Page 1


2

Namaste, Majalah Perjalanan

adalah

candu.

kaki,

menjadi

Melangkahkan saksi

peristiwa

menarik

menuliskannya

dalam

baris-

diri ini ingin merasai lagi. Kali ini pembaca Namaste Indonesia diajak

kerumunan gemuruh

menyeruak

peziarah Perayaan

Indonesia

Edisi November ini. …………………………………………

dan

baris kaya imajinasi membuat

akan

Namaste

dalam Kumbha

Mela di Haridwar, India, ikut

Tak

lupa,

konsistensi

tim

Majalah Namaste untuk terbit setiap

bulan

patut

diacungi

jempol tinggi-tinggi. Dibuktikan dengan semangat berbagi yang terus dipelihara serta responden yang

turut

berpartisipasi

semakin banyak.

membayangkan betapa menjadi

Semoga

saksi

adalah

datang ada lebih banyak lagi

pengalaman yang berharga. Di

tulisan, artikel, maupun opini

lain

dari kawan pembaca masuk ke

peristiwa

akbar

kesempatan,

pahatan-pahatan Kanjuraho membuat dengan

kuno

yang angan

imaji Kuil

ekspresif bersentuhan

peradaban

lewat cerita menarik dua orang jauh

dari

masa

semangat

berbagi

semangat kita semua.

Salam hangat

Indonesia

yang menjadi tema utama

Namaste Indonesia – November 2010

yang

namaste@ppiindia.org

ribuan

tahun lalu . Keduanya hadir

pejalan

di

Tim Redaksi

akan

dan menjadi


3

India memang berwarna. Siapapun mungkin

perayaan besar ini. Konon juga, ia mengadopsi warisan

akan setuju dengan sebutan ini. Keberagaman yang

budaya yang tertuang dalam kitab suci Veda (Weda)

kontras seakan menjadi ciri tersendiri dan hidup di

dan Purana yang terkenal sangat ortodoks.

negeri dimana mitos, adat istiadat, ritual bahkan menyangkut hal berbau metafisika, segudang praktekpraktek kebudayaan dan ritual keagamaan melebur dalam kehidupan seharihari.

Secara signifikan, perayaan ini telah mencatat rekor dalam Guinness Book sebagai “The Biggest Human Kind Gathering in The World� dimana ribuan peziarah datang hanya dengan satu pikiran, yaitu iman, tak memperdulikan seberapa besar pengabdian dan

Salah satunya adalah perayaan Kumbha Mela yang paling terkemuka karena dianggap paling suci diantara kesemuanya. Ia membawa seluruh umat Hindu di

seluruh

dunia

menjadi

satu

bersama-sama

merayakan kemenangan dari kebaikan. Kumbha Mela adalah perayaan ketika semua orang Hindu meleburkan

pengorbanan yang harus dilakukan didalam gemuruh riuh lautan manusia. Tercatat 15 juta peziarah telah hadir untuk perayaan Kumbha Mela pada tahun 1977, 15 juta peziarah di tahun 1989, dan rekor terbesar di dunia pada tahun 1997 lalu di Maha Kumb Mela yang dirayakan di Allahabad, Prayag.

segala perbedaan diantara mereka, tak terkecuali Kasta

Bila umat muslim lekat dengan Ibadah Haji, dan

yang konon menjadi bumbu inti kehidupan sosial di

kaum Nasrani selalu menantikan Natal, maka umat

India, dan bersatu padu mengambil bagian pada

Hindu seluruh dunia memiliki ritual keagamaan terbesar yang

satu

ini,

dimana

setiap

individu

akan

menyempatkan diri, setidaknya sekali dalam hidupnya

Namaste Indonesia – September 2010


untuk

berpartisipasi

dalam perayaan ritual

4

suci

sengit antara keduanya selama 12 hari 12 malam, dalam

tersebut. Kumbha Mela berasal dari kata Kumbha yang

hitungan hari manusia, 12 hari itu terhitung setara

berarti pot besar, dan kata Mela yang berarti

dengan 12 tahun. Konon dalam pertempuran itu, air sari

pertemuan. Masyarakat Hindu memaknainya sebagai

keabadian yang berasal dari kumbh tersebut jatuh

suatu pertemuan besar umat Hindu, bahkan yang

menetes ke permukaan bumi di empat tempat. Empat

terbesar dan diadakan di India.

tempat yang mendapat tetesan air sari keabadian tersebut kemudian dikenal dengan Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain dan Nasik. Di keempat kota itulah kemudian Kumbha Mela dirayakan dalam kurun waktu setiap 12 tahun sekali. Allahabad atau Prayag di percaya menjadi tempat paling mistik karena di tempat itulah 3 sungai suci, Yamuna, Gangga, dan Saraswati bertemu. Tempat kedua dan biasanya menjadi tempat penyelenggaraan Kumbha mela dengan kapasitas lebih besar lagi ialah Haridwar, dimana sungai Gangga yang perkasa itu mengalir dari pegunungan memasuki daratan, menjamah kehidupan manusia dari segi

Seperti tertuang dalam Veda, ketika Kebatilan apapun. Tak hanya Kumbha Mela, perayaan Ardha dan Kebajikan memperebutkan kekuasaan atas dunia, Kumbh Mela yang di selenggarakan setiap 6 tahun maka diantaranya, Dewa dan Iblis mengadakan sekali juga dirayakan di keempat tempat tersebut kesepakatan untuk memutar atau mengaduk nektar bahkan Maha Kumbh Mela yang konon datang pada keabadian dari samudera susu (khseera sagara) untuk kurun waktu 144 (12 x 12) tahun sekali itu. Dan kemudian membaginya bersama. Tetapi ketika kumbh menurut ketentuan yang berlaku, maka Maha Kumbh (pot) yang berisi Amrita itu muncul kepermukaan, terjadilah

kecurangan.

Para iblis

dengan liciknya membawa lari pot atau kumbh tersebut. Tak hanya diam, para Dewa mengejarnya untuk merebut

kembali

pot

tersebut.

Adalah Jayant, anak dari Vishnu yang berusaha merebut kembali nektar tersebut lalu membawanya pergi, akhirnya

terjadilah

pertempuran

Namaste Indonesia – November 2010


5

Mela berikutnya akan jatuh pada tahun 2013 di kota

seperti

Allahabad. Ketiga perayaan Kumbha Mela akan jatuh di

bersedekah, melantunkan pujian-pujian di berbagai

kota yang berbeda konon tergantung pada posisi

tempat ibadah, hingga membagikan makanan juga

kombinasi planet Jupiter, Matahari dan Bulan. Ketika

harta benda kepada orang lain yang membutuhkan juga

planet Jupiter berada dalam bintang Taurus(Vrishabha

menjadi poin penting dalam ritual besar ini.

Rashi) dan matahari serta bulan berada dalam zodiak Capricorn (Makar Rashi), maka Kumbha Mela akan di rayakan secara besar-besaran di Allahabad/ Prayag.

mendengarkan

ceramah

keagamaan,

Kini di tahun 2010, ketika Matahari tepat berada di posisi bintang Aries, giliran kota Haridwar dipercaya sebagai tempat perayaan Kumbha Mela

Ketika Vrishchik Rashi terjadi, yaitu Jupiter dan Matahari

setelah Purna Kumbha Mela atau lebih dikenal dengan

berada di zodiak Scorpio, maka Kumbha Mela akan

Maha Kumbh Mela usai digelar di Allahabad/ Prayag

jatuh di kota Ujjain. Apabila Mesha Rashi yang baru-

tahun 2007 lalu. Haridwar adalah kota dimana konon

baru ini terjadi, yaitu dimana matahari berada dalam

untuk pertama kalinya sungai Gangga mengalir sejauh

posisi masuk di zodiak Aries, perayaan besar pun digelar

253 km derasnya menyentuh daratan dari sumbernya di

di kota Haridwar.

sudut Gaumukh di tepi Glacier Gangotri, Uttarakhand India bagian utara.

Segelintir

orang

menganggap

pokok

dari

Kumbha Mela adalah dengan mencelupkan diri ke air sungai Gangga yang konon di percaya dapat menghapus dosa-dosa mereka, membebaskan roh mereka dari gerbang kematian. Ternyata tak hanya itu, kegiatan lain

Namaste Indonesia – September 2010


Haridwar

6

juga

dikatakan

sebagai

keempat

para

pintu peziarah

Hindu, di tepian air sungai Gangga yang mengalir deras diantara kuil-kuil suci yang berjejer tenang di setiap sudut

tengah

peziarah

kota

memulai

ini,

segala

bentuk ritualnya dalam Kumbha Mela. Harkipauri,

perayaan besar ini. Orang-orang penting seperti raja,

disebut-sebut sebagai tempat paling suci di kota ini, dan

para perdana menteri, para filsuf, hingga orang-orang

di tempat inilah peziarah, khususnya shadus atau orang-

suci berkumpul dengan rakyat. Mereka yang berkasta

orang suci Hindu menghabiskan waktunya dari mulai

tinggi, rendah hingga yang tak berkasta larut dalam

fajar hingga gelap tiba untuk membersihkan dosa

hiruk pikuk perayaan. Orang Dalit pun konon mendapat

dengan mencelupkan diri ke dalam sungai gangga yang

hak yang sama di perayaan ini.

mengalir di sepanjang Harkipauri.

Para pembesar India khususnya Hindu nampak

Tak hanya itu, diskusi keagamaan, menyanyikan lagu-lagu pujian hingga mandi pada momen

memberikan banyak partisipasi berupa dukungan baik

yang

secara moril ataupun materil kepada khalayak yang

dianggap paling suci, seperti pada Makar Sakranti, yang

membutuhkan. Pemandangan itu sungguh luar biasa

menjadi ritual di hari terpenting dalam masa Kumbha

jika dibandingkan dengan perayaan lain di India yang

Mela. Konon ada kebiasaan mencukur rambut sebelum

pernah kami kunjungi. Tak jauh beda dengan catatan

melakukan ritual tersebut sambil meneriakan kata-kata

Hiuen Tsang, kami pun mengamati semua hal tersebut

pujian untuk para Dewa

masih terus hadir dan bahkan berkembang di setiap perayaan Kumbha Mela, khususnya tahun 2010 ini, dimana beberapa stasiun berita lokal mewartakan

Adalah seorang pelancong asal negeri tirai

hampir 60 juta peziarah datang ke tempat suci ini.

bambu bernama Hiuen Tsang yang konon membuat catatan pertama tentang Kumbha Mela. Kala itu ia datang ke India untuk melihat perayaan Kumbha Mela yang

digelar

di

Allahabad,

menurut

catatan

perjalanannya ia mengatakan ada sekitar lebih setengah juta orang berkumpul di sepanjang tepian sungai Gangga selama hampir 75 hari untuk memperingati

Namaste Indonesia – November 2010

14 April 2010 adalah hari yang kami nantikan sejak sekitar 5 bulan lalu, berbekal secarik info yang kami dapat dari sepasang traveler asal Israel sekitar pertengahan oktober 2009 lalu ketika kami sedang menikmati uniknya kota Pushkar dengan setumpuk lapis kebab pinggiran jalan, kami dan mungkin juga


7

kebanyakan traveler lainnya mulai memburu informasi

putuskan dari sekian banyaknya ritual suci selama 4

tentang perayaan akbar itu. Tovi, nama pria Israel yang

bulan tersebut, terhitung pertengahan Januari hingga

sudah berkali kali singgah di India itu mengatakan

April, hanya pada perayaan hari Chaitya Purnima, pada

bahwa ia akan berada di India hingga waktu perayaan

tanggal 15 Maret 2010 kami akan datang lalu kembali

itu tiba, tepatnya mulai bulan Januari tahun 2010.

lagi pada puncak perayaan Kumbha Mela yang jatuh

Perempuan cantik berambut keriting disebelahnya

tepat 14 April 2010.

dengan ramah menambahkan beberapa informasi tentang perayaan tersebut. Mendengar ceritanya kami terbakar antusias untuk juga menjadi salah satu diantara kerumunan perayaan tersebut. Maka dengan rencana cukup matang kami sengaja terbang ke New Delhi di bulan Maret untuk yang kedua kalinya, tepatnya menuju kota Haridwar.

Pada perayaan Cahitya Purnima atau disebut juga bulan purnama 15 Maret suasana pagi nampak mulai ramai saat kami menapakkan kaki di tanah Haridwar. Sepanjang aliran sungai terlihat orang mulai sibuk mencelupkan diri sambil menyanyikan lagu-lagu pujian. Nampak kota Haridwar telah dipadati peziarah saat itu. Kuil-kuil di sepanjang sungai tak henti menggaungkan ayat Veda kepada seluruh alam. Riuh

Ini memang benar-benar perayaan besar, pikir kami saat singgah di New Delhi untuk beberapa hari, mempersiapkan beberapa keperluan untuk menyambut hari keberangkatan. Arus kereta api nampak padat sekali hingga tak ada satupun tempat duduk yang bisa kami beli meski dengan Foreign Quota. Akhirnya kami

Namaste Indonesia – September 2010

suasana hari itu nampak tak jauh beda dengan yang kami temui pada saat puncak perayaan Makar Sakranti pada 14 April, hanya saja jumlah peziarah sehari menjelang puncak perayaan meningkat pesat, lahanlahan yang 3 minggu sebelumnya kosong kini nampak padat dengan tenda-tenda para shadus, jalan-jalan kian


dipertegas

8

dengan

banyaknya pagar kayu sebagai

pembatas

jalan, beberapa jalur jalanan di kota ini ditutup dan dialihkan ke jalur lain, hanya kendaraan roda 2 yang nampak bisa bergerak leluasa, bahkan bajaj yang terbilang gesit buaian ombaknya yang bergelombang menarik kami ke memilah jalan pun nampak berhenti pada batasan arah paling di tuju di tempat itu. Berulang kali kami tempat yang telah ditentukan oleh pihak kepolisian keluar masuk penginapan. Mayoritas penginapan disini India. Stasiun bus pun dipindah sejauh 10 km dari telah full, dan semua harga di atas 2000INR. Untungnya tempat semula. Hal ini membuat kami terkejut hebat tak jauh dari Harkipauri, tepatnya 2 km dari tempat suci karena harus berjalan menyusuri jalan yang relatif jauh tersebut kami mendapatkan penginapan seharga 2000 dan menembus keriuhan untuk dapat sampai ke Har Ki INR perkamar untuk 4 orang. Jadilah kami menyewa Pauri, tempat terpenting dalam perayaan tersebut. satu kamar, 2 diantara kami menggelar sleeping bag di lantai. Semua harga akomodasi dan transportasi melonjak naik hingga 10 kali lipat. Contohnya adalah Malam ini merupakan malam puncak perayaan, harga penginapan yang semula hanya 250 INR hingga hampir tengah malam lalu lalang para pejalan permalam, kini melonjak dahsyat hingga kisaran 2000 kaki nampak tak berkurang. Selepas malam kami INR. Ini lebih dari sekedar perayaan Idul Fitri di menyusur ke arah HarKiPauri, dari beberapa petugas Indonesia, saya menggumam. Kami yang saat itu pemerintah setempat, kami harus mengantongi visa berkesempatan mengunjungi perayaan ini bersama 2 jurnalis atau ijin dari pihak media setempat terlebih orang traveler asal Indonesia dan German bersama dahulu untuk bisa masuk ke kawasan HarakiPauri pada menyusuri

pagi

berdebu

di

kawasan

tersebut. keesokan hari. Dari sejumlah informasi, HarkiPauri akan

Menjelang sore kami tiba di kawasan Harkipauri. Tak di tutup untuk umum pada jam 06.00 pagi hingga pukul dapat saya bayangkan gemuruh riuh para peziarah yang 12.00 siang, dan di tempat suci ini konon yang akan hilir mudik di sepanjang jalan, di sepanjang sungai. digunakan para Shadus dan orang-orang penting untuk Seperti lautan manusia, kami merasa berada dalam mengadakan ritual mandi suci pada puncak perayaan.

Namaste Indonesia – November 2010


9

Otomatis kami kebingungan untuk mendapatkan izin

Waktu telah menunjukan hampir tengah

tersebut, beberapa petugas yang kami tanyai nampak

malam, tapi tak seorang pentingpun yang bisa kami

memberikan keterangan yang berbeda. Jalan kian

mintai bantuan, atau sekedar informasi. Tak semudah

sempit

beberapa

yang kami bayangkan. Tampaknya tipis kemungkinan

tengah jalan menuju

untuk mengantongi izin media. Nampak di markas atas

oleh

orang

pertunjukan tradisional

yang di

melakukan

HarkiPauri, kami kembali mengangsur langkah kaki kami

menara

itu,

beberapa

laki-laki

tengah

sibuk

berpacu dengan waktu yang mulai larut.

mempersiapkan kameranya dengan tele sebesar belalai gajah. Dari mereka lah kami mendapat informasi tentang izin itu. Seperti yang diperkirakan,

1%

kemungkinan

untuk

mendapatkannya, karena hari telah

larut

mengantongi diperlukan Tetapi

dan ijin

waktu dengan

untuk meliput 2

hari. sedikit

pendekatan, akhirnya mereka mau bekerjasama dengan kami untuk mendapatkan Berharap riuh ini surut, tapi tak demikian yang kami temui, suasana di HarKiPauri nampak makin penuh orang, terlihat hingga hampir larut masih banyak orang

foto-foto penting esok. Hati kami sedikit lega, namun tak jua menyurutkan semangat kami untuk mencari jalan lain, demi mendapatkan gambar-gambar itu.

yang mandi di aliran sungai Gangga. Lebih dari 10 jembatan yang melintas di kawasan sibuk ini tak jua Tak ada jalan lain nampaknya. Kami berpikir membantu para pejalan kaki untuk melenggang dengan untuk bermalam di tempat ini hingga pagi, tapi cara luwes. Semua serba antri, hingga untuk melangkahkan alternatif ini juga tampak tak menguntungkan. Lewat kaki pun disini harus antri. Tepat diseberang sungai tengah malam, HarKiPauri nampak mulai dijaga ketat tersebut tampak sebuah bilik di menara kecil, dimana oleh para polisi India. Warga yang masih berada di berbagai perlengkapan elektronik media telah tenang sekitar kawasan tersebut digiring menuju luar kawasan. mangambil tempatnya masing-masing. Konon ini adalah Orang-orang yang tengah tidur terlelap pun dipaksa markas para aktor media untuk melancarkan aksinya dengan kasar untuk segera meninggalkan kawasan meliput perayaan penting esok hari. tersebut, termasuk kami.

Namaste Indonesia – September 2010


Memutar otak untuk bagaimana caranya dapat

Fajar

menyingsing,

10

menengadahkan

pagi

masuk kawasan ini dengan leluasa esok hari, kami

kepada peristiwa yang lagi-lagi akan menorehkan

mencoba berharap pada beberapa Shadus yang sudi

sejarah kebudayaan dunia itu. Dari sumber berita media

mengikutsertakan kami dalam rombongannnya. Tak jua

setempat mengatakan hampir 60 juta peziarah telah

menemukan hasil, 2 orang murid seorang guru besar

memenuhi tempat ini. Dari kamar hotel kami menginap,

terkenal

ikut

bising terdengar riuh orang diluar sana. Ketika kami

rombongannya, hingga menuju fajar tiba semua

keluar ternyata jalan sudah penuh sesak dengan

di

nampak sia,

sini

mempersilahkan

kami

sia-

berbagai aksi

kami

pertunjukan

hanya diajak

oleh

para

berkumpul

Shadus

menghisap

sepanjang

ganja

di

jalan.

sebuah tenda

Menarik

gelap

milik

ketika

salah seorang

mendapati

shadus

permainan

terkenal.

Ini

semacam

pengalaman

debus

unik

yang

di

kami

dapati,

atraksi

Indonesia

mereka.

kita

semua

Gajah-gajah

tahu

bahwa

di

sejumlah

cantik

menghisap

hadir

yang dihiasi

ganja dilarang hukum dan agama, tapi kebudayaan unik

melenggang bak model membawa sejumlah orang

disini membawa ganja-ganja tersebut sebagai konsumsi

penting, kuda dengan tinggi yang luar biasa gagahnya

suci para shadus. Tak tahan dengan bau harum yang

nampak menjadi pengiring para pengawal, dan uniknya

dikeluarkan pipa besar tersebut, kami memutuskan

semua orang tersebut, terutama para shadus tampil

untuk pulang ke hotel.

tanpa sehelai benang pun melekat ditubuhnya. Melenggak-lenggok, lompat kesana kemari, seperti pemain sirkus, dengan iringan musik seruling khas india, dan beberapa alat musik khas india lainnya.

Namaste Indonesia – November 2010


11

orang di belakang sana yang nampak masih larut di

Gemuruh riuh keramaian hari itu nampak sumringah disemua mata umat Hindu yang berada disekitarnya, hingga menjelang sore lautan manusia itu tak henti-

dalam suka cita gelombang lautan manusia. Menurut jadwal perayaan akan berakhir pada pemandian suci terakhir yaitu 28 April 2010.

hentinya memecah suasana damai yang tersirat di Haridawar pada hari-hari biasa sebelumnya. Yang disayangkan,

meski

pihak

pemerintah

How to Get There:

sudah

mengerahkan peraturan ketat atas keamanan dari perayaan ini, tetap saja masih ada sejumlah korban luka-luka bahkan meninggal dunia karena terinjak-injak pada perayaan ini. Dari Indian Times, surat kabar ternama di India tercatat 7 orang meninggal dunia akibat kerusuhan yang terjadi saat perayaan, bahkan sempat kami temui di jalan, beberapa wanita tengah baya tergolek pingsan karena kelelahan yang dideranya. Ironis memang, tapi menurut beberapa peziarah lainnya itu adalah bagian dari pengorbanan atas iman yang mereka miliki kepada Dewa yang telah memberi mereka kehidupan. Mereka percaya bahwa semua yang mereka miliki berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Tak peduli panas mengupas dahaga, debu-debu beterbangan membuat sakit mata, hingga puluhan kilometer yang harus mereka tempuh setiap harinya selama perayaan, semua itu konon wujud dari persembahan mereka kepada Tuhan.

Kami memutuskan untuk segera meninggalkan kota Haridwar menuju New Delhi dengan bus. Perjalanan dengan menyusuri tak kurang dari 10 km dengan berjalan kaki untuk mendapatkan terminal bus menuju Delhi kembali harus kami tempuh. Kepala ini menengok kebelakang, kami akan meninggalkan jutaan

Namaste Indonesia – September 2010

Jasa transportasi menuju tempat perayaan Kumbha Mela biasanya sudah dari jauh hari dipesan para peziarah yang akan datang, jadi buat anda yang punya rencana perjalanan menuju kota tempat perayaan harus sudah mempersiapkan diri paling tidak sebulan sebelum jadwal keberangkatan. Haridwar dapat dicapai dengan menggunakan jasa angkutan bus luar kota dan tentu saja jasa angkutan kereta api. Privat delux bus berkisar 200 hingga 400 INR, tergantung kota dimana anda berada. Dari Delhi biasanya lama perjalanan kurang lebih sekitar 5 hingga 6 jam, tarif berkisar 200 hingga 300 INR per-orang. Jasa angkutan kereta api juga menyediakan jadwal keberangkatan malam hari, agar waktu kedatangan lebih nyaman di pagi hari. Mussorie Express dan Shatabdi Express adalah kereta api terbaik sekaligus transportasi termurah menuju stasiun Haridwar yang letaknya berada tepat dipusat kota.


12

Namaste Indonesia – November 2010


13

Namaste Indonesia – September 2010


W

anita memiliki sifat yang lembut, dan selalu menginginkan awal yang lembut" sejuntai kata ini diketahui tertuang pada kutipan-kutipan cinta yang berasal dari hasil karya sang Malinaga Vatsayana, yang konon sebagai penyusun pertama ajaran ajaran kehidupan seksual didunia di abad ke-4 Masehi, yang kemudian disebut-sebut sebagai kitab Kamasutra. Dimana semua bagian yang eksplisit tentang edukasi seksual di jabarkan tanpa ampun disini, segelintir masalah universal tentang bagaimana memiliki kehidupan yang memuaskan secara seksual, tak juga itu, ia mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang istri atau suami yang baik. Tetapi baru di tahun 1883, rahasia dari kitab Kamasutra tersebut di publikasikan keseluruh penjuru bumi, khususnya dunia barat. Tetapi sang Ratu dari kerajaan Inggris, ratu Victoria yang konon orang yang terkenal menekan kehidupan seksual, telah mengutuk secara terbuka kepada keberadaan ajaran itu. Tapi diantara pro dan kontra yang menggelayut dikehadiran buku itu, sekelabat angin bersemilir ia telah menjadi salah satu buku bajakan terbesar dalam bahasa Inggris saat itu.

Menyusuri jejak-jejak ketenaran buku itu, kemudian kami menelusup pagi yang indah untuk memulai perjalanan yang penuh antusias menuju asal muasal Kamasutra lahir. Disebutkan, sebuah kuil bernama Khajuraho lah ajaran-ajaran penuh gairah itu berasal, Nama Khajuraho sendiri dulunya adalah Khajuravaka, secara geografis India, letak desa ini berada di Madhya Prhadesh, tepatnya di kabupaten Chattarpur, 385 mil atau 620 km tenggara New Delhi, ibukota India.

Konon seratus enam puluh tahun lalu, seorang TS. Burt di pertengahan abad ke 19, telah menemukan reruntuhan yang di yakini adalah sebuah kota yang hilang dulunya, tepatnya di hutan belantara sebelah utara India. Di sekitar reruntuhan tersebut terdapat beberapa komplek kuil yang konon akhirnya diakui sebagai kuil dengan ukiran paling rumit dalam sejarah India, yang kemudian di pamerkan sebagai karya terbesar dalam seni dan arsitektur India. Tapi di sisi lain, karena di dinding-dinding kuil tersebut banyak Namaste Indonesia – November 2010

14

terdapat pahatan-pahatan erotis yang disebutsebut paling eksplisit di dunia, maka masyarakat sekitar menganggap keberadaan kuil tersebut telah melanggar norma-norma agama dan kesopanan. Tepat di bukit sebelah utara India, Khajuraho berada, dimana sebuah sungai telah membelah bagian tengah desa ini, konon dulunya sebagai tempat pemukiman dari sebuah dinasti besar yang di kenal sebagai dinasti Chandela, yang berdiri selama 300 tahun. Masyarakat agaknya menyadari tentang keuntungan dari keberadaan kuil ini dengan cepat, maka di tempat inilah, warga mulai mendirikan beberapa bangunan pemerintahan dan melakukan beberapa perbaikan terhadap keberadaan kuil dan reruntuhan tersebut. Benar saja, kuil yang kemudian di sebut sebagai kuil Kamasutra tersebut dalam sekejap telah menjadi ikon destinasi para wisatawan kedua setelah Taj Mahal. Tak hanya orang muda, para wisatawan berambut putih pun nampak penasaran melongok kepada keanehan kuil tersebut, yang lebih ekstrim, terlihat anak-anak juga tak segan menikmati keberadaan kuil dengan ukiran serta sensasi maha dahsyat ini. Matahari mulai menampakan senyumnya ketika kami tiba di stasiun kereta api Satna Juncion, stasiun ini adalah satu-satunya akses jalur kereta api menuju desa Khajuraho, perjalanan dari kota Varanasi hanya butuh waktu sekitar 13 jam untuk samapai di Satna. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju desa Khajuraho bisa dengan menggunakan jeep atau taksi, karena hanya trayek kendaraan inilah yang berlaku di daerah sepanjang menuju khajuraho.


15

Secara kebetulan sejak di kereta perjalanan kami ditemani sepasang traveller asal amerika yang juga punya tujuan sama, dengan sedikit penawaran keras akhhirnya kami diharuskan membayar 400 INR saja untuk sampai ke desa Khajuraho, itu berarti 100 INR per orang. Jeep bermuatan 6 orang itu melaju kencang menyusuri alur jalan sepanjang bukit, pepohonan rindang nampak terhampar di sepanjang pinggiran jalan, melewati pedesaan yang nampak subur dengan belantara sawah yang mulai menguning, bus lokal sesekali melibas jalan dengan kecepatan yang cukup tinggi, sedang kuda dan

perempatan tersebut yang merupakan areal penginapan di desa ini. Telusur demi telusur mata ku memandang sekeliling tempat ini, rupanya penginapan-penginapan ini berada tepat di seberang komplek candi terkenal itu. Dengan tak sabar kami melangkah mencari penginapan di sekitar tempat ini, Yogi guest house menjadi pilihan akomodasi kami kali ini, hanya 250 INR per malam, dengan fasilitas kamar yang cukup besar, dan bersih, Guest house ini juga menyediakan jasa penyewaan kendaraan roda dua, seperti sepeda atau sepeda motor, kebanyakan turis lebih memilih

kerbau nampak melaju dengan kecepatannya sendiri. hampir satu jam kami didalam jeep ini kepanasan, tanpa AC, akhirnya tiba di sebuah desa dengan kubangan tanah kering yang merupakan aliran sungai yang dimaksud di desa ini. Nampak jadi beberapa kubangan buat para kerbau yang setiap harinya singgah mencari seteguk air, sungai ini menjadi sangat kering karena kemarau panjang yang melanda desa ini selama hampir 3 tahun, menurut cerita sang supir.

bersepeda santai untuk berkeliling ke penjuru desa ini, harga sewa sepeda perharinya hanya seharga 50 INR atau sebesar kurang lebih 10.000 rupiah, dengan uang sebesar itu kami mulai berkeliling desa sekitar.

Di penghujung desa, tepatnya di sebuah perempatan jalan kami dipersilahkan turun oleh si supir, "selamat datang di desa khajuraho" katanya sambil menurunkan backpack kami dari jok belakang. Kami bergegas menuju sebelah barat Namaste Indonesia – September 2010

Tempat pertama yang kami singgahi di desa ini pertama kali adalah Raja Restaurant, untuk menyantap makan siang kami hari itu, restauran ini nampak penuh dengan pengunjung, wisatawan tak henti-hentinya datang dan pergi untuk menikmati menu-menu yang terlihat lezat dengan penghidangan yang cukup ekslusiv, padahal harga makanan disini terbilang murah, dan soal cita rasa masakan disini, dijamin memuaskan. Dari restauran ini kami memandangi jelas bagian-bagian kuil yang


16

berada tepat diseberang jalan tempat kami duduk, nampak beberapa kuil sedang melakukan renovasi. Awan mendung diselimuti bau hujan yang dihembuskan oleh tanah yang sudah sekian lama gersang, nampak jadi berkah buat para penduduk hari itu, pasalnya sudah lebih dari 3 tahun desa ini tak pernah di guyur hujan lebat. Sungai kering itu nampak telah basah digenangi air yang mulai mengalir bersama angin yang bersemilir hebat. Warga lokal yang kami lihat di restauran nampak tersenyum girang menyambut hujan lebat hari ini, dari cerita tersebut nampak para wisatawan juga dibuat takjub dengan turunnya hujan hari ini, walau tak sedikit juga turis yang menunjukan lagat kecewa karena harus menunda jadwal masuk kuil tersebut.

bangunan kuil ini terdiri dari batu granit, atau kombinasi batu pasir dan granit. Setiap candi memiliki aula atau mandapa pintu masuk, didalamnya terdapat sebuah ruangan suci yang disebut Garbha Griha.

Setelah hampir 3 jam hujan lebat itu membasahi seluruh bagian desa ini, akhirnya matahari sore mulai muncul menerpa seluruh bagian atap dan dinding kuil, nampak kilau cahaya merah keemasan melukis indah di pahatanpahatan kuil tersebut. Kami bergegas menuju pintu masuk komplek kuil yang terbilang paling besar diantara komplek kuil lainnya di desa ini. Merogoh kocek sebesar 250 INR atau sekitar 50.000 Rupiah untuk bisa mendapatkan karcis masuk ke salah satu Situs Warisan Dunia yang satu ini.

Bila kitab kamasutra hanya mendeskripsikan hubungan seksual secara tertutup, maka lain hal nya dengan pahatan erotis di kuil khajuraho ini, semua ajaran erotis itu nampak di jelaskan secara gamblang lewat susunan yang mengagumkan dari ukiran-ukiran erotik. Walaupun usia ukiran ini sudah ribuan tahun, tetapi kekuatan magis nya masih sanggup membuat malu dan membangkitkan gairah, sangat jelas ditampilkan setiap posisi seks yang diduga adalah peradaban seksual abad pertengahan, ada juga yang meyakini bahwa gambaran seksual itu merupakan bentuk visualisasi kehidupan seks Dewa Shiva dan istrinya, Parvathi. Tak hanya ukiran erotis yang terpasang disini, terlihat pula relief-relief yang menggambarkan keprajuritan, raja, dan beberapa pekerja, konon semua itu menggambarkan tentang macam kehidupan yang berlaku didunia ini.

Benar saja, bangunan konstruksi ini, sepintas memang nampak serupa dengan Konstruksi Khatedral Ghotic di Eropa, pahatan di dinding kuil-kuil tersebut nampak seperti model kosmos, yaitu menggambarkan tentang bagaimana dunia diciptakan, dan perbedaan dari dunia. Setidaknya itulah yang dikatakan jelas lewat pendapat seorang Michael Maister, sejarahwan asal Universitas Pennsylvania yang terkagumkagum dengan peranan ukiran di kuil tersebut. Pada dasarnya candi-candi yang berada disini memiliki bentuk dan disain yang berbeda, tetapi untuk beberapa fitur dan bagian terlihat terdapat beberapa kesamaan dengan semua candi yang ada. Pada umumnya kuil dan candi di khajuraho dibangun diatas podium yang tinggi, konon lantai podiumnya melambangkan keduniaan, sedang pada lantai dasar podium saat berada dibawahnya terdapat papan gambar yang melekat di seluruh lantai bawah, konon hal itu menggambarkan semua aspek kehidupan manusia. Bahan dasar Namaste Indonesia – November 2010

Atap dari masing-masing kuil tersebut juga memiliki bentuk yang berbeda, teras dan ruangannya memiliki atap piramidal horizontal yang terdiri dari beberapa lapisan. sedangkan bagian atap dari Garbha Griha berbentuk menara seperti kerucut, dengan tumpukan-tumpukan batu setinggi hampir 30 meter, miniatur menara yang terbuat dari struktur tersebut sering disebut juga shikara.

Dunia abad pertengahan India memang bukan yang terhebat, banyak negara lain yang memiliki kebudayaan dengan simbol untuk mewakili alam semesta yang lebih menarik saat itu, tetapi tercatat hanya di negara Mahatma Ghandi inilah yang mempunyai penekanan pada segi seksual. Berbagai macam penelitian telah dilakukan, tetapi hingga detik ini tak ada yang mampu secara detil menjabarkan tentang status keberadaan kuil ini, sekalipun itu seorang Alexander Chunningham, orang pertama yang mempelajari secara serius tentang kuil ini. Berbagai pertanyaan, dugaandugaan, pro dan kontra pun menghiasi dalam berbagai aspek perkembangan kuil tersebut. Ada


17

apa gerangan dibalik fungsi dari kuil tersebut? Mengapa di tempat peribadatan suci macam itu terpampang jelas ukiran-ukiran sensual yang mengundang hasrat? Tujuan macam apa yang tertuang dibalik keberadaan kuil tersebut? dan segelintir pertanyaan lainnya yang masih tak sanggup di ungkap karena banyaknya kesimpangsiuran atas fakta sebenarnya, semua itu disebabkan karena minimnya catatan, dan pada umumnya mereka hanya menggunakan dan percaya pada mitos dan legenda masa silam. Bahkan hingga kini kecanggihan sistem arkeologi pun belum dapat menjamah kebenaran sejarah kuil tersebut. dan misteri-misteri inilah yang menjadikannya catatan besar bagi Situs warisan Dunia.

Ialah seorang putri Hemraj dari tanah suci varanasi, yang bernama Hemvati yang konon mengawali kisah dalam legenda kuil ini. Bermula dari pesona kecantikannya yang begitu menggoda setiap mata, bahkan Dewa Bulan yang terkenal tampan itu pun terpincut keharumannya saat Hemvati mandi di sebuah kolam teratai suatu malam. Hasrat Dewa bulan pun memuncak kala ia berubah wujud menjadi seorang manusia tampan dan berhasil merayu Hemvati untuk melakukan hubungan terlarang, yang akhirnya membuahkan seorang bayi tampan bernama Chandravarman.

Disaat masyarakat menekan reputasinya karena aib yang telah dilakukan, si Dewa Bulan dalam kebingungannya menjanjikan pada masyarakat bahwa akan menjadikan putranya seorang pembesar yang gagah berani dan akan membangun banyak kuil dengan dikelilingi danau dan taman yang indah. Atas janjinya, kemudian Dewa Bulan memerintahkan Hemvati untuk pergi ke Khajjurpura untuk melahirkan dan membesarkan jabang bayinya nanti disana, ia mengatakan pada hemvati bahwa putranya lah yang akan menghapus semua dosanya melalui ritual suci Yagya.

Benar saja, ketika Chandravarman telah tumbuh menjdi seorang pemuda yang gagah berani, dengan berbagai kekuatan serta kemewahan yang dihadiahkan oleh Dewa Bulan, akhirnya ia mengangkat dirinya sebagai raja di Namaste Indonesia – September 2010

Kajjurpura, yang akhirnya berubah nama menjadi Khajuraho, dan di wilayah itulah ia mendirikan benteng dan kerajaan yang megah.

Bermula dari perintah sang bunda yang dirterimanya lewat mimpi, ia memulai membangun kuil-kuil yang menampilkan semua hasrat dan fantasi seksual di sekitar danau dan taman sebanyak 85 kuil, guna membentuk suatu ritual suci atau "Bandya Yagya" untuk menghapus dosadosa ibunya.

Dari legenda tersebut, akhirnya banyak anggapan yang menghubungkannya dengan keberadaan kuil tersebut. Kuil ini konon dibangun pada tahun 950 dan 1050, yaitu saat dinasti Hindu Chandela brekuasa, yang dipercaya menggunakan kuil ini sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Bulan. Komplek kuil yang terdapat di daerah itu terdiri dari 85 bangunan, namun karena faktor iklim dan cuaca serta masa, maka yang tersisa hingga kini hanya 22 bangunan, itupun beberapa berada dalam kondisi yang sudah tua dan rusak, tercatat 2 bagunan diantaranya merupakan hasil rehab ulang berjangka.

Dari 22 bangunan yang ada, struktur kuil tersebut terbagi menjadi 3 bagian, dimana tiap-tiap bagiannya dibagi menjadi sub-sub bagian lagi, yaitu group sebelah barat, timur dan selatan. Dan dari semua, yang paling besar adalah komplek kuil bagian barat, di komplek bagian barat merupakan pusat kuil dan ikon penting dalam sejarah, umumnya kuil di area barat tergolong megah dan terdekorasi. Melambangkan kekuasaan dan kekayaan sang pendahulunya, dan mayoritas pemujaan ditunjukan kepada Vishnu atau Shiva. Seperti pada kuil Kandariya Mahadeva (1025-1050 AD), kuil dengan tinggi 31 meter ini merupakan kuil dengan candi terbesar dan terindah relief ukirannya, yang pemujaannya ditujukan kepada dewa Shiva. Diantara Tuhan Hindu Pantheon, Kamadeva dianggap sebagai Dewa Cinta, itu sebabnya di kuil ini tergamblang jelas gambarangambaran kehidupan Cinta sang Dewa, terutama Shiva dan istrinya Parvati.


Kemudian terdapat pula kuil bernama Chausath Yogini, kuil ini juga termasuk yang terindah pada puncak kejayaannya, terbuat seluruhnya dari batu granit, dan kuil ini khusus sebagai tempat pemujaan terhadap Dewi Kali atau sering disebut juga sebagai Dewi Durga. Menurut sejarahwan Devongan Nagasai, Dewi Durga yang berarti Dewi Kesuburan dipercaya memiliki akar kuno dalam aspek seksual dari agama di India. selain mendatangkan keberuntungan, gambargambar erotis itu diharapkan dapat mengusir setan, karena gambar erotis itu konon berasal dari pemujaan ibu para Dewi sejak ribuan tahun silam, yang diyakini memiliki kekuatan atas dasar masalah kehidupan. Yang unik dari kuil ini adalah merupakan satu-satunya kuil yang digunakan oleh para wanita sepenjuru desa untuk melakukan ritual keagamaan, tepatnya upacara kesuburan kuno pada setiap tahunnya di musim gugur. Dilakukan disetiap fajar tiba selama musim gugur, dengan memakai pakaian terbaik yang mereka miliki, mereka berjalan menuju kuil ini, dan sebelum memasuki kuil mereka diharuskan memberi persembahan dalam bentuk taburan bunga dan air. Konon didalam doanya, para wanita ini khususnya bagi yang belum menikah memohon agar seorang lelaki baik dapat menjadi pendamping hidupnya, dan para wanita yang telah menikah memohon agar di anugerahi anak dengan segera. Dan hingga saat ini di Khajuraho, ritual semacam itu masih tetap berlangsung dengan hikmat.

Yang digolongkan sebagai kuil penting lainnya adalah kuil Chitra Gupta dan kuil Vishvanata, kuil Chitra Gupta dikhususkan sebagai pemujaan terhadap Dewa Matahari atau Surya Dev, sedangkan pada kuil Vishvanata nampak gambaran Dewa Brahma berkepala tiga. Yang Namaste Indonesia – November 2010

18

istimewa, kedua kuil ini merupakan langganan tetap sebagai tempat dipentaskannya tarian tradisional selama Festival Khajuraho berlangsung.

Kuil Lakhsamana dan kuil Matangeswara juga termasuk dalam kelompok ini, kuil Lakhsmana yang dibangun konon pada tahun 930 hingga 950 M ini menampilkan keunikan dari gambaran Triniti, yaitu 3 Dewa Besar dalam agama Hindu, ialah

Brahma, Vishnu, dan Sivha, dikuil ini terlihat juga patung Dewi lakhsmi, istri dari Dewa Vishnu. Tiga jam berlalu mengamati kuil bagian barat tersebut, rasanya tak cukup waktu untuk dapat menelusuri komplek kuil di bagian timur dan selatan dalam jangka waktu secepat itu. Matahari mulai redup di penghujung hari, hujan nampak lebat mengiringi


19

malam pertama kami di Khajuraho kami memutuskan untuk melanjutkan penelusuran esok hari.

Matahari genap bersinar walau masih terbalut mendung, sepertinya berkah panjang ini berhembus hebat hingga membuat sungai kering di seberang desa ini nampak mulai deras mengaliri genangan air hujan. Kami mulai mengayuh sepeda menuju komplek kuil sebelah timur dan selatan. Dari pertigaan yang tak jauh dari kuil barat ini, kami belok kiri melintasi jalan aspal dengan hutan pepohonan rindang melambai disetiap sisi jalan, nampak beberapa rumah penduduk meramaikan daerah pelosok desa ini. Dari plang jalan yang menunjukan kuil timur tersebut kami sempat bertanya kepada salah satu penduduk yang sedang lewat, sebelum akhirnya kami menemukan komplek kuil bagian timur dan selatan. Komplek kuil bagian timur dan selatan keadaannya jauh tak seperti komplek kuil barat yang terlihat dalam satu area. Seperti pada kuil Ghantai, Vamana, Brahma, Hanuman dan Adinath yang tergabung dalam kelompok kuil tinur, mereka semua memiliki area yang berbeda, tetapi masih berdekatan. Kuil-kuil tersebut dikenal sebagai kuil Jain, seperti pada kuil ghantai, ornamenornamennya yang ditunjukan dengan 16 impian dari seorang ibu Mahavira dan kebaikan seorang jain yang diwujudkan dengan sayap Garuda. Pada kuil Brahma terlihat patung dengan gambar bentuk 4 muka Brahma, sedang pada kuil Hanuman, terdapat patung dewa Kera berwarna oranye dengan tinggi 8 kaki. Lainnya pada kuil Adinath, menggambarkan pemujaan terhadap Jain Tithankara Adinath.

Group kuil sebelah selatan nampak hanya beberapa meter dari komplek kuil timur, dan di komplek kuil selatan ini hanya terdiri dari dua kuil saja, yaitu kuil Dulhadeo dan kuil Chatturbhuja. Kuil Dulhadeo sendiri konon dibangun pada 1130 SM, pada kuil tersebut terdapat beberapa relief erotis Shiva dan Parvati, dan dibagian dalam ruangan sucinya terdapat linggam Namaste Indonesia – September 2010

besar yang dipercaya sebagai Dewa Shiva. Sedangkan kuil Chatturbhuja didirikan pada tahun 1100 SM, dan kuil ini merupakan satu-satunya kuil yang tidak ada ukiran-ukiran sensualnya. Konon kuil ini dibangun oleh Laksavarman yang ditujukan untuk dewa Vishnu bertangan 4, atau dikenal juga sebagai wujud reinkarnasi Vishnu, Narasingha Avatar (separuh manusia, separuh harimau), konon chatturbuja tersebut sengaja didatangkan dari Tibet.

Dari keseluruhan kuil yang berhasil kami amati, terdapat interprestasi lain yang tertuang dalam keberadaan relief-relief erotis di dinding kuil tersebut. Bahwa tak semua kuil menggambarkan keerotisan, bahkan bila diamati lebih lanjut, antara relief erotis itu dengan ruangan suci kuil tersebut terdapat dinding pemisah, keseluruhan relief erotis tersebut berada di dinding bagian luar kuil. Konon interpretasi dari letak tersebut menyatakan kepada manusia bahwa untuk melihat Dewa, orang harus meninggalkan hasrat seksualnya di luar kuil,lalu tanggapan positif pun mulai bermunculan untuk mengurangi kesalah pahaman yang terlanjur tertoreh pada kuil-kuil tersebut.

Mitos lain mengatakan, pada struktur ruangan dalam kuil-kuil ini biasanya terdiri dari dua bagian, yaitu areal umum dan khusus ruangan suci, yang diantaranya dihubungkan dengan jalan pintas. Konon pada letak jalan inilah dipercaya sebagai tempat ritual bertemunya manusia dengan dewa, itu sebabnya banyak orang sekitar mempercayai bahwa jika menikah di area ini, maka setelah meninggal akan terlahir menjadi Dewa atau Dewi. Kebenaran mitos itu agaknya dipercaya orang desa sekitar sebagai sesuatu yang ajaib, konon karena mitos tersebut banyak orang yang menikah di area kuil khajuraho. Bahkan menurut seorang warga yang bekerja di Raja resturan tempat kami makan malam, pernah beberapa kali terlihat pasangan asing sengaja datang untuk menikah di kuil Khajuraho ini, karena percaya akan mitos tersebut. Tak tertutup kemungkinan buat anda yang hobi percaya dengan mitos untuk mencoba


20

membuktikannya.

Getting There : Terdapat beberapa alternativ transportasi menuju Khajuraho, beberapa maskapai penerbangan domestik India, seperti Indian Airlines dan Jet Airways, melayani penerbangan menuju Jhansi Airport, daerah terdekat menuju Khajuraho. Kemudian anda dapat menggunakan jasa bus luar kota menuju Khajuraho, tarif berkisar 100 rupee, dan menempuh perjalanan selama hampir 5 jam. Dari jalur transportasi jasa angkutan kereta api, anda dapat berhenti di stasiun Satna, stasiun sekaligus terminal bus kota ini merupakan jalur yang banyak diminati para wisatawan yang hendak menuju Khajuraho. Dari stasiun kota Satna, perjalanan bisa diteruskan dengan mengguankan jasa sewa kendaraan berupa taksi, dengan tarif 400 rupee, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Sedangkan jasa angkutan mini bus lokal perjalanan menempuh waktu kurang lebih 3 ½ jam, dengan tarif 80 rupee perorang.

Akreditasi Getting around : Jasa penyewaan sepeda roda dua nampaknya sangat diminati oleh para wisatawan untuk menikmati suasana desa yang sangat asri dengan berhektar-hektar petakan sawah dan semak belukar liar. Tarif sewa sepeda berkisar 20 hingga 30 rupee per hari, transportasi tradisional lainnya menyediakan jasa angkutan sewa becak untuk berkeliling desa ini, tarif berkisar 15 rupee per kilo meter, biasanya wisatawan mencarter jasa becak hingga setengah hari dan seharian full, tarif berkisar 200 hingga 250 rupee.

Kumbha Mela dan Khajuraho: Penulis

: Tri Harnengsih (zee)

photographer: Bartasan Wauran (Arta) website: www.kakigatel.com twitter:www.twitter.com/kakigatel facebook: http://www.facebook.com/pag es/kaki-gatel/152989784736815 editor: winda candra

Namaste Indonesia – November 2010


21

beLAJAR BAHASA HINDI

Jika Anda sedang jalan-jalan di India, mungkin Anda akan menemukan diri Anda berada di stasiun kereta api pada satu waktu. Semoga artikel di bawah ini dapat membantu Anda untuk mempelajari Bahasa Hindi secara cepat. Bahasa Hindi yang digunakan di sini adalah bahasa Hindi colloquial yang mengadopsi kata-kata dari Bahasa Inggris atau disebuth Hinglish.

Dimana Stasiun Kereta Api? - Railway station kahan hai? Saya ingin pergi ke stasiun kereta api - Mujhe railway station jana hai Di mana pintu masuk stasiun kereta api? - Railway station ke andar jane ke liye rasta kahan hai? /Railway station ka prawesh dwar kahan hai?

Dimana loket tiket lokal? - Local ticket ka counter kahan hai? Di mana saya bisa membeli tiket reservasi untuk ke luar kota?  

Main bahar gaon ke liye ticket reservation kahan kar sakta hoon? (m.) Main bahar gaon ke liye ticket reservation kahan kar sakti hoon? (f.)

Saya ingin kereta sleeper. - Mujhe sleeper coach chahiye. Saya ingin tiket kelas satu AC - Mujhe First Class AC ka ticket chahiye. Saya ingin mempesan coupe. - Mujhe coupe ka booking karna hai.

Saya ingin tempat duduk di bagian atas. - Mujhe uparwala berth chahiye. Saya ingin tempat duduk di bagian bawah. - Mujhe nichaywala berth chahiye. Saya ingin mendapatkan tiket terusan untuk satu bulan - Mujhe monthly pass nikalna hai. Indonesia – September 2010 SayaNamaste ingin dua tiket. - Mujha do ticket chahiye.


Di mana saya bisa melihat jadwal kereta?  

Main train ka schedule kahan dekh sakta hoon? (m.) Main train ka schedule kahan dekh sakti hoon? (f.)

22

Saya ingin membeli jadwal kereta api - Mujhe train ka time table kharidna hain. Saya ingin tahu apakah kereta XYZ beroperasi hari ini? - XYZ ke liye train hain kya aaj? Jam berapa (kereta) datang? - Kitne baje aayegi? Jam berapa (kereta) berangkat? - Kitne baje jayegi?

Berapa tariff buat mengangkat barang saya mas? - Saaman uthanay ka kitna, bhaiyya? Saya akan membeli tiket melalui mesin tiket.  

Main mera ticket vending machine say kharid loonga (m.) Main mera ticket vending machine say kharid loongi (f.)

Saya suka makanan yang disajikan di kantin stasiun. Makanannya di sini enak.- Mujhe railway canteen main ka khana pasand hai. Yahan ka khana bahoot swadisht hain.

Saya mau espresso dari kedai kopi.  

Main coffee stall say espresso lene wala hoon. (m.) Main coffee stall say espresso lene wali hoon. (f.)

Saya akan membeli majalah atau buku untuk dibaca di kereta.  

Main train main padne ke liye magazine ya kitab kharidne wala hoon (m.) Main train main padne ke liye magazine ya kitab kharidne wali hoon (f.)

Mereka biasanya menyajikan makanan enak di Kereta India. - Bharatiya railway main aksar ekdum khas khana milta hain. Kamu bisa mendapatkan makanan vegetarian dan non-vegetarian. - Aapko shakahari aur uske vyatirikta masahari khana bhi mil sakta hain. Saya ingin tempat duduk (dekat) jendela. chahiye/Mujhe khidki ke pas seat chahiye.

-

Mujhe

window

seat

Ini tiket saya. - Ye lo mera ticket. Permisi, ini tempat Namaste sepertinya Indonesia – November 2010duduk saya. - Maf karna, mujhe lagta hai yeh meri seat hai.


23

I am an alien. My father is not Mahar by caste. In the Maharwada I felt humiliated as I was considered a bastard; they called me akkarmashi. Yet in the village I was considered Mahar and teased as the offspring of one. (62)

first-person narrative and told when he was 25 years old. He is a Mahar and lives in dirty Maharwada area. He is brought up by his grandmother Santamai, a street sweeper and a midwife. His mother, Masamai, is a Mahar. His biological father is Hanmatta Limbale, a Patil who denies him as his son. In this book Sharankumar tells about his daily life as a Mahar amid the suppressing caste

Akkarmashi is an autobiography by Dr

system. Sometimes the tone is more descriptive

Sharankumar Limbale. The first version of this book

rather

was published in Marathi in 1984 and translated

psychological. The plain tone makes the story like a

into English by Santosh Bhumkar in 2003. It is a

journalistic report. For example the domestic

Namaste Indonesia – September 2010

than

emotional,

visual

rather

than


24

violence due to alcohol. When Dada is drunk he

son whom she conceived from a rape. This

beats Santamai. When Santamai is also drunk, they

question implies that he believes that Masamai is a

fight, causing Limbale to cry.

victim of poverty and caste in the society.

On the other hand, he is very critical regarding his identity. First he tells about Masamai’s relation with her husband, Ithal Kamble, and then how Kamble’s employer Hanmanta

Unfortunately we do not hear much from women characters’ point of view in this book, either Masamai, Santamai or Limbale’s wife. Everything is rendered from Limbale’s perspective.

Limbale caused her divorce. Then she bore another child from Hanmanta Limbale. Limbale wonders to which family he belongs to, which caste, and whether his birth was celebrated. Later he also poses the questions of whether he can ever marry somebody or marry his own sister for the sake of her happiness. He may also be a Muslim because of Mahmood Dastagir Jamadar or Dada, who lives with Santamai and whom he considers as his grandfather. The Limbale’s

ambiguity identity

is

or

fragmentation

both

beneficial

of and

detrimental for him. He says that he ‘felt good as well as bad to be called Patil’ (45) in front of his friends, he was ashamed of Santamai who were not dressed well. After he had a job as a telephone operator in Marathwada, he concealed his identity of being a (half) Dalit. He was saved as people thought that from his Limbale name he must be a Lingayat caste. Here caste converges with class, Limbale

unconsciously

lived

by

upper-class

standard when, for example, he had to eat meat

Another concern of this autobiography is

secretly. However, he still feels that his past is ugly,

hunger. In the introduction of Akkarmashi, G.N.

a burden to his life.

Devy cites Laxman Gaikwad’s autobiography for the stress on ‘the politics of hunger’. Akkarmashi is

There is contradiction in Limbale’s view of his mother. In the author’s note, Limbale writes that his aim of writing his story as an illegitimate child is ‘so that readers will learn the woes of the son of a whore’. He mentions the high caste people, including Patils, always keep mistress. However, in the body of the autobiography he is questioning why his mother decided to bear the Namaste Indonesia – November 2010

not much different, the narrator’s hunger is a backdrop to his experience. He shows how natural hunger is to human beings, that the two cannot be separated. He describes that ‘bhakari is as large as man’ (50) and what people can do to alleviate ‘the cave of hunger’ (2). He shows how food is valuable, even the rotten one. Their struggle for food is


25

beyond anything that I can think of. The way

He along with his friends hates the idea of

Santamai processes the grain coming out of cattle

untouchability. In college days he joined the Dalit

dung and eats the bhakari happily are shocking to

movement. He is united with other Dalits under

me. He says eating it is like ‘actually eating dung’

Ambedkar’s

(11) because of the remaining smell. Furthermore

‘namaskar’ with ‘Jai Bhim’. He clearly states that

he tells how he curses his own stomach.

they must have self esteem and have to rebel

As regards the narrative structure, the plot jumps from one story to another. This is partly because there are a lot of characters in the book. The autobiography is not only about the narrator but the whole Mahar community. There are stories about affairs, somebody’s career, abortion, a well, festivals,

etc.

Repetition

is

quite

frequent

throughout the narrative. This may be Limbale’s style, or emphasis on what he wants to say. The story of the Mahar community in general makes this book an example of, in Devy’s words, ‘social epiphanies’. In the context of Dalit literature, Devy says that unlike Dalit poetry, Dalit autobiography is pioneering more specifically in Marathi literature. This may be the case of why Limbale wrote two versions of autobiography. Poonha Akkarmashi (Akkarmashi Again), published 1999 and, as Bhoomkar informs, has different tone and content. In the second version, Limbale added and deleted some characters and events.

thoughts.

He

replaces

saying

against casteism. This is very relevant to the thoughts of Dr. Ambedkar. In his book Towards an Aesthetic of Dalit Literature Limbale himself distinctiveness of Dalit literature lies in this consciousness whose objective is to make “slaves conscious of their slavery”. Limbale in fact already has self esteem since he was a child. He does not like his people eat leftovers. However, he also thinks that the jowar from the rites of the dead is food. So food for him is something relatively clean and edible, without any abstract values or restrictions. All Limbale’s experiences and thoughts in the book appear to be authentic and deep. For example he wishes that rich people would die every day (12) so that he can have the jowar. His metaphors are also evoking, for example: ‘A flock of crows fluttered in our stomachs’ (7), ‘to us food was like nectar’ (21) and ‘we kept our hopes alive like a womb cared for after an abortion’ (41). Sometimes his tone is philosophical, when he says

Limbale relates religion to untouchability.

‘God endowed man with a stomach’ (8). He is

Although people calling them untouchables, when

questioning what morality is, whether it is

he was a child, he regarded himself Hindu by faith.

applicable for Dalits. He explains that for filling

But later in the narrative he says that ‘God

one’s stomach, a woman can become a whore and

discriminates between man and man. He makes

a man a thief. The matter of authenticity is

one man rich and the other poor. One is high caste,

something that Limbale himself asserts. He says ‘By

the other untouchable.’ (62) One day he became

Dalit literature I mean writing about Dalits by Dalit

interested in Buddhism. As regards the concept of

writers with a Dalit consciousness’. He believes

satyam or truth, Limbale explains that the Shudras

that only a Dalit can write about a Dalit’s life

born from Brahma’s feet is only a myth. In the

because the ingredient of Dalit literature is

autobiography he also questions fate, whether our

experience. For the writers, history is not abstract

fate is already written and unalterable.

like the Hindu metaphysical theory. As a result, the signature of their literature is authenticity.

Namaste Indonesia – September 2010


26

Dalit writing lies on the writers’ rejection of As

an

akkarmashi,

Limbale’s

caste

awareness was because he had access to education. In the autobiography he says he was one of the brightest students in his class. He argues on Dalit literature saying that society, politics and literature are closely interlinked. Pradeep K Sharma in his book Dalit Politics and Literature also explains that the main agenda of Dalit literature is structural change in the society in all fields: social, political, cultural and economic (Sharma 45).

Therefore

traditional notions of literary aesthetics and need

to construct new aesthetics that can accommodate their experience. Limbale’s life is an art in itself. He named his son Annarya, which means ‘low born’. It is a symbol of his resistance against the society’s stigma of the Dalit as well as his assertion of his Dalit-ness. We hope that Dalit writings including autobiographies can be a part of Indian literature, open the world’s mindset and encourage equality and humanity for all.

Dalit literature is always a political statement. Sharma relates how Marxist literary theory can

support

Dalit

movement

especially

in

literature. In Dalit writings, or autobiography to be more specific, realism is a style that accommodates Dalit movement’s agenda. According to Georg Lukacs, a Hungarian Marxist thinker and political activist born in 1885, literature should represent its times, and the great writers must be able to ‘capture and recreate a harmonious totality of human life’ (Sharma 38). As far as the society and literature are concerned, he wants to capture the myriad images of human wholeness. The reason behind this is that fiction in a microcosmic form, the complex totality of society itself. He promotes Realism as ‘a realist work is rich in a complex, comprehensive sets of relations between man, nature and history’ (Sharma 38). He prefers objectivity in looking at history and placing the author in history. In the end of his autobiography, Limbale talks about his old friend Mallya, a Dalit who has been successful intellectually and economically. We can see rays of hope for the Dalits. Dalit writings can be considered literature not because of artistic aspect but more of the experience of living under oppressive rule of caste. As Limbale and Sharma argue, the aesthetics of Namaste Indonesia – November 2010

Indah Lestari Now pursuing M.A. in English Studies from Jawaharlal Nehru University


27

Namaste Indonesia – September 2010


28 Ekor itu mengibas dengan kencang. tak cukup sekali. mungkin rasa gatal menjalari tubuh tambun si sapi yang tampak kumal. saya tak

begitu

ahli

dalam

bisa saja, kalau dia mau dia akan berhenti. begitu saja. dan sungguh, tak ada yang berani mengumpat pada sapisapi ini.

memperkirakan umur sapi, tapi menurut perasaan saya, dia

sudah

lama

malang

melintang di jalanan ini.

itu menurut saya. Saya yakin perkara kibasan ekor itu bukan hal baru nan menarik diperbincangkan. simbah saya di desa punya sapi. dan saya rasa semua sapi mengibaskan ekor. tapi itu menjadi daya tarik ketika latar belakangnya adalah antrian kendaraan yang terjebak macet, bukannya suasana pedesaan yang penuh dengan hijau rerumputan. Begitu juga bagi saya yang sedang duduk manis di auto menunggu jalanan lancar kembali. rupanya saya jadi agak bergidik ngeri dan waswas. pasalnya auto ini adalah kendaraan semacam bajaj di jakarta yang tentu saja tak dikelilingi kaca samping ataupun pelindung lain kecuali atap. terbayang kemungkinan buruk akibat kibasan ekor itu pada kelangsungan hidup dan pakaian saya di dalam auto. saya tak berlebihan. mungkin sedikit. tapi sungguh. Ya. sapisapi di india yang macamnya ada 26 ini mungkin salah satu dari kawanan sapi di belahan bumi lain yang punya hak berkeliaran di jalanjalan publik, kadang membuang hajat di sana, dan bersanding dengan manusiamanusia bermesin dengan segala aktivitasnya. sapi tak perlu nyalakan lampu sen kalau moodnya tibatiba mendorong tubuh besar itu ke kanan atau kiri. dia juga tak perlu menuliskan jaga jarak di dekat bokongnya. Namaste Indonesia – November 2010

pernah suatu saat yang lalu saya melihat seorang tua membungkuk pada seekor sapi yang lewat, mengucapkan salam, lalu memegang ekornya dan mengusapkan tangan yang sudah nempel di ekor sapi tadi di ujung bibir, dahi dan puncak kepalanya. saya asumsikan itu sebagai ungkapan hormat si bapak tua. Menurut cerita kawan india saya, sapi adalah simbol pertiwi-ibu. oleh karena itu ia di hormati, karena memberi tanpa meminta. tanpa kehadiran mereka, tak ada ghee atau semacam minyak yang timbul dalam proses pengolahan susu sebelum menjadi mentega. kalau tidak ada ghee, itu artinya tak ada persembahan. jumlah mereka besar karena hewan ini tak boleh dibunuh. beberapa kota di india bahkan melarang pembunuhan sapi. lagian kalau dibunuh untuk apa? sebagian besar penduduk india itu kan vegetarian. Jadi jangan heran akan sering menjumpai mamalia ini sedang mengunyah rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan, membongkar tumpukan sampah di dekat pemukiman padat penduduk, atau membaui sayuran yang diberikan oleh para pedagang. atau mengibas ekornya dengan santai di sebelah seorang penumpang auto yang khawatir berlebihan.

Oleh : Winda Candra www.sekelebatsenja.blogspot.com


29

Namaste Indonesia – September 2010


K

etika pulang dari kampus saya berjalan kaki, bersama dengan dua orang teman dari Nepal dan Himachal Pradesh. Oleh mereka saya diajak untuk makan suatu jajanan khas india yang bernama panipuri. Jajanan yang tidak akan bisa ditemukan kemiripannya di negara lain, baik dari rasanya maupun cara penyajiannya yang khas.(dihidangkan dengan cara yang benar-benar amazing). Harga jajanan itu 10 rupees, artinya sekitar Rp 2000,- .masing-masing dari kami mendapat 6 buah panipuri yang cara makannya unik, yakni dihidangkan satu demi satu oleh si pedagang setelah melalui proses yang menurut orang kita pasti sedikit jorok, dan setelah itu kita harus telan itu makanan secepat mungkin karena panipuri berikutnya akan segera diberikan susul menyusul. Pokoknya cara makan jajanan yang paling aneh yang pernah saya rasakan .Tapi kali ini saya tidak menyoroti tentang makanan yang cuma ada di india tersebut.

30

Akhirnya salah seorang anak itu bilang ke pedagang tadi, " Bhaiya...do!" sambil mengangsurkan kepingan 2 rupees ke pedagang tersebut,tentunya dengan gelengan kepala khas orang india, artinya tak lain adalah "bang..beli 2", anak tersebut berharap semoga abang panipuri tadi bersedia memberi harga 2 rupees utk 2 buah panipuri.

Si bhiaya tadi agaknya ragu untuk melayani 2 anak kecil itu, saya yang tidak tega melihatnya langsung bilang ke pedagang itu, "bhaiya,could u give them 6 each person like me? I will pay for that later..." Akhirnya si bayya mau juga melayani mereka, salah satu dari anak tersebut seolah takjub melihat tindakan saya dia tersenyum tapi sepertinya dia masih ragu-ragu. "Sir, i'm sorry, but i don’t want to ask your money...we are not beggar kids sir," berganti saya yang heran sekaligus takjub mendengar perkataan anak itu. Tapi perlahan saya tanya anak itu balik.." How old are you bacha? You are in 4th grade I guess?"kata saya

sambil ngajak salaman tu anak. Nanti lain kali saya akan menceritakan berbagai makanan di india yang unik dan langka menurut kita, kali ini saya ingin bercerita tentang suatu kenyataan hidup yang terkadang terlewat begitu saja oleh kita. Ketika proses makan panipuri yang sangat cepat itu terjadi, datang dua orang anak SD yang sepertinya mau membeli jajanan itu pula. Tapi melihat penampilan mereka, saya menjadi sadar,bahwa mereka itu pasti dari kasta paling rendah disini, kalau tidak sudra ya dalit atau mahar, mereka saling berpegangan tangan. Tampaknya mereka adalah sepasang sahabat kental, 2 anak lelaki yang saling berbagi mimpi dan cita-cita, serta berbagi rasa suka maupun duka. Melihat mereka dari kasta rendah, bisa dipastikan uang saku mereka pasti sangat paspasan, atau bahkan kurang. Harga panipuri yang cuma 10 rupees atau 2000 perak, bagi mereka sangatlah jauh dari kemampuan. Mereka tampak benar-benar mengidamkan panipuri itu, dilihat dari cara mereka menatap saya dan teman-teman saya yang sedang sibuk makan, saya tidak tega melihat mereka menatap saya dengan tatapan seperti itu, namun pun ragu apakah mereka mau saya belikan panipuri itu.

Namaste Indonesia – November 2010

"Me 10 years old sir...and this is my brother...I’m in 5th and my brother in 3rd grade, but different school," jawab dia sambil terlihat ragu untuk menyambut uluran tangan saya, dia juga membantu saudaranya untuk bersalaman. Ternyata saudaranya itu buta, "hey soldier, it’s my birthday. so consider that panipuri is my treat for u to celebrate it.". anak itupun menjawab,"thank you sir. You are very kind." Saya hampir menangis ketika melihat mereka makan, anak yang satu menyuap adiknya dengan penuh kesabaran, dia juga membantu menyeka mulut sang adik yang terkena air panipuri mamakai saputangan yang dia bawa, mereka tertawa dan ternyum bersama. Bahagia sekali tampaknya. Tapi bagi saya, hal ini benar-benar membuat hati saya terenyuh, saya pun tanya mereka, "have you had your lunch?" mereka jawab, "nehi sir...we will have it later in our home," Ya Allah...padahal ini kan dah jam setengah 4 sore. Mereka belum makan siang mungkin karena tidak punya uang membelinya, akhirnya si kakak itu cerita kalau tempat dia sekolah dan adiknya sekolah berjauhan. Adiknya sekolah di sekolah luar biasa, dan dia harus mengantar serta menjemput adiknya tiap hari. Dia bilang dia ingin


31

sekolah setingi-tingginya, agar bisa membantu keluarganya yang memang sudah sangat paspasan. Ketika saya tanya dia ingin jadi apa, dia bilang kalau ingin jadi dokter ahli mata,supaya bisa bantu adiknya sembuh dari buta. Sebuah pikiran sederhana anak ini membuatku terharu, akhirnya mereka pulang setelah sebelumnya saya beli 2 chicken fried rice dan 1 chicken kabab dibungkus untuk mereka bawa pulang, berulang kali mereka mengucapkan terimakasih sama saya, mereka pulang sambil bergandengan tangan. Sang kakak membimbing adiknya dengan kasih sayang sambil bercerita tentang apa saja yang ada di jalan yang mereka lalui berdua itu. Disini saya ingin mengungkan perasaan yang saya alami setelah mendapatkan pengalaman seperti yang saya ceritakan di atas. Yang pertama tentang betapa bencinya saya dengan feodalisme,rasialisme, dan caste system, yang kedua tentang betapa berharganya persaudaraan ini,namun sayangnya banyak dari kita yang telah melupakannya. Saya ingin bercerita bagaimana ekspresi teman saya dan sang pedagang panipuri itu ketika melihat saya menjabat tangan 2 anak sudra yang item,kurus,dan dekil itu, ekspresi mereka mengernyit, seolah ada tahi kucing yang dioleskan di bawah lubang hidung mereka, malah seorang teman saya berkata kalau saya harus cuci tangan dengan sabun karena sudah berjabat tangan dengan mereka. Dan akhirnya timbul di benak saya pertanyaan, “what happened guys? Mereka manusia sama dengan kita. Knapa kita harus takut menyentuh mereka?” Kalau untuk alas an medis karena mungkin kalian takut tertular oleh suatu penyakit atau apa, itu okelah. Tapi kenapa saya tak jarang menjumpai beberapa orang dari kalian bahkan menyentuh binatang yang kalian anggap suci tanpa perasaan jijik sama sekali? Sedangkan mereka itu manusia, mahluk yang sama berakalnya dengan kita. Akhirnya saya sadar, mengapa mereka beranggapan bahwa kaum dalit,mahar atw sudra itu tidak boleh disentuh, karen system kasta yang dibentuk selama berabad-abad disini, selalu mendiskreditkan kaum bawah ini sebagai untouchable. Sekelompok orang yang tidak boleh disentuh, diajak berkomunikasi, atau bahkan diizinkan untuk menatap muka kasta yang lebih tinggi. Saya membaca di sebuah literature, sebuah autobiography dari Kumud pawde,seorang guru bahasa sanskrit dari kaum dalit, bagaimana dia berjuang untuk menempuh pendidikan bahasa Sanskrit, yang notabene adalah bahasa suci sehingga bagi kaum dalit,mendengarkannya saja itu adalah sebuah dosa. Bagaimana seorang kumud Pawde muda, seorang pelajar perempuan dari kaum lower caste slalu dihina karena dia adalah Namaste Indonesia – September 2010

seorang dalit. "caste is the thing comes by birth..but never be erased even by death," suatu kenyataan yang sungguh-sungguh menyesakkan. Saya berharap 2 anak kecil tadi bisa mendapat pendidikan dengan mudah daripada yang dialami Kumud Pawde atau generasi sebelum mereka yang lain, pendidikan adalah hak asasi setiap manusia, tidak memandang ras, warna kulit, suku,ataupun kasta. Pedidikan adalah suatu kesetaraan yang seharusnya mampu dinikmati semua orang. Ketika memandang 2 anak yang penuh semangat itu, hatiku semakin trenyuh membayangkan bagaimana beratnya tantangan yang akan menghadang mereka di masa depan, bukan hanya karena masalah kasta mereka yang sangat rendah,namun juga karena keadaan ekonomi keluarga mereka yang sangat memprihatinkan. Saya berharap mereka tidak akan tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang takluk pada pola kehdupan feodal disini yang tumbuh karena kapitalisme. Dimana para orang kaya semakin dijunjung dan orang miskin semakin diinjak. Mereka adalah generasi yang harus tumbuh menjadi seorang yang merdeka,tanpa merasa minder dengan strata social mereka. mereka harus menjadi jiwa pemberontak terhadap feodalisme,rasialisme dan diskriminasi social, sebagaimana Dr.Babasheb Ambedkar, bapak Kaum Dalit di india selatan, selalu berpesan pada kaum Dalit, bahwa tidak ada yang mampu membebaskan mereka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan selain diri mereka sendiri yang memberontak terhadap sebuah diskriminasi social, ekonomi dan budaya. Semoga kedepannya bangsa dan negara ini mampu mengalami evolusi kebudayan dan social, dimana manusia hidup setara, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah satu sama lainnya. (namun kadang pemikiran saya ini dimentahkan dengan pola pengajaran guru yang feodal disini. Dimana pemikiran didiktekan dari textbook...dimana kreatifitas dianggap suatu pembrontakan terhadap kebudayaan). Semoga ke depannya, kita bisa saling menggalang persaudaraan yang tanpa mengenal batas apapun, baik gender, strata social, suku, budaya ataupun bangsa. Karena kita adalah manusia, satu-satunya mahluk yang dianugerahi Tuhan dengan akal, pikiran, dan kasih sayang. Seperti kata Charlie Chaplin dalam ‘On Humanity and Freedom’ , “we think too much but feel too little. More than machinery we need humanity. More than cleverness we need kindness and gentleness. Without these qualities, life would be violent and all would be lost.”


Sajak Seléngéan RENUNGAN

TINGKAT AKHIR

MAHASISWA

TIADA AKHIR

by Maxemal*

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu, senangnya ga tau kapan Mungkin nanti kalo dah abis ujian balik ke Indo bawa ijazah kesarjanaan Atau nanti kalo dah dapat kerjaan dapat penghasilan dari gaji bulanan

32

Beli oleh2X sendal Crocs 200 rupees-an Duit kurang, pinjem temen jadi andalan 2X

Pulang jalan pusing lagi kehabisan uan...g Simple aja: telp mami-papi minta kiriman Kalo ga ada, ya harus kudu dipaksakan Bodo amat, ga tau drmn ortu nyari pinjaman

Itu enaknya jadi bujangan Hidup bebas tanpa ada tekanan Yg nanti2X itu urusan belakangan Yg pnting skrg q-ta puas2Xin dulu having fun Udah kawin barulah ketauan bahut susahnya nyari uang buat makan Anak bini pada kelaperan ga punya baju pada telanjangan Mereka juga sekali-kali butuh hiburan Pengen ngerasain nonton bioskop di 21 Pélem baru pemerannya Batman yg katanya ada adegan pijit2Xan

Punya rumah sendiri walau cuma cicilan bisa sesekali dipake buat pacaran

Pélem abis q-ta semua pada bubaran Ga ada duit buat bajaj, ya kepaksa jalan

Itu pun kalo dapat kerjaan Bisa aja seumur hidup jadi pengangguran luntang-lantung di jalan ga karuan

Di jalanan banyak sapi berkeliaran Dasar sial, tau2X nginjek gituan

nongkrong di jembatan tidur di emperan Sekali waktu bini mau lahiran Ah ngga lah, jangan sampe itu kejadian Q-ta tunggu aja ortu mxxxr nanti dpt warisan Itu pun kalo kebagean Bisa aja abis buat bayar utan...g

harus pergi ke RS atau ke bidan Ga ada duit, bingungnya ga ketulungan Cari yg murah, lari ke dokter hewan

Itulah sekelumit kisah di masa depan Drpd pusing, mending q-ta facebook-an nongkrong depan laptop semalaman ampe lupa tidur lupa makan Tau2X dah pagi sholat subuh kebablasan Atau kalo ga, q-ta refreshing jalan2X keliling India backpacking sama teman2X Naek kereta class kambing desak2Xan Ketemu bencong keling minta uang recehan Main2X ke pantai q-ta cebur2Xan Malamnya makan Tom Yum ala Thailand Namaste Indonesia – November 2010

yg kadang2X muncul jadi bayangan Sempet bikin q-ta jadi tersadarkan kalo hidup jangan terlalu keasyikan.

* Mahasiswa DU Tingkat Akhir (calon M.Sc. (kalo lulus)


33

Budaya Mahasiswa Negeriku

Kampus adalah lembaga tempat pelajar mendapatkan puncak ilmu. Mereka tidak hanya sekedar siswa lagi, melainkan sudah mendapat embel - embel “maha�. Suatu kata yang berarti besar atau pada puncak tertinggi. Mahaguru berarti guru besar. Demikian juga dengan maha raja, maha agung dan mahamaha lainnya. Seorang mahasiswa berarti siswa yang sudah sampai pada posisi tertinggi dalam dunia pendidikan, maka tentu mempunyai karakter yang mendekati sempurna dalam dunia akademik. Namun apakah kenyataannya memang demikian?. Ternyata gelar maha tidak selamanya menunjukkan kondisi mereka yang sebenarnya. Apalagi di Indonesia, Negara yang terkenal sangat cinta dengan gelar dan penghormatan manusia. Begitu banyak orang yang berebut gelar meskipun tanpa harus kuliah. Sejumlah uang, kemudian bisa digunakan untuk membeli segalanya. Mungkin masih ada yang menolak kondisi tersebut. Hanya saja, kian hari dunia pendidikan Indonesia kian mengkhawatirkan. Kampus identik dengan komersialisasi. Orang miskin kesulitan menempuh pendidikan yang layak. Artinya juga bahwa mereka akan sulit untuk melakukan mobilitas vertical status sosial. Dalam dunia pendidikan, kondisi tersebut tidak kalah merugikan. Ruh akademis yang identik dengan budaya membaca, diskusi dan menulis di dunia mahasiswa kian hari juga kian luntur. Hanya sedikit mahasiswa yang membiasakan diri membaca buku di luar mata kuliah satu buku dalam seminggu atau bahkan lebih misalnya, apalagi sampai menulis dan mendiskusikannya. Bahkan materi yang diberikan oleh dosen pengajar pun tidak mereka baca. Alasan yang dimunculkan juga bermacam-macam. Ada yang karena sibuk bekerja, kesulitan karena berbahasa inggris atau mungkin hanya karena malas. Mereka merasa cukup hanya mengandalkan penjelasan dosen di kelas saja. Itu pun tidak sepenuhnya karena mereka juga terganggu oleh perhatian yang lain. Di kelas, banyak mahasiswa yang kesulitan konsentrasi dalam belajar. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kondisinya demikian. Tentu budaya akademik yang seharusnya berkembang di dunia kampus menjadi redup. Mahasiswa berubah menjadi sosok-sosok yang pragmatis. Mereka hanya mengejar nilai, dan bisa tamat cepat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Budaya instant berkembang luas. Dosen juga tidak lagi dijadikan sebagai panutan yang bisa mendidik. Tugas mereka bukan lagi mengajar, apalagi mendidik, melainkan hanya sekedar memberi nilai dan legitimasi bahwa mereka adalah sarjana. “sarjana karbetan� sebenarnya. Tapi apa mau dikata. Kondisi tersebut sudah sedemikian meluas. Wajar kalau sekian banyak persoalan negeri ini tidak kunjung selesai. Ribuan sarjana yang dilahirkan setiap tahun lebih banyak menambah barisan pengangguran. Mereka tidak punya inisiatif kecuali sudah teracuni oleh budaya ingin hidup enak, tapi tanpa perjuangan keras. Jujur, kita rindu dengan masa lalu. Ketika tidak lebih dari seratus sarjana yang Indonesia miliki, tapi bisa mengusir penjajah dan mendirikan Negara ini. Mereka bahkan bisa menggoncang dunia. Kita rindu. Tapi kapan, kita tidak pernah tahu!!! Gonda Yumitro Mahasiswa MA Political Sciences Jamia Millia Islamia Namaste Indonesia – September 2010


34

Namaste Indonesia – November 2010


35

Namaste Indonesia – September 2010


36

Namaste Indonesia – November 2010


37 Bahasa Hindi saya ketika pertama kali datang ke sini masih dangkal. Hanya nehi-nehi saja yang saya tahu, itu pun karena sering dengar dari televisi. Dengan ngasal saya bertanya kepada teman bahasa Hindinya terima kasih apa. Sukriya, katanya. Keesokan harinya saya belanja ke warung dan setelah selesai saya mengucapkan sukriya. Penjualnya bengong. Saya tidak begitu menghiraukan. Mungkin dia kaget karena tahu saya orang asing tapi bisa berbahasa Hindi, begitu pikir saya. Lama-lama saya tahu bahwa sukriya sekarang sudah tidak begitu populer. Pantesan.. Kalau begitu saya ganti pakai thank you saja. Pepatah mengatakan bahwa kata-kata tolong, maaf, dan terima kasih adalah katakata yang paling sulit diucapkan. Karena itu saya membiasakan diri agar lidah saya terlatih mengucapkannya kepada siapa saja: penjual sayur, kondektur bus, supir auto (bajaj), tukang rickshaw (becak), pelayan restauran, orang kantin di kampus, kasir di supermarket, pokoknya siapa saja yang menurut saya berjasa sampai teman India saya heran. "Why do you thank everyone? It's their job to serve us." Saya kaget mendengar pernyataannya. Apakah semua orang India memiliki pola pikir yang sama? Atau mungkin hanya sebagian besar saja? Atau beberapa saja? "Well, just to appreciate what they did for us," jawab saya sekenanya. Memang benar itu sudah menjadi pekerjaan mereka, tapi apa salahnya kita berterima kasih? Terkadang saya juga tidak mengapresiasi mereka. Kadang saya tidak mengucapkan terima kasih kalau

Namaste Indonesia – September 2010

pelayanannya menyebalkan.

tidak

memuaskan

atau

orangnya

But hey, apakah ada yang memperhatikan bagaimana reaksi orang lain ketika mendapatkan apresiasi? Rona wajahnya, binar matanya, anggukannya, dan mulutnya yang tulus mengucapkan kata 'you're welcome' menggambarkan semuanya. Tanpa kata sekalipun kita sudah bisa menebak apa arti di balik senyuman mereka. Tanpa saya harus mengerti bahasa Hindi. Tanpa mereka harus tahu bahasa Inggris. Saya pun menerka-nerka apa orang India memiliki cara tersendiri untuk mengucapkan terima kasih. Mungkin mereka berterima kasih di dalam hati. Mungkin mereka menyebutkan orang-orang tadi di dalam doanya. Mungkin mereka tidak diajarkan untuk berterima kasih sejak kecil sehingga tidak terbiasa ketika dewasa. Mungkin mereka tidak ada masalah jika tidak mengucapkan terima kasih. Dan sebaliknya, orang-orang yang sudah melayani mereka pun tidak ambil pusing. Tapi no 'thank you' tidak berlaku untuk beberapa orang India lainnya. Untuk beberapa orang yang berpendidikan dan well-behaved. Untuk beberapa orang yang mengerti apa arti dari setetes keringat. Teman India saya sendiri sekarang sudah tertular penyakit saya. Say thank you to everyone. Bukan masalah diajar atau tidak semenjak kecil, tapi kita, orang dewasa, seharusnya bisa mengajarkan diri kita sendiri tentang sesuatu yang menurut kita baik dan benar.

Oleh: Fatimah Muthahirah


Memori Super -

Sulap

Kartu " Diterjemahkan dan dikembangkan dari 'David

38

kartu dengan tangan kiri. 4 jari tangan

kanan ada di bagian atas kartu, dan ibu jari kanan menyentuh kartu paling bawah. Minta penonton untuk menyebutkan kartu urutan ke berapa yang ia inginkan.

Blaine' oleh Wiku Pulangasih"

5. Gunakan jari telunjuk kanan untuk menelusuri kartu ke berapa yang

Effects : Setelah anda memandang tumpukan kartu yang telah dikocok penonton hanya dalam waktu 1-2 detik, anda bisa menghafal dan menyebutkan kartu urutan ke-n (urutan yang diminta oleh penonton).

diinginkan penonton. Setelah sampai ke jumlah kartu tersebut dengan berpurapura berkonsentrasi, sebutkan nilai

kartu paling bawah (misal Queen Sekop) yang telah anda ingat-ingat tadi (lakukan dengan mata terpejam agar lebih meyakinkan).

1. Sebagai pembuka, anda meminta penonton memeriksa dan mengocok satu pak kartu. Anda bisa berbicara tentang kekuatan otak, ingatan fotografis, kemampuan mnemonic, dan sebagainya. 2. Minta penonton mengembalikan pak kartu tersebut ke anda. Dan dengan cara yang natural, tanpa menarik perhatian,

lihat dan hafalkan satu kartu paling

tampak samping

bawah, misalnya Queen Sekop (dengan pura-pura mengetukkan kartu ke meja, bagian depan kartu menghadap ke arah anda, bagian belakang menghadap ke penonton.) 3. Pegang salah satu tepi tumpukan kartu dengan tangan kiri, dan gunakan tangan kanan anda untuk membalikbalik tumpukan kartu dengan cepat seperti layaknya sebuah buku hanya

tampak dari atas

dalam satu atau dua detik (seperti mesin

Untuk pembuktian, gunakan ibu jari

penghitung uang di bank). Katakan

kanan anda untuk ikut menarik kartu

bahwa anda telah mengingat seluruh

paling bawah bersamaan dengan

urutan kartu di pak tersebut.

tumpukan kartu di atasnya. Pasti para penonton akan terkagum-kagum dengan

4. Pegang kedua tepi vertikal tumpukan

Namaste Indonesia – November 2010

daya ingat anda.


39

Namaste Indonesia – September 2010


40

www.ppiindia.org Namaste Indonesia – November 2010

Namaste indonesia 4  

Re-Upload Buletin Namaste Indonesia Edisi 4