Page 1

COVER

FEBRUARI - APRIL 2012

1


arma IKLAN

2

FEBRUARI - APRIL 2012


FEBRUARI - APRIL 2012

3


4

FEBRUARI - APRIL 2012


SAMBUTAN KETUA DPD HPI BALI Om Swastiastu, Dalam suasana hati penuh kebahagiaan atas suksesnya sebuah karya bersejarah yang menjadi kebanggaan insan pramuwisata yaitu Majalah CAKRAWALA, dengan ini saya panjatkan puja dan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya lah pengurus DPD HPI Bali periode 2011-2016 tetap bersemangat menyelesaikan secara swakelola salah satu amanat Musda VIII di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur tanggal 26 Oktober 2011, yakni menerbitkan kembali majalah ini yang cukup lama terabaikan. Tampilan sekarang cukup tebal, yakni 100 halaman dan full colour berbeda dengan tampilan masa lalu yang sederhana dan hitam putih. Itu karena persaingan dan kemajuan teknologi menuntut hasil yang berkualitas. Majalah ini adalah majalah komunitas yang terbit setiap tiga bulan. Misinya, ke dalam adalah sebagai media komunikasi antar anggota untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Ke luar, sebagai media untuk mengkomunikasikan berbagai macam persoalan pariwisata dengan para stakeholder dan masyarakat. Tentu saja majalah ini juga diharapkan dapat meningkatkan persatuan, rasa cinta dan memiliki pada organisasi, memberi pencerahan tentang hak dan kewajiban pada anggota. Semua itu adalah untuk mendorong peningkatan kualitas pramuwisata agar mereka menjadi professional dan dihargai. Keberadaan majalah ini tidak lepas dari dukungan pemerintah dan para mitra kerja, yang selalu berkontribusi dan menyemangati tim redaksi untuk bekerja keras demi tercapainya citacita bersama. Akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga terbitnya Majalah Cakrawala edisi perdana ini. Kami selalu terbuka terhadap kritik serta saran untuk penyempurnaan penerbitan berikutnya. Semoga pikiran baik datang dari segala arah. Om Shanti Shanti Shanti Om‌

Ketua DPD HPI Bali

Sangtu Subaya

FEBRUARI - APRIL 2012

5


GUBERNUR BALI

Pertama-tama saya mnghaturkan Pujastuti Angayu Bagia kehadapan ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kertha wara nugraha-Nya kita semua dalam keadaan yang berbahagia. Dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat atas diterbitkannya kembali majalah Cakrawala. Melalui penerbitan majalah ini, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali sebagai suatu perhimpunan pramuwisata dapat membantu pembangunan kepariwisataan Bali terutama dalam mempromosikan pariwasata Bali kepada wisatawan. Baik buruk citra Bali selain dipengaruhi oleh issu-issu global baik issu politik, keamanan, kesehatan dan lainnya, secara langsung ataupun tidak langsung akan dapat tersaring dengan diterbitkannya majalah ini. Saya berharap HPI Bali dapat saling bahu membahu dalam membangun kepariwisataan Bali baik itu dengan Pemerintah, stake holder yang lain serta masyarakat, sehingga dapat menciptakan Bali yang Mandara. Akhirnya, semoga Majalah Cakrawala ini dapat berkembang dengan baik dan mampu memberikan informasi yang lengkap kepada wisatawan yang akan datang ke Bali. Terima kasih. OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

6

FEBRUARI - APRIL 2012


SAMBUTAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF Puji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa bahwa salah satu stakeholder pariwisata Indonesia, yakni Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Bali telah ikut berpartisipasi aktif di dalam menumbuhkembangkan kepariwisataan yang berbasis pada ekonomi kreatif dan kebudayaan lokal. Pramuwisata sebagai corong pariwisata memegang peranan penting dalam pengembangan pembangunan kepariwisataan ke depan. Pramuwisata dapat berperan sebagai representasi daerah dan atau bangsa, penjaja produk wisata, animator obyek, teman atau guru yang menyenangkan bagi wisatawan dan juga sebagai mediator antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Di samping pengetahuan tentang budaya, pramuwisata harus mempunyai informasi dari berbagai sumber baik dari buku, jurnal, buletin dan majalah yang berhubungan dengan pariwisata. Berkenaan dengan hal tersebut kami menyambut baik penerbitan majalah Cakrawala sebagai media komunitas anggota HPI. Majalah ini diharapkan mampu menjadi pelita bagi pramuwisata dalam menjalankan tugas dan peran mereka. Demi terciptanya ketertiban, kami berharap semua pramuwisata berpegang pada Undang-undang RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan Peratutran Daerah di masing-masing wilayah menyangkut tata laksana, pembina dan pengawasan. Secara kelembagaan pramuwisata juga tunduk kepada Kode Etik Profesi Anggaran Dasar Rumah Tangga Organisasi. Pada akhirnya kontribusi pramuwisata yang handal dan profesional diharapkan mampu memberi citra positif kepada pariwisata Indonesia agar harapan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing menjadi 8 juta orang pada tahun 2012 dapat direalisasikan. Selamat kepada DPD HPI Bali beserta jajarannya atas penerbitan majalah Cakrawala dan semoga majalah ini benar-benar menjadi corong pariwisata yang berkelanjutan! Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif R.I.,

Mari Elka Pangestu

FEBRUARI - APRIL 2012

7


DARI REDAKSI Pramuwisata Corong Pariwisata

Penantian Panjang Lahirnya Kembali

Perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) VIII Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Bali telah digelar pada tanggal 26 Oktober 2011 di Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur. Event lima tahunan ini dihadiri undangan dari instansi pemerintah, stakeholder kepariwisataan Bali, mitra kerja dan pinisepuh HPI Bali. Dari unsur delegasi hadir utusan Komisariat dan Divisi Bahasa yang masing-masing berjumlah 3 orang dan mempunyai hak suara. Musda kali ini terasa istimewa karena secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Menurut Gubernur sekarang ini terdapat 3 pokok permasalahan yang dihadapi Bali sebagai daerah tujuan wisata kelas dunia. Pertama masalah lambannya pelayanan di airport Ngurah Rai, kedua masalah kemacetan lalu lintas di Bali selatan dan ketiga masalah sampah. Pramuwisata sebagai corong pariwisata diharapkan mampu memberi penjelasan tidak saja objek-objek wisata, tetapi juga mampu memberi penjelasan terhadap permasalahan yang dihadapi Bali secara umum. Musda ini telah mengantarkan terpilihnya kepengurusan baru periode 2011-2016 yang diketuai oleh Sangtu Subaya, SH,MH. Ia dan jajarannya dibekali amanah untuk segera merealisasikan program-program kerja sesuai dengan skala prioritas. Hal tersebut akan bisa tercapai apabila pengurus dan segenap anggota saling bahu-membahu dan menumbuh-kembangkan sense of belonging terhadap organisasi. Salah satu amanat musda yang telah digarap pengurus baru adalah menerbitkan kembali majalah CAKRAWALA. Program ini dibidani oleh Biro Humas dan diharapkan benar-benar mampu menjadi jembatan penghubung antara pengurus dan anggota. Penantian panjang lahirnya kembali majalah kebanggan pramuwisata telah terjawab. Penerbitan perdana ini menampilkan laporan utama obyek wisata Kintamani yang dirasa memudar kejayaannya HPI Bali mempunyai kepedulian akan nasibnya dan mendukung segala usaha untuk meraih kejayaannya kembali. Informasi dan edukasi tentu juga menjadi penekanan untuk merangsang anggota berkarya sebagaimana majalah ini digarap secara swakelola. Akhirnya seluruh pimpinan dan staf redaksi menghaturkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Bali, Made Mangku Pastika dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu karena telah berkenan memberikan sambutan. Kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran terbitnya majalah ini, tak lupa pula kami haturkan terima kasih. Selamat kepada pengurus baru DPD HPI Provinsi Bali periode 2011-2016. Selamat mengemban amanah semoga apa yang menjadi harapan kita bersama dapat terealisasi dengan baik. Semoga!!! Redaksi

8

FEBRUARI - APRIL 2012

Penanggung Jawab Sang Putu Subaya, SH, MH Pemimpin Umum I Ketut Warsa, SE Pemimpin Redaksi Amos Lillo Sekretaris Redaksi Drs. I Gede Kasna, M.Par Redaksi Drs. A. A. Gde Mandra, M.Si Gregorius A. Rusmanda Agustinus Apollo Drs. I Ketut Sukiasa Layout/Design dejerie Ilustrator Sang Nyoman Kaler Sutama Photographer Benny Tong Iklan/ Marketing I Nyoman Yohanes I Made Darmada, SH Ir. Ketut Juni Arjana Efendy Keuangan I Wayan Ruma Sirkulasi Yerimias Aji Tas, SS Agung Surya, SH Penerbit DPD HPI Bali Percetakan PT. Temprina Grafika (Isi di luar tanggung jawab percetakan) Redaksi: Gedung DPD HPI Bali Lt. 2 Jalan Sekar Tunjung VII No. 9 Telp. / Fax. (0361) 466300 e-mail: infocakra@hpibali.com website: www.hpibali.com


C O N T E N T 52

11

Bali Mengusulkan Cendrawasih Jadi Lambang HPI

15 COVER

PARIWISATA ADALAH GUIDE Anak Agung Gede Rai TINGKATKAN TANGGUNG JAWAB PADA TAMU

18

KINI PERPANJANGAN KTPP MELALUI SATU PINTU

20

Mengapa Guide Masuk HPI?

64 “CleAn and Green” Menuju Bali Mandara The Next Edtion SAJIAN UTAMA BADUNG UTARA Badung Utara punya potensi wisata yang menjanjikan. Banyak produk wisata bisa dikembangkan menjadi produk unggulan di daerah ini. Ada produk wisata yang sudah populer, yakni agrowisata, ada juga obyek wisata alam Air Terjun Nung-Nung, dan ada pula desa wisata yang sedang menjadi prioritas Pemkab Badung. Badung Utara juga layak dikembangkan menjadi wisata spiritual, wisata spa, dan wisata minat khusus lainnya. Apa saja potensi Badung Utara Seperti apa dan bagaimana pengembangannya? Simak CAKRAWALA edisi ke dua yang terbit Bulan Mei nanti.

24 31

PA R I W ISA T A KIN T A M ANI Bersemi Kembali

Pura Dalem BALINGKANG BUKTI KEKERABATAN BALI DAN CINA

FEBRUARI - APRIL 2012

9


10

FEBRUARI - APRIL 2012


SEJARAH HPI

Sekilas Sejarah HPI

Bali Mengusulkan Cendrawasih Jadi Lambang HPI Oleh: Nyoman Kandia *)

D

ewan Pariwisata Indonesia (Depari) dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX tahun 1959, sebuah Misi Presiden Sukarno dalam mengembangkan Pariwisata Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik orang-orang asing berkunjung ke Indonesia mengingat sumber daya alam Pariwisata Indonesia beraneka ragam. Keseriusan Presiden Sukarno dalam membangun pariwisata Indonesia dibuktikan dengan pembangunan hotel Bali Beach; satu-satunya hotel berlantai sepuluh tahun 1964 di kawasan Pantai Sanur yang pembiayaannya berasal dari uang pampasan perang Jepang. Bisa dibayangkan ketika dibangun sebuah hotel bertaraf internasional, di satu pihak hanya segelintir manusia Bali yang memahami bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional. Sehingga guruguru berbahasa Inggris terpaksa dipekerjankan di Hotel Bali Beach mengingat belum digarapnya sumber daya manusia di bidang kepariwisataan. Kedatangan wisatawan Asing ke Bali dan menginap di Hotel Bali Beach menarik sekumpulan orang Bali dibawah Komando Profesor Doktor Ida Bagus Rata, Anak Agung Tentram Wisnawa dan Kadek Yudha berusaha menghimpun diri mem-

buat perkumpulan “Guide� yang hanya memiliki anggota tidak lebih dari 20 orang disebut dengan BGA (Bali Guides Association). Kiprah BGA sangat diapresiasi oleh Pemerintah Bali saat itu. Mengingat Prof Rata adalah dosen di UNUD, maka beliau tidak boleh memimpin asosiasi swasta, akhirnya Ketua diserahkan kepada Kadek Yudha dan sekretaris Anak Agung Tentram Wisnawa. Salah satu even BGA di Bali tahun 1970-an adalah sebagai mitra kerja Pemerintah dalam kegiatan Festival Film Indonesia diselenggarakan di Bali ketika itu. Selanjutnya untuk mempromosikan Bali sebagai destinasi Pariwisata Dunia, Presiden Sukarno mengintruksikan Bali sebagai tempat kegiatan Pasific Asia Travel Association ( PATA) tahun 1974 di Hotel Bali Beach. Menyadari adanya even dunia tersebut, AA Tentram Wisnawa salah satu anggota BGA dikirim ke Jakarta untuk mendapatkan pendidik khusus dalam hal pelayanan. Gaung kegiatan PATA luar biasa dan dunia mendengar keindangan alam Bali yang menyebabkan kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata setiap tahun meningkat, akibatnya kebutuhan guides semakin meningkat. Tanggal 27 Maret 1983, BGA berinisiatif menggelar Musyawarah Daerah Pertama di Hotel Patra Jasa, Tuban, FEBRUARI - APRIL 2012

11


Bali mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Konvensi WFTGA ke-13 Januari 2009 Bali dengan mengundang Joop Ave sebagai Direktur Jenderal Pariwisata. Atas saran Dirjen Pariwisata itu, Musda BGA diminta ditingkatkan menjadi ajang nasional dengan mengundang asosiasi Guides di luar Bali seperti West Java Tourist Guide Association, Jakarta Tourist Guide Association. Akhirnya berhasil berkumpul sembilan asosiasi Guides seluruh Indonesia. Secara resmi 27 Maret 1983 dibentuk asosiasi para guide ditingkat nasional dengan nama Himpunan Duta Wisata Indonesia ( HDWI) dan terpilih Anak Agung Tentra Wisnawa sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Duta Wisata Indonesia dengan Sekretaris Jenderal Rizani Idza Karnanda. Joop Ave memberikan nama Duta Wisata terhadap asosiasi guides karena beliau yakin guides adalah duta dari sebuah negara

12

yang memiliki tugas untuk menginformasikan tentang kepariwisataan di Indonesia. Setelah lima tahun berjalan HDWI sebagai asosiasi guides di Indonesia, akhirnya atas inisiatif kepala Dinas Pariwisata Provinsi di seluruh Indonesia mengadakan pertemuan di Wantilan Wilatikta Pandaan, Jawa Timur tahun 1988 mengusulkan agar HDWI berubah nama menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Alasanya kurang jelas kenapa? Asumsinya, kata Duta Wisata mungkin terlalu berat disandang oleh pekerja hospitality setingkat guide. Sehingga tanggal 5 Oktober 1988 dilaksanakan Musyawarah Nasional Pertama difasilitasi oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan yang akhirnya HDWI harus berganti nama menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI).

FEBRUARI - APRIL 2012

Saat itu, kembali terpilih mantan Ketua Umum DPP HDWI Anak Agung Tentram Wisnawa sebagai Ketua Umum DPP Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan sekretaris Jenderal Yan. L Simanjuntak. Peran DPP HPI sangat aktif untuk mengembangkan asosiasi ini ditingkat Provinsi seluruh Indonesia. Pengakuan penting dari Menteri Pariwisata Pos dan telekomunikasi (Menparpostel) adalah keluarnya peraturan menteri parpostel tentang Pramuwisata dan Tour Leader pada tahun 1988. Kemudian dikuatkan dengan Keputusan Dirjen Pariwisata tentang Pramuwisata. Rapat Kerja Nasional HPI pertama tahun 1989 melahirkan logo HPI yaitu Burung Cendrawasih yang diajukan oleh delegasi HPI Bali dengan alasan bahwa burang cendrawasih adalah burung langka di Indo-


SEJARAH HPI nesia, dan masyarakat Bali mempercayai sebagai “ Manuk Dewata”, yang memiliki penampilan Indah dan suara nyaring identik dengan seorang pramuwisata. Tahun 1993 DPD HPI Jawa Tengah dengan Ketua Haji Mundjirin MZ, ditetapkan sebagai tuan Rumah pelaksana Musyawarah Nasional oleh DPP HPI. Pelaksanaan Munas II HPI di Jawa Tengah berjalan sukses dan terpilih Yan. L. Simanjuntak sebagai Ketua Umum DPP HPI menggantikan AA Tentram Wisnawa. Kepemimpinan Yan Simanjuntak berhasil menggelar Rapat Kerja Nasional HPI di Medan Sumatera Utara pada tahun 1996 yang dibuka oleh Andi Mapisameng Dirjen Pariwisata. Pasca Rakernas HPI Medan gaung program kerja DPP HPI tidak begitu banyak terdengar lagi oleh anggota HPI, disebabkan oleh kesibukan pengurus pusat. Seharusnya Munas III HPI digelar tahun 1998 mengalami kemunduran karena situasi negeri Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kepemimpinan lengsernya Pak Harto sebagai presiden. Setelah tertunda selama tiga tahun akhirnya atas inisiatif DPD HPI Jawa Timur bulan mei 2001 digelar Musyawarah Nasional III Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan tujuan pokok mendengarkan pertanggungjawaban DPP HPI dibawah kepemimpinan Yan Simanjutak selaku Ketua Umum. DPD HPI Bali dibawah pimpinan I Made Sudira hadir dengan kekuatan 125 peserta dari Bali untuk mengikuti Munas III HPI. Kehadirannya terdorong oleh keinginan DPD HPI untuk mempertanyakan sikap Ketua Umum terhadap lahirnya asosiasi pramuwisata baru yang menjadi keresahan di HPI Bali, mengingat Keputusan Gubernur Bali dari tahun 1988 hanya mengakui HPI satu-satunya asosiasi pramuwisata yang sah. Ketika masuk ke pencalonan Ketua Umum DPP HPI, DPD HPI Bali menugaskan Nyoman Kandia untuk menjadi kandidat Ketua Umum DPP HPI dengan tugas yaitu menyelamatkan keberadaan DPP HPI sekaligus menangkal lahirnya asosiasi Pramuwisata yang baru disebut dengan Komite Pramuwisata Indonesia ( KPRI). Selama kurun waktu 2001-2006, KPRI tidak bisa berkembang dan situasi mulai kondusif dibawah Kepemimpinan

Burung Cendrawasih oleh masyarakat Bali dipercaya sebagai “Manuk Dewata” yang memiliki penampilan indah dan suara nyaring Ketua Umum DPP HPI Nyoman Kandia dan I Made Sumada sebagai Sekretaris Jenderal yang akhirnya bisa terbentuk 33 DPD HPI seluruh Indonesia. Kerjasama luar negari DPP HPI mulai dirintis dengan bergabung menjadi anggota World Federation of Tourist Guide Associations (WFTGA) berkantor pusat di Vienna Austria. Nyoman Kandia sebagai Ketua Umum HPI pusat hadir pertamakali dalam Konvensi Internasional WFTGA di Kota Edinburgh, Skotlandia Inggris untuk menyampaikan aspirasi pramuwisata anggota HPI dan wakil dari Indonesia. Semenjak kehadiran Ketua Umum di WFTGA semakin mempererat jalinan kerjasama HPI dengan asosiasi pramuwisata di seluruh dunia dalam rangka meningkatkan pengetahuan, ketrampilan anggota HPI karena interaksi yang telah dijalin. Puncak dari kerjasama pramuwisata dunia terse-

but adalah dipercayanya HPI sebagai tuan Rumah Konvensi Internasional WFTGA ke13 di Pulau Dewata Bali bulan Januari 2009, setelah Nyoman Kandia terpilih untuk kedua kalinya sebagai Ketua Umum DPP HPI masa bakti 2006-2010. MUNAS IV HPI seharunya jatuh tahun 2010 diundur satu tahun mengingat dukungan dana MUNAS IV dari Pihak Kementerian Budpar Jakarta baru bisa direalisasikan tahun 2011, dan pengunduran MUNAS IV telah mendapat persetujuan dalam Rakernas IX HPI di Kota Sentani Kabupaten Jayapura- Papua. Puncak bulan September 2011 diselenggarakan MUNAS IV HPI di Jakarta dengan tuan Rumah DPD HPI DKI. Akhirnya terpilih Erwan Maulana sebagai Ketua Umum DPP HPI 2011-2016 dengan sekretaris Jenderal Budi Triyono Ansor. *penulis, mantan Ketua Umum DPP HPI FEBRUARI - APRIL 2012

13


14

FEBRUARI - APRIL 2012


SEJARAH HPI

PARIWISATA

ADALAH GUIDE

K

Oleh: I Made Sudira*)

ETIKA postmodernis mendefinisikan kebudayaan adalah gaya hi­ dup, saya kendati bukan seorang postmodernis, ingin mendefinisikan batasan pariwisata secara singkat kendati tidak serampangan. Bagi saya, pariwisata adalah guide! Kalau postmodernis memiliki berbagai argumen dan dalih untuk menelorkan “gaya hidup� sebagai batasan kebudayaan, saya juga punya penjelasan yang tidak begitu rumit untuk mengatakan, pariwisata adalah guide. Bila melihat kerumunan guide dengan warnawarni seragam di depan pintu keluar terminal kedatangan di airport, kita paham bahwa insan-insan pariwisata itu sedang memulai pekerjaannya. Selanjutnya mereka menyebar menuju berbagai tempat di Bali untuk mengantarkan wisatawan ke tempat -tempat penginapan masing-masing sesuai pesanannya. Hari berikutnya para guide tersebut juga tampak menemani klien mereka ke obyek-obyek wisata atau tempat rekreasi serta restoran untuk makan siang atau malam. Terakhir, mereka tampak kembali di bandara yakni di terminal keberangkatan untuk melepas klien mereka pulang ke negeri masing-masing.

Kalau cuma sebatas menjemput di airport dan mengantar kembali ke airport, lalu mendefinisikan pariwisata adalah guide, memang terkesan lebay alias berlebihan. Namun terkait dengan pelayanan selama masa tinggalnya di Bali, wisatawan harus berhubungan dengan banyak pihak, yang tidak jarang melahirkan bermacam masalah. Untuk itu guide harus ikut terlibat dalam urusan dengan berbagai pihak. Apalagi ketika awal bertemu di airport, setelah memperkenalkan diri guide berjanji siap memberi pelayanan terbaik bagi wisatawan selama kunjungan mereka di Bali. Di samping itu, mungkin karena faktor bahasa, setiap masalah yang dihadapi klien, guidelah pihak pertama yang dilaporinya dan diminta untuk menyelesaikan. Bila permintaan itu, oleh berbagai keterbatasan tidak bisa dipenuhi, tidak jarang hal yang paling menakutkan akan diganjarkan pada guide yakni complaint. Dalam pariwisata ada dua motto terkait momok atau complaint yang ditakuti guide, juga sebagian besar komponen dan insan pariwisata. The Guest is a King, with or without Crown (Tamu adalah Raja, dengan atau tanpa mahkota) dan The Guest is our Bread and Butter (Tamu adalah FEBRUARI - APRIL 2012

15


SEJARAH HPI

Roti dan Mentega kita). Kedua motto tersebut memang terkesan berlebihan karena Indonesia yang negaranya berbentuk republik, pun rakyatnya tidak menganggap roti dan mentega sebagai makanan pokok. Namun sebagai negara yang mengaharapkan pariwisata sebagai salah satu penghasil devisa utama, khususnya Bali yang menjadikan pariwisata sebagai satu-satunya industri, maka motto yang berasal dari Barat itu, mau tidak mau harus tetap diperhatikan. Wisatawan yang datang ke Bali tentunya telah mendengar ketenaran pulau ini, baik dari mulut ke mulut juga lewat promosi dan guide book. Untuk itulah mereka mempersiapkan diri baik secara finansial, fisik maupun waktu dan pikiran, agar mendapat kepuasan batiniah sesuai pengorbanan mereka. Joop Ave saat masih menjabat Dirjen Pariwisata tahun 1983 pernah mewanti-wanti para guide untuk memberi pelayanan sebaik-baiknya pada wisatawan agar mereka berkesan menikmati keindahan alam Bali dan kebudayaan masyarakatnya. Kalau mereka datang mendapat kesan, maka mereka pulang membawa pesan. Sebagai duta bangsa di kancah pari-

16

wisata, pesannya, guide harus mampu menjelaskan secara baik tentang sejarah, seni, budaya, adat-istiadat masyarakat Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena itu, tambahnya, guide harus pintar berdiplomasi. Joop Ave pula yang pertama kali mengatakan guide adalah ujung tombak pariwisata dan dia juga mengganti istilah guide menjadi Duta Wisata, mengingat luasnya peranan dan beratnya tugas seorang guide. Wejangan dan pesan Joop Ave tersebut terlontar saat membuka Musyawarah Daerah I Himpunan Duta Wisata Indonesia (HDWI) Bali sekaligus Musyawarah Nasional I HDWI di ruang Puri Bunga Pertamina Cottage (kini Hotel Patra Bali) pada 23 Maret 1983. Musyawarah itu tejadi karena para guide yang sebelumnya terhimpun dalam organisasi tanpa badan hukum bernama Bali Guide Association ( BGA) merasa geram akibat artikel di sebuah majalah. Sarinah nama majalah terbitan Jakarta itu memuat hasil wawancaranya dengan seorang pelukis bernama Agus Djaya, yang menista para guide sebagai pemeras dan penipu. Dengan kemarahan meledak-ledak para guide yang baru berjumlah ratusan

FEBRUARI - APRIL 2012

orang berkumpul di Wantilan Art Center Denpasar dengan niat menyatukan pendapat untuk menuntut pelukis itu secara hukum. Namun, dalam pertemuan penuh emosi itu, ada yang menyarankan agar mengesahkan status BGA jadi organisasi berbadan hukum. Alasannya, tidak mungkin mengajukan tuntutan hukum pada seseorang oleh ratusan orang. Kendati tuntutan hukum tidak jadi dilakukan karena berbagai pertimbangan namun sejak Maret 1983, BGA yang tadinya dianggap organisasi tanpa bentuk, menjadi lembaga resmi bernama HDWI Bali. Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) serta Kode Etik Profesi sebagai kelengkapan organisasi juga disusun dan berlaku secara nasional. Tidak berlebihan kalau Joop Ave dalam menyambut kelahiran HDWI mengatakan, “Fajar pariwisata Indonesia telah terbit dari ufuk timur, tepatnya di Bali! “Para guide di Bali seharusnya bangga, kalau pariwisata negeri ini ditata awal dari Pulau Dewata, dengan lahirnya organisasi guide atas prakarsa sendiri, bukan dibentuk pemerintah. Sayang nama yang pantas untuk guide ini, tanpa alasan yang jelas lewat pertemuan di Pandaan, Jawa


SEJARAH HPI Timur tahun 1988 yang disponsori pihak penguasa di diganti jadi “Pramuwisata“. Celakanya, sejarah per-guide-an pun berusaha dihilangkan dengan menghapus jejak HDWI, sedangkan perhimpunan guide dianggap lahir tahun 1988, yakni sejak organisasi bernama Himpunan Pramuwisata Indonesia. Satu hal yang membuat saya bersikukuh mendefinisikan “ pariwisata adalah guide “, di samping secara faktual mengacu pada kegiatan guide yang luas dan kompleks seperti sinyalemen Joop Ave, juga produk hukum yang dibuat Pemerintah Daerah Bali. Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 10 Tahun 1989, adalah satu-satunya peraturan yang mengatur kepariwisataan, khususnya guide, sedangkan komponen-komponen lain seakan tidak diperhatikan. Bahkan Undang Undang Pariwisata Indonesia juga lahir belakangan, karenanya tidak tertera dalam konsideran Perda Nomor 10 Tahun 1989 tersebut. Nah dalam Pasal 3 Perda Nomor 10/1989 itu terurai tugas dan kewajiban seorang guide secara lengkap dan luas dalam melayani kliennya selama tinggal di Bali atau Indonesia. Inilah menyebabkan guide harus berhubungan dengan berbagai pihak sebagai mediator, terutama saat timbul permasalahan

dengan komponen-komponen atau stake holders pariwisata lainnya agar kredo “datang mendapat kesan, pulang membawa pesan” terwujud. Sering begitu masuk ke Bali, berbagai masalah terjadi terkait pelayanan di airport seperti kepabeanan, imigrasi, money exchange dan porter dan semua complaint disampaikan ke guide. Tidak jarang, koper atau barang bawaan wisatawan tidak terangkut di bagasi pesawat atau bahkan nyasar ke negara lain, menyebabkan keluhan dan kekesalan diterima guide. Setiba di hotel dari airport, kerap wisatawan complaint karena standard, fasilitas dan lokasi kamar yang mereka terima tidak sesuai seperti yang mereka pesan dan yang paling pertama mendengar ocehan mereka adalah guide. Ketika melakukan tour, baik terhadap kendaraan yang digunakan, sikap masyarakat dan obyek wisata tidak seperti apa yang tertulis di guide book atau dengar dari kawan, kekecewaan juga disampaikan ke guide. Fasilitas umum di obyek-obyek wisata atau dalam rute perjalanan ke destinasi wisata, yang seharusnya disediakan pemerintah demi kenyamanan wisatawan, paling sering mendulang complaint. Banyak masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawab guide, namun

demi tidak berkurangnya kesan dan hilangnya pesan sesampai wisatawan di negaranya, guide harus minta maaf atas segala ketidaknyamanan itu. Karenanya, disimak dari tugas dan tanggung jawab yang dibebankan ke guide sehingga berkesan seperti “tong sampah complaint”, saya tetap mendefinisikan “pariwisata adalah guide”. Kalau boleh mengusul agar nomenklatur “pramuwisata“ untuk guide dikembalikan ke “duta wisata” seperti yang disematkan Joop Ave pada 23 Maret 1983. Kalau usul itu tidak diterima, saya lebih senang menggunakan sebutan “guide” untuk mereka yang menjalani profesi pemandu wisata seperti sekarang daripada pramuwisata. Imbauan pada seluruh anggota HPI Bali agar tidak sekali-sekali meninggalkan sejarah yakni melupakan cikal bakal HPI yakni HDWI. Seyogyanya para pengurus DPD HPI Bali memberikan semacam piagam pada Hotel Patra Bali (Pertamina Cottage dulu) atas jasanya menyediakan fasilitas Musda dan Munas I HDWI, termasuk konsumsi secara gratis. *) penulis Ketua DPD HPI Bali, 1999 – 2002

FEBRUARI - APRIL 2012

17


INFO HPI

PERPANJANGAN KTPP MELALUI SATU PINTU

D

iawal tahun 2012 Pengurus DPD HPI Provinsi Bali periode 2011-2016 mempersembahkan kado istimewa bagi seluruh anggotanya. Pengurus yang baru berumur tiga bulan ini telah membuat terobosan untuk merealisasikan salah satu program yang diamanatkan pada Musyawarah Daerah VIII DPD HPI Bali di Inna Grand Bali Beach Sanur tanggal 26 Oktober 2011. Menunjuk salah satu Hasil Sidang Komisi B Bidang Program Kerja Internal pada poin 3 menyebutkan bahwa DPD HPI Bali hendaknya “Melakukan koordinasi

18

FEBRUARI - APRIL 2012

yang intensif dengan pengurus Komisariat/Devisi dalam hal penggarapan isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan anggota dan organisasi sehingga keberadaan HPI dirasakan oleh seluruh anggota�. Implimentasi program tersebut diatas berawal dari audensi segenap Pengurus baru DPD HPI ke Dinas Pariwisata Provinsi Bali pada tanggal 14 Desember 2011. Pada acara temu kenal dengan Bapak Kadispar IB Kade Subhiksu beserta segenap jajarannya sampailah kepada paradigma kepengurusan baru agar keberadaan HPI benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota. Kami ingin


INFO HPI menghapus agar HPI tidak lagi dipelesetkan oleh sebagian anggota sebagai “Himpunan Pemungut Iuran” saja. Untuk itu kami mohon kepada Bapak Kadispar agar sudi kiranya memberikan kepercayaan kepada kami memperpanjang Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata (KTPP) melalui satu pintu. Pada suasana audensi yang hangat dan penuh kekeluargaan, Bapak Kadispar merespon usulan pengurus dengan bijak dan pada prinsipnya memberikan lampu hijau kepada HPI. Mengenai teknis disarankan agar berkoordinasi lebih jauh dengan Kepala Bidang dan Kepala Seksi terkait. Pada tanggal 21 Desember 2011 dan tanggal 6 Januari 2012 perwakilan Pengurus HPI diterima oleh Kepala Seksi Sertifikasi dan Plh. Kepala Bidang SDM Dispar Provinsi Bali untuk membahas teknis perpanjangan anggota. Hasil pertemuan tersebut menyepa-

kati bahwa per Januari 2012 HPI diberikan kepercayaan untuk mengurus perpanjangan KTPP anggota melalui satu pintu. Terknisnya anggota cukup datang ke kantor HPI di Jalan Sekar Tunjung VII/9 Gatsu Timur Denpasar dengan membawa perlengkapan yang dipersyaratkan yaitu: (1) 1 lembar photo copy KTP yang masih berlaku, (2) 1 lembar photo copy KTPP, (3) 1 lembar photo copy KTA, (4) Surat Keterangan Sehat dari dokter Pemerintah, (5) Pasphoto ukuran 3x4cm dan 2x3cm masing-masing 2 lembar berwarna lengkap dengan dasi. Bagi anggota yang telah melengkapi persyaratan administrasi dan iurannya akan diberikan Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh DPD HPI Bali sebagai pengganti perlopeh. Masa berlaku surat keterangan yang menyebutkan bahwa KTPP sedang dalam proses perpanjangan

adalah satu bulan. Staf di kesekretariatan DPD HPI Bali akan menghubungi anggota apabila KTPP sudah selesai dan pada saat bersamaan akan diserahkan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang masa berlakunya sama dengan masa berlaku KTPP (tiga tahun). Segenap Pengurus DPD HPI Bali mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pariwisata Provinsi Bali atas kepercayaan yang diberikan untuk mengurus perpanjangan anggota melalui satu pintu. Sesuai dengan permintaan Dispar, kami akan pertahankan kepercayaan ini untuk tidak disalah-gunakan. Akhirnya debat panjang menghasilkan satu kado istimewa bagi segenap anggota HPI Bali. Terobosan ini adalah awal dari kebangkitan HPI untuk bersinergi dengan anggota, instansi terkait dan masyarakat. Semoga!!! (DPD HPI BALI)

SETELAH CAKRAWALA,

KOPERASI PRAMUWISATA AKAN SEGARA DIREALISASIKAN

P

erlahan tapi pasti, itulah ungkapan yang digulirkan oleh Pengurus DPD HPI Provinsi Bali masa bakti 2011-2016 dalam menjalankan program yang diamanatkan pada Musyawarah Daerah VIII DPD HPI Bali tanggal 26 Oktober 2011 di Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur. Pada semester pertama pengurus telah melaksanakan beberapa program baik yang bersifat internal maupun eksternal. Program internal seperti renovasi kantor, sosialisasi pengurus, pengiriman hasil Musda ke komisariat dan atur piuning ke pura Besakih mohon agar Pengurus dalam menjalankan tugas-tugasnya diberikan keselamatan, kesehatan dan kesuksesan. Adapun program eksternal adalah audensi ke beberapa bupati/walikota di Bali, Komisi IV DPRD Provinsi Bali, Kapolda Bali, Kadispar Provinsi

Bali dan beberapa Kadipar Kabupaten/Kota. Program sosial lainnya adalah bersih-bersih tiap hari selasa pagi di pantai Kuta dan sekitarnya melibatkan anggota pramuwisata secara bergiliran. Penerbitan majalah Cakrawala adalah program awal yang dirintis oleh DPDHPI Bali melalui Biro Humas. Cakrawala terbit tiap tiga bulan sekali terdiri dari 104 halaman full colour. Majalah yang bertagline “pramuwisata corong pariwisata” diharapkan benar-benar menjadi jembatan penghubung antara anggota dan pengurus baik dari sisi informasi organisasi, edukasi maupun menyangkut kewajiban dan hak anggota. Dengan demikian semua anggota berkewajiban untuk membeli majalah tersebut dengan harga Rp. 30.000,- per majalah. Pada tanggal 22 Febru-

ari 2012 Cakrawala dilaunching untuk penerbitan perdananya. Bagi semua pihak yang telah membantu terlaksananya program ini, dengan segala kerendahan hati kami segenap Pengurus menghaturkan terima kasih. Setelah Cakrawala, akan segera direalisasikan amanat Musda yang lain yaitu mengaktifkan kembali Koperasi Pramuwisata. Perencanaan kearah itu sudah intens dilakukan melalui Biro Kesra. Perlu diketahui, hasil rapat pleno pengurus tanggal 8 Desembe 2011 memutuskan koperasi Pramuwisata yang akan dibentuk adalah koperasi baru, yang namanya Koperasi Pramuwisata Bali disingkat KOPRAM BALI. Hal tersebut dilakukan karena koperasi yang lama sudah beku operasi. (Sumber DPD HPI Bali)

FEBRUARI - APRIL 2012

19


INFO HPI

Jajaran Pengurus DPD HPI pose bersama dengan Kadisparda Provinsi Bali IB. Subhiksu, seusai audensi .

Mengapa

guide harus masuk HPI?

S

eseorang yang kerjanya mengantarkan turis baik turis asing maupun domestik disebut guide. Sebutan yang berasal dari bahasa Inggris ini sesungguhnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia yaitu pramuwisata. Tetapi kata ini kurang populer karena pemunculannya belakangan, setelah disadari bahwa banyak kata majemuk dalam bahasa Indonesia yang dipakai untuk memberi arti sebuah profesi seperti pramusaji, pramuwisma, pramuniaga dan lain-lain yang tugas pokoknya adalah memberikan pelayanan. Sebutan pramuwisata untuk guide kemudian disepakati di Pandaan, Jawa Timur dalam temu wicara para tokoh per-guide-an yang sebelumnya sempat diberi nama duta wisata oleh Bapak Joop Ave, Dirjen Kementerian Pariwisata Pos dan Telekomunikasi saat itu. Maka merunut sejarahnya organisai profesi ini yang embrionya adalah Bali Guide Asossiation (BGA) dibentuk menjadi Him-

20

punan Duta Wisata Indonesia (HDWI) dan terakhir menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Dalam wilayah negara hukum (rechstaat) semua bentuk serikat didasarkan pada pengaturan yang dilindungi konstitusi negara tentang kebebasan berserikat. Namun kebebasan itu dipagari oleh ramburambu yang bertujuan untuk menciptakan ketertiban. Bayangkan, kalau setiap orang di republik ini melakukan apa yang dia suka tanpa ada batasan-batasan pengaturan, tentu akan menimbulkan kekacauan. Itulah yang mendorong lahirnya Undang Undang Tentang Organisasi Kemasyarakatan No. 8 Tahun 1985. Jadi, tentu HPI dibentuk untuk menciptakan ketertiban bagi pramuwisata dalam menunaikan tugas pelayanan kepada wisatawan. Pengaturannya dimuat dalam UU No 10 Tahun 2009 tentang Pariwisata dan turunannya berupa Peraturan Menteri (Permen) dan Peraturan Daerah (Perda). Di

FEBRUARI - APRIL 2012

Guide selalu berhadapan langsung dengan wisatawan

Indonesia, baru provinsi Bali yang memiliki Perda tentang Pramuwisata. Belakangan seiring dengan didorongnya pembangunan pariwisata di daerah lain di Indonesia, banyak daerah yang melakukan studi banding ke Bali berkenaan dengan pengaturan pramuwisata. Perda Bali tentang Pramuwisata No.10 Tahun 1990 yang kemudian direvisi men-


INFO INFO HPIHPI jadi Perda Pramuwisata No.5 Tahun 2008 mendorong lahirnya Perda asosiasi-asosiasi kepariwisataan lainnya yang bergabung dalam payung Bali Tourism Board (BTB) yang sekarang menjelma menjadi Gabungan Industi Pariwisata Indonesia Daerah Bali (GIPI Bali). HPI Bali adalah salah satu pendiri dari 9 asosiasi kepariwisataan (stakeholder) yang mendirikan BTB dan berperan melalui perwakilannya dalam membidani (menyiapkan AD/ART) lahirnya GIPI Bali bersama-sama dengan Asosiasi Travel Agent (ASITA) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Perubahan nama/bentuk ini dilakukan sesuai amanat Undang-Undang Tentang Kepariwisataan No.10 Tahun 2009. Pramuwisata di Bali berjumlah 8.198 orang di tahun 2011 sesuai statistik Dinas Pariwisata Provinsi. Namun banyak juga yang telah beralih profesi seperti menjadi notaris, advokat, pengusaha, anggota legislatif dan bahkan ada yang telah menjadi bupati. Berdasarkan data yang dimiliki sekretariat HPI di Jln. Sekar Tunjung VII No.9 Gatsu Timur, Denpasar anggota yang aktif adalah sekitar 5.500 orang. Mereka terdiri dari 14 kelompok spesialisasi bahasa. Sembilan dari kelompok-kelompok itu telah dilantik dan diberi pengesahan dengan Surat Keputusan oleh DPD HPI Bali sebagai Divisi Bahasa yakni: Divisi Jerman, Divisi Belanda, Divisi Mandarin, Divisi Domestik, Divisi Korea, Divisi Jepang, Divisi Rusia, Divisi Perancis dan Divisi Spanyol. Dua kelompok yakni spesialisasi bahasa Inggris dan bahasa Italia segera akan membentuk divisi. Tiga lainnya yakni bahasa Ceko, Denmark dan Arab karena anggotanya sedikit belum memenuhi syarat untuk pembentukan divisi. Pramuwisata yang telah memiliki sertifikat pramuwisata diberikan Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata disingkat KTTP yang selanjutnya dianggap sebagai izin operasional atau lisensi melalui proses sertifikasi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tinggi dan diuji oleh tim bentukan Gubernur Bali. Lisensi tersebut berlaku tiga tahun dan dapat diperpanjang secara berturut-turut setiap tiga tahun. Di Bali, syarat untuk menjadi pramuwisata, termasuk di dalamnya proses pendidikan, pembinaan dan pengawasan ditentukan oleh pemerintah dengan Perda Pramuwisata No. 5 Tahun 2008 dan Pergub No. 41 Tahun 2009 sebagai petunjuk pelaksanaannya.

Dalam Bus, guide harus mampu mencairkan suasana.

Salah satu pasal dalam perda tersebut, yakni Pasal 8 berbunyi : “pramuwisata yang telah memiliki sertifikat dan Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata harus bergabung dalam suatu wadah organisasi pramuwisata�. Jadi bergabungnya pramuwisata dalam suatu wadah bukan karena suka-suka tetapi karena amanat undang-undang dalam suatu negara hukum. Sementara ini di Bali hanya ada satu wadah pramuwisata yakni DPD HPI Bali. Maka menjadi keharusan bagi setiap pramuwisata sah yang ada di Bali bergabung di dalam-

nya. Dahulu pernah ada wadah lain tetapi sekarang tidak pernah terdengar lagi. Kalau demikian halnya setiap pramuwisata yang masuk menjadi anggota perlu mengetahui bagaimana kinerja organisasi tempatnya bernaung dan apa yang menjadi hak serta kewajiban mereka.

DPD HPI Bali HPI Bali adalah sebuah organisasi profesi pramuwisata yang mempunyai latar belakang sejarah cukup menentukan

perkembangan pariwisata di Bali (baca berita terkait : Sejarah HPI). Sahnya sebuah organisasi adalah ia mempunyai tempat/ wilayah, pengurus, anggota dan peraturan. HPI Bali memiliki itu semua. Anggotanya yang 8 ribu orang lebih memiliki gedung dan pengurus. Ketuanya dipilih secara demokratis setiap 5 tahun sekali. Ketua terpilih menjadi ketua formatur untuk memilih pengurus yang akan membantunya mengerjakan amanat musyawarah tertinggi (pleno) yang biasanya dihasilkan dalam siding-sidang komisi yang merumuskan apa-apa saja yang harus dikerjakan oleh pengurus baru. Secara tradisi HPI dalam setiap musyawarah tertingginya pada semua tingkatan yaitu MUNAS dan MUSDA membentuk 3 sidang komisi yang merumuskan tugas ketua terpilih ke depan. Di ketiga komisi itu masing-masing membahas bidang organisasi, bidang kehumasan dan bidang kesra. Hasil dari ketiga komisi diplenokan kemudian diputuskan secara musyawarah. Keputusan itu menjadi pegangan dan tugas yang harus dikerjakan oleh ketua terpilih dan jajaran pengurusnya. Kemudian karena banyaknya tugas yang diamanatkan maka ketua sebagai penanggungjawab membentuk biro-biro sesuai kebutuhan, seperti biro organisasi, humas, diklat, kesra, litbang dan lain-lain. HPI adalah organisasi yang berskala nasional yang berpusat di Jakarta dan ada di 33 propinsi. Pengurus pusat disebut Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan di daerah disebut FEBRUARI - APRIL 2012

21


INFO HPI Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Mengingat karakter daerah/wilayah di Indonesia tidak seragam maka DPD diberi kewenangan untuk menentukan model yang dijadikan organ organisasi untuk menjembatani kepentingan pengurus dan anggota. Di Bali memakai model Komisariat yang dibentuk di setiap Travel Agent, dan juga Divisi yang dibentuk berdasarkan spesialisasi bahasa. Di daerah lain yang wilayahnya luas memakai model DPC yang dibentuk di setiap kabupaten/kota yang ada perkumpulan pramuwisatanya. Sedangkan pramuwisata itu sendiri diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu pramuwisata umum yang wilayah kerjanya lintas kabupaten/kota dalam satu provinsi dan pramuwisata khusus yang daerah kerjanya ada di obyekobyek wisata yang ada di wilayah kabupaten/kota. Perlu diketahui bahwa sering terjadi masalah ketika pramuwisata umum

pengurus bilamana mereka menjalankan tugas mewakili organisasi ke luar. Melihat HPI Bali kiprahnya makin melebar maka interaksi dengan lembagalembaga lain tidak terhindarkan. Besaran iuran tersebut tidak mengalami kenaikan sejak puluhan tahun. Bahkan pada saat krisis ekonomi karena berbagai sebab seperti pergantian rezim, bom Bali dll. iuran malah diturunkan menjadi Rp 5000,- tetapi setelah kondisi pariwisata kembali normal dikembalikan menjadi Rp. 10.000,- Dari kewajiban membayar iuran anggota mendapat hak perlindungan hukum apabila terjadi kasus yang berhubungan dengan profesi. Perlindungan menjadi fakultatif kalau anggota tertimpa kasus pidana dan atau perdata. Di samping hak perlindungan hukum anggota mendapat hak santunan suka duka yang dalam Musda VII nominalnya dinaikkan tanpa menaikan besaran iuran. Ini berpen-

DPD HPI menyambut tamu penting di ruang pertemuan.

mengambil pekerjaan lintas provinsi. Untuk itu seperti contoh Bali dan Jawa Timur telah membuat kesepakatan lintas batas. Tugas itu biasanya diambil oleh pramuwisata yang telah memiliki lisensi sebagai Tour Leader. Itupun harus ada pendampingan pramuwisata umum setempat apabila bekerja di luar wilayahnya.

Hak dan Kewajiban HPI memiliki AD/ART yang mengatur hak dan kewajiban anggotanya. Musyawarah Daerah VIII DPD HPI Bali menetapkan iuran Rp 10.000 per bulan sebagai kewajiban kepada setiap anggotanya. Iuran itu sejatinya untuk operasional kantor dimana di dalamnya ada komponen karyawan, ATK, listrik, telpon air, kebersihan dan lain-lain yang harus dibayar. Di samping itu harus disiapkan dana kompensasi kepada

22

garuh banyak terhadap kondisi keuangan organisasi sehingga membuka ruang untuk dilakukan pengkajian. Di komisi kesra telah dibahas peruntukan iuran yaitu di samping untuk biaya operasiponal organisasi juga untuk santunan suka-duka bagi anggota, semisal perkawinan, opname dan meninggal dunia. Besarannya adalah Rp 500 ribu, Rp 1 juta dan Rp 3 juta. Tentu saja santunan tersebut diberikan apabila anggota lunas membayar iuran sesuai masa berlakunya lisensi. Bagi anggota yang baru masuk tentu diwajibkan membayar uang pangkal karena kemudian ia akan mempunyai hak yang sama terhadap semua asset organisasi.

Kesalah-pahaman Banyak pramuwisata yang belum paham tentang organisasi serta hak dan

FEBRUARI - APRIL 2012

Gedung sekretariat DPD HPI Bali, Jalan Sekar Tunjung VII No. 9 Gatsu Timur Denpasar

kewajibannya. Terbetik lelucon di antara anggota yang mengatakan bahwa HPI adalah singkatan dari “Himpunan Pemunggut Iuran�. Ada juga di luar sana, yang skeptis mengatakan bahwa tidak perlu masuk HPI karena HPI tidak memberi pekerjaan. Sering juga terjadi, anggota menuntut hak berlebihan, maksudnya persoalan-persoalan di luar hak yang sudah digariskan dicoba untuk dimintakan penanganan kepada pengurus. Banyak anggota yang belum menyadari hak-haknya dengan mengatakan pernah diopname tetapi HPI tidak memperhatikan atau sebaliknya banyak yang nunggak pembayaran iuran tetapi ketika terjadi musibah ngotot haknya harus diberikan. Banyak anggota yang belum tahu tentang tata kelola organisasi sehingga menjadi apatis dan cendrung apriori kepada pengurus. Pengurus adalah juga pramuwisata aktif yang sebagian waktunya harus disiapkan untuk kepentingan profesinya. Kondisi itu mesti dipahami karena tugas yang dilakukan di organisasi adalah semata-mata pengabdian. HPI mestinya tidak dipandang sebagai sebuah perusahaan, yang harus mensejahterakan karyawannya, tetapi ia adalah wadah berkumpulnya pramuwisata karena amanat undang-undang untuk tujuan pembinaan dan pengawasan agar tercipta ketertiban dalam menjalankan perannya sebagai salah satu stakeholder pariwisata. HPI memang berkewajiban memediasi usaha-usaha untuk mensejahterakan anggotanya dengan cara memperjuangkan kenaikan guide fee, mengajak berasuransi secara kolektif, mengajak menjadi anggota koperasi dan lain-lain terobosan yang intinya memperjuangkan kepentingan anggota. (Sumber DPD HPI Bali)


INFO HPI

Komentar dan Pendapat Anggota Keberadaan majalah CAKRAWALA sangat dinantikan oleh anggota,karena penerbitan kembali majalah ini merupakan amanah Musda tahun 2011. Melalui masing-masing ketua divisi, editor merekam komentar, pendapat dan harapan terkait penerbitan majalah ini. Berikut rangkuman.

Ketut Juni Arjana Ketua Divisi Domestik---08123955643 “Sebagai Ketua Divisi Domestik, saya menyambut baik sekali penerbitan majalah CAKRAWALA, karena majalah ini bisa menjadi media kedekatan emosi dengan antar anggota dengan anggota maupun pengurus DPD, divisi dan komisariat. Juga dengan kolega, penguasa dan semua pihak demi ajeg pariwisata”

Gede Suardana Ketua Divisi Prancis----081339748004 “Mantab, CAKRAWALA kembali terbit. Sebagai anggota, kami berharap media ini menjadi milik bersama, sekaligus menjadi wadah menyalurkan aspirasi seluruh anggota HPI Bali. Mudahmudahan ke depan, informasinya lebih tajam, dan kualitasnya terus dijaga,”

I Wayan Suyadnya alias Andreas

Ketua Divisi Spanyol -- 08123801654 “Penerbitan majalah CAKRAWALA sangat positif dan sangat dinanti-nantikan anggota HPI Bali. Ke depan, majalah ini menjadi media bagi anggota dalam berbagi pengalaman dan menimba pengetahuan tentang berbagai obyek wisata di Bali dan Indonesia umumnya. Kehadirannya juga untuk meningkatkan profesionalitas sebagai seorang pramuwisata.”

I Gusti Kresna Jayanta

Ketua Divisi Korea----- 08123983869 “Terima kasih untuk pengurus DPD HPI Bali yang mampu menghidupkan kembali majalah CAKRAWALA sesuai amanat MUSDA. Kami sangat yakin penerbitan majalah ini membawa citra positif, baik internal HPI maupun untuk pariwisata Bali. Mudah-mudahan materinya bersifat membangun kepariwisataan di Bali dan nasional. Bravo CAKRAWALA” KETUT TRIKAYA WIJAYA MANIK Selamat atas penerbitan kembali CAKRAWALA, semoga menjadi wahana interaksi aktif dan sarana informasi efektif bagi sebesar-besarnya kepentingan anggota yang bermuara pada peningkatan SDM dan kesejahteraan bersama

Efendy Ketua Divisi Mandarin 08123819379 “Sebagai Ketua Divisi Mandarin, kami sangat mendukung penerbitan majalah CAKRAWALA. Mudah-mudahan, ke depan majalah ini bermanfaat bagi anggota khususnya anggota kami Divisi Mandarin, bisa menjadi panduan untuk mengetahui dan memahami budaya Bali”

I Nengah Arcana Ketua Divisi Rusia 08124654954 “Majalah CAKRAWALA sebagai penyalur dan pemberi informasi bagi seluruh anggota HPI di tanah air, khususnya di Bali. Mudah-mudahan dengan diterbitkan majalah ini memberi dampak positif bagi pembacanya dan soliditas HPI menjadi lebih baik ke depan”

I Nyoman Sandi Ketua Divisi Jerman 08123832284 “Sangat mendukung. Ke depan, CAKRAWALA menjadi wadah bagi kepentingan dan aspirasi anggota HPI. Sekaligu jadi media belajar bagi rekan-rekan guide untuk menulis dan berbagi pengalaman”

I Dewa Gede Puja Astawa Ketua Divisi Belanda 0817341364 “Kami menyambut positif penerbitan majalah CAKRAWALA. Mudah-mudahan, ke depan, majalah ini menjadi wadah komunikasi dan memberi pembelajaran serta memupuk kesadaran berorganisasi dan solidaritas antar anggota. Semoga sukses”

I Nyoman Nuarta Ketua Divisi Jepang 087861358681 “Dengan terbitnya majalah CAKRAWALA HPI Bali, akan meningkatkan pengetahuan dan khazanah para pramuwisata Bali dan Indonesia pada umumnya. Selamat atas peluncuran edisi perdana.”

FEBRUARI - APRIL 2012

23


LAPORAN UTAMA

Bersemi Kembali Pariwisata Kintamani

“…..Gemuruh ombak di pantai Kuta Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani Gadis-gadis kecil menjajakan cincin tak mampu mengusir kau yang manis Bila saja kau ada di sampin gku, sama-sama arungi danau biru…..”

24

FEBRUARI - APRIL 2012


Suatu hari di bibir Trunyan FEBRUARI - APRIL 2012

25


LAPORAN UTAMA

K

INTAMANI tak hanya menjadi kawasan wisata, tetapi juga menjadi sumber inspirasi. Ebiet G.Ade, penyanyi yang kesohor dengan tembang sentimentilnya, pernah sangat terkagum-kagum dengan Kintamani, kawasan berhawa sejuk yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bangli, Bali.Secara khusus, Ebiet memintal kata, meramu kalimat menjadi lirik lagu untuk mengenang Kintamani. Pencinta music era 80-an tentu cukup familier dengan lirik lagu “Nyanyian Rindu” yang diciptakan sekaligus didendangkan sendiri oleh Ebiet G. Ade yang dikutip di awal ulasan ini. Bagaimana penataan Kintamani kini? Saat “Nyanyian Rindu” mulai dipopulerkan, Kintami sedang naik daun menjadi salah satu primadona pariwisata Bali. Entah disengaja atau tidak, Ebiet menjadi salah satu saksi bahwa ketika orang menyebut Bali, pasti terkenang Kuta dan Kintamani. “Memang saat itu, mulai tahun 70-an pariwisata Bali mulai menggeliat, yang banyak dikunjungi wisatawan ada tiga, yakni Kuta, Tanah Lot dan Kintamani,” tutur Agung Mandra, seorang guide senior dari DPD HPI Bali. Pramuwisata “tiga zaman” ini mengatakan, tanpa bermaksud mengecilkan destinasi wisata lainnya di Bali, Kintamani menorah sejarahnya sendiri dalam

peta kepariwisataan Pulau Dewata. Wisatawan mancanegara, khususnya Eropa dan Amerika banyak berkunjung di daerah bersuhu dingin itu. Panorama alamnya yang indah jadi daya tarik tersendiri. Gunung Batur, danau Batur nan biru dan lekukan landscape-nya membuat setiap hati siapa saja yang menatapnya tertawan. Kawasan berhawa sejuk ini berjarak sekitar 2,5 jam berkendaraan dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Ketika tiba di tempat ini, pengunjung akan disambut Penelokan yang terletak di Kedisan, salah satu desa di Kecamatan Kintamani. Sesuai namanya dalam bahasa Bali yang berarti tempat untuk melihat-lihat, Penelokanmerupakan tempat paling strategis untuk menikmati pemandangan di kawasan Kintamani. Dari Penelokan, para pengunjung bisa menyaksikan Gunung Batur yang berdiri anggun. Gunung Batur merupakan sebuah gunung berapi aktif yang memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 km dan merupakan salah satu yang terbesar dan terindah di dunia. Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1.267 m – 2.152 m. Kaldera Gunung Batur diperkirakan terbentuk akibat dua letusan besar, 29.300 dan 20.150 tahun yang lalu. Dari kejauhan tampak hamparan bebatuan hitam serta jalur magma yang telah lama membeku. Pada jam-jam

Dulu semrawut, kini tertata rapi jalan menuju Setra Trunyan

26

FEBRUARI - APRIL 2012

tertentu, baik di musim hujam maupun kemarau, puncak Gunung Batur diselimuti awan yang membentang seperti albirin sutra sehinggga puncaknya hanya tampak samar. Di kakinya bagian tenggara, bersimpuh Danau Batur yang tampak seperti bulan sabit biru dengan

Kadisbudpar Bangli Edy Sucipto (tengah) saat berkunjung ke HPI Bali

airnya yang tenang nyaris tanpa riakan. Luasnya danau sekitar 16 km2 dengan kelilingnya sekitar 22 km.

Terindah di Dunia Komposisi gunung dan danau di suatu ketinggian, selalu menimbulkan keindahan tersendiri yang mempesona. Sejumlah turis mencanegara yang ditemui Tim CAKRAWALA, medio Januari 2012 secara terbuka memuji keindahan alam yang sangat ajaib itu. Zhang Bing, wisatawan kelahiran China


LAPORAN UTAMA

Bupati Bangli didampingi Camat Kintamani (kini) Kadisbudpar Bangli) berbincang dengan wisatawan Cina. Bupati menjelaskan tentang pertalian Bali dan Cina

namun bermukim di Singapura mengaku sangat takjub. Dosen Nanyang Technological University, Singapura ini bersaksi, dari destinasi serupa di dunia yang pernah dikunjunginya, Kintamani yang paling wonderful. “Luar biasa!,” gumam Zhang sambil menatap lekat pemandangan di depannya. Zhang baru pertama kali berkunjung ke Bali dengan membawa kedua orang tuanya yang sudah agak sepuh. Ayahnya, Feng Zhang seorang guru besar di Shanxi University, Taiyuan salah satu universitas terkemuka di China. Ketika dijelaskan oleh Bupati Bangli Made Gianyar tentang pertalian kekerabatan orang Bali dengan China melalui kisah pernikahan Prabu Jayapangus dan Kang Ci Wi, Prof. Feng bertambah penasaran; ingin segera mengunjungi Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, sebelum kembali ke negerinya. Kekaguman serupa juga diungkapkan oleh sejumlah wisatawan asing lainnya, baik dari Asia Pasifik maupun Eropa. Mereka sangat mengagumi panorama Kintamani yang aduhai. Belum lagi budayanya yang unik, terutama komunitas Trunyan dengan tradisi “penguburan” mayatnya yang unik. Warga Desa Trunyan memiliki tradisi khusus untuk orang yang sudah meninggal dengan meletakkan mayatnya di suatu areal di bawah naungan pohon Taru Menyan yang mengeluarkan bau nan harum. Di Trunyan juga ada pura yang sangat bersejarah

Bupati Bangli I Made Gianyar selalu sharing dengan bawahan serta para tamu yang mengunjungi Bangli FEBRUARI - APRIL 2012

27


LAPORAN UTAMA

foto kintamani

Seorang guide sedang memberi penjelasan kepada wisatawan tentang keunikan Desa Wisata Penglipuran

28

FEBRUARI - APRIL 2012


LAPORAN UTAMA yakni Pura Pancering Jagat yang memiliki kisah unik. Konon, kalau sampai di pelataran pura ini dirasakan getaran gempa, maka daerah lain di Bali sudah hancur. Ketut Jaksa, sekdes Desa Trunyan mengisahkan, saat terjadi gempa bumi cukup besar di Bali beberapa bulan silam, sama sekali tidak terasa di Pura Pancering Jagat. “Saat itu ada umat Hindu dari Karangasem yang mebakti di pura tersebut mengaku kaget kalau pada saat itu ada gempa bumi,” ujar Jaksa. Demikian pula saat terjadinya gempa akibat letusan Gunung Batur yang terjadi berkali-kali. Letusan Gunung Batur yang tercatat dalam sejarah dimulai sejak tahun 1804 dan letusan terakhir terjadi tahun 2000. Sejak tahun 1804 hingga 2005, Gunung Batur telah meletus sebanyak 26 kali,dan paling dahsyat terjadi tanggal 2 Agustus dan berakhir 21 September 1926. Letusan Gunung Batur itu membuat aliran lahar panas menimbun Desa Batur dan Pura Ulun Danu Batur. Anehnya, guncangan gempa bumi tak dirasakan di Pura Pancering Jagat, walau letaknya tak jauh dari Gunung Batur. Objek unik yang juga terdapat di Kintamani adalah bawang yang tumbuh di atas, atau lebih tepatnya di antara bebatuan, hasil muntahan Gunung Batur. Bawang yang dihasilkan di sini sangat banyak khasiatnya bagi kesehatan. “Antara lain untuk menambah keperkasaan pria,” bisik Camat Kintamani I Wayan Gobang seraya menambahkan, komoditi pertanian ini akan dikemas dalam paket tertentu dan menjadi buah tangan bagi para turis dan pengunjung dari kota-kota lain dari seluruh Nusantara. Wayan Gobang menegaskan bahwa Kintamani memiliki banyak objek wisata lain yang tak kalah menariknya. Kintamani juga memiliki berbagai peninggalan yang memiliki bobot historis yang tinggi. Di masa yang lalu, sebelum terkenal menjadi destinasi wisata, Kintamani memang telah menjadi lahan penelitian para antropolog dunia. Antara lain naturalis Georg Eberhard Rumpf, W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Nieuwenkamp mengadakan perjalanan menjelajahi Bali dan memberikan

Sisa-sisa jasad yang tidak mengeluarkan bau.

beberapa catatan tentang nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan. Penelitian prasejarah di Bali yang juga secara khusus menjadikan Trunyan, Kintamani sebagai lokasi penelitian juga dilakukan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren. Peneliti dari negeri kincir angin ini membuat telaahan dan mempublikasikan hasil penelitiannya

menyeret Kintamani dalam pusaran pariwisata dunia yang mulai membanjiri Bali tahun 70-an. Kintamani pernah meraih puncak keemasannya pada era 70-an sampai akhir 90-an. Sayangnya puncak keemasan ini tak mampu dipertahankan. Karena salah urus, destinasi favorit ini sempat ditinggalkan travel agent dan guide. Kini, Bupati Bangli

Bupati Bangli foto bersama turis di setra (pekuburan) Trunyan yang unik.

berupa “Sarcopagus on Bali” tahun 1954. Para antropolog dunia ini ikut mengharumkan nama Bali, khususnya Kintamani. Berbagai keunggulan tersebut, telah

Made Gianyar bersama jajarannya serta stakeholders terkait telah bertekad untuk mengembalikan era keemasan pariwisata Kintamani. (gre/pol)

FEBRUARI - APRIL 2012

29


REDAKSI & SEGENAP STAF

MAJALAH CAKRAWALA MENGUCAPKAN

TERIMA KASIH KEPADA

ATAS FASILITAS YANG DISEDIAKAN DALAM RANGKA LAUNCHING

MAJALAH CAKRAWALA TANGGAL 22 FEBRUARI 2012

30

FEBRUARI - APRIL 2012


LAPORAN UTAMA

Pura Dalem BALINGKANG

Bukti Kekerabatan

Bali danCina S

enada dengan Ebiet, berabad-abad lalu, Kintamani juga menorehkan sebuah kisah asmara yang dahsyat. Seorang Raja, karena cintanya yang mebuncah, rela tak patuh pada nasihat spiritual istana karena kepincut dengan seorang darah jelita dari negeri Cina. Sang Raja rela menerima bala, demi cintanya pada pujaan hati. Kisah asmara nan legendaris ini telah menyita perhatian para pencinta seni sehingga diangkat ke atas panggung. Kini menjadi sajian kolosal di Bale Agung Safari

Jaba (Pelataran) tengah, Pura Dalem Balingkang

and Marina Park, Gianyar. Kisahnya bermula dari terdamparnya sebuah kapal milik Cocomanira, saudagar China di pesisir Batu Klotok, Sanur. Pemilik kapal lantas menghadap sang Raja yang bernama Jayapangus. Cocomanira datang didampingi istri serta putrinya nan jelita, Kang Ci Wi. Raja Jayapangus yang sesungguhnya telah memiliki permaisuri, tak kuasa menolak gejolak asmara di dadanya ketika membalas tatapan gadis Kang Ci Wi. Benih cintapun bersemai di lubuk hati Raja Jayapangus, dan tanpa ragu melamar gadis asal China ini untuk menjadi istrinya. Ketika hal itu diutarakan secara terbuka, penasihat spiritual sang prabu memberi syaran agar pernikahan itu tidak boleh terjadi. Sebab, menurut mata batin sang pendeta, kalau pernikahan sang prabu Jayapangus dan Kang Ci Wi, akan mendatangkan bencana besar pada kerajaannya, bahkan jagat Bali. “Baginda, janganlah baginda memperistri orang Cina karena aturan dari Ida Batara Klotok, orang Cina itu dijadikan kerabat tertua oleh orang Bali. jangan sampai baginda melanggar,” begitu nasihat pendeta istana.

Namun, sang perbu sudah telanjur mabuk kepayang. Apalagi cintanya tak bertepuk sebelah tangan, Kang Ci Wi juga menaruh hati pada sang Raja. Prabu Jayapangus justru meminta pendeta, agar dengan kesaktiannya bisa menolak bala yang bakal menimpa. Dengan galau, Prabu Jayapangus berujar, “Peranda, kalau tindakan saya akan mencemari kesucian seorang sulinggih, kalau peranda tidak menyetujuinya, silahkan pergi peranda dari sini, berhenti sudah peranda menjadi bagawanta puri.” Pendeta istana itupun pergi meninggalkan sang raja, dan pernikahan yang tak direstui itupun terjadi. Dikisahkan, Prabu Jayapangus akhirnya menikah dengan Kang Ci Wi. Sesuai ramalan pendeta, beberapa saat kemudian terjadi bencana dasyat di bumi Dewata. Banjir bandang datang secara tiba-tiba dan menghanyutkan banyak rumah, termasuk puri sang Prabu. Di mana-mana juga terjadi longsor yang menyebabkan banyak jatuh korban jiwa. Prabu Jayapangus sangat terpukul dan menyesali keputusannya. Dia lantas mengutus patihnya untuk menemui pendeta untuk meminta maaf, sekaligus meminta nasihat. Singat cerita, pendeta masih respek pada sang Prabu Jayapangus, lalu memberi petunjuk agar mendirikan puri baru di tempat yang topografinya datar. Disuruhlah Ida Dalem Jayapangus membangun puri (Siwa Duara) di Balingkang. Dipilihlah di Penelokan di Kintamani, di sebelah timurnya turun ke bawah di tempat yang datar. Sejak itu, Ida Dalem Jayapangus tak lagi bernama Dalem Jayapangus tetapi berubah nama menjadi Dalem Balingkang. Jejak Dalem Balingkang dibuktikan dengan berdirinya Pura Dalem Balingkang yang terletak di Desa Pinggan,Kintamani. Lokasinya unik, dikelilingi Sungai Melilit. Pura Dalem Balingkang menyimpan banyak cerita sejarah, terkait Prabu Jayapangus dan Kang Ci Wi. Di jaba tengah Pura Dalem Balingkang terdapat antara lain palinggih Ratu Ayu Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi, yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa membawa berkah. Banyak wisatawan asal China yang mengunjungi pura tersebut. (gre) FEBRUARI - APRIL 2012

31


LAPORAN UTAMA

Kidungnya Mirip Kidung SUnan Kalijaga

J

alan menuju ke Pura Puncak Penulisan, Kintamani cukup bagus dan beraspal, sehingga mobil dapat masuk dan parkir di depan Pura. Ada dua jalur masuk, yang pertama melalui pintu masuk yang terletak persis di pojok pertigaan jalan di depan Pura. Yang kedua melalui stasiun repeater ER. Dari stasiun repeater ER ada jalan beraspal yang relatif mulus, sehingga mobil dapat parkir langsung di depan Pura. Jika melalui jalur ini, ada juga jalan masuk lain ke Pura, melalui tangga melingkar yang cukup tinggi dan curam. Di pintu dasar tangga naik ke Pura, setiap pengunjung diberi tirta, sebagai syarat untuk mentralisir jika tadi makan daging sapi. Jalan menuju ke pintu Pura melalui tangga yang cukup curam dan memiliki banyak sekali anak tangga. Pura Penulisan ditentukan sebagai cagar budaya nasional.Dari sini Gunung Batur tampak berada di bawah, di depannya Danau Batur tampak menghijau. Jadi Puncak Penulisan tingginya berkisar + 2000 meter diatas permukaan laut. Pura ini disungsung oleh Desa Sukawana, sebuah desa yang terletak diatas ketinggian diantara dua buah bukit di belakang Puncak Penulisan ini. Pura ini dikenal juga sebagai Pura Panarajon atau panah raja. Pada jaman dahulu pura ini digunakan untuk bersemedi para raja di sekitarnya. Pura ini juga disebut sebagai Tegeh Kauripan, menjadi representasi sebuah kehidupan yang teguh. Pura ini di-claim sebagai pura yang asli dari Bali, Bali age. Dari bentuk bangunannya yang khas, Pura Puncak Penulisan dan tidak memiliki bentukbentuk bangunan seperti : Sanggaran, Meru dan Gedong. Bentuk-bentuk itu dipercaya sebagai hasil dari interaksi dengan kebudayaan Jawa. Jadi dengan tidak adanya bentuk-bentuk tersebut, maka Pura Puncak Penulisan ini dinyatakan sebagai “asli” Bali. Bali age atau Bali mula.

32

Selain itu struktur pemimpin agama-nya juga tidak sama dengan purapura lainnya di Bali. Struktur pemimpin agama bukan Pedanda, Ida Pendita atau Rsi, tetapi memiliki struktur yang khas. Pemimpin agama yang tertinggi di sana adalah Jero Kubayan. Struktur di bawah Jero Kubayan berturut-turut adalah Jero Kubahu, Jero Singgukan, Jero Penakohan, Jero Pengelanan dan baru ada Kelian Desa. Jero Kubayan di Puncak Penulisan terdiri dua yaitu : Kiri atau Kiwa dan Kanan atau Tengen. Jero Kiwa sekarang ini dijabat oleh Jero Bayon Tongkok, dan Jero Kubayan Tengen sekarang dijabat oleh Jero Bayan Kojol, yang usianya sudah 85 tahun. Syarat untuk dapat menjadi Jero Kubayan sungguh sangat berat, dan begitu banyak syaratnya.

FEBRUARI - APRIL 2012

Salah satu syaratnya adalah anakanaknya tidak boleh menikah, juga cucunya. Jika salah satu anak atau cucunya menikah, maka seseorang tidak dapat disebut lagi sebagai Jero Kubayan. Oleh sebab itu biasanya yang mampu menjadi Jero Kubayan, paling tidak usianya sudah 75 tahun! Di Pura Puncak Penulisan pada tanggal 22 Oktober sampai dengan 2 November 2010 digelar upacara besar yang hanya terjadi sekali setiap 700 tahun! Upacara ini dinamakan“Pengurip Jagad Bali Kabeh”. Salah satu ritualnya adalah melakukan persembahan dengan Kebo Roras, menanam kerbau sebanyak 12 ekor, tepat ditengah-tengah halaman Puncak Penulisan. Mantan General Manager Bandara Ngurah Rai Heru Legowo pernah punya


LAPORAN UTAMA kisah menarik mengenai Pura Puncak Penulisan ini. Beberapa bulan sebelum melakukan upacara “Pengurip Jagad Bali Kabeh”, para penyungsung Pura Puncak Penulisan bertemu dengan Heru dan menyerahkan proposal untuk menyelenggarakan upacara Pengurip Jagad Bali Kabeh ini. Ketika itu, Heru sungguh tertarik kepada Kidung Twan Semeru yang dilampirkan di bagian akhir dari proposal tersebut. “Saya jadi teringat masa kecil dahulu. Sebagai orang Jawa, sebelum tidur eyang putri saya selalu menembangkan sebuah Kidung. Sebuah Kidung, yang

eyang putri sangat percaya sekali akan manfaatnya; bagi keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Begitu sering eyang putri menembangkan Kidung tersebut, sehingga sampai saat sekarang penulis masih ingat sebagian besar baitbaitnya,” papar Heru Legowo. Memperhatikan Kidung Twan Semeru itu yang tembangnya Dandang Gendis, Heru Legowo kemudian isengiseng membaca transkrip kidung milik Pura Puncak Penulisan tersebut. Dan dia kaget. ”Ajaib! Beberapa baitnya mirip sekali dengan Kidung yang ditembangkan oleh eyang putri saya dahulu, Kidung

Sunan Kalijaga!,” kisah Heru. Apakah ini sebuah kebetulan? Barangkali juga! Pembaca dipersilahkan untuk meneliti bait-bait dari kalimat Kidung Twan Semeru tersebut, disandingkan dengan bait Kidung Sunan Kalijaga. Pura Puncak Penulisan menjadi salah satu cagar budaya nasional yang wajib kita lestarikan. Marilah kita bersama-sama menjaganya dengan sepenuh hati dan perhatian agar generasi penerus kita dapat menyaksikan perjalanan sejarah bangsa ini. (gre/hrl)

Rehabilitasi Lahan Tandus

Kaldera Batur Ditanami Ampupu dan Bambu

BANGLI – Cakrawala Untuk menjaga kelestarian fungsi hydrologis serta mempercepat rehabilitasi lahan tandus di Kabupaten Bangli, Pemerintah Kabupaten Bangli bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Jumat (13/1) lalu menggelar kegiatan penghijauan lahan kritis di kawasan kaldera Gunung Api Batur dengan penanaman pohon ampupu dan penanaman bambu. Kegiatan ini dihadiri Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Muspida Provinsi Bali, Bupati Bangli I Made Gianyar, Wabup Bangli Sedana Arta, Kepala BLH Prov Bali A.A. Alit Sastrawan, SKPD terkait dan masyarakat setempat. Gubernur Bali Mangku Pastika mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan reboisasi di lahan kritis, mengingat kawasan ini berperan sangat penting dalam menjaga kelestarian fungsi hydrologis Kabupaten Bangli dan wilayah sekitarnya. Tujuan penanaman tanaman Ampupu dan Bambu tiada lain untuk meningkatkan konservasi lahan dan air, serta menambah keindahan bentang alam Kaldera Batur dan Danau Batur sebagai salah satu obyek daya tarik wisata di Kabupaten Bangli bahkan di dunia. “Atas dasar itulah kita memilih

Kaldera Batur sebagai target reboisasi,” ucapnya. Dikatakan juga, pelaksanaan penghijauan ini terletak di kawasan hutan Gunung Batur, Bukit Payang seluas 2.528 Ha, dengan jumlah bibit pohon Ampupu yang kita tanam sebanyak 61.500 pohon, dan bibit Bambu sebanyak 4.000 anakan. “Kita menghimbau kepada masyarakat agar pepohonan yang sudah ditanam bisa dijaga dan dipelihara agar tidak mati sehingga apa yang dikerjakan sekarang tidak sia-sia,” harap MangkuPastika. Sementara itu Bupati Bangli Made

Gianyar sangat menyambut baik kegiatan karena kaitannya dengan pelestarian lingkungan. “Kita sangat mengapresiasi apa yang menjadi harapan Bapak Gubernur yang ingin mewujudkan Bali Clean and Green. Penanaman pohon sekarang ini merupakan wujud nyata terkait dengan pelestarian alam, Pada kesempatan ini kita harapkan programprogram pemerintah provinsi yang masuk ke Kabupaten Bangli tidak sebatas penghijauan saja, namum program lainya yang tentunya sangat dinantikan oleh masyarakat,” harap Gianyar. (mos)

FEBRUARI - APRIL 2012

33


LAPORAN UTAMA

Bupati Bangli I Made Ginyar

Berbenah

dan Terus Berbenah

S

etelah cukup lama tak jadi primadona daerah tujuan wisata, kini Kintamani kembali bersiinar. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, telah terjadi perubahan yang signifikan di berbagai objek di Kintamani, baik dari segi kebersihan, penataan maupun pengelolaannya. Ini berkat kerja keras Bupati Bangli I Made Gianyar, SH, M,H beserta jajaran serta dukungan dari seluruh stakeholders setempat. Sejak akhir tahun 2010, berbagai upaya pembenahan mulai dilakukan. Bupati Bangli Made Gianyar mengungkapkan, i b a ra t seorang dokter, baru bisa menyembuhkan penyakit kalau mampu mendiagnosa. “Sebagai bupati, saya juga harus mengetahui penyakit Bangli yang pertama di bidang kesehatan. Penyakit yang kedua, di bidang pariwisata. Kita punya daerah unggulan, punya budaya unik. Tetapi sempat tidak dikelola secara maksimal yang menyebabkan turun citranya,” ujar Made Gianyar. Setelah mengetahui “penyakitnya”, Bupati Made Gianyar lantas melakukan rapat internal dengan jajaran pemerintahan, khususnya dengan jajaran Dinas Pariwisata Bangli serta instansi terkait. “Saya lalu berdiskusi dengan jajaran pemerintahan dan stakeholders di Bangli dan akhirnya menyepakati untuk melakukan pembenahan. Pembenahan objek dan pembenahan sumber daya manusia. Pembenahan objek dan alam ini agak lebih gampang. Namun, pembenahan sumber daya manusia yang perlu

34

FEBRUARI - APRIL 2012

waktu,” tegas Gianyar. Menyadari situasi seperti itu, tidak bisa lain, Bupati sendiri harus sering turun di tengah masyarakat, khususnya di Kecamatan Kintamani yang menjadi lokasi pembenahan utama. Camat Kintamani I Wayan Gobang mengakui, hampir setiap bulan, Bupati Made Gianyar bertemu dengan masyarakat di desadesa di Kecamatan Kintamani yang jumlahnya mencapai 48 desa. “Sekali sebulan Pak Bupati menginap di tengah masyarakat desa dengan membawa seluruh SKPD untuk menyerap langsung apa yang dibutuhkan masyarakat desa,” papar Gobang. Pria energik yang suka melucu ini bahkan menantang Tim CAKRAWALA untuk mendatangi setiap desa dan melihat langsung berbagai perubahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini. Di Desa Trunyan misalnya, kondisinya saat ini sudah lebih teratur dan cukup bersih. Sampah-sampah yang dulu berserakan di bibir danau sekarang sudah tidak terlihat lagi. Demikian pula di Pekuburan Trunyan yang menjadi tempat favorit wisatawan karena cara penguburannya yang unik, kini juga sudah tertata dengan baik. Selain perubahan secara fisik, para pengunjung juga sudah merasa lebih aman karena tak menjadi rebutan para pemilik jukung atau boat di sana. Samuel, turis lokal asal Malang mengaku bahwa kondisi saat ini suah jauh lebih baik dibanding saat ia datang pertama kali tahun 2009. “Saat ini sudah lebih bersih, dan kami lebih nyaman, tidak ditarik-tarik seperti dulu,” ujar Samuel yang datang bersama istri dan anaknya saat ditemui di Kuburan Trunyan. Istri Samuel mengusulkan, agar di lokasi itu dilengkapi permainan anak-anak dan ada


LAPORAN UTAMA warung kecil agar pengunjung bisa lebih lama menikmati suasana magis Trunyan. Hal senada dikemukakan Robert, pengusaha ban mobil dari Surabaya. Pria yang senang adventure ini mengaku sangat kagum dengan Kuburan Trunyan yang merupakan

satu-satunya di dunia. Tak aneh kalau, Trunyan juga menarik minat Zing Zhoao, wartawan TV China yang berlibur di Bali. Zing bersama ke­dua orang tuanya mengunjungi Kuburan Trunyan, suatu senja medio Januari lalu. Mereka tak peduli dengan hu-

jan lebat yang menguyur Kintamani senja itu. Dia berjanji suatu saat, dia akan datang meliput khusus kejadian langka ini kalau ada prosesi penguburan. (gre/pol)

Melalui DMO dan “One Stop Services”

Gapai 1,58.Juta Wisatawan Pembentukan LWG, Korwil dan Perangkat lainnya.

KINTAMANI patut berbangga, karena menjadi salah satu dari 15 organisasi pengelolaan destinasi atau destination management organization (DMO) di seluruh Indonesia. DMO adalah struktur tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup koordinasi, perencanaan, implementasi, dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik. Tiga tahun ke depan sejak tahun 2011, DMO tersebut akan mendapat supervisi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenpar Ekraf). Selain Kintamani, kawasan-kawasan lain di Indonesia yang akan menjadi lokasi diberlakukannya DMO yakni Pangandaran, Danau Toba, Bunaken, Tana Toraja, Mentawai-Bukittingi, Borobudur, Rinjani, Raja Ampat, Wakatobi, Tanjung Puting, Derawan, Bromo-Tengger-Semeru, Kota Tua Jakarta, dan Pulau Komodo serta Kelimutu di Ende-Flores. Sebelum diterapkan, pemerintah telah mengadakan konferensi mengenai DMO. Dirjen Pengembangan Destinasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim mengatakan, DMO tak hanya menjadi perhatian Kemenpar Ekraf, tetapi juga kementerian lain yang berkaitan dengan penataan kawasan wisata tersebut. Yakni kementerian yang memiliki wewenang seperti pekerjaan umum, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, perencanaan pembangunan nasional, dan kehutanan. Khusus di Kintamani, pada 28 Desember 2011 telah dilaksanakan penandatanganan deklarasi komitmen stakeholders pariwisata setempat disaksikan oleh Firmansyah Rahim dan Bupati Bangli I Made Gianyar serta perwakilan DPD HPI Bali Amos Lillo.

PEMBENTUKAN LWG,KORWIL KORWIL PEMBENTUKAN LWG, DAN PERANGKAT LAINNYA DAN PEBERANGKAT LAINNYA Tanggal : 8, 9, 22, 24 dan 29 Nopember 2011 Tujuan Pembentukan Korwil : Memudahkan koordinasi antara DMO Pusat, Fasilitator, Pemda Bangli dan Anggota Masyarakat di ke 15 desa.

Wilayah I terdiri dari Wilayah II terdiri dari Wilayah III terdiri dari Wilayah IV terdiri dari Wilayah V terdiri dari

:  Desa Batur Utara, Batur Tengah dan Batur Selatan. :  Desa Kintamani, Desa Sukawana dan Desa Pinggan. :  Desa Songan A, Songan B dan Desa Blandingan. :  Desa Trunyan, Desa Kedisan dan Desa Buahan. :  Desa Abang Songan, Batu Dinding dan Desa Suter.

Penandatangan ini dilaksanakan di Kantor Kecamatan Kintamani. Program DMO merupakan bagian dari upaya mengembalikan kejayaan objek wisata kawasan Kintamani, sebagai salah satu andalan di Bali. Menurut Dirjen, pada prinsipnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, senantiasa mendukung pengembangan destinasi di Kintamani secara terpadu dan terarah, untuk kesehjateraan masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata Kabupaten Bangli dengan ikonnya Kintamani itu meliputi keberadaan Gunung Batur dan Danau Batur yang didukung pemandangan alam yang dinilai sangat menakjubkan. “Melalui deklarasi komitmen stakehold-

ers pariwisata itu kita harapkan bisa menjadikan Kintamani sebagai salah satu cluster dalam rangka DMO, termasuk pengelolaan Gunung Batur sebagai geopark (taman bumi),” kata Firmansyah. Bupati Bangli I Made Gianyar menambahkan, dukungan pemerintah sangat bermanfaat karena bisa mengakselerasi penataan dan pengembangan pariwisata Kintamani yang telah dimulai tahun 2010 oleh komponen terkait di Bangli. Kepala Biro Humas DPD HPI Bali Amos Lillo menegaskan, kalangan pramuwisata sangat mendukung program pengembangan pariwisata Kabupaten Bangli, khususnya di sekitar Kintamani. “Kami melihat Bupati Bangli melalui kebijakannya dengan penuh semangat ingin mensejahterakan masyara-

Laporan Fasilitator DMO dalam acara Penandatanganan Deklarasi, 28 Desember 2012   

FEBRUARI - APRIL 2012

35

Page 3 


LAPORAN UTAMA kat melalui pariwisata. Pengembangan geopark daerah Batur, akan menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan dalam dan luar negeri,” ujar Amos. Terkait DMO ini, kini di Kintami telah dibentuk kelompok kerja di 15 desa, di mana di masing-masing desa terdapat 5 orang perintis sebagai local working group (LWG). Mereka yang jadi LWG ini merupakan tokoh-tokoh berpengaruh di desa yang diharapkan menjadi motivator sekaligus teladan bagi seluruh warga dalam upaya penataan dan pengembangan pariwisata. “Mereka tidak ditunjuk, melainkan dipilih langsung oleh warga,” ungkap Camat Kintamani I Wayan Kobang. Seiring penataan Kintamani, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli telah mendata Daya Tarik Wisata (DTW) di Kabupaten Bangli. Kadisbudpar Bangli mengungkapkan, ada 5 DTW berkategori sudah berkembang yakni DTW Pura Penulisan, Batur, Trunyan, Desa Tradisional Penglipuran dan DTW Pura Kehen. Ada 9 DTW yang sedang berkembang, termasuk di antaranya

Agrowisata Kopi Arabika. Sementara 24 DTW lainnya akan dikembangkan. Berbagai kiat juga dilakukan Pemkab Bangli. Bupati Gianyar berencana agar pemungutan tiket masuk di Kintamani di arahkan satu pintu (one stop services). Misalnya, ketika ada wisatawan yang ingin ke kuburan Trunyan, pengunjung cukup ditarik tiket masuk di Kintamani. Di dalamnya sudah termasuk pungutan untuk Kedisan, dan Trunyan. Pada akhir tahun, kedua desa itu akan mendapat bagian dari pungutan yang masuk. “Kami sedang mendata, berapa total pendapatan di desa-desa terkait per tahun. Nanti kita tingkatkan 50 sampai 100 persen, yang kita ambil dari pungutan satu pintu ini,” gagas Made Gianyar. Kiat lainnya, Pemkab Bangli juga akan memberi penghargaan (reward) kepada travel agent dan guide yang berhasil membawa tamu paling banyak ke Bangli. Dengan berbagai kiat dan penataan itu, Bupati Bangli I Made Gianyar menetapkan target, pada 2014 jumlah kunjungan wisatawan

ke Bangli mencapai 1,5 juta orang (wisman dan wisdom). Target ini tidak terlalu muluk, karena tahun lalu (2011) kunjungan wisatawan ke Bangli tercatat 566.617 orang atau naik 35 persen dibanding tahun 2010 (tercatat 418.143 wisatawan). Jumlah tersebut memang masih terbilang sedikit dibanding kunjugan wisatawan ke Bali yang mencapai sekitar 7,5 juta, di mana 2,7 juta di antaranya merupakan wisatawan mancenegara (wisman). Semua itu memang tidak sekedar angkaangka, karena yang paling penting adalah bagaimana agar kehadiran wisatawan bisa memajukan pariwisata Bangli, umumnya dan Kintamani khususnya, dengan memberi multiplier effect secara ekonomis bagi pundi-pundi daerah, dan lebih-lebih bagi kesejahteraan masyarakat. Kalau masyarakat sudah merasakan dampak pariwisata dengan sendirinya, akan tumbuh perasaan memiliki (sense of belonging) yang pada akhirnya bisa menjamin kepariwisataan yang berkelanjutan (sustainable tourism) di Bangli. (gre/pol)

Jangan Hanya Menyalahkan! Salah satu aktor penting dan menentukan dalam penataan pariwisata Kintamani adalah Camat Kintamani yang kini menjadi Kadisbudpar Bangli, I Wayan Kobang Edy Sucipto. Pria tegap berusia 43 tahun ini sempat “curhat” kepada Tim CAKRAWALA. Dia mengaku galau karena banyak orang yang hanya menyalahkan kondisi Kintami ketika daerah ini “di-black list” oleh BPW. Wayan Gobang tak sepenuhnya setuju dengan adanya nada sumbang tentang masyarakat Kintamani yang dinilai kurang bisa mendukung pengembangan pariwisata di daerah yang pernah menjadi pionir pariwisata di Pulau Dewata ini. “Semua mempermasalahkan Kintamani. Masyarakat Kintamani dibilang begini, masyarakat Kintamani begitu. Sebagai pimpinan wilayah, saya terima dengan lapang dada. Tetapi saya juga punya hak untuk membela diri. Trunyan, baru bisa keluar dari kungkungan kemiskinian, keluar dari situasi isolir pada tahun 2007. Jangan salahkan kalau ada perbedaan, antara mereka yang baru mengenal dunia luar, lalu dibandingkan dengan kita yang sudah lama. Tolonglah bedakan

36

cara berpikir orang. Jangan hanya bisa menyalahkan saja,” tandas pria bernama lengkah I Wayan Gobang Edy Sucipto. Pak Camat—begitu sapaan pria asil Kintami ini—malah balik bertanya kepada mereka yang hanya bisa menyalahkan, apa yang Bapak/Ibu telah lakukan untuk membina masyarakat Kintamani? “Belum ada! Oleh karena itu pada kesempatan ini, masing-masing pihak berkepentingan dengan Kintamani, mari kita bersinergi. Mari sama-sama kita lakukan pembinaan. Kalau yang belum bagus itu, perilaku masyarakat yang belum mendukung pariwisata, mari kita lakukan pembinaan secara bersama-sama,” imbau Pak Camat. Dia tidak setujua kalau ada anggapan masyarakat Kintamani itu berwatak keras. Masyarakat Kintamani itu hanya ingin agar mereka tidak dipermainkan. “Bapak sebagai travel agent atau sebagai guide, kalau ada rejeki bagi-bagilah. Cara membaginya bagaimana? Itulah yang perlu kita carikan polanya. Kalau misalnya travel agent atau guide dapat sesuatu dari kegiatan pariwisata di sini, lalu masyarakat hanya jadi penonton, ya

FEBRUARI - APRIL 2012

I Wayan Kobang Edy Sucipto

tentu tidak fair dong!,” gugah Pak Camat. Dia lantas mengungkapkan, misalnya ada penjaja patung, lalu satupun patungnya tidak laku, anak istri menunggu di rumah, harus bayar SPP dan kebutuhan ini itu. Apalagi kalau punya anak kecil baru beberapa bulan, perlu susu. Ibunya tidak bisa menyusui. “Kalau dalam kondisi begitu, bagaimana? Jadi sekali-sekali perlu kita empati kepada psikologi masyarakat. Saya tak mendramatisir. Jadi jangan hanya menyalahkan, tetapi marilah kita cari solusinya bersama, agar benar-benar Kintamani ini menjadi destinasi kelas dunia,” ujar Edy Sucipto. (gre/pol)


MENGUCAPKAN

SELAMAT & SUKSES

ATAS DITERBITKANNYA MAJALAH CAKRAWALA DPD HPI BALI FEBRUARI - APRIL 2012

37


LAPORAN UTAMA Penandatanganan Deklarasi Komitmen

Para Pemangku Kepentingan Pemerintah bertekad mengembalikan kejayaan objek wisata kawasan Kintamani di Kabupaten Bangli sebagai salah satu andalan di Bali, melalui program tata kelola pengembangan pariwisata terpadu atau Destination Management organization (DMO). Tekad tersebut diawali penandatanganan deklarasi komitmen para pemangku kepentingan pariwisata setempat di Kantor Kecamatan Kintamani, 28 Desember 2011. Peristiwa ini disaksikan oleh Dirjen Pengembangan Destinasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim dan Bupati Bangli I Made Gianyar serta Fasilitator DMO Cluster Bali I Wayan Mertha. Menurut Firmansyah, pada prinsipnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, senantiasa mendukung pengembangan destinasi di Kintamani secara terpadu dan terarah, untuk kesehjateraan masyarakat setempat. Pengembangan pariwisata Kabupaten

Bangli dengan ikonnya Kintamani itu meliputi keberadaan Gunung Batur dan Danau Batur yang didukung pemandangan alam yang dinilai sangat menakjubkan. “Melalui penandatanganan deklarasi komitmen stakeholders pariwisata itu kita harapkan bisa menjadikan Kintamani sebagai salah satu cluster dalam rangka

38

Acara penandatangan deklarasi komitmen pemangku kepentingan di Kintamani, disaksikan Bupati Bangli.

DMO, termasuk pengelolaan Gunung Batur sebagai geopark (taman bumi),” kata Firmansyah. Bupati Bangli Ma­de Gianyar sangat menghar­­gai dan menyampaikan terima kasih kepada Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diwakili oleh Dirjen Pengembangan Destinasi Dalam Negri, yang mendukung keinginan masyarakat daerahnya, khususnya di sekitar Kintamani. Pemerintah pusat dengan penuh semangat ingin menata dan membangun kejayaan pariwisata Kintamani melalui program pengembangan geopark. Hal ini kita harapkan bisa terwujud mulai Mei 2012,” ucap Made Gianyar. Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Bali, yang diwakili oleh Amos Lillo selaku Kepala Biro Humas, sangat mendukung program pengembangan pariwisata Kabupaten Bangli, khususnya di sekitar Kintamani. “Kami melihat Bupati Bangli mela-

FEBRUARI - APRIL 2012

lui kebijakannya dengan penuh semangat ingin mensejahterakan masyarakat melalui pariwisata. Pengembangan geopark daerah Batur, akan menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan dalam dan luar negeri,” ujar Made Gianyar. Fasilitator DMO Cluster Bali I Wayan Mertha menambahkan, Mengawali kegiatan pembentukan DMO Cluster Bali, team ahli bersama-sama dengan berbagai komponen masyarakat di Kintamani melakukan kegiatan persembahyangan bersama di delapan buah pura yang ada di Wilayah kerja DMO Cluster Bali. Kegiatan tersebut dilakukan pada tanggal 23 Maret dan 12 April 2011 dengan tujuan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberikan anugerah keselamatan dan kelancaran di dalam melaksanakan kegiatan DMO di Kintamani. Dia menambahkan, sosialisasi DMO Bali dan Geopark dilaksanakan pada tanggal 28 April 2011 di Museum Gunungapi Batur oleh Direktur Produk Pariwisata, Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Achyaruddin, SE., M.Sc. “Sosialisasi tersebut bertujuan antara lain untuk menggugah kesadaran para stakeholder


LAPORAN UTAMA

Dr. Agung Suryawan Wiranata, Wayan Gobang Edi Sucipta, Sang Putu Subaya, Wayan Mertha (Kika)

untuk bekerja bersama dalam pembentukan DMO dan membangun kembali kepariwisataan Kintamani,” ujar Mertha. Lebih jauh dosen STP Nusa Dua Bali ini mengungkapkan, pada tanggal 12 Juli 2011, bertempat di Villa Bagus Jati-Gianyar DMO Bali mengadakan FGD (focus group discussion) yang dihadiri oleh Bu-

pati Bangli sendiri yaitu I Made Gianyar, SKPD terkait Perwakilan dari Bali Tourism Board, tim ahli, pelaku usaha dan perwakilan masyarakat Bangli. Acara yang juga dihadiri oleh Direktur Produk Pariwisata Kemenpar Ekraf Achyaruddin. Beberapa perkembangan terakhir terkait dengan kegiatan DMO Bangli seba-

gaimana dilaporkan oleh I Wayan Mertha selaku tim ahli antara lain, 15 desa sudah mengirimkan wakil untuk Local Working Group (LWG). Sosialiasi di 15 Desa sudah selesai dilakukan dan akan dibangun media komunikasi antara LWG dan masyarakat “Wingkan Ranu” yang rencananya akan terbit perdana pada bulan Agustus 2011. “Beberapa masukan dari masyarakat dan tim ahli yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain menggaris-bawahi arah pengembangan pariwisata Bangli harus berpedoman pada nilai “Excellent Root of Morality”. Nilai ini menekankan bahwa pengembangan pariwisata harus didasarkan pada kearifan lokal dan tidak boleh merusak sistem tatanan norma dan nilai yang hidup dan berkembang di masyarakat,” papar Mertha. Kekuatan budaya menjadi daya tarik dan tidak diubah oleh kegiatan wisata, kondisi sosial masyarakat Bangli harus dipertimbangkan dalam perumusan kegiatan pariwisata di Bangli karena masyarakat Bangli ini memiliki karakter yang sangat spesifik, program-program pembinaan “human resources” harus dilakukan berkesinambungan karena proses mengubah perilaku itu membutuhkan proses. (gre)

PEMERINTAH KABUPATEN BANGLI Mengucapkan

Selamat & Sukses ATAS DITERBITKANNYA

MAJALAH CAKRAWALA

FEBRUARI - APRIL 2012

39


O P I N I

Menggapai Visi

‘Destar’

dengan

D Oleh: Drs Ketut Karsa*)

40

estar, yang lebih po­puler dengan ‘udeng’, ikat kepala terbuat dari kain yang digunakan oleh laki-laki beragama Hindu dalam aktivitas sosial keagamaan di Bali. Destar adalah bahasa Bali halus, dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan nama udeng. Kata udeng bisa dikaitkan dengan kata ‘adung’ yang artinya cocok, kenyataannya penggunaan udeng sebagai salah satu elemen busana adat Bali, disamping ‘sarung’, ‘saput’, dan ‘baju’ kelihatan sangat serasi. Laki-laki yang menggunakan ‘udeng’ memperlihatkan penampilan elegant atau ‘adung’. Laki-laki Bali beragama Hindu, dari anakanak , dewasa sampai orang tua, sudah terbiasa menggunakan destar dalam mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan. Destar juga memberikan karakter maskulin kepada pemakainya, laki-laki tampak lebih tampan dan perkasa. Penggunaan busana adat sesuai dengan norma yang berlaku adalah pengamalan etika yang bersumber dari ajaran Hindu. Ada rasa percaya diri dan bangga sebagai laki-laki Bali ketika destar digunakan secara masal pada hari-hari tertentu, destar telah menjadi simbol etnis Bali. Daya tarik destar makin meluas seiring de­ngan perkembangan industri pariwisata global yang subur di Bali. Beberapa wisatawan domestik dan manca negara juga senang memakai destar, baik digunakan selama liburan di Bali atau sebagai oleh-oleh untuk kegiatan seremoni di negaranya. Mereka dengan mudah menemukannya di toko souvenir dan dapat membeli dalam bentuk sudah jadi, setengah jadi, dan lembaran kain ‘taplak meja’. Keseharian masyarakat Hindu di Bali penuh dengan kegiatan sosial keagamaan, semua itu dilakoni untuk menggapai kehidu-

FEBRUARI - APRIL 2012

pan yang harmonis. Hampir tiada hari tanpa aktivitas ritual dan kewajiban sosial sebagai anggota masyarakat dijalani sesuai ‘awigawig’ yang berlaku. Aktivitas religi, di mana para lelaki menggunakan des­tar, acapkali berlangsung di beberapa tempat seperti: Pura, Kuburan, perempatan jalan, mata air sungai, terutama pada hari suci. Dalam aktivitas sosial kemasyarakatan se­perti gotong-royong, pertemuan atau ‘paruman’ Banjar atau Desa busana adat dengan destar juga dikenakan. Bahkan beberapa kantor dan sekolah pada saat hari suci keagamaan: Purnama, Tilem Saraswati, murid dan pegawai yang beragama Hindu menggunakan busana adat madya, di mana penggunaan destar adalah suatu keharusan. Dalam industri pariwisata budaya Bali, penggunaan pakian adat Bali, termasuk didalamnya destar, bagi pramuwisata dalam melayani tamunya telah diatur dalam Peraturan Gubernur Bali No.41 th. 2009 bab IV pasal 7 yang menyatakan bahwa Pramuwisata dalam menjalankan tugasnya harus menggunakan pakian adat Bali. Pramuwisata pria harus menggunakan destar, baju kemeja, saput atau selempot dan kain lelancingan, kecuali jika pramuwisata menjalankan kegiatan wisata tirta, pendakian, lintas alam, dan perkemahan. Pramuwisata yang melanggar sebanyak 3 kali, KTPP dinyatakan tidak berlaku selama 1 tahun sejak ditetapkan. Belum diketahui secara pasti sejak kapan para lelaki Hindu di Bali mulai menggunakan destar, tradisi Bali yang terinspirasi ajaran Hindu sangat bervariasi dan fleksibel. Penerapan ajaran agama lebih menekankan pada kemampuan dan keiklasan, bukan keharusan. Yang pasti, penggunaan destar tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Hindu yang konsep


OPINI

Aneka warna dan bentuk Destar

etikanya diimplementasikan dalam tata cara penggunaan busana adat, termasuk penggunaan destar dalam kegiatan sosial keagamaan. Agama Hindu masuk ke Bali terdiri dari tiga kerangka: Filsafat/ tatwa; Etika/tata susila; Upacara/ kegiatan ritual. Dalam pelaksanaan ajaran agama ketiga kerangka itu diwujudkan dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan memperhatikan makin antusiasnya pengguanaan destar dalam masyarakat Hindhu Bali, terlihat dengan jelas adanya keinginan untuk menggapai visi yang pasti. Variasi bentuk, warna, waktu dan serta tempat penggunaannya mengambarkan motivasi tertentu sipemakai seperti: menciptakan suasana religi saat aktivitas ritual dengan destar putih lambang kesucian; melestarikan warisan leluhur yang bernilai luhur menuju ‘ajeg Bali’; meningkatkan rasa kebersamaan dan persatuan serta menciptakan rasa persaudaraan sebagai etnis Bali; menghormati aturan atau ‘Awig-Awig Desa Adat’ dalam kegiatan social kemasyarakatan; serta secara individu, ingin berpenampilan lebih menarik penuh percaya diri serta elegan terutama anak muda dan seniman. Disain destar yang ditemukan di Bali ada bermacam-macam disesuaikan dengan status sosial pemakainya dan tujuan pemakaian: • Destar untuk ‘pemangku’, pendeta dari pura tertentu: bentuk bulat sederhana yang menutupi seluruh kepala dengan lipatan di depan, dan sambungan kedua ujung di di belakang, wajib dipakai oleh lelaki dengan

status sebagai ‘pemangku’ atau pendeta suatu pura yang bertugas memimpin ritual di pura bersangkutan. • Destar untuk masyarakat umum: Desain menarik dengan warna bervariasi sesuai tujuan penggunaan, bentuk bulat dengan bagian depan berbentuk seperti segi tiga, tidak menutupi bagian atas kepala dengan lipatan di belakang serta dan sambungan kedua ujung di depan membuat desain yang bagus. Biasanya dikenakan oleh orang kebanyakan mulai dari anakanak, dewasa bahkan orang tua. • Destar untuk penari atau pengantin: Bentuk dasarnya bisa seperti destar pemangku atau destar masyarakat sesuai dengan peran pemakainya dan tujuan pemakaian. Bedanya adalah desain lebih pariatif dengan warna menarik. Seperti elemen-elemen budaya Bali yang lain, desain dan warna destar juga mempunyai arti simbolis yang jika dipahami akan memberikan tuntunan moral bagi pemakainya untuk bisa menggapai tujuan yang diinginkan: 1. Bentuk bulat melambangkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bulat dalam bahasa sansekerta adalah ‘windhu’, dan bulat identik dengan angka ‘0’ atau kosong. Orang akan menemukan Tuhan jika mampu mengosongkan atau membebaskan diri dari semua keterikatan duniawi. 2. Bentuk segitiga di bagian depan adalah simbol ‘tri Murti’, tiga

manifestasi pokok dari Tuhan Yang Maha Esa: Dewa Brahma sebagai pencipta; Dewa Wisnu, pemelihara; Dewa Siwa, pelebur. 3. Dua ujung yang muncul dari sambungan adalah lambang dari dua sifat dasar manusia yaitu sifat baik dan buruk. Kedua sifat yang bertentangan ini terlihat menonjol pada orang kebanyakan sehingga sambungan kedua ujung berada di depan bentuk segitiga. Sedangkan destar pemangku, sambungan kedua ujung berada dibelakang artinya kedua sifat itu bisa terkontrol baik dan tidak kentara. 4. Lipatan di bagian belakang adalah simbol permasalahan dalam kehidupan. Setiap masalah mesti diselesaikan secara kekeluargaan dan jangan menunjukkan masalah itu kepada orang lain. Sedangkan bagi para ‘pemangku’ dengan pemahaman filsafat yang baik, setiap permasalahan mengerti sebagai penyucian dan dapat mengambil hikmah untuk pencerahan kehidupan. Warna destar yang berbeda-beda juga menggambarkan makna simbolis religius sehingga penggunaan warna itu secara konvensional disesuaikan dengan tujuan si pemakai: 1. Warna putih adalah simbol kesucian atau menyiratkan kesucian hati pemakainya, umumnya destar putih dipakai untuk sembahyang. 2. Warna hitam identik dengan ke­ gelapan atau rasa turut bela sungkawa dari pemakainya, biasanya dipakai pada saat upacara kematian. 3. Warna cerah dan menarik adalah lambang rasa syukur dan gembira, penggunaanya saat upacara untuk manusia ‘manusia yadnya’ seperti pernikahan, perkawinan, dan juga dalam aktivitas seni, para penari atau penabuh menggunakan destar warna menarik. 4. Warna lembut dengan motif menarik, misalnya ‘batik’, digunakan oleh komunitas profesi tertentu sebagai kostum kantor atau perusahan yang lebih menekankan kenyamanan untuk pemakai daripada makna simbolis. *)Penulis:Guide Spanyol, Inggris. Domestik, Alumnus Sastra Inggris Univ.Udayana 1989

FEBRUARI - APRIL 2012

41


42

FEBRUARI - APRIL 2012


DINAS PARIWISATA KABUPATEN BANGLI Mengucapkan

Selamat & Sukses atas diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA

FEBRUARI - APRIL 2012

43


OPINI

PENGEMBANGAN PARIWISATA KREATIF

ASA Untuk

BALI dan INDONESIA BALI DAN INDONESIA DALAM JEJARING PARIWISATA DUNIA

P OLEH : I WAYAN GERIYA*)

44

erkembangan pariwisata dunia sangat fluktuatif di tengah kehidupan dunia yang makin terbuka tanpa sekat. Tesis Friedman (1993) mengungkapkan, bahwa dinamika dunia yang terus bergerak tanpa sekat : ras, etnik, nasion, agama, geopolitik sangat terkait dengan revolusi telekomunikasi, transportasi, dan tourisme. Bidang pariwisata tumbuh menjadi pusat perhatian sebagian terbesar negara bangsa dengan total penduduk dunia telah mencapai tujuh miliar jiwa. Berbagai negara tumbuh sangat maju di bidang kepariwisataan dan sebagian lagi tergolong kategori menengah dan sedang berkembang. Indonesia berpotensi dan berpeluang bergerak sangat maju dengan lokasi negara yang strategis, sumber daya

FEBRUARI - APRIL 2012

alam, dan budaya yang beragam serta memesona, diiringi pengalaman mengelola kepariwisataan yang panjang melebihi setengah abad. Eksistensi kepariwisataan Indonesia yang kini berada dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan media diplomasi, bidang penggerak ekonomi kreatif dan instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan public dipertegas dengan landasan legislasi melalui UU no. 10, tahun 2009 tentang Kepariwisataan Indonesia. Dalam koridor Kode Etik Kepariwisataan Dunia, perkembangan kepariwisataan di level global, nasional, dan lokal tidak bisa bergerak sangat liberal di luar batas kode etik yang pada hakekatnya sangat mengapresiasi keberlanjutan dan kelestarian alam, kultur, humanisme, kearifan komunitas lokal dan keadaban umat manusia dalam asa penyelamatan bumi bagi anak cucu kita. Integrasi pariwisata dengan ekonomi kreatif merupakan


OPINI KRAF 1 KRAF 2

KRAF 6

PARIWISATA KREATIF KRAF 5

KRAF 3

KRAF 4

DIAGRAM

peluang baru untuk pembangunan dan kreatifitas. Pariwisata Bali sering diapresiasi sebagai ikon, estalase, dan lokomotif kepariwisataan Indonesia. Dalam paradigm yang mengedepankan spirit inklusi, inklusi vertikal (Bali– Indonesia), dan inklusi horisontal (Bali– Provinsi lain), pola hubungan komplementatif, kontributif, dan simbiosis merupakan modal sosial untuk mampu membangkitkan jiwa kebersamaan dalam keragaman untuk maju secara serasi, seiring dan bersatu. Dalam etos keindonesiaan seperti itu, Bali dan Indonesia berpeluang nyaman memasuki jejaring pariwisata dunia secara terpadu dan elegan. Dalam mengembangkan jejaring pariwisata dunia, Indonesia masih dihadapkan pada tiga masalah pokok: (1) kemampuan yang belum maksimal untuk mampu meraih jumlah wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Target capaian masih dibawah 10 juta tiap tahun dan berada jauh di bawah Thailand, Singapura, Malaysia, apalagi dibandingkan dengan Perancis, Italia, Spanyol; (2) promosi pariwisata Indonesia ke luar negeri lemah dari sudut pandang profesionalisme, kontinuitas, dan besaran anggaran; (3) Indonesia belum prima

dalam mengembangkan pariwisata berkualitas terkait kendala prasarana, SDM, kedisiplinan, dan mutu pelayanan. Kedepan, asa pariwisata kreatif dan berkualitas wajib menjadi aksen, fokus dan prioritas. DISKURSUS PARIWISATA KREATIF DAN BERKUALITAS Dalam kepariwisataan Bali, wacana pariwisata berkualitas telah menjadi pusat perhatian pada dekade 1990’an Tekad tersebut berkembang oleh satu kesadaran bersama, bahwa kehadiran pariwisata tidak bebas dari dampak positif dan negatif, dimensi rwabineda, mata uang bermuka ganda putih dan hitam. Namun Bali memiliki potensi besar dan peluang terbuka mengembangkan pariwisata kreatif dan berkualitas. Secara historis, kepariwisataan Bali yang memasuki usia sekitar 90 tahun (1920-2012), terkategori dalam 5 periode: (1) periode diskoveri (1920-1945); (2) periode introduksi (1945-1974); (3) periode institutionalisasi (1974-1991); (4) periode globalisasi (1991-2000); (5) periode reformasi (2000-2020). Di era periode globalisasi, wacana pariwisata berkualitas bahkan di transformasi ke dalam konsep beridentitas pariwisata budaya yang

terstruktur, terukur, dan bermakna. Konsepsi pariwisata kreatif berkualitas mencakup: (1) pariwisata yang berorientasi pada budaya kreatif dengan filosofi, nilai, karakter berbasis kearifan lokal dengan nilai universal; (2) pariwisata ramah lingkungan searah dengan filosofi Tri Hita Karana; (3) pariwisata yang menilai tinggi dan mengapresiasi humanisme dengan nilai-nilai luhur terkait logika, etika, estetika, spiritualita, solidarita, kreativita; (4) pariwisata yang mampu tumbuh berkelanjutan dan mampu meningkatkan inovasi untuk kesejahteraan masyarakan Bali; (5) wisatawan yang datang tidak murahan, mengapresiasi masyarakat dan kebudayaan Bali serta membelanjakan uang cukup tinggi ; (6) pariwisata adalah untuk Bali dan bukan Bali untuk pariwisata. (Lihat DIAGRAM) Dalam realitas empiri, tidak selamanya pariwisata yang berkembang merepresentasikan diri sebagai pariwisata kreatif berkualitas. Beragam tantangan, baik internal maupun eksternal muncul. Sepuluh daftar tantangan kepariwisataan Bali selama dekade terakhir terdiri atas : (1) terputusnya kontinuitas keluhuran filosofi, nilai inti, dan karakter kreatif di tataran operasional dan praktek; (2) lemahnya efektivitas koordinasi manajemen One Island, One Management; (3) menyeFEBRUARI - APRIL 2012

45


OPINI

barnya alienasi budaya sebagai patologi pariwisata Bali; (4) pro kontra tentang Bhisama kesucian Pura; (5) konflik opini tentang ketinggian bangunan maksimum 15 meter; (6) marginalisasi SDM Bali di rumah sendiri; (7) terancam matinya seni turistik akibat persaingan komisi yang merugikan sekaa; (8) sikap kecewa wisatawan terhadap kemacetan yang makin meluas; (9) ketimpangan perkembangan pariwisata lintas kabupaten/kota; (10) belum efetifnya mitigasi bencana pariwisata semisal seks bebas, paedofilia, pemborosan sumber daya. Persandingan Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata sebagai konstruksi dinamika dan realitas belum terkelola secara professional. Pariwisata Budaya adalah identitas sekaligus idealisme dan kreativitas dalam pembangunan kepariwisataan Bali. Budaya Pariwisata adalah konstruksi realita, representasi gaya hidup wisatawan di ranah pariwisata : di hotel, restoran, atraksi, transportasi, promosi, souvenir, jasa pariwisata. Secara konsepsual, keduanya berbeda namun secara empiri, di samping kadang tampil paradoksal, keduanya berpeluang di kelola menuju adaptasi, sinergi den-

46

gan kreasi yang mampu mengayakan kepariwisataan. Semisal, aneka kuliner lokal yang mampu bersinergi dengan food habit para turis dapat mengembangkan kuliner kreatif yang diterima pasar lokal dan pasar wisatawan. Begitu pula tentang seni, busana, fashion merupakan sektor dan kelompok kreatif yang mensinergikan Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata dalam dinamika hibriditas kultural. PARADOKS LOKAL DAN PELUANG GLOBAL Sembilan dekade perkembangan pariwisata Bali merekam aneka paradoks, ironi antara sollen dan sein, antara asa dan realitas. Penulis Island Of Bali M. Covarrubias pernah menyatakan kekhawatiran tentang kehadiran pariwisata di Bali. John Poortenar (1921) pariwisata perlu diwaspadai jangan sampai menghilangkan Bali. G. Krause (1922), hati – hati terhadap potensi rusaknya Bali. Adnyana Manuaba (1991) memperingatkan tentang distorsi dan dislokasi kebudayaan Bali. Terekam, bahwa telah manifes ber-

FEBRUARI - APRIL 2012

bagai signal tentang paradoks yang mengancam keberlanjutan pariwisata Bali. Paradoks tersebut adalah : (1) pariwisata unggul tanpa keunggulan orang Bali di ranah pariwisata ; (2) pariwisata budaya yang mengedepankan berbagai unsur budaya dan kreatifitas, namun merapuhkan moral, mental dan memacu hedonisme ; (3) pariwisata meningkat di tengah pertanian yang merosot ; (4) Bali adalah pariwisata pulau kecil, tetapi besar dalam pemborosan sumber daya ; (5) PHR besar dari bidang pariwisata budaya, tetapi kecil untuk pembangunan kebudayaan, agama, lingkungan sebagai pilar pokok pariwisata Bali. Bali juga masih lemah dalam menerapkan One Island, One Management di bidang pariwisata. Dalam konteks lokal, nasional dan internasional, pariwisata Bali masih tetap memiliki citra tinggi, apresiasi besar dan menarik minat wisatawan dunia sebagai The Island Of Paradise yang wajib dikunjungi. Enam keunggulan sebagai apresiasi dunia terhadap pariwisata Bali adalah : (1) keunggulan 1, Bali berturut– turut ditetapkan sebagai DTW pulau paling favorit dengan mengalahkan pesaing pulau


OPINI Kuai, Galapagos, Hawai ; (2) pariwisata Bali memiliki identitas pariwisata budaya yang eksotik, unik, dan kreatif ; (3) kontribusi pariwisata Bali besar secara nasional, sekitar 30 % dan signifikan bagi provinsi tetangga ; (4) pariwisata Bali memiliki model kawasan yang khas dan beragam seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur, Ubud, Tanah Lot ; (5) pariwisata Bali mendorong kebangkitan Cultural Heritage yang diapresiasi UNESCO ; (6) prasarana pariwisata Bali berstandar prima seperti air port, hotel, objek wisata, keramahan penduduk, kenyamanan bepergian. STRATEGI PENGUATAN KREATIFITAS DAN KUALITAS Penguatan pariwisata kreatif dan berkualitas dapat ditempuh melalui 3 langkah strategis, langkah yang saling melengkapi satu terhadap yang lain. Pertama, strategi konservatif Strategi ini menekankan pada kelestarian alam, budaya, dan taksu Bali sebagai modal dasar untuk melandasi representasi Bali sebagai DTW pulau yang prima dalam fibrasi humanisme, spiritualisme dan harmoni. Semua pelaku pariwisata dituntut menjauhi keserakahan, instanisme dan vanalisme, serta senantiasa berupaya mengutamakan kreatifitas, keindahan, dan mutu. Spirit konservasi agar menjadi acuan publik, termasuk mengendalikan konversi lahan, menguatkan Bhisama dan mempertahankan ketinggian bangunan maksimum 15 meter. Spirit konservasi merevitalisasi kesadaran bersama tentang pentingnya Bali sebagai daerah pariwisata yang indah, nyaman, dan menginspirasi secara lokal, nasional, mondial. Kedua, strategi adaptif Strategi ini mengapresiasi dinamika pariwisata Bali secara adaptif, lentur dan akulturatif. Dalam keterbukaan yang menasional dan mengglobal, sikap inklusi secara vertikal dan horizontal terkelola secara arif, kokoh dalam lokal genius dan mengakomodasi inovasi global dengan paradigma tradisi merangkul modernisasi. Pembangunan pariwisata budaya seiring dengan pengelolaan budaya pariwisata secara selektif, adaptif, bagi diversifikasi dan pengayaan perkembangan pariwisata Bali agar terhindar dari fenomena monoton.

strategis, keluasan pesona pantai dan alam, kekayaan ragam seni dan budaya merupakan modal bangsa bagi perkembangan pariwisata berkelanjutan. Enam puluh enam tahun pengalaman NKRI, pariwisata makin tumbuh sebagai kekuatan ekonomi dan sektor andalan pembangunan nasional. Bagi Bali, sebagai bagian NKRI, sektor pariwisata telah berkembang sebagai sektor utama dan strategis, lokomotif ekonomi Bali dan ikon kepariwisataan Indonesia. Beragam keunggulan dan prestasi positif dimiliki pulau Bali yang pantas dijuluki The Island Of Paradise. Ditengah hadirnya berbagai dampak positif, muncul paradoks lokal dan tantangan global, termasuk kerusakan alam dan fenomena alienasi budaya. Walaupun begitu kepariwisataan Bali masih potensial tampil dengan representasi baru pariwisata kreatif dan aneka asa excellence modal untuk survive dan akselerasi pariwisata kreatif berbasis komunitas masih potensial menawarkan karya dan produk variatif : atraksi, souvenir, kuliner, tekstil endek, aneka festival budaya, pelayanan prima, beragam museum, living art and culture dengan dukungan sarana dan prasarana kepariwisataan yang andal. Kepariwisataan Bali dengan komitmen pariwisata kreatif dan berkualitas, berpeluang memacu nilai tambah secara ekonomi, teknologi, dan budaya. Dalam konteks Bali dan Indonesia, di tengah dinamika dunia global tanpa sekat, representasi pariwisata kreatif dan berkualitas adalah tuntutan dasar untuk eksis dan tampil secara kompetitif. Berbasis potensi dan modal yang tersedia, tekad tiada henti untuk melakukan evaluasi, introsepeksi dan ekstrospeksi untuk maju, asa excellence kepariwisataan Bali dan Indonesia tetap berpeluang tumbuh berkelanjutan untuk memajukan ekonomi, integrasi bangsa dan peradaban. *) penulis, antropolog dari Universitas Udayana, Denpasar

Ketiga, strategi progresif Strategi ini mengakselerasi secara transformatif untuk berkembangnya pariwisata kreatif dengan input teknologi, tuntutan pasar global, ekonomi kerakyatan dengan basis budaya unggulan. Transformasi, kreatifitas dan keterbukaan diapresiasi dalam basis paradigma continuity in changes. Komunitas pariwisata kreatif dipacu, asa kualitas, dan berkelanjutan menjadi komitmen bersama dan pengembangan beragam centre of excellence menjadi tuntutan, agar Bali sebagai DTW tetap mampu tampil prima dan memperoleh apresiasi sejagat. REFLEKSI Bagi Indonesia, sektor pariwisata berperan penting untuk pembangunan ekonomi bangsa, revitalisasi industri kreatif dan media alternatif dalam diplomasi budaya. Lokasi NKRI yang FEBRUARI - APRIL 2012

47


OPINI

48

FEBRUARI - APRIL 2012


OPINI

OPINI

MAKNA

HARI RAYA

NYEPI

H Oleh: Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, M.Si1

ari raya Nyepi dilaksanakan oleh umat Hindu di Indonesia setiap tahun, yaitu pada tileming (bulan mati) sasih kesanga (bulan sembilan dalam kalender Bali) atau sekitar bulan Maret – April dalam kalender Masehi. Secara umum, hari raya Nyepi dilaksanakan untuk menyambut datangnya tahun baru Saka (Icaka Warsa). Berbeda dengan perayaan pergantian tahun pada umumnya, justru pergantian tahun Saka dilaksanakan dengan berbagai ritual, yaitu melis, tawur kasanga, catur braya panyepian, dan ngembak gni. Seluruh ritual ini merupakan rangkaian dari Hari Raya Nyepi yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Bagi umat Hindu, Hari Raya Nyepi tidak hanya dimaknai sebagai rutinitas belaka, tetapi menjadi ekspresi religiusitasnya. Artinya, ritual ini merupakan wujud kepercayaan (sraddha), pelayanan dan pemujaan (bhakti) kepada Hy-

FEBRUARI - APRIL 2012

49


OPINI

ang Widhi – pencipta alam semesta dan segala isinya. Oleh karena itu, pendalaman makna hari raya Nyepi penting dilakukan untuk menguatkan keyakinan umat Hindu pada tradisi religiusnya sekaligus agar nilai ini dapat direvitalisasi dalam konteks kekinian. Pada saat bersamaan, juga fenomena global menunjukkan kekhawatiraan masyarakat dunia pada terjadinya perubahan iklim, naiknya suhu bumi, dan kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan manusia. Artikel ini pada dasarnya hendak memaknai Nyepi, baik sebagai ekspresi religius maupun kearifan lingkungan Hindu sehingga memberikan sumbangan yang berharga bagi alam dan manusia. Pemaknaan Hari Raya Nyepi diawali dengan mencermati rangkaian ritual dan kemudian menafsirkannya dalam kerangka religiusitas dan kearifan lingkungan. Religiusitas dimaknai secara filosofis-teologis,

50

FEBRUARI - APRIL 2012

sedangkan kearifan lingkungan dimaknai sesuai prinsip-prinsip environmentalisme Hindu. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah ekologi budaya yang dikembangkan oleh Julian H. Stewart dan Roy A. Rappaport bahwa agama dan kebudayaan suatu masyarakat berhubungan erat dengan lingkungan alamnya. Pertama, Nyepi diawali dengan upacara Melis, Melasti, Makiyis, atau Jaladri Puja. Bentuk upacaranya adalah menyucikan seluruh arca, pratima, dan simbol-simbol keagamaan lainnya ke laut, muara sungai, danau, atau sumber-sumber air yang disucikan. Upacara ini dilaksanakan 3 (tiga) hari sebelum Nyepi. Dalam lontar Sundarigama dijelaskan bahwa melasti adalah “anganyutaken papa, klesa letehing bhuwana angamet sarining tirta amerta kamandalu� (menghanyutkan segala kekotoran dunia untuk men-

dapatkan air suci kehidupan). Secara ekologi dapat dipahami bahwa upacara ini merupakan upaya pelestarian sumber-sumber air, seperti laut, danau, sungai, dan mata air yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Melalui upacara melasti inilah sumber-sumber air tersebut dimohonkan kelestariannya kepada Hyang Widhi sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia, dan lingkungan alam. Kedua, upacara pacaruan atau tawur kasanga dalam berbagai tingkatannya dilaksanakan pada tingkat keluarga, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Upacara ini tergolong dalam bhuta yajna sehingga dalam pelaksanaannya dibarengi dengan pawai ogoh-ogoh, yaitu gambaran sosok raksasa yang diarak berkeliling dan kemudian dibakar bersamaan dengan puncak upacara pacaruan. Dalam filsafat


OPINI

Samkhya, bhuta merupakan unsur paling kasar yang menjadi dasar penyusun alam semesta dan segala isinya (macro cosmos dan micro cosmos) yang terdiri atas lima unsur (panca mahabhuta), yaitu prthivi (tanah), apah (air), teja (api), vayu (angin), dan akasa (ether/ozon). Penggambaran bhuta dalam wujud raksasa sesungguhnya mengindikasikan bahwa unsur alam yang tidak seimbang akan berakibat mengerikan bagi manusia misalnya, api yang besar mengakibatkan kebakaran; air yang berlebihan mengakibatkan banjir, tsunami; atau lapisan ozon yang berlubang dapat mengakibatkan pemanasan global. Oleh karena itu, tujuan utama dari upacara bhuta yajna termasuk tawur kasanga adalah untuk mengharmoniskan unsur-unsur alam tersebut (bhutahita) sehingga keberadaannya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kebahagiaan semua makhluk (sarwa prani hitangkarah). Ketiga, puncak perayaan Nyepi adalah pelaksanaan catur brata penyepian, berarti empat macam pengendalian diri (brata). Keempat brata yang harus dilaksanakan adalah amati gni (tidak menyalakan api); amati karya (tidak beraktivitas); amati lelungan (tidak berpergian); dan amati lelanguan (tidak menikmati keindahan). Keem-

pat brata ini dilaksanakan umat Hindu selama 24 jam penuh. Dalam praktiknya, keempat brata ini dilaksanakan dengan memadamkan lampu, tidak berkendaraan, tidak menyalakan media hiburan, dan tidak memasak. Secara filosofis-teologis, amati gni berarti mengendalikan nafsu-hasrat yang ada dalam diri manusia; amati karya berarti mengendalikan aktivitas inderawi; amati lelungan berarti duduk diam, meditasi, instropeksi diri, dan suntuk dalam pemujaan kepada Hyang Widhi; sedangkan amati lelanguan berarti tidak mengumbar kesenangan duniawi. Seluruh brata ini dilaksanakan agar umat Hindu mampu menjalani tahun Saka yang akan datang dengan semangat baru yang lebih religius dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, dari perspektif ekologi budaya dapat dipahami bahwa pelaksanaan catur brata penyepian memberikan dampak positif bagi lingkungan alam, seperti penghematan energi listrik, penghematan bahan bakar, mengurangi emisi karbon, dan bebas polusi lingkungan. Setidak-tidaknya, dalam 24 jam alam Bali terbebas dari berbagai aktivitas manusia yang dapat mencemari lingkungan dan alamnya. Keempat, adalah Ngembak gni yang berarti kembali menyalakan api atau mulai

beraktivitas setelah melaksanakan catur brata penyepian. Upacara ngembak gni biasanya dirangkai dengan kegiatan dharma santih, yaitu kegiatan saling kunjung-mengunjungi sanak saudara, teman, dan handai-taulan untuk saling bermaaf-maafan. Artinya, ketika alam semesta dan manusia telah berada dalam keseimbangan dan keselarasan maka kedamaian pasti terwujud. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Hari Raya Nyepi memiliki makna yang mendalam, baik sebagai ekspresi religius maupun kearifan lingkungan Hindu. Untuk itu nilai Hari Raya Nyepi harus direvitalisasi kembali dalam konteks kekinian sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia demi terwujudnya kedamaian dan kebahagiaan umat manusia, santi lan jagadhita.

Penulis adalah Guru Besar Etika Hindu dan juga menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar

FEBRUARI - APRIL 2012

51


PROFILE & LIFE STYLE

Anak Agung Gede Rai

TINGKATKAN TANGGUNG JAWAB

PADA TAMU

B

ERCAKAP-cakap dengan Anak Agung Gede Rai, perintis dan pengelola Agung Rai Museum Art (ARMA) Ubud seperti mengunjungi museum itu sendiri. Dalam diri Agung Rai kita bisa bertegur sapa dengan masa lalu Ubud. Dia merekam hampir semua etape, jejak langkah kebersenian Ubud dalam memorinya. Pria kelahiran Peliatan, 14 Juli 1955 ini ikut berkontribusi menciptakan atmosfir Ubud sehingga kini berkembang menjadi “kampung global”. Ubud, katanya, merupakan salah satu

52

lokasi persinggahan dari perjalanan epik para tokoh spiritual, baik Rsi Markandia maupun Dang Hyang Nirarta. “Di mana saja tempat persinggahan para spiritualis itu, mulai dari Jawa, Bali sampai Lombok, pasti menjadi terkenal, karena ada fibrasi luar biasa. Seniman itu mirip dengan kaum spiritual, mencari tempat yang tenang, karena bisa berkarya kalau ada inspirasi. Begitu pula Ubud sebagai kampung para seniman,” ujar Agung Rai. Sejak akhir tahun 70-an, Gung Rai sudah berupaya mengumpulkan serpihan peristiwa kesenian Ubud dengan aktor-

FEBRUARI - APRIL 2012

aktor yang terlibat di dalamnya sehingga menjadi runut, ada starting point dan ending-nya. Dalam pandangan Gung Rai, garis batas atau pemisah ‘tradisional’ dan ‘modern’ tidak dikenal di Bali. “Tidak seperti di Barat yang jelas pemisahan antara modern dan tradisional. Di sini yang nampak justru journey-nya saja, dari tradisional ke modern. Jadi tidak ada pemisahan yang jelas,” terang pria dari Puri Peliatan ini. Sebelum mendirikan museum, dia sudah mempersiapkan “infrastruktur”nya, bukan hanya dalam konteks fisik, tetapi juga jejaring (network). Karena itu,


PROFILE & LIFE STYLE sejak awal dia membangun network dan persahabatan di pusat-pusat kesenian dan pencinta Bali di luar negeri. Dia menggelar pameran lukisan di Jepang, Eropa dan Amerika. Selain itu, Gung Rai menjadi pembicara di sejumlah event di luar negeri untuk makin memperkenalkan potensi Bali di bidang seni dan budaya. “Respons pencinta Bali di luar negeri sangat luar biasa,” ungkapnya. Apresiasi Barat terhadap kesenian Bali sudah sejak awal abad 20. Pameran Lukisan di Prancis, tahun 1931 menjadi salah satu pemicu. Pameran tersebut cukup menggemparkan jagat seni, sampaisampai dua seniman Bali Ida Bagus Gel Gel dan Ida Bagus Gembeng mendapat penghargaan untuk seniman kelas dunia di Prancis. “Sejak saat itu, orang Eropa mulai gandrung mengoleksi lukisan Bali. Mereka berbondong-bondong datang ke Bali,” ujarnya. Keterpesonaan orang asing makin memuncak mendapati harmoni alam dan tradisi Bali. Jauh sebelum mendirikan ARMA Ubud (diresmikan Prof Dr-Ing Wardiman Djojonegoro pada 9 Juni 1996), Gung Rai bertekad “memburu” lukisan-lukisan Bali di luar negeri. Saat itu, dia getol menyambangi orang-orang yang mengoleksi lukisan Bali di luar negeri, merayu mereka agar menjualnya kembali. Dia jelaskan niat mulianya membangun museum. Perburuan itu bukan pekerjaan mudah, karena berhadapan dengan “pebisnis” lukisan. Menghabiskan dana sampai 30.000 gulden tak masalah bagi penulis buku “The Hidden Value of Balinese Tradition” ini. Suatu kebanggan bagi Gung Rai karena berhasil membawa pulang sejumlah karya pelukis ternama Bali ke Tanah Air. Pengunjung ARMA Ubud bisa menikmati berbagai lukisan berkualitas dari para maestro seni rupa. Pada satu ruangan, terpajang karya seniman mancanegara yang menemukan inspirasi dari keindahan alam dan budaya Bali, antara lain Rudolf Bonnet, Arie Smith, Willem Hofker, Antonio Blanco, Han Snel, dan Walter Spies. Karya-karya pelukis Walter Spies dan Raden Saleh menjadi koleksi khusus ARMA. Karena bobot kesejarahannya yang kuat, Gung Rai juga menyediakan ruang khusus untuk memamerkan lukisan-lukisan

Sejumlah Turis belajar melukis di kompleks Arma Museum

karya almarhum Anak Agung Made Djelantik. Menurut Gung Rai, A.A. Made Djelantik memiliki peran penting dalam mengenalkan Bali ke dunia Barat. Berkat kepiwaian Djelantik yang berprofesi sebagai dokter dan juga dosen di FK Universitas Udayana Denpasar itu, nama Bali mulai bergaung di mancanegara. Djelantik sejalan dengan dua seniman mancanegara yang sangat mencintai Bali, Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Kedua seniman warga negara asing itu mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perubahan karya-karya pelukis Bali. Walter Spies, warga Jerman dan Rodulf Bonnet, warga negara Belanda, menyerap inspirasi dari alam dan tradisi Bali dalam karya-karya mereka. Kedua seniman mancanegara membaur dengan masyarakat Bali, di mana terjadi interaksi yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran timbal balik. Spies dan Bonnet sempat bergabung dengan organisasi kelompok pelukis dan pematung Pita Maha Ubud. Agung Rai tampaknya cukup peka menangkap isyarat dari karya-karya maestro. Di dalamnya ditemukan semacam resonansi yang mempertautkan objek lukisan mereka dengan harmoni alam dan

tradisi Bali di mana mereka hidup dan menetap. Alam yang mempesona, udara yang bersih, warga desa yang friendly dan egaliter. Semua itu melebur dalam imaji para seniman yang diekspresikan dalam karya-karya nya. Itulah yang dicoba dihadirkan Gung Rai di ARMA Ubud ; living museum! Di lahan seluas enam hektar berdiri ARMA Ubud yang anggun. Pohon-pohon dan tanaman hias nan rimbun menghijau tampak sangat terawat. Di sisi lain ada hamparan sawah. Desir angin yang menyebarkan bau tanah khas alam pedesaan, menciptakan suasana kedamaian. Gung Rai sengaja menciptakan ruang learning together yang memungkinkan para turis belajar melukis, dan anak-anak desa belajar bahasa asing. Di situ terjalin interaksi yang produktif, yang memungkinkan anak-anak Ubud tidak gagap menghadapi serbuan globalisasi. Secara jitu, mantan anggota Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya) Bali ini mendesain tata ruang ARMA Ubud dengan seluruh konstelasi wisata yang melengkapinya dalam suatu konsep “one stop experiencing”, satu kesatuan pengalaman yang memuaskan sanubari FEBRUARI - APRIL 2012

53


PROFILE & LIFE STYLE

Seorang Turis belajar melukis di kompleks ARMA

pengujung. Selain museum, di sana juga ada perpustakaan, panggung pertunjukan, tempat belajar karawitan dan melukis, resort, ruang lokakarya, restoran, kafe, dan coffee shop. Semua itu menyatu dengan kebun buah dan hamparan sawah khas Ubud. Memiliki galeri seni sendiri untuk kemudian mempunyai museum merupakan

54

cita-cita semua seniman. Sebagai seniman, di usianya yang mulai beranjak senja, Gung Rai boleh jadi telah meraih segalanya. Namun, dia tak berhenti belajar. Pagi-pagi dia turun sendiri, terkadang memangkas dahan yang membahayakan pengunjung. Tak lupa dia menyapa para tamunya, ”What can I do for you?.” Bukan basa-basi, tetapi

FEBRUARI - APRIL 2012

ekspresi semangat melayani. “Ini bentuk tanggung-jawab kita kepada para tamu,” tandas Gung Rai. Rasa tanggung-jawab perlu ditumbuhkan pada setiap komponen pariwisata di Bali termasuk para guide. Para guide diharapkan memiliki pengetahuan yang luas tentang budaya dan objek wisata di Bali. “Jangan sampai guide mulai dengan kata ‘maybe” kalau ditanya turis. Itu berarti masih ada keraguan. Juga harus memakai bahasa hati, tidak sekedar menjelaskan ini itu. Kalau dengan bahasa hati, power of voice kita sebagai guide akan terpancar. Tamu akan percaya dan respek pada kita,” ujar Gung Rai. Melayani dan rasa tanggung jawab ini selalu ditanamkan Gung Rai kepada pada karyawannya. Walau telah menggapai capaian tertinggi seorang seniman, semangat melayani masih tampak pada pria sederhana yang tidak mudah ‘following the crowd” ini. Ulet, fokus dan berkonsep, yang dirajutnya sejak menjadi ‘seniman kere’ tetap melekat sampai kini berhasil menjadi ‘pengelolaa industri seni yang kece’. Bersua dan bercakap-cakap dengan Gung Rai saat berkunjung ke ARMA Ubud merupakan suguhan ekstra bagi siapa saja yang rindu pada jati diri Bali. (gre)


ocean star

MENGUCAPKAN SELAMAT & SUKSES ATAS DITERBITKANNYA MAJALAH CAKRAWALA FEBRUARI DPD -HPI BALI APRIL 2012 55


PROFILE & LIFE STYLE Dalam Musda VIII HPI Bali di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur 26 Oktober 2011 lalu, Sang Putu Subaya terpilih menjadi pimpinan asosiasi para guide di Bali. Pemilihan itu sendiri berlangsung cukup alot dan sungguh mencerminkan dinamika dalam tubuh HPI Bali. Sebagai “orang hukum” Sangtubegitu panggilan akrabnya, mengangap semua itu wajar, dan seperti itulah proses demokrasi. Seiring kepercayaan yang diberikan kepada dirinya untuk memimpin HPI, selain berkomitmen meluangkan separuh waktunya untuk organisasi, pria kelahiran Bangli ini melontarkan pernyataan yang mengejutkan. “Saya hanya ingin menjadi Ketua DPD HPI Bali selama satu periode,” ujarnya dengan lantang di atas podium sesaat setelah terpilih.           Pernyataan seperti ini tentu hanya dilakukan oleh orang berkarakter, yang melihat jabatan hanyalah alat, bukan tujuan. Bagaimana tidak, kekuasaan—dalam konteks yang terkecilpun—secara naluriah selalu sedapat mungkin untuk dipertahankan. Namun, Sangtu memilih bersikap lain, kendati sempat disayangkan oleh rekan-rekan yang sejak awal mendukungnya. Beberapa bulan kemudian, dalam suatu perbincangan dengan Tim CAKRAWALA, Sangtu akhirnya memberikan penjelasan tentang sikapnya itu. “Saya hanya ingin menuruti kata hati,” ujarnya. Apa maksudnya? Bagaimana Sangtu melewati etape kehidupannya?

56

Sang Putu Subaya, SH.MH

“Pria Banglades”

Yang Selalu Menuruti Kata Hati

M

asa kecil Sangtu dilalui dengan penuh keprihatinan. Dia termasuk “pria Banglades” sebutan untuk pria asal Bangli yang lahir di desa. Lahir di Tegalasah, sebuah desa yang cukup terpencil masa itu, di Kecamatan Tembuku, tanggal 23 Maret 1955, dari sebuah keluarga sederhana. Pada umur 9 tahun ia sudah ditinggal ibu karena perceraian.

FEBRUARI - APRIL 2012

Masa kecilnya banyak dilewatkan dengan kakek dan nenek di luar desa, dalam gubuk sederhana, di sebuah tegalan. Dari sana, setiap hari ia harus berjalan kaki sepanjang 8 km untuk sekolah di SMP Marhaen, di kota Bangli. Tahun terakhir baru kemudian pindah ke SMP Tembuku yang berjarak lebih pendek, 3 km. Setelah tamat SMP ia melanjutkan studinya di SLUA I di Denpasar dengan kondisi eko-


PROFILE & LIFE STYLE nomi yang pas-pas an. Kondisi itu yang membuatnya harus berjuang keras untuk meraih mimpinya, yaitu hidup lebih baik. Mengambil pekerjaan kasar menjadi buruh bangunanpun pernah dilakoni semasa di SLUA demi menyambung hidup dan membantu biaya sekolah. Karena kegetiran hidup itulah yang membuatnya begitu mudah iba dan berempati pada sesama yang berkekurangan. “Sensitifitas saya terasah karena penderitaan masa kecil cukup keras”, ujar Sangtu.           Sangtu tidak larut dalam  kegetiran dan juga tidak meratapi masa kecilnya yang serba kekurangan. Baginya, penderitaan adalah “ vitamin” hidup. Dia justru menjadikan kondisi tak nyaman itu sebagai cambuk untuk terus berjuang. Tahun 1972, setamat SLUA I langsung melamar dan diterima bekerja di Travel Mantrust sebagai karyawan kebersihan merangkap sebagai checker (penjual tiket) Tari Barong dan tari-tari tradisional lainnya seperti Kecak, Legong dan Ramayana Ballet yang khusus dipertontonkan untuk wisatawan. Pernah juga ditugaskan sebagai penjaga toko di Art Shop milik travel di Batuan, Gianyar. Usaha belajar bahasa asing terus menggebu melihat dunia pariwisata cukup menjanjikan perubahan hidup yang lebih baik. “Manajer dan pemilik travel adalah seorang brahmana mantan manager Malaysian Singapore Airline (MSA) cabang Bali yang kemudian menekuni dunia spiritual dan sangat disegani oleh masyarakat di lingkungannya. Kantor travel terletak di halaman depan gryanya, di Jalan Supratman, Kesiman. Namanya Ida Bagus Mantra (almarhum) dan saya merasa beruntung tinggal di gryanya selama lima tahun”. ujar Sangtu Grya adalah sebutan untuk tempat tinggal kaum brahmana dalam system sosial masyarakat Bali. Sangtu punya kesan tersendiri pada Ida Bagus Mantra. Dituturkannya, pimpinan Mantrust Travel itu sangat lembut budinya dan bijaksana. “Banyak tokoh masyarakat yang datang di waktu senggang berdiskusi tentang banyak hal tetapi yang paling menarik adalah diskusi tentang filsafat agama dan kehidupan. Saya sering nguping sambil

menyelesaikan pekerjaan. Beliaulah yang menuntun saya untuk selalu bersikap jujur, menanamkan ajaran hukum karma dan selalu menyemangati agar saya terus belajar dan belajar”, kenang Sangtu.          Guide senior yang sekarang menguasai bahasa Inggris, Prancis, Spanyol dan Italia ini mengaku sangat mengidiolakan Pak Mantra. Dari beliaulah, Sangtu belajar tentang kehalusan

Dalam meniti karirnya Sangtu pernah menjadi guide staff di Satriavi Tours and Travel dari tahun 1981 – 1989, kemudian berstatus freelance sampai sekarang. Pengalaman mengajar juga pernah dilakoni yakni menjadi pengajar Bahasa Spanyol di International Language Course (ILC) dan di Hotel Melia Bali Sol, menjadi tutor pramuwisata di Labuan Bajo, Kupang dan Atambua, NTT dan sebagai pengajar

Sales mission di Korea Selatan bersama stakeholder pramuwisata

budi, ketenangan, sikap toleran dan rasa empati terhadap sesama. Pak Mantralah yang selalu mendorong Sangtu agar bisa menyelesaikan sekolah dengan baik. “Suasana nyaman di grya, memberi saya kekuatan untuk meneruskan perjuangan untuk lepas dari tekanan hidup yang berat. Maka sambil bekerja saya kuliah di Akademi Perhotelan Bali, kursus Bahasa Inggris di Malabar, kursus Bahasa Perancis di Alliance Francaise, dan bila hari libur saya ngacung, maksudnya menjadi pedagang acung di daerah Kuta dan Legian. Setelah kondisi baikpun saya tetap belajar sambil bekerja seperti kuliah di Fisipol Universitas Marhaen (sekarang Univ. Mahendradata), Fakultas Hukum di Universitas Ngurah Rai dan lanjut Magister Hukum di Universitas Udayana”. ujar penyandang gelar Magister Hukum Unud ini.   

dalam proses Sertifikasi Pramuwisata di Unhi Denpasar. Sebagai pramuwisata pernah dua kali diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk mengantar presiden, yaitu Presiden Cili dan Presiden Yugoslavia. Pengalaman luar negerinyapun cukup untuk membekalinya wawasan untuk bisa bekerja lebih professional. Negara-negara yang pernah dikunjungi adalah : Belanda, Belgia, Perancis, Spanyol, Italia, Swiss, Jerman (di Eropa), Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Nepal, India, Korea Selatan, Jepang (di Asia) dan Australia. Dalam mengarungi kehidupan, Sangtu selalu menuruti kata hatinya. Dia memiliki semacam intuisi yang kuat, saat mengambil suatu pilihan yang dilematis. Selaksa peristiwa dalam hidupnya telah “mendidik” Sangtu untuk setia pada kata hatinya. “Yang penting kita tulus dan berserah kepada Tuhan, pasti diberi FEBRUARI - APRIL 2012

57


PROFILE & LIFE STYLE petunjuk,” tandasnya. Dia lantas berkisah tentang pengalaman spiritualnya, dalam kapasitasnya sebagai pemimpin kelompok (marga), bisa membangun sebuah pura dadya (klan) yang lumayan megah dengan menghabiskan dana cukup besar, kendati pengempon (anggotanya) hanya 23 kepala keluarga yang hidup dan tinggal di desa. “Awalnya seperti mustahil, namun ternyata bisa terwujud. Rupanya ada kekuatan niskala (ilahi) yang campur tangan. Saya selalu menyemangati dan membesarkan hati anggota bahwa apa yang sedang dilakukan adalah untuk kepentingan dan martabat mereka. Transparansi dan kejujuran adalah modal saya untuk selalu mendapat dukungan dan membuat mereka tetap konsisten bekerja keras. Tidak boleh ada keraguraguan. Semua bekerja dengan ketulusan karena itu untuk persembahan. Yang saya tahu belakangan dan membuat saya terharu adalah sepasang pengantin baru merelakan menjual sepeda motornya secara sembunyi-sembunyi guna membayar

OPINI

urunan. Ketika akhirnya saya tahu saya ganti setelah upacara selesai. Sekarang mereka sungguh bangga memiliki pura yang bagus, dan mereka semua rezekinya lancar”. tegasnya. Apa yang terjadi kemudian?          Setelah bangunan fisik pura dan upacara ngenteg linggih (penyucian) selesai, iseng-iseng Sangtu mengikuti kuis yang diselenggarakan oleh Telkomsel. Sungguh ajaib, Sangtu menjadi salah satu dari 10 pemenang dan hadiahnya tirta yatra ke Thailand, Nepal, dan India bersama pasangan. Pemenang lain mengajak suami atau istri, tetapi Sangtu mengajak pemangku (pelayan umat, tingkatannya di bawah pendeta) pura dadya. Pertimbangannya adalah agar terjadi kesepahaman antara saya sebagai pemimpin kelompok dan pemimpin spiritual dalam mengembala umat. Di India ia mendapat jawaban dan penegasan dari semua yang terjadi. Orang suci yang memberkatinya mengatakan bahwa kehadirannya di sana bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan, tetapi adalah buah karma dari apa yang telah dilakukan. ‘Aku melihat lang-

kahmu mendekat ke arahku, maka kugandakan langkahku untuk menyongsongmu ke depan!’ kata sang Rsi. Itu salah satu pengalaman spiritual yang akan saya jadikan pegangan ke depan, bahwa pengabdian dan pelayanan terhadap sesama adalah hakekat dari semua agama,” ujarnya. Di awal mengeluti profesi pramuwisata Sangtu juga punya pengalaman yang mena­ rik tentang kata hati. Berikut penuturannya. “Saya masih ‘ingusan’ dan itu di tahun 1970-an. Bertindak instink dan tidak memikirkan akibat. Berambisi bisa berbicara Bahasa Perancis dengan baik, saya meniru tindakan Soekarno dalam usahanya menguasai Bahasa Belanda untuk kemudian dijadikan alat melawan penjajahan, yaitu dengan cara memacari gadis cilik Belanda. Saya kemudian memacari seorang wanita perancis. Pada suatu kesempatan saya diundang ke Perancis dan menginap dirumah keluarganya. Pada suatu acara diner dia dan keluarga menawarkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah saya sangka dan harap, yaitu—saya mau dibantu berupa sejumlah uang, untuk membeli sebuah

DINAS PARIWISATA PROVinsi bali Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Terbitnya

MAJALAH CAKRAWALA 58

FEBRUARI - APRIL 2012


PROFILE & LIFE STYLE

Saat meng-handle tamu

rumah dan taxi. Maksudnya supaya saya bisa hidup layak di Bali. Saya tidak pernah berpikir mengambil keuntungan materi dari sebuah hubungan. Apalagi saya tahu bahwa hubungan itu hanya untuk sementara. Saya tidak segera menjawab, tetapi minta satu malam untuk mempertimbangkannya. Sisa malam itu saya tidak bisa tidur…… moral dan keyakinan yang terbentuk selama lima tahun di grya menyuarakan kata hati untuk tidak menerima. Tetapi di sisi lain bayang-bayang indah tentang kemashuran karena seorang anak ‘banglades’ akan pulang menunjukkan keberhasilannya terus menari-nari di kepalaku. Lalu bisikan hati menanyakan bagaimana orang akan menilai saya, sebagai orang Bali yang sudah terlanjur dikenal baik dan jujur? Kalau diterima kemudian diputusin, bagaimana dengan hukum karma yang telah ditanamkan di benak yang dalam? Lagipula cara ini sungguh mengusik martabat dan harga diri. Setelah pergulatan panjang antara hati nurani dan ego, saya menyerah pada kata hati. Kepala rasanya ringan dan terlepas dari beban, kemudian baru saya bisa tidur. Ketetapan hati telah diutarakan, pantang menelan ludah, tapi keputusan itu memberi konsekuensi. Sepulang dari Perancis tamu di Bali sudah sepi. Selang beberapa hari bekal telah habis. Saya pulang kampung, berencana minta uang ke ayah, tetapi lidah terasa kelu. Sebuah ironi

rasanya, seorang guide yang baru datang dari luar negeri harus minta uang kepada ayahnya yang seorang petani? Anak macam apa itu? Malam itu makanpun saya terpaksa minta kepada induk semang tempat saya kost, karena sepeserpun uang tidak punya. Malu sekali rasanya …. anak yang sok moralis ini tidak berdaya menerima hasil keputusannya. Saya mengadu dan berdoa kepada Tuhan, agar ditunjukkan jalan untuk mengatasi penderitaan ini, ----- lalu tertidur dalam keletihan. Esoknya pagi-pagi buta seorang teman namanya Ketut Sirya (almarhum) datang menawarkan pekerjaan, membawa sebuah grup dari Mexico. Rupanya Tuhan mendengar doa saya. Grup ini memberi saya

hasil seharga rumah yang pernah ditawarkan si pacar bule, minus taxinya… Bukankah ini mukzizat? Belajar dari pengalaman-pengalaman, sampai kini, Sangtu setia mengikuti kata hatinya. Termasuk ketika dia dicalonkan menjadi Ketua HPI Bali dalam Musda VIII di Inna Grand Bali Beach, Sanur, pada 26 Oktober 2011. Beberapa temannya sempat khawatir karena Sangtu tampak tenang-tenang saja menghadapi suksesi lima tahunan itu. Bayangkan, sampai H-2 Musda, Sangtu masih guiding. Namun, sebagaimana terbukti kemudian, Sangtu akhirnya terpilih melalui voting yang alot.  Yang mengejutkan, sesaat setelah terpilih, di atas panggung Sangtu membuat pernyataan yang tidak lazim. Dia menegaskan, dia hanya ingin memimpin HPI Bali satu periode saja. Beberapa rekannya yang menjadi “tim sukses” sempat kecewa, kok Pak Ketua menyampaikan   pernyataan seperti itu pagi-pagi. Bagaimana kalau dipercaya lagi? Sangtu punya jabawan tersendiri tentang itu dan lagi-lagi mengikuti kata hatinya. Baginya, bukan soal lamanya kita memimpin, tetapi sejauh mana kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain. Dia ingin meletakkan jabatan dengan sesuatu yang bisa dikenang. Atas dasar itu, bersama jajaran pengurus, Sangtu berupaya berbuat yang terbaik mewujudkan program-program yang diamanatkan Musda. “Saya bersyukur punya team work yang solid. Semoga momentum ini bisa terus terpelihara   dengan baik,” pungkasnya. (gre)

FEBRUARI - APRIL 2012

59


PROFILE & LIFE STYLE Aloysius Purwa, MBA

Dari Guide Jadi Pengusaha,

Berkat Mesin Fax

S Menjadi figur sukses, bukan perkara mudah bagi pria bernama lengkap Wayan Aloysius Purwa. Semua ia lalui dengan penuh tantangan. Suka dan duka mewarnai karier dan bisnisnya yang hingga kini terus bersinar. Kepada tim CAKRAWALA di kediamannya di bilangan Kuta, Pak Al sapaan akrabnya membagi kisah, susahsenangnya menjadi guide (pramuwisata) yang mengantarnya menjadi salah satu pengusaha sukses di Pulau Dewata. Tak disangka, berkat “mesin fax dan telex” belahan jiwa Marina ini menjadi pengusaha pariwisata yang bergerak di bidang biro perjalanan wisata (BPW) dan akomodasi. Berikut kisahnya

60

FEBRUARI - APRIL 2012

etelah tamat SMA dengan predikat juara di sekolah Swastiastu Denpasar pada tahun 1969, ia bekerja sebagai tukang tetel di CIP Denpasar untuk bisa membayar uang pangkal masuk perguruan tinggi. Diterima di Fakultas Sastra jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Udayana Denpasar tahun 1970 -1974. Sambil kuliah dan belajar Pak Al bekerja nyambi mencari nafkah, mulai dari petang sampai malam menjadi waiter di Bali Sky Restaurant. “Hari Sabtu dan Minggu saya menjadi

kursus guide di Nusa Dua oleh guru guide terkenal saat itu, Nang Lecir yang guide feenya USD 50 per hari. “Saya pernah mengikuti kursus guide di Nusa Dua dan guru yang terkenal saat itu adalah Nang Lecir guide feenya USD 50 per hari. Fee saya hanya USD 5 per hari. Lulus dengan baik bersama I.B Lolec dan kawan kawan. Pernah juga saya mengikuti pertandingan guide contest dan juara II se- Bali, mendapat sertifikat dari wakil Gubernur saat itu,”kenangnya Saat masuk tingkat dua, ayah dari Simon dan Barbara ini mening-

guide freelance. Tamu-tamu, saya dapatkan di Restaurant itu. Juga di Benoa bila ada kapal datang atau di airport dengan mendekati bus-bus Hotel Bali Beach di tempat kedatangan di Airport,” tutur Pak Al mengawali kisahnya pertama sebagai pemandu wisata Untuk mendalami dan memahami peran pramuwisata, Pak Al bersama sejumlah kawan mengikuti

galkan kuliah selama 6 bulan bekerja di Jakarta pada perusahaan Iwan Tirta Batik. Setelah itu, 2 tahun mengelola toko batiknya di Hotel Bali Beach dan Hotel Bali Hyatt. Semuanya ia lakoni dengan tekun, naik-turun “bemo”, kepanasan dan sering tertidur siang didalam bemo. Sambil terus kuliah saya bekerja dan menjadi guide dengan tekun. Tahun 1974 lulus sarjana muda dengan


PROFILE & LIFE STYLE predikat sangat baik. Ketika menulis skripsi dirinya berkenalan dan dibantu Jack Daniels yang sudah ada di Bali sebagai seorang student. Sembari menulis skripsi juga membantu Bapak Letkol. Tjokorde Sudharsana mengelola penginapannya kecil di Puri Saren Kangin Ubud. “Di tempat Pak Tjok Sudharsana itulah saya bertemu dengan calon istri saya Marina yang sedang berlibur dengan orangtuanya,”ceritanya Dalam perjalanan Pak Al mendapat kesempatan bekerja satu tahun di Jerman Barat oleh seorang pemilik pabrik pembuatan bahanbahan packing. Ceritanya, bekerja dengan orang-orang Jerman asli memiliki etos kerja tinggi dan menghargai waktu itu sama dengan uang. Disini ia mempelajari bahwa disiplin itu adalah kunci sukses setiap orang. Disiplin baginya adalah hal biasa karena telah mendapatkan pelajaran disiplin di seminari menengah selama 4. Selama di Jerman, Pak Al sering berkunjung ke Belanda ke tempat calon isterinya, Marina. “Begitu pun saya sering dikunjungi di Jerman oleh Marina. Karena sering bertemu dan saling mengunjungi, akhirnya dia ikut ke Bali pada saat saya pulang kampung. Pilihan rumah pertama saya adalah desa Seminyak yang sepi tahun 1976 dan jalan Dyanapura bernama jalan Camplung tanduk, saya bersama Milo adalah penghuni asing pertama di Seminyak,”kenangnya lagi Saat itu, dirinya menjalin kerjasama dengan A A Adji ( ayah dari A.A Suedandi, politikus Seminyak saat itu). A.A Adji punya mobil impala yang ia kemudikan sendiri dan saya mencari tamu sekalian jadi guidenya. Selain itu, juga pernah bekerja sebagai guide di Pacto sekitar 7 bulan, namun tidak betah dan mengelola tour desk di Oberoi dengan meminjam ijin dari Ida’s Tours. “Mobil pertama saya adalah Holden Torana yang saya beli dari Tjokorda Suyasa dan saya gunakan untuk transport tamu-tamu di Oberoi. Saya bisa memilih-milih tamu di Oberoi. Tamu-tamu yang bagus saya antar sendiri sebagai guidenya,”ceritanya Dalam perjalanan selanjutnya,

Al Purwa dalam pesawat saat bepergian keluar Negeri.

selama beberapa tahun Pak Al dan Marina diberikan tugas meng-handle ground arrangements dari Christoffel Reizen. Tamu-tamu dari Christoffel Reizen hanya menginap di Seaside Cottage dan Bali Hyatt saja, tempat yang paling indah saat itu. Sebagai seorang entrepreneur dengan disiplin dan etos kerja Jerman, Pak Al punya kelebihan semangat.

Dengan mesin fax kecil itu, lanjutnya, banyak keuntungan yang diperoleh sehingga mampu membangun gedung besar untuk kantor. Mesin fax itu dipakai oleh semua pengusaha export dan hotel. “Waktu itu, mesin fax satu-satunya hanya ada di tempat saya. Semua pengusaha antre memakai mesin faximile. Melihat ramainya tempat itu, akhirnya saya

“Saya mulai membuka counter di Bali Foto Center (Sekarang gedung BCA cabang utama Kuta). Saya mulai dengan communication center, dan tetap menjadi guide juga dalam berbagai kesempatan. Saya memasang mesin telex dan Faximile pertama di kuta dengan sambungan langsung jarak jauh luar negeri. SLJJ yang saya belit itu bekas dari Hotel Hilton yang dipakai President Ronald Reagan pada waktu berkunjung ke Bali. SLJJ yang saya beli itu seharga sebuah mobil Mitsubishi Lancer,”cerita Al dengan wajah semangat

jadikan meeting point bagi pengusaha dan pebisnis untuk trading. Namun demikian profesi sebagai guide tetap jalan, namun tak semua tamu. Hanya tamu-tamu tertentu yang saya handle, dan itu sampai sekarang,”ceritanya sambil tertawa Inilah turning point (start awal) seorang guide itu mulai menjadi seorang pengusaha. Selama satu dekade itu modal sudah terakumulasi dan Bank BNI’46 bisa memberi kepercayaan modal usaha tambahan untuk bisnis saya. “Setiap pengusaha memiliki saat turning point dalam usahanya, dan buat saya itulah saatnya,”imbuhnya.

JADI PENGUSAHA BPW

FEBRUARI - APRIL 2012

61


PROFILE & LIFE STYLE Pengalaman jadi guide membuat Pak Al dalam melihat peluang untuk berbisnis. Karena banyak tamu asing datang setiap hari untuk kebutuhan komunikasi, ia melihatnya sebagai peluang yang sangat besar untuk menjual ticket-ticket penerbangan dari dan ke berbagai Negara. Garuda Indonesia melihat kemampuannya sehingga memberi peluang menjadi travel agent Garuda, yang waktu itu sangatlah sulit. Oleh rekan-rekan BPW yang saat itu hanya berjumlah 32 BPW, ia malah diteriakin sebagai usaha illegal. Mau minta ijin, tapi oleh namun Dirjen Pariwisata menyatakan ijin BPW sudah tertutup. Beberapa tahun kemudian, tepatnya akhir tahun 1984 ijin saya keluar “Kuta Bali” Tours bersama dengan Nusa Dua Bali Tour. “Saya senang sekali, bak ketiban durian jatuh. Semangat saya menjadi tinggi dan tidak akan lagi dituduh sebagai Travel

62

Agent liar. Saya berusaha mendapatkan akreditasi IATA, yang merupakan agent kedua di Bali mendapatkannya setelah Vaya Tours waktu itu. Semuanya berjalan sangat lancar dengan dukungan beberapa staff yang professional,” ungkapnya. Tahun demi tahun menggalang bisnis dengan tekun dan semangat sehingga selalu menghasilkan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Hingga kini Saya tetap menjadi guide, namun tidak sembarang guide. Dua kali saya menjadi guide kerajaan Belanda karena dua kali dikunjungi Prince Alexander, begitu pula bila ada menteri-menteri serta duta besar dari Belanda berkunjung ke Bali, saya selalu siap menjadi guide,” ujarnya. Pada waktu saya berumur 55 tahun, saya banyak mengurangi aktifi­ tas-aktifitas business saya karena anak-anak sudah bisa diserahkan tugas dan tanggung-jawab secara

FEBRUARI - APRIL 2012

penuh. Saya hanya mencoba akan melakukan aktifitas yang menyenangkan saja karena saya tidak ingin menghabiskan “Enzime Pangkal”, anda tahu bahwa bila Enzim Pangkal itu habis, maka habis pula hidup tubuh manusia. “Sekarang saya cukup bangga pada umur 60, menoleh ke belakang dan mengingat masa masa guiding yang penuh dengan romantika kehidupan telah menghantarkan saya menuju sebuah hidup yang memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Ada sebuah buku yang saya baca, untuk mempertahankan “Enzim Pangkal” yang merupakan enzim yang membentuk lebih dari 5000 enzim yang dibutuhkan oleh tubuh kita, maka kita harus banyak cinta, banyak tertawa dan berbahagia. Dan itulah yang saya akan lakukan sepanjang umur yang masih akan diberikan kepada saya,” pungkasnya. Agustinus


FEBRUARI - APRIL 2012

63


“CleAn and Green�

Menuju

Bali Mandara

S

ecara geografis, Pronvinsi Bali sangat kecil. Luasnya hanya sekitar 5.636,66 km2 atau 0.29% dari luas daratan Indonesia. Bali tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. Namun, dibalik kemungilannya, Bali memiliki pesona alam dan budaya yang menarik sekitar 2,7 juta turis asing dan 4,5 juta turis domestik tahun 2011. Pesona ini harus tetap dipelihara, agar pariwisata tetap berkelanjutan (sustainable tourism) sehingga Bali tetap menjadi destinasi favorit. Terkait hal ini Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah kabupaten dan kota se- Bali, kalangan swasta, LSM, Perguruan Tinggi, sekolah, Desa Pekraman dan seluruh komponen masyarakat berkomitmen mewujudkan Bali Green Province.Melalui program ini, Pemprov dan komponen terkait berupaya mewujudkan pembangunan Bali yang berkelanjutan menuju tercapainya Bali yang maju , aman, damai dan sejahtera (Bali Mandara). Gubernur Bali Made Mangku Pastika menjelaskan, selain dalam pengertian lingkungan, green (hijau) juga secara kultural dan ekonomi. Ada tiga kebijakan dasar, meliputi : peningkatan kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup, mengembangkan kerjasama dan kemitraan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengatasai berbagai permasalahan lingkungan di Bali. Ada tiga strategi yang disiapkan. Pertama, Green Culture yakni melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya (keariafn lokal) yang berwawasan lingkungan hidup, termasuk berbagai aktivitaskeagamaan baik yang berskala kecil, menengah maupun besar. Kedua, Green Economy, mewujudkan perekonomian Daerah Bali yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan, serta mengembangkan investasi yang ramah lingkungan. Yang tak kalah pentingnya yakni Clean & Green yakni mengintegrasikan dan mensinergikan program pembangunan lingkungan hidup kedalam seluruh sektor pembangunan (pemerintah), swasta dan masyarakat. Guna mewujudkan Bali Green Province, faktor budaya (prilaku) masyarakat menjadi komponen penting yang perlu mendapat

64

FEBRUARI - APRIL 2012


perhatian masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Berarti, semua komponen wajib mempunyai kesadaran, komitmen, beperan serta secara aktif dan berkelanjutan. Sejak dicanangkan dua tahun lalu, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemprov, Pemkab/Pemkot se-Bali sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Baik berupa kegiatan fisik, berupa kegiatan reboisasi yakni menanam pohon di sejumlah lahan kritis di Bali. Termasuk yang terakhir, menanam pohon ampupu dan bambu di kaldera Gunung Batur, Kintamani, Bangli. Saat itu Gubernur Bali Mangku Pastika bersama jajarannya serta Bupati Bangli Made Gianyar terjun langung di tengah masyarakat. Bali memiliki tak kurang dari 500 sungai dan anak sungai. Sungai dan anak sungai itu sebagian besar bersumber danau-danau dan gunung-gunung yang terletak di kawasan Bali Tengah. Sayangnya kini sekitar 200 di antaranya sudah mati. Karena itu, Gubernur Pastika ingin mengembalikan sabuk hijau (green belt) Bali yang membujur dari barat di kawasan hutan Bali Barat hingga ke timur di kawasan Kintamani, Bangli dan kawasan Karangasem. Sebab, saat ini kondisinya sudah rusak, baik karena ulah manusia maupun karena perubahan alam. Selain itu, dengan berbagai program rutin, dan aksi jangka pendek seperti bedah rumah, p e l aya n a n ke s a h ata n g rat i s (JKBM) bagi masyarakat kurang mampu diharapkan kelompok kurang mampu makin berkurang. Pemprov dan Pemkab/Pemkot juga berupaya mendistibusikan Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Setiap desa pakraman juga mendapat bantuan dari pemerintah. Belakangan juga diperkenalkan program Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbang Sadu). Harus diakui,

Gubernur Made Mangku Pastika

masyarakat Bali sudah banyak merasakan adanya perubahan positif. Memang, ada yang belum maksimal. Masih diperlukan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak yang terlibat, termasuk masyarakat sendiri. Gubernur Mangku Pastika mempersilakan masyarakat untuk menilai dan memberi masukan kepada pemerintah tentang apa yang kurang. Bahkan masyarakat dipersilakan melakukan kritik. Namun, dia berharap masyarakat juga harus fair, bahwa di antara program yang belum sukses, juga ada capaian-capaian positif yang telah dilakukan pemerintah, khususnya Pemprov Bali. (gre)

FEBRUARI - APRIL 2012

65


PROFILE & LIFE STYLE

Ni Wayan “Bu Joni” Sarmi

Penabur dan Penebar

dari Ubud

Ibu Joni dalam suatu acara IWAPI bertemu Presiden SBY

T

AK ada yang pernah menyangka, usaha Bu Joni— sapaan Ni Wayan Sarmi di kalangan guide—sepesat sekarang. Usaha keluarga yang dirintis bersama belahanan jiwanya I Made Joni di Ubud, Gianyar kini mencapai puncak keemasan. Kalau dilihat sepintas, semua itu merupakan capaian yang wajar dan biasa saja. Namun, kalau menelusuri perjalanan hidup Bu Joni, semua orang pasti berbeda apresiasinya. Bagaimana tidak, semua diawali dari hal kecil. Bahkan, ibunda tiga anak ini pernah bekerja serabutan. “Saya merangkak dari bawah. Segala jenis pekerjaan, asalkan halal pernah saya lakoni, termasuk menjadi pembantu rumah tangga. Pekerjaan ini nyaris membawa petaka dalam hidup

66

Ibu Joni di restoran

Senyum yang ramah dan hangat menyambut tamu di restoran Made Joni

saya, namun berkat perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, saya bisa melewati berbagai cobaan dengan baik,”

FEBRUARI - APRIL 2012

ujar perempuan yang aktif di sejumlah organisasi sosial ini. Salah satu kunci sukses Bu Joni adalah kesungguhan


PROFILE & LIFE STYLE dalam menjalankan sesuatu. Dia juga memiliki etos kerja yang kuat. Di usianya yang tak lagi muda, Bu Joni masih kuat bekerja keras. Sejak remaja, Bu Joni sudah terbiasa bekerja keras, memiliki kemauan kuat untuk maju. Tak aneh kalau segala aral, tak pernah membuatnya putus asa, bahkan dijadikan cambuk agar berusaha lebih ulet. Berkat tangan dinginnya bersama sang suami, seniman lukis I Made Joni, kini berdiri I Made Joni Gallery and Restaurant di Ubud. Lokasi usaha keluarga Bu Joni terbilang istimewa; dekat dengan jalan utama namun kental dengan suasana alam pedesaan. Di samping restoran menghampar sawah menghijau dengan nyiur yang tumbuh semampai. Ketika awal Januari 2012 lalu, Tim CAKRAWALA menyambanginya, Bu Joni bersama 20 karyawan tengah bersiapsiap menyambut tamu di restoran. Betul saja, ketika hari menjelang siang, puluhan tamu datang silih berganti, baik tamu dari Asia Pasifik seperti Jepang, Korea, Australia dan Cina, maupun dari Eropa dan Amerika. Mereka menyantap beraneka menu favorit di I Made Joni Restaurant, termasuk bebek goreng yang rasanya aduhai. Para tamu menikmati betul berbagai sajian, dengan tentu saja mendapat “bonus�, view yang indah. Ibu Joni mengungkapkan, restoran yang kini berkapasitas 100 pengunjung dibangun secara bertahap. Pertamatama hanya terdiri dari beberapa kursi, lalu terus berkembang pesat dan men-

jadi salah satu lokasi terfavorit yang dikunjungi turis mancanegara. Baik gallery maupun restoran milik keluarga Bu Joni, tumbuh bersama relasi yang baik dengan para guide. Sekretaris Bidang Sosial Iwapi Bali dibawah kepemimpinan Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M ini menyadari betul strategisnya posisi tourist guide. “Tanpa rekan-rekan guide, saya

tak bisa apa-apa. Mereka selalu ada di hati keluarga saya, baik saya sendiri, Bapak (suami-red) maupun anak-anak,� ujarnya merendah ketika menggambarkan kekerabatannya dengan para guide. Sejumlah guide senior mengakui katakata Bu Joni, bukan sekadar basa-basi. Dalam keseharian ada relasi

FEBRUARI - APRIL 2012

67


PROFILE & LIFE STYLE

Tamu asing di restoran I Made Joni

yang mutual benefit antara usaha keluarga Bu Joni dengan para “corong pariwisata” ini. Relasi antara Bu Joni dan para guide bukan sekedar relasi bisnis, tetapi berkembang menjadi relasi batin, penuh persaudaraan. Ibunda Putu Eka Yuliani, Kadek Dwi Arini, S.E., M.M dan Nyoman Trio Arisaputra ini menyadari betul ungkapan; hidup yang menghidupkan orang lain adalah hidup yang berguna. Hal ini diwujudkan dalam berbagai bentuk aksi sosial dengan membantu kaum papa, yang tak berdaya

68

FEBRUARI - APRIL 2012

secara ekonomi dan sosial. Setiap menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Bu Joni bersama rekan-rekannya mengunjungi keluarga-keluarga kurang mampu untuk memberi sekedar buah tangan sekaligus penghiburan, bahwa mereka tidak sendiri. Kepedulian sosial kemanusiaan bukan hal baru bagi Bu Joni. Bersama para sahabat, Agung Puspawati dan Desak Putu Nithi, dia memotori lahirnya organisasi Komunitas Ibu Peduli Gianyar. Beranjak dari komunitas kecil yang banyak membagi kepedulian di kalangan warga tak mampu di Gianyar itu kemudian berkembang menjadi Yayasan Bali Cinta Kasih. Di yayasan ini, peraih penghargaan dari Presiden SBY ini dipercaya menjadi bendara. “Saya selalu meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas sosial,” tandas Bu Joni. Di Pulau Dewata, ada selaksa orang sukses secara bisnis, namun hanya segelintir yang mau membagi buah kesuksesannya. Bu Joni termasuk dari sedikit itu. Cerita suksesnya mungkin saja bisa sirna, seiring muncul figur-figur lain yang lebih sukses secara bisnis. Namun, bisa dipastikan, kepedulian sosial Bu Joni akan selalu dikenang sepanjang masa. Itulah yang abadi dari sosok perempuan pekerja keras yang selalu menabur dan menebar cinta ini melalui Yayasan Bali Cinta Kasih. Proficiat Bu!(gre)


PROFILE & LIFE STYLE

Adi Wiryatama

Pramuwisata Yang Jadi Bupati

“Saya Pakai Ilmu Guide,

A

Bukan Ilmu Gaib”

di Wiratama mengakui, pergulatannya di dunia politik praktis sangat dibantu oleh latar belakangannya sebagai guide. Bagaimana melakukan pendekatan, bagaimana menjelaskan sesuatu agar diketahui lawan bicara, bagaimana belajar melayani, memahami orang lain, termasuk bagaimana mempengaruhi lawan bicara. “Jadi saya memakai ilmu guide, bukan ilmu gaib,” seloroh Adi Wiryatama. Pengagum Bung Karno ini memang merupakan salah satu dari sedikit pramuwisata (guide) yang berhasil meniti karier politik sampai ke posisi puncak. Sepuluh tahun, Adi Wiryatama dipercaya menjadi Bupati Tabanan. Adi maju melalui partai yang dipimpin oleh titisan Bung Karno, Megawati Sukarnoputri yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). “Saya sangat mengagumi pribadi Bung Karno, termasuk prinsip-prinsip kebangsaannya,” ujar Adi. Sudah sejak usia belia Adi menyukai dunia politik dengan terjun ke organisasi kepemudaan. Sebagai anak muda, pergaulannya termasuk luas dan memiliki banyak teman. Rekan-rekan menobatkannya sebagai sang jagoan. Saat remaja, dia nakal. “Kalau saya bawa sepeda motor, saya selalu jalan di tengah jalan. Siapa yang tidak minggir, saya tantang berkelahi. Pokoknya waktu itu kacau hidup saya,” ujar mantan guide bahasa Jepang ini. Sejarah hidup Adi, tak lepas dari prinsip hidupnya yang begitu lentur. Ibarat baja, dia kuat tetapi bisa ditempa menjadi apa saja yang berguna bagi kehidupan. Kendati saat remaja ugal-ugalan, namun ketika mulai kuliah di Akademi Perhotelah, dia mulai berubah. Rasa tanggungjawab, mulai memikirkan masa depan, dan ingin kerja keras mulai tumbuh dalam

sanubari dan etos hidupnya. Dia ingin sukses seperti pemuda Bali lainnya yang terjun ke dunia pariwisata. Saat menjadi guide, Adi paling suka mengantar wisatawan yang punya jiwa petualang. Tak aneh kalau Adi sangat akrab dengan suasana di Komodo, Rinca, Labuan Bajo, Kelimutu, sampai ke Papua. Diiring derai tawa, Adi mengisahkan pengalamannya menelusuri gua Jepang di Pulau Sumba. Di negeri sabana itu, Adi bersama wisatawan Jepang hampir terbunuh oleh alam di sana. Ini gara-gara mereka saling menantang untuk memasuki gua peninggalan Saudara Tua itu. “Ada wisatawan Jepang yang senang bertualang keliling dunia dan telah mengunjungi tempat-tempat tersulit, menantang saya. Adi, kalau kamu jago, ayo kita masuk ke gua ini (gua buatan Jepang di Sumba). Padahal warga setempat tidak ada yang berani masuk. Selain dihuni ularulat berbisa, medannya sangat berbahaya. Tetapi karena ditantang, saya bilang, ayo, siapa takut. Kami masuk berenam, namun yang mampu bertahan hanya dua orang, termasuk saya,” papar ayahanda Bupati Tabanan Eka Wirastuti ini. Keduanya terus menyusuri gua yang gelap itu, sampai akhir mereka merasa sesak napas. Saat menyalakan lilin, tidak nyala-nyala juga, karena

okigen yang semakin menipis. Saat itulah mereka menyadari, bahwa maut sedang mengintai. “Saya, bilang ke si Jepang itu, ayo maju terus. Dia bilang, silakan Adi saja yang maju, dia balik kanan lalu lari terbirit-birit. Saya bilang dalam hati, ah sialan, Jepang ini ternyata takut mati juga,” kisahnya sambil

terkekeh. Saat diwawancarai CAKRAWALA di rumahnya yang megah di bilangan Sidakarya, Denpasar, medio Januari lalu, Adi juga sempat mengeluarkan “ilmu guide”nya. Menurutnya, wisatawan memiliki karekteristik sesuai asal negaranya. Orang Jepang dikenal dengan kedisiplinannya, pekerja keras, teliti dan setia kawan. Oleh karena itu, saat meng-handle wisatawan dari negeri matahari terbit itu, on time merupan suatu keharusan. Berkat profesi guide, Adi Wiratama bisa bertemu dengan banyak orang asing dari berbagai strata. Sikap yang profesional, jujur dan tulus melayani tamu mengantarnya pada keberuntungan. Beberapa pengusaha besar dari Jepang memintanya menjadi rekan bisnis, menjadi berkah ekonomi yang kemudian mempengaruhi perjalanan hidup Adi sampai akhirnya meraih posisi cukup tinggi di dunia politik. (gre)

FEBRUARI - APRIL 2012

69


SEJARAH HPI

Oleh: Drs. I Made Sukadana, M.Si *)

Guide Dari Berbagai Perspektif

G

uide atau pramuwisata sesungguhnya memiliki multi peran dalam menjalankan fungsinya di dunia pariwisata. Oleh karenanya ia mendapat beberapa julukan seperti duta wisata, front liner, garda depan pariwisata, dan juga corong pariwisata. Posisinya yang sangat strategis dalam konstelasi dinamika pariwisata memang menempatkan pramuwisata dalam posisi multi peran. Dari perspektif pemerintah, pramuwisata diharapkan menunjukan jati diri orang Indonesia yang seutuhnya. Artinya bahwa ketika ia berinteraksi dengan wisatawan, terutama wisatawan asing ia mesti menunjukkan sikap sebagai duta bangsa atau representasi bangsa yang berbudaya luhur, berpendidikan dan berpenampilan baik. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya in-

70

FEBRUARI - APRIL 2012

teraksi personal antar wisatawan dan pramuwisata adalah interaksi bangsa yang masing-masing akan menilai lawan bicaranya. Dari peran yang diharap inilah di masa lalu guide diberi predikat sebagai duta wisata. Dari perspektif pengusaha, dalam hal ini Biro Perjalanan Wisata (BPW) atau user lainnya, pramuwisata diharapkan mampu menjual semua produk wisata yang dimiliki agar dapat mendatangkan keuntungan perusahaan. Itu adalah devisa yang akan menetes ke semua arah dalam putaran perekonomian nasional. Dalam konteks ini pramuwisata dianggap sebagai direct seller yang handal. Dari perspektif wisatawan, pramuwisata adalah local contact dan diharapkan ia menjadi teman perjalanan yang menyenangkan di samping dianggap sebagai guru yang harus mengeta-


SEJARAH HPI hui dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Dalam konteks ini pramuwisata harus mempunyai pengetahuan yang luas (generalis) karena wisatawan yang ia hadapi selama jenjang karirnya tentu berasal dari berbagai profesi yang fokus perhatiannya akan berbeda. Seperti contoh, orang pemerintahan akan lebih banyak membutuhkan informasi tentang sistem pemerintahan dan politik, orang kesehatan fokus perhatiannya pasti tentang sanitasi, jaminan sosial, jenis penyakit dan seterusnya. Tidak kalah pentingnya wisatawan selalu mengharap bahwa pramuwisata dapat berperan sebagai teman perjalanan yang menyenangkan (good companion). Untuk memenuhi harapan itu tentu pramuwisata harus bisa menjaga sikap dan mengatur ritme pemanduan seperti misalnya, kapan serius, kapan melucu, kapan berdagang dst. dst.nya. Dari perspektif obyek wisata, pramuwisata diharapkan menjadi penutur yang baik atau animator obyek. Pramuwisata yang cakap mampu mengajak pengunjung pikirannya berkelana ke masa lalu, umpamanya menceritakan proses berdirinya atau pembangunan sebuah obyek di masa berabad-abad yang lalu. Diambil contoh pembangunan Candi Borobudur pada abad ke 8 misalnya. Pertanyaannya adalah, 1.300 tahun yang lalu bagaimana kirakira kondisi alam dan masyarakatnya? Adakah listrik, adakah semen, adakah alat-alat berat dan sebagainya. Tetapi konkritnya kita melihat sebuah masterpiece yang sungguh mengagumkan hasil karya leluhur kita. Potongan-potongan batu yang berukuran besar dengan relief yang menunjukkan kualitas kerja yang sempurna tersusun

Ambassador of The Country

Mouthpiece of Tourism

Local Contact and Good Friend

Tour Guide Product Salesman

Object’s Animator

The Rule

1 U U No.10/2009 1. N 10/2009 ttg KEPARIWISATAAN 2. Perda No 5/2008 3. Pergub No 41/2009 knowledge skill behavior

membentuk sebuah bangunan menyerupai bukit tentu melibatkan ribuan pekerja trampil dibawah arsitek yang jempolan. Sekali lagi penekanannya adalah itu terjadi atau dilakukan 1300 tahun yang lalu atau 13 – 15 generasi ke belakang. Di sinilah obyek itu yang berupa dead monument dihidupkan melalui penggambaran proses di dalam pikiran wisatawan. Bila itu berhasil maka pengunjung akan pulang dengan kekaguman akan peradaban bangsa Indonesia di masa lalu. Di mata masyarakat, pramuwisata adalah mediator untuk menerjemahkan segala yang berbau asing kepada ke dua belah pihak. Dapat dimaklumi bahwa wisatawan yang datang dari negeri asing akan merasa canggung manakala bersentuhan dengan masyarakat lokal. Itu dikarenakan budaya dan kepercayaannya berbeda. Pramuwisatalah yang

menerangkan semua simbol dan sikap penduduk lokal kepada wisatawan dan sebaliknya sikap wisatawan yang berlatar belakang budaya yang berbeda, kepada masyarakat. Begitulah sejatinya multi peran pramuwisata yang dapat diandalkan menjadi insan-insan promoter dengan meningkatkan profesionalisme, agar setiap wisatawan yang di-handle pulang dengan kenangan yang manis tentang destinasi yang dikunjungi. Kepuasan ini akan dikomunikasikan dari mulut ke mulut kepada keluarga dan handai taulan sehingga dapat mendorong atau menimbulkan keinginan datang bagi wisatawan baru. Maka melalui perannya pramuwisata sesungguhnya adalah potensi promosi yang harus diasah dan diperhatikan oleh pemerintah.

FEBRUARI - APRIL 2012

71


PARIWISATA NUSANTARA

Danau Toba

Ikon Pariwisata Sumut

S

eluruh destinasi wisata di Tanah Air belakangan ini terus berbenah, termasuk Sumatera Utara yang kaya dengan adat istiadat serta pemandangan alamnya yang indah. Salah satu ikon pariwisata Sumatera Utara adalah danau Toba. Kendati sudah berabad-abad lalu, nama Danau Toba sudah tersohor di luar negeri akibat fenomena vulkanisnya, namun sampai kini kunjungan wisatawan ke sana belum maksimal. Potensi pariwisata danau Toba sangat layak untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata internasional. Pasalnya daya tarik wisata yang dimilikinya cukup beragam, mulai dari potensi alam, budaya serta kesenian yang unik dan khas. Untuk menjadikan danau Toba sebagai obyek tujuan wisata bertaraf nasional, danau vulkanik terluas di dunia tersebut perlu segera dibenahi dan sistem pemasarannya harus ditata lebih baik. Bahkan daya tarik wisata yang dimiliki danau tropis terindah pada jalur khatulistiwa

72

FEBRUARI - APRIL 2012

itu meliputi berbagai unsur menarik dengan latar belakang sejarah yang unik, hingga cukup layak dikembangkan sebagai tujuan wisata bertaraf international. Danau Toba merupakan hasil volcano tektonik terbesar di dunia, dengan panjang danau 87 kilometer dan lebar 27 kilometer, terbentuk dari letusan gunung berapi raksasa (supervolcano).


PARIWISATA NUSANTARA

Sayangnya, keberadaan Danau Toba di Provinsi Sumatera Utara, sudah lama tenggelam karena isu lingkungan. Sebagaimana pernah diungkap Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin, pencemaran danau yang ditengarai akibat PT Indorayon 20 persen dan oleh masyarakat 80 persen, dan pembangunan di sekitar Danau Toba yang selama ini kurang memperhatikan aspek-aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan berdampak pada terpuruknya pariwisata Danau Toba. (Kompas.com, 25/7/2011) Menyadari keterpurukan ini, perlu ada

upaya meningkatkan image Danau Toba, melalui aksi lingkungan. Dalam mewujudkan danau Toba sebagai obyek tujuan wisata, hal utama yang perlu mendapat perhatian adalah fasilitas infrastruktur perlu dibenahi serta perlu peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata, baik yang bergerak di perhotelan, travel agent, transportasi wisata, guiding dan industri wisata lainnya. Selain itu perlu didukung oleh aksesibilitas dari dan menuju Sumatera Utara, baik udara maupun darat. Tak kalah pentingnya bagaimana mengedukasi masyarakat agar memiliki sadar wisata. Oleh karena itu Pemprov Sumut serta Kabupaten/kota se-kawasan Danau Toba harus bersama-sama secara terpadu memajukan industri pariwisata, karena muaranya demi kesejahteraan masyarakat. Pemerintah pusat melalui Kemenpar Ekraf dan pemerintah daerah, terutama yang dekat dengan kawasan Danau Toba perlu merevitalisasi serta memperkuat ekistensi danau Toba. Terkait hal ini, Pemprov Sumatera Utara telah bertekad untuk lebih mengintensifkan promosi ke luar negeri. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara, Naruddin Dalimunthe mengatakan, promosi merupakan salah satu faktor utama dalam upaya memancing minat wisatawan untuk datang ke Sumut. “Kalau semua fasilitas sudah baik, baru kita berani memasang target seperti halnya Bali,” ujar Naruddin Dalimunthe di Medan, belum lama ini. Salah satu terobosan yang dilakukan dengan mengggencarkan promosi dengan cara menggandeng perwakilan Indonesia di luar negeri seperti kedutaan dan perusahaan asing yang memiliki cabang di Indonesia. Promosi terutama diintensifkan di negaranegara yang selama ini memang menjadi pasar potensial pariwisata Indonesia seperti Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan beberapa negara Eropa lainnya. Tahun 2012 Pemprov Sumatera Utara akan lebih intensif dengan menggandeng kantor-kantor kedutaan Indonesia yang ada di luar negeri. Sementara ketika ditanya mengenai target jumlah kedatangan wisatawan mancanegara pada 2012 ke Sumatera Utara,

Naruddin mengaku belum berani memasang target sebelum ada pembenahan-pembenahan terutama akses jalan menuju berbagai lokasi pariwisata. Menurut Naruddin, salah satu kendala yang membuat wisatawan mancanegara dapat mengulangi kunjungannya ke Sumut adalah masih belum layaknya infrastruktur menuju objek wisata. “Kalau semua fasilitas sudah baik, baru kita berani memasang target seperti halnya Bali, semua sarana dan prasarana di Bali sudah cukup baik, sehingga wisatawan tidak putus datang ke sana,” kata Nuruddin. Ia memaparkan, pariwisata tidak bisa dibangun satu pihak saja, namun harus kolektif dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari masyarakat, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat. “Kita harus memperbaiki dulu destinasi pariwisata di Sumut, karena tidak mungkin hanya mengandalkan kondisi alam sementara akses kelokasinya tidak mendukung. Infrastruktur harus diperhatikan, baru kemudian potensi pariwisata,” katanya. (mos/gre) FEBRUARI - APRIL 2012

73


PARIWISATA NUSANTARA

West Flores:

Komodo and So Much More

K

OMODO makin termasyur sejak ditetapkan menjadi salah satu keajaiban dunia baru (new 7 wonders of the World) pada 11 November 2011 lalu. Komodo terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT). Labuan Bajo, ibukota Manggarai Barat bisa dicapai dari Bali, baik melalui penerbangan dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar maupun melalui laut dari Pebuhan Benoa atau perjalanan darat melewati Pulau Lombok dan Sumbawa. Pariwisata Manggarai Barat dalam lima tahun terakhir berkembang cukup pesat. Selain Komodo sebagai ikon, daerah di ujung barat Pulau Flores ini juga memilki daya tarik seni budaya dan objek wisata lain. Misalnya tempat menyelam (diving) di ratusan spot seputar Labuan Bajo, tracking ke Mbeliling sambil menyaksikan Cunca Rami Waterfall dan menonton atraksi caci di kampung Melo. Ada pula Istana Ular yang didiami ratusan ekor ular serta Batu Cermin. Keragaman itulah sebabnya bersama

74

Kepala TNK, Susetyo bersama Amos Lillo

Swisscontact, Pemkab Manggarai Barat merumuskan tagline : West Flores: Komodo and So Much More!. Nama Manggarai Barat makin mendunia sejak Taman Nasional Komodo (TNK) masuk menjadi new 7 wonders. Sebab, habitan biawak raksasa dengan nama Latin Varanus Komodoensis itu terletak di Pulau Komodo danPulau Rinca, dua pulau yang secara administratif menjadi bagian

FEBRUARI - APRIL 2012

dari Kabupaten Manggarai Barat. Biawak raksasa varanus komodoensis yang menjadi ikon Manggarai Barat telah dikenal di seantero dunia. Binatang purba ini berdiam di Pulau Komodo dan Rinca, di mana dua pulau ini merupakan yang terbasar dari 116 gugusan pulau kecil di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Bisa dicapai dengan kapal motor dalam waktu


PARIWISATA NUSANTARA

Gusti Dula, Bupati Manggarai Barat

tiga-empat jam dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Baru-baru ini Amos Lillo sebagai konsultan dari Swiss Contact yang juga Kepala Humas DPD HPI Bali bertemu dengan Bapak Susetyo, Kepala TNK di kantornya Balai Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo. “Dalam perbincangan singkatnya Bapak Susetyo menjelaskan betapa tidak ringannya tugas beliau dalam menjaga, memelihara,melestarikan,dan berkoodinasi dengan berbagai elemen masyarakat dan instansi terkait dalam mengemban tugas dalam rangkaian pencapaian Komodo bisa menjadi 7 wonders of the world,� papar Amos. Dengan pencapaian tersebut diatas, tugasnya menjadi bukan bertambah ringan. Susetyo berharap, semua elemen masyara-

kat, instansi pemerintah dan khususnya semua insan pariwisata dapat bergandengan tangan untuk melestarikan keindahan alam dari Taman Nasional Komodo. TNK tak hanya dihuni reptil purba itu, tetapi juga meliputi hutan lindung sekitarnya dan semua unggas serta hewan-hewan seperti: babi, rusa dan kerbau liar. Kesemuannya perlu dipelihara dan utamanya juga adalah taman lautnya yang merupakan salah satu yang terindah di dunia dengan terumbu karang dan biota yang sangat mengagumkan. Susetyo yang ketika tanggal 11 november 2011 lalu, semua pihak sibuk menanti pengumuman, ternyata berada di tengah hutan Komodo menilai kehadiran Swisscontact sangat membantu. Dia menilai, Swisscontact berkontribusi besar dalam pengembangan pariwisata di Flores, khususnya Manggarai Barat serta giat mengedukasi masyarakat agar memiliki kesadaran tentang pariwisata dan ekologi. Sementara itu Bupati Manggarai Barat Agustinus Dula berharap semoga kemasyuran Komodo akan memberi multiplier effect bagi kesejahteraan rakyatnya. Dia mengakui, kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke Komodo belakangan ini terus meningkat. Bahkan, dibilang cukup

fantastis. Hal ini tentu berkorelasi positif dengan ketersediaan sarana dan prasarana di Labuan Bajo—pintu masuk ke Komodo. Saat ini memang telah bediri dua hotel berbintang tiga dan empat di Labuan Bajo. Namun, kabupaten pemekaran dari Manggarai masih terkendala infrastuktur. Selain akses jalan ke objek-objek wisata belum memadai, Labuan Bajo juga masih dicekam kekurangan air bersih. Bupati Agustinus harus menjadikan hal ini sebagai salah satu prioritas utama. Tanpa itu, jangan sampai Labuan Bajo menjadi destinasi wisata yang layu sebelum berkembang.(gre/mos)

FEBRUARI - APRIL 2012

75


PARIWISATA NUSANTARA

Juli-Agustus

TNK Jadi “Ladang Pembantaian�

K

OMODO memiliki ciri, kebiasaan maupun jenis makanan yang khas. Saat ini populasi komodo di Pulau Rinca berkisar antara 900 - 1.100 ekor. Masa hidup komodo sampai 50 tahun. Seekor induk komodo bisa menghasilkan telur maksimal 40 butir. Musim kawin terjadi sekitar Juli - Agustus. Pada masa itu, Pulau Komodo dan Rinca menjadi ladang pembantaian. Mengapa? Rasio pejantan dan betina 4 : 1. Untuk memperebutkan seekor betina, pejantan harus bertarung sampai berdarah-darah. Beberapa ekor di antaranya harus rela cacat seumur hidup. Kini, ada beberapa ekor komodo yang tergolek di kantor TN Komodo di Pulau Rinca

76

FEBRUARI - APRIL 2012


PARIWISATA NUSANTARA

karena kakinya patah. Cara seekor induk komodo melin­dungi telur terasa unik. Sebelum bertelur seekor buaya darat akan membuat lubang. Setelah bertelur, lubang itu ditutup dengan sangat rapat, lalu sang induk membuat lubanglubang lain untuk kamuflase. Tujuannya agar telur-telurnya tidak dimangsa predator lain. Dalam perlindungan yang maksimal selama sembilan bulan, semua telur bisa menetas. Namun, sebagaimana hukum alam yang ganas, hanya sedikit yang bisa bertahan hidup sampai dewasa. Maklum, seekor induk komodo bisa menyantap anak-anaknya sendiri. Jadi pepatah, seganasganas harimau tak mungkin menyantap anaknya sendiri, tak berlaku bagi komodo. Pengunjung diminta untuk tidak berisik sepanjang perjalanan agar tidak mengusik rasa ingin tahu komodo. Dan, maaf bagi para wanita yang sedang datang bulan, tidak diperkenankan masuk

ke kawasan TNK. Bila dilanggar, besar kemungkinan kita di­s erang king predator itu. Untuk menjaga kemungkinan terburuk, rombongan dikawal tentara dan polhut yang bertugas sebagai ranger. Mereka dibekali kayu bercabang yang dipakai untuk menekan “hidung� komodo bila dia berulah. Konon, hi­dungnya sangat sensitif. Sedikit saja tergores, bisa saja terluka. Tetapi jangan keras-keras. Kalau komodo sampai terbunuh, Anda bisa dipenjara. Di sana dengan mudah kita menyaksikan komodo, baik yang berjalan di darat maupun yang bertengger di pohon-pohon. Kadal raksasa berjalan anggun, seolah mem-

perlihatkan kepada pengunjung bahwa merekalah penguasa di pulau berbukit-bukit itu. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan secara langsung bagaimana Komodo menyerang dan menerkam mangsanya. Yang kerap menjadi mangsa biasanya rusa dan kerbau liar. Namun kalau kepepet, kera atau monyetpun disantap komodo. Kalau mangsanya besar seperti kerbau biasanya tak langsung dibunuh, tetapi digigit saja. Ribuan kuman berbahaya akan menggerogoti mangsanya sehingga dalam hitungan hari akan mati, saat itulah komodo menyantapnya. (yer)

FEBRUARI - APRIL 2012

77


Puri Ageng Blahbatuh

Konsisten Melestarikan Puri

Sebagai

Pusat Budaya

G

etaran spiritual begitu terasa ketika menginjakkan kaki di gerbang Puri Ageng Blahbatuh. Kebesaran dan keagungannya tampak jelas terlihat dari arsitektur bangunan yang mencerminkan karakter sang pemilik kerajaan ketika itu. Kori Agung yang sederhana nampak berdiri megah dan kokoh, mengisyaratkan pesan yang sangat mendalam, yaitu dibalik kekuatan dan kebesarannya ada ketulusan untuk menyapa siapa saja yang berkunjung ke puri ini.

78

FEBRUARI - APRIL 2012


Di Balik kekokohan dan kemegahan Kori Agung, menyiratkan betapa besarnya kekuasaan sang Raja I Gusti Ngurah Djelantik, sosok panglima perang jaman dulu yang ramah, sopan dan rendah hati. Bahkan daerah kekuasaannya sampai didaerah Batur, Kintamani. Seperti lazimnya kerajaan Djelantik,selalu dibentengi oleh sebuah desa Belayu yang berasal dari kata Bala yang artinya pasukan, dan ayu artinya pilihan. Jadi Belayu adalah orang-orang pilihan raja yang membentengi keberadaan sang raja dan seluruh penghuninya. Puri Ageng Blahbatuh berlokasi di Jalan Raya Udayana 2 Blahbatu

Gianyar, Bali, dibangun dan ditata kembali pada abad ke-16. Hingga kini kondisi dan arsitekturnya masih terawat dengan baik. Begitupun struktur bangunan dan tata ruang masih asri dengan kemegahan arsitektur Bali yang mempesona dan mengagumkan. Secara keseluruhan, puri ini dibangun di atas lahan seluas, 4,5 hektare. Puri Ageng Blahbatuh, seperti puri lain di Bali memiliki beberapa halaman sesuai dengan konsep Tri Mandala, sehingga masing-masing bagian memiliki ukuran yang sangat ideal. Namun ada perbedaan yang menonjol dari Puri Ageng Blahbatuh yang tidak kita jumpai di puri lain. Perbedaan sekaligus keunikan ini menggambarkan betapa sang Raja sangat memperhatikan hal yang satu ini yaitu pendidikan. Keunikan itu adalah adanya sebuah taman yang terletak diujung timur laut Puri yang pada umumnya adalah sebagai kawasan suci pura ataupun merajan. Namun di Puri Ageng Blahbatuh justru dimanfaatkan sebagai Taman Yasa yang berfungsi sebagai tempat bermeditasi, berdiskusi tentang ilmu dan filosofi agama, dan ketatanegaraan yang berkaitan dengan pendidikan bagi keluarga kerajaan kala itu, khususnya Raja. Keberadaan Taman Yasa yang terletak di timur laut menunjukkan bahwa leluhur di kerajaan tersebut sejak dulu menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam kehidupan kerajaan. Pendidikan spiritual, tata negara, agama dan ilmu umum senantiasa didiskusikan di taman tersebut. Di taman itu pula dijadikan sebagai tempat bermeditasi. Dengan demikian Taman Yasa oleh penghuninya digunakan sebagai taman untuk pendidikan dan meditasi. Menariknya lagi, di Puri Ageng Blahbatuh masing-masing klan yang ada di desa Blahbatuh mampu dirangkul dengan baik.hal itu dapat kita lihat dari keberadaan Pura Gedong yang didalamnya terdapat pura-pura pemujaan / penyawangan Pura2

besar diBali. Keadaan ini menggambarkan sejak dulu sang rajanya sudah mengajarkan kehidupan yang rukun, harmoni, berdampingan, dan saling membantu antar warga yang satu dengan yang lain. Konsep yang mendasar didalam membangun kebersamaan demi terciptanya keharmonisan antara Puri dengan warganya. Kini, Raja atau Penglingsir Puri Ageng Blahbatuh adalah I Gusti Ngurah Djelantik, keturunan ke- 24 dari dinasti Sri Kesari Warmadewa . “Beliau konsisten dan berkomitmen tetap berusaha menjaga kelestarian Puri Ageng Blahbatuh baik secara fisik maupun spiritnya untuk mengembalikan Puri sebagai pusat kebudayaan,�kata Aksara, PR Ma­ nager Puri Ageng Blahbatuh ketika menerima tim CAKRAWALA pertengahan Januari lalu. Kendati akses puri telah dibuka untuk publik sajak tahun 2007, sesungguhnya keaslian puri ini masih terjaga, terpelihara dengan baik dan simbol-simbol kerajaan masih nampak dan terawat dengan baik pula. Pariwisata Bali adalah pariwisata budaya dan akar dari budaya bersumber dari puri. Selain keberadaannya tidak hanya sebagai tempat peristirahatan bagi raja dan peribadatan, tetapi juga difungsikan sebagai tempat pendidikan dan wisata sejarah. Puri Ageng Blahbatuh juga digunakan sebagai tempat pembinanan ibadah ritual, penyaring kebudayaan luar dan kemajuan jaman. Berbagai upaya dilakukan pihak Puri bersama pengelola untuk mewujudkan cita- cita mulia tersebut. Salah satunya adalah dengan membuka akses bagi pengunjung untuk mengunjungi puri tersebut guna melihat berbagai peninggalan kerajaan termasuk aktivitas keseharian yang ada didalamnya. Simbol-simbol kerajaan jaman dulu masih tersimpan rapi seperti topeng Gajah Mada dan simbol-simbol kerajaan lainnya. “Dulu pengunjung tak diperbolehkan masuk ke dalam puri. Namun sejak tahun FEBRUARI - APRIL 2012

79


PARIWISATA NUSANTARA

2007 aksesnya dibuka untuk publik, sehingga wisatawan boleh masuk ke dalam puri melihat segala aktivitas yang ada di dalam,�kata Aksara.

Aktivitas Budaya di Puri AgEng Blahbatuh Pengembangan pariwisata Bali dan Gianyar khususnya membuat puri ini melakukan perubahan mulai tahun lalu yakni merenovasi atap dan halaman. Dengan segala keterbatasan dilakukan renovasi pada beberapa titik. Termasuk diijinkan pengunjung masuk untuk melihat aktivitas dan atraksi budaya. Bisa melihat orang mejejahitan, latihan tari,gamelan Bali, melukis dan lainnya. Selain aktivitas yang bersifat harian, Puri Ageng Blahbatuh juga sudah dan akan menyelenggarakan aktivitas jangka panjangnya, sesuai dengan konsep yang kami canangkan; yaitu mengembalikan puri sebagai pusat kebudayaan. Sejak tahun 2010 Puri memberikan

80

penghargaan kepada mereka2 yang berjasa didalam menjaga persatuan dan kedaulatan Nusantara dalam acara “ Karya Bhakti Nusantara� dan juga bulan ini sampai bulan Mei 2012 kami akan menyelenggarakan acara penghargaan kepada salah seorang maestro tari dari Blahbatuh yaitu Ida Bagus Oka Wirjana yang dikenal dengan panggilan Ida Bagus Blangsinga. Dalam acara ini juga akan menampilkan beberapa maestro tari Bali lainnya seperti: I gusti Ayu Raka Rasmi, Jro Made Puspawati,Ni Luh Menek dan Ni Ketut Arini,SST. Dalam kurun waktu tersebut, yaitu dari bulan ini sampai pada acara puncaknya nanti,

FEBRUARI - APRIL 2012

akan diadakan acara latihan secara berkala yang dapat disaksikan oleh masyarakat secara langsung dan juga akan diisi dengan seminar ataupun serasehan seni dan budaya. Menurut Aksara, yang juga sebagai ketua Pelaksana dalam acara tahunan tersebut berharap dengan kegiatan ini akan mampu menumbuh kembangkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya Bali yang adi luhung ini. Dan begitu juga sebaliknya adanya rasa keterikatan aantara Puri dengan para senimannya, karena bagaimanapun keberadaan dan perkembangan para seniman kita ketika itu,tidaklah lepas dari peran Puri.poll


Nama Jalan Terpanjang di Bali Seorang turis asing di Bali lagi jalan-jalan untuk menghafal nama-nama jalan. Setelah capek dia istirahat dan berkata kepada guide yang mengantarnya. Turis: “Saya heran dengan orang Indonesia apakah bisa menghafal nama jalan yang begitu panjang?” Guide:“Misalnya?” Turis : Saya temukan nama jalan yang panjang “Jalan Pelan-pelan Banyak Anak Kecil”. Guide : ????

Bersyukur Atas Kemerdekaan Indonesia Kita harus bersyukur merdeka tahun 45. Semangat 45 terdengar “gagah”. Coba tahun ‘69. Semangat 69 terdengar “Menggagahi”. Kita bersyukur lagi, merdeka tgl 17 Agustus. Semua serba merah putih. Coba 14 Februari, pasti serba merah jambu. Masih terus bersyukur, proklamator Republik Indonesia bernama Ahmad Soekarno. Kalo Ahmad Dhani, itu Republik Cinta. Bersyukur merdeka 17/8/45. Burung Garuda jadi gagah. Coba 1/1/45, bulu sayap & ekornya cuma sehelai.

Turis di Amazon Suatu sore ada seorang turis yang hendak mandi di muara sungai Amazon, bertanya pada seorang anak kecil yang sedang memancing di tepi sungai tersebut. “Hey, di sungai ini tidak ada ikan Piranhanya kan?!”, tanya turis tersebut. Kemudian si anak tersebut menjawab, “Tentu Tuan..!”. Turis tersebut langsung meloncat ke sungai, dan dia bertanya sekali lagi kepada si anak tersebut, “Betul kan nak, tidak ada piranha di sini?”. Dengan santai si anak menjawab, “Tentu saja Tuan, sebab ikan piranhanya pada takut sama buaya-buaya di situ!”. (sambil menunjuk sekumpulan buaya-buaya ganas didekat turis tersebut)

Bersyukur lagi warna bendera kita Merah Putih. Coba warna Ungu, lagu kebangsaan berubah jadi Demi Waktu.

Sumber -: APRIL KETAWA.com FEBRUARI 2012 81


82

FEBRUARI - APRIL 2012


P

MAPINDO LAHIRKAN SDM UNGGUL DI BIDANG PARIWISATA

ariwisata memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembangunan sosial ekonomi dan lingkungan Pariwisata. Oleh karena itu pariwisata diharapkan akan menghasilkan devisa negara terbesar kedua selain minyak bumi. Untuk mencapai tujuan itu Sumber Daya Manusia yang profesional sebagai salah satu bagian yang berperan untuk mencapai tujuan tersebut. Pembangunan Pariwisata di Bali bertumbuh begitu p e s a t n y a s e hingga membutuhkan banyak tenaga profesional di bidang Pariwisata. MAPINDO (Manajemen Pariwisata Indonesia) adalah sebuah Lembaga Pendidikan Pariwisata yang terdapat di Bali yang berdiri sejak tahun 1992. Sampai saat ini sudah menghasilkan tenaga kerja pariwisata dan sudah banyak terserap di perusahaan industri

ariwisata, tidak hanya di Bali tetapi juga di seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri. Para lulusan Mapindo su-

dah bekerja di Biro Perjalanan Wisata sebagai pemandu wisata (tour guide), bekerja di hotel- hotel berbintang dan juga di kapal pesiar. MAPINDO didirikan di bawah Yayasan Triatma Surya Jaya sebagai cikal bakal berdirinya Akademi Pariwisata Triatma Jaya yang sekarang ini sudah berubah status menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya dengan program Diploma IV bidang studi Pariwisata dan Manajemen Perhotelan. Bidang Studi Pariwisata ini salah satu programnya adalah tour guide dimana para lulusannya bisa bekerja di Biro Perjalanan Wisata sebagai Pemandu Wisata dan Administrasi. Demikian pula Akademi Pariwisata Tri-

atmajaya sudah banyak menghasilkan lulusan, dimana para lulusan ini sudah

bekerja di beberapa Industri Pariwisata di Bali dan di luar Bali. Kedepan Lembaga ini akan menyiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing global dalam mengantisipasi terjadinya persaingan global.

FEBRUARI - APRIL 2012

83


OBJEK WISATA

Eloknya

Air Terjun Nunung

Tanah Badung Utara

Di kala banyak turis melancong ke Nusa Dua, Kuta, Legian, Seminyak (Badung Selatan-red), banyak daya pesona wisata di Badung Utara yang menyuguhkan keindahan alam dan unsur budaya setempat yang tak tergantikan. Daya Tarik Wisata (DTW) di Badung Utara dipadu kearifan lokal yang khas, menggoda siap saja untuk mendatanginya. Dari jejeran potensi yang ada, Desa Plaga merupakan salah satu titik yang menawarkan atmosfer dan karakter yang unik. Ada agro wisata, ada air terjung Nung Nung, ada jembatan Tukad Bangkung, yang terbesar di Asia

84

FEBRUARI - APRIL 2012

K

enyataan ini membuat Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung dalam berbagai kesempatan mempromosikan Badung Utara, sekaligus memberi perhatian terhadap pengembangan pariwisata, khususnya wisata alam, desa wisata di Badung Utara. Bahkan untuk membuktikan komitmen tersebut, tahun lalu (2011) Bupati Gde Agung, menggelar gathering bersama stakeholder pariwisata, memaparkan potensi dan keunggulan yang dimiliki oleh Badung Utara Kini saatnya, Pemkab Badung memberi prioritas pengembangan pariwisata di Badung Utara, karena daerah ini memiliki segudang potensi yang belum dijamah, khususnya, wisata kminat

khusus seperti desa wisata (dewi), wisata spiritual, wisata spa, meditasi dan yoga. Juga bisa dikembangkan atraksi wisata seperti rafting dan kegiatan out bound lain. Produk wisata jenis ini punya market special dan spend money yang lebih besar. Badung Utara bila dikelola dan dikembang secara profesional, tidak hanya menghasilkan pendapatan tinggi bagi daerah, tapi juga memberi dampak kesejahteraan bagi masyarakat Badung Utara yang selama ini �cemburu� dengan kemajuan pariwisata di Badung Selatan. Semua ini terwujud, bila ada kemauan politik dari pimpinan daerah setempat, tentunya didukung oleh lembaga legislatif yang terhormat. Pemkab Badung sedang gencar


mengembangkan pariwisata Badung Utara untuk menyeimbangkan pesatnya kemajuan pariwisata di Badung Selatan. Salah satu yang menjadi perhatian Pemkab Badung adalah pengembangan program desa wisata alias Dewi. Begitu banyak potensi alam dan wisata di Badung Utara yang telah, sedang dan akan dikembang oleh pemerintah bersinergi dengan privat sector. Ada wisata agro yang sudah berjalan, terkenal dengan Bagus Agro Wisata, Badung Utara juga bisa dikembangkan menjadi wisata spiritual dan wisata minat khusus lainnya. Memang tak mudah mengembangkan program dewi dan wisata minat khusus laindi Badung Utara. Perlu pendekatan intensif, terpadu dengan semua stakeholder termasuk masyarakat dan para tokohnya. Karena prinsip dari pengembangan desa wisata adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Dengan mengembangkan program Dewi di Badung Utara, diharapkan akan menambah masa tinggal (length of stay) turis lebih lama, dan dolar mengucur langsung ke masyarakat tanpa perantara. “Konsep Dewi adalah wisatawan berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat tiap hari. Misalnya, berladang, belajar tari, belanja ke pasar terlibat bilamana ada aktivitas spiritual di masyarakat. Dan yang terpenting adalah belanja turis langsung ke masyarakat setempat,�kata praktisi pariwisata Gusti Kade Sutawa. Badung yang tercatat sebagai kabupaten terkaya di Bali karena pajak hotel dan restoran (PHR)-nya, memiliki 33 ODTW. Dari jumlah itu, 4 di antaranya tergolong unggulan. Penataan dan pengelolaan terhadap ODTW sepenuhnya menggunakan pendekatan konsep Tri Hita Karana (THK), yang mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan, keseimbangan dan keberlanjutan. Ke-4 ODTW yang dimaksud itu, Pura Uluwatu dan Taman Ayun (ODTW Budaya), Sangeh dan Pantai Kuta (bentang alam). Sementara ODTW yang akan dikembangkan, di antaranya, Desa Wisata Baha, Bumi Perkemahan Blahkiuh, Air Terjun Nungnung, Pelestarian Penyu di Deluang Sari dan Taman Rekreasi Hutan Bakau Tanjung Benoa kadang-kadang juga dilirik wisatawan. Berbagai modal yang dimiliki objek tersebut akan ditata dan dikelola dengan baik, sehingga mampu menjadi sebuah daya tarik yang berkualitas. Khusus ODTW Sangeh dan Uluwatu kini mengalami perkembangan yang luar biasa. Pengelolaan dilakukan secara terpadu antara pemerintah, masyarakat dan pihak ketiga yang betul-betul profesional. Beda halnya dengan tempat wisata Air Terjun Nungnung. ODTW yang berlokasi di Desa Pelaga ini masih belum tertata layaknya daya tarik wisata. Fasilitas yang mendukung keberadaan objek wisata, seperti tempat penjualan tiket dan toilet dan beberapa tempat istirahat yang merupakan bantuan dari Dinas Pariwisata Badung sudah rusak dan hingga kini belum mendapat perhatian dari instansi terkait.. Jadi, untuk mempertahankan suatu destinasi, ODTW harus dijaga, dipelihara, dilestarikan dan dikembangkan. Karena wisatawan ke Bali bukan karena ada hotel, restoran, bandara dan yang lainya, melainkan objek dan daya tarik wisatanya. Pengelolaan secara terpadu antara pemerintah, masyarakat lingkungan dan pihak hotel sebagai kunci kesuksesan sebuah objek wisata. poll

@poll

@poll

OBJEK WISATA

Jalan menuju Air Terjun Nunung FEBRUARI - APRIL 2012

85


OBJEK WISATA

Pengembangan Pariwisata Badung Utara harus Terpadu “Langkah pengembangan sudah dilakukan. Kita tidak mau memindahkan Badung Selatan dari segi fisik. Justru di Badung Utara ini kita kembangkan wisata alam, budaya, spritualnya. Kedepan jika kunjungan sudah makin meningkat. Kita ingin menjadikan daya tarik paket tour khusus Badung Utara,� Cok Darmawan, Kadisparda Badung. Badung Utara sebenarnya memiliki sejuta’potensi yang bisa dikembangkan untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan berkunjung ke daerah itu. Sayangnya, potensi itu, kendati sudah digarap Pemkab Badung melalui Dinas Pariwisata Daerah, namun belum maksimal. Sehingga tidak

Cok Darmawan sedikit potensi-potensi wisata baru yang sudah sempat muncul kepermukaan, entah kenapa redup lagi. Menurut Ketua DPC PHRI Badung IGN Suryawijaya, pengembangan pariwisata

Clean Up BERSAMA Dinas Pariwisata Badung Gerakan bersih-bersih (Clean up) tanggal 17 dan 24 Januari 2012 di pantai Kuta, diwacanakan sebelunya dalam rapat koordinasi pada tanggal 5 Januari 2012 yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Badung bersama asosiasi-asosiasi kepariwisataan seperti HPI Bali, ASITA, PHRI, Gahawisri, Pengelola obyelk pariwisata di lingkungan Kabupaten Badung. Rapat yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Badung membicarakan berbagai masalah kepariwisataan dan sekaligus mencari solusinya untuk mengatasi masalah tersebut agar ke depan usaha kepariwisataan Kabupaten Badung terus berkembang dengan baik dan mampu memberi manfaat ekonomis kepada masyarakat. Salah satu dari agenda rapat yang dibicarakan adalah program gotong royong yaitu melakukan

86

kebersihan disepanjang pantai Kuta. Selama musim penghujan dewasa ini, angin barat yang menerpa lautan bebas pantai Kuta menyebabkan sampah yang datang dari berbagai daerah terhempas di pantai Kuta, menyebabkan pantai Kuta menjadi kotor penuh dengan sampah berserakan. Terkait dengan masalah sampah tersebut maka di dalam rapat koordinasi, Bapak Kepala Dinas Kabupaten Badung Cokorda Raka Darmawan, SH,MSi. mengajak seluruh asosiasi kepariwisataan yang hadir pada waktu itu secara bersama-sama melaksanakan bersihbersih di sepanjang pantai Kuta. Program kebersihan ini berlanjut secara regular selama musim hujan atau sampai angin Barat terhenti. HPI Bali, PHRI dan Pengelola Obyek

FEBRUARI - APRIL 2012

Badung Utara selama ini berjalan sendirisendiri, sehingga setelah beroperasi banyak yang mundur di tengah jalan. Misalnya, pengembangan desa wisata dan sejumlah atraksi wisata.

wisata menjadi satu kelompok, mendapat jadwal setiap hari Selasa mulai dari pkl. 06.30 sampai selesai. ASITA, Gahawisri dan beberapa asosiasi yang lain juga menjadi satu kelompok dan mendapat jadwal setiap hari Jumat mulai dari pkl. 6.30 sampai selesai. Kegiatan hari Selasa, tanggal 17 Januari 2012 merupakan kegiatan bersihbersih yang menarik karena pesertanya lebih dari 300 orang secara serempak turun ke pantai dari ujung selatan sampai ke ujung utara. Sampah yang pada mulanya berserakan sepanjang pantai dalam waktu satu setengah jam amblas terkumpul, dimasukan dalam kantong-kantong plasti besar berwarna hitam kemudian ditaruh di pinggir pantai menunggu kedatangan truk sampah. Tidak ada yang merasa diistimewakan dari mereka yang hadir


OBJEK WISATA Sejauh ini, tuturnya, stakeholder pariwisata seperti PHRI tak pernah diajak koordinasi terkait pengembangan pariwisata di Badung Utara ini. “Kalau memang ingin serius mengembangkan pariwisata Badung Utara mestinya semua komponen stakeholder pariwisata dilibatkan. Sejauh ini kami lihat tidak. Bahkan kami di PHRI pun tidak diajak kerjasama,” ujarnya. Suryawijaya mengakui bahwa Badung Utara memiliki potensi yang layak jual. Namun karena pengemasannya kurang bagus, sehingga menjadi tidak populer dimata wisatawan. “Jangankan wisatawan, orang Badung saja tidak semua tahu kalau di sana ada desa wisata atau objek-objek baru,”kritik Suryawijaya. Untuk itu pihaknya meminta Pemkab Badung melalui Disparda kalau memang concern ingin menggairahkan pariwisata di Badung Utara agar dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh stakeholder yang ada. Seperti PHRI, ASITA, serta dengan seluruh travel agent yang ada di Bali. Sehingga langkah promosi dan marketing bisa dilakukan secara keroyokan. “Kita punya produk bagus tapi kalau marketing dan promosinya cuma mulut ke mulut akan susah. Oleh karena itu kita menyarankan promosi terpadu. Dan yang terpenting harus ada kerjasama

dalam gerakan kebersihan tersebut, termasuk Cokorda Raka Darmawan,SH.M.Si selaku Kepala Dinas Pariwisata Kabu-

dengan travel-travel agent. Dengan begitu objek lebih cepat dikenal. Tidak akan jalan kalau hanya anjuran-anjuran begitu saja, tanpa ada kerjasama,” tegasnya. Kepala Disparda Badung, Cokorda Raka Darmawan menyatakan bahwa pihaknya sangat concern membangun Badung Utara sebagai kawasan konservasi dan agro wisata. Sejauh ini selain mengembangkan potensipotensi wisata yang ada, pihaknya juga telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kunjungan turis ke kawasan Badung utara. Diantaranya memberikan pembinaan kepada penglola objek wisata,dan mempersiapkan program kunjungan wisatawan, serta melakukan langkah koordinasi bersama ASITA. “Kami akui selama ini untuk paket tour khusus ke Badung Utara memang belum ada. Tapi kami sudah ambil langkahlangkah untuk itu. Dan, kami yakin tiap tahun kunjungan wisatawan ke Badung utara akan makin meningkat,” ujarnya seraya menambahkan sejak program desa wisata ditetapkan tahun 2010 manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Khusus untuk di objek wisata yang dikenai retrebusi seperti Objek Taman Wisata Alam Sangeh dan Objek Wisata Taman Ayun saat ini pemerintah tengah

melakukan perbaikan fasilitas. Seperti penataan gapura dan, pagar (2011) dan dilakukan penataan parkir (2012). Sedangkan di Taman Ayun masih tahap pengerjaan wantilan. Kemudian ke utara lagi penataan Desa Wisata Kiadan dan Pangsan. Di kedua desa ini diglontor 1 miliar lebih. Yaitu mulai dari lintasan tracking, termasuk menyiapkan tempat istirahat di tengah rute dan buat ikon pintu gerbang. Di Air Terjung Nunung juga dilakukan perbaikan dari jalan masuk, hingga toilet. Kamar mandi di lokasi air terjun juga akan dibongkar karena dianggap menghilangkan keasrian air terjun. Sedangkan untuk penataan jembatan Tukad Bangkung akan menjadi daya tarik paket tour khusus Badung Utara,” terang Cok Darmawan. Ditambahakn jika paket tour ke Badung Utara jadi, maka akan menjadi paket tour yang sangat padat dan menarik. Mulai dari Sangeh, Carangsari, Kiadan, Pangsan, dan Pelaga dengan agro yang sangat luas. “Kalau untuk di Kiada dan Pangsan sudah kerjasama dia dengan travel agent dan hotel-hotel di Kuta. Untuk fasilitas mereka siapkan sendiri. Pemerintah hanya menyiapkan fasilitas infrastruktur umum saja.” Kata pejabat asal Gianyar itu. (poll)

paten Badung, dengan jari-jari tangan telanjang secara serius memungut satu persatu sampah yang berserakan. Tidak

peduli apakah sampah plastik, daun atau sampah-sampah lain yang berbau amis. Tidak ada diantara yang datang memanfaatkan kesempatan untuk duduk dengan santai, ongkang-ongkang sambil ngobrol ngalor ngidul, semuanya bekerja, bekerja menyapu dan memungut sampah untuk dimasukan dalam plasti besar berwarna hitam. Sungguh luar biasa gebrakan Kepala Dinas Pariwisata Badung bersama asosiasinya. Dalam kurun waktu satu setengah jam, pantai Kuta yang semula kelihatan kotor karena banyaknya sampah berserakan menjadi bersih, asri dan indah dipandang mata. Dengan gerakan seperti ini wisatawan yang berjemur di pantai tidak akan terganggu oleh sampah dan bau amisnya sampah yang berserakan. HPI Provinsi Bali mengajak semua pihak untuk peduli pada lingkungan, mari kita budayakan tindakan kebersihan agar program clean and green bisa terwujud. (mdr) FEBRUARI - APRIL 2012

87


TRAVEL TALK

88

Grand Palace Bangkok

Singapura dan Thailand Bandaranya Top di Philipina Sopir Taxi TerangTerangan Minta Tipping

W

aktu itu tanggal 4 November 2011 kami terbang ke Bangkok, Thailand dengan menggunakan pesawat Air Asia dengan harga promo yang sangat murah. Thailand adalah negara yang paling sering saya kunjungi sebagai pengusaha Biro Perjalanan Wisata karena cukup banyak partner bisnis yang secara rutin dari tahun ke tahun harus saya kunjungi . Perjalanan kali ini menjadi sangat khusus dan mengesankan oleh karena sesungguhnya saat itu Bangkok masih dalam keadaan dilanda banjir. Sebelum berangkat tentu saya berkomunikasi dengan beberapa teman di Bangkok untuk mencari tahu bagaimana kondisi banjir apakah sudah cukup aman untuk berangkat atau harus dibatalkan dulu sementara. Teman-teman di Bangkok informasinya tidak sama, artinya

FEBRUARI - APRIL 2012

foto: dokumen pribadi

Penghujung 2011, Wakil Ketua Asita Bali Ketut Ardana, SH melakukan perjalanan di sejumlah negara di ASEAN. Managing Director Bali Sinar Mentari Tours dan Travel ini sangat menikmati perjalanan ke luar negeri. Pengalaman 13 tahun menjadi guide sebelum akhirnya tahun 1993 membuka BPW sendiri, menjadi kenangan tersendiri bagi Ketut Ardana yang sangat berkeinginan untuk mengunjungi negara asal wisatawan. “Seorang tour guide juga wajib mendengarkan cerita dari para wisatawan tentang negara mereka masing-masing baik cerita tentang way of life mereka, kondisi lalulintasnya, makanannya, perekonomiannya, politik dan sosial budayanya. Namun itu saja tidak cukup. Seorang tour guide perlu berkunjung langsung ke  negara-negara asal wisatawan tersebut sehingga bisa merasakan situasi dan kondisi negara-negara pemasok wisatawan tersebut secara langsung,” ujar Ardana. Lawatan Ketut Ardana tahun lalu itu melengkapi perjalanannya ke luar negeri yang rutin dilakukannya, baik untuk berlibur maupun urusan bisnis. Berikut catatan perjalanan Ketut Ardana ketiga Negara ASEAN yang dibagikan kepada pembaca CAKRAWALA.

foto: dokumen pribadi

Catatan Perjalanan ke 3 Negara di ASEAN

di bandara Changi Singapura

ada yang menyarankan diundur saja karena banjir masih terjadi di sana-sini, tetapi ada juga teman mengatakan tidak perlu khawatir


berangkat saja karena kebetulan kami menginapnya di Hotel Bangkok Palace dimana katanya kondisi banjirnya sudah cukup reda. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat. Penerbangan dari Denpasar ke Bangkok hanya membutuhkan waktu 4 jam sehingga kami rasakan tidak begitu melelahkan. Setibanya di Airport Suvarnabhumi Bangkok kami dijemput oleh partner bisnis dan langsung diantar meluncur ke Hotel Bangkok Palace tempat kami menginap selama 3 malam. Astaga, betapa terkejutnya kami menyaksikan ketika keesokan harinya setelah sarapan pagi kami berjalan-jalan di sekitar hotel dimana kami menyaksikan toko-toko dan perkantoran dipagari tembok rata-rata tingginya sekitar 1 meter dan sebagian lagi dipasangi tumpukan karung berisi pasir yang tingginya juga sekitar 1 meter, sehingga kamipun menjadi cemas dan was-was,  terbayang banjir akan datang lagi. Namun syukur selama 4 hari di Bangkok bencana banjir itu tidak terjadi lagi. Seperti yang sudah biasa saya alami setiap berkunjung ke Bangkok , saya selalu terkesan makanannya yang luar biasa enaknya, menu apapun dipilih pasti lezat lebih-lebih lagi jika ada kesempatan makan ke luar kota makanannya pasti lebih autentik, menu makanan Thai yang sudah kami coba diantaranya Tom Yam Kung Nam Khon (Prawn Tom Yam with Coconut Milk), Kaeng Phet Yang (Roast Duck in Red Curry), Phat Thai (Rice Noddles) ,   buah-buahan sangat banyak ragamnya, segar dan enak2 semua seperti mangga, leci, nenas, durian, jambu mente dsb. Biasa disajikan sebagai makanan dissert seperti  Khao Niao Mamuang (Mango with Sticky Rice.)                 Kunjungan ke beberapa obyek wisata di Bangkok seperti ke Grand Palace, Wat Arun   (Temple of Dawn ), Wat Pho ( Temple of Reclining Buddha ), Vimanmek Palace ( Former Royal Palace of Bangkok made of Teak Wood ), Wat Phra Kaew (Temple of the Emerald Buddha), National Museum, tempat shopping MBK, the Imperium dan yang terbaru sekarang Melinium tempat be-

foto: dokumen pribadi

TRAVEL TALK

Penulis dan istri di Grand Palace Bangkok

lanjanya kaum perempuan, murah dan pilihannya segudang. Kami ditemani oleh seorang guide perempuan yang sangat ramah dan profesional meski bahasa Inggrisnya sering susah dimengerti karena kental dengan logat Thai. Pada saat tour berakhir kami memberikan tip, sempat ditolak namun kami katakan ini sebagai ucapan terimakasih atas pelayanan yang diberikan dan dia terima. Awalawalnya kami berkunjung ke Bangkok di tahun 90-an beberapa kali sempat juga berkunjung ke Patpong, Sukhumvit dan sekitarnya tempat-tempat populer yang biasa dikunjungi kaum pria selain tempat berbelanja juga banyak hiburan malam buat kaum lelaki meski hanya sekedar duduk-duduk dan minum sekaleng bir Singha sambil menikmati pemandangan para penari gadis-gadis Thai di atas panggung yang hanya berbusana menutupi bagian tubuhnya yang vital saja, sekalisekali dengan atraksinya yang fantastis. Kunjungan kali ini tanpa mengunjungi tempat-tempat tersebut.                Pada tanggal 7 November 2011 perjalanan lanjut menuju Phillipina. Berbagai dokumen perjalanan termasuk airticket untuk kami berdua disiapkan oleh staff di kantor, namun  saya menjadi bingung ketika akan check-in di

airport Suvarnabhumi Bangkok ternyata ticket kami untuk penerbangan Bangkok - Manila belum di-issued oleh staff sehingga membuat saya cukup sibuk kontak sana kontak sini. Akhirnya kami disuruh membayar ke counter Phillipina Airlines supaya ticket segera bisa diissued. Syukur saja kami membawa jumlah cash yang cukup untuk membayar 2 ticket tersebut. Kami terbang menuju Manila, perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dan kami mendarat di Bandara International Ninoy Aquino sekitar pk. 18.00 waktu setempat. Bandaranya bila dibandingkan dengan Ngurah Rai, Ngurah Rai masih lebih memberi kesan sebuah international airport. Tidak ada yang menjemput , kami langsung saja mencari taxi menuju hotel Diamond, hotel berbintang 5 tempat kami menginap selama 3 malam, terkejut juga ketika keesokan harinya mendapat info dari pihak hotel bahwa kamar kami hanya confirmed untuk 2 malam dan hotel Diamond lagi full saat itu, tetapi karena kami sudah membayar untuk 3 malam maka kami ngotot supaya bisa dibantu untuk tetap tinggal di hotel itu. Sehari menjelang keberangkatan karena belum pasti kamarnya confirm terpaksa kami packing dan nitip bagasi di Concierge, kemudian sore hari sekitar Pk.

FEBRUARI - APRIL 2012

89


18.00 saya dapat info bahwa kamar bisa confirmed dan kamipun masuk kamar di lantai sembilan ternyata kami diberikan suite room (inikah yang disebut sengsara membawa nikmat ? ). Nikmat juga tidur semalam di kamar suite. Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Phillipina, selain sewa taxi cukup mahal dari airport ke hotel sekitar 250 ribu jarak tempuh hanya 30 menit, anehnya lagi sopir taxi begitu mendekati hotel dia terus terang minta supaya di-tipping.  Katanya dia bekerja di perusahaan dan sewa yang saya bayar itu untuk perusahaan, oleh karena saya tidak ingin ada problem maka saya beri saja tip kepada sang sopir taxi  USD 5 (uang recehan Peso + USD). Sesungguhnya kunjungan kami ke Manila mengikuti acaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam acara Sales Mission bertemu dengan para Tour Operators di Manila, namun sayang seribu sayang jumlah Tour Opera-

90

foto: dokumen pribadi

TRAVEL TALK

Orchard RD Singapura

tor Manila yang datang sangat jauh dari harapan. Yang diundang confirmed 50 perusahaan namun yang datang hanya 8 perusahaan. Meski demikian sayapun

FEBRUARI - APRIL 2012

punya akal dadakan, segera saya hubungi PTAA (Phillipine Travel Agent Association) dan saya bertemu di sebuah caffe di kawasan Makati, Manila dengan ketuanya


TRAVEL TALK Pada 10 November 2011, dengan Philippine Airline (pesawat pagi) kami terbang ke Singapore yang ditempuh dalam waktu kurang 3 jam. Pkl. 9 pagi pesawat sudah mendarat di Changi International Airport, dan kami langsung ambil taxi menuju hotel Fragrance tempat kami menginap 1 malam. Waktu pendek yang hanya 2 hari /1 malam benarbenar kami manfaatkan untuk melihat perkembangan Singapore oleh karena sudah cukup lama kunjungan saya yang terakhir ke kota terbesih di dunia itu. Langsung saja setelah check in hotel kami ikut acara SIC (Seat-In-Coach) Singapore City Tour dengan biaya hanya 23 dolar AS per orang. Dengan SIC Tour ini kami boleh berhenti  (waktunya bebas) di objek-objek wisata atau tempat perbelanjaan yang sudah ditetapkan. Apabila dirasakan sudah cukup menghabiskan waktu di satu objek maka kami tinggal menunggu di tempat   Bus   Stop untuk lanjut ke objek berikutnya dan begitu seterusnya. Satu objek dengan objek lainnya sangat dekat, yang kami kunjungi diantaranya : Botanic Garden, China Town, Orchard Road tempat shopping dsb. Singapore tetap bersih, sistem transportasi sangat bagus dan modern, tidak ada kemacetan, masyarakatnya sangat disiplin. Hanya saja kesan sebagai kota sorganya berbelanja (shopping paradise) sudah mulai pudar oleh karena harga barang-barang elektronik sudah tidak murah lagi seperti beberapa tahun silam. Hotel tempat kami menginap (hotel budget) harganya Rp 1,1 juta per  malam, kamarnya sangat sempit, breakfast-nya sangat-sangat sederhana. Harga makanan di luar hotel juga sangat mahal, satu piring sayur kangkung (porsi kecil) harganya 70 ribu. Jadi untuk 1 meal sedikitnya habis 150 ribu – 200 ribu/orang. Itupun jika kita makan di restaurant murah meriah. Keesokan harinya dengan Qatar Airways kami terbang kembali ke Bali. Meski sudah beberapa kali menginjakkan kaki di Changi International Airport tetap saja kami sangat terkesan dengan kenyamanannya, kebersihannya, profesionalisme pelayanannya,segala fasilitas untuk penumpang disediakan seperti :

information desk dengan staff yang siap memberi informasi apa saja tentang layanan di airport. Trolley yang begitu mudah bisa didapat, internet, tempat duduk di setiap ruangan untuk para penumpang bisa beristirahat, tempat belanja yang jauh dari kesan pasar. Jauh berbeda dengan Airport Ngurah Rai, di mana wisatawan baru turun dari pesawat dan masuk ke ruangan arrival sudah langsung melihat pajangan berbagai brochure tours, car rental, spa, restaurant dan tooktoko yang semrawut. Kemudian ke luar dari arrival hall sudah disambut oleh 15

foto: dokumen pribadi

Ms. Clemente. Kepadanya saya ceritakan prihal acara Sales Mission yang mana Ms. Clemente sendiri tidak mengerti dan tidak mengetahui ada acara Sales Mission seperti itu, syukur akhirnya materi promosi yang saya bawa jauh-jauh dibantu oleh Ms. Clemente untuk dibagikan kepada anggotanya yang kebetulan saat itu ada acara pertemuan. Kami berdua sempat jalan-jalan di sekitar kota Manila, cukup menakutkan juga menyaksikan Hotel, Perkantoran seperti kantor Bank, Mall dijaga oleh petugas keamanan dengan persenjataan lengkap (senapan laras panjang) sehingga terkesan angker dan keamanan kota Manila terasa tidak menjamin. Tidak banyak obyek-obyek wisata yang menarik seperti halnya di Indonesia (maksud saya di sekitar Manila) namun sempat juga kami berkunjung ke obyek wisata : Manila American Cemetery and Memorial yang dibangun di atas lahan yang luasnya 152 ha (kuburan militer Amerika dalam perang dunia ke II dengan jumlah kuburannya sebanyak 17.202 kuburan). Lokasi dan penataannya begitu indah dan nampaknya juga dipelihara dengan sangat baik. Kami sangat terkesan dengan tempat ini karena di satu ruangan terdapat namanama tentara Amerika diukir di tembok yang meninggal dalam perang dunia II (di New Ginea dan Philippine). Selain itu kami juga melihat Coconut Palace Manila yang dibangun oleh Imelda Marcos pada tahun 1978 dengan biaya P.37.000.000 = USD 10.000.000.   Istana ini menjadi “the Presidential Guest House of Marcos’s . Kami juga terkesan melihat masih beroperasi angkutan umum “Jeepneys (a Pihlippino Icon) yaitu kendaraan tua yang sebenarnya adalah kendaraan roda empat Jeep Willys (peninggalan tentara Amerika) yang sudah dimodifikasi sehingga kelihatan menarik sekali lalu-lalang dimana-mana mengangkut penumpang dengan selalu membunyikan klakson tak henti-hentinya. Di sana-sini di pojok kota terkesan masih kotor dan kumuh dihuni oleh penduduk Manila yang masih miskin. Bagi kami Manila tidak menjadi unggulan untuk direkomendasikan sebagai tempat tujuan berwisata.

American Cemetery Manila.

usaha money changer yang counter-nya berderet yang petugasnya memanggilmanggil wisatawan bagaikan pedagang acung saja. Termasuk tempat pijat gratis di Changi Airport ini disediakan. Akhirnya kami tiba di Bali “home sweet home” dengan selamat. Dari perjalanan ke tiga negara ini, pesan yang ingin saya sampaikan kepada para pramuwisata adalah betapa luar biasanya jika menekuni profesi sebagai pramuwisata (tour guide) sekali waktu bisa juga berkunjung ke negara asal wisatawan. Perjalanan seperti ini akan dapat menambah pengetahuan tentang berbagai hal seperti objek wisata di negara tersebut baik itu man-made tourist object maupun obyek alam dan budaya, menambah wawasan, mampu membandingkan kualitas akomodasi, transportasi, restauran serta pelayanan yang diberikan oleh negara lain dalam dunia kepariwisataan. FEBRUARI - APRIL 2012

91


AKTIVITAS HPI

dalam

REKAMAN LENSA

Guide dan st aff Destinatio n Asia menya pesiar yang mbut kapal pertama mas uk Celukan Bawang Bul eleng. Ketua DPD, Sekretaris dan Kabid Humas HPI Bali bersama Ibu Mari Elka Pangestu di VIP room Bandara Internasional Ngurah Rai.

Jajaran pengurus divisi Mandarin bersama pengu rus DPD di ruang rapat sekretariat DPD HPI Bali

atri

alam Siwar

rsama di m

g be Sembahyan

Jajaran pengurus divisi Mandarin usai audensi dengan Kadisparda Bali, I.B. Subhiksu.

92

FEBRUARI - APRIL 2012

Guide dan staff Bali Prestige Tour & Travel menyambut Legend of the Sea di Benoa


Bersama Wal ikota Denpasa r, IB. Dharma (tengah) dan Wijaya Rai M anggota DPR antra D Kota Denpa Widiada sar, Anak Agu ng Bersama Sekretaris Kota Denpasar Rai Iswara (kedua dari kanan)

si dengan Bupati

Jajaran pengurus DPD berauden Badung A A Gde Agung

Ketua DPD Bali bersama jajarannya audensi dengan Bupati Gianyar, Cok Ace

Bersama Gubernur Bali,

i audensi.

Made Mangku Pastika usa

Ketua DPDd HPI Bali Sangtu Subaya melantik pengurus divisi Spanyol.

FEBRUARI - APRIL 2012

93


LSP Parindo Bali

Mengapa SDM Pariwisata Sertifikat Harus Miliki Kompetensi?

M

engapa Sumber D aya M a n u s i a (SDM) Indonesia yang bekerja di sektor pariwisata harus memiliki Sertifikat Kompetensi? Pertanyaan ini mungkin muncul dari banyak kalangan masyarakat yang cukup sulit untuk dijawab. Sertifikat Kompetensi dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Indonesia (LPS Parindo).

94

Kita di Bali beruntung, karena lembaga yang sangat penting juga berkantor di Pulau Dewata. Kalau kita berbicara mengenai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Indonesia yang berkedudukan di Jalan Gatot Subroto Barat Nomor 459 C. Denpasar Bali, tidak bisa terlepas dari sosok Bapak Drs. I Ketut Putra Suarthana, MM yang menjabat sebagai Direktur LSP Pariwisata Indonesia. Beliau

FEBRUARI - APRIL 2012

mengabdi penuh dedikasi sejak tahun 2007. Posisinya sebagai Direktur LSP Parindo didampingi Bapak I Gede Widjana selaku Manager Standarisasi dan Sertifikasi LSP. Pariwisata Indonesia serta I Made Sudarsana Adi, BA. yang juga adalah Staf dari LSP Parindo. Baik I Ketut Putra Suarthana maupun I Gede Widjana telah memiliki pengalaman yang sangat memadai baik di bidang pendidikan


pariwisata maupun industri. Kalau kita berbicara mengenai Sertifikasi untuk tenaga kerja di lndonesia, landasan hukumnya adalah: Pertama, UU No. 13 Tahun 2003 tentang tenaga kerja Indonesia yang menyatakan pada pasal 11 bahwa setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja lebih lanjut diatur pada pasal 18. Kedua, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional yang menyatakan pada Bab XVI Pasal 61 tentang Sertifikasi pada ayat 1 bahwa: Sertifikasi berbentuk Ijasah dan Sertifikat Kompetensi. Ketiga, UU No. 10 Tahun 2009, tentang Kepariwisataan. Di mana Pasal 53 menyatakan: (1) Tenaga Kerja di bidang kepariwisataan memiliki standar kompetensi. (2) Standar Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Sertifikasi Kompetensi. (3) Sertifikasi Kompetensi dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi yang telah mendapat lisensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Keempat, Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2004, tentang pembentukan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), suatu Badan yang bertugas antara lain: (a) Melisensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), (b) lelisensi Asesor Kompetensi, Asesor Lisensi Master Asesor, (c) - Mengembangkan Unit-Unit Kompetensi, dll. Disamping itu ISO 17024 yang menegaskan bahwa setifikasi yang dipegang oleh tenaga kerja yang memilikinya tidak saja berlaku secara nasional akan tetapi juga berlaku secara regional dan intemasional. Drs. I Ketut Putra Suarthana, MM menjelaskan bahwa Lembaga Sertifikasi profesi (LSP) Pariwisatra

Ketut Putra Suarthana Indonesia, yang berkedudukan di Bali, didirikan oleh satu Panitia Kerja (panja) yang terdiri dari unsur stake holder pariwjsata Bali yaitu: asosiasi industri pariwasata, asosiasi profesi pariwisala; dinas terkait, Asosiasi Lembaga Pendidikan Pariwisata dan para pakar. LSP Pariwisata Indonesia adalah suatu Lembaga Profesi Nirlaba, yang juga ada Visi, Misi serta diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. LSP Pariwiusata Indonesia memiliki Ijin Lisensi No. 17BNSP/VIII tahun 2007, yang dikeluarkan pada tanggal 30 Agustus 2007. LSP Pariwisata Indonesia mempunyai tugas pokok antara lain: Melakukan Uji Kompetensi (assessment) kepada pemohon apakah mereka tenaga kerja yang sudah berpengalaman atau kelulusan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) di sektor pariwisata,

mengembangkan Perangkat Asesmen (Assessment Tools) untuk subsektor pariwisata, memferivikasi Usaha Pariwisata atau Lemdiklat yang mengajukan diri untuk menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk diberi Lisensi sebagai TUK dan melatih calon Asesor Kompetensi dan atau Calon Master Asesor dengan berkoordinasi ke BNSP. Direktur LSP Pariwisata Indonesia Drs. I Ketut Putra Suarthana, MM. tugas sehari-harinya dibantu oleh beberapa tenaga yang ratarata sudah senior yaitu: I Gede Widjana sebagai manager Sertifikasi dan Standarisasi; I Made Sudjana,SE.,MM sebagai Manager Administrasi Umum; Dr. I Nyoman Tedja Nadi Yasa M.Sc sebagai Manager Panduan Mutu; Drs. I Made Juana, MM sebagai Bendahara dan empat staf administrasi disamping adanya Dewan Pengarah. I Gede Widjana selaku Manager

FEBRUARI - APRIL 2012

95


Gede Widjana

Sertifikasi dan Standarisasi LSP Pariwisata Indonesia menambahkan, SDM yang memiliki kompetensi adalah: seseorang yang memiliki dasar keahlian (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap kerja (atitude) untuk mampu melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan tuntutan industri (workplace standard). LSP Pariwisata lndonesia sampai saat ini sudah melakukan Uji Kompetensi terhadap 10.000 tenaga kerja pariwisata di seluruh Indonesia, yang meliputi sub sektor: Perholelan (Front Office, House Keeping, Food & Beverage Service/ Restoran & Bar, Food Production and Pastry Kitchen), Tour Leader (Pemimpin Perjalanan Wisata), Tour

96

Guide (Pemandu Wisata), Pemandu Wisata Museum, Pemandu Wisata Selam (Diving, Pemandu Ekowisata dan Spa. Uji Kompetensi ini telah dilaksanakan diseluruh wilawayah Republik Indonesia seperti Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua. Sulawesi Utara (Manadao), Jawa Timur, Yogyakarta, DKI Jakarta, Batam, Medan, Tanjung Pinang, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. LSP Pariwisata Indonesia di dalam operasional melakukan tugas-tugas assessment dibantu oleh tenaga asesor kompetensi (Workplace Assessor) yang berjumlah 250 orang asesor dan 4 orang asesor lisensi serta 7 orang master asesor kompetensi. Uji kompetensi atau sertifikasi untuk tenaga kerja disektor pariwisata di tahun 2012, sebanyak 15.000 orang untuk seluruh Indonesia, dan dilakasanakan oleh 4 LSP Pariwisata yang ada di Indonesia, termasuk LSP Pariwisata lndonesia di Bali. Untuk diketahui, dari sekitar 5,22 juta SDM Pariwisata yang langsung/tidak langsung baru kira-kira 50.000 orang yang uji kompetensi. Jadi, prosentasinya yang masih

FEBRUARI - APRIL 2012

sangat kecil yakni 0,96%. Diakui oleh Drs. I Ketut Putra Suarthana, MM sampai saat ini sertifikasi SDM sektor pariwisata di Indonesia belum diharuskan oleh pemerintah, walaupun sudah ada tuntutan dari UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan saat ini baru didorong. Padahal di dalam klasifikasi hotel ada poin yang tinggi nilainya yaitu karyawan perhotelan harus merniliki pendidikan umum, pendidikan kejuruan dan sertifikat kompetensi. Sejauh ini belum banyak yang mengajukan permohonan secara perorangan ke LSP Pariindo untuk diuji kompetensi karena belum menjadi keharusan, disamping barangkali faktor biaya. Saat ini peserta/asesi di sektor pariwisata masih disubsidi oleh pemerintah, baik melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif maupun BNSP. Hal ini sebagai usaha untuk mendorong tenaga kerja mengikuti uji kompetensi, disamping untuk sosialisasi langsung dari pemerintah akan pentingnya sertifikasi serta lembaga-lembaga yang terkait dengan sertifikasi, salah satunya LSP Parindo yang ada di Denpasar, Bali. (gre/*)


TOURISM TERM

T

idak setiap perjalanan wisata menyertakan seorang penterjemah. Pramuwisata atau tamu mungkin saja menggunakan bahasa Inggris ungkapan yang anda tidak mengerti. Berikut ini beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris untuk diketahui sebelum anda melaksanakan tugas penghantaran wisata:

Travel light:

Artinya untuk tidak mengemas barang bawaan terlalu banyak. Cukup membawa barang yg dibutuhkan dalam perjalanan. Contoh kalimat: Please travel light tomorrow, we have a lot of walking to do.)

Hit the road:

Artinya Mulai. Memulai sebuah perjalanan wisata. Contoh kalimat: We’ll hit the road as soon as the bus arrive.)

Call it a day:

Artinya Selesai melakukan suatu aktivitas atau perjalanan wisata; pulang atau kembali ke Hotel. Contoh kalimat: You all look tired. let’s call it a day.)

Get a move on:

Artinya melakukan sesuatu dengan

lebih cepat. (we will need to get a move on if we want to be back at four o’clock at the Hotel )

Watch your back:

Artinya untuk berhati hati, dan memperhatikan orang-orang di sekeliling anda. ( contoh kalimat: keep your wallet in a safe place and watch your back on the terminal)

Off track OR off the beaten path:

Artinya salah jalan; jauh dari jalan utama atau rute. Contoh kalimat : Don’t go off track. There are some dangerous animal in this safari park).

Hang on or hang tight: Artinya Menunggu dengan sabar untuk beberapa saat. Contoh kalimat: Please hang tight until the driver returns)

Bright and early OR first thing:

Artinya pagi pagi sekali/subuh. Contoh kalimat : We’ll need to leave bright and early to catch the first flight)

If worse comes to worst OR if all else fails….:

Menunjukan/memperkenalkan tindakan yang harus diambil bilamana tidak ada pilihan lain yang berhasil. Contoh kalimat: if worse come to worst, call the police)

A full plate:

Artinya sebuah jadwal yang sangat padat, tanpa waktu luang. Contoh kalimat: We have a full plate tomorrow, so get a good rest tonight). honest

FEBRUARI - APRIL 2012

97


Selamat & Sukses Atas Penerbitan

MAJALAH CAKRAWALA

Br. Temen, Penglumbaran, Susut - Bangli (Jurusan Tampaksiring - Kintamani) Bali Mobile: 081 338 388 422

Agrowisata ADDRESS:Br. Temen, Tampaksiring - Gianyar - Bali DISPARDA JURUSAN: Tampaksiring - Kintamani

KARANGASEM

98

FEBRUARI - APRIL 2012


diNAS PARIWISATA DAERAH kota denpasar Mengucapkan

Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

ASITA

MAJALAH CAKRAWALA

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA DPD HPI BALI

DPD HPI BALI

WARUNG

Dw. MALEN Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA DPD HPI BALI

daging wood carving Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA DPD HPI BALI

ADDRESS: Br. Tengkulak Tengah, Kemenuh, Sukawati Gianyar - Bali Phone: (0361) 7839710, (0361) 7839711

(tambh foto)

Werochana Wood

Carving

Tradisional - Contemporary & Fantastic

Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA DPD HPI BALI

Banjar Tengkulak Mas - Kemenuh - Sukawati - Gianyar Bali Indonesia P.O. Box No. 5 Sukawati 80528 Phone/Fax: 0361 - 946017 email: werochana_bali@telkom.net

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM Mengucapkan

Selamat & Sukses Atas Diterbitkannya

MAJALAH CAKRAWALA Bupati Karangasem I WAYAN GEREDEG! SH.

DPD HPI BALI

Wakil Bupati Karangasem I MADE SUKERANA! SH.

FEBRUARI - APRIL 2012

99


Selamat & Sukses Atas Penerbitan

MAJALAH CAKRAWALA Milik PRAMUWISATA EDISI PERDANA

ADDRRESS: JL. RAYA TAMPAKSIRING - KINTAMANI BR. TEMEN, GIANYAR - BALI email: santiagro@yahoo.com

AMERTHA YOGA AGRO WISATA

Jl. Tampaksiring - Kintamani, Br. Temen - Tampaksiring - Gianyar Phone: +62 361 7473300, Fax. +62 361 912112 Email: info@balisegarawindhu.com, komangsuarsana@rocketmail.com DAILYwww.balisegarawindhu.com BUFFET LUNC AND ALACARTE

PENELOKAN - KINTAMANI. TELP. (0366) 51292

Bali Cofee Cofee Luwak Bali Chocolate

Bali Tea Natural Spices Essential Oli

Massage Oil Incense Stick Clove Balm

Br. Temen, Penglumbaran, Susut - Bangli - Bali Mobile phone: 081 338 784 633

Address: Br. Temen (Tampaksiring - Kintamani) Susut - Bangli - Bali - Indonesia

Taman Nadi

Agrotourism

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DIVISI BELANDA

DPD HPI PROPINSI BALI

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DPD HPI PROPINSI BALI

DPD HPI PROPINSI BALI

DIVISI PERANCIS

100

Coffee Bali VCO Aromatherapy Coffee Luwak Bali Tea Etc. Bali Chocolate Spices ADDRESS: Jl. Raya Kintamani, Br. Keranjangan, Tampaksiring, Gianyar - Bali, Hp. 081 246 709 16 Email: dewabali_80@yahoo.com

FEBRUARI - APRIL 2012

DIVISI JEPANG


Selamat & Sukses Atas Penerbitan

MAJALAH CAKRAWALA Milik PRAMUWISATA EDISI PERDANA

pppgb

KINTAMANI

KOMISARIAT ASIAN TRAIL Jl. BY PASS NGURAH RAI SANUR

guide besakih

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DIVISI DOMESTIK

DPD HPI PROPINSI BALI

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DPD HPI PROPINSI BALI

DPD HPI PROPINSI BALI

DIVISI MANDARIN

DIVISI SPANYOL

BIRO PERJALANAN UMUM

PT. BALI SANTIKA TOURS ADDRESS: JLN. BY PASS NGURAH RAI 388 SANUR 80228 - BALI - INDONESIA P.O. BOX. 313 PHONE: +62-287803, 289942 FAX. : +62-361 289348 E-MAIL: santik@indosat.net.id

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DIVISI JERMAN

DPD HPI PROPINSI BALI

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA

DPD HPI PROPINSI BALI

DPD HPI PROPINSI BALI

GVI

DIVISI KOREA

FEBRUARI - APRIL 2012

101


102

FEBRUARI - APRIL 2012


FEBRUARI - APRIL 2012

103


104

FEBRUARI - APRIL 2012 ALAMAT: KEMENUH

SUKAWATI GIANYAR

Majalah Cakrawala DPD HPI Bali  

Majalah Komunitas Pramuwisata (Guide) di Bali

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you