Page 1

Adhai Din Ka Jhonpra - AJMER

http://ppi-india.org/buletin

EDISI

6


Prakata Ketua PPI India Salam perhimpunan! Persembahan untuk negeri tercinta bertema Merajut Mimpi di Tanah Gandhi adalah tema e-magazine Namaste Indonesia kali ini. Sebagai suatu upaya anak bangsa yang tengah memburu pengetahuan sejauh kurang lebih 7600 kilometer jauhnya dari ibu pertiwi, Untuk menemukan jawaban atas problematika Indonesia yang sedang dihadapi. Tentunya akan menjadi kebanggaan dan kepuasan bathin jika rangkaian tulisan ini dapat menjadi solusi dan kontribusi tersendiri. Tentunya, penerbitan edisi kali ini bukan hasil keringat sendiri, karena telah melibatkan banyak putra-putri terbaik tanah air yang sedang menimba ilmu di tanah Gandhi untuk mencurahkan segenap pemikiran dan keahlian yang dimiliki. Hanya ungkapan kalimat “Aduhai dara gelis di taman, banyak kasih nan rupawan. Wahai para penulis yang budiman, terima kasih kami ucapkan� yang terkumpul di lidah sebagai hadiah yang tak terperi. Antusiasme sahabat-sahabat keluarga besar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di India dalam menorehkan karyanya di e-magazine ini, patut mendapatkan aspirasi sebagai penyemangat dan pembangkit motivasi. Pesan yang tertera, ungkapan yang terbaca, maupun pemikiran yang disajikan tak akan pernah luput dari kesalahan dan kekeliruan yang lepas dari teliti. Segala masukan dan saran untuk perbaikan e-magazine akan kami terima dengan senang hati. Semoga para pembaca budiman terpuaskan dengan beragam informasi dan tulisan ini menjadi inspirasi. Terima kasih dan sampai jumpa kembali di lain edisi.

Salam, Brenny Novriansyah Ibrahim KetuaUmum PPI India


DAFTAR ISI

Profil

Lintas Peristiwa

35

3 Kuliner

Pengetahuan Umum

6

32 Politik

Cerita Pendek

30

10 Lintas Budaya Cerita Unik

27 Pendidikan

Wisata

23

18

15


Lintas Peristiwa

OLEH :

NISA PARAMADINA Degree (BA) in Psychology

Aligarh Muslim University

3


Indonesia Expose 2016

K

edutaan Besar Republik Indonesia untuk India sukses menyelenggarakan Indonesia Expose 2016 dengan tema “Seizing Trade, Industry, Tourism, Investment, and Service (TITIS) Opportunity from Indonesia� di Le Meridien

Hotel, New Delhi, 7-9 Oktober 2016. KBRI bekerja sama dengan kamar dagang dan industri ternama India; India Chambers of Commerce (ICC), Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry (FICCI), Associated Chambers of Commerce and Industry of India (Assocham), PHD Chambers, serta perusahaan Aditya Birla Group. Duta Besar RI Rizali Wilmar Indrakesuma saat membuka acara menyebutkan bahwa Indonesia ExposĂŠ 2016 merupakan salah satu bentuk upaya diplomasi ekonomi untuk mempromosikan diversifikasi produk ekspor Indonesia di India serta promosi untuk berinvestasi di Indonesia. Target dari kegiatan ini adalah komunitas-komunitas bisnis India. Beberapa sektor bisnis yang mengikuti kegiatan ini adalah produk terkait agrikultur, makanan dan minuman, energi terbarukan, industri perhotelan dan kesehatan, aroma terapi/ayurveda, logam dan perhiasan, manufaktur, dan juga minyak mentah. Industri pariwisata juga mengenalkan potesnsi mereka ke pasar India.


Indonesia

Expose

2016

dipandang

sebagai platform yang sangat baik untuk meningkatkan

kemitraan

ekonomi

strategis dan kerja sama bilateral antara para

pemangku

meningkatkan

kepentingan,

hubungan

serta

perorangan

antara bangsa.

3 hari Expose ini terdiri dari serangkaian acara yaitu seminar dan bisnis talk show untuk menampilkan potensi yang kuat Indonesia

di

sektor

kelapa sawit, emas, energi terbarukan, produk kopi, produk agro serta

menjelaskan investasi iklim di Indonesia; pameran komoditas Indonesia; gala dinner yang mendorong budaya yang kaya Indonesia, fashion, kuliner; festival kuliner di CafĂŠ One Le Meridien Hotel yang disajikan masakan asli Indonesia yang dimasak oleh Cooks Bali dari Westin Hotel, Nusa Dua. Sebagai bagian dari diplomasi budaya, Expose diselenggarakan lokakarya batik menggunakan canting (Alat untuk melukis) dan Malam (lilin untuk memblokir penyerapan warna) yang dipimpin oleh Enggar Collection; serta demo memasak makanan Indonesia menggunakan minyak goreng produksi Indonesia. Eksibisi ini diikuti oleh 13 perusahaan asal Indonesia diantaranya PT. Garuda Food Indonesia, PT. Kopi Toebroek Indonesia, PT. Tropika Indonesia, Kopiko. Perwakilan dari kalangan industri, Pemerintah Kota Kebumen, dan Buru Selatan. Perusahaan peserta Eksibisi mengenalkan produkproduk asli Indonesia seperti batik, makanan ringan, perhiasan, bumbu khas Indonesia, kopi, dan minyak sawit. Ibu Farida, peserta eksibisi dari PT. Kopi Toebroek Indonesia mengatakan Expose berlangsung cukup baik meski persiapan sangat singkat. Beliau berharap semoga ada kesempatan lebih baik di masa yang akan datang.


KULINER

OLEH :

Muhammad Amirul Haqqi B.A. (Honours) in French

Delhi University

6


India: Surga Bagi Para Foodie Monster

INDIAN FOOD

Selain lebih otentik dalam rasa, makanan tradisional di India juga sangat terjangkau. Bagaimana tidak, dengan hanya sekitar 50-250 Rupees (10-50 ribu Rupiah) saja, kamu para Foodie Monsters bisa makan paling tidak satu makanan khas India dengan puas. Tapi, beware, memakan makanan India juga akan menjadi pengalaman yang cukup menantang. Tambahan rasa khas Masala dan rempah-rempah lain menjadikan makanan khas India berbeda dari yang lain; lebih spicy dan mengguncang lidah.


Ngaku Foodie? Pernah mendengar tentang Masala? Nah, ini dia 5 makanan India yang wajib dicoba untuk para Foodie Monsters versi penulis: 1.

Butter Chicken with Garlic Naan Makanan berat berbahan ayam ini sangatlah populer di seluruh wilayah India. Ayam disajikan dengan gravy kuah dari tomato puree, krim, butter, dan rempah-rempah. Biasanya Butter Chicken hangat ditemani Naan yang baru diangkat dari panggangan, roti khas India yang terbuat dari tepung terigu

yang

dibuat

di

tandoor,

atau

panggangan roti. Acar bawang dan mint chutney juga disajikan. Makanan ini sangat disukai anak muda, terutama di India bagian utara. 2. Masala Dosa Makanan unik dari India selatan, Dosa. Namanya unik untuk orang Indonesia, bagaimana tidak, kamu makan Masala(h) dan Dosa, so badass! Dosa sangat mirip dengan

kulit

crĂŞpes

atau

pancake.

Makanan ini terbuat dari tepung yang kemudian disajikan dengan aloo (mashed potato) yang diberi masala. Ditemani dengan berbagai saus seperti shambar, daal, dan coconut chutney, kamu bisa dip Dosa-mu yang sangat krispi dengan berbagi

varian

saus.

Kamu

bakal

ngerasain macam-macam rasa yang susah buat dijelasin ketika makan makanan veg ini.


3. Chole Bhature Makanan veg ini penyajiannya mirip dengan Dosa. Bhature, mirip dengan Puri, terbuat dari tepung terigu yang kemudian

digoreng,

deep

fried.

Sementara, Chole adalah saus dengan black chana (kacang hitam) yang terbuat dari kacang, tomato puree, bawang, dan rempah lainnya. Biasanya, rasa masala di Chole Bhature tidak terlalu kuat. Makanan ini sangat enak disantap ketika lunch break saat musim dingin. Untuk lidah Indonesia, Bhature mungkin sangat cocok, namun Chole dengan tipikal rasa Indianya-lah yang menantang. 4. Panipuri atau Golgappa Street food satu ini umum dijumpai di bagian utara dan timur India. Puri terbuat dari tepung dibentuk seperti bola krispi mirip krupuk namun bagian dalamnya kosong, versi mini dari bathure. Kemudian diisi atau dimakan

dengan

dipping

sauce

terdiri dari campuran pani atau air bersama dengan rempah, masala, tamarind

chutney,

kentang,

dan

cabe. Krupuk puri yg renyah dipadu dengan

aloo,

saus

dan

pani

menghadirkan sensasi unik ketika kita melahapnya. Snack ini bakal sangat menantang buat orang Indonesia, seriously, bahkan sampai ada Golgappa Eating Challenge. Wajib coba!


5. Gulab Jamun

Satu - satunya sweets di daftar ini. Gulab Jamun adalah dessert atau manisan yang disantap setelah makan makanan berat. Bola-bola manisan ini terbuat dari tepung yang dimasak dengan gula dan saus karamel, kemudian didiamkan hingga kuah karamel merasuk sempurna. Biasanya disajikan satu atau dua biji, disiram dengan saus karamel panas. Gulab Jamun bisa dimakan panas atau dingin sesuai selera.

Gimana? Sudah siap nyobain gimana rasa masala? Sudah nentuin mau nyoba makanan mana dulu nie


Cerita Pendek

OLEH :

Mujahidatul Khoiriyyah B.A Psychology

Aligarh Muslim University

10


Kiki “Sikat giginya!!!!!” Teriak bunda setiap kali Kiki mandi. Setiap itu pula Kiki lari tebirit-birit menghindar dari jurus sakti bunda si Hulk versi feminin dengan kekuatannya yg dahsyat. Kiki benci menyikat giginya. Bunda akan mengejar dan menggotongnya kembali ke kamar mandi dan memaksa membuka mulutnya agar sikat dapat menggapai gigi kecilnya. Tentu Kiki selalu meronta bagai topan Cimaron dibawah jepitan ketiak bunda. Perang dunia berlangsung konsisten setiap jadwal mandi Kiki tiba. *** Dengan gagah dan sisiran rambut klimis hasil karya bunda yang membuatnya tampak seperti gentleman klasik kuno Kiki keluar sembari membawa tas Power Rangernya. Kiki diantar ayahnya pergi dengan sepeda motor yang terdapat tas sayur dibagian belakang jok motor tersebut ke sekolah yang hanya diperuntungkan pada hari senin dan kamis. Sepanjang jalan Kiki banyak mengoceh, mengkritisi ukuran mobillah, mendeskripsikan ibu-ibu naik becaklah, dengan bahasa dan imajinasi dari dunianya yang tak dapat dimengerti. Mungkin jika penelitian mengungkap wanita dapat berbicara 20.000 kata perhari, Kiki bisa 20.000 kata per-jam. “Udah loh Ki..Udah.. itu-itu aja yang diomongin, ayah yang dengernya yang capek. Kiki ga capek ngomong mulu?”. “Apek” celetuknya. Lalu Kiki mengoceh lagi…. #pura-pura mati. *** “Ah, akhirnya sampai.” Berakhir sudah penderitaan ayah untuk hari ini.

Warna kuning cerah dinding sekolah

menginterpretasikan keceriaan dengan papan besar bertuliskan Rumah Autis menyambut mereka. Yah, Kiki seoarang anak spesial yang para dokter menyebutnya autism. Ia sudah berumur 8 tahun dengan sikapnya selaras dengan anak berumur 8 bulan.


Kiki sebagai sosok yang hiperaktif tingkat dewa selalu membuat para guru pegel linu binti encok. Terutama saat belajar kemandiriaan. Mengkondisikan Kiki untuk menyikat gigi mengalahkan lelahnya kerja rodi pada zaman penjajahan belanda. *** Bunda tahu apa yang terjadi diluar sana ketika Kiki bermain bersama temantemannya.

Membiarkan Kiki bermain layaknya anak normal mungkin akan

membantunya berkembang dalam bersosialisasi. Kiki tetap mempertahankan ekpresi keceriaan diwajahnya meski temannya memaksa untuk tidak bergabung dengan cara mendorong, membentak bahkan mengusirnya. Kiki tampak tak memiliki perasaan, tapi justru itu terlihat menyedihkan. Bunda hanya memeluknya ketika Kiki kembali kerumah tanpa bicara apapun. Dan Kiki selalu membalas dengan cengiran kuda membuat bunda kembali tertawa geli. “Seandainya ia tahu rasa sedih…” *** “Kiki sikat gigi!!” Bunda kembali berkoar. Kali ini Kiki tampak lebih cerdas dari biasanya. “Ikii akit anas (Kiki sakit panas)” jawabnya melemahkan suara. Bunda tertawa, dan bergumam “Mereka benar-benar aktor yang buruk”. Hingga akhirnya tentu bunda yang selalu memenangkan peperangan. Sore itu ayah mengajak Kiki berkebun. Kiki menyukai sesuatu yang kotor. Apalagi ketika ayah memintanya memasukan pupuk dari kotoran kambing kedalam lubang yang disediakan untuk tanaman. Ayah menjadi begitu cerewet dan cempreng sejak memiliki Kiki. Bagaimana tidak ? misalnya ketika ayah melarang Kiki menginjak kotoran ayam didepannya, ia justru menghentakkan kakinya di atas kotaran itu dengan ekpresi wajah kesongongannya seolah memberi stimulus agar sang ayah naik darah.

*** “Oiii gandeng edan!! (Oii berisik gila!!)” Teriak seorang tetangga mengheningkan suara ribut musik abstrak yang dihasilkan Kiki dari galon kosong dan spatula yang diambilnya dari dapur. Bunda keluar meminta maaf dan menarik Kiki kedalam. Seringkali


tetangga merasa terganggu akan kehadiran Kiki bagai anak laki-laki terkena kutukan. Membuat keributan yang membuat orang marah seolah sesuatu yang menyenangkan baginya, mungkin ia hanya ingin dilihat, diacuhkan meski dalam bentuk amarah. Setidakanya itu yang bunda pikirkan.

*** Hujan rintik semalam menghasilkan tanah yang sedikit lembab dipagi hari. Udara dingin menerpa, tak memberi kesempatan bunda dan ayah untuk menarik selimut segera, karena mereka harus pergi di pagi buta. Kiki ditinggal didalam rumah sendiri dengan makanan instan yang mencukupi. Hari ini hasil kebun akan dibawa kepasar. Pasar berada dipusat kota. Sepeda motor melaju dengan kecepatan rata-rata. Tampak mobilmobil besar mengangkut barang-barang industri menggerogoti jalan raya. Mereka melaju tanpa tahu diri dengan kecepatan yang tak menentu. Berniat mendahului motor ayah, salah satu mobil besar penganggkut semen justru menyenggol badan motor yang ayah kendarai. Terpentalah mereka dengan cepat hingga terpisah dari motor dan sayuran bertaburan bagai bunga sakura dimusim gugur. Seolah dunia berhenti sejenak, bunda terlempar. Bayangan tentang kiki seolah terpampang didepan matanya. Senyumnya, tawanya, bulu matanya yang lentik, caranya melawan setiap bunda memintanya untuk menyikat gigi setelah mandi. “Kiki..� Lalu semua bagai tenggelam dalam lubang hitam. Gelap.

Mereka dilarikan kerumah sakit terdekat. Syukurnya mereka bertahan.

*** Hari itu lingkungan rumah tampak sepi. Kiki menjelajah ke rumah-rumah tetangga mencari seseorang untuk siap mendengarkan

celotehannya. Seorang ibu tampak

sedang mencuci piring dikamar mandi terbuka khas perkampungan. Kiki mendekatinya, bertanya tanpa henti dengan pertanyaan yang monoton. Si Ibu tampak geram dan muak. Ibu itu berdiri, mengangkat baskom berisi bekas air cucian piring. Lalu dengan sengaja


menumpahkannya ke atas kepala Kiki. Kiki terkejut. Hati bunda teriris saat melihat kejadian itu dari balik jendela dapur. Kiki pulang basah kuyup. Bunda menyambutnya dengan pukulan dibokong kiki. “Kiki!! Berhenti buat orang lain kesal!! Kalo orang bilang pergi, ya pergi!! ” Teriak bunda marah Tak kuat menahan perih air mata bunda menetes. “Nanti gimana kalo bunda ga ada?!! Siapa yang jaga Kiki!!” Suara tangis membuncah diruang tengah. Kiki terdiam, setetes air matanya jatuh. Bunda memeluknya. “Menangislah nak, tak apa. Apapun yang terjadi, bagi bunda Kiki adalah hal yang terbaik di dunia Ini” *** “Kiki sikat giginya!!!”


Cerita Unik

OLEH : Gusti Ayu Kade Dwinda Deskastya M. B.A. (Mass Communication) Osmania University

15


MANISNYA TANAH RANTAU

Apa yang terlintas pertama kali saat anda mendengar kata “India�? Filmnya yang eye catching? Aktornya yang rupawan dan menawan? Budaya yang menarik untuk diketahui dan tempat-tempat yang cantik untuk dikunjungi? Atau jumlah populasi yang berlebihan? Well, tidak ada jawaban yang salah ataupun benar untuk pertanyaan yang saya utarakan tadi, hehe. Nah, saya akan berbagi sedikit tentang pengalaman saya selama berada di tanah Gandhi ini kurang lebih dua tahun terakhir.

Banyak hal yang pernah saya alami di sini;

gelengan kepala ini sangat tidak membantu

pahit, asem, asin. Rame deh pokoknya,

menjawab pertanyaan kita. Kalau nggak mau

macam

Eeeitttssss,

menyalah artikan, lebih baik ditanyakan dan

bacanya jangan tegang ya. Saya hanya akan

diperjelas lagi. Apa maksud gerakan kepala

membagi pengalaman unik dan lucu yang

mereka, karna bisa saja itu berarti iya, tidak,

pernah saya alami.

atau bahkan tidak tahu dan ragu-ragu.

makan

nano-nano.

Kisah lucu yang saya alami sendiri pada saat

1. Komunikasi salah arti Masyarakat asli India terkenal dengan gelengan kepala mereka ketika sedang berkomunikasi. Nah, selain gerakan kepala mereka yang sangat lentur, mereka juga menggunakan

gelengan

kepala

untuk

menjawab “yes or no question�. Namun uniknya, gerakan gelengan kepala mereka

Antara gelengan iya atau tidak, sampai detik saya

masih

tidak

berbelanja bulanan ke salah satu supermarket yang agak jauh dari rumah saya. Nah, pada sore itu bill taksi saya sekitar 200 rupees. Saya hanya memegang uang pecahan 500 rupees dan saya kurang beruntung karena pak supir taksi tidak mempunyai kembalian. Akhirnya saya memutuskan untuk menukar

sangat sulit dibedakan.

ini

membayar taksi. Jadi pada saat itu, saya

mampu

untuk

membedakannya. Jadi, dengan kata lain

uang 500 rupees saya dengan lima pecahan 100

rupees

di

warung

kecil

depan

supermarket. Saya bertanya ke penjaga warung apakah beliau bisa membantu


menukarkan uang saya dan dia dengan sigap

berpakaian mereka. Namun, untuk kaum

menggerakkan kepalanya yang sudah pasti

pria. Hmmmmm, saya sarankan harus hati-

gerakan gelengan. Sekelebat saya berjalan

hati. Waria di sini akan mencari kaum pria

cepat masuk ke dalam supermarket untuk

dengan meminta uang. Biasanya sih mereka

menukar uang 500an saya karna pak supir

nggak akan pergi kalau belum dikasih uang

taksi sedang menunggu saya. Dan si bapak

wkwkwwkwk. Jadi, kalau mau aman, cukup

penjaga warung berteriak memanggil saya

berikan 10 rupees (sekitar 2 ribu rupiah) saja.

dan memberitahu saya bahwa beliau bisa

3.

membantu saya. Saya membathin, “Oh ya,

India memiliki 29 negara bagian dan 7 daerah

gelengan kepala juga bisa berarti yes.�

khusus. Kalau kita dolan di Indonesia

Sayapun berlalu sambil tersenyum geli.

meskipun ke luar pulau, SIM Card yang kita

2. Waria yang garang

gunakan akan bertarif sama ketika kita

Wahhhh ini nih pengalaman yang sedikit

berada di rumah. Namun hal ini tidak berlaku

membuat jantung saya berdebar. Kalau sudah

di India loh, guys. Yes! You got it right. Jika

bertemu

yang

kita keluar state di India, secara otomatis,

menggunakan sari (baju khas India) dan

SIM Card yang kita gunakan akan berubah

terlihat sangat menor, jangan langsung lari ya

tarif yang sudah ditentukan operator. Tapi

hehehe. Terutama untuk kaum wanita,

jangan khawatir, karna tarif yang ditawarkan

mereka sangat bersahabat dengan kaum

tidak memberatkan kantong kamu, kok!

dengan

lelaki

kekar

Roaming

wanita dan sama sekali tidak seseram gaya

Segala kejadian lucu ini menjadi gula dalam perjalanan saya menempuh pendidikan di tanah Gandhi selama dua tahun terakhir. Apapun yang terjadi, baik unik maupun susah, saya dan kawankawan mahasiswa Indonesia lainnya harus lalui. So, buat kawan-kawan di Indonesia yang ingin merasakan manisnya gula yang saya rasakan di sini, saya tunggu kehadirannya di tanah Gandhi, ya! Salam!


WISATA

OLEH :

Siti Zahara MA Sociology University of Madras

18


MENIKMATI HIJAUNYA TRIVANDRUM, KERALA

“The journey of a thousand miles begins with a single step.� -Lao Tzu -

B

isa dibilang, langkah saya ke India, atau lebih tempatnya Chennai, merupakan langkah pertama menuju perjalanan panjang saya selama di India. Namun tulisan kali ini adalah tentang perjalanan saya ke Trivandrum atau Thiruvananthapuram, ibukota Kerala yang

terkenal dengan nama wisata 'Land of Spices', karena di negara bagian inilah expor terbesar rempah-rempah di India. Makanan-makanan di sini pun lebih yummy dan legit dibanding negara bagian lainnya, kalau menurut saya pribadi sih, lebih bisa diterima sama lidah Indonesia saya hehehe. Tapi bukan tentang makanan yang akan saya bahasa, tak lain adalah beberapa tempat 'refreshing' yang benar-benar bikin pikiran relax dan tenang, terutama dari penat dan panasnya Chennai. Trivandrum kota yang hijau, adem, bersih, tidak padat penduduk, lebih sekuler dan lebih ramah dengan orang-orang yang non-vegetarian sehingga banyak pilihan untuk menu-menu non-veg. Walaupun Trivandrum adalah ibukota negara bagian, tapi tidak tampak seperti ibukota dengan hiruk pikuk kemacetan dan tidak padat penduduk. Banyak destinasi wisata di sekitaran Trivandrum yang mesti dikunjungi, dan berikut adalah beberapa tempat yang saya kunjungi selama tiga hari di sana:

NAPIER MUSEUM Musium yang dibangun tahun 1855 ini berada di Pusat kota Trivandrum. Musium ini buka dari jam 10 pagi sampai dengan jam 5 sore. Perlu diingat, ya, musium tutup dihari Senin. Harga tiket masuk ke musium Napier untuk warga lokal dan internasional dipatok sama, cuma 10rs aja! Bangunan musium ini terlihat familiar bagi orang Indonesia, seperti atap dan bentuk bangunan itu sendiri. Tidak heran karena raja Sree Chithra Thirunal yang membangun musium ini pernah berkunjung ke Kalimantan, Bali, dan Jawa. Musium ini memamerkan relik-relik bersejarah, pahatan-pahatan dari gading gajah yang cantik dan menakjubkan, lukisan-lukisan dan yang menarik adalah banyaknya peninggalan-peninggalan yang diambil dari Indonesia terutama Jawa


dan Bali, seperti pakaian, kain, topeng, boneka, dan Barong. Berkunjung ke musium ini memperlihatkan bahwa sejak jaman dulu Kerala sudah berhubungan dengan bangsa Indonesia.

MEENMUTTY WATERFALL Meenmutty cocok buat yang suka trekking di hutanhutan. Jaraknya sekitar 40kms dari pusat kota Trivandrum, atau sekitar satu jam perjalanan. Untuk mencapai lokasi, bisa melalui bis dari East Fort Bus Terminal ke arah Ponmodi, dan turun langsung di depan gerbang Meenmutty Waterfall. Berada di lokasi Meenmutty, seperti berada di hutan film The Jungle Book, minus binatang-binatang liarnya. Bagi yang sering mengunjungi berbagai air terjun di Indonesia, air terjun di Meenmutty ini sebenarnya terlihat tak begitu istimewa. Namun yang membuatnya spesial adalah trekking dengan dikelilingi banyaknya pohonpohon tua besar yang berusia ratusan tahun dan bebatuan raksasa yang membuat serasa seperti di hutan rimba tua. Meetmutty Waterfall buka setiap hari. Cuma mereka masih membatasi jam kunjungan hanya dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore. Tiket masuk untuk warga lokal 20rs dan foreigner 200rs.


PONMODI Dari Meenmutty, kita bisa lanjut ke Ponmodi, wilayah perbukitan yang sejuk dan dingin. Selama perjalanan ke Ponmodi, kita akan dimanjakan dengan pemandangan perbukitan dan lembah yang hijau, perkebunan teh dan pohon-pohon yang rindang, jalanan yang berkelok-kelok, udara yang sangat segar. Pokoknya, adem dan menenangkan banget. Sesampainya di puncak Ponmudi, kita bisa menikmati hamparan perbukitan yang begitu luas dengan hembusan angin semilir. Ada bukit yang diselimuti dengan rerumputan dan ada juga bukit yang sebagian berbatu. Untuk masuk wilayah ini, kita juga mesti bayar tiket masuk. Sama seperti di Meenmuty waterfall, 20rs untuk lokal dan 200rs untuk foreigner. Jadwal kunjungan setiap hari namun hanya dari jam sepuluh sampai jam lima sore.

POOVAR BACKWATER Jika berkunjung ke Trivandrum jangan lupa untuk menikmati wisata boating menelusuri hutan mangrove. Kita mau tidak mau memang harus sewa boat, harganya sekitar 800rs. Agak berat kalau sendiri, jadi mesti bawa temen biar bisa patungan (hehehe), tapi setimpal lah karena wilayah cakupan wisatanya lumayan luas. Selain mengajak kita jalanjalan, supir boat-nya juga menjelaskan tentang hutan mangrove, tumbuh-tumbuhan bahkan burung-burung cantik seperti kingfisher yang ada di sekitar mangrove itu. Sayangnya saya selalu gagal mengabadikan foto burung kingfisher. Setelah menelusuri hutan mangrove yang mempesona, tibalah ke perairan yang lebih luas dimana kita bisa menemukan delta yang ada di tengah lautan dan cottages serta rumah makan dipinggiran pantai. Alamak, pas buat honeymoon! Seperti wilayah India lainnya, di sini banyak banget burung-burung, bukan merpati atau gagak, melainkan burung elang yang jumlahnya ratusan berkumpul dipinggiran pantai.


VARKALA Setelah jalan-jalan ke wilayah pegunungan, tak ada salahnya melihat wilayah pantai di Kerala. Ada banyak transportasi publik menuju Varkala, baik bus atau kereta. Wilayah ini sangat terkenal di kalangan turis Eropa. Bahkan jika diperhatikan dengan seksama, beberapa toko di daerah ini bertuliskan huruf Cyrillic, atau huruf-huruf Rusia. Varkala terkenal sebagai tempat para yogis, dan hippies. Pantainya terkenal dengan nama Papanasam Beach yang artinya pantai penebusan dosa. Di pagi atau sore hari, kalau lagi peak season, banyak turis-turis yang melakukan yoga di pinggir pantai itu. Di sini juga banyak homestay dan restoran yang langsung menghadap ke pantai dimana kita melihat sunset. Dan di sini juga banyak yang jualan dari buku, kosmetik herbal, oleh-oleh yang berbau etnik dari India atau Tibet sampai yang jual ‘daun memabukkan’ pun ada!

Jalan-jalan di Trivandrum begitu nyaman. Buang jauh-jauh image lokasi yang kotor, toilet yang bau atau banyaknya pedagang keliling yang sering mengganggu kenyamanan. Seperti ketika berkunjung ke Meenmutty, Ponmodi, dan Poovar Backwaters saya tidak menemukan pedagang kaki lima atau warungwarung liar disekitaran wilayah wisata itu. Jadi jika mau berkunjung ke wilayah pegunungan, jangan lupa beli snack atau bawa bekal, karena di perjalanan akan sulit menemukan restoran atau toko klontong. Cuma di wilayah-wilayah pantai seperti Varkala atau Kovalam yang banyak restoran dan pedagang kaki lima. Dan jangan lupa untuk mencicipi makanan lokalnya, seperti dessert payasam, appam, putt, beef fry, sadya, kodai chicken dan ikan kareemin pollichathu yang seperti pepes ikan bakar, yum!


PENDIDIKAN

OLEH :

Raegen Harahap Master of Political Science Aligarh Muslim University

23


Kenapa Kuliah di India?

Melanjutkan studi ke Jenjang S2 adalah mimpi bagi banyak orang. Baik itu bagi kamu yang baru lulus dari jenjang S1 atau yang sudah bekerja. Sayangnya, mimpi tersebut seringkali terkendala oleh banyak faktor. Misalnya, mau mendaftar S2 di kampus negeri di Indonesia, terlalu banyak saingannya. Sementara mendaftar S2 di kampus swasta, biayanya selangit. Kalau begitu, tidak ada salahnya mencari alternatif lainnya. Yes, ada sebuah Negara yang menawarkan biaya pendidikan murah dan berkualitas. Mana lagi kalau bukan India. Kalau ada yang bilang Indiakan belum ada apa-apanya dibandingkan Indonesia? Eitss, jangan mudah menelan informasi tanpa mencari tahu kebenarannya. Berikut ini akan saya rangkum alasan secara umum kenapa orang Indonesia memilih S2 di India

Biaya Pendidikan Terjangkau

Belajar Bahasa Inggris.

Khususnya untuk pendidikan tinggi, ada banyak universitas

Sudah banyak yang tahu India menggunakan

yang terjangkau dan berkualitas. Sebut saja Aligarh Muslim

bahasa inggris sebagai pengantar pelajaran. Mulai

University,

dari tingkat primary sampai PhD. Dan buku

University, Banaras University dan Delhi University. Jejeran

referensi pelajarannya pun berbahasa inggris. Bagi

kampus itu berada dalam 10 top university di India. Soal

kamu yang masih merasa gagap dengan bahasa

biaya, kuliah di India secara umum cukup murah dan tidak

inggris, dan ingin mahir berbahasa inggris , di India

perlu merogeh kocek terlalu dalam karena rentang harga

bisa jadi alternatif. Tidak semua kampus mematok syarat TOEFL yang tinggi. Oleh karena itu, bahasa Inggris dijadikan sebagai media pembelajaran.

Jawahallar

Nehru

University,

Osmania

mulai dari 75.000 (15 jutaan, dengan estimasi 1 rupees adalah Rp 200). Biaya tersebut adalah biaya selama masa studi. Konon biaya untuk foreigner seperti saya adalah yang paling mahal. Saya sejak S1 hingga sekarang (S2) adalah

Secara tidak langsung, kita juga harus belajar

mahasiswa self finance di Aligarh Muslim University (AMU)

bahasa inggris di kelas. Eh tapi kalau bisa tidak

yang merupakan universitas tua yang didirikan pada tahun

hanya di kelas ya. Kalau bisa, dikurangi intensitas

1877. Bidang ilmu yang terkenal di sini adalah di bidang Ilmu

hang-out

Sosial, Untuk S2, saya hanya

dengan

teman

sesama

Indonesia.

membayar sekitar Rp17

Ngobrol dengan teman dari Negara lain juga

jutaan sampai selesai dengan jangka waktu kuliah 4

menjadi ajang pembelajaran untuk kita.

semester (2 tahun). Sedangkan di Indonesia, master di bidang ilmu sosial dan politik berkisar antara 30-40 jutaan dengan jangka waktu 3- 4 semester.


Buku Murah Meriah

Biaya Hidup Murah

Berbicara mengenai buku, harga buku di Indonesia tidak

Sebenarnya tidak bisa dipukul rata. Tidak semua kota di

sebanding dengan harga buku di India. Harga buku

India menawarkan biaya hidup yang rendah. Nah, cara

sangat murah sekali di india. Bagi kamu yang hobi membaca, India merupakan tempat yang cocok untuk kamu, karena India lah Surganya buku. Harga buku di india sangat lah murah meskipun terbitannya dari Amerika dan Inggris, seperti Penguin dan Oxford. Karena

menyiasatinya adalah memilih Universitas di tempat yang bukan kota besar. Kota saya, Aligarh jarak tempuhnya sekitar tiga jam dari New Delhi. Aligarh adalah kota kecil. Biaya hidupnya sangat murah. Percaya

murahnya harga buku di India, India pernah mendapat

deh, saya bisa bertahan dengan sekitar 5000 rupees atau

sorotan dari Media The New York Times pada tahun

sekitar Rp 1 juta saja. Itu terdiri dari uang kost Rp 400

2008. Salah satu faktor yang membuat buku murah di

ribu perbulan, uang listrik Rp 50 ribu perbulan, dan uang

India adalah karena adanya penerbit lokal yang mencetak

makan Rp 550 ribu perbulan. Uang makan itu sudah

ulang buku-buku dari luar negeri. Kekurangannya, buku

dihitung beli peralatan dapur seperti gas, minyak, beras,

diproduksi dengan kertas paperback. Jadi kualitas kertasnya memang tidak seberapa bagus. Tapi asalkan kita menjaganya dengan baik, buku tersebut bisa awet

sayur, termasuk chaai dan manisan India untuk camilan. Kota lain yang juga terkenal punya biaya hidup yang cukup murah, adalah Chennai (state Tamil Nadu),

kok.

Mysore (state Karnataka), dan Kochi (state Kerala).

Beasiswa ICCR Untuk pembiayaan kuliah di India, kita bisa mengikuti dua cara. Pertama adalah self finance seperti saya. Kedua, adalah cara yang dilakukan oleh sebagian besar diaspora pelajar di India, yaitu dengan program beasiswa yang disediakan oleh pemerintah India atau yang dikenal dengan istilah Indian Council for Cultural Relations (ICCR). Program ini merupakan wujud promosi pemerintah India akan dunia pendidikannya. Setiap tahun, pemerintah India mengeluarkan ribuan beasiswa ICCR untuk puluhan Negara berkembang. Di Indonesia sendiri, kuotanya sekitar 20 orang pertahun. Kebanyakan dialokasikan untuk S2. Biasanya beasiswa ini diadakan pada bulan November setiap tahun. Biasanya test-nya diadakan di Medan, Jakarta, Surabaya, dan Bali. Nah, bagi yang tertarik bisa sering-sering browsing soal ICCR.


LINTAS BUDAYA

OLEH :

Ana Zulianingrum MA TESOL, EFL Univ Hyderabad.

27


Nge-Chai, Elevenses-nya India Siapa yang tak tahu teh? Dari ujung Afrika sampai ujung Amerika semuanya pernah minum teh, dari ujung Kanada sampai ujung Australia pun setidaknya pernah merasakan betapa nikmatnya minum teh. Sepertinya hanya sepele, namun aktifitas nge-teh ini telah menjadi bagian dari budaya internasional yang masih dilakukan sampai saat ini, termasuk di India. India mempunyai teh khas yang dinamakan Chai. Teh yang merupakan racikan dari teh, rempah, susu, dan lainnya ini sangatlah favorit. Jika Anda berjalan disepanjang jalanan kota, Anda akan menjumpai kedai Chai yang menjamur dipinggiran trotoar. Dari pagi, siang, sore, bahkan sampai malam pun kedai Chai akan tetap ramai pembeli karena tradisi nge-Chai tersebar diseluruh kalangan baik dari laki-laki maupun perempuan, dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang kecil sampai yang tua, hampir semua rakyat India suka nge-Chai. Selain karena harganya yang murah meriah, rasa menjadikannya favorit masyarakat Jika ditelisik

Chai yang nikmat Tea, a wonderful drink The more you have, the more you think The more you think, the more you write

memiliki

sejarah

So, let’s drink tea all day and night

panjang.

Sejarah

(Daniel Dalton)

lekang

dimakan

sebagai

minuman

negeri Ghandi ini. lebih dalam, Chai yang budaya

cukup yang tak

waktu ini bermula

saat Inggris menduduki India tahun 1600an. Terlepas dari munculnya penjajahan dan perbudakan, secara tidak langsung Inggris mulai menularkan adat budaya mereka. Selain menularkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua nasional, Inggris juga menularkan budaya Elevenses. Menurut kamus besar Cambridge, elevenses merupakan kata yang diambil dari kata “eleven� yang berarti sebelas. Elevenses dapat diartikan sebagai sebuah aktifitas rutin kaum Eropa untuk mengkonsumsi teh diantara waktu pagi dan siang yang normalnya dilakukan dijam 11. Namun berhubung saat itu komoditas teh di India sangatlah minim, maka para bangsawan Inggris menggantinya dengan Chai. Inggris mulai menanam teh besaar-besaran yang diambil dari China mulai tahun 1830an. Mulai saat itu, mulailah muncul perkembangan komoditas teh yang diekspor ke Inggris Raya. Perlu diketahui bahwa India merupakan proodusen terbesar kedua teh didunia dan 70%


dikonsumsi untuk kebutuhan dalam negeri. Statistik menunjukkan bahwa negeri yang dihuni lebih dari 1 milyar orang ini mengkonsumsi sekitar 837.000 ton setiap tahun sehingga tak heran jika pada akhirnya Chai dideklarasikan sebagai minuman nasional negeri Gandhi ini. Perlahan tapi pasti, budaya minum Chai jam 11 pagi menjadi budaya yang mengakar kuat dikalangan masyarakat. Jika Anda berada dikantor ataupun universitas, jangan heran jika pukul 11.00 tepat pekerja kantoran, mahasiswa, dosen, dan siapapun itu akan menghentikan pekerjaannya dan lebih memilih untuk nge-Chai. Sesibuk apapun kalau sudah jadwalnya nge-Chai maka mereka akan meninggalkan rutinitas sejenak untuk lebih menikmati nikmatnya secangkir Chai. Budaya nge-chai ini notabene tidak jauh dengan hobbi orang Indonesia yang suka ngopi diwarung. Bukan hanya rasa sensasi rasa yang ditimbulkan, namun lebih pada tingkat kenyamanan untuk mengobrol dan cangkruk dengan yang lain. Di India, Chai bukan hanya sekedar secangkir teh untuk mengawali hari, tetapi menjadi bagian integral ritme kehidupan. Chai sudah menjadi bagian dari kegiatan yang akan dilakukan sertiap hari oleh warganya. Bahkan George Orwell pernah mengatakan bahwa “Tea is the main stays of civilization in this country�, teh telah menjadi bagian dari peradaban India. Bahkan jika ditempat fotocopi antriannya mengular panjang, si tukang fotokopi-pun tak ragu meninggalkan ruangannya untuk nge-Chai. Sepadat apapun jadwal kuliah, jika sudah masuk jam 11an, mahasiswa yang tengah berada diperkuliahan umum juga tak ragu untuk sejenak meninggalkan bangku demi menikmati Chai. Aneh? Unik? Itulah kenapa negeri ini dijuluki Incredible India. Jadi, jika Anda berada di India, jangan lupa untuk mencoba betapa nikmatnya merasakan Chai seperti kata Deborah Cater yang pernah bilang, “A cup of tea would restore my normality. You have to taste a culture to understand it�.


POLITIK

OLEH :

M Rusdy Namsa S-2 Hubungan Internasional Jawaharlal Nehru University

30


Diplomasi Keseharian di India

Seperti yang kita tahu, diplomasi adalah sebuah instrument untuk mencapai sebuah tujuan atau kepentingan. Diplomasi antar Negara sering disebut untuk mencapai tujuan nasionalnya. Diplomasi dalam ilmu politik juga bisa diwujudkan dalam berbagai jenis, baik hard diplomacy seperti militer hingga yang soft diplomacy seperti budaya. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas soft diplomacy dari akar rumput yang dimainkan masyarakat India dengan tradisi, debat, argue, bahkan rasionalitas. Semua sikap ini saya maknai sebagai sebuah instrumen untuk menunjukan eksistensi India sebagai sebuah Negara dengan kekuatan rasionalitasnya. Dari segi tradisi berpakaian tidak perlu diragukan lagi kuatnya local wisdom baik sari dan kurta masih dipegang kuat alasannya rasional, we are Indian, atau di dalam kehidupan sehari-hari misalnya, masyarakat India terkenal dengan “bersilatlidah�. Dalam kata lain, sangat sering, bahkan hampir setiap hari saya melihat masyarakat India saling “debate� dalam banyak peristiwa. Mereka suka sekali adu mulut, tapi uniknya jarang terjadi perkelahian. Ujungnya, pasti mencair dengan sendirinya jika mereka sudah menemukan titik temu. Jadi sangat sulit kita beraktivitas di India tanpa budaya argue, debate, dan mengasah rasional. Contoh yang paling sederhana adalah ketika menaiki Bajaj atau India di sebut Auto sangat jarang kita bisa langsung setuju dengan harga sang driver. Pasti ada argue tawar-menawar hingga bisa sepakat dengan sang driver. Contoh lain misalnya saya sendiri pernah melihat dan mengalami langsung ketika pertama kali ke india dan mencari flat untuk di tempati. Karena saya tinggal di

luar kampus dan ketika menemukan satu tempat yang nyaman, saya melakukan tawar menawar untuk bisa menempati flat tersebut, sebelum saya bertemu dengan landlord atau sang pemilik tempat, saya telah melakukan survey terlebih dahulu di setiap tempat. Bahkan di tempat yang saya akan tempati saya telah menanyakan satu orang mahasiswa terkait harga kamar sebelum bertemu dengan sang pemilik. Setelah semua survey saya lakukan akhirnya saya menghubungi sang pemilik tempat untuk melakukan proses tawarmenawar dan berharap bisa segera menempati kamar tersebut namun ketika proses tawar-menawar berlangsung, saya memulai dengan menanyakan berapa harga kamar sebulan di sini? sang pemilik tempat menjawab di sini harganya 8000 rupees. Sontak, saya pun langsung kaget. Tapi saya meneruskan proses karena saya tahu bahwa sang pemilik tempat mengira saya belum survey sebelumnya. Kemudian saya mengatakan di turunkan harganya menjadi 7000 rupees, namun sang pemilik tempat tidak menerima dan


bersikeras tetap di harga 8000 rupees. Saya berusaha menjelaskan karena kondisi saya sebagai mahasiswa, namun sangat sulit untuk merubah posisi tawar sang pemilik tempat yang akhirnya saya pun langsung memanggil satu orang mahasiswa yang kebetulan tinggal di flat tersebut yang sehari sebelumnya telah saya wawancarai, saya langsung mengatakan kepada sang pemilik tempat dia bayar sebulan hanya 7000 rupees, sang landlord langsung mengatakan karena anda foreigner jadi saya berikan harga demikian. Saya pun langsung mengatakan banyak teman-teman saya foreigner yang tinggal di flat membayar sama dengan orang India. Tapi baiklah jika itu memang alasannya karena saya foreigner, saya katakan jangan karena hanya foreigner harganya terlampau jauh dari 7000 menjadi 8000 rupees sangat tidak wajar akhirnya sang landlord katakana jika tidak mau bisa cari tempat lain. Saya sangat kecewa dan mencoba menggunakan strategi baru yaitu “withdrawal�. Saya memutuskan untuk tetap pergi namun juga berharap besok sang landlord akan berubah pikiran. Lalu

ketika saya akan mengajak berunding kembali jika saya tidak menemukan lain, ternyata benar saya tidak menemukan tempat lain yang comfort selain tempat itu, saya pun menghubungi kembali sang landlord dan dia akhirnya menawarkan harga 7500 rupees untuk sebulan. Tapi itu terjadi setelah saya mencoba mengakui kesalahan saya terlebih dahulu bahwa saya foreigner. Tidak lupa dengan bujukan dan sedikit rayuan. Selain itu, jika kita melihat Bollywood, India sangat ampuh dalam diplomasi budaya dalam hal ini film-film india baik kisah cinta, pendidikan, olahraga dan lain lain selalu membawa nilai India. Maka kita bisa melihat bagaimana sikap para pemeran utama yang keras kepala tanpa menyerah untuk mendapatkan cinta sang pujaan hati. Dari berbagai film Bollywood sangat menggambarkan perjuangan keras kepala dari berbagai peran yang di mainkan untuk mendapatkan tujuannya. Dari sekian banyak film India, kita bisa melihat apa yang orang India lakukan adalah “struggle for interest�.


Pengetahuan Umum

OLEH :

Faiqoh Rosita MA Islamic Studies, Jamia Millia Islamia University

32


Belajar Toleran dalam Heterogenitas ala India

A

himsa. Saya mengenal sepotong kata ini saat membaca tentang Gandhi. Dulu sekali, ketika India belum terbesit dibenak sebagai destinasi belajar saya. Ahimsa yang berarti non-violence adalah falsafah hidup dalam agama

Hindu, Jainism, dan Buddha, tiga agama besar yang sama-sama lahir dari rahim peradaban India. Sekarang, berada di tanah Gandhi ini, saya benar-benar belajar dan bersosialisasi dengan masyarakat India. Saya merasakan langsung betapa falsafah hidup tanpa kekerasan ini dihayati oleh hampir seluruh lapisan masyarakat bahkan oleh masyarakat Muslim India.

Sebagai minoritas ditengah-tengah mayoritas Hindu, Muslim di India mampu menunjukkan sikap toleran dalam interaksi sosial dengan agama lain. Sekiranya ada ketidakadilan dalam hukum sosial, Muslim india lebih memilih melakukan perlawanan pasif dengan mengedepankan prinsip ahimsa; damai dan tanpa kekerasan. Seperti yang baru-baru ini terjadi dalam menghadapi wacana penghapusan talak tiga dalam hukum sosial India. Reaksi Muslim India diwujudkan melalui jalan yang positif. Misalnya, mengadakan seminarseminar, membuat poster-poster dan publikasi tulisan mengenai wacana terkait. Sikap toleran Muslim India bukan hal yang baru lagi. Bahkan ketika Islam menguasai sebagian besar wilayah India pada zaman Dinasti Mughal, Muslim India dikenal sangat toleran dan anti kekerasan. Semasa pemerintahan Jalaluddin Muhammad Akbar misalnya, penguasa ketiga Dinasti Mughal ini menerapkan konsep Sulh-e Kull atau toleransi universal kepada seluruh rakyat Hindustan pada masa itu. Dengan

menerapkan konsep ini, Akbar menekankan pentingnya toleransi kepada semua agama dan keyakinan, meyakini adanya perbedaan diantara satu sama lain, serta menyatukan seluruh manusia dalam satu ikatan bernama perdamaian. Dalam bingkai perdamaian, benar dan salah tidak dinilai dari agama dan keyakinan. Melainkan melalui dasar kesetaraan dalam kemanusiaan. Hal tersebut diwujudkan Akbar dengan mempertemukan tokoh dari seluruh agama; Islam, Parsi, Hindu, dan Kristen Untuk duduk semeja berdiskusi secara damai dan terbuka. Semangat toleransi ini menjadi falsafah hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat kelas bawah, sebagaimana yang dikatakan Prof Bilal Kutti, guru besar Islamic Studies dari Aligarh Muslim University, hidup harmonis dan saling mengasihi, lalu apakah berarti konflik agama tidak pernah terjadi? tentu saja tetap ada. Akan tetapi sebagaimana di Indonesia dan belahan bumi lain, konflik agama di


India selalu dimotori isu politik. Saya masih ingat jelas apa yang dikatakan Prof Bilal tentang hal ini, "Semua agama mengajarkan kebaikan. Kalau kemudian manusia berbeda agama saling membenci, bisa dipastikan konflik sosial dan kepentingan politik lah yang menjadi penyebabnya, bukan agama". Terlepas dari hal itu, awal pertama datang di India, saya sempat khawatir masalah status halal haram makanan. Bagaimana tidak? saya sudah terbiasa hidup di negara yang "gandrung" dengan label halal. Kawan dan dosen yang saya tanya tentang ini justru tertawa, “Semua berdasar pada prinsip percaya, asal kita bilang kalau kita Muslim atau penjual tahu kita Muslim, pasti mereka menyediakan makanan halal". Hampir begitu semua jawabannya. Tentu saya tidak percaya begitu saja sampai suatu ketika mengalami sendiri. Pesanan saya dibatalkan mendadak oleh pelayan restoran dengan alasan minuman tersebut mengandung alkohol, dan saya diminta ganti menu. Di lain kesempatan saya juga pernah ditegur pelayan sebuah warung makan karena makanan yang saya pesan ada daging babinya. Saya bertanya dengan hati-hati "Bhaiya, are you Muslim?",

dijawabnya "No madam, I'm Hindu but I know you're Muslim". Dalam hati saya membatin, toleransi semacam ini lah yang kita rindukan. Bukan sekedar teori dan koar-koar belaka, tapi diwujudkan secara empiris dengan menghargai apaapa yg menjadi aturan agama lain. Tidak hanya praktik sosial masyarakat lower class yang mencerminkan toleransi dan harmoni di India, konstitusi India pun menegaskan kesetaraan agama-agama di mata hukum negara. Melalui amandemen ke 42 pada tahun 1976, India menegaskan diri sebagai negara sekuler. Berbeda dari sekuler versi barat yang mengeliminasi agama dari negara, sekular dalam sistem Negara India cenderung pro-agama. Semua agama diperlakukan secara sama dan diberi hak untuk memutuskan perkara agama melalui lembaga agama masing-masing. India juga tidak memiliki agama resmi negara sehingga agama dan kepercayaan apapun bebas diyakini tanpa perlu takut tidak diakui. Dari sini lah praktik toleransi terus dijaga dan dihayati oleh seluruh masyarakat India yang kemudian melahirkan perdamaian universal bagi kemanusiaan.


Atase Pertahanan KBRI New Delhi “Kolonel Ardiansyah Muqsit” Oleh : Muhammad Edwin Elhamda

Q : Bagaimana cerita awal karir bapak Athan sehingga bisa menjabat saat ini di Atase Pertahanan KBRI New Delhi?

A : Pertama, saya saat itu lulus daftar di Taruna ( dulu masih AKABRI ) tahun 1990, kemudian tahap berikutnya masuk pendidikan dasar Militer (AKMIL) dimagelang selama 4 bulan. Saat itu dari bulan Juli sampai bulan November, dan saya dilantik jadi calon prajurit disana. Lalu saya pindah ke Surabaya, di Akademi Angkatan Laut ( AL ) sampai tahun 1993, saya lulus dilantik langsung oleh Presiden RI ke-2 Pak Suharto dan Wakil Presiden RI ke-6 Pak Tri Sutrisno. Pada tanggal 24 Juli 1993, saya masuk jurusan Pelaut. Kemudian saya lanjut di tahun 1994, masih di Akademi Angkatan Laut. Pada saat tahun itu juga dapat kesempatan untuk ikut ESKATARA (Eskadar Nusantara) artinya kami angkatan laut melaksanakan diplomasi militer untuk mengibarkan bendera diseluruh Indonesia selama kurang lebih 3 bulan, mulai dari Surabaya bergerak ke Barat sampai Aceh ( masuk sumatera ), Bengkulu, ada yang ke Padang terus masuk ke Sibolga, ada yang di Lhoksuemawe, Medan, Palembang, Belitung, lalu masuk ke Ambon, setelah itu ke Papua (dulu jaya pura), kemudian ke Kupang, totalnya sekitar waktu 3 bulan. Jadi kalau orang bertanya seluas apa sih Indonesia? Ya saya sampaikan saya butuh waktu 3 bulan keliling Indonesia dan kita mengcover 3 timezone, baru mereka kelihatan ‘’hah 3 timezone?’. Dan saya akan menjawab iya. Kalau lihat dipeta jelas sekali, benua asia mulai dari Thailand sampe Australia, tiga bulan itu tidak sebentar untuk dikelilingi. Dari situ kita bisa banyak belajar mulai dari budaya Jawa Timur, Jawa Tengah, kemudian dari Sumatera sampai ke Sabang, Medan, Palembang lanjut lagi ke Kalimantan timur, Sulawesi, Ambon, Papua, masuk ke wilayah Melanesia lagi yang lain di NTT. Saat itu Timor Leste masih bagian dari kita. Kemudian ke Bali lalu kembali ke Surabaya lagi.


Pengkayaan yang tidak semua orang bisa dapatkan dalam satu waktu, pengkayaan mengenai budaya, kultur bangsa negara itu didapat melalui cara penugasan yang seperti itu sekaligus untuk memberikan sinyal kepada dunia bahwa Indonesia dijaga oleh Angkatan Laut, yang disebut pameran bendera bisa dilaksanakan diluar negri dan juga dalam negeri untuk sekaligus memberikan rasa aman kepada para pengguna. Kalau orang bilang seafarer (kemaritiman), kami bergerak saat itu ada 6 kapal, namun saya tidak lanjut dan saat berhenti dikupang saya diperintah untuk kembali ke jakarta untuk ikut pendidikan ke Singapura. Saya mengurus administrasi di Jakarta, dan terbang menuju Singapura untuk mengikuti Pendidikan Midshipman Sea Training Deployment. Saya tinggal dikapal LST Singapura yang berasal dari Amerika Serikat, selama 42 hari berlayar dari Singapura, Balikpapan, ke Penang terus ke Pattaya, Thailand. Pada saat itu saya mulai bergaul dengan komunitas Internasional, satu kamar dengan perwira malaysia dan New zealand. Kemudian pada 1995, saya diperintah untuk ikut Arung Samudera yaitu pertandingan layar dari Darwin (Australia utara) – Bali – Jakarta. Dari situ saya bergaul dengan komunitas internasional yang lebih banyak lagi, Sailor dunia. Arung Samudera tahun 1995 itu luar biasa mewah, megah bagi kami Angkatan Laut karena partisipasi gabungan kapal seluruh dunia, ada yang kirim kapal perang, ada yang kirim kapal layar, disitu kami bertanding dengan pelaut-pelaut seluruh dunia. Pengalaman yang bagus sekali bagi saya. Selanjutnya saya dinas di kapal dan melaksanakan banyak latihan dengan negara-negara lain. Kemudian masuk pada 1996 saya patroli dari wilayah Pelabuhan Belawan, Medan kemudian patroli di Sabang, di Selat Malaka, di Natuna, terutama waktu itu banyak sekali kapal-kapal ikan dari Thailand yang merajalela. Kemudian sekitar tahun 1999 diperairan Singkil dekat Lhoksuemawe, kita berhasil menangkap 56 kapal Thailand tanpa surat. Pelabuhan Sabang dengan 56 kapal Thailand pada malam hari menjadi sangat terang benderang, pada waktu itu Presiden Gus Dur Mengapresiasi hal ini, kemudian saya pindah ke kapal Kepresidenan sepanjang tahun 2000, lalu saya berangkat ikut tes untuk pasukan perdamaian PBB pengamat militer (Military Observer). Tahun 2001 saya berangkat ke Kongo (DRC) selama setahun sampai tahun 2002. Setelah penugasan di kapal perang mulai tahun 2003 saya dinas staff, mulai dari staf perencanaan, staf operasi sampai sekolah komando. Dinas di Pangkalan Pontianak, sebagai wakil


komandan. Setahun di pontianak saya masuk lagi ke kapal jadi komandan KRI Pati Unus, dan pernah berlayar dengan kapal itu ke India. Wilayah patroli kami mulai dari perbatasan Laut Cina Selatan sampai dengan Samudra India. Setahun di kapal kemudian dinas di Mabes TNI, di sini saya jadi tahu lebih banyak tentang perbatasan atau kerjasama keamanan dan perbatasan antara Indonesia dengan negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Philipine, Papua nugini, Australia, Jepang, Amerika dan India. Selama 2 tahun terus melaksanakan pertemuan dengan seluruh negara-negara itu terkait kerja sama keamanan terutama dengan malaysia karena kita memiliki perbatasan darat dan laut dengan mereka, dan juga Papua nugini dan Timor Leste. Kemudian setelah 2 tahun, pada 2011 saya dapat tugas ke Filipina, tepatnya di Davao (Mindanao Selatan) menjadi Kepala Indonesia selama 2 tahun. Kemudian kembali ke Mabes TNI AL dan kemudian saya mengikuti Liaison Officer seleksi Atase Pertahanan, dan akhirnya lulus hingga sampai disini (India), saya rasa dinamikanya membuat saya bersyukur alhamdulillah diberi pengalaman seperti itu oleh Allah SWT. Pada 2005 saya sempat ke Amerika untuk sekolah kemaritiman disana. Tahun 2008 saya sempat dikirim ke Jepang juga untuk seminar/simposium sekitar 2 minggu di Tokyo, Perwira pendamping saya saat di Jepang sekarang jadi athan Jepang di sini (India), dan ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya dan bersyukur karena sebagian besar apa yang saya impikan di wujudkan oleh Allah SWT. Dari sana saya bisa melihat bagaimana orang di adu domba oleh agama, diadu domba karena suku, pada saat berakhirnya pemerintahan pak Harto. Kesukuan di Kongo itu mirip dengan Indonesia. Ketika saya ke Kongo saya merasa bahwa konflik sosial Indonesia sebenarnya mirip dengan Kongo, namun Indonesia bisa keluar dari situasi itu. Melihat kondisi Kongo yang kaya raya dengan suku bangsa yang berbeda-beda dan berbagai macam Agama, tapi mereka berhasil dipecah-pecah karena mereka tidak memiliki Bhineka Tungga Ika, pancasila, dan sumpah pemuda, terutama mereka juga tidak memiliki bahasa persatuan. Jadi pemimpin di Indonesia, di India, atau di negara-negara yang pendidikannya belum seperti negara-negara maju, merupakan tantangan besar, terutama masalah Suku, Agama, dan Ras.


Q : Kesan bapak selama bertugas di Atase pertahanan di India?

A : Bagus, semua saya kira untuk penugasan saya sendiri selaku Athan sangat menarik, saya jadi bisa bertemu dengan 100 lebih teman-teman dari 67 negara dengan berbagai karakter dengan berbagai kultur, bahasa, budaya, kebiasaan. Saya sangat menikmati, saya memang bukan tipikal orang yang senang tinggal di satu tempat terlalu lama. Menurut saya, sekitar 60 persen kebudayaan bangsa Indonesia dan bangsa India memiliki kemiripan yang hampir sama.

Q : Terakhir pesan Bapak untuk mahasiswa Indonesia di India?

A : Belajar yang baik secara optimal, jangan diikuti yang buruk-buruk. Banyak hal-hal yang baik yang bisa kita teladani dari orang India terutama kebanggaan menjadi bangsa sendiri, bangsa Indonesia. Kedua, kebanggaan menggunakan kelestarian yang diperjuangkan. Ketiga, memiliki network yang jelas dan jadikan itu membuka wawasan dan kekuatan untuk meningkatkan peluang bekerja sama di bidang apa saja, pahami betul apa yang menjadi kekuatan dalam bentuk apapun juga. Apabila masuk di bidang yang real selalu ingat bahwa pendidikan itu adalah kunci, kunci membuka pintu, pada saat menghadapi kehidupan nyata kita harus meninggalkan negative mindset untuk selalu berfikir positif.


Namaste Indonesia 6  

Namaste Indonesia 6