Issuu on Google+

NewsRhetor

RHETOR

Media Komunikasi Mahasiswa

Edisi XLIII, Januari 2014

Tajuk : Wajah baru UIN Kampus : Lembaga Penelitian UIN, bukan untuk Mahasiswa Rhetorika : Tentang Sepasang sandal Ulas : Hati-Hati, RHETOR Masih Hidup !

lpmrhetor.blogspot.com


Salam Redaksi

S

alam persma‌!

Setelah melalui era organisasi yang cukup sulit, era yang penuh perjuangan. Akhirnya RHETOR dapat beranjak lagi kepermukaan. Ada banyak perjuangan yang dapat kami hasilkan di tahun 2013 lalu. Perjuangan yang banyak menguras tenaga, biaya serta mental. Salah satu yang kami anggap sebagai keberhasilan ialah, kembali berjalannya roda organisasi yang sebelumnya sempat tak ditemukan rimbanya. Ya, RHETOR sudah melakukan penyegaran Organisasi dengan dilaksanakannya Musyawarah Besar bulan September lalu. Keberhasilan berikutnya ialah, terlaksananya salah satu agenda Kaderisasi, yang beberapa tahun terakhir, dilupakan oleh Kaum-Kaum sepuh. Bulan Nopember lalu, RHETOR sudah menuntaskan agenda tersebut dengan melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik Dasar (DIKLAT). Kaliurang menjadi saksi bisu terlaksananya agenda tersebut.hehe. Terakhir adalah, hadirnya Bulletin ini di tangan pembaca. Berkat perjuangan awak-awak redaksi, persembahan berharga ini dapat kami sajikan dengan penuh kebanggaan. Ya, tiga capaian diatas adalah kado Tahun Baru paling berharga bagi kami Keluarga Besar Rhetor, terlebih bagi pembaca sekalian.

Januari 2014

Daftar Isi 3. Tajuk : Wajah baru UIN 3. Surat Pembaca : TU Fakultas larang mahasiswa lupa 4. Kampus : Lembaga Penelitian UIN, bukan untuk mahasiswa 6. Kampus : Rendahnya Gairah Penelitian di UIN Suka 8. Fakultas : Proyektor Ngambek dan Kursi Kurang, Salah Siapa ? 9. Fakultas : Mahasiswi Fakultas Dakwah, Ke artisartisan 10. Rhetorika :Tentang Sepasang Sandal 12.Ulas : Hati-Hati, RHETOR Masih Hidup 14. Sketsa :Irmalia Nurjanah 15. Cerpen : Kyai 18. Puisi : Syair-syair Muchlas Jaelani 19.Galeri 20.Karikatzur

Selamat membaca, sajian sederhana kami.

Lembaga Pers Mahasiswa

RHETOR

RHETOR

News Rhetor diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) RHETOR FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pelindung : Dr. Waryono Abd Gafur M.A, Penasehat : Dr. Hj. Sri Harini M.Si, Pembina : Nanang Mizwar Hasym S.Sos M.Si, Pemimpin Umum: Ahmad Hedar, Pemimpin Redaksi : Fikry Fachrurrizal, Redaktur Pelaksana : Nur Anisa Sholihah, Arivia Nujumulhayat, Co. Reporter : Fuad, Megy, Co. PSDM : Suhairi, Staf Redaksi : Amita Meilawati, Jiddatun Nihayah, Fullah Jumaynah, Masduki, Astry Cahyuningsih, Retno Dwi N, Desain Sampul : Moh. Latif Aif, Tata letak : Soe. NewsRhetor mengundang semua civitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk mengirimkan karya-karyanya ke alamat redaksi LPM RHETOR. dan bagi pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan pemberitaan NewsRhetor, dapat menuliskan hak jawabnya, atau datang langsung ke kantor redaksi LPM RHETOR guna berdiskusi lebih lanjut.

Wartawan NewsRhetor dibekali tanda pengenal dalam setiap peliputan dan tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun.


NewsRhetor Edisi XLIII

Tajuk

Wajah Baru UIN Selamat Tahun baru 2014 Kampus kita nampaknya sudah pasang badan menghadapi tahun baru, semester baru, tahun ajaran baru. Memoles diri untuk memikat hati calon-calon mahasiswa baru. Cat baru. Terpikatkah mahasiswa lama? entahlah. Di satu sisi kita bisa berbicara etika mengenai hal tersebut, tapi di sisi lain agak terasa seperti jualan. Layaknya jualan, kita siaga menampilkan yang layak kita tampilkan, salah satunya: fisik. Semoga di lain waktu, ketika mempercantik luar, diperhatikan pula listrik kampus yang terkadang ngadat tanpa alasan yang jelas, fasilitas belajar mengajar dan iklim akademik didalamnya. Jika kita mau jujur, iklim akademik yang dicita-citakan Tri Dharma Perguruan Tinggi nampak masih jauh digapai, khususnya di kampus UIN Suka. Memang kita tidak ingin mengeneralisir semua orang melalui pernyataan ini, bukan pula menghakimi. Karena kenyataan masih ada ditemukan kegiatan pendidikan dan pengajaran yang masih berwujud pengajian. Masih hadir karya ilmiah, besar atau kecil, yang ditulis serampangan. Lalu, sudah sejauh mana maksimalisasi pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan kampus?.

Secara formal, UIN harus membuat kebijakan yang lebih dapat memancing mahasiswanya aktif dalam kegiatan akademik. Seperti menetapkan regulasi penelitian yang lebih pro-mahasiswa, dengan memberikan ruang yang lebih pada mahasiswa, agar tak hanya sebagai pembantu dosen dalam penelitian. Juga, apresiasi yang tinggi dan kontinue terhadap mahasiswa yang telah dan selalu menghasilkan karya penelitian maupun karya tulis populer di media massa. Secara moral, mahasiswa, juga harus menjemput bola agar kita tidak hanya teriakteriak di balik megaphone menuntut kebijakan ini-itu, menggerutu di status facebook dengan mengkritik kebijakan yang begini-begitu. Parahnya lagi, mayoritas mahasiswa UIN tetap berkutat dengan akutnya penyakit '' Diam ''. ya, mungkin diam adalah Emas bagi mereka. Kita juga harus bergerak mandiri, motekar, mendahului “orang tua� yang memang ambat karena kehabisan tenaga barangkali. Mungkinkah, di tengah yang serba baru, masih ada yang benar-benar baru?. Selamat Tahun Baru.[Redaksi]

Surat Pembaca TU Fakultas Dakwah larang Manusia menyakitkan hati saya. Mereka telah melakukan (Mahasiswa) Lupa! diskriminasi terhadap diri saya. Hak saya untuk Tepat pada hari Kamis, 2 Januari 2014, ikut ujian dan mendapatkan surat keterangan Jam 13.00 saya ke kampus untuk mengikuti telah dirampas mereka. Padahal, teman saya di Ujian Akhir Semester (UAS), dengan Mata fakultas lain, ketika lupa membawa KRS, mereka Kuliah Sosiologi Komunikasi. Sial bagi saya, masih diberikan Surat Keterangan dari TU agar karena lupa membawa Kartu Rencana Studi bisa ikut Ujian. (KRS). Saya pun bingung; pulang, waktu sudah Saya pun bertanya pada diri sendiri: mepet, tidak pulang, saya tak bisa ikut ujian. apakah LUPA itu kesalahan yang besar, sehingga Akhirnya, saya meminta surat saya tak diberikan surat keterangan untuk keterangan ikut ujian ke Tata Usaha (TU) agar mengikuti UAS?. Sungguh, tuhan saja saya tetap bisa ikut Ujian. Sialnya lagi, TU tak memaklumi makhluknya yang benar-benar memberikan surat keterangan tersebut, LUPA. Mengapa makhluknya yang hanya alasannya pihak Fakultas sudah tak berposisi sebagai Tata Usaha tak demikian?. mengeluarkan surat keterangan lagi. Saya lantas Karena sudah terlanjur, Saya harus melewatkan memberanikan diri masuk ruangan untuk ikut satu materi dan tak bisa ikut ujian. Lewat surat ujian (walau tanpa KRS dan Surat Keterangan ini, Saya hanya ingin menuntut hak saya; tetap TU). Sampai ruangan, pengawas UAS pun, tak bisa ikut ujian. Soal nilai, itu terakhir. Ada pada mengijinkan saya ikut ujian. kebijaksanaan dosen. Bagi saya, petugas UAS telah bertugas sesuai prosedur. Tetapi, cara TU yang tak Mohammad Rusydi memberikan surat keterangan, sangat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Januari 2014

03


Kampus

NewsRhetor Edisi XLIII

Lembaga Penelitian UIN, Bukan untuk Mahasiswa Oleh; Ahmad Hedar '' Idealnya, Pembinaan penelitian melalui sebuah lembaga yang resmi dapat menjangkau seluruh civitas akademika. Namun, di UIN Sunan Kalijaga lembaga tersebut hanya untuk para dosen ''. Selasa (12/13), Penelitian yang menjadi salah satu pilar dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, hingga saat ini belum diterapkan secara menyeluruh oleh pihak berwenang di Uneversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta. Terbukti, Lembaga Penelitian (LEMLIT), yang sekarang konversi menjadi Pusat Penerbitan dan Penerbitan (PUSLITBIT), belum menyentuh ruang-ruang kemahasiswaan. Dalam perjalanannya, lembaga tersebut hanya diselengarakan khusus bagi para dosen. Hal tersebut tentu telah mencederai amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi . “Saat ini memang susah melihat iklim Penelitian di lingkungan mahasiswa UIN SUKA, Sebab, lembaga yang ada saja (PUSLITBIT), tak mampu melaksanakan peran dan fungsinya. Ujar Imam Nabawi, Mahasiswa semester VII Management Dakwah. Bahkan, mahasiswa yang juga menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dijurusannya tersebut, menganggap bahwa selama ini PUSLITBIT memang terfokus terhadap para dosen. Sedangkan terhadap mahasiswa, lembaga tersebut belum pernah mensosialisasikan keberadaannya. '' ya, kesannya memang tak peduli terhadap mahasiswa, sosialisasi aja belum pernah mereka lakukan, '' tuturnya sambil menyeruput Es Tea di kantin F.D.K Terkait adanya disfungsi penggunaan PUSLITBIT, Dewan Mahasiswa Universitas

04

(DEMA-U) menganggap bahwa implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi lewat salah satu pilarnya yakni Penelitian, dilaksanakan setengah hati oleh UIN SUKA. K e b e r a d a a n PUSLITBIT saat ini hanya dijadikan sebagai alat proyek bagi para oknum di lembaga tersebut. '' selama ini kan PUSLITBIT berjalan, kalau ada proyek,'' ujar B a d r i y a n t o , Wa k i l DEMA-U. Saat ditemui News Rhetor, Mahasiswa yang akrab disapa Badri tersebut, mengharapkan agar PUSLITBIT kedepan lebih menjangkau pada sebagian besar mahasiswa. Sebab m e n u r u t n y a , pembinaan penelitian secara intens, akan menunjang terhadap prospektifitas akademik mahasiswa, '' Jadi tidak hanya untuk dosen, mahasiswa pun harus dilibatkan, '' Tuturnya Di lain pihak, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (KAPUSLITBIT), Munawwar Ahmad menganggap bahwa penggunaan Lembaga dan pembinaan Penelitian yang hanya di selenggarakan khusus untuk Dosen, memang benar adanya. sebab menurut Munawwar, Dosenlah yang kemudian bertanggungjawab mentransformasikan terhadap Mahasiswa lewat matakuliah yang diampu. '' Seluruh dosen yang mengajar di UIN SUKA sudah kita bina sejak awal masuk. jadi, pembinaan penelitian di tingkatan mahasiswa adalah tugas para dosen

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

pengajar,'' ujarnya di kantor PUSLITBIT. KAPUSLITBIT yang juga Dosen di Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin tersebut sebenarnya turut prihatin dengan lemahnya iklim penelitian di tingkatan Mahasiswa, yang diperparah dengan minimnya fasilitas penelitian yang dimiliki UIN SUKA. Tak dapat dipungkiri bahwa lembaga penunjang penelitian, macam PUSLITBIT, maupun Lab yang ada di tiap fakultas memang amat minim fasilitasnya. '' Fasilitas penunjang memang sangat minim, kita saja yang di pusat, kadang juga pinjam ke laboratorium terpadu, ‘' keluhnya. Dana yang minim Munawwar menambahkan, bahwa Dalam hal pendanaan, Alokasi Dana yang di kucurkan ke PUSLITBIT juga cukup minim, sebab sumber dana yang dimiliki oleh PUSLITBIT tidak mengambil dari Sumbangan Penunjang Pendidikan (SPP) dan Dana Penunjang Pendidikan (DPP) Mahasiswa, melainkan dari Badan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). BOPTN sendiri diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang di proyeksikan khusus untuk Perguruan Tinggi Negeri. Wa l a u p u n d e m i k i a n , m e n u r u t munawwar, dana dari APBN tersebut tetap tak mencukupi terhadap jumlah kebutuhan PUSLITBIT yang harus membina kurang lebih 500 Dosen. '' Dana pembinaan untuk Dosen saja sudah amat minim, apalagi untuk memfasilitasi seluruh mahasiswa UIN, '' Tuturnya. Maksimalisasi Tak maksimalnya penumbuhan iklim penelitian di UIN SUKA memang di latar belakangi dengan banyak factor, baik dari apatisme mahasiswa, disfungsi lembaga, minimnya fasilitas hingga dana pembinaan.

Kampus Namun, hal tersebut sejatinya tak menjadi halangan untuk tetap menggalakkan iklim penelitian di tingkatan mahasiswa. Caranya tentu dengan memaksimalkan fungsi dosen dan Lab di tiap-tiap jurusan, hal ini seperti yang di paparkan oleh Romel Maskury, Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U). ''Penelitian mandiri sulit dilakukan di tingkatan mahasiswa. Namun, penumbuhan iklim tersebut wajib dilaksanakan, sesuai dengan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Langkah praksisnya, tentu dengan mengoptimalkan sebagian besar Mahasiswa dalam setiap gerakan penelitian yang dilakukan Dosen, '' Paparnya, saat di temui News Rhetor di kantor SEMA-U. Lebih lanjut Romel mengharapkan, agar pihak PUSLITBIT dapat menjadi inisiator, guna menggerakkan badan-badan pengembangan penelitian yang ada di fakultas, seperti Lab dan Jurnal jurusan. Agar, propaganda gerakan penelitian kepada mahasiswa dapat terkoordinir dengan rapi, '' tiap jurusan di UIN kana ada Lab dan Jurnalnya, seharusnya PUSLITBIT mengkoordinir itu semua dengan badan dan struktur yang jelas, agar dalam pelaksanaannya dapat efektif dan tidak tumpang tindih, '' ujarnya, sambil menghisap Rokok. Sementara itu, Munawwar mengakui bahwa selama ini badan-badan khusus di jurusan yang menangani gerakan penelitian memang di luar pengawasan PUSLITBIT, karenanya sebagai bentuk evaluasi dan optimalisasi penumbuhan iklim penelitian di tingkatan mahasiswa kedepan, pihak PUSLITBIT akan segera memanggil badan terkait, guna membahas pola pengkoordinasian lembaga penelitian di pusat (PUSLITBIT) dengan tiap-tiap jurusan (Lab, jurnal, dsb) dalam satu garis koordinatif, ''untuk memaksimalkan kinerja kami di pusat, kita akan usahakan membentuk badan koordinasi dengan lembaga yang sudah ada di tiap jurusan,'' Pungkasnya. []

Redaksi NewsRhetor menerima kritik dan saran. Silahkan kirim ke alamat redaksi LPM RHETOR atau email : lpmrhetor@gmail.com. sertakan identitas lengkap Januari 2014

05


Kampus

NewsRhetor Edisi XLIII

Rendahnya Gairah Penelitian di UIN Suka Oleh; Fikry Fachrurrizal & Suhairi “Saat UIN bercita-cita menjadi kampus terkemuka, cita-cita Tri Dharma Perguruan Tinggi justru dikebiri”

Sarjoko/doc.rhetor

Undang Undang Pendidikan Tinggi No 12 tahun 2012 menjelaskan, bahwa seluruh Perguruan Tinggi (PT) wajib melaksanakan tiga tujuan utama, yakni Tri Dharma PT. Ketiga Dharma tersebut adalah, Pengembangan Akademik, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta melalui civitas Akademikanya adalah salah satu kampus yang memiliki tanggung jawab tersebut. Dalam melaksanakan amanat Tri Dharma, UIN SUKA membentuk beberapa badan penunjangnya. Untuk penunjang pengembangan Akademik, UIN SUKA memberikan wewenang khusus pada tiap-tiap jurusan, yang di koordinasi langsung oleh fakultas. Di dalam fakultas sendiri ada badan yang menangani persoalan Akademik, yakni Wakil Dekan I ( WADEK I ) Bidang Akademik. Sementara, untuk Penelitian dan Pengabdian masyarakat, UIN SUKA memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), yang mengkoordinir lembaga dibawahnya seperti Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLITBIT) serta Pusat Pengabdian Masyarakat (P2M).

06

Namun, meskipun lembaga tersebut sudah ada, iklim Akademik dalam konteks Penelitian hingga penulisan karya ilmiah, civitas akademika khususnya mahasiswa, masih sangat rendah. Berdasarkan survey yang dilakukan RHETOR terhadap beberapa mahasiswa UIN SUKA, 70 % diantaranya belum mengetahui cara pembuatan karya ilmiah yang baik dan benar. Ini penting karena karya ilmiah adalah wujud akhir atau fisik dari sebuah penelitian. Fenomena ini akan berbanding lurus jika kita kaitkan dengan keluhankeluhan dosen perihal budaya copy-paste hasil googling di kalangan mahasiswa. (Baca; News Rhetor edisi XLII, Juni 2013). Zamhari, Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) mengungkapkan, bahwa iklim Akademik khususnya penelitian di kalangan mahasiswa UIN masih sangat rendah. Aktivitas-aktivitas yang bernafaskan kegiatan ilmiah seperti membaca, menulis hingga menulis makalah menurutnya belum membudaya. “Jangan dulu jauh ke penulisan karya ilmiah, masih banyak mahasiswa yang belum bisa menulis artikel (karya ilmiah populer, –red), ” tambah mahasiswa yang juga takmir Masjid Sunan Kalijaga ini. Namun, fenomena tersebut justru dimaklumi oleh Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi (WD I FST), Susy Yunita Prabawati. Susy mengungkapkan, bahwa hal tersebut dikarenakan mahasiswa tidak bisa melaksanakan Tri Dharma PT, termasuk penelitian, menurutnya penelitian itu hanya tugas dosen. “ kalau pun bisa, itu kaitannya dengan tugas akhir atau skripsi ”, ujarnya.

Januari 2014


Kampus

NewsRhetor Edisi XLIII

Ketika dimintai pendapatnya mengenai peran PUSLITBIT, Dosen Program Study (prodi) Kimia tersebut menyatakan bahwa PUSLITBIT hanya bertanggung jawab untuk fasilitator dananya, sedang eksekutornya adalah di tiap-tiap fakultas. '' Jika ada dosen atau kelompak tadi yang ingin melakukan penelitian, maka harus mengajukan dana kepada PUSLITBIT.'' Tuturnya. Hal senada juga diungkapkan WD 1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Musthofa. Menurutnya, yang manjalankan penelitian adalah fakultas melalui dosendosennya, Lemlit hanya memfasilitasi dan menentukan regulasi. Ditanya mengenai penugasan karya ilmiah berupa makalah yang kurang maksimal dalam pengoreksian oleh dosen, Musthofa menyatakan bahwa sejauh pengamatannya dosen di lingkungan FDK selalu melakukan koreksi. “

Koreksi dimulai dari pengamatan, apakah makalah ini hasil plagiasi, copy paste atau googling, kemudian baru penilaian kualitas dan kumulatif , � tambahnya. Di akhir wawancara, Mustofa mengutarakan harapannya, bahwa dalam iklim penelitian agar ada sebuah sistem yang lebih menghargai peneliti. Memberikan peneliti untuk mengembangkan keilmuan fakultas di bidangnya. Sementara itu menurut Zamhari, disiplin dari hal kecil seperti dalam membuat makalah dan disiplin mengoreksi makalah menjadi kunci dari awal tumbuhnya iklim penelitian.[]

Celetuk Cental-Centil>>>>

RHETOR RHETOR

Lembaga Pers Mahasiswa

Cental ; Pie kabare cuk, lama gak nongol? Centil ; oh, tentu masih waras Tal Cental ; uda ngerjain SPJ belum? Centil ; Ngapain ngerjain??. SPJ kan Cuma Mitosnya birokrasi. Kamu uda tau gak sih bedanya Rokok sama Birokrasi? Cental ; emang apa bedanya til, bikin penasaran aja?? Centil ; jadii,, kalo Rokok itu kan Dihisap, tapi kalau Birokrasi biasanya Menghisap. Cental ; hwahwahhhaaaa (ngakak, sambil guling-guling di pelataran warung BURJO). Centil ; (ups, kebablasan deh, entar ketahuan yang lain malah di DO lagi)

Januari 2014

Selamat Datang Para Anggota Magang di Keluarga Besar LPM RHETOR Selamat bergabung di pintu perjuangan RHETOR. Sarjoko, Tri junita Sari,Moh. Roihan Asrofi, Eko Sulistyono, Nelis Restine Fajrin, Amin Aulawi, Anindia Eka Puspita, Acep Adam Muslim, Riyan Agus Prasetyo, Ainun Salsabila, Muhammad Hadi, Hera Selviani, Shahibul Umam. ==================================================

Selagi bisa, jangankan Tinta, Darah pun harus siap kalian goreskan. lpmrhetor.blogspot.com

07


NewsRhetor Edisi XLIII

Fakultas

Proyektor Ngambek dan Kursi Kurang, Salah Siapa ? Oleh : Arivia Nujumul Hayat

Rhetor. Selasa (12/13). Kejadian mahasiswa mengangkat kursi sebelum masuk kelas atau proyektor yang mati saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, sering kita jumpai di lingkungan kelas Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Minimnya kursi yang ada yang diperparah dengan membludaknya jumlah mahasiswa fakultas menjadi penyebab utama kejadian tersebut. Sementara fasilitas seperti proyektor memang sudah lama tidak diganti. Arif Maftuhin, Dosen Fakultas Dakwah memprihatinkan hal tersebut. ia dengan dosendosen lain mengaku sudah merasa bosan melaporkan mengenai kekurangan kursi ataupun rusaknya proyektor dalam kelas ke pihak fakultas. walaupun ia mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan fenomena rusaknya proyektor ataupun kekurangan kursi. Ia beranggapan bahwa hal ini menjadi tantangan bagi dosen, dengan atau tanpa proyektor ia bisa menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan baik dan menyenangkan. “ Buktinya saya jarang menggunakan proyektor, ” tuturnya. Berbeda lagi dengan tanggapan dari Fita,

08

Mahasiswi semester satu jurusan KPI yang pernah mengalami kejadian ngambek nya proyektor kelas. Ia menceritakan bahwa rusaknya proyektor menyebabkan kekecewaan terhadap mahasiswa yang sudah susah payah membuat presentasi. “ kasian temanteman saya mbak, udah buat presentasi semalaman dan nyampe kelas, ternyata proyektor rusak”, ujarnya. Meskipun tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab mengenai rusaknya fasilitas kampus, ia berharap pihak fakultas segera memperbaiki kerusakan itu. Menanggapi pendapat dari dosen ataupun mahasiswa, Abdul Majid, salah satu staff rumah tangga Fakultas Dakwah dan Komunikasi menjelaskan, bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kekurangan kursi ialah jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan kuota ruangan kelas tersebut, dosen yang menggabungkan kelas juga menjadi salah satu penyebabnya. Disinggung mengenai pihak yang yang bertanggung jawab dengan kekurangan fasilitas kelas, Majid menjawab bahwa kekurangan yang ada pada fasilitas kelas merupakan tanggung jawab Universitas. Pihak rumah tangga fakultas hanya melaporkan apa saja yang kurang ataupun dibutuhkan fakultas, kemudian dilaporkan kepada PAU. Sembari memberikan data fasilitas yang kurang dan rusak kepada crew news rhetor, ia menjelaskan sudah mengajukan surat kepada pihak universitas sejak lama dan belum ada tanggapan. “Mau beli lampu buat ganti saja belum diperbolehkan universitas,” pungkasnya. []

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

Fakultas

Mahasiswi Fakultas Dakwah, Ke artis-artisan Oleh: Nur Annisa Solihah Rhetor, kamis (14/13). Maraknya mahasiwi UIN SUKA khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang tampilannya berlebihan, membuat icon fakultas lebih-lebih kampus islam ini menjadi terberai. Penampilan modis dengan celana ketat ditambah Fashion kerudung yang muter-muter adalah pemandangan rutinan yang bisa kita saksikan tiap hari. Demam artis menjadi indikator utama, penampilan mereka menjadi styles. Pemandangan tersebut sontak menimbulkan tanggapan prihatin dari berbagai pihak. Bagi hidung belang, tentu pemandangan tersebut adalah hal yang Aduhai, namun, bagi mereka yang prihatin akan kondisi life style mahasiswa, hal tersebut adalah sebuah pemandangan yang menjijikkan. Sebab, UIN adalah kampus islam, lebih-lebih di Arivia fakultas Dakwah. Sri Harini, adalah salah satu dosen yang turut prihatin akan kondisi tersebut, menurutnya mereka sudah melanggar etika bernampilan di UIN. ''Pihak kampus sudah memberikan peraturan yang sangat jelas dalam hal berpenampilan, mungkin mahasiswi yang demikian masih acuh terhadap peraturan itu,'' ujarnya. Soal teguran langsung, Dosen di jurusan PMI tersebut mengungkapkan, bahwa dirinya pernah menjumpai seorang mahasiswi yang memakai legging sebagai bawahannya, lantas dia mencubit paha mahasiswi tersebut, bahkan

menegurnya, “jangan ulangi lagi memakai celana seperti ini mbak, ke kampus bukan untuk pamer bentuk paha. � Papar Dosen yang juga menjabat sebagai WD III bidang kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Pengakuan mahasiswa pun demikian. Sebenarnya mereka risih jika melihat mahasiswi yang berpenampilan sok ke artis-artisan. '' Saya sendiri memang merasa risih dengan pemandangan modis tersebut, apalagi dalam perspektif etika masyarakat dan Agama, celana ketat, pakaian transparan serta kerudung yang muter-muter itu gak baik, '' ujar Taufiqurrahman, Mahasiswa sekaligus Aktivis Jam'iatuddakwah al islamiah UIN SUKA tersebut. Untuk mengentaskan persoalan tersebut, Sri harini menuturkan bahwa semua soal kesadaran bersama. Entah dosen Nujumulhayat terlebih mahasiswi, '' kampus bukanlah tempat untuk unjuk gigi seperti artis yang siap pentas di atas panggung. Dosen pun harus tegas untuk tidak memperbolehkan mahasiswi yang berpenampilan berlebihan, '' tuturnya. Bahkan jika terpaksa, Pihak kemahasiswaan akan mengambil sikap tegas untuk mengatasi hal ini, '' untuk mentertibkan mahasiswi-mahasiswi yang demikian, maka, terpaksa akan diberlakukan kewajiban memakai rok ke kampus.'' Tegasnya.[]

Keluarga Besar LPM RHETOR mengucapkan : Selamat atas di wisudanya Afni Khafsah ( Pemred Rhetor masa 2011/2012) dan Megi T.Putra (Redaktur Pelaksana Rhetor), Cepatlah berbakti kepada rakyat. Januari 2014

09


NewsRhetor Edisi XLIII

Rhetorika Tentang Sepasang Sandal oleh; Ahmad Hedar

'' Saat Sepatu menjajah kaki, maka, sang Sandal_lah pembebasnya'' . Beberapa pekan lalu, saya teringat sebuah kejadian di dalam kantor seorang dosen, kebetulan dia juga salah seorang doctor Universitas islam terkenal di yogyakarta . Tak perlu saya katakan siapa nama aslinya, Sebutlah dia si fulan. Awalnya saya ingin menemui dia dengan Niat mau menyelesaikan sebuah masalah akademik. Namun, tiba- tiba si fulan tersebut menampar saya dengan kata-katanya yang bak kilatan halilintar. Penyebabnya adalah saya memakai sandal ke ruangannya. Fulan bilang “ Anda mahasiswa?” saya mengiyakan. Fulan kembali bertanya “ sudah baca TATIB akademik?” Saya kembali mengiyakan. Tak berhenti sampai disitu, dia lantas menyanggah, “Lah, sudah anda baca tatibnya, dan tahu aturan di dalamnya, kenapa anda langgar?. Sudah jelas kan, kalau memakai sandal ke kampus apalagi masuk ruangan dosen, itu sebuah pelanggaran. Ujarnya, dengan pongah. saya terdiam sambil berucap dalam hati ('' ini ko' tiba-tiba saya yang di interview, padahal niat awalnya adalah, saya yang mau interview dia''). belum puas sampai disitu, dia melanjutkan kata-katanya, “Pak, Bu, coba lihat! Benar gak, ini etika seorang mahasiswa?”. Dengan nada santai agak mencibir, dia berujar ke sesama kaumnya waktu itu. sambil terdiam, dalam hati saya berucap lagi, ('' si fulan, ternyata serius mau menghabisi saya ni). “biasa, aktivis jalanan?, ” lagi-lagi, dengan nada mencibir, sebuah suara tanpa permisi muncul dari kawan si fulan. Karena saya juga punya batas

10

kesabaran, dan rasanya sudah cukup untuk terus terdiam. Lebih-lebih, kata demi kata yang mereka ungkapkan sudah lebih tak beretika dengan posisinya sebagai orang pintar dan berpangkat sarjana. Agak pelan, saya lantas berujar. “ Bu, Pak, maaf kalau saya terpaksa harus ikut bicara. Sebenarnya gini, dalam kamus dan sejarah budaya kita, yang namanya sepatu itu gak ada. Bukankah itu (sepatu) hanya adopsi dari budaya asing (Belanda), yang sengaja ditanamkan pada bangsa kita untuk membuat sekat dan stratifikasi social antar kaum pribumi. Serius, saya protes! Sebab, menghadap Tuhan saja kita harus menanggalkan sandal bahkan sepatu, masa menghadap sampean yang hanya manusia harus pakai sepatu?”. ujar saya, sambil tersenyum. “ Heh, ini kan kantor kampus, bukan masjid?.” Dengan nada tinggi, dia menimpali. “ Lah, Justru karena ini hanya kantor kampus, seharusnya bisa lebih humanis kan!. Tegas saya saat itu. Sudah- sudah, lebih baik kamu keluar sekarang, kalau mau kesini lagi, tetap harus patuhi aturan TATIB. Entah. Mungkin karena posisi dia sudah mulai tak rasional untuk menyanggah, hingga seolah tak ada kata lagi untuk dia lemparkan selain kalimat apologi berupa usiran. ### Fenomena diatas mungkin terkesan agak dramatis. Tapi, itulah sebuah realitas yang sering kita jumpai di lingkungan kampus. memakai sandal adalah perkara yang dianggap sebagai perilaku tak beretika dibanding

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

memakai sepatu. Konstruksi budaya dan style kaum Kolonial tetap dilanggengkan oleh (mereka) kaum borjuis kampus. padahal, sandal sangat erat kaitannya dengan masyarakat sebelum kaum Kolonial dan bourjuasi asing datang. Umumnya, pemakai sepatu selalu diidentikkan dengan orang-orang kantor yang berkantong tebal, memiliki setelan pakaian yang serba necis, rapi, berbahasa begitu tertata dan santun, berjalan dengan penuh gaya dan serba dihargai. Begitulah indikator yang menjadi mainstream masyarakat kita. Padahal, banyak di antara orang-orang bersepatu itu yang lebih kotor moralnya ketimbang seorang yang hanya memakai bersandal. Memang banyak pejabat yang bersepatu, tapi banyak juga penjahat yang bersepatu. Entah sejak kapan peradaban manusia mulai dipengaruhi oleh sepatu, maksudnya, manusia tampak lebih beradab dan sopan bila memakai sepatu, dan siapa juga yang menanamkan pendapat seperti itu? Semua penduduk dunia tiba-tiba menyepakati bahwa sepatu menyimbolkan kerapian. Lalu, semua sekolah, kampus dan kantor kemudian membuat aturan wajib mengenakan sepatu dan larangan mengenakan sandal. Semua mahasiswa didisiplinkan untuk memakai sepatu di dalam kampus. kemudian menjadi TATIB. Jadi orientasinya hanya untuk kelihatan rapi dan menyembunyikan etika? Apakah hanya dengan bersepatu saja mahasiswa akan kelihatan rapi, bersih dan beretika? Jelas tidak‌! Mari sejenak kita telaah lebih mendalam tentang entitas sepasang sandal. “Ya, Sandal dengan kesederhanaannya mengandung filosofi kerakyatan. Seindah apapun modelnya dan semahal berapapun harganya, tetap saja tempatnya di bawah, sebagai alas dan pelindung kaki. Rakyat juga demikian, siapapun dia, apapun pangkatnya, tetap harus diperlakukan sama, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, karena rakyatlah pelindung Negara yang sebenarnya. Sandal melindungi kaki tanpa kita harus mengenakan kaos kaki lagi. Berbeda dengan sepatu, yang bila tidak dilapisi kaos kaki, bahkan akan membuat tumit kaki menjadi

Januari 2014

Rhetorika lecet. Saya sering berpikir fungsinya apa?. Kalau benar tujuannya untuk melindungi kaki, mengapa kita malah harus memakai kaus kaki untuk melindungi kaki dari lecet karena sepatu. Jadi fungsi sepatu bukanlah untuk melindungi kaki. Karena, jika dipakai tanpa kaus, sepatu akan membahayakan kaki. Lantas, menngapa dipakai? Dalam renungan saya tiba-tiba tersadar, bahwa sejak di Sekolah Dasar sampai di Perguruan Tinggi, kita memang telah dididik untuk bergaul dengan orang-orang bersepatu di dalam ruangan. Bukan dididik untuk bisa beradaptasi dan merasakan perihnya hidup 79 juta saudara-saudara kita yang sangat bersyukur ketika bisa makan satu kali dalam sehari, dan tidak punya sepatu. Renungan saya makin jauh melabung, bahkan mungkin telah menyentuh dinding istana Negara atau pagar kokoh gedung DPR. Pantas saja birokrasi di negeri ini sulit melihat hal yang substansif, dan hanya terjebak pada formalitas yang menjemukan dan mubadzir. Wajar saja, bila mendapatkan nama besar, mempertahankan status sebagai negeri yang kaya dan terunggul, jauh lebih penting daripada mengembangkan pemberdayaan rakyat. Orientasi para petinggi negeri hanyalah bagaimana cara untuk menyejahterakan dirinya sendiri, mengutamakan kelompok, dan bukan untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk pembebasan rakyat dari ketertindasan, persis seperti sepatu yang dikenakannya, mengkilap rapi, namun, salah sedikit membuat lecet kaki pemakainya. Pakailah sandal jepitmu sebelum engkau mengenakan sepatu. Resapi betul enaknya memakai sandal. Resapilah, betapa merdekanya ketika engkau bisa memakai sepasang sandal. Begitu banyak orang yang kadang lupa akan enaknya mengenakan sandal, sebab, sehelai kaus kaki telah menjajah poripori kulit. Ingat, bersandal tidak selamanya tidak sopan. Tapi, justru kesederhanaan dan kerendahan hatilah yang dinampakkan oleh sepasang sandal. Jangan percaya tulisan diatas sebelum anda membuktikannya.

11


NewsRhetor Edisi XLIII

Ulas Hati-Hati, RHETOR Masih Hidup !

Penulisan sejarah singkat hingga dinamika LPM RHETOR ini sebenarnya didasarkan pada banyak pertimbangan. Karena, rubrikasi yang ada seharusnya tak diisi dengan tulisan ini. Namun, melihat banyak mahasiswa yang belum faham terhadap keberadaan LPM rhetor, terhitung sejak kevakumannya sejak 2009- 2011. Maka dianggap perlu kemudian untuk kami hadirkan tulisan ini. Ya, sederhananya kami berharap, agar pembaca tak selalu bertanya RHETOR itu apa sih?. Mari simak bersama‌! ### Jadi, awal berdirinya pada tahun 90_an dinamakan LPM Rhetor, setelah itu, ditahun yang sama berubah nama menjadi ORATOR, yang berarti singa podium. Namun, nama tersebut tidak berlangsung lama. Masih ditahun yang sama, ORATOR yang hanya menyisakan puing-puingg tersebu, mencoba bangkit kembali. Dengan mengusung semangat baru, nama ORATOR akhirnya kembali diruwat menjadi LPM Rhetor. Gejolak pers pada tahun 90an yang ditandai oleh represifitas rezim orde baru memancing reaksi LPM Rhetor untuk mulai ikut dalam konstalasi pers nasional, dalam mengawal kebijakan pemerintah. Inilah sejarah Rhetor kembali ke khittohnya, Di era ini mencuat nama Imam Budi santosa yang akrab disapa mas embies (sekarang, karikaturis nasional), menusul kemudian nama M. Sudarisman (sekarang, wartawan indosiar), Drs. Hamdan daulay ( Kolomnis Kedaulatan Rakyat), Andi Andreanto (Pengurus Komisi Penyiaran Indonesia Pusat), serta sederetan tokoh-tokoh penulis, penerbit serta wartawan media cetak maupun penyiaran yang tak muat jika disebutkan satu-persatu. Namun, RHETOR era 2000_an nampaknya mulai mengalami

12

pasang surut. Sejarah generasi pertama dan kedua, RHETOR masih terikat dengan struktur Pemerintahan Mahasiswa (LKM). Namun, Diawal tahun 2001, dipandang perlunya RHETOR yang otonom dan independent serta sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik. Maka, RHETOR berusaha untuk memisahkan diri dari struktur tersebut (LKM). Usaha itupun membuahkan hasil. Dan ditahun itu pun, RHETOR ditasbihkan sebagai Badan Otonom Mahasiswa Fakultas (BOM-F) Dakwah. Perjuangan berlanjut, hingga berhasil mendapatkan kantor redaksi tetap di gedung student center lt.1. sekarang pindah ke Lt.3 sayap kanan. RHETOR generasi ketiga pun lahir dengan semangat baru dan bercita-cita untuk mengusung nama RHETOR menjadi pers mahasiswa yang mempunyai sejarah panjang. Di generasi ketiga ini, muncul nama Muhyidin Depe (sebelumnya, menjadi wartawan Banyuwangi Pos dan LSM IRE Jogja). Bersama kawan-kawannya, Asnil bambani, Ta'yinul Amri Acheng, Erdiyanto, Nurcahyati serta Rahmat, Depe langsung menerbitkan Bulletin dengan nama, '' News Rhetor'' untuk pertama kalinya. Setelah Depe, tongkat estafet RHETOR diserahkan kepada Acheng Dyana bersama kawan-kawannya. Dan pada tahun 2003, mantan sekretaris umum, Asnil bambani Amri, didaulat untuk meneruskan perjuangan RHETOR. Di angkatan Asnil inilah, awak-awak redaksi semakin kritis menurunkan laporannya. Mereka merespon setiap peristiwa yang dirasa aneh, janggal dan perlu diliput, baik didalam maupun diluar kampus. Awal tahun 2004 RHETOR mendapatkan teguran keras dekanat, sebab di

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

edisi XIII News Rhetor, menulis laporan tentang kabut gelap dibalik kasus pemilihan dekan, yang waktu itu amat kental dengan aroma politis NU dan Muhammadiyah. Namun teguran tersebut, tak lantas menyurutkan semangat awak redaksi waktu itu, terbukti News Rhetor tetap mereproduksi isu maupun gagasan pada edisiedisi selanjutnya. Setelah muncul nama Asnil sebagai nahkoda, tetap di generasi ke-4, pada tahun 2006, Kepengurusan RHETOR di pimpin oleh mantan Pemred, Aries susanto, yang ketika itu ia baru saja menuntaskan masa magangnya di Solopos. Sekarang ia sudah jadi wartawan tetapnya. Estafet berlanjut, pada tahun 2007, komandan RHETOR diemban oleh imam chumaedi cs, meski tertatih-tatih, visi RHETOR melalui News Rhetor tetap dia lanjutkan. Hingga pada generasi berikutnya, di tahun 2008, Andi Andreanto yang menjabat sebagai komandan RHETOR, kembali menerkam dengan ciri khas laporannya. Bahkan bulletin Orator yang sudah lama vakum, di tahun tersebut kembali di massifkan. Perjalanan LPM Rhetor dari tahun ke tahun terbukti andil dalam membuka lembaran sejarah baru. Ditahun 2001, LPM RHETOR turut memprakarsai tebentunnya Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta, dan terlibat aktif di PPMI nasional. Selain itu, LPM Rhetor juga turut menjadi pioner atas terbentuknya aliansi pers mahasiswa (ALPERSMA) UIN sunan kalijaga pada tahun 2004. Sebagai Badan Otonom Mahasiswa (BOM), kini LPM Rhetor tetap menjaga indenpendensinya dari intervensi organ maupun intansi lain termasuk birokrasi, dengan

Lembaga Pers Mahasiswa

RHETOR

RHETOR

Iklan layanan Mahasiswa ini dipersembahkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa RHETOR lpmrhetor.blogspot.com

Januari 2014

Ulas mengembangkan tradisi menulis dan penerbitan surat kabar mahasiswa, baik di dalam maupun luar lingkungan kampus. Namun, inilah roda organisasi, khususnya pers mahasiswa (PERSMA). Di tengah-tengah majunya satu generasi, tak dapat menjadi jaminan pada generasi selanjutnya akan sama majunya. Pun dengan RHETOR, setelah lama berputar, Badai keras tiba-tiba mengguncang rimbunnya pohon journalist tersebut. Pada generasi 2009-2012, RHETOR bak ungkapan layamutu wala yahya, menyandang persma dengan sejarah panjang di Yogyakarta, khsususnya di UIN sunan kalijaga, pada periode tersebut, ditengah derasnya dualisme kepengurusan yang di menimpa internal RHETOR, roda organisasi tersebut mulai macet dan sulit digerakkan. Tapi kini, generasi telah berganti, bersamaan dengan tekad yang kuat serta rasa prihatin terhadap persoalan-persoalan kampus khususnya fakultas yang tak tercium publik, awak-awak muda RHETOR siap melawan badai tersebut, guna menggaungkan kembali singa podium yang tertidur tersebut. Tepat pada awal tahun 2013, segenap awak Redaksi yang di komandani Haedar beserta kawannya yakni, Soe, fikry, via, Nisa dll, melakukan satu agenda perubahan terhadap roda RHETOR kedepan. Meski sempat menerbitkan Bulletin dengan KW 3, tekad untuk terus melakukan perbaikan tetap membara dalam dada awak redaksi. Tekad tersebut kami bulatkan dengan empat manivesto perjuangan. Yakni, mencoba membuat perubahan dengan memberikan tawaran yang Inovatif, Kritis, Solutif dan Humanis.[di kutip dari berbagai sumber dan arsip]

Kami mengajak seluruh masyarakat (mahasiswa) UIN Sunan Kalijaga untuk bersama menjaga parbrik (kampus) dari para kawanan dedengkot-dedengkot “Proyek�.

13


NewsRhetor Edisi XLIII

Sketsa Irmalia Nurjanah oleh : Arivia Nujumulhayat “Saya akan menjadi cahaya di manapun saya berada” Pagi itu, cuaca tampak cerah. Hiruk pikuk dan keramaian mahasiswa yang memadati pelataran kampus, turut mencerahkan suasana hati seorang gadis difable. Namanya ParIrmalia Nurjanah, dia adalah Mahasiswi Baru Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Gadis tunanetra kelahiran Yogyakarta 10 Januari 1994 silam tersebut memang terlihat berbeda dengan mahasiswa lain pada umumnya. Tongkat lipatnya senantiasa menjadi teman karib Mahasiswa jurusan PMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut. Dia memang berkebutuhan khusus. Saat ditanya bagaimana kesan kuliah di UIN Sunan Kalijaga, tanggapan yang diberikan ia sudah mulai memahami bagaimana kampus ini. Irma yang gemar mengunyah es batu ini mengaku sudah melakukan taktik khusus agar tidak mudah tersesat saat berada dikampus. Yakni dengan menghafalkan dulu setiap sudut fakultas dakwah. “Susahnya itu kalau ke PPTD, muter-muter, ” celetuknya. Selain aktif di radio komunitasnya saat di SMA Muhammadiyah 4 Jogja, ia memang mengikuti kegiatan Pusat Pengembangan Teknologi Dakwah (PPTD), tepatnya di Rasida FM, stasion radio UIN. Namun, Karena kesusahan serta jarang mengikuti training, sekarang ia memutuskan untuk tidak mengikuti terlebih dahulu. Bagi Irma sendiri, dia tidak merasa berbeda dengan mahasiswa lain. Apalagi dengan semboyannya, “ saya akan menjadi cahaya dimanapun saya berada , “ ia berusaha menyamakan diri dengan mahasiswa lain. Gadis berair muka ceria ini, sekarang sedang sibuk bersama teman-teman mahasiswa penyandang

14

difable lainnya mendirikan organisasi untuk sesama penyandang difable di kampun UIN SUKA, yakni ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia). Dengan banyaknya pengalaman organisasi semasa SMA, yakni Palang Merah Remaja, Dewan Penggalang serta HI Foundation, kiranya cukup untuk bekal Irma mendirikan ITMI. Mungkin ini salah satu bentuk pembuktian kalau menyandang difabilitias bukanlah suatu halangan untuk berkarya. Penulis menemukan goresan tinta Irma saat berada dibangku SMA, mari kita baca. Ya Sudahlah Kulangkahkan kaki dalam-dalam, Masuki masa yg belum mampu kucerna Mencoba acuhkan memori yang menahanku Ingin kupejamkan mataku pada aliran waktu yang pernah membelengguku Dan sungguh aku kan tutup tirai itu rapat-rapat Sepeti aku mengadu pada tuhanku Bilakah masa kan membuka pintu kesempatan bagiku Bukan aku meragu pada diriku, Namun bisakah ku lepas dari cengkraman yang mencengkram hingga akar -akar memoriku Huhhhhhhhhhhhh,,,,, Desahku makin parah terarah seakan penat tak mampu lagi terkuak dan pikirku yang menjelajahi waktu telah berbatas dinding-dinding lara yang menjulang Yasudahlahhh.........!!! Kalolah masihku diambang dilema biarlah begini sajalah aku Hingga datang sesosok yang kelak mengajakku. Entah kemana, Yang akupun tak ingin tahu sebab aku hanyalah pasrah yang dimana jalan tuhan ku akan berserah. Hmmmmmm,,, Bahkan bila waktu memburuku dan nyawa tak lagi menyatu. Tak jadilah sosok itu meraih hidupku maka ku takkan menyalahi pada ZatNya yang dengannya aku tercipta…

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

Cerpen KIAI Oleh; Sarjoko*

YANG kini terngiang di benakku justru gelak tawa dan canda beliau, saat para pelayat yang lain sibuk dengan air matanya. Tapi, aku sama sekali tak berbeda dengan para pelayat lain yang terus menangis, meratapi kepergiannya yang tak terduga. Teringat pagi tadi, ba'da subuh, sebuah pesan masuk di HPku dari seorang teman. Isinya mengenai permohonan doa agar arwah almarhum diterima di sisiNya. Begitu mengetahui kabar itu, kedua mataku langsung berkaca-kaca. Aku menangis bukan hanya karena beliau meninggalkanku, meninggalkan kami. Namun juga karena semakin langkanya sesepuh(1) yang membimbingku, juga guru-guru yang lain. Hari kemarin beliau masih mengajar di madrasah walau dengan keadaan meriang(2). Akulah orang beruntung yang mendapat kesempatan terakhir mengantarkan beliau ke rumahnya yang berjarak enam kilo dari lokasi madrasah. Memang tanda-tanda kepergiannya begitu kentara. Mulai ajakannya ngopi di warung favoritnya hingga tingkahnya yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kalimat yang diucapkan beliau pun mensyaratkan hal itu. “Ayo dipuas-puaskan ngopinya. Besok sudah tidak bisa ngopi seperti ini bareng saya lagi.” Aku mengira itu perkataan biasa saja karena memang aku tak suka ngopi. Tapi… Ah! Hingga kini, aku belum sepenuhnya percaya bahwa sosok membujur berbalutkan kain mori (3) adalah beliau, guruku. Guru semua orang. Bahkan, isteri beliau, Bu Saudah mengira bahwa ratusan pelayat yang datang dan siap menyalati adalah orang-orang yang hendak menjenguk. Padahal, Bu Saudahlah orang yang menemani beliau dalam keadaan sakaratul maut(4)

Januari 2014

“Bapak mung semaput(5) jangan ditangisi. Bilang sama orang-orang,” ucapnya kepada anaknya. Beberapa saat kemudian Bu Saudah jatuh pingsan. Ketika sadar, ia mencaricari sosok anaknya. “Kenapa rumah kita ramai? Apa bapak sudah siuman? Tidak biasanya bapak punya tamu sebanyak ini,” katanya penuh igauan. Aku tak sampai hati melihatnya. Bu Saudah sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri, seperti aku menganggap almarhum sebagai ayahku. Tetapi dalam keadaan seperti ini, apa yang bisa kulakukan? *** Kiai Zainuddin, atau yang akrab disapa Yi Din bukanlah seorang kiai besar dengan pondok pesantren yang besar. Orang-orang kampungnya bahkan tak memanggilnya dengan sebutan kiai. Kiai adalah sebutan beliau selama di madrasah. Di kampungnya, Yi Din kerap dipanggil dengan sebutan Mbah Din. Di lingkungan sekolah saja, nama Yi Din hanya tenar di lingkungan anak banin (siswa putra). Beliau memang hanya mengajar di kelas banin saja. Sementara anak banat (siswa putri) yang sekolahnya masuk sore jarang sekali yang mengenal beliau. Kalaupun ada yang mengenal mereka adalah tetangga Yi Din yang bersekolah di madrasah tersebut. Beliau dikenal sebagai seorang ustadz biasa, namun perilakunya luar biasa. Mengajar selama lima puluh tahun di sebuah madrasah, dan tidak beranjak dari tugasnya sebagai pengajar di tingkat ibtidaiyyah (setingkat sekolah dasar), pada satu mata pelajaran! Padahal di madrasah tersebut terdapat tingkattingkat di atasnya, yaitu tingkat tsanawiyah (setingkat SMP), dan aliyah (setingkat SMA).Walaupun begitu, beliau tidak pernah mengeluh.

15


Cerpen Ah, Yai. Bagaimana mungkin di zaman sekarang ada orang sepertimu? Pernah suatu ketika Yi Din ditawari untuk mengajar di SD di kampungnya, dengan jaminan biaya penghidupan yang lebih baik. Para warga merasa kasihan dengan kehidupan Yi Din yang serba terbatas. Namun Yi Din dengan halus menolak tawaran itu dan memilih untuk mengajar di madrasah yang jaraknya lebih jauh. Alasannya ia ingin setiap kayuhan sepedanya menjadi amal baik dan kelak bisa menjadi tiket ke surga. Di lain kesempatan Yi Din mengaku senang serawung(6) dengan anak-anak kecil yang bandel di madrasah. Baginya tawa riang bocah-bocah dapat mengurangi beban hidupnya (tapi aku tidak yakin beliau punya beban. Beliau tipe orang yang riang dan mudah bergaul. Beliau merupakan contoh orang yang khuruj khilaf(7) dengan siapa saja, suka mengalah, serta mengutamakan kebaikan bersama). Alasan lainnya adalah mata pelajaran yang diajukan kepadanya tidak sesuai. “Bukannya mengajar di sini sama saja, Yi?” tanya Pak Anwar, carik desa. “Ya berbeda, tho.” “Bedanya apa?” “Di sini jatah saya malam, mengajar ngaji. Saya gak bisa ngajar bahasa Jawa.Wong bahasa Jawa saya saja masih kasar,” ungkap Yi Din mencari alasan. Walau dengan gaji tak seberapa, toh ia mampu membiayai anak-anaknya hingga ke jenjang kuliah. Anak beliau ada empat. Yang sulung sudah menikah dan sekarang menjadi desainer pakaian muslimah. Dua lainnya di Jakarta, tengah menyelesaikan kuliahnya. Sementara satu lainnya masih kelas dua SMA. Padahal kerja sambiannya hanya sebagai penjual kayu bakar. Yi Din berkeyakinan bahwa rejeki yang didapat dengan cara ikhlas dan halal akan mendapatkan berkah. Sesedikit apapun yang

16

NewsRhetor Edisi XLIII

didapat dari jerih payah kelak tumbuh menjadi kebaikan. Buktinya ialah anak-anak beliau yang sarat dengan prestasi. Uniknya walau mengajar di madrasah, Yi Din tidak pernah menyekolahkan anaknya di madrasah. Keseluruhan anaknya menuntut ilmu di sekolah-sekolah umum (sekolah yang tidak berbasis agama). Hal ini sempat menjadi perbincangan di antara tetangga-tetangganya semasa beliau hidup. Tapi Yi Din tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Saat salah satu warga memberanikan diri untuk bertanya alasan Yi Din tidak menyekolahkan anaknya di madrasah tempat ia mengajar, dengan nada mbanyol, Yi Din menjawab, “Kalau semua di madrasah situ, berangkatnya pakai apa? Wong saya saja pakai sepeda masa anak-anak saya mau naik sepeda juga. Apa kamu mau mengantar menggunakan mobil kamu?” Setelah beliau wafat inilah rahasia mengapa beliau menyekolahkan anakanaknya di sekolah umum terungkap. Anakanaknya menjadi ahli di bidang yang ditekuni, mengungguli anak-anak orang berpunya. Bahkan anak ketiganya kerap mendapat beasiswa di fakultas kedokteran. “Mbah Din pernah bilang kalau dunia umum juga harus diisi oleh orang-orang yang beragama. Kalau tidak bisa kacau dunia ini,” jelas Pak Mamat, tetangga beliau yang sempat menanyakan alasan mengapa anaknya tidak di masukkan madrasah saja. “Saya adalah madrasah bagi anak-anak saya. Mereka juga punya tugas sebagai pionir bangsa dengan ilmu dan agamnya. Ilmu kalau tidak diimbangi agama ya jadinya neleknelek(8) thok.” “Nelek bagaimana, Mbah?” “Ya contohnya orang yang ngaku pinter jadi dokter, tapi buntutnya banyak malpraktek. Mereka ini yang lebih percaya uangnya daripada uteknya. Jadinya yang diburu ya duwit melulu,” kenang Pak Mamat mengenai ucapan

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

Yi Din di satu malam. Aku semakin merindukan suasana bersama Yi Din yang serba renyah, tetapi menyiratkan keluasan makna di setiap ucapannya. *** Kiai Salman, kiai terkemuka di kabupaten kami yang mengisi pidato pemberangkatan jenazah mengatakan bahwa Yi Din adalah teladan bagi orang-orang yang mengaku kiai. Seorang kiai haruslah mampu ikhlas dalam mengamalkan ilmunya, agar ilmu yang diajarkan dapat bermanfaat. Kiai Salman mengaku bahwa beliau merupakan murid Yi Din di madrasah tempatnya mengajar. Kiai Salman bercerita bagaimana Yi Din dengan gigih mengayuh sepeda menuju madrasah dengan satu tujuan pasti, mengajar para siswa. Hanya faktor usia saja yang membuat Yi Din tidak lagi bersepeda. Di usia senjanya beliau berangkat naik dokar (delman), dan pulang diantar guru-guru yang lebih muda. Konon saat Yi Din berada di jenjang akhir sekolah, Yi Din mendapat arahan dari Mbah Salam, seorang kiai kharismatik untuk menggembala tanpa meminta imbalan. Dikasih ya diterima, tidak ya jangan menuntut. Selang tiga tahun, Yi Din sowan kepada Mbah Salam. “Alhamdulillah, Mbah. Kambingkambing yang saya gembalai tambah gemukgemuk. Namun saya yang tambah kurus,” akunya polos. Mbah Salam langsung tersenyum mendengar pengakuan Yi Din muda. “Yang saya maksud menggembala, ya bukan gembala kambing. Gembala itu menuntun. Maksudnya ya mengajar anak-anak para tetangga, bukan kambing tetangga.” Setelah itu Mbah Salam menugasinya mengajar di madrasah, tempat di mana Yi Din menuntut ilmu. Sampai akhir hayatnya, Yi Din sangat telaten menjalankan amanah yang diberi oleh gurunya itu. Dengan penuh keistiqomahan dan keikhlasan tiada tara.

Januari 2014

Cerpen Mbah Salam pula yang menjamin Yi Din bisa hidup dan membiayai penghidupan keluarganya dengan mengajar. “Kalau kamu sampai tidak makan garagara mengajar, besok guncangkan saja pathok kuburan saja,” jamin Mbah Salam. Petuah ini yang dijadikannya sebagai pegangan hidup. Dalam pidatonya itu, di samping menyingkap misteri tentang Yi Din yang unik dari sisi sosial dan dari sisi keagamaan, juga sempat disinggung cerita detik-detik menjelang beliau wafat. Dalam pangkuan isterinya, Yi Din yang merasa sudah tidak enak badan berkata, “Aku tak semaput sedelok yo!”(9) Karena menganggap itu hanya banyolan suaminya, isteri Yi Din menjawab, “Iya, pak. Semaput saja.” Tapi setelah ditunggu-tunggu semaputnya kok tidak siuman-siuman juga. “Mungkin nyawanya sudah nyaman waktu semaput di pangkuan bidadarinya,” timpal Kiai Salman. Tak pelak semua pelayat merespon dengan tawa. Aku yang biasa guyonan dengan almarhum ikut-ikutan geli mendengarnya. Ya Allah…, dalam kondisi seperti ini saja njenengan masih bisa membuat orang tertawa? Kajen-Yogyakarta, April 2012-Juli 2013 Terinspirasi dari berbagai cerita tentang kehidupan almarhum Mbah Din. Lahu alfatihah... Glosarium (1) sesepuh = tetua (2) meriang = demam (3) kain mori = kain kafan (4) sakratul maut = sakit menjelang kematian (5) semaput = pingsan (6) serawung = kumpul (7) khuruj khilaf = menghindari perselisihan (8) nelek-nelek = berak (9) Aku mau pingsan dulu, ya. *Sarjoko, seorang santri. Kini tinggal dan menuntut ilmu di Yogyakarta.

17


Puisi

NewsRhetor Edisi XLIII

Syair-syair Muchlas Jaelani* Dinner Reportase --untuk teman Kutub hampar daun pisang nasi warna belang lauk-sayur hanya beluntas dan ikanikan rendang rasanya senikmat kuliner padang. pasukan kini siaga melempar lirik, tapi bukan jumawa sigap kudakuda, ada sebagian bersila “awas, pencuri start didiskualifikasi� kuah dituang, ikan-ikan berenang semua pada bersitegang, kepala saling runduk-seruduk mulut mengunyah, tangan khusyuk mengaduk nasi gulai nyaris tinggal seciduk.

HUBBU aku yang terbunuh senyummu yang semanis gula batu atau terigu yang gemar memoles pikiranku menjadi dungu, dan bisu yang lebih menakutkan ketimbang hantu. aku yang terhanyut oleh matamu : biru bergelombang ikianikan riang kecipakan meneriaki rindu yang nyaris tenggelamkan badan. dan sesuatu tumbuh di hitam matamu, adalah aku yang risau terburuburu ingin mengawinimu tanpa rupiah, apalagi penghulu. SERENADE

daun pisang dan nasi sebutir semut bersungut gegas mengambil “sisa adalah harta paling berharga, tahta bagi jelata� *Muchlas Jaelani adalah calon Mahasiswa. Dikenal penulis freelance. beberapa tulisannya sempat nangkring di beberapa media local dan nasional, baik koran serta majalah, seperti Horison Kaki Langit, Yogyakarta, Pikiran Rakyat, Bandung, Buletin Stars, Majalah Tafakkur, Madura, dll.

mereguk kental kopi dini hari aku dan kau seperti larut bergelayut mengikuti riak dan pecahan nyeri yang diaduk. mari bersulang, sayang sebelum arloji henti bernyanyi dan lampion yang padam berkalikali :legam kopi nyaris menyamai warna nurani. bulan yang telanjang pendarnya bikin risau mata yang silau. ada yang lebih gigil dari bugil, kamu tahu? adalah jumpa yang sekejap sedekat jarak mata pada lelap. Kutub, 2013.

Redaksi News Rhetor mengundang semua kalangan sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk mengirim tulisan cerpen atau puisi. silahkan kirim kelamat redaksi LPM RHETOR atau lewat e-mail : lpmrhetor@gmail.com. sertakan biodata lengkap.

18

Januari 2014


NewsRhetor Edisi XLIII

Galeri

Peserta Pelatihan Pendidikan Dasar Jurnalistik LPM RHETOR di Kaliurang 8-10 Nov 13

Situasi awak redaksi NewsRhetor pada saat rapat redaksi di markas LPM RHETOR

Januari 2014

Hati-hati, mereka aja bisa Waspada, apalagi Manusia harus lebih Waspada...!!!


ku bukan artis pembuat berita Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa “Wiji Thukul”

Karikatur

20 NewsRhetor Edisi XLIII

“Tak ingin Mati Tanpa sebuah Karya”

Januari 2014


NewsrhetorXLIII