Issuu on Google+

DISKUSI SASTRA MENELAAH ASRUL SANI “Asrul Sani: Tragedi Seorang Penyeru” A.S. Laksana

Selasa, 12 April 2012 Pukul 19.00 – 21.00 WIB Wisma Proklamasi Jl. Proklamasi No. 41Jakarta Pusat

http://goo.gl/uPn9B

@freedominst

Seri Diskusi Sastra Freedom Institute lainnya: http://goo.gl/LUbvV


Asrul Sani: Tragedi Seorang Penyeru A.S. Laksana * Disampaikan sebagai pengantar untuk diskusi tentang Asrul Sani di Freedom Institute, Jakarta, 12 April 2012 Asrul Sani adalah salah seorang penulis cerita yang memuaskan pada pemahamannya soal detail dan kecukupan bertutur, tetapi ia mengecewakan ketika muncul kecenderungannya merenung. Saya nyaris tidak tahan ketika berhadapan dengan manusia-manusia perenung dalam beberapa ceritanya. Seolah-olah saya bertemu dengan orang menjemukan, yang apaapa selalu dipikirkan, dengan kecenderungan untuk berfilsafat. Cerita mandek dalam benak tokoh-tokoh yang memiliki kegemaran memelihara pemikiran-pemikiran filosofis. Bahkan jawaban tukang warung pun dipikirkan secara filosofis. Dalam cerpen-cerpennya yang tidak merenung, kita akan mendapati cerita-cerita yang lincah, ringkas, dalam arti tidak berlarat-larat, dan dengan penggarapan detail yang baik. Ia lucu dan tahu bagaimana cara membubuhkan ironi. Dan saya kira ironi adalah elemen yang sangat puitis dalam sebuah fiksi. Atau jika istilah puitis itu keliru, ironi adalah aspek yang akan memberi kita, para pembaca, sebuah “trauma” atau sesuatu yang membekas lama dalam ingatan. Mungkin bahkan selamanya. Dalam cerita “Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat”, yang dijadikan judul untuk satu-satunya buku kumpulan cerpen Asrul, saya mendapati adegan-adegan ajaib yang mengingatkan pada novel Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek. Itu adegan-adegan yang diperlihatkan oleh orang-orang yang secara naif memahami perubahan cepat yang dihadirkan oleh proklamasi kemerdekaan. Itu situasi yang memungkinkan seseorang mengusulkan guru ngaji ditangkap dengan tuduhan kapitalis. Itu juga situasi yang menyebabkan seorang tukang cuci beristri dua harus ditangkap. Dalam pengadilannya, tukang cuci itu disodori pertanyaan, “Mengapa kau beristri dua? ... Apakah kau sudah membayar pajak?” Secara keseluruhan cerpen ini menggambarkan, secara lucu dan segar, bagaimana orangorang di sebuah kota kecamatan yang jauh dari Jakarta gelagapan menghadapi zaman baru. Ketika si tukang cuci tidak menjawab, maka si kepala pasar yang bertindak sebagai pengadil, karena camat menghilang dari daerah itu, langsung menjatuhkan hukuman: “Lima belas hari mencuci pakaian pemuda di markas, karena tidak menjawab pertanyaan.” Cerpen tersebut, yang menceritakan hari-hari pertama proklamasi kemerdekaan di kecamatan R, memiliki gaya fragmenter, dan segera mengingatkan saya pada sketsa-sketsa revolusi Idrus karena menggarap tema yang serupa. Namun, dibandingkan sketsa-sketsa Idrus, menurut saya cerpen ini memiliki struktur yang lebih kokoh dan digarap dengan detail yang meyakinkan. Asrul tahu cara menanam informasi yang nantinya akan ia gunakan untuk menjelaskan rangkaian kerumitan dan reaksi tokoh-tokoh ceritanya. Menyampaikan kepahitan secara ringan, cerpen ini menjadi lucu oleh kemampuan penulisnya untuk menyampaikan detail secara baik dan memadai. Sebagai penulis dengan bacaan luas, Asrul tampaknya paham bagaimana menggunakan dialog untuk mengembangkan suasana. Meskipun belum matang benar, hal ini bisa kita jumpai dalam cerpen “Orang Laki-Bini”. Pada cerpen ini, kita menjumpai pemandangan yang mirip dengan sejumlah cerpen Ernest Hemingway, digarap dengan dialog yang memenuhi bagian 1


terbesar cerita, dengan ingatan si tokoh yang sesekali keliru, yang juga kita jumpai dalam cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” Umar Kayam. Sampai hari ini, menuliskan dialog masih menjadi masalah besar bagi kebanyakan pengarang. Di samping itu, sebagai pencerita ia tahu bagaimana cara bermetafora dengan baik, yakni menyampaikan sesuatu secara tidak langsung, dan ia menyampaikannya dalam cara yang enteng saja. Dan ia tahu bagaimana cara menulis menulis ringkas dan menyampaikan rincian secukupnya. Yang terakhir itu adalah pengetahuan yang sangat penting menurut saya. Cerpen, mengutip Eudora Welty, adalah celana yang ketat. Tetapi setiap tulisan saya kira adalah celana yang ketat. Novel pun adalah celana panjang yang ketat; ia adalah riwayat hidup seseorang, yakni tokoh rekaan si pengarang, yang sudah dihilangkan bagian-bagian buruknya. Karena itulah orang harus paham bagaimana menulis dengan cara yang cukup. Jika anda mengabaikan urusan keketatan, anda akan menulis dalam cara yang berlebihan. Dan, hal-hal yang berlebihan dalam cerita, entah itu cerita pendek atau novel, akan menjadikan cerita mandek di beberapa tempat dan membuat pembacaan tersendat-sendat. Pendeknya, tidak boleh ada yang turah atau bersisa dalam penyajiannya. Membaca cerpen-cerpen di dalam kumpulan satu-satunya milik Asrul, saya mendapati bahwa Asrul sangat memahami perihal keketatan dalam bertutur. Dalam cerpen “Sahabat Saya Cordiaz” Asrul menunjukkan kemampuannya sebagai juru cerita yang ringkas dan lincah. Perhatikan bagaimana Arul mengawali ceritanya dengan pembukaan yang lucu dan cerdas: “Cerita ini dimulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga proletar. Dan karena proletas seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami kiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan jika saya pagi-pagi hari menemui de Maupassant tak berkepala, atau Dos Passos tak berpunggung.” Kondisi sebuah ruangan, yang oleh penulis lain kemungkinan besar akan dicaci maki dengan lukisan “pengap dan kacau seperti kapal pecah”, disampaikan oleh Asrul secara sangat enteng dan jenaka. Ia mengatasi gangguan tikus-tikus dengan pemahaman yang menikung tak terduga, sehingga apa yang oleh orang lain akan dianggap gangguan, oleh Asrul, melalui karakter utama cerita tersebut, diberi pengertian baru yang menjadikan binatang-binatang pengerat itu kini adalah satu golongan dengan si penghuni kamar. Di sini ia juga menyebut nama-mana penulis yang ia sukai, tetapi dengan cara yang lihai. Ia tahu cara menyampaikannya dengan baik dan lucu, sehingga hilang kesan bahwa penulisnya sengaja menonjol-nonjolkan keluasan bacaannya. Setelah pembukaan itu, cerita dipenuhi dengan adegan-adegan yang menunjukkan kemampuan Asrul untuk menuturkan sesuatu secara tidak langsung. Dan sesungguhnya, di sinilah kita selalu melihat kelebihan seorang pencerita yang baik dengan pencerita yang sedang-sedang saja. Pencerita yang baik selalu mampu menyampaikan dengan cara berbeda. Dalam cerita ini, Asrul tidak menghujat, tidak menyesali keadaan, dan ia sangat ringan dalam 2


bertutur tentang gejala-gejala “bebal” yang ia jumpai dalam keseharian. Perhatikan kutipan berikut: “Waktu ia menyusun buku-bukunya, diberikannya buku Atlantic Charter kepada saya. Saya makin kagum. Tetapi di kemudian hari dikatakannya bahwa buku roman yang sebagus-bagusnya ialah buku Elang Mas karangan Jusuf Sou’yb. Segera hilang kagum saya....” Tidak ada kata sifat yang ia bubuhkan di sana untuk menjelaskan sahabatnya yang mahahebat ini. Semula “saya”, karakter utama dalam cerita ini, mengira bahwa C. Darla adalah IndoSpanyol, atau Indo-Filipina, atau orang Indonesia dari Pulau Enggano. Kemudian hari ia mendapati bahwa C itu adalah singkatan dari Cordiaz, nama Spanyol. Ketika akhirnya ketahuan bahwa C adalah Chaidir, si tokoh utama tidak mengeluarkan ledekan. Ia hanya mengirimkan uang kepada sahabatnya agar bisa digunakan untuk membiayai diri menjadi orang Spanyol. “Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. Orang Indonesia belum banyak lagi yang jadi orang Spanyol. Sebab itu saya kirimkan wang 50 rupiah dan saya tulis pada surat pengantarnya: ‘Untuk ongkos menjadi orang Spanyol.’” Menurut saya, ini cerpen terbaik Asrul dalam kumpulan itu. Dan karena kumpulan cerita Asrul hanya satu itu, maka inilah cerita pendek terbaik karya Asrul. Persoalannya, segala kemungkinan baik yang dimiliki oleh Asrul itu tidak sempat ia matangkan karena ia berkarya tidak banyak. Bahkan akhirnya ia lebih sibuk menjadi provokator dan membenamkan diri dalam upaya-upaya luhur untuk membangunkan bangsa yang “masih muda menjadi” ini. Itu membuatnya lebih produktif melahirkan esai-esai pendek; banyak di antaranya ia terbitkan dengan menggunakan nama-nama samaran. “Agar tidak terkesan bahwa yang menulis hanya orang itu-itu saja,” katanya. Kecenderungan Kenabian Dengan kemampuan yang baik sebagai juru cerita, sesungguhnya patut disayangkan bahwa Asrul berhenti menulis fiksi. Dan jika harus ada kambing hitam kenapa ia berhenti, saya akan menunjuk bahwa itu disebabkan oleh keindonesiaannya. Itu tuduhan yang serius. Pada masa Asrul, Indonesia adalah sebuah bangsa yang masih “muda menjadi”. Perkara yang dilahirkan oleh bangsa yang masih muda ini adalah para penulis yang khusyuk berpikir, di wilayah kebudayaan dan kesastraan, akan segera mendorong dirinya sendiri untuk menjadi motivator, atau provokator, atau menempatkan dirinya ke dalam golongan orang-orang penyeru. Sebelum kemerdekaan kita mendapati dorongan ini pada STA; setelah kemerdekaan Asrul muncul. Keduanya, STA dan Asrul, adalah orang-orang yang memiliki keluasan bacaan dibandingkan kebanyakan orang lain di zamannya. Mereka orang-orang yang “tercerahkan” oleh apa-apa yang mereka baca, sehingga segera tampak di mata mereka bahwa bangsa ini tidak bisa tidak harus memasuki pergaulan dengan dunia. Ia harus meninggalkan tasik yang tenang, dalam bahasa STA, atau harus meninggalkan kamar, kata Asrul, untuk memahami rumah yang sebenarnya. Maka inilah perkara besar yang dilahirkan oleh bangsa yang masih “muda menjadi”: orangorang yang punya niat baik, orang-orang yang ingin menjadikannya segera tumbuh dewasa, orang-orang yang punya kengerian pada apa yang kasat mata, segera akan mengembangkan 3


dorongan-dorongan kenabian mereka. Sejumlah hal harus diberontaki, yakni kemiskinan, pandangan dunia yang sempit, kekolotan, semua yang beku dan “mesum”, dan segala gambaran tentang ruang-waktu yang memprihatinkan. Dengan kata lain, penempatan diri sebagai golongan pembaharu, atau sebagai penyeru kesadaran untuk orang banyak, itulah yang mendorong, atau menjebak, seorang penulis untuk memandang orang banyak sebagai kaum yang harus dibangunkan. Pada Asrul, wawasannya yang terbuka lebar oleh bacaan-bacaan membuatnya memandang bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi pada bangsa yang masih muda ini. Dalam skala yang berbeda, dorongan yang sama juga akan kita jumpai pada Rendra. Di masa-masa awal berpuisi, ketika ia tidak merasa perlu membangunkan orang banyak, Rendra bisa melahirkan puisi-puisi yang nikmat dibaca. Tetapi ia kemudian menjadi tua dan prihatin pada situasi sekelilingnya dan merasa bahwa ada hal besar yang harus ia lakukan, yakni membangunkan orang-orang, ia menulis propaganda. Saya curiga bahwa hal-hal seperti ini, dorongan-dorongan kenabian yang luhur begini, tidak pernah terlalu mengganggu para penulis dari belahan dunia lain. Milan Kundera, Hemingway, Faulkner, Borges, dan Albert Camus, yang oleh Asrul Sani dianggap orang yang berbahaya karena menulis bagus, saya kira hanya merasa perlu membangunkan dirinya sendiri, dan mengasah keterampilannya sendiri untuk merespons situasi. Dan, mengingat tragesi orangorang terdahulu, saya kira upaya terbaik setiap penulis memang adalah bagaimana membangunkan dirinya sendiri agar selalu bisa merespons situasi atau merespons pengalaman internal dan eksternalnya sendiri dalam cara yang layak. Agar tuduhan terhadap bangsa yang muda menjadi ini bisa dipertanggungjawabkan, saya akan menyampaikan dua masalah besar yang dihadapi oleh para penyeru, yang menyebabkan benih-benih yang baik gagal tumbuh secara semestinya. Pertama, seorang penyeru dengan beban berat di kepalanya akan terus mengobarkan seruannya dan, sebagaimana yang lazim terjadi pada orang-orang yang menggeluti urusan “kenabian” seperti ini, ia seolah-olah dipaksa untuk membuktikan dirinya sendiri. Ia harus mampu melakukan tindakan-tindakan sebagaimana yang ia sampaikan, dan melalui tindakan-tindakan itu ia menghasilkan karya yang mewakili apa yang ia serukan. Masalah kedua, ia akan kelelahan berseru. Ini mudah diprediksi karena ia membuat seruan berdasarkan hasil-hasil akhir yang ia jumpai dan kemudian ia menyerukan bahwa seharusnya “generasi seangkatan saya” menghasilkan karya yang seperti ini. Ada hal yang luput dari pertimbangan para penyeru. Sebuah karya selalu hadir sebagai barang jadi yang di dalamnya terkandung jalinan kompleks antara situasi, kebiasaan, pola-pola umum sebuah masyarakat, pandangan dunia individu, perilaku kolektif, dan tingkat kecakapan individu yang menghasilkan karya tersebut. Prajurit Schweik, misalnya, hanya bisa ditulis oleh Jaroslav Hasek, yang memahami—dan hidup di dalam—apa yang oleh para pengamat disebut sebagai “semangat Praha”, yakni sebuah semangat perlawanan yang kurang lebih memiliki sedikit kemiripan dengan sikap osrang Samin di Jawa. Juga pada orang-orang di Kecamatan R yang dilukiskan secara baik oleh Asrul. Dalam cara yang lebih rumit, lebih mengeksplorasi bentuk penyajian, “semangat Praha” itu ditampilkan lagi oleh Milan Kundera dalam karya-karyanya. Rumit di sini tidak dalam pengertian ia lebih bagus atau lebih memusingkan dibandingkan karya lain sebelumnya, tetapi lebih merujuk pada ketidakpuasan terhadap cara-cara atau bentuk-bentuk penceritaan sebelumnya dan karena itu harus ditemukan cara penyampaian yang berbeda. Dalam kecakapan untuk menangani hal-hal yang rumit inilah saya kira penulis berupaya meningkatkan diri, dan dalam cara ini juga dunia kesastraan akan terus mengembangkan diri. 4


Hari ini kita menyaksikan sejumlah eksperimen dan para penulis yang cakap selalu mampu menangani hal-hal yang jika dibandingkan dengan konteks satu abad lampau pasti akan sangat rumit. Jika anda berkarya dengan tingkat kerumitan penyajian yang sama dengan karya-karya satu abad lalu, anda berhenti. Saya tidak mengatakan bahwa Asrul tidak menyadari hal-hal semacam itu. Tetapi ketika ia menginginkan karya-karya gigantik, maka ia harus membangun lebih dulu sebuah konteks yang memungkinkan orang-orang di lingkungan sekitarnya melahirkan karya-karya gigantik, sebagaimana yang ia jumpai di sepanjang jalan kemusafirannya. Dan, anda tahu, ia tidak mendapatkan dukungan dalam upayanya itu. Kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya tidak mendukung, pola-pola keseharian yang berkembang di masyarakatnya tidak mendukung, tindakan-tindakan dan keputusan politik tidak mendukung. Tanpa adanya dukungan, para penyeru akan cepat kelelahan. Para penyeru akan menyerah ketika domba-domba yang sesat tidak bisa diarahkan ke jalan yang benar. Saya kira penyakit kelelahan itu juga menghinggapi Asrul. Menghadapi domba-domba semacam itu di ruangan sastra, maka ia berpindah ke ruangan lain dan menggunakan perangkat kenabian yang lain, yakni film, sebuah media yang ia anggap sangat efektif untuk membangun karakter dan budaya bangsa. Untuk menjalankan tugas-tugas kenabian, seseorang memang harus memikirkan cara yang paling efektif. Mungkin sastra tidak efektif pada masyarakat yang tidak gemar baca-membaca. Dan saya kira ia di dunia perfilman ia juga menghadapi domba-domba yang tidak bisa diluruskan. Namun, masih untung bagi kita, kendati ia berpindah kamar, Asrul tetap meneruskan urusannya dalam dunia sastra dengan menyajikan contoh-contoh karya para penulis asing yang ia terjemahkan. Ada sekitar seratus terjemahan yang sudah digarap oleh Asrul, menurut Ajip Rosidi, dan sebagian besar masih tersimpan di gudang Bank Naskah DKJ. Itu juga sumbangan yang luar biasa bagi bangsa yang masih muda menjadi ini. Dengan mempersoalkan kecenderungan menjadi penyeru, saya ingin menyampaikan bahwa itulah salah satu masalah paling merepotkan dalam kesastraan kita, di mana penulis harus menempatkan diri sebagai agen perubahan. Saya kira urusan membangunkan raksasa tidur ini tidak pernah menjadi isu sentral dalam masyarakat di Barat, yang dijadikan panutan oleh STA. Di Barat, orang cukup memotivasi dirinya sendiri, membangunkan dirinya sendiri, dan tidak perlu memberi beban kepada diri sendiri untuk membangunkan orang banyak. Itu tugas yang akan sia-sia. Sekiranya Asrul hanya peduli untuk membangunkan dirinya sendiri, ia pasti akan berkarya lebih banyak, dan karya-karyanya akan semakin matang karena ia akan makin mampu menggali cara-cara yang rumit dalam bersastra. Sebab, pada akhirnya orang perlu bersenangsenang dalam kesastraan, dan tidak cukup hanya puas dengan cara bercerita yang begitubegitu saja, dengan bentuk-bentuk yang itu-itu saja. Tetapi Asrul sudah memilih posisi sebagai penyeru. Seruan-seruan oleh Asrul itu sangat kentara dengan produktivitasnya melahirkan esai-esai ketimbang karya-karya kreatif. Dan karena ia menjalankan fungsi menghasut, maka kita akan mendapati di dalam esai-esainya gagasan menarik yang ia telantarkan begitu saja, dan ia tidak pernah melakukan penggalian secara lebih mendalam tentang beberapa pokok pembicaraan yang ia lontarkan. Saya kira penggalian mendalam memang bukan merupakan watak provokasi. Salah satu gagasan yang telantar itu misalnya adalah gagasannya tentang puisi gigantik Tentang Karya Gigantik 5


Sebagai pemikir dengan bacaan luas dan kemampuan merumuskan pernyataan-pernyataan dalam kalimat-kalimat yang kuat dan provokatif, Asrul jelas melontarkan gagasan tentang puisi gigantik karena ia jemu akan puisi-puisi yang dilahirkan oleh para penulis, meminjam istilah Asrul, generasi saya sendiri. Kita harus sampai pada puisi gigantik, katanya. Atau kalau diperluas lagi, maka kalimat itu bisa berbunyi kita harus sampai pada karya sastra gigantik. Itu sebuah gagasan yang akan terdengar sebagai ledakan dinamit pada masanya. Tetapi ia berhenti di sana sebagai sebuah seruan. Ia bahkan tidak mengurai lebih jauh kenapa kita harus sampai ke sana, bagaimana jalan untuk sampai ke sana, dan tindakan-tindakan apa yang akan melahirkan puisi-puisi, atau karya sastra, gigantik. Ia tidak merumuskan ciri-ciri puisi gigantik, misalnya. Saya kira itu tindakan penting yang diabaikan oleh Asrul. Jika sebagai ahli waris kebudayaan dunia ia merumuskan itu, maka tindakan-tindakan yang bisa melahirkan puisi gigantik akan dapat diduplikasi oleh orangorang “generasi saya sendiri�. Dan pada gilirannya, karya-karya gigantik itu akan bisa diciptaulang oleh siapa pun yang berhasrat untuk itu dan yang percaya pada seruannya. Dan karena ia tidak merumuskan ciri-ciri puisi gigantik, atau tidak melakukan kodifikasi terhadap apa yang disebutnya gigantik, maka ia sendiri dalam beberapa hal mengalami kesulitan dalam berkarya. Ia gagal juga dalam menunjukkan bahwa beginilah seharusnya menulis puisi. Bagi saya pribadi, orang yang bukan dalam golongan “generasi saya sendiri�, Asrul juga meninggalkan perkara. Saya terpukau oleh seruannya untuk melahirkan puisi gigantik. Sebab tentu saja tidak tidak ada menariknya jika orang sekadar melahirkan puisi-puisi atau karyakarya kerdil. Tetapi lagi-lagi, dicirikan oleh apa puisi-puisi gigantik itu? Dan keterampilan teknis seperti apa yang harus dikuasai untuk melahirkan karya-karya gigantik? Sekali saya pernah menduga bahwa yang disebut karya gigantik adalah karya-karya yang bicara urusan besar, seperti Shakespeare yang selalu menulis tentang keluarga kerajaan. Atau menjadi penyair seperti Dante yang melukiskan perjalanan bolak-balik surga-neraka. Atau seperti Samuel Coleridge yang menuliskan puisi Kubla Khan, penakluk besar dari Mongol. Atau mungkin seperti Walmiki dengan Ramayana dan Wiyasa dengan Mahabharata. Ketika mereka-reka apa yang gigantik menurut Asrul, dalam beberapa hal saya melihat bahwa Shakespeare memang lebih punya kemungkinan untuk bertahan berabad-abad ketimbang karya-karya yang bercerita tentang panen padi di kampung sebelah. Kecemburuan seorang istri raja tentu lebih menarik minat orang banyak ketimbang kecemburuan Mbok Marto si tukang pecel kepada suaminya si penyabit rumput. Keraguan Hamlet akan lebih abadi sebagai karya ketimbang keraguan tukang tambal ban apakah ia akan menaruh ranjau di jalan atau tidak. Kisah cinta terlarang Romeo anda Juliet tentu lebih abadi ketimbang kisah serupa yang terjadi pada Gendon dan Sruti dari Dukuh Semin. Tema pengkhianatan akan menjadi cerita besar ketika kejadiannya berlangsung di dalam istana Julius Caesar dan dilakukan oleh Brutus, anak angkat sang diktator itu sendiri. Pegkhianatan seorang montir pada teman dekatnya mungkin tetap bisa digarap menjadi cerita yang menarik, tetapi itu hanya dunia kecil di lingkup perbengkelan. Sementara Julius Caesar hidup di dunia raksasa, dengan kekuasaan di tangannya yang membentang luas di dua belahan dunia, barat dan timur. Apakah semacam itu yang disebut gigantik oleh Asrul, saya tidak tahu, dan kita tidak bisa menduga-duga isi pikiran orang. Namun, jika ada yang berniat mengamalkan ilustrasi yang 6


saya sebutkan di atas sebagai strategi untuk mendapatkan tema-tema yang “mungkin abadi” silakan saja diamalkan. Itu cocok dengan psikologi kolektif yang ingin memperluas diri dengan menampung cerita-cerita tentang orang besar. Dari kalangan bangsa sendiri, saya kira Pramudya Ananta Toer adalah salah satu yang mengamalkan prinsip itu. Karya-karya Pram yang paling banyak dibaca orang saya kira adalah karya-karyanya yang bercerita tentang Indonesia, tentang manusia-manusia besar dalam sejarah republik ini. Dan bagi pembaca fanatiknya, apa yang ditulis Pramudya kemungkinan akan dianggap sebagai sejarah dalam versi yang lebih jujur. Dari Amerika Latin kita akan mendapati Gabriel Garcia Marquez, yang mungkin menyadari juga bahwa ia perlu menceritakan dunia besar untuk membuat khalayak luas menengok karyakaryanya. Untungnya, ia memiliki kecakapan menulis sehingga dari tangannya lahir karyakarya yang enak dibaca, dan bukan pelajaran filsafat atau sejarah yang dituturkan melalui mulut tokoh-tokohnya. Kecenderungan Si Malin Kundang Perkara berikutnya yang disodorkan oleh bangsa yang muda menjadi adalah munculnya bayang-bayang Si Malin Kundang. Ketika seorang penulis memasuki dunianya dengan gairah yang berkobar, mereguk pengalaman dari tempat-tempat jauh, dan kemudian pulang ke kampung halaman untuk menjumpai sesuatu yang “mesum” belaka, maka ia pastilah akan menjadi Malin Kundang. Itu sebetulnya gambaran diri yang buruk sekali, sebab pada ujungnya ia adalah orang yang terkutuk. Sebetulnya saya lebih menyukai gambaran riil Abraham Lincoln. Ia meninggalkan rumah orang tuanya pada umur 19 tahun, melakukan pelbagai upaya yang banyak gagal, baik dalam bisnis maupun politik, dan satu-satunya keberhasilan Lincoln sebagai kandidat adalah ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden. Beda dengan Malin Kundang, yang pulang ke kampung halaman dan dikutuk, Lincoln tidak pernah pulang satu kali pun ke rumah orang tuanya sejak ia meninggalkan rumah itu. Katanya, “Sampai umur 19 tahun saya sudah berbakti sebagai anak. Tidak mungkin saya membenamkan diri selamanya di rumah melarat itu.” Saya kira para penulis yang baik, yang mengembarakan pikirannya ke tempat-tempat jauh untuk menemukan sumber-sumber pengetahuan, akan lebih baik jika memiliki kecenderungan Abraham Lincoln. Tidak mungkin ia membenamkan diri selamanya di rumah melarat orang tuanya ini. Tentu saja ia akan senang jika rumah orang tuanya menjadi punya lampu yang terang, menjadi lebih cerah, tetapi ia tidak perlu membebani diri untuk membangunkan orangorang seisi rumah. Itu pekerjaan yang sudah pasti sia-sia. Maka, akan lebih baik sekiranya si musafir itu membangunkan dirinya sendiri saja, memperkuat dirinya sendiri, dan terbang saja sendiri. Ketika dinaungi bayang-bayang si Malin Kundang inilah Asrul menghasilkan cerita-cerita yang menjemukan, yakni cerpen-cerpen dengan tokoh utama yang suka merenung, yang pulang dan menjumpai rumah yang “mesum”. Dalam cerpen-cerpen yang menghadirkan tokoh utama pemikir, ia menyajikan ceritanya dalam cara yang turah. Tokoh dalam cerpen Oktober 1945, misalnya, menjadi keterlaluan karena apa-apa dipikir dan dijadikan filosofis. Mahasiswa dalam cerita “Beri Aku Rumah”, menunjukkan gejala serupa dan kecenderungan untuk menyampaikan klise.

7


Itu terjadi karena, ketika berurusan dengan ide, Asrul seperti tidak pernah memikirkan cara bertutur lain kecuali menyampaikannya secara langsung melalui mulut atau pikiran tokohtokohnya. Ia tidak menjadikan pikiran itu sebagai sebuah adegan kongkret. Ia tidak “mengarang peristiwa” untuk menghidupkan ide-idenya. Ia hanya menyampaikan langsung dan lurus saja. Dalam cara yang amat berlebihan, cara seperti inilah yang dilakukan oleh STA. Dan sesungguhnya cerita-cerita Pramudya Ananta Toer juga sarat dengan ajaran-ajaran semacam ini dari mulut tokoh-tokohnya. Hanya dalam Pram, cerita tetap bergerak melalui rangkaian kejadian demi kejadian. Dan itu adalah kejadian-kejadian besar dalam latar belakang keindonesiaan. Mengenai tokoh yang cenderung berpikir, saya ingat Budi Darma pernah menyampaikan bahwa kejadian dalam cerita bukan hanya peristiwa-peristiwa di luar sana, tetapi juga kelebat yang ada dalam pikiran seseorang. Persoalannya dengan cerita Asrul, pikiran yang berkelebat di benak tokoh-tokohnya sangat berbeda dengan kelebatan pikiran yang dimaksudkan dan diamalkan oleh Budi Darma. Dalam cerita-cerita Budi Darma, apa yang berkelebat itu adalah pemikiran yang imajinatif, atau sesungguhnya kejadian-kejadian imajiner yang berlangsung di dalam benak tokoh ceritanya. Ia tetap menjadi adegan yang menggerakkan cerita, bukan kesuntukan pikiran yang menghentikan cerita. Sementara pada cerita-cerita Asrul, yang berkelebat dalam pikiran adalah renungan, yang kerap sekali menjadikan cerita murung dan klise. Dalam cerita “Beri Aku Rumah”, yang menerapkan motif gandaan dalam penceritaannya, kita akan menjumpai asumsi-asumsi yang cepat sekali terasa klise. Misalnya tentang sekolah yang tidak memberi apa-apa selain hafalan, tentang orang yang mulutnya terus menyampaikan ajaran-ajaran Khrisnamurti tetapi sungguh perangainya berlawanan. Ironisnya, atau sialnya, klise itu justru terjadi pada cerita-cerita Asrul yang menyodorkan “rumah” sebagai simbol maupun motif yang melandasi ide besarnya tentang rumah-dunia dan posisi sebagai “ahli waris kebudayaan dunia”. Kesimpulan saya, cerita-cerita terbaik dalam kumpulan Asrul, tercipta ketika ia hanya terdorong untuk merespons situasi sekelilingnya. Dan itu adalah respons orang yang memiliki keluasan wawasan dan tahu cara bagaimana cara merespons dengan baik melalui karyakaryanya. Dan ia gagal ketika terlalu memberati ceritanya dengan pemikiran-pemikiran yang saya kira ia tidak menemukan cara terbaik untuk menyampaikan itu dalam ceritanya. Tibatiba ia tidak mampu bermetafora, ia langsung menyemburkan pemikiran-pemikirannya. Masuk ke warung, berpikir filosofis. Melihat ruangan di belakang warung, berpikir filosofis. Bahkan jawaban si tukang warung pun dipikirkan apakah seharusnya kalimat itu berhenti dengan titik atau seharusnya terus berlanjut. Itu kita jumpai dalam cerpen “Oktober 1945: Jembatan Tanah Abang”. Tragedi STA dalam beberapa hal rupanya berulang pada Asrul. STA mendorong kita menengok ke Barat, Asrul membuat klaim lebih luas lagi, yakni bahwa “kami adalah ahli waris kebudayaan dunia”. Ia seperti melakukan tindakan revolusioner untuk merebut rumah bagi “kebudayaan kami”, dan yang ia lakukan kira-kira sama persis dengan proklamasi, sebuah keputusan politis yang diambil dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dan itu adalah tindakan revolusioner yang efeknya ia gambarkan secara memilukan dalam cerpen “Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat”.

8


Asrul Sani: Tragedi Seorang Penyeru