Skip to main content

Cermat 38

Page 1

Harga eceren Rp 8.000/eks Pemasangan iklan dan info berlangganan: 081 338 478 480 Info Liputan: 081 337 804 904 e-mail: emandjomba@gmail.com

MENGUBAH DARI DALAM

TERBIT DWIMINGGUAN DI FLO FLORES ORES - N NTT TT

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Catatan

oni Jaringan Baca Juga: Ir Menambal PDAM ‘Bagai da yang Lama’ Kain Baru Pa – HAL 2 –

EMANUEL DJOMBA Pemimpin Redaksi

DAHAGA MUSIM HUJAN

Bajawa, Riwayatmu Kini

“Mari kita satukan tekad samakan persebsi dan seia sekata membangun Ngada yang lebih sejahtera. Ada yang kurang, mari kita diskusi. Pintu kantor Bupati selalu terbuka untuk setiap orang. Siapa pun dia, kami tetap terima, dan siap diskusi demi kebaikan Ngada,� pintanya. Didampingi Wakil Bupati Paulus Soliwoa, Marianus Sae mengatakan, “semua sudah diatur, kami siap menjalankannya. Kekurangan dan kelebihn kita satu sama lain justru menjadi pemicu agar kita bisa saling mengisi. Apa

PELEPAS dahaga adalah air. Bukan itu saja. Air lebih dari sekedar pelepas dahaga. Air sumber kehidupan. Ketika musim hujan tiba, bisa berarti anugerah, sebab berkelimpahan air. Tetapi bagaimana jadinya jika ‘dahaga’ terjadi musim ini? Itu artinya problem besar sedang melanda kehidupan. Kota Bajawa identik dengan Ngada. Kota ini juga digambarkan sebagai wajahnya Ngada. Dan, di kota ini warganya justru mengalami krisis air. Tahun 2015/2016 alami krisis terburuk dalam sejarah kota yang dikenal sejuk dan berlimpah air di era 1970-an. Tetapi dekade demi dekade, ketika kota ini seperti menjadi magnit bagi penduduk dan mendiami kawasan ini, air bersih dari sumber-sumber pada masa lalu pun berangsur surut. Sampai hari ini, Muku Foka, salah satu sumber air utama ke kota ini pun surut dari 80 liter/detik pada zaman itu, berangsur surut hingga 50 liter/detik, bahkan 30 liter/detik saat ini. Sejumlah sumber mata air lain yang tidak terlampu besar pun berangsur surut. Sumber-sumber ini menjadi penyangga. Tetapi tak cukup kuat menyangga. Di saat air terus surut dari waktu ke waktu, penduduk justru bertambah dari waktu ke waktu. Layanan air kepada warga pun kembang kempis. Dari berbagai sudut kota terdengar seruan‌.air! Mereka tidak mau tahu, karena memang mereka tahu telah membayar. Keluar atau tidak, seruan jalan terus. Makanya ada atau tidak airnya warga pun teriak terus, tak ambil pusing. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) pun dibuat pusing. Bingung membagi air yang sedikit itu kepada ribuan wajib minum di kota dan sekitarnya. Di sini belum terlayani, di sana sudah teriak. Di timur belum di urus, di barat sudah teriak-teriak. Bagi air yang sedikit itu mungkin masih bisa disiati. Namun persoalan lain muncul. Air pun tidak mencapai dapur warga karena jaringan perpipaan pun parah. Jaringan dari zaman ‘doeloe’ 80 tahun yang lalu yang disebut sejak zaman kolonial itu juga menjadi biangnya. Kebocoran tak terhindarkan, yang kemudian anggaran terbatas hanya bisa disiasati dengan karet ban alias binen – meminjam istilah Direktur PDAM Paskalis Losa. Hingga hari ini jaringan yang su-

BERSAMBUNG HALAMAN 11

BERSAMBUNG HALAMAN 4

Air Meluap Sampai Kering Krisis air bersih sedang melanda kota Bajawa. Tahun 2015 alami krisis terparah sepanjang sejarah. Ironis, krisis air justru terjadi pada puncak musim hujan, tidak hanya terjadi di puncak musim kemarau. BAJAWA – Krisis ini seakan ‘menyambut’ pemimpin baru Ngada yang selama ini membawa ‘janji’ – Wae gibho-gabho. Masyarak Ngada sedang itu menunggu janji itu. Bajawa! ProďŹ l kota dingin. Kota hujan dan berlimpah air di zamannya. Dulu air meluap sampai jauh, namun kini ‘sampai kering.’ Tahun 2015/2016 alami krisis air terburuk sepanjang sejarah kota ini. “Warga kota pun dahaga di musim hujan,â€? sebuah ironi tanpa solusi. “Air meluap sampai jauh, akhirnya ke laut,â€? itu sebaris syair lagu ‘Bengawan Solo’ yang melegenda. Tetapi lain bengawan Solo, lain ‘Wae Woki’, sungai yang membelah kota Bajawa. Sungai yang mengalirkan kehidupan dari mata

air utama Muku Foka dan sumber lainnya itu pun surut airnya. Sumber mata air Muku Foka pun mulai mengering, justru ke ka puncak musim hujan. Bengawan Solo masih mengalirkan ‘tak seberapa air’ di musim kemarau, namun Wae Woki nyaris tak mengalirkan apa-apa di musim yang sama, ketika sumber yang menjadi pemasok utama air bagi warga kota terus surut hingga titik terendah. “Jangan-jangan nan ada lagu ciptaan orang Bajawa tentang kondisi ini dan akhirya melegenda juga. Misalnya saja judulnya begini: “Bajawa Riwayatmu kini, Air Meluap Sampai Kering.� Dulu, mata air Muku Foka masih menyuplai air dari sumbernya 80 liter/ detik. Sepuluh tahun terakhir surut

menjadi sekitar 50 liter/de k. Debit itu masih stabil hingga musim hujan. Namun kini, kata Direktur PDAM Paskalis Losa ketika diwawancara CERMAT akhir Februari lalu, mata air ini hanya menyisakan 30 liter/detik. Bahkan pada musim hujan air di sumber yang menghidupi warga kota itu enggan untuk membuncah lagi debitnya. Adakah yang salah dengan sumber ini. Wae Woki seper menjadi parameter ketersediaan air bagi warga kota. Jika Bengawan Solo masih meluap pada musim hujan, Wae Woki tak menjanjikan kelimpahan air, bahkan dak sampai meluapkan banjir seperi Bengawan Solo pada musim hujan. Padahal pada zamannya Wae Woki konon selalu menyuguhkan sensasi bagi warga kota khususnya anak-anak untuk mandi dan berbagai ak vitas lainnya. Tetapi kini air terus menyurut, malah sampah warga kota menumpuk di aliran sungai itu. Memang, air minum bagi khalayak menjadi problem paling krusial hari-hari ini. Suka tidak suka, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

seperti sudah identik dengan air. Sekalipun wajah mereka kadang tampak kering karena terus dikritik dan dituding. Kala air dak mengalir ke rumah-rumah, suara warga pun sontak berteriak lantang. Merasa terus membayar, warga pun seper tak peduli dengan kendala yang dihadapi petugas PDAM, meski mereka nyaris tak sempat menarik nafas karena terus dicecar dengan omelan dan bahkan hujatan. Warga memang menuntut hak, dan petugas pun terus bekerja juga untuk mendapatkan hak. Semuanya hanya demi pelayanan agar warga lebih nyaman dan sejahtera dan petugas pun bisa menghidupi istri anak di rumah. Ada dua masalah krusial yang diBERSAMBUNG HALAMAN 11

Marianus Sae – Paulus Soliwoa

Buka Ruang Diskusi, Merakit Perbedaan secara resmi membuka ruang diskusi untuk menjembatani perbedaan guna merakit kembali perbedaan untuk persatuan membangun Ngada yang lebih baik lima tahun ke depan. Dengan demikian, pintu kompetisi dan rivaliMarianus Sae dan Paulus Soliwoa dielu-elukan massa tas sudah dikatup pendukungnya ketika tiba dibandara soa pasca dilantik menjadi Bupati/Wakil Bupati Ngada 2016 – 2021. Debut awal merakit rapat-rapat sejak kembali perbedaan. kedua pemimpin BAJAWA - Memulai tugas Ngada ini memebaru sebagai bupati/wakil bupati, nangi Pilkada dan dilantik pada 17 Marianus Sae dan Paulus Soliwoa Februari lalu.

Acara temu pisah Bupati/Wakil Bupati terlantik dengan Mantan Penjabat Bupati Ngada Yohanes Tay Ruba, awal pekan keempat Februari lalu seakan menjadi momentum penuh haru untuk menetralisir kembali ketegangan yang masih tersisa. Momen penuh haru syarat rekonsiliasi penuh kasih, dimana satu sama lain saling menggamit penuh kasih mengokohkan kembali tekad dalam kesatuan untuk Ngada yang lebih baik. Dalam acara temu pisah yang diawali dengan misa kudus itu, Bupati Ngada Marianus Sae mengajak hadiran yang memadati aula Jon-Tom meninggakan perbedaan, menghilangkan kesuraman pikiran.

oa dan Paulus Soliw Bero’ i es Misteri ‘B Baru u g La a Hingg – HAL 2 –

Pesan Yohanes Tay Ruba Jadi Kenyataan? BAJAWA – Ini rahasia dibalik pesan Yohanes Tay Ruba ketika temu pisah dalam kapasitasnya sebagai Penjabat Bupati Ngada, melepas Bupati Marianus Sae dan Paulus Soliwoa memasuki masa purna bakti lima bulan lalu. Ternyata pesannya menjadi kenyataan lima bulan kemudian. Saat temu pisah dengan Bupati/Wakil Bupati terlantik Marianus Sae dan Paulus Soliwoa, mantan Penjabat Bupati Ngada Yohanes Tay Ruba menyampaikan profisiat dan ‘lanjutkan’! Ketika Marianus Sae dan Paulus Soliwoa memasuki masa purna bakti lima bulan lalu untuk bertarung lagi pada pilkada 2015, Yohanes Tay mengatakan, “terserah

7DEORLG 'ZLPLQJJXDQ

&HUPDW 0HGLD 0DV\DUDNDW %DUX

&HUGDV GDQ %HUPDUWDEDW

5GIGPCR 5VCH 4GFCMUK /GFKC %'4/#6 -QTCP /CUWM 5GMQNCJ -/5 /GFKC 1PNKPG XKIQPGYU EQO

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW .HSDGD

Ketika Penjabat Bupati Ngada Yohanes Tay Ruba menyematkan cincin purnabakti kepada Bupati Marianus Sae, 22 September 2015 rakyat mau ‘lanjutkan’ atau tidak.� Segera setelah itu hadirin yang memadati gedung Inesina (22/09/2015) kala itu memberi aplaus tanda sepakat. Entah disadari atau tidak, Yohanes Tay seper-

KMS untuk Siswa Cerdas Bermartabat

Lima bulan kemudian peristiwa itu terulang, giliran Bupati terlantik Marianus Sae menyematkan cincin purna tugas kepada Yohanes Tay Ruba 24 Februari 2016

ti memberi sinyal bahwa program prorakyat yang diusung Mulus pada periode pertama mesti dilanjutkan. Setelah mengatakan demikian, Anis Tay melanjutkan, selamat jalan dan selamat berjuang kepada Marianus

Sae dan Paulus Soliwoa. “Nama saya ini Yohanes, tugas saya kok seperti ‘Yohanes Pembaptis’. Jadi saya hanya membuka jalan bagi pemimpin Ngada pilihan BERSAMBUNG HALAMAN 10

ah (KMS) Koran Masuk Sekol edulian sebagai bentuk kep hadap Koran CERMAT ter menerus upaya yang terusat baca, meningkatkan min an khususnya di kalang h. Karena komunitas sekola ditawarkan itu, program KMS sekolah kepada komunitas minat kan ang mb nge me dalam i liputan baca siswa melalu berbagai khusus sekolah dan ikan. persoalan pendid

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD ;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ

6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUX 2GOKORKP 7OWO 2GOKORKP 4GFCMUK '/#07'. &,1/$#

Jurnalistik Jadi Kegiatan Rutin di SMAN 1 Soa en lem 5 p u l k s S ha a Sim KM


2 TOPIK

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Ironi Jaringan PDAM Bajawa

‘Bagai Menambal Kain Baru Pada yang Lama’ Pelayanan air oleh PDAM Ngada di kota Bajawa dan sekitarnya hingga kini masih mengalami masalah. Air, air dan air, antara menuai prasangka, pro dan kontra. BAJAWA - Tudingan dan cercaan oleh sebagian warga kepada pihak PDAM Ngada sudah menjadi lagu nostalgia yang tetap didengungkan oleh sebagian warga apabila air bersih tersendat mengalir. Dengungan semakin keras, dari nostalgia di musim kemarau menjadi lagu rock dimusim hujan. Air, air, dan air. Musim kemarau kekurangan air, toh kekurangan air tetap berlanjut ke musin hujan. Heran!

dak terpenuhi atau tersendatsendat. Dalam sorotan dan kri kan, pihak PDAM tetap melaksanakan tugas dan fungsinya, ada perbaikan pipa di k tertentu, petugas PDAM siap turun, ada macet di lokasi tertentu, petugas segera cek dan perbaiki. Warga ambil baba datang bayar iuran air, sambil ak PDAM yar sembari protes, pihak pun tetap senyum dan menApa jelaskan secara tulus. “Apa

mungkin sambung pipa lama dan baru, itu seper menambal kain baru pada kain lama yang akhirnya tetap robek, demikian juga dengan sambungan pipa lama dan pipa baru, itu juga tetap bocor. Tantangan selanjutnya, di lokasi se ap hari ada dua puluh k kerusakan, jumlah petugas teknis di PDAM hanya sembilan orang termasuk dirinya, nah pasti yang dikerjakan dua atau lima lokasi, dak mungkin di duapuluh titik itu diperbaik dalam sehari dengan jumlah tenaga yang sangat kurang.

Jaringan pipa melintasi ‘alo Jawa’ dari mata air Muku Foka menuju Bajawa Mengapa ada dahaga di musim hujan? Duduk persoalannya ada di siapa dan dimana? PDAM Ngada, anggaran, debit air, jaringan atau warga? Direktur PDAM Ngada, Paskalis Losa, Selasa ke ka diwawancarai CERMAT akhir Februari lalu menjelaskan, kekurangan air di kota Bajawa dan sekitarnya dalah fakta. Sorotan dari berbagai pihak terhadap PDAM merupakan kri kan tanpa solusi, celaan tanpa batas dan rintangan tanpa hen . Pihak PDAM selalu menjadi buah bibir warga, baik didengar langsung atau tidak langsung, yang pas pihak PDAM akan dicemooh apabila pelayanan kebutuhan air bagi warga

pun komentar dari warga, kami tetap melayani warga dengan ha tulus, yang pen ng bukan karena kami sengaja atau kami buat-buat,� ungkap Paskalis. Dalam pelayanan PDAM bukan kendala di bidang teknis saja atau malas turun ke lokasi, tapi karena pipa sudah kropos. Bayangkan saja, banyak pipa yang kropos, bocor di sana sini, bahkan ada pipa yang ada sejak zaman Belanda. “Di sekitar BRI Surisina dan pegadaian, itu pipa sejak zaman Belanda�, ceritanya. Ada perbaikan baik manual maupun permanen, pendekatan karet binen juga tidak mempan, sambungan, semen tetap mengalami bocoran. Bagaimana

Sumber mata air Muku Foka yang biasanya meluap tempo dulu, sekarang terus menyusut.

Katakan, dalam satu minggu ada duapuluh k kerusakan, minggu depan juga ada duapuluh k, sedangkan tuntutan warga hari yang sama harus jadi dan nikma air, lantas bagaimana dengan k lain yang rusak. Memang PDAM disorot terus, dan itu diterima dalam ketabahan pihaknya tetap laksanakan. “Kami lakukan demi kebutuhan banyak orang, asal kami dak sengaja, atau malas tahu, kami akan tetap penuhi dalam keterbatasan berjuang melayani warga,� papar Paskalis. Selain usaha perbaikan jaringan, PDAM juga merencanakan pembangunan waduk untuk penambahan dan peningkatan debit air. Baginya, hal tersebut

memang sangat urgen, akan menjadi ringan apabila semua stakeholder mendukung RISPAM (Rencana Induk Strategis Pembangunan Air Minum) 20152019. Sesuai Rispam tersebut, dirinya mendambakan agar ada perolehan anggaran sebesar 9,3 M. “Di dalamnya juga ada rencana pembangunan bendungan, sebab dalamnya terdapat klasifikasi jangka waktu pembangunan yakni pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Terkait pembangunan waduk, t kecil kemungkinan tercapai, kendaadala kebun dan tanaman lanya adalah warga, ant antara sumber na ah dan ekonom pemilik kebun, jelas ekonomi dak mungkin dijadikan lahan waduk untuk publik, ha harga jual dan jumlah u uang apa memadai. Ini mes dipikirkan lagi,â€? bebernya. Dengan realita kondisi yang ada, dia berharap pada Pemda N Ngada agar anggarkan se sedikit dana untuk perbaik jaringan pipa. Dia baikan meng mengatakan, sudah banyak y usaha yang dilakukan oleh PDA melalui pendekatan pihak PDAM, ďŹ sik berup perbaikan jaringan, ďŹ sik berupa juga negosiasi anggaran kepada pemerintah baik pusat maupun daerah serta DPRD Ngada, agar sisipkan dana untuk pengadaan sarana dan perbaikan pipa, tapi mau bagaimana, namanya juga negosiasi antara ya dan tidak, menjadi sebuah penan an. “Beberapa waktu lalu saya sudah jelaskan dihadapan pemerintah dan DPRD Ngada supaya anggarkan juga dana untuk PDAM Ngada,â€? kata Paskalis. Dalam list anggaran yang ditetapkan DPRD tahun 2015, kata Paskalis, ada alokasi anggaran sebesar 3,5 M untuk PDAM tapi kemudian di adakan. Entah kenapa begitu, dirinya juga dak mengetahui secara pasti. Baginya, perha kan dulu anggaran untuk PDAM, sebab air adalah kebutuhan pertama dan utama dalam kebutuhan ďŹ siologis dan

Air sungai ‘alo Jawa’ terlihat surut pada bulan Desember dan Januari yang lalu pembangunan. Keluhan warga Terkait dengan krisis air di kota Bajawa yang dinilai sebagai yang terburuk, Kepsek SMK PGRI Bajawa, Yoseph Dhewa Sai, mengatakan permasalahan air di sekolah selama ini tersendatsendat. Air kadang sedikit bahkan dak ada sama sekali. Ceritanya, pada 2015 di lingkungan SMK Regina dak mendapat air bersih. Sekolah dan warga sekitar terpaksa membeli air tengki. Selain itu, banyak pipa berkarat dan bocor. Hampir di setiap persambungan dililit karet binen. Keluhan yang sama datang dari seorang pemilik kios di sekitar kompleks perdagangan, ke ka ditanya CERMAT, ibu paruh baya yang tak mau namanya disebut mengatakan, kami di kompleks ini memang krisis air. Syukur krisis air yang dialami warga masih dapat ditolong air hujan dan air yang dibeli dari tengki. “Kami tetap bayar iuran air, meski air tak teraliri. Banyak juga pipa bocor, kenapa pemerintah dak perhakan pelayanan air dan perbaikan pipa,� tanyanya cemas. Berbeda dengan pengalaman seorang warga di kampung Beiposo. Warga yang enggan menyebut namanya itu mengatakan, di kampung Beiposo dan Beiwali sudah menjadi masalah klasik. Kendala yang dihadapi warga sendiri adalah persoalan mentalitas warga yang suka merusak pipa apabila tidak mendapat air atau akibat dendam antar sesama kampung. Menurutnya, di Beiwali pada musim kemarau mengalami kekurangan air. Warga selain mengambil di lokasi mata air, juga membeli air dari tengki dengan harga per tengki 135

ribu rupiah. “Dalam satu bulan, se ap KK biasanya menggunakan air sebanyak ga tengki. Apalagi di musim panen kopi. Butuh air sangat banyak�, jelasnya. D i a m e n a m b a h ka n , d i kampung Beiwali khususnya dan wilayah Wawo Wae pada umumnya sebenarnya tidak lagi mengalami krisis air bersih. Sebab, sekitar tahun 2000-an pernah ada bantuan dari Ausaid terkait dengan pemasangan pipa. Air yang dinikma warga hanya lima tahun. Selanjutnya hingga saat ini, tentang air bersih memang sangat krisis. “Di sini kampung krisis air bersih,� katanya. Masih menurut sumber yang tak mau menyebutkan namanya itu, persoalan krisis air bersih bukan karena tidak ada bantuan dari pemerintah dan LSM. Tapi yang harus diubah adalah mentalitas warga yang buruk harus dihindari. “Masalah antar kampung, pipa yang jadi korban. Ada yang sese pake kayu di pipa. Mana mau dak rusak,� katanya kesal. Bupatai Ngada, Marianus Sae, pada periode lalu, sempat berjumpa dengan warga Beiposo bahas tentang permasalahan dan solusi air minum bersih. Pada saat itu, Marianus Sae berjanji akan ada pengadaan embung di lokasi yang tak jauh dari kampung. “Dulu pak Marianus janji supaya di sekitar kampung Beiposo akan ada embung, sebagai solusi atas kekurangan air minum. Sebab debit air di Muku Foka dan beberapa mata air di sini sangat kurang bahkan kering pada musim panas. Kami tunggu saja janji pak Marianus supaya Bei Wali dak lagi krisis air tapi jadi kampung dengan ‘wae ghibo ghabo - melimpah ruah,’ harapnya.***

Paulus Soliwoa dan Misteri ‘Besi Bero’ Hingga Lagu Baru WA K T U temu pisah pertama tahun lalu, tepatnya 24 September 2016, Marinus Sae dan Paulus Soliwoa menyanyi lagu ‘Besi Bero. Sementara Penjabat Bupati

Ngada Kala itu Yohanes Tay dan Ny. Maria Pacela menyanyi lagu ‘Flobamora.� Lagu daerah Ngada ‘Besi Bero’ dinyanyikan duet Mulus kala itu dengan penuh haru. Na-

Mengenakan busana Bajawa, Bupati Marianus dan Wabup Paulus Soliwoa menuju aula Jon-Tom mengikuti acara temu pisah.

mun saat temu pisah kedua Febaruari 2016, pasangan Mulus ini tidak bernyanyi lagi, demikian juga Anis Tay dan Ny. Maria Pacela. Suasana saat menyanyikan lagu ‘Besi Bero’ kala itu seperti penuh misteri. Karena Paulus Soliwoa seperti menggantung sebuah harapan. Setelah menyanyikan lagu ‘Besi Bero’ dia mengatakan, dalam lagu Mansur S. yang dinyanyikan Dian Piesesha itu: “bukan perpisahan yang kutangisi tetapi pertemuan yang kusesali.� Tapi, kata Soliwoa lagi, bukan juga keduanya. “Tetapi bisa ingin seperti dulu lagi,� kata Soli Woa yang disambut aplaus hadirin. Pernyataan Paulus Soli-

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Nginamanu Kecamatan Wolomeze

woa seperti menggantungkan harapan yang kemudian memang menjadi kenyataan. Dia ingin setelah mendampingi Marianus Sae memimpin Ngada periode pertama, dilanjutkan di periode masa jabatan kedua. Sayangnya pada temu pisah kedua setelah Paket Mulus ini dilantik, keduanya malah tidak menyanyi lagi. Tetapi bukan berarti tidak ada lagu. Karena ternyata, Marianus Sae dan Paulus Soliwoa punya lagu baru dengan aransemen baru, yakni lagu ‘sejahtera’ untuk Ngada Jaya. Keduanya akan bernyanyi dalam melodi yang harmoni hingga lima tahun ke depan bersama-sama rakyat Ngada. (ch)***

Marianus Sae/Paulus Soliwoa, melangkah pasti setelah turun dari pesawat beberapa hari setelah dilantik menjadi Bupati/Wakil Bupati Ngada 2016 – 2021. Misteri setelah senandung ‘Besi Bero’ hingga lagu baru

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Wolomeze Kecamatan Riung Barat

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Yohanes Don Bosco Lemba

Ketua BPD Amatus Noy, S.Pd

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Atanasius Yoseph Lengu

Ketua BPD Kagha Marselus\


DEBAT 3

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Universitas Negeri Flores, Bajawa Sudah di Depan Mata Suara-suara agar Undana 2 Bajawa menjadi rintisan perguruan tinggi negeri di Flores, kian kencang. Januari lalu ketika merayakan Natal bersama lembaga ini, Ketua Pengelola PDD Undana 2 Drs. Adrianus Fua Radja ‘menyerukan’ lagi harapan itu, sekaligus menguatkan harap-harap cemas 900 mahasiswa yang sedang kuliah saat ini. Mereka minta pemerintah daerah Ngada yang sudah memulai gagasan dan terobosan ini tidak kendur.

BAJAWA – B A G I mahasiswa, Universitas Negeri Flores di tanah Ngada sudah di depan mata. Ini Harapan besar hampir seribu generasi muda dari berbagai kabupaten di Flores bagian barat, khususnya Ngada yang sudah tiga tahun ini melewati proses perkuliahan. Te r k a i t d e n g a n h a r a p a n masyarakat Ngada dan Flores pada umumnya, seperti menjadi daya dorong yang amat kencang bagi pemda Ngada selaku penggagas berdirinya rintisan perguruan tinggi ini. Pasca dilantik dalam momentum Temu Pisah dengan mantan Penjabat Bupati Ngada Yohanes Tay Ruba, pekan keempat Februari lalu, Marianus Sae kembali menyatakan komitmennya untuk melanjutkan perjuangannya demi terwujudnya perguruan tinggi negeri di tanah Ngada. Terkait dengan itu, Marianus Sae menyatakan, Pemerintah Kabupaten Ngada terus memperjuangkan status Undana II Bajawa sehingga pada suatu

saat nanti menjadi Universitas Negeri Flores yang berpusat di Bajawa. Bahkan, kata dia sampai saat ini, Pemerintah sudah menyiapkan dokumen dan terus menjalin komunikasi intens dengan kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dikatakan Marianus, dari awal pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan sebuah perguruan tinggi negeri di Ngada. Guna mengonkretkan harapannya itu, sejak semula Pemda Ngada terus melakukan berbagai upaya, dan menjalin komunikasi baik dengan menteri pendidikan tinggi maupun Undana di Kupang. “Kita ingin cita-cita ini dapat terwujud, karena itu kita menjalin kerja sama dengan Undana agar dapat membuka kampus Undana II Bajawa. Ini sebagai sebuah rintisan menuju universitas negeri di Flores yang mandiri,� katanya. Hingga saat ini berbagai persiapan terus dilakukan menuju sebuah universitas negeri yang mandiri. Terkait dengan itu, pihak pemda tern-

Wajah Undana 2 Bajawa kian bersinar. Jangan biarkan mereka hanyut dalam cemas yata sudah membuat master plan pembangunan kampus. Beberapa gedung sudah mulai dibangun pada tahun 2015 yang lalu. Persiapan lain yang tidak kalah pentingnnya adalah tenaga dosen. Kini Pemda sudah mengirim putra-putri Nada melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan S3 sebagai kualifikasi tenaga dosen yang disyaratkan. Sehingga, tiba waktunya definitif maka tenaga dosen sudah terpenuhi. Dalam kesempatan berbeda, Ketua pengelola PDD Undana 2 Bajawa, Adrianus Fua Radja menga-

takan hingga saat ini Pemda sudah mengirim 123 calon dosen untuk mengikuti pendidikan jenjang S2. Dan menurut Anus Fua tahun ini sekita bulan Juli 70 orang diantaranya sudah selesai. Sementara 53 orang lainnya akan selesai pada perideo Desember 2016. Pada tahun 2017 mendatang Pemda Ngada kembali akan mengirim 10 calon dosen berjenjang S3. Diharapkan dengan pengiriman tenaga calon dosen ini mampu memenuhi syarat bahwa sebuah universitas minimal 168 berkualifikasi pendidikan S2 dan 10 orang berkualifikasi S3. (ch)***

Babak Baru Pengembangan PLTP Mataloko

Yoce Hendrik Sina Ulan sedang melayani konsumen

Dari Jualan Bensin Botolan Hingga Layanan Pertamini SOA – Jualan bensin eceran dengan sistem botolan kini masuki era baru. Di Waepana, Ibu Kota Kecamatan Soa kini hadir sebuah stasiun pengisian bensin mini atau yang lazim disebut Pertamini. Adalah Yose Hendrik Sina Ulan yang memulai terobosan dengan layanan Pertamini. Memang Yose bukan orang pertama yang kini menggunakan layanan Pertamini untuk penjualan bensin skala kecil. Karena sejak pertengahan tahun lalu, layanan Pertamini juga sudah ada di Desa Tarawaja milik Arnol Nono, pensiunan polisi di Bali yang memilih pulang kampung. Dengan demikin di Soa kini selain jualan bensin botolan, kini hadir layanan Pertamini. Pertamini Juanda, adalah nama stasiun penjualan bensin skala kecil milik milik Yoce Hendrik Sina Ulan. Kehadiran layanan jenis ini menarik perhatian para pemilik kendaraan. Mungkin karena itu, banyak pemilik kendaraan yang kini lebih memilih mengisi bensin (BBM) di Pertamini. Layanan laiknya SPBU itu memang lebih mudah dan menjamin kenyamanan baik bagi penjual maupun pembeli. A p a ya n g d i k a t a k a n Yose memang ada benarnya. Dengan kemudahan layanan dan kenyamanan itu, Yose mengaku terjadi peningkatan penjualan bensin di Pertamini-nya. Jika masih jualan bensin botolan dia hanya bisa menghabiskan dua jombo

perhari, namun sejak menggunakan layanan pertamini Yoce menghabiskan BBM jenis bensin sebanyak tujuh jumbo. Tentu saja layanan bensin di pertamini miliknya itu disesuaikan dengan kuota perizinan yang dimilikinya. Terobnosan dengan layanan pertamini, kata Yoce dengan maksud supaya lebih praktis dan nyaman bagi para konsumen. Demikian juga ukuran literan BBM disesuaikan dengan yang dijual di SPBU, dengan harga yang dipatok di pertamini ini sebesar Rp 8.000. Sementara harga premium di SPBU bsar sekitar Rp 6.950. Keuntungan diperoleh dari selisih harga SPBU dan pertamini ditambah ongkos transport angkut. Menurut Yoce, animo masyarakat mengisi BBM di pertamini meningkat. Itu karena lebih menjamin dari takaran karena menggunakan mesin pengisi manual. Selain praktis dan dijamin kepastian volume, masyarakat juga merasa lebih nyaman. Meski begitu, jualan bensin botolan masih tetap berjalan biasa. Melihat lebih menjamin kenyamanan dan kepastian volume, Yoce yang ditemuai Media CERMAT akhir Februari lalu berharap pemerintah dapat membantu masyarakat yang usaha dalam bidang ini di sejumlah tempat di Ngada demi mendekatkan pelayanan kepada masyarakat yang jauh dari SPBU, seperti daerah terpencil.(eh)***

BAJAWA – Pengembangan panas bumi PLTP Mataloko memasuki babak baru, yang ditandai dengan Ekspose Pengembangan yang digelar di Aula Setda Ngada, Selasa, (24/02/2015). Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Marianus Sae, Wakil Bupati Ngada Paulus Soliwoa, Ketua DPRD Ngada Helmut Waso, Manajer PLN Ranting Bajawa, Para Pimpinan UPTD, Para Kepala Desa, Divisi Energi Panas Bumi (Geotermal) Nirman Afif, General Manajer (GM) PLN NTT, Richard Safkaur, dan Manajer Bidang Teknik, Taufik Hidayat. Bupati Ngada, Marianus Sae dalam sambutannya mengatakan, ekspose pengembangan panas bumi Mataloko sebagai bagian dari investasi. Bahwa selama ini panas bumi ditangani oleh perusahaan lain, tapi saat ini panas bumi mataloko akan dikelola oleh pihak PLN. Tanggungjawab penuh pelaksanaannya berada di PLN. Pembangunan ini akan berdampak pada peningkatan APBD dan penerangan. Intinya adalah demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Ngada. Sebagai Bupati Ngada yang baru dilantik pada 17 Februari, Marianus Sae ingin sebagian wilayah Ngada yang belum teralir jaringan listrik negara mendapat penerangan seperti wilayah yang lain. Selain itu, ada peningkatan kapasitas dan perluasan jaringan PLN ke seluruh wilayah Ngada. “Sudah sekian lama dan sudah tahu tentang panas bumi Mataloko. Kegiatan untuk ekspose eksploitasi lanjutan dari sumber panas bumi dari 1 setengah megawatt menjadi lebih ditingkatkan. Pengem-

Tim dari Jakarta meninjau lokasi munculnya sumur gas di Mataloko, tahun lalu. bangannya juga berdampak pada pembangunan daerah Ngada,� jelas Marianus. Manajer PLN NTT, Richard Safkaur, menjelaskan ekspose penugasan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi, Mataloko telah diambil alih oleh PLN pusat. Selanjutnya akan ditempuh melalui empat belas tahap pengkajian dan pengembangan. Pihak PLN yang sudah dimandatori oleh Kementerian ESDM akan melaksanakannya dan akan mulai dinikmati hasilnya pada 2019-2020. Terkait dengan tugas tersebut, pihak PLN tidak mau pelaksanaannya bertabrakan dengan aturan, UU lingkungan hidup, kesehatan dan kenyamanan warga sekitar pada saat

PLTP Mataloko

pelaksanaan di lapangan. “Kami tidak ingin keputusan hanya sepihak saja, kami mau kerjasama dan mendapat dukungan dari berbagai elemen, baik pemerintah dan masyarakat yang sifatnya komunikatif dan transparansi,� ungkap Richard. Divisi Energi Panas Bumi, Nirman Afif menjelaskan bahwa Pembangkit listrik tenaga panas bumi Mataloko sejak tahun ini akan dikelola oleh PLN PT. Persero atau PLN pusat. “Ini sesuai Permen ESDM, UU ESDM dan UU Lingkungan Hidup,� katanya. Dalam pelaksanaanya, menurut Nirman, pengembangan panas bumi membutuhkan 900,5 hektar dan akan ada pemboran di beberapa titik yang setiap titik pemboran membutukan satu hektar lahan. Menururnya, berdasarkan data yang diperoleh dari perhitungan perusahaan sebelumnya bahwa kapasitas panas bumi Mataloko 63 mw, tapi yang benar adalah 2,5 mw. Selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 2 x 20 mw. “Kami akan tempuh sesuai prosedur. Sangat diharapkan kerjasama dan dukungan sehingga pada tahun 2019 Pembangkit Listrik Panas Bumi Mataloko sudah bisa digunakan,� harap Nirman. Dalam sesi tanya jawab, ada usulan supaya PLN harus memperhatikan kerusakan baik lingkungan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat. Selain itu PLN diharapkan tidak mengambil keputusan secara sepihak, harus komunikatif dan transparansi serta melibatkan semua elemen masyarakat. (sp)***


4 OPINI

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

DARI PEMBELANJA MENJADI PEMBELAJAR Oleh Orias Lazarus Selan (Guru di SDI Gemo/Aimere)

KETIKA membaca buku mutiara Pembelajaran karya Andrias Harefa terbitan Gloria Cyber Ministries Yogyakarta tahun 2001, saya sangat terkesan dengan konsep dan gagasab yang ditawarkan oleh penulisnya. Tidak salah jika banyak orang mengatakan bahwa “Andrias Harefa adalah salah seorang penulis dan pakar pendidikan Indonesia kini. Seperti pengakuan penerbit dalam catatan penerbit, bahwa Andrias Harefa adalah presenter yang diakui secara nasional. Alhasil seluruh gagasab dan buah pikirannya tidaklah dierami den-

gan common sense dengan duduk di kamar yang beku merentang jarak sekian jauh dari kehidupan nyata� (2001:13). Salah satu tema menarik yang membuat saya kagum adalah dari Pembelanja menjadi pembelajar. Dalam tulisan itu ia membayangkan bahwa di tahun 2020 atau 2045 manusia Indonesia itu adalah manusiamanusia yang berjiwa pembelajar (kreatif-inovatif ), berkarakter pemimpin sejati (bermoral, berintegritas, jujur, visioner, berhati pelayan, dsb) dan memiliki sikap mental wira usaha mandiri (sensitif terhadap peluang, kreatif menanggapi peluang, dan berani mengambil resiko) yang diperlukan untuk bertindak nyata. (2001:29). Visi ini akan terjadi jika guru memiliki kompetensi yang mumpuni atau memiliki sumber daya yang bagus. Salah satu indikator guru yang me-

miliki sumber daya baik adalah telah menyelesaikan tingkat pendidikan tinggi (Sarjana Pendidikan). Sebagai motivasi dari pemerintah untuk meningkatkan mutu pengajaran guru di kelas maka pemerintah mengucurkan dana sebesar 20 % dari APBN untuk pendidikan dan salah satunya adalah sertifikasi guru. Guru yang telah berijazah sarjana (S1) diberikan sertifikasi guru (untuk yang non PNS pun mendapat). Akibat dari itu (tunjangan sertifikasi guru) sumber pendapatan guru meningkat. Pertanyaan menarik apakah dengan adanya sertifikasi guru telah mengubah mutu pengajaran guru di kelas ataukah sebaliknya. Mutu guru dapat ditingkatkan dengan sertifikasi guru menjadi sebuah pergumulan tersendiri. Hasil pra penelitian penulis di salah satu toko buku di Kabupaten Ngada menunjukkan bahwa omset pendapatan mereka tidak berubah dari tahun ke tahun, demikian pengakuan penjaga toko tersebut. Dengan demikian tergambar bahwa hampir 100

% penerima sertifikasi guru di kabupaten Ngada tidak mengunjugi toko-toko buku untuk membeli buku. Masih ada kemungkinan lain bahwa mereka tidak membeli buku di Bajawa pasti mereka membeli buku di tempat lain selain di Bajawa. Untuk itu penelitian dilanjutan dengan memilih beberapa teman guru sebagai sampel apakah mereka mengunakan sedikit uang mereka (tunjangan sertifikasi guru) untuk membeli buku menambah referensi mereka. Dari 10 (sepuluh) orang yang dikunjungi dan diwawancarai mereka mengatakan bahwa uang sertifikasi yang mereka peroleh digunakan untuk membangun rumah, membeli kendaraan (roda dua, roda empat), tanah dan sebagainya. Saatnya para guru mengubah cara berpikir mereka, dari pola mementingkan kepentingan prestise menjadi prestasi. Untuk mencapai hasil yang maksimal harus ditopang oleh guru yang handal. Guru yang handal harus memiliki sumber daya yang handal juga. Salah satu ciri sumber

daya yang handal adalah pengetahuan guru pun harus up date. Supaya guru memiliki informasi yang up date, maka guru harus memiliki sumber belajar yang up date. Guru tidak bisa mengandalkan pengalaman masa lalu untuk menghakimi bahwa perkembangan masa kini tidak baik dan harus dikembalikan ke masa lalu. Cara mengajar masa lalu lebih baik dari masa kini sehingga perlu dipertahankan metode mengajar masa lalu dan melawan metode pembelajaran masa kini. Memang benar seperti yang dianjurkan oleh Andrias Harefa bahwa “... .... yang harus diperbaiki secara mendasar adalah “pembelajaran formalâ€? pada tingkat sekolah dasar. Tapi itu saja tidak akan pernah cukup (necessary but insuďŹƒcient). Diperlukan berbagai proses alternatif lainnya di luar dunia persekolahan, yakni pembelajaran nonformal untuk mengembangkan kompetensi melalui berbagai lembaga pelatihan, kursus-kursus,dsb; dan juga ditopang oleh proses pembelajaran informal berbasiskan keluarga dan masyarakat.â€? (2001:30)

Menarik memang ajakan Andrias Harefa bahwa saatnya semua guru mengubah budaya beli dari yang bersifat prestise menjadi prestasi dari beli karena keinginan menjadi beli karena kebutuhan, beli untuk tenar menjadi beli untuk pintar, beli untuk dipuji menjadi beli untuk di guguh. Langkah ini mestinya di mulai dari seorang guru yang bersertifikasi, sisihkan sebagian pendapatan untuk membeli buku referensi di rumah. Rumah seorang guru mestinya bisa menjadi liberary home not home stay. Jika semua guru menyisihkan 10 % dari tunjangan sertifkasi mereka untuk beli buku referensi maka dipastikan dalam 1 (satu) tahun guru sudah memiliki minimal 20 – 50 buku baru. Guru harus bisa berasumsi bahwa satu buku melahirkan satu ilmu baru yang menghasilkan uang 100 (juta) untuk 10 (sepuluh) tahun. Kalau beli 10 (sepuluh) buku, berapa yang didapat? Hitung sendiri! Selamat mengubah cara pikir dan sikap dari pembelanja menjadi pembelajar!***

TIDAK NYAMAN LAGI? Oleh Bonefasius Zanda Pengajar SMA Katolik Regina Pacis Bajawa AKHIR AKHIR ini pemberitaan media terkait kekerasan yang menimpa anak cukup menyita perha an masyarakat. Khusus di Kabupaten Ngada, media Cermat edisi bulan Januari melansir berita seputar kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dialami oleh Bunga siswi kelas IV SD Waepana, Kecamatan Soa. Bunga dipaksa untuk melayani nafsu bejat ayah angkatnya berinisial (AB) terhitung sejak tahun 2013. Dan dampak lanjutanya yakni, Bunga mengalami penderitaan secara ďŹ sik maupun mental. Kasus dan penderitaan yang sama belum berhen pada Bunga namun masih juga dialami oleh Ros, siswi kelas VIII SMPN 3 Bajawa Utara. Hidup dan kehidupan Bunga dan Ros dak seindah dan sebahagia anak-anak yang lain seusiannya. Kehidupan Ros dan Bunga selalu diwarnai oleh situasi yang gelap. Ayah kandungnya yang berinisial (FN) dan ayah angkat yang berinisial (AB) dengan tahu dan mau, selalu berusaha mewarnai hidup dan kehidupan anak kandungnya Ros dengan sikap yang dikuasai oleh nafsu seks yang bejat dan bahkan membambi buta. Hemat saya, sikap membambibuta lebih diiden kan dengan binatang. Dan saya yakin saya dan anda sekalian sepakat bahwa ayah kandung Ros dan ayah angkat Bunga adalah binatang. Ya, binatang. Mengapa Binatang? Tidak dapat dimungkiri bahwa keluarga adalah agen sosialisasi penanaman nilai yang utama dan terutama dalam memberi cinta, kasih sayang, kenyamanan, pembentukan krakter dasar dan kepribadian yang utuh bagi seorang anak. Namun, berkaca dari kasus yang menimpa Bunga dan Ros, dapat memberi penegasan, ternyata keluarga berubah menjadi tempat atau agen yang sungguh menakutkan, mengerihkan dan bahkan mema kan. Keluarga telah berubah wujud dari

yang melembutkan menjadi yang mema kan. Patologi prilaku buruk yang dipertontonkan oleh oleh kedua ayah ini menggambarkan bahwa seorang ayah dak mampu memikul tanggung jawab untuk memberi rasa nyaman dan kebahagiaan yang utuh bagi semua anggota keluarganya namun sebaliknya perilaku menjijikan itu sedang memburamkan wajah-wajah keluarga kita dan terkhusus wajah-wajah keluarga Kristen. Penulis dak bermaksud menggeneralisasi atau menjadikan kasus ini sebagai acuan utama bahwa semua Ayah dan keluarga Negeri ini semuanya buruk. Tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwa inilah fakta dan sebuah ironi dalam kehidupan berkeluarga saat ini. Jika penyakit ini tidak segera diobati sejak dini, maka saya yakin pas akan meluas, menular dan akan menjadi penyakit yang akan mema kan hidup dan kehidupan berkeluarga, terutama mema kan masa depan generasi dan anak-anak kita. Bukan dak mungkin jika perilaku ini kemudian merambat ke kehidupan keluarga lain. Pada fase selanjutnya, sebuah peradaban akan kehidupan keluarga dan masyarakat umum mengalami kehancuran dan kebangkrutan tatkala yang menjadi “panglimanya� adalah hawa nafsu. Pada k inilah peradaban akan dengan deras meluncur ke k yang paling bawah. Dan jika terjadi demikian, maka kesimpulan sementara saya adalah dak ada lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk mendapatkan hidup dan kehidupan yang bahagia dan humanis. Dibalik tesis sementara saya itu muncul pertanyaan yang menggugah eksistensi manusia, �betulkah di dunia ini dak ada lagi tempat yang nyaman bagi anak-anak? Kepas an? Kema an adalah sebuah kepas an. Memang, hanya kematian. Walaupun

pada umumnya manusia menginginkan umur yang panjang dan untuk itu, manusia selalu menjaga polah hidup sehat. Namun jika Tuhan menghendaki kapan saja, maka entah dalam keadaan sehat ataupun sakit, Tuhan berhak memanggil kita untuk menghadap-Nya. Oleh karena kepas an hanya ditemukan dalam kemaan, maka sangatlah ironis jika kedua ayah yang bobrok itu tidak mampuh membendung hawa nafsunya. Bukankah nafsu bejat itu, bisa dibendung karena nafsu itu bukanlah sebuah kepastian. Anak sebagai buah cinta dari Tuhan yang hadir lewat suami dan istri adalah sebuah anugerah yang harus diberi dan mendapatkan kasih sayang. Dan memang keharusan. Namun ironinya kehadiran anak justru harus dihancurkan, sebagai tempat pelampiasan nafsu serakah seorang ayah atau dapat dikawini oleh ayahnya. Dan seolah-olah perilaku destruk f itu adalah keharusan dan merupakan sebuah kepas an. Tidak! Manusia dengan segala otoritas yang diberikan oleh Tuhan harus mampu menjalankan otoritas itu sesuai dengan nilai dan norma dan bukan sebaliknya. Dan hal terpen ng yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan keyakinan untuk memper nggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan derajat paling nggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain, sehingga sanggup berdiri sendiri, berelasi yang humanis dengan sesama, bertanggung jawab atas dirinya dan juga lingkungannya dan juga agar manusia mampuh membedakan yang baik dan buruk. Oleh karena itu, perilaku bejat itu bukanlah sebuah kepastian seperti kematian tetapi sebuah hal yang masih bisa dibendung oleh manusia. Membangun Kebiasaan Baru Secara Kolek f Johann Wolfgang Goethe, seorang pengarang Jerman terkenal berpendapat bahwa ndakan- ndakan yang telah menjadi kebiasaan (karakter) akan menuntun pemilik karakter pada pencapaian tujuan dalam hidupnya. Kebiasaan destruk f akan menuntun pada tujuan

kegagalan dan kebiasaan-kebiasaan yang produktif akan menuntun pada tujuan keberhasilan. Pikiran yang baik akan menghasilkan kebiasaan yang baik dan pikiran yang buruk akan menghasilkan kebiasaan yang buruk. Pemikiran Johann di atas, memberi penegasan bahwa hidup adalah sebuah proses, jika dalam proses itu kita lebih berperilaku buruk, maka akibatnya juga buruk dan sebaliknya. Karakter yang baik adalah hal pen ng yang dicita-citakan oleh seluruh manusia. Dan secara kuan ta f perbandingan antara manusia yang baik dan kurang baik, masih dimenangkan oleh yang baik. Dan perbuatan bejat kedua orang ayah itu adalah gambaran dari kejahatan yang masih bisa di hitung karena dak semua ayah seper itu. Maka dari itu, mes nya perbuatan bejat hawa nafsu itu bisa diminimalisir oleh se ap manusia lewat komitmen diri dan bantuan sesama lainnya. Karena manusia diciptakan bukan untuk saling mencelakai. Dan perbuatan jahat itu bukanlah sebuah kepas an. Bukan kepas an karena kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, karena Manusia bukan citra binatang tapi citara Tuhan. Oleh karenanya, membangun karakter yang utuh harus bersandar pada Tuhan dan dimulai dari dalam diri, keluarga dan lingkungan sekitar secara kolektif. Keluarga adalah rahim yang memberi kehidupan dan kebahagiaan bagi anak. Dan sebagai makhluk sosial, semua kita tanpa kecuali harus memiliki kepedulian untuk merawat dan menata hidup ini dengan baik. Sekecil apa pun yang kita buat dan beri bagi sesama kita demi merawat hidup ini dan jika itu baik, maka sangatlah berar bagi yang membutuhkan dan demi membumikan nilai-nilai bersama dalam hidup ini yang adalah keharusan. Berkaca dari fakta penderitaan yang dialami oleh Bunga dan Ros, maka penderitaan haruslah mempunyai fungsi untuk sebuah perkembangan di hari esok. Hegel membenarkan penderitaan yang berbasis pada adanya pengalaman penderitaan akan muncul kesadaran tentang pen ngnya keharmonisan di dunia ini. Kesadaran dan kebutuhan akan keharmonisan tumbuh dan mendesak

justru dalam dan karena pengalaman penderitaan. Kerangka ďŹ lsafat Hegel, ditegaskan bahwa kemajuan selalu mengandaikan adanya korban, demi sebuah perubahan. Namun kita jangan menambah korban lagi. Bagi kita semua, sekiranya fakta buram ini akan menggugah eksistensi diri kita untuk berusaha dan berbuat hal baik dan dak boleh jatu pada lubang yang sama karena sikap tak terpujih ini masih dapat dibendung dan bukanlah sebuah kepas an. Selain itu juga kita semua berharap dan bahkan keharusan untuk terus mendesak dan mendukung proses hukum oleh para penegak hukum terhadap pelaku harus diselesaikan sampai tuntas menurut aturan hukum yang berlaku. Dan semoga dengan dihukumnya kedua pelaku kejahatan seks ini, dapat membuka ha dan pikiran kita semua bahwa pengalaman yang buruk dapat menantang hakikat kita sebagai makhluk sosial untuk berusaha berbuat hal yang baik demi kehidupan yang humanis. Aku berpikir maka aku ada, atau aku ada karena aku berpikir. Jika se ap kita terus berpikir yang jahat, maka kita akan ada sebagai yang jahat dan tindakan kita yang jahat berawal dari kita berpikir, begitupun sebaliknya. Di akhir tulisan ini, kiranya kata-kata motivasi Johann dapat menginspirasi setiap kita dalam memaknai dan menjalankan hidup kita dengan penuh tanggung jawab baik di lingkungan keluarga, sekolah dan dimana saja kita berada. Dan manusia sebagai perpaduan antara makhluk material dan makhluk spiritual haruslah tetap menjaga keseimbanganya, karena manusia sebagai dinamika selalu mengak visasikan dirinya bersama yang lain. Kita dak bisa hanya merasa simpa dengan meratapi fakta buram itu, tapi marilah kita bersikap empa terhadap korban. Berempa lah dari hal-hal kecil, seper yang telah di lakukan oleh anakanak SMA Katolik Regina Pacis yakni membedah kasus, mengunjungi dan memberi sejauh bisa kepada korban. “Tanamkan pikiran, tuailah tindakan. Tanamkan tindakan, tuailah kebiasaan. Tanamkan kebiasaan, tuailah tujuan hidupmuâ€?***

DAHAGA MUSIM HUJAN ....................................................................................................................................................... sambungan dari hal 1 dah tua itu juga dipaksa bekerja menimba air dari sumbernya, Padahal ibarat kakek tua, dia sudah tak berdaya. Jaringan ikut berkontribusi dalam krisis air di Bajawa karena kebocoran terjadi di banyak titik. Disaat jaringan tua mesti diregenerasi justru dibelenggu anggaran terbatas. Akhirnya yang dilakukan adalah tambal sulam. Tetapi ibarat kain baru ditambalkan pada kain yang tua, maka yang satu akan mencabik yang lain. Demikian juga pipa baru disambungkan dengan pipa tua semuanya jadi keropos. Layanan air bersih juga diperparah dengan kinerja

perusahaan daerah itu. Tidak heran jika Pimpinan DPRD Ngada Selly Raga pun minta agar perusahaan PDAM itu direformasi. Reformasi manajemen SDM, manajemen keuangan dan peningkatan kinerja internal. Kondisi itu diakui oleh Direktur PDAM Paskalis Losa. Sejak dipercaya dia justru mengalami masalah internal dari soal perusahaan dililit hutang, masalah sumber daya dan kondisi kantor yang diibaratnya bagai pondok. Tidak heran jika perusahaan ini dikabarkan merugi melulu. Utang menumpuk. Berbagai masalah memang melilit perusahaan ini. Tantan-

gan itu baik dari luar maupun di internal perusahaan. Rasionalisasi karyawan pun terpaksa dilakukan beberapa waktu lalu. Namun belakangan manajemen terus berbenah termasuk memberi tunjangan berbasis kinerja. Sehingga di tengah persoalan yang membelenggu layanan air bersih kepada masyarakat tidak terganggu. Rasionalisasi memang disorot dari eksternal perusahaan, karena hanya menyasar karyawan level bawah. Itu sebabnya, suara-suara dari luar pun berhembus kencang agar rasionalisasi juga menyasar di level atas diantaranya

para direktur. Jika terlalu gemuk dan tidak efektif untuk perusahaan perlu dirasionalisasi. Sehingga perusahaan tidak bertambah berat bebannya. Ini persoalan yang melilit perusahaan milik daerah itu. Apapun masalah yang dihadapi masyarakat tidak mau tau, karena memang itu hak mereka untuk mendapat layanan terbaik setelah melakukan kewajiban membayar. Krisis air di Bajawa tergolong buruk memasuki 2015/2016. Bahkan hingga Januari dan Februari 2016. Suara warga kota terus mengeluh karena di berbagai titik

seret pasokan air. Bagi warga yang mampu dapat diantisipasi dengan membeli air menggunakan tengki. Tetapi bagi warga yang hidup pasapasan hanya berpasrah. Masih untung Bajawa ini kota dingin dan sejuk sehingga sehari mandi sekali pun tidak jadi soal. Namun kebutuhan lainnya tidak bisa ditolerir seperti MCK. Jika puncak musim hujan alami krisis terburuk, bagaimana musim kemarau tiba nanti? Krisis ini seperti menyambut pemerintahan baru Marianus Sae/Paulus Soliwoa yang baru dilantik untuk masa jabatan 2016 – 2021. Rakyat Ngada

sedang menunggu gebrakan pemimpin baru yang menang mudlak dengan 68 persen pada pemilu lalu untuk berbuat sesuatu. Tiga program unggulan masing-masing – wae gibho gabho, zala siro saro dan dara rilo ralo – menjadi harapan terakhir untuk mengtasi masalah air bersih, masalah isfrastruktur jalan dan masalah listrik desa. Dalam konteks Bajawa yang selalu dibelenggu persoalan air bersih, program wae gibho gabho sangat ditunggu-tunggu. Hari wae gibho gabho itu tiba, rakyat bisa menarik nafas kelegaan.****

Terbit perdana: 1 Agustus 2013. Penerbit: Yayasan Insan Media Mandiri, terdaftar di PN: No.W26.U11/112/KU.04.2/ XI/2011; Diterbitkan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) ; Dewan Redaksi: Emanuel Djomba, Mertin Lusi; Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Emanuel Djomba; Redaktur Tamu: Wigbertus Ceme; Reporter: Mertin Lusi, Siprianus Intan; Pemasaran/Distribusi: Erson Harry; Keuangan: Mertin Lusi; Disain GraďŹ s: Gus Ryan; Alamat: Jalan T.W Mengeruda, Lekosoro – Bajawa. Email: emandjomba@gmail.com.


PENGANTAR REDAKSI: SMAN 1 Soa, menggelar kegiatan pela han jurnalis k belum lama ini. Ini menjadi terobosan dalam menambah khazanah bagi siswa dalam mengembangkan minat, bakat serta pengembangan karakter di sekolah itu. Pela han ini juga menjadi salah satu terobosan dalam meningkatkan minat menulis dan membaca siswa. Sehubungan dengan itu, KMS edisi 38 menurunkan laporan pekan jurnalis k yang diramu dalam bentuk karya jurnalis k dengan tema-tema berbeda. Berikut laporan para siswa dari kegiatan pela han jurnalis k selama empat hari awal Februari lalu.

Komentar Siswa

KMS untuk Siswa Cerdas - Bermartabat

Tentang Pelatihan Jurnalistik

Helviana Wela: SAYA bangga bisa ikut kegiatan pelatihan jurnalistik yang baru digelar pertama kali di SMAN 1 Soa. Bagi saya ini kegiatan langka dan bersejarah dalam hidup saya. Saya bisa mengikuti proses pelatihan yang menyenangkan, dan di akhir kegiatan maunya ikut lagi. Selama ini saya selalu bingung dengan cita-cita, tetapi setelah mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik ini saya terdorong untuk menjadi seorang jurnalis. Saya harap media CERMAT terus mengembangkan kegiatan ini sehingga bisa mendukung siswa yang punya cita-cita menjadi jurnalis. Dengan dukungan CERMAT yang konsisten dengan program KMS mudahmudahan cita-cita saya dapat tercapai.***

Maria Fransiska Nio: SAYA senang dan bangga mengikuti kegiatan ini. Banyak hal baru yang saya dapat melalui proses empat hari. Para instruktur dari KMS Media CERMAT juga setia mendampingi para siswa dalam berproses. Saya berharap kegiatan ini rutin dilaksanakan di SMAN 1 Soa karena memberi manfaat sangat banyak bagi siswa baik dalam mengembangkan kretivitas maupun menambah wawasan dan meningkatkan minat baca generasi muda.***

Selviana Alfrida Dhenge Ngai: SAYA senang sekali bisa mengikuti pelatihan jurnalistik. Melalui pelatihan ini saya mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya duga. Dalam pelatihan ini saya belajar publick speaking, ilmu jurnalistik secara umum, bagaimana melakukan reportase, belajar teknik menulis berita, belajar teknik membaca berita yang baik, menulisfeature dan teknik menulis artikel/opini yang sederhana. Kami juga diajak melakukan road show ke lapangan secara berkelompok untuk meliput berbagai kegiatan. Dan puncaknya adalah kompetisi dan debat mading yang memberi pengalaman baru. Saya bangga dan senang bisa mendapat kesempatan mengikuti kegiatan pelatihan. Meski sempat bingung pada awalnya, namun setelah pendampingan ternyata bisa enjoy ikuti proses. Saya berharap pelatihan ini bisa menjadi agenda rutin di Smanso.***

Charles: BANYAK hal yang bisa saya dapatkan dalam pelatihan jurnalistik, baik dari ilmunya maupun tips menulis yang baik. Misalnya dalam menulis, selama ini saya menulis asal-asalan dan tidak tahu teknik menulis yang baik. Setelah ikut pelatihan baru saya mengerti, ternyata menulis itu tidak asal. Setelah tau cara menulis yang bagus, baca tulisan juga enak.***

Eggy: KEGIATAN pelatihan jurnalistik ini sangat menyenangkan. Jurnalisme menambah wawasan saya. Melalui pelatihan ini saya jadi tahu proses kerja jurnalisme yang memberi manfaat dalam mengembangkan minat dan bakat, serta mengembangkan kreativitas.***

Yordanius Adong: KEGIATAN pelatihan jurnalistik memberi manfaat bagi saya dan teman-teman di SMAN 1 Soa. Melalui jurnalistik menambah wawasan, melatih berpikir kritis dan menulis serta berbicara secara teratur. Setelah kegiatan ini, saya akan melanjutkan dengan proses kreativitas melalui wadah mading sekolah.*** vitas me

Memperkenalkan teknik fotografi pada Pelatihan jurnalistik di SMAN 1 Soa

Para peserta pelatihan jurnalistik SMAN 1 Soa

Jurnalistik Jadi Kegiatan Rutin di SMAN 1 Soa Awal Februari lalu, SMAN 1 Soa untuk pertama kalinya menggelar pelatihan jurnalistik bagi siswanya. Pelatihan yang digelar atas kerja sama dengan Koran Masuk Sekolah (KMS) Media CERMAT itu mendapat apresiasi Kepala SMAN 1 Soa, Drs Watu Markus dan jajaran guru di sekolah itu.

SOA – Pela han jurnalis k bagi siswa yang berlangsung selama empat hari itu melibatkan sekitar 40 siswa utusan dari sejumlah kelas. Selama pela han para peserta diberi ps menulis secara prak s. Mereka juga mendapat pemahaman tentang kerja-kerja media (pers) melalui berbagai ak vitas mulai dari persiapan, kegiatan reportase, wawancara, meramu tulisan. Kegiatan pela han ini diakhiri dengan gelar kompe si dan debat mading sebagai kiat untuk merangsang krea vitas dan menajamkan daya pikir dan apresiasi siswa terhadap berbagai karya jurnalistik yang dihasilkan selama pela han. Di sela-sela kegiatan Kepala SMAN 1 Soa, Drs. Watu Markus sempat meninjau kegiatan pelatihan itu. Dia memberi apresiasi atas proses kreativitaas siswa yang dipicu oleh pela han itu. Terkait dengan itu, Watu Markus kepada Media CERMAT mengatakan pela han ini memberi manfaat dan dampak bagi siswa. Karena itu, dia bersama jajaran guru di sekolah itu siap menjadikan Jurnalis k sebagai kegiatan ru n di sekolah itu. Dikatakan Watu Markus yang ke ka mahasiswa sudah ak f terjun ke dunia media, jurnalis k memberi pengaruh besar terhadap perkembangan siswa. Menurut dia, banyak kegiatan ekstra yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan krea vitas siswa, salah satunya adalah jurnalisme. “Jadi dengan kegiatan ini akan menambah khazanah bagi siswa dalam mengembangkan bakat dan kemampuan, di samping kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ada. Jadi ini khazanah baru bagi sekolah,” katanya. Menurut Watu Markus, melalui kegiatan ini siswa dila h berpikir kri s, krea f dan mandiri. Menulis dapat membantu siswa dalam merumuskan gagasan secara sistema s dan berpikir kri s. Dewasa ini banyak orang bicara kacau, itu karena proses berpikirnya kacau. Kalau berpikir kacau sudah tentu bicara dan menulis pun kacau. Bagaimana siswa dila h untuk berpikir secara teratur dan sistema s? Jawabannya ada dalam ilmu dan kerja-kerja prak s jurnalis k.

Proses kreativitas mading Manfaat lain, kata Watu Markus, kerja jurnalis k yang teroganisir juga mela h siswa dalam mengorganisir kegiatan dan dirinya, memperluas wawasan dan pengetahuan, mela h siswa dalam melakukan riset, mewadahi minat dan bakat siswa, mengembangkan kemampuan menulis dan lebih dari itu, kegiatan jurnalis k mendorong siswa dalam meningkatkan minat baca yang dewasa ini sangat mempriha nkan. Pela han jurnalis k yang juga dikembangkan berbasis mading itu juga menjadi momentum bagi siswa untuk menghidupkan kembali mading di sekolah itu. Melalui mading, prinsip kerja jurnalisme dipertajam dan meransang siswa dalam mengembangkan kreativitas, meningkatkan mint baca, mengembangkan kemampuan berpikir kri s dan anali s, dan menjadi wahana bagi siswa untuk belajar berorganisasi. Jadi mading di sekolah menjadi pusat pengembangan krea vitas, intelektualitas, dan membentuk karakter unggul. Salah seorang peserta, Mirah beberapa

pekan kemudian mengatakan dari kegiatan pelatihan itu mendorong para siswa untuk menghidupkan mading sekolah. Mirah sendiri mengaku kegiatan pela han jurnalisk yang baru pertama digelar di sekolah itu banyak memberi manfaat bagi siswa dalam mengembangkan krea vitas. Bagi Mirah, kegiatan jurnalis k menambah khazanah kegiatan pengembangan minat, bakat dan pengembangan karakter bagi siswa di sekolahnya. “Sekarang kami sudah tau bagaimana menulis yang baik setelah ikut pela han jurnalis k. Ini pengalaman pertama dan memperkaya para siswa di sekolah kami,” kata Mirah melalui media sosialnya kepada CERMAT. Pelatihan itu didampingi para instruktur dari Media CERMAT, Emanuel Djomba, Mer n Lusi dan Merlyn Iju Lalu dari RSPD Ngada. (ch)***

Pasar Soa Terkesan Jorok (Liputan wartawan sekolah SMAN 1 Soa di Pasar Soa) ini pemerintah lingkup kecamatan Soa melaksanakan kegiatan Jumat bersih. SOA – Pasar Soa dan Dalam agendanya, lingkungan sekitar terlike ka pasar Soa diserahhat kumuh dan tidak terkan secara resmi, maka awat. Sampah berserakan upaya untuk menciptadi mana-mana. Hingga kini kan pasar yang bersih pasar Soa belum diserahkan dan nyaman akan terpengelolaannya kepada laksana. Dirinya merenPemerintah Kecamatan Soa. canakan pengumpulan Akibatnya, tanggung jawab pengelolaan pasar ini belum Para wartawan sekolah dari SMAN para pedagang untuk 1 Soa saat melakukan reportase di memas kan siapa yang jelas. pasar Soa serangkaian pelatihan akan bertanggung jawab Kurang pedulinya jurnalistik di sekolah itu atas kebersihan pasar. pemerintah maupun para pedagang akan fasilitas menjadi salah satu Selain itu, diadakan pembagian hari bersih faktor kumuhnya lingkungan pasar Soa. di se ap instansi dan sekolah. “Entah pedaKebersihan dan kenyamanan pasar Soa gang, pemerintah dan lembaga pendidikan,” belum diperhatikan secara baik. Banyak katanya. Para pedagang sangat mengharapkan lontaran pedas dari warga dan para pedagang. Ternyata pasar Soa merupakan salah kepedulian pemerintah agar bisa mengadasatu pasar tradisional di Kabupaten Ngada kan fasilitas kebersihan dan menyediakan yang belum ada petugas kebersihan. Sebab tempat yang layak, seperti menyediakn belum ada penyerahan langsung dari Pemda tong sampah, gedung pasar yang bagus, dan kepada Pemerintah Kecamatan Soa. Hal tenaga kebersihan. Faktor lain penyebab joroknya pasar ini terungkap ketika sejumlah wartawan sekolah SMAN 1 Soa melakukan reportase Soa adalah ulah para pedagang yang sering dalam pekan jurnalis k di Soa baru-baru membuang sampah dan limbah di sembaini. Pada kesempatan itu wartawan sekolah rang tempat. “Saya merasa dak nyaman melakukan konfirmasi dengan Camat Soa, berbelanja di pasar Soa karena melihat pasar yang dak teratur dan sampah berLeonarsus Tambu. Menurut Leonardus Tambu, kegiatan serakan di mana mana” ujar Jhon seorang pembersihan pasar belum ditetapkan. pembeli yang sempat diwawancarai wartaSebab belum ada penyerahan langsung wan sekolah dari SMAN 1 Soa baru-baru dari Pemda Ngada. Meski begitu, selama ini.***

Oleh: Fransiska Galeng XI - IPA I


6 UTAMA

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Ny. Diniarti Kristiningrum

Green House Bukan untuk Pamer (Liputan wartawan sekolah SMAN 1 Soa tentang kegiatan go green)

Nama: Lusina Herda L. Behbhe SMAN 1 Soa ADA ungkapan, “Tak kenal maka tak sayang.� Begitu juga dengan sosok yang satu ini. Dari wajah dan tuturnya sangat kental dengan dialeg Jawa. Punya hobi menanam tanaman pekarangan seperti berbagai jenis bunga dan tanaman yang bernilai ekonomis. Dia adalah Diniarti Kristiningrum. Kelahiran Surabaya, 6 Desember 1977 ini sehari-hari berprofesi sebagai PNS, namun kegemaran akan tanammenanam juga lekat pada istri Yohanes Vianey Wonga ini. Menanam dan membuat lingkungan rumah bernuansa hijau memang lekat dengan sosok Dini, begitu ibu empat anak ini biasa disapa. Hoby Dini seperti melengkapi hoby suaminya Yohanes Vianey Wonga. Keduanya melakukan kegiatan menanam melalui program green house di rumahnya. Di tengah kesibukan

tugas utama sebagai PNS pasangan suami istri (Pasutri) ini memanfaatkan waktu luang di luar jam kantor. Lingkungan rumah terlihat hijau, dan asri. Ditanami berbagai jenis tanaman baik tanaman hias, buah, maupun sayuran. Bagi keduanya cocok bukan soal mencari keserasian dari keberbedaan, melainkan rekeserasian dalam mengaprean siasikan hoby dan kegemaran dan bisa mwujudkannya. Buktinya, kediaman pasutri ini disulap menjadi hijau, sejuk, asri dan menyegarkan yang dikemas dalam sebuah konsep Green House. Ada kolam ikan. Perkarangan rumah yang luas ditanam berbagai jenis tanaman seperti pisang, pinang hias, mangga, nangka, sirsak n dan sayur-sayuran, dan ubi-ubian. Salah satu yang n menonjol adalah kegiatan a keduanya membudidaya g tanaman buah Naga yang asudah sudah dikelola kirakira empat tahun lebih. Menurut Ny. Dini, tu-

PENGANTAR REDAKSI SMAN 1 Soa, menggelar kegiatan pelatihan jurnalistik belum lama ini. Sehubungan dengan itu, KMS edisi 38 menurunkan laporan pekan jurnalistik yang diramu dalam bentuk karya jurnalistik dengan tema-tema berbeda. Berikut laporan para siswa dari kegiatan pelatihan jurnalistik selama empat hari awal Februari lalu.

juan menanam buah Naga bukan untuk bisnis, melainkan sekedar mengembangkan hoby bercocok tanam. Ternyata semua hobi tidak sekedar hanya sebatas potensi tetapi harus dinyatakan dalam perbuatan. Tak diduga, dari sekedar hobi telah menghasilkan uang. Sekali panen dalam satu musim, selain untuk dikonsumsi malah harus melayani

Ny. Dini menerima wartawan sekolah dari SMAN 1 Soa saat pekan pelatihan jurnalistik

Ny. Dini saat diwawancarai soal konsep green house di rumahnya permintaan pembeli. “Kalau ada orang datang beli ya kami jual,� kata Ny. Dini. Ibu dari empat orang anak ini, bercerita bahwa melakukan kegiatan Green House bukan untuk pamer. Tapi lahir dari kesadaran bahwa penghijauan bukan dilakukan tunggu moment yang datang dari luar, melainkan harus muncul dari kesadaran.

Menurut dia, penghijauan atau green house bertujuan agar rumah bebas dari polusi, sehingga anggota keluarga boleh menghirup udara segar dan halaman rumah terlihat hijau dan segar. Ini tentu menyehatkan dan sekaligus mendukung program menyelamatkan bumi (go green). Pengertian Green House yang diterapkan bukan asal

tanam. Tapi tanam yang punya daya seni sehingga sekali dipandang terkandung keindahan. Ibarat sekali pandang tak mau buat mata terpejam. Dikatakan Ny. Dini, untuk sampai pada tahap tersebut harus menggunakan tips-tips antara lain, perawatan, tidak membuang sampah sembarang tempat, penggunaan air tepat sasar, tidak merokok, terus melakukan daur ulang sampah dan pengomposan/ pembuatan pupuk organik. Manfaat lain dari penghijuan perkarangan rumah, kata Ny. Dini adalah untuk mendukung program go green,

sehingga bumi tetap hijau dan lestasi dan menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Terkait dengan itu, Ny. Dini mengatakan, per hari satu pohon menghasilkan 1,5 kg oksigen. Sementara manusia membutuhkan oksigen setiap hari sebanyak 0,5 kg perorang. Itu artinya, menanam satu pohon sama dengan menghidupi tiga tiga, karena tanpa oksigen manusia mati. Sebaliknya menebang satu pohon sama dengan menghilangkan tiga nyawa. “Untuk penghijauan, saya sarankan minimal satu orang tanam satu pohon. Rajin-rajinlah menanam�, pintanya.***

(Liputan wartawan sekolah SMAN 1 Soa tentang konsep go green)

Tebang Satu Pohon, Menghilangkan Tiga Nyawa Oleh: Anjelina Meno X1 IPS 4 SOA – Manusia adalah makhluk yang berinteraksi dengan lingkungan dan alam. Apabila keharmonisan lingkungan terganggu, manusia sendiri yang menerima dampak buruknya. Jika manusia menjadi penyebab rusaknya lingkungan,

Pada kesempatan itu, Ny. Dini mengajak para wartawan sekolah melihat dari dekat pekarangan rumah yang cukup luas itu yang dihiasi berbagai tanaman hias, buah-buahan dan sayuran. Menurut Ny. Dini, upaya menyelamatkan bumi harus dimulai dari rumah dengan menanam berbagai jenis pohon dan tanaman lainnya. Dikatakan Ny. Dini, ternyata tanpa disadari,

Para peserta pelatihan jurnalistik di gerbang SMAN 1 Soa yang rindang dan hijau maka manusia juga yang akan menerima akibat. Saat ini, banyak ditemukan Salah satu sudut hutan-hutan gundul, sekolah SMAN 1 Soa – bernuansa go green habis ditebang demi memuaskan hawa nafsu. satu pohon dapat mengDalam kegiatan pekan hasilkan 1,5 kg oksigen jurnalistik belum lama ini, per hari. Sementara manuwartawan sekolah SMAN sia membutuhkan oksikan 1 Soa melakukan reportase 0,5 kg perhari. Berarti satu program green house yang pohon pohon dapat medikembangkan oleh nyumbang oksigen untuk keluarga Yohanes Vianey menghidupi tiga orang. Wonga. Saat tim wartawan Sebaliknya menebang satu sekolah menyambangi pohon sama artinya memrumah keluarga Viany yang bunuh tiga orang. sejuk dan asri Viany sedang Menggalang gerabertugas sebagai PNS di Di- kan menanam pohon, nas Kesehatan. Wartawan sebenarnya tidak perlu sekolah hanya diterima Ny. menanam pohon dalam Dini Viany Wonga. skala besar, tetapi dimulai

dari skala kecil yakni dari lingkungan keluarga atau rumah tangga dengan menanam pohon secara berjenjang dari hari ke hari di sekitar rumahnya. Hal ini terbukti telah dilakukan oleh keluarga Yohanes Vianey Wonga melalui program green house di lingkungan rumahnya yang terletak di Waepana, Ibu Kota Kecamatan Soa. Berbagai jenis tanaman yang ditanam di sekitar rumahnya antara lain, mangga, nangka, pinang hias, buah naga, sayur-sayuran serta berbagai jenis bunga yang dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup keluarga dan warga sekitar. Tujuan green house adalah supaya lingkungan rumah asri, dapat menghirup udara segar serta meningkatkan kesehatan keluarga. Selain itu, dapat memotivasi warga lain agar tergerak hati untuk menanam pohon pula. Solusinya adalah menanan pohon minimal satu orang satu pohon, tidak merokok, menghemat pemakaian listrik dan air, melakukan pengomposan atau membuat pupuk organik di rumah sendiri, dan mendaur ulang sampah. Halhal ini merupakan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan hemat energy.Dengan melakukan go green berarti bumi perlu dilestarikan.***

Melihat dari dekat kegiatan Yayasan Puge Figo

Di halaman Yayasan Puge Figo

(Liputan wartawan sekolah SMAN 1 Soa tentang kegiatan go green oleh Yayasan Puge Figo)

Oleh: Maria F. Oje KURUBHOKO – Sebanyak enam wartawan sekolah SMAN 1 Soa mengunjungi Yayasan Puge Figo di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Ngada, Selasa, (02/02/2012). Kunjungan enam siswa itu untuk kegiatan reportase serangkaian pekan jurnalistik di sekolah itu. Dalam kunjungan tersebut, para wartawan sekolah mewawancarai staf Yayasan Puge Figo, Lodovikus Ditgons. Ketika menerima para wartawan sekolah, Lodofikus Ditgons menjelaskan Para wartawan sekolah SMAN 1 Soa mewawancarai pengurus bahwa Yayasan Puge Figo merupakan Yayasan Puge Figo terkait dengan gerakan Go Green salah satu yayasan yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup melalui usaha pengembangan cendana dan Forest. Dalam misinya, Yayasan ini bekerjasama tumbuhan lokal yang bernilai ekonomi tingi. dengan Yayasan Coure de Foret di Perancis dan Dia mengatakan, Yayasan yang berdiri Caritas Keuskupan Agung Ende. pada 11 Juni 2014 itu, memiliki visi dan Yayasan yang lebih bersifat pemberdayaan ini misi dalam upaya menyelamatkan bumi dari berperan aktif dalam melakukan reboisasi, menpengerusakan hutan dan menghutankan gumpulkan semua jenis tumbuhan yang bernilai kembali lahan kosong di Kabupaten Ngada. ekonomi sekaligus melakukan penyulingan tumIni juga bagian dari misi menjaga Indonesia buhan yang menghasilkan minyak untuk bahan sebagai salah satu Jantung Dunia atau Coure de aromaterapi, kosmetik dan parfum.***

Penulis Terbaik Pelatihan Jurnalistik SMAN 1 Soa 31 Januari 2016 – 3 Februari 2016 No 1 2

Nama Yulita Rosamys cka Djaja Anjelina Meno

Opini Opini

Kategori Tulisan

3

Fransiska Galeng

Berita

4 5

Theresia Bebhe Meo Lucina Helda Lily Bebhe

Berita Feature

6

Helviana Wela

Feature

7 8 9 10 11 12

Maria Kerenina Marta Toa Marianus Geru Kelompok Mading ‘Kobra’ Kelompok Mading ‘Jaguar’ Kelompk Mading Zebra Kelompok Mading Singa

Puisi Puisi Karikatur Karikatur Kompe si/Debat Mading Kompe si/Debat Mading

Judul Polisi Sahabat Masyarakat Menanam Satu Pohon Menghidupkan Tiga Orang Pasar Kotor, Pembeli Enggan Berbelanja Go Green Dimulai dari Rumah Ny. Dini, Pelopor Go Gereen dari Rumah Alam Menangis Ke ka Tak Ada yang Mengurusnya Hijaukan Alamku Permai Oh‌Hutanku Kesehatan Berawal dari Hal Kecil Polisi Sahabat Masyarakat

Predikat Terbaik I Terbaik II Terbaik I Terbaik II Terbaik I Terbaik II Terbaik I Terbaik II Terbaik I Terbaik II Terbaik I Terbaik II


UTAMA 7

Menjadi Seorang Pemimpin Berawal dari Memimpin Diri Sendiri Oleh: Gabriel Possenti Pas (Ketua OSIS SMA N 1 Riung Barat 2015/2016) SSEORANG pensiunan guru per pernah bercerita. Kala itu, ia m mengajar di salah satu sekkolah dasar di Jakarta. Ia bertanya kepada para murid mengenai cita-cita mereka kelak. Salah seorang siswa berkulit hitam dengan penuh semangat menjawab, “Saya ingin menjadi seo orang presiden, Pak!� Sang gguru hanya senyum-senyum keh keheranan dan dak percaya. 40 ta tahun kemudian, anak itu berhasi berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi seorang presiden. Ternyata anak tersebut adalah Barack Obama, Presiden Amerika Serikat saat ini. Menjadi seorang pemimpin adalah impian banyak orang. Seorang anak pun mempunyai impian yang begitu nggi. Untuk menjadi seorang pemimpin, tentu bukanlah hal yang mudah. Kita harus pandai memanajemen waktu dan pekerjaan kita dengan baik dan menjalin hubungan yang harmonis dengan rekan dan lingkungan sekitar. Satu hal yang menjadi kesuksesan seorang pemimpin adalah kemampuan dalam memimpin dirinya sendiri. Apabila kita dak mampu memimpin diri sendiri, tentu kita dak akan bisa memimpin orang lain. Seseorang yang dak mampu memimpin dirinya sendiri, sama dengan seorang budak yang hanya bisa dipimpin dan diperintah oleh orang lain. Di zaman yang serba modern ini, masih pantaskah kita disebut budak? Apabila kita mampu memimpin diri sendiri, berar kita telah menjadi pemimpin bagi banyak orang. Memimpin berar memberikan teladan yang baik kepada banyak orang. Seorang pemimpin dak harus berada di depan, tetapi dengan memberikan pengaruh posi f yang besar khususnya kepada orang-orang sekitar itu sebenarnya sudah cukup. Memimpin diri sendiri bukanlah menjadi budak bagi diri sendiri. Ar nya, kita dak merasa terbebani dengan apa yang kita lakukan, termasuk dengan seabrek ak vitas pekerjaan yang harus kita selesaikan. Memimpin diri sendiri berar menjadi raja dan ratu atas diri sendiri, tetapi dengan dak menguasai suara ha . Orang sukses, adalah orang yang mampu mengalahkan egonya diri sendiri.***

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Sampah Berserakan di Obyek Wisata Air Panas Mengeruda,

Masih Berani Mandi? Oleh: Helviana Wela Kelas XI IPS 2 Feature Terbaik II OBYEK wisata Air panas Mengeruda, Soa, merupakan salah satu tempat pemandian alami yang kini tak asing lagi bagi masyarakat lokal maupun wisatawan nusantara dan mancanegara.

dan hangat atau langsung ke kolam panas yang baru saja disentuh ujung kaki bulu kuduk langsung kaku. Apalagi di sebuah kolam alami para pengunjung akan merasakan sensasi tersendiri saat bersentuhan langsung dengan buncahan air panas. Mandi di kolam air panas mengeruda bukan hanya

Salah satu unit villa di obyek wisata Air Panas Mengeruda jadi perhatian wartawan sekolah SMAN 1 Soa. Penginapan yang sudah reyot membuat kawasan ini terkesan kumuh Ribuan wisatawan ramai berkunjung dan berendam ria di pemandiaan yang memberi kehangatan ini. Masuk ke lokasi, para pengunjung boleh langsung memilih kolam mandi entah langsung ke kolam air tawar

sekedar mengguyur tubuh dan menikmati kehangatannya. Tetapi lebih dari itu diyakini memiliki kasiat dan dapat menyembuhkan sejumlah penyakit dan memberi pengalaman tersendiri

bagi pengunjung. Namun pengalaman apa yang akan dibawa pulang para pengunjung h berserakan manakala sampah dan mengirim aroma busuk menyengat gidung para pengunjung? Sampah memang menjadi pemandangan yang amat mencolok ketika mengunjungi obyek wisata yang sebenarnya menjadi tujuan wisata favorit itu. Berdasarkan pantauan para wartawan sekolah SMAN 1 Soa yang melakukan reportase di obyek wisata itu serangkaian pekan jurnalistik baru-baru ini, menunjukkan keadaan lingkungan pemandian air panas sangat jorok. Banyak ditemukan sampah palstik, daun-daun kering, potongan kayu tak beraturan, dan sampah kertas. Ini mengakibatkan keadaan air menjadi keruh, tumpukan kotoran yang terdapat dalam kolam mengakibatkan kolam menjadi dangkal, khususnya di kolam terakhir yang dibuat permanen. Apa mau dikata? Luas kompleks pemandian adalah lima hektar tentu tidak sebanding dengan tenaga empat

Wartawan sekolah SMAN 1 Soa di sumber Air Panas Mengeruda petugas kebersihan. Lagi-lagi bangunan tua yang sudah reot dimakan rayap, sambil menanti kapan bangunan tua itu rubuh kian menambah kesan jorok dan kumuh di kawasan wisata yang letaknya dekat bandara Soa itu. Terhadap situasi seperti ini, apa tanggung jawab pemda Ngada? Lagi-lagi pemerintah menjadi sorotan publik. Dinas pariwisata Ngada jadi bulanbulanan sorotan masyarakat. Ya bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat harus memiliki rasa tanggungjawab bersama. Secuil saran dari para wartawan sekolah ketika melakukan reportase, area pemandian ini perlu diperbaiki lagi baik dari segi kualitas maupun kebersihan. Pemerintah bisa merencanakan perbaikan gedung, pihak keamanan juga bisa menjamin keamanan, perhatian juga pada kebersihan, setiap pengunjung harus ikut menjaga kebersihan. Pemandian air panas Soa bisa saja menangis dalam bentuk buncahan keruh, akibat ulah manusia yang tak tahu pentingnya kebersihan. “Aku sudah kotor kenapa manusia-manusia itu masih mandi?�***

Polisi Sahabat Masyarakat Oleh: Maria Rosamysticka Jaja Kelas XB

Wartawan sekolah SMAN 1 Soa mewawancarai Kepala Puskesmas Soa, Ety Kromen tentang pelayanan kesehatan masyarakat di kecamatan Soa.

Oh hutan‌ engkaulah jantung kehidupan bumi, tanpa engkau bumi botak tak berdaun, tanpa engkau bumi tiada arti. Engkau atap yang melindung bumi dari kepanasan. Oh hutan‌ engkau kini telah hancur musnah akibat keserakahan. Walaupun engkau selalu menjerit kesakitan, namun, semua tiada arti bagi manusia untuk menghancurkan engkau Oh hutan‌ seandainya manusia menjadi engkau, mereka pasti merasa sakit seperti engkau, namun semua itu tiada arti dalam pikiran manusia Oh hutan‌ Seandainya diriku adalah seorang pejabat, akan kumusnahkan orang yang membabat engkau namun diriku hanyalah seorang pelajar hanya mampu menanam sepohon di kompleks sekolah, hanya mampu memelihara engkaku hutanku. By. Marianus Geru SMAN 1 Soa

Alamku Yang Permai Hijau dan indah kampung halamanku, tempatku melepas penat. Hembusan angin yang menggoyang pepohonan, kini beeganti dengan asap yang menyesakan

POLISI dan masyarakat akan menjadi sahabat manakala keduanya tidak dipandang secara parsial. Kalau masih dilihat secara parsial, akan menimbulkan perbedaan pemahaman pada sinergisitas yang selama ini dijunjung tinggi, bahwa polisi adalah sahabat masyarakat. Untuk mewujudkan sinergisitas polmas (polisi masyarakat) maka terlebih dahulu memahami konsep polmas dalam kehidupan bermasyarakat. Bahwa polisi dalam tugasnya sebagai keamanan bertujuan mejaga keamanan masyarakat. Nah, untuk menangani semuanya, polmas membangun badan keamanan yang disebut BABIKANTIMAS (Bangkara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Tugas dari Babikantimas adalah memantau keamanan dan ketertiban desa. Apabila terjadi masalah di desa, maka akan ditangani oleh pihak kepolisian. Selain itu, polisi dapat bersosialisasi tentang keamanan, dan ketertiban yang harus dijaga di wilayah desa masing-masing. Ada juga fungsi lain dari Babikantimas yakni menyelesaikan masalah, sebelum masalah dilimpahkan ke Polsek. Tugas lainnya adalah memantau masyarakat mulai dari pertanian, pendidikan

serta semua kegiatan dalam keseharian hidup masyarakat. Polisi yang bertugas di desadesa sudah diprint tugasnya oleh Kapolsek dan setiap bulan wajib melaporkan situasi yang ada di desa sekaligus dapat dipertanggungjawabkan. Mendukung tugas kepolisian, diharapkan masyarakat harus menjaga kemanan dan

misalnya kasus kriminal yang akhir-akhir ini heboh seperti kasus pelecehan seksual oleh ayah terhadap anak kandung, Polisi tidak tinggal diam. Polisi bertanggungjawab menindaklanjuti dalam menyelesaikan kasus tersebut sesuai hukum yang berlaku. Dengan adanya polmas juga diajarkan pendidikan

Saat wawancara ketertiban mulai dari tingkat desa sampai dusun. Berbagai kasus, misalnya kasus pencurian atau kasus lainnya, segera melapor ke pihak kepolisian. Disinilah prinsip persahabatan dapat terjalin. Penting yang dilakukan polmas adalah agar semua masyarakat taat pada aturan yang ada. Polisi harus bisa mengantisipasi aturan atau mendeteksi keamanan dalam wilayah tersebut. Sepertinya dalam berbagai kasus, apakah peraturan hanya sebagai tameng simbolik? Tidak. Menurut saya, berbagai kasus yang terjadi sudah diselesaikan secara baik,

moral, dan pendidikan karakter. Kedua pendidikan ini diterapkan polmas agar dapat mengayomi dan mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya pengetahuan moral. Sebab, dalam konteks sekarang ini, krisis moral sedang melanda masyarakat khususnya di kecamatan Soa. Kalau pengetahuan moral kita yang baik didukung pengetahuan yang baik, maka keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya. Satu kutipan yang dituturkan oleh Aloysius Wio sebagai kepolisian di Soa bahwa “Jadilah polmas sebagai pengayom dari sebuah kesuksesan.�***

Oh alamku yang permai Janganlah kau murka Mereka hanyalah orang yang serakah harta, hingga tak bisa merasakan kesedihan Buatlah bunga dan buah kembali merekah, hilangkan asap yang menyesakan dada, semoga alam tetap lestari dan alam permai tetap kami menanti. By. Maria Karenina Marta Toa X-D Wartawan sekolah SMAN 1 Soa foto bersama aparat polisi di Polsek Soa usai wawancara tentang konsep Polmas


8 UTAMA

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Mengikis Habis Apatisme Melalui Pesta Demokrasi di Sekolah Oleh: Khoiri Yaningsih Guru SM3T Angkatan V LPTK UNY Penempatan SMA N 1 Riung Barat

O

RGANISASI Siswa Intra Sekolah yang lebih akrab dikenal dengan istilah OSIS, merupakan organisasi kesiswaan yang bersifat intra atau bergerak di kalangan/lingkungan sekolah sebagai wadah untuk membina dan mengembangkan potensi siswa yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa yang berkarakter sebagai kader penerus cita-cita perjuangan bangsa. Se ap siswa akan secara otoma s menjadi anggota OSIS di sekolah yang bersangkutan dan berakhirnya juga secara otoma s lah setelah tamat siswa dari sekolah tersebut. SIS Periode kepengurusan OSIS tu akan berlangsung selama satu tahun pelajaran yang bersangkutan. Pengurus OSIS pun akan bergan seiring dengan habisnya masa kepengurusan OSIS yang lama melalui berbagai macam metode pemilihan. Tahun ajaran 2015/2016 masuk semester genap ini, SMA erNegeri 1 Riung Barat untuk perkan tama kalinya menyelenggarakan SIS pemilihan umum (pemilu) OSIS sep secara langsung dengan konsep sebagaimana Pemilu Presiden sesungguhnya. Pemilihan Ketua OSIS sekolah di kecamatan Riung Barat itu diselenggarakan pada Jumat, (15/01/2016) Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan sejak dini tentang tata cara dan proses pemilihan suara dalam pemilu. Sebelum pelaksanaan pemilihan, keempat kandidat yang berasal dari kelas XI IPA-IPS diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi misinya selaku calon ketua OSIS kepada seluruh siswa. Penyampaian visi misi ini selayaknya pelaksanaan kampanye pada pemilu umumnya. Melalui penyampaian visi misi dari masing-masing kandidat, diharapkan siswa dapat menentukan calon pemimpin yang berkualitas yaitu yang mampu menyalurkan dan memenuhi aspirasi anggotanya, bukan hanya karena pengaruh dari teman atau

asal pilih saja. Dengan demikian, para pemilih akan mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memilih calon yang berkualitas dan pantas memimpin OSIS SMAN 1 Riung Barat selama satu periode ke depan, guna mewujudkan visi misi sekolah. Pencoblosan saat pemilihan Ketua OSIS di SMAN 1 Riung Barat

tar pemilih. Dengan prinsip “dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa� pemilih menerima surat suara yang masih dilipat dengan stempel SMA Negeri 1 Riung Barat dari petugas dan segera menuju bilik suara. Siswa memilih calon ketua OSIS sebagaimana yang tertera dalam surat suara dengan cara mencoblos menggunakan paku yang sudah disediakan oleh pania penyelenggara di dalam bilik. Setelah melakukan pencoblosan, pemilih melipat kembali surat suara seper semula dan memasukannya ke dalam kotak suara. Sebelum pemilih meninggalkan TPS, pemilih harus terlebih dahulu mencelupkan jarinya ke nta sebagai tanda bahwa sudah melakukan pencoblosan. Sah daknya surat suara pun ada ketentuanketent nya. Ketent Ketentuan

mencapai 94%. Penyelenggaraan pemilihan ketua OSIS di SMA Negeri 1 Riung Barat ini merupakan usaha sekolah untuk melakukan pendidikan poli k dan demokrasi kepada para siswa sedini mungkin untuk ak f berpar sipasi dalam se ap penyelenggaraan negara. Pendidikan politik merupakan faktor pen ng bagi terbentuknya sikap warga negara terhadap sistem yang sedang berjalan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Print bahwa negara-negara baru memerlukan sarana pendidikan yang memungkinkan generasi muda untuk mengetahui tentang pengetahuan, nilai-nilai, dan keahlian untuk melestarikan demokrasi. Dalam rangka melestarikan sistem

Bentuk surat suara tukan keputusan kolektif yang mengikat dan adanya par sipasi efek f, yaitu kesempatan yang sama bagi warga negara dalam proses pembuatan keputusan secara kolek f. Oleh karena itu, dalam rangka membentuk dan menciptakan generasi penerus sebagai warga negara yang baik, yaitu yang sadar akan hak dan kewajibannya, pendidikan polik harus dimulai sejak dini baik secara formal maupun nonformal untuk melestarikan demokrasi di Indonesia.

Kampanye salah satu kandidat Ketua OSIS

Selain itu, pemahaman mengenai pemilu sengaja ditanamkan kepada siswa untuk mengajarkan kepada mereka tentang prinsip pemilihan wakil rakyat yang dak ada paksaan. Sehingga, pemimpin yang mereka pilih adalah pemimpin yang sesuai dengan harapan mereka untuk mewakili aspirasi dan kepen ngannya. Sebelum pemilihan, petugas juga menyampaikan tata cara pemungutan suara sebagaimana yang dilakukan oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu. Tempat Pemungutan Suara (TPS), perlengkapan, dan logis k pemilihan disetting mirip dengan proses pemilu sesungguhnya. Para pemilih berada di halaman sekolah menunggu panggilan dari petugas. Setelah petugas (KPPS) memanggil pemilih, pemilih menuju TPS dan segera mengisi da ar hadir yang tercantum dalam daf-

Model bilik suara yang digunakan sama dengan ketentuan sah daknya surat suara dalam pemilu, dimana pemilih dapat mencoblos nomor urut, gambar/foto, maupun nama kandidat, sehingga para siswa sebagai pemilih dak asal coblos dalam menggunakan hak suaranya. Penghitungan suara dilakukan pada hari itu juga oleh petugas dengan disaksikan oleh para siswa dan guru-guru. Dari total pemilih 365, didapatkan hasil akhir suara sah 342, suara dak sah 7, dan pemilih golput 16 pemilih. Ar nya, ngkat par sipasi siswa di sekolah dalam pemilihan OSIS ini dapat dikatakan sangat tinggi, yaitu

demokrasi yang dianut oleh negara Indonesia, generasi penerus harus mempunyai pengetahuan yang nggi tentang poli k demokrasi Indonesia yang dapat ditempuh melalui pendidikan poli k. Good mendeskripsikan bahwa pendidikan poli k merupakan pengembangan kesadaran generasi terhadap berbagai problemaka kekuasaan dan kemampuan berpar sipasi dalam kehidupan poli k melalui berbagai sarana seper diskusi, ceramah dan berpar spasi dalam kegiatan poli k. Robert A. Dahl mengajukan lima kriteria demokrasi sebagai ide poli k, diantaranya yaitu persamaan hak pilih dalam menen-

Yordanius Adong Pimpin OSIS Smanso

Theresia Leda Mama Juara Umum yang Gemar Nonton OIC di RTV THERESIA Leda Mama adalah Siswa kelas XII IPA 1 berhasil meraih juara satu umum lingkup SMAN 1 Soa. Putri dari Daniel Mama ini meraih prestasi hanya berdasar prinsip ketekunan. Bagi Theresia tidak ada orang yang pintar alami. Ia malah bersangsi atas pernyataan itu. Bagi Thres, demikian ia akrab disapa prinsip belajar adalah seumur hidup. Tak ada dalam kamus hidupnya, tanpa belajar. Baginya hidup adalah belajar dan harus berlandaskan ketekunan. Belajar tanpa ketekunan adalah sia-sia. Anak bungsu dari empat bersaudara ini, meraih peringkat satu umum termotivasi oleh dukungan dari keluarga, terutama dukungan dari sang ayah, Daniel Mama. Ke-

pada Media CERMAT, Thres mengatakan, bapak dan ketiga saudara selalu mendukung kegiatan belajar dan kegiatan sekolahnya. Di rumah, Thres lebih banyak menggunakan waktu untuk belajar. Karena Thres tidak mau mengecewakan bapak dan ketiga saudaranya. “Sebagai anak, saya harus memberi kebanggaan pada mereka. Prestasi saya adalah juga kebanggaan mereka�, ungkapnya. Thres yang terkenang pada almarhum ibunya, dengan prestasi yang ia raih merasa bahwa keberhasilannya merupakan doa dan air mata ibu yang menitik dan bermuara dalam benak, menjadi spirit bagi Thres untuk belajar dengan tekun. Prestasi yang diraih Thres juga didukung oleh acara OIC (Olimpiade

Cerdas Indonesia) yang disiarkan oleh RTV. “Saya lebih suka nonton acara olimpiade, karena lebih menambah wawasan saya,� ungkapnya. Dalam acara OIC itu ternyata ada seorang Panelis yang diidolakan, namanya Mery Riana yang mempunyai riwayat pendidikan di Singapura, dan menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri, dan pulang ke Indonesia setelah Mery sukses. “Ya saya mau seperti Mery Riana, Panelis OIC, sosoknya sangat mempengaruhi saya,� ungkapnya. Selain dukungan dari keluarga, Thres juga berbangga pada para guru dan teman-teman lingkup SMAN 1 Soa yang telah mendukungnya dalam prosea belajar. Anak didik dari Siprianus Kadju, S.Pd ini memiliki cita-cita jadi dokter umum. “Thres, kau harus rajin, dan terus belajar,� pesan Pak Sipri sebagaimana dituturkan Thres, seraya mengajak teman-temannya untuk terus berprestasi.***

PETRUS REMA DAN KELUARGA

Proses pendidikan politik melaui par sipasi langsung dalam kegiatan politik di sekolah akan mencetak generasi penerus yang cerdas. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, maka sikap poli k yang ditunjukkan oleh dirinya pun akan semakin baik, yaitu berupa par sipasi yang nggi dalam se ap kegitan penyelenggaraan pemerintahan. Pendidikan politik dan demokrasi melalui pembelajaran ak f oleh siswa untuk berpar spasi dalam pemilihan umum ketua OSIS yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Riung Barat ini mengingat bahwa masyarakat di sekitar masih termasuk masyarakat yang sederhana karena secara geograďŹ s wilayah ini berada di dataran nggi dan termasuk kecamatan paling jauh dari pusat kota di Kabupaten Ngada. Dimana kesulitan-kesulitan yang ditemui di daerah ini tentu akan berpengaruh terhadap sikap seseorang, termasuk sikap poli knya. Lembaga Survey Indonesia

SISWA kelas XI IPA 2 kini etua OSIS menjabat sebagai Ketua yang baru SMAN 1 Soaa (SMANSO). Predikat ketua OSIS yang eh meladisandangnya diperoleh n dan lui proses penjaringan penyaringan. “Saya terpilih menjadi ketua OSIS an setelah penyaringan ncalon�, tuturnya menT jawab Media CERMAT suatu ketika. Yordanius terpilih karena terpenuhinya kriteria yang telah ditentukan. Ia selalu displin waktu, taat pada aturan sekolah, dan selalu setia mengikut kerja bakti dan takut alpa. Yordanius juga memiliki bakat menyanyi, bermain bola ini punya cita-cita menjadi penyanyi. Anak didik dari Yohanes Lodo, S.Pd juga punya misi kepemimpinan selama menjabat OSIS, yakni

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh

menjadika menjadikan SMANSO berpresta berprestasi dalam biroh dang rohani, jasmani dan tekn teknologi yang berkarak berkarakter, etika dan mora yang baik. moral Dalam wujud pro program, dirinya sia siap laksanakan pe pertandingan pe persahabatan antar kelas, kun kunjungan ke sekol kolah lain setiap k akhir semester, dan kegiatan ekologi di sekolah. Yordanius ditemu Media CERMAT akhir Januari lalu usai acara pelantikan pengurus OSIS periode 2016/2017. Kegiatan tersebut digelar di halaman sekolah yang langsung disaksikan oleh segenap komponen intra sekolah. ***

Asosiasi Wartawan Ngada (ASWAN)

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ

(LSI) mencatat pada pemilu 2014 angka golput di Indonesia mencapai 34,02% dimana dari tahun ke tahun angka ini terus meningkat. Artinya, masyarakat Indonesia masih banyak yang menikmati posisi sebagai seorang apa s atas kekecewaan terhadap pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan adanya pendidikan poli k bagi generasi penerus bangsa. Berdasarkan Teori Psikodinamik, pengalaman pribadi yang dialami seseorang akan menentukan orientasi poli k seseorang. Sedang b berdasar Teori Belajar Sosial, f faktor eksternal, yaitu lingkungan s sosial dimana seseorang hidup, b bergaul, bermasyarakat sangat m menentukan sikap poli k seseo orang. S mulus dari lingkungan s seperti keluarga, sekolah, dan pergaulan sangat menentukan sikap poli k seseorang. Berdasarkan Teori Psikodin namik dan Teori Belajar Sosial, d dapat disimpulkan bahwa siswa y yang kesehariannya mempunyai k kewajiban untuk menuntut ilmu d sekolah, sikap politik yang di d ditunjukkan akan bergantung d pengalaman dan stimulus dari d orang-orang dan lingkungan dari sekitar, khususnya di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, sekolah sebagai rumah kedua siswa harus banyak memberikan pengalaman pribadi yang dapat membentuk sikap poli k seseorang. Sekolah juga harus banyak memberikan s mulus untuk selalu ak f berpar sipasi dalam se ap kegiatan sekolah. Melalui pendidikan politik di sekolah, salah satunya melalui par sipasi dalam se ap kegiatan sekolah akan membentuk sikap poli k siswa sebagaimana cerminan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 yang selalu sadar akan hak dan kewajibannya. Tingginya ngkat golput dalam se ap penyelenggaraan pemilu di Indonesia pelan-pelan juga akan terkikis oleh kesadaran parsipasi siswa melalui sikap poli k warga negara yang mendukung berfungsinya sistem pemerintahan secara sehat.***

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Ketua EMANUEL DJOMBA

Sekretaris TENI JENAHAS


KABAR DESA 9

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Pengelolaan Keuangan Desa dalam Kerangka UU No.6 Tahun 2014 Diduga seluruh desa amat terbelakang dalam teknologi akuntansi, sebagian diramalkan cepat beradaptasi, sebagian lagi amat sulit beradaptasi dengan teknologi akuntansi. Penyusunan sistem akuntansi di tingkat desa ini menjadi cukup rumit karena permasalahan sumber daya manusia dan banyaknya desa yang akan melaksanakannya, yaitu sekitar 78 ribu desa.

T

U L I S A N ini membahas tentang Sistem Informasi Akuntansi. Untuk sistem informasi secara umum sudah diatur oleh UU no.6/2014 tentang Desa tersebut pada pasal 86 yang berjudul “Sistem Informasi Pembangunan Desa dan Pembangunan Kawasan Perdesaan�. Sistem informasi desa ini meliputi data Desa, data Pembangunan Desa, Kawasan Perdesaan, serta informasi lain yang berkaitan dengan Pembangunan Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan. Tanggung-jawab pengembangan sistem informasi desa ini diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/kota. Informasi yang dikelola dalam sistem tersebut adalah informasi umum yang cenderung lebih luas dan berbeda-beda ragamnya antar kabupaten, sesuai dengan perbedaan fokus pembangunan di daerah masing-masing. Sedangkan pembahasan sistem informasi akuntansi adalah spesifik dan mempunyai standar yang sama pada seluruh desa di Indonesia seperti masa sebelumnya diatur oleh Permendagri No.37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. Karena itu pengembangan sistem informasi akuntansi yang diusulkan di sini dilakukan pada beberapa bagian, ada yang di pusat, ada yang di pemerintah daerah, dan ada yang di desa itu sendiri yang semuanya memanfaatkan jaringan komunikasi data selular dengan tujuan keseragaman sistem dan memperkecil biaya investasi perangkat keras. Dalam bidang akuntansi, Pemerintah sendiri khususnya di Pemda tk.1 dan Pemda tk.2 masih belum tuntas dalam merevisi proses akuntansinya agar dapat menghasilkan laporan keuangan berbasis akrual seperti yang diharapkan oleh PP No. 71/2010 tentang “Standar Akuntansi Pemerintah� (SAP). PP tersebut mengatur tentang perubahan standar akuntansi dari yang sebelumnya akuntansi berbasis kas menjadi berbasis akrual. Saat ini masih diberlakukan peraturan transisi yang disebut Standar Akuntansi Pemerintahan berbasis Kas menuju Akrual. Nah kalau Pemerintahnya sendiri memerlukan waktu selama 4 tahun (sejak 2010) dan belum menuntaskan transisi laporan keuangan berbasis kas menjadi berbasis akrual, bagaimana nantinya kirakira proses akuntansi yang harus dilakukan oleh ke 78 ribu desa yang umumnya memiliki sumberdaya manusia yang lebih terbatas? Berdasarkan informasi yang didapat, saat ini masih berlaku Peraturan Menteri Dalam Negeri No.37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa yang menjadi peraturan pelaksana dari UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Permendagri tersebut disebutkan bahwa pengelolaan keuangan desa

dilaksanakan oleh perangkat desa antara lain, Bendahara Desa dan Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD). Sedangkan dokumen yang disebutkan dalam Permendagri yang harus digunakan dalam pengelolaan keuangan desa tersebut adalah: (1) Pesan publik khas; (2) Buku kas pembantu perincian obyek penerimaan; (3) Buku kas pembantu Perincian obyek produksi; (4) Buku kas harian pembantu. Dengan pemahaman atas situasi dan kondisi dari pengelolaan keuangan desa saat ini, kita dihadapkan pada fakta bagaimana kesiapan aparat, prosedur dan alat bantu pengelolaan keuangan di tingkat desa kedepannya? Di satu sisi Desa diberi tugas untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan sehingga untuk pencatatan dan pertanggung-jawaban pengelolaan keuangannya seharusnya mengikuti standar akuntansi yang dikeluarkan pemerintah yang telah diatur dalam PP no.71/2010. Namun di sisi lain seperti yang diungkapkan Robert Endi Jaweng dalam diskusi “Prospek Implementasi UU No.6/2014″, terdapat masalah kapasitas administrasi dan tata kelola aparat pemerintah desa yang masih minim. Kemudian sistem akuntabilitas dan pranata pengawasan yang masih lemah, termasuk belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja desa. Senada dengan itu Dr. Jan Hoesada, CPA dari Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) menyatakan dalam tulisannya tentang Desa, bahwa penyususnan PP tentang akuntansi dan pelaporan laporan keuangan desa harus dirangkai secara amat hatihati. Diduga seluruh desa amat terbelakang dalam teknologi akuntansi, sebagian diramalkan cepat beradaptasi, sebagian lagi amat sulit beradaptasi dengan teknologi akuntansi. Diramalkan akan ada berbagai desa menerapkan akuntansi pemerintahan karena dinilai bermanfaat bagi desa yang bersangkutan namun jumlahnya amat terbatas. Karena itulah kita harus coba untuk menemukan solusi-nya dari sisi sumberdaya manusia dan perangkat pendukung (aplikasi akuntansi). Sumberdaya Manusia Seperti yang sudah disinggung bahwa kapasitas administrasi dan tata kelola aparat pemerintah desa masih minim khususnya pada pejabat pelaksana pengelola keuangan di 78 ribu desa yang ada. Maka sebaiknya proses penyusunan laporan keuangan desa terutama dalam implementasi pelaksanaan UU no.6/2014 tentang Desa ini juga harus merupakan tanggung-jawab pemerintah mulai dari pemerintah pusat, provinsi sampai kabupaten. Dengan demikian, seluruh aparatur pemerintahan dari pusat sampai ke desa khususnya yang berkaitan di bidang

akuntansi harus dialokasikan, yaitu untuk sumberdaya manusia yang terbatas mengerjakan porsi pekerjaan yang paling spesifik untuk beberapa desa sekaligus, dan sumberdaya yang lebih banyak yaitu para perangkat desa untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih umum dan mudah dikerjakan. Pekerjaan input transaksi dan mencocokan saldo kas atau bank dengan fisik kas atau bank, menyusun, memberi nomor dan menyimpan bukti-bukti transaksi adalah contoh pekerjaan yang umum. Sedangkan pekerjaan melakukan quality control terhadap laporan keuangan agar sesuai dengan normanorma pembukuan yang diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) adalah pekerjaan yang spesifik. Maka pembagian tugas diatur agar para perangkat desa (Bendahara dan PTPKD) hanya bertanggungjawab melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan sederhana untuk dapat melakukan input transaksi dan kode akun dan kode mata anggaran kemudian mencocokannya dengan saldo kas atau bank atau fisik aset yang ditransaksikan, dan seterusnya. Untuk pekerjaan quality control yang membutuhkan analisa lebih jauh atas suatu transaksi dan standar-standar akuntansi yang berkaitan untuk pembukuannya harus dilakukan oleh sumberdaya manusia yang disiapkan khusus untuk pekerjaan tersebut. Dan karena jumlah sumberdaya manusia yang terbatas, mereka harus dapat melayani beberapa desa sekaligus yang terdapat dalam suatu regional misalnya di tingkat provinsi atau kabupaten. Dukungan pekerjaan teknis ini pun dapat dilaksanakan sekaligus dengan fungsi pengawasan pengelolaan keuangan desa yang diatur oleh UU No.6/2014 Bab XIV tentang Pembinaan dan Pengawasan, khususnya pada pasal 115 ayat (g), dimana pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota adalah termasuk mengawasi pengelolaan Keuangan Desa pendayagunaan Aset Desa. Dalam profesi akuntan publik, pekerjaan quality control ini mirip dengan pekerjaan jasa akuntansi: kompilasi dan review yang diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Secara teknis pekerjaan pejabat yang mengawasi proses akuntansi desa tersebut diantaranya adalah: (1) Memeriksa apakah ada transaksi yang harus di-akrual pada akhir suatu periode; (2) Memeriksa apakah kode akun dan kode mata anggaran yang diinput pada suatu transaksi sudah tepat (sesuai SAP); (3) Memeriksa apakah ada transaksi rutin yang belum di-input; (4) Berkomunikasi dengan perangkat desa apabila ada informasi yang perlu ditambahkan dalam laporan keuangan yang akan dilengkapi; (5) Melengkapi informasi-informasi yang diperlukan dalam laporan keuangan; (6) Melakukan koreksi-koreksi yang diperlukan. Berbagai pekerjaan akuntansi lainnya tersebut dapat diatur dalam tupoksi pejabat yang bersangkutan. Pejabat pengawas pencatatan akuntansi (quality control) ini merupakan ujung tombak kualitas laporan keuangan desa yang baik dan yang sesuai dengan PP No.71/2010 tentang SAP selain menjalankan fungsi pengawasan pelaksanaan anggaran atau yang disebut pengawasan

pengelolaan keuangan desa. Otoritas terakhir dan sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas laporan keuangan tersebut, tetap berada ditangan Kepala Desa. Setelah laporan keuangan selesai diperiksa, ditambah dan dilakukan koreksi oleh pejabat quality control maka laporan keuangan tersebut harus diotorisasi oleh Kepala Desa, tentunya apabila ada tambahan atau koreksi yang tidak dimengerti dapat dikomunikasikan dengan pejabat quality control di Pemkab (misalnya). Pe l a k s a n a a n t e k n i s akuntansi ini akan dapat dikoordinasikan dengan bantuan aplikasi yang akan dibangun khusus untuk memfasilitasi pola kerja tersebut seperti yang akan dibahas berikut ini. Aplikasi Akuntansi Sebelum kita membahas aplikasi akuntansi di desa,

kan sistem operasi Android yang open source. Sesuai amanat undangundang bahwa Pemerintah harus memberdayakan masyarakat Desa dengan menerapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi tepat guna, dan temuan baru untuk kemajuan ekonomi dan pertanian masyarakat Desa (UU 6/2014 tentang Desa pasal 112 ayat 3a) maka sebaiknya pemerintah memanfaatkan teknologi yang lebih modern ini karena beberapa keunggulannya sebagai berikut: (1) Implementasi yang lebih cepat di sisi user. Hanya perlu membeli perangkat selular-nya, login, lalu instal otomatis aplikasi yang telah dipersiapkan; (2) Harga perangkat keras yang lebih murah, sehingga memperkecil biaya investasi perangkat yang mahal dan rawan dikorupsi; (3) Kebutuhan daya yang lebih rendah

masi Desa Terpadu (Heru Irawan); (6) Desaku Bersih (Sinam M Sutarno). Keenam aplikasi ini yang menurut saya sudah mendekati semangat aplikasi yang dibutuhkan untuk sistem keuangan desa walaupun belum secara spesifik menunjang teknis pengelolaan keuangan desa. Ada juga aplikasi akuntansi untuk tujuan komersial yang mirip dengan kriteria pengelolaan keuangan di atas yang beredar bebas dan gratis, contohnya: (1) Book Keeper Accounting yang dibuat oleh perusahaan India bernama Just Apps Pvt. Ltd; (2) Mudah Akuntansi Yang dibuat Diposkan oleh Shreshtha Techno bintang Pvt. Ltd. Bila kita mempertanyakan tentang keamanan dalam penggunaan aplikasi Android ini, sebenarnya kita bisa membandingkan

mari kita coba buat perbandingan. Saat ini pengelolaan keuangan yang diselenggarakan di tingkat Kabupaten dan Provinsi adalah menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Depkeu/Depdagri, yaitu SIKD/SIPKD, selain itu ada juga daerah yang menggunakan aplikasi yang dibuat oleh BPKP, yaitu SIMDA. Kedua aplikasi tersebut memerlukan investasi yang besar untuk pengadaan perangkat keras dan pelatihan para PNS yang akan menggunakannya. Tentu saja implementasi sistem-sistem yang ada ini untuk 78 ribu desa merupakan pilihan yang cukup berat. Karena itu kita mencoba untuk melihat pada pilihan lain, yang mana kriteria perangkat yang dibutuhkan sesuai dengan pola kerja yang dibahas pada bagian Sumberdaya Manusia diatas adalah suatu aplikasi yang mulituser, yang mampu beroperasi pada Wide-AreaNetwork dengan mengandalkan infrastruktur yang sudah tersedia sampai ke pelosok negeri yaitu apalagi kalau bukan jaringan selular. Dan karena terdapat user yang berbeda fungsi pada tingkatan yang berbeda, sebaiknya aplikasi harus dapat diakses dari berbagai interface yang berbeda, yaitu akses dari perangkat selular dan/atau komputer di tingkat user di desa dan akses dengan komputer di tingkat Pemkab/Pemkot. Aplikasi tersebut sebaiknya pada tingkat end user haruslah murah dan mudah digunakan (user friendly) serta mempunyai dukungan teknis & praktis yang memadai. Teknologi saat ini semakin memungkinkan kegiatan komputasi yang semakin murah dan semakin mudah di akses di berbagai tempat yang terpencil yang mepunyai jaringan selular, yaitu yang kita kenal dengan smartphone atau tablet yang sebagian besar mengguna-

dari komputer PC atau komputer jinjing sehingga dapat digunakan pada desa-desa terpencil hanya dengan sumber listrik minimal seperti misalnya listrik dari panel surya atau mesin genset; (4) Dukungan maintenance dan vendor yang berlimpah, mengingat perangkat selular juga adalah produk retail; (5) Dapat meng-upgrade aplikasi dengan mudah secara serentak untuk ke-78 ribu user; (6) Dapat diprogram agar user dapat mengakses dari berbagai macam interface, baik selular dan web browser di computer; (7) Dengan data terpusat secara nasional yang diakses melalui internet maka pengamanan dan perawatan data jauh lebih murah dibandingkan bila setiap daerah/desa membangun pusat data-nya sendiri. Pusat data terpusat ini pun lebih efisien dan efektif dan menjamin keseragaman daripada setiap Provinsi atau Kabupaten membuat pusat datanya masing masing. Dengan berbagai keunggulan tersebut maka layaklah teknologi ini dijadikan pilihan untuk aplikasi akuntansi di tingkat desa. Sebagai tambahan informasi, pada saat ini, diseputar topik desa sendiri terdapat beberapa aplikasi yang sedang direncanakan untuk dibangun diatas sistem Android, walaupun belum terlihat ditujukan khusus untuk aplikasi akuntansi. D i a n t a r a n ya a d a l a h usulan aplikasi yang sedang menunggu bantuan hibah dari Ford Foundation, Amerika Serikat berikut ini: (1) Sistem Tata Kelola Sumber Daya Desa (Yossy Suparyo); (2) Aplikasi Open Content Data Desa untuk Mendukung Perencanaan Pembangunan Desa yang Partisipatif dan Berkualitas (Ilham Cendekia Srimarga); (3) Sistem Informasi Pendesaan Berbasis Web (Rahmat Rezeki); (4) Kami Desa (Atet Sugiharto); (5) Sistem Infor-

dengan fakta bahwa industri perbankan sendiri yang harus sangat memperhatikan keamanan sudah menggunakan aplikasi-aplikasi Android ini untuk transaksi Cek Saldo, Transfer dalam bank/ antar bank, pembayaran tagihan, pembelian pulsa, melihat, rekening koran, dan berbagai fitur lainnya. Beberapa aplikasi jenis ini antara lain adalah BRI Mobile dan Mandiri Mobile. Dengan melihat berbagai contoh aplikasi di atas diyakini sebuah aplikasi untuk pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan di desa dapat dibuat. Sehingga kehadiran perangkat keras yang dapat membantu komputasi dan komunikasi data pada 78 ribu desa dapat diselenggarakan dengan lebih cepat dan serentak karena memanfaatkan jaringan perdagangan perangkat selular yang sudah masuk sampai ke seluruh pelosok negeri. Untuk distribusi perangkat lunak-nya dapat diunduh dengan mudah dan cepat melalui layanan google playstore yang pastinya lebih cepat dan lebih fleksibel daripada lewat birokrasi pemerintah. Selain itu dengan fakta bahwa di setiap kecamatan telah terdapat koneksi selular serperti yang telah diklaim oleh Telkomsel, maka konektivitas data dimanapun sudah cukup terjamin. Usulan ini hanyalah satu konsep dari belasan konsep sistem informasi akuntansi yang dapat dikembangkan. Dengan catatan, semua sistem buatan manusia pasti memiliki kelemahannya masing-masing. Semoga dapat memperkaya proses penyusunan PP terkait dan pencarian infrastruktur terbaik bagi kemajuan desadesa kita. Dan keberhasilan dari apapun sistem yang dipakai nantinya kembali pada manusia yang menjalankan.*** (Sumber: solusiakuntansi.web.id)


10 KABAR DESA

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

BPP Ladja Bangun Rumah Tunggu untuk Ibu Hamil LAJA – Badan Penyantun Puskesmas (BPP) Ladja kecamatan Golewa Selatan, sejak (11/02/2016) lalu mulai membangun fasilitas ‘Rumah Tunggu’ (Rutung) untuk ibu hamil yang akan melahirkan. Satu tahun ke depan diperkirakan proses pembanggunan sudah selesai dan sudah bisa digunakan. Setelah selesai dibangun nanti, fasilitas ‘Rutung’ dapat digunakan oleh ibu hamil yang akan melahirkan, sehingga tidak harus nginap di rumah penduduk atau di emperan Puskesmas. “Tidak boleh terjadi saat ibu hamil yang akan melahirkan datang ke puskesmas harus bermalam di emperan puskesmas atau nginap di rumah-rumah penduduk sekitar puskesmas. Dengan adanya fasilitas yang memadai akan menjaminan keselamatan ibu dan janin dalam kandungan karena dilayani dengan baik,� kata Ketua BPP Ladja Mikael Keo. Menurut Keo yang juga Kepala Desa Sadha ini, untuk pembangunan ‘Rutung’ ini sudah terkumpul dana sebesar Rp 48.000.000. Dana tersebut, kata dia merupakan sumbangan dari 12 desa di wilayah itu yang dialokasikan melalui dana desa dan potongan gaji perangkat

desa, BPD serta sumbangan pihak ketiga melalui proposal. “Masing-masing desa menyumbangkan dua juta rupiah, potongan tunjangan apratur desa seratus ribu rupiah perorang, potongan insentif BPD lima puluh ribu rupiah perorang dan sumbangan pihak ketiga senilai dua belas juta rupiah. Yang terpenting, penggunaan dana ini transparan, dan akuntabel, serta hasil dari bangunan ini dapat dinikmati oleh masyarakat Golewa selatan, terutama ibuibu hamil yang hendak melahirkan,� Tutur Mikael. Camat Golewa Selatan Wilybrodus Kadju, keterlibatan masyarakat baik secara perseorangan maupun secara terorganisasi, dalam rangka membantu mempercepat meningkatkan derajat kesehatan kesehatan telah diatur dalam undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2009 pasal 174. Menurutnya, BPP Ladja Golewa selatan adalah sebuah wadah kumpulan masyarakat yang secara terorganisasi berjuang dan bekerja secara optimal untuk mewujudkan mimpi pembangunan rumah tunggu puskesmas. Ia menghimbau kepada para kepala desa dan BPD agar tidak boleh mengeluh soal anggaran. Karena saat

ini, dana yang masuk ke desa jauh lebih besar, dari nominal dana yang digelontorkan ke kecamatan. “Dengan dana yang begitu besar, silakan desa mengusulkan lagi menu-menu untuk sektor kesehatan. Kami di pemerintah kecamatan tidak mungkin mempersulit usulan bapak/ibu. Saya terus mendorong desa-desa yang ada dikecamatan Golewa selatan agar dapat memanfaatkan dana desa sesuai dengan petunjuk peraturan menteri desa,� katanya. Mentor Community Engagement Thomas Dolaradho disela-sela kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada BPP Ladja yang turut mendukung pembangunan kesehatan di kecamatan Golewa Selatan melalui pembangunan Rumah Tunggu. Menurut ketua DPRD Ngada periode 2004-2009 ini, bahwa pembangunan rumah tunggu di UPTD Puskesmas Ladja adalah salah satu realisasi dari kegiatan reformasi puskesmas. Dimana pada saat identifikasi keluhan masyarakat ditahun 2015, bahwa UPTD Puskesmas Ladja belum memiliki ‘Rutung’. “Saya mengharapakan agar pembangunan ini dapat diselesasikan dalam

Pelayanan Kesehatan Massal di Lindi Diserbu Warga LINDI – Jarang mendapat pelayanan kesehatan, mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada melakukan pelayanan massal di Pustu Lindi untuk Desa Benteng Tawa dan Benteng Tawa 1. Pelayanan kesehatan secara missal ini akan dilakukan secara ru n se ap ga bulan sekali, mengingat selama ini masyarakat wilayah ini jarang mendapat sentuhan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan secara gra s dilaksanakan di Pustu Lindi, desa Benteng Tawa kecamatan Riung Barat 12 – 13 Februari 2016. Pelayanan ini guna mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang selama ini karena alasan topograďŹ sulit menjangkau Puskesmas Maronggela di Pusat Kecamatan di Riung Barat. Menurut Sekretaris Dinkes Jack Yos Mawo, akses masyarakat Lindi ke pusat pelayanan kesehatan di kota kecamatan sangat jauh dan sulit dijangkau. Bahkan harus melewa empat UPTD Puskesmas yaitu UPTD Puskesmas Riung, UPTD Puskesmas Natarandang kecamatan Wolomeze, UPTD Puskesmas Waepana kecamatan Soa, dan UPTD Puskesmas Watukapu kecamatan Bajawa utara. Demikian sebaliknya, apabila ada masyarakat Benteng Tawa raya yang ingin mendapatkan pelayanan di puskesmas Marongge-

la, maka harus melewati empat UPTD Puskesmas yang tersebut di atas. “Sehingga dinas kesehatan kabupaten Ngada berkomitment memberikan pelayanan kesehatan secara massal dan gratis kepada masyarakat Benteng Tawa raya setiap tiga bulan sekali, sampai pustu Lindi di ngkatkan statusnya menjadi sebuah puskesmas yang otonom,� kata Jack Mawo. Dikatakannya, prinsip pelayanan yang selalu dijalankan oleh dinas kesehatan kabupaten Ngada dan jejaringnya adalah kasih dan tanpa batas. Menurutnya, kata kasih dan tanpa batas dak hanya sebagai retorika belaka, tetapi harus dibuk kan melalui ndakan rill para medis, melalui pelayanan yang tidak membedakan suku, agama, bahasa, warna kulit, status sosial dan topografi masyarakat setempat. Ia menambahkan, apapun tantangan dan kondisi yang dihadapi dilapangan harus bisa dihadapi dengan sapaan wajah yang senyum dan ha yang tulus. Bagi para tenaga kesehatan dak boleh menyerah pada keadaan. Pelayanan kesehatan massal ini dihadiri oleh dokter gigi yaitu dokter Kris dan dokter umum Samsul dan mendapat perha an masyarakat yang sudah menunggu. Pelayanan selama dua itu

dikunjungi oleh 50 pasien yang sakit gigi, dan 150 orang lainnya pasien umum yang mendapat ndakan kura f dari dokter Kris. Dokter Samsul dari Puskesmas Maronggela, mengaku puas dan gembira karena bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat kecil, kaum lemah dan terpinggirkan yang ada didesa-desa. “Saya merasa puas dan bangga, karena sebagai dokter bisa berada di tempat ini dan memberikan pelayanan kepada orang-orang yang selama ini terlupakan,� katanya. Semantara salah seorang warga, Nikodemus Watu yang dimintai komentarnya terkait dengan kegiatan pelayanan kesehatan secara masal ini, memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada yang telah melakukan terobosan mulai dari desa dengan mendatangkan dokter dalam pemeriksaan dan tindakkan kura f kepada pasien. Menurutnya, selama ini masyarakat jarang mendapatkan sentuhan pelayanan dari dokter, karena puskesmas Maronggela dak pernah melaksanakan pelayanan keliling di wilayah Benteng Tawa raya. Sehingga dia berharap agar pelayanan kesehatan diwilayah ini dapat dilakukan secara ru n se ap ga bulan sekali. ***

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Piga I Kecamatan Soa

(Dari kiri ke kanan) Kasmirus Pili (Kapus Laja), Mikael Keo (Ketua BPP), dan Jack Mawo (Sek Dinkes Ngada) sedang memantau lokasi pembangunan Rumah Tunggu Puskesmas waktu yang tidak terlalu lama, dengan hasil yang membanggakan. Sehingga revolusi KIA dapat terwujud di kecamatan Golewa selatan,� katanya. Sementara Kepala dinas kesehatan kabupaten Ngada Emerentiana Reni Wahyuningsih disela-sela kegiatan tersebut mengatakan, masyarakat agar selalau waspada terhadap penyakitpenyakit krusial yang saat ini terus mengancam kehidupan jiwa masyarakat seperti penyakit tidak menular yaitu

stroke, hipertensi dan diabetes. Penyakit menular dan menjadi masalah akut bak fenomena gunung es yaitu semakin bertambahnya penderita HIV/ AIDS di kabupaten Ngada. Selain itu juga, bertambahnya populasi anjing akan diancam oleh Rabies. Kegiatan peletakan batu pertama ‘Rutung’ oleh Sekretaris dinas kesehatan kabupaten Ngada Yak. Yoseph Mawo, Mentor Puskesmas Reformasi Yohanes Donbosko Ponong Lewa, Kasubag kepegawa-

Pesan Yohanes Tay... ............................... sambungan dari hal 1 rakyat secara demokratis 9 Desember mendatang. Jadi saya hanya membuka jalan kepada yang sebenarnya. Setelah itu kita harap akan ada temu pisah seperti ini lagi,� kata Anis yang lagi-lagi disambut aplaus hadirin kala itu. Dan memang benar, temu pisah yang diharapkan Anis Tay kala itu akhirnya terulang pada 22 Februari 2016. Dan temu pisah ini tidak dengan yang lain, tetapi dengan Marianus Sae dan Paulus Soliwoa yang kembali mendapat mandat dari rakyat. Kalau temu pisah tahun lalu seraya Yohanes Tay mengucapkan terima kasih dan selamat jalan dan selamat berjuang (bertarung kembali dalam pilkada) kepada Marianus Sae dan Paulus Soliwoa sebagai mantan Bupati dan Wakil Bupati Ngada 2010 – 2015, namun temu pisah kali ini disertai profisiat dan Anis Tay sendiri yang meninggalkan Ngada untuk melanjutkan tugas yang ditinggalkannya sebagai Kadis Pertanian NTT. Masih pada momentum temu pisah tahun lalu – Yohanes Tay mengatakan, sehubungan dengan tugas penjabat, dirinya juga tidak ingin terlalu

lama-lama di sini, karena dirinya juga harus melaksanakan tugas-tugas di propinsi. “Kita sukseskan pilkada sehingga dapat terlaksana sesuai jadwal dan rakyat Ngada dapat memilih pemimpinnya, sehingga bulan Februari tahun depan sudah lantik pemimpin baru,� ungkapnya. Dan ternyata ucapan Anis Tay itu lagi-lagi menjadi kenyataan, karena temu pisah kedua memang terjadi bulan Februari tepatnya tanggal 22, kurang dua hari dari tanggal temu pisah tahun lalu yang jatuh pada 24. Padahal sebelumnya sempat muncul gonjang-ganjing isu tentang ketidakpastian waktu pelantikan yang meresahkan rakyat Ngada. Tetapi ungkapan Anis Tay itu tidak meleset. Pada acara temu pisah tahun lalu itu juga, Anis Tay mengatakan, temu pisah sebagai acara yang penting dan perlu dibudayakan. “Ini tradisi yang bagus sebagai bentuk penghargaan kepada para pemimpin kita,� katanya. Terkait dengan penghargaan yang patut diberikan kepada seorang pemimpin, Anis Tay memberi analogi bahwa, “Mawar itu indah

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Yohanes W. Wio, A.Md

Ketua BPD Fransiskus Lei Meo

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Loa Kecamatan Soa

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Blasius Gholo

Ketua BPD Wilibrodus Sowo

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Meliwaru Kecamatan Soa

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Silverius Bei, A.Md

Ketua BPD Kanisius Lado

meski berduri. Tapi jangan liat durinya, melainkan lihatlah keindahan dan keharumannya. Pada tempatnya kita harus menghargai pemimpin dan senior. Sebagai manusia tentu ada kekurangan, tapi seperti mawar, durinya tidak pernah menghilangkan harum semerbak dan keindahan mawar. Begitu juga penghargaan kepada setiap pemimpin di zamannya harus diberikan,� beber Anis kala temu pisah tahun lalu. Dan yang patut dicatat dari pernyataan Anis Tay waktu itu, mantan pemimpin daerah ini disebutnya sebagai ‘Mosa Ngadha’ yang akan terus menjadi cermin bagi penerus dalam perjuangan untuk Ngada yang lebih baik, sejahtera dan menjadi kabupaten unggul di NTT. Pada temu pisah pekan keempat Februari lalu yang mengantarkan kepulangannya bersama Ny. Maria Pacela Tay Ruba, Yohanes Tay dengan penuh menyampaikan terimakasih berlimpah kepada seluruh rakyat Ngada, dan menyatakan proficiat kepada Bupati dan Wakil Bupati Ngada terpilih Marianus Sae dan Paulus Soli Woa. (ch)***

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Libunio Kecamatan Soa

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ

ian Martinus Djeo, Kasubag Keuangan Yoseph W. Ledhe, Kasubag PEP Syahrudin Kola, kepala puskesmas Ladja Kasmirus Pili bersama staf, para kepala desa dan ketua BPD, PKK, Para ketua stasi/lingkungan dan para toko masyarakat sekecamatan Golewa selatan. Adapun struktur BPP Ladja Golewa Selatan periode 2015-2018 yaitu, ketua Mikael Keo, wakil ketua Edy Niki, sekretaris I Ibrahim Sumbawa, sekretaris II Gusti Ceme, dan Bendahara Thresia Dhaku.***

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Falentinus Noken, ST

Ketua BPD Yohanes M. Vianey Milo


SAMBUNGAN 11

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Buka Ruang Diskusi, Merakit Perbedaan ............................................................................................................... sambungan dari hal 1 yang kurang pada kami bisa dilengkapi dengan kelebihan yang lain. Mari kita saling mendukung satu sama lain. Marilah kita saling mengisi sehingga menghasilkan kekuatan demi Ngada yang lebih maju.� Sekda Ngada, Moses Meda mengatakan, Bupati Ngada, Marianus Sae dan Wakil Bupati Ngada, Paulus Soli Woa, merupakan pemimpin baru Ngada, keduanya merupakan figur rakyat Ngada yang diharapan akan mampu membawa Ngada kearah kesejahteraan. “Kami seluruh jajaran aparatur sipil negara yang bertugas mengucapkan selamat bertugas memimpin Ngada,� katanya. Kepada Mantan Penjabat Bupati, Yohanes Tay Ruba, Moses mengucapkan selamat melanjutkan tugas sebagai Kadis Pertanian dan Perkebunan NTT. Pesan kami dari rakyat Ngada, jangan lupa Ngada melalui program-program pertanian. “Boleh pergi, jangan lupa rumah dan rakyat Ngada,� ujar Moses. Menurut Meda, selama lima bulan Yohanes Tay Ruba telah menjalankan tugasnya dengan baik diantaranya menjalankan roda pemerintahan, menyusun APBD Ngada tahun 2016 dan menyelengga-

rakan Pilkada damai. Karena itu, tambah Meda, pemerintah dan rakyat Ngada patut memberi apresiasi yang setinggitingginya atas pengabdiannya selama lima bulan sebagai Penjabat Bupati Ngada, seraya menyampaikan permohonan maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama bertugas di Ngada. Sementara Ketua DPR Ngada, Helmut Waso berharap pemimpin yang baru dapat mewujudkan visi, misi dan janji-jani politik selama kampanye demi menuju Ngada yang lebih baik. Lembaga DPRD Ngada sangat mendukung visi misi pemerintah Ngada. Pesannya, dalam membangun Ngada Bupati dan Wakil Bupati Ngada hindarkan berbagai gesekan yang dialami dalam proses pemilukada pada waktu yang lalu. “Diharapkan semua pihak dan semua wakil rakyat sinergis dalam membangun Ngada,� harapnya. Sebelumnya ketika memimpin misa syukur, Pastor Paroki St Yoseph Bajawa, Pater John Preta, berharap masyarakat Ngada menyatukan tekad bersama membangun Kabupaten Ngada. Perlu kerja sama yang baik antara rakyat dan pemimpinnya. Seorang pemimpin memberi-

kan contoh dan teladan dalam memimpin rakyatnya. Dikatakan P. Jhon Preta, OCD, kepemimpinan dan kritik merupakan dua hal yang saling terkait, meski didalamnya bertentangan. Banyak orang tidak suka dikritik namun senang berada dalam zona aman. Kalau dikritik malahdianggap sebagai musuh. “Padahal dalam hidup tidak selamanya berada pada posisi aman dengan senyuman dan pujian, dan yang terpenting ‘Asal Bapa Senang (ABS)’. Jadi tidak demikian,� katanya. Baginya, makna kritik dalam kepemimpinan seharusnya diterima demi sebuah perubahan. Dalam Surat Petrus dikatakan, menjadi pemimpin itu baik, tapi dalam melaksanakan tugas jangan dengan paksa, sekedar cari keuntungan. Seperti rasul Yohahes tegaskan agar para pemimpin cukupkan diri dengan gaji. “Cukupkan diri dengan gajimu,� demikian P. John mengulang kutipan ayat suci dari surat Yohanes. Dalam hal waktu, pemimpin harus disiplin. Menjadi teladan yang selalu berada di depan. Harus menjadi gembala yang baik. Kala pemimpin melaksanakan tugas, bukan karena upah atau jabatan,

tetapi harus menjadi gembala yang baik seperti gembala agung yakni Yesus Kristus. Dalam konteks Ngada, pemimpin dan yang dipimpin hadir untuk saling mengasihi dan saling mendukung demi perubahan Ngada yang lebih baik. “Rendahkan dirimu pada seorang dan yang lain,� pintanya. Fungsi pemimpin sama seperti peran gembala yang berjalan di depan, gembala harus pertaruhkan segalanya, membela kehormatan dan membangun martabat Ngada. Dia mengajak agar perhelatan politik selama ini, mungkin hanya koyak bisa ditambal lagi, atau sudah tercecer bisa dikumpukan lagi. “Kepada pak Marianus dan Pak Paul, jadilah sebagai jembatan, demi kesejahteraan masyarakat. “Mari kita saling melayani dengan penuh terbuka,� katanya menutup khotbah. Hadir dalam peranyaan misa, Bupati Ngada Marianus Sae, Wakil Bupati, Paulus Soliwoa, Penjabat Bupati, Yohanes Tay Ruba bersama ibu, para pimpinan SKPD dan PNS di lingkup Pemda Ngada. Acara temu pisah Bupati Ngada Marianus Sae, Wakil Bupati Paulus Soliwoa dengan mantan Penjabat Bupati Yohanes Tay Ruba digelar

meriha. Keduanya disambut dengan iringan music marching band SMAN 1 Bajawa dan dimeriahi dengan alunan musik tradisional bombardom. Dielukan Massa Pendukung Setelah dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati untuk periode masa jabatan 2016 – 2021 pada 17 Februari lalu, Marianus Sae dan Paulus Soliwoa dielu-elukan masa pendukungnya di kabupaten Ngada. Tiba dibandara Turelelo Soa, pasangan bupati/ wakil bupati yang menang mutlak pada Pilkada akhir tahun lalu itu disambut massa pendukung di Soa. Masa yang menunggu di sekitar kompleks bandara sempat tak sabar untuk menyambut pemimpinnya dari dekat. Para polisi pengawal dari Polres Ngada siaga di pintu masuk. Tak henti-hentinya para kameramen nitizen warga penjemput mengambil gambar wajah kedua sosok yang melenggang ke periode 2016-2020 itu. Usai nikmat menu pangan lokal, keduanya bergegas pamit, siap untuk diiring dalam pawai meriah mulai dari Bandara Soa menuju Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada. Warga yang tidak sa-

bar melihat kedua sosok tersebut mulai mengambil tempat masing-masing, jajaran Pol PP dan Polisi siaga mengawal pada pintu keluar, mobil pawai jenis Pick Up bermerk H-lux berplat merah EB 1 N sudah parkir di depan pintu. Kedua figur akhirnya muncul dengan mengenakan pakaian adat Bajawa. Masa yang tak sabar langsung menyerbu sekedar bersalaman sambil berjabatan tangan, ada yang lihat sambil senyum seraya melambaikan tangan. Tak puas bersalaman sebentar, warga pun berusaha menghadang mobil pawai tersebut, tapi berhasil diamankan pihak aparat kepolisian dan Pol. PP. Sejak keluar dari pintu gerbang bandara, Bupati Ngada, Marianus Sae dan Wakil Bupati Ngada, Paulinus Soli Woa dielu-elukan warga, para guru, pegawai dan siswa/i SD, SLTP dab SLTA di Kecamatan Soa yang sejak pagi sekitar pkl. 08.30 wita sudah melakukan pagar betis, berbaris rapi menyambut riang kedatangan pemimpin Ngada yang baru. “Sukses dan selamat berkarya untuk Ngada, Pak Marianus Sae dan Pak Paulus Soli Woa. Tuhan memberkatimu�, ujar seorang warga yang sempat terekam media CERMAT. (ch/sp)***

Air Meluap Sampai Kering....................................................................................................................................................... sambungan dari hal 1 hadapi PDAM dalam memenuhi layanan air bersih kepada warga kota Bajawa. Dua masalah itu sebagaimana dikemukakan Paskalis adalah debit mata air yang terus menyurut dan jaringan yang sudah tua. Bahkan disebutkan usianya sudah 80 tahun, alias sejak zaman kolonial. Masalah memang menjadi semakin krusial manakala populasi penduduk kota kian padat jika dibandingkan 10, 20 bahkan 30 tahun lalu atau lebih. Bicara soal jaringan perpiaan di Bajawa, sudah kategori barang rongsokan yang harus segera diapkir. Makanya, menambah jaringan dengan perpiaan baru sama dengan menambalkan kain baru pada kain yang tua atau sudah lapuk. Tidak heran jika penanganan air minum menjadi berbasis ‘binen’ atau menggunakan karet ban dalam kendaraan untuk ikatan persambungan – yang kemudian diperparah lagi dengan keterbatasan anggaran. Karena menyambungkan pipa lama dengan baru mana bisa tahan, yang terjadi pipa baru akan ‘menggerogo ’ yang lama. Itu soal jaringan tua yang bikin air bukan mengalir sampai jauh ke rumah penduduk, tetapi mengalir sampai kering karena sudah habis di jalanan. Masalah kedua dan tergolong emergensi adalah menurunnya debit air di sejumlah mata air yang mengairi kota Bajawa dan sekitarnya. Urusan menurunnya debit air dari tahun ke tahun di sejumlah mata air seper bukan urusan warga. Yang warga tau air harus masuk di keran dapurnya, jika tidak teriak lagi. Padahal, masyarakat juga perlu tahu masalah ini, apa penyebabnya. Bisa dipastikan penurunan debit di mata air disebabkan perubahan alam, bahkan ulah manusia yang dak lagi memelihara alam. Penggundulan dan kegiatan bakar hutan seolah beradu cepat dengan hasrat membabi buta manusia zaman ini. Urusan jaringan belum teratasi sampai beberapa dekade, malah datang masalah baru, air terus menyusut. Itu fakta yang dak bisa diatasi dengan cepat, secanggih apapun pikiran manusia dan teknologi. Pihak PDAM

Bajawa menyebutkan di zamannya – era 20 tahun ke belakang, air bersih di kota Bajawa cukup terlayani untuk warga dengan debit dari mata air utama Muku Foka waktu itu sekitar 80 liter/ de k. Namun beberapa dekade kemudian menyusut lagi menjadi sekitar 50 liter/de k. Dan, berapa liter/de k hari-hari ini ke ka penduduk – wajib minum – sudah kian bertambah? Tinggal 30 liter/ detik. Kalau begini kondisinya, mau minum berapa orang? PDAM saat ini melayani 7.421 sambungan rumah (SR). pertanyaannya, berapa wajib minum dari jumlah itu? Maka jawabannya ada sekitar 40.646 jiwa/wajib minum. Standar nasional se ap wajib minum berhak menggunakan air perhari antara 150 – 180 liter/hari/orang. Air yang dikelola oleh PDAM Bajawa baru bisa memenuhi kebutuhan untuk 18.474 wajib minum/hari. Jika di kota Bajawa dan sekitarnya tercatat 40.646 wajib minum yang harus dilayani, maka ada 22.172 wajib minum yang berlum terlayani sesuai standar nasional, apalagi untuk memenuhi gerakan 100-0-100. Ar nya 100 persen persediaan air bersih se ap wajib minum, 0 persen pemukiman kumuh dan 100 persen sanitasi. Ar nya lagi, pelayanan air bersih di kota Bajawa dan sekitarnya belum memenuhi standar nasional. Dengan kata lain belum sehat tanpa air memadai. Belum lagi pelayanan PDAM Bajawa dak se ap musim dan se ap hari. Air, rata-rata keluar dua hari sekali, ga hari, bahkan seminggu sekali saat puncak krisis Desember sampai Januari lalu. Pelayanan air bersih bagi warga kota semakin dak menentu. Mata Air Alterna f Selain berharap pada mata air Muku Foka yang terus menurun, PDAM juga masih berharap pada mata air lain seper di Kali Batu dengan 4 liter/de k pada musim hujan, dan 1.3 liter/de k pada musim panas. Guna memenuhi masyarakat di wilayah Bobou terbantu dari mata air Wae Jawa, Bejo dengan debit 3 liter/de k, meski harus berbagi dengan Dinas Perikanan yang kini membudidaya ikan air tawar. Se-

mentara mata air Wae Betu dak lagi bisa disupay dengan warga di Bobou, nggal untuk kebutuhan masyarakat di wilayah Radha dan Boba Fui. Itu saja sangat terbatas. PDAM, tambah Paskalis juga sedang melakukan survey mata air sebagai sumber alternatif untuk mengantisipasi masalah krisis air di Bajawa. Ke depan, kata dia memang perlu dibangun waduk di beberapa ditempat di aliran sungai Wae Woki, karena mungkin saja disepanjang aliran itu ada sumber-sumber matai air yang kecil. Pihaknya juga sedang melakukan kajian kemungkinan memanfaatkan mata air Tudha Raja di Langa. Mata air ini, kata Paskalis debitnya sebesar 80 liter/detik tepatnya di Langa Gedha. Saat ini memang belum dikelola maksimal. Tahun 2013 pernah ada proyek pompanisasi dana APBN senilai 1 milyar lebih tapi proyek ini kemudian mubazir. Menurut Paskalis jika ditambah mata air Tudha Raja, maka akan mampu memenuhi kebutuhan air kepada se ap wajib minum di kota Bajawa dan sekitarnya. Demi memaksimalkan pemanfaatan banyak mata air untuk hajat hidup orang banyak, Paskalis menyarankan agar ke depan semua mata air yang ada diperdakan, sehingga pemanfaatannya memang hanya untuk kepen ngan hajat hidup orang banyak dan dak monopoli perorangan atau kelompok tertentu dengan klaim-klaimnya. “Saya kira untuk pemenuhan kebutuhan yang sifatnya demi hajat hidup orang banyak perlu diatur misalnya dengan Perda. Ini yang harus dikonkretkan pertama sebelum mengelola mata air tersebut,� katanya. Mengatasi masalah air dalam jangka pendek, perlu pengadaan tangki air. PDAM itu milik pemerintah, sehingga perlu mempermbangkan layanan air minum dengan harga murah bagi rakyat. Masyarakat yang ekonomi lemah seper menghadapi masalah krisis air tahun-tahun belakangan ini tanpa solusi, di tengah mahalnya harga air yang jual pertangki oleh pemilik swasta. Karena itu, memiliki tangki bagi PDAM akan banyak membantu warga yang

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Masu Kedhi Kecamatan Soa

lemah sehingga layanan air tetap bisa terpenuhi. Kondisi krisis ini memang akan semakin buruk memasuki musim panas, dimana kebutuhan wajib minum meningkat. Saat musim hujan saja yang kebutuhan air menurun karena dibantu air hujan warga masih berteriakteriak soal air. Jika demikian maka urusan air bukan lagi hanya urusan PDAM, tetapi juga melibatkan masyarakat, stakeholder terutama pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kebutuhan ketersediaan air. Paskalis mengajak masyarakat wajib minum supaya ikut memikirkan masalah krisis air yang kian parah belakangan ini. Mulailah berkontribusi secara ril dari penghematan penggunaan air hingga ikut ambil bagian dalam memelihara dan menjaga kelestarian alam. Buat terobosan untuk sebuah gerakan yang terus-menerus menanam pohon, khususnya di kawasan-kawasan mata air. Selain itu dia menyarankan secara kultur perlu upacara/ ritual adat di sumber-sumber mata air sebagai kearifan lokal demi mendatangkan kebaikan bagi alam semesta. � Lakukan juga ritual disemua mata air, karena mata air ciptaan Tuhan, dan pengalaman saya bisa muncul air lebih besar. Masyarakat juga harus ikut menjaga jaringan yang ada sehingga tetap terpelihara dengan baik,� katanya. Pembenahan Internal Dikatakan Paskali, sejak dirinya dipercaya menjadi Direktur PDAM, menghadapi persoalan krusial di perusahaan milik daerah itu. Karena itu terlebih dahulu melakukan pembenahan di internal. Seper masalah hutang menumpuk yang hingga saat ini masih belum selesai, masalah rasionalisasi gajih karyawan, pembenahan kantor yang seper pondok. Kemudian, dia juga memulai memberi mo vasi agar para karyawan terdorong semangat kerja dengan tunjangan berbasis kinerja. Dia menyadari betapa karyawan terguncang karena kebijakan ini. Namun seper dak ada

pilihan lain menghadapi banyak masalah yang kian jelimet seper benang kusut sehingga dak tahu di mana ujungnya – menarik yang satu justru membuat situasi akan semakin ruwet dan kusut. “Ini masalah yang harus bisa diatasi jika ingin membenahi kinerja PDAM ke depan. Selain masalah itu, kita juga menghadapi pelayanan dengan fasilitas dan anggaran terbatas. Tekanan pelanggan yang mendambakan layanan maksimal di tengah menurunnya debit air hingga titik terendah hingga masalah jaringan tua yang tak lagi memberi supply air memadai,â€? beber Paskalis.*** Perha an Pemerintah Terkai krisis air di kota Bajawa beberapa tahun terakhir juga menjadi perha an pimpinan DPRD Ngada, Selly Raga Tua. Ke ka dikonďŹ rmasi CERMMAT pekan keempat Februari lalu, Selly mengatakan masalah ini harus menjadi perha an pemerintah yang baru dilan k ini. Apalagi menurut Selly, pemerintahan Marianus Sae/Paulus Soliwoa concern dengan persoalan ketersediaan air bersih yang diwujudkan melalui ga pilar programnya, salah satu diantaranya ‘Wae gibho-gabho’ – air berkelimpahan bagi rakyat. Dikatakan, yang harus dipikirkan pertama adalah kota Bajawa menyusul kebutuhan masyarakat pada umumnya di seluruh plosok. Karena kata dia, kota Bajawa adalah ibu kota kabupaten, menjadi serambinya Ngada dan di sini bermukim sekitar 1/3 penduduk Ngada dan menjadi barometer Ngada. Dengan ketersediaan air yang memadai akan menunjang kehidupan sosial yang nyaman, menggerakan roda ekonomi, untuk kebutuhan pariwisata dan kesehatan masyarakat pada umumnya. “Sekarang bupa /wakil bupa sudah dilan k. Kita berhara program yang sudah dipublikasi kepada masyarakat segera dapat terwujud. Kita harapkan pemerintah mewujudkan program ini dalam RPJMD. Dewan siap mensdukung dan mendorong program. Tetapi tentu saja harus realis s dengan keuangan daerah

Pemerintahan Desa dan Warga Masyarakat Masu Meze Kecamatan Soa

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Wilhelmus P. Wae

Ketua BPD Antonius No Gili

dan kurangi belanja kurang penting,� tegas Selly. Selly mengatakan, lima tahun harus bisa mewujudkan program ketersediaan air minum ini. Seper nya air yang menjadi infrastruktur pen ng demikian juga infrastruktur lainnya seper jalan dan listrik. Dan semuanya itu memang menjadi program unggulan yang tentu saja dewan akan mendukung guna mewujudkannya. “Kita harap masalah kiris air yang krusial ini sudah bisa diatasi secara bertahap sehingga lima tahun ke depan. Jika anggaran terbatas maka tentu akan ditempuh melalui multi years sesuai dengan kemampaun,� katanya. Di pihak lain, Selly juga meminta PDAM selaku perusahaan yang mengambil peran dalam layanan air bersih untuk rakyat perlu menuntaskan berbagai persoalan yang membelenggu perusahaan daerah itu.� Rasionalisasi jika perlu harus dilakukan, tetapi jangan hanya karyawan di ngkat bawah. Para direktur itu banyak-banyak kalau dak efek f rasionalisasi saja karena terlalu gemuk di level atas. Untuk apa banyak-banyak kalau dak efekf,� tegasnya. Pembenahan manajemen sumber daya manusia dan manajemen keuangan, kata Selly perlu diperhatikan. “Kita respons terhadap rencana PDAM melalu Rispam (Rencana Induk Strategis Pembangunan Air Minum) 20152019, tetapi yang harus dilakukan pertama adalah reformasi internal. Sehingga perusahaan itu menjadi sehat dan bisa memiliki energy yang cukup untuk melayani masyarakat. Selanjutnya ajukan ke DPR untuk dibahas. Dewan tunggu langkah-langkah konkret reformasi di tubuh PDAM, karena ini untuk kepen ngan umum,� tegas Selly. Dikatakan Selly, dirinya merasakan krisis air beberapa tahun belakangan ini sudah mencapai ngkat mempriha nkan. “Kalau kita sudah alami begitu tentu saja rakyat juga dak luput. Yang mampu bisa datangkan tengky, lalu yang dak mampu bagaimana,� kata Selly sembari berjanji menindaklanju ini sebagai prioritas.***

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG ĹŒ 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT ĹŒ (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh Kepala Desa Petrus Damianus Gili

Ketua BPD Yoseph Ngai Rato


12 PROFIL

Edisi 38 ď Ž 4 - 17 Maret 2016

Recis Voice dari Dulu Sampai Sekarang BAJAWA - Recis Voice dalam nada suara merdu, sungguh menggoda dalam gema yang mengalun sendu. Hentakan suara dan ritme musik seolah menukik nubari, hantar iman umat yang hadir pada Allah dalam misa syukur temu pisah Bupati Wakil Bupati dan Pejabat Bupati Ngada, Kamis, (24/2/2016) di Aula Jhon Thom, Paroki St. Yoseph Bajawa. Recis Voice (suara SMAK Regina Pacis), sejak sekolah berusia muda, sudah tampil memukau dalam nada suara

lengkap dengan personil band. Memang tentang Recis Voice sudah tidak asing lagi di Ngada bahkan tingkat provinsi NTT. Pendamping Recis Voice Group, Vinsensius Pay kepada Media CERMAT mengatakan, keberhasilan Recis Voice dalam olah vokal sudah diasuh sejak lama. Ya sudah menjadi kebiasaan. Pada awal pembentukan group ini memang masih merangkak, sekedar jual suara. Belum memiliki orkes band. “Dulu alat musik kami hanya pinjam dari seminari,�

ceritanya. Dalam perkembangan hingga kini, orkes band sudah lengkap, para pembina dan pembimbing group Recis Voice juga memadai. Bahkan kini, permintaan dari berbagai pihak untuk mengisi acara semakin tinggi. “Kami lebih banyak diminta oleh Pemda Ngada untuk isi acara,� jelasnya. Kalau bukan Recis Voice, siapa lagi yang menggema dengan nada suara dan orkes? Pada 2002, Recis Voice pernah tampil menghibur para kader

PDIP yang menggelar sidang di Bajawa. Pada tahun 2003 Recis Voice juga sudah pernah tampil di Aula Eltari Kupang. “Di Kupang kami sudah tampil, di Bajawa sudah terus-terus,� tuturnya sembari senyum. Untuk tetap eksis dalam dunia seni suara dan orkes band, Recis Voice selalu gelar latihan ekstra pada setiap Selasa dan Jumat sore. “Kami latihan olah vokal setiap selasa dan jumat sore. Kami mau tampil prima, tidak mau kalah dengan sekolah lain,� ujar Vinsen.(sp)***

3HPHULQWDKDQ .HFDPDWDQ %DMDZD 8WDUD %DWDUD

%HVHUWD 6WDI %HUVDPD 0DV\DUDNDW

7HULPD .DVLK NHSDGD %DSDN ,U <RKDQHV 7D\ 5XED <DQJ WHODK PHQJHPEDQ WXJDV VHEDJDL 3HQMDEDW %XSDWL 1JDGD 3HULRGH 6HSWHPEHU Âą )HEUXDUL

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD ;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152;

&KPCU 2-21 -CDWRCVGP 0ICFC %CDCPI &KPCU 2-21 -GECOCVCP $CLCYC 7VCTC

Vinsensius Pay memimpin paduan suara Regina Pacis

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh &DPDW %DWDUD 'UV <RKDQHV 1GD\

'LQDV 3.32 .DEXSDWHQ 1JDGD &DEDQJ 'LQDV 3.32 .HFDPDWDQ 6RD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152; 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT Ĺ&#x152; (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh .D &DEDQJ 'LQDV 3.32 %DMDZD 8WDUD 3HWUXV 5HPD

.HSDOD 3XVNHVPDV 0DURQJJHOD %HVHUWD 6WDI

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD ;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152;

2GOGTKPVCJCP -GECOCVCP 5QC $GUGTVC 5VCH FCP $GTUCOC /CU[CTCMCV

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152; 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT Ĺ&#x152; (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh .D &DEDQJ 'LQDV 6LOYHVWHU *DED

3HQJDZDV 7LEXUWLXV :XOL 6 3G

7HULPD .DVLK NHSDGD %DSDN ,U <RKDQHV 7D\ 5XED <DQJ WHODK PHQJHPEDQ WXJDV VHEDJDL 3HQMDEDW %XSDWL 1JDGD 3HULRGH 6HSWHPEHU Âą )HEUXDUL

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh .DSDOD 3XVNHVPDV %HQHGLNWXV 3RGKL

3HPHULQWDKDQ .HFDPDWDQ :RORPH]H %HVHUWD 6WDI GDQ %HUVDPD 0DV\DUDNDW

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

0HQ\DPSDLNDQ 3URILVLDW 'XNXQJDQ NHSDGD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

%DSDN 0DULDQXV 6DH 6 $S GDQ %DSDN 'UV 3DXOXV 6ROLZRD

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152; 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT Ĺ&#x152; (GDTWCTK

6HNFDP %DWDUD (PDQXHO 6RNR 6(

;CPI VGNCJ FKNCPVKM UGDCICK $WRCVK FCP 9CMKN $WRCVK RCFC (GDTWCTK WPVWM MGODCNK OGOKORKP 0ICFC 2GTKQFG Ĺ&#x152; 6GTKOC -CUKJ MGRCFC $CRCM +T ;QJCPGU 6C[ 4WDC ;CPI VGNCJ OGPIGODCP VWICU UGDCICK 2GPLCDCV $WRCVK 0ICFC 2GTKQFG 5GRVGODGT Ĺ&#x152; (GDTWCTK

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh

g0DMXODK 1JDGDNX 0HQ\RQJVRQJ +DUDSDQ %DUXh

%COCV 5QC 5GMECO .GQPCTFWU 6CODW 5 +R &TU ;CEJKO 0CPIQ

3OW &DPDW :RORPH]H .DVPLQ %HOR 6 6RV


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Cermat 38 by GUSRYAN bima - Issuu