Page 1


EDITORIAL Negara Goyah Penerimaan Pajak Tidak Sesuai Target Tabloid Genta Andalas diterbitkan oleh: Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas dengan SK No.373/XIII/ Unand-2001 Pelindung: Prof. Dr. Tafdil Husni, SE., MBA Penasehat: Prof. Dr. Ir. Hermansah, MS., M.Sc Pembina: Rembrandt, S.H., M.Pd Dewan Redaksi: Adrizal, Yudi Irfan, Laila Mukhtari Wizra, Muhammad Fikri, Muhammad Yaqub BE, Randy Febrian, Yuliani Sartika, Adha Giva Sakinah, Anestia Berlianda, Clara Octaria Rija, Hisna Natria Hilda, Lailatul Zuhri Indriani, Lita Mailani, M. Qamarul Hadi, Peri Irawan, Putri Ramadani, Teja Alone, Zikra Delvira Pemimpin Umum: Muhammad Arif Sekretaris Umum: Risesa Oktaviani Bendahara Umum: Gita Puspita Pemimpin Redaksi: Rafika Surya Bono Pemimpin Perusahaan: Rahmawati Ramadhan Pemimpin Produksi: Yori Andriani Pemimpin Litbang: Ully Saputri Redaktur Pelaksana: Rina Sephtiari Koordinator Liputan: Wina Sartika Redaktur: Nite, Rizka Desri Yusfita Bisnis & Periklanan: Devita Sari Marketing & Sirkulasi: Fanny Wulandari Kepala Desainer Grafis: Suci Ramadhanty Desainer Grafis: Novia Ratna Dewita Layouter: Ikhlas PSDM: Annisa Radiani Event Organizer: Syinta Tesya Apriliani Dicetak oleh: PT. Padang Graindo Mediatama (Isi diluar tanggungjawab percetakan)

Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian dan pajak,” begitu kata salah seorang pendiri Amerika Serikat, Benjamin Franklin. Menjadi sumber penerimaan terbesar di Indonesia, pajak mengemban peranan penting dalam berjalannya roda kehidupan negeri ini. Dari target Pendapatan Negara Rp1.822,5 triliun dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016, Rp1.5446,7 triliunnya bersumber dari Penerimaan Pajak. Tak heran jika negara goyah saat penerimaan pajak tidak sesuai dengan target. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan potensi pajak yang ada di Indonesia pemerintah kembali menerapkan kebijakan tax amnesty. Kebijakan ini bertujuan untuk menarik harta kekayaan warga negara indonesia yang parkir di luar negeri. Menurut data yang dimiliki pemerintah, ada sekitar Rp11.000 triliun uang WNI yang menginap di negara asing. Harapannya, dengan kembalinya uang WNI tersebut dapat memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia yang cenderung melambat dan bisa membantu pembangunan infrastruktur di Indonesia. Tax amnesty seolah memperlihatkan tak berdayanya peraturan pajak di depan orang-orang kaya Indonesia. Sehingga pemerintah perlu ‘memohon’ kepada milyarder tersebut menggunakan program tax amnesty ini. Di satu sisi, penerapan tax amnesty dinilai tak adil bagi wajib pajak yang selama ini patuh menunaikan kewajibannya. Tax amnesty dinilai menjadi cara tercepat mendapatkan dana dan menutup defisit anggaran dibanding harus menambah utang yang membuat

defisit anggaran makin melebar. Selain itu kebijakan ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan investasi yang bisa menyerap tenaga kerja dan menimbulkan objek pajak baru, sehingga penerimaan pajak berikutnya diharapkan meningkat. Di akhir periode pertama JuliSeptember, penerimaan dana tebusan baru sekitar 10 persen dari target Rp169 triliun yang ditetapkan pemerintah. Melihat hal tersebut, program tax amnesty ini cukup mengkhawatirkan keberhasilannya. Belum lagi mengingat dana yang disembunyikan di luar negeri cenderung uang yang tidak baik, atau kasarnya hasil korupsi. Tentunya hal ini juga menimbulkan kecemasan bagi WNI jika nanti pemerintah mengusut sumber kekayaan tersebut. Jika pemerintah tidak memberikan payung hukum yang jelas, WNI tersebut tentu enggan mengikuti program ini. Harapan besar masih ditumpukan pada keberhasilan program tax amnesty ini. Namun jika gagal, pemerintah sudah harus memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan yang akan terjadi. Mengingat Indonesia pernah dua kali gagal dalam menerapkan tax amnesty. Pemerintah dirasa perlu melakukan evaluasi terhadap program ini sebelum jangka waktunya berakhir. Selain itu, jangan sampai ada oknum pemerintah yang berusaha mengambil kesempatan tax amnesty ini untuk memperkaya diri sendiri mengingat dana yang masuk cukup besar. Peran semua pihak diperlukan untuk mendukung keberhasilan kebijakan ini. Karena ini Indonesia, Bumi Pertiwi tempat anak bangsa seharusnya megabdi!

Dapur .................... 2 Jendela .................. 3 Laporan Utama ...... 4 Sorotan Kampus ..... 6 Feature ................... 7 Laporan Khusus ...... 8 Survei ..................... 9 Liputan ................. 10 Galeri

............

12

Rehat ................... 13 Aspirasi ................ 14 Aneka Ragam ....... 16 Teknologi ............. 17 Aktivis .................. 18

Salam Redaksi Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan karunia-Nya, kami segenap kru Genta Andalas dapat menghadirkan tabloid Genta Andalas Edisi LXV bulan Juli-Agustus 2016 kepada khalayak pembaca. Selawat beriring salam tidak lupa kami haturkan kepada Rasulullah SAW sebagai suri tauladan penerang jalan seluruh umatnya. Syukur dan bangga adalah gambaran perasaan yang kami rasakan setelah menyelesaikan tabloid ini. Berbagai halangan dan rintangan mewarnai perjalanan panjang berhasil kami lalui untuk menghadirkan tabloid ini. Di sela-sela pelaksanaan kuliah yang begitu padat, segenap kru tetap mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, perhatian, dan waktu. Seperti tak kenal lelah dan perjuangan, berburu informasi terkini untuk menyajikan berita informatif dan karya terbaik demi terbitnya tabloid mahasiswa Genta Andalas Unand ini. Pada Edisi LXV ini kami menghadirkan laporan utama mengenai program tax amnesty yang kembali diterapkan di Indonesia. Kami membahas tentang latarbelakang dan alasan wajib

pajak mengikuti program ini. Selain itu kami turut membahas peran dan apa yang bisa dilakukan mahasiswa dalam program ini. Pada laporan khusus, kami juga menghadirkan informasi mengenai penyalahgunaan sarana dan prasarana di Unand. Mulai dari ruang internet yang ada di Perpustakaan Unand lantai tiga hingga permasalahan hilangnya wifi di beberapa gedung kuliah. Selain itu, kejelasan mengenai pengelolaan sampah di Unand juga kami hadirkan dalam rublik sorotan kampus. Di samping itu keindahan destinasi baru Kota Painan yang bernama Mamanbay turut kami sajikan dalam tabloid ini. Tak ketinggalan kami juga menghadirkan jawaban SMS-mu untuk menjawab berbagai keluhan mahasiswa. Semoga tabloid ini dapat memenuhi rasa keingintahuan dan kebutuhan informasi pembaca di sekitar kehidupan kampus. Sehingga mampu mewujudkan eksistensi kami sebagai Pers Kampus. Kritik dan saran solutif kami harapkan dari pembaca, agar karya ini dapat semakin baik dan menarik ke depannya. Akhir kata selamat membaca. Hidup mahasiswa!

Khasanah Budaya .. 19 Sastra dan Seni ...... 20 Wawasan .............. 22 Resensi................... 23 Sosok ..................... 24

Yuliandre Darwis Sosok Edisi LXV


Annisa

Rp MELUNCUR: Tax Amnesty yang diluncurkan pemerintah diharapkan mampu menutupi defisit dan membayar utang negara.

Kejelasan Perombakan Gedung PKM Pak, saya salah seorang mahasiswa yang berkegiatan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand. PKM dikabarkan beberapa bulan lalu akan dirombak, apakah benar jika PKM akan dirombak? Bagaimana dengan aktivitas mahasiswa di PKM? (08527488xxxx) Jawaban: Rencana perombakan PKM memang ada. Namun, waktu realisasinya masih perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan pimpinan kampus. Hingga saat ini, mahasiswa masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Hermansah (Wakil Rektor III) ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Kebersihan Tempat Ibadah Di Gedung F

Salahkah Melakukan Aksi di Kampus? Assalamualaikum Wr. Wb Pak, saya salah seorang mahasiswa Unand ingin bertanya terkait aksi yang dilakukan oleh mahasiswa di kampus. Apakah mahasiswa tidak boleh melakukan aksi? Mengapa aksi penyambutan Jusuf Kalla ketika berkunjung ke Unand beberapa hari lalu di cegat aparat keamanan? Apakah benar jika mahasiswa yang diamankan tersebut berdasarkan instruksi Rektor Unand? Jawaban: Kampus tidak pernah melarang adanya aksi mahasiswa jika aksi tersebut masih dalam kategori damai. Terkait aksi yang dicegat aparat keamanan saat kedatangan Jusuf Kalla ke Unand, setahu saya pimpinan kampus tidak pernah mengintruksikan aparat keamanan untuk mencegat atau mengamankan mahasiswa yang melakukan aksi.

Assalamualaikum. Wr. Wb. Saya mahasiswi Unand ingin menanyakan masalah kebersihan tempat salat di Gedung F. Mengapa tempat salat di Gedung F kebersihannya tidak terjaga? Bahkan air yang digunakan untuk berwudu tidak ada. (08136478xxxx) ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Dachriyanus (Wakil Rektor I)

Ota Da Tagen

Infokus Gedung Kuliah Tidak Berfungsi Assalamualaikum. Wr. Wb. Saya mahasiswi Unand ingin bertanya mengenai infokus yang berada di gedung kuliah. Mengapa infokus di gedung kuliah banyak yang tidak bisa digunakan? (08238809xxxx)

Redaksi Genta Andalas menerima tulisan berupa: esai, opini, feature, cerpen, puisi, khasanah budaya, dan bentuk tulisan kritis lainnya. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi. Tulisan disertai foto dan biodata penulis. Tulisan dapat dikirim melalui redaksi@gentaandalas.com

Tagen

: O Mak Itam. Lai tahu berita yang sedang angek di tipi kini

Mak Itam

: Apo tu Tagen? Berita kebakaran yo? Dima tu?

selain berita kopi Mirna?

Tagen

: Indak kebakaran do. Tapi tentang pengampunan pajak tu ha.

Mak Itam

: Ha? Banyak bana doso pajak tu diampuni bagai?

Tagen

: Iyo mungkin mah, Mak Itam.

Mak Itam

: O, yo habih pajak ko di narako bisuak ma.


Butuh Uang, Indonesia Kembali Terapkan Tax Amnesty

Foto: Ist.

B

eberapa bulan belakangan, media cetak maupun elektronik gencar membahas tentang tax amnesty. Jika Anda mengikuti pemberitaannya, tentu Anda tak asing lagi dengan istilah tersebut. Namun barangkali tidak semua kalangan paham dengan tax amnesty, tak terkecuali mahasiswa. Berangkat dari hal itu, kru gentaandalas akan menyajikan tentang kebijakan pengampunan pajak (tax amnesty) dan akan menyinggung peran mahasiswa dalam kebijakan ini. Mengapa Tax Amnesty? Mengusung slogan ‘Ungkap, Tebus, Lega’, terhitung 1 Juli 2016, Pemerintah mulai memberlakukan Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2016 tentang pengampunan pajak. Kebijakan tax amnesty ini berlaku untuk semua Warga Negara Indonesia (WNI) terutama yang memiliki harta namun tidak membayar pajak sesuai dengan jumlah harta yang dimilikinya, baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Mereka bisa terbebas dari segala tuntutan perpajakan sepanjang mau mengungkap harta yang disembunyikan dan membayar tebusan. Tidak tercapainya realisasi penerimaan pajak tahun 2015 sebagai basis perhitungan target penerimaan pajak pada Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016 memengaruhi penurunan proyeksi realisasi pendapatan negara tahun 2016. Di sisi lain, Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur serta perbaikan iklim investasi yang telah memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2016. Pemerintah melakukan konsolidasi fiskal baik dalam pendapatan negara, belanja negara, maupun pembiayaan anggaran. Perubahan kebijakan fiskal terutama ditempuh melalui kebijakan tax amnesty dan penghematan atau pemotongan belanja kementerian negara atau lembaga yang kurang produktif. Program tax amnesty dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan dan penguatan tax base

(basis pajak) perpajakan di Indonesia. Tax amnesty diyakini mampu menambah penerimaan pajak yang cukup besar dalam waktu cepat sehingga mampu menutupi defisit anggaran. Program tax amnesty diperuntukkan terutama bagi WNI yang selama ini menyembunyikan harta kekayaannya di luar negeri dan tidak membayar pajak. Program ini bertujuan untuk menarik dana WNI di luar negeri guna menopang pendapatan negara untuk mencegah terjadinya pelebaran defisit. Selain itu mengutip dari tempo.co utang Indonesia pada kuartal II 2016 sebesar US$ 323,8 miliar atau setara dengan Rp 4.273 triliun. Sedangkan berdasarkan data Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, utang pemerintah sebesar Rp 3.362 triliun per Juni 2016. Perkiraan rata-rata tingkat bunga utang yang dibayarkan pemerintah yakni 5,2 persen. Untuk mengetahui tax amnesty ini secara sederhana, kru gentaandalas menemui Dosen Jurusan Akuntansi Unand Afridian Wirahadi Ahmad. Ia menjelaskan latar belakang dikeluarkannya kebijakan tax amnesty ini. Dosen yang akrab disapa Pak Wir ini menjelaskan mengenai kondisi utang Indonesia ke luar negeri dan defisit anggaran yang dialami Indonesia. “Sekitar Rp 112 triliun bunga utang yang harus dibayar, dan kita (Indonesia, red) tidak sanggup bayar. Sehingga pemerintah harus minjam uang lagi untuk membayar bunga saja. Artinya Indonesia kalau di sisi keuangan sudah ‘lampu merah’ semuanya,” ujar alumni Akuntansi Unand ini, Senin (5/9). Lebih lanjut, Ia mengatakan pemerintah kemudian melakukan efisiensi besar-besaran di beberapa pos kementerian dan lembaga, namun hal itu tidak cukup. Selain itu, pemerintah ingin membangun infrastrukur, tetapi sayangnya infrastruktur tersebut dibangun secara utang. “Nah, kita tetap ingin bangun negara dan pasti itu butuh uang. APBN tidak sanggup, tidak ada uang. Lalu, karena warga negara kita memiliki uang sebanyak Rp 11.000 triliun di luar negeri, kita perlu mencarikan bagaimana uang tersebut bisa balik ke

Indonesia sehingga keluarlah tax amnesty. Ibaratnya, Anda selama ini maling, saya maafkan loh maling Anda, saya tidak periksa lagi. Dengan syarat, umumkan jumlah harta Anda lalu Anda membayar uang tebusan,” lanjut Wir menjelaskan. Di samping itu Kepala Bagian Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jendral Pajak Kantor Wilayah Sumatera Barat-Jambi, Sri Suratno, turut memaparkan latar belakang dikeluarkannya kebijakan tax amnesty. Menurutnya, ada tiga hal yang melatarbelakangi, di antaranya pertama kondisi pemenuhan kewajiban perpajakan oleh wajib pajak. “Wajib pajak yang terdaftar di Indonesia memiliki tingkat kepatuhan yang rendah, baik itu formal maupun material. Dan juga banyak peraturan yang dilanggar, sehingga hal itu konsekuensinya adalah sanksi,” jelasnya. Kedua, kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan untuk pemerintah. Penerimaan pajak cenderung lambat dan ini tidak sebanding dengan target yang dibebani oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terus meningkat. Tahun 2016 ini target penerimaan pajak Rp 1.318 triliun. “Tetapi dalam pencapaiannya masih sangat mengkhawatirkan,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, kondisi ini dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional, juga pengaruh kekuatan ekonomi negara Amerika, Eropa, China sangat kuat dan besar kepada pertumbuhan perekonomian Indonesia. Ketika pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut menurun, Indonesia langsung terpengaruh pesat. Ketiga, kondisi industri. Awalnya industri atau perusahaan membayar pajak cukup besar, karena dagangan laku di pasar internasional, terutama eksportir. “Indonesia ditopang oleh 8 persen saja yang membayar pajak bagus. Dari jumlah 27.000 wajib pajak di Indonesia, itu hanya 8 persen yang menopang penerimaan di Indonesia yang harus mengumpulkan Rp 1.318 triliun. Dan yang selebihnya hanya pelengkapnya saja, tidak material,” jelasnya.

Alasan Wajib Pajak mengikuti Program Tax Amnesty Berbicara mengenai alasan wajib pajak mengikuti tax amnesty, Wir mengatakan bahwa ada unsur kelegaan jika Wajib Pajak (WP) yang selama ini tidak menyembunyikan hartanya untuk menghindari pajak. “Ya, karena mereka akan merasa lega jika harta yang mereka miliki tersebut bersih. Jadi, tidak perlu was-was jika sewaktu-waktu pemerintah melakukan pemeriksaan. Toh mereka sudah mengantongi surat pengampunan pajak,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa adanya ancaman dari pemerintah yang akan memberikan sanksi jika kini tidak memanfaatkan program tax amnesty, kemudian nanti diadakan pemeriksaan, dan terdapat kecurangan, maka WP akan dikenakan denda sebesar 200 persen dari pajak terutang. “WP ditakut-takuti, kalau Anda tidak deklarasikan, nanti Anda akan didenda 200 persen. Kalau diungkapkan, uang Anda hanya hilang dua persen dari harta bersih Anda,” ujarnya. Senada dengan hal itu, Suratno mengatakan bahwa tax amnesty merupakan salah satu antisipasi ke depan. Tahun 2018 akan ada pertukaran data otomatis di antara negara-negara di dunia. “Ada 369 negara yang telah menandatangani kesepakatan Automatic Exchange of Information (AEoI). Kemudian setiap instansi baik itu pemerintah maupun swasta, harus mengirim data ke Dirjen pajak.” jelasnya. AEoI adalah sistem yang mendukung pertukaran informasi rekening WP antarnegara. Melalui sistem ini, WP yang membuka rekening di negara lain akan langsung terlacak oleh otoritas pajak negara asal. Ini akan membantu otoritas pajak di masingmasing negara untuk memantau kepatuhan dari WP. Sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi individu untuk kabur dari kewajiban pajak yang harus dibayarkan dan dilaporkan. Selama ini, permintaan data ke luar negeri terkendala aturan hukum menyangkut kerahasiaan perbankan Mengaitkan hubungan tax amnesty dengan AEoI, Ia juga


menjelaskan potensi sanksi yang akan diterima WP jika nanti sudah ada keterbukaan informasi. “Maka orang yang tidak melaporkan harta kekayaannya tersebut dikembalikan ke undang-undang pajak dan dikenakan tarif tertinggi 30 persen dan sanksinya 200 persen. Artinya sama saja dikenakan sanksi administrasi sebesar 90 persen. Jika dianalogikan, misalkan punya uang Rp100 juta, Rp90 juta untuk membayar sanksi kepada negara dan Rp10 juta untuk WP,” rincinya. Selain itu, penerimaan uang tebusan tax amnesty ditargetkan hingga Maret 2017 sebesar Rp165 triliun dan jumlah dana repatriasi tax amnesty yang diterima pemerintah sebesar Rp1.000 triliun. Jumlah peneriman uang tebusan tax amnesty yang dipantau dari http:// www.pajak.go.id/amnestipajak di bulan Juli 2016 sebesar Rp120 miliar. Kemudian hingga Agustus 2016 mencapai Rp4,8 triliun. Menginjak September, tanggal 115 2016 mencapai angka Rp13,93 triliun. Berbicara mengenai target Sumbar, Suratno mengatakan tidak ada target tertentu di setiap wilayah. “Target kita sebesar-besarnya. Semakin banyak peran serta warga negara, semakin besar pembayaran semakin bagus. Artinya, di sisi pemerintah akan ada sumber uang masuk, dan di sisi lain memberikan ketenangan kepada masyarakat yang sejauh ini belum memenuhi kewajiban perpajakan secara baik karena akan diberlakukannya AEoI,” ujar Suratno. Hingga Agustus 2016, Suratno mengungkapkan jumlah penerimaan tebusan untuk wilayah Sumbar-Jambi mencapai kurang lebih Rp 12 miliyar, dengan peserta wajib pajak sebanyak 200 orang lebih. Dampak Tax Amnesty Tax amnesty dari satu sisi dinilai tak adil bagi wajib pajak yang selama ini patuh membayar pajaknya. Namun di sisi lain, melihat kondisi perekonomian Indonesia yang lesu, maka tax amnesty dinilai cara tercepat untuk mendapatkan dana. “Setidaknya, uangnya kalau di luar negeri, akan berputar di luar negeri. Diputar oleh bank luar negeri, yang maju luar negeri dengan uang kita. Kenapa gak ditarik uang tersebut kemudian disimpan misalnya di Bank Mandiri. Kemudian bank tersebut menginvestasikannya dalam bentuk infrastruktur, sehingga ekonomi Indonesia baik lagi.” ujar Wir. Lanjutnya, jika kekayaan yang berada di luar negeri ditarik ke Indonesia hal ini akan menimbulkan investasi. Dalam jangka panjang akan menyerapa tenaga kerja dan menciptakan objek pajak baru. “Misalnya membangun infrastruktur. Pasti butuh tenaga kerja, membuka lapangan kerja. Lalu akan ada jual beli yang juga akan menimbulkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diterima negara. Ekonomi Indonesia baik lagi,” tuturnya. Di samping itu Suratno mengatakan bahwa dampak tax amnesty memang belum bisa dirasakan saat ini. “Karena uang yang masuk dalam tebusan harus melewati proses penganggaran, dievaluasi, lalu dibicarakan sampai nanti ketok palu. Sekitar 3 tahun ke depan baru bisa kira rasakan dampaknya,” jelasnya. Kemudian Ia melanjutkan bahwa yang dirasakan masyarakat sekarang ini pengurangan kemampuan ekonomi. “Dampak pembangunan pun belum bisa kita lihat. Yang jelas untuk investasi dan pembangunan. Infrastruktur, penyelenggaraan pemerintahan dan subsidi. Secara tidak langsung masyarakat awam tidak menyadari telah menggunakan uang pajak seperti

penggunaan jalan. Sesungguhnya sejak kita “ Ibaratnya, Anda selama ini bangun tidur dan selama maling, saya maafkan loh maling tidur pun makan uang pajak,” terangnya. Anda, saya tidak periksa lagi. Selain itu risiko Dengan syarat mengumumkan masuknya dana repatriasi berapa harta Anda lalu Anda hasil tax amnesty dikhawatirkan akan membayar uang tebusan,” mengganggu stabilitas makroekonomi dan pasar Dosen Fakultas keuangan domestik jika Ekonomi Unand instrumennya tidak dilakukan dengan baik. Berdasarkan -Afridian Wirahadi Ahmadkajian Bank Indonesia, tax amnesty mampu menambah penerimaan pajak sebesar Rp 45,7 triliun dan dana repatriasi menyimpan uang di luar negeri. Dan sebesar Rp 560 triliun. mereka mengetahui kelemahan sistem Kepala Subbagian Administrasi administrasi perpajakan Indonesia. Otoritas Jasa Keungan (OJK) Perwakilan Sistem administrasi ini yang seharusnya Padang Mochamad Taufik mengatakan diperbaiki oleh pemerintah,” ujarnya. bahwa OJK berkomitmen dalam Berbeda dengan Wir, Taufik mendukung kebijakan nasional mengaku pihak OJK sejauh ini tidak Pengampunan Pajak. Komitmen merasakan kegagalan. “Sejauh ini kami tersebut diwujudkan dalam bentuk optimis terhadap tax amnesty ini,” menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa tegasnya. Keuangan (POJK) Nomor 26/POJK.06/ Indonesia pernah mengalami 2016 tentang Produk Investasi di Bidang kegagalan dalam penerapan tax amnesty. Pasar Modal dalam Rangka Mendukung Di antaranya tahun 1964 melalui perangkat Undang-Undang Tentang Pengampunan Keputusan Presiden Republik Indonesia Pajak. “Peran OJK sendiri dalam hal ini yang bertujuan untuk mengembalikan adalah bagaimana mengatur dana revolusi. Namun kebijakan ini dinilai penempatan dana atas hasil dari gagal karena adanya G30S/PKI. repatriasi tersebut. Yakni mengenai Selanjutnya, tahun 1984 kebijakan tax investasi dari dana repatriasi serta amnesty yang bertujuan untuk mengubah landing resort-nya,” ujarnya. sistem perpajakan di Indonesia dari Di sisi lain, jika program tax official-assesment(besarnya jumlah pajak amnesty ini gagal, Wir mengatakan ditentukan oleh pemerintah) diubah ke pemerintah akan mengalami masalah self-assesment (besarnya pajak kredibilitas. “Berarti data yang ditentukan oleh wajib pajak sendiri). menyebutkan Rp 11.000 triliun itu Penerapannya juga mengalami kegagalan palsu,” tuturnya. Selanjutnya, jika pemerintah gagal dapatkan Apalagi jika yang dibayar masyarakat uang maka akan kembali ini uang nya terkumpul sangat besar, menambah utang. “Yang bayar siapa? Ya penerus. pemerintah akan mampu mengelola Bunga saja sudah gak bisa dengan baik, kita tidak akan punya bayar. Bisa saja nanti kita utang, tidak perlu bayar bunga ke luar bernasib seperti Yunani. Bangkrut. Lalu diatur oleh negeri, dan semua kita akan yang punya uang. Ada berkecukupan potensi? Sangat besar. Namun Jokowi menyadari Kepala Bagian Penyuluhan, hal ini sehinga presiden Pelayanan, dan Humas DJP Kanwil memanggil kembali Sri Sumbar-Jambi Mulyani untuk jadi Menteri -Sri SuratnoKeuangan (Menkeu). Menkeu diberi kebebasan memotong semua anggaran,” ujarnya. Sekedar informasi, pemerintah karena memang sistem perpajakan belum memotong anggaran belanja di terbangun. beberapa pos kementerian atau lembaga sebesar Rp 133,8 triliun. Peran Mahasiwa Sebagai mahasiswa, Hajral Sofi Pemangkasan itu meliputi belanja kementerian atau lembaga sebesar Rp mengaku perannya dalam hal memantau 65 trilun dan transfer ke daerah Rp 68,8 perkembangan dari isu tax amnesty. triliun. Salah satu anggaran belanja yang Sikap kritis mahasiswa secara tajam dan dipotong adalah Kementerian Riset objektif mengenai isu dan pengaplikasian Teknologi dan Pendidikan Tinggi tax amnesty dinilai penting, mengingat (Kemenristekdikti). Kemenristekdikti sejarah penerapan tax amnesty yang mengalami efisiensi anggaran sebesar pernah gagal di Indonesia. “Monitoring Rp 1,9 triliun. Dengan efisiensi sebesar isu dan pelaksanaan tax amnesty ini dari Rp1,9 triliun tersebut, alokasi anggaran seluruh elemen masyarakat termasuk diharapkan dapat Kemenristekdikti 2016 berubah menjadi mahasiswa, sebesar Rp38,67 triliun dari sebelumnya mewujudkan tranparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatan bisnis oleh sebesar Rp 40,62 triliun. Di sisi lain, Wir mengaku pengusaha dan perusahaan,” tutur pesimis akan berhasilnya program tax Mahasiswa Jurusan Akuntansi Angkatan amnesty. Hal ini karena Kecenderungan 2013 ini. Lebih lanjut Ia memperkirakan, uang yang dilarikan ke luar negeri adalah uang yang tidak baik. Kemudian tax amnesty ini juga dilatarbelakangi oleh sistem perpajakan di Indonesia yang kasus Panama Papers yang hangat membuat akhirnya mereka WP enggan beberapa waktu silam. “Maka sebagai melaporkan hartanya. Karena kaum intelektual, mahasiswa dapat penghasilan luar negeri dan dalam bekerja sama dengan akademisi beserta negeri di Indoenesia dikenai pajak seluruh elemen masyarakat Indonesia walaupun nanti akan ada kredit pajak guna mewujudkan kemaslahatan yang luar negeri. “Orang yang menyimpan diharapkan melalui penerapan tax amnesty harta di luar negeri itu orang pintar ini.” ujarnya. Membicarakan tentang peran semua. Tidak ada orang bodoh yang

Dok. Pribadi

mahasiswa, Suratno mengatakan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai juru bicara dalam menyampaikan berita terkait tax amnesty. “Kalau mahasiswa yang berbicara mungkin masyarakat akan lebih percaya. Jika mahasiswa tidak sependapat dengan pemerintah jangan berdemo, bikin seminar, ajak diskusi, atau perlu kirim naskah ke presiden,” ujarnya. Menurut Wir, tax amnesty tidak berdampak langsung pada mahasiswa. Katanya, mahasiswa perlu mendorong pemerintah untuk lebih agresif pada wajib pajak kelas kakap. “Dalam bentuk menyampaikan aspirasi, dengar pendapat, sehingga menunjukkan bahwa mahasiswa juga peduli loh kalau negara butuh uang,” paparnya. Lanjutnya, ini juga menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa tentang masalah integritas dan kejujuran dalam membayar pajak dan bagaimana masalah tersebut berpengaruh terhadap negara.

Dok. Genta Suratno berharap segenap komponen masyarakat mendukung program ini dengan apa saja yang bisa dikontribusikan. Misalnya mahasiswa bisa dengan kercerdasannya menyampaikan kepada orang lain, mahasiswa yang sudah punya penghasilan harus sudah bayar pajak, mahasiswa yang punya orang tua ingatkan orang tua untuk bayar pajak. “Harapan lebih jauh, sebanyak mungkin yang memanfaatkan dan mengikuti tax amnesty ini, khususnya masyarakat Sumbar dan Jambi ini mengikuti untuk kebaikan, ketenangan , dan keuntungan untuk diri masingmasing,” harapnya. Selain itu menurut Wakil Rektor II Unand Asdi Agustar, tax amnesty bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu perekonomian Indonesia. “Tapi jika objek pajak main ‘kucingkucingan’ dengan pemerintah, atau tidak dari hati melaksanakan tax amnesty maka hal ini akan sulit untuk berhasil. Selain itu, penerapan hukum juga harus konsisten agar tax amnesty bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” ujarnya. Annisa, Devita, Fanny, Fika, Ully, Wati, Wina


Bank Sampah Unand Minim Sosialisasi

T

ahun 2014, Universitas Andalas telah memiliki Bank Sampah mandiri yang saat ini dipercayakan kepada Fakultas Teknik untuk mengelola. Bernama Enviro Andalas, Bank Sampah ini diprakarsai oleh Yenni Ruslinda, dosen Jurusan Teknik Lingkungan bersama beberapa mahasiswa Teknik Lingkungan Unand. Enviro Andalas ini terletak di dekat pol bus Unand. Pengelolaan Sampah Enviro Andalas Pengelolaan sampah terpadu yang dilaksanakan oleh Enviro Andalas ini terdiri dari: Pertama, pengelolaan sampah kering layak jual dengan penerapan bank sampah. Sampah yang bisa ditabung seperti kertas HVS, kertas koran, kardus, botol plastik bening bersih, botol plastik tidak bersih, botol plastik tidak bening, kaleng minuman, kaleng susu atau sejenisnya, gelas plastik tidak bersih, gelas plastik bening bersih, dan plastik karah. Selain pengelolaan sampah kering layak jual dengan penerapan bank sampah, Pusat Pengelolaan Sampah Terpadu (PPST) juga mengelola sampah basah yang telah dipilah untuk dijadikan pupuk kompos. Sampah yang bisa diolah menjadi kompos yaitu dedaunan, rumput-rumput, dan kotoran sapi di lingkungan kampus Unand. Selanjutnya, sampah organik tersebut diaduk di mesin pencacah selama

I

12 hari hingga ampasnya terpisah. Ampas tersebut bisa diolah menjadi pupuk kembali. Setelah menjadi pupuk organik, sebagian pupuk tersebut digunakan untuk menyuburkan tanaman di area Unand dan sebagian lagi dijual ke luar. Kemudian, sampah yang ada di setiap gedung kuliah langsung di buang karena sudah tercampur dan tidak layak untuk diolah. Operator pupuk organik, Beni mengaku untuk pengolahan pupuk organik masih kekurangan alat. “Kita memiliki lima alat fermentasi, yang bisa dioperasikan hanya tiga tank. Sedangkan dua tank lagi rusak, itupun masih kurang,” ungkapnya. Beni juga menambahkan pupuk organik dijual seharga Rp2000 per Kg. “Apabila ada orang yang ingin membantu menjual pupuk ke luar, harga yang diberikan Rp1.500 per Kg. Jadi, Rp 500 diberikan untuk si penjual sebagai upah,” ucap Beni. Disisi lain, Anggota Pelaksana Bank sampah, Dedi mengatakan sampahsampah yang akan diolah berasal dari tabungan dosen, mahasiswa, dan Cleaning Service (CS) di Unand. Ia juga menambahkan sistem pengelolaan masing-masing sampah tersebut berdasarkan jenis sampah. “Misalnya sampah yang berbahan plastik akan diolah dan dihancurkan. Hasil olahan tersebut berupa serpihan-serpihan kecil lalu dijual ke Kel. Aur Duri Kec. Padang Timur

Sumatera Barat. Kemudian, sampah jenis HVS dan kardus langsung dijual tanpa diolah,” jelasnya saat ditemui, Senin (5/9). Selain itu, bank sampah juga menerima tabungan berupa alatalat eletronik yang telah rusak tetapi hal tersebut masih dalam proses. Terkait harga beli sampah, Dedi mengatakan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai harga pasar. Kemudian Beni menuturkan penabung sampah bisa mengambil uang tabungannya apabila tabungannya sudah mencapai Rp50.000. “Setiap penabung diberi potongan sebesar 0,45%. Potongan tersebut dimasukkan ke kas PPST guna membeli inventaris,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang mahasiswa Teknik Lingkungan, Karina mengaku sosialisasi Bank Sampah hanya dilakukan pada saat mereka jadi Mahasiswa Baru (Maba). “Mahasiswa Teknik Lingkungan memang dianjurkan

Minim Sosialisasi Selain itu, Dedi juga mengatakan penabung di bank sampah kebanyakan berasal dari mahasiswa teknik lingkungan. Namun saat ini peminat bank Sumber: Pusat Pengolahan Sampah sampah mengalami penurunan Terpadu (PPST) yang cukup signifikan. “Penurunan terjadi karena belum ada untuk menabung di Bank Enviro Andalas, sosialisasi ke fakultas-fakultas dan kafe- namun mahasiswa dari jurusan lain juga kafe. Surat mengenai sosialisasi ada yang menabung. Akan tetapi, tersebut sudah dikirim ke Wakil Rektor memang belum maksimal. Kemudian, (WR) II, akan tetapi belum ada sejauh ini belum ada ketegasan dari pihak jurusan,” tutupnya.Rina, Rizka tanggapan,” tuturnya.

Polemik Bakti FIB Unand Temu Titik Terang

nsiden terhentinya Bimbingan Aktivitas Ilmiah (BAKTI) atau yang lebih dikenal dengan sebutan OPBM di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Kamis (11/8) menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa Unand. Hal ini dikarenakan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh panitia maupun pihak dekanat. Seperti yang dijelaskan oleh ketua OPBM, Azwandi Hanafi yang mengatakan pihak dekanat melanggar kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya oleh panitia OPBM. Kesepakatan pertama, tidak ada satupun pihak dekanat yang boleh masuk ke ruang disiplin kecuali komdis. Apapun yang terjadi di dalam maupun di luar ruangan, pihak dosen dilarang menegur panitia di depan maba, namun hal tersebut dilanggar. “Kesalahan dari kami yaitu adanya tindakan yang dilakukan di luar konsep oleh panitia, namun hal ini masih dalam taraf wajar, seperti aturan pemotongan rambut yang tidak pernah dibahas pada konsep sebelumnya,” jelas mahasiswa Jurusan Sastra Inggris yang akrab disapa King ini. Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan (WD) III FIB Hasanudin angkat bicara. Ia mengatakan tidak ada kesepakatan yang ditandatangani dekanat kecuali perihal buku orientasi. Kemudian, ia juga menambahkan bahwa panitialah yang meminta untuk mengundurkan diri dan pihak dekanat menyetujui hal tersebut sehingga pada, Jumat (12/8) kegiatan BAKTI FIB terhenti. “Tidak ada kesepakatan yang ditandatangani dekanat kecuali prihal buku orientasi. Azwandi dan kawankawan tidak mampu merumuskan secara tertulis standard operating procedure (SOP) Ruang Disiplin (Ruang 13) sampai hari H BAKTI/ OPBM. Hal itu masih diberi toleransi. Di samping itu, Azwandi menolak pengawasan tindakan mahasiswa senior di Ruang 13 oleh komdis dosen. Temuan kami, insiden di Ruang 13 adalah pelanggaran berat, yaitu mahasiswa senior membawa senjata tajam berupa gunting dan digunakan tanpa kewenangan untuk mengeksekusi

pemotongan rambut maba. Azwandi juga membiarkan senior yang bukan panitia memelonco maba yang digiring ke ruang 13,” jelasnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa mahasiswa senior juga tidak disiplin dalam hal pakaian dan rambut. Mereka berdalih aturan panjang rambut untuk laki-laki maksimal 5 Cm hanya berlaku bagi maba. ”Ketika dimintai pertanggungjawaban, Azwandi dan kawan-kawan justru mengelak, berdalih dan sebaliknya menuding pihak dekanat

medsos line. Ia mengaku pernyataan tersebut tidak bermaksud untuk menyinggung pihak lain, dan tidak bermaksud untuk memperkeruh suasana.”Saya meminta maaf bukan karena pernyataan saya tapi karena dampaknya. Dampaknya yang menimbulkan kesedihan, kemarahan, dan sebagainya pada perasaan mahasiswa. Walaupun sebenarnya tidak memiliki maksud apapun, namun ketika kita melakukan sesuatu yang tujuannya baik dan bisa dipertanggungjawabkan

Dok. Pribadi DISKUSI: Wakil Dekan III FIB Unand klarifikasi pernyataan yang sempat menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa Unand dan dosen komdis melakukan intervensi. Atas insiden dan sikap tidak kooperatif mereka, maka Ruang 13 kami tutup. Akan tetapi, Azwandi dan kawan-kawan justru menarik diri dari kepanitiaan dan hal itu kami kabulkan,” ungkapnya. Menyikapi permasalahan ini, Selasa (16/8) WD III bersama mahasiswa FIB melakukan diskusi terbuka. Dalam diskusi yang dilakukan di Balairuang FIB tersebut, Hasanudin mengklarifikasi pernyataannya yang ditulis dalam akun grup line maba yang sempat juga menghebohkan media sosial. “Adik-adik, FIB bukan‘sarang penyamun’ kalian punya hak asasi, negara ini menjamin hak-hak hidup kalian. Laporkan segala bentuk perlakuan yang tidak pantas dari siapapun,” tulisnya dalam akun

kebenarannya, tetapi itu berdampak kepada perasaan orang lain. Artinya orang lain sudah terluka dan itu merupakan sebuah kesalahan. Dalam hubungan silaturahmi jika hal demikian terjadi tentu kita harus meminta maaf,” ungkapnya. Kemudian, dalam diskusi yang dilakukan ini akhirnya menemukan titik terang. Hasanudin menyebutkan ada dua solusi yang didapatkan. Pertama, klarifikasi bahwa berbagai peristiwa berupa pernyataan-pernyataan yang cenderung membuat oposisi antara pimpinan fakultas seperti WD III dengan mahasiswa senior, pengurus BEM, dan UKMF yang lainnya sudah selesai. “Tentu saja, pernyataanpernyataan yang timbul tersebut

sebenarnya bertujuan baik namun dimaknai secara berbeda karena kita berada pada posisi yang berbeda. Sekarang telah disatukan kembali, bahwa pernyataan-pernyataan tersebut tidak bermaksud untuk menciderai pihak satu dengan pihak yang lain. Kini kami sudah saling memaafkan,” tuturnya. Kedua, terkait bagaimana mempertemukan kembali mahasiswa senior dengan Mahasiswa Baru (Maba) agar kembali bersatu. “Saya sebagai ayah ketika anaknya saling tidak kenal, saling mencurigai, tentu tanggungjawab saya adalah saling mempertemukan mereka. Membuat mereka akrab, dan membentuk hubungan silaturahmi yang baik dan membangun sebuah hubungan keluarga yang utuh. Dua hal itu akan kita tindaklanjuti segera,” jelasnya saat diwawancarai usai diskusi terbuka. Hal senada disampaikan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Muhammad Hafiz. Ia mengatakan dalam diskusi terbuka yang berlangsung kurang lebih dua jam ini membuat kedua belah pihak telah saling memaafkan. “Bapak berjanji akan mempertemukan kembali kakak-kakak dari adik-adik Maba, juga mengkondusifkan keadaan yang ada. Kemudian, pernyataan yang beredar di medsos itu ternyata tidak memiliki maksud menjelekkan senior,” terang mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau yang akrab disapa Hafiz ini. Selanjutnya, Hafiz mengatakan akan ada tindaklanjut dari BAKTI yang tidak berjalan sempurna tersebut. “Kami akan sepakati nanti bersama pihak dekanat, dan tadi juga telah ada kesepakatan bahwa kelanjutan dari BAKTI adalah kegiatan orientasi. Jadi, Maba nantinya akan kembali dikenalkan dengan lingkungan kampus seperti pengenalan UKMF, HIMA, dan pengenalan masingmasing jurusan yang seharusnya dilakukan ketika BAKTI, namun sekarang dikemas dengan cover yang berbeda,” tutupnya. Fika, Gita, Wina


Romantisme Museum Kereta Ambarawa

A

mbarawa adalah kota kecil di Jawa Tengah (Jateng). Jika berjalan dari Semarang kita hanya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor untuk sampai ke sana. Beberapa bulan lalu penulis berkesempatan mengunjungi kota Ambarawa. Ini adalah kunjungan pertama kali penulis bersama teman-teman. Salah seorang dari mereka merupakan teman seorganisasi penulis ketika di kampus Unand, kedatangan kami ke Semarang merupakan partisipan pada pertemuan pers mahasiswa se-Indonesia. Sementara dua orang lainnya merupakan temanteman yang baru penulis kenal dan berbaik hati mengantarkan kami berkeliling Ambarawa. Jarum jam bar menunjukkan pukul empat sore. Namun, Ambarawa telah diliputi awan hitam, tak lama dari itu langit menurunkan hujan, dan suasana berubah menjadi dingin. Hujan di bulan Febuari menjadi teman kami menuju Museum Kereta Ambarawa. Setelah membeli tiket dan berpapasan dengan turis mancanegara, kami memasuki area museum. Museum saat itu masih sepi, hanya beberapa pengunjung dan pegawai berbaju biru muda terlihat berkeliling menelusuri museum. Kesepian ini yang menjadikan kami lebih leluasa untuk menikmati suasana, pemandangan, dan melihat info-info yang dipajang di museum kereta Ambarawa. Ketika kami memasuki museum, kami disambut sebuah lorong, tak begitu lebar namun cukup panjang. Lorong itu mengingatkan penulis akan adeganadegan di film horor. Di sisi kanan terdapat dinding, sementara di sisi kiri terdapat pemandangan lepas ke arah area ruang terbuka, dengan bangunan stasiun dan lokomotif serta gerbong kereta di halaman. Selang beberapa meter

Oleh: Zikra Delvira*

berjalan, dinding yang tadinya kosong ditempeli semacam papan informasi yang sangat panjang. Di sana tercatat penjelasan mengenai sejarah perkeretaapian di Indonesia. Mulai dari tempat yang dilalui jalur kereta api pertama di Indonesia, perkembangan dan perluasan jalur kereta api, tak ketinggalan mengenai jalur yang paling ekstrim di

pengawai angkatan 1944, diktat Peraturan Kepegawaian yang sudah lusuh, telepon antik, tiket-tiket tua, telegraf, lampu sorot berwarna hitam, topi kondektur hingga topi masinis, dan barang-barang lainnya. Sebagai rekam jejak, juga dipindahkan dan dibangun ulang bangunan berupa stasiun-stasiun kecil

Foto: Zikra TERAWAT: Sejak berdiri tahun 1873 Museum Kereta Ambarawa masih terawat dengan baik. negeri ini yang terletak di Lembah Anai, Sumatera Barat. Sebuah bangunan bercat putih dengan pintu besi menyambut di penghujung lorong. Di ruangan itu dipajang barang-barang yang telah digunakan dari tahun ke tahun. Terdapat mesin tik awal abad 20, catatan pensiun

bermaterial kayu dan batu di area museum tersebut. Namun yang menjadi primadona adalah bangunan stasiun khas arsitektur Belanda zaman dulu. Bangunan itu yang paling besar di antara bangunan lainnya. Disusun oleh batu-batu yang kuat, dengan beberapa kursi kayu panjang yang diletakkan di peron.

Beberapa barang masih dipajang di sana, antara lain Genta PJL yang menjadi alat bantu komunikasi, mesin pres tiket, dan lainnya. Tak ketinggalan tentu kereta api uap yang terparkir di halaman. Dengan warna hitam mengkilat dan material tebal yang terbuat dari baja. Pengunjung dapat naik ke gerbong dan lokomotif. Museum ini mengoleksi sebanyak 21 lokomotif uap, tiga di antaranya masih dioperasikan yaitu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 yang dibuat Maschinenfabriek Esslingen. Satu lokomotif lagi dibuat oleh Hannoversche Maschinenbau AG bernomor B 5112. Tak hanya kereta antik itu, terdapat pula kereta yang terbuat dari kayu. Museum Kereta Ambarawa satusatunya tempat di Indonesia di mana dapat ditemukan kereta api uap yang masih dioperasikan, namun memang hanya untuk keperluan wisata. Berkat itu pula, bekas stasiun yang dibangun pada 1873 ini kerap dijadikan lokasi syuting film kolosal maupun film bersetting tahun 1900-an seperti Di Bawah Lindungan Kakbah dan beberapa film lainnya. Puas berkeliling museum, sore juga semakin gelap dan telah menjelang Magrib. Hujan mereda, menyisakan rinai dan bau serta hawa basah. Kami keluar dari area museum tersebut. Sebagai penutup, di simpang jalan terdapat pedagang gerobak kucingan, menjual aneka gorengan dan susu jahe yang lumayan untuk mengganjal perut serta menutup hari penulis bersama temanteman di Ambarawa. *Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Angkatan 2012

Mamanbay, Surga Baru Kota Painan

Alam Takambang Jadi Tampek Malala” membaca meme itu membuat penulis berfikir seolah itu adalah gambaran nyata yang terjadi di Sumatera Barat (Sumbar) saat ini. Banyak tempat wisata baru yang ditemukan oleh masyarakat di daerah setempat. Seperti

Oleh: Wina Sartika*

yang indah, seperti Pantai Carocok, Pantai Batu Kalang, Pulau Setan, dan lain sebagainya. Kali ini, penulis akan berbagai cerita tentang penemuan baru masyarakat Painan yang diberi nama ‘’Mamanbay’’ atau Teluk Maman. Mamanbay merupakan destinasi terbaru Kota Painan yang terletak di Nagari Painan Selatan, tepatnya di belakang Pelabuhan Pa n a s a h a n P a i n a n . Wisata ini m a s i h terbilang sangat baru, karena baru dibuka tepat sehari setelah Foto: Wina hari raya Idul Fitri 2016. BERPOSE: Wisatawan mengabadikan moment di depan papan M e n u r u t nama MAMANBAY. masyarakat yang baru-baru ini menjadi pilihan tujuh setempat, tempat ini dulunya jarang tempat wisata hits di Instagram ala On dikunjungi. Hal ini disebabkan karena The Spoot di Trans 7, salah satunya yaitu akses darat menuju pantai ini belum Danau Biru Kota Sawahlunto. Tidak hanya ditemukan. Jadi, pengunjung kala itu itu, beragam tempat wisata telah banyak harus menaiki boat dari Pantai Carocok di temukan di daerah Sumbar. Begitu juga untuk bisa ke Teluk Maman. Mungkin dulu Mamanbay tidak dengan Kabupaten Pesisir Selatan, julukan ‘’Negeri Sejuta Pesona’’ untuk banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kab. ini memang sangat cocok di Namun, kini tempat ini menjadi tempat dapatkan. Pesisir Selatan terkenal kaya hits anak muda Painan. Berawal dari akan keindahan pantai dengan pasir putih postingan salah satu pengunjung

Mamanbay di Sosial Media, tempat ini menjadi buruan baru wisatawan yang mencintai pantai dan segala keindahannya. Akses menuju Teluk Maman kini bisa dilalui melalui jalur darat. Jarak Teluk Maman dari pusat kota lebih kurang sekitar 77 km. Jika wisatawan ingin mengunjungi tempat ini dari Pusat Kota Padang, wisatawan bisa mengambil arah jalan menuju Kota Painan dan setelah itu menuju arah jalan ke Pelabuhan Panasahan. Mamanbay berada di samping gedung siaran RCTI atau sebelum Bukik Ransam. Jika pengunjung telah menemukannya, pengunjung bisa bertanya kepada penjaga parkir mengenai akses jalan menuju Teluk Maman. Karena tempat ini baru, belum ada petunjuk atau papan nama untuk Mamanbay. Setelah memarkirkan kendaran, wisatawan bisa menyeberangi jalan yang ada di depan wisatawan dan menuju ke semak-semak yang ada di depan jalan itu. Sebelum menikmati surga ini wisatawan harus berjalan kaki kira-kira 10-15 menit. Jalan menuju tempat ini pun masih berupa semak-semak, sebenarnya wisatawan bisa menggunakan sepeda motor, namun untuk menjaga keamanan penulis menyarankan wisatawan rela untuk berjalan kaki menuju tempat ini. Jalanan yang masih baru ini, memiliki tanah yang tidak datar dan batu-batuan kecil hingga sedang. Wisatawan akan mendaki dan menurun terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Teluk Maman. Walau

begitu, penulis akan menjamin wisatawan tidak akan bosan jika menikmatinya bersama teman-teman diiringi dengan guyonan lucu, atau wisatawan bisa membuat video perjalanan wisata. Selain itu, perjalanan wisatawan akan ditemani dengan angin yang sejuk, terik matahari, dan hijau rerumputan. Wisatawan bisa sejenak berhenti untuk berfoto bersama ilalang yang ada di sana. Hingga tiba di tempat yang dituju, wisatawan akan dibuat tersanjung-sanjung dengan kenyataan yang ada di depan wisatawan saat itu. Hamparan laut membiru tenang, pasir putih yang belum tercemari oleh kotoran sampah seperti bungkus makanan dan lain sebagainya. Mamanbay adalah ‘’Surga Tersembunyi’’ yang masih perawan. Tempat ini memang cocok bagi wisatawan yang cinta akan kesunyian dan kesendirian, karena tempat ini begitu tenang dan damai. Suasana damai dan tenang ini dikarenakan Mamanbay merupakan tempat wisata baru yang belum banyak dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara, penulis berharap agar ‘’Surga Tersembunyi’’ ini akan selalu seperti ini, agar wisatawan yang datang mendapatkan arti ketenangan dan kedamainan dari lautan yang membiru tenang di Mamanbay. Saat memasuki Teluk ini, penulis di sambut dengan terik matahari yang menyilaukan mata. Ketika itu penulis bertemu dengan perempuan paruh baya,

bersambung ke halaman 19...


Fasilitas Meningkat, Unand Kekurangan SDM Berkualitas

K

ementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia pada tahun 2016 menempatkan Unand sebagai Perguruan Tinggi terbaik peringkat ke-11 dari 12 besar Perguruan Tinggi di Indonesia atau posisi pertama di Pulau Sumatera dan posisi kedua di luar Pulau Jawa. Sebagai kampus nomor satu di Pulau Sumatera, Unand telah memberikan banyak fasilitas baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Layanan Perpustakaan Unand Berdasarkan Surat Perpustakaan Nasional RI No. 66/4.1/PPM.02/I.2016 tanggal 13 Januari 2016 lalu yang ditandatangani oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Perguruan Tinggi Drs. Nurcahyono, SS.,M.Si, memutuskan bahwa perpustakaan Unand memeroleh Hasil Akreditasi Kategori A dengan Predikat Baik Sekali. Kesuksesan yang didapatkan membuat Unand terus bersemangat untuk memberikan pelayanan terbaik, baru-baru ini Unand melakukan pembaharuan dalam pelayanan perpustakaan yaitu penggunaan sistem Flat Barrier. Sistem Flat Barrier ini merupakan strategi pihak perpustakaan untuk melihat data jumlah pengunjung setiap harinya. Saat ditemui oleh kru gentaandalas, Kepala Perpustakaan Unand, Yasir menjelaskan penerapan sistem Flat Barrier. Sistem ini menggunakan scanning barcode Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai pembuka pintu masuk perpustakaan. Cara lain untuk masuk ke perpustakaan bisa dengan memasukan nomor Buku Pokok (BP) pada komputer yang telah disediakan. Selain itu, bisa juga dengan menggunakan kartu perpustakaan yang dipegang oleh petugas. ‘’Hal ini biasa dilakukan ketika kondisi antrean terlalu panjang,” katanya, Kamis (25/8). Terlepas dari pembaharuan tersebut, Yasir menjelaskan Unand dianggarkan sebanyak Rp 500 Juta per tahun untuk buku teks. Kemudian untuk e-book dan e-journal, Unand berlangganan sebanyak Rp 3,5 Milyar tiap tahunnya dan untuk penambahan bukubuku teks dan jurnal ia mengatakan mendapat bantuan dari instansi luar seperti Universitas Indonesia (UI). Perpustakaan yang terdiri atas lima tingkat ini dilengkapi dengan ruangan sistem internet gratis. Ruangan ini membantu mahasiswa untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Di ruangan ini mahasiswa dilarang untuk membuka facebook, youtube, dan sejenisnya. Namun, berdasarkan pengamatan kru gentaandalas b a n y a k mahasiswa y a n g

Dok. Genta

menyalahgunakan pemakaian ruang menggunakan aplikasi lainnya. Sebelum merembet pada hilangnya beberapa Wifi internet. Saat ditanya, Yasir mengatakan sistem SSO ini diberlakukan, ia yang berada di gedung-gedung kuliah. ruangan tersebut tidak memiliki mengatakan bahwa LPTIK terlebih dahulu “Karena kekurangan SDM untuk membenahi manajemen mengelola Wifi, telah diidentifikasi penjagaan, sehingga tidak ada petugas harus yang mengatur aktivitas mahasiswa di penggunanya. “Jadi dengan ini kita harus bahwa ada empat Wifi yang hilang yaitu ruangan tersebut. ‘’Untuk mengawasi pastikan fasilitas yang diberikan oleh gedung B lantai II, Gedung D, Gedung secara langsung kegiatan mahasiswa di Unand dapat dimanfaatkan oleh semua H, Gedung A,’’ ungkapnya. ruang internet tidak memungkinkan warga unand se-optimal mungkin,’’ Di samping itu, kekurangan SDM karena ketersediaan SDM yang terbatas,’’ tuturnya. ini juga dirasakan oleh pegawai LPTIK, Ia melanjutkan, untuk ungkapnya. Rangga. Ia mengaku mengalami kesulitan Menanggapi hal itu, Wakil Rektor penggunaan sistem SSO ini harus dalam menangani kerjanya. “Karena II, Asdi Agustar mengatakan jika dilihat menggunakan perangkat tambahan yang kekurangan SDM kami kesusahan apabila dari jumlah petugasnya, Unand sama memiliki harga yang besar dengan ada masalah jaringan di fakultassekali tidak kekurangan SDM. Hanya saja, kisaran Rp 500 fakultas, kita harus pergi ke lapangan dan katanya, Unand kekurangan SDM yang j u t a ruangan LPTIK pun kosong. berkualitas. ‘’Unand tidak perlu Terkadang jika ada beberapa menambah jumlah SDM tetapi fakultas Wifi-nya rusak secara memperbaiki distribusi dari SDMserentak maka kami yang nya, dan memperbaiki pekerjaan sedikit ini akan pegawai melalui upgrading k e w a l a h a m ‘’Untuk mengawasi secara langsung dengan memberikan pelatihan mengatasinya,” kata dan pembinaan secara pria yang bekerja di kegiatan mahasiswa di ruang berjenjang. Itu yang harus Divisi Jaringan ini. internet tidak memungkinkan karena dilakukan sekarang,’’ ungkapnya saat diwawancarai Pengerjaan Jalan ketersediaan SDM yang terbatas,’’ via telpon, Minggu (18/9). Unand Kurang Pengawasan Kurang SDM, Wifi Tidak hanya Kepala Perpustakaan Unand Disalahgunakan m e m b e r i k a n Selain perpustakaan, kenyamanan dengan -YasirUnand juga menyediakan Wireless menyediakan berbagai Fidelity (Wifi) untuk membantu fasilitas seperti mahasiswa dalam bidang akademik perpustakaan, Wifi, dan maupun non akademik. Namun, sejenisnya. Unand juga berupaya kesediaan Wifi ini dimanfaatkan tidak memberikan pelayanan yang baik pada untuk satu hanya mahasiswa saja melainkan warga infrastruktur. Namun, banyak mahasiswa, di luar kampus Unand. Oleh sebab itu, di perangkat. ‘’Pengajuan proposal ini pegawai, yang menyampaikan kritikannya pertengahan tahun 2016 Ketua Lembaga sudah pada taraf akhir, sehingga hanya pada akses jalan ke kampus Unand. Pengembangan Teknologi Informasi menunggu kabar disetujui atau Seperti yang dikatakan Yulan, salah Komunikasi (LPTIK) Unand Ahmad tidaknya,” kata dosen Fakultas Teknik seorang mahasiswa Unand yang Syafruddin Indrapriyatna memutuskan ini. mengatakan akses jalan di Unand tidak Di samping itu, ia mengatakan rata dan dapat membahayakan pengguna untuk melakukan sistem online Wifi menggunakan user ID. Hal ini dilakukan bahwa universitas lain sebenarnya telah kendaraan bermotor. agar tidak ada lagi non mahasiswa Unand lama menggunakan sistem SSO, ‘’Kondisi jalan di Unand terdiri yang menggunakan Wifi Unand. Sehingga sedangkan di Unand sistem ini baru atas balok lobrik namun banyak dipenuhi internet menggunakan Wifi Unand bisa diterapkan. Hal ini disebabkan oleh bekas campuran semen yang mengering kurangnya SDM. Dosen Teknik ini juga sehingga permukaannya sangat terlihat lebih lancar. Sistem online Wifi berguna untuk mengaku sudah mengajukan permohonan kasar,’’ katanya. mengumpulkan data dan kemudian akan kepada pihak kampus untuk meminta Menanggapi hal tersebut, penambahan SDM. Mantan Ketua Jurusan Teknik Sipil, digunakan sebagai Single Sign On (SSO). Tujuan akhir dari penggunaan Purnawan mengatakan infrastruktur jalan password ini agar bisa di Unand sudah termasuk bagus dan digunakan untuk semua secara fisik tidak kalah dengan aplikasi manapun universitas lain. Hanya saja dari segi dengan satu ID, kualitas pekerjaannya tidak halus dan ‘’Unand tidak perlu menambah misalnya untuk sangat kasar. Pada saat mengakses jumlah SDM tetapi memperbaiki pelaksanaan, seharusnya W i f i , pengawas diawasi dari tim distribusi dari SDM-nya, dan membuka teknis Unand, dan tim teknis memperbaiki pekerjaan pegawai portal, juga harus aktif mengawasi d a n pengawas. ‘’Apabila ada jalan melalui upgrading dengan yang tidak sesuai dengan memberikan pelatihan dan spesifikasi atau gambar yang pembinaan secara berjenjang. Itu dibuat harus segera diingatkan. Jadi, setiap harinya yang harus dilakukan sekarang,” tim teknis harus aktif ke lapangan untuk mengawasi - Wakil Rektor II Unand apabila ada pekerjaan yang tidak benar,” jelas Alumni Teknik Sipil -Asdi AgustarBidang Transportasi UGM ini. Purnawan mengaku Teknik Sipil sebetulnya sudah tahu jika pekerjaan yang dilakukan pekerja tidak bagus, akan N a m u n , tetapi pihaknya tidak mempunyai hingga sekarang pihak Unand belum kekuatan untuk turun langsung dalam menyetujuinya. pembangunan jalan. ‘’Kita hanya bisa Saat diwawancarai oleh kru memberi masukkan kepada pimpinan gentaandalas, ia menjelaskan Unand saja,’’ tuturnya. tentang sistem kerja LPTIK. Ia Unand telah berusaha mengatakan bahwa LPTIK telah memberikan yang terbaik untuk menyediakan admin di setiap kenyamanan mahasiswa, dan seluruh fakultas, dan LPTIK hanya civitas akademika. Hanya saja tinggal bertanggungjawab untuk bagaimana oknum tertentu baik itu penggunaan aksesnya saja. mahasiswa, pegawai, atau masyarakat Namun, ia mengaku LPTIK masih sekitar yang memelihara dan menjaga kekurangan SDM untuk bisa yang telah tersedia, dan bagaimana membantu jika ada laporan Unand menyediakan SDM yang tentang permasalahan Wifi. berkualitas. Gita, Nite, Rina, Risesa, Kurangnya SDM ini juga Rizka, Wina, Wita,


Polling Laporan Utama Tabloid Genta Andalas Edisi LXV

P

residen Joko Widodo atau yang kerap disapa Jokowi pada tanggal 1 Juli 2016 telah mengesahkan undang-undang tentang pengampunan pajak atau tax amnesty. Kebijakan tersebut mulai berlaku, 18 Juli lalu. Tax amnesty merupakan pengampunan atau pengurangan “dosa� yang dimiliki oleh wajib pajak yang selama ini belum taat aturan dalam membayar pajak. UU ini diberlakukan untuk menarik uang warga Indonesia yang berada di luar negeri sehingga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi agar lebih terarah dan tertata. Selain itu, tax amnesty juga bertujuan untuk meningkatkan basis pajak yang berguna untuk pemajakan tahun mendatang. Hal ini sangat menarik dibahas karena akan menimbulkan pro kontra

di kalangan masyarakat sebagai wajib pajak. Dilatarbelakangi hal tersebut divisi penelitian dan pengembangan (Litbang) UKPM Genta Andalas melakukan sebuah survei untuk mengetahui pandangan mahasiswa Unand mengenai tax amnesty. Dengan menggunakan metode Purposive Sampling, survei ini diberikan kepada 300 responden yang dipilih secara accidental. Hasil survei menunjukan 64,71 persen mahasiswa Unand sudah pernah mendengar istilah tax amnesty sedangkan responden yang tidak pernah mendengar istilah tersebut yakni sebanyak 34,12 persen. Dari hasil tersebut terbukti mayoritas mahasiswa Unand sudah mengetahui tentang istilah tersebut. Istilah tax amnesty diketahui oleh responden dari media cetak sebanyak 16,92 persen, sedangkan 50,75 persen

melalui media elektronik. Selanjutnya, responden mengetahui istilah tax amnesty melalui spanduk, baliho sebanyak 3,38 persen, buku 3,76 persen dan lainnya 25,19 persen. Namun, kebanyakan dari responden mengetahui istilah tersebut dari media elektronik. Responden yang pernah mengikuti sosialisasi tax amnesty dari instansi hanya 5,79 persen sedangkan yang tidak pernah sebanyak 90,35 persen. Hanya sedikit dari responden yang mengetahui secara mendalam mengenai tax amnesty melalui sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah. Sebanyak 58,91 persen responden berpendapat mengenai minimnya sosialisasi tax amnesty di kota Padang, sebanyak 22,48 persen merasa biasa saja dan hanya 0.39 persen menjawab sudah

maksimal. Dari hasil tersebut menunjukan banyak dari responden berpendapat bahwa sosialisasi tax amnesty di kota Padang masih minim. Oleh karena itu, perlu peran mahasiswa dalam mengkritisi program yang telah disahkan oleh pemerintah tersebut. Mempertimbangkan kemungkinan baik dan buruk yang akan ditimbulkannya. Aktif dalam mengikuti setiap seminar yang berhubungan dengan program pemerintah mahasiswa lebih mengetahui dan lebih jeli melihat permasalahan Negara indonesia. Hal tersebut dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat ke depannya. Sumber: Litbang Genta Andalas Grafis: Produksi

Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan KKN di Unand

K

uliah Kerja Nyata(KKN) merupakan salah satu mata kuliah wajib di Universitas Andalas bagi setiap mahasiswa yang menempuh jenjang pendidikan Strata 1 (S1). Setiap tahunnya mahasiswa yang sudah menyelesaikan 110 SKS dari kredit perkuliahannya wajib mengambil mata kuliah KKN ini. Namun sejak tahun 2016, universitas membuat kebijakan baru bahwasanya mahasiswa semester 6 berhak mengikuti KKN. Setiap tahun hal pelik yang tak luput dalam pelaksanaan KKN ialah masalah finansial yang harus dipersiapkan mahasiswa sebelum melaksanakan KKN maupun saat

berlangsungnya KKN. Namun, timbul pertanyaan besar apakah hal-hal menyangkut pengeluaran dan pengadaan finansial yang dipersiapkan mahasiswa peserta KKN sesuai dengan output yang ditinggalkan dan dibawa pulang oleh mahasiswa peserta KKN pasca pelaksanaan KKN selesai. Dilatarbelakangi hal tersebut, Divisi penelitian dan pengembangan (Litbang) Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas melakukan Polling terhadap mahasiswa Unand dengan menggunakan metode Purposive Sampling dengan 300 responden yang dipilih secara accidental. Hasil polling menyatakan sebanyak 70,11 persen mahasiswa yang

telah melaksanakan KKN mengaku telah maksimal melaksanakan KKN dengan output membagikan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi kepada masyarakat sekitar. Namun sebanyak 27,21 persen mahasiswa mengaku bahwa kegiatan KKN ini belum diupayakan maksimal. Hal ini dikarenakan, selama pelaksanaan KKN mahasiswa hanya menjalankan proker yang merupakan formalitas semata. Mengenai output bernilai guna yang ditinggalkan untuk daerah atau lokasi KKN, sebanyak 75,96 persen mahasiswa menjawab ada, baik itu secara visual maupun tidak. Hal yang dilakukan mahasiswa di lokasi KKN di antaranya pembuatan karya pembangkit listrik,

perbaikan sarana dan prasarana daerah, melakukan berbagai penyuluhan, dan kegiatan lainnya. Terkait pelaksanaan dan efisiensi sistem KKN, sebanyak 39,85 persen mahasiswa mengakui bahwa sistem KKN belum berjalan maksimal. Hal ini tentunya menjadi harapan mahasiswa kepada pihak kampus terutama Badan Pelaksana Kuliah Kerja Nyata (BP-KKN) selaku pihak yang bertanggungjawab atas pelaksanaan KKN untuk melakukan perbaikan dalam sistem pelaksanaan KKN di tahun mendatang. Sumber: Litbang Genta Andalas Grafis: Produksi


BAKTI Unand 2016 Sukses Hibur Mahasiswa Baru

M

emasuki hari terakhir Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI) sebagai ajang pengenalan lingkungan kampus kepada Mahasiswa Baru (Maba) Unand 2016 sukses digelar, Rabu (10/8) di Auditorium Unand. Bertemakan ‘’Baktiku Awal Cita Rasa Masa Depanku’’ pada penutupan BAKTI kali ini menampilkan rangkaian acara yang menarik dan menghibur seperti pemilihan Uda dan Uni, serta menghadirkanflashmob di penghujung acara, pengenalan masingmasing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pun takkalah menarik dan menghibur Maba. Ketua Panitia BAKTI Wisnu Bramantio mengatakan bahwa rangkaian acara tersebut dikonsepkan dengan tujuan agar Maba mengubah pemikirannya bahwa BAKTI itu tidak menyeramkan, tetapi menyenangkan. “Harapannya melalui BAKTI ini Maba tahu dan paham bahwa dalam pembinaan tidak perlu ada kekerasan untuk bersikap

sopan santun,” harapnya. Harapan tersebut terealisasikan dengan baik, melihat banyaknya Maba yang mengaku senang dan terhibur. Seperti yang diakui oleh seorang Maba dari Fakultas Hukum Siti Lauriyanti. “Banyak orang mengatakan BAKTI itu tidak berkesan. Akan tetapi fakta yang saya temukan justru berbeda. Panitia sudah bersikap sebagai senior yang mendidik seperti slogannya GENETIKA (Generasi Cerdas dan Beretika). Saya merasa bangga menjadi Maba Unand 2016,” tuturnya yang terpilih sebagai Uni BAKTI 2016 ini. Sependapat dengan Siti, Maba Fakultas Ekonomi Fadli juga mengaku bangga bisa mengikuti proses BAKTI Unand. ‘’Awalnya saya adalah sosok yang penakut, namun pada BAKTI kali ini ketakukan itu mampu saya hilangkan dengan percaya diri dan keberanian,’’ katanya yang juga menjadi Uda BAKTI 2016 ini. Devita, Rizka

Perpustakaan Unand Gunakan Sistem Flat Barrier

Foto: Devita SISTEM BARU: Mahasiswi baru sedang mengantri untuk memasuki Perpustakaan Unand dengan Sistem Flat Barrier yang baru diterapkan.

S

etelah sukses mencapai akreditasi A, kini Universitas Andalas (Unand) melakukan pembaharuan dalam pelayanan perpustakaan yaitu penggunaan sistem Flat Barrier. Sistem Flat Barrier ini merupakan strategi pihak perpustakaan untuk melihat data jumlah pengunjung setiap harinya. Kepala Perpustakaan Unand Yasir mengatakan penerapan sistem ini mudah. “Hanya menggunakan scanning barcode Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai pembuka pintu masuk perpustakaan. Namun, juga bisa menggunakan sistem lama yaitu dengan memasukan nomor Buku Pokok (BP) pada komputer yang telah disediakan. Selain itu, bisa juga dengan menggunakan kartu perpustakaan yang dipegang oleh petugas. Hal ini biasa dilakukan ketika kondisi antrean terlalu panjang,” katanya saat ditemui di ruangan, Kamis (25/8). Salah seorang staf perpustakaan bidang Teknologi Informasi (TI) Meiriza Paramita mengatakan bahwa sistem Flat Barrier diusulkan untuk mempermudah penyusunan laporan pengunjung perpustakaan. “Berkaca dari tahun sebelumnya, pengunjung perpustakaan Unand tidak terkontrol dengan maksimal. Jumlah pengunjung meningkat ketika Satuan Pengamanan (Satpam) melakukan

pengawasan saat melakukan registrasi. Kemudian, jumlah pengunjung tiba-tiba menurun sebab tidak ada pengawasan dari Satpam,” ungkapnya. Selanjutnya, Mita mengatakan sistem baru perpustakaan Unand saaat ini lebih efektif. Pengunjung dari dalam dan luar Unand dapat terdata dengan baik sehingga diperoleh data yang valid. “Tingginya jumlah pengunjung akan membantu perpustakaan dalam merealisasikan program kerjanya karena dipercaya telah banyak yang menggunakan fasilitas di Perpustakaan Unand. Jika jumlah pengunjung sedikit, maka akan sulit melakukan pengajuan pengembangan fasilitas perpustakaan yang lebih baik lagi,” tambahnya. Sependapat dengan Mita, Mahasiswi Psikologi Sri Rahma Liza juga mengutarakan sistem baru yang dikelola oleh Unand dalam melakukan pendataan pengunjung perpustakaan lebih terstruktur. “Sistem seperti ini lebih aman dan terstruktur. Hal ini juga berdampak positif karena dapat meminimalisir kehilangan buku di Perpustakaan. Terkait antrean panjang, sejauh ini cepat teratasi karena didampingi oleh petugas sehingga lebih efektif,” tutur mahasiswi angkatan 2016 ini saat diwawancarai. Devita, Rizka

Foto: Devita

APRESIASI: Wakil Rektor III Unand sedang memasangkan mahkota kepada Mahasiswa Baru (Maba) saat terpilih menjadi Uda-Uni Bakti 2016.

J

Unjuk Rasa Sambut Kedatangan Menristekdikti

umat (12/8), Unand kedatangan salah seorang mentri dari Kabinet Kerja Mohamad Nasir. Kedatangan Mentri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia (RI) tersebut dalam rangka mengisi kuliah umum dengan tema Kebijakan Peningkatan Publikasi, Kekayaan Intelektual, Hilirisasi dan Komersialisasi Riset di Convention Hall (CH) Unand. Kehadiran mentri ini disambut aksi unjuk rasa oleh berbagai aliansi mahasiswa di antara Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Unand, BEM Fakultas Hukum, Lembaga Advokasi Mahasiswa Pengajian Kemasyarakatan, dan UKM Pengenalan Hukum dan Politik (PHP) Unand. Menurut pantauan gentaandalas, unjuk rasa ini sempat beberapa kali ingin dibubarkan oleh pihak kampus dengan alasan tidak memiliki izin. “Kami kecewa dengan sikap pihak kampus. Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi kepada bapak menteri, kami pun tidak anarkis. Bahkan tadi ada yang berkata dengan nada mengancam ‘kalian masih ingin kuliah di sini atau tidak?’. Itu kan namanya mengintimidasi mahasiswa,” ungkap Presiden BEM Fakultas Hukum Bayu Endri Purnama. Selanjutnya, usai memberikan kuliah umum, pihak Unand memberikan waktu kepada aliansi mahasiswa untuk melakukan audiensi bersama

Menristekdikti. Dalam audiensi tersebut Ketua UKM PHP Muhammad Ridho menyampaikan empat tuntutan. Di antaranya menolak jalur mandiri karena dinilai mengurangi kuota mahasiswa lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN, menuntut penambahan kuota bidik misi karena telah terjadi pengurangan dari yang sebelumnya untuk 1000 mahasiswa kini hanya tersedia untuk sekitar 400 mahasiswa. Kemudian pihaknya juga menuntut kejelasan beasiswa PPA dan terakhir menolak Unand menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Menanggapi tuntutan tersebut Mohamad Nasir menegaskan bahwa pihak kementrian tidak ada memaksa universitas untuk menjadi PTN-BH. “Itu tergantung kepada universitas yang bersangkutan. Apakah ingin menjadi universitas yang bertaraf internasional atau tidak. Dengan PTN-BH kami ingin mendorong universitas untuk berinovasi. Contohnya UGM, UI, dan ITB dengan status PTN-BH mereka bergerak lebih cepat. Mereka sudah masuk lima kampus besar di dunia, sementara kita (Unandred) berapa sih?” tuturnya. Selain itu ia mengatakan bahwa saat ini pemerintah baru mampu menanggung pendidikan sampai sembilan tahun. “Untuk SMA saja pemerintah belum sanggup membiayai semuanya, apalagi untuk bangku kuliah,” tutupnya. Fika

Foto: Fika DEMO: Mahasiswa melakukan aksi demo untuk menyampaikan tuntutan kepada Menristekdikti.


Pakar Digital Indonesia Beberkan Langkah Cepat Membangun Startup

P

akar digital Indonesia Budi Putra menjadi pemateri kuliah umum kewirausahaan bertajuk “Crowdsourcing: Kewirausahaan di Era Digital” di Convention Hall (CH) Unand Jumat, (19/8). Crowdsourcing atau urun daya merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan proses mendapatkan pekerjaan atau pendanaan dari sekelompok besar orang dalam ranah daring (komunikasi data dalam jaringan). Melalui kuliah umum ini, Budi menyampaikan bahwa dalam berbisnis tidak harus dimulai dengan memiliki uang sendiri. Hal inilah yang membawanya memulai banyak startup bidang teknologi dengan mudah. Salah satu startup yang dibangunnya adalah website Viki. Bisnis yang berawal di Singapura ini menyediakan video dan musik streaming yang subtitle atau teks terjemahan yang dibuat oleh crowd sourcing atau sumber-sumber luar, yang membuat berbagai tayangan dapat dinikmati oleh pangsa yang lebih luas. Budi menjabat sebagai direktur pada tahun 2012 dan menjadikan Viki besar hingga akhirnya dijual pada tahun 2013 ke perusahaan ecommerce Jepang, Rakuten senilai US$ 200 juta (saat itu sekitar Rp 2,2 triliun). Budi bercerita, perkenalannya dengan dunia teknologi karena ia mendapat fellowship selama tiga bulan ke Jepang pada 1996. Di sana, ia terkagum-kagum melihat para petani di

negeri Sakura, karena telah bisa mengakses internet untuk memperoleh informasi. Kemudian, saat ia kembali ke Padang ia melihat hanya kantor pos yang memiliki akses internet dengan ISP Wasantara. Meski demikian, ia tetap serius belajar bahasa pemrograman secara otodidak. Alhasil, ia sukses mengonline-kan Harian Singgalang pada tahun 1997. Harian Singgalang menjadi media massa pertama yang memiliki edisi dari di Sumatera. Tahun 2000 Budi hijrah ke Jakarta bergabung dengan sebuah media nasional sampai akhirnya dipercaya sebagai editor rubrik teknologi. Sebelumnya, dirinya hanyalah seorang wartawan sebuah media nasional. Kemudian ia mulai mengenal blog pada tahun 2001.Postingannya pun hanya sebatas mengarsipkan tulisantulisannya sebagai wartawan yang dimuat di media tempatnya bekerja. Blog-nya pun tidak terurus karena tertinggal oleh kesibukannya sebagai wartawan. Melihat peluang sebagai blogger profesional, Budi mengundurkan diri dari media massa nasional. “Alhasil, media nasional itu pusing karena kehilangan salah seorang wartawan terbaiknya,” ujarnya bergurau. Ketika telah menjadi blogger profesional, Yahoo! Asia Pasific memintanya untuk mendirikan Yahoo! Indonesia dan menjadi country editor untuk Indonesia. Baginya, era digital telah membuat ‘dunia itu datar. “Saat ini

Jalan Santai Ajang Promosi Komunitas Kota Padang

D

alam rangka memeriahkan Dies Natalis Psikologi Unand yang ke7, jalan santai menjadi acara pembukaan dari semua kegiatan yang akan berlangsung hingga 28 September mendatang. Jalan santai yang dilaksanakan dari Taman Budaya (Tambud) dan berakhir di depan Kafe Pelangi ini dihadiri sebanyak 300 peserta dari berbagai kalangan, Minggu (04/9). Dosen Jurusan Psikologi Nelia Afriyeni, mengatakan tujuan diadakannya jalan santai di Pantai Padang selain untuk menarik perhatian peserta juga bertujuan untuk mendekatkan diri dengan lingkungan. “Sesuai dengan temanya yaitu hidup positif bersama Psikologi, kenali dan cintai,” tuturnya. Di penghujung acara jalan santai ini dimeriahakan oleh penampilan dari 10

komunitas yang ada di Kota Padang. Penampilan ini dijadikan ajang untuk mempromosikan komunitas mereka kepada banyak orang, seperti yang diakui oleh Arrafi Saputra Irwan yang tergabung dalam komunitas Padang Vidgram. “Alasan saya mengikuti acara ini untuk mempromosikan komunitas Padang Vidgram, dan juga untuk mencari sebanyak-banyaknya creator dalam tema videographer,” kata Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam kampus IAIN ini. Senada dengan itu, Anggota Komunitas Anak-Anak Minang, Haris, mengaku sangat antusias mengikuti acara ini. “Memperkenal komunitas dan menjalin persahabatan serta menjalin hubungan silaturahmi menjadi alasan saya buat mengikuti acara ini,”  Ully,Wati

Foto: Zakiy BISNIS: Budi Putra, Pakar Digital Indonesia sedang memberikan kuliah umum bertajuk Crowdsourcing: Kewirausahaan di Era Digital. berbisnis tidak harus memiliki toko dengan ruangan besar, cukup dengan memotonya dan memasukkannya ke Instagram.” tutur alumni Jurusan Sejarah Unand ini. Wakil Rektor III Unand, Hermansah, berharap mahasiswa Unand dapat mulai membangun startup. “Setiap orang memiliki bakat berwirausaha, hanya saja belum tau cara untuk menyalurkannya,” ujarnya.

Ilham, salah seorang peserta kuliah umum dari Jurusan Sistem Informasi merasa mendapatkan inspirasi dari cerita Budi Putra dalam karirnya. Menurutnya, kerja keras Budi Putra patut ditiru oleh mahasiswa. “Merupakan hal luar biasa mendapatkan nasehat-nasehat bisnis digital yang rasanya tidak sulit untuk dijalankan,” ujarnya. Zakiy

Unand Wisudakan 1950 Mahasiswa Foto: Nite

KHIDMAT: Pelepasan wisudawan/i oleh Rektor Universitas Andalas dalam Rapat Wisuda III berlangsung khidmat.

S

abtu (27/8), Universitas Andalas (Unand) mewisuda sebanyak 1950 orang mahasiswa melalui Rapat Wisuda III 2016 di Auditorium . Jumlah ini meningkat dari jumlah Wisuda II pada Mei lalu, yaitu sebanyak 659 orang. Pada wisuda kali ini terdapat 24 wisudawan lulusan terbaik, sedangkan Bintang Aktifis Kampus (BAK) berjumlah 15 orang. Begitupun dengan yang bergelar doktor, yaitu sebanyak 17 orang. Tafdil Husni, Rektor Unand dalam pidatonya menyampaikan harapannya untuk para wisudawan agar terus mencari ilmu di luar nantinya. “Tetap terus

Foto: Wati JALAN SANTAI: Tiga ratus orang peserta dari berbagai kalangan berjalan menuju kafe Pelangi dekat Pantai Muaro Lasak, Padang.

belajar dan jangan hanya mengandalkan ilmu yang didapat selama masa studi agar siap menghadapi dunia kerja nantinya,”harapnya. Senada dengan Tafdil, Siska salah seorang orang tua dari mahasiswa ikut melontarkan harapannya agar mahasiswa yang diwisuda siap menghadapi dunia kerja. “Semoga dengan selesainya masa studi, mereka dapat mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja dan mendapat pekerjaan yang selayaknya,”tutup orang tua dari mahasiswi FISIP Unand ini.  Nite, Syinta

Berita lebih lengkap silahkan kunjungi portal berita gentaandalas.com


Festival Siti Nurbaya 2016 Ajang Menarik Wisatawan

Foto: Wita PADUAN SUARA: Siswa-Siswi SMA Negeri Padang mengikuti lomba untuk memeriahkan Festival Siti Nurbaya.

Foto: Wita PEMBERIAN PENGHARGAAN: Peserta yang turut berpartisipasi dalam rangkaian acara pada Festival Siti Nurbaya mendapat hadiah.

Foto: Wita SANTAI: Peserta menikmati suasana berkemah pada malam Festival Siti Nurbaya.

Foto: Wita BERPENCAR: Pengunjung di sekitar area panggung dekat Tugu Merpati Perdamaian terlihat berpencar menikmati setiap rangkaian acara pada Festival Siti Nurbaya.

Foto: Wita UJI NYALI: Seorang pengunjung memeriahkan Festival Siti Nurbaya dengan mencoba atraksi bersama ular.

Foto: Wita MENARIK: Komunitas Indovigram Padang menarik perhatian pengunjung dengan menampilkan sebuah film pada Festival Siti Nurbaya.


Komunitas Volunter Anak Kincai, Cahaya di Pelosok Negeri

M

engabdikan diri untuk kampung Ia menambahkan, awalnya ada mengajar dan menginspirasi anak-anak. lebih baik kami menyalakan cahaya halaman merupakan cita-cita puluhan yang mendaftarkan diri menjadi Menyalakan cahaya harapan, dan harapan di pelosok-pelosok negeri kami. hampir sebagian besar orang, relawan, tetapi setelah diseleksi mereka menumbuhkan mimpi-mimpi anak Inilah semangat yang ingin dibawa oleh namun hanya sebagian kecil yang mampu memilih 15 orang yang lolos menjadi bangsa. Selain itu, para relawan juga komunitas ini, menjadi cahaya di pelosok mewujudkannya.Tidak adanya wadah relawan. Kemudian, pada perjalanannya, diminta untuk belajar bersama negeri,” kata Yuda. yang bisa menjadi tempat untuk ada sembilan orang mengundurkan diri masyarakat di sana dari tanggal 24-29 Terkait dana, Founder VAK mewujudkan mimpi-mimpi mereka, dan pada akhirnya hanya tersisa enam Juli 2016. menuturkan mereka berusaha mencari “Kami melakukan berbagai dana tanpa meminta kepada pemerintah, membuat keinginan ini hanyalah sebatas pejuang. Mereka inilah yang ditugaskan angan. Alasan inilah yang yaitu dengan cara membuat pria bernama positive fighter. Para lengkap Yuda Oktana ini relawan pergi ke pasarDok. Pribadi mendirikan sebuah pasar untuk komunitas yang diberi menawarkan jasa, nama Komunitas Volunter seperti membantu Anak Kincai. menyapu, mencuci B e r k a t piring, membantu pengalamannya mengajar rumah makan, dll. Para secara sukarela di Rumah relawan tidak Anak Cerdas Paguyuban diperbolehkan KSE Unand, merintis menerima sumbangan, berdirinya komunitas mereka harus Sahabat Inspirator Chapter mendapatkan uang dari Padang serta memberi hasil jerih payah inspirasi di berbagai mereka. kesempatan membuatnya “ Alhamdulillah berpikir untuk kemarin relawan mengabdikan diri di mendapatkan uang Rp kampung halaman 400 .000 lebih. Uang tercinta. “Saya lahir, yang terkumpul tersebut tumbuh, dan berkembang dijadikan sebagai di daerah yang berjuluk modal di tempat sekepal tanah surga yang pengabdian,” jelasnya. dicampakkan oleh Tuhan Y u d a ke bumi. Segalanya telah menambahkan, diberikan untuk saya, ini positive fighter bukan bukan tentang apa yang hanya bertujuan untuk diberikan negeri untukmu, mencari uang, tetapi apa yang telah melainkan juga sebagai Dok. Pribadi (akan) kamu lakukan,” ajang belajar bagi jelas pria berkacamata ini relawan. Mulai dari yang juga mahasiswa Ilmu SUKARELA: Salah seorang Anggota Komunitas Volunter Anak Kincai sedang mengajar dan memberikan membuang gengsi, Komunikasi Unand. berani, pantang inspirasi kepada anak-anak di pelosok negeri Kincai. Volunter Anak menyerah, membangun Kincai adalah sebuah ketangguhan dari para komunitas yang Relawan Anak Kincai. beranggotakan mahasiswa yang berasal melakukan pengabdian di pelosok negeri. kegiatan untuk mengisi hari anak-anak Sebelumnya, enam orang dari Kerinci dan Sungai Penuh yang siap Mereka rela mengabdikan diri di tempat pengabdian, seperti menonton relawan tersebut telah mengikuti Smengabdikan diri secara sukarela di untuk negeri tercinta tanpa dibiayai video motivasi, bermain yang edukatif, pembinaan dan pelatihan Leadership, pelosok negeri Kincai. Mahasiwa- sepersenpun. Bahkan kegiatan ini tidak mengajar di pagi hari dan sore, Communication skill, public speaking, mahasiswa ini berasal dari berbagai didukung oleh Dinas Pendidikan Kerinci menanamkan cinta lingkungan, membuat basic teaching, menumbuhkan jiwa perguruan tinggi di Indonesia, seperti waktu itu. Tetapi, komunitas yang mimpi-mimpi, lomba menggambar, pengabdian, wawasan kebangsaan, Unand, IPB, UNP, UNSRI, dll. Untuk bergerak di bidang pendidikan, sosial, mengajak anak-anak salat berjemaah di outbond, positive fighter, dll selama 4 memulai programnya, Yuda terlebih dan kemasyarakatan ini tetap masjid dan banyak lagi,” kata Resty salah hari. Pelatihan ini bekerjasama dengan dahulu membuka rekrutmen pengurus melanjutkan perjuangan, karena bagi seorang relawan yang ditempatkan di Kodim Kerinci yang bertempat di Aula komunitas ini. Kodim. Pembinaan dan pelatihan ini mereka, sebagai anak bangsa mereka Talang Kemulun. Pengurus Forum Volunter Anak berhak turut melakukan perubahan di Bagi Komunitas Anak Kincai bertujuan sebagai bekal para volunter Kincai ini awalnya berjumlah 15 orang, kampung halamannya. sudah saatnya mereka mengambil peran untuk terjun ke masyarakat. seiring berjalannya waktu hanya tersisa Ke depannya Yuda selaku founder Pada Minggu (24/7) sebanyak dalam menjejakkan langkah-langkah tujuh orang. Dari sedikit inilah, pengurus enam orang relawan ditempatkan di kontribusi untuk tanah kelahirannya berharap segala hal yang dilakukannya Volunter Anak Kincai memulai pelosok negeri Kincai, di antaranya dengan segala keterbatasan dan oleh komunitas VAK dapat memberi perjuangannya dalam melaksankan Talang Kemulun, Pungun Mudik, dan kemampuan yang ada. Mereka tak ingin manfaat bagi anak-anak di sudut negeri. kegiatan ini. “Setelah terbentuknya Pungun Hilir, di masing-masing daerah pulang kampung hanya untuk liburan “ Kemudian semakin banyak anak-anak pengurus, baru kita open recruitment terdapat dua orang relawan. Mereka (makan dan tidur), harus ada sesuatu Kincai yang tergabung dalam Komunitas relawan yang akan kita tugaskan di melakukan pengabdian selama 6 hari. ini,” tutup Yuda saat diwawancarai di yang bisa dilakukan. tempat pangabdian,” jelas Yuda. “Daripada mengutuk keadaan daerah Pasar Baru. Gita Relawan di sana bertugas


Kabinet Air Kopi

B

ulan lalu Presiden Jokowi mengumumkan perombakan kabinet jilid II. Ada sembilan nama baru yang masuk ke dalam jajaran Kabinet Kerja. Sementara itu, ada empat menteri yang bergeser posisinya. Dari beberapa nama yang masuk dan bergeser, muncul pelbagai polemik dan tanda tanya besar. Ada rumor bahwa presiden ditekan penguasa. Ada juga yang menyebut bahwa formasi bongkar pasang ini menyibakkan bahwa Jokowi mulai kehilangan akal untuk mengaktualisasikan visi dan misinya. Meminjam istilah Kang Jalal, kabinet ini bisa disebut kabinet air kopi. Filsafat air kopi bermakna bahwa kopi tak pernah salah. Bila kopinya enak, orang akan bilang ‘kopinya enak’. Bila kopi yang diminum kurang nendang, yang disebut malah ‘gulanya kurang’. Kopi tak akan pernah disalahkan atau menjadi korban. Dengan tamsil ini, perombakan kabinet yang baru-baru ini terjadi menempatkan Presiden Jokowi sebagai kopi yang memiliki kontrol kuat untuk menentukan kebenaran wacana dan citra. Sungguhpun pemilihan menteri sepenuhnya wewenang presiden (baca: kopi), Jokowi ternyata lagi-lagi tidak kuasa menegakkan komitmennya untuk membentuk kabinet ramping, memilih bagi-bagi kekuasaan koalisi dan pandang bulu mendefinisikan esensi profesionalisme. Perombakan kabinet berbasis koalisi telah melapangkan bagi upaya memenangkan koalisi untuk merumuskan program alih-alih merumuskan program untuk memenangkan koalisi. Masuknya tokoh-tokoh baru dari partai pendukung koalisi meskipun berasal dari kalangan profesional menunjukkan bahwa pembelajaran politik yang rasional telah dikalahkan oleh animo kekuasaan. Pembelajaran politik yang rasional seyogyianya dipahat dengan mempertahankan figur-figur

Oleh: Donny Syofyan* reformis, bukan tokoh-tokoh ‘kartunis’ yang terkenal bukan karena kredibilitas melainkan lantaran minimnya kontribusi atau kontroversinya. Tercampaknya Anies Baswedan (seorang sosok yang inspiratif dan reformis) dan Sudirman Said (tokoh di balik pemburuan mafia migas) di satu sisi dan bertahannya menteri miskin terobosan semisal Puan Maharani meneguhkan realitas politik bahwa pisau tirani koalisi ternyata masih amat tajam. Ada yang menganggap bahwa terpentalnya sejumlah menteri dengan latar belakang profesional dikarenakan kegaduhan dan kegagalan mereka membangun kerja tim di dalam kabinet (Rizal Ramli dan Sudirman Said) maupun distingsi visi dan ekspektasi yang berbeda dengan Jokowi (Anies Baswedan) sebetulnya amat berlebihan. Tokoh-tokoh ini justru berperan mengaktualisasikan makna revolusi mental sang presiden secara praktis. Anies adalah pekerja keras sehingga berdampak para pegawai di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak punya banyak hari libur. Ignasius Jonan adalah tokoh penting di balik transformasi l a y a n a n perhubungan di negeri ini.

Tanpanya jutaan warga Jabotabek tak akan bisa menikmati kereta api senyaman kini. Membuang dua figur ini sama saja artinya menempatkan spirit revolusi mental ke dalam labirin yang seringkali tak terduga ujungnya sehingga bisa tersesat. Perlu dipahami bahwa kekuatan gerak revolusi mental yang dilakoni oleh Anies dan Jonan terbuhul pada akrobat administrasi yang dilakukan, sesuatu yang riskan karena harus siap tanggung jawab sendirian ketika menjadi temuan pemeriksa. Mereka mafhum bahwa paradigma birokrat itu beda 180 derajat dengan swasta. Jika di swasta tanpa dasar hukum boleh dilakukan, bagi birokrat tanpa dasar hukum itu haram dilakukan. Namun mereka tetap jalan dengan keberanian revolusioner ini. Titik terang pada perombakan kabinet jilid II ini hanya terlihat pada apa yang disebut sebagai relokasi diaspora. Kepulangan Sri Mulyani untuk mengisi pos sebagai Menteri Keuangan dan Archandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)—sebagai tokoh profesional dua puluh empat karat pada bidangnya sekaligus memiliki reputasi secara nasional dan internasional— semestinya menjadi pilihan pendekatan dominan bagi Jokowi untuk menyerahkan suatu urusan kepada ahlinya. Sayangnya Archandra harus terdepak lantaran persoalan dwi kewarganegaraan. Hanya saja, geliat menteri dengan latar belakang profesional ini boleh jadi kembali memakan korban bila Jokowi-JK terlalu ketat dengan prinsip bahwa tidak ada visi-misi menteri. Yang ada ialah visi-misi presiden dan wakil presiden. Benar bahwa komandan negara ini adalah Jokowi dan JK dan semua menteri h a r u s menyesuaikan diri dengan visi-misi J o k o w i .

Dok. Pribadi Sebagai penggagas ulang revolusi mental, Jokowi perlu menatap ke depan bahwa transformasi kepemimpinan besar terjadi ketika seseorang mampu mengonkretkan visi besar dan berani mengambil resiko untuk mencoba sesuatu yang baru. Bila Jokowi berakrobat administratif lewat pengangkatan Tito Karnavian sebagai Kapolri, ia seharusnya juga membenarkan sikap para pembantunya untuk berani beda dan berdinamika tajam dalam karnaval pemerintahan demi perubahan revolusioner. Dengan perombakan kabinet ini, duet kepemimpinan Jokowi-JK perlu memahami bahwa filsafat air kopi tidak lagi relevan untuk menggerakkan revolusi mental. Para menteri yang dibutuhkan adalah para pendobrak yang tidak gentar untuk tidak populer di hadapan publik dan tidak ciut tatkala berbeda dengan pucuk pimpinan sendiri, yakni presiden dan wakil presiden. Perubahan adalah lompatan kuantum dengan bahan bakarnya adalah keberanian mengambil resiko. *Penulis merupakan Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Defisit Moral Penegak Hukum

Ketika ketidakadilan menjadi hukum, pembangkangan adalah tugas” (Thomas Jefferson) Salah satu persoalan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah moral penegak hukum. Keadilan seolah hilang ditengah peradaban yang semakin pesat, sementara ketidakadilan mengusai setiap sendi kehidupan. Penegakan hukum seolah menjadi ladang perburuan bagi para penegak hukum: Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, dan Advokat. Uang berkuasa, sementara keadilan selalu condong kepada ketidakadilan. Drama-drama menarik selalu tersaji dimana-mana, penegak hukum dengan bangga melakukan kecurangan. Peradilan yang dilaksanakan adalah untuk ketidakadilan. Terlalu banyak mafia yang memanfaatkan penegakan hukum untuk memperkaya diri sendiri. Mulai dari tingkat terendah, yaitu kepolisian hingga kejantung penegak hukum, yaitu Hakim. Lantas bagaimana keadilan dapat terwujud bila penegak hukum selalu melanggar hukum?

Oleh: Antoni Putra*

Peradilan untuk ketidakadilan Tujuan dari peradilan adalah untuk mencari keadilan. Namun di Indonesia saat ini, peradilan seolah menjadi tempat utama ketidakadilan terjadi. Kecendrungan penegak hukum melakukan pelanggaran hukum seperti suap telah mengoyak-ngoyak prinsip keadilan yang tertata rapi dalam hati masyarakat. Bahkan dapat dikatakan, bahwa empat sendi penegak hukum tidak ada satu pun yang dapat dipercaya. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, advokat, dan hakim. Mereka silih berganti melakukan pelanggaran. Pertama, kepolisian. Bila kita bertanya kepada masyarakat perihal siapa orang paling bejat di muka bumi, maka mereka akan menjawab kepolisian. Persepsi masyarakat yang demikian bukanlah tanpa alasan. Sebagai aparat penegak hukum yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, tentu banyak kontroversi yang mereka hadapi. Dan yang paling membuat masyarakat tidak percaya kepada kepolisian adalah

kebiasaan meminta dan menerima sogokan dari pelanggar hukum. Kedua, kejaksaan. Bila kita berbicara kejaksaan, tentu yang terngiang dalam pikiran adalah aparat penegak hukum yang berfungsi melakukan tuntutan pidana, itu bagi masyarakat awam. Namun bagi mereka pelanggar hukum, yang terngiang dalam pikiran mereka adalah berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk menyogok jaksa agar tuntutan pidananya dikurangi. Dan tidak jarang pula, Jaksa terjebak rayuan untuk menerima sogokan dari pelaku kejahatan. Hal ini pulalah yang akan menyebabkan ketidakadilan semakin terlihat Ketiga, advokat. Statusnya sebagai penasehat hukum seringkali melalaikan ketentuan yang berlaku. Akibat rayuannya pulalah banyak tersangka atau terdakwa melakukan praktik suap agar menang di pengadilan. Keempat, hakim. Sebagaimana hakikatnya, hakim adalah orang yang dianggap paling tahu hukum. Mereka senantiasa dijuluki “wakil Tuhan” di muka

Dok. Pribadi bumi. Namun apa jadinya bila hakimhakim ini kemudian menerima suap dari pelaku kejahatan yang kasusnya tengah mereka tangani. Jika telah demikian, maka tidak ada lagi keadilan. Karena


hakim yang merupakan jantung dari penegakan hukum telah ternodai dengan coretan hitam dari pelaku kejahatan. Hal tersebut yang banyak terjadi di Indonesia. Hakim-hakim yang ada senantiasa memanfaatkan jabatan yang mereka miliki untuk mendapat keuntungan sendiri, dengan mempertaruhkan harga diri bangsa. Kasus suap dan korupsi telah menjelma bagai virus yang menyerang jantung peradilan yaitu Mahkamah Agung (MA), dan telah menyebar ke seluruh jajaran sistem peradilan. Terlibatnya Sekretaris MA dan sejumlah Ketua Pengadilan dalam kasus korupsi menjadi bukti tesis tersebut. Kasus korupsi yang terjadi di MA dan Pengadilan Negeri/Tinggi jelas tidak hanya dilakukan para hakim dan unsur lain di lembaga itu semata. Namun sudah pasti terjadi karena bujukan ataupun melibatkan unsur penegak hukum lainnya. Baik Jaksa, Pengacara

maupun Kepolisian. Dalam pedoman kode etik, menerima suap dari pihak beperkara merupakan larangan keras bagi seluruh aparat peradilan. Sebab, dengan menerima suap berarti telah menggadaikan harga diri, kesucian hukum dan keadilan. Praktik suap menjadi pantangan karena melemahkan legitimasi hukum. Putusan-putusan hakim tidak akan dihormati dan hukum tak lebih sekadar gelanggang untuk tawar-menawar kepentingan. Sedangkan putusan hakim mengandung prinsip “Res Judicata Pro Veritate Habetur� atau harus dianggap benar. Putusan hakim yang bersifat mutlak dan kewenangan begitu besar tersebut tak dimungkiri sering disalahgunakan. Jual beli perkara menjadi persoalan besar dan menghambat reformasi lembaga peradilan. Bukannya berhasil ditumpas, judicial corruption justru menjadi segumpal kenyataan yang

terus memengaruhi cara pandang publik terhadap lembaga peradilan. Dan praktik suap telah mengubah fungsi peradilan sebagai instrumen penegakan keadilan, tapi sekaligus sumber kejahatan peradilan. Revolusi Mental Apa yang salah dari penegakan hukum di bangsa ini? Sehingga aparat penegak hukum dengan mudahnya korupsi dan menerima suap. Hal ini tidak lain dikarenakan ada penyakit serius yang terdapat dalam mental aparat penegak hukum. Penyakit itulah yang kemudian membuat mereka selama ini bekerja jauh dari harapan. Bahkan sebagian besar senantiasa mengabaikan kebenaran yang seharusnyua dibela. Penyakit mental yang diderita ini kemudian senantiasa mendorong untuk berbuat kebatilan. Mereka melupakan, melalaikan dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dipenuhi. Bahkan pula, tidak malu memanfaatkan jabatan yang

dimiliki untuk menjadikan hukum tak lebih sekadar gelanggang untuk tawarmenawar kepentingan. Kita tidak dapat menerima bila hukum di bangsa ini selalu saja digerogoti oleh para mafia. Oleh sebab itu pula, dalam upaya menciptakan penegakan hukum yang baik harus ada terobosan besar dalam upaya memperbaiki dan mengobati mental penegak hukum ini. Revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo dalam nawacitanya wajib kita sukseskan bersama, demi terciptanya negara hukum sebagaimana yang diamanatkan konstitusi 1945. Karena hukum harus berkeadilan, dan peradilah harus untuk mencari keadilan.

*Penulis Merupakan Penggiat di Komunitas Literasi Universitas Andalas

Rumah-rumah yang Tergerus, Sebuah Kemunduran Kebudayaan Oleh: M Redho Ilahi*

Dok. Pribadi

K

ebudayaan menjadi hal penting yang harus kita pahami bersama. Bukan hanya kebudayaan terkait hal-hal lama, melainkan setiap kebudayaan yang mengikuti zaman sesuai kebutuhan. Sama halnya dengan rumah-rumah tradisional. Manusia memiliki sistem tersendiri untuk mengenal lingkungan yang ditinggalkannya. Hal tersebut menjadi kompleks karena manusia akan berhubungan dengan rumah. Secara kebudayaan, rumah termasuk salah satu wujud kebudayaan yang dihasilkan oleh manusia. Semenjak zaman purba dahulu, manusia telah mampu menciptakan rumah secara sederhana. Namun, tidak dapat dipungkiri setiap perubahan zaman, manusia cenderung lupa terhadap hal-hal yang berkaitan dengan budaya . Termasuk keadaan rumahrumah tradisional di berbagai d a e r a h . Te r g e r u s n y a k e a d a a n seperti ini sama halnya dengan menghilangkan filosofi-filosofi yang baik dan diperlukan pada era ini. Filosofi Rumah-rumah tradisional diciptakan bukan hanya sebagai tempat tinggal saja, melainkan ada sistem yang berlaku di sana berupa peraturan-peraturan yang berkaitan dengan adat. Saya yang notabenenya bukan asal Minangkabau, ketika membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka ada

sebuah pembahasan terkait pengaruh besar Rumah Gadang dalam pengambilan keputusan-keputusan yang akan terjadi. Di sana beberapa orang berpengaruh berkumpul untuk bermusyawarah. Misalnya, anaknya yang akan menikah harus dirundingkan terlebih dahulu. Saya baru tahu sebagai tempat tinggal bersama, Rumah Gadang mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Setiap perempuan yang bersuami memperoleh sebuah kamar. Pe r e m p u a n t e r m u d a m e m p e r o l e h kamar yang terujung. Hal ini dilakukan agar mereka tidak terganggu oleh kesibukan keluarga lainnya. Pada gilirannya, ia akan pindah ke tengah jika seorang gadis memperoleh suami pula. Perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat d a p u r. Hal tersebut untuk mempermudah mereka turun naik rumah pada malam hari. Kemudian, laki-laki tua, duda, dan bujangan tidur di surau milik kaumnya masingmasing. Berbeda dengan keadaan k a m p u n g s a y a , d i Pa l e m b a n g , Sumatera Selatan (Sumsel) yang terkenal akan Rumah Rakit. Ketenaran rumah ini bukan hanya di Indonesia saja melainkan di Mancanegara. Sebab secara struktur bangunannya unik yaitu terletak di atas Sungai Musi. Dalam catatan sejarah, pada z a m a n Ke s u l t a n a n Pa l e m b a n g pendatang yang berkunjung harus menetap di rumah rakit termasuk warga Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Campa, Siam, bahkan Kantor Dagang Belanda pertama berada

di atas rakit, lengkap dengan gudangnya. Rumah rakit ini selain sebagai tempat tinggal, juga berfungsi sebagai gudang dan kegiatan ekonomi. Selain itu, masyarakat Sumsel juga perlahan-lahan meninggalkan kebiasaan membangun Rumah Limas di darat. Masyarakat era modern saat ini lebih memilih rumah batu ketimbang kayu. Mereka lebih memilih hal-hal praktis seperti budaya membaca yang tidak lagi membutuhkan buku melainkan smartphone saja. Budaya-budaya baru muncul seketika. Padahal jika masyarakat mengerti untuk apa Rumah Limas dibangun tentunya akan tertarik. Pa d a m a s a d a h u l u , o r a n g masih memegang teguh pengaruh kayu tenggalung yang menjadi pagar Rumah Limas dalam menjaga gadisgadis. Dalam filosofinya, kayu tersebut patokan atau penghalang bagi gadis-gadis di Palembang untuk keluar rumah. Hal tersebut tidak bermaksud untuk mengekang. Di Rumah Limas, gadis-gadis sengaja disuruh menenun songket agar terhindar dari hal-hal buruk. Tidak jarang ketika berjalan di sore hari, akan terdengar nyanyian seorang gadis di jendela. Mereka mendendangkan syair-syair sungai Musi. Pengaruh kayu tenggalung ini memang cukup besar. Pada masa itu tidak ada gadis-gadis yang berani keluar malam. Diyakini jika gadis tetap memaksa melangkahi kayu tersebut akan m e n j a d i b u r u n g dara.

Annisa

Sehingga banyak gadis-gadis tetap berada di rumah kecuali pergi ke pasar dan keluar rumah dalam urusan adat. Ketika perubahan terjadi pada konstruksi bangunan rumah masyarakat di Sumsel saat ini, sejumlah orang meyakini dampak dari runtuhnya kepercayaan terhadap filosofi dari Rumah Limas akibat pergaulan gadis-gadis yang kelewat batas. Apalagi dalam catatan yang dibuat Djohan Arifin, Rumah Limas terdiri beberapa tingkatan. Setiap tingkatan memiliki fungsi masingmasing. Di sinilah akan terlihat bagaimana aturan adat diterapkan dan membuat masyarakat di sekitar mengerti. Pada tingkat pertama yang disebut Pa g a r Te n g g a l u n g , ruangannya tidak memiliki dinding pembatas, terhampar seperti beranda saja. Suasana di tingkat pertama dikhususkan untuk dijadikan tempat bersantai dan menerima tamu saat acara adat. Kemudian, kita beranjak ke tingkat kedua yang disebut Jogan. Tingkat ini digunakan sebagai tempat berkumpul khusus pria. Ruang ketiga diberi nama Kekijing Ketiga. Posisi lantainya lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Ruangan ini biasanya dijadikan tempat menerima para undangan dalam suatu acara atau hajatan, terutama untuk handai taulan yang sudah separuh baya. Beranjak ke Kekijing Keempat, sebutan untuk ruang keempat, yang memiliki posisi lebih tinggi lagi. Orang yang mengisi ruangan ini memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati, seperti undangan yang lebih tua, dapunto dan datuk. Nah, ruang kelima yang memiliki ukuran terluas disebut Gegajah. Di dalamnya terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan danamben keluarga. Amben adalah balai musyawarah. Amben tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga menjadi tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan. Dibandingkan dengan ruang lainnya, Gegajah paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi. Begitulah setiap ruang dan bersambung ke halaman 22...


Mahasiswa Perlu Diajarkan Kritis Gunakan Media

Foto: Devita

“

Sartana, S.Psi.MA Dosen Psikologi Universitas Andalas

Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga kita akan mendapati apa yang akan datang, sejarah memberi pelajaran kepada kita.� (Shindhutana). Mahasiswa merupakan orang yang sedang belajar di institusi pendidikan tinggi. Mahasiswa selalu identik dengan perubahan sosial termasuk yang akan mengubah sifat, watak kritis, dan ketajaman intelektual. Mahasiswa memegang peranan penting dalam tonggak perubahan di negeri ini. Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekadar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “gerakan mahasiswa�. Era sekarang, mahasiswa, media, dan pergerakan menjadi perbincangan hangat. Sebenarnya apa yang menjadi perbedaan pola gerakan mahasiswa dulu dengan

Komik

sekarang? Bagaimana gerakan mahasiswa sebaiknya yang akan kita usung? (Devita Sari, Mahasiswi Jurusan Teknologi Hasil Pertanian 2013). Jawaban Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan. Lewat media, apa saja bisa diakses sehingga kita bisa memiliki pengetahuan yang luas. Namun, bisa saja pengetahuan yang luas itu menjadi tidak membumi, imajinasi kemana-mana yang sebenarnya ia berada pada bumi realitas atau virtual. Padahal dulu mahasiswa tidak terlalu akrab dengan hal-hal seperti ini. Dunia perguruan tinggi dan kemahasiswaan sekarang lebih mesra dengan pemikiran hedonis, pola hidup konsumtif, individualisme serta pragmatis. Sementara gerakan mahasiswa dituntut dapat menjaga demokrasi, menggapai kesejahteraan, dan mencerdaskan bangsa, namun kondisi dan tantangan saat ini adalah IT era (overload informasi), serta radikalisme yang rentan memicu konflik. Pada hakikatnya gerakan mahasiswa haruslah memiliki idealisme. Namun, situasi dan isu politik telah berbeda. Era tahun 1998 hingga 2005 lebih posesif, masih banyak dijumpai mahasiswa yang aktif dalam organisasi pergerakan. Sementara sekarang, kebebasan telah dibuka sebebasnya. Boleh berbicara apa saja sehingga orang bingung mau bicara apa. Beralih kepada mahasiwa yang telah dilingkupi dengan media, baik media cetak atau media online. Terlihat bahwa kecenderungan masyarakat umum sudah meninggalkan media cetak, baik itu majalah, koran, dan jenis lainnya. Sehingga bisa terlihat berapa banyak

mahasiswa yang membeli buku. Salah satu budaya yang menyebabkan mahasiswa enggan membeli buku karena di Indonesia yang berkembang adalah tradisi lisan, ditambah lagi kita tidak pernah mengalami lompatan atau tradisi menulis. Hal yang biasanya lisan dituliskan, tetapi jika kita membaca koran atau buku akan terlihat beda saat kita berbicara dari hasil-hasil tulisan. Media-media cetak seperti Kompas, Padang Ekspress, Haluan adalah hal yang berbeda dari ucapan yang dilisankan. Pasti akan ada pertimbanganpertimbangan tertentu sebelum orang menulis. Misalnya ketika kita akan membuat opini, tidak semua orang bisa akan hal ini. Ketika membuat opini, kita harus berpikir sungguh-sungguh dan harus ada data yang menjadi rujukan sehingga pemikiran kita paling tidak sudah melewati proses analisis yang panjang dan mendalam. Jadi, tradisi tulis menulis seperti itu, sama halnya mahasiswa membuat skripsi. Disatu sisi media memfasilitasi, pembinaan, pengembangan diri, sukses dalam belajar dan pendidikan. Internet memiliki segudang informasi, data, ilmu pengetahuan yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan diri. Mencari buku, artikel yang bisa di-download dengan mudah dan kapan saja. Berbicara tentang tahun sebelumnya 2007, 2004, maka waktu itu adalah yang sangat sulit sekali mencari jurnal, artikel ilmiah. Beda dengan sekarang yang sangat melimpah, itulah yang terjadi saat sekarang bahwasannya mahasiswa dikelilingi oleh banyak sekali fasilitas. Tetapi apakah ketika dikelilingi oleh banyak fasilitas mahasiswa tersebut mampu secara otomatis mengembangkan diri? Tidak. Karena

internet yang memiliki banyak ilmu dan informasi ini memiliki dua jalur. Ada jalur mudah dan ada jalur sulit. Ingin mengembangkan diri dengan sungguhsungguh, mengempa diri menjadi orang yang unggul di bidang yang diinginkan. Namun internet juga menyediakan hiburan yang melimpah ruah, banyak sekali hal menyenangkan yang di dapat di internet. Kemudian pentingnya peran kampus atau sebuah universitas terhadap mahasiswa agar lebih diarahkan, karena terkadang mahasiswa melakukan hal ini itu yang tidak baik karena ketidaktahuannya. Untuk kritis sekarang, memang faktanya di media maya banyak sekali berita-berita yang tidak valid. Tujuannya untuk membuat disk informasi, terkadang masih banyak mahasiswa yang terpengaruh oleh berita-berita yang kurang valid ini. Bahkan ada kecenderungan untuk langsung memercayainya tanpa menganalisa atau mencari sumber kebenarannya terlebih dahulu. Akibat terjebak dari nama domain situs berita, mahasiswa langsung meshare berita yang kevaliditas beritanya kurang jelas, padahal kontennya untuk memprovokasi. Jadi mahasiswa juga perlu cerdas dalam penggunaan internet, sehingga ketika terjun ke masyarakat kecerdasannya bisa dibawa. Perang sekarang memang mengarah ke sana. Model perang sekarang bagaimana membuat informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya sehingga disebar ke masyarakat, kemudian langsung dipercayai oleh masyarakat sehingga terjadilah konflik. Ini merupakan adanya settingan makro yang menciptakan situasi seperti ini. Jadi mahasiswa perlu dididik dan diajarkan kritis dalam penggunaan media.

Oleh: Devita Sari


P

AppSKEP, Aplikasi Jitu Ringkas Data-Data Diagnosis Pasien

erawat merupakan tenaga kesehatan yang bertugas memberikan pelayanan keperawatan dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan penyakit dan pelayanan bagi penderita yang sakit. Tak hanya sekadar merawat, seorang perawat juga membantu dokter dalam menulis datadata diagnosis pasien. Kali ini, telah tersedia aplikasi terbaru bernama AppSKEP yang diluncurkan 5 Agustus 2016 lalu. AppSKEP merupakan salah satu aplikasi diagnosis keperawatan. Aplikasi ini digagas oleh salah seorang alumnus keperawatan Universitas Andalas (Unand), Yaumil Fajri. Yaumil merasa masalah keperawatan sedikit ribet. Oleh karena itu, Yaumil menginginkan data-data diagnosis pasien diringkas dalam sebuah aplikasi. Memiliki motto “a better solution for nurse” AppSKEP hadir dalam bentuk aplikasi yang digunakan untuk membantu perawat dalam melakukan pengkajian, diagnosis, pelaksanaan dan intervensi keperawatan. Semua proses

dilakukan dalam satu aplikasi dan tanpa kertas. Kertas hanya diperlukan jika ingin mencetak laporan yang formatnya telah disediakan oleh aplikasi. Aplikasi ini berguna juga untuk mengantisipasi apabila ada data-data yang terbakar atau hilang. Aplikasi ini telah dapat diakses melalui official website www.appskep.com. Total user yang telah menggunakan appskep www.appskep.com ialah 994 orang dan juga telah diakses oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, China dasn Nigeria. AppSKEP saat ini di-handle oleh enam orang yaitu Yaumil Fajri sebagai Chief Executive Officer (CEO), Hendro Wibowo sebagai Chief Technology Officer (CTO), Ogy Winenriandhika sebagai Chief of Marketing Officer (CMO), Tri Wahyuni Ilahi sebagai Chief Financial Officer(CFO), Ibaadi Indra sebagai Chief Operating Officer(COO) serta seorang dosen Unand yaitu Zulfi Abdullah sebagai Commisioner. AppSKEP memiliki full version yang terdiri dari 3 versi, yaitu 1.0, 2.0 dan 3.0. AppSKEP 1.0 fokus pada diagnosis keperawatan berbasis North American Nursing Diagnosis Association (NANDA).

Dok. Pribadi FOTO BERSAMA: Tim AppSKEP setelah rapat untuk penambahan volunteer.

AppSKEP 2.0, sistem asuhan keperawatan lebih lengkap disertai dengan penentuan kriteria hasil berdasarkan Nursing Outcome Classification (NOC) dan terakhir AppsKEP 3.0, e-learning atau sistem pembelajaran keperawatan berbasis internet yang dilengkapi metode. Namun, untuk saat ini AppSKEP hanya tersedia untuk versi 1.0. Selebihnya masih dalam proses pengembangan. Penggunaan AppSKEP hanya berfokus pada perawat atau mahasiswa yang mengambil jurusan keperawatan. Kelebihan yang didapatkan oleh pengguna AppSKEP 1.0 yaitu simpel, praktis, berdasarkan standar NANDA, dilengkapi dengan padanan kata, kuis keperawatan dan selalu update. Saat ini, terdiri dari 235 diagnosis keperawatan berbasis NANDA yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Selain itu, juga terdapat lebih dari 5000 database pengkajian yang diambil dari batasan karakteristik dan faktor risiko. AppSKEP akan hadir dalam bentuk pengembangan yang berguna untuk masyarakat umum. Masyarakat bisa mengetahui sendiri penyakit yang dideritanya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pengembangan juga dilakukan dalam hal pemesanan rumah sakit secara online agar lebih menghemat waktu jika terjadi

rumah sakit penuh. Sebagai batu loncatan AppSKEP akan diaplikasikan pada Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unand. Setelah itu AppSKEP juga dapat diterapkan di rumah-rumah sakit lainnya. Khusus untuk rumah sakit yang belum memiliki finansial yang bagus, Ogy mengatakan akan disubsidi. “Rumah sakit tersebut akan disubsidi dengan tidak membayar aplikasi, hanya membayar server yang biayanya tidak terlalu mahal. Namun dengan pertimbangan setiap anak Unand atau STIKES yang menggunakan aplikasi ini, dapat melakukan magang di rumah sakit tersebut untuk mendapatkan gelar Ners dengan gratis,” ujar CMO AppSKEP ini. AppSKEP telah berhasil menjadi 10 top finalis founder anak bangsa yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan akan disponsori untuk mengikuti kompetisi Star Up di Istanbul dengan syarat telah terpilih menjadi 100 peserta Star Up Istanbul. Hal ini bertujuan untuk menarik investor. Kompetisi ini merupakan acara Star Up yang menyatukan founder, investor, dan eksekutif regional Eurasia. “Ada 100 peserta yang akan terpilih untuk melakukan persentasi di Istanbul dan ada 4000 attendent yang akan mengisi boot yang telah disediakan,” tutup Ogy Winenriandhika. Fanny, Rina

Iklan Baris @Duarti_hijab. Panjang 115x115 cm, double side, request by order, tidak transparan, tidak tipis, harga 40K, Follow IG: @duarti_hijab, 081367072352, 5ACCA81E

@Redmi Catering: Menyediakan berbagai kebutuhan konsumsi setiap agenda Anda, dengan harga terjangkau. Contact Person: SMS/WA 081268885008, BBM: 57BCE811, Line: ridho1070, IG: @redmi_catering

@iL: Tetap semangat generasi tangguh FORSTUDI FP UA yang sedang mengadakan Islamic Study Orientation (ISO) 2016, semoga jalan dakwahnya selalu dimudahkan Allah SWT aaamiiin.

@Go follow my account sosmed, IG:rahmasalvinahirza, PATH:rahma salvina hirza, SC:rahmasalvina, for follback just DM/ coment, thank you...

@Yuk cek instagram kita, custom bouquet flower, reserved for graduation ect, hanya disini bouquet yang sesuai kantong mahasiswa, follow superflow_

@FATETA “Selamat Menyambut Idul Adha 1437 H” untuk Keluarga Besar Teknologi Hasil Pertanian Universitas Andalas (THP dan TEP)

@KiskisImut: Selamat Hari Tapanca Redpel( inah), NRD (incaranAbangmetro), dan Budev (BisperkeceGA). Cinta melimpah untuk kalian.

@Yogie and Friend Accoustic. IG: Yogieadityaaa. Yuk kenalan dan kepoin tentang kita. Music is life.

@Bintang: Semoga bertemu diakhir tahun,,, semangat lakukan terbaik diawal tahun.

@Nite: Semangat Redaksi Seksi. Untuk Sastra Indonesia 2014, Saikograph, Langangers, Laskar Penghayal, dan khusus untuk Nirwan Khalisy.


K

WR III Lantik Pengurus UKPM Genta Andalas

amis, (18/8) sebanyak 18 orang Pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Genta Andalas Periode 2016/2017 resmi dilantik oleh Wakil Rektor (WR) III Unand di Ruang Seminar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) lantai 1. Bertemakan ‘’Bergerak Bersama Menjadi Media Terdepan dengan Jiwa Pergerakan”, acara ini dihadiri oleh Lembaga Pers Mahasiswa se-Kota Padang, dan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unand. WR III Hermansah berharap kepada Genta Andalas agar terus berprestasi. “Saya berharap Genta Andalas bukan hanya sebagai media informatif di kampus kita, melainkan dapat menciptakan prestasi-prestasi dari kegiatan kompetisi. Ikutilah Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang berkaitan dengan tulis menulis agar dapat mengembangkan skill yang telah ada. Banyak para tokoh besar mengatakan bahwa kata dapat merubah dunia,’’ tutur dosen Pertanian Unand ini. Selanjutnya, Pemimpin Umum

K

Genta Andalas Muhammad Arif mengatakan untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita menjadi media terdepan perlu menampilkan jiwa pergerakan dengan basic sebagai wartawan kampus. “Oleh karena itu, kami berharap kepada pihak kampus untuk memberikan dukungan baik dari segi moril maupun materi. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa Unand bisa dikenal melalui prestasi di bidang akademik maupun non akademik serta mampu membentuk softskill mahasiswa terutama di bidang jurnalistik,” harapnya. Selain itu, Layouter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Khirus Nasri juga berharap Genta Andalas dapat lebih maju dan lebih baik lagi. “Semoga seluruh pengurus yang dilantik hari ini dapat mengemban amanah dengan baik dan dapat dikenal bukan hanya di sekitar Unand tetapi bisa dikenal ke kancah Nasional maupun Internasional,” ujarnya. Ikhlas, Rina

KSR PMI Unand Adakan Seminar Siaga Bencana

SR-PMI Unand mengadakan seminar nasional siaga bencana dengan mengusung tema “Memperkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Ancaman Bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Sumatera Barat”, Kamis (25/ 8), di Gedung Seminar I. Acara ini menghadirkan Kepala divisi Kelembagaan, Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pendidikan dan Latihan (Diklat) PMI Provinsi Sumbar Nuzul Huda , serta dua pemateri yaitu Ihsan Maharno dan Abdul Hakam. Dalam seminar tersebut, Nuzul Huda menyampaikan PMI Sumbar memiliki peran dan program kerja dalam tanggap bencana. “Peran PMI yaitu mengurangi risiko terhadap bencana dengan Program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) yang memberikan pemahaman terhadap masyarakat,” jelasnya. Sementara itu, Ihsan menerangkan pentingnya keberadaan komunitas siaga dikarenakan jumlah volunter yang melemah. “Semua orang

boleh menjadi anggota Kelompok Siaga Bencana (KSB) dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menanggulangi pengurangan bencana. Dan saat ini telah disosialisasikan KSB untuk mendapatkan volunter,” tukasnya. Nova Saputri, peserta seminar mengungkapkan ketertarikannya untuk mengikuti seminar kebencanaan ini. “Akhir-akhir ini Padang rawan banjir, di sini saya jadi paham dan mengetahui ilmu tentang siap siaga bencana. Terutama banjir yang terjadi belakangan ini akibat penyumbatan sampah sehingga air meluap. Melalui seminar ini, semoga KSR Unand berhasil mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan,” tutur siswa SMK N 8 padang ini. Wakil Rektor III Unand, Hermansah dalam sambutannya mengapresiasi acara tersebut. “Acara ini sangat bermanfaat bagi kita, terutama yang berada di wilayah rawan gempa dan tsunami yang harus selalu siap siaga,” tutupnya. Devita, Wita

AIESEC Unand Kembali Adakan Global Village

B

ertempat di kolam tengah gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Jumat (19/8) AIESEC Unand kembali mengadakan acara t a h u n a n n y a G l o b a l Village. Bertemakan Celebration of Culture yang ditujukan untuk merayakan perbedan kebudayaan yang ada di Indonesia, acara ini dihadiri oleh SiswaSiswi SMA se Kota Padang, mahasiswa Negara Spanyol, Jerman, Oman, Pakistan, Tunisia, India, Ukraina, dan Jepang. Ketua Panitia Global Village, Diah, menuturkan kegiatan ini merupakan sebuah project yang diangkat oleh International Laguage Executive Academy (ILEA) yaitu mahasiswa asing yang berasal dari luar negeri berpartisipasi dalam mengajarkan bahasa Inggris di SMA yang ada di Kota Padang. “Acara Global Village ini merupakan puncak acara dari ILEA yang sudah dimulai sejak November tahun lalu

dan akan berakhir pada September yang akan datang, meskipun ini acara puncaknya, intern-intern tersebut tetap akan mengajar di sekolah-sekolah,” tuturnya. Kemudian, dengan diadakannya project ini Diah berharap hal ini akan memberikan dampak yang baik terhadap adik-adik SMA, agar lebih termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, “Karena bahasa Inggris itu penting, di beberapa sekolah saat ini sudah tidak diajarkan bahasa Inggris, jadi kita ingin adik-adik ini termotivasi belajar dan berbicara bahasa Inggris,” ungkap mahasiswi Akuntansi Internasional ini. Salah satu partisipan acara ini, Retno, mengaku senang mengikuti kegiatan ini. “Saya bisa bertemu dengan orang luar dan berkomunikasi dengan mereka, selain itu saya juga tertarik belajar bahasa Inggris,” ujar siswi SMA 16 Padang ini. Yori

Sambut Jusuf Kalla, Aparat Cegat Aksi Aktivis Unand

K

edatangan Jusuf Kalla (JK) ke Unand dalam rangka Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa (HC) dalam bidang Hukum Pemerintahan Daerah, Senin (5/9) di Auditorium Unand di sambut dengan aksi unjuk rasa mahasiswa yang menolak kedatangan JK. Aksi ini dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan Politik (UKM PHP), Lembaga Advokasi Mahasiswa – Pengajian Kemasyarakatan (LAM-PK) Fakultas Hukum, dan BEM KM Unand. Unjuk rasa ini dimulai pukul 08.00 WIB dari gedung Fakultas Psikologi menuju jembatan simpang tiga arah Gedung Fakultas Kedokteran. Dengan mengerahkan massa yang banyak, mereka mengkritik pemberian gelar Doktor kepada JK. Dalam aksi ini mereka juga menolak Uang Kuliah Tunggal (UKT), menolak Unand menjadi Perguruan Tinggi

Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), meminta penambahan kuota beasiswa Bidikmisi, PPA dan BBM, dan penolakan bentuk Hibah Kompetitif. Juru bicara aksi Muhammad Ridho, mengatakan bahwa mereka menolak Unand memberikan gelar Doktor kehormatan kepada JK. “JK belum sepatutnya mendapatkan gelar HC di bidang hukum dan pemerintah daerah,” kata Mahasiswa Jurusan Hukum angkatan 2013 ini. Selain itu, Koordinator Aksi BEM KM Unand Nurul Fikri, mengaku tetap melakukan aksi dengan memasang spanduk meskipun telah dilarang oleh pihak keamanan. “Kami tetap melakukan aksi sesuai dengan gaya kami walaupun dinilai melanggar dengan pemakaian spanduk sebagai salah satu atribut aksi,” ujarnya. Annisa, Wita

Komunitas Literasi Unand Wadahi Aspirasi Mahasiswa

K

amis, (1/9) bertempat di Perpustakaan Unand lantai 3 Komunitas Literasi Unand (MiLITAND) resmi dibuka. Komunitas ini bertujuan untuk mewadahi aspirasi mahasiswa yang berani bergagasan di ruang publik dengan mengadakan diskusi rutin, memberi pelatihan literasi dari beragam genre baik itu cerpen, puisi, sajak, ataupun opini, diskusi gabungan serta bedah buku dan juga sidang gagasan. Mahasiswa Hukum Anthoni Putra yang tergabung dalam komunitas Literasi Unand ini, mengatakan pembentukan komunitas dimulai semenjak tanggal 19 Agustus 2016 dengan beranggotakan mahasiswa Unand yang berasal dari berbagai fakultas. “Banyak dari

mahasiswa tersebut yang memiliki hobi dan visi yang sama, yang bergagasan di media massa tapi hanya berjuang sendiri tanpa ada wadah yang menampung mereka,” ungkapnya. Senada dengan itu, Mahasiswa Ilmu Politik Ikhsan Yosarie menuturkan alasan dibentuknya komunitas ini dikarenakan belum ada wadah yang bergerak khusus di bidang literasi. “Lounching ini sebagai pintu masuk untuk bergerak lebih jauh dalam kepenulisan. Komunitas ini sifatnya revolusioner atau bergerak bersama karena mengingat mahasiswanya masih bergerak sendiri-sendiri,” ujar mahasiswa angkatan 2013 ini. Nite,Syinta

HMJ Sastra Indonesia Unand Adakan Pekan Kritik Sastra III

H

impunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia Unand kembali mengadakan agenda tahunan Pekan Kritik Sastra (PKS) III, Selasa (30/8) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya (FIB). PKS yang berlangsung selama tiga hari (30 Agustus-1 September) ini menghadirkan 24 pembicara yang akan mengkritik 12 buku bergenre prosa, puisi, dan naskah drama yang berkaitan dengan Minangkabau. Ketua panitia Mahareta Iqbal Jamal, mengatakan acara ini bertujuan untuk melatih kerja sastra di lingkungan kampus dalam bentuk kritik dan apresiasi sastra. “Ini ketiga kalinya HMJ Sastra

J

Indonesia mengadakan PKS, tahun ini kami mengangkat tema Menelaah Minangkabau dalam Karya Sastra di Era Mutakhir,” ujar mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2014 ini. Senada dengan itu, Dosen Sastra Indonesia Syafril mengatakan bahwa PKS merupakan ajang bagi penikmat sastra untuk mengkritik karya yang telah diterbitkan. Menurutnya, penulis diharuskan terbuka dan menerima semua kritikan-kritikan yang membangun. “Hal ini akan berpengaruh untuk perkembangan dan kemajuan karya sastra selanjutnya,” tuturnya. Nite, Rina

Jaringan Rohis MIPA Nasional Adakan Musykerwil I

umat, (2/9) Unand terpilih menjadi tuan rumah dalam acara Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) I yang diadakan pertama kali oleh Jaringan Rohis MIPA Nasional (JRMN). Bertempat di Perpustakaan Unand lantai 5 acara ini mengusung tema “Menyatukan Mufakat, Menjalin Ukhwah di Kampus Hijau” dan dihadiri oleh 18 orang delegasi dari empat universitas di antaranya Unand, Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Riau (UR), dan Universitas Sumatera Utara (USU). Ketua Panitia Wingki Mey Hendra, mengatakan pada Musykerwil ini akan membahas arah gerak JRMN ke

depannya untuk menjadi lebih baik lagi, dan dapat mencetak ilmu islamiah yang berlandaskan Alquran. “Melalui Musykerwil ini kami akan melebarkan sayap untuk mengajak lebih banyak lagi universitas yang belum tergabung dengan JRMN,” tuturnya. Di samping itu, Wakil Dekan (WD) III FMIPA Syamsuardi berharap agar ke depannya JRMN dapat mengadakan berbagai perlombaan islami seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dan lain sebagainya. “Agar remaja tetap tegar dalam berdakwah tentang Islam,” Ully ujarnya.


Mengenal Kehidupan Lewat Permainan Lentri Oleh: Arif Rahman Hakim*

P

ermainan rakyat sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat di Minangkabau. Dari segi kemanfaatan sebagai media penghibur, permainan juga memiliki makna tersirat yang belum terungkap bagi anak-anak yang memainkannnya. Apalagi orang dewasa yang telah mulai melupakan permainan rakyat seperti ini. Setiap daerah memunyai permainan berbeda, salah satunya permainan yang bernama Lentri yang dimiliki salah satu desa di Pariaman, tepatnya di desa Ampalu, Rawang Tigo Jerong. Permainan ini memang dianggap permainan semata pengisi waktu luang, tetapi memiliki makna tersendiri yang belum tersembul di permukaan. Permainan Lentri yang berbentuk lingkaran kecil berdiameter lebih kurang 25 cm ini dibagi menjadi sepuluh sampai lima belas garis bagian. Itupun dapat berubah tergantung jumlah pemain yang memainkannya. Setiap pembagian itu, pemain memegang batu sebesar kepalan tangan atau benda lain yang bisa dibuang atau disepak, dan satu orang pemain harus memegang lado atau bahan yang berwarna merah seperti batu bata. Pemegang lado ialah orang yang menyanyikan lagu permainan Lentri atau orang yang tersisa memegang lado. Sebab setiap orang akan takut jika mereka yang memegang lado, karena takut lado berhenti di garis putarannya. Permainan Lentri dilangsungkan sampai nyanyi berhenti dan lado berhenti berputar di depan pemain. Pemain yang mendapat lado akan menjadi penjaga permainan ini. Sama halnya dengan permainan sabuik dan tonggak dingin yang bersifat bersembunyi, permainan Lentri ini juga bersembunyi. Sebelum pergi meninggalkan putaran lingkaran Lentri, setiap pemain harus menendang batu yang diputar tersebut dan menyembunyikan lado agar yang menjaga susah untuk mencarinya. Maka mereka yang bersembunyi bisa mencari tempat yang aman dari permainan lebih lama, agar tidak diketahui dengan yang jaga. Apalagi orang yang tertangkap lebih dulu otomatis menjadi penjaga dan harus mencari pemain lain jika semua pemain tertangkap dan kalah. Agar pemain yang tertangkap lebih dulu tidak menjadi penjaga, maka pemain lain harus manyembai pemain yang tertangkap dengan kembali menendang batu atau gundu serta menyembunyikan lado tadi. Dengan mengucapkan “sembai,” dengan begitu pemain yang tertangkap akan berlarian mencari tempat persembunyian lain. Jika hal ini terjadi berkelanjutan, penjaga yang paling lama dan beronde-ronde maka ia sedang dipangek oleh pemain lain. Permainan Lentri yang berputar

... sambungan halaman 7 ia mengenakan topi dan berkata ‘’Selamat datang adik-adik, kami ingin meminta sumbangan adik-adik untuk membayar petugas kebersihan di sini. Karena tempat ini baru, kami belum mendapat bantuan dari pemerintah. Jadi, kami berinisiatif untuk tetap membersihkan tempat ini dengan penghasilan dari pengunjung yang datang, masing-masing hanya Rp.5000,00 perkepala. Saya harap pengunjung bisa maklum, ini bukan bentuk pemalakan atau sebagainya. Hanya ingin meminta partisipasi pengunjung saja,’’ jelasnya. Tidak perlu mengeluarkan

mengikuti arah jarum jam, berhenti disaat lagu habis dinyanyikan menyimbolkan perjalanan hidup manusia sendiri. Maksudnya, hidup manusia berputar mengikuti arah jarumnya dan berhenti menyimbolkan akan waktu alam semesta telah mencapai asanya. Maka dari itulah pasti setiap manusia akan kocar-kacir mencari tempat persembunyian untuk menyelamatkan diri. Manusia menyembunyikan diri dan membuang kesalahannya disimbolkan dengan menendang semua batu atau gundu tadi serta menyembunyikan lado agar kesalahannya tidak dapat ditemukan. Akan tetapi, sekuat apapun manusia bersembunyi pasti akan menemukan ajal yang telah ditakdirkan kepadanya. Filosofi sederhana sekali, kehidupan lewat permainan memberikan

Sesungguhnya, permainan Lentri juga dinyanyikan dengan nada yang menyentak pemikiran kita akan kehidupan dunia dan alam yang ada di Minangkabau sendiri. Apalagi falsafah orang Minangkabau yang menjunjung tingi “Alam Takambang Jadi Guru” tetap dipegang erat. Lirik lagu yang berbunyi “lentri kali lentri pucuak ubi samba lado, bintang jo matohari taleo-leo manjadi lado, banyak anak gadih nan taledo...” memiliki pemaknaan yang sangat dalam masalah kehidupan. Dari masalah tumbuhan pucuak ubi yang memang sangat dekat bagi masyarakat di daerah pesisir pantai seperti Pariaman, karena hampir batang ubi yang ditanam atau dibuang di mana pun akan tumbuh dengan subur mampu diibaratkan menjadi jati diri orang Minang agar

Dok. Pribadi TERTAWA: Salah seorang anak tertawa sambil memegang batu saat bermain Lentri bersama temannya. penjelasan bahwa alam semesta bersifat sementara dan hancur jika waktu telah mencapai titik temunya. Dengan begitu, kesiapan diri untuk menerima lado itulah diukur pula seberapa kuat kita menerima kedatangan hari itu di diri kita, tergantung banyaknya pahala dan dosa yang dikumpulkan. Pada sisi lain, orang yang menerima lado juga disimbol pada waktu yang telah menjanjikannya untuk menjadi penjaga. Selain itu juga menentukan pada kecerdikan emosional dan spiritual akan kematangan diri dengan sifat seperti itu dapat menjaga kontrol sikap. Tidak merusak permainan, tetapi turut merasakan bahwa dunia bukan saja berpihak pada orang yang menang tetapi juga kepada orang yang kalah. Sejak dini itulah, permainan Lentri memberikan pemaknaan besar untuk emosional anakanak agar dapat berpikir kritis dan menstabilkan diri sebagai penjaga.

dapat menjadi pemikir ulung di mana pun ia berada. Ditambah dengan pucuak ubi memang menjadi sayuran alternatif bagi masyarakat. Pemahaman akan pentingnya pucuak ubi juga disangkut— pautkan dengan samba lado yang sesuai dengan liriknya. Memang dapat ditarik kesimpulan, pucuak ubi dan samba lado yang telah dimasak akan lebih nikmat dimakan bersamaan. Kemungkinan besar, lirik lagu yang dibuat tanpa dari mana asal dan siapa penciptanya menjadi hal yang dirindukan oleh anak-anak yang memainkan permainan Lentri untuk pulang ke rumah. Sedangkan pada lirik lagu,”bintang jo matohari taleo-leo manjadi lado,” memiliki arti luas atas pemaknaan yang akan diketahui oleh anak-anak yang bermain. Apalagi bintang dengan matahari yang memang menjadi titik temu yang memang menjadi

kocek besar-besaran yang dapat menguras kantong wisatawan, hanya Rp.5000,00 saja wisatawan dapat menikmati keindahan Teluk Maman dengan waktu yang tiada batas. Walaupun biasanya pukul 18.00 WIB penjaga yang ada di sana sudah menyuruh wisatawan untuk meninggalkan Teluk Maman, mengingat jalan untuk keluar dari Teluk ini jauh dan merupakan semak-semak. Mamanbay juga menyediakan beberapa Watersport dengan harga kisaran 20-25 ribu. Karena tempat ini baru, hanya ada satu penjual makanan ringan dan minuman di tempat ini, belum banyak tempat yang di buat di Mamanbay seperti kursi untuk bersantai, kedai nasi seperti yang ada di pantai biasanya.

Tempat ini masih polos dan indah. Penulis berharap lagi, esok harinya ketika penulis kembali, kepolosan tempat ini masih tetap terjaga. Di Mamanbay ada jembatan yang menjadi tempat spot foto yang bagus bagi wisatawan yang suka mengabadikan momen liburan melalui bidikan kamera. Selain itu, semua spot di Mamanbay sangat indah dan menghasilkan foto yang bagus yang bisa di kenang oleh wisatawan. Selain befoto, wisatawan juga bisa memanjakan kaki dengan pasir putih yang halus atau memanjakan mata dengan keindahan langit senja yang sangat indah, semua dapat wisatawan lakukan di sini. Ketika meninggalkan tempat ini, percayalah segala gundah

konsekuensi orang yang tinggal di bumi, jika keduanya itu terjuntai-juntai dan hancur. Memang akan meninggalkan beban yang berat. Andaikan bintang dan matahari itu terjuntai dan berjatuhan ke bumi maka akan meluluh—lantaklah bumi dan alam semestanya. Maka dari itulah, kita sebagai manusia patutlah berpikir agar semua yang akan terjadi di bumi dan alam semesta menjadi pelajaran yang harus kita upayakan terserap baik dengan akal pikiran. Dengan permainan seperti inilah, sebagai anak-anak pun kita dapat berpikir kritis jika bintang dan matahari memang jatuh ke bumi, maka dengan itu kita harus banyak bertawakal dan bertafakur mengingat diri kepada Allah. Lado di sini bersimbolkan pada kehancuran yang akan didapat bila keduanya memang taleo-leo atau terjuntai. Dari permainan yang kemungkinan dianggap sepele dan biasa dapat memberikan pelajaran yang luas kepada pemikiran kita agar tetap bersyukur dan menghisab diri masingmasing. Selanjutnya lirik lagu,”banyak anak gadih nan taledo,” memberikan pemaknaan pada saat sekarang memang terasa bagaimana keadaan anak gadis Minangkabau yang telah berjalan di luar aturan yang ada. Tidak habis pikir dengan lirik ini yang kemungkinan besar memang telah dinyanyikan lebih dari berpuluhpuluh tahun dan memang terjadi di saat sekarang ini. Seakan-akan dalam permainan Lentri memang memberikan gambaran yang jelas terhadap kejadian yang akan terjadi seperti perempuan yang telah berpakaian tidak baik dan tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di Ranah Minangkabau. Sayang sekali, eksistensi permainan Lentri telah pudar di kalangan anak-anak. Keberadaan yang telah dikatakan mati disebabkan oleh kecanduan anak-anak dengan permainan yang berkapasitas teknologi dan online. Faktor lain juga disebabkan oleh kurangnya kontrol dari orang tua. Orang tua lebih suka jika anak-anaknya bermain di laptop atau gadget karena pengaruh sosial yang tidak harmonis. Sebab orang tua lebih menganggap jika si Anak pintar memakai laptop, maka dianggap cakap dalam berteknologi. Maka dari itulah, permainan Lentri tidak terdengar lagi dan beberapa anak-anak yang ada di desa tersebut tidak tahu lagi mengenai permainan tersebut.

*Penulis merupakan Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau Angkatan 2014 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas yang wisatawan rasakan akan hilang terbang bersama angin, dan hidup baru siap wisatawan jalankan. Karena hidup tidak selalu tentang sibuk, luangkan waktu untuk duduk bersama temanteman memandang langit, bernyanyi bersama ombak, dan bermain bersama pasir di bawah terik mentari.

*Penulis merupakan Mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2014 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


Balada Si Gundam dan Si Birin Oleh: Andesta Herli W*

Annisa

B

irin adalah keturunan ketiga dalam silsilah keturunan Ajo Sidi, lelaki dalam cerita orang lama yang terkenal ahli cerita itu. Orangnya gemuk, pendek, serta memiliki kulit legam, menandakan betapa ia telah banyak menelan asam-pahit kehidupan. Di kota ini, dia disebut sebagai “si joker”, yang artinya memiliki pergaulan luas, disetiap sudut ada teman seiyasekata. Dan yang paling diingat oleh orang-orang tentang seorang Birin adalah rambutnya yang keriting, serta kegemarannya bercerita dalam setiap kesempatan. Dan bagi Birin sendiri, tidak ada kawan bercakap-cakap yang lebih baik daripada Gundam, kawan yang sejak kecil seiring dengannya. Gundam juga merupakan generasi ketiga, namun berasal dari keturunan Garin, lelaki dalam cerita lama penghuni surau, yang terkenal hebat ibadahnya itu. Orangnya tinggi, berwajah lancip, serta memiliki kulit agak kekuningan. Ia tidak begitu banyak dikenal orang, namun di kompleks tempat tinggalnya ia begitu diidolakan ibu-ibu jemaah majelis taklim, dan digadang-gadang sebagai calon menantu idaman. Gundam adalah seorang muazin berkelas, yang suaranya seringkali mampu membangunkan orang dengan cepat pada waktu Subuh, termasuk orang yang pada dasarnya tidak memiliki kebiasaan bangun di Subuh hari. Ya, seperti pendahulunya, Gundam adalah orang taat, kini tinggal di Mesjid Jabbar. Saat ini, dua sahabat itu sedang saling bertatap muka. Sedikit berbeda dari lama, kali ini Gundam yang menemui Birin, di salah satu kedai dekat terminal ilegal. Meskipun terik sungguh terasa dari atap kedai yang tidak seberapa jaraknya dari kepala, tampaknya mereka berdua tidak terganggu, malah menikmati obrolan dan kopi setengah panas. Begitu pula dengan orang-orang lainnya di kedai, tampak santai dan menghayati istirahat siang mereka. “Aku sebenarnya bingung dengan kejadian akhir-akhir ini, Rin,” ucap Gundam sambil membetulkan letak peci di kepalanya. “Terutama mengenai mesjid yang disebut-sebut dalam televisi itu, yang kabarnya mesjid utama di kota ini, bahkan di provinsi.” Birin tidak menyahut sepatah kata pun. Ia tetap duduk bersandar ke dinding kedai. Santai, seolah tak mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Gundam. Namun tentu saja

Birin mendengar dengan jelas, bahkan antusias. Ia diam hanya karena paham bahwa Gundam belum memerlukan tanggapan balasan. “Kau bayangkan, Rin,” sambung Gundam, sesuai perkiraan Birin, “untuk biaya pembangunan setengah jadinya saja, bisa memakan beratus miliar. Apa itu tidak keterlaluan? Mau membangun mesjid dengan bahan apa sih, jika sebesar itu anggarannya!” Birin melongok ke arah Gundam. Merasa telah tiba saatnya kawannya itu butuh ditanggapi. Maka Birin membetulkan sedikit posisi duduknya. Sejenak tercenung. “Barangkali memang sebesar itulah yang diperlukan, Kawan. Kau kan tahu, mesjid itu rumah Tuhan, jadi harus dibangun dengan sepenuh hati,” ucap Birin dengan nada tenang. “Barangkali bagaimana maksudmu? Justru karena ini rumah Tuhan, maka semuanya harus jelas, tidak harus pakai kata barangkali itu!” “Ondeh, mengapa kau jadi marah padaku? Kau kan bicara soal mesjid!” “Hmm... Aku hanya tak habis pikir, Sanak, mengapa harus dibuat mesjid besar dan diberi embel-embel “raya” seperti itu dan dianggap seolaholah sebagai mesjid pusat, yang utama untuk semua orang. Toh semua mesjidkan sama. Mengapa mesjid yang satu ini istimewa?” “Bukan begitu cara pikirnya, Kawan. Mesjid itu ikon kebanggaan orang kita. Kau kan tahu, kita ini hidup dengan latar agama yang kuat. Mesjid itu simbol pemersatu umat. Juga, kalau tidak keliru, mesjid itu juga penanda bagi orang banyak bahwa kita ini hidup dengan keleburan akar budaya dan agama yang kokoh.” Begitulah, Birin mencoba berkata-kata, alangkah bijak, pikirnya. “Itukah sebabnya, atap mesjid itu dibuat mirip gonjong?” Dinah, si pemilik kedai yang dari tadi diam tibatiba menyahut. “Ah, tidak usah bergonjong orang pun sudah tahu betapa Islamnya kita,” jawab Gundam. Alangkah belum puasnya ia meradang. “Mengapa kau sendiri saja yang sibuk mempertanyakan, Kawan? Ah, aku heran, kau ini seorang alim pula, mengapa malah mempertanyakan ada orang ingin membangun mesjid? Setiap orang yang bertemu denganku, baik orang alim atau preman terminal sekalipun, tampak senang dengan pembangunan itu.” “Ya, mungkin aku sendiri yang masih berpikir dengan akal sehat.” Tak disangka-sangka, Gundam tak puas-puas meradang.

“Eh, ini masalah agama, Gundam. Berarti ini berhubungan langsung dengan Tuhan. Tidak semestinya pakai kata mungkin!” Kundik, yang dari tadi menyimak dari sudut kedai menyela. Seisi kedai pecah gelak-tawa. Merasa dipermainkan begitu, Gundam memilih diam. Dalam hatinya, tidak mungkin bisa berdebat dengan orang-orang di sana. Pikirnya, orangorang ini terbiasa melihat sesuatu dengan kacamata orang banyak, tidak bisa melihat masalah tersirat di depan diri mereka. Gundam pun gundah. Kopi serasa terlalu kadam di tenggorokan. *** Salah satu hal yang disukai Birin dari Gundam adalah sifatnya yang tidak mudah setuju dan percaya. Orang seperti itu, jelas mempunyai keyakinan diri, juga wawasan yang kuat. Birin menghormati sahabatnya itu, lebih dari sahabat manapun yang ia kenal. Selain faktor persahabatan yang lama, yang sudah terjalin sejak mereka sama-sama masih bocah, naluri “kejokeran” Birin mengatakan bahwa Gundam adalah sosok yang punya kualitas berlebih dalam dirinya. Orang seperti itu, cocok untuk dijadikan tempat bercermin diri. Dan itu sebabnya, Birin, meskipun tersohor di mana-mana, di setiap gang atau di setiap terminal, tak pernah mau membusungkan dada di hadapan sahabatnya itu. Hal itu tampak pagi ini. Gundam, rupanya belum puas mengeluarkan isi hatinya, setelah kemarin terputus oleh gelak-tawa orangorang di kedai kopi. Kini ia datang langsung ke kontrakan Birin, di gang Anjung, gang yang terkenal dengan tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Birin sedang khusuk bercakap lewat sambungan telepon dengan seorang janda yang baru seminggu ini dikenalnya, ketika Gundam datang diiringi suara engsel pintu yang mengerot keras, lalu sedikit hentakan. “Betul-betul keterlaluan! Betulbetul tidak pandai hormat!” Gundam mengumpat. Sedang asik tersenyum-tertawa, Birin tersentak, perhatiannya seketika menjurus hanya pada Gundam. “Eh, eh, kenapa Kau?” “Lihat, lihat!” ucap Gundam sambil menyodorkan selembar koran, “Bagaimana mungkin mesjid dijadikan tempat untuk berfoto-foto ria begini! Lama-lama manusia semuanya berubah gila, tidak memakai akal waras lagi! Sudahlah pembangunannya memakan biaya besar, eh, sebagian orang malah menjadikannya sebagai tempat bersukaria! Aku tidak yakin orang-orang ini memiliki shalat yang baik. Lengkap pun, aku ragu!” Gundam benar-benar marah, hingga tidak memerhatikan lagi wajah Birin yang khusuk menunduk, melototi koran. Gundam gundah. Dengan sempoyongan ia melangkah menuju sofa kumuh di sudut ruangan, lantas menyandarkan tubuhnya di sana. Ia merasa sedikit lebih tenang. Dipandangnya langit-langit, diperhatikannya lekat-lekat sarang labalaba yang mekar di setiap sisinya. Dalam pada itu ia berbisik, “masyaallah!”. Seketika pula disambung oleh suara Gundam, “alhamdulliah!” “Hei, mengapa alhamdulillah?” Gundam terperangah. “Kau lihat betullah, Kawan, ini yang di berita ini, yang di dalam foto ini, adalah artis ibukota, yang wajahnya muncul di televisi setiap hari!” Birin berteriak, seolah meledak seraknya. Ia

telah lupa pada telepon selulernya, apa masih menyambung atau tidak dengan Si Janda. “Nah, kalau artis, memangnya kenapa? Sebab dia artis makanya boleh berfoto-foto dengan bibir dibusungbusungkan begitu di depan mesjid?” “Tidak begitu. Kau baca kalimat pemuka masyarakat kita ini. Menurut beliau, dengan dibangunnya mesjid ini, nuansa Islami kian terasa di kalangan masyarakat kita. Ditambah lagi dengan kedatangan selebritis, masyarakat semakin tertarik ke mesjid ini. Lah, selebritis saja jauh-jauh datang untuk salat ke mesjid ini, masa kita yang di sini tidak begitu? Lagi pula, ini kan dia berfoto seusai salat, sebelum pergi lagi ke kotanya.” “Dan artinya lagi, orang-orang datang ke mesjid ini kebanyakan ria belaka,” potong Gundam. “Masa, beribadah tergantung kemewahan dan kemasyhuran mesjidnya! Jangan sampai, ibadah itu jadi ajang seremoni dan pamer eksistensi saja!” Birin tersenyum sendiri melihat ekspresi serius Gundam yang tidak dibuat-buat itu. Gundam begitu bersemangat dengan kata-katanya, tanpa ragu menilai sesuatu itu baik atau buruk. Ini adalah salah-satu yang ia hormati dari Gundam, yakni penilaiannya yang serius dan berani. Kini ia lihat Gundam tercenung, barangkali betul-betul menjadi beban baginya perihal mesjid itu. “Kau tahu, suatu hari aku pernah mendengar cerita dari kawanku tentang pertemuannya dengan Rasul di dalam mimpi,” ucap birin dengan irama yang sedikit rendah dari semula, rendah dari nada ucapan Gundam. “Kawanku bercakap banyak dengan Rasul waktu itu, dan salah satu hal yang dibicarakan adalah tentang orang-orang alim yang dilaknat Tuhan.” “Orang-orang alim yang dilaknat Tuhan itu, maksudnya bagaimana pula?” Gundam agak tertarik dengan pancingan cerita Birin. “Orang-orang alim itu, yang ibadahnya tak kurang, tak cacat sedikit pun, ternyata banyak yang mendapat tempat rendah di sisi-Nya. Mereka adalah orang-orang yang setiap waktu salat berjamaah di mesjid, serta menyebarkan ajaran-ajaran tentang yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, di hadapan jamaah. Namun Rasulullah memandang orang itu tidak lebih dari seorang yang rendah martabatnya. Itu karena kesalahan mereka, di mesjid hanya dalam hal melafal ayat-ayat Tuhan.” “Nah, bukankah memang begitu yang seharusnya, dan baik?” “Betul sekali. Tapi orang-orang itu hidupnya hanya pada batas itu. Mereka berbicara tentang kebaikan, tapi tidak berusaha membasmi keburukan di sekitarnya. Mereka dengan bersemangat menilai mana yang benar, mana yang salah, tapi mereka tidak pernah berniat memperjuangkan terciptanya kebenaran itu. Mereka itu, hanya berbicara dari atas bukit. Siapa yang mendengarnya? Orang-orang seperti itulah, termasuk orang-orang yang rendah, tidak mampu berbuat untuk keselamatan orang lain. Dosa mereka juga terus menumpuk, mengalahkan berat pahala salat dan zikir mereka, karena sering mengeluh, mengutuk, dan menghujat. Rasulullah membenci sekali sifat-sifat seperti itu.” Gundam diam. Ia tatap lekatlekat langit-langit dan sarang laba-laba di sekitarnya, sembil mengulang-ngulang tuturan Birin dalam hatinya. Kali ini


Gundamlah yang merasa kagum dan hormat pada Birin. Maka jadilah keduanya saling kagum-mengagumi. Lantas ditatapnya sang sahabat itu, dan berkata, “Sedikit yang aku pahami dari kata-katamu, Kawan. Selebihnya, kau seperti berkat-kata dalam bahasa asing”. Melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya, Birin terkekeh, tertawa yang serak namun berat. Jadilah seisi ruangan disesaki tawa Birin. Sementara di depannya, Gundam tampak tak bersemangat berkata-kata apa pun. *** Suatu pagi berhujan,

masyarakat di kompleks sekitar mesjid Jabbar diselimuti kabut heran. Pasalnya, sudah satu jam waktu Subuh lewat, tapi mereka belum mendengar suara Gundam memanggil jemaah dari corong mesjid. Pukul enam lewat, mereka mengutus seseorang untuk mengecek mesjid, melihat apakah Gundam pagi ini tertidur dan tidak sadar waktu. Namun seseorang itu malah kembali dengan membawa kepanikan baru bagi masyarakat, ketika ia mengabarkan bahwa Gundam tidak ada di mesjid. Semua warga terkejut, lantas berpandangan satu sama lain. Semuanya bertanya-tanya, namun tidak ada yang mampu mengeluarkan suara. Udara pagi tiba-tiba terasa lebih

dingin di dada setiap orang. Angin mengawang, mendesing pelan-pelan. Ketika itu, di tempat lain, percakapan di antara dua sahabat tengah berlangsung. Di pelataran sebuah kedai kopi yang masih tertutup. “Sudah lengkap semua berkas yang diperlukan?” “Sudah.” Birin menepuk pundak Gundam, berkata ia, “Semoga beruntung, Kawan!” “Aku yakin, aku tak kalah alim dan rajinnya dari para calon yang mendaftar, lebih pula dari ustad-ustad di televisi itu.” Birin tersenyum mendengar.

Dalam hati, ia merasa lucu sendiri. “Jika diterima sebagai pengurus mesjid itu, apa yang ingin kau lakukan?” “Seperti kukatakan, membersihkan ibadah masyarakat dari praktik-praktik buruk bersifat duniawi, langsung dari pusatnya!” Gundam bertutur penuh percaya diri. Sekali lagi, Birin menepuk pundak Gundam. *Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Angkatan 2012

Kritik Sastra “Balada Si Gundam dan Si Birin” karya Andesta Herli W

C

Oleh: Reno Wulan Sari, S.S.,M.Hum*

erpen “Balada Si Gundam dan Si Birin” karya Andesta Herli W adalah cerpen yang menarik. Selain penggunaan bahasa yang mengalir, penulis juga menampilkan persoalan yang dekat dengan masyarakat. Ada dua persoalan yang dibahas oleh penulis. Pertama, tentang keresahan masyarakat terkait dana pembangunan masjid “untuk biaya pembangunan setengah jadinya saja, bisa memakan beratus milyar” (paragraph ke-6). Persoalan kedua tentang kebiasaan masyarakat yang gemar berfoto. Persoalan berfoto ini menjadi kritikan penulis terhadap fenomena yang ada di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang gemar berfoto pada tempat-tempat tertentu terutama pada tempat-tempat yang memiliki label nama. Inilah yang terjadi ketika masjid yang dirisaukan oleh Gundam kemudian dijadikan tempat berfoto bukan hanya sebagai tempat beribadah. Pada cerpen tersebut penulis sudah menuliskan “Bagaimana mungkin masjid dijadikan tempat untuk berfotofoto ria begini! Lama-lama manusia

semuanya berubah gila, tidak memakai akal waras lagi! Sudahlah pembangunananya memakan biaya besar, eh, sebagian orang malah menjadikannya sebagai tempat bersuka-ria! Aku tidak yakin orang-orang ini memiliki salat yang baik. lengkap pun, aku ragu!” Dua persoalan tersebut menjadi hal utama yang membuat cerpen “Balada Si Gundam dan Si Birin” menarik. Persoalan masjid yang terkait dengan dana pembangunan dan tempat berfoto ialah hal-hal yang kini sering terjadi. Penulis memotret hal yang nyata tersebut dan menyajikannya dalam bentuk karya sastra. Sesungguhnya pertanyaan yang ditujukan Gundam adalah pertanyaanpertanyaan yang juga sering diutarakan di berbagai lapisan masyarakat, sehingga ketika para ahli menyatakan bahwa karya sastra adalah hasil pemikiran penulis terhadap realitas sosial yang disajikan dalam karya, maka Andesta Herli W menyajikan hal tersebut dengan mengangkat persoalan keberadaan masjid sebagai tema dari cerpen tersebut. Keberadaan pembangunan masjid diresahkan Gundam yang

kemudian disampaikannya kepada Birin sahabatnya. Birin adalah keturunan ketiga dari silsilah Ajo Sidi dan Gundam adalah keturunan Garin yang tinggal di Masjid Jabbar. Pembicaraan dua orang sahabat ini mengingatkan saya kepada kisah Ajo Sidi dan Haji Soleh. Haji Soleh juga tinggal di tempat beribadah (surau) sama seperti Gundam. Persoalan yang dibahas dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis tersebut adalah amal ibadah manusia yang selalu beribadah kepada pencipta-Nya tetapi tidak berhubungan baik dengan sesama manusia sehingga hanya menghabiskan hari di surau. Menariknya, Andesta Herli W menyajikan hal baru dengan persoalan amal ibadah manusia yang terkait dengan pembangunan masjid, ketika penulis mengkritik orang-orang yang menjadikan masjid sebagai tempat wisata bukan lagi tempat beribadah. Ada wacana terbalik yang disajikan oleh penulis meski dua tokoh disajikan mirip yaitu seorang tokoh pembual (Ajo Sidi) dan seorang tokoh (Birin) yang punya pergaulan luas seperti yang disebutkan

penulis dengan istilah “si joker”. Teman dari dua orang tersebut adalah orang-orang yang taat beribadah, yaitu Haji Soleh dan Gundam yang sama-sama taat dan tinggal di tempat beribadah (surau dan Mesjid Jabbar). Kehadiran Ajo Sidi dan Birin berhasil memengaruhi tindakan Haji Soleh dan Gundam setelah mereka berdiskusi dengan teman masing-masing. Persoalan ini menjadi berbeda karena terkait dengan perkembangan kehidupan manusia. A.A. Navis membahas persoalan manusia yang hanya menghabiskan hidup untuk beribadah di surau, Andesta Herli W membahas persoalan manusia yang menjadikan mesjid sebagai tempat wisata. Akan tetapi, dari wacana tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bagaimana tempat beribadah kemudian memiliki banyak persoalan terkait dengan perkembangan sosial masyarakat. Membaca cerpen Andesta Herli W adalah membaca realita tersebut yang terjadi di masa kini.

Ab di Negeriku dan Mulut B er debu Abdi Ber erdebu

Menolehlah

Oleh: P opy Arianis Popy

Oleh: Endrik Ahmad Iqba Iqball

Kembali kisah tentang sejuta hamba dan sebuah negeri Terngiang kembali menari di ulu hati Lama sudah sejak tambang ini menyesakkan negeri Negeriku yang terikat, negeriku yang sesak... Ketika mulut-mulut berdebu mulai bicara Bicara tentang siapa yang berhak atas singgasana... Bicara tentang buruknya para raja... Bicara tentang kelaparan akan abdi negara... Negeriku berlari-lari mencari abdi... Berlari di tengah kerumunan mulut-mulut tak berarti Negeriku yang merintih kehausan akan kejujuran... Kehausan di tengah gurun kedustaan... Setidaknya, aku dan dia masih di sini... Masih di sini untukmu negeri... Sudahi, jangan jadi mulut berdebu yang menghujat tanpa henti... Sudahi, jangan jadi mulut berdebu yang menyeru tanpa arti... Setidaknya, aku dan dia masih di sini... Kami di sini untukmu negeri... Karena tak harus berjas hitam untuk mengabdi... Karena tak harus jadi ternama untuk mengabdi...

*Penulis merupakan Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Langkah yang selalu ragu-ragu mengurung niat Sesaat setelah dipilih bahkan kembali pun tak sanggup Hanya dengan pandangan manusia saja, Tidak mengindahkan Berlari jauh menuju arena yang bahkan bukan penginapan yang berpenghuni Tak kenal rasa takut dan membabi buta Berjalan di kegelapan membelakangi cahaya Bahkan diantara gunungan kotoran, Rela mencari satu gram berlian Namun lupa bahwa di rumah-NYA setiap berkunjung, Sering menemukan serpihan berlian Jika sering akan melebihi dari satu gram berlian dari gunung kotoran itu Tak pernah tersandung dan menoleh kebelakang Tiba saatnya tersandung lalu menoleh hanya sesaat Kembali ragu-ragu saat memutuskan lari atau tidak Kemudian lari namun lupa menoleh kebelakang Saat tersandung lagi, lalu menoleh kebelakang Tersandung lagi, lalu menoleh kebelakang Saat berlari lupa menoleh kebelakang Berfikirlah kapan pun memang butuh berlari Namun jangan lupa untuk selalu menoleh berbalik Agar tidak tersandung dan juga tidak ditabrak dari belakang


Mengenal Gangguan Berbahasa Pada Manusia

S

etiap manusia memiliki fungsi otak yang berbeda-beda. Manusia yang memiliki fungsi otak normal tentu akan dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan pada fungsi otak dan alat bicaranya akan mengalami kesulitan dalam berbahasa baik secara produktif maupun reseptif. Secara medis gangguan berbahasa itu dapat dibedakan menjadi beberapa golongan di antaranya: 1.Gangguan berbicara Gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: a. Gangguan akibat faktor pulmonal. Hal ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru. b. Gangguan akibat laringal yang menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang. c. Gangguan akibat faktor lingual yang disebabkan oleh lidah yang sedang terluka atau sariawan. Dalam hal ini maka ucapan sejumlah fonem (kata) menjadi tidak jelas. d. Gangguan akibat faktor resonansi yang menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau, seperti orang sumbing. Orang sumbing akan mengeluarkan suara yang bersengau karena rongga hidung dan rongga mulut yang digunakan untuk berkomunikasi melalui defek dilangit-langit keras, sehingga resonansi yang seharusnya menjadi terganggu.

2. Gangguan akibat multifaktorial Gangguan ini akan menyebabkan terjadinya berbagai gangguan berbicara seperti: a. Berbicara serampangan Berbicara serampangan atau semberono adalah berbicara dengan cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan banyak menelan suku kata, sehingga apa yang dikatakan oleh orang tersebut sulit untuk dimengerti. b. Berbicara Propulsive Hal ini biasanya terjadi pada orang yang menderita penyakit Parkinson yaitu kerusakan pada otak yang menyebabkan otot-otot menjadi gemetar. c. Berbicara mutis (mutisme) Penderita gangguan berbicara ini tidak mampu berbicara sama sekali. Sebagian dari mereka akan dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak ingin berbicara. 3. Gangguan psikogenik Gangguan psikogenik di antaranya: a. Berbicara manja Dalam hal ini, terkesan si penderita yang berbicara ingin meminta perhatian untuk dimanjakan. b. Berbicara kemayu Berbicara kemayu ini disebabkan oleh perangai kewanitaan dalam diri si penderita yang sangat berlebihan. c. Berbicara gagap Gagap merupakan berbicara yang kacau karena sering tersendat-

Foto: Ist. sendat, mendadak berhenti, lalu suka mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat baru dapat diselesaikan. d. Berbicara latah Latah sering disamakan dengan ekolalla yaitu perbuatan membeo, atau suka menirukan apa yang dikatakan oleh orang lain, tetapi sebenarnya latah adalah sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitive yang bersifat jorok dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing.

Itulah macam gangguan berbicara yang terjadi pada setiap manusia. Selain itu, gangguan berbicara, berpikir dan pengaruh lingkungan juga dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan berbahasa. Oleh sebab itu, setiap manusia memiliki gangguan berbahasa mereka masingmasing. Ketidakpercayaan diri juga dapat menyebabkan gangguan berbahasa sehingga kita akan gagap ketika berbicara di depan banyak orang. Wina (Diolah dari berbagai sumber)

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

B

elakangan dunia seolah diteror oleh virus Zika, begitupun di tanah air. Pada sebuah opini di harian nasional menyebutkan awal tahun 2016, Eijkman dan CDC Amerika Serikat melaporkan adanya virus zika di antara penderita yang diduga Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun 2015 di Jambi. Virus ini disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Beberapa artikel menyebutkan bahwa penyakit ini juga dinamakan dengan Zika (Zika disease) atau demam Zika (Zika fever). Gejala awal manusia yang terinfeksi virus ini dengan ciri-ciri berdasarkan waktu dan daerah, antara lain seperti berikut : 1. Demam, akan tetapi tidak terlalu tinggi dan cenderung naik turun. 2. Nyeri pada pergelangan atau sendi serta otot, sakit kepala, dan gejala lain serupa demam berdarah. 3. Muncul beberapa bintil-bintil merah pada kulit (ruam) yang biasanya melebar dan membentuk semacam ruam merah tua dan kecoklatan yang mendatar dan menonjol. 4. Terkadang juga terdapat bengkak pada sendi dan otot ...sambungan halaman 15 tingkatan Rumah Limas yang memiliki karakteristiknya masingmasing. Kemunduran akan sedikitnya bangunan rumah-rumah tradisional khususnya di Pa l e m b a n g mengejutkan sebagian pihak. Orang-orang pasti bertanya bukankah dalam film Gending Sriwijaya rumah utama dalam proses film tersebut adalah rumah yang berada di sungai yaitu rumah rakit. Mengapa pada faktanya rumah tersebut tergerus? Inilah yang saya jabarkan dalam beberapa pertemuan

Mengenal dan Waspadai Virus Zika seperti terbentur dan keseleo ringan. 5. Mata kemerahan atau keluhan infeksi mata. Kadang warna mata sangat kuat pada bagian dalam kelopak sebagai tanda munculnya ruam pada bagian dalam kelopak mata. Penularan virus ini bisa saja melalui tranfusi darah atau hubungan seksual. Tak hanya itu, pada artikel alodokter.com menyebutkan virus ini dapat ditransmisikan dari seorang ibu ke bayinya baik pada saat persalinan maupun saat menyusui sehingga bagian saraf bayi akan mengalami gangguan dan pertumbuhan otak (microchepaly). Pengobatan untuk virus ini pun belum ditemukan, sehinga hal yang dapat dilakukan ialah pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu 3M Plus dan waspada terhadap gigitan nyamuk sebagaimana mewaspadai pada demam berdarah, chikungunya, dan arbovirus lainnya. 3M Plus tersebut seperti: Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, Menggunakan kelambu saat tidur, Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, Menanam tanaman pengusir nyamuk, Mengatur bersama budayawan dan pemerintah di Palembang. Beberapa faktor yang sampai sekarang belum maksimal proses dijadikannya rumah rakit wisata sebagai kepemilikan rumah penduduk asli. Selain itu, faktor terbesar yang dijadikan alasan adalah harga kayu untuk membuat rumah ini sudah langka dan mahal. Biasanya untuk dapat mengapungkan rumah berukuran 9x12 meter, diperlukan tujuh lanting. Padahal, setiap tahun bambu-bambu ini harus diganti dengan yang baru. Satu lanting terdiri atas 100 bambu. Harga satu lanting sekitar Rp3.500.000. Jadi,

cahaya dan ventilasi dalam rumah, Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. Pada sebuah tulisan juga disebutkan bahwa ada penelitian terhadap kemampuan teh dalam menangkal v i r u s

Zika telah dilakukan oleh tim peneliti Brasil yang dilaporkan pada Virology 496 (2016). Ternyata Epigallocathechin gallate(EFCG) dapat menghambat virus Zika masuk ke dalam sel. Penelitian yang mirip pernah dilakukan di AIRC-Unair bahwa teh putih yang total harga tujuh lanting Rp24.500.000. Itu baru bambunya saja, belum bagian rumah yang lainnya. Melihat biaya yang dikeluarkan begitu banyak tentunya masyarakat enggan untuk membangunnya kembali apalagi Indonesia adalah negara yang berkembang. Saya cukup kagum ketika tahu bahwa ada cagar budaya rumah tradisional. Ketika ke Solok Selatan, saya sempat bertanya cara pembuatan rumah tradisional tersebut sebab bukan hanya puluhan rumah yang dirawat melainkan sebanyak 1000 Rumah Gadang.

kandungan EFCG lebih tinggi dari jenis teh lain mampu mencegah infeksi flu burung, virus RNA, dan arbovirus. Demikianlah sedikit pengenalan tentang virus Zika. Yang jelas, virus Zika menarik perhatian dunia, sehingga dunia dapat dikatakan darurat Zika. Hal yang bisa kita lakukan yaitu mengenal dan tetap mewaspadai virus yang membahayakan ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Nite (Diolah dari berbagai sumber)

Nite

Seakan memberikan ultimatum bahwa “Kami masih kuat untuk berdiri seribu tahun lagi”. Mungkin saja adanya 1000 Rumah Gadang memberikan peringatan untuk masyarakat Minangkabau, ataupun daerah lainnya untuk menjaga dan merawat rumah tradisional sebagai salah satu aset kebudayaan terpenting. *Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Angkatan 2015


Petualangan Ra, Seli, dan Ali di Klan Berteknologi Tinggi

S

etelah sukses dengan novel Bulan, buku kedua serial Bumi, Tere Liye kembali melanjutkan petualangan Ra, Seli, dan Ali dalam buku ketiga serial Bumi yakni Matahari. Bisa dikatakan, kisah tiga sekawan ini tak kalah menarik dengan kisah Harry dan kawan-kawan dalam novel Harry Potter. Di buku ketiga ini, Ra, Seli dan Ali kembali melakukan petualangan yang mendebarkan. Di dua seri sebelumnya, Ra, dan kawan-kawan pergi ke klan Bulan dan klan Matahari memang karena diperintahkan, atau memang karena ada tugas yang harus mereka emban. Namun berbeda di buku ketiga ini, mereka sepakat pergi ke klan Bintang karena inisiatif mereka sendiri. Keberangkatan mereka diprakarsai oleh tekad kuat dari

S

Ali yang sangat ingin bertualang ke klan Bintang. Si genius urakan tersebut berhasil menemukan lokasi klan Bintang yang selama ini hanya dianggap sebagai legenda, karena tidak seorang pun yang mengetahui dimana peradaban klan Bintang berada. Ali berhasil menemukan lokasi klan Bintang yang berada di perut Bumi. Ia berhasil menemukan lorong-lorong kuno berkat pemindaian yang dilakukannya di seluruh permukaan bumi. Jangan tanya bagaimana si genius yang masih kelas sebelas ini melakukannya. Silahkan pembaca membaca langsung novel bercover coklat ini. Setelah dengan semua eksperimen yang dilakukan di basement rumahnya, Ali berhasil meyakinkan Seli, dan Ra untuk bertualang ke klan Bintang. Sebuah klan yang dihuni manusia yang kabarnya mempunyai teknologi paling tinggi di antara empat klan yang ada di muka bumi. Awal petualangan mereka langsung disambut dengan rintangan yang cukup membahayakan. Untuk membuka lubang lorong kuno, Ra dan Seli harus berhadapan dengan ular-ular raksasa yang sangat beringas. Beruntung mereka berhasil melewati mulut lorong tersebut. Kendaraan yang dipakai tiga sekawan kali ini berupa kapsul terbang yang diciptakan oleh Ali seorang. Ra, Seli, dan Ali tiba di sebuah lembah yang sangat cantik di klan Bintang setelah melewati beberapa rintangan yang sempat membuat mereka kewalahan. Di klan bintang mereka tinggal di rumah Faar, tetua yang dihormati di lembah tersebut. Kedatangan mereka yang awalnya murni hanya untuk bertualang dan

menuntaskan rasa ingin tahu dengan cepat segera berubah. Kedatangan Ra, Seli dan Ali diketahui dewan kota, dan itu sangat berbahaya. Zaramaraz merupakan ibukota Klan Bintang. Kota paling canggih dan modern di klan Bintang. Di sanalah dewan kota bertugas. Dewan kota memerintahkan penangkapan Ra dan kawan-kawan karena melakukan penyusupan di lorong kuno. Petualangan yang asyik dan menyenangkan segera berganti dengan petualangan yang membahayakan dan mematikan. Penangkapan Ra, dan kawankawan merubah situasi mereka menjadi lebih sulit. Setelah sempat kabur, akhirnya Ra, Seli dan Ali ditahan di penjara dengan tingkat keamanan luar biasa. Ali dan Ra, di penjara di atas magma yang menyala-nyala. Hal ini diperparah dengan hilangnya buku kehidupan dari dalam tas Ra. Buku tersebut merupakan satu-satunya cara agar mereka bisa kembali ke permukaan bumi dalam waktu yang sangat terdesak. Mereka terancam tidak bisa pulang. Sebagai kota dengan teknologi paling maju diantara empat klan, jelas Zaramaraz menjadi incaran bagi orang yang berambisi untuk menguasainya.

Judul buku Penerbit Penulis Tahun terbit Jumlah halaman Resensiator

Situasi politik di Zaramaraz pun tidak baik. Dewan kota Zaramaraz telah mempersiapkan dikeluarkannya dekrit darurat. Dekrit yang dikeluarkan ketika bencana besar akan menerjang bumi yang akan menghancurkan seluruh klan permukaan. Apa isi dekrit darurat tersebut? Bagaimana Ra dan kawankawan menyelamatkan diri? Pembaca bisa mengetahui dengan membaca tuntas novel ini. Tere Liye berhasil menahan pembacanya agar tidak lepas dari satu halaman ke halaman berikutnya di novel ini. Gaya bahasa yang mengalir, fantasi dengan bumbu-bumbu sainsnya menambah daya tarik novel. Kekurangan dari novel ini terletak pada speed ceritanya yang agak lambat jika dibandingkan dengan seri sebelumnya, Bulan. Ketegangan baru terasa dan seru ketika memasuki halaman seratusan. Ending menggantung khas Tere Liye sengaja dibuat di novel ini agar pembaca semakin penasaran dengan seri terakhir serial bumi yakni Bintang. Secara keseluruhan novel ini sangat layak dibaca untuk kamu yang menyukai novel fantasi yang berimajinasi tinggi. Selamat membaca!

: Matahari : PT Gramedia Pustaka Utama : Tere Liye : Juli 2016 : 390 : Anestia Berlianda

Penjahat Kelas Kakap Bertarung Melawan Kekuatan Supranatural

uicide Squad, film bergenre action yang menceritakan beberapa penjahat kelas kakap yang disatukan dalam sebuah pasukan rahasia menjadi salah satu box office sejak di rilis lima Agustus 2016 di AS. Film ini diadaptasi dari DC Comics dengan judul serupa. DC Comics adalah sebuah perusahaan komik terbesar di Amerika yang melahirkan tokoh-tokoh hero seperti Superman, Batman, Wonder Women, dan banyak lagi. Perusahaan ini merupakan anak dari Warner Bros Entertainment. Film ini dibintangi oleh sederet aktor dan aktris papan atas seperti Will Smith, Jared Leto, Margot Robbie, Joel Kinnaman, Viola Davis, Jai Courtney, Jay Hernandes, Adewale Akinnouye Agbaje, Ike Barinholtz, Scott Eastwood dan Cara Delevingne. Cerita dimulai dengan ketakutan Amerika ketika kehilangan salah satu superhero penyelamat dan pelindung seperti Superman. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat menyiapkan pasukan khusus yang terdiri dari para penjahat kelas kakap yang memiliki keahlian dan kemampuan spesial untuk menangani kasus yang tidak mungkin diselesaikan oleh orang normal pada umumnya. Di bagian awal film, penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh utama di film yang notabene adalah penjahat kelas kakap

Judul Rilis Produksi Distribusi Durasi Resensiator

dan beberapa di antaranya sudah berada di penjara Belle Reve. Setiap karakter yang akan menjadi pasukan “Suicide Squad� satu persatu diberikan sebuah flashback mengenai kisah asal mula mereka, hingga alasan sampai bisa berada di tempat penahanan khusus yang dijaga dengan super ketat itu. Karakter penjahat itu di antaranya yaitu: Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), Boomerang (Jai Courtney), El Diablo (Jay Hernandez), dan Killer Croc (Adewale Akinnouye Agbaje. Tokoh antagonis dalam film ini adalah Enchantress seorang penyihir dari masa lalu yang terperangkap dalam sebuah artefak yang akhirnya dapat keluar karena merasuki tubuh seorang arkeolog muda, Dr. June (Cara Delevigne). Kekuatan mistik yang semakin kuat menjadi ancaman terbesar. Dalam mengatasi permasalahan ini, Amanda segera menjalankan dan memberikan misi kepada pasukan dari penjahat seperti Deadshot, Harley Quinn, Captain Boomerang, Chato Santana, dan Killer Croc yang sebelumnya telah diberitahukan untuk bergabung dengan pasukan ini. Dipimpin dan diawasi oleh Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman) yang memiliki tujuan ingin melepaskan tubuh Dr. June wanita yang dicintainya dari Enchantress. Kemenanganpun diperoleh dalam pertarungan melawan Enchantress,

: Suicide Squad : 5 Agustus 2016 : DC Comic Entertainment Atlas Enternainment : Warner Bros Picture : 123 Menit : Annisa Rhadiani

sebagai imbalan masing-masing tahanan mendapat pengurangan hukuman 10 tahun penjara dan salah satu keinginan masing-masing mereka dipenuhi. Film yang mengusung tema “Badguy� ini sukses mencuri perhatian penonton dunia dan sukses menjadi salah satu box office. Diperankan oleh aktor dan aktris berkelas dan terkenal menjadi salah satu daya tarik dari film ini. Film ini juga dikemas dengan backsound yang menarik, mudah dipahami, apik, dan sesuai dengan plot ceritanya. Hal inilah yang membuat film ini terasa lebih hidup. Sorotan utama seperti Will Smith yang menjadi Deathshot dalam film ini sukses memberikan kesan luar biasa kepada penonton. Hal tersebut terlihat saat Will Smith berlaga aksi dan memberikan gambaran seorang penjahat kelas kakap dengan kemampuan sebagai penembak jitu namun tetap memiliki rasa sayang yang luar biasa kepada anaknya. Begitupun dengan Harley Quinn yang diperankan oleh Margot Robbie, ia sukses mencuri perhatian penonton dengan daya tarik wajah cantik namun memiliki kegilaan di dalam jiwanya. Apalagi ia dipasangkan dengan The Joker (Jared Leto) yang merupakan sosok psikopat yang iconic, namun sangat disayangkan sosok Joker yang seharusnya menjadi salah satu sorotan utama seperti di dalam komik malah tidak terlalu menonjol dalam film ini. Namun secara keseluruhan plot dan adegan action bisa memuaskan penonton. Film ini memberikan sedikit

pelajaran bahwasanya, meskipun menjadi tokoh jahat, seseorang dapat melakukan hal baik dengan asas kemanusiaan dan kepedulian. Keyakinan penuh dan niat yang tulus juga dapat melawan kekuatan yang lebih besar seperti halnya yang dilakukan pasukan penjahat Suicide Squad dalam pertarungan melawan kekuatan supranatural yang luar biasa besar dari Enchantress. Hal ini juga dapat dijadikan pelajaran secara bersama-sama. Film ini patut dijadikan salah satu film yang wajib untuk ditonton karena memiliki plot dan cerita menarik yang dikemas dalam tema action. Highly recommended !!!


Tak Minder Meski Pernah Jadi Loper Koran Nama lengkap : Yuliandre Darwis, M.Mass.Comm, Ph.D Tempat /Tanggal Lahir : Jakarta / 21 Juli 1980 Jenis Kelamin : Pria Agama : Islam Pekerjaan : Dosen / Profesional Alamat Rumah : - Jl. Agus Salim No.54 B Jakarta Pusat. No Hp : 0811661066 E-mail : yuliandre.darwis@gmail.com Prestasi · Penghargaan sebagai Tokoh Peduli Penyiaran oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), 2016 · Honorary Certified oleh Indonesia Professional Speaker Association (IPSA), 2016 · Penghargaan TOYP Junior Chamber International (JCI) dalam bidang Academic Leadership, 2013 · Penghargaan 40 Tokoh Terbaik Inspiring Young Entrepreneurs oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), 2012 · Dosen Tebaik dalam Bidang Kewirausahaan oleh Unversitas Andalas, 2011 · Duta Muda UNESCO Untuk Indonesia 2005. · Uda Sumatera Barat 2004 (Duta Wisata Sumatera Barat) 2004 -2005

M

uda dan menginspirasi. Dua kata itu tak cukup menggambarkan seorang Yuliandre Darwis yang mempunyai segudang prestasi. Pria 36 tahun yang akrab dipanggil Andre ini merupakan seorang akademisi dan pakar komunikasi Indonesia. Sebagai seorang akademisi, ia memiliki tugas yang tidak ringan. Ia tidak hanya berkewajiban mengajar akan tetapi juga membimbing mahasiswa agar yang bersangkutan memiliki kompetensi yang relevan dengan keahliannya. Itulah yang berhasil dilakukan laki-laki yang selalu menyelipkan sebuah kata inspirasi yang selalu menjadi prinsip hidupnya. “Hidup hanya satu kali buatlah segalanya berarti,” kata-kata inilah yang memotivasi dirinya hingga menjadi seorang yang sukses di usia muda. Jenjang pendidikan seorang Ketua Prodi S2 Komunikasi Unand ini sama dengan siswa lainnya yang menempuh pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Meskipun Andre lahir di Jakarta dan orang tua yang berdomisili di Padang, mulai SD hingga SMA Andre merupakan siswa kota Padang tercinta. Setelah tamat dari sekolah menengah, Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) ini kemudian melanjutkan kuliahnya di D3 Teknik Informatika, FMIPA, Universitas Padjadjaran (Unpad) pada tahun 2002. Lalu meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi (S1) dari Unpad pada tahun 2004. Tak seindah hidup di kampung halaman, Andre merasakan sulitnya hidup di perantauan. Suatu ketika, faktor ekonomi membuat uang kiriman bulanan Andre berkurang dari Rp 500.000 menjadi Rp 200.000 dan mengharuskan Andre untuk hidup mandiri. Oleh sebab itu, Ia pernah menjadi seorang loper koran ke rumah makan Padang di Kota Kembang tersebut. “Awalnya saya jadi wartawan di bagian marketing. Saya juga mengantar Koran mingguan berita ke seluruh restoran Padang, toko buku, bahkan ke rumah orang Padang yang ingin berlangganan koran di Bandung Raya setiap hari Minggu,” paparnya. Untuk kelancaran pekerjaannya,

pihak kantor memberikan fasilitas motor untuk berkeliling mengantar koran. Sehingga Andre cukup enteng mengerjakaan pekerjaan sebagi loper koran. “Namanya perjuangan, pasti ada kisah-kisah yang tidak diharapkan. Hujan dan sakit ialah beberapa kendala saya,” ungkapnya. Media cetak tempat Andre bekerja ialah “Mingguan Berita Merapi” yang menyuguhkan berita seputar kota Padang, Sumatera Barat. “Saya mendapat keuntungan berupa uang sekitar Rp 300.000 – Rp 500.000 per bulan dengan menjual Rp 1.000 per koran,” jelasnya. Selama dua tahun Andre menekuni pekerjaan sebagai loper koran yang dimulai dari semester

menambah dan membantu biaya hidupnya.“Setelah itu, saya hanya menjadi aktivis karena saya sudah mendapat beasiswa dari kampus,” tambahnya. Sulung empat bersaudara yang lahir dari pasangan suami istri pegawai negeri ini, harus berpikir bahwa hidup tak semewah menjadi orang kaya . Hal ini menuntutnya untuk selalu berfikir ke depan. Terinspirasi dari sang ayah, dosen yang mengajar ilmu komunikasi di Universitas Andalas ini, tak henti untuk meniti karir dan terus menjadi seseorang yang bermanfaat. Hal ini mengantarkannya menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Lembaga N e g a r a

“Awalnya saya jadi wartawan di bagian marketing. Saya juga mengantar Koran mingguan berita ke seluruh restoran Padang, toko buku, bahkan rumah orang Padang yang ingin berlangganan koran di Bandung Raya setiap hari Minggu,” tiga. Tak hanya itu, Beliau juga menulis tulisan dan mengirimnya ke beberapa media cetak. “Saya juga menulis di beberapa media cetak dan dihargai dengan Rp 100.000 – Rp150.000. Selain itu, saya juga dapat beasiswa dari Unpad,” ujarnya. Menjadi mahasiswa dan memiliki kerja sampingan sebagai loper koran tidak membuat Andre minder dengan teman-temannya. “Kalau diledekin tak jadi masalah, saya harus jalan terus dan tidak minder,” ungkapnya. Semenjak pria yang lahir di Jakarta ini tidak menjadi loper koran, Ia menjadi aktivis dan mendapat beasiswa Rp 250.000 per bulan dari Unpad untuk

Independen periode 2016-2019. Tak hanya itu, selama meraih gelar sarjananya, Andre merupakan seorang aktivis di dalam maupun di luar kampus. Pada tahun 2000-2001 Andre menjadi Ketua Umum Unit Pecinta Budaya Minangkabau (UPBM) Unpad, Sekjen Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (FORKOM UKM) Unpad, Ketua Umum Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa Unpad, Ketua Presidium/ Presiden Mahasiswa BEM–FORGAB KEMA Unpad, dan setelah tamat pun Andre menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA UNPAD) hingga tahun 2008.

Ketua lembaga indonesia termuda ini bahkan meraih prestasi yang saat ini melebihi apa yang dicita-citakan saat kecil yaitu menjadi seorang diplomat dan dosen. Terlepas dari sejuta prestasi yang Andre raih hingga saat ini, tentu di setiap perjalanan hidup pasti punya halangan dan warna-warni tersendiri. “Setiap warna yang hadir dalam hidup saya punya kesan yang berarti,” kutip Uda Sumatera Barat 2004 tersebut. Usai meraih gelar sarjana di tanah air, Dewan Pakar Ikatan Alumni Unpad ini melanjutkan studi magisternya pada tahun 2007 di S2 Mass Communication, Communication and Media Studies Faculty, UiTM, Malaysia. Di usia 29 tahun, beliau telah menyelesaikan program doktor (S3) di universitas yang sama. Tidak diragukan lagi, ilmu komunikasi yang Andre miliki menjadikannya Juru Bicara atau Penghubung Gubernur Sumbar untuk Luar Negeri pada tahun 2005-2006. Tak hanya itu, pada tahun 2006 – 2007 Andre juga pernah menjadi Strategic Communication Manager SETIA WORKSHOP, Sdn. Bhd – PROTON, Malaysia. Selain berkiprah di dunia pendidikan, Andre adalah seorang entrepreneur. Terbukti, Andre pernah mendapat penghargaan sebagai Dosen Terbaik dalam Bidang Kewirausahaan pada ajang Unand Award tahun 2011. Saat ini Andre adalah CEO PT.Uda Metro Remittance, CEO PT. Uda Metromoney Exchange, CEO PT. Uda Metro Land, tahun 2016 hingga sekarang. Dipenghujung percakapan bersama Staf Ahli ketua DPD-RI ini, beliau berpesan bahwa jangan pernah lalui waktu dengan sia-sia, jangan mengeluh dan selalu berpikir positif. “Jangan takut jika kamu akan gagal, dan percayalah selalu ada Tuhan disaat kita lagi down,” tutupnya via telpon, Jumat (2/9)Ully, Wati

Tabloid Genta Andalas Edisi 65  

Laporan Utama: Butuh Uang, Indonesia Kembali Terapkan Tax Amnesty Laporan Khusus: Fasilitas Meningkat, Unand Kekurangan SDM Berkualitas So...

Tabloid Genta Andalas Edisi 65  

Laporan Utama: Butuh Uang, Indonesia Kembali Terapkan Tax Amnesty Laporan Khusus: Fasilitas Meningkat, Unand Kekurangan SDM Berkualitas So...

Advertisement