Page 1

KKN PPM UGM : NTT - 04 endenesia project

[Cerita Dari Watukamba]


1 [Cerita Dari Watukamba]

KKN PPM UGM : NTT - 04 endenesia project

[Cerita Dari Watukamba]


2

[Cerita Dari Watukamba]

3

Cerita Dari Watukamba KKN PPM UGM : NTT - 04 ENDENESIA PROJECT

Copyleft C 2016 by KKN PPM UGM: NTT - 04 All rights reserved Dosen Pembimbing Lapangan Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph.D. Konten Utama Seluruh Peserta KKN PPM UGM: NTT - 04 ENDENESIA Penyunting Yuramia Oksilasari Yogie Andrianto Handoyo Putu Indah Dianti Putri Dwi Lestari Setyaningsih Hadz Wahyu Muhammad Pendikary Pasaribu Fotogra Yuramia Oksilasari Adi Mahardhika Esa Putra Pendikary Pasaribu Dolce Yartikasih Bate’e Anisa Nur Amalina Muhammad Zaenal Arin Desain Gras dan Tata Letak Yuramia Oksilasari Diterbitkan oleh KKN PPM UGM: NTT - 04 ENDENESIA PROJECT E-mail: kkn.watukamba16@gmail.com Instagram: @endenesiap LineOA: @jtd1726s Cetakan I, Agustus 2016 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

NTT - 04 Desa Watukamba, Kec. Maurole, Kab. Ende Nusa Tenggara Timur, 2016


4

[Cerita Dari Watukamba]

6

Prakata

8

Prolog

10

Cerita dari Watukamba

14

Klaster Sains Teknologi

[ DAFTAR ISI ]

14 20 28 34 40 48 52 58 64 72 78 84 90 98 108 112 120

126

Klaster Sosio Humaniora 126 132 138 146 154 160

166

Irfan Ardiansyah Sandira Ultra Utami Adi Triawan Yohanes Victor Wahyu Sampoerno

Klaster Medikag 202 208 214

219

Muhammad Zaenal Arin Adi Mahardhika Esa Putra Yoga Arta Grahanantyo Dolce Yartikasih Bate’e Ida Ayu Fara Febrina Feriko Ilham Azhari

Klaster Agro 166 172 180 186

202

Hadz Wahyu Muhammad Sham Sidhiq Yogie Andrianto Handoyo Mahesa Rakha Putu Indah Dianti Putri Dwi Lestari Setyaningsih Anisa Nur Amalina Muhammad Haiqal Rizaldi Wahyu Septiarto Raharjo Ni’matul Azizah Raharjanti Sherly Yunita Tangasa Ni Putu Adnya Sawitri Yuramia Oksilasari Pendikary Pasaribu Aan Arya Pambudi Ryan Henry Pandjaja Arif Hidayatullah

Indraswari Siscadarsih Imtiyaz Ammarriza Polycarpus Bala Retu Koten

Epilog

5


6

[Cerita Dari Watukamba]

[ PRAKATA ]

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan buku Cerita dari Watukamba dengan baik tanpa halangan berarti. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman tiga puluh mahasiswa UGM yang menjalani Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa bernama Desa Watukamba. Desa yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara ini telah memberikan masing-masing dari kami berbagai cerita untuk disampaikan kepada para pembaca. Dalam pengerjaannya, buku ini tidak lepas dari berbagai hambatan. Hambatanhambatan tersebut dapat kami lewati karena bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph. D.,

2. 3.

4.

5.

selaku dosen pembimbing lapangan yang telah mengajak kami untuk menginjakkan kaki di Tanah Flores. Eva Kornelis, selaku Kepala Desa Watukamba Orang tua asuh, selaku orang tua angkat kami selama menjalani KKN di Desa Watukamba Karang Taruna Desa Watukamba yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama pelaksanaan Masyarakat Desa Watukamba yang telah menerima dan membantu kami sebagai pendatang

6. Teman-teman satu unit NTT-04 yang telah bekerjasama dari awal sampai dengan akhir pelaksanaan KKN

Di akhir kata, kami ingin mengucapkan permohonan maaf apabila ada kekurangan maupun ketidaksempurnaan dalam penulisan ataupun penyusunan. Kami berharap buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat memotivasi diri untuk segera berkunjung ke Watukamba. Terima kasih. Watukamba - Yogyakarta, Agustus 2016 (Unit KKN PPM UGM NTT-04)

7


8

[Cerita Dari Watukamba]

9

[ PROLOG ]


10

Perjalanan memang boleh berakhir, tapi pasti meninggalkan cerita dan memori. Masih lekat di ingatan, saat itu pukul 6 pagi, kami, tiga puluh orang dengan beragam latar belakang, melangkahkan kaki menuju satu tempat bernama Desa Watukamba, salah satu desa di daratan Flores, di pesisir utara lebih tepatnya. Saat yang ditunggu telah datang. Laksana opera, tirai telah dibuka dan mau tidak mau harus memberikan penampilan terbaik kepada para penonton. Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sedetik kemudian, sejam kemudian, atau bahkan sebulan kemudian. Kami hanya bermodalkan apa yang kami sebut persaudaraan yang umurnya masih seumur jagung. Let me give you a ashback, apa yang sebenarnya terjadi sebelum hari itu, Minggu 19 Juni 2016. Kami tidak datang ke Watukamba dengan mudah. Kami harus “memperebutkan” tempat ini dengan teman-teman mahasiswa lain. Teman-teman mahasiswa ini juga sudah membentuk kelompok yang berjumlah hampir sama dengan kami, lebih dari 20 orang. Tidak mungkin mengambil pilihan untuk “merger”, maka dipilihlah jalan lain, yakni menggantungkan nasib pada LPPM. Berusaha membuat mereka memilih kami, percaya kepada kami, agar bisa KKN di sana. Beruntung dengan dukungan penuh dari dosen pembimbing kami, Ashar Saputra, kami dipercaya untuk KKN di Watukamba.

[Cerita Dari Watukamba] 11

Endenesia Project: Commercial Break

Lantas, setelah itu kami berusaha menyusun program, berusaha menjalin kontak dengan warga setempat, dan mencari uang untuk modal kami melaksanakan program di lokasi KKN. Kami memilih untuk berjualan bunga, bunga sintetis hasil dari seni origami lebih tepatnya. Ya, bunga itu terbuat dari kertas HVS yang kami potong ukuran 10 cmx10 cm dan 15cmx15cm lalu digunting dan dirangkai sedemikian rupa menjadi bouquet bunga yang cantik. Maksud pembelinya beragam, dari persembahan untuk orang terkasih sampai suvenir untuk rekan yang wisuda. Memang kami juga mencoba peruntungan di Sunmor, juga di acara lain, tapi usaha dari bunga ini lebih membawa makna. Selain karena untungnya yang lebih “wah”, usaha bunga ini secara tidak langsung yang memulai jalinan komunikasi kami secara intens. Bahkan mungkin pasangan “hasil” dari KKN ini, menemukan cintanya dari jualan bunga kertas ini, mungkin.

Hal yang perlu kalian tahu, Flores itu indah, teman, baik alamnya maupun perangai warganya. Setidaknya itu kesan yang ada dalam benak kami saat tiba. Bukit, hutan, dan laut yang masih terjaga membuat kunjungan ke Flores selalu berharga. Namun di balik semua keindahan itu, ada banyak kekurangan dan hal-hal yang belum dikembangkan, yang seharusnya bisa membuat mereka memiliki kehidupan yang lebih dari sekarang. Tuhan menganugerahkan kepada mereka potensi yang besar, tapi hal itu belum disadari dan masih butuh dorongan serta dukungan dari pihak luar untuk dikembangkan lagi. Malam itu, hari Senin 20 Juni 2016, setelah kami makan malam bersama orang tua asuh, kami dipersilakan untuk beristirahat. Dalam balutan sleeping bag dan selimut, kami masih membayangkan apa yang akan terjadi di esok hari, lusa, dan hari berikutnya. Apakah program kami bisa diterima? Apakah kami bisa membaur dan memberikan kesan baik ke warga? Apakah kami bisa melalui hari-hari di sini bersama teman-teman kami dengan akhir yang bahagia? Semua itu menghantui pikiran kami di malam itu, tentang cerita apa yang disiapkan Tuhan untuk kami di sini. Semua cerita itu, cerita setiap orang dari tim ini, yang menyenangkan, menyedihkan, penuh cinta dan drama, air mata, senyuman, rindu, dan rasa kekeluargaan dimulai saat fajar menyingsing. Ketika sang surya bangkit dari balik bukit-bukit agung Watukamba di keesokan harinya.

Senja dari Setapak Watukamba


12

[Cerita Dari Watukamba]13

[ CERITA DARI WATUKAMBA ]


14

[Cerita Dari Watukamba]15

oleh: Haď€ dz Wahyu Muhammad

[ Lompatan-Lompatan Besar di Watukamba ]

KLASTER SAINS TEKNOLOGI

Amateur Leader Semuanya dimulai ketika seorang kakak tingkat memberi kabar bahwa seorang dosen tengah membuka lowongan bagi mahasiswa yang ingin KKN di bawah bimbingan beliau. Saya yang saat itu belum mau –bahkan berniat memikirkan tentang KKN mulai goyah dengan tawaran itu. Lokasi KKN yang ditawarkan adalah di Detukeli, Ende, Nusa Tenggara Timur. Lokasi yang bahkan tidak masuk dalam wishlist-ku, karena bayanganku saat itu mungkin saya hanya akan KKN di Pulau Jawa atau Sumatera yang saya pikir akan lebih nyaman bagi saya. Tapi setelah konsultasi dengan orang tua dan teman-teman akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran itu, tawaran yang akhirnya cukup membuat hidup saya berbeda. Pada kloter awal ini akhirnya tergabung sembilan orang teman dari Teknik Sipil. Mahesa, Dwi, Nisa, Haiqal, Tito, Indah, Sham, Yogie dan saya sendiri. Dalam suatu kelompok tentu harus ada pemimpinnya, hal itu pula yang langsung dilakukan di awal pembentukan kelompok ini. Dan hal yang sangat saya sesali terjadi, saya ditunjuk menjadi kormanit untuk grup ini. Penyesalan ini bukan karena apa-apa, hanya karena saya merasa tugas ini terlalu besar untuk saya. Tapi karena memang kondisi mengharuskan saya menjadi kormanit maka saya –saat itu, dengan terpaksa menerimanya. Resmilah agenda harian saya bertambah, saya harus sering mengoordinir rapat, harus sering mengurus segala sesuatunya ke LPPM.

Tidak mudah menjadi seorang pemimpin memang, harus punya pemikiran yang visioner, harus bisa memilih hal yang terbaik untuk tim, dan harus mampu menyatukan pemikiran dari tiga puluh kepala. Semua itu harus saya pelajari dari nol karena memang saya bukan tipe pemimpin atau konseptor yang baik. Dalam hal ini saya sampaikan rasa terima kasih kepada semua teman karena mau mendukung dan mengerti kapasitas dan kemampuan saya yang tidak seberapa ,sehingga saya bisa belajar dari KKN ini.

Sewaktu Makrab Pertama Kali

Keluarga Baru Banyak hal yang saya dapatkan dari KKN ini, termasuk teman-teman baru, atau bahkan kalau boleh saya bilang keluarga baru. Dua puluh sembilan orang yang membawa warna lain, pemandangan lain dalam jalan hidup saya. Ciri khas dari setiap pribadi membuat saya mengerti tipe orang dan cara menyesuaikan diri dengan orang orang tersebut. Sejujurnya saya banyak belajar dari mereka.

Saya sadar bahwa saya banyak memiliki kekurangan sehingga sudah sepatutnya saya menyerap pelajaran-pelajaran dari kelebihan dan kekurangan mereka. Selama kurang lebih 45 hari banyak pengalaman yang kami dapatkan, pengalaman bahagia, sedih, lucu, menyayat, sampai menegangkan. Mulai dari hidup di daerah yang jauh berbeda dengan tempat kami tinggal yang serba nyaman dan cukup, pengalaman dimana harus berbagi tempat tidur dengan tujuh belas orang laki-laki dalam posyandu berukuran 6m x 5m, Pengalaman saat harus saling berhemat air untuk mandi dan cuci agar semua anggota tim yang laki-laki bisa melakukan hal yang sama. Pengalaman dimana kami harus berjalan jauh untuk beribadah, dan melewati hari raya tanpa keluarga di kampung halaman. Pengalaman-pengalaman kami itulah yang membuat kami semakin erat dalam persaudaraan dan semakin kuat dalam sebuah ikatan keluarga. Dalam masa-masa itu kami saling membantu teman yang susah atau sakit, saling memberikan hiburan dengan guyonan-guyonan yang meskipun tidak lucu tapi kami tetap tertawa, juga saling terbuka dalam berbagai masalah dalam sesi curhat dadakan setelah rapat. Hal-hal itu yang mungkin menjadi alasan utama, jika kami merindukan teman-teman atau merindukan momen-momen KKN ini ketika sudah kembali lagi ke rutinitas kami.


16

[Cerita Dari Watukamba]17

Papa Ambrose dan Cucunya, Amel

Di sini saya juga mendapat “orang tua baru”. Saya sebut orang tua baru karena merekalah yang mengasuh saya dan teman-teman selama kami KKN di Watukamba. Untuk saya dan enam belas teman laki-laki saya diasuh oleh keluarga Papa Ambrose. Papa Ambrose dan Istrinya, Mama Tince, yang setiap hari memasak makanan untuk kami, memberikan minuman teh dan kopi setiap pagi dan sore. Tempat kami bercerita, konsultasi mengenai program kami, dan bertanya mengenai adat kebiasaan masyarakat di Watukamba. Mereka setidaknya menjadi pengganti orang tua kami selama kegiatan KKN kami di Watukamba. Hal yang sama juga dialami oleh teman teman saya yang perempuan, mereka juga mendapat “orang tua baru” yang mengasuh mereka di rumah-rumah.

Keadaan Desa Watukamba Setiap daerah pasti mempunyai kekhasan tersendiri, termasuk Desa Watukamba. Desa Watukamba terbagi menjadi empat dusun, Dusun Watukamba, Dusun Wolosambi, Dusun Nanganio, dan Dusun Aepetu.

Ada hal yang unik dengan lokasi dusun dusun di Watukamba ini, bahwa tiga dusun yang disebut terakhir bertempat di tepi pantai, sedangkan untuk Dusun Watukamba bertempat di atas gunung, 8km jauhnya dari tiga dusun lainnya. Jalan menuju ke Dusun Watukamba juga tidak mudah, rutenya menanjak ditambah kondisi jalan yang berbatu atau lebih sering disebut makadam membuat orang yang ingin berkunjung pertama kali harus hati hati sekali ketika melewati jalan tersebut. Agak aneh memang ketika mengetahui pertama kali bahwa dalam satu desa, ada dusun yang terpisah dari dusun-dusun lainnya, hal ini terjadi karena faktor sejarah. Dahulu awal dari Desa Watukamba memang berada di atas gunung, di daerah yang sekarang disebut dengan Dusun Watukamba. Sedangkan di pantai dahulu kebanyakan dihuni oleh pendatang dari Suku Bugis, dari Sulawesi yang membawa kebudayaan serta teknologi-teknologi baru yang belum dikenal oleh warga Watukamba. Akhirnya terjadilah interaksi di antara mereka, transfer teknologi dan asimilasi budaya, yang menyebabkan sebagian orang yang ada di atas gunung turun untuk belajar dengan para pendatang. Kemudian mereka yang telah pindah dari gunung kemudian berkembang memiliki keluarga di daerah tepi pantai. Kurang lebih begitulah awal mula kenapa Desa Watukamba memiliki satu dusun yang terpisah.

Namun terpisahnya antara Dusun Watukamba dan dusun dusun lainnya membawa dampak yang cukup signikan terhadap perkembangan desa. Secara kasat mata terlihat perbedaan yang mencolok dari segi fasilitas antara Dusun Watukamba dan dusun-dusun yang berada di tepi pantai. Dusun-dusun di tepi pantai merupakan dusun dusun yang dilewati oleh Jalan Utama yang melewati pesisir pantai utara Pulau Flores. kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi dusun-dusun yang berada di tepi pantai, karena fasilitasnya lebih lengkap, untuk menunjang keberadaan jalan utama tersebut, juga karena akses yang mudah bagi pembangunan pembangunan yang dilakukan. Ketersediaan listrik di daerah pantai bisa dibilang sangat mencukupi, akses untuk mendapatkan kebutuhan kebutuhan sehari-hari pun lebih mudah. Berbeda dengan kondisi Dusun Watukamba. Selain akses jalan yang kurang memadai, pasokan listrik di sana juga kurang. Selama ini pasokan listrik mereka berasal dari mesin diesel milik pribadi yang membutuhkan bahan bakar bensin lima liter untuk mendapatkan listrik selama empat jam. Kondisi sekolahnya pun berbeda antara sekolah di Dusun Watukamba, dan sekolah yang ada di dusun-dusun pinggir pantai. Kondisi sekolah di atas sangat butuh perhatian lebih dari pemerintah setempat.

Keadaan Sekolah Dasar di Dusun Watukamba

Plafon ruang kelas banyak yang bolong, ruang guru dan ruang kepala sekolah yang terletak di ruangan tidak lebih dari 5m x 4m yang hanya dipisah dengan sekat dari tripleks, tidak adanya perpustakaan bagi murid untuk membaca, atau kantin sekalipun untuk murid-murid membeli snack ketika istirahat. Sungguh sekolah ini butuh perhatian lebih dari pemerintah, agar muridmurid di sana bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Mata pencaharian utama di sini adalah petani kebun dan ternak, sebagian sebagai nelayan. Ada juga beberapa warga yang bermata pencaharian sebagai pengrajin kayu, dan sebagainya. Orang-orang di Watukamba, atau Flores pada umumnya memang harus diakui mempunyai wajah yang “sangar”, tapi dibalik ke-“sangar”-an wajah mereka, mereka memiliki hati yang baik. Jika kita memperlakukan mereka dengan baik, sampai kita akrab dengan mereka, mereka akan memperlakukan kita dengan baik juga, bahkan lebih dari saudara. Apapun yang kita butuhkan selama mereka bisa lakukan , mereka akan lakukan untuk kita.


18

[Cerita Dari Watukamba]19

Sayangnya ada hal yang harus dimaklumi dari orang di sini, yaitu agak susah untuk tepat waktu, hal ini menjadi penghambat ketika kami mengadakan beberapa kegiatan. Misalkan, kami mengundang para hadirin untuk datang jam 14.00 maka acara pasti akan dimulai jam 16.00. Agak susah jika menginginkan mereka tepat waktu. Sebenarnya mereka sadar akan hal ini, namun mereka selalu memakluminya, meski tidak semua namun sebagian besar.

Dusun Watukamba di Atas Gunung

What I Do And What I Get

Sewaktu Mengambil Pasir untuk Bak Sampah

Di sini juga saya mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan hardskill saya seperti plester dinding dan melakukan pengacian, kemampuan yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah. Di sini saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Sekolah Dasar, dan bertemu adik-adik yang belajar di sana. Bukan hal yang mudah ternyata mengajar di SD, butuh kesabaran yang besar, telaten dan mampu mengelola emosi dengan baik agar adik-adik yang belajar di sana dapat belajar dengan nyaman bersama kita.

Saya juga jadi tahu bagaimana beragamnya pemikiran masyarakat, dan mengetahui bagaimana sulitnya mengubah mindset masyarakat lewat sosialisasi. Mengubah mindset memang susah apalagi untuk masyarakat yang pemahamannya terjebak dengan kondisi masa lalu tanpa memperhatikan kondisi saat ini. Di sini saya juga dapat melihat bahwa kondisi masyarakat yang dinamis, di mana banyak ketidaksesuaian ketidaksesuaian di sana sini yang membuat kita bertanya, “Kok bisa begitu, ya?� Semua hal yang saya temui di sini memberikan pelajaran tersendiri untuk saya, serta pengalaman baru yang dapat saya bawa ketika sudah memasuki jenjang hidup yang baru, sehingga harapannya saya tidak lagi kaget dengan kondisi nyata dari masyarakat kita yang terkadang memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Berjalan Kaki ke Sekolah Meski Jauh

Apa yang saya lakukan di Desa Watukamba tidaklah banyak. Program pasti saya laksanakan, baik itu program yang memang saya canangkan sendiri maupun membantu program-program milik teman. Semua hal formalitas itu merupakan rutinitas sehari-hari. Saya ikut membuat bak sampah komunal, ikut dalam survei peta, ikut membantu pelaksanaan sosialisasi mitigasi bencana alam, ikut membuat tugu batas desa, dll.

Selain mengenai program saya juga harus mendekati, bertemu, bersilaturahmi ke tokoh-tokoh desa, berkonsultasi dan bercerita banyak hal. Dari kegiatan tersebut saya mulai terbiasa dan berani untuk berdiskusi dengan banyak orang, orangorang yang lebih tua, yang berpengaruh di suatu lokasi atau institusi.


20

[Cerita Dari Watukamba]21

oleh: Sham Sidhiq

[ Surga Kecil Hatiku di Tanah Flores ]

Aku berjalan menuju tujuan terakhir dari perjalanan ini yang penuh dengan cerita dan makna hidup yang akan terkenang selama aku hidup dan akan menjadi cerita yang tak akan pernah berakhir.

Banyak yang berkata KKN itu menyenangkan dengan berisi banyak cerita menarik dan kadang menegangkan. Semua itu baru bisa diceritakan setelah mengalami dan melewati masa tersebut. Di sini akan aku ceritakan pengalaman dari sudut pandangku sendiri, kegiatan KKN di Desa Watukamba yang merupakan salah satu desa di daerah Ende, NTT. Mengapa aku memilih KKN di tempat yang jauh padahal ada pilihan untuk melakukan kegiatan KKN di daerah Yogyakarta bahkan di Pulau Jawa? Orangtua menyarankanku

Dermaga

Awal sebuah ceritaku mengenai suatu desa yang selalu terkenang dalam hati dan selalu teringat akan hal-hal kecil yang hanya ada di tempat itu. Mulai dari dermaga, pantai, gunung, bukit, laut, tanjung dan juga pemandangan alam yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata. Mungkin bukanlah cerita yang sangat menarik seperti novel ataupun biograď€ terkenal tapi aku harap segelintir cerita mengenai Watukamba ini akan berkesan bagi orang yang membaca. Sebuah langkah kecil yang akan membawamu menuju hamparan tanah yang aku sebut surga kecil hatiku di tanah Flores. Kuliah Kerja Nyata atau biasa disingkat KKN. Apa yang terpikirkan pertama kali saat mendengar KKN ? Apa yang harus dilakukan saat KKN? Apa rencana kegiatan KKN yang akan dilakukan? Apakah akan menemukan keluarga baru ataukah memunculkan saingan baru?

untuk KKN di tempat yang dekat saja agar nantinya waktu Lebaran bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga. Apalagi Ibu yang selama ini tinggal bersamaku selama 21 tahun ini. Tidak pernah aku meninggalkan Ibu untuk melakukan perantauan yang cukup lama dan cukup jauh karena Ibu selalu memintaku untuk tinggal di Jogja, agar selalu dekat dengannya. Inilah salah satu alasan mengapa aku memilih KKN di Ende, tujuannya untuk melatih hidup mandiri tanpa bantuan dari orangtua. Aku beberapa kali ikut melakukan pendakian ke gunung dengan tujuan yang sama, akan tetapi itu hanya memerlukan waktu yang singkat. Meskipun modal awal untuk biaya hidup berasal dari orangtua, tapi aku berharap ini menjadi batu loncatan untuk hidup mandiri di masa depan nanti. Itulah alasan mengapa aku memilih KKN di tempat yang jauh. Kemudian aku mendapatkan informasi lokasi KKN di Ende, NTT.

Informasi ini aku dapatkan dari teman dekatku yang sama sama menempuh kuliah di Jurusan Teknik Sipil dimana salah satu dosen jurusan ini mencari beberapa mahasiswa untuk membentuk kelompok KKN yang akan di lokasikan di Ende NTT. Karena aku pikir sangat menarik untuk ikut dalam kelompok ini maka dari itu aku mengajukan diri untuk ikut dan menjadi bagian dari tim ini. Kemudian dipertemukanlah aku dengan orang orang yang akan menjadi kelompok inti dari tim KKN nanti, yang berisi sembilan orang teman dari Jurusan Teknik Sipil, di mana hampir semuanya sudah aku kenal dengan cukup dekat. Meskipun aku merupakan satu-satunya anggota dari kelas lain tetapi mereka menerimaku dengan senang hati. Di situ aku mulai merasakan bagaimana mereka memiliki prinsip untuk menjaga satu sama lain, saling men-support dan bekerja sama menghadapi permasalahan yang mana tidak ada yang tau apa yang akan terjadi, tetapi aku yakin keluarga baru ini akan mampu menjalani dan menikmati kegiatan KKN nantinya.

Teknik Sipil Paket Komplit


22

[Cerita Dari Watukamba]23

Setelah terbentuk tim inti tersebut kami mulai mencari tahu tentang Kab. Ende, mulai dari lokasi wilayah sampai tempat wisata yang ada di daerah ini. Sudah jauh-jauh ke NTT, masak tanpa menikmati liburan sama sekali. Apalagi di Ende terdapat tempat wisata yang sudah banyak orang kenal baik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara yaitu Danau Tiga Warna Kelimutu. Hal yang aku pikirkan setelah mendengar tempat ini adalah: aku harus pergi kesana walaupun hanya sekali saja. Akan tetapi informasi yang di dapatkan

Mulailah kami mencari anggota untuk melengkapi kebutuhan orang bagi kelompok kami, terutama dari klaster lain karena dari klaster saintek sendiri sudah sangat banyak. Awalnya kami mencari anggota melalui sesi wawancara secara langsung dan antusias dari mahasiswa lainnya sangatlah tinggi dimana orang yang mendaftar mencapai 100 orang lebih, tidak tau apa yang membuat orang lain menjadi tertarik untuk mendaftar di tim kami. Dari situ kami mencari tiga puluh orang yang akan diterima di tim KKN kami dan akhirnya kami

Lalu kami disambut dengan hangat oleh perwakilan pemerintah dan juga perwakilan dari Universitas Flores (UNIFLOR) karena DPL kami sudah bekerjasama dengan mereka. Orang-orang di sini sangatlah ramah dan kami tidak begitu kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka, di mana aku selama ini berpikir kalau orang timur itu memiliki nada bicara yang tinggi dan keras. Memang mereka memiliki karakteristik seperti itu, akan tetapi mereka memiliki hati yang baik dan sangatlah membantu kami dalam memberikan informasi yang cukup

sangatlah sedikit apalagi terkait dengan desa yang akan menjadi tempat dari kegiatan kami nantinya. Dosen kami berkata kalau kami nanti akan ditempatkan di Desa Detukeli yang merupakan salah satu desa di Kab. Ende.

memiliki 25 orang anggota yang sangat luar biasa. Ternyata ada tim lain yang memiliki lokasi di daerah yang sama sehingga kami harus berduel melalui proposal dengan tim tersebut. Kami pun memenangkan proposal tersebut sehingga kami akan berangkat menuju Ende, akan tetapi dengan lokasi Desa Watukamba. Lima orang lainnya kami dapatkan dari rekomendasi teman kami dan melalui seleksi dari LPPM. Dari sinilah cerita perjuangan kami untuk melalui KKN ini mulai seru dan menegangkan.

banyak. Informasi tersebut termasuk tempat wisata yang sangat indah dan menarik. Kebanyakan orang menyebutkan Kelimutu, yang terkenal dengan warna danau yang bisa berubah-ubah pada waktu tertentu. Kami sepakat untuk berkunjung ke Kelimutu setelah semua program selesai dan ada waktu luang. Pada hari itu kami menginap satu malam di Pusat Kab. Ende dan akan melanjutkan perjalanan ke Desa Watukamba pada hari berikutnya.

Di awal tadi aku sudah bilang kalau kami ditempatkan di Desa Watukamba bukan Detukeli. Nanti akan ada cerita lain bagaimana kejadian tersebut dapat terjadi, mungkin di paragraf selanjutnya. Setelah kami mencari tahu informasi terkait daerah di Ende, selanjutnya kami mulai memilih pengurus dari kelompok KKN ini dan aku dipilih menjadi kormater kluster Sains dan Teknologi (Saintek), di mana aku harus mengoordinasi kegiatan dan program berkaitan dengan kluster ini. Dari sinilah awal aku harus mulai memikirkan kegiatan dan program yang membuatku cukup pusing untuk merencanakan semua kegiatan nantinya.

Kami berangkat ke Ende melalui jalur udara dan ini menjadi penerbangan pertamaku selama aku berumur 21 tahun ini dan mungkin orang pertama yang naik pesawat di antara keluargaku tercinta. Setibanya di Bandara Ende begitu terasa perbedaan iklim dan cuaca antara daerah NTT dengan Jogja di mana Ende cukup panas dan kering. Akan tetapi semua itu terbayar dengan pemandangan luar biasa yang berisi bukit dan gunung yang terlihat membentang sepanjang yang aku lihat.

Pagi hari itu kami bersiap untuk berangkat ke Desa Watukamba, tetapi kami mampir terlebih dahulu ke UNIFLOR untuk bertemu dengan Bapak Bupati. Selepas itu, kami berangkat ke Desa Watukamba dan meninggalkan kota Ende sambil menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam hingga sampai di Desa Watukamba. Kami melewati rute perjalanan yang cukup jauh dan medan perjalanan yang cukup membuatku mual dan pusing. Akan tetapi semua itu terbayarkan oleh pemandangan sepanjang perjalanan dengan bukit yang tinggi, lereng hasil potongan konstruksi yang menjulang tinggi, dan juga lembah-lembah alami.

Menunggu Jalan Dibuka

Berbaur dengan Mahasiswa KKN UNIFLOR

Ada juga konstruksi jalan yang sedang dilaksanakan dan membuat jalan menggunakan sistem buka tutup untuk kegiatan konstruksi, di mana akses jalan ini dibuka dan ditutup setiap dua jam pada siang hari.Akhirnya kami sampai di Desa Watukamba pada sore hari dan kami di sambut dengan hangat oleh salah satu pengurus desa bernama Papa Luki dan juga beberapa papa asuh lain yang akan menjaga kami selama kami melakukan kegiatan KKN.


24

Pada hari itu kami saling mengenalkan diri satu sama lain sehingga nantinya kami dan papa asuh bisa tahu dan kenal bahkan bisa dianggap seperti keluarga sendiri. Aku dan teman-teman laki-laki satu kelompok ditempatkan di posyandu di mana mama asuh kami berada di sebelah tempat ini. Namanya adalah Mama Tince yang sangat khas dengan suaranya apalagi waktu tertawa. Aku pun sempat berpikir apakah mungkin Mama ini dapat memberi kita cukup makan dengan jumlah 18 orang anak dengan nafsu makan yang sangat luar biasa? Ternyata Mama Tince sangatlah hebat dapat memberikan kami makan yang cukup setiap harinya dengan rasa yang sangat lezat. Kami pun memberikan uang tiap minggunya untuk keperluan makan kami selama kegiatan KKN ini.

Mama Tince Tersayang

Dimulailah kegiatan KKN ini dengan observasi yang kami lakukan selama satu minggu, di mana pada kesempatan ini kami mencari tahu apa saja kemungkinan permasalahan yang muncul di desa ini, tentunya kami tidak lupa mengenai program awal kami. Setelah observasi ada beberapa hal yang muncul dalam pikiranku, tentang kebiasaan warga di desa ini:

[Cerita Dari Watukamba] 25

Pertama warga di sini belum begitu memiliki pekerjaan yang jelas, apakah mereka merupakan PNS ataukah petani ataukah mungkin karyawan. Masih banyak warga yang tidak diketahui mata pencahariaannya kecuali warga yang benar-benar, misalkan wirausaha, tukang kayu, petani, dsb. Kedua adalah partisipasi dari warga dalam kegiatan kami yang masih sangatlah kurang, karena mereka menganggap kalau sosialisasi kami tidak begitu bernilai bagi mereka. Tapi kami bersyukur masih ada beberapa warga dan juga karang taruna yang masih mau meluangkan waktu dalam kegiatan kami, juga karena berkat Ketua Karang Taruna yang bernama Om Figo. Beliau sangat membantu kami dalam menghubungi beberapa orang yang berpengaruh di desa ini. Ketiga adalah ego dari tiap orang sangatlah tinggi sehingga terjadi kesenjangan sosial yang cukup terlihat dari tiap dusun. Apalagi dengan Dusun Watukamba yang berada di atas dan terpisah dari tiga dusun di pesisir pantai, dengan jarak yang cukup jauh dan memerlukan waktu 45 menit untuk sampai di atas disertai medan jalan yang cukup sulit. Permasalahan yang aku anggap cukup berpengaruh adalah hobi dari masyarakat untuk minum minuman keras yang di sebut “moke� dimana hampir setiap ada acara dan kegiatan selalu minum minuman tersebut. Kebiasaan ini berpengaruh kepada remaja di desa ini.

Permasalahan berkaitan dengan tema kegiatan kami yaitu mitigasi bencana, ternyata bertentangan dengan anggapan warga yang berpikir kalau mereka sangatlah jauh dari yang namanya bencana. Selama ini jarang terjadi kecelakaan dan kejadian alam yang mengakibatkan kerusakan sehingga mereka selalu merasa aman dan nyaman. Padahal di dekat Desa Watukamba terdapat gunung berapi yang sampai saat ini masih berstatus aktif. Ancaman bahaya dari gunung ini sangatlah tinggi dan tidak dapat diperkirakan kapan akan terjadi. Apalagi pada tahun 1992 terjadi gempa bumi dan juga gunung meletus yang sangat besar yang membuat banyak orang mengingat kejadian tersebut hingga dibuatkan monumen di Kota Ende sendiri sebagai tanda mengenang kejadian tersebut. Saat dilakukan sosialisasi kepada warga, warga masih berpikir tentang menyelamatkan hartanya terlebih dahulu dibandingkan menyelamatkan nyawa diri sendiri. Cara berpikir itu merupakan salah satu hal yang harus diubah dari warga untuk antisipasi saat terjadinya bencana nantinya. Mungkin itu beberapa permasalahan yang muncul setelah kami melakukan survei dan pelaksanaan program dalam kurun waktu tersebut. Beberapa permasalahan juga sempat muncul dari tim KKN kami, mulai dari program-program yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga harus menyusun kembali kegiatan yang akan dilaksanakan.

Apalagi berkaitan dengan penempatan kegiatan yang berbeda dari awal sehingga perlu direncanakan ulang. Kemudian ada juga saat kormanit kami jatuh sakit dan dirawat di Puskesmas sehingga aku harus menggantikan posisi dia selama kurun waktu tertentu sampai dia sembuh. Apalagi ada beberapa anggota kami berjumlah sepuluh orang untuk melakukan kegiatan di Dusun Watukamba atas sehingga kegiatan di dusun pesisir dimampatkan dengan jumlah orang terbatas. Di saat itulah pikiran dan juga ď€ sikku diuji untuk bisa melaksanakan kegiatan sambil tetap harus menjaga Haď€ dz, kormanit kami, hingga dia sembuh.

Sewaktu Haď€ dz Sakit

Pastinya kegiatan KKN ini tidak hanya meninggalkan kesan permasalahan saja, tetapi juga hal-hal yang unik dan lucu. Ada cerita di mana setiap hari anak-anak selalu ingin mendengarkan musik daerah Flores, yang biasa diputar dengan volume cukup keras sambil bergoyang bersama. Hal ini membuatku merasa ingin ikut bergoyang juga saat tidak ada perkerjaan. Bahkan teman-temanku selalu memintaku memutarkan musik di saat lengang.


26

Mungkin karena tingkahku dan juga goyanganku yang membuat mereka merasa menikmati musik yang ada. Di akhir, aku pun bisa ikut menikmati musik dari gaya Flores, karena kami sering diundang di acara acara pesta di desa ini.

[Cerita Dari Watukamba]27

Hasilnya pun berhasil akan tetapi tidak sebagus dan sebaik jika dibandingkan dengan bekisting dari triplek. Akan tetapi cukup memuaskan bagi kami dan secara arsitektur memberi dampak yang cukup unik. Selain itu beliau juga dapat membuat tulisan timbul pada tugu tersebut dengan sangat memuaskan. Hasil tangan dari beliau juga sangatlah bagus, hampir semua desain dari temanku bisa dilaksanakan dan dengan hasil yang sangat bagus. Kami pun menjulukinya dengan “Lord Nelis�.

Apalagi saat perjalanan pulang dimana harus bertahan dengan dinginnya angin malam dan juga kegelapan sekitar otto tanpa jelas arah dan tujuan. Yang bisa dilakukan adalah bertahan dan mencoba untuk tetap terjaga dari tidur, padahal aku juga sempat tertidur beberapa menit saat itu. Itu merupakan pengalaman paling gila dan ekstrem yang pernah aku alami selama berada di Watukamba.

Hal terpenting yang tidak dapat terlupakan adalah aku menemukan keluarga baru yang sangat menerimaku apa adanya

Keadaan Anak-Anak Saat Bergoyang

Kejadian unik lainnya adalah saat pembangunan tugu selamat datang di daerah perbatasan antara Desa Watukamba dengan desa sebelah. Ada salah satu tokoh masyarakat yang biasa kita panggil dengan nama Pak Nelis dengan keahlian khusus untuk melakukan hal-hal unik berkaitan dengan pembangunan dan pembuatan sarana prasarana. Beliau merupakan ketua dari tim teknis desa yang bertugas dalam hal pembangunan dan pelaksanaan pembangunan secara ď€ sik di Desa Watukamba ini. Hal unik yang aku temukan adalah dengan ide gilanya membuat bekisting untuk pengecoran dengan menggunakan pelepah pisang dan juga tangkai kayu. Bisa dibayangkan betapa uniknya pelaksanaan ini bahkan hingga teman-teman satu jurusanku juga terheran-heran bagaimana beliau dapat memiliki ide tersebut.

Di Atas ‘Otto’

Lord Nelis

Hal unik lagi ditemukan saat bepergian ke kelimutu menggunakan kendaraan umum yang biasa disebut dengan otto. Otto disini adalah truk kayu yang didesain agar bisa ditempati dan diduduki oleh orang meskipun keamanannya perlu dipertanyakan. Hal unik yang aku temukan adalah aku merasakan bagaimana rasanya naik di atap otto yang berjalan dengan kecepatan cukup tinggi hanya dengan modal tali yang diikatkan ke tiang tiang pada truk tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana posisi duduk dengan selalu berpegangan tali dimana harus melawan kencangnya angin, menghindari ranting-ranting pohon di tepi jalan, dan harus mampu bertahan saat melewati tikungan.

Itulah mengapa kebanyakan desa di daerah NTT sangat sulit untuk dikembangkan karena optimis dan kerja keras dari warganya sendiri masih sangat sedikit. Mereka selalu merasa cukup dengan keadaan yang seperti itu. Berbeda jika dibandingkan dengan warga di daerah Jawa yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang diinginkan dan selalu terdorong untuk maju.

Pelajaran yang aku dapatkan dari kegiatan KKN ini bahwa aku mengabdi dan mepraktekkan apa saja yang telah dipelajari di kampus selama ini, mulai dari kegiatan bersosialisasi dan bekerjasama dengan warga sekitar, kemudian mengonsep semua kegiatan yang akan dilaksanakan. Ada juga bentuk kerja sama dan gotong royong dengan satu sama lain serta saling pengertian antara anggota dan warga. Kemudian memahami bagaimana kebahagiaan itu dapat ditemukan secara sederhana di Desa Watukamba tanpa meminta hal yang lebih dan menerima apa yang mereka miliki.

selalu bercerita dengan riang gembira, selalu ditanyakan kesehatan dan kebutuhan di sini. Bahkan sempat ditanya apakah aku merasa nyaman dan betah untuk tinggal di posyandu bersama teman lainnya. Tentu aku merasa nyaman selama tinggal di desa ini apalagi bersama dengan Mama Tince yang selalu siap sedia membantu kami. Bahkan Mama Tince sendiri bilang kalau aku dan teman-teman semuanya sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Betapa aku merasa bahagia dan sangat sulit untuk melupakan dan meninggalkan Desa Watukamba ini. Aku berjalan menuju tujuan terakhir dari perjalanan ini yang penuh dengan cerita dan makna yang akan terkenang selama aku hidup dan akan menjadi cerita yang tak akan pernah berakhir. Sampai jumpa lagi Tanah Pancasila, kelak aku akan kembali ke sini, serta hal ini akan kuingat sampai ku kembali lagi di Desa Watukamba.


28

[Cerita Dari Watukamba]29

oleh: Yogie Andrianto Handoyo

[ Masyarakat Sebagai Kunci Keberhasilan ]

Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu provinsi di timur Indonesia masih dapat digolongkan sebagai salah satu daerah yang cukup tertinggal di Indonesia. Kekeringan menjadi momok yang santer dibicarakan di berbagai media nasional. Selain hal tersebut terdapat momok yang lebih menyeramkan daripada sekedar kekeringan. Nusa Tenggara Timur, khususnya Desa Watukamba menyimpan potensi bencana yang sangat besar dan dapat mengancam kehidupan kapan saja. Dengan letaknya yang berada di kawasan ring of ď€ re, Desa Watukamba tidaklah hanya menyimpan bahaya gempa bumi. Letaknya yang berada di pesisir pantai utara Pulau Flores mengakibatkan desa ini memiliki potensi terhadap ancaman tsunami. Ditambah lagi dengan letaknya yang dekat dengan Gunung Rokatenda, kawasan ini juga riskan terhadap bahaya gunung meletus. Banyaknya ancaman bencana alam di daerah ini telah menimbulkan sebuah tema untuk diusung ke dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang diselenggarakan oleh pihak Universitas Gadjah Mada. Dengan tema Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Manusia melalui Penyediaan Air Bersih dan Mitigasi Bencana, membuat saya sebagai calon engineer tertarik untuk terlibat di dalamnya. Sesuai bidang studi yang saya jalani saat ini, Teknik Sipil, saya mengharapkan keterlibatan saya di dalam KKN ini dapat mengembangkan diri dan memberikan pengalaman lebih dalam hal penanggulangan bencana.

Walaupun dengan kemungkinan akan mengalami kekurangan air bersih dan hidup serba kesulitan selama kurang lebih dua bulan, saya telah memantapkan diri untuk tetap maju menghadapinya.

Gunung Rokatenda

Dengan segala ketakutan akan kesulitan yang harus dihadapi, Desa Watukamba ternyata mampu memberikan kejutan kepada setiap mahasiswa yang terlibat dalam KKN ini. Bagaimana tidak? Keberadaan air bersih bukan hal sulit untuk dicari, bencana alam pun dapat dibilang sangat jarang terjadi di desa ini. Begitu kiranya pendapat masyarakat sekitar mengenai hal yang sempat saya takutkan. Mereka mengatakan bahwa Desa Watukamba sudah menerima suplai air dari PDAM Kabupaten Ende dan gempa sudah tidak terjadi selama satu tahun ke belakang. Sehingga program yang sudah tim KKN saya susun dikatakan tidak cocok dengan kondisi yang sebenarnya dialami desa ini. Hal ini membuat kecemasan akan kegagalan berjalannya program sudah saya rasakan sejak hari pertama tiba di Desa Watukamba. Walaupun dengan kecemasan tersebut, saya masih melihat bahwa sesungguhnya program yang telah kami susun masih sangat dibutuhkan di desa ini.

Dikarenakan ketidakpercayaan masyarakat akan program-program yang telah kami rencanakan sebelumnya, tim kami mencoba untuk berusaha menggali informasi lebih mengenai program-program yang sebenarnya masyarakat inginkan. Dari beberapa informan yang saya temui, saya menemukan permasalahan baru yang sebenarnya harus saya dan teman-teman selesaikan secepatnya. Masyarakat Desa Watukamba yang pada tahun sebelumnya juga telah menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan KKN PPM UGM merasa kecewa terhadap kinerja yang telah diberikan oleh tim KKN sebelumnya. Ketidakpuasan itu didasari karena pengerjaan ď€ sik yang tim KKN sebelumnya selenggarakan sangatlah sedikit dan tidak dapat berkelanjutan. Permasalahan ini harus segera kami selesaikan dalam tempo waktu singkat untuk menarik kembali kepercayaan mereka terhadap pihak Gadjah Mada.

Contoh Program Fisik Tahun Lalu Kurang Memuaskan


30

Dari masyarakat, kami mengetahui bahwa pekerjaan ď€ sik yang telah dilakukan tim KKN sebelumnya adalah berupa tong-tong sampah kecil yang terletak di pinggir jalan utama. Pengadaan tong sampah tersebut dikatakan tidak berguna dikarenakan tidak adanya pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan oleh pihak pemerintah desa setempat. Hal ini membuat masyarakat lebih memilih untuk membakar sampah hasil rumah tangganya masing-masing dibandingkan untuk membuang sampahnya di tong-tong sampah yang telah ada sebelumnya. Menurut pandangan saya, perilaku masyarakat yang seperti ini telah menciptakan bencana sendiri bagi masyarakat desa ini. Pembakaran sampah yang tidak terpusat di satu titik hanyalah menciptakan kepulan asap yang tersebar di berbagai lokasi dan dapat menciptakan wabah penyakit gangguan saluran pernapasan. Didasari hal ini, tim kami mencoba memberikan solusi berupa pengadaan bak sampah permanen yang terpusat di beberapa titik di Desa Watukamba sehingga pembakaran sampah nantinya “tidakâ€? terlalu mengganggu udara desa ini. Kami menyadari secara penuh bahwa hal ini sebenarnya bukanlah solusi terbaik yang dapat kami berikan terkait sampah-sampah yang berada di desa ini. Namun dikarenakan keterbatasan waktu dan tujuannya yang sebenarnya dari pengadaan bak sampah ini hanyalah untuk menarik kembali kepercayaan masyarakat kami memilih untuk melakukan hal ini.

[Cerita Dari Watukamba]31

Besar harapan kami setelah pengadaan bak sampah permanen tadi dapat menarik lagi kepercayaan masyarakat kepada pihak mahasiswa. Oleh karena itu, setelah pengadaan bak sampah kami juga memberikan sosialisasi terkait tata cara penggunaan bak sampah tersebut. Walaupun dengan keterlambatan, masyarakat tetap hadir ketika sosialisasi ini dilaksanakan. Hal ini membuat kami sedikit lega karena dapat kami simpulkan sudah ada sikap antusias dari masyarakat sendiri. Ketika perasaan lega kami dapatkan, saya merasa telah menangkap sedikit permasalahan dari sosialisasi tersebut. Ketika sosialisasi berlangsung ada ucapan dari salah satu masyarakat bahwa mereka telah mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan terkait dengan pengelolaan sampah. Hal ini cukup menggelitik perasaan saya untuk berbicara. Apabila mereka telah mengetahui tentang pengelolaan sampah yang benar, mengapa selama ini sampahsampah yang ada hanya mereka bakar? Bukankah lebih baik apabila sampahsampah yang ada dikelola lebih lanjut sehingga dapat menciptakan sebuah nilai ekonomi baru? Yang lebih lucunya lagi, saya mendapati ucapan bahwa mereka telah mengetahui pengelolaan sampah dari seseorang yang pendidikannya dapat dikatakan lebih tinggi dari masyarakat lainnya.

Proses Pembuatan Bak Sampah

Dari hal yang telah saya tulis di atas, sempat terpikirkan bahwa masalah yang sebenarnya berada di desa ini lebih besar dari yang kami kira. Hal tersebut saya coba singkirkan semenjak awal berada di Desa Watukamba ini. Namun hal ini terus bermunculan seiring dengan berjalannya waktu. Ketika sosialisasi mitigasi bencana kami berikan kepada masyarakat saya mendapati hal yang hampir serupa dengan sosialisasi sebelumnya. Di kesempatan itu, saya mendapati bahwa pemahaman masyarakat terhadap bencana masih sangatlah kurang. Mereka merasa selama ini mereka aman dari bencana dikarenakan selama beberapa tahun terakhir tidak pernah mengalami bencana alam yang besar. Seperti contohnya ketika Gunung Rokatenda meletus beberapa tahun lalu, mereka hanya mengatakan bahwa ketika gunung itu meletus efek yang dirasakan di desa ini tidak banyak. Padahal apabila ditelisik lebih lanjut, mungkin beberapa tahun lalu desa ini hanya sedang beruntung dikarenakan pergerakan angin yang kebetulan sedang tidak mengarah ke desa ini.

Ada juga ketika ditanya mengenai gempa bumi, mereka hanya mengatakan bahwa gempa bumi besar terakhir mereka rasakan pada tahun 1992 setelah sebelumnya pada tahun 1962. Pada saat gempa bumi itu terjadi mereka mengatakan bahwa sebagian besar rumah telah rata dengan tanah. Namun dengan adanya pengalaman barusan, tidak membuat warga Desa Watukamba ini belajar lebih. Mereka berpikir bahwa dengan tidak adanya gempa selama beberapa tahun terakhir menandakan bahwa mereka selama ini hidup dengan aman. Warga desa ini masih belum sadar bahwa sesungguhnya ancaman akan gempa besar masih bisa mereka alami. Kemungkinan akan perasaan traumatik yang mereka hadapi memang ada, namun yang menjadi pemikiran saya adalah mengapa hal ini masih terjadi di tahun 2016? Mengapa penduduk sekitar tidak belajar dari pengalaman yang sudah ada untuk lebih mempersiapkan diri ke depannya? Dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Saya mencoba memberikan edukasi lebih mengenai ancaman bencana yang bisa menyerang desa ini secara tiba-tiba. Walaupun edukasi telah diberikan, warga desa terkesan masih belum menerima edukasi tersebut secara sempurna. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, saya mencoba untuk memberikan edukasi mengenai bencana kepada para penerus desa ini. Hal berbeda saya rasakan ketika memberikan edukasi kepada murid Sekolah Dasar. Mereka terlihat lebih antusias dan lebih dapat menerima.


32

Sosialisasi Mitigasi Bencana untuk Siswa Sekolah Dasar

Antusias yang diberikan oleh para penerus desa ini tidaklah hanya sebatas di sekolah. Hal ini terasa ketika kami mengadakan acara perlombaan untuk anak-anak sekitar. Berbeda dengan mereka yang sudah lebih tua, anak-anak hadir dengan tepat waktu. Hal ini semakin menguatkan pendapat saya mengenai permasalahan yang sebenarnya terjadi di desa ini. Adanya rasa ketidakinginan untuk berkembang dari masyarakat sekitar. Warga desa terlihat malas untuk bergabung dalam kegiatankegiatan yang sebenarnya bertujuan baik untuk mereka. Dengan sikap masyarakat yang ingin menerima banyak tanpa berusaha lebih saya rasa desa ini bukan hanya butuh sebuah pemantik untuk menyalakan apinya. Ditambah lagi dengan beberapa sifat sombong yang terlihat dari sulitnya menerima informasi lebih mengenai hal-hal baru sekalipun dari orang yang dipandang derajatnya lebih rendah. Sikap dan sifat yang seperti ini harus segera diubah dari masyarakat sendiri. Karena apabila masih seperti ini, bagaimanapun caranya akan sangat sulit bagi Desa Watukamba ini untuk berkembang secara cepat. Hal-hal tadi hanya membuat pergerakan desa ini menjadi stagnan bahkan relatif mundur.

[Cerita Dari Watukamba]33

Selain permasalahan yang saya rasakan barusan. Mungkin terdapat permasalahan yang sebenarnya bersifat cukup normatif. Seperti budaya dan adat yang sangat kental di Desa Watukamba ini. Hal-hal yang sudah sangat jarang ditemui di Pulau Jawa. Beberapa di antaranya mungkin menjadi sedikit mengganggu dan terkesan sedikit nyebelin. Walaupun demikian, kekentalan budaya dan adat tersebut membuat saya belajar banyak juga. Dari desa ini saya belajar tentang toleransi yang amat sangat mendalam antar umat agama, sikap saling menghormati sesama dan sikap gotongroyong. Hal-hal yang sudah semakin jarang ditemui di kehidupan modern. Selain tentang sikap juga, Desa Watukamba ini telah menguji sense of engineer yang saya dan beberapa teman miliki. Sebagai calon engineer saya dituntut untuk dapat menghadapi masalah dengan berbagai kondisi. Berbeda dengan di kelas yang hanya berdasarkan teori, di desa ini kami dituntut pula untuk menyelesaikan berbagai kondisi permasalahan dengan tepat dan dalam waktu yang terbatas.

Antusiasme Anak Desa dalam Mengikuti Lomba

Di akhir kata, saya ingin mengucapkan bahwa saya sangat berharap terhadap keberlangsungan program-program yang sudah kami jalani. Sangat disayangkan apabila output-output dari program yang sudah berjalan hanya menjadi kenangan tanpa dimanfaatkan.

Sangat Senang Rasanya Apabila 10 Tahun Lagi Saya Dapat Berkunjung Kembali dan Melihat Desa Watukamba ini Sudah Berkembang Pesat


34

[Cerita Dari Watukamba]35

oleh: Mahesa Rakha

[ Dusun Watukamba ]

Embun pagi terasa sejuk hari itu, mengawali perjalanan jauhku menuju kepulauan kecil di sudut timur Indonesia. Perjalanan yang mendebarkan, di mana untuk pertama kalinya aku berkunjung dan singgah selama 47 hari di tempat yang tak pernah kusangka, daerah yang hanya aku lihat di buku pelajaran IPS sekolah atau atlas lengkap 33 provinsi. Dahulu di tempat inilah Bapak Bangsa kita menemukan sebuah konsep. Konsep hebat yang menjadi dasar negara kita, yang tertempel gagah di antara dua pemimpin kita di tiap-tiap dinding kelas sekolah. Teringat semua diawali dari notikasi kecil di grup angkatanku, pesan singkat itu ternyata titipan dari salah satu dosen yang berisi lowongan untuk mahasiswa yang berminat untuk KKN bersama Beliau. Di ujung pesan singkat itu tertulis “Bagi mahasiswa yang berminat dapat menghubungi Sandy …”, kakak kelasku Teknik Sipil 2012 yang sering kujumpai di kampus DTSL FT UGM. Sepertinya aku telah lupa apa yang menarik diriku untuk menghubunginya, sehingga membawaku pada pertemuan minggu pagi di Gazebo Sipil, salah satu spot favorit di Kampus Teknik Sipil, titik kumpul pertama perjalanan untuk belajar dan mengabdi kepada orang-orang yang bahkan belum aku kenal sama sekali. Pagi itu aku datang tepat waktu, ternyata telah duduk enam orang teman-temanku yang sangat ku kenal. Mereka orang-orang yang akrab denganku, beruntung bagiku tak hanya aku seorang yang tertarik tawaran yang sangat jarang ini di saat banyak ajakan dan rayuan dari kelompok KKN lain yang bertebaran di media sosial.

Mas Sandy belum datang, sambil menunggu kami membicarakan tentang tugas besar Fondasi Dalam yang sedang di masa deadline saat itu. Momok yang asyik untuk dibicarakan, dimana kita tahu bukan hanya kita sendiri yang belum menyelesaikannya. Selang beberapa menit orang yang kita tunggu-tunggu datang, dengan gaya berjalannya yang khas menenteng tas laptop menggantung di pundaknya. Duduk di depan kami, sesat dia menatap ke arah kami dan menanyakan ”Empat orang lainnya mana?”. Ternyata terdapat sebelas orang yang mendaftar ke dia, kami pun diminta untuk menghubungi ke empat orang tersebut. Akupun menghubungi salah satu temanku yang belum hadir tersebut, yang akhirnya menjadi kormanit kami, untuk menanyakan kepastiannya ikut bergabung ke tim KKN ini. Dari empat orang yang dihubungi satu memastikan ikut, satu belum dapat dihubungi dan sisanya telah bergabung dengan tim yang lain. Setelah kami menghubungi mereka, pertemuan dilanjutkan dengan sharing dari Mas Sandy tentang KKN yang akan kami pilih, hingga akhirnya kami sepakat bergabung dalam satu tim KKN yang berlokasi di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Tahap demi tahap telah kami lalui hingga kami telah siap dengan tiga puluh orang menuju tempat perantauan sementara.

“Sekarang aku telah siap menuju ke Bandara Adisucipto,” ujarku dalam hati, karena setelah sahur aku tidak kembali tidur melainkan menyiapkan diri untuk berangkat. Sebelumnya aku meminta bantuan teman kos untuk mengantarkanku menggunakan motor beat hitam kesayanganku bernomor polisi yang terbilang unik di Yogyakarta karena jarang sekali kutemui teman senasib senomor depan dengannya. Perjalanan cukup singkat karena lalu lintas Yogyakarta pukul 5 pagi sangat sepi dan lancar. Sesampai di bandara ternyata aku orang pertama yang sampai di bandara, aku terlalu rajin untuk saat ini. Satu persatu temanku berdatangan, ada yang diantarkan orang tua, berbagi taksi bersama dan diantarkan oleh temannya seperti ku. Perjalanan kami menuju Ende harus transit terlebih dahulu di Bali, baru kemudian kami menempuh perjalanan darat menuju desa lokasi KKN kami, Desa Watukamba. Desa ini terletak di pantai utara Pulau Flores, terdapat di wilayah administrasi Kecamatan Maurole yang dilalui oleh Jalan Trans Flores, membuat perekonomian desa ini cukup terangkat oleh faktor ketersediaan infrastruktur tersebut. Desa Watukamba tepat menghadap ke laut utara, lurus di ujung mata memandang dapat kita tengok Gunung Api Rokatenda yang dikelilingi oleh laut biru yang indah. Sejenak aku sadari keistimewaan tempat ini yang sangat potensial apabila menjadi destinasi alternatif pelancong pecinta keindahan alam, keindahan tempat ini masih sangat alami walaupun sangat disayangkan dapat kita jumpai sampah yang ditinggalkan oleh masyarakat desa sendiri.


36

Singgah Sebentar di Rumah Pengasingan Bung Karno

Keindahan Sore di Desa Watukamba

Setelah menempuh perjalanan tiga jam darat menggunakan bus dari Kota Ende, kedatangan kami disambut sederhana di Posyandu Dusun Nanganio. Saat itu kami disambut oleh Kepala Desa Watukamba dan beberapa tokoh masyarakat, dilanjutkan dengan pembagian tempat tinggal untuk kami mahasiswa KKN. Alangkah lucunya saat mendengar bahwa kami, cowok-cowok, ditempatkan dalam satu tempat di posyandu. Bayangkan 18 orang ditempatkan dalam satu posyandu yang cukup sederhana milik dusun, aku pun teringat masa-masa saat masih sekolah SMA berasrama dulu.

[Cerita Dari Watukamba]37

Hal itu membuat kami 18 orang kemudian menjadi anak “semang� seorang ibu hebat yang tak pernah kujumpai di tempat lain dimana dengan umurnya saat ini masih tangguh dan ceria. Panggilan sayang kami ke dia adalah Mama Tince, beliau istri dari Papa Rosi salah satu pegawai negeri di Kantor Kecamatan Maurole. Selama masa belajar dan pengabdian dia ini, selalu kurasakan kehangatan kekeluargaan yang diberikan oleh masyarakat terutama keluarga Papa Rosi dan Mama Tince yang mengurus kami selama di Watukamba. Benar kata orang kebanyakan bahwa orang Flores keras tapi itu hanyalah bagaimana cara mereka berkomunikasi dan intonasi saja, tak lebih dari itu. Selebihnya adalah kebaikan dan kasih sayang dari mereka. Seorang eja, sebutan akrab pemuda laki-laki, berkata “Orang Flores memang hitam tapi hatinya putih�. Berdasarkan hal itu kusadari bahwa apa yang kurasakan di kampung halamanku Lampung atau perantauan kampusku di Yogyakarta maupun di Ende, semua orang Indonesia adalah sama. Sama bagaimana memperilakukan orang dengan baik dan ramah, namun hanya budaya saja yang menjadi identitas dari masing-masing. Desa Watukamba terbagi menjadi empat dusun, yaitu Aepetu, Nanganio, Wolosambi dan Watukamba. Berdasarkan pembagian wilayahnya, tiga desa berada di pinggir pantai; Aepetu, Wolosambi, Nanganio; dan di atas gunung; Watukamba. Berbicara tentang Watukamba, kata ini berasal dari dua suku kata yaitu watu yang berarti batu dan kamba yang artinya kerbau.

Nama desa ini diambil dari sebuah gundukan batu yang berbentuk seperti kerbau yang berlokasi di Dusun Watukamba. Dalam cuplikan cerita ini, aku tidak akan menceritakan tentang KKN-ku yang dilakukan di dusun-dusun pantai, karena sudah banyak teman-temanku yang akan menceritakannya, melainkan hanya tentang perjalanan singkat empat hari tiga malam yang sangat menggetarkan hati ku di Dusun Watukamba.

Di Atas Otto Menuju Dusun Watukamba

Singkat cerita kelompok KKN kami sebenarnya ditempatkan di Desa Watukamba yang seharusnya meliputi empat dusun, namun karena penempatan kami oleh Bapak Kepala Desa yang ditempatkan terkonsentrasi di dusun bawah atau pinggir pantai membuat keterbatasan kami untuk melaksanakan kegiatan KKN secara menyeluruh hingga ke Dusun Watukamba. Perlu diketahui, dusun atas dan bawah terpisah cukup jauh. Jalan akses menuju dusun atas harus ditempuh sekitar satu sampai satu setengah jam menggunakan motor atau otto, sebutan lokal untuk mobil, melalui jalan aspal yang sudah tidak ada bekas aspalnya sama sekali.

Perjalanan menuju dusun atas dimana Kantor Desa Watukamba berada harus ditempuh tanpa adanya lampu penerangan, tak terbayangkan apabila perjalanan dilakukan malam hari. Heran, tidak percaya bercampur dengan prihatin, hal itulah yang ada dalam hatiku ketika singgah di Dusun Watukamba. Ibukota dari Desa Watukamba ini belum pernah tersentuh oleh listrik PLN sama sekali. Ternyata masih banyak keluarga yang belum menikmati pencahayaan malam yang disediakan oleh negara, yang dapat menemani mereka saat berkumpul bercengkerama, makan bersama atau bahkan untuk menemani anak-anak belajar saat malam hari. Dikarenakan alasan penempatan kami, kami hanya melaksanakan beberapa program saja di atas. Program-program yang menjadi tema utama kami dan memungkinkan dilaksanakan di atas, telah saya ceritakan bagaimana sulitnya akses menuju dusun atas. Kegiatan yang kami laksanakan di atas hanya dilakukan selama empat hari saat ajaran sekolah dasar baru dimulai, programnya di antara lain adalah sosialisasi mitigasi bencana, mengajar, pelatihan membuat minyak kemiri, sosialisasi cuci tangan dan gosok gigi.


38

Kegiatan KKN yang kami laksanakan selama empat hari di dusun atas sangat berkesan dan membekas bagiku, kesan antusias yang sangat tinggi dan keramahan dari masyarakat Dusun Watukamba yang jarang aku temukan. Mengajar menjadi program yang dominan kami laksanakan di atas, interaksi yang sangat manis dengan anakanak sekolah dasar. Hari pertama mengajar diawali dengan praktek gosok gigi dan cuci tangan. Aku mendapatkan jatah mengajarkan sikat gigi untuk kelas satu sekolah dasar. Sulit sekali mengajarkan anak kelas satu sekolah dasar, bukan sulit karena mereka tidak bisa tapi karena mereka belum pandai berbahasa Indonesia. Kami pun menggunakan Bahasa Indonesia dengan tangan banyak melambai sana sini sambil berisyarat. Saat cuci tangan pun sangat lucu ketika melihat mereka mempraktekkannya, tentu karena mendemokannya menggunakan antiseptic-gel. Wajah senang dan heran muncul dari ekspresi mereka, merasakan gel yang terasa dingin di tangan dan miliki aroma yang harum. Keesokan harinya dilanjutkan dengan program saintek yang tidak kalah berkesan, untuk pertama kalinya kulihat wajah gembira anak-anak sekolah dasar ketika menonton video animasi tentang mitigasi bencana alam gempa bumi dari sebuah komputer jinjing milikku. Bagaimana mereka tidak senang dan seperti belum pernah melihat sebelumnya, tidak ada listrik sama sekali di dusun atas apalagi memiliki sebuah komputer. Kesenangan sendiri melihat mereka dapat belajar dengan cara yang menyenangkan. Ketika kami singgah disusun atas, banyak yang mengatakan siswa-siswi SD nakal.

[Cerita Dari Watukamba]39

Sebuah kontradiksi ketika kami mengajar ke siswa dengan metode yang menyenangkan menggunakan bantuan video dan permainan, mereka sangat senang dan memperhatikan dengan baik. Rasa prihatin juga ada di dalam hati ketika melihat papan pengumuman di sekolah dasar, banyak anak-anak sekolah yang tidak naik kelas. Aku pun tidak tahu apa yang menjadi kendala, apakah kurangnya kualitas tenaga pendidik di daerah-daerah terpencil atau kurangnya motivasi dari siswanya sendiri.

Cita-Cita Anak SD yang Tidak Begitu Tinggi

Mayoritas anak-anak SD bercita-cita ingin menjadi guru, petani polisi tentara dan lainlain, jarang sekali yang memiliki impian menjadi pilot, insinyur atau profesi lain yang sering kita dengar saat ditanya oleh guru di kelas. Mungkin karena hanya sosok gurulah yang langsung dijumpai oleh anak-anak. Butuh diajarkan dan dikenalkan wawasan yang lebih luas untuk mereka bahwa dunia saat ini sangatlah luas dan banyak sekali kesempatan untuk diraih asalkan kita memiliki tekad dan kemauan yang kuat untuk maju.

Senang bisa berbagi pengalaman dan halhal kecil ke anak-anak Sekolah Dasar Katolik Watukamba, walaupun sebenarnya itu hanyalah hal-hal yang sudah biasa kita alami di kehidupan kita di kota-kota maupun daerah yang sudah kenal akan globalisasi. Tak kusangka masih ada sisi Indonesia yang terhambat perkembangannya. Semoga suatu saat Dusun Watukamba dapat terjangkau oleh listrik dan melihat putra-putrinya dapat bersaing dengan putra-putri dari daerah lain yang telah maju terlebih dahulu.


40

[Cerita Dari Watukamba] 41

oleh: Putu Indah Dianti Putri

[ 49 Hari di Watukamba ]

Siang itu matahari di atas bumi kelahiran Pancasila sangat terik. Pesawat Kalstar yang membawa kami melandas sempurna di Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Bukit yang berjajar dan laut yang biru seakan menyapa kedatangan kami. Kisah 49 hari Kuliah Kerja Nyata pun dimulai

Kota Ende adalah kota kecil yang sudah mulai ramai. Yang menarik perhatian saya saat itu adalah mobil angkot warna-warni yang dihiasi dengan boneka di dalamnya dan setelan musik dangdut yang sangat keras. Setelah dari rumah Bung Karno, kami bersantai sambil menikmati sore di Pelabuhan Ende.

Di Pelabuhan Ende

Menuju Bumi Pancasila

Sejak lama saya mengagumi bumi Nusa Tenggara Timur karena alamnya yang sangat indah serta beragamnya tradisi budaya dan manusia di dalamnya. Ende menjadi tujuan p ertama untuk KKN. Keinginan saya tercapai, proses pemilihan lokasi KKN yang saya lewati cukup lancar. Kami bertiga puluh orang dan satu DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) diterima dengan ramah oleh rombongan Universitas Flores yang selanjutnya menemani kami menghabiskan satu malam di Ende, sebelum esok harinya melanjutkan perjalanan ke Desa Watukamba. Kami menyempatkan untuk berjalan-jalan di Kota Ende sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa. Tak lengkap rasanya jika sudah berkunjung ke Ende tetapi tidak mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila.

20 Juni 2016, saatnya penerjunan tim KKN NTT-04 oleh Bupati Ende. Pelepasan itu dilakukan di Rektorat UNIFLOR, sekaligus launching pusat studi bencana bekerja sama dengan UGM. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Watukamba dengan dua bus. Perjalanan menuju desa dihabiskan dalam waktu tiga jam dengan medan yang cukup membuat perut mual karena jalan yang dilewati berkelok-kelok dan rusak di banyak titik. Lagi-lagi, kami disuguhi pemandangan bukit dan jurang yang memukau sepanjang perjalanan, pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Perjalanan kami sempat terhenti sejenak karena pekerjaan pemotongan bukit untuk perluasan jalan. Sesampainya di Desa Watukamba, kami disambut ramah oleh perangkat desa di Posko Posyandu Dusun Nanganio. Kami berkenalan dengan warga dan mendapatkan keluarga asuh.

Desa Watukamba merupakan salah satu desa di kecamatan Maurole, Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini terletak di Teluk Ende, berseberang langsung dengan Pulau Rokatenda. Berada di jalur ring of ď€ re menyebabkan daerah ini memiliki potensi gempa bumi, tsunami, serta bencana gunung api yang tinggi. Topograď€ daerah yang berbukit-bukit menyebabkan geometrik jalan yang berkelok dan bertebing curam, hal ini membuat daerah ini juga rawan tanah longsor terlebih saat curah hujan tinggi. Saat musim hujan, air laut pun mudah naik dan masuk ke pemukiman warga yang terletak sangat dekat dengan bibir pantai. Melihat beberapa kondisi tersebut, daerah ini dapat dikatakan memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana alam. Desa Watukamba adalah desa kecil yang sedang berkembang. Listrik sudah dapat dinikmati warga selama 24 jam di tiga dusun pesisir: Dusun Aepetu, Dusun Nanganio, dan Dusun Wolosambi, namun listrik masih dapat dinikmati pada jam-jam tertentu pada Dusun Watukamba yang terletak di atas bukit. Teknologi pun sudah masuk dalam kehidupan warga desa. Misalnya, hampir setiap rumah sudah memiliki televisi, sepeda motor, dan handphone. Pada beberapa kantor pemerintahan dan sekolah sudah menggunakan komputer walaupun hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan administrasi.


42

Bahkan tak jarang, air baru mengalir saat siang hari karena pipa yang tersumbat. Belum lagi jika pipa dalam masa perbaikan, air PDAM bisa tidak mengalir selama sehari. Selain memanfaatkan air PDAM, warga juga menggunakan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun, kami menemukan beberapa sumur yang terintrusi oleh air laut karena jaraknya sangat dekat dengan bibir pantai. Dari hal ini, saya benarbenar tersadar bahwa air begitu berharga. Jika di rumah saja saya dengan mudahnya hanya menekan tombol kran dan air mengalir tanpa henti, namun di desa ini saya belajar menghargai air yang untuk mendapatkannya tidak gampang dan harus menimba air dari sumur. Terkait permasalahan yang disebutkan di atas, kami membuat rekomendasi penyediaan pompa dan pemeliharaan bak penampungan sumber air kepada pemerintah PDAM Kabupaten Ende agar air dapat secara adil mengalir ke semua rumah warga.

Sumber Air Su Dekat?

[Cerita Dari Watukamba]43

Program pokok lain yang kami laksanakan yaitu tentang mitigasi bencana alam. Sasaran program tersebut tidak hanya untuk masyarakat dewasa namun juga untuk siswa-siswa sekolah dasar. Sosialisasi terhadap mitigasi bencana diberikan kepada warga Desa Watukamba sebanyak dua kali pertemuan. Sejalan dengan hal itu, kami juga ikut andil dalam pembentukan divisi siaga bencana pada Karang Taruna Desa. Harapannya, divisi siaga bencana ini dapat menjadi penggerak dalam pencegahan dan penyelamatan diri jika terjadi bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir rob, dan tanah longsor. Pembelajaran mengenai bencana alam dan mitigasinya kami berikan kepada siswa siswi kelas 1 sampai 6 SD Inpres Nanganio. Sekolah ini dipilih sebagai sasaran karena letaknya sangat dekat dengan bibir pantai, yang tentunya rawan bencana tsunami. Berdasarkan hal itu pula, evaluasi sekolah siaga bencana juga kami lakukan pada sekolah ini. Dan hasilnya, sekolah ini memiliki ketercapaian yang masih rendah dalam siaga bencana. Penyampaian teori dilakukan di dalam kelas dengan bantuan poster dan video agar anak lebih mudah menerima. Tak hanya teori yang diajarkan, namun juga diadakan simulasi jika terjadi bencana alam. Program lain terkait mitigasi bencana alam yang kami laksanakan di SD tersebut adalah membuat papan petunjuk arah, papan jalur evakuasi dan titik kumpul. Rambu-rambu tersebut sangat penting untuk mengingatkan siswa-siswa dalam penyelamatan diri.

Mengajar di Kelas 6

Selain itu, kami juga mendistribusikan buku saku mengenai mitigasi bencana alam dan buku panduan rumah tahan gempa kepada warga. Tak hanya mengajar materi mitigasi bencana alam, saya ikut membantu klaster soshum (sosial dan humaniora) mengajar di kelas selama dua minggu. Kami membantu guru dalam mengajar mata pelajaran seperti matematika, bahasa Inggris, IPA, IPS, TIK, seni budaya, dan olahraga. Yang cukup menarik perhatian saya adalah masih adanya siswa yang tidak naik kelas di tahun ajaran baru ini. Ada yang karena si anak memang tidak maksimal dalam hasil ujian, ada juga yang dikarenakan ketidakmampuan untuk melunasi biaya sekolah. Bahkan, ada salah satu siswa kelas 1 yang sudah tahan kelas sebanyak empat kali. Menurut wali kelasnya, ia memang sangat lamban dalam membaca dan menulis. Menyedihkan. Dengan keterbatasan yang dimiliki, anak tersebut masih semangat untuk berangkat ke sekolah walaupun hanya membawa buku dan pensil karena tidak memiliki tas. Melihat hal itu, kami pun tergerak ikut membimbing si anak dalam membaca dan menulis setelah jam kelas berakhir.

Program klaster saintek (sains dan teknologi) lainnya yaitu pembuatan bak sampah. Di desa ini sampah memang belum dikelola dengan baik. Selama ini, warga mengumpulkan sampah pada satu titik di halaman rumah bagian depan atau belakang. Semua jenis sampah mulai dari dedaunan dan plastik digabung menjadi satu, setelah dirasa sampah yang terkumpul sudah tinggi, selanjutnya sampah dibakar. Hal ini yang menjadi latar belakang kami untuk membangun tiga bak sampah, yaitu dua di halaman warga dan satu di SD Inpres Nanganio. Walaupun tiga bak sampah tersebut belum dapat memenuhi kapasitas sampah yang dihasilkan oleh warga desa. Namun harapannya, pembuatan bak sampah ini menjadi percontohan bagi warga dalam penyediaan tempat pengumpulan dan pembakaran sampah. Hal tersebut sangat penting dilakukan agar tidak merusak lingkungan sekitar dan mengurangi pencemaran. Program lainnya yaitu pembuatan peta administrasi dan fungsi bangunan. Program ini dilakukan karena desa ini belum memiliki peta mengenai batas-batas desa, bahkan warga masih kebingungan untuk menentukan batas antar dusun. Untuk memudahkan, pembuatan peta ini menggunakan GPS untuk menentukan koordinat. Program ini didahului dengan survei batas desa, lalu dilakukan survei fungsi konstruksi, mengukur panjang dan lebar bangunan, selanjutnya mengolah data pada software ArcGIS dan hasil peta dikerjakan dalam software CorelDraw.


44

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke NTT di pikiran anda mungkin hanya ada kemiskinan dan gersang. Apakah seperti itu? Jawabannya tidak! NTT khususnya desa ini dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, tanah yang subur, dan tentunya keindahan alam yang khas dan tidak ada duanya. Komoditi yang paling banyak ditemui di desa ini adalah kelapa, pisang, cokelat, dan jambu mete. Namun, pertanian di desa ini masih dipesimiskan karena belum mampu membawa perubahan kesejahteraan bagi petani. Hal ini tidak dapat disalahkan karena pertanian secara umum belum dapat menyejahterakan perekonomian petani. Tak ayal banyak warga yang awalnya petani beralih untuk merantau mencari profesi lain di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Hampir Semua Rumah Memiliki Pohon Kelapa

[Cerita Dari Watukamba]45

Mungkin juga kesan yang selama ini ada pada orang NTT atau Flores khususnya adalah “seram�. Jawabannya juga tidak. Selama di sini saya bertemu dengan orangorang yang super ramah. Bahkan saat bertemu di jalan pun, mereka yang saya maksud itu adalah anak-anak hingga kakek nenek tidak sungkan untuk menyapa kami terlebih dahulu dan memberi salam yang notabene adalah pendatang. Yang dapat saya simpulkan adalah warga desa ini tidak peduli asal kami dari mana, suku apa, bahasa apa, warna kulit apa dan agama apa, mereka akan menerima terbuka dengan apa adanya dan penuh kekeluargaan. Hal berharga tentang kekeluargaan saya dapatkan secara gratis dalam Keluarga Bapak Usman -orang tua asuh-. Saya sangat beruntung dapat mengenal keluarga yang menanamkan kerukunan dalam perbedaan agama. Saya ingat betul saat peringatan kematian orang tua dari adik ipar Bapak (Bibi) yang beragama Katolik, Bapak yang beragama Muslim ikut membantu segala persiapan acara mulai dari menyiapkan tempat dan makanan. Saat Idul Fitri pun, keluarga Bibi ikut membantu menyiapkan kue dan makanan khas Lebaran dan turut merayakannya bersama. Sungguh luar biasa. Benar saja, jika ingin belajar tentang kerukunan agama, belajarlah pada orangorang desa ini.

Tak hanya itu, saya pun belajar arti kekeluargaan yang sebenarnya. Esensi yang saya dapatkan adalah meluangkan waktu walaupun singkat sekedar untuk bercerita dengan terbuka dan apa adanya. Setiap pagi dan sore, keluarga Bapak berkumpul di dapur untuk minum teh atau kopi dan cemilan kecil dan diisi dengan obrolan ringan sampai obrolan berat tentang negara ini. Beruntung sekali rasanya saya mendapatkan keluarga baru di sini, keluarga yang dapat menerima bahkan membimbing dengan baik dan tulus. Saya juga memiliki sembilan adik-adik baru yang lucu dan menggemaskan. Setiap hari, setelah pulang mengerjakan program, adikadik selalu meminta untuk ditemani bermain di rumah atau di luar dan sesekali belajar. Anak-anak khususnya di rumah Bapak adalah anak yang penurut dan rajin membantu pekerjaan rumah. Tak heran memang dikarenakan didikan orang tua yang cukup keras dan tegas dengan nada yang tinggi, ya, khas orang NTT. Budaya pesta saat ini sudah sangat lekat dengan warga desa ini, Flores pada umumnya. Selama hampir tujuh minggu berada di sini, kami mau tak mau juga ikut hadir dalam perayaan pesta yang diadakan oleh warga setempat. Pesta yang dimaksud itu adalah acara perayaan yang berhubungan dengan upacara keagamaan misalnya pembaptisan dan upacara sambut baru serta pernikahan. Umumnya, pesta dilengkapi dengan tenda, panggung, dekorasi yang indah, dan tentunya sound system musik dengan suara menggelegar. Ciri khas dari pesta adalah joget dan minum.

Keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Kata warga di sini, joget sambil mengikuti irama musik tidak lengkap jika tidak minum moke (minuman beralkohol khas Ende). Minuman tradisional ini dibuat dari pohon lontar dan enau. Moke ini tak hanya sekedar minuman tetapi mempunyai nilai sosial dan budaya yang tinggi, simbol persaudaraan dan pergaulan bagi warga desa ini. Moke dinikmati beramai-ramai sambil duduk melingkar, tentunya diisi dengan humor dan obrolan penuh kejujuran. Pertama mari membahas tentang air yang menjadi salah satu program utama tim KKN ini. Awalnya kami mengira, desa ini gersang dan susah untuk mendapatkan air karena kondisi daerahnya yang tergolong semiarid atau daerah yang mengalami musim hujan yang pendek dan musim kemarau yang lebih panjang. Namun, keberadaan air juga tidak dapat dikatakan melimpah. Penyediaan air di desa ini di dukung oleh PDAM setempat yang mengambil air dari mata air di bukit Dusun Watukamba yang hanya dialirkan menggunakan gravitasi dengan pipa ke tiga dusun lainnya. Sumber air ditampung dengan bak yang kondisinya kini sudah dipenuhi oleh sampah dedaunan. Namun, kuantitas air yang mengalir tidak selamanya konstan sampai dusun yang paling bawah, Dusun Aepetu. Dusun ini mendapatkan debit air yang lebih kecil dibanding dusun-dusun lainnya bahkan pada beberapa rumah, air hanya mengalir setetes demi setetes sehingga air harus selalu ditampung sepanjang hari. Air baru dialirkan antara jam 6 hingga jam 9 pagi, tergantung kedatangan orang yang bertugas untuk membuka kran di kantor.


46

Diharapkan setelah ini, hasil peta dipasang dan dapat dilihat oleh semua warga, selain sebagai kelengkapan administrasi desa. Selanjutnya dengan peta administrasi desa dapat menjadi dasar pembuatan peta jalur evakuasi. Peta tersebut berguna untuk memberikan informasi kepada warga tentang jalur-jalur evakuasi dan daerah yang aman untuk berlindung saat bencana datang. Untuk memudahkan warga setempat atau pendatang untuk mencari keberadaan rumah perangkat desa, program lainnya yaitu pembuatan dan pemasangan papan petunjuk rumah perangkat desa seperti Kepala Dusun, Kepala RT dan RW. Sebagai pelengkap, kami membuat papan peringatan bahaya longsor, papan dilarang untuk membuang sampah di pantai, dan papan zona selamat sekolah. Pengadaan Rambu-Rambu

[Cerita Dari Watukamba]47

Pantai Enabara

Singkat cerita itulah beberapa tentang program yang kami laksanakan di desa ini. Cerita tentang Desa Watukamba ini sungguh luar biasa. Mulai dari cukup mandi sekali sehari karena air susah, menu masakan ikan setiap hari, berbelanja ke pasar yang hanya ada setiap hari Sabtu, jajanan gorengan murah meriah yang dijual anak-anak setiap menjelang sore, bersantai dan bercerita di dermaga ditemani matahari terbenam, minuman kelapa muda yang diambil dari kebun, berjoget di pesta dan menari Gawi, lirik lagu khas daerah yang selalu terngiang di telinga dan momen-momen indah lainnya yang saya lewati dengan teman-teman tim ataupun dengan warga. Terima kasih Desa Watukamba, untuk semua cerita yang tidak akan pernah bisa untuk dilupakan.


48

[Cerita Dari Watukamba]49

oleh: Dwi Lestari Setyaningsih

[ Arti Perjuangan dari Negeri Lio ]

Watu dan Kamba yang bersatu menjadi sebuah makna kerbau yang berbentuk batu. Suatu desa kecil di tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, yang akan selalu membekas dalam ingatanku. Semua bermula dari sebuah penawaran sederhana untuk membantu sesama dalam penyediaan air bersih. Air bersih yang setiap harinya kubuang-buang secara percuma, ternyata di sisi timur negeri masih minim persediaannya. Penawaran sederhana itu akan membuatku menginjakkan kaki ke negeri timur, menuju bangsa bernama Lio, ke Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Anganku menerawang, membayangkan bagaimana bisa aku bersama 29 teman kuliahku bertahan di suatu tempat asing selama tujuh minggu untuk melaksanakan program UGM dalam pelayanan terhadap masyarakat. Program yang dinamakan KKNPPM UGM bisa membuat kehidupan mahasiswa tahun ketiga tidak tenang. Bagaimana kita bisa hidup? Bagaimana kita bisa menghubungi sanak keluarga? Bagaimana kita bisa makan? Bagaimana kita jika ingin berbelanja? Berjuta pertanyaan menghantam pikiranku, berjuta pertanyaan yang tak akan pernah bisa ku jawab sebelum kakiku benar-benar menginjakkan kaki ke negeri bangsa Lio tersebut. Berjuta pertanyaan yang siap ku jawab sudah kupersiapkan. Aku beserta 29 teman unitku NTT-04 melaju dengan mempersiapkan kelangsungan hidup selama tujuh minggu, tanpa cela.

Persiapan yang sudah kita lakukan dengan angan kita tak akan pernah bisa pergi berbelanja membuat muatan bagasi melampaui batas. Runway bandara yang terlampau pendek dengan ujung tebing dan laut sudah membuat jantungku berdebar. Kesan pertama yang kudapat sebelum kaki menginjakkan kaki ke tanah sudah bisa memacu jantungku berdebar. Apalagi yang lainnya, berjuta pertanyaan itu muncul kembali.

Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende

Berjuta pertanyaan tersebut mulai terjawab dan memudar. Angan tentang kehidupan negeri Timur yang selama ini kubayangkan sirna sudah. Angan dengan kenyataan terlampau jauh dari kata benar. Kehidupan yang kudapatkan di sini jauh dari kata kekurangan. Angan awal sebagai malaikat penyedia air bersih akhirnya sirna. Pasalnya persediaan air bersih di Desa Watukamba sudah memasuki kriteria baik walau hanya dengan debit yang terbatas dan hanya mengalir pada waktu tertentu.

Angan hidup bagai di gua juga sangat jauh dari kata tepat. Komunikasi di daerah ini masih dapat berjalan lancar dengan berbagai aplikasi gadget walau hanya terbatas sinyal dari provider berplat merah dan memiliki warna khas merah. Angan-angan awal yang sudah kubangun mempermudah kelangsungan hidupku di daerah baru. Rumah yang kutinggali beserta Sisca dan Anik memang termasuk kategori rumah mewah diantara warga sekitar, namun ketidakberadaan pintu, gorden, dan lampu membuat kita sedikit banyak harus bersabar dan menyesuaikan diri. Lampu sudah diatasi ketika anak Mamah (ibu asuh di Desa Watukamba) pulang ke rumah dan memperbaiki lampu kami. Kekurangan yang lain dapat kita samarkan dan kita abaikan. Keramahan yang selalu kudapat di sini, dan sudah kuanggap rumah mamah sebagai rumahku sendiri. Memasak, menyapu, mencuci sudah menjadi kegiatan seharihariku di sana. Banyak pelajaran berharga yang ku dapat dari mama asuhku, Mama Fatimah atau yang biasa dipanggil Mama Recen karena anak pertamanya yang sudah duduk di bangku kelas 3 SMA bernama Recen. Memasak nasi yang harus menapis berasnya dahulu, mandi yang hanya dilakukan sehari sekali karena air PDAM akan berhenti mengalir ketika hari sudah menjelang sore, merasakan masakan khas timur, minum kopi ores hingga mengunyah sirih pinang sudah kurasakan di sini.


50

Dari Teras Rumah Mama Recen

Motor Flores yang Kurus-Kurus

Helikopter membawa kami melihat sisi lain dari Desa Watukamba. Sisi lain di salah salah satu dusun yang terletak cukup jauh dari tiga dusun yang lain. Jarak yang ditempuh selama 30menit dengan medan menanjak, terjal, dan berbatu, bagai melewati sungai tanpa air, dan Dusun Watukamba namanya. Walau kantor desa berada di Dusun Watukamba, tetapi keadaan di sana tidak lebih baik dari dusun-dusun yang lain. Keadaan seperti pada ď€ lm tahun 80an yang belum memperoleh pasokan listrik dari pemerintah. Listrik mereka hanya bergantung pada diesel berbahan bakar bensin dan hanya menyala dari pukul 18.00 hingga 23.00. Keadaan dusun yang masih terbelakang bisa kita anggap sedemikian. Kami memperoleh kesempatan selama empat hari untuk tinggal dan merasakan kehidupan di sana. Merasakan gelapnya malam tanpa lampu, hampanya hidup tanpa gadget, hingga perjalanan jauh yang ditempuh dengan bejalan kaki. “Inilah KKN yang sesungguhnya,â€? celoteh beberapa anggota tim KKNku.

Namun, dengan kehidupan yang serba kekurangan, anak-anak dusun tersebut mempunyai cita-cita yang beragam dan sangat tinggi. Minat mereka untuk menuntut ilmu juga tercermin dengan perjalanan berkilo-kilo meter yang mereka tempuh dengan berjalan kaki. Tidak sedikit diantara meraka yang hanya menggunakan sandal jepit untuk mengantarkan mereka menuju gerbang sekolah. Dan di sana mereka juga harus berbagi kursi dengan teman lain karena jumlah kursi yang belum bisa mencukupi semua murid di sana. Wajahwajah sumringah mereka mengajarkanku akan arti penting sebuah ilmu. Tak perlu sepatu mahal, tak perlu tas baru, tak perlu seragam klinyis, dan tak perlu kendaraan mewah untuk mengantarkan mereka menuntut ilmu. Tak ada rasa malu, hanya semangat membara yang membawa mereka melaju menuntut ilmu untuk mengubah masa depan. Tak ada foto presiden dan wakil presiden tertempel di dinding, tetapi mereka semua menjawab dengan lantang jika ditanya siapa presiden mereka. Tak ada guru bahasa inggris, namun murid kelas dua sudah lantang mengucapkan angka 1-10. Tak ada guru olahraga, namun dengan lihainya kaki-kaki mereka memainkan bola sepak dan dengan kuatnya tangan mereka mengembalikan bola voli ke lapangan lawan. Kehidupan serba kekurangan yang mengajarkanku arti sebuah perjuangan. Tak akan pernah selesai tangan ini menulis arti kehidupan yang kudapat dari dusun tanpa sinyal. Dusun yang selama empat bulan tidak mendapatkan imunisasi dari puskesmas setempat.

Namun, mari kita kembali ke cerita helikopter. Mama asuhku juga mempunya dua sepeda motor yang membawaku bersama Sisca, Anik, dan Soni –anak mama Fatimah– melaju menaiki bukit dan menuruni lembah untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan. Perjalanan selama 3,5 jam ku tempuh dengan sepeda motor Honda tanpa helm dan tanpa adanya pijakan kaki. Perjalanan 3,5 jam yang tak akan terlupakan selama hidupku dan membuat kakiku bertamasya hingga ke stang tangan karena tak tahu harus bersender di mana. Perjalanan total selama tujuh jam tanpa helm dan nomor kendaraan. Jika hal ini ku lakukan di Jogja, mungkin aku sudah ditilang dengan berbagai macam pelanggaran. Tak heran jika hampir semua kendaraan yang kutemui di sini tidak ada yang lolos kriteria SNI, karena memang penertiban dari aparat kepolisian yang belum maksimal.

Kemampuan Prima dalam Bermain Voli

Berbagai pengalaman yang tak akan terlupakan dan tak pernah kusesali bercampur menjadi satu. Berjuta pengalaman indah hingga menakjubkan hati kulalui sudah. Dengan jauhnya jarak Desa Watukamba dengan Kota Kabupaten Ende, sudah dapat dipastikan bahwa kehidupannyapun akan sedikit jauh berbeda dengan yang kita rasakan di kota. Jangan heran jika hampir semua kendaraan roda dua di sini tidak berbentuk seperti kendaraan dari dealer pada umumnya. Nomor polisi tidak ada, spion tidak standar, hingga knalpot yang dibuat sedemikian rupa hingga suara yang ia hasilnya bisa disaingkan dengan suara helikopter. Kamipun demikian, ada sebuah sepeda motor milik salah satu anggota kelompokku yang berasal dari Flores Timur. Dengan keadaan knalpot ditali dengan tali ID Card, kita namakan ia sebagai helikopter. Suara yang khas dan perlakuan yang khas menjadi suatu hal yang tak akan terlupakan dari helicopter. Tapi jangan salah, walau suaranya yang memiliki tingkat kebisingan tinggi, jasanya tak perlu diragukan lagi.

[Cerita Dari Watukamba] 51


52

[Cerita Dari Watukamba] 53

oleh: Anisa Nur Amalina

[ Menyapa Watukamba ]

Minggu, 19 Juni menjadi awal perjalanan saya sebagai tim KKN NTT-04. Bandara Adi Sucipto menjadi tempat pertama yang mengantar saya dan teman-teman untuk menjalani KKN di Ende. Hari itu tampak betapa bersemangatnya kami untuk menempuh tujuh minggu di kota yang belum pernah kami pijak. Berbagai perlengkapan kami siapkan demi menyelesaikan program yang sudah kami rancang dari jauh hari. Pukul 08.00 pesawat mulai lepas landas dan mengantar kami menuju Ende. Pada penerbangan kedua, mulai nampak pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Lautan yang dihiasi oleh pulau – pulau hijau, bukit yang nampak mengelilingi daratan di sekitarnya. Sekitar pukul 13.00 kami tiba di bandara. Bandara kecil ini cukup membuat saya kagum. Bandara yang secara langsung dikelilingi oleh bukit dan laut. Tentu saja dengan mudah terbesit materi mengenai bandar udara yang sebelumnya pernah saya pelajari. Baru saja turun dari pesawat, kami sudah mendapat sambutan luar biasa hangat dari warga Ende. Mereka dengan bangga menyambut kami, yang mereka anggap sebagai utusan dari UGM. Bagaimana bisa hal tersebut tidak membuat saya semakin semangat untuk tiba di Desa Watukamba.

Keesokan harinya kami memulai perjalanan menuju Desa Watukamba. Perjalanan dari Ende – Watukamba ditempuh selama kurang lebih tiga jam. Perjalanan selama tiga jam ini tentunya bukan perjalanan yang ditempuh dengan cara mudah dan lancar. Jalan berliku, aspal rusak serta tebing batuan menemani perjalanan kami. Sebagai seorang mahasiswi Teknik Sipil, pemandangan ini tentunya menjadi hal yang sangat menarik. Tebing batuan dan perkerasan yang rusak membuat saya susah untuk memejamkan mata selama perjalanan. Saya menyadari ternyata begitu pentingnya ilmu yang saya pelajari selama ini untuk menyelamatkan ratusan jiwa yang setiap harinya menempuh jalur Ende – Watukamba tersebut. Semakin lama waktu berjalan, semakin meningkat rasa ingin tahu saya mengenai bagaimana kondisi desa Watukamba. Sampai suatu ketika kami tiba di lokasi yang membuat saya berdecak kagum dan heran. Pemandangan mulai banyak ditemui dan juga anjing yang biasanya hanya saya temui di beberapa rumah di Yogyakarta, kali ini tersebar di sepanjang jalan. Bahkan babi yang sangat jarang saya temui, bisa dengan mudah ditemui di sepanjang jalan. Sebagai seorang Muslim, sejujurnya pemandangan ini sebenarnya membuat saya sedikit merasa khawatir. Satwa Watukamba

Sampai akhirnya kami tiba di Desa Watukamba. Segalanya nampak begitu asing tapi membahagiakan. Desa Watukamba, Bumi Indonesia yang selama tujuh bulan sebelumnya hanya ada di angan-angan kami. Kami mulai disambut oleh kepala desa dan kami menuju tempat tinggal. Sambutan hangat saya dapatkan dari induk semang. Kami saling berkenalan diri dan bertukar cerita mengenai saya dan teman saya. Bahkan rasa sungkan dan malumalu yang saya rasakan hari itu masih dapat saya ingat dengan jelas. Keesokan harinya kami mulai berkeliling ke beberapa daerah di Desa Watukamba. Dengan senyum lebar saya berusaha menyapa semua orang yang saya temui dijalan dan sedikit sapaan singkat serta perbincangan basa-basi mulai saya lontarkan. Bahagia rasanya bisa belajar cara bersosialisasi dengan orang baru yang memiliki budaya yang berbeda. Setelah beberapa hari bersosialisasi dan mencari informasi mengenai masalah maupun kebutuhan di desa ini, ada beberapa program kerja tambahan yang perlu diubah. Gadis- Gadis Pantai Aepetu


54

[Cerita Dari Watukamba] 55

Kegiatan wajib untuk mendapat nilai 3 SKS dan merupakan syarat kelulusan yang tak akan pernah kusesali. Berjuta pertanyaan yang dulunya kutakuti, sekarang kutangisi karena aku harus melepasnya. Genap tujuh minggu aku merasakan kehidupan orang Flores.Pertanyaannya sekarang bukan mengenai apa yang ku dapat dari sini, akan tetapi hal apa yang sudah kuberikan untuk tanah penghasil gula aren ini.

Arti Perjuangan dari Negeri Lio

Padahal, kendaraan SNI tidak hanya melulu karena takut akan penertiban, namun memang suatu kebutuhan untuk menjaga keamanan berkendara. Helm, salah satu benda yang wajib digunakan orang yang berkendara roda dua maupun mobil terbuka. Hal tersebut sangat penting untuk menjaga bagian tubuh yang paling penting yaitu kepala. Spion, alat bantu di kendaraan untuk membantu pengemudi melihat keadaan sekitar. Hal-hal tersebut bukan suatu kewajiban semata, melainkan sudah berubah menjadi suatu kebutuhan.

Ada beragam sisi kehidupan yang kudapat dari negeri bangsa Lio. Tergantung sudut pandang mana yang kau sukai. Ada beragam cerita, beragam tawa, dan beragam tangis yang menyatu tanpa bisa dipilah satu persatu. Semua suatu kesatuan, suatu kehidupan baru dengan keluarga baru. Kehidupan baru yang tak akan kau rasakan jika kau hanya duduk di belakang meja. Pojok kehidupan yang tak akan pernah kau dapati jika hanya berdiam. Arti perjuangan yang tak akan bisa kau pelajari di kota besar. Semua cerita, semua angan, semua harapan kudapatkan di sini. Di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Semua suatu kesatuan, suatu kehidupan baru dengan keluarga baru. Kehidupan baru yang tak akan kau rasakan jika kau hanya duduk di belakang meja. Pojok kehidupan yang tak akan pernah kau dapati jika hanya berdiam. Arti perjuangan yang tak akan bisa kau pelajari di kota besar. Semua cerita, semua angan, semua harapan kudapatkan di sini. Di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan wajib untuk mendapat nilai 3 SKS dan merupakan syarat kelulusan yang tak akan pernah kusesali. Berjuta pertanyaan yang dulunya kutakuti, sekarang kutangisi karena aku harus melepasnya. Genap tujuh minggu aku merasakan kehidupan orang Flores. Pertanyaannya sekarang bukan mengenai apa yang ku dapat dari sini, akan tetapi hal apa yang sudah kuberikan untuk tanah penghasil gula aren ini. Evaluasi rumah-rumah warga apakah sudah sesuai dengan SNI bangunan tahan gempa, karena daerah ini termasuk wilayah dengan skala gempa tinggi. Serta pelatihan pembuatan bangunan tahan gempa dan cara-cara mitigasi bencana alam sudah kuhadirkan di sini.

Bukan lagi suatu permintaan, melainkan suatu harapan agar bangunan-bangunan warga di Desa Watukamba dapat menahan berbagai bencana yang dapat terjadi di daerah tersebut. Mungkin sampai di sini ceritaku mengenai negeri bangsa Lio, banyak hal yang belum kuketahui tentangnya. Banyak yang belum kupalajari darinya. Namun, disinilah akhir dari perjalaanku mempelajari arti perjuangan dari Negeri Lio.

Semoga Selamat Selalu


56

Masalah sampah di Desa Watukamba memang menjadi hal yang paling terlihat saat pertama kali saya tiba. Masih banyak ditemui sampah di sepanjang jalan. Bahkan di rumah warga sangat jarang ditemui adanya tempat sampah. Mereka terbiasa membuang sampah di sembarang tempat yang nantinya akan dibakar di tempat itu juga. Sehingga pada suatu kawasan sering ditemui beberapa titik pembakaran sampah. Selain sepanjang jalan, di pesisir pantai pun banyak sampah plastik yang dapat mengurangi keindahan pesisir pantai.

Pesisir Pantai Diseraki Sampah

Menanggapi perihal di atas, kami berusaha menyusun program baru yang sebelumnya tidak terbesit sama sekali dalam rapat. Dengan berkoordinasi bersama warga dan karang taruna, kami berencana membangun tiga bak sampah permanen yang dibuat dengan batako. Bak sampah ukuran 1x1,5x1 m3 ini bisa dibilang menjadi salah satu program kerja dengan prioritas utama. Dengan kerja sama anggota laki-laki dari tim KKN dan karang taruna, kami berhasil membangun tiga bak sampah dalam waktu empat minggu. Pembuatan bak sampah ini cukup menjadi pengalaman menarik bagi saya. Di sini saya perlu melakukan survei dan pemesanan material serta ketersediaan alat yang akan digunakan. Dibutuhkan beberapa kali waktu untuk melakukan survei batako yang mana tidak semudah memesan batako di Yogyakarta. Saya bahkan sempat mengubah beberapa kali desain bak sampah untuk mengikuti ukuran batako yang tersedia di lapangan. Selain itu, masalah pasir juga sempat menjadi kendala di lapangan. Tidak mudah menemukan gundukan tanah pasir yang bisa digunakan sebagai material campuran.

Proses Pengerjaan Bak Sampah

Namun di luar segala masalah teknis yang terjadi, ada faktor lain yang sangat menentukan pembuatan bak sampah. Desa Watukamba ini masih cukup kuat memegang adat mereka. Segala macam kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan infrastruktur tidak boleh dilakukan tanpa adanya izin dari tuan tanah atau biasa disebut musolaki. Bahkan untuk mengeruk 20cm tanah, sangat di larang tanpa adanya izin dari musolaki. Hal tersebut tentunya menjadi faktor yang perlu dihormati mengingat kami merupakan warga baru dan pendatang. Setelah menjelaskan program dan berdiskusi dengan musolaki, kami mendapat izin untuk melanjutkan pembuatan bak sampah. Di samping itu, lokasi Desa Watukamba yang terletak di jalur pantai utara menyebabkan banyaknya ditemui kendaraan dengan kecepatan tinggi melintas di sepanjang jalan. Kendaraan yang melintas tidak hanya motor, namun banyak ditemui truk besar yang mengangkut penumpang. Keadaan tersebut tentunya dapat membahayakan penduduk sekitar yang berjalan kaki di sepanjang jalan. Pada kawasan sekolah yang terletak di Dusun Wolosambi juga tidak terdapat rambu maupun marka untuk memberikan keselamatan bagi para siswa. Hal ini perlu dijadikan perhatian untuk mencegah terjadinya korban jiwa. Sehingga untuk membantu mengurangi potensi terjadinya kecelakaan pada daerah sekolah, diperlukan adanya pembuatan rambu keselamatan di sekitar kawasan sekolah.

Setelah beberapa hari tinggal di Desa Watukamba, semakin banyak informasi yang saya dapatkan dari bersosialisasi. Sebelum saya berangkat ke desa ini, kami dibekali informasi bahwa desa ini memiliki potensi tinggi terhadap bencana gempa, longsor dan juga banjir. Namun sayangnya penduduk di sini sama sekali tidak merasakan adanya ancaman bencana tersebut. Minimnya pengetahuan mereka akan potensi bencana yang terjadi dapat menjadi masalah nantinya ketika terjadi bencana. Sehingga saya berpikir untuk mengenalkan secara singkat dan mudah kepada anak-anak di PAUD mengenai bencana yang berpotensi terjadi di sini, yaitu gempa bumi. Selain sosialisasi kepada murid PAUD, saya melakukan survei ke beberapa rumah untuk mengamati seberapa besar kesadaran penduduk desa ini mengenai bangunan tahan gempa.

Bojan dan On, Siswa PAUD

Namun hal positif dari masalah di atas adalah adanya kesadaran dari warga untuk berubah. Mereka kerap beberapa kali mempermasalahkan adanya bak sampah yang terbuat dari jerigen hasil dari KKN sebelumnya. Mereka menganggap tempat sampah tersebut bukanlah solusi jangka panjang dari permasalahan ini. Terbukti dari banyaknya bak sampah jerigen yang menghilang karena diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka berharap adanya bak sampah permanen yang bisa digunakan untuk membakar sampah di beberapa lokasi yang strategis.

[Cerita Dari Watukamba] 57


58

[Cerita Dari Watukamba] 59

oleh: Muhammad Haiqal Rizaldi

Namun tidak untuk saya, sesaat mendengar kata KKN untuk pertama kalinya, seketika saya membayangkan semua hal yang tidak menyenangkan, hidup susah, makan nasi lauk krupuk, sampai susah cari air untuk mandi. Ditambah dengan semua cerita miring tentang KKN di masa lampau, menambah kekhawatiran saya ketika akan menjalani KKN.

Waktu telah menunjukkan pukul 21.00, dan entah pikiran apa yang membuatku akhirnya memilih NTT-04. Formulir terisi, data terkirim, pengisian selesai, dan seketika pemikiran saya berputar 180 derajat, penyesalan mengisi formulir menghantui hari-hari saya ke depan. Ketakutanketakutan itu kembali muncul, menguasai pemikiran jernih saya, yang seharusnya mulai diisi dengan persiapan menuju ke Ende.

Satu minggu menjelang keberangkatan, dengan berat hati saya harus mempersiapkan keperluan saya, semuanya secara mendadak, di saat bersamaan sedang berlangsung ujian akhir, berantakan di sana sini. Sampai tiga hari sebelum keberangkatan saya mau tidak mau harus mensugesti diri saya bahwa, “KKN di sana menyenangkan, aku bertemu dengan orang baru, dan 7 Agustus aku akan kembali ke rumah�, kalimat ini yang saya pegang hingga hari keberangkatan. Melihat antusias dan sambutan hangat dari rekan se-tim, membuat saya yakin bahwa saya akan menemukan suasana baru, yang pasti berkesan, menyenangkan dan pastinya akan mengubah hidup saya ke depan.

Mampir di Ende sebentar

Saatnya tiba bagi saya untuk akhirnya menentukan lokasi di mana saya akan berKKN, sebenarnya terlalu cepat untuk memilih, karena saat itu baru saja berakhir KKN 2015. Awalnya saya tertarik ketika mendengar adanya pembentukan tim oleh Bapak Ashar Saputra yang berlokasi di Ende, karena akan jadi hal yang menyenangkan mengetahui sisi lain Indonesia, tanpa berpikir panjang saya memutuskan untuk mengikuti tim ini. Segala persiapan dan proses yang kami lalui sebelum pemberangkatan kami lakukan dengan baik, dana usaha, rapat rutin, dan mengadakan malam keakraban.

Sampai tiba jadwal pengisian lokasi untuk seluruh peserta KKN, di mana pengisian hanya dapat dilakukan satu kali dan tidak dapat diperbaiki, di sini lah muncul segala kekhawatiran, penyesalan, pertimbanganpertimbangan menyulitkan yang membuat saya sangat bingung harus memilih Ende sebagai lokasi saya. Saya tidak tahu di mana Ende, bagaimana kehidupan di Ende, apakah aman? menyenangkan? menyeramkan? Segala pemikiran negatif menguasai otak saya. Takut, satu kata yang saya pikirkan saat itu. Konsultasi dengan orang tua berharap akan ada pencerahan bagi saya untuk memilih, di saat orang tua menyarankan saya untuk KKN di lokasi K-1. Hari demi hari berlalu, tenggat waktu pengisian lokasi semakin dekat, dan belum ada satu titik pencerahan pun yang saya dapati. Sampai hari terakhir pengisian, saya hanya bisa berdoa kepada Allah, “Ya Allah, letakkan saya di mana Engkau kehendaki, Karena hanya Engkau yang Maha Tahu di mana Rezekiku berada�.

Sebelum Berangkat KKN

[ Kebahagiaan Sederhana di Pesisir Timur Nusantara ]

Kuliah Kerja Nyata, satu kalimat wajib yang pastinya akan disebut personal seluruh mahasiswa yang berkuliah di UGM, ketika mereka mulai sadar bahwa tersisa sedikit waktu untuk menghabiskan masa kuliahnya di sini. Selain karena sifatnya yang wajib, saya yakin akan ada berbagai alasan bagi mahasiswa lain untuk mengikuti kegiatan ini. Entah benar-benar ingin mengabdi, sekadar ingin lulus mata kuliah, ingin mengeksplorasi bagian lain Indonesia, atau mencari pengalaman hidup yang hanya datang sekali seumur hidup.


60

Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, 19 Juni 2016 cerita saya dimulai. Persiapan check in, pendaftaran bagasi sampai pembagian boarding pass kami lalui bersama dengan keceriaan, tertawa lepas yang saling melegakan, dilengkapi dengan sedikit kepanikan di sana sini, namun tidak menghambat perjalanan kami ke depannya. Bali sebagai lokasi kami transit pesawat, dengan mataharinya yang terik mulai menggodaku yang saat itu sedang berpuasa, namun semangat timku yang masih tinggi membuatku menjadi lebih “tahan banting� untuk bisa menyelesaikan puasaku di hari itu. Setibanya kami di Ende, tepat seperti dugaanku, panas, sinar matahari yang menyilaukan, gersang dan pemandangan indah di sekitar bandara. Balance satu kata yang akan selalu saya temui di kehidupan KKN ke depan. Sama seperti di bandara, meski panas, akan ada pemandangan indah di sana. Sesampainya di wisma, kami ditawarkan untuk mengelilingi Kota Ende, yang besarnya tidak sampai sebesar Kota besar di Jawa. Siapa yang tidak mau? Menikmati indahnya laut bersamaan dengan bukit hijau di sisi lainnya. Buka puasa pertama di kota ini, mencari sekadar takjil atau hidangan yang biasa kami nikmati di Jawa. Tak banyak yang dijual hanya ada es pisang hijau dan gorengan. Terasa nikmat, mungkin karena kami yang sudah tidak tahan menahan puasa seharian. Malam hari kami habiskan untuk berbaur, mengenal lebih dekat, bermain bersama dan tertawa lepas sambil mencoba mempertahankan suasana ini sampai KKN berakhir.

[Cerita Dari Watukamba] 61

Hari pertama terasa lama untuk dilewati, sedikit-sedikit kekhawatiran saya muncul, namun hati mencoba melatih kemampuannya untuk selalu berpikir positif, tetap tenang dan membuat daftar-daftar hal membahagiakan selama tinggal di sini. Perjalanan belum usai, kami harus menuju lokasi yang akan kami tinggali untuk 47 hari ke depan, jujur ini adalah puasa tersulit dalam hidup saya, menahan dahaga di tengah perjalanan yang sangat panas, ditambah sirkulasi udara di dalam kendaraan yang tidak baik, membuat saya terus berpikir untuk membatalkan puasa saat itu. Mungkin Haiqal versi Jawa akan mengambil keputusan untuk batal, entah apa yang membuat saya tetap bertahan melawan semua nafsu saya sampai di tujuan. Kami di sambut di Posyandu Kecamatan Maurole, bersama kepala desa dan seluruh orang tua induk yang akan menerima kami di tempat tinggal. Satu yang membuat saya terkejut, awalnya kami dijanjikan akan mendapatkan pondokan di rumah warga, namun sesaat Bapak kepala desa menyampaikan rencana bahwa seluruh anggota laki-laki akan tinggal di posyandu. Beribu macam spekulasi bermunculan, tidur tanpa alas kasur, hanya merebahkan tubuh di lantai, tidak ada tv ataupun kulkas, atau mungkin fasilitas yang biasanya dapat ditemui di rumah. Belum lagi ditambah akan banyak pertukaran barang pribadi dan tanggung jawab mandiri yang harus dikerjakan bersama sama. Saya hanya terdiam, sambil membayangkan hal apa lagi yang dapat memperburuk keadaan KKN di tempat ini, makanan sehari-hari yang identik dengan daerah pesisir, yaitu ikan.

Sangat Disayangkan Saya Alergi Ikan

Alergi dengan makanan satu ini, membuat saya berpikir keras lauk apa yang bisa saya makan sehari-hari. Bersyukur, tak jauh dari posyandu ada warung, sehingga saya bisa membeli jajanan pilus untuk menemani waktu berbuka, kebahagiaan sederhana pertama yang saya temui. Seusainya membersihkan posyandu, membuatnya terasa seperti rumah sendiri, kami yang berpuasa memutuskan untuk berjalan kaki menuju masjid yang jauhnya hampir satu kilometer sambil mengobservasi lingkungan sekitar. Suatu prestasi bagi saya yang jarang berjalan kaki di Yogyakarta, ketika di sini dalam bepergian mewajibkan saya untuk berjalan kaki. Impian pertama saya sepulang KKN, menjadi lebih sehat dan lebih kurus tentunya, keseimbangan hidup lain yang saya temukan kembali. Kami habiskan waktu di masjid sambil menikmati indahnya pantai utara NTT untuk pertama kali. Pemandangan langka yang tidak dapat kami temukan di Yogyakarta, birunya pantai, bias senja matahari dan samar Gunung Rokatenda di seberang lautan.

Setelah melalui perjalanan yang panjang, dan melelahkan kami mencari minuman segar yang ada di desa ini, jas jus rasa jeruk, minuman sederhana yang jarang saya nikmati di Jawa terasa seperti meneguk minuman mahal di restoran bintang lima. Kesederhanaan di dalam kebersamaan kami menghabiskan hari pertama, membuat saya yakin akan ada banyak cerita indah lain yang siap meramaikan perbincangan saya ketika kembali ke rumah atau berkumpul bersama teman di Jawa. Hari berikutnya kembali menyambut, setelah semalam kami tidur dengan posisi berbaris seperti ikan yang sedang dijemur beralaskan sleeping bag dan tumpukan jaket serta sarung sebagai bantalnya, kami memutuskan untuk sekadar bercengkerama, mengenal satu sama lain, bertukar pikiran mengenai program yang akan dilaksanakan sampai bersosialisasi bersama warga setempat. Banyak masalah sederhana yang kami temui dalam waktu sesingkat ini, seperti sedikitnya edukasi warga mengenai pengolahan sampah, sehingga banyak sampah berserakan di pesisir pantai, kualitas dan kuantitas air yang buruk di saat seharusnya PDAM dapat mengambil tindak akan hal ini, tidak adanya informasi yang jelas mengenai rumah pejabat desa, ketidaktahuan warga akan ancaman bencana di daerah ini, sehingga warga tidak tahu tata cara penyelamatan diri yang baik dan benar di saat terjadi bencana. Hal ini yang membuat saya pribadi tertarik untuk dapat mengajar dan membina warga dalam hal mitigasi bencana. Saya mengajukan diri sebagai pemateri karena pada dasarnya saya suka mengajar.


62

Survei yang saya lakukan dengan cara mengunjungi beberapa rumah warga dan mengamati konstruksi rumah tersebut. Selain rumah, sekolah dan kantor tak luput menjadi perhatian kami. Di desa ini sebagian besar rumah masih berupa bangunan non permanen sampai semi permanen. Dimana masih banyak ditemui rumah dengan dinding anyaman bambu yang dipadu dengan seng. Sedangkan rumah yang sudah berupa bangunan permanen, masih memiliki konstruksi sederhana. Misalnya rumah permanen yang dibuat tanpa adanya kolom maupun balok pada konstruksinya. Dimana menurut SNI bangunan tahan gempa, konstruksi tersebut masih jauh di bawah standar. Hal ini dapat dijadikan bahan evaluasi bagi warga untuk dijadikan panduan dalam pembangunan konstruksi selanjutnya. Beberapa kendala yang cukup saya rasakan selama tinggal di desa ini adalah susahnya akses air bersih. Akses air bersih memang sudah dipasang di desa ini, namun sayangnya kuantitas air yang keluar masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akses air terkadang hanya dapat dirasakan pada siang atau malah hari saja. Bahkan di hari besar seperti bulan Ramadhan, akses air sempat mati sehingga menyebabkan warga sekitar kesulitan untuk mandi. Di samping kuantitas yang masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, kualitas air yang keluar masih perlu dipertanyakan. Karena dengan mudah ditemui lumut yang tercampur di dalam air.

[Cerita Dari Watukamba] 63

Bahkan saya sempat bertanya kepada petugas PDAM mengenai ď€ lter yang digunakan di sumber air. Ternyata mereka hanya menggunakan ď€ lter berupa racks yang langsung dialirkan ke bak penampungan air sebelum dialirkan ke rumah – rumah. Hal tersebut bisa jadi merupakan faktor penyebab masih ditemuinya lumut di air yang mengalir dari PDAM. Melupakan segala permasalahan dan hal negatif yang ada di desa ini, betapa berharganya waktu tujuh minggu yang sudah saya alami. Tinggal di pesisir pantai sungguh suatu kenikmatan. Deburan ombak yang terdengar di malam hari, hamparan laut biru yang selalu terlihat di ujung mata, ribuan bintang di malam hari yang selalu menghiasi langit dan juga bukit hijau yang menyelimuti lautan. Pagi hari matahari sangat jelas tampak di ufuk timur, siang hari matahari begitu terik menyelimuti desa ini, senja hari yang sangat sayang untuk melewatkan matahari terbenam di ufuk barat dan deburan ombak serta bintang yang begitu terasa di malam hari. Begitu banyak hal yang tentunya susah untuk dilupakan dari desa ini. Alamnya yang sempurna, penduduk yang ramah dan juga teman hidup selama tujuh minggu di Desa Watukamba ini.

Dermaga Watukamba


64

[Cerita Dari Watukamba] 65

oleh: Wahyu Septiarto Raharjo

[ Desa Watukamba, Sebuah Cerita ]

Hari itu, tanggal 19 Juni 2016, perjalananku dimulai dengan tidak tidur di malam sebelumnya, dikarenakan menyiapkan barang-barang yang harus dibawa untuk KKN di Desa Watukamba, Kabupaten Ende, NTT. Aku bersama kawan-kawanku satu tim KKN NTT-04 berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara di Ende dengan transit sekali di bandara Bali. Sesampainya di Ende, sudah ada beberapa orang yang menyambut kita dan mengantarkan ke Wisma Unior. Keesokan harinya, kita satu tim berangkat menuju Unior untuk menerima sambutan Bupati Kabupaten Ende bersama dengan Rektor Unior bersama pengurus-pengurus yang lain. Setelah menerima sambutan, kita langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Watukamba. Disambut oleh Universitas Flores

Sedangkan untuk yang perempuan, mereka tinggal di orang tua asuh di rumah masing-masing. Untuk kehidupan di awal-awal minggu pertama, kami harus melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar supaya tidak “kagok” dengan keadaan lingkungan sekitar. Berbagai hal terjadi di minggu awal kedatangan kami di sini, salah satunya adalah pengenalan antar anggota KKN yang lebih mendalam, supaya terjadi komunikasi yang baik antar anggota. Kemudian yang lain adalah memulai kehidupan baru di Posyandu Desa Watukamba, bersih-bersih, serta membereskan barang-barang bawaan kita yang cukup berantakan. Setiap pagi kita bangun sahur, dilanjutkan dengan berkeliling Desa Watukamba di saat matahari sudah menampakkan, supaya bisa bersosialisasi dengan pengurus dusun sekitar serta warga.

Suasana Rapat di Posyandu

Desa Watukamba… Ya, Desa Watukamba. First Impression terhadap desa ini adalah, desa ini cukup unik, karena ternyata banyak yang memelihara babi sebagai ternaknya, dan karena aku jarang melihat babi, maka aku bilang unik karena hal tersebut, serta kehadiran seorang “mama”, yaitu Mama Tince, sebagai induk semang kita anak lakilaki yang menginap di posyandu sebagai pondokan.

Dalam kehidupan sehari-hari di posyandu, diadakan adanya jadwal piket, supaya semua laki-laki yang tidur di posyandu punya jatah untuk bersih-bersih posyandu. Jadwal piket tersebut juga merupakan jatah untuk mencuci baju dan celana yang kiranya sudah kotor, jadi nggak boros air dan tempat menjemur hehe. Dengan diadakannya jadwal piket itu, aku ngerasa kayak, wah, ternyata semua orang memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan, apalagi kita di sini cuma menumpang tinggal, sehingga rasa tanggung jawab itu harus ada. Satu hal yang cukup membuatku senang di sini adalah, ketika waktu makan sudah datang, kita sering diajak untuk makan bersama keluarga Mama Tince di halaman belakang posyandu. Kenapa perihal ini membuatku senang, sebabnya karena jarang banget bisa makan bersama dengan keluarga ketika kamu merantau dan jauh dari rumah. Jadi menurutku, arti kekeluargaan itu sangatlah penting, bahkan bisa dibilang vital, karena bisa berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, dan salah satu momen yang sering dipakai untuk mempererat hubungan kekeluargaan yaitu dengan makan bersama. Oleh karena itu, mengapa aku bisa senang yaitu karena selain bisa makan bersama, saya bisa lebih mempererat dengan keluarga baruku di Desa Watukamba ini, serta bisa berinteraksi lebih mudah dengan masyarakat yang ikut makan pada saat waktu itu juga.


66

Persiapan slide saya rencanakan dengan matang, karena materi yang saya ajarkan harus tepat sasaran yaitu warga, dimana materi harus dibawakan seringan mungkin, bahasa yang tidak rumit, menarik dan dapat dipahami dalam waktu singkat. Hari sosialisasi tiba, penuh dengan rasa gugup dan cemas saya mencoba memulai mengedukasi warga, di menit pertama terasa berat, ketika akhirnya saya melihat antusias warga yang baik membuat saya jauh lebih nyaman membawakan materi ini. Lancar dan rasa bangga saya dapatkan di akhir pembawaan, sampai kembali saya menemukan keseimbangan hidup lain di sini, sesi pertanyaan pun digelar, seorang warga dengan sedikit rasa kesal menyampaikan dengan tegas bahwa ia menolak materi saya, dimana saya menyebutkan untuk tidak menyelamatkan harta benda ketika bencana terjadi. Beliau bersikukuh bahwa ketika memang ada kesempatan untuk menyelamatkan harta maka izinkan, jangan dilarang. Pernyataan ini menampar saya dengan keras, tidak mudah mengubah mindset seseorang apalagi dalam lingkup masyarakat akan sesuatu hal yang baru, mereka akan selalu menganggap apa yang menjadi suatu kebiasaan itu adalah benar. Apa yang saya katakan tadi adalah sesuatu yang asing dan cukup tidak masuk akal bagi mereka.

[Cerita Dari Watukamba] 67

Lalu respons apa yang cocok saya sampaikan? Memarahi? Membalas pertanyaan dengan tegas? Di sini hati nurani saya kembali mengambil alih, emosi bukan jalan yang tepat, mereka layaknya bayi yang harus dimomong dengan lembut ketika akan diberi sesuap nasi. Saya sampaikan dengan lembut alasan masuk akal yang mudah dicerna, bahwa keselamatan jiwa yang paling berharga, kesempatan kecil yang mungkin justru akan merenggut nyawa Bapak, iya mungkin harta akan selamat, namun apa artinya ketika Bapak justru tidak selamat? Apakah akan ada waktu untuk Bapak menikmati harta yang Bapak selamatkan tadi? Kita serahkan kembali kepada Tuhan, jika memang Tuhan berkehendak Bapak akan mendapatkan rezeki, maka rezeki itulah yang Bapak terima, rezeki itu titipan Pak, Tuhan berhak untuk mengambilnya kembali, yakinlah bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, Saya pilih jalan religi yang saya bawa untuk menjawab pertanyaan tadi, sehingga terlihat ada muka lega dan menenangkan yang berarti Beliau sudah mau menerima masukan saya tadi. Di sini saya belajar bahwa dalam menyampaikan suatu visi/tujuan tidak hanya sekadar berbicara membahasnya dengan detail, menjelaskan deskripsi namun tentang bagaimana saya mampu mengajak orang di sekitar saya untuk setidaknya mau bergerak bersama meraih tujuan, bahkan sampai saling mempercayai untuk mau meraih tujuan baik yang sudah saya persiapkan.

Di kesempatan lain, saya bertemu dengan Ibu Lin, sosok guru Kelas 1 SD Inpres Nanganio, di usia yang cukup senja, Beliau dengan sangat sabar mendidik siswa yang mungkin dalam masa nakal-nakalnya. Masih ingin selalu bermain, berteriak, bernyanyi bersama, sedang Ibu Lin harus bersusah-payah membuat si anak bisa berhitung dan membaca. Teknik mengajar yang cukup langka yang saya temui, tidak seperti di Jawa, Ibu Lin menghubungkan segala aspek mata pelajaran menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, berbagai ide seperti melemparkan bola kepada siswa, yang mendapatkan bola harus maju mau berhitung, menulis angka yang dia sebutkan, sekaligus menambahkan angka untuk orang selanjutnya. Di sisi lain, Ibu Lin sosok yang murah senyum, sangat tulus membicarakan kehidupannya. Beliau memiliki 5 orang anak, dan semuanya sudah berpendidikan tinggi, saya ulangi semuanya berpendidikan tinggi. Walaupun hanya berkuliah di Universitas Flores, dan beberapa universitas swasta di Jawa, semangat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik terlihat di sini. Ibu Lin menceritakan betapa kerasnya Beliau untuk memaksa mereka mengejar cita-cita, tidak mau berakhir hanya menjadi seorang guru seperti sang ibu. Saya kagum, dengan semua semangat yang Ibu punya di saat kondisi tak sama seperti di Jawa, di saat saya terkadang malas-malasan, mengeluhkan hal-hal kecil yang sepantasnya tidak perlu dikeluhkan, karena banyak alasan di Nusa Tenggara yang seharusnya dikeluhkan, malah menjadi hal yang sangat disyukuri oleh Ibu ini.

Di akhir perjumpaan saya dengan beliau saat mengajar di SD Inpres Nanganio, beliau menitip pesan “Yang terpenting adalah ucap syukur nak, hidup di Jawa adalah hal yang harus pertama kali kamu syukuri, banyak kemudahan yang bisa kamu dapatkan di sana, hidup tidak akan pernah terasa sulit nak, jika bukan kamu sendiri yang membuatnya sulit�. Mendengar pesan ini sambil mendekap Beliau, air mataku terjatuh mengucap banyak terima kasih memberi banyak pelajaran yang membuat saya merasa sangat bodoh menganggap bahwa KKN ini hanya berbau hal yang negatif. KKN menjadi titik perubahan saya (turning point) tidak sepatutnya saya mengutuk kehidupan yang serba sederhana menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Justru dengan kehidupan ini saya menjadi tahu hal-hal apa yang harus saya perbaiki, hidup tidak boleh manja, mau peka terhadap orang lain, peduli dengan sekitar, sigap menolong, dan satu hal, selalu mensyukuri apa yang saya dapatkan hari ini, karena apa yang saya dapat pasti akan menentukan hidup saya ke depan, Allah memberikan semua rezeki-Nya yang sama kepada makhluk-Nya, tinggal bagaimana si makhluk bereaksi akan rezeki tersebut, akan menganggapnya sebagai masalah atau justru menganggapnya sebagai anugerah. Dan selama perjalanan hidup saya sampai saat ini, kebahagiaan sederhana di pesisir timur nusantara menjadi anugerah terbaik yang pernah saya dapatkan.


68

Desa Watukamba memiliki tempat “khusus� untuk mencari sinyal internet yang cukup memadai, yaitu di dermaga. Mengapa dermaga? Kalau menurutku, sinyal di dermaga bisa memadai karena terlihat tower sinyal yang tidak tertutup oleh bukit dari dermaga. Selain tempat untuk mencari sinyal, tempat tersebut juga istimewa karena pemandangannya yang cukup indah dan bisa dikunjungi setiap hari. Tempat tersebut juga sering menjadi tempat berbagi cerita bersama teman-teman apabila sedang merasa bosan di posyandu.

Disambut oleh Universitas Flores

Di saat aku dan beberapa kawanku melakukan survei sekalian jalan-jalan muterin Desa Watukamba, kami melihat cukup banyak sekali sampah berserakan di pinggir jalan atau halaman, maupun sudah dibakar, tapi masih cukup mengganggu di sekitar tempat membakar sampah tersebut. Oleh karena itu, di antara program yang akan dilakukan, kita berinisiatif untuk membuat bak sampah, serta melakukan sosialisasi kepada warga sekitar dan karang taruna yang ada di Desa Watukamba. Dalam pengerjaan ď€ sik bak sampah pun, kita dibantu oleh karang taruna serta warga sekitar lokasi pembangunan bak sampah.

[Cerita Dari Watukamba] 69

Di pagi yang cukup dingin, sering terjadi adanya “orkestra alarm handphone�, yang suaranya cukup membuat bising satu posyandu. Yang istimewa dari kejadian tersebut adalah, tidak ada dari salah satu pemilik handphone yang bangun, walaupun sudah diteriakin buat bangun, tapi tetap saja ngebo. Meskipun begitu, dengan kejadian tersebut yang sering terjadi, aku bisa belajar bangun pagi dengan konsisten, ya, walaupun kadang cuma bangun sekadar buat solat, terus main laptop bentar sambil nunggu waktu ngerjain program. Saat Hari Raya Idul Fitri, kita Solat Ied di masjid desa sebelah, karena di Desa Watukamba mayoritas agama adalah Kristen Katolik. Namun, toleransi beragama di desa ini sangatlah tinggi, yang benar-benar tinggi, karena jarang sekali terjadi isu agama di desa ini, dan setiap warganya pun juga mengerti masalah toleransi ini. Hal ini yang membuatku bingung, di daerah yang jauh dari perkotaan, justru toleransi beragamanya bagus sekali, tidak seperti di perkotaan yang mudah sekali terjadi adanya isu-isu beragama yang sering mencemaskan masyarakat. Aku mendapatkan pembelajaran yang bagus mengenai agama di sini, belajar bagaimanakah menghormati pemeluk agama yang lain, supaya tidak menyakiti hati pemeluk agama tersebut.

Di minggu-minggu berikutnya, setelah Idul Fitri, kami melakukan inisiasi untuk pemetaan desa berdasarkan sub unit yang telah dibagi, kebetulan dusun yang aku survei adalah Dusun Nanganio. Dalam survei tersebut, aku menjalankan programku yaitu pembuatan denah-denah rumah serta pemberian nomor terhadap bangunan yang aku beserta sub unitku survei. Survei tersebut dilaksanakan selama tiga hari, tetapi di hari terakhir, aku nggak ikut melakukan survei karena badanku meminta untuk istirahat dulu, ketimbang aku paksain buat kerja, tetapi ntar di akhir malah sakit 'kan nggak enak juga. Oleh karena itu aku cuma ikut dua hari di awal untuk surveinya. Aku sering berjalan-jalan kesana kemari di Desa Watukamba, sekadar untuk melihat keadaan sekitar, namun hal itu memberikan ide untuk melakukan pengecekan fasilitas jalan di desa ini, yang secara adalah jalan Trans Utara Provinsi NTT serta jalan utama di desa ini. Pengecekan aku jalankan karena aku merasa jalan ini masih cukup berbahaya karena kurangnya fasilitas yang tersedia seperti rambu batas kecepatan, zona aman sekolah yang belum tersedia, lampu penerangan ketika malam pun belum ada. Jadi kesimpulan yang aku ambil adalah jalan ini memang seharusnya diberi fasilitas jalan yang memadai oleh pemerintah, supaya bisa mengurangi risiko kecelakaan yang mungkin terjadi. Teras posyandu yang kami tinggali merupakan jantung dari kegiatan KKN kami, karena di situlah tempat kami sering melakukan rapat unit maupun sub unit serta koordinasi, supaya program yang direncanakan bisa berjalan dengan lancar.

Akan tetapi apabila prasarana untuk rapat sendiri aja tidak terlalu memadai, dalam tanda kutip kurang memuaskan, oleh karena itu perlu diadakannya perbaikan prasarana supaya untuk ke depannya terlihat rapi tidak bolong-bolong lagi semenanya. Yang unik dari desa ini adalah, ketika seseorang mengadakan pesta dalam rangka apapun itu selain acara berduka, di setiap akhir acara pasti ada acara joget bersama, dimulai dengan Gawi (tarian adat di Desa Watukamba), kemudian diikuti dengan acara bebas. Nah di acara bebas ini, orang-orang bebas untuk melakukan joget bersama dengan lagi khas daerah atau lagu DJ, dan biasanya jogetnya benarbenar selesai pada dini hari, atau bahkan sampai pagi menjelang. Selain itu mungkin ada juga orang yang sekadar duduk meminum moke (minuman khas daerah sekitar) sambil bermain kartu remi atau poker.

Persiapan Menuju Tari Gawi


70

Di perbatasan Desa Watukamba sendiri, aku melihat masih belum adanya tugu selamat datang, yang bisa menandakan perbatasan antara Desa Watukamba dengan desa sebelah, yaitu Desa Aewora. Kemudian, kita satu unit KKN, dalam rangka memberdayakan semen yang tersedia, kita meminta ijin untuk membuat tugu selamat datang di perbatasan antar desa. Dalam perencanaanya, aku dibantu oleh temanku dalam mendesain bentuk tugu yang diinginkan. Setelah merencanakan desain yang diinginkan, dimulailah persiapan material yang harus diadakan, semacam semen, pasir, alat pertukangan, dan tenaga kerja yang berasal dari mahasiswa dan warga sekitar yang ikut membantu. Dalam pembuatan tugu tersebut, saat pembawaan material ke lokasi pembuatan tugu cukup sulit, dikarenakan kondisi medan jalan yang naik turun serta berkelok-kelok. Setelah pengantaran material selesai, dimulailah pembuatan campuran untuk pembuatan fondasi dari tugu terlebih dahulu. Disinilah bagian yang menurutku cukup menarik, kalau membuat campuran pasti kan membutuhkan air, nah airnya itu harus diambil dulu dengan transportasi motor.

[Cerita Dari Watukamba] 71

Ketika sudah sampai di lokasi pengambilan air, lokasi pengambilan airnya ini nih yang membuatku kagum, jadi ada sumber air seperti sumur alami di sudut lokasi, dan sisanya selain sumur adalah sabana yang mengisi lahan kosong tersebut, dan apabila suasananya sedang tidak terik matahari, sabana tersebut akan lebih nyaman sebagai tempat untuk duduk-duduk santai. Dalam pengerjaan tugu ini, memang ada hambatan, yaitu dalam penyediaan pasir untuk campuran, namun untuk yang lain, Alhamdulillah, tidak ada hambatan. Di minggu-minggu akhir kegiatan KKN kami, aku melanjutkan pembuatan tugu posyandu yang memang sudah diajak berpartisipasi oleh ketua karang taruna dan ketua tim teknis desa. Di dalam melanjutkan pembangunan tugu posyandu, tidak seperti biasanya, perancangan dibuat oleh ketua tim teknis Desa Watukamba. Pekerjaan dimulai pada pagi hari setelah melahap snack pagi hari. Selain melaksanakan pembuatan tugu posyandu, aku juga melanjutkan perbaikan prasarana posyandu yang sempat terhenti karena program lain yang lebih prioritas, hehehe. Pekerjaan tugu posyandu sendiri selesai ketika maghrib menjelang. Semua pengalamanku selama masa KKN ini begitulah berharga buat aku, karena kapan lagi bisa seperti ini, serta banyak sekali kejadian-kejadian unik yang tertinggal di hati, yang bakal susah dilupakan.

Oleh karena itu, akan kubuat suatu cerita perjalananku selama masa KKN ini, supaya orang lain bisa mengetahui tentang apa saja yang ada di Desa Watukamba, beserta kegiatan tim KKN ku yang telah dilaksanakan selama masa KKN berlangsung. Mungkin seperti itulah kira-kira ringkasan tentang apa saja yang aku lakukan disini, lalu kejadian-kejadian “unik� yang terjadi, kemudian nilai-nilai yang bisa kupetik dari kehidupan sehari-hari selama masa KKN berlangsung. Semua itu, aku yakin, akan berharga di masa mendatang, karena mungkin saja momen-momen yang terjadi disini tak bisa diulang kembali di masa mendatang.

Tugu Posyandu

Bersantai Menikmati Kelapa Muda


72

[Cerita Dari Watukamba] 73

oleh: Ni’matul Azizah Raharjanti

[ Perjalanan Hidup Bersama Suku Lio, Desa Watukamba ]

Berbeda, hal tersebut merupakan kata pertama yang terlintas ketika saya menginjakkan kaki di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letak geogras dan geologis yang berbeda dengan Pulau Jawa, menyebabkan kondisi alam daerah tersebut juga berbeda. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari relief pulau tersebut. Pulau Flores merupakan suatu daerah kompleks pegunungan vulkanik, dengan deretan gunung api, baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif. Hal tersebut menyebabkan kondisi alam yang berelief terjal, sehingga persebaran penduduk menjadi tidak rata, dan aksesibilitas antar daerah yang juga menjadi sulit. Iklim yang terdapat pada Pulau Flores terebut juga merupakan iklim kering dengan curah hujan yang rendah, ditambah dengan Desa Watukamba yang juga berada di dekat pantai, menyebabkan udara terasa panas menyengat dan ketersediaan air juga terbatas.

Topogra Tanah Flores Trans Utara

Kondisi-kondisi tersebut berpengaruh pada perkembangan kehidupan warga Desa Watukamba, yang berada di Pesisir Barat Pulau Flores tersebut. Salah satu permasalahan yang terjadi yaitu tingkat perkembangan teknologi yang terjadi pada Desa Watukamba dinilai masih sangat kurang. Hal tersebut ditunjukkan dengan kurangnya kemampuan masyarakat, termasuk perangkat desa dalam pengoperasian komputer untuk keperluan arsip desa.

Di sisi lain, masyarakat Desa Watukamba yang didominasi oleh suku Lio sebagai penduduk asli desa tersebut, masih memegang nilai-nilai adat, berupa gotongroyong antarwarga, memiliki tingkat toleransi antar agama yang sangat tinggi di tengah perbedaan agama yang ada pada daerah tersebut, serta sikap hemat dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk mendukung kehidupan. Nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai kearifan lokal yang dapat saya contoh dari kehidupan warga Desa Watukamba ini. Dari identikasi lanjut yang dilakukan selama periode-periode waktu kuliah kerja nyata ini, saya mendapati bahwa masyarakat memiliki berbagai permasalahanpermasalahan akibat dari tingkat pendidikan masyarakat yang rendah tersebut ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Topogra Tanah Flores Trans Utara

Permasalahan lain yang terjadi pada masyarakat Desa Watukamba yaitu masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah. Permasalahan tersebut dapat ditinjau dari kesadaran anak dalam kegiatan belajar yang sangat rendah baik di sekolah maupun di rumah, pola pemikiran masyarakat yang masih sempit dan cenderung terpaku pada adat, serta lebih menghargai suatu bentuk pemberian materi dan sesuatu bersifat sik dibandingkan dengan materi edukasi untuk peningkatan kualitas hidup.

Kelas 4A di SD Inpres Nanganio


74

Salah satu permasalahannya yaitu dari aspek dasar kehidupan manusia, yaitu ketersediaan air. Ketersediaan air yang terbatas yaitu pasokan PDAM dengan sumber mata air yang berada di Dusun Watukamba, dengan sistem pendistribusian yang tidak baik menyebabkan warga mendapat pasokan air yang sangat terbatas yaitu hanya pada pagi hari hingga siang hari, dengan debit yang tidak memadai sehingga kebutuhan air harian sering tidak terpenuhi. Beberapa warga juga memiliki sumur dangkal di rumah mereka. Namun, ketinggian air pada sumur tersebut juga tergantung pada curah hujan. Masalah lain yang terjadi yaitu, beberapa sumur terutama yang letaknya berada sangat dekat dengan pantai, memiliki kualitas air yang kurang baik, dan memiliki rasa yang asin mirip dengan air laut. Hal tersebut menyebabkan semacam domino effect bagi kesadaran akan personal hygiene pada masyarakatnya terutama anak-anak. Dengan ketersediaan air yang kurang, anak-anak menjadi jarang mandi, sikat gigi, serta buang air –terutama buang air kecil- tidak pada tempatnya. Hal tersebut membuat anak-anak desa, banyak yang tampak kumuh dan kotor. Oleh sebab itu, salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan pemetaan muka air tanah pada sumur warga. Upaya lain yang dilakukan yaitu evaluasi kualitas air tanah (berupa pengukuran pH, temperatur, DHL, dan TDS) pada sumur warga untuk mengetahui apakah kondisi air merupakan air tawar atau air yang telah mengalami intrusi oleh air laut. Kualitas air tanah untuk air yang berasal dari mata air (PDAM) juga dilakukan pengukuran.

[Cerita Dari Watukamba] 75

Evaluasi tersebut dilakukan pada mata air sumber dan air yang telah sampai ke warga untuk mengetahui apakah terjadi perubahan sifat kimia air tanah yang mempengaruhi kualitas air tanah tersebut. Dari data tersebut, diintergrasikan dengan analisis sistem pendistribusian air, didapatkan solusi-solusi untuk peningkatan pemenuhan air kepada warga yang disampaikan dalam bentuk rekomendasirekomendasi kepada pihak terkait. Untuk mendukung data dalam evaluasi kualitas air tanah, juga diperlukan data-data kondisi alam dan batuan yang menjadi daerah recharge mata air terebut. Sehingga, dilakukan observasi pada daerah recharge atau daerah sumber mata air di Dusun Watukamba, dan diperoleh data bahwa air tanah tersebut berupa suatu mata air yang keluar dari batuan berupa batuan piroklastik berupa aglomerat dan lava dasit yang telah mengalami pelapukan menjadi sehingga air yang telah terserap oleh tumbuhan akan keluar menuju permukaan tanah membentuk mata air yang digunakan sebagai sumber air bagi Desa Watukamba. Masalah lain yang timbul dari masyarakat dengan tingkat pendidikan yang masih rendah tersebut yaitu tingkat kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah yang kurang. Masyarakat Desa Watukamba masih banyak yang membuang sampah dengan sembarang, dan sampah yang kurang sehingga menimbulkan kesan kotor pada titik-titik tertentu, seperti pinggir jalan, dan pantai, yang dapat menjadi suatu sumber penyakit.

Solusi yang disampaikan yaitu dengan membangun bak sampah permanen pada setiap dusun sebagai upaya agar tidak membuang bak sampah sembarang. Lokasi Desa Watukamba yang berada di Pesisir Utara Pulau Flores, yang relatif dekat dengan zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia pada selatan Pulau Timor, serta pergerakan aktif mikrokontinen di Laut Flores dan Laut Pada, yang terletak pada utara Pulau Flores, menyebabkan Pulau Flores tersebut rawan akan terjadinya gempa bumi, tak terkecuali Desa Watukamba. Gempa yang berkekuatan besar, juga mampu berpotensi menimbulkan bencana tsunami. Efek lain dari pergerakan lempeng tektonik tersebut yaitu terbentuknya deretan gunung api. Salah satu Gunung api aktif yang berada cukup dekat Desa Watukamba yaitu Gunung Rokatenda yang berada di Pulau Palue sebelah Barat Desa Watukamba. Ketika aktivitas Gunung Api meningkat, berpotensi berdampak pada Desa Watukamba. Ditinjau dari riwayat letusan dan lokasi Gunung Rokatenda tersebut Desa Watukamba berada pada zona distal Gunung Api tersebut. Zona distal berpotensi terdampak abu vulkanik, sehingga masyarakat berpotensi terkena gangguan saluran pernapasan, dan kesehatan mata.

Untuk potensi terdampak lava maupun lahar, kemungkinan besar tidak akan mencapai Desa Watukamba karena gunung tersebut dibatasi oleh Laut Flores, untuk mencapai Desa Watukamba. Dampak lain dari terbentuknya gunung api akibat proses subduksi, yaitu terdapat perbukitan-perbukitan dari gunung api purba yang membentuk kelerengan bukit yang memiliki sudut cukup curam. Lereng bukit tersebut, apabila curah hujan sedang tinggi, dan tanah tidak mampu menahan air, sehingga menjadi jenuh air, Desa Watukamba terutama pada Dusun Aepetu berpotensi terjadi longsor. Dari berbagai potensi bencana yang dapat terjadi pada Desa Watukamba tersebut, sayangnya tidak didukung oleh kesadaran pengetahuan masyarakat akan kesiapsiagaan terhadap bencana-bencana tersebut, serta upaya mitigasi yang baik, dari segi kesiapan infrastruktur maupun edukasi upaya penyelamatan diri dan mitigasi bencana tersebut.

Peta Administratif Karya Universitas Flores


76

Upaya yang dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar sadar terhadap bencana tersebut yaitu dengan memberikan sosialisasi-sosialisasi terhadap bencana yang diberikan kepada karang taruna, masyarakat desa, serta kepada siswa sekolah dasar. Untuk sosialisasi yang dilakukan pada siswa SD, yaitu SD Inpres Nanganio, sosialisasi siaga bencana ditambah dengan simulasi ketika terjadi bencana terutama bencana gempa bumi. Selain itu, juga dibuat rambu-rambu jalur evakuasi serta titik kumpul pada SD Inpres Nanganio agar saat terjadi bencana, siswa maupun guru dan karyawan mengetahui ke mana arah mereka berjalan yaitu menuju titik kumpul, titik yang dianggap paling aman.

Titik Kumpul SD Inpres Nanganio

[Cerita Dari Watukamba] 77

Bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, serta luapan air laut atau rob terjadi pada suatu keadaan tertentu. Sehingga, upaya mitigasi dapat dilakukan salah satunya dengan cara pembuatan peta zonasi rawan bencana. Peta zonasi rawan bencana tersebut dibuat dengan melakukan observasi ke daerah-daerah rawan. Daerah rawan tanah longsor terdapat di Dusun Aepetu, karena kelerengan pada bukit daerah tersebut cukup tinggi dan kondisi batuan yang dinilai kurang kuat, sehingga dapat berpotensi longsor ketika tanah dan batuan jenuh akan air pada musim hujan. Desa Watukamba juga seluruh bagian cukup rawan akan terkena dampak gempa bumi. Selain itu pada pemukiman yang sangat dekat dengan pantai, saat air laut pasang, rawan terkena luapan air laut atau banjir rob. Dari observasi-observasi yang telah dilakukan tersebut, ditambah dengan studi pustaka dan wawancara terhadap warga tentang riwayat bencana yang pernah terjadi, maka dibuatlah peta zonasi rawan bencana, yang diharapkan warga dapat lebih waspada terhadap potensi bencana yang akan terjadi dan mampu menghindari dan menyelamatkan diri ketika gejala timbulnya bencana alam tersebut telah terlihat.

Tinggal di Desa Watukamba, di tengah masyarakat suku Lio tersebut memberikan saya banyak pelajaran hidup. Salah satunya adalah kehidupan bertoleransi antar umat beragama. Di tengah perbedaan agama yang ada di masyarakat, masyarakat tetap hidup harmonis dan tetap mengedepankan kekeluargaan satu suku. Nilai-nilai suku yang dijaga kuat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang membuat saya belajar hidup bertoleransi setelah selama ini didominasi oleh masyarakat agama Islam sebagai kaum mayoritas.

Danau Kelimutu sebagai Fenomena Geograď€ s

Pelajaran lain yang dapat diambil yaitu tentang bagaimana hidup hemat dan memanfaatkan sumber daya sekitar. Di Jawa, orang cenderung menyukai membeli makan di warung atau rumah makan dengan alasan sibuk. Namun di Desa Watukamba, warung makan nyaris tidak ada. Untuk itu, saya harus dapat memasak sendiri untuk makan, dan terkadang bahanbahan makanan tersebut dapat diambil dari kebun sendiri, sehingga sangat menghemat pengeluaran. Budaya masyarakat Lio juga mengutamakan kegiatan kebersamaan, salah satunya yaitu pada waktu makan. Masyarakat Watukamba sangat mengutamakan kebersamaan saat waktu makan, dan makan tidak akan dimulai jika ada satu anggota keluarga yang belum hadir, hal tersebut menjadi suatu pelajaran berharga bagi saya bagaimana suatu kebersamaan memiliki arti yang besar pada kehidupan bermasyarakat.

Belajar Memasak di Rumah Mama Recen

Satu hal penting yang menjadi pelajaran berharga dari kegiatan KKN selama tujuh minggu di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ini, yaitu bagaimana kami bekerja sama di tanah orang, mengidentiď€ kasi berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat, bersama-sama memikirkan solusi dari permasalahan tersebut, dan bersinergi dengan warga dan pemuda dalam upaya penyelesaian permasalahan tersebut demi tercapainya kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas serta dapat mengikuti moderenisasi dengan tetap menjaga nilainilai adat dari leluhur.


78

[Cerita Dari Watukamba] 79

oleh: Sherly Yunita Tangasa

[ 47 Hari di Desa Tepi Pantai ]

Pulau Flores merupakan salah satu pulau di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur, yang belum pernah saya pijaki sebelumnya. Kesan awal ketika sampai di pulau ini tergambar dalam sebuah kata “gunung�. Pulau ini memang disusun atas pegunungan dan perbukitan. Kami tiba di Flores, tepatnya di Kabupaten Ende pada tanggal 19 Juni 2016 dan langsung disambut dengan hangat oleh pihak pemerintah daerah setempat dan beberapa pihak dari Universitas Flores. Lebih daripada itu, kami diberikan sebuah wisma untuk menginap di hari itu serta melakukan wisata cepat di sekitar Kota Ende, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi pelaksanaan KKN. Perjalanan menuju desa Watukamba dilakukan setelah kami mengikuti acara Peresmian Pusat Studi Bencana dan Pelepasan mahasiswa KKN, langsung oleh Bupati Kabupaten Ende. Setelah melakukan tiga jam perjalanan dengan medan yang cukup terjal, kami akhirnya sampai di Desa Watukamba. Kami berhenti di Dusun Nanganio dan langsung disambut oleh beberapa masyarakat, termasuk di antaranya ialah tokoh masyarakat. Suasana sangat hangat, dan terlihat masyarakat sangat antusias akan kedatangan kami. Bahkan masyarakat menyambut kami dengan hidangan makan siang (bagi yang tidak menjalankan puasa). Banyak hal yang dapat diamati, sembari dinikmati di tempat ini. Ada berbagai pesona alam yang ditawarkan, baik pantai maupun pegunungan yang berjajar. Semakin lama waktu berjalan, semakin banyak hal yang tampak di depan mata yang perlu ditingkatkan, diperbaiki bahkan diciptakan di tempat ini.

Oleh karena itu, salah satu hal penting yang menurut saya perlu dievaluasi dalam keseharian masyarakat desa Watukamba, khususnya tiga dusun pesisir pantai ialah nilai keterlibatan pemuda dalam organisasi karang taruna.

Pulau Flores

Secara geologi, lokasi Desa Watukamba berada di lokasi yang cukup aktif. Oleh karena itu, beberapa catatan sejarah menunjukkan riwayat bencana alam di tempat ini, di antaranya ialah gempa bumi akibat aktivitas vulkanisme Gunung Rokatenda, ancaman tsunami, banjir dan longsor. Kenyataan ini mendapatkan perhatian khusus bagi kami untuk melaksanakan beberapa hal yang berkaitan dengan kebencanaan. Selain itu, beberapa fasilitas yang berhubungan langsung dengan masyarakat masih perlu tingkatkan. Baik itu fasilitas bagi masyarakat secara umum, maupun fasilitas bagi pendidikan dan kesehatan. Setelah diamati lebih dalam, keterlibatan karang taruna terhadap pembangunan dan kemajuan desa pun sangat perlu ditingkatkan. Kegiatan organisasi karang taruna di desa terlihat pasif dan cenderung kurang memberikan andil yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

Hal yang sangat terasa dalam keseharian masyarakat desa ialah kurangnya ketersediaan air bersih baik dalam konteks kuantitas maupun kualitas. Banyak aktivitas masyarakat yang menjadi tidak maksimal bahkan tertunda akibat masalah ini. Sumber air bagi masyarakat desa Watukamba ialah sumur dan PDAM. Ada beberapa lokasi di Desa Watukamba yang memiliki sumber mata air bawah tanah yang kemudian dikelola menjadi sumur warga. Akan tetapi pengamatan kualitas air sumur yang dilakukan menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Dengan kata lain, air sumur di lokasi tersebut sangat tidak diperuntukkan untuk dikonsumsi, sehingga hanya digunakan sebagai sumber air alternatif. sedangkan, sumber air utama pun masih menunjukkan kualitas dan kuantitas yang tidak maksimal. Ketidakmaksimalan tersebut terbukti dari kebersihan dan besarnya debit air yang sampai ke rumah warga. Dengan alat pengecek kualitas air dan bantuan teman, saya melakukan pengamatan di ketiga dusun. Hasil pengamatan kemudian dijadikan rekomendasi bagi pemerintah daerah khususnya Kantor PDAM untuk meningkatkan kinerja melalui evaluasievaluasi yang diberikan. Saya sangat berharap rekomendasi tersebut diterima oleh pemerintah daerah, sehingga permasalahan air bagi masyarakat segera dapat teratasi.


80

Namun, bagi teman-teman saya tinggal sementara di gedung Posyandu Nanganio, hal tersebut dapat dikompromikan. Mereka tetap melakukan kegiatan kebersihan bahkan sesekali memasak bersama. Ada berbagai hal yang didapatkan selama pelaksanaan kegiatan KKN ini. Toleransi yang tertanam di tengah masyarakat Desa Watukamba memberikan nilai tambah secara pribadi bagi saya tentang hidup bermasyarakat. Ada begitu banyak masyarakat dengan latar belakang yang berbeda, namun tidak menjadi penghalang bagi upaya-upaya kemajuan desa. Kami tinggal di lingkungan yang didominasi oleh masyarakat dengan latar belakang beragama Katolik. Akan tetapi, tidak pernah sekalipun kami mendapatkan kesulitan karena hal tersebut. Selain itu, kegiatan KKN ini, secara pribadi sangat melatih kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap waktu. Banyak hal yang dapat direncanakan di awal akan tetapi yang menjadi penentu ialah tindakan kita untuk tetap disiplin terhadap rencana tersebut. Dari hal tersebut, saya mendapatkan suatu hal yaitu berhasilnya suatu pelaksanaan memang terlihat dari rencana yang disusun. Akan tetapi yang lebih menentukan dari rencana itu sendiri ialah tindakan kita untuk memulai. Bahkan dalam beberapa kondisi, hal tersebut perlu dilakukan walaupun bertentangan dengan kebiasaan yang sudah ada.

Kehidupan di tengah masyarakat yang plural sangat dekat dengan isu-isu sosial maupun konik. Untuk itu, sikap yang tepat untuk menghadapi isu-isu yang ada di sekeliling ialah menjadi orang yang netral dan tidak langsung menghakimi orang lain. Saya dan teman-teman belajar untuk memposisikan diri sebaik dan sebijaksana mungkin, sehingga kehadiran kami tidak menjadi batu sandungan bagi hubungan antara masyarakat, tetapi sebaliknya memberi dampak yang positif bahkan menjadi pemersatu bagi masyarakat.

Budaya positif yang bersifat membangun memang sudah sepatutnya didukung. Akan tetapi di antara budaya positif tersebut, saya melihat ada beberapa kebiasaan masyarakat yang perlu untuk diubah secara perlahan. Bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk begitu lama di tengah kehidupan masyarakat. Ibarat meruntuhkan benteng kokoh yang telah dibangun berabad-abad. Budaya yang saya maksud ialah nilai-nilai yang ditanamkan pada anak-anak baik di rumah maupun di sekolah. Kehidupan selama beberapa waktu di tempat ini banyak memberikan pandangan baru mengenai tanggung jawab dalam keluarga, baik sebagai anak, saudara maupun orang tua.

Muda-Mudi Watukamba

Tantangan yang perlu untuk diterobos dalam pelaksanaan setiap program yang direncanakan adalah menghadapi budaya yang sudah ada di tengah masyarakat Desa Watukamba. Ada berbagai pilihan yang dapat diambil untuk meresponsi budaya tersebut, baik respons menerima maupun menerobos budaya tersebut. Budaya yang sangat unik adalah joget atau menari setelah suatu hajatan berlangsung. Budaya ini tidak hanya ada di Desa Watukamba, tetapi pasti hadir di berbagai tempat di NTT. Hal yang membuat unik ialah urutan tarian yang ditarikan. Diawali dengan tarian daerah Suku Lio yaitu Gawi, Ja'I, Gemufamire, dan dilanjutkan dengan tarian bebas dengan musik bertempo cepat. Budaya menari ini sudah ada sejak lama, dan tidak hanya diperuntukan bagi kalangan tertentu, tetapi bagi setiap orang yang hadir. Terlebih bagi tamu yang berasal dari daerah lain, seperti saya dan temanteman. Kami bersama-sama diajak ke bawah tenda hajatan untuk menari bersama-sama. Baik yang sudah terbiasa maupun yang belum pernah sama sekali, semua ikut berpesta. Selain budaya menari, ada pula budaya minum moke. Moke adalah minuman keras khas daerah Flores yang disajikan dalam acara-acara tertentu. Saya dan beberapa teman tidak pernah mencicipi moke sebelumnya pun kemudian tertarik untuk mencoba rasa moke. Bagi saya, itu adalah percobaan meminum moke yang pertama dan terakhir. Budaya yang selanjutnya adalah wanita diperbolehkan makan setelah laki-laki, lakilaki dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, memasak, menyapu dll.

[Cerita Dari Watukamba] 81

Budaya sangat mempengaruhi karakter masyarakat yang sudah mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak. Ada begitu banyak aturan, nasihat bahkan kebiasaan di tempat ini yang tidak dijumpai di tempat lain. Ketiga hal di atas secara langsung maupun tidak langsung bertujuan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan serta menciptakan rasa kekeluargaan di antara pribadi dalam masyarakat.

Chiro dan Jambu Monyetnya


82

Hidup selama beberapa waktu di Desa Watukamba bersama keluarga baru meninggalkan kesan dan kenangan yang mendalam. Diawali dengan keantusiasan masyarakat menyambut kedatangan kami, hingga kerelaan untuk melepaskan kami pergi seperti bagian dari keluarga mereka. Masyarakat memberikan tanggung jawab dan kepercayaan penuh kepada tim kami untuk melaksanakan setiap program yang telah direncanakan. Tidak jarang rencana yang telah dibuat harus diubah bahkan dibatalkan karena pertimbangan yang diberikan oleh masyarakat demi kebaikan bersama. Banyak hal yang telah diajarkan masyarakat kepada saya dan temanteman. Nasihat bahkan tidak jarang teguran dari beberapa pihak membuat kami mengerti bahwa kami sesungguhnya telah menjadi bagian dari mereka, karena siapa yang berani menegur hal yang salah dalam diri kita adalah siapa yang benar-benar mengasihi kita. Saya merasa begitu beruntung bisa bertemu dan hidup di tengah masyarakat Desa Watukamba.

Saya dan Keluarga Asuh Saya

[Cerita Dari Watukamba] 83

Hal selanjutnya yang hendak saya bagi ialah kehidupan bersama teman-teman sebagai satu tim selama 47 hari di Watukamba. Sama halnya dengan tim KKN yang lain, tim KKN NTT-04 terdiri dari anggota dengan latar belakang yang berbeda, baik latar belakang bidang ilmu, agama dan daerah. Dalam tim KKN ini, saya bertemu dengan 29 orang baru dengan pemikiran, pandangan dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada begitu banyak penyesuaian yang perlu saya lakukan seiring berjalannya waktu. Saya mendapatkan hal baru dari setiap pribadi mereka. Ketika dibagi dalam pondokan mahasiswa, anggota putra tinggal di gedung posyandu yang merupakan lokasi pusat kegiatan kami dan anggota putri disebar di beberapa rumah pada beberapa Dusun yang berbeda. Rumah yang saya tempati adalah rumah milik musolaki. Banyak hal yang kami lewati bersama dan kami pelajari bersama dari setiap pribadi. Harapan saya ialah setiap program yang telah dilaksanakan dapat terlaksana dan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat.

Sangat Banyak Hal yang Saya Dapatkan di KKN


84

[Cerita Dari Watukamba] 85

oleh: Ni Putu Adnya Sawitri

[ Cerita dari Desa Watukamba ]

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang besar di dunia, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya terdapat di gugusan pulau Nusa Tenggara Timur yang dikelilingi sabuk vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi rawarawa. Hal tersebut menjadikan Nusa Tenggara Timur rawan bencana. Termasuk Kabupaten Ende yang hampir semua wilayahnya rawan bencana. Hal inilah yang membawa 30 mahasiswa mahasiswi pilihan dari Universitas Gadjah Mada untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Dengan Tema KKN Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Manusia melalui Penyediaan Air Bersih dan Mitigasi Bencana. Dalam pelaksanaan kegiatan KKN tidak jauh berbeda dari seorang perencana yang memiliki tugas menganalisis kawasan, kota ataupun wilayah. Dari analisis tersebut didapatkan potensi atau masalah yang ada pada suatu daerah, sehingga dapat diselesaikan ataupun di berikan rekomendasi untuk mengatasi permasalahan tersebut sehingga kehidupan yang baik muncul dari ruang yang baik. Hal itu tentu saja dilakukan di Desa Watukamba. Dimana selama seminggu dilakukan grandtour keliling desa dengan observasi karakteristik desa mulai dari topograď€ , kondisi geograď€ snya, kependudukan, perekonomian, sosial dan budayanya.

Selain observasi karakteristik, dilakukan wawancara kepada warga untuk memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat terkait kualitas hidup masyarakat setempat. Setelah memahami karakteristik dan permasalahan yang ada maka dilakukan analisis untuk memberikan rekomendasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Permasalahan yang ada selain masalah utama yakni desa yang rawan bencana, beberapa permasalahan didominasi terkait kualitas hidup masyarakat.

Kondisi Geograď€ s Tanah Flores

Bencana merupakan suatu hal pemberian dari alam yang tidak dapat dicegah, sehingga untuk menangani permasalahan ini diperlukan kapasitas dari masyarakat yang tinggi untuk hidup harmoni dengan bencana. Potensi bencana yang ada di Desa Watukamba sendiri di antaranya banjir rob, tsunami, tanah longsor. Dengan sifat bencana yang tidak terduga dan tidak dapat dicegah maka diperlukan kapasitas yang tinggi dalam masyarakat untuk dapat hidup harmoni dengan bencana. Hal ini dimaksudkan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait bencana baik sebelum, saat bencana, dan setelah bencana,

serta mengedukasi anak-anak serta remaja terkait kebencanaan. Untuk itu maka hal yang tepat adalah melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat dengan bekerja sama melalui Karang Taruna sebagai penyalur informasi kepada warga setempat. Karang Taruna sebagai awal dari pembentukan Desa Siaga Bencana, diberikan informasi atau pembelajaran mengenai penyebab dari bencana, dampak yang ditimbulkan, serta tata cara evakuasi saat terjadi bencana. Selain kepada Karang Taruna, sosialisasi penting diberikan kepada anak-anak sekolah dasar, agar terbiasa sejak kecil untuk hidup harmoni di tengah bencana. sejak kecil mereka paham bahwa lingkungan yang mereka tinggali adalah lingkungan berbahaya yang menuntut mereka harus bisa mengantisipasi saat bencana melanda. Selain sosialisasi untuk mengedukasi, simulasi menjadi bagian hal yang terpenting. Simulasi menjadi hal menarik untuk anak sekolah dasar, dikarenakan langsung mempraktekkan diri jika terjadi bencana. Antusias anak-anak dan daya ingat yang tinggi membuat sosialisasi mitigasi bencana sangat efektif dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang tangguh bencana, bisa hidup harmoni di tengah bencana.


86

Upaya peningkatan kapasitas dalam mengurangi dampak yang besar akibat bencana telah dilakukan. Kendala yang masih ada di desa ini adalah belum adanya perlengkapan early warning system sebagai teknologi yang memperingatkan terjadinya sebuah bencana. Untuk itu pemerintah khususnya BPBD Kabupaten Ende masih memiliki pekerjaan rumah untuk pengadaan early warning system di Desa Watukamba.

Suasana Sosialisasi Mitigasi Bencana Bersama Karang Taruna

Selain sosialisasi terkait mitigasi bencana, dan pengadaan early warning system. Diperlukan rencana tata ruang khusus kawasan rawan bencana, yang mengatur batasan-batasan lahan yang dapat di ma nfa a tka n, l eta k ti ti k-ti ti k ra wa n bencana, jalur evakuasi, dan letak titik kumpul. Namun di Desa Watukamba belum memiliki hal tersebut dengan jelas. Hal tersebut dikarenakan belum adanya batas administratif yang jelas antar dusun dalam bentuk pemetaan administratif. Sehingga ini juga berdampak pada belum adanya peta zonasi rawan bencana. Untuk itu pemetaan Desa Watukamba penting dilakukan untuk memetakan sebaran bangunan, dan fasilitasnya serta dapat dibuat peta zonasi rawan bencana untuk menginformasikan area-area dengan terdampak bencana.

[Cerita Dari Watukamba] 87

Desa Watukamba dilewati oleh Jalan Arteri Primer yang menghubungkan antar Kabupaten, yakni antara Ende dan Maumere. Banyak manfaat yang didapat dari hal tersebut terhadap perkembangan perekonomian desa. Namun terdapat beberapa permasalahan yang ditimbulkan diantarnya kurangnya lampu penerangan di sepanjang jalan arteri. Hal tersebut dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas ataupun tindak kejahatan. Selain itu jalan arteri ini melewati Sekolah Dasar Inpres Nanganio. Secara standar struktur ruang kota atau wilayah, sekolah dasar tidak boleh berada di jalan arteri. Dikarenakan hal tersebut dapat membahayakan aktivitas keluar masuk siswa siswi. Dikarenakan penyediaan lampu penerangan jalan merupakan kewenangan pemerintah daerah, untuk itu hal yang dapat dilakukan adalah membuat papan peringatan zona selamat sekolah. Sebagai cara trafď€ c calming ditengah lalu lintas yang cukup padat dengan kendaraan besar.

Jalur Trans Utara yang Sering Membahayakan

Menjelang sore hari banyak anak-anak yang berlalu lalang dan bermain di sekitar jalan raya dan pantai. Karena jalan yang membelah desa ini merupakan jalur dengan lalu lalang kendaraan besar, sehingga dapat membahayakan keselamatan anakanak. Di sisi lain desa ini kurang memiliki ruang terbuka yang dapat mengakomodasi anak-anak. Namun terdapat PAUD yang memiliki ruang terbuka dengan fasilitas permainan anak-anak yang dapat mewadahi aktivitas. Namun kondisi permainan yang sudah mulai rusak seperti berkarat dan patah membuat anak-anak enggan untuk bermain dan justru membahayakan. Dikarenakan penyediaan ruang terbuka yang mengakomodasi anakanak cukup sulit untuk dilakukan mengingat harus dilakukan pembebasan lahan dana pembelian mainan anak-anak memakan dana yang cukup tinggi. Untuk itu dilakukan upaya pembersihan PAUD dan revitalisasi alat permainan untuk mewadahi aktivitas bermain anak-anak. Bersih-bersih dilakukan dengan menghilangkan semak belukar yang sudah cukup tinggi untuk mencegah binatang berbahaya membuat sarang. Selain itu menciptakan lingkungan taman bermain yang bersih dan rapi. Untuk revitalisasi alat bermain dilakukan pengecatan ulang permainan jungkatjungkit, ayunan, panjatan, dan masih banyak permainan lainnya. Dengan dilakukan hal tersebut diharapkan anakanak bisa nyaman bermain di taman bermain tanpa harus bermain di jalan raya yang membahayakan.

Dari sisi lingkungan, Desa Watukamba cukup bersih dan asri dengan deretan pepohonan dan bunga-bunga di pinggir jalan. Namun dilihat dari sisi pengolahan limbah masih menimbulkan permasalahan bau, polusi udara, dan berkurangnya estetika lingkungan. Dimana warga masih membuang sampah di kebun sehingga beberapa berserakan terbawa angin ataupun binatang. Sedangkan cara mengolah sampah warga masih menggunakan cara dengan membakar sampah tersebut. Hal tersebut tentu mencemari kualitas udara mengingat banyak sampah plastik yang dihasilkan. Permasalahan lainnya terkait lingkungan desa adalah limbah ternak yang dibiarkan begitu saja. Tidak diolah ataupun dibuatkan saluran pembuangan khusus, sehingga menimbulkan bau. Sebagai solusi dari permasalahan sampah adalah membuat bak sampah komunal di setiap dusunnya. Agar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara bersama dan sampah tidak tersebar di mana-mana. Selain itu rambu-rambu larangan membuang sampah juga penting dibuat untuk dipasang di titik-titik di dekat pantai. Mengingat banyak warga setempat atau masyarakat luar yang sering ke pantai justru membuang sampah sembarang. Untuk itu penyediaan tempat sampah dan rambu-rambu larangan membuang sampah dilakukan di titik-titik tempat di sekitar pantai yang sering dikunjungi pengunjung pantai.


88

Terkait air bersih, sejauh ini kebutuhan air di Desa Watukamba masih terpenuhi. Warga memanfaatkan air mengalir dari PDAM. Namun air yang mengalir masih cenderung kecil, serta hanya mengalir di jam-jam tertentu. Sehingga jika membutuhkan air di pagi buta air belum mengalir. Selain pemanfaatan air PDAM, warga desa juga memanfaatkan air yang berasal dari sumur. Terdapat beberapa rumah yang lokasi sumurnya masih sangat dekat dengan saluran sanitasi sehingga dikhawatirkan terjadi pencemaran bakteri ke air sumur. Untuk itu dilakukan pemetaan kualitas muka air tanah, untuk mengetahui treatment yang sesuai untuk meningkatkan kualitas air tanah.

Penulis beserta rekan wanita lainnya berusaha membantu mengangkat batako ataupun pasir saja. Di sini penulis benarbenar melihat ketulusan seorang mahasiswa dalam melakukan kerja nyata untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pembuatan Papan Pengumuman sambil Plangisasi

Penulis beserta rekan wanita lainnya berusaha membantu mengangkat batako ataupun pasir saja. Di sini penulis benarbenar melihat ketulusan seorang mahasiswa dalam melakukan kerja nyata untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selama di Desa Watukamba, penulis benarbenar mengerti kenapa seorang mahasiswa harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata. Sebelumnya penulis adalah orang yang kurang aktif di dalam masyarakat di lingkungan rumah daerah asal. Hidup di sebuah kota dengan tingkat individualis yang tinggi. Kini bisa merasakan bagaimana mendapat pelajaran berarti di tengah masyarakat, walaupun yang penulis dan rekan-rekan berikan ke pada desa tidak terlalu banyak. Masyarakat benar-benar sumber ilmu pengetahuan, sumber dari pembelajaran hidup.

Penulis merasakan arti gotong-royong di tengah masyarakat desa yang kini sudah mulai hilang di perkotaan. Penulis juga merasakan arti keramahan dan kekeluargaan yang diberikan warga desa. Tak pernah sedikit pun warga tidak menyapa satu sama lain termasuk dengan tim KKN. Di desa ini kendaraan bermotor tidaklah mudah ditemui setiap rumahnya. Penulis memiliki kendaraan sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Namun di desa ini satu motor untuk satu keluarga sudah cukup. Terkadang mereka saling meminjamkan motor dengan imbalan mengganti bensin. Sungguh orang-orang terbiasa berjalan kaki untuk menuju suatu tempat yang dituju. Pesan-pesan yang didapatkan penulis bukanlah pesan-pesan yang terlontar dari mulut seseorang, melainkan mendapatkannya dari kegiatan sehari-hari yang dilakukan.

Penulis dan Keluarga Baru Penulis di Watukamba

Selama tujuh minggu menjalankan program banyak cerita dari desa ini. Warga bahu membahu membantu tim KKN, tak kalah juga Karang Taruna yang selalu siap membantu kegiatan-kegiatan yang diadakan. Pembangunan-pembangunan ď€ sik seperti bak sampah, tugu, dan plangisasi memiliki cerita yang berbeda-beda. Mulai dari belum adanya batako saat hari pembangunan, cat yang dibeli harus ke kota yang ditempuh selama empat jam, pasir yang mengambil dari pantai dengan gerobak pasir, kegigihan para laki-laki membuat cetakan tulisan. Yang paling membuat penulis bangga adalah melihat rekan-rekan laki-laki yang bisa mengerjakan pekerjaan kuli bangunan. Seorang akademisi yang biasanya duduk di bangku kuliah, rapi dengan kemeja dan membawa laptop. Kini berubah menggunakan kaos dekil dengan memikul cangkul mengaduk semen, air, dan pasir.

[Cerita Dari Watukamba] 89

Dimana penulis mengambil manfaat dan menyusunnya menjadi sebuah pesan-pesan yang benar-benar menyadarkan penulis arti pentingnya terjun di masyarakat. Pada dasarnya hidup yang kita jalankan selain memberi manfaat untuk diri sendiri, memberi manfaat untuk orang lain. Penulis merasa sangat beruntung bisa mengenal wilayah Indonesia bagian timur terutama di Pulau NTT. Dengan keramahan masyarakatnya terhadap orang-orang baru. “Orang-orang NTT adalah orang-orang keras, tapi tidak untuk hatinya�. Selalu mengucap syukur kepada Tuhan bisa mendapat pengalaman seperti ini. Merasakan kehidupan yang sangat berbeda dari biasanya. Bagi penulis, penulis berhasil untuk bisa menyesuaikan diri di tengah masyarakat yang awalnya sangat khawatir dengan waktu tujuh minggu untuk hidup di tengah masyarakat yang berbeda dengan segala keterbatasan fasilitas.


90

[Cerita Dari Watukamba] 91

oleh: Yuramia Oksilasari

[ Menuju Timur ]

Live abroad brings your power and love back to your life. Jalaluddin Rumi

Menuju Timur, frase tersebut merupakan frase yang selalu membuat gairah berpetualang saya meningkat saat mendengarnya. Bagaimana tidak, teknologi, internet, dan segala media sosial membuat arus eksposisi berbagai belahan bumi (termasuk timur) menjadi lebih kencang. Mungkin juga, karena saya berdarah Batak —yang berasal dari sisi Barat Indonesia—dan lalu lahir serta besar di Bandung —yang juga terletak di Barat—maka bagi saya, Menuju Barat tidaklah se-menggairahkan Menuju Timur.

Maka, ketika saya resmi mengisi mata kuliah Kuliah Kerja Nyata dalam Kartu Rencana Studi saya di semester ini, dan ketika web resmi LPPM mulai heboh diperbincangkan, saya tahu menuju mana saya harus berangkat, yaitu menuju Timur. Dan dari sana, perjuangan saya terkait KKN dimulai, termasuk dalam proses pencarian lokasi KKN secara spesik beserta tim mana yang akan saya gabungi, karena saya tidak mau asal berangkat KKN, apalagi terlibat dengan orang-orang yang sepertinya tidak dapat memberikan dampak positif bagi diri saya pribadi. Karena dalam penilaian saya, tujuan utama KKN PPM UGM ini bukanlah semata untuk masyarakat, melainkan lebih kepada diri sendiri agar dapat menjadi pribadi yang lebih utuh, lebih paripurna, dan lebih 'ditemukan'. Dan di sinilah saya sekarang, bersama KKN NTT-04, di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende.

Menuju Timur

Saya termasuk anggota KKN yang bergabung belakangan, jadi saya tidak dapat bercerita terlalu banyak mengenai proposal ataupun hal-hal yang bersifat mengawali. Dapat dikatakan, peran saya dalam tim ini adalah sebagai desainer, atau lebih banyak sebagai freelancer yang membantu banyak program namun dengan porsi yang lebih kecil, sesuai dengan program studi saya Teknik Arsitektur yang mempelajari semua hal secara luas namun tidak terlalu mendalam. Dan bagi saya, posisi ini memberikan tantangan tersendiri.

Di Sinilah Saya

Sekedar bercerita, keberangkatan saya menuju KKN ini dipenuhi dengan kalang kabut, karena di minggu terakhir sebelum berangkat, saya masih dalam pekan ujian dan pengumpulan berbagai tugas besar, dengan beberapa tanggungan desain untuk KKN, dan beberapa pekerjaan pribadi, membuat saya baru selesai melakukan packing sekitar empat jam menuju keberangkatan. Lalu empat jam berlalu sekejap saja, dan saya harus berangkat ke bandara. Dimulai dari sana, saya merasa sureal.

Setiap Hari di Sini adalah Sureal


92

Perjalanan dimulai dari Bandara Adisucipto Yogyakarta, lalu transit di Bandara Ngurah Rai Bali selama beberapa jam, lalu pindah menuju pesawat dengan ukuran lebih kecil dan tiba di Bandara Haji Hasan Aroeboesman, Ende. Bandara Haji Hasan Aroeboesman ini menurut saya menarik, saya pernah mendengar bahwa bandara ini merupakan salah satu bandara terekstrim di Indonesia karena tingkat kesulitan landasannya yang cukup tinggi. Dan dibalik informasi tersebut, saya akui bandara ini meski kecil, sangatlah menakjubkan, tempat berlandas pesawat seperti cekungan yang dikitari gunung dan tebing kehijauan, membuat citra pesawat menjadi sangat kecil dan kalah gagah dibanding gunung tersebut.

[Cerita Dari Watukamba] 93

Semalam menginap di Ende di wisma yang disiapkan Universitas Flores (Unior), keesokan paginya kami berangkat menuju kampus Unior untuk pelepasan menuju Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Diawali dengan foto bersama dan diakhiri dengan berdoa, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Watukamba. Tentunya, melewati rute yang sangat berliku tapi menyenangkan, dan tentunya ditemani dengan lagu-lagu lokal housemix Pantura. Sungguh, saya merasa sangat sureal. Sampailah di Desa Watukamba, kami disambut oleh beberapa tokoh desa ini dan dibagi rumah pondokan tempat kami akan menginap selama tujuh minggu ke depan, tentunya lengkap dengan keluarga di dalamnya, istilahnya seperti hostfam. Sudah pasti, saya khawatir dengan keluarga seperti apa yang akan saya tumpangi, apakah saya dapat hidup dengan nyaman di dalamnya, apakah saya dapat saling mengerti dengan saudari serumah saya (Sherly, Teknik Geologi 2013), apakah apakah apakah, dan segala apakah lainnya. Semuanya lalu terjawab dalam tujuh minggu. Sherly dan Papa Asuh Saya

Garbarata Bandara Haji Hasan Aboeroesman, Ende

Lalu kami disambut oleh rombongan pihak Universitas Flores, diantarkan menuju penginapan yang mereka sebut ala kadarnya padahal bagi saya sudah sangat nyaman, dan diajak berkeliling mencicipi sedikit panorama Ende dengan Pantai Rianya. Kalau ada pepatah, 'Orang Timur itu bersuara keras tapi hatinya lembut,' ya, saya amini pepatah tersebut.

Memasuki pagi-pagi pertama saya di Watukamba, I've surprised myself. Mengapa? Karena saya bangun pukul 5.30 pagi dan langsung mencuci piring, lalu membantu Mama asuh saya memasak. Sebuah hal yang sangat jarang saya lakukan ketika menjadi mahasiswa. Dari sini saya menyadari betapa tidak teraturnya pola hidup saya sebelum saya berada di Desa Watukamba, dan dari sini juga saya memiliki tekad untuk memulai hidup yang lebih teratur.

Pertama Kali Saya Membersihkan Sisik dan Insang Ikan

Kebiasaan hidup teratur ini mulai terbentuk dalam diri saya, apalagi saat seminggu pertama kami belum melakukan program apapun karena masih beradaptasi dan bereksplorasi, saya mendapati bahwa diri saya cukup menikmati rutinitas 'ringan' ini – terlepas dari culture shock yang saya alami akibat hidup berdampingan dengan orang baru dalam skala komunal, di mana setiap hari adalah waktunya untuk bersosialisasi -berbeda dengan kehidupan perkotaan saya yang sangat apatis dan individualistis.

Dan, berikut hasil eksplorasi saya selama seminggu pertama: 1. K u r a n g n y a k e s a d a r a n u n t u k

membuang sampah pada tempatnya. 2. Kurangnya kesadaran akan sanitasi yang baik. 3. Kurangnya sarana dan prasarana desa terkait informasi tulisan / verbal (tidak ada papan informasi, tugu selamat datang, plang-plang maupun rambu, dsb.) 4. Kurangnya kesadaran masyarakat, terutama anak-anak, dalam m e m b a c a a t a u p u n mengeksplorasi hobi (anak-anak di sana sepertinya hanya senang bermain bersama teman ataupun jajan) . 5. Kurangnya kesadaran akan mitigasi bencana. 6. Kurangnya kesadaran masyarakat akan potensi desa (potensi keindahan alam, potensi kebun kopi, potensi panganan lokal terutama fermentasi aren atau biasa disebut moke, dsb.) 7. K u r a n g n y a k e s a d a r a n a k a n arsitektur merespon tapak (kebanyakan rumah asal bangun, dengan pemikiran rumah yang baik adalah rumah yang terbuat dari bata, bukan rumah yang merespon karakteristik tapak; banyak rumah yang sudah permanen namun dengan peletakan jendela yang salah sehingga intensitas matahari yang masuk menjadi tidak terkontrol, penggunaan atap seng yang malah membuat panas, dsb.)


94

[Cerita Dari Watukamba] 95

1. Perbandingan pengguna tangan

Selain program, banyak sekali kisah yang dapat saya sampaikan berkaitan dengan pengalaman KKN ini, dan sangatlah tidak cukup untuk menulisnya hanya dalam beberapa lembar kertas. Mungkin di lain waktu, Anda (pembaca) harus duduk dan ngopi bersama saya supaya saya dapat menyampaikan kisah-kisah superseru tersebut dengan lebih lepas.

2. momen-momen yang terjadi dalam

keluarga asuh saya (yang membuat saya sangat banyak berpikir mengenai pernikahan, komitmen, membangun sebuah keluarga, bagaimana mengasuh anak, peran-peran wanita -- baik sebagai wanita maupun ibu; dan mendapati bahwa saat ini diri saya masih sangat belum siap untuk hal-hal tersebut);

Bagaimana cukup, perkara pengalaman – terlebih lagi, mengenai pemikiran dan perasaan – tidaklah sesepele itu: 1. mengenai drama para petinggi desa

(yang membuat saya berpikir mengenai sistematika pemerintahan dan adat istiadat di Indonesia, khususnya Desa Watukamba, yang bersifat resiprokal bahkan terkadang terlalu resiprokal sehingga menimbulkan drama berkelanjutan); Adik Asuh Saya yang Manis

Singkat cerita, hari demi hari dan waktu demi waktu saya lalui selama tujuh minggu. Saya mengerjakan program pokok tema (merancang dan merealisasikan tugu Desa Watukamba, merancang dan membuat papan pengumuman, merancang dan membangun tugu posyandu, membuat portofolio fotogra arsitektur dan kegiatan di dalam desa, membuat kelas menggambar bersama anak-anak, dan melakukan inventarisasi Rumah Adat Suku Lio); program pokok non tema (mendesain bak sampah, membantu beberapa sosialisasi dari disiplin ilmu lain, mengajar SD Inpres Nanganio, membantu berbagai layout, melakukan survei pemetaan, dan lainnya);

serta beberapa program bantu (mendesain kafe salah satu warga dan memberikan rekomendasi mengenai pembangunan rumah yang lebih responsif terhadap tapak untuk beberapa warga desa) . Meski tidak semua program pokok saya terjalani dengan sempurna, dapat saya katakan terjalani dengan cukup baik, terutama untuk hal-hal yang saya temukan secara interpersonal maupun intrapersonal selama menjalankan program.

Caretaking Needs Commitment

nama-nama peserta KKN, mengenali barang-barang saya, dan mengingat hampir setiap perkataan saya. 3. Mereka merayakan hidup setiap hari – pengamatan saya, semua orang di sini sangatlah menyukai pesta dan sangat memberikan yang terbaik dalam setiap momen. Dapat dikatakan royal, but... they know how to have fun. Ini yang menurut saya menarik, bahwa kita (atau mungkin saya saja) sering kali terlalu larut dalam sebuah masalah/pekerjaan/kesibukan/kek hawatiran terhadap masa depan, sampai menjadi kaku; lupa caranya membangun relasi yang ringan; bahkan lupa menjadi manusia yang 'normal'.

Merayakan Hidup Setiap Hari, Sip!

kiri dan kanan hampir seimbang, bahkan beberapa di antaranya dapat menggunakan keduanya – di mana berdasarkan penelitian, pengguna tangan kiri memiliki tingkat kreativitas yang lebih tinggi dibanding pengguna tangan kanan. 2. They pay attention to details – mereka dengan mudah menghafal

Mama Asuh Saya dan Cerdas: Bisa Menggunakan Tangan Kiri dn Kanan, Menguasai Bahasa Isyarat

Termasuk juga beberapa hasil yang menurut saya cukup menarik:


96

[Cerita Dari Watukamba] 97

With power and love forward to your life.

3. bagaimana ternyata saya dapat

merasakan nilai-nilai positif dari kehidupan komunal, bahkan bisa menyukainya, dan terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah komunal;

Yuramia Oksilasari

Stefania Novecarlita Ie, Adik Saya yang Pertama

Christiano Junior, Adik Saya yang Kedua

Belajar Matematika

6. setelah saya melakukan Kerja Praktek dan

If You Want To Ga Fast, Walk Alone. But If You Want To Go Far, Walk Together

Hayo, yang Mana Mahasiswa UGM, yang Mana Warga Lokal?

4. mengunjungi tempat wisata terkenal

(Danau Kelimutu dan Pantai Koka) bersamasama dengan warga lokal, tanpa saya merasakan gap antara peserta KKN dengan warga lokal karena sebenarnya kami sudah cukup blending; 5. merasakan ilmu yang sangat bermanfaat

karena secara praktis mampu saya bagikan pada anak-anak SD Inpres Nanganio, juga perasaan nostalgia masa bersekolah dasar;

sekarang Kuliah Kerja Nyata, saya menyadari bahwa saya jauh lebih tertarik dengan ranah sosial ketimbang ranah arsitektur (secara harah), bahwa saya juga lebih menyukai desain gras ketimbang desain arsitektur; bahwa saya lebih paham dalam membahas arsitektur ketimbang melakukan arsitektur; sebuah fakta yang cukup menghentak tapi memang begitu adanya;

10. bagaimana membersihkan sisik dan

7. belajar berdansa dan merayakan hidup;

insang ikan;

8. mendengarkan curahan hati seorang warga lokal yang mendamba kisah kasih bersama salah satu peserta tim KKN, namun tidak tahu harus membuat pergerakan seperti apa – sehingga hal tersebut sungguh membuat saya tergelitik di dalam hati;

11. bahwa sahabat – dalam konteks ini,

9. keluarga asuh yang sangat menyayangi saya: Mama yang selalu menunggu saya pulang untuk makan bersama; Papa yang selalu berkata, “Biar Papa hantam kalau ada yang macam-macam sama Yura”; dan tangisan adik-adik yang selalu membuat saya sakit kepala tapi waktu saya menulis ini, kok, kangen juga, ya?

Menuju Timur

teman KKN – adalah keluarga yang saya pilih; 12. and counting my blessings then realizing just how amazing life is. Meski di awal KKN (jujur) saya pernah mencibiri, “How these people can live, but more than that, settle down in place like this?” pada akhirnya -- Flores yang (ternyata dapat juga) menghipnotis – berhasil mengubah cibiran saya menjadi pertanyaan: “How to not in love with this place?”


98

[Cerita Dari Watukamba] 99

oleh: Pendikary Pasaribu

[ Sejenak Bersama Watukamba ]

Pendaratan mulus oleh pilot di bandara Ende memulai perjalanan baru sekitar tujuh minggu ke depan. Kedatangan kami di bumi Ende ini disambut oleh langit biru cerah. Sengatan matahari yang panas menemani perjalanan menuju ruang tunggu di bandara. Bandara kecil yang tak pernah terbayangkan sebelumnya menjadi persinggahan sementara sebelum menuju rumah penginapan. Penantian di ruang tunggu terasa lama, tak banyak suara yang keluar dari mulut. Salat Ashar dilaksanakan oleh teman yang beragama Muslim. Perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju rumah penginapan sementara sebelum menuju desa tujuan KKN ini.

Pendaratan Mulus oleh Pilot

Brieď€ ng di rumah penginapan sementara ini membahas mengenai kegiatan besoknya di Universitas Flores serta rencana perjalanan menuju desa tempat KKN. Perjalanan singkat di Kota Ende menunggu berbuka puasa, berkeliling menuju tempat-tempat yang sering dikunjungi di Kota Ende seperti rumah pengasingan presiden pertama Indonesia, pelabuhan bongkar muat, lapangan bola, Taman Soekarno dan Patung Ende.

Malam pertama di Kota Ende dihabiskan dengan bermain kartu, menonton dan berbagi cerita. Menjelang sebelum subuh, teman yang beragama Muslim bangun lebih cepat. Mereka akan melaksanakan ibadah puasanya, sahur di tanah orang lain yang jauh dari orang tua dan kemudahan di kota besar memberikan sensasi tersendiri. Menunggu kedatangan makanan yang telah dipesan di mana jam hampir menuju Imsak. Semua semakin heboh, satu persatu segera mengeluarkan makanan kecil yang telah disiapkan sebelum keberangkatan kemarin. Makanan untuk sahurpun datang, makanpun dipercepat. Pagi hari pertama di Kota Ende, semua bersiap menuju Universitas Flores sesuai jadwal yang telah ditentukan. Waktu yang cukup singkat untuk perjalanan menuju Universitas Flores. Suasana kegiatan pendidikan sangat terasa, dimana banyak pemuda/i penerus generasi berlalu lalang. Letak bangunan kampus yang berada di atas bukit memberikan rasa takjub bagiku, mahasiswa harus berjalan mendaki setiap menuju perkuliahan. Acara pada pagi hari ini berupa peresmian Pusat Studi Kebencanaan bentuk kerja sama antara Universitas Gadjah Mada dengan Pemerintah Kabupaten Ende serta pelepasan Tim KKN-PPM UGM oleh bapak Bupati Ende. Kegiatan ini berjalan dengan lancar hingga selesai. Tiba bagi kami untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju desa tujuan KKN kami yaitu Desa Watukamba.

Perjalanan kali ini cukup lama, sekitar tiga jam. Pemandangan bukit hijau dan langit biru menemani selama perjalanan. Tidur menjadi pilihan yang tepat untuk membunuh kebosanan. Bagi kami yang berasal dari kota yang berfasilitas lengkap, sinyal HP salah satu yang terpenting. Semua mulai lebay ketika sinyal HP hilang ketika hampir tiba di Desa Watukamba, padahal semua orang sudah mengerti sebelumnya bahwa kita akan menuju desa dengan keberadaan sinyal yang susah. Telkomsel satu-satunya provider yang dapat memberikan pelayanan bagi kami yang selalu haus dengan informasi dunia luar. Memiliki kartu sim Telkomsel merupakan pilihan yang tepat sehingga sebelumnya semua orang sudah mempersiapkan dari Kota Ende. Kedatangan kami telah ditunggu oleh warga desa, kami disambut dengan keceriaan. Ucapan selamat datang, perkenalan singkat dan arahan-arahan dari perangkat desa sebagai pembukaan kedatangan kami, tak lupa juga suguhan makan siang. Barang bawaan pun diturunkan, saatnya untuk menuju rumah persinggahan masing-masing sesuai dengan rencana yang telah disusun. Rencana sedikit berubah kepada kami para cowok ini, kami tidak menuju ke masingmasing rumah warga tetapi di posyandu. Bangunan kecil sebagai tempat menyambut kedatangan kami inilah yang akan menjadi tempat tinggal kami hingga tujuh minggu ke depan. Sebagai cowok sejati, kami cowok-cowok membantu memindahkan seluruh barang cewek menuju rumah warga.


100

Naik Turun Perjalanan

Makan malam pertama kali di Desa Watukamba begitu ramai. Kami cowok berdelapan belas dengan penghuni rumah sebelah Posyandu yang menampung kami makan malam bersama. Selesai makan, salah satu dari warga desa membawa moke. Moke merupakan minuman khas di Pulau Flores dengan rasa pahit dan kadar alkohol yang lumayan tinggi. Moke terbuat dari distalasi air pohon aren. Minuman ini dibagi ke setiap orang yang 'boleh' meminumnya. Aku ikut meminumnya, terasa hangat di perut di malam hari yang dingin. Kami hanya meminum sedikit, sebagai penghangat di malam hari. Dari malam ini hingga malam-malam selanjutnya, hingga sebelum pulang kembali ke Yogyakarta kami akan makan malam bersama dengan suasana ramai ini.

[Cerita Dari Watukamba] 101

Tidur malam bersama delapan belas orang dan hanya beralaskan tikar dan sleeping bag. posyandu sebagai rumah persinggahan kami ini hanya memiliki tiga buah ruangan. Ruang utama dengan ukuran tiga kali enam, diisi sebanyak dua belas orang dan dua ruangan seperti kamar dengan ukuran tiga kali tiga, diisi tiga orang di setiap kamarnya. Sempit dan berdesakan merupakan dua hal yang dirasakan di malam pertama. Kami tidur tersusun layaknya ikan sarden kalengan, tertata rapi sama panjang. Tapi ini bukanlah masalah yang besar. Semua tertidur dengan nyenyak, tetapi aku dibangunkan ketika langit masih gelap. Suara alarm yang sangat ribut dari setiap HP sangat mengganggu. Inilah yang terjadi di setiap harinya hingga bulan Ramadhan selesai. Suara alarm yang hanya membangunkanku. Aku mematikan semua alarm ini, mulai membangunkan mereka yang akan menjalankan ibadah puasa. Hal ini selalu berulang setiap harinya, terbangun ketika subuh akan menghampiri dan membangunkan mereka. Ketika matahari mulai keluar dari persembunyiannya, semuanya mulai bangun dari tidurnya. Segelas teh hangat dan kudapan kecil telah disediakan oleh mama asuh kami. Mama Tince begitu sebutannya yang menjadi mama asuh kami hingga tujuh minggu ini. Mama Tince yang mengatur segala kebutuhan makan kami mulai dari pagi hingga malam.

Selain itu kegiatan di sore hari yang selalu kami lakukan yaitu mengunjungi dermaga. Menikmati terbenamnya cahaya mentari secara perlahan. Senja di langit Ende di Desa Watukamba yang berwarna biru oranye yang begitu indah, pemandangan yang tak akan pernah lagi ku temukan di Yogyakarta. Pemandangan senja ini tidaklah sama di setiap harinya. Mama Tince dan Teman Saya, Kiko

Di pagi hari ini kami memulainya kegiatan KKN ini dengan berjalan menelusuri setiap pelosok desa yang dapat kami raih dan bercengkerama dengan warga adalah dua hal yang kami lakukan untuk mendapatkan kondisi eksisting dari desa ini. Kegiatan ini kami lakukan setiap harinya di minggu pertama tiba di Desa Watukamba. Perkenalan diri ke setiap warga desa yang kami temui, memperhatikan bagaimana cara hidup mereka, permasalahan yang dapat kami rasakan dan kami temui, ataupun permasalahan dari hasil bercengkerama dengan warga. Semuanya itu kemudian kami ingat untuk dibicarakan di rapat tim ini. Sore hari selalu menjadi waktu bagi warga desa untuk berolahraga. Para pemuda bermain voli dan sepak bola. Permainan bola voli adalah olahraga yang bisa dilakukan oleh setiap warga desa. Permainan bola voli yang berkualitas menjadi tontonan di setiap sorenya. Aku yang sedari dulu tidak pandai bermain voli mulai berlatih di setiap sorenya. Kami bersama warga desa bermain bersama.

Selama seminggu pertama kami ini, aku banyak menemukan permasalahanpermasalahan baik dari keluhan warga ataupun permasalahan yang dapat kurasakan sendiri. Membuang sampah secara sembarang, tidak adanya tempat pembuangan sampah, tingkah laku anakanak yang terkadang sangat nakal, air bersih yang terkadang tidak mengalir, kecepatan kendaraan yang tinggi dan permasalahan lainnya. Selain itu ancaman bencana alam juga menjadi hal yang harus kami perhatikan. Kegiatan di hari pertama minggu kedua, kami melakukan pemaparan beberapa program yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan maupun memberi nilai tambah kepada warga Desa Watukamba. Pemaparan yang dihadiri beberapa warga berjalan lancar, warga menerima seluruh bentuk rencana program yang akan dilaksanakan. Rapat koordinasi juga dilakukan antara Tim KKN dengan Karang Taruna Desa Watukamba. Koordinasi ini guna menghidupkan kembali fungsi Karang Taruna yang telah lama vakum yang juga merupakan salah satu program yang akan dilaksanakan.


102

Kesibukan lainnya pada minggu kedua ini antara lain pendetailan kegiatan dari tiaptiap rencana program, persiapan bahan dan alat untuk program dan juga rapat koordinasi tiap klaster dalam unit KKN. Di akhir pekan pergi ke pasar merupakan kegiatan yang sangat menarik. Pasar yang hanya berlangsung sekali dalam seminggu yaitu hari Sabtu. Perjalanan menuju pasar dilalui dengan berjalan kaki yang cukup jauh. Ukuran pasar ini tidaklah begitu besar, pedagang yang berasal dari berbagai desa di sekitar Kecamatan Maurole. Para pedagang menjual dagangan pada lapaklapak yang tersedia. Barang dagangan berupa sayur-mayur, rempah-rempah, pakaian, ikan, ayam dan barang elektronik.

[Cerita Dari Watukamba] 103

Minggu ketiga kami kegiatan berupa rapat koordinasi terkait program-program yang harus terlaksana dalam seminggu ini. Dalam minggu ini bulan Ramadhan berakhir, bagi umat Muslim merayakan Idul Fitri. Suasana Idul Fitri yang erat kaitannya dengan takbiran dan suara adzan. Hal ini berbeda di Desa Watukamba karena warga yang mayoritas beragama Katolik. Masjid terdekat di Desa Watukamba hanyalah satu dan berukuran kecil sehingga suasananya sangat berbeda dari keadaan ketika di Yogyakarta. Jamuan makan yang disediakan oleh warga desa yang merayakan tak lupa kami datangi. Jamuan makan sederhana nan hangat ini memberi kenangan tersendiri bagi kami yang sedang jauh dari orang tua.

Hari Pasar

Pada malam kedua hari raya Idul Fitri kami menghadiri acara perayaan Idul Fitri sederhana yang dilaksanakan oleh umat muslim di Desa Watukamba. Acara perayaan ini berlangsung dengan lancar yang diisi dengan ucapan selamat Idul Fitri, doa bersama, halal bi halal, jamuan makan dan tarian bersama ala Desa Watukamba. Tari ini disebut Ngawi, tarian yang dilakukan ketika ada perayaan-perayaan dan acaraacara penting. Tarian ini dilakukan oleh banyak orang secara bersama-sama membentuk lingkaran. Gerakan sederhana berupa langkah dan hentakan kaki yang dilakukan bersama-sama sehingga bergerak memutar.

Pada akhir minggu ketiga ini diakhiri dengan awal pelaksanaan program pemetaan Desa Watukamba. Kegiatan dari pemetaan ini disibukkan dengan survei ke setiap rumah warga di masing-masing dusun. Dari kegiatan survei ini, menambah ikatan kami di Desa Watukamba. Interaksi yang semakin banyak ke seluruh warga desa karena harus mengunjungi setiap rumah untuk melancarkan pemetaan ini. Di minggu keempat kami di Desa Watukamba, kegiatan yang kami lakukan sangat beragam. Kegiatan untuk menyelesaikan rencana program yang telah dipaparkan kepada warga desa. Kegiatan ini antara lain sosialisasi mitigasi bencana, penyuluhan tentang pertanian, pembangunan bak sampah di setiap dusunnya dan akhir dari survei pemetaan. Di pagi hari awal dari minggu kelima di Desa Watukamba, seluruh kegiatan berlangsung lebih pagi. Kegiatan belajar mengajar telah dimulai, program tim selama dua minggu ke depan akan dimulai setiap pagi hari yaitu mengajar anak SD. Pagi hari itu jalan raya telah terlihat lebih hidup, dipenuhi oleh siswa siswi dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Untuk program mengajar, tim KKN di bagi menjadi dua kelompok karena terdapat dua sekolah di Desa Watukamba. Aku berada di kelompok mengajar di SDK Watukamba. SDK ini berada di dusun atas yang lumayan jauh dari pusat perumahan dusun pesisir.

Selama mengajar di SDK Watukamba ini, aku bersama tujuh teman lainnya bisa merasakan permasalahan yang baru di Desa Watukamba. Akses listrik merupakan masalah utama di dusun atas di Desa Watukamba ini. Listrik yang hanya dihidupkan menggunakan genset dan beroperasi dari jam 18.30 hingga 22.30. Untuk mencapai SDK Watukamba ini kami harus berjalan selama 20 menit. Tidak hanya kami yang berjalan kaki, siswa siswi SDK ini juga harus berjalan kaki tetapi tidak seperti kami yang berjalan menyusuri jalan yang ada sebagian dari mereka bahkan harus menyusuri sungai. Ketika musim hujan mereka tidak masuk sekolah, karena aliran air sungai yang deras yang tidak bisa mereka lewati. Hal lainnya yang mengejutkan bagiku ialah kualitas pendidikan yang ada di SD ini. Kelas satu yang setengah dari jumlahnya tidak naik kelas, banyak siswa SD yang usia sudah setara dengan siswa SMP, dan juga fasilitas sekolah yang sangat minim. Namun ada satu hal yang sangat berbeda dengan siswa SDK Watukamba ini, kemauan untuk belajar mereka yang menjadi suatu kebanggaan bagiku. Walaupun mereka minim akan fasilitas sekolah tetapi kemauan belajarnya sangat tinggi. Antusias kepada kami ketika mengajar sangat tinggi. Mereka mendengarkan, mengikuti, ikut menjawab tanpa adanya keributan kelas seperti yang dihadapi di SD Nanganio.


104

Tipologi Rumah di Dusun Watukamba Atas

Hal lainnya yang mengejutkan bagiku ialah kualitas pendidikan yang ada di SD ini. Kelas satu yang setengah dari jumlahnya tidak naik kelas, banyak siswa SD yang usia sudah setara dengan siswa SMP, dan juga fasilitas sekolah yang sangat minim. Namun ada satu hal yang sangat berbeda dengan siswa SDK Watukamba ini, kemauan untuk belajar mereka yang menjadi suatu kebanggaan bagiku. Walaupun mereka minim akan fasilitas sekolah tetapi kemauan belajarnya sangat tinggi. Antusias kepada kami ketika mengajar sangat tinggi. Mereka mendengarkan, mengikuti, ikut menjawab tanpa adanya keributan kelas seperti yang dihadapi di SD Nanganio. Memasuki minggu keenam di Desa Watukamba antusias dari SDK Watukamba ini yang ku rindukan. Mengajar di SD Nanganio sangat berbeda dengan SDK Watukamba, dibutuhkan tenaga dan kesabaran yang ekstra untuk mengajar di sini. Perilaku siswa siswi yang sulit untuk dikendalikan, antusias yang rendah serta disiplin yang rendah.

[Cerita Dari Watukamba] 105

Di minggu keenam ini juga kami melaksanakan acara pertandingan antar dusun untuk meningkatkan kekompakan antar dusun dan sportivitas serta sebagai bentuk pelatihan bagi Karang Taruna dalam mel a ks a na k a n s eb ua h a ca ra b es a r. Pertandingan Voli merupakan pertandingan utama yang sangat menarik perhatian. Permainan voli yang mengagumkan serta kualitas pemain yang tinggi menjadikan pertandingan ini meningkatkan antusiasme warga untuk berpartisipasi baik sebagai pemain ataupun penonton. Pertandingan yang dilaksanakan setiap sore di minggu keenam ini berjalan dengan lancar, di akhir pekan kegiatan ini ditutup dengan penyerahan hadiah kepada masing-masing pemenang yang sekaligus acara perpisahan oleh Tim KKN dengan warga desa.

Perjalanan selanjutnya menuju Pantai Koka yang terkenal dengan keindahannya. Pantai berpasir putih diapit oleh tebing yang tinggi. Pemandangan yang sangat baik dari atas tebingnya serta ombak hempasan ombak yang menjadi pertunjukan yang luar biasa. Perjalanan wisata singkat bersama menjadi penutup kegiatan KKN kami dengan warga Desa Watukamba. KKN ini memberi kenangan yang tak terlupakan kurang lebih tujuh minggu bersama tiga puluh mahasiswa yang berasal dari seluruh fakultas, berbeda pemikiran dengan satu tujuan. Perjalanan selanjutnya ialah Bandara Maumere, pintu keberangkatan kami menuju kehidupan perkuliahan. Selamat tinggal Desa Watukamba, selamat tinggal Bumi Ende, selamat tinggal Flores. SD Katolik Watukamba dengan Kondisi Memprihatinkan

Memasuki minggu ketujuh diawali dengan perjalanan di pagi hari menuju Kota Ende. Perjalanan ini guna menghantarkan laporan pertanggungjawaban dan rekomendasirekomendasi kepada SKPD Kabupaten Ende. Perjalanan menggunakan angkutan umum yang disebut oleh warga lokal sebagai oto. Oto ialah mobil truk yang diubah menjadi angkutan umum dengan memanfaatkan baknya menjadi tempat penumpang. Keesokan harinya kami seluruh tim bersama bapak dan mama asuh melakukan perjalanan menuju Danau Kelimutu yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Ende. Danau dengan warna air yang selalu berbeda. Kami mendapat kesempatan mendapatkan pemandangan air berwarna hijau tosca.


106

[Cerita Dari Watukamba] 107

Masyarakat Kecamatan Maurole secara umum sangat toleran terhadap perbedaan agama, terutama di Desa Maurole menjadi pusat aktivitas dimana di situlah banyak orang perantuan berada. Sehingga tidak heran bahwa satu-satunya masjid yang ada di sini adalah di Maurole yang berjarak 1 km dari pondok kami. Toleransi lainnya dapat ditunjukkan dari setiap pesta yang ada diadakan di sini. Sebagai contoh pesta lebaran, walaupun itu hari raya umat muslim tapi semua warga baik muslim atau tidak juga tetap diundang. Begitupun sebaliknya, pesta yang diadakan oleh orang Katolik juga melibatkan orang non-Katolik. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya kesamaan acara pada setiap pesta, yaitu MOKE dan JOGED. KKN = Kuli (?) Banyak program yang kami jalankan di sini. Di samping setiap anak diwajibkan mengerjakan lima program pokok, kami mendapat banyak tugas yang mungkin kami tambah sendiri karena melihat banyak sektor yang harus dibenahi. Tuntutan warga juga ikut mengambil bagian dalam apa yang akan kami kerjakan nantinya. Bagi mindset masyarakat, tim KKN adalah seperti sekumpulan mahasiswa yang kasarannya seperti kuli. Maka dari itu, jika ingin memberikan kesan yang baik di Desa maka pembangunan ď€ sik perlu dilebihkan. Bukan karena kami ingin memanjakan paradigma yang salah dari masyarakat, namun kami memang ingin menunjukkan kesan terbaik sekaligus meluruskan maksud dan tujuan KKN sebenarnya.

Kerja "kuli" ini cukup banyak kami kerjakan, seperti membuat bangunan semen, mengecat, membuat plang, dll. Hal iu nampaknya memang wajar bagi mahasiswa KKN. Tapi satu hal yang membuat saya menikmatinya adalah saya bisa BELAJAR. Belajar bagaimana mengaduk semen, membuat plester, mengecat, membuat plang, dll. Hal-hal seperti ini hampir tidak bisa saya lakukan di daerah asal saya, saya lebih banyak menonton dan terpukau dengan tangantangan handal seorang tukang. Dengan KKN ini, menjadi tukang ternyata cukup berat sekaligus menyenangkan, dan membutuhkan keuletan bahkan jiwa seni. Di Tim KKN ini, kami banyak belajar dari sosok Pak Nelis. Pak Nelis ini sangat handal dalam hal tukang-menukang, baik menjadi tukang kayu atau menjadi tukang bangunan. Bapak kepala dusun Aepetu ini sudah jadi idola dari tim kami. Beliau tidak hanya handal dalam menjadi tukang, tapi selalu memberi kesempatan pada yang mau belajar.

Proses Pembuatan Tugu Batas Desa

Menjadi Guru SD Kita juga belajar bagaimana menjadi guru, guru SD lebih tepatnya. Tidak seperti yang kami bayangkan, kami kira mengajar di SD sangat menyenangkan, bertemu dengan anak-anak yang lucu dan masih polos. Ternyata semua itu BERBEDA. Saya mengajar di dua SD, yaitu di SDK Watukamba dan SD Inpres Nanganio. SDK Watukamba terletak di Dusun Watukamba. Dusun yang penuh dengan keterbatasan, maka tidak heran kualitas pendidikan di sana juga masih kurang. Awal kami menyadari adalah ketika berkenalan dengan anak SD kelas 1. Mereka cukup pasif dan takut, atau lebih tepatnya malu kepada kami. Setelah kami telusuri kebanyakan dari mereka memang tidak melalui Taman Kanak-Kanak dan langsung dihadapkan dengan apa itu sekolah, apa itu guru, dan ditambah siapa KAMI. Apa yang terjadi pada kelas 2-6 tidak semengejutkan kelas 1. Kelas 2 hingga kelas 5 cukup aktif seperti pada umumnya, sedangkan kelas 5 mulai pasif dan malumalu. Antusias sangat tinggi ditunjukkan oleh anak-anak SDK Watukamba. Mereka memang seperti kekurangan bahan hiburan, mengingat tidak adanya listrik di sana. Kami sangat menanggapi dengan antusias pula, hati kami tergugah. Kami mulai mencintai mengajar di sana dengan segala keterbatasan. Kami berjalan kurang lebih tiga puluh menit untuk mencapai sekolah dari pondokan kami. Di minggu mengajar ini kami merasakan betul apa itu KKN.

Walapun hanya empat hari di sana, saya sendiri cukup sedih harus berpisah dengan mereka. Yang membuat saya sedih adalah apa yang telah kami lakukan di sana belum cukup membantu mereka. Keterbatasan waktu disebabkan oleh ketidaktahuan adanya Dusun Watukamba seperti yang sudah dijelaskan. Minggu kedua saya mengajar, saya mencoba mengajar di SDN Nanganio. Perbedaan cukup jauh, baik secara kualitas sekolah atau kualitas murid. Saya mulai berpikir apakah perbedaan fasilitas sekolah atau faktor lokasi di dusun Watukamba, atau kualitas anak-anaknya. Saya kira semuanya ikut berperan, fasilitas sekolah seperti tenaga pengajar mungkin berpengaruh. Lokasi yang tidak adanya distribusi listrik menjadi faktor paling kuat, karena anak-anak di atas (Dusun Watukamba) kekurang informasi yang di dapat. Untuk kualitas anak-anak di atas mungkin saya kurang setuju, saya kira semua anak adalah sama, hanya lingkungan yang paling mungkin membentuk anak-anak. SD di bawah (SDN Nanganio) langusng memberikan perbedaannya. Masuk kelas 1, kelas ini berisikan anak-anak bandel yang susah di atur. Mereka sangat aktif dan kurang peduli dengan kami. Untuk kelas 2-5 memiliki tabiat yang sama, sangat NAKAL. Tapi dengan keaktifan yang mereka lakukan membantu proses belajar mereka secara tidak langsung. Terbukti dengan kualitasnya yang cukup baik secara materi. Mungkin kelas 6 di atas bisa setara dengan kelas 4 atau kelas 5. Hal itu diuji dengan pelajaran matematikanya.


108

[Cerita Dari Watukamba] 109

oleh: Aan Arya Pambudi

[ Dilatasi Persona dan Watukamba ]

Internalisasi Kuliah Kerja Nyata atau orang-orang sering menyebutnya dengan KKN, walaupun UGM mengimbuhinya dengan PPM atau Pembelajaran Pengabdian Masyarakat merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. UGM sudah lama menjadi trending dengan KKN-nya yang tersebar di seluruh Nusantara, yang semakin melabelkan dirinya sebagai Kampus Kerakyatan. Kami sendiri ditempatkan pada Unit NTT-04 yang berletak di Desa Watukamba, Kec. Maurole, Kab. Ende, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Flores. Kami bertiga puluh yang berasal dari macam-macam studi yang kami pelajari mencoba menyatu untuk membuat Desa yang kami tinggali dalam tujuh minggu kedepan ini akan lebih baik secara pola pikir masyarakat atau secara pembangunan sik. Tema yang kami bawakan adalah tentang Mitigasi Bencana dan Peningkatan Kualitas Hidup dengan Penyediaan Air Bersih. Saya Sendiri, Aan Arya Pambudi, Prodi Fisika dari FMIPA. Saya masuk dalam klaster Saintek dan fokus pada pembangunan sik yang sesuai dengan Tema dan programprogram lain yang bersesuaian dengan bidang yang saya geluti. Saya sudah siap dengan segala konsekuensi ketika tiga puluh kepala dan empat klaster bekerja sama demi sebuah matakuliah 3 sks ini. Memang kami disini hanya menjalani mata kuliah saja, dan awalnya saya berpikir semua itu cepat selesai dan segera mendapatkan nilai nantinya.

Percaya atau tidak, sisi kemanusiaan kami di sini bangkit dan kami ingin melangkah LEBIH dari itu. Adaptasi (Mitos Desa) Tanggal 19 Juni adalah hari dimana kami mengangkat kaki dari Jogja menuju Ende. Di Ende kami menginap sehari yang disambut hangat oleh warga Ende dan dari Unior (Universitas Flores). Kemudian kami dilepas secara formal oleh Bupati Ende dan penerjunan langsung ke Desa Watukamba. Desa Watukamba terletak di tepi pantai dan bahkan beberapa rumah warga tepat di pantainya. Pemandangan laut bisa langsung terlihat hanya dengan keluar pondokan. Kondisi di sini cukup panas di siang hari dan cukup dingin di malam hari. Desa Watukamba terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Watukamba, Dusun Wolosambi, Dusun Nanganio, dan Dusun Aepetu. Dusun Watukamba terpisah dan berada di atas bukit, sedangkan dusun lainnya berada di tepi pantai. Memang ada keanehan tentang letak desa watukamba ini, dan semua ini ada sejarahnya. Kami para laki-laki tinggal bersama di dusun Nanganio tepatnya di Posyandu Desa. Sedangkan para perempuan tinggal bersama orang tua asuh di rumah masingmasing. Desa Watukamba bagian bawah (tepi pantai) tidak cukup luas, sehingga kami cukup sering bertemu satu sama lain.

Warga di sini sangat ramah dengan kami. Kami tidak hanya dianggap sebagai tamu besar, tetapi dianggap juga sebagai keluarga baru. Setiap malam diajak makan besama dengan keluarga Papa Rosy dan Papa Lorenz. Kedua keluarga ini yang menjamin kehidupan kami di sini dan berperan sebagai bapak asuh kami. Dan sesosok yang paling berperan dalam kelangsungan hidup kami adalah Mama Tince. Sosok Ibu yang cukup menyenangkan, hangat, dan nyaman. Dengan ketawa kerasnya yang khas buat kami tertawa bersama dalam keseharian kami. Permasalahan Sosial Watukamba Mayoritas warga Desa Watukamba adalah penganut Katolik dan sebagian kecil Muslim. Saya seorang Muslim, awalnya memang cukup berat beradaptasi di sini. Kami harus menghindari segala sesuatu yang diharamkan agama saya. Seperti "Moke", minuman memabukkan yang justru menjadi kebanggaan desa sini. Karena begitu berhaganya disini maka setiap bertamu pasti akan ditawarkan. Kami yang beragama muslim selalu membuat beribu alasan agar bisa menolak, meski di samping itu kami juga tidak enak menolak ketulusan mereka.


110

Bagaimanapun mengajar di SD gampanggampang susah. Pelajaran SD memang mudah, tapi yang menjadi susah adalah bagaimana kita membuat anak-anak paham dengan apa yang kami sampaikan. Menjadi guru SD tentu tidaklah mudah, dan tanggung jawabnya besar untuk menumbuhkan anak bangsa. Rekomendasi untuk KKN tahun depan adalah bagaimana memaksimalkan program mengajar dengan handout materi dari peserta KKN itu sendiri. Mereka lebih menerima sesuatu yang berbentuk ď€ sik daripada hanya sekedar materi lisan, yang mungkin suatu hari bakal dilupakan. Berilah handout yang memang tidak disediakan oleh sekolah, seperti pelajaran bahasa inggris. Dengan itu siswa akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar. Hal itu menjadi harapan dari tim KKN UGM kepada siswa sekolah, agar meningkatkan kualitas pendidikan. Ide ini bisa diterapkan untuk SDK Watukamba dan SD Inpres Nanganio. Khusus untuk SDK Watukamba, pelajaran matematikanya perlu diberi perhatian. Tambah juga jam mengajar di SDK Watukamba.

[Cerita Dari Watukamba] 111

Dusun Watukamba yang Terselubung Jauh-jauh hari sebelum penerjunan kami dibagi dalam tiga sub unit atau tiga dusun, yaitu Wolosambi, Nanganio, dan Aepetu. Tak disangka-sangka kami melakukan sosialisasi di sebuah dusun yang tentunya masih dalam Desa Watukamba dan bernama Dusun Watukamba. Hampir semua perangkat desa berada di dusun tersebut. Mengapa dusun ini tak kami sadari? Dusun Watukamba terletak di atas bukit dengan perjalanan sekitar empat puluh menit dari pondokan kami. Berbeda dengan tiga dusun lainnya yang terletak di tepi pantai. Dusun Watukamba tidak terdistribusi listrik oleh PLN. Beberapa warga menggunakan Gainset (Jenset), itu pun dinyalakan dari jam 7 malam hingga jam 11 malam. TV sangat terbatas, satu TV ditonton oleh beberapa rumah. Hal semacam ini sering saya dengar dari orang tua saya ketika masih kecil dan masih sekolah. Dengan kata lain Dusun Watukamba tertinggal sekitar empat puluh tahun. Kondisi alam masih asri, benar-benar masih banyak vegetasi. Vegetasi yang populer di sana adalah pohon enau. Pohon enau adalah pohon aren, dari pohon bisa menghasilkan produk yang proď€ t bagi warga watukamba. Pohon Enau bisa menghasilkan gula aren dan MOKE. Dari sinilah semua berasal. Dusun watukamba adalah pusat pembuatan moke, dan dengan kata lain menjadi pusat tradisi Desa Watukamba.

Walaupun dusun ini menjadi pusat desa dan terdapatnya induk rumah adat, tapi kredibilitasnya masih kurang. Keterbatasannya listrik menjadi akar dari keterbelakangan dusun ini. Hal ini membuat masyarakatnya sendiri menjadi kurang informasi. Rekomendasi untuk KKN berikutnya adalah adanya upaya untuk membuat dusun Watukamba dapat terdistribusi listrik. Teknologi energi terbarukan seperti panel surya masih mungkin dilakukan, atau adanya rekomendasi dari tim KKN UGM kepada PLN. Karena masalah distribusi listrik di sini dibuat rumit oleh pemerintah. Miris memang, walaupun masih 1 desa namun adanya kesenjangan hidup yang kontras. Chelsea yang Semangat Bertanya Soal Materi


112

[Cerita Dari Watukamba] 113

oleh: Ryan Henry Pandjaja

[ Catatan Akhir KKN ]

Selamat siang, perkenalkan nama saya Ryan, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya yang luar biasa di Tanah Flores ini. Cerita ini bermula ketika saya berkuliah di Universitas Gadjah Mada tepatnya di Departemen Kimia Fakultas MIPA. Tak terasa saya telah menginjakkan kaki di semester enam yang bisa dibilang sudah senior di kampus karena sudah tahun ketiga dan mata kuliah wajib terakhir sebelum skripsi hanya ada di semester ini. Ada sisi positif dan negatifnya juga sih di semester enam ini, selain masa-masa melelahkan diakhiri di sini karena kuliah sambil praktikum yang menuntut kita untuk pulang sore dan laporan praktikum juga harus dibuat pula, belum lagi pulang praktikum badan sudah capek semua rasanya. Saya pun menjalani hari-hari di kuliah semester enam ini dan akhirnya saya tiba di akhir-akhir semester enam. Sebelum memasuki liburan, teman-teman saya sudah ramai dengan perbincangan yang sama topiknya yaitu seputar KKN. Hampir di setiap waktu mereka membicarakan tentang KKN ini dan banyak juga yang sudah memiliki kelompok KKN dan ada juga yang menjadi tim pengusul sedangkan saya sih masih biasa-biasa saja tidak terlalu excited tentang KKN karena saya masih belum tau apa-apa tentang KKN itu. Hari demi hari berlalu, hampir semua kawan sejurusan saya telah memiliki lokasi KKN dan telah melakukan persiapan sedangkan saya masih bingung apakah saya mau KKN di masa-masa liburan ini yaitu di antar semester seperti hampir semua teman sejurusan saya atau tahun depan saja.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk KKN di antar semester ini setelah berkonsultasi dengan teman-teman dan pengurus kost saya, dan saya pun memutuskan untuk ikutan plottingan saja dari LPPM karena tidak ingin ribet mencari-cari kelompok pikirku. Tetapi saat hampir memasuki liburan saya kepikiran karena belum punya kelompok sehingga saya coba mencari kelompok yang masih OpRec waktu itu dan saya coba wawancara, tetapi saya tidak lulus wawancara dan info tentang kelompok yang masih membuka OpRec pun sudah habis karena ya mungkin sudah semakin dekat dengan KKN juga sehingga akhirnya saya pun ikut plottingan. Pada beberapa hari sebelum plottingan ini, saya masih ditawarkan oleh teman saya untuk ikut KKN di Papua tetapi tiba-tiba saat H-1 plottingan ini teman saya mengatakan kalau kelompok mereka sudah penuh sehingga saya pun ikut plottingan juga akhirnya. Saat plottingan ini saya memilih lokasi di luar Jawa karena pikirku biar bisa sekalian jalan-jalan gitu jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kalau kata peribahasa sih. Saya tertarik dengan salah satu lokasi dan tema yang saya lihat setelah melihat-lihat daftar lokasi dan tema yang tersedia saat plottingan, saya tertarik di salah satu lokasi di NTT karena saya membaca kata penyediaan air bersih pada temanya sehingga pikiran saya pasti ada anak kimia juga di sana jadi seengganya udah punya kenalan di sana biar ngga jadi stranger amat.

Saya memilih lokasi NTT-04 tersebut, dan akhirnya tiba saatnya pengumuman plottingan ini dan muncul tiga puluh nama termasuk saya yang masuk di kelompok tersebut, saya pun mencatat semua nama dan fakultas dari semua anggota di kelompok saya dan berusaha mencari kontak mereka saat itu juga. Akhirnya saya berhasil menemukan salah satu kontak mereka, dan saya meminta langsung dimasukkan ke grup KKN di aplikasi Line. Saya pun berkenalan dengan yang lainnya di grup chat tersebut tetapi belum pernah bertemu dengan mereka secara langsung karena tidak ada yang saya kenal di sana dan jauh dari ekspektasi saya dimana tidak ada satu pun anak kimia di sana. Pada suatu hari ada jadwal untuk bertemu dengan DPL dan saya pun cukup excited untuk bertemu mereka. Saya pun bertemu dengan mereka dan berkenalan dengan mereka dan juga bertemu dengan DPL yaitu Pak Ashar dan mendengarkan penjelasan dari beliau. Saya skip saja langsung ke hari keberangkatan kami untuk menghemat lembar paper ini, akhirnya kami berangkat dari Bandara Adisucipto Yogyakarta menuju ke Ende dan transit dahulu di Bali. Di hari keberangkatan saya cukup sial karena pada saat mengurus bagasi, KTP saya jatuh dan masuk ke mesin di bandara sehingga tak bisa diambil jadi agak badmood ketika di pesawat. Setelah sampai di Ende saya melihat kota Ende ini cukup bagus walaupun panas cuacanya sehingga saya membayangkan KKN yang tidak terlalu susah di sana.


114

Acara resmi kami diawali dengan peresmian Pusat Studi Bencana di Universitas Flores dan kami sempat berjumpa dengan Bapak Bupati di sana. Setelah acara tersebut selesai kira-kira pukul 11 kami meluncur ke lokasi KKN kami yang sebenarnya yaitu di Desa Watukamba, perjalanan cukup jauh walaupun di perjalanan pemandangan pantainya cukup menghibur kami semua yang pada saat itu mengantuk. Kami sampai di lokasi dan langsung ke kecamatan terlebih dahulu untuk melapor dan setelah itu kami meluncur ke lokasi. Kira-kira pukul 3 sore kami sampai dan ternyata tidak sesuai dengan pemikiran saya, lokasi tempat kami KKN sepertinya cukup pedesaan dilihat dari rumahrumahnya yang terbuat dari kayu dan jarak antar rumah pun masih jauh sehingga saya berpikir kurang baik tentang desa ini, tetapi setelah saya amati ternyata tidak terlalu desa juga di sini karena sudah ada jalan raya, ada listrik juga dan air sudah mengalir dari PDAM walaupun ada yang kurang juga di sini yaitu susah sinyal. Sesampainya kami di sebuah tempat yang selanjutnya kami ketahui bernama posyandu ini kami disambut oleh bapa kepala desa dan yang lainnya dan kami pun memulai kata sambutan serta perkenalan.

[Cerita Dari Watukamba] 115

First impression dari tempat posyandu ini kurang baik bisa dibilang karena seperti gudang, kamar mandinya tidak ada bak mandinya dan tidak ada lampu dan ternyata laki-laki yang ada di kelompok kami semuanya menginap di posyandu ini sehingga membuat kami berpikiran agak bingung melihat ukuran posyandu yang kecil ini harus menampung 18 orang laki-laki beserta barang bawaannya yang agak banyak. First impression untuk orangorangnya menurut saya agak terlihat menyeramkan sehingga awal-awal tinggal di sini saya merasa agak canggung apalagi ketika melihat para pemuda setempat yang sedang berkumpul beramai-ramai membuat saya jadi takut walaupun hanya untuk lewat saja. Pada malam hari pertama kami disambut dengan acara makan bersama keluarga besar Mama Tince yang rumahnya berada di dekat posyandu, kami duduk melingkar dan makan bersama-sama dan setelah makan kami ngobrol-ngobrol untuk menambah keakraban. Menurut saya hal tersebut jarang saya alami di Jogja, biasanya saya makan hanya sendiri saja atau beberapa orang saja tetapi di sini kami makan bersama kira-kira 30 orang, tetapi hal tersebut terasa hangat karena adanya kebersamaan di sini dan karena kami disambut dengan baik di sini. Di sini juga air yang dialirkan dari PDAM kecil debitnya sehingga keluarga Mama Tince harus menampung air terlebih dahulu di wadahwadah seperti ember besar, dan bila kami para pria mau mandi harus mengambil air melalui ember dan dibawa ke kamar mandi untuk kami gunakan, dari situ saya mulai belajar mandi dengan air yang hemat

karena mandi sekali sehari saja di sini sudah bagus terkadang ada hari di mana air sama sekali tidak ada. Di posyandu juga saya baru pertama kali tidur di lantai dengan beralaskan sleeping bag saja, awalnya setiap saya bangun badan saya sakit semua terutama bagian punggung tetapi lamalama sudah terbiasa dan kami enjoy saja tidur beramai-ramai dan berdekatan seperti itu. Seminggu pertama jadwalnya kami untuk observasi, kegiatan berjalan santai karena kami hanya melihat-lihat keadaan desa dan juga berkenalan dengan warga-warga setempat sehingga rasanya seminggu pertama seperti liburan saja,setiap sore biasanya anak-anak KKN mampir ke dermaga yang jaraknya tidak jauh dari rumah pondokan dan posyandu karena pemandangan di sana sangat indah apalagi saat matahari terbenam sehingga sering dipakai sebagai background foto kami. Pada masa survei ini kami mengunjungi pantai-pantai, sekolah, rumah-rumah warga, rumah adat, pasar dan kami pun bertanya ke warga-warga setempat untuk memahami apa yang menjadi persoalan, apa yang dilakukan oleh tim KKN sebelumnya, apa yang kurang di sini dan apa yang bisa kami bantu agar desa ini menjadi lebih baik. Setelah survei tak lupa kami mengadakan rapat untuk menentukan proker yang mungkin dan yang krusial di tempat ini untuk kami kerjakan di sini.

Permasalahan yang saya temukan di sini yaitu di desa ini masih banyak yang membuang sampah sembarang karena tak ada sarana penampungan sampah dan pengolahan sampah yang kurang baik yaitu dengan pembakaran saja sehingga perlunya solusi yaitu pembuatan bak sampah sebagai tempat penampungan sampah sementara dan perlunya sosialisasi tentang pengolahan sampah terutama sampah organik, selanjutnya masalah kurangnya pengetahuan dan sarana mitigasi bencana alam padahal di sini lokasi pemukiman di pesisir pantai yang berpotensi terkena bencana tsunami sehingga perlunya sosialisasi mitigasi bencana alam dan pembuatan sarana mitigasi bencana alam contohnya jalur evakuasi dan titik kumpul sebagai solusinya, masalah selanjutnya yaitu kurangnya sarana pengumpul informasi karena informasi disampaikan hanya dari mulut ke mulut sehingga solusi yang bisa dilakukan yaitu pembuatan sarana papan informasi, selanjutnya belum ada peta dan penomoran di setiap rumah maka solusi yang bisa dilakukan yaitu pembuatan peta administrasi desa dan juga peta sebagai sarana mitigasi bencana alam dan dibuat penomoran di setiap rumah untuk mempermudah pencarian lokasi rumah, selanjutnya kualitas air yang berasal dari PDAM yang disebutkan telah memenuhi standar air minum masih perlu diuji kualitasnya sehingga solusinya yaitu dapat dilakukan pengukuran kualitas air dengan alat hanameter, selanjutnya yaitu warga di sini belum mampu mengatur keuangan dengan baik


116

sehingga perlu dilakukan sosialisasi untuk mengatur perekonomian masyarakat, selanjutnya kurangnya pengetahuan tentang iptek di perangkat desa maka perlu dilakukan pelatihan dasar-dasar komputer, dan belum ada rumah sakit, dokter dan obat-obatan yang memadai tetapi solusinya masih belum didapatkan. Masa observasi pun usai dan kami memasuki waktu untuk melaksanakan proker kami, saya termasuk ke dalam klaster saintek yang memiliki prioritas program kerja di sini yaitu pembuatan bak sampah, sosialisasi mitigasi bencana alam dan pembuatan peta dan ada juga proker lain yang tidak utama yaitu pembuatan tugu desa, pembuatan papan informasi, perbaikan posyandu dan sarana olahraga, dan program lainnya. Sebelum kami memulai program kami, dari setiap klaster memaparkan programnya kepada masyarakat agar kita beserta masyarakat dapat bersama-sama saling tolong menolong dalam pelaksanaan program ini agar lebih akrab dan lebih sustainable. Program pertama yang kami kerjakan yaitu pembuatan bak sampah dilakukan dengan pembuatan desain bak sampah, lalu pengumpulan material dan peralatan, dan pengerjaan bak sampah. Kami berencana membuat bak sampah 1 di masing-masing dusun di desa ini yaitu di Dusun Aepetu, Dusun Nanganio dan Dusun Wolosambi. Bak sampah pertama dibuat di Dusun Aepetu dan kami bersama-sama membuat bak sampah tersebut dibantu oleh warga dan anggota dari karang taruna dan bak sampah pertama pun berhasil kami buat.

[Cerita Dari Watukamba] 117

Pada proses pembuatan bak sampah ini kami belajar dari warga yang sudah berpengalaman dalam hal pembuatan fondasi, proses plester dan pengacian dan proses perataan, jujur saja ini menambah ilmu saya khususnya karena saya belum pernah mempelajari yang seperti ini. Program yang kami lakukan selanjutnya yaitu sosialisasi mitigasi bencana alam, dilakukan di posyandu dan pesertanya yaitu anggota karang taruna saja karena kami berencana untuk membentuk pemuda tanggap bencana yang anggotanya dari anggota karang taruna tersebut. Dari pemuda tanggap bencana tersebut nantinya agak diadakan sosialisasi lagi dan yang mempresentasikan materi sosialisasi tentang mitigasi bencana tersebut yaitu dari karang taruna dan pemuda tanggap bencana ini diharapkan dapat menolong warga yang lainnya apabila terjadi bencana alam. Selain mitigasi bencana alam, materi sosialisasi juga berisi tentang cara-cara pertolongan pertama apabila terjadi sesuatu, pertolongan pertama dapat dilakukan dengan RJP atau yang lainnya dan apa saja yang harus dilakukan agar pasien dapat ditolong sebelum petugas medis datang, materi tersebut disampaikan dan dipraktekkan dari klaster medika. Pada sosialisasi ini, materi selain bermanfaat bagi para karang taruna, juga menambah wawasan saya juga yang saat itu ikut memperhatikan pemateri yang menjelaskan sehingga wawasan saya bertambah.

Pada tanggal 6 Juni kami bersama-sama merayakan lebaran, saya ikut acara halal bihalal yang diadakan di sekitar posyandu dan yang membuat saya terkagum adalah toleransi yang ada di desa ini. Pada acara keagamaan ini diikuti bukan hanya dari warga yang beragama Muslim saja tetapi dihadiri oleh pemuka agama dari agama lain juga dan dari perangkat desa seperti ketua RT, ketua RW atau ketua dusun juga ikut meramaikan acara ini walaupun di sini mayoritas beragama Katolik di sini. Hal tersebut juga saya jumpai saat saya mengikuti acara keagamaan lain yaitu saat saya mengikuti misa arwah untuk agama Katolik dan dijumpai juga para pemuka dan perangkat desa dan warga yang beragama muslim sehingga di sini terjalin keakraban antar sesama umat beragama. Pada acara misa arwah ini, saya diajak oleh salah satu anggota gereja Katolik untuk mengikuti choir, saya sejujurnya mengaku saja bahwa saya belum pernah ikut choir dan suara saya juga biasa saja tetapi kalau suara tidak menjadi masalah tidak apa-apa saya ikut dan ternyata mereka pun tidak masalah jadi akhirnya saya ikut latihan choir itu pada H-4 sebelum acara dimulai. Pada latihan choir pertama saya masih canggung dan hanya menonton yang lain menyanyi saja. Hari kedua saya sudah mulai bernyanyi dan ternyata lagunya enak-enak walaupun berbeda dari lagu-lagu misa di Jawa. Saya sebenarnya kesulitan membaca not yang ada di kertas tetapi saya nyanyi saja.

Ada satu lagu yang menggunakan bahasa daerah di sini sehingga saya kesulitan dalam menyanyi dan yang lain menertawakan saya. Tibalah saat acara dimulai dan kami pun membawakan lagu-lagu dengan baik, saat lagu daerah tersebut dinyanyikan saya juga bingung kenapa bisa menyanyikan lagu tersebut dengan lancar dan mereka tidak lagi tertawa. Akhirnya kami pun membawakan lagu-lagu dengan cukup baik dan saya pun senang dapat ikut berkontribusi di sana. Hampir setiap acara di sini diakhiri dengan acara bebas yaitu acara di mana musik diputar dan para hadirin berjoget. Saya sejujurnya belum pernah berjoget seperti itu dari kecil sampai sekarang, cuma di sini saat saya ditarik ke tengah saya mau tidak mau mencoba saya berjoget dan saya enjoy saja menikmatinya, saya melakukan hal baru lagi untuk ke sekian kalinya di sini. Program yang ingin saya ceritakan selanjutnya yaitu saat mengajar di SDI Nanganio yang merupakan program dari klaster soshum. Saat rapat saya menjadi PJ kelas 2 di SD bersama teman saya Dwi jadi saya agak tenang saja karena saya menilai Dwi dapat berkomunikasi dengan muridmurid SD dengan baik, sedangkan saya sejujurnya kurang pengalaman dengan anak kecil jadi saya masih bingung saat berhadapan dengan anak kecil. Hari mengajar pun tiba dan partner saya ternyata tidak hadir, untung saja masih ada teman yang lain yang membantu saya di hari pertama sehingga saya cukup tertolong untuk berkenalan dengan kelas 2.


118

Di hari kedua saya awalnya sendiri tetapi karena pengalaman di hari pertama saya jadi cukup percaya diri untuk mengajar di kelas 2 sendirian dan hasilnya pun cukup baik. Sejak saya mengajar di kelas 2 ini saya jadi lebih sering berinteraksi dengan anak kecil dan hal tersebut merupakan hal yang berkesan bagi saya karena saya baru pertama kali melakukan hal tersebut. Setelah beberapa hari mengajar, saya merasa saya disukai oleh murid kelas 2 hal tersebut terlihat ke mana pun saya pergi mereka selalu nempel dan menggandeng tangan saya dan ini cukup membuat saya senang. Saat program pesta rakyat pun yang berisi lomba-lomba, saat lomba anakanak mereka langsung menghampiri saya saat saya datang ke lokasi lomba dan kami main-main di sana. Hal lain yang saya suka di sini yaitu semua warga baik anak-anak maupun dewasa mereka semua murah sapa sehingga setiap kali mereka bertemu dengan kami yang istilahnya orang baru di sini, mereka selalu menyapa kami saat berpapasan walaupun sebenarnya kami tidak saling mengenal yang penting kami saling sapa saja dan menurut saya itu hal yang luar biasa di sini. Mungkin saya tidak akan menceritakan semua program yang kami laksanakan karena terlalu banyak, dan semua cerita juga belum tertulis semua tetapi saya merasa bersyukur dapat melaksanakan kegiatan KKN di sini. Saya berharap semoga semua kenangan dan ikatan yang kami buat tak pernah hilang, tak pernah putus dan tak pernah bisa dihapus oleh apapun juga.

[Cerita Dari Watukamba] 119


120

[Cerita Dari Watukamba] 121

oleh: Arif Hidayatullah

[ 43 Hariku di Sini ]

KKN merupakan program pengabdian di masyarakat yang di adakan oleh universitas demi meningkatkan kualitas mahasiswa untuk terjun langsung dalam lingkup lingkungan masyarakat demi mengembangkan kualitas sumber daya dan sumber ilmu untuk masyarakat. Ini saya laksanakan mulai tanggal 20 Juni 2016. Saya masuk dalam UNIT KKN-NTT-04. Unit saya mulai angkat kaki dari Yogyakarta menuju lokasi KKN adalah pada tanggal 19 Juni 2016 tepatnya hari minggu pada pukul 07.30. Pada jam tersebut merupakan jam saat saya dan teman unit take off dari bandara Adisucipto Yogyakarta. Sebelum menuju ke lokasi, kami harus transit di bandara Ngurahrai Denpasar Bali. Kurang lebih tiga jam kami menuggu, saya bersama teman seperjuangan yang akan melakukan pengabdian melanjutkan perjalan ke tujuan. Tiba sampai salah satu bandara di kabupaten Ende yaitu bandara H. Hasan Aroeboesman, kami disambut luar biasa oleh pihak dari Universitas Flores dengan didatangkan oleh bapak Bupati kabupaten Ende. Kenapa bisa demikian ? Karena program KKN yang kita jalankan merupakan program kerjasama antara Universitas Gadjah Mada dengan Universitas Flores. Setelah istirahat sejenak di Bandara H. Hasan Aroeboesman, saya dan rekan semua menuju ke Wisma Universitas Flores dengan didampingi oleh Pihak dari Universitas Flores. Disana, kami beristrahat 1 hari 1 malam untuk menunggu acara penyambutan pemerintahan Kabupaten Ende di Universitas Flores.

Tepat pada hari Senin, 20 Juni 2016 pukul 10, kami tiba di Aula Universitas Flores dalam acara pelepasan yang dilakukan oleh Bapak Bupati Kabupaten Ende. Penyambutan yang sangat luar biasa ini adalah hal yang tidak kami pikir sebelumya. Kami semua sangat memberikan apresiasi dalam acara penyambutan dan pelepasan ini. Setelah acara selesai, kami melanjutkan perjalan di desa yang akan kami perjuangkan selama kurang lebih 1.5 bulan kedepan, yaitu Desa Watukamba. Ini merupakan salah satu desa yang terdapat di Kec. Maroule, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Flores. Sebelumnya kami sempat penasaran kondisi lokasi yang akan kami perjuangkan. Kurang lebih perjalan selama 4-5 jam, tibalah sampai lokasi. Sesampai disana kami disambut dengan penuh antusias dari pengurus Desa. Biarpun tanpa persiapan, namun cukup luar biasa sambutan yang diberikan kepada kami. Sebelumnya kami masih bingung dimana lokasi pemondokan yang disediakan untuk unit kami. Ternyata, dengan keputusan yang sudah dipertimbangkan antara pengurus desa dan warga setempat, Unit kami di tempatkan di Posyandu di dusun Nanganio, Desa Watukamba, Kec. Maurole. Dengan keterbatasan dan kondisi yang tidak kami pikirkan sebelumnya, kami sudah siap dengan resiko apapun kondisi disana. Semua personil KKN khususnya unutk laki-laki ber 18 orang menginap di pemondokan dimana kami harus menikmati ruangan yang terbatas.

Bangunan ini terdapat pada bibir pantai. Kurang lebih 100 m kami sudah dapat merasakan air dan kesejukan udara di pantai. Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh warga setempat ternyata memiliki spot yang tidak jauh dari pemondokan kami. Kurang lebih berjalan 5 menit, kami sudah sampai tujuan. Ini adalah Dermaga yang mana disinilah kita dapat merasakan udara pantai, bukan itu saja kami dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari yang ditemani di pulau kecil dan pegunungan yang mendukung keindahan spot ini. Akan tetapi, minggu inilah kami masih kebingungan dengan program yang akan kami jalankan kedepan. Kemudian, untuk minggu pertama, tidak ada program ď€ sik yang kami kerjakan. Minggu pertama merupakan awal minggu dimana kami melakukan kepastian program yang akan kami jalankan sesuai dengan tema. Waktu tetap berjalan, kamipun dengan pembagian sub unit di masing masing dusun, saya dan rekan sub unit melakukan Survey dan observasi di dusun Nanganio dimana sub unit kami akan jalankan program. Lain daripada itu, terdapat program Sains dan Teknologi yang mana ini adalah klaster saya. Program yang akan dijalankan adalah program ď€ sik dan materi. Kami bertemu teman berbagai fakultas dan jurusan. Disinilah kami membagikan dan sharing pengalaman untuk menjalankan program yang akan kami implementasikan di Desa Watukamba Kecamatan Maurole.


122

Sebelumya kami masih bingung bagaimana konsumsi nantinya yang akan kami dapatkan untuk hidup selama di pemondokan. Kami dipertmukan oleh salah satu lingkup RT yang sangat guyub. Saat kami melakukan buka persama, kebetulan saat itu Bulan Ramadhan, saya bersama rekan bingung dimana akan mencari bahan santapan, ternyata Mama Tince sudah menyiapkan menu berbuka untuk kami. Mama Tince inilah orang tua asuh kami ber-18 orang yang menghuni di Posyandu. Hal yang sangat luar biasa adalah adat makan daerah sini yang membuat kami takjub dan terharu. Sehingga membuat Kami ber-18 sudah dianggap seperti keluarga. Setiap jam makan tiba, jika salah satu dari kami belum hadir, mereka rela menunggu sampai pasukan ber-18 ini hadir semua,lengkap baru setelah itu mulai makan. Beginilah adat penduduk Watukamba dalam menyambut tamu. Menginjak minggu ke dua kami sudah mulai bisa beradaptasi dengan warga setempat. Mungkin ini sangat susah, tapi perlahan kami berguyup dengan warga seperti acara silaturahmi, acara keluarga dari salah satu dari warga. Ada satu hal yang tidak pernah dilupakan pada saat di adakan acara besar, seperti contohnya pesta, yakni Moke. Moke inilah minuman yang diproduksi dari desa Watukamba. Ini merupakan minuman beralkohol alami. Minuman ini memiliki kadar alkohol yang lumayang tinggi. Ini dibuat dari tuak putih menggunakan metode penyulingan.

[Cerita Dari Watukamba] 123

Setelah membahas tentang minuman Moke, selanjutnya adalah tentang kegiatan di minggu ke 2. Di pemondokan kami, sering kedatangan 2 balita, Bojan dan Simon yang sangat usil dan bandel. Namun karakter wajar mereka kadang membuat saya sadar dan penasaran bagaimana saya dulu saat seumuran mereka. Namun ini menghindarkan pemondokan saya dari kesepian. Waktu terus berjalan, sering kami melakukan rapat kluster saintek membahas program yang akan dijalankan. Kami sangat khawatir dengan program yang akan kami jalankan, karena adat yang berbeda, kami perlu mempertimbangkan ke masingmasing pihak untuk ksasi dalam program sik maupun akademik yang akan saya dan rekan-rekan jalankan di desa Watukamba ini. Saya mendapatkan program pokok yang berkaitan dengan tema seperti pembuatan papan informasi mitigasi bencana, pembuatan papan assembly point dimana papan ini adalah indikator area evakuasi apabila terjadinya bencana. Kemudian pembuatan papan jalur evakuasi yang diaplikasikan di SD Nanganio. Saya sebelumnya tidak pernah memikirkan program ini, namun sambil berjalan akhirnya saya kepikir. Dengan kesederhanaan dan kemampuan yang minim, saya bersama teman-teman berjuang membuat papan informasi mitigasi bencana. Kemudian, selain itu, setelah kami melakukan survey ke Sekolah Dasar di desa Watukamba, kami memiliki ide untuk memberikan fasilitas yang belom terdapat di SD Nanganio.

Awal dari menjalankan program, kami perlu berkonsultasi dengan bapak kepala sekolah. Disana saya membicara program pokok saya yang akan dilaksanan di SD Nanganio. Bapak Kepala sekolah sangat mendukung program untuk memfasilitasi sekolah. Dengan bantuan teman teman, akhirnya program pokok untuk sekolah sudah berhasil dilakukan. Yaitu plangisasi jalur evakuasi bencana, kemudian papan assembly point sebagai titik berkumpul, plang petunjuk arah yang di tempatkan di SD Nanganio dan membatu program sik seperti pembangunan Bak sampah, serta mengoptimalkan keadaan kantin kejujuran. SD ini juga mengajarkan saya bagaimana cara menjinakkan anak anak SD. Cukup asik beradaptasi dengan mereka. Di SD Nanganio ini saya juga memberikan pelatihan tentang komputer dan pembelajaran pengenalan komputer. Biarpun kita jauh dari rumah dan jauh dari jogja, setiap sore kami tetap melakukan aktivitas olahraga seperti sepak bola pantai, bola voly bersama eja-eja disini. Eja ini artinya adalah sapaan pengganti kata mas. Setiap sore, kami juga melihat sunset di dermaga, kami juga dapat melihat asiknya anak anak berenang di pantai yang beramai ramai lompat dari dermaga. Namun kejadian yang kurang mengenakan terjadi pada rekan kami. Pernah suatu ketika, salah satu dari rekan kami terkena duri bulu babi karena ulah di saat tiidak menggunakan alas kaki.

Karena kesederhanaan dan keterbatasan alat dan obat medis, maka digunakanlah cara konvensional, yakni membakar bagian duri yang masih menancap di bagian tubuh. Sehingga duri yang masuk pada kaki akan hancur dan akan keluar nantinya. Itulah momen rekan saya saat di dermaga. Yang paling melelahkan adalah saat pembuatan program sik. Namun disamping melelahkan, kami berhasil mendapatkan pengalaman banyak dalam pengerjaan program. Seperti pembuatan bak sampah, pembuatan tugu pembatas desa antara desa watukamba denga desa sebelah, pembuatan plangisasi, pembuatan mal tulisan ataupun logo. Ini bisa dibilang pengalaman pertama kami. Dengan kenekatan yang cukup berani, akhirnya object yang kami bangunpun jadi. Dan apresisasi kami berikan untuk warga dan penduduk setempat. Dalam pembangunan program ini, antusias dari warga bagus. Yang paling berjasa dalam menyukseskan program ini seperti bapak nelis, om go, om lucky dan om stinky, mereka dengan tulus membimbing dan mengajarkan kami bagaimana dan dimana program akan dikerjakan. Momen berkesan yang pertama kali saya rasakan adalah Hari lebaran tidak bersama keluarga. Yang biasanya saya sholat idultri di masjid dekat rumah, setelah pulang kami berpesta petasan dan menyantap ketupat dan nasi opor ayam dan rendang ditemani samabal goreng ati itupun tidak bisa dilakukan. Tapi saya sudah siap dengan resiko kondisi seperti ini, tapi bukan berarti lebaran di Watukamba tidak meriah.


124

Warga di sini memeriahkan acara lebaran kami walau memiliki keyakinan yang berbeda. Disini kami bisa merasakan lontong dengan ayam kuah. Hidangan ini menurut kami sangat sepesial, dan kami tidak menyangka kalau ini adalah perayaan buat kami. Saat saya menjalankan tugas mengjar di Dusun Watukamba tepatnya SD Katolik Watukamba, kondisinya sangat memprihatinkan. Dimana atap yang bolong, kursi meja rusak, begitulah tempat anak anak belajar. Dengan kesungguhan dan ketulusan keinginan untuk belajar, mereka dapat merasakan kenyaman dengan kondisi yang serba seadanya. Bahkan, mereka rela jalan kaki sejauh 2 kilometer setiap berangkat pulang pergi sekolah. Bisa dibayangkan, dengan kesederhanaan dan faktor ekonomi yang terbatas, melihat anak-anak ini sekolah hanya menggunakan sandal. Tapi ini tidak memutuskan semangat anak-anak demi menempuh cita-cita mereka semua. H-3 minggu, banyak program ď€ sik dari unit kami belum terselesaikan. Kita deadline, program akan terlaksana semua di 2 minggu ke depan. Akhirnya dengan penuh semangat dari kebersamaan unit kami, 80 % terlaksana di minggu ke 5. Saat pengerjaan pembuatan bak sampah di lingkup sekolah, kami kedatangan bapak kepala dusun wolosambi. Beruntung sekali kami ketemu bapak dusun Wolosambi saat acara menjalankan program di lapangan.

[Cerita Dari Watukamba] 125

Dengan lemah lembut beliau merelakan dan megiklaskan kami untuk mengunduh kelapa muda. Sampai kami mabok air kelapa muda. He,,he,,he :D. Sampai hari terkahir deadline yaitu tanggal 31 Juli, masih ada pekerjaan program yang belum terselesaikan juga, yaitu pembuatan papan informasi zona aman sekolah untuk Sekolah Dasar Nanganio. Akhirnya ini dapat terselesaikan berkat bantuan teman-teman. Tepat pada tanggal 1 Agustus saya dan kormanit serta rekan lainya, melakukan presentasi laporan hasil kuliah kerja nyata di desa Watukamba selama 7 minggu. Presentasi ini saya dan rekan-rekan laksanakan di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun KKN ini juga tidak lepas dari cerita pilu, unit kami mendapatkan musibah, yaitu 2 orang rekan kami harus di rawat di puskesmas karena sakit. Yaitu Haď€ dz selaku kormanit dan Sisca rekan dari medika. Alhamdulillah berkat doa dan kesolidan teman-teman dan warga, semua bisa teratasi. Cukup ini pengalaman dan moment yang dapat saya tulis. Sangat banyak hikmah yang dapat saya ambil dari kesederhanaan ini, namun sangat luar biasa manfaat yang dapat saya dapatkan untuk saya pribadi dan mungkin untuk teman-teman 1 unit. Ini adalah salah satu moment yang belum pernah saya alami. Cukup sekian kutipan dari pengalaman saya saat melakukan KKNPPM NTT-04 di Desa Watukamba, Kec. Maurole, Kab. Ende, Prov. Nusa Tenggara Timur, Flores. Terimakasih


132

[Cerita Dari Watukamba] 133

oleh: Adi Mahardhika Esa Putra

[ Ini KKN ku, Gimana KKN mu? ]

Dalam hidup setiap orang terdapat berbagai kisah, pengalaman, serta cerita berbeda yang melatarbelakangi bagaimana seseorang berpikir maupun bagaimana seseorang bersikap dan berperilaku. Setiap cerita dan kisah baik bahagia maupun sedih, baik direncanakan maupun tidak direncanakan merupakan sebuah skenario rahasia yang pasti memiliki makna tersendiri jika kita mampu menemukannya. Karena itu, saya sendiri percaya bahwa everything happens for a reason, tidak akan sia-sia tiap hari yang kita lalui serta tiap kisah yang kita alami. Hari ini saya diam dan berpikir menyadari sebuah skenario kehidupan baru terjadi dalam hidup saya. Skenario tersebut bernama KKN, sebuah kegiatan wajib bagi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Hingga saat ini, skenario dengan berbagai kisah di dalamnya itu sudah berlangsung kurang lebih satu setengah bulan. Awal kisah KKN ini berawal ketika niatan saya untuk mengikuti penempatan lokasi yang dilakukan oleh pihak universitas tiba – tiba berubah tatkala seorang teman menawarkan saya untuk masuk sebuah tim KKN yang sudah terbentuk. Entah apa yang ada dalam benak saya kala itu, tidak ada seorang pun yang saya kenali dalam tim tersebut, tidak ada pula informasi pasti yang saya ketahui tentang lokasi KKN yang dipilih tim tersebut, yaitu Ende dengan mengangkat tema peningkatan kualitas hidup melalui mitigasi bencana dan penyediaan air bersih. Namun dengan ringan hati saat itu saya memberi jawaban “ya” untuk masuk bergabung dalam tim.

Jawaban “ya” yang saya berikan membuat saya harus mengikuti berbagai proses persiapan sebelum hari H keberangkatan. Persiapan tersebut meliputi persiapan administrasi, persiapan program, penyusunan anggaran, penyusunan jadwal, hingga paling akhir persiapan keberangkatan. Satu per satu persiapan terlewati dengan baik tanpa ada halangan berarti, namun ada satu persiapan lain yang ternyata lebih berat dari saya bayangkan. Selain persiapan secara tim dan administrasi, ternyata ada persiapan lain yang tidak kalah penting dan jauh lebih krusial, yaitu persiapan pribadi terkait mental. KKN tahun ini dibumbui dengan kenyataan bahwa tahun saya akan tidak bisa merayakan hari raya idul tri bersama keluarga di rumah. Singkat cerita, seluruh dukungan orang – orang terdekat meliputi keluarga dan teman dekat mampu menguatkan saya untuk memantapkan hati serta meluruskan niat berangkat mengabdi menuju Ende. Tepatnya pada tanggal 19 Juni kami semua berangkat dari Jogja menuju Ende. Saat perjalanan, terlintas di dalam pikiran bagaimana keadaan tempat KKN nanti yang begitu membutuhkan kami dengan segala program yang sudah kami siapkan. Dalam benak saya tergambar betapa kering tempat kami nanti, dengan kondisi rumah yang tidak permanen, jalan yang masih kasar bebatuan, serta kondisi lingkungan yang rawan akan bencana. Segala keadaan tersebut membuat saya semakin antusias dan bersemangat untuk memperbaiki keadaan yang ada menjadi lebih baik.

Khotbah Hari Raya Idul Fitri di Masjid Watukamba

Pengalaman Pertama Saya dengan Pesawat

Kami sampai di Ende siang hari dan diharuskan menginap semalam di kota untuk bersiap bertemu bupati dalam rangka peresmian Pusat Studi Bencana Alam Universitas Flores esok hari. Sejenak saya harus menahan rasa penasaran saya tentang keadaan daerah KKN. Esok hari setelah acara tersebut, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju desa tujuan KKN kami, yaitu Desa Watukamba. Kurang lebih perjalanan tiga jam kami tempuh dengan jalan penuh kelok dan liku tajam, hingga akhirnya kami sampai di desa tujuan KKN kami.


134

Kesan pertama saya melihat kondisi desa sangat jauh dari yang saya bayangkan. Kondisi Desa Watukamba jauh lebih baik, sudah ada listrik di tiap rumah warga, aliran air Tim KKN NTT Unit-04Transit di Bandara Ngurah Raiyang sudah diatur oleh PDAM, jalanan aspal yang halus menghampar, dan kondisi alam yang terlihat begitu nyaman dan aman. Saya berusaha tetap bersemangat dan antusias dengan harapan saya akan tetap semangat mengabdi memperbaiki keadaan yang ada. Seminggu pertama berjalan, saya menghabiskan waktu untuk bersosialisasi dengan warga, observasi keadaan yang ada, dan mencari segala permasalahan yang terjadi di desa ini. Dari satu minggu pertama tersebut saya berusaha mendeskripsikan, menganalisis, hingga akhirnya menyeleksi permasalahan yang ada guna selanjutnya membuat solusi atau penyelesaian dari permasalahan tersebut. Sepintas saya sadari dan rasakan program utama yang kami siapkan tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di desa ini, terutama berkaitan dengan kondisi air. Saya merasa permasalahan utama di desa ini justru ada pada kondisi masyarakat yang masih banyak menganut kebiasaan yang salah. Masyarakat di sini memiliki kebiasaan meminum minuman keras yang bahkan sudah mereka anggap sebagai budaya, masyarakat di sini memiliki tata cara berkendara yang tidak aman, serta masyarakat di sini masih memiliki perilaku hidup yang tidak sehat, seperti kebersihan yang tidak dijaga.

[Cerita Dari Watukamba] 135

Selain itu, yang tidak kalah penting saya menyadari bahwa keadaan politik dan pemerintahan desa yang cenderung overlap dengan pemerintahan adat, sedang tidak dalam keadaan yang baik sehingga dalam pelaksanaan program kemungkinan akan mengalami banyak kendala.

Balita Desa Watukamba

Pada awalnya saya bingung bagaimana harus menanggapi keadaan tersebut, karena masalah tersebut bukan tema yang diangkat tim kami, di samping dalam ilmu yang saya pelajari mengubah kebiasaan seseorang apalagi yang sudah membudaya merupakan suatu proses panjang yang tidak bisa dilakukan secara instan, namun keinginan untuk dapat memberikan kebermanfaatan dan perbaikan di masyarakat terus mengusik pikiran saya. Saya memutuskan untuk mencoba mengubah salah satu perilaku tentang kebersihan secara tidak langsung dengan membiasakan anak – anak yang sering datang ke pondokan untuk melakukan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Saya sering meminta anak – anak untuk cuci kaki sebelum masuk ke dalam pondokan, mencuci tangan sebelum makan, menggunakan tangan kanan untuk makan, serta beberapa kali saya meminta anak – anak untuk tidak buang air sembarang. Harapan saya tidak banyak, dengan waktu yang cukup singkat tersebut saya ingin mengenalkan kebiasaan hidup yang lebih sehat kepada anak – anak. Lebih dari itu manfaat justru saya dapatkan untuk pribadi saya sendiri, saya belajar untuk memahami berbagai kebiasaan di dalam masyarakat yang jauh dari norma kebiasaan yang saya ketahui. Selain itu, saya belajar memandang segala sesuatu dari perspektif berbeda, menilai segala sesuatu bukan hanya sekedar tentang benar dan salah, serta belajar beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda. Saya belajar arti toleransi yang sesungguhnya.

Ironi Dusun Atas Pada sebuah pertemuan dengan warga desa, kami menyadari bahwa ternyata ada sebuah dusun yang terisolasi dari segi lokasi dengan dusun lainnya, serta “terisolasi” secara peradaban dan kemajuan teknologi. Dari empat dusun yang termasuk bagian wilayah desa, dusun tersebut terletak jauh dari tiga dusun lainnya, bahkan terletak lebih dekat dengan desa lain. Dusun tersebut meskipun lebih dekat dengan wilayah desa lain, namun tidak bisa diikutkan dengan desa lain karena alasan adat.

Kami sampai di Ende siang hari dan diharuskan menginap semalam di kota untuk bersiap bertemu bupati dalam rangka peresmian Pusat Studi Bencana Alam Universitas Flores esok hari. Sejenak saya harus menahan rasa penasaran saya tentang keadaan daerah KKN. Esok hari setelah acara tersebut, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju desa tujuan KKN kami, yaitu Desa Watukamba. Kurang lebih perjalanan tiga jam kami tempuh dengan jalan penuh kelok dan liku tajam, hingga akhirnya kami sampai di desa tujuan KKN kami. Pada suatu waktu kami berkesempatan untuk mengunjungi dusun tersebut, benar saja keadaan dusun tersebut sangat memprihatinkan. Belum ada listrik di desa itu, sinyal telepon pun tidak ada. Kami mendengar ada sebuah sekolah dasar yang terletak di wilayah dusun tersebut. Saya membayangkan bagaimana keadaan anak – anak di sana tanpa listrik tanpa sinyal sehingga dapat diartikan juga terbatas akan arus informasi. Beberapa kali melakukan observasi dan diskusi tim, akhirnya kami memutuskan untuk membuat program khusus untuk dusun di atas. Program yang kami buat meliputi mengajar di SD dan pelatihan pemanfaatan kemiri. Dari tiga puluh anggota kelompok yang ada, dibuat tim beranggotakan delapan orang yang akan menginap selama beberapa hari di dusun atas.


136

[Cerita Dari Watukamba] 137

Kesedihan bertambah ketika melihat anak – anak dengan berbagai keterbatasan tersebut tetap semangat bersekolah, jalan kaki menempuh jarak berkilo meter sendiri tanpa diantar orang tua. Berbeda dengan siswa SD di Jawa yang penuh dengan kemudahan dan akses informasi, malah membuat mereka bermalas-malasan dan cenderung manja. Mungkin itulah yang disebut ironi dunia pendidikan di Indonesia. Dari sekian banyak pengalaman yang saya dapatkan, mungkin pengalaman di dusun

Potret Anak-anak SD Watukamba

Saya masuk ke dalam tim tersebut dan saya merasa beruntung. Saya merasakan betul – betul keadaan dengan penuh keterbatasan. Dari keadaan yang saya alami tersebut, saya merasa dapat belajar banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Saat saya menjalankan program mengajar di sekolah dasar yang ada di dusun atas beberapa hal yang saya bayangkan sebelumnya terbukti. Sangat sedih rasanya ketika melihat anak bersekolah di ruang serba terbatas dengan kondisi atap yang tidak utuh lagi, melihat anak bersekolah tanpa menggunakan sepatu di kakinya, serta melihat jumlah guru yang tidak cukup untuk memenuhi pengajaran. Kemudian kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki siswa pada sekolah tersebut juga terbatas tidak seperti siswa SD biasanya.

atas tersebut merupakan pengalaman yang saya anggap paling berharga bagi saya. Kondisi di atas membuka mata saya akan keadaan pendidikan di pelosok – pelosok negeri. Keterbatasan yang saya lihat dan rasakan membuat saya malu dengan sikap saya selama ini yang dianugerahi berbagai kemudahan. Pengalaman di atas yang hanya beberapa hari mengajarkan saya arti bersyukur yang mungkin sering saya lupakan. Mudahmudahan skenario Tuhan kali ini memang membuat saya menjadi hamba yang lebih baik lagi. Jauh dalam benak saya tersimpan harap dan doa untuk mereka semua dapat menjadi calon pemimpin Indonesia, kelak suatu saat nanti. Kegiatan Belajar Mengajar

Semoga Kelak Menjadi Pemimpin Indonesia


138

[Cerita Dari Watukamba] 139

oleh: Yoga Arta Grahanantyo

[ Journey To Watukamba ]

KKN, sebuah kegiatan yang mengajarkan para mahasiswa untuk dapat turun langsung dan mengabdi dalam masyarakat. KKN yang memiliki kepanjangan Kuliah Kerja Nyata ini merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa UGM dan merupakan syarat agar mahasiswa UGM dapat lulus. KKN ini dilakukan oleh mahasiswa yang sudah mengambil 130 sks dan biasanya setelah menempuh semester enam dan diadakan ketika liburan semester genap. Saya merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi UGM yang sedang menempuh semester enam. Pada waktu inilah para mahasiswa fakultas saya berlomba-lomba membentuk tim KKN agar mendapatkan tempat yang diinginkan. Bagi beberapa mahasiswa, KKN memang merupakan suatu sarana untuk melakukan liburan dan jalanjalan, walaupun memang sebenarnya banyak mahasiswa lainnya yang benarbenar ingin mengabdi pada masyarakat. Banyak open recruitment yang dilakukan kelompok-kelompok KKN yang ada demi mengumpulkan anggota-anggota yang mereka butuhkan. Saya yang pada saat itu belum memiliki kelompok tentu saja mencoba mengikuti oprec yang ada. Dalam memilih lokasi KKN, saya berprinsip untuk memilih daerah di luar pulau Jawa. Kenapa? Karena sudah 21 tahun saya tinggal di Yogyakarta dan saya ingin sekali mencari pengalaman baru di luar pulau Jawa.

Awalnya saya mencoba mendaftar pada kelompok yang berencana KKN di Lombok. Saya mencoba menghubungi contact person (CP) yang ada, dan saya disuruh untuk mengisi form secara online yang telah disediakan, dan setelah itu menunggu kabar selanjutnya. Setelah beberapa saat tidak mendapatkan kabar yang jelas, saya beranggapan bahwa saya mungkin tidak diterima di kelompok tersebut, kemudian saya mendapat tawaran dari teman saya untuk mendaftarkan diri pada kelompoknya yang bertujuan ke Kepulauan Seribu. Karena cukup tertarik dengan tempat tersebut, saya kemudian mendaftar, membuat CV dan melakukan wawancara. Dua hari setelah saya melakukan wawancara, saya kemudian dihubungi kembali oleh kelompok yang akan ke Lombok bahwa mereka membutuhkan anak psikologi. Jujur saya bingung harus memilih Lombok atau Kepulauan Seribu dan pada waktu itu saya dituntut untuk cepat mengambil keputusan karena proposal KKN harus segera dikumpulkan. Karena prinsip awal saya adalah ingin mencari pengalaman keluar pulau Jawa, maka saya pun memilih untuk bergabung pada kelompok Lombok. Sebenarnya setelah bergabung dengan kelompok ini pun saya masih merasa adanya ketidakjelasan. Selama seminggu bergabung, kita belum pernah berkumpul secara langsung. Padahal, karena terdapat beberapa kelompok yang mengajukan proposal untuk KKN ke desa itu, harus dilakukan presentasi rencana program yang akan dilakukan.

Hari-hari kulewati bersama ketidakjelasan itu, hingga akhirnya waktu presentasi itu pun datang. Karena adanya kuliah, saya tidak bisa ikut menghadiri presentasi yang dilakukan oleh ketua kelompokku itu. Beberapa hari setelah presentasi itu dilakukan, saya dikabari oleh salah satu teman kelompok saya bahwa pada akhirnya dua kelompok yang ke Lombok harus bergabung menjadi satu dan diambil 15 orang dari tiap kelompok dan saya tidak termasuk di dalamnya. Jujur saya sedih dan kecewa mendapat kabar tersebut, kecewanya lagi saya dulu lebih memilih kelompok ini dibandingkan dengan kelompok Kepulauan Seribu. Tapi sudahlah, saya berpikir untuk terus maju dan berusaha mencari kelompok lain yang mungkin masih membutuhkan tambahan anggota. Hingga pada suatu hari, saya ditawari salah seorang teman saya untuk masuk dalam kelompoknya ke daerah Ende di Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Watukamba. Akhirnya saya pun masuk dalam kelompok ini, ketika pertama kali berkumpul teman-teman dalam kelompok terlihat sangat ramah. Hari-hari mulai kujalani bersama dengan kelompok ini, dari rapat rutin setiap hari Selasa, berjualan mencari dana di sunmor UGM, hingga pada akhirnya tibalah hari keberangkatan ke Ende. Kita berangkat pada hari Minggu 19 Juni 2016 menggunakan pesawat, transit terlebih dahulu di Bali kemudian dilanjutkan terbang ke Kota Ende.


140

[Cerita Dari Watukamba] 141

Mereka berdua merupakan penghibur anak-anak di posyandu dan sering kita permainkan, entah itu dicoret-coret mukanya, atau diadu satu sama lain. Ketika mereka datang bermain, salah satu yang mereka minta adalah handphone untuk memainkan game di dalamnya.

Penyambutan di Universitas Flores

Keesokan harinya, pada pukul 9 pagi, kita mengikuti acara peresmian Pusat Studi Bencana bersamaan dengan pelepasan mahasiswa KKN-PPM UGM Unit NTT-04. Acara berakhir pada pukul 11 siang dan kita langsung berangkat menggunakan mobil ke Desa Watukamba. Setelah sekitar 3 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Desa Watukamba. Di desa kita turun di gedung posyandu dan disambut oleh beberapa aparat desa dan tokoh masyarakat. Acara penyambutan ini diisi dengan perkenalan para mahasiswa dengan para aparat desa dengan tokoh masyarakat. Setelah acara t e r s e b u t s e l e s a i d i l a n j ut k a n d en g a n pembagian pondokan para mahasiswa. Para lelaki dikumpulkan menjadi satu pondokan di posyandu sedangkan para wanita dibagi menjadi menjadi lima, masuk ke lima rumah warga yang berbeda dan menjadi anak asuh keluarga tersebut. Para lelaki yang tinggal posyandu ini diasuh oleh keluarga Mama Tince. Setiap hari, di posyandu ini sering kedatangan oleh tamu-tamu kecil, cucu dari Mama Tince yang bernama Bojan, serta temannya yang bernama Simon. Bojan dan Simon ini masih berumur 5 tahun.

Bojan

Minggu-minggu awal di Watukamba ini dimulai dengan pendekatan dengan para penduduk sekitar serta tokoh masyarakat yang ada. Di Desa Watukamba ini dibagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Watukamba, Dusun Wolosambi, Dusun Nanganio dan Dusun Aepetu. Dusun Wolosambi, Nanganio dan Aepetu terletak di pesisir pantai, sedangkan Dusun Watukamba terletak di gunung dan memiliki jarak sekitar empat puluh menit perjalanan jika menggunakan kendaraan bermotor. Perbedaan lokasi ini terkadang membuat hubungan saling memiliki antara masyarakat dusun bawah dan dusun atas menjadi kurang kuat satu sama lain. Budaya serta kepercayaan di Desa Watukamba ini masih sangat kuat, terdapat beberapa upacara adat yang harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu, contohnya seperti pada waktu panen.

Kepercayaan mengenai hal-hal yang mistis juga masih kuat dimiliki oleh warga desa ini, terdapat beberapa tempat yang dilarang didatangi pada waktu-waktu tertentu seperti tidak bolehnya pergi ke dermaga desa setelah matahari terbenam. Di tanah Flores ini terdapat minuman beralkohol khas daerah yang terbuat dari pohon enau bernama moke. Budaya untuk minum minuman beralkohol ini juga masih kuat. Beberapa dari mereka, terutama anak muda, beranggapan bahwa “moke dulu baru berani�. Ungkapan tersebut memiliki arti bahwa untuk memunculkan keberanian mereka harus meminum moke terlebih dahulu. Daerah Desa Watukamba ini merupakan daerah yang panas di siang hari dan dingin ketika malam hari, menurut saya adanya minuman moke ini mungkin dibutuhkan untuk menghangatkan tubuh mereka ketika malam hari. Tetapi sekarang ini banyak juga masyarakat yang meminum minuman ini dengan tujuan memang ingin mabuk. Desa Watukamba ini menggunakan air dari PDAM yang hanya menyala pada pagi hari hingga sore hari. Hal tersebut membuat masyarakat desa ini harus pintar untuk menampung dan menggunakan air seefektif mungkin. Selain itu, kualitas air yang didapatkan tidak begitu baik, semakin ke timur semakin buruk kualitas airnya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya endapan tanah dan lumpur yang terjadi di bak penampungan PDAM

Budaya membuang sampah pada tempat sampah di Desa Watukamba ini masih sangat lemah karena tidak adanya tempat pengolahan sampah pada desa ini. Masyarakat desa ini membuang sampah langsung di tanah dan secara berkala menyapunya dan dikumpulkan di satu tempat untuk dibakar. Selain itu, kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana di Desa Watukamba ini masih sangat minim. Banyak masyarakat yang merasa tidak perlu memahami cara-cara evakuasi yang benar karena tidak pernah terjadinya bencana di tempat ini. Setelah minggu pertama yang kita gunakan untuk survei dan observasi keadaan desa, pada tanggal 27 Juni 2016, kita memaparkan program apa saja yang akan kita lakukan selama tujuh minggu di Desa Watukamba ini. Pemaparan program ini dilaksanakan dua kali, yaitu di dusun atas dan di dusun bawah. Kenapa? Karena entah kenapa hubungan antara masyarakat dusun bawah dan dusun atas yang kurang baik itu membuat tidak maunya masyarakat dusun bawah untuk mengikuti pertemuan di dusun atas, begitu pula sebaliknya, padahal kantor Desa Watukamba terletak di dusun atas. Akhirnya pemaparan program di dusun atas dilakukan pada pagi hari sedangkan pemaparan program di dusun bawah dilakukan pada sore harinya.


142

[Cerita Dari Watukamba] 143

Keesokan harinya pada tanggal 2 Juli 2016, dilanjutkan membangun bak pada Dusun Nanganio.

Pemaparan Program oleh Mahasiswa KKN PPM UGM

Banyak komentar yang diberikan oleh masyarakat Dusun Watukamba di atas karena kegiatan kita terlalu difokuskan pada dusun di bawah saja, sedangkan dusun di atas yang lebih tertinggal tidak diberikan program. Hal itu membuat kita membagi program kita supaya dusun di atas juga

Program selanjutnya dari klaster soshum yaitu memberikan sosialisasi mengenai mitigasi bencana pada pemuda Desa Watukamba, serta outputnya agar dapat menjadi pemuda tanggap bencana yang dapat secara aktif membantu proses evakuasi ketika terjadi bencana alam. Sosialisasi ini mengajarkan mengenai proses mitigasi bencana, serta cara melakukan pertolongan pertama pada korban bencana. Pada sosialisasi ini, beberapa pemuda diberikan beberapa cara penanganan pada pertolongan pertama.

mendapat bagian. Selain masalah tersebut, kebanyakan tanggapan positif yang diberikan oleh masyarakat. Pada tanggal 1 Juli 2016 kita mulai menjalankan program pertama kita yaitu pembangunan bak sampah permanen pada masing-masing dusun di bawah, yang pertama pada Dusun Aepetu. Tujuan dibangunnya bak sampah permanen ini hendaknya membuat masyarakat lebih tertata dalam membuang sampah dan supaya mereka bekerja sama untuk membakar sampah yang dibuang di bak sampah tersebut. Pembangunan bak sampah ini merupakan kerja sama antara pihak tim KKN UGM dengan para anggota Karang Taruna di Desa Watukamba. Kegiatan ini membuat saya banyak belajar mengenai dunia pembangunan. Di sini saya belajar cara yang benar untuk mencampur semen serta menyusun batako dan memplesternya.

Pada tanggal 6 Juli 2016 kita bersama-sama merayakan hari raya Idul Fitri. Teman-teman yang beragama Islam terlihat sangat sedih karena tidak bisa pulang kampung untuk merayakan lebaran bersama keluarga mereka. Mengerti akan perasaan tersebut, para pemuda di sini berinisiatif untuk mengadakan acara makan-makan bersama untuk merayakan hari lebaran bersama teman-teman KKN agar lebih tercipta kebersamaan antara kita dengan para pemuda di Desa Watukamba. Suasana Posyandu Saat Diadakan Sosialisasi Mitigasi Bencana dan Praktek Pertolongan Pertama

Pada tanggal 9 Juli 2016, kita mulai melakukan survei pemetaan bangunan di desa Watukamba, tepatnya di Dusun Wolosambi, Nanganio dan Aepetu. Tujuan adanya program ini agar desa memiliki pemetaan yang jelas dan untuk melengkapi data kepala keluarga yang tinggal di Desa Watukamba. Selain itu kita juga melakukan pengetesan air pada sumber air yang dimiliki oleh masyarakat desa. Hasil dari survei air ini supaya kita dari tim KKN UGM dapat memberikan surat rekomendasi terhadap pemerintah setempat terkait kebersihan air di Desa Watukamba. Pada tanggal 13 Juli 2016 dilakukan pelantikan para pemuda tanggap bencana, disaksikan oleh masyarakat Desa Watukamba. Selain itu dilakukan pula sosialisasi mengenai mitigasi bencana kepada masyarakat Desa Watukamba oleh para duta tanggap bencana sebagai bukti bahwa para pemuda tersebut siap untuk menjadi kader tanggap bencana. Pada tanggal 18 Juli 2016 beberapa dari kita pergi menuju Dusun Watukamba di atas untuk menjalankan program di sana selama empat hari lamanya. Dilakukannya program di dusun atas ini agar tidak menimbulkan kecemburuan pada masyarakat dusun atas pada masyarakat dusun bawah. Saya bersama tujuh teman saya yang lain berangkat ke dusun pada pukul 7 pagi dengan menggunakan truk. Di atas kita berdelapan menginap di gedung kantor desa. Program yang kita laksanakan di atas kebanyakan dilakukan di SD Katolik Watukamba.

Dari kantor desa ke SD tersebut membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Pelaksanaan program di SDK Watukamba berjalan sangat menyenangkan. Anak-anak di sana sangat pendiam karena pemahaman bahasa Indonesia mereka yang masih kurang pada anak-anak kelas I dan II. Program yang dilaksanakan di SD tersebut adalah mengenai mitigasi bencana gempa bumi, melakukan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika, serta melakukan latihan cuci tangan dan sikat gigi yang benar. Pengalaman di Dusun Watukamba di atas sangat berkesan. Di sana tidak ada sinyal dan listrik, setiap malam menggunakan generator pembangkit listrik yang hanya dinyalakan hingga jam 11 malam, setelah itu gelap gulita. Di sana saya merasakan kondisi the real KKN dimana jauh dari sumber tenaga yang ada. Sebelum kita pulang kembali ke bawah juga masyarakat di sana memberikan jamuan makan malam kepada kita. Pihak SD pun juga demikian, pada siang hari selepas kita melakukan kegiatan di sana, kita dijamu makan siang bersama dengan guru-gurunya sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang kita berikan kepada mereka.


144

Anak-anak SD Watukamba Bersiap Memasuki Kelas

Hari Kamis, tanggal 21 Juli 2016 kita akhirnya turun kembali ke posyandu. Program yang kita lakukan setelah itu yaitu membantu kegiatan belajar mengajar di PAUD Sekosodo dan SD Nanganio. Saya mendapat bagian untuk mengajar di PAUD. Banyak tantangan yang kita dapatkan ketika mengajar di PAUD ini. Di PAUD ini anak-anak sangat bandel tidak seperti di SD atas yang tenang-tenang. Mereka sering bertengkar satu sama lain, tidak mendengarkan kita sebagai guru yang mengajar di depan, serta tidak menuruti apa yang kita perintahkan untuk mereka. Sungguh melelahkan mengajar mereka walaupun hanya kira-kira 2 jam, tetapi mengajar anak kecil seperti mereka merupakan pengalaman yang berharga. Pada 28 Juli 2016 merupakah hari terakhir kita mengajar di PAUD Sekosodo, di akhir sesi mengajar kita berpamitan dengan guru dan anak-anak. Sementara itu, pada tanggal 26 hingga 30 Juli 2016 kita mengadakan perlombaan untuk masyarakat Desa Watukamba, baik untuk anak-anak maupun untuk orang dewasa.

[Cerita Dari Watukamba] 145

Perlombaan untuk anak-anak sangat beragam, dimulai dari lomba balap karung, lomba makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, serta egrang dengan menggunakan batok kelapa. Sedangkan lomba untuk dewasa ada tarik tambang dan pertandingan bola voli. Banyak anak yang berminat untuk mengikuti lomba hingga kami kebingungan untuk mengatur pertandingannya, tetapi akhirnya kita membatasi kuota anak yang mengikuti suatu cabang perlombaan. Pertandingan tarik tambang dan voli ini juga banyak diminati. Pada perlombaan ini tim KKN juga ikut berpartisipasi melawan warga di Desa Watukamba. Pemenang dari semua perlombaan ini akan diberikan hadiah pada acara penutupan yang akan dilakukan pada tanggal 31 Juli 2016.

Menuju Lomba Anak-anak

Lomba Tarik Tambang Dewasa

Pada tanggal 31 Juli 2016 kita akan mengadakan acara penutupan serta perpisahan karena tim KKN UGM sudah menyelesaikan program-program yang disusun dan akan kembali ke Jawa. Acara ini dihadiri oleh para aparat desa, tokoh-tokoh masyarakat dan warga-warga Desa Watukamba, dari yang masih anak-anak, remaja, hingga dewasa. Acara penutupan ini meliputi pembagian hadiah bagi para juara perlombaan yang telah dilakukan, pamitan yang dipimpin oleh kormanit, makan bersama dan diakhiri dengan goyang bersama. Tidak terasa sudah 47 hari kita lalui bersama. Banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga saya dapatkan di KKN ini. Di sini saya belajar untuk mandiri, kegiatan seperti mencuci yang tidak pernah saya lakukan di rumah mau tak mau harus saya lakukan. Saya juga menemukan keluarga baru saya di sini, dimana teman-teman satu unit saling membantu satu sama lain ketika ada yang membutuhkan. Setiap malam mengantarkan teman-teman perempuan kembali ke rumahnya karena jalanan sudah sangat gelap, merawat teman-teman yang terjatuh sakit hingga ada yang harus dirawat di puskesmas, serta memberikan social support untuk teman-teman yang sedang menghadapi masalah. Sangat sulit menyatukan pemikiran 30 orang yang berbeda, di sini kita berdinamika sedemikian rupa hingga akhirnya dapat survive menjalani KKN selama 47 hari di Desa Watukamba ini.

Saya dan Teman Kecil Saya, Bojan


126

[Cerita Dari Watukamba] 127

oleh: Muhammad Zaenal Ariď€ n

[ Sekilas Cerita di Watukamba, Maurole ]

KLASTER SOSIO HUMANIORA

KKN-PPM UGM NTT 04 2016, itulah nama unit KKN tempat saya mengabdikan diri sebagai mahasiswa berstatus 'angkatan tua' yang diterjunkan oleh pihak kampus tercinta, Universitas Gadjah Mada untuk mengabdikan diri secara langsung kepada masyarakat di pelosok nusantara. Sebenarnya pada awalnya belum pernah terbesit dalam pikiran bahwa saya akan menjalani kegiatan KKN hingga ke pelosok timur Indonesia, hampir secara tidak sengaja karena waktu itu hanya didasari keisengan untuk mengikuti pendaftaran tim KKN yang saya temui dalam laman forum angkatan KKN 2016. Saat itu karena saya belum terdaftar dalam kelompok KKN manapun akhirnya saya pun berinisiatif untuk mengikuti wawancara ini dan akhirnya diterima menjadi anggota tim. Saat pertemuan pertama dengan temanteman KKN, jujur saja hampir di sana tidak ada yang saya kenali. Hanya satu wajah yang tahu, yaitu teman satu jurusan saya (Ilmu Komunikasi, Fisipol) yang juga ikut diterima di tim ini dan dua orang mahasiswa yang dulunya mewawancaraiku saat penyeleksian tim. Setelah sejumlah besar mahasiswa yang tergabung dalam tim ini datang, kami pun mulai saling memperkenalkan diri satu sama lain. Kemudian Haď€ dz, selaku kormanit dari tim KKN menjelaskan secara umum tentang tema dan agenda-agenda ke depannya. Di akhir sesi pertemuan Haď€ dz dan temantemannya yang merupakan pendiri awal tim mengajukan pemilihan (kormater), dan setelah beberapa diskusi akhirnya saya pun terpilih sebagai kormater bagi mahasiswamahasiswa klaster sosio humaniora.

Menjadi seorang kormater berarti menjadi seorang ketua dari beberapa mahasiswa dan menjadi seorang yang memikul tanggung jawab yang cukup besar. Saya sepertinya merasa cemas dan was-was ketika terpilih menjadi seorang kormater yang notabene bakal menjadi peran penting dalam tim KKN, apalagi saya tidak memiliki banyak pengalaman sebagai koodinator atau ketua. Saat pertama kali diadakan rapat klaster soshum saya memimpin rapat dengan rasa sedikit canggung, mungkin dikarenakan pada waktu itu kita belum terlalu mengenal satu sama lain dan diharuskan untuk menyetorkan rencana program klaster guna dijadikan bakal calon proposal pengajuan KKN tepat seminggu setelah pertemuan pertama kami. Baru setelah pertemuan ke sekian kalinya rapat kami menjadi lebih 'berwarna' dan tidak melulu selalu serius membahas program saja, kita mulai lebih bisa mengobrol santai dan diselingi candaan-candaan kecil. Saya mulai menjadi terbiasa menjalani peran saya dan mulai menjalin pertemanan di tim KKN ini, baik klaster soshum maupun dengan temanteman satu unit. Menjelang pertengahan semester enam kegiatan tim menjadi lebih padat dan lebih serius, karena pada saat-saat inilah yang menentukan lolos tidaknya tim kami untuk menjadi perwakilan LPPM UGM ber-KKN di lokasi Ende, NTT. Pertemuan menjadi lebih sering diadakan utamanya dalam membahas program-program untuk diajukan, berkas administratif hingga mengumpulkan dana dari sponsorship maupun danus.

Bisa dikatakan agenda kami hampir tiga kali lebih sibuk dari biasanya, karena dibarengi juga pada saat itu menjelang masa-masa ujian tengah semester. Setelah perjuangan kami selama ini, akhirnya penantian kami pun membuahkan hasil ketika pihak LPPM UGM mengumumkan tim-tim mana saja yang lolos penempatan lokasi, tim kami masuk ke dalam list tersebut dan pada saat itulah tim kami resmi menjadi tim KKN-PPM UGM NTT-04 2016. Setelah menyelesaikan segala keperluan administratif dan persiapan program, terjadwalah kami berangkat menuju Ende pada tanggal 19 Juli 2016. Pagi hari kami berangkat dari Yogyakarta dan pada sore hari kita sampai di kota Ende. Ya, kota kabupaten Ende, kami memang tidak langsung menuju ke lokasi tempat KKN karena pada keesokan harinya tanggal 20 Juli kita memiliki agenda di Universitas Flores yaitu upacara penerimaan dari pihak Pemda dan pelepasan KKN yang bermitra dengan Unior serta BPBD Kabupaten Ende. Barulah setelah acara tersebut selesai kita menuju lokasi KKN yang bertempat di Desa Watukamba dan sampai di lokasi pada sore hari. Minggu pertama kami jalani dengan observasi-observasi mengenai segala hal yang berhubungan dengan keperluan program, keadaan masyarakat dan mulai mengurus perizinan dengan pihak-pihak terkait. Dari observasi-observasi inilah yang nantinya menjadi acuan dasar serta penyesuaian rencana program maupun waktu pelaksanaannya.


128

Setelah keperluan observasi kami pandang cukup sebagai data acuan, kami pun mulai melakukan rapat baik itu rapat klaster, sub unit dan unit agar program-program yang nantinya akan dilakukan di sini lebih sesuai dan tepat sasaran. Selain untuk berobservasi, minggu perama juga merupakan waktu bagi kami untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mulai membangun komunikasi atau mulai membaur dengan masyarakat pribumi. Bagi kami yang mayoritas merupakan orang Jawa dan biasa tinggal di dataran tinggi, hidup jauh di sisi timur Indonesia yaitu Flores yang memiliki budaya dan cuaca yang berbeda menjadi tantangan tersendiri. Saya sendiri juga merasakan hal tersebut, karena ada beberapa kontras budaya yang berbeda antara budaya orang Flores dengan budaya di Jawa terutama dalam hal berbicara, karena orang Jawa terbiasa berbicara lembut dan sopan sedangkan di sini orang-orang terbiasa berbicara dengan suara keras walaupun sebenarnya tidak bermaksud kasar.

Wanita Tangguh Desa Watukamba

[Cerita Dari Watukamba] 129

Memasuki minggu-minggu selanjutnya kami mulai melaksanakan program-program yang telah disesuaikan dan sudah disusun ulang. Ada empat buah klaster keilmuan di tim KKN ini, yaitu klaster Saintek, Soshum, Agro dan Medika yang masing-masing memiliki fokus yang berbeda di tiap programnya contohnya Saintek yang berfokus pada mitigasi bencana serta pembangunan infrastruktur tertentu, Soshum yang berfokus ke kehidupan sosial masyarakat, Agro yang berfokus pada penyuluhan tanaman dan ternak serta Medika yang berfokus pada bidang-bidang kesehatan. Meskipun bisa dibilang kegiatan menjadi sangat padat, akan tetapi dalam pelaksanaan program-program setiap klaster semua anggota tim KKN saling mendukung dan saling membantu agar semua program terjalankan sesuai tujuan yang telah direncanakan. Kebanyakan program yang diagendakan oleh tim KKN kami memang berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Namun ada pula pelaksanaan programprogram kami di sini yang kurang berjalan dengan mulus, terutama program-program yang membutuhkan adanya partisipasi aktif dari masyarakat. Hal ini sebenarnya lebih dikarenakan oleh kultur masyarakat itu sendiri, dimana masyarakat di sini memiliki kegiatan yang padat di siang hari yaitu bekerja di kebun dari pagi hingga petang sehingga tidak bisa mengikuti program yang dijalankan tim KKN di siang hari dan pekerjaan nelayan yang mengharuskan melaut di malam hari yang pada siang harinya digunakan untuk beristirahat.

Untuk menyiasati hal ini kami biasanya menggabungkan beberapa programprogram sosialisasi sekaligus dalam satu waktu agar agenda-agenda yang harus mengumpulkan masyarakat tidak terlalu sering sehingga tidak membuat mereka jenuh terhadap program kami. Program-program kami di sini juga tidak semuanya melulu materi yang serius, ada pula beberapa program santai yang juga dilaksanakan. Program-program yang santai tersebut contohnya adalah mengajar para siswa-siswa di SD Nanganio, SD Watukamba dan PAUD Sekosodo yang di dalamnya kita mengajar dengan cara yang menyenangkan. Selain itu ada pula program pekan lomba desa yang diikuti oleh orang dewasa dan anak-anak, dalam program ini kami menyatukan masyarakat Desa Watukamba ke dalam sebuah eventevent perlombaan yang menyenangkan. Banyak hal dan pengalaman yang menyenangkan saya dapatkan selama menjalani KKN di Desa Watukamba ini. Mulai dari teman-teman baru, yaitu mereka rekan tim KKN dengan kepribadian masing-masing yang berbeda, bercengkerama dengan warga lokal Desa Watukamba, pengalaman merasakan keadaan di Indonesia bagian timur dan pengalaman mengajar para siswa-siswa di SD dan PAUD, serta pengalaman menjalankan programprogram pengabdian yang ditujukan langsung untuk masyarakat sekitar.

Keadaan SD Katolik Watukamba yang Sederhana

Satu hal yang berkesan dan berdampak bagi saya adalah pengalaman sebagai koordinator mahasiswa klaster. Menjadi seorang kormater membuat saya mau tidak mau harus menjadi pribadi yang lebih kompeten dari biasanya, jujur saya bukanlah seorang yang termasuk rajin dan bukan mahasiswa yang menonjol dalam bidang akademik maupun dalam organisasi, bisa dikatakan saya ini hanyalah mahasiswa yang benar-benar biasa saja.


130

Dengan serta menjadi komando dari beberapa mahasiswa di lokasi KKN mengharuskan saya untuk memainkan peran vital, mulai dari memimpin jalannya diskusi klaster, melaporkan progres dan rencana dari klaster dalam rapat unit, membagi PJ program-program klaster kepada anggota klaster, mengontrol jalannya program klaster agar terlaksana sesuai rencana, dan harus sering membuat presentasi atau laporan tertulis lainnya. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya menjadi lebih rajin, lebih memiliki jadwal yang teratur dan membuat skill saya bertambah. Selain pengalaman menjadi kormater, pengalaman menarik lainnya adalah kondisi masyarakat Desa Watukamba. Bagi saya yang terbiasa bertempat tinggal di dataran tinggi Klaten, Jawa Tengah berada di Desa Watukamba yang merupakan daerah timur dan sekaligus pesisir pantai adalah hal yang berkesan. Di Desa Watukamba, saya melihat banyak hal baru utamanya dalam hal sosial di sini, mulai dari kebiasaan warga yang sangat sering mengonsumsi kopi, bermain bola voli dan sepak bola di pantai pada sore hari, musikmusik yang sering diputar, orang-orang yang berkeliling di pagi hari sambil membawa beberapa ikan untuk dijual sambil berteriak “ikaan, ikaaan�, anak-anak yang berkeliling berjualan pisang goreng dan pisang molen di pagi atau sore hari dengan nada khasnya dan banyak hal lainnya.

[Cerita Dari Watukamba] 131

Pengalaman-pengalaman tersebut adalah hal baru yang hanya bisa saya dapatkan saat KKN dan saya sangat bersyukur bisa merasakan pengalaman dan hal-hal baru di sini, di Desa Watukamba kecamatan Maurole, Ende.

Sore-sore di Watukamba


146

[Cerita Dari Watukamba] 147

oleh: Dolce Yartikasih Bate’e

[ Bertamu di Rumah DeWa - Desa Watukamba ]

Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup bermasyarakat dan membentuk organisasi. Organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan bersama. Di dalam sebuah organisasi, komunikasi merupakan kunci utama dan menjadi hal terpenting. Komunikasi yang baik melahirkan organisasi yang maju, mengurangi perselisihan dan mencapai hasil yang maksimal. Organisasi tidak selalu berkaitan dengan sebuah perkumpulan besar di mana adanya struktur

Lirik dari lagu ini menggambarkan kami, tim KKN NTT-04 yang segera menyelesaikan program kerja di Desa Watukamba. Tanggal 20 Juni 2016 menjadi awal bagi kami menginjakkan kaki di desa kecil di Nusa Tenggara Timur. Satu setengah bulan yang lalu, rasa-rasanya ingin cepat pulang ke Yogyakarta. Namun rasa itu kini berubah. Kami tidak dapat membohongi perasaan kami yang memilih untuk tinggal di Desa Watukamba lebih lama lagi.

organisasi yang lengkap atau memiliki jabatan tertentu. Namun, kelompok kecil

Oleh karena Kuliah Kerja Nyata (KKN)

yang merasa tujuannya sama, sudah

bersifat sebentar dan merupakan tugas akademik, kami harus merelakan kebersamaan kami bersama keluarga asuh, masyarakat, para pemuda, teman, pemerintah desa selama satu setengah bulan ini. Selayaknya kami menyebut ini sebagai sebuah perpisahan. KKN di desa Watukamba ini mengajarkan kami banyak hal, terutama bagi penulis. Cerita menarik dan mengejutkan itu akan tertera di bagian akhir tulisan ini.

termasuk dalam organisasi. Di dalam tulisan ini, akan dipaparkan berbagai hal yang terjadi pada organisasi atau kelompokkelompok yang ada di masyarakat desa Watukamba. Desa yang kecil namun memiliki segudang cerita menarik.

Lagu “Pergi untuk Kembali� milik Ello semakin sering diputarkan. “Selamat tinggal kasih. Sampai kita jumpa lagi. Aku pergi takkan lama. Hanya sekejap saja. Ku akan kembali lagi. Asalkan engkau tetap menanti�. Pergi untuk Kembali

Selama satu setengah bulan ini, banyak hal yang terjadi bagi penulis. Tidak hanya bagi penulis, begitu pula dengan desa Watukamba. Mulai dari aparatur desa, masyarakat, organisasi karang taruna, sekolah, dan anak-anak. Kelima aspek itu masing-masing memiliki kebiasaan dan persoalan yang selayaknya bisa diubah atau dikembangkan melalui kehadiran kami tim KKN.

Kebahagiaan-kebahagiaan Kecil di Watukamba

Ketika kami sampai di tanah Watukamba ini, kami sepakat untuk melakukan sesi pengenalan mengenai aktivitas masyarakat desa. Observasi yang kami lakukan kurang lebih seminggu. Tujuannya agar memudahkan kami melakukan program kerja dan mengetahui letak kekurangan dari desa yang kami cintai ini. Berdasarkan observasi itu, kami menemukan banyak hal. Bermula ketika penulis bergabung dalam forum pemuda desa. Banyak percakapan terjadi, hingga memunculkan pertanyaan. Penulis bertanya tentang nomor telepon pemerintah desa (kepala desa). Semuanya diam.


148

Sayup-sayup suara masih terdengar namun tidak jelas. Hingga penulis memecahkan keheningan dan berkata bahwa kegiatan yang dilakukan pemuda desa itu baik dan sebaiknya dibicarakan kepada pemerintah desa. Lebih baiknya lagi jika melakukan rapat rutin desa atau sekadar evaluasi. Lagilagi semuanya diam. Hingga forum itu berakhir secara perlahan. Ketika penulis melakukan sesi tanya jawab secara rahasia dengan beberapa masyarakat, penulis mendapatkan jawaban. Jawabannya yakni kurangnya komunikasi dan koordinasi antara aparatur desa dan masyarakat. Di situlah persoalannya. Hubungan yang baik antara pemerintah desa itu sedikit memiliki lubang kecil yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan dengan baik. Akibat yang ditimbulkan, informasi dari aparatur desa tidak merata tersebar kepada warga, tidak adanya rapat rutin atau sekadar evaluasi, dan masalah desa semua diselesaikan secara sepihak oleh aparatur desa. Masalah klasik ini ternyata masih belum diselesaikan hingga saat ini. Hubungan tidak baik itu tidak jelas terlihat namun bisa dirasakan. Salah satu buktinya, tidak ada kerja bakti antarwarga. Untuk menumbuhkan kembali sikap kegotong royongan itu, tim KKN kami melakukan kerja bakti bersama pemuda desa di minggu pertama setelah berada di Watukamba. Ini menjadi awal untuk mengaktifkan kembali organisasi desa.

[Cerita Dari Watukamba] 149

Dalam kegiatan observasi desa, penulis menemukan lagi bahwa tidak adanya administrasi atau pembukuan yang baik di kantor desa. Pengetahuan tata kelola administrasi masih kurang. Surat menyurat pun sekadar surat biasa. Tidak memiliki kaidah seperti surat resmi pada umumnya. Selain itu, pembukuan yang kurang baik didukung lagi karena kurangnya pengetahuan menggunakan teknologi komunikasi informasi. Untuk itu, penulis mencari tahu sebenarnya bagaimana administrasi desa secara langsung. Hasil yang didapatkan bahwa tidak ada administrasi yang jelas. Surat dibuat hanya pada saat acara penting di desa. Inventaris desa pun tidak tertata dengan baik. Penulis berpikir bahwa pengetahuan administrasi perlu diaplikasikan kepada aparatur desa. Sehingga penulis dan aparatur desa sepakat untuk bertemu membagi pengetahuan tentang tata kelola administrasi, surat menyurat dan juga cara menggunakan teknologi informasi. Dalam waktu seminggu, observasi tidak berhenti pada organisasi desa dan masyarakat. Penulis dan beberapa teman ingin mengunjungi sekolah dasar di desa Watukamba. Tepatnya di SD Nanganiau yang terletak di dusun Wolosambi. Setelah mengamati dan melakukan wawancara juga dengan pihak sekolah, ternyata pengetahuan tentang mitigasi bencana perlu diterapkan secara dini kepada siswa di SD Nanganiau. Mengingat tema besar tim KKN kami yang merangkul mitigasi bencana dan air bersih.

Ditambah lagi, SD Nanganiau belum pernah mendapat pembelajaran mitigasi bencana secara dini. Kesepakatan pun dibuat bersama pihak sekolah. Respon positif sekolah juga menjadi modal bagi penulis untuk memulai program kerja di sektor sekolah. Tahun ajaran baru, tanggal 18 Juli 2016 menjadi awal proses pembelajaran mitigasi bencana bagi adik-adik di SD Nanganiau. Tidak hanya mitigasi bencana, sesekali penulis menjadi pengganti guru dalam mengajar di kelas. Hal ini dikarenakan, sekolah masih kekurangan tenaga pengajar khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika.

Sosialisasi Mitigasi Bencana Bersama Karang Taruna

Mengajar Bahasa Korea

Proses belajar mengajar menjadi tantangan sendiri bagi penulis sekaligus menarik. Bermain dan belajar diiringi dengan kesabaran yang tinggi adalah atmosfer yang dialami setiap harinya. Selain dari kurangnya pengetahuan tentang bencana, ternyata sekolah tidak memiliki pembukuan yang baik di perpustakaan sekolah. Perpustakaan memuat banyak buku. Namun, penataannya sangat “menyedihkan�. Buku-buku dibiarkan begitu saja. Tidak tersusun dengan rapi, sampah di mana-mana, pengelompokkan buku pun tidak teratur. Akhirnya penulis berpikir bahwa pembukuan perpustakaan sekolah bisa menjadi salah satu program kerja kegiatan tim KKN. Mengingat hal itu bisa bermanfaat di sekolah dan siswa di SD juga tidak memiliki kesulitan ketika melakukan aktivitas di perpustakaan. Fenomena-fenomena di atas sebenarnya sebagian kecil dari masalah yang sering terjadi di Desa Watukamba. Sifatnya memang tidak mendesak. Namun penulis berpikir bahwa hal-hal tersebut membutuhkan perubahan. Setidaknya kebiasaanlah yang perlu diubah.


150

Menanamkan pengetahuan secara dini juga menjadi awal bagi Desa Watukamba yang lebih baik. Penulis dan tim memiliki tujuan yang sama yakni menjadi agen perubahan yang baik sekaligus bermanfaat bagi warga. Kehadiran kami bukan menjadi beban namun menjadi penolong dan dinanti-nantikan oleh desa dan warga Watukamba. Berdasarkan persoalan-persoalan di atas, penulis menawarkan beberapa solusi melalui kegiatan dan sosialisasi kepada masyarakat. Sebagai mahasiswa yang belajar di Ilmu Komunikasi, masalah yang terjadi di Desa Watukamba ini terletak pada komunikasi itu sendiri. Hubungan yang kurang baik antara aparatur desa dan masyarakat menjadi kendala dalam memajukan desa ini.

[Cerita Dari Watukamba] 151

Mengadakan rapat rutin ini dapat membantu memperbaiki komunikasi dalam organisasi desa. Eksistensi organisasi desa sendiri bergantung pada kemampuan manusia atau masyarakat dalam berkomunikasi dan kemauan untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan yang sama. Komunikasi itu bisa dilakukan secara tertulis dan secara lisan. Aparatur desa bisa menjangkau masyarakatnya melalui sistem tersebut.

Rapat Bersama Karang Taruna

Keberadaan penulis bukan untuk menyelesaikan perkara di antara kedua belah pihak, namun menawarkan kegiatan agar pemerintah desa dan masyarakat bisa sejalan dalam membangun desa. Kegiatan yang bisa dilakukan itu antara lain mengadakan rapat rutin desa, perlu mengadakan evaluasi dan musyawarah juga. Kurangnya kedekatan warga dengan pemerintah desa menyebabkan masalah desa hanya diselesaikan secara sepihak.

Jika aparatur desa melakukan komunikasi tertulis lewat surat, penulis pun membagi pengetahuan dalam menulis surat yang benar. Seperti yang dilakukan beberapa minggu yang lalu di kantor desa. Kegiatan ini membantu desa menambah pengetahuan dalam administrasi desa. Apabila berkomunikasi melaui lisan, pesan yang disampaikan jangan sampai berubah apabila disebarkan. Pesan tersebut tetap utuh dan tidak mengubah makna di dalamnya. Misalnya yang sering terjadi di desa ini adalah ketepatan waktu saat berkumpul.

Perilaku tepat waktu masih belum terealisasikan di desa ini. Salah satu penyebabnya adalah pesan yang secara lisan berubah ketika melewati orang ketiga. Penulis pun menawarkan solusi dalam hal itu yakni tetap menjaga kebiasaan menyebarkan surat. Agar informasinya sama. Di sisi lain, masalah di sekolah pun harus diselesaikan. Melalui kerjasama yang baik antara kluster saintek, penulis pun melakukan sosialisasi mitigasi bencana secara langsung kepada adik-adik di SD Nanganiau. Ditekankan bahwa pengetahuan dini akan membantu mereka selalu waspada terhadap bencana yang tidak tahu kapan datangnya. Oleh karena adik-adik di SD Nanganiau masih belum terbiasa dalam sosialisasi atau penyampaian materi yang bersifat seminar, sehingga penulis melakukan praktik dan simulasi bencana secara langsung. Teknik seperti ini akan mudah mereka pahami. Bukti dari kegiatan ini, mereka pun antusias dan paham secara cepat. Respon dari mereka inilah yang membuat penulis dan beberapa teman lega dan terharu karena pesan yang kita sampaikan dapat mereka terima. Masalah juga adalah penataan buku yang kurang baik di perpustakaan. Penulis melakukan perbaikan dengan melakukan pembersihan ruangan bersama. Setelah itu, penataan buku dilakukan dengan menggabungkan buku yang sejenis dan memberikan label-label di buku. Hal ini akan memudahkan adik-adik mudah mencari buku yang diinginkan.

Tidak lupa menempelkan tulisan-tulisan semangat bagi adik-adik untuk gemar membaca. Tampaknya sederhana, namun perpustakaan sekolah itu sekarang banyak didatangani siswa dan mengikuti sistem peminjaman dan pemeliharaan buku dengan baik. Banyak masalah lain yang terjadi di Desa Watukamba, namun persoalan-persoalan di atas sebagian kecil dari masalah lain yang sudah bisa diatasi penulis. Satu setengah bulan di desa Watukamba ini merupakan hal yang tidak pernah diduga oleh penulis sendiri. Kebiasaan penulis selama tiga tahun bisa berubah dalam sekejap saat di desa Watukamba. Kebiasaan bangun pagi, alarm tidak dibutuhkan. Masyarakat desa di pagi hari sudah sibuk beraktivitas. Hal itu secara tidak langsung mempengaruhi penulis untuk bangun pagi dan kemudian beraktivitas. Masyarakat desa sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Selalu ada waktu berkumpul dengan keluarga meski pekerjaan di ladang membuat mereka kelelahan. Waktu bersama keluarga menjadi poin penting untuk dilakukan. Penulis mendapat pengalaman bahwa keluarga adalah harta di dunia ini. Minum teh di sore hari sambil menikmati pisang rebus merupakan momen terindah yang dilakukan bersama keluarga di desa ini. Saat tim ini terbentuk, penulis masih tergolong pendiam. Namun KKN mengubah penulis menjadi orang yang aktif, bergaul dengan rekan se-tim dan bergaul pula dengan masyarakat. Tidak ada lagi sikap menutup diri.


152

Bekerja sama dengan masyarakat juga membantu penulis menemukan banyak hal dalam kelompok. Salah satunya, masyarakat mengubah saya menjadi orang yang suka berolahraga. Aktivitas main voli di sore hari menjadi rutinitas yang dilakukan warga. Tidak jarang penulis pun ikut tergabung dalam kegiatan tersebut. Tidak sekadar bermain saja, namun ada interaksi di dalamnya. Penulis lebih banyak mengenal warga dan kebiasaannya. Hal itu bisa membantu penulis juga dalam melaksanakan program-program kegiatan. Ini menjadi bukti bahwa KKN bukan hanya tugas akademik. Namun ini seperti mempertemukan penulis dengan keluarga baru. Turun ke lapangan secara langsung. Mendapat tantangan yang luar biasa dan dapat diselesaikan bersama dengan tim. Akhirnya, kebersamaan itu akan berakhir. Penulis dengan tim akan melanjutkan s t u d i n y a d a n mempertanggungjawabkannya di bangku perkuliahan. Semoga kami (penulis dan tim) bisa memberi kabar bahagia untuk keluarga di Desa Watukamba melalui kesuksesan kami di perkuliahan. Sampai bertemu lagi.

[Cerita Dari Watukamba] 153

Turun ke Lapangan Menjadi Hal yang Penting


154

[Cerita Dari Watukamba] 155

oleh: Ida Ayu Fara Febrina

[ Desa Watukamba: Unwell Educated Community sebagai Bentuk Kegagalan Edukasi di Indonesia ]

Sebagai salah satu daerah yang berkembang dan juga – masih – digolongkan sebagai daerah yang cukup tertinggal di Indonesia, Nusa Tenggara Timur khususnya di Desa Watukamba masih terjadi banyak permasalahan. Salah satu di antaranya ialah permasalahanpermasalahan sosial yang akarnya bersumber dari rendahnya tingkat pendidikan atau dapat disebut sebagai unwell educated community atau dalam bahasa yang lebih kasar disebut sebagai sikap “kampunganâ€?. Ada beberapa stereotype yang menempel pada masyarakat pedesaan yang digolongkan sebagai unwell educated community seperti pemikiran masyarakatnya masih sempit, lebih menghargai pembangunan ď€ sik dan pemberian berupa materi, serta proses sosial yang berjalan lambat. Namun di samping berbagai stereotype tersebut tentunya ada banyak nilai-nilai positif yang dapat kita lihat dalam masyarakat di pedesaan seperti ikatan keluarganya yang masih sangat kuat, adanya tradisi gotongroyong, dan rasa menghargai dan toleransi yang masih cukup tinggi pada masyarakatnya. Hal-hal ini semuanya dapat saya rasakan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Desa Watukamba. Seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa masalah utama yang ditimbulkan oleh unwell educated community ini bukan pada terciptanya masyarakat yang tidak berpendidikan tetapi lebih kepada terciptanya masyarakat yang tidak mampu menyerap informasi secara sempurna.

Dengan kemampuan menyerap informasi yang tidak sempurna ini, kerap menimbulkan suatu pemahaman yang parsial dan justru menyebabkan banyak terjadi salah tafsir oleh masyarakat yang bersangkutan. Contoh saja ketika kedatangan pertama kami ke desa, warga memberikan ekspektasi yang “cukup tinggi� akan kedatangan kami. Teman-teman kami dari klaster Saintek – yang dianggap bisa membangun dan memperbaiki segalanya – kemudian ditawarkan pekerjaan-pekerjaan 'kasar' mulai dari membangun sekat untuk ruang guru SD sampai dengan membetulkan parabola di rumah beberapa warga yang tentunya mayoritas pekerjaan yang ditawarkan kepada kami belum pernah dikerjakan sebelumnya di tempat asal kami maupun di Yogyakarta. Sebenarnya ini merupakan suatu kejadian yang tidak terlupakan sekaligus mampu memberi pelajaran kepada kami bahwa masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman yang terbatas dikarenakan adanya informasi serta akses informasi yang terbatas pula. Setelah melihat salah satu contoh bagaimana informasi dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, kami menyadari bahwa pemahaman yang sempurna akan suatu gagasan atau permasalahan dapat sangat membantu perkembangan dari masyarakat itu sendiri. Maka dari itu salah satu program yang kami coba lakukan ialah melakukan sosialisasi tentang penggunaan bak sampah dengan tujuan untuk memberikan informasi yang sempurna dalam bahasa yang mudah dimengerti agar masyarakat di Desa Watukamba dapat dengan mudah memahaminya.

Lalu, mengapa bak sampah? Di samping karena bak sampah merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh teman-teman dari klaster Saintek, saya pribadi melihat pengelolaan sampah di Desa Watukamba ini masih cukup buruk. Terbukti dengan pembakaran sampah yang di lakukan oleh setiap rumah tangga di Desa Watukamba. Hal ini mungkin saja terjadi akibat pemahaman masyarakat akan bahaya pembakaran sampah yang masih sangat rendah atau pun bisa juga disebabkan karena masyarakat tidak memiliki pilihan lain. Maksudnya tidak ada sistem yang mampu menopang pengelolaan sampah di Desa Watukamba, seperti misalnya badan pengelolaan sampah yang mampu “menindaklanjuti� keberadaan dari sampah-sampah yang ada. Ketika kami mencoba untuk menganjurkan pengumpulan sampah di suatu titik kepada beberapa warga, mereka masih enggan untuk melakukannya, karena mereka menganggap bahwa hal tersebut tidaklah praktis dan justru hanya akan membuangbuang tenaga serta waktu dan membakar sampah di sekitar rumah mereka merupakan hal yang paling mudah untuk dilakukan. Tentunya kami tidak bisa langsung memaksa mereka untuk mau menerima gagasan kami ini dengan mudah. Sebagai masyarakat yang masih tergolong pada unwell educated community, warga Desa Watukamba masih cukup sulit untuk menerima gagasan-gagasan baru yang berbeda dari keseharian mereka.


156

[Cerita Dari Watukamba] 157

Sehingga tujuan dari pembangunan bak sampah dan sosialisasi penggunaannya yang kami lakukan ialah bukan untuk mengubah pola pengelolaan sampah yang dilakukan melainkan agar pemahaman masyarakat akan pengelolaan sampah semakin bertambah sehingga masyarakat setidaknya mau melakukan pembakaran di beberapa titik saja, tidak menyebar di seluruh desa dan mungkin nantinya akan mampu mengubah kebiasaan tersebut secara perlahan-lahan. Selanjutnya kami juga melakukan sosialisasi terkait mitigasi bencana di desa ini. Isu ini kami pilih karena keadaan geograď€ s Desa Watukamba yang sifatnya rawan bencana, entah itu gempa, gunung berapi, dan tsunami. Hal ini dianggap penting sebab ketika ditanya sebelumnya kepada warga terkait bencana, warga di sini tidak terlalu ambil pusing dan beranggapan bahwa desa mereka ini tidaklah rawan bencana karena hanya pernah terjadi sekali bencana dalam jangka puluhan tahun misalnya Gunung Rokatenda yang meletus pada tahun 1992 saja. Namun sifat menyepelekan masyarakat ini disebabkan karena pemahaman mereka yang masih sangat dangkal. Mereka tidak tahu bahwa justru bencana dengan selang waktu yang panjang dampaknya akan jauh lebih berbahaya daripada yang selang waktunya pendek. Juga, mereka tidak begitu paham bahwa sebenarnya kondisi geograď€ s mereka sangat rawan akan bencana. Maka dari itu sangat penting untuk mengedukasi warga sejak dini tentang bencana dan cara mitigasinya, agar mereka memiliki pemahaman yang lebih baik.

Potret Masyarakat Desa Watukamba

Ada satu hal yang membuat saya cukup heran di sini yakni anak-anak di desa ini lebih hafal dan fasih ketika menyanyi lagu-lagu tentang percintaan yang menjadi soundtrack dari salah satu sinetron di televisi ketimbang lagu-lagu yang ada dalam kartun. Hampir setiap anak di sini memakai baju, tas, atau pun barang-barang lainnya yang bergambar tokoh dalam sinetron.

Hal ini mungkin menjadi suatu fenomena yang cukup memprihatinkan bagi pendidikan anak di usia dini. Sebab tidak hanya di daerah pedesaan, di daerah perkotaan kasus-kasus seperti ini juga masih banyak ditemui. Namun yang paling disayangkan kebanyakan orang tua di desa ini – utamanya – tidak begitu paham dampak dari tontonan anak yang tidak sesuai umurnya, bahkan mereka bangga apabila anak-anaknya dapat menyanyikan lagu-lagu yang bertemakan percintaan tersebut. Maka dari itu perlu adanya pendidikan anak usia dini yang lebih komprehensif yang diterapkan di kelompok bermain atau pun di TK yang ada di Desa Watukamba ini, agar anak dapat memperoleh pendidikan dan pengetahuan yang sesuai.

Begitu pula ketika saya mencoba untuk memperkenalkan seni origami dan seni tari dari daerah saya, anak-anak di sini juga termasuk guru-guru di SD Nanganio juga sangat antusias untuk mempelajarinya. Juga ketika saya mengajarkan cara-cara menggunakan aplikasi komputer pada perangkat desa, mereka sangat antusias menerima pelajaran tersebut.

Hal menarik lainnya yang saya jumpai ialah bahwa masyarakat di sini memiliki antusias yang tinggi akan hal-hal baru yang kami – coba untuk – kenalkan. Mulai dari anakanak sampai pada orang tua di desa ini selalu antusias mendengarkan cerita-cerita yang kami bawa dari tempat asal kami, mereka juga selalu memperlakukan kami dengan sangat baik dan ramah seperti keluarga mereka sendiri. Sama halnya ketika kami melakukan sosialisasi kepada warga di Desa Watukamba, walaupun kuantitas yang hadir tidak seberapa tetapi dalam sesi diskusi masyarakat cukup aktif bertanya tentang program-program yang kami sampaikan.

Tetapi kembali lagi dengan sifat masyarakat yang sulit untuk menerima hal-hal baru yang dianggap tidak sesuai dengan keseharian masyarakat di sini, banyak penyesuaian dan perubahan yang kami lakukan terhadap program-program yang kami tawarkan sebelumnya sini. Masyarakat di sini lebih menghargai pembangunan ď€ sik daripada pembangunan-pembangunan sosial seperti pembangunan sistem maupun struktur. Menurut saya hal ini juga disebabkan oleh pemahaman masyarakat tentang pembangunan yang masih sangat 'dangkal'. Mayoritas masyarakat di sini memandang bahwa pembangunan ď€ sik merupakan hal utama yang harus dilakukan agar desa mereka dapat menjadi lebih maju.

Anak Kelas 3 SD yang Sedang Menonton Video Mitigasi Bencana


158

Padahal sebenarnya tidak demikian, pembangunan ď€ sik tanpa diikuti oleh pembangunan sistem ataupun struktur yang komprehensif merupakan suatu hal yang sia-sia. Misalnya saja pembangunan bak sampak tanpa diikuti oleh pengadaan sistem pengelolaan sampah yang komprehensif sebenarnya hanya akan menjadi hal yang sia-sia. Di samping fenomena-fenomena tersebut salah satu permasalahan yang cukup kompleks ialah pada keberadaan perangkat desa di Desa Watukamba. Hal yang paling menonjol di sana adalah pada tidak adanya trust antara pemimpin desa, staff di desa, dan warga desa di mana permasalahan ini saya temui ketika melaksanakan program pembantuan administrasi desa. Alhasil dalam pelaksanaan program, kami lebih sering bekerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat ataupun pemuda di desa ini. Pihak desa pun terkesan lebih sering 'lepas tangan' dengan tidak menghadiri program yang telah kami siapkan, walaupun sudah diberikan undangan yang resmi. Ketika saya mencoba untuk bertanya terkait permasalahan tersebut baik kepala desa, staff di desa, maupun warga di desa saling menyalahkan. Warga menyebutkan bahwa kepala desa merupakan orang 'asing' karena bukan merupakan warga asli dari Watukamba dan tidak memahami dengan baik apa yang menjadi kebutuhan dari warga sebenarnya, sedangkan kepala desa justru menyalahkan stafnya karena dianggap kurang kompeten dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan sehingga tidak mampu mendukung kinerja dari kepala desa itu sendiri.

[Cerita Dari Watukamba] 159

Namun sebenarnya yang terjadi ialah tidak adanya trust antara kepala desa, staff, dan warga desa. Padahal apabila kepala desa mampu membangun trust yang baik kepada staff dan warganya pasti permasalahan-permasalahan seperti tidak puasnya masyarakat akan kinerja kepala desa ataupun tidak puasnya kepala desa kepada kinerja staffnya – karena hal-hal yang bersifat pribadi – pun akan dapat dihindari. Tentunya permasalahan trust ini sedikit banyak memberikan pengaruh kepada program yang hendak kami laksanakan, tidak jarang kami menjadi korban “php� dari pihak desa karena adanya miss komunikasi di antara mereka. Misalnya ketika saya akan membantu staf desa dalam administrasi, bendahara desa menjanjikan akan menghadirkan seluruh perangkat desa namun kenyataannya setelah mempersiapkan segala kebutuhan, pada hari yang dijanjikan tidak ada satu pun perangkat desa yang hadir dengan alasan yang tidak jelas. Dari permasalahan tersebut sebenarnya kita dapat melihat bahwa hal-hal – yang mungkin dianggap – sepele seperti trust, kerja sama, atau pun hubungan timbal balik mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja seseorang atau pun suatu organisasi. Dalam permasalahan yang dihadapi oleh Desa Watukamba, di mana posisi kepala desa tidak memiliki legitimasi yang cukup kuat karena pengangkatannya yang bersifat penunjukan langsung sehingga warga Desa Watukamba tidak merasa memiliki keterikatan dengan pemimpinnya.

Mungkin solusi yang dapat saya anjurkan ialah dalam pemilihan kepala desa selanjutnya agar dilangsungkan secara lebih demokratis, di mana warga desa diberikan kesempatan untuk memilih pemimpinnya. Di samping itu pemilihan perangkat desa juga harus melalui proses pemilihan yang lebih baik. Sebab sepenglihatan saya, beberapa perangkat desa dipilih hanya karena gelar sarjana yang dimilikinya tanpa melihat etos kerjanya yang kemudian justru menjadi penghambat bagi kinerja desa.

Anak-anak Dermaga

Pembuatan Bak Sampah di Posyandu

Berdasarkan berbagai pengalaman yang telah saya jalani selama hampir satu bulan lebih berada dan tinggal di desa ini dan beberapa permasalahan yang telah saya paparkan sebelumnya, unwell educated community menjadi “PR� utama yang harus diselesaikan oleh pemerintah pusat di Desa Watukamba.

Jadi fokus pembangunan tidak hanya pada pembangunan ď€ sik saja tetapi juga pada pembangunan sosial seperti adanya sistem atau struktur yang lebih baik. Karena selama ini saya melihat bahwa di daerah-daerah terpencil – seperti di Desa Watukamba – pemerintah hanya memfokuskan pada pembangunan ď€ sik saja dan kurang memerhatikan isu-isu sosial. Walaupun demikian, di sisi lain banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang saya dapat. Pengalaman di sini telah membuka pemikiran saya tentang berbagai hal utamanya bahwa tidak selalu hal-hal normatif yang kita pelajari atau pahami di suatu tempat berlaku secara universal misalnya bagaimana kuasa-kuasa adat mampu meng-cover kuasa yang bersifat legal formal yang mungkin bagi sebagian dari kita dianggap sebagai suatu hal yang kurang masuk akal. Dan juga bahwa sebenarnya kita tidak dapat memaksakan sesuatu sesuai dengan rencana kita. Sebab ada banyak faktor yang dapat menghambat baik yang dapat dihindari maupun tidak dapat dihindari. Maka dari itu, di sini saya belajar untuk menghasilkan rencana-rencana alternatif yang sekiranya dapat dilaksanakan untuk mengganti rencana sebelumnya dalam waktu yang seeď€ sien mungkin.


160

[Cerita Dari Watukamba] 161

oleh: Feriko Ilham Azhari

[ Laporan KKN-PPM UGM NTT-04 ]

Nama saya Feriko Ilham Azhari, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Seperti yang diwajibkan oleh pihak universitas dan fakultas bahwa untuk meneruskan studi S1 yang sedang saya jalani maka saya perlu mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari LPPM UGM dengan tujuan untuk mencoba segala ilmu yang sudah saya dapatkan selama enam semester di bangku perkuliahan dan secara langsung terjun dan tinggal ke suatu lokasi desa yang ditentukan di seluruh Indonesia. Dari daerah-daerah tersebut dibagi tim yang akan terjun dan berinteraksi secara langsung kepada masyarakat lokal dan melakukan berbagai program yang sudah ditentukan sejak persiapan awal unit kelompok KKN tersebut. Dengan rentang waktu yang dipersingkat daripada periode KKN tahun kemarin, kami dituntut agar bisa akrab dengan warga lokal, serta meningkatkan taraf hidup di lingkungan warga tersebut. Semester enam pun tiba, saya mulai memikirkan apa yang saya harus lakukan dan menentukan calon daerah yang ingin saya ikuti untuk kegiatan KKN selama tujuh minggu tersebut. Saya bertanya dengan beberapa senior saya masalah KKN ini dan rata-rata dari mereka menyarankan untuk mencoba daerah Nusa Tenggara Timur untuk mencoba keberanian dan totalitas saya ketika di KKN ini.

Senior saya pun bercerita tentang berbagai macam perbedaan budaya yang mereka hadapi saat di awal mereka tiba di lokasi KKN mereka dan berbagai pengalaman dan cerita dari mereka tentang suka dan duka mereka di lokasi mereka melakukan kegiatan KKN tersebut. Dengan mendengar berbagai cerita tersebut saya tertantang untuk memilih lokasi KKN di Nusa Tenggara Timur. Pada awalnya memang saya ingin memilih lokasi KKN di luar Jawa dan Sumatra karena saya sudah cukup paham tentang kedua daerah tersebut dikarenakan latar belakang orang tua saya dan saya sudah cukup lama tinggal di kedua daerah tersebut. Saya mencoba untuk menuju ke daerah yang benar benar asing bagi saya dan benar benar baru bagi saya agar saya dapat lebih memahami bagaimana makna sebenarnya dari KKN ini. Saya belum tahu secara spesiď€ k daerah mana yang ingin saya ikuti di KKN ini. Saya diberitahu oleh teman saya bahwa ada grup di facebook tentang perekrutan dan informasi lokasi KKN buatan para mahasiswa sendiri. Mengetahui hal tersebut maka saya mengikuti grup tersebut dan mulai mengecek laman grup tersebut tiap hari. Pada akhirnya saya menemukan tim KKN yang akan berlokasi di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur sedang membutuhkan mahasiswa dari klaster soshum dan khususnya jurusan Manajemen untuk memenuhi kuota tim mereka. Selain itu mereka mencari seseorang yang dapat mendesain berbagai hal untuk keperluan baik sebelum maupun saat KKN nanti.

Kebetulan saya berasal dari jurusan Manajemen dan bisa mendesain maka saya beranikan diri untuk mendaftar ke tim KKN tersebut. Setelah mengisi form pendaftaran pada google form dan menghubungi contact person yang dicantumkan pada post di laman Facebook tersebut saya menunggu selama beberapa hari untuk balasan dari para pengusul tim KKN tersebut dan mengajak untuk wawancara dan mengetahui bagaimana motivasi dan minat saya untuk ber-KKN di Nusa Tenggara Timur. Saya diwawancara oleh rekan saya Tito dan Indah di KPFT pada hari Jumat, setelah sekitar seminggu dari wawancara tersebut saya berhasil mengikuti tim KKN tersebut. Setelah melakukan berbagai rapat dan koordinasi bersama serta malam keakraban di pantai Parangtritis untuk memperkuat ikatan kekeluargaan kami nanti di sana maka tibalah hari dimana kami akan berangkat ke lokasi KKN kami.

Rumah Adat Lio di Watukamba


162

Perjalanan kami cukup panjang dan terhalang proyek pembenaran jalur trans utara Flores. Sekitar pukul 16.00 WITA kami sampai di Posyandu Dusun Nanganio dan bertemu dengan Pak Luki dan Pak Eva Cornelis selaku perwakilan desa untuk menyambut kedatangan kami. Posyandu ini diisi dengan para pria KKN sebanyak delapan belas orang yang akan tinggal selama 1,5 bulan dan berbagi cerita. Saya masih ingat ketika hari kedua di sini setelah makan malam kami ditawari minuman lokal khas Watukamba yang lain dan tidak bukan adalah moke. Moke merupakan sejenis minuman keras dari pohon nira yang disuling sehingga berwarna bening menyerupai air putih. Karena dasar rasa ingin tahu, saya mencoba untuk minum moke dan saya suka cita rasa dari moke. Malam itu kami lewati dengan berbagi pengalaman dengan Om Stinky dan keluarga.

Awal-awal Bersama Tim KKN Sesampainya di Posyandu, Rumah Kami

Saat keberangkatan kami, hujan tidak pernah berhenti sejak malam sebelumnya. Udara dingin sangat terasa saat itu, dingin yang tidak biasa Yogyakarta berikan kepada penduduknya. Saya diantar oleh orang tua dan adik saya ke bandara dan dimana di sana sudah ditunggu oleh teman teman saya KKN. Terlihat pada hari itu bandara sangat ramai dipenuhi oleh para mahasiswa yang kebetulan berangkat bersamaan dengan kelompok kami. Hirukpikuk Yogyakarta seakan menyambut kami sebelum kami akan berpisah dengan kota ini sebelum mengabdi ke daerah kami masing-masing. Penerbangan ini merupakan pertama kali bagi sebagian dari kami untuk menaiki pesawat. Berbagai ekspresi dan reaksi terlihat pada muka teman teman saya ketika pesawat lepas landas. Hal tersebut masih saya ingat sampai sekarang. Pukul 07.30 kami berangkat dari Yogyakarta dan sampai di Bandara Kota Ende sekitar pukul 14.00 WITA. Kami bermalam di wisma milik Universitas Flores dan menikmati malam bersama di daerah bagi sebagian kami masih asing. Kami sempat berjalan jalan sebentar dan menikmati sudut Kota Ende yang berhasil membuat saya kagum dengan ketenangan di kota tersebut. Hari kedua kami menuju ke Universitas Flores untuk bertemu dengan pihak kampus sekaligus peresmian KKN kami di NTT. Siang sekitar pukul 13.00 kami berangkat dari kota Ende dan menuju lokasi KKN kami di Desa Watukamba.

[Cerita Dari Watukamba] 163

Saya dari Klaster Soshum menjalan berbagai kegiatan dekat dengan karang taruna yang diketuai oleh Om Figo. Kegiatan yang kami lakukan adalah pembentukan pemuda tanggap bencana, sosialisasi mitigasi bencana, dan berbagai lomba yang akan kami adakan dengan berkolaborasi dengan mereka. Saya berbincang dengan Om Figo tentang masalah tersebut dan mulai berbagi cerita di luar dari kegiatan KKN saya. Semakin lama saya di sini saya makin merasa seperti dikerumuni oleh keluarga dan saudara saya sendiri. Saya sering berkumpul dengan pemuda lokal untuk bertanya tentang keadaan di sini masalah aktif atau tidaknya Karang Taruna, keadaan desa sekitar, atau hanya sekedar duduk duduk bercerita tentang banyak hal. Tidak jarang juga kami berkumpul untuk minum kopi atau moke sambil merokok bersama untuk mengakrabkan satu sama lain. Hal yang saya lakukan bersama pemuda ini ternyata berimbas positif juga terhadap program program yang sedang kita jalani. Para pemuda jadi lebih aktif bertanya kepada saya apa saja program selanjutnya dan jika membutuhkan bantuan hanya tinggal panggil saja mereka dan mereka akan siap membantu. Siang hari merupakan waktu dimana kami padat melakukan program program yang kami siapkan di KKN ini.

Dengan senang hati warga lokal dan pemuda membantu dalam program kami seperti dalam pembuatan bak sampah ketika Om Stinky, Om Figo, Eja Denni, dan Eja Yoga yang membantu dan mengajari kami bagaimana cara mengolah semen dan mengatur batako dan campuran semen yang baik. Warga di sini sudah terbiasa dengan pekerjaan bangunan dan mereka lebih berpengalaman, ilmu tersebutlah yang kami gunakan untuk pembangunan infrastruktur yang lain di program kami seperti tugu selamat datang dan beberapa bak sampah permanen yang belum terbuat saat itu di Dusun Nanganio dan Wolosambi. Namun ketika sore hari sudah menjelang, kami biasa pergi ke dermaga untuk melepas kepenatan baik dengan melihat pemandangan, bermain futsal ataupun voli di dekat dermaga, berfoto, ataupun menghubungi orang yang jauh di sana karena sinyal ponsel di daerah dermaga jauh lebih baik dan stabil dibandingkan sinyal di Posyandu maupun rumah orang tua asuh kami. Saya lebih cenderung terjun ke masyarakat sekitar daripada ke teknis program yang dibuat di mana saya sebagai penghubung antara masyarakat lokal dengan tim KKN kami. Di sini saya belajar tentang menghargai antar umat beragama dengan toleransi antar agama yang sangat tinggi. Dimana umat Non Muslim menduduki persentase terbesar di kecamatan Maurole dibandingkan dengan umat Islam,


164

perayaan hari hari besar tetap didatangi oleh kedua belah pihak secara damai dan tenteram. Kami mendatangi berbagai perayaan seperti pesta pernikahan, permandian baptis, upacara pemakaman, bahkan inisiatif dari warga lokal untuk membuat perayaan Lebaran dan Halal Bihalal untuk kami yang mayoritas pertama kali berlebaran tanpa keluarga dan di daerah luar. Sambutan dan perayaan tersebut sangat kami rasa hangat dan dapat mengobati sedikit rasa rindu terhadap rumah. Dan salah satu budaya di sini adalah berdansa dimana pada setiap perayaan pasti diiringi dengan acara berdansa dan Tarian Adat Gawi. Kami belajar beberapa lagu lokal dan Tarian Adat Gawi. Bagi sebagian dari kami hal tersebut merupakan pengalaman pertama kami dalam berdansa. Saya sendiri pun di sini merasakan hal yang sama yaitu berdansa pertama kali di depan umum. Ketika berada di lantai dansa saya bisa merasakan lepas dan kebahagiaan bersama dengan warga lokal. Bahkan kami bergandengan tangan dan melakukan tarian Gawi bersama dengan warga lokal. Sulit bagi saya pada awalnya untuk menari Gawi tapi pada akhirnya sudah mulai terbiasa dengan tarian tersebut.

[Cerita Dari Watukamba] 165

Salah satu pengalaman yang paling tak terlupakan dalam KKN ini adalah saat saya mengajar anak anak SDI Nanganio kelas 3. Saya bersama partner mengajar saya, Tyas, mengajar di kelas 3 selama dua minggu dan sambil melakukan berbagai sosialisasi dan revitalisasi kantin kejujuran di SDI Nanganio. Menurut Bapak Kepala Sekolah, Pak Hironimus, kelas 3 dan kelas 4 merupakan kelas di mana anak anak mulai memasuki tahap pra remaja dan mulai nakalnakalnya.

Momen perpisahan pun semakin dekat, kami dari Klaster Soshum membuat perlombaan bagi anak SD dan warga Desa Watukamba. Kami melakukan perlombaan balap karung, lomba balap egrang batok, memasukkan paku dalam botol, dan lomba makan kerupuk. Lomba tersebut sangat antusias diikuti oleh anak anak. Semangat mereka menggebu gebu ketika berlomba dan acara sangat meriah dan banyak dilihat oleh warga sekitar sebagai hiburan di sore hari. Bagi warga desa kami membuat lomba tarik tambang antar dusun ditambah

Hal itu saya rasakan ketika mengajar anak kelas saya sangat antusias dan selalu meminta latihan soal terutama matematika. Tetapi ketika saya menuliskan soal di papan tulis, mereka mulai berulah dengan kabur keluar kelas berlari lari, bahkan sampai berkelahi. Saya dengan Tyas sering kewalahan dalam mengajar kelas , jadi kami terkadang dibantu dengan temanteman yang lain yang sudah selesai mengajar kelas yang lebih bawah maupun yang sudah selesai bergiliran dari pembuatan tugu selamat datang di perbatasan Dusun Aepetu dengan desa lain di ujung paling timur Desa Watukamba. Ketika perpisahan dengan anak anak SDI Nanganio merupakan momen yang mengharukan dimana beberapa dari mereka menangis. Kami memberikan beberapa hadiah bagi mereka untuk kenang kenangan. Beberapa murid kelas 4 meminta tanda tangan saya dan saya beri beberapa kata-kata motivasi di buku mereka agar berjanji untuk meraih cita-cita mereka.

melawan tim dari KKN kami. Terdapat Dusun Wolosambi, Nanganio, dan Aepetu melawan tim KKN kami. Tim KKN kami kalah telak melawan warga desa karena secara ď€ sik dan tenaga kami sudah jelas jelas kalah. Tetapi perlombaan tersebut sangat seru dan meriah. Selain itu kami juga mengadakan lomba voli antar dusun yang diikuti oleh delapan tim dari Dusun Watukamba, Wolosambi, Nanganio, Aepetu, dan tim KKN. Lagi lagi tim kami kalah telak oleh warga desa karena kalah postur dan pengalaman mereka bermain voli. Warga desa di sini sangat menggemari bermain voli dan hampir setiap sore para pemuda sekitar bermain bola voli yang menjadi hiburan di sore hari yang dapat kami tonton untuk menghilangkan penat. Terkadang beberapa dari kami mengikuti permainan tersebut dan berlatih bersama pemuda lokal di sana. Tidak hanya laki laki yang bermain voli tetapi perempuan juga mengikuti permainan voli melawan pemudi lokal di sini.

Pada tanggal 31 Juli kami melakukan pesta perpisahan untuk secara resmi menutup dan menyelesaikan segala kegiatan program di KKN kami, pesta tersebut merupakan perpaduan antara momen bahagia dan kesedihan yang dimana kita harus berpisah dengan warga desa dan kembali ke dunia perkuliahan. Desa Watukamba akan selalu saya ingat di pikiran dan hati saya karena sudah memberikan pengalaman dan pelajaran berharga di hidup saya.

Aku dan Watukamba


166

[Cerita Dari Watukamba] 167

oleh: Irfan Ardiansyah

[ Coretan Watukamba ]

Mata kuliah Kuliah Kerja Nyata yang dianggap sebagian orang sebagai mata kuliah favorit karena membayangkan keseruan selama beberapa bulan dengan teman-teman di tempat yang kondisi dan lingkungannya mungkin tidak dapat dibayangkan. Mungkin saya akan mencari tempat KKN di luar Pulau Jawa dan Sumatera, karena tujuan yang dicari adalah melihat kondisi lingkungan yang berbeda dari kultur Jawa dan Sumatera. Dengan fasilitas yang diberikan kampus kepada mahasiswa untuk bebas memilih tempat KKN yang diinginkan, maka niat saya untuk menginjakkan kaki ke Indonesia bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur. Tidak ada persiapan yang matang, hanya niat dan keberanian seadanya untuk pengalaman dan pembelajaran diri. Pada awal pemilihan tempat KKN yang mengharuskan tidak kembali ke kampung halaman selama setahun dan ditambah tidak merayakan lebaran untuk pertama kalinya selama 21 tahun bersama dengan keluarga, membuat niat untuk KKN di daerah NTT semakin meredup. Keputusan untuk KKN di luar Pulau Jawa dan tidak memilih untuk KKN di daerah asal awalnya memberatkan hati keluarga. Usaha untuk meyakinkan keluarga setiap hari dilakukan dan membuat mereka meyakini kemampuan diri dari anaknya yang merantau untuk menambah ilmu di perguruan tinggi setelah tiga tahun untuk menunjukkan kapasitas dirinya.

KLASTER AGRO

Hari semakin cepat seiring berjalannya waktu di mana tim KKN NTT-04 akan mengabdi pada negeri selama kurang lebih 56 hari di sana. Di sisa waktu sekitar lima bulan lagi, mulai terlintas untuk mengurungkan niat karena terhambat oleh persetujuan dosen pembimbing akademik (DPA) yang mengharuskan untuk tidak ambil mata kuliah KKN pada semester 6 dan disarankan untuk mengambil KKN dalam semester 7. Pertimbangan ini didasarkan atas pemikiran dosen untuk mengambil mata kuliah kerja lapangan pada semester 6 yang waktu pelaksanaannya dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan kegiatan KKN. Dengan sisa waktu yang ada untuk mencoba terus berkonsultasi pada dosen pembimbing akademik untuk tetap mengambil mata kuliah KKN di semester 6 dan menunda kerja lapangan terlebih dahulu. Dengan percaya diri untuk tetap mengambil mata kuliah KKN di semester 6 dengan persetujuan dosen pembimbing akademik yang mungkin berbeda jalan pikiran tetap memiliki tujuan yang sama yaitu memperoleh pengalaman dalam pembelajaran KKN maupun kerja lapangan. Kegiatan KKN merupakan ajang pembuktian untuk mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang telah didapatkan di bangku kuliah selama enam semester dan sebagai pembelajaran dalam pengembangan diri.

Pada pelaksanaan kegiatan terbentuk tim KKN NTT 04 yang memiliki judul kegiatan (tema) Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup dengan Mitigasi Bencana dan Penyediaan Air Bersih. Sebagai koordinator klaster (kormater) agro yang melingkupi beberapa fakultas di UGM seperti Pertanian, Peternakan dan Kehutanan mengharuskan perbaikan diri untuk dapat mengoordinasi antar individu yang memiliki karakter dan pemahaman yang berbeda-beda. Sebagai kormater dengan tema program tersebut cukup sulit untuk membuat program yang sesuai, selama lebih dari enam bulan telah beberapa kali mengganti program-program yang sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Berbicara tentang anggota KKN yang pada awalnya tidak ada seorang pun yang dikenal, masuk ke lingkaran yang berbeda menuntut untuk mampu bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan yang berbeda. Pengalaman seperti ini sudah pernah terjadi pada awal kuliah di Yogyakarta dan untuk pertama kalinya merantau jauh dari orang tua. Mungkin hal-hal seperti ini sudah biasa dialami dan mungkin akan terbiasa seiring berjalannya waktu. Program yang sudah dirancang sebelum KKN mungkin dapat berubah apabila melihat kondisi yang dibayangkan tak seperti harapan, untuk itu program yang dibuat harus sangat eksibel dengan kondisi yang ada dan sesuai kemampuan diri. Program yang dibuat atau direncanakan mungkin yang dibutuhkan oleh masyarakat di daerah tempat KKN dari pada mencari program yang sesuai tema tetapi masyarakat kurang membutuhkan.


168

Dengan bekal ilmu yang seadanya program yang disiapkan akan bermanfaat bagi masyarakat di sana. Kegiatan pra KKN terdapat berbagai kegiatan yang mulai mengenal sesama anggota dengan mengadakan pertemuan rapat dan mencari dana bersama. Meskipun jadwal kuliah cukup padat dan kegiatan di luar kampus lumayan menyita waktu, tetapi masih tetap menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama teman KKN. Kegiatan pra KKN ini membuat semakin mengenal satu sama lain dan sekaligus belajar berwirausaha, mulai dari berjualan bunga wisuda, gorengan dan sebagainya. Berbagai karakter kepribadian yang ada di antara teman-teman membuat saya berpikir apakah bisa menyatukan berbagai pemikiran menjadi satu tim yang benarbenar solid dalam menjalani kegiatan KKN di sana. Akan tetapi akan banyak hal-hal yang tak terduga akan terjadi dan mengubah kebiasaan diri menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya terutama tentang kepercayaan diri yang belum sepenuhnya saya miliki.

[Cerita Dari Watukamba] 169

Pada awal keberangkatan ke Kota Ende yang menempuh perjalanan dengan pesawat selama tiga jam dan sekali transit di Denpasar selama dua jam, semua terbayarkan dengan keindahan Pulau Flores yang memikat mata dari laut hingga perbukitannya.

Setelah pelepasan mungkin mulai terasa ada beban yang diberikan kepada saya sebagai mahasiswa KKN. Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba datang dan membuat seolah-olah apakah saya sanggup menjalankannya. Setiba di lokasi KKN Desa Watukamba semua yang dibayangkan terbayar sudah, melihat langsung kondisi lingkungan dan warga desa yang ramah terhadap kami.

Tidak hanya melakukan observasi ke warga Desa Watukamba, tetapi kami juga mengonsultasikan perumusan masalah yang kami jumpai ke lembaga pertanian yaitu BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Maurole. Mungkin dengan berdiskusi dengan sebuah lembaga yang ada di tempat tersebut dapat memudahkan kami dalam melaksanakan program dan lebih difasilitasi dalam pelaksanaannya. Selain program yang harus dilakukan karena memiliki pertanggung jawaban dan beban

Lautan Flores di Sore Hari

Meskipun di daerah ini temperatur udara dan intensitas matahari lebih tinggi dari Pulau Jawa dan Sumatera hampir membuat untuk berpikir membatalkan puasa, karena kegiatan KKN dilakukan bertepatan pada bulan puasa minggu kedua dan menempuh perjalanan yang lumayan lama. Pada saat menginjakkan kaki pertama kali di Kota Ende, kami disambut oleh beberapa orang dari pemerintah daerah yang terlihat antusias oleh kedatangan kami mahasiswa UGM.

Perbukitan Flores dari Atas Langit

Pada hari kedua di Kota Ende akan diadakan acara Peresmian Pusat Studi Bencana Universitas Flores dan sekaligus pelepasan Unit KKN PPM NTT-04 ke Desa Watukamba oleh Bupati Ende. Mungkin pada awal kegiatan KKN ini masih belum terlihat perubahan yang dialami meskipun banyak pertanggung jawaban yang diemban dari program KKN.

Observasi Kebun Kakao di Kebun Warga

Pada awal kegiatan lebih banyak melakukan observasi ke masyarakat untuk melihat program apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat dari klaster agro. Dari hasil observasi banyak sekali halhal yang dapat diangkat menjadi suatu permasalahan yang mungkin masih belum dapat disadari oleh warga sekitar khususnya permasalahan yang berhubungan dengan klaster agro. Program-program yang telah dipersiapkan sedikit mendapat perubahan karena mungkin kurang sesuai untuk diterapkan pada daerah Desa Watukamba. Setelah melakukan observasi ditemukan permasalahan yang memungkinkan untuk diangkat menjadi program yang mungkin bermanfaat bagi warga Desa Watukamba.

tersendiri, tidak mungkin melupakan untuk meningkatkan pembelajaran komunikasi terhadap orang yang baru kita kenal terutama warga Desa Watukamba. Di Desa Watukamba untuk melakukan hal-hal seperti menjalankan program ataupun kegiatan lain hanya berjalan kaki, mungkin ini cobaan terberat pada dua minggu awal KKN yang masih menjalankan ibadah puasa dengan melakukan kegiatan KKN pada siang hari. Ditambah kegiatan ď€ sik yang dilakukan untuk program mengharuskan untuk bekerja sama membangun bak sampah untuk warga desa agar dapat dimanfaatkan dengan baik. Sosialisasi di Badan Penyuluhan pertanian


170

[Cerita Dari Watukamba] 171

Kegiatan KKN bukan hanya sekedar untuk menyelesaikan program per klaster tetapi bagaimana cara sebuah unit untuk menyelesaikan permasalahan yang ada untuk diselesaikan bersama. Dengan demikian meskipun saya memiliki program sendiri untuk desa ini, bukan berarti egois dalam pelaksanaannya, perlu koordinasi dan bantuan dari teman-teman KKN untuk saling membantu agar program yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik dan berguna bagi masyarakat. Pelaksanaan program dilakukan bersamasama tanpa memandang kemampuan yang dimiliki setiap klaster, tetapi samasama ingin belajar dan mengetahui proses pembelajarannya. Kegiatan KKN di Desa Watukamba mengajarkan arti berbagi antar anggota KKN yang tinggal di posyandu yang merupakan tempat tinggal sementara peserta KKN laki-laki. Membagi kamar untuk beberapa orang, kekurangan air untuk mandi sehari sekali dan membagi jatah makan yang merata memang sulit dilakukan, tetapi di sinilah pembelajaran dimulai mengenal satu sama lain antar anggota KKN.

Setiap kegiatan atau program KKN memiliki cerita tersendiri dan yang mungkin paling terasa yaitu seminggu tanpa listrik dan jaringan komunikasi di Dusun Watukamba untuk melakukan program mengajar sekolah dasar dan penyuluhan pertanian untuk warga Dusun Watukamba selama beberapa hari. Dusun Watukamba bagian dari empat dusun di Desa Watukamba yang paling tertinggal tetapi memiliki adat yang masih kental. Selain itu masih banyak potensi yang seharusnya dapat dikembangkan di dusun ini salah satunya tentang minuman arak khas Watukamba yaitu moke DW. Pendapatan atau mata pencarian warga Dusun Watukamba sebagi pembuat gula aren dan minuman arak.

Keakraban Tim KKN NTT-04

Selama tinggal di Desa Watukamba lebih dari sebulan lamanya telah banyak sekali pelajaran yang saya terima. Memberikan penyuluhan kepada para petani dari kelompok tani maupun gabungan kelompok tani tentang program-program yang mungkin bisa mereka terapkan sehingga dapat terus dimanfaatkan dan terus berkembang untuk mereka, juga melatih saya untuk memberikan pembelajaran dalam menyelesaikan masalah khususnya di bidang pertanian yang mungkin masih dapat banyak sekali kekurangan. Namun demikian KKN ini sebagai tempat saya belajar mengemukakan pendapat dan ilmu yang telah didapatkan sehingga dapat diaplikasikan dan bermanfaat bagi orang lain.

Sudahkah Bermanfaat Bagi Orang Lain?


172

[Cerita Dari Watukamba] 173

oleh: Sandira Ultra Utami

[ Perjalanan Singkat di Indonesia Timur ]

Tulisan ini akan berkisah tentang 47 hari Kuliah Kerja Nyata di Negeri Flores. Perkenalkan, saya Sandira Ultra Utami mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada 2013. Saya mempunyai mimpi besar untuk dapat menjelajahi Indonesia. Saya ingin mengerti apa saja potensi alam, kebudayaan, dan permasalahan yang ada di negeri Indonesia tercinta ini. Saya mempunyai mimpi besar untuk dapat menjadi pemimpin negeri ini suatu saat nanti, oleh karena mimpi itulah saya berkeinginan untuk menjelajah Indonesia. Menurut saya, KKN merupakan suatu cara dan sebagai praktek kecil untuk mewujudkannya. Perjalanan saya ke Indonesia Timur dimulai dengan Kuliah Kerja Nyata Univesitas Gadjah Mada 2016. Sebelum saya ke pergi desa tujuan, saya berkunjung terlebih dahulu ke Universitas Flores pada tanggal 20 Juni 2016. Di sana saya ikut menghadiri peresmian pusat studi bencana di universitas tersebut, barulah saya pergi ke Desa Watukamba setelah acara tersebut selesai. Saya sampai di tempat tujuan yaitu Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur sore hari. Suasana pedesaan yang khas dengan pemandangan pesisir pantai utara sudah dipastikan menjadi pemandangan seharihari. Tim KKN PPM UGM NTT-04 disambut oleh perangkat desa di posyandu. Kemudian, barulah pembagian pondokan untuk lakilaki dan perempuan. Pondokan laki-laki berada di posyandu sedangkan pondokan perempuan terbagi menjadi beberapa pondokan di rumah warga yang tersebar di tiga dusun.

Saya dan teman pondokan saya, Indah, tinggal di rumah Bapak Usman yang berada di Dusun Nanganio. Keluarga ini terbilang keluarga sederhana di desa ini. Fasilitas yang ada di rumah pun seadanya. Bapak Usman mempunyai seorang istri dan tiga anak. Istri Bapak Usman bernama Ibu Hanijah atau akrab dipanggil Mama Ani. Anak pertama bapak Usman laki-laki bernama Wawan kelas 2 SMA, anak keduanya perempuan bernama Rani yang kini duduk di kelas 1 SMP, dan anak ketiga juga perempuan bernama Anggun kelas 4 SD. Bapak Usman merupakan seorang nelayan dan Mama Ani merupakan ibu rumah tangga. Selepas mencari ikan bapak Usman pergi ke kebun serta mengurus ternaknya yaitu sapi dan kambing.

Halaman Rumah Pak Usman

Tinggal di daerah pesisir pantai membuat saya setiap harinya melihat ekosistem pantai pada umumnya. Di sini, saya menemui banyak sekali pohon kelapa, pohon pisang, kebun cokelat, kemiri, dan kebun jambu mete yang ditanam secara campuran.

Namun, saya tidak melihat hamparan sawah yang luas serta ladang sayur-mayur di tiga dusun yang saya tempati. Untuk mengetahui banyak lagi hal yang lain, saya dan temanteman melakukan survei di minggu pertama kami KKN.

Keluarga Baru di Watukamba

Survei yang saya lakukan selama seminggu bersama teman-teman menunjukkan apa saja permasalahan yang ada di desa ini. Permasalahan inilah yang akan kami jadikan acuan dari program yang akan kami jalankan supaya program tersebut benarbenar bermanfaat dan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Permasalahan yang saya temui sangat banyak di desa ini, namun berikut merupakan prioritas permasalahan yang saya pilih dari sudut pandang klaster agro.


174

Solusi yang dapat saya lakukan adalah dengan memberikan sosialisasi serta praktek dari apa saja yang menjadi permasalahan yang ada. Program yang saya lakukan adalah sosialisasi dan pembuatan arang dan briket arang dari limbah tempurung kelapa yang harapannya menjadi solusi dari permasalahan banyaknya limbah tempurung kelapa di desa ini. Program ini tidak membutuhkan teknologi tinggi untuk dapat membuatnya sehingga mudah untuk dilakukan.

Sosialisasi kepada Warga Desa Watukamba

Limbah di Pantai

Permasalahan tersebut adalah banyaknya limbah tempurung kelapa berserakan di sekitar rumah atau di bawah pohon kelapa, sangat jarangnya masyarakat yang memiliki bak sampah sehingga sampah hanya dibuang di belakang rumah yang pada akhirnya akan jatuh ke pantai dan mengotori pantai, masyarakat tidak menanam sayuran padahal sayuran merupakan jenis makanan yang penting untuk kesehatan dan pasar yang ada di kecamatan tersebut hanya ada seminggu sekali yaitu hari Sabtu. Permasalahan selanjutnya adalah hasil perkebunan pemanfaatannya belum begitu luas sehingga perlu ditingkatkan. Permasalahan lain yang menjadi prioritas adalah perlunya peningkatan kesadaran lingkungan yang diberikan sejak dini sebab kecintaan terhadap lingkungan akan mengakar kuat jika diberikan sejak masih kecil. Prioritasprioritas permasalahan tersebut harapannya dapat saya dan teman-teman carikan solusi.

[Cerita Dari Watukamba] 175

Arang dan briket ini dapat digunakan menjadi bahan bakar yang mempunyai nilai panas lebih tinggi sebagai bahan bakar seperti memasak dibandingkan dengan kayu. Bentuknya yang seragam juga memudahkan masyarakat untuk menyimpannya. Kegiatan ini bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan sasaran warga desa. Selain program briket ini, BPP juga ikut mendukung program vertikultur yaitu program penanaman tanaman sayuran secara vertikal sehingga eď€ sien dalam pemanfaatan lahan yang ada. Warga sangat antusias dengan program ini sebab program ini mudah dilakukan dan dapat menjadi solusi dari sulitnya sayuran seperti selada, bayam, kangkung, sawi, untuk didapatkan.

Program lain yang berdasarkan pada kesadaran lingkungan adalah program pendidikan lingkungan untuk anak SD, plangisasi nama pohon dan manfaatnya untuk menambah wawasan, serta program bersih pantai sebagai upaya mitigasi bencana pencemaran yang dapat membahayakan masyarakat. Pendidikan lingkungan sengaja dilakukan di lingkungan sekolah sebab mereka merupakan generasi muda yang akan mewarisi kekayaan alam yang ada khususnya di desa ini yang sangat melimpah. Program plangisasi juga penting untuk memberikan informasi bahwa banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari pohon-pohon yang ada di sekitar. Sedangkan program bersih pantai merupakan program yang harapannya terus berlanjut untuk menghindari pencemaran yang akan membahayakan ekosistem pantai yang pastinya akan berimbas kepada masyarakat.

Pemasangan Papan Nama Tumbuhan di SD

Program lain yang berdasarkan pada kesadaran lingkungan adalah program pendidikan lingkungan untuk anak SD, plangisasi nama pohon dan manfaatnya untuk menambah wawasan, serta program bersih pantai sebagai upaya mitigasi bencana pencemaran yang dapat membahayakan masyarakat. Pendidikan lingkungan sengaja dilakukan di lingkungan sekolah sebab mereka merupakan generasi muda yang akan mewarisi kekayaan alam yang ada khususnya di desa ini yang sangat melimpah. Program plangisasi juga penting untuk memberikan informasi bahwa banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari pohon-pohon yang ada di sekitar. Sedangkan program bersih pantai merupakan program yang harapannya terus berlanjut untuk menghindari pencemaran yang akan membahayakan ekosistem pantai yang pastinya akan berimbas kepada masyarakat.


176

[Cerita Dari Watukamba] 177

Selain itu, perawatan harus senantiasa dilakukan seperti menimbun buah-buah yang terkena hama supaya tidak menyebar dan mengakibatkan buah-buah lain busuk.

Pembuatan Kemiri di Dusun Watukamba

Program pemanfaatan hasil perkebunan yang saya adakan adalah sosialisasi dan pembuatan minyak kemiri. Minyak kemiri ini bisa digunakan untuk menyehatkan rambut dan menambah penghasilan masyarakat jika diperjualbelikan. Program ini berupaya meningkatkan nilai dari kemiri yang awalnya hanya digunakan sebagai bumbu memasak saja. Semua program yang direncanakan berjalan lancar dan mendapatkan respons yang baik dari masyarakat. Untuk program yang satu ini saya lakukan di Dusun Watukamba. Awalnya saya tidak diperbolehkan datang ke dusun tersebut oleh mama asuh terlebih saya adalah seorang Muslim dengan alasan kebiasaan mereka yang memelihara anjing dan makan bersama anjing dengan piring yang sama. Selain itu juga karena kebiasaan mereka yang minum moke (minuman beralkohol khas Ende) dengan kadar alkohol lebih tinggi dibandingkan dengan moke di daerah lain. Sehingga mama asuh melarang saya datang ke dusun tersebut karena khawatir.

Eksplorasi Kebun di Pagi Hari

Namun, setelah saya sampai di dusun tersebut, masyarakat di sana antusias dengan program yang saya lakukan dan mereka juga sangat ramah walaupun kabar tentang moke tersebut memang benar. Tidak masalah, sebab saat itu saya sedang berpuasa. Selain program pokok saya, saya juga melakukan sosialisasi pemeliharaan tanaman perkebunan seperti kakao agar hasilnya maksimal. Kurangnya perawatan dan sistem penanaman yang masih kurang tepat membuat kebun kakao banyak diserang kutu putih dan buahnya pun tidak maksimal sebab jarak tanam yang terlalu dekat dan pilihan pohon yang menjadi naungan belum tepat. Berdasarkan kebun yang saya lihat, naungan kakao adalah pohon pisang yang tingginya terkadang sama dengan tinggi pohon kakao sehingga naungannya tidak sempurna. Oleh karena itu saya merekomendasikan naungan pohon kakao adalah pohon kelapa yang akan tumbuh tinggi.

Program-program tersebut merupakan program pokok saya yang harus saya selesaikan dengan baik, namun KKN ini juga mengajarkan saya untuk saling membantu sesama teman juga masyarakat yang tertuang dalam jam bantu dan jam non program. Pada dasarnya, manusia memang lah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Jam bantu membuat anggota KKN makin akrab dan saling menghargai. Sedangkan jam program merupakan kegiatan seperti menghadiri hajatan, lelayu, atau kegiatan sosial lainnya yang ada di masyarakat. Sasaran program yang cukup beragam yaitu masyarakat dewasa maupun anakanak usia SD. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk membaur dengan masyarakat dan bagaimana mengajar anak usia SD yang memiliki sifat-sifat tersendiri. Dari sinilah saya belajar dan mendapatkan hal lebih yang bermanfaat bagi diri saya. Bermula dari pondokan saya yang terbilang sederhana dibandingkan pondokan yang lain membuat diri saya lebih mensyukuri hidup. Kesabaran pun juga dilatih selama saya hidup di pondokan. Hal yang paling saya sering alami adalah ketiadaan air dari PDAM sehingga saya harus menimba air dan mengangkatnya ke kamar mandi jika saya ingin mandi.

Kondisi air yang sering keruh apalagi sesaat setelah hujan menyadarkan saya betapa jauh lebih baiknya kehidupan saya. Jumlah kamar mandi yang hanya satu dan digunakan untuk tiga keluarga dengan masing-masing tiga anak juga membuat saya harus mengantre lama hanya sekedar ingin mandi. Hal lain yang cukup menjadi perhatian saya adalah anak-anak mama. Kondisi anak pertama mama yang tinggal kelas sebanyak dua kali dan anak kedua mama yang tinggal kelas sebanyak tiga kali membuat saya prihatin. Saya tidak bertanya detail tentang sebab anak-anak mama yang tinggal kelas supaya tidak menyinggung. Namun setelah banyak cerita, ternyata tinggal kelas merupakan hal yang wajar dialami oleh anak di desa ini yang bahkan lebih dari satu kali. Kejadian ini diceritakan dengan biasa saja sebab memang menjadi hal umum seorang anak tinggal kelas. Hal ini membuat saya berpikir bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang perlu direncanakan dengan matang dan perlu dukungan penuh dari orang tua kepada anak agar anak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak tinggal kelas. Pengalaman ini membuat diri saya semangat untuk memperbaiki diri agar kelak dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak saya nanti.


178

Selain hal-hal yang saya alami tersebut di atas, hal yang paling berkesan adalah menjalankan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri jauh dari keluarga. Sahur, berbuka, dan tarawih dengan suasana berbeda membuat saya sempat sedih dan rasanya ingin pulang untuk menjalankan ibadah bersama keluarga. Namun, banyak hikmah yang saya dapatkan dari hal ini, saya banyak merenungkan betapa besar perjuangan keluarga untuk membuat saya mendapatkan pendidikan terbaik, fasilitas sebaik yang orang tua saya mampu, kasih sayang, dan masih banyak lagi. Banyak hal yang terasa lebih sulit justru tidak membuat saya menyerah, namun semakin bersyukur dan kreatif. Berbeda dengan di rumah yang terkesan memilih milih makanan, di sini saya makan apapun yang ada bahkan makanan atau sayur yang awalnya saya tidak suka sebab memang itulah makanan yang ada.

Liburan Bersama Keluarga Asuh

Saya menikmati KKN saya ini, mengenal adat istiadat serta kebudayaan yang berbeda sungguh sangat menyenangkan. Melalui KKN inilah saya benar-benar berlatih bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat yang sangat beragam. Apalagi masyarakat ini memiliki banyak perbedaan dengan masyarakat Jawa pada umumnya. Hal yang penting menurut saya saat berada di tempat baru adalah mengambil sisi-sisi baik dan meninggalkan hal yang buruk dari tempat tersebut. Saya juga menyukai kondisi alam di sini yang masih subur penuh dengan pepohonan. Polusi yang lebih rendah dibandingkan kota-kota di Jawa membuat saya melihat langit penuh bintang hampir setiap harinya. Saya pun tak akan ketinggalan untuk pergi ke Taman Nasional Kelimutu dengan danau tiga warnanya yang terkenal sangat indah. Terima kasih Desa Watukamba, perjalanan ini sungguh sangat berkesan dan memberikan arti bagi saya. Terima kasih NTT, telah menjadi Indonesia bagian timur yang saya singgahi pertama. Saya akan melanjutkan perjalanan saya ke bagian Indonesia yang lain.

Pantulan Matahari Timur yang Terbenam

Rasa syukur saya juga karena keluarga Bapak Usman ini, yang menerima saya dan Indah seperti anak sendiri, makan bersama, pergi ke kebun bersama, minum air kelapa bersama, dan berlibur bersama walaupun hanya ke pantai yang jaraknya satu kilometer. Namun, kehangatan keluarga ini membuat saya betah walaupun ini pertama kalinya saya meninggalkan keluarga selama hampir dua bulan.

[Cerita Dari Watukamba] 179


180

[Cerita Dari Watukamba] 181

oleh: Adi Triawan

[ Watukamba ]

Hari itu, hari yang tidak bermandikan embun. Ditelisiknya seluruh rasa penasaran tentang tanah timur. Dan tibalah harinya, hari pengucapan selamat datang.

Kisah cinta saya bersama Watukamba bermula ketika kami bertemu tepat tanggal 20 Juni 2016. Awalnya hamparan pasir pantainya yang merayu saya, lama kelamaan saya sadar bahwa segala hal yang berada di Watukamba adalah sesuatu yang secara naluri harus saya cintai. Banyak hal yang kemudian saya cintai dari Watukamba, mulai dari keindahan alam, toleransi antar umat beragama, banyak pemuda yang memiliki kemampuan lebih dalam sepak bola dan bola voli (kebetulan juga kedua olahraga tersebut sangat saya suka), kebudayaan, dan masih banyak lagi.

Nama saya Adi Triawan, mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2013. Saya sedang menyelesaikan semester enam yang di dalamnya terdapat mata kuliah KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Saya KKN di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Provinsi NTT. Sebenarnya tidak tahu mengapa saya memilih KKN di sini, lebih tepatnya saya tidak menyiapkan jawaban akan hal itu, atau anggap saja mendapat tempat KKN di sini adalah semisal perjodohan.

“Mungkin Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum�. Pencetus kalimat tersebut adalah penulis dari Kota Bandung yang bernama Pidi Baiq. Jika memang tulisan tersebut benar, maka saya yakin bahwa Watukamba diciptakan ketika Tuhan sedang tertawa. Kira-kira seperti itulah pendekatan saya kepada Watukamba. Tidak ada yang saya lebihlebihkan dalam setiap kalimat yang saya tulis ini. Dan untuk selanjutnya saya akan menceritakan siapakah Watukamba itu agar lebih jelas tentang percintaan kami ini. Saya berharap pembaca pun akan mencintai Watukamba.

Tahun 2000, ketika umur saya enam tahun yaitu saat saya sekolah di Taman Kanakkanak adalah awal mula saya mulai belajar apa itu cinta. Saya masih ingat jelas hari itu, hari di mana saya pertama kali mendengar Lagu Nasional yang berjudul Halo-halo Bandung. Lirik-lirik semangat di dalamnya yang membuat saya jatuh cinta kepada Bandung.

Watukamba adalah nama desa di Kecamatan Maurole. Nama Watukamba berasal dari dua kata dalam Bahasa Lio yaitu Watu yang berarti batu dan kamba yang berarti kerbau. Memang terdapat batu berbentuk kerbau yang berada di sekitar Rumah Adat Desa Watukamba.

Selamat Datang!

Namun keadaan batu tersebut sudah mulai rusak semenjak bencana gempa bumi pada tahun 1992. Desa Watukamba terbagi menjadi lima dusun yaitu Nuabela, Gongge, Aepetu, Nanganio, dan Wolosambi. Setiap dusun memiliki cerita tersendiri. Misalnya adalah Dusun Aepetu, nama Aepetu berasal juga dari Bahasa Lio yang berarti air panas. Di Dusun Aepetu terdapat sungai yang pada musim hujan akan mengeluarkan air panas alami. Dusun Aepetu dihuni oleh penduduk sekitar 67 kepala keluarga. Selanjutnya adalah Dusun Nanganio yang dalam Bahasa Indonesia berarti muara kelapa. Di Dusun Nanganio memang terdapat banyak sekali pohon kelapa, selain itu banyak pula pohon pisang, pohon jambu mente, dan pohon kakao. Dusun Nanganio dihuni oleh 45 kepala keluarga. Dusun berikutnya adalah Wolosambi, nama Wolosambi dapat diartikan menjadi bukit yang dipenuhi pohon kasambi. Sayangnya, sekarang sudah sedikit pohon kasambi yang tumbuh di sana. Dusun Wolosambi dihuni sebanyak 62 kepala keluarga. Dusun yang paling menarik bagi saya adalah Dusun Nuabela dan Gongge. Dua dusun tersebut berada di perbukitan, berbeda dengan tiga dusun yang berada di bawah yang termasuk daerah pesisir pantai. Dua dusun di atas adalah tempat asalmuasal Desa Watukamba terbentuk, namun karena keterbatasan sarana dan prasarana termasuk listrik dan sinyal telepon kemudian banyak penduduk yang beralih ke dusun yang di bawah guna menunjang kehidupan. Selama empat hari menginap di Dusun Nuabela adalah salah satu kesan istimewa, bermalam tanpa listrik dan tanpa sinyal telepon.


182

Seperti kedamaian yang serta-merta hinggap di beberapa bagian itu. Dusun Gongge adalah dusun paling atas, di sana hampir semua penduduk bermata pencaharian menjadi pembuat moke. Desa Watukamba memiliki batas yaitu sebelah barat dengan Desa Maurole, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Otogedu, sebelah timur berbatasan dengan Desa Aewora, dan sebelah utara berbatasan langsung dengan Laut Flores. Di Laut Flores tersebut terdapat pulau kecil yang memiliki Gunung Api Rokatenda yang hampir setiap sore menjadi pelengkap kecantikan ketika sang surya tenggelam. Kita biasa memandangnya di dermaga yang menjadi satu-satunya tempat di sini untuk melihat laut lebih dalam tanpa harus basah.

Melihat ke Dalam Tanpa Harus Basah

[Cerita Dari Watukamba] 183

Saya sendiri selama KKN menginap di posyandu yang terletak di Dusun Nanganio bersama tujuh belas mahasiswa lain. Sementara mahasiswi yang berjumlah dua belas orang dipisah-pisah untuk menginap di rumah warga. Saya bersama mahasiswa lain diasuh oleh Bapak Ros dan Mama Tince. Merekalah yang setiap hari menyediakan makan dan menyiapkan air untuk kita mandi. Selain mereka berdua, ada pula anak dari Mama Tince yaitu Kak Stinky, Kak In, Kak Toke, dan Adik Iren yang bahu membahu mendukung kehidupan kami. Sebenarnya masih banyak lagi masyarakat yang setiap hari membantu saya, untuk lebih jelasnya saya tulis di paragraf berikut agar lebih runtut.

Pembuatan Nugget Ikan

Kegiatan tersebut yang paling saya kuasai adalah pembuatan pupuk kandang, pakan ternak, dan nugget ikan karena sudah pernah saya laksanakan ketika di kampus. Sementara untuk pembuatan biopori dan penyuluhan pola tanaman saya laksanakan bekerja sama dengan mahasiswa dari Fakultas Pertanian. Kegiatan pembuatan pupuk dan pakan saya laksanakan mengingat sisa jerami dan feses sangat banyak tersedia di sini namun belum dioptimalkan.

Sementara pembuatan nugget saya laksanakan karena Desa Watukamba berada di pesisir pantai yang sudah pasti banyak menghasilkan ikan, untuk itulah saya melaksanakan pembuatan nugget guna meningkatkan nilai jual dalam bentuk produk olahan. Beberapa kegiatan yang saya laksanakan bekerja sama dengan BPP Maurole, hanya pembuatan nugget yang saya laksanakan tanpa bekerja sama dengan pihak ketiga dalam arti hanya dengan masyarakat dan mahasiswa KKN lainnya. Selain kegiatan pokok di atas tentu ada banyak pula kegiatan yang lain guna menjawab permasalahan yang ada di antaranya adalah pembuatan bak sampah, pembuatan tugu batas desa, mengajar di SD, sosialisasi pemuda tanggap bencana, pesta rakyat yang diisi perlombaan, dan masih banyak program lain sebagai bentuk pengabdian diri. Dari situlah saya menyimpulkan bahwa pengabdian dalam rangka KKN ini saya kira sudah terwujud baik meski hanya sebatas kegiatan-kegiatan sederhana. Dan untuk lebih lanjutnya semoga kegiatan-kegiatan ini berjalan secara kontinuitas.

Pembuatan Pupuk Kandang

Penduduk Desa Watukamba paling banyak berasal dari Suku Lio, meski ada juga yang berasal dari Suku Jawa dan suku-suku lainnya. Pada minggu pertama ketika kami masih melakukan survei dan observasi saya melakukan pendekatan agar lebih mengenal dan akrab terhadap masyarakat. Saya menganggap, tahap paling penting dari pengabdian adalah pendekatan itu sendiri. Boleh jadi hal tersebut salah, namun saya yakin, apabila kita tidak melakukan pendekatan maka dapat dipastikan program yang akan kita jalankan kurang diterima oleh masyarakat. Setelah saya merasa dekat dengan masyarakat barulah saya mencari permasalahan yang terdapat di dalamnya untuk kemudian ditentukan cara penyelesaiannya.

Permasalahan yang saya dapatkan di antaranya adalah sarana penerangan jalan yang kurang memadai, pembuangan sampah yang langsung ke laut, hasil sisa pertanian yang dianggap hanya sampah, limbah peternakan yang belum dioptimalkan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dari permasalahan tersebut kemudian saya menentukan rencana program pokok untuk saya laksanakan di Desa Watukamba di antaranya adalah pembuatan pupuk kandang, pembuatan pakan ternak, pembuatan nugget ikan, pembuatan biopori, penanaman toga, dan penyuluhan pola tanaman.


184

[Cerita Dari Watukamba] 185

Banyak hal yang saya peroleh selama tujuh minggu di sini. Banyak pengalaman dan ilmu yang sangat penting untuk saya tularkan ketika nanti pulang ke Jawa. Dari mulai toleransi antar umat beragama hingga seluruh kehidupannya. Saya merasa menjadi Indonesia. SAJAK TERAKHIR WATUKAMBA Adi Triawan Mengapa ada kalimat selamat tinggal? Mengapa muncul janji sampai jumpa? Aku muak akan kepulanganku Aku murka tentang perpisahan ini Aku ingin lebih lama lagi Setidaknya sampai nanti

Menjadi Indonesia

Aku harus bagaimana? Pertemuan ini semacam kalimat Di dalamnya terdapat tanda titik Aku dipaksa berhenti di sana Untuk selanjutnya di peluru rindu Sebab kisah segera menjadi kenangan Lalu, tibalah masanya Kini saatnya kita merangkul selamat tinggal, mendekap sampai jumpa, dan kalimat perpisahan lainnya Kemudian air mata

(Watukamba, 2016)


186

[Cerita Dari Watukamba] 187

oleh: Yohanes Victor Wahyu Sampoerno

[ Kisah Kasih Nyata di Watukamba ]

Nama saya Yohanes Victor Wahyu Sampurno. Panggil saja Victor. Saya merupakan mahasiswa Fakultas Peternakan UGM 13. Saya akan memulai cerita ini dari awal bergabung dengan tim KKN ini, hingga saat saya menulis ini, 2 hari sebelum kepulangan saya ke Jogja. Cerita ini adalah tentang kehidupan saya selama hampir 1,5 bulan di Desa Watukamba. Saya bercerita tentang momen yang menurut saya penting untuk pembaca sekalian ketahui. Jika ada yang tidak berkenan, mohon tetap diperkenankan. Oke, mari kita mulai. Awalnya saya sama sekali tidak berpikir akan KKN di Ende. Saya hanya berniat untuk KKN di luar Jawa, khususnya di daerah Indonesia bagian timur. Dan NTT adalah pilihan yang bagus. Saya bergabung dengan tim karena ajakan seorang sahabat, yang juga bagian dari tim ini. Namanya Pleki, juga mahasiswa Fakultas Peternakan. Kami sudah bertekad untuk KKN bersama, dan sepakat untuk KKN di luar Jawa. Singkat cerita, kami mendapat tawaran dari Dwi, yang merupakan anggota awal tim, untuk bergabung dengan tim KKN Ende, dan kami berdua pun diterima. Pertemuan pertama dengan tim terjadi di salah satu rumah makan di Jogja. Seperti pada umumnya, masing-masing anggota memperkenalkan diri. Saya tidak ingat nama mereka satu per satu, hanya Haď€ dz yang merupakan kormanit dan Dwi yang menghubungi kami pertama kali untuk bergabung dengan tim.

Obrolan awal sudah langsung membahas program, dan saya sebagai orang baru hanya diam mencoba menyimak, meskipun gagal. Satu yang saya ingat hanya saya sempat menggombali seorang wanita pada malam itu. Ya, wanita yang luar biasa. Tidak terlalu berhasil, tapi lumayan untuk sekedar mencairkan suasana. Secara umum, pertemuan pertama saya dengan anggota tim biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Singkat cerita, kami menjadi satu tim bernama Endenesia Project, terdiri dari 30 orang, delapan belas laki-laki dan dua belas perempuan. Dan 19 Juni 2016, kami pun memulai petualangan.

Luar biasa bukan? Bahkan seorang bapak yang saya temui di dermaga Ende sempat bercanda, “Mas mbaknya belum 100% orang Indonesia kalo belum ke Ende.� Saya pun ngguyu.

Kami tiba di Ende sekitar pukul 15.00 WITA setelah transit dari Bali. Kesan pertama adalah saya tidak percaya bisa menginjakkan kaki di NTT. Kami disambut dengan baik oleh PEMDA setempat dan kemudian ditempatkan di Wisma Unior. Kami sempat berkeliling kota Ende. Ende adalah kota yang masih berkembang. Potensi kekayaan alam di sini bisa dibilang besar. Pemandangan serta tempat wisata cukup banyak dan mudah dijangkau. Yang paling menjadikan Ende spesial bagi saya adalah, kota ini merupakan kota yang punya sejarah penting bagi Indonesia. Tempat dimana Bung Karno diasingkan, kemudian awal mula merumuskan Pancasila, hingga kini rumah pengasingan Beliau masih dijaga, begitu juga dengan tugu perenungan Bung Karno.

Esoknya, kami menghadiri pertemuan dengan bupati untuk dilepas secara resmi melakukan KKN di desa yang dari dulu kami nantikan. Desa Watukamba, desa kecil sejuta cinta. Perjalanan dari Ende ke Watukamba menggunakan oto (sebutan warga lokal untuk mobil) memakan waktu sekitar 2,5 jam. Dalam perjalanan, kembali kami disuguhkan pemandangan luar biasa berupa bukit dan lembah. Sebagai info, saya adalah orang yang mudah mual ketika melakukan perjalanan menggunakan mobil, sehingga kalau naik oto dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok dalam jangka waktu yang lama, hampir bisa dipastikan saya akan 'buka warung'. Namun hari itu berbeda, tanpa antimo saya tidak mabuk meskipun hanya sedikit mual. Terima kasih lembah, bukit dan permen frozz.


188

Sekitar jam 3 sore waktu setempat, kami pun tiba di depan bangunan krem dengan tugu kecil yang belum jadi, dan di terasnya sudah berkumpul bapak dari warga sekitar. Saya tidak tahu bahwa bangunan itu yang nantinya menjadi tempat tinggal kami, para “pejantan� KKN selama di Watukamba.

[Cerita Dari Watukamba] 189

Kemudian anggota perempuan mulai ditempatkan di beberapa rumah warga, dan kami laki-laki tinggal di posyandu. Kami bertemu dengan mama Tince yang merupakan mama asuh kami, mama yang mudah tertawa dan baik luar biasa. Tadi merupakan pengantar cerita saya hingga tiba di Watukamba. Pada bagian ini, saya akan menceritakan tentang program yang telah kami jalankan selama ini.

Tetangga Kami di Posyandu, Mama Tince yang Baik

Sekitar jam 3 sore waktu setempat, kami pun tiba di depan bangunan krem dengan tugu kecil yang belum jadi, dan di terasnya sudah berkumpul bapak dari warga sekitar. Saya tidak tahu bahwa bangunan itu yang nantinya menjadi tempat tinggal kami, para “pejantan� KKN selama di Watukamba. Saya terkesan dengan sambutan baik dari warga yang hadir sore itu. Bahkan ada dua orang yang langsung memanggil saya dengan sebutan nama, mereka adalah Om Richard dan Bapa Luki. Saya bertanya kenapa mereka langsung ingat nama saya, padahal perkenalan saat itu hanya sekedar formalitas, ditambah lagi ada tiga puluh yang memperkenalkan diri, kalau saya, sih, tidak mungkin ingat. Ternyata mereka punya alasan yang sama, yakni karena saya satu-satunya laki-laki yang berambut gondrong. Masuk akal.

James

Seminggu pertama kami di sini kami awali dengan melakukan observasi, apa-apa saja yang perlu kami cari tahu tentang Desa Watukamba secara lebih dalam. Berhubung saya dari kluster agro, maka saya fokuskan observasi yang kaitannya pertanian dan peternakan. Komoditas peternakan di daerah Watukamba mayoritas sapi dan babi. Umumnya setiap warga memiliki beberapa ternak. Sapi dipelihara dengan cara diikat di suatu lahan yang terdapat banyak rumput, kemudian bila rumput sudah habis sapi dipindahkan ke lahan lain. Tidak ada sapi yang dikandangkan, setidaknya selama saya melakukan observasi. Layaknya sistem kehidupan nomaden di zaman batu kala itu. Pakan sapi selain rumput yakni batang pohon pisang yang dipotong menjadi beberapa bagian. Berbeda halnya dengan ternak babi. Babi di sini ada yang dikandangkan, ada pula yang diikatkan di pohon. Pakan babi yang diberikan berupa sisa makanan, kelapa, serta pisang. Hari selanjutnya, saya dan teman-teman agro berkunjung ke BPP (Badan Penyuluhan Pertanian). Letaknya tidak berjauhan dari posyandu, hanya sekitar 100 meter dan bisa dijangkau dengan jalan kaki. Kami bertemu dan berbincang dengan Bapak Romanus selaku ketua BPP. Kami menyampaikan program yang telah direncanakan dan berharap bisa bekerja sama dengan BPP. Beliau pun mengamini.

Dari sekian banyak program yang telah direncanakan, disepakati empat program yang akan dilakukan bersama, yakni pembuatan pakan jerami amoniasi, pembuatan pupuk kompos, pembuatan vertikultur dan pembuatan bricket dari arang. Anyway, saya hanya menceritakan singkatnya, karena tentu ada proses diskusi yang panjang, tukar pendapat, sedikit ketegangan, namun beruntung semua berujung indah.

Penyuluhan Sambil Praktek Bersama Warga

Hari-hari selanjutnya lebih banyak saya lewati dengan pendekatan kepada masyarakat. Saya mencoba berkenalan dengan setiap orang yang saya temui dan respons masyarakat juga sangat baik. Singkat cerita, kami mengadakan program yang telah direncanakan sebelumnya. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar dua puluh warga yang merupakan petani peternak serta ketua gapoktan daerah setempat. Warga antusias dengan penyuluhan (meski ada satu dua warga yang terlelap), lebih lagi ketika praktek pembuatan, semua mengambil bagian seraya aktif bertanya. Acara pun ditutup dengan makan siang bersama.


200

Selain peternakan dan pertanian, saya juga melihat ada beberapa persoalan yang ada di Desa Watukamba. Pertama, soal air. Semua pasti setuju bahwa air adalah elemen penting dalam kehidupan. Bisa dibayangkan jika tanpa air, bagaimana kita bisa menikmati kopi? Nah, kembali lagi, di sini air cukup sulit. Tidak setiap saat air mengalir, hanya di waktu tertentu biasanya pagi. Itu pun debitnya kecil. Hal inilah yang memaksa kami, para pejantan, mandi hanya sekali sehari. Kedua, soal penerangan jalan. Tidak ada lampu di sepanjang jalan utama desa ini. Beruntung setiap malam bintang bertabur di langit Watukamba, dan gelap justru membuat setiap malam di sini selalu romantis. Jadi saya kembali berpikir, apakah gelap ini adalah masalah? Ketiga adalah sampah. Buang sampah pada tempatnya masih sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena tidak ada tempatnya, lebih tepatnya sangat jarang. Langkah teman-teman saintek membuat program bak sampah permanen di setiap dusun, menurut saya sangat tepat.

Mungkin Gelap Bukanlah Masalah?

Pertama, desa ini dianugerahi keindahan alam yang luar biasa. Di bagian utara terbentang pantai, dan di bagian selatan dikelilingi perbukitan. Adalah dermaga yang menjadi tempat favorit saya untuk menghabiskan waktu bersantai, menyaksikan sunset dengan bentuk bulat sempurna, tenggelam perlahan seperti ingin tapi tak ingin, warna oranye serupa albumen telur yang kaya xantophyl, serta deru ombak yang bersaut-sautan. Dermaga ini juga menjadi saksi ketika cinta saya bersemi, meredup, dan bergelora lagi. Maka izinkan saya menamakan dermaga ini dengan nama Dermaga Cinta. Semoga setiap pribadi yang datang ke dermaga ini menemukan makna cinta yang sejati.

Pembuatan Nugget Ikan

Demikian permasalahan yang saya rasakan, dan beruntung beberapa sudah bisa dicari solusinya. Oke, kita sudah membahas yang kurang-kurang tentang Watukamba, dan sekarang mari kita jabarkan kelebihan atau potensi desa ini.

[Cerita Dari Watukamba] 201

Selanjutnya adalah tentang hasil laut yang berlimpah. Setiap pagi anak-anak selalu berkeliling menjajakkan ikan dan berteriak,�Ikaaan ikaaan!,� dengan nada dan ritme yang khas. Saya sempat berpikir bahwa mereka bisa menjadi penyanyi yang hebat. Entahlah. Melimpahnya ikan di desa ini menurut saya dapat dimanfaatkan menjadi produk olahan yang lezat di samping menjadi lauk pokok. Kami pun berinisiatif memberi pelatihan kepada warga cara membuat produk olahan menarik yakni nugget ikan. Kenapa nugget? Alasannya karena di kampus kami hanya diajarkan cara membuat nugget, bukan bakwan. Alasan lainnya adalah nugget merupakan panganan yang disukai karena kelezatannya, terlebih bisa disimpan dalam waktu yang lama (di dalam kulkas tentunya). Pembuatan nugget berlangsung lancar, meski ada sedikit kendala teknis ketika saya membuat adonan tanpa memasukkan tepung ke dalamnya. Yang terakhir dan yang ter-ena mati, tak lain dan tak bukan adalah moke. Moke merupakan minuman khas daerah Watukamba. Moke berasal dari air pohon enau, yang diproses sehingga menghasilkan uap air. Moke merupakan minuman beralkohol, sehingga punya efek memabukkan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih. Namun jangan berprasangka buruk dulu. Meskipun moke memabukkan, tapi apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, ia membuat kondisi anda lebih prima dan bersemangat.

Dan kembali lagi, tidak ada ciptaan Tuhan yang buruk, semua ada manfaatnya, yang penting bijak dalam penggunaannya. Terima kasih Tuhan telah hadirkan moke ke dunia ini. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari KKN ini. Saya bersyukur KKN di desa ini, desa Watukamba dengan segala hal di dalamnya yang tidak akan mungkin saya lupakan. Terima kasih Mama Tince, Bapa Amros, Kae Stinky, Kak In, Kae Toke, Iren, Bojan, Simon, Amel, James, Bapa Lorenz, Mama Lorenz, Bapa RT, Paman Vidal, Eja Deni, Eja Sampet, Eja Ion, Eja Yoga, Eja Christo, Eja Gustavo, Eja Ardi, Om Andi, Om Bli, Kae Radong, Mama Ani, Bapa Usman, Om Albar a.k.a Rhoma Flores, Om Saban, Bapa Yoga, dan semua yang hidup berdampingan dengan saya selama di sini. Kalian luar biasa. Dan terima kasih Watukamba untuk semua pelajaran hidup selama ini. Saya belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, saya belajar cara bermasyarakat, saya belajar cara berkomunikasi dengan anak-anak lewat mengajar, saya belajar cara bekerja dalam sebuah tim, saya belajar menahan emosi, saya belajar untuk lebih peka dan peduli, saya belajar untuk berjuang, dan saya belajar untuk terus mencintai. Mungkin satu hal yang sekarang harus saya pelajari adalah, saya harus belajar mengucapkan kata perpisahan...


202

[Cerita Dari Watukamba] 203

oleh: Indraswari Siscadarsih

[ Potret Kesehatan Tanah Maurole ]

Minggu yang terik membawa langkahlangkah kecil kami ke tanah timur Indonesia saat itu. Dengan semangat dan tekad untuk memberikan kontribusi yang bermakna bagi daerah ini, kami mantapkan hati menjalani hari-hari jauh dari kenyamanan kota istimewa. Desa Watukamba namanya. Desa dengan keragaman kultur dan budaya masyarakatnya, desa dengan keindahan alam dan tenunnya, desa dengan toleransi beragama yang mengesankan.

Tenun yang Mengesankan

Perjalanan kami dimulai di sebuah bangunan posyandu kecamatan dengan sambutan hangat para pemangku adat dan aparat desa. Perkenalan dan percakapan singkat keluar dari mulut ke mulut untuk mencairkan suasana dan mengakrabkan diri. Kami para wanita kemudian dibagi ke dalam rumah-rumah orang tua asuh yang siap menerima kami selama tujuh minggu mendatang.

KLASTER MEDIKA

Minggu pertama adalah survei berbagai situasi dan kondisi masyarakat serta kebudayaannya. Berdasarkan pengamatan, kami dapatkan keadaan masyarakat yang masih tertinggal dari segi kesehatan dan pendidikan.

Beranjak dari permasalahan tersebut kami mulai tergerak hati dan pikiran untuk memberikan sepenggal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang telah kami peroleh di tanah Jawa untuk anak Watukamba yang lebih sehat. Berawal dari cerita penuh makna yang menyisipkan edukasi kesehatan hingga penyuluhan berbagai penyakit kami lakukan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan diri demi meningkatnya derajat kesehatan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, masyarakat Watukamba adalah masyarakat yang masih jauh dari kata modern. Tidak hanya tentang pengetahuan dan teknologi, masyarakat Watukamba masih memiliki pola pikir yang kolot dan homogen. Masyarakat Watukamba masih menganggap bahwa pembangunan ď€ sik merupakan indikator terpenting untuk memajukan daerahnya. Padahal menurut kami, untuk memajukan sebuah daerah yang tertinggal adalah dengan mengubah sumber daya manusianya melalui pola pikir dan kemampuan menyerap berbagai informasi yang penting dan membuang sisanya yang tidak berguna. Hal inilah yang menjadi tantangan kami untuk menceburkan diri ke dalam kondisi masyarakat yang sedemikian rupa dengan maksud dan tekad memberikan perubahan yang berarti dalam hal kesehatan.

Sektor kesehatan kami anggap penting karena kesehatan merupakan fondasi dari semua sektor yang ada di dalam masyarakat. Sebuah daerah akan dinilai maju apabila angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh suatu penyakit dapat ditekan semaksimal mungkin oleh pemerintah dan masyarakatnya. Kerja sama antara aparat dan warga sangat dibutuhkan demi terwujudnya status kesehatan yang lebih tinggi di daerah tersebut. Namun hal ini tidak kami temukan di Desa Watukamba. Aparat desa dan warga memiliki kesenjangan paham dan pikiran yang amat sehingga sering terjadi miss communication dalam berbagai program kemajuan desa. Keadaan seperti ini sulit diurai untuk menemukan titik temu antara keduanya mengingat keberadaan kami yang hanya tujuh minggu di Watukamba. Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah menjadi penengah dengan tujuan keberlangsungan program kesehatan untuk Watukamba. Semangat kami adalah memberikan dampak yang bermakna bagi status kesehatan masyarakat Watukamba sehingga kami menginjak pada generasi emas daerah untuk pencanangan program kesehatan. Adalah anak-anak dan balita yang menjadi sasaran utama kami dalam memberikan edukasi dan pelatihan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini kami lakukan dengan alasan bahwa pembiasaan perilaku seharusnya dilakukan sejak masih masa kanak-kanak dalam lingkup keluarga sebagai lingkungan primer kehidupan pertama mereka.


204

[Cerita Dari Watukamba] 205

Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman ingatan bagi anak-anak Watukamba untuk dikenang dan diterapkan di masa yang akan datang.

Penyuluhan Leptospirosis Memang Dibutuhkan

Belajar Hidup Sehat Bersama Adik-adik Sekolah Dasar

Tidak berhenti pada anak-anak saja, namun para orang tua juga kami jadikan sasaran perubahan perilaku menuju hidup bersih dan sehat di Desa Watukamba. Pada taraf orang dewasa, kami tidak hanya terfokus pada kebersihan diri saja namun juga pada kebersihan lingkungan. Seiring berjalannya waktu kami dapat melihat hingga menilai kondisi lingkungan Watukamba yang memiliki banyak hewan ternak pembawa penyakit serius yakni anjing dan babi yang dibiarkan berkeliaran di sepanjang desa. Hal ini tentunya memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Kebersihan kandang ternak dan kesehatan hewan ternak sangat penting karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat yang tercemari. Penyakit leptospirosis adalah suatu penyakit yang menyerang manusia yang penularannya dibawa oleh babi dan anjing yang terinfeksi.

Air dan tanah yang tercemar kencing hewan yang sudah terpapar leptospirosis dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka dan jaringan tubuh yang lunak sehingga manusia tersebut dijangkiti penyakit leptospirosis. Dasar inilah yang kami gunakan untuk melakukan penyuluhan dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan karena leptospirosis dapat memakan korban jiwa tanpa gejala yang teramat sebelumnya. Terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat tentu saja tidak melulu soal perubahan pada individunya, akan tetapi juga dari sarana dan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan akan hal tersebut. Air bersih contohnya, kesehatan mengajarkan kami bahwa air yang sehat adalah air bersih yang mengalir dan tidak ditampung pada bak untuk penggunaan berulang. Namun pada kenyataannya, Desa Watukamba masih sangat kekurangan suplai air mengalir untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini mungkin sepele, tapi besar pengaruhnya terhadap kesehatan jangka panjang.

Bak mandi penuh pasir endapan, mencuci piring dengan air tampungan campur minyak serta mencuci baju dengan air kotor seadanya adalah hal baru yang kami lakukan di sini. Berharap ada air bersih mengalir dengan lancar adalah suatu hal yang kami impikan tiap membuka mata di pagi hari. Air yang ditampung dalam bak terbuka selama berhari-hari dapat menjadi sarang jentik serta mengendapkan beberapa bakteri di bawahnya. Membersihkan sesuatu dengan air tampungan bahkan direndam ke dalam suatu bak hanya akan menambah penyebaran kuman penyakit dari air ke bahan. Oleh sebab itu diperlukan air mengalir untuk setiap kebutuhan rumah tangga. Air bersih yang mengalir tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga saja, namun yang paling penting adalah air bersih untuk kebutuhan biologis manusia. Kebanyakan masyarakat Watukamba menggunakan air minum rebusan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya. Air minum yang sehat adalah air yang memiliki karakteristik ď€ sik, kandungan mikroba dan bahan kimianya sesuai dengan World Health Organization (WHO) atau standar nasional kualitas air minum. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2002, air minum diwajibkan memenuhi persyaratan secara ď€ sik tidak berasa, berbau atau berwarna, tidak keruh dan tidak berada dalam suhu tinggi.

Air minum juga tidak boleh mengandung bahan kimia dan tidak boleh tercemar bakteri. Merebus memang dapat membunuh bakteri dalam air, namun harus dilihat kembali pada sumber di mana air tersebut didapatkan. Masyarakat Watukamba masih banyak yang menggunakan air tanah untuk aktivitas sehari-hari yang biasanya didapatkan melalui sumur atau pompa listrik. Namun kualitas air tanah di tempat-tempat tertentu perlu diwaspadai. Kualitas air bersih ditentukan dari lingkungan sekitar. Seperti jarak sumber air dengan kakus yang seharusnya lebih dari 10 meter. Sedangkan di Desa Watukamba kami masih melihat keberadaan sumur adalah bersebelahan dengan kakus. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan karena air rebusan sumur dapat terkontaminasi dengan kuman dan bakteri dalam kakus. Selain itu kami juga menemukan hampir di setiap tatanan rumah tangga bahwa air minum rebusan yang mereka konsumsi adalah memiliki rasa. Padahal seharusnya air minum tidak berasa. Hal ini seharusnya menjadi perhatian pihak yang berwenang untuk mengubah hal yang dianggap sepele namun besar pengaruhnya terhadap kesehatan masa depan dan generasi baru. Kondisi Mata Air di Desa Watukamba


206

[Cerita Dari Watukamba] 207

Kondisi Mata Air di Desa Watukamba

Minggu-minggu kami akhirnya berjalan dengan cepat di Tanah Maurole ini. Ayah kami selalu berkata bahwa Nusa Tenggara Timur adalah salah satu daerah minus di Indonesia. Namun terlepas dari ketertinggalan Tanah Timur ini, kami dapat menemukan beribu pelajaran dan pengalaman berharga di dalamnya. Walaupun pemikiran mereka masih tergolong kolot, kami dapat melihat solidaritas yang tinggi di antara masyarakatnya yang sulit kami temukan di masyarakat kota besar. Penghormatan pada leluhur dan nenek moyang juga masih dijunjung tinggi. Perubahan yang mereka butuhkan sebenarnya adalah secara komprehensif dari dalam dan luar, edukasi dan motivasi dalam diri masyarakat serta pembangunan infrastruktur desa.

Sosialisasi Kesehatan Masyarakat

Selain faktor masyarakat dan lingkungan hidup, kami merujuk pada institusi yang berperan penting dalam meningkatkan status kesehatan suatu daerah. Pada sektor kesehatan kami melihat kurangnya gebrakan yang cukup untuk mengubah masyarakat Watukamba lebih peduli akan kesehatan. Terbatasnya tenaga kesehatan dan sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi pokok permasalahan yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Puskesmas saja dirasa kurang memadai untuk menampung kebutuhan sehat masyarakat kecamatan yang berjarak geograď€ s cukup jauh sehingga sering ditemukan cerita-cerita anak dan balita mengalami gizi buruk dan balita tidak lengkap imunisasi.

Hal seperti ini seharusnya sudah tidak terjadi di Indonesia karena promosi kesehatan saat ini sudah masuk ke lingkup nasional yang artinya pemerataan pelayanan dan akses kesehatan bisa menjangkau seluruh pelosok negeri. Dari sini kami mulai berpikir bahwa yang harus diubah tidak hanya pada pola pikir masyarakatnya saja, akan tetapi perlu ditanamkan etos kerja yang tinggi kepada para tenaga kesehatan agar dalam hatinya tertancap rasa dan tekad untuk betul-betul melayani masyarakat di mana pun mereka berada, dengan kondisi apapun yang mereka hadapi. Fakta menunjukkan bahwa kurangnya akses pelayanan kesehatan di Desa Watukamba adalah karena alasan geograď€ s yang sulit dijangkau sehingga antara masyarakat dan tenaga kesehatan sama-sama enggan untuk mengakses layanan kesehatan tersebut.


208

[Cerita Dari Watukamba] 209

oleh: Imtiyaz Ammarriza

[ Ceritaku Bersama Watukamba ]

Desa Watukamba adalah suatu desa di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di Desa Watukamba inilah KKN (Kuliah Kerja Nyata) PPM UGM NTT-04 mengabdi selama tujuh minggu dari tanggal 20 Juni 2016 - 7 Agustus 2016. Desa Watukamba ini terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Aepetu, Dusun Nanganio, Dusun Wolosambi, Dusun Watukamba. Kegiatan pertama yang akan kami lakukan di Desa Watukamba adalah kegiatan observasi terhadap daerah ini. Kegiatan observasi untuk mencari permasalahan permasalahan yang terjadi di lingkungan masyarakat, sekolah, dan lembaga. Mahasiswa KKN menginventarisasi permasalahan-permasalahan yang terjadi, sekaligus mengelompokkan atas bidang dan sifatnya. Dari permasalahan yang diinventarisasi dan dikelompokkan tersebut dipilih dan dijadikan sebagai program kerja KKN dengan mempertimbangkan faktorfaktor yang mendukung pelaksanaan program tersebut, kebutuhan masyarakat dan pemerintahan setempat, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, waktu yang tersedia, sarana dan materi, serta potensi alam dan pendukungnya. Asuhan kebidanan pada KKN ditujukan kepada masyarakat dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal. Manajemen kebidanan diperlukan untuk memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Manajemen kebidanan di KKN memiliki beberapa langkah yaitu pengumpulan dan pengkajian data dasar, analisa data, perumusan masalah, prioritas masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Interpretasi data dari hasil pengkajian melalui survei terhadap warga Dusun Nanganio dirumuskan beberapa masalah kesehatan yang dimiliki oleh warga yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kurangnya kesadaran masyarakat untuk cek kesehatan secara teratur, kurangnya pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja dan deteksi dini pada remaja, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pertolongan pertama saat terjadi bencana, kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang pada balita sehingga tumbuh kembang balita kurang baik. Hal tersebut menjadi masalah kesehatan karena memiliki dampak yang tidak sehat bagi lingkungan keluarganya jika tidak mendapat tindakan yang sesuai. Menindak lanjuti masalah yang ditemukan di Dusun Nanganio yaitu masalah yang pertama adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),maka saya dan tim klaster medika mengadakan penyuluhan sepuluh tatanan PHBS ke tiap rumah warga Nanganio dan sosialisasi sikat gigi serta cuci tangan ke SD yang ada di Desa Watukamba yaitu SD Inpres Nanganio dan SD Katolik Watukamba. PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau, dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam kegiatankegiatan kesehatan di masyarakat.

PHBS di rumah tangga dilakukan untuk mencapai rumah tangga sehat yang melakukan sepuluh tatanan PHBS yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan,memberi ASI eksklusif (0-6 bulan), menimbang bayi dan balita, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas ď€ sik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Prinsip ini sangat penting untuk kita terapkan dalam mencegah tertular penyakit yang disebabkan oleh virus. Perlu bagi kita untuk menerapkan PHBS, kita dapat terhindar dari banyak jenis penyakit dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya yang tidak perlu untuk pengobatan. Penyuluhan ini mendapatkan tanggapan yang baik dari warga dan dapat memahami dengan baik penyuluhan yang diberikan serta anak-anak SD juga sudah menerapkan sikat gigi dan cuci tangan enam langkah yang baik dan benar. Permasalahan yang kedua adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk cek kesehatan secara teratur. Cek kesehatan merupakan hal sangat penting untuk dapat mengetahui seberapa sehat kondisi badan. Oleh karena itu, saya dan teman-teman dari klaster medika mengadakan program cek kesehatan gratis yang terdiri dari cek tandatanda vital (tekanan darah, nadi, p erna f a s a n, d a n s uhu) , gul a d a ra h, kolesterol, dan asam urat.


210

Cek kesehatan gratis ini kami adakan saat posyandu lansia untuk orang tua usia lanjut, guru-guru SD, dan warga masing-masing dusun khususnya bagian saya yang berada di Dusun Nanganio. Selain warga yang perlu memperhatikan kesehatan untuk cek kesehatan secara teratur, petugas puskesmas juga seharusnya lebih memperhatikan warga Desa Watukamba. Melihat para lansia yang datang ke posyandu lansia tidak semua maka petugas puskesmas bisa datang melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk cek kesehatan mereka serta memperhatikan kondisi kesehatan para lansia. Setelah dilakukan cek kesehatan ini, masyarakat sadar pentingnya cek kesehatan secara teratur. Dengan cek kesehatan rutin, kita bisa mendeteksi adanya penyakit atau gangguan kesehatan yang bisa ditemukan.

Cek Kesehatan Gratis untuk Lansia

[Cerita Dari Watukamba] 211

Permasalahan yang ketiga adalah kurangnya pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi dan deteksi dini pada remaja. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Melihat sangat minimnya pengetahuan remaja di sini untuk memperhatikan kesehatan reproduksi, maka saya dan teman-teman klaster medika lainnya mengadakan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan deteksi dini kanker serviks serta penyuluhan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) untuk remaja perempuan. Karang taruna di sini sangat antusias dan kooperatif saat mengikuti penyuluhan dan untuk remaja perempuan yang tadinya tidak mengetahui tentang deteksi dini kanker serviks dan SADARI, sekarang mereka mengetahui deteksi dini kanker serviks dan mengetahui bagaimana cara mencegahnya, praktek SADARI juga berjalan lancar untuk remaja perempuan dan mereka dapat menerapkan ilmu yang kita berikan di rumah. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, mereka mengerti untuk menghindari penyakit-penyakit yang tidak diinginkan, kita haruslah menjaga kesehatan reproduksi kita karena ini sangat penting. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.

Permasalahan yang keempat adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis padahal daerah ini banyak warga yang memelihara babi dan anjing, maka penyuluhan tentang penyakit leptospirosis sangat diperlukan agar masyarakat mengetahui bahaya leptospirosis. Maka dari itu saya dan saya dan teman-teman dari klaster medika serta petugas Puskesmas Maurole akan melakukan sosialisasi di Dusun Watukamba. Partisipasi dan antusias warga Dusun Watukamba membuat kami semangat untuk melakukan sosialisasi. Setelah sosialisasi tentang diare oleh Puskesmas Maurole, maka giliran kami yang melakukan sosialisasi.

Setelah dilakukan penyuluhan leptospirosis warga Dusun Watukamba mengetahui apa itu penyakit leptospirosis, bagaimana cara ditularkannya, bagaimana penyakit leptospirosis disebarkan, apa saja sumber penularannya, hewan apa saja yang dapat menyebarkan leptospirosis, siapakah yang berisiko tertular leptospirosis, bagaimana gejala-gejala leptosiporis, bagaimana cara pencegahan leptospirosis. Untuk daerah Dusun Nanganio, saya melakukan penyuluhan ke warga yang khususnya memelihara babi ataupun anjing. Setelah dilakukan penyuluhan , warga Dusun Nanganio telah mengerti leptospirosis dan penyuluhan mendapat tanggapan yang baik.

Meninjau warga di Dusun Watukamba juga banyak yang memelihara babi dan anjing maka sosialisasi yang kita berikan adalah sosialisasi tentang leptospirosis. Ternyata di Desa Watukamba leptospirosis ini masih awam bagi warga Watukamba maupun petugas Puskesmas Maurole. Perlu kita ketahui bahwa ada yang meninggal karena virus dari leptospirosis ini. Angka kematian akibat penyakit yang disebabkan bakteri lepstopira ini tergolong cukup tinggi. Penyebab kenaikan angka kematian kasus leptospirosis tersebut karena ketidaktahuan masyarakat tentang pengetahuan penyakit leptospirosis. Maka dari itu kita harus mengenal apa itu leptospirosis dan bagaimana cara mencegahnya.

Permasalahan kelima adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pertolongan pertama saat terjadi bencana. Pertolongan pertama sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, baik itu dalam keluarga, maupun masyarakat pada umumnya. Meninjau Desa Watukamba yang rawan bencana yaitu gunung meletus, banjir, dan gempa, maka klaster medika melakukan penyuluhan pertolongan pertama saat terjadi bencana yang terdiri dari materi penyuluhan pertolongan pertama,bantuan hidup dasar, pembalutan pembidaian, evakuasi saat terjadi bencana, dan dilanjutkan dengan latihan bantuan hidup dasar bersama karang taruna Desa Watukamba. Karang taruna Desa Watukamba aktif dan kooperatif untuk diajak kerja sama dalam latihan pertolongan pertama ini.


212

Ketika para kaum muda dibekali dengan pengetahuan dan skill pertolongan pertama dengan cepat, tepat, dan aman tentunya, sehingga dapat mengurangi tingkatan bahaya dan risiko kematian pada yang ingin ditolong tersebut (korban).

Kegiatan Latihan Pertolongan Pertama

Permasalahan yang keenam adalah kurangnya pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang pada bayi dan balita sehingga tumbuh kembang bayi dan balita kurang baik. Pada permasalahan ini,saya dan teman-teman medika lainnya melakukan penyuluhan serta membantu kegiatan posyandu balita.

Kegiatan Posyandu

[Cerita Dari Watukamba] 213

Pertama kami mengikuti posyandu balita yang bertempat di posyandu Dusun Nanganio, banyak ibu yang membawa bayi balitanya ke posyandu. Di sini kami melakukan timbang berat badan, saat melakukan timbang berat badan kami menemukan masalah karena timbangannya masih menggunakan timbangan gantung kuningan yang dikaitkan pada bambu-bambu dan bayi atau balita dimasukkan ke kain karung beras, melihat timbangan ini yang kurang akurat dan agak membahayakan bayi atau balita mungkin untuk posyandu ke depan bisa memakai timbangan bayi balita yang lebih aman. Setelah kegiatan menimbang bayi dilanjutkan penyuluhan dari kami yaitu penyuluhan “1000 hari kehidupan� dan gizi seimbang pada bayi balita. Ibu-ibu yang hadir dan mendegarkan penyuluhan aktif untuk bertanya dan berdiskusi bersama tim medika KKN UGM, kader, maupun petugas puskesmas. Setelah penyuluhan dilanjutkan kegiatan imunisasi pada bayi balita ini. Pada saat imunisasi terdapat ketidaksesuaian, menurut prosedur imunisasi yang benar sebelum menginjeksi seharusnya bagian yang akan disuntikkan harus dibersihkan dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi air DTT(Desinfeksi Tingkat Tinggi), di sini tidak melakukan hal tersebut. Meskipun demikian, imunisasi tetap dilaksanakan dan berjalan lancar. Untuk ke depannya, alangkah baiknya petugas puskesmas menyiapkan kapas DTT sebelum melakukan imunisasi.

Selain posyandu di posyandu Nanganio, kami juga mengikuti posyandu balita di Dusun Watukamba. Posyandu balita di Dusun Watukamba menurut saya sangat memprihatinkan karena di sini hanya dilakukan timbang berat badan saja oleh kader di Dusun Watukamba ini. Warga Watukamba mengatakan bahwa petugas puskesmas sudah 5 bulan tidak datang untuk melakukan posyandu balita sehingga jika orang tua ingin anaknya mendapatkan imunisasi mereka harus turun ke puskesmas yang akan menempuh jarak 1 jam ke Puskesmas Maurole. Peserta posyandu juga sangat sedikit hanya 7 orang. Ibu-ibu yang mempunyai bayi balita di daerah atas tidak turun ke balai desa untuk membawa bayi balitanya posyandu. Untuk ke depannya semoga petugas puskesmas lebih memperhatikan keadaan warga Dusun Watukamba karena akan berakibat buruk terhadap perkembangan bayi balita di dusun ini. Setelah melakukan timbang berat badan,kami melakukan KIE kepada ibu-ibu dengan keluhan pada bayi balitanya masing-masing.

Viola sedang Ditimbang

KKN (Kuliah Kerja Nyata) ini telah berlangsung selama tujuh minggu , itu berarti pengabdian saya bersama TIM KKN PPM UGM NTT-04 telah selesai. Desa Watukamba memberi saya banyak pelajaran yang bisa diambil hal-hal positifnya, di sini saya merasa dapat menerapkan ilmu yang telah saya dapat dari kampus untuk menolong temanteman jika sakit, membantu dan memperhatikan warga Desa Watukamba dan saya dapat berbagi ilmu kepada warga, saya senang melihat warga khususnya Dusun Nanganio yang antusias atas kesadarannya untuk cek kesehatan dengan saya. Mereka senang dan berterima kasih karena telah diperhatikan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN UGM tahun ini. Saya juga dapat menerapkan ilmu yang pernah saya dapat dari kampus untuk menolong teman-teman jika sakit.


214

[Cerita Dari Watukamba] 215

oleh: Polycarpus Bala Retu Koten

[ Cerita Singkat KKN-PPM NTT-04 ]

Polycapus Bala Retu Koten dari Fakultas Kedokteran dan lebih tepatnya di Program Studi Ilmu Keperawatan. Richo adalah pangilan akrab dari teman-teman sekitar. Semester delapan merupakan semester akhir dalam jenjang studi S1. Di semester delapan ini ada Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sekarang saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman yang saya dapat saat kuliah kerja nyata yang saya alami. Yang pertama saya akan berbagi cerita tentang dimana saya memilih lokasi kuliah kerja nyata saya dan kenapa alasan saya memilih tempat itu. Awalnya saya bingung ketika diminta untuk memilih lokasi kuliah kerja nyata ini karena pasti saya akan beradaptasi lagi di lingkungan yang baru yang dimana di lingkungan itu tidak ada satupun orang yang saya kenal. Sejujurnya saya adalah orang yang tidak mudah untuk berinteraksi dengan orang yang baru saya kenal, dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih lokasi kuliah kerja nyata saya di Flores Nusa Tenggara Timur. Menurut saya Flores adalah tempat yang tepat untuk saya dalam menjalankan kegiatan kuliah kerja nyata ini. Mungkin saya bisa lebih mudah untuk berinteraksi dengan warga sekitar karena saya berasal dari Flores juga dan mungkin banyak orang Flores yang memilih lokasi dan memiliki pikiran yang sama seperti saya. H-7 sebelum pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya belum juga menemukan tim KKN saya. Berbagai cara telah saya lakukan agar bisa bergaung dengan tim saya akan tetapi usaha saya tidak membuahkan hasil yang baik.

Saya mulai merasa putus asa dan mencoba untuk menerima kenyataan kalau saya tidak akan bisa mengikuti kuliah kerja nyata ini. Ternyata kegelisahan saya pun mulai redah setelah saya dihubungi oleh salah seorang teman dari tim KKN saya saat H-4 tepatnya pada tanggal 15 Juli 2016. Selamat siang dan selamat bergabung di Tim KKN-PPM NTT 04 itulah isi pesan singkat dari salah satu anggota tim saya. Bahagia dan senang itu sudah pasti karena masih ada harapan untuk mengikuti kuliah kerja nyata. Namum dengan waktu yang begitu singkat dan belum ada persiapan membuat saya mulai ragu lagi untuk bergabung di tim itu. Keesokan harinya ada orang lain lagi yang menghubungi saya dan mengatakan selamat datang dan selamat bergabung di tim kesehatan. Semangat saya mulai muncul setelah mendapat pesan singkat itu, seiring berjalannya waktu saya mempersiapkan peralatan untuk memperlancar program yang akan saya jalankan semakin menambah semangat saya untuk lebih cepat berkumpul dan berkenalan dengan teman-teman satu tim dengan saya. Hari Sabtu, 18Juni 2016, tim KKN NTT 04 akan bertemu untuk memastikan persiapan sebelum berangat ke lokasi yang sudah kita pilih dan hari itu adalah hari pertama saya bertemu teman-teman. Suasana yang sangat baru bagi saya dimana saya merasa sangat asing di antara teman-teman yang sudah saling kenal. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut saya sebelum saya diajak bicara. Mungkin hanya lima orang yang bisa saya kenal di hari itu.

Minggu, 19 Juni 2016, kami semua suda harus berangkat ke lokasi KKN. Waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan perlengkapan pribadi, hari mulai siang dan saya pun mulai mempersiapkan perlengkapan pribadi saya. Di sore hari itu turunlah hujan yang sangat deras membasahi kota Jogja dan itu merupakan salah satu ujian yang sangat berat yang pernah saya alami. Dibawah derasnya hujan saya mempersiapkan kebutuhan pribadi saya, derasnya hujan serasa sangat tak berarti. Basah, kedinginan, lelah bahkan ngantuk seakan memaksa saya untuk menyerah. Namun rasa tanggung jawab seakan membangkitkan semangat saya lagi. Di saat itulah saya merasakan betapa berharganya waktu disetiap detiknya. Waktu telah menunjukan pukul 01.30 tengah malam dan saya baru saja tiba di kos dalam keadaan basah. Tanpa kenal lelah saya mulai memasukan satu per satu pakayan ke dalam tas saya. Saking semangatnya saya menyimpan tak terasa waktu pun menunjukan pukul 03.20. saya langsung beristirahat karena harus ke bandara sebelum pukul 06.00 pagi. Tanpa saya sadari hari sudah mulai pagi, saya langsung bergegas mandi dan langsung menuju ke Bandar Udara untuk melakukan penerbangan ke Bali dan lanjut ke Flores. Di pagi itu saya merasa sungguh sangat bersalah kepada teman-teman karena saya terlambat dan hampir ketinggalan pesawat tetapi akhirnya saya bersama teman-teman bisa ikut dalam penerbangan itu. Tak terasa kita tiba di Bali, kita beristirahat sejenak sambil menunggu jadwal penerbangan selanjutnya ke Flores.


216

[Cerita Dari Watukamba] 217

Saya masih seperti orang asing di hadapan teman-teman. Kata demi kata terucap dari bibir saya dan mulai mencoba dekat dengan teman-teman. Waktu pun berlalu, penerbangan akan dimulai lagi. Keadaan semakin menegangkan saat pesawat yang kita tumpangi mulai mendarat di Bandar Udara Flores.

Setelah itu kami langsung melanjutkan perjalanan ke salah satu dermaga di Kota Ende. Pemandangan di sore itu seakan mengajak kami untuk terus menikmati keindahan alam Ende yang masih sangat alami yang dihiasi oleh pantulan cahaya matahari yang yang perlahan terbenam di ujung pantai. Hari pun mulai malam dan kami kembali lagi ke penginapan. temanteman pun mulai beristirahat karena besok kami akan pergi ke kampus UNIFLOR untuk mengikuti acara pelepasan Mahasiswa KKN yang dipimpin oleh Bapak Bupati Kabupaten Ende. Viktor sahabat pertama yang dekat dengan saya. Begitu banyak cerita dan curhatan malam itu seakan mengatakan kalau Viktor adalah sahabat yang sudah lama saya kenal. Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 03.30. Pleky adalah sahabat yang menemani saya mencari warung makan di tengah dinginnya malam di Kota Ende. Rasa tanggung jawab saya di hari itu membuahkan hasil juga untuk teman-teman yang berpuasa. Saya merasa bangga dan bahagia karena bisa mendatangkan makanan untuk temanteman buat sahur.

Watukamba adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa yang sangat indah dan ramah penduduknya. Kami disambut dengan senang hati di desa ini. Di sinilah kami akan menjalankan program yang sudah kami rencanakan. Malam pertama di desa ini kami di suguhkan minuman yang bernama Moke. Minuman tradisional yang sungguh sangat khas dan berakohol. Dermaga adalah tempat yang sangat indah dengan lautnya yang biru dan terlihat juga indahnya gunung Rokatenda dari sudut dermaga. Bentangan pasir pantai yang putih dan bersih seakan menghibur hati yang sedang sedih. Panggilan akrab EJA yang keluar dari bibir-bibir pemuda desa seakan mengajak kami untuk menjadi warga Desa Watukamba.

Praktek Menyikat Gigi

Kami di Bumi Pancasila

Penyambutan oleh Universitas Flores

Program demi program telah kami selesaikan, hari demi hari telah kami lalui. Mengajar, memberikan sosialisasi, serta membangun kerja sama dengan warga desa membuat kami serasa mendapatkan keluarga baru di desa tercinta ini. Hari Lebaran teman-teman lewati tanpa bersama keluarga, tetapi keluarga baru di Desa Watukamba ini mengembalikan senyum indah dan bahagia untuk kami semua. Di beri kepercayaan adalah sesuatu yang sangat langka saya dapatkan di tempat lain. Tetapi di desa ini saya sangat di kasih kepercayaan bahkan diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan adik-adik di Sekolah Dasar.

Diskusi di SD Watukamba

Ende, Kota Pancasila tujuan saya dan teman-teman. Ucapan selamat datang pun terdengar di telinga tim kita. Setelah beberapa menit beristirahat saya dan teman-teman di ajak ke Wisma Unior. Keakraban saya dan teman-teman mulai terjalin di wisma itu. Sebatang rokok mengawali percakapan kita, hari itu saya merasa rokok adalah perantara yang baik untuk mengawali persahabatan. Teman baru di suasana baru ternyata sungguh sangat mengasikkan. Tak lama beristirahat kami pun di ajak jalan-jalan mengelilingi kote ende. Tujuan pertama kami adalah Rumah pengasingan Bung Karno, setelah tiba di lokasi kami pun mengambil beberapa gambar di tempat itu.

Kecewa sangat saya rasakan kepada warung makan yang sudah saya pesan makanan untuk sahur teman-teman. Terima Kasih Pleky sudah menemani saya mencari warung makan itu walaupun saat tengah malam. Pagi telah datang dan kami pun di jemput untuk berangkat ke UNIFLOR. Acara pelepasan pun dimulai dan kita mengikuti hingga acaranya selesai. Dan tiba saatnya saya dan teman-teman berangkat ke lokasi KKN. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke lokasi. Yang pastinya dua jam itu tidak membuat sya dan teman-teman lelah. Disepanjang jalan kami di temani pemandangan yang sangat indah. Tak terasa kami pun tiba di tempat tujuan.


218

Kerja sama yang sangat baik baru saya rasakan di tempat ini. Susah dan senang kita hadapi bersama-sama, bahkan banyak terjadi kejadian yang aneh pun telah kita lewati semua. 47 hari terasa berlalu begitu sangat cepat. Dan sekaran tiba saatnya kita harus berpamitan untuk berpisah dengan warga Desa Watukamba ini. Sedih pasti sangat saya rasakan, begitupun sangat terlihat di mata teman-teman yang lain. Sangat berat memang jika keindahan dan kebahagiaan ini berujung perpisahan. Tetapi saya yakin ini adalah jalan terbaik untuk kita semua. 47 hari ini sangat membawa perubahan dalam diri dan pribadi saya. Percaya diri, berani mengakui kesalahan, bekerja keras, bersikap adil, menghargai orang lain, dan punya rasa tanggung jawab. Itulah beberapa pelajaran yang saya dapatkan disini, di Desa Watukamba tercinta ini. Semoga apa yang telah kita bangun dan kita dapatkan disini bisa menjadi contoh yang baik untuk orang lain dan saya harap pertemuan dan kekeluargaan kita ini tidak hanya sampai disini saja. Mungkin itulah sedikit cerita, curhat, keinginan dan harapan saya selama 47 hari KULIAH KERJA NYATA (KKN) di desa kita tercinta ini.

[Cerita Dari Watukamba] 219

Keluarga Baru Saya di Watukamba, Tepatnya Posyandu


219

[Cerita Dari Watukamba]

“And I'll take with me the memories To be my sunshine after the rain It's so hard to say goodbye to yesterday” Jason Mraz - It's So Hard To Say Goodbye To Yesterday

Sangat berat rasanya ketika menginjakkan kaki pertama kali di Tanah Flores. Namun ketika hendak melangkah pergi, kaki ini sungguh jauh terasa lebih berat dari sebelumnya. Sulit untuk melupakan segala hal yang telah terjadi di Watukamba. Baik itu suka maupun duka yang telah kami alami.

[ EPILOG ]

Hanya dalam empat puluh tujuh hari, sebuah desa di utara Pulau Flores ini telah berhasil mengubah kami. Tiga puluh mahasiswa dari beragam latar belakang telah tersihir di dalam pesona Watukamba. Pesona yang diberikan bukanlah sekedar pesona alam indah nan eksotis. Watukamba telah memberikan pesona tersendiri bagi masing-masing dari kami. Pesona yang telah membuat kami berat meninggalkannya. Pesona yang membuat kami tidak ingin lepas darinya. Pesona tersebut telah kami coba rangkai dalam kata-kata. Namun pada kenyataannya tidaklah sanggup tangan ini menuliskan pesona indah karya Tuhan tersebut secara sempurna. Tiga puluh cerita yang telah dimulai pun harus kami akhiri. Bukan karena keterbatasan memori, hal ini lebih dikarenakan ketidakmampuan diri untuk menceritakan warna-warni yang telah menghiasi hidup kami. Sangat ingin rasanya untuk segera pulang, pulang ke keluarga baru kami di sana. Di Desa Watukamba.

“We'll meet again, Don't know where,don't know when, But I know we'll meet again, some sunny day” Vera Lynn - We’ll Meet Again

220

Profile for Yuramia Oksilasari

KKN PPM UGM NTT 04  

This book contains stories from 30 people who spent their summertime in Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Flores for Kuliah...

KKN PPM UGM NTT 04  

This book contains stories from 30 people who spent their summertime in Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Flores for Kuliah...

Advertisement