Page 1

jalan terjal sarjana pendidikan

Hal. 7 KKN Wajib Vaksin Hal. 12 PPPK, Bahala Kampus Keguruan Hal. 13 Pertaruhan "S.Pd" Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 249 Juli Tahun MMXXI 2021


2

PERSEPSI

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

EDITORIAL

Jalan Buntu Sarjana Pendidikan Hadirnya kebijakan PPPK digadang membawa solusi bagi tenaga honorer yang telah lama mengabdi melakoni perannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Terdaftar di Dapodik dan memiliki sertifikat pendidik menjadi syarat mutlak untuk mendaftar PPPK, CPNS untuk guru pun dihapuskan. Pasalnya, PPPK malah terlihat seperti pembawa masalah baru. Sarjana pendidikan yang baru saja lulus terancam dengan syarat yang ditawarkan ditambah dengan sistem kontrak membuat hati para guru menjadi geganah tentu saja dengan adanya evaluasi setiap tahun ini membuat guru harus mengikuti tes berulang-ulang dan jika tidak lolos bisa saja terancam kehilangan pekerjaan. Lulusan baru sarjana pendidikan tidak lagsung bisa mendaftar PPPK apalagi menjadi guru tanpa memiliki sertifikat pendidik. Bukannya memberi solusi, PPPK justru menjadi kebijakan mengerikan bagi sarjana pendidikan. Harus iklas mengabdi beberapa tahun menjadi tenaga honorer untuk bisa mendapatkan sertifikat pendidik. Bahkan, setelah lulus PPPK harus mengikuti tes evaluasi berulang-ulang rutin setiap tahun. Jika dulu guru berhak menjadi CPNS yang memiliki gaji tunjangan pensiun maka sekarang tidak ada lagi status pasti untuk guru apalagi tunjangan pensiun. Guru yang sudah tidak dianggap memiliki kompe-

tensi lagi harus dipecat sewaktu-waktu dengan memberikan gaji pesangon. Tes evaluasi rutin setiap tahun diharapkan mampu meningkatkan kualitas guru, namun justru sebaliknya. Jika guru semakin hari dipersulit bagaimana nasib pemuda bangsa yang tak lepas dari peranan seorang guru. Ini tentu menjadi ancaman bagi profesi guru. Sarjana pendidikan yang sudah terlanjur lulus dengan gelar S.Pd lebih memilih untuk menggeluti profesi lain atau menyambung S2nya. Padahal jika memilih potensi yang ada peranan guru lebih besar dari peranan pegawai umum lainnya. Bukankah lebih bagus jika kuota CPNS untuk pegawai umum yang tidak terlalu berperan banyak seperti bagian administrasi dan lainnya dialokasikan ke CPNS untuk guru. Bisa saja kebutuhan tenaga pendidik di Indonesia semakin meningkat tapi bukan berarti harus menghapuskan CPNS untuk guru dan menggantinya dengan PPPK. Sewajarnya CPNS guru tetap diadakan dengan tupoksi kouta yang lebih banyak. Ketidakjelasan status guru dan tidak adanya nasib jelas dari guru. Membuat minat guru menjadi menurun, tentunya ini menjadi masalah besar bagi pendidikan. Perlahan kampus yang mencetak guru bisa menurun bahkan punah. Bisa saja ada yang masih mau menjadi guru tapi akan lebih memilih mengabdi di sekolah swasta yang statusnya lebih jelas dibanding sekolah negeri yang tidak menghargai kehadiran seorang guru. UNM sebagai salah satu universitas pencetak guru terancam tidak memiliki peminat. Bahkan bisa saja gulung tikar, mengingat berdasarkan keputusan yang ada meskipun kebijakan ini nantinya berubah namun menunggu waktu 2 hingga 3 tahun untuk kebijakan ini bisa berubah. Lalu bagaimana nasib tenaga pendidik? Indonesia sedang minim perhatian pada bidang pendidikan. Bagaimana negara bisa maju jika tenaga pendidiknya saja tidak memiliki status yang jelas. Proses menjadi guru pun semakin dipersulit dengan harus terdaftar di Dapodik dan memiliki sertifikat pendidik, dengan kata lain harus mengabdi terlebih dahulu untuk bisa mendaftar PPPK.

Pelindung: Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP. IPU. Dewan Pembina: Hazairin Sitepu, Akbar Faizal, Syahrir Muhammad, Asia Ramli Prapanca, Ammas DR, Anshari, Muhiddin, Mukhramal Azis, Uslimin, Fachruddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Faisal Palapa, Rustan Bedmant, Abdul Rahman, Abdul Salam Malik, Supriadi, Mirwan, Sultan, Usman. Pemimpin Umum: Fikri Rahmat Utama, Sekretaris Umum: Dewan Ghiyats Yan Galistan, Bendahara Umum: Elfira, Pemimpin Redaksi: Kristiani Tandi Rani, Manajer Daring: Annisa Puteri Iriani, Broadcasting Manager: Anita Nur Fadhilah Halid, Pimpinan Penelitian dan Pengembangan: Ema Humaera.

jalan terjal sarjana pendidikan

Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/SK/ Ditjen PPG/1990. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Fikri Rahmat Utama, Pemimpin Redaksi: Kristiani Tandi Rani, Redaktur: Annisa Asy Syam. A, Reporter: Muh. Ilham Raihan, Murni, Agatoni Buttang, Fahmi Wardani, Mustika Fitri, Nur Azisa, Sumaya Nursyahidah, Irsan Juliani, Tito Koes Herdianto Fotografer: Fahmi Wardani, Layouter/Desainer Grafis: Fahmi Wardani, Iklan dan Kerjasama: Agatoni Buttang Redaksi LPM Profesi UNM: Jl. Tidung 7 Setapak 4 No. 190 Kelurahan Mappala, Kecamatan Rappocini, Makassar Telp. (0411) 8914674, ­E-mail: profesi.online@gmail.com, Website: www.profesi-unm.com, Youtube: Profesi TV

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 249 Juli Tahun MMXXI 2021

Desain Sampul & Tata Letak: Fahmi

Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun.

Urai data, ungkap fakta, saji berita

www.profesi-unm.com


3

MOZAIK

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

UNM Siap Cetak Pengusaha Muda

SNAPSHOT

G

FOTO: DOC. PROFESI

uru Besar Bahasa Indonesia itu menjelaskan program kerjasama dengan Hipmi PT UNM ini menjadi wadah untuk mencetak entrepreneur muda di kampus orange. Program kerja yang direncanakan nantinya diharapkan memberikan bekal dalam melahirkan jiwa wirausaha mahasiswa. "Saya harap program kerja dapat sejalan dengan visi kampus yaitu menjadi wadah terciptanya pengusaha dari uni-

versitas, saya senang, dan berharap secepatnya Hipmi PT UNM bisa melakukan program kerja,” ujarnya. Saat ditemui oleh reporter Profesi, setelah kegiatan pertemuan Hipmi PT UNM Ia mengungkapkan tujuan dari pertemuan ini sebagai pembangkit semangat inovatif wirausaha yang lebih terarah khususnya di kampus orange UNM. "Pertemuan ini menjadi motivasi dan inovasi bagi Hipmi PT UNM karena dari

diskusi tersebut kita mendapatkan arahan yang detail sehingga kita bisa mengambil sikap terhadap rencana kedepannya bisa lebih terarah untuk menjalankan beberapa program terutama dalam lingkup universitas,” katanya. Kehadiran Hipmi PT UNM sudah diketahui dan didukung universitas agar mampu menciptakan program kerja yang mampu merangkul mahasiswa dan dapat menciptakan pengusaha muda di lingkup UNM. (tar)

IKBIM Evaluasi Kualitas Mahasiswa IKATAN Mahasiswa Bidikmisi (IKBIM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) rutin melakukan evaluasi dan pembekalan bagi mahasiswa bidikmisi melalui kegiatan Evaluasi Bidikmisi dan KIP Kuliah. Kegiatan dilakukan secara virtual, Rabu (30/6). Evaluasi dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan (WD III) FBS UNM dan diikuti seluruh mahasiswa Bidikmisi FBS UNM. Dalam evaluasi tersebut, diberikan pengarahan menjadi mahasiswa penerima beasiswa harus berprestasi. Tak hanya itu, mahasiswa Bidikmisi juga ditekankan untuk

berani bersaing layaknya mahasiswa berprestasi lainnya. Koordinator Fakultas (Korfak) IKBIM FBS, Sry mengatakan, evaluasi ini penting untuk dilakukan untuk mengukur pencapaian prestasi mahasiswa IKBIM FBS UNM, agar kedepannya mampu menjadi acuan lebih baik lagi. "Tujuan dari evaluasi ini sendiri untuk mengetahui pencapaian-pencapaian teman-teman penerima beasiswa baik dibidang akademik maupun non-akademis," ujarnya. Mahasiswa FBS ini juga menambahkan, tidak hanya mengevaluasi prestasi mahasiswa IKBIM UNM, tapi juga pengara-

han mengenai cara menjadi mahasiswa berprestasi. "Pada forum ini juga ada sesi tanya jawab untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya masalah-masalah yang dihadapi terkait dengan beasiswa bidikmisi dan KIP-Kuliah," tuturnya. WD III FBS, Asis, berharap mahasiswa IKBIM FBS mampu menyadari salah satu tugas dan tanggungjawab mahasiswa IKBIM adalah berprestasi. "Mahasiswa IKBIM FBS harus tau salah satu kewajibannya yaitu berprestasi, jadi seharusnya bisa memiliki prestasi," harap dosen FBS ini. (tar)

FOTO: FAHMI WARDANI

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Universitas Negeri Makassar (UNM) Sukardi Weda bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Perguruan Tinggi (PT) UNM siap mencetak pengusaha muda, setelah melakukan pertemuan bersama, Jumat (2/7).

Lantai 17 - Potret ruangan di puncak gedung Menara Pinisi UNM. Ruangan ini berbentuk seperti kafe dan kini digunakan untuk menyambut tamu atau menggelar konferensi pers.

Bekali Maba dengan Kajian BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan kajian rutin untuk mahasiswa baru (maba) setiap akhir pekan. Webinar ini digelar secara offline di kampus ungu FBS UNM dengan target membekali maba dengan materi kemahasiswaan dan budaya. Kegiatan kajian rutin dipimpin langsung oleh pengurus BEM FBS, dengan materi kemahasiswaan dan budaya yang diatur secara runut dengan menggunakan rancangan silabus. "Diskusi rutin ini kami sudah menyiapkan silabusnya dan akan membahas seputar kemahasiswaan, sosial dan budaya," ujarnya. Amastasha, presiden BEM FBS menuturkan selain sebagai memenuhi program kerja, target utama dari kegiatan ini sebagai wadah belajar bagi mahasiswa baru dan untuk masyarakat umum. "Tujuan kami melak-

sanakan diskusi rutin ini untuk memfasilitasi Mahasiswa Baru agar memiliki wadah belajar, tetapi jika ada teman-teman yang lain ingin ikut tentunya kami tidak menutup ruang untuk mereka," jelas mahasiswa FBS ini. "Diskusi rutin ini kami sudah menyiapkan silabusnya dan akan membahas seputar kemahasiswaan, sosial dan budaya," Amastasha Presiden BEM FBS UNM Dengan adanya wadah untuk belajar diharapkan Maba FBS mampu memanfaatkan momen dengan turut berpartisipasi aktif pada kajian ini. "Harapan kami agar mahasiswa khususnya maba ikut berpartisipasi untuk diskusi ini," harap pria yang kerap disapa Amas. (tar)

Kuat dari Kekurangan *Kristiani Tandi Rani

Dengan semangat membara tanpa peduli keterbatasan yang Ia miliki. Tangannya yang tak sempurna namun memiliki tenaga menggenggam harapan yang kuat terus membuat langkahnya tak henti untuk menapaki tebing demi tebing yang Ia panjat di sela-sela kecintaannya pada alam. Meski terlahir dengan tangan kurang sempurna, dengan keterbatasan fisiknya Ia terus maju melawan keadaan. Baginya jiwa yang menggelora menapaki jejak langkah alam telah membuatnya menjadi petarung sejati, dewasa bersama jejak langkah pendakiannya. Ia adalah Ollan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) angkatan 2017 jurusan Pendidikan Khusus (PK) Universitas Negeri Makassar (UNM). Seperti kebanyakan mahasiswa Ia juga adalah salah satu mahasiswa organisatoris yang akwww.profesi-unm.com

tif di berbagai lembaga, mulai dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), hingga Mapala universitas menjadi lembaga kecintaannya. Kebiasaannya menjadi pendaki dimulai dari pertemuan sosialisasi singkat Mapala Sinai KMK UNM yang dikenalnya dari zaman Maba. Didukung dengan rasa penasaran menggeluti alam dari sebuah tayangan TV di masa kecilnya. Hingga akhirnya keputusan menjadi Mapala hingga detik ini membuatnya kuat.

"Saat itu pas saya Maba ada kegiatannya Mapala Sinai KMK UNM waktu itu di FIS. Saya ikut dan tertarik dengan perekrutan Mapala KMK UNM akhirnya saya mencoba ikut, belajar sedikit demi sedikit lalu nyaman. Dulu sewaktu kecil suka juga lihat film begitu, kayak si bolang, bocah petualang," ucapnya. Larangan untuk masuk Mapala pernah mahasiswa FIP ini rasakan, tapi baginya larangan dari orangtua bukan sebuah penghalang besar bagi Ollan untuk terus mengasah kecintaannya pada alam. "Kalau dilarang ya bagi saya itu hal biasa, karena saya merasa saya bisa toh. Kenapa yang lain bisa saya tidak bisa," ucap pengurus KMK ini. Bukan hal baru jika Ollan gagal dalam mempersiapkan garis awal pendakiannya, bukan hal baru pula jika ditengah jalan Ia

harus kelelahan. Namun, bukan berarti lelah menjadi alasan kuat untuk tidak sampai di puncak. "Pernah gagal, pernah pas mendaki pas sampai di posko 4 itu drop, tapi untungnya semangat saya membuat saya bisa bangkit lagi sampai mencapai puncak," katanya dengan semangat. Baginya kekurangan bukan untuk dijadikan alasan menerima belas kasihan tapi sebuah pacuan untuk bangkit menjadi penakluk senja. Seorang pendaki sejati adalah Ia yang tau di depannya ada bahaya tapi terus maju dengan harapan menemui keindahan di balik bahaya. "Kalau saya bergabung sama orang yang memiliki

fisik sempurna, saya bangga. Karena itu artinya saya bisa seperti mereka, kekurangan bukan untuk menjadi alasan untuk mendapat belas kasihan," tegasnya.(*)

FOTO: IST

Urai data, ungkap fakta, saji berita


4 LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli

SUPLEMEN

Tahun MMXXI 2021

BANGKITKAN JIWA MILITANSI JURNALISTIK Kaderisasi adalah langkah awal untuk melahirkan sebuah masa sebuah depan suatu lembaga. Tolak ukur keberhasilan suatu lembaga ditentukan oleh bagaimana produk kaderisasinya.

L

Maya Materi-materi yang dibawakan sangat menarik apalagi untuk praktekpraketeknya seperti praktek videografi sama fotografi, pematerinya juga seru dan lucu-lucu jadi nda ngantuk. Kakak-kakak panitianya juga baik dan ramah semua jadi kek nda canggung ki hehe. Cuma yang perlu ditingkatkan waktunya ji kadang molor.

embaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) lahirkan kaderisasi baru dari Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2021 berlangsung pada 8 hingga 11 Juni di Villa Datu Bua Galesong Takalar. Melalui kegiatan ini, diharapkan bisa melahirkan kader baru tongkat estafet lembaga kuli tinta berjiwa militansi. Tahun ini DJMTD LPM Profesi mengangkat tema 'Journalism is Here'. Tema ini diharapkan mampu melahirkan jurnalis yang militan di masa modern ini. Menjadi seorang jurnalis harus mengikuti perkembangan zaman. DJMTD berlangsung selama empat hari dengan menggunakan konsep outdor meskipun ditengah pandemi tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Peserta dibekali dengan materi-materi dasar jurnalistik dengan menghadirkan pemateri yang ahli dibidangnya, setelah pemberian materi peserta diberikan tugas praktek untuk mampu mengaplikasikan materi yang diterima. Berbagai materi dasar jurnalistik pun disuguhkan dalam DJMTD

ini, seperti materi teknik wawancara dan menulis berita, mengenal dunia pers, layout dan desain grafis, fotografi jurnalistik, video jurnalistik, pengelolaan website, broadcasting/ teknik presenting. Untuk menguji daya insting jurnalistik peserta juga diadakan nonton bareng film ‘Sexy Killer’. Ketua panitia, Mustika Safitri menjelaskan, setiap angkatan memiliki arah dan harapan masing-masing, dengan adanya nama angkatan Zaitung untuk angkatan DJMTD 2021 yang merupakan nama media terbesar pertama di Amerika, diharapkan mampu memberikan semangat militansi mengembangkan media besar ditengah kehidupan yang serba tergantung pada teknologi. “Angkatan tahun ini nama angkatannya Zaitung, diharapkan kedepannya bisa membawa perubahan besar untuk Profesi. Seperti namanya ya, Zaitung itukan media besar pertama di Amerika jadi diharapkan kehadiran Zaitung juga bisa membawa Profesi menjadi media yang besar dengan semangat militansinya, tentunya tidak mudah terpisahkan,”

ujarnya. Kegiatan DJMTD ini pun dibuka dengan kegiatan seminar dalam jaringan dengan tema ‘Alerta, Prahara PPPK, Narasi Kematian Kampus LPTK’. Hal ini untuk memberikan wawasan dan membekali peserta untuk kritis pada satu isu sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. “Sebelum technical meeting di hari pertama itu kita adakan seminar dalam jaringan. Kan kemarin pas penerimaan CPNS itu heboh soal kasus PPPK jadi itu yang kita soroti. Selain untuk seminar memahamkan peserta tentang perlunya kasus PPPK untuk dikritisi juga agar peserta tau dan punya nilai kesadaran untuk mau berpikir kritis,” jelasnya. Untuk memeriahkan kegiatan dan menambah antusias peserta untuk menerima materi meski ditengah pandemi, DJMTD digelar di tempat pariwisata Vila Datu Bua Galesong. Dengan tujuan mengembangan nilai kompetisi peserta, panitia juga memberikan hadiah kepada peserta terbaik, kelomok terbaik dan juara lomba senam kreatif. (tar)

Annysha Bahir Keren, bisa nambah teman dan seru juga. Meskipun awalnya takut berkegiatan diluar saat pandemi tapi keseruan DJMTD buat saya berani. Keren dan seru pokoknya

Rika DJMTD Profesi UNM itu keren. Banyak sekali pengalaman menarik yang bisa diambil. Ilmu jurnalistik nya dapat, relasi juga dapat. Pokoknya the best lah, seru bangettt.

DJMTD Kembali Digelar Offline SETELAH tahun lalu sempat terhalang oleh Covid-19 untuk mengadakan kegiatan DJMTD secara offline kali ini kegiatan DJMTD kembali digelar secara offline tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali nuansa keakraban antara peserta dan panitia yang tidak bisa dirasakan jika kegiatan berlangsung secara offline. Dengan konsep outdoor ini para peserta bisa menikmati suasana keindahan Vila Datu Bua Galesong. Selain itu, konsep outdoor juga bertujuan untuk menuntaskan rasa rindu peserta dengan sistem pembelajaran offline.

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Ketua panitia, Mustika Fitri mengatakan kegiatan ini senggaja digelar secara offline meskipun ditengah pandemi untuk menciptakan kekompakan antar angkatan Zaitung nantinya sebelum terjun menjadi anggota di Profesi. “Kemarin kan online, jadi senggaja kita oflinekan supaya terjalin kekompakan dan hubungan emosional yang baik dengan peserta dan pengelola sebelum nantinya menjadi magang dan jadi pengelola di Profesi,” kata mahasiswa Fakultas Teknik (FT) ini. Lanjut, Ia menambahkan ke-

giatan DJMTD ofline sangat berbeda jauh dengan kegiatan online. Nantinya juga akan banyak kegiatan menarik untuk memeriahkan kegiatan DJMD ini. “Ada banyak kegiatan nantinya yang akan diadakan selain penerimaan materi, diawal kegiatan ada seminar, game, simulasi secara langsung, praktek menulis berita, take foto dan video, serta banyak kegiatan menarik lainnya,” jelasnya. Sukardi

Weda, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR3) mengapresiasi kegiatan DJMTD ini, meskipun di tengah pandemi tapi panitia tetap semangat menggelar kegiatan DJMTD secara ofline. “Saya memberikan apresiasi kepada panitia karena sudah antusias mempersiapkan kegiatan DJMTD ini tentunya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Terutama kepada peserta juga karena masih sadar pentingnya jurnalis-

tik,” ujarnya. Pada agenda ini, salah satu peserta DJMTD 2021, Sri Bulan mengaku senang dengan konsep DJMTD ofline karena bisa bertemu dengan teman-teman dan panitia secara langsung, apalagi selama satu tahun tidak pernah belajar secara ofline. “Bagus, karena barusan lagi ada kegiatan ofline. Bisa bertemu langsung sama jadi belajarnya nda monoton berjam-jam di depan HP untuk join di zoom, apalagi kan sudah bosan juga terima materi kuliah secara online pas kuliah, jadi kerenlah,” kata mahasiswa Fakultas Teknik (FT) ini. (tar)

www.profesi-unm.com


5 LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

www.profesi-unm.com

LENSOR

Urai data, ungkap fakta, saji berita


6

INOVASI

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Smart Flower Shelf, Rak Bunga Anti Pencuri Masa pandemi yang tak kunjung berhenti sampai saat ini membuat hobi baru mulai bermunculan, salah satunya yaitu mengoleksi tanaman hias di kalangan ibu-ibu. Dari hobi, memuncul pula motif kejahatan baru, maraknya pencurian tanaman hias.

H

al tersebut memotivasi keempat mahasiswda yang tergabung dalam Tim PKM-PM (Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat), untuk membuat alat Smart Flower Shelf demi membantu masyarakat dari menjaga tanamannya dari tindak pencurian. Mereka adalah Hairil Asyurah, Riswan Ridwan, Nur Asisah, dan Muhammad Bili Akbar. Adanya alat ini pun juga dapat mengoptimalkan kebutuhan air pada tanaman hias. Hairil Asyurah menjelaskan, Smart Flower Shelf adalah rak bunga cerdas yang didesain sebaik mungkin menggunakan sensor teknologi terkini, seperti sensor ultrasonik, Passive Infrared Sensor (PIR), sensor Light Dependent Resistor (LDR), laser dan kelembaban tanah. Berbagai macam sensor itu berbasis loT dan terintegrasi dengan Handphone (HP), sehingga memungkinan pemilik tanaman untuk mengetahui siapa saja yang mendekat ke bunganya. Sebagai penjelas, sensor PIR berfungsi mendeteksi gerakan

orang yang mendekat di rak bunga. Sensor ultrasonik atau sensor jarak fungsinya ketika pot bunga bergeser dari posisi awal maka alarm akan berbunyi dan mengirimkan informasi ke pemilik bahwa ada yang mengambil bunga. Sensor LDR berfungsi ketika cahaya laser terputus ke sensor cahaya dalam artian apabila ada orang yang melewati daerah depan rak bunga kemudian terdeteksi oleh sensor ini, maka alarm akan berbunyi dan mengirimkan informasi ke HP pemilik. Serta sensor kelembaban tanah berfungsi mendeteksi kelembapan media tanam bunga, apabila kelembaban rendah maka pompa akan menyala secara otomatis dan melakukan penyiraman secara otomatis. Adapun informasi yang dihasilkan oleh sensorsensor tersebut akan diteruskan ke HP pemilik melalui aplikasi Telegram. "Apabila ada yang mengambil pot bunga maka alarm akan berbunyi. Selain itu alat ini juga dilengkapi dengan sensor kelembaban tanah sehingga apa-

bila kelembaban media tanam rendah maka akan dilakukan penyiraman secara otomatis," jelasnya. Mahasiswa angkatan 2018 itu juga menerangkan, sebelum langkah pembuatan mereka melakukan diskusi dengan dosen pembimbing, membahas bahan yang akan digunakan melalui aplikasi Zoom. Bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan alat ini yaitu besi untuk rangka dan berbagai macam sensor untuk kontrolernya. Setelah itu, mereka memotong besi dengan ukuran yang telah ditentukan, lalu dilakukan pengelasan hingga terbentuk rangka rak bunga. Namun Hairil mengatakan inovasinya itu masih sampai proses perangkaan. "Untuk langkah-langkah itu kami baru sampai pada tahap pembuatan rangka untuk tahap selanjutnya mengenai mikrokontrolernya dibahas kembali dengan tim dan dosen pendamping, Insyaallah awal-awal bulan depan sudah rampung semua," ungkapnya. Tidak hanya itu, Hairil me-

nuturkan kelebihan lain dari alat ini yaitu dapat memudahkan pemilik tanaman hias untuk menyiram tanaman mereka tanpa harus menyiramnya langsung. Cukup menggunakan aplikasi Telegram maka rak bunga seketika menyiram tanaman secara otomatis. “Pemilik juga bisa melakukan penyiraman melalui HP yaitu melalui aplikasi Telegram dengan mengirimkan pesan ke kontroler maka pompa akan menyala dan melakukan penyiraman secara otomatis,” jelasnya. Terakhir, Ia berharap alat ini bisa dipatenkan dan digunakan dengan baik sehingga motif kejahatan pencurian bunga yang sering terjadi ini dapat diatasi dan memudahkan pemilik tanaman hias untuk merawat tanamannya. “Harapannya itu tentunya alat ini bisa berfung-

si dengan baik dan alat ini bisa dipatenkan, selain itu kami juga berharap alat ini dapat membantu bagi para penghobi tanaman hias,” pungkasnya. (ari)

Bangun Semangat dengan Lansia Smart

S

ebuah gagasan pemberdayaan datang dari Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM). Mereka membuat program kegiatan di bidang kesehatan dan kemandirian pada masa pandemi bernama “Pemberdayaan Lansia Smart”. Ketua tim, Armita Puspita. K mengatakan ide tersebut terlintas ketika Ia menetap selama 2 tahun di Kampung Daeng, Kabupaten Gowa. Selama itu Ia mendapati populasi lansia yang tinggi namun

Urai data, ungkap fakta, saji berita

tidak diimbangi fasilitas pemberdayaan bagi usia lanjut. Armita menjelaskan bahwa di kampung itu beberapa belakangan, lansia kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat, walau sebenarnya sudah ada beberapa posyandu berizin, tapi Armita merasa tempat tersebut belum terfasilitasi dengan baik. “Saya melihat ada banyak lansia di daerah tersebut yang membutuhkan tempat untuk mengontrol kesehatan mereka, memberikan mereka kegiatan produktif sekal-

igus membangkitkan kembali semangat hidup, yaitu dengan menghadirkan suasana posyandu lansia di daerah Kampung Daeng. Sangat kurang pemberdayaan lansia, hanya terdapat 3 posyandu lansia yang memang umumnya disahkan dan juga mendapatkan surat izin legalitas dari puskesmas nah sedangkan ada beberapa di dalam desa itu tidak memiliki fasilitas posyandu lansia, nah salah satunya itu di desa daeng, di desa itu tidak memiliki posyandu lansia tetapi sudah memiliki kader,” ungkapnya.

Olehnya itu, Ia bersama rekan setimnya menpunyai konsep pengembangan untuk tempat tersebut sehingga bisa memberdayakan lansia. Konsep pengembangannya ini menghadirkan beberapa tematik produktifitas. Dalam realisasi program tersebut Armita bersama tim turut mengikutsertakan kaderkader posyandu sebagai pelanjut pemberdayaan lansia. Armita menyebut bahwa program ini nantinya akan diadakan setiap bulan, diawali dengan sosialisasi dan menganalisa tingkat pemahaman lansia terhadap Covid-19. Mereka juga mengenalkan program Lansia Smart kepada para kader posyandu yakni tagline “Lansia Sehat, Mandiri dan Produktif”, dilanjutkan beberapa program seperti, pengisian pretest terkait Covid-19, pemberian materi pola asuh lansia, pengadaan cek kesehatan lansia rutin, senam lensa, senam lansia, edukasi 3M, motivasi lansia dan diakhiri games sebagai refreshing. Games ini mereka balut dengan kuis dalam dua kegiatan yakni indoor dan outdoor, yang bertujuan agar para lansia terbiasa paham dan terus mengingat mengenai bahaya virus covid-19, menjaga pola makan lansia, dan mengetahui tentang titik aman bagi lansia ketika di dalam rumah. Tidak hanya itu, mereka juga menyokong program ini dengan kegiatan produktif seperi pelatihan pembuatan prakarya tasbih hand-

made. Kegitan ini akan melatih kemandirian, kesabaran, dan kefokusan para lansia. “Kemudian kami mengadakan pelatihan baca-tulis sekaligus kegiatan pesan untuk tuhan, pengajian lansia, serta shering lansia, mengingat kurangnya pengetahuan lansia terkait kegiatan yang telah kami sebutkan tadi,” tambahnya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNM itu juga berharap agar PKM berjudul “Pemberdayaan Lansia Smart Sebagai Usaha Mencegah Munculnya Covid-19 di Desa Karampuang” ini bisa memberikan peluang dan motivasi bagi lansia agar selalu aktif dalam melakukan kegitan fisik selama masa pandemi. Serta meningkatkan kreativitas melalui karya. “Harapan agar setelah program kami ini terlaksana akan memberikan peluang untuk ditetapkannya lokasi posyandu lansia oleh Puskesmas Moncobalang sehingga para lansia di Kampung Daeng juga bisa merasakan kegiatan kegiatan yang ada di dalam posyandu lansia pada umumnya. Selain itu adanya rebranding yang dilakukan untuk menerapkan sistem Lansia Smart yang sesuai ketentuan protokol kesehatan Covid-19 bisa terus dilanjutkan para kader posyandu meskipun proses pengabdian dari PKM-PM telah usai,” ujarnya. (ada) www.profesi-unm.com


7

INFO AKADEMIK

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Beasiswa Unggulan Buka Pendaftaran

Beasiswa Unggulan (BU) kembali membuka pendaftaran bagi pelajar Indonesia bagi mahasiswa dan calon mahasiswa. Beasiswa Unggulan (BU) kembali membuka pendaftaran bagi pelajar Indonesia bagi mahasiswa dan calon mahasiswa.

BU merupakan beasiswa favorit seluruh mahasiswa, hal ini dibuktikan dengan jumlah pendaftar setiap tahun semakin meningkat. Pada tahun 2020, jumlah pendaftar mencapai hingga 85.000 orang dan hanya 2.000 orang lolos pada tahap wawancara.

www.profesi-unm.com

Mendanai 100% biaya kuliah dari awal hingga akhir semester. Komponen yang dibayar meliputi UKT/SPP, tunjangan bulanan, dan biaya buku. Selain itu, bagi 50 pendaftar pertama akan mendapatkan bonus untuk mengikuti webinar

mengenai KIP kuliah dan beasiswa OSC (beasiswa full kuliah di PTS) secara gratis dan mendapatkan sertifikat. Persyaratan umum calon penerima BU yaitu, mahasiswa baru maupun On-Going (maximal semester 3) dan Siswa SMA maupun lulusan SMA. Tahap Pembayaran dibagi menjadi 3 yaitu, tahap pertama 10 juni hingga 10 juli 2021, biaya pendaftaran Rp. 49.000, tahap kedua, 11 juli hingga 15 juli 2021 biaya pendaftaran Rp. 99.000 dan tahap ketiga 16 juli hingga 17 juli 2021 biaya pendaftaran Rp. 149.000. Tanggal dan tempat pelaksanaan, 18 hingga 21 juli, berlangsung online. Syarat pendaftaran, silahkan transfer biaya pendaftaran ke, nama: Muhammad idman, bank: BTPN/Jenius, no. Rek: 9025009418, kode Bank: 213. Serta mengisi formulir pendaftaran dengan melampirkan bukti pembayaran di bit. ly/mentoring BU, dan tidak lupa melakukan konfirmasi dengan pesan whatshapp "saya sudah daftar mentoring" ke 089528775001. (ada)

KKN Wajib Vaksin

M

endukung perintah presiden Republik Indonesia (RI) yang mewajibkan masyarakat untuk melakukan vaksinasi serta mengatasi penyebaran Covid-19. Universitas Negeri Makassar (UNM) mewajibkan seluruh mahasiswa pendaftar Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk melakukan vaksinasi. Mahasiswa yang akan melakukan program KKN wajib memiliki sertifikat vaksin. Hal ini dikatakan oleh Arifin Manggau selaku Ketua KKN UNM, saat dimintai konfirmasi oleh reporter Profesi melalui media telpon, ia mengatakan syarat tambahan untuk KKN semester ini wajib sudah divaksin. "Sekarang juga sudah bukan zamannya swab, jadi sudah sewajarnya untuk mahasiswa daftar KKN punya sertifikat vaksin," ujarnya. Dosen besar Fakultas Seni dan Desain (FSD) ini pun menegaskan bahwa syarat ini penting dilakukan sebagai salah satu langkah mendukung program pemerintah. "Ini juga perintah dari pak Jokowi, nda ada salahnya kalau kita melakukannya secara nasional," katanya.

Selain itu, penting untuk dilakukan sebagai upaya mengantisipasi kejadian tidak diinginkan nantinya dimasyarakat, seperti kejadian di Jeneponto. "Kemarin juga sempat ada masalah di Jeneponto, ini juga yang diantisipasi jangan sampai sudah di masyarakat baru ada masalahnya," jelas Arifin. Arifin menjelaskan untuk syarat KKN UNM masih sama seperti tahun sebelumnya. "Kalau syarat masih kayak dulu ji, nda ada ji yang berubah. Itu ji toh harus ada sertifikat vaksinnya, apalagi sekarang musimnya Covid," tambah Kepala KKN UNM. (tar)

ILUSTRASI: INT

Urai data, ungkap fakta, saji berita


8

SUPLEMEN

Urai data, ungkap fakta, saji berita

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

www.profesi-unm.com


LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

www.profesi-unm.com

SUPLEMEN

9

Urai data, ungkap fakta, saji berita


10

ALMAMATER

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Pembelajar Merdeka Menginternalisasi Semboyan Tut Wuri Handayani *Olden, CGP Angkatan 1 Kabupaten Polewali Mandar

Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik. Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best. Artinya, bahwa memahamkan anak tentang konsekuensi dari sebuah pilihan merupakan hal yang benar, namun membakali mereka dengan pengetahuan tentang hal baik dan buruk adalah sesuatu yang substansi. Bahwa pengetahuan/knowledge saja tidak cukup, murid juga harus dibekali dengan pendidikan karakter. “Menuju Manusia Merdeka”, kalimat ini merupakan muara dari semua pengetahuan dan pengalaman belajar yang saya dapatkan dalam modul Pendidikan Guru Penggerak. Sebuah tujuan yang memiliki hierarki yang sangat kuat dan pemaknaan yang mendalam di mana seorang guru harus kembali ke titik awal untuk memahami hakekat atau filosofi Pendidikan Nasional dari Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara Tujuannya adalah untuk merefleksi kembali konsep pemikiran filosofi Beliau guna melakukan transformasi pendidikan di sekolah. Diantaranya; konsep kodrat alam dan kodrat zaman, Asas Trikon (kontinyu, konvergen, dan konsentris), konsep ‘Budi Pekerti’, dan Patrap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha - di depan memberikan contoh, Ing Madya Mangun Karsa - di tengah membangkitkan/membangun kemauan, Tut Wuri Handayani mengikuti dibelakang menyokong kekuatan. Patrap Triloka atau tiga prinsip pembelajaran ini banyak diterapkan untuk kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu di depan atau pun terdepan. Di mana pun dia berdiri memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Seorang guru dituntut untuk

bisa memposisikan dirinya sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, menjalankan fungsinya secara professional dan proporsional. Memahami tugas dan fungsi seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran tentunya bukanlah perkara yang mudah, karena secara kontekstual guru harus memiliki pengetahuan dan wawasan luas berkaitan dengan fungsinya sebagai pemimpin pembelajaran dan mampu mengimplemetasikan/menerapkan pengetahuan tersebut pada ranah kongkret. Ketika berada pada ranah kongkrit, seorang guru akan menghadapi berbagai persoalan, baik yang mengandung unsur dilema etika mapun yang bersifat bujukan moral Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengimplementasian konsep Merdeka Belajar dalam konteks pembelajaran di sekolah. salah satunya yakni penerapan Patap Triloka. Penerapan Patrap Triloka atau tiga prinsip pembelajaran menuntut seorang guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang selalu berada di depan memberikan contoh (ing ngarsa sung tuladha) jika dikontekskan dalam proses pembelajaran, maka seorang guru berperan sebagai mentor, yang mentransfer pengetahuan kepada anak didik. Berada di tengah membangkitkan/membangun kemauan (Ing madya mangun karsa) dalam konteks ini guru berperan sebagai coach yakni mitra murid dalam membantu mengembangkan potensi akalnya guna menemukan solusi mandiri dari permasalahan yang dihadapi. Guru menerapkan komunikasi asertif kepada murid dan menjadi pendengar yang baik. Pada moment lainnya, guru juga h a r u s

mampu memberi dorongan dan membangkitkan motivasi intrinsik murid dengan mengikuti dan memberi dorongan moril serta kekuatan dari belakang (Tut Wuri Handayani). Arah dari ketiga prinsip tersebut akan bermuara pada satu tujuan yakni menjadikan murid sebagai ‘pembelajar merdeka’ yakni pembelajar yang mampu mengenal dan mengembangkan potensinya yang disokong dengan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara yakni agar setiap pelajar Indonesia memiliki kompetensi global serta laku atau perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila diyakini mampu menjadi filter atau perisai bagi peUrai data, ungkap fakta, saji berita

lajar Indonesia untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk atau dampak negatif perkembangan jaman. Pancasila diyakini mampu membawa para pelajar Indonesia menjadi pelajar yang mampu menempatkan diri mereka menjadi pemimpin yang bertindak dan memutuskan segala sesuatunya dengan berpegang nilainilai luhur, yaitu nilai-nilai kemanusiaan. Sebab nilai-nilai kemanusiaan merupakan nilai-nilai universal yang dimiliki oleh setiap manusia ciptaan Tuhan YME. Untuk mengimplementasikan konsep ‘Merdeka Belajar’ dalam ruang-ruang kelas, maka perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Dimana melalui program pendidikan guru penggerak, para guru yang terjaring didalamnya dibekali dengan berbagai pengetahuan dalam penerapannya di sekolah. Guru penggerak adalah guru yang mampu mengaktualkan nilai dan perannya di sekolah yakni guru yang inovatif, kreatif, mandiri, kolaboratif, dan berpihak pada murid, demi terwujudnya profil pelajar pancasila, yakni pelajar yang berakhlak mulia, bernalar kritis, gotong royong, kreatif, mandiri, dan berkebhinekaan global. Perubahan dapat dilakukan melalui internalisasi visi guru penggerak. Dalam proses perjalanan melakukan perubahan, seorang guru penggerak harus bisa mengenal dan memahami cara kerja atau manajemen yang tepat dalam penerapannya di komunitas sekolah. Salah satunya yang dinilai paling efektif yakni manajemen perubahan yang berbasis pada kekuatan atau yang dikenal dengan istilah Inkuiri Apresiatif atau IA. Pembelajaran yang berpih a k kepada murid, adalah pembelajaran yang mampu mengakomodir serta memetakan kebutuhan belajar murid, yakni berdasarkan kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil pelajar. Dimana ketiga kebutuhan belajar murid tersebut diterapkan kedalam 3 diferensiasi atau yang dikenal dengan pembelajaran berdiferensiasi, yakni diferensiasi konten (isi/materi), diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Dalam diri setiap manusia telah tertanam nilai-nilai kebaikan, dimana nilai-nilai tersebut juga merupakan nilai-nilai yang bersifat universal, karena kebaikan merupakan sesuatu yang fitrah dalam diri setiap manusia. Nilia-nilai kebaikan juga dikaitkan dengan prinsip-prinsip dalam keyakinan/religi, karena setiap agama juga mengajarkan kebaikan sebagai kebenaran yang absolut. Nilainilai kebaikan dapat juga diartikan sebagai nilai- nilai kemanusiaan atau menjunjung tinggi moralitas, sehingga pondasi atau dasar ini pula yang

dijadikan prinsip seseorang khususnya seorang guru dalam menentukan keputusan akhir.. Menentukan apakah keputusan yang kita buat itu sudah benar atau tidak, atau sejauh mana efektivitas pengambilan keputusan yang sudah kita lakukan. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, telah diurai 3 teori yang bersifat urgensi yang mampu menuntun seorang guru dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dimana ketiganya mampu mengembangkan proses berpikir kita dalam menentukan keputusan akhir. Hal ini tentunya sejalan dengan kegiatan pembimbingan atau ‘coaching’. Ketiga teori tersebut diantaranya mengenal 4 paradigma dilemma, prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Teori-teori inilah yang nantinya dikembangkan oleh seorang guru melalui proses coaching bersama pendamping dan fasilitator. Ketika seorang guru/pendidik dihadapkan pada sebuah persoalan yang mengandung unsur dilemma etika atau bujukan moral, maka hampir sebagian besar hasil keputusan akhir mengarah pada prinsip berpikir berbasis rasa peduli. Mengapa? karena dalam menentukan hasil akhir dari sebuah keputusan, seorang guru harus melalui 9 langkah pengambilan keputusan, dimana salah satunya yakni uji intuisi. Uji intuisi menuntut seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melihat permasalahan atau kasus dilemma etika dalam perspektif moralitas. Bagaimana nilai-nilai kebaikan atau kemanusiaan dalam diri kita melihat persoalan tersebut dan mengambil andil dalam menentukan keputusan akhir. Atau dengan kata lain, uji untuisi ini menuntut kita untuk memberikan ruang bagi rasa peduli kita terhdap permasalahan yang dihadapi. Tertunya juga dengan mempertimbangkan uji lainnya, yakni uji legal (adakah pelanggaran peraturan), uji regulasi (adakah pelanggaran kode etik), uji halaman depan Koran, dan uji panutan/idola. Saya maupun anda pastinya meyakini bahwa melakukan perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun saya pun meyakini bahwa perubahan sangat mungkin terjadi jika dimulai dari hal-hal terkecil lalu perlahan-lahan menulari orang-orang di sekitar kita. Sehingga keberadaan dari perubahan itu sendiri adalah sebuah keniscayaan. Pada konteks pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran khususnya pada dilemma etika yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, seorang guru penggerak dituntut untuk mampu menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan. Butuh sebuah kerja keras untuk

bisa mentranfer pengetahuan dan informasi ini kepada rekan sejawat di sekolah. Maka dalam kondisi ini, seorang guru penggerak dapat menerapkan pengetahuan dalam membentuk sebuah komunitas praktisi melalui penerapan Inkuiri Apreasitif. Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan pendekatan manajemen perubahan kolaboratif yang berbasis pada kekuatan. Dalam implementasinya, IA diterapkan melalui metode B-A-G-JA, (Buat pertanyaan – Ambil pelajaran – Gali mimpi – Jabarkan rencana – Atur eksekusi). Upaya ini sebaiknya dikomunikasikan dengan para pemangku kepentingan khususnya kepala sekolah dan pengawas dalam satuan pendidikan. Lingkungan sekolah yang kondusif akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam belajar, sebagai salah satu cerminan dari sekolah yang berpihak pada murid serta berorientasi pada konsep ‘Merdeka Belajar’. Saya meyakini bahwa ketika pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang guru sudah melalui tahapan dalam 9 langkah pengambilan keputusan, maka sejatinya keputusan tersebut adalah keputusan yang berpihak pada murid. Esensi pendidikan KHD adalah ‘menghamba pada murid’, ini dapat dijadikan pijakan bagi seorang guru dalam menganalisa setiap permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran. Tidak semua kesalahan yang dilakukan oleh murid apalagi jika itu mengandung pelanggaran peraturan adalah murni kesengajaan. Dalam uji intuisi, naluri kemanusiaan kita yang akan membuka ruang untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga apapun itu pelanggarannya, selalu ada kebijakan di atasnya. Inilah yang menjadi esensi dari kepemimpinan itu sendiri. Bahwa di atas peraturan, masih ada kebijakan, dan kebijakan lahir dari olah pikir atau prinsip berpikir seorang pemimpin. Selain melalui tahapan uji sebelum sampai pada keputusan akhir, kita juga masih bisa mengubah keputusan tersebut jika ternyata ada opsi pilihan lainnya yang kita temukan tanpa sengaja atau dari hasil berpikir kreatif, yang disebut investigasi opsi trilema. Sehingga seorang guru, jika dihadapkan pada dilemma mengambil keputusan sekalipun, masih dapat memilih opsi ketiga. Semakin banyak opsi pilihan pada sebuah kasus maka akan semakin memudahkan kita dalam menentukan keputusan akhir, yang peluangnya besar mampu memberi dampak yang baik, serta mampu mendukung efektivitas proses pembelajaran di sekolah. Pada akhirnya juga akan berpengaruh terhadap hasil akhir atau capaian murid di sekolah.(*) www.profesi-unm.com


11

OPINI

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Era Digital, Mindset Feodal

*Syamsu Alam Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar

A

khir-akhir ini kita menyaksikan, bagaimana info media massa dan sosial media mengarahkan perilaku kita. Bahkan bernafas pun, kini sudah ada protokolnya. Semua karena "dominannya" informasi dan pengetahuan (Covid-19) yang kita konsumsi. Hampir sebagian besar perubahan digerakkan dari faktor eksternal diri kita. Ancaman social unrest hingga chaos, membayangi kehidupan kita karena tiadanya transparansi. Sebentar lagi tahun ajaran baru, pengalaman belajar daring kurang lebih 5 bulan sudah cukup untuk mendorong perubahanperubahan dalam proses belajar mengajar. Perubahan adalah keniscayaan, kalimat kunci yang masih kita yakini kebenarannya secara

universal. Segala sesuatu berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Knowledge is Power adalah frase yang dilekatkan pada filosof Inggris abad-14, Francis Bacon. Jejak kata tersebut juga ditemukan pada abad ke-10 M dalam Nahjul Balagah Imam Ali, Knowledge is power and it can command obedience. Pengetahuan adalah kekuatan yang dapat menuntun pada ketaatan. Jadi bagi Imam Ali, pengetahuan masih potensial untuk mewujudkan amalan 'ketaatan'. Era digital memungkinkan seorang murid mengetahui banyak hal daripada gurunya. Demikian pula seorang anak bisa lebih berpengetahuan dari orang tuanya. Jika mengikuti sudut pandang Hobbesian, maka murid dan anak akan lebih berkuasa daripada guru dan orang tuanya. Dan dalam banyak hal, orang awam kerap lebih ahli daripada pakar. Viralnya suatu berita, dapat mengeliminasi suara kebenaran minoritas. Hingga bisa saja pimpinan negara diktator, dicitrakan welas asih di media-media. Rezim Algoritma Baragam definisi Algortitma, salah satu yang sederhana adalah definisi Marvin Munsky, algoritma adalah seperangkat aturan yang memberitahukan kepada kita dari waktu ke waktu, bagaimana bertindak. Dalam suatu algoritma pasti terdapat: input, proses, output, instruksi, dan tujuan. Jadi kalau suatu media sosial beralgoritma berdasarkan ekspresi emosi,

maka mesin (aplikasi) akan mengarahkan user pada emosi yang cenderung sama. Para user akan dirahkan berdasarkan instruksi algoritma. Algoritma dan Era digital ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Era digital akan mendekonstruksi banyak hal, pekerjaan, tata nilai, termasuk kepakaran. Kecenderungan user media sosial yang dipersatukan oleh sebuah rezim algoritma lalu menjadi viral akan menjadi 'tsunami informasi' yang sulit disaring kebenarannya. Hatta pun Ia adalah Hoax, dengan mudahnya terbitlah klarifikasi. Krisis pandemi COVID-19 yang berdampak pada segala sendi kehidupan, dari acara arisan sampai bisnis global. Kemajuan teknologi dan ruang digital memaksa para pelaku bisnis untuk mengubah model bisnis. Dari bagaimana memproduksi sampai cara baru berinteraksi dengan pelanggan. Untuk mengidentifikasi dan merespons secara efektif peluang dan ancaman digital di masa depan, penting untuk mengembangkan pola pikir digital (digital mindset). Dalam rezim algoritma yang massif yang ditawarkan oleh berbagai platform. Pilihannya tetap ada di tangan kita sendiri, berubah, adaptasi atau tereliminasi. Namun sayangnya, tidak mudah merubah mindset menghadapai era yang serba cepat, tak menentu, kompleks, dan ambigu.

Digital mindset bukanlah kemampuan untuk mengoperasikan teknologi. Melainkan sikap dan perilaku yang memungkinkan orang atau organisasi untuk memahami suatu peluang. Media sosial, Big Data, Cloud, AI (Artificial Intelligence) dan robot dll, sebagai beberapa kekuatan besar mendisurpsi segala lini kehidupan. Kita boleh saja mendengar para pejabat berpidato tentang pentingnya Growth Mindset, Abundance Mindset, Collaborative Approach. Namun kerap para pendengar menggerutu dalam hatinya. Karen fakta empiris, perilaku si pejabat tidak seindah yang disampaikan di podium pidato. Meski demikian, hal tersebut sudah baik, sebagai tahap awal menuju Digital Mindset. Sebuah Mindset adalah juga perilaku (behaviour) yang memiliki pendekatan kolaboratif dan kooperatif, open-mind, dan kepercayaan adalah indikasi dari dunia digital yang terhubung, transparan, dan hampir sebenarnya kita tak dapat bersembunyi dari jangakauan admin/superuser/ provider. Digital Mindset memungkinkan kehidupan yang lebih jujur, transparan, dan bertanggung jawab. Oleh karena semua jejak digital bisa ditracking. Ia ibarat kitab catatan amal dan dosa di jagad maya. Tembok Raksasa Berbeda dengan Francis Bacon di atas. Napoleon Hill, mengatakan Knowledge is Potential

Power. Pengetahuan hanyalah potensi kekuatan, ia dapat menjadi kekuatan yang riil, jika kita mengorganisasikan ke dalam rencana tindakan yang jelas untuk mencapai tujuan. Pentingnya mentransformasikan mindset ke digital mindset yang serba transparan, memiliki spirit keterbukaan, kesiapan berkolaborasi dengan siapa pun dan penuh aspirasi, yang biasa diistilahkan dengan abundance mindset. Mindset lainnya yang juga akan menjadi sangat penting di era digital adalah growth mindset yaitu pola pikir untuk selalu berkembang. Seseorang dengan pola pikir growth ini akan mencurahkan energinya untuk selalu mencari dan mempelajari hal baru, melihat tantangan baru dalam kehidupan. Namun, semua angan-angan di atas bisa ambyar sesaat, jika tembok raksasa bernama Feodlisme masih kokoh. Dalam paham feodal, kekuasaan absolut berada di tangan Raja Diraja yang berkoalisi dengan kroni-kroni bawahannya. Bukan hanya dalam ranah kekuasaan (politik), masih adanya kelompok akademisi yang mengaku bidang ilmunya lebih superior dibanding yang lain, adalah juga praktik feodalisme dalam akademik. Praktik anti kritik para sepuh akademik, dan para pemangku jabatan, adalah tembok raksasa transformasi digital.(*)

Badan Eksekutif ‘Milenial’ II DI tengah hantaman gelombang memudarnya partisipasi berlembaga. Badan Eksekutif Mahasiswa seyogianya tampil cantik nan menggoda untuk dijajaki oleh mahasiswa. Kesadaran berlembaga berada difase kritis, antusias mahasiswa milenial lebih condong mengarah ke komunitas dengan orientasi penyaluran hobi, pengembangan soft skill, club belajar atau jalan jalan ke mall, gunung dan pantai. Hal yang demikian sepertinya tidak mereka temukan dalam BEM sehingga kurang partisipatif. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa orientasi dari BEM memang bukan seperti demikian. Namun yang harus digaris bawahi bahwa BEM juga harus mampu menjawab peluang sekaligus tantangan. Menjadi lembaga yang milenial tanpa mengurangi sedikitpun marwah kaderasi dan pergerakan tentu bukan hal yang mudah, memerlukan pergulatan extra dan pembaharuan yang besar baik dalam tubuhnya sendiri. Bertransformasi atau perlahan-lahan hilang dan ditinggalkan. BEM Harus tampil fresh, egaliter dan mampu dijangkau untuk semua kalangan. Di beberapa kampus Negeri dan Swasta masih menggunakan metode pendelegasain dalam forum bermusyawarah. Jika mengwww.profesi-unm.com

gunakan kacamata yang berbeda dan dikontekskan dengan kondisi saat ini sepertinya kurang relevan lagi. Kondisi tersebut akan memicu narasi bahwa adanya keterbatasan ruang bagi mahasiswa untuk bercengkrama dan berpartisipasi langsung kepada kawan-kawan mereka di lembaga Eksekutif atau Legislatif. Semisal dalam kontestasi pemilihan nahkoda baru, tingkat kepuasan penyaluran hak suara mereka tidak begitu sreg dikarenakan tidak terlalu refresentatif dengan sistem delegasi dan rentan akan politisasi. Sebab kecakapan mereka tentang calon nahkoda baru tentunya minim, eloknya ketika kampanye visi misi, pemaparan orientasi pengawalan serta tawaran konsep program kerja masif disosialisasikan di ruang-ruang kelas, kedai kopi, foodcourt, kantin kampus dan perpustakaan sehingga akan memacu adrenalin mahasiswa. Pun nantinya prosesi pemilihan menjadi pemilu raya (pemira). Yang nantinya bilik suara akan dipadati oleh seluruh mahasiswa ataupun E-Voot. Hal ini bisa dijadikan Salah satu rujukan untuk mendongkrak partisipasi mahasiswa untuk ngeBEM. Meskipun hal ini tentunya memiliki nilai plus minus dan perspektif yang beraneka ragam. Dalam hal penyusunan

struktural yang dalam hal ini merupakan hak prerogatif sang nahkoda, kiranya dibuka open reqruitment secara besar-beasaran kepada seluruh mahasiswa dengan standarisasi dan mekanisme tertentu. Nantinya akan memudahkan Ketua/Presiden dalam memilih dan menyiapkan SDM dalam merealisasikan visi misinya. Penyelenggaraan suksesi program kerja pun menggunakan skema yang sama, dalam hal open reqruitment kepanitiaan. Menilik kondisi post posisi struktural lalu-lalu yang didominasi oleh jenis kelamin tertentu, tentunya harus dipertimbangkan kembali, apakah 50.50/50.30. Semisal untuk posisi Mentri Advokasi dan kemahasiswaan diisi oleh perempuan, Keuangan dan Ekonomi Kreatif diisi oleh lakilaki adalah bukan hal yang aneh jika semuanya didasarkan pada kapasitas, kapabilitas, rekam jejak dan faktor-faktor penunjang lainnya. Transformasi culture berlembaga pun harus terus diperbaharui dan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Tidak lagi terjebak dalam culture yang kaku yang menghambat Kerjakerja kelembagaan. Semisal dalam hal penyusunan nomenklatur kabinet sepenuhnya diberikan hak prerogratif kepada Formatur terpilih dalam meru-

muskan formulasi yang selaras dengan Visi dan Misi. Dalam perumusan tawaran program kerja pun harus menjadikan pertimbangan melalui reses berlandaskan kebutuhan seluruh elemen mahasiswa (organisatoris, Akademis, dan jenis lainnya). Program kerja yang bisa menunjang intensitas kaderasi pendidikan massa dan pengawalan isu internal Kampus, Lokal dan isu Nasional. Pastinya akan sangat menguras fikiran, waktu dan tenaga. Tak kalah penting untuk menunjang aktivitas kelembagaan adalah sekretariat. Agar aktivitas produktif dan eksplorasi ide dan kreativitas, sekretariat harus tentu senyaman mungkin serta mengusung konsep yang kekinian. Semisal sekret menyediakan, karambol, catur, podcast, dapur mini, full music, fasilitas berselancar Internet dan lainnya. Usai konsolidasi dan bosan beraktivitas maka sekretariat tidak hanya melulu untuk (working) tapi juga untuk tempat (playing) dan memaknai kehidupan. Sekretariat harus friendly dan homy, playful, merangsang imajinasi dan kreativitas, dan mendorong komunikasi terbuka dan kolaborasi. Pendekatan mahasiswa genarasi disruptif tentunya berbeda dengan generasi lawas

sebelumnya. Relasi yang dibangun harus bersifat personal. Lembaga harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk berkembang dan melibatkan mereka untuk bersama-sama memajukan lembaga. Semua pengalaman berlembaga yang positif akan menciptakan makna yang spesial bagi mahasiswa jaman sekarang. Ketika mereka merasa menemukan makna tersebut, besar kemungkinan meraka akan lebih puas, loyal dan akhirnya menjadi advokator handal dalam hal kaderasi, gerakan dan dimensi yang lebih luas.(*)

*Enal, Penulis adalah Mahasiswa Angkatan 2016 Jurusan Administrasi Bisnis FISH UNM Urai data, ungkap fakta, saji berita


12

REPORTASE UTAMA

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

PPPK, Bahala Kampus Keguruan Penerimaan guru melalui PPPK menjadi malapetaka bagi UNM. Sebagai LPTK UNM akan kurang diminati, hingga alumninya pun terancam menjadi pengangguran. PPPK, mewajibkan pengabdian sebagai tenaga honorer dan masuk ke data pokok pendidik bagi setiap calon pendaftar.

M

enteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) RI, Nadiem Anwar Makarim membawa skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebagai angin segar bagi tenaga honorer yang selama ini mengabdi. Ini membawa harapan baru bagi mereka yang berjuang selama ini. Apalagi tahun ini, penerimaan dibuka secara besarbesaran di seluruh Indonesia. Jumlah guru yang diterima mencapai 1 juta orang. Melalui akun Youtube Mendikbudristek RI saat pengumu¬man seleksi guru PPPK tahun 2021, Nadiem menjelaskan alasannya membuat kebijakan baru ini. Menurutnya, berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik), Kemendikbudristek mengestimasi kebutuhan guru di sekolah negeri mencapai satu juta di luar guru PNS yang saat ini mengajar. “Pembukaan seleksi untuk menjadi guru PPPK adalah upaya menyediakan kesempatan yang adil untuk guru-guru honorer yang kompeten agar mendapatkan penghasilan yang layak,” katanya, 23 November 2020 lalu. Seleksi ini hanya terbuka bagi guru honorer di sekolah negeri dan swasta yang terdaftar di dapodik dan lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang saat ini tidak mengajar. Penerimaan ini tidak berlaku bagi lulusan UNM yang belum memenuhi dua syarat tersebut. Apalagi yang baru lulus. Namun, hadiah ini hanya bersifat sementara. Tidak seperti guru PNS yang dijamin masa depan pekerjaan dalam jangka waktu panjang. Bahkan hingga pensiun pun masih dijamin. Berbeda dengan PPPK yang sewaktu-waktu bisa diganti atau dipecat jika masa waktu perjanjian telah habis. Begitupun dengan tunjangan pensiun,

tidak dijamin pemerintah. Bukan hanya guru honorer yang sebagian besar adalah jebolan LPTK yang terkena dampak PPPK ini. Melainkan FKIP, STKIP, dan sejenisnya yang memproduksi guru/sarjana pendidikan juga ikut terdampak. Hal ini akibat gelar sarjana pendidikan bukan lagi syarat utama menjadi guru. Melainkan memiliki sertifikasi PPG atau terdaftar di dapodik dengan cara menjadi honorer terlebih dahulu. Dua persyaratan tersebut pun terbuka untuk umum. Bukan hanya LPTK. Lulusan kampus lain yang bergelar sarjana murni/non kependidikan juga bisa mendaftar PPPK dengan cara mengikuti PPG atau menjadi tenaga honorer di sekolah agar bisa terdaftar di dapodik. Padahal, seyogyanya LPTK sebagai penghasil lulusan yang belajar tentang guru profesional yang siap mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik di sekolah, seharusnya menjadi pendaftar yang diutamakan. Namun kenyataanya berbeda. Mahasiswa nonkependidikan yang bahkan tidak pernah mendapat pelajaran khusus tentang menjadi tenaga pendidik malah memiliki hak dan peluang yang sama dengan mahasiswa kependidikan. Lebih parahnya lagi, peluang lulusan LPTK untuk bersaing menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui CPNS semakin sedikit. Bahkan beberapa jurusan tidak memiliki formasi sehingga mereka hanya berkesempatan mendaftar di PPPK. Adanya PPPK ini juga membuat perjalanan sebagai guru semakin sulit dan berliku-liku. Gelar sarjana pendidikan yang melekat tidak lagi menjadi patokan menjadi pendidik. Lulusan LPTK harus

terlebih dulu mengikuti program pendidikan profesi guru atau PPG. Hal ini seakan membuat ilmu tentang guru professional yang dipelajari selama empat tahun menjadi sia-sia karena harus ikut PPG atau mengabdi terlebih dahulu sebelum mendaftar. Pengamat Pendidikan, Darmaningtyas menyebutkan seharusnya guru dan dosen menjadi prioritas dalam penerimaan CPNS. Guru harusnya memiliki kejelasan karir masa depan, serta mendapat perhatian lebih dari pemerintah. “Sebetulnya kalau kita cek seluruh ASN kita, mestinya guru dan dosen jenjang karirnya ha¬rus jelas. Kalau layanan publik itu sebetulnya bisa diperoleh dengan mudah. Tapi guru nilainya itu lebih penting dan itu tidak bisa digantikan oleh teknologi,” ujarnya. Penulis buku “Manipulasi Ke¬bijakan Pendidikan” ini juga

yang dinilai merugikan guru. “Bisa saja IKIP nanti dibubarkan dan hanya tersisa FKIP sebagai penghasil guru. Karena dengan adanya PPPK, animo untuk kuliah di LPTK menurun lagi,” ujarnya. Sejumlah kerugian yang didapatkan sarjana kependidikan di program PPPK ini tidak serta merta membuat semua pihak menolak. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Abdul Saman misalnya, Ia justru mendukung penuh program ini, menurutnya program ini merupakan solusi bagi honorer yang sudah lama mengabdi. Walau lulusan baru harus mengalah dan memilih jalan mengabdi sebelum diangkat menjadi tenaga pendidik tetap atau ASN namun tidak masalah baginya. “Sabar saja yang baru lulus jangan terburu-buru ingin tes PPPK. Cari saja dulu pengalaman di masyarakat baru nanti kemudian jadi guru,” katanya.

mengatakan kebijakan pemerintah yang lebih banyak kebijakan secara general membuat kualitas LPTK menurun. Akibatnya minat masuk ke kampus keguruan juga menurun apalagi adanya kebijakan PPPK

Dosen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan ini juga menyebut jurusan di UNM tidak semua merupakan lulusan pendidikan namun ada pula nonkependidikan. Termasuk di fakultasnya, baginya

tidak semua jurusan di FIP lulusannya wajib menjadi guru. Hanya seperti PGSD dan Paud yang fokus menjadi guru sedangkan jurusan lain seperti administrasi pendidikan tidak wajib menjadi guru. “Silahkan pergi dulu cari pengalaman mengabdi di masyarakat. Itu juga sehingga diadakan program pemerintah yaitu kampus mengejar untuk memberi pengalaman dan dapat sertifikat di kampus mengajar,” tuturnya. Skema PPPK yang membuat lulusan baru UNM tidak bisa langsung mendaftar kini berdampak langsung ke karir alumni. Sahban menjadi salah satu alumni UNM yang tidak bisa menggunakan ijazahnya untuk mendaftar PPPK. Ia menjelaskan dirinya merupakan alumni 2020, sedangkan sejak tahun itu CPNS guru tak lagi dibuka dan PPPK mewajibkan persyaratan yang tidak ia miliki. Akibatnya ia kini menganggur dan mengharuskan dirinya mencari opsi lain selain menjadi guru. “Saya sekarang sedang bekerja, bukan pekerjaan yang bagaimana sih hanya kerja di toko-toko begitu. Kan kemarin pengen cepat selesai agar bisa mendapatkan jatah PNS tapi nyatanya disambut PPPK, jadi opsinya sekarang sambung S2 dan pakai jasa SMA saya untuk daftar CPNS jurusan hukum,” jelas alumnus FBS ini. Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) UNM, Hasnawi Haris dalam materinya pada seminar LPM Profesi mengatakan PPPK sama saja dengan PNS hanya namanya berbeda, perbedaannya juga terletak pada tunjan-gannya. “Kalau dari disparitas PNS dan PPPK sebetulnya tidak ada yang berbeda, hanya namanya saja yang berbeda. Perbedaannya juga ada pada tunjangan yang diberikan, kalau PNS kan ada kalau P3K itu tidak ada,” ujarnya. (tim)

Kebijakan Mencekik Bagi Calon Pendidik Hadirnya PPPK didasari atas penghargaan kepada guru honorer agar bisa menarik nafas lega dengan iming-iming kehidupan layak. Namun pada realitanya masih banyak kekurangan PPPK yang menimbulkan berbagai masalah. Serta memiliki jurang perbedaan yang cukup dalam antara PNS dan PPPK. Pengamat pendidikan, Darmaningtyas mengungkapkan kebijakan PPPK ini malah membuat guru dirunduh rasa gelisah. Pasalnya status yang diberikan kepada mereka hanyalah sistem kontrak sehingga bisa saja diberhentikan bila masa kontrak habis. “Kasihan guru-guru kita ini loh sebenarnya, saya mewakili perasaan mereka. Saya tau pasti mereka dihantui kegelisahan setiap hari karena sewaktu-waktu mereka bisa dihentiUrai data, ungkap fakta, saji berita

kan kapanpun pemerintah mau, karena mereka dikendalikan pemerintah,” jelasnya. Ia mengungkapkan, tunjangan yang diberikan pun tidak sesuai perjuangan guru dalam mengabdikan diri. Contohnya, guru PPPK tidak memiliki gaji pensiun berbeda dengan PNS yang memiliki tunjangan hari tua serta sertifikasi. “Kan guru PNS itu punya tunjangan di hari tua, masih ada juga gaji sertifikasi. PPPK sudah tidak punya status yang jelas juga tidak ada gaji pensiun, jadi nanti konsepnya itu langsung di kasih pesangon. Lucu memang sih karena pemerintah tidak punya uang,” ujarnya. Kemudian sarjana pendidikan, setelah lulus tidak langsung bisa mendaftar jadi guru sebelum terdaftar di Dapodik dan K-II, artinya sarjana pendidikan harus mengabdi menjadi honorer selama bertahun-tahun. PNS dapat diikuti oleh lulusan baru dan tidak harus menjadi tenaga honorer untuk bisa

menjadi guru. Namun Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) UNM, Hasnawi Haris menyebut PPPK tidak memiliki berbedaan yang terlalu jauh keduanya mendapatkan hak yang sama seperti gaji, tunjangan, dan hak kenaikan gaji yang bernilai sama. “Hanya saja PPPK tidak memiliki tunjangan pensiun dan merupakan tenaga kontrak selain daripada itu nilainya sama dan bisa memiliki kehidupan layaknya PNS,” jelasnya. Sehingga Ia menyebut mahasiswa UNM tidak perlu takut dengan adanya kebijakan PPPK. Serta baginya UNM kini tidak lagi membebani mahasiswa agar menjadi guru tapi membentuk mahasiswanya juga agar memiliki opsi lain selain guru. “Konsep Kampus Merdeka dan kurikulum yang dilaksanakan UNM kini mencoba membuat mahasiswanya menjadi seorang pembuat kerja bukan menjadi pencari kerja,” kata Alumnus Universitas Hasanuddin ini. (tim) www.profesi-unm.com


13 LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli

REPORTASE UTAMA

Tahun MMXXI 2021

“Kemungkinan besar akan ada regulasi di perguruan tinggi. Tapi mahasiswa harus berpikir positif,” Hasnawi Haris WR I UNM

"Tentu tidak (akan kekurangan peminat), di FIP kan tidak hanya mencetak guru saja tapi jurusan lain yang tidak jadi guru juga ada di FIP,” Abdul Saman Dekan FIP UNM

Pertaruhan "S.Pd"

A

kibat adanya PPPK, sarjana pendidikan tidak bisa menggunakan ijasahnya mendaftar menjadi guru, lulusan sarjana pendidikan harus iklas mengabdikan dirinya selama beberapa tahun menjadi guru honorer. Tentunya ini menjadi boomerang bagi kampus pendidikan, secara khusus UNM sebagai kampus pencetak guru. Menurut Pengamat pendidikan Darmaningtyas, PPPK mengakibatkan kampus pendidikan terancam gulung tikar. Peminat jurusan pendidikan akan menurun drastis. Lulusan sarjana pendidikan pun tidak memiliki pekerjaan yang jelas setelah lulus. “Saat ini sekolah mengalami pensiun secara besar-besaran, kenyataannya sekarang kita kekurangan guru secara kualitas dan kuantitas. Dengan adanya PPPK ini animo untuk peminat prodi keguruan itu akan mati,” ujarnya. Tidak hanya mengakibatkan fakumnya kampus pencetak keguruan tapi PPPK juga mampu mengakibatkan dampak fatal bagi kualitas pendidikan di Indonesia. Tidak adanya nasib dan status jelas guru PPPK akan membuat guru lebih memilih bekerja pada instansi swasta daripada melalukan tugasnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Dugaan saya begitu sistem kontrak mereka yang memiliki kompetensi tinggi akan lebih memilih menjadi guru dengan sistem kontrak tinggi, mereka yang memilih untuk PPPK ini kualitasnya rendah. Memang kontrak itu ada sisi positifnya sebagai pengembangan diri, tapi tidak akan memberi rasa nyaman,” katanya. Di sisi lain menurutnya kampus harus memahami keberadaannya sebagai wadah untuk menciptakan pendidikan bukan mencari pekerjaan. “Kampus selain mencari pendidikan tapi menciptakan pendidikan, persoalannya adalah apakah kita mau atau tidak. Meski sebetulnya kampus di Indonesia masih jauh dari kata berkualitas, perguruan tinggi di Indonesia itu paling tinggi urutan 259,” jelasnya dalam Seminar dalam Jaringan LPM Profesi UNM. Salah satu alumni dari Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Sahban mengungkan keresahannya dengan adanya program ini. Ia merasa perjuangannya percuma menyelesaikan sarjana pendidikannya karena ijazah yang Ia miliki hanya ibarat kertas kosong tak berguna. “Buru-buru maki cepat selesai, berharap setelah selesai sarjana bisa www.profesi-unm.com

jadi guru PNS meskipun sekarang bukan mi lagi namanya CPNS. Tapi ternyata ribet sekali persyaratannya harus terdaftar di Dapodik sama K-II,” ucap Sahban dengan kecewa. Bukannya disambut solusi malah masalah besar menyambut langkahnya dengan gelar sarjana pendidikan itu. Hanya ada dua pilihan baginya, mengabdi selama bertahun-tahun menjadi tenaga pendidik tanpa kehidupan yang layak atau memillih pelarian pada pilihan lain. “Kalau ditanya mau buat apa, bingung juga. Jadi tenaga honor selama bertahun-tahun sampai terdaftar di Dapodik atau pakai ka ijazah SMA ku untuk daftar di pilihan jurusan hukum,” katanya dengan nada bimbang. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaaan (WR I) UNM memberikan komentarnya terhadap PPPK. Meskipun Ia menyadari UNM akan menyesuaikan terhadap perubahan regulasi tapi menurutnya ini bukan ancaman bagi UNM. “Kemungkinan besar akan ada regulasi di perguruan tinggi. Tapi mahasiswa harus berpikir positif” ujar dosen besar FIS ini. Menurutnya pembahasan mengenai PPPK belum ada kata final. Semua kebijakan mengenai PPPK masih bisa berubah dan menyesuaikan agar bisa mensejahterakan para calon guru. “Yakin dan percaya bahwa akan ada regulasi yang mengakomodir kekurangan dari kebijakan PPPK,” katanya. Dekan FIP, Abdul Saman juga mengatakan bahwa kebijakan PPPK tidak akan mengakibatkan UNM kekurangan peminat. Karena banyak jurusan di UNM khususnya FIP tidak hanya mencetak guru tapi juga memiliki jurusan non-keguruan “Tentu tidak, di FIP kan tidak hanya mencetak guru saja tapi jurusan lain yang tidak jadi guru juga ada di FIP,” ujarnya. (Tim)

"Kasihan guru-guru kita ini loh. Sebenarnya, saya mewakili perasaan mereka. Saya tau pasti mereka dihantui kegelisahan setiap hari karena sewaktu-waktu mereka bisa dihentikan kapanpun pemerintah mau, karena mereka dikendalikan pemerintah,” Darmaningtyas.

Tim Reportase Utama Koordinator : Agatoni Buttang Anggota : Elfira Irsan Juliani Fahmi Wardani

Urai data, ungkap fakta, saji berita


14

SENI BUDAYA

P

agi ini mentari begitu menyilaukan mataku padahal tirai di jendela masih tertutup. Dring.. dring.. sebuah alarm berbunyi. Sumbernya, ya darimana lagi kalau bukan dari pacar pertamaku, iya hp-ku. Sebenarnya berat membuka kedua kelopak mataku makanya aku mencobanya dengan membukanya dari kiri ke kanan, ku coba dengan perlahan. Ha... bodoh pantas saja mentari hari ini begitu transparan menuju mataku ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.30 Wita, aku-pun terburuburu mengambil handuk lalu setelahnya kubersihkan kamarku, walau tak terlalu bersih sih setidaknya barang-barang semalam tak lagi berserakan, setelahnya aku mengambil kunci sepeda motor ku menuju gang kecil tempat tinggal rekanku, setibanya aku di depan kosnya aku memanggilnya dengan suara lantang seolah-olah sedang melatih vokal. Tok.. tok "Assalamualaikum, raniii... Nur datang," "Siapa??" Terdengar dari sebelah kamar teman-ku, aku kaget karena tiba-tiba dia muncul begitu saja. "Sudah kuduga pas Nur, kalian berdua ya selalu menganggu hari-hari Joni," dengan suara lembutnya. "Eh Jon Rani dimana?" "Gadis malam itu, dia belum balik dari semalam," Joni menjawab dengan begitu gemulai. Dalam hati aku seolah berfikir mengapa dia mengatakannya gadis malam yah? mungkin aktivitasnya ada di malam hari. Dengan terburu-buru aku menuju kandang para singa tapi itu opini orang-orang sih, karena menurutku mereka hanya semut yang akan menggigit ketika diusik walaupun seringkali aku jengkel dengan gombalan mereka tapi sebagai seorang jurnalis ya harus Ramah dan murah senyum, perlahan ku menyusuri jalan lalu terdengar suara banyak orang yang kupikir mungkin itu kegiatannya, tapi tiba-tiba saja ada yang memanggilku. " Nurr ??" Aku-pun menengok ke arah samping sumber suara itu lalu menjawab dengan nada yang lemah lembut "Iya, maaf apa kakak mengenal saya?" Perlahan ia menghampiri diriku lebih dekat lagi lalu menatap mataku begitu dalam sambil terlihat lesung indah saat tersenyum. "Ternyata kamu lebih cantik aslinya ya dibanding dalam foto," Aku mulai bingung dengan perkataannya tapi sebelum aku bertanya ia kemudian menarikku ke sebuah taman sepi rasanya aku seperti ingin diinterogasi karena teman-teman wanita itu muncul dari segala sisi sambil menatap diriku dengan tatapan Urai data, ungkap fakta, saji berita

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Gadis Malam

yang begitu dalam. Jujur ya, namanya manusia biasa ya tentu saja ada rasa takut tapi aku yakin selagi aku masih berdiri di jalan kebaikan dan selagi itu benar aku tak perlu takut . Aku mulai tersenyum dan menyapa mereka, "Assalamualaikum kak, ada apa ya kak, kakak-kakak cantik ini kenal dengan saya ???" Terdengar suara dari samping yang sempat membuat diriku terkejut. "Astaga ini ceweknya pantas saja kak afdal mau dengannya, cantik sekali," ujar salah seorang dari mereka mulai duduk di sampingku. "Hei kamu ngapain kesini, nyari kak afdal ya ?" Perempuan cantik yang tadi ku temui juga perlahan mendekatiku "Benar-benar sempurna, sudah jangan takut kami temantemannya afdal, kalau kamu cari afdal saya akan mengantarkan kamu" sambil tersenyum. "Maaf kak sebenarnya ada apa ya kak ? Ohiya sebenarnya tujuan saya datang kesini hanya untuk meliput kegiatan yang sedang berlangsung di tempat ini kak yang diadakan oleh komunitasnya kak afdal" Ku jelaskan dengan penuh nada lembut namun seketika terdengar suara geseran meja salah seorang dari mereka mulai mendekati diriku lagi "Kamu jangan sombong ya soksok nggak mau ngakuin afdal lagi, he lu ngak cantik, kamu dari fakultas bahasa angkatan 18 kan?" Ku jawab pertanyaannya dengan penuh kesabaran "Iya kak"

"Kamu ngak sopan ya kalau cerita sama seniornya itu nunduk tidak punya etika ya," Tangannya mulai menunjukku. Perempuan berlesung itu berdiri "Ihh apa sih kamu sirik ya dan jangan mentangmentang senior dan kamu bisa ngata-ngatain junior mu" Kemudian terdengar dari arah samping kiri ku sebuah suara tapi ia hanya duduk menepi di tempat itu "Iya kamu tak perlu irih Manda, mungkin afdal memang hanya menganggapmu sahabat," Aku merasa telah membuang waktu ku hanya untuk perselisihan ini lalu ku beranika. diri beranjak dari tempat itu "maaf ya kak sekali lagi saya disini hanya untuk liputan, jika saya berbuat salah mohon maaf kak tapi saya tidak bermaksud apapun, saya rasa saya sudah terlambat kak, maaf saya pamit duluan kak". Perempuan berlesung itu memegang tanganku lalu berkata. "Sini aku mengantar kamu," Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Sesampainya di sana seseorang yang begitu berkarisma dengan senyum indah mulai menyapaku "Hai Nur saya sudah lama menunggu mu," Dengan wajah kebingungan aku mulai menegok ke arahnya "Maaf kak" "Katanya ingin wawancara," ujarnya sembari tertawa. Mendengar itu aku mulai mengerti perkataan sebelumnya "Iya kak" jujur aku hanya tidak

menyangka orang yang biasa ku wawancara virtual ternyata memiliki karismatik yang luar biasa hingga tak heran jika banyak perempuan yang menyukainya. Namun aku tetap harus profesional dalam menjalankan tugasku, seusai melakukan sesi wawancara aku mulai berfikir ternyata pandanganku salah tidak semua laki-laki mudah terpengaruh oleh seorang perempuan buktinya ia tidak pernah mengubris perempuan-perempuan yang berteriak histeris saat memanggilnya. Afdal Alatah nama yang sangat bagus namun yang menjadi nilai tambah adalah sikap dan tanggung jawabnya. Saat mataku menuju ke arahnya tak disangka ia melakukan hal yang sama yang membuat kami saling bertukar senyum perlahan ia kembali menghampiri diriku sendiri kantongan plastik yang sudah berisikan banyak cemilan. "Kamu belum makan ? Ini makan dulu dek," tak tau tubuh ku mulai gemetaran bercucur keringat dingin dengan perasaan tidak karuan. "Mmm iya makasih kak," Afdal lalu menjawab ku "Ternyata aslinya jauh lebih indah," Aku hanya terdiam malumalu dan rasanya ini hanya terjadi di film-film saja. Tak terasa waktu semakin cepat berlalu setelah perbincangan yang amat panjang namun sangat menyenangkan namun aku tak bisa berlama-lama masih banyak tulisan yang harus ku selesaikan aku kemudian

pamit setelahnya, aku menuju tempat dimana orang-orang yang ada disana memiliki kesibukan yang sama denganku. Dengan langkah hati-hati aku mulai menemui sahabatku itu. "Wah.. wah.., Rani aku cariin ternyata kamu disini.., setia banget kamu ya sama komputer itu," Tapi tak satupun kataku yg dia respon tapi tidak heran dia selalu mengabaikan-ku, aku menuju dapur dan mengambilkan air hangat serta donat, karena pasti rekanku itu butuh banyak energi.. "Nur maaf ya tidak sempat ngabarin dan gak bisa nemenin kamu wawancara," "iya ngk papa rinaaa," jawabku dengan sedikit senyum terpaksa Rina mulai menatapku dengan wajah kebingungan "Nur kamu kenapa bahagia sekali," Aku berfikir mungkin bukan saatnya untuk sesi curhatan karena banyak tulisan yang harus diselesaikan jadi aku menjawabnya "Gak... seneng aja liputan ku sudah selesai," Aku mulai menghampiri teman-teman yang lain dengan aktivitas yang sama denganku, kami berdiskusi tentang isu yang ada di kampus UNM serta kebijakan yang diberikan birokrasi. Setelah diskusi kami lanjut menulis berita hingga tak sadar waktu berlalu cepat dari siang berganti malam, aku pun isin pulang karena jarak rumah ku lumayan jauh dan aku tidak berani pulang sendiri terlalu larut malam, Sesampainya di rumah langsung ke kamar ku, keesokan harinya aku tak sadar ternyata banyak pesan dari ponsel genggamku tapi tanpa menghiraukan pesan itu aku segera menuju kampus namun sesampainya di sana semua orang heboh membahas penculikan mahasiswa "Ada apa ini?" tanyaku kepada mahasiswa yang duduk di tepi taman "Kamu belum tau, katanya ada penculikan mahasiswa," "Kapan dan mahasiswa mana?" tanyaku dengan ekspresi terkejut. Mahasiswi itu menjawabku dengan samar-samar "A.. aa.. anak FBS, katanya kejadiannya itu jam 12 malam," Tiba-tiba ponselku berbunyi. "Haloo, Nur kamu harus tau Rina menghilang sejak kemarin malam," Aku pun terdiam dan teringat dengan pesan singkat itu, aku lalu segera membukanya ternyata "Aku sedang dalam misi impestigasi, Ussttt!!" (*) *Nurisna Ramadani, Penulis adalah Mahasiswa Angkatan 2018 Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah FBS UNM

www.profesi-unm.com


PROFESIANA

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Kemana Dana LK?

Kocok Dadu Nilai Mahasiswa

Dana Lembaga Kemahasiswaan (LK) fakultas di Universitas Negeri Makassar (UNM) luntang-lantung tak punya kejelasan. Para aktivis kampus bertanyatanya dimana kabar dana itu sedang bersemayam. Tapi jangankan mendapat kabar baik, malah tanda tanya semakin menjadi-jadi perihal dana itu. ALASANNYA karena pandemi, tapi seharusnya itu bukan jawaban. Birokrat terlalu kompak memberi alasan tapi terkait konsekuensi mereka terlalu muluk-muluk, potongan dana LK dipotong secara beragam ibarat memberi diskon. Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Amas mengaku mendapatkan pemotongan dana Lembaga Kemahasiswaan (LK) sebesar 50% di fakultasnya dengan alasan pandemi. "Dana LK di FBS dipotong 50%, alasannya karena pandemi. Semua anggaran banyak yang dialokasikan ke dana pandemi, tapi kan saya pikir mahasiswa membayar full UKTnya," kata Amas. Beda halnya dengan Fakultas Teknik (FT), meski belum mengetahui berapa persen potongan dana LK di fakultasnya tapi dana mereka lambat untuk dicairkan dan diberi secara cicil. "Kasihan ini LK tidak punya uang, di FT itu belum tau berapa persen pemotongan dana

intinya ada saya dengar juga. Belum pi cair semua jadi blom di tau mi ini berapa persen yang dipotong," ujar Kholis salah satu pengurus himpunan FT ini. Lebih tragis lagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), tidak dilantik otomatis tak punya uang. Bahkan mirisnya peminjaman ruang kelas untuk berkegiatan saja tidak diberikan. "Dampaknya pasti ada, kalau tidak ada dana pasti kewalahan jalankan program kerja. Semester-semester lalu itu kalau nda dilantik bisa ji pakai ruangan sekarang nda boleh, biar ruang kelas nda diberikan," kata Awaludin, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB dengan mengeluh. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD3) FBS, Asis malah terlihat tak tau apa-apa terkait adanya pemotongan dana LK di fakultasnya. "Sepengetahuan saya tidak ada pemotongan dan pengurus LK sendiri yang langsung ke bendahara," tegas dosen PBSI ini. (tar)

15

R

upanya dosen sekarang terlalu asik bermainmain, tak tanggungtanggung profesionalisme pun ikut dipermainkan. Ibarat bermain dadu, nilai mahasiswa pun diberikan secara acak tanpa peduli usaha mahasiswa dalam mendapatkan nilai itu. Tak suka dipermainkan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris pun melakukan aksi di depan kantor Jurusan Bahasa Ingris (JBI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) untuk meminta kesadaran pimpinan jurusan dan meminta keseriusan menjalankan profesionalismenya. Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris, Fakhrul mengatakan salah satu dosen JBI ini tak sepantasnya bermain-main

t e r h a - dap nilai m a hasiswanya. Harusnya nilai disesuaikan dengan kompetensi. "Teman-teman kecewa dengan perlakuan salah satu dosen JBI yang mempermainkan nilai mahasiswa, harusnya kan kalau semua tugas masuk dan selalu hadir di mata kuliahnya ya minimal dapat nilai B lah, ini nyaris semua dapat C dan E," ujarnya. Untuk memperbaiki hubungan komunikasi antara HMJ Bahasa Inggris dan birokrat JBI diadakan dialog terbuka. Namun, sepertinya tak ada titik terang untuk masalah ini. Sang pemain utama tak ada

yang bersedia hadir. "Kami sudah diberikan ruang untuk diskusi dengan pihak jurusan, tapi Kaprodi dari JBI semua berhalangan untuk hadir, seakan memang kita tidak mau diterima," kata mahasiswa JBI ini. Fakhrul menduga ketidakprofesionalan dosen ini dikarenakan ingin mengejar upah buta dari mahasiswa yang mendaftar Semester Pendek (SP) dengan tidak lulus mata kuliah dari dosen itu. "Ini kan salah satu dosen pelakunya itu Kaprodi, saya duga ini langkah bagi dosen pelaku agar mahasiswa itu ikut SP," kata Fajrul dengan curiga. Alasan pembelaan diri pun dilakukan Ketua Jurusan, Samtidar. Ia memiliki beberapa alasan sehingga pihaknya tidak bisa menghadiri dialog terbuka. "Kaprodi Business English Communication sedang sakit, Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris sedang menghadiri kegiatan lain, dan Kaprodi Sastra Inggris sedang sibuk sekarang,” katanya kepada peserta dialog. (tar)

Kuota Gemuk Jalur Mandiri UNM Jalur mandiri Universitas Negeri Makassar (UNM) sepertinya menjadi ajang beberapa oknum tak bertanggung jawab untuk mengais rezeki. Sangat disayangkan, hasil tes tak lagi menjadi acuan kelulusan tapi siapa yang memiliki orang dalam. TAK tanggung-tanggung, kuota jalur mandiri yang awalnya hanya tersedia sebanyak 30% dari 8000 lebih mahasiswa yang akan diterima. Jika diakumulasikan hanya ada sekitar 2000 lebih Mahasiswa yang akan diterima di jalur mandiri. Nyatanya pada pengumuman jalur mandiri kemarin, UNM menerima sebanyak 4357 mahasiswa yang artinya UNM menerima 2 kali lipat dari kuota yang ada seharusnya disiapkan untuk jalur mandiri. Hal ini tentu membuat sebuah tanda tanya untuk UNM. Mengapa untuk jalur mandiri lebih banyak dari kuota jalur lain seperti SBMTN dan SNMPTN. Pada pernyataan sebelumnya, Wakil Rektor Bidang Akademik (WR1) UNM mengatakan pada jalur mandiri akan menerima hanya 30% mahasiswa baru. Nyatanya fakta sangat berbeda jauh dengan apa yang dikatakannya. "Adapun komposisi penerimaan mahasiswa baru yang ditetapkan UNM tahun ini yakni, SNMPTN sebanyak 30%. SBMTN sebanyak 40%, www.profesi-unm.com

dan jalur mandiri yakni 30%. Hitung-hitungannya itu sekitar 8 ribuan yang kita terima,” ujar WR 1 UNM. Dekan Fakultas Teknik (FT) UNM yang menjadi salah satu panitia dalam seleksi jalur mandiri saat ditemui oleh reporter LPM Profesi UNM sebelum tes berlangsung mengatakan panitia akan melakukan pengawasan ketat pada jalur mandiri ini. "Kemarin pas SBMTN, ada di dapat calo. Kita usahakan pada jalur mandiri ini pengawasan akan dilakukan dengan sangat ketat, jangan sampai ada yang lolos kayak kemarin," jelas Yahya. Tak bisa dipungkiri dari tahun ke tahun hal serupa selalu terjadi. Salah satu mahasiswa UNM, Nisa mengatakan melihat hal itu membuat dirinya semakin ragu dengan kampus orange ini. "Kayak semakin kentara sekali bohongnya, dimana didapat akumulasi itu kalau segitu ki yang harus na kasih lolos. Pasti ada main-main," ujarnya. (tar) Urai data, ungkap fakta, saji berita


16

PERSONA

LPM Profesi UNM - Edisi 149 Juli Tahun MMXXI 2021

Sukses Berkat Manajemen Waktu

"Memiliki menajemen waktu," begitulah kata yang diucapkan oleh ketua prodi Administrasi Bisnis, Aslinda ketika ditanya mengenai tips suksesnya. Bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Kelautan (STITEK) Balik Diwa Makassar, siapa yang tidak kenal dengan Ketua Prodi Administrasi Bisnis ini.

A

slinda mengaku manajemen waktu sudah ia mulai dari kecil. Sedari kecil Ia sudah membiasakan dirinya untuk hidup mandiri tidak bergantung pada orang lain. Karena terlatih dengan manajemen waktu Ia pun terbiasa dengan sifat tersebut hingga mengantarkannya pada garis kesuksesan. "Saya dari kecil itu memang sudah di didik untuk menjadi orang yang memiliki menajemen waktu," katanya. Memasuki usia produktifnya Ia telah terbentuk menjadi seorang wanita hebat yang tidak bergantung pada orangtuanya. Berbagai usaha pun telah Ia lakukan di usia itu. "Saat saya sudah masuk ke umur 18 tahun, saya sudah tidak bergantung kepada orang tua, sekarang saya sudah tidak bergantung kepada orang tua," ujar Aslinda. Karena sudah menjadi tradisi mengatur waktu sukses dalam segala aspek karir dan pendi-

dikan sudah menjadi hal wajar ia dapatkan. Memulai usaha di berbagai bidang sudah ia rasakan. Bahkan untuk menyelesaikan pendidikan baginya bukan sebuah perkara yang susah untuk Ia lakukan. "Mulai dari buat bisnis, karya seni, dan berbagai usaha, sampai sekarang saya sudah punya kampus sendiri, di dalam pendidikan juga saya melatih diri untuk disiplin, jadi 3,5 tahun itu S1 saya sudah selesai," syukur Aslinda menceritakan pengalamannya. Setelah menyelesaikan studi dan memiliki banyak pengalaman, Ia pun berinisiatif untuk mewujudkan sebuah mimpi mulai dalam hidupnya yaitu membangun universitas untuk orang yang tidak mampu melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. "Waktu saya selesai saya melakukan berbagai usaha, selama terjun ke masyarakat itu saya melihat banyak sekali ternyata yang tidak mampu untuk sekolah, dari situlah saya

bermimpi untuk memiliki kampus sendiri," cerita ketua prodi Administrasi Bisnis ini. Berkat usaha dan kerja kerasnya akhirnya Ia berhasil mewujudkan mimpi mulianya itu. "Memang setelah saya berhasil membuat kampus itu, banyak sekali yang saya gratiskan," syukurnya lagi. Meski dengan amanah yang besar dalam karir dan keluarga tapi baginya hal itu adalah hal mudah. Manajemen waktu adalah kunci sukses baginya. "Saya kira itu adalah perjalanan yang tidak mudah, menata keluarga, bekerja keras. Tapi intinya adalah manajemen yang didalamnya ada kedisiplinan, motivasi, kepekaan," ucap Ketua Prodi Administrasi Bisnis sekaligus Kepala Yayasan STITEK Balik Diwa Makassar ini. (tar)

BIODATA Nama TTL Pekerjaan Pendidikan

: Dr. Hj. Andi Aslinda, M.Si : Pinrang, 10 Oktober 1969 : Ketua Prodi Administrasi Bisnis UNM Ketua Yayasan Institut Teknologi Maritim dan Bisnis Balik Diwa : S1 Administrasi Negara / Universitas Hasanuddin S2 Administrasi Pembangunan / Universitas Hasanuddin S3 Ilmu Administrasi Publik / Universitas Hasanuddin

Menulis dari Pengalaman M enjadi seorang mahasiswa sastra pasti identik dengan seseorang yang pandai merajut kata menjadi karya. Begitulah citra diri mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) prodi Sastra Indonesia bernama Sadriah. Sadriah sangat produkt i f

Urai data, ungkap fakta, saji berita

dalam mengembangkan ilmu sastranya, terbukti dengan karyakarya yang ia hasilkan. Seperti tidak pernah lelah bercandu dengan kata-kata, ia kini berhasil menerbitkan dua novelnya Bintang Tanpa Sinar 2018 dan (bukan) Pilihan 2021. Tak hanya itu Ia pun cukup aktif berlembaga. Kini Ia sedang mengemban jabatan sebagai koordinator divisi Humas Ikatan Bidikmisi (IKBIM) UNM dan sekretaris umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Indonesia FBS UNM. Sadriah juga mengaku sejauh ini dia telah mencoba semua jenis karya sastra untuk ditulis. Ia pun aktif berpartisipasi dalam lomba dan disaat ada kesempatan memilih untuk membacakan puisi. "Novel cerpen puisi esai dan opini juga hampir semua jenis tulisan sih. Cerpen di antologi cerpen novel dua puisi di antalogi puisi dan kalau esai opini biasa ikut lomba. Ya pernah sih biasa juga tampil baca Puisi," kata Sadriah. Kebiasaan menulis yang Ia miliki ternyata su-

dah dilakukannya sejak dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) berawal dari tugas membuat diary hingga mencintai dunia tulisan. Menurutnya membaca adalah sebuah kepuasan tersendiri. "Sebenarnya kalau perihal menulis sudah dari SMP tertarik kalau perihal motivasi gimana ya yang pasti pertama kali disuruh nulis diary dan ternyata rasanya legah kalau kita menulis apa yang dirasakan jadi berawal di situ sehingga jadi hobi dan sampai sekarang menjadi bagian dari diri saya," cerita mahasiswa FBS ini. Melakukan jeda ditengah

cerita karena minimnya waktu kadang juga menjadi masalah baginya. Tapi tidak menjadi alasan kuat untuk berhenti berkarya. "Kendalanya biasa dari ide tulisan biasa juga dari lingkungan semisal lagi padat kegiatan, biasanya tulisan yang sudah dibuat itu terhenti dan tidak terlanjutkan," tutur sekretaris HMPS Sasindo. "Tergantung dari tulisan juga ya kan biasanya kalau novel kita harus konsisten ya pelarian terbaik dengan membaca buku supaya idenya kembali segar," tips novelis FBS ini. (tar)

BIODATA Nama: Sadriah TTL: Ujung Labuang, 28/11/1999 Pendidikan: MI DDI Ujung Lero MTs DDI Ujung Lero MAN 2 Parepare Universitas Negeri Makassar Fakultas: Bahasa dan Sastra (FBS) www.profesi-unm.com

Profile for Redaksi LPM Profesi UNM

Tabloid Mahasiswa LPM Profesi UNM Edisi 249 Juli 2021  

Tabloid Mahasiswa LPM Profesi UNM Edisi 249 Juli 2021  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded