarakat” Slamet Suparmo - Masyarakat

“Tentunya banyak manfaat yang didapat, salah satunya saya bisa menerima pinjaman modal usaha. Saya berharap Kopkun bisa berkembang dan mempunyai lahan usaha sendiri sehingga apa yang menjadi minat anggota dapat terpenuhi”. Mulyadi - Masyarakat

Bagi anggota yang belum diwawancara, siap-siap saja disambangi awak buletin Kopkun Corner untuk ngobrol ngalor-ngidul seputar Kopkun.


Jadi Anggota & Manfaatnya

Redaksi Kopkun Corner Penanggungjawab: Ketua Kopkun Redaktur Pelaksana: Firdaus Putra Reporter: Dwi, Nurul, Nalora Layouter: Ghani, Maya Distribusi: Asad, Faiz, Anis, Hadi, Karto, Triono

B

anyak yang bertanya bagaimana menjadi anggota Kopkun? Edisi kali ini akan kami beberkan mudahnya menjadi anggota: 1. Mengisi formulir pendaftaran 2. Mengikuti Pengenalan Dasar (wajib) 3. Menyelesaikan administrasi termasuk membayar Simpanan Pokok Rp. 1.000 dan Simpanan Wajib Rp. 10.000. Kelengkapan yang perlu disiapkan: foto kopi KTP/ KTM dan pas foto 4x6/ 3x4 dua lembar. Keuntungan jadi anggota Kopkun: 1. Diskon untuk produk tertentu di Kopkun Swalayan 2. Diskon 20% untuk Sekolah Menulis Storia & Entrepreneur Creativa. 3. Belajar berwirausaha, kepemimpinan dan manajerial. 4. Berpeluang menjadi parttimer dan atau fasilitator 5. Kemanfaatan dalam bentuk sosial-budaya lainnya. Lebih lengkapnya datang langsung ke Kopkun Lt.2. Kami tunggu ya!

Sekretariat: Kopkun Lt. 2 Jl. HR. Boenyamin Komplek Ruko Depan SKB Purwokerto (0281) 631768 | www.kopkun.com kopkun_unsoed@yahoo.co.id

Untuk pengguna Ipad dan Android, sila pindai barcode ini!

The Day of Music Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. (Manajer Organisasi Kopkun)

Ada Theodore W. Adorno, pemikir Madzhab Frankfurt di belakang The Beatles.

S

aya akan ajak Anda ke era 70an dimana Yesterday, Let it be jadi lagu favorit masa itu. Era itu kita kenal sebagai New Age. Era dimana individualisme akut dan masyarakat mengalami kegersangan secara sosial pun spiritual. Dan The Beatles, pelantun Yesterday itu, adalah anak zaman New Age. Lagu-lagunya bernuansa kebajikan, spiritualisme dan reflektif. Memang betul, mereka ingin mengembalikan kegairahan hidup pada kedalaman makna. Bukan sekedar lagu pop picisan. Di Indonesia boleh jadi visi The Beatles paralel dengan lantunan Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Efek Rumah Kaca dan lainnya. Lantunan mereka tentu jauh berbeda dengan bandband popular kenamaan hari ini; Yang meminjam bahasanya Efek Rumah Kaca, “Cinta Melulu�. Ya, sebagian besar lagu popular bolak-balik hanya bicara soal cinta. Cinta yang romantis, yang melo, yang tragis, yang nakal. Dan pendengarnya, jadi ikut-ikutan lebay. Ada semacam citra cinta yang mereka kejar. Cinta bertabur bunga, berwarna pink dan beraroma mawar. Tentu ini berbeda dengan misalnya lagu-lagu Jepang yang beraliran naturalisme. Lantunan musiknya membawa kita pada kesadaran mikro dan makro kosmos. Pada harmoni alam semesta yang mana manusia hanya bagian kecil darinya. Itu juga berbeda dengan Imagine yang masyhur itu. Lennon, melalui Imagine-nya menancapkan visi tentang

kearifan hidup, spiritualisme dan harmoni. Ini memang soal selera atau tren yang berkembang di masyarakat. Masalahnya tren tak pernah muncul begitu saja. Tren ibarat potongan kain yang dibentuk penjahitnya. Siapa penjahit itu? Ya, para production house mayor label. Jadilah tren senantiasa menjajakan kelenakan, keasyikan dan kenikmatan. Agar orang mau dengar, mau beli dan industri jalan terus. Soal The Beatles, sedikit orang tahu bahwa ada Adorno di belakangnya. Pemikir dari Frankfurt School Jerman itu turut membidani lahirnya karya besar mereka. Jadilah karya itu meaningfull, penuh makna. Tidak seperti hari ini, dangkal dan banal. []


Kopkun Corner Edisi 21