Issuu on Google+

Media Generasi Baru Koperasi

32.02

EDISI 32|02|14 | VOLUME IV

Bila Pasar Mengatur Dirinya Sendiri

B

agaimana bila pasar mengatur dirinya sendiri? Adakah benar bahwa semua orang akan untung? Atau ada sebagian yang untung dan sebagian (besar) buntung? Luthfi Makhasin, Dosen FISIP Unsoed, menjawab pertanyaan itu dengan baik. Dalam artikelnya, “Nasib Penderes dan Perajin Gula Kelapa di Banyumas: Jika Pasar (Dibiarkan) Mengatur Dirinya Sendiri� ia menggambarkan bagaimana kelompok penderes lebih sering buntung daripada untung. Ia mengisahkan, saat studi di Australia, ia pernah beli gula merah seberat 100 gr dengan harga $ 3,5. Itu artinya, kata dia, sama dengan 200 ribu rupiah untuk per kilonya. Praktis gula merah yang ia beli diimpor dari Indonesia. Dan bisa jadi dari Banyumas, karena tercatat eskpor gula merah Banyumas sudah mencapai pasar Australia, Jepang dan Eropa. Padahal para tengkulak biasanya membeli gula merah dari perajin 5-6 ribu per kilo. Cerita soal harga beli (sangat) murah dari para tengkulak sudah sering kita dengar. Bahkan itu juga dikisahkan Ahmad Thohari dalam novelnya Bekisar Merah. Sudah jadi rahasia umum di desa perajin gula, rumah para tengkulak/ juragan itu besar; Sebaliknya rumah si perajin, dari dulu sampai sekarang, kecil. Ada kisah dari Cilongok, bagaimana seorang Mahwari yang sudah 20 tahun menjadi perajin gula, tak juga sejahtera. Sedang suaminya, saban hari 3-8 jam bisa naikturun pohon kelapa. Tentu dengan tingkat resiko yang, bila jatuh, bisa patah tulang sampai mati. Para penderes dan perajin itu sulit lepas dari tengkulak. Mereka diikat dengan hutang yang tak pernah bisa selesai diangsur. Jika hampir selesai, si tengkulak memberi hutang lagi. Dan masalahnya juga, para petani desa itu tak tahu persis mengapa selalu ada kucuran hutang buatnya. Seperti juga yang dikisahkah Sam Edi, seorang pengepul gula yang menerapkan model fair trade, “Petani tidak pernah diberi tahu harga gula di pasar.

Yang memberi harga ya para tengkulak itu. Dan mereka manut saja�, ujar Edi. Modus hutang yang mengikat itu lah pintu masuk pertama yang membuat penderes dan perajin tergantung dengan para tengkulak. Selain hutang, hubungan antara penderes dengan juragan justru tidak transaksional. Sebaliknya, terlihat seperti hubungan patron-klien di masyarakat desa pada umumnya. Penyebabnya karena banyak dari para tengkulak atau juragan itu adalah tokoh di desanya. Tak sedikit di antaranya sudah berangkat haji. Jadilah para penderes segan untuk menetapkan harga secara rasional (untung-rugi). Nah, bila pasar mengatur dirinya sendiri, itulah yang muncul. Ketimpangan informasi membuat tengkulak bisa mereguk banyak keuntungan. Di sisi lain, informasi soal harga sengaja ditutup agar penderes/ perajin tidak menuntut. Hal itu dibaca baik oleh Joseph E. Stiglitz, ekonomi dunia, yang menyoroti informasi yang asimetris/ timpang itu. Bahwa adanya informasi yang timpang, pasar tak akan pernah berada di titik equilibrium. Bila pasar mengatur dirinya sendiri, maka para juragan/ kapitalis lah yang menang. Bila pasar tidak diatur, maka si pemilik informasi lah yang menang. Dan gula merah adalah buktinya. []

DAFTAR ISI Bila Pasar Mengatur Dirinya Sendiri

1

Sam Edi, Tak Takut Dimusuhi Tengkulak!

2

TTS Berhadiah

4

Paradigma Manajemen Koperasi

5

Social Entrepreneur

6

Soal Uang yang Menguap

7

Sarkasme dan Ironi

8


Page 2

Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Sam Edi, Tak Takut Dimusuhi Tengkulak!

S

am Edi yang saban hari bekerja sebagai karyawan di Kopkun punya kisah menarik. Berawal

dari usaha jual beli gula kelapa ia berurusan dengan tengkulak. Salah satu daerah yang ia masuki adalah

Seorang ibu sedang menuang gula jawa cair ke dalam cetakan yang terbuat dari batok kelapa.

Desa Ketanda, Sumpiuh. Meski usahanya terbilang baru, ia sudah dikenal beberapa petani gula. Laki-laki berputra satu ini keluar-masuk ke petani dan berkenalan dengan mereka. Alhasil, pada waktu tertentu, Edi, demikian akrab disapa, mengumpulkan 20an petani gula untuk pengarahan. Apa yang pertama ia lakukan adalah mencari tahu sistem setoran gula kepada para tengkulak. Para petani pun menceritakannya.“Sistem jual beli sama tengkulak itu kayak utang. Petani ngutang sama tengkulak, bayarnya dipotong dari setoran gula. Jadi petani terikat terus sama tengkulaknya” tutur Edi. Setelah beberapa kali musyawarah, Edi kemudian memberi tahu mereka, “Sebenarnya tengkulak itu membeli gula dengan harga yang sangat murah. Para petani tidak berani komplain, karena mereka terikat dengan hutang”. Edi menyimpulkan, pola inilah yang membuat petani gula selalu hidup miskin. Sebaliknya, tengkulak hidup sejahtera. Rata-rata per minggu, tiap petani bisa menghasilkan 70-100 kg gula. Harga per kilonya di pasar saat ini mencapai kurang-lebih Rp 7.300. Jika kalikan, petani gula kelapa bisa berpenghasilan hampir 2-3 juta rupiah per bulan. Tentu angka ini lebih dari standar UMR Kab. Banyumas. Kenyataannya petani tak pernah mengantongi pendapatan sebesar itu. Ya, tengkulak membeli gula misalnya hanya Rp. 6.300 per kilonya. Angka yang ditawarkan tengkulak kepada petani rendah, jauh dari harga gula di

Petani gula/ penderes sedang memanjat pohon kelapa. Saat musim hujan sangat rawan dan beberapa jatuh.

pasaran. Yang selisihnya bisa sampai Rp 1.000 per kilo. Padahal biaya

“Angka yang ditawarkan tengkulak kepada petani rendah, jauh dari harga gula di pasaran. Yang selisihnya bisa sampai Rp 1.000 per kilo. ” pengemasan dan transportasi tidak setinggi itu. Lalu apa beda usaha Edi dengan tengkulak lainnya? Edi membeli gula kelapa para petani dengan harga yang lebih pantas, Rp. 7.000. Ia menetapkan harga dengan meli-

Pilot Project Kopkun Dampingi minta petani yang membuat harga Usaha sendiri. Awalnya mereka bilang, Anggota terserah njenengan saja mas. Terus

hat pasar yang itu disampaikan kepada para petani. “Biasanya saya

saya bilang, tidak perlu seperti itu. Bapak-bapak tetapkan saja harganya. Tetap akan saya beli”, ceritanya. Model pembeliannya yang seperti itu sampailah di telinga tengkulak lain. Pada waktu tertentu seorang tengkulak menemuinya, “Mas njenengan modalnya berapa? Kok berani membeli gula dengan harga seperti itu?” Edi pun menjawab, “Pak saya tidak punya banyak modal. Saya cuma modal otak saja”. Apa yang dilakukan Edi praktis sudah mengganggu kenyamanan tengkulak yang bersangkutan. Edi tidak takut. Sebaliknya justru semangatnya bertambah. Selain soal harga yang pantas, ia juga membuat model kredit petani gula lebih rasional. Contohnya, hutang petani pada tengkulak dipotong melalui hasil setoran gulanya. Sedangkan Edi menawarkan cara lain, yang prinsipnya hutang mereka tidak dipotong dari setoran gula. Jadi si petani akan menerima utuh pendapatan dari penjualan gulanya. Yang kemudian petani tersebut bisa mengangsur hutangnya kepada Edi. Di sisi lain, petani tetap punya sisa pendapatan untuk biaya hidup sehari-hari. Laman berikutnya ...


Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Page 3

Lanjutan | Sam Edi ... “Ya, sebuah model bisnis yang tidak semata berorientasi pada laba belaka”

mereka lebih sejahtera”. Meski niatnya mulia, namun usahanya ini banyak menemui hambatan. Tak sedikit ia dimusuhi tengkulak-tengkulak di desa. Petani juga pikirannya belum terbuka menerima sistem baru yang ditawarkan Edi. “Ya Nama: Sam Edi TTL: Banyumas, 10 Juni 1980 Pekerjaan: Karyawan Kopkun Alamat: Kebarongan Rt. 02/05 Desa Kebarongan Kec. Kemranjen, Kab. Banyumas Program lain yang diterapkan Edi adalah dengan membagi hasil pendapatan jual-beli gula kepada para petaninya. Sederhananya ini seperti Sisa Hasil Usaha (SHU) di sebuah koperasi. Contohnya, setiap satu kilo gula petani akan memperoleh SHU sebesar Rp. 100. Nah, SHU tersebut akan dibagi setahun kemudian. Pria asli Kemranjen, Banyumas ini berkata, “Sebenarnya cara usahanya hampir seperti koperasi. Semua suara

tentu ini butuh waktu dan tenaga yang bisa membantu mendampingi mereka. Saya juga berharap semoga kader-kader Kopkun bisa terlibat melakukan pendampingan”, tuturnya. Pria dengan senyuman manis itu menambahkan, “Rencananya ke depan saya ingin membuat program asuransi kesehatan, pensiun dan kecelakaan kerja. Terus kepikiran juga untuk membuat pelatihan tentang pengelolaan keuangan keluarga. Ya sebenarnya banyak hal yang ingin saya lakukan”, katanya dengan penuh semangat. Bila kita refleksikan bisnis yang dijalankan oleh Edi ini bisa disebut

didengar, harga yang ditawarkan

sebagai bisnis-sosial. Ya, sebuah model bisnis yang tidak semata

lebih berpihak ke petani, ada pendidikan dan sosialisasi, bahkan ada pembagian SHU ke petaninya. Intinya

kapasitas petani yang terlibat di

usaha yang saya jalani ini harapannya bisa mensejahterakan petani gula. Bukan saya saja sebagai pengepulnya”. Bila seperti itu, maka hasil yang diterima Edi sebenarnya kecil dibanding cara tengkulak lainnya. Lalu apa sebenarnya motivasi Edi. Ia menjawab, “Awalnya karena banyak teman yang nganggur dan ingin kerja. Lalu saya pernah dengar juga cerita tentang Paguyuban Perjaka yang dikelola dengan cara koperasi. Dan saya ingin petani bebas dari tengkulak agar

berorientasi pada laba belaka. Namun juga turut mengembangkan dalamnya. Secara jangka panjang bisnis ini akan lebih bermasa depan bagi kedua belah pihak karena berlandaskan pada mekanisme yang adil. Walau sekarang usahanya belum untung dan baru beranggotakan 20 petani, Edi menargetkan 300 petani lainnya akan bergabung dalam beberapa tahun mendatang. Ia bilang, “Walau belum untung, aku tetep semangat, soale aku percaya mereka bisa lepas dan mandiri dari tengkulak”. [Reporter: Katiti Nursetya]

Gula jawa seperti ini bisa berbeda warnanya. Ada yang kehitaman, kemerahan dan kekuningan, itu tergantung proses pembuatannya.


Page 4

Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Teka Teki Silang Berhadiah Pertanyaan Mendatar: 1. Pabrik 3. Penyatuan kepentingan 6. Dewa ara nelayan (Yunani) 8. Badai di China Sept 2013 10. Nada 12. Bagian sendi Menurun: 2. Pengaturan 4. Anggota grup ‘Big Bang’ 5. Keadaan 7. Turun (antonim) 9. Hubungan Internasional (Inggris) 10. Dengan alamat 11. Panggilan darurat

Ketentuan: 1.

TTS Berhadiah ini terbuka untuk semua orang di wilayah Purwokerto.

2.

Jawaban dikirim ke Kopkun dengan menyertakan Nama, No. HP dan struk belanja miminal Rp. 10.000 di Kopkun Swalayan. Atau email ke: kopkun.pwt@gmail.com dengan menyertakan scanan/ foto struk belanja.

3.

Jawaban paling lambat tanggal 27 Februari 2014 pukul 17.00 WIB.

4.

Tiap bulan akan dipilih satu pemenang yang menjawab dengan benar.

5.

Pemenang berhak atas langganan koran selama satu bulan dan merchandise menarik.

6.

Pemenang akan dihubungi via telepon.


Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Page 5

Paradigma Manajemen Koperasi | Oleh: Adi Bahari L., S.Pt.

M

anajemen merupakan sarana penting organisasi untuk mencapai tujuan.

Manajemen dibutuhkan dalam organisasi agar capaiannya dapat diukur, terstruktur dan akuntabel. Menurut Prof. Oie Liang Lee Manajemen adalah ilmu dan seni untuk mengkoordinasi serta mengawasi tenaga manusia dengan bantuan alat tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Basu Swasta, DH dan Ibnu Sukotjo, 1992). Koperasi dibangun atas dasar kebersamaan, sukarela dan kekeluargaan, memiliki mekanisme yang berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil atau perusahaan. Derajat kesetaraan dan komunikasi yang terbuka dan saling mengisi meleburkan strata sosial, ekonomi, agama dan pendidikan. Yang dibutuhkan dalam membangun koperasi yang sehat adalah “rumangsa handarbeni, mulat sariro hangrasa wani� artinya merasa turut memiliki dan berani untuk memberikan kontribusi secara nyata terhadap kemajuan bersama. Koperasi telah membuktikan jati dirinya melalui kesetaraan dalam berkomunikasi. Rapat-rapat yang melibatkan Badan Pengawas, Pengurus dan Manajemen dilaksanakan dalam atmosfir kesetaraan dan kebersamaan. Meskipun kadang dijumpai perbedaan pendapat dan argumentasi yang terlihat berseberangan, hal itu merupakan dinamika biasa dalam organisasi. Berbeda di kalangan Pegawai Negeri Sipil, alur birokrasi yang masih top-down dan strata kepangkatan dan jabatan struktural, diperlukan kebesaran jiwa pimpinan. Itu perlu untuk mengakomodasi kemampuan bawahan yang potensial dengan mengesampingkan gengsi jabatan dan senioritas struktural.

“Rutinitas pekerjaan ternyata membelenggu kinerja dan kreativitas Pegawai Negeri Sipil�

Rutinitas pekerjaan ternyata membelenggu kinerja dan kreativitas Pegawai Negeri Sipil. Mekanisme standar kinerja pegawai bisa saja kemudian menjadi pencapaian program standar kerja normatif semata. Kerangka bekerja dan berpikir yang sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan tertib administrasi itu memberikan tingkat kepastian layanan dan kenyamanan dalam bekerja, hanya saja menghalangi kreativitas dan inovasi. Walaupun di sisi lain kreativitas dan tugas tambahan diapresiasi, namun hal itu juga dibatasi. Itu berbeda dengan manajemen perusahaan yang memiliki keleluasaan bereksperimen dan inovasi dalam pencapaian target. Memiliki kelemahan pada sisi manajemen, karena owner tetap menjadi pengambil keputusan tertinggi terhadap kemauan dan arah perjalanan perusahaan. Manajer adalah karyawan rentan terhadap risiko keputusan owner bila terjadi ketidaksesuaian/ ketidakpuasan owner terhadap prestasi atau pencapaian kinerjanya. Tidak ada pihak yang merasa terancam dengan pencapaian dan kinerja Koperasi, Rapat Anggota Tahunan merupakan suara tertinggi yang kemudian menjadi landasan pijak bagi perjalanan koperasi ke depan. Akankah keinginan yang disampaikan di forum tertinggi tersebut kemudian akan tercapai, gagal atau terlampaui, maka sebenarnya pertanyaan itu harus kita jawab sendiri. Bravo Kopkun. []

Penulis adalah Bendahara Kopkun periode 2012-2015. Alumni Fak. Peternakan Unsoed. Saat ini bekerja di FKIK Unsoed.


Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Page 6

Social Entrepreneurship | Oleh: Katiti Nursetya

M

asih banyak orang yang tak

paham apa itu socio entrepreneur. Entrepreneur atau wirausaha bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sedangkan

Ibu-ibu sedang memilah sampah di Bank Sampah Meduran Bersatu, Gresik.

socio entrepereneur adalah usaha dengan sumber daya lokal yang keuntungannya akan dikembalikan ke-

ditangani oleh para masyarakat melalui socio entrepreneur. Ya,

masyarakat dalam rangka kesejahteraan sosial. Walau dimodali dan juga dimiliki pribadi namun socio entre-

dari pesta makan malam besar. Dan untuk ada bagian cleaning service-

preneur lebih banyak mengedepankan masalah sosial. Sudah banyak socio entrepreneur yang diterapkan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah bank sampah, misalnya bank sampah ‘Griya Sapu Lidi’ di Jogja, bank sampah ‘Bina Mandiri’ di Surabaya dan bank sampah Gemah Ripah Bantul. Lalu baru-baru ini di Malang seorang insinyur muda Gamal Albinsaid meraih penghargaan "The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur" dari Pangeran Charles, Inggris. Penghargaan itu ia peroleh karena inovasi sosialnya berupa asuransi kesehatan yang dibayar dengan menggunakan sampah oleh warga kurang mampu. Hal ini mengatasi dua masalah sekaligus; kebersihan dan kesehatan. ''Pemimpin muda ini mengembangkan gagasan yang benar-benar inovatif, menangani dua masalah pada saat yang bersamaan,'' kata Pangeran Charles. Bentuk usaha seperti ini rencananya akan diterapkan di kota-kota lain berbagai Negara dan tentu saja akan diadopsi di Inggris. Bak oasis di padang pasir yang panas, socio entrepreneur memberi sedikit kesegaran pada sekitarnya. Masyarakat yang kesusahan memenuhi kebutuhannya terbantu. Kita ambil contoh lainnya misalnya Penulis adalah Parttimer Kopkun. Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed.

“Socio entrepereneur adalah usaha dengan sumber daya lokal yang keuntungannya akan dikembalikan kemasyarakat ”

masalah limbah dan polusi lingkungan yang disebabkan oleh perusahaanpabrik besar. Masalah yang seharusnya ditangani oleh sang penyebab

mungkin ini seperti tukang cuci piring

nya, bila tidak, lingkungan kita bisa

Pilot Project Kopkun Dampingi Usaha Anggota pihak lain dalam pemodalannya.

cepat rusak. Di sisi lain ada juga yang dinamakan bisnis sosial. Berbeda dengan socio entrepreneur, bisnis sosial menggunakan sistem investasi dari Modelnya, modal dari investor tersebut nantinya akan dikembalikan dalam jumlah yang sama, tanpa diberi jasa/ bunga sama sekali. Sistem ini seperti yang diterapkan oleh Muhammad Yunus dalam bisnis sosialnya Grameen Danone untuk yoghurt murah bergizi dan Grameen Veolia untuk air bersih. Setelah inovasinya tentang Grameen Bank, Yunus membuat Grameen Danone (kerjasama dengan Danone) dan Grameen Veolia (kerjasama dengan Veolia). Perusahaan besar itu, Danone dan Veolia sudah terikat kontrak dalam skema investasi bisnis yang non-profit. Pihak Grameen tentu akan merealisasikan investasi itu sesuai dengan business plan-nya. Tiap tahunnya Grameen akan mengembalikan investasi tersebut tanpa ditambah bunga/ return on investment. Itulah model-model bisnis yang berorientasi pada komunitas. Baik socio entrepreneur yang awalnya berkembang di Amerika dan Eropa, atau bisnis sosial di India, sama-sama bertujuan membangun masyarakat yang lebih baik. Nah caranya melalui usaha atau perusahaan. Pada titik orientasinya, mereka mirip dengan koperasi. []


Kop k un Cor ne r Ed isi 32| 02| 14

Page 7

Soal Uang yang Menguap

F

ilm ini diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang Pialang Saham, Jordan Belfort, di akhir

tahun 1900-an. Sosoknya diperankan Lenonardo de’ Caprio, seorang kampung berubah hidupnya menjadi milyuner sebagai broker saham. Kisah ini berawal ketika Black Monday, hari jatuhnya saham di pasar. Dengan keliahaiannya, Belfort memanfaatkan situasi itu dan mampu mengubah hidupnya. Ia membeli menjual saham “sampah” dan meyakinkan investor untuk membelinya.

Judul: Wolf of Wall Street Genre: Drama Rilis Perdana: 15 November 2013 (AS) Durasi: 179 Menit Studio: Paramount Picture Sutradara: Martin Scorsese Pemain: Lenordo de’Caprio, Jonah Hill, Matthew McConaughey, Jean Dujardin, Jon Favreau Dengan memanfaatkan gudang di Wall Street kemudian dia mendirikan perusahaan Stratton Oakmont. Bulan pertama ia dapat meraup U$D 100.000 dan menjadikannya perusahan terbesar pada masa itu. Keserakahan Belfort untuk melipatgandakan keuntungan membawanya ke dalam bisnis ilegal dengan melakukan pencucian uang di Swiss. Saat itu dia mulai dimatamatai FBI. Dengan pendapatan yang begitu besar, Belfort bisa melakukan banyak hal. Membeli rumah mewah, mobil,

“The Wolf of Wall Street : Kerakusan, hedonis, amoral dan hura-hura menjadi gaya hidup si broker” helikopter, kapal pesiar pun bisa dibelinya. Di sisi lain kehidupan hedonisnya masuk ke dalam dunia yang dipenuhi narkoba, pesta seks dan sebagainya. Bahkan dia menghabiskan U$D 10.000 setiap akhir pekan untuk menyelenggarakan pesta di kantornya. Uangnya menguap begitu saja. Seperti orang bilang, easy come, easy go. Bagaikan serigala di Wall Street yang menjadi ciri ketamakan, kerakusan dan kebaikan yang melebur menjadi satu. Kebaikan dapat kita lihat dari sisi memberikan lapangan pekerjaanNamun di sisi lain menjadi jahat karena perputaran uang yang tidak stabil, memusat pada satu titik dan dihambur-hamburkan begitu saja. Semua itu berakhir pada 1998 saat Stratton Oakmont hancur karena tindakan bisnis ilegal tersebut. Belfort kemudian mendekam dalam jeruji besi selama 22 bulan dan membayar denda. Bahkan itu membuatnya ditinggalkan istri dan anaknya. Walaupun dalam film ini banyak adegan vulgar, film ini menyajikan kisah menarik yang membuka mata bagaimana kehidupan para broker saham. Para kapitalis muda itu lebih sering terjebak pada gemerlap kehidupan yang membawa pada kenestapaan. Mungkin itulah yang namanya rizki yang tidak berkah: banyak tapi menguap begitu saja. Itulah sekelumit kisah uang yang menguap begitu saja. Dan kapitalisme lah yang membuat hal itu terus berjalan. Penasaran? Langsung saja cari, Wolf of Wall Street. [Pengulas: Anis Sa’adah]

Penulis adalah Ketua Komite Mahasiswa Kopkun. Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Unsoed.


Sarkasme dan Ironi Oleh: Firdaus Putra HC - M. Organisasi Kopkun

D

alam hal menegur, orang Jawa punya falsafah, “Bujang didupak, Bupati disemoni, Menteri diesemi”.

Didupak itu ditendang, disemoni itu disindir dan diesemi itu diberi senyuman. Semuanya adalah cara untuk menegur orang sesuai dengan status sosialnya. Tentu sindiran sudah lebih dari cukup bagi seseorang sekapasitas Bupati atau sederajatnya. Tak perlu to the point, bahkan kadang cukup dengan perumpaan. Di situlah kemudian bahasa punya beragam majas; Ada sarkasme, ironi dan lainnya. Mari kita tengok salah satu teguran yang muncul di layar teve akhir-akhir ini, “Merokok Membunuhmu”. Muncul beberapa detik setelah iklan rokok diputar. Namun bisa muncul tiap saat bila terpampang di billboard pinggir jalan. Kalimatnya pendek, tersusun hanya dua kata. Beda dengan yang dulu, “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan ganggungan kehamilan dan janin”. Persis seperti yang tertera di bungkus-bungkus rokok. Boleh jadi peringatan itu dirubah karena jumlah perokok tak kunjung surut. Riset terbaru dari University of Washington tentang tingkat perokok dari 1980-2012, menempatkan Indonesia nomor dua setelah Timor Leste dari 187 negara. Peningkatan itu termasuk jumlah perokok remaja, anak-anak dan perempuan. Nampaknya pemerintah geram. Melalui PP 109/

REDAKSI Penanggungjawab: Herliana, SE. Pimpinan Redaksi: Firdaus Putra, S.Sos. Redaksi Pelaksana: Katiti Nursetya Kontributor: Adi Bahari Anis Sa’adah

2012, akan efektif Juni 2014 mendatang, kalimat “Merokok Membunuhmu” akan diterapkan. Ya, demikian gahar, vulgar dan kasar. Namun bagi perokok, bisa jadi peringatan itu tak berbekas. Kemungkinan besar iklan itu justru efektif bagi non-perokok untuk membentengi para remaja dan perempuan. Persoalannya, perlukah teguran sekasar itu? Perlukah masyarakat didupak langsung? Yang mana karena ditayangkan di berbagai media, sarkasme itu dibaca berbagai kalangan, termasuk anak kecil. Bayangkan seorang anak kecil yang polos membaca, “Merokok Membunuhmu”. Adakah kita akan citra-

kan dunia begitu muram dan kejam? Dan rumahnya adalah tempat jagal saat lihat Si Ayah, Paman, Kakaknya menghisap rokok. Pada 2013 lalu, Australia menyabet beberapa penghargaan internasional periklanan. Salah satu karyanya, “Cara Mati yang Bodoh”, Kalimat dan video pendek itu ditujukan bagi warganya agar berhatihati di dekat kereta api. Pasca iklan itu dirilis pada 2012, angka kecelakaan dan kematian menurun 21 persen. Nah, alih-alih menggunakan cara “dupak”, lebih elok bila menggunakan “semoni”. Bolehlah kita usulkan kalimat yang lebih kreatif, “Bayar Mahal untuk Kanker”, “Beli Sekotak Penyakit”, “Cara Bodoh untuk Mati” atau kalimat ironi lainnya. Bagaimanapun mengumbar kata “membunuh” tak akan baik bagi kebudayaan kita. Ya, kan? []

B

anyak yang bertanya bagaimana menjadi anggota Kopkun? Edisi kali ini akan kami beberkan mudahnya menjadi anggota: 1. Mengisi formulir pendaftaran 2. Mengikuti Pengenalan Dasar (wajib) 3. Menyelesaikan administrasi termasuk membayar Simpanan Pokok Rp. 1.000 dan Simpanan Wajib Rp. 10.000. Kelengkapan yang perlu disiapkan: foto kopi KTP/ KTM dan pas foto 4x6/ 3x4 dua lembar. Keuntungan jadi anggota Kopkun: 1. Diskon untuk produk tertentu di Kopkun Swalayan 2. Diskon 20% untuk Sekolah Menulis Storia & Entrepreneur Creativa. 3. Belajar berwirausaha, kepemimpinan dan manajerial. 4. Berpeluang menjadi parttimer dan atau fasilitator 5. Kemanfaatan dalam bentuk sosial-budaya lainnya. Lebih lengkapnya datang langsung ke Kopkun Lt.2. Kami tunggu ya!

Pemasangan Iklan: 08996600388 (Katiti)


Buletin Kopkun Corner Edisi 32