__MAIN_TEXT__

Page 1

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

1


DAFTAR ISI

22 Kilas Balik Jembatan Sultan Muhammad Ali Kilas sejarah siapa Sultan Muhammad Ali Abdul Jallil Muazzam Syah

08 Laporan Utama

Prahara Dibalik Penerapan UKT Cerita soal UKT dan advokasi dari kelembagaan mahasiswa

24 Bincang-Bincang Pers Mahasiswa Harus Jujur dan teliti Bincang-bincang dengan wartawan senior dari TEMPO soal jurnalistik

12 Laporan Utama Menentang UKT Kelembagaan di fakultas dan mahasiswa menentang penerapannya.

Feature 26 Tanjung Belit, Surga Alam dan Adat Riau Menjelajahi khasanah alam dan budaya di Desa Tanjung Belit

16 Sempena

Muhibbah Seni, Kamus Bergerak Kesenian Melayu Sanggar seni beranggotakan generasi muda peduli budaya

STT : Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No. 1031/SK/Ditjen PPG/STT/1983. ISSN : 0215-7667. Penerbit: Lembaga Pers Bahana Mahasiswa Universitas Riau. Penasehat : Prof. Dr. Ashaluddin Jalil.M.S (Rektor), Drs. Rahmat, MT (PR III).

Pemimpin Umum : Ahlul Fadli. Pemimpin Redaksi : Nurul Fitria. Pemimpin Perusahaan: Herman. Sekretaris Umum: Trinata Pardede. Bendahara Umum : Nurul Fitria. Redaktur Pelaksana : Suryadi. Redaktur : Hamzah, Jeffri Nofrizal T.S. Litbang : Suryadi. Reporter : Hamri Hompi, Trinata Pardede Jeffri Nofrizal T.S. Fotografer : Ahlul Fadli, Jeffri Nofrizal T.S. Sirkulasi : Jeffri Nofrizal Torade S. Staff Iklan : Hamri Hompi. Perpustakaan dan Dokumentasi: Hamri Hompi. Layouter/ Perwajahan: Nurul Fitria. Cover : Edo Fernando (LPM Gagasan UIN Suska Riau) Alamat Redaksi/Iklan : Kampus UR Gobah Jl Pattimura No 9 Pekanbaru. Tel (0761) 47577. Dicetak pada : CV WITRA IRZANI. Isi diluar tanggung jawab percetakan. Redaksi menerima tulisan berupa opini dan artikel karya orisinil. Redaksi berhak melakukan BAHANA MAHASISWA Edisi Februari - Maret 2014 penyuntingan. Contact Us Facebook: Bahana Riau. Twitter : @bahana_riau. Email : bahanaur@gmail.com. Website : bahanamahasiswa.co

2


SEKAPUR SIRIH

Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa Universitas Riau menerima penghargaan sebagai pemenang Indonesia Student Print Media Awards (ISPRIMA) yang diadakan Serikat Perusahaan Pers atau SPS di Bengkulu, 8 Februari 2014. Foto: Dok BM.

Pengurus Bahana bersama pemenang dari pers mahasiswa lainnya. Foto: Dok BM

SEMANGAT BARU

F

EBRUARI JADI MOMEN BERHARGA BAGI BAHANA. Tak terlupakan dan menjadi semangat baru bagi para pengurus didalamnya. Pasalnya, 8 Februari 2014 di Bengkulu, Bahana menerima penghargaan sebagai salah satu pemenang Indonesia Student Print Media Awards atau disingkat ISPRIMA. Perlombaan ini diadakan oleh Serikat Perusahaan Pers atau SPS Pusat. Ini ajang penghargaan bagi pers mahasiswa di seluruh Indonesia. Produk jurnalistik pers mahasiswa dinilai dan dipilihlah yang terbaik. Dua kali Bahana mendaftar, pada kesempatan kedua ini Bahana dinobatkan sebagai pemenang untuk kategori majalah. Pada momen ini pun, Bahana yang diwakili Pemimpin Redaksi, Nurul Fitria dan Redaktur, Jeffri Novrizal Torade Sianturi dapat bertemu dengan pengurus pers mahasiswa lainnya. Ada dari Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Makassar dan banyak lagi yang tak bisa dituliskan semua. Pertemuan ini dijadikan momen diskusi dan sharing informasi antara lembaga pers mahasiswa yang hadir. Menjadi pemenang tidaklah membuat tinggi hati dan sombong, malah ini menjadi motivasi untuk terus berkarya lebih baik. Semangat baru tentu muncul, dan perubahan lebih baik sangat

diharapkan. Semoga kedepannya produk-produk Bahana dapat lebih bermanfaat bagi semua pembaca. Pembaca Setia, Pada edisi ini, kami hadirkan persoalan yang ramai diperjuangkan oleh kelembagaan dan mahasiswa, Uang Kuliah Tunggal. Sistem biaya kuliah baru ini tersaji di rubrik Laporan Utama. Kami juga mengkilas kembali sejarah siapa Sultan Muhammad Ali yang namanya diabadikan untuk jembatan yang menghampar di Sungai Siak dalam rubrik Kilas Balik. Di rubrik Sempena, kami perkenalkan sanggar seni tradisional khas melayu di Universitas Riau yaitu Muhibbah Seni. Serta catatan singkat perjalanan salah satu kru melihat kearifan budaya lokal di rubrik Feature. Bincang-bincang dengan Metta Dharmasaputra penulis buku Saksi Kunci juga kami hadirkan. Beserta tulisan bedah buku karya wartawan KATADATA ini. Membaca ulasan singkat menyoal International University dari Muchtar Ahmad, mantan Rektor UR juga dapat menambah pengetahuan. Semoga informasi yang kami sajikan dalam majalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.#

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

3


CATATAN KRU

Nurul Fitria Pemimpin Redaksi LPM Bahana Mahasiswa UR

Makna HPN, Peningkatan Mutu Jurnalisme atau Pesta HuruHara

B

ERMULA DARI SURAT ELEKTRONIK TERTANGGAL 30 JANUARI 2014. Dengan tujuan penerima Para Pemenang ISPRIMA 2014. Surat ini masuk ke email redaksi Bahana. Kata pemenang masih membuat ragu, benarkah? Kami jadi salah satu pemenang untuk kategori majalah. Memang beberapa bulan sebelumnya kami mendaftar ikuti perlombaan yang diadakan Serikat Perusahaan Pers atau SPS pusat untuk ikuti Indonesia Student Print Media Awards atau ISPRIMA. Penghargaan untuk media cetak pers mahasiswa di seluruh Indonesia. Ini kedua kalinya Bahana mendaftar. Persyaratannya adalah mengirimkan cover beserta hardcopy produk media pers mahasiswa. Bahana mengirimkan dua produk majalahnya. Surat ‘Kekerasan’ Bersama edisi Januari –Februari 2013 dan UPT PPL, Tolong Kami edisi Maret – April 2013. Dari kedua majalah ini kami belum tahu mana yang telah memenuhi kriteria para juri hingga menetapkan Bahana sebagai pemenang. Untuk mengetahuinya, Pemimpin Redaksi diminta untuk menghadiri malam penganugerahan pemenang di Bengkulu, 8 Februari 2014. Malam penganugerahan ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Pers Nasional atau HPN. Dimulai pada 7 Oktober berupa seminar hingga puncaknya 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional. PADA 2014 INI TEPAT 29 TAHUN PERINGATAN HPN. Hari dimana dirayakan peringatan kebebasan dan kemerdekaan pers sebagai salah satu dari 4

KINI MASIHKAH KEBEBASAN PERS PATUT DIRAYAKAN?

4

BAHANA MAHASISWA Edisi Februari - Maret 2014

pilar demokrasi. Penetapan HPN ini dikukuhkan oleh Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1985. Ditandatangani oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto pada 23 Januari 1985. Keputusan Presiden keluar pada 23 Januari, lalu mengapa 9 Februari yang dijadikan waktu merayakan kebebasan insan pers ini? Kesemuanya tak terlepas dari lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI. Pada tanggal tersebut, setahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia ditetapkan, diadakan pertemuan wartawan skala nasional. Dari pertemuan itu, ditetapkanlah dibentuknya sebuah organisasi yang menaungi seluruh wartawan di Indonesia. Terbentuklah PWI dengan Ketua pertamanya Soemanang, yang juga pendiri Kantor Berita Antara. Organisasi yang diharapkan akan menjadi wadah penyatuan dan perlindungan bagi para wartawan, dalam perjalanannya mengalami beberapa gesekan. Makna kemerdekaan Indonesia tak sama dengan kemerdekaan pers. Dimasa kepemimpinan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, beberapa media dibungkam akibat pemberitaannya yang tak menyenangkan bagi penguasa. Diantaranya harian Indonesia Raya, Abadi, Berita Indonesia, Pedoman dan lainnya. Mochtar Lubis pun harus merasakan bui selama sembilan tahun. Dimasa ini pula dikeluarkan keputusan untuk membuat Surat Izin Usaha Penerbitan atau SIUP. Dimana setiap usaha penerbitan surat kabar harus mendapatkan surat keramat ini dari menteri penerangan. Ketika SIUP diperoleh dan dikemudian hari surat kabar melakukan hal yang tak menyenangkan, bersiaplah surat ini dicabut dan perusahaan penerbitan tak bisa beroperasi. Operandi pengekangan pers berlanjut juga dimasa Soeharto. Surat keramat dibawah kekuasaan Harmoko selaku Menteri Penerangan, Mantan Ketua PWI. Sejalan dengan masa pimpinan Bung Karno, Soeharto pun membungkam pers dengan pencabutan izin, wartawan dipenjarakan, dibuang


ke Pulau Buru bahkan dibunuh. Yang disayangkan kala itu, PWI tak bertaring. Tak mengambil tindakan menyelamatkan rekan sesama insan pers. Persatuan wartawan yang digadang-gadangkan tak terealisasi. Kesan sebagai organisasi dibawah kekuasaan pemerintahpun diperoleh. KINI MASIHKAH KEBEBASAN PERS PATUT DIRAYAKAN? Tentunya ini tak jadi soal menurut saya. Ini jadi hari untuk memaknai bagaimana kebebasan pers sangat tak mudah untuk diperoleh sebelum 1999. Bentuk Peringatan Hari Pers Nasional di Bengkulu 9 Februari 2014. Dengan Tajuk penghargaan bagi kerja keras wartawan Pers Sehat Rakyat Berdaulat, acara ini dihadiri Presiden RI dan Menterimenterinya. Foto: Antara menyampaikan informasi yang berguna bagi masyarakat. Dijadikan hari untuk mengevaluasi kinerja pers jadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Namun dari peringatan Hari Pers Nasional yang dilaksanakan di Bengkulu, atmosfer ini kurang saya rasakan. Rangkaian acara peringati HPN diisi dengan Talk Show Ketahanan Energi di Tahun Politik, Prospek Pariwisata Indonesia pada 2014, penghargaan untuk destinasi pariwisata serta program pariwisata dan lainnya. Merangkak ke acara puncak peringatan HPN di Benteng Marlborough dan dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Berbagai bendera milik partai sang Ketua Umum ini terpampang sepanjang area acara. Berbagai penghargaanpun diberikan Margiono, Ketua PWI Pusat ke SBY. Diantaranya Anugerah Medali Emas Spirit Jurnalistik, Medali Emas Persaudaraan Pers dan Penghargaan Kepeloporan Pelatihan Wartawan. Acara singkat ini seperti ajang pesta hura-hura pemberian penghargaan dan penandatanganan perjanjian antara pihak satu dan lainnya. Kenapa hari untuk mengenang kebebasan pers yang sudah didapat tak diisi dengan diskusi ataupun evaluasi kinerja pers lebih baik. Ataupun mengadakan lomba karya jurnalistik oleh insan pers untuk meningkatkan kreatifitas dan mempertajam kualitas jurnalistik. Jika tidak, pemberian penghargaan bagi mereka yang telah menghasilkan karya jurnalistik berpengaruh untuk orang banyak.

Kenapa hari untuk mengenang kebebasan pers yang sudah didapat tak diisi dengan diskusi ataupun evaluasi kinerja pers lebih baik. Dengan ini seluruh insan pers memiliki motivasi untuk hasilkan karya yang lebih baik. Makna Hari Pers Nasional jika hanya diisi dengan acara peresmian dan pertemuan dengan pejabatpejabat akan menghilang dari waktu ke waktu. Yang ada hanya hari pesta nasional bagi mereka yang berkepentingan.# Sumber: Catatan untuk Hari Pers Nasional oleh Goenawan Mohamad Liputan6.com/ news/hari-pers-nasional-4-dasawarsasetelah-indonesia-merdeka

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

5


SEULAS PINANG

UKT: BUAH SIMALAKAMA

S

ISTEM UANG KULIAH TUNGGAL SUDAHLAH RESMI DITERAPKAN. Mahasiwa angkatan 2013 telah masuk digolongannya masing-masing. Semua menerima dengan berbagai raut wajah berbedabeda. Ada yang senang, tersenyum, raut wajah tanpa ekspresi bahkan bersedih hingga putus asa. Ini karena harus mengakhiri jenjang pendidikan di perguruan tinggi lebih awal tanpa di wisuda.

Permendikbud nomor 55 tahun 2013 diterapkan dan hendak dijalankan oleh Perguruan Tinggi Negeri termasuk Universitas Riau, kritikan dari kelembagaan mahasiswa membahana. Berbagai aksi dijalankan. Diskusi sana-sini pun digelar. Zulfikar, selaku pihak yang dipercaya untuk memberikan penjelasan kepada mahasiswa soal UKT diundang kelembagaan. Semua ini untuk memperjelas dan memberikan pemahaman kepada mahasiswa.

Semua tidak terjadi begitu saja. Pasalnya golongan yang ditetapkan tidak Setiap kali diskusi sesuai dengan apa digelar, selalu ada yang diharapkan. tuntutan mahasiswa Latar belakang agar ekonomi, jumlah dipertimbangkan Ilustrasi: Edo Fernando tanggungan orang oleh para jajaran. tua, kondisi rumah, Mulai dari kuota sampai pada fasilitas golongan 1 dan 2 rumah yang dimiliki mahasiswa jadi sumber ditambah, penyeleksian yang tepat sasaran hingga penilaian. Dari liputan Bahana selama persoalan ini transparansi keseluruhan perhitungan anggaran bergulir masih ada mahasiswa yang belum puas yang dijumlahkan untuk pembayaran UKT. dengan golongan yang mereka dapatkan. Dengan diterapkannya sistem UKT ini, menambah Mahasiswa merupakan bagian dari civitas daftar persoalan dibidang pendidikan khususnya akademika, namun hanya mampu mengeluh dan Universitas Riau. Uang merupakan persoalan yang berkata dibelakang pemangku jabatan di kampus sensitif untuk dibahas. Apalagi dalam bidang yang memiliki tanggung jawab mengenai UKT ini. pendidikan yang akan menciptakan para intelektual Disini peran kelembagaan mahasiswa sebagai masa depan. Sebelumnya kelembagaan mengeluh representatif ribuan mahasiswa dalam soal sulitnya mengurus uang untuk kelembagaan menyampaikan aspirasi terkait persoalan akademis mahasiswa membuat kegiatan. Lalu banyaknya dituntut lebih aktif. Tak dipungkiri, pada saat

6

BAHANA MAHASISWA Edisi Februari - Maret 2014


SEULAS PINANG pungutan-pungutan untuk menyelesaikan permasalahan administrasi di kampus. Kini persoalan biaya kuliah harus ditanggung bagi mereka yang tidak mampu. Dengan tujuan terjadinya pendidikan yang merata, maka si kaya harus mensubsidi yang kurang mampu untuk bisa kuliah. Sayangnya, si ‘kaya’ yang ditetapkan terkadang salah orang. Pertanyannya kapan kebijakan pendidikan benar-benar tepat penerapannya?

K

ELEMBAGAAN MAHASISWA. Gejolak pun mulai terjadi di kampus-kampus yang tidak menerima kebijakan baru mengenai biaya kuliah ini. Di Universitas Riau, kelembagaan mahasiswa Fakultas Perikanan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Hukum turun mengadvokasi sampai ke pimpinan universitas. Sepanjang advokasi yang dilakukan semua kelembagaan sepakat menuntut keadilan dalam penerapan UKT. Mahasiswa yang benar-benar kurang mampu harus berada pada golongan yang sesuai dengan keadaan ekonominya. Jangan sampai mahasiswa yang mampu nongol pada golongan yang tidak mampu, jangan sampai ada anak pejabat di negeri ini atau anak pejabat di kampus dan anak dosen yang menyamar sebagai orang miskin. Kebiasaan ini sering menjadi praktek di kampus, diminta foto rumah mahasiswa malah foto rumah orang miskin yang bukan rumahnya yang diberikan. Diminta surat keterangan tidak mampu malah membuat surat palsu sebagai mahasiswa tidak mampu alias miskin. Geram kelembagaan tidak hanya di sini. Meminta transparansi dana mahasiswa dalam masa delapan semester. Apa saja biaya kuliah Mahasiswa selama itu? Bagaimana penghitungan ditiap jurusan? Apa saja dana yang masuk dalam hitungan? Informasi ini tidak dapat diterima oleh lembaga kemahasiswaan. Minta ke Zulfikar dibilang bisa minta dimasingmasing jurusan, minta ke jurusan tidak berani memberi informasi, minta ke Pembantu Dekan II dibilang ada orang tertentu yang bisa beri informasi. Seperti yang disampaikan Suparmi, hanya Zulfikar Kepala BKP UR, Pembantu Rektor II, Yanuar dan Ketua Forum PD II, Arisman yang berhak bicara ini. Pejabat kampus seperti bermain lempar bola. Alhasil semua terjadi begitu saja, lewat jurusan masing-masing mahasiswa harus bersedia menerima digolongan mana ia berada. Tuntuan kelembagaan terus berlanjut. Kali ini meminta kuota golongan UKT 1 dan 2 ditambah. Ini wajar saja, mengingat Permendikbud tentang UKT bahwa untuk golongan satu minimal 5 persen. Artinya bisa lebih dari 5 persen, mestinya pejabat kampus yang bertanggung jawab dengan hal ini tidak ngotot harus mempertahankan kuota 5 persen untuk golongan 1 dan 2. Parahnya lagi Fakultas Ekonomi sempat meniadakan golongan 1

Bayangkan, hari ini biaya kuliah sebagian disubsidi oleh teman-teman mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang berada pada golongan 5— termasuk kaya, mensubsidi mahasiswa digolongan satu dan dua. dan 2 diawal pengumuman. Logikanya, apakah satu pun tak ada mahasiswa angkatan 2013 miskin yang masuk di fakultas dengan PNBPnya terbesar di Universitas Riau itu? Jika dilihat dari biaya yang bervariasi ditiap golongan bisa terlihat ketidakmampuan pemerintah dalam mensubsidi pendidikan. Bayangkan, hari ini biaya kuliah sebagian disubsidi oleh teman-teman mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang berada pada golongan 5— termasuk kaya, mensubsidi mahasiswa digolongan satu dan dua. Pemerintah memanfaatkan mahasiswa itu sendiri dalam mensubsidi mahasiswa lainnya. Dalam hal ini Bahana telah melakukan penyebaran angket untuk mengetahui pendapat mahasiswa di Universitas Riau mengenai penerapan UKT. Banyak keluhan yang disampaikan tertulis dalam angket tersebut. Salah satunya menuliskan bahwa kuliah di Universitas Riau ini dipertanyakan. Apakah ini Universitas Negeri ataukah Swasta. Hal ini karena tingginya biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh para mahasiswa tersebut. Para orangtuapun mengeluhkan persoalan ini. Bagi mereka penerapan sistem baru ini seperti buah simalakama. Mereka ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang bagus, namun biaya yang dikeluarkan sampai membuat kantong jebol. Tak dikuliahkan anak, sayang. Dikuliahkan keluarga tak makan.

N

ASI SUDAH JADI BUBUR, PERATURAN HARUS DITERAPKAN. Selanjutnya kelembagaan mahasiswa tinggal kawal, apakah golongan yang ditempatkan sesuai dengan kemampuan ekonomi mahasiswa? Apakah benarbenar tidak ada pungutan nantinya? Dan janji terakhir, apakah sisa uang yang dibayar sesuai golongan 5 sudah dikembalikan pada mahasiswa yang ternyata berada di bawah golongan 5 itu?#

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

7


LAPORAN UTAMA Ribut sana-sini menyoal pemberlakuan Sistem Uang Kuliah Tunggal pertama kali di Universitas Riau. Tuntutan transparansi perhitungan biaya dan tepat sasarannya kelompok digulirkan. Lancarkah sistem ini berjalan di UR? Oleh Suryadi

P

AGI YANG TENANG BERANJAK PERGI. Satu mobil pickup bergerak perlahan memuat sejumlah mahasiswa. Satu diantaranya berteriak, semakin lantang dengan bantuan pengeras suara. Dibelakang mobil, mahasiswa lainnya pun berbondong ikuti arah pergerakan mobil. Pagi tenang itu jelas beranjak dengan cepat. Mahasiswa-mahasiswa terus berteriak, berseru dengan lantang. Tak ubahnya suporter bola berseru riuh ketika jagoannya berhasil membobol gawang lawan. Hari itu, 8 Oktober 2013, mahasiswa dari berbagai

kelembagaan di Universitas Riau mendatangi rektorat Universitas Riau atau UR. Mereka melakukan aksi terkait penerapan Uang Kuliah Tunggal atau disingkat UKT di Universitas Riau. Sistem pembayaran yang baru pertama kali diterapkan di Universitas Riau. Halaman rektorat dipadati berbagai atribut kelembagaan yang turut aksi. Dalam aksi ini, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan yang harus dipenuhi oleh pihak universitas. “Kita akan bahas lagi UKT dan akan pelajari lagi tuntutan mahasiswa ini,� kata Yanuar, Pembantu Rektor atau PR II UR. Ia berada diatas mobil pickup untuk menanggapi tuntuan mahasiswa. Ia menambahkan, tuntutan mahasiswa ini tidak bisa serta merta disepakati di sini. Harus dibahas lagi dengan seluruh fakutas. Mahasiswa terus berteriak di tengah-tengah Yanuar yang sedang bicara, menunjukkan sikap tidak percaya pada pihak kampus. Dari sejumlah mahasiswa yang ikut aksi hanya mahasiswa dari perwakilan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, disingkat FISIP, yang tidak hadir, termasuk kelembagaannya menolak terlibat aksi. Kata Ari,

Wakil Gubernur FISIP, mereka punya cara lain mengadvokasi persoalan ini. Lantas, bagaimanakah realisasi dari tuntutan mahasiswa tersebut kini? Dikabulkan atau hanya untuk dipertimbangkan? RIBUT-RIBUT SOAL UKT BERMULA DARI UNDANGAN DADAKAN PIHAK REKTORAT PADA 18 MEI 2013. Undangan ditujukan ke kelembagaan mahasiswa di UR. Dari tingkat universitas hingga fakultas. Pukul dua siang waktu yang ditentukan untuk berkumpul di ruang Dewan Pengurus Harian atau DPH rektorat lantai empat. Maksud pertemuan mendadak disampaikan setelah Rahmat, PR III didampingi Zulfikar Djauhari, Kepala Bidang Kerjasama Pengembangan atau BKP membuka pertemuan. Ini terkait kebijakan yang ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait biaya kuliah di perguruan tinggi negeri. Dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 55 tahun 2013. Dalam pertimbangannya

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mendengarkan penjelasan soal UKT di Auditorium Sutan Balia. Foto: Dok BM

8

BAHANA MAHASISWA Edisi Februari - Maret 2014


LAPORAN UTAMA

Jadi total BKT dikurangi dengan subsidi pemerintah— dalam bentuk dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri atau BOPTN— menghasilkan total UKT yang harus dibayar mahasiswa. disampaikan perlu ditentukannya biaya kuliah tunggal di perguruan tinggi sesuai dengan jenis program studi dan kemahalan wilayah. Selain itu pada poin selanjutnya, penetapan uang kuliah tunggal ini bertujuan untuk meringankan beban mahasiswa dalam membayar biaya pendidikan. Peraturan ini memuat delapan pasal penjelasan soal Biaya Kuliah Tunggal atau BKT dan UKT. Dalam pasal pertama dinyatakan BKT ialah biaya total terkait operasional dari tiap mahasiswa per semesternya. Biaya inilah yang dijadikan dasar untuk perhitungan UKT. Jadi total BKT dikurangi dengan subsidi pemerintah— dalam bentuk dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri atau BOPTN— menghasilkan total UKT yang harus dibayar mahasiswa. Dengan catatan UKT disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa. Dalam lampiran dijelaskan prinsip menerapkan UKT agar biaya kuliah mahasiswa semakin kecil. Selain itu akan terjadi subsidi silang, dimana si kaya mensubsidi yang kurang mampu. Untuk masalah kemampuan ekonomi, menteri dalam peraturannya pada pasal 2 jelaskan akan ada pembagian kelompok sesuai dengan kemampuan ekonomi. Ditetapkan ada 5 kelompok.

Untuk kelompok satu dan dua, menteri menetapkan dalam pasal 4, ditempati oleh paling sedikit lima persen dari jumlah mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi. Dengan diterapkannya sistem UKT ini, perguruan tinggi harus sepakat untuk tidak akan memungut uang pangkal ataupun pungutan lain selama proses pendidikan berlangsung. Ini ada di pasal 5 peraturan tersebut. Pungutan bisa dalam bentuk uang praktikum, studi banding, kegiatan ekstrakulikuler, kuliah kerja nyata, yudisium, wisuda ataupun uang administrasi lainnya. Pada prinsipnya, rumusan UKT adalah perhitungan total seluruh biaya yang mempengaruhi proses pembelajaran di kampus. Mulai dari biaya langsung seperti gaji, tunjangan, bahan habis pakai pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran. Hingga biaya tak langsung seperti honor dosen dan non dosen, sarana dan prasarana non pembelajaran, pemeliharaan, penelitian, ekstra kulikuler mahasiswa dan

Setelah mengurangkan dengan subsidi pemerintah, diperolehlah nominal total yang dikeluarkan mahasiswa dari awal hingga menyelesaikan pendidikan. Nantinya total biaya ini akan dibagikan sesuai kelompok UKT yang kuotanya ditetapkan masing-masing kampus. Total biaya dari tiap kelompok diperoleh lalu dibagi delapan. Itulah besaran UKT yang harus dibayar mahasiswa persemeternya. Di UR, untuk golongan satu dan dua memiliki besaran yang sama untuk masing-masing jurusan. Masing-masing Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Ini telah ditetapkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, sesuai dengan pasal 4 ayat 1 dan 2 Permendikbud tentang UKT tahun 2013. Sedangkan tiga golongan lainnya sesuai dengan perhitungan program studi. “MAHASISWA TAK PERLU LAGI MENGELUARKAN UANG SAAT PERKULIAHAN SEDANG BERJALAN,” ujar Zulfikar ketika mensosialisasikan perihal UKT kepada kelembagaan yang hadir di DPH siang itu. Namun kelembagaan tak serta merta menerima penjelasan Zulfikar. Zulfa Hendri, Menteri Hukum dan Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM UR kala itu menanggapi penerapan sistem ini terlalu mendadak. “Tidak ada pembahasan terlebih dahulu dengan mahasiswa sebelum disepakati,” ujarnya.

pengembangan pendidikan. Total biaya langsung ditambahkan biaya tak langsung inilah yang jadi BKT. Untuk memperoleh UKT, BKT tadi dikurangi dengan BOPTN, biaya rutin dari pemerintah dan dana masyarakat. Dimana masing-masing kampus memiliki besaran BOPTN berbeda. Ini tergantung akreditasi serta biaya operasional masing-masing perguruan tinggi. Untuk UR sendiri, biaya BOPTN yang diterima sekitar Rp 31 miliar

Kesan mendadak tersebut sesuai dengan yang disampaikan Zulfikar, pasalnya pada hari itu juga, empat jam sebelum pertemuan bersama kelembagaan, Yanuar, PR II UR tengah menandatangani kesepakatan penerapan UKT di Jakarta. Barulah siang harinya keputusan ini dishare ke mahasiswa melalui kelembagaan. Zulfa kembali mengkritisi soal penerapan UKT, pasalnya ia meragukan sistem perhitungan ditiap jurusan. “Kami minta transparansi anggaran biaya kuliah di masing-masing jurusan

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

9


LAPORAN UTAMA dulu,” ujarnya.

usulan tersebut.

Hal lain yang mengganggu ialah soal penentuan kelompok UKT. Diawal mahasiswa baru masuk, mereka akan membayar biaya kuliah dengan besaran untuk kelompok 5. Setelah diadakan penyeleksian kelompok UKT beserta melengkapi persyaratan, barulah mahasiswa dikelompokkan sesuai kemampuan. Bagi yang berada tidak dikelompok 5, uang yang dibayar diawal akan dikembalikan. “Apakah mahasiswa nanti akan benarbenar jujur dalam melengkapi persyaratannya?” tanya Suryadi, reporter Bahana Mahasiswa.

Namun untuk persoalan transparansi perhitungan masih belum menemukan titik terang. BEM UR melalui Mentri Advokasi meminta informasi ini sesuai mekanisme berdasarkan UndangUndang Keterbukaan Informasi Publik nomor 14 tahun 2008, karena dokumen itu terkait untuk publik dan publik wajib mengetahui. “Pihak rektorat dalam hal ini Pembantu Rektor II beralasan bahwa BEM tidak badan hukum dan tidak wajib memperoleh dokumen tersebut,” jelas Zulfa dengan heran.

Diskusi berakhir, kelembagaan keluar ruangan dengan sikap tidak sepakat terhadap penerapan sistem ini. Masih dibulan Mei, dua hari setelah pertemuan ini, Rektor keluarkan Surat Keputusan nomor 2715/UN/ 19/TU/2013 soal penerapan UKT, lalu dikukuhkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 55/2013. Peraturan ini keluar tiga hari kemudian. Pada 27 Mei Rektor umumkan besaran uang kuliah dengan nomor pengumuman 2862/UN19/AK/2013. Sosialisai soal penerapan sistem ini gencar dilakukan. Zulfikar memenuhi panggilan dari kelembagaan yang meminta penjelasan terkait UKT. Salah satunya diawal Juni saat BEM UR membuat diskusi di DPH Fakultas Teknik. Tak ada perbedaan dengan yang disampaikan di DPH rektorat. Tuntutan dari mahasiswapun tetap sama. Soal

meminta kelompok satu dan dua benar-benar diisi oleh mahasiswa yang kurang mampu, untuk mahasiswa penerima Bidikmisi menempati kelompok tiga serta kelompok empat dan lima disesuaikan dengan keadaan. transaparansi perhitungan biaya. “Kalau mau tahu biaya-biaya mahasiswa ditiap jurusan, tanya saja langsung ke jurusan masingmasing,” ujarnya. Dari pertemuan di DPH Fakultas Teknik, diperoleh kesimpulan yang disampaikan Zulfa tiga hari kemudian kepada Yanuar. Diantaranya BEM lewat Menteri Advokasi akan mengawal penerapan UKT agar tepat sasaran, meminta kelompok satu dan dua benar-benar diisi oleh mahasiswa yang kurang mampu, untuk mahasiswa penerima Bidikmisi menempati kelompok tiga serta kelompok empat dan lima disesuaikan dengan keadaan. Yanuar menerima

Padahal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik itu tidak menjelaskan seperti itu. Siapa pun berhak memperoleh informasi, selagi informasi tersebut berhubungan dengan orang yang membutuhkan. BEM UR Tak hanya meminta transparansi biaya uang kuliah ke pihak rektorat, permintaan juga diajukan langsung ke fakultas. Beberapa fakultas yang dimintai, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Perikanan, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik. Hasilnya juga tidak ada, fakultas yang dimintai tidak memberikan jawaban. Suparmi, Pembantu Dekan atau PD II Faperika sampaikan di ruangannya, hanya PR II, Pak Zulfikar dan Ketua Forum PD II, Arisman yang juga PD II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang berhak bicara UKT. Kru Bahana Mahasiswa juga mencoba meminta rincian biaya

Sosialiasi penerapan UKT yang ditaja oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UR di Gedung Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat. Foto: Dok Bahana

MAHASISWA 10 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014


LAPORAN UTAMA Wawancara untuk tahapan verifikasi kebenaran data yang dilakukan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Foto: Dok Bahana

kuliah mahasiswa selama delapan semester, karena dasar dari penghitungan ini adalah yang menjadi biaya wajib mahasiswa selama kuliah yang dibagi delapan semester. Fakultas Perikanan yang dikunjungi juga tidak mau memberikan rincian tersebut. “Kami dari Forum PD II se universitas sudah sepakat tidak akan menjelaskan mengenai UKT ini pada siapa pun,” tegas Suparmi. Kenapa sulit sekali untuk memperoleh informasi? Padahal Pembantu Dekan II yang paling mengetahui informasi terkait itu. KETIDAKTRANSPARANNYA PIHAK UNIVERSITAS BERBAGAI CARA ADVOKASI TERUS DILAKUKAN. Mulai dari pertemuan kelembagaan rutin sampai berdiskusi dengan pihak rektorat. Menteri Advokasi buat gagasan untuk mengirim pesan singkat pada Rektor, Pembantu Rektor II sampai pada anggota senat Universitas. Tujuannya menyampaikan penolakan diterapannya UKT. Perintah ini disampaikan pada semua kelembagaan sampai pada mahasiswa baru. Tidak hanya pesan lewat elektronik, tapi pesan juga disampaikan lewat surat. Sekitar 1450 surat terkumpul dan diantar ke Yanuar, surat dikemas dalam lima kotak. Sembari mengantarkan surat langsung pada Yanuar, pertemuan itu juga mendesak segera diberikan transparansi mengenai UKT ini. Janji hanya tinggal janji dari Yanuar, apa yang diminta kelembagaan tak kunjung diberikan. Pada 7 Oktober ketika sedang rapat dengan seluruh kelembagaan, BEM UR kedatangan surat dari rektorat untuk mengajak bertemu membahas UKT ini.

Surat ini juga ditujukan pada seluruh kelembagaan. Kelembagaan yang sedang menghadiri pertemuan di sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa itu sepakat tidak menanggapi surat tersebut. “Surat itu datang ketika BEM sedang melakukan rapat persiapan aksi untuk esoknya,” ujar Zulfa. Buntutnya mereka memilih melakukan aksi di depan gedung rektorat tempat berkumpulnya pejabat-pejabat rektorat. Aksi ini diikuti mahasiswa dari semua fakultas yang ada di Universitas Riau. Pagi itu sekretariat BEM jadi titik kumpul aksi dan bersama-sama menuju gedung rektorat. Dalam aksi ini ada empat tuntutan yang disampaikan. Diantaranya terkait kuota ditiap kelompok UKT. Mereka meminta kelompok 1 dan 2 kuotanya ditambah menjadi 20 persen, dimana sebelumnya hanya 5 persen. Untuk kelompok 3 dinaikkan dari sebelumnya 2,5 menjadi 10 persen. Kuota yang sama, 10 persen, diharapkan juga ditempati mahasiswa kelompok 4. Sisanya 40 persen untuk kelompok 5, berkurang 50 persen dari yang sebelumnya 85 persen. Untuk golongan 1 dan 2, Universitas Riau tidak mau menambah jumlah kuota meski sudah dituntut oleh kelembagaan mahasiswa. Yanuar, Pembantu Rektor II hanya berkata, ini sudah ketentuan Dikti mengenai kuota. Padahal dalam Permendikbud nomor 55 tahun 2013 dijelaskan bahwa golongan 1 dan 2 paling sedikit 5 persen dari

jumlah mahasiswa yang diterima di PTN. Ini dijelaskan pada pasal 4 ayat 1 ,2. Artinya golongan 1 dan 2 boleh melebihi kuota 5 persen. Selain itu, persoalan lain muncul ketika nama-nama kelompok UKT mahasiswa ditetapkan oleh Rektor UR. Pasalnya, ada mahasiswa yang kemampuan finansialnya tak mencukupi berada di kelompok 5. Pengaduan ke kelembagaan mahasiswapun terus mengalir, gelombang protes bermunculan. Akhirnya Rektor mengeluarkan surat keputusan meminta fakultas untuk memverifikasi ulang data mahasiswa dan menempatkannya pada kelompok yang sesuai. Jelang Ujian Akhir Semester akan usai, keriuhan kembali terjadi. Pembayaran uang semester genap dimulai awal Januari hingga akhir bulan tersebut. Mahasiswa bingung harus membayar dengan besaran kelompok yang mana. Pasalnya hasil verifikasi ulang belum keluar. “Bagi mahasiswa baru waktu pembayaran SPP nya diperpanjang, jika sudah ada yang bayar duluan dan ternyata dia berada di kelompok yang lebih rendah dari yang dibayar, pihak kampus akan kembalikan kelebihan pembayarannya,” terang Zulfikar. Dilema dialami mahasiswa angkatan 2013, salah satunya Nuraini, mahasiswa Pariwisata Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ia bertanya lewat pesan pendek pada kru Bahana Mahasiswa. “Bagaimana golongan UKT kami bang? Kami bayar golongan yang keberapa?”#Yaya

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

11


LAPORAN UTAMA

Penerapan sistem UKT menuai banyak kritik. Kelembagaan mahasiswa dari berbagai fakultas di UR melakukan penolakan soal keputusan kelompok UKT mahasiswa. Oleh Jeffri Novrizal Torade Sianturi

Mahasiswa Fakultas Perikanan aksi meminta kejelasan soal UKT pada Januari 2014 dihadidri Pembantu Dekan III, Syarifuddin. Foto: Dok BM

G

EDUNG FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU PAGI ITU RAMAI. Tidak seperti biasa, mahasiswa berkerumun disekitar papan pengumuman samping ruang komputerisasi. Seluruh perhatian mereka tersedot ke lembaran kertas yang dipampang. Mencari nama masing-masing dihamparan beratus-ratus kata. Yang sudah menemukan namanya keluar dari kerumunan. Ada berwajah datar, bingung bahkan menangis. “Waktu itu banyak yang perempuan langsung nangis keluar dari kerumunan setelah tahu namanya ada di kelompok 5,” ujar Yusuf Reyhan, Ketua Bidang Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi atau BEM FE ini. Ia mendengar mahasiswi tersebut mengatakan dengan kondisi seperti ini sepertinya takkan kuliah lagi.

MAHASISWA 12 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

Tak senang dengan apa yang tertulis dilembaran itu, mahasiswa langsung menariknya dari papan pengumuman dan merobeknya. “Datang kesana sekitar setengah sembilan, kertas-kertasnya sudah berserakan di lantai,” ujar Qowiy Alhaq, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi atau HMJ IE ini.

dimulai begitu sistem ini diberlakukan. Aksi besar diawali oleh BEM UR bersama kelembagaan meminta transparansi perhitungan biaya. Namun permintaan tak terealisasi.(Baca: Sibuk Perkara UKT)

Melihat kondisi tersebut, kelembagaan di FE segera ambil sikap.

Gelombang penolakan terus berlanjut sejak dikeluarkannya kelompok UKT mahasiswa di fakultas. Kelembagaan mahasiswa segera bergerak mengadvokasi masalah ini dan memnta penjelasan ke pihak dekanat.

PEMBERLAKUAN UANG KULIAH TUNGGAL DI UR TAK MULUS. Sistem ini bukanlah hal baru bagi Perguruan Tinggi Negeri atau PTN di Indonesia. Namun pertama kali berlaku di UR, tetap membuat mahasiswa sontak kaget. Gelombang penolakan

Awal Desember 2013, FE yang memulai aksi. Satu hari sebelumnya pengumuman kelompok UKT telah dilansir. Persoalan yang dituntut ialah ditiadakannya kelompok 1 dan 2 di fakultas pencetak ekonom ini. Yang ada hanya kelompok tiga


LAPORAN UTAMA hingga lima. Padahal diwaktu sosialisasi, pihak rektorat diwakili Zulfikar Djauhari, Kepala Bidang Kerjasama Pengembangan, menyatakan ada lima kelompok UKT. Setelah diumumkannya kelompok UKT di FE, menemui pihak dekanat untuk meminta penjelasan jadi tindakan segera yang dilakukan. Salah satunya Yusuf. Ia segera menemui Vince, Pembantu Dekan atau PD II FE, dan menanyakan ketiadaan kelompok 1 dan 2. “Ada 900 data yang masuk sama kita, semua sama datanya. Makanya kita buat kesepakatan mulai dari golongan 3,” ucap Yusuf meniru perkataan Vince. Hal serupa juga yang dikatakan Syapsan PD III FE. “Masa dari 900 data yang dikumpul sama semua, jadi nampak kontrol dari fakultas selama ini tidak ada,” keluh Yusuf. Lain halnya dengan Qowiy, ia bergerak ke rektorat untuk menemui Yanuar, Pembantu Rektor atau PR II UR. minta penjelasan perbedaan di FE. Sayang, usahanya tak berhasil, Yanuar tak ada di tempat. Kembali dari rektorat, ia beserta ketua HMJ dan kelembagaan lainnya di FE segera membahas tindakan menyikapi persoalan ini. Disepakati Senin, 2 Desember mereka adakan aksi. Dihari yang ditentukan, massa dari jurusan Ilmu Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi berkumpul didepan gedung C FE. Berbagai atribut aksi dibuat. Ada

“Ada 900 data yang masuk sama kita, semua sama datanya. Makanya kita buat kesepakatan mulai dari golongan 3,” ucap Yusuf meniru perkataan Vince.

yang menulis keluhan di karton yang nantinya akan mereka perlihatkan ke pihak dekanat dan rektorat. Ada pula ikat kepala dan spanduk bekas. Kesemuanya ditulisi tuntutan dan keluhan mahasiswa. Hari dimana aksi berlangsung, seluruh mahasiswa FE diminta terlibat. Akhirnya dilakukan sweeping ke ruang perkuliahan. Ditemukan di ruangan C7 ada proses perkuliahan. Sekitar 20 perwakilan dari massa meminta mahasiswa diizinkan keluar, namun tak ada respon. Massa lain berdatangan hingga mencapai 100 orang dan berdiri didepan pintu. “Ayo hitung sampai 50, kalau tidak keluar, kami masuk kedalam,” ujar salah satu mahasiswa. Akhirnya mahasiswa diizinkan keluar. Massa terkumpul, sekitar pukul 11.00 mulai bergerak ke depan dekanat FE. Dengan mobil pickup yang mengangkut sound system teriakan-teriakan lantang mulai dilancarkan. Massa yang ikut serta di belakang mobil ikut berseru. “Fekonnya satu, UKTnya mahal.” Sampai didepan dekanat, mereka segera berorasi. Pegawai dekanat ikut memperhatikan dari dalam. Suara teriakan diluar menggema di ruangan tersebut. Vince dan Syapsan keluar dan menanggapi aksi mahasiswa. Tuntutan mereka ialah meminta transparansi anggaran serta penjelasan ketiadaannya kelompok 1 dan 2. Padahal melihat keadaan mahasiswa, seharusnya ada yang memenuhi kriteria kelompok 1 dan 2. Terkait tuntutan massa, Vince menyatakan memang ada seharusnya mahasiswa di kelompok 1 dan 2. Ini berdasarkan laporan dari Ketua HMJ. Ia sampaikan keputusan ini akan dipertimbangkan lagi, dan meminta kerjasama dengan pihak HMJ untuk evaluasi data UKT di lapangan. Vince mengakui kominikasinya dengan kelembagaan kurang perihal UKT ini. “Waktunya mendesak, jadi tak sempat komunikasi,” ujarnya. Ketika diwawancarai kru Bahana Mahasiswa, Suryadi dan Jeffri Vince menjawab bahwa itu

sudah ditetapkan. “Nggak usah ditanyakan lagi,” jawabnya enteng sambil tertawa kecil. Saat ditanyai apa dasar keputusan itu, hasil rapat pimpinan fakultas jadi jawaban. “Kita sepakat mulai dari kelompok 3.” Ia jelaskan bahwa penetapan dimulai dari golongan 3 adalah keputusan semua Pembantu Dekan melihat data UKT yang diterima. “Pak Dekan ketika itu sedang sakit, jadi pengambilan keputusan ini diambil alih,” jelasnya Setelah mendengar penjelasan Vince, massa merasa tak puas dan melanjutkan aksi ke rektorat. Yanuar menyambut aksi mahasiswa ini dan menyatakan setelah dilakukan komunikasi dengan pihak fakultas akan dilakukan perubahan. “Kita minta kerjasama dengan kelembagaan mahasiswa buat evaluasi. Dan segera di revisi surat keputusan Rektor,” ujar Yanuar. Janji tinggal janji, pernyataan Vince dan Yanuar untuk melibatkan ketua kelembagaan evaluasi data mahasiswa di lapangan tak terealisasi. Qowiy menyayangkan hal ini. “Padahal janjinya kemarin begitu.” BERSELANG TIGA HARI SETELAH AKSI MAHASISWA FE, mahasiswa Fakultas Perikanan atau Faperika menyusul. Aksi dilakukan didepan parkiran motor Faperika. Tuntutannya, adanya transparansi anggaran dan tepat sasaran kelompok UKT. Aksi mereka ditanggapi Bunari, Dekan Faperika. Setiap pertanyaan yang diajukan dijawab oleh pimpinan fakultas ini. “Kalau mau membicarakan rincian. Kita perlu komunikasi dengan Rektorat. Kita belum bisa tentukan kapan waktunya,” jelas Bunari didampingi semua Pembantu Dekan. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mahasiswa angkatan 2013 menulis pernyataan keberatan soal kelompok UKT yang ditetapkan. Salah satu tuntutannya menyoal besaran kelompok 1 dan 2 yang 5%, agar

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

13


LAPORAN UTAMA dapat diperbesar lagi. Rata-rata yang membuat surat pernyataan adalah mahasiswa gologan 4 dan 5. Kumpulan pernyataan langsung ditangani oleh BEM FKIP dan disampaikan ke pimpinan fakultas agar segera ditanggapi. Fakultas Teknik lakukan hal unik soal keberatan mahasiswa diberlakukannya UKT. Disana mahasiswa membuat poster dengan gambar tokoh kesukaan

lengkap dengan kata-kata penolakan UKT. Dari pantauan Jeffri, kru Bahana, gambar kreasi mahasiswa langsung ditempel disetiap majalah dinding yang ada di gedung dekanat. Di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, BEM mengakomodir diadakannya diskusi langsung dengan mahasiswa 2013 yang dibagi tiap jurusan. Mereka ditanyain di ruangan audiotorium, mengenai

kelengkapan dan keabsahan data yang dikumpul di dekanat sebelum pengelompokan UKT keluar. Mahasiswa tetap pada permintaan agar adanya transparansi anggaran. Seperti yang diungkapkan Wanda Koordinator aksi massa Faperika, “Kita tuntut transparansi anggaran tiap Kelompok UKT. Jangan seperti beli kucing dalam karung. Tak tahu untuk apa yang dibayar selama ini.”#

UNIVERSITAS NEGERI ATAU SWASTA Oleh Trinata Pardede

D

asar hukum pelaksanaan Uang Kuliah Tunggal atau UKT ialah UU No.12 Tahun 2012 Pasal 88 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi. Kemudian dikukuhkan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 55 tahun 2013. Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan ini menuai pro dan kontra dari mahasiswa. Bahana adakan jajak pendapat berupa kusioner. Di tiap fakultas khusus mahasiswa 2013. Sebanyak 390 lembar dibagikan dan kertas yang kembali sekitar 305 lembar. Dari jajak pendapat soal pengetahuan mahasiswa soal UKT beserta sistemnya, sekitar 11,1 persen menjawab sangat tahu, lebih dari setengah, yaitu 74,09 persen katakan tahu dan sisanya tidak tahu. Mengenai golongan yang dikehendaki, sebanyak 36,06 persen memilih

MAHASISWA 14 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

golongan satu, sekitar 45,2 persen merasa kemampuannya sampai digolongan 2, sedangkan 16,3 persen ingin berada ditengah-tengah. Untuk golongan 4 hanya 2,2 persen mahasiswa sedangkan golongan dengan biaya termahal tak ada satupun memilih. Implementasi sistem UKT di UR, ternyata ada 5,5 persen mahasiswa yang menyatakan sangat setuju dan sepertiganya, yaitu 32,1 persen menyatakan setuju. Sedangkan lebih dari setengah responden, yaitu 54,09 persen menyatakan tidak setuju. Sisanya abstain, tak menjawab. Terkait alasan setuju, dengan adanya golongan-golongan akan membantu mahasiswa yang kurang mampu sehingga dapat membayar sesuai pendapatan orang tua. Namun, mereka juga mengharapkan pelaksanaannya harus selektif dan transparan. Suara mereka yang tidak setuju juga mempunyai alasan bahwa

penggolongan di sistem UKT akan memunculkan jarak yang sangat besar diantara golongan paling tinggi dengan terendah. Hal ini akan ciptakan kesenjangan dan akan sulit dikendalikan. Terlalu membebani mahasiswa dan belum tentu pembagian golongan sesuai dengan pendapatan orang tua. Ada juga yang memilih mekanisme tahun sebelumnya, berat diawal tetapi murah tiap bayar per semester, agar beban orang tua tidak terlalu banyak. “Data yang diberikan mahasiswa kekampus tidak sepenuhnya benar. Dan itu tidak bisa jadi acuan untuk penggolongan UKT,” tulis salah satu responden dari Fakultas Kedokteran. “Kuliah di universitas negeri untuk irit biaya kuliah dan pengeluaran, namun bila seperti ini ceritanya kami akan keluar. Masa’ uang kuliah di universitas negeri lebih besar dari pada swasta?” tulis salah satu responden.#


Sepenggal Kisah Diberlakukannya UKT

LAPORAN UTAMA

Aksi advokasi terus berlangsung meminta transparansi dan tepat sasarannya kelompok UKT. Bagaimana mahasiswa sendiri menyikapi persoalan ini. Oleh Hamzah

T

ELEPON SELULER SRI BERGETAR. Ada panggilan mauk. Dari layar terlihat, telepon dari orangtuanya. Tak banyak cerita, ia segera diminta kembali ke kampung halaman di Tinada, Pak-pak Barat, Sumatera Utara. Ini terjadi beberapa hari setelah orang tua Sri mengetahui bahwa anaknya masuk kelompok 5 UKT di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau FMIPA UR. Sri Wulansari Simanullang kuliah di Jurusan Kimia 2013. Ia berhasil masuk di Universitas Riau melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri undangan disingkat SNMPTN. Sri bukan anak tunggal, ia empat bersaudara. Kakaknya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Medan semester delapan. Adiknya di bangku Sekolah Menengah Atas dan bungsu masih balita. Permintaan untuk segera kembali ke kampung halaman berasal dari ayahnya. Bungaran Simanullang, merasa tak mampu membiayai kuliah anaknya. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani padi. Ladangnya pun tak begitu luas, hanya 0,2 hektar. Selain berladang, kadang ada juga panggilan kerja sebagai tukang bangunan. “Tapi ini jarang sekali terjadi,” cerita Sri. Sementara sang ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bekerja di ladang membantu suami. Penghasilan orang tua Sri tidak tetap, “Biasanyanya sebulan paling besar satu setengah juta.” Beruntung kakaknya bekerja sambil kuliah, sehingga mengurangi beban orang tua. Sedangkan Sri selama ini dibantu oleh saudara ayahnya. “Kakak ku mengalah jika dikirim uang, katanya aku lebih butuh,” keluh Sri. Untuk bayar uang semester genap kali ini ia harus menguras tabungan keluarga dan meminta bantuan kerabat.

“Aku harap dapat kelompok UKT yang sewajarnya dan sesuai dengan keadaan,” harap Sri. Ia menolak kembali ke kampung halaman dan menanti hasil verifikasi. Ia sangat ingin kuliah. Ini hanya salah satu dari beberapa mahasiswa yang masuk golongan lima. Beda lagi cerita Fittri Handayani, mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Ia ajak ayahnya ikut pertemuan bersama orangtua mahasiswa di Lantai empat Rektorat UR pada 17 Februari. Ghozali, ayah Fittri berangkat dari Air Molek, Indragiri Hulu pakai travel dua hari sebelum acara. Ia cerita, selain biayai Fittri, masih ada lagi anaknya yang masih kuliah di Universitas Islam Riau. Ghozali petani karet, luas tanahnya kurang dari satu hektar. Setengah ditanami karet, setengahnya lagi untuk bangunan rumah. Istrinya seorang buruh pembuat batu bata disekitar rumahnya. “Saya merasa tak mampu jika kelompok UKT anak saya tak diturunkan,” ujar Ghozali. Ghozali akan memindahkan Fittri jika tak mampu bayar beban UKT tersebut. “ Tapi serba salah, orang tua mau pindahkan, tapi anak tak setuju ya nggak bisa juga,” ujarnya. Dilema melanda Ghozali, anak ingin kuliah, namun biaya tak mencukupi. Lain cerita Mulia Rahayu, ia juga Jurusan Kimia di FMIPA. Sejak pertama pengumuman golongan

UKT, dia masuk golongan lima, hingga verifikasi data kedua Ayu masih golongan lima. Ayah ayu, seorang montir jam dengan penghasilan berkisar antara satu sampai 1,7 juta rupiah perbulan. Ibunya bekerja dengan saudara berjualan lontong disekitar rumah Jalan HangTuah, Pekanbaru. Dia tak kuliah sendiri, ada kakaknya yang juga kuliah sambil kerja. “Berada di Kelompok 5 UKT tentu memberatkan orangtua saya,” keluhnya. Dua hari setelah adanya pertemuan antara pihak rektorat bersama orang tua mahasiswa yang keberatan tentang hasil golongan UKT, Ayu tahu ada pendaftaran dan verifikasi. Ia coba lengkapi semua persyaratan yang diajukan untuk ikut verifikasi ketiga. Ada delapan poin persyaratan bagi mahasiswa. Melampirkan keterangan pekerjaan dan penghasilan kotor orang tua, jumlah anak yang ditanggung, jumlah tagihan Pajak Bumi dan Bangunan, air dan kendaraan, foto rumah, surat keterangan tak mampu, surat penerima beras miskin dan surat pernyataan dari tenaga medis bahwa anak dan pemohon bukan perokok aktif. Semua persyaratan tersebut harus diserahkan keruangan Pembantu Rektor II pada akhir Februari. Sama dengan Sri, ia menanti hasil verifikasi data. Namun kata anak ke dua dari tiga bersaudara ini, jika nantinya ia tetap golongan lima, dia akan berhenti sementara dan kuliah di perguruan swasta. “Kata orangtua saya berat kali, padahal negri,” kata Ayu menirukan tanggapan orangtuanya.

“Aku harap dapat Kini, Sri dapat bersenang hati. kelompok UKT Setelah ia mengurusi seluruh untuk verifikasi data, yang sewajarnya dan persyaratan ia dipindahkan ke kelompok 3. Namun cerita bahagia tak dimiliki sesuai dengan Ayu. Ia tetap di golongan 5 dan keadaan,” harap Sri. memutuskan untuk berhenti. # BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

15


SEMPENA

P

ANGGUNG KOSONG BERLATAR KAIN HITAM. Cahaya lampu tak begitu terang. Berjalanlah seorang pria dari balik kain hitam. Baju melayu bercorak kuning ia kenakan. Songket khas melayu melilit pinggang hingga lutut. Peci hitam dengan manik-manik kecil bersinar diterangi lampu panggung terpasang dikepala. Sambil melenggang ke sisi panggung, terlihat ditangannya memegang sebuah rebab—alat musik serupa biola. Dari sisi penonton, terlihat ia duduk di sisi kiri dengan besila kaki. Rebab diletakkan di bahu kiri, jari-jari bersiap mengatur kunci nada, tangan kanan memegang penggesek rebab. Tenang, tangan kanan mendekatkan penggesek ke rebab. Tak berapa lama mengalunlah musik dari alat gesek tersebut. Setiap pengeras suara di ruangan menghantarkan alunan musik ke pendengaran penonton. Musik terus mengalun, kemudian terlihat seorang perempuan

bersanggul berjalan perlahan ketengah panggung. Ditangannya terdapat secarik kertas. Sesaat kemudian ia sudah melalak, melantunkan tiap bait syair syahdu diiringi alunan rebab. Mendayu dan lembut. Nada syair yang digunakan tak sembarang, tiap jenis nada bernama. “Ada nada Selendang Delima, Surat Kapal, Burung Tiung dan Ahai,” cerita sang gadis pembaca syair, Atta. Ia sering melantunkan syair dan kerap tampil bersama sanggar seni tempat ia bergabung.

Rahman, pelopor kegiatan yang berlangsung dari tahun 2000 ini ketika ia jadi Ketua P2KK. Sungai yang dilalui diantaranya Sungai Rokan, Kuantan, Kampar dan Indragiri. Dari menyusuri sungai inilah satu persatu khasanah Riau ditemukan. Bak batang yang terendam, dengan ekspedisi ini batang-batang tersebut mulai kembali diangkat kepermukaan.Elmustian menjelaskan lahirnya tradisi tak terlepas dari sungai, karena banyaknya masyarakat dahulu menetap dipinggir sungai. Maka dilakukanlah penjelajahan menemukan tradisi yang hilang.

MUHIBBAH SENI, begitulah namanya. Dibentuk sebagai wadah untuk menampilkan secara audio dan visual tradisi khas melayu pada masyarakat. Bermula dari ekspedisi kebudayaan melayu mengarungi sungai besar di Riau oleh Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau atau P2KK UR.

Ia menyesalkan bahwa tradisi asli masyarakat melayu mulai dilupakan. “Pelakon seni tradisional sudah banyak yang meninggal,” ujarnya. Baginya, jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, kesenian tradisional akan tergerus modernisasi. “Kondisi ini tidak bisa dibiarkan,” tambah Elmustian

“Tradisi di Riau bak batang terendam,” ujar Elmustian

Oleh Suryadi

MAHASISWA 16 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

Awalnya kesemua tradisi yang ditemukan dirangkum dalam


SEMPENA

Para anggota Sanggar Seni Muhibbah Seni yang tampil di tiga negara. Foto: Dok Muhibbah Seni. buku berupa ensiklopedia kebudayaan melayu Riau. “Dibuku saja tak cukup,” keluh Elmustian. Ia berpikir kesenian ini harus ditampilkan ke khalayak ramai dan semua bisa menikmatinya. Dari diskusi sanasini akhirnya disepakatilah untuk membentuk sanggar seni ini.

Selain seni lisan, juga ada penampilan kesenian beladiri seperti Silat Selendang, Silat Tiga Bulan dan Silat Thariqat khas Rokan. Seni tari tak ketinggalan. Mulai dari Tari Zapin hingga Joget Lambak. Tak ketinggal seni Nandung atau bernyanyi.

Seperti yang diniatkan, Muhibbah Seni menampilkan banyak kesenian Riau. Mulai dari kesenian lisan melantunkan syairsyair khas Riau seperti Syair Ikan Terubuk dari masyarakat Siak, maupun Kayat, kesenian asal Taluk Kuantan dan Rokan.

Untuk memahami tiap kesenian ini, anggota Muhibbah dibawa langsung ke daerah asal kesenian tersebut muncul. Mereka langsung belajar dengan pelaku seni ataupun melihat pertunjukan di sana. “Terkadang orangnya kami bawa langsung ke sini,” jelas Raja Nanda, anggota Muhibbah.

Ini berupa penyampaian lisan karya sastra melayu dalam bentuk pantun berisi nasehat ataupun kisah seorang tokoh yang dijadikan pembelajaran. Selain sebagai bentuk hiburan masyarakat, kesenian ini menjadi wadah silaturahmi masyarakat. Karena ditampilkan ditengah masyarakat dari malam hingga subuh menjelang. Kesenian lainnya yang mirip dengan Kayat ialah Bekoba, khas daerah Rokan Hulu. Dari Kampar dan Indragiri Hulu dikenal kesenian Batobo, kegiatan berbalas pantun saat gotong royong di ladang. Pantun Batobo ini disampaikan masyarakat untuk melepas penat bekerja.

Tujuan awal dibentuknya Muhibbah Seni sebagai wadah memperkenalkan kembali kebudayaan melayu ke khalayak ramai terwujud pada 2009. Belasan anggota Muhibbah Seni melawat ke tiga negara di Asia Tenggara, Malaysia, Singapura dan Thailand. “Ini program dari Direktur Jendral Perguruan Tinggi atau Dikti untuk memperkenalkan kesenian daerah,” jelas Mukhtar Ahmad, Mantan Rektor Universitas Riau. Kesenian yang berasal dari kampung-kampung di Riau disaksikan oleh masyarakat luar

Indonesia. “Ternyata kesenian kampung kita ini juga laku di luar negeri sana,” bangga Elmustian. ATTA SELESAI MELANTUNKAN SYAIRNYA. Kini giliran segerombolan laki-laki dan perempuan yang keluar dari balik kain hitam. Juga berkurung melayu dan menggunakan songket. Beberapa membawa gendang di tangan. Menuju tengah panggung mereka membagi diri jadi tiga kelompok. Dua kelompok duduk berhadapan, jadi pelantun baitbait pantun, satu kelompok lagi duduk menghadap penonton sebagai pemain musik. Diiringi irama rebab dan gendang, mereka terus saling berbalas pantun. “Pantun ini disampaikan tanpa teks, spontan saja,” jelas Atta. ISetelah beberapa kali berbalas pantun, mereka berdiri dan beratraksi di atas panggung. Menari, membentuk lingkaran, berkeliling. Diantara mereka ada yang menghampiri penonton dan mengajak menari bersama di atas panggung. Sontak panggung bertambah ramai karena hentakan kaki, gerak tangan dan irama musik serta pantun yang dilantunkan semakin cepat. #

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

17


OPINI

Muchtar Ahmad Guru Besar Universitas Riau

INTERNASIONALISASI UNIVERSITAS DI JEPANG

P

ENDIDIKAN TINGGI SEDANG DALAM TRANSFORMASI YANG RADIKAL. Dari studium generale menuju universitas internasional, maya dan cuma-cuma. Dari suatu akademia penyelenggara penelitian memperkaya jiwa dan kemurnian, menuju universitas yang memecahkan masalah universal dan kemanusiaan lainnya. Sekarang banyak perguruan tinggi sedang bergerak ke arah internasionalisasi—go internasional. Di Jepang upaya menginternasionalkan perguruan tingginya, dengan mudah ditelusuri gejala dan arahnya sejak tahu 1970-an. Belajar dari internasionalisasi universitas di Jepang, diawali penerimaan mahasiswa asing penerima beasiswa sejak tahun 1960. Namun baru pada awal abad 21 ini, dirumuskan langkah dan mekanisme sistemik menuju internasionalisasi universitas di negara sakura itu. Yakni ketika kekuatan ekonomi Jepang berada di peringkat kedua, menggeser Inggris. Para dosen muda dibiayai negara melakukan penelitian di beberapa negara ataupun ‘magang’ di negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Australia dan lainnya. Para peneliti senior dan guru besar melakukan penelitian lapangan di negara yang masih berkembang di Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Di Riau misalnya, Tim penelitian ikan yu dari Universitas Tokyo dan Universitas Nagasaki yang dipimpin Prof Kazuhiro Mizue, pernah meneliti ikan yu air tawar di sungai Indragiri sekitar kota Rengat pada tahun 1976. Tentang antropologi Melayu di kepulauan Riau pernah diamati Prof. Norifumi Maeda selama lima tahun. Sedangkan Sosiologi  Minangkabau oleh Prof Tsuyoshi Kato dari Universitas Kyoto, suatu universitas negeri nomor dua terkemuka di Jepang. Semua penelitian itu ditaja oleh Universitas Riau, yang merupakan penjaminnya di Indonesia (LIPI). Tidak sedikit rintangan yang dihadapi negara itu ketika menginternasionalisasi penelitian universitasnya. Teristimewa penelitian di Indonesia dan negara yang pemerintahannya di tangan militer atau sosialis seperti Burma, Vietnam, Laos

MAHASISWA 18 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

dan negara lainnya. Sampai sekarang pun prosedurnya yang terbatas dan semula semakin wajar, tetapi belakangan ini kembali menjadi semakin dipersulit. Persetujuan visa peneliti asing maupun menghadiri seminar internasional jadi persoalan. Untuk mendapat visa penelitian harus melalui sidang di Kementerian Riset dan Teknologi (BPPT). Walaupun untuk perpanjangan penelitian yang sudah dilakukan sekalipun. Tim penelitian geografi Riau, Prof Nakata dari Universitas Tokyo, telah melaksanakan penelitian sejak lima tahun lalu tentang perkebunan sawit, mendapat banyak rintangan. Akhirnya tim itu membatalkan penelitiannya di Riau pada tahun lalu. Sebab banyak sekali larangan sehingga tidak mungkin dipenuhi tim. Pada hal baik laporan kemajuan maupun penerbitan yang dibuat tim peneliti selama lima tahun belum ada dipermasalahkan sama sekali. Prosedur baru itu diterapkan karena kejadian dipatenkannya beberapa temuan di Indonesia oleh peneliti asing. Kejadian itu, menyebabkan pelbagai tanggapan. Kecenderungannya, semakin banyaknya tulisan dari kalangan akademisi Indonesia di surat kabar, yang mencurigai adanya pencurian hak kekayaan intelektual oleh masuknya peneliti asing ke Indonesia. Di Jepang mahasiswa dan peneliti asing tidak pernah menemukan kendala melakukan penelitian apapun dan dimanapun. Apalagi semuanya ditaja atau dijemput oleh peneliti Jepang dalam rangka kerjasama dan internasionalisasi universitas negeri itu. Amat terasa dari pelayanan yang diberikan pada mahasiswa asing, bahwa internasionalisasi universi-

Para dosen muda dibiayai negara melakukan penelitian di beberapa negara


OPINI tas di Jepang mendapat dukungan kuat dari birokrasi terkait. Seperti bagian kebudayaan pada kedutaan Jepang, imigrasi, dan tentu saja pelayanan administrasi di universitas negeri itu. Demikian pula masyarakatnya menyambut peneliti dan mahasiswa asing dengan amat memperhatikan keselamatan dan kenyamanan mereka belajar di negara itu. Hampir tidak pernah terjadi para peneliti dan mahasiswa asing mendapat pelayanan buruk, diskriminasi ataupun pelecehen di universitas maupun di masyarakat. Internasionalisasi universitas membuka jalan bagi Jepang memperagakan kompetensi teknologi dan budayanya. Juga memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang negara asing dan budayanya. Suatu promosi yang amat bagus bagi orang dan perusahaan Jepang untuk memasuki gelanggang internasional, dalam ekonomi, politik dan budaya. Secara umum, hasil karya peneliti asing di Jepang terkenal di internasional dan negara asal peneliti. Apalagi dalam jangka panjang tidak sedikit yang meneliti dan belajar di Jepang pada pelbagai tingkat ternyata di kemudian hari menjadi tokoh penting di lingkungan akademis maupun juga pemerintahan. Dalam rangka internasionalisasi melalui kerjasama internasional, universitas Jepang semakin banyak membuat kontrak dengan para peneliti, pengajar atau guru besar asing. Hampir setiap universitas besar dan terkenal ada professor tamu maupun professor yang dikontrak dari negara-negara maju khususnya. TAHUN 2000 SAYA KE UNIVERSITAS TSUKUBA UNTUK penelitian dan menghadiri konferensi UNESCO  tentang pertanian berkelanjutan. Saya sampaikan makalah soal ladang berpindah dan pertanian terpadu di rawa-rawa pada konferensi ilmiah itu. Waktu lowong saya gunakan untuk melengkapi bahan tentang sagu dan rawa-rawa, yang sedang saya kaji menjelang tahun 2000 itu. Simposium internasional sagu diselenggarakan setiap dua tahun, yang ditaja dan didukung oleh akademisi Jepang. Simposium Sagu Internasional ke 6 dilakukan di Pekanbaru pada tahun 1996 bersamaan dengan Simposium Sagu Nasional yang ke-3. Tahun 2013 ini. Simposium Internasional ke 13 diselenggarakan di Universitas Papua di Manokwari. Memang dalam rangka internasionalisai itu Jepang semakin giat mengadakan pertemuan ilmiah internasional dan otomatis pertemuan ilmiah dengan ruang lingkup nasional pun juga ter”internasionalisasi’. Sebab dengan kehadiran dan penyampaian makalah para peneliti asing yang diundang sebagai pembicara kunci maupun para mahasiswa pascasarjana asing yang mengambil program S2 dan S3 hal-hal yang dibahas dalam pertemuan ilmiah itu juga terinternasionalisai.

Dalam rangka internasionalisasi melalui kerjasama internasional, universitas Jepang semakin banyak membuat kontrak dengan para peneliti, pengajar atau guru besar asing. nasional atau internasional merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa S2 dan S3 pada universitas tertentu, teristimewa yang sudah terintenasionalisasi. Untuk menyampaikan makalah di pertemuan ilmiah nasional itu, pemakalah cukup mendaftar dengan melampirkan ringkasannya tidak lebih dari 200 kata. Ringkasan itu dibukukan sebagai terbitan awal (prosiding) yang dibagikan kepada para peserta. Penerbitan makalah ilmiah di jurnal internasional adalah sasaran utama para peneliti Jepang, baik dari universitas maupun pusat dan lembaga penelitian. Sangat umum para dosen juga sebagai peneliti, minimal menerbitkan dua makalahnya dalam jurnal ilmiah nasional dan internasional. Secara nasional perhimpunan bidang ilmu menerbitkan jurnal 3-12 kali setahun. Internasionalisasi universitas juga diikuti pengembangan prasarana dan sarana khusus untuk para akademisi tamu. Di kampus universitas itu disediakan atau dibangun penginapan bagi peneliti dan professor tamu, ruang kerja bagi tamu, serta ruang kecil di suatu laboratorium dan perpustakaan, yang dapat digunakan para akademisi tamu. Pendidikan tinggi di masa ini hampir sampai pada masa memasuki bahkan pasca-internasionalisasi. Banyak universitas besar dan termasyhur sedang menuju globalisasi. Mula-mula dengan internasionalisasi kurikulum dan menyediakan kurikulum itu secara online. Kini kurikulum itu boleh digunakan secara cuma-cuma, sehingga terbentuk universitas terbuka yang ‘gratis’. Demikianlah gambaran sederhana perkembangan internasionalisasi universitas yang membawa manfaat dengan nilai tertentu bagi banyak negara. Dampak internasionalisasi suatu universitas dianggap jauh lebih banyak positifnya daripada negatifnya bagi kemanusiaan. Dengan disebarluaskan secara internasional atau melalui kerjasama universitas yang ada, internasionalisasi hasil penelitian terjadi secara alamiah.#

Menyampaikan makalah pada pertemuan ilmiah

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

19


ARFAUNNAS

MAKNA 1 MUHARRAM

P

ERGANTIAN TAHUN BARU MASEHI DAN HIJRIAH TIDAKLAH SAMA. Biasanya pergantian tahun masehi berada pada 1 Januari, sedangkan Muharram jadi awal tahun hijriah bagi umat islam. Lalu, apa makna yang bisa diambil dari pergantian tahun ini?

Hijriah atau hijrah itu sendiri artinya berpindah. Bisa jadi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari suatu peristiwa ke peristiwa lain, atau dari perilaku satu ke perilaku lain. Inti dari perpindahan, menuju pada hal lebih baik dari sebelum perpindahan. Jika umat Islam stagnan pada satu kondisi, baik perilaku, kondisi atau wilayah dan tidak menunjukkan perubahan, maka dia telah meninggalkan ruh, hijriah itu sendiri. Muharram berarti diharamkan atau sangat dihormati. Pada bulan haram itu, umat Islam diharamkan berperang ataupun melakukan genjatan senjata. Dengan kata lain, semangat muharram adalah semangat perdamaian. Sehingga mereka yang mengenal esensi tahun hijriah punya kesadaran akan perdamaian, kasih sayang pada seluruh umat dan serta kehadirannya jadi berkah bagi alam semesta. Inti dari hijriah adalah perubahan pada sesuatu yang menuju pada kebaikan. Kemajuan dan manfaat bagi seluruh manusia dan alam semesta. Dengan semangat damai sejahtera dan penuh kasih sayang, sehingga tujuan Allah menurunkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamien—rahmat bagi alam semsta—itu dapat diwujudkan oleh para pemeluknya. Wallahu A’lam bishshawab.#

Syamsul Arifin Ketua Umum Alkamil* FMIPA Universitas Riau *Alkamil : Aliansi Keluarga Mahasiswa Islam

JENGAH

RAHASIA GADGET

K

INI, BANYAK TEKNOLOGI BERKEMBANG DAN MUDAH DIAKSES. Salah satunya gadget, benda dengan multi fungsi dan mudah dibawa kemana saja. Dikalangan mahasiswa benda ini sudah tak asing lagi. Banyak yang punya, namun banyak juga tak tahu fungsi sebenarnya, hanya untuk gayagayaan. Sudah jelas pengguna gadget harusnya smart people. Bukan hanya update status namun lebih penting membuka ebook untuk menambah wawasan. Karena gadget mampu mengakses informasi dari seluruh dunia. Gadget juga bisa jadi asisten, pengingat kegiatan terjadwal. Sayangnya sebagian kalangan memakai gadget untuk hal tak penting. Browsing atau update status melalui media sosial wara wiri. Tragis bukan? Jadi intinya gadget memang di fungsikan untuk pengguna smart yang tahu kelebihan dan manfaat. Namun harus diingat, kita juga harus memperhatikan keamanan. Gadget menimbulkan radiasi dan mengganggu jaringan syaraf otak. Jadi jangan menggunakan dalam jangka waktu panjang tanpa istirahat.# Sandi dan Fitri Mahasiswa Manajemen Informatika 2011 FMIPA UR

MAHASISWA 20 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014


KOLOM KILAS BALIK Usman Muhammad Tang Kepala Lembaga Penelitian Universitas Riau

C

IVITAS AKADEMIKA, KOMUNITAS YANG MEMILIKI TRADISI ilmiah dengan mengembangkan budaya akademik. Ini tertulis dalam Undang-undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (PT) pada pasal 11. Budaya akademik merupakan seluruh sistem nilai, gagasan, norma, tindakan, dan karya yang bersumber dari ilmu pengetahuan serta teknologi. Dalam terminologi, tradisi ilmiah ialah kebiasaan berpikir, berbicara, berkreasi dan berinovasi. Kebiasaan itu terwujud dengan bertingkah laku secara ilmiah dengan ciri analisis, rasional dan spiritual tinggi. Tentu perlu ketekunan, kreativitas, kebesaran hati dan penghormatan terhadap orang lain. Pasal 11 ayat 3 dari UU Pendidikan Tinggi menyebutkan pengembangan budaya akademik dilakukan dengan interaksi sosial. Tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, kedudukan sosial, tingkat kemampuan ekonomi dan aliran politik. Interaksi sosial dilakukan dalam pembelajaran, pencarian kebenaran ilmiah, penguasaan atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan PT sebagai lembaga ilmiah. Mengamalkan pasal 11 tersebut, Pimpinan Universitas beserta civitas akademika menuangkannya dalam Sistem Penjaminan Mutu. Untuk menciptakan suasana akademik di UR yang mengacu pada Direktorat Pembina Akademik dan Kemahasiswaan Dirjen Dikti 2005. Dalam sistem tersebut dirancang sedemikian rupa mulai dari saat penerimaan mahasiswa baru hingga pelaksanaan wisuda. Perilaku mahasiswa diupayakan semakin positif dan termotivasi untuk terus belajar. Melalui organisasi, mampu bekerja dalam tim, memiliki jiwa kepemimpinan, sportif, menghormati norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Secara keseluruhan mendorong mahasiswa untuk selalu kreatif dan berprestasi. Para pembimbing atau dosen harus selalu mencari peluang untuk meningkatkan kegiatan kemahasiswaan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, di tingkat lokal, nasional, regional ataupun internasional. Interaksi antar unsur civitas akademika yang berlangsung dalam koridor norma-norma akademik akan melahirkan perilaku, tradisi, dan budaya ilmiah di dalam masyarakat kampus. Suasana akademik yang tercipta di ruang kuliah—interaksi dosen mahasiswa—dapat terjadi melalui kegiatan praktikum, konsultasi, serta diskusi-diskusi ringan.

MEMBANGUN TRADISI ILMIAH Baik di laboratorium, studio, workshop, ruang dosen, ruang sidang atau seminar dan ruang baca atau perpustakaan dan sebagainya. Interaksi dosen mahasiswa dalam kegiatan akademik tidak hanya dijumpai dalam proses pembelajaran. Tapi juga dapat dijumpai dalam kegiatan penelitian, pengabdian pada masyarakat maupun kegiatan non akademik. Untuk itu PT diharapkan mampu menfasilitasi semua kegiatan untuk menumbuhkan suasana akademik yang kondusif dan berkualitas, melalui interaksi dosen mahasiswa dan civitas akademika. Selain proses pengajaran di kelas yang dilakukan 1416 kali tatap muka tiap semester, interaksi dosen mahasiswa juga dapat dilakukan melalui studi mandiri, tugas kelompok, studi kepustakaan maupun lapangan. Eksperimen laboratoris, response asistensi konsultasi, diskusi atau seminar ilmiah, pelatihan dan lain-lain. Tidak tertutup kemungkinan interaksi dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi antara lain intra maupun internet (e-learning). Hasil dari tradisi ilmiah di UR yang mulai membaik beberapa tahun terakhir ini, secara kasat mata dapat dilihat dari rata-rata waktu tinggal mahasiswa di kampus. Dulunya rata-rata hanya sampai pukul 14.00, sekarang meningkat menjadi pukul 17.00. Biasanya hari Minggu kampus sepi, kini diisi dengan diskusi civitas akademika dan kegiatan olah raga berjalan dari pagi sampai sore. Secara substansial, sebagai akibat dari suasana akademik yang secara sengaja dirancang oleh manajemen universitas, menghasilkan publikasi ilmiah dosen ditingkat Internasional menempati urutan 20, kinerja penelitian menempati urutan 25 dari 92 PTN dan sekitar 3000 PTS di Indonesia. Kinerja kemahasiswaan seperti jumlah proposal yang masuk sebanyak 146 judul, dibandingkan tahun sebelumnya hanya 64 judul. Beberapa mahasiswa membentangkan hasil penelitianya di seminar Internasional. Prestasi dalam Tilawatil Qur’an menempati urutan 18, demikian juga kegiatan seminar nasional yang ditaja BEM, dengan pembicara-pembicara terkenal tingkat nasional frekuensinya sudah semakin tinggi. Akhirnya, dengan upaya bersama civitas akademika dimotori oleh pimpinan universitas. Besar harapan integrasi dosen, mahasiswa, pegawai dalam lingkungan kampus yang kondusif akan menciptakan tradisi dan budaya akademik yang mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter dengan prestasi membanggakan selanjutnya bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.#

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

21


KILAS BALIK

Foto: Fadli BM

Mematri nama sang pelopor pengembangan perdagangan Pekanbaru di jalur penghubung dua daerah yang dipisah Sungai Siak. Oleh Herman

H

ARI ITU 2 DESEMBER 2013, SUASANA BERBEDA TERLIHAT DIDAERAH SENAPELAN. Ujung jembatan bercat kuning ini ditutup dan akan dibuka lima bulan kedepan. Alasannya, terdapat lengkungan ditengah jembatan yang menghubungkan daerah Rumbai dengan Pekanbaru tersebut. Tentunya jika tetap digunakan dapat membahayakan pengguna jalur penghubung dengan ukuran 11 x 520 meter ini. Penutupan dilakukan selama pemeriksaan dan perbaikan jembatan. Padahal menurut rancangan awal, jembatan ini akan bertahan hingga 50 tahun kedepan. Sejak diresmikan pada 3 Desember 2011 oleh Gubernur Riau saat itu Rusli Zainal. Sayangnya rencana tak berjalan sesuai yang diperhitungkan. Suasana kontras terlihat sekali. Biasanya jembatan ini ramai dilewati orang-orang yang berkendara dari Rumbai menuju Pekanbaru. “Sejak ditutup, disini jadi agak sepi,” ujar Ujang, warga yang bermukim didekat jembatan. Sedangkan di jembatan, walau ada larangan untuk umum melintas atau berada di jembatan, anak-anak yang berada disekitar wilayah itu tak peduli dan bermain disana.

MAHASISWA 22 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

JEMBATAN SULTAN MUHAMMAD ALI ABDUL JALIL MUAZZAMSYAH, begitulah nama jembatan ke tiga yang membentang Sungai Siak ini. Sultan Muhammad Ali ialah raja ke 5 Kerajaan Siak Sri Indrapura dengan nama kecil, Tengku Muhammad Ali. Putra dari Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah—raja keempat Kerajaan Siak Sri Indrapura—hanya mengabdi dalam waktu singkat. Dua tahun. Kondisi kesehatan yang menghentikan perjalanannya memimpin di Kerajaan melayu ini. Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah merupakan sulung dari pernikahan Tengku Alamuddin Syah dengan Puan Khatijah. Lima saudara lainnya ialah Tengku Akil, Tengku Embong Badariah, Tengku Hawi, Tengku Sukma dan Tengku Mas Ayu. Sedangkan sebagai pasangan hidup, ia menikahi sepupunya Tengku Mandak binti Sultan Abdul Jalil Muhammad Muzammar Syah. Dalam masa kepemimpinannya, Tengku Muhammad Ali banyak meneruskan keinginan ayahandanya yang terhenti. Sang ayah memegang tahta dari 1761 hingga 1766. Banyak yang dilakukan raja keempat ini,

diantaranya memindahkan pemerintahan kerajaan dari Mempura dihulu Sungai Siak ke Senapelan. Kemudian jadikan pusat kerajaan baru ini sebagai pekan pusat bandar dagang yang ramai. “Memindahkan kerajaan itu dimasa Tengku Alamuddin, dan mengembangkan Senapelan saat itu baru Tengku Muhammad Ali,” kata Tennas Effendi, Budayawan Riau. Dalam buku Sejarah Riau terbitan 1998 karya Muchtar Lutfi bersama timnya dijelaskan setelah Senapelan jadi ibukota kerajaan Siak, perdagangan jadi semakin ramai. Tengku Alamuddin mendirikan sebuah pekan pada akhir 1762, dikenal dengan nama Bandar Pekan— kini disebut Pekanbaru. Ia memperbesar bandar perdagangan dengan membuka jalan penghubung sehingga memudahkan akses dari Senapelan ke daerah lain. Terutama daerah penghasil lada, gambir, rotan, damar, kayu dan lainnya. Akses tersebut berupa jalan yang membentang dari Selatan ke Barat. Dari Teratak Buluh, Buluh Cina sampai ke Bangkinang dan Rantau Berangin. Peningkatan keamanan dengan


KILAS BALIK menumpas perampok dan penyamunpun ia lakukan. Sayang ia wafat pada 1766 dan dimakamkan di Kampung Bukit—di area Mesjid Raya Pekanbaru sekarang. Almarhum diberi gelar Marhum Bukit. Pemerintahan kerajaan dilanjutkan Tengku Muhammad Ali. Menurut buku Sejarah Kerajaan Siak karya O.K Nizami Jamil, Tengku Muhammad Ali hanya fokus pada pusat perdagangan. Pekan yang mulanya sepi jadi ramai kembali karena banyak suku berdatangan ke pekan untuk melakukan

transaksi perdagangan. Jadilah sebuah pekan baru yang terus ramai kegiatan perdagangannya. Ketika ia wafat, gelar Marhum Pekan diberikan karena jasanya mendirikan kota Pekanbaru. Ia juga dimakamkan didekat ayahnya. Pemerintahan kemudian dilanjutkan Sultan Ismail, adik Sultan Muhammad Ali. “INI BENTUK PENGHARGAAN DAN PENGHORMATAN. Karena Sultan Muhammad Ali telah berhasil kembangkan perdagangan di Kota pengeluaran keuangan perusahaan. Asian Agri sendiri adalah perusahaan besar bergerak dibidang kelapa sawit, cokelat dan karet milik taipan Sukanto Tanoto, orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada 2006 dan 2008.

Vincent, si Whistle Blower

T

ERBONGKARNYA KASUS PENGEMPLANGAN PAJAK TERBESAR DI INDONESIA BERMULA DARI SEBUAH EMAIL ANTARA DUA NEGARA, Indonesia dan Singapura. Antara Metta Dharmasaputra, wartawan TEMPO yang melakukan investigasi hingga kasus ini terungkap dengan mitranya sang saksi kunci Vincentius Amin Susanto. Kunci kasus ini dapat terungkap karena Vincent seorang Group Financial Controller Asian Agri yang memiliki seluruh dokumen penting terkait pemasukan dan

Metta masih bingung dengan sikap Vincent, kenapa seseorang yang bertanggung jawab terhadap perencanaan pajak Asian Agri membeberkan kejahatan perusahaan sendiri. Dari penjelasan Vincent, ternyata ia lari ke Singapura karena telah mencuri uang perusahaan senilai Rp 28 miliar. Vincent telah meminta persoalan pencurian uang perusahaan bisa dimaafkan oleh Sukanto Tanoto selaku pemilik perusahaan, tapi tak dihiraukan. Vincent memilih membocorkan rahasia kejahatan Asian Agri, karena Vincent butuh perlindungan, nyawanya terancam. Tidak hanya Metta yang siap membantu Vincent. Lembaga anti korupsi juga siap membantu pengungkapan kejahatan perusahaan yang telah merugikan negara ini. Melalui proses panjang dan menegangkan akhirnya Vincent bisa dibawa kembali ke Indonesia dan diinapkan di Komisi Pemberantasan Korupsi. Disini ia membeberkan bagaimana proses pengemplangan pajak dari perusahaannya disusun. Kasus berguling hingga sampai ditangani Polda Metro Jaya, dimana Vincent diperiksa bukan sebagai status saksi kunci atas

Pekanbaru,” ujar Azaly Djohan, mantan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau. Ketika ia jadi Ketua LAM pembahasan soal nama jembatan dilakukan. LAM mengusulkan nama raja kelima ini dan diterima. “Kita ingin jembatan ketiga ini didedikasikan untuk tokoh yang berjasa kembangkan Pekanbaru,” tambah Azaly. Menurutnya Sultan Muhammad Ali seorang pedagang pertama yang berhasil berniaga dan mengembangkannya di Bumi Lancang Kuning.#

kejahatan yang dilakukan perusahaan Sukanto Tanoto. Vincent diperiksa sebagai pelaku pencurian uang perusahaan tempat ia bekerja. Akhirnya Vincent ditahan dengan pidana 11 tahun penjara. Padahal yang paling penting adalah kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Asian Agri, karena perusahaan ini telah merugikan negara senilai Rp 2 triliun rupiah. SELURUH PERJALANAN PENGUNGAKAPAN KASUS INI TERAMU DALAM BUKUNYA. Metta menyajikan liputan menegangkan dengan bahasa yang mudah dicerna. Dalam buku setebal 446 halaman ini, ia memainkan gaya penulisan naratif dan menampilkan datadata keuangan. Bukan hal mudah membuat pembaca yang tak memiliki basic ekonom bisa mengerti soal kasus ini. Namun ia berhasil menyajikannya dengan apik. Permainan sudut pandang dari dirinya selaku penulis lalu berpindah ke Vincet membuat pembaca dapat merasakan tekanan dan ketegangan yang berlangsung. Buku ini bagus di baca oleh para jurnalis ataupun masyarakat umum.#Suryadi

Judul

: Saksi Kunci

Penulis : Metta Dharmasaputra Tebal

: XLIV + 446 halaman

Terbit

: Oktober 2013

Penerbit : TEMPO

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

23


BINCANG-BINCANG

L

IPUTAN INVESTIGASI BUKANLAH HAL MUDAH. Ketika mendengar kata investigasi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penyelidikan bertujuan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan. Untuk peroleh jawaban benar, tentu peroleh data valid, analisis serta crosscheck yang teliti harus dilakukan. Di Indonesia sudah ada beberapa liputan investigasi bagus, diantaranya karya Bondan Winarno, Bre-X Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Hasil investigasinya terkait skandal

tambang emas di Busang, Kalimantan pada 1997. Sampai saat ini masih ada satu masalah yang tak terjawab soal kematian Michael De Guzman—Geolog Filipina yang mengatakan Busang tambang emas terbaik dunia— dari bukunya. Bondan menyimpulkan kematian De Guzman palsu.

pajak dan merugikan negara hingga Rp 2 triliun. Liputan ini dihasilkan dari keteguhan dan kerja keras Metta Dharmasaputra dalam menelusuri dan menggali lebih dalam soal kasus perpajakan ini. Perjalanannya diabadikan dalam buku Saksi Kunci terbit pada Oktober 2013.

Enambelas tahun kemudian, lahir pula satu liputan investigasi yang menguak bagaimana kejahatan sebuah perusahaan dalam memanipulasi pajak. Asian Agri, perusahaan bergerak di perkebunan kelapa sawit milik Sukanto Tanoto mengemplang

Metta Dharmasaputra ketika melakukan liputan tersebut masih bekerja sebagai wartawan TEMPO, media nasional berkedudukan di Jakarta. Kini, ia bekerja di KATADATA, media dengan fokus menyajikan jurnalistik dan analisis ekonomi dan bisnis. Ia menyajikan analisis yang berat dengan bahasa yang mudah dipahami dengan keahlian menulisnya. Pada 22 Desember 2013 dilakukanlah diskusi terkait buku Saksi Kuncinya di Hotel Pangeran, Pekanbaru. Dalam diskusi ini ia banyak bercerita bagaimana peliputan investigasi yang ia alami serta membagi pengalamannya selama menjadi wartawan ke peserta yang hadir. Dimana peserta didominasi oleh para wartawan serta jurnalis muda dari lembaga pers mahasiswa perguruan tinggi di Riau. Pada kesempatan itu, kru Bahana Mahasiswa Nurul Fitria dan Trinata Pardede berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan lelaki yang memiliki basic ilmu ekonomi ini. Berikut petikannya: Apa yang harus dilakukan pers mahasiswa agar dapat menguak sebuah kasus? Penggalian isu yang mendalam diperlukan, lalu sajikan informasi itu secara komprehensif dan jernih, akurat dan mendalam. Ini agar pers tidak terjebak dalam statement dari narasumber. Pengungkapan sebuah kasus memerlukan keakuratan, jika terjebak dan tidak paham, maka ini bisa membahayakan. Sampaikanlah informasi itu sedekat mungkin dengan faktanya. Triknya? Tentunya diawal kita memiliki

MAHASISWA 24 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014


BINCANG-BINCANG hipotesa sendiri, lalu bergerak mencari bukti dan membangun fakta-fakta. Kumpulkan dokumen-dokumen dan bahan riset yang ada. Wawancara narasumber terkait. Nah, karena pers mahasiswa, justru ini jadi lahan untuk dapat narasumber yang bagus. Sumber riset juga banyak di kampus. Tapi perlu dicatat, diawal kita punya hipotesa sendiri, namun dalam prosesnya jangan sampai memaksakan hipotesa itu harus benar. Dari riset dan pengumpulan fakta secara teliti nantinya barulah dapat kesimpulan informasi yang harus dibagi ke publik. Terkait narasumber, apa kriteria paling penting? Paling utama ia kredibel terhadap kasus yang akan dibahas. Misalnya soal pajak, tentu narasumbernya harus paham soal perpajakan. Nah, seringkali jurnalis terjebak dan tidak mau capek mencari sumber kredibel. Jadi dia sudah dapat satu narasumber, itu terus yang dikejar. Di Indonesia ini ada kecendrungan mengutip apa saja yang dikatakan narasumber. Kemudian ia diberi label pengamat. Padahal diluar negeri narasumber media itu detil sekali, tidak pernah disebut pengamat. Misalkan dia adalah doktor ekonomi di bidang perbankkan dari universitas X. Itu cukup dan jelas. Jadi yang di tonjolkan labelnya. Ini penting sehingga pembaca bisa mengukur, oh ini kredibel atau tidak. Tapi ketika media menyebut pengamat, itu sulit diukur kredibel atau tidak. Jadi kompetensi dia sangat penting dilihat oleh media ketika mengutip pernyataannya. Selain itu narasumber yang paling dekat dengan peristiwa, melihat dan mengalami langsung. Jadi diupayakan sumber-sumber A1. Sumbersumber yang paling dekat dengan kejadian dan sumbersumber yang paling memahami persoalan. Seringkali media tidak cukup rajin untuk mencari sumber-sumber seperti itu.

Jika sumber A1 tak mau pernyataannya dikutip. Solusinya agar informasi tetap layak dikonsumsi publik? Ini memang jadi dilema ketika menulis. Upaya pertama tetap mengusahakan bisa on the record—pernyataan dapat dikutip. Kalau begini informasi sangat layak. Jika tak bisa, minta ia memberikan background, jadi dapat gambaran informasi. Jika tidak mau juga dan meminta off the record—tidak dipublikasikan—jadikan ini sebagai tambahan pengetahuan saja. Kalau sudah tidak on the record, kita harus segera cari narasumber lain. Minimal dapat saja dua narasumber mengatakan hal yang sama dan gali lebih dalam. Yang penting jangan terjebak dan disiplinlah soal penentuan narasumber. Untuk riset sebagai dasar liputan, bagaimana kriterianya? Riset ini seperti dasar sebuah bangunan. Pertama sekali tidak boleh berdasarkan statement orang, karena kita tidak tahu benar atau salahnya. Lalu akuratlah. Banyak wartawan menulis sebuah istilah namun tak tahu maknanya. Tapi dasar bangunan yang lebih baik lagi harus didukung faktafakta yang terkadang muncul kemudian. Maka riset, fakta dan verifikasi sangat lekat. Dapat data, ujilah data tersebut. Jika ada statement, konfirmasi segera. Terpenuhinya ketiga hal terwebut menjadikan tulisan utuh, jika salah satu tak dilakukan ini bisa berbahaya. Agar hasilkan tulisan utuh dan baik untuk publik, kiat-kiatnya? Penulisan perlu ingat jangan sekali-kali menulis tanpa membuat outline. Buat kerangka tulisan yang diinginkan. Rumuskan fokus tulisan itu dalam satu kalimat pendek saja, jangan sampai satu paragfraf. Itu bisa jadi nggak jelas juga. Misal kasus Asian Agri itu fokusnya apa sih? Nah saya fokus soal dugaan indikasi manipulasi

diawal kita punya hipotesa sendiri, namun dalam prosesnya jangan sampai memaksakan hipotesa itu harus benar. pajak oleh Asian Agri dalam kurun waktu 2002-2005. Sudah sependek itu saja. Jadi kita tidak lari kemana-mana. Kemarin ada pertanyaan kenapa saya tidak bahas perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang ada di Riau. Ketika saya masuk kesana, itu jadi nggak karuan nanti. Banyak penulis terjebak, dia tidak menentukan fokus yang cukup tajam. Sebelum bisa merumuskan, jangan menulis. Jangan mereportase. Rumuskan dulu satu kalimat kemudian buat deskripsi singkat fokusnya kirakira apa sih. Kalau belum bisa berarti risetnya kurang, riset lebih banyak lagi. Kalau tidak merumuskan ini, kita seperti masuk hutan tanpa bawa kompas. Mutar-mutar nyasar akhirnya terjun kejurang. Apa pesan untuk pers mahasiswa dalam berkarya? Ya, kalau saya tahu dunia mahasiswa adalah dunia akademis yang ilmiah. Harus dibedakan antara cara berpikir mahasiswa dengan non mahasiswa. Kelebihannya dalam mahasiswa adalah dia bergerak dengan bertahan dengan pemikiran rasional, cukup tenang menganalisis baru menuliskan. Itu yang sebenarnya harus dibangun. Tumpuan itu ada pada pers mahasiswa. Harus dibangun disiplin didalam pers kampus. Karena disiplin itu yang akan melahirkan kesimpulankesimpulan yang bermutu. Pers mahasiswa bisa berikan acuan terhadap isu-isu terkini. Kalau bisa itu jangan monoton dan tetap jujur pada fakta. Jadi karena itu kita harus menyampaikan kebenaran.#

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

25


FEATURE

TIAP DESA YANG DILALUI SUNGAI SUBAYANG PUNYA LUBUK LARANGAN,” ujar Efrianto, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara atau AMAN Riau. Lembaga yang menaungi persoalan advokasi masyarakat adat. Pembahasan ini berlangsung ketika World Wild Fund atau WWF Riau mengadakan Forum Group Discussion di Stasiun Subayang milik WWF di daerah Tanjung Belit. Saya kala itu ikut jadi peserta dan berbincang dengan peserta lainnya. Lubuk larangan jadi tempat bagi ikan-ikan sungai hidup seperti biasa. Namun bedanya, ikan di lubuk ini boleh diambil tiap satu kali setahun. Itupun melalui prosesi adat dipandu Ninik Mamak. Selain waktu yang ditentukan, masyarakat hanya boleh mengambil ikan diluar batas lubuk. Area terlarang itu diberi batas berupa tali oleh masyarakat adat. “Biasanya waktu untuk mengambil saat kemarau,” ujar Amrin, masyarakat Tanjung Belit. Amrin bercerita prosesi pengambilan ikan di lubuk larangan dimulai dengan pembacaan doa oleh dukun desa yang turun ke lubuk. Setelah selesai didoakan barulah masyarakat menangkap ikan dari lubuk tersebut. Ikan hasil tangkapan akan dikumpulkan dan dibagi dua. Sebagian dibagikan sama rata ke masyarakat, sebagian lainnya dimasak dan dimakan bersama di tepi sungai tempat lubuk. Setelah makan, dilakukan proses lelang ikan yang telah ditangkap. “Boleh dijual lagi tapi harus ikan berukuran besar,” cerita Amrin. Pembeli bisa mendapatkan ikan dengan menetapkan harga. Namun sama dengan lelang, yang bisa mendapatkan ikan adalah penawar tertinggi. Selesai proses menangkap, masak, makan dan lelang dalam satu hari, barulah acara ditutup. “Penutupannya sederhana saja, warga baca yasin bersama di Surau,” tutur Amrin. Menurutnya beginilah cara masyarakat Tanjung Belit menjaga sungai. “Supaya ikan tetap bisa berkembang biak,”

MAHASISWA 26 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

Menjaga hutan, sungai serta adat istiadat agar tak dilupakan Oleh Suryadi tambahnya. Sehingga pada saat yang diperbolehkan banyak ikan yang bisa diperoleh masyarakat. BERBICARA SOAL SUNGAI SUBAYANG, ini adalah sungai panjang yang melewati tiga belas desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Diantaranya Desa Kuntu, PadangSawah, Pulau Pencong, Gema, Tanjung Belit dan Muaro Bio. Selain itu ada Desa Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertelur, Aur Kuning, Terusan, Salo dan Pangkalan Serai. “Hilirnya di sekitar Kabupaten Pelalawan dan hulunya mencapai daerah Sumatera Barat,” cerita Anto, masyarakat Tanjung Belit. Bagi masyarakat, untuk keperluan lauk sehari-hari mereka cukup mencari ikan di sungai ini. Dengan keadaan sungai yang bersih dan jernih tak jadi masalah bagi mereka menemukan ikan. Memang, disepanjang sungai ini suasana masih asri. Pinggiran sungai terdapat batu-batuan kecil. Hutan di sisi kiri dan kanan sungai masih hijau dan lebat, pohonpohon masih menjulang tinggi dengan kokoh. Kicauan burung laksana alunan musik alami nyaring dalam hutan. Untuk menangkap ikan, masyarakat gunakan cara sederhana. Ketika saya dan rombongan menelusuri Sungai Subayang dengan speed boat, terlihat beberapa masyarakat sedang menjala ikan. Ada yang berdiri di tepi sungai atau di tepi

jajaran pohon hutan. “Terkadang ada juga yang gunakan senapan penembak ikan,” ujar Amrin. Jangan bayangkan senapan penembak ikan adalah senjata api dengan peluru yang sering digunakan aparat keamanan atau pemburu binatang. Senapan ini terbuat dari kayu dengan ketebalan 10 hingga 17 milimeter. Panjangnya hampir sama dengan senapan biasa. Gagang atau pegangannya pas ukuran satu genggaman tangan. Senapan ini tidak memiliki pelatuk. Namun pada pangkal lekukan atas diberi paku guna menahan peluru, peluru dari besi atau kawat yang panjangnya melebihi panjang senapan. Di bagian atas ujung diberi pipa seukuran setengah jari, guna menahan peluru tadi agar tidak lepas. Pipa ini diikat dengan karet ban dengan memberi sedikit sisa untuk penarik peluru berupa karet. Menangkap ikan menggunakan senapan ini dengan cara menyelam. Setelah menemukan target, senapan diarahkan dan peluru yang ditarik karet tadi cukup didorong ke atas dengan jari telunjuk. Jika lepas dari paku penyangga, peluru dengan ujung runcing tadi akan mengenai ikan yang jadi target sasaran. SAYA KEMBALI MENDAPAT CERITA SOAL KEBIASAAN masyarakat Tanjung Belit saat hidangan untuk santap malam peserta tiba. Karena berada


FEATURE

1 3 1. Air Terjun di Desa Tanjung Belit. 2. Sungai Subayang. Para warga menggunakan transportasi untuk melintasi sungai ini, sambil menikmati pemandangan alam yang indah. 3. Papan selamat datang bagi para pengunjung yang dikelola Kelompok Kerja Batu Dinding. Foto: mongabay.co.id

2 ditengah hutan, untuk panganan, WWF meminta bantuan dari masyarakat sekitar. Jadilah nasi bertemankan pucuk ubi rebus dan sambal khas Tanjung Belit disajikan. Sambal ini sepintas mirip sambal terasi dari udang, namun perbedaannya sambal ini terbuat dari ikan. Sambal yang dijadikan lauk khas masyarakat Kampar Kiri khususnya Tanjung Belit ini disebut sambal kacau. Anto mengatakan biasanya masyarakat gunakan Ikan Baung atau Ikan Barau untuk campuran sambal. Selain ikan, bahan lainnya adalah cabe hijau yang telah digiling dan dipanaskan dengan minyak goreng. Setelah sambal cukup matang barulah di’kacau’ bersama ikan. Proses ‘mengacau’ ikan bersama sambal ini agar ikan jadi lebih halus dan menyatu dengan sambal. “Tak lama, cuma lima menit sudah masak,” ujar Zepmanora, warga perempuan Tanjung Belit yang juga memasak sambal kacau. Saya melihat peserta menyantap sambal kacau dicampur dengan

nasi, namun ada juga yang memakannya begitu saja. Menurut Anto itu sudah biasa, “Karena ikannya masih terasa dan sambal tidak terlalu pedas.” Namun ia menambahkan, harus hati-hati terhadap duri ikan yang ada di sambal. Memang benar, sedang asik mengunyah ikan dari sambal tersebut, sesekali harus berhenti untuk mengenyahkan duri dari dalam mulut. “Ini lauk sehari-hari kita,” ujar Anto. DI TANJUNG BELIT SILIH BERGANTI DITAMPILKAN KEASRIAN ALAM DAN KEKENTALAN TRADISI. Sebelumnya saya tahu bagaimana tradisi menangkap ikan di lubuk larangan dan makanan khas sambal kacau. Keesokan harinya peserta dibawa melihat air terjun tujuh tingkat di desa tersebut. Kata Suandri, Direktur WWF Riau, dingin air terjun ini mencapai 20 derajat celcius. Untuk melihatnya kami harus melewati sungai dan menjelajahi hutan. Terkadang harus mendaki

dan melewati tanah curam. Jalan yang dilalui hanya jalan setapak dan licin jika basah. Memanfaatkan ranting atau batang pohon jadi alternatif sebagai pegangan untuk menahan licinnya tanah. Untuk mempermudah akses menuju tempat yang bisa dijadikan obyek wisata ini, masyarakat Tanjung Belit membentuk satuan kerja yang dinamai Kelompok Kerja Batu Dinding. Kelompok ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, ninik mamak serta pemuda setempat. Kelompok ini diketuai oleh Mahwel, pemuda Tanjung Belit. Kelompok kerja Batu Dinding setahun sejak dibentuk mulai membuat akses jalan dan mendirikan beberapa pondok kecil. Kelompok ini juga aktif memantau kondisi hutan dan lingkungan dalam hutan terutama sekitar air terjun. “Pengunjung terkadang membuang sampah sembarangan dalam hutan,” ujar Mahwel.#

BAHANA MAHASISWA

Edisi Februari - Maret 2014

27


WITRA MAHASISWA 28 BAHANA Edisi Februari - Maret 2014

Profile for Bahana  Mahasiswa

Majalah Bahana Mahasiswa Edisi Feb-Maret 2014  

Majalah Bahana Mahasiswa Edisi Feb-Maret 2014  

Advertisement