Page 1


10 # ISSUE

2

ARÇAKA #10 APRIL 2018


APRIL 2018 ARÇAKA #10

3


CONTENTS PERSPECTIVE 10 |

Rizky Supratman - Shau Architects Arsitek untuk Masyarakat

16 |

Achmad Tardiyana - Urbane Prespektive Urban dari Kota Kembang

22 |

Yori Antar - Han Awal & Partners Sejauh Mana Kota Kita Akan Berlanjut

DESIGN 28 |

Microlibrary Bima Perpustakaan Kecil dengan Pengaruh yang Besar

36 |

Bandung Creative Hub Wadah Insan Kreatif

44 |

Bandung Planning Gallery Wujud Transparasi Pemerintah Kota Bandung

52 |

Pasar Sarijadi Pasar Masa Kini

58|

Koridor Stadion Gelora Bung Karno Eksplorasi Ruang Nusantara yang Mengedukasi

64 | Masjid Al-Safar Cipularang Ketika Kecepatan dan Ketenangan Bersinergi

4

ARÇAKA #10 APRIL 2018

70|

RPTRA Kalijodo Ruang Tamu Masyarakat

76|

Alun-Alun Cicendo Wajah Baru Taman Kota


GOLDEN SECTION 82 |

Arsitektur Berkelanjutan

EVENTS 88 | 89 |

Indonesia Architect Week @Seoul 2017 Jogyakarta-Vienna Young Architect Exhibition (JVYoA Exhibiton)

TECHNOLOGY & INOVATION 90 |

Jembatan Antapani Corrugated Mortarbusa JEJAK ARSITEKTUR 94 |

Charles Prosper Wolf Schoemaker Sebagai Wajah dari Arsitektur Kota Bandung

FENOMENA & LIFESTYLE 100 | Public Place As a Lifestyle 107 | Taman Publik Sebagai Salah Satu Pemecah Masalah Perkotaan

APRIL 2018 ARÇAKA #10

5


ABOUT VISIARÇAKA Membangun kecerdasan, kecintaan, dan kelestarian dunia arsitektur nusantara yang berwawasan internasional

MISIARÇAKA 1. Menyajikan informasi sesuai dengan realita dalam proses berfikir kritis mahasiswa. 2. Menjadi acuan dan pedoman untuk memperkaya keilmuan di bidang arsitektur 3. Membangun, mengajak, dan menginspirasi pembaca untuk sadar, berpikir, dan berkarya bagi masyarakat.

PENERBIT

BIRO PENULISAN DAN PENELITIAN HIMA TRIÇAKA UAJY

PEMBIMBING

Dr. Ir. Y. Djarot Purbadi, M.T.

PELINDUNG

Gerarda Orbita Ida Cahyandari, S.T., M.T. (Kaprodi Arsitektur UAJY) Ir. Ahmad Saifudin Mutaqi, M.T., IAI, AA (Ketua IAI DIY)

SEKRETARIS

Muhammad Gifari

REDAKTUR PELAKSANA

A Christian Pratama Putra (Koordinator Biro)

PEMASARAN

PENASEHAT REDAKSI Chrispina Yovita Putri Yulius Duta Prabowo

Gilang Pidianku (Wakil Koordinator Biro)

LAYOUTER Sadewi Utami

BENDAHARA

Maria Vika Wirastri

WEBSITE issuu.com/arcaka SOCIAL facebook.com/arcaka instagram.com/arcaka CONTACT majalaharcaka@gmail.com

6

ARÇAKA #10 APRIL 2018


AGENDA

SEPEKAN ARSITEKTUR 2018: PAMERAN ARSITEKTUR

IDEA.CO 2018: A NATIONAL FURNITURE DESIGN CAMPETITION PENDAFTARAN 1 March - 22 April 2018

TANGGAL ACARA 15 April - 19 April 2018

DEADLINE 1 March - 22 April 2018

Opening Hours 09.30 am to 22.00 pm

JURI Tri Noviyanto P. Utomo Alvin TJit rowirjo Thomas Ari Kristianto

VENUE Sangkring Art Space LINK sepekanarsitektur.wixsite.com/ sepekan18Yogyakarta

EMAIL ideaco2018@gmail.com

ARCHITECTURAL DESIGN WEEK 2018: RUANG RELUNG INDO BUILD TECH EXPO 2018: SUSTAINABLE URBAN DEVELOPMENT

TANGGAL ACARA 2 - 6 May 2018 VENUE ICE, BSD City

(Tarumanagara University) TANGGAL ACARA 14 April - 22 April 2018

VENUE The Forum, Lippo Mall Puri 1F (First Floor) - near Coconut Island

LINK www.indobuildtech.com

APRIL 2018 ARÇAKA #10

7


Redaksi

Sejalan dengan berkembangnya waktu, kota-kota di Indonesia perlahan mulai menyadari pentingnya infrastruktur serta ruang publik bagi kehidupan kota. Hal ini dapat dilihat dari maraknya pembangunan karya arsitektur maupun urban design yang mulai memperhatikan permasalahan serta kehidupan sosial masyarakat kota. Beberapa kota mulai berbenah. Walaupun hasilnya belum dapat dirasakan sepenuhnya, namun perubahan tersebut mulai menuju ke arah yang positif. Pada edisi ekspedisi #10 kali ini, tim Arcaka mendapat kesempatan untuk mengunjungi dua kota di Indonesia yang sekiranya mulai menunjukan perubahan kearah yang positif yakni Bandung dan Jakarta. Berbagai permasalahan kompleks mengenai isu sosial dan perkotaan yang ada di Bandung dan Jakarta menjadikan kota ini selalu dilihat dan menjadi topik utama dalam perbincangan

kota. Sehingga dengan hadirnya perhatian dari berbagai pihak, akhirnya pelan-pelan mulai diupayakannya solusi-solusi melalui perubahan oleh para penggiat arsitek dan tata kota serta diwujudkan oleh pemerintah selaku penentu kebijakan. Bersamaan dengan hal tersebut, akhirnya mulai bermunculan bangunan-bangunan maupun ruang publik baru yang dirancang untuk memberikan dampak yang positif dan diharapkan dapat menjadi solusi masalahmasalah perkotaan. Dengan hadinya Issue #10 “The New Era of Urban Living� ini, diharapkan kita dapat mengetahui serta mempelajari karya-karya arsitektur maupun urban design beserta dampaknya terhadap kehidupan lingkungan masyarakat kota. Sehingga dapat menjadi referensi dan bahan pembelajaran bagi kita para pelaku arsitektur untuk bisa membuka mata dan lebih sadar akan permasalahan masyarakat kota serta dapat menjadi bahan persiapan bagi kita untuk menjadi bagian dari terwujudnya era baru kehidupan urban yang lebih baik bagi kota-kota di Indonesia.

Salam, A Christian Pratama P Redaksi

8

ARÇAKA #10 APRIL 2018


Contributors

A Christian P P Ars 15

Gilang Pidianku Ars 15

Maria Vika Ars 16

Anita Purnama Ars 16

Angela Savina P Ars 15

Naomi Dian Ars 16

Sadewi Utami Ars 16

Muhammad Gifari Ars 16

Sarah Membala Ars 15

Alfian Ramadhani Ars 17

Graceila Melisa Ars 15

APRIL 2018 ARÇAKA #10

9


PERSPEKTIF

SHAU ARCHITECTS

ARSITEK UNTUK MASYARAKAT

Wawancara dengan Rizki Supratman selaku senior arsitek dari SHAU

10 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Text by Anita Purnama Photos by M. Gifari & courtesy from SHAU Architects

Suryawinata Heinzelmann Architecture Urbanism atau yang lebih dikenal dengan nama SHAU, merupakan biro arsitektur yang berdiri tahun 2009 dengan inisiator Daliana Suryawinata & Florian Henzelmann di Rotterdam, Belanda. Alun-alun Cicendo, Taman Film, Microlibrary di Taman Bima dan Taman Lansia merupakan beberapa proyek SHAU yang telah terbangun dan memperoleh apresiasi yang baik dari berbagai pihak. Penghargaan yang telah dicapai SHAU antara lain medali perak di Lafargeholcim Award 2017, Firm of the Year Award 2017 dari the American Architecture Prize dalam kategori sustainable, Juara dalam Architizer A+ Awards Jury and Popular Choice in Community & Architecture 2017 Indonesian Diaspora Award 2012 for Innovation dan masih banyak lagi.

SHAU DI TIGA NEGARA Florian menempuh pendidikan S1 arsitektur di Munich, Jerman, sedangkan Daliana di Jakarta, Indonesia. Florian dan Daliana melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Berlage Institute Rotterdam, dimana mereka bertemu, menikah dan memulai karir masing-masing. Florian pernah bekerja selama tiga tahun di UNStudio, sedangkan Daliana bekerja di OMA, West8 dan MVRDV. Mereka membuka biro arsitektur bernama SHAU di Rotterdam, Belanda, dan bekerja sama dengan Tobias Ofmann sebagai partner yang menjalankan kantor SHAU di Munich. Pada tahun 2012, SHAU membuka cabang di Jakarta yang kemudian pindah ke Bandung pada tahun 2015 karena iklim yang lebih sejuk, tidak terlalu macet, lebih dekat dengan alam dan terdapat banyak komunitas di sekitar. Kantor SHAU di Indonesia dijalankan oleh Daliana dan Florian, sedangkan kantor di Belanda sedang tidak aktif karena SHAU sedang fokus pada proyek di Asia.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

11


Microlibrary di Taman Bima

TIDAK MAU MENCABUT AKAR Pendekatan desain SHAU mengarah pada evolusi dan penyesuaian dengan kondisi konteks. “Yang pasti, kami selalu enhanged kondisi konteks yang ada. Kami tidak mau mencabut akar, tetapi yang sudah ada disitu akan kami perkuat sehingga nilainya berlipat dan menjadi lebih baik”, ujar Rizki Supratman selaku senior arsitek di SHAU. Selain itu, SHAU juga memperhatikan tentang sustainibility dalam mendesain, misalnya dengan menerapkan penggunaan material daur ulang dan arsitektur yang hemat energi. Hal itu dapat dilihat pada proyek SHAU seperti microlibrary di Taman Bima yang menggunakan kotak es krim bekas, microlibrary di Taman Lansia yang menggunakan paralon pada fasadnya dan Alun-alun Cicendo yang menggunakan lempengan besi berkarat sebagai pelingkupnya.

12 ARÇAKA #10 APRIL 2018

ARSITEKTUR BAGI MASYARAKAT Menurut Rizki, manfaat arsitektur urban yaitu mengkondisikan lingkungan agar dapat memberi pengaruh positif bagi lingkungan hidup sehingga orang dapat melakukan kehidupan yang lebih baik. Misalnya, alun-alun yang dahulu merupakan lahan kosong bekas pabrik untuk meletakkan barang rongsokan, sekarang bisa digunakan untuk berkumpul, bermain, mengadakan pagelaran dan komunitas. Selain itu, adanya pembangunan alun-alun dapat merelokasi kios-kios pinggir jalan menjadi lebih layak secara dimensi, tata guna, keamanan dan kemanusiaan sehingga area negatif dapat diubah dan diaktivasi menjadi lahan positif yang beguna bagi masyarakat. “Intinya, dampak dari ruang publik ialah mewadahi aktivitas dalam kondisi yang jauh lebih baik. Nah, disitulah letak perbedaan arsitek dengan tukang gambar”, imbuhnya.


PEMAHAMAN AKAN USER Dalam mendesain ruang publik, SHAU selalu memikirkan aktivitas yang akan dilakukan seseorang pada ruang tersebut, bagaimana kondisi sekitarnya, bagaimana eksibilitas fungsi ruang dan aksesibilitasnya. Setelah memperoleh hasil analisa tentang aktivitas yang akan diakomodir, barulah SHAU dapat menentukan target pengguna yang akan diayomi disitu. Menurut Rizki, ruang publik yang baik perlu memahami dan mengayomi penggunanya sehingga mereka mau datang dan beraktivitas disana. Perawatan juga menjadi suatu pertimbangan dalam mendesain. Oleh karena itu, arsitek perlu melakukan pertimbangan desain dalam memilih jenis, dimensi dan karakter material yang sesuai dengan kebutuhan. Menurut Rizki, arsitek harus tahu betul bagaimana durasi dan teknik maintenance agar desainnya dapat dirawat dengan baik. Alun-alun Cicendo

Taman film Pasupati

Alun-alun Cicendo

ARSITEK DAN TIM Arsitek berperan membuat program dan fungsi suatu desain, namun kepresisian itu tergantung pada aktivatornya. Arsitek hanya memprediksi dan mengarahkan untuk apa suatu ruang dapat digunakan, namun sisi lain yang harus dipertimbangkan ialah aktivatornya. Lifestyle atau cara orang menggunakan suatu tempat akan terus berevolusi hingga pada akhirnya, tempat tersebut tidak akan 100% berjalan sesuai tujuan awalnya. Begitu juga dengan ruang publik yang penggunanya komunal, orang dengan berbagai latar belakang memiliki berbagai keinginan untuk berkegiatan disitu. Kualitas hidup suatu kota dipengaruhi oleh multidisiplin dan multiaktor. Untuk menjadikan suatu proyek fasilitas publik itu terwujud, perlu adanya kerjasama suatu tim. Misalnya, alunalun bisa terbangun karena adanya keinginan Walikota untuk menyediakan ruang tersebut, ada komunitas yang mau menggerakan, ada lahan yang didedikasikan untuk itu, ada tim yang bekerja untuk mendesain, ada tim yang mau melakukan pembangunan tersebut serta keinginan warga untuk datang dan memeliharanya. “Kita bagian dari orang-orang yang memang mau mengubah kota menjadi lebih baik karena arsitek tidak bisa berjalan sendiri�, imbuhnya.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

13


Microlibrary Fibonacci

RUANG PUBLIK “Pergerakan arsitek dan urban design, terutama di Bandung, semakin baik dan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal itu juga dikarenakan adanya dukungan dari pemerintah”, pendapat Rizki mengenai pembangunan di Bandung. Menurutnya, ruang publik yang layak dan tidak berbayar sangat dibutuhkan, terutama bagi warga kota dengan penghasilan menengah bawah. Dengan tersedianya ruang publik tersebut sebagai tempat untuk bertemu, berkumpul, berbaur

dan bermain akan tercipta warga yang lebih positif, sehat dan bahagia. Arsitek yang peduli pada kebutuhan masyarakat sangat diperlukan untuk ikut andil dalam pembangunan kota. “Profesi urban designer dan arsitek mempunyai dampak dan peran yg lebih signifikan dalam menentukan ruang kota”, ujar Rizki menutup wawancara mengenai opini SHAU terkait urban design.

Jayakarta Jaya The Green Manhattan

14 ARÇAKA #10 APRIL 2018


APRESIASI

2017 LafargeHolcim Silver Award 2017, Asia Pacific (Microlibrary Fibonacci) 2017 WAFX Award, Smart City category (Jakarta Jaya: The Green Manhaan) 2017 Firm of the Year Award from the American Architecture Prize, sustainable category 2017 Archizer A+ Awards Jury and Popular Choice in Community & Architecture (Microlibrary Bima) 2016 Archizer project of the day (Microlibrary Bima) 2016 Recipient of World Architecture Community Award 23rd Cycle 2016 Finalist Architecture Review Emerging Architects Award 2015 Recipient of the Schng Technische Wetenschappen (STW) research grant for The Double Face research project with TU Del and TU Eindhoven 2015 Recipient of the Internaonal Project Grant from Smuleringsfonds voor Creaeve Industries for ‘Smart City Hall Bandung’ 2015 Recipient of the Internaonal Project Grant from Smuleringsfonds voor Creaeve Industries for ‘Kota Tua Creave Fesval 2015’. 2014 Grant recipient for Jakarta Kota Tua Creave Space from Erasmus Huis 2014 Compleon of Film Park in Bandung 2014 Successful Kota Tua Creave Fesval 2014 2014 Concept presentaon of Paviliun5 in Malang to the President of Indonesia 2014 Shortlisted by Asian Development Bank for Green Cies challenge in Indonesia with Deltares 2013 Endorsement for Kota Tua Creave Fesval from the Ministry of Tourism and Creave Economy and the Governor of Jakarta 2013 Special Commission from Jokowi-Ahok for Muara Angke Vercal Kampung 2013 Commissioner for Indonesian Pavilion for the Venice Biennale 2014 2012 Second Prize Visioning Jakarta 2045 2012 Indonesian Diaspora Award for Innovaon 2012 Archinesia Award for Architectural Exhibions 2012 ‘Open City Batam’ Exhibion at the 5th Internaonal Architecture Biennale Roerdam 2011 Workshop at Instute of Housing Studies, Roerdam 2011 Selecon for Solar Decathlon 2011 Recipient of the Open Appeal Grant from Smuleringsfonds voor architectuur for ‘Social Mall Jakarta’ 2011 Recipient of the Internaonal Project Grant from Smuleringsfonds voor architectuur for ‘Open City Batam’ 2011 Open City Workshop in Batam 2011 Jury for the Naonal IAI (Indonesian Instute of Architects) Award 2010 Recipient of the Internaonal Project Grant from Smuleringsfonds voor architectuur for ‘Open City Jakarta’ 2010 Second Prize Velux Award 2010 Open City Exhibion in Bali 2010 Open City Exhibion and Pavilion in Jakarta 2010 Finalist Smart Material House compeon, IBA Hamburg 2009 Fourth Prize Pedestrian Guiding & Roofing System compeon, Wolfsburg 2009 Exhibion and curatorial work at the 4th Internaonal Architecture Biennale Roerdam 2008 First Prize St. Francis Chapel compeon in Aaching, Freising 2007 Finalist Europan 9, Almere 2006 Exhibion of the Berlage Instute at the Venice Internaonal Architecture Biennale 2005 Honorable Menon FAR8 compeon 2005 Exhibion of the Berlage Instute at the 2nd Internaonal Architecture Biennale Roerdam 2003 Honorable Menon Award from the City of Munich (Preis der Landeshauptstadt Muenchen) 2003 Award for entablature, homepage design www.mise-en-scene.de 2003 Award for Best Thesis worldwide, Internaonal Archi Prix 2001 Winner Jakarta Art Center compeon (jury: Antoine Predock), Jakart

APRIL 2018 ARÇAKA #10

15


PERSPEKTIF

Kantor URBANE

16 ARÇAKA #10 APRIL 2018


ACHMAD TARDIYANA - URBANE

PERSPEKTIVE URBAN DARI KOTA KEMBANG Text by Angela Savina Photos by Gilang Pidianku, M Gifari and Angela Savina

PT URBANE Indonesia– merupakan sebuah nama yang diambil dari kata ‘Urban Evolution’. PT Urbane Indonesia bergerak di bidang arsitektur dan urban design. Berdiri pada tahun 2004, dari tangan para arsitek yang berdomisili di kota kembang, Bandung. Ridwan Kamil, Achmad Tardiyana, Reza M. Nurtjahja, dan Irvan P. Darwis beserta jajaran arsitek- arsitek yang bergelut di bidangnya, selalu memperhatikan keadaan kota dan lingkungan dalam setiap karya arsitek ataupun urban design yang mereka kerjakan. Beruntung, tim Arcaka dapat bertatap muka dengan sosok Ir. Achmad Deni Tardiyana MUD. Seorang principal, director, senior architect dan juga senior urban designer yang bersedia membagikan pengalamannya selama berkarya di Urbane.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

17


Wawancara bersama Achmad Tardiyana yang merupakan salah satu Principle URBANE

URBANE YANG MENDARAH DAGING Setelah lulus menempuh pendidikan S1 arsitketur di Insititut Teknologi Bandung pada tahun 1986, Achmad Tardiyana sudah mencoba untuk bekerja di sebuah biro arsitek di Bandung. Banyak pengalaman yang ia peroleh, menempuh pendidikan pada tahun 1992-1993 dengan gelar Master of Architecture in Urban Design, Washington University, St Louise, USA. Kemudian kembali menuntut pendidikan di New South Wales University, Australia, pada tahun 1998-1999 dengan gelar Master Of Urban Development and Urban Design. Sekembalinya ke Indonesia, Achmad Tardiyana mulai mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung. Sempat kembali bergabung dengan biro arsitektur Kala Matra, yang pada akhirnya gulung tikar akibat terjadinya krisis moneter. Pada tahun

18 ARÇAKA #10 APRIL 2018

2004, Achmad mulai bertemu dengan salah satu rekannya di Urbane, yakni Ridwan Kamil. Ridwan yang baru saja pulang bekerja di Hongkong, merasa terpanggil dan harus kembali ke Indonesia melanjutkan visi misinya yang belum tercapai sebagai seorang arsitek. Pada tanggal 1 Juli 2004, PT Urbane Indonesia resmi dibentuk. Pada saat itu, Urbane sudah banyak menjalin kerjasama dengan biro arsitek lokal maupun mancanegara. Berbekal dari pengalaman, Urbane banyak mendapatkan tawaran pekerjaan berbasis urban maupun landscape architecture. Diantaranya dengan EDAW Asia, SOM Hong Kong, SAA Singapura dan AJ Vision Bahrain. Umumnya, proyek-proyek tersebut mengenai pengembangan kawasan maupun proyek pembangunan sarana prasarana umum.


Suasana di kantor URBANE

MENGUSUNG CREATIVE PROGRAMMING Urbane, salah satu biro arsitektur yang bergerak dalam perencanaan ruang kota. Mengusung pendekatan desain yang cenderung memperlihatkan konteks lingkungan serta integritas terhadap ruang terbuka. Urbane memiliki konsep master plan yang lebih mengedepankan sisi creative programming. Pada setiap desain yang diciptakan, terdapat mix and match antara konsep dengan penataan fungsi ruang pada bangunan tersebut. “Sebagai contoh pada proyek pembangunan Rasuna Epicentrum Walk di Kuningan, Jakarta. Urbane sebisa mungkin menerapkan creative programming dengan menghilangkan kavlingkavling perkantoran pada lantai dasar, meletakkan parkiran mobil di basement, dan menggantikannya menjadi ruang retail maupun jalur pedestrian. Hal itu dimaksudkan agar pada lantai dasar, fungsi ruang yang digunakan berupa ruang komunal maupun taman. Sehingga para pengunjung terutama

pedestrian dapat menikmati adanya fasilitas umum secara maksimal.� ujar Achmad. Kemudian dalam segi material, Urbane memberikan ciri khas tersebut dalam setiap karyanya. Hal itu ditunjukkan dengan pemilihan detail material pada paving block, permainan material yang digunakan, serta bentuk yang akan digunakan ketika penyusunannya. Hal ini bertujuan untuk mendorong terciptanya karakter pada setiap material tersebut. Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Maka dari itu, Urbane mencoba mengusung konsep tropicality, dimana penggunaan ventilasi selalu ditekankan dalam setiap karya yang ada. Contohnya pada bangunan Masjid Al- Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Bandung. Hampir seluruh dinding pada masjid tersebut merupakan lubang ventilasi yang digunakan sebagai cross ventilation serta tempat masuknya cahaya alami di pagi hari.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

19


ANTARA URBANE DAN RIDWAN KAMIL Bandung. Dulunya, memberikan sebuah kritik dan saran dalam penataan kota ini amatlah sulit. Sedangkan Urbane dan Ridwan Kamil, sudah menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kini, Ridwan Kamil yang menjabat sebagai walikota non aktif dari Kota Bandung, menjadi penyambung lidah dari para masyarakat Bandung untuk menyampaikan apresiasi dan kritik mereka mengenai kota kembang tersebut. Banyak ide-ide cemerlang yang disumbangkan. Mulai dari penataan taman, perubahan sarana dan prasarana terutama pada jalur pedestrian, hingga pembuatan wadah bagi para pekerja seni maupun tempat penyalur hobi bagi masyarakat di Kota Bandung. Selain pendiri dan masih menjabat sebagai commissioner dari PT Urbane Indonesia, langkah Ridwan untuk berkecimpung di dunia politik lantas melahirkan pro dan kontra di kalangan komunitas arsitektur urban yang ia bentuk bersama Achmad Tardiyana dan rekan-rekan lainnya. “Pro dan kontra tetap ada. Namun saya percaya, Emil memiliki pemikiran lain untuk mengambil alih Kota Bandung menjadi lebih baik lagi.� ujar Acmad.

20 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Suasana di kantor URBANE

Permainan politik lantas tidak dapat terlepas dari kampanye hitam. Urbane lantas tidak tinggal diam. Membawa nama besar Ridwan Kamil, Urbane justru hanya menerima pengerjaan proyekproyek besar diluar Kota Bandung. Ada beberapa hasil karya Urbane yang terdapat pada Kabupaten Bandung, namun rata-rata dibuat sebelum Ridwan menjabat sebagai walikota. Pada setiap proyek yang dikerjakan, tentunya tiap daerah di Indonesia memiliki peraturan peraturan tersendiri mengenai ciri khas yang tidak boleh di ubah dari daerah tersebut. Maka, terjadilah pergumulan hati antara mengikuti keinginan client atau mengikuti aturan aturan yang ada. Lantas, bagaimana upaya Urbane menanggapi hal tersebut?


Suasana di kantor URBANE

Mengenai spesifikasi proyek yang dikerjakan, Urbane hanya mengerjakan proyek-proyek komersial. Urbane dihadapkan kepada bagaimana cara menyeimbangkan kompromi dengan client. Baginya, client adalah profit. Ada kesinambungan antara sistem ability, sosial, kontribusi secara ekologis dan bagaimana menciptakan bangunan dapat bersahabat dengan lingkungan. Sehingga pada setiap proyek yang dikerjakan, bangunan cenderung dibuat sesuai dengan keputusan dengan client, dan benefit diperoleh dari image perusahaan itu sendiri. “Urbane menggunakan cara berpikir client sebagai bahasa arsitektur dari bangunan tersebut. Tidak konfrontatif. Namun tetap berlandaskan ekologi dan bersahabat dengan lingkungan�

APRIL 2018 ARÇAKA #10

21


PERSPEKTIF

HAN AWAL & PARTNERS

SEJAUH MANA KOTA KITA AKAN BERLANJUT? Text by Naomi Dian Photos by Alfian Ramadhan

Wawancara dengan Yori Antar

22 ARÇAKA #10 APRIL 2018


“Jangan hanya bisa membuat arsitektur yang indah, tetapi arsitektur yang berguna untuk Indonesia.” –sebuah kutipan dari Alm. Han Awal yang selalu diingat oleh Yori Antar. Apa yang terjadi bila dua hal yang bertolak belakang disatukan? Apa yang Anda bayangkan? Mungkin, sebuah perdebatan atau bahkan perpecahan. Atau mungkin kedua hal tersebut justru dapat berkolaborasi dengan baik. Sebuah perdebatan panjang akan terjadi ketika sebuah kota tidak tahu menahu ke arah manakah dirinya akan berkembang. Merangkum sebuah empati seorang arsitek, dimana modernisasi menjajah kaum melenial untuk melawan bangsanya sendiri, yang mendorongnya untuk membukakan pintu bagi kaum muda. AMI DAN KOTAK KATIK KOTA KITA AMI (Arsitek Muda Indonesia) merupakan suatu jawaban dari keresahan Yori Antar terhadap pembangunan di Indonesia. Kenyataan di lapangan, banyak arsitek tenggelam di belakang nama konsultan, banyak asumsi bahwa arsitektur tidak menarik, atau tidak pernah ada keterbukaan arsitek dalam membicarakan desain. AMI yang pada mulanya diremehkan oleh sebagian orang menjelma menjadi suatu gebrakan besar bagi dunia arsitek zaman itu.

AMI menyadarkan dunia bahwa arsitektur adalah sebuah wacana yang harus dibicarakan. Arsitek tidak hanya menerima proyek, tetapi juga bertanggung jawab membentuk wajah, budaya, dan peradaban kota kita. AMI dibentuk untuk berkumpul, diskusi arsitektur (disebut diskursus arsitektur), debat, atau pun memamerkan karya yang dimiliki, baik 100% atau setengah jadi. Dengan adanya publikasi desain/pameran kepada masyarakat, AMI mulai mengkomunikasikan arsitektur kepada masyarakat. Meski mendapat kritikan dan hinaan akan desain mereka, bagi mereka hal itu justru sebuah keberuntungan. Dengan kata lain, mendapat respon yang baik karena mendapat banyak masukan. Tentunya, hal ini semakin mendekatkan diri arsitek dengan masyarakat. Karena dulu gap-nya jauh sekali, masyarakat dan arsitek harusnya saling menghidupi. AMI semakin terkenal setelah menghadiri udangan untuk berdialog dengan masyarakat Solo pada 12 – 15 November 1999, tepat setelah peristiwa krisis moneter. Kota Solo menjadi titik awal dari perubahan besar perencanaan kota-kota di Indonesia. Hal ini mendorong koran – koran nasional untuk mengulas artikel mengenai dunia arsitektur.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

23


Desain rancangan koridor timur Stadion Gelora Bung Karno

ARSITEK INDONESIA, DIMANAKAH POSISINYA? Rumah Asuh menjadi jawaban atas keresahan Yori akan arsitektur Indonesia. Rumah Asuh konsentrasi untuk membangun negeri. Program ini berawal dari pertemuan Yori dengan Dalai Lama di Tibet. Saat itu Yori mengunjungi Tibet dan menulis sebuah buku mengenai Tibet.Kemudian, Yori meminta Dalai Lama untuk memberikan kata sambutan. Berikut kata sambutannya.

“Walaupun tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui Negeri Tibet, sebaliknya, kami warga Tibet sudah mengenal Indonesia sejak lama. Pendiri Negeri Tibet terlebih dahulu belajar dengan Lama di Golden Island (red. Sekarang disebut Sumatra) selama hampir sebelas tahun. “

24 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Rumah Asuh menjadi jawaban atas keresahan Yori akan arsitektur Indonesia. Rumah Asuh konsentrasi untuk membangun negeri. Program ini berawal dari pertemuan Yori dengan Dalai Lama di Tibet. Saat itu Yori mengunjungi Tibet dan menulis sebuah buku mengenai Tibet.Kemudian, Yori meminta Dalai Lama untuk memberikan kata sambutan. Berikut kata sambutannya. Pernyataan tersebut membangkitkan kesadaran Yori akan kurangnya pengetahuan anak-anak bangsa mengenai sejarah negeri sendiri. Padahal, Indonesia dikenal akan kekayaan budayanya. Yori menegaskan bahwa penyebabnya adalah modernisasi dari revolusi industri. Pendidikan yang awalnya berasal dari penjajah (red. Belanda) membentuk mindset dalam bentuk tulisan. Selanjutnya, budaya tersebut disebut budaya top down. Sebagai contoh, yaitu material yang selama


Ruang bermain yang ramah anak

ini dipakai merupakan barang import. Hal ini sangat berlawanan dengan budaya asli Indonesia, yaitu budaya lisan. Budaya yang ditularkan dari mulut ke mulut, dan hasil instruksinya adalah bentuk sosial. Contohnya adalah gotong royong. Hal ini selanjutnya disebut budaya bottom up. Duduk perkaranya berada pada tidak bertemunya mindset budaya top down dan bottom up. Dimana budaya top down akan mendorong timbulnya bangsa penghasil dan budaya bottom up menghasilkan bangsa pengguna. Semakin jelas, muncul pernyataan bahwa modern hanya bisa berjalan jika tradisi dihancurkan. Yori secara tegas mengatakan ketidaksetujuannya

terhadap hal tersebut. Menurut Yori, justru, arsitek harus bisa menjaga dan memperhatikan kelestarian budaya negeri sendiri. Budaya tersebut harus bisa dibawa ke masa kini, dan tentu bisa dibawa ke masa depan. Yori berpendapat bahwa jikalau ingin beradu modern dengan negara lain, sampai kapanpun negara Indonesia adalah negara follower dan secara mindset Indonesia akan dijajah oleh negara-negara produsen. Sedangkan, ditinjau dari sisi budaya, negara Indonesia adalah juara dunia. Ia menjelaskan bahwa hanya Indonesia yang memiliki suku etnik budaya terbanyak, yaitu 700 buah.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

25


Gambar Gravity di Dinding yang ada di RTPRA Kalijodo

Titik baliknya adalah tahun 2008, ketika Yori mengunjungi Wae Rebo dan memutuskan untuk berhenti menjadi turis. Ketika turis hanya datang untuk berfoto, tapi tidak ada improvement, ia memutuskan untuk bergerak. Yori tidak menunggu pemerintah untuk menyampaikan berita kepunahan Wae Rebo. Yori berinisiatif bahwa jika dirinya yang dating atau melihat, maka dirinyalah juga yang harus melakukan. Dari total seharusnya terdapat 7 rumah adat, saat itu tersisa 4 buah dengan 2 rumah dalam kondisi akan punah. Namun, sekarang semua rumah adat Wae Rebo sudah diperbaharui semua. Dalam pembangunan rumah adat Waer Rebo, Yori melaksanakan budaya gotong royong. Saat ini, setiap tahun, Yori selalu mengirim mahasiswa untuk belajar di Wae Rebo sebagai sebuah living culture, perpustakaan keilmuan, dan kampus.

26 ARÇAKA #10 APRIL 2018

URBAN DESAIN SEBAGAI SARANA MEMPERKENALKAN ARSITEKTUR LOKAL Yori Antar yang telah lama berkecimpung dalam dunia arsitektur lokal membawa dirinya masuk lebih jauh ke dalam urban desain karena tuntutan pekerjaan. Namun, bukan berarti meninggalkan arsitektur lokal, Yori justru memperkenalkan lokalitas dalam desain-desain urbannnya, seperti rebranding Solok Selatan dan koridor Stadion GBK (Gelora Bung Karno). PEMBANGUNAN DI INDONESIA Yori melakukan studi perbandingan antara mahasiswa arsitektur yang berasal dari kota most livable city, yaitu kota Melbourne dan mahasiswa arsitektur asal Indonesia. Jawabannya cukup mencengangkan. Kedua pihak mahasiswa mendesain dengan tapak yang sama tetapi output yang dihasilkan sangat berbeda. Mindset livable city pada mahasiswa Melbourne menghasilkan rancangan bangunan full akses pada lantai 1 lantai 2. Hal ini bertolak belakang dengan mahasiswa Indonesia yang merancang bangunan dengan seluruh sisi tertutup.


RPTRA Kalijodo

Yori berpendapat bahwa kota Melbourne sebenarnya adalah kota yang biasa saja, baik dalam bentuk kota maupun arsitekturnya. Hanya saja semua orang yang tinggal di kota Melbourne melihat kota itu sebagai kota yang bersahabat, karena semua kampus dan fasilitas dapat diakses. Dengan begitu image kota menjadi lebih ramah. Justru bukan wajah kota yang cantik, tetapi kota yang hidup, ramai, selaras, namun aman adalah wujud livable city. Kota yang bisa diakses oleh masyarakat dalam segala fasilitas adalah dambaan semua orang. LIVABLE CITY DI INDONESIA Menurut Yori, konsep livable city sangat dibutuhkan oleh pemimpin-pemimpin, seperti walikota dan bupati. Saat ini sudah ada kecendurungan positif bahwa pemimpin daerah sudah mulai menyusun perencanaan untuk membuat kotanya menjadi lebih baik. Yori berharap pemimpin-pemimpin daerah mempunyai wawasan perkotaan lebih baik lagi, bukan hanya pemimpin politik saja. Sampai saat ini terdapat 2 pemimpin

Desain rancangan koridor timur Stadion Gelora Bung Karno

daerah yang berprofesi sebagai arsitek, yaitu Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dan Mohammad Ramdhan Pomanto (Bupati Ujung Pandang), serta Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), yang meskipun bukan arsitek tetapi memahami dunia arsitektur. Yori Antar berharap agar RTH, livable city, dan rebranding kota tidak hanya menjadi tren, tetapi kenyataan di lapangan. Yori juga berharap arsitek dapat keluar kandang semua, maksudnya tidak hanya sibuk di kotanya sendiri, tetapi harus membangun indonesia. Karena perlu diingat, Indonesia tidak bisa dibangun oleh teori siapa pun, melainkan hanya orang Indonesia sendiri yang bisa membangunnya. Membangun dengan bentuk khasnya sendiri, baik melalui tradisi maupun alamnya.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

27


28 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

MICROLIBRARY BIMA

PERPUSTAKAAN KECIL DENGAN PENGARUH YANG BESAR Text by Anita Purnama Photos by M. Gifari & SHAU Architects

Membaca merupakan salah satu kegiatan yang kurang diminati oleh masyarakat Indonesia, terutama anakanak. Tidak heran apabila kurangnya kesadaran akan pentingnya budaya membaca menyebabkan indeks literasi di Indonesia relaf rendah. Berdasarkan data United Naons Educational, Scienfic, and Cultural Organizaon (UNESCO), persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Selain itu, data studi ‘Most Liered Naon in the World’ yang pernah dirilis Central Conneccut State University pada 2016 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Menurut Pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, Trini Hayati, salah satu penyebab rendahnya minat baca anak adalah kesulitan akses untuk mendapatkan buku. Lalu, apakah suatu desain arsitektur dapat berperan meningkatkan minat baca dan indeks literasi suatu wilayah?

Dalam mendesain bangunan yang memiliki konteks urban, seorang arsitek perlu melihat dan memahami apa yang dibutuhkan suatu kota dan apa yang bisa dia lakukan di kota tersebut. Misalnya, masalah indeks literasi di Indonesia yang tergolong rendah, termasuk Kota Bandung. Salah satu penyebab rendahnya minat baca anak adalah kesulitan masyarakat dalam mengakses dan mendapatkan bahan bacaan. Misi perpustakaan yaitu menambah dan meningkatkan tingkat literasi dan minat baca agar tingkat buta huruf dapat berkurang. Salah satu solusi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia adalah dengan menyediakan perpustakaan kota maupun perpustakaan daerah sebagai fasilitas publik yang menarik minat masyarakat dan mudah dijangkau.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

29


Anak-anak berkumpul di panggung.

Anak-anak bermain di lapangan

MICROLIBRARY SEBAGAI SUATU JARINGAN Microlibrary merupakan salah satu alternaf keka kita harus mengejar keternggalan minat baca yang disertai dengan adanya permasalahan pembangunan kompleks, seper dak tersedianya lahan besar dan biaya. Prinsip dasar Microlibrary yaitu desentralisasi. “Dibanding bikin satu perpustakaan besar di kota, lebih baik kita bagi perpustakaan kecil di setiap kecamatan agar orang lebih mudah datang kesitu� jelas Rizki selaku senior arsitek di SHAU saat diwawancarai oleh Tim Arcaka. SHAU (Suryawinata Heinzelmann Architecture Urbanism) ingin mendesain perpustakaanperpustakaan kecil yang dapat menjangkau masyarakat di lahan yang luasnya kurang dari 400 m. Walaupun kecil, namun Microlibrary dapat membentuk suatu jaringan. Setiap daerah yang padat sebaiknya memiliki setidaknya satu Microblibrary. Akan sangat luar biasa apabila setiap Microlibrary ini dapat saling bekerja sama, misalnya dengan penggiliran buku-buku antar Microlibrary.

Tangga tunggal untuk mengakses perpustakaan.

30 ARÇAKA #10 APRIL 2018


KERJASAMA DAN DUKUNGAN Pembangunan Microlibrary di Taman Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung merupakan usulan desain dari SHAU kepada pemerintah yang mendapat dukungan dari Dompet Dhuafa serta Pemerintah Kota Bandung. Setelah selesai dibangun, Indonesian Diaspora Foundation ikut memberikan bantuan dalam maintenance dan mengusahakan agar ada kegiatan yang berlangsung disitu. Arsitek juga bekerjasama dengan komunitas sekitar seper karang taruna dalam merawat dan membersihkan Microlibrary tersebut.

AKTIVITAS BERAGAM Microlibrary di Taman Bima merupakan microlibrary pertama di Bandung yang selesai 2 dibangun tahun 2016 pada lahan seluas 160m . Lokasinya menarik karena berada di antara perumahan menengah atas dan perkampungan menengah bawah. Diharapkan microlibrary ini dapat menjadi perekat dan menciptakan interaksi sosial diantara keduanya. Dahulu, area tersebut berupa lahan kosong yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk bermain tanpa disertai fasilitas yang layak. Melihat kondisi tersebut, arsitek

Anak-anak membaca di perpustakaan.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

31


konektor

Perkampungan menengah atas

Perkampungan menengah bawah

Situasi di sekitar Microlibrary Taman Bima ingin penduduk tidak merasa tempatnya diambil, tetapi diangkatkan dan dikembangkan agar dapat mendukung kegiatan masyarakat yang beragam. Dalam mendesain microlibrary, arsitek memikirkan bagaimana fasadnya dapat terlihat unik, masyarakat sekitar bisa bangga, dan dapat melakukan kegiatan yang beragam. Dari 2 pemikiran tersebut, disediakanlah area seluas 40 m sebagai lapangan bermain dan 80 m2 berupa bangunan bertingkat dua. Konsep arsitektur Bima Microlibrary adalah â€˜ďŹ‚oating box’ atau rumah panggung yang dapat menaungi area di bawahnya. Lantai dasar terdiri atas lapangan yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain dan panggung beton sebagai tempat berkumpul. Di lantai dua terdapat perpustakaan kecil

32 ARÇAKA #10 APRIL 2018

disertai ruang baca yang nyaman. Pepohonan di sekitar membantu meneduhkan area tersebut agar lebih nyaman dalam berakvitas, walaupun di sisi lain dapat mengakibatkan sampah daun. Kedua lantai tersebut dihubungkan dengan tangga menerus dari sisi panggung menuju entrance perpustakaan. Di area berkumpul tidak terdapat kursi, mengingat kebiasaan masyarakat yang lebih nyaman lesehan. Tangga pada ruang berkumpul dapat digunakan sebagai tempat duduk yang mengarah ke lapangan. Warga dapat berkumpul dan duduk santai sambil melihat anak-anak bermain di lapangan, sedangkan anak-anak yang lelah bermain dapat beristirahat di panggung tersebut maupun naik untuk membaca buku yang disediakan di perpustakaan.


Perpustakaan

Panggung

SUSTAINABLE ARCHITECTURE Konsep Sustainibility atau keberlanjutan yang diterapkan pada microlibrary ini diantaranya dengan pengaplikasian material bekas ramah lingkungan dan bangunan hemat energi. Prinsip pelingkup bangunan yaitu menggunakan material bekas yang dapat memenuhi kategori yang diinginkan melalui berbagai riset dan pemilihan terhadap solusi terbaik. Pemikiran itu muncul sebagai semangat arsitek untuk mengedukasi dan memberi contoh kepada masyarakat bahwa hal yang dianggap tidak berguna dapat menjadi sangat berguna apabila dapat dikreasikan dengan baik. Pemilihan ember es krim sebagai pelingkup

Perpustakaan

Panggung

bangunan telah melalui berbagai penelitian dan uji coba yang amat panjang. Sebelumnya, ember es krim bekas belum pernah digunakan dalam fasad bangunan, namun arsitek yakin bahwa material ini menjanjikan karena memiliki performance yg baik. Material tersebut dikumpulan berminggu-minggu hingga terkumpul sekitar 2000 ember es krim bekas. Warna putih pada ember es krim tersebut bagus untuk menyebarkan cahaya karena cahaya pendar (diuse light) lebih baik daripada cahaya yang langsung menyorot (direct light). Keunggulan pemilihan ember es krim dibandingkan material lain seper glass block yaitu karena bebannya yang

APRIL 2018 ARÇAKA #10

33


Perpustakaan dan ruang baca di lantai 2

ringan, harga lebih murah, sesuai dengan prinsip arsitektur bekerlanjutan dan dapat dilubangi untuk memasukkan udara. Cahaya yang masuk memiliki intensitas yang baik dan mampu mendukung kegiatan membaca didalam sehingga tidak perlu menyalakan lampu pada siang hari. Penataan ember es krim dengan beberapa yang dilubangi berguna sebagai cross ventilation agar pengahawaan alami dapat masuk dan bersirkulasi dengan baik. Dengan tebal pelingkup sekitar 24 cm dan kemiringan 3 hingga 5 derajat, air hujan dan debu tidak dapat masuk ke dalam bangunan.

34 ARÇAKA #10 APRIL 2018

FASAD MONOKROM Bagian ember es krim yang dilubang melambangkan angka nol dan yang utuh melambangkan angka satu. Pola nol dan satu pada ember es krim tersebut disusun berdasarkan binnary code yang dipasang pada fasad secara berulang-ulang dan mengandung pesan “buku adalah jendela dunia�. Perpaduan warna hitam pada konstruksi rangka baja, warna putih ember es krim dan beton abu-abu menciptakan kesan bangunan monokrom yang modern. Ember es krim dipasang pada rangka baja vertikal dengan 2 baut di sisi kanan dan 2 baut di sisi kirinya secara vertikal.


Detail sambungan ember eskrim

DULU DAN SEKARANG Dengan adanya microlibrary ini, sekarang anak-anak di sekitar lokasi memiliki wadah untuk tumbuh di ruang lebih aman dan lebih baik untuk mereka. Microlibrary di Taman Bima telah memfasilitasi serta menyediakan ruang yang lebih layak, terutama untuk anak kecil, agar dak bermain di pinggir jalan maupun ruang-ruang lain yang dak tersensor. Sekarang warga sekitar memiliki lapangan yang aman,

Ember eskrim diliat dari luar

tempat berkumpul yang teduh, tempat membaca, fasilitas internet dan listrik yang lebih layak dan dapat digunakan bersama. Adanya microlibrary ini telah membantu meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk membaca, bahkan SD sekitar yang dak memiliki perpustakaan melakukan kunjungan sebagai proses pembelajaran.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

35


BANDUNG CREATIVE HUB.

Bandung Creative Hub tercatat menjadi pusat kreatif pertama yang ada di Indonesia, dan menjadi Creative Center kedua di kawasan negara- negara asia tenggara (ASEAN) setelah sebelumnya sudah ada Thailand Creative & Design Center (TCDC). dikerjakan

36 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

WADAH INSAN KREATIF Teks by Sarah Membala Photo by M Gifari & Angela Savina P

Bandung Creative Hub tercatat menjadi pusat kreatif pertama yang ada di Indonesia, dan menjadi creative center kedua di kawasan negara- negara asia tenggara (ASEAN) setelah sebelumnya sudah ada Thailand Creative & Design Center (TCDC). Keberadaan Bandung Creative Hub menjadi solusi yang dihadirkan Pemerintah Kota Bandung untuk menjawab krisis infrastruktur yang kerap menghambat kreativitas warga Bandung. Bandung Creative Hub (BCH) berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi, terdiri dari enam lantai dengan 20 ruangan yang ada. Untuk akses di dalam gedung, bangunan memiliki lift dan tangga. Dinding bangunan setiap lantainya terdiri dari mural dan bercorak animasi yang di desain sangat menarik dan penuh warna,

dikerjakan langsung oleh penggiat kreatif kota Bandung. Bangunan BCH memiliki arsitektur yang menarik. Desain bangunan berbentuk poligon (segi banyak) dengan fasad yang terdiri dari ornamen warna-warni. Keunikan pada fasad menjadi pembeda bangunan BCH dengan model bangunan gedung – gedung lainnya di Bandung pada umumnya dengan diberikan sentuhan kreatifitas dengan cara menyelimuti bagian luar temboknya dengan extrude atau ornament meski secara konsep struktural masih sama. Ornament atau extrude yang dipasang tersebut selain berfungsi sebagai hiasan, juga diberi lampu di setiap lipatannya, sehingga pada malam hari, ornamen atau extrude di Gedung Bandung Creative Hub akan menyala dan memancarkan cahaya.

Fasad Bandung Creative Hub

APRIL 2018 ARÇAKA #10

37


Area duduk perpustakaan yang kreatif dan inovatif

Area duduk perpustakaan yang kreatif dan inovatif

Selain dari fisik bangunan yang megah, bangunan ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, salah satunya adalah dengan dihadirkannya program Training of Trainer (TOT). Program ini bertujuan untuk melahirkan mentor-mentor yang berkualitas dan dapat bersaing.

38 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Setiap anak tangga yang bertuliskan kata-kata kreatif

Memasuki gedung, ada tangga berwarna kuning, putih, hijau, merah, biru, oranye, dan putih. Di bagian depan gedung, ada kursi dan meja yang dilengkapi fasilitas stop kontak, ada pula kursi bantal yang berada di tangga sebelum memasuki gedung. Di lantai satu, disediakan ruangan untuk fashion berbagai brand lokal Bandung. Lantai dua ada lobi, perpustakaan, coffe shop, dan ruang kerja. Di lantai tiga, ada ruang musik, lukisan dan museum foto. Memasuki lantai empat, ada

Memiliki fasilitas belajar dan diskusi yang bebas diakses publik

ruang game dan animasi. Di ruangan game, ada layar komputer yang dilengkapi meja dan kursi. Di lantai lima, ada ruangan fesyen yang sudah diisi berbagai pakaian. Lantai enam area rooftop yang dapat melihat sebagian pemandangan Kota Bandung. Setiap lantai disediakan fasilitas lengkap yang sudah siap digunakan.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

39


Memiliki fasilitas belajar dan diskusi yang bebas diakses publik

Cafe sebagai tempat area komersil namun tenang sesuai dengan budaya kota saat ini

lagi dengan kehadiran bangunan aset kreatif masyarakat yang baru, menambah kekayaan pusat kreatif Bandung. Kota Bandung diharapkan dapat mendukung dan memajukan pertumbuhan ekonomi. Sementara untuk teknis pengisi dan pengelola ada pemilahan untuk sejumlah aktivitas kreatif, serta alat pendukungnya. Menurut Kementrian Perdagangan Republik Indonesia dalam buku Pengembangan

40 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Ini juga menjadi salah satu bukti keseriusan Pemerintah Kota Bandung membangun kota yang kreatif dan inovatif. Pembangunan gedung ini dirancang langsung oleh Ridwan Kamil selaku walikota Bandung. Harapannya Bandung bisa mendapatkan gelar jaringan kota kreatif (Creative Cities Network) yang sekaligus menjadi kebanggan Indonesia. Fasilitasfasilitas pendukung aktivitas diharapkan dapat memacu pertumbuhan ide-ide dan karyakarya kreatif bagi masyarakat. Selain menjadi kota wisata kreatif yang memikat, ditambah

Fasilitas baca dan duduk yang nyaman dengan berbagai pilihan yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda yang kreatif


Rooftop yang dapat diakses dengan bebas oleh semua pengunjung

Memiliki fasilitas belajar dan diskusi yang bebas diakses publik

APRIL 2018 ARÇAKA #10

41


Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif 2025 menyebutkan bahwa industri kreatif dapat dikelompokkan kedalam 14 sub sektor. Dari 14 sub sektor tersebut 11 diantaranya diwadahi di Bandung Creative Hub, yakni : periklanan, pasar barang seni, kerajinan, desain, video (film dan fotografi), permainan interaktif (game), musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak 50 (software), televisi dan radio, dan riset pembangunan. Dengan berdirinya pusat kreatif ini, diharapkan bisa menjadi wadah bagi kalangan kreatif sehingga masyarakat tahu bahwa Kota Bandung memiliki tempat dan diisi oleh orang-orang kreatif. Gedung ini pun diharapkan jadi tempat tumbuhnya ekonomi kreatif kelas dunia.

Terdapat karya-karya seni dari berbagai artis di dinding-dinding bangunan

Karya-karya seni tersebut mengangkat berbagai hal yang bertemakan seni budaya di Indonesia

42 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Karya-karya seni tersebut mengangkat berbagai hal yang bertemakan seni budaya di Indonesia

APRIL 2018 ARÇAKA #10

43


BANDUNG PLANNING GALLERY

WUJUD TRANSPARASI PEMERINTAH KOTA BANDUNG

44 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

Text by Sarah Membala Photos by M. Gifari

Pemerintah Kota Bandung membuktikan wujud transparansi pada warganya dengan membangun BPG (Bandung Planning Galery) dengan teknologi terkini yang interaktif, anak-anak hingga orang dewasa bisa lebih memahami kebijakan dan perbaikan insfrastruktur dari pemerintah. “Jadi Pak Wali (Ridwan Kamil) pertama menginginkan adanya transparansi perencanaan kota Bandung, kemudian memfasilitasi sarana edukasi bagi masyarakat kota Bandung bukan hanya lingkup pemerintahan yang mengetahui tentang pembangunan tapi masyarakat luas dapat mengetahui Bandung kedepan seperti apa. Di dunia pendidikan juga belum terlalu paham tentang sejarah Bandung masa lalu, dengan adanya BPG masyarakat bisa tahu bagaimana terbentuknya identitas kota Bandung�. Ujar Melani selaku Kepala UPT Anjungan Perencanaan Kota. Konsep BPG diusung oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil dan penyediaan konten-konten seperti sarana dan prasarana yang ada merupakan bantuan dari Bapelitbang Kota Bandung.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

45


BANDUNG MASA LALU DAN MASA KINI Mengusung tema “Cintai Bandung Seutuhnya”, area ini mengajak pengunjung untuk mengenali profil kota Bandung baik di masa lalu maupun masa kini. “Bandung Baheula” ditampilkan dalam bentuk video berisikan informasi menarik mengenai terbentuknya dataran Bandung dari danau Purba, sejarah berdirinya kota Bandung, dan peran Bandung di masa-masa penting Indonesia. Bandung Masa Kini ditampilkan dalam bentuk video berisi mengenai kondisi geografis, perkembangan pembangunan, pencapaian terkini, program Pemerintah Kota Bandung, Saran dan Harapan dari beberapa warga Bandung.

Melani selaku Kepala UPT Anjungan Perencanaan Kota

Area Administrasi yang semuanya dioperasikan secara program komputer dan menuju kedepan

46 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Area Post it dimana pengunjung dapat memberi komentar dan masukan terhadap BPG

SMART CITY & URBAN MOBILITY Menampilkan rencana pengembangan kota pintar (smart city) dan transportasi kota (urban mobility). Pada enam layar video, terdapat penuturan konsep umum, tahap pengembangan, dan harapan masyarakat akan rencana-rencana tersebut. Detail projek smart city seperti Bandung Command Center dan Panic Button serta projek urban mobility seperti monorel, (bus) Trans Metro Bandung, Skybridge (cable car), dan Bike Sharing disuguhkan melalui layar sentuh. Selain itu, ada sensasi menaiki monorel dengan teknologi virtual reality.

Wujud Cable Car yang direncanakan untuk untuk mencapai Urban Mobility yang baik

APRIL 2018 ARÇAKA #10

47


Dilengkapi dengan banyak fitur-fitur pembelajaran yang interaktif

BANDUNG TEKNOPOLIS Konsep baru yang dirancang agar Bandung menjadi world class city. Untuk itu, masyarakat berhak untuk mengetahui rencana pengembangan area dan infrastruktur yang akan dibangun di kawasan Gedebage ini. Melalui video dan layar sentuh, kawasan kota dijelaskan dari mulai bentuk teknopolis di kota lain, keuntungan Bandung Teknopolis, dan infrastruktur yang akan ada di Bandung Teknopolis.

POST IT ROOM Area dengan struktur kubah memfasilitasi partisipasi warga dalam bentuk post it. Pengunjung dapat menuliskan harapannya akan masa depan Bandung dan peran yang dapat dilakukannya untuk kemajuan kota Bandung.

Showcase rencana pembangunan kota Bandung dalam bentuk maket

48 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Dilengkapi dengan banyak fitur-fitur pembelajaran yang interaktif

GALERI TEMPORER Area diperuntukkan sebagai showcase rencanarencana pembangunan di kota Bandung yang belum disetujui dalam bentuk maket atau video. Publik juga dapat memanfaatkan untuk memberikan masukan terkait perencanaan pembangunan kota pada layar sentuh interaktif maupun buku aspirasi manual yang disediakan di bawah setiap layar tv.​

BANDUNG DALAM ANGKA Bandung Masa Kini diwakilkan dengan layar sentuh interaktif yang menampilkan 3 bagian yaitu Manusia, Benda dan Tempat. Contohnya populasi Kota Bandung, jumlah kendaraan, jumlah sarana kesehatan dan pendidikan, jumlah hotel, dan jumlah masyarakat miskin di kota Bandung.

Berbagai fitur yang disediakan melalui arena-arena pembelajaran

APRIL 2018 ARÇAKA #10

49


Peta (denah) yang dipresentasikan secara menarik di dinding area tunggu yang terdapat di entrance

BANDUNG DALAM ANGKA Bandung Masa Kini diwakilkan dengan layar sentuh interaktif yang menampilkan 3 bagian yaitu Manusia, Benda dan Tempat. Contohnya populasi Kota Bandung, jumlah kendaraan, jumlah sarana kesehatan dan pendidikan, jumlah hotel, dan jumlah masyarakat miskin di kota Bandung. Bandung Planning Gallery mendapat respon yang baik dari masyarakat kota Bandung terutama pada hari libur jumlah pengunjung hingga 1.000 per minggu. Banyaknya masukan positif dari pengunjung meningkatkan interaksi antara masyarakat dan pemerintah sendiri. Untuk mempertahankan antusiasme masyarakat pihak BPG merencanakan inovasi

50 ARÇAKA #10 APRIL 2018

terbaru pada pengunjung, fitur-fitur yang ada diberi formula agar bisa langsung dinikmati serta adanya perawatan yang rutin agar tidak terjadi kendala teknis pada setiap area. “Kalau sekarang aplikasi dapat di download oleh pengguna android, tahun depan kami ingin mengembangkan agar semua bisa men-download baik android maupun ios. Selain itu ada ide membuat hologram tiga dimensi agar pengunjung lebih tertarik. Inovasi yang akan dikembangkan seperti kontrol sistem untuk semua PC. Kita juga masih UPT baru jadi butuh SOP, dan harapannya ada dalam satu hari khusus untuk pemelihaaan agar semua fasilitas tidak mudah rusak� ujar Melani.


Area Lobby untuk menjalankan fungsi administrasi saat pengunjung ingin masuk

Ruang-ruang serba putih dan saling terhubung satu sama lain

APRIL 2018 ARÇAKA #10

51


DESIGN

52 ARÇAKA #10 APRIL 2018


PASAR SARIJADI

PASAR MASA KINI Text by Alfian Ramdhani Photos by M. Gifari

Pasar Masa Kini Pasar Kontemporer atau bisa dibilang “Pasar Masa Kini” dengan tampilan modern, telah berhasil mengkikis kesan kumuh, becek, serta bau yang masih berada di dalam mindset masyarakat saat mendengar kata “pasar”. Pasar yang dulunya dikenal dengan nama Pasar Cibogo yang terletak di Jl. Sariasih ini, merupakan hasil revitalisasi oleh Andra Matin yang merupakan seorang arsitek ternama kelahiran Bandung. Kini pasar ini di kelola oleh PD. Bandung Bermartabat sebuah BUMD yang berada langsung di bawah naungan walikota.

Pasar Ramah Disabilitas Pasar yang disebut-sebut sebagai pasar percontohan se-indonesia ini, tetap bernuansa tradisional. Hal tersebut terlihat dari tidak terdapatnya eskalator dan lift, melainkan hanya penggunaan ramp sebagai sarana transportasi vertikal di dalamnya. Oleh Karena itu pasar ini tetap bisa diakses oleh anak kecil, para lansia, serta penyandang Disabilitas. Pasar yang berkonsep one stop shopping ini pun dirancang sebagai pasar yang Eco-Green sehingga sirkulasi dan pencahayaannya tetap terjaga walaupun tanpa penggunaan listrik di dalamnya.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

53


Suasana jual beli di Pasar Sarijadi

Paradigma Dalam Masyarakat Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Pemerintah Kota Bandung berhasil membuat suatu pasar tradisional yang dapat menjadi percontohan untuk pasarpasar se-indonesia. Meskipun begitu, wajah baru dari pasar ini yang berkesan modern membuat banyak pedagang masih belum berani untuk membuka booth karena beranggapan memiliki biaya yang mahal. Padahal sebenarnya pedagang hanya perlu menghubungi

54 ARÇAKA #10 APRIL 2018

pengelola dan mendaftar dengan biaya yang sangat murah, sehingga hargaharga di sini pun sebenarnya sama dengan harga di pasar tradisional pada umumnya. “kadang orang berfikiran, jangankan untuk pedagang, pembelinya pun saat melihat bangunannya mewah masih beranggapan bahwa ini mahal.� Ujar Dewi Lidia salah satu dari pengelola pasar. Meski sosialisasi telah di lancarkan lewat berbagai media, mulai


Ruang tengah sebagai ruang publik dengan akses visual yang luas

APRIL 2018 ARÇAKA #10

55


Ram sebagai sarana trasnportasi vertikal yang ramah bagi penyandang disabilitas

dari radio hingga ke komunitaskomunitas di Bandung. Masih banyak paradigma di masyarakat yang beranggapan bahwa mewah sama dengan mahal. Selain dari paradigma itu sendiri kendala lain yang membuat “Pasar Masa Kini� masih sepi akan pengunjung karena masih sedikitnya transportasi umum, khusunya angkot yang melintas di kawasan ini. Menurut Dewi Lidia setelah bekerjasama dengan Dinas Perhubungan akan masalah angkot dan semakin

Foodcourt di Pasar Sarijadi

56 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Ruang tengah sebagai ruang publik dengan akses visual yang luas

digencarkannya lagi sosialisasi akan pasar yang mewah bukan berarti mahal, lambat laun pasar ini akan menjadi pasar yang bagaimana semestinya.

Ram dan ruang-ruang merupakan mezzanine sehingga tiap lantai tetap memiliki transparasi visual

Menurut Dewi Lidia pasar dengan wajah seperti ini merupakan sebuah “Gebrakan dan Tantangan� sehingga pasar ini pun bekerja sama dengan SBM-ITB salah satu perguruan tinggi di Bandung, tidak hanya itu pasar ini pun merangkul para mahasiswa di Bandung untuk menjadikan pasar ini sebagai tempat pembelajaran bisnis dan marketing.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

57


DESIGN

58 ARÇAKA #10 APRIL 2018


KORIDOR STADION GELORA BUNG KARNO

EKSPLORASI RUANG NUSANTARA YANG MENGEDUKASI Text by Angela Savina Putri Photos by M. Gifari & courtesy from HAP and Waskita Karya

Kawasan Istana Olah Raga (Istora) Senayan maupun perhelatan olahraga dengan skala nasional maupun internasional. Istora Senayan terletak di kawasan Senayan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yang di dalamnya terdapat Kawasan Stadion Gelora Bung Karno yang berdiri sejak 8 Februari 1960 . Kala itu, Istora Senayan dibangun untuk kelengkapan sarana dan prasarana dalam rangka ASIAN Games pada tahun 1962. Selain digunakan untuk ajang Asian Games, SEA Games, dan PON, Istora Senayan

juga pernah menyelenggarakan pertandingan olahraga kelas internasional dan membutuhkan sarana dan prasarana olahraga yang tertutup.

Memasuki tahun 2018, suatu kehormatan bagi Indonesia yang ditunjuk sebagai tuan rumah ASIAN GAMES 2018 di Jakarta dan Palembang. Atas dilaksanakannya perhelatan tersebut, maka revitalisasi dan renovasi besar besaran dilakukan di kawasan Istora Senayan, Jakarta. Semua fasilitas berupa gedung, jalan, ruang ruang terbuka hijau dan sarana prasarana umum dibenahi.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

59


Layout Koridor Utama Gelora Bung Karno

MENGUSUNG KONSEP NUSANTARA Dalam pengerjaannya, renovasi dibedakan pada lingkup zona 1 dan zona 2. Pada lingkup zona 1 difokuskan pada pembenahan venue Gelora Bung Karno. Sedangakan pada pekerjaan dalam lingkup zona 2 yakni meliputi penataan koridor, pedestrian parkir timur, kawasan parkir timur, ducting utilitas, tembereng antar venue (TAV) taman tropis dan taman anggrek, tembereng venue (TV) aquatic, area softball, pembangunan lapangan gate ball dan hokey, gerbang kawasan, serta pembangunan gedung dan bangunan penunjang. Kawasan Koridor pada Kawasan Gelora Bung Karno mengalami renovasi yang cukup signiďŹ kan di atas tangan tangan hebat para arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Salah

satunya adalah Yori Antar. Dalam setiap koridor Gelora Bung Karno, terdapat beberapa penekanan desain yang memiliki ciri khas kekayaan budaya nusantara. Empat gerbang Koridor Gelora Bung Karno didesain melambangkan zona pembagian waktu di Indonesia Bagian Barat, Indonesia Bagian Tengah, Indonesia Bagian Timur, dan beberapa simbol dari perserikatan ASIAN yang kemudian bersatu pada titik tengah Stadion Gelora Bung Karno sebagai muaranya. Keistimewaan pada setiap bagian koridor terletak pada tiap pembagian zonasi, namun bersatu pada suatu visi bangunan Gelora Bung Karno. Selain itu, konsep yang diusung dari kawasan tersebut adalah konsep Bhineka Tungga Ika sebagai perwujudan rasa semangat, dan persatuan Indonesia. Dengan desain ini diharapkan akan membawa Indonesia ke arah yang positif, terbuka, dan dengan semangat kelokalan yang modern.

Layout Koridor Utama Gelora Bung Karno

60 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Desain Koridor Barat

PENGALAMAN RUANG PADA KORIDOR UTAMA Koridor denga luas 2 hektar tersebut didesain dengan menawarkan suatu pengalaman ruang. Dimana para pengunjung dibawa untuk menikmati pesona dan ciri khas Indonesia. Mengawali pengalaman ruang tersebut, disajikanlah landscape terasering yang menandai kekuatan Indonesia sebagai negara agraris pada gerbang bagian utama. Pengunjung dibawa untuk mengenali sejarah pada masing-masing zona waktu di Indonesia lewat kekayaan hayati dan budaya, yang disampaikan melalui panel-panel permainan dan pola kerajinan di dinding masing masing koridor pedestrian. Pada bagian depan koridor utama, terdapat beberapa vegetasi yang dibuat dalam bentuk terasering. Konsep terasering sawah dilambangkan sebagai sebuah gerbang penyambut. Dalam gerbang utama ini, pengunjung diarahkan untuk masuk ke dalam lingkup Gelora Bung Karno, dan penataan vegetasi-vegetasi yang ada melambangkan Indonesia sebagai negara agraris. Menggunakan konsep pendekatan landscape, bagian depan koridor utama tidak menggunakan bangunan melainkan penataan taman dalam perancangannya.

Landmark dari koridor utama Gelora Bung Karno mengusung konsep Junction Energy of Asia, dimana terdapat representasi logo ASIAN Games 2018 ke dalam bentuk dan elemen-elemen material dari plaza tersebut. Pada titik Plaza Energy of Asia, menggunakan konsep raised intersection, dengan demikian alur pedestrian dapat menikmati keseluruhan kontinuitas ruang yang tidak terputus oleh kendaraan bermotor (good pedestrian concept). Pola lantai pada jalur pedestrian melambangkan pembedaan zonasi waktu yakni WIB, WITA dan WIT, yang dipadukan dengan pengadopsian pola kerajinan tenun dan batik. Mengusung berbagai macam keragaman hayati pada setiap sudutnya, terdapat pula untaian garis pada jalur pedestrian yang melambangkan DNA yang melambangkan kekayaan alam di Indonesia. Terdapat pula beberapa panel dinding yang menceritakan tentang sejarah permainan tradisional di Indonesia. Koridor yang pada dasarnya berfungsi sebagai tempat ruang olahraga dan tempat bersosialisasi masyarakat, pada sisi plaza juga terdapat hall of fame atlet yang telah berprestasi dalam sejarah ASIAN Games dari tahun ke tahun. Plaza tersebut juga dapat mengakomodasi kegiatan festifal masyarakat sebagai bentuk penyaluran budaya di Indonesia.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

61


Desain Koridor Utara

SARANA EDUKASI DALAM TIAP KORIDOR KORIDOR BARAT Koridor Gelora Bung Karno pada bagian barat, merupakan koridor dengan fungsi sebagai pintu masuk utama bagi Presiden Republik Indonesia ke dalam kawasan Stadion Bung Karno. Koridor ini didesain lebih formal dan mendukung prosesi masuknya presiden dan pemimpin-pemimpin negara dari peserta ASIAN Games lainnya. Barisan 200 tiang bendera yang berjejer secara berurutan dibuat untuk menegaskan axis ke Gelora Bung Karno ditengah meriahnya bentuk desain koridor yang bertemakan kepulauan di Indonesia. Pada lantai koridor, terdapat ciri khas yakni penggunaan motif batik parang dan kawung. Batik parang dan kawung dipilih karena melambangkan pemimpin yang harus selalu berhati-hati dalam bersikap serta dapat bermanfaat bagi kehidupan.

KORIDOR UTARA Untuk koridor utara, terdapat fungsi berupa ruang rekreasi yang direalisasikan dengan dibuatnya jalur beton, yang memungkinkan berjalannya aktiďŹ tas olahraga masyarakat serta jalur kendaraan bila diperlukan pada acara tertentu. Konsep kepulauan masih kental terasa pada koridor bagian utara, dalam bentuk penataan vegetasi-vegetasi organik yang berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat untuk bersosialisasi. Motif batik yang digunakan adalah motif batik tongkangan yang bermakna Bhinneka Tunggal Ika. Sedangkan motif aruna, melambangkan bagaimana kebaikan harus diteladani untuk mencapai kebahagiaan.

KORIDOR TENGGARA Dilengkapi dengan adanya taman kepulauan yang dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi, wadah bersosialisasi dan tempat masyarakat untuk bersantai sejenak, koridor tenggara memiliki warna yang lebih kaya dibandingkan dengan koridorkoridor yang lain. Logo ASIAN Games 2018 yang menumbuhkan semangat kompetitif diletakkan pada rotunda. Warna-warna

tersebut diharapkan dapat menumbuhkan semangat masyarakat Indonesia dalam beraktiďŹ tas secara sehat dan hebat. Untuk motif pola lantai yang digunakan adalah motif kamoro, yang mengangkat keindahan alam Indonesia dengan bertemunya alam pegunungan, sungai, pantai, dan lainnya. Sedangkan motif sentani menggambarkan kultur gotong royong dan keberagaman latar belakang masyarakat Indonesia.

62 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Desain Koridor Tenggara

KORIDOR TIMUR Pada koridor timur, konsep kepulauan di Indonesia diterjemahkan dalam sarana museum, dimana koridor menjadi tempat mengingatkannya orang-orang akan sejarah olah raga di Indonesia, tentunya dengan sculpture-sculpture atlet yang

telah mengharumkan nama Indonesia. Sculpture ini diposisikan di ruang-ruang yang dikelilingi amplitheater, tempat para pengunjung menikmati koridor tersebut. Motif pola lantai yang digunakan berasal dari logo ASIAN GAMES 2018

Desain Koridor Timur

APRIL 2018 ARÇAKA #10

63


MASJID AL SAFAR CIPULARANG

KETIKA KECEPATAN DAN KETENANGAN BERSINERGI Text by Angela Savina Putri Photos by M. Gifari & URBANE

Unik, dinamis, dan futuristik. Sebuah masjid, dengan bentuk fasad yang berbeda dari masjid pada umumnya. Memanfaatkan kondisi landscape pada kawasan Cipularang, Masjid Al-Safar berdiri dari pengaplikasian bentuk bebatuan yang berada di sekitar site. Bersinergi dengan “kecepatan”, Masjid AlSafar memiliki bentuk bangunan yang kaya akan sudut sudut berbentuk segitiga dan tidak beraturan.

OUT OF THE BOX DESIGN Al-Safar. Diambil dari bahasa Arab yang berarti perjalanan, dimana nama tersebut memiliki kesinambungan dengan suasana site yang difungsikan sebagai area peristirahatan pengguna tol arah Bandung – Jakarta. Rest Area Cipularang Kilometer 88 merupakan sebuah tempat peristirahatan yang terletak di area tol Purbaleunyi, Purwakarta, Jawa Barat, dengan menawarkan panorama gunung dan perbukitan nan asri, pun juga para pengendara dimanjakan dengan berbagai fasilitas umum yang baik dan menarik.

64 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

APRIL 2018 ARÇAKA #10

65


Gambar tampak Masjid Al Safar

Berbeda dari bentuk masjid pada umumnya, Masjid Al- Safar didesain tanpa menggunakan kubah pada bagian atapnya. Menurut principal architect dalam pembangunan Masjid Al-Safar – Ridwan Kamil, menuturkan bahwa dalam aturan Al Quran tidak menerangkan secara teknis bentuk masjid harus dibuat seperti apa. Kubah hanya suatu identitas dari berdirinya sebuah masjid, bukan sebuah aturan. Ridwan Kamil lebih menekankan pada pencarian identitas dari bentuk-bentuk masjid, yang sifatnya memberikan informasi tentang kemajuan zaman dan modernisasi dari desain arsitektur, begitu pula terkait dengan konteks dimana lokasi bangunan tersebut didirikan.

Lantas, timbul sebuah pertanyaan, bagaimana cara menjelaskan kepada khalayak jika desain dari masjid tersebut tidak menunjukkan “identitas” sebuah masjid pada umumnya? Masjid masjid karya Urbane cenderung bersifat luwes, bergaya arsitektur irregular, dan banyak memainkan bentuk serta gubahan massa yang ada. Bisa berupa permainan garis, kotak, polygon, maupun dengan mencampurkan geometri-geometri lain. Urbane banyak memberikan pesan mengenai gaya arsitekturalnya melalui fasad bangunan. Bentuknya bisa bermacam macam, namun skin architecture pada bangunan tersebut dapat diolah lebih matang.

Eksterior Fasad Masjid

66 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Gambar transformasi bentuk Masjid Al Safar

KETENANGAN DIBALIK SEBUAH PERJALANAN Selain mengusung konsep sclapturer, Masjid AlSafar juga mengusung konsep bintang berpendar, dimana masjid ini dibuat iconic dan dapat terekspose dari luar. Dibentuk tidak dalam bentuk massive dan cenderung diam, melainkan tetap mengusung bentuk massive nan dinamis dengan memantulkan cahayacahaya yang berasal dari dalam interior bangunan. Cahaya tersebut diatur sedemikian rupa sehingga seolah-olah bangunan tersebut merupakan bagian dari alam semesta.

lantai mezanine lantai dasar

Pada bagian dinding Masjid Al-Safar menggunakan sistem dinding panel GRC dan penggunaan double wall system pada bagian interior dan eksterior masjid. Penataan interior masjid dibuat sesuai dengan konsep penerusan cahaya bintang bintang di langit. Dimana banyak terdapat jendela jendela persegi yang diletakkan secara acak, seakan akan menyerupai pancaran bintang di malam hari. Terdapat pula penambahan lampu-lampu panjang berwarna kuning pada interior masjid, guna memperkuat suasana langit malam yang berhiaskan bintang bintang.

lantai mezanine lantai dasar

Gambar potongan Masjid Al Safar

APRIL 2018 ARÇAKA #10

67


Gambar denah Masjid Al Safar

Masjid yang dibangun diatas lahan seluas 20 hektar ini, memiliki sisi penataan interior yang berbentuk kubah. Bentuk yang sedikit berbeda dari bentuk fasadnya. Tetapi, hal itu tidak mengurangi pemanfaatan fungsi fungsi ruang yang ada pada masjid. Pada lantai 1, digunakan untuk tempat sholat bagi para jemaah laki-laki, serta terdapat beberapa ruang yang difungsikan sebagai penunjang kegiatan sosial. Kemudian pada lantai mezzanine, digunakan sebagai tempat beribadah bagi jemaah perempuan. Masjid Al-Safar ramah bagi umat yang menyandang distabilitas. Terbukti dengan penngunaan ramp pada beberapa sisi pada masjid ini. Penggunaan struktur juga diperhatikan dengan rinci dalam pembangunan Masjid Al-Safar. Diantaranya mengenai peletakkan tiang, dimana tidak terlihat tiang tiang yang diletakkan di tengah ruangan, melainkan adanya tiang penyangga sebagai kolom dari lantai mezzanine yang dibuat. Warna dari interior masjid dominan berwarna putih keabu abuan, dengan bahan dasar dinding berupa aluminum composite panel yang cenderung ringan dan mudah dalam segi perawatannya.

LAND SCAPE YANG MULTIFUNGSI Reza A. Nurtjahja, selaku principal in charge dari proyek pembangunan Masjid Al-Safar menuturkan pendapatnya mengenai sisi eksterior masjid, “Yang membedakan masjid ini dengan masjid pada umumnya adalah sisi lansekap taman, serta keberadaan ruang terbuka yang berada di sekitar masjid” Masjid Al-Safar yang baru saja diresmikan pada tanggal 19 Mei 2017 ini memiliki ciri khas pada desain eksteriornya, yakni penambahan kolam pada bagian sekitaran masjid. Pada dasarnya, bangunan karya Urbane memiliki ciri khas dengan pemberian kolam yang berfungsi sebagai micro climate, dimana adanya pendinginan pada suhu mikro sehingga kualitas udara yang dihasilkan lebih sejuk, memantulkan kesan arsitektural yang lebih besar dua kali lipat, dimana segi arsitektur pada bangunan tersebut lebih bervariasi akibat pemantulan dari kolam air tersebut. Kemudian, adanya pengolahan eksterior sehingga muncul kesan asri pada area sekitaran masjid. Namun konsep utama dari dibangunnya sebuah kolam adalah agar para pengendara yang lelah setelah menyetir, dapat menemukan sisi relaksasi setelah beristirahat di sekitar masjid tersebut.

“Bentuk dari sebuah bangunan disesuaikan dengan imajinasi inovasinya, sedangkan kulit arsitekturalnya menandakan identitas bangunan tersebut” Ridwan Kamil

68 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Gambar interior Masjid Al Safar

Gambar eksterior Masjid Al Safar

APRIL 2018 ARÇAKA #10

69


RPTRA KALIJODO

RUANG TAMU MASYARAKAT

Gambar Gravity di Dinding yang ada di RTPRA Kalijodo

70 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

Text by Naomi Dian Photos by M. Gifari, Angela Savina, and HAP Architects

Kalijodo berada di area sepanjang bantaran timur Banjir Kanal. Daerah ini awalnya dikenal sebagi tempat hiburan malam dan prostitusi kelas bawah. Akan tetapi, saat ini Kalijodo telah disulap menjadi sebuah RTH RTPTRA Kalijodo yang diresmikan pada tanggal 22 Februari 2017 oleh Bapak Ahok. Kalijodo Kaitannya dengan Livable City Sebagai ruang publik, Kalijodo merepresentasikan sebuah fasilitas yang biasanya terdapat pada livable city. Upaya revitalisasi pemerintah yang saat itu dijabat oleh Gubernur Basuki Thahja Purnama mampu membalikkan pandangan negatif icon tersebut. Kini lokasi perjudian dan pelacuran yang berada di atas tanah negara tersebut telah memperkenalkan diri sebagai RTH RTPTRA Kalijodo. Kalijodo dapat dengan mudah diakses oleh siapa pun dan dari kalangan manapun. Hal ini yang mencerminkan salah satu ciri livable city. Merupakan gagasan dari Ibu Veronica Tan, yang tidak lain adalah istri dari Gubernur Jakarta kala itu, bahwa Kalijodo sesungguhnya ditujukan sebagai sebuah ‘living room’ bagi masyarakat kalangan bawah. Dengan adanya Kalijodo, diharapakan masyarakat kalangan bawah dapat merasakan adanya ruang kebersamaan dengan siapapun tanpa adanya kesenjangan. Siapapun dapat berinteraksi di ruang ini. Tidak ada hal yang membatasi perbedaan antara yang kaya atau miskin, kulit cokelat atau sawo matang.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

71


72 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Shelter utama di RPTRA Kalijodo

Terciptanya taman ini diharapkan mampu menghidupkan kembali kehidupan interaksi bersama di taman, bukan di mal seperti generasi millennial saat ini. Oleh karena itu juga, taman dirancang untuk bisa dipakai 24 jam dengan fasilitas toilet dan lingkungan yang bersih serta terang. Mengubah icon dari negatif ke positif bukanlah hal yang mudah. Begitupun saat Kalijodo akan direvitalisasi menjadi jalur hijau. Pemerintah tidak serta merta langsung mengusir pemerintah telah menyediakan sebuah rusunawa untuk menggantikan tempat tinggal masyarakat Kalijodo sebelumnya. Banyak pro dan kontra mewarnai proses pembangunan ini, hingga pada

akhirnya RTH RTPTRA Kalijodo terbangun. Jalur hijau ini dibangun dengan dana CSR, yaitu dana yang disponsori oleh perusahaan tertentu, tetapi dengan catatan bahwa perusahaan tersebut hanya boleh menyematkan promosi logo. Dengan kata lain, fasilitas tersebut menjadi milik pemerintah yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, tanpa ada kepemilikan dari perusahaan yang telah mendanai pembangunan tersebut. Menanggapi isu liveable city, terjawab bahwa RTH dan RPTRA Kalijodo sengaja difasilitasi dengan berbagai fasilitas publik. Hal ini tentunya ditujukan untuk mewadahi ruang kebersamaan di Kota Jakarta. RTH RTPTRA Kalijodo tidak hanya dibangun cukup dengan taman kota saja, tetapi justru fasilitas-fasilitas

Playground berupa karya instalasi dari para seniman

APRIL 2018 ARÇAKA #10

73


74 ARÇAKA #10 APRIL 2018


seperti skatepark, lintasan sepeda, ruang laktasi, toilet, tempat bermain, dan tempat berjualan. Yori Antar selaku tim perancang juga mengusulkan desain yang dapat dibangun dengan biaya yang tidak terlalu mahal namun tetap memberikan performa yang semaksimal mungkin. Ide dan Desain Kalijodo merupakan salah satu perwujudan program AMI, yaitu Kotak-Katik Kota Kita. Arsitek bersama masyarakat merebut hak-hak atas ruang kota. Saat ini arsitek dan masyarakat menuntut lebih banyak ruangruang publik yang diaktifan, karena jika hanya menjadi ruang hijau saja, pada akhirnya hanya jadi tempat mesum dan kriminal. Hal ini relevan dengan kejadian di Jakarta yang ruang publiknya semakin lama semakin sedikit jumlahnya. Yori Antar dan tim menyatakan dalam merancang, ide yang mereka dapatkan bisa berasal darimana saja. Saran pembangunan skatepark baru muncul saat presentasi. Hanafi, seorang pematung, turut berkontribusi dalam pembangunan Monumen Kalijodo dan Teguh Aestetik menyumbangkan Patung Tembok Berlin. Dalam pembangunan RTH RTPTRA Kalijodo, Yori Antar

melibatkan seniman, yang dituntun untuk menceritakan Jakarta. Berbeda dari proyek-proyek sebelumnya yang biasanya identik dengan unsur kelokalan dan arsitektur nusantara, pada proyek ini Yori Antar memberikan sentuhan yang lebih segar untuk ditampilkan di Kalijodo sebagai cerminan kota Jakarta yang juga berbeda. Hal ini didasari karena saat ini Jakarta adalah kota modern yang hampir tidak mempunyai kebudayaan lokal. Yori merancang tata ruang Kalijodo dengan lebih modern, bercerita tentang jakarta dan legenda tentang Kalijodo dahulu. Yori Antar mengakui bahwa proses pembangunan RTH RTPTRA Kalijodo memang kontroversial, tetapi Yori menyatakan kemauannya jika diberi proyek serupa lagi. Yori ingin membuat mitos positif. Yori ingin mengubah icon Kalijodo dari icon negatif menjadi positif untuk Jakarta, yaitu sebagai tempat publik. dan hal tersebut telah terbukti. Dengan adanya fakta tersebut, arsitek dan masyarakat Jakarta “naik level. Dengan kata lain arsitek dipercaya untuk bisa menciptakan ruang publik di tempat padat seperti Kalijodo dan timbul kebiasaan masyarakat untuk tidak mencoret-coret. Hal ini menginspirasi beberapa bupati untuk memiliki fasilitas public seperti Kalijodo di kotanya.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

75


ALUN-ALUN CICENDO

WAJAH BARU TAMAN KOTA

Jika biasanya taman selalu berada di tengah urban jungle atau taman menjadi alun-alun berupa ruang kosong yang multifungsi tapi di sisi lain tidak ada konservatornya, lain halnnya dengan Alunalun Cicendo. Keberadaan Alun-alun Cicendo yang

76 ARÇAKA #10 APRIL 2018


DESIGN

Text by Sarah Membala Photos by M. Gifari & courtesy from SHAU Architects

berada diatas lahan seluas 5.400 meter persegi memberi inovasi baru sebagai taman yang multi program. Alun-alun Cicendo dapat mewadahi berbagai kegiatan intim maupun komunal yang bisa terjadi dalam satu platform.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

77


Besi sebagai material pelingkup

Letak Alun-alun Cicendo berada di lahan hook, tepat di depan bundaran simpang Jalan Aruna-Jatayu-Komodor Udara Supadio. Wilayah ini sudah lama dikenal sebagai daerah perdagangan besi tua dan barang-barang bekas. Desain arsitektur Alun-alun Cicendo dikerjakan oleh Suryawinata Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU) Architects. Senior arsitek sekaligus arsitek yang menangani Alun-alun Cicendo, Rizki Supratman mengemukakan bahwa besi menjadi material utama sebagai respon terhadap lingkungan sekitar yang didominasi oleh pengrajin besi. Bahkan, pita-pita besi berkarat disusun membentuk topografi dan sculptural dengan bentuk sharp edge. Besi-besi ini telah melalui proses coating dan dengan sengaja dibuat

78 ARÇAKA #10 APRIL 2018

berkarat agar sesuai dengan konteks lingkungan sekitar yang secara visual didominasi oleh besi berkarat. Di puncak-puncak topografi, terdapat 6 artwork dari 6 seniman muda Bandung. Artwork itu dikurasi oleh Asmudjo Jono Irianto dari Institut Teknologi Bandung. Sebagian besar material yang digunakan pada artwork tersebut juga terbuat dari besi. Elemen besi digunakan untuk kios-kios bagi perajin besi yang direlokasi. Alurnya dibuat mudah untuk pemakaian sehari-hari, juga mudah dicapai dari semua arah, tetapi terkumpul dalam cluster yang tidak mengganggu aktivitas taman. Pemanfaatan lahan yang terzonasi berangkat dari kegiatan apa saja yang akan diakomodasi di tempat itu. Pertama, SHAU mengalokasi kios besi di pinggir jalan yang tidak sesuai aturan yang dapat mengganggu sirkulasi dan penataan


Puncak rooftop yang terletak diatas kios dimanfaatkan sebagai playground

Permainan kontur yang menjadikannya tempat duduk dan berdiskusi

toilet dan kios-kios dibawah playground

sehingga sebanyak mungkin kios-kios dimasukkan kedalam tapak dan diberi tempat yang lebih teratur. Kedua, ruang berkumpul yang bisa mengakomodir acara tujuh belasan. Ketiga, ruang pagelaran untuk menampung komunitas seni. Keempat, fasilitas olahraga seperti skateboard dan basket. Kelima, ruang berkumpul untuk anak kecil dan juga lansia.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

79


Diagram konsep penataan ruang di Alun-alun Cicendo

source : courtessy from SHAU

Dari basic program tersebut SHAU mulai merampung formula yang akan diterapkan. Kemudian menganalisa keterkaitan antar program dan membuat beberapa petak –petak berdasarkan jenis kegiatan. Setiap ruang dikategorikan berdasarkan fungsi yang berada di area spesifik sehingga SHAU memilih konsep

gabungan untuk membuat semua fungsi terdistribusi dengan baik di seluruh area. Untuk membentuk sebuah taman yang fleksibel SHAU menyiasati dengan membuat perbedaan ruang dari level ketinggian sehingga memiliki border fisik yang jelas tetapi secara visual tetap saling berhubungan.

“Dibanding membuat differensiasi yang sangat rigid, kami memilih untuk membuat sebuah device yang bisa mengikat keseluruhan program menjadi satu kesatuan taman. Ikatan itu tidak membatasi atau tidak memberi batas terhadap variasi tersebut. Jadi daripada membuat suatu border yang sangat strike lebih baik membuat border yang fleksibel” Ujar Rizki Supratman selaku Senior Architect dari SHAU.

80 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Dilengkapi dengan sarana olahraga yang dapat dipakai bebas oleh masyarakat

Konsep itu diimplementasikan pada penggunaan tangga berundak untuk membedakan seluruh area sehingga terjadi perbedaan ketinggian. Tujuannya, agar pengunjung tidak merasa terkotak-kotak pada setiap area sehingga bisa digunakan secara komunal dan beragam. Tangga-tangga tersebut juga menjelaskan inti desain, menyerupai kontur yang dibuat naik turun.

Menurut Rizki, inspirasinya datang dari alam Jawa Barat yang memiliki topografi beragam. Mulai dari tinggi, rendah, lebar, sempit, hingga dangkal yang dicitrakan dari gunung, tebing, mata air, lahan kosong, bukit, dataran, lebak, legok, dan sungai. Terkait aksesibilitasnya Rizki mengatakan SHAU memberi strategi dengan memberi akses dari berbagai arah, dan menaikkan taman sekitar 1,2 meter tujuannya agar orang dapat dilihat dan melihat dari semua sisi.

Sculpture dengan bentuk yang atraktif sebagai point of view dan dapat berfungsi sebagai area duduk

APRIL 2018 ARÇAKA #10

81


GOLDEN SECTION

ARSITEKTUR BERKELANJUTAN Text by Gilang Pidianku

“Masa depan adalah tentang menyiapkan segala sesuatu di hari ini.”

Isu-isu tentang Sustainability atau konsep berkelanjutan sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan masyarakat modern saat ini. Bagi kebanyakan orang, sesuatu yang berbau sustainability dalam arsitektur merupakan sesuatu yang berbau green design atau konsep-konsep penerapan zero energy, namun benarkah demikian? Kemudian, bagaimana peran dan perkembangan konsep sustainability ini terhadap bidang-bidang yang terlibat langsung dengan pembangunan seperti arsitektur dan perancangan kota yang bisa dibilang menjadi bagian pilar lingkungan hidup? World Commission On Enviromental Development (WCED) tahun 1987 merumuskan bahwa “pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya”. KTT Dunia tahun 2005 juga merumuskan bahwa keberlanjutan sendiri memiliki 3 pilar utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan yang saling bergantung satu sama lain.

82 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Pada tahun 2012, EMI (European Metropolitan network Institute) yang bekerja sama dengan ICLEI – local governments for sustainability melakukan sebuah survey yang bertema urban sustainability. Survey ini dialamatkan kepada lebih dari 1200 kota dan pemerintahan lokal yang tertarik pada tujuan utama Uni Eropa dalam hal sustainability. Dari survey yang dikirim dan diseleksi kembali, akhirnya pihak penyelenggara mendapat 100 responden, yang kebanyakan berasal dari kalangan pembuat kebijakan sebuah kota. Survey ini juga tidak menilai atau memandang responden yang berasal dari tempat yang lebih baik atau yang lebih buruk, semua akan disamaratakan.


Figure 1: Importance of economic, social and environmental elements within sustainability

Figure 3: Problems that arise in the implementation of sustainability strategies

Pada survey bagian pertama, para responden diminta menilai pilar manakah yang paling penting dari sebuah konsep sustainability. Dari hasil survey, menurut responden elemen ekonomi dan lingkungan hidup dianggap lebih penting dibandingkan elemen sosial. Namun yang menarik dari sini adalah pandangan klasik tentang lingkungan hidup tidak memiliki nilai lebih baik daripada pandangan klasik tentang ekonomi. Survey berikutnya adalah tentang seberapa pentingnya konsep sustainability pada rencana jangka panjang sebuah kota dari sudut pandang ekonomi dan lingkungan hidup. Dari data tersebut, penyelenggara menyimpulkan bahwa kebanyakan kota menganggap konsep sustainabililty adalah hal penting, tetapi tidak terlalu penting dibandingkan kebijakan lain. Sedangkan survey selanjutnya adalah tentang apa saja yang timbul dari pelaksanaan strategi sustainability dan bagaimana kesuksesannya? Dari data-da-

Figure 2: Importance of sustainability within cities’ long-term strategies

Figure 5: Themes as part of cities’ sustainability strategies

ta survey, banyak sekali yang berpendapat bahwa pelaksanaan tentang konsep sustainability dalam hal mobilitas, polusi dan daur ulang merupakan proyek yang paling sukses dilaksanakan. Strategi yang terlaksana rata-rata sedang dalam proses pengerjaan atau penyelesaian. Tetapi permasalahan yang paling sering muncul adalah kurangnya komitmen dari politik atau masyarakat sipil, pada keberlanjutan proyek yang sedang dalam proses atau yang sudah selesai dikerjakan. Hal-hal dari survey tersebut menunjukan betapa konsep sustainability sudah menjadi perhatian bagi Uni Eropa. Terutama dalam pembangunan berkelanjutannya dalam bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup di skala perkotaan. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana bukti nyata negara Uni Eropa tersebut dalam melaksanakan konsep sustainability dalam bidang lingkungan hidup?

APRIL 2018 ARÇAKA #10

83


Menilik kembali dari sebuah kota besar bernama Kopenhagen yang terletak di Negara Denmark. Kota yang masuk dalam kategori kota metropolitan ini merupakan tempat tinggal bagi kurang lebih 2 juta penduduk. Namun yang menarik dari sini adalah bagaimana kota Kopenhagen berhasil men”galak”an penerapan konsep sustainability nya. Dimana kota ini sendiri memiliki sebuah manifesto tersendiri yaitu “A sustainable world stars with sustainable cities”. Mobilitas masyarakat Kopenhagen yang sudah menjadi tradisi adalah bersepeda. Namun seiring berjalannya waktu bersepeda bukan lagi menjadi sebuah transportasi, melainkan pendukung gerakan-gerakan sustainability di kota tersebut. Terbukti dari kebiasaan bersepeda tersebut Kota Kopenhagen bisa menghemat 230 juta euro dalam biaya bidang kesehatan, warga bisa berhemat 0,16 euro di setiap kilometer yang dia tempuh saat menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya, dan juga merupakan transportasi yang cepat dan termudah untuk berkeliling kota. Hal ini juga di dukung dengan terintegrasinya parkir sepeda dengan transportasi publik dan penyediaan jalur khusus sepeda.

Copenhagen, Denmark.

Copenhagen Cycling Illustration.

84 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Picture & Diagram Source : Copenhagen, Solution For Sustainable Cities.


Dalam bidang pemanfaatan air kota Kopenhagen memiliki gerakan bernama “The Harbour Turns Blue” dimana awalnya hal ini merupakan pemikiran sederhana “Bagaimana bila warga bisa berenang di sekitar pelabuhan?”. Pemikiran tersebut baru terwujud setelah 15 tahun berikutnya, namun demi menghindari para warga terkontaminasi, maka pemerintah juga melakukan modernisasi sistem pembuangan yang sekaligus meningkatkan kualitas air. Hal ini ternyata memiliki dampak yang sangat baik yaitu meningkatnya nilai properti di area tersebut hingga 100% dan hidupnya kembali usaha-usaha lokal di sekitar pelabuhan tersebut. Keuntungan lain dari ide tersebut adalah kembalinya flora dan fauna yang sebelumnya hilang, mereduksi bahaya banjir di sekitar pelabuhan, dan warga bisa berenang dengan pemandangan ikan dan juga kapal-kapal layar disekitar pelabuhan. Total 22% konsumsi listrik Denmark berasal dari kincir angin. Ini merupakan yang terbesar di dunia. Kota Kopenhagen sendiri berencana akan meningkatkan hal tersebut dari 22% menjadi 50% di tahun 2020 dan di tahun 2025 rencananya akan menambah kembali 100 unit kincir angin. Yang unik disini adalah karena kincir angin sangat mahal, maka di berlakukan konsep community ownership, dimana pembelian akan ditanggung oleh komunitas-komunitas warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan listriknya masing-masing. Hal ini akan berdampak baik karena akan timbul komitmen bersama menjaga kincir angin tersebut. Dampak baik lainnya adalah proyek ini diperkirakan akan menghasilkan 89 juta kWh listrik per tahun, mereduksi 232 ton sulfur dioksida, 208 ton nitrogen dioksida, 68.000 ton carbon dioksida, dan 4.400 ton debu. Public Habour Pool, Copenhagen, Denmark.

Picture & Diagram Source : Copenhagen, Solution For Sustainable Cities.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

85


Lalu bagaimana penerapan konsep sustainability di Indonesia? Kita lihat kembali bagaimana kota Bandung telah mencuri perhatian masyarakat dengan mengusung konsep Bandung Smart City, dimana konsep yang diusung kota Bandung tersebut berupa Smart Economy, Smart Environment, Smart Mobilty, Smart People, Smart Living, dan Smart Governance. Proyek yang sudah dilaksanakan kurang lebih 4 tahun ini antara lain penggarapan beberapa taman kota, pembenahan area pedestrian (Cihampelas), pengadaan layanan akses Internet di kurang lebih 5000 titik, kartu Bandung Pass, dan transparansi data-data pemerintah melalui media digital website. Lalu apa pengaruh terobosan-terobosan yang tanggap zaman tersebut berpengaruh pada kota Bandung sendiri? Bandung sudah terbukti pada tahun 2017 ini mendapatkan beberapa penghargaan seperti kota terbaik kategori parisiwata, kategori infrastruktur, kategori terbaik per region MP3EI, dan finalis World Smart City 2015 semenjak mengusung konsep Bandung Smart City. Kehidupan masyarakat Bandung sendiri menjadi masyarakat yang tanggap modernitas dan juga bangga serta bahagia terhadap kota Bandung, terbukti beberapa aduan layanan publik bisa diadukan lewat sosial media, akses data banjir, setiap dinas memiliki data digital, dan juga survey yang digelar oleh INSTRAT yang melibatkan 500 responden berpendapat bahwa 80,2% bahagia menjadi warga Bandung, dan 88,8% responden bangga menjadi warga Bandung. Berkaca dari 2 kota yang sudah mulai melaksanakan dan memikirkan “keberlanjutan� kota nya. Maka kembali lagi timbul pertanyaan, bagaimana keadaan Yogyakarta sendiri dalam pelaksanaan dan perencanaan kota dan arsitekturnya untuk masa mendatang?

86 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Bandung Command Centre, Bandung.

Skywalk Cihampelas, Bandung.


SUMBER DAN REFERENSI European Metropolitan network Institute. 2012, Report Survey on Urban sustainability Copenhagen Cleantech Cluster. 2014, Danish: Smart City. Copenhagen Cleantech Cluster. 2014, Copenhagen Solution for Sustainabilty Cities. Indonesia Strategic Institute (INSTRAT), 2017, Indeks Kebahagiaan Warga Bandung. Badan Pusat Statistik Kota Bandung. (2017), Kota Bandung Dalam Angka. World Commission on Environment and Development. (1987), Our Common Future. http://afasiaarchzine.com/2013/03/sou-fujimoto-architects-11/ http://reservasi.com/skywalk-cihampelas-bandung/ http://regional.kompas.com/read/2016/09/02/1412282/ https://bandung.co/2016/08/indonesia-smartcity-forum-2016/

APRIL 2018 ARÇAKA #10

87


EVENTS

Indonesian Architect Week @Seoul 2017 Text by Graceila Melisa Photos by Graceila Melisa

Roemah Seni Sarasvati mengadakan IAWS2017 Traveling Exhibition – Bandung di Roemah Seni Sarasvati, Jalan Sudirman 137 Bandung. Pameran yang dikurasi Danny Wicaksono dan Defry Ardianta ini berlangsung pada 14-27 Oktober 2017,Dengan tema “Architecture and The City: Indonesian Architects, Responses, Approaches and Processes”, 53 biro arsitek telah mengambil peran positif ditengah perkembangan yang terjadi di Indoensia dengan menyajikan beragam desain yang mengemukakan isu-isu kompleks yang dihadapi kota-kota Indonesia melalui konsep dan ide desain mereka.Birobiro arsitek yang mengikuti IAWS2017 Traveling Exhibition – Bandung adalah ABODAY, AI-CTLA,

88 ARÇAKA #10 APRIL 2018

AIM + HAD, APerdhana & MjBArchitects, ARA-Studio, AYYA, Andramatin, Andyrahman Architect, Antony Liu + Ferry Ridwan/ Studio TonTon, Asia Raya Studio, Atelier Cosmas Gozali, Atelier Riri, Bhirawa Architects, Bitte Design Studio, Budi Pradono Architects, Cowema Studio, Creative.Inc Studio + Julian Palapa Architect, Denton Corker Marshall Jakarta, djuhara+djuhara, GeTs Architects, Gregorius Supie Yolodi & Maria Rosantina / d-associates architect, HMP Architects, dan Hadivincent Architects. Selain itu, pameran ini diikuti juga oleh biro arsitek je feriasthama, KFA Studio, KsAD, LABO, Magi Design Studio, Moreids, Muhammad Thamrin Architects, Nataneka, PDW Architects, PHL Architects – Patrick Lim & Handy Lim, PSA Studio, PSUD, PT Arkonin, PT Desain Sarana Intermatra, PT Joso, PT Ulab Magnaversa Indonesia, Parametr Architecture, Popo Danes Architect, Rafael Miranti Architects, SHAU, SUB, sigit.kusumawijaya | architect & urbandesigner, Studio Denny Setiawan, studiokas, Terra Lumen, URBANE, Wahana Architects, Wastu Cipta Parama, Willis Kusuma Architects, dan Yanto Effendi – MODERNSPACE.


Jogyakarta-Vienna Young Architect Exhibition (JV-YoA Exhibition) Text by Alfian Ramadhani Photos by M Gifari

Kota Jogja sudah terkenal akan kreatifitasnya para generasi muda di bidang seni, mulai dari seni musik, seni budaya, seni rupa, hingga seni tari atau pertunjukan pasti akan sering kita temui di kota ini. Seperti pada 27 Januari 2018 para arsitek muda jogja berkumpul dan membuat sebuah pameran arsitektur di Jogja Gallery dengan nama Jogjakarta-Vienna Young Architects Exhibition. “Dalam berarsitektur dapat terbaca adana karakter ataupun warna karya sebagai perpaduan faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi seseorang dalam berpikir maupun memilih.” Sebuah paragraf kuratorial yang pertama kita jumpai saat memasuki area pameran yang bertajuk kolaborasi kreatif dengan gagasan bagi kehidupan yang lebih baik. Pameran arsitektur yang berisikan 50 karya terpilih yang dimana 75% nya berasal dari karya-karya arsitek muda Jogjakarta. Dari karya-karya yang berhasil dipamerkan merupakan gagasan para arsitek muda yang tidak hanya ditujukan untuk kota Jogja tapi juga kota-kota di seluruh Indonesia bahkan dunia. Gagasangagasan itu meliputi “Pemikiran Kembali Nilai Tradisi”, “Pertimbangan Terhadap Alam Tropis”, dan “Kepedulian”. Pameran ini juga sebagai ajang membuktikan bahwa Jogjakarta mempunyai arsitek-arsitek muda yang kreatif

dan siap membangun negeri ini di waktu yang akan dating. Pameran yang merupakan hasil dari bentuk kolaborasi para arsitek muda Jogja dengan arsitek muda Austria ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah Kota Wina, salah sata kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia. Beberapa karya yang berasal dari arsitekarsitek muda Jogjakarta - Religion+Cultural Supermipose - Toilet 0km - House of Shalom “Bagus, soalnya bagi saya dengan adanya acara seperti ini, selain menginspirasi arsitek muda lainnya tapi juga sebagai tempat kita menambah relasi sesame arsitek muda.” jawab Azhari saat ditanyai pendapatnya tentang pameran ini. “Keren, sebagai seorang mahasiswa arsitektur pameran ini sangat menambah wawasan saya juga menginspirasi saya untuk ke depannya.” jawab Mira seorang mahasiswi arsitektur UAJY angkatan 2017

APRIL 2018 ARÇAKA #10

89


JEMBATAN ANTAPANI

CORRUGATED MORTARBUSA Text by Sarah Membala Photos by Kevin Kurnianto and Courtessy from Kumparan

90 ARÇAKA #10 APRIL 2018


TEKNOLOGI & INOVASI

Pemerintah Kota Bandung bekerjasama dengan Kementerian PUPR membangun jembatan layang di persimpangan Jalan Antapani dan Jalan Jakarta. Pembangunan jembatan layang (overpass) Antapani bertujuan untuk mengatasi kemacetan yang terjadi setiap hari terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari serta akhir pekan. Jembatan layang Antapani menjadi proyek percontohan teknologi CMP yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Teknologi CMP merupakan singkatan dari Corrugated Mortarbusa Pusjatan. Teknologi ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan flyover yang menggunakan konstruksi konvensional. Corrugated Mortarbusa Pusjatan adalah teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR. Teknologi CMP merupakan pengembangan teknologi

timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang. Jembatan layang Antapani memiliki struktur jembatan Corrugated atau Armco, dengan jumlah bentang jembatan 3 bentang yaitu 11 meter x 2 dan 22 meter, panjang bentang jembatan 44 meter, tinggi jembatan 5,1 meter, lebar jembatan 9 meter, jumlah Lajur 2 lajur 2 arah, lebar lalu lintas 6,50 m, lebar bahu : 0,75 m x 2 = 1,5 m. Bentang panjang mempermudah proses konstruksi sehingga menghemat waktu dan biaya. Keunggulan lain yakni saat proses konstruksi pembangunan tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan yang memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi. Bentuk konstruksi jembatan layang baja bergelombang yang megah, dapat menambah nilai estetis suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

91


Selain ramah lingkungan karena mengkonsumsi bahan alam konstruksi yang jauh lebih rendah dibanding konstruksi dengan teknologi beton, Jembatan layang Antapani yang dibangun dengan teknologi baja bergelombang mempunyai daya tahan yang lama, lebih dari 100 tahun. Teknologi mortar busa yang digunakan sebagai pengganti timbunan tanah atau sub-base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya. Waktu tempuh pengerjaan konstruksi jembatan yang lebih cepat hingga 50% jika dibandingkan dengan jembatan layang dengan struktur beton bertulang. Selain itu, dari sisi biaya juga lebih efisien sekitar 60%

92 ARÇAKA #10 APRIL 2018

- 70% jika dibandingkan dengan pembuatan jembatan layang dengan struktur beton bertulang. Biasanya untuk membuat satu flyover dengan struktur beton bertulang anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 100 miliar. Sementara pembangunan flyover dengan struktur baja bergelombang dengan timbunan ringan hanya membutuhkan anggaran Rp 35 miliar. Komposisi anggaran berasal dari anggaran Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian PUPR sebesar Rp21,5 miliar. Sementara sisanya Rp10 miliar berasal dari Pemerintah Kota Bandung dan pihak pelaksana dari Posco Steel Korea dalam bentuk komponen material. Kepala Pusjatan Kementerian PUPR, Herry Vaza mengatakan penggunaan teknologi CMP dalam pembangunan Jembatan layang Antapani


mempunyai tingkat efisiensi yang tinggi yang diperoleh dari hasil konstribusi penggunaan mortar busa untuk timbunan pendekat jembatan yang menjadi ciri khas dari teknologi CMP. Menurut Herry, potensi penggunaan CMP tidak hanya dipergunakan untuk membangun jembatan pada perlintasan kereta api, namun sangat cocok untuk persimpangan jalan yang menbutuhkan bentang yang panjang.

Pemerintah berharap jembatan ini akan menjadi model untuk mendorong pemanfaatan teknologi-teknologi baru untuk membangun infrastruktur di tanah air. Teknologi Jembatan layang Antapani yang menggunakan teknologi baja bergelombang bisa menjadi solusi lantaran tidak memerlukan anggaran yang besar dan waktu pengerjaan yang lebih cepat.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

93


JEJAK ARSITEKTUR

CHARLES PROSPER WOLFF SCHOEMAKER

SEBAGAI WAJAH DARI ARSITEKTUR KOTA BANDUNG Text by Alfian Ramadhani Photos by courtessy from Arsitek Indonesia

Bandung, sebuah kota dengan julukan Parijs van Java karena Perkembangan fashion-nya yang cukup pesat juga karena Arsitektur kota bandung yang banyak menerapkan gaya Art Deco sebagai acuan pembangunan gedung se-antero kota. Berbicara akan Arsitektur Kota Bandung dengan bangunan-bangunannya yang Art Deco, tidak akan lepas dari nama Charles Prosper Wolff Schoemaker seorang Arsitek berkebangsaan Belanda (1882-1949). Karena sejatinya, wajah dari Kota Bandung, tidak lah lain dari wajah C.P.Wolff Schoemaker itu sendiri. Hasil rancangan tangannya banyak kita jumpai di kota ini seperti Hotel Grand Preanger di Jl. Asia Afrika hingga ke Komplek Bosscha di pesisir Kota Lembang.

Gedung Merdeka Gedung Merdeka dibangun megah berdasarkan rancangan Van Gallen Last dan C.P.Wolff Schoemaker dengan gaya Modernisme serta sentuhan Art Deco. Gedung yang bermula dari sebuah bangunan sederhana bernama Societeit Concordia(1985) yang dibangun atas prakarsa dari Asisten Residen Pieter Sijthoff untuk membangun sebuah gedung tempat pertemuan orang-orang Belanda yang ada di Bandung. Pada tahun 1920, 1927, 1928, dan 1929 gedung tersebut di renovasi secara bertahap dan dibangun kembali oleh Van Gallen dan Wolff Schoemaker hingga seperti sekarang.

94 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Hotel Grand Preanger

Pada tahun 1985 berdiri sebuah Helberg di belakang bangunan ini dilanjutkan sebuah toko dengan nama Toko Thiem di bagian halaman depan pada 1986. Setelah berpindahnya kepemilikan hotel dan toko Thiem ke tangan Van Deeterkom, Kedua bangunan itu tergabung menjadi satu bangunan bergaya Arsitektur Indische Empire dengan sentuhan Greek

Revival dan mengganti namanya menjadi Hotel Preanger. Pada tahun 1919 hingga 1929, hotel ini di bangun ulang di berdasarkan rancangan C.P.Wolff Schoemaker dengan Ir. Soekarno (Kelak menjadi Presiden per tama Indonesia) sebagai Juru Gambarnya dengan bergaya Arsitektur Art Deco yang banyak di pengaruhi oleh Frank Lloyd Wright.

Gedung Centre Point Bangunan yang awalnya sebagai toko musik dari Willebrordus Josephus Theodorus Naessens (Naessens & Co). dibangun pada tahun 1925 dengan gaya Arsitektur Indo-Eropa oleh rancangan dari C.P.W. Schoemaker. Hingga saat

ini, bangunan yang pernah digunakan sebagai ruang pameran Vespa, VW, mesin jahit Singer, toko buku juga toko swalayan masih berdiri kokoh di ujung jalan Braga dengan tulisan Centre Point di atas pintu masuknya.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

95


Jaarbeurs Kompleks Jaarbeurs didirikan pada 1917-1919 dalam bentuk semi permanen sebagai tempat bursa dagang tahunan di Bandung sebagai tempat pameran, dan sekaligus pasar malam yang bertujuan mempromosikan produk perkebunan, kerajinan, dan industri pada masa itu. Pada tahun 1925, gedung utama jaarbeurs di bangun berdasarkan rancangan C.P.Wolff Schoemaker dengan menerapkan gaya Arsitektur Art Deco. Sekarang Jaarbeurs telah beralih fungsi menjadi tempat Pusat Pendidikan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Pusdik TNI-AD).

96 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Bioskop Majestik Sebuah bioskop yang dibangun pada tahun 1925 oleh biro arsitek Soenda dengan gaya Arsitektur Indo Europeeschen Arshitectuur Stijl (IndoEropa) yang terlihat dari ornamen tradisional yaitu kepala Batara Kala di depan pintu masuk bangunan ini. Pada tahun 1960 Bioskop Majestik sempat diganti namanya menjadi bioskop Dewi namun masyarakat bandung tetap menyebutnya Majestik.

Gereja Bethel Rumah ibadah yang mengambil gaya Arsitektur campuran antara klasik-modern ini adalah Gereja Kristen Protestan pertama yang dibangun di Kota Bandung pada tahun 1925 silam. Kepiawayan seorang C.P.W Schoemaker dalam merancang terlihat dari menara gereja dan tiangtiang bangunan yang mengambil gaya kolom Yunani Corinthian.

Katedral St. Petrus Gereja bernuansa klasik yang dibangun pada tahun 1922 oleh M. Kunst berdasarkan rancangan dari C.P.W. Schoemaker dengan gaya Arsitektur Gothik yang terlihat dari atap menara yang runcing dan kemiringan atap yang curam dengan ornamen-ornamen yang sangat kaya pada dindingnya. Katedral juga merupakan saksi bisu perjalanan panjang dari perkembangan umat Katolik di Kota Bandung.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

97


Biofarma Gedung cagar budaya milik PT. Bio Farma yang dibangun pada tahun 1926 silam, masih berdiri kokoh dan berfungsi semestinya. Bangunan yang dirancang oleh C.P.Wolff Schoemaker dengan mengambil gaya tradisional eropa, atap bangunan yang berbentuk mansard yang menjadi ciri khas dari Arsitektur Tradisional Eropa. Karena perbedaan iklim beliau menkombinasikan bangunan ini dengan memberi teritisan di samping atapnya sehingga bangunan termasuk kedalam kategori Arsitektur IndoEropa.

Villa Isola Villa yang dibangun pada tahun 1932 bergaya arsitektur modern-functional dengan sentuhan Art Deco milik D.W. Berrety (milyuner asal Italia). Hal unik dari Villa rancangan C.P.W. Schoemaker ini karena didominasi oleh bentukan yang lengkung (dinding melengkung) yang di ilhami dari bentuk dasar dari Candi Budha yang ada di Indonesia, penempatan bangunan ini pun sangat strategis dengan pemandangan selatan ke arah Kota Bandung dan Utara ke arah Gunung Tangkuban Perahu.

98 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Mesjid Cipaganti Pada tahun 1933, C.P.W. Schoemaker merancang sebuah masjid dengan gaya Arsitektur tradisional yang dipadukan dengan arsitektur Timur Tengah. Sesuatu yang patut disimak adalah atap utama bergaya tradisional dari mesjid ini yang dipadukan dengan façade bangunan Timur Tengah.

Bosscha Sterrenwacht Dibangun di atas bukit Lembang atas usulan dari NederlandschIndische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda untuk membuat sebuah observatorium yang bertujuan memajukan astronomi Hindia-Belanda. C.P.W Schoemaker kembali ditunjuk untuk merancang bangunan utama yang menjadi tempat untuk teropong bintang hasil sumbangsih dari K.A.R Bosscha (Tuan Tanah Malabar). Bangunan yang di bangun pada tahun 1922 hingga 1928 ini, mempunyai keunikan sendiri karena menjadi salah satu bangunanan bergaya Art Deco dengan geometri seperti itu.

APRIL 2018 ARÇAKA #10

99


FENOMENA & LIFESTYLE

PUBLIC PLACE AS A LIFESTYLE Text by Anita Purnama Photos by M. Gifari & Angela Savina Putri

Tiap daerah memiliki keunikan masing-masing, baik dalam kesenian, tradisi, fashion, kuliner, karya arsitektur maupun kebiasaan hidup masyarakatnya. Semua aspek tersebut saling mempengaruhi dan menjadi elemen pembentuk ciri khas suatu wilayah. Misalnya, mayoritas masyarakat Bandung lebih suka menghabiskan waktu dan berkegiatan di luar ruangan, terutama saat harihari libur. Kebiasaan tersebut perlu didukung dengan adanya fasilitas publik atau arsitektur urban yang dapat menampung kegiatan masyarakat komunal. Dengan tersedianya ruang publik tersebut, maka akan tercipta masyarakat yang bahagia, sehat dan positif.

Teras Cikapundung

100 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Kolam Taman Balai Kota

MAIN AIR Berenang merupakan salah satu kegiatan yang seru, menyehatkan dan dapat meredakan penat setelah lelah berakvitas. Warga Bandung yang ingin berenang secara gratis biasanya datang ke Taman Sejarah yang berada di daerah Babakan Ciamis, Kota Bandung. Taman yang diresmikan pada Februari 2017 ini menyediakan kolam renang dangkal, kursi untuk bersantai serta pemaparan sejarah mengenai sejarah Kota Bandung dalam bentuk mural, relief dan stiker. Taman ini bersebelahan dengan Bandung Planning Gallery, dimana kita dapat melihat penjelasan dan visualisasi Kota Bandung di masa mendatang. Keluarga yang ingin bersantai sambil menemani anaknya bermain air bisa menghabiskan waktu di Taman Balaikota. Taman ini menyediakan kolam dangkal sebagai termpat bermain anak-anak, berbagai binatang yang dirawat dalam kandang, kebun bunga yang indah serta bus yang siap mengantar keliling Kota Bandung. Setelah bermain seharian, kita dapat meminum air suling yang disediakan secara gratis oleh pemerintah kota dalam water station yang disediakan. Bagi yang ingin berwisata keluarga disertai olahraga air, Teras Cikapundung menyediakan persewaan perahu karet beserta perlengkapan lain bagi warga yang ingin berarung jeram di Sungai Cikapundung. Lokasi ini dibagi menjadi dua area utama. Area urban menyuguhkan tempat bersantai yang sejuk dilengkapi dengan air mancur menari dan amphiteater di bangian luar, sedangkan area alam di bagian dalam menyediakan fasilitas untuk berolahraga seperti jogging dan arung jeram. Kedua area tersebut dihubungkan oleh jembatan merah yang menjadi landmark dari lokasi ini. Teras Cikapundung terletak di kawasan Babakan Siliwangi, Kota Bandung, dan telah diresmikan pada 30 Januari 2016.

Arung Jeram di Sungai Citarum

APRIL 2018 ARÇAKA #10101


Taman Film Pasupati

NONTON BARENG Pada tahun 2014, di daerah Tamansari, Kota Bandung, dibangun sebuah Taman Film untuk warga yang ingin menonton bersama. Taman ini berdekatan dengan taman-taman tematik lain seperti skatepark dan taman jomblo atau taman pasupati. Lokasinya unik karena berada di bawah Jembatan Layang Pasupati sehingga suasana terasa sejuk dan teduh pada siang hari. Taman Film Pasupati

102 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Skatepark Pasupati

Sebuah layar berukuran besar dipasang pada penyangga jembatan layang. Para penonton dapat duduk di atas rumput sintes yang di lekatkan pada lantai beton dengan ketinggian yang berbeda-beda. Film yang biasa diputarkan antara lain film Indonesia, film indie Bandung, film Bollywood, film Korea. Jadwal tayangnya pun beragam, hari Senin sampai Jumat pukul 18.30-21.00 WIB, sedangkan Sabtu dan Minggu pukul 17.00-22.00 WIB. Selain film, taman ini juga menyiarkan tayangan pertandingan sepak bola, khususnya tim Persib Bandung.

MELUNCUR DAN MENGAYUH Selain Taman Film, Taman Pasupati juga memiliki skatepark bagi warga yang ingin skateboarding dengan gratis dengan rintangan yang beragam. Ada beberapa rintangan yang bisa dimainkan di skatepark ini, antara lain Flat Rail, Pyramid, mini Ramps, dan manual box. Skatepark ini dibagi menjadi tiga tingkat dimana tingkat pertama yang berada di paling atas merupakan skatepark biasa, sedangkan tingkat dua dan tiga merupakan skatepark dengan taraf internasional. Lokasi ini selalu ramai karena merupakan tempat lahan dan berkumpulnya Komunitas Bandung Skateboarder.

Pemerintah Kota Bandung juga menyediakan fasilitas persewaan sepeda bagi warga yang memiliki kartu pinjam sepeda atau yang biasa disebut e-transport. Program sewa sepeda ini mulai diluncurkan pada Juli 2017 dengan nama Bike on Street Everybody Happy’ atau lebih dikenal dengan nama ‘Sepeda Boseh’. Sepeda Boseh dapat ditemui Museum Geologi, Taman Lansia, SMAN 20, Cikapundung Timur, Alunalun Selatan, Alun-alun Utara, Jalan Dalemkaum, Taman Pramuka dan Taman Cibeunying.

APRIL 2018 ARÇAKA #10103


Microlibrary Taman Bima

Taman Sejarah

104 ARÇAKA #10 APRIL 2018


Bandung Planning Gallery

SAATNYA MEMBACA Bagi warga Bandung yang memiliki minat baca, tersedia perpustakaan kecil dengan luas lahan kurang dari 400 m2 yang menyediakan berbagai buku dengan fasilitas ruang baca dan ruang pendukung yang nyaman. Seperti public space lainnya, perpustakaan kecil atau microlibrary menyediakan peminjaman buku beserta fasilitas lain secara gratis. Microlibrary di Taman Bima menyediakan sebuah lapangan, tempat berkumpul, ruang baca dan perpustakaan kecil bagi warga Bandung, terutama anak-anak, yang ingin bermain dan belajar bersama. Perpustakaan ini buka setiap hari, kecuali hari libur, dari pukul 08.30

hingga 17.00 WIB. Selain di Taman Bima, terdapat microlibrary di Taman Lansia serta beberapa microlibrary lain yang belum selesai dibangun seperti Fibonacci Microlibrary di Taman Tegalega dan Helicoid Library di Babakan Sari, Kiaracondong, Kota Bandung. Semua microlibrary tersebut disebar di berbagai wilayah agar bekerja sebagai sebuah jaringan yang dapat menjangkau masyarakat dari berbagai wilayah. Dengan adanya microlibrary tersebut, diharapkan indeks literasi dan minat baca di Indonesia dapat meningkat.

APRIL 2018 ARÇAKA #10105


Dewasa ini, urban landscape menjadi konsentrasi pemerintah kota-kota besar. Bukan menjadi tren semata, melainkan suatu ilmu yang diyakini mampu memperbaiki wajah kota menjadi lebih tertata dari segi estetika. Urban landscape hadir sebagai pemecah masalah atas keterbatasan lahan yang ada di kotakota besar. Keberhasilan urban landscape mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, baik kesejahteraan sosial, kesehatan, dan ekologis. Salah

106 ARÇAKA #10 APRIL 2018

satu perwujudan urban landscape adalah taman kota.

Relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, bahwa kehidupan masyarakat kota berada tidak jauh dari pusat perbelanjaan atau mall. Hal ini sangat bertentangan jika dibandingkan dengan kota-kota besar berkonsep livable city. Kehidupan mereka justru berada pada taman-taman kota yang dapat diakses selama 24 jam dengan fasilitas memadai, seperti skate park, bangku untuk sekedar duduk, air minum portable, toilet umum, tempat bermain, dan sebagainya.


FENOMENA & LIFESTYLE

TAMAN PUBLIK SEBAGAI SALAH SATU PEMECAH MASALAH PERKOTAAN Text by Naomi Dian Photos by M. Gifari & Angela Savina Putri

Menurut Nazzaruddin (1994: 29), taman adalah sebidang lahan terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya dipergunakan untuk olahraga, bersantai, bermain dan sebagainya. Jenis taman terbagi menjadi dua, yaitu: Taman publik aktif Adalah taman yang memiliki fungsi sebagai tempat bermain dan olahraga, dilengkapi dengan elemen-elemen pendukung taman bermain dan lapangan olahraga, contohnya: alun-alun, central park di New York. Taman publik pasif Taman publik pasif maksudnya adalah taman ini hanya sebagai elemen estetis saja, sehingga kebanyakan untuk menjaga keindahan tanaman di dalam taman tersebut akan dipasang pagar di sepanjang sisi luar taman. Contohnya: Bundestagen Park, Cologne Germany.

TAMAN KOTA Perkembangan RTH kota di Indonesia, sedikit banyak sangat dipengaruhi oleh pola perencanaan kota zaman kolonial, seperti “Kebon Raja” yang sampai saat ini terdapat di Blitar. Namun demikian, menurut sejarahnya alun-alun yang hampir selalu terdapat di kota-kota, khususnya di Pulau Jawa, merupakan gambaran akan demokrasi pada era kerajaan jawa yang memerlukan sebuah area terbuka tempat raja berdialog dengan rakyatnya, sehingga ruang terbuka semacam alun-alun tersebut sangat diperlukan. Dalam perkembangan manusia selanjutnya, maka kota pada abad pertengahan lahan pertanian terbuka melingkari ‘organisme kota’, di dalamnya terdapat ruang terbuka bersama (courtyard), jalan umum, dan ‘alun-alun’ (squares), yang sangat berdekatan satu sama lain, sehingga terkesan keakraban antar penghuninya.

Taman kota berperan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat kota, baik dari segi kesehatan, ekonomi, sosial, budaya dan estetika. Fungsi ekologis Taman berperan dalam penyegaran udara, pengendalian banjir dan pengaturan tata air, memelihara ekosistem tertentu, serta mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro, penyerapan air hujan. Umumnya, taman didominasi oleh tumbuh-tumbuhan yang berpengaruh terhadap kualitas udara kota. Tanaman dapat menurunkan suhu sekitar, menstabilkan kelembababn udara, dan meningkatkan kadar 02. Selain itu tanaman pada taman berfungsi sebagai pencegah erosi dan sekaligus menjadi agen pelestari ekosistem. Fungsi sosial Letak taman kota yang strategis menjadikan taman sebagai tujuan keluarga untuk rekreasi atau sekedar berinteraksi dengan orang lain. Taman biasa difungsikan untuk sarana olahraga, tempat pertemuan, tempat belajar, atau aktifitas-aktifitas bersama lainnya. Fungsi Estetik Taman kota mengambil peran penting dalam perwujudan citra kota. Semakin bagus tampilan dan penataan taman, maka semakin popular di kalangan masyarakat setempat. Beberapa elemen yang mempercantik taman antara lain, sign system, way finding, penerangan, atau patung-patung yang memiliki sejarah dan muatan lokal tertentu.

TAMAN TEMATIK RTH perkotaan terdiri dari taman kota. Sedangkan taman tematik merupakan bagian dari taman kota. Taman tematik hanya merupakan istilah untuk taman yang sengaja dibuat oleh gagasan walikota Bandung yang baru yaitu Ridwan Kamil. Semenjak kepengurusannya walikota periode 2013-2018 ini, mulai akhir 2013 lalu Ridwan kamil telah membuat konsep taman tematik. Istilah taman tematik ini bertujuan supaya dapat membedakan antara taman yang satu dengan taman yang lainnya. Taman tematik adalah taman yang memiliki fungsi yang hampir sama dengan selayaknya taman-taman kota lain, namun yang mebedakan adalah konsep dari tiap taman tersebut. Konsep tersebut masing-masing telah memiliki tema.

APRIL 2018 ARÇAKA #10107


TAMAN BALAI KOTA Aksesbilitas Akses eksternal menuju area taman cukup mudah karena berada tepat di belakang Balai Kota Bandung dan berada persis di pinggir jalan utama. Taman ini dapat diakses melalui Jalan Aceh, Jalan Merdeka, Jalan Perintis Kemerdekaan, dan Jalan Wastukencana. Sedangkan akses internal dalam taman disediakan pedestrian yang luas untuk berjalan antar fasilitas dan pusat permainan.

108 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Jl Wastukencana No.2, Babapakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Fungsi dan aktivitas pengunjung Sebagai sarana bermain dan rekreasi, serta tempat pertemuan skala kecil.

Fasilitas Tempat duduk, wi-fi, mushalla, toilet, tempat permainan anak, kolam, tempat sampah organik dan anorganik, Bandung Tour On Bus, peprustakaan keliling, kandang yang berisi tiga jenis fauna(burung, ursa, dan kelinci), serta ramp untuk penyandang disabilitas.


ALUN-ALUN BANDUNG Alun-alun Bandung berdiri di atap sebuah bangunan parkir dan dibungkus dengan rumput hijau sintetis. Terdapat petugas satpol PP di area alun-alun guna mengingatkan pengunjung agar melepas kaki, tidak merokok, serta tidak

Aksesbilitas Akses eksternal menuju area alun-alun sangat mudah karena berada di pusat kota dan berada persis di pinggir jalan utama. Bagi pengguna kendaraan bermotor disediakan parkir di basement yang terletak di bagian bawah alun-alun.

Jalan Asia Afrika, Balonggede, Regol, Balonggede, Regol, Kota Bandung, Jawa Barat 40251

membuang sampah di area taman. Alunalun Bandung merupakan alun-alun yang melengkapi Masjid Raya Bandung yang berada di bagian barat alun-alun.

Fasilitas Arena bermain anak, perpustakaan, tempat duduk, jaringan wi-fi, toilet, dan halte bus. Fungsi dan aktivitas pengunjung Sarana rekreasi keluarga, jual-beli makanan, sebagai tempat solat hari raya I’ed

APRIL 2018 ARÇAKA #10109


ALUN-ALUN CICENDO Alun-alun ini memiliki ciri khas pengkaratan yang ditampilkan dalam warna. Untuk mengangkat kearifan lokal Cicendo yaitu pandai besi, maka muncul kesengajaan desain dengan Aksesbilitas Akses eksternal menuju area taman mudah karena berada di sudut bundaran simpang Jalan Aruna-Jalan Jatayu yang tidak jauh dari Bandara Husein Sastranegara. Sedangkan akses internal dalam taman disediakan jalur yang luas untuk berjalan.

110 ARÇAKA #10 APRIL 2018

Jl. Arjuna, Arjuna, Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia

memberikan kesan seperti berkarat pada materialnya, tetapi tidak berbahaya karena telah dilapisi dengan coating.

Fasilitas Tangga yang difungsikan sebagai tempat duduk, bangku, kolam, mushalla, toilet, tempat permainan anak, kios pedagang, lapangan basket, serta ramp untuk penyandang disabilitas. Selain itu dari segi desain, terdapat ujung-ujung sudut tangga, bangku, dan perkerasan cukup tumpul sehingga ramah terhadap anak.


TAMAN PASUPATI Taman Pasupati dibagi menjadi 3 taman, yaitu Taman Skateboard, Taman Film, dan Taman Jomblo. Uniknya, lokasi taman ini berada tepat di bawah jembatan Pasupati, Bandung. Dahulu,

Aksesbilitas Akses Eksternal menuju area taman cukup mudah karena berada tepat di belakang Balai Kota Bandung dan berada persis di pinggir jalan utama. Taman ini dapat diakses melalui Jalan Aceh, Jalan Merdeka, Jalan Perintis Kemerdekaan, dan Jalan Wastukencana. Sedangkan akses internal

Jalan Asia Afrika, Balonggede, Regol, Balonggede, Regol, Kota Bandung, Jawa Barat 40251

sebelum menjadi taman, kawasan ini merupakan tempat yang terbengkalai, gelap, sepi, berbatu, dan kumuh.

dalam taman disediakan pedestrian yang luas untuk berjalan antar fasilitas dan pusat permainan. Fungsi dan aktivitas pengunjung Bangku, tangga yang difungsikan sebagai tempat duduk, arena skateboard, jaringan wi-fi, dan tilet umum.

APRIL 2018 ARÇAKA #10111


TAMAN SKATEBOARD Dengan keberadaan taman ini, skatebaoarders sangat diuntungkan, pasalnya taman ini disediakan secara gratis dan mampu mewadahi kegiatan komunitas Skateboarders Kota Bandung.

TAMAN FILM Taman Film didesain oleh konsultan arsitek SHAU dengan dana dari CSR beberapa perusahaan. Taman ini berkonsep bioskop terbuka yang modern, serta dilengkapi dengan teknologi videotron berukuran 4 x 8 meter dan sound system. Warga dapat beraktivitas di taman dan mendapat sarana menonton film secara gratis. Taman ini tersusun oleh tangga yang berundak sebagai amphitheatre yang mampu menampung 500 orang dan dibungkus oleh rumput sintesis.

TAMAN JOMBLO Taman Jomblo terdiri dari bangku-bangku berbentuk kubus berwarna-warni yang hanya muat untuk satu orang saja. Kubu-kubus tersebut memiliki tinggi sekitar 70 cm dan 1 m. Pada malam hari, tempat duduk kubus akan menyala karena telah dipasang lampu pada bagian bawahnya. Selain itu, terdapat bangku Panjang yang melengkung di sisi lain.

112 ARÇAKA #10 APRIL 2018


KESIMPULAN Setiap taman mempunyai tema tersendiri Ramah bagi penyandang disabilitas Ramah anak Anak tangga dapat dimanfaatkan sebagai tempat duduk Sebagai tempat berkumpul

APRIL 2018 ARÇAKA #10113


PRESENTED BY

SPONSORED BY

MEDIA PARTNER

114 ARÇAKA #10 APRIL 2018


KRITIK DAN SARAN

majalaharcaka@gmail.com

@arcaka

APRIL 2018 ARÇAKA #10115


Profile for ARÇAKA

Issue #10: The New of Urban Living  

Issue #10: The New of Urban Living  

Profile for arcaka