Page 1

Edisi XLIV, April 2014

NewsRhetor Media Komunikasi Mahasiswa

RHETOR

: Kendaraan Banyak, Dampak Merebak : Kampus Sumuk itu, bernama UIN SuKa Fakultas : Mahasiswa Minta DPA (yang) Tak Berfungi, Supaya dibubarkan Rhetorika : Yang Sok Tahu, Tahu Dirilah : Teror Kendaraan Bermotor Opini : Kawula Alit, Babak Baru PKL UIN SuKa Sketsa Kampus


Salam Redaksi

S

alam Persma!!!

NewsRhetor Edisi XLIV Daftar Isi 3. Tajuk : Menagih Janji, Menanti

Antisipasi

Salam hangat kami sampaikan pada seluruh pembaca yang dengan setia, menanti kehadiran NewsRhetor ditiap edisi. Satu bulan NewsRhetor tak terbit, beberapa mahasiswa, dosen serta petugas parkir, khususnya yang berada di fakultas fakultas dakwah dan komunikasi selalu bertanya. Kapan terbit lagi mas? Kapan terbit lagi. Ya, pertanyaan diatas sebenarnya tak hanya terlontar dari segenap pembaca. Pun demikian dengan kami di redaksi. Sungguh, kami selalu bertanya. kapan terbit lagi. Keinginan untuk terus konsisten dalam penerbitan, yakni sebulan sekali, sebenarnya sudah kami usahakan dengan penuh dedikasi. Isu demi isu terus kita kaji demi mendapatkan informasi terbaik bagi pembaca. Sekedar untuk diketahui, bahwa beberapa bulan terakhir, cadangan kas RHETOR sudah kering bahkan defisit. Sehingga meski kami sudah selesai mengumpulkan ragam tulisan, baik berita maupun kajian terkait isu yang diangkat hingga sampai ke meja layouter, otak dan tenaga mesti kita putar lagi, guna mengisi kerontangnya keuangan redaksi. Sebab, saat dana tak ada, maka sulit bagi kita menghadirkan NewsRhetor dalam bentuk cetak. Namun, untuk menyiasati durasi terbit yang tak menentu sebab faktor keuangan, pihak redaksi telah menyiapkan alternatif media lain, yakni RHETOR_ONLINE. Media tersebut juga kita siapkan untuk mengakomodir berita-berita aktual dilingkungan kampus. Sehingga pembaca tak perlu menunggu cemas kehadiran NewsRhetor yang berkala terbit perbulan. Kedepan, kami berharap melalui do'a pembaca, agar redaksi senantiasa diberikan rezeki yang cukup. Sehingga NewsRhetor yang memang kita berikan secara gratis, dapat lebih menjangkau ke sebagian besar mahasiswa UIN, Khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sekarang, mari pembaca nikmati, sajian oretan yang masih kami anggap sangat sederhana ini. Selamat membaca. Lawan jika perlu![]

3. Surat Pembaca : Hei UIN SuKa,

Kamu siap gak jadi kampus digital? 4. Kampus : Kendaraan Banyak, Dampak Merebak 6. Kampus : Kampus Sumuk itu, bernama UIN SuKa 9. Fakultas : Lab jurusan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Baru Sebatas Ruangan 10. Fakultas : Mahasiswa Minta DPA (yang) Tak Berfungsi, Supaya Dibubarkan 11.Puisi 12. Dropshot 14. Rhetorika :Yang Sok Tahu,

Tahu Dirilah 16.Opini : Teror Kendaraan

Bermotor! 18. Sketsa : Kawula Alit; Babak

Baru PKL UIN SuKa 20. Cerpen : Satu Ibu Selamanya 22. UsulnotAsal 23.Kasakusuk 24.Karvector

Lembaga Pers Mahasiswa

RHETOR

RHETOR

NewsRhetor diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) RHETOR F.DK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pelindung: Dr. Waryono Abdul Gafur M.A | Penasehat: Dr. Hj. Sri Harini M.Si | Pembina: Nanang Mizwar Hasyim M.Si | Pemimpin Umum: Ahmad Hedar | Sekretaris Umum: Nur Anisa Sholikha | Bendahara : Arivia Nujumulhayat | Pemimpin Redaksi: Fikry Fachrurrizal | Redaktur Pelaksana: Amita Meilawati, Fullah Jumaynah | Kord. Liputan: Fuad Hasan | Kord. PSDM: Suhairi | Staf Redaksi: Retno Dwi Ningsih, Astry Cahyuningsih | Desain Cover : M.Latif Aif, Rian.B | Tata Letak: Soe. Kantor Redaksi : Jl.Marsda Adi Sucipto Gd. Student Center R.3.46 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kode pos 55281


NewsRhetor Edisi XLIV

Tajuk

Menagih Janji, Menanti Antisipasi Zaman menuntut mobilitas masyarakat semakin tinggi. Tidak tanggung-tanggung, tuntutan itu memukul rata semua kepala. Tidak luput dari tuntutan tersebut, warga UIN Sunan Kalijaga. Pagi mengajar di kelas, siang penelitian di daerah. Siang masuk kelas, sore harus ngajar anak TPA di ujung kota. Mobilitas tinggi semacam itu yang kemudian melahirkan lagi sebuah tuntutan: berkendara dan memiliki kendaraan. Tuntutan zaman menggeser sepeda motor dan mobil layaknya beras dan kain penutup aurat: sebuah kebutuhan. Maka sebuah keniscayaan jika volume kendaraan kian hari kian membuat jari kita tak mampu menghitungnya. Ketika sesuatu menjadi kebutuhan, penilaian baik-buruk, layak-tidak layak sementara harus ditutup rapat-rapat. Sehingga perdebatan perihal jumlah kendaraan harus ditekan, untuk sementara waktu tidak relevan. Wong semua orang butuh kendaraan kok. Karena dalam jangka panjang peningkatan

volume kendaraan akan menimbulkan dampak negatif, hal itu lah yang semestinya diantisipasi dan diminimalisasi. Sekali lagi, sementara waktu belum bisa sampai pada tahap penekanan jumlah kendaraan. Dalam situasi seperti ini langkah represif atau antisipasi tadi yang semestinya dikedepankan. Siapa lagi jika bukan pemangku kebijakan yang ditunggu tindakannya. Kita tagih janji-janji birokrasi mengatur kehidupan kampus. Namun tidak elok pula rasanya jika satu jari menunjuk ke depan: birokrasi. Tiga jari menunjuk ke belakang: kita. Problem klise macam kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga kampus tak luput dinanti. Kendaraan, kendaraan bersama yang membuat kampus ini sumuk. Kemalasan, kemalasan bersama yang menyulap kampus tak enak dilihat. Sudah saatnya tidak saling tunjuk. Tatkala “dosa kolektif� tersebut menemui puncaknya, kolektif pula dirasakan akibatnya. Jangan sampai.[]

Surat Pembaca Hei UIN SuKa, Kamu siap gak jadi kampus digital? Oleh : Ervan Bambang Darmanto Sejak UIN SuKa melakukan eksperimentasi dengan bermimpi menjadikan kampus ini beralih dari manual menjadi kampus berbasis digital, berbagai masalah seakan tak pernah usai. Salah satu yang paling dekat, beberapa bulan lalu, sebelum m e m a s u k i perkuliahan yakni proses peng-input-an Kartu Rencana Studi (KRS) melalui sistem tersebut. Dalam prosesnya masalahpun bermunculan. Tiap pengimputan melalui online, lemmot menjadi masalah utamanya. Meski sudah banyak alternatif eksperimen lain dimunculkan, lemmot seakan tak mau menghindar dari lingkaran sistem pengimputan tersebut. Sehingga, tak heran jika didepan layar komputer, status facebook, maupun twitter, umpatan mahasiswa bermunculan, sumpah serapah pun terkadang juga mereka ucapkan, meski tak jelas pada siapa ke pihak mana ditujukan.

Masalah selanjutnya adalah tetap dilangsungkannya proses peng-input-an di saat sebagian besar nilai Indeks Prestasi (IP) belum keluar. Padahal menurut aturan, jumlah IP menjadi acuan pengambilan jatah Satuan Kredit Semester (SKS).Yang menjadi kekhawatiran saya adalah, saat nilai susulan y a n g dikemudian hari muncul jelek, maka tak m e n u t u p kemungkinan ada pengurangan secara mendadak. Padahal, sejauh ini perkuliahan sudah memasuki separuh semester. Pun sebaliknya, saat diawal nilai IP jelek hingga jatah SKS berkurang. Namun, saat dipertengahan perkuliahan, nilai susulan yang muncul tinggi, maka, dipastikan mahasiswa tak dapat mengimput lagi sesuai jatah yang bertambah. Saya curiga, jangan-jangan banyaknya permasalahan SIA tersebut memang disebabkan oleh ketaksiapan UIN SuKa untuk bermimpi menjadi kampus digital. Semoga hanya kecurigaan.[]

Bagi seluruh sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga yang ingin berkontribusi lewat tulisan (surat pembaca, opini, artikel, esai, puisi dan cerpen), silahkan kirim ke alamat e-mail: lpmrhetor@gmail.com. Bagi yang merasa keberatan dengan pemberitaan NewsRhetor, dapat melayangkan hak jawab ke alamat yang sama atau datang langsung ke alamat redaksi untuk berdiskusi. Crew NewsRhetor dibekali tanda pengenal dan dilarang memberi ataupun menerima imbalan dalam bentuk apapun.

April 2014

03


Kampus

NewsRhetor Edisi XLIV

Kendaraan Banyak, Dampak Merebak Oleh: Fikry Fachrurrizal

Ketika kendaraan bermotor menjadi kebutuhan, jumlahnya kian meningkat. Lingkungan kampus tidak luput dari dampak negatifnya. Satu per satu dapat menjadi “bom waktu” jika tidak diantisipasi.

UIN (9/3)- Sudah dua tahun Ariyanto menjadi petugas parkir di area Panggung Demokrasi (PD) UIN Sunan Kalijaga (UIN Suka). Ia mengeluhkan kondisi parkiran yang kian hari kian sesak dipenuhi sepeda motor. Sebagai konsekuensi dari bertambahnya sepeda motor, menurutnya parkiran yang penuh sesak bisa menjadi peluang tindakan kriminal seperti pencurian helm. “Tapi untungnya belum ada kalau kasus kehilangan motor. Jangan lah, “ tuturnya sambil membereskan letak beberapa sepeda motor. Karenanya, ia mengaku selalu menganjurkan mahasiswa yang memarkirkan sepeda motor di panggung tersebut, untuk mengamankan helmnya. Pria yang kerap terlihat dengan kaca mata hitam di kepalanya ini mengharapkan mahasiswa untuk menata sendiri sepeda motornya. Menurutnya, sekalipun padat jika terparkir rapi akan enak dipandang. “Kalau bisa ya ditambah juga petugasnya,” harapnya, setelah mengaku cukup kewalahan mengatasi sepeda motor yang membludak di parkiran. Sikap senada dilontarkan Ryan, yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam UIN Suka (Mapalaska). Menurutnya, jika kondisi seperti itu dibiarkan tanpa antisipasi, lingkungan

04

akan terasa semakin sumpek dan panas. Terkait ruang terbuka hijau, mahasiswa yang akrab disapa Brindil tersebut menilai, bahwa ruang yang ada sementara ini sudah cukup. Ia juga berharap, jika terdapat acara penanaman pohon, agar tidak dipersulit izinnya. “Minta dipermudah saja kerjasamanya,” katanya. N a m u n , penilaian berbeda tentang ruang terbuka hijau datang dari Afriska, mahasiswi Program Studi Biologi. Menurutnya, ruang tersebut masih minim dibanding dengan lahan yang diproyeksikan untuk parkir. Lebih lanjut, mahasiswi berkaca mata tersebut mengatakan bahwa dampak lain dari kepadatan kendaraan bermotor adalah mengganggu pemandangan dan kegiatan perkuliahan di dalam kelas, khususnya di Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). Gangguan tersebut menurutnya adalah lalu lalang kendaraan dan suara bising yang dihasilkannya. Ia menambahkan, dampak lain dari fenomena pemadatan kendaraan ialah polusi udara. Tidak tanggung-tanggung, hasil penelitian skripsi atas nama Khatibul Umam di tahun 2008 menunjukan hal tersebut. “Menurut penelitian tersebut, sekitar 20% udara di gerbang kampus barat sudah tercemar. Hasilnya diketahui dari pemeriksaan terhadap petugas satpam yang menderita gejala berupa batuk dan mata perih,” paparnya di Laboratorium Mikrobiologi. Pencemaran udara tersebut menurutnya disebabkan oleh asap knalpot secara langsung maupun melalui debu yang beterbangan. Di akhir wawancara, ia mengharapkan, mahasiswa yang tinggal dekat kampus, agar

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

berjalan kaki jika berangkat ngampus. “Untuk pihak kampus, ya mohon diperbaiki aja manajemen parkirnya, “ ucapnya. Parkir Liar Dampak lain dari semakin padatnya lingkungan kampus oleh kendaraan adalah ditemukannya lahan-lahan parkir liar. Parkir liar merupakan tumpukan kendaraan di atas lahan yang sebenarnya tak diproyeksikan untuk lahan parkir. Salah satunya adalah di depan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Gedung Rektorat lama. Tepatnya di depan Pusat Layanan Difabel (PLD). Hal itulah yang dikritik Arif Maftuhin, kepala PLD, ketika diwawancarai NewsRhetor. Ia mengaku putus asa menyuarakan kritik terhadap parkiran liar, baik kepada birokrasi maupun kepada penguna kendaraan. Sehingga, ia memutuskan untuk melakukan tindakan represif, seperti yang ia lakukan bersama rekan-rekannya di PLD, yakni merazia helm milik pengguna sepeda motor. Ia juga mengaku pernah memotret mobil salah satu dosen yang parkir didepan jalan mahasiswa difabel. Potretannya itu kemudian ia tunjukkan pada mahasiswa sebagai kritik. Mengenai volume kendaraan yang terus meningkat, dosen jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) tersebut menilainya sebagai sebuah keniscayaan. “Keniscayaan yang seharusnya dapat dibaca oleh pembuat kebijakan, untuk kemudian diantisipasi dampak negatifnya,” katanya, saat diwawancarai di sekretariat PLD. Selain mengkritik pembuat kebijakan, Arif juga menyayangkan pengguna kendaraan di lingkungan UIN. Ia menganggap bahwa kemalasan pengguna kendaraan untuk berjalan dari area parkir ke tempat yang dituju, sebagai sebab utama terjadinnya parkir liar. Sehingga menurutnya, parkir liar bukan semata-mata karena penambahan jumlah kendaraan, melainkan juga terkait manajemen parkir. “Saya heran mengapa mereka sangat malas berjalan dari parkiran. Inginnya berhenti (parkir –red) di depan pintu supaya cepat,” ungkapnya. Menurutnya, sampai saat ini area parkir masih memiliki kapasitas untuk menampung sepeda motor, asal manajemennya diperbaiki. Di akhir wawancara, Arif mengaku tidak punya harapan apapun terhadap pembuat kebijakan maupun pengguna kendaraan. Ia menegaskan kembali bahwa ia sudah putus asa. “Nggak, nggak

April 2014

Kampus ada harapan. Jangan tanya saya soal harapan,” tegasnya dengan kesal. Dosenpun tak paham aturan Salah seorang pengguna kendaraan yang tidak ingin disebut namanya, mengaku kerap berlangganan parkir di depan FDK dan Rektorat lama. “Sebelumnya memang sudah langganan aku parkir. Tiba-tiba kemarin udah dipasang tanda dilarang parkir. Aku kira cuma larangan ringan, eh pas mau pulang di jok motor ditempeli kertas dilarang parkir di situ lagi, “ ucapnya sambil tertawa, karena setelah peristiwa itu, ia menempel kertas tersebut di helmnya sampai sekarang. Ia beralasan parkiran dekat PD selalu penuh, maka ia memilih untuk parkir di depan FDK atau Rektorat lama. Karena menurutnya, ia lebih nyaman memarkir di tempat tersebut daripada di parkiran PD, yang harus berdesakan dengan sepeda motor lain, jika hendak keluar. Terkait persoalan kendaraan yang kini bergeser menjadi kebutuhan, mahasiswa tersebut juga mengamini. Lebih lanjut, ia mengharapkan, mahasiswa memarkir sepeda motornya dengan rapi, agar meringankan beban petugas parkir. Selain itu, ia mengharapkan petugas parkir untuk meningkatkan keamanan area parkir. Alasannya, beberapa waktu lalu temannya kehilangan helm. “Kemarin baru aja temenku kehilangan helm yang kedua kalinya,” katanya. Tak ketinggalan, dosen pun tidak luput dari pelanggaran serupa. Salah satunya Muhammad Sahlan. Mobil dosen jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ini sempat tertangkap kamera News Rhetor terparkir tepat di depan jalur difabel. Ia mengeluhkan kurang tegasnya sosialisasi terkait hal itu. “Saya kurang tahu disana mutlak dilarang parkir, “ keluhnya. Ia juga mengaku sebenarnya memberi sedikit ruang di jalur itu agar cukup dilalui warga difabel. “Saya pikir itu cukup, “ tuturnya. Lebih lanjut, Sahlan mengharapkan parkiran ditata secara berkelompok. Ia mencontohkan untuk kampus timur. Lahan sebelah timur ditata untuk motor seluruhnya dan sebelah barat untuk mobil seluruhnya. Selain itu, ia juga mengeluhkan jarangnya terdapat petugas di sekitar FDK dan Rektorat lama tersebut. “ Harusnya ada petugas yang stand by dan melarang parkir disana,” imbuhnya.[]

05


Kampus

NewsRhetor Edisi XLIV

Kampus Sumuk itu, bernama UIN SuKa Oleh: Ahmad Hedar '' pasca konversi dari IAIN ke UIN, peningkatan volume kendaraan bermotor tiap tahunnya makin tinggi. Sementara, area hijau yang memang minim di kampus ini, akan semakin menipis jika terus diproyeksikan untuk menambah lahan parkir. Padat, Sesak dan Sumuk, pun menjadi imbas dari semua itu.�

Kamis pagi itu (06/03), Matahari mulai bersinar di ufuk timur Yogyakarta, sinarnya telah menembus celah dan etalase awan. Sinar itu adalah pertanda bahwa langit akan cerah. Cuaca cerah dan sejuk adalah harapan sebagian besar masyarakat Yogyakarta, guna mendukung kenyamanan beraktivitas. Tak jauh berbeda, cuaca jam tujuhan di kawasan kampus UIN Sunan Kalijaga (SuKa) Yogyakarta juga terasa hangat oleh sinar pusat tata surya tersebut. Pagi yang sejuk itu tentu menjadi suasana favorit para sivitas akademika untuk melakukan aktivitas di kampus. Namun, suasana akan berubah jika jam beranjak menuju angka delapan hingga lima sore. Suasana akan mendadak ramai dan sesak. Hilir mudik kendaraan bermotor yang dibarengi dengan hingar bingar kebisingan mesin, polusi udara, serta semrawutnya parkiran, menjadi pelengkap suasana sumuk dikawasan kampus UIN SuKa. Saat jarum jam bergeser pada angka sembilan, lalu lalang mahasiswa terlihat mulai ramai. Dari arah gerbang utama kampus barat dan kampus timur terdengar deru kendaraan bermotor secara bergiliran memasuki kampus. Menuju kampus dengan bermotor adalah kewajaran bagi sebagian besar mahasiswa, meski rute dari tempat tinggal terbilang sangat dekat dengan kampus. ''Sebenarnya kontrakan saya lumayan dekat ke kampus, tapi saya sudah terbiasa memakai motor ke kampus,'' ungkap Aqib Prayogo. Aqib Prayogo adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dia akrab disapa Aqib. Aqib menjabat ketua Badan Otonom Mahasiswa Azzahro di Fakultasnya. Kontrakannya terletak di daerah Gowok, berjarak 200 meter ke Fakultasnya. Tiap hari dia mengunakan motor untuk berangkat kekampus. Rasio perbandingan 2:10 antara kelulusan dengan pertambahan mahasiswa baru, turut membuat volume kendaraan bermotor di UIN SuKa mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sedang disisi lain, lahan hijau yang memang minim dimiliki UIN, menjadi bertambah sempit karena terus diproyeksikan untuk parkir. Sehingga menurut Aqib, hal tersebut memicu suasana kampus menjadi panas dan sumuk.'' Lingkungan kampus ini terasa menjenuhkan, sebab polusi dari banyaknya kendaraan bermotor, '' katanya. Tak hanya itu, melubernya volume kendaraan bermotor di kampus, juga menimbulkan

06

banyak parkir liar hingga mengganggu keasrian kampus. Padahal, beberapa lahan kampus yang idealnya bukan diproyeksikan untuk parkir, seperti di sepanjang trotoar belakang Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Fakultas Uhuluddin dan Pemikiran Islam (FUSAP) tetap di garap menjadi lahan parkir. Harapan agar lahan hijau tak digunakan untuk menampung parkiran kendaraan bermotor nampaknya tak dapat terjadi. Konon, satu-satunya taman asri di UIN SuKa yang terletak disamping gedung Convention Hall, saat ini juga menjadi korban perluasan parkir. Sisi barat taman tersebut sudah alih rupa menjadi parkiran motor. Tak hanya penyempitan lahan, dahsyatnya pertambahan kendaraan bermotor kerap kali juga menimbulkan banyak parkiran liar. Pemandangan tersebut dapat diamati pada sekitar panggung demokrasi UIN SuKa. Parkiran di sisi kiri dan kanan panggung yang seharusnya digunakan untuk parkir kendaraan roda empat, saat ini telah dieksekusi oleh kendaraan bermotor roda dua. Imbasnya, sebagian dosen, pegawai serta birokrasi kampus yang biasa membawa mobil, juga memarkir secara liar kendaraanya. Hal ini dapat dijumpai di depan gedung Rektorat Lama, FDK serta FUSAP. Meski sudah jelas terpampang larangan memarkir kendaraan dengan simbol papan lalu lintas bertuliskan huruf P disilang, pihak terkait tetap saja menjadikannya lahan parkir. Bahkan, menurut data yang diperoleh dari pihak Keamanan dan Ketertiban (KAMTIB) UIN SuKa, data terakhir pada awal tahun 2013 tercatat, bahwa dari keseluruhan empat belas titik parkir yang legal, dua belas diantaranya menampung kendaraan roda dua diluar batas kuota parkiran. Diantaranya, yang paling mencolok misal seperti di lokasi parkir timur Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Idealnya kapasitas parkiran di lokasi tersebut hanya mampu menampung dua ratus lima puluh unit kendaraan roda dua, tapi realitasnya, jumlah kendaraan yang memarkir sampai pada angka lima ratus lima puluh unit. Lebih mencolok lagi, menurut data, ketimpangan kuota parkiran terjadi di lokasi parkir Blok F(selatan rektorat lama). Idealnya daya tampung parkiran tersebut hanya untuk Tiga ratus unit kendaraan bermotor roda dua, tapi pada realitasnya, di lokasi tersebut kendaraan bermotor yang memarkir amat di luar batas daya tampung, yakni sampai pada angka Delapan ratus unit. Imbasnya, selain membuat

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

sesak dan sumuk, pengendara terlihat kesulitan melewati barisan kendaraan yang berjubel tak teratur. Ketimpangan kuota, antara kapasitas daya tampung dan realitas yang ada juga dapat disaksikan di titik-titik lokasi parkiran lain, seperti Halaman Poliklinik, Blok E (Timur Masjid- Belakang gedung Pascasarjana), Blok H (Timur FDK dan Fusap), serta di Blok I (Depan UPT Perpustakaan). Rentetan fakta diatas semakin menguatkan bahwa volume kendaraan bermotor sudah amat sesak dilingkungan kampus. Sesaknya kendaraan bermotor diprediksi akan semakin bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Prediksi ini tak berlebihan jika melihat angka pertambahan pada tahuntahun sebelumnya. '' dulu sih, saat awal-awal saya masuk, kendaraan dikampus tak sebanyak pada saat ini. Jujur, ini adalah peningkatan yang luar biasa banyaknya,'' tutur Nafik. Nafik adalah mahasiswa Manajmen Dakwah asal Tuban. Nama lengkapnya Nafi'uddin. kini ia telah duduk di semester VIII. Artinya, sejak 2010 Nafik telah memulai kuliah di UIN SuKa. Selama empat tahun terakhir pertambahan kendaraan bermotor memang sudah terlihat mencolok. Hal ini diakui Nafik. Menurutnya, dibanding saat awal dia masuk UIN SuKa, padatnya kendaraan bermotor yang memarkir di disekitar FDK tak sebanyak sekarang, bahkan titik parkir di sisi kanan dan kiri panggug demokrasi, diakuinya dulu tak ada.'' Kalau dulu memarkir motor masih enak, sebab yang bawa kekampus masih sedikit,'' ungkapnya. Nafik menambahkan bahwa, jika persolan ini tak kunjung di tindak dengan kebijakan yang tegas, maka jangan heran, jika pada saatnya nanti lahan yang tersisa, hanya diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan parkir kendaraan sivitas akademika, khususnya mahasiswa.'' Harus ada kebijakan yang tegas dari pihak terkait, guna meminimalisir pesatnya pertambahan jumlah kendaraan bermotor,'' tambahnya.

April 2014

Kampus Sejalan dengan Aqib dan Nafik, salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Hukum, Arif Rahman mengakui bahwa suasana lingkungan kampus saat ini memang sangat sesak dan sumuk oleh kendaraan bermotor. Menurutnya lingkungan kampus saat ini tak ubahnya pasar yang menyajikan pameran motor. Arif juga mengaku bahwa lama-lama dikampus membuatnya jenuh, sebab tak ada pemandangan lain disisi kanan-kirinya selain lalu lalang kendaraan bermotor.'' Sepanjang saya melewati area kampus timur hingga memasuki kampus barat, sajian pemandangan yang saya lihat ialah motor,'' ujar Arif. Arif biasa berangkat kuliah dengan jalan kaki. Selain kuliah, dia juga aktif di organisasi gerakan K e l u a rg a M a h a s i s w a Pecinta Demokrasi (KMPD). Menurutnya suasana di lingkungan kampus harusnya dibuat nyaman dan tenang, agar mahasiswa UIN SuKa sendiri merasa kondusif melakukan aktivitas pembelajaran. Selain itu juga, tambahnya, saat kampus jauh dari suasana bising dari deru motor, apalagi diperindah dengan lahan-lahan hijau maka dijamin mahasiswa akan PeDe kuliah di UIN SuKa. Karenanya, Arif sangat menyayangkan saat melihat minimnya lahan hijau yang ada di kampus UIN SuKa. Lebih disayangkan lagi, saat lahan yang minim tersebut malah digarap untuk menampung kendaraan bermotor. Lebih lanjut Arif juga mengharap pada pihak terkait, agar persoalan tersebut segera dientaskan.'' Ini soal jangka panjang, jika tak diatasi dari sekarang, maka esok akan lebih rumit lagi,'' ujarnya. Soal solusi awal, Nafik dan Arif sama-sama berharap pada seluruh pengguna motor khususunya mahasiswa yang memiliki tempat tinggal dekat, dengan rasio Âą500 meter ke kampus, agar tak membawa motor. Supaya hal tersebut maksimal, menurut keduanya, perlu dibarengi dengan kebijakan tegas dari pihak terkait di birokrasi.

07


Kampus Soal apabila tawaran diatas menjadi kebijakan, Aqib yang tiap hari terbiasa membawa motor ke kampus mengaku sudah siap tak membawa lagi. Sebab, meski dia juga turut membawa motor kedalam lingkungan kampus, padahal jarak tempat tinggalnya ke kampus cukup dekat, sebenarnya dia juga menginginkan suasana lingkungan kampus yang nyaman dan jauh dari kebisingan. Sekarang tinggal bagaimana pihak terkait di birokrasi menyikapinya. Sementara itu, saat dimintai keterangan mengenai pertambahan volume kendaraan motor yang cukup signifikan dalam tiap tahunnya, hingga berimbas pada penyempitan lahan dan kesumukan kampus, pihak satpam mengatakan sudah menyadarinya. Akan tetapi menurut Zuwono, sejauh ini satpam hanya bisa mengatasi di wilayah teknis. Misal terkait pertambahan volume motor yang cukup signifikan, menurut Zuwono, hal itu diluar dugaan dirinya dan kawan-kawannya sesama satpam, ''wajar lah, di UIN kan memang tak ada aturan yang melarang mahasiswa untuk bawa motor,'' sehingga menurutnya, apabila saat ini kampus kekurangan lahan parkir untuk menampung motor, maka pihaknya hanya memaksimalkan lahan yang ada, meski terkadang tak muat. Zuwono juga mengakui, bahwa seiring waktu berjalan, terhitung sejak ia bekerja jadi satpam, kampus memang makin sesak dan sumuk oleh pertambahan kendaraan motor. Satpam yang tinggal di jl. Pleret, Bantul tersebut menuturkan bahwa pertambahan kendaraan bermotor paling signifikan sudah mulai terasa pasca kampus mengalami konversi dari IAIN ke UIN. Bahkan selama tahun 2013 lalu, sudah ada penambahan tiga lokasi parkir baru, gara-gara volume kendaraan bermotor terus melonjak. Zuwono mengatakan,'' pertambahan kendaraan motor yang cukup banyak, sudah kita sikapi dengan menambah dan memperluas lahan parkir. Soal antisipasi krisis lahan dimasa yang akan datang, menurut Zuwono, saat ini sudah ada wacana untuk membuat parkir bertingkat di lokasilokasi yang saat ini sudah dianggap legal,'' wacana dari pimpinan (Kasubbag -red) sih, memang akan dibuatkan parkir tingkat secara terpadu,'' katanya. Zuwono adalah Komandan satpam UIN SuKa. Badannya tinggi tegak. Dia telah bekerja jadi satpam UIN selama lima belas tahun atau sejak tahun 1999. Pengalamanya yang cukup lama jadi satpam, membuatnya paham dinamika pertambahan

08

NewsRhetor Edisi XLIV kendaraan bermotor di UIN SuKa. Secara prosedur, fungsi satpam sendiri hanya berada di wilayah pengamanan dan pelaksana teknis. Untuk usulan normalisasi maupun pengaturan lahan parkir, pihak Satpam harus berkoordinasi dulu dengan Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Kamtib. Kassubag kemudian meneruskan ke Kepala Bagian Rumah Tangga (Kabag RT). Rekomendasai Kabag tersebut lantas diserahkan ke Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (Kabiro AUK). setelah disahkan jadi kebijakan oleh Kabiro, satpam baru dapat melaksanakan secara teknis di lapangan. Sementara itu, saat di mintai tanggapan mengenai penyempitan lahan gara-gara melonjaknya pertambahan volume kendaraan bermotor, Yusuf Khusaini selaku Kabiro AUK menjelaskan, bahwa persoalan tersebut memang sudah menjadi pembahasan jauh-jauh hari kemarin. Menurut ia, selama ini pihaknya sudah sering melakukan langkah-langkah preventif terhadap pengguna motor dan parkir, namun, dalam pelaksanaanya pihaknya mengaku sangat kesulitan, sebab pengguna motor, khususnya dari kalangan mahasiswa sulit diatur'' namanya mahasiswa, ya sulit diatur mas,'' tuturnya sambil tertawa. Untuk solusi jangka panjang terhadap menipisnya lahan, Yusuf menuturkan, bahwa sejauh ini pihaknya melalui koordinasi dengan pihak Kasubbag Kamtib dan satpam memang telah mewacanakan dibuatkannya lahan parkir terpadu secara bertingkat dengan tak menambah lahan lagi, '' ya, kita usahakan memaksimalkan lahan yang sudah digunakan untuk parkir, agar dibuat bertingkat,'' ujarnya. Meski begitu, Yusuf menambahkan, bahwa parkir bertingkat bukanlah solusi untuk mengentaskan sesaknya lingkungan UIN SuKa oleh kendaraan bermotor. Menurutnya, dalam diri tiap mahasiswa harus dibudayakan menghormati lingkungan. Sama dengan apa yang diharapkan komandan satpam, ia juga menghimbau, mahasiswa yang punya motor dan jarak tempat tinggalnya dekat dengan kampus, agar tak membawa motornya. Bahkan, ia menegaskan bahwa jika suatu saat lingkungan kampus semakin sesak oleh kendaraan bermotor, akan ada kebijakan tegas dari pihaknya,'' bisa jadi suatu saat, jika tetap banyak mahasiswa yang bawa motor, walau jaraknya tempat tinggalnya dekat dengan kampus, kebijakan pelarangan akan diterapkan,'' tuturnya.[]

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Fakultas

Lab jurusan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Baru Sebatas Ruangan Oleh: Fuat Hasan

Sebulan yang lalu, fakultas dakwah dan komunikasi telah membangun Laboratorium untuk seluruh jurusan. sebelumnya, lab hanya ada di jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS), dan Management Dakwah (MD). Namun tahun ini, jurusan seperti Komunikasi dan Penyiaran Islam KPI serta Bimbingan Konseling Islam BKI juga telah memilikinya. Pada dasarnya lab dibangun untuk menunjang pembelajaran di jurusan. Dari segi tempat, seluruh lab telah memilikinya. Namun, dari segi isi dan inventaris, sebagian besar lab jurusan belum memilikinya. Artinya sampai sejauh ini lab hanya memiliki ruangan, '' siap sih belum, punya Kessos aja belum punya lemari,'' tutur ketua Lab IKS Lathiful Khuluq. Menurutnya pengurus lab sudah mengajukan ke dekan, namun sampai sekarang belum ditanggapi,'' Kami sudah mengajukannya ke Dekan, tapi belum dikasih,'' katanya. Disinggung soal dana operasional, Munif, devisi Humas lab MD mengatakan bahwa untuk pelaksanaanya, lab tidak ada anggaran khusus. Menurutnya lab hanya mendapatkan dana untuk kelengkapan sarana seperti lemari, rak buku, computer, meja kerja serta meja rapat. Bahkan menurut munif, untuk pengurus lab sendiri tak mendapatkan honor, “tak ada honorer buat pengurus Lab. Semua ini dikerjakan dengan suka-rela.” Namun, walau lab tak memiliki anggaran khusus untuk operasionalnya, hal itu seharusnya tak lantas menjadikan lab vakum,''Lab harus kreatif supaya bisa hidup, ” kata Zainuddin, Kajur Prodi IKS. Mesk demikian, sebenarnya dia berharap pada pihak Fakultas supaya turut membantu, khususnya terkait biaya operasionalnya. “Harapannya, ya Fakultas bisa membantulah. Itu contohnya, HMJ saja mati kalau tidak ada dana. Begitupun juga dengan Lab.” katanya. Sama halnya dengan KPI, meski tidak ada bantuan alat praktek dalam jangka pendek, harapannya, Fakultas juga ikut mendanai. “Harus didanai lah, karena sudah di SK-kan,” kata

April 2014

Khoiro Ummatin, selaku Kajur KPI. Sementara itu pihak Dekanat, yang bertindak dalam mengurusi anggaran menegaskan, bahwa masalah biaya operasional Lab, itu tergantung pada kebijakan Jurusan masing-masing. “Supaya tercipta sebuah iklim yang baik, kami mempersilahkan setiap jurusan berlomba untuk memajukan jurusannya dengan lab yang telah disediakan tersebut. Sesuai degan kompetensi yang dimiliki oleh tiap jurusan. Fastabiqul khoirat, berlomba-lomba dalam mencari kebaikan, dalam memajukan keilmuan di jurusannya sendiri-sendiri.” ungkap Abu Suhud, Wakil Dekan II bidang Anggaran dan kelembagaan. Dalam struktur kepengurusan Lab, pihak Fakultas lebih memprioritaskan berasal dari kalangan alumni jurusan, dosen ataupun mahasiswa. Alasannya, karena mempunyai pengetahuan yang sudah mumpuni terkait dengan seluk-beluk jurusan. Mahasiswa juga dilibatkan dalam kepengurusan maupun operasional, karena bentuknya merupakan kolaborasi antara kegiatan jurusan, BEM-J serta Lab. Dengan kata lain, Lab ini berfungsi sebagai wadah pengembangan keilmuan, yang bisa dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa. Terkait keterlibatan mahasiswa, Haji, ketua HM-J IKS, menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada pertemuan resmi antara pengurus Lab dengan HM-J. “Lab Kesos bisa dibilang sudah lama fakum. Dulu itu juga malah sering tertutup. Padahal, di dalamnya ada banyak bukubuku yang sudah ditranslit, yang bisa dimanfaatkan mahasiswa sebagai penunjang belajarnya. Laboratorium seharusnya dapat dijangkau oleh mahasiswa, juga manampung aspirasi dan mempunyai progam yang kreatif.” jelasnya. Dalam menjalankan progam, menurutnya Lab jangan menunggu-nunggu adanya dana. “Di luar banyak proyek yang bisa dikerjakan, seperti menjalin relasi guna membuat progam yang bisa langsung ke mahasiswa” tuturnya.[]

09


NewsRhetor Edisi XLIV

Fakultas Mahasiswa Minta DPA (yang) Tak Berfungsi, Supaya Dibubarkan Oleh: Nur Annisa Solikha

Akhir-akhir ini keberadaan dan fungsi Dosen Pembimbing Akademik (DPA) mulai dipertanyakan mahasiswa. DPA yang sejatinya menjadi mediator dan tempat konsultasi terkait persoalan akademik, saat ini, oleh mahasiswa dianggap hanya untuk minta tanda tangan Kartu Rencana Study (KRS), '' faktanya DPA, dari dulu memang hanya untuk tanda tangan KRS to,'' ujar Ahmad Suwandi, mahasiswa semester IV jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Lebih lanjut, kata Wa n d i , s e l a m a i n i D PA memang tak berfungsi maksimal. Selain itu, menurut mahasiswa yang juga aktif sebagai Koordinator seni musik hadrah Al-hamro, Badan Otonom Mahasiwa Seni Budaya tersebut, DPAnya sendiri sangat jarang komunikasi dengan mahasiswa yang dibimbingnya. Bahkan menurutnya, DPA terkait juga sangat sulit ditemui,'' DPA itu, kayak gak berfungsi gitu. Untuk ketemu saja, aku dan teman-teman juga kesulitan,'' katanya. Pengakuan sama, juga diungkapkan oleh mahasiswa semester VIII jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, bernomor Identitas 10230031. menurutnya, selama ia menempuh kuliah dari semester I sampai sekarang, DPA memang telihat berfungsi, hanya saat minta tandatangan KRS menjelang Ujian Tengah dan Akhir Semester. Padahal, menurut mahasiswa yang aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa di jurusannya itu, jika dilihat dari fungsinya, harusnya DPA senantiasa memantau perkembangan akademik mahasiswa yang dibimbingnya,'' harusnya ya lebih dekat dengan mahasiswa, kayak wali kelas sama siswanya, pas di SMA gitu lo,'' tuturnya. Wandi dan Mahasiswa ber-NIM 10230031 mengharap, agar kedepan, jika penyebab mahasiswa tak pernah konsultasi ke DPA adalah karena sulitnya DPA terkait untuk ditemui, maka, menurut keduanya, antara DPA dan Mahasiswa harus sama-sama menjemput bola (berkomunikasi-red). Namun, lanjut keduanya, jika DPA memang hanya berfungsi untuk tanda tangan KRS, lebih baik dibubarkan saja, “ya, daripada sulit nemuin DPA hanya untuk nandatanganin KRS, lebih baik bubarin saja

10

DPAnya,'' katanya, saat ditemui secara terpisah. Namun, memang tak semua mahasiswa mengangap DPAnya tak berfungsi. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Fitria, mahasiswi semester II Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Iwan Pambudi, mahasiswa semester IV Ilmu Kesejahteraan Sosial, menurut keduanya, DPA mereka b e k e r j a d a n membimbing dengan baik. Keduanya menganggap, bahwa D PA n y a t i d a k mempersulit saat ada mahasiswa mau konsultasi persoalan akademik. Soal fungsi DPA, Khadiq, salah satu DPA Fakultas Dakwah dan K o m u n i k a s i menegaskan, bahwa DPA adalah sebagai pembina sekaligus pembimbing bagi mahasiswa yang memiliki masalah akademik. Pada dasarnya, Menurut dosen yang juga sekretaris jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam tersebut, adanya DPA bukan hanya untuk menandatangani KRS. sebab kata khadiq, “KRS hanya mediator untuk membuat mahasiswa bertemu DPA. menurutnya, selama ini mahasiswalah yang malas mendatangi DPA,'' kenapa KRS wajib ditandatangani DPA, tujuannya ya, agar mahasiswa ketemu DPA,� ujarnya. Terkait beberapa DPA yang sulit ditemui, Khadiq memberikan tanggapan,'' ya, kadang juga kebetulan. Mungkin pas DPA yang bersangkutan sangat dibutuhkan Mahasiswa, waktu itu juga, si dosen memiliki kesibukan lain,'' tuturnya. Sementara itu, Musthofa, Dosen pengajar, DPA, sekaligus wakil Dekan II bidang Akademik FDK menanggapi,''apapun kegiatan dosen di luar kampus, harusnya tak boleh merugikan kegiatan di kampus. Dosen sudah ditunjuk sebagai DPA, berarti yang bersangkutan mempunyai tanggung jawab untuk mengemban tugasnya dengan baik. Apapun aktifitas dosen di luar kampus, Jika menyepelekan tanggung jawabnya sebagai DPA, maka mahasiswa akan ikut rugi,'' ujarnya, saat ditemui di ruangannya.

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Puisi

Imajinasi Shahibul Umam

Tri Amanah oleh : Rusydi Tolareng

Ilusi Mati -untuk Adam dan Hawa Jika salah dan benar adalah cermin Maka Adam dan Hawa adalah kafir Riuh gerutu sebab sunyi yang dibuatnya Telah melahirkan ambisi manusia yang tak pernah selesai Jika salah dan benar adalah cermin Maka kodrat dunia adalah kehancuran Sebab itu adalah Adam dan Hawa yang melahirkan Dengan nafsu yang lalai jalnkan firman; Sunyi, sepi, serta pertengkaran Adalah warna yang kian menjanjikan Jika salah dan benar adalah cermin Maka benarlah sunyi adalah tak lebih dari kematian Sementara dunia adalah comberan Bahkan ibadah pun hanya sebatas penghambaan Dan tuhan hanya tinggal pengabadian Yang kehilangan makna dan tujuan Sebab dosa yang menakutkan Bukan cinta yang kaffah dan diidamkan Dunia bukan sekedar berpijar Di antara salah atau pun benar Sebab bukan pahala yang menyelamatkan Atau pun dosa yang mencelakakan Biarkan hati untuk berlayar Menyeberangi lautan makna yang dalam dan dangkal Agar tuhan terdekap dengan hati suci Melebihi danau dan pulau-pulau. Sesumbar Zaman oleh : Lailul Ilham Tak mudah menghindar, karena Pilihan telah menyangkar, membuatmu kerasukan Tak ada yang menguntungkan Tapi pilihan harus segera ditentukan Luka, jika diam Duka, bila pendam Lara, jika hindar Yang pintar akan termakan Yang pandai akan tergadai Hanya pejalan kaki di waktu malam Yang luput dari tangan matanya Karena kesejatian yang disejatikannya Sanggar, 10 februari 2014

April 2014

I sunyi menyayat tubuh dinginku : beku dan di tengah musik rindu menggema di kedalam dada II di belakang rumah malam berjalan matanya menyala penuh bunga ia biarkan aku dirobek waktu III hewan kecil itu sayang kubunuh, lalu kau terseret, tenggelam pada kedalaman bunyi-bunyi kau tahu? jiwa pohon itu melahap ruhku ruh cinta anak dari pengembara aku tenggelam pada ketiadaan pada kehampaan 2014.

Pohon Dimata oleh : Lailul Ilham Tepat di pagi ini Aku lebih dulu buka mata darimu Saat kau berupa bias dikejauhan sana Di pucuk timur aku sigap mata terbuka Menunggumu melongoh hingga sempurna Tak lama menunggu, perlahan rikuh kau menyambut Menemuiku yang mulai kaku Saat setelah kau terapung dipermukaan langit Pepohonan besar tertutup kelebatan daun Lekuknya tampak saat aku bersamamu berseberangan melihatnya Dipagi ini, bersama matahari Pohon-pohon telanjang dimataku. Sawung, 10 maret 2014

11


Dropshot

NewsRhetor Edisi XLIV

pelanggaranpelanggaran

12

April 2014


April 2014

13


NewsRhetor Edisi XLIV

Rhetorika Yang Sok Tahu, Tahu Dirilah oleh; A. Naufil* Pada suatu malam yang bagi saya sangat luar biasa. Ada seorang teman yang dengan lagak pongah mencoba mengkritisi soal “agent” dan mahasiswa. Ia dengan semangat yang menggebu-gebu mengeluarkan banyak argumentasi, lengkap dengan referensinya. Tetapi setelah lama saya mengamati, ternyata debat itu adalah debat kusir. Bicaranya ngalor-ngidul dan sarobhenan, argumentasinya tidak logis, tetapi dilogislogiskan. Cuma mengetahui judul buku saja, kemudian dijadikan referensi. Pantas, sebab “air beriak tanda tak dalam”.. L a n t a s , Giddens sebenarnya memberikan makna agen seperti apa? Begini kira-kira, kita diajak oleh Giddens untuk bertamasya mengelilingi realitas sosial kemudian menyelam sembari mencari kedalaman makna tentang agen. Agen kata Giddens selamanya bertalian dengan yang namanya struktur. Sungguh terasa naif sekali, ketika kita hanya memaknai agen sebatas penyalur (distributor) an sich. Tentu kalau merujuk pada pemaknaan di atas, agen mempunyai eksistensi yang kuat dan kokoh, berbeda dengan agen sebagai penyalur. Yang namanya penyalur itu sebenarnya adalah orang yang tunduk pada kuasa orang lain, ia tak punya eksistensi kuat, ia pinggiran bukan pusat. Pada dimensi ini saya teringat perkataan kaum eksistensialis Jean Paul Sartre “orang lain adalah neraka dalam hidupku”. Sebuah seruan untuk merayakan kemampuan diri kita sendiri, seperti itulah sang agen berorkestrasi mendendangkan kebebasan subjektifnya. Tentu kita bebas dari dan bebas untuk, akselerasi kebebasan akan terhenti saat hak-hak orang lain berbicara. Agen ternyata bukanlah sesuatu

14

yang terkurung dalam garis komando sang lain, ia punya komando sendiri, langkah sendiri meski tanpa harus diperintah. Sehingga tak ayal, Giddens menegaskan bahwa dalam diri manusia ada dua bentuk kekuasaan yang melekat yaitu: kekuasaan hegemonik (Foucault) dan kekuasaan transformatif. Inilah yang dijadikan landasan teoritis dari bangunan teori strukturasinya Giddens. Dalam perkembangan selanjutnya agen k e m u d i a n dibumbui diksi dan kata lain u n t u k merepresent a s i k a n tindakan d a n kekuasaan agen dalam mengarung i bahtera kehidupan. Sebagai t a m s i l awal, rezim otoriter yang telah menancapkan kuku kekusaannya selama rentang waktu 32 tahun ahirnya tercerabut oleh aksi kolosal mahasiswa yang meletup secara sporadis di Indonesia. Dan angin perubahan, berupa pemerintahan yang demokratis terwujud juga, asa telah menjadi realitas. Atau kita menepi sebentar ke Timur Tengah, di berbagai belahan jazirah Arabiah tersebut selama kurun waktu tiga tahun terahir meledak rentetan revolusi yang dinamai Arab Spiring, tak jauh beda dengan lima belas tahun silam di Indonesia, penguasa-penguasa otoriter berguguran lengser dari kursi kuasanya mulai dari Ben Ali, Moammar Khadafi, Husni Mubarok, dsb. Maka dari itu, mahasiswa Indonesia yang meluluhlantakkan bangunan otoriter Soeharto atau masyarakat Mesir, Libiya, Tunisia yang menghancurkan hegemoni rezim-rezimnya kita menyebut sebagai Agen of

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Change. Tentunya, hembusan angin perubahan adalah hal ihwal yang semestinya dijadikan titik pijar dari setiap langkah mahasiswa masa kini. Tetapi langkah mahasiswa belakangan sangat ironis, terjungkal dari pijakan awalnya, dunia pragmatis menjadi orientasi bukan instrumen. Ya, kita mungkin akan bersepakat bahwa mahasiswa harus berada di garda depan (event propost) dalam mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah. Mahasiswa harus mengembalikan ruhnya yang sekian lama beterbangan tak tentu arah. Setelah kita kehilangan Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid, gerak langkah mahasiswa semakin senyap dan mengawang-ngawang. Mereka yang telah mendahului kita layak kita sebut agen of sosial control dan agent of change. Tetapi sungguh kasihan, mereka hanya dijadikan sosok romantik, yang senantiasa dikenal tetapi tidak diteladani dan tidak diteruskan cita-cita luhurnya. Melihat realitas gerakan mahasiswa saat ini, kita akan berjumpa dengan pusaran hedonisme. Mahasiswa tidak memiliki visi panjang, mereka tercebur dalam kubangan kesenangan. Sungguh sangat korelatif gambaran Boudrillard dalam In the Shadow of the Silent Majorities (1983), bahwa mahasiswa cendrung bersifat fatalis. Mereka tunduk di bawah bayang-bayang kapitalisme dan hegemoni orang lain. Lantas dimanakah kemuliaan “agent” itu, jika labirin gelap yang ditempuhnya. Apakah kita sebagai mahasiswa hanya bisa melangkah layaknya aktor dalam film yang begitu fatalis dan sepenuhnya tunduk pada kuasa sutradara? Padahal, tanpa kita sadari, seluruh dimensi kehidupan kita telah tersusupi oleh berbagai kepentingan. Marilah kita telanjangi beberapa kondisi paradoksal mahasiswa yang sok-sokan mengaku sebagai agent of change dan agent of social control. Pertama kita mulai dari hal yang paling remeh-temeh, soal gaya hidup di pergerakan (organisasi ekstra kampus). Mungkin bagi kita budaya “ngopi” sudah tidak asing lagi, saya apresiatif saat budaya semacam ini dijadikan medium untuk mengasah ketajam pola pikir dalam melihat realitas tetapi dalam kenyataannya budaya “ngopi” malah dijadikan wahana untuk main-main, entah itu main domino, poker atau hanya sekadar untuk ngerumpi. Kedua kita beranjak pada hal yang lebih mengiris-ngiris nurani kita. Soal aksi demonstrasi di jalanan, disalah satu sisi kita akan mengapresiasi juga

April 2014

Rhetorika dan pada bagian sisi yang lain kita akan berjumpa dengan hal-hal negatif dari tindakan ini. Sungguh naif, ketika demonstrasi tidak dibarengi dengan visi luhur dari agen yang menggencarkannya. Sebagai gambaran, politisi yang duduk di Senayan seperti Anas, Andi dkk, mereka adalah mantan aktivis 98 yang menggulingkan Soeharto.Tapi apa boleh buat, mereka tercebur dalam dunia opurtunis yakni korupsi. Atau bahkan yang lebih miris, saat aktivis yang berdemonstrasi tidak memiliki kapasitas keilmuan, mereka hanya bisa berkoar-koar yang suaranya hanya bisa didengar oleh massa aksi, tidak oleh publik. Itulah kelemahan dari gerakan mahasiswa masa kini. Buru-buru ingin mengaplikasikan gerakan proletariatnya Karl Marx namun mereka tidak paham substansi yang terkandung dalam pemikirannya Marx sendiri. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Wahid Hasyim, dan Gie adalah nama yang sering disebut saat mahasiswa berorasi, namun sekali lagi mereka hanya menjadi deretan nama yang terpajang pada etalase retorika saja. Setelah perjalanan panjang menapaki jejakjejak hidup pergerakan mahasiswa, saya agak apatis, terlebih saat pergerakan dijadikan Kuda Troya (tunggangan) romantisme. Nyawa pergerakan akan lumpuh dan kalah sebelum berperang, dan mahasiswa sebagai agent tak lagi mampu keluar dari perangkap ini. Iya, karena romantisme adalah ekstasi, dapat mendikte kehidupan kita meski sebenarnya tidak sesuai dengan jalur keinginan. Setelah gamparan panjang lebar hasil dari pertautan reflektif tentang pergerakan mahasiswa. Kita disuguhi oleh sesuatu yang tak seharusnya bersemayam dalam diri mahasiswa secara keseluruhan. Jiwa “agent” itu kini kering-kerontang, dan kemulian ada sebatas pada dunia ilusi. Terlebih saat kunang-kunang rasionalitas menyemburat dari diktum antroposentrismenya Descartes “cogito ergo sum”, yang telah membentuk agen di zaman modern begitu rakus dan hipokrit. Kearifan yang telah disemai sejak Socrates mulai pupus dan layu, satu persatu dari sekian kearifan itu terhempas ke dataran kosong. Agent-pun mendestruksi kearifan purba yang sebenarnya menyimpan berjuta makna dan hikmah. *Penullis merupakan salah seorang yang masih dianggap mahasiswa dijurusannya, Filsafat Agama Fusap UIN Sunan Kalijaga

15


NewsRhetor Edisi XLIV

Opini Teror Kendaraan Bermotor! Oleh : Willy Vebriandy*

Semakin hari bila diperhatikan, jalan raya di Yogyakarta semakin semrawut. Permasalahan yang biasanya menjadi makanan sehari-hari DKI Jakarta kini sudah mulai merambat kekota-kota besar lainnya. Kemacetan sudah menjadi rutinitas tiap hari, baik itu ketika pagi hari saat jam berangkat kerja dan sore hari pada waktu jam pulang kerja. Jalanan kini tak mampu menampung ledakan volume kendaraan yang melintas. Apa sebabnya?, banyak alasan yang bisa dijadikan jawaban, salah satunya adalah tingginya penggunaan kendaraan bermotor dimasyarakat kita. Bisa dicek sendiri, rata-rata di tiap keluarga didalam kota pasti memiliki minimal satu buah kendaraan bermotor, entah itu mobil atau sepeda motor, malah ada satu keluarga dimana tiap anggota keluarganya memiliki kendaraan. Wajar saja jika jalan raya tidak mampu menampung lonjakan kendaraan tiap harinya. Dahulu ketika zaman orde baru, kendaraan masih sangat minim jumlah produksinya, harga tiap unit kendaraan dipatok pada level yang bisa dikatakan mahal. Sehingga yang memiliki kendaraan hanya golongan tertentu saja. Tidak seperti sekarang ini, dimana jumlah produksi kendaraan tinggi sedangkan harga yang dipasarkan cukup murah, sehingga bukan hanya kelas menengah keatas yang mampu membeli kendaraan, tapi kelas menengah kebawah pun mampu memiliki kendaraan dengan harga yang murah. Kita patut berbangga, bila berkaca dengan yang digembor-gemborkan pemerintah, bahwa tingginya angka kepemilikan kendaraan bermotor saat ini, secara tidak langsung menunjukan bahwa perekonomian kita sudah cukup membaik dibanding tahun 1998. Permasalahan kemacetan dipandang hal yang wajar sebagai konsekuensi dari membaiknya perekonomian masyarakat dimana hal itu tercermin dengan tingginya kepemilikan kendaraan bermotor dimasyarakat. Satu sisi memang kita patut untuk berbangga dengan paparan itu, tapi permasalahan kemacetan tentunya tetap harus diselesaikan oleh pihak yang berwenang. Pemerintah seakan-akan tidak mampu untuk mengakhiri problem ini.

16

Dalam menyelesaikan permasalahan kesemrawutan di jalanan, para aparatur Negara lebih senang menggunakan jalan instan, dengan menambah jalur yang ada atau melakukan pelebaran jalan. Padahal ada cara lain yang lebih efektif dalam mengatasi permasalahan ini, yaitu dengan mengendalikan kepemilikan kendaraan bermotor. Dahulu ketika zaman orde baru, ketika permasalahan penduduk sangat mengganggu perekonomian, yang dilakukan rezim saat itu ialah mengendalikan laju pertumbuhan penduduk tersebut. Munculah program keluarga berencana kala itu, guna mengendalikan tingkat kelahiran bayi supaya tidak membludak. Langkah ini berhasil setelah beberapa tahun berjalan, angka pertumbuhan penduduk bisa ditekan dengan baik dan perekonomian dapat berjalan mulus. Maka dari itu Pemerintah saat ini tidak ada salahnya untuk mencoba cara yang demikian, yaitu melakukan pengendalian. Jika permasalahannya adalah kemacetan tentu yang harus dikendalikan ialah laju kepemilikan kendaraan bermotor, pemerintah harus membatasi kepemilikan kendaraan bermotor ditiap daerahnya, sambil melakukan penambahan jalurjalur baru serta pelebaran jalan raya juga yang sudah ada. sebab jika tidak dilakukan tindakan yang tegas permasalahan ini tidak akan pernah selesai dan justru malah semakin parah. Bila ingin mengetahui hal yang dilakukan pemerintah dalam menanggapi permasalahan kesemrawutan kendaraan, kita bisa melihat di UIN Sunan Kalijaga. Baru-baru ini bagian Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) menerapkan kebijakan satu jalur dijalanan kampus timur, diharapkan dengan kebijakan ini mampu mengatasi kesemrawutan yang ada dikampus, khususnya kampus timur. Kita mesti apresiasi gagasan itu, tapi jika diperhatikan efek yang ditimbulkan dari kebijakan ini sifatnya hanya sementara, tidak jangka panjang. Coba bila kebijakannya adalah membatasi kendaraan bermotor yang dapat masuk kedalam kampus, bukankah kampus punya regulasi hanya motor ber-STNK yang berhak masuk kampus. Sebab bila kita mau jujur

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

kendaraan yang ada dikampus saat ini bisa dikatakan hanya beberapa yang memiliki STNK. Kalau regulasi itu dijalankan, kesemrawutan yang ada secara tidak langsung akan menghilang dengan sendirinya. Disini terlihat bahwa pengambilan kebijakan aparatur berwenang bersifat instan, jika permasalahannya adalah kekurangan personel dalam menerapkan kebijakan itu, lantas untuk apa peraturan yang demikian dibuat. Kembali kepada permasalahan kemacetan dijalanan, patut disadari bahwa ini bukan hanya menjadi pekerjaan pihak pemerintah tapi juga menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Adanya kemacetan menunjukan dampak negatif dari penggunaan kendaraan bermotor di Indonesia. Kendaraan bermotor baik itu mobil atau motor merupakan hasil dari proses yang dinamakan Modernisasi, dimana kendaraan berfungsi sebagai alat untuk membantu serta memudahkan segala macam kegiatan sehari-hari. Jika meminjam istilah Anthony Giddens Modernisasi adalah proses “transformasi keintiman�. Semangat yang dijunjung tinggi oleh modernisasi adalah semangat rasionalitas, semua hal harus rasional dalam kaca mata modernisasi. Awalnya tidak ada permasalahan ketika kendaraan bermotor mulai mewarnai kehidupan masyarakat, tapi kini saat problem kemacetan menyeruak kepermukaan, penggunaan kendaraan bermotor mulai dipertanyakan kembali. Muncul pertanyaan apakah kita menggunakan kendaraan bermotor itu bermotif kebutuhan atau keinginan?. Semangat rasionalitas yang ditonjolkan oleh modernisasi, justru malah menghasilkan irrasionalitas dimasyarakat. Contohnya, ada satu keluarga yang terdiri dari 4 anggota keluarga terdiri dari ayah, ibu, serta 2 orang anak. Keluarga ini memiliki 2 mobil serta 4 buah motor. Disini peran pemerintah harus ekstra keras untuk membatasi kepemilikan kendaraan dimasyarakat, sebab logika yang dipakai bukan lagi logika kebutuhan tapi logika keinginan. Memang menjadi hak tiap warga Negara untuk memilik kendaraan, tapi hak tiap warga Negara juga untuk menikmati kenyamanan ketika berkendara dijalanan sebab pajak yang dibayar kepada pemerintah untuk membuat jalan raya adalah dari rakyat juga. Dampak penggunaan kendaraan bermotor saat ini bukan hanya berdampak pada

April 2014

Opini kemacetan dijalanan, tapi juga berdampak pada pemikiran masyarakat kita saat ini. Kita tidak mampu berpikir jernih untuk mengidentifikasi kita menggunakan barang ini atau barang itu disebabkan karena kebutuhan atau keinginan. Dampak selanjutnya ialah pada permasalahan lingkungan, dengan kepemilikan kendaraan bermotor yang tinggi otomatis penggunaan sumber daya alam sebagai bahan bakar akan berlebihan, sedangkan sumber daya alam sifatnya adalah terbatas, padahal penemuanpenemuan sumber-sumber daya baru sangat lambat perkembangannya. Effendi Siradjudin dalam bukunya “Nation in trap� menyinggung jika kita tidak mampu mencari alternative sumber daya baru sebagai bahan bakar serta mengendalikan laju pertumbuhan kendaraan, maka pada tahun 2020 Indonesia terancam menjadi Negara gagal atau bangkrut. Permasalahan gas buang dari kendaraan bermotor juga berdampak negatif bagi lingkungan, dimana gas karbon monoksida yang melayang diudara merusak lapisan ozon kita. Padahal lapisan ozon adalah lapisan pelindung bumi dari ancaman benda-benda luar angkasa. Negara-negara maju sebagian besar belum mau meratifikasi Protokol Kyoto sebagai legitimasi pengendalian gas-gas buang di udara, dimana Negara-negara maju menyumbang cukup tinggi gas-gas tersebut dengan industri-industri yang ada. Negara kita walaupun industrinya tidak terlalu signifikan menyumbang dalam permasalahan lingkungan, tapi gas buang kendaraan bermotornya yang cukup signifikan menyumbang. Sekali lagi modernisasi yang didengungdengungkan berniat untuk membantu serta mempermudah kehidupan masyarakat dunia, nyatanya dikemudian hari justru malah melahirkan permasalahan-permasalahan baru. Kendaraan bermotor diciptakan sebagai pengganti kendaraan yang sifatnya manual guna mengefektifkan kinerja kita, belakangan justru malah menyebabkan ketidak efektifan dalam penggunaanya. *seorang mahasiswa yang bersemedi di NIM : 12210013 yang tak pernah jenuh mengayuh ontel kesayangan kekampusnya.

17


NewsRhetor Edisi XLIV

Sketsa Kawula Alit : Babak Baru PKL UIN SuKa

'' Kami PKL juga ingin mengais rejeki mas, walau hasilnya tak terlalu banyak, tapi komitmen kami yang penting halal,'' kata Widiyanto.

Widiyanto merupakan salah satu Pedagang Kaki Lima (PKL) yang saat ini menetap di UIN SuKa. Ia perantau dari purbalingga. Pria berambut tipis bergelombang tersebut jadi PKL di UIN SuKa sejak 2009 silam. Menurut pengakuannya, ia bekerja jadi PKL sebab bujukan kakaknya yang juga PKL. Ia dan kakaknya sama-sama berdagang siomay. yang berbeda adalah, kakak widiyanto yang bekerja sejak tahun 1997an adalah PKL keliling dan berpindahpindah, UIN Suka salah satu lokasi persinggahan untuk menjajakan dagangannya. Seperti kebanyakan PKL keliling, sepeda onthel menjadi pengangkut utama pria tersebut. Ya, dari waktu-kewaktu, PKL selalu identik dengan pedagang yang berkelompok. Biasanya, mereka menjadikan area-area strategis di kota besar untuk menjajakan dagangannya, walau kadang terlarang ditempati. Jorok, kumuh serta semrawut, kadangkala menjadi label bagi mereka. Sehingga tak heran, jika aparat sering main kejar-kejaran untuk menertibkan, bahkan tak segan menggusurnya. Hal itu diakui widiyanto. Menurutnya, dalam kurun tahun 2009 sampai 2012 lalu, ia dan kawankawannya sesama PKL sering ditegur, dibentak bahkan sempat kejar-kejaran dengan satpam UIN SuKa. Selain para PKL tak memiliki izin, mereka juga menempati area terlarang, yakni di bundaran bawah pohon yang cukup rindang, depan gedung Multi Purpose. Tempat tersebut memang strategis, sebab selalu ramai dengan lalu lalang mahasiswa yang

18

pulang atau menuju kampus. Termasuk mahasiswa yang suka nongkrong. Kondisi demikian direspon para PKL dengan perasaan was-was, mereka khawatir jika pihak birokrasi memberikan perintah penggusuran melalui petugas Kamtib. Kekhawatiran mereka tentu sangat mendasar, selain menjadi PKL, pekerjaan lain sulit mereka dapat. Mencari lahan barupun juga tak mudah, sebab, Yogyakarta sudah sangat padat dengan PKL. Kewas-wasan para PKL-pun akhirnya terjawab. Tepat pada tanggal 23 september 2012, muncul surat edaran Kepala Biro Administrasi Umum (Kabiro ADUM) UIN SuKa nomor 1609 tahun 2012 berisi pemberitahuan tentang larangan berjualan dilingkungan kampus serta perintah agar segera pindah dari lokasi lingkungan kampus UIN SuKa. Saat itu, mereka hanya bisa berharap ada kemurahan hati dari pihak birokrasi kampus untuk mencabut larangan tersebut. Namun, harapan itu nampaknya sulit diwujudkan pihak terkait. Beruntung waktu itu, ada salah satu pedagang berstatus mahasiswa yang berinisiatif melakukan audiensi, guna mewujudkan proses legitimasi berdagang di lingkungan kampus. Bertepatan dengan saat itu pula, salah satu organisasi ektra kampus bernama Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD) turut ambil bagian menjadi mediator guna menyampaikan inisiatif diatas. Surat edaran dari Kabiro ADUM akhirnya direspon oleh organ tersebut dengan surat pula. Surat bernomor 001/A-2/ Sek- KMPD/XI/2012 tersebut berisi rasionalisasi penolakan penggusuran dan permohonan tetap menempati lahan di lingkungan kampus untuk dijadikan tempat berjualan para PKL. Namun, surat yang ditujukan langsung kepada Rektor UIN SuKa tersebut lama tak mendapat respon. Tak adanya kepastian, membuat pihak KMPD dan para PKL geram. Pada tanggal 20 November 2012, melalui surat bernomor 004/A-2/Sek-KMPD/XI/2012, KMPD kembali melayangkan surat penegasan untuk tuntutan surat pertama. Bahkan, jika dalam jangka 7X24 surat tersebut tak kunjung mendapat respon, organisasi tersebut bersama-sama dengan seluruh PKL UIN SuKa mengancam akan melakukan aksi demonstrasi didepan gedung rektorat.

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Melayangnya dua surat tersebut, nampaknya cukup membuat pihak rektorat gentar. Kabiro ADUM yang sebelumnya memberikan perintah larangan berjualan bagi para PKL secara langsung, akhirnya pada tanggal 11 Desember 2012 memberikan surat tanggapan berisi undangan audiensi bagi KMPD dan para PKL. Pada hari yang telah ditentukan tersebut, beberapa orang dari pihak KMPD bersama-sama dengan para PKL berbondong-bondong mendatangi tempat audiensi di ruang sidang PAU Lt.1. Muttaqin Subrata yang saat itu menjabat sebagai kepala suku KMPD serta salah satu dari tujuh PKL UIN SuKa, membacakan rasionalisasi penolakan penggusuran PKL serta tuntutan agar PKL dilegalkan berdagang di lokasi semula. Meski alot, audiensi yang dihadiri oleh beberapa jajaran Rektorat tersebut akhirnya menghasilkan beberapa kesepakatan. Kesepakatan itu diantaranya berupa legalitas tujuh pedagang PKL untuk berdagang di lingkungan kampus. Meski keinginan para PKL untuk tetap menempati lokasi semula tak tercapai, yang jelas mereka telah merasa lega. Sebab, kini keberadaan PKL UIN SuKa telah dilegalkan oleh pihak rektorat. Para PKL kini mendapatkan lahan legal di sayap timur gedung MP. Membentuk Paguyuban Setelah resmi mendapatkan izin dari rektorat, para PKL sepakat untuk membentuk paguyuban PKL UIN SuKa secara formal. Meski tak seformal organisasi pada umumnya, paguyuban tersebut juga berinisiatif membentuk struktur kepengurusan guna menjaga keutuhan serta harmonisasi antar PKL. Melaui musyawarah, pada pertengahan bulan Desember lalu, para PKL resmi membentuk kepengurusan. Hasil musyawarah menetapkan Bagiyo (pedagang Es Cincau) sebagai Ketua, Mamat (Pedagang Bakwan Malang) sebagai Wakil Ketua, Muttaqin Subrata (Pedagang Es Kencur), sebagai sekjend, Sugiyanto (Pedagang Rujak Buah) sebagai Bendahara. Sedang Mukaddam (Pedagang Kopi), Arno (Pedagang Tempura), Lukiyanto, Widiyanto (keduanya Pedagang Siomay) adalah sebagai anggotanya. Setelah struktur terbentuk, mereka sepakat untuk menjadikan Kawula Alit (Rakyat Kecil) sebagai nama organisasi mereka. Layaknya sebuah organisasi, paguyuban Kawula Alit juga memiliki agenda maupun pertemuan rutin, hal itu dituturkan Muttaqin Subrata, '' kalau agenda, biasanya berupa kumpul rutin tiap sebulan sekali, pembahasannya sih beragam, kadang evaluasi kerja selama sebulan. Kadang ya, cerita-cerita tentang omzet dagangan, '' kata PKL yang akrab disapa Broto

April 2014

Sketsa itu. Untuk menunjang serta mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan paguyuban dikemudian hari, Broto menambahkan, bahwa paguyuban Kawula Alit melestarikan tradisi bantingan tiap hari pada tiap-tiap pedagang. Bantingan dapat juga disebut Iuran, hanya saja, biar tak terkesan memaksa, bantingan lebih sering dipakai kaum-kaum menengah kebawah.'' Awalnya, kita rutin bantingan dua ribu rupiah, sekarang dinaikkan jadi tiga ribu rupiah,'' Kesamaan nasib sebagai PKL membuat membuat para pedagang di paguyuban tersebut bak keluarga baru. Keluarga yang dipertemukan sebab kepentingan yang sama, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Sehingga, saling membantu, memahami serta menjunjung tinggi kebersamaan di paguyuban itu menjadi pemandangan yang sulit ditemui pada PKL-PKL lain di kota besar. '' Awalnya sih, saat belum di legalkan, semua PKL masih individualistik, tapi, sekarang sudah nggak, para PKL disini solidaritas serta soliditasnya sudah kuat, tambah Broto dengan logat ngapaknya. Tingginya solidaritas antar individu didalam paguyuban tersebut juga diakui oleh Bagiyo, menurutnya, sejak direlokasi dan dizinkan berjualan ditempat itu, sifat-sifat individualis dari PKL perlahan mulai hilang. Bahkan kata Bagiyo, kini para PKL sudah saling percaya dan memahami satu sama lain,'' sesama PKL, disini kita saling membantu. Misal ada Shalat atau Kuliah, maka yang lain bantu menjaga dagangan yang bersangkutan,'' tutur Ketua Paguyuban yang mengaku jadi PKL sejak era IAIN itu. Mahasiswapun Mengaku Senang Keberadaan Paguyuban PKL Kawula Alit cukup mendapatkan Apresiasai dari mahasiswa, banyak dari mahasiswa mengaku senang dan nyaman akan keberadaanya. Hal itu di ungkapkan oleh Cika, Mahasiswi FDK yang mengaku sering jajan di sana. ''Biasanya saya suka jajan yang Siomay Sepeda, sebab murah dan lumayan enak, apalagi pelayanan para PKL juga menyenangkan,'' katanya. Kenyamanan jajan di PKL tersebut juga diungkapkan oleh Ahmad Syaifuddin, Mahasiswa IKS. Ia menuturkan bahwa dirinya sering ketempat PKL untuk sekedar ngecer rokok dan ngopi. Tak jarang, menurutnya, juga untuk nongkrong dan diskusi. Selain itu, mahasiswa yang akrab disapa disapa Udin itu mengatakan bahwa pelayanan para PKL juga sangat ramah pada mahasiswa,'' kayak yang jualan Bakwan Kawi, meski saya punya uang Dua Ribu lima Ratus Rupiah, olehnya tetap dilayani, gak ada patokan harga gitu,'' ungkapnya. [Ahmad Haedar & Fullah Jumaynah]

19


NewsRhetor Edisi XLIV

Cerpen Satu Ibu Selamanya Oleh : Retno Dwi Ningsih

Sungguh pagi yang cerah. Menghirup udaranya saja siapapun bisa menebak bahwa diluar sana langit biru sedang berbalut sinar menyentuh permukaan. Tapi untuk menyapa langit pagi sepertinya akan membuang waktu untuk mereka— “Ayah!” panggil Anna sambil memasangkan baju untuk anak laki-lakinya, namanya Andi, ia masih TK. Sementara dirinya sendiri sebagai seorang guru SMA, dan suaminya sebagai pegawai Bank. Beberapa detik kemudian Dhani keluar dari kamar tidur mereka berdua. Satu tangannya membenarkan letak dasi, satunya lagi menggenggam ponsel yang didekatkan pada telinga. Anna melihat sekilas padanya, lalu kembali fokus Andi. “Akan saya sampaikan padanya..wa'alaikum salam.” Ucap Dhani lewat ponsel sebelum menutupnya. “Siapa?” tanya Anna. Bersamaan dengan itu Andi berlari menuju ruang makan. Anna pun segera bangkit dan menghadap Dhani yang masih terdiam. “Kamu selingkuh, ya?” Dhani langsung tersenyum mendengar pertanyaan polos itu. Ia menggeleng pelan untuk menjawab. “Lalu siapa?” desak Anna lagi. Dhani menggigit pelan bibir bawahnya sebelum berkata, “Ibumu.” Anna terdiam sejenak. “Ayo, makan, Andi sudah menunggu.” ajaknya. Ia bersikap seolah tidak mendengar apapun. Ia berbalik dan hendak melangkahkan kaki sesaat sebelum Dhani meraih kedua lengannya dari belakang. “Ibumu ingin bertemu denganmu, Anna. Setidaknya sekali saja, kamu harus menemuinya.” Tanpa berbalik lagi untuk menatap Dhani, Anna menjawab dengan nada berat, “Kenapa bukan dia yang datang? Orang yang meninggalkanlah yang harus datang, bukan sebaliknya.” Dan tanpa memaksa lagi, Dhani menarik kedua tangannya kembali. Membiarkan Anna bebas melakukan apapun kali ini adalah solusi terbaik. Tentu saja, karena Dhani tahu benar apa yang dirasakan oleh istrinya itu. *** Percakapan tadi pagi masih belum mau beranjak pergi dari benak Anna. Ia terus memikirkannya, sampai lupa kapan ia terakhir kali berbicara pada Dhani hari ini. Sekarang ia sendirian yang membisu dalam rumah minimalis mereka, Dhani sedang menidurkan Andi, dan sebelum itu mereka sempat bersenang-senang dengan menonton kartun lucu tanpa mempedulikan Anna.

20

Ah, andai saja ayah Anna dulu seperti Dhani, pasti ia tidak akan merasa kesepian setelah ditinggal ibunya kabur dengan pria lain. Ia masih ingat saat itu, ibunya pergi dari rumah setelah meninggalkan uang lima puluh ribu ditempat tidurnya, saat itu ia masih sepuluh tahun. Dan sejak ibunya pergi, ayahnya menjadi semakin gila dengan minuman keras, sampai tiga tahun kemudian ayahnya meninggal karena kecelakaan motor. Sejak saat itu ia tinggal dengan paman dan bibinya, ia bersyukur karena masih memiliki keluarga, sayangnya mereka tidak sehangat keluarga yang sesungguhnya. Keduanya adalah orang yang keras, membuat Anna harus bertahan dengan pukulan maupun makian. Dan sebaiknya Anna melupakan masa lalunya, kini ia sudah memiliki keluarga yang begitu nyata. Suami dan anaknya. Itu saja sudah cukup. “Ehm,” lamunannya buyar mendengar suara dari Dhani disampingnya. “Serius amat nonton TV-nya, sampai ngga nyadar aku disini.” Lanjut Dhani. Anna tersenyum, lalu kembali menatap televisi yang menayangkan sebuah acara talk-show, ia bahkan tidak begitu sadar sedang duduk didepan televisi. “Dari tadi pagi sampai sekarang, sudah puluhan kali suami ibumu menelpon dan sms, intinya ia ingin kamu menemui ibumu.” Kata Dhani, ia sudah memikirkannya untuk mengatakan itu. “Aku cukup memilikimu dan Andi.” Jawab Anna datar. “Kami berbeda dengan ibu, Anna.” Anna menoleh. “Ibu? Orang yang meninggalkan keluarganya demi uang dan pria lain?” tanyanya sarkatis. “Yang mengasuh anak orang lain dengan senang hati sementara anaknya sendiri hampir mati karena pukulan dan cacian!?” ia berteriak dengan mata berkaca-kaca. “Aku punya ibu yang lebih baik darinya, Dhan. Dia ibumu. Dia yang mau menerimaku sebagai menantunya tanpa memandang latar belakangku, itu sudah cukup bagiku.” Lanjutnya lagi. Kali ini Anna benar-benar meneteskan air mata, sampai Dhani harus bergegas memeluknya dan menenangkannya. Untuk sekarang ini—lagi-lagi—membujuk Anna bukan hal yang tepat. *** Sudah tujuh hari sejak hari itu berlalu. Tapi baru pagi ini Dhani mendapatkan kabar yang sesungguhnya. Kabar yang membuatnya gugup dan gelisah. Ia tidak yakin harus bagaimana, sementara Anna terus bersikeras dengan pendapatnya.

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Cerpen

Perempuan itu bahkan tidak ingin membicarakan hal bertiga sekarang sedang menuju pintu utama Rumah itu lagi sejak tiga hari yang lalu. Sakit. Dalam hati kecil Anna bertanya-tanya, apa “Tiba-tiba...aku ingin punya anak yang sedang ingin Dhani tunjukan padanya. perempuan.” Kata Anna memecahkan keheningan. Dan ternyata ini, Anna berdiri kaku Dhani yang menyetir mobil disampingnya langsung menatap seorang anak dengan seragam SMA menoleh. “Aku juga, dengan begitu Andi punya terdiam didepan sebuah ruangan. Lalu disampingnya teman dirumah. Dia juga tidak akan banyak merebut ada pria seumuran dengan Anna. Dan seorang lagi waktumu dariku.” berlari menghampiri Anna dengan wajahnya yang Anna mengerjap, lalu tertawa konyol. tua dan berkerut. “Anna? Ibumu menunggu didalam, “Kamu cemburu sama Andi? Dia itu sebagian dari masuklah!” dirimu, kamu lupa?” ia tahu Dhani bercanda, tapi Anna masuk kedalam ruangan tanpa ia ingin menanggapinya. menunggu lagi. Disana ia melihat Dhani tersenyum simpul. Lalu sesaat ibunya terbujur kaku dengan terdiam, ia memikirkan sesuatu. dikelilingi peralatan medis. “Bagaimana kalau nanti malam kita Anna mendekat, bertiga jalan-jalan?” selangkah demi “Kemana?” tanya Anna selangkah, sejak dua antusias. “Nanti aku pikirkan, kita puluh tahun sampai sudah hampir sampai didepan sekarang, baru kali ini sekolahmu.” Jawab Dhani ia melihat wajah sambil menatap lurus ibunya...lagi. Anna kedepan. Anna mengulurkan kedua mengangguk sambil tangan, lalu tersenyum. Ia suka menggenggam kejutan dan Dhani sebelah tangan hampir selalu ibunya. Dengan mata memberikannya. berkaca-kaca dan hati Malam pun yang sakit, ia tiba, ketika semuanya mengucapkan empat sudah siap didalam patah kata, “Ibu...Anna mobil. Andi selalu sayang ibu.” Dadanya bertanya akan terasa begitu sesak, hingga kemana, begitu membuatnya menangis. pula Anna. Tapi “Anna rindu ibu...” bersamaan Dhani tidak dengan itu sebuah alat menjawabnya—belu mengerikan terdengar datar. Alat http4.bp.blogspot.com-6UV4Yt-7u1kT_kPMoLL1vIAAAAAAAAAX0uE-ANgjmyMUs1600ibu2.jpg m. Sepanjang pendeteksi jantung itu menampakan perjalanan mereka garis lurus. Garis yang menunjukan berdua tampak gembira, bahwa pertemuan itu sudah berakhir. hanya Dhani yang merasa was-was. Anna memejamkan mata, lalu tangisnya pecah Sampai tiba saatnya dimana Anna terdiam menatap seketika. Seharusnya aku datang lebih gedung tempat Dhani membelokkan mobilnya. awal..seharusnya aku memaafkan ibu “Siapa yang sakit?” bagaimanapun caranya..seharusnya aku tidak “Seseorang yang kita kenal.” Jawab Dhani. memikirkan kemarahanku..seharusnya aku Kali ini Anna tidak mengatakan apapun, ia menumpahkan kerinduanku sejak saat itu...sejak mengikuti apa yang diminta Dhani dan kemanapun saat ibu memanggilku lagi. Maafkan aku ibu, aku laki-laki itu pergi. Tak fokus pada Andi, hingga anak sangat merindukanmu. itu harus berada dalam gendongan Dhani. Mereka

April 2014

21


UsulnotAsal ·

“Cerita mahasiswa dari kampung”

Ada anak dari kampung kuliah di UIN Suatu saat dia ngirim sms ke bapaknya di kampung : “pak, semua kawan2ku ke kampus naik piksen, pario, miyo, bahkan ninja”. Kirim uang lah pak biar ku beli macam gitu,kepingin sekali aku pak Balas bapaknya : syek-syek, gada uang bapak untuk beli macam gitu nak, kalo gak' gini ajalah, Kebetulan bapak kan baru beli kambing di kampung, Naik kambing ajalah ke kampusnya ya nak?” #gagitujuga keleesss >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> · telat masuk kelas Dosen : kosim !! masuk kelas itu jam 08.00 , kenapa kmu telat ? Kosim : kan saya masuknya jam 9 pak ,jadi telat Dosen : hmm.. maksud saya kenapa kmu bisa kesiangan gini ? Kosim : dari pada kepagian pak gak ada siapa2 di kampus #gagitujuga keless... >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> · Dimarahi pak dosen (Kosim masuk kelas) Dosen :heh .. kamu baca tatib gak ? kuliah kok pakek sandal Kosim : saya kan gak pakek sandal pak Dosen : lhaa itu kan sandal ? Kosim : bukan pak, ini sepatu belum jadi Dosen : ahhh tolong keluar kamu mas,pokoknya gak boleh pake sandal *kosim pun keluar dan melepas sandalnya Kosim : boleh saya masuk pak ? kan saya gak pake sandal (nyeker coy) #gagitujuga kelees .. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Mancing mania (mancing amarah dosen) :D (Melebu kelas) Dosen :kamu ini mahasiswa paling ngeyel, kemaren pakek sandal sekarang pakek kaos Kosim :gak boleh juga ya pak pakek kaos ? Dosen : nih,baca buku tatib kampus (sambil

22

NewsRhetor Edisi XLIV

melihatkan buku tatib) Kosim : itu yang lain juga pakek kaos,bapak juga pakek Dosen :mana ? mana ?? tak usir yang pakek kaos Kosim : itu itu itu *sambil nunjuk yang pakek kaos kaki Dosen : onta memang kamu ini kosim :/ *di jitak >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> · Di omelin gara2 gaptek (di ruang ICT) Dosen : mas udah bisa bikin blog nya ? Kosim : diam (sambil nyengir) Dosen : astagpirulloooh .. udah 1 jam belum apa-apa ? gaptek sangat kau ini, belajar/kursus makanya Kosim : saya gak gaptek pak,kemarin aja mau bikin blog ke BRI CABANG malah tellernya yang gaptek Tellernya malah bilang “maaf mas gak bisa bikin blog “ ,berarti dia yang gaptek kan pak ? saya enggak Dosen : -_- hadehh ini mahasiswa onta >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Temen wanita kosim (huhuuuuhuu *nangis sambil meluk kosim pacarnya) Kosim :kenapa bebeb ? Neng Oyoh : saya semalem di tiduri si encep Kosim : apahhh ?? udah kamu jangan nangis,saya akan minta dia tanggung jawab Neng oyoh : bukannya gitu, kalau tau enak gitu,kenapa gak dari kemaren Kosim :balang hape cina “ -_>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Di kantin Kosim : mbak mie ayamnya 1 Mbak kantin : makan disini apa di bungkus ? Kosim : di bungkus aja mbak Mbak kantin : makan disini aja mas mendingan Kosim :terserah gua donk,gau yang beli Mbak kantin : yayaya keliatan sih muka-muka nasi bungkus Kosim : kamprettt *balang hape cina #ontatenann

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

April 2014


NewsRhetor Edisi XLIV

Kasakusuk

Monggo siapa aja yang mau iklan...?? silahkan hubungi redaksi di nomor ini : 0857 9358 0716

: lpmrhetor.blogspot.com : Lpm Rhetor update seputar berita-berita kampus dan sekitarnya : @lpmrhetor April 2014

23


jare UIN meh UKT

piye iki mbah?

sumber gambar: www.rizqifahma.com

embuh le... aku ora mudeng UKT

aku mung reti nek UIN kampus apik seng murah RHETOR

LPM RHETOR

by [et]jejakpelamun


E44lpmrhetor  

Edisi 44 LPM Rhetor

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you