ARCHITECTURE
Resilient Urban Development in the Face of Poverty
Resilient Urban Development in the Face of Poverty
Jakarta berperan sebagai pilar utama perekonomian indonesia. Namun, Jakarta terus menghadapi berbagai tantangan serius terkait kesenjangan ekonomi. Fenomena Jakarta menyoroti ketimpangan ekonomi yang semakin dalam di antara lapisan masyarakatnya. Dampak dari pertumbuhan ekonomi yang tidak merata telah memperkuat siklus kemiskinan, menyulitkan upaya untuk keluar dari jeratan kemiskinan. Buku ini bertujuan untuk menawarkan beragam solusi arsitektur untuk mencapai resiliensi, serta menjadikan Jakarta sebagai kota yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat, terutama kepada mereka yang terjebak dalam kemiskinan.
Jakarta memiliki relevansi ekonomi sebesar
5.252.396 people. 1,45%
Jakarta as a city
Jakarta menjalankan peran kruisial sebagai pilar perekonomian indonesia dengan menyumbang relevansi ekonomi sebesar 1/4 dari PDB
Indonesia. Jakarta memimpin dalam hal upah minimum, menarik para pencari kerja dengan berbagai potensi ekonomi yang melimpah. Fenomena ini menyebabkan peningkatan jumlah tenaga kerja di jakarta setiap tahunnya, menggambarkan kekuatan ekonomi dibalik megahnya kota
Jakarta.
Polarization of economic growth
Polarisasi ekonomi adalah fenomena di mana setiap daerah memiliki pusat pertumbuhan yang menarik tenaga kerja (Myrdal, 2018). Hal tersebut menimbulkan Backwash Effect pada wilayah Jakarta yang berada pada fase pertumbuhan ekonomi
Polarization Backwash-effect
pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dapat meningkatkan ketimpangan antara wilayah yang maju dan tertinggal. Hal tersebut menimbulkan fenomena di mana orang kaya cenderung mendapatkan lebih banyak kekayaan atau kesempatan ekonomi, sementara orang miskin cenderung terjebak dalam siklus kemiskinan yang sulit untuk ditinggalkan.
“The rich get richer and the poor get poorer”
Percy Bysshe Shelley
477.800
masyarakat Jakarta berada dibawah garis kemiskinan (2023)
SPREADS ALL OVER
THEY ARE Covid-19
WHEN DISASTER COMES
Memiliki income economy yang rendah merupakan sebuah barrier untuk sebuah kota dimana dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, kesejahteraan kota menurun.
Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta menciptakan sebuah paradoks kontras, dimana kondisi ekonomi kota berjalan beriringan dengan ketidaksetaraan yang semakin dalam di antara lapisan masyarakatnya. (data 1)
Pendapatan bulanan dibawah
792.515 rupiah mengklasifikasikan individu/sekelompok masyarakat kedalam golongan miskin.Pada tahun 2023, 477.830 penduduk jakarta sedang bergumul melawan kemiskinan. Fenomena yang terjadi dari pinggiran hingga pusat jakarta tanpa terkecuali menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah Jakarta layak disebut sebagai pusat ekonomi ketika hampir setengah juta penduduknya terperangkap dalam kemiskinan?
Menghadapi kemiskinan merupakkan sebuah tembok tinggi yang harus dihadapi bukan hanya bagi masyarakat saja, namun juga bagi sebuah kota. Masyarakat dengan ekonomi dibawah garis kemiskinan memiliki kerentanan yang lebih tinggi akan berbagai kejadian/bencana yang tidak terduga (Lederbogen et al., 2011). Hal ini dibuktikan dengan angka kemiskinan Jakarta yang meningkat secara pesat dalam rentang tahun 2019-2020 akibat COVID-19. Tanpa penanganan yang memadai terhadap kemiskinan, ancaman berbagai bencana dapat kembali memicu lonjakan drastis dalam angka kemiskinan.
“Being relatively poor may be a barrier to taking a fully active part in society”
College London Institude of Health Equity
What causes poverty in Jakarta?
Rp. 5.800.000
between Agrarian society & Fisherfolks in Jakarta
Rp. 1.630.000
Paceklik Normal
AGRARIAN SOCIETY
2022
Rp. 3.850.000
Data source: jakarta.bps.go.id
Rp. 1.500.000
Paceklik Normal
FISHERFOLKS
2021
Musim paceklik seringkali terjadi di sektor produksi pertanian dan perikanan. Di sektor pertanian, musim paceklik sering kali terjadi ketika cuaca ekstrem seperti kekeringan atau banjir mengganggu produksi tanaman dan ternak. Sedangkan paceklik dalam sektor perikanan terjadi ketika kondisi laut menjadi berbahaya bagi para nelayan, seperti adanya ombak besar atau cuaca buruk lainnya.
Musim tersebut berdampak terhadap gagal panen, kehilangan pekerjaan, pendapatan menurun yang berakhir ke kerentanan serta kemiskinan aktor yang terlibat.
PT. Kapuk Naga Indah
PT. Jakarta Propertindo
PT. Muara Wisesa Samudera
PT. Taman Harapan Indah
PT. Jaladri Kartika Ekapaksi
PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk
PT. Manggala Krida Yudha
PT. Pelindo II
Pemprov
DKI Jakarta
Perubahan geografis yang
dihadirkan oleh pembangunan pulau reklamasi membawa
dampak yang signifikan bagi
sosial dan ekonomi warga sekitar, sementara pemodal menjanjikan kemakmuran.
Transformasi wilayah yang
didominasi oleh lautan menjadi
pulau buatan mengubah pola
hidup dan mata pencaharian masyarakat setempat secara drastis.
Hilangnya akses ke perairan untuk nelayan sebagai mata pencaharian utama, terganggunya ekosistem laut, serta perubahan dalam struktur ekonomi lokal, semuanya menyebabkan ketidakpastian dan perubahan yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
between Agrarian society & Fisherfolks in Jakarta
Data source: jakarta.bps.go.id
Jobless
Pada bulan Agustus tahun 2023, Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) di Provinsi DKI
Jakarta mencapai 6.53 persen.
Meskipun jakarta mengalami
penurunan persentase pengangguran dibandingkan
tahun 2022 (7.19 %), persentase pengangguran Laki-laki pada tahun 2023 cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Isu pengangguran di Jakarta dapat mengarah ke masalah ekonomi yang lebih besar yaitu kemiskinan. Salah satu faktor yang menciptakan pengangguran adalah kurangnya sumber daya dan lapangan pekerjaan.
Banjir di Jakarta merupakan permasalahan kompleks yang
berimplikasi kepada beberapa aspek ketahanan kota. Banjir menyebabkan kerusakan
infrastruktur, kerugian material, dan terhambatnya aktivitas ekonomi. Masyarakat miskin dan marginal yang tinggal di daerah rawan banjir terdampak paling parah.
Menurut National Geographic Indonesia, Diperkirakan kerugian akibat banjir di Jakarta pada tahun 2050 dapat naik hingga lima kali lipat jika tidak ada intervensi kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim dan perkembangan daerah pemukiman.
How to achieve resilience in the face of poverty?
To address the factors of poverty.
Creates Architectural Solution
with Resilience Approach
SDGs No. 1, No Poverty
“If money isn’t everything, what is the full recipe of happiness?”
Charles Montgomery
“Hope is often overlooked, but when hope dies so does motivation”
Jenny donovan
A Hope for Fisherfolks
Miskin di laut yang kaya merupakan idiom yang melambangkan para nelayan miskin di indonesia. Kemiskinan yang dialami nelayan menandakan kerentanan mereka pada ranah ekonomi. Faktor pemicu kemiskinan pada nelayan adalah biaya operasional yang terus meningkat namun pendapatan semakin menurun. Disisi lain nelayan lokal juga menghadapi musim paceklik ikan yang berdampak terhadap pendapatan mereka karena tidak dapat melaut.
Perencanaan kembali kawasan pesisir Muara angke bertujuan untuk memberikan solusi atas kemiskinan nelayan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan yang tidak seimbang. Perancangan ini menangani masalah kerentanan terhadap nelayan ketika menghadapi musim paceklik dan berbagai masalah lingkungan yang berdampak pada penurunan produktivitas Fisherfolks di Kampung Muara Angke.
Project Data
Location: Muara Angke, Jakarta Utara
Area: 50.000 m2 (5 Ha)
Project type: Coastal
Year: 2024
“Faith is to believe what you do not see; the reward of this faith is to see what you believe”
Saint Augustine
Independent system on the verge resiliency
Dampak perubahan geografis dengan terus maraknya pembangunan pulau-pulau reklamasi di Indonesia tidak dapat dihindari. Memang tampak secara garis besar pembangunan pulau reklamasi bertujuan untuk mendorong ekonomi di Indonesia oleh industri-industri. Namun, kesejahteraan rakyat kecil yang langsung berhadapan dan merasakan dampak dari pembangunan ini memicu faktor kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka dengan pendapatan yang semakin meningkat dan penghasilan yang semakin menurun.
Daerah kampung Kalibaru menghadapi pembangunan reklamasi yang dimulai pada tahun 2013 dimana mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan tidak lagi memiliki akses secara langsung karena ada blokade dari pembangunan pulau reklamasi tersebut. Mengakibatkan isu yang fatal pada warga-warga Kalibaru dalam menghadapi kemiskinan secara ekonomi, tempat tinggal, dan identitas sosialnya.
Perancangan ini membuka peluang untuk menghadapi isu yang sudah terjadi namun berpikir secara jangka panjang bagaimana mereka dapat menciptakan sistem yang independen dan resilien untuk potensi isu yang mendatang dan mengatasi masalah kesejahteraan, ekonomi, dan identitas mereka sebagai warga Kalibaru yang sangat berpotensi untuk memasuki jendela tersebut.
Project Data
Location: Kalibaru, Jakarta Utara
Area: 30.000 m2 (3 Ha)
Project type: Coastal
Year: 2024
“It’s about the realization of talent and potential, and the feeling that you are able to make the most of your abilities in life.”
Montgomery
A Maximization of Agricultural Potential
Kampung kapuk
Pada tahun 19 Daerah Kapuk merupakan sebuah daerah yang dipenuhi oleh sawah dan ladang perkebunan. seiring berjalannya zaman kawasan ini berubah menjadi kawasan yang dipenuhi pabrik-pabrik hingga hanya menyisakan setitik ladang perkebunan. bahas masalah lagi terus potensi
Perancangan ini menangani masalah produktivitas perkebunan yang terbatas
kerentanan terhadap nelayan jobless ketika menghadapi musim paceklik dan masalah environmental yang berdampak pada penurunan produktivitas coastal communities di Kampung Muara Angke.
Project Data
Location: Kapuk, Jakarta Barat
Area: 40.000 m2 (4 Ha)
Project type: Farmland
Year: 2024
"We need to build cities that are more inclusive and equitable. We need to create spaces where everyone feels welcome and safe."
Peggy Deamer
A Space for Refugees to Recover & Thrive
Kawasan bantaran Sungai Ciliwung, khususnya di kelurahan Cawang, dihadapkan pada permasalahan banjir yang kian memprihatinkan. Banjir yang kerap melanda kawasan ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga dan menghambat roda ekonomi, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur dan membahayakan keselamatan jiwa.
Salah satu faktor utama yang memperparah dampak banjir di kawasan ini adalah minimnya infrastruktur penanggulangan banjir, termasuk tempat pengungsian yang memadai. Saat ini, tempat pengungsian yang tersedia umumnya bersifat sementara dan tidak terpusat, sehingga menyulitkan koordinasi dan pemberian bantuan kepada para korban banjir.
Perancangan ini berusaha menjawab kebutuhan kritis untuk merancang pusat evakuasi terpusat di kawasan tersebut. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengungsian saat terjadi banjir, tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial komunal ketika tidak dalam keadaan darurat. menawarkan tempat berlindung yang aman dan nyaman bagi para pengungsi, memastikan akses mudah ke layanan penting, memfasilitasi upaya pemantauan dan dukungan, serta mendorong interaksi dan hubungan sosial di dalam komunitas setempat.
Project Data
Location: Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur
Area: 16.000 m2 (1.6 Ha)
Project type: Disaster Relief Center Year: 2024
“In some native language the term for plants translate to ‘those who take care of us.’”
Robbin Wall Kimmerer
Hutan Kota Rawa Buaya adalah salah satu ruang hijau baru yang menawarkan keindahan alam yang menakjubkan di Jakarta Barat. Keberadaannya memiliki dampak positif terhadap lingkungan sekitar, seperti menjaga kualitas udara dan meminimalisir risiko banjir. Tempat ini memiliki ciri-ciri khusus, seperti vegetasi yang lengkap dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Selain itu, keberadaan Hutan Kota Rawa Buaya memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya sebagai ruang hijau di tengah perkotaan dan tempat rekreasi yang ideal.
Seiring dengan perkembangan zaman, kawasan rawa buaya mulai redup akibat pembangunan besar-besaran oleh beberapa perusahaan besar serta meningkatnya kepadatan rumah dan penduduk pada bagian area hijaunya. Akibatnya eksistensi dari kawasan rawa buaya tersebut sebagai penyumbang kualitas udara dan pengurangan banjir mulai tergerus karena pengaruh citra kawasan rawa buaya itu sendiri. Tidak hanya itu, posisi kelurahan rawa buaya ini juga kurang strategis karena di area dataran rendah sehingga meningkatkan resiko banjir mau itu dari hujan atau kiriman dari daerah denga elevasi yang lebih tinggi. Walau telah ada sistem irigasi dengan pembangungan waduk dan pintu air tetapi masih tetap tidak dapat mengatasi persoalan banjir yang terjadi sehingga petugas ppsu atau tim baju oren harus datang membersihkan selokan dan sebagainya.
Project Data
Location: Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat
Area: 21.000 m2 (2.1 Ha)
Project type: Disaster mitigation Center Year: 2024