Page 1

UAJY

ISSUE #8 MARCH 2017

RETHINKING ARCHITECTURE THROUGH THE LION CITY


/CONTENTS

10

48

10 |

PERSPECTIVE DP Architects A Golden Celebration of Singapore Building Nationhood

16 |

WOHA Architects Mengembalikan Lahan Lebih dari yang Diminta

20 |

FARM Cross Disciplinary Design Practice

26 |

DESIGN Jewel Changi Airport Bright Future of Singapore

32 | Kampong Glam Menyusuri Jejak Warisan Islam di Tanah Metropolitan 36 |

Haji Lane Kemewahan Berselimut Warna-warni Lorong Kebudayaan

38 |

Skyville Dawson Singapore’s First Urban Housing

42 |

National Gallery of Singapore Kolaborasi antara Dua Masa Dua Dunia

48 |

Art Connector A Unique and Lasting Tribute to the Diversity of Singapore

54 |

Bishan Park Bring Natural Elements to the City

60 |

Anton Siura Architecture Through Landscape

64 |

Ayasofya Muzesi Byzantine Dome

ARTSPACE

4

ARÇAKA #8 | MARCH 2017


76

OPINI

76 |

POINT Anabata Open Talk Yogya Design Method

77 |

Twin Exhibition Moving Horizon

78 |

Architecture Music Event Ekspresi Musik, Ekspresi Kasih Sayang

79 |

Jejak Wawasan 2017 Eksplorasi Ekspresi

80 |

STUDENT WORKS The Development of Solo Jebres Station in Surakarta City Tugas Studio Akhir

84 |

The Ladang Indah Garden Juara 1 Sayembara Desain Ruang Terbuka Hijau Provinsi Kalimantan Utara

88 |

Kantor Portable IAI DIY Juara 1 Sayembara Desain Kantor Portable IAI DIY

92 |

Rumah Mandiri Juara 1 Sayembara Rumah Intaran

96 |

Vertical Kampong Perwujudan Arsitektur Vernakular Singapura

TECHNOLOGY & INOVATION

ANJANGSANA 106 | Kampung Lorong Buangkok Jejak Peninggalan Kampung Tradisional di Singapura

111

111 |

Singapore City Gallery Seeing Singapore from Bird Eye View

114 |

National University of Singapore Menengok Pendidikan Arsitektur di Singapura

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

5


PENERBIT

BIRO PENULISAN DAN PENELITIAN HIMA TRIÇAKA UAJY

PELINDUNG

Ir. Soesilo Budi Leksono, S.T. M.T. (Kaprodi Arsitektur UAJY) Ir. Ahmad Saifudin Mutaqi, M.T., IAI, AA (Ketua IAI DIY)

PEMBIMBING Dr. Ir. Y. Djarot Purbadi, M.T. Catharina Dwi Astuti Depari, S.T.,M.T.

REDAKTUR PELAKSANA

Chrispina Yovita Putri (Koordinator Biro)

PEMASARAN

Elisse Johanna Tandyo (Wakil Koordinator Biro)

SEKRETARIS

A. Christian Pratama Putra

BENDAHARA

Diah Hanityasari

/ABOUT VISI ARÇAKA

Membangun kecerdasan, kecintaan, dan kelestarian dunia arsitektur nusantara yang berwawasan internasional

MISI ARÇAKA

1.

Menyajikan informasi sesuai dengan realita dalam proses berfikir kritis mahasiswa. 2. Menjadi acuan dan pedoman untuk memperkaya keilmuan di bidang arsitektur 3. Membangun, mengajak, dan menginspirasi pembaca untuk sadar, berpikir, dan berkarya bagi masyarakat.

TIM EDITORIAL

Gilang Pidianku Dhanni Novianto Yoseph Duna Sihesa

LAYOUTER

Aldea Febryan Rachmadani

WEBSITE i s s u u . c o m / a r c a k a

6

SOCIAL

CONTACT

f a c e b o o k . c o m / a r c a k a instagram.com/arcaka

majalaharcaka@gmail.com

ARÇAKA #8 | MARCH 2017


/AGENDA

// LAFARGEHOLCIM AWARDS COMPETITION (Holcim)

/PENDAFTARAN : /DEADLINE:

4 Juli 2016 - 21 Maret 2017 21 Maret 2017

/JURI:

Harry Gugger, Sandra Bartoli, Ray Cole, Dominique Corvez, Angelo Bucci, Tatiana, Bilbao, Nagwa Sherif, Kunle Adeyemi, Donald Bates, Guillaume Habert, Alejandro Aravena, David Adjaye OBE /LINK : https://www.lafargeholcim-foundation. org/AwardApplication/lafargeholcimawards-2016-2017/

// ARSITEKTUR URBAN INFILL 2017: Kampung Kota (PARADESC 2017)

/PENDAFTARAN : /DEADLINE:

4 Maret 2017 - 28 April 2017

1 Mei 2017 /JURI: Ir. Achmad Deni Tardiyama, MUDD (URBANE), Ir. Budi A. Sukada, GradHonsDIp, IAI, Anindhita N. Sunartlo. S.T.,M.T., IAI (UNPAR) /LINK : http://www.paradesc2017.id

// WISWAKHARMAN EXPO 2017: Culture Injection

// SAYEMBARA GEDUNG FAKULTAS PSIKOLOGI UNDIP

/PENDAFTARAN : 26 Desember 2016 - 10 Maret 2017 /DEADLINE: 10 Maret 2017 /JURI: Andra Matin, Eko Prawoto, IAI DIY /LINK : www.wiswakharmanexpo.com

/PENDAFTARAN : 3 Februari 2017 - 20 Februari 2017 /DEADLINE: 27 Februari 2017 /JURI: Prof. Dr. Yos Johan Utama S.H.M.Hum, Dr. Hastaning Sakti, M.Kes.Psi, Ir. Agung Dwiyanto, MSA, Ar. Ahmad Djuhara, Ar. Satrio Nugroho /LINK : http://arsitektur.undip.ac.id/sayembaradesain-gedung-fakultas-psikologi-universitasdiponegoro/ps://archiray2016.wordpress.com

(UGM)

(UNDIP)

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

7


/REDAKSI Singapura memiliki satu kesamaan latar belakang dengan Indonesia, yaitu pluralitasnya. Singapura menjadi ‘rumah’ bagi berbagai suku bangsa yang menetap di sana menjadi salah satu bukti bahwa negara ini merespon perbedaan dengan sangat baik. Lalu, bagaimana dengan perbedaannya? Yang jelas berbeda adalah luas wilayahnya. Indonesia memiliki luas wilayah yang jauh lebih besar dari Singapura. Dengan wilayah yang luas dan letaknya yang membentang strategis di khatulistiwa, Indonesia memiliki sumber daya alam dan manusia yang sangat berlimpah, sementara Singapura tidak. Satu hal yang perlu kita apresiasi dari negeri singa tersebut: mereka menyadari kekurangan mereka: lahan, sumber daya alam dan manusia. Namun justru dengan kekurangannya itu Singapura justru semakin terpacu untuk dapat setara dengan negara maju lainnya. Dimulai dari House Development Board (HDB) yang menyediakan permukiman bagi penduduk Singapura dan Urban Redevelopment Authority (URA) yang gigih menyusun guideline pembangunan yang ketat, seluruh pihak yang akan merencanakan pembangunan harus memathui guideline tersebut. Dengan visinya sebagai city in a garden, guideline ketat juga dialokasikan untuk green space yang harus ada pada bangunan dan ruang terbuka publik. Pada edisi ekspedisi awal tahun ini, Tim Arçaka berkesempatan untuk berkunjung ke Singapura, mempelajari berbagai karya arsitektur dan lansekap yang ada di negeri singa tersebut. Pada rubrik utama, kami menyajikan wawancara dengan tiga biro arsitek Singapura: DP Architects, WOHA Architects dan FARM Architects, untuk mengetahui bagaimana biro arsitek di Singapura memecahkan permasalahan desain. Kami melakukan sharing session dengan Prof. Johannes Widodo mengenai Kampung Lorong Buangkok, satu-satunya kampung yang tersisa di Singapura; serta menjelajahi National University of Singapore (NUS) bersama beliau. Kami juga mewawancarai Anton Siura, alumni Program Studi Arsitektur FT-UAJY yang kini berfokus pada proyek arsitektur lansekap dan melakukan sharing mengenai Bishan-Ang Mo Kio Park yang merupakan salah satu proyek beliau. Tak lupa, kami menyajikan liputan mengenai tempat-tempat yang kami kunjungi: Kampong Glam, Haji Lane, NEWater Visitor Centre, National Gallery of Singapore dan Singapore City Gallery. Rethinking Architecture from the Lion City menjadi isu kami pada edisi ini. Dalam sudut pandang kami, Singapura merupakan negara yang hebat dalam berarsitektur. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Singapura mengatakan dengan bukti bahwa keterbatasan bukanlah sebuah penghalang untuk menjadi yang terdepan. Kami berharap isu dari Singapura ini dapat menginspirasi pembaca untuk dapat lebih berinovasi dalam memecahkan permasalahan desain yang ada, terutama untuk kemajuan arsitektur di Indonesia. Selamat membaca! Salam, Chrispina Yovita Putri Redaksi

8

ARÇAKA #8 | MARCH 2017


/CONTRIBUTORS BIRO PENULISAN DAN PENELITIAN

Chrispina Yovita Putri Ars 14

Aldea Febryan Ars 14

Elisse Johanna Tandyo

Ars 14

A Christian Pratama P

Ars 15

Gilang Pidianku

Diah Hanityasari

Yoseph Duna

Dhanni Novianto

Ars 15

Ars 14

Ars 14

Ars 14

CONTRIBUTORS

Teresa Thea Ars 15

Alvin Wahyu Putra Praditya

Ars 13

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

9


/PERSPECTIVE/SENIOR ARCHITECT

Suasana kantor DP Architects di Marina Square, Singapura

10 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


DP ARCHITECTS:

A GOLDEN CELEBRATION OF SINGAPORE BUILDING NATIONHOOD Text by Chrispina Yovita Putri Photos by Diah Hanityasari and courtesy of DP Architects

DP Architect merupakan biro arsitek di Singapura yang berdiri pada 1967, dua tahun sejak kemerdekaan Singapura. Selama 50 dekade perjalanannya, DP Architects telah menyumbangkan berbagai karya arsitektural melalui proyek-proyek perkotaan skala besar. Berbagai proyek arsitektural DP juga turut membangun berbagai ikon bangunan di Singapura yang tentunya DP telah berkontribusi dalam menciptakan keindahan pada city skyline Singapura.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

11


/PERSPECTIVE/SENIOR ARCHITECT

The Dubai Mall, the world’s most visited shopping and entertainment The One Global Studio DP Architects didirikan pada 1967 oleh Koh Seow Chuan. DP sendiri merupakan singkatan dari Design Partnership dengan basis family unity di mana tim dibagi dalam berbagai disiplin ilmu untuk kemudian disatukan dan diterapkan pada arsitektur sebagai muaranya. Sejak didirikan, DP mengusung filosofi kuat yang didedikasikan bagi aktivitas manusia dan kualitas kota yang baik. DP memposisikan setiap proyek sebagai kelanjutan dari eksplorasi bentuk dalam membangun fasilitas publik. Bentuk bukan merupakan hal utama yang harus diwujudkan, tetapi bagaimana menciptakan tujuan dari bangunan itu sendiri – lingkungan yang sustainable. DP beroperasi sebagai one global studio dengan multidisiplin ilmu di mana arsitektur menjadi muara dari ilmu-ilmu tersebut untuk mengintegrasikan semua aspek: lingkungan, manusia dan bangunan. Saat ini DP Architects mimiliki 1.300 karyawan dan 17 kantor internasional yang berada pada 77 negara. Dengan tenaga kerja sebanyak itu, DP dinobatkan sebagai Big 10 biro arsitek terbesar di dunia menurut

12 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

World Architecture 100 (WA100) Survey pada 2016. Penghargaan ini patut dibanggakan karena DP Architects merupakan satu-satunya biro arsitek di Asia Tenggara yang mendapatkan penghargaan ini. DP Architects memanfaatkan networking yang luas untuk menawarkan solusi desain lokal dari studio taraf global. Dengan jaringan global yang luas ini, DP memperluas strategi desain untuk semua tipologi, untuk semua skala dan lokasi manapun. Saat ini DP dikenal sebagai salah satu biro arsitektur terkemuka yang terintegrasi dispesifikkan dalam beberapa kelompok kecil untuk efektivitas aktivitas perancangan arsitektur. Tim DP sendiri dibagi ke dalam beberapa divisi. Berikut ini adalah spesifikasi dari strategi desain DP Architects secara keseluruhan: DP Architects – Architecture & Urban Planning DP Consultants – Project Management Consultancy DP Design – Interior Design & Spatial Planning DP Engineers – Engineering & Building Services Design DP Facade – Building Envelope Design


(Atas) Rhizome House’s multicolored diode (Bawah) Esplanade, gedung durian

Singapore Sports Hub yang menjadi salah satu landmark Singapura DP Green – Landscape & Arboriculture Consultancy DP Healthcare – Healthcare Architecture DP Infrastructure – Transport Infrastructure DP Lighting – Lighting Design & Visual Planning DP Sustainable Design – Environmentally Sustainable Design DP Xperience – Brand Enhancement, Wayfinding & Signage Design Design Character Selama 50 tahun perjalanannya, DP Architects selalu belajar dari setiap proyek yang dikerjakannya. Hingga saat ini, DP mengembangkan penataan desain lingkungan dinamis yang mendorong adanya sinergi kolaboratif dengan semua pihak yang terlibat dalam proyek. Dengan metode ini DP dapat mengembangkan pelayanan terbaik pada klien dan masyarakat luas. Perbedaan latar belakang etnis, lifestyle, generasi, skill dan berbagai hal lainnya dalam tim juga mendorong DP untuk menyatukan berbagai aspek ke dalam desain. DP juga fokus pada pengembangan desain berkelanjutan

dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang ada. Sampai saat ini banyak proyek DP yang mendapat predikat sebagai green design seperti: Singapore Sports Hub, BCA Academy dan Rhizomes House. Pemerintah Singapura dikenal tegas dalam mengatur guideline dari segala pembangunan yang ada. Hal ini bukan menjadi batu sandungan bagi DP untuk terus berkembang. Batasan-batasan pembangunan dari pemerintah justru menjadi pemacu bagi DP untuk semakin lebih baik, bahkan dengan menantang balik pemerintah untuk semakin memperketat lagi peraturan yang ada. Hingga saat ini, ada beberapa guideline pemerintah Singapura yang dinilai sangat ketat namun dapat dipecahkan DP Architects dengan membuat strategi dan inovasi desain brilian yang ternyata sangat berpengaruh pada eksistensi DP sampai saat ini, seperti: master plan Orchard Road, strategi perancangan URA’s Marina Bay Vision dan penerapan Building Information Modelling (BIM).

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

13


/PERSPECTIVE/SENIOR ARCHITECT

Mr. Wu Tzu Chiang, Director, DP Architects

14 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


DP Architects Expansion in Indonesia Pada ekspedisi ini, Tim Arçaka mendapat kesempatan untuk mewawancarai salah satu arsitek senior dari DP Architects, yaitu Mr. Wu Tzu Chiang. Mr. Wu sendiri merupakan salah satu director di DP Architects yang mulai bergabung dengan DP pada 1990. Mr. Wu ternyata dapat dibilang cukup mengenal Indonesia karena kiprahnya dalam ekspansi DP Architects ke Indonesia. Pada tahun 1997 DP Architects memperluas jangkauannya ke Indonesia. DP Architects tentunya membawa nuansa baru dalam tipologi bangunan di Indonesia, terutama pada tipologi bangunan komersial dan high rise. Beberapa proyek di Indonesia yang ditangani DP Architects antara lain adalah: Senayan City, Pluit Village, Pejaten Village, Kemang Village, Ciputra World Surabaya dan Uttara. Sebagai perusahaan asing yang memiliki pekerjaan di Indonesia, Mr. Wu mengatakan bahwa arsitektur di Indonesia lebih kompleks yang berbeda dari negara lain karena Indonesia memiliki aspek beragam budaya yang masih terjaga dengan relatif kuat yang perlu diterapkan dan dijaga dalam karya arsitektur masa kini. Dalam peraturan pembangunan, pemerintah Indonesia dinilai kurang matang sehingga tidak ada guideline pembangunan yang jelas. Selain itu politik di Indonesia juga merupakan aspek krusial yang ternyata dapat memperlancar sekaligus menghambat proyek.

Mr. Wu berpesan bahwa sebagai orang muda, kita perlu ekstra memahami berbagai fenomena yang terjadi di sekitar dan di seluruh dunia yang kini berjalan dengan cepat karena apa yang terjadi sekarang mungkin tidak akan sama lagi dengan yang akan terjadi di masa depan sehingga kita perlu menemukan cara untuk dapat survive. Arsitektur mungkin akan menjadi hal yang sangat berbeda di masa depan, sehingga perlu persiapan sedari dini. DP50 Celebration Tema dari selebrasi DP50 ini adalah “Partners in Design�. Tema ini sekaligus menjadi pengingat akan semangat yang dijunjung oleh DP selama ini, yaitu partnership dari berbagai disiplin ilmu yang bermuara di bidang arsitektur. Dalam perayaan DP50 ini, DP akan mengadakan launching buku yang menceritakan sejarah DP Architects serta menggelar pameran DP50 yang akan dilaksanakan di URA Centre, Singapura. Dalam selebrasinya atas eksistensi DP Architects dalam dunia arsitektur selama 50 tahun, DP berkomitmen untuk terus berinovasi dalam desain untuk menciptakan lingkungan dan karya arsitektural yang sustainable di seluruh penjuru Singapura maupun di berbagai negara.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

15


/PERSPECTIVE/ SENIOR ARCHITECT

WOHA ARCHTECTS

MENGEMBALIKAN LAHAN LEBIH DARI YANG DIMINTA 16 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Text by Aldea Febryan Photos by Gilang Pidianku and courtesy of WOHA


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Singapura telah mengembangkan bangunan vertikal. Lahan negara yang sempit menjadi salah satu faktor tumbuhnya bangunan vertikal dengan fungsi mixed use yang mungkin tidak dijumpai di negara lain. Selain itu, desain yang digunakan selalu terlihat modern dan menggunakan beberapa teknologi yang canggih. Akan tetapi, dengan lahan yang sempit dan pembangunan tetap berjalan, bukan berarti negara ini melupakan ruang hijau. Pemerintah Singapura memiliki kebijakan setiap pembangunan yang diadakan, desain bangunan tersebut harus bisa mengembalikan 70% lahan yang digunakan. WOHA merupakan studio arsitektur dengan basis di Singapura yang sudah eksis sejak tahun 1994. Selama 23 tahun mereka selalu memperbaiki karyanya semakin baik. Tidak sedikit pula terobosan-terobosan desain yang mampu membuat orang lain takjub. Dua karya dari mereka mendapat penghargaan Design of The Year dari President’s Design Award Singapore 2016. Sore itu, kami berkesempatan menemui salah satu arsitek dari WOHA, Mr. Phua Hong Wei. Kami menemuinya di kantor WOHA itu sendiri. Takjub adalah kata yang tepat menggambarkan perasaan kami pertama kali ketika memasuki kantor tersebut. Kantor yang didominasi warna hitam dengan penerangan lampu kuning menambah kesan elegan. Uniknya bangunan ini memiliki satu core yang dikhususkan untuk penghijauan bagi kantor mereka sendiri.

Peraturan Pemerintah Bukan Hambatan Setiap negara pasti memiliki peraturan pembangunan dari pemerintah. Singapura sendiri memiliki peraturan yang tegas dalam mengatur setiap pembangunan yang ada. Salah satunya mengenai penghijauan dalam bangunan. Batasan yang diberikan dari pemerintah justru tidak membatasi desain yang dihasilkan oleh WOHA. Di tahun 2013, WOHA mengerjakan sebuah kondominium di Singapura. Desain kondominium yang memiliki penghijauan secara vertikal dapat dikatakan hal yang masih baru untuk masyarakat Singapura pada saat itu. Sehingga setelah pembangunan selesai warga sekitar merasa senang dengan apa yang dikerjakan oleh WOHA. Tidak lama setelah itu, pemerintah Singapura mulai mengatur kembali peraturan pembangunan dan mengenalkan lebih detail mengenai penghijauan secara vetikal. Penghijauan secara vertikal dinilai cukup membantu untuk pengupayaan penghijauan tiap bangunan di Singapura mengingat negara tersebut memiliki tanah yang tidak cukup luas dan ruang hijau harus tetap diadakan. Fungsi adanya penghijauan sendiri adalah agar biodiversitas setiap bangunan terus berkembang. Penghijauan sudah merupakan DNA dari WOHA. Setiap desain yang dihasilkan selalu mencoba untuk berinovasi dan mendorong batasan-batasan yang ada dalam hal penghijauan.

Ruang hijau PARKROYAL yang menyamakan Hong Lim Park yang berada di depan bangunan.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

17


/PERSPECTIVE/SENIOR ARCHITECT

(Atas) Koridor depan kamar PARKROYAL yang juga menjadi koridor untuk maintenance tanaman (Bawah) Koridor pada OASIA Hotel yang tidak terekspos oleh publik

Penghijauan Bangunan Singapura memiliki puluhan taman yang tertata rapi. Hong Lim Park, taman yang berada di daerah Pickering merupakan salah satu taman yang terkenal di Singapura. Adapun sebuah hotel yang berada di daerah tersebut merupakan karya dari WOHA, PARKROYAL. Konsep dalam desain tersebut merupakan adopsi dari taman Hong Lim Park yang berada di depan site yang diletakkan dalam bangunan berupa balkon sehingga bangunan tersebut dapat menggantikan 215% dari lahan yang digunakan. Hal tersebut merupakan pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup lansekap pembangunan bangunan bertingkat tinggi. Sehingga bukan hal yang mengagetkan jika PARKROYAL mendapatkan penghargaan Singapore’s Green Mark Platinum score yang merupakan sertifikasi tertinggi mengenai lingkungan sebuah negara. Dalam proyek yang dikerjakan oleh WOHA, PARKROYAL menjadi salah satu batu loncatan untuk mereka menuju proyek yang lebih menakjubkan. OASIA Hotel, merupakan hotel baru di kawasan Central Business District. Tentu saja penggunaan warna merah yang mampu secara cepat dapat ditangkap oleh mata dari kejauhan menjadikan pusat perhatian dibandingkan bangunan lain disekitarnya. Warna merah yang dipilih bermaksud agar kedepannya menjadi background dari 21 spesies tanaman yang akan tumbuh menjadi fasad hotel tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kali ini WOHA dapat mengembalikan 1.100% lahan yang digunakan. Bangunan ini akan menjadi surga bagi burung dan memperkenalkan kembali keanekaragaman hayati dalam kota. Oasia Hotel dapat dijadikan prototipe dari intensifikasi penggunaan lahan untuk daerah perkotaan beriklim tropis. Dari dua proyek yang didesain WOHA, kita dapat mempelajari bagaimana mereka menjawab permasalahan yang ada pada perkotaan dengaan caracara inovatif melalui penghijauan yang dipikirkan dengan matang. Keamanan Untuk Pemeliharaan Bangunan Permasalahan bangunan dengan desain maupun detail yang rumit merupakan pemeliharaan bangunan itu sendiri. Kebanyakan desain dari WOHA memberikan penghijauan yang melebihi standar peraturan yang ada sehingga pemeliharaan tanaman yang digunakan juga perlu dipikirkan. Berawal dari rasa keperihatinan melihat orang yang membersihkan fasad bangunan tinggi dari luar bangunan menggunakan alat bantu, WOHA memberikan satu koridor yang memang khusus digunakan untuk para pemeliharaan bangunan yang tidak terekspos oleh pengunjung. Selain untuk pengamanan, beberapa desain koridornya dapat digunakan untuk jalur sirkulasi pengunjung ke kamarnya agar pengunjung yang melewatinya dapat merasakan kedekatan dengan alam.

18 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Facade OASIA Hotel yang ditutupi oleh tanaman rambat

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

19


/PERSPECTIVE/JUNIOR ARCHITECT

Tulisan ‘FARM’ pada bagian depan studio

FARM

CROSS DISCIPLINARY DESIGN PRACTICE

Text by Dhanni Novianto Photos by Gilang Pidianku and courtesy of FARM

Tim ARÇAKA berhasil melakukan wawancara dengan salah satu biro arsitek yang tergolong baru di Singapura, FARM. Nama FARM sendiri berasal dari pemikiran akan mencoba mengolah atau ‘menanami’ budaya yang imajinatif. Berpondasi akan pemikiran bahwa berkreasi dengan hati yang gembira atau istilahnya ‘joyful’ merupakan hal yang perlu di dalam kehidupan sehari-hari. FARM berusaha menampilkan hal tersebut melalui karya-karya mereka. Tak hanya sebagai biro yang mendalami dan merancang bangunan arsitektur, FARM sebagai cross disciplinary design practice juga disebut sebagai pendesain interior, tim kurator, serta komunitas yang terlibat dan mendalami bidang seni. Tak sampai di situ FARM juga membuka toko yang menyediakan berbagai pernak-pernik hingga makanan. Karena terlibat dalam bidang seni itu, sejak tahun 2005, FARM aktif bekerja membantu komunitas yang ada di Singapura untuk mempromosikan seni sehingga tak heran jika mereka juga mengadakan acara dan kompetisi seni. Karena tak hanya mendalami satu bidang saja, pada tahun 2007 FARM menggarisbawahi bahwa mereka adalah cross disciplinary design. Itulah yang membuat biro ini unik karena memiliki kemampuan yang beragam dalam berkolaborasi antara desain arsitektur dan interior, desain produk dan perdagangan, desain grafis dan branding, instalasi seni dan patung, desain pameran dan pekerjaan kurasi yang membuat mereka kompak.

20 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Suasana di dalam studio FARM

ROJAK Biro FARM dibentuk dengan spontan atau bisa dikatakan santai yang dimulai dari menciptakan sebuah sebuah komunitas yang menyelenggarakan pertemuan untuk saling berbagi informasi antar informal artist secara berkala yang mereka sebut ROJAK. ROJAK dapat menjadi sebuah sarana yang mewadahi 10 perbedaan kreativitas yang berasal dari berbagai keahlian, bersama-sama saling berbagi dan bertukar informasi tentang pekerjaan maupun proses saat berkreasi. Dari menyelenggarakan pertemuan dalam komunitas ROJAK ini, mereka mulai mengenal berbagai pihak yang memberi mereka proyek interior design. Sejak itulah mereka mulai mengembangkan kiprahnya dalam berkarya. Hingga saat ini pun kebiasaan di dalam komunitas ROJAK tetap dipertahankan. Terdapat beberapa hal yang khas dalam pertemuan ini, yaitu: 10 pembicara, 10 slide materi presentasi dan 10 menit waktu presentasi. Tidak seperti kegiatan peningkatan pengetahuan/kompetensi yang lain, bagi individu di FARM kegiatan komunitas ROJAK (sharing session) ini merupakan kegiatan yang

dapat dikatakan informal dan lebih mudah diterima oleh setiap anggota. Hal-hal yang dapat dibagikan juga tidak terbatas, bisa berupa pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan, bisa juga tidak. Dengan sifat yang informal tersebut akan memudahkan setiap anggotanya untuk dapat secara hangat dan dekat dapat saling berinteraksi kepada rekan kerja dan mereka dapat dengan mudah berbagi pengalaman masing-masing dalam problem yang sedang dibahas, sekaligus memperoleh pengetahuan baru yang tentunya akan bermanfaat bagi masing-masing orang kedepannya. Peningkatan kompetensi dan pengetahuan masingmasing anggota FARM adalah suatu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan dalam mendesain dan proses berkembang. Dengan kualitas sumber daya manusia yang baik, tentunya biro arsitek ini akan lebih kompeten untuk menerima tantangan, perubahan dan beradaptasi dengan kemungkinan krisis yang akan terjadi di kemudian hari.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

21


/PERSPECTIVE/JUNIOR ARCHITECT

Identitas FARM Berawal dari bekerja sama membuka berbagai peluang dalam bertukar pendapat dan ide, FARM tidak terikat pada suatu prinsip desain. Tahun 2005, FARM memulai biro mereka melalui komunitas website yang mampu mengetahui dan mengenal berbagai designer yang berpotensi, tidak hanya dari Singapura saja. FARM berdiri atas dasar perbedaan ketertarikan antarindividu, yang mau saling berbagi pengalaman sehingga mampu saling melengkapi dan bekerja sama. Tantangannya adalah bagaimana orang lain mampu mengenali bahwa desain itu merupakan desain milik FARM tanpa harus memberitahukan ciri khas atau prinsipnya. Karena pada dasarnya proyek itu dikerjakan dengan menggabungkan masing-masing keahlian yang berasal dari individu di FARM. Misalnya dalam pengerjaan proyek hotel, FARM membagi proporsi tim kerja berdasarkan keahlian masing-masing, ada yang menekuni tahap desain arsitektur ada pula yang menangani tentang desain interiornya, sehingga pekerjaan proyek itu dapat lebih cepat selesai. Tantangan terbesar bagi FARM adalah untuk terus bekerja dan membangkitkan ketertarikan antartim, FARM berusaha menyeimbangkan ketertarikan antaranggotanya kemudian menuangkan ide masingmasing ke dalam proyek yang sedang dikerjakan. Karena ketertarikan itu bersifat personal maka di FARM setiap anggotanya berusaha saling mengenal satu sama lain. Di dalam biro, FARM tidak memiliki sistem hierarki yang mengikat, semuanya diperlakukan setara. Lingkungan kerja yang berusaha diciptakan adalah lingkungan kerja di mana setiap individu dapat merasa aman untuk membawa dirinya sendiri apa adanya tanpa harus merasa terintimidasi. Setiap anggota FARM dalam melakukan proses pembelajaran selalu dirayakan dan kegagalan menjadi bahan pembelajaran untuk ke depannya. FARM sendiri merupakan biro yang terbilang unik. Terdiri dari arsitek-arsitek muda yang masih memiliki semangat yang membara ditambah dengan berbagai variasi disiplin ilmu yang diwadahi dalam biro ini, FARM menciptakan atmosfer bekerja dalam studio menjadi menyenangkan.

22 ARÇAKA #8 | MARCH 2017 Interior ruangan di studio FARM

Area bersantai di studio FARM

Suasana dalam studio terkadang menjadi tidak kondusif karena jadwal dan deadline yang padat akibat banyaknya hal yang perlu dikerjakan. Karena itu, FARM senantiasa memegang teguh motto ini untuk menjaga suasana studio agar tetap kondusif dan menyenangkan: “Work hard and be nice to people.�


(Kiri) Mr. Tiah Nan Chyuan, salah satu arsitek di FARM

Pendapat tentang Arsitektur di Indonesia Mr. Tiah Nan Chyuan, salah satu arsitek di biro FARM yang menyambut tim Arçaka pada kunjungan kali ini, menyampaikan opininya tentang arsitektur Indonesia. Menurutnya, kelebihan arsitektur Indonesia adalah beragam budaya yang juga mempengaruhi arsitektur itu sendiri. Arsitektur adalah wujud kebudayaan yang berlaku di masyarakatnya, sehingga perkembangan arsitektur tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Arsitek sebagai salah satu penentu arah perkembangan arsitektur di Indonesia dituntut untuk lebih aktif berperan dalam menentukan arah dengan pemahaman terhadap nilai dan norma yang hidup di masyarakat sebagai tolok ukurnya. Mr. Nan Chyuan yang pada saat ini juga merupakan salah satu dosen studio arsitektur di National University of Singapore ini juga menambahkan opininya bahwa arsitektur harus bermakna positif. Ruang antarbangunan akan tetap tak berfungsi positif bila hanya sekedar sebagai jarak antarbangunan, tetapi akan lebih kaya fungsi bila dimanfaatkan sebagai ruang positif bagi kegiatan

manusia. Berbagi, pelestarian dan pengembangan adalah tiga pilar yang harus hadir dalam setiap perubahan. Masa Depan Arsitektur di Singapura Antara tahun 1986 dan 2007, ruang terbuka hijau di Singapura meningkat dari 36% menjadi 47%. Jadi, hampir separuh negara Singapura merupakan ruang terbuka hijau. Sekitar 48 persen gedung di Singapura sudah bersertifikat green building. Selain itu, nilai untuk kategori kultur dan lingkungan mencapai 19,49 %. Pada 2030 nanti, Singapura bahkan menargetkan bahwa 80 persen bangunan sudah bersertifikat green building. Sejak awal Singapura sudah mempunyai master plan sangat kuat terkait gedung yang telah ada dan akan datang. Selain itu masalah tentang konstruksi bangunan telah dipersiapkan terlebih dahulu sehingga gedung-gedung di Singapura relatif sudah efisien dalam penggunaan energi. Sebenarnya, Indonesia juga mampu membangun lebih banyak gedung berwawasan lingkungan. Yang harus dilakukan pertama kali adalah mengubah pola pikir atau kultur masyarakat untuk mengelola energi secara efisien.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

23


24 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

25


/DESIGN/LOCAL

Text by Elisse Johanna Tandyo Photos from various sources

Courtesy of Jewel Changi Airport Devt.

26 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


JEWEL CHANGI AIRPORT

BRIGHT FUTURE OF SINGAPORE Bandara Changi adalah bandara internasional Singapura yang terletak di sisi timur negara Singapura dengan luas keseluruhan mencapai 870 hektar. Bandara Changi mulai beroperasi pada 1 Juli 1981 sebagai pengganti Bandara Paya Lebar Singapura yang kewalahan akibat jumlah pengguna yang terlalu banyak.

2 dan Terminal 3 yang saling berseberangan sehingga para penumpang tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk mencapai masingmasing terminal. Selain itu, dengan menempatkan fasilitas-fasilitas untuk pengunjung pada bagian pusat atau tengah, pengunjung tidak perlu berjalan jauh dari terminal untuk menikmati fasilitas tersebut.

Konsep Changi Airport Keseluruhan perancangan dan konstruksi awal Bandara Changi dipegang oleh Singapore Public Works Department (sekarang CPG Corporation). Konsep penataan ruang tiga terminal pada Bandara Changi diatur dengan bentuk horseshoe (tapal kuda) dan diapit oleh dua jalur landasan penerbangan. Di bagian tengah dari tapal kuda terdapat fasilitasfasilitas penunjang bagi pengunjung bandara, seperti area parkir, jalan, drop off area, hotel dan stasiun MRT. Untuk melengkapi semua itu, terdapat sebuah control tower yang berfungsi seperti mercusuar dan menjadi icon dari Bandara Changi. Bentuk desain tapal kuda ini memungkinkan pergerakan arus penumpang yang optimal sekaligus memaksimalkan ruang docking pesawat. Para penumpang tiba di bandara pada bagian pusat (Central Airport Boulevard) yang kemudian bercabang ke tiga terminal. Stasiun MRT terletak di antara Terminal

Jewel Changi Airport Bandara Changi yang beberapa kali dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia dalam World Airports Award dan merupakan bandara tersibuk keenam di dunia, terus berusaha mengembangkan fasilitas-fasilitas bandara bagi para penumpang dari berbagai belahan dunia. Sekitar tahun 2012, Bandara Changi mengumumkan rencana pembangunan fasilitas baru yaitu Terminal 4-5 dan Jewel Changi Airport. Jewel Changi Airport menempati lahan seluas 3,5 hektar di “jantung� kompleks Bandara Changi, tepat di antara ketiga existing terminal yang sebelumnya merupakan area parkir terbuka. Jewel Changi Airport didesain oleh Moshe Safdie (Safdie Architects) yang bekerja sama dengan PWP Landscape Architecture. Interior dari Jewel Changi Airport didesain oleh Benoy Group. Konstruksi Jewel Changi Airport telah dimulai pada Desember 2014 dan diperkirakan selesai pada akhir 2018.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

27


Letak Jewel Changi Airport di antara ketiga eksisting terminal Courtesy of Jewel Changi Airport

Forest Valley Courtesy of Jewel Changi Airport Devt.

28 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Jewel Changi Airport atau singkatnya Jewel merupakan sebuah kompleks mixed-use, gabungan dari retail, hotel, pusat rekreasi dan hiburan serta berbagai fasilitas pendukung untuk bandara. Jewel terdiri dari lima lantai di atas permukaan tanah dan lima lantai basement untuk area parkir dengan luas gross floor area sebesar 134.000 m2. Keseluruhan ruang publik dihubungkan dengan Forest Valley: jalan setapak yang dikelilingi oleh taman multilevel yang subur. Jewel dilingkupi oleh sebuah kubah kaca dengan bagian tengah berupa air terjun setinggi 40 meter yang disebut Rain Fortex. Air terjun pada Rain Fortex bersumber dari air hujan yang akan didaur ulang dan digunakan kembali pada kompleks Bandara Changi. Pada malam hari, Rain Fortex menjadi latar belakang untuk sebuah pertunjukan berupa permainan cahaya dan suara bagi pengunjung Jewel. Keseluruhan bangunan yang dilingkupi kubah kaca berfungsi ganda yaitu untuk membentuk titik fokus yang alami bagi Rain Fortex sekaligus memberikan kekuatan struktural untuk memungkinkan sebuah efek kisi-kisi lebih halus dari panel-panel kaca yang dibingkai dengan baja pada kubah kaca. Kolom-kolom dibentuk menyerupai pohon dan ditata dalam sebuah lingkaran di sekitar roof garden yang dinamai Canopy Park, untuk memberikan kekuatan tambahan bagi atap. Perpaduan Rain Fortex sebagai pusat yang dikelilingi oleh Forest Valley dan dilingkupi oleh kubah kaca ini menjadi daya tarik utama dari Jewel. Konsep utama Jewel adalah menciptakan sebuah tempat pertemuan yang berbeda dan bermakna yang


Rain Fortex pada malam hari Courtesy of PWP Landscape Architects

sekaligus berfungsi sebagai gerbang kota dan negara, melengkapi fasilitas perdagangan dan jasa dengan berbagai daya tarik dan taman untuk para penumpang dari berbagai belahan dunia, karyawan bandara, dan untuk kota itu sendiri. Jewel menggunakan komponenkomponen ruang publik yang dinamis, kombinasi dengan alam, budaya, pendidikan dan rekreasi yang bertujuan memberikan sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi para penggunanya. Jewel diharapkan dapat menjadi tempat bagi penduduk Singapura untuk berinteraksi dengan orang-orang dari luar Singapura. Jewel Changi Airport menjadi sebuah icon Singapura yang menyediakan alam di dalam ruangan sehingga memperkuat reputasi Singapura sebagai garden city. Harapannya, Jewel Changi Airport dapat menjadi landmark Singapura yang semakin dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Singapura.

Project : Jewel Changi Airport Architect : Moshe Safdie Client : Changi Airport Group CapitaMalls Asia Location : Singapore Changi Airport, Airport Boulevard, Singapore Year : 2014 Building Area : 134.000 m2

Roof Garden Courtesy of PWP Landscape Architects

“This project redefines and reinvents what airports are all about.” – Moshe Safdie

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

29


/DESIGN/LOCAL

Restaurant Terraces dengan Rain Fortex sebagai view utama Courtesy of Jewel Changi Airport

Playground Area pada Forest Alley Courtesy of Jewel Changi Airport

30 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Gambar potongan Jewel Changi Airport melewati area retail dan Forest Valley Courtesy of Jewel Changi Airport Devt.

Retail Area Courtesy of Benoy

Siteplan Courtesy of Jewel Changi Airport Devt.

Referensi 1. Benoy. Singapore’s New Jewel. http://www.benoy.com/projects/jewel-changi-airport/ (diakses 28 Desember 2016).History SG. Changi Airport Officially Opens. 29 Desember 1981. http://eresources.nlb.gov.sg/ (diakses 28 Desember 2016). 2. Rosenfield, Karissa. Safdie Architects Design Glass “Air Hub” for Singapore Changi Airport. 5 Desember 2014. https://www.dezeen.com/2014/12/05/moshe-safdie-huge-greenhouse-singapore-changi-airport/ (diakses 28 Desember 2016). 3. Winston, Anna. Moshe Safdie’s Huge Greenhouse for Singapore’s Changi Airport Gets Underway. 5 Desember 2014. https://www.dezeen.com/2014/12/05/moshe-safdie-huge-greenhouse-singapore-changi-airport/ (diakses 28 Desember 2016). 4. Yilun. Harmony in Design: Changi Airport. 5 Juni 2014. https://sgbluesky.wordpress.com/2014/06/05/harmonyin-design-changi-airport/ (diakses 28 Desember 2016).

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

31


/DESIGN/LOCAL

32 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


KAMPONG GLAM

MENYUSURI JEJAK WARISAN ISLAM DI TANAH METROPOLITAN Text by A Christian Pratama Putra Photos by Gilang Pidianku and courtesy of William Cho

Singapura adalah salah satu negara yang memiliki sejarah panjang dalam hal imigrasi dan jalur perdagangan internasional. Hal inilah yang menjadikan Singapura sebagai salah satu negara yang memiliki keberagaman penduduk yang berasal dari berbagai etnik dan suku bangsa di dunia. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk keturunan Tionghoa, Timur Tengah seperti India, Arab dan sekitarnya, Melayu juga beberapa penduduk dari negara Asia lain. Para pedagang pertama yang datang dan memutuskan untuk tinggal di Singapura biasanya berkoloni dan membentuk suatu kampung yang menjadi kawasan tempat tinggal mereka di Singapura. Salah satu tempat yang masih dapat kita lihat dan telah berkembang cukup pesat sampai sekarang ialah kawasan kampong yang terletak di bagian selatan Singapura yang berdekatan dengan area perbelanjaan yang sangat populer yakni Bugis Street dan Bugis Junction yang bernama Kampong Glam. Dulunya, Kampong Glam adalah pusat kerajaan Melayu di Singapura. Namun sejak tahun 1822, kompleks ini secara resmi dialokasi bagi suku Melayu dan umat muslim lainnya termasuk para pedagang dari Arab. Selain itu, tempat ini juga menjadi desa nelayan di tepi sungai Rochor pada saat itu. Menurut cerita masyarakat, nama Kampong Glam sendiri berasal dari nama pohon yang dahulu banyak tumbuh di sekitar tempat itu. Pohon ini dikenal dengan nama pohon Gelam yang digunakan sebagai bahan dasar membuat perahu pada saat itu. Namun, tak sedikit pula pengunjung yang mengira bahwa nama Kampong Glam berasal dari kata Glamour yang berarti mewah atau mempesona karena memang Kampong Glam sekarang telah menjadi salah satu kawasan perbelanjaan dan kuliner Islam yang sangat terkenal dengan arsitektur dan ornamennya yang eksotis.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

33


/DESIGN/LOCAL Istana Kampong Glam (Malay Heritage Centre) Tidak jauh dari lokasi Masjid Sultan, terdapat bangunan lain yang tidak kalah penting yaitu Istana Kampong Glam atau yang lebih dikenal dengan Malay Heritage Centre. Bangunan ini menyimpan jejak catatan sejarah dan materi budaya bangsa Melayu di Singapura serta dilengkapi dengan catatan kontribusi mereka terhadap pembangunan negara Singapura. Selain itu, bangunan ini juga menampilkan koleksi artefak-artefak, mural dan tampilan multimedia di sembilan galeri yang terdapat di dalamnya. Secara eksterior, tempat ini juga memiliki halaman yang cukup luas dan terjaga yang menjadi keindahan tersendiri di tempat ini.

Gedung Malay Heritage Centre yang berarsitektur Melayu

Masjid Sultan Dari sekian banyak tempat yang ada di Kampong Glam, terdapat salah satu bangunan termegah yang menjadi landmark dan juga simbol keberadaan umat Islam di Singapura yakni Masjid Sultan (Sultan Mosque). Masjid Sultan merupakan masjid pertama di Singapura dan telah berdiri sejak tahun 1826. Banyak yang tidak tahu bahwa struktur awal masjid ini dibangun oleh masyarakat Jawa yang pada saat itu menjalankan aktivitas perdagangan dengan masyarakat Arab, Boyan, dan Bugis sebelum kedatangan saudagar Tionghoa. Masjid ini juga telah mengalami beberapa kali renovasi dan perubahan supaya dapat menampung lebih banyak jemaah. Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren ialah perancang bentuk yang sekarang dapat kita lihat di Kampong Glam. Masjid ini mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang sebelumnya bergaya arsitektur Indonesia, Hingga kini Masjid Sultan Singapura menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung mencapai 5000 jemaah.

Kemegahan Masjid Sultan di Kampong Glam

34 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Kampong Glam dipenuhi oleh berbagai jajanan street food khas Melayu dan Timur Tengah

Kuliner Selain menyimpan keindahan dan keunikan lewat warisan bangunan heritage-nya, jiwa kawasan Kampong Glam juga diisi oleh variasi makanan tradisional nan lezat dengan menu-menu spesial islam khas Melayu dan Timur Tengah seperti nasi lemak, prata, bahkan masakan khas Indonesia seperti rumah makan khas Minang, nasi padang sampai satay Jawa Timur pun juga terdapat di bantaran sepanjang jalan kawasan Kampong Glam. Begitulah keadaan wajah Kampong Glam yang dapat kita lihat pada saat ini. Sekarang Kampong Glam telah menjadi salah satu pusat belanja yang sangat menarik untuk dikunjungi. Suasana megah nan klasik ala Islamic memberikan suasana ruang arsitektur tersendiri di kawasan Kampong Glam ini. Tidak hanya memanjakan pengunjung, tempat ini juga memberikan jaminan yang baik terhadap pendapatan masyarakat yang tinggal dan telah lama menjadi warga di sana.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

35


/DESIGN/LOCAL

Text by A Christian Pratama Putra Photos by Diah Hanityasari and courtesy of @AsiaWebDirect

Ketika kita menyusuri Kampong Glam yang merupakan pusat bagi kaum muslim yang berasal dari Malaysia dan Timur Tengah, kita akan menemui salah satu gang dengan lebar sekitar empat meter yang berisikan deretan ruko-ruko dengan arsitektur dan ornamen bergaya vintage. Adalah Haji Lane, salah satu tempat wisata populer yang selalu menjadi primadona bagi para turis maupun masyarakat lokal di Singapura. Haji Lane sendiri mempunyai latar belakang sejarah yang mana dulunya berfungsi sebagai rumah-rumah bagi kaum miskin Melayu. Selain itu, Haji Lane juga menjadi tempat singgah bagi kaum muslim khususnya orang Melayu yang ingin melaksanan ibadah haji ke Mekkah melewati pelabuhan Singapura (Port Singapore). Hal itulah yang akhirnya melatar belakangi terbentuknya nama ‘Haji Lane’ yang mempunyai makna sebagai jalur yang akan dilewati untuk menunaikan ibadah dan menjadi seorang Haji. Haji Lane sekarang telah menjadi salah satu situs heritage yang berkembang cukup pesat hingga menjadi pusat perbelanjaan yang banyak dikunjungi. Ketika pertama kali melihat tempat ini dari kejauhan, mungkin kita akan mengira bahwa ini hanyalah tempat sederhana yang berisi deretan ruko-ruko biasa dan tidak spesial sama sekali, namun semua pandangan itu akan berubah

ketika kita mulai menelusurinya. Suasana ramai dan berwarna akan bisa kita lihat dan rasakan di sepanjang jalan. Haji Lane dipenuhi oleh bangunan rumah sekaligus toko dengan arsitektur dan ornamen bergaya boehemian vintage maupun scandanavian yang berderet di sepanjang jalan. Hal menariknya ialah bangunanbangunan yang sudah berumur puluhan tahun ini dapat didekorasi dengan sangat indah karena setiap pemilik toko akan berlomba-lomba untuk memberikan sentuhan warna-warna tersendiri sebagai cara untuk menunjukkan identitas toko mereka. Selain itu, di beberapa bangunan yang hanya berupa tembok karena mempunyai orientasi sejajar jalan dan terletak di ujung Haji Lane dihiasi dengan lukisan-lukisan mural yang merupakan karya seniman-seniman lokal.

Dinding bangunan di Haji Lane dengan mural berwarna-warni

36 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


HAJI LANE

KEMEWAHAN BERSELIMUT WARNA-WARNI KEBUDAYAAN Selain keunikan dari segi arsitekturnya, hal menarik lain dapat kita temui dari benda-benda yang dijual disetiap toko. Bahwa di balik kesederhanaan yang ditampilkan melalui bangunan-bangunan tua nan berwarna tersebut, Haji Lane menyimpan barang-barang antik dan mewah karya para desainer lokal yang menjadi barang dagangan toko-toko di sepanjang jalan ini. Hampir semua benda seperti kebutuhan-kebutuhan fashion, pernak-pernik, furniture hingga mainan yang dijual merupakan barangbarang unik dan berbeda yang belum tentu dapat kita temui di tempat-tempat lain. Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan kenapa harga barang yang ditawarkan seringkali menjadi cukup tinggi. Suasana menyantap makanan mulai dari makanan ringan, makanan utama sampai hanya sekedar menikmati secangkir kopi pun menjadi sangat spesial karena

Haji Lane sebagai tempat lahirnya desainer-desainer lokal

sebagian besar kafe ataupun restoran yang berada di Haji Lane menyediakan outdoor space sehingga kita dapat menikmati hiruk pikuk suasana Haji Lane yang menjadi salah satu karakter utama di sepanjang jalan ini. Beberapa hal mulai dari arsitektur, mural, barang dagangan dan suasana kafe inilah yang menjadikan Haji Lane sangat spesial di mata para pengunjung. Baik bagi mereka yang memang ingin berburu barang-barang unik ataupun hanya sekedar menelusuri jalan sambil berfoto tetap menjadi pengalaman yang akan menyenangkan karena banyak sekali spot-spot photogenic di sepanjang jalan Haji Lane. Suasana unik, ramai, berbeda dan mempunyai kesan sebagai suatu pusat perbelanjaan yang diselimuti bangunan-bangunan tua nan berwarna inilah yang tidak ada di tempat-tempat lain dan hanya dapat ditemui di Haji Lane.

Setiap toko yang memiliki ciri khas warna tersendiri

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

37


/DESIGN/LOCAL

SKYVILLE DAWSON SINGAPORE’S FIRST URBAN HOUSING

38 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Text by Yoseph Duna S Photos courtesy of CTBUH


Berhasil menggapai cita-citanya yaitu “Becoming a City in a Garden�, kini Singapura mendapat julukan Garden City. Bahkan bangunan high-rise pun didesain dengan memasukkan elemen-elemen hijau agar dapat turut andil menjadikan negara ini terintegrasi dengan lingkungan alami. SkyVille @Dawson dirancang oleh WOHA Architect dan menjadi bangunan urban housing pertama serta tertinggi di Singapura. SkyVille dapat menampung hingga 960 unit rumah tinggal, sebagaimana menjadi respon atas kepadatan penduduk di Singapura serta memenuhi kebutuhan tempat tinggal terhadap warga asli Singapura maupun pendatang. Yang membuat SkyVille menjadi bangunan public housing adalah karena WOHA menggunakan pendekatan komunitas dalam merancang bangunan ini. Adapun pendekatan desain yang digunakan adalah: Community, Variety, dan Sustainability.

Sky Garden sebagai ruang publik

Area Sirkulasi yang berada di tengah bangunan

Community Suasana perkampungan dan pedesaan memiliki rasa kesatuan yang intim dan kuat antarwarganya, dan sepertinya inilah konsep utama yang ingin dihadirkan oleh WOHA dalam merancang bangunan public housing ini. Setiap 11 lantai di SkyVille terdapat Sky Terrace yang memisahkan antarblok satu dengan blok lainnya, di mana pada satu blok terdapat 80 rumah. Sky Terrace berupa taman yang bersifat semi terbuka yang ditujukan untuk menjadi ruang komunal bagi penghuni yang terdapat di lantai 3, 14, 25 dan 36. Ruang ini dapat dimanfaatkan sebagai area untuk berolahraga, berjalan-jalan dengan anjing peliharaan, untuk mengadakan pesta kecil-kecilan, atau sekedar untuk menghirup udara segar dan ngobrol dengan tetangga. Selain itu disediakan community living room yang berada di lantai 1 dan memiliki pemandangan langsung ke arah taman di luar.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

39


/DESIGN/LOCAL

Ruang-ruang yang menyediakan balkon yang cukup luas

Sustainability Pendekatan Greenery adalah salah satu elemen yang paling menonjol pada bangunan Skyville, yaitu Public Skypark yang berupa taman pada lantai atap bangunan seluas 1,5 hektar. Seluruh atap dipenuhi dengan elemen hijau untuk mendatangkan suasana taman yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Public Skypark buka selama 24 jam dan memiliki fasilitas jogging track sepanjang 400 meter. Pada area ini terdapat sheltershelter sebagai area peneduh di mana pada atapnya dilengkapi dengan photovoltaic. Energi matahari yang diserap oleh photovoltaic dikonversi dan dimanfaatkan sebagai penerangan di beberapa tempat. Selain itu terdapat bioswale yang berfungsi untuk mengontrol air hujan dan kemudian diolah untuk kemudian dialirkan untuk menyirami taman dan vegetasi pada Public Skypark. Sistem pembuangan juga sangat diperhatikan dengan adanya pemisahan antara sampah organik dan sampah yang dapat diolah kembali.

40 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Variety Untuk menamberikan variasi, ditawarkan beberapa layout kamar yang berbeda di setiap unitnya sesuai dengan kebutuhan penghuni rumah. Kamar di SkyVille menekankan pada fleksibilitas di mana di setiap kamar tidak terdapat kolom di tengah-tengah ruangan dan balok pada langitlangit sehingga setiap kamar sangat fleksibel jika ingin di tata ulang.

Public Skypark yang berupa taman pada lantai atas


Bangunan keseluruhan yang berorientasi utara-selatan

Strategi desain pasif juga sangat diterapkan pada bangunan ini. Setiap unit rumah menghadap ke arah utara dan selatan di mana kedua sisi tersebut memiliki akses keluar berupa jendela dan ventilasi untuk memasukkan cahaya matahari dan udara ke dalam bangunan yang biasa disebut sistem cross ventilation. Untuk menghalangi sinar matahari yang terik di jam tertentu, terdapat sunbreaker vertikal dan horizontal pada dinding untuk menghalangi sinar yang masuk. Hasilnya, ruangan di dalam kamar tetap sejuk meskipun tidak menggunakan air conditioner. Selain itu, tempattempat umum seperti lobby, tangga, lift, dan koridor memiliki akses untuk memasukkan cahaya alami. Selain semua fasilitas tersebut, di SkyVille ini juga terdapat Plaza yang memuat fasilitas-fasilitas untuk

memenuhi kebutuhan penghuni, seperti: Supermarket, kedai kopi, fasilitas penitipan anak, halte bus yang kesemuanya itu dapat diakses dengan mudah. SkyVille @ Dawson juga berhasil meraih penghargaan BCA Platinum Green Mark yang mana merupakan penghargaan bangunan hijau paling bergengsi di Singapura. Skyville @Dawson telah menjadi bukti nyata bahwa konsep komunitas dan bangunan berkelanjutan dapat diintegrasikan secara nyata ke dalam sebuah bangunan high-rise building. Dengan lahan yang terbatas, sebuah ‘desa’ dan interaksi antar penghuninya dapat menjadi bagian dari elemen yang sangat substansial dari sebuah public housing.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

41


/DESIGN/LOCAL

NATIONAL GALLERY OF SINGAPORE

KOLABORASI ANTARA DUA MASA DAN DUA DUNIA Text by A Christian Pratama Putra Photos by A Christian Pratama Putra and courtesy of Nationalgallery.sg

Terletak di pusat kota dan dekat dengan pusat pemerintahan, Galeri Nasional Singapura menjadi salah satu bangunan bersejarah yang sangat penting bagi Singapura. Galeri Nasional Singapura terletak di St. Andrew’s Road, berdekatan dengan Gereja St. Andrew dan berhadapan dengan tempattempat wisata yang sangat banyak dikunjungi seperti Marina Bay Sands, Artscience Museum, patung Merlion dan berbagai tempat wisata lainnya. Hal ini menjadikan Galeri Nasional Singapura sebagai salah satu agenda wajib bagi para wisatawan yang datang ke Singapura. Galeri Nasional Singapura adalah salah satu galeri dengan koleksi karya seni terbesar di dunia yang menyimpan hampir 8000 karya yang berasal dari Singapura dan Asia Tenggara. Galeri ini berfokus pada karya-karya kesenian dan kebudayaan, warisan, serta karya-karya yang menjadi hubungan antara Singapura dengan negara-negara Asia Tenggara lain. Sebagai Galeri Nasional, bangunan ini juga memiliki beberapa tujuan untuk berbagai kepentingan penelitian, pameran, juga sebagai sarana untuk mempromosikan karya-karya lokal.

42 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

43


/DESIGN/LOCAL

Pada mulanya, bangunan Galeri Nasional Singapura adalah dua bangunan yang mempunyai massa dan fungsi yang berbeda. Bangunan yang lebih tinggi adalah bekas gedung Mahkamah Agung serta bangunan yang lebih panjang dan luas dulunya dipakai sebagai balai kota. Saat itu, kedua bangunan masih berdiri sendiri-sendiri. Bangunan gedung Mahkamah Agung adalah bangunan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris. Bangunan yang memiliki tata ruang, fasad serta ornamen yang mencerminkan arsitektur bergaya british colonial. Bangunan ini memiliki tata ruang yang meliputi beberapa blok ruangan-ruangan kantor yang mengelilingi suatu ruang keseluruhan di tengah yang disebut rotunda dengan bentuk dome di bagian langit-

langitnya. Tata ruang yang mempunyai sirkulasi mirip seperti bangunan perpustakaan hukum. Memperhatikan fasad, dapat dilihat juga beberapa kolom korintian dan ionik yang merupakan cikal bakal arsitektur Yunani dan Romawi serta beberapa patung dan ukiran hasil karya seniman Italia yaitu Cavaliere Rudolfo Nolli. Sementara itu, bangunan yang satu lagi ialah bangunan yang merupakan bekas balai kota dan digunakan sebagai kantor bagi dewan kota dan departemen pemerintahan. Bangunan ini lebih mencerminkan karakter arsitektur neoclassical british dengan fasad yang dihiasi oleh 18 kolom korintian yang berdiri di antara tiga lantai, namun dengan tata ruang dalam yang bergaya lebih sederhana dan proporsional.

Suasana interior dengan konsep yang modern minimalis

44 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Interior bangunan yang menyatukan bangunan bekas balai kota dan bangunan Mahkamah Agung

Asal Mula Proyek Adalah hasil suatu Sayembara Arsitektur yang diadakan pada 23 Februari 2007 oleh kementrian informasi, komunikasi, dan seni Singapura (MICA) yang akhirnya menunjuk satu pemenang proyek yakni biro arsitektur asal Prancis Milou Architecture yang juga memiliki kantor di Singapura. Milou Architecture mengusung konsep fasad seperti tutup kanopi yang dipasang dengan arah diagonal sebagai atap dan juga tirai yang ditopang oleh kolom berbentuk seperti pohon dengan ranting-rantingnya untuk menghubungkan kedua gedung. Desain atap dan dinding yang ditutupi dengan kaca transparan seperti kanopi ini juga menjadi sebuah ruang yang sangat luas diisi oleh lantai besmen tambahan. Lantai tambahan ini juga memiliki tangga untuk menghubungkan pintu di lantai satu bangunan balai kota dan pintu di lantai tiga

bangunan Mahkamah Agung. Kedua bangunan juga diberikan fungsinya sendirisendiri yakni gedung bekas balai kota memajang karya-karya mulai dari lukisan, patung, instalasi hingga beberapa video dan karya-karya lain yang khusus berasal dari Singapura. Sementara itu, menyebrang ke bangunan bekas Mahkamah Agung yang dihubungkan dengan jembatan dengan pola kayu dikhususkan sebagai area yang memajang karya-karya dari negara-negara Asia lain. Karya-karya yang ditampilkan juga bervariasi mulai dari lukisan tradisional dari Cina sampai koleksikoleksi kesenian abstrak yang mulai menjadi tren dan dianggap jenius di masa modern sekarang. Galeri ini juga menampilkan seleksi-seleksi karya yang bernuansa eklektik dari beberapa seniman asal Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Kamboja.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

45


/DESIGN/LOCAL

Salah satu karya seni patung yang menyambut kedatangan pengunjung di pintu depan

Kolaborasi antara gaya kolonial British dengan gaya modern minimalis

46 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Interior ruang yang memajang beberapa karya foto dari Singapura yang fenomenal


Bangunan keseluruhan yang berorientasi utara-selatan

Setelah proses pembangunan selesai, galeri ini pun mulai dibuka pada 24 November 2015. Galeri ini menampilkan hasil karya dari Singapura dan beberapa negara Asia Tenggara lain dari abad 19 sampai sekarang. Lewat koleksinya, dapat dilihat beberapa karya yang dapat merepresentasikan proses pengembangan negara, budaya dan cerita-cerita mengenai sejarah kehidupan sosial, ekonomi dan politik Singapura. Secara interior, bangunan ini tanggap terhadap zaman dan memiliki desain yang lebih sederhana dan modern di beberapa ruang, namun ada juga beberapa ruangan yang memang sengaja dibuat bernuansa klasik untuk menggambarkan suasana asli arsitektur peninggalan Inggris ini.

Hal ini membuktikan bahwa Galeri Nasional Singapura telah menjadi pemersatu yang unik dan bisa diterima dengan menggabungkan dua unsur yang berbeda, mulai dari dua bangunan dengan massa dan fungsi berbeda sampai dua gaya dengan zaman yang berbeda. Galeri Nasional Singapura berhasil membuat bangunan mahkamah agung dan balai kota menjadi satu kesatuan fungsi galeri seni yang sangat indah dan membuat suatu harmoni yang seimbang dengan membuat inovasi baru melalui material, gaya, dan bentuk yang menyesuaikan kebutuhan dan selera akan zaman di masa modern namun tetap menghormati nilai-nilai sejarah searah dengan karakter museum yang akan terus menyimpan karya-karya Singapura dan Asia Tenggara dari masa lalu hingga masa sekarang.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

47


/DESIGN/LOCAL ART CONNECTOR

AN UNIQUE AND LASTING TRIBUTE TO DIVERSITY OF SINGAPOREAN

Text by Dhanni Novianto Photos by Gilang Pidianku, courtesy of FARM and various sources

Art Connector, simbol akan keberagaman

Art Connector merupakan salah satu hadiah dari The National Gallery Singapore yang dipersembahkan untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan negara Singapura. Jalur pejalan kaki yang dikemas dengan nilai estetika tinggi ini menghubungkan City Hall MRT sepanjang North Bridge Road dan Coleman Street hingga menuju ke bagian entrance The National Gallery Singapore. Satu tujuan dengan peringatan kemerdekaan Singapura ke 50 atau di singkat SG50, National Gallery merencanakan dasar dari desain Art Connector dengan mengambil inspirasi dari keberagaman kreativitas yang dituangkan masyarakat Singapura melalui berbagai komunitas. Art Connector bertujuan utama menghubungkan bangunan dengan pengguna dan lingkungan sekitarnya.

48 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Asal Mula Proyek Gagasan dari Art Connector berawal dari konsep Ground. Ground atau Tanah diartikan sebagai pondasi utama suatu negara dan juga masyarakat Singapura. Konsep Ground ini juga diartikulasikan dengan material yang sebagian besar digunakan sebagai pembuatan perkerasan, yang juga menampilkan ragam pola dan tekstur dari material yang digunakan dalam pembangunan di Singapura serta lingkungan alami seperti beton, tanah liat, iron oxides, granite, kuarsit, marmer, batu kapur, pasir dan batu bata. Di atas Ground juga masyarakat Singapura dengan keberagamannya mendirikan bangunan rumah sebagai tempat tinggal.


Konsep Ground yang mengintegrasikan pengguna, lingkungan dan bangunan bersejarah disekitarnya

Konsep Ground Art Connector pada dasarnya mencerminkan penghubung yang menitikberatkan pada pembangunan di tanah Singapura. Ground mengandung jutaan partikel dan unsur geological yang alami kemudian diolah dan diproses menjadi material yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Terlebih lagi, keberadaan dari Art Connector ini sebagai penghargaan atas jasa dan kesadaran masyarakat yang berani mempertaruhkan kemampuan mereka dan terlibat dalam pembangunan di negara Singapura. Direpresentasikan melalui tampilan visual yang menegaskan tentang perbedaan sistem, proses dan perantara yang bersatu untuk menciptakan lapisan masyarakat yang tadinya tak terlihat hingga kini akhirnya berdiri dengan setara. Dengan kata lain, dasar dari ide Art Connector diambil dari keadaan nyata masyarakat di Singapura.

Mini Gallery yang menampilkan mural dan sketsa potret

Pola perkerasan pada Art Connector

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

49


/DESIGN/LOCAL The Potraits of the People Menggambar potret diri pribadi dapat menjadi suatu tren yang menggantikan tren selfie. Hal tersebut merupakan respon yang diperoleh dari event Portraits of the People yang dimulai sejak November 2015 lalu. Portraits of the People merupakan salah satu event yang diadakan The National Gallery Singapore untuk memperingati 50 tahun Singapura. Sebagian besar hasil dari sketsa self-portrait akan diabadikan di jalur pejalan kaki, Art Connector sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi warga dalam mengabdikan dirinya bagi negara Singapura.

Kanopi yang merefleksikan objek di bawahnya

Portrait of people

Selama acara berlangsung peserta dari the Portraits of the People akan difasilitasi tablet dan dipandu dalam menggambar sketsa diri pribadi. Dengan melakukan selfsketching yang kemudian diabadikan pada Art Connector, diharapkan masyarakat semakin memiliki ketertarikan dan kedekatan akan hadirnya The National Gallery Singapore yang merupakan simbol akan keberadaan seni. Seni membantu manusia untuk memahami dirinya, sesamanya, dan dunianya. Melalui Portraits of the People seluruh lapisan masyarakat Singapura memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan menuangkan kreativitas mereka. Self-sketching akan diukir pada permukaan bermaterial tembaga. Portraits of the People dan Art Connector menjadikan keberadaan seni akan selalu diingat dan lebih dihargai oleh seluruh kalangan masyarakat di Singapura.

Sketsa potret yang diabadikan di Art Connector

50 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Iconic Cloud-like Canopy Hal lain yang tak kalah menarik dari Art Connector adalah kanopi atau atap peneduh yang bergelombang mengambil konsep bentuk awan. Material dari kanopi ini adalah stainless steel sehingga tampak merefleksikan objek yang ada di bawahnya. Pada malam hari kanopi ini seperti mengeluarkan cahaya karena merefleksikan lampu-lampu kecil yang ditanamkan pada jalur pejalan kali di bawahnya, menjadikan situasi di sekitar semakin padu dan gemerlap. Kanopi juga mengintegrasikan pemandangan sekitar dengan historical monument yang berada pada Civic District tersebut. Kanopi disertai dengan kolom-kolom organik yang disusun secara rapi sehingga menimbulkan jiwa seni dan nilai estetika pada shelter jalur pedestrian ini.

Kanopi yang bergelombang menyerupai awan


The Community Mural Terdapat 4 buah mural yang terpasang di sepanjang jalur Art Connector ini dan desainnya terinspirasi dari lagu kebangsaan Singapura. Mural pertama “Regardless of Race, Language or Religion” mural yang didesain oleh Koh Hong Teng bermotif beragam tanaman dan bunga yang melambangkan sistem sosial negara Singapura yang kaya akan keberagaman. Motif yang terinspirasi dari batik ini bertujuan menginspirasi masyarakat Singapura untuk senantiasa tumbuh dan bersatu. Mural selanjutnya “To Build A Democratic Society” karya Tan Zi Xi menggambarkan individualisme yang berasal dari beragam lapisan masyarakat di mana mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan mengekspresikan diri. Mural ini adalah perwujudan akan kebebasan untuk mendengar, berbicara, melihat dan berpikir yang merupakan komponen penting dalam masyarakat yang demokratis. Mural ketiga “Based On Justice And Equality” karya Michael NG menggambarkan, masyarakat Singapura sebagai individu di samping melakukan hal kecil yang mereka lakukan sehari-hari juga memungkinkan mereka untuk tetap berkomitmen menjunjung tinggi dan mempertahankan keadilan dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat. Dan mural yang terakhir karya Soh Ee Shaun “So As To Archive Happiness, Prosperity And Progress For Our Nation” menyimbolkan bahwa kebahagiaan dapat berasal dari saat kita berusaha mencapai tujuan kita, saat berproses dan saat menjalani hidup sepenuhnya. Motif berbentuk pelangi merupakan simbol akan kebahagiaan, harapan dan keoptimisan menghadapi masa depan negara Singapura.

Salah satu mural dengan motif pelangi

Information Board yang mendeskripsikan Art Connector

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

51


/DESIGN/LOCAL

Experiencing the Art Connector Berkunjung ke Art Connector, kesan saat menjejakinya adalah merasa nyaman. Selain fungsi utamanya sebagai jalur pejalan kaki dengan lebar sekitar 3,5meter, Art Connector yang juga sebagai mini gallery mampu mengakomodasi pengunjung yang berjalan kaki dan juga yang melihat gallery maupun yang duduk bersantai. Mini gallery menampilkan portrait sketsa masyarakat Singapura yang dipahat di sepanjang jalur ini, juga terdapat Artwork dari beberapa seniman di Singapura. Disediakan area tempat duduk di beberapa sisi jalan sehingga tidak menguruangi nilai seni yang berusaha ditampilkan di jalur pejalan kaki ini. Perkerasan yang digunakan membentuk pola dengan ragam warna yang mampu menambah kenyamanan saat berada di Art Connector. Terlihat kesadaran masyarakat dengan tidak membuang sampah sembarangan di sepanjang jalur Art Connector. Bisa dikatakan Art Connector ini tidak beralih fungsi dari fungsi utamanya sebagai jalur pejalan kaki yang mengintegrasikan antara pengguna dan bangunan yang memiliki nilai sejarah di sekitanya, yaitu Katedral Saint Andrew dan National Art Gallery. Art Connector ini juga sangat ramah bagi difabel. Akses menuju jalur pedestrian Art Connector ini mudah dicapai karena selain mudah ditangkap mata, pejalan kaki dari sebrang jalan dapat mengaksesnya langsung dari zebra cross. Kanopi yang melingkupi seluruh sisi jalan juga mampu melindungi pengguna dari panas matahari saat siang hari dan hujan saat musim hujan. Soal keamanan di Art Connector ini telah dipasangi fasilitas CCTV guna memantau tindakan kejahatan di tempat ini sehingga memberi rasa percaya bagi mereka yang melewatinya. Walaupun banyak digunakan sebagai tempat nongkrong pada siang maupun malam hari Art Connector sangat terjaga kebersihannya. Warga Singapura dengan sadar diri membuang sampah pada tempat sampah yang telah disediakan, hal inilah yang menjadi nilai plus tempat ini. Art Connector menciptakan topografi baru dengan menyatukan landscape fisik, kesan individu, bangunan bersejarah dan kenangan.

Suasana Art Connector pada malam hari

Project : Art Connector Size : 2,100 square metres Location : Singapore Year : Completion 2015 Type : Culture, Sculpture Services : Architecture

52 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Award Team Collaborators

: Winner of The Art Connector Competition (Invited) : Peter Sim, Kenneth Koh, Cheung Yuting (FARM) : Grace Tan, Dr. Lilian Chee

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

53


/DESIGN/LOCAL

BISHAN-ANG MO KIO PARK

BRING NATURAL ELEMENTS TO THE CITY Text by Chrispina Yovita Putri Photos by Diah Hanityasari and courtesy of Ramboll Studio Dreiseitl Pte Ltd

54 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

55


Taman merupakan elemen penting dalam eksistensi sebuah kota. Selain berfungsi sebagai ruang terbuka hijau untuk drainase dan paru-paru kota, taman juga menjadi fasilitas komunal yang memegang fungsi penting untuk menjadi activity generator bagi masyarakat sehingga taman menjadi fasilitas komunal sebagai sarana bersosialisasi. Singapura adalah salah satu negara yang menerapkan prinsip garden city. Dalam perkembangannya, konsep ini ditransformasikan menjadi istilah “city in a garden”. Dengan konsep ini, pemerintah Singapura berusaha untuk menaikkan jumlah area hijau yang ada secara signifikan, salah satunya dengan taman kota. Perluasan area hijau pun juga dibarengi dengan pembukaan area tersebut menjadi area yang dapat diakses publik sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.

56 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Complete Amenities in A Park Bishan-Ang Mo Kio Park merupakan taman yang terletak di perbatasan dua daerah di Singapura, yaitu Bishan dan Ang Mo Kio. Dengan luas taman mencapai 62 hektar, taman ini menyediakan tiga fasilitas taman tematik: Bubble Playground, Water Playground dan Adventure Playground. Bishan Park juga menjadi sarana untuk water treatment dengan teknologi cleansing biotope menggunakan teknik filtrasi seperti akuarium untuk membersihkan air sekaligus menjadi elemen lansekap. Dengan memompa air ke atas lalu diturunkan lagi melalui filter media seperti pasir yang menyebabkan air menjadi lebih bersih. Terdapat pula fasilitas food and recreation, riverside gallery serta “Recycle Hill” yang merupakan bukit buatan hasil recycling beton pada concrete canal yang telah dihancurkan untuk membuat sungai alami pada Bishan Park yang sekarang. Selain itu ada juga fasilitas foot reflexology zone dan dog run. Berbagai fasilitas yang ada dan lengkap pada BishanAng Mo Kio Park ini menambah nilai Singapura untuk menjadi salah satu most livable city di dunia.


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

57


/DESIGN/LOCAL

(Kiri) Kondisi sungai beton pada Bishan-Ang Mo Kio Park sebelum direnovasi From Concrete Canals to Natural River Dulunya sungai Kallang yang melintasi area Bishan Park adalah sungai dengan perkerasan beton. Kondisi lingkungan sekitar juga menjadi tidak menarik karena sungai hanya diposisikan sebagai air yang mengalir tanpa ada aktivitas apapun pada sepanjang aliran sungai. Selain tidak menarik, ternyata jenis sungai beton seperti ini dinilai tidak berhasil dalam fungsi drainase. Beton yang digunakan menjadi penghalang air untuk dapat diserap oleh tanah sehingga jika hujan lebat dan debit air bertambah drastis, sungai akan meluap dan menyebabkan banjir. Semenjak saat itu, mulai dipikirkan berbagai cara untuk menanggulangi banjir dan menambah nilai dari saluran drainase itu sendiri. Metode yang dipilih akhirnya adalah menggabungkan fungsi taman dan drainase sebagai dua fungsi yang saling terintegrasi sehingga permasalahan banjir dapat lebih teratasi, yang diimplementasikan dengan membuat sungai alami pada Bishan Park dengan slope dan meander yang akan menambah debit yang dapat ditampung oleh sungai. Untuk membangun natural river ini, concrete canal sebelumnya harus dihancurkan. Conrete canal yang dihancurkan ini kemudian di-recycle untuk menjadi struktur pembangunan natural river. Dengan natural river yang dapat diakses oleh masyarakat, sungai menjadi tempat yang ramah dan lebih hidup.

58 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


(Kanan) Skema transformasi concrete canal menjadi natural river Blue-Green Infrastructures Yang selama ini masih banyak digunakan adalah old paradigm, yaitu pembangunan urban fabric tanpa memperhatikan green space, yang berefek pada biodiversity loss. Penataan ruang terbuka hijau pada umumnya juga hanya memikirkan satu sektor, yaitu mengenai green infrastructure saja, yaitu mengenai vegetasi dan ruang hijau. Pemikiran ini merupakan paradigma lama yang perlu diperbaharui. Untuk menata ruang terbuka hijau perlu dipikirkan blue infrastructure, yaitu mengenai aspek air dan drainase. Blue-green infrastructure (BGI) atau sustainable urban drainage perlu diimplementasikan untuk menyeimbangkan ekologi karena jika kedua aspek ini diintegrasikan akan memperkuat ekosistem urban. BGI merupakan salah satu metode untuk mewujudkan kota yang liveable, sustainable dan resilient. Pada implementasi mikronya, semua bangunan diusahakan untuk memiliki green roof untuk mengurangi kecepatan air hujan ke saluran drainase supaya tidak terjadi banjir secara tiba-tiba. Drainase dijadikan unsur hijau juga untuk mengembalikan resapan air tanah.

Impact for Urban Area Saat sungai pada Bishan Park masih berupa concrete canals, harga properti pada area sekitar taman anjlok karena view yang ditawarkan tidak menarik. Namun setelah Bishan Park melakukan transformasi dengan menghadirkan elemen sungai alami, penataan dan fasilitas taman yang lengkap, harga properti di sekitar Bishan Park naik drastis. View yang dihadirkan pada taman ini ternyata dapat memberi nilai plus yang sangat besar pada berbagai aspek.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

59


/DESIGN/ALUMNI

ANTON SIURA

ARCHITECTURE THROUGH LANDSCAPE Text by Chrispina Yovita Putri Photos courtesy of LOOK Architects

60 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Punggol Promenade, salah satu proyek Mas Anton saat bekerja di LOOK Architects

Arsitektur lansekap merupakan salah satu disiplin ilmu dalam arsitektur yang secara spesifik menangani proyek dalam skala yang lebih luas, yaitu kawasan. Pada edisi ekspedisi Tim Arçaka ke Singapura, kami berkesempatan untuk bertemu dengan salah satu alumni FT-Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Anton Siura. Selama sepuluh tahun terakhir ini Mas Anton bekerja di Singapura. Yang menarik, Mas Anton memiliki ketertarikan dalam bidang arsitektur lansekap sehingga proyek-proyek yang ditangani merupakan proyek penataan kawasan dalam lingkup yang lebih luas. Pada rubrik ini kami akan mengulas beberapa proyek landscape yang pernah ditangani oleh Mas Anton.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

61


Punggol Promenade and SUTD Housing & Sport Complex Pada pengalaman bekerjanya di LOOK Architects, Anton Siura mendapat pekerjaan secara full untuk pertama kali dalam proyek Punggol Promenade. Punggol Promenade merupakan proyek desain arsitektur lansekap yang terletak di area waterfront SIngapura. Proyek ini terletak di daerah yang sebelumnya terkenal dengan komunitas ‘kampong’ yang masih mempertahankan budaya bercocok tanam. Di samping itu, daerah ini merupakan salah satu situs bersejarah yang menjadi saksi bisu Perang Dunia ke-II. Punggol Promenade Park merupakan waterfront landscape yang menyediakan jalur pedestrian sepanjang 4.9 kilometer sebagai konektor Punggol Waterfront Town, yang terletak di sekitar area urban. Aplikasi material sustainable diterapkan pada proyek ini seperti: GRC stimulated timber dan laterite sehingga mendapat predikat Silver Award pada Design For Asia Awards 2012.

62 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


SUTD Sports Complex Why Landscape Architecture? Menurut Anton, proyek pertama sebagai arsitek merupakan hal yang penting. Hal ini menjadi penting karena dalam masa-masa awal bekerja, arsitek junior akan belajar banyak mengenai desain dan mulai menemukan passion untuk mengerucut ke mana. Anton sendiri merasa tertarik pada arsitektur lansekap karena mengerjakan Punggol Promenade, proyek lansekap pertamanya. Bagi Anton mengerjakan proyek lansekap memiliki kebahagiaan sendiri, yaitu dengan melihat orang-orang berdatangan ke taman dan beraktivitas dengan bahagia di sana.

CAREER TIMELINE 2001 - 2006 Jan - Sept 2007 2008 - 2013 2013 - now

Bachelor Degree of Architecture, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Junior Architect at PT Dwimanunggal Sentragraha Associate at LOOK Architects Pte Ltd Associate at Ramboll Studio Dreiseitl Pte Ltd

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

63


/DESIGN/WORLDWIDE

AYASOFYA MÜZESI BYZANTINE DOME

64 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Text and photos by Alvin Wahyu Putra Praditya

History

Hagia Sophia merupakan sebuah peninggalan besar kekaisaran Byzantium yang menjadi bagian dari kekuasaan Konstantinopel (Ibu Kota Romawi Timur). Masyarakat Turki sebagai penduduk asli sering menyebutnya dengan nama ‘Ayasofya’. Pada masanya, Ayasofya menjadi sebuah induk rumah ibadah bagi masyarakat Kristen Ortodoks Konstantinopel. Pada tahun 537 M atas prakarsa dari Kaisar Justinian Byzantium, seorang Fisikawan dan Anthemius bernama Isidorus, merancang sebuah bangunan bentang lebar dengan kubah berukuran besar yang melingkupi pusat bangunan tersebut. Ayasofya berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kebijaksanaan Suci. Hal tersebut menunjukkan keagungan serta kemuliaan dari sebuah bangunan yang menjadi rumah ibadah. Dibangun pada tahun 537 M, Ayasofya berfungsi sebagai Gereja selama 916 tahun, kemudian beralih fungsi menjadi Masjid selama 481 tahun (Sejak Kekaisaran Ottoman menguasai). Sampai saat ini Ayasofya digunakan sebagai museum dan tempat wisata bagi wisatawan domestik maupun internasional.

Entrance Hall memperlihatkan gaya arsitektur Yunani yang terpampang pada desain order di setiap detail kolom

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

65


Dome and Curve pola struktur interior Museum Ayasofya

Scope and Purpose

Pada tahun 537 M sesuai dengan fungsi awal bangunan sebagai gereja, Ayasofya menampilkan kesan yang agung serta nuansa sakral melalui ornamen interior bangunan. Ornamen Interior tersebut ditunjukkan dengan adanya gambar lukisan Maria dan Bayi Yesus pada salah satu kubah Ayasofya. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Konstantinopel dapat mengagungkan kebesaran Kekaisaran Byzantium seperti halnya mereka mengaggungkan kuasa Tuhan. Era baru dimulai pada 6 April 1453 yang diawali oleh pengepungan wilayah Konstantinopel oleh pasukan Turki Usmani yang dipimpin oleh Sultan Mehmet II. Sultan Mehmet II beserta pasukannya mampu melumpuhkan tembok Konstantinopel dan merebut kota tersebut. Sejak saat itu Ayasofya berubah fungsi sebagai masjid yang pertama di daratan Konstantinopel. Dengan dirubahnya fungsi gereja menjadi masjid, Sultan Mehmet II memerintahkan pembangunan 4 Minaret di sekeliling masjid, serta menambahkan lukisan kaligrafi dan mimbar untuk khotbah pada interior masjid. Pada 3 Juni 1453 Ayasofya resmi beralih fungsi menjadi masjid dan madrasah. Sejak saat itu, gaya bangunan dengan ciri khas kubah menjadi bagian dari sejarah arsitektur islam di seluruh dunia.

66 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Ayasofya Dome the Sultanahmet Central Park

Dome and Curve interior Museum Ayasofya


Ayasofya from the Sultanahmet Central Park

Construction

Keindahan Ayasofya menjadi daya tarik bagi para wisatawan terutama pada saat memperhatikan bentuk kubah dari bangunan Ayasofya. Jika dilihat dari dalam bangunan, seluruh konstruksi dari bangunan Ayasofya belum mengenal sistem beton bertulang ataupun tiang pancang. Dibangun dengan lebar bentang kubah 70 m dan tinggi bangunan mencapai 65 m, Ayasofya memiliki karakteristik bangunan pada era Byzantium dengan memperlihatkan teknologi struktur yang sudah maju pada masa itu. Keunikan lain dari bangunan Ayasofya adalah penyelarasan 4 menara (minaret) menjadi satu kesatuan bangunan yang dibangun pada masa yang berbeda. Pada masa pemerintahan Ottoman, 4 minaret tersebut dibangun oleh arsitek kerajaan yaitu Mimar Sinan. Penerapan konstruksi minoret bangunan Ayasofya merupakan aplikasi struktur tahan gempa yang pertama di dunia. Minoret ini menggunakan material bata merah dan batu marmer putih.

Interior Museum Ayasofya

Architect : Isidorus, Mimar Sinan Location : Istanbul, Turkey Year : 537 M Functions : Cathedral (537-1453), Mosque (1453- 1934), Museum (1943-untill now)

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

67


/ARTSPACE

Hutan Cahaya by A Christian Pratama Putra ARS15

Lorong Bintang by Gilang Pidianku ARS15

68 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Falling Water by The Bay by A Christian Pratama Putra ARS15

Big Artificial Forest by Eric Marvin ARS14

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

69


/ARTSPACE Menggapai Langit by Diah Hanityasari ARS14

Nuansa Tak Tertinggal by Diah Hanityasari ARS14

70 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


NEWater in Harmony by A Christian Pratama Putra ARS15

Chinatown’s Vision by Gilang Pidianku ARS15

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

71


/OPINI

Recently, kampong has become a significant topic in both scientific and popular discussions of many disciplines. Kampong represents one example of genuine model of settlements rooted from the Malay world. Living in kampong is associated with communal living lifestyle. The strong presence of communal lifestyle makes kampong an excellent model of settlement based on community. However, in kampong, everyone and everything are also collided and overlapped to each other in complexity. Kampong is a space and a place where peoples in various ethnicities, social stratifications and diverse political and ideological backgrounds co-exist. Sometimes they are harmonious, but quite often they are also ambiguous and full of conflicts. Kampong is a space and a place where various pattern of economic mode (local, traditional, neoliberal speculation as well as socialist-economic sharing pattern) exist side by side. Physically, kampong is also a space and a place of coexistent for various typomorphological built spaces, both traditional and modern ones and both intentionally planned/designed and organically/spontaneously exist. In short, kampong is almost a perfect miniature of the real urbanity with its complexity. As Bruno De Meulder repeatedly say that kampong is a unique settlement, in which everyone and everything are ‘living together and apart’ in [dis]harmony. Since the physical and the visual image of kampong space articulate the chaotic and the traditional nature of kampong; kampong is frequently being associated with backwardness, lack of civilisation, old and poor. Therefore; kampong is also ironically often being acknowledge as an antithesis of modernity, advanced life and development. For example, an Indonesian phrase of kampungan is being used to address a sense of behaviour or people which is considered as lacks of civilisation and polite manner. Kusno Abidin, an indonesian urbanist and a professor of historian architecture of the UBC, also addressed the way the past Suharto regime employed the backward image of the Jakartan kampong to create a sense of threat and terror upon the middle-class and the upper-class of Jakartan. Meanwhile in Singapore, both the former prime ministers, the late Lee Kwan Yew and Goh Coh Tong addressed kampong as “the past of Singapore needed to be wipe-out from the territory; because they were represented the uncivilised era of Singapore before the modernisation of the country. Therefore, in Singapore context, kampong is a symbol of under-quality living, which is unhealthy, lack of proper living quality, lack of education, lack of control and lack of modernisation.” However, due to the escalating challenge of climate change impacts, cities are requested to have a sustainable quality, covering the sustainable quality in terms of physical, socio-cultural, economic and environmental. Therefore, the contemporary cities feel a need of strong participation of its inhabitants to strengthen cities’ resilience capacity. There is a strong need to build the sense of community among the urbanites in order to empower the city with a more sustainable capacity to deal with the escalating disasters and climate change impacts. There is a strong need to bring cities in the developing countries to be

72 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


more sustainable both physically and socially. Therefore, all eyes are now starringback to the model of kampong and begin exploring the potentiality of kampong as an example of the model of the living community. Even the developed city such as Singapore is now re-learning from the kampong in order to explore a more ideal model of settlements for a more balanced future environment. Kampong becomes a model of living in participation. It provides a possible model on how to create a settlement that is able to contain differences in close proximity. It is a living model of settlements with lifestyle of “living together and apart”; a model of “living in participatory” that is considered potentially able to face the challenge of climate change. In the case of Indonesia, since the major population of Indonesian cities lives in kampong, a need to improve the living quality of kampong is escalating. Due to the fact that more than half of the urban kampong inhabitants of the Indonesian cities are still trapped in poverty, the urgency to empower kampong with better quality both physically and socially increases. A poverty leads the decreasing quality of a kampong both physically and socially. Therefore, poor kampongs need improvements both physically and socially in order to survive from the climate change impact and from the challenge of modernisation; and an intense study needs to be developed in order to tackle this future challenge. Since the professions relevant to architecture, built environmental designers and urban planners have substantial contribution in shaping the physical aspect of the built environments and settlements, attempt to gain knowledge relevant to kampong environments needs to be developed as early as possible. They are the profession that will lead the future of our human settlements. However, these aforementioned professions need to gain knowledge on kampong not only on its physical feature, but also from its soft feature; that is also from its non-physical aspects of kampong. Therefore, to gain both knowledges, it will be sourcefull and useful to learn also from the experience on dealing with kampong from different context; as for example from the more developed countries like Singapore. By learning from the case of Singapore, perhaps we will be able to learn their success, their failures as well as their mistakes in the past. By doing so, hopefully, our future generation may be able to deliver a better scenario and a better perspective of the future kampong improvements.

Cynthia Ratih Susilo

Dosen Fakultas Teknik Prodi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

73


/OPINI

Vietnam merupakan sebuah pembelajaran tentang negara berkembang berideologi komunis dengan komunitas-komunitas di dalamnya. Bagaimana kehidupan berjalan di Vietnam dan manusia yang ada di dalamnya. Kehidupan dan angan-angan masyarakat sebagai arsitek bagi kehidupannya sendiri. Vietnam bercerita banyak. Salah satunya tentang klakson motor yang menjadi backsound ruang kota, kecepatan maksimum motor 40 km/jam, serta Piaggiopiaggio warna warni dan jaket ber-pattern yang memeriahkan pandangan mata ke jalan raya di tengah hebohnya lalu lintas. Tentang pedestrian yang menjadi ruang hidup masyarakat mulai dari sekedar mengobrol menghabiskan hari ditemani segelas Vietnam drip, sampai pedicure dan cukur rambut. Tentang masyarakat yang sangat mempedulikan pohon-pohon di tepi jalan yang memayungi aktivitas mereka di pedestrian agar tidak ditebang oleh pemerintah. Tentang spring roll dan pho, mie putih dengan berbagai cara memasak dengan harga 30.000 VND saja di pinggir jalan. Tentang budaya yang terus melekat seperti memasang altar untuk menghormati leluhur di sudut-sudut cafĂŠ yang paling fancy sekalipun. Tentang masyarakat yang menunjukkan kecintaan pada tanah airnya dengan antusias mengikuti upacara bendera di depan makam founding father Vietnam, Ho Chi Minh tiap pagi dan sore hari. Tentang rumah-rumah 4 lantai selebar 3 meter dan dinamika mengatur ruang untuk 3 generasi di dalamnya. Tentang masyarakat terpinggirkan di negara komunis yang akhirnya tinggal dalam rumah apung di bawah jembatan Long Bien, yang umurnya lebih dari seratus tahun. Tentang Ha Noi di utara yang hari-harinya berjalan dinamis terutama di daerah Old Quarter, favorit para turis. Tentang Nha Trang dan Da Nang yang diam-diam menjadi idola dan terus membangun untuk mewujudkan Ipanema-Ipanema baru, kota dengan pencakar langit di pesisir pantai. Tentang Hoi An yang memamerkan kehidupan lampaunya dengan banyaknya klenteng dan rumah-rumah asli penduduk yang disulap menjadi museum hidup. Tentang Hue yang mempertahankan ruang kotanya dengan benteng, istana, makam raja-raja, juga bangunan-bangunan tua peninggalan Dinasti Nguyen. Tentang Sai Gon, kota jajahan Perancis yang liveable, banyak taman, nyaman untuk berjalan kaki. Dan tentang arsitek-arsitek yang berjuang untuk terus memperbaiki pola kehidupan komunitas masyarakat yang ada melalui karya-karya inovatif namun sarat makna. Dan tentang nuoc mia

74 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


dan kecepatan internet 2.5 mbps yang menemani hari-hari saya berjalan kaki di trotoar mengelilingi kota selama 14 hari dari utara sampai selatan Vietnam. Berjalan kaki di Vietnam seringkali membuat saya malah membandingbandingkan. Rasanya sedikit miris ketika menemukan banyak aspek yang lebih baik yang saya temukan di Vietnam. Namun rasanya tidak adil membandingkan Indonesia dan Vietnam begitu saja karena dilihat dari sejarah politik, budaya, dan kondisi geografis Indonesia dan Vietnam begitu berbeda. Salah satu yang mirip di Indonesia maupun Vietnam adalah bagaimana arsitek juga terus berusaha untuk memperbaiki aspek-aspek kehidupan komunitas dan masyarakat khususnya yang terpinggirkan sehingga agar lebih baik melalui berbagai cara sehingga dapat lebih mandiri. Entah menciptakan taman bermain untuk menyelipkan kebahagiaan bagi anak-anak komunitas kampung kota yang padat penduduk, membuat rumah murah dengan memperhatikan lokalitas untuk masyarakat, dan bahkan terjun langsung tinggal bersama komunitas desa untuk ikut merasakan hidup sebagai masyarakat marginal.

Selengkapnya: https://issuu.com/valentinakrisutami/docs/report_ufp_5_-_vietnam

Valentina Kris Utami

Mahasiswa Fakultas Teknik Prodi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

75


/POINT/ARCHITECTURAL EVENT

ANABATA OPEN TALK YOGYAKARTA

DESIGN METHOD

Setelah mendatangi kota Semarang, Surabaya, Padang dan Bandung, akhirnya pada hari Jumat, 10 Februari 2017 lalu, Anabata Series kembali mendatangi kota Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh PT Anabata Kreasi Indonesia ini menghadirkan dua pembicara dengan latar belakang kota dan konteks desain yang berbeda yaitu Komang Suardika dari Jechier Architect Bali dan Tiyok Prasetyoadi dari PDW Architect Jakarta. Sebagai suatu acara rutin dan diselenggarakan oleh event promoter dan planner yang mengkhususkan diri di bidang arsitektur dan industri konstruksi, Anabata series juga didukung oleh IAI dan disponsori oleh beberapa produk industri bangunan yaitu Weber, Mortar Utama dan Indogress. Anabata Series 2017 Open Talk Yogya ini menjadi sangat spesial karena mengangkat tajuk ‘Design Method’ yang mana setiap pembicara menjelaskan metode desainnya secara blak-blakan. Acara ini dimulai pada pukul 16.30 dan dibuka oleh sambutan dari Ir. H. Ahmad Saifudin Mutaqi, M.T., selaku ketua IAI Yogyakarta serta dilanjutkan dengan perkenalan produk oleh para sponsor acara. Komang Suardika atau kerap dipanggil Bung Komang menceritakan secara show off bangunan-bangunan hasil rancangannya seperti resort, hotel, restoran, kafe, sampai rumah pribadi yang kebanyakan terdapat di Bali. Bung Komang banyak bercerita mengenai bagaimana proses awal ia mendapatkan inspirasi desain bangunannya yang boleh dibilang unik secara bentuk tersebut. Dengan jujur, Bung Komang mengatakan bahwa terkadang untuk menciptakan bentuk-bentuk arsitektur yang luar biasa, indah dan berkarakter, kita hanya perlu berfikir untuk membuat segala sesuatu yang membatasi kita menjadi

76 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Text by A Christian Pratama Putra Courtesy from Instagram Anabata Series

lebih sederhana. Ia pun memberikan contoh beberapa bangunannya yang terinspirasi dari bentuk-bentuk yang secara tidak sengaja dia temukan di berbagai tempat. Bentuk-bentuk ini kebanyakan bentuk yang ia lihat di alam seperti dedaunan ataupun bukit dan beberapa objek lainnya. Sementara pembicara kedua, Bung Tiyok, lebih bercerita tentang bagaimana proses PDW dalam mendesain secara glass box dan bagaimana mereka memanajamen studio mereka agar selalu bekerja secara efektif dan efisien. Bung Tiyok bercerita mengenai metode-metode desain mereka mulai dari sketsa awal untuk mengkomunikasikan ide kepada sesama rekan tim, sampai akhirnya dimasukan ke dalam softwaresoftware seperti revit dan beberapa software analisis performa bangunan. Bung Tiyok mengingatkan tentang pentingnya kalkulasi secara tepat dalam merancang sebuah bangunan. Sering kali dalam merancang sebuah bangunan, arsitek hanya menggunakan intuisi atau imajinasi mereka tanpa dibarengi studi serta kalkulasi mendalam yang sering berakibat performa bangunan tidak bekerja seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Terlihat beberapa rekan mahasiswa dan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang hadir ke seminar ini. “Sudah lama menunggu Anabata datang ke Yogya dan akhirnya hari ini mereka datang ke Yogya membawa topik yang juga cukup menarik yakni design method, acara ini sangat baik untuk para praktisi dan calon-calon arsitek muda seperti kita untuk tahu bagaimana cara studio yang sudah profesional bekerja” ujar Abed salah satu mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang ikut menghadiri event tersebut.


TWIN EXHIBITION

MOVING HORIZON

Text by Satria Agung Permana Photos by Arman Yulianta, Satria Agung Permana and courtesy of Arsitektur UII

Moving Horizon, sebuah pameran gabungan yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) dan Anhalt University. Pameran ini dimulai pada tanggal 12 Februari 2017, dibuka oleh Munichy Bahroon Edrees di Arch Gallery, UII. Sementara Noor Cholis Idham, PhD, IAI dan Baritoadi Buldan Rayaganda Rito, ST, MA, IAI menjadi perwakilan dari UII untuk membuka pameran tersebut di Anhalt University. Pameran ini merupakan hasil ujian akhir studio perancangan arsitektur tingkat 1 dan 3 berkolaborasi dengan S2 Lanscape Anhalt University. Tema yang diangkat dalam karya ini adalah mengilustrasikan karya bentuk arsitektur dalam lansekap bentang alam yang dipilih. Keselarasan kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi mahasiswa semester pertama yang baru mencoba mengenal arsitektur. Mahasiswa diajak untuk mengimajinasikan karya maket rancangan mereka bila terbangun dengan teknik digital. “Lanskap menjadi pijakan, starting point untuk desain yang lebih lanjut. Belajar arsitektur tidak hanya membaca, tidak hanya kutu buku, tapi dengan melihat, apa yang dilihat itu direkam. Sehingga apa yang direkam itu menjadi vocabulary ketika dia akan merancang,” kata Munichi Bahroon Edrees dalam mengapresiasi karya mahasiswa serta membuka pameran tersebut. Sebelumnya, Jurusan Arsitektur UII juga menghadirkan pameran kolaborasi fotografi “Aku Yo Gestalten” dari mahasiswa Arsitektur UII serta dari Turki, Polandia, dan Jerman. Ke depannya, Arsitektur UII akan banyak menghadirkan agenda kolaborasi berskala internasional. Salah satunya pada bulan Juli 2017 akan diselenggarakan 2nd Parametric Timber Gridshell Workshop di UII.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

77


/POINT /CAMPUS / CAMPUSNEWS NEWS

ARCHITECTURE MUSIC EVENT

EKSPRESI MUSIK, EKSPREKSI KASIH SAYANG

Text by Elisse Johanna Tandyo Photos by Doksi HIMA TRIÇAKA

Biro A.S.I.C (Architecture’s Sport and Music) kembali mengadakan acara Band-bandan Sore pada Sabtu, 18 Februari 2017. Karena waktu penyelenggaraannya berdekatan dengan Hari Valentine, acara yang sekarang bertajuk Architecture Music Event ini mengambil tema kasih sayang. Lapangan Lilin Kampus Thomas Aquinas Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menjadi tempat berlangsungnya acara dihias dengan nuansa Valentine. Panggung didekorasi menggunakan balon-balon cantik berwarna pink dan putih dengan background senada. Sepanjang acara para penonton dihibur dengan penampilan band-band dan DJ dari berbagai angkatan jurusan arsitektur UAJY yang membawakan lagu-lagu bertemakan kasih sayang. Sambil menikmati hiburan musik, penonton dapat mengunjungi food court yang menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman. Selain lewat musik, mahasiswa arsitektur UAJY juga diberikan kesempatan untuk mengekspresikan kasih sayang lewat acara Special Moment. Tersedia pula panel berisi kertas di bagian utara Lapangan Lilin bertuliskan “Tuliskan di sini, pesan yang tak tersampaikan”, mewadahi mahasiswa untuk menuliskan pesan-pesan kasih sayang.

78 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

“Tujuan acara ini untuk mewadahi bakat mahasiswa arsitektur Atma Jaya di bidang musik, jadi kuliah tidak terus-terusan tentang akademis. Kami panitia berharap acara ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan antarangkatan, membawa mahasiswa keluar sejenak dari kepenatan perkuliahan, dapat berkumpul bersama dan saling mengenal satu sama lain. Semoga pesan yang tak pernah tersampaikan dapat disampaikan melalui acara ini,” jawab Keandre, wakil koordinator biro A.S.I.C saat ditanya mengenai tujuan Architecture Music Event ini. Semakin malam, semakin banyak penonton berdatangan dan terlihat sangat menikmati acara. “Acaranya seru. Band-bandan sore bisa jadi ajang refreshing dari rutinitas kuliah, walaupun cuma bentar,” kata Mikael Ariko, salah satu penonton dari angkatan 2016. “Yang jelas lebih mengakrabkan antarangkatan. Di depan panggung bisa joged bareng. Ada band-band yang gabungan beberapa angkatan juga.” Architecture Music Event tahun menjadi pelepas kejenuhan bagi mahasiswa arsitektur UAJY, sarana mengasah bakat non-akademis mahasiswa, dan tentu saja menyampaikan kasih sayang. Happy Valentine’s Day!


/POINT /CAMPUS / CAMPUSNEWS NEWS

JEJAK WAWASAN 2017

EKSPLORASI EKSPRESI Text and photos by Teresa Thea

Biro Ekskursi HIMA Triçaka kembali mengajak mahasiswa prodi arsitektur UAJY untuk bergabung dalam acara tahunan “Jejak Wawasan”. Kali ini, pada tanggal 26 Februari 2017 Jejak Wawasan yang bertajuk “Eksplorasi Ekspresi” ini mengajak peserta untuk mengenal lebih dalam berbagai karya arsitektur Indonesia. Tiga tempat tujuan yang berada di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi obyek wisata dalam acara Jejak Wawasan yaitu Wisma Kuwera, Museum Ullen Sentalu, dan Gua Maria Sendang Sono. Wisma Kuwera yang berada di Jalan Gejayan Gang Kuwera menjadi obyek pertama dalam acara ini. Wisma Kuwera merupakan rumah kediaman Almarhum Romo Mangunwijaya yang menciptakan ekspresi mandiri pada bangunan tersebut. Wisma ini tidak lepas dari ciriciri rumah tropis yang memiliki banyak bukaan dengan penggunaan material alami. Ciri lain dari wisma ini yaitu penggunaan material bekas yang digunakan pada perabot-perabot rumah. Tujuan selanjutnya yaitu Museum Ullen Sentalu yang berada di Kaliurang. Sebuah museum modern di tengah-tengah hutan yang menampilkan berbagai sejarah Indonesia menjadikan museum ini dapat

menarik perhatian masyarakat Indonesia maupun masyarakat di luar Indonesia. Pemanfataan lahan hutan yang baik dengan tidak mengubah kontur tanah dan mempertahankan vegetasi yang ada merupakan salah satu metode desain yang digunakan untuk menciptakan suasana tenang dan damai dalam museum. Berlanjut ke tempat tujuan yang terakhir yaitu Gua Maria Sendang Sono: sebuah tempat ibadah, khususnya bagi yang beragama Katolik. Namun sekarang, tempat ini sudah menjadi sebuah tempat wisata karena suasananya yang sejuk dan hening menarik perhatian bagi para pendatang untuk sekedar menikmati suasana. Berbagai karya arsitektur yang ada di Gua Maria Sendang Sono merupakan karya-karya yang menjunjung kelokalitasan dan sangat disesuaikan dengan keadaan iklim dengan penerapan arsitektur tropis. Penataan kompleks dari sang arsitek, Alm. Romo Mangunwijaya tetap mempertahankan keadaan alam sehingga tetap terlihat menyatu dengan alam. Acara Jejak Wawasan ini mengingatkan kita bahwa dalam merancang sebuah karya arsitektur modern, kita harus tetap mempertahankan lokalitas serta melestarikan alam sekitar.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

79


/STUDENT WORKS/COMPETITION

80 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


DANANG SETA W. ARS’ 12

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

81


82 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

83


/STUDENT WORKS/COMPETITION

CHRISTOPHER GOLOM CHRISTIAN GOLOM ARS’ 13 ARS’ 13

MICHAEL THEODORE ARS’ 13

GANDRUNG W.A. ARS’ 13

Juara 1 Sayembara Ruang Terbuka Hijau Hari Bakti ke-71 Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Utara

THE LADANG INDAH GARDEN

Ruang terbuka (open spaces) merupakan ruang yang direncanakan karena kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka.

Mengadopsi Susunan Rumah Tidung Ambir Kiri (Alad Kait), adalah tempat untuk menerima masyarakat yang mengadukan perkara, atau masalah adat yang pada desain inidigunakan sebagai ruang serbaguna yang dapat difungsikan sebagai ruang pertemuan. Ambir Kanan (Ulad Kemagot), adalah ruang istirahat atau ruang untuk berdamai setelah selesainya perkara adat dan dalam desain ini difungsikan sebagai kantin,restoran, ruang ibadah seperti mushola, dan bertujuan untuk istirahat dan sekedar makan. Pada bagian belakang Rumah Baloy ini, ada bangunan yang dibuat di tengah-tengah kolam yang disebut dengan Lubung Kilong. Bangunan ini adalah sebuah tempat untuk menampilkan kesenian suku Tidung, seperti Tarian Jepen dan pada desain ini dibuat sebagai amphiteathre. Ambir Tengah (Lamin Bantong), adalah tempat

84 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

pemuka adatbersidang untuk memutuskan perkara adat pada desain ini digunakan sebagai entrance dengan maksud dengan masuk ke dalam RTH ini semua perkara (kejenuhan, ketidaknyamanan, dsb) dapat terselesaikan dengan baik. Lamin Dalom, adalah singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung yang pada desain ini difungsikan sebagai ruang pameran, pemilihan ruang pameran karena untuk mengingat tentang adat-adat Dayak Tidung dan lainnya. Di belakang Lubung Kilong ini, ada lagi sebuah bangunan besar yang diberi nama Lubung Intamu, yaitu tempat pertemuan masyarakat adat yang lebih besar, seperti acara pelantikan (pentabalan) pemangku adat atau untuk acara musyawarah masyarakat adat se-Kaalimantan didesain sebagai urban farming sebagai jantung RTH dan bangunan Urban farming ini disatukan dengan Lamin Dalom yaitu ruang pameran.


Pemanfaatan Kembali Air Hujan Curah hujan yang cukup tinggi dan tidak menentu menjadi peluang kita untuk menggunakan air hujan tersebut untuk kebutuhan site dan penggunmembuat kolam dan dipadukan dengan sistem filtrasi air hujan untuk meremajakan siklus air dan menggunakan air filtrasi tersebut untuk kebutuhan site dan pengguna.

Taman sebagai wadah terjadinya interaksi sosial antar individu di setiap lapisan masyarakat serta dapat menampung semua kebutuhan dan kegiatan masyarakat akan hiburan dan rekreasi yang mengedukasi bagi semua kalangan, golongan dan usia.

Interaksi Sosial Antar Individu Ruang terbuka hijau ini dirancang agar dapat menampung segala kebutuhan masyarakat dari semua golongan (anak-anak sampai orang tua) akan hiburan dan rekreasi.

Taman ini memiliki fungsi kolam, dimana kolam tersebut mempunyai peran sebagai pemberi udara dingin di area site. Selain itu terdapat sistem filtrasi air hujan untuk meremajakan siklus air danpemanfaatan secara tepat air hujan tersebut sehingga memberikan wadah edukasi baru bagi masyarakat.

Penyusunan lansekap dan sirkulasi dibuat dinamis dan mengikuti susunan rumah adat Tidung sehingga pengguna dipaksa merasakan pengalaman ruang selama berada di taman. Ditambah dengan adanya amphitheater dan ruang pameran yang berfungsi sebagai pertunjukan budaya Tidung dan budaya lainnya sehingga taman inidapat melestarikan budaya di Tarakan.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

85


86 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

87


/STUDENT WORKS/COMPETITION

YULIUS DUTA ARS’ 13

KANTOR PORTABEL IAI DIY SAYEMBARA DESAIN KANTOR PORTABEL IAI DIY

88 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

SIGIT PRAYOGO CHRISTOPHORUS HASTO ARS’ 13 ARS’ 13


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

89


90 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

91


/STUDENT WORKS/COMPETITION

RUMAH MANDIRI

JUARA 1 SAYEMBARA RUMAH INTARAN 92 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

VENSKA FRIZKY DEANDRA SUKMA ARS’ 14


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

93


94 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


ARÇAKA #8 | MARCH 2017

95


/STUDENT WORKS/RESEARCH

Courtesy of Asiaone News Kampung Admiralty, salah satu perwujudan kampung vertikal di Singapura

VERTICAL KAMPONG

PERWUJUDAN ARSITEKTUR VERNAKULAR DI SINGAPURA Text by Elisse Johanna Tandyo Photos from various sources

96 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Di Indonesia, istilah kampung secara fisik dikenal sebagai suatu wujud permukiman tradisional yang penataan rumah-rumah penduduknya didominasi oleh tatanan secara horizontal. Masyarakat yang tinggal di kampung dikenal memiliki kebiasaan dan budaya daerah masing-masing yang berdasar atas jiwa toleransi, rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong yang tinggi dengan mewujudkan prinsip kebersamaan “satu kampung satu keluargaâ€?. Namun, yang masih terjadi di Indonesia hingga saat ini adalah beberapa kampung di daerah kota telah menjadi permukiman kumuh (slum) yang dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Kondisi permukiman kumuh menimbulkan permasalahan terganggunya kesehatan dan kesejahteraan penduduk kampung. Sedangkan penghuni kampung dengan ratarata penghasilan rendah menimbulkan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Permasalahan kampung yang masih timbul di Indonesia dari tahun ke tahun ini juga dialami oleh negara Singapura sekitar 50 hingga 70 tahun yang lalu, yaitu di saat Singapura masih berada di bawah penjajahan Inggris hingga masa-masa awal kemerdekaan Singapura. Pada edisi ekspedisi kali ini, Tim Arçaka akan mengulas bagaimana Singapura dengan latar belakang kondisi masyarakat dan permukiman yang hampir serupa dengan Indonesia, saat ini berhasil mengembangkan konsep vertical kampong atau kampung vertikal hingga menjadi negara yang sangat maju di bidang arsitektur dengan konsep garden city-nya. Permukiman Kumuh Permasalahan permukiman kumuh dialami Singapura sejak masa Kolonial Inggris sejak tahun 1927. Luas wilayah Singapura yang pada waktu itu sebesar 581,5 km2 menjadi rumah bagi 1 juta jiwa penduduk Singapura. Sebanyak 75% penduduk menempati 99% wilayah Singapura yang saat itu masih berupa areaarea perkampungan tradisional dengan ciri kehidupan masyarakat agraris yang bekerja di bidang pertanian

Courtesy of Lim Kheng Chye Kondisi kumuh Jinriksha Station, Chinatown, Singapura (1920) dan perkebunan. Sementara 25% penduduk Singapura lainnya tinggal dalam urban area dengan luas wilayah hanya 1% dari total land area Singapura. Kepadatan penduduk yang terpusat pada urban area, ditambah dengan semakin meningkatnya urbanisasi, menimbulkan berbagai permasalahan permukiman pada urban area seperti permasalahan banjir, terbentuknya slum dan squatter, hingga munculnya berbagai problem terkait kesehatan akibat lingkungan permukiman yang tidak sehat. Masalah-masalah permukiman kumuh ini dianggap merugikan baik bagi warga Inggris yang tinggal di Singapura maupun bagi warga Singapura sendiri sehingga pemerintah mulai merencanakan pengubahan wujud fisik permukiman di Singapura. Pada 1927, terbentuklah SIT (Singapore Improvement Trust) yang diberi tugas untuk memperbaiki infrastruktur Singapura, termasuk di dalamnya rencana perbaikan umum, menghancurkan dan memperbaiki bangunan dan lingkungan yang tidak sehat. Pada 1930-an, SIT terlibat langsung dalam pembangunan kawasan permukiman baru di Singapura. Saat itu, kawasan yang pertama kali menjadi sasaran pengembangan permukiman adalah Tiong Bahru.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

97


Public Housing di Tiong Bahru tahun 1953 Courtesy of National Museum of Singapore Sources: Roots.sg

Public Housing di Tiong Bahru tahun 1953 Courtesy of National Museum of Singapore Sources: Roots.sg

98 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Public Housing Tiong Bahru Tiong Bahru tercatat menjadi kawasan pertama di Singapura yang memiliki public housing: wujud fisik awal konsep kampung vertikal Singapura. Sebelum tahun 1926, Tiong Bahru berwujud rawa-rawa bakau dengan bukit-bukit rendah. Salah satu dari bukit ini merupakan tempat pemakaman masyarakat Kanton dan Hakka, sedangkan pada bukit-bukit lainnya menjadi tempat bermukim sebanyak 2000 penghuni liar atau tidak berizin (squatters). Oleh SIT, kawasan ini segera dibersihkan: kawasan kumuh diperbaiki, pembebasan lahan dimulai dengan memindahkan makam dan squatters. Public housing di Tiong Bahru ini mengambil konsep yang serupa dengan konsep social housing yang diperkenalkan pada CIAM (International Congress of Modern Architecture) II tahun 1929 oleh Ernst May, seorang arsitek yang juga menjadi wali kota Frankfurt, Jerman. Ernst May melakukan studi mengenai minimum existance: berapa ukuran minimal yang efisien bagi sebuah keluarga untuk hidup dalam sebuah apartment yang mendasari studi-studi lainnya seperti studi ergonomi dan koordinasi modular. Studi-studi inilah yang kemudian menjadi dasar dalam pembentukan kampung modern. Konsep kampung modern dalam wujud fisik social housing yang diperkenalkan oleh Ernst May memiliki pola grid berdasarkan studi minimum existance dengan tujuan efisiensi ruang. Kampung modern disusun secara compact atau padat, namun juga menyediakan ruangruang yang cukup besar untuk interaksi publik sehingga communal living sebagai jiwa kampung tradisional tetap terjaga. Ruang interaksi publik bisa berupa pasar maupun courtyard yang terletak pada ruang di antara bangunanbangunan public housing.


Kondisi Public Housing di Tiong Bahru saat ini Courtesy of YourSingapore.com

Konsep communal living didukung dengan desain rumah-rumah yang tersusun secara berdekatan dalam public housing. Dua unit rumah digandeng menggunakan satu akses sirkulasi vertikal berupa tangga menerus hingga lantai teratas. Koridor yang memisahkan unit rumah dalam satu lantai memiliki dimensi yang setara dengan dimensi teras rumah pada kampung-kampung tradisional. Kondisi rumah-rumah yang saling berdekatan ini mendukung interaksi antartetangga atau keluarga dalam public housing. Meskipun dibangun dengan mengikuti konsep social housing yang diperkenalkan oleh bangsa Barat, pembangunan public housing tetap memperhatikan konteks bangunan tropis pada penerapannya. Public housing didesain secara keseluruhan dengan sistem cross ventilation. Jendela pada bangunan public housing juga memakai kisi-kisi atau krepyak. Bagian atas diberi lubang sebagai jalur pergantian udara yang masuk-keluar bangunan. Public housing Tiong Bahru mulai ditempati pada akhir tahun 1936. Pada masa Kolonial Inggris, public housing hanya diperuntukkan bagi pegawai negeri. Orangorang yang bekerja untuk pemerintah mendapatkan hak untuk memakai public housing tersebut. Para pegawai negeri menyewa kepada SIT dengan harga sewa yang terjangkau. Kontrak sewa berakhir apabila para pegawai negeri tersebut sudah tidak lagi bekerja pada pemerintah. Setelah masa kemerdekaan, public housing dipegang oleh pemerintah Singapura. Beberapa bangunan dijual sehingga sekarang menjadi fungsi komersial dan sebanyak 20 blok public housing yang terbangun sebelum masa Perang Dunia II diberi status konservasi oleh URA (Urban Redevelopment Authority).

Kondisi Public Housing di Tiong Bahru saat ini Courtesy of YourSingapore.com

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

99


/STUDENT WORKS/RESEARCH Mempertahankan DNA Kampung Pada tahun 1963, dua tahun sebelum masa kemerdekaan Singapura, muncul sebuah rencana untuk menjadikan seluruh wilayah Singapura menjadi kawasan urban. Rencana ini dicetuskan oleh Otto KĂśnigsberger, seorang ahli urban planning dari Swiss yang diberi mandat oleh United Nation untuk membantu pemerintah Singapura dalam mengembangkan masterplan Singapura. Rencana mengembangkan wilayah Singapura menjadi urban ini didasarkan pada konsep garden city dari Ebenezer Howard. Salah satu agenda penting dari perwujudan konsep garden city ini adalah pembangunan perumahan bagi penduduk Singapura. Hingga tahun 1965 saat Singapura merdeka, 75% penduduk Singapura masih tinggal di kampung-kampung tradisional. Singapura yang baru saja merdeka dengan luas wilayah yang sangat kecil dan tidak memiliki natural resources, mengalami berbagai masalah negara seperti tingkat pengangguran yang tinggi dan permasalahan permukiman kumuh. Kampung-kampung tradisional yang ada di Singapura pada waktu itu telah dianggap tidak layak huni lagi akibat terbentuknya slums dan banyaknya squatters. Perumahan yang layak huni hanya berupa public housing di Tiong Bahru yang didirikan oleh SIT untuk pegawai negeri saat masa penjajahan Inggris. Permasalahan perumahan ini akhirnya diatasi dengan adanya Housing Development Board (HDB), sebuah lembaga di Singapura yang bertanggung jawab atas penyediaan housing di Singapura dengan dibiayai oleh CPF (Central Provident Fund). HDB ini merupakan kelanjutan dari SIT. Perbedaannya adalah ketika SIT fokus pada menyediakan perumahan bagi pegawai negeri, HDB bertugas untuk menyediakan perumahan di seluruh wilayah Singapura. Jumlah penduduk lebih dari 5 juta jiwa yang terus bertambah di dalam luas wilayah Singapura yang hanya

sebesar 719 km2 mengakibatkan Singapura harus tumbuh secara vertikal. Bentuk perumahan yang disediakan oleh HDB berupa high-rise building. Konsep perumahannya sama dengan public housing yang dibangun oleh SIT, yaitu menerapkan konsep kampung vertikal. Perbedaannya hanyalah rumah-rumah yang disediakan oleh HDB dapat dimiliki dengan status hak milik yang jelas, bukan lagi dengan status hak sewa saja. Konsep kampung vertikal yang diangkat dalam public housing di Singapura merupakan perwujudan arsitektur vernakular milik Singapura. Meskipun bentuk fisiknya berupa high-rise building yang bahkan menyerupai bentuk fisik hotel berbintang atau condominium, public housing yang ada di Singapura tetap mempertahankan konsep kampung dan tradisi-tradisi yang ada di dalamnya. Nama-nama kampung yang lama tetap bertahan menjadi nama kawasan setempat. Dari segi bangunan, adanya ruang komunal sebagai ruang interaksi publik adalah bukti DNA kampung tetap dipertahankan dalam highrise public housing di Singapura. Selain itu, penerapan arsitektur vernakular dalam kampung vertikal juga diwujudkan dengan desain yang kontekstual dengan kondisi iklim tropis, yaitu dengan penerapan sistem cross ventilation dan banyaknya ruang terbuka hijau pada bangunan. Hingga saat ini, 80% housing yang ada di Singapura dikelola oleh HDB yang terus mengembangkan konsep kampung vertikal di dalamnya. Kampung vertikal sebagai perwujudan arsitektur vernakular di Singapura membuktikan bahwa jiwa kampung tidak terikat pada bentuk fisik bangunan. Bentuk fisik merupakan wujud temporer dari sebuah konsep. Keterikatan terhadap suatu bentuk dirasa tidak perlu, yang terpenting adalah menyesuaikan konsep dengan transformasi ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat.

Referensi

Sharing Session di National University of Singapore (NUS). Selasa, 17 Januari 2017. Narasumber: Prof. Dr. Johannes Widodo Associate Professor Architecture Department National University of Singapore

100 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Public housing di Bukit Merah: sebuah perwujudan arsitektur vernakular di Singapura Courtesy of HDB Singapore

SkyTerrace@Dawson, salah satu public housing terbaru di Singapura Courtesy of SCDA Architects

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

101


/ TECHNOLOGY&INNOVATION /TECHNOLOGY & INNOVATION

NEWATER VISITOR CENTRE

PENGOLAHAN AIR LIMBAH MENJADI AIR BERSIH SIAP MINUM DI SINGAPURA 102 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Text by Yoseph Duna Photos by Chrispina Yovita Putri

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

103


/TECHNOLOGY & INNOVATION

Sebagai sebuah negara kecil dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi, yaitu sekitar 5,4 juta penduduk, Singapura memiliki 4 pilar yang menjadi pemenuhan sumber kebutuhan airnya, yaitu melalui tangkapan air lokal, air impor, air daur ulang dan desalinasi air. Seperti negara pada umumnya, Singapura memiliki kebutuhan air yang cukup banyak bagi warganya, yaitu sekitar 1,8 juta meter kubik per harinya yang dikonsumsi di sektor rumah tangga maupun industri. Namun yang menjadi kendala bagi Singapura adalah mereka tidak memiliki sungai yang berlimpah airnya. Yang diusahakan oleh pemerintah melalui Public Utility Board (PUB) adalah dengan mengimpor air dari Malaysia yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an. Namun pemerintah terus mencari upaya lain dikarenakan air impor ini cukup mahal dan memiliki kontrak waktu yang terbatas.

Pada tahun 2003, pemerintah berhasil membangun pabrik pengolah air limbah (wastewater) menjadi air bersih atau yang disebut NEWater. Air limbahan dari NEWater ini menjadi air siap minum bagi warga Singapura dan telah memenuhi syarat Badan Perlindungan Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pemerintah menargetkan ke depannya air NEWater ini dapat mencakup 55 persen kebutuhan air bersih bagi warga Singapura. Ada 3 tahapan pengolahan air bersih melalui pabrik NEWater, yaitu: Tahap Pertama Tahap pertama disebut Mikrofiltrasi (MF) di mana air limbah diteruskan melalui membran untuk menyaring partikel-partikel kecil berupa bakteri penyebab penyakit, partikel koloid, kista protozoa dan virus. Hasilnya berupa air yang hanya mengandung garam terlarut dan molekul organik. Tahap Kedua Tahap kedua dikenal dengan Reverse Osmosis (RO). Dalam tahap ini dipergunakan membrane semipermeable yang memiliki pori-pori sangat kecil dimana hanya molekul kecil seperti molekul air yang dapat melewatinya. Akibatnya molekul berbahaya seperti bakteri, virus, logam berat, nitrat, klorida, sulfat, pestisida dan molekulmolekul lainnya berhasil tersaring oleh membran

Empat pilar pemenuhan kebutuhan air Singapura

104 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Tahap Ketiga Pada tahap terakhir, NEWater menggunakan teknologi ultraviolet atau UV untuk memastikan bahwa semua organisme sudah tidak aktif dan air limbah tadi telah dimurnikan untuk dapat dikonsumsi. Selain itu dilakukan penambahan beberapa bahan kimia alkali untuk menyeimbangkan pH. Setelah tahap ini, NEWater siap untuk disalurkan dan dijual.


Timeline perkembangan water treatment di Singapura

Pada 18 Januari lalu PUB mendirikan pabrik NEWater baru yang terletak di Changi. Pabrik seharga 170 juta dollar ini dapat memproduksi sampai dengan 50 juta gallon NEWater setiap harinya. Selain pengolahan air limbah melalui NEWater, PUB juga sedang mengupayakan desalinasi air, yaitu proses pengolahan air laut dengan sistem yang sama dengan NEWater, yaitu menggunakan sistem RO untuk menghilangkan garam dan mineral dari air laut. Pemerintah Singapura berniat membuat air laut dapat

diolah menjadi air bersih yang layak minum bagi warganya dan diharapkan pada tahun 2060 air desalinasi ini dapat memenuhi 30 persen kebutuhan air di Singapura. Mr. Ng Joo Hee, CEO PUB mengatakan, “Kita harus menekan penggunaan air yang berlebihan dengan konservasi dan efisiensi air baik dalam penggunaan sehari-hari mapun di sektor non-domestik. Setiap tetes air yang dikonservasi berarti semakin sedikit sumber daya yang diambil dan biaya yang diperlukan untuk menambah pasokan air.�

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

105


/ANJANGSANA/JEJAK ARSITEKTUR

KAMPUNG LORONG BUANGKOK

JEJAK PENINGGALAN KAMPUNG TRADISIONAL DI SINGAPURA

Rumah salah satu penduduk di Kampung Lorong Buangkok, Singapura

106 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


Text by Elisse Johanna Tandyo Photos by Gilang Pidianku

Siapa yang menyangka di tengah kehidupan serba modern dengan perkembangan teknologi yang serba cepat, negara Singapura masih meninggalkan jejak permukiman masyarakat tradisional berupa kampung yang terletak di Buangkok, Hougang, North-East Region. Setelah turun di Stasiun MRT Buangkok, Tim Arçaka melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus menuju Yio Chu Kang Road. Dari Yio Chu Kang Road, Tim Arçaka berbelok menuju Gerald Drive untuk mencapai Jalan Lor Buangkok. Di sisi utara Jalan Lor Buangkok dapat ditemukan Kampung Lorong Buangkok: satu-satunya kampung yang tersisa di Singapura, masih bertahan dengan bentuk kampung tradisionalnya di tengah gedunggedung tinggi modern yang memenuhi Singapura. Sejarah Tanah Kampung Selama 61 tahun sejak 1956, Kampung Lorong Buangkok telah menjadi rumah bagi warga Singapura keturunan Melayu dan Cina. Awalnya tanah Kampung Lorong Buangkok merupakan sebuah rawa yang kemudian dibeli oleh seorang penjual obat tradisional Cina bernama Mr Sng Teow Koon. Oleh Mr Sng tanah ini kemudian disewakan kepada penduduk Singapura. Sebanyak 40 keluarga menyewa tanah tersebut dan membangun rumah di tanah tersebut atas biaya sendiri. Dalam perjalanannya, sebuah private developer sempat berencana membeli tanah Kampung Lorong Buangkok. Namun rencana tersebut gagal karena tidak terjadi kesepakatan harga. Seiring berjalannya waktu, rumah-rumah dan penduduk di Kampung Lorong Buangkok semakin berkurang hingga sekarang tersisa 28 keluarga yang masih menghuni kampung: 18 keluarga suku Melayu dan 10 keluarga suku Cina. Saat ini, tanah Kampung Lorong Buangkok dimiliki dan dikelola oleh Ms Sng Mui Hong, putri dari Mr Sng Teow Koon. Ms Sng Mui Hong masih tinggal di Kampung Lorong Buangkok dan setiap bulannya mengumpulkan biaya sewa dari penduduk kampung lainnya. Pada 2007, tanah Kampung Lorong Buangkok dengan luas 12.248 m2 sempat ditawar dengan harga $33 juta, namun Ms Sng menolak untuk menjual tanah kampung.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

107


/ANJANGSANA/JEJAK ARSITEKTUR

Suasana Kampung Tradisional Memasuki Kampung Lorong Buangkok membuat kami sejenak lupa bahwa kami berada di Singapura, negara modern yang identik dengan high-rise buildings. Suasana perkampungan tradisional Kampung Lorong Buangkok sangat terasa seolah memasuki dimensi waktu lain dari Singapura. Memasuki Jalan Lor Buangkok, sudah terlihat induk ayam dengan anak-anaknya berlarian di depan rumah penduduk yang sederhana dan tidak bertingkat. Akibat letaknya yang jauh dari keramaian pusat kota, suasana kampung menjadi sepi dan sangat tenang meskipun sesekali terganggu dengan suara pembangunan di dekat kampung. Wujud perkampungan tradisional ini sangat kontras dengan latar belakang bangunan-bangunan tinggi menjulang dan cranes yang menghiasi gedung-gedung Buangkok yang sedang dalam masa pembangunan. Secara fisik, Kampung Lorong Buangkok memiliki karakteristik fisik yang hampir sama dengan kampungkampung Indonesia. Jalan masuk menuju kampung diakses dengan melewati halaman tak beraspal yang menjadi tempat parkir mobil penduduk kampung karena jalan kampung tidak dapat dilewati oleh kendaraan roda empat. Di dalam kampung, rumah-rumah penduduk berderet rapi mengikuti bentuk jalan kampung dengan lebar 2 meter yang hanya berupa jalan setapak dari tanah dan bukan berupa trotoar beton. Rumah penduduk satu keluarga dengan keluarga yang lain sangat berdekatan dan terbuka, ditunjukkan dengan pagar rumah yang terbuka, berpagar pendek atau bahkan tidak berpagar sama sekali. Rumah satu dengan yang lain memiliki kemiripan karakteristik bangunan. Rumah-rumah memiliki bentuk geometri sederhana dengan ciri khas yang paling menonjol berupa dominasi penggunaan material tradisional. Keseluruhan konstruksi rumah menggunakan material kayu. Atap rumah memiliki bentuk-bentuk tradisional rumah tropis yaitu atap limasan atau atap pelana yang terbuat dari material seng. Setiap rumah memiliki 3 sampai 5 ruang dengan luas sekitar 140 m2. Ciri menonjol yang benar-benar membedakan antara satu rumah dengan rumah yang lain dalam Kampung Lorong Buangkok adalah finishing cat eksterior rumah yang berwarna-warni. Kampung dilengkapi dengan surau, sebuah tempat untuk menunaikan ibadah bagi umat Islam. Di dalam kampung juga terdapat kebun tempat tumbuhnya berbagai jenis buah, sayur dan bunga seperti buah nangka, pisang, tomat, cabai, jeruk nipis, kembang sepatu dan bunga morning glory.

108 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Rumah kampung yang kontras dengan latar belakang gedung tinggi dan cranes

Jalan di Kampung Lorong Buangkok


Surau Kampung Lorong Buangkok

Binatang peliharaan seperti ayam dan anjing dibebaskan berlarian di Kampung Lorong Buangkok

Jiwa Kampung Tradisional Selain suasana fisik, jiwa kampung tradisional juga masih tertinggal pada Kampung Lorong Buangkok. Hubungan akrab yang terjalin antarpenduduk kampung juga ditemui pada Kampung Lorong Buangkok. Suasana harmonis kampung telah ada sejak sebelum masa kemerdekaan Singapura, saat pertama kali Kampung Lorong Buangkok terbentuk. Rumah-rumah dibangun di atas tanah Kampung Lorong Buangkok dengan prinsip gotong royong. Penduduk yang telah lebih dulu tinggal di Kampung Lorong Buangkok kemudian membantu pembangunan rumah keluarga penghuni baru kampung. Sebelum konstruksi rumah dimulai, penduduk bersamasama memindahkan pasir dari muara terdekat untuk mengisi tanah berlumpur. Suasana gotong royong dan semangat komunitas yang kuat juga menyangkut aspekaspek lain seperti saat ada acara pernikahan maupun musibah sakit dan pemakaman. Kondisi harmonis Melayu-Cina ini masih bertahan bahkan saat terjadi kerusuhan rasial antara suku Melayu dan Cina pada 1964 di Singapura yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia. Saat itu penduduk Singapura terbelah, masing-masing suku

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

109


saling menyerang dan terjadi perpecahan di berbagai daerah. Meskipun begitu, penduduk suku Melayu dan Cina di Kampung Lorong Buangkok sepakat untuk tidak melangkah keluar dari kampung dan orang luar tidak diizinkan masuk ke kampung sehingga suasana Kampung Lorong Buangkok tetap harmonis dan tidak terpengaruh oleh kerusuhan rasial yang terjadi di daerah lainnya. Keharmonisan kampung ini masih bertahan sampai saat ini. Kepercayaan antarpenduduk kampung sangat tinggi, dibuktikan dengan penduduk yang sering meninggalkan pagar rumah dalam keadaan terbuka: keadaan yang hampir tidak mungkin ditemui di tempat tinggal lain di Singapura. Selain itu, pemilik tanah kampung, Ms Sng memiliki rasa toleransi yang tinggi. Beliau memperbolehkan para penyewa tanah yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, membayar biaya sewa hanya dengan buah-buahan dan beras. Terdapat pula seorang kepala kampung yang bertugas mengatur segala urusan kampung, termasuk mengurus surau,

mengadakan acara doa bersama dan menarik iuran untuk memperbaiki surau atau untuk memberikannya kepada penduduk yang sedang mengalami kesulitan. Konservasi Kampung Lorong Buangkok Kampung Lorong Buangkok telah bertahan menjadi satu-satunya kampung tradisional yang tersisa di Singapura. Namun pada 2009, Urban Redevelopment Authority (URA), sebuah lembaga yang berwenang dalam perencanaan kota di Singapura, mengumumkan bahwa tanah Kampung Lorong Buangkok telah dialokasikan untuk pengembangan jalan utama yang terhubung ke Buangkok Drive dalam Master Plan Singapura tahun 2008. Meskipun begitu, rencana alokasi tersebut belum terlaksana dan beberapa penduduk Singapura yang perhatian dengan kondisi kampung tradisional Singapura telah mengajukan usaha konservasi kepada pemerintah Singapura untuk tetap mempertahankan Kampung Lorong Buangkok.

Referensi 1. Jia, J. C., & Lee, G. (20 November 2009). Kampung Lorong Buangkok. Diakses 18 Februari 2017, dari Singapore Infopedia: eresources.nlb.gov.sg 2. Min, L. S. (2 April 2014). Lorong Buangkok - The Last Kampong in Singapore. Diakses 18 Februari 2017, dari The Smart Local Singapore: http://thesmartlocal.com/read/lorong-buangkok 3. Seng, D. L. (31 Oktober 2007). An interview with a Lorong Buangkok Kampong Resident. Diakses 18 Februari 2017, from Jalan Kayu Trail: jalankayutrail.blogspot.co.id /2007/10/interview-with-lorong-buangkok-kampong.html

110 ARÇAKA #8 | MARCH 2017


/POINT / CAMPUS NEWS

SINGAPORE CITY GALLERY

SEEING SINGAPORE FROM BIRD EYE VIEW Text by Chrispina Yovita Putri Photos by Diah HanityasarI, Gilang Pidianku and A Christian Pratama Putra

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

111


/ANJANGSANA/FENOMENA&LIFESTYLE

“Have you see our skyline? It tooks 50 years to build this city. The Singapore City Gallery tells you how.” Saat pertama menginjakkan kaki di URA Centre atau Singapore City Gallery di 45 Maxwell Rd, Tim Arçaka sudah disambut oleh kata-kata tersebut. Salah satu hal yang terkenal dari Singapura adalah city skylinenya. Berbagai gedung pencakar langit dan landmarks Negeri Singa yang tertata dengan apik ini menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia arsitektur. Negara kecil ini benar-benar memahami kekurangannya dan belajar banyak inovasi dalam arsitektur untuk tetap menjadikan dirinya yang kecil mempunyai kemenarikan tersendiri. Keindahan skyline Singapura tentunya berasal dari perjalanan panjang penataan kota, yang mana salah satunya diprakarsai oleh URA.

112 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Singapore Transformation Singapura merupakan negara jajahan Inggris yang merdeka pada 1965. Dalam masa awal kemerdekaannya, Singapura mengalami berbagai masalah, salah satunya adalah banyaknya permukiman liar dan kumuh. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pada 1960 pemerintah membentuk Housing Development Board (HDB) yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan permukiman penduduk Singpura. Pada 1974, pemerintah membentuk Urban Redevelopment Authority (URA) untuk menyusun Urban Design Plan guna membangun kembali kawasan pusat kota dan mempersiapkan permukiman bagi penduduk yang terkena penggusuran. URA juga membuat rencana pembangunan untuk mengembangkan dan melestarikan kota serta membentuk kota dengan lingkungan yang baru dengan warisan sejarah, budaya dan arsitektur. Dalam perkembangannya, URA telah berhasil melakukan re-branding Singapura supaya menjadi tujuan wisata bagi wisatawan di seluruh dunia. Pada saat ini, URA sedang berfokus untuk membangun identitas Singapura sebagai “a tropical city of exellence”.


Singapore on Display Singapore City Gallery, yang sebelumnya bernama URA Gallery, merupakan geleri yang dikelola oleh URA. Segala hal yang dipamerkan dalam galeri ini berisi master plan Singapura, dimulai dari sejarah, perkembangannya, hingga apa yang ada dalam pembangunan di Singapura saat ini. Lantai satu merupakan area display temporer, di mana display yang ada di area ini akan berbeda sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saat Tim Arçaka mengunjungi City Gallery, kebetulan sedang diadakan pameran dari Precident Design Award yang memajang display dari pemenang award tersebut. Sementara pada lantai dua dan tiga sirkulasi dibuat terintegrasi sehingga pengunjung harus mengunjungi kedua lantai ini sekaligus untuk melihat keseluruhan display dengan sepuluh area display tematik. Pada lantai dua terdapat area Vibrant Cities yang menyajikan keindahan Singapura dengan display show panorama 270 derajat. Naik ke lantai tiga, terdapat tujuh display tematik meliputi: Periods of Progress yang menunjukkan

transformasi Singapura dari masa ke masa; Conversations yang menunjukkan bahwa setiap orang punya peran dalam pembangunan; Learning the Fundamentals, game dengan tantangan untuk membangun negara dengan lahan yang sempit; Planning Sustainably yang memaparkan berbagai strategi pembangunan Singapura hingga saat ini; dan Brush with History yang menunjukkan bahwa konservasi arsitektur dapat memperkaya Singapura dengan identitas dan peninggalan bersejarah. Masih pada lantai yang sama, terdapat pula display dengan tema Urban Design yang menunjukkan bahwa seni dan ilmu pengetahuan dapat menghasilkan perpaduan bangunan streetscape yang apik, serta Study Area yang menunjukkan central area dapat menjadi area yang menakjubkan setelah pembangunan ini. Kembali ke lantai dua, terdapat dua display, yaitu: Distinctive Districts yang mengeksplor berbagai area yang menarik di Singapura; dan yang terakhir adalah Central Area Model yang menyajikan big plans Singapura dari perspektif bird-eye dengan display maket super besar yang ternyata merupakan maket arsitektur terbesar di dunia pada saat ini.

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

113


/ANJANGSANA/FENOMENA&LIFESTYLE

NATIONAL UNIVERSITY OF SINGAPORE

MENENGOK PENDIDIKAN ARSITEKTUR DI SINGAPURA Text by Yoseph Duna Di Singapura kami mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke NUS atau National University of Singapore untuk melihat seperti apa pendidikan arsitektur disana. Kami bertemu dengan salah seorang dosen arsitektur, yaitu Prof. Dr. Johannes Widodo yang dulunya merupakan dosen jurusan teknik arsitektur Universitas Parahyangan. Beliau bercerita tentang sistem dan proses pendidikan arsitektur yang ada di Singapura. Sekilas tentang NUS, dengan jumlah mahasiswa lebih dari 38.000 pelajar, NUS telah menjadi Universitas terbaik di Asia dan urutan kedelapan di seluruh dunia. Pendidikan arsitektur di NUS sendiri telah berkiprah selama lebih dari 50 tahun. NUS memfasilitasi mahasiwa fakultas arsitekturnya dengan beberapa pilihan bidang spesialisasi, diantaranya adalah: Architecture,

114 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Photos by Gilang Pidianku and Diah Hanityasari Landscape, Urban Design, dan Urban Planning. Bidangbidang tersebut bebas dipilih oleh mahasiswanya sesuai dengan potensi desain dan ketertarikan mereka. Tak sedikit mahasiswa arsitektur di NUS yang memenangkan kompetisi-kompetisi desain taraf dunia dan ketika kami diajak untuk melihat hasil tugas akhir mahasiswa di sana memang sangat mengesankan. Pendidikan Arsitektur di Singapura memiliki undangundang sendiri yang kompatibel dengan RIBA (Royal Institute of Architecture), BOA (Board of Architecture) dan SIA (Singapore Institute of Architect). Karena adanya RIBA inilah lulusan program studi Arsitektur NUS dapat diterima dengan mudah di negara-negara Eropa maupun Asia lainnya. Inilah yang menjadi PR bagi negara kita karena di Indonesia belum terdapat dewan


arsitektur yang dapat menanungi arsitektur di Indonesia. Sehingga ketika arsitektur lulusan arsitektur Indonesia ingin melanjutkan studi maupun bekerja di luar negeri, prosesnya akan lebih sulit dan statusnya menjadi tidak jelas. Bagi mahasiswa arsitektur Indonesia yang ingin studi lanjut di NUS harus kembali belajar lagi di tahap BA (Arch) 3 atau tingkat 3 untuk mendapatkan lisensi. Di setiap tingkat pendidikan arsitektur di NUS mata kuliahnya terdiri dari 1 makul studio dan 2-3 makul biasa. Makul Studio terdiri dari 8 MC dan kuliah biasa terdiri dari 4 SC. Pada tingkat 1, mahasiswa belajar mengenai Urban Density dari skala obyek, kota, sampai dengan planning. Di tingkat 2 mahasiswa belajar mengenai context, yaitu arsitektur urban maupun rural, arsitektur di air, udara, tebing, dsb. Tingkat 3 merupakan proyek akhir yang sudah menggabungkan antara teknologi, bentuk, fungsi. Di tingkat 4 mahasiswa sudah mulai memasuki spesialisasi dan setelah lulus dari tingkat 4 ini mahasiswa dapat menjadi Bachelor of Arts dan berhak mengambil program master. Kelas di dalam studio maupun kuliah biasa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil agar mahasiswanya dapat saling berdiskusi dan berinteraksi secara aktif dan proses belajar menjadi lebih dinamis dengan adanya presenter dan responden di setiap kuliah, dosen sebagai moderator. Untuk kuliah biasa mahasiswa tidak wajib hadir karena telah tersedianya kuliah dengan video streaming yang dapat diakses kapanpun dan di manapun. Di NUS hampir tidak ada ujian akhir karena mata kuliah biasa dianggap sudah cukup. Untuk makul yang menggunakan ujian akhir menggunakan e-exam dengan laptop mahasiswanya sendiri tanpa adanya koneksi internet. Teknologi sangat dimanfaatkan di NUS. SIstem SKS di NUS disebut sebagai Modular Credit. Setiap mahasiswa memiliki meja sendiri di dalam kelas studio yang menjadi ‘rumah’ mereka selama setahun pembelajaran. Kelas studio sendiri dapat diakses selama 24 jam penuh. Prof. Johannes mengatakan bahwa secara teknologi dapat dikatakan Indonesia memang tertinggal, tetapi secara estetika dan kepekaan terhadap budaya, mahasiswa arsitektur Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa arsitektur di Singapura karena konteks di Indonesia jauh lebih rumit dibandingkan dengan Singapura. Yang menjadi kekurangan adalah tidak adanya undang-undang arsitektur dan dewan arsitektur yang dapat menaungi sistem arsitektur di Indonesia, sehingga ini diharapkan dapat menjadi PR kita bersama baik bagi arsitek dan calon arsitek.

Peralatan untuk membuat maket di NUS

Tampak luar bangunan fakultas Design and Environment NUS

Suasana pada kelas studio arsitektur di NUS

ARÇAKA #8 | MARCH 2017

115


T IND AHAN OO R, O 24 JAM STU UTDO OR DIO

G AN 0,OR 00.00 5 T p2 KE PA A @ R RG HA

,

* make-up produk import: MAC, CHANNEL, DIOR, SHISEIDO, GUERLAIN, MAKE-UP FOREVER, CRAYOLAN, DERMACOLOR, KOSE


118 ARÇAKA #8 | MARCH 2017

Issue #8: Rethinking Architecture Through the Lion City  

Rethinking Architecture Through the Lion City menjadi isu kami pada edisi ekspdisi Arcaka ke Singapura pada awal 2017. Dalam sudut pandang k...

Issue #8: Rethinking Architecture Through the Lion City  

Rethinking Architecture Through the Lion City menjadi isu kami pada edisi ekspdisi Arcaka ke Singapura pada awal 2017. Dalam sudut pandang k...

Advertisement