Page 1

Warkah al-Basyar Vol. IX/2010

18

Menyuarakan Risalah Agama untuk Keadilan PENANGGUNG JAWAB KH. Husein Muhammad

REDAKTUR AHLI

KH. Syarif Usman Yahya, KH. A. Ibnu Ubaidillah Syathori KH. A. Chozin Nasuha, KH. Syakur Yasin, KH. Maman Imanulhaq, KH. Wawan Arwani, Ny. Hj. Hamidah, KH. Faqihuddin Abdul Kodir.

IDUL FITRI: Bangkit dari Ketertindasan Oleh Syukron Adnan Amin, S.Pd.I*

PEMIMPIN REDAKSI Marzuki Wahid

REDAKTUR PELAKSANA Alimah

DEWAN REDAKSI

Nurul Huda SA, Roziqoh, Alifatul Arifiati, Ali Mursyid, Satori, Rosidin, Obeng Nurosyid.

SETTING Lay-OUT an@nd

DISTRIBUTOR

Ihabbudin, Lili, Jamal (Cirebon), Fitrullah, Agus Idris, Masyithoh (Indramayu).

PENERBIT

fahmina institute Jl. Suratno No. 37 Cirebon Jawa Barat 45124 Telp./Fax. (0231) 203789,

WEBSITE

http://www.fahmina.or.id

E-Mail

fahmina@fahmina.or.id, red_albasyar@fahmina.or.id

PRINTING

Teguh Gemilang

Warkah al-Basyar terbit tiap hari Jumat. Warkah al-Basyar menerima tulisan dua halaman quarto satu spasi. Tema tulisan seputar agama dan realitas kehidupan dengan perspektif advokasi yang berbasiskan tradisi/khasanah pesantren. Redaksi berhak mengedit tanpa mengurangi substansi tulisan.

Vol. IX [edisi 18] tahun 2010

17 September 2010 M/08 Syawal 1431 H

Idul Fitri juga dapat dibangun sebuah makna tentang peningkat­an kepedulian antar sesama, dibuktikan dengan diperintahkannya zakat fitrah sebagai bentuk perpanjangan sikap toleransi dan solidaritas dalam jejaring kadar kemanusiaan.

I

dul Fitri banyak melahir­ kan pesan dan hikmah bagi umat manusia. Dalam kacamata ubudiyah maupun mu’ammalah semua dapat dimaknai secara jelas, melalui rangkaian sakral peringatan raya umat Islam setelah bulan Ramadlan ini. Melalui pemaknaan Idul Fitri sebagai media silatur­ rahmi, saling memaafkan, dan ajang kunjung antar sanak keluarga, tentu dapat diluas-jabarkan sebagai ben­ tuk persaudaraan dan hari




17 September 2010 M/08 Syawal 1431 H

kepedulian seluruh manusia secara lebih universal. Dalam arti lain, Idul Fitri juga dapat dibangun sebuah makna tentang peningkatan kepedulian antar sesama, di­ buktikan dengan diperintahkannya zakat fitrah sebagai bentuk perpanjangan sikap toleransi dan solidaritas dalam jejaring kadar kemanusiaan. Jadi, Idul Fitri benarbenar harus dijadikan sebagai wahana penguatan peran manusia sebagai makh­ luk sosial yang saling membutuhkan, peduli, dan saling melindungi. Ke-Idulfitri-an Indonesia Terdapat tiga momentum unik dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia. Pertama momentum spiritual, yakni pemaknaan Idul Fitri secara keagamaan, dalam arti Idul Fitri masih ditempatkan dalam titik nilai ibadah manusia terhadap Tuhannya, berupa hari kemenangan dengan gemagema takbir yang disunahkan. Kedua sebagai momentum kultural, inilah ciri khas Idul Fitri di Indonesia, di mana masyarakat urban saling berbondong untuk menuju kampung halamannya kemudian berbagi keluh kesah dalam wahana silaturrahmi kekeluargaan. Ketiga sebagai momentum kepedulian antar sesama, melalui zakat, shodaqoh, maupun tradisi “pecingan” terhadap anggota keluarga lain. Membahas keterkaitan kuat antara momentum kultural berupa budaya “mudik” dan sarana kepedulian antar sesama manusia, ini akan sedikit teringat tentang sinyal kepedulian yang benar-benar harus ditumbuhkan dalam hari sesakral Idul Fitri ini. Lalu bagaimanakah tentang kaum



dhu’afa dalam melaksanakan gempita Idul Fitri? Ataupun saudara-saudara urban yang jauh di sana merasakan kerinduan yang sangat terhadap keluarga? Tentunya karena sebuah keterbatasan dan ketidakmampuan, yang terbangun karena sebuah ketidakadilan yang sangat menindas mereka. Dalam hidmat Idul Fitri seperti ini, sebelumnya nalar kemanusiaan kita sem­ pat terhenyak oleh berita-berita ten­ tang ketertindasan “Mudah-mud saudara-saudara menimbulkan bu­ruh migran di antaramu denga luar sana, bah­kan, yang kamu mu di negeri tetangga mereka. Dan Alla mereka sekilas dija­ Kuasa. Dan Allah M dikan korban kere­ takan hubungan lagi Maha Pe bila­teral yang bersi­ (QS. Al-Mumta fat ke­negaraan. Atau nasib mereka yang acap kali ter­ hina karena dalih ketidak-mampuan atau keterbatasan skill yang seharusnya mereka pahami dan sikapi jauh sebelum berang­ kat sebagai buruh migran. Inilah yang seharusnya kita renungkan dari raya Idul Fitri kali ini. Buruh Migran dan suhu ketertindasan “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AlMumtahanah {60}: 7) Tidak terhitung banyaknya berita

Vol. IX [edisi 18] tahun 2010


17 September 2010 M/08 Syawal 1431 H

yang cukup mengerutkan dahi tentang nasib para buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI). Baru-baru ini se­ buah koinsidensi yang tidak menyenang­ kan ha­rus kembali kita terima. Dua warga negara kita yang bekerja di Malaysia akan segera menjalani hukuman gantung kare­ na terlibat kasus narkorba. Pelaksanaan hukum­an itu dilaku­kan di saat Polis Di­ raja Malaysia baru saja menerabas masuk wilayah perairan In­ donesia, menang­ kap tiga petugas dahan Allah Dinas Kelautan dan kasih sayang Perikanan, dan baru an orang-orang melepas petugas usuhi di antara itu setelah dibarter ah adalah Maha dengan tujuh ma­ Maha Pengampun ling ikan asal Ne­ geri Jiran itu yang enyayang.” ditangkap petugas ahanah {60}: 7) DKP. Selain sebelum­ nya masalah-masalah klasik seperti upah yang tidak dibayar­ kan, jam masa kerja yang tak sesuai na­ lar ke­mampuan manusia, atau perilakuperilaku peng­aniayaan dan sikap yang tidak layak hampir selalu menyandangi mereka. Lalu apa lagi setelah ini? Lagilagi perhatian, perlindungan, serta pem­ belaan terhadap mereka harus kem­bali dibangun-kuatkan oleh kita sendiri, agar mereka mampu bangkit dan beranjak dari segenap ketertindasan. Ketegasan sikap pemerintah adalah tonggak utama untuk pencerahan masa depan para buruh migran. Setelah itu kerjasama antarkomponen masyarakat

Vol. IX [edisi 18] tahun 2010

harus benar-benar terbangun, ditambah lagi dengan peningkatan kemampuan dan bekal buruh migran sebelum memasuki pergulatan pemenuhan ekonomi lintas negara tersebut. Perputaran tiga poros kebangkitan buruh migran tersebut masih terasa sangat lemah di negeri ini. Karena memang kurangnya keterbukaan akses informasi yang sangat mendukung dan dibutuhkan merekapun tampak sebagai kendala utama dalam lingkaran ketergantungan di atas. Melalui raya sakral nan fitri ini, masalah ketertindasan para buruh migran harus mencoba diangkat untuk menjadi wacana yang lebih universal dan menyeluruh. Sehingga kepedulian berbagai kelompok penopang keterbangkitan para pejuang devisa, ini benar-benar terwujud dengan kokohnya. Sampai pada suatu titik, para buruh migran dapat memperoleh sebuah kemenangan yang semakin fitri, terutama ketika mereka dipaksa harus tercekik kerinduan memluk bangsa dan keluarga, dalam derai keharuan hari raya Idul Fitri. “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. As-Syu’aro {42}: 23)[] Penulis adalah Staff Pengajar/Pengurus Pondok Pesantren Majlis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin Ketitang, Japurabakti, Astanajapura - Cirebon




17 September 2010 M/08 Syawal 1431 H

Mutiara Hikmah

“Sungguh, Tuhanmulah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan paling mengerti orang-orang yang memperoleh petunjuk-(Nya)�



(QS. An-Nahl, 16: 125) Vol. IX [edisi 18] tahun 2010

Warkah al-Basyar Vol. IX Edisi 18 Th. 2010  

IDUL FITRI: Bangkit dari Ketertindasan Oleh Syukron Adnan Amin, S.Pd.I

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you