Edisi Khusus, Agustus 2022

Page 1

1 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


STT: Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No. 1031/SK/ Ditjen PPG/STT/1983. ISSN: 0215-7667. Penerbit: Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa Universitas Riau. Penasehat: Prof. Dr. Ir. H. Aras Mulyadi, DEA (Rektor UNRI), Prof. Dr. Iwantono, M. Phil (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNRI), Pembina: Dr. Awitdrus, M. Si (Wakil Dekan III FMIPA UNRI), dan Alumni Bahana Mahasiswa UNRI. Pemimpin Umum HABY FRISCO Pemimpin Redaksi ANNISA FEBIOLA Pemimpin Perusahaan REVA DINA ASRI Sekretaris MALINI Bendahara RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION Litbang TEGAR PAMUNGKAS RIO EZA HANANDA Redaktur Pelaksana ANDI YULIA RAHMA FIRLIA NOURATAMA (nonaktif) Redaktur Multimedia ADITIA ANHAR (nonaktif) Redaktur DENISA NUR AULIA FEBRINA WULANDARI (nonaktif) Direktur Bahana Production House RIO EZA HANANDA Videografer & Layouter TEGAR PAMUNGKAS Fotografer ELLYA SYAFRIANI Pustaka & Dokumentasi JUANITO STEVANUS (nonaktif) Staf Iklan NOVITA ANDRIAN Sirkulasi & Medsos SAKINAH AIDAH FITRI Reporter MALINI, TEGAR PAMUNGKAS, RIO EZA HANANDA, ANDI YULIA RAHMA, DENISA NUR AULIA, NOVITA ANDRIAN, ALMUHAIMIN KEMBARA ELMARBUNI, SAKINAH AIDAH FITRI, ELLYA SYAFRIANI, KARUNIA PUTRI, NAJHA NABILLA Sekretariat Kampus UNRI Binawidya, Arena Panjat Dinding, Jl. HR. Soebrantas, Panam, Pekanbaru. Telepon (0761) 475777. Email bahanaur@gmail.com. Dicetak pada CV. Mitra Irzani. Isi di luar tanggung jawab percetakan. Redaksi menerima tulisan berupa opini dan artikel karya orisinil. Redaksi berhak melakukan penyuntingan tanpa mengubah tujuan tulisan.


Daftar Isi Sekapur Sirih

6

8

Kampusku Bukan Ruang Aman

Ringkasan Peristiwa

40

Relasi Kuasa jadi Senjata Langgengkan Kekerasan Seksual di Kampus

Liputan Beres, Program Kerja Tuntas

Seulas Pinang

Bincang-bincang

Reportase

42

Menimbang Hasil Guna Kampus Merdeka

10

Gelagat

45

Bernyanyi saat Mengajar, Itulah Ciri Khasnya

Bundel

14

POTMA: Iuran Wajib Sebelum Sistem UKT

Opini

15

16

24

Puan Tuan Penghuni Kursi Satgas

Laporan Utama 3

29

33

34

Ikhtiar Eni Sumiarsih Menumbuhkan Potensi Wisata Riau

Esai Foto

52

Alumni

56

Selingan

58

Sepak Terjang Klub Sepak Bola Perfisi UNRI

Feature

60

Kampusiana

64

Memandang Wajah Muram Pedestrian UNRI

Lima Resep Rahasia Lulus Tes TOEFL

Sempena

Khazanah

Kusta Bukan Kutukan

Tenggang KOMAHI Cari Keadilan

Jengah

Tragedi Rengat Berdarah: Bukti Kekejaman Belanda di Tanah Melayu Riau

Gairah Seorang Sarjana Teknik di Dunia Jurnalistik

Gunung ES Predator Seks di UNRI

Laporan Utama 2

48

Adopsi Ritual Pengobatan Spritual Rentak Bulian jadi Tarian

Jangan Salah Berinvestasi di Usia Muda

Laporan Utama 1

Kilas Balik

Bedah Film

68

Isu Perempuan dan Kekerasan Seksual dalam Film Lokal

37

Bongkar-bangkir Proyek IPAL

3 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Redaksi Yth.

4 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


MIND-A

ACROSS 2. Suku di Riau 4. Akronim accedere 7. Rubrik liputan budaya melayu majalah Bahana 8. Salah satu media penerbit majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik 13. Ikat kepala adat Melayu yang berbentuk runcing ke atas 14. Ibu kota Indonesia 15. Tutur bahasa yang sopan, santun, terukur untuk mengarahkan, memelihara dan membimbing, juga tradisi lisan yang konon digunakan dalam acara adat dan kehidupan sehari-hari

DOWN 1. Jumlah UKM di UNRI 3. Sebuah institusi finansial pembangunan multirateral yang didedikasikan untuk mengurangi kemiskinan di Asia serta Pasifik 5. Persetujuan afirmatif yang diberikan secara sadar, volunter dan tidak dalam hasutan atau ancaman untuk terlibat dalam berbagai aktivitas seksual atau non-seksual 6. Bulan milad Universitas Riau 9. Sebutan untuk Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangan perguruan tinggi itu sendiri 10. Fakultas di UNRI hanya terdiri dari satu jurusan 11. Salah satu kabupaten di Riau 12. Salah satu program kampus merdeka

5 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Sekapur Sirih

LIPUTAN BERES, PROGRAM KERJA TUNTAS

T

AK banyak yang berubah dari Bahana Mahasiswa sejak menginjak 2022 ini. Semangat para kru tetap terjaga dan melahirkan karya-karya yang penting. Tahun baru, semangat baru, dan ide yang baru. Perkuliahan tatap muka terbatas jadi angin segar bagi Bahana. Tentunya, mahasiswa akan berdatangan ke kampus. Dengan harapan, kami akan menjaring calon-calon kru yang akan meneruskan kiprah Bahana kelak. Penghujung Maret, Bahana bikin Kelas Jurnalisme atau yang dulu kami sebut diklat. Seluruh mahasiswa semester 2 dan 4 dipersilakan mendaftar. Usai seleksi dan pertimbangan matang, Bahana terima 12 orang kru magang. Selamat datang. Selamat belajar dan

6 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

mengembangkan tradisi akademis yang kritis! Hanya selang satu hari usai penutupan diklat, beberapa kru Bahana terbang ke Kota Pelajar Yogyakarta. Bukan semata vakansi, melainkan jemput trofi. Sebuah surel mengabarkan bahwa Bahana menang Indonesia Student Print Media Awards (ISPRIMA) 2022, 11 Maret lalu. Penghargaan Bronze kategori Majalah Sumatera pun di tangan, setelah absen sekian tahun. Tuntutlah ilmu hingga ke Cina. Cina tak sampai, Medan pun jadi. Reporter Bahana lolos pelatihan yang ditaja Kabar Sejuk Juni lalu. Sebuah kegiatan bertema Bermedia untuk Meneguhkan Keberagaman. Semoga Ellya dan Akel konsisten tegakkan harmoni dalam kedamaian.


Sekapur Sirih

Bergabungnya Nia dan Najha menjadi kru tetap juga jadi angin segar untuk Bahana. Awal Juli jadi bulan keberuntungan untuk mereka. Bergantinya status dari kru magang ke reporter tetap, hadirkan tanggung jawab baru. Harus lebih mandiri dan miliki inisiatif tinggi. Selanjutnya, Bahana tetap berjalan mengejar waktu demi liputan. Di sela-sela liputan, kami siapkan ancangancang untuk milad Bahana ke-39 tahun. Tahun ini kami kembali adakan secara luring. Bertemu puluhan alumni Bahana yang sudah tersebar di banyak kota di Indonesia. Beberapa ada yang terbang langsung menyeberangi lautan untuk menghadiri ulang tahun Bahana secara langsung. Silahturahmi antar Bahana tak pernah putus. Peluncuran buku juga dihadirkan. Kumpulan reportase sejak dulu sampai sekarang. Kami beri tajuk Menguak UNRI Tempo Dulu. Beberapa hari setelahnya, pada 19 sampai 23 Juli, Bahana kembali adakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional. Biasa disebut Kenal Sastrawi. Redanya pandemi membuat kami berani adakan secara luring. Antusias peserta selama kegiatan terbayar dengan lelahnya panitia yang sudah bekerja keras. Di pucuk pimpinan Universitas Riau, sebuah sejarah baru hadir. Untuk pertama kalinya kampus biru langit dinakhodai seorang rektor perempuan. Sri Indarti melenggang maju gantikan Aras Mulyadi setelah dua periode lamanya. Padahal, di majalah Bahana “Merisik Calon Rektor” edisi awal tahun, ia belum tentukan pilihan. Memang benar, Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. Dari belahan timur Indonesia, datang kabar pahit bagi insan pers. Lembaga Pers Mahasiswa Lintas di Institut Agama Islam Negeri Ambon dibekukan oleh pimpinan kampusnya. Bermula dari peluncuran majalah bertajuk IAIN Ambon Rawan Pelecehan. Setidaknya, ada 32 kasus pelecehan yang terkuak lewat liputan itu. Demi nama baik kampus, rektor keluarkan surat keputusan agar Lintas berhenti beroperasi sampai waktu yang tidak ditentukan. Bahana sebagai lembaga yang menjalankan peranan sama, menunjukkan solidaritas. Pertama, tentu mengecam tindakan pimpinan kampus hijau itu. Melalui Forum Pers Mahasiswa Riau, Bahana bikin diskusi bersama Aliansi Jurnalis Independen Pekanbaru menyoal ini. Semoga Lintas mendapat keadilan seadiladilnya. Pembaca yang budiman, Ini majalah kedua di 2022, usai terbit edisi awal tahun pada Januari lalu. Majalah Bahana kali ini hadir dengan Laporan Utama membentangkan beberapa di antara kasus kekerasan seksual atau KS yang pernah terjadi di kampus biru langit. Pasca kekerasan seksual yang menyeret nama mantan Dekan FISIP Syafri Harto, keamanan lingkungan perkuliahan dari KS jadi sorotan. Namun, selain itu,

nyatanya banyak kasus lain yang tak terungkap. Para petinggi kampus kalang kabut. Kebijakan mitigasi dan penanganan KS di UNRI jadi buah tanya. Sejauh ini, Rektor Aras Mulyadi sudah bentuk Satgas KS Ad Hoc untuk telusuri perkara yang ramai sampai ke nasional itu. Bahana juga telusuri latar belakang dan seberapa layak setiap anggota satgas dalam porsinya. Layakkah mereka jadi bagian dari Satgas KS sesuai Peraturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan Dan Penanganan Kekerasan Seksual Di Lingkungan Perguruan Tinggi? Masih seputar kampus biru langit, rubrik Kampusiana menyajikan kondisi pedestrian di lingkungan UNRI. Efektivitas program Kampus Merdeka mengisi rubrik Reportase. Ada banyak tawaran program kampus merdeka sudah berjalan. Lantas, sejauh mana efektivitas dan manfaat yang dirasakan oleh mahasiswa yang mengikutinya? Feature mengisahkan perjalanan hidup dua orang penderita kusta. Sempena membahas prestasi dosen Eni Sumiarsih, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan yang berhasil membawa Kampung Patin menjadi desa wisata terbaik di Indonesia. Lalu, ada cerita menarik dan unik dari Morina dalam rubrik Gelagat. Dosen Jurusan Budidaya Perairan itu selalu bernyanyi saat mengajar. Tak jarang ia juga meminta mahasiswa untuk bernyanyi bersama sebagai penutup kelas. Sedangkan di rubrik Alumni ada Eka Putra Nazir. Ia alumni Teknik Sipil yang sekarang mengajar di Universitas Muhammadiyah Riau. Menjemput ingatan akan sejarah di Riau, rubrik Kilas Balik membahas tragedi Rengat Berdarah. Kemalangan yang terjadi pada 1949 saat Agresi Militer Belanda II. Lalu rubrik Khazanah mengupas tarian Rentak Bulian asal Indragiri Hulu. Bundel menarik pembaca mundur sejenak menengok bagaimana sistem pembayaran SPP dulu, sebelum adanya sistem UKT. Rubrik Selingan menyelingi liputan yang berat, membahas tentang Perfisi FISIP UNRI. Salah satu tim sepak bola asal Riau yang terdaftar dalam keanggotaan PSSI. Mereka bermain di Liga 3 Indonesia. Sementara Esai Foto menangkap momen proyek instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) tak kunjung usai. Rehat dari liputan, ada non-liputan. Bedah Film, Jengah, Opini, Mind-A, dan Rangkuman Peristiwa hadir tersaji. Libur semester sudah habis, begitu pula dengan deadline liputan yang gentayangan. Tunggang-langgang dikejar waktu. Habis sekian waktu, sampailah majalah Bahana ke tangan para pembaca. Akhir kata, selamat menikmati sajian ini. Selamat menanti karya-karya penting berikutnya. Salam hangat, jabat erat. *

7 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Seulas Pinang

K

ILUSTRASI: ADITIA ANHAR

KAMPUSKU BUKAN RUANG AMAN

8 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

EBERANIAN Bintang—bukan nama sebenarnya— mengungkapkan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya perlu diacungi jempol. Keputusannya untuk bersuara di publik adalah jalan terakhir. Ia patah hati dengan respon pimpinan jurusan. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) itu awalnya tidak berujud untuk bicara panjang di ruang publik. Semua bermula saat Bintang mendatangi Syafri Harto untuk bimbingan skripsi. Niat hati peroleh ilmu untuk dibawa pulang bersama tugas akhir, Dekan FISIP itu malah menoreh luka dalam kepada mahasiswa bimbingannya. Berdasarkan pengakuan Bintang di video berdurasi 13 menit 26 detik yang diunggah di akun Instagram @komahi_ ur, Syafri Harto diduga menyerang Bintang dengan cara memegang tubuh dan menciumnya. Jalan panjang Bintang mencari keadilan tentu tak mulus. Ia berhadapan dengan orang berkuasa nomor satu di FISIP kala itu. Sehari usai viralnya video itu, Bintang bersama Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru laporkan terduga pelaku ke Kepolisian Resor Kota Pekanbaru. Kadung panik, Syafri Harto adukan balik Bintang. Berbekal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, ia minta ganti rugi 10 miliar. Singkatnya, Syafri kalah telak. Ia ditetapkan jadi tersangka oleh Polda Riau 12 hari usai dilaporkan. Mimpi banyak orang melihatnya mendekap di jeruji besi sirna, tatkala sekira tujuh puluh hari setelahnya, ia dibebaskan dan dinyatakan tak bersalah. Tak terima, Jaksa Penuntut Umum ajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung. Keinginan menjebloskan Syafri kian memuncak. Terlebih saat diketahui ada hakim agung perempuan yang akan mengadili pelaku kekerasan seksual itu. Nahas, kabar buruk datang di siang bolong. Kasasi yang diajukan awal April tersebut ditolak. Sanksi hukum tidak bisa diharapkan. Bejatnya hakim yang mengeksekusi perkara ini tentunya diingat sampai mati oleh Bintang dan pendukungnya. Ketidakberpihakan hakim kepada korban secara gamblang menunjukkan pincangnya hukum di negeri ini. Meski sudah belasan saksi didatangkan selama proses pengadilan. Relasi kuasa jadi salah satu sebab mengapa penyintas sulit bergerak. Dengan kata lain, para pemegang kendali kuasa seenaknya melanggengkan kekerasan seksual di kampus. Sama halnya yang terjadi dengan Bintang, terduga pelaku berstatus sebagai dosen pembimbing dan dekan. Ditambah lagi, ia seorang laki-laki. Sebagaimana Catatan


Seulas Pinang

Tahunan Komnas Perempuan 2021, hambatan korban dalam mengakses keadilan semakin berlapis-lapis ketika terduga pelaku adalah seorang pejabat publik atau tokoh publik. Kekerasan seksual yang terjadi akibat ketimpangan relasi kuasa antara lelaki dengan perempuan dan lainnya akan semakin timpang ketika berhadapan dengan pemegang kekuasaan. Seperti kata Menteri Nadiem Makarim, kasus kekerasan seksual adalah fenomena gunung es. Bahana berusaha menyelami lebih dalam. Kasus pelecehan seksual yang terjadi kali ini bukanlah satu-satunya. Ada tiga perkara yang Bahana kumpulkan. Tentunya masih lebih banyak luka yang disimpan dalam-dalam oleh banyak penyintas dengan berbagai pertimbangan. Dua di antaranya berasal dari jurusan yang sama dengan Bintang. Adalah Jurusan Hubungan Internasional. Aruna—bukan nama sebenarnya—berani bicara setelah melihat pengakuan dari Bintang. Sejak 2019, ia simpan kejadian kelam itu. Ia dijadikan objek candaan oleh dosennya sendiri. Kala itu, Aruna hendak bersua dengan Sekretaris Jurusan Afrizal. Niatnya konsultasi untuk ajukan judul proposal penelitian tugas akhir. Candaan seksis dialami oleh Aruna. Ia mengaku dipegang bahunya oleh Ketua Jurusan Tri Joko Waluyo yang saat itu ada di tempat yang sama. Ia dibilang akan dijadikan “oleh-oleh” bagi seorang dosen yang akan pensiun saat itu. Dua tahun sebelumnya, ada Jeny yang bertarung dan berusaha mendapatkan keadilannya. Tak ada angin tak ada hujan, sepucuk pesan WhatsApp mengatakannya seorang “ayam kampus”. Si pengirim pesan bertanya apakah Jeny bisa dibayar untuk melakukan aktivitas berbau seksual. Miris tak kunjung habis. Calon guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan juga tertangkap basah menyalahgunakan foto teman-teman perempuan di jurusannya. Ia menyunting dan menambahkan tulisan tak senonoh. Kalimat berupa ajakan untuk melakukan perbuatan seksual. Hanya satu permintaan 13 korban, pelaku drop out dari kampus. Namun, permintaan itu tak mampu dikabulkan oleh pihak kampus. Buntut dari semua kasus yang mencuat rata-rata tak sesuai harapan. Aspek keberpihakan terhadap korban dan memberi efek jera terhadap pelaku kerap diabaikan. Langkah para pimpinan UNRI berjalan sangat lambat. Bahkan, hanya jalan di tempat. Ironisnya, mereka justru menawarkan jalan damai dan korban diminta beri maaf

UNRI bisa dikatakan masih jauh dari kata mampu untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Seharusnya, keberadaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang dibentuk pada medio Desember 2021 itu mampu kejar ketertinggalan tersebut.

pada korban. Seperti yang terjadi di fakultas keguruan. UNRI bisa dikatakan masih jauh dari kata mampu untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Seharusnya, keberadaan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang dibentuk pada medio Desember 2021 itu mampu kejar ketertinggalan itu. Ada tujuh orang di dalamnya. Dua di antaranya berstatus sebagai dosen. Selain Sri Endang Kornita dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebagai ketua, ada Dodi Haryono dari Fakultas Hukum. Satu lagi Evi Nadhifah, dari tenaga kependidikan di Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat UNRI. Empat sisanya adalah mahasiswa yang ditunjuk langsung oleh Rektor Aras Mulyadi. Ada Kaharuddin yang merupakan Presiden Mahasiswa BEM UNRI. Ada pula Fitria, Mella Ayu Nindya, dan Ayu Rahma Hidayah. Mereka berasal dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan BEM UNRI dan BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Satgas ini bersifat sementara, dibentuk atas perintah dari Chatarina Muliana Girsang. Ia Inspektur Jenderal Kemendikbud Ristek. Tentu mereka di dalamnya adalah orang-orang yang prematur, bila diukur menggunakan standar ketentuan di dalam Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021. Ada proses panjang yang seharusnya dilalui sebelum menjadi anggota. Minimnya pengalaman anggota jadi sorotan. Beberapa ada yang ahli dibidangnya. Namun, sebagian lagi bahkan tak mengetahui kasusnya. Dari awal, Aras sudah teledor dan gegabah bertindak. Ibarat bayi belum cukup bulan untuk dilahirkan, satgas sudah pasti lahir prematur. Terpilihnya Sri Indarti sebagai rektor perempuan pertama membawa harapan yang besar dalam hal ini. Tantangan yang besar sudah menanti. Memburu dan meringkus predator seksual tanpa pandang bulu. Akankah seorang rektor perempuan akan lebih berikan ruang aman di kampus dan memperhatikan keadilan bagi korban atau justru tak mengubah apapun?

9 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Ringkasan Peristiwa

Februari 2022

REFUND UKT TIDAK KUNJUNG CAIR

Pencairan refund UKT bak jadi persoalan langganan tiap semester. Lamanya proses pencairan jadi masalah. Bendahara Penerimaan UNRI Boy Riwa sebut, beberapa pencairan tersendat sebab beragam kendala. Misalnya, sebagian mahasiswa tidak melampirkan rekening sesuai ketentuan. Apabila data tidak lengkap, maka proses akan ditangguhkan hingga dilengkapi. Dessy Riasari selaku Kepala Bagian Keuangan turut berikan tanggapan, katanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) jadi perkara. Saat ini, hanya empat atau lima orang saja yang bekerja untuk urusan ini. Ada bagian penerimaan, verifikasi penerimaan, serta verifikasi penurunan UKT.

Februari 2022

PEMIRA FT AKLAMASI

Pagelaran pesta demokrasi di Fakultas Teknik Universitas Riau berjalan tak sesuai harapan. Pasalnya tahun ini Gubernur Mahasiswa (Gubma) dan Wakil Gubernur Mahasiswa (Wagubma) dipilih secara aklamasi. Hal ini meninggalkan jejak kekecewaan, tak terkecuali Gubma terpilih Akmarifli menyayangkan hal ini terjadi. “Karena mungkin ada beberapa orang di luar sana yang menilai teknik kekurangan kader gitu,” ujarnya.

Maret 2022

SAKSI AHLI HADIR PADA SIDANG SH

10 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Tiga saksi ahli dihadirkan pada sidang lanjutan perkara dugaan pelecehan seksual terhadap mahasiswi Hubungan Internasional UNRI, Jumat (4/3). Saksi ahli tersebut terdiri dari ahli poligraf, ahli pidana, dan ahli jiwa. Ketiga berikan kesaksian secara daring. Ahli Poligraf bernama Aji Fibrianto Arrosyid ungkapkan etika terdakwa menjawab tidak atas pertanyaan JPU, detak jantung yang terdeteksi pada alat tampak meningkat. Sementara ahli pidana, Ismansyah dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas katakan terjadi perkembangan pada pergerakan hukum pidana. Ia menyebutnya sebagai asas unus testis nullus testis. Artinya, satu orang keterangan saksi,


Ringkasan Peristiwa

bukanlah saksi. Saksi terakhir Andreas Xaverio, ahli jiwa yang bekerja sebagai dokter kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa Tampan. Menurutnya, tidak ditemukan adanya halusinasi pada diri korban dan terdakwa. Artinya, baik penyintas maupun terdakwa, dalam keadaan sadar terjadi hal tersebut.

Maret 2022

TUNTUTAN 3 TAHUN PENJARA UNTUK SH

Sidang yang berjalan selama kurang lebih dua jam ini menggugat Syafri dengan pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. JPU Rita Octavera mendakwa Syafri dengan masa tahanan selama tiga tahun dengan pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Kemudian, juga mesti mengganti biaya kerugian dari pihak korban senilai Rp10.772.000. Rian Sibarani dari Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru menyayangkan tuntutan yang diberikan, karena masih tergolong rendah. Bila dibandingkan dengan tuntutan maksimal pidana pada pasal terkait, Syafri Harto bisa dituntut selama 9 tahun.

Maret 2022

DISKUSI TERKAIT PEMBREDELAN LPM LINTAS

Malam itu, 21 Maret, Fopersma adakan diskusi solidaritas dukungan terhadap LPM Lintas. Perkara bermula dari 32 kasus pelecehan seksual yang terbongkar dalam majalah edisi kedua yang bertajuk IAIN Ambon Rawan Pelecehan. Majalah yang diterbitkan pada 14 Maret itu tuai protes dari kampus. Dengan alasan, bukti yang ada dianggap tidak kuat. Buntutnya, Lintas dibekukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Eko Faizin dari Aliansi Jurnalis Independen Pekanbaru sayangkan hal ini. Padahal, pers miliki kewenangan untuk nyatakan pendapat. Ia sesalkan undang-undang yang atur tentang pers kampus tidak ada. “Tapi ada kebebasan berpendapat,” kata Eko.

11 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Ringkasan Peristiwa

Maret 2022

BAHANA TAJA KENAL BAHANA

Kelas Jurnalisme Bahana Mahasiswa bertema Meninggalkan Jejak Karya dihelat selama tiga hari. Terhitung sejak 25 hingga 27 Maret lalu. Bahana meloloskan 12 mahasiswa untuk jadi bagian untuk mengembangkan tradisi akademis yang kritis. Mereka berasal dari berbagai jurusan di Universitas Riau. “Di tengah banjirnya arus informasi sekarang, itu berita dan informasi bohong sangat cepat bertebaran, kalian harus bisa memilah informasi dengan benar karena apabila tidak sesuai hasilnya, tidak akan sesuai dengan yang kalian inginkan,” tutur Suryadi M. Nur. Alumni Bahana saat berikan materi Term of Refference (ToR), riset, dan wawancara pada Kelas Jurnalisme Bahana, 25 Maret.

Maret 2022

VONIS BEBAS SYAFRI HARTO

Buntut perjuangan kasus kekerasan seksual oleh Dekan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau berbuah masam. Ketua Hakim Estiono katakan terdakwa Syafri Harto dinyatakan bebas dan terbukti tidak bersalah. Hal tersebut ia sampaikan saat sidang putusan di ruang sidang Oemar Seno Adji Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (30/03). “Tidak ada kemungkinan bahwa hal tersebut dilakukan oleh pelaku karena menimbang saksi yang dihadirkan tidak cukup kuat. Begitu pula dengan alat bukti,” kata hakim anggota.

April 2022

SOSIALISASI UNRI BAKAL GELAR PILREK

12 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Aras Mulyadi akan segera lepas dari masa jabatannya sebagai Rektor Universitas Riau (UNRI). Setelah dua periode menakhodai Kampus Biru Langit, UNRI kembali siapkan pemilihan rektor atau pilrek. Elfizar didapuk sebagai ketua panitia. Ia Wakil Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Langkah pertama, UNRI bikin konferensi pers untuk menyampaikan informasi rangkaian pilrek. Pendaftaran berlangsung mulai 18 hingga 31 Mei. Jika tidak sampai empat calon, maka akan diadakan perpanjangan pendaftaran. Nama bakal calon rektor diumumkan 15 hari setelahnya.


Ringkasan Peristiwa

Juni 2022

DISKUSI PERIHAL KEJANGGALAN SIDANG SH

Menurut hakim, ketiga dakwaan tidak terpenuhi. Sebab tidak adanya unsur kekerasan. Alasannya, korban tidak dipukul atau dipaksa oleh pelaku. Hal ini dinilai jelas bahwa majelis hakim tutup mata ihwal kekerasan psikis yang dirasakan oleh penyintas. Dalam diskusi yang ditaja Bahana Juni lalu, Andi Wijaya—Lembaga Badan Hukum Pekanbaru menilai hakim menggunakan sudut pandang dan metode penyelesaian yang klasik terhadap pasal. Selain itu ahli psikologi yang melampirkan asesmen korban mengidap depresi berat juga ditolak. Bahkan, ada penundaan putusan selama satu hari dan Komahi tidak diperbolehkan berada di lokasi persidangan.

Juli 2022

SRI INDARTI TERPILIH JADI REKTOR UNRI

Pemilihan rektor UNRI dilaksanakan yang dilaksanakan pada (27/7) membuahkan hasil. Sri Indarti memenangkan pesta demokrasi. Ia dapat 48 suara dari 77 total suara. Sedangkan Iwantono dapat 15 suara. Terakhir, Deni Efizon hanya dapat 14 suara. Dalam pemilihan itu, Elfizar sebagai Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor (Panpilrek) menyebutkan seluruh suara dinyatakan sah. Menang, Sri Indarti bilang akan jalankan dua program unggulan. Pertama, memajukan akreditasi UNRI ke tingkat internasional. Kedua, menjadikan UNRI sebagai kampus berbadan hukum atau PTN-BH. Dekan dua periode tersebut akan dilantik pada 20 Desember, setelah masa jabatan petahana Aras Mulyadi habis.

Agustus 2022

AKSI EVALUASI KERJA REKTOR

Siang itu, matahari sudah sangat terik. Rombongan mahasiswa mulai berdatangan memenuhi panggilan konsolidasi. Evaluasi kinerja Rektor Aras Mulyadi selama menahkodai UNRI jadi topik hari ini. Akhir dari pertemuan diperoleh dua keputusan. Antara kembali mengadakan konsolidasi lanjut atau melaksanakan aksi pada tanggal 1 Agustus. Menurut sandi, keputusan ini harus cepat ditindak aksi meskipun banyak mahasiswa sedang masa kuliah kerja nyata

13 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Bundel

Potma:

Iuran Wajib Sebelum Sistem UKT

D

UNIA perkuliahan tak lepas dari biaya pendidikan persemester yang harus dibayar mahasiswa. Sejak berlakunya sistem Uang Kuliah Tunggal atau UKT, mahasiswa hanya perlu membayar satu kali saja. Seluruh ongkos kebutuhan pendidikan mestinya sudah terhimpun di dalamnya. Universitas Riau (UNRI) mulai menerapkan sistem UKT sejak tahun ajaran 2013/2014. Rektor pun keluarkan regulasinya melalui Keputusan Rektor nomor: 2862/UN/19/2013 tentang Tarif Uang Kuliah Tunggal. Lantas, bagaimana sistem biaya pendidikan di UNRI sebelum itu? Mari sejenak mundur ke awal tahun 2014. Bulan Mei 2013, Rektor Ashaluddin Jalil keluarkan surat keputusan soal penerapan UKT di kampus biru langit. Tiga hari setelahnya, keputusan itu dikukuhkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 55/2013. Majalah Bahana edisi Februari-Maret 2014 bertajuk ‘Prahara Dibalik UKT’ merekam sepenggal ceritanya. Ketika itu, pemberlakuan sistem UKT ini menuai pro dan kontra dari mahasiswa. Dari catatan laporan utama, setidaknya lebih dari setengah mahasiswa UNRI tidak setuju dengan penerapan UKT. Tentu ada sebab di balik ketidaksetujuan atas penghapusan sistem Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) itu. Persoalannya adalah kekecewaan mahasiswa karena pihak kampus tidak transparan mengenai perhitungan biayanya. Alhasil, pada 8 Oktober 2013, seluruh kelembagaan di UNRI sepakat untuk mengepung rektorat guna meminta penjelasan atas ihwal tersebut. “Tidak ada pembahasan terlebih dahulu dengan mahasiswa saat disepakatinya sistem ini,” ujar Zulfa Hendri kepada Bahana kala itu, selaku Menteri

14 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Hukum dan Advokasi BEM UNRI. Jika mundur lebih jauh lagi, sejatinya ribut-ribut mengenai sistem pembayaran uang semester di UNRI bukan sekali terjadi. Pertengahan April 2005, kejadian serupa pernah muncul. Pangkal permasalahannya adalah ketika mahasiswa harus membayar dana Persatuan Orang Tua Mahasiswa (Potma) yang bersamaan dengan pembayaran SPP. Koran Berita Bahana edisi April 2005 memberitakan, masing-masing mahasiswa harus membayar dana Potma sebesar Rp15 ribu.

Setiap dana Potma itu terkumpul dengan total mencapai Rp238.025.000 pada tahun ajaran 2004/2005. Beda halnya dengan SPP, dana Potma dialokasikan untuk penunjang kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan seluruh kelembagaan di UNRI. Porsinya sebesar 70 persen. Sisanya, digunakan untuk pengelolaan masjid dan pengelola administrasi masing-masing sebesar 20 dan 10 persen. Namun, penyimpangan transparansi aliran dana Potma memicu polemik. Rubrik laporan Khusus Bahana menelusuri bahwa tidak semua lembaga kemahasiswaan mengetahui secara pasti berapa persen dana yang akan mereka terima. “Sampai saat ini, saya belum tahu sama sekali berapa persen jumlah dana Potma yang diberikan kepada BEM

Teknik, karena jumlah dana Potma tersebut besarnya tergantung dari berapa jumlah mahasiswa di fakultas tersebut,” komentar Gusrian, Gubernur Mahasiswa Fakultas Teknik ketika itu. Pengurus UKM juga keluhkan hal yang sama. Erwin Syahputra Ketua UKM Koperasi Mahasiswa (Kopma) juga tidak tahu besaran dana untuk Kopma. “Kami sama sekali tidak jelas dengan Potma yang dijatahkan untuk Kopma. Yang kami tahu, selama satu semester Kopma dijatah satu juta rupiah,” sebutnya. Menjawab hal tersebut, Amir Hasan Pembantu Rektor II berikan pendapat. Menurutnya, salah satu jalan agar dana Potma tidak keluar dari rel tertentu ialah dengan melakukan kontrol dan pengawasan. Namun, kata Amir, pihak rektorat tidak punya kontrol atas dana Potma tersebut. “Hal ini telah kita serahkan langsung kepada bendahara Potma tersebut,” lanjutnya. Beda hal dengan yang disampaikan Amir, Dahlan Tamid—Bendaharawan dana Potma menyebut bahwa pengurus Potma tahun itu belum jelas. Sebab, rektor belum melantiknya. Juga, waktu itu pengucuran dana Potma masih dipercayakan kepada Ariefien—Pembantu Rektor III. Namun, Ariefien tegaskan porsinya hanya menandatangani kwitansi saja. Bukan pengurus dana Potma. “Rekening Potma bukan atas nama pribadi saya, tapi atas nama ketua Potma yang sekarang nonaktif,” tuturnya. Mahasiswa beberapa tahun belakangan mungkin asing dengan istilah Potma. Kewajiban membayar dana Potma sudah dihentikan. Kemudian, seluruh dana kelembagaan digantikan oleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang di dalamnya mencakup dana UKT.*Sakinah Aidah


Opini

DOSEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNRI, Dr. HENDRO EKWARSO, M.Si:

Jangan Salah Berinvestasi di Usia Muda

M

ASA depan sulit ditebak. Kehidupan begitu dinamis dan dapat berubah setiap saat, seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Begitu pun dengan teknologi, dinamika kehidupan sosial, budaya, ekonomi serta politik. Bagi yang tidak siap untuk menghadapi masa depan yang tak menentu, akan sulit untuk bisa berjuang dan bertahan. Bahkan untuk mengembangkan diri agar menjadi pribadi yang mandiri, dapat bertahan hidup (survive), dan maju. Berbagai strategi, cara dan langkah-langkah yang bijak harus dipersiapkan dan dirumuskan dengan baik. Serta harus diimplementasikan secara efisien dan efektif oleh berbagai kelompok, komunitas dan generasi bangsa terutama generasi muda yang akan menjadi penerus estafet kepemimpinan dan perjuangan bangsa ini. Agar nantinya menjadi bangsa yang berdaulat, bermartabat, mandiri dan disegani oleh bangsa-bangsa lainnya. Masa muda adalah masa yang energik, produktif, dan memiliki banyak inspirasi untuk dapat menghasilkan karya-karya yang inovatif, kreatif dan bermanfaat bagi banyak orang. Juga, bernilai ekonomi sehingga dapat menghasilkan pendapatan. Gunanya untuk memenuhi berbagai keperluan atau kebutuhan dalam menjalani rona kehidupan yang penuh dengan harapan, demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan cemerlang. Telah banyak kaum muda yang mencapai kesuksesan lebih cepat dalam berbagai lapangan usaha yang ada. Tentunya hal tersebut dicapai dengan usaha dan proses keberhasilan dalam mengembangkan jati diri dan kemampuannya dalam menghasilkan karya-karya yang dapat mendatangkan

pendapatan lebih menjanjikan. Di samping itu, juga banyak ditemui orangorang yang dulunya sukses di masa muda, namun, semakin menurun jelang memasuki usia produktivitas. Produktivitas dan pendapatan yang menurun berbanding terbalik dengan pengeluaran yang semakin meningkat. Hal ini karena adanya pengeluaran ekstra untuk berbagai kebutuhan rumah tangga atau keluarganya. Misalnya seperti pengeluaran untuk pendidikan putra-putrinya, biaya hidup yang semakin besar, kebutuhan pelayanan kesehatan, dan sebagainya. Siap atau tidaknya kita dalam menghadapi masa mendatang yang semakin berat dan tidak menentu tersebut, tergantung sejauh mana persiapan diri di kala muda. Ada berbagai cara untuk melakukan penghematan pengeluaran atau tidak bersikap konsumtif. Mengeluarkan pendapatan untuk hal-hal yang produktif dan kepentingan jangka panjang bagi keluarga saja. Kemudian, menyisihkan sebagian pendapatan untuk keperluan tabungan dan investasi. Hal tersebut juga harus diperhitungkan efektivitas, kemanfaatannya, keamanan, serta kenyamanannya. Di era modern ini, banyak jenis usaha yang ditawarkan oleh berbagai pihak. Baik lembaga resmi maupun tidak resmi [abal-abal]. Ada pula milik pemerintah maupun swasta yang berupa badan usaha atau milik perorangan, dengan berbagai cara. Baik dengan komunikasi langsung ataupun lewat media online dan iming-iming keuntungan yang menggiurkan dengan skenario keuntungan. Kembali pada kecerdasan, kewaspadaan, dan sikap tabayun dari masyarakat dalam memilih jenis tabungan ataupun investasi yang betul-betul dianggap paling aman dan

menguntungkan. Baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang. Tak hanya itu, juga perlu dipertimbangkan adanya jaminan dari pihak ketiga. Adalah lembaga resmi yang diakui oleh pemerintah atau otoritas moneter, apabila terjadi sesuatu atas dana yang ditabungkan atau diinvestasikan. Pemilihan cara berinvestasi saat ini tidak terlalu sulit. Cukup dengan menggunakan aplikasi tertentu yang dibuat oleh lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang pengelolaan investasi. Berupa surat berharga saham (obligasi) ataupun dalam bentuk perdagangan komoditi emas dan lainnya. Lembaga yang dimaksud di sini adalah lembaga resmi yang terdaftar, dibina, diawasi dan dijamin oleh pemerintah atau otoritas moneter. Dalam memilih jenis investasi, harus melalui pertimbangan yang matang. Gunakan pula sejumlah referensi dari berbagai media massa dan mempelajari kondisi lembaga pengelola investasi itu sendiri. Terutama dari aspek legalitas pendiriannya, keuangannya (neraca keuangan dan asetnya), dan bagaimana skenario keuntungannya yang ia tawarkan. Kemudian mengecek realistisnya yang tidak terlalu jauh selisihnya dengan tingkat bunga bank dalam kondisi normal. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari diri agar tidak menjadi “korban penipuan” dari pihak yang menawarkan investasi. Kita jangan tertarik hanya dengan ketokohan (figur) yang menawarkan investasi, tingkat keuntungan, dan kemudahankemudahan yang dijanjikannya.* Dr. Hendro Ekwarso, M.Si Dosen FEB UNRI


Laporan Utama 1

ILUSTRASI: ADITIA ANHAR

GUNUNG ES PREDATOR SEKS DI UNRI 16 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 1

Keberanian Bintang menguak dugaan kasus pelecehan seksual jadi pemantik bagi banyak korban. Terlebih bagi mereka yang sebelumnya memilih bungkam.

S

Oleh Annisa Febiola, Novita Andrian dan Denisa Nur Aulia

YAFRI Harto melenggang ke luar kantor Kepolisian Daerah (Polda) Riau. Lakilaki dengan setelan kemeja putih dan celana cokelat itu berjalan beriringan bersama kuasa hukumnya. Bahu kanannya menyandang tas selempang. Sejak hari itu, Syafri sudah bisa menghirup udara bebas. Dinginnya jeruji besi tak ia rasakan lagi setelah ditahan kurang lebih 70 hari. Terhitung 17 Januari lalu. Vonis bebas Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) itu berbuah kekecewaan mendalam. Mulai dari korban, keluarganya, mahasiswa yang berdiri bersama korban, juga para pendamping. Ditambah beberapa pihak lain yang menyatakan empati. Tiga hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru—Estiono, Tommy Manik, Yuli Artha Pujayotama—putuskan Syafri tidak bersalah pada 30 Maret silam. Bukti yang ada dinyatakan tak cukup. Diketahui, ia didakwa melakukan pelecehan secara verbal dari penyerangan seksual kepada mahasiswi bimbingannya Bintang— bukan nama sebenarnya. Perjalanan Bintang mendapatkan keadilan masih panjang. Bahkan hingga kini, ia belum gapai haknya tersebut. Tagar sebagai bentuk rasa kecewa menghiasi media sosial. Seperti #PercumaAdaPengadilan. Keberanian Bintang menguak kasus pelecehan seksual jadi pemantik bagi banyak korban. Terlebih bagi mereka yang sebelumnya memilih untuk tidak bicara.

Aruna—bukan nama sebenarnya—alumnus Hubungan Internasional (HI) tergerak untuk menyuarakan kasus serupa yang menimpanya. Saat itu, ia menginjak semester tujuh. Menurut Aruna, sudah waktunya mengajukan judul proposal penelitian tugas akhir. Judul sudah ia kantongi, saatnya memastikan bahwa judul tersebut belum pernah diteliti. Barulah kemudian ia bisa mendapat dosen pembimbing. Bermula pada 18 Oktober 2019. Aruna datangi kantor biro jurusan yang terbagi oleh sekat-sekat itu. Ia melangkah masuk ke ruang kerja Afrizal, Sekretaris Jurusan (sekjur) Hubungan Internasional (HI) FISIP UNRI. Lalu duduk di depan meja Afrizal, persis berhadapan. Tak sendiri, di samping kanannya ada Arga—bukan nama sebenarnya— yang juga punya tujuan sama. Konsultasi masih berjalan, tibatiba Tri Joko Waluyo datang. Ketua Jurusan (kajur) HI itu berdiri di sebelah kiri Aruna. Joko dan Afrizal bahas rencana acara perpisahan dengan Idjang Tjarsono. Adalah salah satu dosen HI yang akan pensiun. Tak ambil pusing, Aruna dan temannya diam menunggu percakapan itu usai. “Tiba-tiba dia pegang bahu, terus dia bilang ‘Gimana kalau ini [Aruna] aja kita bawa buat oleh-oleh Pak Idjang,” kata Aruna menirukan kalimat Joko kepada Afrizal. Seingatnya, waktu itu pukul 11, jelang siang. Joko tertawa, begitu pula dengan Afrizal. Aruna diam tersinggung. “Masa gitu ngomongnya. Masa

dianggap objek, gitu loh.” Aruna dan Arga saling kontak mata, seakan memikirkan hal yang sama. Tak satupun kata terucap dari bibir mereka. Aruna memilih untuk tak bercerita ke banyak orang dan tak melaporkannya, terlebih ke pihak kampus. Hanya kepada orang-orang tertentu saja. Pikirannya sibuk. Jika dilaporkan, maka ia bakal dihakimi yang tidak-tidak. “Halah, gitu aja kok serius kali, sok cantik kau..,” pikir Aruna yang ketakutan. Ia bersyukur bahwa temantemannya tidak menghakimi. Mereka sepakat bahwa apa yang dilakukan Joko tidak benar. Tapi, lagi-lagi, diam adalah pilihan. Momen speak up Bintang untuk mencari keadilan menyadarkan Aruna untuk ikut bersuara. Ia beri tahu orang tuanya, pernah mengalami kejadian serupa. Orang tua Aruna juga berpendapat bahwa laku kajur tidak benar, tiada pantas seorang pendidik bicara seperti itu. Tak pernah terlintas di benak Aruna bahwa Bintang akan mengungkap kejahatan orang nomor satu di HI itu. Ia tak terima perihal cara Joko merespon kasus Bintang, malah menyalahkan korban. “Harusnya ditanggapi, ditolong. Ini malah kayak dicari celah kesalahan korban. Ya, kalau ini bisa membantu [korban], gak ada salahnya,” katanya kepada Bahana. Sembilan November 2021, ia mengirimi Arga pesan Instagram. “Kau ingat gaa waktu awal bimbingan judul sama Pak Af. Kau duduk di sebelah aku kan? Pas kita ngajuin judul tu? Ingat gak?”

17 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 1

ILUSTRASI: ADITIA ANHAR

“Ingat, kenapa?” “Kau ingat gak waktu kita bimbingan tu Pak Joko nyamperin pak Af ngomongin soal perpisahan Pak Idjang?” “Iya ingat… terus?” “Kau ingat gak Pak Joko bilang apa? Dia ngomong sama aku” “Aku ingat dia ngomongnya agak flirt gitu, tapi omongannya aku lupa.” Kepada Bahana, Arga mengaku tidak begitu ingat kalimat apa yang dilontarkan oleh Joko pada Aruna. Ia hanya ingat bahwa perkataan Joko memang tidak pantas. Tetapi, Arga ingat pembahasan antara kajur dan sekjur ketika itu memang tentang acara perpisahan dosen bernama Idjang. “Tapi karena gak dipermasalahkan waktu itu, makanya lupa detailnya gimana. Kecuali kalau komplain waktu itu, baru,” sambungnya. Ia cukup bingung dengan kondisi yang ada. Lupa-lupa ingat soal persis

18 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

kejadian, tetapi kemudian diingatkan oleh Aruna. Ia khawatir akan bias, karena mereka berteman. Sependek ingatannya, tidak ada saksi lain di tempat itu. Memang ada mahasiswa lain, namun duduk di sofa ruang depan. “Kalau kita sebagai saksi ini, kan kita harus bicara sejujurnya. Bukan mendukung kawan atau apapun gitu, ya.” Selain Aruna, ada satu temannya yang juga mengaku pernah dilecehkan Joko. Namun, dia putuskan untuk tak mau menyibak. “Udahlah, gak mau lagi ingatingat itu,” tutur Aruna mengimak perkataan temannya itu. Aruna buka fakta bahwa Joko memang terkenal sebagai dosen yang kerap melontarkan kalimat tak lazim. “Di kelas tu omongannya suka nyeleneh. Lagi ngajar loh itu. Kadang-kadang pandangan matanya juga [tidak biasa], kan kita bisa lihat.” Arga juga menyebutkan hal

serupa. Kelakuan Joko yang demikian sudah seperti rahasia umum. “Itu sebenarnya kalau angkatan aku, banyak. Polemiknya, kalau mereka memberikan kesaksian, nanti nyangkut ke pekerjaan, kelulusan, cari kerja susah. Makanya, orang gak mau memberikan kesaksian. Mungkin gitu, ya.” Sepengamatan Aruna sejauh ini, tidak ada mahasiswa yang protes langsung di kelas. Tapi yang jelas, katanya, ia pribadi khawatir akan kuasa Joko. “Takut nilai jadi jelek,” ia melanjutkan. Ia juga tak berniat untuk cerita perihal ini ke dosen lain, sebab takut disalahkan. Seperti halnya perkara pakaian yang kerap diseret sebagai faktor terjadinya kekerasan seksual. Ketika bertemu Joko, Aruna mengenakan jilbab yang terurai menutupi bagian dadanya. “Bukan tipe yang berdandan full make up, gak terbuka. Bukan


Laporan Utama 1

berarti juga yang pakaian terbuka boleh dilecehkan,” tegasnya melalui sambungan telepon. Kisah galabah lain datang dari Artha. Ia ceritakan kepada Bahana bagaimana Joko melecehkannya. Tahun 2016 lalu ketika ia masih mahasiswa baru, Artha tengah mengikuti perkuliahan Budaya Politik yang diampu Joko. Kelas itu berlangsung tak jauh dari gerai kantin FISIP, sore hari. Artha lupa tanggal persis kejadian. Di pertengahan perkuliahan, Artha dan teman sebangkunya mengobrol. “Dari belakang itu, dia langsung megang pundakku gitu,” lirihnya via telepon, 7 April 2022. Menurut Artha, niat Joko hanya ingin menegurnya. “Cuman kan aku aneh aja kalau ada bersentuhan dengan dosen selain bersalaman.” Sifat Joko yang seperti itu, ungkap Aruna, bikin para mahasiswi sejurusan lebih waspada. Mereka berupaya sebisa mungkin menghindari Joko, bila tak ada kepentingan. Seandainya hampir berpapasan dengan Joko, Aruna dan teman-temannya lebih memilih untuk berputar cari jalan lain. Ketika pandemi memaksa para pegawai untuk bekerja dari rumah, mahasiswa HI yang punya keperluan dengan Joko mau tak mau harus datang ke rumahnya. “Kalau mau ke rumahnya tu takut, tapi karena dia kajur. Kalau mau ke rumahnya, harus segerombolan rame-rame. Segitu takutnya,” buka Aruna dengan suara bergetar. Bahana menghubungi Joko untuk mintai keterangan. Ia menampik dugaan pelecehan yang menyeret namanya itu. “Ya ndak ada. Kalau memang ada, ya suruh datang ke saya. Ngawur itu,” jawabnya pada 7 Maret lalu. Joko mengatakan, tuduhan Aruna adalah fitnah besar. “Masa untuk oleh-oleh. Oleh-oleh apa itu?” Mendengar itu, Komahi menawarkan kepada tiap korban untuk melapor ke Satuan Tugas

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus atau Satgas PPKS. Akhirnya, laporan Aruna masuk pada 17 Maret 2022. Pasca kasus yang dialami Bintang tersiar, Korps Mahasiswa HI (Komahi) sediakan wadah bagi mahasiswa HI untuk melapor. Agil Fadlan Mabruri Ketua Advokasi Komahi ketika itu mengungkap data aduan. Dari total 5 laporan, tiga di antaranya dilakukan oleh Tri Joko Waluyo. Awalnya, orang tua sempat tidak setuju jika Aruna melapor. Izin didapat, Aruna akhirnya mengisi pengaduan itu pada 6 November 2021. Sri Endang Kornita Ketua Satgas PPKS membenarkan adanya laporan tersebut. “Memang kami ada menerima laporan dari komahi,” tulis Endang melalui pesan WhatsApp pada 6 April 2022. Masih kata Endang, laporan itu akan ditindaklanjuti sesuai dengan tahapan yang diatur dalam Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Selain Joko, Bahana juga hendak gali informasi dari Afrizal sebagai saksi yang disebutkan oleh Aruna dan Arga. Namun, beberapa panggilan dan pesan tak sekalipun ia jawab. Afrizal hanya membaca pesan yang dikirim. Tak hanya dari Joko, Aruna mengaku pernah merasa janggal dengan perkataan Syafri Harto. Suatu kali ia ujian lisan untuk mata kuliah yang diampu oleh dekan tersebut. Seingatan Aruna, mereka masuk ke ruang rapat di gedung Dekanat FISIP, 5 orang per sesi. Tiba giliran Aruna menjawab ujian, Syafri Harto menanggapi dengan kalimat yang membuatnya tidak nyaman. “Kamu auranya keibuan sekali, ya.” “Aduh, risih. Ngelihatnya tu gak enak. Gak nyambung [dengan topik ujian]. Geli dibilang gitu. Risih,” tutur

Aruna kepada Bahana. Analogi bahwa kasus kekerasan seksual bak fenomena gunung es dibuktikan oleh Aruna dan Artha. Artinya, kasus yang terjadi sebenarnya lebih tinggi daripada kasus yang dilaporkan.

FISIP Rawan Kekerasan Seksual Kejadian kekerasan seksual yang menimpa mahasiswi FISIP sudah berulang kali terjadi. Satu tahun sebelum Aruna, Jeny—nama samaran—sudah menjadi korban. Ia mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2016. Bahana pernah menerbitkan laporan ini pada 12 Desember 2018. Jeny mengalami pelecehan seksual secara verbal di lingkungan kampus. Cerita bermula saat Ravi mendatangi Oki di gerai kantin fakultas saat jam makan siang. Mulanya, pembicaraan hanya sebatas pergerakan mahasiswa di kampus dan visi misi belaka. Sampailah akhirnya Oki menanyakan tentang keberadaan “ayam kampus” kepada Ravi. Maksud Oki adalah mahasiswi pekerja seks komersial. Ravi pun menjawab, “Oh banyak, wak.” Obrolan pun terhenti dan komunikasi keduanya jadi sunyi. “Ini dia, Jeny namanya, anak Ikom [Ilmu Komunikasi],” lanjut Ravi sembari memperlihatkan sebuah foto perempuan di layar gawainya. Oki meminta nomor telepon perempuan tersebut. Namun, Ravi menolak. Ia berdalih bahwa Jeny merupakan adik tingkatnya dan ia harus menjaga privasi. Obrolan keduanya kembali terhenti. Saat itu, Oki mengira bahwa foto yang ditunjukkan oleh Ravi masih bagian dari obrolan soal ayam kampus. Sebaliknya, Ravi menampik. Ia mengaku bermaksud lain. Ia menunjukkan foto itu sebagai trik mengalihkan pembicaraan ke arah prestasi Jeny sebagai duta kampus. Nomor telepon Jeny tak ia terima dari Ravi, Oki mencari peluang lain.

19 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 1

Hari Kamis pagi 6 Desember 2018, ia dan temannya, Adit, kuliah di satu kelas yang sama. Saat keduanya tengah merokok di samping kelas, Oki lagi-lagi buka pembicaraan mengenai “ayam kampus”. Ia memberi tahu Adit bahwa ada “ayam kampus” di fakultas mereka. “Dapat dari Ravi,” katanya. Oki pun mendapatkan nomor Jeny dari Adit usai buka obrolan tersebut. Oki kala itu hanya minta kontak salah satu mahasiswi Ikom, tanpa menyebut “ayam kampus”. Adit pun mengirimkannya tanpa curiga. Lagipula, Jeny adalah satu-satunya kontak mahasiswi Ikom yang ia punya. Tanpa pikir panjang, Oki langsung memulai obrolan dengan Jeny. Hari masih pagi, sekitar pukul setengah sembilan. Sementara di tempat lain, Jeny sedang bersiap memandu lelang mobil di sebuah perusahaan. Jeny melihat ada pesan baru dari nomor yang tidak dikenalnya. “P,” begitu saja isi pesannya. Jeny pun bertanya siapa empunya pesan. “Dia jawab namanya Oki,” ungkap Jeny kepada Bahana pada 9 Desember 2018. Ia hanya mengabaikan pesan Oki, meskipun terus dihubungi. Hingga pada pukul 14.44, muncul pesan baru dari nomor yang juga tak dikenal. Masih dengan pembukaan yang sama, satu huruf “P.” Tepat setelah pelelangannya ketok palu, Jeny menjawab pesan itu. “Ya?” “Open BO [Booking Order]?” balas si pengirim. Jeny kembali bertanya siapa di balik pesan tersebut. Si pengirim mengaku bernama Syafri dan mendapatkan kontak Jeny dari temannya. Jenny pun geram, ia menanyakan siapa yang telah menyebarkan nomor pribadinya. Namun, yang mengaku bernama Syafri itu tak jua menjawab pertanyaan. “Bahas harga aja mbak,” kata Syafri dalam pesan WhatsApp.

20 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Jeny menjebak Syafri dengan meminta alamat akun Instagramnya. Nama akun didapat, ia langsung sebarkan isi pesan itu ke media sosial dan menandai akun Syafri. Syafri adalah mahasiswa jurusan Pendidikan dan Kepelatihan Olahraga UNRI yang satu indekos dengan Oki. Mereka berasal dari satu kampung yang sama. Oki beritahu Syafri bahwa ia mendapat nomor Jeny–yang menurutnya adalah “ayam kampus”. Meskipun awalnya Oki menolak berbagi kontak Jeny, namun akhirnya ia berikan nomor itu kepada Syafri. Tanpa sepengetahuan Oki, Syafri sudah mengirimkan pesan tidak senonoh kepada Jeny. Syafri berkata hanya iseng dan coba-coba saja. Ia mengaku salah karena tidak mencari tahu lebih dulu mengenai Jeny. Oki dan Syafri berusaha meminta maaf kepada Jeny. “Ini salah paham

kak, hapus snap Ig itu, kita jumpa, kita klarifikasi,” pinta Oki melalui pesan singkat WhatsApp. Pun Syafri, juga berkata demikian. Keduanya bikin video klarifikasi pendek yang berisi permintaan maaf kepada Jeny karena telah melakukan pelecehan secara verbal. Jeny juga meneruskan isi percakapan tersebut ke grup komunitasnya. Wicaksana, teman satu komunitas langsung respon dengan mengumpat. Ia mengajak Jeny bertemu. Mereka berjanji untuk jumpa di sebuah tempat makan di Jalan Arifin Ahmad. Ada dua teman yang turut diajak, Haldi dan Fina. Tak lupa orang yang terlibat—Oki, Adit, dan Syafri. Mulanya, Jeny berniat untuk menyelesaikan perkara itu hanya dengan orang-orang yang terlibat saja. Di tengah pembahasan kronologi, Oki ungkapkan bahwa


Laporan Utama 1

syarat membagikan video klarifikasi di Instagram. Keduanya tidak boleh mengunci akunnya, agar semua orang dapat mengetahui kebenaran. Khusus Ravi, Jeny menginginkan kasus dibawa ke pimpinan fakultas. Musababnya, Ravi tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Ia mengaku mendapat banyak tekanan dan memutuskan untuk membela diri.

ILUSTRASI: ADITIA ANHAR

Ravi menyebut Jeny sebagai “ayam kampus”. Mendengar pernyataan itu, Wicaksana segera memintanya untuk mendatangkan Ravi. Akan tetapi, Oki malah meminta Ravi datang dengan alasan untuk membahas proyek kampanye. Ravi menolak datang dengan alasan sedang sakit. Oki akhirnya berkata jujur dan mengatakan bahwa Ravi terlibat dalam menyebarkan berita bohong soal Jeny. Ia juga mengakui sedang bersama Jeny untuk membereskan kasus agar segera selesai. Ravi menyangkal. Percakapan tempo hari, katanya, tidak bermaksud menunjukkan Jeny sebagai “ayam kampus”. “Aku memperlihatkan body “ayam kampus” yang bagus itu seperti ini [foto Jeny], bukan menunjukkan Jeny,” kilah Ravi. Buntut perkara, Jeny sudi memaafkan Oki dan Syafri dengan

Calon Guru yang Tak Patut Ditiru Pelecehan di lingkar sesama mahasiswa juga pernah terjadi di fakultas pencetak para calon guru. Bentuknya berupa penyalahgunaan foto yang ditambahkan dengan konten sensual. Kana—tentu bukan nama sebenarnya—menyuak kasus pelecehan yang ia alami. Tangisnya pecah ketika menceritakan kejadian yang sama sekali tak pernah ia sangka itu. Pelakunya bukan orang jauh, melainkan teman dekatnya. Mereka berkuliah di jurusan yang sama. Pilu hati Kana bermula pada penghujung Maret 2022. Sebuah akun Instagram dengan nama Eka Putra Lestahulu mengirimkan pesan singkat ke Kana. Akun tak dikenal itu mengarahkannya untuk mengecek sebuah foto. “Ada seseorang yang menyalahgunakan fotomu di aplikasi Twitter, cek di akun ini,” petikan pesan lagi-lagi masuk ke gawai Kana. Kana tak lantas mengunjungi akun yang disebutkan. Selain karena ia tak punya akun Twitter, pesan itu juga mendarat di tengah malam. Akhirnya, Kana minta bantuan seniornya di Badan Legislatif Mahasiswa fakultas untuk mencari akun yang dimaksud. Betapa ia tergemap melihat fotonya ada di dalam unggahan akun tersebut. Bukan hanya foto, pelaku bahkan sudah menambahkan tagar berbau sensual seperti #k*nt*lin; #pejuhin; #crotin; #cocktribute; dan #cumtribute. Sarwa konten milik akun itu

mengandung unsur pornografi. Tak terlihat banyak aktivitas. Hanya ada 5 cuitan dari akun dengan nama @hijaubiru itu, sepanjang Kana menggulir bagian beranda. Pengikutnya juga cuma 8 akun. Lagi-lagi, Kana kaget bukan main. Foto wajahnya disandingkan dengan dua foto kelamin laki-laki, yang dibuat dalam bentuk video. Foto itu diunggah ulang oleh akun lain. Sialnya, pelaku malah mengetwit ulang dan menyukai kicauan tersebut. “Aku ga tahu apakah foto aku disebar pelaku atau diambil dari postingan pelaku. Bagaimanapun, ia turut menyebarkan fotoku,” tutur Kana kepada Bahana, 30 September 2021. Kana bukanlah seorang yang suka membagikan swafoto di media sosial. Ia memutuskan hal tersebut karena latar belakang pendidikannya di sekolah agama. Ia coba mengingat-ingat kembali momen dalam foto tersebut. Kana pun ingat bahwa momen foto itu diambil pada sebuah acara di jurusannya pada awal tahun 2019. Ketika foto itu diambil, Kana tidak sendiri. Ia berfoto bersama panitia acara. Ia sadar bahwa pelaku telah memotong foto asli dan hanya menyisakan wajahnya. Pikiran Kana melaju lebih jauh. Ia ingat betul bahwa foto tersebut hanya dimiliki olehnya dan seorang teman laki-laki. Dialah RA, teman satu kelas. Kana tak mau berburuk sangka, ia menyusun strategi sedemikian rupa untuk buktikan kecurigaannya terhadap RA. Awal April, ia mengajak RA untuk makan bersama. Ajakan tersebut langsung disanggupi. Satu hal yang tidak RA ketahui adalah bahwa Kana diam-diam meminta kakak, abang, dan seniornya untuk menyusul. Mencoba memancing cerita yang ia alami, Kana berpura-pura curhat soal penyalahgunaan fotonya di akun Twitter. RA mengaku tak tahu siapa dalangnya. Bahkan, ia lantang

21 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 1

mengutarakan rasa prihatin kepada temannya itu. Tak berselang lama, kakak Kana datang. Ia langsung bertanya untuk pastikan kebenaran soal pelaku. RA tak mengelak tuduhan yang dilayangkan. “Iya, saya pelakunya, Bu,” kata RA mengaku. Dugaannya benar, prasangka terbukti. Sontak air mata Kana jatuh. Namun, bukan permintaan maaf yang RA lontarkan. Ia malah bersikap seolah tak menyesali perbuatannya. Kalimat maaf baru terdengar di ujung perbincangan. RA juga mengaku kerap berpikiran “kotor” yang berbau sensual. Kana sudah tentu tak terima dan minta pelaku untuk menghapus foto-fotonya. Ternyata bukan hanya Kana sendiri, ada 8 orang lainnya yang juga jadi korban serupa. Kana menyaksikan ada puluhan foto serupa di gawai pelaku. RA telah mengumpulkannya dalam sebuah folder. “Sementara RA hanya mengakui Kana saja,” kata Kana menjelaskan. Buah pertemuan siang itu adalah RA harus menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengulangi perbuatan keji itu. Jika kedapatan melanggar, ia harus siap bila kasus dibawa ke ranah hukum atau menerima saksi drop out dari kampus. “Kana trauma, sempat ke konseling. Kana juga tak ada salah dengan pelaku,” sebut Kana dengan suara bergetar. Kana bukan korban pertama RA. Sebelum itu, ada Maya yang juga teman dekat Kana. Maya tentu bukan nama sebenarnya. Maya terbata-bata, gemetar, dan menangis ketika mengingat kembali kejahatan itu. Otaknya berpikir keras dan tak tahu ke mana saja RA menyebarkan fotonya. Ia tak bisa tidur nyenyak. Studinya berantakan, merasa takut untuk mengaktifkan kamera saat belajar daring. Bahkan, ia sempat ingin melukai dirinya. Sejak kejadian, Maya rutin

22 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

menjalani konseling dengan tenaga profesional. Harapan Maya, pelaku dikeluarkan dari kampus. Selain Kana dan Maya, ada Prita yang fotonya juga masuk dalam daftar korban RA. Penuh emosional, Prita pun mendatangi RA. Ia membawa dua teman lain yang juga jadi korban. Pemandangan ini memunculkan rasa penasaran dari ketua himpunan mahasiswa. Kepalang tanggung, RA akhirnya akui unggahan foto korban telah ia disebarkan lewat beberapa aplikasi. Ada Twitter, Instagram, hingga Picsart.

Bukan malah kapok pasca perbuatan bejatnya terbongkar, RA mengaku masih mengunggah foto korbannya di tahun 2021. Motifnya sama, ia kerap berpikir ke arah sensual. Sembari melihat foto teman perempuan, RA melampiaskan hasrat seksualnya.

“Dia ngaku ada 13 korban, tiga di antaranya junior kampus,” buka Prita. Hari semakin sore, sudah pukul setengah enam, ketua himpunan mahasiswa minta untuk selesaikan urusan mereka di tempat lain. Prita mengajak pindah ke depan indekos RA dan menyita gawai sebagai jaminan. Prita menunjukkan foto dan mengadu kepada abang RA. Namun, abangnya minta Prita tak melanjutkan masalah ini. Ia berjanji akan menasehati RA. Belum sempat Prita menjawab, abang dan adik ini justru berpaling dan masuk ke indekos. Kasus RA bergulir tanpa kejelasan. Lebih mengherankan, RA ditunjuk menjadi Ketua Divisi Kerohanian oleh himpunan di jurusannya empat bulan pasca pelecehan terhadap Kana terbongkar. Keputusan ini dinilai oleh

korban tak sejalan dengan kelakukan dan moral RA.

Singkat Cerita Penanganan Kasus KS oleh Kampus Pejabat kampus UNRI belum menunjukkan keseriusan untuk penanganan kasus yang sudah ada. Kebanyakan berujung damai demi menjaga nama baik kampus. Pertama, Jeny ingin kasus yang menimpanya dibawa ke dekanat. Menurut Jeny, Ravi tak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Mediasi berlangsung dengan kehadiran beberapa perwakilan mahasiswa, kelembagaan mahasiswa, hingga alumni sebagai pendamping. Lalu, Suyanto yang merupakan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FISIP mewakili fakultas. Saat mediasi bersama WD III, Ravi baru mengakui kesalahannya. Namun, saat mendengar penuturan Ravi, Suyanto berkata bahwa masalah ini bisa diselesaikan dengan jalan tengah. Sebab, masuk ke ranah pribadi dan tak berkaitan dengan akademik. Ravi pun tak diberi sanksi akademis dan administrasi. Mediasi hari itu tak mendapat titik terang dan penyelesaian. Akhirnya Jeny bersama Bambang yakni pendampingnya, bertemu dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru. LBH pun mengeluarkan somasi ke fakultas dan universitas. Kasus ini berujung tanpa penyelesaian dan tak ada sanksi akademis. Baik dari fakultas maupun universitas. Kedua, penanganan terhadap kasus yang menimpa belasan mahasiswi FKIP. Pada 13 Oktober, Kepala Prodi (kaprodi) Pendidikan Matematika mengadakan mediasi yang dihadiri oleh WD III dan tim kode etik FKIP, serta pelaku dan korban. Kaprodi memanggil pelaku dan orang tuanya serta korban yang berjumlah 13 orang. Pelaku hadir bersama orang tua dan abangnya. Mediasi dimulai dengan


Laporan Utama 1

penuturan kronologi pelecehan yang disampaikan oleh perwakilan korban. Pun, pelaku mengakui kesalahannya. Para korban meminta agar pelaku dihukum dan mendapat efek jera. Mereka ingin perlaku drop out dari kampus. Hermandra selaku WD III dan tim kode etik berdalih hanya sebagai penengah mediasi, mereka tidak bisa langsung mengeluarkan pelaku tanpa izin universitas. Tawarannya, pelaku akan dinonaktifkan selama dua semester sembari menjalani pengobatan. Para korban mohon agar pelaku tidak diperkenankan untuk kembali ke jurusan, ataupun dipindahkan ke universitas lain setelah 2 semester itu. “Mereka beranggapan jika ia pindah ke tempat lain, kemungkinan pelaku dapat mengulangi kesalahan yang sama,” ujar Hermandra. Permintaan itu disetujui oleh pihak fakultas. Mereka memberikan opsi kepada pelaku berupa penonaktifan kemahasiswaan selama dua semester. Secara tidak langsung, pelaku mengundurkan diri dari jurusan tersebut. Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Riau Nomor 4 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Universitas Riau. BAB II Status mahasiswa, di pasal 3 ayat 6 yaitu mahasiswa mengundurkan

diri adalah peserta didik yang mengajukan surat permohonan pengunduran diri atau peserta didik yang berstatus nonaktif dua (2) semester berturut-turut. Kini, status kemahasiswaan pelaku adalah mahasiswa nonaktif. Yang mana jika dua semester tidak mengikuti perkuliahan, maka ia tak lagi terdaftar sebagai mahasiswa UNRI. ***

Bentuk kekerasan seksual yang sering terjadi di ruang publik kebanyakan dalam bentuk verbal. Biasanya, pelecehan secara verbal ditandai dengan beberapa simbol. Misalnya dengan melontarkan kalimat tertentu kepada siapapun di jalan beserta gestur menggoda. Perlakuan seperti ini digolongkan ke dalam istilah street harassment. Maksudnya, seseorang melakukan sebuah pelecehan seksual di ruang publik. Sepanjang tahun 2021, total laporan kasus kekerasan seksual meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat adanya 338.496 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Tahun 2020, laporan masuk sebanyak 226.062 kasus.

Di sisi lain, survei oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2020 menyingkap betapa bobroknya keamanan civitas akademika dari kekerasan seksual. Sebanyak 77 persen dosen sebagai responden mengetahui adanya kekerasan seksual di lingkungan kampus. Namun, 63 persen dari mereka memutuskan untuk tidak melaporkannya. Sepanjang 2015 hingga 2020, ada 51 aduan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang masuk ke Komnas Perempuan. Tempat paling rawan adalah universitas. Angka kekerasan seksual mencapai 27 persen. Menyusul lingkungan pendidikan berbasis agama Islam 19 persen. Lalu 15 persen kekerasan seksual di tingkat SMU/SMK dan 7 persen di tingkat SMP. Sisanya, masing-masing 3 persen di tingkat TK, SD, SLB, dan pendidikan berbasis agama Kristen. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak, di bawah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga membuka data teranyar soal kekerasan seksual di Indonesia. Terhitung sejak 1 Januari hingga 12 Agustus 2022, sudah ada 14.222 laporan. Jumlah korban perempuan lebih banyak, yakni 13.129 Menyusul korban laki-laki 2.201 orang.*

DATA DARI SISTEM INFORMASI ONLINE PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK

SUMBER: HTTPS://KEKERASAN.KEMENPPPA.GO.ID/RINGKASAN----DATA PER 12 AGUSTUS 2022

23 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 2

FOTO: DOK. NARASUMBER

PUAN TUAN PENGHUNI KURSI SATGAS Bahana Mahasiswa mengulik semua anggota satgas. Totalnya ada tujuh orang. Menilik lebih dalam perspektif mereka ihwal kekerasan seksual. Oleh Andi Yulia Rahma dan Sakinah Aidah

M

ATAHARI mulai terik, saat telepon genggam milik Dodi Haryono berdering. Tertulis peneleponnya Sekretaris Rektor Aras Mulyadi. Dodi diminta ke Rektorat UNRI untuk menghadiri rapat penting. Saat perjumpaan itu, ia baru tahu namanya tertulis di Surat Keputusan (SK) Pengangkatan

24 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual atau Satgas PPKS UNRI. Dokumen tertanggal 15 Desember 2021 itu menempatkan nama Dodi di urutan ketiga dalam SK satgas yang diteken Rektor Aras Mulyadi. Ia ditugaskan pada bidang pengenaan sanksi administratif dan pemulihan korban. Terbentuknya lembaga ini

adalah buntut dari dugaan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Syafri Harto Dekan FISIP UNRI. Sejatinya, proses pembentukan satgas PPKS membutuhkan jalan panjang. Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021, satgas dibentuk melalui panitia seleksi atau pansel. Pansel tak bisa


Laporan Utama 2

Pembentukan satgas ini juga titah langsung dari Inspektur Jenderal Kemendibud Ristek Chatarina Muliana Girsang. Chatarina temui Aras pada 14 Desember. Ia minta rektor untuk bentuk satgas tersebut secepat mungkin. sembarangan orang. Harus ada unsur pendidik, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Selain itu, pansel harus memenuhi beberapa syarat. Adapun ketentuannya: pernah mendampingi Korban Kekerasan Seksual; b. pernah melakukan kajian tentang Kekerasan Seksual, gender, dan/ atau disabilitas; c. pernah mengikuti organisasi di dalam atau luar kampus yang fokusnya di isu Kekerasan Seksual, gender, dan/atau disabilitas; dan/atau d. tidak pernah terbukti melakukan kekerasan termasuk Kekerasan Seksual. Semua syarat itu harus dilampirkan dalam sebuah dokumen. Setelahnya, calon pansel akan mengikuti pelatihan yang kemudian diumumkan melalui laman Kemendikbud Ristek. Status pansel bersifat Ad Hoc alias sementara. Pansel terpilih kemudian bertugas menyeleksi kembali anggota satgas. Syarat dan ketentuan tidaklah jauh berbeda dengan pansel. Jumlahnya harus ganjil dengan minimal anggota lima orang. Mereka harus sudah mengikuti pelatihan khusus dan lain sebagainya. Jika dikuliti komposisinya, satgas PPKS UNRI sudah memenuhi syarat jumlah dan unsur anggota yang ditentukan. Anggotanya berjumlah tujuh orang. Dua dari pendidik dan satu dari tenaga kependidikan. Empat orang sisanya adalah mahasiswa. Namun, terpilihnya ketujuh orang tersebut tak selaras dengan Permendikbud yang dilahirkan Mas Menteri Nadiem Makarim. Dodi mengaku ia ditunjuk langsung. Bukan melalui rangkaian sesuai peraturan yang ada. Dodi tak menyalahkan itu. Ia menyebutkan bahwa hukum tidak semata-mata formal. Tuntutan masyarakat yang menggesa untuk mengusut tuntas kasus ini, ditambah

dengan hebohnya di dunia massa membuat pimpinan harus mengambil langkah cepat. Menurutnya, kasus berpotensi tidak akan selesai jika menunggu aturan formal itu. Diskresi jadi alasan Dodi membenarkan hal itu. Di dalam hukum administrasi pemerintahan, jika sebuah aturan ditemukan tidak jelas, maka pejabat dibenarkan untuk ambil keputusan diskresi. Hal tersebut kata Dodi sudah umum terjadi. Diskresi memungkinkan pimpinan untuk mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi. Pembentukan satgas ini juga titah langsung dari Inspektur Jenderal Kemendibud Ristek Chatarina Muliana Girsang. Chatarina temui Aras pada 14 Desember. Ia minta rektor untuk bentuk satgas tersebut secapat mungkin. “Sudah tepat, langkah yang diambil rektor. Sebuah kesalahan jika rektor tak melakukan itu. Dampaknya luas, salah satunya bisa berpengaruh ke akreditasi kampus,” ungkap Dodi saat ditemui di Fakultas Hukum.

Dodi bukanlah orang yang terlalu awam dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Sebelum adanya satgas PPKS, ia tergabung dalam Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan rektor. Tugasnya mengusut fakta dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh bekas Dekan FISIP kepada mahasiswi bimbingannya. “Kalau satgas, bisa memberi

rekomendasi,” lanjutnya. Rekam jejak lainnya, ia pernah berproses di Lembaga Advokasi Bagian Hukum (LABH) Yogyakarta. Ia mengepalai Divisi Buruh selama tiga tahun. Setahun pula jadi Kepala Penelitian dan Pengembangan di lembaga yang sama. Dodi mengaku, ia punya pengalaman yang sejalan dengan tugasnya di satgas. Selama bekerja di LABH, ia sudah getol menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan. Mulai dari pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan pejabat terhadap bawahannya. Dosen Jurusan Ilmu Hukum ini punya defenisi soal kekerasan seksual yang tak jauh berbeda dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 30. Yang pasti, katanya, perbuatan itu merugikan perempuan. Lahirnya permendikbudristek tak serta merta diterima khalayak. Banyak pro dan kontra yang timbul. Misalnya pasal 5 ayat 2 pada poin b. Tertulis bahwa salah satu bentuk kekerasan seksual adalah saat memperlihatkan alat kelamin dengan sengaja tanpa persetujuan korban. Beberapa kelompok keagamaan menganggap pernyataan “tanpa persetujuan korban” sama saja dengan melegalkan perbuatan zina. “Tidak begitu cara berpikirnya. Yang namanya kekerasan seksual pasti pemaksaan, kalau suka sama suka, apa kekerasan seksual namanya?” kata Mantan Wakil Dekan II Fakultas Hukum itu. Dampak jika terjadi pada mahasiswa, menurut Dodi, fokus belajar jadi tak lancar. Ia akan merasa trauma dan memikirkan stigma yang dibentuk masyarakat. Hal tersebut harus jadi prioritas. Isu relasi kuasa tak luput dari pandangan Dodi. Poin persetujuan korban dalam Permendikbud,

25 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 2

katanya, barangkali dalam konteks relasi kuasa. Misalnya saat dosen dan mahasiswa yang tengah bimbingan, dosen tersebut meminta untuk sentuhan fisik. Niat Dodi sebenarnya tak ingin lebih jauh. Ia ingin hanya cukup sampai di TPF saja. Dodi mengaku bahwa Syafri Harto adalah koleganya. Jika disangkutkan dengan hubungan pribadi, ia khawatir musuhnya bertambah. Ia tak masalah jika keanggotaannya diganti dengan orang lain. Kedekatan mereka bermula dari pertemuan antar pejabat kampus yang rutin diadakan 2 kali sebulan. Saat itu, keduanya masih menjabat sebagai dekan dan wakil dekan di fakultas masing-masing. “Kalau dari sisi silahturahmi, mungkin susah. Masa teman sendiri saya sidang?” “Artinya, Pak?” “Tapi ini tanggung jawab, masa saya enggak peduli tentang kekerasan seksual? Masa saya enggak mau membantu UNRI? Apalagi, saya punya anak perempuan,” tegas Dodi. Bertindak profesional adalah jalan yang diambil Dodi. Ia harus independen terhadap apapun. Satgas, katanya, tidak bertindak untuk menyenangkan pihak-pihak tertentu. Ia berprinsip, satgas harus bekerja se-objektif mungkin.

Selain Dodi, ada Evi Nadhifah yang menjabat sebagai sekretaris. Lain halnya dengan Dodi yang berasal dari pendidik, Evi adalah tenaga kependidikan di Lembaga Penelitian

26 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

dan Pengabdian Masyarakat atau LPPM. Sayangnya, Evi tidak pernah sekali pun mengikuti pelatihan atau kajian tentang kekerasan seksual atau gender. Apalagi bergabung dengan organisasinya. “Kalau dicari dari tenaga kependidikan yang sudah ikut pelatihan, bakalan susah. Kecuali emang dulunya sebelum menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah seorang aktivis,” ujarnya kepada Bahana April lalu. Perjalanannya jadi anggota satgas sama dengan Dodi. Arsiparis Ahli Madya ini ditunjuk langsung oleh Aras. Ia dipilih atas rekomendasi rektor untuk mewakili tenaga kependidikan. Evi awalnya merasa keberatan. Ia mengaku kurang mengikuti perkembangan kasus kekerasan seksual yang kala itu tengah hangat. Namun, ilmunya tentang kekerasan seksual tak kosong begitu saja. Ia pernah mengikuti proses pendampingan pelecehan seksual terhadap mahasiswi FISIP saat menjalankan kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Hal itu ia lakukan karena tupoksi kerjanya sebagai pegawai LPPM. Tak hanya itu, sebelum bertugas di LPPM, ia juga pernah menjadi bagian dari anggota kepegawaian UNRI. Tepatnya pada tahun 2014. Menurut Evi, menindaklanjuti berbagai kasus sudah biasa dan menjadi makanan sehari-harinya. “Oleh karena itu mungkin tim menunjuk saya,” ungkapnya. Berangkat dari pengalamannya itu, Evi utarakan pendapat mengenai Pasal 5 Permendikbud 30 yang tuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Menurutnya, setiap kebijakan baru pasti akan ada orang yang berusaha melemahkannya. Kemudian, aturan itu harus dilihat secara utuh dan tidak boleh secara parsial saja. Apalagi, peraturan tersebut masih dalam tahun pertama dan pionir. Tentu, lanjut Evi, masih perlu beberapa

perubahan. Evi dan timnya kebagian tugas mempelajari dokumen yang sudah disiapkan TPF. Gunanya untuk menganalisis kebenarannya. Lalu, satgas memanggil dan menentukan saksi untuk dibuat berita acara. Kini, dirinya dan tim tengah persiapkan panduan. Juga, membuat panitia seleksi untuk keanggotaan satgas selanjutnya.

Sedangkan empat perwakilan mahasiswa yang tercatat di SK Rektor bernomor 4345/UN19/2021 adalah hasil rekomendasi Kaharuddin— Presiden Mahasiswa BEM UNRI. Sebelum itu, Kahar sudah lebih dulu ditunjuk oleh rektor. Mundur sebulan, Kahar terbang ke Jakarta. Ia mengikuti pelatihan yang ditaja Cakra Wikara Indonesia. Sebuah perkumpulan peneliti yang menekuni kajian sosial politik dengan perspektif gender. Ia datang sendiri di pertengahan November. Pengalaman belajarnya singkat, hanya 2 hari. “Ini sertifikatnya,“ Kahar menunjukkan layar ponsel pintarnya saat dijumpai di sekretariat BEM UNRI, Minggu (31/7). Materi bertajuk Memperkuat Organisasi Masyarakat Sipil dan Organisasi Mahasiswa dalam Menciptakan Lingkungan Kerja yang Aman dan Responsif terhadap Kekerasan Seksual ini diisi oleh banyak tokoh publik. Salah satunya penulis dan aktivis muda Kalis Mardiasih. Mahasiswa Jurusan Matematika 2017 ini mengawali perjalanan


Laporan Utama 2

organisasi dari Bupati Mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Matematika. Setahun kemudian, ia komandoi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sebagai gubernur mahasiswa. Kata Kahar, pengalaman menangani kasus kekerasan seksual juga jadi kerjaannya sewaktu di fakultas sendiri. Kahar mengaku harus “melepas” almamaternya untuk masuk sebagai anggota satgas. Tanpa ada embelembel sebagai presiden mahasiswa. Menurut laki-laki kelahiran Bone ini, kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang tubuh, hasrat seksual ataupun fungsi reproduksi secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang. Di dalam kasus ini, katanya, bukan hanya soal hasrat seksual. Relasi kuasa jadi salah satu ketimpangan yang disorot. Dampaknya, kata Kahar bisa berakibat ke kondisi psikis penyintas. Bahkan, ekonomi, sosial, budaya, keluarga, dan masyarakat. Mengenai frasa “tanpa persetujuan korban”, ia menilai aturan itu butuh diatur lagi. Kode etik juga mesti ditambah. Walaupun atas dasar suka sama suka, sama saja bahwa itu perbuatan yang tak diinginkan. Simpul Kahar, mereka melakukan aktivitas seksual di luar nikah. “Kan dilakukan di kampus kan, kurang baik juga kan.” Ia tak menjawab secara gamblang ketika ditanyakan apakah setuju dengan Permendikbud atau tidak. Namun, ia mengaku tetap harus berpatokan kembali dengan Permendikbud dalam menjalankan tugas di satgas.

Mella

Nindya

Wahyuni

adalah salah satu nama yang disodorkan Kahar. Ia Direktur Jenderal Internal di Kementerian Pemberdayaan Perempuan BEM UNRI. Mahasiswa Fakultas Keperawatan ini ditunjuk oleh Presiden Mahasiswa Kaharuddin.

Jabatannya yang selaras dengan syarat jadi anggota satgas jadi pertimbangan Kahar. Sebelumnya, Mella juga terlibat dalam kepengurusan BEM Fakultas Keperawatan. Setahun menjadi Kepala Divisi Komunikasi dan Informasi.

Pengalaman Mella mengikuti pelatihan tentang kekerasan seksual masih minim. Pasca masuk ke BEM UNRI, ia mengaku lebih melek. Pasalnya, ada edukasi mengenai kekerasan seksual sejak bergabung di kementerian ini. Seingatnya, ada tiga sampai empat kali diskusi yang dibuat oleh divisinya. Mereka menamainya Diskusi dan Edukasi yang membahas kekerasan seksual. Mella juga sering ikut seminar yang mengupas hal serupa. “Kalau pelatihan dan seminar pernah saya ikuti. Tapi, kalau pelatihan khusus dan bergabung di organisasi enggak ada,” akunya. Hadirnya We Care Center jadi pengalaman Mella sebagai penanggung jawab dan mendampingi korban. Wadah bentukan BEM UNRI itu bertujuan menampung aduan mahasiswa UNRI mengenai pelecehan seksual di kampus. Ia katakan, pernah menangani kasus kekerasan seksual. Salah satu bentuk penanganan yang dilakukan adalah kerja sama dengan psikolog dari Universitas Islam Riau. Berbekal pengalaman itu, Mella mantapkan hati menjadi bagian dari satgas PPKS. Setelah bergabung di satgas, Mella dan tim langsung berkomunikasi dengan penyintas. Ia tanyakan apa

yang diperlukan Bintang. Penyintas hanya minta bantuan satgas agar dapat menyelesaikan studinya dengan lancar tanpa stres. “Perlindungan korban SH sudah dilakukan pihak lain, jadi korban tidak butuh banyak dari kami,” tutur Mella. Sama seperti Kahar, Mella tak sepenuhnya setuju dengan Permendikbudristek terbaru. Katanya, pasal 5 perlu diubah. Sebab, hubungan antara sepasang orang yang tak mahram dilarang dalam agamanya Islam. “Bagaimanapun, kalau itu dilakukan oleh yang tidak muhrim, sudah dianggap pelecehan seksual dari pandangan agama dan nilai-nilai budaya,” tukasnya.

Fitria yang merupakan Menteri Pemberdayaan Perempuan di BEM UNRI juga duduk di kursi satgas. Setahun sebelumnya, posisi Menteri Keuangan ia pegang di lembaga yang sama. Tak hanya di BEM UNRI, ia juga pernah aktif dalam BEM FH sebagai sekretaris umum. Fitria juga pernah bergabung dalam Lembaga Studi Mahasiswa Islam Al-Mizan di fakultasnya. Fitria sendiri punya pengalaman pelatihan khusus mengenai kekerasan seksual. Pelatihan itu digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Pekanbaru. Unsur kekerasan terhadap perempuan dan anak jadi fokus utama yang dikaji. Ia juga bergabung dalam Forum Anak Meranti yang juga sering 27 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 2

membahas isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saat masih duduk di bangku sekolah, ia pernah bergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja. Fokus utamanya juga sama. Di luar dari itu, ia mengikuti kajian BEM UNRI tentang pencegahan kekerasan seksual di kampus. Untuk pendampingan korban, Fitria belum ada pengalaman. Namun, ia sempat ikut andil membantu Mely Oktaviani sebagai Menteri Perempuan di periode sebelumnya. Sebagai anggota satgas, Fitria dan Mella melihat bahwa kasus kekerasan seksual yang dialami Bintang juga terjadi akibat penyalahgunaan relasi kuasa. “Kalau saya lihat, kasus kekerasan seksual di kampus masih banyak relasi kuasa. Misalnya mahasiswi dengan dosen pembimbingnya. Dosen bisa saja menggunakan relasi kuasa dengan cara tidak meluluskan mahasiswi tersebut,” ungkapnya.

Ayu Rahma Hidayah tak banyak bicara. Beberapa kali ia melempar pertanyaan Bahana untuk dijawab oleh ketua satgas. Mahasiswi Pendidikan Matematika ini adalah anggota termuda di satgas. Ia pernah mendampingi korban kekerasan seksual oleh mahasiswa di jurusannya sendiri. Ayu kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan di BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Posisinya di divisi ini membuatnya ia 28 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

ditunjuk jadi anggota satgas. Mengawali tahun 2022, Ayu menyambangi kantor Komisi Nasional Perempuan di Jakarta. Tak sendiri, seluruh anggota satgas juga turut serta. Ia mengaku dapat pelatihan secara tak langsung di sana. Meski ada agenda lain, ilmu soal kekerasan seksual jadi tambahan untuk pemahamannya sendiri. Saat masuk ke organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja, Ayu pernah ikuti pelatihan soal gender. Ketika itu ia masih sekolah menengah akhir. Ayu menyayangkan terjadinya kekerasan seksual di kampus. Menurutnya, kejadian ini seharusnya tak ada di sekitar kita. Khususnya di dunia pendidikan. “Untuk mempersiapkan diri kita, kita jaga-jaga. Misal di tempat sepi, antisipasi kita enggak ke sana. Kita sediakan alat yang bisa mendampingi kita,” tutur Ayu. Bergeser ke pelaku, Ayu katakan harus ada tindakan tegas. Selain sanksi hukum dan administratif, pelaku juga berhak dapatkan edukasi oleh psikolog. Alasannya, meskipun pelaku sudah diberikan hukuman, hal itu tidak menjamin ia berhenti mengulangi perbuatannya.

Setiap anggota tentu ada pemimpin. Sri Endang Kornita pucuknya. Kacamata Sri melihat bahwa kekerasan dapat terjadi dari berbagai sumber. Salah satunya muncul dari ketidakadilan gender. Bias gender jadi puncaknya. Sepak terjang Sri membuatnya

tak gamang dalam tugas ini. Pengalamannya mendampingi korban kekerasan seksual jadi salah satu faktor. Sri mengungkapkan dirinya sudah terlibat dalam pendampingan terhadap Bintang sejak November 2021—awal mula kasus itu mencuat. “Jadi ketika ditunjuk sebagi Ketua Satgas PPKS UNRI, saya sudah memahami dan berada dalam penanganan KS tersebut,” ungkapnya. Sri juga bertugas sebagai Koordinator Pusat Studi Kependudukan dan Peranan Wanita di LPPM UNRI. Pusat studi ini memiliki peer group perihal pengkajian yang berkaitan di dalamnya. Kepiawaan Sri tak hanya di dalam kampus. Ia juga aktif bergabung di Asosiasi Pusat Studi Wanita/ Gender dan Anak Indonesia. Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak Lancang Kuning Provinsi Riau juga jadi tempatnya berproses. Sri aktif pula dalam Kelompok Kerja Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial Riau. Lain dengan Kahar, Mella, dan Fitria, Sri menilai frasa “tanpa persetujuan korban” di dalam Permendikbud tidak lain demi menjaga privasi dan hak individu korban. Hal ini juga membantu satgas dalam menindaklanjuti langkah berikutnya. Baik secara langsung maupun tidak. “Bagi saya, agama adalah pedoman utama dalam kehidupan yang melahirkan moral. Sehingga seseorang yang beragama dan menjalankan ajaran agamanya dengan baik, semestinya juga memiliki moral yang baik dan akan mengikuti aturan baik yang berlaku termasuk Permendikbud ini,” terangnya. Namun, katanya, ahli agama lebih paham akan hal tersebut jika bicara dari sudut pandang agama. * *Semua foto dari dokumen pribadi narasumber


Laporan Utama 3

TENGGANG KOMAHI CARI KEADILAN Oleh Reva Dina Asri

Khelvin dan Agil tak pernah absen. Begitu juga dengan Voppi. Perjuangan mulia mereka dimulai ketika mengetahui kasus kekerasan seksual yang menimpa mahasiswa di jurusannya.

“Ia telah berjuang. Ia telah menanggung beban. Ia telah menangis di tiap malamnya. Tapi tak kunjung keadilan berpihak padanya. #PercumaAdaPengadilan”

B

EGITU tertulis di atas lembaran poster hitam di tangan kiri Agil. Sedang tangan kanannya memegang payung hitam, sebagai bentuk rasa duka. Khelvin Hardiansyah berdiri di samping kiri Agil. Sinar dari lilin putih di tangannya berpendar. Lima belas orang berdiri melingkari spanduk hitam bertuliskan #PERCUMAADAPENGADILAN. Semuanya kenakan setelan hitam. Lilin-lilin dibakar, belasan poster protes dibentangkan. Kamis malam 21 April, Aksi Kamisan di bawah Tugu Juang, Jalan Diponegoro, Pekanbaru tampak begitu syahdu. Tepat saat jarum jam menunjuk angka delapan, Agil mulai buka suara. Mereka menyebutnya sebagai renungan di bawah purnama. Bergantian, mereka utarakan kecemasan atas menjamurnya kasus kekerasan seksual yang terkuak di Indonesia. Tak hanya pendamping dan masyarakat umum, hadir pula beberapa penyintas malam itu. Kekerasan seksual adalah tema besar yang digaungkan. Tak patah semangat, mereka selalu datang dan bentangan spanduk sejak sore. Satu suara, menuntut keadilan bagi Bintang dan penyintas lain. Khelvin dan Agil tak pernah absen. Begitu juga dengan Voppy. Ketiga sejawat ini adalah pucuk pimpinan gerakan di Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Riau atau Komahi UNRI—himpunan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI). Khelvin adalah Ketua Komahi atau biasa mereka sebut sebagai mayor. Voppi Rosea Bulki mendampinginya sebagai wakil atau

29 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 3

vice mayor. Sementara Agil adalah ketua divisi advokasi. Ia mengepalai gerakan-gerakan advokasi yang diperjuangkan Komahi. Perjuangan mulia mereka dimulai ketika mengetahui dugaan kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang mahasiswi di jurusannya. Dialah Bintang—bukan nama sesungguhnya—mahasiswi Angkatan 2018. Pada 27 Oktober 2021, Bintang akan bimbingan tugas akhir dengan pembimbingnya Syafri Harto. Nahas, Bintang akui bahwa Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu melakukan tindakan kekerasan seksual padanya. Sepengakuan Bintang, ia mendapat serangan seksual secara fisik. Syafri mencium pipi dan menyentuh bahunya tanpa izin. Bintang kemudian mengadu pada teman kerjanya. Akhirnya, ia putuskan untuk cari keadilan dengan menemui sekretaris jurusan (sekjur) dan ketua jurusan. Permintaan Bintang untuk ganti dosen pembimbing dikabulkan, meski kasus yang ia alami sempat dianggap sepele. Bahkan, ketua jurusan justru mengadukan permintaan Bintang kepada Syafri. Bintang merasa diintimidasi, ia kemudian cerita kepada temannya Tia. Tia lah yang kemudian menjelaskan semuanya pada Komahi. “Kebetulan di hari yang sama, Divisi Advokasi Komahi juga sedang melakukan kampanye anti pelecehan seksual,” ucap Agil. Malamnya, Tia melapor ke Komahi lewat sambungan telepon kepada Agil, Khelvin, dan Fadil. Usai mendengar cerita dari Tia, ketiganya sepakat untuk mengatur perjumpaan langsung dengan Tia di kampus. Pertemuan terjadi pada 29 Oktober. Khelvin dan kawan-kawannya sadar bahwa kasus ini bukanlah persoalan mudah. Terlebih, terduga pelaku adalah orang nomor satu di fakultasnya. Hingga akhirnya Bintang hakulyakin bahwa mengadu ke Komahi langsung adalah jalan terbaik saat itu. Ia pun ceritakan semuanya secara langsung di hari yang sama kepada Komahi. Didampingi Tia tentunya. “Bintang menceritakan kronologis kejadian, ia juga membawa bukti bukti intimidasi

30 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

yang ia dapatkan. Malam itu dia juga menangis,” ujar Khelvin kepada Bahana Mahasiswa. Komahi dengan sigap langsung bangun gerakan ke kelembagaan mahasiswa universitas. Mereka tak yakin fakultas mampu menanganinya. Momentum pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dimanfaatkan sebagai jalan perjumpaan dengan Rektor Aras Mulyadi. Usai pelantikan, mereka berbondong-bondong mencegat

UNRI 1 itu. Kertas laporan berupa kronologis dan tuntutan jua dibawa. “Sudah lapor ke fakultas?” tanya Aras. “Bagaimana mau melapor, sementara pelakunya dekan, Pak?” “Waduh,” jawab Aras lagi. Rektor minta Komahi untuk serahkan laporan kepada stafnya dan berjanji akan menindaklanjuti. Sebab, ia sudah ada janji untuk bertemu mahasiswa berprestasi. Tak kunjung ada kabar, akhirnya Komahi sepakat untuk mengunggah

Aksi Kamisan di bawah Tugu Juang, Jalan Diponegoro, Pekanbaru. FOTO: DOK. NARASUMBER


Laporan Utama 3

video pengakuan Bintang. Bintang sepakat. Langkah ini diambil karena mereka kadung yakin bahwa terduga pelaku mengetahui aksi pelaporan mereka ke rektor. Video pengakuan itu dimuat di akun Instagram Komahi dengan suara yang tak disamarkan. Sebagaimana permintaan Bintang. Video tersebut ditonton hingga dua juta orang. Unggahan itu menarik atensi publik, Komahi dan Bintang jadi perbincangan seantero Indonesia. Beragam pro dan kontra hadir. Syafri

Harto melalui konferensi pers sempat mengancam akan melaporkan tindakan pencemaran nama baiknya. Ia kekeh tak melakukan tuduhan yang dikatakan. Merasa tak aman, Komahi mengontak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru untuk minta perlindungan hukum bagi korban. Sebelumnya, keputusan ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sebab, Bintang belum yakin untuk membawanya ke ranah hukum. Kamis malam 4 November,

mereka sampai di kantor LBH Pekanbaru. Bintang juga hadir. Meski ia tak bertahan hingga akhir pertemuan dan diantar pulang lebih awal. Keputusan malam itu, Bintang menyerahkan semuanya kepada LBH Pekanbaru sebagai kuasa hukum. Komahi tak melepas begitu saja, mereka terus berada di samping Bintang. Esok harinya, Agil dampingi Bintang melapor ke Polresta Pekanbaru bersama LBH. Sementara Khelvin dan Voppy memimpin turunnya aksi protes mahasiswa di depan rektorat. Itu adalah kali pertama aksi dilakukan. Aksi ini buahkan hasil positif, UNRI kemudian membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menyisir dugaan pelecehan. Namun, nyatanya TPF hanya jadi siraman air di tengah panasnya massa aksi. Pendamping korban tak tahu bagaimana hasil kerja tim yang diketuai oleh M. Ikhsan—Ketua Satuan Pengawas Internal itu. Sementara itu, perkembangan di ranah hukum terus berjalan. Laporan Bintang dialihkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Riau, sebab terduga pelaku juga melaporkan Komahi dan Bintang dengan pasal UndangUndang Informasi dan Transaksi Elektronik. Keduanya saling melaporkan. Syafri pun ditetapkan sebagai tersangka pada 17 November. Komahi kembali susun aksi. Kali ini demo di Polda Riau, membawa massa yang lebih banyak. Seluruh mahasiswa UNRI diajak turun. Mereka menuntut pelaku ditahan selama proses pemeriksaan berjalan. Tak lama, berkas dinyatakan P21. Artinya, sudah lengkap. Perkara tersebut lalu dialihkan ke Kejaksaan. Saat itu, desakan kian besar agar jaksa menahan tersangka. “Kami kembali turun aksi di depan kejaksaan, memboyong para perempuan bahkan ibu-ibu untuk memperjuangkan hak Bintang,” ucap Voppi. Tak hanya sekali. Beberapa hari kemudian, Khelvin, Agil, dan Voppy kembali datangi kejaksaan

31 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Laporan Utama 3

sebagai massa aksi kamisan. Mereka taburkan mawar dan bentangkan spanduk protes. Jaksa pun putuskan menahan tersangka, karena khawatir akan mengulang kelakuannya atau bahkan menghilangkan barang bukti. Komahi menyesali bahwa lancarnya perkembangan di jalur hukum tak mendorong kampus untuk lakukan hal serupa. Hasil kerja TPF belum tercium. Kedatangan Chatarina Muliana Girsang Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bak angin segar bagi Komahi dan tentunya Bintang. Tepatnya 14 Desember, Chatarina bertemu langsung dengan Bintang. Mujurnya, ia juga minta Aras untuk segera bentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang sifatnya sementara atau Ad Hoc. Besoknya, surat keputusan keanggotan Satgas keluar. Satgas inilah akan menindaklanjuti hasil kerja TPF. Sri Endang Kornita ketuanya. Sejak saat itu pula, Syafri Harto dinonaktifkan sementara dari jabatan Dekan. Singkat cerita, persidangan pun dimulai Januari 2022 di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Selama jalannya persidangan, Komahi selalu hadir. “Kesalahan kami, tak banyak massa yang turun. [Kami] yakin pengadilan berpihak pada korban, karena hasil pemeriksaan selalu positif membela Bintang,” pendapat Agil. Momentum peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret mereka manfaatkan untuk gelar aksi. Kali ini berlokasi di PN Pekanbaru, saat sidang berlangsung. Sedangkan UNRI belum jua buat keputusan. Dalihnya, menunggu hasil persidangan. Begitu pula hakim yang katakan akan menindaklanjuti hasil temuan tim bentukan kampus. Keduanya saling tunggu dan saling lempar.

32 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Jelang putusan hakim keluar. Komahi lagi-lagi ambil langkah baru dengan menyerahkan berkas Amicus Curiae sebagai bahan pertimbangan bagi hakim. Nyatanya pada hari putusan, hakim menyatakan Syafri Harto tak bersalah dan mengembalikan seluruh haknya. Puluhan mahasiswa menitikkan air mata di depan PN Pekanbaru. Mereka kecewa dengan hasil putusan hakim yang tak berpihak pada korban kekerasan seksual. Voppi menangis hingga matanya sembab dan mukanya kusut. Ia bahkan terjatuh pingsan. Ia tak menyangka, hasil putusan begitu melenceng dari hasil temuan persidangan. Hakim mengaburkan fakta dan kesaksian ahli-ahli. Sepekan usai putusan hakim, Voppy dan Khelvin terbang ke ibu kota bersama Bintang untuk menemui langsung Menteri Nadiem Anwar Makarim. Mereka dampingi Bintang untuk tuntut keadilan baginya. Komahi juga lakukan audiensi di ruang kerja Nadiem. Ada beberapa poin yang dihasilkan usai audiensi. Pertama, Kementerian akan bersungguhsungguh menangani kasus ini dengan mendukung penolakan kasus kekerasan seksual di kampus. Kemudian, berjanji akan menindaklanjuti kasus ini dari kacamata yang berbeda. Sebab, kementerian punya hak dan wewenang sebagai lembaga yang menaungi perguruan tinggi. Selain itu, juga akan bantu menciptakan lingkungan UNRI yang aman dan bebas dari kekerasan seksual. Semangat memperjuangkan Syafri Harto untuk dipenjara pun terus membara. Usai dibebaskannya Syafri Harto dari hukuman, Jaksa Penuntut Umum segera menyusun memori kasasi yang akan diserahkan ke Mahkamah Agung. Hadirnya hakim agung perempuan dalam komposisi trio untuk mengeksekusi Syafri Harto sempat membawa angin segar.

Celakanya, permohonan itu ditolak pada 9 Agustus 2022 silam. “Korban dibunuh lagi, keadilan ditikam berkali-kali,” kata Agil.

*** Kini, Dekan FISIP sudah berganti. Namun, perjuangan mencari keadilan bagi Bintang belum tuntas. Hingga habis masa kepengurusan di Komahi Juli lalu, baik Khelvin, Agil, Voppi dan kawan-kawannya tetap berada di samping penyintas. Meskipun mereka harus mampu membagi waktu dan fokus di tengah perkuliahan yang masih aktif. Di tengah keberanian membela hak korban, ada pula kekhawatiran. Khelvin misalnya. Ia mengaku sempat khawatir dan keluarga minta dirinya untuk berhenti saja. Namun, menurut Khelvin, upaya itu bukan hanya tentang dia, tapi juga himpunan yang jadi keluarga HI. “Keyakinan kami ini berasal dari keberanian korban. Korban saja berani berjuang, kenapa kami tidak,” pungkas Khelvin. Selaras dengan Khelvin, Voppy juga begitu. Ia merasakan guncangan dan ancaman yang datang bertubitubi. Berbeda dengan Agil yang justru tak memberi tahu keluarganya. Pada akhirnya, keluarga mereka merestui jalan panjang perjuangan mulia itu, sejak ketiganya datangi ibu kota untuk bersuara. Keluarga jadi yakin, bahwa ini bukan persoalan gampang. Hingga kini, kampanye Komahi untuk membela hak Bintang masih membara. Meski di perjalanan sempat tersandung akibat tindakan Kekerasan Berbasis Gender Online di Komahi. Pelakunya merupakan salah satu pimpinan divisi di Komahi. Tak pandang bulu, Khelvin ambil keputusan mengeluarkan pelaku secara tidak hormat sebagai bentuk integritas perjuangan melawan kekerasan. *Annisa Febiola


Jengah

Prof. Dr. Hadriana, M.Pd

Lima Resep Rahasia Lulus Tes TOEFL

U

PT Bahasa Universitas Riau—sebelumnya bernama UP2B—merupakan unit pelaksana teknis di bidang pengembangan pembelajaran dan pelayanan kebahasaan. Pembentukan unit tersebut dalam rangka mendukung pelaksanaan program rektor dan upaya mengemban amanat penyelenggaraan Perguruan Tinggi. Peraturan Rektor Universitas Riau Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Universitas Riau jadi landasan aturan. Mahasiswa Program S1, S2 dan S3 Universitas Riau diperkenankan mengikuti ujian akhir apabila telah memiliki kemampuan berbahasa Inggris setara Test of English as a Foreign Language (TOEFL). Namun, skor minimal ditentukan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Pelaksanaan tes TOEFL bagi mahasiswa baru jenjang S1 dilaksanakan dalam bentuk pre-test dan posttest. Yakni sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran. Pre-test dilaksanakan segera setelah kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) selesai. Bagi mahasiswa yang langsung mendapat skor TOEFL minimal 450, tidak diwajibkan mengikuti kegiatan pembelajaran dan post-test. Sedangkan mahasiswa yang

FOTO: UNSPLASH.COM

belum berhasil memperoleh skor minimal 450 diberikan bimbingan melalui Kelas TOEFL Preparation dan diikuti dengan kegiatan post-test. Bagi mahasiswa yang sudah memenuhi skor persyaratan minimum 450, diberikan sertifikat TOEFL yang merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir. Sementara yang belum lulus, diminta untuk mengikuti test ulang. Mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan kewajibannya dengan memiliki sertifikat TOEFL di akhir semester empat. UPT Bahasa juga melaksanakan kegiatan bimbingan TOEFL Preparation bagi 100 orang mahasiswa Pascasarjana di setiap tahunnya. Kelas ini dapat diikuti oleh mahasiswa yang berminat, namun lebih diprioritaskan bagi mahasiswa yang berada pada tahun-tahun akhir perkuliahan. Agar tidak menjadi kendala ketika hendak mendaftar ujian akhir, kami mengimbau mahasiswa S2 dan S3 untuk dapat memiliki Sertifikat TOEFL sesegera mungkin atau paling lambat sebelum mengikuti seminar hasil penelitian. *

1

2

3

4

5

Peserta tes harus memiliki pengetahuan tentang struktur bahasa Inggris yang memadai. Baik untuk menghadapi tes pada Listening Comprehension Section maupun Structure and Written Expression Section. Semua kalimat pada sesi ini menggunakan kalimat-kalimat yang benar menurut tata bahasa Inggris dan biasanya adalah kalimat lengkap.

Peserta harus memahami setiap instruksi/ perintah/ direction yang diberikan dengan baik sebelum hari ujian.

Bila tidak mengetahui jawaban dari satu pertanyaan, tinggalkan saja dulu atau langsung ditebak saja, mengingat keterbatasan waktu. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan satu pertanyaan.

Di akhir waktu ujian, sempatkan untuk melihat kembali apakah masih ada soal-soal yang belum dijawab. Bila ada, tebak saja. Reading Comprehension Section biasanya adalah bagian yang lebih mudah, hanya saja perlu kemampuan membaca cepat.

Telitilah dalam menjawab setiap soal.*

33 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Sempena

FOTO: DOK. NARASUMBER

IKHTIAR ENI SUMIARSIH MENUMBUHKAN POTENSI WISATA RIAU Eni jadi satu-satunya perempuan yang mendapat penghargaan dari Kemenparekraf. Penganugerahan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap perguruan tinggi terbaik dalam pendampingan desa wisata 2020. Oleh Reva Dina Asri

K

AKI Eni melangkah naik ke atas panggung. Ia menangis, hingga masker putih yang menutupi sebagian wajahnya lembap oleh air mata. Busana Melayu berwarna ungu yang dikenakan sebagai lambang daerah asalnya. Sehelai kain songket berwarna senada mengisi bahu kanan. Eni Sumiarsih jadi satu-satunya

34 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

perempuan yang mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) hari itu. Kemenparekraf berikan predikat juara pertama kepada Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Riau itu. Penganugerahan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap perguruan tinggi terbaik dalam pendampingan desa wisata tahun 2020. Eni pun

membawa pulang hadiah 75 juta rupiah ke Pekanbaru. “Saya tidak percaya, bahkan sampai menangis ketika dipanggil sebagai juara pertama. Sebab, ini masih tahun kedua kami mendampingi,” cerita alumnus Universitas Riau (UNRI) itu. STP Riau menjadi pendamping bagi Desa Wisata Koto Mesjid, salah satu desa di Kabupaten Kampar.


Sempena

Buah dari kerja keras itu, mereka mampu mengungguli 155 perguruan tinggi lain. Perjalanan Eni membawahi STP Riau bermula dari Yayasan Pendidikan Wisata Engku Puteri Hamidah yang memintanya sebagai calon ketua perguruan tinggi tersebut. Kala itu, ia berstatus dosen di sana. Eni mengajar mata kuliah Statistik Pariwisata, Pengantar Pariwisata dan Metodologi Penelitian. Sementara itu, Eni juga berstatus dosen tetap di jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNRI. Mengingat statusnya itu, ia tak lantas boleh begitu saja menjadi ketua STP Riau. Yayasan kudu meminta izin secara formal kepada rektor untuk memboyong Eni. Usai bersurat kepada Rektor UNRI Aras Mulyadi, permintaan yayasan bisa dikabulkan. Kepemimpinan Eni sebagai ketua STP Riau dimulai pada 2019. Eni yang berlatar belakang pendidikan bidang perikanan, mengaku tak kesulitan dalam memimpin sekolah pariwisata. Ia dapatkan ilmu mengolah pariwisata perairan saat menjalani studi magister di University Kebangsaan Malaysia. “Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan yang saya ambil juga belajar tentang mengolah perairan, sehingga ada pembelajaran pariwisata di dalamnya.” Mengawali masa tugasnya pada 2019 silam, Eni mulai menyusun langkah. Ia berpegang pada Undang Undang nomor 12 Tahun 2012 yang menyebutkan bahwa “Tridharma perguruan tinggi adalah kewajiban perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.” “Untuk pendidikan sudah pasti mengajar, lalu juga melakukan penelitian. Kemudian untuk pengabdian di masyarakat, kita rancang bagaimana bentuk pengabdian STP kepada masyarakat

Riau,” ucap Eni. Sebelum turun pengabdian, Eni dan tim berkonsultasi kepada Dinas Pariwisata Provinsi Riau. Dalam proses itu, Eni mengetahui adanya program pendampingan desa wisata yang dibuka oleh Kemenparekraf. Berniat ambil peluang, STP Riau mengajukan proposal untuk ikut andil dalam program ini. Pemilihan desa tak terjadi begitu saja, mereka minta saran kepada dinas. Alhasil, Kabupaten Siak dan Kampar disebut sebagai prioritas pendampingan. Sejatinya, Riau memiliki 140 desa wisata dari total 1.585 desa yang ada di seluruh provinsi. Berbagai pertimbangan dari seluruh aspek rampung, tim kemudian sepakat memilih Desa Koto Mesjid. Menurut Eni, pemilihan ini tak lepas dari konsentrasi keilmuannya di bidang perikanan yang sejalan dengan potensi di desa tersebut. Menelusuri sejarahnya, Desa Koto Mesjid merupakan pemekaran dari Desa Pulau Gadang. Tepatnya pada tahun 1999, sesuai dengan surat Keputusan Gubernur Riau Nomor 247 Tahun 1999. “Untuk menjadi desa wisata, mereka harus memiliki keautentikan desa,” ujar Eni. Potensi wisata yang autentik dari desa ini adalah bahwa setiap rumah memiliki kolam ikan. Setidaknya satu kolam. Desa Koto Mesjid juga dikenal dengan sebutan Kampung Patin, berkat hasil budidaya ikan patinnya. Awal mula keberadaan kolam di halaman rumah penduduk punya sejarah sendiri. Eni bercerita, semuanya berawal dari dipindahkannya penduduk akibat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA Koto Panjang. Mereka lantas dipindahkan ke wilayah yang lebih tinggi datarannya, yang mana tak lagi bersentuhan dengan sungai. Padahal, semula mayoritas mata pencaharian utama penduduk Koto Mesjid adalah nelayan.

Pada awal kepindahan, Desa Koto Mesjid tak punya sumber air dan tergolong daerah yang kurang baik untuk budidaya ikan. Namun, sejak ditemukannya sumber mata air bawah tanah yang melimpah, desa itu berubah menjadi kawasan budidaya air tawar. Mereka memanfaatkan air melalui sumur bor. Semua pertimbangan itulah yang memantapkan hati Eni memilih Kampung Patin sebagai lokasi yang tepat untuk pendampingan. STP Riau kemudian menemui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kampar, buat kesepakatan dan kerja sama. “Saat itu (2019), kami terkendala dengan dana sehingga hanya mampu melakukan pendampingan kepada 10 orang masyarakat sekitar,” kenang Eni. Eni mendampingi masyarakat melalui pelatihan berupa tata kelola desa wisata, penyediaan homestay, serta kebutuhan lain untuk menjadi desa wisata yang unggul. Untuk menjaga konsistensi dan mengakali keterbatasan biaya dalam pendampingan, Eni menyarankan dosen dan mahasiswa pariwisata untuk melakukan penelitian di Desa Koto Mesjid. Eni pun membawa STP memetik hasilnya, lewat penghargaan sebagai 10 besar perguruan tinggi terbaik dalam melakukan pendampingan desa wisata. Anugerah penghargaan pertama baginya. Tahun berikutnya, Eni memulai strategi baru sebagai jawaban dari evaluasi program sebelumnya. Ia kembali mengikuti program yang sama, namun meminta dukungan biaya dari perusahaan tambang minyak Chevron. Chevron menyetujui proposal yang diajukan STP untuk bersama membangun perkembangan wisata di Desa Koto Mesjid. Konsistensinya dalam mendampingi masyarakat tak hilang timbul. Ia bereskan delapan program pendampingan, termasuk menjadikan masyarakat Koto Mesjid memiliki Usaha Mikro, Kecil, dan

35 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Eni saat menerima penghargaan dari Kemenparekraf. FOTO: DOK. NARASUMBER

Menengah (UMKM). “Ketika kami datang di tahun 2019, Koto Mesjid hanya memiliki 10 pegiat UMKM. Setahun setelah kami datang, 50 persen lebih masyarakat adalah pegiat UMKM,” katanya dengan bangga. Masyarakat yang biasanya menjual hasil kolam ikan, berkembang hingga mengolahnya secara mandiri. Mereka mampu membuat berbagai macam olahan dari hasil budidaya ikan. Mulai dari nuget, bakso, pempek, kerupuk kulit ikan, dan bakso ikan goreng. Hampir tak ada bagian dari tubuh ikan patin yang terbuang sebagai limbah. Dagingnya diolah sebagai makanan. Tulangnya diolah sebagai tepung ikan. Bahkan, kotorannya disulap jadi pakan ternak dan pupuk, meski produksinya belum terlalu besar. Tak berhenti sampai juara pertama pendamping saja, Eni berlanjut dengan membawa Desa Koto Mesjid dalam penghargaan

36 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

ADEWI bidang kuliner pada tahun 2021. Program ini juga dihelat oleh kemenparekraf. Lagi-lagi Eni unggul sebagai pemenang setelah menyingkirkan 1.800 desa wisata lain di seluruh tanah air. Kemenangannya berhasil membawa menteri Sandiaga Uno berkunjung ke Desa Koto Mesjid. “Mereka yang masuk dalam 50 besar akan dikunjungi menteri, termasuk kita,” kenang Eni. Jalan panjang Eni memajukan potensi dan mengharumkan Koto Mesjid di kancah nasional tak lantas berjalan mulus. Kadang kala ia mendapati kendala, terlebih pada awal pengabdiannya. Eni berbagi cerita kesulitannya ketika mengajak masyarakat berpartisipasi. Kini, aral itu sudah pupus bersama dengan penghargaan-penghargaan yang diterima Kampung Patin. Eni tak ingin mengakhiri pengabdiannya begitu saja. Usai Kampung Patin, ia melebarkan sayap pendampingan ke 3 kabupaten di Riau. Ada Pekanbaru, Bengkalis,

dan Kampar. Tak melulu bergelut di bidang perairan, melainkan juga eksplorasi potensi budaya dan wisata sejarah. Keberhasilan Eni tak lepas dari sokongan sang ayah, Suwardi Mohammad Samin. Eni masuk ke STP juga berdasarkan pinta sang ayah. Ia berharap anak sulungnya itu dapat meneruskan perjuangannya di dunia wisata. Suwardi menjadi ketua yayasan dan pengelola STP Riau sejak awal berdiri. “Saya arahkan dia di STP karena ia mampu, namun di UNRI tidak terlalu mendukung perkembangannya,” jelas Suwardi. Kini, berkat program-program pendampingannya, lapangan pekerjaan baru pun terbuka. “Beberapa pemuda berhenti menjadi preman yang meminta pakang kepada truk truk yang melewati desanya, kemudian memilih menjadi pemandu wisata dengan pendapatan jutaan rupiah,” kata Eni mengakhiri wawancara. *


Esai Foto

BONGKAR-BANGKIR PROYEK IPAL Oleh Rio Eza Hananda

H

AMPIR tiga tahun lamanya, pembangunan Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) tak kunjung usai. Mulanya, Pemerintah Kota Pekanbaru terapkan kebijakan dalam perizinan bagi pengembang perumahan baru. Berupa diharuskan membangun IPAL Komunal. Alasannya, agar masyarakat tak perlu lagi membangun septic tank secara mandiri. Sayangnya, meskipun kontrak yang dimulai pada tahun 2018 ini telah berakhir, proyek IPAL belum terselesaikan. Dampak yang ditimbulkan oleh proyek pun beragam. Mulai dari pedagang yang mengeluhkan penurunan omzet, sebab terhalang oleh pembangunan

sampai kondisi jalan yang rusak di sekitaran proyek. Dilihat dari foto yang diambil dari lapangan, kondisi jalan yang rusak sudah harus segera dilakukan perbaikan. Sebab tak lagi adanya aspek keamanan dan kenyamanan pada kondisi jalan. Ironisnya, banyak sedimen dan air bekas galian IPAL yang membuat drainase tersumbat. Imbasnya, genangan hadir bahkan menyebabkan banjir di sekitar bekas galian. Tak hanya itu, kemacetan menjadi dampak yang paling sering terjadi di daerah proyek IPAL. Sebab, akses jalan yang menjadi sempit dan sulit dilewati.

37 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Esai Foto

38 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Esai Foto

39 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Bincang-Bincang

DEWAN PENASEHAT RUMPUN PEREMPUAN RIAU, RISDAYATI:

RELASI KUASA JADI SENJATA LANGGENGKAN KEKERASAN SEKSUAL DI KAMPUS Oleh Malini

Laporan Studi Kuantitatif Barometer Kesejahteraan Gender Indonesia Judicial Research Society dan International NGO Forum on Indonesian Development pada 2020 membuktikan betapa kuatnya relasi kuasa dalam kasus kejahatan seksual ini. Tempat kerja atau kantor menyumbang 23,8 persen KS.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) tak tinggal diam. Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi.

Kampus kudu berikan rasa aman bagi seluruh warga kampus. Sebagai mitigasi, setiap perguruan tinggi diwajibkan membentuk Satuan Tugas atau Satgas khusus PPKS. Kampus Universitas Riau (UNRI) sendiri sudah punya satgas Ad Hoc, setelah

40 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Risdayati tak bisa memungkiri bahwa kekerasan seksual sering kali terjadi di lingkungan kampus. Semuanya tak terlepas dari relasi kuasa dan kesenjangan daya antara pelaku dan korban. Risda merupakan Dewan Penasehat Rumpun Perempuan Riau sekaligus Dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNRI.

Banyaknya kasus KS yang akhirakhir ini mencuat di lingkungan kampus, menimbulkan tanda tanya tentang apa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kasus kekerasan seksual. Bagaimana pula relasi kuasa bisa berpotensi dalam kejahatan KS? Malini, kru Bahana bincangbincang bersama dengan Risdayati Maret lalu. Simak petikan hasil wawancaranya.

Tindakan seperti apa yang bisa dikatakan kekerasan seksual? Suatu tindakan bisa dikatakan pelecehan jika tidak disukai. Digambarkan dengan perilaku seksual yang tidak disukai. Dapat membuat orang merasa tertunduk, terhina, dan terintimidasi dari tindakan itu. Mungkin dalam bahasa orang, cuman disentuh tangannya. Nyentuhnya di mana dulu, sentuhan sehadap berbeda dari sentuhan intimidasi, matanya. Apa yang harus korban lakukan ketika menerima bentuk kekerasan seksual?

FOTO: DOK. NARASUMBER

Perguruan tinggi menjadi sarang terganas yang paling rawan KS. Hal ini dibuktikan oleh laporan ke Komnas Perempuan tahun 2015 sampai 2020. Sebanyak 27 persen KS terjadi di lingkungan perguruan tinggi.

dibentuk pasca kasus pelecehan terhadap Bintang tersibak.

"

B

ELAKANGAN, satu persatu kasus kekerasan seksual atau KS mulai terbongkar. Seiring dengan itu, kasuskasus baru juga berjamuran. Di Universitas Riau sendiri, dugaan kekerasan seksual dilakukan oleh Syafri Harto terhadap mahasiswi bimbingannya.

Relasi tidak bisa dipatahkan karena adanya reflection people. Misal dosen, yang katanya orang baik dan tidak mungkin jadi pelaku. Tetap saja, dosen adalah manusia biasa.

"


Bincang-bincang

Tegas. Kalau ada video yang tidak jelas, blokir. Jangan merasa tidak enak walaupun yang mengirim dosen. Jangan ada perasaan sungkan karena itu senior. Teman seangkatan jika melakukan tindakan yang melecehkan, bisa ngamuk. Namun, kalau ketemu sama dosen banyak sungkannya. Atau dengan tenaga pendidikan yang lain tentu serba salah, karena merasa membutuhkan mereka. Hal itu harus dipahami. Harus tegas. Tidak perlu kasar tapi tegas. Kalau tidak mau, bilang tidak mau. Jangan mendiamkan. Apa benar relasi kuasa berpengaruh terhadap kekerasan seksual di kampus?

Kalau dilihat kejadian kekerasan seksual di kampus, ada relasi yang tidak seimbang di kampus. Jika terjadi antara dosen dan mahasiswa, sehingga apapun yang dilakukan oleh dosen membuat mahasiswa takut mau menolak dan menarik diri. Akhirnya, justru memperburuk keadaan. Korban selalu dalam posisi di bawah, pelaku biasanya superior sehingga korban tidak berani speak up atau bicara terus terang.

Ketidakberanian speak up membuat kejahatan terjadi terus menerus. Speak up lah. Mungkin bisa lapor polisi. Sekarang ada satgas, silakan lapor satgas. Relasi yang tidak seimbang ini akan membuat korban yang sudah terpuruk semakin terpuruk. Apa aja contoh penggunaan relasi kuasa di kampus?

Misal dengan dosen, akan ketemu lagi di semester selanjutnya. Lalu, dosen pembimbing Kuliah Kerja Nyata atau pembimbing skripsi. Setiap perbuatan yang mengarah seksual dan tidak disukai korban, itu pelecehan. Bagaimana mengantisipasi kekerasan seksual berbasis relasi kuasa di kampus?

FOTO: DOK. NARASUMBER

Di kampus, kerap kali menyalahkan korban dengan pakaian yang provokatif. Tidak mungkin, itu bukan pakaian provokatif. Ke kampus tidak mungkin berpakaian tidak sopan, sebab ada aturan kampus.

Relasi tidak bisa dipatahkan karena adanya reflection people. Misal dosen, yang katanya orang baik dan tidak mungkin jadi pelaku. Tetap saja, dosen adalah manusia biasa. Biasanya, kita memandang pelaku adalah orang yang tidak dikenal. Padahal, ayah kandung pun bisa jadi pelaku kekerasan seksual, apalagi kampus yang sering jumpa. Selalu menganggap bahwa pelecehan seksual ada unsur pemaksaan, padahal ada relasi kuasa yang tidak seimbang. Korban merasa tidak enak menolak dan berteriak.

Untuk menjamin keselamatan akademika, aturan apa yang seharusnya ada? Pertama, terutama untuk bimbingan yang seharusnya diberikan hari tertentu di kampus. Di ruangan yang disediakan, mesti ada penjaga. Di ruangan tidak boleh berdua saja. Secara regulasi, ada Permendikbud yang mengatur tentang kekerasan seksual dan satgas kekerasan seksual di kampus.

Bagaimana mekanisme penyelesaian kekerasan seksual di kampus? Biasanya, kasus dari kampus tidak dibawa ke ranah hukum. Dulu, ada kelompok pusat pengaduan mahasiswa perempuan yang dikirim melalui email. Tidak perlu bertemu, karena takut adanya relasi yang tidak seimbang dan ketakutan mau melapor. Kalau melapor ke fakultas, misal ke penasehat akademik atau kepala jurusan, baru ke dekanat. Nanti pelaku dan korban dipanggil ke dekanat.

Cara ini sangat tidak bagus, karena tadi adanya relasi kuasa yang tidak seimbang. Duduk bersama, korban tidak bisa bicara, hanya bisa menunduk dan menangis. Sangat tidak responsif dan berpihak pada korban. Di dalam posisi-posisi seperti itu selalu memojokkan korban. Akhirnya, tidak mau lagi melanjutkan kasusnya. Minta maaf, lalu selesai. Kalau sudah masuk ranah hukum—walaupun tidak ada bukti—paling tidak mengarah ke hal itu, maka terangkat kasusnya.*

41 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Reportase

FOTO: DOK. NARASUMBER

MENIMBANG HASIL GUNA KAMPUS MERDEKA Oleh Tegar Pamungkas

S

EBUAH pesan masuk ke surel Clara Aurelia Putri Januari lalu. Pengirimnya Ruang Guru, sebuah perusahaan digital Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan nonformal. Senyum terukir di bibir Clara. Hari itu, ia dinyatakan jebol pada program Studi Independen, bagian dari Kampus Merdeka besutan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek). Mahasiswa Jurusan Akuntansi ini akan bergelut dengan bidang data analis. Program Studi Independen memungkinkan para peserta ikut

42 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

kelas yang diampu langsung oleh praktisi, sesuai bidangnya. Ia amat bersemangat, tak sabar menjemput ilmu serta pengalaman baru. Terlebih, kesempatan untuk bertemu di layar dengan mahasiswa dan mentor dari seluruh tanah air. Sebulan kemudian, ia jalankan program dengan sepenuh hati. Tak hanya ilmu dan pengalaman yang Clara harapkan. Lebih dari itu, ia terpacu dengan janji Menteri Nadiem Anwar Makarim bahwa keikutsertaannya dapat dikonversi menjadi pengganti satuan kredit semester (sks) mata kuliah. Porsinya

maksimal 20 sks. Clara manfaatkan kesempatan ini layaknya emas. Selain belajar banyak hal baru, ia juga dapat selesaikan kuliah lebih cepat. Pasalnya, proses perkuliahan tak terhambat meski tengah ikuti program. Mulanya, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau (UNRI) ini tak meragukan perihal konversi tersebut. Ia yakin sepenuh hati. Apalagi, pihak jurusan dan program studinya mendukung penuh peluang yang diambil Clara. Ia juga sudah minta izin pada dosen pengampu mata kuliah semester itu.


Reportase

KEHADIRAN program Kampus Merdeka dapat respon berbeda-beda dari mahasiswa UNRI yang pernah mengikutinya. Efektivitasnya juga dipertimbangkan. Ada yang merekomendasikan program ini. Sebagiannya kapok tak ingin mengikuti kembali.

Clara tinggal duduk manis di depan laptop dan menerima transfer ilmu dari mentor Ruang Guru. Hingga suatu hari, 5 Maret, ia tak fokus belajar. Perkataan ketua program studi membuat pikirannya sibuk.

“Katanya, belum tentu bisa dikonversi,” ucap Clara mengingat.

Pikiran Clara makin kusut. Ia tak mau tinggal diam. Ia temui Kamaliah, Wakil Dekan I Bidang Akademik. Hampir sebulan Clara perjuangkan janji Mas Menteri itu. Akhirnya, datang kabar dari Kamaliah. Kamaliah bilang, jurusannya siap mengonversi dengan syarat tertentu. Tanpa pikir lama, Clara ambil langkah cepat. Ia penuhi seluruh persyaratan yang disebutkan. Salah satunya membuat Learning Jurnal, berupa ringkasan materi dari awal pertemuan sampai akhir. Semuanya ia kerjakan sembari mengikuti kelas dari perusahaan milik Belva Devara itu. Kecemasan Clara belum hilang begitu saja. Jelang batas input nilai di UNRI, nilai dari Ruang Guru belum keluar. Alasannya, proses pembelajaran belum selesai. Nilai itu baru bisa keluar sekira 14 Agustus. Padahal, seluruh nilai mahasiswa harus sudah masuk ke sistem paling lama 31 Juli. Pikirannya berkecamuk. Bahkan, berat badannya turun drastis. Ia mengaku lelah mengurus haknya tersebut. Tak ada hal yang sia-sia, begitupun perjuangan Clara. Ia akhirnya dapat

nilai akhir dan sertifikat pada 25 Juli. “Sebelumnya, nilai aku E untuk semua mata kuliah,” katanya.

Seberapa Mangkus Program Kampus Merdeka? Sejalan dengan tujuannya, dambaan utama mahasiswa terhadap program Kampus Merdeka ialah meningkatkan kapasitas diri, menambah relasi, serta perbanyak pengalaman. Itu pula yang jadi pendorong bagi Zikri Mahendra. Ia Menteri Sosial dan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa UNRI Kabinet Lentera Bertuah. Zikri dan timnya ikuti Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa atau disingkat PHP2D. Melalui program ini, mereka mengembangkan pertanian dengan metode hidroponik dan akuaponik di Desa Pulau Sarak, Kampar. Bagi Zikri, kegiatan tersebut sangat cocok bagi mahasiswa yang aktif di kelembagaan. Khususnya, mengabdi dan mengembangkan desa di sekitar. Selain itu, sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di program lain, ada Asrol Fickri yang bergabung dalam program Pejuang Muda. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan itu ikuti program yang berada di bawah naungan Kementerian Sosial dan bekerja sama dengan Kemendikbud-Ristek. Selama program, Asrol ditugaskan membantu kegiatan dinas sosial yang terjun ke masyarakat. Asrol punya ambisi untuk mengasah hard skill dan soft skillnya. Lewat program ini, menurutnya, mahasiswa mampu beradaptasi di lingkungan kerja. Hal itu

didukung dengan pengalaman dan pengembangan kerja yang baik. Kehadiran program Kampus Merdeka dapat respon berbeda-beda dari mahasiswa UNRI yang pernah mengikutinya. “Program Pejuang Muda ini sudah cukup efektif, apalagi saya masuk di angkatan pertama program ini. Perlu ada perbaikan di bidang administrasi dan juga koordinasi,” kata Asrol Fickri kepada Bahana Mahasiswa. Begitu pula dengan Zikri. Meski tidak linear dengan jurusannya, ia mengaku dapat banyak pengalaman dari PHP2D. Terutama di bidang sosial, seperti terjun langsung ke lapangan dan berbaur dengan warga desa. Melalui sosialisasi dengan warga desa, Zikri dapat mendengarkan cerita dan aspirasi mereka. Juga, menampung harapan mereka kepada mahasiswa. Hal-hal seperti itulah yang tak ia jumpai di kelas. “Secara umum program ini sangat bagus. Namun, untuk efektif saya rasa belum. Karena tidak semua kampus dan pihak terkait melaksanakan dengan ketentuan yang telah diberikan. Ada yang sudah paham dan juga ada kampus yang masi meraba-raba,” tutur Zikri menilai. Sementara Clara tak begitu menyarankan mahasiswa untuk ikuti program Kampus Merdeka. “Sistem konversi belum jelas, sehingga mahasiswa akan ketar-ketir sendiri. Jadi, saya tidak merekomendasikan karena melelahkan dan saya melihat bahwa kampus kita belum siap untuk MBKM [Merdeka Belajar Kampus Merdeka].” Ihwal konversi memang jadi satu masalah bagi mahasiswa yang

43 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Reportase

ikut. Pasalnya, tak semua SKS bisa dikonversi. Penyesuaian antara mata kuliah yang dikonversikan dengan program yang dijalankan adalah akarnya. Bila mahasiswa telah menyelesaikan program, mereka dapat ajukan konversi SKS kepada pihak program studi atau jurusannya. Zikri dapat porsi konversi sebanyak 10 SKS. Namun, ia tak dapat mengonversikan satupun jatahnya. Sebab, mata kuliah dan kegiatan yang ia jalankan tak berhubungan.

dan bidang berbeda. Awalnya, mahasiswi Teknik Lingkungan itu tak tahu menahu soal konversi SKS. Namun, ia tak terlalu ambil pusing. Ia sudah semester akhir, sehingga tak perlu lagi ambil mata kuliah. “Terkait efektif atau belum, ini masih perlu tindak lanjut, sih. Karena kemarin masih angkatan pertama dan masih banyak hal yang belum tahu harus ngapain dan mengurusnya ke mana gitu,” ucap Utari. Kacamata Ki Darmaningtyas— pengamat pendidikan—melihat

demikian pendapat pria kelahiran Gunung Kidul tersebut. Di luar dari perkara konversi, ada perkara lain. Mahasiswa yang dedikasikan dirinya pada program tertentu dalam Kampus Merdeka, akan dapat insentif. Umumnya, uang akan langsung dibayarkan kepada mahasiswa melalui rekening bank. Namun, kenyataannya, pencairan insentif cenderung lama dan macet. “Kalau untuk insentif, apakah lancar atau tidak, ya tentunya tidak,” cerita Asrol.

Setali tiga uang, Asrol juga dihadapkan dengan persoalan yang sama. “Karena pada dasarnya, jurusan juga harus memilah dan memilih jurusan yang bisa dikonversikan ke dalam mata kuliah pilihan,” cerita Asrol. Senada dengan mereka, Utari Chantika Azhari juga mengisahkan hal serupa. Ia ikut program yang sama dengan Clara, namun di tempat

ada faktor yang memengaruhi tingkat efektivitas program Kampus Merdeka. Satu di antaranya adalah kesiapan masing-masing kampus sebagai penyelenggara. Terlebih karena program diluncurkan ketika pandemi Covid-19 menerpa. Hal itu ia anggap turut berperan. “Masalahnya, Kampus Merdeka ini adanya kan pas pandemi. Jadi, sistem pembelajaran juga berubah. Tidak bisa langsung dinilai efektivitasnya,”

Asrol harusnya dapat insentif Rp260 ribu perhari. Namun, keseluruhan uang tersebut baru ia terima di akhir. Ia mesti selesaikan logbook, semacam catatan harian sebagai bukti progres selama kegiatan.*

44 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Gelagat

Morina Riauwaty saat mengajar di kelasnya. FOTO: DOK. BAHANA

BERNYANYI SAAT MENGAJAR, ITULAH CIRI KHASNYA Sarjana Budidaya Perairan UNRI ini telah malang melintang di dunia tarik suara. Bahkan, panggung Eropa pun pernah ia taklukkan. Oleh Almuhaimin Kembara

45 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Gelagat

Mana mungkin selimut tetangga.. Hangati tubuhku dalam kedinginan..

L

ANTUNAN Selimut Tetangga milik Repvblik menggema di Ruangan Patin 2 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK UNRI). Mahasiswa pun bergeming di tempat duduk mereka. Momen itu bukan pertunjukan atau perlombaan tarik suara, melainkan kuliah Histopatologi Ikan. Wanita paruh baya dengan luaran batik hitam dan rambut tergerai adalah pusat perhatian kala itu. Adalah Morina Riauwaty yang akrab disapa Morina. Ia dosen Jurusan Budidaya Perairan FPK. Usut punya usut, petikan lagu tersebut sesuai dengan materi yang tengah dibahas. Membran sel yang berfungsi membina sel-sel tetangga. “Bernyanyi saat mengajar adalah ciri khas saya,” ucapnya. Sarjana Budidaya Perairan UNRI ini telah malang melintang di dunia tarik suara. Ia jajal dari panggung ke panggung, menjajaki kontes bernyanyi dan kerap memenangkannya. Morina mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, regional, hingga nasional. Bahkan, panggung Eropa pun pernah ia taklukkan.

sebagai penyanyi lepas. Morina kerap manggung di festival-festival lokal, bahkan di kantor Kedutaan Jerman. Ia juga pernah melancong ke negara seberang, yakni Denmark dan Belanda. Dari aktivitas menyanyi itu, perempuan kelahiran 15 Desember 1964 itu dapat menambah uang saku. Pada tahun 1996, Morina tamat dengan gelar Diplom. Biologin atau Dpl.Biol. Serupa dengan gelar presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie yaitu Diplom. Ingenieur. Meski sudah jauh ke tanah Eropa, namun tak lantas membuatnya lupa dengan tanah air. Morina kembali ke tanah air dan melanjutkan karirnya sebagai dosen di FPK UNRI. Tak hanya mengajar Histopatologi Ikan, Morina juga mengampu beberapa mata kuliah lain. Seperti Bahasa Inggris, Parasit dan Penyakit Ikan, Analisa Penyakit Ikan, serta Pengantar Karantina Ikan. Kemudian, Manajemen Kesehatan Ikan dan Fisiologi Hewan Air. Walaupun sudah mendapat gelar magister di luar negeri, tak membuatnya cepat puas. Bak kehausan ilmu, ia kembali mengambil program doktor di Fakultas Kedokteran Hewan program studi Sain Veteriner Universitas Gadjah Mada. Morina lulus pada 2008 silam. Berbekal pengalaman menuntut ilmu di luar negeri, keinginannya sangat kuat untuk menerapkan ilmu yang didapat. Terutama dalam hal

Morina Riauwaty. Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI. FOTO: DOK. NARASUMBER

46 Bahana Mahasiswa

Beasiswa Deutcher Akademisc her Austauschdienst dari Pemerintah Jerman jadi jalan pembuka mimpinya menghirup udara Eropa. Saat menempuh program magister di Universitas Hamburg, Morina bergabung dalam sebuah grup musik. Beranggotakan para pelaut di daerah tempat tinggalnya. Bersama grup itu, ia mulai meniti karir sampingan

Edisi Agustus 2022


Gelagat

mengajar. Ia ingin menjadi tenaga pendidik yang disenangi mahasiswa dan dikenang baik. Sebagaimana dosen yang mengajarnya semasa berkuliah di Hamburg. “Seorang tenaga pendidik itu harus disenangi muridnya dulu, supaya mudah mentransfer ilmunya,” kata Morina. Dosen yang telah mengajar selama 32 tahun ini berinovasi ciptakan metode ajarnya sendiri. Seperti pagi itu, pengenalan tentang fungsi membran sel membina selsel tetangga. Ia ilustrasikan lewat penggalan lagu Selimut Tetangga. Tidak sembarangan, lagulagu yang Morina nyanyikan menyesuaikan dengan topik perkuliahan. Hal itu terjadi secara spontan. Seperti lagu Parasit dari Gita Gutawa yang cocok dibawakan saat mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan. Ada pula tembang Kepompong yang bisa ia dendangkan ketika membahas tentang Biologi. Metode mengajar tersebut berhasil membuatnya menjadi salah satu dosen yang paling disukai mahasiswa di FPK. Devi Lumbangaol misalnya. Mahasiswi semester tujuh tersebut akui, suasana belajar dengan Morina sangatlah asik dan menyenangkan. Menurutnya, pembawaan dosen tersebut ceria dan tak membosankan. “Jarang marah dan ramah. Di tengah-tengah perkuliahan sering disuguhi nyanyian yang merdu. Jadi, belajar tidak menegangkan,” ungkapnya bersemangat. Bagaimanapun, Morina adalah sosok orang tua dan istri. Peran ganda yang ia pegang tidaklah mudah. Morina harus mampu menjalani kedua peran tersebut sekaligus. Terlebih, suami dan anaknya tinggal di tempat yang berbeda dengannya. Mikhael Jupiter Sibarani—biasa disapa Piter—adalah anak keduanya. Piter ceritakan perjuangan ibunya membagi waktu untuk keluarga dan kampus. Selama kurang lebih 12 tahun, Morina harus bertahan tinggal

sendirian di Bumi Lancang Kuning. Ayah Piter bekerja di Balai Bahasa Kota Medan. Sementara kakaknya Stefani, berkuliah di Universitas Sumatera Utara. Lain dengan Piter, yang ketika diwawancarai masih berstatus siswa di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Medan. “Kadang satu tahun itu beliau hanya bisa pulang dua kali, saat puasa dan menjelang natal,” kenang Piter. Ketika pekerjaan sedang padat-padatnya, Morina tak punya kesempatan untuk menjumpai keluarga. Namun begitu ada sedikit celah, seperti melakukan proyek penelitian di Sumatera Utara, ia sempatkan untuk berjumpa keluarga. Walaupun hanya sekadar singgah. Pada tahun 2005 hingga 2015, Morina sempat tinggal di rumah bikinan salah satu keluarga mereka yang bermarga Siregar. Sebuah rumah besar di Jalan Siwa, Delima dibangun untuk berkumpulnya sanak saudara ataupun kerabat. Morina tinggal di sana agar tidak merasa kesepian karena rumah itu ramai. Ia tinggal bersama Piter. Piter ceritakan kebiasaan bernyanyi ibundanya yang sangat melekat. Ia kerap melihat mamanya bernyanyi karaoke dan merekam suaranya sendiri. Menariknya, jika bepergian menggunakan mobil, lagu yang diputar malah rekaman nyanyiannya. Bukan lagu-lagu penyanyi pada umumnya. Kini, Piter sudah duduk di bangku kuliah. Selama belajar tatap muka, ia tak pernah mendengar temanteman atau seniornya mengatakan bahwa Morina adalah dosen yang kejam. Malah, yang mereka katakan adalah Morina dosen yang unik, lucu, dan menyenangkan. Morina selalu semangat saat mengajar. “Saya pernah berjumpa dengan kakak tingkat dari angkatan 2013. Dia masih mengingat jelas dosen bernama Morina. Bahkan, jika ada kesempatan dia ingin belajar lagi dengan mama saya,” ungkap Piter

yang sudah jadi mahasiswa Ilmu Kelautan. Piter punya pengalaman unik pada 2018 lalu. Saat hendak pulang ke Kota Medan seusai mengunjungi ibundanya di Pekanbaru, ternyata ia satu pesawat dan duduk bersebelahan dengan dosen FPK yang juga teman Morina. Kejadian itu bermula ketika dosen lelaki tersebut menanyakan nama Piter. Begitu mendengar marga Sibarani, spontan sang dosen tersebut langsung mengatakan bahwa ia juga punya teman dosen bermarga sama. Hingga akhirnya, percakapan tersebut mengerucut pada sosok Morina. Kepiawaian Morina dalam bernyanyi juga ia bagikan dengan melatih tim paduan suara. Ia pandu dua tim sekaligus. Paduan suara FPK dan universitas. Jika ada kegiatan-kegiatan seperti penerimaan mahasiswa baru, ulang tahun kampus, atau acara-acara besar lainnya, dialah yang bertugas memandu penyuguhan paduan suara. Bakat bernyanyi Morina rupanya turun dari ibunda. Seorang seniman dan guru kesenian. Morina tujuh bersaudara, namun hanya dia dan satu adik laki-lakinya yang mahir bernyanyi dan bermain musik.

Baginya, bernyanyi adalah seni berbicara. Bagaimana menyampaikan pesan dengan perasaan kepada orang lain lewat lirik-lirik lagu. Satu petuah ibu saat Morina kebingungan memutuskan jurusan kuliah S1, agar memilih jurusan yang disenangi. Lalu, menjadikan bakat bernyanyi untuk mewarnai prosesnya kelak. “Petuah ibu saya itu yang saya jalankan saat ini, agar mahasiswa saya lebih mudah memahami pelajaran yang saya berikan.”*

47 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Kilas Balik

TRAGEDI RENGAT BERDARAH: BUKTI KEKEJAMAN BELANDA DI TANAH MELAYU RIAU Warga Rengat berupaya melawan. Namun, kalah dan tumbang. Salah satu korbannya adalah Bupati Indragiri Toeloes. Ayah dari pujangga Chairul Anwar ini ditembak saat Belanda menyatroni rumahnya. Oleh Sakinah Aidah

F

AJAR menyingsing tatkala Wasman Rads berjalan santai menyusuri Kampong Sekip. Saat melangkahkan kakinya, Prajurit Tentara Negara Indonesia Resimen IV itu melihat pesawat tempur mengudara dari arah tenggara. Yoghi Susilo, putra daerah Rengat ceritakan hal tersebut kepada Bahana. Katanya, Wasman Rads merupakan seorang veteran yang menjadi saksi mata berangasan Belanda saat itu. Kapal terbang yang mengudara itu berjenis Mustang P-51 berpanjikan triwarna. Merah, putih, dan birulah warnanya. Pesawat yang diketahui milik Koninklijke Nederlands(ch)Indische Leger atau KNIL ini hilir mudik di langit Indragiri sejak pukul 8 pagi. Tak lama, hujan bom berjatuhan. Berondongan peluru menghujani Rengat. Mulai dari jalanan, rumah warga, pasar, dan perkantoran jadi sasaran. Pesawat yang dijuluki ‘Si Cocor Merah’ itu terus gencarkan manuvernya. Serangan udara itu meluluh lantakkan Rengat hingga

48 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

malam hari. Sedikitnya, 2 ribu nyawa direnggut dalam peristiwa nahas 5 Januari 1949 tersebut. Yoghi sebutkan bahwa hampir seluruh korban adalah warga Kampung KIP Sipayung. Sampai sekarang, katanya kepada Bahana, tak diketahui secara pasti siapa saja identitas korban yang berjatuhan. “Menurut sejarawan dan cerita yang saya dengar, ada 2 ribuan orang yang meninggal. Hampir seluruhnya itu ialah warga desa yang hingga kini tidak diketahui siapa saja itu korbannya,” jelas Yoghi. Ribuan mayat warga Rengat yang gugur itu dibuang begitu saja ke Sungai Indragiri. Akibatnya, sungai tersebut dipenuhi oleh jasad tak berdosa. Berbulan-bulan lamanya. Bau anyir menyasar hidung. Pasalnya, lumuran darah larut dalam air sungai, dari hulu hingga hilir. “Saking banyaknya, sangat sulit untuk melakukan inventarisir korban jenazah,” tambahnya. Penderitaan rakyat Rengat ternyata belum berakhir. Masih ada derita lagi yang disiapkan. Sejurus kemudian, prajurit khusus Belanda

atau Korps Speciale Tropen (KST) didatangkan untuk menjalankan aksi berikutnya. Namanya operasi lumpur. Operasi tersebut diketuai oleh Letnan Rudy de Mey. Ia adalah tangan kanan Komandan KST Raymon Wasterling. Rudy memboyong 150 pasukan. Mereka berhasil masuk ke Kota Rengat lewat rawa-rawa Kampung Sekip. “Pesawat T-51 itu hampir 3 kali memutar pesawatnya di areal Indragiri sebelum mendarat ke rawa,” sambung Yoghi. Warga Rengat berupaya melawan, namun kalah dan tumbang. Senjata yang mereka gunakan tak sebanding, sehingga pertahanan minim. Salah satu korbannya adalah Bupati Indragiri, yakni Toeloes. Ayah dari pujangga Chairil Anwar ini ditembak saat Belanda menyatroni rumahnya. Saat itu ia bersama dengan Abdul Wahab sebagai pembantu bupati.


Kilas Balik

FOTO: DOKUMEN IPPHOS

49 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Ada pula Kepala Polisi Agresi Militer Belanda II Kabupaten Inhu Iptu Korengkeng. Akibatnya, kata Yoghi sempat terjadi kekosongan di roda pemerintahan Indragiri saat itu. “Selain Bupati Toeloes, buyut saya juga menjadi korban lainnya,” lirih Yoghi pun mengenang. Mandor Rasiman, buyut Yoghi juga tertembak senapan Belanda tepat di depan rumahnya. Namanya juga diabadikan pada urutan ke-148 di Tugu Juang. Monumen ini berlokasi di depan Rumah Dinas Bupati Indragiri Hulu. Cerita itu dikenang ayah Yoghi dalam sebuah buku bertajuk Tiga Tungku Sejarangan. Menurut sejarawan Riau Suwardi M.S, pasukan tersebut melancarkan aksinya dengan melakukan penembakan di wilayah daratan dan perairan. Mereka menyusuri Sungai Indragiri dengan sampan, lalu menembakkan peluru ke arah siapapun yang dilihat. “Rumah Bupati Toeloes menghadap ke sungai. Saat itu, ia juga sedang di depan rumahnya. Oleh karenanya, beliau juga ikut tertembak,” jelas Suwardi. Aksi baku tembak dimulai pukul 11 malam dan terus berlanjut hingga dini hari. Saat itu, kata Suwardi, tidak ada pasukan khusus dari Tentara Nasional Indonesia yang dikerahkan untuk menolong. “Kalau pun ada, jumlahnya sedikit dan senjata yang digunakan tidaklah sebanding,”

50 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

ucapnya. Suwardi beri gambaran bagaimana kondisi senjata perang Indonesia yang masih jauh dari kata modern saat itu. Tentara dan sebaris pahlawan Rengat hanya gunakan gobok sebagai senjata. Gobok sendiri merupakan alat perang mirip senapan. Ujungnya harus dibakar dulu, agar dapat menembakkan gas racun yang ada di dalamnya. “Negara waktu itu dalam keadaan krisis. Jadi, masyarakat saling membantu sesama dengan senjata seadanya,” timpalnya. Usai taklukkan Rengat dan beberapa kecamatan di Indragiri, Belanda resmi menduduki Indragiri secara keseluruhan. Selama upaya penjajahan itu, ada perang susulan di luar daerah Indragiri. Daerah Cerenti dan Gunung Kesiangan misalnya. Lokasi ini merupakan daerah pemerintahan Kabupaten Kuantan Singingi. Terkenal sebagai penghasil karet terbesar di Riau. “Untuk menaklukan Indragiri, Rengat dan daerah lainnya perlu dibom juga. Air Molek dan Taluk misalnya. Makanya, terjadi perang susulan,” rinci sejarawan kelahiran 1939 itu. Sejatinya, kata Suwardi, monopoli hasil karet lah yang diinginkan Belanda. Tak hanya itu, negara kincir angin itu juga bercita-cita menguasai keresidenan Riau seutuhnya. Sumber daya alam Riau yang kaya,

menggiurkan bagi Belanda yang rakus. Tak hanya itu, hasil sumber daya dari daerah sekitarnya juga diincar. Sebut saja perkebunan kelapa terbesar yang ada di Indragiri Hilir. Perminyakan di daerah Air Molek hingga Dumai juga tak luput dari target Belanda. Kedatangan Belanda ke Bumi Lancang Kuning bukanlah suatu kebetulan. Ada cerita panjang dan rencana matang di balik itu. Suwardi ceritakan sejarahnya, bahwa pasukan tersebut datang ke Riau setelah berhasil taklukkan Tanjung Pinang. Pada masa itu, Riau belum resmi menjadi sebuah provinsi. Daerah Riau sendiri terbagi menjadi tiga keresidenan. Pertama, keresidenan Tanjung Pinang yang meliputi daerah Indragiri dan Kuantan Singingi. Kemudian keresidenan Sumatera Timur yang terdiri dari Siak, Bengkalis, Pelawawan dan Rokan. Terakhir, keresidenan Sumatera Barat yang meliputi daerah Kampar. Awal mulanya, Tanjung Pinang merupakan daerah kekuasaan Raja Haji Fisabilillah. Ia menyatakan setuju untuk bergabung bersama Indonesia saat proklamasi. Namun, Belanda tidak terima dan memilih untuk tidak beranjak dari daerah itu. Sebab, Tanjung Pinang merupakan pusat pertahanan Belanda pada masa itu. Geram dengan Belanda, Raja Haji memerintahkan pasukannya


Kilas Balik

untuk membombardir markas Belanda. Ekspedisi dimulai dengan menjatuhkan bom di kapal perang milik Belanda. Kapal tersebut bernama Walvaar. Akibatnya, 500 prajurit Belanda meninggal di tempat. Salah satunya yakni kapten kapalnya, Laksamana Lemker. Belanda kocar-kacir lari ke tanah Malaysia untuk bertahan. Malaka pun menjadi pilihannya. Mereka susun ulang strategi untuk menaklukan kembali Tanjung Pinang dengan sisa prajurit yang ada. Konflik terus berkelanjutan, hingga pada akhirnya Raja Haji tewas tertembak di Teluk Ketapang. Jasad Raja Haji pun dibawa ke Batavia menggunakan kapal dolphin. Namun, tak ada angin tak ada hujan, kapal tersebut tiba-tiba saja meledak di tengah lautan. Nasib baik, jasad Raja Haji berhasil diselamatkan. “Padahal, kapal itu meledak dan tidak tahu kenapanya. Tapi, jasad Raja Haji ternyata bisa diselamatkan,” ujar Suwardi. Pihak pemerintahan dan keluarga sepakat untuk memakamkannya di Bukit Pal Merah, Tanjung Pinang. Sekitar setelah 36 tahun lamanya, jasad Raja Haji dijemput oleh keluarga. Lalu, dimakamkan kembali di benteng di mana ia melawan Belanda masa itu, yakni di Pulau Penyengat. Pasca wafatnya Raja Haji, rengrengan Belanda menguasai Tanjung Pinang semakin mudah. Mereka perluas daerah jajahan. Bak melihat emas berkilau, terpilih Riau sebagai daerah terdekat yang punya sumber daya alam melimpah. Kapal milik Belanda akhirnya berlabuh di Sungai Indragiri, dari muara Bintan. Kuala Indragiri kala itu menjadi pusat pelayaran dari Singapura dan Malaysia dan menjadi daya tarik bagi Belanda. “Belanda ingin menduduki Riau daratan. Indragiri dirasa cukup menarik oleh mereka. Selain itu, mereka juga mulai masuk ke daerah Siak, Bagan, dan Bengkalis,” titah

Suwardi. Namun, kedatangan mereka tidak disambut baik oleh warga setempat. Belanda geram, mereka pasang taktik bengis untuk menaklukannya. Alhasil, Kota Rengat jadi sasaran. Mereka bombardir lokasi itu agar dapat menguasai Ibu Kota Indragiri. “Kalau Rengat bisa ditaklukan, maka Indragiri bisa mereka kuasai,” simpul Suwardi. Usai dapatkan daerah kekuasaan, saatnya mengatur sistem pemerintahan. Belanda jadikan Tanjung Pinang sebagai markas utama, sebab menjadi ibu kota keresidenan. Selanjutnya, Rengat disulap jadi wilayah afdeling, atau setingkat dengan kabupaten. Daerah itu dipimpin oleh asisten atau controlieur dalam bahasa Belanda. Ketamakan Belanda itulah yang melatarbelakangi tragedi 5 Januari 1949 silam. Tragedi itu dinamakan dengan Rengat Berdarah. Nama itu diambil sesuai dengan realita Kota Rengat saat itu. Akibat serangan Belanda, kota Rengat menjadi porak-poranda dan lumuran darah ada di mana-mana. “Sesuai namanya, berdarah. Berarti terjadi pertumpahan darah di Kota Rengat,” jelas Yoghi. Kata Suwardi, tragedi itu harus selalu dikenang dalam ingatan masyarakat Melayu. Juga, menjadi pendorong untuk membangun negeri. Sebab, menurutnya, para pahlawan tanpa tanda jasa telah berkorban untuk menegakkan pemerintahan di Negeri Lancang Kuning ini. “Kalau mereka tidak berjuang, maka tidak akan ada kita,” sebutnya. Namun, Suwardi merasa patah arang dengan respon pemerintah Indragiri Hulu. Menurutnya, pemerintah tidak tanggap memperjuangkan Kota Rengat. Buktinya, pemerintah setempat tidak mengangkat tragedi Rengat Berdarah untuk dikenang dalam sejarah nasional. “Saya sebagai penulis sejarah

sudah berkali-kali mengangkat Rengat sebagai negeri yang bersejarah. Saya sampai rela berjalan kaki menyusuri negeri. Tetapi, tidak terlalu mendapat dukungan baik,” keluh salah satu pegiat pers di Riau itu. Cicit Mandor Rosiman yang gugur di hari bersejarah itu juga suarakan isi hatinya. Yoghi inginkan tragedi Rengat Berdarah tetap dikenang dan dicagarbudayakan. Namun, harapannya hancur oleh realita. Buktinya, ungkap Yoghi, rumah Bupati Toeloes yang menjadi saksi bisu perjuangan itu dibiarkan terbangai dan tidak dirawat. “Untuk mengenang tragedi kelam tersebut, saya berharap pemerintah dan masyarakat tetap menjaga sejarah itu agar tidak luntur dan lupa dalam ingatan,” ia berharap. Meski menyimpan kekecewaan, ia juga menaruh apresiasi kepada pemerintah Indragiri Hulu. Hal ini sebab mereka rutin adakan ritual untuk mengenang hari bersejarah tersebut di setiap hari jadi Rengat pada 5 Januari. Walaupun, keluh Yoghi, dirinya sebagai cicit korban tak pernah diajak untuk membersamai. Yoghi ceritakan bagaimana jalannya ritual tersebut. Pada pagi hari, bupati serta jajaran pegawai negeri sipil lakukan upacara sebagai bentuk memperingati hari jadi. Lanjut dengan berjalan bersama menuju sungai Indragiri. Taburan bunga berjalan menyusuri aliran sungai untuk mengenang 2 ribu mayat yang dicampakkan dahulu. Terakhir, dilakukan pula doa bersama agar para korban mendapatkan ketenangan di sisi-Nya. Tanggal peristiwa Rengat Berdarah disepakati sebagai hari jadi Kota Rengat. Kini, nama Kampung Sekip—daerah awal dijatuhkannya bom—diganti menjadi Sekip Sipayung. Kata ‘payung’ dipilih untuk mengenang lumuran darah akibat bom yang dijatuhkan Belanda.*

51 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Khazanah

ADOPSI RITUAL PENGOBATAN SPRITUAL RENTAK BULIAN JADI TARIAN Tari ini adalah kreasi hasil adaptasi dari ritual upacara pengobatan bulian. Melibatkan roh dan alam gaib. Oleh Ellya Syafriani dan Rio Eza Hananda

H

ENTAKAN kaki kanan dan kiri melangkah bergantian. Bunyi musik seruling dan gendang ketobung mengikuti rentak kaki. Musik tradisional Masyarakat Adat Talang Mamak itu berpadu mengiringi gerak para penari. Seorang pawang yang disebut kumantan memandu dengan selendang putih berbentuk jubah. Kepalanya diikat dengan kain merah dan bercelana hitam. Di belakangnya diikuti penari wanita yang berjumlah ganjil. Para penari menjatuhkan lutut ke lantai dengan perlahan. Kumantan pasang posisi bersedekap, menumpangkan kedua tangan di atas perut. Sementara itu, dua perempuan di sebelah kanan dan kiri memegang piring berisi sajen. Mereka adalah bajang bayu dan kebayu. Pembantu atau asisten kumantan dengan busana merah berpadu kuning. Tarian ini dikenal dengan Tari Rentak Bulian. Adalah kreasi hasil adaptasi dari ritual upacara pengobatan bulian. Dengan niat melestarikan ritual tersebut, pegiat seni abadikan gerakan-gerakannya menjadi bentuk tarian. Tarian asal Indragiri Hulu atau Inhu ini umumnya ditampilkan dalam acara hiburan atau sambutan tamu besar. Rentak artinya melangkah atau gerakan kaki yang meloncat.

52 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Sedangkan bulian diambil dari nama kayu. Kayu bulian merupakan bahan pembuat ketobung. Alat musik berupa gendang panjang yang digunakan sebagai pengiring tarian ini. Ada pula yang mengatakan bahwa kata bulian dalam bahasa Indragiri Hulu berarti tempat singgah makhluk huni atau makhluk halus. Tari ini termasuk kategori tari tradisional, melibatkan roh dan alam gaib. Menurut Saharan selaku Budayawan setempat, rentak berlangsung selama bulian dan gelang-gelang kaki yang dikenakan penari mengeluarkan bunyi. Hal ini menjadi inspirasi Almarhum Was Nurmirza mengadopsi fungsi tari dari upacara sakral ke kesenian. Sementara gerakan tarian dibentuk oleh M. Simanjuntak. Kemudian artistik, musik, dan resimen oleh Salimi Yusuf. Penelitian Irni Oktavia bertajuk Transformasi Upacara Bulean Suku Talang Mamak menjadi Tari Rentak Bulean pada Masyarakat Indragiri Hulu Provinsi Riau menyatakan, tarian ini ditransformasi oleh orang luar suku Talang Mamak pada tahun 1978. Sedangkan bila merujuk pada penelitian Annisa Satriati, dalam judul Kajian Sosiologi Tari Rentak Bulian di Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi

Riau, tarian ini ada sejak tahun 1982. Awalnya para penari memberi sembah. Gerakannya monoton, mengikuti ketukan suara gendang yang berbunyi. Saat melakukan sembah, kumantan berada di tengah-tengah bajang bayu. Mereka membawa dupa atau bara dan mayang pinang. Begitu musik berganti, terdengar seperti sorakan-sorakan kecil. Para penari di belakang kumantan dan bajang bayu berlari ke belakang. Mereka menghentakkan kakinya. Sementara itu, kumantan masih duduk dengan tangan terlipat dan disilangkan ke masing-masing bahu. Ketika seruling dibunyikan, tangannya direntangkan oleh bajang


Khazanah

FOTO: DOK. NARASUMBER

bayu. Bajang bayu mengoleskan arang dan kapur sirih di bagian lengan kanan kiri kumantan. Sedangkan para penari atau dayang tadi masih menghentakkan kaki mereka di belakang. Gerakan ini diberi nama merentak. Sembari merentakkan kaki, para penari mengangkat tangan mereka ke atas sambil digerakkan. Maksudnya adalah penari tengah mengambil pinang untuk siapkan acara bulian. Pada gerakan ini, dinamakan goyang pucuk. Kemudian, kumantan mengangkat tangannya yang disilangkan sambil digerakkan dan berdiri. Para bajang bayu bergeser sedikit dari

kumantan. Mereka terus merentakkan kaki sambil ayunkan tangan ke depan dan belakang. Berbeda arah. Pada gerak menyembah ini, para tokoh tari beri persembahan pada makhluk halus yang akan membantu jalannya prosesi bulian. Para penari mengubah posisi badan menjadi duduk. Semacam mengayunkan tangan, inilah gerakan meracik limau. Gerakannya ke depan dan ke samping. Saat penari tengah meracik, kumantan berdiri dan berkeliling. Ia memastikan bahwa kondisi penari baik-baik saja. Usai berkeliling, kumantan kembali ke tempat semula. Ia angkat mayang pinang dan menghancurkan

dengan giginya. Gunanya mengusir roh pengganggu yang jahat. Kumantan berkeliling diikuti bajang bayu. Dengan mayang pinang, ia percikkan ke para penari. Gerakan ini disebut merenjis limau. Para penari kemudian membentuk tangannya ke samping, bawah, dan atas. Kumantan dan bajang bayu angkat mayang pinang di depan para penari. Kaki yang terentak dipadukan dengan ayunan sebelah tangan ke atas dan samping bawah. Gerakan ini bernama empat penjuru. Fungsinya sebagai penutup tarian rentak bulian. Para penari ikuti kumantan di belakangnya, membentuk satu barisan ke belakang. Ada gong, seruling, ketok-ketok. Ada pula tambur, kerincing di kaki penari, dan gendang ketobang. Alat-alat musik tersebut mengiringi tarian. Salah satu penari Rentak Bulian, Desra Endico Chesia katakan, musik tarian ini terdengar berbeda dari yang lainnya. Menurutnya, ada ciri khas tersendiri. Bunyi yang dikeluarkan juga tak hanya dari alat musik, namun juga ada dari suara mulut. “Haah.. Haah.. Haah., misalnya gitu,” tambah Desra menirukan. Dari Ritual Pengobatan Jadi Tari Kreasi Tarian yang diambil dari ritual pengobatan ini berasal dari komunitas Talang Mamak. Makna orang sakit bagi mereka adalah orang yang telah menyimpang dari kehidupan normalnya. Ada juga yang katakan, jiwa yang kosong sesaat menjadi sebab datangnya penyakit. Maka, perlu adanya pemanggilan jiwa tersebut supaya kembali. Mereka juga beranggapan bahwa kehidupan manusia selalu terancam. Baik gertakan yang tampak maupun yang tidak. Baik mengancam jasmani ataupun rohani, sehingga mengganggu penyakit tubuh secara fisik dan mental. Baik

53 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Khazanah

yang bersumber dari manusia, alam, binatang, ataupun roh halus. Tak hanya penyakit manusia, bulian juga diadakan untuk beberapa macam musibah. Antara lain mengobati penyakit menular yang melanda desa, memberi makan binatang buas yang mengamuk, dan bila ada pelanggaran adat. Selain itu, buang sial dari desa juga diperlukan bulian. Hingga, upacara pengangkatan kumantan baru dan membuang pantang. Menjadi pemimpin atau kumantan dalam pengobatan tak bisa sembarangan. Ada syarat tertentu, terutama dilihat dari gen atau keturunan. “Haruslah orang pilihan, teruji, miliki kemampuan kebatinan. Mereka miliki kemampuan supranatural, dan indera keenam yang luar biasa,” jelas Saharan. Pengobatan bulian diawali dengan musyawarah dan kesepakatan antara tuha-tuha adat dan kumantan. Selama pengobatan berlangsung, kumantan dibantu oleh bintara laki-laki dan perempuan. Biaya pengobatan dikumpulkan dari masyarakat desa. Jika mufakat telah bulat, pengobatan diserahkan pada kumantan yang dibantu para pembantunya. Bulian berlangsung pada malam hari di rumah batin. Pengobatan dimulai jam 8 hingga 4 subuh. Gilung—pengurus organisasi masyarakat adat Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) INHU— utarakan alasan pemilihan waktunya. Sebab, roh bekerja pada malam hari. “Kalau siang kumantannya gak sanggup, panas,” terangnya melalui panggilan telepon. Ketika subuh datang, jumlah hyang atau ruh mencapai 33. Masuk di dalamnya leluhur, datuk-datuk, harimau-harimau, monyet, dan macam-macam ruh lain. Sebelum memimpin bulian, kumantan minta petunjuk dahulu pada makam kumantan tua. Permohonan petunjuk ini dinamakan dengan meditasi. Selama bulian berlangsung,

54 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

kumantan dan bajang bayu tidak diperbolehkan untuk makan, minum, dan buang air kecil. Mengutip penelitian Annisa Satriati, waktu istirahatnya tergantung permintaan dari roh yang datang. Roh yang datang akan beristirahat di pucuk, di ancak, dan di gulang-gulang. Pada momen inilah, kumantan dan perangkatnya punya kesempatan untuk istirahat. Selama proses pengobatan, bintara laki-laki dan perempuan ikut membantu. Musik juga dibunyikan semalaman oleh para penabuh atau biduan. Ketabung menjadi alat musik paling dominan. Ketika itu pula, kumantan dirasuki oleh roh. Ia mulai berbicara dengan makhluk gaib, roh-roh, jin, dan malaikat. Ia minta obat untuk pasiennya. Kumantan membuang bala, buat palis tawar, membuat jimat, dan membuang sumbang. Saat kerasukan, bintara tanyakan beberapa pertanyaan. Kata Saharan, tak ada yang paham bahasa kumantan saat kerasukan. Bintara laki-laki dan perempuan berperan penting untuk menerjemahkannya. Seperti siapa yang merasuki kumantan dan apa sebab serta obatnya. Dari komunikasi itu, bintara meneruskannya ke pemohon. FOTO: DOK. NARASUMBER

Lalu, mereka sampaikan obat atau ramuan pada keluarga pasien. Jika obat sulit ditemukan, maka para bintara bertanggung jawab ikut membantu. Saat proses bulian, ketabung, gong, dan gendang terus dibunyikan. Para dayang terus merentakkan kakinya. Inilah yang dinamakan dengan Rentak Bulian. Mereka berkeliling sebanyak tujuh keliling. Dayang-dayang itu merupakan para emak-emak yang jumlahnya ganjil. Setiap hal mesti dipersiapkan. Begitu pula dengan rentak bulian yang harus matang. Apabila ada kesalahan, dapat timbulkan kebinasaan. Menurut keyakinan mereka, perbuatan mereka ialah amal kebaikan. Saharan ungkapkan kalimat ini dalam penggalan kalimat barang siapa yang tak buat kebaikan, menurut mereka berdosa, barang siapa yang berdosa, menurut mereka celaka. Barang siapa yang celaka, menurut mereka binasa. “Makanya kata mereka, lebih baik mati anak daripada mati adat,” ungkap budayawan ini. Waktu penyembuhan pasca upacara umumnya berkisar 3 hari. Dalam kurun waktu tersebut, pasien dapat berkunjung kembali apabila belum ada perubahan.


Khazanah

FOTO: DOK. NARASUMBER

Usai laksanakan bulian, kumantan melakukan pemulihan. Waktunya bisa sebulan. Pun untuk waktu pelaksanaan, kumantan melihat cuaca terlebih dulu. “Kumantan lebih tahu, ini bisa berbulian atau tidak,” lanjut Saharan. Masyarakat Talang Mamak takut jika menyalahkan adat, bulian dapat menimbulkan penyakit. Penyakit tersebut dapat menularkan satu kampung, hingga haruslah dilakukan upacara bulian pembersihan kampung. Masyarakat Talang Mamak mengenal adanya istilah batin di dalam dan batin di luar. Makna batin di dalam adalah orang yang betulbetul melakukan upacara ritual itu tak boleh salah. Kalau salah, akan dihukum. Sedangkan batin di luar, diperkenankan ikut. Pun apabila lakukan kesalahan, tak akan diberi sanksi. Masyarakat Talang Mamak katakan, penyebutan tari tradisional Talang Mamak Rentak Bulian adalah kekeliruan. Pengucapan yang benar ialah tari nilai tradisional Rentak Bulian Talang Mamak. “Yang tradisi pengobatannya, yang di talang mamak. Itu pun enggak bisa ditampilkan setiap saat. Kalau tariannya, kan, boleh,” kata Saharan. Perbedaan keduanya terletak pada nilai. Apabila rentak bulian identik dengan nilai sakral, maka tari rentak bulian khas dengan nilai estetika. Pun waktu pagelaran juga berbeda. Gilung, sebagai bagian dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Inhu, pernah menyaksikan ritual bulian.

Salah satu keponakannya sakit dan diantarkan bulian. Butuh waktu 3 hari untuk menemui kumantan. Sebelumnya, keluarga, ahli waris, pemangku adat berkumpul guna musyawarah kesepakatan bulian. Usai musyawarah, pemohon pergi ke rumah bintara untuk kepengurusan kumantan. Pengobatannya berlangsung di rumah sendiri. Sebab, penyakit yang diderita cukup parah hinga tak memungkinkan untuk membawa pasien. Hingga 5 hari, mereka berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Lengkap dengan kebutuhankebutuhan bulian. Ada pelepah salak, pucuk aren, kemenyan, lilin, pulut ketan hitam, beras kuning, hingga ayam. “Ayam kalau enggak salah ada empat. Ayam yang kecil baru menetas itu satu ekor. Ayamnya pun ayam kampung,” cerita Gilung. Tambahnya, seluruh komunikasi disampaikan pada bintara, nantinya ia akan teruskan pada kumantan. Waktu 15 hari habis untuk masa pengobatan keponakan Gilung. Penyakitnya tergolong parah, ia tak bisa bicara. “Langsung lah kita kumpul, dan ke rumah bintara minta pedoman. Apa penyakitnya dan obatnya apa. Kata bintara, ini harus bulian.” Pasien diberi obat-obatan berupa kemenyan, air putih, dan air sirih. Perlahan ada perubahan. Selang tiga hari setelah bulian, mereka datang lagi ke kumantan untuk bertanya tahap selanjutnya. Gilung melihat bahwa kumantan

hanya kenakan selendang saat prosesi pengobatan. Tidak pakai baju. Menurut Saharan, pakaian sakral kumantan merupakan kain putih dan hitam, yang berganti tiap pengobatan. Selain pengobatan itu, Gilung juga pernah saksikan bulian untuk salah satu saudaranya yang hilang. Dua hari dua malam tak kunjung pulang dan akhirnya dilakukan upacara bulian. Dua hari setelahnya, dia pulang sendiri. Pengobatan semacam ini hingga kini masih banyak di Indragiri. “Kalau di Talang Mamak hampir rata-rata.” Namun, bulian yang dikreasikan jadi tari menimbulkan perdebatan. Gilung sendiri tidak menerimanya. Katanya, jika ingin dilestarikan, ada mandat ke orang Talang Mamak. Baik pada kumantan maupun lainnya. Sebab, tak sembarang bisa menampilkannya. Hal serupa juga dikatakan oleh Saharan. Sudut pandangnya, bulian merupakan pengobatan, bukanlah tarian. “Saya budayawan tulen, mengatakan tidak,” katanya. Hingga saat ini, upacara bulian asli belum pernah di bawa ke luar daerah. Yoserizal Zen Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau pernah coba daftarkan tari ini sebagai warisan budaya Riau. Namun, ditolak karena usia tari belum sesuai persyaratan. Mengacu pada Undangundang Pemajuan Kebudayaan, kata Yoserizal, ada 10 objek kebudayaan. Lingkup ekosistemnya adalah pembinaan, memberikan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. “Harus kita lakukan supaya tidak punah. Kalau budaya itu punah, nanti ada lagi namanya musibah kebudayaan. Kalau tidak memberikan pembinaan, Provinsi Riau alami musibah. Selain dari musibah banjir dan asap, ada namanya musibah kebudayaan,” tutup Yoserizal.*

55 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Alumni

N

FOTO: DOK. NARASUMBER

GAIRAH SEORANG SARJANA TEKNIK DI DUNIA JURNALISTIK Eka jadi bagian dari tim liputan haji di Mekkah. Ia dibiayai oleh negara. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Eka sekalian tunaikan Rukun Islam kelima tersebut. Oleh Febrina Wulandari

56 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

AMA Eka Putra Nazir tertulis pada sepuluh besar lomba penulisan feature tingkat nasional. Feature adalah penulisan karya jurnalistik dengan gaya bertutur atau bercerita. Kompetisi yang ditaja Institut Studi Arus Informasi itu berhasil membawanya terbang ke Megamendung, Kabupaten Bogor. Ia perdalam ilmu penulisan feature selama dua minggu bersama Begawan Tempo. Eka jadi satu-satunya peserta dari Sumatera kala itu, tepatnya tahun 1997. Tema lokalisasi dipilih Eka sebagai topik liputannya. Ia patuhi seluruh proses liputan. Mulai dari riset awal hingga turun wawancara lapangan. “Pulang, sudah kuat ilmu jurnalistiknya dan saya buktikan saya bisa nulis,” kata Eka percaya diri. Usut punya usut, pencapaian itu sebenarnya wujud pembuktian kompetensi Eka. Sebelum semangat menulisnya membara, ia sempat ditegur oleh Pemimpin Redaksi Bahana Mahasiswa waktu itu. Hobi menggambarnya membuat Eka jadi jarang menulis. Namun, ia tak bisa memungkiri bahwa ketertarikan pada dunia tulis-menulis menyeretnya masuk ke Bahana. Ketertarikannya sempat pudar di awal bergabung. Setahun berjalan, Eka dipercaya menjadi penanggung jawab perwajahan atau layouter. Sejak saat itu, perlahan-lahan alumni Teknik Sipil Universitas Riau ini jadi doyan bergelut dengan feature. Bahkan, sampai sekarang. Eka tak lama berkarir di Bahana. Tahun 1999, ia bersama tiga temannya di Bahana mencoba dunia kerja Riau Pos. Sisanya tetap tinggal, sebab ingin menamatkan bangku perkuliahan dulu. “Sebagian kawan tak mau karena mau tamat dulu. Saya berani aja terima. Tamatnya belakangan dan kuliahnya sambilan. Saya utamakan kerja,” cerita Eka. Ketertarikannya untuk ber-


Alumni

gabung dengan Riau Pos bermula ketika Bahana adakan proyeksi majalah. Proyeksi ialah momen wajib di mana seluruh awak Bahana rapat menentukan liputan apa yang hendak diusut. Eka memilih topik Industrialisasi Lendir sebagai tema di rubrik laporan utama. Mereka meminta bantuan kepada Ridar Hendri— alumni Bahana yang saat itu menjadi Pemimpin Redaksi Riau Pos. Sebagai gantinya, tulisan Eka diminta untuk dapat dimuat ke berita Riau Pos. “Tentu senang kami, karena punya pengalaman dan topik tulisannya menarik,” kenang Eka. Ia tak mau ilmu kewartawanannya mentok tanpa naik kelas. Ia cari jalan lain untuk tingkatkan kemampuan. Eka pun diajak bergabung ke Riau Pos tahun 2003. Bak kehausan ilmu, setahun setelahnya Eka mendaftar sebagai wartawan kontributor luar negeri di Malaysia. Dewi fortuna berpihak padanya, kesempatan itu ia dapatkan. “Mau kamu tinggal di Malaysia? Tapi gaji kamu gak besar ya, kayak gaji biasa,” terang Eka dalam wawancara. Eka mengamini peribahasa “Sekali merangkul dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Selama bekerja di Malaysia, ia ambil gelar master. Menariknya, kuliah magister yang ia ambil tak linear dengan gelar sarjananya. Eka mantapkan hati belajar di Ilmu Komunikasi. Ia merasa akan kesulitan membagi waktu dan ruang gerak yang sempit jika lanjutkan studi bidang teknik. “Kalau saya ambil teknik, sering masuk laboratorium dan enggak bisa nulis karena enggak punya waktu. Sementara, nulis itu nyawa saya. Passion saya juga menulis. Akhirnya, saya ambil ilmu komunikasi.” Hingga tahun 2007, Eka tamatkan program magisternya dan pulang ke Riau Pos. Ia menjabat sebagai redaktur. Di tengah kesibukannya, Eka coba menulis buku. Lagi-lagi gaya tulisan feature adalah andalannya. Ia terbitkan buku. Profil Tentang

Debitur adalah buku pertamanya. Menyusul Gubernur 114 hari, Pers Mengadakan Konflik, hingga beberapa cerpen lainnya. Eka merasa belum puas, jika ilmu jurnalistiknya hanya dipakai bekerja sebagai wartawan. Akhirnya, Eka melamar menjadi dosen Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Riau tahun 2010. Sejak saat itu pula, ia putuskan mundur dari Riau Pos. Lama malang melintang di dunia kewartawanan, Eka lebarkan sayapnya cari pengalaman baru. Pria 46 tahun ini bekerja di Harian Detil pada 2011 hingga 2013 sebagai Pemimpin Perusahaan. Di samping itu, ia juga Sekretaris di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau tahun 2012 sampai 2017. Berkat kepengurusan itu, Eka dapat mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia. Meski disibukkan oleh semua itu, ia mampu bagi waktu untuk bekerja sebagai Pemimpin Redaksi media Harian Vocal tahun 2015 hingga 2017. Belum habis perjalanan Eka, ia juga berkecimpung dalam Lembaga Ketahanan Nasional. Ia menduduki posisi tertinggi bidang kepemimpinan. Pekerjaannya itu menerbangkan Eka melihat langsung Menara Eiffel. Ia terbang ke Eropa Barat. Masa jabatan PWI beres, Eka berkarir sebagai penguji Uji Kompetisi Wartawan. Profesi itu ia tekuni hingga sekarang. Dua tahun kemudian, Eka jadi bagian dari tim liputan haji di Mekkah. Ia dibiayai oleh negara. Tak hanya sekadar liputan, ia juga tunaikan rukun Islam kelima tersebut. Ikut naik ke Gua Hira, serta melihat langsung penyembelihan unta. “Saya menawarkan diri untuk memberitakan aktivitas haji dan akhirnya dipakai setiap hari. Itu berkesan sekali sampai saya bisa naik haji bersama petugas haji. Liputan haji tak hanya dimuat pada media massa tetapi juga televisi nasional, seperti TVRI Pekanbaru,” kenangnya sumringah.

Ketika ditemui kru Bahana, Eka tengah bergelut dengan kesibukannya menulis disertasi program doktoral. Ia targetkan masa studi selesai selama tiga tahun. Kini, pria yang lahir pada 16 Agustus 1976 itu menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Teknik kampus Jantung Hati Masyarakat Riau. Eka memang dikenal oleh keluarganya sebagai sosok yang konsisten dalam segala bidang. Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan jurnalis, kata Novita istrinya, ia sempatkan membantu rekan wartawan yang kesulitan jika dimintai bantuan. Novita berlatar belakang sama dengan suaminya. Alhasil, mereka sering bertukar pikiran. Namun, mereka tak menuntut anakanaknya mesti ikuti jejak orang tuanya. Sebagai kepala keluarga, Eka hanya mengarahkan bakat yang dimiliki buah hati mereka. Namun, pandangan terhadap jurnalistime tetap mereka ajarkan. “Walaupun dia banyak ilmunya, kita saling support,” kata Novita. Sementara itu, Ilyas Arin memandang Eka sebagai seorang konseptop ulung dan pekerja keras. Ilyas sudah bersahabat dengan Eka sejak kuliah. “Karena basic-nya engineering, ia unggul di sana,” tutur pebisnis itu. Ilyas juga erita, Eka rajin belajar. Begitu masuk ke PWI, ia belajar sungguh-sungguh. Eka di mata Ilyas bukan seorang yang ambisius. Ia tetap belajar di lajurnya, meskipun berpotensi di bidang tersebut. Eka seorang yang sederhana. Ia membumi. “Kami sering bertemu. Kadang seminggu sekali. Sekarang aja karena sedang S3, jadi sibuk. Biasanya, seumuran kita ketemu teman karena butuh sesuatu. Ini enggak, karena memang jalin silaturahmi,” tutup Ilyas.*

57 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Selingan

SEPAK TERJANG KLUB SEPAK BOLA PERFISI UNRI Oleh Juanito Stevanus

Perfisi UNRI raih status resmi sebagai tim sepak bola tingkat fakultas sejak 2004 silam.

58 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

L

IGA 3 sepak bola Indonesia— dulu Liga Nusantara— merupakan kasta ketiga dalam dunia sepak bola tanah air. Bertanding di liga ini jadi salah satu mimpi klub asal kampus biru langit. Perfisi UNRI namanya, akronim dari Persatuan Sepak Bola FISIP Universitas Riau. Ada 15 tim di dalamnya, dengan komposisi lima tim per satu grup. Mereka berlaga di Liga tiga Nasional Zona Riau dan membawa pulang tiket ke Liga 3 Zona Riau.

Perfisi UNRI masuk ke dalam grup C. Tercatat dalam 8 pertandingan dengan satu kali menang. Menelan pahitnya 5 kali kekalahan dan 2 kali seri. Perolehan ini membawa Perifisi

menghuni peringkat terakhir dalam akhir klasmen grup C.

Jalan cerita persiapan tim ini bermula pada Juli 2021. Ali Muhammad Ichsan ungkapkan, momentum persiapan tim berawal dari seleksi terbuka untuk mencari 25 pemain. “Di sini kami melakukan persiapan menuju Liga 3 kurang lebih 2 atau 3 bulan,” pungkas kapten kesebelasan itu.

Eko Budi Santoso dari pihak pelatih menjabarkan proses perekrutan pemain Perfisi itu sendiri. Katanya, mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan berbeda. Tak hanya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) saja, seperti nama klub.


Selingan

itu yang punya skill lebih,” Khairi berpendapat. Melihat Perfisi lolos ke dalam Liga 3 Nasional, menjadi harapan sekaligus kebanggan tersendiri bagi Khairi.

FOTO: DOK. NARASUMBER

“Ada yang di luar FISIP, ada yang baru tamat SMA. Gabunglah, semua,” tambah Eko.

Bagi Eko, kualitas menjadi indikator utama dalam memilih pemain. Mula-mula, pihaknya membuka seleksi secara terbuka bagi mahasiswa FISIP. Lalu, seleksi terbuka bagi kalangan umum. Jalan terakhir ini adalah solusi untuk mengisi kekurangan tim. Usai mengumpulkan 25 nama, pelatih mulai menjadwalkan latihan. Intensitas porsi latihan pun beragam. “Dua minggu sebelum bertanding, kami intens-kan pagi dan sore,” beber Eko.

Dua minggu jelang kompetisi, Perfisi rutin latihan tiap sore. Hingga satu minggu pra kompetisi, intensitas latihan makin padat. Dalam satu minggu, mereka latihan di pagi dan sore hari. Sebagai pemanasan, Perfisi juga uji coba laga dengan klub lokal Riau dan tim dari Sumatera Barat. Ali yang bermain sebagai gelandang cukup resah dengan banyaknya pemain yang jatuh sakit sebelum bertanding. Hal ini tentu menjadi kendala tersendiri, menurut pengakuan Ali kepada Bahana. Tak lepas sebagai penghambat bagi staf pelatih dalam melakukan rotasi pemain, di tengah jadwal pertandingan yang padat. Eko menaruh harapan besar kepada Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia. Ia ingin pihak asosiasi sepak bola itu

memberikan sosialiasi regulasi kompetisi. Tentu sesuai dengan regulasi yang telah ditentukan di tingkat pusat. “Kalau target dari kami manajemen, tentu Liga 2,” tutur Eko menekankan harapan untuk klub Perfisi UNRI ke depan.

Guna mencapai target, mesti ada resepnya. Untuk itu, menurut Eko, poinnya adalah menjaga kekompakan dan kerja sama tim. Sebagai pihak manajemen, ia juga mengatakan bahwa perkembangan pemain juga turut didukung. Misalnya saja dengan memberikan kesempatan bermain di luar Perfisi UNRI. “Tahun ini, ada dua pemain dari Perfisi yang bermain di nasional. Salah satunya ada di PS Siak,” ungkap Eko.

Pemain kedua belas alias suporter yang lekat dengan kiprah klub. Muhammad Khairi Febriyanda dari Ultras FISIP ceritakan cikal bakal terbentuknya pendukung Perfisi itu. Adalah momentum Pekan Olahraga Mahasiswa Universitas Riau tahun 2020 lalu.

Khairi, seorang mahasiswa FISIP menganggap perjuangan tim Perifisi UNRI cukup baik dalam debut di Liga 3 Zona Riau. Ia minta agar pihak manajemen Perfisi ke depannya lebih memperhatikan pemain internal kampus, sebelum merekrut pemain luar. “Soalnya, menurut saya, itu banyak pemain-pemain UNRI

Perfisi UNRI sendiri mendapatkan status resmi sebagai tim sepak bola tingkat fakultas sejak 2004 silam. Pembentukannya berawal dari latihan rutin Adianto dan temantemannya tahun itu. “Logo saat itu kami buat terburu-buru, sebab baju ingin segera dicetak,” kenang Adianto yang kini jadi dosen jurusan Administrasi Publik sekaligus manajer Perfisi UNRI.

Hasilnya, ada dua gambar utama dalam logo yang masih dipakai hingga sekarang. Pertama, ada pohon kecil yang mengartikan bahwa saat itu Perfisi adalah tim baru—ibarat pohon kecil. Sedangkan di atas puncak logo, ada burung elang berwarna emas. Burung ini dimaksudkan sebagai harapan dari Perfisi untuk terus ada dan terbang menjelajah. Berkeliling lewat pertandingan untuk terus meraih prestasi, layaknya emas. Selama lebih kurang 18 tahun berkiprah, Perfisi kerap menangkan pertandingan. Torehkan prestasi setingkat kota dan provinsi, seperti meraih gelar di kejuaraan Piala Rektor UIN Suska Riau. Selain itu, Perfisi juga kerap adu kebolehan di Kejuaran antarkampung atau Tarkam dan sering unggul.

Sementara di level Provinsi, Perfisi berhasil bertahan pada liga I Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya atau PSPS. Posisi kelima setia dalam genggaman Perfisi. Muaranya, Perfisi masuk dalam Divisi I kala itu.

Belum lama ini, prestasi mentereng juga berhasil ditorehkan oleh Perfisi. Pada seleksi Pekan Olahraga Mahasiswa se-Universitas Riau Juni lalu, juara pertama berhasil mereka sabet. Ada pula kejuaraan futsal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Sumatera yang dihelat oleh BEM UNRI di Hall A Rumbai. Perfisi berhasil naik podium di posisi ketiga, pada 20 Juli lalu.*

59 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Feature

FOTO: PIXABAY.COM

KUSTA BUKAN KUTUKAN Rozita: “Kusta bukan penyakit turunan, hanya kumannya yang menularkan. Sementara kebanyakan stigma menyebut kusta sebagai penyakit turunan atau penyakit kutukan. Gejala pertama setelah ditularkan akan timbul sekitar 2 hingga 5 tahun kemudian.” Oleh Denisa Nur Aulia

S

UDAH tiga minggu lamanya, Uswa tak mau masuk sekolah. Rasa malu dan tidak percaya diri menyelimuti hari-harinya. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi. Beban keluarga, begitu ia menganggap dirinya kala itu. Anak ke-enam dari delapan bersaudara ini sudah masuk tahun kedua pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Semuanya berawal dari kemunculan benjolan merah di kelopak mata bawah Uswatun Khasanah. Bukan hanya benjolan, bercak-bercak merah juga muncul di kulitnya. Meski tak terasa gatal, namun tekstur kulit pada bagian

60 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

bercak itu lebih tebal dibanding kulit normal. Kulitnya terasa kering dan bersisik. Ia hanya bisa terbaring di kasur. Terkadang, kondisi tubuhnya menurun dan merasa lemas, pusing, hingga demam tinggi. Kedua orang tua membawa Uswa ke puskesmas terdekat untuk diperiksa. Sayangnya, dokter tak berterus terang kepadanya mengenai penyakit Uswa. Ia hanya diberi tahu, penyakit itu harus disembuhkan selama 12 bulan dan mesti minum obat secara rutin. Rasa penasaran membawa Uswa untuk berselancar di internet. Akhirnya, ia tahu bahwa penyakit itu kusta. “Awalnya syok, sedih, dan

selalu nangis tiap keingat penyakitku. Apalagi, aku masih sekitar umur 14 tahun yang pikirannya masih mau main dan belajar sama teman sebayaku,” tutur Uswa. Perlahan, Uswa pun luluh melihat besarnya dukungan orang tua. Ia putuskan bersekolah kembali. Bahkan, sang ayah mengantar jemput serta menggendong Uswa sampai ke dalam kelas. “Aku sampai digendong oleh bapak masuk ke kelas, karena kakinya masih lemas dan enggak mau [bisa] digerakin,” jelas Uswa sembari tertawa lirih mengingat kejadian itu. Melihat kondisinya, beragam respon datang dari lingkungan


Feature

“ Awalnya syok, sedih, dan selalu nangis tiap keingat penyakitku. Apalagi, aku masih sekitar umur 14 tahun yang pikirannya masih mau main dan belajar sama teman sebayaku ” sekolah. Ada yang berikan dukungan dan banyak pula yang tak peduli. Bahkan, ada yang sampai menghina kondisi Uswa. Ia bercerita, beberapa teman memilih menjauhinya. Bahkan, guru pun ada yang ikut mengejeknya. Hal ini membuat Uswa kembali merasa hilang semangat dalam belajar. Ia merasa didiskriminasi dan tak punya teman. Meskipun ada beberapa orang yang peduli, namun itu tak sepenuhnya. Rasa enggan bersekolah kembali menghantui. Hal serupa terjadi di lingkungan tempat tinggal. Bermula dari tetangga yang bertanya-tanya keadaan Uswa. Begitu tahu kenyataannya, respon juga bermacam-macam. Ada yang merespon positif dengan memberi dukungan. Di samping itu, ada pula yang menunjukkan ketidaksukaan dan mengolok-oloknya. “Ketika lingkungan sekolah enggak menerima keadaan saya, di saat itulah saya berpikir kehidupan itu sudah tidak ada. Karena, di lingkungan rumah, lambat laun bakal nerima kondisi saya. Beda sama temen saya yang saat itu masih SMP,” kenang remaja asal Cirebon itu. Satu pemantik semangat Uswa untuk sembuh kembali adalah perjuangan dan dukungan kedua orang tuanya. Menurutnya, semangat dan doa orang tua lah yang menjadi obat paling mujarab untuk kesembuhannya. Uswa mengikuti anjuran dokter. Ia minum semua obat yang diberikan. Mesipun air seninya berubah warna

menjadi kemerahan dan bercak merah menjadi kehitaman, tak lantas menyurutkan semangat Uswa. Selain konsumsi obat, ia juga berinisiatif melakukan terapi kecil di rumah. Setiap pagi, ia melakukan perengangan di bagian tangan dan kaki. Maksud Uswa agar bagian tubuhnya tak kaku dan mencegah disabilitas. Olesan losion membantu melembapkan kulitnya yang kering. Uswa juga aktif mengikuti kegiatan yang diadakan puskesmas. Namanya kegiatan Kelompok Perawatan Diri (KPD). Kegiatan ini dimiliki oleh puskesmas yang memiliki pasien kusta dengan jumlah cukup banyak. Bentuk kegiatannya adalah “rendam, gosok, dan oles” menggunakan batu apung dan minyak kelapa. Uswa sendiri mengikuti kegiatan seminggu sekali sampai sebulan sekali. Selama 12 bulan pengobatan, tepatnya di tahun 2013, akhirnya Uswa sembuh tanpa cacat. Ia kembali berani beraktivitas bersama masyarakat sekitar. Ia ikut jadi bagian remaja masjid dan kegiatan remaja di lingkungan rumah. Meskipun, masih ada sedikit perasaan malu karena bekas bercak menghitam di kulit, sisa pengobatan. Tak lama, ia bertemu dengan organisasi dan peneliti kusta di daerahnya Cirebon, yang termasuk daerah endemis kusta. Berkat konseling, ia dapat pandangan baru untuk masa depan. Uswa semakin bersemangat untuk belajar dan berkarya. Ia juga bertemu teman sebaya penyintas kusta dan merasa dirinya “ada”. Dua tahun kemudian, tahun 2015, Uswa diajak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk berikan testimoni sebagai Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Ia ceritakan pengalamannya dan mengedukasi orang lain. Yang mana sebelumnya ia tak pernah mau menceritakan dirinya sebagai OYPMK. Saat itulah pertama kali Uswa berani bersuara bahwa dirinya penyintas kusta. Melalui program dan kegiatan

pemberdayaan untuk OYPMK, ia mendapat beasiswa untuk lanjut studi SMA dan perguruan tinggi. Uswa berkuliah di Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon Jurusan Perbankan dengan program Bidikmisi. “Ini goal saya bisa lanjut ke bangku kuliah dan meningkatkan pendidikan. Soalnya kakak-kakak saya hanya sampai tingkat SMP, sebab orang tua enggak mampu membiayai,” kata alumnus SMK Yasmi Gebang Cirebon ini. Selama berkuliah, Uswa masih aktif bergelut dalam kegiatan organisasi disabilitas dan kusta. Berbekal pengalaman-pengalaman itulah akhirnya Uswa bekerja di kantor Netherlands Leprosy Relief (NLR) Indonesia. NLR adalah Organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang Kesehatan, terutama kusta dan disabilitas. Selain untuk bekerja, ia belajar dan berikan edukasi tentang kusta. Uswa pernah dapat kesempatan membagikan pengalamannya ke Manila, Filipina. Meskipun awalnya kebingungan mengenai muasal kusta yang ia derita, namun kini Uswa sudah ikhlas. Perempuan yang kini berusia 23 tahun itu coba petik hikmah dan jadikan pembelajaran. “Alhamdulillah, senang sekali bisa sembuh. Saya sadar itu semua adalah ujian kehidupan yang harus dijalani. Juga lebih banyak bersyukur dan belajar. Sekarang pun sudah bisa kembali beraktivitas dengan normal lagi,” ujar Uswa di ujung telepon. Kisah perjuangan lain datang dari Darmanto. Ia juga penyintas kusta. Penghujung tahun 2016, Darman sedang berada di Jakarta dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Ia menyadari adanya bercak yang timbul di badannya, tapi tak terasa gatal. Ia periksa ke klinik terdekat dan keluhannya hanya dinyatakan sebagai alergi biasa. Darman tak yakin. Menurutnya, jika hanya alergi biasa, mengapa tak sembuh jua. Bercak yang timbul

61 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Feature

pun tak seperti alergi. Berwarna kemerahan seperti benjolan, tapi mati rasa. Karena tak kunjung membaik, ia putuskan cuti dari pekerjaan dan pulang ke kampung halamannya, di Subang, Jawa Barat. Ia makin gusar, tetangga sekitar yang melihat kondisinya menyebut Darman terkena “guna-guna”. Namun, Darman tak ambil pusing dengan perkataan itu. Meskipun begitu, kata Darman, para tetangga tak mengucilkannya. Malah mendoakan agar ia kembali sehat. Bercak yang muncul pun semakin banyak. Akhirnya, Darman bersama orang tuanya beranikan pergi ke puskesmas. Petugas puskesmas menyatakan bahwa ia terkena kusta. Darman diberi penanganan yang cepat, berikut obat dan arahan. Awalnya, keluarga tak menyangka bahwa Darman terkena penyakit ini. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa terkena. Perkiraan mereka, kusta merupakan penyakit turunan, sedangkan di keluarga mereka tidak pernah ada catatan penyakit kulit itu. Padahal. Keluarga akhirnya memahami bahwa kusta bukan penyakit keturunan, melainkan akibat bakteri. Mereka mendukung agar Darman menjalani pengobatan hingga sembuh. Satu tahun menjalani pemulihan, ia banyak berdiam diri di rumah. Darman merasa malu jika harus keluar rumah dengan kondisi kulit yang memerah dan membengkak. Tak bisa kemana-mana, bahkan malu melihat dirinya sendiri. Menurutnya, kusta membuat wajahnya agak berubah. Penebalan kulit membuat bagian wajahnya membentuk benjolan. Ia merasa dirinya terlihat “menyeramkan”. “Empat bulan saya enggak keluar rumah, malu kalau ketemu orang luar. Soalnya ada aja yang lihat saya dengan pandangan aneh, jijik, dan takut karena kulitnya begini. Juga ada yang bilang jangan deket deket saya,

62 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

nanti ketular. Padahal mah orang dekat lingkungan biasa aja,” cerita Darman via telepon. Darman juga ikut kelompok penyintas kusta di Kabupaten Subang yang bernama Kusta Bersatu. Para anggota yang berjumlah 15 orang itu biasanya berbagi pengalaman, merangkul orang yang memiliki ciri-ciri kusta di lingkungan sekitar, serta saling memberi semangat dan bantuan. Orang tua menyarankannya untuk bekerja sebagai pembawa traktor. Namun, ia hanya mengambil pekerjaan di malam hari, sebab takut teman kerjanya melihat kondisi kulit saat itu. “Kalau kamu malu kerja siang, ambil yang malam aja. Daripada enggak ada kegiatan sama sekali,” ucap Darman menirukan saran sang ayah kala itu. Sama seperti Uswa, Darman juga memakai losion untuk melembapkan kulitnya. Sebab, kulit penderita kusta terasa lebih kering, tapi susah mengelupas. Darman katakan, proses penyembuhan tidak sebentar. Butuh kesabaran dan semangat agar dapat sembuh. Selain menyerang fisik, kusta juga menyerang mental. Seperti takut bertemu orang banyak karena berpikir akan diolok-olok. Tahun 2017, tepat 12 bulan setelah pengobatan, akhirnya Darman sembuh total tanpa kecacatan. Sejak saat itu, Darman sudah berani mengambil pekerjaan di siang hari. “Alhamdulillah sekarang semua sudah normal. Kerja bawa traktor masih lanjut, kadang ambil kerja pengecoran, sekarang juga kerja bawa mesin. Enggak malu juga kalau harus ketemu orang banyak dan ikut ngumpul bareng teman,” ujar ayah dua anak ini. Darman menduga, ia kemungkinan terkena kusta saat berada di Jakarta. Ketika itu, pola hidupnya yang tak sehat. Sering begadang di tengah banyaknya aktivitas. Darman dan

Uswa sama-sama terkena kusta basah atau multi basiler yang masa penyembuhannya 12 bulan. “Setelah sembuh pun, bisa saja terjadi reaksi kembali oleh kusta. Hanya saja, tak perlu takut karena sudah ada obatnya. Yang penting, jaga pola hidup dan kesehatan agar tak timbul reaksi,” ucap Darman di akhir wawancara.

Upaya Rozita “Menyelamatkan” Penyintas Kusta Rozita—staf Dinas Kesehatan Provinsi Riau—ceritakan pengalamannya “menyelamatkan” penyintas kusta. Rozita merupakan pengelola program kusta dan yang berada di seksi Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Ia salah satu Pengawas Supervisor (Wasor) kusta yang ditugaskan untuk melaksanakan penanggulangan, terutama di Riau. Ada beberapa daerah kantong kusta dengan endemis yang tinggi, seperti Indragiri Hilir, Rokan Hilir, lalu sebagian di Meranti dan Bengkalis. Ia ditunjuk menjadi Wasor dari tahun 2006 hingga 2010. Penunjukkannya terjadi pasca Rozita membuat program perencanaan penanganan penyakit kusta, meskipun Riau bukan daerah endemis. Rozita mengikuti pelatihan selama 2,5 bulan di Makassar. Ia dilatih untuk menanggulangi kusta. Lebih detail soal perencanaan, survei, evaluasi, dan kegiatan bersama masyarakat. Rozita juga diajarkan bagaimana melakukan trimming pasien kusta. Trimming maksudnya mengelupaskan bagian kulit kusta yang terkena luka. Terkadang, penyintas tak menyadari mereka terkena benda tajam dan berujung luka dengan kulit menebal. “Kulit kusta yang luka itu kayak kapalan dan mati rasa. Jadi, saya ajarkan mereka untuk mengelupaskannya.” Rozita melakukan survei dan memeriksa orang dengan ciri-ciri kusta. Begitu ditemukan dengan


FOTO: ISTOCKPHOTOS.COM

Feature

ciri-ciri yang sama, mereka akan menangani dan memutus rantai kusta. Pengecekan kusta dilakukan dengan melihat dan meraba dengan baik agar tidak keliru. Jika ada bercak memutih, tidak tumbuh bulu, bisa diperkirakan itu kusta. “Mengecek ciri kusta benar-benar kayak ngecek duit, supaya tidak salah menerka penyakit,” ujar Rozita. Kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri microbacterium lepra dan menyerang saraf tepi. Ciri-ciri kusta adalah kulit bercak putih, menebal, kebal atau mati rasa di bagian bercak. Kusta berakibat pada borok kulit, kerusakan saraf, kelemahan pada otot hingga cacat parah. Gejala pertama setelah ditularkan akan timbul sekitar 2 hingga 5 tahun kemudian. Kusta hampir mirip dengan tuberkolosis (TBC), dapat

menular melalui droplet. Kumannya juga hampir sama dengan TBC, hanya berbeda sedikit. Jika TBC nama kumannya Mycobacterium tuberculosis, sedangkan Kusta adalah Mycobacterium leprae. Kasus kusta di Indonesia tahun 2021 tercatat 16.704, berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Sedangkan untuk cakupan Riau, ada 109 orang pada tahun 2020. Rozita melihat bahwa tak semua orang mau ikut membantu penyintas kusta, karena melihat kondisi pasien. Rozita sendiri mendapatkan pengalaman berharga. Ia mulai mencintai pekerjaannya setelah memahami apa itu kusta dan menanganinya. Padahal, Rozita memiliki latar belakang sebagai asisten apoteker, bukan perawat. “Banyak yang enggak mau ditempatkan di program ini. Saya

sendiri mau karena tujuan bantu orang. Saya juga berpikir jika seorang perawat bisa membersihkan borok orang, kenapa saya tidak bisa,” kata Rozita. Baginya, ada kebahagiaan tersendiri saat bertemu dengan pasien kusta. Apalagi, jika ia berhasil mencegah pasien mengalami kecacatan dan sembuh total. Setiap bulan, Rozita selalu mengecek daerah di Riau yang endemisnya tinggi. Jika didapati banyak orang terkena kusta di daerah tersebut, ia langsung turun ke lapangan. Berkat komitmennya dalam menjalankan program, Rozita pun torehkan pencapaian istimewa pada tahun 2009. Ia sukses menginisiasi pengadaan anggaran untuk kusta dari nol rupiah, menjadi hampir 1 miliar rupiah. “Bangga ya, karena dianggap pemerintah kita berhasil untuk komitmen penanganan kusta. Kita juga dapat penghargaan dari NLR,” ceritanya sambil tersenyum. Setiap tahun, ia diundang ke Bali jika ada pertemuan tahunan atau evaluasi bersama NLR. “Saya juga mencintai program ini karena bantuan NLR, membuat saya merasa lebih dihargai saat menjalankan tugas,” sebut perempuan 52 tahun ini. Rozita berpesan bahwa pemerintah harus memikirkan dan melakukan sosialisasi kusta. Sebab, stigma orang kepada kusta, memiliki dampak negatif terhadap penyintas. “Jangan hanya memikirkan penyakit yang mematikan, tapi juga penyakit yang seperti kusta ini,” tegasnya. Kusta bukan penyakit turunan, hanya kumannya yang menularkan. Sementara kebanyakan stigma menyebut kusta sebagai penyakit turunan atau penyakit kutukan. Kini, Rozita tak lagi menjadi Wasor Kusta. Ia sudah ditetapkan sebagai Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.*

63 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Kampusiana

FOTO: BAHANA/MULIADI

MEMANDANG WAJAH MURAM PEDESTRIAN UNRI Oleh Haby Frisco

Meskipun UNRI punya dana pemeliharaan berkisar Rp200 juta, namun pembangunan trotoar baru masih mengawang.

H

AMPIR saban hari, Gemilang Multani berjalan dari indekosnya di Jalan Bangau Sakti menuju kampus. Melangkahkan kaki lewat gerbang Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Mahasiswi Sosiologi 2021 ini biasa menapak di bibir jalan. Ia kesulitan, sebab ketiadaan trotoar sebagai fasilitas bagi pejalan kaki di ruas jalan tersebut.

64 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

Universitas Riau (UNRI) belum sepenuhnya memfasilitasi pejalan kaki di kampus. Keberadaan trotoar hanya ada di beberapa ruas jalan saja. Sepengamatannya, sarana pejalan kaki belum memadai. Pun jika hujan turun, air menggenangi jalanan sampai menyulitkan untuk berjalan. “Ketika hujan, tidak bisa lewat jalan kaki, airnya cukup tinggi,” tutur mahasiswi yang biasa disapa Emil ini.

Sementara itu, Isnaini Eliyana justru tak merasakan kendala berarti. Mahasiswi Agribisnis angkatan 2021 itu juga tinggal di Jalan Bangau Sakti. Menurutnya, sarana yang disediakan sudah memadai, karena sudah ada jalur bagi pejalan kaki. Menyoal penyeberangan juga tak ada gangguan, sebab katanya, kendaraan di dalam kampus tak sepadat di jalan raya.


Kampusiana

Isnaini biasa menghabiskan waktu 10 hingga 15 menit berjalan kaki dari indekos sampai ke Fakultas Pertanian. Ia merasa, banyaknya pepohonan di tepian jalan UNRI buat perjalanannya tak terlalu panas. Apabila mengadopsi aturan mengenai tata kota, UNRI bisa berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2014/2011 Tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan. Pasal 8 menyebutkan bahwa ruang jalur pejalan kaki merupakan ruang yang diperlukan pejalan kaki untuk berdiri dan berjalan. Secara rinci, ruang pejalan kaki dihitung berdasarkan dimensi tubuh manusia ketika membawa barang atau berjalan bersama dengan pejalan kaki lainnya. Baik dalam kondisi diam maupun bergerak. Sejatinya, area pedestrian di UNRI telah ada sejak lama. Kini, trotoar ada di seluruh jalan utama UNRI. Bermula dari gerbang Jalan S.M. Amin sampai sepanjang Jalan Muchtar Lutfi. Lalu, dari gerbang Jalan Binakrida. Begitu pula dari pos masuk gerbang Soebrantas, memanjang ke ruas Jalan Bina Widya. Meski begitu, hanya ada satu trotoar di satu sisi lajur Jalan Bina Widya. Padahal, jalan sepanjang hampir dua kilometer ini merupakan akses utama masuk kampus. Pada sisi lajur lainnya, ada halte sebagai fasilitas penunjang. Mahasiswa bisa menggunakan bus kampus yang dapat berhenti di sepanjang jalan utama. Habib Kepala Sub Bagian Rumah Tangga UNRI mengakui, tak semua jalanan di UNRI memiliki trotoar. Wahyu Hidayat, Dosen Jurusan Arsitektur UNRI menilai bahwa penyediaan area pedestrian di UNRI sudah cukup, bila disigi dari sisi kuantitas. Namun, kualitasnya juga harus dibenahi. “Kalau ditanya walkability, orang

bisa berjalan dari suatu tempat ke tempat lain dalam lingkungan kampus, berarti sudah [terpenuhi]. Cuma, standar kualitasnya masih perlu dipertanyakan,” ujar Wahyu. Bila dikupas lebih dalam, ahli rancang tata kota tersebut menegaskan, jalur pedestrian tak semata beriorentasi pada aspek fungsional. Ada beberapa standar yang perlu jadi perhatian. Pertama, soal dimensi. Jalur pedestrian hendaknya minimal bisa dilewati oleh dua orang berjalan berpapasan, tanpa tubuh mereka bersinggungan. Selain itu, jalur pedestrian juga harus ada di kedua sisi jalan. Seandainya hanya ada di satu sisi saja, maka akan mengurangi kenyamanan ketika orang berjalanan berlawanan arah pada satu jalur. Ukuran tinggi trotoar dari jalan raya bisa diukur dengan membuka pintu mobil. Pastikan pintu mobil tak menyentuh trotoar. Pada tempat tertentu seperti jalan masuk ke area bangunan, mesti ada ramp atau bidang miring. Tak lupa dengan fasilitas untuk disabilitas. Pun segi material juga perlu diperhatikan. Kenyataannya, saat ini rata-rata trotoar UNRI hanya ditutup dengan cor kasar. Secara estetika, Wahyu menilai keputusan tersebut kurang bagus. Selayaknya, trotoar dibuat seperti pedestrian kota-kota besar yang dilapisi granit, batu alam, atau mungkin paving blok. “Kalau kita kayaknya mau cepat, dicor aja semua.” Aspek kenyamanan termal pun perlu diperhatikan. Mesti ada peneduh di semua jalur pedestrian. Bisa alami dari pohon seperti yang dirasakan Isnaini atau buatan dengan kanopi. Pemenuhan hal ini menentukan kualitas kenyamanan orang agar bisa berjalan kaki tanpa kepanasan. Wahyu berpendapat, kenyamanan adalah hal utama untuk dibenahi. “Tidak panas aja sepanjang jalur pedestrian, sudah bagus itu. Gunanya kan untuk pejalan kaki.

Pejalan kaki tidak bisa kencang, sekian lama berjemur kan tidak nyaman,” sebutnya. Membangun jalur pedestrian, kata Wahyu, mesti ada rancangan dan desain. Butuh konsultan. Desain area pedestrian harus sesuai dengan kebiasaan pejalan kaki. Bina Marga telah mengatur semua standar perihal jalur pedestrian. Lebar efektif jalur trotoar sesuai kebutuhan satu orang adalah 60 centimeter dengan lebar ruang gerak tambahan 15 sentimeter untuk bergerak. Artinya, kebutuhan total untuk dua orang pejalan kaki bergandengan setidaknya 150 centimeter. Wahyu menambahkan, pada titiktitik tertentu jalan harus ada rest area. Mengingat bahwa setiap orang punya keterbatasan dalam berjalan. Bentuknya semacam selter, gazebo, atau pohon untuk berteduh. Fasilitas pendukung juga wajib dipenuhi seperti ketersediaan tempat sampah, lampu penerangan, dan tempat cuci tangan. Beberapa fasilitas pendukung lainnya seperti penempatan rambu, marka jalan, pagar pengaman, halte, jalur hijau, drainase, hingga jalur penyeberangan. Kehadiran polisi tidur membatasi jalur penyeberangan juga diperlukan agar kendaraan melambat. Wahyu pikir, UNRI cukup memakai zebra cross. Penempatannya pun harus melihat perilaku pejalan kaki. Laiknya di kawasan padat yang sering dipakai untuk menyeberang jalan. Sebagian besar persimpangan di UNRI nyatanya telah dilengkapi polisi tidur. Namun, marka jalan tampak belum terpelihara. Beberapa marka jalan sudah memudar, bahkan menghilang. Seperti zebra cross dari Rektorat ke Perpustakaan dan dari Rektorat menuju Gedung Satuan Pengawas Internal. Perihal rambu-rambu, Dinas Perhubungan berperan langsung menentukannya. Habib jelaskan

65 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Kampusiana

Jalan Bina Widya tanpa trotoar untuk pejalan kaki. FOTO: BAHANA/MULIADI

Jalan alternatif di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. FOTO: BAHANA/MULIADI

66 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Kampusiana

ada standar tersendiri dari Dinas Perhubungan dalam memasang rambu-rambu di jalan. Saat ini, jalan di UNRI sudah punya ramburambu meski beberapa tiangnya telah miring. Seperti yang tampak di depan jalan masuk Unit Pelayanan Teknis Teknologi, Informasi, dan Komunikasi UNRI. Pun terkait drainase, seyogianya ditutup dan ada bak kontrol agar area pedestrian menjadi luas. Dengan begitu, pengguna jalan akan merasa nyaman karena lebih rapi, bersih, dan tidak menimbulkan bau busuk. Habib mengakui minimnya tempat sampah di sepanjang jalur pedestrian. Hanya ada beberapa tong sampah permanen di sekitar rektorat. Katanya, sudah jadi pertimbangan untuk menambah perangkat prasarana kebersihan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Akseslitas mengatur bahwa fasilitas untuk penyandang disabilitas tak boleh luput dari perhatian. Misal, adanya guiding block untuk memudahkan penyandang tunanetra. Fasilitas ini berupa keramik yang didesain khusus berbentuk garis lurus sebagai penanda.

FOTO: BAHANA/MULIADI

*** Wacana membuat trotoar sudah ada, namun tertunda di beberapa tempat. Pembuatannya, kata Habib menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bukan hanya pepohonan saja, melainkan juga tata letak gedung, taman, tempat parkir, dan alur lalu lintas jadi pertimbangan. Kondisi parit yang belum saling terhubung adalah persoalan utama. Pembuangan air terkendala di beberapa titik, seperti di Jalan Soebrantas dan Bangau Sakti. Tambah lagi posisi UNRI yang lebih rendah dari jalan raya, menyebabkan pembuangan air tak bisa maksimal. Menjawab persoalan yang dialami Emil, Habib katakan bahwa trotoar belum bisa dibuat di sana.

Alasannya, saluran pembuangan air menuju jalan Bangau Sakti tak ada. Kondisi ini disebut Habib membuat drainase di UNRI belum baik. Alhasil, berpengaruh terhadap bentuk trotoar. Jika dipaksa melebarkan parit dengan pembuangan yang tak optimal, maka hasilnya nihil. “Kalau buat maksimal, parit ditutup dan berubah lagi. Untuk lebar, segitulah yang bisa dimaksimalkan,” jelas dia. Meskipun UNRI punya dana pemiliharaan berkisar Rp200 juta, namun pembangunan trotoar baru masih mengawang. “Biasanya terpakai terus. Bukan hanya trotoar, termasuk jalur parit yang diperbaiki.” Kini, UNRI baru memaksimalkan pemiliharaan saja. Anggaran untuk pembuatan lebih besar daripada pemiliharaan. Juli 2022, pembangunan gedung dengan pinjaman dari Asian Development Bank sudah mulai berjalan. Dengan demikian, kata Habib, lokasi pedestrian akan berubah. Bakal ada pelebaran jalan sekitar 2,5 meter di sisi kiri dan kanan jalan utama. Begitu pembangunan kelar, baru titik pedestrian akan permanen. Sebelum itu, batas-batas lahan akan dirampungkan dahulu. “Untuk pengembangan pedestrian masih dipending, fokus ke jalan,” ucap Habib. Sebagaimana rencana yang ada, kata Habib, di sepanjang Jalan Bina Widya akan dibuat 2 sisi jalur pedestrian. Lengkap dengan sarana pendukung. Rancangan pedestrian hingga komponen pendukung di dalamnya sudah dirancang. Ada bangku taman, jalur khusus difabel, sampai pengadaan jalur sepeda di jalan utama. “Dibenahi jalannya, paritnya, baru pedestrian,” pungkas Habib.*

67 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Bedah Film

Isu Perempuan dan Kekerasan Seksual dalam Film Lokal Oleh Andi Yulia Rahma

T

AK dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih terbelenggu dengan konsep pemikiran dan budaya patriarki. Ruang gerak dan berekspresi perempuan seolah dipagari. Cap melawan kodrat akan dilekatkan jika perempuan menjalankan “peran” laki-laki. Lebih sial lagi, perempuan juga kerap dilecehkan dan dijadikan objek pelampiasan hasrat seksual para individu yang keji. Perhatian terhadap kesehatan mentalnya minim. Bahkan saat berani bersuara sekalipun, keadilan baginya padam. Para korban “dilecehkan” untuk kedua kalinya ketika ia disalahkan dan nihil keadilan. Film-film lokal berikut mengilustrasikan cuplikan betapa sulitnya hidup menjadi seorang perempuan di negeri ini. Bahana Mahasiswa (BM) menyajikan ulasan singkat untuk 5 film.

Marlina Si Pembunuh dalam empat Babak Seperti judul filmnya, karya ini menyajikan empat babak perjalanan Marlina. Babak pertama diawali dengan perampokan. Kemudian dilanjutkan dengan kisah perjalanannya ke kantor polisi. Babak ketiga berjudul pengakuan dosa. Terakhir, kelahiran. Padang sabana di Sumba menjadi latar sinema ini. Hanya ada mumi suaminya yang duduk di pojok rumah dan kuburan anaknya bernama Topan yang meneamani Marlina sepanjang hari. Namun, nasib malang datang hari itu. Komplotan perampok mendatangi rumah kayunya. Tak hanya menjarah, sialnya

68 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

mereka juga memperkosa Marlina. Tak terima, Marlina menebas kepala Markus si kepala perampok. Ia menenteng penggalan kepala itu menuju kantor polisi dan mencari keadilan baginya. Harapannya hancur ketika polisi tak menghargai kedatangan Marlina hingga ruwetnya mendapatkan keadilan. Meskipun dirilis 2017 silam, namun film ini masih sangat penting untuk ditonton saat ini. Pesan-pesan dalam setiap adegan membawa banyak kritik sosial yang krusial.*


Bedah Film

Yuni

Film yang disutradarai Kamila Andini ini menceritakan seorang siswa berprestasi di sekolah menengah atas yang tengah bergulat dengan dilema sebagai perempuan. Terlebih, ia tinggal di perkampungan yang membuatnya harus berusaha lebih keras dalam merobohkan tembok ketimpangan gender. Banyak hal yang ingin diraih Yuni. Namun, aral melintang menghalangi jalannya. Jelang kelulusan, perempuan yang terobsesi dengan warna ungu ini sudah dilamar oleh dua laki-laki yang tak ia kenal. Keduanya lantas ditolak Yuni. Pikiran Yuni makin gusar mendengar omongan tetangganya. Perempuan tidak akan pernah menikah

jika sudah 3 kali menolak lamaran. Akhirnya, Yuni menerima lamaran ketiga dari guru sekolahnya. Film dengan dialog Jawa ini mengantarkan pesan moral bagaimana perempuan dipaksa untuk tunduk dengan konsep pemikiran usang. Menikah di bawah umur sudah seperti jalan hidup bagi remaja perempuan. Juga, betapa pentingnya pendidikan seks sejak dini. Tampak pada beberapa teman Yuni yang hamil di luar nikah hingga putus sekolah. Namun, penonton mungkin akan kesulitan memahami dialog berbahasa Jawa sepanjang film. Akan tetapi, plot cerita tersusun rapi serta latar belakang yang dekat dengan kehidupan di Indonesia. *

PENYALIN CAHAYA Berlatar sebagai penerima beasiswa, Suryati tak menyerah berjuang menegakkan keadilan bagi dirinya sendiri. Nahas dimulai saat beasiswanya dicabut. Tersebarnya foto Sur tengah mabuk di sebuah pesta jadi penyebabnya. Ia berusaha mencari dalang tersebarnya potret itu. Malang, keluarganya mengetahui kejadian tersebut dan ia diusir oleh ayahnya. Di tengah pencariannya, Sur justru menyadari bahwa ia ternyata korban pelecehan seksual. Foto bagian tubuhnya disalahgunakan untuk

kebutuhan teater. Ternyata, bukan hanya Sur. Ada korbankorban lain. Sur sudah mengantongi bukti, namun ia kalah dengan “kuasa” pelaku. Ia diminta membuat video klarifikasi karena dianggap menuduh dan mengada-ngada. Gambaran bagaimana Sur harus berjuang sendiri untuk menegakkan keadilan buatnya tergambar jelas. Bagaimana pula pihak kampus lebih memilih untuk menjaga “nama baik” institusi mereka. Sama persis dengan banyak kasus yang kita ketahui di negeri sendiri. *

69 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022


Bedah Film

Dear Nathan :

Thank You Salma “Yang dukung gue, angkat tangan!” dialog itu cukup ramai sejak film Dear Nathan: Thank You Salma nongol di layar lebar. Sekuel Dear Nathan ini tak sekadar bicara romantisme percintaan sepasang muda-mudi saja. Bagaimana Nathan dan Salma berjuang mengungkap kasus pelecehan seksual yang menimpa Zanna. Pelakunya teman satu kelas Nathan yang cukup terpandang. Orang tuanya punya posisi penting di kampus. Hal itu membuat Zanna tak berani melapor. Lagi-lagi, kekuasaan menyulitkan Zanna untuk mengungkapkan apa yang dia

alami. Lagi-lagi, terpampang jelas potret keegoisan dan minimnya empati pimpinan kampus. Zanna malah disalahkan, dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan. Film ini patut diapresiasi. Sutradara berani sajikan cerita berbeda, tanpa menyampingkan kisah hubungan Nathan dan Salma di dalamnya. Plot dan scene yang apik menguras emosi penonton, sehingga karya ini harus masuk daftar tontonanmu!*

27 STEPS OF May Raut gembira tak lagi pernah nampak dari wajah May sejak pulang dari pasar malam. Segerombolan orang tak dikenal memperkosanya malam itu. Ia kembali ke rumah dengan tatapan mata yang kosong. Baju seragam sekolahnya acakacakan. Luka fisik dan jiwa menghantui May hingga delapan tahun lamanya. Hari-hari May berikutnya hanya dihabiskan dengan mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar saat tiba waktu makan. May tetap mandi, berpakaian rapi, dan makan dengan lauk

70 Bahana Mahasiswa

Edisi Agustus 2022

yang selalu sama. Setiap pagi, ia menjahit dan membuat baju boneka bersama ayahnya. Namun, sepanjang itu, tak ada komunikasi di antara mereka. Perjuangan May untuk sembuh pasca trauma digambarkan dengan utuh dalam sinema ini. Bagaimana May dan ayahnya melalui hal-hal yang sulit. Beberapa adegan membuat penonton ngilu ketika May sering kali melukai dirinya dengan pisau tajam. Tak banyak dialog yang dihadirkan.*


Humas Universitas Riau

ADVETORIAL

MAHASISWA SEBAGAI PENDUKUNG KETERCAPAIAN RENCANA PEMBANGUNAN

P

EKANBARU. Universitas Riau (UNRI), dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi menjalankan fungsi mendidik, meneliti, dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar tersebut tertuang pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) melalui program-program kerja yang sudah ditentukan melalui Lembaga Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau (LPPM-UNRI). “Sesuai dengan pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, UNRI pada tahun 2022 ini mengirimkan peserta Kukerta sebanyak 6.467 orang, yang terdiri dari sepuluh fakultas yang ditempatkan di dua belas kabupaten kota di Provinsi Riau. Kukerta sudah menjadi mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa UNRI karena Kukerta merupakan salah satu upaya pendekatan mahasiswa kepada masyarakat.” Demikian yang disampaikan Rektor UNRI Prof Dr Ir Aras Mulyadi DEA. “Mahasiswa melaksanakan Kukerta, pada prinsipnya telah memiliki kemampuan teori secara akademik, selanjutnya mengimplementasikan pada rangkaian pelaksanaan Kukerta di lokasi penempatan masing-masing,” ujar Guru Besar Bidang Perikanan dan Kelautan ini menjelaskan. Pada tahun ini, jelas Rektor UNRI mengirimkan mahasiswa peserta Kukerta Balek Kampung sebanyak 5.381 orang, sementara mahasiswa peserta Kuliah Terintegrasi sebanyak 1.086 orang. Sehingga Total keseluruhan mahasiswa yang mengikuti kegiatan Kukerta Universitas riau pada tahun 2022 ini, berjumlah sebanyak 6.467 orang peserta. “Kukerta tahun 2022, UNRI juga membentuk mahasiswa “PEDULI STUNTING” atau disingkat dengan mahasiswa “PENTING”. Mahasiswa PEDULI STUNTING,

merupakan wujud kontribusi UNRI dalam program nasional percepatan penurunan prevalensi STUNTING yang diintegrasikan melalui kegiatan Kukerta UNRI tahun 2022,” ungkapnya. “Kita berharap, mahasiswa mampu melakukan kegiatan edukasi, peningkatan penyadaran dan advokasi stunting di daerah mahasiswa melakukan kukerta khususnya di daerah lokasi fokus (lokus) dan di daerah yang memiliki kampung Keluarga Berencana (KB) di seluruh Kabupaten atau Kota di Provinsi Riau,” ujarnya. “Kukerta UNRI tahun 2022 dengan tema Kukerta Balik Kampung ini, Fokus Utama kegiatannya adalah PASCA PANDEMI Covid-19, yang memiliki program pada skema berdasar potensi dan perma-

salahan desa. Dalam Menyusun program, diutamakan untuk mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) agar dapat mendukung ketercapaian rencana yang sudah disusun oleh desa,” jelas Rektor UNRI ini menguraikan. “Disamping Kukerta Balik Kampung, ada juga Kukerta Terintegrasi. Skema Kukerta ini dikhususkan bagi Dosen yang memperoleh Pendanaan Kegiatan Pengabdian baik dari dana DIPA UNRI maupun DRPM. Fokus program yang dikembangkan oleh mahasiswa mengacu pada proposal dosen tersebut. Selain itu UNRI juga turut serta menjadi Peserta Kukerta Kebangsaan dan Kukerta Bersama di Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tutupnya. ***