Page 1

MAJALAH ONLINE PPI INDIA

V7


Namaste Indonesia

03. Kata Pengantar

06. Susunan Redaksi 07. Lintas Liputan Dino Patti Djalal

09

25

Seputar Sains

Kuliner PANIPURI Selalu Ku Nanti (dan Ku Beli)

27. Opini Pendidikan Sekilas (Refleksi) Pendidikan Indonesia

11

Profil Prof Tjandra

13. Liputan MUN

17 Seputar Pelajar

India: A Love-hate Story

29

WISATA Nepal dan Sejuta Keindahan

31 “Kiki�

Cerpen

19

23

Opini Demonetisasi

Laporan Taiwan Tetap Mengabdi Walau Jauh dari Negeri (Refleksi Simposium PPI Asia-Oseania 2017)


3


4


Namaskara.. Majalah Namaste Indonesia kembali menyapa pembaca di penghujung semester genap ini. Sesuai tema, ‘Menjadi Diaspora di India’ isinya pun bakal mengajak pembaca seputar fenomena terkini yang terjadi di India. Mulai dari opini pelajar diaspora, jalanjalannya pelajar ke Nepal, tulisan ilmiah, cerita delegasi PPI India ke Simposium PPI Asia-Oceania di Taiwan, profil diaspora membanggakan sepeti Prof dr Tjandra Yoga Aditama MHA (Ino) DTM&H (UK) DTCE (Jpn) SpP(C) (Ino), saat ini menjabat sebagai penasehat senior di kantor perwakilan World Health Organization (WHO) regional Asia Tenggara yang tinggal di New Delhi, hingga kunjungan dari Ketua Indonesian Diaspora Network (IDN) Dino Patti Djalal ke India. Wah menarik memang, menyimak cerita para diaspora Indonesia di India. Tidak seperti Negara maju, tinggal India punya banyak lika-liku dan ciri khas tersendiri, if you know what I mean, haha. Tinggal di India juga nggak bisa dibandingkan dengan Indonesia dong. Karena masing-masing Negara punya keunikan masing-masing. Nah, untuk kita yang masih punya sisa waktu di India, nikmati saja lah kalau kadang masih harus antri di ATM, berdebat sama supir auto karena kembalian kurang, lampu mati atau air yang mati karena cuaca ekstrim, dan pengalaman Incredible India lainnya. Majalah ini juga akan menjadi penutup kepengurusan PPI India periode 20162017, atas nama tim majalah online Namaste Indonesia dan Divisi Humas dan Publikasi PPI India, saya berterima kasih untuk pembaca, baik dari internal atau luar PPI India. Salam hangat, Pimpinan Redaksi, Dinda Lisna Amilia.

5


- Susunan Redaksi -

Penanggung-jawab : Brenny Novriansyah Ibrahim KETUA UMUM PPI INDIA

Pimpinan Redaksi: Dinda Lisna Amilia M.A. Mass Comm & Journalism. Mysore University, Mysore

Redaktur Pelaksana : G. A. K. Dwinda Deskastya M. B.A. Mass Comm & Journalism. Osmania University, Hyderabad

Editor: Fajar Riyantika M.A TESL. English and Foreign Language University, Hyderabad

Tim Divisi Humas dan Publikasi

1. Edwin Richard Huwae B.Sc Computer Science. Savitribayi College – Pune University, Pune

2. Padma Nabhan B.B.A. SRM University, Tamil Nadu

3. Anggy Eka Pratiwi M. Eng Information Technology. Gujarat Technological University, Gujarat


7


8


9


10


11


12


13


14


15


15


17


18


H

ari Selasa, 8 November 2016 sebenarnya bukanlah hari yang istimewa bagi rakyat India. Tidak ada berita besar yang sangat menghebohkan negeri Gandhi tersebut. Bahkan saat itu dunia internasional lebih dikagetkan dengan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Namun sekitar jam 7 malam, rakyat India dikejutkan dengan pengumuman ‘tiba-tiba’ dari Perdana Menteri Narendra Modi tentang penarikan mata uang. Modi menegaskan, “The notes of Rs 500 and Rs 1000 will not be legal tender from midnight tonight and these will be just worthless piece of paper”.Yang artinya, sejak 9 November 2016 jam 12 malam, mata uang dengan pecahan nilai yang tinggi yaitu 500 rupee dan 1000 rupee tidak berlaku untuk transaksi. Uang pecahan lain seperti Rs 100, 50, 20, 10, 5, 2, dan 1 rupee masih berlaku. Saat itu Modi mengatakan, pemerintah akan mengeluarkan uang kertas baru Rs 2.000 dan Rs 500. Selain itu, ada aturan baru soal peredaran uang diterapkan yaitu ada pembatasan penarikan uang di ATM hanya Rs 2000 per hari. Sementara penarikan uang dari bank maksimal Rs 10.000. Masyarakat diminta untuk menabungkan uang kertas (500 dan 1000 rupee) lamanya di bank atau ditukar. Jika ingin menukar uang kertas lama, harus mengisi formulir. Inilah kebijakan demonetisasi yang menarik peredaran mata uang lama. Sontak saja, keesokan harinya negeri yang dihuni 1,2 milyar jiwa ini kelimpungan. Masyarakat kesulitan untuk bertransaksi seperti di toko, restoran, sekolah, kantor, supermarket hingga pembayaran tiket transportasi. Dalam dua hari semua bank akan tutup. Saat hari ketiga bank buka, antrian di ATM pun mengular panjang hingga beberapa meter. Sekitar 2 minggu kondisi ini bertahan, masyarakat yang antri di ATM, harus menunggu sekitar 2 hingga 3 jam untuk bisa menarik uang. Bahkan di banyak tempat, persediaan uang di ATM hanya bertahan sekitar 3 atau 4 jamsudah ludes. Untuk bertransaksi, masyarakat dipaksa untuk mengandalkan kartu kredit atau debit (digital payment). 19

Kondisi ini memantik protes di seluruh negeri terutama dari pihak oposisi. Demonstrasi digelar hampir di semua ibukota state/provinsi. Bahkan ekonom kondang dan juga mantan Perdana Menteri India, Manmohan Singh, menegaskan kebijakan demonetisasi yang diimplementasikan Perdana Menteri Modi adalah “Monumental management failure”.Tidak hanya di dalam negeri, lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), langsung bereaksi. IMF segera memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India 2016-2017 dari 7,6 persen menurun hingga 6,6 persen. Semua pihak tidak habis pikir mengapa India memilih kebijakan yang sangat kontrovesial. Menciptakan ‘internal shock’ di dalam negeri yang dikhawatirkan kontra produktif dengan pertumbuhan ekonomi. Padahal sejak tahun 2015, India mencapaipertumbuhan tertinggi di dunia mengalahkan Tiongkok dengan pertumbuhan sekitar 7,5 persen pertahun. Kepanikan tidak bisa dihindarkan, demonetisasi akan memukul semua sektor ekonomi yang sedang tumbuh tinggi di India. Optimisme yang sedang membumbung tinggi seketika hancur lebur menjadi pesimisme yang kronis.


Lalu mengapa pemerintah India menerapkan demonetisasi ? Dalam pidato singkatnya, Modi menyatakan tujuan demonetisasi adalah untuk menghapus uang palsu, mengurangi korupsi, melawan terorisme dan untuk mengurangi black money. Modi menggunakan instrument kebijakan moneter untuk urusan keamanan dalam negeri. Saat itu India mendapat sejumlah ancaman terutama dari perbatasan (border). Demonetisasi digunakan untuk memutus rantai transaksi tunai yang terlibat dalam aktivitas terorisme. Sementara uang palsu (fake money) bukan hal yang jarang ketika bertransaksi di India. Bahkan kasus uang palsu yang diperoleh dari mesin ATM biasa ditemui masyarakat di sini. Selain itu, black money yaitu uang/pendapatan yang tidak tersentuh pajak. Biasanya untuk transaksi penyuapan atau korupsi. Korupsi masih menjadi penyakit kronis di India. Sebenarnya, demonetisasi bukanlah hal yang baru di India. Kebijakan serupa pernah dipilih oleh India pada tahun 1946 dan 1978. Namun demonetisasi yang ketiga ini dampaknya lebih dahsyat karena menarik 86 persen peredaran uang. Kenapa dipilih uang dengan pecahan tinggi? Karena uang dengan nilai pecahan tinggi (500 dan 1000) biasa digunakan untuk akumulasi black money. Bahkan saat demonetisasi, tidak aneh banyak orang yang membuang uang tunai (di dalam karung atau kardus) begitu saja di jalanan. Uang hasil korupsi biasa disimpan dalam bentuk tunai di rumah. Jika uang sebanyak itu (dengan pecahan 500 dan 1000) ditukar ke bank, pihak bank akan curiga dan selanjutnya pemilik uang itu akan diseret ke ranah hukum. Bagi para koruptor dan penyelundup, demonetisasi merupakan pil pahit bagi mereka. Amat jarang negara di dunia yang memilih kebijakan demonetisasi dengan tibatiba. Selain berisiko tinggi, kebijakan ini bisa menurunkan kepercayaan di dalam dan luar negeri terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. Sejumlah pihak yang tidak terlibat terorisme atau korupsi akan merasakan kesulitan juga.

Perdana Menteri Modi seakan ingin membasmi hama atau tikus di ladang. Dia tidak membasminya dengan pestisida namun membakar ladangnya. Tentu saja semua habitat (tidak hanya hama dan tikus) di ladang akan terbakar dan musnah. Namun bagaimanapun ada sejumlah fakta menarik yang bisa disimak dari dampak demonetisasi terhadap perekonomian India. Pertama, penurunan pertumbuhan ekonomi tidak sebesar yang diperkirakan. Sebelum demonetisasi, pada Quarter 2 (Juli-September 2016) pertumbuhan ekonomi India mencapai 7,4 persen. Saat demonetisasi, banyak pihak yang memperkirakan growth akan terjun bebas ke 6,4 persen atau 6,5 persen. Pada masa demonetisasi yaitu Quarter 3 (Oktober-Desember 2016), growth turun menjadi 7 persen, sementara periode selanjutnya Quarter 4 hanya sekitar 6,7 persen. Total pertumbuhan 2016-2017 sebesar 7,1 persen. Meski ada demonetisasi, India bisa mempertahankan pertumbuhan dikisaran 7 persen. Kedua, banyak sektor yang masih bisa tumbuh positif meski masyarakat kekurangan uang tunai saat demonetisasi. Berdasarkan laporan Jurnai Dalal Street Investment, yang dirilis pada 5 March 2017. Dampak demonetisasi terhadap pendapatan penjualan (sales revenue) 139 perusahaan yang terdaftar di Pasar Saham Mumbai, ternyata hanya 3 sektor yang memiliki pertumbuhan negatif yaitu otomotif (7 persen), energi (3 persen) dan telkomunikasi (5 persen). Bahkan beberapa sektor masih tumbuh 2 digit seperti minyak dan gas (10 persen), penerbangan (12 persen) , dan pakaian (14 persen).

20


Keempat, likuiditas bank meningkat. Biasanya kebijakan moneter konvensional untuk meningkatkan tabungan (saving) dengan menaikkan tingkat suku bunga. Namun tanpa menaikkan suku bunga, demonetisasi berhasil meningkatkan jumlah tabungan di bank. Sejak Februari 2017, likuditas bank meningkat sekitar 14 persen yang mendorong penurunan suku bunga. Beberapa bank sudah menurunkan suku bunga seperti ICICI dari 7,25 persen menjadi 7,1 persen dan HDFC dari 7 persen menjadi 6,75 persen. Tentu saja penurunan suku bunga akan menstimulus pertumbuhan sektor usaha. Dampak yang tidak bisa diabaikan juga meningkatnya ranking anti-korupsi India. B e r d a s a r k a n l a p o r a n Tr a n s p a r e n c y Internasional, peringkat India meningkat dari 76

pada tahun 2015 menjadi 70 pada tahun 2016. Indonesia malah menurun dari peringkat 88 pada tahun 2015 menjadi 90 pada tahun selanjutnya. Diperkirakan pada Quarter 1 2017-2018, India masih menjalani recovery paska demonetisasi. Namun bisa dikatakan recovery ekonomi India sebagai akibat dari demonetisasicukup cepat. Sekarang hampir semua aktivitas ekonomi sudah back to normal bahkan masyarakat disini mengira demonetisasi tak pernah ada. Hal ini menunjukkan India memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Kebijakan demonetisasi dalam jangka pendek memang sangat menyakitkan namun memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam jangka panjang (short-term pain long-term gain).

Beta Perkasa Master Economics, Bangalore University, Bangalore.

21


https://id.pinterest.com/pin/509399407840205833/


23


24


25


26


23


24


29


30


31


32


33


Namaste Indonesia Edisi 7  

Menjadi diaspora di India