Issuu on Google+

Mahasiswa Membludak, Keluhan Berdatangan

ELM P A

EDISI XLVIII/November/2012

DARI KAMI UNTUK MAHASISWA

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung


s a l a m r e d a k s i

EDITORIAL

Balada Pemilihan Rektor

R

ektor merupakan ketua dari sebuah institusi perguruan tinggi. Secara disadari rektorlah yang mengemban tugas dan tanggungjawab terhadap keberlangsungan dan perkembangan sebuah perguruan tinggi. Bahkan tak jarang dikatakan bahwa keberhasilan suatu perguruan tinggi adalah keberhasilan kepemimpinan seorang rektor. Dalam waktu dekat ini, Universitas Pasundan (Unpas) akan mengalami pergantian rektor karena masa jabatan rektor sebelumnya telah berakhir. Dari 40 orang yang memenuhi syarat, hanya 4 orang yang mendaftarkan diri. Mereka adalah Eddy Jusuf, Deden Ramdan, Jaja Suteja dan Absar Kartabrata. Untuk sosialisasi mengenai pergantian calon rektor ini sudah dilakukan oleh panitia melalui beberapa cara yakni dengan menempel profil para Calon Rektor di tiap fakultas, dan pada tahun ini untuk pertama kalinya Unpas mengadakan presentasi Calon Rektor yang dihadiri secara langsung oleh berbagai kelembagaan mahasiswa. Akan tetapi sosialisasi tersebut nampaknya belum merata karena masih saja banyak mahasiswa yang tidak mengetahui isu pergantian rektor ini. Ada beberapa Pekerjaan Rumah yang harus dikerjakan oleh rektor selanjutnya. Di antaranya adalah mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap Unpas dan mengoptimalkan seluruh sarana prasana pendukung kegiatan pendidikan. Selain itu, rektor selanjutnya pun harus siap menghadapi tantangan. Rektor sebelumnya, Didi Turmudzi mengatakan bahwa tantangan terberat itu adalah kepercayaan masyarakat. Pasalnya, sekarang ini banyak berdiri Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru, sementara masyarakat pasti akan banyak yang berorientasi ke PTN. Maka dari itu peningkatan kualitas harus benar-benar dipacu, agar Unpas tidak kalah bersaing dengan PTN. Dalam setiap perubahan sudah pasti terselip harapan. Banyak pihak berharap pergantian rektor ini dapat menghadirkan angin perubahan yang akan membawa Unpas ke arah lebih baik. Kami hanya bisa berharap rektor selanjutnya mampu mengemban amanah yang diterimanya, juga mampu menggiring seluruh civitas akademik menuju sejahtera. Redaksi Pelma menerima tulisan berupa : Surat Pembaca, Artikel, Opini, Renungan, Laporan Perjalanan, Ilustrasi, Karikatur, Foto, dll. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi. Tulisan dikirim dalam bentuk hard copy atau soft copy.

2 PELMA edisi XLVIII 2012

Salam Mahasiswa! Assalamu’alaikum Wr. Wb.

A

lhamdulilah. Setelah perjuangan panjang akhirnya kami dapat hadir kembali di tengah para pembaca setia Pelma. Walaupun perjuangan tidak mudah, kami tidak patah arang untuk menyelesaikan Buletin ini agar dapat dibaca oleh kawan-kawan mahasiswa Unpas. Dengan semangat yang tiada pernah padam, kali ini Pelma berusaha menghadirkan tema yang sedang hangat diperbincangkan yakni ‘Perebutan Kursi 1 Unpas’. Semoga tema yang kami angkat ini dapat memberikan informasi yang pembaca butuhkan mengenai pergantian pemegang ‘posisi tertinggi’ di Universitas Pasundan. Kritik dan saran sangat kami nantikan kehadirannya karena dengan keduanyalah Pelma dapat hadir ke tengah-tengah pembaca dengan kualitas yang jauh lebih baik lagi. Selamat membaca! Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

surat pembaca Fasilitas Parkiran kampus kurang memadai, sampai memacetkan jalan raya serta kantin Lengkong yang kumuh agar lebih bisa dibenahi. Feizal Ramadhan, FISIP, Ilmu Komunikasi Mengenai AC di kelas ada sebagian yang rusak dan keramik di dalam kelas sudah bergelombang. Komputer di ruang Lab. Komputer pun sudah tidak sesuai spesifikasi sekarang. Kharis, Hukum 2011 Menurut info yang beredar, Fakultas Ekonomi bekerjasama dengan pihak swasta dalam kebersihan toilet. Namun, tidak ada perubahan yang berarti toilet masih bau. Bagaimana tindak lanjutnya? Fitri R, FE, Akuntansi 2011 Fasilitas toilet diperbaikki dong! Malah sekarang-sekarang sering tidak ada air. Mahasiswi FE, Manajemen 2007

Akademik Info beasiswa untuk mahasiswa harap diperbanyak, kalau bisa sudah tertera persyaratannya dan birokrasinya lebih dipermudah lagi. Atika S. A., FE Akuntansi 2011 Salah satu motto Unpas ‘Pengkuh Agamana’, mengapa sampai saat ini masih bekerjasama dengan Bank Konvensioal? Menurut saya akan lebih baik jika bekerja sama dengan Bank Syariah. Rendi M. Ihsan, FE Akuntansi 2011 Kinerja SBAP kurang cepat tanggap dalam melayani akademik mahasiswa. Contohnya, entri nilai ke dalam website mahasiswa memerlukan waktu yang lama. Mahasiswa FE Akuntansi 2007 Pelindung Rektor Universitas Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si,. Penasihat Pembantu Rektor III Universitas Pasundan, Drs. Yaya M. Abdul Azis, M.Si, Pemimpin Umum Agung Gunawan Sutrisna Pemimpin Redaksi Eriel Fauzi Nurlansyah Sekretaris Redaksi Ai Chintia R. Editor Mutia Nurfitriana Artistik Intan Pariztyan E. Staf Redaksi Dwi, Fuji, Taufik, Imas Pemimpin Perusahaan & Distribusi Rachman, Widi Penerbit Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung Alamat Redaksi Jl. Tamansari No. 6-8 Bandung 40116 Telepon (022) 4261259 E-mail jumpaunpas@yahoo.com Facebook Lpm Jumpa Unpas Twitter @lpmjumpa Website www.jumpaonline.com


PELITA OPINI

Bencana Sebagai Tali Pemersatu Bangsa Tian Septiawan*

K

eanekaragaman sumber daya alam dan budaya salah satu ciri yang melekat pada bangsa ini. Keanekaragaman tersebut merupakan potensi besar yang dimiliki bangsa ini. Itu seharusnya bukan menjadi penyebab perpecahan tetapi menjadi modal untuk membangun negara. Indonesia memiliki kesadaran yang tinggi sebagai makhluk sosial yang memerlukan sikap saling menghormati, menghargai dan tolong menolong agar terciptanya masyarakat adil dan sejahtera. Salah satu karakter yang dimiliki bangsa ini adalah jiwa tolong menolong yang diwujudkan dengan sikap gotong royong, rasa kekeluargaan dan solidaritas. Hal ini merupakan ciri yang melekat pada masyarakat Indonesia yang akhirnya mengkristalisasi sebagai salah satu ciri bangsa yang diwujudkan dengan pancasila, sila ketiga ‘Persatuan Indonesia’ tentunya tidak akan ada persatuan tanpa solidaritas dan toleraansi, persatuan bisa terbina atas dasar sikap senasib sepenanggungan. Toleransi itu kini mulai pudar. Masyarakat kita cenderung individualis dan berorientasi materi. Perkembangan industri berdampak pada perubahan tatanan sosial masyarakat, mulai dari pola hidup dan menjalarnya sifat konsumtif. Indonesia kini rentan akan perpecahan, masyarakat mulai mengkotak-kotakan suku, agama, dan ideologi politik. Mulai dari desa hingga kota mudah tersulut provokasi sehingga timbul konflik. Contoh yang masih hangat konflik perbedaan ideologi agama di Sampang, Madura (26/8/2012) dan kasus tawuran pelajar di Jakarta (24/9/2012) antara SMAN 6 dan SMAN 70 yang mengakibatkan tewasnya siswa SMAN 6, Alawi Yusianto Putra. Hal yang sangat disesalkan itu tidak akan terjadi bila masyarakat kita menjungjung tinggi toleransi dan menghormati perbedaan. Indonesia negara rawan bencana disebabkan konstelasi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki gugusan gunung berapi dan terletak di atas jalur pertemuan

Nikmat-Nya Yang Mana ?

H

ari yang gelap. Mentari seakan enggan muncul walau hanya untuk menampakan seberkas sinarnya. Lalu-lalang pedagang asongan dan pengamen seakan membuat penat pandanganku. Mataku berusaha menyapu ke seantero tempat yang kulalui dari dalam mobil. Jengkal demi jengkal kuamati dengan perasaan enggan. Tiba-tiba terlihat samar sosok seorang ibu yang sedang menggandeng bocah. Bocah itu terseok, menangis sambil tak hentinya mengatakan nyeri sembari memegangi perutnya. Mereka nampak tak karuan, berjalan dengan pakaian yang sudah basah kuyup dan kotor, menghampiri setiap mobil yang terhenti di lampu merah. Ibu dan bocah itu mengulurkan tangan dan berkata, “Pak, untuk makan,” berulang kali dengan nada lirih. Tak lama kemudian, beberapa keping receh mendarat di tangan mereka. Siapapun pasti merasa iba dan prihatin melihat seorang anak kecil merengek kesakitan, menahan sakit yang entah bagaimana rasanya. Dari dalam mobil lain terlihat keluarga sedang asik bersenda gurau. Si ibu dan bocah tadi menghampiri mereka, mengulurkan tangan dan berharap mendapat keping receh lainnya untuk menyambung hidup. Siluet gerakan tangan terlihat memberi isyarat ‘maaf’, lalu merekapun menjauh dengan raut wajah kecewa. Kemudian, terlihat sebuah tangan kecil terulur dari dalam mobil itu. Tangan itu tidak kosong, melainkan membawa jinjingan plastik putih berisi makanan siap saji dan sebuah robot mini di dalamnya. Senyum tergambar pada raut ibu dan bocah tadi. Tak

antara tiga lempeng tektonik. Oleh karena itu banyak peneliti yang mengatakan Indonesia sebagai laboratorium bencana. Bencana tidak bisa diprediksi, tapi kesiapsiagaan menghadapi bencana bisa mengurangi jumlah korban jiwa dan harta benda. Seperti contoh kesiapsiagaan masyarakat Jepang bisa menekan jumlah korban jiwa dan harta benda. Akibat gempa bumi berkekuatan 8,9 skala richter yang diikuti tsunami di Jepang, Jumat (11/3/2011), 2.000 orang korban jiwa. Jauh lebih sedikit dibandingkan Aceh ketika gempa berkekuatan 9,6 skala richter diikuti tsunami, lebih dari 126.000 korban jiwa. Toleransi dengan didasari rasa senasib sepenganggunggan bisa menghilangkan sekat-sekat egoisme dan individualisme yang mulai menjangkit di tengah-tengah masyarakat. Faktor pemicu tolersansi dan gotong royong masyarakat salah satunya adalah bencana, masyarakat antusias bahu-membahu meringankan penderitaan dan memberikan pertolongan. Ketika terjadi bencana, masyarakat kita akan menghilangkan perbedaan dan melebur menjadi satu, untuk memberikan bantuan dan pertolongan, hal ini membuktikan di masyarakat kita masih terkandung nilai-nilai luhur toleransi dan gotong royong, tetapi hal itu harus dipicu oleh rasa senasib sepenanggungan. Di tengah-tengah masyarakat yang mulai apatis terhadap lembaga pemerintahan dan mulai pudarnya rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa, gerakan kemanusiaan bisa menjadi solusi sebagai tali pengikat pemersatu bangsa. Mungkin ini ungkapan yang sedikit naïf dari penulis, “bencana yang bisa mempersatukan bangsa gerakan kemanusiaan tali pengikatnya.” Penulis percaya dan yakin sikap solidaritas dan persatuan sebagai modal kekuatan membangun negara menuju Indonesia berdaulat, adil dan sejahtera. *Penulis, Wakil Komandan KSR PMI unit Unpas periode 2012-2013

RENUNGAN Dwi Reinjhani* hentinya mereka mengucapkan terima kasih dan alhamdulillah sambil mengangguk-anggukan kepala. Aku terdiam merenungi peristiwa yang baru saja aku lihat. Menerawang jauh kedalam alam pikiranku yang kian waktu kian gelap, kian hari kian menjauhi nikmat yang diberi Tuhan kepadaku. Berfoya-foya tanpa memikirkan betapa orangtuaku bersusah payah mencari rezeki untukku, memenuhi semua egoku. Sering pula aku abaikan perintah-Mu merasa semua itu tak perlu dan hidupku hanya tergantung padaku. Bahkan akupun lupa bahwa nyawaku ada pada-Mu. Bahwa karunia-Mu yang membuatku masih bernafas. Tuhan, aku malu. Betapa aku telah ingkari semua nikmat yang Engkau beri. Rezeki yang melimpah masih saja kurang di mataku. Hardikan dan amarah masih sering kuluapkan padaMu. Sungguh aku malu. Aku yang hanya kecil di mata-Mu berlaga dan sombong melupakan-Mu. Merasa angkuh dengan hebatku, yang sebenarnya tak seberapa di mata-Mu. Sekadar mengucapkan alhamdulillah atas segala nikmat yang Ia beri tidaklah sulit dilakukan, bahkan melipat gandakan kenikmatan. Waktu tak akan pernah kembali, maka perkayalah diri dengan rasa syukur yang diberi karena segala nikmat adalah milik-Nya semata. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S Ar-Rahman) . *Penulis, Bendahara Umum LPM Unpas Periode 2012-2013

PELMA edisi XLVIII 2012

3


PELITA UTAMA

Didi dan Sembilan Tahun Masa Jabatan Rektor

D

Fuji Astuti

alam ruang lingkup akademis, rektor merupakan jabatan pimpinan utama dari lembaga pendidikan formal. Jabatan tersebut pada umumnya digunakan dalam ruang lingkup perguruan tinggi ataupun institut, termasuk di dalamnya Universitas Pasundan (Unpas). Sebagaimana pada umumnya, peran dan fungsi seorang pimpinan, tentunya menjadi titik poros berjalannya sebuah roda organisasi. Universitas sebagai badan atau organisasi penyelenggara pendidikan akademik tertinggi, tentunya mempunyai andil yang besar dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa. Karenanya, sosok pimpinan tertinggi seperti halnya rektor sudah patut menjadi sebuah sorotan. Maka sudah selayaknya sepak terang nama yang disusung sebagai orang nomor satu di lingkungan kampus tersebut diketahui oleh seluruh civitas akademik, terlebih lagi mahasiswanya. Pergantian Rektor Mengingat akan berakhirnya masa jabatan Didi Turmudzi selama dua periode kepemimpinan hingga Desember mendatang, Panitia Pemilihan Rektor Universitas Pasundan sudah melakukan pembukaan pendaftaran calon rektor ke tiap-tiap fakultas. Berbagai persyaratan telah disosialisasikan oleh pihak panitia melalui poster dan website resmi Unpas. Dalam rapat sosialisasi pemilihan rektor (7/11), Yaya. M. Abdul Aziz, Wakil Rektor III mengaku tidak kurang dari 40 nama telah memenuhi persyaratan untuk bisa mencalonkan diri. “Dari sekian calon yang mendaftarkan diri, selanjutnya pihak senat akan melakukan verifikasi untuk kemudian dilaporkan kepada yayasan untuk ditindaklanjuti,” ujarnya. Dalam proses pergantian sosok pemimpin, sistem pemilihan rektor tidak sama dengan sistem pemilihan presiden, di mana seluruh orang yang dinaunginya dapat turut andil memberikan suara. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) telah menetapkan bahwa tidak ada peran mahasiswa dalam pemilihan rektor, namun langsung melalui senat. “Besok atau lusa, panitia akan memasang beberapa kotak saran di beberapa titik di kampus agar mahasiswa bisa turut memberikan masukan,” jelas Yaya. Didi Turmudzi, Dua Kali Masa Jabatan Bukan dalam waktu yang singkat pria kelahiran Majalengka 63 tahun silam ini, Didi menjabat sebagai rektor di Unpas. Dalam catatan sejarah pergantian rektor di Unpas, tujuh dari delapan rektor terdahulu, termasuk Didi memang menjabat selama dua periode (2003-2007) dan (2007-2011). Dengan masa bakti yang terhitung lama, yaitu sekitar delapan tahun, maka sudah sepantasnya masa jabatan bukan menjadi alasan tidak terlaksananya sebuah rangkaian program kerja. Terlebih untuk Didi yang mengalami penambahan masa jabatan selama satu tahun (2011-2012). Terbentur Dana Meski masa jabatan bukan lagi penghambat terlaksananya program kerja, namun kendala tetap diakui terasa oleh Didi. Dari sekian visi misi dan program kerjanya, Didi mengaku masih ada beberapa yang belum terlaksana.

4 PELMA edisi XLVIII 2012

“Ada beberapa yang memang belum terwujd. Salah satunya yakni ingin membuka Fakultas Kedokteran. Sebenarnya sudah dirintis, akan tetapi harus memiliki rumah sakit terlebih dahulu dan masih ada beberapa kendala terkait dana,” jelas Didi. Prestasi Kendala pendanaan yang sempat disampaikan Didi tidak lantas membuatnya urung hati untuk menuai prestasi guna memajukan almamaternya. Terkait program kerjanya, Didi mengaku sebagian besar dari program kerjanya sudah terlaksana. “Untuk yang sudah terlaksana seperti pendirian asrama, Gedung Serba Guna di Setiabudhi, pembelian tanah di Lengkong, dan pendirian Gedung Pascasarjana,” terang Didi saat diwawancarai Pelma (30/10). Selain dalam hal pembangunan, Didi mengupayakan adanya kemajuan di bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Didi memandang bahwa membangun sumber daya dosen merupakan hal yang penting. Menurutnya sumber daya tersebut merupakan hal yang mendasari sebuah perguruan tinggi. “Saya ingin pada masa kepemimpinan ini, saya bisa membangun SDM. Sekarang, latar belakang dosen di Unpas 5 persennya adalah S1, 50 persen lainnya adalah S2, dan 45 persen sisanya adalah S3. Kemajuan dalam bidang sumber daya tersebut sudah membawa Unpas melampaui Universitas Islam Bandung dan Universitas Katolik Parahyangan,” jelas Didi (30/10). Berbagai kemajuan yang telah diraih semasa kepemimpinan Didi, sedikitnya telah menuai prestasi bagi nama baik keluarga besar Unpas. Terbukti dengan diberikannya penghargaan dari pihak pemerintah. “Unpas sendiri memiliki kuota guru besar terbesar dari Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Barat dan Banten. Unpas juga sudah menjadi penyelenggara sertifikasi dosen mandiri, dan itu suatu bentuk penghargaan dari pihak pemerintah pada Unpas karena hanya lima perguruan tinggi di Indonesia yang dapat menyelenggarakan sertifikasi dosen secara mandiri,” tutur Didi penuh rasa bangga. Di Mata Mahasiswa Berbagai pandangan mahasiswa bermunculan mewarnai lengsernya Didi sebagai pimpinan tertinggi di Unpas selama dua periode. “Menurut saya kinerja Pak Didi baik karena unsur kesundaannya dapat cocok untuk slogan luhung elmuna, jembar budayana pengkuh agamana,” ungkap Dani, mahasiswa Administrasi Bisnis 2011 kepada Pelma (18/10). “Saya tidak tahu perihal pergantian rektor. Rektor sekarang juga tidak tahu,” ujar Ary, mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis 2008 (18/10). Terlepas dari terlaksananya sebuah rangkaian program kerja, sudah selayaknya seorang pemimpin dikenal oleh seluruh lapisan yang dinaunginya. Namun sungguh ironis ketika sembilan tahun pengabdian harus dibayar dengan tidak dikenalnya sosok Didi. Dengan adanya pergantian pimpinan tertinggi, kemajuan tentunya menjadi harapan bersama. Hal tersebutlah yang kian pasti menjadi pekerjaan rumah besar bagi calon bakal rektor terpilih selanjutnya. [Reporter : Rahman, Ai Chintya, Eriel, Mutia]


PELITA UTAMA

Persaingan Ketat Bakal Calon Rektor Unpas

M

Widi Hernawan

enjelang berakhirnya masa jabatan Rektor Uni versitas Pasundan (Unpas) Bandung yang berakhir bulan Desember 2012, maka Panitia Pemilihan Rektor Unpas mengadakan pemilihan Rektor untuk periode 2012-2016. Mengenai hal tersebut, mahasiswa walaupun tidak terlibat langsung dalam proses pemilihan rektor tentunya harus mengetahui proses yang berjalan karena bagaimanapun juga ke depan mahasiswa akan dipimpin oleh rektor baru yang terpilih.

Syarat Pendaftaran Bakal Calon Rektor Dalam pendaftaran Bakal Calon Rektor, ada beberapa syarat yang dibuat oleh panitia. Pertama, tidak sedang menjabat jabatan struktural, baik di lembaga pendidikan atau lembaga lainnya di luar Lembaga Pendidikan Tinggi Pasundan, kecuali mendapat izin dari pimpinan lembaga tersebut. Kedua, tidak sedang bertugas di luar negeri untuk jangka waktu lebih dari tiga bulan. Ketiga, Berpendidikan Strata 3 (S-3) serta memiliki jabatan akademik serendahrendahnya Lektor Kepala. Keempat, batas usia maksimal pada saat pencalonan ialah 60 tahun, kecuali mendapat pertimbangan dari Senat dan Yayasan Perguruan Tinggi Pasundan. Terakhir, Bakal Calon Rektor tersebut tercatat

sebagai anggota Paguyuban Pasundan yang dibuktikan dengan kartu anggota. Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Yaya M. Abdul Aziz mengatakan, tidak mungkin Bakal Calon Rektor itu berasal dari luar Paguyuban Pasundan. “Tidak mungkin calon Rektor berasal dari luar Paguyuban Pasundan Keanggotaannya pun harus dibuktikan dengan menunjukan kartu anggota Paguyuban,” papar Yaya kepada Pelma beberapa waktu lalu. Untuk sosialisasi pergantian rektor, Yaya menambahkan, Panitia Pemilihan Rektor pun melakukan berbagai upaya agar mahasiswa mengetahui terhadap kegiatan ini. Panitia memasang berbagai poster di masing-masing kampus Unpas, poster tersebut berisi curiculum vitae singkat dari Bakal Calon Rektor. “Besok atau lusa panitia akan memasang beberapa kotak saran di beberapa titik di kampus Unpas,” ungkap Yaya kepada Pelma di ruang kerjanya. Siapakah Bakal Calon Rektor yang telah masuk verifikasi secara administratif? Kemudian akan diserahkan berkasnya kepada senat, berikut Pelma lampirkan sedikit CV para Bakal Calon Rektor Unpas periode 2012-2013.

Calon Rektor Universitas Pasundan Bandung Periode 2012-2016 *Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf, Sp., M.Si, M.Kom,. *Bandung, 10 April 1954 *Islam *S-3 *Guru Besar *Golongan IV/D *Wakil Rektor I Unpas *Universitas Pasundan

*Dr. Deden Ramdan, M.Si,. *Bandung, 3 Februari 1963 *Islam *S-3 *Lektor Kepala *Golongan IV/ C *Wakil Dekan III FISIP *FISIP Unpas

*Dr. Absar Kartabrata, S.H,. M.Hum,. *Bandung, 30 Mei 1956 *Islam *S-3 *Lektor Kepala *Golongan IV/C *Mantan Dekan Hukum *Fakultas Hukum Unpas

*Dr. H. Jaja Suteja, S.E,. M.Si,. *Kuningan, 15 Juni 1969 *Islam *S-3 *Lektor Kepala *Golongan III/D *Wakil Dekan I FE *FE Unpas

Sumber : Panitia Pemilihan Rektor Unpas Grafis : Agung Gunawan Sutrisna

PELMA edisi XLVIII 2012

5


PELITA UTAMA

Harapan Untuk ‘Sang Penerus’ Mutia Nurfitriana

“Rektor merupakan bagian dari posisi intra yang strategis untuk memasarkan Universitas Pasundan (Unpas) Bandung karena merekalah yang paling didengar. Bantu dengan cara memasarkan Unpas kepada masyarakat”

I

tulah salah satu petikan wawancara Pelma dengan Didi Turmudzi saat ditemui di Paguyuban Pasundan, Selasa (30/10). Terkait dengan pergantian rektor baru Universitas Pasundan (Unpas), ada sekitar 40 orang dari civitas akademik Unpas yang memenuhi kualifikasi persyaratan untuk menjadi rektor. Akan tetapi dari 40 orang tersebut hanya ada empat orang yang mencalonkan diri untuk menjadi rektor. Hal tersebut dikarenakan demokrasi di Unpas masih melihat kelayakan dan kepatutan, apabila dirasa ada yang lebih patut mencalonkan maka yang lainnya tidak akan mencalonkan diri. “Sebetulnya ada 40 orang yang layak untuk mencalonkan diri, akan tetapi demokrasi di Unpas melihat yang layak,” ujar Widya Utama, Sekretaris Pelaksana Panitia Pemilihan Rektor (24/11). Keempat Bakal Calon Rektor tersebut terdiri dari Abshar Kartabrata, Mantan Dekan Hukum periode 19982006, Deden Ramdan, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP), Edy Jusuf, Wakil Rektor I Unpas, dan Jaja Suteja, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi. Bakal Calon Rektor yang akan masuk ke tahap seleksi berikutnya diberi kesempatan untuk melakukan semacam ‘promosi’, mereka dipersilakan oleh panitia untuk memaparkan visi dan misi di hadapan senat dan perwakilan mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Meskipun mahasiswa umum tidak dilibatkan dalam proses pemungutan suara, namun hal ini dirasa perlu karena merupakan proses dari sosialisasi masa pergantian rektor. Hal tersebut mendapat respon positif dari keempat Bakal Calon Rektor, seperti yang diungkapkan oleh Deden Ramdan bahwa kegiatan tersebut telah membuka ruang demokrasi dan dirasa sangat menarik karena mengarah pada komunikasi informasi serta memberikan atmosfer yang berbeda pada pemilihan calon rektor kali ini. “Bagi saya ini menarik karena telah mebuka ruang demokrasi dan memberikan atmosfer yang berbeda di pemilihan rektor kali ini,” ujar Deden kepada Pelma beberapa waktu lalu. Panitia pelaksana pemilihan rektor mengaku memang baru kali ini diadakan semacam persentasi visi dan misi dari Bakal Calon Rektor, ini merupakan tahap uji coba dari proses seleksi pemilihan rektor. Apabila kegiatan ini mendapat tanggapan baik dan pelaksanaannya berjalan lancar maka pada pemilihan rektor selanjutnya akan diadakan hal serupa dengan menghadirkan mahasiswa yang lebih banyak tentunya. “Kegiatan ini mendapat respon baik, dan merupakan tahap uji coba untuk pelaksanaan pemilihan rektor selanjutnya,” ujar Widya.

6 PELMA edisi XLVIII 2012

Dalam penyampaian visi dan misi, hampir seluruh Bakal Calon Rektor ingin menjadikan Unpas ini sebagai universitas yang berbasis keislaman dengan memunculkan budaya lokal yang dikemas secara internasional pada tahun 2021. Seperti yang diungkapkan Jaja Suteja yang memiliki visi ingin menjadikan Unpas sebagai universitas yang dipandang secara nasional maupun regional melalui program yang telah dia ajukan. “Saya ingin menjadikan Unpas ini menjadi universitas yang berbasis nilai keislaman dengan memunculkan budaya lokal yang dikemas secara internasional di tahun 2021,” ujarnya. Di balik pergantian rektor saat ini, tentunya banyak harapan dari semua pihak yang menginginkan Unpas lebih maju lagi. Seperti yang diungkapkan oleh Didi Turmudzi, Rektor Unpas yang menginginkan Unpas lebih dikenal lagi melalui program kerja rektor yang didukung oleh semua pihak. “Rektor harus diberi kesempatan dan didukung agar optimal bekerja, bantu rektor untuk memasarkan Unpas,” ujarnya kepada Pelma (30/10). Didi menambahkan bahwa ada beberapa program kerja yang saat ini belum terlaksana, salah satunya ingin membuka Fakultas Kedokteran. “Sebenarnya sudah dirintis, akan tetapi harus memiliki rumah sakit terlebih dahulu dan masih ada beberapa kendala terkait biaya,” tuturnya. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah besar bagi bakal calon rektor yang nantinya akan terpilih. Bukan hanya Didi, Rosid anggota Satuan Pengamanan Unpas unit Tamansari juga memiliki kriteria untuk rektor selanjutnya. Ia berharap agar rektor selanjutnya bisa terjun langsung ke lapangan. “Kriteria rektor yang baru itu harus bisa melihat ke bawah, jangan hanya sebatas menerima laporan dari Kepala Bagian atau Kepala Sub Bagian jadi perlu juga mengecek langsung ke karyawan bawah,” ujar Rosid saat ditemui Pelma di pos Satpam Unpas Tamansari (25/11). Selain Didi dan karyawan, para Bakal Calon Rektor juga berpesan pada siapapun yang nantinya terpilih harus bisa mengemban amanah dengan baik. Selain itu bisa melanjutkan hal-hal yang dianggap baik dari masa jabatan sebelumnya dan membuat program yang baik untuk kemajuan Unpas selanjutnya karena menang atau kalah itu bukanlah masalah yang terpenting adalah niat dan kemauan untuk berkontribusi. “Harapan untuk calon yang terpilih harus memegang amanah, jika seseorang telah memegang jabatan itu merupakan garis dari Allah, saya harus berbesar hati intinya saya sudah ikut berkontribusi,” ungkap Deden. Semoga rektor yang terpilih dapat merangkul seluruh lapisan Unpas, terutama mahasiswa. Seperti yang diharapkan oleh Ari, mahasiswa Administrasi bisnis angkatan 2008. “Saya harap rektor selanjutnya lebih bisa merangkul mahasiswa dan harus terjun langsung ke mahasiswa jangan di belakang layar saja,” ujarnya saat ditemui Pelma beberapa waktu lalu. [Reporter : Mutia, Intan, Eriel]


PELITA UTAMA “Kami berharap rektor selanjutnya dapat membuat jaringan kerja serta meningkatkan kerja dosen dan karyawan�

Program kerja apa saja yang sudah tercapai dan belum selama masa jabatan Anda? Ada beberapa yang memang belum terwujud. Salah satunya ingin membuka Fakultas Kedokteran. Sebenarnya sudah dirintis, tapi harus punya Rumah Sakit terlebih dulu dan masih ada beberapa kendala terkait dana. Yang sudah terlaksana seperti pendirian asrama, Gedung Serba Guna di Setiabudhi, pembelian tanah di Lengkong, dan pendirian Gedung Pascasarjana. Selain itu, membangun SDM dosen. Sekarang, latar belakang dosen itu 5 persen S1, 50 persen S2 dan 45 persen yang sudah atau sedang menempuh S3. Hal itu membuat kita melampaui Unisba dan Universitas Parahyangan. Unpas sendiri memiliki kuota Guru besar terbesar dari PTS seJawa Barat dan Banten. Unpas juga menjadi penyelenggara sertifikasi dosen mandiri, dan itu suatu bentuk penghargaan dari pihak pemerintah pada Unpas karena hanya lima Perguruan Tinggi di Indonesia yang dapat menyelenggarakannya. Kesulitan apa saja yang dialami dalam membangun Unpas selama dua periode ini? Kesulitannya dalam hal mencari dana karena di sini biaya kuliah di Unpas sangat terbatas. Bila dibandingkan dengan PTS lain, biaya di Unpas lebih murah. Akan tetapi, kita tidak boleh beralasan untuk tidak berprestasi karena keterbatasan dana. Tapi kita harus memikirkan bagaimana caranya hidup efisien dan disiplin anggaran. Keterbatasan dana tersebut sejauh ini dapat diatasi karena kita memba-

Dok. Jumpa

Tidak lama lagi Prof. Dr. H. M Didi Turmudzi, M.Si akan melepas masa jabatannya sebagai Rektor Universitas Pasundan Bandung. Maka dari itu Pelma mencari tahu apa saja program kerja yang sudah dan belum tercapai, serta pesan apa saja yang dititipkan Didi untuk rektor selanjutnya. Berikut petikan wawancaranya : ngun kerjasama misalnya dengan kementrian untuk pembangunan Rusunawa. Ada juga dana dari penguatan manajemen Perguruan Tinggi, selain itu ada dana hibah dari Pemda untuk pembangunan aula dan yang terbaru adalah bantuan dana untuk membuat Gedung Serba Guna di Setiabudhi. Menurut Anda, tugas apa yang harus dilakukan oleh rektor selanjutnya ? Kami berharap rektor selanjutnya dapat membuat jaringan kerja serta meningkatkan kerja keras dosen dan karyawan. Kalau untuk fasilitas saya kira sudah cukup, hanya mungkin ada beberapa yang perlu dibenahi dan diperhatikan. Tantangan apa yang akan dihadapi oleh rektor selanjutnya? Kepercayaan masyarakat, itu tantangan terberatnya karena sekarang ini banyak berdiri Perguruan Tinggi Negeri baru. Sementara masyarakat pasti akan banyak yang berorientasi ke Perguruan Tinggi Negeri. Maka dari itu kualitas harus benar-benar dipacu, agar tidak kalah bersaing. Apa pesan Anda untuk mahasiswa terkait Rektor selanjutnya? Rektor harus diberi kesempatan dan didukung agar optimal bekerja. Bantulah Rektor dengan cara memasarkan Unpas kepada masyarakat. [Reporter : Ai Chintia, Eriel]

Dok. Jumpa

“Di dalam peraturannya pun menjelaskan laporan pemilihan Rektor di PTS hanya ke yayasan saja, berbeda dengan di Perguruan Tinggi Negeri yang langsung ke Kemendiknas� Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Yaya M. Abdul Aziz menjelaskan bagaimana tahapan-tahapan dalam proses pemilihan rektor baru. Ditemui oleh Pelma beberapa waktu lalu di ruang kerjanya, Yaya, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III ini mengungkapkan beberapa hal tentang sosialisasi, pendaftaran, dan lain-lain. Berikut hasil wawancara selengkapnya : Apa saja tahapan pemilihan rektor? Pendaftaran dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 10 Nopember 2012 lalu tanggal 12 sampai 14 Nopember akan dilaksanakan seleksi administrasi oleh panitia. Jumat, 16 Nopember 2012 presentasi bakal calon rektor sebelum diajukan ke senat Universitas. Ini merupakan pertama kalinya pemilihan Rektor di Unpas melakukan presentasi di depan perwakilan mahasiswa, aktivis UKM, Himpunan, dosen, dekan dan civitas akademik Unpas. Sabtu, 17 Nopember 2012 berkas bakal calon rektor akan kita serahkan ke senat universitas. UKM boleh menyampaikan rekomendasi kepada senat melalui panitia paling lambat tanggal 19 Nopember, lalu 20 Nopember senat akan melakukan rapat untuk menentukan Calon Rektor yang selanjutnya akan diserahkan kepada Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) Pasundan. Berapa Orang yang sudah mendaftar hingga saat ini? Dari kalangan mana saja? Yang mendaftar hanya empat orang yaitu Eddy Jusuf, Wakil Rektor I Unpas, Absar Kartabrata, Mantan Dekan Fakultas Hukum, Jaja Suteja, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Deden Ramdan, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Namun sebenarnya yang kami nilai memenuhi syarat dari seluruh perguruan tinggi yang

ada di bawah naungan YPT Pasundan ada 40 orang. Dari empat orang calon rektor yang mendaftarkan diri semuanya akan diverifikasi secara musyawarah oleh senat yang kemudian dilaporkan kepada Yayasan. Semua Bakal Calon Rektor berasal dari Paguyuban Pasundan, tidak mungkin berasal dari luar paguyuban karena di dalam persyaratannya pun harus sudah menjadi anggota Paguyuban Pasundan. Apakah mahasiswa boleh memilih? Tidak, karena dalam peraturan Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti) mengatakan tidak ada peran mahasiswa di dalam pemilihan Rektor di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) melainkan melalui senat Universitas. Di Unpas sendiri kita memliki 37 anggota senat universitas yang terdiri dari Guru Besar, Dekanat dan Rektorat. Di dalam peraturannya pun menjelaskan laporan pemilihan rektor di PTS hanya ke yayasan saja, berbeda dengan di Perguruan Tinggi Negeri yang langsung ke Kemendiknas. Sosialisasi apa saja yang akan dilakukan oleh panitia? Kita akan menempel poster-poster Bakal Calon Rektor di tiap fakultas dan kita pun akan memasang kotak saran di beberapa titik di semua kampus Unpas. [Reporter : Agung Gunawan Sutrisna]

PELMA edisi XLVIII 2012

7


PELITA KHUSUS

T

Mahasiswa Membludak, Keluhan Berdatangan Mutia Nurfitriana

ahun ini Unpas menerima tidak kurang dari 4.500 kampus. Eddy Jusuf, Wakil Rektor I Unpas mengungkapkan mahasiswa. Hal ini menyebabkan membeludaknya bahwa pihak kampus juga memikirkan berbagai keluhan mahamahasiswa di Universitas Pasundan (Unpas), terutama siswa akan hal ini. di kampus Tamansari. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidi“Kami sedang memikirkan cara dan berusaha untuk menkan (FKIP) jumlah mahasiswa sudah mencapai 8.000, sehingga ciptakan efektifitas belajar terkait masalah keterbatasan ruang penumpukan mahasiswa tak bisa lagi dielakkan. Dalam satu kelas ini,” katanya. kelas saja bisa terdapat 60 sampai 65 mahasiswa. Hal ini baTidak hanya di FKIP, Fakultas Ekonomi (FE) juga mengalami nyak dikeluhkan oleh mahasiswa karena mengganggu efektifitas kondisi serupa. Muhammad Irsal, mahasiswa Manajemen 2008 belajar. Seperti diungkapmenggambarkan kondisi kan Resha, mahasiswi perkuliahan yang tidak FKIP, Pendidikan Biologi efektif karena jumlah ma2009. Ia mengeluhkan hasiswa dalam satu kelas kondisi kelas yang penuh terlalu banyak. karena dihuni oleh sekitar “Kadang Mahasiswa 50 orang mahasiswa. yang duduk di belakang ti“Idealnya sih satu kedak dapat mendengarkan las itu dihuni oleh 40 masuara dosen atau melihat hasiswa,” tutur Resha materi yang tertera di pakepada Pelma (24/11). pan tulis maupun layar Cartono, Wakil Dekan I proyektor. Tak jarang keaFKIP menuturkan hal yang daan seperti itu membuat sama. Ia mengatakan bahmahasiswa lebih memilih wa peningkatan jumlah untuk mengobrol dan ribut, mahasiswa tiap tahunnya akibatnya suasana belajar tidak diimbangi dengan fatidak lagi kondusif,” ujar silitas yang memadai. AlIrsal. hasil, kelas dengan kapaJaja Suteja, Wakil Desitas maksimal 40 orang Dok. Jumpa kan I FE turut angkat bicara harus menampung maha- SUASANA kegiatan perkuliahan di salah satu jurusan di Fakultas Keguruan soal permasalahan ini. Ia siswa sebanyak 60 orang. dan Ilmu Pendidikan Unpas beberapa waktu lalu. Keterbatasan kelas menyatakan bahwa jum“Satu kelas itu idealnya membuat mahasiswa kerap berjejal saat mengikuti prosesi kuliah. lah mahasiswa di kamdiisi oleh 35 sampai 40 mahasiswa,” ujar Cartono saat ditemui pus Unpas Tamansari telah melebihi kapasitas. Ini merupakan di ruangannya. masalah besar yang harus segera ditangani. Namun, apabila jumlah penerimaan mahasiswa dikurangi “Jumlah mahasiswa Unpas Tamansari sudah overload,” akan berpengaruh pada sumber pendanaan. Sementara Unpas ungkap Jaja. yang notabene kampus swasta amat bergantung pada mahaSaat ini sedang dirintis untuk mengatasi masalah memblusiswa sebagai sumber dana. Lagipula biaya kuliah di FKIP yang daknya mahasiswa adalah mengusung ‘Piramida Terbalik’, relatif ringan menyebabkan dana dari mahasiswa tidak seban- yaitu mengerucutkan penerimaan mahasiswa Strata 1 dan meding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi fa- nambah mahasiswa Strata 3. Hal tersebut lebih efektif karena silitas yang memadai. dana pembayaran Strata 3 jauh lebih mahal dari Strata 1. “Cost yang harus kami keluarkan tidak sebanding dengan “Dengan adanya program ‘Piramida Terbalik’ ini, Unpas dapendanaan yang kami dapatkan,” tambah Cartono. pat mengasilkan pendapatan yang tinggi sehingga bisa memOleh karena keterbatasan dana tersebut, mau tidak mau perbaiki seluruh aspek layanan kampus. Selain itu Unpas juga ada rasio-rasio kelas yang tidak memenuhi standar. Akan tetapi bisa memperoleh kualitas mahasiswa yang baik,” tutup Jaja. keadaan yang demikian ini sedang berusaha diatasi oleh pihak [Reporter :Mutia, Intan, Rachman]

8 PELMA edisi XLVIII 2012


PELITA ARTIKEL

B

Peluit Batin dan Tiadanya Garis Pembatas di Sepakbola Anak Ferry Ahrial*

eberapa waktu lalu, saya bertemu dengan beberapa anak yang masih ‘segar’ ketika dalam perjalanan pulang kuliah menuju kost. Mereka sedang asyik bermain Sepakbola. Anak-anak tersebut hampir semuanya berumur sekitar empat sampai enam tahun. Lapangan dimana mereka bermain Sepakbola itu terletak persis di belakang kampus Universitas Pasundan (Unpas), Bandung. Itulah sebabnya saya acapkali bertemu dengan mereka yang rutin bermain di sana. Perjalanan saya sempat terhenti karena ingin melihat aksi mereka di lapangan. Satu di antara mereka memakai kostum Sepakbola klub Eropa dan yang lainnya hanya memakai kaos bermain anak sebagaimana biasanya. Oleh karena di daerah pemukiman kota seperti di Bandung sudah jarang ditemukan lapangan bermain untuk anak-anak, alternatif terakhir yang mereka pilih ialah lapangan di belakang kampus Unpas itu. Lapangannya beralaskan batu susun, disekat oleh pagar batu rumah warga di dekat situ. Tidak sampai lima menit, saya menyaksikan pertandingan yang amat menggelitik hati tersebut. Bola plastik yang mereka mainkan itu keluar dari lapangan pertandingan. Bola putih kusam itu masuk ke sela-sela pagar pembatas antara pagar rumah warga dengan pagar kampus. Pertandingan pun dihentikan tanpa peluit fair play. Memang pada saat itu tak ada wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Mereka pun berusaha mengambil bola itu dengan cara memanjati pagar. Karena tak ada di antara mereka yang mampu menjangkau pagar tersebut, saya pun berusaha ikut membantu mengambil bola itu. Namun, bola tetap saja susah untuk diambil kembali. Alhasil saya mengeluarkan sedikit rupiah dan menyuruh mereka membeli bola yang baru, agar mereka mampu melanjutkan pertandingan sampai usai. Dari kejadian itu, terlintas dalam benak saya beberapa hal yang bisa saya pelajari dan pahami. Pertama, minimnya lapangan bermain Sepakbola untuk anak-anak membuat mereka bermain pada tempat yang kurang sesuai dengan sebagaimana mestinya. Lapangan Sepakbola yang mereka gunakan itu terlihat sangat jauh dari harapan mereka. Dengan menggunakan gawang buatan, mereka hanya menggunakan sandal mereka sebagai simbol gawang pada pertandingan itu. Gawang ialah tujuan di mana bola harus ditendang, namun, mereka saling mengerti akan kondisi gawang mereka yang agak ‘kabur’. Tidak ada garis pembatas lapangan pertandingan di sana. Mereka hanya bermain dengan kebebasan yang abstrak. Namun faktanya, mereka mampu menciptakan saling pengertian ketika bola keluar dari lapangan pertandingan, dan diharuskannya

Antara

SEKELOMPOK anak-anak tengah bermain sepakbola di sebuah lahan kosong di kawasan perkotaan.

lemparan ke dalam. Gawangnya juga tidak menggunakan garis pembatas apalagi jaring. Seperti biasanya, mereka mempunyai kesepakatan bersama tentang bagaimana bola bisa dikatakan gol. Harmonisasi persepakbolaan seperti ini terbilang kontradiktif dengan apa yang terjadi dengan persepakbolaan di Indonesia pada saat ini. Kedua, mereka adalah generasi penerus Sepakbola di Indonesia. Bagaimana bisa persepakbolaan Indonesia maju apabila fasilitasnya kurang? Bermain Sepakbola yang mereka lakukan itu datang dari keinginan dan hobi mereka secara pribadi. Namun, apa yang akan terjadi apabila mereka mengerti tentang kasuk-kusuk yang saat ini terdengar di dalam dunia persepakbolaan Indonesia? Baik itu kisruh PSSI yang terpecahbelah menjadi dua liga domestik, maupun dunia persepakbolaan yang telah dijadikan alat untuk berkampanye dalam rangka mencari massa oleh partai politik tertentu. Saya tidak yakin bahwa mereka akan menjadi pemain Sepakbola seperti apa yang mereka cita-citakan, apabila dunia Sepakbola Indonesia tidak mengalami perubahan positif. Messi, Ronaldo, dan David Beckham adalah pemain Sepakbola idola anak-anak nusantara. Akankah pemain Sepakbola Indonesia diidolakan oleh dunia? Jawabannya tersirat pada garis pembatas yang tidak dibuat oleh anak-anak pada saat bermain bola tadi. Juga peluit batin di hati mereka yang selalu berbunyi ketika pertandingan harus dihentikan. *Penulis, Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris 2011-2012

PELMA edisi XLVIII 2012

9


RESENSI

CELOTEH

Buku Adalah Hidupku

Semester Pendek, Menurut Anda?

Agung Gunawan Sutrisna* Sebenarnya SP itu menguntungkan karena bisa memperbaiki nilai yang jelek di semester sebelumnya. Vika, Hukum 2009

“Kalian bisa saja membakar buku-bukuku, kalian bisa saja menyusahkan hidupku, bahkan kalian bisa saja membunuhku, tapi kalian tidak bisa menghapus sejarah Afghanistan,” (Sultan Khan, halaman 43).

Ada bagusnya karena bisa memperbaiki nilai, tapi mahasiswa juga menjadi malas karena berpikiran bisa mengambil SP jika nilainya jelek. Fikri, Administrasi Negara 2010

A

sne Seierstad, jurnalis televisi asal Norwegia yang bertugas saat konflik di Afghanistan menulis kisah perjalanan hidup Sultan Khan dan keluarganya. Asne ditugaskan pada tahun 2001 selama empat bulan di sana. Dan selama itu pulalah, Ia menggali berbagai informasi tentang Sultan, seorang Afghanistan yang bekerja sebagai saudagar buku dan menjual bukunya. Sebagai seorang jurnalis, Asne berhasil mengahadirkan sebuah buku yang mudah dipahami dan jelas penuturannya. Ia sukses membuat pembaca berdecak kagum. Alkisah tentang Sultan, selama hampir 20 tahun lebih, Sultan menjalankan bisnis jual beli bukunya itu. Segala macam rintangan Sultan hadapi demi kelestarian buku yang sempat diharamkan oleh pemerintah Afghanistan. Rezim yang berkuasa membuat Sultan kesulitan dalam menjalankan bisnisnya. Bagi Sultan, buku adalah kehidupannya. Tokonya digeledah oleh polisi agama, buku-bukunya yang dianggap dilarang dibakar, dan Ia ditangkap, disikasa, dan dipenjara saat Taliban berkuasa. Meski begitu, Sultan tidak kapok dengan pekerjaannya. Selama di penjara pun, buku, alat tulis, dan membaca sangat dilarang. Namun, atas kecerdikannya, buku-buku bisa Ia peroleh karena kerjasama dengan sanak keluarganya ketika menjenguknya dan menyelundupkan bukunya. Itu saat Taliban berkuasa, lain halnya saat Komunis mengepung kehidupan rakyat Afghanistan. Sultan pun ditangkap dengan tuduhan sebagai kaum borjuis menengah yang menjalankan sistem jual beli ala kapitalis. Sultan sempat hijrah ke Pakistan ketika situasi genting terjadi di Afghanistan. Itu Sultan lakukan demi mengamankan aset utamanya, yaitu buku. Selain kehidupan Sultan, Asne juga menulis protret kehidupan rakyat Afghanistan saat perang saudara berkecamuk. Berbagai dialog rakyat

10 PELMA edisi XLVIII 2012

Semakin mahal SP semakin bagus, biar mahasiswa benar-benar belajar, ngga bergantung pada SP. Suci Rahmadiah, Ilmu Komunikasi 2011 Dijadiin politik buat dapet uang tambahan dari mahasiswa. Adam Troy S. FKIP Pend. Biologi 2011

Judul Buku : Saudagar Buku dari Kabul Penulis : Asne Seierstad Jenis Buku : Sosial, Budaya Penerbit : Qanita Tebal : 463 halaman Afghanistan Asne paparkan dengan detailnya. Seperti kisah seorang penjual buku di salah satu sudut jalanan Kota Kabul yang merenggut kesucian seorang pengemis wanita atau tentang kisah pernikahan wanita Afghanistan yang bisa membuat pembaca seolah berada di negeri itu. “Mencengangkan, memukau. Seierstad pasti menghadapi pilihan yang sulit ketika memutuskan untuk berkisah sebagaimana adanya. Buku ini pastas menjadi buku laris, sangat unik, tidak seperti buku lain,” salah satu testimoni dari Observer yang tertulis di cover belakang. Di dalam buku ini, kita dapat menyaksikan Asne meramu kata demi kata, dialog demi dialog dengan gamblang. Sehingga bagi awam yang belum pernah menginjakan kaki di bumi Afghanistan dapat dengan jelas merasakan betapa luar biasanya keadaan negeri yang kini kumuh, padat, dan luluh lantak, namun tetap tak terkalahkan. Belajar dari sosok Sultan, sang pecinta buku, teringat kalimat dari Mohammad Hatta, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Excellent, buku ini layak dibaca oleh orang-orang yang belum atau mulai menyukai buku. *Penulis, Mahasiswa FE, Jurusan Manajemen

Bagus. Tapi sayangnya SP di Unpas ngga berjalan seperti seharusnya, banyak dosen tidak melakukan pertemuan full dan tidak ada ujian SP. Ridho Dwi Syahputra, Ilmu Komunikasi 2011 SP itu bagusnya bisa ambil semester atas juga, bukan buat remedial. Fajar Kurnia Despratama Teknik Informatika 2010 Tolong dong adain SP yang bisa ngambil mata kuliah ke atas biar cepet lulus. Suci R., FE Akuntansi 2011 Semester Pendek di FE cukup mahal Deri M, FE Akuntansi 2010 Ngga begitu membantu, karena nilai maksimalnya cuma B. Reza, FE Akuntansi 2010 SP bagi mahasiswa teknik lumayan membantu karena bisa memperbaiki nilai yang jelek. Walaupun gradenya belum tentu berubah. Gugum Gumilar W. Teknik Pangan 2011 Diadakannya SP bagus jadi kita engga usah ngulang di tahun depan, tapi SP di Unpas harus ditambah, bukan untuk memperbaiki nilai saja. Tetapi bisa mengambil mata kuliah ke atas juga. M. Fauzi Teknik Mesin 2010


LENSA MAHASISWA

Debate On Campus, Membuka Mata, Membuka Pikiran

S

Intan Pariztyan Erliana

uasana kampus Universitas Pasundan (Unpas) Lengkong hari itu berbeda dari hari-hari biasanya. Dari kejauhan, nampak ramai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpas Bandung berkumpul melingkari area parkir Dekan FISIP Unpas. Jika Anda berpikir bahwa mereka sedang melakukan aksi protes, Anda salah sama sekali. Mereka bukan sedang bersiap untuk menyuarakan keluhan dengan berdemo, akan tetapi mereka sedang bersiap menantikan sebuah acara dimulai. Debate on Campus, acara itulah yang sedari tadi menarik perhatian mahasiswa FISIP. Acara ini merupakan hajatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Unpas dengan tema ‘Diantara Yang Baik dan Benar Dalam Suatu Realita’. Riezca Pratama, Ketua Pelaksana Debate on Campus mengatakan bahwa acara ini merupakan hajatan rutin tahunan BEM FISIP Unpas. “Sebenarnya acara ini rutin diselenggarakan tiap tahun,” katanya kepada Pelma. Acara dimulai dengan sambutan dari Wakil Dekan III FISIP Unpas, Deden Ramdan. Dalam sambutannya Ia menyampaikan bahwa pemuda yang berharga adalah pemuda yang masih mempertahankan idealismenya.

Dok. BEM FISIP Unpas

PESERTA sedang berdebat mempertahankan argumen dari masingmasing timnya (19/11).

“Pemuda atau mahasiswa yang masih menyimpan idealisme, mendorong dan memotivasi merupakan mahasiswa yang paling berharga untuk bangsa ini,” ungkap Deden. Deden menambahkan bahwa kampus sebagai tempat berseminya generasi penerus bangsa, sebaiknya bukan hanya dijadikan ajang masuk kelas, nongkrong-nongkrong atau mencari pertemanan yang menyenangkan saja. Akan tetapi juga harus dijadikan sarana pengembangan dan pertutakaran nilai-nilai agar lebih berfaedah. “Seperti acara ini, diharapkan akan melahirkan sikap kritis dan mengedepankan nilai-nilai kebenaran,” tambahnya. Senada dengan Deden, Riezca mengungkapkan bahwa acara ini memiliki tujuan untuk membuka pandangan dan pikiran mahasiswa terhadap realita yang terjadi di Indonesia.

Dok. BEM FISIP Unpas

TIM ‘Tanpa Nama’ tengah menerima piala juara pertama dari panitia pada akhir acara.

“Kita ingin tahu, seberapa besar sih kepedulian mahasiswa terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia,” tuturnya. Ada delapan tim yang mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi debat ini. Semua peserta terdiri dari mahasiswa FISIP berbagai angkatan. Kedelapan tim tadi harus menghadapi beberapa tahapan, mulai dari tahap penyisihan, semifinal sampai dengan final. Untuk prosedur debatnya sendiri, dibagi ke dalam tiga sesi per kelompok debat. Sesi pertama diisi oleh penyampaian general statement, yakni juru bicara dari tiap-tiap tim mengungkapkan pandangan kelompoknya terhadap suatu isu. Kemudian, sesi kedua adalah debat, yakni tiap kelompok saling memberikan argumen dan sanggahan satu sama lain. Sesi yang terakhir adalah conclusion, di mana tiap tim harus menyampaikan kesimpulan dan solusi. Untuk materi debat, panitia sudah mempersiapkan beberapa topik. Di antaranya mengenai KPK vs Polri, Pemekaran Wilayah, Pemberian gelar terhadap Sukarno, Pengiriman TKI ke Malaysia dan pemberian Grasi terhadap terpidana narkoba. Sebagaimana kompetisi pada umumnya, dalam Debate on Campus ini juga ada tiga orang juri yang melakukan penilaian. Antara lain, Rasman Sonjaya, Ida Hindarsyah dan Deden Ramdan. Setelah melalui beberapa tahapan, akhirnya sampai kepada pertandingan final. Dua tim yang berkompetisi dalam babak penentuan ini adalah HI 2009 melawan ‘Tanpa Nama’ dari jurusan Ilmu Komunikasi. Pada akhirnya, setelah melalui tahapan panjang, Tanpa Nama menjadi pemenang dari kompetisi debat ini. Acara ini berlangsung meriah karena banyak mahasiswa yang memberikan dukungan kepada tim tertentu. Antusiasme yang tinggi ini bertahan sampai akhir acara. Bahkan Gina, salah seorang dari audien menyatakan bahwa sangat bersemangat melihat lomba debat ini. “Rame banget, banyak pengetahuan baru yang bisa diambil,” ungkapnya. Penyerahan piala kepada pemenang dan foto bersama panitia menandai akhir dari acara Debate on Campus ini. [Reporter : Intan, Rachman]

PELMA edisi XLVIII 2012

11


GADO GADO

Rumah Buku Kecil dengan Semangat Besar

Intan Pariztyan Erliana ARA Mantra da yang baru pada deretan kios di seberang kampus Zahra, Toko Universitas Pasundan (Unpas) Tamansari. Adalah kios buku yang berukuran 4 x 2,4 meter telah disulap menjadi sebuah dirintis dua rumah buku, dan kini hadir di tengah-tengah deretan kios. Rutahun silam mah buku itu bernama Ara Mantra Zahra. Di sana nampak sesak ini, kini telah oleh buku-buku yang berderet pada rak sederhana maupun bumemiliki ku-buku yang tertumpuk begitu saja karena keterbatasan tempat. koleksi buku Berawal dari ide untuk mendirikan sebuah perpustakaan, sekitar 3.000 buku, baik Dadan Oktavian (32) pendiri sekaligus pemilik Ara Mantra Zahra berusaha mengumpulkan buku-buku dari berbagai pihak. Mulai baru maupun bekas. dari keluarga, teman, bahkan hingga teman dari temannya. Sampai saat buku yang terkumpul dirasa sudah cukup banyak, Dadan memutuskan untuk memberikan ‘rumah’ bagi buku-buku Agung/Jumpa tersebut. Awalnya, rumah dari buku-buku Dadan berada di lahan ko- dilakukan oleh para anggotanya setiap waktu tertentu. Penyesong pada sebuah rumah di daerah Geger Kalong, tidak jauh baran ide juga tidak hanya dilakukan oleh sesama anggota, tedari kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Akan tetapi, pe- tapi juga dilakukan ketika ada pengunjung yang mencari bukumilik rumah tersebut menjual lahannya, Ara terpaksa harus ber- buku tertentu dengan cara mengajukan argumen dan menggali migrasi. Seberang kampus Unpas Tamansari-lah yang menjadi hal terkait buku yang dicari oleh pengunjung tersebut. pilihannya. Untuk koleksi buku sendiri, sampai saat ini Ara sudah memiLain tempat, lain pula budayanya. Itulah yang dirasakan Da- liki sekitar 3.000 buah buku dengan berbagai kategori. Mulai dan. Antusiasme di Jalan Tamansari ini begitu berbeda dengan dari sejarah, filsafat, budaya, novel dan lain sebagainya. Bukusewaktu di Geger Kalong. Kebanyakan mahasiswa baik dari buku tersebut biasanya diperoleh dari agenda hunting yang rukampus Unpas maupun Unisba, berkunjung ke Ara hanya ketika tin dilakukan selama beberapa hari dalam seminggu. Tempat ada tugas saja. Masih sulit untuk menemukan orang-orang yang yang biasa dikunjungi dalam rangka pencarian itu adalah toko idealis dan mencintai ilmu. Akan tetapi Dadan tidak berkecil ha- buku Palasari, Cicadas dan beberapa kolektor buku, baik di ti, “Masih merintis, penyebarannya mungkin saja belum mak- daerah Bandung, maupun luar Bandung. simal, baru satu bulan,” katanya kepada Pelma, Minggu (18/11). Sebenarnya, rumah buku ini dirintis untuk sebuah harapan Dalam mengelola rumah buku ini, Dadan tidak sendirian. Ia dan mimpi yang jauh lebih besar. Dana yang terhimpun dari pedibantu oleh istrinya dan beberapa temannya. Mereka memiliki ngelolaan Ara sampai sepuluh tahun ke depan, akan ditabungkomitmen keanggotaan selama kurang lebih sepuluh tahun. kan untuk mendirikan sebuah perpustakaan yang besar. Bahkan Tidak sembarang orang bisa menjadi anggota dari Ara. Hanya Dadan mengungkapkan bahwa Ia dan teman-temannya berhamereka yang benar-benar siap berkomitmen dan mencintai ilmu rap dapat memiliki perpustakaan terbesar di mana selain terjadi lah yang bisa menjadi bagian dari Ara. kegiatan membaca buku, juga dapat dijadikan tempat untuk beAda hal yang membuat Ara Mantra Zahra ini menarik. Hal itu lajar-mengajar gratis skill tertentu. karena Ara mengoleksi dan menjual buku-buku cetakan dulu Dalam kesempatan terakhir, Dadan menyampaikan pesanyang sudah langka di pasaran baik lokal, nasional maupun in- nya untuk para mahasiswa untuk mencintai ilmu. Kita mempelaternasional. Contohnya adalah buku Di Bawah Bendera Revolusi jari suatu ilmu bukan hanya karena tuntutan dari sekolah atau karangan Sukarno, Alam Pikiran Yunani karangan Mohammad gengsi semata. Akan tetapi harus benar-benar diresapi ke dalam Hatta, dan buku-buku lainnya yang tidak akan kita temui di toko- jiwa, dan dengan cara membaca-lah, biasanya kita dapat mentoko buku besar yang biasanya hanya menjajakan buku-buku cintai ilmu. cetakan baru. Selain itu, Ara bukan hanya sekadar rumah buku, “Karena dengan membaca, jiwa kita akan tenang,” ucap [Reporter : Agung, Intan] juga sebagai sarana penyebaran ide-ide melalui diskusi yang Dadan sambil tersenyum.

A

12 PELMA edisi XLVIII 2012


Buletin pelma 48