Page 1

9

VOLUME

2020

K I L A U

B U D A Y A

I N D O N E S I A

DARI BANDA UNTUK DUNIA KUASA ATAS LADA, “EMAS HITAM” DARI BANTEN PANDEMI, MOMENTUM KEBANGKITAN REMPAH ISSN 2406-8063

9

772406

PESONA PENINGGALAN KESULTANAN SAMBAS

806005

2020, VOL. 9 INDONESIANA 1


foto: Lili Aini https://www.shutterstock.com/g/aini

Alu Katentong, kesenian memukul alu hingga menghasilkan nada tertentu yang dilaksanakan di Tanah Datar, Sumatra Barat, ketika panen padi tiba. 2 INDONESIANA VOL. 9, 2020


P ENGA NT AR Restu Gunawan Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan

Tetap Menjaga Nyala Budaya Riau. Mereka sejak dulu secara

dan perayaan-perayaan tidak hanya

Indonesiana Volume 9 tahun 2020 bisa

turun-menurun telah menanam dan

sekadar memiliki fungsi praktis

hadir didepan para pembaca yang

membudidaya sekitar 100-an jenis

namun juga memuat nilai-nilai serta

terhormat. Meskipun dalam kondisi

tanaman yang bisa diramu menjadi

pandemi covid 19, Tim Redaksi Majalah

obat-obatan tradisional, sehingga

petuah-petuah kebaikan, baik yang

Indonesiana berusaha keras agar majalah

masyarakat selalu merasa aman dan

ini bisa terbit. Tentu dengan hambatan

selalu bersiap saat datang wabah.

dan tantangan yang harus dihadapi.

Masyarakat Meratus bahkan telah

Puji syukur alhamdullilah Majalah

berhubungan dengan siklus lingkaran hidup manusia, menjaga alam hingga yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Majalah Indonesiana yang ditulis

menyimpan cadangan bahan pokok

dalam beberapa Bahasa diharapkan

hingga cukup tujuh tahun ke depan

sebagai media diplomasi budaya

sehingga mereka tidak khawatir lapar

untuk mengenalkan kekayaan budaya

saat kondisi pandemi seperti saat ini.

Majalah Indonesiana, yang kini sudah

Indonesia yang sangat beragam. Kita

Masih banyak cerita dari negeri sendiri

sampai Volume 9. Upaya ini adalah

patut bersyukur bahwa Indonesia

yang menjadi contoh bagaimana

sebentuk komitmen Direktorat Jenderal

dihidupi oleh ribuan etnik dengan

manusia selalu pintar beradaptasi, meski

Kebudayaan Kementerian Pendidikan

tradisi serta adat-istiadat beragam

banuyak juga yang terpuruk. Semoga

dan Kebudayaan, melalui Program yang

yang memuat kearifan-kearifan

kita semua dapat terus bergotong-

diampu oleh Direktorat Pengembangan

lokal untuk menjaga keseimbangan

gotong, saling membantu sesama.

dan Pemanfaatan Kebudayaan untuk

alam dan harmoninya tatanan

Jika dikaitkan dengan Objek Pemajuan

Beragam kisah budaya di Nusantara telah terekam dan tergambar dalam

tetap menjalankan misi kebudayaan,

hidup bermasyarakat. Ambil contoh

Kebudayaan, maka dari berbagai

masyarakat adat Talang Mamak yang

merujuk UU Pemajuan Kebudayaan

macam tradisi, ritual, upacara adat, seni

Nomor 5 Tahun 2017. Ini adalah upaya

pertunjukan, pengetahuan tradisional,

untuk terus menjaga nyala budaya.

hidup di sehiliran Sungai Indragiri,

2020, VOL. 9 INDONESIANA 1


VOLUME

K I L A U

B U D A Y A

I N D O N E S I A

Pengarah HILMAR FARID Direktur Jenderal Kebudayaan Penanggung Jawab RESTU GUNAWAN Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Koordinator Umum & Pemimpin Redaksi BINSAR SIMANULLANG Redaktur Pelaksana SUSI IVVATY Redaktur Naskah MARTIN SURYAJAYA ALFIAN S. SIAGIAN Redaktur Foto SYEFRI LUWIS Tata Letak RAFLI L. SATO Fotografer JESSIKA NADYA OGESVELTRY YUDHI WISNU ARYANDI Sekretariat PRIMA ARDIANI WAHYU WARSITA ANNY VERADIANI HERY P. MANURUNG NI KETUT WARDANI

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Gedung E. Lt. 9, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 4-5 Senayan, Jakarta 10270 (021) 5725534 (021) 5725534 indonesiana.diversity@gmail.com http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Majalah Indonesiana bertujuan untuk promosi budaya Indonesia. dan tidak diperjualbelikan. Komentar atas artikel, foto dan lain-lain ditujukan kepada: indonesiana.diversity@gmail.com

Sampul depan: Pala merupakan tumbuhan terkenal yang pertama kali ditemukan di Banda dan memiliki sejarah yang panjang, dalam perkembangannya selanjutnya pala menyebar ke hampir seluruh pulau di Maluku (Hasiholan Siahaan https:// www.shutterstock.com/g/HASIHOLAN+SIAHAAN). Sampul belakang: Jamu Indonesia adalah sistem tradisional perawatan kesehatan dan kecantikan luar dan dalam yang dikembangkan selama berabad-abad. Jamu Indonesia memiliki sejarah berusia 1.200 tahun, namun sangat sedikit yang diketahui di luar Indonesia (w1snu.com https://www.shutterstock.com/g/w1snucom).

2 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Salam Redaksi Pramoedya Ananta Toer dalam kata pengantar buku Kretek, The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes karangan Mark Hanusz (2011, cetakan ketiga) menuliskan satu kisah seperti ini: “Sekitar 50 tahun lalu, dalam satu resepsi diplomatik di London, seorang lelaki berdiri, berpenampilan Eropa, kurus, dan mengenakan topi hitam menyerupai kopiah. Dari mulutnya tercium aroma asap rokok yang memenuhi ruangan. Lelaki ini Agus Salim, Duta Besar Indonesia pertama untuk Inggris Raya yang dijuluki The Grand Old Man……. Tidak mengherankan jika penampilan Salim ini – tidak untuk menyebut bau sigaretnya yang aneh—membuatnya sontak menjadi pusat perhatian. Seorang lelaki bertanya, mewakili pertanyaan banyak orang, “Apa yang kami isap, Pak?”. “Ini, Tuan, adalah alasan bagi Barat untuk menaklukkan dunia,” jawab Salim. Agus Salim tengah mengisap kretek, sigaret dari Indonesia yang berisi berisi tembakau rajangan dan cengkih, yang selama berabad-abad menjadi satu komoditas yang paling dicari selain rempah-rempah”. Terlepas dari pro-kontra soal tembakau, cengkih telah menciptakan satu ramuan khas bernama kretek. Cengkih bersama kayu manis, misalnya, juga menghasilkan paduan rasa khas yang sangat sedap, demikian pula jika dicampur dengan beragam rempah yang ada di Indonesia. Rempah-rempah ini memicu gemuruh sejak bangsabangsa “sedunia” menemukannya dan menyadarinya tumbuh di Nusantara. “Pulau itu sudah tercium sebelum terlihat. Dari jarak sepuluh mil lebih ke laut, suatu aroma menggelayut di udara,” demikian ditulis Giles Milton dalam Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan (2015), menggambarkan betapa Kapten Nathaniel Courthope tidak membutuhkan kompas atau astrolabe untuk mengetahui bahwa kapal Swan telah (hampir) sampai ke daratan. Hari itu tanggal 23 Desember 1616, dan bau yang menebar di udara adalah bau pala. Tidak berlebihan jika majalah Indonesiana Volume 9 ini menghadirkan cerita rempah-rempah sebagai topik utama dan topik khusus. Selain karena belum pernah dibahas secara khusus di volume 1-8, rempah-rempah selalu aktual dan kontekstual untuk didiskusikan, lantas dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan, mulai dari napak tilas sejarah sebagai bagian dari upaya “menolak lupa” hingga menjaga posisi, nilai, dan kualitas rempah-rempah tetap berada di atas. Terlebih lagi, di masa pandemi Covid-19 ini rempah-rempah kembali digdaya, karena bermanfaat bagi kesehatan tubuh serta membangkitkan gairah para pelaku usaha kecil untuk meramu rempah-rempah secara kreatif dan menjualnya, agar dapur tetap mengepul. Masih terkait pandemi korona, direktorat-direktorat di Ditjen Kebudayaan Kemdikbud juga berupaya untuk menyiasati berbagai program yang tidak bisa dilakukan secara tatap muka langsung atau kegiatan berkerumun lain. Laporan mengenai beberapa kegiatan semasa pandemi, juga kegiatan-kegiatan lain sebelum pandemi menyeruak luas, hadir dalam rubrik Peristiwa. Tema-tema lain yang berhubungan dengan pemajuan kebudayaan hadir dalam kisah dan warna yang segar, namun tetap berbobot dan menumbuhkan energi positif bagi kita. Semuanya bisa disesapi lewat beragam rubrik seperti seni, museum, tradisi lisan, adat-istiadat, cagar budaya, arsitektur, pengetahuan tradisional, hingga rubrik perempuan dan wawancara dengan seniman Remy Sylado. Semoga Indonesia Volume 9 ini bermanfaat untuk semua pembaca. Salam budaya…. Pemimpin Redaksi


S A M BUT A N Hilmar Farid Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Republik Indonesia

D

ewasa ini kita hidup dalam

oleh logika akumulasi ekonomi yang

itu, tiada cara selain mengupayakan

sebuah tata kemasyarakatan

menyapu-rata semua pertimbangan

kebangunan jiwa dan badan, kesadaran

yang dibentuk oleh obsesi untuk

keselarasan sosial-ekologis. Runtuhnya

hati dan budi. Jalan kebudayaan lah yang

mengantisipasi risiko. Segala bentuk

daya dukung lingkungan dan cerai-

harus kita tempuh dalam situasi pandemi

potensi risiko, khususnya dalam wujud

berainya solidaritas sosial membuat

dewasa ini.

kerugian finansial, dieksternalisasi keluar

pandemi datang seperti nasib yang tak

proses ekonomi dengan cara dibebankan

terelakkan.

pada masyarakat dan lingkungan hidup.

Hari-hari pandemi ini adalah

Salah satu jalan kebudayaan yang dikenal turun-temurun oleh masyarakat Nusantara adalah khazanah rempah.

Alih-alih memperhitungkan biaya sosial-

momentum penting untuk merumuskan

Berbagai suku bangsa yang mendiami

ekologis dari pembangunan dengan

strategi bersama dalam memulihkan

kepulauan Nusantara telah lama

menempatkannya sebagai tali kekang

relasi sosial dan relasi dengan alam.

memberdayakan rempah-rempah

bagi arus akumulasi laba, kita justru

Kita mesti belajar dari pengalaman

sebagai bagian dari gaya hidup sehari-

membebankan biaya sosial-ekologis

yang artinya pertama-tama mesti

hari. Lewat pengetahuan tradisional

itu pada daur hidup sosial dan daya

dimaknai sebagai “belajar dari alam�.

itulah bangsa kita selamat menjalani

dukung lingkungan. Hasilnya adalah

Di masa pandemi ini, alam telah

ribuan tahun keberadaannya. Oleh

suatu model pertumbuhan ekonomi

memaksa kita kembali ke alam: kembali

karenanya, dalam suasana pandemi

yang mengorbankan integrasi sosial

bercocok tanam, kembali merenungkan

seperti sekarang ini, kita perlu menggali

dan keselarasan manusia dengan alam

kesinambungan hidup, kembali

kembali kekayaan khazanah rempah itu.

sekitarnya.

menyadari bahwa kita berbagi tubuh

Masyarakat semakin tersekatsekat ke dalam hierarki sosial dan

dengan bumi.

Saya menyambut baik penerbitan Majalah Indonesiana Volume 9 yang

Memulihkan relasi kita dengan alam

mengangkat kekayaan khazanah rempah

terkurung dalam prasangka terhadap

berarti menjalankan ruwatan kebudayaan

Nusantara. Aneka artikel telah dihimpun

keanekaragaman ekspresi hidup.

bagi manusia modern: mengembalikan

di sini dengan semangat merevitalisasi

Degradasi lingkungan alam pun berjalan

irama hidup kita pada irama yang selaras

pengetahuan tradisional yang masih

bersamaan dengan degradasi kehidupan

dengan daur hidup alam sekitar. Hanya

relevan bagi ketahanan jiwa-raga di

sosial. Pandemi COVID-19 adalah muara

di atas dasar kesadaran akan jiwa-

masa pandemi. Semoga lewat bacaan ini,

dari model pembangunan yang sama

raga sebagai tanah-air itulah kita akan

masyarakat memperoleh inspirasi untuk

sekali tidak berkelanjutan itu.

berbahagia sebagai bangsa. Ekonomi kita

terus memajukan kebudayaan, menggali

haruslah suatu ekonomi kehidupan, yakni

kembali akar wawasan rempah, demi

begitu saja. Pandemi adalah buah

perikehidupan yang landasannya adalah

mengatasi segala tantangan hidup di

dari Kewajaran Lama yang dipimpin

kehidupan. Untuk mencapai tujuan

masa gelap ini.

Pandemi bukanlah nasib yang datang

2020, VOL. 9 INDONESIANA 3


DA F TA R I S I SAMBUTRN 1

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan

3

Direktur Jenderal Kebudayaan

TOPIK UTAMA 6

Dari Banda untuk Dunia

10

Jang Amba Tong pe Pala: Cerita Pala Maluku Utara

14

Biji Pala dan Punggung Kemerdekaan

16

Kuasa atas Lada, “Emas Hitam” dari Banten

20

Ketika Rempah Bali Berserikat dalam Usadha

23

Komik Strip • Wabah Corona dan Orang Rimba

24

Pengarsipan atas Kekayaan Imajinasi

TOPIK KHUSUS 28

Sensasi Getir Menggetarkan Andaliman

32

Oen Ranup yang Ajaib dari Ujung Utara Sumatra

36

Memasak Bubur Suro, Mengajak Bersedekah

38

Pandemi, Momentum Kebangkitan Rempah

40

Khasiat Cengkih dan Temulawak Sejak 1918

4 INDONESIANA VOL. 9, 2020

PERISTIWA 44

Ketika Seniman Beradaptasi

46

Kiamat Bioskop dan Perfilman Nasional

48

Mari Bersandiwara dan Bersastra

50

Ritual Adat Tuk Sikopyah

52

Daulat Padi dari Sinar Resmi

RUBRIK BUDAYA NAVIGASI TRADISIONAL 54

Meraba Mata Angin, Membaca Tanda

UPACARA ADAT 58

Erau Festival, Riuh dan Penuh Sukacita

RITUAL 62

Doa Syukur Larungan ke Pulau Bokor

SENI 64

Topeng Dalang: Meremang di Pusaran Zaman


RUBRIK BUDAYA SITUS

RUBRIK BUDAYA TRADISI LISAN 68

Basiacuang, Petatah-petitih Melayu Kampar

84

CAGAR BUDAYA 70

Pesona Peninggalan Kesultanan Sambas

PERMAINAN TRADISIONAL 86

WASTRA 74

Tenun Ikat Sikka, Lestari Berkat Du’a-du’a

Basilang Kayu, Falsafah Dapur Orang Minang

88

Yang Segar dan Tegar Perempuan Mentawai

92

Jejak Cheng Ho di Museum Aceh

Rumah Sumba nan Eksotis

PERSONA 96

MUSEUM 80

Abit Godang, Ulos dari Angkola

ARSITEKTUR

PEREMPUAN 78

Main Congklak, Belajar tidak Congkak

WASTRA

KULINER 76

Kumitir, Sisi Timur Kota Raja Majapahit

Remy Sylado

GALERI FOTO 100

Potret Kota Tua di Masa Pandemi

2020, VOL. 9 INDONESIANA 5


TO P I K UT A M A

“Pedagang-pedagang Melayu mengatakan kepada saya bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk buah pala, dan Maluku untuk cengkih.” (Tomé Pires dalam Suma Oriental, 1512)

Dari

Banda

6 INDONESIANA VOL. 9, 2020

untuk Dunia


Menjemur ikan asin di salah satu pasar di desa di Banda Naira. Pala dari Banda (sebelum 1880), Woodbury & Page (Batavia). (Leiden University Library, KITLV 3348)

R

(atas) Illustrasi pengumpulan hasil perkebunan pala di Banda masa kolonial oleh Henri Zodervan & J.B. Wolters. (Leiden University Library, KITLV 52A10), (bawah) Menjemur pala di depan rumah di desa di Banda Naira. omantisme kesejarahan memang sangat kental terasa ketika berbincang mengenai

Kepulauan Banda. Artefak arkeologis yang kaya hasil peninggalan masa jaya itu masih ada dan bertahan hingga sekarang. Di Pulau Banda Neira, sekitar 24 situs arkeologi, 7 di antaranya telah di tetapkan menjadi cagar budaya. Di Pulau Lonthor ditemukan 11 situs arkeologi. Di pulau lain juga ditemukan namun tidak begitu banyak. Di antara peninggalan-peninggalan bersejarah itu adalah Benteng Belgica, Hollandia, Istana Mini, Gereja Hollandische Kerk yang disebutsebut sebagai gereja tertua di Asia Tenggara, dan beberapa yang lainnya. Di sana Banda Neira terdapat rumahrumah pengasingan tokoh pergerakan

foto: Janelle Lugge https://www.shutterstock.com/g/janellelugge.

Kemerdekaan Indonesia seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Dr Cipto Mangunkusumo. Bahkan Pulau Rosengain diubah namanya menjadi Pulau Hatta sebagai penghormatan atas jasanya mengajar dan menjadi guru bagi warga Banda Neira selama proklamator tersebut menjalani pengasingan.

Lalu bagaimana nasib Banda ke depan? Dengan profil yang demikian kolosal tersebut, dengan kekayaan budaya yang juga massif, Banda sudah seharusnya dapat menjadi kota warisan budaya dunia. Bukankah Dalam Warisan Budaya Dunia terdapat penilaian Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value)? Bukankah hal itu merupakan ide dasar dari Konvensi Perlindungan Warisan Dunia Alam dan Budaya Tahun 1972 (Convention concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage). Kemudian, apa dan bagaimana hubungannya Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dengan pala dan fuli Banda? Sebagai tambahan, pada akhir abad 20, lingkup warisan budaya oleh masyarakat internasional secara umum disepakati bahwa nilai budaya yang merupakan bentuk WBTb (intangible culture heritage) berperan penting dalam mendukung narasi warisan budaya bersifat ‘kebendaan’ (tangible heritage) serta lingkungan alamnya. Pada tahun 1999, UNESCO menyatakan bahwa lingkup nilai kebendaan (bangunan dan situs), lingkungan dan warisan alam, kemudian mengadopsi foto: Luca Vaime, https://www.shutterstock.com/g/Luca+Vaime

2020, VOL. 9 INDONESIANA 7


konvensi Safeguarding of the Intangible

pemberdayaan untuk meningkatkan

Inggris di sana. Konon pula disebutkan

Cultural Heritage (UNESCO, 2003).

taraf hidup dan perekonomian

bahwa masyarakatnya Banda memiliki

WBTb ini diwarisi secara turun temurun,

masyarakat. Kita juga tentunya tahu

armada dagang yang kuat hingga

secara terus-menerus diciptakan dan

bahwa pala Banda merupakan komoditas

mampu berdagang pala dan fuli hingga

dikembangkan oleh masyarakat dalam

unggulan perkebunan yang menjanjikan

negeri Malaka.

merespons lingkungan sekitarnya,

serta komoditas unggulan potensial

interaksi mereka dengan sejarah

permintaan pasar internasional.

Apa hendak dikata, akhirnya datang bangsa-bangsa Eropa. Mereka silih berganti melakukan praktik kolonialisasi.

dan alam, memberikan mereka a

Pada pada abad ke-10 saja pala Banda

sense of identity and continuity, dan

sudah tercatat dalam daftar perdagangan

Bukan harga dan keuntungan tinggi,

mempromosikan penghormatan

utama di pelabuhan Alexandria Mesir.

melainkan perampasan dan penindasan

terhadap keragaman budaya dan

Terlebih lagi, pada sekitar abad ke-14, di

selama berabad-abad yang rakyat

kreatifitas manusia

kitab Negarakertagama telah termaktub

Nusantara peroleh. Tersebutlah, pada

kata Wandan (Banda) sebagai salah

1599 rombongan Armada Belanda I

atas kejayaan Banda silam yang dapat

satu kepulauan Indonesia bagian Timur

yang dipimpin oleh Van Hemskerk tiba

menjadi inspirasi atas rekonstruksi nilai-

penghasil rempah-rempah.

di Pelabuhan Orantata, Banda Besar

Padahal, berbagai macam tinggalan

keplauan Banda. Kemudian, pada

nilai budaya untuk mengangkat Banda

Ketika berbicara mengenai

dan memberdayakan masyarakatnya.

Kepulauan Banda maka hal itu

tahun 1601 armada Inggris datang ke

Manajemen pengelolaan wilayah yaitu

melekat pada pembahasan rempah-

kepulauan Banda untuk tujuan yang

dengan adanya kawasan konservasi, yang

rempah dan jejak sejarah kehadiran

sama yaitu mendapatkan pala dan fuli

mengatur dan melindungi sumberdaya

bangsa asing di Nusantara. Harumnya

untuk dibawa ke pasar Eropa. Meskipun

alam sebagai daya tarik dan daya saing

pala dan fuli (myristica fragrans)

sesama Eropa, Belanda menganggap

untuk mengembangkan pembangunan

telah merangsang datangnya para

Inggris sebagai musuh dan saingan

ekonomi dan budaya masyarakat

petualang dan pedagang dari berbagai

dagang mereka di Kepulauan Banda.

Kepulauan Banda.

penjuru dunia untuk mengarungi dan

Sebut saja pentingnya penguatan kelembagaan dan kearifan lokal,

menaklukkan luasnya samudera. Tome Pires mencatat bahwa orang

Pada tahun 1602, Banda kedatangan rombongan armada Belanda yang kedua. J.P. Coen memimpin armada itu. Pires

pemberdayaan masyarakat dalam

Gujarat dan India ternyata telah

mencatatnya sebagai pemimpin yang

pengelolaan cagar budaya dan WBTb,

terlebih dulu hadir, jauh sebelum

kejam. Pires mencatat bahwa J.P. Coen

sekaligus pelestarian pesona keindahan

datang pedagang-pedagang Eropa

menawan 44 orang kaya yang dibawa

alam dan dunia bawah lautnya,

seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan

dari Pulau Lonthoir. Kedua tangan para

Salah satu desa di Pulau Run yang terletak di ujung kepulauan Banda Neira. Halaman akhir dari Perjanjian Breda 1667 (Treaty of Breda), sumber Nationaal Archief, Staten-Generaal Archiefinventaris 1.01.02 Inventarisnummer 12589.127.

foto: farhankudosan https://www.shutterstock.com/g/farhankudosan

8 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Kota kecil di Banda Neira, dengan bangunan berbentuk pentagonal yaitu Benteng Belgica yang menjadi ikon kota.


foto: J. Croese https://www.shutterstock.com/g/J.Croese

tawanan diikat erat-erat lalu dimasukkan

semua pala dan fuli. Itu semua demi

di balik artefak-artefak itu adalah

ke kerangkeng bambu. Di Banda, J.P.

mempertahankan monopoli atas

peninggalan Budaya Takbenda yang

Coen memutilasi bagian tubuh mereka

perdagangan rempah dunia di abad ke-17.

sangat penting? konservasi, yang

seperti tangan, kaki dan kepala. Ekspedisi

Begitu pula, betapa Banda Neira,

mengatur dan melindungi sumberdaya

yang kejam dan menentukan demi

salah satu pulau di Kepulauan Banda

alam sebagai daya tarik dan daya saing

takluknya penduduk Kepulauan Banda

sedemikan penting sehingga ia menjadi

untuk mengembangkan sosial ekonomi

itu terjadi pada April 1621.

kota pertama yang dibangun oleh

dan budaya masyarakat Kepulauan Banda

bangsa Eropa di bumi Nusantara. Banda

Neira. Perlu adanya model keterlibatan

sebuah sejarah juga penting dan

Neira dibangun demi kepentingan

para stakeholder untuk mengelola dan

unik, Pulau Run - satu di antara

perdagangan pala yang dijalankan oleh

mengembangkan potensi sumberdaya

gugus Kepulauan Banda - dipertukarkan

bangsa Eropa. Di kota baru ini dibangun

alam dan budaya yang tinggi di Kepulauan

antara Inggris dan Belanda dengan

gedung-gedung perkantoran kolonial dan

Banda Neira. Mohamad Atqa (Direktorat

pulau Manhattan, Amerika Serikat

belasan benteng pertahanan.

Pengembangan dan Pemanfaatan

Di balik sejarah kelam itu, tercatat

pada tahun 1667. Pertukaran Pulau

Indonesia adalah pemegang sah jalur

Run dan Manhattan itu tertuang dalam

rempah. Jejak rempah Indonesia telah

Perjanjian Breda (Treaty of Breda) yang

menjadi ikon budaya yang mendunia dan

ditandatangani antara Inggris, Belanda,

menjadi jalur diplomasi internasional

Perancis dan Denmark-Norwegia. Dalam

bidang kebudayaan. Penting bagi kita

perjanjian tersebut, Belanda bersedia

untuk kembali menguatkan ideologi

melepaskan wilayah kekuasaannya di

jalur rempah. Dan, Banda merupakan

Nieuw Netherland, Amerika, atau saat

lokus penting sebagai bagian untuk

ini dikenal sebagai Pulau Manhattan,

mengumandangkan kejayaan Nusantara

untuk ditukar dengan Pulau Run. Itu

dalam jalur rempah. Bukankah kisah

Kebudayaan)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 9


TO P I K UT A M A

Cerita Pala Maluku Utara Ketika kita berbicara mengenai Ternate dan juga Tidore, akan ada cerita tentang pala. Pala, sepintas terlihat seperti duku, dengan ukuran lebih besar. Pala muda berbalut kulit berwarna hijau, dan menjadi kekuning-kuningan ketika matang, warna yang elok sedap dipandang mata. Ketika dikupas, buah pala sedikit pucat tapi menggiurkan untuk dicicipi. Akan tetapi, jangan coba-coba langsung melahapnya. Rasanya kecut. Di balik rasa kecut itu, pala mengandung harta yang bernilai tinggi. Nyatanya, pala dicari dan diburu oleh bangsa-bangsa Eropa selama berabad-abad. Pala bahkan ternisbat menjadi salah satu penanda utama suatu periode penting dalam sejarah dunia, the age of discoveries atau abad-abad penemuan dan penjelajahan. Hampir seluruh bagian buah pala bernilai ekonomi. Isinya diolah menjadi manisan atau sirup lalu dipasarkan. Pala itu dibalut “bunga� yang disebut fuli yang tampak cantik berkilau berwarna merah saat sudah matang dan saat buahnya dibelah. Fuli atau bunga yang membungkus biji dan berwarna merah adalah bagian termahal. Kemudian biji pala, berwarna hitam mengkilap ketika telah dijemur lazim ditemukan di Indonesia sebagai bumbu makanan. Biji pala disebut pula mutiara hitam.

Dong Ambe Tong pe Pala

10 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Pemilihan biji pala. (searah jarum jam) Buah Pala yang masih di pohon, pala yang sudah dikeringkan, pala dan fuli yang mulai lepas dari bijinya, buah pala dan biji pala.

Pala dan fuli inilah yang selama berabad-abad bertahan sebagai produk dagang termahal di pasaran dunia. Pala dan fuli memang dapat diubah menjadi berbagai produk olahan; seperti bahan farmasi, kosmetik, bumbu makanan dan bahkan campuran parfum. Bahkan, pala diyakini memiliki khasiat yang sangat ampuh sedemikian ampuh sehingga dapat menyembuhkan banyak ragam penyakit. Konon, pandemi mematikan Black Death yang menyerang Eropa pada akhir abad ke-14 bisa mereda karena khasiat pala.

Pala di Ternate dan Tidore Walau pala adalah tanaman terkenal mula-mula di Banda dan telah memiliki sejarah panjang. Namun pada perkembangan berikutnya, pala tersebar ke hampir seluruh pulau di Maluku. Ternate dan Tidore juga merupakan bagian dari wilayah sebaran pala di Maluku. Walau pala di Ternate dan Tidore tidak semashyur di Banda, namun tetap saja tumbuh serta berkembang hingga kini. Dengan demikian pala di Ternate dan Tidore juga merupakan tanaman yang menjadi incaran bangsa-bangsa eropa. Gufran Ibrahim dalam tulisannya

foto: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan

Cengkih tumbuh di bagian utara tanah Maluku. Sementara pala berkembang di selatan tanah Maluku.

foto: DjunaPix https://www.shutterstock.com/g/DjunaPix

nama pala dalam bahasa daerah

Jakarta, Batavia. Pala bahkan bisa membuat kekuatan-

Begitu berharganya pala, sampai-

kekuatan Eropa saling berperang.

sampai membuat Pulau Run rela

Belanda (VOC) memiliki hasrat sangat

ditukar-gulingkan Inggris dan Belanda

besar untuk memonopoli perdagangan

dengan Pulau Manhattan, yang ketika

pala. Belanda mengirim tentaranya

itu bernama Niuew Amsterdam dan

dengan jumlah yang sangat banyak

sekarang dikenal sebagai New York,

untuk menyerang Portugis di pulau

pusat ekonomi utama di dunia saat ini.

Banda. Kemudian mereka berperang melawan bangsa Inggris. Lalu, salah satu

‘menemukan evidensi linguistik keaslian pala dan cengkeh mengatakan bahwa

daerah kosmopolit. Jauh sebelum ada

Pala dan Sejarah Barangkali, jika tidak ada pala maka

Ternate dan Tidore adalah gosora. Pala

orang tidak akan kenal pulau Banda,

yang hidup di kaki gunung Gamalama

pulau penghasil pala terbaik dunia.

(Ternate) dan Kie Matubu (Tidore)

Bangsa-bangsa Eropa saja rela berlayar

adalah asli dari tanah Maluku yang juga

ribuan mil laut demi si hitam manis.

digilai orang-orang Eropa. Biji dan fuli

Mereka bahkan mendirikan koloni

merupakan rempah paling dicari.

multikultural mula-mula di Banda. Suatu

peristiwa paling kelam di Nusantara, tapi mungkin juga salah satu yang paling sedikit diceritakan adalah pembantaian orang-orang asli Banda. Sebuah peristiwa genosida telah terjadi. Kejadian itu diabadikan sebagai legenda dan rataptangis Banda Eli dalam tradisi lisan Maluku Selatan.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 11


Pemandangan Kepulauan Tidore menjadi salah satu di mana rempah berasal. Suasana pasar tradisional di Ternate saat ini, dengan para penjual sayur mayur, buah buahan dan bumbu-bumbu lokal.

12 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Illustrasi dari kedatangan Van Warwijk ke Ibukota Ternate (Gamalama) pada 1599 oleh Johann Theodor de Bry (15601623) and Johann Israel de Bry (1565-1609). (Orientalische Indien (“Little Voyages”)) foto: ilhamrach https://www.shutterstock.com/g/ilhamarch

Dibalik perdagangan pala tersimpan

Senhora Del Rosario (sekarang lebih

nestapa berabad-abad sejarah

dikenal dengan nama Benteng Kastela),

Nusantara. Sebagaimana lada dan

Sultan Khairun dibunuh oleh tentara

cengkeh, pala itu seumpama bidadari

portugis atas perintah Gubernur Lopez

cantik rupawan yang menarik banyak

de Mesquita.

lelaki untuk memperebutkannya.

Berita Sultan Khairun dibunuh

Portugis, selaksa lelaki perebut, adalah

menyebar dan menyulut huru-hara,

bangsa pertama yang datang khusus

kemarahan dan keberanian warga

untuk berdagang pala dengan penduduk

Ternate. Sultan Baabullah, sang anak,

tempatan. Apa daya, mereka punya

yang menggantikan ayahnya, marah pada

banyak saingan. Spanyol, Inggris dan

bangsa Portugis yang telah membunuh

Belanda juga ingin mengambil bagian.

ayahnya. Sang Sultan marah karena

Inggris dan kemudian Belanda adalah

Portugis memonopoli perdagangan

bangsa dengan keinginan terkuat untuk

rempah. Kenyataannya justru berbeda,

merebut pala di kepulauan Banda dari

Baabullah terlihat sangat berani dan kuat

dok.babpublishing

tangan Portugis.

serta berkeinginan kuat untuk mengusir

dulu memonopoli perdagangan rempah

bangsa Portugis keluar dari tanah

kawasan itu. Kala itu, Spanyol dengan

Maluku.

Tidore terlibat perang dengan Portugis

Portugis di Ternate dan Spanyol ke Tidore Orang tua kami sering berkisah soal asal mula Portugis masuk ke Ternate. Kisah-kisah yang juga sejarawan Ternate, misalnya Adnan Amal, Des Alwi dan lainnya. Konon, saat pertama berlabuh di Ternate, Portugis disambut baik oleh Sultan karena prasangka baik bahwa bangsa baru ini akan menjadi sekutu yang baik dan barangkali mau membantu menyerang Kesultanan Tidore. Waktupun berjalan, hingga diketahui bahwa Portugis sesungguhnya bermaksud menguasai

Sebelum bangsa Portugis dan Spanyol sampai di Ternate dan Tidore, telah

dan Tidore. Pala telah menentukan sejarah

ada perang antara kedua kesultanan

panjang tidak hanya untuk Ternate dan

ini. Perang ini juga mendorong Portugis

Tidore, tetapi pula untuk Indonesia. Buah

dan Spanyol terlibat menjadi sekutu.

ini tidak hanya digemari bangsa eropa,

Portugis memilih Ternate sebagai sekutu.

namun pula bangsa-bangsa dari Asia

Sementara Spanyol bersama Tidore

seperti India, Arab dan China. Berbagai

untuk berkonfrontasi dengan Ternate

bangsa ini datang ke nusantara, termasuk

dan Portugis. Sama seperti Portugis,

di Maluku Utara. Orang Ternate bilang,

kedatangan Spanyol ke Maluku juga

”Jang Ambe Tong pe Pala”. Ya, mereka

ingin menguasai rempah yaitu pala dan

bilang, “Jangan ambil kami punya pala”.

cengkih. Namun, Spanyol agak kesulitan

(Sukran Ichsan: Peneliti di Rumah Sinergi

karena telah ada Portugis yang lebih

Research and Consulting)

rempah di Ternate. Sultan Tabariji kemudian menjadi korban hingga dibuang ke Goa (India). Sultan Tabariji kemudian digantikan oleh Sultan Khairun yang masih belia. Pihak Portugis meremehkan Sultan Khairun dan ikut campur semua urusan dalam kesultanan Ternate.

di Ternate, hingga suasana stabilitas dan kedamaian tetap terjaga. Namun suasana ini dimanfaatkan Portugis dengan mengundang sang Sultan berkunjung ke benteng. Sultan Khairun tanpa curiga langsung datang ke Benteng dengan hanya beberapa pengawal. Pada tanggal 25 Februari 1570 di Benteng Nostra

foto: iamjoray https://www.shutterstock.com/g/iamjoray

Khairun tidak mau memutus kerjasama dengan bangsa Portugis yang bermukin

2020, VOL. 9 INDONESIANA 13


TO P I K UT A M A

B

ij n a iP ka al e ad rd e an P em ung g ung K

Patung Liberty di Amerika Serikat itu, jika kita telusuri dengan mengetik namanya di mesin pencari, maka kita akan menemukan berbagai tampilan foto karya seni itu dengan posisi tampak depan. Suatu cara pengambilan yang nyaris sama satu sama lain. Kemiripan itu tentu bukan tanpa sebab-musabab. Patung memang cenderung dibuat untuk dilihat dari depan. Patung setinggi 93 meter itu dijadikan sebagai simbol kemerdekaan, juga kebebasan, dari segala bentuk penindasan. Tentu kalau dari kehendak empunya, dalam versi liberalisme. Obor, mahkota, buku, serta elemen utama lain yang digunakan untuk menyampaikan itu, sebagian besar, dihadirkan ke kita melalui apa yang terlihat di bagian depan. Membuat patung untuk dilihat dari 14 INDONESIANA VOL. 9, 2020

depan berarti mengandaikan posisi saling berhadapan antara patung tersebut dan para pemandangnya. Tapi, lelaku saling berhadapan tidak sertamerta terkandung kesamaan posisi di dalamnya. Patung Liberty, simbol kebebasan itu, sungguh terlalu tinggi di hadapan kita. Juga, terlalu jauh untuk kita hampiri. Kita, para pemandang ini, berhadaphadapan dengan sesuatu yang telah lebih dulu mengandaikan dirinya sebagai hal yang monumental. Menghadap kepadanya adalah menyaksikan sosok yang tegak-kokoh, tinggi-angkuh, jauh sekaligus penuh pesona. Patung Liberty merupakan contoh terbaik ketika patung menjadi ekspresi utama dari ambisi manusia akan keabadian. Kita tidak hanya memandang patung

belaka melainkan juga mempertegas keterpisahan kita darinya. Berbeda dari pemandangan umum tersebut, ada lukisan Hanafi yang menampilkan bagian belakang Patung Liberty. Kita masih dapat merasakan kedigdayaan patung tersebut. Tapi, tak seperti ketika memandang dari depan, yang segala perlambang ditampakkan dengan jelas, kita tak bisa menemukan hal itu sepenuhnya saat memandang dari belakang. Tak tampak buku yang digapit patung tersebut. Namun kita masih melihat obor. Semestinya bagian belakang dari mahkota juga bisa terlihat. Tapi, Hanafi memilih untuk tidak menyertakannya. Menggambarkan bagian belakang Patung Liberty seperti menghadirkan sebuah dunia yang tak sepenuhnya


Judul Pameran: The Maritime Spice Road: 350th Anniversary of the Breda Treaty/ Hanafi Solo Exhibition, Tahun 2017 Lokasi: Konsulat Jendral RI, New York, Amerika Serikat Pendukung: Dirjenbud Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Studiohanafi diutamakan oleh patung tersebut. Dunia bagian belakang memang cenderung tak terduga dan kadang gelap; wilayah yang seringkali lebih luas dari ruparupa penampilan depan; kawasan yang meluas dari apa yang tampak pada patung itu hingga ke pelosok-pelosok ruang-waktu yang berbeda. Jika dunia bagian belakang itu adalah persilangan politik, sejarah, dan peradaban, maka patung tersebut pun punya dunia belakang yang berisikan irisan sejarah dan politik yang membentang begitu luas dan tak kalah kompleksnya. Dengan menggambarkan punggung dari Patung Liberty, Hanafi memberikan perhatian pada wilayah belakang yang, dengan suatu dan lain cara, turut menjadi bagian dari pemaknaan atas kebesaran patung terkenal yang sering ditampilkan kembali dalam posisi tampak-depan tersebut. Perhatian itu ia tujukan pada satu titik, yaitu titik-simpul yang mempertemukan patung yang berlokasi di Manhatan tersebut dengan sejarah yang berkaitan dengan rempah-rempah di Indonesia. Tepatnya di Pulau Run. Lukisan tersebut tidak dipajang di dinding pameran sebagai lukisan yang berdiri sendiri. Ia justru bagian dari karya instalasi. Lukisan setinggi sekitar dua meter itu dipajang sejajar dengan titik-pandang para pemandang. Lukisan itu tak hanya menampilkan gambar punggung patung, namun juga menghadirkan semacam pemandangan jarak-dekat. Yang dihadirkan oleh lukisan itu semacam proyeksi sebaliknya dari pemosisian Patung Liberty di Manhattan yang terletak begitu jauh dari pemandangnya. Dari bawah lukisan itu, tampak keluar biji-biji pala, hingga menjadi sebuah tumpukan besar. Biji-biji pala itu bukan imitasi, melainkan biji pala asli. Dibawa langsung dari Pulau Run, Maluku. Pulau itu, dulunya, adalah tempat pala pernah menjadi alasan para kolonial datang ke Indonesia. Ada cerita lain tentang pilihan biji pala asli daripada membuat

imitasinya. Biji pala asli itu seperti sedang menziarahi leluhurnya. Biji pala yang dulu dibawa dengan meninggalkan penindasan di tempatnya tumbuh. Jika tubuh Patung Liberty setinggi 46 meter itu ditopang oleh fondasi-patung setinggi 47 meter (total 93 meter), maka lukisan patung setinggi dua meter itu bagai ditopang oleh tumpukan biji pala setinggi kurang dari setengah meter. Hanafi ingin menghadirkan suatu ironi di antara sesuatu yang indah (patung dan lukisan) dan sesuatu yang nyata (biji pala). Satu sisi dari halaman belakang yang ingin ditunjukkan Hanafi dari Patung Liberty tersebut adalah sejarah pertukaran Manhatan dengan Pulau Run di tahun 1667 dalam Perjanjian Breda antara pemerintah kolonial Belanda dan Inggris. Belanda mendapatkan pulau Run sementara Inggris mendapatkan Manhattan. Tentu saja, itu bukan pertukaran yang setimpal. Manhattan saat itu bukanlah seperti yang kita lihat sekarang. Namun, Inggris bukan berarti tak dapat apa-apa. Di luar perjanjian yang tampak tak setimpal itu, Inggris tetap menambang di Indonesia. Yang jelas, siapa pun yang mendapatkan Pulau Run, kita tetap menjadi—memiuhkan ungkapan lama—“semut yang mati” di antara “dua gajah yang sedang beradu”. Tak ada kaitan langsung antara Perjanjian Breda tersebut dengan Patung Liberty. Tapi, kejayaan Manhattan hari ini, yang salah satunya disimbolkan oleh Patung Liberty itu, dan ketertinggalan Pulau Run di zaman sekarang—bila dibandingkan di masa tempat itu sebagai sumber penghasil rempah yang dicari dari segala penjuru—adalah bagian dari kontestasi para negara kolonial di abad-abad lalu. Keduanya memang tampak tak berhubungan dalam konteks sempit. Tapi dalam konteks yang lebih luas, baik Patung Liberty dan Pulau Run dihubungkan oleh sejarah kejayaan kolonial di satu sisi dan sejarah penindasan di negeri jajahan di sisi lain.

Perang antar bangsa kolonial, siapapun yang menang di antara mereka, tetap saja sama-sama dibesarkan oleh kolonialisme yang mereka hidupkembangkan di banyak negeri. Patung Liberty adalah hadiah dari Prancis di tahun 1886 untuk Amerika Serikat. Hadiah yang mengusung gagasan tentang kemerdekaan serta kebebasan dari penindasan. Tapi, sebagaimana dikatakan tadi, itu hanya halaman depan patung. Sementara itu, satu sudut halaman belakang dari kemerdekaan tersebut, sebagaimana diproyeksikan dari instalasi Hanafi tadi, adalah sejarah memperebutkan monopoli pala, yang penuh darah dalam pertikaian negara-negara kolonial. Di Pulau Run dan pulau-pulau lain, para kolonial bergantian menembakkan senapan dan menghunuskan pedang. Kejayaan bangsa-bangsa kolonial itu, kini, dengan suatu dan lain cara, adalah sejarah penindasan dan pengambilan hak merdeka bangsa-bangsa penghasil rempah. Mereka datang ketika negeri rempah masih kaya dan kemudian meninggalkannya dalam kedaan melarat serta penuh penderitaan. Sebagaimana yang ditampilkan dalam instalasi Hanafi, hari ini kita dipunggungi oleh Patung Liberty yang, dengan suatu dan lain cara, ditopang oleh tumpukan biji pala asli tersebut. (Heru Joni Putra) 2020, VOL. 9 INDONESIANA 15


TO P I K UT A M A

“Emas Hitam�

Kuasa atas Lada,

Internasional Papper Community (2015) mencatat bahwa produktivitas lada Indonesia hanya 663,79 kg/ha. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencapai 2.280 kg/ha. Padahal, Indonesia memiliki luas perkebunan lada sekitar 116.000 ha, nomor dua setelah India yang memiliki luas perkebunan lada sekitar 200.000 ha. Hingga kini, kedua negara itu masih merupakan negara dengan luas perkebunan lada terbesar di dunia. Sementara Vietman hanya memiliki luas perkebunan lada sekitar 57.000 ha, namun begitu produktif. Dalam pasang surut penguasan lada, kini pasar lada dunia ada tangan Vietnam mengalahkan India negara asal lada, dan menyingkirkan Indonesia penguasa lada dunia masa lampau. Dahulu, Belanda saja harus memaksakan diri berlayar berbulan-bulan dari Eropa ke Nusantara hanya untuk lada. Waktu itu, jika berbicara tentang Jalur Rempah kita mesti menoleh Maluku. Namun, jika berbicara tentang lada (Paper ningrum L), kita mesti berpaling ke barat. Nyatanya, “emas� hitam dan putih alias lada memanglah berasal dari Barat tepatnya Banten. Sayangnya, kita sulit menemukan perkebunan lada yang besar di Provinsi Banten. Sumber-sumber sejarah lama memang menyatakan bahwa lada Banten didatangkan dari Lampung dan Bangka. Rujukan lama tersebut menuliskan bahwa perkebunan penghasil lada di bagian barat itu Lampung, Bengkulu, Aceh, Palembang, kemudian Kalimantan, Riau, Bangka, dan Belitung. Banten nyaris tidak pernah disebut. Bukankah Banten adalah jawara monopoli perdagangan lada.

16 INDONESIANA VOL. 9, 2020

dari Banten

dok.babpublishing


Untungnya, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional akhirnya menyimpulkan bahwa Banten pernah menjadi pelabuhan

kawasan perbukitan di desa Desa Pandat,

“orang Tionghoa mengambil banyak lada

Mandalawangi, Pandeglang.

dari Sunda”. Sunda yang dimaksud dalam

Sulur-sulur tanaman lada di kaki

hal ini adalah daerah Banten hari ini.

dagang internasional sekaligus

Gunung Pulosari di desa Pandat itu

pengekspor lada terbesar di Nusantara.

masih bisa kita temukan merambati dan

(1521) mengutus Ratu Samiam atau

Banten juga daerah pembudidaya

meliliti pohon dadap yang menjulang dan

Prabu Surawisesa (catatan Nina Lubis)

tumbuhan lada. Sebuah dokumen lama

berdaun rindang. Sebagiannya tampak

untuk menemui pimpinan Portugis

Belanda (±1800-an), menyebutkan

berserakan di tanah. Dari bonggol-

di Malaka, Jorge d’Albuquerque.

sedikitnya 180 kampung di pedalaman

bonggolnya yang besar melingkari batang

Dari pertemuan yang kemudian

Banten merupakan perkebunan penghasil

lebih dari 5 sentimeter, lada yang tumbuh

disusul kunjungan balasan itu terjadi

lada. Wilayah tersebut meliputi Gunung

di hutan itu diperkirakan sudah berusia

kesepakatan antara Sunda dan

Pulosari, Gunung Karang, dan Gunung

cukup tua. Mungkin sudah ditanam di

Portugis yang menghasilkan empat

Aseupan di Kabupaten Pandeglang. Di

sana sejak zaman Kesultanan Banten

butir kesepakatan (tersimpan di Torre

Pandeglang bahkan terdapat daerah

atau malah jauh sebelumnya, yakni pada

de Tomboatau Arsip Nasional Portugal

yang bernama Teluk Lada dan Labuan

masa Kerajaan Sunda.

Lissabon) berikut; (1) Portugis dapat

yang diyakini sebagai pintu masuk kapal-

Kembali ke dalam literatur sejarah,

Raja Sunda, Sang Ratu Jayadewata

mendirikan sebuah benteng di sekitar

kapal dagang asing yang mencari lada

kita memang bersua dengan catatan

Banten; (2) Raja Sunda akan memberikan

pada masa Kesultanan Banten, bahkan

Tome Pires, seorang Portugis yang

lada sebanyak yang dibutuhkan Portugis

mungkin jauh sebelum itu.

mencatatkan kesaksiannya dalam Summa

sebagai alat tukar atas barang-barang

Oriental (1513-1515) “... lada Banten lebih

kebutuhan Kerajaan Sunda yang dibawa

menyebutkan, Banten telah menjalin

Sebelumnya, Berbagai sumber

baik daripada Cochin (India), (produksinya)

oleh Portugis; (3) Portugis bersedia

hubungan dagang dengan India dan

lebih dari 1000 bahar setiap tahun. Lada

membantu Kerajaan Sunda jika diserang

China. Diduga, tumbuhan merambat

panjang dan asam melimpah, cukup

oleh Kerajaan Islam Demak atau kerajaan

berbiji pedas yang berasal dari India.

dimuat seribu kapal. Pelabuhan lada

lain; dan (4) Sebagai tanda persahabatan

Emas Hitam itu dibawa oleh para

antara lain, Banten, Pontang, dan Cikande.”

antara Sunda dan Portugis, Raja Sunda

pedagang India bersama masuknya

Juga, Rui de Brito Patalim dalam suratnya

akan menghadiahkan 1000 karung atau

agama Hindu ke Nusantara (abad I).

(6/01/1514; dikutip oleh Guillot dalam

160 bahar (kurang lebih 350 kwintal) lada

artikelnya yang bertajuk Orang Portugis

setiap tahunnya kepada Raja Potugis

dan Banten (1511—1682) mengatakan

sejak pembangunan benteng dimulai

Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta disebut bahwa pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Salakanagara. Kerajaan itu memiliki raja yang bergelar Dewawarman. Raja itu berasal dari India dan kerajaannya berpusat di sekitaran Gunung Pulosari.

foto: Ermak Oksana https://www.shutterstock.com/g/Ermak+Oksana

Sejalan dengan penemuan sebuah lonceng Hindu beserta sisa-sisa perkebunan lada di

Sebuah illustrasi suasana pasar besar di Banten, yang menunjukkan perdagangan sayuran dan rempah, sekitar 1598 oleh Cornelis Claesz, (Koninklijke Bibliotheek/ Dutch National Library). Biji lada hitam dan putih memiliki manfaat untuk kesehatan. Illustrasi sisa-sisa reruntuhan Keraton Kaibon (Kesultanan Banten), oleh Velde, C.W.M. van de & Lauters, P. sekitar 1846. (Leiden University Library, KITLV 50P4)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 17


dok.babpublishing

Untuk memperkuat legitimasi dan

harus ditangkap; (4) legalitas jual-beli lada

legalisasi kuasa atas lada, beberapa

harus dengan cap raja, serta dilarang

Sultan Banten mengeluarkan prasasti

memperdagangkan cengkeh dan pala.

yang berkaitan dengan penanaman dan

Berdasarkan prasasti itu, terlihat

jual-beli lada lengkap dengan sanki-

bahwa Penguasaan Banten terhadap

sanksi pelanggaran perdata dan pidana

daerah-daerah lain hanyalah sebuah

kepada rakyat dan penguasa di wilayah

proyeksi demi memenuhi kebutuhan

Sumatera, khususnya Lampung dan

atau permintaan pasar internasional.

Selebar. Prasasti (1662 M) diperuntukkan

Penguasan yang disertai dengan tindak

bagi penguasa dan rakyat Lampung.

kekerasan, kewajiban, sanki

Isinya adalah “semua peraturan Sultan

dan sebagainya.

Banten harus dipatuhi terutama dalam hal cukai lada”. Prasasti (1746 M) diperuntukkan bagi

Nyantanya, sebuah bundel laporan Belanda tentang kunjungan ke desa-desa di wilayah selatan Banten dan pantai

Punggawa Tulang Bawang, yang berisi: (1)

timur teluk Banten, terselip sebuah

ketetapan atas punggawa Tulang Bawang

naskah berupa instruksi penguasa

tentang tindak pidana beserta sanksinya;

militer Batavia, G.C. Johan Rohenschul,

(2) Perintah menanam lada 1000 pohon

pada 3 September 1803 kepada Sultan

(sawiji sawuwit) setiap orang; (3) Siapa yang

Banten untuk menanam lada. Laporan

menjual lada kepada orang Palembang

tersebut memuat nama-nama kampung,

18 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Illustrasi dari kota Banten lama, sekitar 1599 oleh Johann Theodor de Bry, memperlihatkan beberapa bangunan seperti istana kerajaan, pasar (paseban), pintu gerbang, pintu air, menara, masjid, istana pangeran, perumahaan, sungai yang melintasi kota, pengadilan sabandar dan pelabuhan, rumah pangeran, gudang amunisi dan senjata. (Orientalische Indien (“Little Voyages”))

(atas) Reruntuhan Keraton Kaibon, Banten, dan Pelabuhan Karangantu saat ini (bawah).


penyortir lada, mandor, dan hasil masing-masing kampung di bawah penguasaan penyortir. Juga disebutkan jumlah pembeli, pekebun, tanaman lada muda dan tua, tanaman dadap tua dan muda, serta hasil produksi masingmasing kampung dalam hitungan zak (karung). Nama-nama kampung tersebut, dalam identifikasi hari ini

foto: Syefri Luwis

termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Bogor. Sebuah nasihat seorang pedagang lada di Lampung kepada anaknya yang dijumpai petunjuk Nachoda Mangkuto (P. Swantoro dalam Perdagangan Lada Abad XVII; Perebutan Emas Putih dan Hitam di Nusantara. 2019., sebagai berikut: “Janganlah anakanda berlayar jauh. Baiklah berlayar dari Lampung Piabung lalu hinggan nenggeri Banten membawa lada. Miski hinggan sekali di dalam satu musim, ada juga untung sedikit-sedikit, karena, kalau ketika belum berlayar, boleh membuat ladang, kalau ada menaruh kawan. Adapun harga lada di dalam Piabung, kalau memberi real daluhu janji setahun, arti setahun enam bulan, boleh enam real sebara. Itu ‘adat’ di dalam Lampung hinggan pegangan Sultan Banten. Kalau selamat sampai di nenggeri Banten dijual kepada Sultan, lada itu boleh laku dua belas real di dalam sebara. Meski berapa banyak

foto: Syefri Luwis

lada datang, Sultan juga membelinya. Syahdan, Sultan menjual kepada Kompeni Hollanda dua puluh real satu bara. Itu adat di dalam nanggari Banten selama-lamanya.” Mungkin, satu pertanyaan dari Swantoro layak direnungkan: “Benarkah VOC memaksakan hak monopolinya (atas perdagangan lada dan rempah-rempah lainnya) itu di wilayah bangsa lain? (Niduparas Erlang)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 19


TO P I K UT A M A

foto: I.B.Putra Adnyana

Ketika Rempah Bali Berserikat dalam

Usadha

Keberadaan tradisi penggunaan rempah di Bali, meski belum diketahui secara pasti muasalnya, dapat dibaca dalam beberapa catatan kuna, yang termaktub dalam prasasti-prasasti. Satu di antaranya adalah prasasti Batur Pura Abang A, sekitar abad ke-9. Prasasti tersebut menyebutkan, beberapa jenis tanaman rempah dibudidayakan pada masa pemerintahan raja-raja Bali Kuna abad ke-9 sebagai tanaman obat dan makanan. Masyarakat Bali niscaya telah memanfaatkan rempah-rempah sebagai bumbu masakan, obat, dan perangkat ritual sejak dulu kala, meski kondisi alam dan jejak-jejak perdagangan antarpulau menyiratkan bahwa sebagian besar rempah-rempah itu bukanlah tanaman endemik Pulau Bali.

20 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Seorang pendeta menulis aksara suci pada lidah menggunakan batang sirih. (atas) Usadha sebagai pengobatan tradisional Bali. Usadha juga tertulis dalam lontar yang masih dipraktekan hingga sekarang (bawah). Terlepas dari hal-hal di atas, rempahrempah Bali berdasarkan jenisnya dibagi menjadi tiga yaitu: 1.

Rempah berupa buah/biji atau bunga, misalnya cengkih. jebugarum foto: I Putu Putra Kusuma Yudha

(buah pala). mica/sahang (merica hitam), mica gundil (merica putih), kapulaga, buah (pinang), tabia bun (lada panjang), asem (lunak), juuk lengis (jeruk nipis), juuk purut (jeruk keprok), belimbing wuluh, belimbing, delima, beligo, kelembak kasturi (kelembak yang harum), bidara, tingkih (kemiri), sarilungid, dan lain sebagainya. 2.

Rempah berupa umbi atau akar seperti jahe, cekuh (kencur), isen (lengkuas), gamongan (lempuyang), temu-temuan, see (sereh), kayu manis, kunir, kesuna (bawang putih), bawang, adas, rumput teki, sereh, sente (keladi tikus), dan lain lain.

3.

Rempah dari kulit, batang, akar, dan daun seperti cenana (cendana), majegau (gaharu), genje (ganja), wong (jamur), See (Sereh), jangu (deringo), kayu manis, mesui, cengkeh, Akar foto: I.B.Putra Adnyana

ilalang, kecubung, dan lain-lain. Rempah-rempah Bali merupakan tumbuhan yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk pengobatan dan ritual. Pengobatan tradisional Bali merupakan pengetahuan organik orang Bali akan tumbuh-

Pengobatan tradisonal bernama

punggung tiwas, usadha ila, usadha

tumbuhan organik mereka. Sebelum

usadha. Pengobatan ini tidak hanya

penyeseh beling, usadha tetenger

pengobatan modern masuk ke Bali,

dimaksudkan untuk pengobatan

beling, usadha dalem, usadha dalem

pengetahuan tradisional merupakan

manusia, tetapi juga pengobatan bagi

jawi, usadha sasah bebai, kalimosada

sarana kesehatan garda depan bagi

hewan dan tumbuhan. Usadha-usadha

kalimosadi, usadha buda kecapi sari,

masyarakatnya. Bahkan sampai saat

ini termuat dalam lontar-lontar dan

usadha buda kecapi cemeng, usadha

ini, pengobatan tradisional memiliki

jumlahnya ratusan, di antaranya:Â

tantri, usadha manak, usadha upas,

kelebihan sehingga dapat bertahan

1.

Usadha untuk tumbuhan: usadha

usadha cangkrim, usadha rare, usadha

sawah.

kuranta bolong, usadha ceraken

Usadha untuk hewan: usadha sato,

tingkeb, usadha edan, usadha buduh,

ushada kuda, usadha paksi.

taru premana, usada jinyana sandhi,

Usadha untuk manusia: usadha

usada ketek meleng, dan lainnya.

di tengah gempuran pengobatan modern yang menawarkan kecepatan

2.

penyembuhan, kemudahan, ketersediaan produk dan sebagainya.Â

3.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 21


Mengunyah sirih sudah diperkenalkan sejak dini dalam ritual “Metruna Nyoman� di desa Tenganan Pegringsingan. ritual dilaksanakan oleh masyarakat Bali, ada yang setiap hari, setiap lima hari, setiap bulan, enam bulan kalender bali, satu tahun kalender Bali bahkan seratus tahun sekali (eka dasa rudra). Penggunaan rempah dalam setiap ritual masyarakat Bali, sangatlah besar dan banyak. Beberapa rempah-rempah Bali memiliki fungsi ritual yang penting. Kemiri (Aleurites moluccana) adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dan rempahrempah. Di Bali, kemiri sering kita jumpai saat pembuatan sarana upacara foto: I.B.Putra Adnyana

keagamaan, khususnya pada Banten Pejati. Kemiri diletakkan bersamaan dan dalam satu tempat dengan telur, kelapa, beras, dan lain sebagainya. Kemiri merupakan simbol purusa (roh), kejiwaan, atau laki-laki. Selain dalam

sangat berkaitan dengan Ceraken atau

Banten Pejati, penggunaan kemiri atau

dapat diobati dengan rempah-rempah

ceraken usadha. Ceraken itu sendiri

tingkih dalam prosesi keagaman Hindu,

Bali adalah penyakit yang disebabkan

berarti kumpulan. Dalam ceraken

juga terdapat pada upacara Tabuh Rah

oleh dua hal; yakni sekala (nyata) dan

terdapat budidaya tanaman obat seperti

(persembahan tetes darah). Tabuh Rah

niskala (tidak nyata). Jika ditinjau dari

jebugarum (buah pala), jahe, cekuh

merupakan taburan darah binatang yang

jenis pengobatannya, penyakit dalam

(kencur), isen (lengkuas), temu-temuan,

digunakan untuk yadnya (kurban suci),

pengetahuan masyarakat Bali terdiri

see (sereh), Cenana (Cendana), majegau

biasanya menggunakan ayam sebagai

dari tiga jenis sakit yakni nyem (dingin),

(gaharu), wong (jamur), jangu (deringo),

persembahannya dengan cara diadu

panes (panas) dan sebaha/dumedala

kayu manis, mesui, cengkeh, dan lain lain.

sampai salah satu mengeluarkan darah.

Berdasarkan jenisnya, penyakit yang

Adapun cara pengobatan dengan

Sebelum ayam yang akan dijadikan

disesuaikan dengan penyakitnya.

menggunakan rempah di Bali, yakni

persembahan ini diadu, kemiri atau

1.

Gelem Nyem (dingin) obatnya adalah

dengan lima cara yaitu loloh (diminum/

tingkih yang merupakan simbol bintang

rempah-rempah yang bersifat

jamu), boreh (balur), simbuh (sembur),

akan diadu terlebih dahulu.Â

hangat; seperti jahe, cengkeh dan

tutuh (tetes) dan tampel (tempel). Pada

(sedang), dan obat-obatan yang diberikan

2.

3.

Tradisi penggunaan rempah di

sebagainya.

masa lalu, apabila ada yang sakit maka

Bali tetap eksis sampai saat ini dan

Gelem Panes (panas) obatnya adalah

pertolongan pertama sebelum dibawa

kedepannya, karena rempah-rempah

rempah-rempah yang bersifat dingin

ke mantri atau merogoh isi ceraken dan

bukan hanya untuk pengobatan dan

atau mendinginkan tubuh dengan

mengambil bahan bahan obat-obatan

bahan baku bumbu kuliner. Rempah-

mengeluarkan keringat; seperti

tradisional untuk selanjutnya digunakan

rempah Bali juga memiliki fungsi lain;

bawang merah dan daun dadap.

sesuai dengan kebutuhan; boreh, loloh,

yakni sebagai alat pendukung kegiatan-

Sebaha/dumelada (sedang) obatnya

simbuh dan sebagainya.

kegiatan ritual. Selama budaya dan masyarakat Bali masih bertahan selama

adalah yang bersifat netral; seperti kunyit dan jenis temu-temuan. Berbicara mengenai usadha, jenis sakit, dan penyembuhnya, tentunya

22 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Upacara/Ritual Ritual atau upacara merupakan nafas kehidupan masyarakat Bali. Upacara atau

itu juga rempah-rempah tetap bertahan pada fungsinya; yaitu pengobatan dan ritual. (I Putu Putra Kusuma Yudha)


2020, VOL. 9 INDONESIANA 23


TO P I K UT A M A

Pengarsipan atas Kekayaan Imajinasi

24 INDONESIANA VOL. 9, 2020


K

ementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Arsip Nasional RI (ANRI) telah menandatangani

kerjasama tentang pengajuan jalur rempah sebagai memori dunia (4/8/2020). Kemitraan ini menjadi penegasan bahwa arsip tidak melulu menangani administasi perkantoran tetapi juga mengerjakan sesuatu yang menyangkut dimensi kebudayaan. Jika kita telusuri arsip bernilai foto: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan

historis, khususnya era kolonial yang begitu melimpah terpreservasi di ANRI, kita akan menemukan berbagai bukti betapa magisnya rempah Nusantara pada masanya. Kemagisan itu tergambar dalam arsip bertanggal 8 Oktober 1720 tentang rekening van Lamberti aan Directeur Generaal Frans Castelijn betreffende kruiden en zaden (terjemahan bebas: Tagihan dari Lamberti kepada Direktur Jenderal Frans Castelijn tentang rempah dan benih). Silakan kunjungi https://sejarahnusantara.anri.go.id Oleh kerena itu, tulisan ini

Arsip pembelian rempah dari Banda dan Ambon. (ANRI - HR 2495 - 2066) Eropa, karena kekayaan rempahnya ketika itu. Nusantara, tepatnya Maluku

Menjemur Cengkih dan Pala.

Ragam Rempah, Imajinasi, dan Perilaku

menawarkan dua argumen, pertama,

adalah satu-satunya lokasi bagi para

rempah bukan sekedar perkara

pedagang Eropa menemukan Cengkih

nusantara mengkombinasikan berbagai

komoditas melainkan juga mengenai

dan Pala. Cengkih menjadi komoditas

jenis rempah sebagai bumbu masakan

kekayaan imajinasi masyarakat

penting karena dapat dijadikan sebagai

yang kemudian menghasilkan beragam

Nusantara dalam hal bumbu masakan

bahan baku untuk mengawetkan daging

rasa; pedas, panas, kuat, manis, asam,

dan pengobatan; kedua, karena

terutama ketika musim dingin di Eropa

atau campur rasa. Di bidang pengobatan

imajinasi tersebut dapat mengarahkan

tiba. Maka tidak heran harganya sempat

pun demikian. Lumrah kiranya bagi

perilaku masyarakat (Leeuwen 2011:76),

melampaui harga emas ketika itu.

masyarakat Indonesia menggunakan

maka pelestarian rempah adalah juga

Sebelum bangsa Eropa mampu

Bukan hal aneh bagi masyarakat

rempah untuk mengobati penyakit.

pelestarian ragam perilaku masyarakat

mendaratkan kaki di Nusantara, akses

Proses penemuan kombinasi takaran

Indonesia dalam hal peracikan masakan

mereka untuk mendapatkan rempah

dan jenis rempah yang diracik untuk

dan pengobatan.

cukup berliku. Perjalanan rempah hingga

menemukan cita rasa yang pas pada

ke Eropa dicapai dari jalur para pedagang

suatu makanan tentunya membutuhkan

Jawa, Cina serta Timur Tengah yang

daya imajinasi yang tidak sederhana.

kemudian membawa komoditas rempah

“Uji keampuhan” jenis rempah terhadap

itu ke Damaskus lalu ke Konstantinopel,

penyakit tertentu juga membutuhkan

perdagangan rempah terpenting pada

baru tiba di Eropa. Kemudahan akses

daya imajinasi yang tak kalah rumit.

kisaran abad ke-16–19 hingga awal abad

dan “keuntungan” lebih adalah dua

ke-20. Nusantara memang telah menjadi

alasan utama bangsa Eropa untuk datang

Khairunnisyah, meskipun ada semacam

semacam legenda, khususnya bagi bangsa

berbondong-bondong ke Nusantara.

bumbu generik yang kerap digunakan

Rempah, Komoditas dan Jejak Kolonial(isme) Nusantara pernah menjadi simpul

Menurut Anindita, Asbur dan

2020, VOL. 9 INDONESIANA 25


foto: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan

melalui pelestarian informasi tentang dinamika rempah era kolonial juga perlu diperkaya dengan informasi tentang dinamika rempah di era kontemporer. Jika lembaga-lembaga konservasi tanaman fokus pada pelestarian tanaman rempah maka lembagalembaga informasi seperti lembaga arsip fokus pada pelestarian pengetahuan dan praktek masyarakat dalam memanfaatkan rempah, terlebih untuk pengetahuan yang belum

dok.babpublishing

terdokumentasi, seperti pada masyarakat adat. Pengetahuan tentang rempah ini menjadi penting karena menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang menjadi salah satu obyek pemajuan

di berbagai daerah di nusantara, namun

WHO, pemerintah Indonesia sejak

kebudayana yang harus dilindungi (Pasal

ada rempah yang sangat khas dan

2007 mengeluarkan garis kebijakan

5 Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017

tidak digunakan oleh daerah lain di

pengembangan obat tradisional.

tentang Pemajuan Kebudayaan).

nusantara, salah satunya Andaliman

Salah satu cara yang ditempuh

Peran serta lembaga arsip dalam

(Zanthoxylum acanthopodium DC) di

sebagaimana tercantum dalam

pelestarian pengetahuan tradisional

Sumatera Utara. Namun, demikian

kebijakan itu adalah penelitian obat

sudah disadari oleh komunitas kearsipan

Andaliman ini juga ditemukan di India,

tradisional agar obat tradisional dapat

internasional melalui munculnya

Cina dan Tibet. Biasanya Andaliman

terverifikasi dan dapat tersistematisasi

konsep indigenous/tribal archives. Secara

digunakan sebagai bumbu dalam

secara ilmiah sehingga bisa menjadi

internasional, ada The Association of

masakan seperti ikan mas arsik,

pendamping dalam pengobatan medis

Tribal Archives, Libraries, and Museums

natinombur (ikan panggang) dan sangsang

modern. Kondisi obyektif berlimpah dan

(ATALM). Ini adalah perkumpulan

(daging masak).

beragamnya rempah membuat imajinasi

internasional lembaga informasi, arsip,

masyarakat Nusantara begitu kaya

perpustakaan dan museum yang

bidang pengobatan disebut herbal.

dalam mengolah rempah itu baik untuk

mendedikasikan diri untuk pelestarian

Menurut Indonesia Window 2020 negara

peracikan makanan maupun pengobatan.

dan pemanfaatan bahasa, sejarah,

Rempah yang digunakan dalam

kita memiliki sekitar 33 ribu tanaman obat herbal. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah yang paling populer dan paling banyak digunakan

Arsip Komunitas dan Penyelamatan Rempah Kekhawatiran akan punahnya

budaya dan cara hidup masyarakat adat (lebih lengkap lihat www.atalm. org). Kendati untuk konteks Indonesia konsep tersebut belum terlalu dikenal,

karena berkhasiat menjaga stamina

pengetahuan masyarakat dalam

namun praktek pelestarian pengetahuan

tubuh. Informasi berkenaan dengan

mengolah rempah dan tanaman

pengetahuan masyarakat, termasuk

penggunaan herbal ini terekam dalam

rempah itu sendiri sudah disadari oleh

pengetahuan tradisional melalui

“Serat Kawruh” dan “Serat Centhini” yang

berbagai pihak, baik para peneliti

dokumentasi atau pengarsipan relatif

tersimpan di Perpustakaan Keraton Solo.

maupun pemerintah. Pengajuan

telah berjalan.

Dalam “Serat Kawruh” tersaji informasi

jalur rempah sebagai memori dunia

tentang 1.734 cara membuat obat

dapat menjadi momentum bagi upaya

kompleksitas keragaman budaya di

tradisional. Dalam kaitan pengembangan

penyelamatan rempah yang lebih luas.

Indonesia, maka selayaknya dibuka

jamu obat tradisional sesuai standard

Upaya yang telah di lakukan oleh ANRI

berbagai ruang untuk memfasilitasi

26 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Mengingat jangkauan geografis,


Beberapa rempahrempah dari kepulauan Banda, Ternate & Tidore, Biji Lada, Cengkih, Suatu Harapan, Pengeringan Fuli, dan Andaliman dari Sumatra Utara. (searah jarum jam)

Arsip-arsip VOC tentang perdagangan rempah di Nusantara. (ANRI - HR 2495 - 0404 dan 0012)

partisipasi masyarakat luas dengan

kekinian ke-rempah-an yang dihimpun

mudah. Partisipasi untuk memperkaya

oleh masyarakat (baca: arsip komunitas).

pengetahuan atau informasi juga pula

Dengan terselamatkannya

pemanfaatan informasi yang sudah

pengetahuan atau informasi tentang

terhimpun. Pada porsi ini, koneksi antara

rempah maka kekayaan imajinasi

sistem yang sudah dikembangkan oleh

dan ragam perilaku pemanfaatan

arsip komunitas ini dengan sistem yang

rempah oleh masyarakat juga akan

dikembangkan oleh lembaga informasi

terselamatkan. Sehingga nantinya

milik negara, khususnya lembaga arsip

keragaman imajinasi dan praktek

menjadi sangat penting. Sehingga

masyarakat Nusantara dalam mengolah

informasi historik ke-rempah-an yang

rempah dapat terus ditularkan, lintas

sudah terhimpun oleh institusi negara

waktu, lintas generasi. (Harry Bawono:

dapat diperkaya dengan informasi

Peneliti – Arsip Nasional RI)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 27


TOP I K KHU S U S

Sensasi Getir Menggetarkan

Andaliman Ternyata, ada juga rempah-rempah yang hanya dimanfaatkan untuk kuliner lokal, yakni andaliman atau sinyarnyar. Apa itu? Andaliman di Toba Sinyarnyar, Sipirok, adalah mericanya Batak. Andaliman memiliki rasa yang khusus dan istimewa, karena rempah-rempah ini hanya ada di Tapanuli. Andaliman adalah kulit buah dari sejenis tumbuhan dari suku jerukjerukan atau Ratuceae. Andaliman ini punya daya jelajah yang luas. Tumbuhan semak tegak yang rata-rata tingginya 2 – 4 meter dikenal dunia sebagai Sichuan pepper atau merica Sichuan (satu provinsi di Cina). Bumbu yang terasa getir menggetarkan ini dikenal sebagai sancho di Jepang. Sementara itu, Korea mengenalnya sebagai sanchonamu. Yang paling menarik dari andaliman ini adalah aromanya yang mirip dengan aroma jeruk. Lidah Anda akan terasa kaku dan bergetar ketika dikenai sensasi getir yang muncul dari buah mini tanpa isi tersebut. Berikut beberapa masakan khas Batak Angkola yang menggunakan andaliman atau sinyarnyar.

Biji andaliman yang dipergunakan sebagai bumbu masak pada masakan Batak, selain itu penggunaan andaliman sebagai bumbu masak juga dikenal dalam masakan Asia Timur dan Asia Selatan.


foto: Ariyani Tedjo https://www.shutterstock.com/g/AriyaniTedjo 2020, VOL. 9 INDONESIANA 29


foto: Elen Marlen https://www.shutterstock.com/g/Elen+Marlen

Arsik Pengalaman menikmati rempahrempah Batak berlanjut. Saat ini, arsik dikenal sebagai kuliner khas Batak. Di Angkola, arsik termasuk masakan yang paling disukai. Saya mengatakan bahwa salah satu masakan original Batak Angkola yang tidak terpengaruh masakan minang adalah arsik. Mengapa demikian? Satu di antaranya karena kuliner tidak menggunakan bumbu yang kompleks dan minyak santan. Bahan utama arsik adalah ikan mas, satu jenis ikan yang hidup dengan baik di air mengalir pegunungan Sipirok. Sejatinya, bahan yang tak boleh ditinggalkan dalam memasak arsik adalah sinyarnyar atau andaliman. Selain itu, kebiasaan orang Sipirok ketika memasak arsik adalah menggunakan asam siala atau buah kecombrang. Buah kecombrang, bukan bunga kecombrang, yang dikeringkan adalah varian asam alami masakan yang sangat segar.

Ikan Bakar Sinyarnyar

Ikan bakar andaliman bukan masakan

Sensasi rasa yang dihasilkan oleh

dengan tingkat pengolahan yang rumit.

rempah-rempah khas tempatan,

andaliman atau sinyarnyar sebagai getir

Ikan bakar ini tidak berbeda dengan ikan

andaliman dan asam siala, adalah

menggetarkan. Jika berkesempatan

bakar lainnya. Seekor ikan diletakkan di

pengalaman rasa yang tidak dapat

berkunjung ke Restoran Sinyar-nyar

atas panggangan lalu digarang di atas api

dilupakan. Kalaulah dapat disimpulkan,

di Purbatua Bagas Godang Sipirok,

hingga ia matang. Akan tetapi, ikan bakar

penggunaan rempah-rempah tempatan

anda dapat menikmati ikan bakar

ini jadi istimewa karena di antara warna

semacam andaliman dan asam siala

andaliman atau sinyarnyar khas

merah cabai dan warna ungu bawang iris

merupakan perwujudan dari “merdeka

Sipirok. Rempah-rempah khas Batak

tersembul warna hijau-kuning berkilat

kuliner�. Sensasi rasa adalah mustika

itu memberikan sensasi rasa getir yang

kulit andaliman.

rasa, sebagaimana kata Soekarno.

Orang Sipirok mengekspresikan rasa

justru membangkitkan adrenalin dan menambah selera makan. Peracik rempah asal Batak, Rahung

Penikmat ikan bakar andaliman saat tiba pada gigitan pertamanya mengenai andaliman, menurut dugaan, tak dapat

Sambal Tuk-tuk dan Ikan Mas Holat

Nasution, dalam blognya pernah

lagi berkata-kata. Ikan bakar yang gurih

menulis demikian, “Kelak aku ingin

dan cabai-bawang yang pedas tiba-

paling khas dari Angkola adalah sambal

menjadi ikan bakar andaliman ini agar

tiba membuat lidahnya kelu tersengat

tuktuk. Ia khas karena ada andaliman di

kau bisa menikmatiku. Kenikmatan

sensasi getir menggetarkan yang

dalamnya. Anda dapat membayangkan

hingga bodoh�. Rahung Nasution bahkan

muncul dari potongan-potongan kecil

rasa pedas cabai keriting, tomat, bawang

mengejar ikan bakar andaliman hingga

andaliman. Kira-kira demikianlah orang

merah, bawang putih, dan bunga

ke jantung asalnya, Sipirok Godang

Sipirok mengekspresikan seni menikmati

kecombrang produk petani lokal yang

Kecamatan Sipirok.

andaliman yang lebih mereka kenal

sudah diberi penyedap berupa ikan aso-

sebagai sinyarnyar.

aso (sejenis peda – red) kemudian diberi

30 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Sensasi berlanjut. Sebenarnya, sajian


foto: Maulana Image https://www.shutterstock.com/g/maulanaimage

Biji andaliman kering, selain kulitnya yang digunakan sebagai bumbu masak, buah andaliman juga sering dimanfaatkan untuk kepentingan industri farmasi. (atas) Ikan arsik, makanan khas Batak Toba dan Mandailing, Sumatra Utara, unsur khas masakan Batak adalah adanya penggunaan buah asam cikala, dan andaliman. (bawah) Andaliman bisa ditemui di pasar tradisional di Sumatra Utara dalam keadaan utuh atau sudah dalam bentuk bumbu halus siap olah maupun dalam bentuk pasta. aroma jeruk dan rasa getir menggetarkan dari sinyarnyar ada di atas piring kecil di depan Anda. Lantas, nikmat mana lagi yang hendak Anda dustakan? Sambal tuktuk inilah yang kemudian tak terbantahkan ketika hadir menemani sajian kuliner original khas Batak Angkola. Sajian pertama adalah ikan mas holat. Holat dalam bahasa Batak Angkola dapat dimaknai sebagai kelat. Itu adalah sebuah sensasi rasa yang menyebat serat atau kesat pada pangkal lidah. Dari mana sensasi rasa itu datang? Sensasi itu berasal dari kulit pohon Balakka atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Malaka atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Indian gooseberry atau yang dalam bahasa Latin dikenal

foto: dok.babpublishing

sebagai Pyllanthus emblica. Perlu dipertegas, sensasi rasa kelat itu diperoleh dari kulit cabang pohon balakka yang paling lurus dan paling tebal kulitnya. Gerusan kulit pohon balakka inilah yang kemudian dijadikan kuah atau sup untuk menyempurnakan

Dapat dikatakan, sajian ini adalah kuliner original Batak Angkola. kuliner ini semakin

penyajian ikan bakar. Cara membuatnya:

terlihat original ketika dalam penyajiannya disertakan sambal tuktuk sinyarnyar.

gerus kulit balakka, iris bawang dan jahe

Jangan lupa, sensasi kelat kulit balakka dan rasa getir menggetarkan andaliman ditutup

lalu campurkan! Ambil sejumput beras

dengan sensasi rasa pahit dari pakkat atau pucuk rotan.

silatihan lalu gongseng sampai rapuh,

Penjelajahan kita dalam mustika rempah-rempah sebenarnya tak hendak dihentikan.

kemudian tumbuk halus dan campurkan

Namun apa daya, halaman kita terbatas. Kedalaman rasa yang terkandung dalam

dengan bahan tadi. Kemudian taburkan

aneka kuliner rare dan sederhana adalah kenikmatan asli tanpa basa-basi. Perjalanan

garam secukupnya lalu tuangkan air

andaliman yang jauh hingga Jepang dan Korea ternyata tetap lebih nikmat ketika

panas ke dalam adonan. Sup Holat Anda

disantap dengan kesedarhanaan ikan bakar, arsik, holat dan naniura. Penjelajah rasa

sudah jadi. Masukkan ikan mas panggang

Anda yang jauh hingga Perancis dan Italia semoga dapat berlabuh di dataran tinggi

ke dalamnya.

Sipirok dalam kehangatan andaliman atau sinyarnyar. (Alfian S. Siagian)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 31


TOP I K KHU S U S

tra a yang A m u jaib dari Ujung Utara S

32 INDONESIANA VOL. 9, 2020

foto: Irfan M Nur https://www.shutterstock.com/g/Irfanmnu

“Oen Ranup”


“muliah sajian ranub di dalam tempat, seperti memulikakan tamu dengan tutur kata yang baik dan sopan” Pepatah masyarakat Aceh sebagai simbol keakraban. Tingginya tingkat konsumsi ranup masak di kalangan anak-anak muda, membuat perayaan Maulid Nabi. Ranup menjadi

ranup tampil sebagai sumber pemasukan

rakan mameh suara…… Demikian pepatah

simbol pembuka silaturahmi antara dua

utama bagi warung-warung kecil di Aceh

orang Aceh. Kita mulakan pembicaraaan

belah pihak yang dipertemukan oleh

Barat.

kita dengan sebuah kemuliaan. Kita akan

adat dan agama. Oleh karena itu, ranup

Mulia wareh ranup lampuan, mulia

Kebiasaan mengkonsumsi ranup tanpa

berbicara tentang kemuliaan oen ranup

memiliki peran penting dalam relasi

disadari memberikan manfaat positif bagi

atau daun sirih, di tengah majunya ilmu

sosial masyarakat.

kesehatan anak-anak muda Aceh Barat.

pengetahuan dan teknologi bidang medis

Namun demikian, jika dilihat lebih jeli,

Ranup ternyata memiliki kandungan

serta farmasi. Karena oen ranup adalah

ranup bukan hanya benda adat yang

vitamin C, thiamine, niacin, riboflavin,

obat tradisional yang diwariskan turun-

menjadi simbol relasi sosial masyarakat

dan karoten, serta kandungan kalsium

temurun dan diyakini dapat memberikan

Aceh, akan tetapi juga merupakan benda

yang tinggi yang bermanfaat untuk

banyak manfaat. Sehingga tak jarang

konsumsi yang dinikmati dalam beragam

memperkuat gigi dan tulang.

masyarakat memadukan oen ranup yang

cara dan beragam tujuan.

tradisional dengan pengobatan medis sebagai rangkaian upaya penyembuhan yang dilakukan. Kita sama-sama mafhum, masyarakat

Ranup Masak: Camilan SehariHari Di Aceh Barat, ranup adalah benda

Ramuan 44 Hari Pasca Persalinan Selanjutnya kita akan melihat ritual 44 hari di masyarakat Aceh Barat. Ritual 44

Aceh punya banyak kearifan lokal

konsumi sehari–hari layaknya camilan

hari adalah ritual pascapersalinan. Orang

termasuk pengobatan (health seeking

atau makanan selingan lintas usia. Ranup

Aceh barat memandang ibu dan anak

behavior) dengan menggunakan tanaman

disukai tidak hanya orang tua tetapi juga

pascapersalinan masih kotor dan belum

obat, satu di antaranya ranup atau sirih

remaja. Ranup dinikmati dalam bentuk

diterima bumi. Oleh karenanya, selama

(yang dicampur dengan kapur sirih,

gulungan setelah terlebih dahulu diolesi

44 hari sang ibu wajib mengonsumsi

potongan gambir, dan pinang). Sirih

kapur sirih, pinang, dan kacang tanah

ramuan yang meraka sebut sebagai

merupakan tumbuhan perdu yang dapat

tumbuk yang masak sangrai. Orang Aceh

madeung. Madeung disiapkan oleh

dijumpai di hampir seluruh daerah

Barat menyebutnya ranup masak.

ma’blien (bidan). Ramuan itu terdiri dari

Nusantara. Sirih, ditempatkan secara

Di sana, ranup biasa dikonsumsi

oen ranup, oen maneh, oen pungki boh

terhormat sesuai dengan ragam budaya

sebagai pelengkap senda-gurau dengan

pineng nyen (pinang muda), oen kandeh

tempatan. Sirih merupakan tumbuhan

teman-teman di sore hari. Orang Aceh

(kandis), kunyet (kunyit), majakani,

adat yang dapat dijumpai dalam ritus-

Barat mengatakan, ada yang kurang jika

dan rebung muda. Semua bahan-

ritus atau upacara-upacara adat; seperti

tidak mamoh ranup (kunyah ranup) ketika

bahan tersebut direbus dan airnya

upacara pernikahan pada etnis Melayu

bersantai sore. Remaja Aceh Barat pun

diminum oleh ibu nifas dengan tujuan

di Sumatera Timur, dan digunakan pada

menganggap ranup sebagai lambang

memberikan rasa hangat pada tubuh

hampir semua upacara adat etnis Batak,

dari pergaulan.

dan mempercepat pemulihan, serta

serta tentu saja Aceh.

Tidak ada ritual khusus ketika

keluarnya darah kotor sisa nifas.

Bagi masyarakat Aceh, ranup

menyantap ranup dalam pergaulan,

Selain ranup rebusan, ranup kering

mempunyai fungsi penting dalam

tetapi nilai dan pandangan mereka

juga dimanfaatkan – ditumbuk bersama

upacara dan perayaan seperti

terhadap eksistensi ranup di dalam ruang

beberapa ramuan lain – dengan cara

pernikahan, lamaran, turun tanah, dan

interaksi membuat ranup terpandang

dioleskan di perut sang ibu. Kandungan

2020, VOL. 9 INDONESIANA 33


yang ada pada daun sirih dipercaya dapat

Bidan gampong (dukun bersalin) atau

ke bagian pusar bayi sebenarnya

memberikan rasa hangat kepada ibu

yang dikenal dengan ma’blien – sambil

mendapatkan banyak penolakan dari

yang dalam masa nifas.

mengunyah ranup lengkap dengan

sisi medis. Para pelaku pengobatan

campuran gambir dan kapur sirih - setiap

kekinian khawatir jika kunyahan ranup

pagi melakukan ritual penyembuhan dan

di mulut ma’blien mengandung bakteri

percepatan proses tanggalnya pusar bayi.

dan menginfeksi sang bayi.

Kunyah Ranup untuk Kesembuhan Tali Pusar Bayi Selain mengonsumsi ranup sebagai

Ma’blien mengusapkan air kunyahan

Tetapi karena masyarakat

makanan selingan, masyarakat Aceh

ranup ke bagian pusat bayi sambil

memandang tinggi dan memuliakan

yang tinggal di Kawasan Barat Aceh,

merapal doa-doa kepada Sang Khalik

ranup maka ritual penyembuhan

juga mengunakan ranup sebagai obat

untuk memohon kesehatan. Kandungan

dengan menggunakan air kunyahan

pengering tali pusar bayi yang baru lahir.

air kunyahan ranup yang dilumurkan

ranup tetap berlaku. Selain dianggap

foto: Panuphong J https://www.shutterstock.com/g/Panuphong+J

34 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Ampont El David https://www.shutterstock.com/g/AmpontElDavid

foto: Widya Amrin https://www.shutterstock.com/g/widyaamrin

dapat mempercepat penyembuhan tali pusar bayi, air kunyahan ranup juga dapat menjaga bayi dari gangguan roh-roh jahat yang ada di sekelilingnya. Terlebih lagi, ranup juga digunakan sebagai pengganti minyak kayu putih, karena dirasakan lebih hangat untuk bayi dan anak-anak. Meskipun demikian, pendampingan tetap dilakukan oleh petugas kesehatan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi infeksi pada tali pusar bayi yang masih terbuka. Orang medis tidak bisa meminta

Upacara Peucicap Upacara peicipap adalah upacara

masyarakat untuk meninggalkan tradisi

memperkenalkan rasa pada bayi.

yang sudah mereka lakukan secara

Upacara ini pun tidak lepas dari

turun-temurun. Oleh karenanya, upaya

penggunaan ranup di dalamnya, ranup

pendampingan dirasa lebih efektif untuk

disajikan dalam nampan bersamaan

dilakukan agar keberlangsungan nilai-

dengan gula dan garam yang akan

nilai budaya tetap dapat berjalan dan

dioleskan ke lidah bayi secara simbolis.

upaya kesehatan juga dapat dijaga.

Sebelum memulai ritual ini, para tamu, Tengku, dan tokoh masyarakat/adat memakan ranup yang telah disajikan

terlebih dahulu. Bisanya orang tua dari si bayi juga diwajibkan untuk mengunyah ranup bersama-sama. Kemudian mulut bayi akan diolesi dengan gula dan garam, dengan harapan pahit manisnya hidup dapat disyukuri dengan bijaksana. Tradisi mengonsumsi ranup banyak mendatangkan manfaat serta kebaikan dari sisi kesehatan. Selain itu, upaya pelestarian nilai-nilai budaya kepada generasi muda juga terus berlangsung, sehingga transfer pengetahuan tidak pernah terputus atau hilang. Ranup adalah kemuliaan dan tradisi pengobatan yang selalu terjaga. (Mufida Afreni B. Bara - Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Aceh Badan litbangkes Kemenkes RI)

Daun sirih yang telah diikat rapi untuk dijual dipasar tradisional. Ranup Mameh, salah satu jenis makanan ringan dari Aceh. Perlengkapan untuk menyirih. Ranub menjadi salah menu wajib adat untuk dihidangkan dalam tradisi masyarakat Aceh.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 35


TOP I K KHU S U S

Memasak

Bubur Suro, Mengajak Bersedekah

foto: Farisata Maula

Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam penanggalan Hijriah atau kalender Islam, satu bulan yang

menyelenggarakan tradisi bubur suro

dianggap penting bagi umat Islam, selain

(orang Aceh menamakan lain, yakni

Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah. Ada dua

kanji acura). Kata “suro� adalah pelafalan

Diriwayatkan, setelah selamat dari

hal yang membuat bulan Muharam

dari kata “Asyura� oleh lidah sebagian

banjir besar, Nabi Nuh memerintahkan

menjadi sakral: tahun baru Islam dan

orang Indonesia, terutama Jawa. Tradisi

agar umatnya mengumpulkan berbagai

hari Asyura. Tahun baru Islam jatuh

tersebut merupakan sesuatu yang umum

macam bahan makanan yang tersisa;

pada tanggal 1 Muharam, sedangkan

di banyak daerah di Indonesia; terutama

dan kemudian terkumpullah beberapa

hari Asyura merupakan hari ke-10 pada

di daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan,

macam kacang-kacangan. Nabi Nuh

bulan Muharam.

dan Sulawesi.

memerintahkan agar bahan makanan itu

Hari Asyura menjadi istimewa karena

Dalam penyelenggaraannya, tradisi

dibuat bubur, agar makanan yang tinggal sedikit dapat dinikmati oleh semua orang.

beberapa peristiwa bersejarah bagi umat

bubur suro berupa kegiatan memasak

Islam terjadi pada tanggal 10 Muharam

dan menyajikan bubur yang khas yang

Terdapat variasi dalam detail tradisi

itu. Beberapa peristiwa itu misalnya,

dinamakan sebagai bubur suro; bubur

bubur suro dari daerah yang berbeda-

Allah menerima taubat Nabi Adam, kapal

beras yang dipadukan dengan rempah-

beda. Perbedaan itu, misalnya dari

Nabi Nuh mendarat setelah banjir besar,

rempah dan kacang-kacangan teartentu.

segi bumbu dan bahan, serta waktu

Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari

Tradisi itu diselenggarakan secara

pelaksanaan (1 Muharam atau 10

api, Allah menyelamatkan Nabi Musa

komunal, yang berarti melibatkan banyak

Muharam). Satu daerah di Pulau Jawa

sehingga bisa melewati lautan, dan Allah

anggota masyarakat dari suatu kampung

yang memiliki tradisi bubur suro yaitu

mengeluarkan Nabi Yunus dari perut

atau unit kemasyarakatan lainnya. Setelah

Banten, terutama di pedesaan. Hal

ikan. Dengan keistimewaan seperti itu,

bubur disajikan, orang-orang pun berdoa.

yang menarik yaitu adanya peralihan

umat Islam merayakan Asyura dengan

Tradisi bubur suro terinspirasi dari

penyelenggara tradisi bubur suro dari

salah satu peristiwa dalam perjalanan

komunal menjadi individual. Di suatu

hidup Nabi Nuh dan umatnya yang

kampung tak jauh jantung ibu kota

cara tersendiri dalam memperingati

terjadi pada Hari Asyura, dalam rangka

Provinsi Banten, ada ibu rumah tangga

Hari Asyura, satu di antaranya

mengenang serta mengambil berkahnya.

yang tetap menjaga tradisi bubur

berbagai ritual, misalnya berpuasa. Umat Islam di Indonesia memiliki

36 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Rempah bahan bubur suro, bubur suro mulai masak, proses pembuatan bubur suro yang dilakukan bersama-sama baik pria maupun wanita, rempahrempah bahan bubur suro.

suro ketika mulai ditinggalkan oleh

kacang tunggak. Keberadaan kacang-

masjid, musala, dan majelis taklim—

masyarakat.

kacangan sendiri merupakan tradisi yang

untuk dibacakan zikir dan doa

Ibu tersebut mewarisi tradisi bubur

terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Selain

terhadapnya. Masyarakat berkumpul

suro dari buyutnya, lebih dari 40 tahun

kacang-kacangan, tentu saja diperlukan

dan berdoa di tempat-tempat tersebut

lalu. Sejak sang buyut memperkenalkan

beras sebagai bahan utama membuat

setelah menunaikan ibadah salat magrib.

tata cara memasak dan pengetahuan lain

bubur; dilengkapi dengan kelapa, santan

yang berhubungan dengan tradisi bubur

kelapa, dan jagung.

suro, ia tetap menyelenggarakannya

Diceritakan bahwa pada masa lalu— atau ketika tradisi bubur suro masih

Proses membuat bubur suro diawali

diselenggarakan secara komunal—bubur

hingga kini menjadi seorang nenek dari

dengan menghaluskan bumbu-bumbu.

suro dibuat secara komunal oleh banyak

14 cucu. Ia menjaga tradisi tersebut

Setelah itu, bumbu-bumbu itu ditumis

orang secara bersama-bersama, baik

karena menyukai dan meyakini makna

hingga keluar aromanya, beras direbus

dalam hal penyediaan bumbu dan bahan

dalam tradisi bubur suro.

hingga menjadi bubur, kacang-kacangan

maupun proses memasak. Diceritakan

direbus hingga matang, kelapa diiris kecil

pula bahwa pada masa lalu bubur suro

bubur suro yaitu sedekah. Ia meyakini

dan disangrai. Ketika bumbu yang ditumis

dihidangkan dan didoakan di ruang

kebaikan yang lahir karena sedekah.

sudah mewangi, maka santan dan garam

terbuka, biasanya di dekat persimpangan

Dalam keyakinannya pula -sesuai dengan

dimasukkan ke dalamnya. Bumbu-bumbu

jalan masuk kampung.

ajaran dari buyutnya—tradisi bubur suro

yang sudah dicampur santan dan garam

dimaksudkan sebagai ritual tolak bala.

itu kemudian dimasukkan ke dalam

yang biasa, ada pula tradisi membaca

Ritual tolak bala merupakan suatu ritual

bubur beras. Menyusul setelah itu adalah

manaqib (biografi) Syekh Abdul

untuk menolak datangnya bencana. Hal

kacang-kacangan yang sudah direbus,

Qodir Al-Jaelani—seorang tokoh sufi

itu dianggap perlu dilakukan mengingat

juga dimasukkan ke dalam bubur beras

terkemuka asal Baghdad yang hidup

selepas bulan Muharam, datanglah

yang sudah berbumbu. Tahap terakhir

pada abad ke-11 Masehi yang pengaruh

bulan Safar—bulan yang dianggap

yaitu memasukkan irisan kelapa sangrai,

ajarannya masih dirasakan hingga kini di

sebagai bulan bencana dan kesialan oleh

bawang goreng, dan kerupuk sebagai

Indonesia—ketika menghidangkan bubur

sebagian umat Islam.

pelengkap.

suro. Pembacaan manaqib ini dapat

Menurutnya, makna inti tradisi

Proses memasak bubur suro

Pemanfaatan Rempah Tradisi bubur suro merupakan suatu

Selain berdoa dengan tata cara

berlangsung hingga tengah malam, yang

bisa memakan waktu seharian,

implikasinya yaitu bubur suro dinikmati

tergantung banyaknya bahan yang

pada tengah malam pula.

contoh pemanfaatan rempah-rempah

dimasak. Terkadang, prosesnya dibagi

Seiring dengan berjalannya waktu,

dalam menunjang keberlangsungan

menjadi dua hari. Hari pertama untuk

banyak hal berubah, termasuk tradisi

suatu tradisi. Dalam membuat bubur

menyiapkan dan menghaluskan bumbu-

masyarakat. Tradisi bubur suro juga

suro diperlukan beberapa macam

bumbu, sementara hari kedua untuk

mengalami perubahan; terutama dalam

bumbu; yaitu: merica, ketumbar, bawang

memasaknya. Hal yang pasti, bubur

hal penyelenggara, ritual pengiring, cara

putih, bawang merah, jahe, daun salam,

harus terhidang di tanggal 10 Muharam.

penyajian. Namun, nilai yang ada dalam

serai, kemiri, dan garam. Bumbu-bumbu

Bubur suro matang pada sore hari,

tradisi bubur suro tampaknya bertahan.

tersebut merupakan salah satu dari

sekitar waktu salat asar, dan kemudian

Ia tetap dimaknai sebagai momentum

dua elemen penting yang membedakan

dibagikan ke berbagai masjid, musala,

untuk bersedekah, atau berbagi;

bubur suro dengan bubur berbahan

dan majelis taklim di kampung dan

sebagaimana Nabi Nuh mencontohkan

utama beras lainnya.

sekitarnya. Sebelum dinikmati oleh

dengan cara mengolah bahan makanan

Elemen lainnya yaitu bahan-bahan

berbagai anggota masyarakat, bubur

yang tersisa menjadi bubur sehingga

berupa kacang-kacangan: kacang tanah,

suro terlebih dahulu dihadirkan di

setiap orang dapat menikmatinya.

kacang hijau, kacang kedelai, dan

tempat-tempat berkumpul—seperti

(Herman Hendrik)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 37


TOP I K KHU S U S

Pandemi,

S

Momentum Kebangkitan Rempah

foto: Odua Images https://www.shutterstock.com/g/oduaimages

38 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Sejarah mencatat, Ibu Pertiwi dan seluruh negara di dunia harus berjibaku menghadapi sebuah pandemi, virus Covid-19 atau korona pada 2020. Pertarungan dunia vs Covid-19 bermula pada akhir 2019 ketika negeri Tirai Bambu, Cina, mendeteksi warganya yang terjangkit virus mematikan. Virus tersebut diduga berasal dari hewan yang dikonsumsi oleh masyarakat di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Di Indonesia, pertarungan melawan virus mematikan itu dimulai sejak kasus infeksi Korona pertama pada awal Maret 2020, yang diumumkan oleh Presiden RI Joko Widodo. Meski demikian, sebagian peneliti meyakini bahwa virus itu telah masuk ke Indonesia lebih awal. Sejak terdeteksi, tren penyebaran Covid-19 di Tanah Air sesuai grafik terus meningkat. Bukan hanya angka positif tapi juga angka kematian. Bahkan Indonesia menjadi satu negara terjangkit virus korona dengan persentase kematian yang cukup tinggi. Jelas persoalan korona ini bukan hal sepele. Wabah ini memberikan dampak yang luar biasa pada hampir semua tatanan kehidupan umat manusia. Dampaknya tidak hanya terasa di sektor kesehatan dan sosial tetapi pada secara lebih luas berdampak buruk pada sektor ekonomi. Beberapa negara bahkan sampai terpuruk hingga level krisis. Berbagai upaya penanggulangan hingga pencegahan secara massif dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga Indonesia dari kemungkinan terburuk akibat wabah Covid-19. Pembatasan aktivitas masyarakat menjadi hal yang paling dominan dirasakan oleh kita sebagai masyarakat. Namun, hidup terus berlanjut. Kesehatan masyarakat harus tetap dijaga dan roda perekonomian harus terus berjalan, hingga kemudian muncullah istilah new normal atau kenormalan baru. Kita diharapkan dapat hidup berdampingan dengan wabah penyakit yang tak kasat mata itu. Adanya pandemi menjadi momentum, satu di antaranya adalah momentum bagi


foto: Odua Images https://www.shutterstock.com/g/oduaimages

Jamu beras kencur dan kunyit asam, salah dua jamu yang paling digemari oleh masyarakat. kebangkitan rempah Nusantara. Sebelum vaksin virus Covid-19 ditemukan, cara bertahan paling ideal untuk menangkal virus ini adalah penerapan protokol kesehatan dan penjagaan sistem imun. Saran terbaik adalah memanfaatkan rempah demi sistem imun yang kuat.

Peran Rempah di Tengah Pandemi

foto: Diade Riva Nugrahani https://www.shutterstock.com/g/Diade_Riva

Pesona rempah Nusantara - primadona dan bahkan identitas keindonesiaan – sangatlah kuat. Sejak dahulu hingga kini, rempah-rempah tetap eksis dalam dinamikanya sendiri, baik pemanfaatan, produksi, kualitas, hingga pada angka ekspor yang pasang surut. Rempah saat ini terus dicari, diolah, dan dikonsumsi oleh masyarakat di berbagai kalangan. Rempah memang bukan obat, melainkan pemicu peningkatan sistem imun. Para pegiat jamu mengatakan bahwa ada beberapa jenis rempah yang diyakini dapat dijadikan bahan ramuan tradisional pemicu sistem imun. Kita ambil contoh jahe. Masyarakat memanfaatkan tanaman rempah ini untuk berbagai kebutuhan seperti bahan obat tradisional, bahan minuman, dan bumbu masakan. Tanaman rimpang ini dikenal memiliki banyak manfaat. Tak heran jika jahe paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai jamu atau obat tradisional. Masteria Yunovilsa, Kepala Kelompok Penelitian Center for Drug Discovery and Development Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilansir dalam buku Covid-19 Perspektif Agama dan Kesehatan (2020) berpendapat, jahe -dalam hal ini adalah jahe merah-- adalah imunomodulator atau peningkat daya tahan tubuh. Selain itu, jahe merah juga memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan. Menurut Yunovilsa secara umum virus korona menyebabkan gejala peradangan pada paru-paru sehingga efek anti-inflamasi dapat diredakan dengan mengkonsumsi jahe merah. Kita dapat mengulik manfaat dari rempah lain seperti kunyit dan

(atas) Para Ibu penjual jamu tradisional menunggu pelanggan tiba di era pandemi. Wedang empon yang naik daun ketika pandemi terjadi (bawah). temulawak. Masing-masing tanaman rimpang itu memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Memanfaatkan secara optimal rempah-rempah sebagai jamu tradisional adalah pilihan yang tepat untuk menjaga kesehatan tubuh, tentu saja dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat. Ini bukan sekadar masalah kebanggaan pada produk dalam negeri. Ini adalah fakta terkait rempah Nusantara memiliki manfaat yang besar. Perdagangan obat herbal Cina juga ternyata meningkat di masa pandemi ini. Kalau Indonesia punya rempah yang sudah terbukti khasiatnya dan bisa ditanam di halaman rumah sendiri, mengapa kita tidak memanfaatkannya sebagai bagian dari suplemen tubuh yang mampu menangkal wabah. Bahkan, secara lebih luas, rempah Nusantara dapat

dijadikan sebagai komoditas ekspor yang menjanjikan. Kementerian Perdagangan RI melansir bahwa tren positif ekspor rempah Indonesia ke Taiwan sejak dua tahun terakhir meningkat pesat. Bahkan, Indonesia menjadi pemasok utama rempah-rempah ke Taiwan. Berdasarkan data Bea Cukai Taiwan pada bulan Januari - Maret 2020, Indonesia telah mengekspor rempah-rempah sebesar USD 1,58 juta atau naik sebesar 25,57 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pandemi ini niscaya menjadi momentum untuk membenahi beberapa sektor demi kelancaran proses hulu-hilir pemanfaatan rempah. Dengan demikian, citra dan identitas Indonesia sebagai negara penghasil rempah pun menguat di mata dunia. (Taufiq Fadhilah, menulis di www. rubrikpena.com dan media-media daring)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 39


TOP I K KHU S U S

Khasiat

Cengkihdan Temulawak sejak 1918

40 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan

Ketika pandemi influenza melanda Hindia Belanda pada 1918, rempahrempah ternyata muncul sebagai pengobatan alternatif. Dan, ternyata, saat pandemi Covid-19 pada 2020, rempah-rempah, si jenius lokal dari Nusantara itu, muncul lagi sebagai pengobatan alternatif. Benar kata orang, sejarah berulang. Pandemi ini bermula dari merebaknya

itu mencapai paling tidak 100 juta orang.

kasus pneumonia atau radang paru-paru

Di Indonesia saja, saat itu masih Hindia

di kota Wuhan, China, pada Desember

Belanda, jumlah korban dikabarkan

2019. Dalam waktu singkat, kasus ini

mencapai 1,5 juta orang. Namun,

menyebar hampir ke seluruh dunia. WHO,

penelitian terbaru oleh profesor dari

pada 11 Maret 2020, mengumumkan,

Michigan State University menyebutkan,

dunia sedang dilanda pandemi, dan 188

jumlah korban di pulau Jawa dan Madura

negara sudah terdampak virus ini, satu di

saja mencapai antara 4,26-4.37 juta

antaranya Indonesia.

jiwa. Meski begitu, perlu kita ketahui

Kuncup bunga cengkih dipanen saat maturasi sebelum berbunga. Kemudian kuncup cengkih dijemur di bawah sinar matahari hingga berwarna coklat gelap. Selain kuncup bunga, bagian pohon cengkih yang memiliki nilai jual tinggi adalah minyak batang cengkih, minyak daun cengkih & buah cengkih yang memiliki banyak khasiat.

bahwa jumlah korban secara pasti di

saat itu baru mulai berkembang dan

mengenai rempah, kita tengok dulu

Hindia Belanda hingga saat ini belum

terjadi ketimpangan pengetahuan yang

sejarah pandemi, yang bukanlah suatu

bisa diketahui karena belum ada sensus

sangat besar antara Asia dan Eropa.

hal baru. Satu pandemi yang pernah

penduduk yang layak.

Sebelum kita berbincang lebih jauh

menjangkiti Indonesia (dan dunia juga)

Jumlah korban secara keseluruhan

Permasalahan pandemi influenza di Hindia Belanda juga terkait dengan

adalah influenza atau Flu Spanyol. Wabah

di seluruh dunia pun juga bisa

buruknya hubungan antara dokter,

global ini menyeruak pada tahun 1918

diperdebatkan. Mengapa? Karena

terutama dokter Eropa, dengan

dan menghantam kurang lebih tiga miliar

pada saat itu sedang berkecamuk

masyarakat bumiputra. Keengganan

penduduk dunia saat itu, baik secara

Perang Dunia Pertama di Eropa, yang

dokter-dokter Eropa tersebut

langsung (mengakibatkan seseorang sakit

mengakibatkan adanya upaya mereduksi

menyebabkan masyarakat harus

atau bahkan meninggal dunia) maupun

jumlah korban dan bahkan keberadaan

berpikir ulang jika ingin datang ke

tidak langsung (terkena dampak sosial

pandemi itu sendiri. Sebab, pemberitaan

dokter. Jika menemui dokter pada saat

dan ekonomi).

pandemi ditakutkan bisa meruntuhkan

mereka sakit, kebanyakan dokter-dokter

moral para tentara yang sedang

Eropa tersebut tidak secara langsung

berperang. Belum lagi dunia kesehatan

menangani mereka.

Menurut beberapa penelitian, jumlah korban tewas di seluruh dunia pada saat

2020, VOL. 9 INDONESIANA 41


Tingkat kematian penduduk di Jawa dan Madura akibat pandemi influenza 1918, semakin gelapnya warna, semakin banyak jumlah korban jiwa (Annual Report Of The MBGD 1920 Appendix)

Dapat kita ilustrasikan demikian; pada

tempat dokter. Setelah mendengarkan

Kondisi yang sangat tidak ideal

saat penduduk bumiputra sakit, mereka

laporan asisten, dokter biasanya

tersebut tentu saja menimbulkan

datang ke dokter Eropa dan menunggu

menyimpulkan bahwa pasien itu sakit

masalah yang baru bagi para pasien,

di luar rumah dari dokter tersebut.

malaria atau demam biasa. Obat yang

apa pun penyakitnya. Dalam konteks

Biasanya di bawah pohon yang ada di

diberikan pun biasanya obat malaria.

pandemi influenza 1918, tingginya jumlah

halaman rumah sang dokter. Sang dokter

Proses penyimpulan kondisi pasien

kematian, mahalnya biaya pengobatan,

kemudian memerintahkan asistennya

dan pemberian obat tanpa bertemu

juga salahnya diagnosis dari dokter-

untuk menemui para pasien bumiputra

muka dengan pasien tentu saja bisa

dokter, menyebabkan banyak penduduk

tersebut. Asisten kemudian menanyakan

menyebabkan diagnosis salah. Akan

pergi ke dukun.

kondisi si sakit, tentang keluhan dari yang

tetapi hal tersebut lazim terjadi. Apalagi

mereka rasakan saat itu. Keluhan yang

ditambah kemampuan finansial dari

sebelum dokter-dokter Belanda

ada pun biasanya seperti demam, pusing,

penduduk bumiputra, yang tidak

membawa ilmu pengobatan modern

lemas, dan sesak napas.

mampu membayar mahal pengobatan.

ke Hindia Belanda, masyarakat sudah

Ongkos pemeriksaan dan pengobatan

terbiasa dengan dukun. Akan tetapi,

saat asisten bertanya kepada pasien

secara menyeluruh bahkan bisa

dukun lebih banyak melihat penyebab

bumiputra tersebut? Sang dokter

menghabiskan pendapatan mereka

penyakit dan kematian dari sudut

biasanya sedang melayani pasien-pasien

selama satu bulan penuh.

supranatural, seperti teluh dan santet.

Lalu, apa yang dilakukan dokter

Tidak dapat dipungkiri bahwa

Eropa, Timur Asing, atau priyayi-priyayi

Tentu saja hal tersebut memperburuk

kaya yang bisa membayar mahal ongkos

kondisi si pasien dan bisa meningkatkan

pengobatan. Kemudian asisten datang ke

penyebaran penyakit Flu Spanyol. Syukurlah, ketidaktahuan masyarakat akan penyakit yang mereka derita itu pada akhirnya membawa mereka ke jalan alternatif yang lebih positif yaitu jamu. Penduduk Hindia Belanda, terutama penduduk pulau Jawa, berharap dapat menjaga kesehatan dan kebugaran, bahkan berharap dapat sembuh dari penyakit flu yang mematikan tersebut, dengan mengkonsumsi jamu. Satu bahan yang banyak dipergunakan oleh masyarakat pada waktu itu adalah foto: Fairuzaid99 https://www.shutterstock.com/g/fairuzaid

42 INDONESIANA VOL. 9, 2020


temulawak. Ramuan berbahan dasar temulawak diharapkan bisa mencegah pasien dari kedinginan dan juga mampu mengembalikan kesegaran tubuh. Otomatis juga untuk menjaga orang yang sehat agar tidak terinfeksi atau tertular penyakit. foto: Sriyana https://www.shutterstock.com/g/Sriyana

Burgerlijke Geneeskundigen Diesnt (BGD) atau Dinas Kesehatan Masyarakat Hindia Belanda mengeluarkan anjuran untuk penggunaan obat/ramuan tradisional bumiputra. Anjuran itu ditulis dan dimuat di koran lokal, Bromartani pada tanggal 3 November 1918 No. 7 yang isinya adalah cara menangani beberapa gejala penyakit influenza; demam dan batuk. Artikel tersebut memuat cara mengobati demam, yaitu minum air rebusan labu yang dicampur dengan sedikit garam. Selanjutnya, juga terjadi serangan demam, penderita influenza disarankan untuk mengkonsumsi campuran jeruk nipis, bawang merah yang ditumbuk halus dan dicampur dengan cuka. Ramuan ketiga yang dianjurkan adalah mengonsumsi air rebusan ekstrak cengkih dengan dosis yang disesuaikan dengan usia pasien. BGD selanjutnya menganjurkan pasien dengan gejala batuk untuk mengonsumsi campuran putih telur dan madu. Selain itu, disarankan untuk mengonsumsi campuran kecap kedelai (kecap manis) dan air jeruk nipis. Yang terakhir adalah meminum air rebusan asam jawa dan gula batu. Kesemuanya juga diyakini bisa menyembuhkan batuk. Jika kita perhatikan, berbagai ramuan di atas hingga saat ini masih terus dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Secara medis, virus penyebab Flu Spanyol digolongkan sebagai tipe A H1N1. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus itu berbeda dengan Covid-19 yang melanda saat ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menamakan virus ini Severe Acute foto: Maharani afifah https://www.shutterstock.com/g/Maharani+afifah

Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau SARS-CoV-2. Memang, masih butuh pengamatan dan penelitian lanjutan apakah berbagai ramuan di atas yang merupakan bagian dari jenius lokal Indonesia itu cocok untuk dikonsumsi pada masa pandemi Covid-19 ini. Masyarakat kita yakin bahwa ramuan-ramuan tersebut mampu meningkatkan imun tubuh pasien Covid-19. Semoga! (Syefri Luwis)

Selain memiliki kandungan kimia yang dapat meningkatkan imunitas, temulawak memiliki manfaat lainnya bagi kesehatan. Jamu temulawak saat ini banyak di komsumsi masyarakat dimasa pandemi.


SENI P ERT UNJUKA N

Seniman Beradaptasi Tanggal 2 Maret 2020 menjadi awal paceklik ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama, persentase persebaran virus terus meninggi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun diberlakukan pada 31 Maret 2020. Satu dampak aturan ini adalah pembatalan dan penundaan acara seni hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Pergerakan seni pertunjukan lumpuh bukan untuk jangka waktu sehari dua hari, melainkan berbulan-bulan.

Ekosistem seni pertunjukan terdampak langsung di semua lini, seperti tari, musik, teater, termasuk teater boneka. Tidak hanya kalangan seniman, jajaran produksi acara dari penyelenggara acara, penyedia lampu panggung, hingga penyedia sistem suara ikut terdampak. Covid-19 mengguncangkan stabilitas kemaslahatan para seniman dan orang di belakang layar secara besar-besaran. Karena pandemi seakan tidak berjangka waktu, sementara kreativitas para seniman tidak dapat dibendung, satu per satu seniman mulai mempertimbangkan bentuk daring sebagai ruang yang paling menjanjikan untuk eksistensi mereka. Beberapa seniman masih berpegang teguh untuk tidak menyentuh pertunjukan dengan mode daring dengan alasan meragukan

44 INDONESIANA VOL. 9, 2020

performativitas pertunjukan daring, bahkan menilai pertunjukan daring telah menghilangkan marwah pertunjukan. Oleh karena itu, banyak seniman memilih masa pandemi sebagai waktu hibernasi dan berefleksi. Namun yang menjadi persoalan, bagaimana jika penanganan Covid-19 tidak usai hingga akhir tahun sedangkan dapur harus tetap berasap setiap harinya? Sejumlah seniman lintas bidang seni bernegosiasi dan mulai memperhitungkan pelbagai platform daring sebagai ruang presentasi karya mereka. Upaya pertunjukan daring pun cukup beragam, ada yang diinisiasi oleh para seniman, bekerja sama dengan pihak swasta, hingga difasilitasi negara melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tidak semua memilih

untuk bereaksi, tetapi tidak sedikit yang memilih untuk beradaptasi. Beradaptasi dengan Medium Semenjak Covid-19 terjalin hingga bulan Juni, migrasi masyarakat seni dari pertemuan fisik ke perjumpaan yang termediasi semakin tinggi. Hal yang menarik mereka menggunakan ruang daring tidak untuk satu fungsi semata, melainkan beberapa, yakni ruang bicara, ruang solidaritas, hingga ruang pentas. Pertama, ruang bicara lazimnya digunakan seniman untuk membahas pelbagai tema seni hingga refleksi diri akan pandemi, semisal masterclass koreografi tari oleh Eko Supriyanto (koreografer) dan “Kreasi di Saat Sulit� oleh Ria Papermoon (seniman teater boneka) yang disiarkan oleh akun youtube @budayasaya milik Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kedua, ruang solidaritas untuk saling menguatkan sesama seniman dan masyarakat. Hal ini dilakukan oleh kelompok seniman, kelompok guru atau dosen seni, ataupun masyarakat luas. Mereka melakukan seruan untuk #dirumahaja dalam bentuk nyanyian bersama, puisi, tarian, dan pelbagai bentuk lainnya. Beberapa di antaranya

foto: @budayasaya

Ketika


adalah legenda dangdut, Rhoma Irama dan PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) yang membuat video nyanyian bersama pada Maret 2020. Dampak dari gerakan solidaritas ini menunjukkan bahwa mereka yang terdampak bukan laiknya komunitas terbayang, melainkan komunitas nyata dan harus saling menguatkan. Ketiga, ruang pentas atau presentasi karya melalui pertunjukan daring. Fungsi dari ruang ini menjadi pembahasan yang menarik mengingat tarik ulur mengenai pentas daring belum usai disepakati di lingkup seniman. Untuk bidang musik, persoalan pertunjukan daring tidak terlalu sulit dilakukan khususnya pada beberapa genre. Beberapa kelompok musik atau pemusik yang mengusung world music bahkan telah melakukan pertunjukan daring di @budayasaya, di antaranya: kelompok musik yang mengusung musik Melayu kontemporer, Riau Rhythm dengan konser daring pada 30 Maret 2020 dan kelompok musik kontemporer, Suarasama pada 20 April 2020. Namun apakah semua genre musik dapat menempuh pertunjukan daring? Bagaimana dengan musik dangdut yang memang terjalin karena performativitas dan mengandalkan interaksi dengan

penonton langsung? Pada dua bulan pertama pandemi, musisi dangdut di Jawa memilih untuk menghentikan segala aktivitas panggung mereka. Namun pada bulan Mei, satu per satu musisi mulai mencoba pertunjukan daring—baik secara mandiri ataupun ajakan dari pihak sponsor. Mulai dengan biduan dangdut muda, Denny Caknan yang terlibat pada pertunjukan untuk mendiang seniman Campursari, Didi Kempot pada akhir bulan Mei dan biduan dangdut muda, Ndarboy Genk yang membuat konser daring mandiri pada 22 Juni 2020. Singkat kata, genre musik dangdut pun ikut mempertimbangkan pertunjukan daring sebagai ruang presentasi mereka. Tidak hanya musik, tari turut mempertimbangkan pertunjukan daring. Selain dipenuhi diskusi dari para pelaku tari, beberapa inisiatif seperti pertunjukan juga dilakukan, salah satunya adalah Distance Parade yang mempertunjukkan 40 karya tari kontemporer terpilih dan dipentaskan pada 27 April hingga 1 Mei 2020 di @budayasaya. Tidak hanya kontemporer, beberapa jenis tarian juga dipentaskan di @budayasaya, semisal kesenian rakyat tari kera Kethek Ogleng dari Wonogiri, Jawa Tengah dam tari Bonet dari Nusa Tenggara Timur. Selain itu beberapa challenge tarian juga dilakukan, semisal Rianto dengan Lengger Challenge. Hal yang menarik justru ruang daring lebih banyak digunakan oleh kelompok tari tradisi. Sementara pada teater, justru beberapa kelompok teater modern lebih banyak melakukan diskusi daring ketimbang pertunjukan. Teater tradisional lah yang justru lebih aktif terlibat dalam pemanggungan secara

daring. Beberapa kelompok yang terlibat di @budayasaya, seperti Wayang Orang Bharata dan teater tradisional Kalimantan Selatan Japin Carita. Sedangkan upaya serupa yang diinisiasi oleh beberapa kalangan, seperti pertunjukan teater boneka kontemporer Papermoon Puppet Theatre yang dihelat secara mandiri.

Dari Warga Untuk Warga Jika merujuk bagaimana budaya diakomodasi di kanal youtube @ budayasaya, terhitung sudah 420 tayangan yang akan terus bertambah hingga akhir tahun. Hampir setengah dari jumlah di atas adalah tayangan seni pertunjukan, baik diskusi ataupun pentas daring. Tentu perlu disadari jika belum semua bentuk seni yang dapat terakomodasi, semisal pentas atau pembahasan musik eksperimental, musik noise, atau dangdut pada ranah musik, tari kontemporer ataupun pentas teater modern dan kontemporer. Selain soal jenis, masih banyak lokus seni yang belum tersentuh di Indonesia. Singkat kata, masih ada beberapa jenis seni dan daerah yang belum terwakili. Kendati hal tersebut bukan kerja yang mudah, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, hal ini bisa segera diwujudkan. Terlepas dari itu, tayangan-tayangan ini tidak hanya mengakomodasi para seniman untuk berkarya dan menyalurkan kreativitas mereka, tetapi juga telah memberi tayangan kepada masyarakat luas. Hal ini terbukti ketika tayangan pertama mereka di masa pandemi dimulai tepat sehari sebelum penetapan PSBB pertama di Indonesia, 31 Maret 2020, dan masih konsisten hingga hari ini. Tayangan seni dan budaya bisa menjadi rujukan tontonan untuk warga di kala pandemi. Dalam hal ini, seni telah memenuhi salah satu fungsinya, yakni tidak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga memberdayakan masyarakat. (Michael HB Raditya) Denny Caknan terlibat dalam pertunjukan daring, pembagian informasi pertunjukan dari melalui media sosial @budayasaya selama pandemi.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 45


F I LM

“KIAMAT”Bioskop dan Perfilman Nasional

Simulasi pembelian tiket bioskop kepada Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif dan Ketua Umum GPBSI Djonny Syafrudin dimasa pandemi. Tanah Air akan kembali beroperasi pada

Jakarta memerintahkan agar semua

Syafrudin nampak semringah ketika

Wajah Ketua Umum GPBSI Djonny

29 Juli 2020. Menparekraf Wishnutama

jenis hiburan ditutup, termasuk

mengikuti simulasi pembukaan bioskop

dalam keterangannya, Rabu (26/8/2020),

bioskop, denyut bioskop dan kegiatan

di satu bioskop di Jakarta. Napasnya

mendukung rencana dari Tim Satuan

pendukungnya berhenti total. Karena

teratur, seperti penderita asma yang baru

Tugas Penanganan COVID-19 dan

bioskop merupakan hilir dari industri

disemprot mulutnya dengan obat pelega

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk

perfilman, efeknya pun terasa sampai

pernapasan.

membuka kembali bioskop yang ada di

ke hulu. Produksi film berhenti, rental

wilayah DKI Jakarta dalam waktu dekat.

peralatan shooting tidak berjalan, artis

“Mudah-mudahan semuanya lancar, perfilman berdenyut lagi. Memang

Wishnutama mengatakan, pembukaan

dan pekerja film ikut menganggur.

tidak seperti dalam kondisi normal, tapi

kembali bioskop dapat membangkitkan

lumayanlah,” kata lelaki berambut putih

sektor ekonomi kreatif yang sempat

pasti yang dikeluarkan untuk menghitung

yang juga pengusaha bioskop itu, akhir

terpuruk akibat pandemi COVID-19.

kerugian, tetapi karena masih tetap harus

Agustus 2020.

”Dengan bioskop kembali beroperasi,

membayar karyawan, biaya perawatan

ini akan berdampak besar terhadap

alat dan kebersihan gedung, nilai

Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia

perkembangan ekonomi kreatif,

kerugian cukup tinggi.

(GPBSI) yang mewakili Cinema XXI,

khususnya subsektor perfilman,” katanya.

Pada 7 Juli 2020, Gabungan

CGV Cinemas, Cinepolis, dan lainlain mengumumkan bahwa bioskop

46 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Donny patut gembira. Sejak pemerintah daerah, terutama di

Sejauh ini memang belum ada angka

Di luar bioskop, seorang produser yang selama ini dikenal produktif membuat film, mengaku rugi hingga


foto: Herman Wijaya

Rp 50 miliar. Tidak dirinci apa saja

jarak, yang membuat bioskop hanya bisa

menarik penonton ke bioskop. Tetapi

penyebab kerugiannya, secara garis

menampung 50 persen penonton dari

jika film yang secara artistik maupun

besar digambarkan penyebabnya adalah

kapasitas yang ada.

komersial didahulukan padahal dalam

operasional kantor yang harus berjalan,

Itu pun bioskop masih bisa menerima,

jadwal yang telah disusun seharusnya

kontrak pemain dan kru yang sudah

walau pun menurut produser film Firman

main belakangan, akan menimbulkan

dibayar walau belum sepenuhnya,

Bintang dalam webinar yang diadakan

ketidakpuasan dari pemilik film yang

dan pemasukan dari sponsor yang

oleh Kemendikbud, harus ada produser

sudah masuk jadwal duluan. Pelik.

menghilang.

yang mau jadi martir. Maksud Firman,

Dampak terberat berhentinya

Asumsi-asumsi itu sepertinya

tidak semua pencinta film berani datang

harus dimasukan lagi ke dalam laci.

produksi, dirasakan oleh kru film. Apalagi

ke bioskop di masa pagebluk ini. Dengan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI

yang selama ini bekerja di sinetron.

begitu potensi film untuk meraup

Jakarta membatalkan izin bioskop untuk

Selama ini, dalam kondisi normal saja kru

penonton seperti dimasa normal, akan

bisa beroperasi di masa PSBB transisi 14-

di level bawah paling sengsara. Sudah

sangat sulit, selain kapasitas yang

27 Agustus 2020. Padahal, sebelumnya

honornya kecil, pembayarannya sering

dibatasi itu karena mengikuti protokol.

bioskop sempat diizinkan kembali buka.

ditunda-tunda oleh produser. Jadi bisa

“Nah, siapa sekarang yang mau jadi

Pembatalan izin itu tertuang dalam

dibayangkan apa yang mereka rasakan

martir. Produser yang mengeluarkan

Dinas revisi SK Disparekraf Nomor 2976

dimasa pagebluk ini.

biaya besar untuk filmnya tentu

Tahun 2020 tentang Perpanjangan

harus pikir-pikir dulu. Apalagi kalau

PSBB Masa Transisi dalam Penanganan

pemerintah, jadi kita masih bisa makan.

kebijaksanaan bioskop tidak berubah.

Pencegahan Penularan Covid-19 di Sektor

Kalau enggak ada, enggak tahulah nasib

Kalah penonton kurang film langsung

Usaha Pariwisata. Hal tersebut bukan

kita,” kata Anwar, seorang pembantu

turun, pasti enggak mikirlah produser,”

kali pertama bisnis bioskop diizinkan

bagian lighting.

katanya.

kemudian dibatalkan untuk bisa kembali

“Masih untunglah ada bansos dari

Industri sinetron yang menjadi salah

Persoalan kedua tak kalah pelik dalam

buka. Sebelumnya, rencana pembukaan

satu kanal penyaluran tenaga kerja

pengoperasian bioskop adalah mengenai

bioskop di 29 Juli 2020 juga batal,

perfilman juga setali tiga uang. Banyak

film yang lebih dulu masuk ke bioskop.

begitupula rencana di masa PSBB 31 Juli-

rencana produksi ditunda bahkan

Selama tahun 2020 ini, dari 150 judul film

13 Agustus 2020.

dibatalkan, karena stasiun televisi juga

yang diproduksi, baru ada 28 judul film

menyetop pembelian produk sinema

Indonesia yang diputar di bioskop Tanah

akan buka. Pembukaan bioskop dan

untuk menyiasati pengeluaran. Apalagi

Air. Masih ada 120 lebih judul film yang

tempat-tempat hiburan, khususnya di

di era medsos ini kue iklan berkurang

masih antri.

Jakarta, masih melihat perkembangan

karena banyak pengiklan yang lari ke medsos, terutama youtube. Rencana pembukaan bioskop

Apakah film-film yang masuk masih

Belum ada kepastian kapan bioskop

penyebaran Covid-19. Tidak bisa

sesuai jadwal yang disusun atau

dipastikan sampai kapan pandemi

mempertimbangkan skala prioritas.

Korona akan berakhir. Pagebluk ini

sebagaimana tercantum dalam surat

Katakanlah untuk memancing penonton

seakan menjadi “kiamat kecil ketiga” bagi

edaran yang dibuat atas nama Ketua

datang ke bioskop, tidak mungkin diputar

industri film nasional. Pertama adalah

GPBSI, Djonny Sjafruddin disambut

film biasa-biasa saja baik dalam daya

terpuruknya perfilman nasional karena

gembira oleh produser, kru, pemain,

tarik artistik maupun komersial.

munculnya televisi swasta tahun 90-an.

Kalau film “biasa-biasa saja”

Kedua adalah resesi ekonomi sebagai

produser dan bahkan kalangan pengusaha bioskop bahagia. Meskipun

dikhawatirkan hanya akan jadi

imbas kerusuhan SARA di beberapa

operasional bioskop harus mengikuti

tumbal. Bukan saja film itu tidak

daerah di Indonesia. (Herman Wijaya,

protokol kesehatan. Salah satunya yang

diminati penonton, tetapi justru

wartawan dan pemerhati film)

paling berpengaruh adalah aturan jaga

malah kontraproduktif dengan tujuan

2020, VOL. 9 INDONESIANA 47


A LI H WAHANA

B

Mari wara i d n a s r e

dan

Be rsastra Kementerian Pendidikan dan

Disutradarai oleh Gunawan Maryanto

peluncuran siniar Sandiwara Sastra di

Kebudayaan (Kemendikbud) melalui

(sutradara teater dan aktor film) dan

Jakarta, Senin (06/07) lalu. Lebih lanjut

Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja

diproduseri oleh aktor film dan teater

Mendikbud menyampaikan, “Sandiwara

sama dengan Titimangsa Fondation

Happy Salma serta produser film

Sastra bukan hanya menjadi sebuah

dan Kawan Kawan Media meluncurkan

Yulia Evina Bhara, Sandiwara Sastra

karya seni dan inovasi. Lebih dari itu, ini

siniar (podcast) Sandiwara Sastra sebagai

dilengkapi dengan tata musik dan suara

adalah jalan untuk mengangkat literasi.”

bentuk inovasi dan bagian dari program

yang membuat karya sastra yang dialih

Belajar dari Rumah di masa pandemi

wahanakan dapat semakin dipahami

Kemendikbud, Hilmar Farid

Covid-19. Alih wahana karya sastra

maknanya. Daftar pengisi suaranya pun

menjelaskan arah ke depan dalam

Indonesia ke dalam medium audio ini

terdiri dari deretan aktor ternama dan

pengembangan sastra. “Kemendikbud

ditujukan untuk memperkenalkan dan

pesohor lain diantaranya Najwa Shihab,

melakukan upaya pelestarian

menghidupkan kembali karya-karya

Nicholas Saputra, Lulu Tobing, Happy

sastra melalui Sandiwara Sastra.

sastra Indonesia. Siniar yang mulai tayang

Salma, Chicco Jericho, Iqbaal Ramadhan,

Semakin banyak orang membaca dan

sejak 8 Juli 2020 pukul 17.00 WIB melalui

Chelsea Islan, Pevita Pearce, Aryo Bayu,

mendengarkan karya sastra, semakin

podcast audio @budayakita yang masing-

Jefri Nichols, Tara Basro, Rio Dewanto,

banyak juga orang yang menemukan

masing berdurasi 30 menit, dan nantinya

Marsha Timothy, Vino G Bastioan, dan

nilai-nilai kehidupan dan pengaruh

juga akan disiarkan melalui Radio Republik

banyak lainnya.

sastra bagi kehidupan, di samping itu

Indonesia (RRI) agar dapat menjangkau

“Sastra menempati posisi penting

Direktur Jenderal Kebudayaan

juga ingin membangkitkan minat untuk

masyarakat secara lebih luas. Siniar

dalam pemajuan budaya dan

menulis agar tercipta karya-karya sastra

Sandiwara Sastra ini sempat menjadi

pembentukan karakter bangsa,” ujar

baru yang berkualitas terutama di

trending di beberapa aplikasi siniar.

Mendikbud pada konferensi pers

kalangan anak muda” ujar Hilmar.

48 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Hilmar juga menyampaikan alasan Kemendikbud mengalih wahanakan karya sastra ke dalam format audio siniar dan siar. “Sandiwara Sastra adalah langkah foto: Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru

untuk mendekatkan khazanah sastra kita kepada publik. Di masa lalu, sandiwara audio yang disiarkan lewat radio sangat populer. Ketika muncul media audiovisual dan media sosial, bentuk ini mulai memudar popularitasnya. Tapi belakangan ada kebangkitan media audio seperti podcast,” ujarnya. Ia berharap Sandiwara Sastra ini bisa turut mewarnai ruang media baru dan juga mengangkat kembali kejayaan sastra Indonesia. Najwa Shihab, pengisi suara di episode 6 “Berita dari Kebayoran” yang diangkat dari cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, mengapresiasi Sandiwara Sastra sebagai upaya untuk meningkatkan minat milenial terhadap karya sastra. Senada dengan Najwa, Iqbaal Ramadhan menganggap program Sandiwara Sastra sangat relevan dengan kondisi kekinian. “Bisa didengarkan saat melakukan hal lain, tidak harus menyediakan waktu khusus. Adanya alih wahana dalam bentuk podcast ini bisa membuat ketertarikan baru untuk mengenal sastra,” tutur pemeran Perkutut dalam episode “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya ini. Sebagai tahap pertama dari seri Sandiwara Sastra, 10 karya sastra yang dapat dinikmati masyarakat adalah adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari; novel Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq; cerita pendek (cerpen) Kemerdekaan karya Putu Wijaya; cerpen Menunggu Herman karya Dee Lestari; cerpen Berita dari Kebayoran karya Promoedya Ananta Toer; novel Lalita karya Ayu Utami; cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam; cerpen Persekot karya Eka Kurniawan; novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, dan novel Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi. (MY, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru)

Para artis yang menjadi pengisi suara untuk Sandiwara Sastra diantaranya Najwa Shihab, Nino Kayam, Adinia Wirasti, Ario Bayu, Arswendy Bening Swara, Asmara Abigail, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan, Chicco Jerikho, Christine Hakim, Eva Celia, Happy Salma, Nicholas Saputra, Iqbaal Ramadhan, Jefri Nichol, Kevin Ardilova, Lukman Sardi, Lulu Tobing, Marsha Timothy, Mathias Muchus, Maudy Koesnaedi, Oka Antara, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Tara Basro, Vino G. Bastian, dan Widi Mulia.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 49


ADA T I S T I ADA T

Ritual

TUK SIKOPYAH 50 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Sadariyah Ariningrum foto: Sadariyah Ariningrum

Warga menelusuri jalan setapak menuju Tuk Sikopyah. (searah jarum jam) Warga pembawa lodhong sedang antri untuk menuangkan air Tuk Sikopyah, Tetua adat memimpin prosesi doa bersama, Kirab warga yang membawa gunungan, Warga mengambil air Tuk Sikopyah dari penampungannya.

sesepuh desa memimpin doa bersama

selama dua malam, warga pun menyantap

prosesi pengambilan air dari tuk

di halaman masjid. Setelah itu, warga

nasi trigi bersama-sama.

(mata air) Sikopyah di Dusun Kaliurip,

berjalan menuju sumber mata air

Desa Serang, Kecamatan Karangreja,

Sikopyah, melalui jalan setapak tanpa

lodhong menuju ke kawasan wisata ‘Rest

Kabupaten Purbalingga yang

alas kaki. Para wanita mengenakan

Area’ Desa Serang, Kecamatan Karangreja,

dilaksanakan selama tiga hari dan diikuti

kebaya dan kain serta caping, sedangkan

Kabupaten Purbalingga, bersama dengan

oleh warga Desa Serang. Ritual Tuk

para pria memakai pakaian serba hitam

kirab gunungan hasil bumi. Ketika

Sikopyah rutin dilakukan setiap tahun

disertai ikat kepala dan blangkon.

rombongan memasuki area, dalang

dan sejak tahun 2015 ritual ini dilakukan

Beberapa lainnya, nampak membawa

segera memainkan wayang.

secara masal, menjadi bagian dari

sesaji, sapu lidi, dan kendi.

Ritual adat Tuk Sikopyah adalah

Festival Gunung Slamet.

Sepanjang perjalanan, terdengar

Dua hari kemudian, warga membawa

Warga pembawa lodhong menuangkan air Tuk Sikopyah ke dalam wadah besar

tabuhan rebana. Akses menuju sumber

sebagai penampungan air. Tetua Desa

sebelum pandemi Korona. Hari pertama

mata air Sikopyah adalah sebuah jalan

pun memimpin pembacaan doa. Setelah

ritual dimulai. Tampak rombongan

setapak di tengah perkebunan sayur.

itu para warga Purbalingga beserta

berpakaian adat Jawa membawa

Lebih dari separuh jalan adalah tanjakan

wisatawan berebut mengambil air Tuk

lodhong (tempat air yang terbuat dari

karena Tuk Sikopyah terletak di bukit.

Sikopyah yang diyakini mampu membawa

Kami mengikuti ritual ini pada tahun lalu

bambu) berjumlah 777. Ada makna

Setiap peserta ritual mengambil air

khusus dari 777 yang dalam bahasa

dari Tuk Sikopyah hingga lodhong penuh.

keberkahan dan kesehatan bagi orang

jawa pitungatus pitungpuluh pitu yakni

Prosesi pengambilan air memakan waktu

untuk mendapatkan pitulungan atau

sekitar dua jam. Setelah semua lodhong

satu dari tiga mata air terbesar di lereng

pertolongan. Ini adalah sebentuk

terisi air, rombongan berangsur turun

timur Gunung Slamet. Dua lainnya adalah

permintaan pertolongan Tuhan Yang

menuju balai desa, diikuti ribuan warga

mata air panas Guci dan mata air panas

Maha Esa agar para pemimpin dan

lain yang membawa nasi penggel, yaitu

Baturaden. Ritual adat Tuk Sikopyah juga

masyarakat Purbalingga diberikan

nasi jagung atau nasi trigi dengan tiga

dilakukan agar masyarakat lereng Gunung

kekuatan untuk membangun Purbalingga.

yang meminumnya. Mata air (dingin) Sikopyah merupakan

jenis lauk yaitu tumis pepaya, tempe

Slamet makin menyadari pentingnya air

Prosesi pengambilan air diawali dengan

goreng, dan ikan asin. Setelah lodhong

bagi kehidupan. (Sadariyah Ariningrum,

kumandang tembang dhandanggula. Para

disimpan di balai desa untuk diinapkan

Direktorat KMA)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 51


P ERTANI AN T RA DI SI ONAL

Daulat Padi dari

Sinar Resmi

foto: Darus Hadi

Resmi, satu kasepuhan yang berdiri

Justru saat itulah Anda bisa menikmati

menyapa kulit. Kabut tipis menyelimuti

Angin pagi terasa begitu segar, dingin

sejak abad ke-16, persisnya di area

keindahan dan keramahan Kasepuhan

pegunungan biru kehijauan. Hamparan

Taman Nasional Gunung Halimun Salak,

Sinar Resmi. Keberadaannya yang

terasering sawah padi yang teratur

Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi,

pelosok membuat kampung ini terjaga

bak vitamin bagi mata. Tak jauh dari

Provinsi Jawa Barat. Kasepuhan Sinar

keasriannya juga kekayaan tradisinya.

persawahan, terlihat rumah-rumah

Resmi merupakan bagian dari Kesatuan

Sebagian besar penduduk bermata

sederhana dengan dinding kayu dan

Adat Banten Kidul yang menghuni ujung

pencaharian sebagai petani di sawah

anyaman bambu serta atap dari ijuk.

barat Pulau Jawa bagian tengah hingga

atau ladang, sebagian lain berprofesi

Seakan menyambut matahari terbit, suara

selatan, yang secara administrasi berada

sebagai pengrajin seruling, penyadap

lesung yang ditumbuk mulai bersahutan,

di perbatasan wilayah Provinsi Jawa Barat

nira, dan pengukir bedog/golok atau

diiringi suara kokok ayam yang nyaring.

dan Provinsi Banten.

pandai besi. Melihat lokasi kasepuhan

Simfoni pagi yang sempurna. Di lereng

Jangan mengeluh jika jalan tak semulus

yang jauh dari desa lain, terbersit

Gunung Halimun ini, jauh dari bising

dan selapang jalan di kota, plus sinyal

pertanyaan, bagaimana warga memenuhi

perkotaan, terdapat Kasepuhan Sinar

ponsel yang tak lebih dari dua bar.

kebutuhan hidupnya terutama pangan.


Ternyata Kasepuhan Sinar Resmi menjalankan konsep pertanian warisan leluhur untuk memenuhi kebutuhan pangan. Secara turun-temurun selama ratusan tahun masyarakat Sinar Resmi foto: Darus Hadi

menjadikan pertanian sebagai poros budaya. “Sebagai keturunan Kasepuhan (desa adat) kami bersama-sama menjaga kearifan lokal, khususnya bidang pertanian, dalam hal ini benih lokal padi yang menjadi warisan kebudayaan,” ujar Abah Asep Nugraha, Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi. Dalam bertani, penduduk tidak pernah menggunakan pupuk kimia maupun obat pembasmi hama (pestisida). Pupuk yang digunakan menggunakan bahan-bahan organik yang dihasilkan dari kotoran ternak. Begitu juga dengan seluruh siklus menaman (mulai pembajakan, penanaman,

foto: Darus Hadi

pemeliharaan hingga panen) dilakukan dengan alat tradisional. Konsekuensi dari model pertanian ini, musim tanam padi hanya enam bulan, sehingga setahun hanya bisa satu kali panen. Namun dengan begitu,

Proses pertanian hingga pengolahan padi semua dilakukan dengan cara tradisional. Proses pengeringan padi sebelum dimasukkan Leuit.

umur beras lebih tahan lama. Padi hasil panen diikat dan dijemur, kemudian

untuk melindungi isinya dari air hujan

jintan hitam, vanili, serta pandan dengan

dimasukkan ke dalam lumbung atau

dan diletakkan berdekatan dengan leuit-

tingkat kepulenan yang pas, tidak terlalu

leuit, yang dapat bertahan lama tanpa

leuit lainnya.

lengket dan tidak terlalu kering.

membusuk hingga 40 tahun. Leuit merupakan tempat menyimpan

Bagi masyarakat Kasepuhan Sinar

Selain ilmu menanam padi, para

Resmi, padi sama seperti manusia,

leluhur juga mewariskan ilmu astronomi

padi milik perorangan, keluarga,

karena padi identik dengan sebutan

yang disebut dengan pranata mangsa,

ataupun milik kelompok. Bangunannya

Dewi Sri. Arti Sri di sini “sama”, maka

sehingga warga bisa mematok waktu

berbentuk bujur sangkar dan rata-rata

dari itu di Kasepuhan Sinar Resmi padi

terbaik untuk memulai tanam dengan

lebih tinggi dari orang dewasa, makin

tidak diperjual-belikan. Memperjual-

merujuk rasi bintang. Alhasil, Kasepuhan

ke atas tembok leuit makin melebar.

belikan padi dianggap seperti

Sinar Resmi mendapat penghargaan

Bentuk ini melambangkan kemakmuran

memperjual-belikan kehidupan kita

kedaulatan dan ketahanan pangan pada

keluarga pemilik leuit. Batu fondasi yang

sendiri. Sepenuhnya hasil tani padi

tahun 2015 dan 2016. Para peneliti lokal

disebut umpak umumnya menggunakan

diperuntukan bagi kebutuhan pangan

maupun mancanegara pun antusias

batu atau bata. Selain sebagai fondasi,

warga desa. Tamu yang berkunjung

untuk mendalami keunikan Kasepuhan

umpak juga berfungsi untuk mencegah

boleh makan sepuasnya menikmati

Adat Sinar Resmi . Apa yang terjadi di

air tanah langsung merembes ke tiang-

beras hasil panen Sinar Resmi namun

Kasepuhan Sinar Resmi membuktikan

tiang kayu. Atap leuit disebut “hateup”,

tidak boleh membawanya keluar

bahwa warisan leluhur masih relevan

dibuat dari genteng atau serat pohon.

Kasepuhan Sinar Resmi.

di masa kini. Introduksi kimia pada

Untuk mencegah masuknya hama tikus,

Terdapat 68 varietas unggul padi di

pertanian tak menjamin hasil yang lebih

leuit bisa dipasangi papan kayu bundar

Kasepuhan Sinar Resmi, yang unik di

baik secara terus menerus. Tanah Sinar

gelebek di atas tiang penyangga, sehingga

antaranya padi berwarna ungu disebutnya

Resmi masih terus memberi kehidupan

hama tidak dapat memanjat tiang. Leuit

Pari Gadog atau Pari Gantang Hideung.

pada siapa yang merawatnya sepenuh

biasanya dibangun di bawah pepohonan

Jenis padi ini memiliki aroma herbal mirip

kasih. (Darus Hadi, Direktorat KMA)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 53


54 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Meraba Mata Angin, Membaca Tanda

foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

N AV I GASI T RAD I SI ONAL


foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

P

ada Minggu, 8 Desember 2019, kapal Padewakang yang diberi nama Nur Al Marege dengan

panjang 14,5 meter dan lebar 4,2 meter berlayar menuju Darwin, Australia, dalam eksepedisi “Before 1770”. Pelayaran tersebut menapaktilasi pelaut Sulawesi Selatan yang mengambil teripang di utara Australia pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Padewakang adalah kapal yang menjadi cikal-bakal kelahiran perahu pinisi di Sulawesi Selatan. Ridwan Alimuddin, anak buah kapal Nur Al Marege, menyebut bahwa Padewakang

foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

yang mereka operasikan dalam ekspedisi “Before 1770” tidak menggunakan mesin diesel dan masih memakai konstruksi seperti 250 tahun lalu. Yaitu memakai layar tanjag (berbentuk segi empat) berbahan organik (serat daun gebang) yang ditenun dan dijahit oleh pelautpelaut Mandar. Padewakang Nur Al Marege memulai perjalanannya dari Makassar ke Galesong

Tampak atas perahu padewakang, yang menjadi cikal-bakal kelahiran perahun pinisi di Sulawesi. (atas) Perahu padewakang Nur Al Marege dengan bendera Kerajaan Gowa Tallo. Layar utama perahu padewakang Nur Al Marege robek ketika berlayar di Laut Flores (bawah).

(Bulukumba), Tana Beru, Pamatata, lalu ke Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Wai Wuring, Wai Lalong, Baranusa, kemudian lanjut ke Mali (Pulau Alor), Ilwaki (Pulau Wetar), Pulau Masela, Saumlaki, hingga pada 28 Januari 2020, mereka tiba di Cullen Bay Marina, Darwin, Australia. Menurut Charles Campbell Macknight, penulis buku The Voyage to Marege’: Pencari Teripang dari Makassar di Australia, setiap musim angin barat pada periode 1750—1780, tak kurang dari seribu pelaut asal Makassar dan Bugis singgah di pesisir Darwin. Kedatangan pelaut Sulawesi tersebut memengaruhi kebudayaan suku asli Australia, Aborigin, yang masih terasa hingga sekarang, misalnya agama Islam yang dianut oleh warga setempat.

Navigasi Tradisional Pengetahuan membaca arah mata

Sulsel mengandalkan alam sebagai pedoman navigasi mereka dan menjadi

angin adalah ilmu utama yang dimiliki

pengetahuan turun-temurun sehingga

oleh semua pelaut dan nelayan, tak

mereka mampu melintasi laut yang

terkecuali pelaut Bugis-Makassar di Sulsel.

luas. Pengetahuan navigasi macam apa

Mereka membaca tanda-tanda tersebut

sehingga laut seakan mudah diseberangi?

yang telah dibentangkan oleh alam.

Baharuddin Lopa dalam bukunya,

Mungkin calon-calon pelaut di

Hukum Laut, Pelayaran, dan Perniagaan

Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar

dan Navigasi Bugis-nya Gene Ammarell

telah mempelajari pengetahuan navigasi

merekam pengetahuan navigasi

modern, seperti Gyro Compass untuk

tradisional tersebut.

menemukan arah dan posisi kapal yang

Bagi pelaut Bugis, mata angin memiliki

benar, radar untuk mendeteksi jarak

dua fungsi yang sangat spesifik, yaitu

kapal dari daratan, benda-benda yang

mengidentifikasi arah angin di laut dan

mengapung, dan menghindari tabrakan

memperjelas haluan-arah kapal (piloting).

dengan kapal lain, kompas magnetik

Ada enam belas titik mata angin yang

untuk penunjuk arah kapal dan nama-

dimiliki oleh suku Bugis, persis seperti

nama alat navigasi canggih lainnya. Akan

mata angin internasional. Namun, cukup

tetapi, pada zaman dulu, pelaut-pelaut

arah timur dan barat yang digunakan

2020, VOL. 9 INDONESIANA 55


foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

Perahu padewakang Nur Al Maregedi perairan Bulukumba. Perahu padewakang Nur Al Marege beserta awaknya.

pelaut Bugis untuk membedakan dan menamai dua musim: musim timur dan musim barat. Musim angin timur jatuh pada April hingga September, sedangkan musim angin barat pada Januari hingga Maret dan Oktober hingga Desember. Ada petunjuk lain untuk mengetahui perubahan dan pergantian musim, yaitu dari “bulan sabit” dan “perubahan tiupan angin”. Jika bulan sabit agak miring ke utara, maka itu musim barat. foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

Bila bulan sabit agak miring ke selatan, maka itu musim timur. Jika angin bertiup secara terus menerus atau konstan, dan kadang kala diikuti hujan lebat, maka kita memasuki musim barat. Kita memasuki musim timur bila angin bertiup dari tenggara. Pelaut Sulsel pun menggunakan pedoman “gelombang

Para pelaut Bugis juga memanfaatkan

Pelaut-pelaut Sulsel bisa mengetahui

pasang dan surut”, yakni bahwa pada

bintoéng timoro’ ‘bintang timur’

daratan lewat keberadan burung

musim barat, gelombang pasang

(aquilae alfa) yang dimanfaatkan untuk

jagong (nama bahasa Mandar) yang

mencapai puncaknya pada sore hari.

berlayar ke timur dan barat. Bintang ini

sedang mencari makanan. Jika angin

Pada siang hari, matahari sudah

bersebelahan dengan bintoéng rakkalaé

yang bertiup adalah angin tenggara,

menjadi penanda arah mata angin yang

‘bintang bajak’ (orion alfa-beta) yang

maka posisi daratan berada di barat

jelas, mana barat dan timur. Sedangkan

juga dipakai jika berlayar menuju timur.

laut atau paling tidak posisinya ada di

pada malam hari, pelaut dan nelayan

Selain matahari, angin, dan bintang, ada

sebelah barat. Burung jagong adalah

mengandalkan bintang-bintang. Bintoéng

pula penanda lain, misalnya arus ombak

jenis burung mirip bangau, berwarna

lambarué (‘bintang pari’) dan bintoéng balé

dan arus laut.

hitam, dan leher panjang dengan variasi

mangngiweng (‘bintang hiu’) adalah dua

Penguasaan navigasi tersebut akan

warna putih di lehernya. Pada malam

rasi bintang yang terbit dan tenggelam

memudahkan pelaut mengetahui posisi

hari, burung jagong kerap hinggap di

di utara dan posisinya berdekatan

dan mengendalikan arah haluan kapal

atas pohon di daratan, kemudian pada

di langit selatan. Bintoéng kappalaé

atau biasa disebut piloting. Selain itu,

siang hari burung jagong mencari makan

‘bintang biduk’ (ursa majoris) terletak

pengindentifikasian alam sekitar akan

di atas laut. Spesies burung lainnya yang

di langit utara, terbit di timur laut dan

memberikan petunjuk para pelaut Sulsel

menjadi tanda bahwa daratan sudah

tenggelam di barat laut. Rasi bintang ini

telah berada di daerah mana, seperti

dekat dalam bahasa Bugis disebut

berdekatan dengan bintoéng pitu ‘bintang

pengetahuan jenis-jenis burung, puing-

burung béllé (burung cikalang kecil atau

tujuh’ (pleiades) yang berperan sebagai

puing yang terapung, mengetahui jenis

Fregata ariel). Pelaut Bugis mempercayai

pedoman untuk pelayaran ke utara.

karang, ikan terbang, dan lumba-lumba.

bahwa keberadaan burung béllé sebagai

56 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Muhammad Ridwan Alimuddin

penanda bahwa sekitar empat jam jarak yang ditempuh untuk tiba di daratan atau pulau.

Layar kecil perahu padewakang Nur Al Marege.

Alam sudah cukup memberikan tandatanda bagi pelaut dan nelayan Sulsel untuk menjelajahi lautan Nusantara, bahkan samudera, jauh sebelum ada teknologi canggih. Namun, akibat modernisasi pada ilmu kelautan dan kemaritiman, layar berbahan organik dan pengetahuan navigasi tradisional pun nyaris punah. Maka itu, pelayaran ekspedisi “Before 1770� oleh Padewakang Nur Al Marege tidak saja mengenang kedigdayaan nenek-kakek moyang BugisMakassar, tetapi juga pengingat bahwa pengetahuan navigasi dari Sulsel tersebut wajib dilestarikan. (Safar Nurhan, esais kelahiran pulau Paisubebe, Banggai Laut, Sulawesi Tengah)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 57


UP AC A RA AD A T

Erau Festival Riuh dan Penuh Sukacita

58 INDONESIANA VOL. 9, 2020


E

foto: Syefri Luwis

foto: Dony79 https://www.shutterstock.com/g/Doni79

rau merupakan upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun. Waktu pelaksanaannya ditetapkan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Upacara ini merupakan upaya melestarikan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang menjadi salah satu ikon kegiatan budaya di tanah air serta mengangkat festival budaya daerah ke kancah internasional dengan melibatkan peserta dari manca negara. Erau berasal dari kata “eroh” yang berarti ramai, riuh dan penuh sukacita.

perubahan konstelasi politik kesultanan.

memperingati hari jadi Kota Tenggarong

berlangsung selama 40 hari 40 malam

Meski kesultanan sudah dianggap tidak

(Tangga Arung). Melalui surat keputusan

dan diikuti segenap lapisan masyarakat.

ada (telah berubah menjadi bentuk

Bupati Kutai Nomor THP.276/E-1/PEM-

Merujuk pada cerita rakyat, seperti

pemerintahan modern di bawah

134/1972 ditetapkanlah tanggal 28

dituturkan keturunan dan kerabat

negara), putra mahkota tetap dianggap

September 1972 sebagai hari lahir Kota

(generasi ketiga dan keempat) Sultan

oleh keluarga besar “Kesultanan Kutai

Tenggarong (Ibu Kota Kabupaten Kutai

Kutai Kartanegara, tergambar bahwa

Kartanegara Ing Martadipura” sebagai

Kartanegara). Pada masa ini sudah terjadi

Kesultanan Kutai Kartanegara lahir

titisan sultan. Putra mahkota masih

proses rekacipta tradisi yang merupakan

atas prakarsa Aji Batara Agung Dewa

disimbolkan sebagai “generasi pemangku

suatu bentuk recreated tradition, yaitu

Sakti yang merupakan titisan dewa. Aji

tahta” kesultanan selanjutnya. Pada

tradisi yang dikreasikan dari bentuk yang

Batara Agung Dewa Sakti “turun dari

tahun 1960, ketika Sultan Aji Muhammad

lama, tetapi diberikan fungsi baru sesuai

langit” dengan menunggangi seekor

Parikesit masih “memangku kuasa”,

tuntutan perkembangan zaman.

lembu yang diberi nama Lembu Swana

sempat dilakukan Upacara Erau

di daerah Jahitan Layar. Ia kemudian

pengangkatan Aji Pangeran Adipati Prabu

menyesuaikan kepentingan

dirawat dan dibesarkan oleh Petinggi

Anom Surya Adiningrat sebagai putra

pemerintah daerah, juga sebagai upaya

Jahitan Layar hingga dewasa. Setelah

mahkota. Upacara ini dijalankan persis

meningkatkan kunjungan wistawan

dewasa, ia menikahi Putri Karang Melenu

sewaktu Sultan Aji Muhammad Sulaiman

nusantara dan mancanegara. Ketika

(disebut juga sebagai Putri Junjung Buih,

mengangkat Sultan Aji Muhammad

Erau menjadi festival budaya untuk

karena terlahir dari buih-buih air Sungai

Parikesit sebagai putra mahkota.

memperingati hari jadi Kota Tenggarong,

Pada awalnya, perhelatan ini

Mahakam). Sekitar awal abad ke-14, Aji

Upacara Erau pada masa Sultan

Rangkaian acara Erau dimodifikasi,

terdapat beberapa perubahan rangkaian

Batara Agung Dewa Sakti mendirikan

Aji Muhammad Parikesit tersebut

upacara pokok. Upacara adat sakral yaitu

kerajaan yang dinamai Kutai Kartanegara

merupakan upacara terakhir. Erau

tijak tanah, satu acara pokok kegiatan

dan ia menjadi raja yang pertama.

difungsikan oleh kesultanan sebagai

Erau, ditiadakan. Adapun upacara

Sejatinya tahta kesultanan Kutai

ritual adat dalam panggung kuasa

adat yang lain tetap dilaksanakan, yang

Kartanegara Ing Martadipura akan

Kesultanan Kutai Kartanegara Ing

kemudian menjadi rangkaian Erau,

dilanjutkan oleh Putra Mahkota Aji

Martadipura. Erau tidak pernah lagi

berikut ini:

Pangeran Adipati Prabu Anom Surya

dilakukan hingga tahun 1972, yakni ketika

Adiningrat. Namun harapan putra

Bupati Kutai Drs. H. Achmad Dahlan

mahkota untuk melanjutkan tahta

mulai mengadakan Erau kembali sebagai

sultan tidak dapat terwujud akibat

festival kebudayaan dalam rangka

Mengulur Naga sebagai salah satu upacara pokok.

Lembuswana, hewan dalam mitologi rakyat Kutai dan lambang Kesultanan Kutai Kertanegara.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 59


Beluluh Upacara Pensucian diri sultan/putra mahkota sebelum melaksanakan Erau. Dimaksudkan agar sultan/putra mahkota

foto: Hermansyah28 https://www.shutterstock.com/g/Hermansyah28

suci diri dan hatinya.

Menjamu Benua Upacara untuk memberitahukan kepada dewa penguasa alam semesta, bahwa pihak kesultanan hendak melakukan kegiatan Erau. Memohon agar dewa penguasa alam semesta memberi ijin dan merestui Erau. Dengan cara memberikan sesajen di Kepala Benua (Kampung Mangkurawang), Tengah Benua (Kampung Panji), dan Ekor Benua (Kampung Timbau)

Mendirikan Tiang Ayu Upacara mendirikan “tombak� (Tiang Ayu). Tiang Ayu atau biasa disebut juga sebagai Sangkoh Pintu merupakan foto: Fahnur Jingga https://www.shutterstock.com/g/fahnurjingga

suatu tombak dari kayu ulin yang pada setiap pelaksanaan Erau disimbolkan sebagai tanda bahwa ketika sultan telah mendirikan tiang ayu maka pada saat itu juga bahwa kesultanan telah siap melaksanakan Erau. Tiang Ayu merupakan tombak pusaka yang disematkan di sebuah kantung kain berwarna kuning. Tombak pusaka itu bernama sangkok piatu, tombak milik raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Setelah ritual tersebut dilanjutkan dengan upacara pembukaan dan disuguhkan tarian Senandung Melayu Kutai.

Seluang Mudik

Mengulur Naga

utuk disimpan oleh keluarga sultan agar digunakan kembali dalam Erau

Ritual ini dilakukan oleh keluarga

Kegiatan mengulur naga merupaan

sultan dengan mulai menarikan tarian

simbolisasi ketika Petinggi Jahitan Layar

Ganjar-Ganjur (beganjur). Kemudian

mengantarkan naga kembali ke tepian

pada saat menari, keluarga sultan

aji (kini Kutai Lama). Hal ini kemudian

menyambut dengan membawa beras

dilakukan dalam Erau (pasca-1960)

dalam wadah yang kemudian dipercikkan

dengan membuat replikasi dua ekor naga

siram air di antara keluarga sultan dan

ke atas sebagai simbol kemakmuran

yang berjenis kelamin laki-laki (naga laki)

seluruh lapisan warga Kutai Kartanegara.

Kesultanan Kutai Kartanegara Ing

dan berjenis kelamin perempuan (naga

Sebelum warga melakukan kegiatan

Martadipura. Dalam upacara ini seluruh

bini). Naga tersebut ditenggelamkan

belimbur terlebih dahulu dilakukan

keluarga sultan (dan sultan) diajak untuk

(badannya saja) dengan terlebih dahulu

belimbur oleh sultan.

bergembira dan dilarang untuk bersedih.

dipotong bagian kepala dan ekornya

60 INDONESIANA VOL. 9, 2020

berikutnya.

Belimbur Belimbur merupakan kegiatan saling


foto: Dony79 https://www.shutterstock.com/g/Doni79

Merebahkan Tiang Ayu Kegiatan berikutnya adalah

Pada masa pemerintahan Bupati H. Achmad Maulana Sulaiman ditetapkanlah

merobohkan tiang ayu yang telah

28 September sebagai hari peringatan

didirikan pada awal memulai Erau.

lahirnya Kota Tenggarong (Peraturan

Empat orang keluarga sultan kemudian

Daerah Kutai No. 2 Tahun 1997 tentang

menarik tali dan menggoyang-goyangkan

Hari Jadi Kota Tenggarong). Sehingga

tiang ayu hingga tiang ayu berada dalam

setiap tanggal 28 September diadakan

posisi roboh (tertidur). Upacara ini

Festival Erau sebagai perayaan hari jadi

merupakan akhir dari rangkaian Erau dan

Kota Tenggarong. (Edy Gunawan)

Tarian Hudoq dan masyarakat Dayak ikut berpartisipasi dalam Festival Erau. dalam Erau. Momen pembukaan Festival Erau tahun 2017.

sebagai tanda bahwa Erau telah selesai dilaksanakan.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 61


RI T UA L

Doa Syukur

Larungan ke Pulau Bokor

B

agi masyarakat nelayan Suryabahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, hakikat ritual larungan adalah sebentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil ikan-ikan tangkapan yang mereka

peroleh selama setahun terakhir. Sekaligus juga sebagai upaya tolak bala yang dipercaya dapat menghindarkan mereka dari kecelakaan di laut ketika menangkap ikan. Larungan juga diyakini memiliki beberapa fungsi, di antaranya mempererat hubungan kekerabatan di antara sesama nelayan, mengembalikan semangat melaut usai musim paceklik, dan mendapatkan kembali motivasi untuk melanjutkan hidup sehari-hari. Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, sepotong kepala kerbau dibersihkan di belakang rumah Pak Dalban (kuncen atau juru kunci). Masyarakat nelayan Suryabahari menyebutnya “memandikan”, bukan “mencuci” sebagaimana perlakukan tukang masak dalam membersihkan daging. Ada air kembang dalam tong besar, sabun mandi, sampo, pasta gigi, dan sikat gigi. Seperti perlengkapan mandi kita. Kepala kerbau diguyur dengan air kembang, disabuni, dan disampoi seluruh bagiannya. Proses tersebut dilakukan berulang-ulang hingga benar-benar besih. Terakhir, giginya disikat dengan pasta gigi sebagaimana layaknya manusia menyikat gigi. Menurut Pak Dalban, proses “memandikan” itu dilakukan untuk memastikan bahwa kepala kerbau yang akan dilarung tersebut benar-benar layak dipersembahkan. Kepala kerbau kemudian dikeringkan dengan handuk, diletakkan di atas tampah bertabur bunga, dan didandani sedemikian rupa. Kedua pipinya ditaburi bedak, alisnya dibentuk dengan pensil alis, kelopak matanya diberi pewarna, dan bibirnya dibubuhi gincu merah. Bagian tanduk dilulur dengan minyak kemiri sampai mengkilap. Bulu-bulu pada kepala kerbau disisir. Setelah itu, bagian belakang kepala kerbau ditutupi kain merah-putih, serta dikalungi seuntai kembang melati. Proses sakralisasi kepala kerbau itu pun menjadi tontonan anak-anak nelayan Suryabahari, yang harus menyebut kepala kerbau itu dengan “panganten”. Sebab, ia akan “disunting” penguasa Pulau Bokor. Menurut Pak Wario (pembuat perahu ancak), dahulu kala, tempat menaruh sesaji dan “panganten” itu bukanlah ancak berbentuk perahu seperti saat ini,

62 INDONESIANA VOL. 9, 2020

yang dibuat khusus, melainkan wadah berbentuk rumah-rumahan. Perubahan tempat menyimpan sesaji yang akan dilarungkan ini terjadi pada sekitar tahun 1982 atau 1983, ketika perahu-perahu nelayan mulai menggunakan mesin dan tidak lagi mengandalkan layar dan dayung. Perubahan itu mungkin karena menyesuaikan dengan perubahan zaman. Artinya, terdapat konteks sosial yang ditanggapi oleh masyarakat nelayan Suryabahari yang membuat mereka mampu beradaptasi. Kemudian, “panganten” itu diruwat dalam suatu pergelaran wayang kulit purwa yang memainkan lakon Budug Basu pada malam hari pertama, setelah semua sesaji lengkap dipersiapkan. Pementasan dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cituis, menghadap ke arah lautan yang secara langsung menghadap Pulau Bokor. Dalam setiap larungan di Desa Suryabahari, lakon yang dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit selalu sama, “Budug Basu”. Lakon tersebut, menurut kepercayaan masyarakat nelayan Suryabahari, adalah mengenai Budug Basu yang dipercaya sebagai “raja para ikan” dan mengisahkan tentang asal-muasal keberadaan ikanikan di lautan.


foto: Susi Ivvaty foto: Niduparas Erlang

Peserta Larungan berebut sesaji, anak-anak mengintip isi sesaji yang akan di Larung. Selain sebagai lakon yang dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit, sastra lisan mengenai Budug Busu juga ditemukan beredar di kalangan masyarakat pesisir Cirebon, dan telah pula dituliskan dalam enam versi penulisan naskah kuno. Dalam penelitian Ridwan dan Abdulgani terkait manuskrip Budug Basu (2012), konteks kemunculan cerita Budug Basu memang tak dapat dilepaskan dari ritual melarung sesaji dengan sarana pementasan wayang kulit yang dilakukan oleh komunitaskomunitas masyarakat nelayan di pesisir utara Jawa, khususnya Cirebon dan Indramayu. Bahkan, panitia kerap mengundang dalang dari Cirebon atau Indramayu. Di akhir lakon, dalang melakukan ruwatan. Sebuah tong besar berisi air kembang ditaruh di samping tempat duduk dalang yang merapalkan sejumlah mantra berupa tembang. Ruwatan ini erat hubungannya dengan kepercayaan masyarakat Jawa, bahwa kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh Sang Kala, yang dalam dunia pewayangan diperankan oleh Bhatara Kala. Bhatara Kala adalah Dewa yang dipercaya sebagai pembawa maut, pembawa sial, atau pembawa malapetaka dalam kehidupan manusia di alam janaloka. Selain itu, ruwatan dalam masyarakat Jawa dibedakan dalam tiga golongan besar, yaitu (1) ritual ruwat untuk diri sendiri, (2) ritual ruwat untuk lingkungan, dan (3) ritual ruwat untuk wilayah. Seusai ruwatan, masyarakat nelayan berebut air kembang di dalam tong,

lantas dipercikkan ke perahu atau dibasuhkan ke wajah. Mereka percaya, air yang telah diruwat itu dapat mendatangkan berkah bagi kehidupan mereka. Keesokan hari, perahu-sesaji yang telah diruwat di TPI itu digotong menuju Dermaga Cituis. Di sana, secara sederhana dilakukan acara seremonial pelepasan perahu-sesaji berupa pemotongan pita oleh Camat Pakuhaji. “Sebelum saya potong (pita) ini, mari sama-sama kita baca Basmalah. Bismilahi rohmani rohim. Ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Yang Mahakuasa, mudah-mudahan, kita doakan para nelayan kita (Suryabahari) selalu diberikan keberkahan oleh Allah SWT. Amin”. Secara simbolis, Pak Camat juga menyerahkan bakul berisi nasi putih, bekakak ayam, bawang merah, dan cabai merah, kepada Pak Dalban selaku kuncen yang memimpin prosesi larungan. Perahu-sesaji pun segera diangkut ke atas kapal yang membawanya ke tengah laut, dekat Pulau Bokor. Kapal-kapal nelayan lain yang telah dihias satu per satu bergerak keluar dari sungai menuju muara. Kemacetan di muara sungai sempat terjadi karena banyaknya perahu nelayan yang bergerak bersamaan. Namun, begitu perahu yang mengangkut sesaji keluar dari muara, perahu-perahu nelayan lain tidak mendahului. Dalam perjalanan menuju titik pelarungan sesaji, perahu pembawa sesaji itu berhenti sejenak selama tujuh kali. Menurut Pak Dalban, tujuh titik-khusus itu hanya ia yang tahu, dan merupakan tempat-tempat

bersemayamnya makhluk-makhluk halus. Di tiap titik pemberhentian, Pak Dalban membakar kemenyan dan membacakan doa (atau mungkin mantra) pelan-pelan. Asap dan bau kemenyan menguar. Mendekati Pulau Bokor, perahusesaji memutari Pulau Bokor satu kali sambil menunggu kapal-kapal nelayan lain berkumpul. Setelah itu, perahusesaji dilepaskan dari kapal yang mengangkutnya dengan sekali entakan, agak miring ke kanan, namun segera meluncur ke atas permukaan laut. Kapal-kapal nelayan mulai mendekat, mengerubungi perahu-sesaji, dan secara dramatik menabraknya dari berbagai sisi. Perahu-sesaji itu pun rusak, bocor, hancur, sehingga sesaji tumpah berantakan, sebagian mengambang, sebagian tenggelam. “Panganten” tidak tampak lagi. Menurut warga, tak ada yang pernah melihat secara persis bagaimana “panganten” tenggelam ke dalam laut. Mereka meyakini, setelah perahu-sesaji dilarungkan, “panganten” langsung diambil oleh Ibunda Ratu Nyimas Kandita. Para nelayan percaya, ritual akan mendatangkan ikan-ikan yang berlimpah dan keberkahan akan menyertai aktivitas mereka sehari-hari. Jika ternyata ikanikan langka, mereka meyakini bahwa hal itu mungkin terjadi karena kelalaian atau kekeliruan saat larungan. Jika harapan tidak tercapai, mereka mengembalikan semua “kesalahan” kepada diri mereka sendiri. Hal itu adalah sebentuk introspeksi diri agar tidak menyalahkah pihak lain. (Niduparas Erlang)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 63


Meremang di Pusaran Zaman

S ENI

S

eni pertunjukan topeng telah disebut dalam prasasti Jaha (840 M) pada masa Mataram Hindu.

Prasasti ini menyebut istilah atapukan untuk menamakan suatu pertunjukan tari yang menggunakan topeng atau kedok di daerah Jawa Tengah, seperti ditulis oleh Sal Murgiyanto dan A.M Munardi dalam buku Topeng Malang (1979/1980). Pada masa yang sama --menurut Sumandiyo Hadi dalam makalah Perjalanan Fungsi Topeng (1989)-- prasasti Kuti menyebut pertunjukan topeng dengan nama hatapukan yang berarti

64 INDONESIANA VOL. 9, 2020

yang berarti pertunjukan wayang topeng. Sajiannya berbentuk mbarang (ambarang, berkeliling, mengamen), meski tidak disebutkan dengan jelas cerita yang dibawakan, Ramayana atau Mahabharata. Pada masa Islam Jawa Tengah (abad 16-18: Demak, Pajang, dan Mataram) berkembang pertunjukan dramatari topeng yang menampilkan cerita Panji. Wayang topeng adalah personifikasi dari wayang gedhog, yaitu wayang kulit yang menampilkan cerita Panji, seperti disebut R.M. Soedarsono dalam Wayang Wong: Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta (1997). Dramatari Topeng Jawa juga teridentifikasi dalam buku monumental karya sarjana Belanda Th. Pigeaud yang dipublikasikan pada tahun 1938 dengan judul Javaanse Volksvertoningen (Pigeaud, 1938: 214—224). Seni pertunjukan topeng di Jawa Tengah tidak dapat dilepaskan dari peran Sunan Kalijaga, yang konon menciptakan sembilan karakter topeng untuk ia mainkan seiring menyebarkan agama Islam. Dua dalang yang dipercaya sebagai peraga kesenian topeng adalah Widiguna dan Widiyana dari Desa Selayang dan foto: Much Cholid

Topeng Dalang Klaten

penari, atau matapukan dan manapalan


kemudian menetap di Desa Palar, Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1586. Sunan Kalijaga menggunakan jasa dua dalang tersebut hingga mendapatkan simpati dan kepercayaan untuk mempertunjukkan Wayang Topeng secara berkeliling, seperti disebut Toto Sudarto dalam tesisnya, Topeng Babakan Cirebon 1900-1990 (Universitas Gadjah Mada, 2001). Hingga kini para dalang dan keturunannya masih percaya bahwa mereka merupakan trah atau keturunan dari Ki Panjangmas yang hidup sezaman dengan Mataram Plered pada pemerintahan Panembahan Krapyak (1601-1613). Seniman Topeng Dalang Klaten Ki Mlayadimeja (Mlayakusuma) dipercaya merupakan keturunan dalang sezaman Paku Buwana IX, yang menjadi cikal bakal berkembangnya kesenian wayang topeng di Klaten. Topeng Dalang Klaten pun menjadi kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan kota itu sendiri.

Sajian Dalam pertunjukan Topeng Dalang Klaten, para pemain mengenakan topeng sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita. Di balik topengnya, pemain berdialog. Pertunjukannya mirip wayang orang, namun pemainnya mengenakan topeng, kecuali tokoh Regol, abdi Gunungsari, dan tokoh Emban (dayang-

foto: Much Cholid

dayang) yang tidak mengenakan topeng. Topeng Dalang umumnya mengangkat

Wohing Ketos (Sekartaji Nyidam), dan

lakon-lakon dari Cerita Panji yang

Angreni.

merupakan cerita rakyat (folklore) atau

Pertunjukan wayang kulit purwa

tradisi tutur yang didapat dari penuturan

sangat kuat memengaruhi pementasan

nenek moyang secara turun-temurun

Topeng Dalang. Adegan dalam cerita

seperti Jaka Kembang Kuning, Jaka Bluwa,

dibagi menjadi tiga pathet; diawali dari

Jaka Penjaring (Gajah Sena Sayembara),

pathetnem, sanga, dan manyura. Topeng

Penthul Maling (Jati Pitutur Pitutur Jati),

Dalang menggunakan gending-gending

Bancak Doyok Mbarang Jantur, Ande-ande

berlaras slendro, yang mengacu pada

Lumut, Cindelaras Adu Jago, Timun Mas,

jenis gending-gending pakeliran wayang

Berbagai adegan dalam pertunjukan Topeng Dalang Klaten dimana pemain melakukan dialog dengan mengenakan topeng.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 65


foto: Much Cholid

purwa. Para penari mengakui adanya

Klana, misalnya, menggunakan sekaran-

di perempatan, dekat pasar, pelataran

proses tafsir terhadap karakter tokoh-

sekaranjogetan yang terinspirasi dari

rumah warga, atau lokasi-lokasi yang

tokoh, seperti karakter Gunungsari

kehidupan sehari-hari masyarakat

mudah diakses massa.

dalam Cerita Panji yang serupa Samba,

Klaten, seperti nutu (menumbuk padi),

anak Kresna dalam wayang purwa.

nunda layangan (bermain layang-layang),

penari merangkap menjadi penabuh

Patih Kudanawarsa disejajarkan dengan

trajon/traju (timbangan), main kertu

gamelan. Dengan gesit masing-masing

karakter Werkudara (Bima). Itu tampak

(berjudi), inter-inter, napeni, nepleki, dan

menari secara bergantian, saling melukir

dalam penggambaran raut muka pada

adus (mandi). Semua itu merupakan

diri, lalu dengan cepat berganti peran

tatah sungging (desain), penggunaan jarot

gambaran kehidupan sosial-budaya

sebagai penabuh gamelan. Penari akan

pupuk asem pada kening, dan busana

masyarakat Klaten yang diolah dalam

jadi penabuh gamelan manakala giliran

yang dikenakan, yaitu kain kampuhpoleng,

teknik dan ekpresi kreatif para seniman

adegan untuk tokoh yang dia perankan

bang bintulu. Hal ini sangat mungkin

Topeng Dalang.

belum waktunya tampil. Bila saatnya tiba,

terjadi karena para pemain Topeng

Pada awalnya Topeng Dalang

Dalam pertunjukan barangan itu, setiap

penari yang sedang menabuh gamelan

Dalang itu juga para dalang wayang

dipertunjukkan dengan cara mengamen

itu segera masuk ke arena pentas. Posisi

kulit purwa. Kemampuan mendalang

di wilayah Kabupaten Klaten oleh para

gamelan yang dia tinggalkan segera

wayang purwa mereka gunakan untuk

penari lelaki (umumnya 10 orang) yang juga

diganti oleh awak lain yang selesai

membangun keindahan saat menyajikan

merupakan para dalang. Dari pagi, mereka

berakting/menari.

dramatari Topeng Dalang, yang pada

berjalan menyusuri desa, dari rumah ke

akhirnya mampu menghidupkan ciri

rumah, dengan membawa (memikul)

dari penari menjadi penabuh, dan

estetik tersendiri.

seperangkat gamelan yang ditabuh

sebaliknya itu, terus berlangsung hingga

untuk mendukung pertunjukan, seperti

pertunjukan Topeng Dalang barangan

juga kuat memengaruhi pertunjukan

beberapa pangkon (gender, saron, dan

rampung. Teknik pentas barangan seperti

Topeng Dalang. Ini bisa kita amati

kenong), gong siyem, kempul, kendang

itu tentu tak mudah. Seniman Topeng

lewat vokabuler tarinya, terutama

ciblon, ditambah keprak atau simbal

Dalang harus berbekal keterampilan

pada tokoh Klana. Vokabuler kiprahan

untuk dalang untuk menggelar pentas

tinggi. Tak cukup hanya terampil menari

Warna kebudayaan agraris-kerakyatan

66 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Teknik berputar peran (lukir)


topeng, dan berakting, tetapi juga harus

komunikasi estetis. Tanpanya, tidak

piawai menabuh gamelan.

akan ada proses komunikasi, apresiasi,

bukan sekadar warisan seni, namun

dialektika, dan identifikasi yang penting

juga menjadi contoh catatan sejarah

dalam komunikasi seni.

sosial dan komunal entititas masyarakat

Mbarang dilakukan di tengah pekerjaan utama mereka sebagai dalang wayang kulit untuk mencari tambahan

Komunalitas para pelaku Topeng

Wayang topeng bagi warga Klaten

yang redup diantara dinamika zaman.

penghasilan. Selain tujuan praktis, tujuan

Dalang Klaten yang terkesan “eksklusif�

Dengannya seni menjadi sarana edukasi

lain adalah sarana laku (tirakat) bagi para

khususnya bagi keluarga sendiri dan

kultural bagi masyarakat, baik sebagai

dalang. Kesenian ini telah diwariskan

manajemen seni tradisional, menjadi

refleksi, kontekstualitas, maupun bekal

secara turun-temurun, hingga kini sudah

satu permasalahan yang dialami dalam

visioner bagi masa depannya. (Purnawan

lima generasi. Mulai dari nama Sukimo

penyebarluasan kesenian ini. Agar

Andra)

alias Ki Cermoharjo, yang lebih dikenal

eksis di antara dinamika laju zaman,

sebagai Mbah Mbeku, Ki Gondotukasno,

dibutuhkan keberagaman pilihan dan

sampai generasi sekarang, seperti Joko

penyikapan yang lebih cair atas suatu

Santosa, Giyah Supanggah, Suronodi

bentuk kesenian. Inilah kompleksitas

Desa Mbeku, Kuwiran, Manjungan hingga

permasalahan yang dihadapi oleh topeng

Somokaton, Kabupaten Klaten.

dalang Klaten saat ini.

Para pemain mengenakan topeng sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita dalam pertunjukan Topeng Dalang Klaten tak terkecuali tokoh Regol, abdi Gunungsari, dan tokoh Emban (dayang-dayang).

Tergusur Arus Zaman Kesenian bernilai tinggi ini kemudian tergusur oleh arus zaman. Konflik politik pada 1965, membuat berbagai kesenian rakyat identik dengan LEKRA– organisasi kesenian di bawah Partai Komunis Indonesia. Tak pelak, pentas wayang topeng sempat dilarang di awal pemerintahan Presiden Soeharto. Dengannya, topeng dalang hanya tersisa di trah (keturunan) keluarga dalang. Seiring meninggalnya para tokoh dalang, tidak adanya patron dan proses regenerasi yang tidak berjalan mulus di dalam keluarga trah dalang Klaten sendiri, menjadi faktor-faktor permasalahan yang harus dihadapi untuk terus menghidupkan kesenian tersebut. Terlebih dengan dinamika zaman yang membutuhkan kontekstualisasi ekspresinya, seni tentu saja membutuhkan elemen-elemen penting bagi keberlangsungan hidupnya, yaitu para seniman pelaku, penonton, dan masa atau zaman hidupnya. Dibutuhkan para seniman pelaku yang mampu menampilkan dan mengartikulasikan makna seni Topeng Dalang Klaten kepada para penontonnya dalam sebuah bentuk

foto: Much Cholid

2020, VOL. 9 INDONESIANA 67


TRA DI SI LI S A N

Basiacuang Petatah-Petitih Melayu Kampar Nilai-nilai dalam tradisi lisan ini dijalin dengan bahasa yang indah dan sarat dengan makna serta perumpamaan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Pudentia (2005:2) yang mengatakan bahwa tradisi lisan ini adakalanya cukup estetis. Basiacuang termasuk mempunyai irama yang kuat dan teratur dengan jalan menyusun kalimat, mengulang sesuatu dengan berbagai-bagai perumpamaan yang maksudnya sama. Sering kali dipakai kata permulaan dengan kalimat yang serupa sedangkan kata-kata lukisan seringkali sembunyi, baik tentang huruf hidup dan mati. Dalam kata-kata Basiacuang terdapat bandingan dan perumpamaan yang dipakai itu sangat tepat membayangkan yang dilukiskan dan sangat kuat membangkitkan pikiran dan perasaan, maka bahasa berirama itu sesungguhnya sering amat indah. Disinilah bahasa Melayu lama sampai ke puncaknya sebagai bahasa seni. foto: http://alzikrii.blogspot.com

Basiacuang merupakan tradisi

Basiacuang adalah suatu tradisi lisan

Basiacuang terdapat bahasa berirama secara baik, selalu memakai kata dan

lisan budaya lokal pada masyarakat

yang terdapat pada setiap upacara

kalimat dalam maksud yang tersembunyi

Melayu Kampar-Riau yang makin

adat masyarakat Kampar. Basiacuang

dalam bunyi dan arti.

hari makin menghilang. Padahal

berisi tentang ungkapan, petatah

Basiacuang merupakan ungkapan,

petitih dan pantun. Tradisi Basiacuang

puisi lama yang terdiri dari seperti

petatah petitih, dan juga pantun yang

ini juga dipakai untuk pergaulan ninik

bidal, petatah-petitih, ungkapan,

mempunyai peranan penting dalam

mamak dengan ninik mamak dan

perumpamaan, tamsilan, ibarat dan

adat-istiadat Kampar. Dalam suatu

ninik mamak dengan kemenakannya.

pameo merupakan karya sastra yang

pertunjukan Basiacuang, tuturan sang

Basiacuang berasal dari kata siacuang

berasal dari kedatuan tempo dulu. Hal

penutur tidak akan sama dengan

artinya adalah bahasa pengantar

ini terbukti dengan adanya prasasti

pertunjukan Basiacuang pada hari

dalam pergaulan antara ninik mamak

kedatuan Sriwijaya yang ditemukan

lain. Sebab, tuturannya berlangsung

dengan ninik mamak, dan pergaulan

kalimat Basiacuang yang berbentuk

secara spontan, melihat situasi dan

ninik mamak dengan kemenakannya

ungkapan dan ibarat. Dalam prasasti

konteksnya. Penciptaan juga ditentukan

(Disbudpar, 2010:1). Basiacuang

A (679 S) disebutkan: si miskin

oleh audiens dan lawan penutur dari

artinya menyampaikan dengan gayung

memperoleh perlindungan dari beliau

Basiacuang sendiri.

bersambut dan kata terjawab.

seperti gajah-gajah yang bernaung di

68 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Basiacuang merupakan bahasa


bawah pohon rindang‌‌‌ (Mulyana,

terciptanya tuturan Basiacuang tidak

menyebabkan penyesuaian cerita. Jadi

2006:164). Landasan hukum Basiacuang

hanya berdasarkan perumpamaan,

tuturan Basiacuang akan berbeda jika

yang paling utama adalah hukum dasar

tetapi juga dikombinasi dengan pantun

audiens sudah agak bosan, sehingga si

pemerintahan Andiko 44 yaitu: Hontak

dari pihak lawan. Dengan demikian

penutur menambahkan pantun di tengah

Soko Pisako. Di dalam Hontak Soko

Basiacuang tercipta dengan spontan

tuturan untuk memperindah kata-katanya.

Pisoko diatur perihal Adat, Soko, Pisoko

dari pihak yang datang sementara pihak

Artinya audiens mempunyai pengaruh

dan Limbago. Empat bagian tersebut

penerimana mengkombinasi sendiri

besar bagi si penutur untuk menentukan

merupakan dasar-dasar adat bagi

pantun yang dibuat seketika karena telah

apakah tuturannya bagus dan indah.

manusia dalam menjalani kehidupan.

memiliki perbendaharaan kata yang

Selain itu, yang menjadi landasan hukum

hidup dalam ingatan dan digunakan

yang paling penting untuk dikaji, karena

lainnya adalah undang atau aturan adat

suatu pola ritma, perumpamaan dan

tradisi ini merupakan warisan leluhur.

yang memperjelas ketentuan Hontak

pantun agar tujuan kedatangan pihak

Namun tradisi lisan ini sekarang tidak

soko Pisako.

laki-laki jelas.

diminati oleh generasi muda. Proses

Proses Penciptaan Basiacuang

Tradisi Basiacuang biasanya dilakukan

Tradisi lisan Basiacuang merupakan hal

pewarisannya berjalan sangat lambat

dalam acara meminang, diawali dari si

karena sangat sedikit sekali yang mau

penutur yang datang meminang (pihak

mempelajarnya. Walaupun Basiacuang

dari komunitas si penuturnya. Penutur

laki-laki). Jadi pihak yang datang memang

sudah mulai dipakai pada acara apapun

Basiacuang membutuhkan komunikasi

harus pintar dalam bertutur Basiacuang,

namun keinginan masyarakat untuk

dengan sesama ninik mamak dan

jika tidak lamaran bisa ditolak. Sedangkan

belajar masih sangat rendah. Hal ini

tokoh adat yang pandai Basiacuang. Si

si penutur Basiacuang yang menerima di

disebabkan karena tradisi Basiacuang

penutur melakukan komunikasi dengan

pihak perempuan harus jeli dan mampu

tidak bisa dijadikan sebagai penyambung

si penutur lainnya. Dalam tuturan inilah

menjawab tuturan yang datang melamar.

hidup keluarga sebagai jaminan masa

terkadang kelisanan Basiacuang tercipta

Jadi tradisi lisan ini adalah juga semacam

depan. Seorang penutur Basiacuang

dengan sendirinya. Si penutur Basiacuang

seni pertunjukan.

berusia 81 tahun bernama Imam Datuk

Basiacuang tidak dapat dipisahkan

terkadang mengambil perumpamaan

Kehadiran audiens dalam pertunjukan

Rajo Malano adalah penutur tertua.

dari alam flora dan fauna, hutan, pantai

tradisi lisan Basiacuang sangat penting.

Ketika peneliti memintanya bertutur, ia

maupun pengalaman yang pernah

Tuloli (1994:13) memperlihatkan bahwa

enggan, dengan alasan tidak bisa. Namun

dialami oleh si penutur Basiacuang. Hal ini

cerita disesuaikan dengan jenis audiens

setelah pertunjukan dimulai, ia lancar

terbukti bahwa tradisi lisan tidak dapat

sehingga dapat menimbulkan reaksi

betutur tanpa henti. (Zulfa Mpd MHum,

dipisahkan dari masyarakat sebagai

dari audiens. Reaksi itu pada gilirannya

Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat).

pemilik tradisi Basiacuang.

Dinas Pariwisata menggelar lomba basiacuang dalam rangka merayakan HUT ke 70 Kabupaten Kampar.

penciptaan tradisi lisan antara lain: (1) kejadian nyata yang mengandung nilai historis dan heroik serta peristiwa yang menarik dan penting, (2) dongeng, mite dan legenda, (3) berdasarkan rekaan pencerita. Jika dilihat dari penciptaan penutur Basiacuang materi penciptaan

foto: dok.Dinas Pariwisara Kampar

Menurut Tuloli (1990:6) materi

Tuloli masuk yang kedua dan yang ketiga yaitu: semua karena proses penciptaan Basiacuang lebih banyak dipengaruhi oleh mite, dan berdasarkan rekaan penutur digabung dengan perumpamaan atau pun penciptaan penutur itu sendiri. Penuturan Basiacuang biasanya mengacu pada pola-pola umum. Si penutur lawan Basiacuang dapat terkena pengaruh dari pola si penutur pertama dan terbawa mengikuti pola lawan. Jadi

2020, VOL. 9 INDONESIANA 69


CAG A R B UDA Y A

Pesona Peninggalan

Kesultanan Sambas

Kesultanan Sambas merupakan satu jejak peninggalan bersejarah di Kalimantan Barat. Pusat pemerintahannya terletak di daerah pertemuan Sungai Sambas, Sambas Kecil, dan Teberau, pada suatu tempat yang oleh penduduk disebut Muare Ullakan (Desa Dalam Kaum). Di sana berdiri Keraton Kesultanan Sambas, yang disebut juga Istana Alwatzikoebillah. Kerajaan ini berdiri pada 1662 dan mencapai puncak kejayaan pada 1757.

foto: Abdullah Haq https://www.shutterstock.com/g/Abdullah+Haq

70 INDONESIANA VOL. 9, 2020


Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang dalam dua periode, yakni masa Hindu dan masa Islam. Pada masa Hindu, Kesultanan Sambas lebih dikenal dengan Kerajaan Sambas Hindu Ratu Sepudak. Perlahan-lahan kesultanan ini dipengerahui oleh Islam yang masuk dari Kesultanan Brunei Darussalam, pimpinan Sultan Muhammad Hasan. Salah satu anak Sultan Muhammad Hasan, yakni Pangeran Raja Tengah (Raden Sulaiman), adalah Sultan yang menurunkan penguasa Kesultanan Sambas (Fahmi, 2003). Namun secara administrasi kepemerintahan, Kerajaan Sambas Hindu dan Kesultanan Sambas Islam tidak memiliki hubungan langsung.

Konflik dan perpecahan internal yang terjadi di dalam pemerintahan Kerajaan Sambas Hindu menyebabkan terbentuknya Kesultanan baru. Raden Sulaiman yang memeluk agama Islam membawa perubahan secara nilai dan budaya di dalam Kesultanan Sambas. Nilai-nilai Islam yang dituangkan ke dalam bangunan (arsitektur) mempengaruhi perkembangan keseluruhan dari setiap aspek Kesultanan. Selain itu, perkembangan Kesultanan Sambas tidak lepas dari pengaruh besar Belanda. Istana Alwatzikoebillah yang ada saat ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin (1931-1943), sultan ke-15

Kesultanan Sambasdi masa kolonial. Pembangunan istana tersebut relatif singkat, yaitu dari tahun 1933 sampai tahun 1935. Dalam sejarahnya keraton ini menduduki posisi yang sangat penting karena kawasan ini menjadi simpul budaya dan tradisi yang menghubungkan kerajaan di hulu dan pesisir. Keraton terletak di Jl. Istana, Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat 79462. Aksesibitas jalan menuju kawasan keraton dapat dicapai dengan mudah baik dengan kendaraan maupun jalan kaki. Hal ini didukung oleh dua buah jembatan, yakni jembatan gantung untuk pejalan kaki Masjid Jami Keraton Sambas, arsitektur masjid ini bergaya khas melayu, dengan mayoritas bahan bangunan menggunakan kayu ulin atau kayu besi.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 71


(atas) Suasana Istana Sultan Sambas sekitar tahun 1900. (Leiden University Library, KITLV 91749) (bawah) Sultan Muhammad Tsafiuddin, pendiri Masjid Jami Agung Sambas yang berdiri saat ini, sekitar 1900. (Leiden University Library, KITLV 7251)

72 INDONESIANA VOL. 9, 2020

dan kendaraan roda dua, sedangkan jembatan besar yang mampu diakses kendaraan besar. Posisi Istana Alwatzikoebillah yang terletak dimuara tiga sungai yaitu sungai Tebarau, sungai Sambas Kecil dan sungai Subah yang dikenal dengan “Muare Ulakan�. Kawasan ini dikelilingi oleh anak sungai yang bermuara di Sungai Sambas. Anak sungai tersebut sampai saat ini masih digunakan oleh penduduk untuk kegiatan mandi dan mencuci maupun transportasi dengan sampan. Lokasinya yang terletak di bibir sungai Sambas menjadikan pemandangan di sekitar istana ini menjadi sangat nyaman. Setelah melewati sebuah gapura, para pengunjung akan disambut dengan berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Sambas yang terletak di halaman istana. Sebelum mencapai gapura kedua, di sisi kanan para pengunjung dapat menjumpai Mesjid Jami’ Sultan Syafiuddin yang kokoh berdiri menyambut siapapun yang berniat untuk beribadah ke dalamnya.

Bangunan keraton pertama kali dibangun oleh Sultan Bima pada tahun 1632 (sekarang telah hancur), sedangkan keraton yang masih berdiri saat ini dibangun pada tahun 1886 M pada masa sultan Muhammad Tsafiuddin II. Sultan Tsafiudin II merupakan sultan VIII dan memerintah selama lebih kurang 56 tahun antara 1866 sampai 1922. Keraton Sambas dibangun dengan luas 16.781 m2 dengan arsitektur bergaya Eropa dan Cina, luas bangunan secara keseluruhan adalah 511,76 m2. Karena berada di tepian sungai, keraton ini memiliki dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, yang terletak di depan keraton, dan dikenal dengan nama jembatan Seteher. Bangunan Keraton terdiri dari bangunan induk yang berfungsi sebagai balairung dan kamar sultan, serta dua bangunan pendukung yang terletak di sayap kanan dan kiri bangunan induk. Bangunan keraton semi permanen terbuat dari kayu belian. Dinding dan lantai terbuat dari papan kayu belian.


foto: Erwit Manggara https://www.shutterstock.com/g/Erwit+Manggara foto: Abdullah Haq https://www.shutterstock.com/g/Abdullah+Haq foto: nineimage https://www.shutterstock.com/g/nineimage

Pada sisi barat daya kompleks keraton terdapat bangunan bersejarah lainnya, yaitu Masjid Jami Kesultanan Sambas (Masjid Agung Jami Sultan Shafiuddin II Sambas). Masjid Jami Kesultanan Sambas ini dibangun oleh Sultan Abubakar Tajuddin (1848-1853). Istana Kraton Sambas menghadap ke arah Barat berhadapan dengan pertigaan Sungai Sambas sedangkan Masjid Kesultanan Sambas berada di sebelah selatan halaman keraton. Konsep masjid yang memposisikan pintu masuk dari sisi kanan alun-alun ini dipilih untuk menyesuaikan dengan kondisi Sungai yang berada di depan istana, tempat orang datang dan pergi melalui jalur air. Masjid ini bisa dilihat strategis dari dua arah, yaitu dari arah sungai dan dari arah Kraton. Dari arah sungai, masjid ini berdiri di tepi Sungai Sambas. Perkembangan Islam di Kalimantan Barat ditandai dengan adanya beberapa masjid tua dan bersejarah yang dibangun pada abad ke-1718. Antara lain adalah Masjid Jami Sultan Nata Sintang yang dibangun oleh Pangeran Tunggal Sultan Nata pada tahun 1672 dan Masjid Jami Kesultanan Sambas yang awalnya dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727. Masjid Jami Kesultanan Sambas sendiri awalnya merupakan rumah Sultan yang kemudian dijadikan mushala. Dibangun oleh Sultan Umar Aqomuddin yang memerintah Negeri Sambas pada tahun 1702-1727, kemudian masjid kecil itu direnovasi oleh putranya, Sultan Muhammad Saifuddin dan dikembangkan menjadi masjid dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1885. Pada masa Sultan Umar Akamudin I (17021727) dibangun masjid baru menggantikan posisi sentral masjid lama di Muara Ulakan. Masjid itu diberi nama masjid “Kamasallaita�. Lokasinya berada di pinggir sungai yang letaknya kurang-lebih 100 meter dari Masjid Kraton Sambas dan berada di luar pagar keraton. Saat ini ditempati sebagai kantin atau kedai para pengunjung atau wisatawan. Selanjutnya pada masa Sultan ke-8 atau ke-13, yaitu Sultan Muhammad Tsafiuddin II (18661992) dibangun masjid agung Jami Sambas di tempat masjid itu berada sekarang. Masjid ini awalnya hanya memiliki dua gunungan, yaitu pada bangunan utama dan bagian mihrab. Masjid ini berbentuk rumah panggung, beratapkan sirap dari kayu. (Edy Gunawan)

(atas) Simbol pada gerbang pintu keraton bertuliskan "Alwatzikhoebillah" (berpegang teguh pada Allah), diapit oleh dua ekor burung laut dan angka sembilan diatas yang berarti bangunan keraton dibangun oleh sultan yang kesembilan. (tengah) Tiga buah bangun utama keraton. (bawah) Kamar tidur Sultan, dimana tersimpan beberapa barang-barang khazanah Kesultanan Sambas.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 73


WA S T RA

Tenun Ikat

Sikka Lestari Berkat Du’a-du’a

foto: Fakhri Anindita https://www.shutterstock.com/g/Fakhri+Anindita

N

usa Tenggara Timur merupakan

hitam, putih, coklat, merah bata, kuning,

mudah ditemukan. Memintal benang

surga bagi pecinta kain

dan biru. Warna-warna tersebut berpadu

dari kapas dikerjakan secara manual

tenun ikat Nusantara. Hingga

padan dan serasi dengan corak motif

dengan teknik sederhana. Perkembangan zaman dan arus

sekarang, hampir semua sudut di

yang dipilih sehingga menghasilkan kain

provinsi ini menjadi tempat bergeliatnya

berkualitas tinggi dengan nuansa etnik

perdagangan antar pulau telah

tradisi tenun ikat yang terus hidup dan

yang kental.

mengubah beberapa aspek tradisional

lestari. Salah satunya kain tenun ikat yang

Terkadang kita menjumpai motif-motif

dari pengerjaan Tenun Ikat Sikka. Hal

berasal dari Kabupaten Sikka atau dikenal

dan pewarnaan yang rumit dan ramai

ini tentunya tidak hanya terjadi di

dengan Tenun Ikat Sikka.

berupa jalinan bunga-bunga simetris.

Sikka tetapi juga di tempat-tempat lain

Pada kesempatan lain kita temukan

yang menjadi sentra penghasil tenun

tersendiri dari segi motif dan warna.

pula motif minimalis berupa garis-garis

ikat. Alasan kepraktisan dan tuntutan

Sebagaimana juga di tempat lain, motif

vertikal yang di bagian tertentu diselipkan

pengerjaan yang cepat menuntut para

Tenun Ikat Sikka mengambil inspirasi dari

motif binatang.

du’a di Sikka beradaptasi dengan zaman.

Tenun Ikat Sikka memiliki kekhasan

unsur-unsur alam yang dekat dengan

Dahulu semua pengerjaan selembar

Beberapa aspek yang berubah seiring

kehidupan manusia. Beberapa motif khas

kain dilakukan melalui proses yang

perkembangan zaman dan tuntutan

Sikka antara lain motif burung merak

murni tradisional. Proses pewarnaan

pasar di antaranya pemakaian pewarna

(utang merak), motif manusia berkuda

misalnya, memanfaatkan unsur-unsur

sintetis atau wantex. Selain itu dengan

(utang jarang atabi’ang), dan motif Bintang

pewarna alam yang terkandung pada

tersedianya benang jadi buatan pabrik,

Kejora (utang mawarani).

tumbuh-tumbuhan. Bahan-bahan yang

kegiatan memintal benang secara

Corak pewarnaan pada Tenun Ikat

dipakai untuk pewarnaan antara lain

manual dari bahan kapas lokal sekarang

Sikka didominasi oleh perpaduan yang

akar mengkudu, kulit mangga, kunyit,

tidak semasif dulu. Sebetulnya hal ini

cantik dari warna-warna dasar seperti

dan bahan-bahan alami lainnya yang

sah-sah saja. Meningkatnya permintaan

74 INDONESIANA VOL. 9, 2020


terhadap Tenun Ikat Sikka baik dari para pelancong dalam negeri maupun luar negeri menuntut pengerjaan dalam skala lebih masif dengan waktu pengerjaan lebih cepat. Tentu tanpa mengurangi aspek paling mendasar dari Tenun Ikat Sikka sebagai sebuah produk budaya. Kabar baiknya, cara-cara tradisional seperti pewarnaan dengan bahan-bahan alami dan memintal benang sendiri bukan berarti ditinggalkan sama sekali. Banyak juga yang masih mempertahankan teknik tradisional dan bahan-bahan alami yang meskipun pengerjaannya rumit serta makan waktu, tetapi justru menghasilkan selembar kain berkualitas premium dengan nilai tinggi. Meski beberapa aspek berubah mengikuti kemajuan zaman dan selera pasar yang terkadang ingin serba cepat, pada dasarnya teknik menenun yang dilakukan perempuan Sikka tetap bertahan sebagai mana aslinya seperti yang diajarkan nenek moyang terdahulu. Kegiatan menenun masih menggunakan peralatan serba sederhana. Menuntut ketekunan, ketelitian, dan kesabaran perempuan Sikka sebagai penerus warisan tak ternilai.

Tradisi yang Terus Hidup Membicarakan Tenun Ikat Sikka sebetulnya membawa saya bernostalgia belasan tahun silam saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ketika itu, mengikuti orang tua yang bekerja di sektor perdagangan, saya berkenalan pada aspek-aspek kebudayaan orang Sikka termasuk diantaranya dengan kain tenun ikatnya. Keseharian perempuan Sikka begitu lekat dengan kain tenun ikat mereka yang sudah menjadi kebanggaan sejak lama. Tidak sulit menjumpai du’a-du’a (sebutan untuk mama-mama dalam Bahasa Sikka) mengenakan utang atau kain dalam aktivitas pernikahan. Tentu dengan langgam dan aksesoris berbeda tergantung situasi. Saat saya kecil, pemandangan du’a-du’a memintal benang di waktu senggang mereka adalah pemandangan umum yang saya jumpai saban hari. Sering ketika melintasi

Sarung perempuan dari Sikka, Flores. Motif rumit berbentuk persegi berukuran besar, dikenal sebagai korosang, berasal dari seni sulam Portugis. Koleksi Museum Tekstil DKI Jakarta, abad 20.

pasar ataupun lapak berjualan, para Du’a mengisi waktu sambil memintal benang dari peralatan dan bahan yang dibawa dari rumah. Peralatan yang dipakai untuk memintal terbilang sangat sederhana. Yakni berupa potongan bambu kecil sepanjang kurang lebih 20 cm yang di bagian bawahnya diberi pemberat. Gulungan-gulungan benang yang sudah selesai dipintal dibawa ke rumah sebagai bahan baku pembuatan tenun ikat.

Seorang wanita Sikka sedang menenun kain ikat menggunakan alat tenun tradisional melalui sebelas proses tahapan persiapan sampai menjadi selembar kain tenun ikat.

Fakta yang menggembirakan saat ini adalah, Tenun Ikat Sikka dapat dengan mudah kita temukan di seantero pasar dan sudut pertokoan di Kabupaten Sikka. Barang yang ditawarkan memiliki beragam motif dan warna, serta dengan berbagai kualitas dan harga, memberi kebebasan bagi siapa saja untuk memilih dan memiliki kain pilihannya. Agaknya faktor ini pula lah yang menjadikan Tenun Ikat Sikka tetap lestari dan tidak berhenti diproduksi. Permintaan lokal untuk kain tenun ini dapat dikatakan cukup tinggi. Dengan semakin mudahnya akses komunikasi dan transportasi, diharapkan skala permintaan Tenun Ikat Sikka ke depannya akan lebih mengalami peningkatan. Meningkatnya apresiasi terhadap Tenun Ikat Sikka secara luas diharapkan menjadi peluang baik bagi kelestarian Tenun Ikat Sikka itu sendiri sekaligus dapat menopang kesejahteraan para penenun. Daya tarik Tenun Ikat Sikka ke depan diharapkan mampu menjadi magnet daya tarik wisatawan untuk datang sehingga membawa dampak positif yang bersifat multidimensi. (Samsul Maarif)

foto: Bastian AS https://www.shutterstock.com/g/BastianAS

2020, VOL. 9 INDONESIANA 75

dok.babpublishing

keseharian. Utang dapat dipakai saat berjualan di pasar maupun menghadiri pesta


foto: Mas Jono https://www.shutterstock.com/g/Mas+Jono

KULI NER

Falsafah Dapur Orang Minang T

ahun 1969, ketika Neil Armstrong menginjakkan kaki di bulan, astronot itu terkejut bukan main. Ternyata, bumi bukan satu-satunya tempat hidup manusia. Di satelit bumi itu, tanpa diduga, sudah ada peradaban. Betapa tidak, tak jauh dari tempat ia berada, begitu jelas terlihat oleh kedua matanya, sebuah rumah makan Padang berdiri di sana, telah ada lebih dahulu sebelum dirinya. Kisah tersebut merupakan salah satu lelucon populer untuk menyatakan tingginya semangat berdagang orang Minang, yang salah satunya ditandai dengan keberadaan rumah makan Padang. Kepopuleran rendang — yang kini disebut sebagai salah satu kuliner terenak di dunia — sedikit-banyaknya

76 INDONESIANA VOL. 9, 2020

dipengaruhi oleh ketersebaran rumahrumah makan Padang tersebut. Sebagai “penghulunya masakan”, demikian perumpaan Minangkabau untuk rendang, suatu rumah makan Padang mustahil tidak menyertakan rendang di menunya. Kisah tentang kepopuleran rendang dan ketersebaran rumah makan Padang itu tentu hanya “halaman depan” dari kebudayaan Minangkabau. Kita juga perlu sesekali melongokkan kepala ke bagian yang sering diletakkan di belakang dari suatu rumah, yakni dapur. Namun demikian, keberadaan dapur di bagian belakang bukan sebatas lokasi belaka. Sebelum rumah makan Padang ada di mana-mana dan rendang jadi begitu popler, dapur beserta berbagai aktivitas di dalamnya telah lebih dahulu menjadi

latar belakang dari berbagai ajaran hidup masyarakat Minangkabau. Bicara soal ajaran hidup, Orang Minangkabau kita tak dapat lepas dari “Mamangan”. Istilah ini digunakan untuk menyebut berbagai bentuk karya sastra Minangkabau (pepatahpetitih, perumpamaan, pantun, dst) yang secara khusus berisikan falsafah hidup. Sejatinya, Mamangan diangkat dari aktivitas dapur yang mengandung berbagai pesan. Di antara pesan-pesan itu adalah perlunya keseimbangan kebutuhan personal dan tanggung jawab komunal, pentingnya validasi, hingga tentang keniscayaan “demokrasi” dalam kehidupan kita. Umpama sadang manyalam minum aia (sedang menyelam minum air) sadang


badiang nasi masak (sedang berdiang nasi masak) diambil dari suatu kronologi pendek aktivitas keseharian masyarakat Minang. Walaupun dalam satu kronologi aktivitas, umpama itu tidak menekankan nilai yang seiring-sejalan, melainkan suatu perbandingan antara sebuah nilai yang dianggap tidak baik dengan nilai yang dianggap baik. Dalam kesehariannya, masyarakat Minangkabau tradisional, terutama yang tinggal di wilayah pegunungan yang memiliki sungai berair jernih-segar, biasanya masyarakat mandi di sungai. Oleh masyarakat tempatan, sungai biasa itu sudah dibagi-bagi menurut fungsinya; ada tempat mandi, ada tempat mengambil air minum, ada tempat beternak ikan, dan lain-lain, sesuai kesepakatan bersama. Biasanya kegiatan mandi di sungai itu justru memunculkan perilaku yang dianggap tidak baik, yaitu “sedang menyelam minum air�. Kenapa demikian? Ternyata, ketika sudah selesai mandi, tentu badan jadi dingin, terutama kala subuh hari. Maka untuk menghangatkan badan, biasanya dengan cara berdiang di dekat tungku. Bukankah, tungku itu hanya hidup apinya ketika ada yang sedang memasak. Nyatanya, jadwal mandi dan memasak nasi biasanya tidaklah berjauhan. Sehingga, setiap selesai mandi di sungai, api di tungku sedang dalam keadaan hidup. Bagi orang Minang, frasa sedang menyelam minum air itu ternyata menyatakan suatu perilaku yang tidak pada tempatnya sebab sesuai kesepakatan, sungai telah dibagi fungsi dan perannya sudah ditentukan mana tempat mengambil air minum dan mana tempat mandi. Minum mesti di tempat yang sudah ditentukan dan bukan di tempat yang sama lokasinya dengan tempat mandi atau sebaliknya. Bila frasa pertama tadi (sambil menyelam minum air) menunjukkan perilaku yang tidak baik, yaitu merusak aturan bersama (menjadikan tempat mandi sebagai tempat minum atau sebaliknya) untuk kebutuhan personal (minum air), maka frasa kedua ini menunjukkan perilaku yang dianjurkan, yakni pentingnya menyeimbangkan kebutuhan personal (berdiang) dan kewajiban komunal (memasak nasi)

tanpa merusak satu sama lainnya. Sebagaimana ketika berdiang di dekat tungku tentu tak akan menganggu proses memasak nasi dan ketika sedang memasak nasi memang diperlukan seseorang yang berada di dapur untuk menjaga api tunggu, menyalin air nasinya dan seterusnya. Bila kata “berdiang� digunakan untuk menghangatkan badan, maka untuk memanaskan makanan digunakan kata “basangai�, seperti dalam mamangan yang berbunyi bak basangai di abu dingin (bagaikan menyangai di abu dingin) bak batanak di tungku tuo (bagaikan menanak nasi di tungku tua). Biasanya, untuk menyangai (memanaskan) makanan, misalnya nasi yang sudah dingin, tidak dengan menghidupkan kembali api di tungku sebagaimana layaknya ketika memasak nasi, melainkan hanya dengan meletakkan periuk nasi di atas tungku yang masih hidup bara di dalamnya. Di dalam mamangan itu digambarkan sebaliknya, yaitu memanaskan (basangai) makanan di abu dingin, yang tentu tidak ada lagi baranya. Dengan cara seperti itulah perumpamaan ini digunakan untuk menyatakan suatu kegiatan yang sia-sia. Perumpamaan ini menganjurkan agar kita selalu melakukan check dan re-check: meskipun tungku selalu identik dengan api tetapi bukan berarti tungku selalu mengandung bara, oleh sebab itu selalu diperiksa seteliti mungkin, agar jangan sampai terjadi apa yang diumpamakan dengan “basangai di abu dingin�. Sementara itu, batanak di tungku tuo umumnya dimaknai sebagai suatu pekerjaan yang penuh resiko. Tungku tuo (tungku tua) bukan sekadar tungku yang sudah lama tidak terpakai. Tungku tua barangkali juga sudah tidak tepat lagi posisinya, rapuh, miring dan sebagainya. Meletakkan periuk di atas tungku tua tentu ada resiko. Periuk tersebut beresiko terjatuh dan tertumpahkan isinya. Tak pelak, umpama kedua ini menekankan soal pentingnya melakukan check dan re-check: meskipun sebuah tungku dulunya pernah digunakan berkali-kali untuk memasak dan masih kuat ketika terakhir kali digunakan, bukan berarti setelah lama tak digunakan ia akan selamanya kokoh untuk menahan beban periuk nasi.

Selanjutnya, umpama berikutnya adalah basilang kayu di tungku (bersilang kayu di tungku), di situ api mangko ka iduik (di situ api bakal hidup). Kita masih berbicara soal tungku. Umpama ini yang paling sering digunakan ketika membicarakan perihal “demokrasi� dalam kebudayaan Minangkabau. Umpama ini menyiratkan pentingnya persilangan pandangan dalam berembuk untuk membuat suatu keputusan bersama. Persilangan pandangan diumpamakan dengan “bersilang kayu di tungku�. Logisnya demikian, agar api yang akan dihidupkan di tungku jadi besar dan berkobar, maka kayu-kayu bakar harus diletakkan dalam posisi bersilangan. Kalau kayu-kayu bakar itu hanya diletakkan secara lurus-berjejeran saja, maka api yang dihasilkannya sangat kecil dan sayup-sampai. Kita membutuhkan api yang besar-berkobar untuk memasak di tungku, apalagi yang dimasak itu sejenis makanan seperti rendang dan gulai. Begitu juga, untuk menghasilkan keputusan untuk dilaksanakan dan demi kemanfaatan bersama (rendang dan gulai) mesti bermula dari persilangan kayu di tungku (persilangan pandangan) dan itulah yang menghasilkan api yang besarberkobar (sekumpulan gagasan bernas). Kayu yang tidak bersilangan atau yang hanya disusun lurus-berjajaran tak ubahnya seperti pandangan-pandangan yang berbeda dan dibiarkan sendirisendiri tanpa pernah diperbandingkan atau dicari pertautannya satu sama lain. Ujung-ujungnya, selain tak akan bisa menghasilkan gagasan yang lebih besar, juga tak akan melahirkan kesepakatan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Meskipun lahir dari dapur, mamanganmamangan itu bicara soal hal-hal yang berkaitan dengan urusan di luar dapur, yakni bagaimana hidup bersama satu sama lain. Tentu saja, dalam mamanganmamangan itu turut terekam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau tradisional beserta benda budaya (material culture) yang menyertainya. Paling tidak, mamangan-mamangan tersebut menjadi salah satu memori kultural yang bermanfaat di tengah kondisi di mana usaha kembali ke era tradisional tersebut sepenuhnya semakin tidak mungkin. (Heru Joni Putra) 2020, VOL. 9 INDONESIANA 77


foto: KiwiGraphy Studio https://www.shutterstock.com/g/rkiwisudarso

P EREM P U A N

Yang

Segar dan Tegar

Perempuan

MENTAWAI

foto: https://www.shutterstock.com/g/GUDKOV+ANDREY

Perempuan adalah makhluk paling seksi, begitu lirik satu lagu. Perempuan itu lemah lembut, emosional, dan keibuan, demikian orang bilang. Pengkategorian laki-laki dan perempuan merupakan konstruksi sosial yang membentuk identitas, begitu dalam kajian gender. Perempuan memiliki kebebasan secara penuh dan individual, yang berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Bagaimana dengan perempuan-perempuan di Mentawai? Bagaimana mereka digambarkan? Bagaimana mereka melakoni kehidupan sehari-hari? Yang pasti, citra perempuan tegar dan kuat itu nyata. Perempuan Mentawai berperan ganda dalam rumah tangga, menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga meski bersuami. Jika suami memiliki pekerjaan lain seperti menjadi sikerei, istri otomatis melaksanakan pekerjaan rumah dan mencari sagu serta keladi sebagai makanan pokoknya. Perempuan Mentawai ketika dianggap layak untuk

78 INDONESIANA VOL. 9, 2020


menikah akan dijodohkan dan dinikahkan oleh orang tuanya kepada lelaki yang telah memiliki rumah dan ladang. Rumah yang dibangun oleh laki-laki Mentawai disebut rusuk atau rumah kecil satu kamar untuk ditempati setelah menikah. Perempuan tidak boleh lagi tinggal bersama orang tua setelah menikah. Laki-laki Mentawai harus mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya di rusuk, namun perempuan terkadang mendayung sendiri perahu atau pompong jika pergi ke ladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Perempuan Mentawai apabila menikah harus keluar dari rumah orang tuanya karena sistem patrilineal, atau garis keturunanya disandarkan kepada suku laki-laki Mentawai, termasuk harta warisan jika sudah meninggal. Pihak laki-laki Mentawai setelah dipastikan

foto: GUDKOV ANDREY https://www.shutterstock.com/g/GUDKOV+ANDREY

Pria dan wanita Mentawai sedangan menyiapkan Iba Siobbuk, ikan yang dimasak dalam bambu. (atas) Perempuan Mentawai sedang menyiapkan kostum khusus untuk menangkap ikan, dengan rok dari daun pisang yang diikatkan ke pinggang. Perempuan Mentawai sedang menyiapkan kapurut dan obbuk, makanan yang diolah dari tepung sagu ini bisa disajikan kapan saja dan disajikan dengan sup ikan atau daging (bawah).

berjodoh akan didatangi keluarga perempuan, untuk pasigaba ala’ atau

biasanya sudah menjadi tulang punggung

perempuan lain karena keturunan adalah

mengambil mahar. Pihak laki-laki harus

keluarga yang memenuhi kebutuhan

hal paling penting dalam rumah tangga.

membayar mahar kepada keluarga

sehari-hari seperti membuat sagu makan

Meski kini lebih banyak perempuan

terdekat calon istri seperti ayah kandung,

mereka dan makan ternak, memelihara

yang bersekolah, mereka tetap harus

adik kandung laki-laki, saudara ayah laki-

babi, dan bertanam keladi.

di dapur, membuat keladi pisang, dan

laki, dan keluarga dekat lainnya. Sigaba

Sebulan sebelum acara ritual, sikerei

ala’ meminta minimal lima jenis berupa

tidak boleh lagi mendekati istrinya dan

membuat tepung sagu. Perempuan harus bisa memasak makanan seperti

barang dan tanaman, di antaranya

tidak boleh bercampur (berhubungan

subbet, kapurut sagu, mago’ untuk

sebidang sagu, babi, ayam, parang, alat

badan) sampai ritual dilaksanakan. Inilah

santapan sehari-hari, juga menangguk

masak, alat dapur, dan kolam keladi.

satu alasan keengganan generasi muda

ikan. Perempuan yang belum menikah

Namun, ada perubahan di daerah

untuk diangkat menjadi sikerei. Jika

dan tinggal bersama orang tua harus

Siberut, terkhusus Desa Matotonan,

sudah memasuki fase pantangan bagi

menuruti semua aturan, termasuk harus

sejak keluarnya peraturan desa tentang

sikerei, si istri berperan ganda dalam

mau saat gigi harus diruncingkan dengan

alat toga, yang membatasi mahar hanya

pekerjaan rumah tangga termasuk

alasan agar lebih mudah dalam mengigit

diambil oleh tiga orang saja.

menafkahi semua keluarga. Pantangan

makanan dan menambah kecantikan.

Perempuan Mentawai jika menikah

lain yang adalah makan belut, makan

dengan laki-laki yang keturunan sikerei

monyet putih (simakobu), menangguk

bercerai atau suaminya meninggal

(tabib/kepala suku), maka otomatis dia

ikan, dan bersentuhan dengan

seperti kehilangan semuanya, karena

akan menjadi isteri sikerei, yang akan

perempuan/istri. Seluruh pantangan

segala hukum yang melekat tidak berlaku

mendampingi suaminya. Sikerei sebagai

itu jika dilanggar maka diyakini sikerei

lagi. Betapa harus tegar dan tangguhnya

penghubung antara manusia dengan

dan istrinya akan meninggal. Istri harus

perempuan Mentawai, khususnya

roh-roh nenek moyang lebih banyak

selalu mendampingi suaminya di mana

mereka yang bersuamikan sikerei. Salut

melakukan upacara ritual pengobatan

saja dalam melakukan ritual.

untuk para perempuan Mentawai, yang

dan berpantang sebelum memulai suatu ritual. Sebulan sebelum ritual, istri sikerei

Istri boleh diceraikan jika tidak punya anak dan suami dapat mencari

Istri sikerei yang menjadi janda setelah

selalu kuat menghadapi tantangan. Tetap segar dan tegar, masura bagata. (Zulfa)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 79


M US EUM

Jejak

Cheng Ho di Museum Aceh

80 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Mufida Afreni B.Bara

Kompleks Museum Aceh (terlihat pada foto) meliputi atas Gedung D (Rumah Aceh), Gedung B Auditorium dan Lonceng Cakra Donya (Lonceng Kapal Laksamana Cheng Ho)

Pasca bencana tsunami tahun 2006, pariwisata Aceh bangkit. Wisatawan mancanegara dan Nusantara membanjiri Aceh untuk melihat bangunan-bangunan memorial tsunami dan berwisata pantai yang sebelum bencana tidak pernah terekspos. Sebut saja pantai Lampuuk, pantai Lhoknga, dan berbagai destinasi wisata pantai di Sabang. Hal tersebut juga didukung dengan semakin baiknya infrastruktur telekomunikasi dan informasi. Media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan YouTube turut menjadi katalisator dalam promosi pariwisata di Aceh. Sejalan dengan itu nilai-nilai budaya di Aceh juga menjadi perhatian publik, bertahan, berkembang, foto: Mufida Afreni B.Bara

dan sebagian yang telah punah pun direvitalisasi kembali. Selain Museum Tsunami, Kapal Apung,

Stammeshaus menjadi kurator museum

perpusakaan dengan koleksi 12.445

Kuburan Massal korban tsunami, dan

hingga tahun 1931. Pada saat itu yang

buku dengan berbagai pengetahuan.

Masjid Raya Baiturrahman, jangan

dikatakan museum hanyalah bangunan

Umumnya koleksi Museum Aceh

lupakan Museum Aceh, yang berdiri pada

rumah aceh yang sampai sekarang

tergolong atas 10 klasifikasi jenis

31 Juli 1915 dengan nama Atjeh Museum

masih berdiri di kompleks Museum

disiplin Ilmu diantaranya geologika,

dan diresmikan oleh Gubernur Sipil dan

Aceh. Setelah Indonesia merdeka terjadi

biologika, etnografika, arkeologika,

Militer Jenderal Belanda H.H.A. Swart

beberapa kali perpindahan pengelolaan,

historia, numismatika & heraldika,

serta dikepalai oleh FW Stammeshaus.

hingga sekarang Museum Aceh menjadi

fiologika, keramonologika, seni rupa dan

Ia adalah tenaga kesehatan angkatan

kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh di

teknologika.

darat tentara Belanda yang gemar

bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

mengumpulkan artefak.

Jika berkunjung ke Museum Aceh,

Di halaman museum terdapat koleksi yang tak kalah pentingnya bagi sejarah

kita dapat memasuki rumah aceh

dan budaya di Aceh; Lonceng Cakra

bahkan hingga ke Sumatera. Berkat

tersebut. Di dalam rumah tradisional

Donya. Lonceng raksasa ini tidak dapat

koleksi pribadinya yang dipamerkan

Aceh itu terdapat berbagai peninggalan

dipeluk oleh satu orang dewasa. Sejarah

bersama, Museum Aceh (yang pada saat

indatu yang dipajang. Seakan sedang

mencatat lonceng ini pernah tergantung

itu bernama Paviliun Aceh) memenangi

berada dalam perjalanan waktu (time

di kapal layar milik Laksamana Cheng

4 medali emas dan mendapat predikat

travel) yang singkat, kita dapat belajar

Ho yang tersohor itu. Sang Laksamana

sebagai paviliun terbaik dan terlengkap

bagaimana masyarakat Aceh hidup pada

menghadiahkan lonceng ini kepada

pada Pameran Kolonial (De Koloniale

masa kerajaan dahulu.

Kerajaan Pasai (Kerajaan Islam pertama

Koleksi Stammeshaus sangat terkenal

Tentoonsteling) di tahun 1914 di Semarang.

Terdapat 5.328 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan juga terdapat

di Nusantara) ketika ia berkunjung ke Aceh pada abad ke-15. Satu Abad

2020, VOL. 9 INDONESIANA 81


foto: Mufida Afreni B.Bara

setelahnya Kerajaan Pasai berada dalam

kalah jika disandingkan dengan lokasi-

kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam.

lokasi wisata yang dikemas “wah� dan

Lonceng ini pernah di letakkan di Masjid Raya Baiturrahman untuk

instagramable. Museum Aceh (dan museum-museum

memanggil orang salat dan sebagai

lain) harus berhadapan dengan

penanda waktu berbuka puasa di

perubahan yang sangat cepat. Tidak

Bulan Ramadhan. Sejak Desember

bisa mengelak apalagi menegasikan

1915 hingga sekarang lonceng itu turut

perkembangan teknologi digital dengan

menghiasi kompleks bangunan Museum

arus informasi masif seperti sekarang

Aceh sebagai tanda dan pelajaran bagi

ini. Strategi yang perlu dilakukan

generasi mendatang, bahwa Aceh pernah

adalah bukan melawan ombak namun

memiliki kejayaan yang sangat gemilang.

berselancar di dalamnya. Museum perlu

Lonceng itu juga penanda hubungan

menyalip atau paling tidak berjalan

harmonis antara Kesultanan Pasai dan

beriringan dengan destinasi-destinasi

Dinasti Ming.

yang instagramable. Peninggalanpeninggalan indatu diharapkan tidak

Tantangan Jika menyebut kata museum,

Berbagai koleksi dari Museum diantaranya Krong Pade, tempat mengisi padi kering hingga seberat 3,5 ton, Jeungki, alat penumbuk padi tradisional di Aceh. Bisa juga untuk menumbuk kopi, sagu, emping beras, tepung dan bumbu masakan serta kelapa. Kompleks makam Raja-raja Dinasti Bugis di Museum Aceh.

sekadar benda pajangan yang telah usang di Musem Aceh, namun dapat

umumnya yang terlintas di kepala adalah

kembali bercerita tentang peran dan

kata-kata seperti tua, sejarah, benda

fungsinya pada masa dahulu.

usang, purbakala, jadul, membosankan.

foto: Mufida Afreni B.Bara

Nilai adalah faktor utama yang

Banyak studi-studi postmo yang

menjiwai benda. Nilai adalah pesan yang

memanjakan mata. Idealnya Museum

menggambarkan generasi Z di era

sebenarnya perlu dilestarikan. Benda

adalah tempat pertama yang kita datangi

teknologi informasi sangat antusias

dapat saja hilang atau rusak, namun

ketika berkunjung ke suatu daerah. Jika

dengan tampilan (citra) daripada isi

nilai lebih mampu bertahan lama jika

Anda ke Aceh, datanglah ke Museum

(konten), sehingga makna dari sebuah

terus terekam dan diteruskan pada

Aceh. Itu adalah lokasi paling strategis

perjalanan tidak begitu penting

generasi selanjutnya. Maka itu, museum

dan representatif yang menyimpan

dibandingkan foto-foto untuk dipublikasi

seharusnya menjadi destinasi paling

warisan budaya Aceh. (Mufida Afreni

di medsos. Nah, Museum Aceh tidak

utama sebelum destinasi-destinasi yang

B.Bara, Balai Litbangkes Aceh)

82 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Mufida Afreni B.Bara

2020, VOL. 9 INDONESIANA 83


SI T US

Kumitir

Sisi Timur Kota Raja Majapahit foto: Shofa Nurhidayati

Indonesia pada zaman Hindu-Buddha adalah kawasan tempat lahirnya kerajaan-kerajaan besar. Jawa Timur adalah satu wilayah tempat kerajaan besar pernah berada. Bukti kejayaan yang dapat kita lihat saat ini adalah Kawasan Cagar Budaya Trowulan. Coraknya sebagai sebuah kompleks yang memuat aneka peninggalan bersejarah dalam satuan ruang geografis Trowulan menjadi alasan Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) menetapkan kawasan ini sebagai Kawasan Cagar Budaya peringkat nasional pada tahun 2013. Hingga saat ini peninggalan dari kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di Jawa Timur masih terus ditemukan. Pada bulan Juni 2019 di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ditemukan talud (dinding penahan tanah) di area yang difungsikan sebagai ladang tebu dan padi, area pembuatan batu bata, dan pemakaman umum. Tempat penemuan talud tersebut diberi nama Situs Kumitir. Situs Kumitir merupakan sisi timur dari kota raja Majapahit yang ada di Trowulan. Dalam Kidung Wargasari, kitab Nagarakrtagama dan Pararaton disebutkan bahwa di Kumitir terdapat bangunan pendarmaan bagi Mahisa Campaka (atau Narasinghamurti). Mahisa Campaka merupakan kakek dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Talud yang ditemukan pada tahun 2019 tertimbun oleh materal abu vulkanik dan sedimentasi lahar dingin. Talud tersusun dari bata berukuran

84 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Struktur Talud (dinding penahan tanah) dari situs Kumitir, yang tersusun dari batu bata berukuran besar.


besar, khas bangunan masa Majapahit.

permukaan tanah yang asli pada masa

Sebagai tindak lanjut dari penemuan

Majapahit berada pada lapisan yang lebih

tersebut dilakukan kegiatan ekskavasi

rendah dibandingkan dengan permukaan

penyelamatan. Kegiatan ekskavasi

tanah yang ada pada saat ini. Konsep

penyelamatan Situs Kumitir adalah

tanah yang ditinggikan tersebut sangat

kegiatan yang dilaksanakan oleh

familiar dalam konsep Jawa yang disebut

Direktorat Pelindungan Kebudayaan

dengan Siti Inggil. (Shofa Nurhidayati)

Jawa Timur yang berkolaborasi dengan Yayasan Arsari Djojohadikusumo dan PATI IV. Ekskavasi pertama kali dilakukan pada bulan Oktober 2019 dan berhasil

foto: Shofa Nurhidayati

dan Balai Pelestarian Cagar Budaya

Bagian struktur bangunan yang sudah tersingkap (atas) dan proses penyingkapan struktur gapura dari situs Kumitir.

menyingkap struktur talud sepanjang 187 m memanjang dari selatan ke utara pada sisi timur. Ekskavasi dilanjutkan pada bulan Agustus 2020 dengan tujuan menyingkap seluruh bagian talud yang membatasi suatu kawasan dengan perkiraan luas sekitar 6 hektar. Berdasakan hasil penggalian yang dimulai sejak bulan Agustus 2020 sudah ditemukan beberapa temuan yang masih in situ selain talud, yaitu batuan andesit bulat/boulders struktur lantai bangunan, struktur gapura, sumur yang terbuat dari susunan bata dan sumur yang terbuat dari susunan jobong. Selain jaladuara, batu bakal pembuatan kala, batu bakal pembuatan makara, batu bakal pembuatan antefik dan batu bakal pembuatan pelipit.

foto: Shofa Nurhidayati

itu ditemukan juga temuan lepas, yaitu

Ekskavasi penyelamatan Situs Kumitir masih terus berlajut, bahkan diperkirakan akan terus berjalan hingga tahun 2021. Temuan demi temuan terus dihasilkan dan saling melengkapi satu sama lain, membuat berbagai pertanyaan yang ada di Situs Kumitr semakin terjawab. Interpretasi yang didapat hingga saat ini diperkirakan Situs Kumitir merupakan klaster bangunan yang terdapat di kota raja Majapahit. Klaster tersebut diinterpretasikan sebagai bangunan yang berada di lahan yang lokasinya ditinggikan, mengingat kondisi

2020, VOL. 9 INDONESIANA 85


P E RMAI NAN T RADI SI ONAL

Main Congklak, Belajar Tidak Congkak Banyak permainan tradisional yang sudah berakhir ditelan deru modernitas. Sebut saja dalam budaya Betawi ada tokadal, cici putri, pong-pong balon, engrang, galaksin, yang kini hampir tidak lagi dimainkan. Sebaliknya, masih ada permainan yang dari dulu hingga sekarang masih saja dimainkan oleh anak-anak, satu di antaranya congklak. Satu bukti masih adanya peminat dari permainan ini adalah penjualan congklak di berbagai marketplace di Indonesia. Kalau dahulu congklak menggunakan papan yang terbuat dari kayu, kini papan congklak dibuat dari plastik. Menariknya, keduanya mengalami modifikasi: papan yang terbuat dari plastik bahkan dimodifikasi agar bisa dibongkar pasang sedangkan yang terbuat dari kayu dapat dilipat. Coba saja ketik kata “congklak� pada kolom pencarian di marketplace,

kerang kecil sebagai bijinya. Bisa juga menggunakan biji dari buah-buahan seperti biji

maka akan keluar banyak model dan

buah sawo atau buah lengkeng, juga cangkang kerang plastik. Sah-sah saja karena

bentuk dari permainan ini.

permainan tetap dapat berjalan selama ada papan dan bijinya. Masing-masing lubang

Congklak adalah permainan yang

kecil pada papan congklak diisi dengan biji tadi sejumlah 7 buah. Lubang besar

hanya bisa dilakukan oleh 2 (dua) orang

dikosongkan saja. Peraturannya, biji dalam lubang kecil boleh diambil siapa saja untuk

dan tidak mungkin dimainkan sendiri.

dibagikan atau diisikan ke lubang yang lainnya, sedangkan lubang besar dimiliki oleh

Papan congklak biasanya memiliki

masing-masing pemain, jadi hanya pemain itu yang boleh mengisinya.

14 lubang kecil dan 2 lubang besar,

Permainan diawali dengan seorang pemain mengambil biji dari salah satu lubang

walau ada juga papan yang terdiri dari

kecil. Kemudian ia mengisi lubang lain di depannya searah jarum jam termasuk lubang

10 lubang kecil dan 2 lubang besar.

besar di sebelah kanannya. Lubang besar yang satu lagi tidak usah diisi karena itu

Permainan ini menggunakan cangkang

lubang besar milik lawan untuk menyimpan biji miliknya. Langkah pemain terhenti jika

86 INDONESIANA VOL. 9, 2020


biji yang dibagikan habis dan jatuh pada

saya, artinya permainan ini menonjolkan

lubang kecil yang tidak ada bijinya. Lalu

kesenangan pribadi; bukan bentuk

permainan beralih ke pemain yang lain.

permainan yang kompetitif, melainkan

Permainan congklak dapat berlangsung

permainan untuk sekadar menghabiskan

berjam-jam apabila para pemain memiliki

waktu senggang. Menurut Dharmamulya

strategi.

dalam bukunya “Permainan Tradisonal

foto: DARMAWAN https://www.shutterstock.com/g/DARMAWAN

Jawa”, congklak hadir menjadi bagian dari

Congklak Masa Lalu Sebenarnya sejak abad ke-17

kehidupan petani. Lubang besar pada papan congklak dianalogikan sebagai

permainan ini mulai tersebar tersebar

lumbung, sementara lubang-lubang kecil

luas di Asia dan Afrika serta mendapat

dianggap sebagai sawah. Maka ada istilah

pengaruh dari kebudayaan Islam

‘bera’ untuk sawah yang tidak dikerjakan

seperti yang disampaikan oleh James

dan istilah ‘ngacang atau nandur kacang’

Danandjaja. Namun bukti secara

untuk sawah yang hasilnya sedikit. Istilah-

arkeologis baru ditemukan pada

istilah itu dikenal dalam permainan

tahun 1983 di Banten sebagai artefak

congklak. Maka, sejatinya permainan ini

peninggalan di masa lampau berupa

mengajarkan mengenai cara mengelola

bidak congklak terakota yang terbuat dari

rumah tangga yang baik.

tanah liat. Nama congklak di tiap negara-negara

Sementara dalam budaya Sunda, lubang besar di kiri-kanan papan

berbeda: di Srilanka disebut canka, di

congklak disebut ‘indung’. Menurut

Semenanjung Melayu disebut conkak, di

Rusmana dalam Permainan Congkak:

Filipina cunkayon, dan di Afrika

Nilai dan Potensinya bagi Perkembangan

namanya mankala. Bahkan di Indonesia

Kognitif Anak, dalam konteks permainan

sendiri congklak memiliki beberapa

tradisional anak-anak Sunda, dikenal

sebutan antara lain: congklak, dakon,

konsep indung dan anak, hal ini berkaitan

dhakon atau dhakonan di Jawa; congkak

erat dengan konsep Sunan Ambu.

di beberapa daerah Sumatera; mokaotan,

Konsep anak dalam hal ini bisa saja

foto: Rini Widayati https://www.shutterstock.com/g/Rini+Widayati

maggaleceng, aggalacang dan nogarata di

berarti anak laki-laki tunggal. Kosmologi

Sulawesi; dentuman lamban di Lampung.

Sunda memaknai bahwa anak tunggal

Congklak menjadi bagian dari salah satu permainan tradisional yang digemari anak-anak, kegiatan bermain congklak sebelum dan di kala pandemi.

Congklak yang dikenal sebagai

atau bungsu itu adalah ‘anak ibu’

permainan di budaya Jawa ini dahulu

sehingga ikatan mereka sangat kuat,

kala dimainkan oleh para bangsawan

sebab itu banyak cerita dalam budaya

dalam keraton. Namun dalam Laporan

ini yang menceritakan anak tunggal

Penelitian Jarahnitra (1999/2000),

yang jatuh cita pada ibunya seperti

disebutkan bahwa congklak pernah

Sangkuriang kepada Dayang Sumbi

dimainkan oleh prajurit Sultan Agung di

dalam kisah Tangkuban Perahu juga

ketelitian, meningkatkan rasa sportivitas,

Mataram pada saat istirahat dari berlatih

Guruminda kepada Sunan Ambu dalam

belajar mengatasi konflik yang terjadi,

senapan. Saat itu, biji congklak hanyalah

kisah Lutung Kasarung.

juga meningkatkan kecakapan berhitung.

terbuat dari kerikil sementara lubang-

Congklak menarik hati para

Foto yang memperlihatkan dua perempuan Jawa sedang bermain congklak, sekitar 1900. (Leiden University Library, KITLV 4978)

Permainan tradisional yang berakar dari

lubang dibuat di tanah. Baru setelah

peneliti. Dewasa ini banyak kajian

kearifan lokal ini mengandung nilai-nilai

dikenal di kalangan keraton, permainan

yang mengaitkan congklak dengan

positif. Dari congklak anak-anak bisa

ini dibuatkan papannya sehingga dapat

perkembangan psikologis maupun

belajar untuk tidak congkak karena dalam

dihias menjadi lebih indah.

kognitif anak. Menurut kajian-kajian

permainan ini mereka harus bersabar

tersebut, banyak segi baik dari

menunggu giliran dan harus mengatur

permainan ini bagi anak-anak, di

emosinya agar tetap stabil, karena bisa

antaranya; meningkatkan kemampuan

jadi permainan akan berlangsung lama.

bersosialisasi, melatih kesabaran dan

(Dyah Kusuma Wardani)

Filosofi Congklak Menurut Dennys Lombard, congklak atau dakon berasal dari kata daku atau

2020, VOL. 9 INDONESIANA 87


Ulos dari Angkola

ABIT GODANG

WA S T RA

88 INDONESIANA VOL. 9, 2020


dok.babpublishing

Teknik tenun silang kepar yang jarang ada di Indonesia digunakan oleh penenun Angkola untuk memberi tekstur pada latar belakang 'agung' (godang) Abit Godang. Hanya dua jenis kain yang diproduksi oleh penenun Angkola, Abit Godang besar, yang biasanya terdiri dari dua panel, dan Sadum Parompa dengan satu panel yang lebih sempit. Awal abad 20, koleksi Torang Sitorus Inv. No. 5/V/AM/TS.

P

ernahkah Anda menonton “The Tragedy of Othello: The Moor of Venice� karya pujangga terbesar dok.babpublishing

dunia William Shakespeare? Kita akan berfokus pada saputangan tanda kasih Othello yang diberikan pada Desdemona sebagai tanda setia. Saputangan, bagi Othello, bukan hanya sehelai kain indah hasil karya tangan lentik neneknya, melainkan sebuah simbol kesetiaan. Tidak heran, ketika Othello mendapati

Salah satu dari sedikit penenun ulos berkualitas yang tersisa di Sipirok, yang menggunakan di alat tenun gedokan, duduk di lantai dengan kaki lurus ke depan dan tali di punggungnya yang mengikatnya ke alat tenun. 1971. (Nationaal Museum van Wereldculturen. Coll.no. TM-20025992)

bahwa saputangan tanda kasihnya itu ada di tangan orang lain, ia pun murka.

(Morinda citrifolia) dengan pacar hijau

Pasar Sipirok, untuk minta diantar ke

Ia tega membunuh Desdemona.

(nila). Warna kuning berasal dari

Desa Hutasuhut Kecamatan Sipirok.

Demikian halnya kami, orang Batak

tumbuhan kunyit. Warna hijau diperoleh

Di sana Anda dapat menjumpai gadis-

Angkola. Bagi kami, abit godang atau ulos

dengan cara mencampur pacar hijau

gadis dan ibu-ibu muda pengerajin tenun

kebesaran, bukan sekedar sehelai kain

dengan kunyit.

ulos. Konon, abit godang hasil karya

hasil karya tangan-tangan lembut nenek-

Sampai saat ini, abit godang masih

pengerajin dari desa tersebut adalah

nenek kami, melainkan sebuah identitas

diproduksi secara manual terutama

yang terbaik di seantero Tapanuli Selatan.

yang melekat dalam diri yang dipakai

oleh pengrajin tenun tradisional di

Kerajinan ini dikerjakan gadis-gadis atau

mulai upacara kelahiran hingga kematian.

Sipirok. Kota pegunungan yang sejuk itu

ibu-ibu muda di sela-sela kesibukan

Saya tidak ingin membandingkan ulos

dapat ditempuh selama 8-9 jam lewat

mereka mengerjakan kerja-kerja

dengan saputangan Othello, dalam hal

jalan darat dari Kota Medan sejauh

domestik. Akan tetapi, melihat animo

ini. Saya hanya ingin mengajak pembaca

356 KM. Sebagai alternatif, Anda dapat

masyarakat dewasa ini, kerajinan tenun

untuk bertualang sedikit ke dalam

menjangkau kota yang berada di lereng

ulos tidak lagi dapat dikerjakan secara

pengalaman berpikir orang Batak Angkola

Gunung Sibual-buali ini melalui Bandara

sambilan, melainkan sudah dianggap

di balik pembuatan kerajinan tenun ini.

Silangit, Tapanuli Utara. Selanjutnya

sebagai profesi utama.

Ulos Batak pada umumnya ditenun

Anda akan sampai di kota penghasil kopi

Ulos, Menghangatkan Tondi dan Badan

dari benang katun (cotton yarn)

ini setelah menempuh perjalanan darat

sedangkan pewarnanya dibuat dari

selama 3-4 jam atau sekitar 106 KM.

pewarna alami. Demikian pula abit

Alternatif lain adalah melalui Bandara

godang yang ditenun manual dan dicelup

Aek Godang di Padang Lawas Utara

unsur dalam diri yang selalu dijaga

ke dalam pewarna alami. Warna merah

yang berjarak 50 KM. Anda juga dapat

agar ia tetap las atau hangat. Antara las

khas ulos yang pekat itu diperoleh dari

mendarat di Bandara FL Lumban Tobing

dengan hangat sebetulnya tidak terlalu

tanaman secang yang bernama Latin

Sibolga yang dapat ditempuh dalam

sepadan. Butuh pemahaman kosmologis

Caesalpinia sappan. Sebuah pemeo

waktu 3,5 jam. Sesampai di Pasar Sipirok,

tersendiri untuk memahami itu lebih

mengatakan tiada ulos tanpa warna

Anda dipersilahkan memanggil tukang

jauh. Dalam kosmologi orang Batak,

hitam. Warna dalam abit godang tersebut

“Becak Kawin Lari�, sebutan untuk becak

termasuk Batak Angkola, terdapat tiga

diperoleh dari campuran mengkudu

motor samping yang mangkal di sekitar

hal yang dapat menjaga tondi (jiwa)

Bagi orang Batak Angkola, ada dua

2020, VOL. 9 INDONESIANA 89


dan badan (raga) agar selalu hangat. Ketiganya adalah matahari, api, dan ulos. Sebetulnya, seorang Batak Angkola

Estetika dan Etika Pemberian Abit Godang

rasa tanggung jawab pihak mora kepada anak borunya. Motif Sijobang ini melambangkan rasa tanggung

Penerima ulos, termasuk abit godang,

sudah dihangatkan tondi (jiwa) dan

dalam sebuah ritual adat harus ikut

badannya (raga) sejak bayi. Nenek

pada aturannya. Ulos hanya dapat

perempuan dari pihak ibu memberi ulos

diberikan pihak atau seseorang yang

Tondi Matogu: Pemberian ulos juga

yang bernama parompa (gendongan)

kedudukannya lebih tinggi pada pihak

merupakan doa dan harapan dari

sadum kepada cucunya agar las atau

atau seseorang yang kedudukan adatnya

pemberi kepada penerima semoga

hangat jiwa dan badannya. Secara

lebih rendah. Hula-hula/mora memberi

jiwanya dalam kedamaian dan

ukuran, ulos parompa sadun berukuran

ulos pada anakboru-nya. Orang tua

keteguhan.

lebih kecil dan berwarna lebih cerah

memberi ulos kepada anak.

dibanding ulos abit godang. Ulos abit godang adalah hadiah

Oleh karena itu, pada abit godang

jawab mora tadi. 2.

Tulisan Horas Tondi Madingin Pir

Selain perlambang pihak pemberi

terdapat motif garis hitam berjumlah

dalam ulos abit godang ini terdapat juga

terbesar yang diberikan oleh keluarga

tiga yang dibatasi garis putih kecil.

motif yang dapat dibaca sebagai nasihat

seorang perempuan untuknya ketika ia

Ternyata, memang, angka tiga (3)

bagi masyarakat umum.

menikah. Ulos itu diberikan dalam ritual

signifikan keberadaannya dalam adat

1.

mangulosi, mangulosi tondi dan badan,

Batak Angkola. Ketiga garis itu dapat

anak dan menantu agar siap melayari

dibaca sebagai tiga unsur dalam sistem

lautan kehidupan dengan bahtera rumah

kekerabatan dalihan natolu. Di atas sudah

tangga baru mereka. Ulos yang diberikan

dijelaskan bahwa secara aturan, hula-hula

adalah ulos ragi idup yang dominan

atau mora memberi abit godang kepada

warnanya adalah merah darah. Sebuah warna yang melambangkan kehidupan. Seorang perempuan kelak akan diulosi

anak boru.

harus bermasyarakat. 2. 3.

mangulosi dilaksanakan agar hangat tondi

Ketiga garis hitam tadi dapat juga

Iran-iran: Kemanapun melangkah, tinggalkanlah jejak kebaikan.

4.

Singap: berusahalah meskipun harus menahan terik matahari dan derasnya hujan.

jenis ulosnya harus berbeda. Di Toba ulos tersebut diberi nama ulos hela.

Tutup mumbang: hal buruk harus dipendam hal baik jangan diumbar.

Sebaliknya? Boleh, akan tetapi

ketika suaminya meninggal. Ritual

Luslus: jangan hidup sendiri. Hidup

5.

Pusuk robung: hidup dan berilah kemanfaatan bagi orang banyak.

dan badan, agar kembali tondi (jiwa) ke

dibaca sebagai Tugu. Tugu ini adalah

badan (raga) setelah kehilangan separuh

perlambang bahwa orang Batak Angkola

motif lain yang dapat dibaca dalam tradisi

jiwanya. Ulos yang diberikan pada acara

menghargai saudara semarga mereka

berpikir masyarakat Batak Angkola.

kematian adalah ulos ragi hotang. Ulos

(kahanggi) sebagai kawan tempat

motif-motif itu adalah yok-yok mata pune,

jenis ini warnanya lebih dekat dengan

berkeluh kesah dan berbagi cerita.

ruang, bunga, suri-suri, jojak mata-mata,

warna tanah. Biasanya hanya terdiri dari warna hitam. Merah darah dan putih. Sejatinya, ulos dipakai bukan sekadar

Motif ulos yang menjadi pola tetap dalam abit godang selanjutnya dibaca sebagai alat bantu untuk mengingat

Di samping itu, terdapat juga motif-

jarak, sirat, manik-manik simata rambu, dan si rambu. Ulos sadum angkola atau abit godang

memenuhi fungsi estetika Batak. Ulos

nasihat bagi pengantin, misalnya. Salah

adalah pemberian tertinggi dari mora

dipakai untuk memenuhi fungsi-fungsi

satunya sudah kita jabarkan di atas.

kepada anak-borunya. Tanpa melihat

lain dalam kebudayaan Batak. Ulos

Selain itu, terdapat motif lain seperti:

perbedaan dengan yang ada di Toba,

dipakai dalam ritual atau upacara adat

1.

Sijobang: ritual pemberian ulos abit

abit godang diyakini memberi petuah dan

yang berkaitan dengan siklus hidup

godang ini dilakukan oleh pihak mora

memiliki tuah bagi penerimanya. (Alfian

mereka. Sebagaimana disebut di atas,

kepada anak borunya. Ini merupakan

S. Siagian)

ulos hadir dalam menyambut kehidupan baru, dalam perkawinan dan dalam ritual kematian. Hadir dalam pesta kebahagiaan (siriaon) dan dalam pesta kesedihan (siluluton).

90 INDONESIANA VOL. 9, 2020

Beberapa contoh detail dan karakteristik dari Abid Godang dan Parompa Sadum dari Angkola. Setiap Abit Godang cukup individual sehingga maknanya 'membaca' ke dalam motifnya dan cara penyusunannya berbeda dari satu ke yang lain. Sedangkan Parompa Sadum pada umumnya digunakan sebagai gendongan bayi, sebagaimana diindikasikan dengan istilah parompa, tetapi dalam masyarakat saat ini kain ini digunakan secara bebas sebagai selendang. Awal abad 20, koleksi Torang Sitorus.


dok.babpublishing

2020, VOL. 9 INDONESIANA 91


foto: Lukman Solihin

AR S I T EKT U R

Rumah Sumba nan Eksotis Indonesia memiliki beragam arsitektur vernakular, yakni kekayaan jenis arsitektur dari khazanah lokal, satu di antaranya rumah adat Sumba. Rumah adat ini tak hanya unik secara arsitektural, tetapi juga memperlihatkan gambaran kosmologi dan kebudayaan masyarakatnya.

92 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Lukman Solihin

D

i Pulau Sumba, Nusa Tenggara

budak belian, melainkan para pembantu

museum dengan berbagai koleksi yang

Timur, indera kita tak hanya

maramba yang mengurus kebun dan

menggambarkan sejarah dan budaya

disuguhi luasnya sabana dan

memelihara hewan. Kebutuhan hidup

Sumba, mulai kain tenun sumba yang

ringkik kuda, tetapi juga pemandangan

mereka juga ditanggung oleh tuannya

sohor karena keunikan motif dan penuh

rumah-rumah adat yang atapnya

(kaum maramba).

makna, benda-benda pusaka, mamuli dan

membumbung seperti menunjuk langit.

Agama Marapu pun memengaruhi

lulu amah yang biasa digunakan sebagai

Atap yang menjulang bak menara itu,

pola permukiman. Setiap kampung adat

belis (maskawin), foto pelaksanaan kubur

menyimbolkan penghormatan kepada

atau paraingu dicirikan oleh keberadaan

batu dari masa lampau, serta berbagai

leluhur, yakni arwah para Marapu.

kubur batu yang menjadi penanda

ornamen kubur batu. Jika beruntung,

eksistensi leluhur suatu kampung, serta

kita dapat pula berbincang dengan Romo

nenek-moyang yang juga menjadi

rumah besar (uma bokulu) yang menjadi

Robert Ramone, pastor Katolik sekaligus

nama bagi agama lokal di pulau ini.

pusat penyelenggaraan upacara adat.

pemerhati budaya dan pendiri Rumah

Kepercayaan Marapu memengaruhi

Di kampung-kampung adat ini, rumah

Budaya Sumba.

banyak segi kehidupan masyarakat

dibangun dengan ciri khas atap yang

Dari Rumah Budaya Sumba, saya

Sumba, mulai dari adat istiadat, status

menjulang tinggi. Bubungan jangkung

melanjutkan perjalanan ke Kampung

sosial, hingga arsitektur dan pola

itu menjadi simbol tempat Marapu

Adat Ratenggaro, sekitar 56 kilometer

permukiman. Upacara kubur batu

bersemayam.

arah barat daya dari Tambolaka.

Marapu adalah sebutan bagi arwah

misalnya, yang sering kali dilakukan

Pada zaman dulu, paraingu dibangun di

Kampung ini berada di wilayah Kodi

secara kolosal dengan mengurbankan

atas bukit dan dikelilingi pagar batu atau

yang terkenal dengan tradisi pasola,

banyak hewan, dimaksudkan sebagai

tumbuhan berduri. Hal itu dimaksudkan

yaitu ‘perang-perangan’ dengan cara

upacara mengantarkan arwah keluarga

sebagai perbentengan untuk melindungi

melempar lembing ke arah musuh

yang meninggal ke parai Marapu (alam

permukiman dari serangan musuh.

sambil mengendarai kuda. Pesta adat

nenek moyang). Makam keluarga dan

Dalam perkembangannya, banyak

yang menyedot animo wisatawan

leluhur ini ditandai dengan bangunan

paraingu dibangun di dataran rendah

ini biasanya diselenggarakan antara

batu besar persegi yang masih

yang mengindikasikan perang antar-klan

Februari hingga Maret.

menyisakan corak kebudayaan batu di

sudah lama ditingggalkan.

masa lampau. Masyarakat Sumba mengenal empat

Guna mengetahui keunikan bangunan rumah adat dan maknanya dalam

strata sosial, yaitu ratu (pemimpin

kebudayaan Sumba, saya berkunjung

agama), maramba (bangsawan), kabihu

ke Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara

(orang merdeka), dan ata (hamba).

Timur. Terletak sekitar 6 kilometer dari

Penggolongan strata sosial ini masih

Bandara Tambolaka, terdapat Rumah

berlaku hingga saat ini, meski tidak

Budaya Sumba yang dibangun dengan

seketat zaman dulu. Golongan ata

atap menjulang, mengadopsi arsitektur

misalnya, tidak diperlakukan sebagai

tradisional Sumba. Di tempat ini terdapat

Taring babi bekas upacara adat di Ratenggaro menjadi bagian dari ornamen didalam rumah adat. Kampung Adat Ratenggaro di Sumba Barat Daya terletak di atas tebing yang menghadap Samudra Hindia dengan deretan kubur batu para pendiri kampung yang terletak di tengah dan dikitari oleh rumah-rumah adat.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 93


foto: Lukman Solihin

Uma Mbatangu di Kampung Ratenggaro Ratenggaro merupakan kampung adat di Sumba Barat Daya yang dikenal

rumah-rumah adat, kedua terletak di

akhir selalu disertai dengan pesta adat.

area luar yang merupakan kubur batu

Pesta adat ini pasti disertai pemotongan

anak keturunan dari kampung ini.

sejumlah hewan kurban yang ditujukan

Melewati susunan pagar batu yang

untuk meminta restu Marapu, sekaligus

memiliki pantai yang indah dan kampung

menandai batas kampung, mata saya

untuk menjamu warga yang turut

adat yang cantik. Kampung ini terletak di

segera tertambat pada barisan rumah-

bergotong-royong dalam pembangunan

atas tebing yang menghadap Samudra

rumah dengan atap menjulang tinggi,

rumah adat.

Hindia. Di bawahnya terdapat pertemuan

uma mbatangu namanya, atau rumah

aliran Sungai Waiha dan Samudra Hindia,

dengan atap menara. Dahulu di kampung

oleh empat kayu bulat utuh yang menjadi

membentuk cekungan berpasir putih

ini berdiri 28 rumah adat. Setelah tiga

tiang utama. Agar keempat tiang tersebut

yang menawan.

kali mengalami kebakaran hebat, kini

dapat menyangga atap dengan kuat,

Bangunan rumah adat Sumba ditopang

hanya tersisa 12 rumah adat, sebagian

diperlukan struktur bangunan atap yang

Ratenggaro, mata saya disambut oleh

di antaranya dibangun atas bantuan

kokoh. Struktur atap rumah adat di

deretan kubur batu yang dibangun

Yayasan Tirto Utomo dan Direktorat

Ratenggaro diperkuat oleh penguat atap

di area luar kampung. Kubur batu di

Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud.

(bracing) yang dibuat secara vertikal dan

Sebelum memasuki Kampung

Tahapan pembangunan rumah adat,

horizontal sehingga dapat menjulang

kubur batu para pendiri kampung yang

mulai dari persiapan, pencarian bahan,

tinggi serta tangguh menahan beban

terletak di tengah dan dikitari oleh

pendirian bangunan, hingga tahap

dan terpaan angin. Konstruksi atap lalu

kampung ini terbagi dua: pertama adalah

94 INDONESIANA VOL. 9, 2020


foto: Lukman Solihin

ditutup dengan susunan ilalang untuk melindungi rumah dari panas dan hujan. Rumah adat Sumba dibangun tidak menggunakan paku untuk menyatukan setiap bagian bangunan, melainkan menggunakan pasak kayu dan tali rotan. Rancang bangun uma mbatangu didasarkan pada kosmologi masyarakat Sumba yang percaya bahwa alam semesta terbagi menjadi tiga. Bagian atas merupakan tempat leluhur dan para dewa, bagian tengah adalah tempat manusia, dan bagian bawah habitat hewan serta makhluk halus. Kosmologi ini mewujud dalam bangunan rumah adat. Bagian loteng menara

foto: Lukman Solihin

untuk meletakkan benda keramat yang mewakili eksistensi Marapu, lalu balaibalai menjadi tempat aktivitas manusia, dan bagian bawah bangunan untuk kandang binatang peliharaan. Rumah adat ini juga memperlihatkan pembagian ruang secara sosial. Pada bagian tengah, tepat di bawah menara, terdapat perapian untuk memasak dengan para-para di atasnya untuk menaruh peralatan masak dan bahan makanan. Pada bagian kiri dan kanan terdapat bilik-bilik yang dipisahkan menjadi area laki-laki dan perempuan, bagian depan menjadi area untuk menerima tamu, dan bagian belakang untuk berbagai aktivitas lain, termasuk

foto: Lukman Solihin

menenun yang biasa dilakukan di siang hari. Dari Kampung Adat Ratenggaro, kita dapat menyaksikan hubungan erat antara bangunan dan kebudayaan yang menopangnya. Rumah adat didirikan tidak sekadar sebagai tempat untuk berlindung dari terik matahari

(atas) Rumah Budaya Sumba di Weetabula, Sumba Barat Daya. (tengah) Seorang Pria Sumba Barat daya. Kurban hewan dalam upacara kematian di Sumba Barat Daya (bawah).

dan terpaan hujan, tetapi juga upaya menghormati leluhur, memuliakan Marapu. (Lukman Solihin)

Seorang anak sedang bermain di Kampung Adat Ratenggaro.

2020, VOL. 9 INDONESIANA 95


Remy Sylado Tak Perlu Reka-reka dalam Memajukan Kebudayaan “Perempuan itu di mana-mana sama, yang membedakan adalah merk wewangiannya”, tulis Remy Sylado dalam novel Gali Lobang Gila Lobang (1977). Oh, ya? Rupanya rujukannya adalah pesohor Rima Melati dan Vivi Sumanti, artis-artis pada zaman itu. Keduanya berasal dari Manado, sedaerah dengan Remy yang bernama lahir Yapie Tambajong. Apa demikian gambaran perempuan di benak Remy? Ah, itu …. Fiksi, loh. Novel itu dicetak ulang pada tahun 2013.

96 INDONESIANA VOL. 9, 2020

foto: Jessica Nadya Ogesveltry

P ERSO NA


Pagi yang semringah, awal September

berasal/bermula. Misalnya ia menulis:

“Wartawan dan sastrawan, atau berita

2020. Remy Sylado tengah bersantai

“Arti sebenarnya kata mata keranjang,

dan puisi itu sesuatu yang mufrad

sewaktu Indonesiana tiba di rumahnya,

harusnya dieja mata ke ranjang, adalah

(menyatu). Saya melihat dari sisi sejarah

di Cikarawang, Dramaga, Bogor,

laki-laki yang melihat perempuan

pers Indonesia, bahwa berita itu pertama

rumah yang ia tempati sejak 2003 dan

sertamerta pikirannya tertuju ke atas

kali ditulis dalam bentuk puisi di koran

tempat menghasilkan banyak karya,

ranjang”. Soal ini, ulama dari Rembang,

De Locomotief, satu-satunya koran paling

termasuk lima jilid novel Novel Pangeran

Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus

berpengaruh di Hindia Belanda yang

Diponegoro: Menggagas Ratu Adil. Kami

pernah bilang bahwa ia mengetahui

terbit di Semarang. Koran itu lalu dibeli

berbincang mulai soal pandemi Korona,

muasal kata mata keranjang itu, ya

oleh Chandra Nainggolan dan diganti

sejarah Cina dan Tionghoa, sastra,

dari Remy, “Saya dulu bingung, mata

menjadi Harian Tempo, tahun 1954. Saya

manusia, hingga pemajuan kebudayaan.

keranjang itu apa, apa matanya bolong-

tahu karena saya pertama kali bekerja

bolong, ternyata kata beliau Remy Sylado,

sebagai wartawan ya di Harian Tempo”.

“Sastrawan kita (Indonesia) itu masih “kalah” dari sastrawan Barat. Kalau tidak boleh menyebut semua, ya

mata keranjang itu mata ke ranjang”. Belakangan di masa pandemi Covid-19,

Memang tradisi membuat berita dalam bentuk puisi itu sudah dimulai sejak

rata-rata. Tidak dalam konteks untuk

Remy meluncurkan buku dalam bentuk

zaman Hindia Belanda, dan dijadikan alat

perlombaan atau keinginan melampaui,

e-book, Kamus Sejarahnya Kata-kata: I:

politik etis. Dulu jadi bacaan tetapnya

ya,” kata Remy.

Berisi Kata-kata Berawalan huruf A, yang

Kartini, satu di antaranya adalah tulisan

bisa dibeli melalui Google Play. “Baru

Mas Marco (Marco Kartodikromo,

satu jilid yang terbit, nantinya ya sampai

jurnalis, meninggal tahun 1932). Ketika

Kalah dalam hal apa? “Kalah dari segi berpikir tentang kemanusiaannya, dan itu terkait filsafat. Mau gak mau kemampuan menggunakan imajinasi itu digali dari filsafat, tidak melulu filsafat Barat juga. (Sastrawan) Indonesia belum sampai kepada bagaimana memanfaatkan filsafat sebagai bagian dari disertasi karya sendiri. Misalnya, Jean-Paul Sartre memakai sastra sebagai disertasi dari eksistensialisme. Kita belum sampai ke situ. Kita masih membikin cerita, belum sampai kepada bagaimana memanfaatkan cerita itu. Sastrawan Barat sudah melakukannya sejak lama”. Diskusi mengenai filsafat itu mengingatkan pada buku Remy, Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat dalam Fiksi (2013) sebanyak enam jilid. Di buku itu, Remy juga menuliskan “sejarahnya kata”, dari mana atau bagaimana kata itu

huruf Z, saya sudah mengumpulkan semuanya,” kata Remy. Mengenali Remy Sylado, selain dari karya-karya sastranya, tentu juga lukisanlukisannya. (Ia belajar seni rupa secara formal). Ia juga dramawan (belajar teater secara formal juga), wartawan, dan munsyi. “Remy itu makhluk langka yang stoknya hampir habis. Saya merasa utang rasa. Pada tahun 70-an puisi saya dimuat di Majalah Aktuil yang dikelola beliau, tanpa tahu kalau itu puisi saya karena memakai nama lain,” kata Gus Mus dalam pameran karya sekaligus perayaan hari lahir Remy Sylado di Balai Budaya Jakarta, 12 Juli 2019. Selama pandemi, Anda tetap produktif, dan turut menyunting buku puisi tentang Korona yang ditulis para wartawan dan sastrawan. Mengapa wartawan dan sastrawan disatukan?

2020, VOL. 9 INDONESIANA 97


bahasa Melayu dibagi menjadi Melayu Tinggi dan Melayu Rendah, bahasa Melayu Rendah dipakai oleh korankoran Cina. Di situ juga tradisi membuat berita dalam bentuk puisi diteruskan. Misalnya meletusnya Gunung Krakatau atau kedatangan maharaja Muangthai, itu ditulis dalam bentuk puisi. Wartawan itu harus bisa menulis. Selain berita, yang dijual oleh koran itu juga karya fiksi, ditulis secara bersambung”. Apa keinginan Anda yang belum dilakukan dan ingin diwujudkan? foto: Jessica Nadya Ogesveltry

“Keinginan itu selalu datangnya sekonyong-konyong. Ketika itu sampai di depan mata, ya saya lakukan dengan sepenuh kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikan. Begitu saja, saya sebagai seniman atau wartawan. Kalau disuruh harus menjadi ahli di bidang tertentu, dan saya bisa, ya saya akan menjadi ahli di situ. Itu saja. Saya tidak sampai ke puncak. Kalau sampai ke puncak itu ukurannya adalah sukses dalam berbisnis. Misalnya dalam dunia pers, contohnya ya Jakob Oetama, Dahlan Iskan, Goenawan Mohamad, itu jagoan semua. Sebuah media kalau tidak dijual, itu kan dosa”. Bagaimana seharusnya memajukan kebudayaan? “Kembali dulu ke tahun 1928, satu di antaranya adalah menjunjung tinggi

foto: Susi Ivvaty

(atas) Remy Sylado dan lukisan-lukisan karyanya, Remy beserta kawan-kawannya dalam pameran lukisan miliknya (bawah).

98 INDONESIANA VOL. 9, 2020

bahasa persatuan. Anak dari Madura itu, M Tabrani, yang berani mengatakan kita harus berbahasa Indonesia. Kalau tidak ada anak Madura itu, tidak bakal ada bahasa Indonesia. Kok, sekarang orang-orang berbicara bahasa Indonesia


campur-aduk dengan bahasa Inggris.

“Jangan banyak reka-reka dalam

Apa yang menarik dalam hidup?

So, by the way, oh my god. Padahal dalam

urusan memajukan kebudayaan.

bahasa Inggris sendiri pada tahun 1611

Misalnya soal manuskrip. Manuskrip di

sudah ada teks, agar jangan sembarang

Indoensia itu paling-paling ya dari Batak,

menyebut oh my god, makanya sering

Jawa, dan Makassar, yang sastranya ada

dipelesetkan mejadi oh my gosh, agar

dan hidup. Kalau yang lain, misalnya

tidak sembarang menyebut nama

Aceh, Riau, Padang, itu pengaruh Arab

Tuhan, sekadar untuk mengekspresikan

gundul (bahasa Melayu yang ditulis

kekagetan-kekagetan. Itu kan memuat

dengan huruf Arab tanpa harakat), tidak

kebudayaan. Kalau mau melihat seperti

asli. Makanya banyak kesalahan terjadi

apa kebudayaan saat ini, lihat para

dalam ejaan bahasa Indonesia saat ini,

pengambil keputusan yang tergila-gila

satu di antaranya karena

dengan bahasa campur-aduk yang

pengaruh huruf Arab

nggak tepat. Sementara di sisi lain, orang

gundul atau pegon.

pusat bahasa mengira mereka harus

Intinya, jangan

memperbaiki bahasa dengan bahasa

mengada-ada, tidak

yang baik dan benar. Itu baru satu hal.

mengada-adakan yang tidak ada”.

Jadi bagaimana UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017 harus dilaksanakan?

“Bentrokan dalam hidup yang tidak bisa ia atasi sendiri. Bentrokan itu harus selalu ada, menandakan bahwa kita harus hidup. Dinamis, tidak terduga. Dengan begitu, manusia menjadi benar”. (Susi Ivvaty dan Jessika Nadya Ogesveltry)

Sebagian karya Remy Sylado Gali Lobang Gila Lobang (1977) Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999), difilmkan tahun 2002. Kerudung Merah Kirmizi (2002): memenangi Kathulistiwa Literary Award 2002 Ling (2003) Kembang Jepun (2003) Parijs van Java (2003) Menunggu Matahari Melbourne (2004) Sam Po Kong (2004) Puisi Mbeling (2005) 9 OKTOBER 1740 (Drama Pembantaian Etnik Cina di Batavia: 2005) Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005) Boulevard de Clichy (2006) Novel Pangeran Diponegoro (2007) Mimi lan Mintuna, (2007), Naskah Drama Kita Hidup Hanya Sekali (2007) Jalan Tamblong (2010) Hotel Prodeo (2010) Namaku Mata Hari (2010), dimuat dalam cerbung Kompas Jadi Penulis Siapa Takut (2012) Drama Sejarah 1832 (2012) Perempuan Bernama Arjuna (1-6, 2013–2017)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 99


GA LERI F OT O

Potret Kota Tua

di Masa Pandemi

Foto oleh Syefri Luwis, Princesca Wylsonarita dan Jeffry.

“Saat Taman Fatahillah direnovasi pada tahun 1974, rasanya mimpi membangun kebudayaan itu terkubur. Lalu ada gagasan menjadikan Kota Tua sebagai warisan dunia. Semoga mimpi itu terwujud,� Toeti Heraty pada suatu kesempatan di tahun 2015. Namun, mimpi itu rupanya belum terwujud, karena Kawasan Kota Tua Jakarta dinilai belum memenuhi syarat untuk menjadi warisan dunia, dengan sejumlah alasan. Kendati gagal menjadi warisan dunia sejak diusulkan pertama kali ke UNESCO pada tahun 2014, Kawasan Kota Tua Jakarta tetap memesona bagi wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun Lapangan Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah yang sepi kala Pembatasan Sosial Berskala Besar di era Pandemi Covid-19. Ruangan Museum Fatahillah yang juga sepi pengunjung. Sudut lain lapangan Museum Fatahillah yang sepi pengunjung.

100 INDONESIANA VOL. 9, 2020


wisatawan mancanegara. Khusus di seputaran Taman Fatahillah, terdapat beberapa museum yang menempati bangunanbangunan tua, juga kafe-kafe dengan menu variatif. Pandemi Covid-19 atau Korona menyebabkan denyut nadi pariwisata melemah, kritis, dan nyaris mati, termasuk Kawasan Kota Tua Jakarta. Kawasan tidak ditutup secara total, beberapa kafe juga tetap buka, namun disertai protokol Kesehatan Covid-19 seperti menyediakan sabun cuci tangan, penyanitasi tangan, pembatasan sosial dengan merenggangkan tempat duduk, dan mewajibkan pemakaian masker wajah. Pagi hari pada 23 Oktober 2020, area seputaran Taman Fatahillah yang mulanya sepi berangsur bergemuruh meski tidak riuh. Museum Wayang mulai

PSBB dan ruang kosong yang ditinggalkan. Tampak muka Museum Wayang era pandemi. Lengang di Museum Wayang.

dibuka secara terbatas, begitu pula Museum Fatahillah. Rasanya justru asyik bisa menyambangi museum dalam suasana syahdu, tidak penuh orang berseliweran. Beberapa pengunjung masih bisa bersenda-senda dengan tetap menjaga jarak dan memakai masker. Syukurlah. Rasanya tidak rela melihat Kota Tua Jakarta merana karena Korona (Tim Indonesiana)

2020, VOL. 9 INDONESIANA 101


Tampak muka Gedung Museum Sejarah Jakarta yang kosong, hal yang tidak mungkin terjadi jika tidak ada PSBB.

Sumur Cahaya Museum Bank Indonesia, akan sulit diabadikan karena di lokasi tersebut selalu penuh pengunjung jika tidak terjadi PSBB. Museum Bank Indonesia yang sepi karena pandemi.

102 INDONESIANA VOL. 9, 2020


39

ACEH

Warisan Budaya Takbenda (WBTb) per Provinsi

31 SUMATRA UTARA

RIAU

40

49

51

SUMATRA BARAT

24

KEP. RIAU

49

KALIMANTAN UTARA

41

24

KALIMANTAN BARAT

JAMBI SUMATRA SELATAN

34 31

KALIMANTAN TIMUR

KEP. BABEL

13

64

BENGKULU

DKI JAKARTA

52

LAMPUNG

45 JAWA TENGAH

7

33

JAWA TIMUR

51

Benda Struktur Bangunan

Kawasan

Situs

15

SULAWESI TENGGARA NUSA TENGGARA TIMUR

PAPUA BARAT

13

MALUKU

23

30

PAPUA

24

JAWA D.I BARAT YOGYAKARTA

64

KATEGORI

SULAWESI SELATAN

14

MALUKU UTARA

SULAWESI TENGAH

KALIMANTAN SELATAN

62

BANTEN

21

19

28

SULAWESI UTARA

GORONTALO

SULAWESI BARAT

KALIMANTAN TENGAH

18

31

BALI

104

78 124

64

NUSA TENGGARA BARAT

WARISAN BERSAMA

15

Budaya Dalam Angka

1340

1052

25 346

300 Kelompok Etnis

DOMAIN Tradisi Lisan dan Ekspresi

168

Seni Pertunjukan

380

Adat Istiadat masyarakat ritual dan perayaan-perayaan

350

Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional

16

60 281

Suku Bangsa

1239 Jumlah WBTb Indonesia

CAGAR BUDAYA “Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Pengertian Cagar Budaya dalam UURI No. 11 Tahun 2010

Sumber: Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, dirangkum oleh Hery P. Manurung. 2020, VOL. 9 INDONESIANA 103


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Gedung E. Lt. 9, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 4-5, Senayan, Jakarta 10270

104 INDONESIANA VOL. 9, 2020

(021) 5725534 indonesiana.diversity@gmail.com http://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tidak untuk dijual