Page 1

UMP J A ISSN 0852-291X

Indeks :

Jumpa Artikel : Jalan Sunyi Kolonialisme-Liberalisme Jumpa Plesetan : RSBI, Jurang Antara si Kaya dan si Miskin Jumpa Opini : Swartz, Anak Muda yang Inspiratif Jumpa Fokus : Di Bawah Pohon Rindang, Asyik, Sejuk, dan Murah Jumpa Khusus : Mengenal Bung Karno Lewat Pameran Jumpa Tokoh : Mencintai Bandung Lewat Karya

Hal. 3 Hal. 3 Hal. 4 Hal.12 Hal.14 Hal.15

Berjumpa, Bersahabat, Berjuang dan Berkarya

Tabloid Mahasiswa Universitas Pasundan Edisi : XLIII/Th.XVIII/2013

Cover Design : Indra Nurrahmattullah/Alba22

Dewi Sartika, Pahlawan (yang terlupakan)

dari Tanah Pasundan JUMPAutama ►►

JUMPAutama ►►

JUMPAutama ►►

JUMPAutama ►►

Yan Daryono, Penulis Biografi Dewi Sartika

Hawe Setiawan, Budayawan Sunda

Dinni T. Khrisna Harahap, Cucu Dewi Sartika

Rukiyah Samsimiharja, Kepsek SMP Dewi Sartika

Dewi Sartika adalah ikon perempuan Indonesia “Dewi Sartika berjuang bukan hanya untuk dirinya, keluarga, atau murid-muridnya. Ia berjuang untuk masa depan bangsanya. Ia sosok yang patut ditiru oleh siapapun perempuan di Indonesia.”

Pemerintah kurang peduli kepada Dewi Sartika “Jangan percaya kepada pemerintah, tidak ada inisiatifnya lebih baik percaya kepada masyarakat Sunda. Jangankan ngurus pahlawan, ngurus jalan saja tidak bisa. Jalan Dewi Sartika terpotong gara-gara pembangunan masjid.”

Berharap membangun Perguruan Tinggi “Sebagai apresiasi terhadap perjuangan Dewi Sartika, ingin membangun Perguruan Tinggi Dewi Sartika. Namun dari pemerintah, baik kota maupun provinsi tidak bisa. Katanya tidak ada anggaran.”

Studi keterampilan wanita tetap dipertahankan “Pembelajaran meronce yaitu teknik membuat benda pakai atau hias yang memiliki makna yang sangat dalam karena ketika sedang meronce kita dituntut untuk bersabar, teliti, dan hatihati.“

Halaman 6

Halaman 6

Halaman 9

Halaman 9


halaman 2

DARI REDAKSI

SURAT PEMBACA Penggusuran PKL di Belakang ITB Saya kurang setuju dengan penggusuran tersebut karena mahasiswa jadi kehilangan tempat untuk jajan. Kalau mau, ditertibkan saja supaya rapi, atau dipindahkan ke tempat yang telah ditentukan yang tidak jauh dari ITB. Fadli Maulana Nugraha, Mahasiswa FMIPA, Institut Teknologi Bandung

Banjir di Jakarta Banjir di Jakarta sudah menjadi bencana tahunan, terlebih dengan tata kota yang kurang baik. Misalnya tempat saluran pembuangan air yang semakin kecil, kurangnya daerah hijau (daerah resapan air), pembangunan gedung yang berkelanjutan, serta kurangnya kesadaran masyarakat Jakarta akan lingkungan. Rizal Fauzan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Rekayasa, Universitas Paramadina

Salam Mahasiswa!

S

udah 18 tahun Tabloid Jumpa hadir di tengah para pembaca. Edisi 43 kali ini redaksi mengangkat tema sosok Dewi Sartika. Ini adalah edisi pertama Tabloid Jumpa mengangkat sosok pahlawan secara keseluruhan. Tema ini diangkat karena kepedulian redaksi terhadap sosok Dewi Sartika yang tenggelam di tanah Pasundan khususya. Sukarno mengatakan, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus bangsa mengenal cita-cita dan perjuangan para pendahulu kita. Seiring terbitnya Tabloid Jumpa kali ini, redaksi berharap, khususnya bagi pembaca umumnya bagi masyarakat agar bisa mengenal sosok Dewi Sartika bukan mengenal hanya sebatas nama jalan. Jika kita sudah mengenalnya, semoga kita semua bisa meneladani perjuangannya demi kemajuan Bangsa Indonesia. Terakhir, tak bosan redaksi menampung saran dan kritik atau kesan dari para pembaca terhadap Tabloid Jumpa. Kritik yang disampaikan semoga bisa meningkatkan kualitas. Saran yang pembaca berikan sebagai tolak ukur dan bahan introspeksi. Selamat Membaca! Redaksi

Tabloid JUMPA Universitas Pasundan Bandung ISSN 0852-291X

Banjir yang melanda ibukota beberapa hari lalu memang menimbulkan beberapa pertanyaan, kelalaian pemerintah kah? Atau tingkat kedewasaan masyarakat Ibukota yang rendah? Sehingga timbul wacana mengenai pemindahan ibukota sebagai sebuah solusi. Ya, memang sebuah solusi pemerintah. Tapi bukan solusi untuk masyarakat Jakarta. Wacana ini hanya wacana musiman, pasalnya wacana pemindahan ibukota ini hanya pada saat Jakarta banjir dan macet saja. Dengan berpindahnya ibukota apakah masalah banjir di ibukota akan teratasi? Tidak. Karena pemerintah seperti lari dari tanggung jawab untuk menjaha kesejahteraan rakyatnya yang sedang susah, mulai dari kemiskinan, banjir dan kemacetan. Restu Dwi Tresnadi, Mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Pencabutan Sekolah Berstatus RSBI/SBI? Saya mendukung sepenuhnya penghapusan RSBI/SBI karena status RSBI hanya akan menimbulkan kesenjangan sosial dalam dunia pendidikan. Akan tetapi lebih baik jika penghapusan status RSBI/SBI tidak di saat pertengahan kurikulum seperti ini. Ini mungkin akan membingungkan pihak sekolah. Lani Anggun Puspita, Mahasiswa Pend. Bhs. Jepang, Universitas Pendidikan Indonesia

Distosia Monochromatica Kebebasan berinovasi tidak hanya mengeluarkan life skill, tapi juga harus menggali lebih dalam memunculkan ide. Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk beraksi berani. Eksodus merebah merasuk dalam porsi tingkat klimaks, serentak psikomotor tak sejalan serasi dengan motorik. Dalam hidup pasti saling berpasang-pasangan. Ada hitam, ada putih. Namun apakah akan selalu dalam lingkaran hitam dan putih? Distosia Monochromatica aplikatif memberanikan ‘penyimpangan’ dalam modulasi dan modifikasi keseragaman antar kasta. Memberanikan untuk beraksi dan terus melatih potensi. Mengapa tidak memberanikan diri untuk memaksimalkan apa yang telah diberikan Tuhan pada manusia? Cobalah terus menggali potensi tanpa plagiasi. Making happen is better than imitate. Karena dalam berkarya kita mencari kepuasan. Terima kasih LPM Jumpa, teruslah berkarya walau nyawa menjadi taruhannya. Berkarya sampai mati. Subekti Herdiansyah, Mahasiswa Pend. Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia

Pelindung Rektor Universitas Pasundan Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf, SP,. M.Si,. M.Kom Penasihat Wakil Rektor III Universitas Pasundan Dr. Deden Ramdan, M.Si,. Pemimpin Umum Agung Gunawan Sutrisna

Pilwalkot Bandung Masa jabatan Walikota Bandung saat ini, Dada Rosada sudah hampir habis dan sebentar lagi seluruh warga Kota Bandung akan melaksanakan pemilihan Calon Walikota dan Wakilnya untuk periode selanjutnya. Berbagai macam kampanye telah dilaksanakan oleh kedelapan pasang Calon Walikota dan Wakilnya. Siapapun yang terpilih, harus bisa mengubah Kota Bandung menjadi kota yang aman bagi warganya, dan nyaman bagi pendatangnya. Bagi ketujuh Calon Walikota dan Wakilnya sudah seharusnya pula berlapang dada karena warga Bandung belum memberikan amanah membenahi kota ini di periode selanjutnya. Kharis Risnanto, Mahasiswa Manajemen Informatika, Universitas Komputer Indonesia

Pemimpin Redaksi Eriel Fauzi Nurlansyah Sekretaris Redaksi Ai Chintia Editor Dwi Reinjani Artistik Mutia Nurfitriana

Miss World VS Kenaikan BBM Indonesia menjadi tuan rumah Miss World 2013 yang menggunakan tiga lokasi yaitu Bali, Sentul dan Jakarta. Untuk mendukung acara tersebut pastinya Indonesia mengeluarkan anggaran yang cukup besar. Padahal Indonesia sedang diguncang isu kenaikan BBM yang membuat harga-harga kebutuhan pokok melambung. Daripada digunakan untuk biaya Miss World lebih baik digunakan membantu kaum tidak mampu. Gita Widiana, Mahasiswa D3 Kebidanan, Universitas Padjadjaran

Perusahaan dan Iklan Dwi, Ai, Mutia Staf Redaksi Elva, Tegar, Taruna, Elia, Fariz, Laila Alamat Redaksi Sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Jl. Tamansari No. 6-8 Bandung 40116 Telepon (022) 4261259 Email jumpaunpas@yahoo.com

Kebijakan Memindahkan Ibukota, solusi atau lari dari tanggung jawab?

Segenap Pengurus & Anggota

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung Mengucapkan SELAMAT & SUKSES kepada Agung Gunawan Sutrisna (Ketua Umum LPM Unpas periode 2012-2013)

Facebook Lpm Jumpa Unpas

yang terpilih menjadi Sekjen Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung Periode 2013-2014

Twitter @lpmjumpa Website www.jumpaonline.com Tabloid Jumpa menerima tulisan berupa : Artikel, Esai (Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, Pendidikan, Agama, Filsafat, dll). Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi. Tulisan diketik dua spasi, maksimal lima halaman kertas kuarto atau dalam bentuk soft copy.

Struktur Organisasi Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung

Ketua Umum Agung Gunawan Sutrisna Sekretaris Umum Eriel Fauzi Nurlansyah Bendahara Umum Dwi Reinjani Penelitian & Pengembangan Ai Chintia Ratnawati Dana Usaha Mutia Nurfitriana

Attention..!!

Anggota LPM Jumpa Unpas selalu memakai kartu tanda pengenal dalam setiap liputan/reportase

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013


halaman 3

JUMPA ARTIKEL

Jalan Sunyi Kolonialisme-Liberalisme

K

eliru besar menganggap Belanda membangun negara imperialisme modern itu hanya dengan bedil dan meriam yang mengancam serta beratus binnenland bestuur alias pegawai negeri kolonial yang hipokrit. Sejumlah cendekiawan dan pranata kesarjanaan dengan sadar masuk persekongkolan menyelewengkan ilmu pengetahuan demi tegaknya kekuasaan kolonial. JS Furnivall salah satunya. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1938, terbit karyanya, Netherland India: A Study of Plural Economy. Sebuah opus magnum yang menggetarkan ihwal pentingnya keberlanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia bertirai asap retorika dan diagnosa tajam ihwal plural economy atau ekonomi majemuk. Tentu saja kalau kini, selang 70 tahun lebih, karya ideologis Furnivall itu diterjemahkan, maka cara pembacaan paling memikat adalah dengan memosisikannya dalam masalah kompleks hubungan ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Menelusuri teks Furnivall sebagai sejarah gagasan dari praktik politik kolonial. Mencermati sejauh mana wacana kolonial itu hidup dalam karya-karyanya. Lantas menempatkannya dalam suatu keluasan dan kebesaran jaringan cendekiawan yang kait-mengait menunjang bangunan hegemoni kolonial agar tetap lestari, mapan, dan hidup dari kurun sejarah ke kurun sejarah lainnya. Lupa Sukarno, Lupa Hatta Salah jika menuduh Furnivall antipati terhadap pribumi. Blak-blakan dipaparkannya eksploitasi kuasa kolonial dan kaum modal yang serakah. Bahkan secara khusus diriwayatkan pertumbuhan nasionalisme dan gerakan kebangsaan Indonesia. Tapi dalam pembahasannya tidak sekali pun disebut Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Jangan bilang Furnivall alpa atau khilaf. Sebab ia menulis dalam masa yang sohor disebut periode perdebatan ideologis. Bukankah saat itulah pers pribumi dan Barat digemparkan oleh pengadilan Sukarno dan pidato pembelaannya tahun 1930? Ada berlimpah catatan ihwal sikap dan sepak terjang revolusioner Sukarno. Begitu juga berita-berita Hatta dan Syahrir dengan PNI Baru, atau kelompok kiri beserta tokoh-tokohnya, seperti Tan Malaka, Alimin, dan Muso. Semua itu lantaran Furnivall dalam berkarya telah menjadikan dirinya mesin kolonial untuk menginformasikan, memengaruhi, dan mengelabui persepsi agar sesuai garis ‘Politik Ethis Konservatif’. Ini satu saja definisinya: ”kebijakan yang diarahkan untuk meletak-

kan seluruh kepulauan Hindia di bawah kekuasaan Belanda dan untuk mengembangkan negeri dan bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di bawah asuhan Belanda.” Furnivall alergi kepada para nasionalis revolusioner. Simpati besarnya untuk para pribumi jinak, pribumi model Barat yang bertindak dan berpikir persis tuantuan putih. Adalah bodoh, menurut Furnivall, kalau pilih cara revolusioner meraih kemerdekaan. Nasionalisme, apalagi yang revolusioner, jangan dijadikan dasar negara. Baginya pilihan terbaik adalah nasionalisme statis yang tidak melihat, bahkan menolak perkembangan masyarakat dan sejarah.

Ilmu Kolonial Asal-usul nasionalisme statis Furnivall dapat dilacak ke abad ke-19, ketika pejabat-pejabat kolonial menikmati liburan panjang di Belanda untuk menulis disertasi dalam ilmu hukum, etnologi, dan bahasa. Saat itulah kepentingan administrasi kolonial merasuk dalam penelitian ilmiah. Pada dua dasawarsa terakhir abad ke-19, studi bergaya kolonial itu pun kian kokoh. Salah satu yang memukau adalah disertasi JH Boeke, Tropisch Koloniale Staathuiskunde (1910) dengan teori dualisme. Di Hindia Belanda, kata Boeke, ada ekonomi Barat, seperti ekonomi perkebunan yang kapitalistik, mengakumulasi modal dan mengeruk keuntungan. Tetapi, ada pula ekonomi pribumi, terutama ekonomi pedesaan berprinsip gotong royong. Pada tahun 1930-an, ketika Furnivall menulis Netherland India, tesis Boeke sohor sekali. Saat itu pemerintah kolonial menjadikan tesis Boeke acuan langkah yang diambil menghadapi krisis ekonomi tahun 1929 yang menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat. Merujuk pada Boeke, penguasa kolonial percaya masyarakat akan membagi beban sosial-ekonomi yang berat itu berdasarkan prinsip gotong royong, sama rata sama rasa. Ide Boeke ihwal jalan keselamatan via penyatuan selamanya Hindia dan Belanda pada 1930 oleh de Kadt Angelino dibakukan dalam tiga jilid bukunya, Staatkundig Beleid en Bestuurszorg in Netherlands Indie. De Kadt Angelino mengajukan konsep rijkseenheid, penyatuan Hindia dan Belanda. Seperti de Kadt Angelino, Furnivall pun pengagum Boeke. Teori ekonomi majemuk yang dikampanyekan jelas kloning idenya Boeke. Dalam bab ‘Ekonomi Majemuk’ sebagai penutup bukunya, Furnivall bilang prinsip politik-ekonomi yang pas diterapkan pada masyarakat majemuk adalah mengintegrasikan masyarakat dan mengorganisasikan

R

Sejarawan

permintaan sosial yang berbeda itu dalam suatu negara tunggal. Kalau pecah ketunggalan (Hindia dengan Belanda) terlemparlah masyarakat dan semua golongan yang majemuk itu ke dalam anarki. Lantas Furnivall menawarkan persis penawaran de Kadt Angelino. Ia menyebutnya ‘solusi sistem federal Belanda’. Furnivall dan de Kadt Angelino hanyalah murid yang pandai membeo. Sebab itu, mereka segera mengorbit dalam jagat karya ilmu kolonial.

Peliharaan Kekuasaan Jangan kaget kalau Gubernur Jenderal ACD De Graeff (1926-1931) memerlukan diri menulis pengantar penuh puji untuk Furnivall dan bukunya. Bagaimana tidak? Furnivall dengan bukunya adalah bentuk dukungan sekaligus pengabsahan atas kebaikan dan perlunya keberlanjutan sistem kolonial. Adalah benar de Graeff semula dikenal sebagai gubernur jenderal yang berusaha memahami aspirasi kaum pergerakan Indonesia. Tetapi tak selang lama, de Graeff segera menjadi potret dari rentetan kekuasaan gubernur jenderal konservatif, pengecam keras pergerakan nasional dan pendukung gerakan nasionalisme statis yang percaya bahwa hanya kekacauan saja adanya jika Hindia lepas dari Belanda. Bukan di masa de Graeff saja terasa kuat ikatan batin Furnivall dengan ideologi kolonial dan kampanyenya ihwal pentingnya keberlanjutan sistem kolonial serta alerginya terhadap gerakan nasionalis. Semua itu masih dan lebih tergambar lagi dalam bukunya, Colonial Policy and Practice yang terbit pada 1947. Dekolonisasi yang terjadi di hampir seluruh dunia pasca-Perang Dunia II tidak meruntuhkan kepercayaan Furnivall akan kebaikan sistem kolonial. Ia tetap saja bilang nasionalisme bakal menjadi kekuatan kreatif bagi tanah jajahan yang merdeka asalkan sedia menerima kembali penjajahnya untuk memberikan ‘latihan dan persiapan’. Secara sinis Furnivall mengumpamakan negara jajahan yang baru merdeka sebagai narapidana yang baru bebas dan perlu asuhan-perawatan. Akhirnya, sebagai buku induk ilmu kolonial karya Furnivall bukan tak berguna. Marilah membacanya dengan mencontoh cara Sukarno dalam Indonesia Menggugat membaca dan memakai karya para mahaguru ilmu kolonial. Mencomot data dan analisisnya seraya mengingatkan betapa: ”kolonialisme-imperialisme tidaklah mati… tetapi dipakai mengekalkan apa yang sudah dicapai dengan melalui jalan-jalan yang lebih sunyi, stillere wegen”.

JUMPA PLESETAN

RSBI, Jurang Antara si Kaya dan si Miskin intisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah sekolah yang katanya mempunyai taraf internasional dan mempunyai kualitas pendidikan lebih baik daripada sekolah reguler. Entah dari mana definisi itu hadir, namun itulah yang selalu digembar-gemborkan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Namun definisi itu sedikit diragukan. Apakah benar dengan sekolah di RSBI kita mendapatkan kualitas pendidikan yang baik? Pertanyaan itu tak henti-hentinya bermain di pikiranku. Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar kabar bahwa RSBI dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Aku pun lantas membuka situs berita online untuk melihat benar apa tidak isu itu. Ternyata benar saja, RSBI dibubarkan. Pembubaran itu disampaikan MK dalam sidang putusan pembatalan Pasal 50 ayat 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) di Gedung MK, Jakarta, Selasa (8/1/2013). Dalam putusannya, MK menyatakan pasal yang mengatur RSBI/SBI yang berada di sekolah-sekolah pemerintah bertentangan dengan UUD 1945 sila kelima Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dan juga UUD 1945 yang jelas-jelas menyatakan bahwa seluruh warga Negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesehatan dan pendidikan dari Negara. Aku sedikit kaget ketika membaca berita itu karena dulu pun selama tiga tahun aku pernah menjadi ‘kelinci percobaan’ kurikulum tersebut. Aku pernah

JJ Rizal

menjadi salah satu murid di sekolah RSBI yang ada di daerahku. Dulu, menuntut ilmu di sekolah yang bertitel RSBI adalah suatu kebanggaan untukku. Entah bangga karena fasilitasnya yang lengkap, atau karena apa. Tanpa aku sadari, di balik kebanggaanku itu ada setetes rasa cemburu dari siswa kelas reguler yang juga ada di sekolahku. Keberadaan RSBI memang menimbulkan pro dan kontra yang cukup besar, di antaranya adalah kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang terlihat semakin melebar. Kita tahu bahwa sekolah di RSBI membutuhkan dana yang tidak sedikit, maka dari itu yang bersekolah di sana mayoritas adalah siswa yang berasal dari keluarga dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Hal itu sangat bertentangan dengan keluarga dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Mungkin mereka tidak akan bisa merasakan kelas yang berfasilitas lengkap seperti AC, TV, dll. Mereka hanya cukup berada di kelas reguler dengan fasilitas yang pas-pasan. Di sekolahku dulu, siswa yang terbilang memiliki ekonomi yang kurang bisa tetap masuk ke kelas RSBI, namun mereka harus memiliki otak yang cerdas. Jadi hanya segelintir siswa tidak mampu saja yang bisa menikmati fasilitas di RSBI. Dari situ sudah terlihat diskriminasi terhadap siswa lain yang memiliki kemampuan paspasan, mereka tidak bisa ikut menikmati fasilitas yang ada. Sungguh miris melihat kenyataan itu. Adanya RSBI juga menimbulkan banyak permasalahan, di antaranya adalah guru-guru yang mengajar

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

Elva Dwi Varana Mahasiswi Teknologi Pangan Unpas Bandung Aktif sebagai Anggota Muda LPM Jumpa Unpas

belum memenuhi kualifikasi untuk menerapkan program RSBI. Seringkali aku mendengar celotehan dari temanku yang sekolahnya juga bertitel RSBI, bahwa guru-guru yang ada di sekolahnya dirasa belum pantas untuk mengajar di kelas RSBI. Ada sebagian dari guru yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris, padahal RSBI adalah sekolah bertaraf internasional yang otomatis semua yang terlibat di dalamnya dituntut harus menguasai bahasa Inggris. Namun apabila dicermati lagi, penggunaan bahasa Inggris di kelas RSBI perlahan-lahan membuat peserta didik menjadi kehilangan jiwa dan semangat kebangsaannya, serta terdegredasi moral dan pemahamannya tentang nilai, kultur dan ideologi bangsa Indonesia. Saat ini, lulusan RSBI masih saja dipertanyakan. Tak semua lulusannya memiliki kemampuan yang memadai baik itu dalam bidang akademik maupun non akademik. Siswa reguler pun saat ini mampu menyaingi kemampuan siswa RSBI. Itu membuat sebagian kalangan semakin gerah dengan adanya RSBI karena sekolah yang dianggap memiliki mutu pendidikan yang baik ini tidak menghasilkan lulusan yang baik pula. Sekarang sudah tak ada lagi jurang antara si kaya dan si miskin karena RSBI sudah dibubarkan. Tak ada lagi kecemburuan sosial dari mereka yang tidak memiliki cukup biaya untuk masuk ke kelas RSBI. Seharusnya MK menghapuskan program ini dari dulu karena betapa indahnya jika kita bisa hidup dengan keadilan, bukan dengan jurang pemisah yang bernama RSBI itu.


halaman 4

EDITORIAL

JUMPA OPINI

Mengenal dan Meneladani Sosok Dewi Sartika

P

Leni Herliani Afrianti*

ernah mendengan nama Aaron Swartz? Anak muda berusia 26 tahun yang dituduh telah mengunduh secara ilegal lebih dari empat juta dokumen dari data JSTOR (Journal Storage), yang berisi jurnal-jurnal ilmiah. Swartz dinyatakan bersalah oleh pengadilan Massachusetts, ia harus menjalani hidup di penjara selama 35-50 tahun dan membayar denda hingga US$ 4 juta. Sungguh tragis karena akhirnya Swartz bunuh diri sebagai bentuk perlawanannya terhadap penguasaan ilmu pengetahuan berupa jurnal ilmiah yang biasanya harus dibayar masyarakat dengan sangat mahal. Sebagai masyarakat ilmiah, baik mahasiswa, dosen, pustakawan, dan ilmuwan memerlukan jurnal-jurnal ilmiah untuk pengembangan pengetahuan, namun perjamuan ilmuwan tersebut tidak mudah untuk dinikmati oleh siapapun secara gratis. Kita tidak punya hak istimewa untuk mendapatkan atau meraihnya dengan begitu mudah, hampir semua jurnal ilmiah tidak begitu saja mudah diakses, perlu berlangganan atau membeli jika kita memerlukan jurnal yang diinginkan. Harga per jurnal sungguh mahalnya, untuk mendapat satu jurnal internasional perlu merogoh kocek sekitar $30 - $60. Bayangkan! Betapa ilmu pengetahuan harus dibayar semahal itu. Padahal untuk satu topik penelitian kita membutuhkan 60 persen jurnal sebagai acuan agar penelitian yang dilakukan para mahasiswa atau ilmuwan tidak terjadi duplikasi, jelas dalam state of the art, keorisinilan, dan kebaruan dari penelitian. Ada pesan moral dari kematian Swartz, setiap ilmuwan dan peneliti yang memiliki karya ilmiah perlu untuk berbagi keilmuan dengan dunia lain yang sulit untuk meraihnya, kita tidak boleh menyimpan hak istimewa untuk diri sendiri, apalagi diperjualbelikan. Kita perlu memberikan password bagi siapa saja boleh mengunduhnya, sebagai rujukan dan acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Jutaan artikel yang dicuri oleh Swartz mungkin menjadikan ia terhukum dan berakhir dengan kematian, namun secara keilmuan ada pesan yang disampaikan anak muda ini. Jika Ilmu pengetahuan tidak boleh tersembunyi, atau hanya boleh dimiliki oleh sebagian manusia pada sebagian belahan dunia. Ilmu pengetahuan perlu dishare, diinformasikan, dan akses publikasi harus selalu tersedia. Kematiannya menjadi inspirasi bagi banyak kalangan dan disesali banyak orang di berbagai belahan bumi. Para akademisi, peneliti dan mahasiswa serta para aktivis mulai membuat gebrakan baru dengan berbagi pengetahuan dengan akses artikel ilmiah yang dapat diunggah secara gratis. Daftar karya ilmiah tersedia dan dapat diakses tanpa harus bayar tersedia di pdftribute.net. Aad Mathiissen, seorang matematikawan Belanda memberikan keleluasaan bagi siapa saja yang akan mengakses karya ilmiah berupa pu-

JUMPA POJOK

Alkisah, terjadi obrolan antara Mbah Jum dan Tole. Tole : “Mbah punya pulpen enggak? Isi pulpen Tole habis nih Mbah.” Mbah Jum : “Ada, itu di meja,” sahutnya sambil menunjuk ke arah pulpen. Tole : “Iya Mbah, yang warna biru kan?” Sambil menunjukan pulpen biru itu kepada mbah Mbah Jum. Mbah Jum : “Iya itu Le.” Setelah mendapatkan pulpen Tole pun bergegas menuju pekerjaannya lagi. Setelahnya mencoba pulpen ternyata ada masalah dengan pulpennya. Tole : “Mbah ini pulpenya kenapa? Beli di Jakarta ya? Macet kaya gini pasti beli di Jakarta.” Mbah Jum : “Emang kenapa Le? Itu pulpennya beli di Bandung kok.” Tole : “Wah, Bandung jadi ikut-ikutan macet ya Mbah kaya Jakarta.” Mbah Jum : “Iya, siapa dulu dong walikotanya.”

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

www.flatironhotnews.com

J

asa-jasa besar memang kerap kali ditorehkan oleh orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi, contohnya saja tokoh pahlawan perempuan yang mungkin diinterpretasikan sebagai paham feminisme. Mungkin sebagian orang pasti langsung teringat pada sosok Kartini, memaknai refleksi kelahiran Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sebagai tokoh nasional perempuan dengan semangat menggebu-gebu untuk memperjuangkan hak perempuan yang sering disebut emansipasi wanita itu. Tapi bukan Kartini yang ingin kita bahas di sini, semua orang mengenang Kartini tapi tidak banyak yang mengenang Dewi Sartika. Inisiasinya dalam membangun Sakola Kautamaan Istri telah berhasil memberikan pembelajaran bagi kaum perempuan pribumi, tidak hanya itu ia juga berjuang demi kemajuan perempuan dan kesetaraan Indonesia. Gagasannya yang berani dan kritis sontak memengaruhi dunia pendidikan di Indonesia terutama Tanah Pasundan, keberhasilannya dalam merintis sekolah perempuan telah menjadi gerbang bagi perempuan untuk memperoleh hak-hak kaumnya. Mengawali cita-citanya dengan memberikan pengajaran untuk saudara-saudara perempuannya dan akhirnya mendapat respon yang baik dari masyarakat hingga murid Dewi Sartika bertambah. Ia berusaha keras mendidik anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Langkah yang dilakukan Dewi Sartika ini berdampak luas, sehingga nama Dewi Sartika dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh pendidikan, khususnya di kalangan perempuan. Setelah berhasil dengan Sakola Istri, akhirnya di beberapa wilayah Pasundan dibangunlah beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh para perempuan hingga akhirnya pada tahun 1914 sekolahnya pun berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) dengan mengusung metode pembelajaran cageur, bageur, pinter, wanter yang dalam bahasa Indonesia berarti sehat, baik, pintar, dan berani. Untuk mendirikan sekolah pada zaman dahulu tidaklah mudah, Sakola Istri merupakan potret pendidikan masa lalu yang berhasil digagas dan diwujudkan dalam bentuk nyata oleh tokoh perempuan Sunda yang memiliki jiwa nasionalis untuk merubah kaumnya. Berbeda halnya dengan Kartini yang melakukan aksi dan menuangkan gagasannya lewat menulis surat kemudian diperkenalkan oleh Belanda ke permukaan hingga akhirnya Kartini dikenal seperti sekarang ini. Barulah beberapa tahun setelah wafatnya Kartini, didirikanlah sekolah yang katanya merupakan gagasan Kartini, padahal sekolah itu didirikan oleh Van Deventer yaitu seorang Belanda. Berbeda halnya dengan Dewi Sartika yang mendirikan sekolah berdasarkan gagasannya. Jasa-jasa besarnya tersebut haruslah dikenang dan ditiru oleh kaum muda saat ini. Namun yang terjadi sebagian besar kaum muda hanya mengenal Dewi Sartika sebagai nama jalan. Atau pahlawan yang diajarkan ketika duduk di Sekolah Dasar. Selebihnya mengenai semangat dan konsep pendidikannya jarang yang tahu padahal kita bisa meneladaninya. Sudah saatnya kita semua mengenal dan meneladani jejak langkahnya. Kudu cageur, bageur, pinter, wanter! Redaksi

Swartz, Anak Muda yang Inspiratif

blikasi jurnal, thesis Master dan disertasi Doktornya di aadmathiissen.nl/papers. Selain itu, James Fowler, Profesor dari Medical Genetics di University of California, Amerika juga mempersilakan siapapun untuk mengunduh papernya yang dipublikasikan pada berbagai jurnal ilmiah seperti Social Science and Medicine dan Nature. Sungguh Swartz adalah anak muda yang inspiratif, mengubah pemikirian hedonisme, komersialisme, dan matrealisme. Ia berkeyakinan bahwa setiap informasi harus dapat diakses, terbuka, dan gratis bagi setiap orang. Kematiannya menggebrak masyarakat ilmiah di berbagai belahan dunia, bahwa ilmu tidak boleh dikapitalisasi mutlak begitu saja. Ia adalah anak muda generasi milenium yang masih punya kesadaran dan peduli dengan berbagi pengetahuan bahwa ilmu pengetahuan bukan milik kita sendiri namun milik masyarakat. Kehausan pengetahuan perlu disediakan di mana saja dan kapan pun. Kematiannya mengubah paradigma baru bagi para ilmuwan bahwa ilmu pengetahuan tidak perlu disembunyikan pada ruang kosong yang tersekat, panjang, gelap, dan sulit untuk ditembus. Ya, Swartz memilih kematian bukan karena takut akan hukuman dan penjara atau denda, namun untuk memberi sign kepada dunia bahwa spirit anak muda terkadang tidak terduga, berbagi ilmu pengetahuan adalah segala buat Swartz, it’s better to die for a good cause than to live as a coward. Namun, bagi para mahasiswa Universitas Pasundan Bandung, semangat Swartz tidak semua perlu dijadikan contoh. Bunuh diri bukan jawaban untuk suatu keinginan yang tidak tercapai, masih banyak jalan yang perlu dilakukan generasi muda saat ini. Belajar dengan perlu kesungguhan, punya visi ke depan menjadi manusia yang layak dan bermanfaat. Memanfaatkan waktu dengan benar dan tepat, selalu bersemangat dalam mencari ilmu pengetahuan, berorganisasi dan bersoasialisasi sebagai bentuk motivasi kemasyarakatan. * Penulis, Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Pangan, Universitas Pasundan Bandung


JUMPA UTAMA

halaman 5

Jejak Langkah Dewi Sartika Indra Nurrahmattullah/ALBA 22

Dwi Reinjani

R. Dewi Sartika dalam bingkai sketsa.

S

iapa yang tak mengenal Raden Ajeng Kartini? Pahlawan wanita yang membuka pintu kesetaraan hak antara pria dan wanita di Indonesia. Bahkan negara kita memiliki hari khusus untuk mengingat jasa-jasanya. Setiap tanggal 21 April, sebagian kanak-kanak dan pelajar mengenakan pakaian adat daerah dan berpawai. Bukan sekadar bereuforia, namun mereka juga menyuarakan nada-nada semangat persatuan dan hak bagi para rakyat Indonesia. Kartini berbeda dengan pahlawan wanita lainnya, seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Mutia atau Dewi Sartika yang terkenal di daerah-nya saja. Memang contoh ketiga pahlawan tersebut tidak memiliki hari khusus, nama pahlawannya dikenal ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, atau pada buku yang dijajakan pedagang asongan di bus. Namun apakah benar nama Dewi sartika dikenal sosoknya oleh masyarakat Bandung? Atau namanya hanya diketahui sebagai nama salah satu jalan. “Tau sih, Dewi Sartika itu pahlawan soalnya namanya dipakai untuk penaman jalan raya,” ucap Siska, Pelajar SMA Pasundan Bandung. Hal senada juga diucapkan oleh Muhammad Agus Muharram, mahasiswa Fakultas Pendidikan Akuntansi, Universitas Pasundan ini mengenal Dewi sartika hanya sebatas jalan. “Iya tahu, Dewi Sartika itu nama jalankan?” ucapnya. Mengenal Dewi Sartika dan Keluarganya Pemilik nama lengkap Raden Dewi Sartika ini biasa disapa Uwi, lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Uwi anak kedua dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan suami istri Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Ayahnya adalah seorang Patih Afdeling yang kemudian diangkat menjadi Patih Bandung. Uwi adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakaknya bernama R. Somamur dan ketiga adiknya bernama R. Saripamerat, R. Entis dan R. H. Yunus. Sebab ayahnya adalah seorang patih, maka ia dan adik perempuannya diperbolehkan untuk sekolah di Eerste Klasse

School, setingkat Sekolah Dasar bagi para anak laki-laki bangsawan. Ketika itu ia dan keluarganya menempati sebuah rumah besar yang terletak di Kepatihan Straat, agar jarak rumah mereka dengan rumah dinas Bupati atau biasa disebut Pendopo Dalem lebih dekat. Sewaktu kecil Uwi mengalami sebuah kecelakaan yang membuat tangan kanannya patah akibat terjatuh saat bermain. Pengobatan yang dilakukan pun masih sangat tradisional hanya diurut dan dibalut ramuan, akibatnya semenjak pristiwa itu Uwi menjadi seorang yang kidal. Ia termasuk anak perempuan yang cukup tomboi, peringainya lincah, dan lugas dalam berbicara. Keluarganya yang berkecukupan ditambah dengan jabatan ayahnya membuat kehidupan mereka sangat tertata. Pulang pergi dengan kereta kuda, berpenampilan sopan dan bersahaja juga kehidupan mewah yang selalu mengelilingi mereka pernah ia rasakan. Namun pada Januari 1894 ayahnya diasingkan ke Ternate karena dituding sebagai pemberontak akibat pertentangan politik yang sedang terjadi di Bandung. “Ayahnya dibuang ke Ternate lalu Dewi Sartika dititipkan pada Uwa-nya (paman, -red) Raden Aria Suriakarta, Patih Cicalengka,” ucap Dinni Krisna Harahap, cucu Dewi sartika. Semenjak saat itu ia diperlakukan sebagai abdi dalem karena dianggap anak pemberontak perlakuan tersebut membuatnya sering merasa sedih. Jika ia merasa seperti itu, maka ia akan duduk di antara anak tangga yang berada di dalam rumah tersebut sambil melihat remaja wanita dari kalangan menak ke bawah berlatih menjadi perempuan yang baik dan menawan bagi para calon-calon suaminya. Namun ada yang mengusik hatinya pada saat itu. Para remaja tersebut diajari banyak hal dari mulai makan, minum, berbicara sampai berjalan akan tetapi mereka tidak diajari bagaimana caranya membaca dan menulis. Sehingga dari semua remaja menak tersebut mengalami buta huruf. Memulai Aksi dari Simpati Delapan tahun berlalu, Uwi tumbuh menjadi wanita yang cantik dan memesona. Kecantikan itulah yang membuat R. Kanjun seorang anak Patih Cicalengka ingin mempersuntingnya. Namun karena ia tidak ingin menganut paham poligami ia menolak pinangan itu secara halus. Tidak lama setelah ia menolak pinangan R. Kanjun, datang berita bahwa ayahnya telah wafat di pembuangan dan ibunya kembali ke Bandung. Mengingat nasib para wanita menak yang sering berlatih tata krama di rumah pamannya dahulu, ia akhirnya berusaha untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita saat itu dengan mendirikan sekolah di halaman rumahnya. Sekolah tersebut terus berkembang hingga halaman rumahnya tidak muat lagi menampung siswa.

Dewi Sartika (duduk) bersama guru-guru Sakola Kautamaan Istri. [Sumber foto : Buku Meniti Jembatan Emas | Yan Daryono]

Walaupun sempat ditentang oleh ibunya, Dewi Sartika datang ke Bupati Bandung untuk meminta izin mendirikan sekolah, menurutnya dari ibu yang baiklah maka akan terlahir generasi yang baik pula. Melihat kegigihan dan kesungguhan Uwi untuk membangun Sekolah Khusus Wanita, Bupati Bandung pun luluh dan memberikan izin. Tepat pada tanggal 16 Januari 1904 Sakola Istri dibentuk. Dengan tiga orang pengajar yaitu R. Oewit, R. Poerwa dan R. Dewi Sartika sendiri. “Beliau aktif menulis untuk kaum wanita dalam Bahasa Sunda, aktif di organisasi dan pembangunan pendidikan. Sosok yang sangat berpengaruh bagi Jawa Barat dan Indonesia,” ucap Hawe Setiawan, Budayawan Sunda. Dewi Sartika Dewasa dan Pilihannya Menginjak usia ke 20 tahun, Uwi mendapat sebuah pinangan dari Pangeran Djajadiningrat, seorang menak dari Banten. Namun karena ia tidak mau menikah dengan pria yang belum dikenalnya, maka ia menolak pinangan tersebut. Hingga suatu hari ia bertemu dengan R. Kanduruan Agah Suriawinata di sebuah pengajian. R. Agah adalah seorang pengajar di Sekolah Eerste Klasse School daerah Karang Pamulang. R. Agah hanyalah seorang guru biasa sedangkan ia adalah putri dari Patih Bandung yang dulu sangat disegani masyarakatnya sehingga hubungannya ditentang keluarganya. Ditambah lagi statusnya sebagai duda beranak dua dipandang tidak sesuai dan tidak pantas untuk dijadikan suaminya. Karena kecewa dengan penolakan dari keluarganya akhirnya R. Agah melakukan semedi di depan pusara R. A. A. Wiranatakusumah, kakek Dewi Sartika. Ia mendapat jawaban atas doa yang ia panjatkan, ditandai dengan munculnya cahaya biru dari cungkup pusara tersebut. Maka benar saja, ibunda Uwi menyetujui hubungan mereka dan mengizinkan ia meminang putrinya. Maka pada tahun 1906 Dewi Sartika resmi diperistri oleh Raden Agah.

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

Kehidupan rumah tangga mereka sangatlah harmonis dan tidak kaku, sebagai seorang ayah, R. Agah menjadi sosok pengayom dan penyayang bagi keluarganya, membimbing istrinya dan selalu menjadi penyemangat Uwi saat membina didikannya. Namun tidak disangka, pada 25 Juli 1939 R. Agah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia saat akan menghadiri undangan rapat Alim Ulama. Kesedihan menyelimuti Uwi karena ditinggal oleh suami tercinta yang begitu tiba-tiba. Namun di tengah kesedihanya ia sadar, bahwa ia harus bangkit untuk keluarganya, anak-anaknya juga perjuangannya dalam pendidikan. Maka ia terus merambah dan memperluas dunia pendidikan di Bandung. Hingga sampailah pada tahun 1947. Ketika itu ia sedang berada di Cineam yang sedang terjadi agresi militer guna menyergap DI/TII. Dalam kondisi seperti itu, Uwi pun jatuh sakit dan penyakitnya menjadi lebih kronis pada saat itu. Tim medis yang ada pun sudah berusaha menolong pemulihan Uwi namun Tuhan berkehendak lain, Uwi berpulang pada 11 September 1947, seluruh masyarakat Cineam pun berduka telah kehilangan sosok pendidik. Awalnya Dewi Sartika dimakamkan di Cineam. Namun pada tahun 1960 sesuai dengan permintaannya sebelum meningal makamnya dipindahkan ke makam keluarga Bupati yang terletak di Karang Anyar bersama suaminya. Menurut penuturan Hawe Setiawan, saat ini belum ada sosok wanita tangguh yang mampu menggantikan sosok R. Dewi Sartika yang mau peduli dengan kesejahteraan wanita dan menulis untuk wanita juga memiliki rasa keibuan yang besar. Hawe pun berpesan agar generasi muda bisa mengenal dan mencontoh perjuangannya. “Bacalah buku-buku Dewi Sartika agar bisa mengenal dan terinspirasi sehingga dapat membangun daya juang dengan versi tersendiri untuk peranan perempuan,” harapnya. [Reporter : Dwi, Ai Chintia, Eriel]


halaman 6

Agung Gunawan Sutrisna/LPM Jumpa

JUMPA UTAMA

Dewi Sartika : “Kehormatanku adalah kepribadianku� Tidak banyak yang mengenal sosok Dewi Sartika, meski ia seorang pahlawan Nasional. Yan Daryono adalah salah satu penulis yang mengangkat kisah hidup Dewi Sartika, setidaknya dalam tiga buku yang pernah ia tulis. Jumpa berkesempatan berbincang dengannya di kediamannya di bilangan Ciateul, Bandung. Berikut wawancara selengkapnya :

Apa motivasi Anda menulis kisah Dewi Sartika? Sederhana, dulu tahun 1989 saat saya jalan-jalan di sekitar alunalun, anak saya membaca Jalan Dewi Sartika. Lalu bertanya, ayah siapa Dewi Sartika itu? Saya jawab pahlawan dan dia melanjutkan pertanyaannya, pahlawan apa? Saya tidak bisa menjawabnya. Nah dari sanalah kemudian saya membahasnya bersama teman-teman. Bagaimana Anda mencari informasi tentang Dewi Sartika? Saya menemui Ibu Dini, seorang cucunya yang paling dekat. Bertemu juga dengan Haryanto Kunto untuk menggali keadaan Bandung ketika zaman Dewi Sartika. Pergi ke perpustakaan nasional, berkali-kali berdiskusi di museum Sri Baduga bersama kawan-kawan, di sekolahnya Dewi Sartika, bahkan di rumahnya Bu Dini. Di buku Sang Perintis, ada beberapa cuplikan adegan sinetron, apakah kisah Dewi Sartika sempat difilmkan? Iya, biayanya sangat besar. Saat itu RCTI tidak berani namun TPI mau karena kebetulan TPI akan memperingati hari Kemerdekaan RI dan salah satu puncaknya yaitu dengan ditayangkannya film Dewi Sartika. Namun filmnya tidak jadi tayang, ada beberapa persoalan waktu itu. Hanya buku Sang Perintis yang terbit karena permintaan Ibu Iden, salah satu putrinya

Dewi Sartika. Pihak keluarga meminta bukunya terbit sebelum Ibu Iden meninggal. Saat itu WS. Rendra pun sangat mengapresiasi. Apa konsepsi pemikiran Dewi Sartika bagi kaum perempuan? Saat itu ada perempuan di usia 17 tahun pendidikannya tidak tinggi tapi pemikirannya melebihi orang Eropa. Kemudian menjadi bahasan di tingkat tinggi, sampai di Batavia terkaget-kaget. Dewi Sartika tidak menulis surat sebagai pergerakannya, Dewi Sartika melawan keadaannya. Dia survive. Dari survive itu keluarlah gagasan-gagasan cemerlang. Menurut pemikirannya perempuan yang bekerja akan hebat, bukan menjadi pegawai kantor tapi jadi pengusaha. Contohnya dia mengajarkan bagaimana merenda tanpa meninggalkan rumah tetapi ekonomi keluarga bisa terbantu. Sampaisampai penelik sekolah Belanda yaitu Den Hammer kagum dengan konsep tersebut. Bahkan lahirnya Pasundan Isteri terinspirasi dari konsep pemikiran Dewi Sartika. Bagaimana perjalanan kehidupan Dewi Sartika? Dewi Sartika lahir dari keluarga ningrat. Ayahnya seorang patih Bandung yang digadang-gadang menjadi calon Bupati Bandung. Namun takdir berkehendak lain, Patih Somanagara difitnah melakukan pemberontakan sehingga dibuang ke Ternate. Sedangkan Dewi Sartika dititipkan di rumah Uwa-

nya (paman, -red) di Cicalengka yang juga seorang Patih Afdeling. Selama hidup di Cicalengka Dewi Sartika diperlakukan sebagai abdi dalem. Namun hal tersebut tidak membuatnya frustasi. Selama di Cicalengka, Dewi sartika melihat isteri Uwa-nya yaitu Gan Eni mengajarkan tata krama kepada anakanak ningrat hingga ketika ayahnya meninggal dan Dewi Sartika kembali ke pangkuan ibunya, Dewi Sartika mengajarkan hal yang diajarkan Gan Eni kepada temantemannya. Ketika Dewi Sartika mengajar, beliau dibayar berupa buah-buahan dan sayur-sayuran oleh para muridnya sehingga bisa menopang kehidupannya dan ibunya. Saat itu Dewi Sartika dan ibunya pindah ke belakang rumah yang dulu mereka tinggali. Jika mentalnya tidak kuat mungkin Dewi Sartika sudah frustasi, tapi ia terus bergerak dengan tekad yang kuat. Hingga sekolahnya tersebut berkembang maju dan mencuri perhatian Den Hammer seorang penelik sekolah Belanda. Setelah itu, apa yang terjadi dengan Sekolah Dewi Sartika? Hammer menyarankan pada Dewi Sartika untuk meminta Bupati Bandung agar mendukung kegiatannya. Saat itu ibu Dewi Sartika tidak mengizinkan karena merasa terkhianati oleh Bupati Bandung tersebut. Namun Dewi Sartika tidak mengikuti egonya, ia mengutamakan kepentingan bersama.

Maka setelah mengalami penolakan terlebih dahulu, akhirnya Bupati Bandung mengizinkan Pendopo Bupati Bandung untuk digunakan seolah Dewi Sartika. Namun setelah kedatangan Jepang ia mengungsi ke Majalaya kemudian ke Cineam Ciamis, dari Manonjaya nyebrang sedikit itu Desa Cineam. Kemudian Dewi Sartika sakit-sakitan, dan meninggal di sana. Sekolahnya saat itu dikuasai Jepang dan kurikulumnya berubah. Apa harapan Anda supaya warisan-warisan Dewi Sartika dapat dilanjutkan? Pemerintah jangan hanya mendompleng nama Dewi Sartika untuk kampanye saja. Saya juga bukan karena mau bikin buku, tapi menjawab pertanyaan anak perempuan saya. Dia bertanya siapa itu Dewi Sartika? Kalau Pemerintah Bandung, Provinsi Jawa Barat, RI, atau Paguyuban Pasundan, mereka yang lebih berhak kok yang dasar filosofinya ada kesundaan. Sekarang ada budaya konsumerisme, maka bangun kembalilah semangat Dewi Sartika. Ia bilang kehormatan saya adalah kepribadian saya.

[Reporter : Agung Gunawan Sutrisna]

“Jangan percaya kepada pemerintah, tidak ada inisiatifnya�

Menurut Anda, bagaimana sosok Dewi Sartika? Perempuan Sunda yang menyadari besarnya potensi, sosok, tokoh perempuan Jawa Barat yang menyadari pentingnya pendidikan baik formal maupun non formal. Jika membaca tulisan dia di folk almanah tentang pendidikan perempuan menyangkut sehari-hari seperti, cara menata meja makan, cara membatik. Beliau membekali wanita dengan pengetahuan yang memadai. Apakah Dewi sartika sangat berperan bagi pendidikan kaum Perempuan Indonesia terutama Jawa Barat? Sangat berperan, beliau menulis dalam Bahasa Sunda, membangunkan pendidikan. Aktif di organisasi, aktif menulis untuk kaum perempuan dalam Bahasa Sunda. Dan mendirikan sekolah Kautamaan Istri. Perannya sangat besar baik dalam konteks Jabar dan Indonesia. Tokoh yang patut dikagumi dari Jawa Barat. Apa perbedaan Kartini dengan Dewi Sartika? Kartini menulis dalam Bahasa Belanda, Dewi Sartika dalam Bahasa Sunda. Kartini lebih banyak menulis gagasan abstrak, Dewi Sartika banyak menulis dalam hal sehari-hari. Kartini mau dipoligami, Dewi Sartika tidak. Dewi Sar-

tika membuat sekolah dan jelas, Kartini lebih begerak individual. Kemudian Dewi Sartika membuat organisai dan aktif mengembangkan praktik pendidikan, Kartini tidak. Latar belakang budaya beda, Kartini kagum budaya Barat, Dewi Sartika berpijak pada Sunda. Mengapa Kartini lebih populer daripada Dewi Sartika? Fenomena, dipahami siapa yang berkuasa. Sejarah milik para penguasa, orang berkusa lebih menyukai Kartini dan ada faktor Eropa dan Belanda. Sehingga dijadikan contoh emansipasi perempuan Indonesia. Bahasa juga memengaruhi, Kartini menulis dengan bahasa Eropa sedangkan Dewi Sartika dengan Bahasa Sunda. Upaya apa yang harus dilakukan agar Dewi Sartika dikenal, terutama oleh kalangan pemuda? Pada tahun 1950 merekomendasikan Dewi Sartika dan Otto Iskandar Dinata sebagai tokoh Pahlawan Nasional dan itu dinilai berhasil. Masalahnya adalah karya-karya Dewi Sartika yang tidak dipublikasikan, harusnya diterjemahkan sehingga kaum muda tahu dan mau mencontohkannya. Selain itu, materi-materi tentang tokoh-tokoh Sunda, tidak hanya Dewi Sartika, tapi yang lainnya, doktor pertama di

luar negeri Ema Purwanigara, Ketua Paguyuban Pasundan pertama. Sastrawan yang pertama menerbitkan novel Sunda harus dimasukan ke dalam budaya kurikulum, itu yang harus diketahui oleh generasi muda, banyak tokoh penting. Belum ada kurikulum yang mengaturnya dan seharusnya diperkenalkan dari sejak sekolah dasar Bagaimana seharusnya peran pemerintah? Jangan percaya kepada pemerintah, tidak ada inisiatifnya lebih baik percaya pada masyarakat Sunda. Jangankan ngurus pahlawan, ngurus jalan saja tidak bisa. Jalan Dewi Sartika terpotong garagara pembangunan masjid. Bangunannya yang dijadikan Sakola Istri kenapa tidak dikembangkan menjadi tujuan wisata sebelum berubah menjadi Factory Outlet. Informasi dan benda-benda yang berkaitan coba dikenalkan pada anak-anak sekolah melalui kujungan misalnya. Adakah sosok perempuan Jawa Barat sekarang yang seperti Dewi Sartika? Saat ini tidak ada yang menulis dunia perempuan, tulisannya bersahaja. Tidak hanya menulisnya tapi Dewi Sartika melakoni apa yang dia tulis. Saat ini yang saya tahu di Jawa Barat tidak ada yang seperti dia, keibuan.

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

Dok. Pribadi

Tidak ada alasan untuk melupakan jasa pahlawan walaupun pemerintah tidak mempunyai inisiatif dalam mensosialisasikan jasa-jasanya. Hawe Setiawan adalah Budayawan Sunda yang peduli kepada sejarah. Dia pernah menulis artikel tentang Dewi Sartika dan salah seorang pengagum karya-karya Dewi Sartika. Berikut petikan wawancaranya:

Perbedaan pergerakan Dewi Sartika dengan pergerakan Perempuan masa kini apa? Pergerakan wanita sekarang lebih memperjuangkan gender ke arah hak dan kewajiaban, persetaraan gender mengurangi Kekerasan Dalam Rumah Tangga, human traficking, lebih ke arah Sosial Politik. Apa pesan Anda untuk para Pemuda agar lebih mengenal sosok pahlawan seperti Dewi Sartika? Bacalah tulisan-tulisan Dewi Sartika agar bisa mengenal dan merasa dekat serta bisa terinspirasi. Dewi Sartika memberi versi tersendiri apa itu perempuan dan menurut saya itu menarik. [Reporter : Ai Chintia, Eriel]


halaman 7

JUMPA UTAMA

Dewi Sartika, Potret Sejarah Pendidikan Masa lalu

H

ingar bingar teriakan anak-anak jelas terdengar ketika Jumpa memasuki pintu gerbang bangunan tempo dulu yang kini sedang dalam proses renovasi. Teriakan tersebut berasal dari para murid Sekolah Dewi Sartika yang tengah berlalu lalang menghabiskan waktu jam istirahat mereka. Ada yang bermain kejar-kejaran, main bola, bersenda gurau, atau hanya sekadar jajan dan duduk santai di sudut sekolah sambil mengamati yang lainnya. Ada yang berbeda dari sekolah ini dengan sekolah pada umumnya. Sekolah ini memiliki tugu yang terletak di tengah lapangan sekolah. Tugu tersebut bernama Tugu Dewi Sartika, karena ternyata sekolah yang Jumpa kunjungi ini merupakan situs kebudayaan peninggalan sejarah yang diresmikan sejak tahun 1982. Pantas saja, sekolah ini memiliki enam ruangan kelas khas tempo dulu yang digunakan Dewi Sartika dalam proses belajar mengajar dan satu ruang kelas yang digunakan museum, hingga kini masih dipertahankan keasliannya. Ruang kelas itu masih terlihat kokoh, dengan tralis kawat yang berfungsi sebagai ventilasi, kursi, dan meja yang digabungkan menjadi satu dengan posisi meja yang menurun khas perabotan tempo dulu. Di sekeliling ruangan terdapat foto Dewi Sartika bersama murid-murid Sakola Kautamaan Istri. Sungguh membuat kami ingin begitu mengenal perjuangannya dalam mendirikan sekolah yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya. Setelah puas mengamati seisi ruangan yang meninggalkan banyak sejarah itu, kami pun langsung menuju ruang Kepala Sekolah untuk mencari tahu informasi selengkapnya mengenai tokoh perempuan Sunda yang memperjuangkan pendidikan kaumnya. Ruangan Kepala Sekolah berlokasi tepat di seberang ruang kelas yang sebelumnya kami kunjungi, terlihat wanita separuh baya berkacamata sedang duduk membaca koran dan menyambut hangat kedatangan kami dengan menggunakan Bahasa Sunda. “Mangga lebet,” ucapnya, yang artinya silakan masuk. Dengan segera kami langsung memperkenalkan diri, dan wanita itu juga memperkenalkan namanya. Ia adalah Rukiah Samsi Miharja, wanita berumur 74 tahun yang sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah selama 32 tahun. Ia pun menceritakan bagaimana awal mula berdirinya sekolah yang kini dikelolanya. Kebetulan ia juga merupakan anak dari salah satu murid Dewi Sartika sehingga hafal betul bagaimana didikan Dewi Sartika. Meskipun beliau tidak pernah belajar dari Dewi Sartika langsung, tapi semangat Dewi Sartika terus mengalir dalam darahnya, bahkan di sela-sela pembicaraan, ia mengatakan bahwa perempuan juga harus bisa memimpin dan jangan kalah dengan kaum laki-laki. Oleh sebab itu, hingga saat ini yang menjadi kepala sekolah seorang perempuan.

Mutia Nurfitriana

Dewi Sartika bersama murid-muridnya di Sekolah Kautamaan Istri [Sumber foto : Buku Meniti Jembatan Emas | Yan Daryono]

“Hal itu untuk tetap menunjukan bahwa semangat Dewi Sartika masih ada dan akan terus tetap ada,” ujarnya. Awal mula berdirinya sekolah ini pada tahun 1904 dengan nama Sakola Istri yang berlokasi di Paseban Wetan, Komplek Pendopo Dalem, Kabupaten Bandung, atau lebih tepatnya adalah di depan Alun-alun Bandung. Sakola Istri merupakan sekolah khusus perempuan pertama dan tertua di Indonesia. Pada saat Dewi Sartika mengajar, ia didampingi oleh dua kawan seperjuangannya yaitu Poerma dan Oweit. Siswi Sakola Istri berjumlah 60 orang. Seiring berjalannya waktu, satu tahun setelah Sakola Istri berdiri, tepatnya pada tahun 1905 minat siswi yang mendaftar

Wikipedia

semakin bertambah hingga ruang belajar di Paseban Timur tidak memadai lagi dan akhirnya dipindahkan ke Jalan Ciguring yang sekarang menjadi Jalan Kautamaan Istri dekat Kepatihan. Sebelum didirikannya Sakola Istri, Raden Dewi Sartika mengawali cita-citanya dengan mengajarkan para kerabat perempuannya tentang kepandaian perempuan, misalnya memasak berbagai menu makanan, jahit-menjahit dan semacamnya. Dewi Sartika juga mengajari baca tulis Melayu maupun Belanda serta berhitung sebagaimana pernah diperoleh Dewi Sartika saat bersekolah di Eerste Klasse School dan ketika mengikuti pelajaran Agan Eni yaitu istri keempat pamannya, Patih Afdeling

Cicalengka. Awal mulanya kegiatan ini hanya diikuti oleh sepuluh orang yang terdiri dari sanak keluarganya. Tujuannya agar perempuan bumi putera menjadi perempuan yang segala bisa dan punya rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimilikinya, tidak bergantung pada suami apalagi belas kasihan orang lain. Dari kegigihannya untuk memajukan kaum perempuan, gagasan untuk mendirikan sekolah yang merupakan cita-cita mulia dari Sang Dewi menjadi sangat kuat hingga pada akhirnya mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Raden Aria Adipati Martanegara yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung. Dewi Sartika yang disebut dalam koran Belanda sebagai Een Kranige Vrouw (Wanita Pandai nan Terampil) tergolong otodidak dan haus akan ilmu telah berhasil mengukir sejarah dalam dunia pendidikan tempo dulu. Keberhasilannya dibuktikan dengan didirikannya Sakola Istri yang memiliki kurikulum yang disesuaikan dengan kurikulum Tweede Klasse School yang merujuk pada kurikulum Sekolah Rakyat, hanya saja bidang studi keterampilan wanita masih tetap menjadi acuan. Mungkin itulah salah satu daya tarik Sakola Istri yang menjadikan banyaknya peminat yang mendaftar ke sekolah tersebut. Sayangnya, kejayaan sekolah perempuan ini tidak berlangsung lama. Jepang memporak porandakan sekolah ini. Nama sekolah diubah, kurikulum diubah, muridmurid juga berkurang banyak. Permasalahan juga bertambah karena adanya agresi militer Belanda. Bandung Lautan Api adalah klimaks dari berakhirnya sekolah yang didirikan Dewi Sartika. Dewi Sartika dan penduduk lainnya mengungsi ke arah selatan pada waktu Bandung dibakar, hingga pada akhirnya melewati zaman kemerdekaan dan wafat pada tanggal 11 September 1947 di Cineam Tasikmalaya dengan meninggalkan enam orang anak beserta semua kenangan sekolah yang ia dirikan dan perjuangkan

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

hingga akhir hayatnya. Hingga kini bangunan sekolah itu masih bertahan dan difungsikan menjadi SD dan SMP Dewi Sartika di Jalan Dewi Sartika Bandung. Murid sekolahnya pun tidak hanya kaum perempuan saja, anak lakilaki juga banyak yang bersekolah di sini. Saat ini sekolah Dewi Sartika sama dengan sekolah pada umumnya, hanya saja bidang studi keterampilan wanita masih tetap menjadi ciri khasnya. Nama mata pelajarannya adalah muatan lokal yaitu kurikulum yang berisi mata pelajaran yang disesuaikan. Misalnya saja pembelajaran meronce yaitu teknik membuat benda pakai atau hias yang memiliki makna yang sangat dalam karena ketika sedang meronce kita dituntut untuk bersabar, teliti, dan hati-hati. Mungkin itu salah satu tujuan Dewi Sartika yang menginginkan muridnya untuk memiliki kepribadian tersebut. Akan tetapi sungguh sangat ironi ketika kami bertanya pada salah satu murid sekolah Dewi Sartika yang bergeleng ketika ditanya perihal pahlawan yang mendirikan dan membesarkan sekolah yang ditempatinya saat ini. Misalnya saja Fauzan, siswa kelas delapan yang hanya sebatas mengetahui bahwa Dewi Sartika adalah pahlawan tanpa ia mengetahui jasa apa yang telah Dewi Sartika lakukan. Padahal mendirikan sekolah pada zaman itu bukanlah perkara mudah, meskipun langkah yang dilakukan Dewi Sartika itu kecil, namun berdampak luas. Ia berjuang demi kemajuan perempuan dan kesetaraan Indonesia, para perempuan modern tentunya harus bersemangat untuk meneruskan perjuangannya. Seperti dalam sebait lirik kawih Dewi Sartika, Jasa-jasa Raden Dewi | Teras nyebar teras mencar | Nyaangan nagara jaman | Jadi obor para ibu. “Kawih tersebut dalam bahasa Indonesia memiliki arti jasa-jasa Raden Dewi terus menyebar dan memancar menerangi negeri jadi obor untuk kaum ibu,” tutup Rukayah di akhir pembicaraan. [Reporter : Mutia, Eriel,Elia]


halaman 8

JUMPA UTAMA

Pergerakan Dewi Sartika dan Kaum Perempuan Lainnya

M

enyanding nama Dewi Sartika tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan tokoh pahlawan lainnya. Dengan Kartini misalnya, namun apa yang membedakan Dewi Sartika dengan Kartini? Dan kenapa Dewi Sartika tidak sepopuler Kartini? Menurut penuturan Hawe Setiawan, Budayawan Sunda, itu hanya masalah para pemimpin negeri ini. “Para penguasa lebih menyukai Kartini dari pada Dewi Sartika, sejarah hanya milik para penguasa,” katanya. Jika menurut sebagian orang, Dewi Sartika tidak sepopuler Kartini karena ia tidak menulis, justru menurut penuturan Hawe, Dewi Sartika menulis tetapi dalam Bahasa Sunda. “Yang membedakan Kartini dengan Dewi sartika, Kartini sangat menjunjung kebudayaan Eropa, Dewi Sartika menjunjung kebudayaan Sunda,” tambahnya. Jika Kartini pergerakannya hanya sebatas surat-surat yang ia kirim kepada sahabatnya Stela di Belanda, Dewi Sartika dengan terang-terangan memperlihatkan kepahlawanannya dalam bentuk sekolah. “Kartini itu hanya sebatas konsep, kalau Dewi Sartika terlihat gerakannya,” tambah Hawe Setiawan. Seperti yang ditulis W. S. Rendra

dalam pengantar Buku Sang Perintis, Dewi Sartika adalah bintang di zamannya. Di masa itu seorang perempuan Sunda berani melawan keadaan. Dewi Sartika tidak menyerah saat keadaan tidak berpihak padanya. Dia yang terbiasa hidup mewah harus rela menjadi abdi dalem. Dewi Sartika tidak hanya pelopor pendidikan, namun ia perempuan tangguh yang mempunyai pendirian kuat. Dia menolak poligami dan lebih memilih hidup bersama duda beranak dua daripada istri seorang pangeran yang beristri banyak. ”Dewi Sartika menolak poligami dan dia teguh pada pendiriannya,” ujar Hawe. Bukan soal siapa dan lebih berperan yang mana dalam perjuangan terutama kaum perempuan di negeri ini. Sangat miris ketika bertanya tentang konsep pemikiran dan siapa Dewi Sartika sebagian mahasiswa ada yang tidak mengetahuinya. Riska Meiyani misalnya, mahasiswa Universitas Pasundan tersebut tidak tahu sosok Dewi Sartika,

Ai Chintia

Sekolah Dewi Sartika terletak di Jalan Keutamaan Istri No. 12, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol, Bandung.

yang ia tahu Dewi Sartika hanya sebatas pahlawan nasional. “Iya tahu, pas SD ada dipelajaran sejarah, dia itu pahlawan. Kalau pemikirannya saya tidak tahu,” katanya. Padahal ada ungkapan mengatakan bahwa bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Jika Kartini memiliki Hari Kartini, maka Dewi Sartika memiliki hari wanita yaitu 22 Desember yang sering diperingati sebagai hari ibu. Menurut

penuturan Dinni Krisna Harahap salah satu cucu Dewi Sartika mengatakan bahwa lahirnya Kongres Wanita dan penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu terinspirasi dari Dewi Sartika. Sayangnya hal tersebut tidak diketahui oleh anak muda pada umumnya. Jika kita berkunjung ke makam Dewi Sartika kita akan melihat di pinggir makamya di sana tertulis 4 Desember diperingati sebagai hari Dewi Sartika dan Hari Sosial. Hal tersebut menjadi maklum, permasalahan melupakan para jasa pahlawan tidak hanya terjadi kali ini. Bahkan menurut penuturan Dinni, pemerintah pernah meminta barangbarang peninggalan Dewi Sartika yang katanya akan disimpan di Museum Nasional, namun hingga kini barang-barang tersebut tidak nampak. “Mesin jahit yang suka dipakai beliau pernah diminta pemerintah, tapi tidak tahu dikemanakan,” katanya. Dinni juga menambahkan di Be-

landa justru berbeda, dirinya sempat berkunjung ke perpustakaan ketika meminta buku Dewi Sartika petugas perpustakaan langsung menyodorkannya. ”Pengarsipan di sana cukup bagus, saya langsung disodorkan buku tentang Dewi Sartika, saya kaget juga,” katanya. Keinginan pihak keluarga untuk mengembangkan sekolah Dewi Sartika hanya angan saja. Pihak keluarga yang dibantu oleh salah satu anggota DPR dari tanah Sunda yaitu Ceu Popong sempat mengajukan keinginan pembangunan Sekolah Dewi Sartika, namun pemerintah menolaknya. “Katanya tidak ada alokasi anggaran untuk itu,” kata Dini. Hawe Setiawan mengkritik jalan Dewi Sartika di Kota Bandung yang dipotong oleh pembangunan alun-alun. ”Pemerintah ngaco, masa jalan Dewi Sartika dipotong, lama-lama jalannya semakin tidak ada,” katanya. Hawe pun tidak percaya pada pemerintah jika ditanya perannya untuk melestarikan atau mensosialisasikan nama Dewi Sartika sebagai pahlawan pendidikan wanita. “Jangankan mengurus pahlawan, ngurusin jalan saja mereka gak becus,” katanya. Dewi Sartika memang bukanlah satu-satunya pahlawan wanita. Selain Kartini ada beberapa sosok pahlawan wanita lainnya yang berjasa dalam perjuangan hak ataupun perjuangan kemerdekaan. Cut Mutia dan Cut Nyak Dien dua tokoh perempuan yang mengangkat senjata melawan kolonial di Aceh. Bentuk pergerakan wanita setiap daerahnya mempunyai ciri khas tersendiri. Tokoh wanita lain yang jarang sekali kita dengar seperti Maria Walanda Marais dan Nyai Walidah. Maria Walanda Marais sangat dikenang di tanah kelahirannya di Minahasa. Maria dikenal sebagai wanita pendobrak emansipasi di tanahnya. Setiap tanggal 1 Desember masyarakat setempat memperingati hari Ibu Maria Walanda Marais. Melihat contoh di atas selayaknya warga Pasundan memperingati hari Dewi Sartika. Dewi Sartika tidak hanya mengonsep, ia berpidato menyuarakan pemikirannya, bahkan HOS. Cokroaminoto terkagum-kagum mendengarkan

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

www.disparbud.jabarprov.go.id

pidato Dewi Sartika yang berjudul Otodidak saat Cokro berkunjung ke Bandung. Dalam teks Otodidak Dewi Sartika dengan gamblang menguraikan konsep pendidikan bagi kaum wanita. Kaum wanita harus serba bisa, pandai merawat, memasak, menjahit dan membatik. Menurutnya di tangan wanitalah anak-anak dididik, jika wanita tidak pandai maka akan menghasilkan generasi yang tidak pandai pula. Menurut Hawe, Dewi Sartika menerapkan konsep pendidikannya dari kehidupan sehari-hari. “Contohnya menata meja, itu kan pekerjaaan yang setiap hari dilakukan dan menurut Dewi Sartika menata meja pun ada pembelajarannya agar bisa menata meja dengan baik.” Atas jasanya pemerintah Belanda memberikan penghargaan Bintang Jasa kepada Dewi Sartika, “Dewi sartika sosok Perempuan yang melampaui zamannya”. Seperti yang dituturkan Yan Daryono bahwa bangsa Eropa terkaget-kaget melihat pemikiran perempuan bumi putera yang lebih maju dibandingkan wanita Eropa. Saat Sukarno sedang belajar berjalan dan berbicara, Dewi Sartika sudah mengajarkan membaca dan menulis untuk kaumnya. Lalu adakah sosok Dewi Sartika saat ini? Yang peduli dan ingin memajukan kaum perempuan. Menurut penuturan Hawe tidak akan ada perempuan pengganti sosok Dewi Sartika. Sosok yang bergerak sesuai kodratnya dan melawan ketidakadilan dengan tidak lupa pada tugas perempuan. “Tidak akan ada sosok yang seperti beliau,” ujarnya. Hal tersebut menurut Hawe dikarenakan arah pergerakan perempuan saat ini memang berbeda dengan zaman Dewi Sartika. Saat ini perjuangan pergerakan lebih ke arah sosial ekonomi, kesejahteraan hidup dan perjuangan kaum perempuan yang mencari uang di negeri orang. “Zamannya sudah berbeda,” ucap Hawe. Walaupun demikian, Hawe tetap berharap perjuangan pergerakan perempuan tetap tidak keluar dari kodrat wanita sendiri. Sebagaimana yang selalu dijunjung oleh Dewi Sartika. [Reporter : Agung, Ai Chintia, Taruna]


www.aherdeddymizwar.net

halaman 9

JUMPA UTAMA Dewi Sartika Adalah Pejuang yang Konsisten Sejak Usia Muda

Bagaimanakah sosok Dewi Sartika di mata keluarganya? Dan apa cita-cita terbesar anak dan cucu Dewi Sartika untuk melanjutkan perjuangannya? Dinni Khrisna Harapap adalah salah satu cucu terdekat Dewi Sartika. Untuk menggali apa dan siapa Dewi Sartika, redaksi Jumpa berkesempatan mewawancarai Dinni. Berikut penuturannya :

Dok. Jumpa

Seperti apakah sosok Dewi Sartika? Wanita, pejuang yang konsisten sangat dipertimbangkan sejak usia muda. Fakta dan tindakan yang dilakukan sejak remaja. Berpikir bahwa wanita harus pandai dan maju untuk duduk bersama kaum pria di segala bidang dengan tidak menghilangkan kodratnya. Bagaimana kondisi saat itu? Kondisi yang dihadapi sangat itu tidak memungkinkan karena dianggap anak pemberontak. Ayahnya dituduh mengadakan kekacauan pada saat pemilihan Bupati Bandung. Padahal saat itu ada permainan dari pihak-pihak tertentu agar ayahnya tidak naik menjadi bupati. Lagu Ruket Jeung Kumpeni awal sejarahnya dari kejadian tersebut. Kemudian Dewi Sartika dikeluarkan dari sekolah bangsawan khusus Belanda. Ayahnya dibuang ke Ternate, dan Dewi sartika dititipkan pada Uwanya (paman, -red) di Cicalengka. Saat tinggal di sana Dewi Sartika diperlakukan seperti abdi dalem. Namun setelah ayahnya meninggal di pengasingan, ibunya kembali ke Bandung dan Dewi Sartika kembali berkumpul bersama ibunya.

Dari sanalah Dewi Sartika mulai mengajar teman-temannya di belakang rumahnya. Pandangan masyarakat dengan munculnya Sekolah Dewi Sartika? Masyarakat sempat tidak sepakat karena saat itu sekolah bagi kaum perempuan merupakan hal yang tabu. Namun setelah melihat perkembangannya mereka setuju. Sekolahnya hanya menggunakan arang bolpoin atau pensil hanya ada di tempat laki-laki. Bagaimana perkembangan sekolah tersebut? Berkembang sangat pesat, bahkan para pedagang asing di pasar baru pun ikut belajar di sana. Awalnya mereka melihat pribumi yang bekerja padanya pandai membaca dan menghitung. Melihat perkembangan yang sangat maju, Dewi Sartika menghadap ke Bupati Bandung meminta tempat untuk sekolahnya, namun yang ia dapat hanya kata-kata seperti ini, “Uwi. Awewe mah cicing di dapur cukup masak jang suami wae.� (Uwi, perempuan itu diam saja di dapur, cukup masak untuk keperluan suami saja, -red) Karena kekerasan hatinya, Dewi

Sartika tidak menyerah, kemudian bupati itu melihat kegiatan Dewi Sartika dan mengizinkannya untuk menggunakan pendopo sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Untuk mengembangkan kurikulum di sekolahnya, Dewi Sartika pergi ke adik Kartini untuk belajar membatik dan kemudian beliau ajarkan lagi pada murid-muridnya. Adakah kenangan Anda bersama Dewi Sartika? Dewi Sartika yang membantu ibu saya ketika melahirkan saya. Kenangan secara bersama-sama tidak ada namun ibu suka bercerita tentang beliau. Kalau kakak saya yang sudah-sudah ingat. Ibu saya bilang beliau selalu berpesan pendidikan adalah nomor satu. Kemudian bagaimana terutama seorang wanita mempunyai etika yang baik. Bergaul dengan baik, tidak ada dengki dan sirik, inti dari budi pekerti. Pesan beliau juga sepanjang kamu bisa belajar jangan sampai terlambat, belajar-lah dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya jangan sampai menyesal. Dia sangat perhatian. Apa harapan Anda untuk pemerintah, baik Pemerintah Ja-

wa Barat maupun Pemerintah Pusat? Saya ingin sekolah Dewi Sartika dibangun hingga Perguruan Tinggi. Sekolah itu selain bukti otentik, adalah sekolah perempuan pertama. Sebagai apresiasi terhadap perjuangan Dewi Sartika. Tetapi dari pemerintah tidak ada baik dari pemerintah Jawa Barat maupun pusat. Alasan mereka tidak adanya anggaran. Tidak hanya dijadikan sekolah, namun dijadikan pusat informasi kegiatan perempuan dan pengembangan pemberdayaan perempuan. Sejauh ini peran pemerintah bagaimana? Salah satu bentuk perhatiannya situs Dewi Sartika yang ada di depan sekolah, dan keluarga telah mengikhlaskan tanah tersebut untuk dihibahkan. Namun situs itu tidak dikembangkan, kalau bisa pemerintah mengembangkannya agar anak muda mengenal beliau. Dulu dari pemerintah meminta barang-barang Dewi sartika katanya akan dipajang di Museum Nasional, nyatanya tidak ada. Untuk keperluan pameran saja saya harus mengumpulkan dari ahli waris lainnya. [Reporter : Ai Chintia, Taruna]

“Murid sekolahnya pun tidak hanya kaum perempuan saja, anak laki-laki juga banyak yang bersekolah di sini. “ Sekolah Dewi Sartika masih berdiri hingga kini. Ajaran-ajaran yang Dewi Sartika perjuangkan dulu masih tetap dipertahankan oleh penerusnya. Menjadi Kepala Sekolah Dewi Sartika, Rukiyah Samsimiharja sudah lebih dari 30 tahun mewariskan ilmunya kepada murid-muridnya. Ia adalah salah seorang yang dibesarkan melalui pendidikan di Sekolah Dewi Sartika. Berikut kesaksiannya kepada Jumpa saat ditemuai di Ruang Kepala Sekolah Dewi Sartika :

Bagaimana konsep pendidikan Dewi Sartika yang diterapkan disekolah ini di saat itu? Kebetulan saya juga merupakan anak dari salah satu murid Dewi Sartika sehingga hafal betul bagaimana didikan Dewi Sartika. Meskipun saya tidak pernah belajar dari Dewi Sartika langsung, tapi ibu saya suka menceritakannya. Sehingga semangat Dewi Sartika terus mengalir dalam darah saya. Oleh sebab itu terbenam dalam pikiran saya bahwa perempuan juga harus bisa memimpin dan jangan kalah dengan kaum laki-laki. Bisakah Anda ceritakan awal berdirinya sekolah ini? Pada saat Dewi Sartika mengajar didampingi oleh dua kawan seperjuangannya yaitu Poerma dan Oweit, siswa Sakola Istri berjumlah 60 orang.

Seiring berjalannya waktu, satu tahun setelah Sakola Istri berdiri tepatnya pada tahun 1905 minat siswi yang mendaftar semakin bertambah hingga ruang belajar di Paseban Timur tidak memadai lagi dan akhirnya dipindahkan ke Jalan Ciguring yang sekarang menjadi Jalan Kautamaan Istri dekat kepatihan. Awal mulanya kegiatan ini hanya diikuti oleh sepuluh orang yang terdiri dari sanak keluarganya, tujuannya pun agar perempuan bumi putera menjadi perempuan yang segala bisa dan punya rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimilikinya, tidak bergantung pada suami apalagi belas kasihan orang lain. Dari kegigihannya untuk memajukan kaum perempuan, gagasan untuk mendirikan sekolah yang merupakan cita-cita mulia dari

Sang Dewi menjadi sangat kuat hingga pada akhirnya mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Raden Aria Adipati Martanegara yang pada saat itu menjabat sebagai boepati (Bupati, -red) Bandung. Apakah yang masih dipertahankan dari Sekolah Dewi Sartika sampai sekarang? Yang menjadi kepala sekolah seorang perempuan. Hal itu untuk tetap menunjukan bahwa semangat Dewi Sartika masih ada dan akan terus tetap ada. Bidang studi keterampilan wanita masih tetap menjadi ciri khas. Misalnya saja pembelajaran meronce yaitu teknik membuat benda pakai atau hias yang memiliki makna yang sangat dalam karena ketika sedang meronce kita dituntut untuk bersabar, teliti, dan hatihati.

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

Mungkin itu salah satu tujuan Dewi Sartika yang menginginkan muridnya untuk memiliki kepribadian tersebut. Yang diubah apa saja? Murid sekolahnya pun tidak hanya kaum perempuan saja, anak laki-laki juga banyak yang bersekolah di sini. Saat ini sekolah Dewi Sartika sama dengan sekolah pada umumnya. Saat ini di depan sekolah didirikan monumen Dewi Sartika. Bagaimana pendanaan dan pengembangan Sekolah Dewi Sartika, apakah pihak keluarga berperan? Pihak keluarga telah menyerahkan semuanya kepada yayasan, sehingga yang mengelola yayasan. Untuk pendanaan kadang kita dibantu sama ibu-ibu DPR. [Reporter : Eriel, Ai Chintia]


halaman 10

JUMPA UTAMA

Dewi Sartika dalam Bingkai Foto 1

4

2

3

5

7

6 9

8

10 KETERANGAN FOTO : 1. Dewi Sartika bersama murid Sakola Kautamaan Istri, 2. Dewi Sartika bersama saudara perempuannya, 3. Patung Dewi Sartika, 4. Dewi Sartika, 5. Dewi Sartika bersama saudara perempuannya, 6. Dewi Sartika bersama guruguru Sakola Kautamaan Istri, 7. Dewi Sartika bersama guruguru Sakola Kautamaan Istri, 8. Dewi Sartika bersama guruguru Sakola Kautamaan Istri, 9. Dewi Sartika bersama suami dan keluarga besarnya, 10. Dewi Sartika bersama guruguru Sakola Kautamaan Istri, 11. Dewi Sartik bersama suami, 12. Bintang penghargaan dari Pemerintah Belanda, 13. Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia atas gelar Pahlawan Nasional Dewi Sartika, 14. Patung Dewi Sartika.

12

14

Sumber foto : Buku Sang Perintis, Dewi Sartika (Yan Daryono), Dok. Keluarga, Redaksi. JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

11 13


halaman 11

JUMPA RIA

Karya Pemenang Lomba Fotografi & Desain Poster Dalam Rangka HUT LPM Unpas ke-18

Mata Rantai oleh Addienullah Fil Ardhi

Tanamkanlah Rasa Patriotisme oleh Mochammad Ariansyah Satu untuk Indonesia oleh Cecep Ahmad Solihin

Budaya Menyatukan Keragaman Indonesia oleh Pradita Rahmawati

Tetaplah Bersatu Indonesia oleh Egi Pranjaya

What Happened oleh Alip Fajar Mulyawan JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013


halaman 12

JUMPA FOKUS

Agung Gunawan Sutrisna/Jumpa

Di Bawah Pohon Rindang, Asyik, Sejuk, dan Murah Tegar Eko Saputra

K

etika melewati Jalan Supratman, Bandung, jangan heran jika kita menemui deretan kios-kios kecil yang terbuat dari kain dan spandukspanduk bekas di bawah pohon rindang yang dikenal dengan nama DPR. Salah satu tukang cukur yang menetap di sana ialah Tatang. Sapaan akrabnya Hankai (30). Hankai menjadi tukang cukur kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, kira-kira sejak tahun 2003. Dan sekarang Hankai adalah salah satu tukang cukur DPR yang menetap di sekitar Jalan Supratman. Hari sudah mulai beranjak siang, terik matahari juga sudah mulai menembus pohon-pohon dan hampir di atas kepala. Hankai sudah sibuk dengan peralatan kerjanya melayani setiap pelanggan yang datang. Hankai hanyalah satu dari delapan tukang cukur yang mangkal di bawah pohon di sepanjang Jalan Supratman, Bandung. Tukang cukur bawah pohon itu memang sudah lama berada di sepanjang Jalan Supratman dan menjadi pemandangan tersendiri bagi orang-orang yang melewati jalan tersebut. Kondisi salon DPR tersebut cukup sederhana. Jangan bayangkan sebuah salon modern dengan puluhan kapster, ruangan berAC atau fasilitas lainnya yang biasa ditawarkan di salon modern. Tukang cukur bawah pohon ini sangat sederhana. Tidak ada hair dryer, pengriting rambut, ataupun steamer. Yang ada hanya satu kursi, satu cermin kecil yang hanya cukup untuk bercermin satu kepala dan digantung di bawah pohon, gunting, pisau cukur, bedak, sikat, dan sabun. Tukang cukur DPR bekerja mulai dari jam delapan pagi hingga jam empat sore dengan tarif tujuh ribu rupiah. Menurut Hankai, pelayanan yang diberikan di tempatnya hanya sedikit jauh berbeda dengan pela-

yanan salon modern. Tukang cukur DPR memberikan jasa potong rambut, pijat, dan cukur kumis serta janggut. Itu semua dilakukannya hanya menggunakan alatalat sederhana. Mereka bekerja masih menggunakan gunting cukur manual yang tidak menggunakan bantuan listrik seperti yang dilakukan oleh tukung cukur modern. Karena bukan bangunan permanen, maka jika hari hujan para tukang cukur tersebut harus merelakan tutup lebih awal. Bahkan jika huajnnya turun sepanjang hari maka kios mereka atau tidak buka sama sekali dan kehilangan rupiah yang semestinya masuk ke dalam kantongnya. Selain itu, para tukang cukur bawah pohon juga mengais rezeki seadanya. Selama satu hari bisa sama sekali tidak ada pelanggan yang mampir. “Kalau lagi sepi paling banyak dua pelanggan yang mampir,” ujar Hankai. Walaupun demikian berkat kesabaran dan ketekunannya, Hankai yang mengandalkan profesinya sebagai tukang cukur DPR bisa memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya. Dengan bersandar pada profesinya tersebut ia bisa membiayai seorang istri dan dua orang anaknya, hingga anaknya bisa merasakan bangku pendidikan, anak yang sulung duduk di kelas 5 SD dan anak bungsunya di kelas 1 SD. Hasil cukur Hankai tidak kalah dengan tukang cukur lainnya. Di sela-sela waktu luangnya, ia juga menerima panggilan, di antaranya acara sunatan masal. Ia juga kerap mendapat pesanan untuk mencukur rambut di beberapa instansi. Sekarang usia Hankai sebagai tukang cukur sudah cukup lumayan. Tukang cukur yang berasal dari Cibogo tersebut bisa dikatakan beruntung. Ia telah memiliki pelanggan tetap antara lain tentara, polisi, dan beberapa pega-

Musyawarah Besar XVIII Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung

wai kantor pemerintahan. Menurut komentar beberapa pelanggannya hasil kerja Hankai sangat bagus dengan harga yang murah. Bahkan Hankai memberikan servis lain seperti pijatan-pijatan kecil setelah mencukur selesai. Persaingan tetap saja ada. Hankai harus bersaing dengan tukang cukur DPR yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan dengan hasil cukur yang lebih baik. Menurut Samsudin (49), seorang konsumen di kios cukur Hankai, ia lebih memilih mencukur rambut-

asanya melakukan razia. Selain hal itu keberadaan mereka dianggap merusak pemandangan jalan. Jika ada razia mereka harus sembunyi untuk menghindar dari tangkapan satpol PP. “Kalau ada razia ya kami tutup. Tapi nanti kalau sudah aman ya buka lagi,” ujar Hankai. Apa yang mereka miliki terkadang juga disita oleh Satpol PP. Jika sudah begitu, para tukang cukur itu hanya bisa pasrah dan menebus alat-alat mereka dengan uang sebesar beberapa hari mere-

Tegar Eko Saputra/LPM Jumpa

Hankai (30) ketika melayani konsumen di kios cukur DPR-nya beberapa waktu lalu. Dari penghasilannya itu, ia dapat menafkahi seorang istri dan kedua anaknya.

nya di DPR karena harganya yang murah. Selain itu, dapat pula pijatan secara gratis. “Saya sudah jadi pelanggan dicukur di sini sejak sepuluh tahun yang lalu. Ya lumayan kalau di sini, bisa cukur dan pijat, serta harganya yang murah pula,” tutur Samsudin. Hankai dan tukang cukur lainnya hanyalah segelintir orang yang mencoba mengais rezeki dengan menjadi tukang cukur bawah pohon. Usaha mereka yang dianggap tidak berizin sehingga tidak luput dari garukan Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bi-

ka bekerja sebagai tukang cukur. Hankai sudah pernah mencoba mencukur rambut di tempat lain, namun Hankai tidak betah, ia tidak suka sebab bekerja dengan orang lain. Hankai menjadi terikat dengan orang tersebut. Dia lebih memilih untuk mandiri dan bertekun dalam pekerjaannya sebagai Tukang Cukur DPR. Hingga dengan profesinya tersebut ia bisa mebiayai kehidupan keluarganya bahkan bisa menyekolahkan kedua orang anaknya hingga anaknya bisa mengubah nasib keluarganya untuk menjadi lebih [Reporter : Agung, Tegar] baik.

Segera Dibuka Pendaftaran Calon Anggota Baru Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Pasundan Bandung

“Suksesi adalah keharusan sejarah” Bandung, 21-22 Juni 2013 JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

@lpmjumpa


JUMPA RESENSI

Hatta di Balik Kemerdekaan Indonesia Tegar Eko Saputra

U

ntuk Negeriku, buku otobiografi yang ditulis oleh Mohammad Hatta, Proklamator Indonesia. Sebelumnya, buku memoirs ini sudah dicetak dalam beberapa edisi. Namun, buku ini adalah terbitan terakhir yang diterbitkan oleh Kompas dengan penyesuaian Ejaan Yang Disempurnakan ditambah beberapa tambahan ilustrasi dan foto. Adalah Meutia Hatta – anak sulung Bung Hatta – yang berinisiatif menerbitkan kembali memoirs ayahnya yang pada tahun 2011 merupakan tahun ke-31 meninggalnya Bung Hatta. Buku ini dibagi ke dalam tiga judul buku berdasarkan perjalanan Bung Hatta, yaitu masa kecil di Bukit Tinggi hingga kuliah di Belanda, kemudian ketika berjuang mendirikan pergerakan hingga menjadi interniran di Boven Digul dan Banda Neira, serta perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Meski sudah ada banyak buku yang mengangkat biografi beliau, namun tidak lengkap rasanya jika belum membaca langsung tulisan hasil buah penanya Bung Hatta sendiri.

Buku 1 : Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi Hatta hidup di keluarga religius yang lahir 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayah dan kakeknya seorang pemuka agama. Sejak kecil jiwa nasionalismenya sudah mulai tumbuh. Ia melihat sendiri bagaimana penjajahan berlangsung selama puluhan tahun. Tidak ingin melihat penjajahan itu semakin merajalela, Hatta kecil bercita-cita untuk memerdekakan Indonesia. Untuk itulah Ia dengan disiplin bersekolah dengan tekun, dari mulai Bukit Tinggi, Sumatera Barat, Betawi (Jakarta) bahkan sampai ke luar negeri yaitu ke Rotterdam, Belanda. Di sanalah ia berkenalan dengan banyak teman, baik dari Indonesia maupun dari dunia internasional. Ia juga rajin membaca buku dan koleksi bukunya masih tersimpan rapi sampai saat ini. Di luar negeri Hatta aktif menulis untuk majalah pergerakannya yang sedang tumbuh di Hindia-Belanda. Pemikirannya Ia dedikasikan untuk merangsang rakyat Indonesia agar bisa berpikir jernih dan berani menghadapi para penjajah Belanda. Buku 2 : Berjuang dan Dibuang Buku bagian kedua bercerita tentang pengalamannya yang aktif dalam organisasi dan dibuang ke daerahdaerah terasing. Tempat-tempat yang pernah Ia tinggali ketika diasingkan di antaranya Boven Digul, Banda Neira, dan Sukabumi. Beliau dibuang oleh pemerintah Belanda untuk sementara karena pergerakannya yang dianggap bisa meruntuhkan kejayaan Pemerintahan Belanda di Indonesia ketika itu. Meskipun begitu ia tetap saja dihormati dan dihargai oleh pemerintah

AKTIVITAS

halaman 13

Lembaga Pers Mahasiswa Musyawarah Besar 18 21-22 Juni 2013 Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar Oktober 2013 Unit Kegiatan Mahasiswa Serah Terima Jabatan Ketua/Komandan Juli 2013 Orientasi Pengenalan Mahasiswa Baru September 2013 Resimen Mahasiswa Musyawarah Kerja 30 Juni-1 Juli 2013 Judul : Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi ISBN : 9789797095406 Penulis : Mohammad Hatta Penerbit : Kompas Terbit : Februari 2011 Halaman : 808

Hindia-Belanda sebagai tokoh ekonomi. Diceritakan pula bagaimana Bung Hatta bertemu dengan Bung Karno untuk pertama kalinya di sebuah hotel di Bandung. Kemudian mereka mendirikan sebuah partai yang berpengaruh pada masa itu. Cerita kesehariannya di Boven Digul juga dibahas di bagian ini bersama kawan-kawan dari PNI. Selain itu, ada juga pengalamannya dibuang ke Banda Neira, di mana beliau akan bertemu orang-orang penting seperti Sutan Syahrir, dr. Soerojo, dan Tjipto Mangoen Kusumo di sana. Buku 3 : Menuju Gerbang Kemerdekaan Buku seri ketiga ini bercerita tentang sejarah perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia dari Bung Hatta kembali ke Indonesia. Ada banyak cerita unik ketika saat-saat proklamasi itu dirumuskan, yang mungkin tidak ada di buku-buku sejarah sekolah yang kita kenal dan pelajari selama ini. Kita akan dibawa ke masa bagaimana Sukarno-Hatta diculik oleh anggota PETA ke Rengasdengklok, Karawang. Juga hubungan pemerintah Jepang dengan Indonesia ketika itu, sebelum akhirnya Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu. Diplomasi kedaulatan Indonesia banyak dipaparkan di buku ketiga ini. Perjuangan rakyat yang turut andil mempertahankan kemerdekaan harus dihargai karena memang tak luput dari masa-masa itu. Saat itu ibukota Negara Indonesia ini pernah mengalami masa darurat, sampai-sampai harus dipindahkan dari Batavia ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Buku ini berakhir dengan di-

setujuinya Perjanjian Roem-Royen yang melepas status Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang berdaulat dan diakui oleh banyak negara di Asia dan dunia (PBB). Sebagai otobiografi seorang proklamator, buku ini menjadi sumber sejarah yang sangat penting. Sejumlah peristiwa yang sebelumnya menjadi kontroversi, akan memperoleh perspektif lain. Dari buku ini kita dapat melihat bagaimana Hatta dan orang-orang yang terlibat dalam usaha kemerdekaan Indonesia, adalah orang-orang yang berjuang tanpa pamrih. Apa yang mereka lakukan adalah untuk mengakhiri penindasan yang dilakukan oleh kaum kolonialis dan imperialis. Tulisan pada buku ini mudah dipahami oleh para pembaca. Buku ini berfokus pada pemikiran dan pengalaman Hatta dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Nuansa dunia agam, pendidikan dan politik lebih banyak diceritakan pada buku Untuk Negeriku ini yang hasil revisi asli dari memoirs Bung Hatta. “Waktu kutanyakan kepada pamanku, apa sebab ada penjagaan serdadu dekat rumah dan apa sebab orangorang yang lewat diperlakukan seperti itu, ia ceritakanlah peristiwa pajak, Plakat Panjang, dan Perang Kamang itu. Tidak banyak yang bisa kutangkap dari apa yang diceritakannya itu. Yang teringat bagiku hanya katanya, ‘Belanda tidak dapat dipercaya, ia melanggar janji,’ Dalam jiwaku tertanam perasaan Belanda jahat. Inilah kesan yang ditimbulkan oleh peristiwa jembatan itu dalam kalbuku.” (Mohammad Hatta)

Kartini, Wanita Pingitan yang Melampaui Zamannya Elva Dwi Varana

“Oh, andaikan saja aku dilahirkan sebagai laki-laki, aku juga seorang pemberani dan tidak terkurung di sangkar emas seperti ini, aku akan meneruskan perjuangan Raden Mas Ontowiryo. Tembok ini terlalu kuat membelengguku, aku tak bisa berkutik, hanya pikiran-pikiranku yang mengembara setelah membaca buku-buku tentang garis nasib ketertindasan. Ya, seandainya penjara tembok ini bukanlah garis nasib yang ditentukan Gusti Pangeran padaku, tentu aku bisa segera keluar dari tempat ini. Tapi, aku sendiri tidak tahu, apakah ini garis nasib dari Gusti Pangeran atau belenggu tradisi?”

I

tulah salah satu kutipan yang terdapat dalam buku The Chronicle of Kartini, sebuah novel biografi inspirasional yang ditulis oleh Wiwid Prasetyo. Buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang wanita Jawa bernama Kartini yang memperjuangkan kesetaraan hak antara wanita dan pria di Indonesia. Dibesarkan di tengah keluarga dengan tradisi Jawa yang sangat kental, membuat Kartini tak memiliki ruang untuk bergerak yang terlalu banyak. Sejak kecil ia sudah memiliki jiwa yang kuat, pemikiran yang cerdas, dan cara pandang yang jauh melampaui zamannya. Namun keterbatasan pergerakan Kartini membuat ia harus berjuang lebih untuk menyuarakan jerit hatinya. Kartini mulai merasa ada perbedaan hak antara wanita dan pria ketika ia menginjak usia remaja. Saat itu ia harus diberhentikan dari sekolah oleh romonya, Raden Mas Sosroningrat, dengan alasan agar Kartini tidak menjadi liar dan tetap dapat menjaga sopan santunnya sampai tiba waktunya Kartini bertemu dengan calon

suaminya. Kartini berusaha untuk memberontak, namun akhirnya ia Judul : The Chronicle of Kartini : harus mengalah karena tak ingin Gadis Ningrat Pengubah Wajah Wanita Jawa melawan romo yang dicintainya. dan Pencetus Sekolah Wanita Pertama Kategori : Novel, Sejarah, Biografi Setelah keluar dari sekolah, Penulis : Wiwid Prasetyo Kartini mencari cara lain agar ia Penerbit : Laksana, Diva Press tetap bisa memperjuangkan nasib ISBN : 978-602-955-958-3 wanita Jawa. Ia berusaha memanTebal : 414 halaman faatkan buku-buku yang diberikan oleh romonya untuk memperluas pengetahuannya demi memberantas kesengsaraan di dalam bangsanya. Berbagai ilmu yang ia reguk membuat keinginan Kartini untuk pergi ke Belanda semakin memuncak. Meskipun dalam prosesnya ia menemukan banyak rintangan juga ia menuturkan segala yang ia rasakan. yang membuat ia harus menunda keinginannya terseNamun yang disayangkan, penulis hanya menulisbut. kan sedikit cerita tentang kehidupan Kartini ketika ia Di dalam novel ini diceritakan pula usaha Kartini harus kalah dengan tradisi dan akhirnya menikah demembuat sekolah untuk para wanita Jawa agar mereka ngan seorang Bupati Rembang, Raden Mas Joyo Adimemiliki kecerdasan dan dapat mengubah nasibnya ningrat. di kemudian hari. Novel ini sangat menginspirasi. WiPenulis hanya menuliskan cerita tersebut dalam wid Prasetyo menuturkan setiap cerita dengan dengan 2 Bab terakhir, padahal itu adalah sebuah kisah yang runtut, mengalir, dan apik sehingga seakan kita sedang terlihat menarik karena kita harus mendapati bahwa memasuki zaman Kartini, hidup bersamanya, dan me- cita-citanya untuk mengembangkan sekolah yang dinyaksikan sendiri segala sepak terjangnya, sejak di- buatnya harus terempas dengan pernikahan Kartini lahirkan hingga maut menjemputnya. Di dalam novel yang dilatarbelakangi oleh adat tersebut. Namun itu tiini juga terdapat beberapa isi suratnya yang dikirim- dak mengurangi kualitas dari novel ini. Novel ini tetap kan kepada sahabat penanya di Belanda. Dalam surat- berhasil menghadirkan napak tilas Kartini yang hebat, nya terlihat betapa luas pemikiran Kartini karena ia inspirasional, dan simbol kekuatan dahsyat dalam jiwa menceritakan apa yang terjadi di dalam bangsanya dan wanita Jawa.

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013


halaman 14

JUMPA KHUSUS

Mengenal Dekat Bung Karno Lewat Pameran Eriel Fauzi

J

uni adalah bulan lahir dan meninggalnya Sukarno. Semua orang punya caranya sendiri untuk untuk mengenang jasa-jasa Sukarno. Di Blitar kota kelahiran dan tempat peristirahatan Bapak Proklamasi tersebut mengadakan haulan setiap tahun untuk memperingati bulan Sukarno. Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) punya caranya sendiri. Dengan tema bertajuk ‘Refleksi 112 Tahun Bung Karno’ di Selasar Timur Museum KAA memamerkan 100 foto langka. Selain foto, di sana juga terpampang bukubuku karya Sukarno, seperti Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 dan 2, Indonesia Menggugat, Mencapai Indonesia Merdeka, Sarinah, dan lain-lain. Sudah dua tahun Museum KAA menggelar acara yang sama. Untuk tahun ini foto-foto tersebut akan dipamerkan mulai tanggal 18 Juni hingga 30 Juni 2013. Selama itulah semua lapisan masyarakat bisa mengenal dekat Sukarno. Bahkan saat Jumpa berkunjung sebelum peresmian sudah banyak masyarakat yang datang ke pameran tersebut karena bertepatan dengan hari libur sekolah. “Pembukaan secara resminya besok, oleh kepala museum,” ujar M. Reza Mansyoor, PLT. KaSie Dokumentasi dan Pelestarian Museum KAA. Di antara sekian banyak foto yang dipamerkan, tak sedikit yang memperlihatkan peran penting diplomasi Indonesia. Berbagai aktivitas Sukarno di kancah internasional terekam dalam 47 buah foto langka Sukarno koleksi Demas Korompisdan. Juga 53 koleksi foto langka Sukarno hasil jepretan juru foto termuda KAA 1955, Inen Rusnan. Pada tahun 2004, Demas yang merupakan pengagum Sukarno menghibahkan koleksi fotonya kepada pihak mu-

Eriel Fauzi/LPM Jumpa

Beberapa koleksi buku karya Ir. Sukarno yang dipamerkan di Museum Konperensi Asia Afrika beberapa waktu lalu. Di antaranya ada buku ‘Mencapai Indonesia Merdeka’ yang ditulis Sukarno sebelum Indonesia merdeka. Atas karangannya itu, Sukarno oleh kolonial Belanda diadili, dipenjara, dan diasingkan.

dan menjadi Bendera pertama yang dikibarkan saat Indonesia mengatakan diri merdeka. “Inginnya dibawa, tapi kondisi benderanya sudah tidak memungkinkan. Katanya demi mendapatkan bendera tersebut Pak Demas rela menukarkan mobilnya,” ucap Reza. Setahun setelah Demas menyerahkan koleksi fotonya, tepat pada tahun

Eriel Fauzi/LPM Jumpa

Seorang pengunjung melihat koleksi foto Sukarno yang terpajang. Foto-foto yang terpajang di acara pameran tersebut, tidak hanya foto Sukarno ketika berada di Indonesia, namun juga ketika ia melawat ke berbagai negara di penjuru dunia.

seum. “Awalnya kita datang gak sengaja ke rumah Pak Demas, pas datang ternyata Pak Demas adalah pengagum Sukarno karena semua ruangan di rumahnya ditempel foto dan atribut Sukarno”, ujar Reza. Tidak hanya itu, bahkan Demas menurut Reza mempunyai bendera yang dijahit oleh Fatmawati, isteri Sukarno,

2005, Inen Rusnan pun akhirnya menghibahkan kamera foto dan seperangkat alat pencetak foto kepada museum. Di sebuah ruangan yang berada di dekat perpustakaan KAA terpajang sekitar 100 foto langka Sukarno. Setiap foto yang dipamerkan mempunyai kisah dengan nilai keteladanan yang inspiratif bagi kaum muda. Salah satu foto tergambar bagaimana Sukarno pidato dalam

rangka peresmian kampus Universitas Padjadjaran di daerah Dipatiukur. Ada foto Sukarno berpidato tanpa podium, hanya menggunakan meja untuk berdiri dan kursi untuk menaikinya. “Menurut saya foto ini lucu, Bung Karno berpidato tidak di atas podium tapi sebagai presiden kala itu ia mau dan tidak menjadi masalah,” kata Reza. Di foto lain pun terlihat ketika Sukarno sedang naik kereta api, rakyat menunggu di pinggir jalan untuk bersalaman. Bahkan ada foto seorang laki-laki tua yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek, sarung melilit di lehernya tengah bersalaman dengan Sukarno. Sukarno menyambut laki-laki itu dengan senyum khasnya. Selain dengan rakyat, Sukarno dekat dengan para pemimpin dunia terbukti dengan berhasil terselenggaranya Konferensi Asia Afrika dan tidak sedikit pula foto yang menunjukan keakraban Sukarno dengan para pemimpin dunia, seperti John F. Kenedy, Jawaharlal Nehru, dan lain-lain. Banyak pengunjung yang tertarik dengan koleksi foto langka Sukarno, hal itu tidak terlepas dari kelihaian Demas dan Inen dalam mengambil foto. Bahkan Reza Mansyoor pun kagum dengan hasil karya mereka. Hasil foto mereka tidak kalah dengan kamera digital saat ini, padahal pada saat itu teknologi yang ada tidak secanggih saat ini. “Bahkan fotonya Pak Inen itu, saya cetak dari klisenya langsung,” kata Reza. Di sudut ruangan pameran ada foto yang memperlihatkan suasana pada saat Sukarno menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Foto tersebut diambil pada tahun 1969 ketika Sukarno tengah mengidap sakit ginjalnya yang parah dan Sukarno sudah menjadi tahanan politik. “Foto ini termasuk foto yang jarang orang punya, dan Pak Demas mungkin satu-satunya yang punya,” kata Reza. Ketika melihat kehadiran Sukarno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya ter-

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

masuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno yang pada saat itu sudah menjadi tahanan rumah dan menciumi suaminya itu. Sukarno dalam foto itu berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan. Itulah yang tergambar dari lima foto hasil karya Demas yang dipamerkan, masih banyak lagi foto unik yang tidak pernah dipublikasikan sebelumnya. Selain pameran foto langka Sukarno, Museum KAA pun mengadakan pemutaran dan diskusi film Bung Karno, The Founding Father. Reza mengungkapkan bahwa di kesempatan yang akan datang Museum KAA ingin menampilkan koleksi 3 dimensi Sukarno seperti atribut, jubah, topi, sepatu, dan sebagainya yang saat ini berada di Museum Blitar. Acara ini digelar agar masyarakat bisa mengenal lebih dekat dengan Presiden Pertama Indonesia tersebut. Dengan melihatnya dalam bentuk gambar-gambar masyarakat akan menilai sendiri betapa besar jasa Sukarno dalam memperjuangkan kemajuan Indonesia. Bahkan Sukarno berkeliling negeri orang lain membawa para pekerja seni agar negara yang dikunjunginya tersebut tahu Indonesia memiliki keragaman seni dan budaya. “Ini salah satu foto yang menggambarkan betapa Sukarno ingin masyarakat luar tahu seni dan budaya Indonesia,” kata Reza sambil tangannya menunjuk sebuh foto di mana Sukarno berdiri melihat para penari. Siti Khasanah, salah satu pengujung yang datang dari Semarang antusias melihat pameran foto tersebut. Ia menunjukan foto-foto dan bercerita tentang siapa Sukarno kepada anaknya yang masih berumur lima tahun. “Saya kesini ikut suami yang guru SMP 3 Sole Remcang tapi saya senang, pameran ini sangat bagus kita bisa mengenang sejarah apa lagi untuk anakanak sekolah,” katanya. [Reporter : Ai Chintia, Eriel]


JUMPA TOKOH

halaman 15

Mencintai Bandung Lewat Karya Muhammad Taruna Prima Rahardi

“Buat Anda yang pernah berkunjung ke Bandung, khususnya Jalan Braga yang dulu lebih dikenal dengan nama Pedatiweg. Kenapa dinamai Pedatiweg? Karena dulu Jalan Braga adalah tempat berlalulalangnya pedati sebagai alat angkut penumpang dan hasil bumi, khususnya kopi yang diambil dari gudang kopi (yang sekarang balai kota).” Sudarsono Katam - Bandung Tempo Doeloe

i

ad

rib

.P

k Do

S

udarsono Katam dalam buku ini bercerita tentang Kota Bandung tempo dulu. Dalam buku ini diceritakan kota Bandung asri, bersih, dan nyaman. Penulis yang lahir di Lampung 61 tahun silam tersebut sangat mencintai Bandung. Walaupun ia bukan penduduk asli Bandung. Orang tuanya pindah ke Bandung ketika ia duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. “Awalnya saya terpaksa tinggal di Bandung karena harus menemani orang tua,” ungkapnya kepada Jumpa saat ditemui di rumahnya. Namun dari keterpaksaannya, muncullah kecintaan terhadap Bandung. Hal itu ia tunjukkan dalam beberapa karyanya yang mengangkat Bandung, di antaranya Bandung Tempo Doeloe, Kilas Peristiwa di Mata Filatelis : Sebuah Wisata Sejarah. Kecintaannya pada dunia menulis mulai ditekuni ketika pensiun dari Pusat Badan Nuklir Nasional pada tahun 2002. Tidak hanya menulis, di sisa pensiunannya, alumni ITB tersebut membuka kios buku. Ketika kita memasuki ruang tamunya akan disambut oleh kumpulan buku-buku tua yang tersusun rapi di raknya. Buku-buku yang dijual merupakan koleksinya yang menumpuk dan kadang ia pun mendapatkannya dari tukang loak. Misalnya, saat Jumpa berincang-bincang dengannya, ada tukang loak yang menawarkan buku namun ia tidak jadi membelinya. “Bukunya sudah saya lihat kemarin, ngga ada yang bagus, eh hari ini dianterin lagi kesini,” katanya. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kenangan bersama kedua orang tuanya. Ia sangat ingat didikan kedua orang tuanya yang keras dan disiplin hingga membentuk karakter yang sama sampai saat ini. “Didikan yang diajarkan oleh orang tua saya adalah didikan keras dan tahu disiplin, bisa komitmen, menepati janji, dan tepat waktu,” katanya sambil mengenang masa lalu bersama orang tuanya. Sudarsono Katam pun mendapatkan beberapa penghargaan atas karya-karyanya dan terpampang di dinding ruang tamunya. Saat ditanyakan tentang penghargaan tersebut, dirinya

SKETSA KAMPUS

dok. Mapak Alam

MAPAK ALAM. Kejuaraan Panjat Dinding tingkat Nasional, April 2013

dok. LPM Unpas

FAKULTAS EKONOMI. Aksi demonstrasi sebagian mahasiswa Fakultas Ekonomi menolak harga kenaikan Semester Pendek (SP).

dok. LPM Unpas

LEMBAGA PERS MAHASISWA. Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar.

dok. LPM Unpas

KELEMBAGAAN FKIP. Dialog Kelembagaan untuk Calon Ketua Umum BEM dan DPM FKIP.

JUMPA, EDISI 43/Th.XVIII/2013

menanggapinya dengan biasa saja. Menurutnya penghargaan terbesar bagi hidupnya jika ada yang membaca karyanya datang ke rumahnya. “Saya senang jika ada yang membaca buku saya datang ke rumah untuk diskusi,” katanya. Sudarsono Katam mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah karena kebijakannya yang tidak mendukung kelestarian kota tua di Bandung. “Pemerintah hanya mengutamakan keuntungan semata. Dan adanya hotel, restoran, atau cafe yang menjamur di Bandung dirasa sebenarnya bukan kemajuan kota melainkan kemunduran kota Bandung,” katanya. Selain itu banyak fasilitas kota Bandung yang tidak terawat, contohnya saja lampu lalu lintas yang berada di Jalan Braga sekarang sudah tidak berfungsi, padahal dahulu ini menjadi salah satu ciri Jalan Braga. Bahkan menurutnya banyak yang berubah di Jalan Braga, misalnya penjahit yang bisa menjahit satu stel jas bangsawan Belanda hanya dalam satu hari. Berbeda dengan sekarang jika ingin menjahit satu stel jas harus menunggu beberapa hari. Ia berpesan kepada para generasi muda untuk tidak masuk ke dunia politik, bahkan sangat menyayangkan atas tindakan beberapa aktivis muda yang dianggap sebagai aktivis lingkungan yang saat ini mulai merambah dunia politik. “Kalau sudah masuk pasti akan terjebak, kalau mau jadi aktivis, ya aktivis saja,” katanya. Selain itu, ia berpesan pada generasi muda agar tidak apatis terhadap lingkungan, khususnya Kota Bandung yang rusak oleh orang yang mengutamakan kepentingan pribadi. “Generasi muda tidak boleh berlarut oleh kebijakan pemerintah yang tidak melestarikan sejarah Kota Bandung. Salah satu sejarah Kota Bandung adalah bangunan Bandung Tempo dulu,” harapnya.

[Reporter : Ai Chintia, Taruna]

dok. LPM Unpas

UNIT KEGIATAN MAHASISWA. Pembukaan Musyawarah Kerja Bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Unpas 2013.

dok. Menwa

Resimen Mahasiswa. Anggota Resimen Mahasiswa Kompi-E Unpas berfoto bersama setelah melaksanakan kegiatan bhakti sosial.


www.unpas.ac.id

Menjual buku baru/bekas berkualitas. Menerima pesanan beragam jenis buku.

“I’d volunteer to go to prison, as long as there are books. Because with books I am free.”

― Mohammad Hatta

Alamat Jl. Tamansari, Bandung (depan Kampus Unpas), Telepon 085720106898 Pin 29A2F45C Facebook Ara Mantra Zahra Twitter @mantrabook Email kepalan@gmail.com Blog www.tokobukumantra.blogspot.com

Tabloid jumpa 43