Issuu on Google+

No.660/Tahun XII, 11 - 17 September 2011

A.A. Raka Surya Anggreni

I G.A.A. Inten Yuliandari

Piawai Ngurus Radio

Citrakan Populisnya Iwapi

HUMAS Iwapi Bali ikut dikawal I G.A.A. Inten Yuliandari, S.T. Srikandi arsitek lulusan Fakultas Teknik Unud ini tergolong pekerja media elektronik yang andal. Pengalamannya berjibaku membesarkan manajemen radio keluarganya di bawah bendera Gema Merdeka Group kini dibagi untuk ikut membesarkan popularitas Iwapi di Bali. Gung Inten, panggilan akrab istri pengusaha pariwisata I Made Arya K a r a n g Utamayasa Suarshana (28), ini enggan b e s a r

ANAK Agung Raka Surya Anggreni, S.E.,Ak. sukses menggemukkan manajemen bisnis perhiasan emas keluarganya. Usaha re’FREZZ Spa di Jalan Batanghari Renon yang dikelola bareng suami, Ida Bagus Made Susila Putra, S.E. juga berkembang pesat. Mimpinya kini mencitrakan program populis Iwapi Bali. “Citra Iwapi di Bali sudah makin populer, kian dikenal luas masyarakat. Saya punya tugas baru mencitrakan program populis organisasi ini ke depan,� jelas Ketua Bidang Humas Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bali periode 2011-2016 yang dipimpin Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M. ini. Menurutnya, terminologi populer berbeda maknanya dengan kata populis. Populer berarti terkenal atau dikenal luas. Populis mengandung makna menyentuh kepentingan semua Bersambung ke halaman 16

Lapas Denpasar Penuh Sesak “Awas sisa pecahan kacanya,�ujar Erviani, wartawati sebuah media massa, setengah berteriak saat salah seorang rekannya menumpukan bahu lengannya di salah satu permukaan bantal jendela. Umur jendela tanpa kaca itu konon sudah sudah lumayan lama. “Kok nggak diganti yang baru ya...Sisa pecahan kaca

yang runcing itu kan bahaya bagi keselamatan napi, petugas, maupun pengunjung,� ujar wartawan lain. Siang itu, para kuli tinta berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Denpasar di Kerobokan. Gubernur Mangku Pastika akan hadir menyerahkan berkas remisi narapidana alias napi yang akan

BERITA TERKAIT HALAMAN 16

Lelaki maupun wanita warga binaan Lapas Denpasar membaur dalam permainan memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan.

Yudisium Fikom Undwi

tkh/sam

menerima kado pemotongan masa tahanan terkait peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini. “Acara penyerahan remisi akan langsung dilakukan Gubernur di aula ini sebentar lagi,� ujar salah seorang sipir berseragam cokelat. Satu per satu napi dengan tertib memasuki aula. Mereka mengisi kursi yang khusus telah disiapkan petugas lapas. Seorang perempuan napi berseragam biru juga sedang antre memasuki aula. Saat dihampiri wartawan Koran Tokoh, perempuan berkulit

Bersambung ke halaman 16

Tukar Guling Ngadat tkh/dok

SEJUMLAH jendela Aula Lapas Kelas IIA Denpasar tampak menganga. Tiap jendela tanpa kaca utuh. Sisa pecahan kaca runcing masih tertancap di beberapa sudut kayu jendela.

kepala. Saat dirinya disebut-sebut piawai ngurus manajemen usaha bisnis media elektronik keluarganya. “Saya masih harus belajar dan terus belajar,� elak Direktur Utama Radio Suara Sunari ini diplomatis. Padahal, track record Gung Inten sebagai pemikir sekaligus pekerja radio di Bali tidak bisa dipandang sebelah mata. Walau dirinya mengaku masih berumur belia dan belum berbuat banyak, namun diakui atau tidak ternyata bisnis radio milik keluarganya bisa beranak-pinak berkat inovasi kreatif dan sentuhan tangan dinginnya. “Saya menimba banyak pengalaman dari ayah saya,� akunya. Ayahnya, dr. I Gusti Ngurah Oka (57) yang menikahi I Gusti Ayu Prabandari (48), itu dilukiskannya sebagai ‘guru besar’ terbaik dalam mengilhami dan memotivasi dirinya terjun ke bisnis radio. Penggagas dan pemilik Grup Radio Gema Merdeka ini disebutnya sebagai sosok yang tidak saja berhasil menjadi abdi negara yang baik, juga pengusaha dan pekerja radio yang mumpuni. “Sebagai dokter, ayah

Dayu Kondi

Taswem Tarib

kuning langsat itu menyunggingkan seulas senyum tipis. “Wah jangan saya ditanya ya. eman saya saja,� cetusnya saat hendak diajak bercakap-cakap. Namun, napi ini akhirnya menyerah saat ditanya perasaannya jika menerima remisi. “Senang dong,� ujarnya. Dia mengaku hampir dua tahun mendekam di balik jeruji besi akibat kasus narkoba. “Kabarnya saya dinilai berkelakuan baik, sehingga bisa dapat remisi,� katanya. Selama dikerangkeng di balik tembok penjara, banyak keluh-kesah yang dialaminya. Ini termasuk kondisi blok khusus wanita, Blok Wijaya Kusuma, yang sumpek dan penuh sesak. “Beda sekali dengan penjara wanita di tempat lain ya...Mungkin karena kami digabung juga dengan napi laki-laki yang jumlahnya lebih banyak. Bangunannya tidak layak untuk memulihkan kehidupan warga binaan,� ujarnya. Seorang napi lelaki yang melintas ikut nimbrung dalam perbincangan. “Saya kena kasus narkoba, Mas. Kondisi lapas ini sebenarnya sudah tidak layak lagi difungsikan untuk membina warga binaan seperti kami. Tidur berdesakdesakan juga terjadi di blok yang dihuni napi dan tahanan laki-laki,� ujar pria bertampang klimis ini.

Keluhan kondisi Lapas Denpasar yang tak lagi pantas menjadi rumah pembinaan warga binaannya itu sebenarnya bukan kabar baru. Era kepemimpinan Nyoman Rata dulu di Kanwil Hukum dan Hak Bersambung ke halaman 12

KONDISI Lapas Denpasar yang dinilai tak manusiawi bukan tak diperjuangkan pemerintah. “Rencana tukar guling lahan Lapas Denpasar ini sudah lama dilempar ke permukaan. Tetapi, lahan di Kota Denpasar terbatas untuk bangunan lapas baru yang layak,� elak Kepala Lapas Kelas IIA Denpasar Siswanto kepada wartawan Koran Tokoh belum lama ini. Menurutnya, investor yang berminat membangun lapas baru tidak sedikit. Namun, pihaknya belum kunjung berhasil mendapatkan lahan yang

Proyek Lapas Khusus Narkoba di Bangli Macet cocok untuk peruntukan lapas yang lebih layak dibandingkan saat ini. “Kami perlu lahan 4 hektare. Mau dapat di mana Bersambung ke halaman 16

Salon Candra Dewi

Berdayakan Kaum Perempuan Lewat Pelatihan Tata Rias

Rahayuni (paling kiri) bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan dan peserta Pelatihan Tata Rias dan Kecantikan Gratis yang digelar Candra Dewi

Geliat Ni Made Rahayuni menjalankan visi dan misinya sebagai anggota DPRD Tabanan maupun praktisi kecantikan di bidang pemberdayaan perempuan kian menggelora. Seakan tak ingin melihat

lalu. Seperti baru-baru ini, Rahayuni kembali menggelar pelatihan tata rias gratis yang diikuti 50 ibu-ibu PKK dari 12 desa se-Kecamatan Tabanan. Pelatihan yang digelar di kantor camat setempat tersebut tak hanya diikuti ibuibu PKK dan wanita yang belum memiliki pekerjaan. Wanita yang sudah bekerja pun ikut serta menimba keterampilan melalui pelatihan gratis tersebut. Ada sekelumit harapan dalam benak Rahayuni menggelar pelatihan gratis bagi masyarakat tersebut. “Kami berharap, peserta yang mengikuti pelatihan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup sehingga bisa

kaum perempuan tertinggal, Rahayuni getol mengadakan beragam pelatihan, salah satunya pelatihan tata rias secara gratis untuk masyarakat melalui salon kecantikan Candra Dewi yang ia dirikan sejak 19 tahun Bersambung ke halaman 12

Seminar Kuliner

Diisi Kesan dan Pesan Dalam 4 Bahasa

Sukses Membuka Usaha Kuliner bersama Drs. Joko Sutrisno

diikuti 52 calon winisuda ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Dwijendra Drs. Ida Bagus Gde Wiyana dan jajaran Pengurus Yayasan Dwijendra, Rektor Undwi I Ketut Wirawan, S.H.,M.Hum., dekan dan dosen di lingkungan Undwi serta orangtua atau wali calon winisuda. Prosesi yudisium merupakan tahapan penting Dekan Fikom Undwi Ida Ayu Ratna Wesnawati memberi seorang mahasiswa ucapan selamat kepada salah seorang calon winisuda dinyatakan telah Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) memenuhi berbagai persyaratan Universitas Dwijendra (Undwi), akademik dan administratif sehingga kembali menggelar upacara Yudisium secara sah dinyatakan lulus dan Program Sarjana, pada Kamis (8/9) di berhak menyandang gelar sarjana. Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur S e t e l a h D e k a n F i k o m U n d w i Denpasar. Bersambung ke halaman 7 Yudisium Sarjana XXII yang

JIKA kita amati, bisnis kuliner ini paling banyak ditemukan dan akan terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Dari konsep kaki lima paling sederhana sampai konsep rumah makan mewah. Memang, usaha satu ini tak bisa dipandang sebelah mata karena tak sedikit orang meraih membuktikan jika penghasilan jutaan prospek usaha kuliner rupiah per bulan dari ini ke depan cukup usaha kuliner. Hal ini cemerlang. “Apalagi pun diakui wanita semua orang bisa mepengusaha Ni Made mulai berbisnis kuliSaraswati Dewi S.E., ner tanpa harus berpemilik usaha lemlatar belakang sebaga pendidikan Asia orang juru masak,� IMC dan Asia Reujarnya. sources. Tak mengheranMenurut ibu Gakan jika hal-hal beruri, Aditya dan Gayabau kuliner selalu tri ini pertumbuhan menarik perhatian usaha kuliner di Bali dari tahun ke tahun Ni Made Saraswati Dewi S.E. masyarakat. Termasuk nyaris tak pernah Bersambung ke halaman 12 surut justru kian maju pesat. Hal ini

Pemilik 16 Cabang Rumah Makan Griya Solo

Sebagian peserta potong gigi massal sedang melakukan persembahyangan

Potong Gigi Massal

Paduan Budaya dan Gotong Royong PEMERINTAH Provinsi Bali menggelar upacara mapandes atau potong gigi massal pekan lalu. Acara ini diikuti 280 umat Hindu, terdiri dari 155 orang perempuan dan 125 lakilaki, serta melibatkan 25 orang sangging atau pemotong gigi. Pada upacara yang berlangsung

di Lapangan Niti Mandala Renon, sebelah timur Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini, semua umat yang ikut potong gigi tidak dikenakan biaya. Potong gigi massal kali ini merupakan kali pertama dilaksanakan Bersambung ke halaman 6


2

Tokoh

KORAN TOKOH

Bui “Dulu namanya bui atau penjara. Kemudian dihaluskan menjadi rumah atau lembaga pemasyarakatan,” kata Putu Wijaya Amat. “Maksudnya agar yang dimasukkan ke penjara tidak merasa dirinya ditendang seumur hidup dari kehidupan masyarakat, tetapi diberi pembelajaran agar lebih mampu hidup bermasyarakat sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga.” “Maksud Bapak apa?” “Ya, agar mereka yang menjalani pelatihan di rumah pemasyarakatan itu, setelah tamat hukumannya, tidak menjadi bertambah jahat, karena bergaul dengan orang hukuman lain, tetapi sadar, insaf dan berubah menjadi santun. Sehingga, tidak lagi mengulangi ulahnya yang jahat.” Ami tersenyum sinis. “Apa jaminannya?” “Ya, membalik kedudukan penjara dari neraka penghukuman menjadi tempat pembelajaran dengan memperlakukan mereka yang menjalani hukuman secara manusiawi.” Ami tertawa. “Termasuk memanjakan mereka dengan membuat sel-sel penjara yang nyaman, lengkap dengan AC, TV dan kemewahan lain, sehingga mirip kamar hotel?” Amat tertegun. “Tidak. Itu kesalah-kaprahan. Rumah Pemasyarakatan tidak boleh jadi hotel, meskipun ada istilah hotel prodeo. Penghuninya bukan dimanjakan. Tetapi, jiwanya disadarkan, moralnya diperbaiki. Kemanusiaannya dipertebal dengan cara yang manusiawi.” “Maksud Bapak?” “Kebutuhan-kebutuhan dasarnya sebagai manusia, harus tetap dipelihara. Makan-minum, serta kebutuan rohaninya yang mendasar dipenuhi.” “Termasuk kebutuhan seksualnya?” Amat terkejut. Ia menatap Ami. Ami membalas langsung tatapan itu seakan mengatakan: “Aku ini perempuan dewasa Pak. Aku mengerti bahwa seks adalah bagian dari kebutuhan manusia yang normal. Bukan hanya manusia bebas, manusia yang sedang menjalani hukuman pun memerlukannya.” Amat tak meneruskan percakapan. Malam hari ia bertanya kepada istrinya. “Bu, apakah usaha untuk memberikan kesempatan pada penghuni rumah pemasyarakatan untuk menyalurkan kebutuhan rohaninya termasuk kebutuhan seksnya, akan memberikan masukan yang baik pada yang bersangkutan?” Bu Amat langsung teringat kepada salah seorang keluarganya yang menjalani hukuman 10 tahun karena membunuh. Ketika keluar dari penjara, ia samasekali berubah. Dari orang yang brutal ia menjadi manusia yang sabar dan bijak. Katanya, ia tidak kepingin mengulang hidup di dalam penjara dengan alasan apa pun. “Baginya hukuman yang paling berat adalah berpisah dengan keluarganya,” kata Bu Amat,” Ia bunuh orang karena orang itu selalu mengganggu istrinya. Ia baru merasa tenang kalau orang itu lenyap. Tetapi, kematian orang itu, justru menyebabkan ia terpisah 10 tahun dengan istrinya.” “Jadi ia sangat memerlukan tetap berhubungan dengan istrinya walau di penjara?” “Ya.” “Kalau begitu memikirkan kebutuhan seks orang hukuman itu sangat manusiawi dan penting.” “Ya.” Amat manggut-manggut. Esoknya ia mencegat Ami sebelum berangkat ke kampus. “Sebagai wanita dewasa, ibumu punya fakta bahwa memperhatikan kebutuhan biologis penghuni Rumah Pemasyarakatan akan menyebabkan mereka itu terlindungi pertumbuhan kejiwaannya.” Ami mengernyitkan keningnya. “Itu pasti kisah Pak Karna yang sudah bunuh orang yang selalu mengganggu istrinya.” “Betul.” “Bapak sudah dengar lanjutan ceritanya?” “Sudah. Keluar dari penjara, dia berubah jadi orang baik, karena tidak mau lagi mengalami perpisahan dengan istrinya sebagai suami-istri selama 10 tahun.” “‘Kapok?” “Ya!” “Selanjutnya?” Amat tertegun. “Selanjutnya apa?” “Lho Ibu belum cerita?” “Cerita apa?” “Ya tentang Pak Karna.” Amat bingung. Apalagi kemudian Ami buru-buru pergi. Karena penasaran, Amat ke dapur bertanya kepada istrinya. “Bu, Lanjutan cerita Pak Karna bagaimana?” “O, Pak Karna?” “Ya!” “Ya begitulah. Karena sekarang kebutuhan rohani para penghuni Rumah Pemasyarakatan diperhatikan atau dipenuhi, ia tidak takut lagi dipenjara. Belum lama ini, ia sudah bunuh orang lagi.” Amat terperanjat. “Aduh kalau begitu .... .” “Sudahlah Bapak jangan terlalu banyak mikir. Siapa tahu pada orang hukuman lain, pelunakan hukuman menjadi pembelajaran, akibatnya sebaliknya dari yang sudah dialami Karna.” Amat bengong. Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

ASPIRASI

11 - 17 September 2011

Apa Siaran Radio Favorit Anda?

“Urusan Administrasi Kependudukan di Provinsi atau Kabupaten/Kota?” Sampaikan opini Anda Minggu 11 September 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@radioglobalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 18 September 2011

Kehadiran Komisi Informasi hanya Pemborosan Anggaran? UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik akan memaksa tradisi pemerintahan yang tertutup berubah menjadi tradisi yang terbuka. Dengan membuka akses publik terhadap informasi diharapkan badan publik, pemerintah maupun nonpemerintah, termotivasi untuk bertanggung jawab dan berorientasi pada pelayanan rakyat yang sebaik-baiknya. Dalam menjalankan UU tersebut dibentuk Komisi Informasi. Demikian juga di Bali. Ada 13 calon dan akan dipilih 5 orang. Berdasarkan pengalaman keberadaan dan kinerja komisi-komisi lain yang sudah ada, apakah kehadiran Komisi Informasi bukan hanya pemborosan anggaran? Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (4/9). Topiknya, “Pentingnya Keterbukaan Informasi Publik”. Berikut, petikannya.

Sudah di Tangan Gubernur Sekarang kita sudah memasuki era keterbukaan informasi publik. UU No.14/2008 tentang Keterbukaaan Informasi Publik (UU KIP) menjamin, semua warga negara mendapatkan atau memperoleh hak atas informasi yang dikuasai badan publik. Pembentukan Komisi Informasi (KI) Bali, baru sampai pada tahap penyerahan namanya pada gubernur. Selanjutnya akan ada fit and proper test di DPRD Bali. KI Pusat sudah berjalan, bahkan sudah berganti ketua untuk yang keduakalinya. Menurut UU No.14/2008 fungsi KI Bali untuk menyelesaikan sengketa informasi publik

melalui mediasi maupun ajudikasi nonmediasi. Misalnya, ketika warga masyarakat ingin mengakses suatu informasi ternyata tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari badan publik pemerintah maupun nonpemerintah, juga parpol, bisa mengadukannya kepada KI. Fungsi KI lainnya, menjalankan amanat UU No. 14/2008, dan peraturan pelaksana No.61 tahun 2010. KI juga menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik. Seperti, harus menyiapkan dan membentuk kelembagaan pejabat–pejabat yang menangani, yakni pejabat pengelola informasi dan dokumentasi (PPID). Semua badan publik harus membentuk PPID. Petunjuk teknisnya, KI yang mengatur dan menetapkan standarnya. KI mengatur tata cara untuk mendapatkan informasi publik. Masyarakat dicerdaskan untuk tahu caranya memperoleh akses informasi publik. KI Pusat, sudah mengakses dengan baik, seperti kebijak-

an pemerintah, anggaran nasional, kebijakan-kebijakan nasional. Semua warga negara dapat mengakses untuk mengetahuinya. Begitu pun orang per orang, asalkan sesuai dengan aturan. Perempuan termasuk paling lemah dalam mengakses informasi atau kurang ahli mengakses informasi dengan baik. Padahal konstitusi/ amendemen UUD 1945 pasal 28 F menyatakan menjamin tiap orang untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Dengan adanya UU No.14/2008, informasi harus tersedia tiap saat. Perempuan dapat mengakses UU pengarusutamaan gender (PUG), pengarusutamaan anak (PUA). Strategi nasional untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak ini dapat dipantau mulai dari perencanaan, penyusunan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan pem-

Yoga Sanyata Wayang kulit. Wayan Suartawan Berita lokal dan hiburan dengan media tradisional. Ayu Dwijayanti Sesi salam dan request lagu, tembang lawas dan berita seputar arus lalu lintas. Kan Agus Pindie Lagu-lagu legenda macam slow rock. Luh Ayu Nitya Laksmi Lagu-lagu mancanegara dan lokal apa saja sesuai keinginan kita. Putu Santhi Berita dan musiknya. Raditcz Imam Lagu-lagunya. VanDiit Evolusion Lagu-lagu Bali. bangunan sehingga berdampak pada keadilan gender dan keadilan anak. Saat ini Kelompok Jurnalis Independen memfasilitasi bagaimana pembentukan KI ini harus dikawal. Ada 13 nama calon komisioner yang telah masuk ke gubernur. Nama-nama ini akan dikawal masyarakat Bali dan akan diuji kelayakannya oleh DPRD. Masyarakat juga sudah siapsiap perihal apa yang akan mereka adukan kepada KI. UU KIP memberikan jaminan tiap warga negara untuk mengetahui informasi. Namun, tidak semua informasi bisa dikeluarkan. Badan publik baik pemerintah maupun nonpemerintah bisa tidak memberikan informasi. Ada informasi yang dikecualikan. Jika badan publik menyatakan informasi tersebut dikecualikan, ada pula pengkajiannya, sebab tidak semua informasi dapat dikatakan dikecualikan, seperti yang menyangkut masalah anggaran maupun suap menyuap. Yang dikecualikan, telah dilakukan penelitian, misalnya informasi perlindungan terhadap persoalan pertahanan keamanan negara, mengungkap kekayaan alam Indonesia serta hal yang jika disampaikan ke masyarakat justru akan merugikan ketahanan nasional. Informasi yang di-

Urusan Administrasi Kependudukan di Provinsi atau Kabupaten/Kota? SAMPAI saat ini perihal kewenangan penyelenggaraan urusan administrasi kependudukan masih belum menemukan format ideal. Berbagai sistem telah dicobakan namun belum membuahkan hasil optimal, yaitu: adanya validitas data kependudukan yang akurat, dan terciptanya sistem pelayanan administrasi kependudukan yang mudah diakses, cepat pelayanan dan murah biayanya. Kekacauan sistem pelayanan administrasi kependudukan ini tidak lepas dari tidak terintegrasinya pelaksanaan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 mengamanatkan Otonomi Daerah diletakkan di Kabupaten/Kota, dan salah-satu urusan yang diserahkan Pemerintah Pusat untuk menjadi urusan rumah tangganya adalah urusan administrasi kependudukan ini. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menyelenggarakan urusan ini dikoordinir langsung Pemerintah Pusat. Posisi Pemerintah Provinsi seakan dilangkahi dan tidak diberi kewenangan menangani urusan kependudukan ini. Selanjutnya, kebutuhan data tentang administrasi kependudukan di provinsi justru diperolehnya dari Pemerintah Pusat. Ini menjadi aneh, padahal secara geografis Pemerintah Provinsi lebih mudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota ketimbang dengan Pemerintah Pusat. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (pasal-5) memuat tentang Tugas Pemerintah Pusat, sebagai berikut:

Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan administrasi kependudukan secara nasional, yang dilakukan oleh menteri dengan kewenangan meliputi: koordinasi antarinstansi dalam urusan administrasi kependudukan; penetapan sistem, pedoman, dan standar pelaksanaan administrasi kependudukan; sosialisasi administrasi kependudukan; pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan urusan administrasi kependudukan; pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala nasional: dan pencetakan, penerbitan, dan distribusi blangko dokumen kependudukan. Sedangkan kewenangan Pemerintah Provinsi pada UndangUndang tersebut (pasal-6) disebutkan: Pemerintah provinsi berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan yang dilakukan oleh gubernur dengan kewenangan meliputi: koordinasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil; pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; pengelolaan dan penyajian aata kependudukan berskala provinsi: dan koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan administrasi kependudukan. Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota dimuat pada pasal-7 sebagai berikut: Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan, yang dilakukan oleh bupati/wali kota dengan kewenangan meliputi: koordinasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; pembentukan instansi pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang administrasi kependudukan; pengaturan teknis penyelenggaraan adminis-

Made Suantina

tkh/dok

trasi kependudukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; pelaksanaan kegiatan pelayanan rnasyarakat di bidang administrasi kependudukan; penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan administrasi kependudukan berdasarkan asas tugas pembantuan; pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala kabupaten/ kota; dan koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan administrasi kependudukan. Tampaknya pembagian tugas/ kewenangan dalam menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 23 Tahu 2006, secara administrasi tidak ada masalah. Namun, dalam praktiknya karena Pemerintah Provinsi hanya diposisikan sebagai koordinator dan pembina tanpa ada kewenangan untuk membentuk kelembagaan, maka seakan urusan ini tidak fokus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi. Nah, itu baru satu masalah

yang dihadapi dalam penyelenggaraan administrasi kependudukan di Indonesia. Belum lagi masalahmasalah lainnya! Dalam kekacauan sistem seperti ini kemudian Menteri Dalam Negeri mencanangkan Program E-KTP yang tentu sasaran akhirnya terciptaya validitas data kependudukan yang akurat, serta terciptanya sistem administrasi kependudukan yang terintegrasi dengan berbasis IT. Program ini dianggarkan biaya dari APBN yang sangat besar, bahkan sering disebut sebagai mega-proyek di Departemen Kementerian Dalam Negeri. Apakah Program E-KTP ini akan bisa sebagai resep mujarab untuk mengobati kekacauan tersebut? Mega-proyek pencanangan E-KTP ini ternyata sudah menuai masalah, seperti adanya keterlambatan waktu dalam realisasinya, kualitas dan kelengkapan perangkat yang tidak sesuai dengan perencanaan. Padahal rencana Program E-KTP ini sudah harus mulai beroperasi mulai awal Agustus 2011. Nyatanya, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar sampai saat ini baru menerima 3 unit komputer (bahkan belum lengkap) dari 33 unit yang dijanjikan Pemerintah Pusat. Kondisi seperti ini pasti juga dialami Pemerintah Kabupaten/Kota yang lainnya. Kesimpulannya, program E-KTP yang dicanangkan Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri, mengalami keterlambatan dalam realisasinya. Dengan berbekal pemahaman persoalan itu, sejalan dengan tulisan saya terdahulu tentang Otonomi Khusus Bali Sebuah Fatamorgana (Koran Tokoh, 14 Agustus 2011), maka kembali saya ingin menegaskan: untuk kasus Bali memang sebaiknya penyelenggaraan urusan adminsitrasi kependudukan dilaksanakan Pemerintah Provinsi, bukan Pemerintah Kabupaten/Kota

kecualikan ini bersifat ketat dan terbatas. Bukan berarti dengan alasan rahasia negara, harus ditutup. Mengenai informasi yang wajib tersedia tiap saat harus dikeluarkan badan publik, misalnya dengan dikeluarkan secara berkala maksimal enam bulan. Tujuan ditetapkannya UU KIP ini minimal bisa mengurangi proses korupsi, ketika masya rakat sudah bisa dengan cerdas mengakses tentang hal ini sejak dini. Luh Putu Anggreni, S.H. Aktivis Perempuan di Bali.

Tidak bisa Manfaatkan Keterbukaan Keterbukan sudah ada, hanya kita sering tidak bisa memanfaatkannya. Informasi akan meningkatkan ilmu dan wawasan. Hal ini harus diupayakan dengan berbagai cara. Dengan pengetahuan yang diperoleh nantinya akan mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dengan informasi pula akan diketahui, dipahami hak dan kewajiban yang harus dilakoni individu maupun sosial. Namun, fenomena yang ada sebaliknya. Kenyataannya masyarakat yang tanpa landasan aturan dan hukum berlaku ego, arogan, dapat merekayasa dan memutarbalikkan hukum. Bersambung ke hlm. 12

seperti saat ini. Terlepas dari Otonomi Khusus Bali itu kelak bisa diwujudkan atau tidak, tampaknya yang paling mendesak, penyelenggaraan urusan administrasi kependudukan di Bali agar segera bisa dialihkan kewenangannya kepada Pemerintah Provinsi. Ada beberapa alasan mengapa saya “bersikukuh” terhadap usulan saya ini : Pertama, Bali provinsi dengan luas wilayah yang relatif kecil yaitu hanya 5.636,66 Km2 atau 0,29% dari luas wilayah Indonesia; Kedua, masyarakat Bali memiliki kesamaan budaya, agama, dan adat-istiadat, dan saat ini jumlah penduduk Bali diperkirakan 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu; Ketiga, untuk memudahkan koordinasi dan pembinaan penyelenggaraan urusan administrasi kependudukan; Keempat, untuk menghindari ketimpangan/perbedaan penerapan aturan tentang administrasi kependudukan antara Kabupaten /Kota yang satu dan yang lainnya; Kelima, menghindari tumpang-tindih sistem penganggaran dalam penyelenggaraan urusan administrasi kependudukan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Terlebih di tengah wacana “Bali Kebanjiran Penduduk Pendatang” pascahari raya idulfitri ini, pengaturan administrasi kependudukan di Provinsi Bali ini hendaknya dibuat seragam/ sama. Jangan sampai ada satu wilayah/daerah di Bali ini dipakai tempat transit atau tempat sembunyi “Penduduk Pendatang” karena kemudahan yang didapatkan dalam hal administrasi kependudukan sebelum mereka pindah ke wilayah/ daerah tujuan. Semoga pemikiran ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan tentang administrasi kependudukan di Bali. Made Suantina Pengajar Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. z Buleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati z NTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


11 - 17 September 2011 Tokoh 3

2

Pegunungan Jacobshon, Davos, Swiss

TURNI Eropa: Berbudaya Memukau

4 21 Juli 2011. Swiss, negara netral di Eropa Tengah berbatasan dengan Jerman, Prancis, kerajaan kecil Liechtenstein, dan Austria. Bern adalah ibu kota negeri berpenduduk tujuh juta jiwa itu. Kota terbesarnya Zurich yang berturut-turut (20062007) dinobatkan sebagai kota berkualitas hidup terbaik. Jenewa kota besar lain menjadi markas berbagai badan internasional dunia seperti WHO, ILO, UNHCR. Sebagian besar wilayahnya terdiri atas Pegunungan Alpen. Bahasa utamanya Jerman. Bahasa lain yang lazim digunakan, Prancis dan Italia. Mata uangnya Franc Swiss. Jika kepepet, Euro bisa diterima. Swiss surga pecinta ski kala salju memutihkan deretan pegunungan setebal 2 hingga 3 meter (NovemberMaret). Hutan cemaranya pekat aroma khasnya. Langit mendung menggantung titiktitik air. Hujan acap tiap hari hijaukan perkebunan dan hutan di pegunungan. Tak ada manusia di luar kota. Yang ada hanya nyanyian sunyi pegunungan berkabut. Kuawali kisahku saat saya tertinggal kereta

Pegunungan Swiss Sunyi Berkabut ekspres dari Milan menuju Zurich. Keretaku tiba di Milan pukul 13.15. Lima menit lalu kereta ke Zurich menderu kencang. Panik tergopohgopoh aku melapor ke bagian informasi. Dengan aksen kental Italia, pria tambun itu mengatakan padaku, aku bisa naik kereta berikut pukul 15.10. Dengan catatan, tak ada jaminan aku dapat tempat duduk. Artinya, ada kemungkinan aku harus berdiri tiga jam 44 menit. Aku ingin perjelas kemungkinannya. “Berikutnya,� katanya. Duduk lesehan bersandar di dinding kios. Kakiku yang setengah pincang kulonjorkan. Mendaki 551 anak tangga Katedral St. Peter, Vatikan, membuat keok kakiku. Kupijatpijat. Koyo lombok kutempelkan di betisku. Kuraih buku Rumah Kaca (Pramoedya Ananta Toer); seri terakhir tetralogi Pulau Buru setelah Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah. Kebangkitan organisasi modern dan kesadaran kaum terpelajar untuk mengusir kolonial. Pimpinan inspektur Pagemanann; pribumi berpendidikan Eropa, pekerja keras, ambisius, pengagum sekaligus anggap Minke berbahaya menjadi tokoh utama. Bukan lagi Raden Mas Minke. Aku tak bisa konsentrasi membaca buku yang dalam pandanganku “berat� di tengah hiruk pikuk bising stasiun kereta api. Tengu-tengu kuingat ucapan Pram yang dua kali dicalonkan menerima Nobel Sastra dalam Saya Terbakar

Amarah Sendiri, tak persis benar. Tetapi kira-kira, “Untuk pertama kali saya mendengar istilah diamankan.� Jam tanganku menunjukkan pukul 14.50. Bergegas aku menuju ke peron. Kontan aku memaki dalam hati, keretaku terlambat 20 menit. Lima menit terlambat tiba di Milan dari Roma, aku ketinggalan kereta. Kini keretaku malah delai 20 menit. Karena kebelet buang air kecil, aku menuju toilet umum. Kontribusi toilet 1 Euro (Rp 12.000). Lagi-lagi aku mengumpat dalam hati. Untuk urusan buang air kecil aku harus kehilangan semangkuk bakso dan teh botol di negeriku. Kontras amat dengan damai perkebunan gandum, jagung, anggur, peach sepanjang Roma-Milan. Kira-kira 20 menit kemudian, lagi-lagi keberangkatan kereta tertunda 20 menit untuk kedua kalinya. Akhirnya kereta ekspresku tiba. Aku memilih duduk di kursi kosong deret tengah. Ketar-ketir jangan-jangan si pemilik tempat duduk akan mengusirku. Aku berharap pintu kereta segera ditutup. Kereta mulai bergerak. Kusandarkan tubuhku sambil menutup mata. Baru 10 menit kereta melaju, setengah tertidur terdengar pengumuman dalam Bahasa Italia, seluruh penumpang harus pindah ke kereta Swiss. Terpincangpincang gerendotan dengan barang bawaanku aku migrasi ke kereta Swiss. Gunung Sambung-menyambung Perbatasan Italia UtaraSwiss luar biasa indahnya. Deretan pegunungan hijau disusup air terjun merembes dari celah batu. Danau, sungai mengepung, menghijaukan daerah pegunungan bercuaca dingin. Aku jadi teringat pulau kecilku. Hutan di Bali hanya tersisa 12%. Debit air danau melorot tiap tahunnya. Air PDAM seret, keruh, pun terkontaminasi E.coli. Memasuki Swiss terlihat

Pegunungan Jacobshon dari sisi lain

 Bersambung ke halaman 13

KERJA keras menjadi kunci keberhasilan keluarga H.M. Husein, S.H., M.Pd. dan Dra. Anak Agung Putri Puspawati, M.M. Pasutri ini juga membangun mahligai rumah tangga dengan modal saling mengisi dan tidak saling meremehkan pribadi masing-masing.

K

ini bendera kiprah Husein di dunia profesi advokad terus berkibar. Usaha bisnis Gung Puspa, panggilan akrab Ketua Iwapi Bali Dra. Anak Agung Putri Puspawati, M.M., pun terus bersinar. Namun, likaliku kehidupan dua sejoli ini sarat tantangan saat hendak memutuskan melego jangkar guna mengayuh biduk rumah tangga. 14 Bersaudara Husein lahir dari buah perkawinan pria keturunan India, P.K.H. Mohamad Ibrahim Routher dan Hj. Mariam Bivi Nachia. Ayahnya menginjakkan kaki pertama kali di Kota Denpasar tahun 1942. “Ayah saya tiba di Denpasar sebelum Indonesia merdeka. Bisnis kain dilakoni Ayah, kemudian berkecimpung juga sebagai pengusaha perhiasan,� ungkap Husein. Saat menetap di Bali, Mohamad Ibrahim Routher mengawini Mariam Bivi Nachia, yang berdarah campuran India dan Madura kelahiran Tabanan. “Dari perkawinan itu, lahir 14 anak. Jadi kami keluarga besar. Saya anak bungsu,� tuturnya. Namun, menurut Husein, 13 kakaknya tak satu pun serius menekuni pendidikan formal hingga menjadi sarjana. Mereka lebih fokus mengais rezeki dari dunia bisnis. “Ada salah seorang kakak saya yang hanya sampai kelas IV SD. Tetapi, kakak saya ini malah lebih sukses berbisnis daripada lainnya,� ujarnya. Salah seorang kakaknya, H. Sharif Ibrahim, bahkan tercatat sebagai perintis bisnis perhiasan perak dan permata di Bali. Sebelum roda bisnis perak marak di Celuk, Gianyar, H. Sharif telah lebih dulu melakoninya. “Awal berkembangnya bisnis perak di Celuk, banyak orang lokal membelinya dari kakak saya,� ungkapnya. Husein bocah sebenarnya telah ikut dikenalkan dunia bisnis ini juga di lingkungan keluarganya. Dirinya terkenang saat sesekali diajak orangtuanya melayani pembeli di toko perhiasan keluarganya di Kuta.

H.M. Husein, S.H., M.Pd. Dra. Anak Agung Putri Puspawati, M.M.

Naik Bemo ke Kantor

Husein dan Gung Puspa mesra saat pelesir di negeri jiran sambil menemui buyer bisnis keluarganya

“Saya rasa tidak sreg ikut bisnis keluarga waktu itu. Apalagi Ibu pun terus mendorong saya serius belajar agar kelak bisa jadi sarjana. Ibu berharap ada satu dari 14 anaknya punya gelar akademik,� kisah Husein. Impian sang Ibu ikut mengilhami dan mendorong Husein untuk belajar keras. Ini terbukti saat aktivis OSIS semasa duduk di sekolah menengah ini bersikeras melanjutkan kuliah setamat SMA. Dirinya lolos tes masuk ke Fakultas Hukum Unud. “Jiwa kepemimpinan saya pun makin terasah saat masuk perguruan tinggi,� ujar mantan aktivis senat mahasiswa FH Unud ini. Kuliah Husein berjalan mulus. Ijazah sarjana hukum sudah dikantonginya. Saat baru menjadi sarjana, dirinya masih memegang kepercayaan sebagai ketua Badan Komunikasi

mungkin sudah merasakan tanda-tanda akan jatuh dari kekuasaan. Dukungan moril remaja masjid mungkin diharapkan beliau waktu itu,� ungkapnya. Sosok Berpikir Saat itu Husein sudah menjalin tali asmara dengan Gung Puspa. Namun, hubungan cinta itu tak semata ibarat gaya berpacaran anak baru gede. Ia mengaku serius menjalin cinta untuk memperoleh seorang istri idaman. “Syaratnya, seusai Surat Ar-Rum dalam Alqur’an. Ayat ini menekankan psangan hidup yang dipilih itu mencerminkan sosok orang yang berpikir. Saya dan calon istri waktu itu sarjana. Ini otomatis mencerminkan pesan kearifan Ilahi tadi,� ungkapnya. Apalagi, kata Husein, dirinya juga memerlukan pendamping hidup yang tidak cengeng. “Saya datang dari latar belakang keluarga bisnis yang selalu mengutamakan kerja keras dan mandiri dalam berjuang. Saya ingin menemukan pendamping hidup yang juga tangguh dan tidak serba bergantung pada suaminya,� tuturnya. Masa berpacaran menjadi tolok ukur untuk menguji kepribadian sang calon istri.

Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Bali. “Ada pengalaman mengesankan tahun 1996. Saya diundang bersama 22 pimpinan BKPRMI se-Indonesia bertemu Pak Harto di Istana Negara. Kami sempat berbincang sekitar 2 jam bersama beliau. Pak Harto  Bersambung

ke halaman 12

Kenangan Gung Puspa remaja (paling kiri) dan dua saudara sekandung saat upacara potong gigi (mapandes)

Pemilihan Ibu Teladan se-Bali Tahun 2011

Memasuki Penilaian Tahap II PEMILIHAN Ibu Teladan se-Bali Tahun 2011 kerja bareng Koran Tokoh dan Bali TV, didukung para mitra kerja utamanya, telah menyelesaikan penilaian tahap I (administrasi). Dari 32 calon, lolos penilaian tahap I, 19 orang. Mereka akan dinilai tim juri di rumah tempat tinggalnya masingmasing mulai minggu ini.

Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Dinas Kesehatan Provinsi Bali

Tim juri 7 orang terdiri atas unsur Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Badan Kerja sama Organisasi Wanita Daerah Bali, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali, BKKBN, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, dan Dinas Kesehatan, yang keenamnya merupakan mitra kerja utama Panitia, dan Ketua

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali

Panitia. Rapat panitia dan tim juri Jumat (9/9) menetapkan jadwal kunjungan. Jadwal tersebut akan diinformasikan kepada ke-19 calon untuk didapat kesepakatan agar tidak mengganggu aktivitas calon. “Kami jadwalkan penilaian tahap II rampung 29 September,� ujar Ketua Panitia G.A. Sri Ardhini.

Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali


4

Tokoh

11 - 17 September 2011

MEMBANGUN DARI DESA

Cara Memilih Bibit Bangkung dan Mengatasi Anak Babi Mencret

Anda Bertanya Kami Menjawab Lahir Mencret Langsung Mati

ayam menjadi ngorok, mungkin disebabkan ayam ini memang sudah sakit sebelumnya tetapi belum kelihatan. Ayam yang dalam keadaan sakit/akan sakit jika divaksin akan tambah sakit. Ayam yang divaksin harus dalam keadaan sehat, karena vaksin itu bibit penyakit yang dilemahkan. Jadi kalau sudah sakit divaksin, penyakit akan bertambah. Carilah obat antibiotika untuk mengobati ayam pilek, sudah tersedia di toko obat. Dan, pisahkan ayam sakit dengan yang sehat, supaya tidak menular.

Sudah lima tahun saya memelihara bangkung (babi betina), namum saat punya anak mencret langsung mati. Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana ciri – ciri bangkung yang unggul?. Bagaimana cara mencegah dan mengobati kucit yang mencret?. Pakan apa yang baik, untuk mempercepat pertumbuhan anak babi? Bagaimana cara membuat kandang yang ideal?. Umur berapa sebaiknya anak babi dipisah dengan induknya?. Umur berapa, babi masih Cara Mengatasi produktif? Di mana menGrubug Ayam dapatkan buku beternak babi? Agus Doman Karena saya tinggal di Nusa Penida pedalaman, jadi saya memelihara ayam dengan diliarkan. Tetapi ayam saya saat ini tiba– Jawaban: Tentang beternak babi, baca tiba mati. Di desa saya, sering dalam tulisan edisi minggu ini. disebut grubug. Bagaimana cara mengatasi ayam saya yang kena grubug ini? Sakit setelah Kadek Sudi Desa Padawa, Divaksinasi ND Kecamatan Banjar, Saya memelihara ayam Buleleng dengan dikandangkan. Namun, banyak ayam saya mengalami Jawaban: sakit pilek disertai ngorok. Penyakit grubug jarang Selain itu, matanya kelihatan bisa disembuhkan, tetapi dalesu, dan nafsu makan juga kurang. Hal ini terjadi setelah pat dicegah dengan cara medivaksinasi ND. Mohon infor- nerapkan biosekuriti. Yang dimasi dan cara mengobatinya. maksud biosekuriti, 1. MemPak Bagus beli bibit ayam dari peternakan yang tidak terjangkit tetelo Padangsambian, maupun flu burung. 2. MelaDenpasar Barat kukan vaksinasi ND dan flu Jawaban: burung secara teratur pada Panyakit yang menyerang unggas sesuai dengan rekoini namanya influensa pada mendasi/petunjuk Dinas Peayam. Sebenarnya vaksinasi ternakan setempat. 3. MeneND dan penyakit pilek ini tidak rapkan biosekuriti dengan meada sangkut pautnya.Karena, nerapkan serangkaian tindakND itu disebabkan virus, dan an yang meliputi, a. Mempilek disebabkan bakteri. Me- batasi lalu lintas unggas bemang, ND juga sama gejalanya, serta produknya. b. Menjaga misalnya lesu, matanya beng- kebersihan kandang dan lingkak, nafsu makan kurang, tetapi kungannya terutama kotoran biasanya ada gejala saraf dan ayam. c. Melakukan desintidak ngorok. Setelah divaksin feksi kandang dan peralatan-

nya dengan sabun atau deterjen. d. Membakar unggas yang mati. e. Membersihkan pakan unggas yang tercecer untuk mencegah kedatangan burung liar yang dapat menularkan penyakit. f. Gunakan alat pengaman diri (APD) seperti masker dan sepatu boot jika masuk/keluar kandang. 4. Mengusahakan ayam selalu dalam keadaan sehat dengan meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan pada ayam, yakn memberikan pakan dan minum yang cukup pada ayam; cukup jumlahnya dan baik mutu pakannya, sehingga ayam tidak menderita atau bebas dari rasa lapar dan haus; ayam membutuhkan air minum sebanyak dua kali jumlah pakannya. Perlakukan semua ayam dengan baik, mencegah munculnya sifat kanibalisme dan menjaga ayam dari pemangsanya, sehingga ayam terbebas dari rasa sakit, luka dan penyakit. Sediakan kandang yang ukurannya memadai, dilengkapi ventilasi yang baik dan sanitasinya selalu terjaga, agar ayam dapat menampilkan gerakan normal/ alami dengan leluasa, hidup nyaman, tidak setres/kepanasan, tidak berdesakan dan tidak keracunan amoniak dari kotorannya. 5. Melindungi diri dari flu burung dengan cara memakai sarung tangan dan alat pelindung saat kontak dengan pupuk kandang, ayam, dan produknya. Selalu mencuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan ayam dan produknya atau setelah bekerja di kandang. Memasak daging ayam dan telur sampai matang. Selalu menjaga kesehatan badan dengan berperilaku hidup bersih dan sehat. Segera laporkan kepada petugas Dinas yang menangani peternakan jika ada kematian ayam. Segera periksakan diri ke dokter/puskesmas jika mengalami sakit flu yang

disertai panas tinggi. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Cara Mencari Bibit Belut Saya sangat ingin beternak belut. Di mana harus mencari bibitnya? I Wayan Suarsa Dharmana Tegalalang, Gianyar Jawaban: Bibit belut belum ada sumbernya di Bali, namun jika ingin mencari bibit belut bisa diseleksi dari belut yang dijual untuk dikonsumsi di pasaran. Informasi tentang sumber bibit ada di Solo dan Surabaya. Pangsa pasar belut di Bali cukup luas, dari pasar tradisional sampai swalayan bahkan restoran. Di Bali belum ada petani yang secara langsung profesional mengembangkan budidaya belut tetapi di Dusun Tegeyang, Penebel, sudah dicoba. Narasumber Ir. Saleh Purwanto Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali

Tanamlah Avokad Mentega Bagaimana cara menanam avokad dengan hasil yang memuaskan? Kartika Devadha Kuta Tengah Jawaban: Avokad cocok di pegunungan yang tanahnya subur berbatuan. Untuk mendapatkan avokad yang baik, tanamlah avokad mentega. Tanam dengan bijinya. Avokad mentega ini tidak memerlukan perawatan khusus. Narasumber Ir. I. B. Suryawanta, M.M. A. Penyuluh Pertanian Spesialis Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali

Siaran Perdesaan Masa Kini

enjadi penyiar radio merupakan hal yang sangat menyenangkan, karena melalui acara tersebut, saya dapat memberikan informasi langsung pada pendengar. Saya juga langsung bisa menyampaikan kebijakan–kebijakan pemerintah yang bisa dijadikan pengetahuan untuk dilaksanakan masyarakat,” kata Sujaedi. S.Sos. yang aktif sebagai penyiar Siaran Perdesaan RRI Denpasar sejak lima tahun yang lalu. Ia mengungkapkan, mancari bahan harus menjadi perhatian dalam mengasuh siaran perdesaan. Karena, bahan harus sesuai dengan kebutuhan petani. Bahan tidak bisa begitu saja diambil dari sebuah buku. “Kami harus tahu terlebih dahulu isu yang sedang berkembang. Untungnya, dalam siaran perdesaan kami bisa mendatangkan narasumber dari dinas terkait, yang langsung bisa memberikan penjelasan kepada pendengar dan petani khususnya sesuai dengan isu yang berkembang,” ujar Sujaedi yang kini menjabat kepala Unit Siaran Perdesaan RRI Denpasar. Ia menuturkan, tidak semua topik yang akan dibawakan narasumber bisa ia pahami. “Bersyukur saat ini zaman sudah canggih, jadi saya langsung bisa mempelajari topik tersebut dengan mengakses di internet,” ujar lelaki yang ber-

tempat tinggal di Perumahan Dalung Permai Blok A2 nomor 12, Badung, ini. Menurut Sujaedi, menjadi penyiar harus kreatif. Kreatif merupakan syarat mutlak untuk bisa maju. “Apa pun pekerjaan yang dijalani, tanpa ada upaya pemikiran kreatif semuanya akan ‘jalan di tempat’,” jelasnya. Selain mengasuh siaran perdesaan, Sujaedi pernah mengasuh siaran yang menyuguhkan lagu–lagu dangdut. “Kalau menjadi penyiar yang sifatnya menyuguhkan hiburan pada masyarakat, seperti mengetengahkan lagu–lagu, khusunya lagu dangdut, saya tekankan, bagaimana saya bisa memberikan hiburan kepada pendengar. Tujuannya, supaya pendengar bisa tersenyum, bisa tertawa, dan merasa berbahagia. Kalau dalam siaran hiburan penyiar memberi informasi yang formal–formal terasa kurang cocok. Tetapi, kalau dalam siaran perdesaan yang saya tekankan agar pendengar ‘yang tidak tahu bisa menjadi tahu’. Misalnya, tentang teknik membuat tanaman durian agar berbuah lebat, teknik budidaya lele yang benar. Pada intinya menjadi penyiar sangat menyenangkan dan menantang. Namun, dalam suatu acara tertentu, tentu ada suatu sasaran tertentu yang menjadi tujuan utamanya,” jelas lelaki asal Banyuwangi ini. Suajedi menuturkan, ia

Drs. Made Yogi Astra

memiliki pengalaman yang berkesan saat mengasuh siaran perdesaan. Ia dapat langsung berbincang dengan pejabat– pejabat pemegang kebijakan yang tentunya informasi itu sangat diperlukan pedengar petani khususnya dalam siaran perdesaan. “Namun, ada juga dukanya, saya sering sedih apabila sudah siap melakukan siaran langsung, namun tiba–tiba peralatan tidak berfungsi. Padahal, sebelumnya sudah mengadakan observasi, dan semuanya sudah baik. Dan, saya juga lupa membawa peralatan untuk merekam momen tersebut,” ungkap lelaki yang memiliki hobi bermain catur ini. Sandiwara Radio Lain halnya Drs. Made Yogi Astra yang telah menjadi angkasawan RRI sejak tahun 1983. Perjalananya menjadi angkasan RRI dimulai dari RRI Singaraja tahun 1983 – 1986, dan kemudian pindah ke RRI Denpasar. Made Yogi Astra merupakan seorang penulis yang karyanya sudah tidak asing di telinga pendengar, khususnya penggemar sandiwara radio. Sandiwara yang diketengahkan dalam siaran perdesaan adalah hasil goresan tinta hitamnya. Selain itu, Yogi juga

Secara normal kuman koli ada di usus babi, namun ia akan menyerang babi apabila kondisi babi lemah/sakit. Kuman koli akan menyebabkan mencret putih pada babi. Selain itu juga ada kuman koksidia, yang akan menyebabkan mencret darah. Penanggulangannya, jagalah anak babi itu supaya selalu memiliki kondisi yang bersih, kering, dan hangat. Beri anak babi pakan yang dalam bentuk cair. Kalau sudah parah mencretnya, berilah pertolongan dengan memberi anbiotika yang khusus untuk mengatasi mencret pada anak babi. Obat tersebut sudah tersedia di toko-toko obat khusus untuk hewan/binatang. Selain penyakit mencret, babi juga sering diserang penyakit sekabies/kudisan yang menyebabkan babi itu gatal–gatal. Biasanya babi menggarukkan punggungnya di tembok yang mengakibatkan bulunya rontok. Penyakit ini yang mudah menyebar, dan sudah umum diderita babi–babi di Bali. Upaya pencegahannya dengan melakukan sanitasi kandang, dan ada juga obat tradisional dengan menggunakan daun srikaya. Caranya, daun srikaya diremes-remes di air. Tulang daun srikaya dipakai menyikat kulit babi yang gatal, kemudian tulang daun srikaya dibilas lagi dengan air remasan srikaya. Penyakit gatal juga bisa diobati dengan oli bekas. Caranya, bagian kulit babi yang gatal dibersihkan dengan memakai sikat. Lalu setelah kulit babi itu bersih oleskan oli tersebut. Tetapi, yang paling manjur biasanya dengan suntikan intermektin. Cara ini harus dikonsultasikan dengan dokter hewan. Kotoran babi mengadung zat amoniak yang sangat tinggi. Gas amoniak ini bisa menyebabkan manusia dan babi menjadi sakit jika menghirupnya. Nafsu makan babi akan berkurang, bahkan jika terlalu banyak bisa menyebabkan babi tidak memiliki berahi. Untuk mengatasinya, upayakan jangan sampai ada kotoran babi yang menumpuk di kandang. Buatlah tempat penampungan kotoran babi secara khusus. Atau, bisa juga kotoran babi ini dimanfaatkan sebagai biogas,yang bisa digunakan untuk memasak. Untuk mengatahui secara detail tentang tata cara beternak babi, petani bisa membeli buku khusus tentang beternak babi yang sudah tersedia di toko–toko buku. Narasumber drh. Ni Wayan Leestyawati Palgunadi, M.Si. Dinas Peternakan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

yang efektif. Selain mendengarkan siaran lewat RRI, pendengar juga bisa membacanya di Koran Tokoh, atau sebaliknya selain membacanya di Koran Tokoh pembaca juga bisa mendengarkannya di RRI Denpasar. Apalagi saat ini teknolgi sudah maju, tidak seperti dulu. Kalau mau ikut dialog, petani bisa langsung menelepon atau kirim SMS. Kalau dulu pertanyaan hanya bisa lewat surat, jadi lebih memakan waktu. “Menurut saya, siaran perdesaan saat ini sudah makin melekat di hati petani. Itu dibuktikan banyaknya SMS dan e-mail yang masuk menanyakan hal-ihwal di sektor pertanian dalam arti luas,” ungkap lelaki yang berasal dari Kabupaten Tabanan ini. Baginya, hal yang paling Sujaedi, S.Sos. berkesan dalam hidupnya semahir menulis langen suara, ar- lama tergabung dalam tim siartikel, obrolan, selain sandiwara an perdesaan ialah saat menulis radio yang berlatar belakang cerita bersambung dengan judul budaya. Dari hasil goresan tangannya itu, ia telah berhasil mengantongi berbagai gelar juara di tingkat daerah maupun nasional. Selain menjadi penulis naskah, ia juga aktif mengisi siaran perdesaan paket yang berupa obrolan yang mengetengahkan topik–topik pertanian. Menurutnya, siaran perdesaSuluh Indonesia-Bisnis Jakarta an tahun 1990-an merupakan bersama Toko Bagus.Com memidola bagi pendengar di perdesaan. “Namun, seiring de- persembahkan program Indahngan waktu, saya rasa semua itu nya Berbuka bersama anakagak menurun karena persaing- anak panti asuhan dan anakan media massa yang begitu anak binaan lapas. Kegiatan ini banyak,” jelas lelaki yang dilaksanakan seminggu sekali bertempat tinggal di Jalan selama bulan Ramadan, yakni 6, 13, 19 dan 25 Agustus 2011. Gunung Agung Gang Bumi Kegiatan pertama berlokasi Ayu B/27 Denpasar ini. di Panti Asuhan Darul Aitam Ia menuturkan, dulu dalam Pondok Pinang Jakarta Selatan perdesaan RRI Denpasar yang yang menampung 70 anak yatim lebih banyak dibahas sektor dan kurang mampu. Kegiatan pertanian dan peternakan. Te- kedua berlokasi di yayasan tapi, menurut bapak 2 anak, Bu- yatim piatu Nurul Asih Mangnga dan Bintang, ini, sekarang garai sebuah lembaga nonpanti sudah berkembang ke sektor- yang menaungi 60 anak yatim sektor lainnya. dan kurang mampu usia 5-18 Ditanya mengenai efekti- tahun dengan memberikan beavitas siaran perdesaan saat ini siswa pendidikan dan alat tulis bagi masyarakat petani, ia me- serta pembinaan keagamaan. ngatakan sangat membantu. Kegiatan ketiga di Lembaga Sekarang ini siaran perdesaan pemasyarakatan (lapas) anak RRI sudah bekerja sama dengan Tangerang. Di lapas ini Suluh InKoran Tokoh, ini suatu sinergi donesia-Bisnis Jakarta bersama

Petani Kirim Pertanyaan Lewat SMS dan E-mail

PENYIAR radio bagaikan dalang wayang kulit; didengar suaranya tidak dilihat orangnya. Tidak jarang jika ada pertemuan antara penyiar dan fansnya, pendengar jadi agak canggung, bahkan tidak menyangka, orang yang sering diajak ngobrol di udara dalam siaran interaktif adalah orang yang sekarang ia lihat di depannya. Mungkin saja timbul imajinasinya saat mendengar suaranya di radio, pendengar membayangkan misalnya penyiarnya masih muda, kurus, tetapi kenyataannya sudah tua dan tubuhnya tambun.

DALAM memilih bibit bangkung/induk babi yang baik, pilihlah yang sehat dan tidak cacat. Ciri bibit babi yang baik, lincah, nafsu makan baik, memiliki respons gerak yang spontan; kalau diberi kejutan, babi itu langsung bergerak. Pilihlah dari induk babi yang beranak banyak. Karena, keturanan dari induk babi yang beranak banyak, juga akan bisa melahirkan anak yang banyak. Carilah induk babi yang memiliki sifat keibuan yang baik, misalnya tidak kanibal. Bangkung/ induk babi, pilihlah yang putingnya banyak. Dalam memelihara babi, kandang juga harus diperhatikan dengan baik. Kandang babi harus bersih, kering, dan hangat, supaya babi itu merasa nyaman di kandangnya. Ukuran kandang sesuaikan dengan ukuran bangkung yang dipelihara. Yang terpenting, bangkung itu bisa bergerak dengan leluasa. Kalau ditempatkan di kandang yang sempit, bangkung itu akan tertekan. Itu akan memengaruhi proses produksi pada induk babi. Jangan membuat kandang babi dekat tempat sampah, karena di sana banyak sumber penyakit. Bangkung ada masa produktif dan tidak produktif. Masa produktif artinya masa saat ia sedang aktif melahirkan anak. Umumnya induk babi mampu beranak 5 sampai 7 kali. Kalau induk babi itu sudah berkurang beranaknya, atau melahirkan anak yang tidak sehat, sebaiknya diganti induk baru. Anak babi bisa disapih sejak awal, asalkan mampu memelihara dengan baik. Yang penting perhatikan, anak babi harus mendapat susu awal (kolestrum). Karena, di susu tersebut, terkandung antibodi/zat kebal dari induk babi. Jadi anak babi yang baru lahir usahakan mendapat kolestrum tersebut baru kemudian disapih sepanjang masih mampu memberikan kondisi anak babi masih tetap hidup. Kondisi kandang anak babi harus selalu hangat, tidak becek, karena jika anak babi itu kedingainan akan mudah terserang penyakit. Di sinilah perlunya perapian. Perapian bisa juga dibuat berbentuk seperti bak dari batako atau drum dan di dalamnya bisa untuk menyalakan api. Jaga jarak antara perapian dan anak babi, agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Penyakit mencret atau diare merupakan penyakit yang biasa menyerang anak babi. Itu sering disebabkan dua hal. Pertama, karena anak babi itu stres, kedinginin, dan pakan tidak cocok. Pakan yang tidak cocok, misalnya, anak babi yang masih kecil sudah mencoba untuk memakan pakan milik induknya. Itu menyebabkan anak babi mencret. Kedua, disebabkan kuman koli.

Anugerah tentang pertanian. Pada zaman itu petani di seluruh perdesaan sangat aktif mendengar bahkan jam siaran perdesaan selalu dinanti. Karena, selain mengetengahkan topik terkait pertanian, juga memberi informasi lewat cerita juga ada unsur seninya. “Saya yakin, dari dulu sampai sekarang siaran perdesaan sangat banyak memiliki fans, namun tidak semuanya aktif. Ada juga yang pasif, ada yang mendengar saja tidak ikut bertanya,” kata lelaki yang terbiasa menulis ditemani secangkir kopi susu ini. “Hal yang paling mutlak harus ada dalam siaran perdesaan adalah bahan. Dan, bahan itu harus terkait dengan kebutuhan petani. Pengelola harus menyediakan bahan sesuai dengan perkembangan, agar tidak mubazir,” jelas angkasawan RRI yang sudah akan memasuki masa persiapan pensiun lima bulan lagi ini.

Menjelang masa–masa akhir pengabdiannya ini, ia mengharapkan ke depannya para pemuda dan pemudi juga ikut aktif mengikuti siaran perdesaan, sebagaimana acara siaran yang lain. “Sebagian besar warga masyarakat kita adalah petani, tanpa ada petani kita semua akan bangkrut,” ujar PNS yang senang memelihara burung kenari ini. Ia juga mengatakan, penulis naskah merupakan hal yang sangat penting dalam siaran perdesaan. Dengan naskah yang baik siaran perdesaan akan bisa dikemas menjadi sangat menarik. Siaran perdesaan tidak lepas dari unsur seni. Mungkin saja dalam acara tertentu, orang bisa bicara tanpa naskah. Tetapi, kalau untuk acara yang mengandung unsur seni, seperti langen suara, sandiwara radio, penulis naskah sangat diperlukan,” kata penyair yang sering juga jadi penyiar ini. —badra

Program Ramadan Suluh Indonesia - Toko Bagus.Com

Pimpinan Tokobagus.com Arnold Sebastian Egg dan Remco Lupker menyerahkan donasi buka puasa bersama panti asuhan yatim piatu dan anak binaan lapas kepada Suluh Indonesia-Bisnis Jakarta

Toko Bagus.com berbuka puasa dengan 180 anak binaan. Kegiatan terakhir berlokasi di Panti Asuhan Rawamangun yang menaungi 65 anak yatim piatu. Tujuan yang hendak dicapai dalam program ini adalah ber-

bagi keindahan bulan Ramadan dengan anak-anak kurang mampu dan bersifat menambah pengetahuan keagamaan serta mempertebal keimanan. Acara ini disponsori Toko Bagus.Com dan Magfood. —rls


TRADISI

11 - 17 September 2011 Tokoh 5

Daana Punia dengan Ilmu paling Utama

M

ASYARAKAT umumnya kalau mendengar kata daana punia, asosiasinya pemberian uang. Daana punia itu tidak berwujud uang semata. Daana punia bisa berwujud materi dan nonmateri. Sarasamuscaya 180 menyatakan: Hana ta abhaya daana ngarania lewih sakeng sarwa daana. Artinya: Lebih utama ber-daana punia membantu orang untuk menghilangkan rasa takut daripada berdaana punia dengan segala harta benda. Makna yang terkandung dalam keterangan Sarasamuscaya tersebut lebih menekankan pada usaha untuk membantu seseorang menguatkan kemampuannya untuk mandiri mengerjakan dan mengatasi berbagai persoalan hidup yang dihadapinya. Manawa Dharmasastra IV.229-237 menyatakan, pahala yang akan didapat dari daana punia sesuai dengan wujud daana punia yang diberikan. Misalnya orang yang men-daana punia-kan air dengan tulus akan memperoleh pahala berkecukupan dalam makan dan minum. Yang ikhlas men-daana puniakan makanan pada orang yang tepat akan memperoleh kebahagiaan yang tak terbatas. Pahala bagi yang memberikan biji wijen akan memperoleh keturunan yang diidamkan. Kalau tanah yang diberikan sebagai daana punia pahalanya tanah yang makin luas dan berkualitas. Daana punia emas, pahalanya umur panjang. Daana punia rumah akan berpahala bertempat tinggal di istana kelak. Kalau perak yang di-daana puniakan, kecantikan yang luar biasa yang diperolehnya sebagai pahalanya. Pemberian perlindungan dari rasa takut atau abhaya daana, pahalanya kehidupan bahagia yang kekal diperolehnya. Mereka yang ber-daana punia dengan ilmu pengetahuan suci Weda atau dharma daana, pahalanya bersatu dengan Tuhan. Daana punia dengan ilmu pengetahuan suci Weda yang juga disebut brahma daana dalam Manawa Dharmasastra IV.233 dinyatakan sebagai daana punia yang tertinggi. Tidak ada wujud daana punia yang lebih utama daripada daana punia dengan ilmu pengetahuan suci Weda.

I Ketut Wiana

tkh/dok

Tulisan Ketiga dari Lima Tulisan Lontar Bhuwana Kosa 63 menyatakan ada lima penyucian yaitu jala penyucian dengan air, patra dengan daun, pertiwi dengan tanah, bhasma dengan abu suci dan penyucian yang paling utama adalah jnyana sauca yaitu penyucian dengan ilmu pengetahuan Weda. Bhagawad Gita IV.38 menyatakan, tidak ada di dunia ini yang menyamai kesucian ilmu pengetahuan (na hi jnyanena sadrsam pavitram iha vidyate). Karena itu dalam Bhagawad Gita IV.33 dinyatakan, jauh lebih mulia persembahan dengan ilmu pengetahuan atau jnyana yadnya daripada persembahan dengan harta benda atau dravya yadnya. Dengan pemujaan pada Tuhan mengabdi sesuai dengan swadharma dan menguasai indria, hal itu akan menyebabkan seseorang mampu memiliki ilmu pengetahuan dengan baik, benar, dan tepat. Dengan memiliki ilmu pengetahuan seperti itu seseorang akan memperoleh kedamaian yang abadi. Demikian dinyatakan dalam Bhagawad Gita IV.39. Pada zaman post-modern dewasa ini penguasaan ilmu pengetahuan rohani dan duniawi yang seimbang makin dibutuhkan. Tanpa ilmu pengetahuan dalam kehidupan dewasa ini akan dijumpai berbagai kesulitan. Alrbert Ainstain menyatakan, agama mengarahkan hidup, ilmu memudahkan hidup dan seni menghaluskan atau mengindahkan hidup. Cuma dewasa ini peran agama, ilmu dan seni

masih sangat timpang, masingmasng sepertinya berjalan sendiri-sendiri. Karena itu daana punia ilmu pengetahuan sabagai persembahan perlu dievaluasi ulang dan terusmenerus diawasi penerapannya agar bersinergi dalam kehidupan empiris. Prof.Dr. A. Mappadjantji Amien menyatakan, carutmarutnya keadaan di berbagai belahan dunia dalam berbagai bidang kehidupan karena tidak seimbangnya eksistensi ilmu pengetahuan eksakta/ fisika dan ilmu pengetahuan humaniora dan ilmu pengetahuan spiritual. Ilmu eksakta/ fisika demikian pesat kemajuannya dalam memberikan berbagai kemudahan hidup. Yang terlambat, humaniora dan spiritual dalam meningkatkan keluhuran moral dan menguatkan ketangguhan daya tahan mental umat manusia dalam tataran empiris menghadapi dinamika kehidupan yang makin fluktuatif. Tidak ada masalah pada kemajuan ilmu eksakta/fisika yang demikian pesat. SDM yang menerapkan ilmu tersebutlah yang harus memiliki moral yang luhur dan mental yang tangguh agar tidak menyalahgunakan pesatnya kemajuan ilmu tersebut. Daana punia yang tepat diberikan kepada masyarakat sekarang ini adalah ilmu pengetahuan yang seimbang antara ilmu untuk mencari nafkah dan ilmu untuk meningkatkan keluhuran moral serta daya tahan mental untuk menghadapi berbagai godaan dan ujian hidup. Pengembangan ilmu pengetahuan harus menguatkan aspek kemanusiaan sebagai jati diri manusia dalam kehidupan bersama di kolong langit ini. Mahatma Gandhi menyatakan bahwa ilmu tanpa kemanusiaan akan menimbulkan dosa sosial. Ini artinya eksistensi ilmu pengetahuan itu jangan sampai meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Bukan manusia untuk ilmu, tetapi ilmu itulah untuk menopang eksistensi manusia dalam memanusiakan kemanusiaannya. Kalau penerapan ilmu itu disebarkan dengan motivasi dana punia, maka cara tersebut akan sedikit memiliki kekuatan untuk tetap menerapkan ilmu pengetahuan dengan terukur dalam koridor

yaitu pendidikan untuk mengembangkan minat dan bakat bawaan untuk menjadi SDM yang terampil atau ahli. Dengan dasar sraddha dan budhi yang kuat kemajuan pendidikan keterampilan dan keahlian itu tidak membuat orang mabuk. Demikianlah cara men-daana puniakemanusiaan. Kalau salah cara kan ilmu pengetahuan agar kita mencapai ilmu pengetahu- berdaya guna dalam hidup. an itu, maka kemabukan atau z I Ketut Wiana kegelapan hati nuranilah yang didapatkan para ilmuwan. Kalau tepat caranya kita mencapai ilmu pengetahuan maka rasa aman dan sejahteralah yang akan didapatkan. Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com Swami Satya Narayana menyatakan, pendidikan itu akan dapat membangun manusia yang seimbang apabila kan dan mengkritik orang lain, walau belum kenal Semenjak saya menulis secara rutin di Kopendidikan itu dimulai dengan ran Tokoh, sekali pun dengan siapa yang mereka bicarakan. saya memiliki satu tugas baru yakni sraddha, baru budhi dan tahap wajib mendengar curhatan dari semua kalangan, Dan kata para rohaniawan, mereka yang selalu berpikir tidak baik, biasanya selalu diliputi hawa selanjutnya barulah meta. baik teman-teman yang kebetulan para pejabat gelap dan aura yang sangat berat, maka tak Maksudnya pendidikan itu publik, ibu-ibu dari berbagai usia dan sebagian mengherankan jika kita berada secara fisik dari generasi muda. pertama-tama manusia me- besarDalam berdekatan dengan si negative thinker ini, maka sebuah seminar di Kantor Bupati nguatkan dan memantapkan Jembrana pada Bulan Bung Karno Juni silam, ada yang ada adalah suasana panas dan gelisah. Bagi saya, mengurusi mereka yang berpikirkeyakinan manusia pada seorang ibu PNS yang menyarankan agar saya an negatif ini adalah suatu kegiatan yang sangat Tuhan. Keyakinan pada Tuhan tetap produktif menulis, sekaligus si ibu mengaku membuang-buang waktu, dan jika kita tidak ceria dan keluarga kerap mengkliping tulisan dan ini mampu membangun daya jika das, maka energi kita akan terkuras sia-sia hanya artikel yang saya tulis. Astungkara dan syukurlah, spiritualitas untuk memba- jika sampai tulisan-tulisan sederhana saya mampu untuk mengurusi hal-hal yang sangat tidak penting ngun bahwa Tuhanlah sebagai memberikan inspirasi. Saya merasa, dari sebagian besar yang itu. Dan, untuk itulah, saya akan mudah memberikan kiat-kiat sutradara agung kehidupan di menemui saya, saya menemukan satu benang merah dan dari bagi mereka yang kerap meminta saran untuk menghadapi si saya baru memahami bahwa sesungguhnya manusia Bali, negative thinker. alam semesta ini. Dengan sana Bagi saya, pertahanan diri juga harus kuat, maksudnya, orang-orang Bali adalah golongan yang pintar, cerdas, dan kuatnya keyakinan pada Tu- memiliki lompatan visi yang jauh ke depan. Namun lemahnya, jangan jadikan diri kita baik lahir dan batin tersiksa hanya untuk han seseorang akan senantiasa mereka masih kurang pede dan kurang piawai dalam memikirkan cerita, isu, gosip negatif tentang pencapaian dan merasa segala gerak hidupnya mengekspresikan dan memanajemen masalah/konflik untuk prestasi kita. Kita harus menyadari bahwa tujuan utama dari menjadi sebuah kekuatan. Selain itu, apa pun latar bela- mereka yang kerap menjatuhkan kita, adalah agar kreativitas disaksikan Tuhan dan hukum diubah kangnya dan swadharma-nya, rata-rata dari mereka menemui kita menjadi mati dan mandek. Dengan makin lemahnya fightTuhan amat diyakini tidak masalah yang sama, hasil kerja mereka, achievement mereka, ing spirit, maka mereka yang bercita-cita menjatuhkan kita akan pernah absen menyaksikan usaha dan pengabdian mereka kurang mendapatkan makin keras bertepuk tangan. Saya kerap memberi dorongan hidupnya. Karena Tuhan se- pengakuan dari orang lain, bahkan dari keluarga terdekatnya pada semeton Bali yang baik hati, bahwa untuk melawan nantiasa dirasakan selalu ber- sekali pun. Pokoknya (dalam bahasa mudahnya ), banyak pihak mereka yang suka negative thinking satu-satunya cara adalah yang negative thinking dengan usaha anak-anak bangsa ini. dengan menunjukkan kerja, kinerja dan prestasi. Tampillah samanya, maka keyakinan Dan ketika mereka curhat, mereka bertanya pada saya, saudara sebagai sosok individu yang berbahagia dan profesiitulah yang akan berfungsi apa yang harus mereka lakukan? Dan, menanyakan apa musa- onal, yang mana tidak terpengaruh akan kehadiran komunitas babnya banyak semeton Bali yang justru paling negative think- gelap tersebut. Lawan mereka dengan cinta, dengan senyum, mengendalikan hidupnya. terhadap prestasi sesama generasi Bali? Well, agak sulit dengan sinar mata yang berbinar-binar sebagai tanda bahwa Selanjutnya budhi yaitu ing memberikan jawaban, karena ini menyangkut character build- rasa optimis itu tidak pernah padam dalam jiwa orang revolusi pendidikan harus berfungsi ing dan menyangkut kultur sifat dan sikap yang sudah turun- orang Bali. Balas mereka dengan kemuliaan hati dan beri untuk mencerahkan budhi nu- menurun. jabatan tangan yang erat sebagai wujud bahwa ancaman dan Di Bali, masalah dasar dari suku Bali dan histori Bali pun caci-maki mereka justru menguatkan dan meledakkan api rani umat untuk meningmembuktikan bagaimana gaya berpikir jahat, berpikir picik semangat dalam berkarya. Seperti kata pepatah, mereka yang katkan eksistensi kemanusiaan telah dan berpikir tidak baik ini telah sukses memporak-porandakan membenci kita sesungguhnya adalah pengagum kita yang yang berhati nurani. Selanjut- sejarah dan kejayaan Bali Dwipa. Dari sejarah kita bisa belajar, tersembunyi. Buat mereka panik akan prestasi kita, buat mereka nya barulah pendidikan itu bahwa di tengah nilai-nilai spiritual Hindu yang kental, tapi kelabakan dengan penampilan kita, buat mereka kebingungan untuk mengeksistensikan meta secara socio-culture, leluhur orang Bali masih termasuk golong- dengan etos kerja kita dan biarkan mereka hancur terbakar

Positive Thinking sebagai Gaya Hidup

an yang iri hati, yang doyan perang saudara, dan memiliki banyak trik negatif untuk membunuh warganya sendiri. Negative thinking apa pun dampak turunannya, adalah suatu sisi gelap dari individu dan komunitas yang memujanya, dan bagi saya hal itu masih bisa dirasakan di sekeliling kita. Negative thinker ini biasanya mempunyai ciri-ciri jarang tersenyum, muka cemberut, kebiasaan mencibir dan nyinyir. Dan sekalinya berkata-kata, yang muncul adalah semburat katakata kasar dan tidak patut serta sumpah-serapah yang dibumbui dengan sikap sok tahu. Uniknya, mereka ini doyan membicara-

melihat pergerakan kita. Ini bangsa yang bebas merdeka bung! Katakan pada mereka bahwa kita bukan pencuri dan koruptor, kita bukan maling uang rakyat, kita adalah manusia dengan harga diri. Layaknya lima Pandawa, mereka akan selalu menang walau harus berhadapan dengan 100 Kurawa, para negative thinker itu. Yakinlah, para dewa dan leluhur akan membentengi perjuangan kita asal semua dilakukan dengan ikhlas dan kemuliaan. Selamat berjuang untuk rakyat Bali yang saat ini masih terdiskriminasi, maju terus, tulisan saya ini adalah bukti bahwa harapan itu masih ada. Tuhan memberkati!

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI / PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


6

Tokoh

NUSANTARA

11 - 17 September 2011

Ditinggal Mudik Pawiwahan Massal Pertama Konsumen dan Pedagang di Dusun Wates Tengah Mengeluh Ada yang tidak Bersedia Ikut Para Pemuda malah Bertanya Kapan Ada lagi?

DELAPAN pasang pengantin mengikuti upacara pawiwahan (pernikahan) massal di Dusun Wates Tengah, Desa Duda Timur, Selat, Karangasem, Minggu (4/9). Mereka tampak berbahagia, senyumnya merekah, karena menikah disaksikan sejumlah pejabat, seperti Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga. Mereka pun tanpa harus mengeluarkan biaya. Senyum berbahagia juga tampak tersungging dari sepasang pengantin yang sudah punya enam anak dan empat cucu. Mereka, I Putu Yastika dan Ni Wayan Tarmin.

S

etelah sekitar 34 tahun rasa cinta dan hubungan mereka hanya diresmikan sampai pada upacara mabiakawon atau mererebu, akhirnya keinginannya yang tertunda sejak tahun 1987 itu kini bisa diwujudkan. Yastika dan Tarmin menuturkan harapannya ke proses pernikahan tahap berikutnya selama ini sulit diwujudkan karena tiadanya biaya. Seharihari keluarga sederhana ini bekerja sebagai penyakap tanah di Banjar Kubu Dalem, Pujungan, Pupuan, Tabanan. Yastika meninggalkan daerah asalnya, Dusun Wates Tengah, sejak tahun 1963 bersama kedua orangtuanya, Wayan Nerti (alm) dan Ni Nengah Nambring. Enam anaknya pun sekarang hanya bekerja sebagai petani. Saat pawiwahan massal itu berlangsung, anak keenamnya berusia 4,5 tahun, sementara cucunya sudah empat dari putri pertama dan keduanya, Putu Yasmini dan Kadek Juni Antini. Yastika dan Tarmin masih dalam satu dadia. Jadi keluarga besar keduanya dulu bisa saling memahami mengapa peresmian hubungan mereka hanya sampai pada upacara biakawon. Adik laki–laki Yastika, yakni Made Warsa, juga ikut dalam pawiwahan massal itu setelah dikaruniai tiga anak yang sudah duduk di bangku SD.

Pawiwahan massal yang berlangsung di Balai Banjar Wates Tengah ini di-puput dua sulinggih, Ida Pandita Mpu Nabe Parama Sadhu Daksa Natha kesarengin Pandita Istri Ida Pandita Mpu Nabe Istri Parama Sadhu Daksa Natha dari Gria Taman Kerta Sari, Dusun Wates Tengah, Duda Timur Selat, dan Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yoga Acala kesarengin Pandita Istri Ida Pandita Mpu Nabe Istri Parama Acintya Sunyata dari Gria Agung Padang Subadra, Dusun Wates Kangin, Duda Timur, Selat. Selain pasangan I Putu Yastika – Ni Wayan Tarmin dan I Made Warsa – Ni Nengah Santi, enam pasangan lainnya yakni Putu Adi Supawan - Tutut Wulan Dewi, I Komang Suardika – Ni Made Sriani, I Wayan Kembar – Ni Nengah Sriani, I Made Sudana – Ni Luh Sri Darmawati, I Komang Gatra – Ni Ketut Sriasih, dan I Komang Suardika – Ni Wayan Sekar. Sesuai Tatwa Upacara pawiwahan massal di kalangan umat Hidnu sangat jarang terjadi di Bali, dan pawiwahan massal kali ini merupakan yang pertama dilaksanakan di Dusun Wates Tengah. Ketua Majelis Agung Desa Pakraman (MADP) Provinsi Bali Jro Mangku Wayan Su-

Sebagian peserta pawiwahan massal

Ni Wayan Tarmin dan I Putu Yastika

wena mengatakan sesuai awig– awig atau tatwa, tidak ada yang salah dengan pelaksanaan pawiwahan massal. Tujuan hidup berumah tangga untuk membentuk generasi yang suputra (anak yang baik) dan hidup harmonis. Rangkaian pawiwahan juga dijalankan dengan baik seperti mapiuning ke anak lingsir, sulinggih di Gria, kepada guru, pura keluarga, desa adat, dsb. Ida Pandita Mpu Nabe Parama Sadhu Daksa Natha mengatakan pawiwahan massal dibenarkan sesuai ajaran agama Hindu. “Sang Awiwaha meupakara ngawit saking ngamargiang paresikan. Kapertama, mabiakala, durmangala lan prayascita. Seusan punika, wawu ngamargiang proses padengen – dengen, inggih punika proses pembersihan sekala lan niskala. Lascarya patemon kama bang sareng kama petak bersih adanya, menurut Lontar sane kebaosang eka prawesti sang kuna dresta. Yening nenten ngemargiang pedengen – dengen kewastanin kama kaperagan, melahirkan rare diyadiyu (bayi dengan keterbelakangan mental)”, kata Ida Pandita. Jadi, pasangan suami istri yang belum menjalani upacara secara kolektif, harus bisa melewati proses padengen – dengen. Faktor ketidakmampuan yang memotivasi berlangsungnya pawiwahan massal. Ida Pandita juga mengatakan, nantinya kedelapan pasangan pengantin ini, diwajibkan untuk metanduran (menanam) tiga jenis tanaman di antaranya tanaman makanan pokok berupa umbi-umbian, tanaman apotek hidup berupa tanaman obat misalnya kunyit dan karang kitri berupa bunga– bungaan, sebagai wujud bakti pengantin kepada ibu pertiwi.

Paduan Budaya................................................................................................dari halaman 1 dan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Bali. Pesertanya berasal dari seluruh kabupaten/kota se-Bali. Menariknya, adanya umat Hindu dari luar daerah yang turut di upacara ini. “Saya senang sekali bisa ikut upacara potong gigi ini, apalagi acaranya meriah, jauh dari bayangan kami sebelumnya. Semoga saja acara sepeti ini tiap tahun bisa dilaksanakan,” ungkap Lestari didampingi dua rekannya Sukmagita dan Yuli yang sama-sama dari Klaten. Begitu pula dengan Suardi yang berasal dari Palembang, mengaku sangat bersyukur mendapatkan kesempatan potong gigi bersama di Bali. Menurut Ny. Bintang Puspayoga, meski upacara potong gigi ini dilaksanakan secara massal, namun tetap tidak mengurangi maknanya. “Justru dengan potong gigi massal ini menjadikan semuanya lebih efektif dan efisien. Sebab krama yang ingin menyaksikan beberapa orang, apakah itu keluarga, tetangga atau teman lainnya cukup datang di satu tempat bahkan dalam waktu yang sama,” ujarnya. Ia sangat mensyukuri acara berlangsung dengan tertib dan lancar. Apalagi, katanya upacara adat seringkali diidentikkan dengan

ngadat. Namun, hal ini samasekali tidak terjadi di kegiatan potong gigi massal kali ini. “Semuanya labda karya, karena Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali dan Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kota Denpasar menjalin koordinasi dan kerja sama yang sangat baik dengan seluruh panitia lainnya. Begitu juga tenaga penyuluh lapangan, para bendesa adat, para pemangku, polisi, pecalang, berbagai pihak yang terlibat membantu keamanan di sekitar lokasi acara, baik secara langsung maupun tidak langsung juga melakukan kerja sama yang baik. Tentu tak ketinggalan para pemilet atau peserta, yang memang berlaku sangat tertib,” papar istri Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga ini. Ia juga mengatakan jika makin banyak yang melakukan upacara massal seperti ini, tentu akan makin baik. Karena, ini berarti makin banyak pula warga yang kurang mampu terbantu. Apalagi untuk potong gigi sebaiknya memang dilaksanakan sebelum menikah, yang memiliki arti atau makna pengendalian diri secara simbolis terhadap enam musuh dalam diri manusia, termasuk untuk mengurangi sifat buruk menuju pernikahan. Namun

Suasana menjelang potong gigi

banyak juga yang sudah berkeluarga belum menjalankannya karena terkendala dana. Upacara potong gigi wajib bagi adat umat Hindu di Bali, sebagai ritual serangkaian upacara memasuki masa remaja atau menginjak dewasa. Hal ini juga disampaikan Ida Bagus Made Putra, ketua seksi upacara potong gigi massal Pemprov. Bali kali ini. Gunanya untuk mengendalikan enam musuh dalam diri manusia yang dikenal dengan Sad Ripu, yakni keinginan berlebih, rakus, amarah, kebingungan, mabuk, dan iri hati. Namun, katanya, ada kalanya tidak semua umat dapat melaksanakan saat menginjak dewasa karena kendala biaya pelaksanaan yang tidak murah. Sementara Ibu Agung Utari dari Denpasar yang juga menghadiri acara itu, karena ada tetangganya yang ikut potong gigi, mengapresiasi kegiatan massal, yang menjunjung budaya Bali tersebut. Hal ini, menunjukkan tingginya rasa kebersamaan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan di antara warga, serta gotong royong. Selain itu, kegiatan potong gigi massal yang diadakan pemerintah Bali dengan bebas biaya ini benarbenar membantu warga yang kurang mampu. —ard

A.A Puspayoga, Bintang Puspayoga, dan Jaya Negara tengah menyaksikan salah seorang peserta potong gigi

Perbekel Desa Duda Timur, Selat, I Gede Pawana mengatakan rencana untuk menggelar pawiwahan massal sudah tercetus sejak beberapa tahun lalu. Namun, karena belum memenuhi target lebih dari lima pasang pengantin, rencana tersebut tertunda. Pawana mengatakan di Dusun Wates Tengah pasangan yang sudah menikah namun belum melaksanakan pawiwahan lebih dari delapan pasangan. Namun, tidak semua bersedia ikut dalam pawiwahan massal. Menurut Pawana mereka akan melanjutkan pawiwahan sendiri. “Ngaben massal, ngeroras massal, tiga bulanan massal, dan potong gigi massal pernah dilaksanakan, mengapa pawiwahan massal tidak? Cara ini lebih efisien. Biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pawiwahan ini tidak lebih dari Rp 10 juta, padahal undangan yang datang jauh banyak,” kata Pawana yang juga ketua panitia pawiwahan missal tersebut. Setelah pelaksanaan pawiwahan massal itu, para pemuda setempat menanyakan kepada perbekel, kapan digelar acara yang sama. Pawana mengatakan yang menarik minat para pemuda tersebut, dengan biaya yang murah, namun acaranya meriah, dan pengantin samasekali tidak terlibat dalam persiapan dana. Segala sesuatunya sudah disiapkan panitia. —arya

P

ENDUDUK Bali yang berasal dari perpindahan penduduk dari luar daerah, ditengarai di daerah ini bukan hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pedagang bahkan juga produsen. Maka, saat mereka banyak yang pulang mudik ke kampung kelahirannya pada hari raya idulfitri, bukan hanya konsumen yang merasakan dampaknya, tetapi juga para pedagang kebutuhan pokok sehari-hari. Bahan konsumsi tertentu, selain sulit dicari, jika ada juga naik harganya. Bahan konsumsi tersebut, misalnya berbagai jenis sayur, tahu, tempe, ikan. Warga yang bertempat tinggal di kompleks perumahan yang jauh dari pasar, baik penduduk lokal maupun pendatang yang tidak mudik, umumnya mengeluhkan mudiknya pedagang sayur yang biasanya tiap pagi atau sore berkeliling mendatangi rumah-rumah mereka. Pedagang sayur keliling itu sudah tak kelihatan sejak seminggu sebelum Lebaran tiba, dan hal itu berlangsung hingga seminggu bahkan dua minggu setelah Lebaran. Penjual bahan-bahan makanan juga mengaku mengalami penurunan omzet lantaran sepinya pembeli. Ini petunjuk bahwa ‘penduduk pendatang’ juga merupakan konsumen potensial. Diperkirakan, sepinya

pembeli, akibat banyak warga Bali pendatang yang pulang mudik ke kampung kelahirannya. Sepinya pembeli dialami Mariatin, penjual sayur keliling yang biasa berjualan di kawasan Banjar Pegending, Dalung, Kuta Utara, dan sekitarnya, yang sebagian besar warganya penduduk pendatang. Mariatin menuturkan, tiap mudik Lebaran dipastikan pembeli jualannya akan menurun dibandingkan pada hari-hari normal. Ia mengaku jualannya bisa turun sampai separuh dibanding hari-hari biasa. “Biasanya saya membawa satu keranjang sayuran pasti habis sekali jalan sore hari. Kalau musim mudik, dua hari baru bisa habis, itu pun saya kelilingnya lebih jauh dari biasanya, dengan harga yang cenderung turun,” ujar perempuan asal Banyuwangi yang berjualan dengan mengendarai sepeda motor ini. Namun, Mariatin sudah mengantisipainya. “Agar tidak terlalu rugi, saya mengambil sayuran lebih sedikit daripada biasanya. Jagung, misalnya, jika hari-hari biasa mengambil sampai 30 bungkus, pada musim mudik saya hanya ambil 10 bungkus, itu pun baru habis terjual dua hari. Kacang juga begitu, saya hanya berani ambil 10 kilogram untuk dua hari. Turun lima kilogram dibanding-

kan hari biasa. Akibatnya, selama musim mudik ini pendapatan saya pun menurun,” papar Mariatin. Penjual bahan makanan yang mangkal di warung juga mengalami hal yang sama. Bu Kadek, misalnya, perempuan yang membuka warung sembako dan bahan makanan di Perumahan Pegending Permai ini direpotkan kenaikan harga pada musim mudik. Ia menuturkan, salah satu penyebab kenaikan harga ini, sepinya orang jualan di pasar tempat ia membeli dagangan untuk dijual kembali. Selain itu bahan-bahan makanan seperti ikan yang dipasok dari Jawa, juga berkurang. “Seperti udang yang biasanya harganya Rp 20 ribu naik jadi Rp 24 ribu per setengah kilogram. Biasanya setengah kilogram itu saya bagi empat dengan harga Rp 5.500, saat masa mudik saya harus jual Rp 6.500. Ujung-ujungnya pembelinya menurun karena kemahalan,” ungkap Bu Kadek. Begitu pula tempe. Pada hari normal tempe banyak dijual warga Bali asal Jawa, cukup tebal. Pada musim mudik, pembuat dan penjualnya warga lokal, lebih tipis daripada biasanya. Bu Wati, warga Perum Pegending Permai lainnya, biasanya menanti kedatangan pedagang tempe lewat di depan rumahnya. Tetapi, selama musim mudik, menjelang dan sesudah hari raya, ia harus membelinya jauh di pasar. “Sudah jauh-jauh ke pasar, kualitasnya juga tidak seperti biasanya. Kalau sudah malas masak, ujungnya saya membeli makanan yang sudah jadi,” ujar Bu Wati yang dalam Lebaran tahun ini memilih tidak pulang mudik ke Jawa. —nang

tkh/nang

Salah seorang pedagang bahan makanan di kompleks perumahan


GELANGGANG

11 - 17 September 2011 Tokoh 7

Diisi Kesan......................................................dari halaman 1

Ny. Bintang Puspayoga

Haornas Momentum Bangkitkan Semangat Olahraga Dekan, para dosen dan seluruh mahasiswa Fikom Undwi yang diyudisium

K

etua Persatuan Tenis Meja Se luruh Indonesia (PTMSI) Bali periode 2010 – 2014 itu menyatakan, selain berolahraga untuk kebugaran tubuh, juga perlu lebih digiatkan aktivitas olahraga prestasi. “Untuk itu perlu dibangkitkan partisipasi masyarakat. Sebab, olahraga, termasuk tenis meja, juga bisa dijadikan salah satu sarana penyaluran bakat dan sarana meraih prestasi,” ujarnya. Bintang Puspayoga mengatakan semangat perjuangan dan kesadaran yang tinggi merupakan ciri dan inspirasi perkembangan olahraga. Pembinaan olahraga sejak dini seperti di sekolah dasar berlanjut ke sekolah lanjutan pertama dan seterusnya, perlu terus digalakkan. “Sebab di sana akan muncul tunas yang merupakan bibit-bibit olahragawan, calon-calon juara di kemudian hari, yang bisa menambah harum nama Bali,” lanjut istri Wakil Gubernur Bali A.A. Gde Ngurah Puspayoga ini. Ia juga melihat perkumpulan olahraga sekolah telah digerakkan dan diisi kegiatankegiatan pertandingan mulai dari tingkat sekolah. Ini adalah basis pembinaan berikutnya lewat kegiatan pertandingan tingkat daerah, wilayah, nasio-

nal, dan akhirnya internasional. “Jika bicara profesionalisme, perlu ada pedoman periodisasi pembinaan yang mengarahkan pada usia berapa mulai berlatih cabang olahraga ini, dilanjutkan dengan kapan waktu spesialisasinya, dan akhirnya pada usia berapa dapat dicapai prestasi tinggi. Makin banyak memiliki kesempatan bertanding, makin baik bagi atlet cabang olahraga apa pun,” ujarnya. Namun, atlet Bali tahun 1980-an ini menyadari, untuk mencapai prestasi tertinggi, atlet dan pelatih juga membutuhkan biaya, memerlukan sarana dan prasarana yang menunjangnya secara memadai. Kebutuhan ini merupakan persoalan yang memerlukan kepedulian banyak pihak. “Jika persoalan ini tertangani, para pelatih tentu lebih tergerak untuk bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya dan senantiasa termotivasi untuk menghasilkan atlet yang berprestasi terbaik,” tandasnya. Terkait tengah berlangsungnya Porprov Provinsi Bali, Bintang Puspayoga mengharapkan atlet yang telah meraih prestasi jangan berpuas diri, terus berlatih dan berusaha lebih disiplin mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. “Mereka yang belum sempat

tkh/dok

Ny. Bintang Puspayoga menegaskan, peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September tahun ini yang bertema “Kebangkitan Olahraga Nasional Raih Prestasi Dunia”, tak ada salahnya juga dijadikan momentum membangkitkan kembali semangat berolahraga masyarakat. Semangat agar masyarakat Bali menjadi sehat berkat sadar olahraga.

Ny. Bintang Puspayoga

meraihnya, jadikan geanggang itu sebagai pemicu semangat untuk dapat mengukir prestasi lebih baik lagi, dalam semangat

“Sebab di sana akan muncul tunas yang merupakan bibitbibit olahragawan, calon-calon juara di kemudian hari, yang bisa menambah harum nama Bali,”

yang dilandasi sportivitas yang tinggi,” katanya. Ia mengharapkan, usai tiap peristiwa olahraga berlangsung, seperti Porprof, hendaknya diadakan evaluasi menyeluruh. “Pengurus, pembina, dan pelatih olahraga duduk bersama sehingga ditemukan masalah dan kekurangan yang ada demi kesinambungan pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga di daerah ini,” tambahnya. Peringatan Haornas tahun ini, kata Bintang, bagi PTMSI Bali dimanfaatkan sebagai momentum untuk merapatkan barisan, dan berlandaskan semangat kebersamaan dan kesatuan persepsi, mengadakan pembenahan, revitalisasi sistem pembinaan dan penataan kembali pengelolaan olahraga tenis meja di Bali supaya mampu bersaing di gelanggang olahraga nasional bahkan internasional. Ke depannya, Bintang Puspayoga berharap Haornas dapat dijadikan pula penyemangat untuk terus bersaing mengukir prestasi. “Sedangkan di kalangan PTMSI untuk memeriahkan peringatan Haornas tahun ini dilakukan pertandingan olahraga tenis meja di lingkungannya masingmasing. Hal ini juga sebagai langkah menggaungkan kembali program nasional untuk ’Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat’,” ujarnya. – ard

menyerahkan transkrip akademik kepada calon winisuda, muncul sebagai lulusan terbaik adalah Ni Nyoman Cipta Dewi (IPK 3, 67). Yang menarik adalah ketika tampilnya empat orang wakil mahasiswa peserta yudisium, menyampaikan pesan dan kesannya dalam empat bahasa, yakni Rusia, Inggris, Indonesia dan bahasa Bali. Mereka juga hadir dengan kemampuan public speaking yang baik, mereka adalah Desak Astari, Sumitro Marhan, Sri Ardhini dan Wayan Suartawan. Keempat perwakilan calon winisuda ini menyatakan bahwa dari aspek pendidikan dan pengajaran mereka telah memperoleh proses pemelajaran yang mengesankan dari para dosen yang berkualitas serta memiliki kesabaran sangat tinggi. Terlebih, Fikom Undwi ditunjang sarana dan prasarana perkuliahan yang memadai menjadikan kuliah berlangsung dengan sangat nyaman. Mereka juga merasa cukup terlatih dalam hal riset dan pengembangan penalaran, melalui berbagai kegiatan survei, salah satunya pemantauan Pesta Kesenian Bali serta forum-forum ilmiah

lainnya, hingga mampu membangun kultur ilmiah yang sangat bermanfaat menunjang tugas-tugas mereka di tempat kerja. Selain itu mahasiswa telah pula diasah agar lebih peka terhadap lingkungan dan kemanusiaan dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakatnya. Keempatnya sepakat menyatakan dalam tata kelola lembaga para pemangku kepentingan telah terbangun kepercayaannya. Fikom Undwi sudah melaksanakan sistem tata pamong yang kredibel, transparan dan akuntabel. Sementara, Dekan Fikom Undwi Dra. Ida Ayu Ratna Wesnawati, M.M. didampingi para pembantu dekan Drs. A.A. Gede Bagus, M.Si., Drs. I B. Gede Gama, M.Si., dan Drs. I Wayan Kotaniartha, S.H., M.H., menyampaikan jika jumlah mahasiswa di fakultasnya dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Sebab, masyarakat makin menyadari pentingnya ilmu komunikasi saat ini dan di masa depan. Fikom Undwi dikatakannya telah pula memberikan pembekalan teori dan praktik sesuai dengan kepentingan pasar kerja. “Sehingga, kami mampu menghasilkan sarjana komunikasi yang

berkualitas, terampil, mampu bekerja dan siap bersaing hingga ke tingkat nasional,” ujar Ida Ayu Ratna Wesnawati. Fikom Undwi, katanya, selain menyelenggarakan pendidikan berbasis kurikulum kompetensi, berkualitas, dan menciptakan proses belajarmengajar dengan pelayanan berwawasan nasional serta global. Terbukti dengan penekanan mahasiswa wajib menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa dunia yang tidak bisa dikesampingkan di era ini. Lebih jauh ia juga berpesan agar para lulusan Fikom Undwi yang tersebar di berbagai institusi baik negeri maupun swasta ini, terus kreatif dan inovatif bersaing di dunia kerja. “Mereka kami yakini dapat menunjukkan keahliannya dan mampu menjadi yang terdepan dengan bekal yang seimbang serta terasahnya dengan baik antara hard skill dan soft skill,” lanjutnya. Upacara yudisium kali ini tak ketinggalan diisi dengan penampilan lagu hiburan dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Fikom Undwi dengan memperdengarkan tembangtembang dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Bali. —ard


8

Tokoh

PENDIDIKAN

11 - 17 September 2011

Dongeng untuk Presiden 1

LEBIH dari sepuluh tahun lalu seorang bocah Rusia mengirim surat kepada Presiden Amerika Serikat. Isi surat itu, “Mengapa mesti perang? Mengapa tidak berdamai saja?” Surat anak kecil itu langsung dijawab sang Presiden. Jawabannya, “Semua orang cinta perdamaian.” Media massa sedunia menyambut hangat surat-menyurat itu.

A

khir-akhir ini media massa Indonesia heboh, gara-gara Presiden Indonesia membalas surat seorang tersangka koruptor yang sedang mendekap di tahanan. Surat tersangka itu berbunyi, “Saya memang bersalah. Hukum saja saya tanpa perlu diadili, tetapi saya mohon anak dan istri saya jangan diganggu.” Presiden lalu menjawab, “Negara kita negara hukum. Hormatilah hukum itu, dan berbuatlah kooperatif demi tegaknya hukum.” Mengapa balasan surat pertama disambut hangat, dan

mengapa balasan surat kedua menimbulkan pro-kontra? Jawabannya sederhana saja. Surat bocah Rusia itu dijiwai kejujuran, terang-benderang dan mudah dipahami, sedangkan surat yang kedua penuh tafsir. Cobalah ikuti komentar para pengamat dan politisi. Mereka mencermati surat itu kalimat demi kalimat, meneropong dari berbagai aspek, bahkan mencari ke liang-liang gelap, ada apa di belakang surat-menyurat itu. Nah, sementara tinggalkan saja surat-menyurat itu. Ganti saja dengan dongeng-men-

tkh/dok

Jembatan Kera Made Taro

dongeng. Bagaimana reaksi Presiden dan bagaimana media massa menanggapinya? Jembatan Kera Di hulu sebuah sungai tinggal sekelompok kera. Mereka hidup rukun dan damai. Di kiri-kanan sungai itu tumbuh beraneka pohon buah-buahan. Pohon yang paling digemari kera-kera itu adalah pohon mangga. Buah pohon itu lebat dan aromanya gurih. Pemimpin kera selalu menasihati anak buahnya. “Kamu boleh makan sekehendakmu, tetapi hati-hati, jangan sampai buah itu jatuh ke sungai!” Nasihat sang Pemimpin benar-benar ditaati. Kera-kera

itu tidak memakan buah itu di atas aliran sungai, tetapi di pinggir sungai. Suatu ketika sebiji mangga jatuh ke sungai. Hal itu terjadi bukan karena kesalahan kera, tetapi karena sarang semut. Tak ada yang tahu dalam sarang semut itu terbungkus sebiji mangga. Mangga yang ranum itu, setelah tiba waktunya, gugur. Mangga itu hanyut ke muara. Ketika buah itu melintas di pinggir kota, seseorang memungutnya. Sungguh heran dia! Baru kali itu ia melihat buah yang berwarna kuning, halus dan beraroma gurih. Ia melaporkan penemuan itu kepada Raja. Sang Raja pun terangsang. Ia mencoba mencicipi. Nyam, nyam, nyam…! Bukan main nikmatnya! Raja ketagihan. Ia menanyakan kepada seorang pendayung sampan. “Buah apa itu, dan dari mana asalnya?” “Buah mangga, Paduka! Pohon buah itu banyak tumbuh di hulu sungai,” jawab pendayung itu. Raja yang gemar berburu

itu keesokan harinya berangkat mencari asal-muasal mangga itu. “Sambil menyelam minum air,” katanya. Maksudnya sambil berburu memetik buah mangga. Setiba di hulu sungai, Raja amat kagum melihat pohon-pohon besar yang sarat buah mangga. Lebih heran lagi di cabangcabang pohon itu bergelantungan kera-kera. Raja membayangkan, sepulang dari berburu, bukan saja membawa mangga tetapi juga membawa kera hasil buruan. Para pemburu tidak sabar lagi. Mereka siap-siap membentangkan panah. Namun, apa yang terlihat? Kera-kera itu meloncat-loncat kalang-kabut. Seekor kera tua yang menjadi pemimpin kera itu berteriak keras-keras, “Tenanglah, Anakanakku! Ikuti petunjukku!” Pemimpin kera itu memanjat ke puncak pohon, lalu menggelayut-gelayut. Ketika gelayutan itu mendekati pohon di seberang sungai, kera itu meraih puncak pohon itu

kemudian memegangnya eraterat. Ia membentangkan tubuhnya menjadi sebuah jembatan penyeberangan. Lalu ia menyuruh anak-buahnya menyeberang satu per satu. Raja tak pernah mengedipkan mata melihat pemandangan yang menegangkan itu. Ia menyuruh para pemburu mengurungkan bidikannya. Berpuluh-puluh kera berhasil selamat menyeberangi jembatan itu. Tinggal seekor kera besar dan kekar. Ia menoleh kiri-kanan. Pemimpin kera sekali lagi berteriak keras agar kera besar itu menyeberang secepatnya. Namun, apa yang terjadi? Ketika kera besar itu meloncat ke punggung pemimpinnya, sang Pemimpin kehabisan tenaga. Tangan dan kakinya terlepas. Buk! Ia jatuh ke tanah di dekat Raja. Tubuhnya remuk. Sang Raja amat kasihan melihatnya. “Mengapa kau berbuat demikian?” tanya Raja sambil mengelus-elus kera itu. “Hamba harus menyelamatkan anak-

buah hamba,” jawab pemimpin Kera, lalu ia mengembuskan napas terakhir. *** Bercermin dari dongeng itu, jelaslah tugas utama Presiden adalah menyelamatkan rakyat. Tidak pandang bulu, apakah ia seorang pengusaha atau seorang miskin. Presiden tidak hanya memikirkan, apakah rakyat sudah makan atau belum, tetapi juga memberikan perlindungan keamanan dan kenyamanan. Apabila terjadi ancaman keamanan dan ketidaknyamanan hidup, tugas Presiden adalah mencari sebab-musababnya, kemudian tak segansegan menindak anak-buahnya yang menyebabkan ketidakamanan dan ketidaknyamanan itu. Pokoknya Presiden harus berdiri paling depan, berani bertindak dan sedia berkorban untuk keselamatan rakyatnya. zMade Taro Pengasuh Sanggar Kukuruyuk

Depot 3.6.9. Shanghai Dumpling and Noodle Hadir di Bali

Nency usai melakukan pemotongan pita tanda dibukanya Depot 3.6.9. Shanghai and Noodle di Jalan Raya Kuta no 44, Kuta.

BAGI penggemar dumpling dan mie, kini Depot 3.6.9. Shanghai and Noodle di Jalan Raya Kuta no 44, Kuta. Depot ini didirikan di Surabaya tahun 1957 oleh Soetojo (alm) dan bertahan hingga kini dengan 13 cabang yang tersebar di Surabaya, Jakarta, dan Bali. “Depot ini dulu dibuka bapak saya, lalu saya dan empat saudara kandung melanjutkan. Kini anak-anak kami yang mengelolanya. Jadi bisa dibilang ini depot yang dikelola dari generasi ke generasi. Pelanggan kami juga begitu, dari generasi kakek-nenek, bapak-ibu, anak hingga cucu,” ungkap Nency, pengelola generasi kedua dari depot ini disela-sela pembukaan Depot 3.6.9., Selasa (6/9). E. Suprayogi, Operation Manager 3.6.9. Gruop

menambahkan, kelebihan depot ini adalah standardisasi rasa di semua cabang. “Main kitchen ada di Surabaya. Dari Surabaya, kami mengirim bahan ke cabang-cabang. Hal ini dilakukan agar konsumen yang berada di Surabaya, Jakarta, dan Denpasar mendapat rasa yang sama,” tandasnya. Pria yang akrab disapa Yogi ini mengatakan produk Depot 3.6.9. tidak menggunakan zat pewarna dan pengawet. Karena itu disarankan, hidangan dumpling dan mie langsung disantap begitu disajikan. Dumpling adalah jenis makanan yang dibungkus adonan kulit tepung. Makanan ini bisa menjadi makanan kecil atau pendamping menu utama. Ada empat varian dumpling yang disajikan Depot 3.6.9. yakni xiao long bao, quo tie, jiao zi, dan bak pao goreng. Sedangkan untuk mie tersedia mie kuning, mie putih, mie sayur, dan bihun. Ekspansi Depot 3.6.9. ke Bali menurut pria asal Genteng, Banyuwangi ini sudah dipersiapkan sejak tahun lalu. Namun, manajemen mempertimbangkan untuk melakukan penguatan di Jakarta dan Surabaya dulu, baru menyasar Bali. 3.6.9. Group memiliki 13 unit usaha yang terdiri dari San Liu Jiu Cuisine di Surabaya sebagai restoran kelas premium, 11 depot yang tersebar di Surabaya, Jakarta, dan Bali, serta 1 Quo Tie Krekot sebagai dumpling house di Jakarta. “Di Bali kami optimis bisa berkembang, apalagi Bali menjadi daerah tujuan wisata domestik dan internasional. Tidak tertutup kemungkinan kami akan membuka cabang lagi di Bali,” tandas Yogi. –bns

Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Gelar Seminar Alumni

Kebinekaan untuk Cegah Disintegrasi Bangsa MEMBAHAS masalah kebangsaan tak bisa dilepaskan dari konsep kebhinnekaan. Hal ini disebabkan beragamnya kultur bangsa Indonesia. Keragaman ini harus dijadikan penguat untuk mencegah terjadinya disintegrasi. Demikian antara lain yang terungkap dalam Seminar Alumni Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar yang bertema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam Kebinekaan untuk Mencegah Disintegrasi Bangsa” di aula Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Selasa (6/9). Seminar yan dipandui Made Wahyu Chandra Satriana, S.H. menghadirkan tiga narasumber, Ni Nyoman Sri Mudani, I Nyoman Dharma Wiasa, S.Kp, S.H., M.M., dan Drs. I Ketut Windia, S.H., M.H. Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum. dalam sambutan pembukaan seminar mengatakan, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak turun dari langit tetapi melalui perjuangan para pahlawan. “Sejarah mencatat, saat membahas kemerdekaan, ada perbedaan pendapat di antara para tokoh-tokoh nasional. Namun, mereka berhasil menemukan benang merah bahwa dasar Indonesia merdeka adalah Pancasila.

Dyatmikawati

Pancasila merupakan intisari nilai-nilai budaya Indonesia,” tegasnya. Ia juga mengatakan negara kesatuan Republik Indonesia memiliki keragaman seperti yang digambarkan dengan Bineka Tunggal Ika. Persatuan dan kesatuan NKRI ini harus terus dijaga dan keragaman tidak boleh mematikan kemajemukan. Sebaliknya, kemajemukan tidak boleh jadi faktor pemecah NKRI. Sri Mudani yang membawakan makalah dengan topik “Dari Kampus Membangun Spirit Kebangsaan” menyampaikan komponen kampus harus mengambil peran memberi kontribusi pemikiran untuki mencegah terjadinya disintergrasi bangsa. Menurutnya, saat ini ma-

Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra melantik pengurus BEM periode 2011-2013

syarakat sedang galau hingga mengalami kemerosotan spirit kebangsaan yang ditandai dengan tantangan global, menguatnya semangat etnonasionalisme, hingga merebaknya konflik horisontal berlatar belakang SARA. Karena itulah insan kampus harus melakukan revitalisasi spirit kebangsaan dengan membangun kesadaran intelektual dengan berpartisipasi dalam mengatasi persoalan bangsa. “Spirit kebangsaan terbangun dari empat pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bineka Tunggal Ika. Nilainilai kemudian diaktualisasikan sebagai modal membentuk jati diri dan karakter bangsa untuk membangun peradaban masyarakat yang jujur, mandiri, taat aturan, dapat dipercaya, tangguh, beretos kerja tinggi sehingga menghasilkan sistem kehidupan sosial yang baik dan teratur untuk memenangkan persaingan global,” papar Wakil Ketua KPI Daerah Bali yang aktif di berbagai organissasi kepemudaan ini. Dharma Wiasa yang menyampaikan materi “Komunikasi Therapiutik Mengatasi Konflik secara Kekeluargaan” mengatakan, hubungan interpersonal antar-kolega, kelompok, keluarga, maupun orang lain dapat menjadi sumber konflik. Penyebab konflik meliputi ketidakjelasan uraian tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar kebijakan yang tidak jelas, perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. “Konflik dapat dicegah dan diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi therapiutik, dan saling pengertian sesama. Komunikasi therapiutik dapat dipelajari dan dapat diterapkan semua orang,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Dwijendra tahun 2009 yang juga Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Denpasar ini.

Komunikasi therapiutik diartikan sebagai proses yang digunakan dengan memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, berrtujuan, dan kegiatannya dipusatkan pada orang lain. Komunikasi therapiutik ini termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberi pengertian dan saling membutuhkan. Sementara itu Windia memberi pemaparan mengenai “Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dosen Fakultas Hukum Universitas Dwijendra ini mengakui lemahnya wawasan kebangsaan generasi muda Indonesia saat ini. Ini ditandai dengan munculnya kerusuhan, perang antarkampung, konflik antarbanjar, dan perkelahian pemuda. Ia pun menjelaskan teoriteori yang terkait dengan kebangsaan serta mengungkapkan untuk menetapkan konsep wawasan kebangsaan, perlu dua aspek, yakni aspek moral

Dari kiri: Made Wahyu

Chandra Satriana, S.H., Drs. I Ketut Windia, S.H., M.H., Putu Dyatmikawati, S.H.,M.Hum., Ni Nyoman Sri Mudani, dan I Nyoman Dharma Wiasa, S.Kp, S.H., M.M.

dan aspek intelektual. Pelantikan BEM Acara seminar alumni juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Dwijendra

periode 2011-2013 yang diketuai I Wayan Dikep. Pelantikan ditandai dengan pemasangan topi kepada pengurus yang baru ini. Dekan Fakultas Hukum berpesan kepada pengurus BEM untuk mengatur waktu

dengan baik dan menjadikan kuliah tetap jadi prioritas. “Kuliah dan belajar tetap menjadi prioritas. Imbangi dengan meraih sukses demi kejayaan institusi. Berikan prestasi di tingkat regional dan nasional,” pintanya. —wah

Alumni “Jendela Etalase” Kampus Sebanyak 350 calon winisuda mudah dan banyak rintangan. Fakultas Hukum Universitas Apalagi ada mahasiswa yang Dwijendra Denpasar diyudisium, sudah berkeluarga dan bekerja. NaRabu (7/9) di Hotel Sanur Paradise mun, ia salut karena para mahaPlaza. Yudisium dan pelepasan siswanya itu bisa mengatur waktu calon winisuda XXII juga dihadiri dengan baik. Pembina, Pengawas, dan Ketua “Dengan semangat, tekad yang Yayasan Dwijendra Pusat kuat, dedikasi yang tinggi penuh Denpasar, Rektor Universitas disiplin, saudara-saudara berhasil Dwijendra Denpasar, para Dekan melewati ujian hingga dinyatakan dan Kepala Unit di Yayasan Dwilulus. Tugas saudara-saudara jendra Pusat Denpasar. selanjutnya adalah menjadi Dalam kesempatan tersebut “jendela etalase” Fakultas Hukum Dekan Fakultas Hukum UniversiUniversitas Dwijendra. Jaga nama tas Dwijendra Putu Dyatmikawati, baik almamater, di mana pun S.H.,M.Hum. mengatakan yudiDekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Putu saudara-saudara berada. Jadilah Dyatmikawati, S.H.,M.Hum. memberi selamat kepada calon sium dan pelepasan calon winisarjana yang sujana, abadikanlah winisuda Fakultas Hukum Universitas Dwijendra Denpasar suda merupakan upacara sakral pengetahuan untuk kepentingan bagi dunia kampus. “Yudisium masyarakat, nusa, dan bangsa,” menandakan civitas akademika telah dibacakan enam mahasiswa berprestasi, ujarnya. Ia juga menegaskan Fakultas mampu menyelenggarakan proses yakni Krisna Satrya Nugraha Taira, Kadek Hukum Universitas Dwijendra Denbelajar-mengajar sehingga mahasiswa- Supendodi, I Wayan Widiada, Ida Bagus pasar adalah PTS yang berada di nya berhasil lulus dan memperoleh gelar Rai, I Ketut Dana, dan I Nyoman Budiana. bawah naungan Kopertis Wilayah VIII akademik strata satu,” tegasnya. Dyatmikawati menyadari perjuangan Bali, NTB, dan NTT yang terakreditasi Dalam kesempatan tersebut juga mahasiswanya untuk meraih gelar ini tidak dengan nilai A. –wah


BUDAYA

11 - 17 September 2011 Tokoh 9

Langkah Menuju World Cultural Forum di Bali

T

AHUN 2012, Bali akan menjadi tempat penyelenggaraan World Cul tural Forum (Forum Budaya Dunia). Ini merupakan forum internasional yang dirancang setara dengan World Economic Forum yang secara reguler dilaksanakan di Davos, Swiss.

masuk Indonesia, sedangkan jendela bagi siapa saja di Indonesia utuk melihat ke luar agar memperoleh gambaran tentang situasi mancanegara. Tetapi, bukankah itu bisa dilakukan di daerah mana saja? Apa istimewanya jendela Bali? “Dengan memakai jendela Bali, karakter Bali, yang memuliakan keselarasan, dunia akan terlihat lebih ramah. Dalam keramahan semuanya akan berKongres Kebudayaan 1937 langsung lebih lancar dan mutual,” Kongres Kebudayaan Bali katanya seperti menegaskan setahun 1937 diangkat sebagai topik potong kontribusi Bali dalam makalah oleh sejarawan muda dari pembentukan karakter bangsa. —dwi UGM, Dr. Sri Margana. Menurut ahli sejarah tamatan Belanda ini, tahun 1937 Java Instituut menggelar kongres kebudayaa Bali di Bali Hotel, yang tujuannya untuk mengenal lebih dalam seni dan budaya Bali. “Kongres ini semacam langkah mengukuhkan citra Bali tradisional yang sudah diciptakan secara akademik dan politik oleh Belanda,” kata Margana. Bagi Java Instituut, kebudayaan Bali tahun 1900-an dianggap sebagai kebudayaan Jawa abad ke-14/15, ketika runtuhnya Majapahit. Menyinggung tentang kebalian, Margana melihat dominannya peran budaya, dibandingkan agama, dalam konstruksi identitas Bali. “Kita sering menonton tari Bali dipentaskan orang non-Bali di Indonesia atau panggung di luar negeri. Kebalian bisa dihadirkan di mana saja, oleh siapa saja,” kata Margana. Darma Putra Pembicara lain yang tampil IDENTITAS Bali dalam kondalam seminar adalah Prof. Stephen teks kebangsaan sepanjang abad Lansing dari AS yang berbicara ke-20 mengalami metamorfose tentang proses pengusulan landyang paralel dengan situasi sosial scape budaya Bali menjadi warisan politik. Demikian disampaikan budaya UNESCO, Prof Gde Prof. I Nyoman Darma Putra, Pitana tentang kontribusi Bali M.Litt, lewat makalahnya dalam dalam pembentukan karakter seminar “Kontribusi Bali Dalam bangsa, Prof Darma Putra tentang Pembentukan Karakter Bangsa, metamorfose identitas Bali abad Kebudayaan Nasional dan Gloke-20 lewat refleksi sastra dan bal”. media massa, Janet deNeefe (AusIdentitas kedaerahan (ketralia/Ubud) tentang kuliner Bali di balian) sangat menonjol zaman dunia internasional, Dr. Jean kolonial, zaman kemerdekaan Cauteau tentang citra Bali dalam identitas keindonesiaan sangat lukisan Barat, dan sastrawan Putu menonjol sementara kebalian bergeser ke latar belakang. Pada Wijaya tentang orang Bali dalam zaman Orde Baru keindonesiaan ruang kosmopolitan. dan kebalian cukup berimbang tetapi bersifat apolitik. Orde Baru Pintu dan Jendela Bali mendominasi arena politik untuk Menurut Putu Wijaya, Bali meng-ajeg-kan kekuasaannya, merupakan pintu dan jendela. sedangkan masyarakat ‘tidak Pintu bagi siapa saja yang ingin boleh berpolitik’.

say dari Australia, misalnya, banyak melakukan penelitian di bidang misi pertunjukan kesenian Indonesia ke luar negeri. “Kesenian Bali selalu menjadi bagian dalam misi kesenian Indonesia,” kata Jenny, penulis buku Klasik, Kitchs, Kontemporer; Sebuah Studi tentang Seni Pertunjukan Jawa (1991).

Metamorfose Identitas Bali

Misi Kesenian dan Mengajar Bali, menurut Jenny, tidak hanya diberikan kehormatan dalam tim misi kesenian yang terjadi berulang kali tahun 1950-an dan 1960-an, tetapi juga dimintai tenaga seniman untuk mengajar kesenian di luar negeri. Tahun 1956-57, empat seniman Bali yaitu Wayan Likes, Nyoman Artha, Wayan Badon dan Wayan Mudana, dikirim ke Cina untuk mengajar tari Bali di Akademi Tari di Beijing setahun. Posisi Bali tampaknya penting sekali tidak hanya memperkenalkan identitas Indonesia di panggung dunia, tetapi juga memberikan kontribusi pengenalan kesenian bangsa Indonesia kepada masyarakat internasional. Sebuah kehormatan luar biasa bagi seniman Bali untuk mengajar tari di lembaga pendidikan kesenian di Cina. Pengenalan kesenian Bali bagi warga dunia berlanjut sampai sekarang, seperti terlihat hadirnya kelompok tari dan tabuh Bali di berbagai negara seperti Inggris, Belanda, AS, dan Australia. Kebanyakan mereka belajar seni tari Bali dan tabuh di lembaga pendidikan yang guru atau pelatihnya didatangkan dari Bali. Banyak juga anggota kelompok itu yang sengaja ke Bali belajar menabuh sambil berlibur. Menurut Jenny Lindsay, sumbangan Bali pada kesadaran budaya secara nasional tidak dapat dipisahkan dari penampilan Indonesia di panggung dunia pada awal

Menuju WCF Menurut Jero Wacik, persiapan menuju World Cultural Forum sudah terus dilaksanakan, mulai dari di Yogya tahun 2010, di Bali Juni 2011 bersamaan dengan pelaksanaan Pesta Kesenian Bali. “Seminar di Unud kali ini juga merupakan salah satu langkah untuk menuju World Cultural Forum,” tegas Jero Wacik. Ketua Puslit Budpar Unud Dr. Anak Agung Suryawan Wiranatha, selaku pemrakarsa mengatakan seminar dimaksudkan untuk mencari masukan pemikiran untuk disumbangkan dalam World Cultural Forum. “Sebagai daerah yang terkenal akan budaya dan menjadi daerah internasional karena perkembangan pariwisata, Bali memiliki banyak pengalaman menarik dalam pengelolaan nilainilai kearifan lokal di era global,” ujar A.A .Suryawan. Seminar menampilkan delapan pemakalah dari dalam dan luar negeri yang banyak melakukan penelitian di bidang kebudayaan Indonesia dan Bali. Jennifer Lind-

Jenny Lindsay

tkh/sep

tkh/sep

tkh/sep

Memasuki era Reformasi, metamorfose identitas terjadi secara radikal, ditandai menguatnya kebalian. Kebalian lebih primer, sedangkan keindonesiaan

Dr. Sri Margana

Putu Wijaya

tkh/sep

Bali menuju Warisan Budaya Dunia BENTANG alam dan budaya Bali kini sedang dalam proses pengusulan sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO. Proposal usualan disusun Pemprov Bali dengan konsultan lokal dan asing, diajukan Menbudpar atas nama negara ke UNESCO. Usulan sudah masuk ke UNESCO, dan pertengahan Oktober ini tim verifikasi UNESCO akan datang ke Bali untuk inspeksi lapangan. Dalam seminar di Unud, Prof. Stephen Lansing dari AS yang ikut menyusun proposal ke UNESCO mengatakan, Bali tengah bersiap untuk menyambut tim verifikasi. “Ini merupakan usulan Bali untuk kelimakalinya ke UNESCO, selama ini gagal. Kalau kali ini gagal lagi, peluang itu akan hilang,” kata Stepehen Lansing, ahli subak penulis buku Priests and Programmers; Technologies of Power in the Enginereed Landscape of Bali (1991). Sebelumnya Bali pernah berancang-ancang mengusulkan Besakih sebagai warisan budaya dunia, juga situs purbakala di daerah aliran sungai Pakerisan, namun usulanusulan itu tidak membuahkan hasil. “Kini sebaiknya diusahakan dengan baik sehingga berhasil. Kalau tidak,

Prof. Lansing

pemerintah mungkin tidak akan mengusulkan Bali lagi, karena ada calon lain seperti Pulau Nias,” kata Prof. Lansing yang pintar berbahasa Bali karena sering bergaul dengan petani dan pekaseh. Dalam usulan kali ini, Bali mengajukan beberapa wilayah subak sebagai warisan budaya dunia. Daerah tersebut termasuk Subak-subak Catur Angga Batukaru termasuk daerah persawahan indah Jatiluwih dan Subak-subak wilayah irigasi Tukad Pakerisan yang berisi peninggalan purbakala. Jika berhasil ditetapkan sebagai

Suasana seminar kebudayaan ‘Kontribusi Bali Dalam Pembentukan Karakter Bangsa, Kebudayaan Nasional dan Global’, Kamis (8/9) di Gedung Pascasarjana Unud.

warisna budaya dunia oleh UNESCO, komitmen pelestarian sistem subak dengan segala nilai budaya dan fisiknya akan makin kuat. Bantuan dari UNESCO dan dunia lainnya akan tersedia. Yang juga penting, warisan budaya dunia ini akan mendapat promosi dan memperkuat status Bali sebagai daerah tujuan wisata budaya. Namun, menurut Prof. Lansing, sejauh ini masih banyak butir yang ada dalam proposal yang perlu dikerjakan, disiapkan, dan disosialisasikan kepada masyarakat. Misalnya, masyarakat di sekitar daerah persubakan belum mendapat sosialisasi optimal tentang rencana ini. Masih banyak di antara mereka belum mengerti tentang WBD. Kantor Warisan Budaya Dunia (WBD) Bali belum ada, kelompok kerja dewan pembina belum mulai bekerja. “Rencana-rencana manajemen pengelolaan WBD yang tertuang dalam proposal belum mulai terlaksana,” kata Prof. Lansing. Namun, dalam waktu pendek ini, solusi untuk menyambut kedatangan tim verisfikasi akan dicari sehingga Bali bisa siap menerima tim verifikasi sehingga usulan Bali kali ini bisa goal. —dwi

tkh/sep

World Cultural Forum dimaksudkan sebagai ajang untuk membahas pentingnya arti budaya dalam kehidupan global. Indonesia ingin memberikan kontribusinya kepada dunia untuk memperbincangkan peran budaya menjaga dinamika tatanan kehidupan masyarakat internasional. “World Cultural Forum akan dilaksanakan tiap tahun di Indonesia,” ujar Menbudpar Jero Wacik dalam sambutannya saat membuka seminar kebudayaan ‘Kontribusi Bali Dalam Pembentukan Karakter Bangsa, Kebudayaan Nasional dan Global’, Kamis (8/9) di Gedung Pascasarjana Unud. Seminar ini dilaksanakan Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Unud bekerja sama dengan Kementerian Budpar.

tkh/sep

republik RI dan harus dipandang juga sebagai suatu proses saling tukar antarseniman dari berbagai daerah. “Dalam sikap keterbukaan dan pendekatan ‘ingin tahu’ yang memang menandai periode awal republik Indonesia,” kata Jenny yang menyunting buku (bersama Maya Liem) Heirs to world culture; being Indonesian 1950-1965, diteritkan KITLV Press 2011.

I Gde Pitana

sekunder. “Perubahan identitas ini sangat dipengaruhi situasi politik,” ujar Darma Putra, penulis buku Bali Dalam Kuasa Politik (2008). Nasionalisme Telat Pada awalnya, kata Darma, Bali terlambat berkenalan dengan nasionalisme. Tahun 1908, ketika Budi Utomo berdiri di Jawa, yang hari lahirnya 20 Mei 1908 itu dijadikan Hari Kebangkitan Nasional, Bali baru saja ditumpas habis oleh kekuatan militer Belanda lewat dua perang, yaitu Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908). “Dalam situasi krisis begitu, tentu sulit berharap nasionalisme bisa berkembang di Bali,” ujar Darma Putra, dosen Fakultas Sastra Unud. Lagi pula, kata Darma, pemerintah Belanda yang berambisi mempertahankan Bali tradisional melakukan proteksi ketat agar pengaruh buruk (evil spirit) dari luar sampai masuk ke Bali. Salah satu dari pengaruh buruk yang dimaksud adalah ‘nasionalisme’.

“Karena tekanan kolonial, kaum terpelajar Bali tidak diizinkan berpolitik,” tutur Darma. Usaha Belanda membuat Bali tradisional membuat orang Bali sibuk mendalami urusan internal bahkan kelompok-kelompok kecil mereka antara lain berdasarkan kasta, sementara kesadaran lebih luas untuk membangun kebalian apalagi kebangsaan (Indonesia) tidak tumbuh samasekali. Walaupun peluang tumbuhnya nasionalisme dihalangi ketat oleh Belanda, kata Darma, bukan berarti Bali pasif dalam pembentukan budaya bangsa. Buktinya, masyarakat Bali gencar menggunakan bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa tulis dan komunikasi seharihari. Lihatlah surat kabar atau majalah yang terbit di Bali 1920an dan 1930-an, seperti Surya Kanta, Bali Adjana, Djatajoe, semuanya menggunakan bahasa Melayu/Indonesia, demikian juga karya sastra. “Ketika kesadaran keindonesiaan dicetuskan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, dengan sendirinya orang Bali menjadi bagian dari timbulnya kesadaran baru itu karena mereka sudah merasa memiliki bahasa nasional Melayu/Indonesia,” kata Darma Putra. Andaikan, kata Darma, cendekiawan Bali tidak menggunakan bahasa Melayu/Indonesia tetapi hanya berbahasa Bali, betapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk menjadi bagian dari kesadaran keindonesiaan ketika Sumpah Pemuda dicetuskan. Sesudah kemerdekaan, nasionalisme di Bali begitu kuat, banyak karya sastra yang bertema keindonesiaan, nasionalisme, ganyang Malaysia, dan marhaenisme yang dipropagandakan Presiden Sukarno. Tahun 1948, ketika jurnalis Bali menerbitkan koran, nama yang dipilih adalah Suara Indonesia (cikal bakal Bali Post), pilihan yang menunjukkan kuatnya semangat

nasionalisme Bali. Kontribusi Sastra Kontribusi lain Bali dalam pembentukan budaya bangsa terlihat dari tradisi media massa dan karya sastra. Sastrawan Bali, sejak 1930-an sampai sekarang, seperti Panji Tisna, Putu Wijaya, Gde Aryantah Soethama, Oka Rusmini, dan Cok Sawitri, menyumbangkan banyak karya yang memperkaya sastra Indonesia. Kebanyakan karya terkenal sastrawan Bali mengambil tema adat dan budaya Bali. “Justru dengan menggali kebalian itulah mereka menyumbangkan khazanah budaya etnik ke dalam mozaik budaya Indonesia. Lewat warna-warni bidaya itu, Bali ikut membentuk identitas atau karakter (budaya) bangsa,” kata Darma Putra. Dari Bali Meng-Indonesia Bali memiliki banyak nilai yang memberi inspirasi kepada bangsa dan masyarakat internasional untuk diadopsi. Prof. I Gde Pitana dalam makalah “Kontribusi Bali Dalam Pembentukan Karakter Bangsa, Dulu Kini dan Nanti”, menyebutkan kekayaan arsitektur Bali dan tradisi Nyepi. Keindahan arsitektur Bali telah memberikan inspirasi kepada masyarakat dunia untuk dikembangkan sebagai gaya rumah dan tempat tinggal di berbagai belahan dunia. “Meningkatnya minat masyarakat asing terhadap rumah dengan model arsitektur Bali mengandung arti penyebaraluasan kebudayaan Bali di dunia internasional,” ujar Prof. Pitana, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya Kementerian Budpar. Guru besar ilmu pariwisata Unud itu juga menyebutkan hari Nyepi yang memberikan inspirasi dunia berkaitan dengan kelestarian lingkungan. —dwi


10

Tokoh

BUMI GORA

11 - 17 September 2011

Lebaran Topat

Nyekar sambil Rekreasi Lebaran Topat merupakan tradisi masyarakat Sasak, Lombok. Melihat besarnya minat masyarakat Sasak untuk terus mempertahankan tradisi ini, segenap jajaran pemerintah daerah ini ikut mendukung melestrarikan tradisi langka ini, dengan menggelar pesta rakyat saat Lebaran Topat berlangsung.

R

atusan ribu orang akan memadati makam-makam tokoh, Tuan Guru yang disucikan, untuk berziarah. Setelah ziarah makam berakhir, mereka biasanya melakukan syukuran di tempat tersebut sambil makan bersama, dengan menu khas Lebaran Topat yang memang sudah disiapkan sebelumnya, dilanjutkan dengan santai bersama layaknya orang berekreasi. Salah satu tradisi yang kuat mengikat masyarakat suku Sasak Lombok adalah Lebaran Topat. Perkembangan zaman yang pesat, tidak melunturkan tradisi yang digelar seminggu usai hari raya Idulfitri ini. Kemeriahan lebaran Topat, bahkan mampu mengalahkan meriahnya perayaan Idulfitri. Lebaran Topat dirayakan secara besar-besaran, pada tanggal 7 Syawal tahun Hijriah, yang pada tahun 2011 ini jatuh pada 7 September. “Idulfitri bagi masyarakat Sasak Lombok, dimaknai sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadan,” ungkap T.G.H. Hasanain Juaini, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri. Meriahnya perayaan Idulfitri bagi masyarakat Sasak bisa dibilang pada tanggal 1 Syawal saja. Karena, mulai tanggal 2 Syawal, keesokan harinya setelah Idulfitri, masyarakat muslim Sasak, langsung melakukan puasa Syawal selama enam hari. Jadi, tidak ada perayaan berlebihan di hari tersebut. Perayaan lebaran besarbesaran justru terjadi pada seminggu setelah Hari Raya Idulfitri. Setelah puasa Syawal tersebutlah masyarakat Sasak akan menumpahkan segala kegembiraan dengan berlebaran topat. Peristiwa unik yang merupakan tradisi masyarakat suku Sasak Lombok ini, sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya. Pada hari Lebaran Topat, seluruh keluarga berkumpul untuk menikmati acara makanmakan. Begitu pula para tetangga dan kerabat. Lebaran Topat jadi ajang silaturrahmi sekaligus saling menjamu antara yang satu dengan yang lainnya. Pada saat itu, suasana tidak ubahnya seperti perayaan Idulfitri, suara bedug pun ditabuh bertalu-talu sebagai tanda perayaan. Pantai dan makam-makam yang dikeramatkan di Lombok, akan kebanjiran peziarah. Karena itu, bisa dipastikan tiap tahunnya, masyarakat Sasak akan tumpah ruah di mana acara tersebut dipusatkan. Dalam tradisi Lebaran Topat oleh masyarakat dirayakan di rumah, di masjid-masjid dan di lingkungan kampung. Yang kemudian berlanjut dengan ziarah kubur. Saat berkumpul dengan seluruh keluarga yang sangat jarang terjadi itulah, kemudian dipakai sebagai momen untuk ziarah ke makam

Pohon beringin di Makam Loang Balok, Mataram, merupakan pohon harapan para peziarah

keluarga atau makam tokoh agama. Kebahagiaan tersebut selanjutnya ditumpahkan dengan berwisata bersama di pantai. Pantai memang menjadi tujuan utama masyarakat untuk berlebaran Topat. Tempat rekreasi Lebaran Topat antara lain, Kecamatan Batulayar di Wilayah Batulayar, Kecamatan Pemenang di Pantai Bangsal, Kecamatan Tanjung di Pantai Medane, Kecamatan Gerung di Pantai Endoq, Kecamatan Lembar di Pantai Tebel, Kecamatan Narmada di Taman Narmada, dan Kecamatan Lingsar di Taman Lingsar. Tempattempat yang paling ramai dikunjungi saat Lebaran Topat adalah pantai. Jadi, tidak heran, jika tiap tahun saat Lebaran Topat, sepanjang pantai dari Ampenan sampai Tanjung, akan dipadati pengunjung. Yang paling ramai kunjungan adalah Pantai Senggigi, Lombok Barat. Tiap kali perayaan Lebaran Topat berlangsung, lalu lintas, utamanya yang menuju tempattempat pusat perayaan seperti Senggigi bisa dipastikan mengalami kemacetan. Selain Makam Batu Layar, Makam Loang Balok juga merupakan tempat paling ramai dikunjungi. Di makam ini, masyarakat berbondongbondong berziarah ke makam

yang berada di tengah pohon beringin tersebut. Ada yang unik yang terjadi di areal makam ini. Pada akar-akar beringin yang menjuntai, para peziarah mengikat seutas tali dari apa saja yang ditemuinya. Ritual mengikat tali ini selalu dilakukan para peziarah sebagai sebuah hajat atau harapan yang sedang diniatkan. Setelah hajat atau harapan tersebut terkabul, maka mereka akan datang kembali untuk membuka tali tersebut. Makam yang dikeramatkan ini menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi. Makam ini merupakan makam Tuan Said Gaos Abdul Rajak. Bukan hanya masyarakat Mataram yang menziarahi makam tersebut, tetapi juga dari Lombok Tengah, Lombok Timur bahkan dari seluruh pelosok Pulau Lombok. Konon, sebelumnya makam tersebut berada di Sekarbela, beberapa kilometer dari Loang Balok. Tiap kali melewati makam tersebut, A.A. Gde Ngurah, yang kala itu berkuasa di Lombok, selalu terjatuh dari kudanya. Sehingga diputuskanlah untuk memindahkannya ke Loang Balok, persis berhadapan dengan pesisir pantai Tanjung Karang. Nama dan cerita ini diperoleh dari penjaga makam tersebut, Mahri.

Makam ini tergolong unik, berada tepat di tengah-tengah akar pohon beringin berukuran raksasa yang menaunginya. Ramainya orang berziarah, membuat makam ini tetap basah dan ditaburi bunga-bunga segar sepanjang hari. Silih berganti, peziarah bersama rombongannya masuk ke dalam akar beringin yang terbilang sempit. Jika rombongan cukup banyak, makam tersebut akan terasa sesak. Terlihat para peziarah membasuh muka dengan air yang disiramkan di makam, hingga memandikan anak-anak dengan air dan bunga dari makam tersebut. Dzikir dan doa dilantunkan beberapa saat, lalu diiringi beberapa permintaan. Makam ini tergolong unik, ratusan ribu bahkan jutaan ikatan baik dari tali atau apa saja yang bisa diikat, terlihat memenuhi setiap ruas akar beringin baik di dalam maupun di sekitar makam. Rupanya, ikatan tersebut sebagai simbol dari nazar para peziarah. “Biasanya jika ada permintaan atau pengharapan, peziarah mengikat sesuatu lalu akan dibuka kembali saat permintaan tersebut terkabul atau ikatan tersebut sebagai tanda bahwa nazarnya berziarah ke Loang Balok kesampaian,” kata Mahri. Dalam tradisi Lebaran Topat,

Masyarakat Sasak Lombok, sebelum acara makan bersama yang dilanjutkan dengan rekreasi, mereka melakukan prosesi inti dari lebaran topat ini, berturut-turut, nyangkar (nyekar), lingkoq (sumur) mas dan ziarah makam. Nyangkar dilakukan setelah acara rowah (selamatan) di masjid, mushala atau pesantren terdekat tempat mereka tinggal. Kemudian secara beramai-ramai, masyarakat Sasak akan menuju makam untuk berziarah. Sebagian besar mereka akan memakai transportasi tradisional, cidomo (dokar, bendi atau semacamnya). Para peziarah ini, biasanya membawa makan khas berupa topat (ketupat) serta lauk pauknya yang terdiri dari, plalah manuk (ayam), teloq (telur) opor, olah-olah (sayuran hijau semacam bahan gado-gado, tetapi dicampur santan mentah yang sudah diberi bumbu), gula lemak (semacam rendang), tolang kedele (biji kedelai yang direndam kemudian digoreng kering) dan urap jambah (biji kacang hijau yang setengah jadi kecambah). Bagi mereka yang melakukan ziarah makam di makam Batulayar, Senggigi di mana acara lebaran topat ini dipusatkan, sebelum naik ke makam yang terletak di atas bukit, mereka mengambil air untuk bejanjam di lingkoq (sumur kecil) Mas kecil yang disucikan, letaknya dibawah

makam. Air dari lingkoq Mas ini lalu dibawa ke makam menggunakan ceret berwarna kuning. Sesajian itu, lanjutnya, terdiri dari Penginang Pidade yang diisi rokok lekes, Jembung kuning tempat ceretan, beras kuning, empok-empok rerake dan kejames. Air yang diambil dari lingkoq Mas ini, kemudian dibawa ke makam Batulayar untuk menyiram makam dan beseraup (mencuci muka sambil mengucapkan niat, doa dan harapan). Tahlil dan zikir yang disertai doa-doa dengan dipimpin oleh pemuka agama, Kiai atau Ustad atau Tuan Guru setempat. Setelah acara ini berakhir, air dari lingkoq Mas tadi dipakai untuk menyiram makam sekaligus untuk mencuci muka dengan berbagai doa dan harapan, setidaknya menjadi teladan seperti orang yang makamnya mereka kunjungi. Setelah seluruh rangkaian ritual ini berakhir, para peziarah makan bersama seperti orang selamatan. Barulah mereka berpencar memenuhi bibir-bibir pantai untuk bersenang-senang. Makanan yang mereka bawa, tentunya cukup untuk sekeluarga sampai sore menjelang. Karena mereka biasanya berangkat untuk melakukan ziarah makam pada saat lebaran topat ini pada pagi hari dan berakhir hingga sore. Salah satu tempat ramai yang dikunjungi peziarah khususnya

yang berasal dari Lombok Barat dan Kota Mataram, pada saat lebaran topat adalah makam Batulayar. Makam ini terletak di desa Batulayar yang berjarak sekitar 10 km sebelah utara Kota Mataram, di atas sebuah bukit yang tingginya lebih kurang 50 meter di atas permukaan laut. Sekitar 100 meter dari pantai menghadap pantai barat pulau Lombok. Makam Batulayar yang dikenal sekarang merupakan tempat pemakaman umum dengan luas 1,5 ha. Sekitar 0,5 ha dari pemakaman tersebut terdapat makam khusus yang dikeramatkan oleh sebagian besar masyarakat Sasak, yang disebut makam Batulayar. Tokoh yang dimakamkan di makam tersebut bernama Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami. Di samping makam tersebut terdapat sebuah makam lagi, menurut berita penelitian arkeologi No. 12 Tahun 1977, makam tersebut diduga makam istrinya. Sebagian besar masyarakat di Pulau Lombok, meyakini bahwa tokoh tersebut memiliki ilmu yang sangat tinggi dan disegani sehingga sangat dikeramatkan. Berziarah ke makam tokoh yang memiliki keteladanan dan kharismatik tersebut sudah menjadi tradisi masyarakat Sasak yang turun temurun sejak berabad-abad silam. Biasanya, tujuan peziarah bermacam-macam sesuai dengan nazar dan harapanharapan tertentu.—nik

Wisata ziarah menjadi bagian perayaan Lebaran Topat masyarakat tradisional Sasak, Lombok

YSDS Malukat dan Sembahyang Bersama di Pura Agung Semanik Pelaga, Petang, Badung Dalam perjalanan spiritual sepertinya tidak ada kata berhenti sehingga semua bentuk perjalanan spiritual seperti air mengalir. Yayasan Spiritual Dharma Sastra kembali melakukan kegiatan malukat dan persembahyangan bersama di Pura Agung Semanik Pelaga, Petang, Badung pada Minggu (11/9) pukul 09.00. Pura Agung Semanik merupakan sebuah pura yang terletak di Br. Semanik Pelaga Petang, Badung, dari Denpasar dapat ditempuh satu jam perjalanan dengan menyusuri jalan yang berliku dengan pemandangan gunung yang indah serta udara yang bersih dan sejuk. Yang khusus dan penuh makna spiritual dari Pura Agung Semanik ini, adanya sebuah lingga yoni yang dikeramatkan serta berada di utama mandala. Batu lingga yoni ini khusus diperoleh dari segara Pura Batu Klotok Klungkung dan semua itu berdasar petunjuk Yang Maha Kuasa. Setiap kegiatan persembahyangan di pura ini pasti dilakukan persembahan bunga teratai tiga warna (bunga teratai putih, merah, dan kuning) pada lingga yoni tersebut. Ada pun makna dan filosofi persembahan bunga ini, memohon kesucian, pengampunan, kesejahteraan, keturunan, jodoh, pekerjaan, usaha, leluhur. Telah banyak pemedek yang membuktikan setelah sembahyang di pura ini terkabulkan doanya. Acara malukat dan sembahyang bersama ini terbuka untuk masyarakat umum yang berminat. Sarana persembahyangan yang dapat dibawa seperti pejati, canang, dupa, air, bunga, serta untuk sarana malukat cukup membawa air bersih (air kumkuman), sangku/payuk pere, dan bunga tiga warna. Acara persembahyangan bersama di Pura Agung Semanik ini akan diawali dengan malukat bersama yang dipimpin langsung

oleh Guru Spiritual Kundalini I Putu Ngurah Ardika, S.Sn. Acara selanjutnya, Puja Trisandhya, Panca-Sembah yang kemudian diakhiri dengan nunas tirta dan bija di pura tersebut. Ada satu hal yang perlu diperhatikan yaitu nunas tirta, bija, dan canang di pura tersebut kemudian dibawa pulang untuk keluarga di rumah masing-masing. Selanjutnya prosesi persembahan bunga di lingga yoni dan istirahat sejenak menikmati apa yang telah dipersembahkan. Acara diisi dharma wacana oleh Guru Spiritual Kundalini I Putu Ngurah Ardika, S.Sn. Kemudian para pemedek bisa pulang ke rumah masing-masing dengan membawa tirta dan bija. Yayasan Spiritual Dharma Sastra selain sembahyang ke pura-pura, juga melakukan kegiatan meditasi bersama tiap Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat pukul 20.00 bertempat di halaman parkir yayasan di Jalan Lembu Sura Perum Taman Lembu Sura Kav.I No. 3 Br. Pohgading Ubung Kaja Denpasar Utara. Tiap Sabtu meditasi bersama di Balai Serbaguna Bukit Jati Samplangan Gianyar pada pukul 13.00. Dan bagi masyarakat umum yang menderita sakit seperti strok, diabetes, kanker, masalah keturunan, berbagai macam penyakit lainnya, permasalahan keluarga, leluhur dan membutuhkan pengobatan yang intensif dengan energi kundalini dapat datang langsung ke “Klinik Griya Usadha” atau bisa menghubungi telepon (0361) 8078842, 8509601. Kegiatan yayasan lainnya yaitu Minggu (18/9) pukul 10.00 tirtayatra ke Pura Melanting Singaraja, guna memohon tirta kesejahteraan dan kemashyuran; Minggu (25/9) pukul 06.00 malukat dan sembahyang bersama di Pura Tirta Empul Tampaksiring Gianyar. Semua kegiatan terbuka untuk masyarakat umum. –asp


PENDIDIKAN

11 - 17 September 2011 Tokoh 11

Opspek IKIP PGRI Bali Ditutup Bangun Karakter Mahasiswa Berlandaskan Budaya

Penutupan opspek IKIP PGRI Bali di Wantilan Pura Sakenan Serangan, Denpasar dihadiri Panglingsir Puri Kesiman selaku pengempon Pura Sakenan. Tampak hadir Ny. AA Ngurah Kusuma Wardana (tiga dari kanan)

dengan perkembangan zamannya, melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkualitas dengan bidang pendidikan, melaksanakan pengabdian masyarakat sehari-hari. Tujuannya, menghasilkan insan yang cerdas (komprehensif) dan kompetitif. Pendidikan nilai karakter yang kerapkali digemborgemborkan Dr. Made Suarta yang baru setahun menduduki jabatan Rektor IKIP PGRI Bali ini tak hanya sebatas wacana. Implementasi nilai-nilai karakter itu diim-

plementasikan pada tiap kesempatan. Pada tahun ajaran baru 2011/2012 ini, bekerja sama dengan Bali Post, IKIP PGRI Bali memberikan beasiswa kepada dua warga Besakih yakni Ni Komang Sukma Wilatri dan I Gusti Agung Ngurah Sulyalitra. Penyerahan beasiswa secara simbolis oleh rektor didampingi ketua dan sekretaris yayasan dilakukan Senin (5/ 9) dalam acara pembukaan opspek, yang sebelumnya diisi juga dengan persembahyangan bersama di Pura Widya Aksara IKIP PGRI Bali di kampus pusat. –ten

ngan sesama (sadar akan hak dan kewajiban pada diri sendiri dan orang lain, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun, demokratis); nilai karakter dalam hubungannya dengan nilai kebangsaan (nasionalis, menghargai keragaman); nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan (peduli sosial dan lingkungan). Sementara, Arthanegara yang mengulas sejarah dan perkembangan IKIP PGRI Bali memaparkan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidik-

Dr. Made Suarta

Drs. IGB Ardana Adnya

ORIENTASI Pengenalan Studi dan Pengenalan Kampus (opspek) yang diikuti 1.060 mahasiswa baru IKIP PGRI Bali ditutup Jumat (9/9) di Wantilan Pura Sakenan, Serangan, Denpasar.

K

egiatan yang dihadiri Panglingsir Puri Kesiman sebagai pengempon Pura Sakenan tersebut, diawali dengan persembahyangan bersama dan aksi bersih-bersih di areal pura. Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H. M.Hum. yang menutup resmi kegiatan opspek ditandai dengan penanggalan tanda peserta, mengevaluasi bahwa kegiatan opspek kali ini makin baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Ia menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa baru dan masyarakat yang merespons positif tiap kegiatan yang dilaksanakan serta atas kepercayaan mereka pada lembaga IKIP PGRI Bali sebagai tempat melanjutkan pendidikan tinggi putra-putrinya. Kegiatan opspek yang mengambil tema “Melalui Opspek Kita Membangun Karakter Berlandaskan Budaya”, diisi dengan ceramah, baris-berbaris, dan pember-

sihan di lingkungan kampus dan sekitarnya, serta di Pura Sakenan, Serangan, Denpasar. Ceramah keamanan dan ketertiban masyarakat yang berkaitan dengan kesadaran remaja, tentang hukum dan lalu lintas disampaikan oleh perwakilan Polda Bali; ceramah tentang pendidikan karakter oleh Rektor Dr. Made Suarta; Sejarah dan Perkembangan IKIP PGRI Bali oleh Ketua Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd.; Sistem Pendidikan Tinggi, Sistem Administrasi dan Keuangan di Perguruan Tinggi serta Pembinaan dan Pemberdayaan Organisasi Kemahasiswaan oleh Pembantu Rektor (PR) I Drs. Pande Wayan Bawa, M.Si., PR II Drs. Dewa Putu Juwana, M.Pd., dan PR III Drs. IGB Ardana Adnya, M.Si. yang juga Ketua Panitia Opspek. Dalam pemaparan makalahnya, Dr. Made Suarta me-

Kerja bakti mahasiswa IKIP PGRI Bali di Pura Sakenan

nyoroti fenomena keseharian menunjukkan perilaku masyarakat belum sejalan dengan karakter bangsa yang dijiwai falsafah Pancasila. Sehingga, perlu revitalisasi pembangunan karakter bangsa. “Kerangka dasar pembangunan karakter itu harus berlandaskan Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” tegasnya. Membangun jati diri dan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila ini dibangun melalui olah hati (bersikap jujur dan bertanggung jawab), olah pikir (cerdas IQ, EQ, SQ, AQ), olah raga (bersih, sehat, menarik), serta olah rasa dan karsa (peduli dan kreatif). Ada lima nilai karakter yang harus dikembangkan yakni; nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (religius: pikiran, perkataan dan perbuatan diupayakan selalu berdasarkan pada nilainilai ketuhanan dan ajaran agama); nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri (jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, mandiri, ingin tahu, cinta ilmu); nilai karakter dalam hubungannya de-

an (LPTK) yang lahir 25 Agustus 1983 didirikan oleh Drs. I Gusti Agung Gede Oka (alm.), Drs. Redha Gunawan, M.M. (alm.), I Gusti Ngurah Oka, S.H., dan Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. IKIP PGRI Bali mengemban visi unggul dalam pendidikan berlandaskan budaya dalam rangka mempertahankn ajeg Bali dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Misinya, mendidik calon tenaga pendidik yang memiliki wawasan budaya dan budi pekerti luhur, terlaksananya pendidikan yang andal di bidang pendidikan, andal sesuai

Penyerahan beasiswa kerjasama IKIP PGRI Bali dengan Bali Post kepada dua warga Besakih

Persembahyangan bersama dalam tiap mengawali dan mengakhiri suatu kegiatan


12

Tokoh

11 - 17 September 2011

Sukses Membuka...........................................................................................dari halaman 1 Naik Bemo....................................................dari halaman 3 Lapas Denpasar........................................dari halaman 1 seminar kuliner. Sukses menghelat seminar kuliner beberapa waktu lalu yang pesertanya membludak, wanita yang akrab disapa Dewi ini kembali menggelar seminar serupa dengan pembicara yang lebih dahsyat. Dia adalah Drs. Joko Sutrisno pria asal Solo yang namanya sudah tak asing lagi dalam dunia lembaga pendidikan dan kuliner. Sukses menekuni usaha bidang lembaga pendidikan dan memiliki 16 cabang lembaga pendidikan terbaik tingkat nasional, tak membuat pria tamatan S-2 Teknologi Pendidikan ini puas sampai di situ saja. Setelah menekuni usaha lembaga pendidikan dan usaha lainnya, mantan guru SMP Negeri I Solo yang memilih pensiun dini dari jabatan PNS dan memilih menjadi pengusaha ini pun menjajal keberuntungan dengan menekuni usaha kuliner. Ternyata usaha ini pun sukses luar biasa. Pemilik Resto dan 7 Family Karaoke Gravista ini mengawali usaha ayam goreng tahun 2000. Usaha Rumah makan ayam goreng dengan merek Ayam Goreng Griya Solo ini kini memiliki 16 cabang yang berada di kota-kota di Kalimantan, Batam dan Jawa. Siapa sangka jika Joko mengawali usaha itu dari konsep kaki lima. Sukses mengelola usaha ayam goreng, Joko mengelola usaha Bakso 88 dan Sup Ayam Kampung yang tak kalah sukses daripada usaha sebelumnya.

Drs. Joko Sutrisno

Dari usaha kuliner ini sebulan Joko meraih omset Rp 65 juta per bulan bahkan bisa lebih. “Saya akui usaha kuliner ini punya kelebihan dibanding bisnis lainnya,” ujarnya penuh semangat di tengah- tengah kesibukannya menjadi pembicara dalam berbagai seminar bisnis. “Selain tak mengenal krisis, usaha kuliner ini memberi keuntungan sampai 200%,” bebernya. Dalam seminar spektakuler mendatang Joko akan memberikan resep-resep sukses berbisnis kuliner. Ada delapan materi penting dan 11 trik menuju sukses. Dalam mengelola usaha, Joko menerapkan caracara menarik yang tak lazim dilakukan orang hasil proses belajar dan sederet pengalamannya menekuni berbagai usaha. Dalam seminar nanti Joko Sutrisno akan memberikan cara

Berdayakan Kaum...............................dari halaman 1 membangun rasa percaya diri dan kemandirian dalam mengatasi berbagai persoalan yang banyak dihadapi kaum hawa,” ujarnya. Menurut istri Drs. Ketut Suardikanata, M.Si. ini, kemandirian perempuan bisa terwujud jika perempuan berkesempatan berpikir mandiri, berekonomi mandiri, serta mendapat akses terbuka dalam berbagai hal, salah satunya berwirausaha membuka usaha salon kecantikan. Pelatihan tata rias dan kecantikan gratis yang digelar Rahayuni melalui Salon Candra Dewi tersebut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan Nyonya Komang Gede Sanjaya yang juga mengapresiasi kegiatan yang sarat dengan pendidikan tersebut. “Usai pelatihan, para peserta bisa mengimplementasikan pengetahuan yang didapat. Bahkan mereka bisa membuka usaha sendiri di bidang kecantikan. Bukankah ini bisa menambah penghasilan keluarga,” ujarnya. Istri Wabup Tabanan ini menyadari bahwa saat ini perempuan memiliki peran besar dalam memperkuat posisi keluarga mendampingi suami. “Untuk kepentingan keluarga, kaum perempuan harus memiliki integritas diri untuk membangun keluarga mandiri, maju, sehat, dan sejahtera,” tambahnya. Rahayuni menjelaskan, pelatihan kecantikan secara gratis tersebut merupakan bagian dari programnya memberdayakan masyarakat khususnya di seluruh kecamatan yang ada di Tabanan. Sebagai anggota Komisi IV DPRD Tabanan, Rahayuni

memiliki sederet tugas yang harus segera ia realisasikan. “Ada 10 bidang program kesejahteraan rakyat yang menjadi bidang tugas saya yakni di bidang agama, pendidikan dan iptek, ketenagakerjaan, kepemudaan dan olah raga, kesenian, pemberdayaan perempuan, sosial, kesehatan, penanggulangan bencana, dan kebudayaan,” jelas Rahayuni. Tak hanya di bidang tata rias, Rahayuni juga kerap terjun ke masyarakat bawah mengadakan pembinaan di bidang kerajinan, perternakan, kesenian. “Untuk bidang di luar tata rias dan kecantikan, kami menggandeng pihak terkait,” tambahnya. Pemberdayaan bagi perempuan menurut Rahayuni perlu diberikan kepada setiap perempuan. Perempuan yang telah berdaya dan bisa mandiri membuka usaha sendiri secara otomatis bisa menambah penghasilan keluarga. “Ini menjadi salah satu cara meminimalisir terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang salah satunya diakibatkan karena masalah perekonomian,” jelasnya. Untuk itulah, ibu tiga anak ini mendukung disusunnya raperda terkait Perlindungan terhadap Korban Berbasis Gender dan Anak yang akan segera digodok pemerintah Provinsi Bali tersebut. “Saya berharap raperda yang tengah disusun bisa segera menjadi sebuah Perda dan perlu dibentuk pula lembaga guna mengawasi penerapan Perda tersebut,” ujar Rahayuni saat mewakili DPRD Tabanan dalam hal sosialisasi Raperda oleh Pemprov. Bali. —lik

buka usaha kuliner dengan modal rendah untung melimpah, trik buka usaha kuliner langsung ramai, cara mempertahankan usaha kuliner biar tetap ramai, trik-trik pemasaran kuliner, cara mewaralabakan bisnis kuliner. Yang wajib hadir dalam seminar ini pemilik usaha kuliner, ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan, pengusaha PNS dan semua kalangan yang ingin sukses berbisnis kuliner. Selain kunci sukses tersebut, Joko mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan pelaku pengusaha kuliner yaitu rasa, pelayanan dan suasana di samping kreativitas dalam segala bidang. Selain itu, menurut pria yang juga menjabat Ketua Asosiasi Franchise Jawa Tengah dan Ketua Asosiasi Bisnis Kuliner Jawa Tengah ini, untuk meraih sukses pelaku usaha harus rajin mengunjungi dan mengamati tempat-tempat makan, rajin membaca buku bisnis dan aktif bergabung dalam komunitas pengusaha. Seminar ini akan mengupas kiat sukses dari pembicara berbisnis kuliner. Seminar akan 2011 pukul 17.30 di Hotel Santhi jalan Patih Jelantik No. 1 Denpasar. Harga tiket Rp 100 ribu, pada hari-H Rp 200 ribu (tiket berlaku untuk dua orang). Tiket bisa dibeli di Asia Resources, jalan Tukad Barito No. 8C Denpasar, Aditya Printing, jalan Tukad Pakerisan No. 79 Panjer, dan jalan Kapten Agung No. 6 Denpasar. Transfer ke rekening BCA 049 895 8888, BNI 018 089 0404 atas nama Ni Made Dewi Saraswati. Info, hubungi 03618787 189, 081 337 887 789, 081 805 536 333.

Gung Puspa dinilainya cocok menjadi calon ibu bagi buah hatinya kelak. “Syarat itu dipenuhinya. Jika dia juga mandiri, saya yakin saat berumah tangga kelak tak ada sikap saling meremehkan atau menjatuhkan. Sebaliknya, muncul sikap saling mengisi dan menguatkan,” kata Husein. Namun, perbedaan latar kultur Husein dan Gung Puspa sempat mengusik tekad dua sejoli ini naik ke pelaminan. Keluarga Husein menghendaki calon istri si bungsu sebaiknya datang dari wangsa berdarah India pula. “Tetapi, saya coba meyakinan itulah pilihan saya. Orang Bali mengenal rwa bhineda. Jika ada keragaman yang dapat disatukan dalam keluarga betapa indahnya. Akhirnya keluarga saya setuju,” ungkapnya. Rencana final tinggal selangkah lagi. Husein harus menemui ibu kandung Gung Puspa, Jero Jempiring. Calon mertuanya ini saat ditemui hanya meminta garansi keseriusan Husein. “Saya berhasil meyakinkan calon mertua. Pinangan saya beres,” kenangnya. Naik Bemo Wanita tangguh yang diisyaratkan Husein tercermin dari perjalanan hidup Gung Puspa. Itu minimal terbaca saat perempuan asal Puri Pejeng Aji Gianyar ini menamatkan SMEA di Denpasar. Ia memutusukan kuliah di dua kampus sambil bekerja. Ada cerita mengesankan di balik kesibukannya mengais rezeki untuk mengongkosi kuliahnya saat itu. Gung Puspa diterima di salah satu anak perusahaan milik PT Astra di Jalan Cokroaminoto Denpasar. “Saya indekos di Jalan Plawa Gang III Nomor 7. Kamar kontrakan saya sederhana sekali. Saya awalnya berangkat kerja naik bemo roda empat, lalu naik bemo roda tiga menuju kantor. Tiap berangkat

kerja saya bawa nasi kotak untuk bekal makan siang,” ungkapnya. Sekitar enam bulan bekerja, perusahaannya mengizinkan Gung Puspa mengkredit sepeda motor. Cicilan sepeda motor Honda DK 3366 DA ini merupakan kendaraan roda dua pertama yang dibeli Gung Puspa dari hasil keringat sendiri. “Tetapi, saat adik bungsu saya, Gung Puspawati (kini almarhumah) sekolah di SLUA Saraswati Denpasar dan bertempat tinggal sekamar, saya lebih sering diboncengnya menuju kantor. Saya trauma menyetir sendiri, karena pernah mengalami kecelakaan di jalan raya,” akunya. Prestasi kerja Gung Puspa terus merambat naik. Ini terbukti dari penghasilannya yang turut meningkat. Dia lalu berniat mencicil sepeda motor baru. Kendaraan roda dua pertamanya dijual untuk diganti sepeda motor Honda Astrea 800 yang ber-DK 4488 itu. Rezekinya terus bertambah. Gung Puspa melego lagi sepeda motornya setahun kemudian. Sepeda motor laku Rp 800. Gung Puspa menambah modal dari tabungannya. “Saya bisa mencicil untuk punya sebuah mobil. Mobil pick up ST 20 mobil pertama saya hasil keringat sendiri lho...” katanya. Setahun usia mobil ini, Gung Puspa mengambil cicilan kendaraan roda empat baru, Carry 1000. “Waktu itu saya beli dengan harga Rp 4.150.000. Tetapi, saya hanya pakai dua tahun. Tahun 1986, saya ganti lagi dengan mobil Suzuki Station agar bisa digunakan jalan-jalan bareng Ibu dan keluarga,” kisahnya. Sekitar setahun ia memutuskan ganti mobil lagi. Sebuah sedan Daihatsu Cherade menjadi miliknya tahun 1987. Namun, sedan ini malah sering rewel. “Saya jual lagi, ganti dengan Honda Civic Wonder yang saya beli dengan harga Rp 25

Asasi Manusia (HAM) Bali pun keluhan ini sudah meletup nyaring ke permukaan. “Lapas Denpasar sudah overload,” aku Rata kepada wartawan Koran Tokoh saat itu. Rata sudah turun jabatan dari kursi kakanwil. Sejumlah pejabat baru memimpin instansi ini. Nasib Lapas Denpasar tetap setali tiga uang. Ini juga dirasakan Kakanwil Hukum dan HAM Bali saat ini, Taswem Tarib. Kerusuhan yang melibatkan napi, termasuk peristiwa keributan belum lama ini, dinilai Taswem bukan tanpa penyebab lain. Jumlah napi yang melebihi daya tampung dinilai berpotensi memancing konflik semacam itu. “Petugas jadi sulit mengendalikan mereka jika terjadi rusuh,” ujar Taswem. Pengalaman praktisi hukum Ida Ayu Indra Kondi, S.H., M.Kn. mengamati kondisi Lapas Denpasar pun tak jauh berbeda.”Saya sempat beberapa kali menemui klien saya di lapas tersebut. Kondisinya tidak banyak berubah. Fasilitas ruang berkunjung tidak memadai. Jika mau bicara dengan klien tidak ada ruang privasi. Orang di sekitar bisa nguping jika bicara keras-keras. Padahal, ada hal-hal rahasia dengan klien yang perlu ruang khusus,” ujar notaris dan PPAT di Denpasar ini. Dayu Kondi melukiskan kondisi bangunan, fasilitas, dan interaksi antarwarga binaan tersebut ibarat ancaman banjir bandang di musim hujan. Apalagi, kabar

juta. Tetapi, saya lalu lego lagi, saya beli sedan Forza,” ungkapnya. Sedan Foirza menyimpan kenangan khusus di benaknya. Mobil ini menjadi teman setia saat Gung Puspa memutuskan berhenti dari Astra. “Saya mulai merintis usaha bisnis mandiri bersama sedan ini,” katanya. —sam

kapasitas berlebihan warga binaan kerap diungkapkan media massa. “Jumlah warga binaan yang menghuni lapas tersebut ibarat air bah. Jika terjadi hujan bisa terjadi banjir. Airnya bisa meluber ke mana-mana,” katanya. Kondisi semacam itu dinilai Taswem sudah tidak manusiawi lagi. “Kapasitas Lapas Denpasar untuk 300-an. Sekarang jumlahnya sekitar 1.200 orang,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan belum lama ini. Kamar tidur warga binaan Lapas Denpasar yang berada di bawah tanggung jawab instansinya itu pun tidak layak pula. Sekamar tidur berukuran 2x3 meter sebenarnya pantas dihuni dua orang. Kenyataannya, kata Taswem, satu kamar tidur bisa diisi 6 napi. “Ada napi yang terpaksa tidur kayak ikan, dijejer di lantai. Kondisi begini jelas tidak manusiawi,” ujarnya. Kondisi sumpek tersebut juga diperparah akibat Lapas Denpasar bukan hanya menampung napi. Padahal, napi ada beberapa golongan. Selain napi perempuan, ada napi kategori anak, napi orang asing, termasuk napi yang terjerat narkoba. Lapas tersebut juga berfungsi sebagai rumah tahanan alias rutan. “Bayangkan semua tahanan yang masih menjalani proses hukum terpaksa dititipkan untuk membaur dengan dengan para napi,” kata Taswem. Gambaran lebih memprihatinkan diungkapkan Kepala Lapas Denpasar Siswanto. Menurutnya, jumlah napi dan tahanan di lapas tersebut terus bertambah. “Kapasitas Lapas Denpasar hanya 300 orang warga binaan. Sekarang jumlahnya membengkak lagi lebih dari 1.700,” ujar Siswanto di sela cara pemberian remisi memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus lalu. —sam

Kehadiran Komisi.........................................................................................................................................................................................................dari halaman 2 Sadar atau tidak, ada proses diskriminasi hukum terhadap masyarakat yang diakibatkan ketidakterbukaan informasi publik. Terjadi like and dislike pada reward dan punishment-nya. Informasi lembaga hanya bersifat top down, seharusnya berkarakter button up, artinya masyarakat bawah secara proaktif mendapatkan informasi melalui pendidikan formal maupun nonformal, dengan banyak melihat, merasakan, mendengar dan terutama banyak membaca. Semuanya demi keseimbangan sehingga terdapat check and balances, agar kekuasaan tidak sewenang-wenang memanipulasi hukum. Akses informasi, kecerdasan dan intelektual, hak tiap orang. Pande, Pandakgede

Indonesia Kaya Undang-undang Masyarakat sedikit apatis terhadap negara ini. Negara kita paling kaya kekayaan alam. Tidak kalah penting, negara kita kaya pula berbagai produk undang-undang. Hingga ada orang asing yang mengatakan banyak undang undang namun law of investment-nya tidak ada samasekali. Pemerintah yang mengetahui bagaimana menjalankan UU dan penegakan aturannya sepatutnya memberikan contoh dan teladan agar masyarakat lebih taat pada hukum. Melihat adanya arcade

latif, eksekutif dan yudikatif yang dibiayai APBN atau APBD. Badan publik nonpemerintah, mungkin saja mendapatkan dana APBN atau APBD. Seperti parpol yang mendapatkan bantuan dana dari APBD, wajib memberikan laporan dan sistemnya bisa diakses masyarakat luas. Dengan adanya UU No.14/2008, semua bisa diakbaik itu kebijakannya, akKI Memfasilitasi ses, tivitasnya, maupun anggaran Mengenai banyaknya perda badan-badan publik. yang dilanggar, mungkin kaPutu Anggreni rena kekurangpahaman masyarakat. Ketika mereka merasa Bentuk Komisi marah karena persoalan tersebut, tidak tahun ke mana suara Pemborosan publik ini diarahkan. Dengan Indonesia ini sangat keadanya KI yang memasilitasi maruk dengan pembentukan sesuai amanat UU No. 14/2008, komisi-komisi. Berbagai komasyarakat berhak mengajukan misi yang ada ibarat jamur di kekecewaannya, mengepa kebi- musim hujan yang akan mejakan pemerintah tidak seperti nyedot anggaran. Apakah ini yang diharapkan. Dengan peng- bukan pemborosan. Mengapa aduan tersebut KI dapat mem- tidak memanfaatkan sarana fasilitasi melalui jalur yang informasi yang ada seperti ditetapkan dengan tahapan– humas di masing-masing intahapannya atas sebuah per- stansi. Karena, hal ini bisa soalan yang disampaikan ma- menjadikan overlapping di syarakat kepada badan publik bidang tugas kehumasan. Jatersebut. Ketika tidak memper- ngan sampai pembentukan KI oleh tanggapan dari dinas ter- ini hanya menjadi papan nama kait, masyarakat dapat langsung dan menyedot dana pememengajukan pengaduan kepada rintah yang harusnya dapat KI, untuk terus mempertanya- diperuntukkan mengentaskan kan mengapa tidak ditanggapi. masyarakat miskin di Bali, KI akan memayungi seperti seperti menyiapkan beras mumelakukan pemanggilan. Jika rah, air bersih, listrik dan kemediasi yang dilakukan tidak butuhan vital rakyat lainnya. tercapai bisa dilanjutkan di Adnyana Kemenuh sidang pengadilan. Badan publik pemerintah Kontrol agar tidak yang bisa diakses, seperti legisyang berdiri di atas trotoar di sepanjang jalur by pass, menunjukkan dilanggarnya peraturan daerah yang ada. Sebab, trotoar adalah fasilitas untuk pejalan kaki. Ketika hal aturan seperti ini saja sudah tidak dipatuhi atau dijalankan apalagi UU yang lainnya. Putu, Padangsambian

Boroskan Anggaran

Saat ini ada humas dianggap mewakili untuk memberikan informasi yang diminta masyarakat. Selanjutnya lebih diperluas tidak sekadar kehumasan, ada pejabat informasi publik (PPID) yang konsen dan khusus bertugas menerima permohonan informasi yang diminta. Melalui UU No. 14/2008, PPID bertugas mengakses permohonan pengaduan tersebut kemudian memberikan jawaban dengan batas waktu yang ditentukan. Jika PPID tidak memberikan tanggapan, diakomodir lagi kepada atasannya. Jika masih diperoleh jawaban yang tidak memuaskan mengenai informasi publik ini, di sinilah tugas KI. Mengakses pengaduan masyarakat yang merasa tidak puas ini. Informasi yang dikecualikan bersifat ketat dan terbatas dengan pengujian atas konse-

kuensi yang timbul. Masyarakat harus berperan aktif untuk memanfaatkan tahapan-tahapan ini dengan baik . Jika hanya humas saat tidak puas akan tidak ada kelanjutannya. Bahkan jika masyarakat juga tidak puas dengan keputusan KI baik dengan mediasi maupun ajudikasi, bisa dilanjutkan ke pengadilan. Sehingga, UU No. 14/2008 ini dapat dimanfaatkan dengan baik. Undang-undang membuka keran seluas-luasnya terhadap keterbukaan informasi publik dan masyarakat dapat mengakses transparansi pemerintah atau badan-badan publik.Ketika begitu cepatnya badan publik mengatakan suatu hal dikecualikan, masyarakat bisa mengejarnya apakah benar hal tersebut merupakan informasi yang dikecualikan. Melalui sidang ajudikasi KI, bisa ditentukan apakah suatu informasi memang layak dibuka atau tidak. Peran-peran ini harus dipahami masyarakat. UU dan komisinya yang harus dikawal untuk mengetahui apakah hanya memboroskan anggaran atau sudah bekerja dengan baik. Perempuan juga hendaknya melihat peluang ini dengan baik. Ketika persoalan reproduksi perempuan luar biasa membuat kematian pada perempuan dan biayanya juga mahal, perempuan mestinya mengakses informasi yang benar tentang hal ini ke dinas kesehatan. Perempuan bisa menanyakan bagaimana dengan JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara) bagi masyarakat miskin yang terkena kanker. Bagaimana dengan dana beasiswa pendidikan bagi masyarakat miskin. Putu Anggreni

Akan Memboroskan Anggaran Sudah banyak kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Apakah KI yang akan dibentuk hanya untuk mencari anggaran. Kami yakin akan memboroskan anggaran dan tidak memberikan manfaat. Apalagi dengan tahapan-tahapan yang disampaikan. Jika tidak puas dengan pejabat di level III naik ke level II, dan lanjut ke level I. Masyarakat ketakukan masuk ke dalam level tersebut. Jangankan masyarakat kecil, seorang jenderal saja yang awalnya di-

harapkan akan dapat menggungkap berbagai kasus kebobrokan di republik ini, faktanya berbeda. Saya mencium aroma dari PPID hanya mencari kesempatan di dalam kesulitan masyarakat. Akhirnya, anggaran yang semestnya untuk pembangunan demi kepentingan masyarakat, namun ikut nongkrong di sana. Budi, Denpasar

Kasus Prita Masyarakat perlu memahami mengakses informasi juga perlu hati-hati. Seperti kasus Prita, karena ketidaktahuannya akhirnya bisa terkait hukum, padahal dijamin UU Keterbukaan dalam mengakes informasi. Sekarang bagaimana masyarakat mengakses informasi dengan benar melalui tahapantahapan tersebut. Ketika undang-undangnya ada dan di sana ada pula upaya pembentukan komisi untuk memfasilitasi UU yang dilaksanakan kepada masyarakat. Dari 13 nama calon anggota KI Bali nantinya akan dipilih 5 orang yang dianggap bisa mewakili. Mereka bisa dilihat, apakah hanya menghabiskan anggaran atau memang betul bekerja. Untuk hal ini masyarakat harus berperan akif mengawalnya. Tujuan pembentukan undangundang ini juga agar partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik. Seperti forum Musrebang, hanya sedikit orang yang bisa mengakes dan terlibat di dalamnya, terutama perempuannya, mulai dari desa hingga provinsi. Dengan adanya UU No. 14/2008 ini pemerintah atau badan publik tidak bisa berkelit lagi dengan alasan informasinya tidak bisa dibuka atau tertutup atau dikatakan semua rahasia. Pemerintah bisa membuka diri pada masyarakat sesuai amanat UU No.14/2008. Semua orang tidak perlu takut atau ragu-ragu karena ada payung hukumnya. Kita bisa mendapatkan informasi dengan biaya yang ringan dan tidak lagi berbelit-belit. Dulu ketika LSM meminta iformasi data APBD, para pejabat ketakutan. Sekarang kebijakan-kebijakan daerah ini bisa dibuka. Putu Anggreni


KIPRAH WANITA EVA KUSUMA SUNDARI, Aktivis, Politikus, Legislator

Suami Khawatir karena terlalu Cuek S

EBAGAI seorang aktivis sekaligus politikus, Eva Kusuma Sundari tak luput dari ancaman dan intimidasi yang datangnya dari pihak yang tidak suka dengan apa yang disuarakannya. Manusiawi jika Eva takut dan khawatir. Tetapi, ketakutan yang dirasakannya tidak seperti kekhawatiran yang dirasakan keluarganya.

“Suamiku kerap mengingatkan aku. Dia wanti-wanti banget. Saking cemasnya, sampai-sampai minta aku jangan sembarangan makan. Aku bilang, aku akan hatihati. Aku yakin Tuhan akan melindungi dan menyelamatkan aku,” ujar Eva. Misalnya, saat ia terlibat dalam pembahasan RUU Pornografi. Ketika itu RUU tersebut menimbulkan kontroversi dalam masyarakat. Eva menuai ancaman yang disampaikan lewat SMS. Teror dan tekanan yang hampir sama juga diterimanya saat ia terlibat dalam Pansus Kasus Century. Eva satu-satunya anggota Pansus perempuan. Sebelumnya selain Eva, anggota parlemen perempuan yang juga masuk Pansus Century adalah Anna Muawanah dari F-PKB. Namun, Anna ditarik fraksinya ketika Pansus memasuki minggu keenam. Eva pun tak luput dari teror. “Ada SMS, katanya, rumah dan seluruh aktivitas saya dalam pengawasan. Ada juga rasa khawatir. Tetapi, rasa takut seorang maling berbeda dengan rasa takut orang yang membela kebenaran. Jadi aku tetap PD saja. Kepada keluargaku, aku meyakinkan, aku baik-baik saja, tetapi aku juga akan hati-hati. Maksudnya, supaya mereka tenang,” tuturnya. “Tuhan pasti turun tangan, aku yakin itu. Aku tidak melakukan sesuatu yang mencolok mata. Mobilku hanya Inova, aku juga tidak suka ngeceng di mal-mal atau kongkow-kongkow di tempattempat tertentu. Hidupku sederhana, tidak sampai menggoda orang untuk jahil,” papar ibu dua anak itu. Mungkin, kata Eva lagi, karena ia memiliki tipe cuek, sehingga sedikit kebal dalam menghadapi segala macam teror. Di samping itu, dia juga tidak mau pikiran dan energinya terkuras akibat tasa takut dan curiga yang tidak beralasan. “Pada dasarnya aku orangnya cuek dari dulu. Makanya aku bisa lebih tenang menyikapi hal-hal seperti itu,” tambahnya.

Namun, sikap cueknya justru membuat suaminya makin khawatir. Kepada Eva selalu diingatkan agar kecuekannya jangan sampai membuatnya kehilangan kewaspadan. Wajar suaminya kerap mewantiwanti, karena Eva bukan hanya sering bepergian karena kepentingan tugas, tetapi juga bekerja di luar rumah pada jam-jam yang tidak normal. Tak jarang dia harus menghadiri rapat yang berakhir larut malam bahkan dini hari. “Aku orang yang serius, termasuk dalam pekerjaan. Meski rapat hanya tiga orang, tetap aku tongkrongin. Bahkan kalau harus pulang larut malam atau dini hari, aku ikut rapat. Aku tidak mau memanipulasi kewanitaanku untuk minta kemanjaan. Aku sudah sejak muda bertanggung jawab, akuntabel. Aku mengerti tentang peranperan publik; itu bukan hal yang baru bagiku,”paparnya. Tingkat kesibukan Eva tidak berubah, setelah menikah dan memiliki dua anak. Beruntunglah dia memiliki seorang suami, Jose Antonio Diaz, yang penuh pengertian. Dia tahu persis karakternya dan segala aktivitasnya. Sebab, sebelumnya Jose pun seorang aktivis pula. “Aku tak mungkin jatuh cinta pada orang yang tidak bisa diajak share. Yang tidak mau memikirkan orang lain, hanya untuk keluarga. Jadi kami klop karena ada persamaan pandangan, aku bisa berbagi dengannya. Dia punya kecenderungan yang sama dengan aku, peduli pada isu-isu publik seperti aku. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang ganteng tetapi mengontrol diriku. Itu nggak seksi, menurutku,” ungkap Eva. Beda Agama Eva menikah dengan Jose Antonio Amorim Diaz Desember 1995 di Belanda. Pernikahan beda agama, Eva Islam Jose Katholik. “Aku bertemu suamiku tahun 1994, Desember 1995 kami memutuskan menikah. Kami berbeda agama. Kami saling menghormati. Lebaran atau Natal, kami rayakan,” ujar Eva yang belum lama ini menuanikan

ibadah umroh. Sejak sebelum menikah, ujar Eva, suaminya telah mengerti betul berbagai aktivitasnya, juga tentang kemandiriannya. Karena itu suaminya pun mengerti jika Eva tidak seperti wanita umumnya. “Aku tidak suka masak, tidak suka mencuci. Aku menolak didikte, bahwa perempuan yang baik adalah yang ngomongnya tidak lantang. Bahwa perempuan yang baik adalah yang pulangnya tidak pagi seperti aku. Suamiku sangat mengenal aku luar-dalam. Dia juga tahu aku sangat otonom terhadap diriku,” kata wanita kelahiran Nganjuk ini. Diakuinya, tiap rumah tangga tidak lepas dari masalah. Namun, karena sejak awal pernikahan sudah sepakat, segala sesuatu dapat diselesaikan. “Kadang dia (suami) suka ngomel juga. Hahah… Tetapi suamiku orangnya praktis, kalau lapar ya kadang dia bikin makanan sendiri. Malah sering juga nawari aku untuk dibuatkan makanan,” tutur Eva tentang kehidupan sehari-harinya. Tetapi, biasanya yang kerap mengeluh adalah anak. Maklum, Eva memiliki kesibukan yang luar biasa, sehingga tidak bisa selalu mendampingi kedua anaknya, Maria Fatima (15) dan Danny Surya Utama Diaz (2). Untuk mengatasi ini, Eva meningkatkan kualitas komunikasi. Apalagi, anak tertuanya telah remaja, kini kelas 1 SMA. “Usia krusial, biasanya belasan tahun. Nah, anakku sudah remaja sekarang. Aku intensifkan komunikasi. Kalau sedang di rumah, aku deketin dia (Maria), kami ngobrol banyak hal. Dia curhat macam-macam, aku mendengarkan, juga memberi tanggapan. Aku berusaha menjadi teman, jadi dia bebas bercerita apa pun. Tidak ada rahasia. Kalau aku di luar rumah, aku pasti sering nelepon, sekadar bertanya ini dan itu. Dan, sejauh yang aku amati, dia tidak nakal dan bertanggung jawab. Ya, seperti aku ketika muda,” tuturnya. Cemburu pada HP Meski sibuk, kata Eva, sebagai seorang ibu ia memiliki insting tertentu terhadap perkembangan anaknya. Misalnya, anak tampak kurang bergairah, perlu perhatian, maka sebisa mungkin Eva menyisihkan waktunya. “Aku berusaha mengatur waktuku seefisien mungkin. Misalnya ada

Pegunungan Swiss..........................................dari halaman 3 pegunungan sambung- menyambung. Sungai Zurich luas seakan tak berbatas; hijau kebiruan bergelombang ringan. Pukul 21.30 aku tiba di Zurich. Dari Zurich aku naik kereta menuju Chur (30 menit). Stasiun lengang. Tak ada manusia laiknya Paris, New York, yang merupakan kota hidup yang tak pernah tidur. Mendaki tangga usang hotel, ada rasa ganjil. Bulu kudukku berdiri. Biaya menginap harus dibayar saat check in. Lift tua berderit berhenti di lantai dua. Gelap. Pegap. Lengang. Tak ada manusia. Aku membuka pintu kamarku. Pengap apek menusuk hidungku. Kamar ini bak rumah hantu yang tak dihuni bertahun-tahun. Tak ada toilet. Tanpa pikir panjang aku angkat koper. Tak tahu harus cari penginapan di mana selarut ini. Daerah luar kota Swiss sunyi. Tak ada manusia. Menarik bagiku menyaksikan pohon apel merah yang tingginya hanya 1,5 meter digelayut sangat lebat. Sangat berbeda dengan pengalamanku di daerah luar kota Plymouth, MA saat wisata ke kebun apel. Pohon apelnya tidak sependek apel Swiss. Rasanya pun agak asam. Apel Swiss manis menyegarkan. Panen raya dilakukan akhir Agustus. Antisipasi pesta pora burung, perkebunan dilindungi jaring hitam. Berhektare jagung tumbuh subur. Jagung dimanfaatkan sebagai minyak jagung, spirit (minuman beralkohol), juga diolah menjadi bahan bakar kendaraan bermotor. Sungai jernih mengepung: Schrabach, Schollas, Kenzig, Landquart. Deretan pegunungan tetutup hutan cemara: Jakobshorn, Pischa, Rinerhorn, Schatzalp, Parsenn. Paruku yang bertahuntahun dijejali debu karbon polusi, tiba-tiba riang mengembang. Alveolinya melebar. Udara bersih pegunungan disilakan masuk.

Dengan kereta gantung aku mencapai puncak Pegunungan Jokobshorn (2590 meter) di Davos, Graubunden setelah rehat sejenak di puncak pertama. Kabut tebal putih laiknya mendarat di awan. Angin bersiul kencang. Sembari menanti langit terang, aku memesan semangkuk goulash (sop sapi kaya rempah). Rasanya agak pedas. Aku juga mencicipi venison; makanan favorit penduduk setempat dari rusa. Pala cengkih bantu dongkrak suhu tubuhku yang menggigil dihantam udara gunung. Ketika angin gunung menepis tirai kabut, jejak ski mengitari pegunungan berkelok. Goulash dan venison tak kenyangkan perut Indonesiaku yang biasa dihantam nasi. Di kedai kecil dekat stasiun kereta api euforiaku tak terbendung. Ada nasi di daftar makanan. Kontan aku pesan satu mangkuk besar nasi dan udang goreng tepung (tempura). Aku memang wong ndeso, katrok. Perutku tidak bisa kenyang sebelum kena nasi. Semangkuk besar nasi putih kekuningan mengepul di hadapanku. Penuh semangat, kusendok nasi dalamdalam. Alamak nasi minyak wangi. Tak salah, nasi ini pasti disiram parfum. Nasi panas itu kubiarkan membeku di dalam cawan. Klinik Kanker Herbal Dengan kereta api aku menyeberang ke Jerman, negeri Adolf Hitler. Mahsyur dengan sejarah panjang Tembok Berlin yang Juli 2011 dibuka kembali sebagai objek wisata (bertepatan peringatan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin). Tak jauh berbeda dengan perkebunan di Swiss, perkebunan gandum kuning keemasan terhampar luas. Apel dan jagung subur menghijau. Akhirnya aku tiba di Black Forest, klinik kanker dr. Ursula Jacob. Hutan cemaranya

padat pekat, terlihat hitam. Tak mengherankan dinamai Black Forest. Menurut opiniku tepat lokasi pendirian klinik kanker dr. Jacob. Udara bersih, jauh dari hiruk-pikuk bising kota. Sejak merampungkan program pascasarjanaku di Universitas Udayana (2010) aku bermimpi ingin mendirikan klinik kanker berbasis herbal yang ilmiah. Kunjungan ke klinik dr. Jacob memberiku inspirasi. Klinik berlantai tiga dengan sarana: ruang konsultasi, terapi, ultrasonografi, hiperbarik, fisioterapi, fitnes, ruang makan. Fasilitas rawat inap pasien dan keluarganya pun tersedia. Luas dan nyaman. Sampel darah pasien salah satunya dikirim ke Pusat Penelitian Genetika Kanker di Yunani. Ketika aku di Thassalaniki (Yunani), aku pun bertandang ke Pusat Penelitian Genetika Kanker. Berjumpa dengan dr. Papasotiriou Ioannis selaku pimpinan. Meski tergagap dengan kemajuan teknologi yang meroket, berita baiknya di laboratorium ini mereka bisa mengetes secara spesifik kinerja herbal terhadap sel kanker. Tersedia pula tes hitung CTC (Circulating Tumor Cell). Pertemuanku dengan dr. Ioannis dan Jacob penuh pembelajaran dan pengalaman berharga. Aku kembali ke Zurich; menanti kereta api ke Amsterdam. Beberapa jam berbaur dalam hiruk pikuk “kota bank.” Kasak- kusuk koruptor dengan brankas yang dahulu aman tak terendus, belakangan akibat perubahan kebijakan membuka peluang untuk dilacak. Pukul 20.42 keretaku berangkat ke Amsterdam. Bermalam di kereta api menembus Hannover, Bonn, Koln. Keretaku akan tiba di negeri kompeni Belanda, pukul 09.46. zdr. Ossyris Abu Bakar, M. Biomed

10

Habis

dua kunjungan kerja BAKN, aku pilih ikut satu saja. Atau, ada kunjungan ke suatu tempat, jika bisa dijalani pulang-pergi, dalam arti tidak harus menginap, aku biasanya pulang lebih dahulu,” ujarnya. Masa reses, biasanya menjadi kesempatan mengompensasikan waktu yang hilang. Waktu bersama keluarga menjadi lebih banyak. Misalnya, waktu reses tiga minggu, dibagi seefektif dan seefisien mungkin. Kadang, sambil kunjungan ke daerah pemilihan, Eva mengajak anaknya. “Tetapi, namanya anak-anak, dia tidak bisa menikmati. Bosan. Untuk

Eva Kusuma Sundari

11 - 17 September 2011 Tokoh 13 menyenangkan, habis bertemu konstituen, aku ajak ia ke pantai, misalnya,” tuturnya. Tetapi, kata Eva, sekalipun hari libur bukan berarti dia lepas dari segala persoalan yang terjadi di luar sana. Pasalnya, handphone (HP)nya yang tidak pernah dimatikan, dan kerap berdering yang datangnya dari berbagai pihak. Termasuk para wartawan yang gemar memburunya untuk meminta komentar terhadap suatu kasus. Maklum, Eva cukup populer di kalangan wartawan, cetak maupun elektronik. Bukan hanya karena tak pelit memberi komentar, tetapi karena ulasannya yang cerdas. Keluargaku, kata Eva, kerap cemburu pada HP yang selalu berbunyi meski saat bercengkerama

bersama keluarga. Suami maupun anak-anaknya protes karena Eva tidak pernah mematikan HP sekalipun saat libur. “HP selalu bunyi, sampaisampai suamiku bilang, ‘aduhh matiin dong hapenya’. Anakku juga begitu. Makum, mereka kan maunya, kalau hari libur, hanya untuk keluarga. Tidak diganggu halhal lain. Tetapi, aku minta pengertian mereka. Aku katakan pada anak-anak, ‘Mama minta izin, tidak mematikan HP karena harus banyak berkomunikasi. Wartawan juga banyak nelepon Mama. Jadi, Mama harus membangun relasi dengan banyak orang, termasuk dengan wartawan. Aku beri pengertian begitu, anak-anak mengerti,” tuturnya.—dia

Karya Nyegara Ukir Krama Pande Dukuh Munggu di Pura Goa Lawah SEBAGAI ungkapan rasa syukur krama Pande Dukuh Munggu kepada berbagai pihak terkait suksesnya penyelenggaraan seluruh Aed Karya Agung Memungkah, Ngenteg Linggih lan Caru Balik Sumpah Pura Gede setempat, pada Wrehaspati Wage Medangkungan, Kamis (8/9), dilaksanakan Karya Nyegara Ukir di Pura Goa Lawah. Pailen upakara-upacara Nyegara Gunung ini diselenggarakan sebagai prosesi Aed Karya terakhir pada hari ke-11 yang disebut Karya Nyolas Lemeng. Karya ini diselenggarakan sehubungan dengan usainya pelaksanaan Adhining Karya Tapa Yadnya lan Kerti yang berjudul Karya Agung Memungkah, Ngenteg Linggih, Mapadudusan Agung-Manawa Ratna, Mepeselang lan Mepedanan yang diselenggarakan krama Pande setempat di Pura Gede/Kahyangan Tiga (Puseh, Desa, dan Dalem), pada Titi Pancadasi Kresnapaksa Bhadrawadamasa Saka Warsa 1933 (Tilem Sasih Karo, 28/8 lalu). Pemutus karya Nyolas Lemeng di Pura dan Segara Goa Lawah Sira Mpu Pande Silanatha Bhawana dari Grya Sila Giri Sente, Desa Pikat, Klungkung. Sore harinya dihaturkan

Merakih (Rabu, 24/8).

Prawartaka Karya Ir. I Ketut Sunadra, M.Si., (duduk tengah depan) didampingi I Made Anom Pande (duduk kiri) dan I Made Sukrawan Kelian Pura Gede (duduk kanan) berfoto bersama seluruh Pemangku Gede dan Pemangku Sekuwub Desa Adat Pande Dukuh Munggu, saat upacara Nyenuk lan Nyineb, Rabu (31/8).

disebut sebagai Karya Nyegara Gunung, Majauman atau Maajarajar ini sebagai wujud syukur dan terima kasih secara sekala lan niskala sesuai ajaran Tri Para Artha, asih, punia tresna lan bhakti. Acara Majauman lan Nyida Karya diselenggarakan secara ngubeng di Pura dan Segara Goa Lawah (Nyegara Ukir), karena sehari pasca-pelaksanaan Karya Rsi Gana, Caru Balik Sumpah-Mayama Raja, lan Melaspas Pura Gede/Kahyangan Tiga setempat, tepatnya sehari setelah Tumpek Krulut (Sabtu, 20/ 8), prawartaka karya juga nuur lan mundut sejumlah Tirtha Penyaksi Karya dari sejumlah Pura Sad Kahyangan di Bali dan Pura Penataran Dalem Peed. Pasca-upacara macaru dan malaspas, Sabtu (20/8), juga telah diselenggarakan prosesi pailen upakara-upacara makekobok ke Pantai Segara Seseh, Munggu, Kecamatan Mengwi, dengan mengusung, mamundut Arca Siwa Tiga, Sri-Sadana, dan pajenengan keris Ki Sesana Dukuh Tiga Sakti, I Ketut Darta beserta istri (kanan depan), I Made Anom Pande dan istri sebagai pralingga yang di(tengah depan) dan Prawartaka Karya, Ir. I Ketut Sunadra, M.Si. dan sungsung di Pura Gede/Kahyangan istri (kiri depan) saat Pailen Upakara-upacara Nyegara Gunung di Tiga, Puseh, Desa dan Dalem setempat pada Buda Cemeng Segara Goa Lawah, Kamis (8/9). bakti dan persembahyangan Nyolas Lemeng di Pura Gede dengan pemutus karya Sira Mpu Arya Palaka dari Grya Santa Budi, Kediri. Ir. I Ketut Sunadra, M.Si., Manggala Prawartaka Karya didampingi I Made Anom Pande (Bendesa Adat Pande Munggu) dan I Ketut Darta (Perbekel Desa Munggu) di sela-sela persembahyangan menjelaskan, pailen Karya Nyolas Lemeng, yang juga

Punia Tresna Hadir sejumlah undangan sebagai penyaksi karya di antaranya, Anak Agung Gde Agung, Bupati Badung yang juga Penglingsir Puri Ageng Mengwi. Bupati Gde Agung menandatangani prasasti pangeling karya dan memberi punia-tresna sebesar Rp 25 juta serta jejaton karya berupa kwangen dasar pesimpenan pedagingan di Pucak Palinggih Sanggar Agung, Padmasana, yang disimpan (kapendem) oleh Sira Mpu Nabe Dharma Dasi dari Grya Pande Taman Bali. Punia tresna juga disampaikan Ketua DPRD Badung sebesar Rp 5 juta, I Nyoman Satria Ketua Komisi A DPRD Badung secara pribadi Rp 3 juta dan Ketua Mangu Kertha Mandala se-Mengwi Rp 2 juta. Dalam rangkaian Aed Karya tersebut hadir Jejeneng Mpu Keris, JMK Jro Pande Suteja Neka (pemilik Museum Seni Neka Ubud), Pande Ketut Krisna, dan Kompyang Wisastra Pande (Ketum MSWP Bali/Pusat) dan utusan pengurus MSWP Bali dan MSWP Kabupaten/Kota se-Bali. I Made Anom Pande, menambahkan, Aed Karya Agung di Pura Gede setempat berlangsung selama 42 hari sejak Tilem Sasih Kasa (31/7) yang lalu dengan melakukan pailen upakara-upacara matur piuning, ngaku agem karya, dengan menghaturkan pejati pakideh lan sesayut Guru Pidhuka lan Bendu Pidhuka di Pura Gede setempat. Aed Puncak Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung Manawa Ratna, Mepeselang lan Mepedanan dilaksanakan (28/8), Makebat Daun dan Mebangun Ayu (30/8), Nyenuk, Nuek Pering lan Mendem Bagia Pula Kerthi langsung Nyineb (31/8) serta Penyida Karya lan Nyegara Gunung ke Pura Goa Lawah, Kamis (8/9). —ari


14

Tokoh

KESEHATAN

11 - 17 September 2011

Sembuhkan Stroke dengan Terapi Berkebun dan Memasak

menjahit, melukis dan industri makanan.

Pasien dilatih berkebun walaupun tangan kirinya masih diterapi

seperti itu, YPK memberikan kan merupakan metode peTerapi Memasak layanan antar-jemput gratis nyembuhan. Terkait efek Metode lain yang dikemberkomunikasi untuk penyemuntuk pasien miskin. buhan, dalam waktu dekat YPK bangkan, terapi memasak. YPK akan menggelar “terapi tertawa” telah merekayasa beberapa Program Layanan YPK peralatan memasak agar pasien YPK melayani pasiennya untuk pasien stroke. Manfaat terapi berkebun stroke bisa memakainya. Alas melalui tiga program yaitu rehabilitasi, edukasi dan juga telah dinikmati seorang memotong (talenan) dan pelayanan keliling (mobile penderita stroke di Perumnas penggorengan (wajan) harus clinic). Rehabilitasi pasien Monang-maning Denpasar dimodifikasi agar bisa dipakai stroke dilakukan melalui fisio- yang kini asyik bertani jamur pasien yang tangannya belum terapi yaitu latihan untuk tiram. Pensiunan pejabat normal. Dalam therapy ini, mengembalikan fungsi otot dan pemerintah ini tertarik bertani terapis harus rajin memotivasi fungsi komunikasi agar men- jamur tiram karena mendapat pasien agar berusaha mengdekati kondisi normal. Fisio- inspirasi dari artikel tentang gerakkan tangannya. Dorongan terapi ditangani terapis ber- bisnis jamur tiram yang dimuat yang tepat harus terus diberikan pengalaman dan dilakukan Koran Tokoh. Kegiatan ini mengingat ada kalanya pasien melalui terapi manual (untuk dilakukan bukan untuk tujuan merasa putus asa tidak mampu peregangan, pelurusan), elek- ekonomis, tetapi untuk menya- menggerakkan tangannya. Pasien dilatih memotong bahan masakan troterapi dan olahraga. Pasien lurkan hobinya bertani sambil Terapis pun harus pintar YPK juga mendapat pemeriksa- melatih pergerakan kaki- membujuk pasien supaya tidak tangannya. Jamur tiram yang ngambek. an dokter secara berkala. STROKE, gangguan fungsi otak akibat Upaya YPK ini sudah berdiproduksinya hanya untuk terganggunya aliran darah ke otak karena konsumsi keluarga dan di- hasil menormalkan aktivitas Dilatih Berkebun tersumbatnya pembuluh darah (akibat beberapa pasien stroke. Sri Huda Rehabilitasi juga dilakukan bagikan kepada kerabat. penumpukan kolesterol atau pembekuan darah) dengan terapi okupasi yaitu atau pecahnya pembuluh darah (sebagian besar terapi fisik melalui kegiatan sehari-hari sesuai dengan karena hipertensi). Stroke tidak hanya diderita prinsip masyarakat Bali yaitu kaum usia lanjut (manula) karena proses tri hita karana. Pasien dilatih penuaan, bisa juga dialami kaum usia produktif. fungsi motoriknya melalui Penyebabnya, antara lain stres berkepanjangan, berbagai aktivitas sosial, kurang beristirahat, gaya hidup tidak sehat berinteraksi dengan alam dan pembinaan spiritual. Pasien (makanan, penyalahgunaan obat dan alkohol), dilatih dengan berbagai kekecelakaan atau faktor penyakit keturunan Saya melenggang masuk WAYAN duduk di sisi troterampilan atau kecakapan toar pintu masuk IRD (Instalasi sambil memperhatikan kondisi (seperti kencing manis, hipertensi dan hidup untuk menumbuhkan Rawat Darurat) RSUD Ba- sekeliling rumah sakit. Di lantai gangguan jantung). kemandirian atau kepercayaan dung, Mangupura. Ketika saya dua saya bertemu petugas dirinya. Saat tertentu, pasien uatu sumber menya tah dan lembaga swadaya diajak berwisata supaya men- menghampirinya, ia tersenyum cleaning service yang sedang sambil bertanya, “Nunggu mengepel. “Boleh saya lewat,” takan, stroke bisa masyarakat (LSM) telah ber- jadi lebih segar. pasien Bu?” “Ya,” jawabku tanyaku. “Silakan Bu,” jawabdicegah dengan cara partisipasi merawat penderita Pasien dilatih berkebun disiplin mengontrol tekanan stroke di Bali. Salah satu LSM untuk melatih otot-otot dan singkat sambil duduk di nya. Pemandangan itu bertolak belakang dengan kejadian yang darah dan kondisi kesehatan, tersebut, Yayasan Peduli mendapatkan rasa segar akibat sampingnya. Wayan sedang menunggui saya lihat di rumah sakit lain berhenti merokok, berolahraga Kemanusiaan (YPK). Yayasan berinteraksi dengan alam. teratur, memakan makanan yang berkantor di Jalan Sekar Dalam latihan itu, pasien diajak ibu mertuanya yang masuk IRD ketika beberapa waktu lalu saya sehat dan mewaspadai gejala Tunjung 37 Denpasar Timur ini, berkomunikasi oleh terapis sejak pukul 07.00. Suaminya terpaksa “kos” di sana menungdini stroke. Secara umum sejak berdiri 10 tahun lalu telah dalam suasana santai dan menungguinya di dalam. Wa- gui Ibu yang lagi sakit. Ketika dikatakan stroke penyakit yang merawat 332 pasien stroke dan gembira. Pengasuh YPK Ir. yan bercerita, ibu mertuanya beberapa orang sedang lewat, menyerang tiba-tiba (sudden cerebral palsy yang tersebar di Purnawan Budi Setia, M.B.A. tidak bisa kencing. Jika mau petugas cleaning service yang attack), tetapi sebenarnya seluruh Bali. Pasien terdiri atas (51) dan Elsye Suryawan kencing, ia kesakitan. Wayan sedang mengepel berujar tubuh sudah memberi peringat- 205 pria dan 127 wanita yang menyatakan, kegiatan berkebun dan suaminya segera mem- dengan nada ketus, “Apa tidak an sebelumnya (early warning) mayoritas berdomisili di Den- sangat disukai pasien karena bawanya ke RSUD Badung. lihat saya lagi ngepel…”. Saya melanjutkan perjalandengan tanda-tanda seperti pasar. Sebanyak 80% pasien dapat melatih otot-otot yang “Untung bisa pakai JKBM an ke dalam RSUD Badung. Di (Jaminan Kesehatan Bali mengalami kesemutan yang berasal dari keluarga kurang bermasalah sekaligus bisa depan Ruang Anggrek, saya Mandara),” katanya. tidak jelas penyebabnya, tiba- mampu untuk membiayai terapi berkomunikasi dengan sesama Menurut Wayan, begitu ibu bertemu dua orang penunggu tiba mengalami sakit kepala dan bergantung sepenuhnya penderita, terapis dan keluarga yang berat, tiba-tiba terjatuh pada layanan gratis YPK. yang mendampingi. Ngobrol mertuanya tiba di rumah sakit, pasien. Dengan dalih mengatau pingsan dan kesulitan Mengingat kondisi pasien dalam suasana yang menyegar- langsung segera ditangani antar pasien, saya mencoba petugas IRD. Setelah dipasangi mengorek keterangan darinya. berbicara. selang di alat vitalnya, satu jam Sudah lima hari Made menungPenderita stroke dirawat kemudian, ibu mertuanya su- gui kakaknya rawat inap karena dengan berbagai cara, baik dah bisa kencing. Menurut penyakit diabetes. Dia masuk secara medis, nonmedis atau perempuan asal Desa Dauh Pe- menggunakan JKBM. Namun, campuran keduanya. Pihak ken, Penarungan, ini, pekerjaan Made harus mengurut dada. yang mau merawat dan kualitas Walaupun rawat inap gratis, sehari-hari suaminya supir. perawatan bagi penderita obat yang dibeli lumayan Empat tahun lalu, ia mestroke pun bervariasi. Ada mahal. Sekali menebus obat, ia lahirkan anak pertamanya di yang beruntung memiliki RSUD Badung juga memakai harus mengeluarkan uang keluarga yang peduli dan ada JKBM. Biaya persalinan gratis, sekitar Rp 300 ribu. Made pula yang terabaikan. Terabaitetapi obat harus dibeli. mengaku stres. Ia ingin pulang nya perawatan penderita stroke Menurut dokter, ungkapnya, saja karena sudah jutaan rupiah di samping karena faktor dana, ada obat yang tidak ditang- uang yang sudah ia habiskan. juga tiadanya informasi mengeMenurut penuturan Made, gung JKBM. Ia mengaku mengnai lembaga yang menangani habiskan uang Rp 300 ribu pelayanan yang diterima pasien penyembuhan penyakit ini. untuk pembelian obat. Tetapi, JKBM dengan pasien bayar Berbagai lembaga pemerinTerapi olahraga (gyms) sama saja. Tidak ada perbedaan. empat hari rawat inap gratis. Menurut kesannya, rua- Pernyataan Made dibenarkan ATLS, dan perawat yang telah ngan-ruangan di RSUD Badung Putra, salah seorang penunggu mengikuti pelatihan ke- bersih. Ia menuturkan, bebe- pasien bayar. Menurut Made, gawatdaruratan serta ber- rapa waktu lalu, iparnya jatuh walaupun ia tidak mengenal sertifikat minimal BTLS dan dan kepalanya bocor. Setelah siapa pun di RSUD Badung, para dokter spesialis sebagai dibawa ke RSUD Badung, pelayanan tidak dibedakan. konsultan. Juga, dilengkapi kondisinya dinyatakan parah “Pelayanan di sini baik. Ya itu pelayanan ambulan siap siaga dan harus segera dirujuk ke RS tadi, saya hanya mengeluhkan 24 jam. Poliklinik buka pukul Sanglah. walaupun pakai JKBM, obat 08.00 s.d 12.30 yakni klinik Dengan alasan haus dan harga Rp 50.000 ke atas harus penyakit bedah, anak, pe- ingin ke kantin, saya tinggalkan bayar,” tutur Made. nyakit dalam, kebidanan, gigi Wayan dan melanjutkan perSetelah mengobrol dengan dan mulut, THT, mata, kulit jalanan ke dalam rumah sakit Made, saya mencoba berjalankelamin, jiwa, saraf, reha- yang dikenal masyarakat jalan lagi ke beberapa ruangan. bilitasi dan VCT. sebagai “Rumah Sakit Kapal” Di ruang bersalin, saya bertemu Dokter Agus Bintang me- itu karena lokasinya di Ke- banyak penunggu pasien. Satu ngatakan, 28 dokter spesialis lurahan Kapal. Tampak lantai- ruangan terisi 12 orang pasien dari berbagai keahlian meleng- lantainya bersih karena baru melahirkan. Salah satunya, istri kapi RSUD Badung. Ia me- selesai dipel. Saya langsung Made asal Desa Baha Mengwi. ngatakan, RSUD Badung be- menuju ke Bagian Informasi. Ia masuk menggunakan jaminan lum memiliki dokter sub- “Saya mau nengok pasien atas persalinan (jampersal). Menurut spesialis seperti bedah saraf, nama Made Susi. Dia masuk Made, sekarang JKBM tidak ortopedi, dan endokrin. Saat karena patah tulang.” ujarku. melayani pasien melahirkan. Ia ini, kata dia, pelayanan praktik “Silakan Ibu naik ke lantai tiga. disarankan menggunakan jamdokter sore hari mulai pukul Cari ruang bedah. Ibu bisa persal. Mengurus jampersal 18.00. tanyakan di sana pasien atas tidak sulit. Dengan membawa Gambar yang dipajang di dinding Ruang Jempiring Instalasi rawat inap terdiri nama itu,” ujar staf di Bagian kartu pemeriksaan kehamilan, fotokopi KTP, surat miskin, dan RUMAH Sakit Umum Nomor 62 Tahun 2010, mulai 1 atas ruang Anggrek 29 tempat Informasi. Daerah Badung bermula dari Januari 2011 RSUD Badung tidur, Tunjung 36, , Jepun 28, Klinik Dharma Asih yang menjadi Badan Layanan Umum Jempiring 15. Kelas perawatan dikelola Yayasan Hindu Resi Daerah ( BLUD). RSUD Badung terdiri atas kelas I tersedia 15 tempat tidur, kelas II 25, kelas Markandeya. September 1998 termasuk rumah sakit tipe C. diambil alih Pemkab. Badung, Luasnya sekitar 2 hektare III 62, VIP 4, ICU 2. Total, kemudian diganti namanya dengan bangunan empat lantai. 108 tempat tidur. menjadi Poliklinik Rumah Sakit Pelayanan yang diberikan, Jenis tindakan medik yang Bersalin Cura Dharma Asih. Instalasi Rawat Darurat ( IRD), dilayani, kamar bersalin, Tahun 1998/1999 dilanjutkan Instalasi Rawat Jalan (poli- bedah sentral (bedah umum, dengan pembangunan ge- klinik), Instalasi Rawat Inap, kandungan/kebidanan, THT). dung rumah sakit. Akhirnya, Instalasi Rawat Intensif (ICU), Unit penunjang laboratorium, 4 September 2002 secara resmi Unit Tindakan Medik, Unit radiologi (USG), instalasi fardibuka Bupati Badung A.A. Pemulasaran Jenazah. Penun- masi 24 jam, Gizi. Pemulasaran Oka Ratmadi. Sesuai dengan jang IRD dokter jaga yaitu jenazah dilengkapi mobil Peraturan Bupati Badung dokter umum yang bersertifikat jenazah melayani 24 jam. —ast Poliklinik RSUD Badung tkh/ast

Utami (53) yang beralamat di Jalan Nangka Selatan Gang Perkutut, Denpasar, menjadi pasien YPK tahun 2008 hingga 2010. Ketika pertama kali datang ke YPK, dia masih memakai kursi roda karena tangan dan kakinya kaku. Dengan terapi yang teratur, kini dia sudah bisa berjalan dan melakukan tugas memasak di rumahnya. Beberapa mantan pasien sudah bisa beraktivitas secara normal, bahkan ada yang mampu berwirausaha seperti membuat kue dan berdagang. YPK dengan program edukasinya sejak didirikan telah dilibatkan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Bali membangun kewirausahaan tenaga kerja penyandang cacat melalui berbagai pelatihan kerja seperti

Perlu Bantuan. Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) dalam usia 10 tahun ini telah tiga kali ganti alamat. Ketika berdiri tahun 2001, YPK berkantor di Jalan Nusa Indah, tahun 2005 pindah ke Jalan Badak Agung. Juni 2010 YPK harus pindah dan menyewa tempat di Jalan Sekar Tunjung hingga Juni 2012. Minimnya dana yang dimiliki menyebabkan LSM yang peduli pada penderitaan manusia ini hanya mampu menyewa tempat dalam jangka waktu singkat. Walaupun masa sewa masih tersisa 10 bulan, saat ini pengasuh YPK sedang berpikir untuk mendapatkan lokasi kantor yang baru karena tidak mampu membayar perpanjangan sewa tempat yang sekarang. Seringnya berpindah tempat tentu mengandung berbagai risiko, antara lain harus menyesuaikan peralatan untuk pasien dengan tempat yang tersedia. Ada pula alat yang harus dijual untuk menutupi biaya operasional. Dengan kondisi seperti itu, pengasuh YPK mengharapkan Pemprov Bali atau Pemkot Denpasar memberikan fasilitas tempat sekalipun dengan status menyewa. Idealnya, yayasan yang merawat penyandang cacat tubuh ini berlokasi di sekitar lapangan untuk memudahkan terapi pasien. zDrs. I Wayan Nurjaya, M.Si.

Pada Suatu Hari di RSUD Badung

S

tkh/ast

Bermula dari Klinik

tkh/ast

RSUD Badung

surat rujukan dari puskesmas sudah bisa mendapatkan pelayanan jampersal. Istri Made operasi caesar. Sebab, bayinya tidak lahir-lahir padahal sudah lewat dua minggu dari waktu yang diperkirakan. Menurut lelaki yang berprofesi sebagai tukang bangunan ini, di RSUD Badung walaupun ditetapkan jam berkunjung, masih ditolerir jika ada yang datang membesuk tidak sesuai waktunya. Penunggu pasien juga diberi tempat khusus. Jika ada penunggu pasien yang berkeliaran, satpam memberi penjelasan. Made yang satu ini sudah empat hari di rumah sakit. Rencananya, istrinya sudah boleh pulang hari itu. Ia sedang menunggu dokter untuk hasil pemeriksaan terakhir. Pelayanan RSUD Badung diceritakan Yande, salah seorang penunggu pasien stroke. Ia sudah dua minggu menjaga kakeknya di rumah sakit. Lelaki asal Desa Abiansemal ini mengatakan, dua minggu di rumah sakit, ia belum menemukan kekurangan dalam pelayanan. Terhadap rumor jika malam di RSUD Badung terdengar suarasuara menyeramkan, ia membantah. “Selama saya di sini aman-aman saja. Mudah-mudahan itu hanya gosip,” tuturnya. Setelah selesai berkeliling di dalam rumah sakit, saya mencoba masuk ke poliklinik. Sekitar 50-an pasien sedang antri. “Menurut tiang becik driki. Mangkin sami bersih. Pelayanannya baik mungkin karena pasiennya sedikit,” tutur salah seorang pengantar pasien, perempuan asal Kapal, Wayan Juki. Ayahnya baru saja selesai operasi perut di RS Sanglah dengan JKBM. Ia dibolehkan kontrol di RSUD Badung agar lebih dekat. Mengisi Buku Cinta Perjalanan ke RSUD Badung kembali saya lanjutkan esok harinya. Saya harus mewawancarai Direktur RSUD Badung dr Agus Bintang Suryadhi, M.Kes. Setelah menanti sekitar 45 menit karena Direktur masih rapat, saya dipersilakan masuk oleh sekretaris pribadinya. Dokter Agus Bintang menjawab pertanyaan saya sambil mengajak berkeliling RSUD Badung. Ia ingin langsung menunjukkan RSUD Badung sudah berbenah, mulai dari kebersihan dan kerapian ruangan. Setelah mengelilingi bagian depan poliklinik, kami menuju ruang

Jempiring khusus pasien anakanak. Tembok dihiasi macammacam gambar kartun. Menurut Dokter Agus Bintang, ruangan tersebut dimanfaatkan untuk acara ramah tamah dengan pasien dan penunggunya. Tiap bulan digelar ceramah kesehatan oleh dokter spesialis sesuai isu penyakit yang lagi trendi. Tiap ada pertemuan, ada tanya jawab dengan penunggu pasien. Menurut Kepala Ruangan Jempiring Suarma, beberapa bulan lagi akan segera dibangun ruangan khusus bermain. “Walaupun sebagian besar pasien termasuk orang yang tidak mampu, mereka juga bisa bermain sehingga mempercepat kesembuhan mereka,” ujarnya. Ia berharap, jika ada donatur yang bersedia memberi sumbangan dalam bentuk apa pun termasuk alat-alat bermain akan diterima dengan senang hati. Pasien yang suka menggambar difasilitasi. Gambar yang dinilai bagus dipajang di papan. Saya diajak masuk ke salah satu ruangan kelas III. Ada enam pasien anak-anak. Dokter Agus sempat berbincang-bincang dengan para penunggu pasien. Para pasein ditanya keluhan selama rawat inap di sana. Tiap pasien yang akan pulang, harus mengisi buku cinta, yakni buku untuk menuliskan semua keluhan maupun saran dan kesan selama rawat inap. Saya sempat membaca buku cinta tersebut. Kalimat yang terbanyak ditulis, “Petugasnya ramah”. Dari Ruang Jempiring, saya diajak menuju ruang laundry. Menurutnya, dulunya memang ruangan itu terkesan jorok. Namun, sekarang semua berubah. Ada mesin cuci besar melengkapi ruangan tersebut. Kami melangkah menuju dapur. Beberapa petugas sedang sibuk menyiapkan makanan. Dokter Agus berharap, suatu saat nanti, dapur tidak hanya menyiapkan makanan untuk pasien tetapi pengunjung bisa juga memesan makanan. Menurut dokter yang menjabat sejak setahun lalu ini, RSUD Badung kini sudah berbenah. Semua ini, kata dia, juga memerlukan dukungan dari semua pihak termasuk masyarakat. “Buku cinta menjadi panduan kami untuk meningkatkan kualitas. Kalau ada keluhan segera kami respons,” tandasnya. —ast.


RILEKS

11 - 17 September 2011 Tokoh 15

Fauja Singh

Pelari Maraton Berusia 1 Abad Inilah pelari maraton tertua di dunia. Fauja Singh, usianya 100 tahun. Melihat tampilan fisiknya, tidak ada yang menyangka kalau usianya sudah mencapai satu abad. Proses penuaan alami seperti melambat terjadi di tubuh Singh. Apa rahasianya?

K

akek Singh mengaku, tidak mempunyai kiat khusus. Ia hanya berusaha hidup bahagia, selalu berpikir positif dan banyak melakukan amal dalam hidupnya. Dan, yang terpenting lagi, bebas dari stress. “Bebas dari stress, itu adalah rahasia umur panjang. Jika ada sesuatu, dan kamu tidak dapat mengubahnya, mengapa harus mengkhawatirkannya. Mengucap syukur atas apa yang kamu miliki, dan jauhi orang-orang yang memberi dampak negatif padamu. Jangan lupa, seringlah tersenyum,” ujar kakek Singh memberi nasihat. Tentang pola makan, menurut Singh, biasa saja. Seharihari ia banyak menyantap kari jahe dan minum teh. “Selain itu, rajin berolahraga. Olahraga membuat tubuh bergerak, otot terlatih,” tambahnya. Olahraga kegemaran kakek Singh adalah lari. Itu dilakukannya sejak muda hingga sekarang. Tidak hanya sekadar berlari untuk olahraga semata, ia juga berani bertarung di ajang kejuaraan maraton internasional. Kakinya begitu cepat dan mampu mengimbangi pelaripelari maraton yang berusia ja-

uh lebih muda darinya. Setidaknya sampai usianya ke- 89, ia telah tampil di tujuh kejuaraan maraton internasional dan berlari di 500 lintasan. Ia berencana tampil dalam kejuaraan maraton di Edinburg, Inggris, tahun depan. Kakek Singh adalah pendaftar pertama ikut kejuaraan yang bakal digelar tahun 2012. Untuk mempersiapkan diri, tiap hari ia berlatih lari sejauh 1 mil atau sekitar 16 km. Bisa dibayangkan, betapa kuatnya dia. Kenalannya sering mengatakan agar ia berhenti berlari karena mereka menganggap olahraga itu terlalu berat untuk orang seusianya. Tetapi, Singh tidak peduli. “Jika orang meminta aku berhenti berlari, aku mengabaikannya. Aku mampu melakukannya, jadi kenapa harus berhenti?” ucap kakek Singh yang lahir 1 April 1911 ini. Sehari-hari kakek Singh bekerja sebagai seorang petani di Punjab. Olahraga maraton ditekuninya secara serius. Bahkan dia memiliki pelatih khusus untuk olahraga itu, yakni, Harminder Singh. Awalnya, ia hanya berlatih biasa. Ketika kemampuan berlari jarak jauhnya

“Bebas dari stress, itu adalah rahasia umur panjang. Jika ada sesuatu, dan kamu tidak dapat mengubahnya, mengapa harus mengkhawatirkannya” Fauja Singh sedang berolahraga

Mencegah Stroke Stroke adalah hilangnya sebagian fungsi otak yang terjadi secara mendadak atau tiba-tiba akibat dari sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak. Ada tiga penyebab utama stroke : 1. Stroke thrombolitik yang disebabkan karena timbunan lemak (plak) yang terbentuk di dinding pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke otak. Proses pembentukan berlangsung lambat sehingga sumbatan yang terjadi pun berlangsung secara bertahap, sampai akhirnya pembuluh darah arteri tersumbat total. 2.Stroke embolitik yang disebabkan karena bekuan darah atau plak yang terbentuk di pembuluh darah di tempat lain terlepas dan mengembara bersama dengan aliran darah sampai akhirnya mentok dan menyumbat pembuluh darah otak. Saat mengembara, bekuan darah atau plak disebut dengan embolus. 3. Stroke hemoragik yang disebabkan karena pembuluh darah arteri yang menyuplai darah ke otak pecah tepat di tengah tengah otak. Kematian akibat stroke hemoragik sangat tinggi karena sifat penyakitnya yang sangat cepat dan mendadak. Serangan stroke sebenarnya sudah dibangun sejak beberapa tahun sebelumnya. Beberapa faktor risiko terjadinya stroke antara lain tekanan darah tinggi, merokok, penyakit jantung, dan diabetes.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah serangan stroke : 1.Periksalah tekanan darah secara periodik dan jika naik, segeralah ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penanganan tekanan darah yang tepat akan mengurangi risiko terjadinya stroke dan serangan jantung. 2. Berhentilah merokok. Studi membuktikan risiko terjadinya stroke pada orang yang berhenti merokok selama 2 sampai 5 tahun, jauh lebih rendah daripada mereka yang masih merokok. 3.Berolahragalah yang teratur. Para ahli beranggapan, olahraga akan membuat jantung lebih kuat dan mampu menurunkan berat badan. Kegemukan meningkatkan risiko terjadinya tekanan darah tinggi, atherosklerosis, penyakit jantung, dan kencing manis. Aktivitas fisik seperti jalan santai, berenang dan kerja lapangan mampu menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung. Sebelum memulai olahraga, konsultasilah ke dokter untuk mengetahui olahraga yang tepat untuk fisik Anda. 4.Makanlah makanan yang sehat. Pilihlah makanan yang rendah lemak, lemak jenuh dan kolesterol. Makanlah bermacam jenis buah dan sayuran. 5.Bila Anda menderita kencing manis, kontrollah penyakit Anda dengan baik. Jika tidak tertangani dengan baik, kencing manis atau diabetes akan merusak pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya atherosklerosis. 6.Waspadalah terhadap gejala atau tanda dini dari stroke. Segeralah ke dokter bila Anda mengalami kesemutan yang tidak jelas penyebabnya, sakit kepala yang berat secara tiba tiba, penglihatan kabur, kesulitan berbicara dan tiba tiba terjatuh atau pingsan. Gejala awal stroke sering disebut dengan transient ischemic attack (TIA) yang sangat berpotensi terjadinya stroke. Sumber: http://www.blogdokter.net

makin baik, ia pun dengan berani menantang pelari-pelari veteran lainnya. Tidak puas hanya itu, ia pun melanglang buana mengikuti berbagai lomba maraton di luar India. Setidaknya ia telah lima kali ikut kejuaraan maraton di London, Inggris, satu kali di Toronto, Kanada, dan satu kali di New York, AS. Kakek Singh adalah pemegang rekor untuk kategori usia di atas 90 tahun dengan catatan waktu 5 jam 40 menit. Rekor itu diukirnya di Toronto tahun 2003. Ia berharap di Edinburgh nanti akan tampil dalam nomor estafet 26,2 mil. Timnya empat orang, tiga lainnya berusia ratarata 86 tahun.—dia/dailymail

Halo Dura, Saya Meytha, umur 19 tahun. Saya mengalami masalah yaitu wajah saya yang kelihatan kusam karena sering terkena debu dan matahari dan wajah saya yang cepat berminyak, apakah ada cara agar wajah tidak kusam dan tidak cepat berminyak? Meytha, melalui email Halo Meytha, Masalah kulit kusam dan warna kulit tidak merata sudah menjadi masalah bagi kebanyakan orang, terutama yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Kulit kusam terutama disebabkan oleh penumpukan sel-sel kulit mati, paparan sinar matahari dan sisa zat lain seperti kosmetik. House of Dura Bali menghadirkan “Dura Micropeel” untuk masalah kulit kusam Anda. Dengan teknologi diamond microdermabrassion perawatan ini terutama berfungsi untuk mengangkat timbunan sel-sel kulit mati di wajah, meratakan tekstur kulit yang tidak merata, dan mengecilkan pori-pori wajah sehingga minyak wajah menjadi berkurang. Selain bagian wajah, perawatan ini bisa diaplikasikan pada bagian tubuh yang lain, seperti leher dan punggung. Hailnya tekstur kulit lebih merata, pori-pori lebih mengecil, dan kulit menjadi segar dan cerah. Perawatan diakhiri dengan pemberian vitamin ampoule dan masker peel off. Perawatan ini dapat diulang setiap 3-4 minggu sekali. Semoga jawaban dari kami bisa menjadi solusi terbaik bagi Anda. Kami berikan perawatan Dura MicroPeel gratis untuk Meytha. Salam hangat dari House of Dura Bali.

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Mengatasi Masalah Kulit Yth. Ibu Agung Saya Marry 24 tahun, saya bekerja di salah satu perusahaan swasta. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Hal itu membuat kulit saya menjadi tampak kusam, terasa kasar, dan kering. Mohon bantuan Ibu perawatan apa yang bisa saya gunakan untuk mengatasi masalah saya tersebut. Dan, mohon ditampilkan contoh busana adat Bali yang dapat digunakan saat upacara makalan-kalan. Marry, Klandis Yth. Adik Marry Dalam melaksanakan aktivitas di luar ruangan, kita harus memberikan perawatan yang lebih pada kulit agar dapat terlindungi dari debu, kotoran maupun efek negatif yang dipancarkan oleh sinar matahari. Berikut ini adalah perawatan dari luar yang bisa Adik lakukan untuk menjaga kulit agar tetap sehat. A. Bersihkan kulit Adik secara teratur dengan milk cleanser kemudian di basuh dengan air hangat-hangat kuku, (minimal 1 s.d. 2 kali sehari). Hal ini sangat efektif terhadap perawatan kulit karena membantu membuang kotoran dan elemen kasar lainnya dari kulit terutama jika Adik sering beraktivitas di luar ruangan. B. Gunakan pelembab untuk wajah dan leher. Hal ini bisa mencegah kulit menjadi kering. Bagi yang kulitnya berminyak dapat menggunakan pelembab yang konsistensinya lotion atau gel, sedangkan yang tipe kulitnya kering bahan yang berbentuk krem sangat baik untuk melembabkan. C. Bagi Adik yang sering bekerja di luar ruangan tabir surya atau sunblock adalah kosmetik wajib yang tidak boleh dilupakan. Karena sinar matahari ke kulit yang tidak dilindungi dapat mempercepat timbulnya garis-garis kerut dan flek-flek hitam di wajah. D. Banyak minum air mineral. Ini tidak hanya akan melembabkan kulit, tetapi akan membantu pemeliharaan dalam semua kesehatan tubuh dan pada gilirannya terhadap kulit. Berikut ini adalah contoh busana adat Bali yang dapat Adik kenakan untuk upacara makalan-kalan. Selamat mencoba.


LAPAS

Apa Kabar Lapas Khusus Wanita? KABAR bakal dibangunnya Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita di Bali sempat berembus di era Kanwil Hukum dan HAM Bali dipimpin Nyoman Rata. Kabar itu menyebutkan, lapas khusus tersebut semula direncanakan dibangun di Gianyar. “Wah, saya tidak bisa memberikan keterangan soal itu. Pak Kakanwil Hukum dan HAM Bali masih di luar Bali,” ujar humas instansi ini, Komang Tri, kepada wartawan Koran Tokoh. Kebutuhan adanya bangunan lapas khusus wanita tersebut dinilai kalangan aktivis perempuan Bali amat mendesak. “Ini sudah terlalu lama dibiarkan telantar rencana membangun lapas khusus tersebut,” ujar aktivis perempuan Bali Luh Putu Anggreni, S.H. Menurutnya, kondisi Lapas Denpasar saat ini membuat tidak nyaman siapa pun yang berada di dalamnya. “Sangat gerah terasa saat saya bersama para aktivis perempuan berkunjung ke blok khusus perempuan Lapas Denpasar beberapa waktu lalu. Ruangan sempit yang diisi sekitar 10 tahanan itu jelas sangat tidak

nyaman,” ungkapnya. Kebersihan sel tahanan juga diamati menyimpan masalah. Ada sel yang memang tampak bersih dan teratur. Namun, ada juga yang berantakan. “Beberapa napi dan tahanan sempat curhat kepada kami waktu itu. Warga binaan ini terpaksa memakai kaus tipis dan minimodel tank top untuk mengusir rasa gerah. Mereka sebenarnya tak nyaman memakai pakaian seperti itu. Apalagi CCTV selalu mengintai gerak-gerik mereka. Alat ini memang untuk pengawasan, tetapi mereka merasa tidak nyaman,” tutur salah seorang napi seperti dikutip Anggreni. Beberapa tahanan, mencoba mencari solusi dengan membawa kipas angin. Ironisnya, kata Anggreni, kasus para tahanan dalam satu sel umumnya berbeda-beda. Hal ini dapat berpengaruh

Dari Keluarga Broken Home TAHUN 2009 KPAID Bali melakukan penelitian di Lapas Anak Gianyar di Karangasem. Penelitian ini bekerjasama dengan Bagian SMF Psikiatri RS Sanglah/ FK Unud. Dari penelitian itu ditemukan meningkatnya anak yang terjerat tindak pidana. “Kasus yang dialami anak-anak antara lain pencurian, penjambretan, penganiayaan, penghinaan, kejahatan terhadap ketertiban, melarikan anak di bawah umur, narkotika/ psikotropika, perjudian, membawa senjata tajam, kelalaian, lokika

sanggraha, perbuatan cabul, persetubuhan dengan anak, pengguguran kandungan, dan pembunuhan bayi,” ungkap mantan ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Bali dr. A.A. Sri Wahyuni, Sp.K.J yang kini aktif sebagai ketua Pelaksana Lembaga Anak Bangsa (LAB) Bali. Dari pengamatan di Lapas Anak, KPAID Bali menemukan beragam persoalan anak yang berhadapan dengan hukum. Permasalahan itu di antaranya masih ada diskriminasi terhadap anak-anak. Anak-anak yang berasal

secara psikologis. “Walau dampak positifnya mereka bisa curhat satu sama lain, tetapi harus tetap diwaspadai. Mereka yang masuk ke sel bisa saja pelaku kejahatan senior. Mereka ini bisa saja berinteraksi dan dipengaruhi napi atau tahanan yang bisa membunuh dalam keadaan terjepit atau korban narkoba yang baru pertama kali menjadi pemakai atau bahkan bandar kelas kakap,” paparnya cemas. Penjahat amatiran bisa belajar pada yang pelaku kriminal kelas kakap. Mereka yang tidak pernah memakai narkoba dapat belajar menjadi pengguna. “Yang tidak tahu cara mencuri dan menipu belajar kepada yang lain. Ini yang dikhawatirkan. Apa benar kurungan membuat jera atau malah membuat para tahanan ini bertukar ilmu atau saling belajar satu sama lain. Bisa saja karena mereka berkomunikasi tiap hari,” ujar mantan ketua LBH Bali ini. Menurut Anggreni, bukan hanya fasilitas lapas yang kurang memadai dikeluhkan tahanan, mereka juga curhat masalah konsumsi yang diberikan tiap hari. “Nasi yang dimakan kerasnya seperti sengauk (nasi kering yang dijemur). Akibatnya, bayak napi dan tahanan lebih sering membeli makanan di luar penjara,” imbuhnya. Ada satu kisah dituturkan

Kebanyakan Anak Penghuni Lapas

dr. Sri Wahyuni, Sp.K.J.

dari keluarga miskin sulit mendapat akses pembelaan dari pengacara, sangat mudah mendapat penahanan dan luput dari informasi yang jelas tentang hak-hak tersangka. Kondisi

Anggreni. Seorang tahanan perempuan dijebloskan ke Lapas Denpasar bareng pacarnya. Ternyata perempuan itu dalam kondisi hamil. Setelah beberapa bulan di lapas, ia melahirkan. Bayi itu ditempatkan satu sel bersama ibunya. Memang, kata Anggreni, bayi itu tidak kekurangan kasih sayang, karena penghuni lainnya ikut menjaga bayi ini. Namun, secara psikologis sangat tidak baik jika bayi itu terus berada dalam tahanan. Anggreni bersama para aktivis perempuan lainnya mencoba memasilitasi agar kedua sejoli yang sedang mendekam di lapas ini segera dinikahkan. Dengan begitu keberadaan dan pengasuhan anak mereka jelas. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Tidak ada kesepakatan pihak keluarga

pasutri ini. Padahal, menurutnya, lebih baik keluarga yang mengasuhnya, bukan malah si bayi ikut-ikutan mendekam di lapas. Sampai sekarang dia tidak tahu, apakah bayi itu masih berada satu sel bersama ibunya. Menurut pandangannya, sebaiknya perempuan dibuatkan khusus lapas perempuan. Satu pemandangan dilukiskan Anggreni ketika para tahanan dipertemukan. Tampak di pojok, mereka tidak malu-malu menunjukkan ketertarikkan satu sama lain. Bahkan, ada yang sampai saling pangku dan rangkul. “Karena di Lapas Denpasar masih ada beberapa tahanan anak-anak. Bagaimana jika mereka melihat situasi seperti itu,” kata Anggreni. Menurutnya, lokasi lapas perempuan sebaiknya jauh dari keramaian, misalnya di wilayah Peguyangan. Untuk para tahanan narkoba sebaiknya juga dipisah tersendiri. Lebih tepat namanya tempat rehabilitasi bukan penjara. Apalagi mereka itu korban. Daerah Bangli yang bersuhu sejuk sangat cocok sebagai tempat rehabilitasi pemakai narkoba. Dalam Lapas, ada unsur pembinaan dan pemberian keterampilan yang bisa digunakan setelah keluar dari Lapas. Tempatnya juga harus luas yang dapat dimanfaatkan bercocok tanam bagi para tahanan. —ast,sam

ini diperparah jika tak ada keluarga yang memberi dukungan terhadap pelaku anak-anak. Permasalahan kedua, anak-anak yang berhadapan dengan hukum langsung diputus haknya untuk memperoleh pendidikan karena sekolah lebih mementingkan menjaga nama sekolah daripada melakukan pembinaan terhadap anak-anak ini. Ketiga, peran Balai Pemasyarakatan (Bapas) kurang tersosialisasikan dengan baik dan sejauh mana penelitian Bapas dapat menjadi kajian hakim dalam memberikan pertimbangan hukum masih belum jelas. “Dari penelitian tersebut, kami memberikan rekomendasi dalam kasus anak yang berhadapan dengan hukum, baik sebagai korban maupun pelaku harus mendapat perlindungan dengan dasar mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak. Perlu juga sosialisasi

mengenai UU Perlindungan Anak no 23 tahun 2002 dan UU Peradilan Anak no 3 tahun 1997,” tegasnya. Dari penelitian tersebut, dr. Yuni juga mengatakan kebanyakan anak-anak penghuni Lapas Anak sudah menghadapi masalah sebelum mereka berhadapan dengan hukum, misalnya berasal dari keluarga broken home dan pernah mengalami perlakukan yang menyimpang. Kondisi ini diperparah ketika berhadapan dengan hukum, mereka tidak mendapat dukungan keluarga. Sebenarnya, tidak semua anak yang berhadapan dengan hukum harus menjadi penghuni Lapas Anak. Jika orangtua atau keluarga bisa membina, tak perlu masuk Lapas Anak. Tetapi, ada yang memilih membiarkan anaknya masuk Lapas Anak dengan harapan anaknya akan menjadi lebih baik. —wah

Luh Anggreni

Piawai Ngurus..........................................................................................................................dari halaman 1 pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar selama sembilan tahun. Beliau pun bisa berhasil melakoni usaha bisnis di luar media, termasuk membangun Radio Gema Merdeka dari nol,” kisah Public Relation Manager & Media Executive Gema Merdeka Group ini. Ada cerita panjang kiprah ayahnya yang diungkapkan Gung Inten. Pendek kata, dr. Ngurah Oka dikisahkan putri sulungnya ini mengawali kerja bisnis dari keringat sendiri sebagai dokter. Ngurah Oka konon mengumpulkan duit sedikit demi sedikit untuk membangun usaha bisnis radio tadi. Hasil keringat ayah juga dipakai beli tanah sedikit demi sedikit di kawasan Besakih, Karangasem. “Ayah saya punya prinsip enggan mengemis-ngemis bantuan keluarga. Beliau merasa lebih punya harga diri jika bekerja keras dalam mengais rezeki,” lukisnya. Prinsip itu ditambah lagi sikap hemat yang ditanamkan sang ayah. Itu sungguh dirasakan Gung Inten dan adik nomor duanya, I G.N. Wira Negara, S.E. (25) sejak bocah. Adik bungsunya, I G.A.A. Mutiara Wulandari (16), masih duduk di bangku SMAN 1 Denpasar. “Saya dan adik nomor dua paling merasakan disiplin yang diterapkan ayah. Hasilnya, saya terutama amat merasakan manfaat positifnya dalam membentuk sikap hidup saat ini ,” ujar sulung tiga bersaudara ini. Radio Gema Merdeka yang digagas dr. Ngurah Oka beroperasi

Gung Inten (kedua dari kiri) dan sebagian kecil pengurus Iwapi Bali yang dipimpin Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M.

tahun 1981. Kini Gung Inten dan Wira Negara mulai mewarisi usaha bisnis radio tersebut. Gung Inten khususnya bahkan lebih memilih terjun langsung mengelola dunia bisnis media eletronik tadi. Padahal, perempuan berparas ayu ini sarjana arsitektur. “Saya tetap jalankan kerja seorang arsitek, tetapi lebih banyak ngurus radio,” kilah Sektretaris Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indoensia (PRSSNI) Bali ini. Sebelum menjadi ‘tukang insinyur’ dirinya berinovasi secara kreatif menggagas lahirnya sebuah anak perusahaan baru sejenis. Itu terjadi tahun 2000 saat Gung Inten masih duduk di kelas 2 SMAN 1 Denpasar. Nama media elektronik yang digagasnya Radio Suara Sunari. Segmen pasarnya kalangan penggemar kumpulan lagu legend

atau oldiest. “Padahal, era 2000-an sedang booming radio anak muda. Saya tidak mau ikut-ikutan, saya pilih tembang legend untuk mengembangkan kekhasan Radio Suara Sunari,” ungkap alumnus Program Studi Arsitektur FT Unud tahun 2007 ini. Pilihannya ternyata tidak meleset. Radio ini disebutkannya sebagai berhasil memancing perhatian banyak penggemar dalam waktu relatif pendek. Namun, awalnya, kata Gung Inten, tidak gampang mengoleksi kumpulan lagu lama tersebut. “Saya harus pontang-panting keluar-masuk pasar loak di Jakarta dan Surabaya untuk membeli kaset lagu-lagu lawas. Zaman itu kan susah minta ampun mencari lagu-lagu legend, tidak seperti sekarang sudah direkam ulang dalam bentuk com-

pact disk. Saya membeli berdusdus kaset. Tetapi, tidak semua kaset dalam kondisi bagus. Ada yang jamuran, ada yang pitanya rusak, sehingga suara lagunya saat diputar tidak lagi bening. Walau akhirnya sebagian besar kaset tersebut masih bagus saat digunakan,” kisahnya. Koleksi lagu lama tak jarang juga diperoleh dari penggemar radio ini. “Jika kami tak punya lagu kesukaan mereka, biasanya kaset atau CD diberikan pendengar setia radio kami,” ungkapnya. Ekspansinya tidak hanya itu. Radio Dirgantara di Kota Negara yang kolaps juga diambilalihnya tahun 2007. “Kami juga membangun Radio Smarandana di Besakih dan Radio Beat di Gianyar,” jelas Direktur PT Gema Citra Usadha dan PT Bali Usadha Bakti yang bergerak di bisnis alat-alat kesehatan itu. Radio Smarandana dibuat untuk memenuhi permintaan masyarakat di kawasan Besakih. Ini bermula dari kerja ngayah Radio Gema Merdeka maupun Suara Sunari yang tak jarang menyiarkan jadwal piodalan di Pura Batur dan Pura Besakih secara gratis. “Pemuka adat dan umat Hindu di Besakih lalu minta kami buat radio di wilayahnya. Kebetulan ada lahan perkebunan sekitar 12 hektare milik ayah. Vila di atas lahan ini dijadikan studio. Radio Smarandana maupun Radio Beat sedang siap-siap on air,” kata Dirut Radio Smarandana dan Radio Beat ini. Kesibukan di Iwapi Bali yang

dipimpin Dra. A.A. Putri Puspawati, M.M. tak membuat Gung Inten alpa mengurus manajemen radio, kerja profesional sebagai arsitek, maupun perhatian terhadap keluarga. Gung Inten yang duduk di divisi humas ini berusaha membagi waktu sebaik-baiknya untuk pekerjaan, organisasi, dan keluarga. “Semua bisa jalan asal waktu bisa diatur sedemikian rupa,” kata ibu satu putri, Pt. Keisha Putri Karang Suarshana (1,2 tahun) ini. Dirinya diakui tidak otomatis direkrut saat direferensikan seorang sobatnya untuk duduk di kepengurusan Iwapi Bali periode 2011-2016. Sebuah proses semacam fit and proper test dilewatinya dulu. “Bu Agung Puspawati sebagai Ketua Iwapi Bali ternyata tidak asal comot orang untuk duduk di struktur kepengurusannya. Saya diwawancarai dulu, ditanya kesediaan, juga soal visi dan misi saya bergabung untuk membesarkan Iwapi. Bu Agung ingin merekrut orang sesuai prinsip the right women on the right place. Saya ditempatkan di bidang humas sesuai latar belakang saya sebagai orang radio,” jelasnya. Gung Inten memang makin sibuk di organisasi. Ia juga tetap suntuk bekerja membesarkan manajemen bisnis radio. “Tetapi, saya berusaha menjaga hubungan harmonis dengan suami, anak, orangtua, dan mertua. Apalagi, kedua mertua saya amat menyayangi kami,” kata menantu pengusaha pariwisata Jro Gde Karang T. Suarshana ini. — sam

Citrakan Populisnya...............................................................................................................dari halaman 1 lapisan sosial ekonomi, termasuk kalangan perempuan pengusaha mikro, kecil, dan menengah di Pulau Dewata. “Kegiatan awal Iwapi Bali memotivasi pelaku usaha mikro dan kecil di Pasar Badung belum lama ini menjadi contoh nyata program populis itu. Citra program populis semacam ini merupakan tanggung jawab humas untuk makin memopulerkannya ke tengah masyarakat luas di Bali,” ujarnya. Maksudnya tentu bukan untuk sekadar gagah-gagahan. Pencitraan yang makin meluas itu ditujukan guna membangun apresiasi positif atas keberadaan Iwapi di Bali. “Ini untuk menunjukkan Iwapi bukan sekadar wadah kongkowkongkownya para perempuan pengusaha papan atas. Iwapi juga menghimpun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk kaum perempuan yang baru mulai merintis usaha bisnis,” jelasnya.

Iwapi membuka pintu selebarlebarnya bagi semua kaum hawa pelaku usaha untuk bergabung. “Kami berusaha membantu mendorong penguatan kerja sama lintas bidang guna memperluas jaringan usaha mereka. Pelatihan wirausaha, seminar bisnis, dan forum sejenis lain diharapkan kelak dapat memecahkan kendala mereka dalam mengembangkan potensi bisnis masing-masing,” tambahnya. Misi sosial juga diemban Iwapi Bali. Ini diyakinkan sebagai salah satu terjemahan kongkret program populis organisasinya. Bentuk kegiatan sosial yang beraroma populis itu beragam yang telah dan bakal dikerjakan lembaga ini. “Bazar di Tibubeneng, Badung, serta kunjungan sosial ke Lapas Denpasar di Kerobokan belum lama ini minimal menjadi bagian awal kegiatan sosial Iwapi Bali,” contoh Gung Raka. Beragam program populis

Gung Raka bersama suami Ida Bagus Made Susila Putra, S.E.

Iwapi Bali tadi merupakan sekelumit kegiatan yang masuk pos tanggung jawab bidang humas yang dikawal langsung Gung Raka bersama dua fungsionaris divisinya, Gung Inten dan Andrini Joenoes. “Kami memikul tanggung jawab

bersama untuk menyebarluaskan informasi semua program populis tersebut. Ini agar efek resonansi publikasinya terasa benar sampai ke telinga semua lapisan masyarakat,” tandasnya. Efek resonansi publikasi itu

diwujudkan bukan hanya melalui optimasi kerja bareng dengan media massa. Penguatan citra positif Iwapi Bali juga diusahakan lewat kekuatan teknologi informasi modern, seperti website, facebook, maupun twitter. “Kami juga coba kelak menggalakkan pelatihan khusus agar pelaku usaha terampil memanfaatkan teknologi informasi dalam membuka dan memperluas jaringan bisnis masing-masing,” bedah pengusaha yang sempat dulu berangan-angan menjadi dokter itu. Pengalamannya mengelola usaha bisnis semasa kuliah, termasuk mengembangkan usaha keluarga menjadi bekal berharga. “Saat kuliah di FE Unud, saya sudah biasa nyambi bekerja. Misalnya, saya tak jarang ikut nimbrung dalam pengerjaan proyek statistik kependudukan yang dikelola dosen. Saat menikah, saya dilibatkan suami dan mertua dalam membenahi manajemen pem-

Perlu Ruang Khusus Penasihat Hukum LEMBAGA pemasyarakatan alias lapas diakui keberadaannya secara de facto maupun de jure untuk memulihkan citra jelek tiap orang yang pernah menjadi warga binaannya. Secara de jure, keberadaan lapas diatur UU Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Tugas lapas, memberikan kesempatan tiap narapidana alias napi mengecap masa rehabilitasi. Ini dialami melalui sistem pembinaan yang berasakan pengayoman; persamaan perlakuan dan pelayanan; pendidikan; pembimbingan; penghormatan harkat dan martabat manusia; prinsip kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan; dan terjaminnya hak berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu. “Ini dasar normatifnya,” ujar staf pengajar hukum pidana FH Universitas Warmadewa Denpasar Simon Nahak, S.H., M.H. Falsafah pembinaan yang diterapkan, kata Simon, otomatis harus berangkat dari spirit moral untuk menempatkan napi bukan orang hukuman. “Napi harus dilihat sebagai orang tersesat memiliki kesempatan bertobat. Namun, masa pertobatannya tidak melalui penyiksaan melainkan melalui bimbingan. Ini falsafah yang dikenal luas di lingkungan akademik,” ujar mahasiswa Program Doktor S-3 Ilmu Hukum FH Universitas Brawijaya Malang ini. Menurutnya, dorongan ke arah pemanusiaan sistem pembinaan di lapas sudah lama dilontarkan ahli hukum Prof. Satjipto Rahardjo (alm). “Prof. Satjipto pertama kali melontarkan ide itu. Saat menjabat Menteri Kehakiman dulu beliau menggantikan sebutan penjara menjadi lembaga pemasyarakatan atau lapas,” ungkap Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Advokat Indonesia DPC Denpasar ini. Namun, citra penjara yang berubah wajah menjadi lapas itu ternyata tetap saja disorot seolah menjadi sekolah kejahatan (school of crime). Ini lantaran lapas kenyataannya masih menyisakan cerita miris yang mengungkapkan adanya peristiwa penyiksaan dan tempat pembuangan. “Penghuninya dianggap masyarakat tidak perlu dikasihani, apalagi dibina bahkan mungkin dibinasakan. Ini akibat ada napi yang sering keluar masuk penjara. Perlu paradigma baru untuk memulihkan citra buruk napi tersebut,” katanya. Lapas Denpasar di Kerobokan dinilai perlu dilengkapi fasilitas yang lebih representatif bagi pengunjung. “Ini termasuk ruang khusus bagi napi atau tahanan dengan penasihat hukumnya” ujar penasihat Simon Nahak, S.H., M.H. hukum dan advokad ini. —sam

Tukar Guling.....................dari halaman 1 lahan kosong seluas ini di Kota Denpasar. Jika ada lahan pasti sudah ada lapas baru,” ujarnya. Untuk mengurangi beban hunian Lapas Denpasar, Kanwil Hukum dan HAM Bali mencoba melakukan terobosan. Jumlah napi yang terjerat narkoba di lapas ini mencapai sekitar 45%. “Kami coba membangun lapas khusus narkoba di Bangli,” katanya. Sayang anggaran dari pemerintah pusat macet. Pengerjaan proyek tersebut terpaksa distop sementara waktu, ujar Kakanwil Hukum dan HAM Bali Taswem Tarib. Padahal, proyek tersebut sudah berjalan. Tiang luar bangunan sudah berdiri. Isi bangunan masih kosong. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan kalangan wakil rakyat. Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar A.A. Ngurah Gede

Widiada, S.H. menegaskan, citra Lapas Denpasar sudah dikenal luas hingga ke negeri asing. “Ini terutama akibat banyak kasus besar yang pelakunya ditahan dan dipenjarakan di situ. Jika kondisinya terus memprihatinkan seperti itu kan jelas tidak baik bagi citra kita dalam membina mereka yang melakukan kejahatan agar bertobat saat keluar dari penjara,” kata tokoh Partai Golkar ini. Menurutnya, jalan keluar terhadap upaya pembangunan lapas baru yang lebih manusiawi di Kota Denpasar harus diperjuangkan terus. “Kanwil Hukum dan HAM Bali, sebaiknya membicarakan serius dengan pemerintah di daerah ini. Jika mau duduk bersama pasti masalah kesulitan lahan tersebut dapat dipecahkan, “ ujar Agung Widiada. —sam

tkh/dok

11 - 17 September 2011

tkh/ast

Tokoh

tkh/dok

16

Siswanto

Agung Widiada

bukuan bisnis keluarga,” ungkap alumnus SMAN 2 Denpasar ini. Namun, menurut Gung Raka, ilmu ekonomi akuntansi yang ditekuni di bangku kuliah akhirnya lebih banyak diamalkan saat terjun dalam lahan bisnis keluarga mertuanya. Sang mertua, Ida Bagus Putu Putra dan Ida Ayu Putu Ratna, diakuinya guru terbaik baginya ketika masuk ke dunia bisnis sejati. “Ini sungguh terasa saat saya mulai menjadi menantu beliau berdua,” kata putri pensiunan Airport Duty Manager Angkasa Pura I, Drs. A.A. Ngurah Jaya (57) yang menikahi Ida Ayu Made Aderi (55/pensiunan PNS di dispenda), ini. Ihwal kisahnya berawal saat mertua Gung Raka melibatkannya guna terjun langsung membenahi manajemen pembukuan pertokoan emas keluarga di Ubud dan Tegallalang, Gianyar, serta di Kota Bangli. “Manajemen pembukuan bisnis toko emas milik mertua ini belum berjalan optimal. Saya coba benahi bareng suami yang juga sarjana ekonomi lulusan FE Undiknas. Hasilnya, usaha bisnis ini bisa berkembang lebih maju. Toko emas di Ubud bahkan telah berkembang menjadi dua blok usaha,” ungkap Direktur Ratna Gold’s Silver di Ubud, Tegallalang, dan Bangli itu. Gung Raka tak hanya suntuk mengelola pembukuan bisnis keluarga ini. Dirinya juga terus mengasah keterampilan dan menambah wawasan praktik mengelola bisnis ini terutama dari

ibu mertuanya, Ida Ayu Putu Ratna. “Ibu mertua saya sudah tergolong pengusaha emas kawakan. Puluhan tahun beliau menjalani bisnis ini. Sejumlah pedagang emas di Pulau Jawa telah bertahun-tahun menjadi relasi bisnis sang mertua. Pelanggannya di Bali juga berjibun. Beliau amat piawai dalam mengelola bisnis tersebut. Saya terus terang belajar banyak kiat bisnis tadi dari ibu mertua. Kepercayaan pedagang dan pelanggan kami yang dibangun mertua merupakan modal bagi saya dan suami untuk ikut mengawal bisnis tersebut,” papar pengusaha sukses kelahiran Denpasar 9 Juli 1981 ini. Prospek bisnis perhiasan emas di tiga titik itu dilukiskan amat bagus. Konsumennya di Ubud dan Tegallalang rata-rata pengusaha sukses pariwisata. Ada pelanggan yang memborong perhiasan emas seberat 150 gram. Pelanggan lain bisa membeli perhiasan emas seberat 25 gram untuk bocah mereka. “Sementara pelanggan di Bangli umumnya petani sukses. Jika habis jual hasil panen para petani pelanggan kami ini bawa uang bisa sekarung untuk beli perhiasan emas. Mereka beli perhiasan emas untuk investasi, juga dipakai saat upacara adat,” ungkap putri sulung dari lima bersaudara ini yang sedang mengembangkan pula usaha bisnis spa di sebuah kawasan elite Kota Denpasar itu. —sam


tkh_660_xii__11_-_17_september_2011