Issuu on Google+

Lembaga Pers Mahasiswa

RHETOR

News RHETOR Media Komunikasi Mahasiswa

RHETOR

inovatif - Kritis Humanis - Solutif

Image.com

Surat Pembaca : Bongkar PangDem !!! Editorial : “Agent of Google� Laput : Copy Paste di Google semakin merajalela Lapsus : Panel Akbar ala MD Berita : Nama Fakultas Dakwah resmi sudah berubah

Kami atas nama Rakyat RHETOR Indonesia dengan tegas menolak kenaikan BBM 2013

Edisi XLII, Juni 2013


Sapa Redaksi t||||

s

alam persma!!!

salam sejahtera kami sampaikan kepada kepada seluruh pembaca yang budiman , semoga sampai detik ini kita tetap berada dalam pengawalan Allah swt.Amien Pertama ,puji syukur harus kami sampaikan kepada sang pemilik MAHA,karena telah memberikan izn,berupa Rahmat dan Taufiknya, sehingga proses penerbitan bulletin ini berjalan dengan lancar . Kedua salam sapa berupa untaian shalawat , harus juga kami curahkan kepada baginda Rasulullah saw, sebab berkat perantara beliau, kita semua dapat mengeja abjad demi abjad ,angka demi angka hingga dapat kami uraikan ke dalam bentuk tulisan. Tidak terasa LPM Rhetor sudah menghadirkan edisinya yang ke XLII,ini menjadi bukti bahwa komitmen kami di dunia jurnalistik masih tetap massif. Dalam edisi ke XLII ini kami sengaja mengahadirkan beberapa rubrik Menarik.dengan rubrik utama ialah terkait maraknya copy paste di Google oleh mahasiswa, tentu dengan tidak mengenyampingkan persoalanpersoalan akademik dilingkungan UIN sunan kalijaga khusunya fakultas dakwah. Tidak ada maksud untuk menggurui, namun harapan kami dengan hadirnya bulletin ini, dapat dijadikan refleksi kita bersama-sama untuk senantiasa melakukan perubahan yang lebih baik. maka dari itu, kami dari redaksi LPM Rhetor akan setia menanti masukan dari segenap pembaca atas segala kekurangan dan kelebihan sajian bulletin ini. Selamat membaca ![]

Daftar Isi 2|Sapa Redaksi dan daftar isi 3|Surat pembaca : Bongkar PangDem dan Editorial : “Agent of Google� 4|Laput : Copy Paste di Google semakin merajalela 6|Berita : Studi Lapangan makul SAK 7|Berita : Nama Fakultas dakwah resmi sudah beruba 8| 9|lapsus : Panel akbar ala MD 10|Opini :Ketika Mahasiswa dihipnotis Google 12|Internet, Copy-Paste dan Budaya Instan 14|Figur : Tirto Adhi Soerjo: Pembangkit pers propagandis 16| Cerpen : Aku pilih Bahagia 18| Puisi 19| Resensi 20| Karikatur

Diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)RHETOR Fakultas DAKOM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pelindung : Dr. Waryono Abdul Ghafur Ma, Penasehat: Dr. Sri Harini, M.Si, Pimpinan Umum: Abdullah, Pimpinan Redaksi: Ahmad Hedar, Sekretaris: Masduki, Redaktur Pelaksana :Fikry Fakhrurrizal, Dwi Retno W, Reporter:Amita Meilawati, Arivia Nujumul Hayat,Jiddatun Nihayah, Fullah Jumaynah, Editor :Ahmad Hedar, sirkulasi Keuangan Astry Cahyuningsih, Tata letak: Suhairi (Rie), Distributor : red. NEWS RHETOR mengundang semua civitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk mengirimkan tulisan maupun artikel ke alamat redaksi LPM RHETOR. Dan bagi pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan pemberitaan News RHETOR, bisa menuliskan hak jawabnya, atau datang langsung ke kantor redaksi LPM RHETOR guna berdiskusi lebih lanjut.


Surat Pembaca

Editorialdd

Bongkar PangDem !!! “Agent of Google” Masih melihat panggung demokrasi di kampus bagian timur UIN sukijo?panggung yang dibangun pada kisaran 2011an tersebut katanya berfungsi sebagai tempat mahasiswa-mahasiswa super berdialektika dan memperjuangkan demokratisasi kampus. Coba anda sempatkan untuk sekilas melihat kondisi panggung tersebut saat ini,entah malam maupun siang hari! Saya berani menggaransi bahwa yang akan anda lihat ialah SESUATU. sesuatu yang terlihat jauh dari fungsi ideal pangung tersebut. K a l a u s u d a h s e m p a t berkunjung,ramalan saya, Anda akan melihat pangung tersebut tak ubahnya sebagai panggung strategis untuk mengkondusifkan lingkaran-lingkaran facebooker,MLM,hingga nongkrong gak jelas.Buktikan! Kalau sependapat maka kita akan sama-sama mempertanyakan. Dimana mahasiswa-mahasiswa Super yang ketika disaksisikan ribuan mahasiswa pada saat OPAK berkoar koar tentang idealisme mahasiswa?sampai disitukah fungsinya?atau mungkin hanya menjadi akomodasi pelengkap saat OPAK? jika demikian adanya ,maka mari bersama-sama berharap agar panggung tersebut lebih baik dibongkar dan dijadikan lahan parkir! Cuma itu.[] *Muhammad latif Aif, Mahasiswa Semester 4 MD

Pernah mendengar atau membaca sebuah celetukan bahwa mahasiswa adalah “sebagai agent of change”atau “agent of social control”? Saya yakin bahwa celetukan diatas, sudah sering didengar sejak pertama kali kita menjadi mahasiswa. karena disadari atau tidak celetukan diatas merupakan salah satu idealisme yang didedikasikan khusus bagi semua mahasiswa. Eits, Namun jangan merasa bangga dulu bagi para mahasiswa. why?,mari sejenak refleksi bersama, kira-kira mahasiswa seperti apa sih yang pantas didedikasikan celetukan”agent of change maupun “agent of social control”? Apakah mereka yang setiap hari kuliah, ngerjakan tugas dengan rajin, presesensinya 100% , hingga nilai IPK nya mencapai A++?atau mungkin mereka yang sering ngobrol di warung kopi,di kantin kampus atau warungwarung nongkrong lainnya,hingga tidak ada waktu luang untuk mengunjungi ruang kelas? Realitas harus kita akui,Karena hingga saat ini nampaknya sukar menemukan Mahasiswa yang benarbenar mahasiswa .lalu wajar kemudian, kalau kita semua merasa pesimis terhadap prospek mahasiswa kedepan. Titel mahasiswa yang sejak dulu dielu-elukan oleh banyak kalangan terutama mahasiswa sendiri,saat ini nampaknya tak lebih dari sekedar titel usang. UIN Sunan Kalijaga memang satu tempat yang dihuni oleh banyak manusia-manusia super(mahasiswa katanya), baik dari yang super-super aja sampai yang super-super banget ,semuanya dapat kita saksikan tiap hari. Namun Persoalannya adalah, ada beberapa manusiamanusia super (katakanlah jankrik-jangkrik), yang ketika dipelocoti, ternyata amat jauh dari idealisme seorang mahasiswa. beberapa mahasiswa UIN sunan kalijaga hari ini,bisa dikatakan sebagai mahasiswa berlabel imetasi. Tidak asing kita lihat(bagi yang melihat), betapa masih banyak dari mereka yang pola fikirnya amat pragmatis(kebiasaan makan mie instan kali), contoh kongkretnya misal ketika ada tugas-tugas kuliah (makalah,skripsi.cs.), yang dalam proses penyelesaainya masih bermazhabkan Google dan berhaluan copasus (copy paste ubah sedikit). Masalahnya sebenarnya bukan di google maupun copasusnya, akan tetapi lebih kepada mindset yang terbangun dalam diri mereka yang cenderung amat instan.Google tak ubahnya sang Maha yang bagi mereka dapat menjawab segala persoalan, sehingga ketertarikan untuk menggali khazanah keilmuan yang lebih fundamental mereka lupakan. Kultur membaca, menulis diskusi dan aksi sekarang jarang terlihat dikampus ini. Untuk sementara waktu kita lupakan dedikasi Agent of Change maupun Agent of Social control dalam diri mahasiswa, karena ada yang lebih pantas untuk kemudian kita deklarasikan saat ini.Yakni, mahasiswa sebagai “Agent of Google”. Redaksi

Edisi XLII, Juni 2013

03


Laputstu Copy paste di google semakin merajalela Oleh:Ahmad Hedar Rhetor(18/5),fenomena copas (copy paste) di Google era ini menjadi trend di kalangan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.dapat diamati ketika ada tugas perkuliahan baik berupa makalah,artikel bahkan skripsi sekalipun,mereka tidak segan-segan untuk mempraktekannya (Googlingan). cara ini biasanya ditempuh untuk mempercepat penyelesaian tugas. pesatnya pengaruh Google tersebut hingga beberapa mahasiswa menjadikannya sebagai referensi utama dalam segala bentuk penyelesaian tugas kuliah. Maraknya fenomena ini dapat dibuktikan di fakultas Dakwah dan Komunikasi. Berdasarkan survei yang dilakukan LPM Rhetor pada 28 mei 2013,sekitar 75% mahasiswa baru dari semua jurusan di fakultas tersebut tercatat sering menggunakan Google untuk dijadikan referensi utama ketika mengerjakan tugas,parahnya mereka hanya sekedar copas tanpa memakai asas etika secara normatif. Riyan mahasiswa Akidah Filsafat semester 4 menanggapi bahwa copas di Google itu merupakan sebuah kebiasaan lama yang dinilainya wajar dilakukan mahasiswa. bahkan dia mengaku terkadang juga Googlingan kalau lagi ada tugas kuliah.”kalau copas di google itu udah biasa mas,sebab kalau dilihat orientasi belajar mahasiswa sekarang memang anehaneh,ditambah lagi dosennya yang

04

Edisi XLII, Juni 2013

nyeleneh”ujarnya sambil tersenyum. “Sangat disayangkan memang , ditengah derasnya arus tekhnologi informasi dan komunikasi,justru membuat pola fikir mahasiswa semakin menyempit. Padahal, media informasi idealnya menjadi salah satu instrument penting bagi segenap insan akademisi, untuk semakin kritis dan dialektis”.tambahnya. Andi Darmawan , salah satu dosen Manajemen Dakwah ,menyayangkan kebiasaan mahasiswa menjadikan Google sebagai acuan utama untuk kemudian di copas, ,karena pada akhirnya tugas atau karya yang dihasilkan tak ubahnya sebagai sebuah sampah.”Googlingan kemudian copas itu gak mahasiswa banget,sebab itu karya sampah yang tak bernilai”ungkapnya kepada LPM Rhetor saat ditemui dikantornya(27/5). Dosen yang juga menjabat sebagai Wakil dekan bidang kemahaiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora tersebut bahkan sempat ironis melihat kondisi mahasiswa akhir-akhir ini ,yang pola fikirnya sangat pragmatis. ”sebenarnya kasian melihat mahasiswa yang untuk baca buku saja sudah enggan”.tambahnya. Ben senang galung redaktur senior majalah Nusantara IKPMDI, menuturkan bahwa ketika mahasiswa tidak mau lagi kritis terhadap pesatnya era Google


utsLaput maka jangan harap generasi bangsa Indonesia menjadi lebih maju.”ketika untuk tugas kuliah saja mereka masih membudayakan copas di google tanpa etika yang ada, maka, mau dibawa kemana bangsa ini oleh generasi pemudanya? ”ujarnya. bahkan, pria yang juga menjabat staf di Dikpora DIY tersebut mengecam tindakan mahasiswa yang diangapnya keluar dari esensi kemahasiswaannya” tugas mahasiswa itu untuk belajar dan belajar .baik dengan mengamati, membaca, diskusi serta menulis, jadi kalau ada mahasiswa yang suka copas di Google tanpa berfikir kritis dan selektif ,maka lebih baik ,jangan m e n g a k u s e b a g a i mahasiswa”.ungkapnya dikantin dinas, kepada LPM Rhetor. Lalu dimana kemudian fungsi dosen yang dalam hal ini seharusnya lebih selektif dalam mengawasi tugas-tugas mahasiswanya. Terkait ini ilham, mahasiswa semester 2 BKI tersebut, Menuturkan bahwa memang ada beberapa dosen yang kurang selektif dalam mengawasi tugas mahasiswanya, sehingga kecurangankecurangan mahasiswa yang salah satunya copas tanpa etika di Google sulit dideteksi.”boro-boro mau ngasih saran mas,wong untuk ngoreksi aja terkadang jarang dilakukan.”ujarnya. Fungsi Dosen Sementara itu untuk meminimalisir praktek ini dalam waktu yang berkelanjutan ilham berharap agar segera dilakukan upaya-upaya antisipatif dengan membenahi sistem ditiap-tiap ruang kemahasiswaan, salah

“jadi kalau ada mahasiswa yang suka COPAS di Google tanpa berfikir kritis dan dialektis ,maka lebih baik , jangan mengaku sebagai mahasiswa”. ruang kelas yang dianggapnya paling banyak bersentuhan dengan dunia mahasiswa, misal dengan mengubah kebiasaan beberapa dosen yang apatis terhadap tugas-tugas mahasiswa.”yang namanya dosen, harus bisa la mengoreksi benar dan tidak,serta logis tidak logisnya tugas yang diserahkan”.Harapnya. Kemudian yang terpenting ialah dengan bersama-sama bijaksana dalam menjalani proses pembelajaran, entah itu dosen maupun mahasiswa.”bagaimana masifnya kritikan kita terhadap mahasiswa,dosen bahkan system ajarnya sekalipun,namun selama itu juga belum ada kesadaran untuk berbenah ,maka mustahil perubahan tersebut dapat digapai”.Tambahnya.[]

Edisi XLII, Juni 2013

05


Berita Studi lapangan mata kuliah SAK oleh: Fia & Soe Rhetor(01/06/13).Kegiatan studi lapangan mahasiswa KPI angkatan 2 0 1 2 ya n g d i l a k s a n a k a n p a d a senin(20/5) mengundang kontroversi di kalangan mahasiswa.Kegiatan yang disetting dengan model dialog antara mahasiswa dengan penganut agama budha di wihara mendut,kunjungan ke TVRI dan jalan-jalan ke Borobudur tersebut sebenarnya hanya untuk memenuhi materi kuliah SAK(study agama kontenporer). Tangapan apresiatif datang dari Ahmad Anwar, peserta dalam kegiatan ini, ia menganggap bahwa study lapangan semacam ini seharusnya ada disetiap mata kuliah jurusan KPI.”ini penting untuk tahu kondisi lapangan seperti apa”.tuturnya. Tak jauh berbeda dengan yang disampaikan Acep adam Muslim,bahwa kegiatan ini dianggap bagus untuk menambah wawasan mahasiswa terutama saat di wihara mendut dan candi borobudur.”dengan kegiatan ini mahasiswa kan bisa wawancara dengan pihak tertentu dari agama budha sehingga wawasan kita menjadi lebih luas dalam memahami agama lain,selain itu kita juga bisa refresing to"tuturnya. Respon diatas sejalan dengan yang diungkapkan oleh evi, kajur KPI sekaligus penanggung jawab dalam

06

Edisi XLII, Juni 2013

kegiatan ini, ia mengungkapkan bahwa agenda utama dalam kegiatan ini sebenarnya kunjungan ke wihara mendut dan TVRI , selanjutnya seperti ke Borobudur ialah hanya sekedar jalan-jalan dan refresing. Sementara itu peserta seperti Roihan Asrofy menganggap bahwa kegiatan ini dianggapnya ada unsur pemaksaan untuk mengikutinya.” mahasiswa seharusnya diberi kebebasan untuk ikut atau tidaknya, dosen pengampu juga harus mengerti keadaan ekonomi mahasiswa”. Bahkan seperti ke borobudur, ia mengatakan tidak efektif.” lebih baik langsung ke TKP nya, ke kuil-kuil atau gereja, lebih ekonomis waktu dan biaya”. Tuturnya kepada crew Rhetor. Tanggapan sama juga diungkapkan oleh peserta yang tidak mau disebut namanya.“Seharusnya jika kegiatan ini memang untuk study lapangan, yang lebih utama dan waktunya diperpanjang ialah ketika berdialog di TVRI dan di wihara mendut, karena disitulah kita akan lebih banyak mengetahui tentang dunia pertelevisian dan ajaran di agama budha”. Tuturnya seusai kegiatan.[]

“ketika buku tak lagi menjadi pegangan pemuda suatu bangsa, maka tunggulah kehancurannya”. #Lontar


Berita Nama Fakultas Dakwah resmi sudah berubah Oleh: Nisa & Fullah Rhetor(10/6), Perubahan nama fakultas Dakwah menjadi Dakwah dan Komunikasi menyisakan banyak tanggapan dari beberapa kalangan Akademisi.Perubahan yang terjadi berdasarkan peraturan Agama RI No.26 tahun 2013 tentang Organisasi dan tata kerja (ORTAKER) UIN sunan kalijaga tersebut, dianggap menimbulkan dilematika di beberapa jurusan Fakultas Dakwah .Salah satunya terkait generalisasi gelar S.Kom.I kepada semua jurusan di dakwah.(kecuali Ilmu Kesejahteraan sosial (IKS) yang tetap dengan gelar semula.) Fajrul Munawwir sebagai Kepala Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam menegaskan ketidaksepakatannya, dia menganggap bahwa perubahan tersebut tidak bisa mengakomodir seluruh jurusan di fakultas dakwah ”saya tidak sepakat, sebab dengan tambahan Nama komunikasi dan generalisasi gelar S.Kom.I, jelas tidak bisa mewadahi semua Jurusan. Tapi memang harus dijalankan karena sudah masuk dalam SK Kementrian Agama.”Ungkapnya melalui SMS (7/6). Dikonfirmasi terkait persoalan diatas, Dr.Wariyono Abd Gafur , Dekan fakultas Dakwah menjelaskan bahwa perubahan tersebut sebenarnya memang resmi berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI terkait ORTAKER UIN Sunan kalijaga Yogyakarta.”Tidak ada yang salah dengan perubahan ini karena sudah resmi berdasarkan ORTAKER Kemenag”ujarnya dikantor Dekan.(10/06). Menurut tanggapan Moh Khalili, dosen jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam(KPI), bahwa perubahan tersebut tidak terlalu masalah untuk fakultas dakwah, karena embel-embel Komunikasi setelah Dakwah bermuara pada orientasi yang sama.”dakwah kan berawal dari komunikasi , jadi kemungkinannya tetap kembali ke khittah awal”tuturnya.

Namun,dosen yang mengampu mata kuliah teori komunikasi tersebut mengungkapkan bahwa ,meskipun yang terkesan diutamakan adalah jurusan KPI, jurusan-jurusan lain di fakultas Dakwah harus tetap diproporsionalkan sesuai kedudukannya masing-masing.”yang penting jurusan lain seperti Management Dakwah(MD),Bimbingan Konseling Islam(BKI), serta Pengembangan Masyarakat Islam(PMI), tetap berada pada proporsinya ,entah itu kurikulum maupun konsentrasinya ”ujarnya.(30/6). Tidak adanya sosialisasi Perubahan secara mendadak serta Kurangnya sosialisasi secara resmi oleh fakultas, juga sempat mengundang pertanyaan dari pihak mahasiswa. Perubahan tersebut dinilai tidak transparan.Terbukti dari banyaknya mahasiswa yang belum mengetahui terhadap sosialisasi dan latar belakang perubahannya, salah satunya seperti yang di ungkapkan oleh Desi mahasiswa MD, dia menganggap bahwa sosialisasi tersebut hanya dilakukan secara sepihak.”saat mau persentasi , saya buka web UIN sunan kalijaga ,eh,tiba-tiba lihat nama fakultas dakwah sudah berubah.”ungkapnya sambil tertawa. (22/5). Disinggung persoalan tersebut Dr.Wariyono Abd Gafur menegaskan bahwa kalau masalah sosialisasi sebenarnya sudah disampaikan kepada Wakil Dekan bidang kemahasiswaan yang kemudian diteruskan kepada masing-masing jurusan melalui lembaga-lembaga kemahasiswaan.”sudah ada Wakil dekan III untuk menyampaikan kepada perwakilan mahasiswa di tiap-tiap jurusan,namun karena LKM nya belum Dilantik,untuk sementara kemungkinan belum disampaikan secara resmi kepada mahasiswa”tuturnya, (10/6)[]

Edisi XLII, Juni 2013

07


Berita Quo Vadis Mata kuliah Bahasa Arab MD oleh: Fikry Fachrurrizal Rhetor (15/4).Muatan mata kuliah Bahasa Arab di jurusan Manajemen Dakwah (MD) membingungkan mahasiswa. Banyak dari mahasiswa yang mempertanyakan fungsinya.karena makul ini sebenarnya sudah diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Budaya dan Agama (PBBA). Lintang, mahasiswa MD semester II mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut membuat dirinya terbebani karena harus menghadapi dua mata kuliah yang sama di dua unit dalam seminggu sekaligus. “Bagi saya pribadi menjadi beban, materi di PBBA saja belum saya kuasai, masih harus dijejali materi Bahasa Arab di jurusan, “tutur Lintang.(17/4) Hal serupa diungkapkan oleh iman Nabawi , mahasiswa semester IV dijurusan tersebut.Berdasarkan pengalamannya bersama mahasiswa yang lain di semester II lalu, adanya dua kurikulum yang mengharuskan dua makul B.Arab diajarkan dalam dua unit , memang banyak membingungkan mahasiswa.Apalagi pengelolaan dan pengawalannyaterkesan dipaksakan.”seharusnya

dimaksimalkan dulu satu persatu,karena dulu saya gak dapat apa-apa selama belajar di keduanya”.ujarnya sambil tertawa saat ditemui di warung angkringan.(17/4) Terkait perubahan penerapan secara bertahap di antara dua unit tersebut,iman mengungkapkan bahwa perubahan tersebut sulit direalisasikan karena harus menunggu perubahan kurikulum jurusan yang dilaksanakan tiap dua tahun sekali.”sebenarnya bisabisa saja untuk dirubah, asalkan mahasiswa siap untuk bersama-sama mengawalnya.”tuturnya. Namun, sebagian mahasiswa beranggapan bahwa dua makul tersebut layaknya sebuah kegiatan penunjang yang saling melengkapi. “ini saya anggap sebagai mata kuliah ekstra, yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Arab kita”.ujar seorang mahasiswa yang tak ingin disebutkan namanya tersebut.(22/4) Tapi sayang, sampai berita ini diturunkan, pihak jurusan maupunn dosen pengampu belum memberikan konfirmasi lebih lanjut.[]

v Kemarin di UIN SUKA ada Tokek makan Tikus lo Til Ø Waw,!!!bisa jadi sejarah baru. v Ini lagi til”Mahasiswa pakai kaos gak boleh masuk kelas,mahasiswi pakai celana lengket, bolehboleh banget” Ø Pie to cuk?ini namanya Diskriminatif.

08

Edisi XLII, Juni 2013

<<<Cental-Centil*** v Kalau dosen lambat 15 menit,kira2 mahasiswa boleh berapa ya til? Ø 1 jam juga boleh.pepatah bilang “guru kencing berdiri, mahasiswa kencing berlari.”ups.


Panel Akbar ala MD oleh: Mita, Jidda dan Yuni Rhetor.“tepat pada jam 08.00 wib, ruang teatrikal sudah dipadati oleh mahasiswa Management Dakwah UIN sunan kalijaga.Mereka berbondongbondong datang ke ruang tersebut ,dengan tujuan dan maksud yang sama,yakni memeriahkan kegiatan Panel Akbar MD dengan tema”Menumbuhkan Kultur Akademik Dilingkungan MD” . Kegiatan Panel Akbar mahasiswa Management Dakwah yang terselenggara pada 31 mei 2013 diruang teatrikal fakultas Dakwah berjalan cukup meriah,acara yang bertujuan untuk menumbuhkan kultur akademik tersebut melibatkan semua mahasiswa mata kuliah Dakwah Kontenporer tersebut menghadirkan pemateri yang didelegasikan oleh tiap tiap kelas mata kuliah. Menurut Fredy Ariawan,ketua panitia kegiatan ini, terselenggaranya Acara tersebut berangkat dari kegelisahan yang di rasakan oleh dosen pengampu mata kuliah Dakwah Kontenporer atas minimnya dialektika mahasiswa dalam membangun suasana yang akademik .kemudian berlandaskan terhadap kemauan mahasiswa MD yang cukup besar untuk membagun kultur jurusan yang benar-benar dialektis.”awalnya memang atas dorongan dosen pengampu namun pada akhirnya kita juga memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan kultur akademik di lingkunagn mahasiswa khususnya jurusan MD”Tuturnya diselasela kegiatan(31/5). Terselengaranya kegiatan ini ternyata mendapat banyak respon positif dari beberapa kalangan.Arif Rahman misalnya , mahasiswa semester 4 MD tersebut ,menanggapinya dengan penuh

Lapsus dilaksanakan secara intensif dilingkunan kampus khusunya UIN sunan kalijaga,sebab dengan ini kultur akademik yang dialektis akan terbangun dengan melibatkan mahasiswa secara langsung. Bahkan dia mengharapkan agar acara ini tidak sekedar formalitas yang hanya selesai di dalam ruangan, namun tetap dikembangkan dalam ruang-ruang kemahasiswaan yang Lain.”Kegiatan ini akan lebih bermanfaat jika mahasiswa dapat memanfaatkannya dengan serius dan mengembangkan diruang-ruang yang lain.”tuturnya. Sementara itu, Andi Darmawan, dosen pengampu Makul tersebut, menyatakan bahwa acara yang terselenggara berkat gagasannya sendiri tersebut, berjalan sangat sukses hingga akhir acara, meski secara pendanaan yang mempersiapkan adalah mahasiswa sendiri”bagi saya acara sukses besar,aman dan nyaman meski tidak ada bantuan apapun dari jurusan maupun fakultas, sebagai dosen saya mesti memberi ruang expresi dan apresiasi bagi mahasiswa,makanya saya buatkan mereka panggung kegiatan”.tuturnya. Secara umum acara ini berlangsung dengan lancar, baik sejak awal seremonial hingga sampai selesai di penghujung acara, meski diakui oleh fredy ariawan , bahwa dalam perjalanannya sampai hari H sempat menemui beberapa kendala teknis, khusunya masalah Dana, karena dalam acara tersebut memang murni memakai uang bantingan dari mahasiswa MD.”Alhamdulillah hari ini cukup lega karena sudah berjalan lancar,tapi kami sempat bingung karena dananya cukup minim”, Ungkapnya.[]

Edisi XLII, Juni 2013

09


Opini Ketika Mahasiswa dihipnotis Google Oleh: Lulus Novita* Sudah

tidak

dihiraukan

*Penulis ialah Mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga.

lagi. M a h a s i s w a

sekarang

lebih

Perkembangan yang begitu sangat dininabobokkan dengan alat-alat pekat di era zaman sekarang ini teknologi canggih, sehingga rasa malas membuat manusia untuk selalu up date itu sering menguasai dan lebih tentang

kecanggihan

d i b i d a n g mengambil

strategi

lain

untuk

teknologi, terutama dalam hal internet. menyelesaikan apa yang tengah ia Internet merupakan tutor yang sangat kerjakan. Contoh kecil saja dalam handal dalam memberikan dampak mengerjakan tugas, mahasiswa lebih positif dan negatif. Manusia dengan condong memanfaatkan Google sebagai cepat bisa mendapatkan informasi juga jalan pintas untuk menyelesaikan menjadikan sebuah media edukasi yang tugasnya itu. Jika dibiarkan maka yang memberikan ilmu pengetahuan tanpa terjadi adalah kerugian besar sepanjang batas. Yang sangat disayangkan, hidupnya dalam mengenyam bangku internet ini mudah ditemukan dari kuliah, Di antaranya sikap kritis berbagai

t e r u t a m a mahasiswa akan semakin memudar dan

kalangan,

mahasiswa. Hanya saja terkadang terkikis dengan perlahan, memberikan mahasiswa memanfaatkan dengan cara dampak kerugian pada diri sendiri akibat yang tidak layak. Jika dinilai negatif, kurangnya membaca dan akan selalu internet dapat mempengaruhi pola pikir â&#x20AC;&#x153;manutâ&#x20AC;? dalam sistem yang sudah dan berkecenderungan untuk memilih diberikan. mencari data di internet dari pada membuka buku. Padahal

Dalam perjalanan pembelajaran mahasiswa sekarang lebih cenderung

secara

a k a d e m i s i , memilih cepat-instan dan akurat karena

mahasiswa dituntut untuk menjadi lebih pengaruh arus modernisasi dikalangan produktif dalam mengembangkan ilmu mahasiswa. Mahasiswa seolah lebih pengetahuannya

dengan

c a r a mengedepankan gaya hidup yang

membudayakan membaca.

10

Edisi XLII, Juni 2013

modern. Jika dibandingkan dengan


Opini zaman terdahulu mahasiswa sekarang penulis buku jurnalistik; berpikir adalah pekerjaan berat, tetapi menjadi usaha mudah ditaklukan dengan teknologi yang bernilai. Kebanyakan kita lebih serba canggih. Perkembangan yang senang bertindak dan berbuat dari pada semakin berjalan membantu untuk berpikir. Sekalipun berpikir menjadi melumpuhkan kinerja otak dalam pekerjaan yang berat, tetapi yakinlah suatu saat nanti akan menjadi usaha berpikir. Ini menjadikan mahasiswa yang bernilai. Berilah ruang bagi pikiran menjadi apatis dan membodohi diri untuk menjadi landasan dari setiap sendiri. Hal seperti inilah yang memicu tindakan yang kita lakukan. Seperti apa yang dikatakan oleh mahasiswa lebih memilih menggunakan seorang filsuf perancis pada tahun google sebagai penyelamat ketimbang 1619; â&#x20AC;&#x153;cogito ergo sumâ&#x20AC;? (aku berpikir memilih belajar di perpustakaan. Itu maka aku ada). Para pemikir-pemikir pun memilih belajar ke perpustakaan pada saat itu mengembangkan ide hanya mencari data dalam membuat sebagaimana dalam melakukan suatu hal yang dianggapnya memicu untuk skripsi dan mengerjakan tugas. lebih mengeksplor ide-ide mereka. Bahkan tidak berhenti pada saat itu, Kini konsepsi seperti itu mengembang ke Membudayakan membaca Pepatah pernah mengatakan buku arah akademisi, tak terkecuali mahasiswa. Tentu mereka para adalah jendela di dunia. Mengapa mahasiswa dituntut untuk demikian?. Karena buku merupakan mengembangkan pemikiran-pemikiran sebuah ilmu pengetahuan yang mengupas secara mendalam. Jika kita demi memajukan kecerdasan bangsa, bandingkan dengan media massa lain agar mahasiswa mempunyai peradaban khususnya seperti televisi dan internet. yang lebih baik dan maju, tidak menghandalkan teknologi canggih yang Buku dapat memberikan celah dan bersifat kepuasan sementara. penjelasan secara terperinci atau Mahasiswa merupakan kekuatan detail, Juga bisa menjadikan bahan avan garda yang mampu memberikan refleksi. Mengingat dalam segi informasi dan ilmu pengetahuan media pencerahan bagi ranah sosial. Harapan mahasiswa sebagai agen perubahan massa seperti televisi dan internet dapat menjadi mahasiswa yang hanya dapat memberikan penjelasan sekilas, atau terbentuk dari opini-opini produktif, humanis, dan bertanggung jawab. Supaya dapat merubah keadaan saja. Tanpa memberikan penjelasan yang lebih baik bagi bangsa dan secara luas. negara.[] Menurut Syarifudin Yunus

Edisi XLII, Juni 2013

11


Artikel Internet, Copy-Paste dan Budaya Instan Oleh: A.Taufiq* Millenium ketiga ditandai dengan banjirnya arus informasi. Hal ini tentu akibat semakin canggihnya teknologi informasi. Kecanggihan itu sampai membentuk jagad baru yang tak terbayangkan di zaman sebelumnya: jagad dunia maya. Dan kini kita tahu, jagad baru itu membentuk kesadaran baru, budaya baru. Kalangan kampus termasuk kalangan yang cukup cepat dalam menikmati pesatnya arus informasi itu. Seperti kampus kita, UIN Sunan Kalijaga, kini juga turut ambil bagian dalam jagad dunia maya dengan menerapkan “wi-fi zone” di seluruh wilayah kampus. Sehingga, asal punya perangkatnya, tinggal klik kita bisa berselancar, bercumbu atau apapun dalam dunia virtual itu. Proyek “digital campus” ini memang sedang digalakkan dalam kepemimpinan Musa Asy'ari. Harapannya agar menunjang proses pembelajaran. Agar mutu pendidikan kampus kita semakin berkualitas dan tidak ketinggalan zaman. Agar kampus kita mencapai target World Class University. Akan tetapi, disisi lain, ada hal-hal yang perlu kita perhatikan. Terutama dengan ekses-ekses yang ditimbulkan akibat “digitalisasi kampus” kita ini.Seperti masuknya budaya-budaya diluar sana dengan

12

Edisi XLII, Juni 2013

sangat cepat tanpa saringan. Budaya liberal yang sangat menjunjung tinggi individualisme. Selain itu, yang paling gamblang adalah saat mahasiswa ditugaskan membuat karya, seperti makalah atau slide presentasi, kebanyakan lebih mengutamakan referensi dari internet daripada dari buku. Alasannya sederhana, tidak perlu repot-repot. Mengambil referensi dari buku tentu minimal mahasiswa harus membaca dulu, kemudian menyalin. Sementara mengambil dari internet bisa langsung copy-paste tanpa harus membaca sungguh-sungguh. Bahkan kalau perlu tinggal download beberapa menit, pembuatnya kita ganti nama kita. Dan, bimsalabim, jadilah makalah kita. Maka, wajar pula waktu presentasi ia tak faham apa yang ia kutip dalam karyanya itu. Banyak dari mereka yang tidak tahu, kira-kira situs-situs mana yang lebih punya otoritas untuk dijadikan referensi, dan situs mana yang tidak. Banyak sekali yang tak bisa membedakan antara situs-situs yang sifatnya resmi dari sebuah lembaga, apakah lembaga riset, pemerintahan, atau akademik, dengan situs pribadi yang isinya curhatan belaka dari pemiliknya. Maka, wajar jika karya mahasiswa


Artikel semakin tidak bermutu. Kebiasaan mengambil referensi dari internet juga membuat mahasiswa semakin tidak produktif atau kreatif. Tapi selalu saja mereproduksi apa yang sudah ditulis orang sana tanpa ada pengunyahan sedikitpun. Bayangkan seandainya seseorang meng-upload makalahnya, kemudian di-copypaste oleh ratusan orang. Apakah yang terjadi bukan reproduksi pengetahuan belaka? Hal ini tentu menyebabkan perilaku mahasiswa yang gandrung dengan hal-hal yang sifatnya instan dan dangkal. Pendangkalan proses berfikir kian marak. Tingkat keuletan menurun. Kapasitas reflektif pun demikian. Kita tentu tahu tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, memanusiakan manusia. Dan di depan mata kita sendiri, lewat dunia virtual, dunia pendidikan diguncang dengan budaya baru yang ditimbulkannya tadi. Di kampus kita, copy-paste sudah sangat marak. Sementara tak jarang para dosen, sebagai pendidik, membiarkan saja hal ini terjadi. Entah sebab dia setuju, tidak peduli, atau memang tidak tahu. Kalau hal ini tetap dibiarkan, jangan salahkan jika lulusan kampus kita semakin hari semakin memprihatinkan. Menurut saya, ada beberapa halyang harus dilakukan.pertama,

mempersempit peluang mahasiswa untuk mereproduksi teori, dengan memperbanyak praktik lapangan. Tugas-tugas mahasiswa bukan lagi soal bagaimana mengoak-atik teori, tapi menciptakan teori baru dengan menemukan fakta-fakta yang ada di lapangan. Kedua, menumbuhkan minat baca dengan menstimulus mahasiswa agar membaca bukubuku yang sesuai dengan realita yang dia hadapi. Ketiga, memberi pengetahuan tentang metode atau etika khususnya dalam mengutip sumber-sumber referensi dari dunia maya. Misalnya soal situs-situs mana saja yang lebih punya otoritas, dan situs-situs yang seperti apa yang tidak layak untuk dijadikan referensi. Sadar atau tidak, dunia virtual sudah menjadi bagian penting dari hidup mahasiswa. Ia adalah arus sejarah yang tak bisa dilawan. Maka, kecerdiakan yang selalu kita perlukan agar apa yang kita hadapi tidak menghambat langkah kita untuk maju. Mari berselancar bersama dalam dunia maya, dan kita ciptakan peradaban![] *Anggota Jemaat Gondes (Forum Persma UIN Suka). Aktif di CONCERN (Conflict and Peace Research Network). Berdomisili di @opiksuka.

Edisi XLII, Juni 2013

13


Figur Tirto Adhi Soerjo: Pembangkit pers propagandis Oleh : Fullah Jumaynah* Tirto Adhi Soerjo, Namanya mungkin tak setenar pahlawa-pahlawan Indonesia lainnya, sebut saja Ki Hajar Dewantara dengan julukannya pahlawan pendidikan, Soekarno, Kartini dan pahlawan-pahlawan lainnya. Ya begitulah, banyak tokoh yang terlepas dari kesadaran historis kita, entah karena pemburaman 'sejarah' yang acapkali dikuasai kaum yang menang atau lantaran kita tak pernah sungguhsungguh mau dalam menilai kembali 'sejarah' kita sendiri. Sehingga nama Tirto Adhi Suryo telah hilang dan dilupakan. Boleh bilang sungguh sangat ironis, mengingat dia adalah sosok paling penting bagi bangkitnya pergerakan kaum terdidik Indonesia. Tirto, pertama-tama harus diletakkan dalam setting sosial pergerakan nasional.bangkitnya pers pribumi, pintu gerbang bagi kaum terjajah ke alam demokrasi modern. Dan Tirto lah sang aktor pemulanya dengan tulisantulisannya yang tajam. Tirto, tokoh kelahiran Blora 1880 dari suku jawa ini, adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia, selain itu dikenal juga sebagai seorang Organisatoris. Namanya sering disingkat T.A.S. Dengan menjadikan surat kabar sebagai tempat dia berpropaganda dan pembentuk pendapat umum. Dan dengan berani, dia menulis kecaman

14

Edisi XLII, Juni 2013

-kecaman yang sangat pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada waktu itu. Sampai ahirnya ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan. Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918. Berterimakasihlah kepada sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Tour, karena berkat beliaulah sejarah T.A.S masih bisa sedikit terselamatkan. Dengan keberaniannya mengangkat kisah hidup T.A.S dalam Tretalogi Buru dan Sang Pemula. Sedikit mengulas sejarah hidup T.A.S pada tretalogi buru, bagaimana T.A.S menjadi seorang Jurnalis dan Organisatoris yang Propagandis. Pada jilid 1 tretalogi buru yakni Bumi Manusia, Pram menggambarkan awal kisah cinta dramatis Minke dengan Annelies, bunga yang dilahirkan atas peranakan Belanda dengan pribumi bernama Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ontosoroh. Sosok Nyai Ontosoroh yang tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda kemudian menjadi guru panutan Minke.Diawali dengan mengeyam pendidikan di sekolah Belanda HBS, Minke kemudian masuk sekolah kedokteran STOVIA di Batavia, dia kemudian lebih senang dengan dunia tulis-menulis sehingga pendidikannya terbengkalai dan dia dikeluarkan dari sekolah


Figur kedokterannya. Pada awal kiprahnya menulis, Minke menulis dalam bahasa Belanda, bahasa penjajah yang ketika itu hanya mampu dibaca oleh golongan atas terpelajar, buka golongan pribumi. Hingga akhirnya suatu kali dalam Anak Semua Bangsa, Minke diperingatkan oleh sahabatnya seorang pelukis Prancis mantan tentara berkaki buntung, Jean Marais. Dia mengatakan bahasa Melayu lebih banyak dipergunakan di Hindia Belanda ketika itu ketimbang bahasa Belanda. “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu. Kau tak kenal bangsamu sendiri,” kata Jean Marais. Kata-kata itu membuat semangat minke mendidih dan menjadi acuan Minke. Sejak saat itu Minke tahu benar akan tujuan hidupnya dan bertekad menyadarkan masyarakat bangsanya dengan menulis dalam bahasa Melayu. Selain sebagai jurnalis, Minke atau T.A.S juga sang organisatoris. Pram menggambarkan dengan lebih gamblang tentang Minke mendirikan organisasi dalam Jejak Langkah. Pada buku ketiga dari Tetralogi Buru ini Minke dikisahkan mendirikan organisasi pribumi pertama di masa pergerakan nasional yaitu Sarekat Priyayi. Dan setelah mendirikan organisasi itu dia mendirikan surat kabar dengan nama Medan Priyayi di Bandung. Koran ini dikenal sebagai surat kabar nasional

pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Dengan Medan Priyayi Minke menjadi sosok yang lebih berani terang-terangan menyatakan ketidakadilan dan kebusukan penjajah Belanda hingga dia akhirnya harus ditangkap dan diasingkan. Di penghujung perjalanan hidupnya dalam Rumah Kaca, Minke tetap dikagumi tak hanya oleh bangsanya sendiri tapi juga oleh penjajah Belanda. Dia tetap menyatakan perlawanannya terhadap penjajah dan menyerukan kebangkitan kesadaran kepada bangsanya, seperti tertuang dalam kata-kata yang diucapkannya menjelang akhir hayat: “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka 'kemajuan' sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”[] Tirto Adhi Soerjo Lahir 1880 Blora, Hindia Belanda Meninggal 1918 (berusia 37–38) Bacan, Hindia Belanda Suku Jawa Pekerjaan Jurnalis Tahun aktif1894–1912 Jasa-jasa penting:Menerbitkan Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam.SDI)

Edisi XLII, Juni 2013

15


Cerpen Aku Pilih Bahagia Oleh: Aji Jatiningsih* Mentari menyeruak, biasnya sungguh luar biasa.Embun di kebun bersorak-sorai , bunga-bunga indah bergegas bangkit menunjukkan betapa serasinya bunga dan matahari berdampingan.Segala tentangmu tiba-tiba hilang, lenyap.Berbulan-bulan fikiranku tak bisa lepas dari sosokmu.Semuanya menjadi kusam dan lusuh, tapi pagi itu, sungguh pagi yang indah.Karena kalian hadir dalam hidupku mulai pagi itu. Sekian lama terdiam menikmati suasana, tiba-tiba! Aku ingat. Hari ini puncaknya penantianku tentang dirimu.Hari ini, huh! Akhirnya, penantian panjang melelahkan akan berakhir dalam beberapa jam lagi, mungkin beberapa menit lagi hehe.Dan bagaimana akan aku akhiri penantian ini? dengan tangis bahagia atau terdiam tanpa sepatah kata karena tak mendapat apa-apa.Aku ragu melangkahkan kaki saat itu, suguhan keindahan tadi pagi seperti tak pernah aku jumpai.Satu demi satu langkah kuhitung. “Satu,dua,tiga, menangis atau tertawa?”, sepanjang perjalanan hanya itu yang kuucapkan. Rani datang dan bertanya,”Hoy!! Ngitung apa sih dari tadi?serius banget.Tenaaang… kita pasti lulus kok.” Rani bener-bener paling bisa mengerti perasaanku.Tanpa aku beritahu apa yang aku pikirkan, dia langsung tahu dan sayangnya dia selalu benar.“Hehehe.. grogi aja Ran, bukan lulusnya sih yang aku pikirin.Nilaiku itu lo, gimana ya wujudnya?” Pendapat Rani sangat bertolak belakang dengan cara berfikirku. “Aku beda dari kamu Ran, aku lebih memilih bersikap terus terang terhadap semua hal yang aku rasakan dan aku alami, untuk apa aku menyembunyikan perasaanku sedangkan aku sendiri tersiksa

16

Edisi XLII, Juni 2013

menahannya.Tidak perduli orang mau berpendapat apa atas sikapku.Ini aku.” Rani membuyarkan lamunan masa lalu kami, “hoy! Nih anak ngalamun terus dari tadi, kamu kenapa sih? Gausah dipikir terlalu dalem lah masalah pengumuman, yang perlu kau pikiri itu hidup seperti apa yang bakal kamu jalani setelah semua ini berakhir.Coba santai dikit, kasian otot sama otakmu itu kalo dibuat mikir terus.Senyuum neng maniiiisss hehe.”.Dia selalu bisa bikin aku tersenyum, tapi juga tidak jarang dia bikin aku kesal. Perkataan Rani tentang “sugesti positif” kembali hadir dalam fikiranku, sekelebat namun pasti.Perlahan aku mulai mengatakan iya dan mengikuti cara berfikir Rani yang aneh itu (menurutku). Langkahku dihiasi kenangan-kenangan dulu, tak terasa kaki sudah menginjak gerbang sekolah yang megah.Suasana yang ramai,riuh tanpa sela.Saling menyapa satu sama lain.Kegundahanku waktu itu terbalut senyum palsu yang sempurna. Detik-detik pengumuman kelulusan semakin membuat hati dan jantung berdebar-debar, semakin dekat semakin tak karuan iramanya.Tanganku mengepal tegang, aku katakan pada diriku sendiri “Pasti bagus” terus menerus aku ucapkan sampai pada saat Kepala Sekolah memanggil namaku.Kaget! semua mata tertuju padaku.”ada apa ni? Kok namaku dipanggil ?” pertanyaan yang tak bisa ku ucapkan.Diatas panggung, wali kelasku memberi selamat, “Selamat nak, saya sangat bangga sama kamu”.Bisik-bisik aku berbalik tanya pada ibu angkatku itu,”Ini ada apa sih bu ? kok saya disuruh naik panggung?”.Beberapa detik mata ibu wali kelas memandang penuh kebingungan padaku sedetik kemudian air matanya


Cerpen menetes sambil berkata,”kamu peringkat pertama se-provinsi, nak” terisak dan memelukku erat. Dari kejauhan, seorang wanita anggun menghampiri panggung dengan langkah bangga diiringi air mata haru.Hari itu dua ibuku memelukku erat, menangis di pundakku.Otomatis air matakupun tak sanggup aku bendung, kami bertiga terhanyut dalam keharuan.Hari itu, aku akhiri penantian selama ini dengan tangis bahagia kedua ibuku. Memori itu terjadi tepat setahun lalu.Sekarang, aku melanjutkan studiku di kampus favorit, bebas biaya dan dapat fasilitas.Sekilas mata memandang hidupku sangat beruntung dengan segala anugrah yang aku miliki.Tapi siapa yang tahu, semua anugrah yang kumiliki itu hilang satu per satu.Dua bulan yang lalu, orang tuaku bercerai.Keputusan mereka untuk mengakhiri hubungan sama sekali tanpa sepengetahuanku dan dua adiku yang lain.Dua hari yang lalu, ayahku memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita pilihan orang tuanya, kakek neneku memang kurang setuju ayahku menikah dengan ibuku dulu.Sungguh tindakan konyol menurutku. Perdebatan tidak bisa aku hindari.Sebenarnya aku enggan berdebat dengan kedua orang tuaku, tapi demi masa depan adik-adikku yang sama sekali tidak mereka fikirkan.Bagaimana kami anak-anak mereka bisa bertahan hidup dengan baik jika kehidupan keluarga kami saja berat sebelah.Selesai semua! Mereka tidak mau bernegosiasi dengan masa depan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja di kota besar.Sangat kacau fikiranku saat itu, citacitaku yang sudah ku gantung setinggi langit harus tertunda karena situasi dan kondisi.Sedih sudah pasti, aku harus meninggalkan bangku kuliah,keluarga dan cita-citaku.Seketika itu aku langsung ingat

apa yang dikatakan Rani dulu, “tentu, setiap orang tidak ada yang mau merasakan sedih, makanya jangan pernah mau berkutat dengan kesedihan, sesedih apapun keadaanmu cobalah untuk tetap tersenyum dan sugestikan kepada dirimu sendiri bahwa kamu pantas untuk tidak memilih sedih dalam daftar hidupmu.”.Dalam hatiku bertekad, inilah hidup banyak warna , sedih, senang bersatu membentuk simfoni yang indah.Aku tak akan pernah menyerah hanya karena aku sedih dan terpuruk.Aku gunakan sedih itu sebagai batu loncatan menuju kegembiraan sejati bersama orang-orang yang aku sayangi. “Terima kasih sahabat, kamu selalu ada untuku walaupun kamu tidak disampingku sekarang ini.” Sugesti positif yang mengawali hidupku di perantauan ternyata sangat manjur.Sekarang, hidup kami berempat berkecukupan, aku kuliah lagi di kampus yang sama dan betapa terkejutnya aku, ternyata ayah dan ibuku kembali bersatu.Dua adiku melanjutkan sekolah dengan baik. Terima kasih sekali lagi untukmu sahabat, nasihatmu tentang “sugesti positif” sangat merubah hidupku.Mulai sekarang tidak ada alasan bagiku untuk tidak berfikir positif.Berkat dirimu, aku mampu menyelamatkan hidupku dan juga hidup keluargaku.

*Penulis adalah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling islam

“Bebaskan dirimu dengan BUKU”. ( Bung Hatta )

Edisi XLII, Juni 2013

17


Puisi Sajak-sajak : Dedy Kasih Hariyono** Usai Menangis Usai menangis jangan pastikan duka Dari sisa usiamu yang semakin lelah, Pandanglah wajahmu dicermin itu Ada dinamika hidup tak tentu Usai menangis, bernyanyilah meski tanpa lirik yang jelas Dari lagu tambalan khas. Jangan sesali undangan sunyi Di awal musim sepi Sesekali belajarlah menari di cuaca negeri Yang semakin tak tentu ini. â&#x20AC;&#x153;Diujung Jalanâ&#x20AC;? oleh : Arivia Nujumul Hayat** Aku masih diambang baik Berlari-lari kecil, kadang berjinjit Mimpi, kencang berdetak Enggan menghampiri bosan Aku masih sanggup mengulum senyum menyibak rimbunnya tantangan berjalan sepanjang keteduhan masih melamun rupanya diujung jalan: kau menjemputku aku, diambang baik dan masih sanggup tersenyum

18

Edisi XLII, Juni 2013

Kota yang Kaya Di tepian jalan kota sebelum malam kian larut Ku saksikan antrean kendaraan Di antara deretan cafĂŠ bertingkat yang sesak Oleh tamu-tamu yang di bingkai kaligrafi kota Gerimis sedikit mengangu aroma tungku dan keppulan asap arang, Lantaran di buru bayang menu blasteran Sepi menarikku pada cerita yang lain Namun membawa pada sudutsudut luas kesetian, Di kota kaya ini kita harus meracik mimpi. Yogyakarta,2013 *Penulis nongkrong dijurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Su-Ka jogja. Menjabat sebagai Koordinator Kajian Sastra di Komunitas Sastra Rudal jogja. **Penulis pegiat sastra di Migas (Malam Minggu Sastra) LPM RHETOR


Resensi

Berpikir dan Berijwa Besar (The Magic Of Thinking Big) oleh Ali Masduki

Hidup adalah pilihan dan perjuangan. butuh strategi dan tindakan yang untuk menjadi pribadi yang tangguh dalam menempuh alur menuju istana kesuksesan. Keberhasilan serta prestasi adalah impian setiap manusia. Keberhasilan merupakan tujuan dalam hidup ini, namun tidaklah mudah untuk meraih keberhasilan itu sendiri butuh keyakinan dan kepercayaan serta perjuangan yang besar untuk meraih semua itu. “ Percayalah dengan benar-benar percaya bahwa anda akan dapat berhasil,maka andapun akan berhasil”. Berfikir ragu maka anda akan gagal, berfikir menang maka anda akan tampil sebagai pemegang juara. Setiap orang adalah produk dari apa yang dipikirkannya sendiri, karenanya otak diperlukan suatu proses konstruktivitas yang melahirkan pola piker yang rasional dan positif. Sehingga dapat menciptakan manshed yang dapat membangun kepribadian yang tangguh yang bersifat optimistic-kreatif serta berjiwa besar. Percayalah akan hal-hal besar yang membawakan berjuta motivasi dan menujukkan jalan pencerahan menuju singgasana kesuksesan. Bangun strategi, Luncurkan serangan sukses dengan mengusung kepercayaan jujur dan ketulusan bahwa kita dapat meraih keberhasilan. “Membangun kepercayaan dan menghancurkan ketakutan” Ketakutan itu nyata, kebanyakan ketakutan yang dihadapi saat ini bersifat psikologis, kekhawatiran, ketegangan, rasa malu, panic dan minder, semua itu berakar dari imajinasi negative yang membentuk file baru dalam otak yang langsung mempengaruhi alam bawah sadar. “Berfikir dan bermimpi secara kreatif” Percaya sesuatu dapat dilakukan dan melicinkan “pencerahan” jalan untuk solusi yang kreatif. Percaya sesuatu tidak dapat dilakukan adalah cara berfikir yang distruktif. Kepercaan melepaskan kekuatan kreatif, sedangkan ketidakpercayaan menjadi rem bagi berfikir kreatif. Yakin dan percayalah maka kita pun akan mulai berfikir secara konstruktif. “Dimana ada kemauan disitu ada jalan”. Percayalah semua dapat dilakukan” ini adalah rangkaian kalimat sederhana yang mejadi acuan dasar untuk membentuk karakter yang kritis optimis serta membentuk pola piker yang kreatif-inspiratif. “berfikir Sukses jangan berfikir gagal” Jika kita dihadapkan dengan sesuatau yang menantang berfikirlah “saya akan menang” bukan saya akan kalah. Karena setiap tindakan yang akan kita lakukan tidak akan pernah lepas dari intervensi pikiran. Berfikir sukses mengkondisikan pikiran kita untuk menghasilkan planning yang menghasilkan keberhasilan. Begitupun sebaliknya, Berfikir gagal mengkondisikan pikiran yang melahirkan kegagalan. Buku ini bersifat inspiratif dengan alur penyajian disertai dengan sejarah perjalan orang-orang sukses dan contoh-contoh sederhana yang kreatif-inspiratif, mudah dipahami dan membuat pembaca seperti sedang membaca novel. Setelah membaca dan menelaah, buku ini sangatlah pantas dan patut diapresiasikan untuk semua kalangan, khususnya mahasiswa dan dosen, demi terciptanya insan akademis yang berjiwa besar, berkepribadian tangguh nan berfikir kraetif-inofatif-krits serta mampu memberikan pencerahan bagi bangsa ini. Orang bijaksna akan menjadi majikan dari pikirannya & Orang bodoh akan menjadi budak dari pikirannya.[] kreatif

Edisi XLII, Juni 2013

19


Karikatur

*by : Arivia Nujumulhayat

Kerendahan seseorang diketahui melalui 2 hal : Banyak bicara tentang hal yang tidak berguna, dan bercerita padahal tidak ditanya (Plato)

20

Edisi XLII, Juni 2013


Buletin News RHETOR Edisi XLII