Issuu on Google+

EDISI 05 | Februari - Maret 2011

Bersih Suci? Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi Sejak Dini

Aku 19 Tahun dan Janda




Salam sahabat TANASUL, Apa kabar sahabat Tanasul? meski sudah beberapa bulan terlewati di tahun 2011 ini, Tanasul berharap mimpi-mimpi sahabat di tahun ini sudah ada yang tercapai. Tenang, mimpi-mimpi yang kita rangkai di awal tahun bukan berarti harus mimpi-mimpi besar. Hal-hal kecil dan sederhana juga bisa kita jadikan mimpi. So, yang merasa mimpinya belum terwujud tidak perlu khawatir berlarut-larut. Di edisi kali ini, Tanasul juga berusaha agar selalu mampu memberikan informasi terbaru seputar kesehatan reproduksi (Kespro). Informasi tersebut tentunya tidak harus sesuatu yang ‘besar’. Terkadang hal-hal kecil yang bagi kita sangat biasa, ternyata penting untuk diperhatikan. Artinya jangan sampai kita menyepelekan. Contohnya, tentang sesuatu yang tidak pernah lepas dari diri kita, yaitu lingkungan tempat kita melakukan aktivitas. Apakah lingkungan kita sudah bersih dan suci? Atau sekadar suci saja, tapi ternyata tidak bersih? Hemm… mungkin masalah bersih dan suci ini terbilang sepele, tapi jangan lupa berpikir tentang dampaknya. Kebiasaan kita yang cenderung menyepelekan hal-hal kecil, bisa jadi berdampak besar bagi kesehatan kita. Terutama Kespro kita. So, Tanasul akan selalu peduli mengingatkan sahabat melalui media Kespro ini. Okay, jangan terlalu lama bingung, saatnya buka pikiran kita untuk lebih peduli pada lingkungan kita. Di Edisi ini, Tanasul dukung dengan memberikan info-info Kespro seperti biasa. Mulai dari definisi apa itu Suci dan Bersih dalam “Kabar Santri” sampai sharing hasil silaturahim kami ke sebuah pondok pesantren. Selamat membaca dengan kritis… Redaktur Penanggungjawab KH. Husein Muhammad

Pemimpin Umum

Marzuki Wahid

PEMIMPIN Redaksi

Alimah

dEWAN Redaksi

Rozikoh, Alifatul Arifiati, Maemunah Mudjahid, Satori, Obeng NR, Nurul Huda, Erlinus Thahar



rEDAKTUR Ahli

Sapa Redaksi - 2 Mawqifuna Suci-Bersih: Prasyarat Menjaga Kesehatan - 3

Kabar Santri Bersih atau Suci? - 4 Kebersihan dalam Pesantren Menjadi Hal yang Sangat Penting - 6

Pesantren Kita Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun: Pentingnya Penyadaran Kespro dalam Pesantren - 8

Munadhoroh Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi Sejak Dini - 10

Bahtsul Kitab Bulughul Maram: Sehat; Modal Kebaikan Ritual dan Sosial - 11

Khazanah Aku 19 Tahun dan Janda - 12

Santri Bertanya, Tanasul Menjawab Cara Mencegah Istihadloh? - 14

Rihlah Pelantikan Pengurus Srikandi PP. Al-Mizan - 15

Dunia Tanasul - 15 REDAKTUR Pelaksana Penerbit

Lies Marcoes-Natsir, MA. (fahmina-institute), Komala Dewi, Masyithoh, Faqihuddin Abdul Kodir, MA. (fahmina-institute), Pipih Indah Permatasari, Ny. Hj. Izzah Syatori (PP. Bappenpori Babakan), Azwar Anas AS, Lili Faridah KH. Mufid Dahlan (PP. Istiqomah Buntet), Turisih Widiyowati, Ny Hj Roudhoh (PP. As Sai’diyyah Gedongan), Shofie Habibie, Ny. Hj. Thoyyibah (PP. al-Salafiyah Bode), Sanusi Ahmad, Ny. Hj. Afwah Mumtazah (PP. Kempek), Firman Setiana, Ny. Hj. Fuaidiyah (PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun), Ima Khusnul Khotimah Ny. Hj. Masriyah Amva (PP. Jambu Babakan), penyelaras bahasa KH. Syakur Yasin, Lc, MA (PP. Candang Pinggan), Marzuki Wahid KH. Hidayah Tamam (PP. Al-Ghazali Rajagaluh), KH. Maman Immanul Haq (PP. Al Mizan Majalengka), Setting Layout KH. Aminuddin Aziz (PP. Roudhatul Mubtadiin Majalengka), an@nd KH. Affandi Ismail (PP. Al Sakinah Indramayu), KH. Aziz (PP. Nurul Huda Kuningan), Printing KH. Cucun Mansur (PP. Miftahuttholibin Kuningan) CV. Teguh Gumilang

Jl Suratno No. 37 Cirebon Jawa Barat Indonesia 45124 Telp./Fax. (0231) 203789 website: www.fahmina.or.id, e-Mail: fahmina@fahmina.or.id didukung oleh


Rozikoh Sukardi

S

Suci-Bersih: Prasyarat Menjaga Kesehatan

uci dan bersih, dua kata berbeda, tapi selalu terkait satu sama lain. Suci adalah hilangnya najis atau hadats pada diri kita atau sesuatu. Sedangkan bersih berarti terbebasnya kita atau suatu barang dari kotoran dan hal-hal lain yang berdampak tidak sehat. Sesuatu yang suci belum tentu bersih, begitupun sebaliknya sesuatu yang bersih belum tentu juga suci. Kadang kita menghadapi dilema saat harus memilih antara suci atau bersih, seperti halnya memilih pasangan antara yang ‘cakep’ atau baik, memilih antara yang halal atau yang baik. Biasanya bersih lebih cenderung pada hal yang bersifat fisik sedangkan suci lebih bersifat spiritual. Kesucian merupakan salah satu syarat sah sholat. Orang yang hendak melaksanakan sholat harus suci badan, pakaian, dan tempat dari najis, baik najis hukmiyah maupun najis ‘ainiyah (najis yang bisa dilihat dengan mata, bisa dicium baunya atau bisa dirasakan dengan lidah). Ia juga harus suci dari hadats, yaitu dengan cara berwudhu bagi hadats kecil, dan mandi bagi hadats besar. Sayangnya, kita terkadang meremehkan konsep suci, atau bahkan belum mengetahui/memahami hakikat kesucian, baik perbedaan antara yang suci dari najis/mutanajjis (yang terkena najis) maupun cara menyucikannya. Padahal mempelajari kesucian termasuk fardlu’ain, semua orang Islam harus paham dan bisa mempraktikkannya. Kebersihan pada umumnya selalu diupayakan dan dibudayakan di kalangan masyarakat. “Kebersihan sebagian dari iman” merupakan hadits Nabi yang menunjukkan betapa pentingnya menjaga kebersihan. Hadist ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk menjaga kebersihan. Kebersihan berkaitan dengan keindahan dan rasa nyaman. Kalau suatu tempat itu jorok dan tidak bersih, tentu akan membuat orang tidak nyaman. Karena itu, orang wajib berusaha untuk menjaga kebersihan. Dalam banyak kasus, kita masih belum sensitive untuk mengupayakan kebersihan, terutama menjaga kebersihan kamar mandi. Mengapa kamar mandi? Kamar mandi adalah tempat yang sering luput dari pengawasan kita, karena biasanya ruangannya kecil dan letaknya tersembunyi. Bahkan beberapa orang menganggap kamar mandi sebagai tempat

Jika kita lalai dalam menjaganya, maka bisa saja organ reproduksi kita terkena pelbagai penyakit dan gangguan. Perempuan adalah kelompok sosial yang sangat rentan terhadap berbagai penyakit mematikan pembuangan akhir. Padahal di tempat itulah kita banyak melakukan aktivitas yang bersifat sangat personal, seperti mandi, buang air besar dan kecil, ganti pakaian dan sebagainya. Kalau kamar mandi kotor, otomatis banyak kuman dan bakteri yang mengakibatkan gangguan terhadap tubuh dan organ reproduksi kita. Selain kamar mandi, kita juga harus menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi, tidak cukup hanya dengan bersuci, karena organ reproduksi mempunyai fungsi yang sangat penting, maka kita perlu merawat dan menjaga kesehatan baik pada masa kini maupun yang akan datang. Jika kita lalai dalam menjaganya, maka bisa saja organ reproduksi kita terkena pelbagai penyakit dan gangguan. Perempuan adalah kelompok sosial yang sangat rentan terhadap berbagai penyakit mematikan, seperti kanker mulut rahim (serviks), kanker payudara, dan masalah kehamilan. Fakta menunjukkan bahwa kanker serviks adalah penyebab utama kematian perempuan. Di Indonesia, 20-25 perempuan meninggal akibat penyakit ini dalam setiap harinya. Artinya, setiap satu jam perempuan Indonesia meninggal karena penyakit ini (Ferlay J et al. Globocan 2002. IARC 2004). Urutan kedua setelah kanker Serviks adalah kanker payudara, dengan jumlah kematian 126 dari 100.000 perempuan. Lebih ironis lagi, kehamilan yang bukan penyakit melainkan dipandang sebagai ‘kodrat perempuan’ masih menyumbangkan angka kematian yang tinggi, yaitu 420 dari 100.000 perempuan. (UNFPA , 2008. State of The World Population Report). Keadaan tersebut tidak akan terjadi jika perempuan memiliki akses informasi mengenai kesehatan reproduksi, tentu saja ini menjadi kewajiban negara dan masyarakat terlibat aktif dalam meningkatkan kesadaran kritis kesehatan reproduksi perempuan. Jadi, mari kita bersama-sama mencari informasi yang mapan tentang kesehatan reproduksi.[]




Bersih atau Suci? Bersih atau suci? Hemm…kali ini sahabat pasti bingung mana yang harus dipilih. Jangan khawatir, kali ini sahabat bukan untuk memilih salah satunya. Cukup memahami maknanya, sebelum pada akhirnya bersikap yang seharusnya. Bersih dan suci ibarat mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Beberapa kasus kesehatan reproduksi (Kespro) di antaranya dikarenakan perilaku jorok yang dilakukan individu dan keterbatasan atau minimnya informasi Kespro.



Menurut Medis dan Syari’at Islam Apa sebenarnya makna bersih dan suci menurut syari’at Islam? Bersih dan suci memiliki makna yang berbeda, karena suci belum tentu bersih. Begitupun sebaliknya, bersih belum tentu suci. Seharusnya bersih dan suci saling melengkapi dengan menyatu. Sesuatu itu disebut suci apabila bersih, demikian juga sebaliknya sesuatu disebut bersih apabila suci. Tentunya di manapun kita berada, jika kondisi lingkungan sekitar bersih dan suci, maka akan membuat rasa nyaman untuk melakukan segala aktivitas. Suci adalah sebuah keadaan di mana barang atau tempat tidak terkena najis, karena telah disucikan menurut syari’at Islam. Sedangkan bersih berarti sesuatu yang tidak dikotori dengan sesuatu yang membuat kotor, baik yang membuat kotor itu sesuatu yang suci atau najis. Menurut ahli medis, bersih adalah bebas dari kotoran, tidak bernoda, tidak tercampur dengan unsur zat kimia lain. Sedangkan suci menurut syari’at Islam adalah tidak najis, tidak terkena najis dan bebas dari hadast. Bagaimana dengan lingkungan kita? Beberapa waktu lalu, Tanasul berkunjung di Ponpes Cadangpinggan Kertasemaya Indramayu pada Selasa (21/2). Tentu saja, di sana kami saling berbagi pemikiran tentang makna bersih dan suci bersama para santri dan nyai. Penasaran dengan pendapat mereka? Menurut Fanny (22), menjaga kebersihan alat


reproduksi itu sangat penting. “Karena jika perilaku kita jorok dan tidak merawat alat reproduksi kita dengan baik, bisa menyebabkan banyak kuman dan penyakit bersarang pada vagina dan bisa juga kita mudah terkena infeksi vagina atau infeksi menular seksual,” ungkap santriwati alumni Pelatihan Kespro II yang digelar Fahmina-institute ini. Lain halnya dengan Rizqoh (17), menurutnya suci itu sudah pasti bersih. Sedangkan bersih belum tentu suci. “Ukuran suci kalo ketika berwudlu di air sungai yang keruh, itu sudah boleh dan suci, atau kolam yang ukurannya dua kolah juga begitu. Meskipun secara medis belum tentu karena di air yang keruh pastinya masih banyak bakteri dan kuman apalagi jika kita gunakan untuk keperluan mandi dan cebok pastinya sangat berbahaya buat Kespro,” ungkap salah satu santriwati Ponpes Candang Pinggan ini. Memulai Aksi Bersih Suci Menurut Nyai Hj. Butet Zainab Al-Huda Nasution—Istri dari KH. Syakur Yasin, Pondok Pesantren Candang Pinggang Indramayu, suci dan bersih itu sama-sama pentingnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan dan sangat berpengaruh pada Kespro kita, terutama perempuan. Contohnya ketika kamar mandi santri yang jorok dan tidak dikuras minimal seminggu sekali, ini sangat berbahaya karena banyak bakteri dan virus. Belum lagi bekas ketika kita buang air kecil, pasti terkadang masih tersisa kotorannya. “Ketika kita menggunakan air yang ba­ nyak bakterinya, kemudian bakteri masuk ke dalam vagina kita dan ini bisa mengakibatkan kanker serviks, kista dan penyakit-penyakit kelamin lainnya. Makanya kita harus membuka celana dalam ketika mau sholat dan cebok sebelum wudlu,” papar perempuan yang akrab disapa Nyai Zaenab ini. Karena khawatir masih ada najisnya, lanjutnya. “Meskipun dalam Islam ada ha­ dist yang selalu mengajak umat Islam bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, namun terkadang ini masih sangat berat dilaksanakan, apalagi soal kebersihan reproduksi yang tidak semua santri mengerti.” Memulai aksi kebersihan, menurutnya bisa dimulai dari membersihkan kamar mandi dan sering mengganti celana dalam.

Di sini kadang banyak sisa-sisa urine (air/cairan kencing) yang mengandung banyak bakteri dan virus. Salah satu konsekuensi dari aksi ini kita harus mau menyisakan uang jajan untuk membeli celana dalem. “Karena yang penting adalah sehat dan mencegah diri kita dari berbagai penyakit kelamin,” tandasnya. (Asih)

Tips Menjaga Kebersihan Alat Reproduksi Setelah berbagi pengetahuan tentang suci dan bersih, kini giliran Tanasul berbagi tips menjaga alat reproduksi kita. Salah satunya merawat kesehatan alat kelamin bagi perempuan dan laki-laki. Untuk Alat Kelamin Perempuan (Vagina) 1. Gunakan celana dalam berbahan katun agar membantu vagina tetap kering. 2. Hindari hubungan seksual (bagi yang sudah menikah) bila kita mengalami tanda-tanda infeksi pada vagina. 3. Banyak makan sayur dan buah untuk mencegah infeksi vagina. 4. Hindari penggunaan bahan kimia pada daerah vagina. 5. Jangan menggaruk organ kewanitaan jika mengalami gatal-gatal atau iritasi. 6. Jaga kebersihan selama menstruasi. Hindari penggunaan pembalut yang beraroma dan mengandung gel, karena dapat menimbulkan iritasi pada vagina. Perhatikan juga penggunaan pembalut yang cocok dengan kita. 7. Menjaga vagina tetap kering dan bersih dengan membasuh menggunakan air bersih. Setelah itu dilap dengan kain yang halus atau tissue. 8. Membersihkan vagina dengan air bersih, mulai dari depan ke arah belakang. Untuk Alat Kelamin Pria (Penis): 1. Jaga daerah kelamin tetap kering, bersih, dan gunakan pakaian longgar. 2. Jangan memakai pakaian basah, seperti pakaian renang dalam jangka waktu yang cukup lama. 3. Cuci dengan bersih ketika selesai kencing. (sumber: http://girlycious.com/2010/09/16/tipsmenjaga-kesehatan-alat-kelamin/)




Kebersihan dalam Pesantren Cerminan Keimanannya

Hal lain yang sangat penting dan perlu diperhatikan adalah kebersihan kamar mandi. Seberapa sering kita membersihkan kamar mandi kita? Peran serta kamar mandi dan WC kan sebetulnya deket banget dengan aktivitas sehari-hari kita. Kalau kita hitung, coba berapa kali kita keluar masuk kamar mandi? Mulai dari mandi, buang air kecil, buang air besar, mencuci piring, mencuci baju, dan sebagainya. Kebayang kan kondisi kebersihannya kayak gimana kalau kita jarang membersihkannya, apalagi pemakai kamar mandi bukan hanya satu dua orang santri, tapi puluhan, bahkan ratusan santri. Saat kami bertandang ke Pesantren Candang Pinggan untuk liputan, kami merasa nyaman di ruangan kamar santri. Selain sambutan yang ramah, juga karena tempat yang selalu dijaga



kebersihannya sehingga terjaga kesuciannya. Kami sempat melihat-lihat kamar mandi yang digunakan santri sehari-hari, bersih dan tidak berbau. Pantas saja, karena mereka disiplin membersihkan kamar mandi, setiap hari ada giliran piket untuk membersihkan kamar mandi. Hal ini tentu saja karena di samping praktik yang bagus, juga dibarengi teori dan pengetahuan yang bagus pula. Selama ini menurut Nyai Zaenab, beliau sering memanggil para ahli kesehatan untuk sosialisasi Kespro di pesantren Cadang Pinggan sebagai salah satu upaya memberi pengetahuan kepada santri mengenai Kespro dan bagaimana cara merawat dan menjaganya agar terhindar dari virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit. Kebersihan dimulai dari bagaimana memperlakukannya. Tempat mandi pun menjadi salah satu faktor yang mendukung seseorang bisa menjaga kesehatannya. Kita bisa rasakan sendiri apa yang terjadi jika berada di tempat mandi yang kotor dan banyak sampah? Tentunya ketidaknyamanan dan akhirnya enggan untuk menggunakannya. Melihat hal tersebut, selaiknya kita menjaga kebersihan kamar mandi setiap hari. Melalui piket, pengurus bisa membagi kelompok untuk membersihkan kamar mandi setelah selesai menggunakan. Nah, Tanasul punya tips nih, biar kamar mandi selalu bersih, suci, dan wangi, cek yuk:


1 2

Bersihkan kamar mandi menggunakan sikat khusus hingga bersih, sehingga tempat mandi tersebut suci.

3

Memberi pengharum lantai atau porselin, biar kamar mandi selalu wangi.

Menguras air dalam bak mandi secara teratur, misalnya berapa kali dalam seminggu tergantung bagaimana kesepakatan yang telah dibuat oleh para santri.

4 5

Sediakan tempat sampah di dalam kamar mandi, ini untuk mencegah agar para santri tidak asal membuang sampah yang biasanya dibuang dalam kloset, terutama tisu dan pembalut.

Jangan lupa membuat peringatan berupa tulisan di dalam kamar mandi, misalnya “Jangan Membuang sampah di dalam kloset�.

Semua tips di atas nggak bakal terwujud kalau hanya dilakukan oleh satu-dua orang saja. Jadi harus bersama-sama menjaga kebersihan kamar mandi agar terhindar dari bakteri yang bisa mengganggu kesehatan reproduksi kita. Nah, Sahabat Tanasul, nggak susah kan menciptakan kamar mandi yang bersih, higienis, dan suci. Yang terpenting adalah kita sadar bahwa kesehatan itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diciptakan dan dirawat. Salam bersih dan suci!.

“Kebersihan itu sebagian dari iman�




Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun:

Pentingnya Penyadaran Kespro dalam Pesantren Pada liburan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1432 lalu, Tanasul mencoba bersilaturahim ke Pondok Pesantren Dar al-Tauhid. Tapi karena kami (Reporter Tanasul) berkunjung saat liburan, Tanasul tidak bisa bertemu dengan semua santri, terutama santriwati. Apalagi mayoritas santri Arjawinangun berasal dari luar Arjawinangun, yang saat itu tengah pulang ke rumah masingmasing, seperti ke Indramayu, Subang, Cirebon, Jakarta, dan Jawa Tengah.




Meski begitu kami tetap disambut hangat sejumlah santri yang saat itu kebetulan ada di Ponpes. Bersama para pengurus Ponpes puteri, kami pun mulai berbagi banyak hal terutama tentang Kespro. Ponpes Dar al-Tauhid sendiri pada awalnya dikenal dengan nama al-Ma’had alIslami Wathoniyah. Setelah kedatangan KH. Ibnu Ubaidillah Syathori dari Makkah, namanya diganti menjadi Ma’had Dar al-Tauhid al-‘Alawi al-Islami dan disederhanakan menjadi Ma’had Dar alTauhid al-Islami. Ponpes ini terdiri dari putra dan putri. Saat ini santri putrinya berjumlah 120 santri. Pengasuh pertama Ponpes ini adalah KH. Sanawi bin Abdullah (alm), kemudian KH. A Syatori (alm) sampai tahun 1969. Hingga saat ini Ponpes Dar al-Tauhid dipimpin oleh KH Ibnu Ubaidillah Syathori dengan dibantu oleh kakak-kakak dan beberapa keponakan beliau, di antaranya: Prof. Dr. KH. A. Chozin Nasuha, KH. A. Zaeni Dahlan, KH. Husein Muhammad, KH. Dr Ahsin Sakho, Ny. Hj Lia Aliyah Al- Himmah S.Ag, Ny, Hj. Azzah Zumrud, Ny. Hj. Habibah Mahfudh, dan KH. Mahsun Muhammad, MA. Mencapai puncak perkembangannya pada tahun 1953-1970, saat dipimpin KH. A. Syatori. Di Ponpes ini, mayoritas santri sekolah formal mulai dari SMP/MTs dan SMA/MA. Setelah sekolah formal, para santri belajar Madrasah Dirosah dalam pesantren yang kelasnya disesuaikan dengan lamanya santri di Ponpes. Kitab-kitab yang biasa dipelajari oleh santri MTs antara lain, Kitab Sabrowi, ‘Awamil, Jurmiyah, dan ‘Imriti, fiqih Kitab Sulamut Taufiq, Sulamunnajah dan Fathul Qarib. Sedangkan untuk santri MA antara lain Kitab Alfiyah, Balaghoh Jawhirul Maknun, dan kitab Fathul Wahhab. Selain kegiatan sekolah dan dirosah, para santri diwajibkan hafalan juz’amma saat selesai sholat magrib berjamaah. Sedangkan untuk mengaji al-Qur’an dilakukan setelah sholat isya. Setelah ngaji Al-Qur’an dan juz’amma selesai, tibalah melanjutkan aktifitas selanjutnya yakni untuk santri MTs kegiatannya musyawaroh dan santri Aliyah ngaji kitab dengan Abah Inu—julukan santri kepada KH. Ibnu Ubaidillah. Belajar Kespro dari Kitab Kuning dan Buku Lokasi Ponpes yang berdiri sekitar tahun 1932 ini tergolong strategis. Mengingat sangat berdekatan dengan beberapa instansi penting seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Kantor Pos, PT. Telkom, Alun-alun, Lembaga Pendidikan Formal dan Pasar Arjawinangun. Tepatnya di Desa Arjawinangun Jalan KH Syatori No. 10, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.

Selama ini santri hanya mendapatkan pengetahuan Kespro dari kitab-kitab fiqh, misalnya Kitab Safinah, Taqrib, Fathul Mu’in dan sebagainya. Selain itu, informasi Kespro didapat dari buku-buku biologi di sekolah. Hal ini seharusnya menjadi peluang bagus, terutama bagi para santri mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi (Kespro). Sayangnya, berdasarkan keterangan sejumlah santri, sampai saat ini belum adanya sosialisasi tentang Kespro dari lembaga-lembaga kesehatan yang ada. Selama ini santri hanya mendapatkan pengetahuan Kespro dari kitab-kitab fiqh, misalnya Kitab Safinah, Taqrib, Fathul Muin dan sebagainya. Selain itu, informasi Kespro didapat dari buku-buku biologi di sekolah. Sebenarnya dari santri sendiri ingin mempelajari Kespro lebih jauh. Seperti diungkapkan Sofa, salah satu pengurus Ponpes Dar al-Tauhid. “Pernah ada sosialisasi Kespro, itupun sudah tiga tahun yang lalu, namun hanya sebagai pengantar dan belum mendalam. Ada lagi baru tahun ini dari Fahmina dan Majalah Tanasul,” tutur Sofa ketika ditemui Tanasul pada Jumat (16/2). Sejumlah santri mengaku kebingungan harus bertanya pada siapa tentang persoalan Kespronya. Hal tersebut diakui Sofa karena minimnya informasi dan pengetahuan Kespro yang diperoleh santri. Seperti persoalan yang dialami santri tentang keluarnya darah Istihadloh, “Bagaimana menurut medis apakah darah Istihadloh itu normal atau tidak? Kami sangat membutuhkan keterangan-keterangan semacam itu,” lanjut Sofa yang kemudian disusul sejumlah santri lainnya yang juga sama penasarannya. Tidak disangka, antusiasme santriwati untuk mengetahui Kespro begitu besar. Alhasil, Tanasul pun ikut berbagi pengetahuan dengan mereka dalam sebuah diskusi kecil. Di sela rasa penasaran santriwati, Nurbaiti ikut menimpali. “Di kalangan pesantren sosialisasi Kespro sangatlah penting, mengingat santri-santri mayoritas anak-anak dalam masa pubertas yang sedang mengalami berbagai kendala dalam kehidupannya, terutama masalah Kespro,” timpal Nurbaeti yang juga salah satu pengurus pondok putri Dar al-Tauhid. (Lili)




Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi Sejak Dini Oleh : Turisih Widyowati*

Pandangan bahwa seks adalah tabu telah sekian lama tertanam. Hal ini juga membuat remaja enggan berdiskusi tentang Kespro. Lebih memprihatinkan lagi, mereka justru pihak yang paling tak nyaman bila harus membahas seksualitas, bahkan dengan anggota keluarganya sendiri.

A

khir Januari lalu, saya terheran-heran sekaligus prihatin ketika melihat kamar mandi dan toilet salah satu Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren di Kabupaten Cirebon. Saat itu saya tengah menjadi fasilitator Pelatihan Kesehatan Reproduksi (Kespro). Bau dan pemandangan kamar mandi dan toiletnya sangat tidak enak dipandang. Mulai dari celana dalam, centik-centik nyamuk, sampah di sana sini, sampai bekas pembalut berserakan. Saya sempat merasa pening dan mual dengan pemandangan itu. Hasrat untuk membuang air kecil pun urung saya lakukan. Dalam hati saya bertanya, mengapa kamar mandi dan toilet tersebut masih terus digunakan? Lalu bagaimana dengan kebersihan alat reproduksi kita? Bukankah hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan reproduksi (Kespro) kita? Minim Informasi Kesehatan Reproduksi Pandangan bahwa seks adalah tabu, telah sekian lama tertanam. Hal ini juga membuat remaja enggan berdiskusi tentang Kespro. Lebih memprihatinkan lagi, mereka justru pihak yang paling tak nyaman bila harus membahas seksualitas. Bahkan dengan anggota keluarganya sendiri. Tak tersedianya informasi yang akurat dan ‘benar’ tentang Kespro memaksa remaja bergerilya mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan petualangan yang menantang bagi remaja. Majalah, buku, dan film yang memaparkan kenikmatan hubungan seks menjadi acuan utama remaja. Mereka juga melalap ‘pelajaran’ seks dari internet, meski saat ini aktivitas situs porno baru sekitar 2-3%, dan sudah muncul situs-situs pelindung dari pornografi. Hasilnya, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu kini sudah mulai melakukan hubungan seks di usia dini, 13-15 tahun. Tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang harus dihadapi. Demi Kebersihan Diri Menjaga kebersihan organ reproduksi, khususnya bagian luar merupakan bagian dari kebersihan diri.

10

Turisih Widyowati adalah mahasiswi Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, juga menjadi salah satu penulis dalam buku Kespro bersama tim penulis dari forum diskusi Bayt al-Hikmah.

Kebiasaan itu perlu ditanamkan sejak kecil. Bukan saja bagi perempuan tetapi juga lelaki. Sejumlah penyakit dan kondisi bisa muncul akibat kebersihan di daerah tersebut kurang terjaga. Anak perempuan sudah diajarkan bagaimana membersihkan organ reproduksinya sejak kecil. Pada saat anak belum mampu melakukannya sendiri, biasakan agar setiap habis berkemih/ buang air kecil, basuh dengan air bersih, keringkan dengan tissu/lap bersih sampai kering. Namun kita juga tidak boleh sembarangan menggunakan airtuk bersuci, terlebih di kamar kecil (toilet) umum. Mengapa? Kamar kecil (toilet) umum, biasanya tercemar berbagai jenis bibit penyakit di kakusnya, bak airnya, gayung, dan juga lantainya. Berkontak dengan bagian dari kamar kecil atau toilet umum dapat menimbulkan risiko tertular bibit penyakit, khususnya bibit penyakit yang dapat menimbulkan infeksi kemaluan, seperti keputihan. Dari beberapa studi kita tahu keputihan bisa disebabkan oleh jamur Candida Albicans, selain oleh kuman, dan Parasit Trichomonas Vaginalis. Apapun penyebabnya, gejalanya sama, yakni keluarnya lendir berwarna susu, kuning, atau hijau yang gatal. Keputihan pada perempuan dapat ditularkan lewat kamar kecil atau kamar mandi umum. Mungkin penularan dapat terjadi dari air cebok, gayung, atau dinding bak penampungnya. Membersihkan dengan cara kering dianjurkan agar tidak tertular bibit penyakit dari air atau gayung yang sudah tercemar. Cara Membasuh Setelah Buang Air Kecil Membasuh sehabis berkemih/buang air kecil pada perempuan itu ada caranya. Kesalahan dalam arah membasuh menimbulkan risiko tercemarnya saluran kemih. Maka arah membasuh bukan dari belakang, melainkan sebaliknya, dari depan ke arah belakang. Dengan cara ini dapat menekan risiko pencemaran saluran kemih.Penyakit yang umumnya terjadi karena kesalahan membasuh adalah keputihan dan infeksi saluran kemih bagian bawah, khususnya bagi kaum Perempuan. Mengapa? Karena saluran kemih perempuan lebih pendek dibanding milik lelaki.[]


Firman Setiana adalah santri pondok Kebon Jambu al-Islamy yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon

Bulughul Maram

Sehat, Modal Kebaikan Ritual dan Sosial

“Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fahuwa waajibun.” Sesuatu yang menjadi jalan menuju terealisasinya sebuah kewajiban, maka hukumnya menjadi wajib juga.

B

ulughul Maram merupakan karya fenomenal ulama legendaris Ibn Hajar al-Asqalani. Beliau seorang ahli hadits besar, penulis Fath al-Bari: Syarhu Shahih al-Bukhari. Bulughul Maram merupakan salah satu karya beliau yang ditulis setelah Fat-hul Baari. Kitab ini beliau tulis berdasarkan hafalan beliau tanpa melihat ke kitab aslinya. Kitab ini merupakan salah satu kitab paling populer dalam khasanah keilmuan Islam, dan menjadi rujukan bagi para ahli fiqh hingga kini. Kitab ini berisikan kumpulan hadits yang menggambarkan keluasan harmoni kehidupan Rasulullah SAW. Hadits-hadits tentang berbagai aspek kehidupan dapat kita temukan di sini, baik menyangkut permasalahan fiqh, keutamaan ibadah, akhlak, muamalah, hukum pidana, hukum perdata, serta dzikir dan doa. Beberapa kelebihan dari kitab ini antara lain; bersandar pada kitab hadits yang utama (kutub Alsittah) diperkuat dengan kutipan dari banyak hadits lain, seperti Ahmad Ibn Hanbal, Al-Thabari, Al-Hakim, dan kitab-kitab hadits lainnya, disertai keterangan tentang derajat kekuatan setiap hadits, sistem penulisannya berdasarkan urutan pembahasan fiqh. Pengarang menjelaskan bagaimana seorang muslim seharusnya beraktivitas sesuai dengan sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Dari bangun tidur sampai tidur kembali, dan semua aktivitas harian itu dibahas secara sistematis dari cara bersuci hingga akhlak tercela dengan tujuan memudahkan pembaca untuk memahami dan menjalankan apa yang diamanahkan oleh Rasulullah. Kitab ini telah diperjelas (disyarahi) oleh As-shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam— Syarh Bulughul Maram Min Jami’ Adillatil Ahkam [Jilid 1 - 4]. Hampir setiap penulis kitab fiqh mengawali pembahasan dengan bab Thaharah (bersuci), begitu pula dalam kitab Bulughul Maram pada bab pertama membahas Thaharah, terdapat 162 hadits pada bab itu dari 1604 total hadits yang ada. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan dan kesucian dalam keseharian. Bersuci menjadi pembahasan awal sesuai dengan kaidah fiqh di atas. Sesuatu yang menjadi jalan menuju terealisasinya sebuah kewajiban maka hukumnya menjadi wajib juga.

Islam sangat menganjurkan kebersihan, bah­ kan kebersihan menjadi salah satu sempurnanya iman. Umat Islam sangat hapal betul dengan dalil annidhafatu minal iman (kebersihan sebagian dari iman). Mulai dari kebersihan diri (lahir dan bathin), tempat tinggal hingga lingkungan. Islam mengajarkan bagaimana tatacara mandi, istinja (bersuci) setelah buang air besar atau buang air kecil, bersiwak (menggosok gigi) ketika hendak shalat, setelah diam lama (tidak memfungsikan mulut), mandi besar setelah bersetubuh atau selesai haid bagi perempuan, juga dikhitan bagi laki-laki. Semua itu adalah ajaran Islam dalam menjaga kebersihan jasmani. Dalam penggunaan air untuk bersuci pun Islam melalui fiqh membagi air menjadi 4 kategori ; suci mensucikan dan tidak makruh menggunakannya (air mutlaq); suci dan mensucikan tapi makruh menggunakannya (air musyammas, air yang panas atau hangat karena terkena sinar matahari; air musta’mal (sudah dipakai); dan air yang berubah karena tercampur sesuatu yang suci (air mukhalith); dan air najis (air yang kurang 2 kulah dan tercampur najis). Bahkan tidak hanya bagi orang yang hidup, orang yang sudah meninggal pun Islam mengajarkan bagaimana cara mewudhukan dan memandikannya. Untuk menentukan suci atau tidaknya air yang hendak digunakan, sebaiknya tidak hanya dilihat dari segi dhahirnya saja, tetapi kandungannya pun harus diperhatikan sehingga air tersebut benarbenar baik untuk kesehatan. Untuk itu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi suatu hal yang tidak bisa diabaikan fiqh dalam menentukan kesucian air. Sedangkan untuk kesucian batin, umat Islam hendaknya menjaga kebersihan dan kesucian hati dari sifat-sifat tercela. Kesehatan dan kesucian, baik lahir ataupun batin menjadi sesuatu yang urgen dan wajib, karena tanpanya kita tidak dapat melakukan kebaikan (ibadah) baik ritual maupun sosial. 162 hadits yang terdapat dalam kitab Bulughul Maram bisa kita jadikan tuntunan dalam melakukan aktifitas seharihari terutama dalam hal kebersihan, kesucian, dan kesehatan diri. Tentunya kitab harus dibaca sesuai konteks yang ada, bukan? Wallahu’alam.[]

11


Aku 19 Tahun dan Janda Oleh: Lili Faridah

N

amaku Rini, umurku 20 tahun. Sejak awal tahun 2010, aku bercerai dengan suami. Saat itu usia pernikahan kami baru menginjak 6 bulan dan pada saat itulah talak diucapkan. Aku anak kelima dari enam bersaudara. Kedua orang tuaku buruh tani. Konstruksi dalam masyarakat sekitar di mana aku tinggal, membuat panas telinga ketika setiap saat tetangga menyindir bahwa perempuan yang tidak sekolah hingga umur 18 tahun, mereka juluki perawan tidak laku. Maka, tanpa berpikir panjang, aku menerima lamaran seorang laki-laki yang usianya hanya beda dua tahun dari usiaku. Kami sama-sama lulusan SD, karena keterbatasan biaya, aku tak dapat melanjutkan pendidikan yang dicanangkan pemerintah, yakni Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun. Aku bukan sosok perempuan pendiam, karena aku termasuk orang yang aktif berbicara. Aku punya banyak teman, baik seusiaku maupun di atasnya. Kadang tetanggatatangga sering menyebutku embers (banyak bicara), namun aku tak pernah peduli itu.

12

Hari itu, aku menikah. Tentu yang dirasakan semua orang saat itu adalah bahagia. Aku pun merasakan hal itu. Apalagi kedua orangtuaku mendukung pernikahan ini. Aku merasa sidikit lega, akhirnya aku bisa mengurangi beban ekonomi keluarga dan menepis anggapan masyarakat tentang perawan tidak laku adalah hal yang salah. Seperti pasangan-pasangan pengantin yang sudah menikah, aku ingin segera mendapatkan momongan. Ada sebuah mitos mengatakan, jika ingin cepat hamil dan memperoleh keturunan, maka saat baru menikah jangan dulu menggunakan alat kontrasepsi, biarlah berjalan sesuai apa adanya. Aku turuti nasehat itu karena diucapkan oleh ibuku, walaupun aku sadar itu tidak selamanya benar. Karena banyak dari temantemanku yang lebih dulu menikah kemudian menggunakan kontrasepsi, toh mereka tetap bisa langsung hamil saat alat kontrasepsi itu tidak lagi digunakan. Setelah menikah, aku tinggal bersama suami dan mertua perempuanku. Sebelumnya aku


menolak, namun suamiku memaksa karena tidak ada orang lain yang tinggal di rumahnya kecuali dia dan ibunya. Aku pun menyetujuinya. Anggap sebagai proses mengenal lebih dekat dengan keluarga suamiku, karena waktu perkenalan kami hanya berlangsung 5 bulan pacaran. Setelah menikah, aku langsung melaksanakan kebaikanku sebagai seorang isteri, mulai dari menyiapkan sarapan, minum, pakaian, dan lain-lain. Karena setelah menikah aku langsung menstruasi, maka aku belum bisa melaksanakan hakku sebagai isteri dalam berhubungan seksual dengan suamiku. Menurut orang bijak, “Tidak baik berhubungan suami isteri ketika sedang menstruasi, tunggulah hingga sang isteri bersuci dari haidnya. Selain itu juga tidak baik untuk kesehatan, karena jika hamil, calon bayinya kemungkinan akan lahir dengan cacat”. Selesai menstruasi, aku menjalankan hakku sebagai seorang isteri untuk berhubungan seksual. Aku yakin bisa melakukannya dengan baik. Akan kubuktikan keperawanan perempuan dengan membuktikannya setelah berhubungan seksual. Yaitu akan keluar darah dari vagina sebagai salah satu tanda “keperawanan” yang berkembang dan dipercayai masyarakat. Jika pada saat “malam pertama” atau “making love” perempuan tidak mengeluarkan darah setelah berhubungan, maka mitos yang berkembang dalam masyarakat kita, perempuan tersebut sudah tidak perawan lagi. Sialnya, hal itu terjadi padaku. Aku kaget ketika berhubungan seksual yang pertama kali, sama sekali tidak ada darah yang keluar dari vaginaku. Penjelasan demi penjelasan aku ceritakan kepada suamiku, beruntung dia agak sedikit memahami penjelasanku. “Aku bersumpah, sebelumnya tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun selain dengan suamiku sekarang”. Menangis, marah, dan menyalahkan diri sendiri, itu yang kulakukan terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Suamiku sempat marah dan mempertanyakan keperawananku. Hanya satu alasan yang aku utarakan padanya, “Aku hobi naik motor dan suatu kali pernah terjatuh hingga aku merasakan begitu sakit di bagian vagina, namun aku tak berani menceritakannya kepada siapun termasuk ibuku”. Aku hanya bertanya tentang keperawanan kepada salah satu teman yang kebetulan aktif di berbagai diskusi kesehatan reproduksi. Katanya,

keperawanan tidak dilihat dari mengeluarkan darah ketika malam pertama. Belum tentu yang tidak mengeluarkan darah, dikatakan tidak perawan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh benturan yang keras pada vagina atau jatuh. Selaput dara yang sangat tipis membuatnya mudah tersobek. Jadi bukan berarti seorang perempuan dikatakan tidak perawan ketika tidak mengeluarkan darah saat malam pertama. Banyak sebab yang melatar belakangi mengapa selaput darah rusak. Seiring berjalannya waktu, hubunganku bersama suamiku semakin memburuk. Kami sering bertengkar dan beda pendapat. Yang menjadi alasan suamiku selalu adalah masalah keperawananku itu. Aku seakan-akan tidak diaggap lagi dalam hidupnya. “Apa salahku ya Allah?? Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan dan kedamaian dalam rumah tanggaku,” tanyaku dalam hati. Tibalah saatnya ucapan talak satu diucapkan suamiku sepulang ia merantau dari Jakarta. Aku menyayangkan sikapnya itu. Baru berapa bulan usia pernikahan, ia dengan mudah mengucapkan kata cerai yang membuat hatiku sakit dan hancur. Tak ada bedanya seperti yang dirasakan perempuan-perempuan kala itu. Sebagai perempuan yang tak berdaya, aku hanya bisa nrimo keputusan itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung meminta suami mengantarkanku pulang ke rumah orangtuaku, hingga aku lupa berpamitan dengan ibu mertua. Aku ceritakan semua permasalahan ini kepada keluarga. Awalnya mereka marah, namun aku memberi penjelasan, “Sudah lah pak, bu, mungkin dia bukan jodoh terbaikku saat ini, kelak Allah akan memberikan ganti yang lebih baik lagi”. Kini aku hidup bersama orang tuaku lagi, pengalaman pertama menikah memberiku banyak pelajaran berharga dalam kehidupan. Di usiaku yang ke-19 tahun, aku resmi menyandang status janda. Kukorbankan pernikahan pertamaku dengan sebuah perceraian. Semoga hal ini tidak terus terjadi pada semua perempuan-perempuan lain yang suaminya sama-sama memiliki pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Lemahtamba, 2011 Penulis adalah mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Jurusan PAI Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

13


Ninuk Widyantoro adalah seorang psikolog yang juga Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), sebuah yayasan yang didirikan pada tahun 2001 dan sangat konsen pada isu-isu kesehatan reproduksi dan seksualitas. Mbak Ninuk juga aktif di WHO, Organisasi Kesehatan Dunia.

Cara Mencegah Istihadloh? Assalamu’alaikum Wr. Wb. Tanasul apa kabarmu? Saya mau tanya neh, saya kan salah satu santri di pondok pesantren di Cirebon. Nah, temen-temen saya satu pesantren itu banyak yang mengalami istihadloh yang kata Ustadz seh berarti penyakit. Itu lho, lubang vagina mengeluarkan darah di luar waktu haid, misalnya haid lebih dari 15 hari tetapi masih tetap mengeluarkan darah. Ini kenapa ya? Kata temen-temen saya, katanya sih karena kecapean, banyak pikiran? bener nggak sih? Trus kalo keseringan istihadloh bahaya nggak buat kesehatan? Cara ngobatinnya gimana? Terima kasih ya... Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dewi Anisah di Kota Cirebon

Jawaban: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Semoga adik santri dalam keadaan sehat selalu. Untuk keluhan yang adik sampaikan itu adalah hal yang wajar, karena: √ Pada usia remaja hormon belum stabil. √ Siklus menstruasi pada setiap perempuan berbeda-beda. √ Umumnya siklus menstruasi yang normal adalah antara 21-35 hari, lamanya menstruasi tidak lebih dari dua minggu. Pada umumnya 5-7 hari. √ Jika 3 minggu belum berhenti dikhawatirkan ada infeksi, maka dianjurkan untuk periksa ke dokter, apalagi jika disertai bau dan nyeri yang sangat sakit.

SIKLUS HAID

Indung telur bersiapsiap melepaskan telur

Telur dilepaskan. Lapisan pada dinding rahim semakin tebal

Telur tersebut berjalan sepanjang tuba falopi ke rahim. Lapisan dinding rahim mulai menebal

Lapisan tersebut tidak dibutuhkan lagi dan sebagian besar meluruh melalui vagina. Inilah yang dinamakan haid

Pencegahannya adalah: 1. Makan yang sehat: sayur, tempe, tahu, buah, ikan, sesekali daging. 2. Menjaga kebersihan kelamin: cuci dengan air bersih dan sabun, ganti celana dalam minimal 1 hari 1 kali, idealnya setiap habis mandi. 3. Ganti pembalut jika darah terasa sudah banyak. 4. Jangan memasukan apapun ke dalam liang vagina. 5. Pakai celana dari katun, hindari celana nylon yang akan menyebabkan keputihan. Semoga jawaban ini memuaskan dik santri.

14


Pelantikan Pengurus Srikandi PP. Al-Mizan

S

elama ini nama “Srikandi” lebih dikenal di dunia pewayangan. Dalam pewayangan tokoh Srikandi dikenal sebagai seorang perempuan pemberani, cerdas dan pintar. Namun “Srikandi” yang ada di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka adalah suatu kegiatan keputrian yang dilaksanakan oleh para santriwati secara rutin tiap hari Jumat. “Srikandi” kepanjangan dari Santriwati Al-Mizan Kreatif dan Mandiri. Tentang kegiatan-kegiatan Srikandi, sahabat bisa buka-buka kembali Tanasul edisi kedua. Pada Jumat (18/2) Srikandi menggelar acara bersejarah, setidaknya bagi para Srikandi. Yaitu acara pelantikan pengurus baru Srikandi masa jabatan 2011-2012. Acara tersebut dihadiri para Dewan Pembina Keputrian PP Al-Mizan, di antaranya Hj. Upik Rofiqoh dan Hj. Dede Masyithoh. “Mari kita lebih giat lagi belajar tentang keputrian, pengetahuan yang didapat tentu sangat berguna untuk kehidupan kita, pinter-pinter ku abdi, bodoh-bodoh ku batur ,” ungkap Deti salah

MENSTRUASI atau HAID atau DATANG BULAN; Perubahan fisiologis dalam tubuh perempuan yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Hal ini biasanya secara normal terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Darah haid bukan darah penyakit. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatangbinatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus. NIFAS; Masa pembersihan rahim, ketika jaringan sisasisa plasenta dan dinding rahim dikeluarkan oleh tubuh. Beberapa jam setelah persalinan, ibu hamil akan mengalami masa nifas yang umumnya terjadi selama 6 minggu atau 40 hari. ISTIHADLAH atau darah yang keluar di luar siklus haidh dan nifas yang normal pada umumnya menandai adanya gangguan alat reproduksi. GINEKOLOGI; Cabang ilmu kedokteran yang meng­ obati penyakit-penyakit saluran geni­tal wanita. HORMON; Zat kimia yang disintesis oleh sel-sel, seringkali dihimpun ke dalam kelenjar-kelenjar tak bersaluran, dan dikeluarkan ke dalam da­rah untuk pengangkutan ke tempat yang jauh, dan sebagai fungsi uta­manya adalah berkhasiat terhadap

satu pengurus Srikandi. Sementara Hj. Dede Masyithoh, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa kegiatan Srikandi sangat penting untuk diikuti. “Dengan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang Kespro dan isu perempuan lainnya, kita juga dapat mengambil pelajaran bermanfaat bagi diri kita, keluarga dan orang lain. Sebagai perempuan muslimah tentunya kita tidak mau dikatakan sebagai perempuan yang ketinggalan informasi, khususnya terkait isu-isu perempuan. Bahkan sudah saatnya perempuan melakukan perubahan dalam ruang publik, bukan hanya sekadar menjadi pelayan dalam rumah tangga.” Kalau begitu, Tanasul mengucapan selamat kepada para pengurus baru Srikandi PP Al-Mizan. Semoga para para santriwati dapat menjadi Srikandi-srikandi era globalisasi yang mampu mempersiapkan dirinya, baik pengetahuan individual maupun untuk kemaslahatan umat.(Masyithoh/Asih)

metabolisme umum atau khas dari sel-sel lain dari organisme yang sama. REPRODUKSI ASEKSUAL; Reproduksi tanpa penyatuan dari sel-sel kelamin, seperti dengan pe­nguraian atau pertunasan. REPRODUKSI SEKSUAL; Reproduksi dengan penyatuan sel-sel kelamin perempuan dengan sel-sel kelamin pria. REPRODUKSI SITOGENETIK; Reproduksi, yang individu barunya berkembang dari sel-sel benih tung­gal atau zigot. REPRODUKSI SOMATIK; Reproduksi, yang individu barunya berkembang dari suatu fragmen multiseluler dihasilkan dengan penguraian atau pertunasan. FERTIL [L: fertilis = subur, mudah dibuahi] Mudah dikembangkan menjadi individu baru (dari oosit atau ovuma); tidak steril atau tidak mandul. FERTILITAS 1. Kemampuan untuk hamil atau memicu pembuahan. 2. Rasio (nisbah) dari jumlah kelahiran per tahun terhadap jumlah wanita usia subur. (Diambil dari http://tzjacoeb.blogspot.com/2008/01/istilahistilah-dalam-endorinologi.html)

15



Tanasul Edisi 05 Periode Februari-Maret 2011