Issuu on Google+

No.654/Tahun XII, 31 Juli - 6 Agustus 2011

A.A. Ayu Ketut Agung

Kado Hari Raya SAAT masyarakat Hindu di Bali sibuk mempersiapkan Hari Raya Kuningan, Pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. justru sibuk mempersiapkan dan memberi dukungan salah seorang anak didiknya A. A. Ratna Saridewi, S.Pd. yang mengikuti lomba instruktur tata rias pengantin dalam Jambore 1000 PTK PAUDNI (Pendidik Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini Noninformal dan Informal) tingkat nasional, 13-19 Juli 2011 di Mataram. Pengorbanan itu akhirnya membawa berkah. Ratna yang juga sekretaris pribadi Bu Agung dan tampil sebagai peserta termuda ini berhasil menyabet medali emas, menyisihkan 32 instruktur tata rias se-Indonesia. “Ini merupakan kado hari raya bagi kami, bagi Bali. Karena tahun ini Bali berhasil menjadi juara I,� ujarnya. Keberhasilan ini

bukannya tanpa perjuangan. Untuk meraih juara ini, Ratna harus melalui proses panjang. Ia mengikuti masa karantina selama dua minggu setelah berhasil menjadi Juara I di tingkat provinsi. Sebagai instruktur tata rias, Ratna dituntut mampu merias sepasang pengantin sembari presentasi di hadapan orang banyak serta bisa membuat silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Keterampilan yang Ratna miliki kini hasil dari kerja kerasnya dengan penuh disiplin selama lima tahun berlatih di

LKP Agung, sambil kuliah. Tiap hari ia memberikan pelatihan kepada orang-orang yang mengikuti kursus tata rias di LKP Agung dan kerapkali menangani tata rias pengantin Bali, baik untuk masyarakat Bali maupun luar Bali, sampai kalangan pejabat. Tahun lalu, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan juga, salah seorang siswa kejar paket C (setara SMA) di Yayasan Kecantikan Agung, Ni Kadek Yuniari Sari, berhasil menggondol Juara I Lomba Tari Daerah dan Tata Rias dalam “Indonesian Today� di Singapura. Keberangkatan sebagai duta seni Bali waktu itu disponsori Garuda Indonesia Airlines. “Pintu sukses bisa milik siapa saja, asalkan mau berusaha dengan sungguhsungguh menekuni bidang apa pun. Termasuk memperdalam keterampilan tata rias dan busana adat Bali,� ujar Bu Agung Beberapa prestasi gemilang sempat diraih Bu Agung secara berturut-turut, di antaranya Anugerah Widya Karya Bhakti Kursus dan Anugerah Dwi Dasawarsa tahun 2008 dari Departemen Pendidikan Nasional RI. Tahun 2009, ia meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Penghargaan Aksara Nasional 2009 kategori Pemberdayaan Perempuan dari Menteri Pendidikan Nasional RI dan Penghargaan Nasional sebagai Bersambung ke halaman 12

Sebaiknya Gubernur Dipilih DPRD SISTEM pemilihan gubernur secara langsung cenderung menghamburhamburkan biaya politik. Padahal, jumlah rakyat miskin masih banyak.

I

ndeks kemiskinan yang direkam Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2011 mengungkapkan terdapat 30,02 juta jiwa rumah tangga miskin di Indonesia. Data rumah tangga miskin di Bali yang disurvei Badan Pusat Statistik (BPS) 174.900 jiwa. Jumlah ini setara dengan 4,88% jumlah penduduk Bali. Persentasenya memang masih

terjang mereka dalam memperjuangkan aspirasi rakyat pemilihnya di masing-masing daerah. Namun, peran DPD ternyata ibarat macan ompong. Wiratmaja malah mengibaratkan lembaga ini menyerupai usu buntu. Jika keberadaannya berpotensi menginfeksi saluran pencernaan pemilihnya, DPD dianjurkan dibubarkan saja. “Seperti usus buntu kan bisa dipotong jika sudah mengganggu organ tubuh lain,� ujarnya. Usulan senada dating dari peneliti ilmu politik LIPI Jakarta Prof. Dr. Syamsuddin Haris. “Saya usulkan dibubarkan saja. Ini terutama jika fungsi legislasi DPD tidak diberikan,� ujar pakar politik asal Bima, NTB, ini.

jauh lebih kecil dibandingkan angka kemiskinan nasional yang mencapai 14,15%. “Persentase kemiskinan di Bali itu menurun dibandingkan data tahun 2009 yang mencapai 181.700 jiwa atau 5,14, “ kata Kepala BPS Provinsi Bali Drs. I Gede Suarsa, M.Si. Menurut pengamat politik Drs. Putra Wijaya, M.Si., data tersebut menggambarkan peBERITA TERKAIT HALAMAN 11

tkh/pras

Sarundayang

tkh/sam

Kusuma Putra

DPD ibarat Usus Buntu BALI memiliki empat anggota Dewan Perwakilan Daerah. Selain Wayan Sudirta, ada Alit Kelakan, Kadek Arimbawa, dan Nengah Wiratha. Namun, mereka belum kompak memperjuangkan aspirasi konstituennya. “Makanya, banyak masyarakat Bali tidak puas terhadap kinerja anggota DPD-nya,� ujar pengamat politik Fisip Unwar Wiratmaja saat memandu Seminar Nasional “Efektivitas Perwakilan Politik di Indonesia� yang digelar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Bali, Sabtu (23/7), di Kampus Universitas Warmadewa Denpasar. DPD menyimpan segudang harapan. Harapan ini konon hendak mencerminkan sepak

Untuk Menghemat Uang

hendak mempertegas keberadaan daerah secara fisik di lembaga perwakilan rakyat di pusat.�DPD seolah jadi wakil daerah, sedangkan DPR seakan wakil penduduk,� katanya. Namun, perjuangan politik perwakilan politik ini seyogianya seirama. Mereka seharusnya bersinerji dalam memperjuangkan aspirasi konstituenMenurutnya, munculnya nya di daerah masing-masing. DPD sebagai wakil daerah di “Jika tidak, perjuangan mereka Gedung Senayan sebenarnya tidak akan optimal,� katanya.

Jika tidak Berperan Bubarkan

tkh/dok

tkh/sam

Ketut Sudira

Ras Amanda

Kenyataannya, menurut Prof. Haris, hasil perjuangan mereka tidak optimal. Tiap masa reses biasanya anggota DPD dan DPR turun ke daerah. Namun, mereka berjalan sendirisendiri. “Mereka tidak bersinergi. Hasilnya otomatis tidak maksimal, juga buang waktu dan biaya tidak sedikit,� katanya. Produk legislasi yang Bersambung ke halaman 12

tkh/pras

Daftarkan Calon Ibu Teladan 2011 PEMILIHAN Ibu Teladan se-Bali 2011 merupakan agenda bakti sosial lain Koran Tokoh setelah sukses menyelenggarakan Festival Keluarga (baca halaman 6,11, dan 14). Ini adalah pemilihan ibu teladan yang ke-3, menyusul yang pertama tahun 2005 dan kedua tahun 2008. Calon tetap diusulkan masyarakat lewat organisasi/komunitas/lembaga pemerintah dan nonpemerintah, maupun perorangan. Kiriman calon sudah berdatangan, tetapi masih dinanti hingga 13 Agustus 2011 ini. Yang kehabisan atau kesulitan blanko Lembaran Data Calon, dapat memfotokopinya atau minta ke Kantor Tokoh, telepon 0361 425 373. Blanko Lembaran Data Calon yang telah diisi, kirim ke Kantor Koran Tokoh Gedung Pers K. Nadha (Bali TV) Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar, atau ke Sekretariat Bali Post Jalan Kepundung 67 A Denpasar (telepon 0361 225 764), atau Panitia akan menjemputnya jika diperlukan. Pendaftaran calon tanpa dipungut bayaran. Tidak ada pungutan dalam bentuk apa pun terhadap calon dalam proses pemilihan ibu teladan ini. Syarat calon: Mengisi Lembaran Data Calon yang disediakan Panitia; usia calon 45 s.d 70 tahun bulan Desember 2011; Calon penduduk/bertempat tinggal di Provinsi Bali; Organisasi/komunitas/lembaga dan perorangan tidak hanya boleh mencalonkan ibu di lingkungan organisasi/komunitas/ lembaganya tetapi dapat mencalonkan siapa saja asalkan memenuhi persyaratan tersebut. Yang tidak dapat dicalonkan: 12 Besar Ibu Teladan se-Bali tahun 2005 dan 2008; Ibu, yang suami, anaknya atau dirinya pernah terbukti terlibat kasus kriminal/hukum/adat, kegiatan judi dan narkoba; Ibu single parent akibat bercerai hidup. Penobatan Ibu Teladan termasuk 12 Besar tahun 2011, penyerahan Piala Gubernur, piala-piala dan hadiah lainnya, akan berlangsung bersamaan dengan peringatan Hari Ibu Kamis 22 Desember 2011 malam.

merintah masih memerlukan anggaran besar untuk mengentaskan masyarakat miskin di daerah ini. “Sumber pendapatan daerah kita dari pajak dan lainlain kan belum berhasil menanggulangi masalah kemiskinan tersebut,� katanya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bali tahun 2011 ditargetkan Rp 1,1 triliun. Menurut Kadispenda Provinsi Bali I Ketut Sudira, pendapatan daerah telah mencapai 52,50%. “Persentase ini tercatat untuk kas pendapatan triwulan II tahun 2011. Kami optimis pendapatan kita bisa mencapai Rp 1,1 triliun seperti yang dipatok APBD tahun ini,� katanya. Upaya mendongkrak pendapatan sebenarnya dapat diperoleh dari sektor lain.

Suasana Seminar Nasional “Efektivitas Perwakilan Politik di Indonesia� yang digelar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Bali, Sabtu (23/7), di Kampus Universitas Warmadewa Denpasar. Dari kiri: Prof. Syamsuddin Haris, Kadek Arimbawa, Nyoman Dhamantra, dan Wiratmaja (moderator)

Pengantar redaksi: Seminar Nasional bertema “Efektivitas Perwakilan Politik di Indonesia� digelar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Bali, Sabtu (23/ 7), di Kampus Universitas Warmadewa Denpasar. Seminar yang dibuka Ketua Umum AIPI Pusat Drs. Sinyo Harry Sarundayang, M.Si. dan dihadiri Rektor Unwar Prof. Dr. Made Sukarsa, dan Ketua AIPI Bali Dr. Wayan Gede Suacana, M.Si. itu menampilkan narasumber Prof. Dr. Syamsuddin Haris dari LIPI Jakarta, anggota DPD Kadek Arimbawa, dan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Nyoman Dhamantra. Edisi ini dimuat laporan tim peliput Koran Tokoh.

Tetapi, ganjalan datang dari aturan pemerintah pusat. “Misalnya, pendapatan dari Bandara Ngurah Rai. Kita tidak Bersambung ke halaman 12

tkh/dok

Gede Suarsa

tkh/sam

Putra Wijaya

Integritas Wakil Rakyat Diukur Rupiah INTEGRITAS wakil rakyat sedang diuji pemilihnya. Celakanya, integritas mereka kini cenderung diukur dengan rupiah. Hal itu diakui anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Nyoman Dhamantra. Menurutnya, selama ini, integritas seorang wakil rakyat terhadap konstituennya selalu diukur dengan uang. “Siapa yang paling sering bagibagi uang kepada konstituennya, itulah yang dinilai memiliki integritas,� tegasnya. Ada contoh nyata yang dibuka Dhamantra. Saat turun ke tkh/pras daerah asal pemilihannya, dirinya tidak luput dari antrean proposal Nyoman Dhamantra bantuan. “Jika dirata-rata nilai permohonan bantuan Rp 10-20 juta. Keperluannya macammacam. Nah, ini yang terjadi sekarang,� ungkapnya. Wakil rakyat cenderung menuai krisis kepercayaan pemilihnya. Partai politik pun ikut kecipratan dampak ini. “Yang terjadi, krisis identitas yang berdampak krisis legitimasi rakyat terhadap parpol. Krisis identitas terjadi karena parpol tidak menampilkan sosok idealnya sebagai parpol,� jelas Dhamantra. Padahal, parpol dan rakyat menjadi pilar utama demokrasi. Keduanya tidak bisa bekerja sendiri. Parpol membutuhkan rakyat sebagai pemegang mandat, sementara rakyat membutuhkan parpol sebagai saluran aspirasinya. “Utang budi suara yang diberikan rakyat pada pemilu harus dibalas dengan kinerja yang memuaskan rakyat,� katanya. —nang

BKOW Bali Ikut Memasyarakatkan Olahraga TENIS meja sekarang menjadi salah satu permainan yang populer. Buktinya ketika dilangsungkannya Tenis Meja Bali Open 2011, berhasil menggaet peserta melebihi harapan. “Kejuaraan yang digagas PTMSI Bali ini selain sebagai upaya pembinaan potensi olah raga tenis meja juga mampu menjadi wahana memasyarakatkan olah raga,� papar Ketua Umum BKOW Bali, A.A.A. Ngr. Tini RusminiGorda didampingi pengurus inti BKOW di selasela waktunya menyaksikan pertandingan di GOR Lila Bhuana, Denpasar pekan lalu.

Kejuaraan bergengsi ini, kata Gung Tini bukan saja tepat untuk bisa menghasilkan atletatlet petenis meja yang berkualitas dan memiliki mental juara. Sehingga, nantinya dapat diandalkan pada ajang lomba tingkat nasional, regional, maupun internasional. Selain itu, para pecinta olahraga tenis meja pun bisa ikut berkiprah. “Di ajang ini pula anggota organisasi wanita yang ikut bertanding mendapatkan pengalaman yang bermanfaat,� ungkapnya. Di arena ini pula, dengan spirit dan jiwa sportivitas yang dijunjung tinggi

dalam dunia olah raga ini, para atlet dan semua peserta lomba mampu membulatkan upaya dalam membentuk kepribadian yang baik dan terbuka demi sebuah kemajuan,� imbuhnya. Gung Tini juga menyampaikan, organisasi wanita yang dikoordinir BKOW antusias dengan perhelatan yang digawangi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Bali ini. “Sesungguhnya semua organisasi menyatakan bersedia hadir dan berpartisipasi dalam kejuaraan tenis meja kali ini. Hanya saja untuk kali ada beberapa yang memiliki agenda

LEBIH JAUH LIHAT KEGIATAN BKOW DI HALAMAN 8 DAN 9

Pengurus BKOW Bali Dewi Rully, Rai Sudiasih, Tini Gorda, A.A. Sri Utari (humas WHDI), dan Farida Hanum

kegiatan yang waktunya bersamaan. Intinya semua organisasi yang ada di BKOW ingin memberi kontribusi positif bagi perkembangan dan kemajuan dunia olah raga di Bali,

khususnya tenis meja. Mereka juga memahami kalau olah raga tidak jauh beda dengan seni budaya, perlu adanya pengembangan tanpa meninggalkan Bersambung ke halaman 9


2

Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

ASPIRASI

KORAN TOKOH

Trans “Trans Sarbagita di Denpasar-BadungGianyar-Tabanan, pada dasarnya adalah usaha penertiban lalu-lintas,” kata Amat. Putu Wijaya Tak ada yang peduli. Tetapi, ketika disambung yang bersangkutan dengan mengatakan bahwa, “penertiban hanyalah solusi sementara yang pada akhirnya akan kembali kusut dan sia-sia kalau tidak dibarengi dengan gerakan ketertiban,” segera heboh. Seorang tetangga langsung menegur. Tampaknya marah. “Jadi Pak Amat tidak setuju?” Jawabnya mengagetkan. “Tidak!” Tetangga itu kesal. “Kenapa? Itu kan bagus!” “Ada alasannya!” “Ah asbun!” “Apa?” “Asal bunyi!” Amat jadi panas. Untung ada orang lain yang langsung melerai, sehingga tidak terjadi perang. Tetapi opini Amat kemudian jadi berita. Beberapa wartawan datang dan menanyakan apa alasan Amat tak setuju. Amat dengan berani menjawab. “Kalau mau mengatasi masalah lalu lintas, pertama yang harus diupayakan adalah ketertiban. Kalau ada ketertiban, tak perlu bikin mega proyek yang dananya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih penting.” “Misalnya?” “Kesejahteraan. Pendidikan. Kesehatan masyarakat!” “Tetapi, Pak Amat, trans ini kan juga untuk kesejahteraan masyarakat?” “Masyarakat yang mana? Yang yang naik mobil?” “Ya, tetapi mereka kan bagian masyarakat juga?” “Yang mau disejahterakan masyarakat yang naik mobil atau masyarakat seluruhnya? Saya kira pemerintah harus memilih masyarakat seluruhnya, bukan hanya sebagian kecil masyarakat, walau mereka bermobil. Kalau mereka mau saja tertib sebenarnya tidak perlu ada penertiban! Dan, apa jaminannya mereka akan tertib kalau sudah dibuatkan jalan trans? Ini mentalitas! Dikasih fasilitas apa pun kalau dasarnya tidak mau tertib, ya tetap saja akan berulang. Kecuali mentalnya ditatar. Semua warga diminta supaya ramerame membangun ketertiban mulai dari dirinya sendiri. Tanpa ada aturan, pasti jalanan akan aman. Dan, kalau itu sudah dilakukan, sebenarnya sudah tidak perlu ada proyek jalan trans Sarbagita lagi! Semuanya akan lancar dengan sendirinya. Ya ggak?!” Para wartawan senang sekali mengutip pernyataan Amat. Apalagi wartawan yang berafiliasi pada golongan politik terrtentu. Pernyataan Amat dibesar-besarkan. Dan, tiba-tiba Amat menjadi buah bibir. Rumah Amat sering dikunjungi tamu sehingga Bu Amat mulai merasa terganggu. “Bapak ini mau apa sih? Mau main politik? Sudah telat, Pak!” “Samasekali bukan,” bantah Amat, “aku hanya mau mengingatkan ketertiban dan penertiban itu beda. Ketertiban itu adalah suasana tertib yang tercapai oleh kesadaran warga masing-masing. Ketertiban ini tanpa biaya tetapi akan abadi. Penertiban adalah ketertiban yang memakai tangan besi dari petugas yang sering menimbulkan bentrokan, paksaan, kemarahan, dendam dan permusuhan. Biayanya mahal, tetapi paling banter usianya hanya satu dua hari, selanjutnya akan dilanggar. Watak manusia kan senang kalau bisa melanggar. Jadi kita harus menjauhi segala macam penertiban dan mengupayakan selalu ketertiban. Ajak masyarakat berpartisipasi menciptakan ketertiban, jangan jadikan itu hanya tugas petugas nanti berat, berat!” Bu Amat manggut-manggut. “Bagaimana? Betulkan maksudku, Bu? Mulia kan?” “Bagus, betul dan memang mulia, tetapi Bapak lupa!” “Lupa apa?” “Ini bukan kelas pelajaran Bahasa Indonesia. Di kelas memang begitu, tetapi di masyarakat? Di kelas ada guru yang mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Di masyarakat, orang tidak mencari yang benar dan salah lagi!” “O ya? Lalu mereka mencari apa?” “Mencari yang berguna!” “Yang berguna itu ketertiban atau penertiban?” “Keduanya berguna! Tergantung mana yang lebih murah!”” “Kalau begitu jelas ketertiban! Kenapa bukan memilih ketertiban?” Ami tiba-tiba muncul. “Karena ketertiban walaupun lebih abadi, lebih bagus, lebih ideal tetapi sekarang sudah terlalu mahal dan ribet!” “Mahal?” “Karena masyarakat kan sudah dibagi seperti kue ulang tahun oleh ideologi, oleh agama, oleh kepentingan, oleh etnik, oleh kelompok dan oleh partai! Susah ngajak orang satu pikiran dan satu tindakan sekarang! Bener tidak, Pak?!” Amat terdiam lama. Tiba-tiba ia sadar bahwa ia sudah mengacaukan kenyataan dan harapan. Kelayakan dan kebutuhan. Keduanya ternyata sering bertentangan. Besoknya Amat mengunjungi tetangganya. Ia mau minta maaf sebab sudah keliru. Ketertiban kalau memang terlalu mahal, mau tak mau harus diganti dengan penertiban sebelum jadi keos. Tetapi, di depan rumah tetangga itu ia tertegun. Di sana lagi ada hajatan. Temanya lagi memberikan wejangan. Suranya lantang: “Saudara-saudara kita harus turun ke jalan menolak penertiban, kita hanya perlu ketertiban ....... .” Koran

Mingguan

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Bagaimana cara menghidupkan lagi berbagai jenis permainan tradisional anak?

“Mengatasi Masalah Lalu Lintas dengan Sarbagita” Sampaikan opini Anda Minggu 31 Juli 2011 dalam acara interaktif “Wanita Global” 96,5 FM pukul 10.00 - 11.30 Wita. Opini dapat juga disampaikan lewat Faksimile 0361 - 812994 E-mail: info@radioglobalfmbali.com. Website: www.radioglobalfmbali.com Pendapat Anda tentang topik ini dimuat Koran Tokoh 7 Agustus 2011

Tua atau Muda Kader Parpol Rakus Uang KONFLIK sering terjadi di kalangan internal parpol. Sebab, mereka terekrut bukan berdasarkan ideologi, tetapi macam-macam motivasinya. Ukurannya bukan ideologi, tetapi uang. Mestinya, jumlah parpol pun cukup 5 atau tujuh saja. Karena parpol-parpol melupakan ideologinya, kinerjanya sama-sama tak terarah, lahirlah banyak kader kutu loncat. Sistem politik yang menyebabkan mereka bersaing sesama temannya di parpol. Kader atau pimpinan, tua atau muda, sama saja, sama-sama kemaruk (rakus) uang. Jika fungsionaris parpol masuk pemerintahan, amburadul. Mestinya yang memangku jabatan politik seperti presiden dan menteri melepaskan baju parpolnya. SBY sibuk mengurusi partainya. Mestinya ia berkonsentrasi mengurusi rakyat dan bangsanya. Demikian pandangan yang berkembang dalam Siaran Interaktif Koran Tokoh di Global FM 96,5 Minggu (24/7). Topiknya, “Gonjang-ganjing Kinerja Parpol”. Berikut, kutipannya.

Parpol Cukup 7 atau 5 Secara teori fungsi partai politik (parpol) tidak dibedakan di negara demokratis atau tidak. Awalnya munculnya parpol sebagai penjelmaan faksi– faksi di masyarakat dicurigai tidak akan membuat keadaan lebih baik. Faktanya, faksi yang berubah menjadi parpol ini mampu menjadikan keadaan, tatanan pemerintahan, lebih baik. Fenomena di beberapa negara Eropa inilah akhirnya memunculkan teori fungsi parpol. Ada 11. Beberapa fungsi yang utama di antaranya; menyerap aspirasi masyarakat, melakukan sosialisasi politik, komunikasi politik, political agregation dan mengelola sebuah konflik. Dalam praktiknya fungsi ideal parpol tersebut terlupakan atau sengaja dilupakan hingga terjadi konflik internal. Politik di Indonesia sering diidentikkan

dengan sebuah kebijakan. Indonesia negara yang susah ditebak demikian juga dengan partainya. Ideologi dan flat form parpol tidak jelas. Ketika Partai Demokrat, PDIP atau Golkar menang tidak jelas kebijakannya mengarah ke mana, tak ada perbedaan yang jelas membedakan antarparpol. Dalam teori ada partai kader dan partai massa tetapi di Indonesia hampir tidak tampak perbedaannya.Mestinya, partai kader menjadikan kaderisasi poin penting. Idealnya partai melakukan fit and proper test, partai melaksanakan pelatihan yang dalam teori politik disebut political education. Hal ini tidak dilakukan di Indonesia termasuk oleh partai besar sekalipun. Tidak ada satu partai pun melakukannya dengan sungguhsungguh. Pelatihan yang ada, tidak bisa digunakan sebagai referensi kaderisasi. Rekrutmen sifatnya temporer, termasuk rekrutmen calon legislator, yang membuat pendatang baru bisa mendapat nomor spesial. Rekrutmen partai politik seperti ini tidak sehat. Globalisasi dan kapitalisme sekarang

sudah memasuki berbagai ranah termasuk dunia politik termasuk parpol. Salah satu dampak negatifnya, dominasi kapital dan merambah pada premanisme massa. Dominasi kapital artinya yang memiliki uang yang memegang partai. Bahkan, bisa menjadi calon bupati atau gubernur dengan membeli kendaraan politik. Hal sama juga terjadi di kalangan calon legislator. Munculnya elite politik bukan berjalan berdasarkan idealisme partai tetapi siapa yang bisa membayar lebih besar dia yang lebih memungkinkan direspons dan direkrut. Kaderisasi partai tidak berjalan, dan pemimpin atau legislator terpilih pun kapabilitasnya tidak memadai. Dalam suatu negara parpol merupakan motor demokrasi. Dari sisi sistem, ada yang one party system, two party system dan sistem multi partai. Di negara komunis, ada satu partai yang dominan . Amerika Serikat, Australia, Inggris ada two party system, yakni dua partai besar yang berkompetisi, walaupun ada partai kecil. Yang satu sebagai penguasa dan yang satu sebagai oposisi. Bersambung ke hlm. 12

Stephanie M Patty Promosi sederhana, dengan memunculkan beberapa permainan tradisional yang lama akan membuat anak-anak penasaran dengan permainan yang dahulu orangtua mereka mainkan. Dan, menjelaskan betapa pentingnya menjaga dan mempertahankan permainan tradisional yang menjadi warisan budaya setiap daerah. Yoga Sanyata Bikin lapangan bola di kota karena kata Iwan Fals sepakbola sudah menjadi barang yang mahal! Dan basic permainan tradisional adalah lapangan terbuka bukan play station! Ayu Dwijayanti Modernisasi membuat segala sesuatu yang berbau tradisional makin ditinggalkan. Menurut saya perlu adanya usaha dari generasi yang pernah mengalami permainan ini untuk memperkenalkan pada generasi yang lebih muda. Orangtua pada anak-anaknya atau pun para guru mengadakan lomba permainan tradisional di masing-masing sekolah saat hari raya nasional. Pakdee DerPanser Di sekolah pada hari Sabtu masukkan permainan tradisional sebagai ekstrakurikuler. Alhasil anak-anak akan tertarik mengikuti dan mempelajarinya. Mang Pick Sekolah-sekolah mulai dari TK diwajibkan menyediakan sarana dan prasarana permainan tradisional dan memasukkan permainan tersebut ke dalam pelajaran penjaskes/olahraga. Sena Buana Putra Menurut saya caranya dengan memasukkan ke kurikulum sekolah di muatan lokal karena selain efektif, anak-anak juga makin kreatif, karena permainan memerlukan teman dan pergaulan. Yodi Pramudito Problem anak zaman sekarang adalah mereka dituntut untuk memahami banyak mata pelajaran sekolah yang akan digunakan untuk mencari sekolah lanjutnya. Sebaiknya sistem kita memberikan penghargaan khusus bagi mereka yang gemar bermain dan melestarikan permainan tradisional yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mencari sekolah (semacam jalur prestasi). Saya yakin ini dapat menumbuhkan minat mereka. Wayan Edi Permainan tradisional rasanya agak sulit akan menggugah minat anak zaman sekarang untuk menggemari karena sekarang anak-anak sudah biasa dengan permainan yang zaman sekarang. Tapi tidak semua anak-anak tidak akan tergugah untuk tidak melakukan. Pasti ada saja anak-anak yang tertarik untuk melakukan. Perbanyaklah tontonan yang berisi atau memuat permainan tradisional baik di panggung terbuka maupun di media elektronik. Dengan dilihatnya jenis permainan ini maka akan memunculkan minat anak-anak untuk mencoba. Setiap ada pameran seni bisa kita pertunjukkan permainan tradisional. Sarana dan prasarana juga harus gencar dijual di swalayan atau di toko-toko mainan anak-anak supaya minat anak tidak pupus dengan terbatasnya peralatan permainan tradisional.

Transportasi Sarbagita segera Terwujud PERSOALAN terbesar transportasi saat ini di hampir seluruh kota besar, masih terus berkutat pada permasalahan kemacetan, polusi, ketidaknyamanan dan kecelakaan. Beberapa persoalan lain juga turut andil menambah maraknya permasalahan itu, seperti buruknya pelayanan transportasi umum, kesemerawutan parkir dan tingginya tarif angkutan. Di Bali, tingkat kemacetan lalu lintas perkotaan di wilayah selatan (Sarbagita = Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) cukup memprihatinkan. Waktu tempuh perjalanan terus bertambah panjang; akan menambah panjang juga daftar kerugian perjalanan seperti penggunaan bahan bakar, polusi, biaya perjalanan dan mungkin juga berdampak pada kesehatan dan emosi. Mudahmudahan meningkatnya emosi beberapa orang masyarakat Bali di beberapa wilayah belakangan ini bukan disebabkan persoalan kemacetan lalu lintas. Kita patut memberikan apresiasi pada upaya mewujudkan Sarbagita; angin segar perubahan situasi terkait penanganan permasalahan lalu lintas sudah mulai berembus. Dalam waktu dekat kita akan menyaksikan perwujudannya. Sistem pelayanan transportasi publik yang dikemas dengan branding “Trans Sarbagita” sebentar lagi akan melintas di beberapa ruas jalan dalam bentuk rute/trayek koridor. Kita harus maklum dan bersabar, bahwa untuk merealisasikannya diperlukan banyak hal dan mengeliminasi banyak kendala, mulai dari persoalan lintasan, fasilitas pemberhentian, siapa yang mengelola dan bagaimana akan dikelola dan tentunya dukungan pendanaan. Semuanya memberi andil dalam beberapa penundaan. Sebaiknya kita mengetahui dan memahami bagaimana ke-

sulitan pemerintah untuk menyiapkan dan mewujudkannya. Pemikiran positif dan optimis yang dibarengi kesungguhan akan bermakna besar pada dukungan masyarakat. Kenyataannya beberapa diantara kita masih memiliki keraguan dan rasa pesimis. Ambil sisi positifnya, rasa pesimis ini diperlukan untuk menempatkan diri kita semua, terutama pemerintah untuk selalu waspada dan konsisten terhadap perencanaannya. Berikut ini gambaran tentang kesulitan tersebut. Pertama, sebagai ilustrasi kotakota besar yang saat ini sistem transportasi publiknya sudah demikian maju seperti Singapura, Paris, Tokyo, Stockholm dan Bogota di Kolombia memerlukan waktu lama sebelum berhasil seperti saat ini. Kota Stockholm di Swedia bahkan baru berhasil setelah memulainya sekitar 40 tahun yang lalu. Kita juga sudah memulainya dari waktu yang cukup lama, namun bedanya kita hanya berkutat pada tataran wacana bukan perwujudan. Sekaranglah saatnya kita memulai merealisasikan semua wacana yang dulu kita perbincangkan. Kedua, penyediaan fasilitas untuk menunjang operasional Trans Sarbagita mengalami kendala. Misalnya pembangunan halte bus tidak sepenuhnya mulus. Kesulitan terbesar di beberapa titik adalah sulitnya mendapatkan ruangan yang memadai untuk menempatkan halte karena pemerintah tidak banyak memiliki lahan kosong di pinggir jalan. Mnggunakan lahan bukan milik pemerintah/milik pribadi belum tentu bisa diizinkan pemiliknya. Tidak mengherankan jika ditemui beberapa halte berada di atas trotoar yang milik pemerintah itu. Hal ini sudah menimbulkan reaksi yang beraneka dari beragam pihak. Belum lagi ada yang mempersoalkan tentang bentuk/style bangunan halte yang tidak mencerminkan budaya Bali. Mungkin ada

I Made Rai Ridartha

yang lupa, penanganan transportasi, termasuk fasilitasnya, diutamakan pada aspek keselamatan, kelancaran, ketertiban dan akhirnya kenyamanan. Jadi jika style bangunan tidak memengaruhi aspekaspek tersebut, bukanlah merupakan pertimbangan pokok, apalagi jika pembangunannya membutuhkan biaya yang relatif lebih besar. Untuk saat ini kita terima saja sebagaimana yang sudah ada. Suatu saat nanti jika pelayanan transportasi publik sudah berjaya, halhal lainnya dapat kita kembangkan lebih baik. Untuk saat ini Trans Sarbagita tidak akan beroperasi di lintasan khusus (bus way) layaknya Trans Jakarta. Kita tidak memiliki jaringan jalan yang lebarnya memadai untuk itu apalagi di kota. Akan terdapat gangguan dalam waktu tempuh karena operasionalnya bercampur dengan lalu lintas lainnya. Namun, prioritas akan diupayakan diberikan kepada transportasi publik ini. Ketiga, persoalan pengelola dan operator dari Trans Sarbagita yang belum tuntas. Pengelolaan yang baik, bersifat independen sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dengan peme-

rintah sebagai regulator dan pengawasnya. Namun, persoalan menjadi makin rumit karena pelayanan perdana Trans Sarbagita tentu sangat jauh dari untung. Untuk mengantisipasinya, pemerintah memberikan subsidi dalam bentuk membeli layanan. Jumlah pihak yang dapat dilibatkan pun tergantung luas cakupan pelayanannya. Untuk pelayanan awal Trans Sarbagita akan mengoperasikan 15 unit bus di Koridor 2 – Batubulan – Nusa Dua. Dapat dipastikan, pengoperasian satu koridor ini tidak akan sertamerta membuat kemacetan lalu lintas berkurang, apalagi di dalam kota. Hal ini disebabkan koridor ini merupakan penggalan keseluruhan sistem transportasi Trans Sarbagita yang direncanakan 34 koridor/trayek. Jika keseluruhan koridor/trayek ini dioperasikan bersamaan, dapat diyakini akan berdampak besar pada pengurangan kemacetan. Dengan mengoperasikan seluruh koridor, aksesibilitas dan interkoneksitas antara asal dan tujuan perjalanan akan dapat berjalan dengan baik. Diharapkan, seluruh operator yang ada sebelumnya dapat menjadi bagian sistem Trans Sarbagita. Dengan melalui tahapan koridor per koridor, akuisisi dan keterlibatan dari operator lama juga akan berjalan sebagaimana koridor yang akan dijalankan hingga semuanya tuntas. Tahapan ini dibutuhkan dan harus dijalankan karena keterbatasan dana yang mampu disediakan pemerintah. Harapannya dana operasional akan terkumpul seiring makin meningkatnya jumlah pengguna angkutan umum. Koridor-koridor berikutnya akan segera menyusul untuk melengkapi seluruh jaringan. Kiranya dapat disarankan, pemerintah harus tetap konsisten dan tegar serta tidak patah semangat di tengah jalan untuk mewujudkan seluruh jaringan. Kendala dan tantangan pasti akan ada, namun semua itu akan dapat dilewati dengan bukti nyata di lapangan.

Artinya jangan lagi menundanunda untuk mengoperasikan koridor 2. Kepada para pengguna jalan terutama pengguna kendaraan pribadi agar mulai berpikir untuk melakukan pertimbangan perjalanan dengan kehadiran koridor 2 dan koridor-koridor selanjutnya. Beri dukungan dengan berpikir positif dan optimis bahwa apa yang sedang diupayakan ini akan dapat berhasil. Tanpa dukungan masyarakat, pemerintah akan menghadapi banyak kesulitan. Para operator lama yang saat ini masih beroperasi perlu juga memahami, kehadiran Trans Sarbagita bukan mengurangi atau bahkan mematikan usaha mereka, justru sebaliknya Trans Sarbagita ditujukan untuk lebih menyejahterakan operator lama karena akan menjadi bagian sistem. Selain koridor-koridor utama yang dioperasikan, akan dioperasikan juga trayek-trayek pengumpan untuk mendukung sistem ini. Tentu diperlukan waktu secara bertahap sesuai dengan kemampuan pemerintah. Tidak ada yang tidak mungkin untuk dilaksanakan pada transportasi publik, sekalipun warga masyarakat mampu memenuhi kebutuhan transportasinya secara pribadi. Bukan persoalan kemampuan ekonomi yang menjadi pertimbangan dasar, namun persoalan efisiensi (waktu), penghematan/konservasi (bahan bakar), pelestarian lingkungan (polusi) dan kesehatan (stres) yang menjadi dasar pertimbangan mengapa kita memerlukan pelayanan transportasi publik yang berkualitas baik. I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl,UG, M. Eng Se. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Wilayah Bali

z Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Widminarko z Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara z Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: Syamsudin Kelilauw, Ratna Hidayati, Budi Paramartha, IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Lilik, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. z Buleleng: Putu Yaniek z Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati z NTB: Naniek Dwi Surahmi. z Surabaya: Nora. z Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman z Sekretariat: Kadek Sepi Purnama, Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara zAlamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373 zAlamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605 zNTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257 zJawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240 zSurat Elektronik: redaksi@cybertokoh.com; redaksitokoh@yahoo.com zSitus: http/www.cybertokoh.com; http/www.balipost.co.id zBank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta, Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 zPercetakan: BP Jalan Kepundung 67 A Denpasar.


31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 3

1

Peserta tirtayatra mandi di sungai Yamuna

TURNI

Tirtayatra Thailand-Nepal-India

7 SETELAH menempuh penerbangan dua jam, pesawat Jet Lite mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Indira Gandhi. Cuaca cerah dan suhunya sekitar 40 derajat. Dua dari anggota rombongan, Reka Hardian dan dan Suko Waluyo, harus mengurus visa on arrival (VoA) di bandara ini. Sambil menanti mereka, kami melewati pemeriksaan imigrasi dan mengumpulkan bagasi bertanda pita merah-putih. Saat teman-teman sibuk berfoto di bandara terluas di Asia ini, mata saya berkacakaca. Entah bagaimana kejadiannya, saya menangis. Guru yang berada di sebelah saya langsung memeluk dan membiarkan saya menangis. Sebenarnya saya malu karena menangis, tetapi rasa terharu bisa sampai di India membuat saya tak bisa menahan diri. Setelah semua bagasi terkumpul, kami keluar dari bandara. Di tempat kedatangan, kami disambut Rawi,

Di Tempat Lahirnya Khrisna Ada Masjid pimpinan biro perjalanan yang bermitra dengan SAT Tours. Rawi menuturkan eratnya hubungan Bali dan Indonesia dengan India. Karena itu ada upacara Kalingga Bali Yatra sebagai penanda eratnya hubungan tersebut. Lokasi pertama yang kami tuju, Pura Siwa Murti yang letaknya tak jauh dari bandara. Kami turun untuk bersembahyang. Kami juga mohon tuntuan agar selama tirtayatra Telkomsel ini kami mendapat kekuatan agar semua berjalan lancar. Selanjutnya, peserta makan malam di restoran dan check in di hotel di daerah Karol Bagh, New Delhi. Pembagian kamar masih tetap seperti yang dulu. Saya sekamar lagi dengan Gung Manike. Di sebelah kamar kami ada Bli Komang Edy dan Pak Darma Sucita. Kebetulan, di depan kamar kami ada sofa untuk tempat bersantai. Kami ngobrol sambil menuturkan pengalaman selama perjalanan dari Thailand hingga Nepal. Tak lama kemudian, datang teman yang lain, Made Udi, Pak Sudiagus, Pak Raka, dan Reka, bergabung dengan kami. Keesokan harinya, kami

bersiap menuju kota suci Wrindhawan. Tas yang besar dititipkan di hotel sedangkan tas kecil yang berisi pakaian ganti dibawa. Perjalanan dari New Delhi menuju Mathura ditempuh 4 jam. Bus pariwisata yang kami tumpangi tidak boleh melaju lebih dari 40 km/jam. Itu sudah aturan di India. Tiap memasuki satu negara bagian, bus pariwisata harus membayar pajak, 100 dolar per bus. Suasana kawasan ini tak ada bedanya dengan Nepal. Suara klakson terdengar sepanjang jalan. Bahkan banyak truk atau kendaraan besar yang menuliskan pesan di bagian belakangnya, Horn Please. Maksudnya, kendaraan yang ada di belakang diminta membunyikan klakson jika ingin menyalip. Kebanyakan kendaraan besar tidak memiliki spion, jadi klakson menjadi penanda ada kendaraan lain di belakang. Untungnya, orangorang India termasuk tertib berlalu-lintas. Tidak kami temukan ada kendaraan yang ugal-ugalan. Yang ada hanyalah kemacetan kalau truk atau Bersambung ke halaman 12

PADA hari tuanya, kesibukan I Wayan Nuada, purnawirawan Polri, tetap padat. Ia aktif dalam kegiatan organisasi Persatuan Purnawirawan (PP) Polri Bali, menjadi pengacara, sembari mengurus rumah. Kegiatan istrinya, Luh Putu Suparmi, yang menjelang usia pensiun, juga selalu padat.

N

uada dan Suparmi sama-sama memiliki bintang Leo. Nuada lahir 16 Agustus 1948 sedangkan Suparmi 15 Agustus 1951. Dari pernikahannya, mereka memiliki 5 anak, Putu Dewi Puspitawati, Kadek Purnamawati, Komang Yoga Regawan Agustina (alm), I Ketut Nugraha Swadharma, dan Agus Adi Suputra. Dari anakanaknya, mereka telah mendapat anugerah 6 cucu. Nuada memulai karier sebagai guru honorer agama Hindu di SMP Dwijendra dan SPG Dwijendra tahun 1970. Pilihan menjadi guru honorer diambil karena untuk diangkat sebagai guru tetap sangat sulit. Sebelum menjadi guru, ia sempat merasakan beban hidup yang cukup berat. Untuk bisa sekolah di Pendidikan Guru Atas (PGA), ia bekerja sebagai tukang kebun merangkap pembuat teh dan penjaga gerbang di SMP Dwijendra. Semua ini berkat jasa Ida Bagus Wayan Gede, Ketua Yayasan Dwijendra saat itu. Ida Bagus Gede (kakek Ida Bagus Gede Wiyana, Ketua Yayasan Dwijendra sekarang) juga memberi tugas tambahan kepada Nuada untuk menjadi loper koran Kompas. “Masa kecil saya sangat berkesan. Sejak SMP saya sudah mandiri. Kalau hari libur, saya ikut jadi buruh bangunan,� ungkap anak pertama dari pasangan I Made Konok-Ni Made Gebrog ini. Pengalaman masa kecil Suparmi tak jauh beda dengan suaminya. “Saya sejak SD sudah jualan kue renges (kue segitiga yang didalamnya berisi kacang ijo dan ketela). Berangkat sekolah, nitip kue di warung, pulang ambil uangnya,� kenang perempuan asal Banjar Tegal Jaya, Gaji, Kuta Utara, ini. Karena keterbatasan alat transportasi, Suparmi berjalan kaki menuju sekolahnya di SMEA 2 di Wangaya. Ia ingat, kalau jam pelajaran olahraga, dirinya sering terlambat dan mendapat hukuman dari gurunya, Ida Bagus Menuh. Suparmi diangkat menjadi

Kombes Pol. (P) Drs. I Wayan Nuada, S.H., M.M. Luh Putu Suparmi, S.H., M.M.

Tukang Urus Kawin-Cerai Polisi

Dari kiri: Ketut Nugraha Swadharma, Luh Putu Suparmi, I Wayan Nuada, Kadek Purnamawati, dan Agus Rudi Astuta di Pura Besakih

PNS tahun 1970 di SMPN 8 Denpasar setelah lulus PGSLPN Denpasar jurusan Tata Buku. Persamaan nasib dalam melakoni perjalanan hidup membuat pasangan NuadaSuparmi menjadi tegar. Setelah menikah, mereka mengontrak satu kamar yang berdinding gedeg di timur sekolah Dwijendra. Ketika anak pertama lahir, Nuada tidak punya biaya persalinan. Uang sudah dipakai untuk membayar ujian negara di IHD. Akhirnya mereka berutang di bidan Rembyok di Kayumas, Denpasar. Nuada lalu menunda niatnya untuk ikut ujian negara. Ia meminta kembali uang pembayaran ujian, lalu menggunakan uang itu untuk membayar biaya persalinan. “Situasi saat itu sangat sulit. Kami hidup pas-pasan. Kalau beli soto, siangnya kami hanya makan nasi dan kuah soto. Malamnya baru makan nasi dan daging soto. Saya lalu minta Bapak untuk mencari pekerjaan sebagai polisi agar bisa bertempat tinggal di asrama. Walaupun tidak punya rumah, kalau bisa di asrama, kan lumayan,� kenang Suparmi.

Setelah Nuada tamat IHD tahun 1976 dan bergelar B.A, ia diangkat sebagai guru Agama Hindu di SMAN 1 Denpasar. Sambil menanti tugas sebagai guru, ia ikut Sepawamil ABRI tahun 1977 dan lulus. Pendidikan ditempuh hingga tahun 1978 hingga ia menyandang pangkat Letnan Dua dan ditempatkan di bagian Bintal Polda Nusra. Tugasnya di Bintal antara

lain mengurus pembinaan mental anggota Polri dan memberikan ceramah agama Hindu kepada anggota Polri, PNS, dan Bhayangkari termasuk mengawinkan dan mengurus surat perkawinan mereka. Jika ada yang bercerai, Nuada juga yang mengurus administrasinya untuk diproses di Pengadilan Negeri. “Saya jadi tukang kawin-cerai mulai dari Tamtama hingga Perwira Menangah. Pesan saya untuk yang kawin biasanya, istri harus dukung tugas suami. Kalau ada yang mau cerai, saya beri wejangan, kasihan anak-anak. Tetapi, kalau sudah ngotot bercerai, ya mau gimana lagi,� ungkapnya. Selain di Bintal, ia juga pernah ditugaskan di Diklat Polda Nusra dan Diskum. Namun, Nuada lebih banyak menghabiskan waktunya di lembaga legislatif karena ia dikaryakan. Walau sudah tua, Nuada tak pernah lupa berolahraga. Kegemarannya, bermain tenis dan golf. Ia bahkan sempat merasakan lapangan golf yang ada di Australia, Cina, dan Thailand. Bermain tenis dilakukan dua kali seminggu bersama para purnawirawan. —wah

Nuada (dua dari kiri) bersama rekan di sela-sela pertandingan golf Monthly Medal di Bali Handara Kosaido


4

Tokoh

MEMBANGUN DARI DESA

31 Juli - 6 Agustus 2011

Keunggulan Wijen tak hanya Gizinya

Anda Bertanya Kami Menjawab Dua Macam Pakan Lele

hubungi pedagang hasil budi- adaan tersebut dapat diatasi dedaya di nomor 0361 844 1102. ngan mengatur suhu yang sesuai dan menaruh lap basah Saya mau mencoba mem- Pembesaran Lobster dalam ruang mesin tetas. budidayakan lele, bagaimana Air Tawar cara pemeliharaanya? Di ana Vaksinasi Gratis saya bisa mendapatkan bibitSelain aquarium apa saja Sapi? nya? Setelah panen d mana sa- yang bisa dipakai tempat pemya bisa menjualnya? Kapan ada vaksinasi gratis besaran lobster air tawar? Pak Putu Antara Dimana saya bisa mendapa- untuk ternak sapi seperti pada anjing? Denpasar tkan bibit lobster air tawar? Wayan Suarjana Jawaban: Imrom Saat ini petani membudiDenpasar Gapoktan Abian Dauh Yeh Cani dayakan lele sudah menggunaAbiansemal, Badung Jawaban : kan teknologi kolam terpal. TerBibit bisa didapatkan di BBI pal yang digunakan, terpal A6. Pesiapan Tabanan. Pembesaran Jawaban: Jika menggunakan terpal tidak lobster air tawar bisa di kolam Sementara ini belum ada perlu mengganti terlalu banyak tanah, kolam beton dan kolam vaksin gratis untuk sapi. air, cukup mengganti air yang terpal. Pembudidayaan lobster menguap. Untuk 1 liter air un- air tawar mutlak memerlukan Narasumber tuk size 58 dibutuhkan 150-200 air mengalir atau aerasi. drh. Ni Wayan Leestyawati ekor ikan lele. Ikan lele mePalgunadi, M.Si. miliki sifat mempertahankan hiNarasumber Dinas Peternakan dup dengan mengambil oksigen Ir. Saleh Purwanto Provinsi Bali di udara. Jika oksigen minim Dinas Kelautan dan dalam air, ikan lele akan mengPerikanan Provinsi Bali Jamur Tiram ambil oksigen ke udara. Ikan lele dapat hidup di segala konMedia Baglog Telur disi yang minim sekalipun, seperti daerah kumuh karena ikan Bagaimana cara membudiGagal Menetas lele memiliki labirin yang didayakan jamur tiram? Di mana Saya menetaskan telur degunakan sebagai alat bantu saya bisa mendapatkan bibitngan mesin tetas inkubator, teuntuk mengisap oksigen dari nya? udara. Pemberian pakan pada tapi mengapa tidak semua mau Wayan Widya lele ada 2 macam, yakni pakan menetas? Kebanyakan mati Kediri, Tabanan buatan seperti carun, dengan tidak bisa buka cangkangnya. Yanna takaran 10% dari berat badan Jawaban : Batubulan populasinya. Diberikan miniUntuk budidaya jamur mal 2-3 kali sehari. Bisa juga tiram, petani menggunakan meJawaban: ditambah pakan alami seperti Kegagalan telur menetas dia baglog. Untuk percobaan sisa dapur, limbah ayam, dan limbah perusahaan bekicot. dengan mesin tetas umumnya awal, sebaiknya mencoba dulu Untuk membeli bibit lele, karena suhu tidak stabil. Bisa kurang lebih 50 baglog. Harga hubungi 081 236 314 977. Un- saja kurang panas, kepanasan per baglog Rp 2500 - Rp 3000. tuk penyaluran lele, dapat meng- dan kelembapan kurang. Ke- Baglog bisa ditempatkan di

gudang/ruangan yang lembab. Saat ini petani di Bali banyak membudidayakan jamur tiram putih, karena lebih mudah dalam pemeliharaannya, biaya perawatan kecil, dan untuk mengatur suhu dapat dilakukan dengan sederhana. Untuk bibit jamur tiram yang berupa baglog, bisa didapat di Dinas Pertanian Luwus dan Belayu, Tabanan, dan ada juga di Mambal, Badung

Tata Cara Pembuatan Baglog Adakah program untuk magang tentang tata cara pembuatan baglog, perawatan, serta dimana tempat pelatihan tersebut ? Hambali Kepala Desa Kusamba, Klungkung Jawaban: Dulu pernah ada pelatihannya, di antaranya dari BPTP (Balai Perlindungan Tanaman Pangan) Dinas Pertanian Luwus Tabanan, dan PPK (Pusat Pelatihan Kewirausahaan) Sampoerna Pasuruan. Ke depan kami ingin membuat tempat pelatihan di Desa Peguyangan Kaja, Denpasar Narasumber Ni Wayan Purnami Pembudidaya Jamur Tiram Ketua Karang Taruna Putra Negara Desa Peguyangan Kaja

Rabies masih Menyerang 40 Desa TARGET Bali bebas rabies tahun 2012 optimis akan tercapai. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi wabah rabies yang telah memakan banyak korban. “Setelah pemberian vaksin terjadi penurunan kasus. Vaksinasi tahap I sudah menyasar 86% lebih dari jumlah anjing positif HVR. Juga, terjadi penurunan kasus khususnya kasus yang positif rabies pada HVR dan kasus korban meninggal,” ujar Kadis Peternakan Prov. Bali Ir. I Putu Sumantra, M.App.Sc. Tahun 2010 jumlah korban meninggal suspect rabies 82 orang. Tahun 2011 sudah terjadi penurunan kasus, hingga Juli 2011 tercatat 17 orang meninggal karena rabies. Penurunan juga terlihat data desa yang masih ada kasus rabies. Dari awalnya 266 desa yang pernah terserang rabies, kini hanya 40 desa. “Gerakan pemberian vaksin tahap II terus dilakukan guna menekan kasus agar seluruh desa di Bali terbebas dari rabies,” katanya. Ia menyebutkan, ada tiga kategori desa yang menjadi prioritas vaksin. Desa sangat aktif dua desa yakni desa yang tiap bulannya ada saja laporan gigitan anjing yang setelah diuji di laboratorium hasilnya positif. Atau, pengamatan tim di lapangan ada anjing yang menunjukkan gejala klinis setelah dilakukan pemeriksaan di laboratorium hasilnya positif. Desa yang aktif 22 desa yakni desa yang selama enam bulan sekali atau dua kali ada kasus. Desa tertular baru ada 16 desa, yakni selama kurun waktu enam bulan muncul sekali kasus padahal dulunya tidak pernah ada kasus rabies. Vaksinasi massal tahap II dilaksanakan sejak 25 Mei 2011. Tahap I di tiga kabupaten yakni Bangli, Klungkung, dan Jembrana. Lima kabupaten lainnya dimulai 11 Juni, kecuali di Kabupaten Gianyar dimulai 20 Juli. “Hal ini disebabkan selesainya vaksinasi massal tahap I di kabupaten tersebut paling lambat. Pemberian vaksin tidak boleh terlalu cepat. Minimal berselang tiga bulan,” ujarnya.

I Putu Sumantra

tkh/ast

Ia berharap, vaksinasi bisa dilakukan di seluruh anjing baik yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin. Vaksin sebaiknya berulang-ulang sampai tingkat kekebalannya bagus dan tidak menimbulkan dampak terhadap gigitan. Ia menyebutkan, target vaksinasi tahap II minimal 70% dari populasi. “Kami berharap 300 ribu ekor anjing dapat divaksin,” ujarnya. Hasil vaksinasi tahap II sampai 28 Juli sudah menyasar 140.470 ekor anjing. Jumlah banjar yang sudah disasar dan dilakukan vaksin 2919 banjar dari 4323 banjar yang ada. Diharapkan vaksinasi massal di seluruh banjar selesai akhir September 2011. Agar hasilnya lebih optimal, Oktober, November, Desember 2011 akan dilakukan penyisiran kepada anak anjing yang baru lahir atau anjing yang masih tertinggal. Ia mengatakan, saat dilakukan vaksinasi, ada seruan kepada warga banjar untuk membawa anjingnya ke banjar untuk divaksin. Selain itu, petugas tetap door to door melakukan vaksin. Kendalanya selama ini, banyak anjing berkeliaran sehingga sulit ditangkap. Kendala ini hanya bisa diatasi dengan bantuan pemilik anjing dengan cara mengandangkan anjingnya sehingga memudahkan vaksinasi. “Jumlah petugas belum seimbang dengan jumlah banjar. Kami melakukan terobosan,

salah satunya dengan melakukan pelatihan. Suatu saat kami mengharapkan ada desa waspada rabies sehingga tiap desa memiliki tenaga sendiri yang berperan aktif untuk menangkap anjing liar dan secara proaktif melaporkannya ke petugas,” kata Sumantra. Ia menegaskan, pada anjing yang sudah menunjukkan positif rabies atau menunjukkan gejala klinik rabies atau sudah tercemar dan di sekitarnya ada anjing rabies atau anjing sakit yang tidak bisa diobati, eutanasi (eliminasi secara manusiawi) tetap dilakukan untuk meminimalkan penyebaran. “Kami harapkan warga masyarakat berperan aktif melaporkan ke aparat desa yang akan ditindaklanjuti Dinas Peternakan kabupaten/ kota,” ujarnya. Ia menyarankan, walaupun sudah terjadi penurunan, warga masyarakat hendaknya tetap menghindari gigitan anjing agar tidak berisiko dan penggunaan vaksin VAR lebih bisa diminimalkan. Kalau sudah terjadi gigitan atau pernah digigit, sebaiknya anjing penggigitnya jangan langsung dibunuh, tetapi segera laporkan ke petugas. “Cuci luka gigitan dengan air mengalir dan

sabun selama 15 menit, tetesi yodium kemudian pergi atau ajak ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Anjing diikat dan diobservasi atau laporkan ke petugas untuk diobservasi. Kalau selama 14 hari anjing tidak mati, artinya aman. Tetapi, kalau anjingnya mati korban wajib mendapatkan VAR tiga kali secara lengkap,” paparnya. Ia mengimbau masyarakat, jika memang anjingnya sangat galak dan harus dibunuh, laporkan ke petugas agar otaknya bisa diperiksa di laboratorium Balai Besar Veteriner Denpasar. Dua hari hasilnya dapat diketahui apakah positif atau negatif. Ia menyatakan, penyakit rabies harus mendapatkan perhatian karena belum ada obatnya dan bisa mengakibatkan kematian. Hanya bisa dilakukan dengan mencegah sehingga tidak terjadi kasus. Cara mencegah, anjing divaksin supaya tidak terserang rabies, lakukan perawatan anjing dengan bagus, ikat atau kandangkan anjing di rumah, jangan mengganggu anjing, hindari gigitan, andaikan sudah digigit lakukan tindakan pertama dengan mencuci luka kemudian periksakan ke puskesmas. –ast

WIJEN meruapakan tanaman tropis yang berasal dari Afrika, tumbuh baik di lahan terbuka dengan ketinggian 1-1.000 m di atas permukaan laut, beriklim kering dan panas dengan curah hujan 50-115 mm per tahun. Wijen tidak tahan genangan air dan gulma. Akar wijen sering bersimbiosis dengan Mikoriza VA (Vasikulararbuskular) dengan demikian tanaman wijen mendapat keuntungan dalam memperoleh air dan hara tanah. Dari simbiosis ini wijen masih mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik walaupun ditanam di tanah yang kurang subur dan sedikit air. Wijen sangat potensial sebagai penghasil minyak nabati yang dibutuhkan dalam industri kimia, kosmetik, minyak untuk memasak. Minyak wijen memiliki keunggulan nilai gizi dan bermanfaat bagi kesehatan. Bentuk wijen kecil–kecil berwarna putih sering digunakan sebagai penghias makanan seperti onde–onde, roti, sayur– sayuran. Wijen juga memiliki khasiat obat yaitu memperbanyak air susu ibu, mencegah kanker, menunda penuaan, mencegah kerontokan rambut, stroke, hipertensi, batuk, diare, sakit kepala, kencing manis. Wijen yang memiliki keunggulan dalam aspek gizi dan kesehatan ternyata belum banyak dikenal masyarakat. Wijen yang sekarang ditanam di Indonesia termasuk spesies sesamum indicum L dari Ordo Sesamum, familia Pedaliaceae. Morfologi wijen sangat dipengaruhi lingkungannya. Batangnya berkayu pada tanaman yang telah dewasa dengan ketinggian 60–120 cm. Berdaun tunggal berbentuk lidah memanjang, bunga tumbuh dari ketiak daun berwarna putih atau ungu berbentuk tabung yang membengkok ke bawah. Buahnya berambut lebat berbentuk segi empat tumpul panjang. Satu buah biasanya lebih dari 50 biji. Kandungan gizi wijen 50–53% minyak nabati, 20% protein, 7-8% serat kasar, 15% residu bebas Nitrogen dan 4, 5–6,5 % abu. Minyak biji wijen kaya asam lemak tak jenuh, khusunya asam oleat (C 18:1) dan asam linoleat (C 18 :2,Omega 6 ), 8-10% asam lemak jenuh dan samasekali tidak mengandung asam linolenat. Minyak biji

wijen juga kaya vitamin E. Di Bali penanaman wijen sudah mulai dicoba di Kecamatan Kubu tahun 2007. Untuk menanam wijen dapat dilakukan penanaman dengan ditunggal apabila tanah selesai diolah dan sudah basah. Jarak tanam dengan pola tanam monokultur 25 cm x 40 cm atau 25 cm x 60 cm. Sedangkan dengan pola tanam tumpangsari dapat disesuaikan dengan jenis tanaman pokoknya. Waktu tanam di wilayah yang musim hujannya pendek awal musim penghujan. Di wilayah berpengairan atau musim hujannya panjang, akhir musim penghujan yaitu 1-2 bulan sebelum musim kering. Umur tanaman wijen 75-150 hari. Pemeliharaan tanaman wijen dengan penjarangan, penyiangan, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Penjarangan dilakukan setelah umur 15-20 hari, tiap lubang tanam disisakan 2 tanaman. Penyiangan/pengendalian gulma dilakukan sejak awal pertumbuhan sampai umur 45 hari sebanyak 2-3 kali. Panen yang tepat dilakukan jika 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan. Penguningan dimulai dari polongpolong yang berkedudukan di bawah. Jika terlambat, polong akan pecah, biji jatuh dan tidak lagi dapat diambil. Panen dilakukan dengan cara batangnya dipotong 10 - 15 cm di bawah polong buah. Batang yang telah dipotong dibendel dan diikat dengan garis tengah 15 - 20 cm, kemudian dijemur di bawah sinar matahari dengan keadaan berdiri 3-5 hari sampai kadar airnya mencapai ± 6%. Tempat penjemuran sebaiknya diberi alas/tikar untuk menampung biji yang rontok. Jika polong sudah pecah, bendelan wijen dibalik sambil dipukul-pukul batangnya agar biji wijen keluar dari polongnya. Pengeringan yang tak sempurna (kurang kering) menyebabkan biji wijen mudah rusak dalam penyimpanan, tetapi kalau terlalu kering akan menurunkan kadar minyaknya. Penyimpanan biji kering sebaiknya dengan pembungkus yang kedap udara. Sumber Dinas Perkebunan Provinsi Bali

Pembaca yang ingin menyampaikan pertanyaan tentang masalah pertanian umumnya, silakan hubungi alamat ini: RRI Denpasar: SMS 085 6382 4144; Interaktif: (0361) 222 161; E-mail: sipedes_rridps@yahoo.com; Surat: Jalan Hayam Wuruk Nomor 70 Denpasar; Koran Tokoh: SMS (0361) 740 2414; Telepon (0361) 425 373; E-mail: redaksitokoh@yahoo.com ; Surat: Koran Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar. Siaran Perdesaan RRI FM 88,6 Mhz tiap hari pukul 13.30 - 14.00 Wita

Proses Penggemukan Sapi

Bali Kekurangan Sumber Konsentrat ASUPAN makanan merupakan unsur penting dalam upaya menggemukkan sapi Bali. Dengan pemberian makanan yang tepat, sapi Bali bisa mengalami perkembangan berat badan yang bagus. Menurut Peneliti dari Balai Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, Ir Suprio Guntoro, sapi merupakan jenis hewan rumensia atau berlambung ganda. Dengan demikian, sapi bisa menerima asupan makan berupa hijauan yang diperoleh dari daun atau bijian dan konsentrat atau makanan penguat. Khusus di Bali, jelas Suprio, dalam pemeliharaan dengan pola tradisional seperti yang banyak dilakukan peternak di Bali, pakan yang diberikan kebanyakan hanya berupa hijauan, terutama rumput-rumputan. “Dengan pola pakan seperti itu, pertumbuhan sapi Bali pada fase penggemukan rata-rata 300 gram/ekor/hari,” kata Suprio. Berbeda jika pemberian makanan dengan konsentrat. Sapi Bali bisa mengalami pertumbuhan hingga 500 – 550 gram/ekor/hari. Namun, Suprio mengingatkan pemberian kon-

tkh/dok

Suprio Guntoro

sentrat harus memperhatikan nilai ekonomisnya. Pemberian konsentrat yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerugian jika tidak diiringi peningkatan pertumbuhan yang sesuai. Suprio menjelaskan, pakan ternak hijauan dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni jenis rumput dan dedaunan. Rumput-rumputan memiliki kandungan karbohidrat relatif tinggi namun rendah protein. “Sementara konsentrat, selain lebih mudah dicerna, seratnya rendah dan proteinnya tinggi,” tegas Suprio.

Menurut Suprio pemberian hijauan dalam bentuk segar diperlukan minimal 10% dari berat badan sapi. Jadi, jika seekor sapi memiliki berat badan 300 kg maka memerlukan hijauan dalam bentuk segar minimal 30 kg. Suprio menjelaskan, pemberian pakan berupa konsentrat merupakan asupan makanan tambahan yang gizinya lebih tinggi dengan maksud mempercepat pertumbuhan sapi Bali. “Masalahnya di Bali ini kekurangan sumber konsentrat. Konsentrat sejauh ini harus didatangkan dari luar Bali terutama Jawa yang tentunya akan menambah biaya lagi.” ujarnya. Untuk itu Suprio berharap ke depan, Bali bisa memiliki sumber-sumber konsentrat yang cukup. Meskipun dengan kondisi seperti itu, sambung Suprio, Bali masih surplus sapi. “Ini yang menarik, meskipun Indonesia secara umum kekurangan sapi sehingga harus impor, Bali masih surplus karena faktor ternak penunjang lainnya seperti babi dan ayam,” tandasnya. –nang


NUSANTARA

Perkokoh Kebersamaan DALAM usianya yang menginjak 85 tahun, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, bertekad memperkokoh nilainilai kebersamaan dan kebangsaan. Setidaknya hal itu tercermin dari tema dan kegiatan yang dilaksanakan dalam menyambut hari lahir organisasi yang berdiri tahun 1926 di Surabaya tersebut. dengan cara mengakomodir kebutuhan rumah ibadah,” katanya. Semangat lain, tambahnya, sesuatu yang sudah sama jangan dibeda-bedakan, sebaliknya sesuatu yang berbeda jangan disama-samakan. Intinya saling menghormati. Makhfudh memberi contoh, simbol kebersamaan dan keberagamaan seperti yang ada di kompleks Masjid Ibnu Bathutah Jimbaran, perlu juga diterapkan di tempat lain. Terkait peringatan Harlah NU, Makhfudh menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan NU di Bali. Salah satunya, jalan sehat 17 Juli di-

T

IDAK kurang dua ribu orang duduk bersimpuh meskipun harus berdempetan memenuhi halaman pemakaman Islam Kampung Jawa (Wanasari). Jalan Maruti yang berada di depan pemakaman pun diluberi manusia hingga harus mengalami penutupan. Dipimpin tokoh agama se-

Drs. H. Makhfudh, M.A.

ikuti warga NU dari Denpasar dan Badung. Tabligh akbar yang menghadirkan pengurus pusat NU diwakili K.H. Dawam dari Lembaga Dakwah NU dipusatkan di Masjid Baiturrahim Kampung Jawa 19 Juli. Ramadan mendatang NU Bali akan mengadakan Safari Ramadan ke daerah-daerah, sebagai ajang silaturahim dan konsolidasi. —nang

KWM Qori Sading

Salat Tarawih Bagian Proses Pembelajaran

Asep Kartiana

KERUKUNAN Warga Muslim (KWM) Qori Sading, Mengwi, dalam salat tarawih Ramadan 1432 H mendatang

tetap akan mengutamakan penceramah dari kalangan warga sendiri. Namun, dijadwalkan ada empat penceramah yang diundang dari luar, termasuk 17 Agustus malam dalam rangka memperingati Nuzululquran. Ketua KWM Qori Sading Asep Kartiana lebih jauh menjelaskan, dalam rangkaian salat tarawih ini telah disusun jadwal siapa yang menjadi imam, yang memberi ceramah (kultum), dan siapa yang bertugas sebagai muazin, secara bergiliran. “Khusus muazin kami libatkan para remaja yang tergabung dalam Forum Remaja Muslim Sading, sedangkan penceramah juga ada dari kalangan ibu. Kami manfaatkan mementum salat tarawih

ini sebagai bagian proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas beribadah. Selama setahun warga kami berkesempatan belajar, baik atas prakarsa sendiri maupun lewat kegiatan pengajian rutin bulanan dan pengajian remaja. Selama Ramadan mereka diberi kesempatan mempraktikkan pengetahuan dan keterampilannya sebagai imam, penceramah maupun sebagai muazin,” paparnya. Ia menjelaskan, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, salat tarawih di kompleks perumahannya berlangsumng di rumah warga secara bergiliran. Tahun ini ada empat rumah warga yang akan dijadikan tempat salat tarawih. —dwi

KEMENTERIAN Agama Wilayah Bali bekerjasama dengan penerbit BPK Gunung Mulia dan Sinode Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) mengadakan workshop Sabtu (23/7) di Sekolah Kalam Kudus, diikuti 102 orang guru agama Kristen. Pembimas Kristen Pdt. Nyoman Sumajaya, S.Th. mengatakan, workshop diselenggarakan agar para guru dapat meningkatkan profesionalitasnya, kemampuannya dalam mengembangkan diri dan menjadi lebih kreatif dalam pengajaran. Dalam workshop ini, BPK Gunung Mulia memperkenalkan buku-buku PAK terbitan BPK, dan yang terbaru tahun 2011 ini BPK memperkenalkan RPP Silabus. BPK menyediakan bukubuku PAK yang makin lengkap. Tidak hanya buku siswa, tetapi ada juga buku pegangan guru, LKS (Latihan dan Kumpulan Soal), dan RPP silabus (Rencana Program Pembelajaran). Buku PAK terbitan BPK dari SD – SMP (kelas 1-12), telah menjadi pilihan untuk sekolah-sekolah

Siswa sedang mengikuti pelatihan keterampilan di LKP Teknologi. Tampak Ketua LKP Teknologi Ir. I Ketut Gde Juli Suarbawa, M.Erg. (paling kanan) sedang memberikan arahan

BPPT/2011, 12 Mei 2011. Menurut Ketua LKP Teknologi Ir. I Ketut Gde Juli Suarbawa, M.Erg., Kursus yang diselenggarakan, kursus pendidikan teknologi meliputi teknik otomotif (sepeda motor dan mobil), teknik pendingin/AC, dan teknik mekanik. Kurikulum pendidikan kursus ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata para pelaku industri khususnya bengkel mobil, bengkel sepeda motor, bengkel AC, dan las yang mengacu pada standar SKKNI dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, melalui Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Nomor: Kep. 297/Lattas/XII/2007 Tentang Pedoman Tata Cara Penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Khusus kurikulum di bidang otomotif dan pendingin disusun berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep. 116/Men/VII/2004 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Otomotif Sub-Sektor Kendaraan Ringan. Kurikulum di bidang Teknik Mekanik mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep. 240/Men/X/2004 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Logam dan Mesin, dan Keputusan Menteri

Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep.342/Men/X/2007 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Pengolahan Sub-Sektor Industri Barang dari Logam Bidang Jasa Industri Pengelasan Sub-Bidang Pengelasan SMAW. Ia menyebutkan, sistem pendidikan yang diselenggarakan terdiri dari 60% praktik dan 40% teori dengan sarana dan prasarana ruangan pembelajaran yang memadai dengan kapasitas siswa 40 orang. Praktik dibagi dalam grup terdiri dari lima orang yang dilayani satu orang teknisi. “Pendidikan keterampilan ini diselenggarakan selama 240 jam dengan jadwal yang bersifat tentatif sesuai dengan waktu peserta. Staf pengajar atau instruktur terdiri dari pengajar yang sudah berpengalaman mengajar di pendidikan politeknik/vokasi dengan kompetensi yang sesuai dengan bidangnya dan pengalaman mengajar/instruktur lebih dari 10 tahun,” papar Ketua LKP Teknologi yang juga saat ini sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri. Sampai tahun 2010 Lembaga Kursus Pendidikan Teknologi ini telah meluluskan dua angkatan sebanyak 40 orang di bidang kursus keterampilan teknisi sepeda motor tingkat junior. Lulusan kini sebagian be-

Wali Sanga, Rasulullah dan para sahabatnya. Ketua Panitia, H Muchtar Basyir, S.H. menjelaskan, Haul Akbar merupakan acara rutin tahunan yang dilaksanakan Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari untuk memanjatkan doa bersama-sama untuk anggota yang memakamkan sanak keluarganya di pemakaman muslim Wanasari. “Ini rutin kami selenggarakan tiap tahun, oleh karenanya dinamakan haul yang artinya satu tahun. Jadi orang-orang yang memiliki keluarga dimakamkan di sini, kami persilakan hadir,” ujar Basyir yang juga Ketua Yayasan Pemakaman Muslim Wanasari. Acara Haul Akbar ini dilaksanakan sejak pagi hari yang dimulai dengan khataman Alquran dipimpin Imam Masjid Baiturrahmah Kampung Jawa. Imam memimpin khataman

sar telah bekerja di beberapa bengkel sepeda motor dan juga ada yang membuka usaha mandiri servis dan cuci sepeda motor. Dalam upaya membantu lulusan dalam bekerja, LKP Teknologi bekerja sama dengan beberapa bengkel yang tersebar di wilayah Gianyar, Badung dan Kota Denpasar. Bagi yang ingin membuka usaha, LKP Teknologi siap memberikan berbagai bantuan termasuk aspek permodalan. Tahun ajaran 2011 semester II ini, LKP Teknologi memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat yang putus sekolah, SD, SMP, SMK/SMA atau lulusan SD, SMP, SMK/ SMA yang belum bekerja untuk ikut bergabung dan dididik menjadi calon teknisi sepeda motor secara gratis. Biaya pendidikan disediakan oleh lembaga melalui program beasiswa Blok Grant PKH LKP APBN 2011 bagi anak putus sekolah/ belum bekerja yang kurang mampu. Pendidikan keterampilan diselenggarakan periode Juli-Oktober dan Januari-April pada setiap tahunnya. Bagi yang tertarik dapat mendaftar ke LKP Teknologi, Desa Bona Kaja, Banjar Pasedana, Gang Mawar Nomor 8 Gianyar dengan melengkapi fotokopi ijazah terakhir satu lembar dan surat identitas diri (KTP/SIM atau Surat Keterangan Domisili). –ast

H. Muchtar Basyir, S.H.

dengan cara bil ghaib atau hafalan di luar kepala. Kemudian selepas maghrib acara kirim doa dimulai dan ditutup ceramah agama dibawakan Ustaz Drs. Wayan Syamsul Bahri. Haul Akbar ini, kata Basyir, selalu dilaksanakan menjelang Ramadhan atau bulan Sya’ban. Orang Islam di Jawa menyebut bulan Sya’ban dengan Ruwah. “Kata ruwah berasal dari kata arwah, jadi di bulan ini tradisi muslim di Jawa terutama kalangan warga Nahdlatul Ulama selalu melaksanakan kirim doa untuk para arwah,” tutur Basyir. -nang

Jadwal Imsakiyah

Suasana ‘Workshop’ Guru Kristen

LKP Teknologi Berikan Kursus Gratis Siswa Kurang Mampu

Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) diperuntukkan bagi warga masyarakat yang putus sekolah atau tidak mampu melanjutkan sekolah dan tidak bekerja yang berasal dari keluarga kurang mampu. Program PKH merupakan pembekalan kepada warga masyarakat tentang pengetahuan, keterampilan sikap, dan kepribadian profesional di wilayah perdesaan guna memberikan keterampilan peserta didik secara adil dan merata sehingga mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam ikut serta mengurangi pengangguran. Yayasan Pendidikan Anata Kusuma yang menaungi Lembaga Kursus Pendidikan (LKP) Teknologi salah satu lembaga yang ikut berkontribusi mencerdaskan generasi muda dengan memberikan kursus gratis di bidang teknologi. Lembaga ini berdiri pada 21 September 2009 di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Diperkuat akta notaris Ratu Ayu Tuti Sundhari, S.H. 8 Oktober 2009 dengan Akte Pendirian Nomor 9 yang disahkan Menteri Hukum dan HAM RI dengan Keputusan No. AHU4269 AH.01.04 Tahun 2009. Izin penyelenggaraan kursus dikeluarkan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Gianyar melalui Keputusan Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Gianyar Nomor: 503/013/

tempat, serempak mereka melantunkan kalimat tahlil serta pembacaan surat yasin disusul melafalkan surat Al-Fatihah. Sebelum surat Al Fatihah dibacakan pemandu menyebut nama-nama para arwah yang dikirimi bacaan Al Fatihah. Jumlahnya mencapai ratusan. Mulai dari orang yang baru saja meninggal, para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, hingga

Workshop Guru Agama Kristen

tkh/nang

S

ekretaris Pengurus Wilayah NU Provinsi Bali Drs. H. Makhfudh, M.A. menjelaskan sesuai dengan tema Harlah NU tahun ini yaitu “Merajut Kebersamaan dan Wawasan Kebangsaan Dalam Perbedaan”, NU umumnya dan di Bali khususnya bertekad mengembangkan kebersamaan dan kebangsaan tersebut. “Kebersamaan dan kebangsaan di tengah perbedaan sangat tepat diterapkan dan dikembangkan di Bali yang penduduknya beragam. Salah satu implementasinya, pemerintah diharapkan bisa lebih memperhatikan kebutuhan umat Islam

Haul Akbar di Kampung Wanasari tkh/nang

Harlah ke-85 NU

31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 5

Kristen sejak tahun 1977. Pada sesi pertama diberikan pembekalan menyusun kurikulum berkarakter yang diharapkan dapat mengembangkan pendidikan berkarakter di Indonesia, yang mampu mengubah moral bangsa serta menumbuhkan karakter yang baik dalam kehidupan murid. Membentuk merejka menjadi generasi beriman, berpikir cerdas dan bersikap luhur. Dan, pada sesi kedua, guru dilatih menyusun RPP Silabus, supaya guru dapat berinovasi membuat RPP silabus sendiri. BPK hanya menyediakan contoh, guru dapat membuat dan mengembangkan sendiri sesuai dengan kreativitasnya. —shasa

Ramadan 1432 H/2011 M untuk Wilayah Denpasar 1 dan 2 Agustus Imsak 05.04; Subuh 05.14; Syuruq 06.31; Dzuhur 12.28 (2 Agustus 12.27); Ashar 15.49; Maghrib 18.20; Isya’ 19.32 3 s.d. 5 Agustus Imsak 05.04; Subuh 05.14; Syuruq 06.30; Dzuhur 12.27; Ashar 15.49 (5 Agustus 15.48); Maghrib 18.21; Isya’ 19.32 6 dan 7 Agustus Imsak 05.03; Shubuh 05.13; Syuruq 06.29; Dzuhur 12.27; Ashar 15.48; Maghrib 18.21; Isya’ 19.32 TAZKIRAH “Wahai orang-orang yang beriman telah ditetapkan bagi kamu berpuasa, sebagaimana telah ditetapkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Albaqarah, 2:183)

Thesukarnocenterindonesia@hotmail.com / www.sukarnocenterindonesia.org / www.vedakarna.com

Istri Pejabat, belum Tentu Jadi Tokoh Perempuan Saya pernah diundang dalam sebuah acara yang dihadiri oleh mayoritas ibu-ibu, ada berbagai macam latar belakang di sana. Ada yang anggota Tim PKK, ada bagian dari organisasi wanita agama, ada dari unsur pendidik, pebisnis andal dan tentu saja didominasi istri-istri pejabat. Sebelum saya hadir di acara itu, saya berharap agar sedikit tidaknya saya mendapatkan pencerahan, karena sebagai seorang Sukarnois muda, saya masih ingat salah satu ajaran Bung Karno bahwa perempuan adalah tiang negara, pilar negara. Dan saya berharap ketika hadir di acara perempuan, setidaknya saya akan melihat banyak Sarinah-Sarinah bangsa. Saya memang berkepentingan dengan kondisi perempuan saat ini, mengingat saat ini tujuan dan wadah organisasi perempuan sudah melenceng dari pakem. Lihat saja, bagaimana gerakan Tim Penggerak PKK kini dibawa menjadi sebuah organisasi yang berurusan tidak jauh dari hanya sekadar spesialis lomba, atau wadah pamer kaum istri-istri. Yang tentunya lupa terhadap akar dari organisasi perempuan itu sendiri yakni memberikan teladan dan sentuhan pendidikan budi pekerti kepada keluarga-keluarga Indonesia. Jarang kita dapat organisasi PKK yang mampu membuat program untuk mengembangkan diri karakter generasi muda misalkan. Semuanya hanya di tataran performance atau sekadar polesan dan penampilan. Kadang saya geli sendiri, ketika melihat ibu-ibu kita di desa hingga pejabat di kota, berlomba-lomba membuat pakaian seragam yang ga penting itu, atau hanya debat kusir tentang festival kuliner dan seminar-seminar dengan tema standar dengan segala tetek-bengeknya, atau cuma sekadar menjalankan program-program rutin tanpa inovasi semacam sosialisasi KB, jadwal upacara upacara agama, atau sekadar semringah karena bisa tampil di lomba desa. Semuanya sombong, materialistis dan tidak membumi. Jauh sekali dari kesederhanaan perempuan Indonesia macam Sarinah apalagi Kartini. Lalu parade kesombongan ini juga berlanjut pada perilaku istri-istri pejabat yang hanya hobi mengumbar penampilan dan perhiasan dunia setiap beracara. Walau sering tampil di media, tapi saya berani jamin dan berani berdebat bahwa mereka bukan ahli pidato, bukan ahli motivasi, dan cuma sekadar istri pejabat dengan kurun waktu sebelum sang suami pensiun atau dimutasi. Jadi kapan bangsa ini akan memunculkan pahlawan perempuan? Apakah anak muda Indonesia akan dipaksakan untuk menjadikan istri-istri pejabat itu sebagai pahlawan mereka masa kini? Tidak, sekali lagi tidak boleh, karena kapabilitas kredibilitas dan kharisma mereka itu belum pas dan selevel tokoh. Ironisnya lagi, ada di antara istri-istri pejabat itu yang gemar bicara tentang keharmonisan rumah tangga, tapi kenyataannya mereka memiliki anak-anak yang terlibat narkoba dan seks bebas, mereka bicara norma keluarga, tapi mereka juga tidak mampu menjaga harmonisasi hubungan suami-istri hingga dipoligami atau sang suami berlabuh pada wanita idaman lain. Belum lagi ada istri pejabat tadi tidak mampu memberikan teladan untuk membentuk karakter si anak. Semua hanya make-up,

bohong dan terlalu banyak masalah di dalamnya. Jadi, kenapa kita harus mendengarkan mereka? Kenapa kaum muda Indonesia harus berpanutan pada mereka yang merasa dirinya jadi tokoh perempuan? Kenapa ibu-ibu di dusun dan di desa harus tunduk pada mereka? Karena saya yakin, untuk menjadi tokoh perempuan adalah hal sulitnya luar biasa. Diperlukan spesialisasi tertentu, disiplin ilmu khusus, serta mampu mempraktikkan keahlian dan kemampuannya dalam praktik, dan yang terpenting bahwa yang namanya tokoh itu harus mampu memengaruhi orang-orang di sekitarnya, baik dengan pemikiran, kata-kata maupun teladan tindakan. Dulu, bangsa Indonesia punya Kartini yang pintar mandraguna, Indonesia punya Ida Ayu Nyoman Rai Srimben yang revolusioner, Indonesia punya Sarinah yang berkarakter Njawani, Indonesia punya Fatmawati, seorang ibu negara yang sangat jujur dan bersih. Dan kini apakah kita bisa menghasilkan perempuan-perempuan sekaliber mereka? Walau sulit untuk dicari, tapi rasa optimisme itu pasti dan harus ada. Jadi, melalui tulisan ini saya minta pada istri-istri pejabat, wahai kaum perempuan di desa dan kota, di PKK, di Dharma Wanita di mana pun berada, ubahlah mindset dan pola pikir dalam berorganisasi. Indonesia ini tidak butuh lagi seremonial, tidak butuh terlalu banyak make-up dalam berlomba PKK, Indonesia tidak butuh baju dan kebaya seragam yang menghabiskan anggaran untuk menunjukkan kualitas perempuan Indonesia, Indonesia tidak butuh hiburan sekadar tari, kuliner atau arisan yang begitu-begitu saja, tapi Indonesia kini memerlukan character building, Indonesia butuh tokoh perempuan sekaliber Dewi Shinta, Dewi Drupadi dan Dewi Srikandi bukan perempuan yang coba-coba jadi tokoh hanya karena dia istri presiden, istri menteri, istri gubernur, istri bupati, istri wali kota, istri camat, istri kepala SKPD, atau istri kepala desa sekali pun. Indonesia haus sosok Kartini, sosok Sarinah, sosok Fatmawati untuk mengisi dahaga kaum muda Indonesia. Ingat kata Bung Karno, perempuan dan pemuda adalah pilar bangsa. Kegagalan bangsa ini dalam mengatur dirinya (gagal negara), juga adalah wujud perempuan Indonesia gagal melahirkan pemimpin yang bersih, perempuan Indonesia gagal karena banyak melahirkan koruptor, perempuan gagal karena melahirkan banyak kriminal, gagal karena banyak aksi anarkisme di masyarakat dan yang terpenting, perempuan Indonesia telah gagal melahirkan generasi muda Indonesia yang santun, bertata etika dan berkarakter dewata. Mari kita perbaiki keluarga kita dahulu, perbaiki kualitas hubungan suami-istri, perbaiki kualitas hubungan orangtua-anak, perbaiki kualitas keluarga besar dan masyarakat sekitar sebelum Anda mengklaim diri menjadi tokoh perempuan. Please, jangan coba-coba jadi tokoh perempuan hanya karena Anda istri pejabat, itu hanya akan jadi bahan tertawaan. Tokoh perempuan harus punya konsep, punya idealisme dan punya jati diri. Itu yang kami mau. Sambil menunggu lahirnya perempuan berkualitas, bolehlah kita melihat hiburan sirkus dari istri-istri pejabat yang doyan wara-wiri di TV dan koran, sambil mengelus dada, betapa menyedihkannya mereka.

REKTOR UNIVERSITAS MAHENDRADATTA BALI / PRESIDENT THE SUKARNO CENTER

Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III,S.E. (MTRU),M.Si. Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I


Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

NUSANTARA

Slamet Abadi Sosok di Balik Jejer Gandrung

N

tkh/pras

amanya, Slamet Abadi. Seniman Banyuwangi yang telah lama menetap di Bali ini selain melatih penari Tari Gandrung, juga piawai berperan sebagai kluncing dalam tari khas Banyuwangi itu. Dalam Festival Keluarga siang itu ia juga tampil menghibur sebagai kluncing. “Tugas seorang kluncing menuntun penari Gandrung sehingga penari mudah menghafal dan mengingat semua urutan gerakannya,”

Santi, penari Gandrung

ujar pria yang pernah tampil sebagai kluncing di depan Presiden Suharto tahun 1987 ini. Ia menuturkan, Tari Jejer Gandrung merupakan bagian Tari Gandrung. Tari Gandrung memiliki beberapa tahapan yang ditampilkan secara utuh. Karena rentang waktu pementasan Tari Gandrung ini hampir semalam suntuk, Tari Gandrung juga populer dengan sebutan Gandrung Semalam Suntuk. “Dalam festival ini penampilannya lebih untuk tarian sambutan, maka kami tampilkan Tari Jejer Gandrung,” katanya. Tari Gandrung Semalam Suntuk terdiri atas empat tahapan yaitu Tari Jejeran, Ngrepen, Tari Pajuan, dan Tari Seblang. Tari Jejeran mulai pentas pukul 21.00. “Saat tahap Tari Pajuan, seorang gedok membawakan sampur (kain) untuk dikalungkan di leher penari dan kemudian diberikan kepada tuan rumah sebagai orang pertama yang kejatuhan sampur penari untuk tampil ngibing. Setelah tuan rumah selesai ngibing, baru diikuti tamu atau penonton lainnya sampai selesai dan diakhiri dengan Tarian Seblang yang ditampilkan saat subuh,” paparnya. Ia mengungkapkan, warga masyarakat Bali asal Banyuwangi kerap nanggap Tari Gandrung semalam suntuk dalam berbagai acara seperti ulang tahun. Slamet Abadi merupakan seniman yang banyak berkiprah

K

tkh/pras

PENAMPILAN Santi membawakan Tari Jejer Gandrung dalam Festival Keluarga Koran Tokoh Minggu (24/7), memikat perhatian penonton. Sebagian mereka, serombongan warga Bali asal Banyuwangi yang sengaja datang untuk menyaksikan penampilan murid SMA kelas II itu dan menonton para musisi Kendang Kempul menggebrak panggung terbuka di Lapangan Parkir Timur Renon. Juga, hadir Ketua Ikawangi Dewata Budi Santoso. Siapakah salah seorang figur yang berperan di balik pergelaran Tari Jejer Gandrung itu?

Di Bali Kendang Kempul Diminati Masyarakat

Slamet Abadi (kanan) kluncing dalam pementasan Tari Jejer Gandrung

dalam mempromosikan kesenian Banyuwangi ke berbagai daerah termasuk ke mancanegara. Pria kelahiran tahun 1965 ini sempat menggantungkan hidupnya dari menari. Ia lahir dan besar di lingkungan keluarga seniman. Neneknya, penari Gandrung generasi ketiga di Banyuwangi. Slamat Abadi bergelut dalam kegiatan kesenian sejak duduk di kelas II SD. Untuk mengasah bakat seni tarinya, ia bergabung dalam Sanggar Tari Jingga Putih tahun 1989, saat ia masih duduk di bangku SMP. Setelah belajar selama dua tahun di sanggar tersebut ia menguasai beragam jenis tari Banyuwangi termasuk Tari Gandrung. Saat itu Slamet pun sudah bisa menciptakan karya tari seperti Tari Perawan Lembeng yang populer pada zamannya. Saat masih duduk di bangku SMP Slamet sering menari dalam berbagai acara. Salah satunya tampil di stasiun TVRI Surabaya membawakan Tari Pendekar Blambangan. Saat berada di bangku SMA ia melatih tari di sekolahnya dan menjadi guru tari tahun 1986 s.d. 1990. Ia beberapa kali mewakili Pemkab. Banyuwangi dalam bidang kesenian dalam acara tingkat nasional maupun internasional. Slamet Abadi turut memopulerkan Tari Gandrung, selain Tari Jaran Goyang dan Tari Punjari. Ia pun sempat

mengikuti kegiatan pertukaran kebudayaan di Australia tahun 1992 dan tampil menarikan Tari Jaran Goyang dalam Festival Seni Sedunia di Amerika Serikat tahun 1993. Sederet prestasi berhasil ia raih seperti Juara Bintang Radio Kab. Banyuwangi tahun 1992, Koreografer Terbaik se-Jatim tingkat SLTA tahun 1988. Pemaju Gandrung Terbaik Tingkat Junior Kab. Banyuwangi tahun 1988, Juara II Pencipta Puisi Osing Pemkab. Banyuwangi tahun 1986, dan Juara I Lomba Baca Wangsalan Oseng tahun 1986. Slamet Abadi pindah dan menetap di Bali sejak tahun 1994 dan bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan finance. Di sela kesibukannya, ia melatih warga Lingkungan Karya Damai Banjar Graha Santi Suwung tempat ia tinggal bersama istri dan anak-anaknya belajar berkesenian seperti Hadrah dan Rebana sejak tahun 2003. Tak hanya kaum ibu rumah tangga, ia pun melatih anak-anak berkesenian. Hingga, ia membentuk kelompok Keplek Songo yang personelnya para ibu yang bertempat tinggal di satu gang dengan rumahnya. “Kami berlatih di musala,” ucapnya. Tahun 2010, ia bertemu para seniman dalam komunitas Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Dewata, bergabung di sana dan melatih menari. –tin

LAPORAN FESTIVAL KELUARGA BERIKUTNYA DIMUAT DI EDISI MINGGU DEPAN

EHADIRAN musik Kendang Kempul di panggung Festival Keluarga Koran Tokoh di Lapangan Timur Renon, Minggu (24/7) pagi hingga sore, membangkitkan gairah pengunjung, terutama keplak kendangnya yang bertalu dengan lengking suara serulingnya. Bahkan, beberapa penonton ikut berjoged di atas panggung. Musik khas Banyuwangi ini ditampilkan para musisi yang tergabung dalam Ikatan Dewata Musik (Idemus). Musik Kendang Kempul Joko Warsito (pegang seruling) bersama para musisi Idemus terdiri atas beberapa alat musik dalam pementasan Kendang Kempul Minggu (24/7) di Renon seperti gitar melodi, bas, ritem, plak. Panampilannya kian leng- sejumlah kafe maupun kegiatan kenong, seruling, tamborin, kap dengan tampilnya tiga vo- pameran di Bali. “Saya meketipung, keyboard dan kalis bersuara merdu yakni Jo- rasakan musik khas Banyukendang keko Warsito, Sasi, dan Erlin. wangi ini bisa diterima masyaMereka membawakan lagu rakat Bali dengan baik,” ungyang memang populer di kapnya. kalangan masyarakat Joko mengungkapkan cuBanyuwangi yakni Sing kup banyak musisi asal BanyuDuwe Isin, Tombo wangi yang pindah ke Bali. Jika Kangene Ati dan Pa- di Banyuwangi bermusik hanya rantauan. Para per- sebagai pekerjaan sampingan, sonel mengenakan di Bali mereka menjadikan udeng dan slayer musik sebagai pekerjaan utama. ciri khas Banyu- Joko Warsito bisa manggung wangi. “Seruling tiap minggu. “Agustus biasanya dan kendang ke- banyak permintaan manggung,” plak merupakan tutur bapak 2 anak yang hijrah ciri khas musik ke Bali tahun 1999 ini. Menurutnya, tampilan mukendang kempul,” sik Banyuwangi ini bisa diungkap Joko Warsesuaikan sesuai permintaan. Di sito, salah seorang pendiri Idemus di Bali musik Banyuwangi cukup berkembang dan sudah berbaur Bali. Joko menuturkan, dengan musik koplo dan musik musisi Idemus meru- modern. Di Bali orang yang pakan seniman yang mahir memainkan seruling menggantungkan hanya dalam hitungan jari. hidup dari musik. Bahkan dari satu generasi haSelain tampil ber- nya satu orang yang bisa mensama personel Ide- jadi pemain seruling. Joko samus, mereka kerap lah seorang pemain suling yang manggung sendiri- telah belajar menyuling sejak sendiri. Joko mengata- usia 7 tahun. “Saya belajar dari kan sejauh ini musik ini kakek saya,” ujarnya. Selain meniup seruling cukup diminati sebagai musik hiburan bagi mengiringi lagu-lagu Kendang masyarakat. Tak Kempul, Joko tampil memikat tkh/yoga mengherankan jika dengan membawakan lagu Kendang Kempul se- Perantauan karya musisi Erlin dan Sasi cara rutin terdengar di Idemus. – tin. tkh/yoga

6


GELANGGANG

31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 9

Ketua PTMSI Bintang Puspayoga bersama sebagian regu putri peserta kejuaraan ‘Bali Open 2011’

Tenis Meja makin Digemari

WHDI dan BKOW usai bertanding (kiri) dan sedang bertanding

P

ADA kejuaraan kali ini rupanya partisi pasi dari kelompok beregu putri cukup ramai. Pada hari pertama pertandingan, dari enam meja yang tersedia, empat di antaranya yakni pool A hingga pool D digunakan oleh peserta beregu putri. Selesai proses pengundian untuk menentukan jadwal dan peserta

pertandingan, tiap regu serius mengikuti pertandingan demi pertandingan Setelah pertandingan berjalan, tampak kontingen Kota Denpasar berhasil meloloskan 4 regu ke 16 besar, yaitu PKK Penatih, PKK Buruwan A, PKK Pemecutan dan PKK Sesetan. Kontingen lain yang lolos juga antara lain PKK Tabanan, PKK

Buleleng serta PKK Jembrana. Sedangkan yang berhasil melanjutkan maju dari kelompok BKOW adalah PKK Klungkung, Dharma Pertiwi A, Dharma Pertiwi B, Dharma Wanita Persatuan Setda Prov. Bali, BKOW Bali dan WHDI Bali. Ada yang menarik ketika terjadi regu BKOW Bali, yang diwakili para pengurus intinya ini bertemu di satu meja dengan WHDI Bali. Pertandingan kedua regu ini menjadi seru. Penonton pun menikmati dengan bertepuk tangan dan bersorak untuk keduanya. Set demi set berjalan, akhirnya regu WHDI mampu mengungguli BKOW. “Jelas saya mendukung keduanya sama rata. Menang atau kalah keduanya tetap bagian BKOW. Memang atau kalah tetap sehat dan kita semua semakin cinta tenis meja,” ujar Gung Tini seraya tersenyum. Menurut Ketua Umum PTMSI Bali Bintang Puspayoga, yang selalu hadir selama kegiatan berlangsung, kepesertaan organisasi wanita di ajang Bali Open ini turut menguatkan keberadaan tenis meja di tengah masyarakat. “Mereka banyak menyimpan potensi, hanya perlu tambahan jam terbang. Apalagi dengan turunnya para lansia di arena pertandingan, mereka mampu menyebarkan semangatnya dan ini sekaligus menjadi motivasi bagi yang lebih muda,” cetusnya. Melihat tenis meja termasuk olah raga merakyat, murah namun tetap berkualitas dalam membantu menjaga kesehatan. Jadi sayang jika dibiarkan begitu saja, terutama pembinaan calon atlet. “Begitu juga melalui ibu-ibu PKK dan anggota organisasi wanita yang ikut kali ini. Nantinya secara tidak langsung juga akan menular pada putraputrinya dan keluarganya. Mungkin saja anak-anak mereka ini bisa mencapai suatu prestasi ke depannya,” ucap Ketua II PTMSI Bali yang juga anggota Gatriwara Bali Dayu Kalpika. —ard

Tim Iwapi bersama Humas WHDI A.A. Sri Utari

Pemain Iwapi berlaga di kejuaraan tenis meja ‘Bali Open 2011’

BKOW Bali...............................................dari halaman 1

Petenis meja Gatriwara

Aksi pemain tenis meja BKOW

unsur pelestariannya,” tutur Gung Tini yang diamini para pengurus BKOW lainnya. Terlebih menurutnya permainan ini sangat cocok untuk para ibu. Sebab melihat dari segi keuntungannya, olah raga tenis meja yang tergolong salah satu aktivitas olah raga indoor ini, bisa dilakukan kapan saja. “Meskipun dalam keadaan cuaca hujan, angin kencang dan kondisi alam yang kurang baik, tidak akan mengganggu. Kegiatan olah raga ini bisa berjalan terus,” katanya sembari mengatakan tenis meja adalah olah raga yang punya fungsi ganda, untuk aktivitas yang bersifat kompetitif dan kegiatan yang menyenangkan. Olah raga ini, kata Gung Tini bisa dilakukan kapan saja sepanjang hayat. Menjadi seru ketika bermain beramai-ramai serta tanpa disengaja mampu mempererat jalinan persaudaraan di tengah padatnya rutinitas tiap anggota organisasi. Karena itu, tidak keliru tenis meja menjadi salah satu pilihan BKOW untuk lebih

memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat. “PTMSI Bali pun sudah tepat memprogramkannya secara terencana serta berkesinambungan,” cetusnya. Walau menyadari organisasinya bukan pemain profesional, tapi Gung Tini telah melihat peserta dari organisasinya mendapatkan hasil yang baik, minimal bagi pribadi masing-masing. Sebab semua olah raga, jika dilakukan teratur dan sesuai porsinya pasti menghasilkan kebugaran untuk tubuh sebagaimana istilah men sana in coorporesano. “Melalui aktivitas memukul bola kecil putih atau orange beberapa jam tiap minggu menjadikan berkeringat dan menaikkan denyut jantung. Selain mampu membakar banyak kalori yang secara otomatis memperbaiki metabolisme serta meningkatkan kebugaran kita,” lanjutnya tersenyum sambil menyisipkan harapan BKOW bisa mendapatkan bantuan meja untuk bermain tenis dari PTMSI Bali. - ard


8

Tokoh

GELANGGANG

31 Juli - 6 Agustus 2011

Tim putri BKOW dalam acara pembukaan ‘Bali Open 2011’

BKOW Hadirkan para Ibu Dukung ‘Bali Open 2011’ BEGITU Kejuaraan Tenis Meja Bali Open 2011, resmi dibuka pada Kamis (21/7), dan melihat banyaknya peserta beregu putri yang ambil bagian, seluruh kontingen organisasi wanita di bawah koordinasi BKOW meneriakkan yel-yel penyemangat dengan menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku”.

M

enurut Sekum BKOW Bali, Dewi Rully, itu adalah ungkapan spontan mereka ada di dalam kegiatan olah raga yang besar dan bergengsi di Bali ini. “Begitu menerima undangan dari Ketua PTMSI

Bali Bintang Puspayoga, ketua BKOW Ibu Tini Gorda meminta kami segera meneruskan ke semua organsiasi termasuk GOW di kabupaten/kota,” katanya dan menambahkan kalau semua organisasi menyambut dengan semangat.

“Untuk tahun ini memang belum semua bisa ikut. BKOW menyertakan 11 tim beregu putri. Dua regu dari Dharma Pertiwi,” ujarnya. Mengenai persiapannya, kata Dewi Rully semuanya berlangsung dalam waktu yang singkat. “Tiap regu paling banyak berlatihnya tiga kali pertemuan. Malah ada yang satu kali saja. Namun, bersyukurnya ibu-ibu yang turun bertanding kali ini, rata-rata sebelumnya sudah pernah bermain tenis meja, meskipun hal itu sudah puluhan tahun silam,” lanjutnya.

Pemain dan official tenis meja WHDI Provinsi Bali

Humas WHDI Bali A.A. Sri Utari dalam kesempatan yang sama mengaku salut pada semua organisasi yang ikut berlomba. “Meski dengan persiapan yang sangat medesak tetap tidak mengurangi arti kehadirannya di arena kejuraan tenis meja tahun ini. Ini sebuah langkah awal untuk meraih prestasi di tahun depan, kenapa tidak?” ujarnya. Gung Sri juga terkesan pada semua kontingen yang turun bertanding menunjukkan upaya yang terbaik tanpa mengabaikan suasana keakraban dan kebersamaan dengan tetap menciptakan semangat bertanding yang sehat, sportif dan jujur dalam setiap pertandingan. Sementara Desak Asrihati dari Iwapi Bali menyatakan regunya hadir dalam rangka turut memeriahkan HUT ke-53 Provinsi Bali. Di samping itu, katanya, sebagai wanita pengusaha di tengah keseharian yang disibukkan dengan aktivitas bisnis, mereka tetap ingin menjaga kesehatannya, salah satunya melalui olahraga.”Tenis meja merupakan olahraga sosial. Ikut dalam sebuah kompetisi seperti ini bukan hanya untuk bersaing tapi juga menjalin bersahabat dan persaudaraan dengan semua penggila tenis meja. Selain itu

Suasana pembukaan ‘Bali Open 2011’

menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan antara pikiran dan jasmani. Sebab, ketika tubuh ini sehat, maka jiwanya pun sehat. Sehingga di dalam menjalankan kesibukan sehari-hari kita tampil lebih segar dan semangat,” ujarnya bersemangat. Begitu pula Ketua WHDI Bali Sulasmi Rai, mengaku bangga terhadap regu WHDI. Meski mereka sudah masuk kelompok lanjut usia, ternyata masih memiliki semangat bertanding yang tinggi. “Semoga hal ini memacu pengurus WHDI dan anggota lainnya. Apalagi ketika itu WHDI juga BKOW masing-masing sempat menang pool,” ucapnya. “Tak ada kata terlambat untuk memulai dan kita tidak harus gantung bat karena terlalu tua untuk berolahraga. Sebab, semakin kita tua, pingpong semakin bagus untuk otak. Di lapangan pertandingan kita dipaksa kritis, merencanakan

Penampilan petenis meja andalan Dharma Pertiwi

Peserta kejuaraan tenis meja dari Muslimat NU Provinsi Bali

dan menerapkan strategi, yang akan membantu orang tua tetap berpikir aktif,” lanjut Nyoman Nilawati, Wakil Ketua WHDI yang juga setia mengikuti jalannya pertandingan. Tenis meja memang diakui banyak pihak salah satu sarana sangat baik untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Begitu juga dengan Ita, salah seorang pemain dari regu Wanita Islam (WI) mengakui olah raga ini cukup efektif untuk mengeluarkan keringat

dan meningkatkan aktivitas jantung. “Tenis meja ini pas untuk kami ibu-ibu, karena bermainnya di dalam ruangan. Jadi waktunya fleksibel, bisa dipilih mainnya siang atau malam. Kita juga tidak perlu khawatir cuaca buruk atau harus memakai tabir surya untuk melindungi diri dari sinar ultra violet. Karena kita bukan atlet, setidaknya kegiatan ini bisa menjadikan kita pemain kehidupan yang lebih gesit dan bugar,” ujar Dewi Rully. —ard

Para pemain dari organisasi Wanita Islam Provinsi Bali


31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 7

Kebudayaan Bali yang Menjauh dari Jati Dirinya KEBUDAYAAN Bali yang mengandung nilai-nilai tattwa yang bhatara penyarikan. Penyarikan berasal dari kata nyarik berarti luhur seyogianya diimplementasikan dalam wujud susila secara bertahap. Anggota banjar umumnya ada tiga yaitu krama teruna linier. Artinya, nilai-nilai luhur dari tattwa itu berlanjut ke dalam teruni yaitu kelompok brahmacari asrama, krama ngarep yaitu wujud perilaku yang secara aktual menunjukkan hasil nyata kelompok grhasta asrama dan krama lingsir yaitu kelompok wana berkontribusi positif pada kehidupan individu, sosial dan alam. prastha asrama. Hidup yang ideal adalah hidup bertahap atau berUpacara yadnya berasal dari bahasa Sansekerta asrama dari brahmacari asrama menuju grhasta dari kata upacara yang artinya mendekat dan dan wana prastha asrama dan puncaknya yadnya yang berarti ikhlas berkorban demi tujuan sanyasin asrama. Sanyasin menurut Agastia yang mulia. Upacara mendekatkan umat pada Parwa tidak boleh lagi bemasyarakat. Hidupnya Tuhan dalam wujud bhakti. Tujuan bhakti pada hanya untuk niskala. Tuhan untuk meningkatkan keluhuran moral dan Ini artinya banjar itu arah programnya untuk menguatkan daya tahan mental. Moral yang luhur mewujudkan teruna-teruni agar semangat dan mental yang kuat sebagai landasan untuk belajarnya terdorong dan terprogram dengan memelihara kelestarian alam dan untuk memsebaik-baiknya agar kelak siap menjadi generasi bangun keharmonisan sosial. Keharmonisan penerus yang baik melanjutkan kebudayaan Bali sosial itu saling mengabdi dengan tulus pada yang bernapaskan agama Hindu. Dalam Agastya sesama manusia ciptaan Tuhan. Hidup saling Parwa dinyatakan: Brahmacari ngaran sang mengabdi itu adalah hidup yang saling menguatkan mangabyasa Sang Hyang Sastra tur sang wruh kualitas individu dan kebersamaan sosial. Tetapi, ring kalingganing Sang Hyang Aksara. Artinya, faktanya masih banyak yang terjadi jauh dari brahmacari namanya jika mereka yang idialisme upacara yadnya itu. Semaraknya bermenjadikan belajar untuk mendapatkan ilmu bhakti pada Tuhan masih ada yang jauh dari pengetahuan itu sebagai kebiasaan hidup dan bhakti yang berkualitas, bahkan terkesan ada paham terhadap hekikat penggunaan aksara. yang formalistis belaka. Kata aksara dalam bahasa Sansekerta berarti yang Upacara yadnya menggunakan sarana yang kekal abadi. Maksud aksara diturunkan untuk I Ketut Wiana disebut upakara. Dalam bahasa Sansekerta menyebarkan Sabda Tuhan yang kekal abadi itu. upakara berarti melayani dengan tulus. Penggunaan Ini artinya aksara tidak boleh dipakai Tulisan Keempat flora dan fauna sebagai sarana upakara dalam menyebarkan hal-hal yang bertentangan dengan Manawa Dharmasastra V.40 dinyatakan justru untuk dharma intisari Weda. Hal itulah yang harus dari Lima Tulisan melestarikan flora fauna tersebut. Dengan demikian dibiasakan teruna teruni banjar. Seyogianya semaraknya upacara dan ipakara yadnya dalam pembinaan brahmacari asrama ini menjadi prokehidupan berkebudayaan beragama Hindu seyogianya keberadaan gram utama dalam kegiatan teruna-teruni banjar. flora dan fauna di Bali makin meningkat, baik kualitas maupun Demikiaan juga krama ngarep sebagai kelompok grhasta asrama kuantitasnya. Bahkan dalam Sarasamuscaya 135 dinyatakan: mengembangkan kemampuannya sebagai grhasta asrama agar bisa Matang nian prihen tikang bhutahita,aywa tan masih ring sarwa eksis sesuai dengan swadharma grhasta asrama. Dalam Agastia prani. Artinya: hendaknya diupayakan kesejahteraan alam (bhuta Parwa dinyatakan: Grhasta ngarania sang yatha sakti kayika hita) itu, jangan tidak menaruh belas kasihan pada semua makhluk dharma. Artinya: Grhasta namanya mereka yang dengan hidup. Kalau konsep ini dilakukan sebagai wujud kegiatan kemampuan sendiri melaksanakan dharma. Inti grhasta memiliki kebudayaan Bali dari ritual keagamaan diaktualkan dalam kegiatan kemampuan untuk mandiri menegakan swadharma keluarga sebagai yang kontekstual memelihara flora dan fauna, dapat dipastikan komponen terkecil tapi terpenting dalam suatu sistem sosial. Seorang akan terwujud alam lingkungan Bali yang makin lestari. Hutan, grhasta haruslah sakti terlebih dahulu sebelum berumah tangga. kebun, sawah ladang dan lingkungan permukiman akan makin hijau, Sakti dalam Wrehaspati Tattwa 14 dinyatakan: Sakti ngaran sang sumber air sungai danau akan makin bersih demikian seterusnya sarwa jnyana muang sang sarwa karya. Artinya, sakti namanya pada sumber daya alam lainnya. orang yang telah banyak memiliki ilmu pengetahuan dan banyak Di tiap desa pakraman di Bali umumnya terdapat Pura kerja berdasarkan ilmu tersebut. Kalau belum sakti artinya belum Kahyangan Tiga sebagai temppat pemujaan Tuhan dalam siap berumah tangga. Kalau banyak yang demikian akan menjadi manifestasinya sebagai Tri Murti. Tujuannya, agar dinamika beban yang memberatkan banjar dan selanjutnya akan menjadi beban kebudayaan Hindu dinamis menuju arah yang makin luhur, agar desa pakraman dan seterusnya beban Bali. senantiasa ada utpati atau upaya kreatif untuk menciptakan sesuatu Membangun kebudayaan Bali seyogianya meluruskan yang dibutuhkan zaman dalam mengamalkan dharma; stithi yaitu pelaksanaan panca yadnya dengan segala kegiatan utama dan ada upaya yang kreatif untuk memelihara dan melindungi budaya pelengkapnya agar sesuai dengan konsep sastranya. Tentunya yang masih relevan dengan kebutuhan zaman dalam menegakkan termasuk tegaknya fungsi pura sebagai tempat pemujaan baik pura dharma; pralina berarti ada upaya yang kreatif, cerdas dan arif kawitan, pura awagina, pura kahyangan desa dan pura kahyangan untuk menghilangkan segala seseuatu yang sudah usang yang justru jagat. Demikian juga fungsi desa pakraman dengan banjarnya. menghalangi upaya mengamalkan dharma. Tiga hal inilah Semuanya itu sudah makin banyak mengalami distorsi dari tattwaseyogianya diprogramkan tiap desa pakraman. Umumnya di tiap nya sebagai jiwa kebudayaan Bali. desa pakraman ada beberapa banjar. Di hulu areal balai banjar zI Ketut Wiana didirikan pura. Di pura balai banjar ini Tuhan dipuja sebagai

Echa Ayu Risananda dan Desak Komang Sugi Arini bersama Ketua PTMSI Bali Ny. Bintang Puspayoga saat pembukaan Bali Open 2011

Kejuaran Tenis Meja Beregu Putri “Bali Open 2011”

PKK Buleleng Terbaik, Tabanan Mengejutkan DUEL PKK Buleleng dengan PKK Sesetan menjadi pertandingan pamungkas kejuaraan tenis meja beregu putri “Bali Open 2011”. Regu PKK Buleleng akhirnya menjadi yang terbaik setelah mengandaskan PKK Sesetan dengan skor 3-1. Menurut Sutriani, salah satu petenis meja PKK Buleleng, dirinya bersama Ria Damayanti, Ayu Netri dan Suparmi memang suka berlatih bersama. “Kebetulan kami punya hobi olahraga yang sama. Tetapi, bukan berarti kami bisa rutin bersamanya. Apalagi kami sebagai ibu dengan aktivitas yang berbeda, tidak mudah untuk berkumpul. Khusus “Bali Open 2011” ini kami berusaha menggunakan tiap kesempatan yang ada, untuk bisa berlatih bersama,”ungkapnya. Ia mengaku, kalau anggota regunya memang memiliki komitmen untuk memboyong kemenangan.”Tekad kami, wajib menyumbangkan hasil terbaik saat kembali ke Buleleng,” tandasnya usai pertandingan yang digelar di GOR Lila Bhuana ini. PKK Sesetan yang menempati posisi kedua, dengan menurunkan Luh Tambun, Meiske serta Nalo mengatakan tampil bermodal semangat. “Sempat berlatih bareng hanya lima kali pertemuan. Syukurnya kami semua sebelumnya sudah mempunyai dasar yang sama dalam bermain tenis meja,” ungkap Meiske. PKK Pemecutan yang bertengger di posisi tiga besar tak menyangka perjuangan mereka berhasil menyingkirkan PKK Penatih yang sama-sama dari Kota Denpasar ini. “Ketika berlaga di Kota Denpasar, PKK Penatih yang menjadi juara pertama,” ujar A.A. Primahayuni, pemain andalan PKK Pemecutan yang bersama kedua rekannya, Aty Sasih dan Ganitri pun menghentikan langkah PKK Penatih dengan skor 3–2. Menurut Ketua Umum PTMSI Bali Bintang Puspayoga, bagi PKK Pemecutan dan Sesetan dari kota Denpasar, sudah biasa berlaga karena di Denpasar ada kejuaraan tersendiri. Namun, yang menarik, adalah tampilnya regu putri Tabanan menyeruak ke semifinal. Yuni, Nanik serta Puspawati berhasil lolos melawan WHDI dengan mengantongi kemenangan 3-1. Bintang yang atlet tenis meja tahun 1980-an ini mengatakan surprise atas masuknya regu PKK Tabanan dalam empat besar. “Mereka termasuk tam-

pil luar biasa,”katanya memberikan apresiasi yang tinggi. “Saya juga salut kepada Pengkab PTMSI Tabanan, betapa dalam waktu singkat mereka tidak saja mampu memilih pemain tetapi juga membentuk bibit yang baik. PKK Tabanan dalam permainnya juga bisa meraih poin. Regu anyar ini mampu memberikan perlawanan dan terbukti mereka bisa menduduki posisi yang bagus,” ungkap Bintang Puspayoga yang selalu setia menyaksikan semua pertandingan hingga usai ini. Sedangkan kemenangan bagi regu PKK dari Pengkab Buleleng, menurut Bintang Puspayoga sudah bisa ditebak mereka pasti mampu merebut poin.”Apalagi di sana ada pemain andalan seperti Ria Damayanti yang juga pemain Porprov. Disamping itu, selama ini Buleleng adalah kabupaten yang sangat serius dalam melakukan pembinaan. Di sana pengurus dan atletnya sangat solid. Sampai saat ini pemain-pemain terbaik masih dari Buleleng,” ujar istri Wakil Gubernur Bali ini dengan mimik serius. Keikutsertaan ibu -ibu dalam ajang “Bali Open” ini mampu memberikan warna tersendiri. “Saya merespons positif janji anggota organisasi wanita yang akan berlatih lebih baik, untuk mempersiapkan diri tampil di kejuaraan berikutnya,” ungkap Bintang Puspayoga. PTMSI Bali akan terus memberikan ruang bagi mereka. Apalagi mereka adalah para ibu yang punya semangat dan antusiasme penuh untuk terus menularkan bermain tenis meja ini kepada anak dan keluarganya. Ia juga berharap ketika sebuah organsiasi wanita berulang tahun, dapat mengadakan kegiatan kejuaraan tenis meja demi terua membantu kesinambungan olahraga ini . Pembukaan “Bali Open 2011” juga dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan kepada dua atlet remaja Bali yang berpretasi di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Mereka adalah Echa Ayu Risananda (perak tingkat SMA) dan Desak Komang Sugi Arini (perunggu tingkat SMP). “Keduanya pantas mendapatkan penghargaan. Sebab, kemenangan mereka berdua surprise bagi kami. Sungguh ini kado luar biasa bagi kepengurusan PTMSI Bali yang baru memasuki tahun kedua ini,”ucap Bintang Puspayoga. Ia berharap prestasi yang diraih ini memicu keduanya juga temanteman pemain lainnya untuk terus berlatih lebih intensif demi mengasah dan meningkatkan kemampuan. — ard

Bali Zoo – ‘Lembaga Konservasi Terbaik’ Nasional Dinilai Berperan Dalam Upaya Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam PENGHARGAAN sebagai ‘Lembaga Konservasi Terbaik’ diraih Bali Zoo – Kebun Binatang Bali. Penghargaan yang diterima dari Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, S.E., M.M. 18 Juli 2011 di Jakarta tersebut, melengkapi beberapa penghargaan yang sudah diraih Bali Zoo. Anugerah piagam penghargaan diserahkan langsung Menhut kepada pendiri sekaligus owner Bali Zoo, Ir. Anak Agung Gde Putra. Penghargaan kepada Bali Zoo ini diberikan atas upayanya dalam perlindungan hutan dan pelestarian alam di Indonesia. Dalam piagam penghargaan bernomor: PI.19/MENHUT-IV/ 2011 itu, Menhut Zulkifli Hasan mengucapkan terima kasih atas peran Bali Zoo dan berharap pada masa yang akan datang prestasi ini bisa ditingkatkan. Atas penghargaan yang diterimanya, Ir. A.A. Gde Putra

mengaku bersyukur sekaligus berbahagia dan bangga. Baginya, penghargaan menjadi motivasi dan mendorongnya untuk lebih bersemangat melakukan pengembangan dan perluasaan Bali Zoo yang kini berusia 9 tahun. “Kami jelas bersyukur dan berbahagia sekaligus bangga atas penghargaan yang kami terima. Prestasi ini berkat perjuangan bersama seluruh karyawan. Penghargaan ini makin menguatkan motivasi dan semangat kami untuk makin berbenah dan memberikan yang terbaik kepada seluruh masyarakat dan pengunjung Bali Zoo,” ungkapnya. Menurut Ir. A.A. Gde Putra, pihaknya tak pernah dihubungi atau dikunjungi secara resmi oleh instansi terkait dalam penilaian Bali Zoo. “Saya hanya dihubungi untuk menerima penghargaan. Sebelumnya tak pernah ada pihak/instansi yang menghubungi saya dalam kaitannya penilaian Bali Zoo. Soal

ing-nya dilakukan 4 September 2002. Peresmian dilakukan Bupati Gianyar, Gubernur Bali, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan menandatangani prasasti bersama. Bali Zoo berada dalam badan usaha CV Bali Harmoni, berlokasi di Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar dan resmi menjadi Lembaga Konservasi Ex-Situ melalui SK Menteri Kehutanan RI No.68/ Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001. Bali Zoo memiliki misi yang bertujuan membantu program pemerintah dalam upaya melestarikan satwa langka yang dilindungi selain sebagai media pendidikan dan hiburan bagi wisatawan/ pengunjung, menjadi alternatif lain objek wisata serta menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan Semula 3 Hektare Bali Zoo adalah Lembaga pendapatan daerah. Berdirinya Bali Zoo antara lain Konservasi (LK) yang grand openkriteria atau persyaratan, saya juga tak tahu. Saya rasa penilaiannya dilakukan secara diam-diam dan hanya instansi terkait yang punya kriteria tentang siapa yang berhak menerima penghargaan,” ungkap pengusaha yang sangat peduli terhadap upaya menjaga lingkungan ini. Bagi Ir. AA Gde Putra, penghargaan bergengsi tingkat nasional ini makin memacunya untuk menjadikan Bali Zoo sebagai kebun binatang bertaraf internasional sesuai visinya. “Kami ingin meraih prestasi yang lebih tinggi. Ini sesuai visi kami yakni ‘Menjadikan Bali Zoo-Kebun Binatang Bertaraf Internasional’ dengan melaksanakan tugas dan fungsi lembaga konservasi Ex-Situ secara baik dan menyinergikan adat dan budaya Bali,” ujarnya bersemangat.

Ir. Anak Agung Gde Putra (kiri) saat menerima piagam penghargaan dari Menhut RI Zulkifli Hasan, S.E., M.M.

untuk mendukung dan memperkuat pariwisata budaya Bali agar tetap diminati wisatawan. Luas lahan Bali Zoo saat grand opening hanya 3 hektare, kini tahun 2011 luasnya sudah mencapai 7 hektare lebih dan akan terus ditingkatkan luasnya ke arah utara yang sangat memungkinkan karena masih ada lahan-lahan kritis.

Kelahiran anak Rusa Totol India

Kelahiran anak Siamang

Kelahiran anak Harimau Benggala yang ke-4

Cinta Satwa Ir. A.A. Gde Putra (56), adalah putra daerah asal Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar. Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) Universitas Udayana tahun 1983 ini mengaku tumbuh rasa cintanya pada satwa ketika banyak menerima pemberian satwa dari teman/pengunjung art shop (bisnis yang saat itu digelutinya-red). Dari satwa yang hanya beberapa ekor itu, akhirnya menumbuhkan niatnya untuk memiliki sebuah kebun binatang. Semula satwa yang dikoleksi hanya sekitar 160 ekor, kini menjadi 340 ekor dari 90 jenis satwa. Bahkan, Bali Zoo memiliki koleksi beberapa satwa yang berhasil berkembang biak dengan baik sementara populasinya di dunia terus menurun. Contoh,

satwa primata seperti anak Lutung Hitam dan Merah, Harimau Benggala dan Singa Afrika, dari hanya sepasang kini menjadi belasan ekor. Keberhasilan ini diekspos media ABC News Amerika Serikat. Mantan PNS (1983–1990) di Dinas Peternakan Kabupaten Klungkung ini mendanai pembangunan Bali Zoo dari modal sendiri dan pinjaman dari Bank BPD Bali. “Tidak ada pejabat pemerintah di Bali atau investor di kota besar di Indonesia, apalagi investor luar negeri yang menjadi pemilik Bali Zoo. Kepemilikan Bali Zoo murni orang Bali asli Singapadu,” tutur Ir. A.A. Gde Putra. Misi Sosial Bali Zoo merupakan tempat rekreasi dengan harga sangat terjangkau. Jumlah pengunjung, baik lokal, domestik dan mancanegara, meningkat terus dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut rata-rata 20%. Selain untuk pengunjung umum, Bali Zoo memiliki program spesial untuk misi sosial seperti kunjungan lansia dan keluarga miskin Kota Denpasar. Tak hanya itu, untuk kegiatan keagamaan/upacara besar Agama Hindu, manajemen Bali Zoo juga menyumbangkan hewan/satwa

tertentu (lutung hitam, kijang dan rusa) untuk mendukung kegiatan tersebut. Bali Zoo yang didukung karyawan 146 orang, memiliki beberapa program kegiatan yang menarik seperti ‘Night at The Zoo’ (petualangan malam di kebun binatang), ‘Paket Birthday, Wedding’, ‘Zoo Goes To School’, ‘Bali Zoo Treewalk Adventure’. Bali Zoo juga dilengkapi fasilitas restoran, café, souvenir shop, wahana outbond, sarana parkir luas dan nyaman. Ke depan, Bali Zoo akan menambah luas area, menambah koleksi satwa, meningkatkan profesionalisme SDM dan meningkatkan jenis dan mutu produk serta pelayanan. Beberapa penghargaan yang diterima Bali Zoo selain sebagai ‘Lembaga Konservasi Terbaik’ tingkat nasional, juga penghargaan atas kerjasamanya dari Kementerian Agama (MAN-Madrasah Aliyah Negeri) Amlapura, penghargaan dari Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardana Sukawati sebagai penyetor pajak hiburan terbesar IV tahun 2009, terbesar III tahun 2010 serta penyetor pajak restoran terbesar IX tahun 2010. —ari


12

Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

DPD ibarat............................................................................................................dari halaman 1 Kado Hari Raya.......................................................................................................................................................dari halaman 1 dihasilkan DPR dinilai sebagai biang kerok di balik lemahnya posisi tawar politik DPD. UU yang mengatur DPD jelas dihasilkan DPR. Isinya cenderung membatasi fungsi dan kewenangan DPD. “Sebaliknya, fungsi dan kewenangan DPR hampir tak terbatas,” ujarnya. Komitemn DPR untuk menambah fungsi dan kewenangan legislasi DPD dinilai menjadi solusi untuk mendongkrak peran DPD. “DPD seharusnya punya sebagian kewenangan fungsi legislasi Itu sesuai prinsip check and balances atau sistem saling mengawasi dan mengimbangi. “DPD bahkan seharusnya menjadi lembaga pengawas DPR. Jika tidak begitu, DPD sebaiknya dibubarkan saja daripada membebani APBN,” tambahnya. Kapasitas individual anggota DPR dan DPD juga menyimpan masalah lain. Kapasitas individual para wakil rakyat yang duduk di dua lembaga ini menjadi pertanyaan besar. “Saat ini banyak anggota DPR dan DPD yang S1, S2, dan S3, bahkan profesor. Tetapi, kinerja lembaga ini kok tidak lebih baik. Ada apa dengan mereka,” ujarnya. Peran empat anggota DPD asal Bali itu tak hanya dihujani kritik pakar politik. Seorang konstituennya Anak Agung

Prof. Dr. Syamsuddin Haris

Gede Agung dari Jembrana pun menumpahkan kritik pedas pula. “Bali punya empat wakil di DPD. Tetapi, kapan mereka pernah berkomunikasi dengan kami sebagai konstituennya. Mereka kan sudah disumpah jabatan, namun sekarang malah di-sumpahin banyak orang,” katanya. Salah seorang anggota DPD Kadek Arimbawa mengaku telah menjalankan tugasnya untuk meperjuangkan aspirasi pemilihnya di Pulau Dewata. Wakil Bali di DPD maupun DPR malah disebut-sebut telah bersinergi melalaui Kaukus nang Hyang Bali. “Melalui kaukus

ini kami sering ngobrol, berpikir untuk perjuangkan aspirasi Bali di pusat,” katanya. Dirinya juga dikatakan sering turun ke tengah konstituennya. “Saya yang menggagalkan rencana pembangunan jalan tol Serangan-Nusa Dua. Saya juga yang menolak pembangunan pembangkit listrik geothermal di Bedugul, sehingga terganjal di pusat,” ujarnya berapi-api. Namun, seniman yang dikenal dengan nama Lolak itu mengaku, fungsi dan kewenangan DPD yang terbatas memang menjadi masalah. Ini membuat mereka tidak bisa bekerja maksimal untuk memperjuangkan aspirasi rakyatnya. “Tetapi, kami tetap berusaha. Salah satu caranya, akan dibangun Kantor Perwakilan DPD di Renon,” ungkapnya. Sistem pemilu proporsional dinilai Prof. Haris ikut menyumbang rendahnya derajat nilai aspirasi wakil rakyat di mata pemilihnya. “Sistem pemilu proporsional melahirkan wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab kepada pemilihnya. Hubungan mereka dengan konstituen tidak terlalu dekat. Konstituen tidak bisa meminta pertanggungjawaban wakilnya itu, karena dimediasi partai politik. Komitmen wakil rakyat cenderung diikat parpol daripada konstituennya,” kata Prof. Haris.

Tokoh Budaya Indonesia 2009 dari Yayasan Pelestari Budaya Indonesia. Bu Agung adalah satu-satunya wakil Bali dari 18 penerima penghargaan aksara nasional dari seluruh Indonesia yang diserahkan di Graha Utama Gedung A lantai III Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Selama ini, Yayasan Kecantikan Agung yang bergerak di bidang tata rias, tak hanya berbisnis. Bu Agung pun menjalankan misi sosialnya, yaitu mengajari perempuan yang kurang mampu, putus sekolah, dan berminat di bidang tata rias agar menjadi mahir di bidang itu. Kursus gratis di bidang tata rias ia selenggarakan di seluruh kabupaten/kota di Bali bekerjasama dengan berbagai pihak menjamah organisasi perem-

puan, instansi pemerintah, maupun swasta. Karena eksistensinya ini, Bu Agung kerapkali dipercaya merias Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu dengan pusung tagel-nya dalam acara pembukaan PKB, tiap tahun. Belum lama ini, ia juga diminta Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika, mendemontrasikan teknik dan tips merias cepat sepasang pengantin Bali Payas Agung Badung dalam acara “Bali Magical Wedding Vaganza” di Hongkong Garden. Kamis (28/7) sampai Sabtu (30/7), Bu Agung yang juga salah seorang asesor BAN PNF (Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal) dari Bali, juga turut mendampingi lawatan Sekretaris BAN PNF Bu Agung (kiri) dan Ratna (kanan) usai mendandani Ny. Bambang Sudibyo, mantan Mendiknas dalam acara Konferensi 9 Negara ASEAN 3 Juni 2008 di Nusa Dua

Sebaiknya Gubernur..................................................................................dari halaman 1 pernah tahu berapa hasilnya yang dibawa ke pusat. Padahal, masyarakat Bali juga berhak menikmati hasil keuntungan dari pengelolaan bandara internasional itu untuk membiayai pembangunan,” ujarnya. Kebutuhan anggaran untuk menanggulangi masalah kemiskinan tersebut, kata Putra Wijaya, sebenarnya bisa diserap jika ada komitmen untuk menekan jumlah ongkos politik maupun politik uang (money politics) yang beredar saat berlangsung pemilihan gubernur. “Ajang pilgub itu jelas banyak menghambur-hamburkan uang,” katanya. Buktinya, penyelenggaraan Pilgub Bali tahun 2008 menelan biaya Rp 80 miliar. Anggaran ini bersumber dari APBD. “Ini belum termasuk biaya politik yang dikeluarkan tiap pasangan calon gubernur. Mangku Pastika, misalnya, saat jadi cagub diperkirakan menghabiskan ongkos politik Rp 7 miliar. Saat itu saya menjadi sekretaris tim suksesnya,” ungkap Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bali Drs. Gede Kusuma Putra, Ak., M.B.A., M.M. kepada wartawan Koran Tokoh pekan lalu di ruang kerjanya. Efisiensi ongkos politik penyelenggaran pilgub dinilai sebaiknya mulai dipertimbangkan pemerintah dan wakil rakyat di daerahnya. “Makanya saya setuju jika langkah efisiensi tersebut dilakukan dengan cara memilih gubernur tidak lagi melalui pilgub langsung oleh konstituen, tetapi lewat DPRD. Jika anggaran pilgub bisa ditekan kan dananya bisa dipakai untuk membiayai pembangunan daerah,” ujarnya. Pandangan senada juga datang dari ruang Seminar Nasi-

onal “Efektivitas Perwakilan Politik di Indonesia” yang digelar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Cabang Bali, Sabtu (23/7), di Kampus Universitas Warmadewa Denpasar. Ketua Umum AIPI Pusat Drs. Sinyo Harry Sarundayang, M.Si. menilai ajang pilgub langsung selama era reformasi cenderung boros anggaran. “Pilgub langsung oleh rakyat itu banyak menghabiskan uang,” ujar Sarunda yang kini menjabat gubernur Sulawesi Utara itu. Padahal, pemborosan anggaran tersebut dapat ditekan melalui sistem pilgub lewat parlemen alias DPRD. “Sistem pilgub ini masih dipraktikkan di Jepang dan Prancis. Biaya politik di kedua negara maju ini lebih banyak berasal dari sponsor atau uang cagub sendiri,” ujarnya. Menurut Kusuma Putra, gagasan gubernur sebaiknya dipilih DPRD bukan pikiran setback. Ini bukan gagasan yang hendak membuat langkah mundur dalam sistem pilgub seperti era Orde Baru. “Pertimbangannya, gubernur kan tidak punya wilayah seperti bupati atau wali kota. Gubernur juga perpanjangan tangan presiden. Biaya politik yang dikeluarkan juga banyak jika pilgub langsung,” ujarnya. Soalnya, tambah Kusuma Putra yang juga sekretaris Komisi II DPRD Bali ini, pemerintah dan cagub bukan hanya menghabiskan anggaran politik yang besar dalam ajang pilgub langsung. Peluang tiap tim sukses cagub untuk memainkan money politics juga tidak kecil. “Repotnya pula, biaya banyak tadi tentu tidak seimbang dengan besarnya gaji seorang

gubernur. Ini berpotensi gubernur terpilih berpacu mengembalikan modal yang dikeluarkan selama pilgub,” imbuhnya. Beragam opsi yang mewacanakan sistem pilgub tadi ternyata memancing nada tanya pengamat politik Fisip Unud Ni Made Ras Amanda, S.Sos., M.Si. “Jika ada wacana pilgub langsung atau dipilih parlemen, lalu layaknya siapa yang pilih gubernur? Saya justru mengusulkan tidak memakai kedua sistem itu. Penentuan jabatan gubernur sebaiknya ditunjuk langsung presiden. Alasannya, gubernur kan perpanjangan tangan presiden. Tetapi, ini juga harus diikuti aturan yang ketat agar presiden terpilih jangan sampai menetapkan gubernur yang berasal dari satu partai politik dengan dirinya,” jelasnya. Namun, sistem pilkada langsung sebaiknya tetap diterapkan di kabupaten/kota. Pandangan ini senada dengan Kusuma Putra. “Bupati dan wali kota kan punya wilayah dan konstituen. Jadi, biarkan pilkada bupati dan wali kota seperti sekarang,” ujar Kusuma Putra. Menurut pengamat politik Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D., pilgub maupun pilkada bupati/wali kota melalui DPRD dikatakan memang lebih efisien dari segi anggaran. Wacana ini sedang dirumuskan, digodok, dan akan dipilih yang terbaik. Namun, pilkada langsung tetap membuka ruang partisipasi masyarakat yang lebih luas. “Money politics yang diberantas. Tetapkan aturan untuk memberikan sanksi tegas kepada tindak pidana money politica, bukan masalah mekanisme pemilihannya,” tegasnya. —sam

Di Tempat..............................................................................................................dari halaman 3 bus paling depan berjalan lambat, kendaraan lain terpaksa harus mengekor. Kami tiba di hotel Madhuvan di Mathura bertepatan dengan waktu makan siang. Setelah masuk kamar dan menaruh tas, kami langsung menuju restoran hotel untuk makan siang. Listrik di Mathura ternyata suka hidup-mati. Sebentar hidup, sebentar mati. Genset pun kadang menderu kadang lenyap suaranya. Usai makan siang, saya hanya di kamar sambil menanti waktu berangkat ke sungai Yamuna. Cuaca di luar yang sangat panas membuat kami malas keluar. Lebih baik kami diam di kamar sambil menonton televisi yang semuanya saluran berbahasa Hindi. Pukul 15.00 waktu setempat, kami berangkat menuju Sungai Yamuna. Perjalanan tak begitu jauh. Namun, untuk tiba di tepi sungai, kami naik reksa (model becak tetapi pengemudinya di depan). Satu reksa berisi dua penumpang. Saya bersama Pak Gung Wira, pemenang kuis tirtayatra Telkomsel dari Depok. Kami melewati gang-gang kecil yang penuh orang berlalu-lalang. Gang kecil ini ternyata bisa juga dilewati mobil. Tetapi, kalau sudah ada mobil lewat, suara

klakson tidak akan pernah berhenti. Senggolan antara kendaraan kerap terjadi. Orang-orang itu tidak marah. Mereka hanya menyebut radhe..radhe.. artinya anak Tuhan…anak Tuhan. Pemandangan di tepi Sungai Yamuna sangat mengesankan. Ada bekas kerajaan Hindu yang masih berdiri tegak. Pak Putu Ane Edi mengajak kami menyeberangi sungai dengan dua perahu. Posisi yang kami pilih sangat bagus karena ada background bekas istana. Sungai Yamuna merupakan salah satu sungai suci di India yang diyakini menjadi tempat turunnya Dewa Siwa. Mengingat cuaca sangat panas, kesempatan mandi di Sungai Yamuna kami manfaatkan sebaik-baiknya. Selain melakukan pembersihan, kami juga berdoa agar semua kekotoran yang ada pada diri kami bisa lepas. Selesai mandi, kami kembali ke seberang. Naik lagi reksa menuju Taman Tulasi di Wrindhawan. Secara kasat mata, taman ini penuh pohon tulasi. Ada cerita yang menuturkan tempat tersebut merupakan lokasi para dewa bermain-main. Jika malam hari, tanah di taman tersebut bisa bergoyang. Tak lupa, kami memohon tanah suci dan

daun tulasi di taman ini. Tulasi adalah tanaman yang menyimbulkan nilai bhakti seorang dewi bernama Dewi Wrindavan yang karena kesetiaannya berbhakti kepada Dewa Wisnu membuat suaminya, Raja Jarandara, selalu menang dalam peperangan. Namun, suatu ketika Jarandara dikalahkan Dewa Siwa. Tetapi, Jarandara yang kalah itu adalah Dewa Wisnu yang menyamar. Dewi Wrinda akhirnya berhenti memuja Dewa Wisnu. Ia menyeburkan dirinya ke dalam api sebagai wujud kesetiaan pada suaminya. Dewa Wisnu merasa bersalah lalu menjadikan Dewi Wrinda sebagai tumbuhan tulasi sebagai simbol bhakti umat manusia kepada Dewa Wisnu. Berikutnya perjalanan menuju Pura Khrisna Jalma Bhoomi, tempat lahirnya Shri Krisna. Pemeriksaan untuk masuk pura ini sangat ketat. Siapa pun tidak diperkenankan membawa ponsel, kamera, dan video. Pemeriksaan dilakukan polisi. Di areal ini ada masjid tetapi tidak pernah dipakai sembahyang. Kami beruntung bisa ikut acara pemujaan dan mendapat percikan air suci. Malamnya kami kembali ke hotel untuk makan malam dan beristirahat. Selasa, 31 Mei paginya, kami kembali ke New Delhi.—wah

Yessy Gusman menerima cinderamata dari Ida Cokorda Anglurah Tabanan saat berkunjung ke Puri Agung Tabanan

Yessy Gusman beserta rombongan dalam rangka sosialisasi uji coba instrumen akreditasi tahun 2010/2011 di Disdikpora Provinsi Bali yang diikuti 90 peserta. Di sela-sela kegiatan resminya itu, aktris film “Gita Cinta dari SMA” di era tahun 1970-an itu berkesempatan mengunjungi Puri Agung Tabanan yang kebetulan masih keluarga besar Bu Agung, dan diterima langsung Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Ia terkesan akan sambutan ramah Cokorda. Di sisi lain, Yessy Gusman tertarik untuk mengetahui latar belakang Bu Agung hingga kini eksis di dunia tata rias dan busana adat

Bali. Bu Agung mengakui dirinya bisa seperti sekarang ini tak terlepas dari didikan Ratu Lingsir (nenek dari Cokorda, istri Raja Tabanan terakhir) yang merupakan perias andal pada zamannya. Bahkan, almarhumah mewariskan Bu Agung pisau cukur untuk membersihkan wajah pengantin. Demikian halnya dengan Ratu Mas (Ibu dari Cokorda) juga mewarisinya sebuah gelung tanduk (gelung agung gaya Tabanan). “Dari beberapa pengalaman yang saya jalani, tiap mengikuti lomba saat hari raya, saya selalu beruntung,” ujar Bu Agung bersyukur. —ten

Tua atau............................................................................................................................................................................dari halaman 2 Negara yang sangat heterogen, berpenduduk banya seperti Indonesia menerapkan sistem multi partai. Hanya saja di Indonesia kebablasan, banyak parpol yang sekarat dan gurem. Pembentukan parpol di Indonesia, ambang batasnya sangat longgar, menjadikan banyak parpol bermunculan. Kondisi ini dimanfaatkan para kutu loncat, ketika tidak diterima di satu partai pindah ke partai lainnya. Dulu, ketika zaman orde baru ada dua partai dan satu golongan karya. Dalam kondisi masyarakat Indonesia seperti saat ini parpol cukup lima atau tujuh. Saat ini ada wacana ambang batasnya akan dinaikkan, maka parpol tersaring dengan seleksi alam. Partai kecil yang tidak memiliki konstituen dan terkadang melakukan kebohongan publik, seperti kantornya yang tidak jelas, malah ada kuburan yang dijadikan kantor, adalah tidak sehat dan tidak layak ikut berkompetisi. Secara teori tidak ada ketentuan atau standar berapa banyak parpol di sebuah negara. Seperti AS, yang masyaraktanya mapan secara politik dan mandiri, di sana hanya ada dua partai besar. Sebenarnya ada partai yang kecil-kecil, hanya mereka tahu diri dan berafiliasi pada partai besar. Beda dengan di Indonesia partai-partai kecil yang ada sangat percaya diri. Era orde baru, kita sudah multi partai. Hanya saja dominasi, mayoritas, Golkar saat itu sangat tampak. Netralitas ABRI dan birokrasi tidak terlihat, melainkan terkesan memihak satu golongan politik, hal ini tidak bagus dalam proses demokrasinya. Dalam proses demokrasi, netralitas birokrasi sekarang sudah ada, masyarakat diberi pilihan dan tidak diintimidasi. Namun, kebebasan masyarakat kebablasan. Masyarakat cerdas bisa dibuat namun di Indonesia sengaja dibuat menjadi tidak cerdas dalam berpolitik. Sebenarnya masyarakat sudah mengarah ke kemajuan yang lebih cerdas, political education-nya bagus dan rasional dalam memilih. Namun, elite politiknya kembali membawa degradasi dalam urusan politik ini sehingga menjadikan masyarakat seolah-olah tidak cerdas. Salah satu indikatornya, money politics, atau parpolnya tiba-tiba dibeli orang yang punya uang, yang tidak jelas ujungnya dari mana, menjadi calon dengan membeli suara dan memberi bantuan. Akhirnya pilihan masyarakat tidak berdasarkan rasionalitas atau hati nurani, yang berarti menghambat proses demokrasi. Kondisi partai yang besar, yang menamakan diri besar atau yang disebut besar sebenarnya sama saja, cenderung konflik internalnya sering terjadi. Khusus untuk Partai Demokrat, partai ini relatif muda tetapi berkem-

bangnya cepat. Jarang ada partai yang seperti ini dan ada SBY di belakangnya yang diandalkan serta kebetulan menjadi presiden. Partai yang bagus adalah ketika kaderisasinya bagus. Partai Demokrat dapat dikatakan belum berpengalaman berkaitan dengan konstituennya. Bagusnya partai ini langsung memiliki presiden dan legislator yang banyak. Ketika menghadapi intrik-intrik politik akhirnya kelabakan termasuk dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar. Para elite politik partai besar juga berkompetisi di tingkat pusat. Pada Partai Demokrat yang mengorbit, banyak pendatang dari partai lainnya . Di Indonesia berbeda dengan negara lain ketika melakukan manajemen konflik terhadap partai. Tradisi yang tidak bagus dalam proses demokratis di Indonesia, yakni tradisi minta petunjuk kepemimpinan pada tokoh sentral. Hal ini bisa membuat ketidakpuasan pada masyarakat atau konstituen. Sistem sentralistik di Indonesia ini sudah terbukti menyebabkan konflik. Misalnya dari kabupaten A mengusung si A menjadi calon bupati ternyata rekomendasi dari pusat berbeda. Tumbuhlah kekecewaan dan akhirnya menjadi konflik. Artinya tidak terbiasa berkompetisi di internal, tidak biasa membina perbedaan tetapi terbiasa menerima rekomendasi dari pusat. Ketika suara terbanyak di bawah berbeda dengan rekomendasi pusat, timbul kekecewaan dan akhirnya terjadi konflik serta imbasnya menjadikan elite partai atau tokoh partainya keluar kandang. Kuncinya lawan iklim organisasi partai yang minta petunjuk, sistem rekomendasi dan sistem instruksi. Biasakan demokratisasi yang mulai dengan arus bawah. Tidak mengkultuskan seseorang. Sebab, ketika satu orang menjadi fokus, seperti Pak Harto, begitu tumbang tidak ada kader pengganti. Parpol Indonesia diharapkan menjadi tulang punggung untuk penegakan demokrasi. Setuju sistem multi partai tetapi sebaiknya UU Partai Politik objektif untuk kepentingan negara hingga langsung ditetapkan partai paling banyak 7, jika mungkin cukup 5 partai. Aturan partai sudah bagus, mengadopsi kepentingan gender, hal ini perlu dipertahankan. Jangan sampai terjadi pengebirian hakhak masyarakat dan mengingkari keinginan arus bawah. Nyoman Subanda, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNDIKNAS University.

yang dijiwai Pancasila. Secara ideologi memiliki posisi yang strategis dalam menentukan arah kebijakan politik. Parpol sebagai salah satu pilar demokrasi harus mampu mengubah dan mengolah aspirasi rakyat yang diwakilinya untuk mewujudkannya sebagai cita-cita bangsa. Namun, realitasnya parpol kehilangan fungsi, selalu mencari celah demi kepentingan segelintir orang yang berada di tataran elite. Bahkan antar parpol hampir tak ada bedanya, sama-sama meninggalkan ideologinya yang sesungguhnya yang mestinya menjadi ciri khasnya. Berani melabrak janji dan sumpah sendiri. Regenerasi sudah dilakukan dengan menampilkan tokoh muda, tetapi sayang muda atau tua samasama kemaruk (rakus) uang. Sehingga ranah politik ini identik dengan kepentingan pribadi. Rakyat sebagai pemegang kedaulatanlah yang dirugikan. Siapa pun yang berbuat culas akan terkena getahnya pada rentang berikutnya. Jika semua mampu berpikir lebih jernih dan memakai hati, betapa bodohnya bangsa ini, sudah tahu jurang mengapa mau menerjunkan dirinya. Pande, Pandakgede

Bersaing dengan Teman Sendiri Partai Golkar di bawah kepemimpinan Akbar Tandjung ketika memilih kadernya untuk ditempatkan di badan legislatif melihat kecerdasan, trak record serta loyalitasnya. Jika ketiganya terpenuhi barulah patut diperjuangkan. Ketika reformasi, terjadi perubahan, ada pemilihan langsung yang tidak lagi melihat kadernya yang loyal atau poin penting lainnya.Mereka yang mampu meraih suara terbanyak, yang akan mendapatkan tempat di legislatif. Mereka pun akan bersaing dengan temannya satu partai, yang berarti memerlukan biaya lebih lagi. Sistemlah yang membuat parpol merekrut kadernya bukan berdasarkan ideologi. Banyak orang berlomba mendirikan parpol dan membuat parpol gonjang ganjing seperti sekarang. Lihat saja Partai Demokrat, orang-orangnya banyak yang pernah di partai yang lain yang ideologinya berseberangan. Masih banyak terjadi kutu loncat lainnya atas nama kepentingan. Jodog

Parpol Melahirkan Kutu Loncat

Sebagai warga masyarakat di negeri yang menganut sistem multi partai, kami tiap hari disuguhi pemberitaan yang Tua dan Muda berkaitan dengan kisruhnya Rakus Uang parpol. Beragam permasalahan Parpol bagian dari sistem yang dibuat ulah politikus di perwakilan di republik ini. parpol. Mereka saling berebut Parpol diadopsi dari demokrasi untuk bisa berkuasa, bisa bebas

dari jeratan korupsi, bermasalah dengan urusan moral dan permasalahn lainnya. Tiap hari negeri ini seperti hutan rimba, aturannya tidak jelas fungsi dan peruntukannya. Kebanyakan aturan yang dibuat tujuannya memudahkan mereka berpolitik. Semua aturan seperti ada karetnya. Sangat ironis rasanya ketika kita merunut perjalanan negara ini dari merdeka sampai sekarang. Jika melihat negara tetangga yang belakangan merdeka justru lebih maju, lebih aman serta lebih tinggi pendapatan per kapitanya, begitu juga pendidikannya. Sepertinya parpol tidak tahu apa sebenarnya tujuan didirikannya negara ini. Sebenarnya parpol memilki hak dan kewajiban. Ketika parpol tersebut berkuasa wajib membangun negara tempatnya bernaung. Namun, hingga kini belum ada yang mendengungkan kewajibannya. Para politikus yang ada di parpol hanya berjuang untuk kepentingan partai, kelompok dan golongan serta menyelamatkan diri. Berkelit dari ini dan itu bahkan mengalahkan paranormal, betapa mereka tahu esoknya mau dicekal. Parpol hanya melahirkan kutu loncat politikus. Gde Biasa

Mestinya SBY Lepaskan Baju Parpol Politik saat ini tidak hanya gonjang ganjing tetapi juga amburadul sebab tidak jelas juntrungannya. Tujuannya hanya satu bagaimana mempertahankan dan memperebutkan kekuasaan. Tak peduli menjadi rusak negeri ini. Ketika mengatakan mewakili rakyat, pertanyaannya rakyat yang mana? Buktinya rakyat tetap kelaparan dan kemiskinan ada di manamana. Agar negeri ini tidak amburadul partai yang berpaham atau berideologi sama mengapa tidak bergabung saja. Sehingga, tidak ada yang menjadi kutu loncat. Apalagi jika fungsionaris partai bisa masuk ke pemerintahan, menjadi tambah amburadul. Contoh presiden masih menjabat ketua pembina, menteri juga ketua partai. Bagaimana presiden memecat ketika ia tidak mampu bekerja, karena ia masih mewakili partainya. Mestinya jika sudah masuk ke jabatan publik, presiden, menteri dan sebaginya, harus melepas baju parpol mereka, sehingga pikiran dan tenaga mereka terfokus untuk rakyat dan bangsa Indonesia. Jika tidak demekian konsentrasinya terpecah, seperti yang dialami presiden SBY. SBY masih mengurus partainya, padahal sebagai seorang kepala negara seharusnya mengurusi rakyat dan bangsanya. Prihatin melihat negeri ini makin tua, bukan makin baik tetapi makin memabukkan. Becik


FESTIVAL KELUARGA 2011 hadapi membuat saya terus berkarya dan berkreasi secara total,” katanya. Sebagai perempuan Bali yang tiap hari selalu bersentuhan dengan bebantenan dan tak pernah lepas dari aneka rupa bunga, membuat kreativitasnya makin kaya. ”Ketika saya menyiapkan canang untuk banten dari rangkaian bunga pancasari, saya terinspirasi menuangkannya ke dalam motif bordir,” kata pemenang I lomba pembuatan blogging dan searching se-Kota Denpasar di ajang pameran buku tahun 2008 ini. Kebaya buatannya menggunakan katun, sutra dan endek yang sedang tren saat ini. Ia mendapat bahan di beberapa toko kain di Bali, Bandung dan Solo serta pengrajin endek di Bali. Karena ketekunan dalam mendesain kebaya krawangan khas Bali, akhirnya perempuan yang kini aktif sebagai Ketua Iwapi Cabang Badung periode 2008-2013 dan Wakil Sekretaris Umum Iwapi Provinsi Bali periode 2008-2013 ini juga pernah meraih penghargaan Private Enterprise Participation (PEP) Implementation Project For Bussines Women Jro Puspawati, S.Par. dari PEP-Canada tahun 2007 yang keras ia mendirikan Bali dan penghargaan dari AusaidPuspa Embroidery di Jalan Bali dalam program Small Drupadi XI No.1 Renon. Bussines Management Train“Inspirasi kehidupan saya ing tahun 2007. —rat

Promosikan Kebaya Krawangan Khas Bali

B

agi Jro Puspawati, S.Par., pemilik Bali Puspa Embroidery, bisa bergabung dalam Festival Keluarga Koran Tokoh adalah sebuah penghargaan. ”Ajang ini saya manfaatkan untuk mempromosikan kebaya bordir krawangan khas Bali dengan model terbaru dan modern, tetapi tetap dalam khasanah berbusana kebaya yang cantik dan serasi serta tetap dengan jaminan service selamanya,” papar juara II lomba desain motif endek se-Kota Denpasar pada ajang Denpasar Festival 2010 ini. ”Besar harapan saya, semoga ajang Koran Tokoh ini dapat dijadikan agenda kegiatan tahunan, agar pengrajin yang ada di Kota Denpasar khususnya, terutama kaum perempuan dapat berpartisipasi dalam mempromosikan produknya dan menjadikan Koran Tokoh sebagai media promosi bagi para pengrajin perempuan yang ada

di Bali,” urainya. Usaha yang dirintisnya akhir tahun 2002 ini mendapat dukungan suami dan temanteman. “Semua memotivasi saya yang sempat terpuruk pascakejadian bom Bali. ”Saat itu, saya melihat Bali dilanda demam kebaya bordiran. Berbagai jenis kain beragam motif beredar di pasaran,” kisah juara harapan III lomba desain baju jadi dari bahan endek se-Kota Denpasar dalam Denpasar Festival 2010 ini. Ia melihat, perkembangan motif dan jenis kain juga amat cepat berganti. Dalam hitungan bulan, motif kebaya yang dilempar ke pasaran bisa berubah tiga kali. ”Hal itu membuat ketertarikan saya pada bordir makin kuat,” ungkapnya. Dorongan yang kuat sang suami, yang menganjurkan agar tetap maju dan menciptakan motif bordir sendiri pada kebaya, ibarat gayung bersambut. Dengan tekad dan kemauan

Seni Menghias Kuku Bersama Ami Hariono Di salah satu stan pada areal kegiatan Festival Keluarga Koran Tokoh, terlihat sebuah suasana yang berbeda. Ada dua petugas stan yang tengah melayani pengunjung. Yang satu asyik mengoleskan, mewarnai dan memberi hiasan pada kuku dan satunya lagi tekun memasangkan temporary tattoo. Menurut Ami Hariono, kali ini ia menampilkan jasa nail art dan body art atau temporary tattoo dengan beragam hiasan yang dapat dijadikan pilihan. “Ada yang berbentuk bunga, kupu-kupu serta fauna, tokoh kartun, dan bentuk lain sesuai selera. Metodenya juga beragam. Ada yang ingin langsung digambar di atas kuku atau bisa juga dengan menempelkan stiker yang bentuknya disesuaikan keinginan,” ujarnya. Kecantikan, katanya, tak sebatas wajah dan rambut semata tapi hingga jari tangan dengan nail art. Diakuinya, pewarnaan kuku seperti itu mulai ramai sekitar beberapa tahun belakangan dan melejit hingga saat ini.

Ami Hariono

tkh/dok

“Peminatnya dominan remaja, dan tak kurang ibu-ibu muda yang mengutamakan keindahan artistik kukunya. Polesan bisa juga disesuaikan dengan warna pakaian, make-up dan aksesori. Untuk menghasilkan hiasan lebih artistik, kami bisa menggunakan metode rhine stone

yaitu menghias dengan batubatuan, seperti kristal swarovski, berlian, mutiara,” papar Ami. Untuk aktivitas mewarnai kuku, Ami menjalin kerja sama dengan cutex dan menggunakan merek Konad dari Korea. Alasannya memilih produk impor ini, juga demi keamanan. “Bagi orang dewasa atau remaja tidak ada masalah. Namun, khusus anak-anak, mereka seringkali secara tak sadar menggigit kukunya. Konad tidak berbahaya untuk mereka,” cetusnya. Sedangkan temporary tattoo, kata Ami dipastikan tidak pakai tusukan jarum untuk menanam tinta di bawah kulit. “Tinta hanya ditempelkan di atas kulit. Sesuai namanya, tato paling lama bertahan tiga minggu. Bahan temporary tattoo ada campuran tinta dan lem. Ada juga material temporary tattoo yang instan dalam bentuk serbuk, yang mudah cara menggunakannya. Kalau mau yang lebih praktis lagi ada juga temporary tatoo yang dijual

sudah tercetak di kertas khusus, jadi tinggal, buka, basahi, dan tempel,” tuturnya. Aktivitas yang dilakukannya di stan adalah bagian dari pelayanan jasa yang dimiliki usahanya. Jasa pertama ditanganinya adalah menata rambut anak-anak di “Kids Kat” miliknya. “Cerita awalnya saya ingin membantu para orangtua mendapatkan tempat menggunting atau mencukur rambut anakanaknya di tempat yang memang di desain dan disiapkan untuk mereka,” cetusnya. “Meski dunia anak masih di lingkaran bermain, tapi untuk urusan rambut, jangan salah mereka tak mau ketinggalan. Banyak pilihan model sesuai dengan trennya. Anak-anak sekarang memiliki selera gaya rambut tersendiri,” lanjutnya. Agar proses pengguntingan berjalan lancar, katanya Ami punya kiat tersendiri untuk menanganinya. Timnya senantiasa siap melayani mulai dari balita hingga anak menjelang remaja. —ard

LAPORAN FESTIVAL KELUARGA BERIKUTNYA DIMUAT DI EDISI MINGGU DEPAN

Otonomi Daerah di Provinsi

Hindari Arogansi “Raja Kecil” di Kabupaten/Kota WACANA pilgub di tangan DPRD memancing bergulirnya gagasan yang mendesak otonomi daerah di tangan pemerintah provinsi. “Reformasi kebablasan. Sistem pemerintahan daerah melahirkan ‘raja-raja’ kecil di kabupaten dan kota,” ujar pengamat sosial politik Viraguna Bagoes Oka. Idealnya, otonomi dae-rah dinilai berada di tangan pemerintah provinsi. Alasannya, kata Viraguna, gubernur merupakan pengemban otoritas pemerintah daerah. “Bupati dan wali kota cukup menjalankan tugas administratif pemerintahan. Namun, UU Otonomi Daerah sekarang malah memberikan kewenangan besar kepada bupati dan wali kota yang melahirkan ‘raja-raja’ kecil tadi,” ujarnya. Saat ini otonomi daerah dinilai wakil rakyat dari DPRD

Viraguna Bagoes Oka

Bali Tutik Kusuma Wardani melahirkan kewenangan luar biasa bagi pemerintah kabupaten/kota. Ini membuat otoritas gubernur terkesan lemah di mata bupati/wali kota. “Saat gubernur memanggil rapat tak jarang bupati atau wali kota hanya mewakilkan kepada kepala dinas,” ujar Tutik kepada wartawati Koran Tokoh saat ditemui pekan lalu. Menurutnya, impilkiasi otonomi daerah yang kebablasan itu mengakibatkan pula lembaga yudikatif sulit menyentuh jika ada kepala daerah yang terindikasi melakukan pelanggaran hukum. Konsekuensi lain, menurut Viraguna, efektivitas pembangunan tidak bisa berjalan maksimal. Bupati dan wali kota cenderung enggan tunduk kepeda aturan main yang dibuat seorang gubernur. “Contohnya

Agung Widiada

soal revisi Perda RTRW di Bali. Gubernur dan bupati/wali kota se-Bali saling tarik ulur,” ujar pengamat politik Ketut Warsa. Menurutnya, UU Otonomi Daerah itu justru menciptakan arogansi pemerintah di kabupaten/kota. “Kepentingan masingmasing kabupaten/kota menguat, masyarakat yang dirugikan,” ujarnya. Semangat desentralisasi kekuasaan dinilai praktisi politik A.A. Ngurah Gede Widiada sebenarnya menjadi dasar penguatan regulasi baru otonomi daerah. Pengalaman pemerintahan sentralistik masa Orde Baru hendak dikubur semangat itu. Namun, semangat desentralisasi itu cenderung hanya mengakomodir upaya membangun manajemen pemerintahan yang sejalan dengan spirit pengelolaan keragaman potensi daerah. “Otonomi daerah justru dipraktikkan ber-

Ketut Warsa

dasarkan semangat liberal alias bebas tanpa batas. Dampaknya, koordinasi lintas sektoral menjadi relative sulit dibangun, gara-gara egosektoral,” ujarnya. Pengamat politik Prof. Denny Indrayana, S.H., LL.M., Ph.D., menilai, plus-minus otonomi daerah di kabupten/kota maupun provinsi harus dikaji serius. Hasil penelitian ini yang nantinya dipakai rujukan untuk berada menerapkan otonomi daerah yang bermuara untuk kepentingan pembangunan masyarakat. “Masing-masing pasti ada positif negatifnya, yang pasti lakukan kebijakan sesuai hasil penelitian yang baik, objektif, berkualitas, dan pijakannya adalah bagaimana peletakan otonomi itu semata-mata untuk menyejahterakan masyarakatnya,” ujar staf khusus kepresidenan Bidang Hukum, HAM, dan Pemberantasan KKN, ini. —sam,ten

Prof. Denny Indrayana

Tutik Kusuma Wardani

31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 11

Kuis Seru EF

Buat Kata Baru dari English First

Kru EF memandu kuis seru EF. Para pemenang mendapat hadiah bingkisan dan voucer kursus

Dalam Festival Keluarga, Minggu (24/7), EF English First Hayam Wuruk dan Kuta, ikut berpartisipasi dengan mengajak para siswa bersepeda gembira. 100 siswa, pengajar, dan tim EF English First ikut memeriahkan acara tersebut. Selain itu, mereka juga memberikan kuis usai penarikan doorprize di panggung utama. “Program ini kami gabung dengan kegiatan Life Club yang menjadi program rutin EF English First,” ujar Tina, Assistant Marketing EF English First. Life Club adalah salah satu program pembelajaran bahasa Inggris di luar kelas. Mr. Andy menjadi penutur asli yang menemani para siswa dalam Life Club kali ini. Dalam program games yang

diadakan EF English First, kuis dipandu Lilik dan Ayu. ”Kami beri pertanyaan seputar EF English First. Selain itu, ada juga games membuat kata baru dari kata English First,” papar Lilik, Head Teacher EF Kuta. Tak hanya siswa SD dan SMP, pengunjung dewasa yang tertarik melihat merchandise EF English First yang bagus, ingin ikut menjawab. “Boleh ikut nggak ya. Tas EF bagus,” ujar Budi ragu-ragu seraya tertawa. Di Bali, EF English First berlokasi di Jalan Hayam Wuruk dan Sunset Road Kuta. EF English First mengaplikasikan cara belajar bahasa Inggris unik yang merupakan integrasi sempurna antara kelas tatap muka, iLAB dan Life Club. Guru penutur asli mengasah

keterampilan berbicara dan pelafalan di dalam kelas. Selain itu, pembelajaran Anda juga ditunjang oleh tutorial online iLAB yang dapat diakses kapan dan di mana saja, sehingga memungkinkan Anda belajar bahasa Inggris secara online sebanyak Anda suka. Tak hanya itu, kegiatan seru Life Club seperti klub penggemar kopi, klub olahraga, nonton bareng, makan malam, pesta, karyawisata serta masih banyak lagi yang lainnya, juga menjadi bagian dari kurikulum belajar EF. Life Club dipandu oleh guru penutur asli dan merupakan kesempatan baik bagi Anda untuk bersosialisasi dan mempraktikkan bahasa Inggris Anda di situasi kehidupan nyata yang santai dan tanpa tekanan. Cara unik belajar bahasa Inggris - sistem pembelajaran bahasa EF English First bertujuan untuk memberikan metode pembelajaran yang paling efisien dan efektif untuk membuat proses belajar bahasa Inggris menyenangkan dan menarik bagi para siswa. “Kami tak hanya mendesain materi berdasarkan kebiasaan belajar siswa, tapi juga menyediakan sistem kelas yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kemampuan masingmasing,” ujar Ayu, Center Manager EF Kuta. –rat

Turunkan Berat Badan Dalam Tujuh Hari Usadha Puri Damai yang dikomandani Agus Pradita, ikut memeriahkan ajang Festival Keluarga Koran Tokoh di Lapangan Parkir Timur Renon. Stan ini menjual berbagai macam ramuan tradisional Bali untuk pengobatan herbal. “Masyarakat Bali terkenal akan kemampuannya dalam meracik tanam-tanaman untuk menjadi obat. Hal ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ramuan tradisional tersebut terbukti baik secara klinis maupun alami dalam menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit. Salah satu ramuan tradisional Bali yang terbukti ampuh sejak ratusan tahun adalah ramuan untuk menurunkan berat badan,” papar Agus Pradita yang ikut dalam sepeda gembira saat acara tersebut. Praktisi di Agrowisata Usadha Puri Damai adalah praktisi dan pakar kesehatan yang mewarisi metode pengobatan herbal therapy tradisional Bali. Lebih dari 23 tahun Usadha Puri Damai, meneruskan, meneliti, dan mengembangkan warisan leluhur ini di kebun Agrowisata Usadha Puri Damai berlokasi di Br. Tunon Desa Singakerta, Ubud, Gianyar, Bali. Ramuan penurun berat badan tradisional Usadha Puri Damai terbuat dari tujuh bahan alami pilihan di

antaranya, daun jati Belanda, kemuning, bangle, daun cerme, dan beberapa bahan alami lainnya. Terbukti aman, tanpa efek samping, menahan nafsu makan, menurunkan berat badan dengan cepat, mengubah lemak dalam tubuh menjadi tenaga sehingga tubuh tidak menjadi lemas, tidak menyebabkan sembelit, sering buang air kecil maupun besar. “Ratusan orang telah membuktikan khasiat ramuan tradisional Usadha Puri Damai ini. Sekaranglah saatnya Anda untuk kembali kepada metode yang telah ada sejak ratusan tahun, metode alami, berkhasiat dan menyehatkan. Let’s go back to nature!” ujarnya promotif.

Taru berig, salah satu produk unggulan Usadha Puri Damai yang berguna untuk menurunkan berat badan ini menjadi produk utama yang dijual dalam Festival Keluarga Koran Tokoh di samping produk Usadha Puri Damai lainnya. Taru berig ini memiliki keunggulan dalam waktu lebih kurang tujuh hari dapat menurunkan berat badan, 100% alami tanpa efek samping, terbuat dari tujuh bahan herbal pilihan, mengubah lemak menjadi energi, menahan nafsu makan, tidak menyebabkan sembelit, sering buang air besar/ kecil, dipercaya, teruji dan terbukti dari generasi ke generasi dalam mengatasi masalah kelebihan berat badan.

Senang, Baju Tenun Bali Dibeli Bu Bintang

Stan Tenun Bali di acara Festival Keluarga Koran Tokoh

Putu Ayu Indrayathi, S.E., MPH, dosen di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unud ini menjadi orang di balik layar Tenun Bali, salah satu stan pakaian dalam Festival Keluarga 2011. Usaha yang dirilisnya per 31 Maret 2011 itu tercetus karena Gek In, begitu panggilan karibnya, suka memakai baju bagus tapi seringkali tak menemukan model yang sesuai. “Alhasil, aku jadi suka merancang baju sesuai selera,” ujarnya ibu satu anak itu. Endek menjadi pilihan bahan bajunya. ”Saat aku melihat kebangkitan kain batik yang diakui sebagai world heritage oleh Unesco, aku berpikir, kapan ya endek bisa booming seperti batik,” tuturnya. Menurut Gek

In, corak dan warna endek tidak kalah menarik dengan batik. Endek yang selama ini dinilainya kerap didesain dengan kesan monoton dan hanya dipakai oleh PNS, timbul keinginan Gek In untuk membuat baju endek ready to wear yang chic dan trendi. “Itu aku lakukan untuk menghapus kesan monoton dan endek cuma cocok untuk PNS. Kebetulan adik sepupu lulusan Sekolah Susan Budiharjo (termasuk salah satu lulusan terbaik) mau membantuku membuat desain baju yang lebih cantik karena aku tak bisa menggambar,” paparnya. Bahan dasar endek dibelinya pada pengrajin endek di Klungkung dan Denpasar. “Hitung-hitung membantu pengrajin endek menjadi lebih terkenal di Indonesia, kalau bisa

di dunia,” harapnya. Gek In tak membuka kantor atau toko karena sistem penjualan awalnya adalah online. “Jadi bisa menghemat biaya sewa toko dan pegawai. Selain itu, dengan berjualan online bisa dapat pasar yang lebih luas,” ungkapnya. Ia juga memasarkan baju endek ke teman-teman terdekat dan relasirelasi lainnya. “Nah, yang terbaru adalah lewat pameran. Pameran perdana ya pada Festival Keluarga yang diadakan Koran Tokoh,” ungkapnya. Gek In mengaku sangat berkesan karena lewat Festival Keluarga Koran Tokoh keberadaan Tenun Bali lebih diketahui oleh masyarakat. “Belum semua masyarakat terbiasa dengan sistem belanja online. Festival Keluarga juga membuat produk Tenun Bali dikenal oleh ibu-ibu pejabat. Produk Tenun Bali dibeli dan disukai oleh Bu Bintang Puspayoga dan Bu Satria Naradha,” katanya semringah. Rencana ke depan, Gek In memperluas pasar Tenun Bali sehingga lebih dikenal oleh masyarakat Bali dan Indonesia. “Kalau mungkin, dunia,” katanya seraya tersenyum. Ia juga akan membuat produk yang lebih variatif seperti desain baju endek untuk suami-istri atau keluarga serta produk-produk lainnya dengan bahan dasar endek Bali. —rat


10

Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

BUMI GORA

Ratib Diskusi Agama Lewat Seni Sebagai salah satu dari seni musik tradisi Sumbawa dan Sumbawa Barat, ratib menempati posisi penting sebagai media penyampaian pesanpesan moral, utamanya berkaitan dengan pesan keagamaan (Islam) seperti halnya sakeco dan balawas. Seni musik ratib sangat dipengaruhi Islam. Keberadaan ratib di Sumbawa atau ratub di Sumbawa Barat menjadi pelengkap dakwah-dakwah Islam yang disampaikan melalui musik.

R

atib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan. Umumnya dimainkan empat orang yang melantunkan pujipujian dengan menggunakan alat musik yang disebut rabana. H.L. Muhadli, budayawan Sumbawa menuturkan dakwahdakwah yang berisi pesan moral dan keagamaan tersebut disampaikan dengan diiringi musik rabana ode atau rabana rea khas Sumbawa. Liriknya kebanyakan dari Bahasa Arab yang sumbernya diambil dari Barzanji (kumpulan syair) yakni bacaan puji-pujian yang mengandung riwayat Nabi Muhammad SAW. “Irama dan isi ratib yang sarat dengan pesan moral dan agama yang disampaikan dengan bahasa Arab ini senantiasa menciptakan suasana sakral dalam penyelenggaraan upacara-upacara tradisi di Sumbawa Barat, seperti perkawinan, basunat dan lainnya,” kata M. Zen Ayuk, pelaku ratib yang juga Ketua Seni Budaya Ratib Rebana Odek Kelurahan Kuang, Taliwang Sumbawa Barat. Ratib memberikan sentuhan religius dalam tiap pergelarannya. Selain digelar siang hari, ratib juga disajikan semalam suntuk bersamaan dengan digelarnya sakeco di kegiatan upacara-upacara tradisi tersebut. Lirik-lirik dalam ratib baku dan tidak berubah secara turuntemurun dan mempunyai pakem yang harus diikuti. Pemain ratib pun hafal dengan lirik dan lagunya. Isi dan liriknya tidak bisa dimodifikasi karena pakemnya tersendiri dan tercatat dengan baik sejak dulu hingga kini. Yang berbeda dalam membawakan ratib antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, seperti di Sumbawa dan Sumawa Barat hanyalah variasi dialek dan logatnya. Sebagai media hiburan tradisional bagi masyarakat, ratib mampu “berkomunikasi” dengan penontonnya. Inilah letak keunikan ratib, dapat membangkitkan komunikasi dengan audiensnya yang berada di bawah panggung. Para pemain ratib yang berada di depan atau di atas panggung tidak akan bermain sendiri melainkan memerlukan penonton sebagai media penyambung lirik-lirik ratib yang tengah dimainkan. Penonton juga bisa benar-benar terlibat sebagai pemain. Hakikat yang ingin dicapai para pendakwah dalam menyampaikan pesan-pesan tersebut, pendakwah dan masyarakat dapat “berdiskusi” satu sama lain untuk mencapai satu tujuan kebaikan lewat hiburan bernuansa seni. Sentuhan seni dalam berdakwah, mampu diterima masyarakat. Dan, ini telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Tau Samawa. Antara yang membawakan ratib dan penonton ada interaksi langsung selama pertunjukan, dengan saling menyahut lirik-lirik yang disampaikan tersebut. Sahutan terhadap apa yang disampaikan pembawa ratib ini disebut nyarip. Penonton yang menyahut ini disebut tau nyarip. Aslinya dahulu sahut menyahut ini dilakukan secara spontan,

sambil berjalan, misalnya untuk mengiringi pengantin yang melakukan prosesi “ngiring” berjalan dari rumah pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan. Atau, juga dalam acara “ngiring basunat” yang dimulai dari rumah kerabat dekat anak yang akan dikhitan seperti paman atau bibi atau kakek, menuju rumah orangtuanya di mana lokasi basunat keesokan harinya digelar. Ratib rebana ode juga digelar saat acara “turin brang” yakni mengantar anak yang dikhitan ke sungai terdekat. Sambil berjalan inilah, ratib rebana ode dimainkan. Sedangkan ratib rebana rea dengan jumlah pemain tidak terbatas ini, digelar dalam keadaan diam atau statis karena rebana yang dipakai besar dan tidak memungkinkan untuk dibawa-bawa. Biasanya digelar pada acara menerima iringan pengantin laki-laki yang datang ngiring ke rumah pengantin perempuan. Ratib rebana rea Seni musik tradisi Sumbawa dan Sumbawa Barat, Ratib menempati posisi penting sebagai media penyampaian pesan-pesan moral, utamanya berkaitan dengan pesan keagamaan (Islam)

namun pada perkembangannya, penyarip memang telah disiapkan untuk memperlancar jalannya pergelaran. Makin lama mereka yang mampu merespons para pemain ratib makin sedikit. Karena orang yang menjadi penyarip adalah orangorang yang juga tahu ratib, sudah menghafal dan mengerti ratib. Dalam ratib rebana ode (rebana kecil) dibawakan secara koor oleh empat orang pembawa ratib. Satu orang akan membuka ratib terlebih dahulu untuk menyambut dan memberikan penghormatan atas kehadiran para penonton. Yang kemudian disambung oleh tiga lainnya yang juga isinya berupa sambutan dengan nada keempatnya yang dibuat sama dan disesuaikan dengan nada awal yang dikeluarkan oleh penyampai pertama. Musiknya dibuat ritmik tanpa patokan nada karena memang tak memiliki nada dasar. Ratib diiringi alat musik perkusi rebana. Lagu dan lirik yang disampaikan penyarip yang menyahut adalah lagu dan lirik yang sama yang dibawakan oleh pemain ratib dengan teknik penyampaian yang bervariasi. Karena vokal merupakan andalan utama dalam ratib, maka para pemainnya menjaga benar kualitas vokalnya. Untuk dapat menyajikan ratib dengan baik, biasanya kelompokkelompok ratib tidak sembarangan mengganti anggota. Karena keindahan penyampaian ratib tergantung sungguh dari nada dan harmoni yang lahir dari para pemainnya, maka pergantian anggota yang mendadak dapat menyebabkan kurang merdunya ratib yang disampaikan pemain. Bagi kelompok-kelompok ratib, kedekatan emosi dan mampu membaca nada satu sama lain adalah hal utama dari keindahan ratib yang dimainkannya. Untuk dapat menciptakan hal tersebut, tentu saja melalui proses latihan dan tes vokal yang berulang-ulang satu sama lainnya sehingga dicapai nada dan penyampaian ratib yang cocok bagi kelompoknya. Meski tidak mendapatkan ilmu musik dan vokal secara resmi, para pemain ratib mempelajarinya secara otodidak dan turun-temurun. Dalam ratib rebana ode (rebana kecil) dimainkan oleh empat orang sedangkan ratib rebana rea (rebana besar) jumlah pemainnya tidak terbatas. Disebut ratib rebana ode karena alat musiknya memakai rebana ode (rebana kecil) dan dinamakan ratib rebana rea karena memakai alat musik rebana besar. Ratib rebana ode yang menggunakan empat rebana kecil yang dimainkan oleh empat orang ini, disamping digelar dalam panggung statis atau diam juga lazimnya dimainkan

Sebagai media hiburan tradisional bagi masyarakat, ratib mampu “berkomunikasi” dengan penontonnya

digelar di arena perkawinan rumah perempuan yang menanti. Saat pengantin laki-laki tiba untuk ngiring di rumah pengantin perempuan, maka ratib rebana ode yang datang bersamanya akan berhenti dan digantikan oleh ratib rebana rea yang sudah siap di rumah pengantin perempuan menyambut kedatangan pengantin laki-laki. “Alat musik rebana ode dan rebana rea atau ada juga yang menyebutnya rebana rango atau juga rebana kebo (sama-sama berarti rebana besar), cikalbakalnya dibuat secara tradisional oleh para pemusik tradisi-

onal Samawa dari bahan kayu nangka yang tua atau kayu jati,” kata H. Abdillah, pembuat rebana di Taliwang. Yang paling banyak dipakai adalah kayu nangka karena suara rebananya lebih bagus. Bahan lainnya adalah dari kulit kambing betina yang telah beranak tiga kali. Bagi pembuatnya, dipercaya jika rebana yang terbuat dari kulit kambing betina kualitas bunyinya lebih bagus ketimbang dari kulit kambing jantan, karena kulit kambing betina, lebih-lebih yang telah beranak tiga kali, lebih tipis

sehingga bunyinya lebih nyaring dan merdu, sedangkan kulit kambing jantan lebih tebal. Secara umum ukuran rebana ode diameternya adalah 2931 cm. Sedangkan rebana rango, diameternya 50 cm. Rebana-rebana yang dibuat secara tradisonal ini, telah menjadi salah satu alat musik tradisional masyarakat Samawa yang khas. Seni ratib yang terus hidup dalam masyarakat tradisional Sumbawa dengan alat musik rebananya ini tetap eksis di tengah gempuran musikmusik modern. —nik


14

Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

FESTIVAL KELUARGA 2011

Festival Keluarga Tahun Ini memang Beda FANTASTIS. Ribuan orang tumpah-ruah di kompleks Lapangan Parkir Timur Renon, Denpasar, Minggu 24 Juli. Mereka berduyun-duyun datang sejak pukul 05.00 pagi untuk turut memeriahkan Festival Keluarga, agenda tahunan Koran Tokoh, yang diselenggarakan bersama para mitra kerjanya. Tetapi, festival tahun ini berbeda dengan Festival Keluarga sebelumnya. Jika tahun 2010, misalnya, acara diawali turunnya hujan lebat, Minggu kali ini cuaca cerah, dari pagi hingga berakhirnya acara sore hari. Ada beda lainnya. Jika tahun-tahun sebelumnya festival hanya berlangsung pagi hingga tengah hari, tahun ini sehari penuh. Kian banyak komponen dan warga masyarakat yang dilibatkan dan secara proaktif melibatkan diri. Panggung terbuka yang bertengger di bagian selatan lapangan parkir, tak dibiarkan sepi atraksi, dari pagi hingga pukul 17.00. Di tengah acara itu, ada games yang dipandu lembaga kursus English First. Sesuai dengan topiknya untuk merayakan Hari Keluarga, atraksi dibawakan dan melibatkan anak-anak, remaja hingga usia dewasa, bapak-bapak dan ibuibu. Sambil menanti keberuntungan memperoleh warna-warni doorprize yang menarik, peserta Jalan Sehat dan Sepeda Santai menyaksikan alunan lagu-lagu yang dibawakan Ririn. Kesempatan itu juga dimanfaatkan sebagian pengunjung untuk melihat-lihat beragam stan yang menyajikan beragam produk dan pelayanan kesehatan secara gratis, serta menikmati beragam masakan yang penyajiannya dikoordinasikan Teh Botol SOSRO. Didasari spirit keragaman, persatuan, dan kebangsaan, tampil atraksi kesenian dari empat komunitas yakni Ikawangi Dewata (Banyuwangi), Flobamora (NTT), Pawatin (Timor Timur), dan Bammus Sunda Bali yang masing-masing menampilkan kesenian khas daerah asalnya. Festival Keluarga kali ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang dikoordinasikan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3) Bali serta memperingati HUT ke-53 Pemda Bali. Perwakilan BKKBN Bali, sebagaimana tahun sebelumnya, tak kecil kontribusinya. Tak tanggung-tanggung tahun ini BKKBN menampilkan Parade Dokar yang dinaiki pasangan Peserta KB Lestari 15 dan 20 tahun dari kabupaten/kota se-Bali. Maka, tak mengherankan jika festival ini bukan hanya dihadiri ribuan warga masyarakat dari beragam kalangan, tetapi juga puluhan pejabat pemerintah. Antusiasme mereka meledak, ketika acara Senam Bersama yang dipandu instruktur dari Lala Studio mulai tampil menggebrak. Antusiasme itu tetap terpelihara ketika para pengunjung menyaksikan anak-anak SD 1, 2, 5 dan 6 Saraswati tampil dalam displai marching band. Tetap di bawah celotehan kreatif pembawa acara dari Anak Radio Management, acara displai diikuti penampilan penyanyi-penyanyi cilik Franky Agency, Gending Rare, penyanyi berbakat Ayu Mia Susanti, Calon Arang Anak-anak dari Klungkung, dan Bondres dari Bangli. Memang beda. Dan, perbedaan yang merefleksikan dinamika dan kreativitas itu akan tetap dipelihara para awak Koran Tokoh di Denpasar yang jumlahnya hanya 15 orang, termasuk sopir. Terima kasih para mitra kerja. Sampai jumpa dalam Festival Keluarga berikutnya.

tkh/sep

tkh/sep

Gubernur, Ny. Ayu Pastika berbaur ikut senam bersama usai mengikuti jalan sehat

Gubernur Bali Made Mangku Pastika membaca Koran Tokoh didampingi Pimpinan KMB Satria Naradha (tengah) dan Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko

tkh/yoga

tkh/sep

Ribuan peserta jalan sehat dan sepeda santai saat menanti pengundian doorprize

Seorang penyandang cacat bersama anjing peliharaannya turut hadir dalam Festival Keluarga

Salah satu peserta parade dokar

tkh/sep

tkh/pras

tkh/yoga

Wagub Puspayoga didampingi perwakilan Suzuki, Pimpinan KMB Satria Naradha,dan Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko menyerahkan hadiah utama sepeda motor Suzuki Spin kepada Nyoman Putra Astawa

Komunitas sepeda ontel mengenakan pakaian khas Jawa

tkh/yoga tkh/pras

Gubernur Made Mangku Pastika melepas ribuan peserta bersepeda santai yang diawali Wagub Puspayoga, Ny. Bintang Puspayoga, Wali Kota Denpasar I. B. Rai D. Mantra, Ny. Selly D. Mantra, dan Sekda Denpasar Rai Iswara

Seorang ibu sedang mengukur tensi di stan FK Unud

tkh/sep

Penggemar dangdut ikut naik ke panggung berjoged bersama penyanyi dangdut

Ucapan Terima Kasih

tkh/yoga

Dengan telah berakhirnya Festival Keluarga 2011 yang puncaknya berlangsung di Parkir Timur Renon, Minggu (24/7), kami pimpinan dan segenap karyawan Koran Tokoh mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi. Semoga kerja sama yang telah terjalin dapat kita tingkatkan dan kembangkan pada masa-masa mendatang.

Gubernur Made Mangku Pastika saat melepas peserta jalan sehat yang diikuti Ny. Ayu Pastika, Sekda Bali I Made Jendra, Pimpinan KMB Satria Naradha dan Nyonya, serta pejabat dan tokoh masyarakat lainnya

Kepala Perwakilan BKKBN Bali I Wayan Sundra, S.H. melepas peserta parade dokar pasangan KB Lestari

tkh/sep

LAPORAN FESTIVAL KELUARGA BERIKUTNYA DIMUAT EDISI DEPAN

Sponsor Festival Keluarga Koran Tokoh 2011 1. Pemerintah Provinsi Bali 2. BKKBN Prov. Bali 3. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( BP3A) Prov. Bali 4. Pemerintah Kota Denpasar 5. PT (Persero) Askes Cabang Denpasar 6. Tehbotol Sosro 7. Suzuki - PT Cahaya Surya Bali Indah 8. Samas 9. Bank Mandiri 10. XL 11. Perkumpulan Obstetri dan Ginekolog Indonesia ( POGI) 12. Fakultas Kedokteran Unud 13. Rotary Club Bali Taman 14. Palang Merah Indonesia Cabang Bali 15. Bali Blogger Community 16. Lala Studio 17. Polygon 18. New Kuta Green Park 19. Filma Margarin 20. EF English First

21. Kompor Hemat Gas Quantum 22. Sarana Dewata 23. Hotel Ayodya Resort Bali 24. Hotel Inna Grand Bali Beach 25. Bounty Cruises 26. Auto 2000 27. Cellular World 28. Bali Tangi 29. PT Arjuna Yoga Sakti 30. Franky Agency 31. Kelompok Seni Rwa Bhineda 32. Pawatim 33. Flobamora 34. Ikawangi Dewata 35. Bammus Sunda 36. Tenun Bali 37. Usadha Puri Damai 38. Bali Puspa Bordir 39. Radio Mega Nada 40. RRI Stasiun Denpasar 41. Kelompok Media Bali Post


KIPRAH WANITA EVA KUSUMA SUNDARI, Aktivis, Politikus, Legislator

Fenomena ‘Perempuan Kinclong’ di Indonesia BERBICARA problem gender di Indonesia, Eva Sundari Kusuma sangat fasih. Sejak lama bergelut di bidang itu bahkan juga terlibat dalam banyak penelitian yang berkaitan dengan problem tersebut. Karenanya ketika berbicara masalah gender mainstreaming, dia tidak sekadar bicara tetapi juga menyodorkan tumpukan data, hasil risetnya maupun penelitian lembaga lain. “Aku lama berkecimpung sebagai aktivis perempuan. Bahkan waktu di Asia Foundation pun, aku membidangi program gender dan budget. Begitu juga ketika jadi partner UNDP. Ketika masih menjadi dosen, aku aktif di Pusat Studi Wanita. Semua risetku berkaitan dengan isu gender; gender ekonomi, kemiskinan, pemberdayaan politik,dll,” papar Eva Sundari Kusuma, aktivis yang juga politikus di DPR RI saat berbincang dengan Koran Tokoh, di ruang kerjanya di Jakarta, belum lama ini. Banyak hal diungkap Eva berkaitan dengan gender mainstreaming. (Gender diartikan sebagai perbedaan-perbedaan sifat, peranan, fungsi, dan status antara laki-laki dan perempuan yang tidak berdasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan pada relasi sosial budaya yang dipengaruhi struktur masyarakatnya yang lebih luas.

Gender merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Gender mainstreaming atau pengarusutamaan gender merupakan strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan; aspek gender terintegrasi dalam perumusan kebijakan program dan kegiatan melalui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi). Berdasarkan data BPS 2010, sekitar 49,9% dari 237,5 juta jiwa penduduk Indonesia adalah perempuan. Dengan jumlah tersebut, semestinya perempuan dapat menjadi aset dan potensi bangsa yang mampu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Nyatanya, pendekatan pembangunan belum secara merata mempertimbangkan manfaat pembangunan secara adil bagi perempuan, sehingga hal tersebut turut memberi kontribusi terhadap timbulnya ketidakadil-

Eva dan Pansus Century

an dan ketidaksetaraan gender yang lebih dikenal dengan istilah gender gap atau kesenjangan gender. Streotype, subordinasi, marjinaisasi, double burden dan violence, adalah kata-kata yang acapkali menggema ketika berbicara tentang ketidakadilan gender dalam kehidupan seharihari. Tak bisa dimungkiri, kelima permasalahan tersebut kadang menjadi acuan timbulnya masalah-masalah baru yang terkait isu gender. Salah satu indikator yang biasa digunakan untuk mengukur kesenjangan adalah GEM (gender empowerment measurement) dan GDI (gender-related development index) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari HDI (human development index atau index pembangunan manusia. Berdasarkan data, HDI Indonesia berada pada peringkat ke-111 dari 177 negara, GDI di urutan 80 dari 144 negara. Sedangkan di tingkat ASEAN, HDI dan GDI Indonesia berada pada urutan ke-7 dari 10 negara. Bahkan berdasarkan Human Development Report 2008/2009, Indonesia berada di bawah Vietnam. KPP tidak Berdampak Menurut Eva, saat ini makin banyak tokoh wanita muncul di pentas nasional, bahkan menduduki posisi penting dan strategis. Sayangnya, keberadaan mereka tidak memberi konstribusi yang signifikan bagi kaum perempuan Indonesia. Dalam kiprah mereka, tutur Eva, tidak memikirkan bagaimana caranya agar perempuan Indonesia bisa maju. Mereka jarang menyuarakan isu-isu perempuan. “Wujudnya saja wanita tetapi isi kepalanya patriarki,” tandas Eva tanpa menyebut nama tokoh dimaksud. Patriarki adalah sistem yang selama ini meletakkan kaum perempuan terdominasi dan tersubordinasi. Hubungan antara pe-

rempuan dan laki-laki bersifat hierarkis: yakni laki-laki berada di kedudukan dominan sedangkan perempuan subordinat, (laki-laki menentukan, perempuan ditentukan). Lalu bagaimana peranan Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP) dalam masalah ini? Menurut Eva, dirinya melihat adanya inefisiensi dalam KPP sehingga tidak memberi dampak yang signifikan bagi percepatan perbaikan status perempuan. “Asalkan tahu saja, HDI sekarang ini melorot lho! Bayangkan, tahun 2004 kita masih 96,98, sekarang malah mundur 111. Kita kalah dengan Vietnam, bahkan dengan Bangladesh. Lalu, apa manfaatnya para perempuan yang duduk di KPP? Kalau perempuan powerfull hal itu tidak demikian. Memang gross-nya naik tetapi HDI turun, bagaimana itu? Kita punya banyak tokoh perempuan di posisi penting dan strategis, tetapi nyatanya tidak memberi efek bagi ‘kesejahteraan’ perempuan,” kata Eva berapi-api. Dari fakta yang ada dan analisis yang dilalukannya, Eva berkesimpulan, jika ingin ‘memajukan’ kaum perrempuan, tidak cukup dengan hanya memberikan perempuan pospos strategis dalam pemerintahan. Tetapi, harus dipilih perempuan yang memiliki sensitivitas dan responsibilitas terhadap perempuan atau kemajuan perempuan Indonesia. “Yang terjadi sekarang kan tidak seperti itu. Kebanyakan mereka masih menganut sistem patriarki. Dan, itu sudah tentu tidak mendatangkan manfaat apa pun bagi kaum perempuan secara luas. Karena, tidak memiliki sensitivitas dan responsibilitas terhadap perempuan lain,” ucap wanita kelahiran Nganjuk ini. Ia menambahkan, “Jadi sebenarnya, kita yang ekspektasinya kelewat tinggi. Berpikir

dan berharap jika perempuan ditempatkan dalam posisi strategis tentu akan berdampak positif bagi perempuan lainnya. Nyatanya tidak. Karena konstruksi pikirannya im for myself. Lhaa kalau begitu bagaimana? Padahal kalau mereka mau, tentu itu bisa dilakukan, karena mereka memiliki kekuasaan”. Filipina dan Australia Eva lalu memberi contoh bagaimana powerfull-nya Kementerian Perempuan di negara lain dalam memengaruhi budget negara (APBN). Contoh, Filipina dan Australia. “Bayangkan, di sana (Filipina dan Australia) kementeriannya sampai memunculkan woman budget, gender

31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 13 budget. Di sana APBN mengikuti rekomendasi kementerian pemberdayaan perempuan. Misalnya, woman budget di Australia, yakni 5% dari total alokasi untuk kepentingan perempuan. Sedangkan di Filipina, lebih dahsyat lagi, disebut gender budget. Jadi gender mainstreaming masuk dalam alokasi-alokasi budget, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh perempuan. Jadi, bagaimana menggenderkan alokasi keamanan, menggenderkan alokasi infrastruktur, dll. “Jadi di Filipina, tidak sekadar 5% tetapi lebih dari itu. Misalnya, untuk pendidikan. Bagaimana memastikan agar drop out perempuan tidak tinggi, yakni misalnya, dengan memberi bea siswa khusus untuk perem-

puan. Bahkan APBN berhasil diintervensi kementerian perempuan. Ini dahsyat kan,” papar Eva. “Kabinet harus digenderkan, itu kuncinya di Australia dan Filipina. Pintar, militan, itu kombinasinya,” tambahnya. Melihat fenomena yang ada Eva lantas menyebut istilah fenomena queen bee (ratu lebah). “Im survive, perempuan lain pun harus survive. Di sini ada ketidakacuhan, ketidakpedulian. Karena menganggap dirinya bisa, yang lain pun juga bisa. Dengan kata lain, ‘Uruslah dirimu sendiri’. Jadi begitulah fenomena ‘Perempuan Kinclong’ di Indonesia,” ungkapnya. – dia.

Persembahyangan Bersama di Pura Batukaru BERANJAK dari rasa pada ajaran Tri Kayaparisudha. subakti ke hadapan Ida Sang Acara ini juga diselingi deHyang Widhi Wasa maka kengan acara pembebasan lelugiatan tirtayatra yang dilakhur, konsultasi, meditasi. Sesanakan oleh Yayasan Spiritual moga apa yang disampaikan Dharma Sastra menjadi suatu Ngurah Ardika bisa dilakukan kegiatan yang berkesinambuoleh semua saudara kita sengan pada semua pura-pura dharma. Yayasan Spiritual yang ada di Bali maupun luar Dharma Sastra disamping berBali. Pada hari ini, Minggu (31/ tirtayatra juga melakukan 8) pukul 09.00 diselenggarakan kegiatan meditasi bersama persembahyangan bersama di yang dilaksanakan setiap Pura Batukaru Tabanan. Acara Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan ini terbuka untuk masyarakat Jumat pada pukul 20.00 berumum yang berminat untuk tempat di halaman parkir ikut sembahyang. yayasan di Jalan Lembu Sura Perum Taman Lembu Sura Pada dasarnya kenapa pura I Putu Ngurah Ardika, S.Sn. ini dipilih adalah untuk meKav.I No. 3 Br. Pohgading Ubung Kaja Denpasar Utara. mohon kesejahteraan dan keselamatan, sehingga diharapkan semua Tiap Jumat pukul 16.00 di Gedung PWI Bali lapisan masyarakat yang berkenan hadir Lumintang Denpasar diselenggarakan “Gebyar kesejahteraannya dapat meningkat dan selalu Penyembuhan Massal” terbuka untuk umum dalam keadaan selamat. tanpa dipungut biaya. Bagi masyarakat umum Prosesi persembahyangan akan diawali yang membutuhkan pengobatan yang intensif dengan Puja Trisandhya dan setelah itu dengan energi kundalini dapat dating dilanjutkan dengan pancasembah bila telah langsung ke Klinik Griya Usadha. Bagi masyaselesai dilanjutkan dengan nunas tirta rakat umum yang mengalami berbagai macam (wangsuh pada) beliau yang berstana di Pura penyakit seperti strok, diabetes, kanker, masaBatukaru; istirahat (masanekan) nunas lah keturunan, pijat saraf, bekam, totok wajah, lungsuran yang telah kita persembahkan; serta berbagai permasalahan keluarga dan dharma wacana terkait dengan persembahya- leluhur, bisa menghubungi no. telepon (0361) ngan yang telah dilakukan, dana punia 8078842. (berderma), dharma, penyucian diri (malukat). Kegiatan yayasan lainnya, di antaranya Ini merupakan wacana yang selalu pada Minggu (7/8) pukul 10.00 tirtayatra ke disampaikan seorang Guru Spiritual Kundalini Pura Pucak Bukit Rangda Tabanan; Minggu (14/ yang dikenal di seluruh Indonesia dan bahkan 8) pukul 07.00 malukat di Pantai Mertsari Sanur; di Asia, I Putu Ngurah Ardika, S.Sn. yang Minggu (21/8) pukul 09.00 malukat bersama di intinya mengajak semua saudara kita sedarma Pura Agung Semanik; Minggu (28/8) pukul 10.00 di mana pun berada agar rajin sembahyang, tirtayatra ke Pura Pasar Agung Karangasem. rajin menyucikan diri, jujur dalam segala hal, Untuk informasi lebih jelas, silakan hubungi rajin berderma, serta selalu berpegang teguh telepon (0361) 8509601, 8540187.


RILEKS

31 Juli - 6 Agustus 2011 Tokoh 15

Bocah Miliki 34 Jari Rekor manusia dengan jari terbanyak pecah lagi. Baru-baru ini Guinness World of Record mengumumkan rekor baru pemilik jari terbanyak dipegang oleh seorang bocah asal India, Akshat Saxena. Bocah usia setahun ini lahir dengan 34 jari tanpa jempol. Masing-masing tujuh jari di tiap tangannya dan 10 jari di tiap kakinya. Rekor sebelumnya dipegang bocah enam tahun asal Cina. Ia memiliki 31 jari; 15 jari tangan dan 16 jari kaki. Namun ketidaknormalan jarinya ini, Maret lalu, dioperasi menjadi masing-masing 10 jari kaki dan tangan.

I

bu Akshat mengaku awalnya begitu baha gia dengan kelahiran anak pertamanya. Namun kemudian dia menjadi begitu terkejut ketika melihat jumlah jari anaknya begitu banyak. “Saya bahagia tapi kemudian terkejut ketika melihat bayi saya memiliki begitu banyak jari,” ucap ibu Akshat sebagaimana dilansir DailyMail. Kondisi yang terjadi pada Akshat dikenal dengan sebutan polydactyly, sebuah kelainan genetik yang dapat diwariskan. Kelainan ini menyebabkan jumlah jari tangan dan kaki menjadi lebih banyak dari manusia lainnya. Biasanya, kelebihan jumlah jari terjadi pada sisi jari kelingking pada tangan. Kepada orangtua Akshat, seorang teman menginformasikan bahwa kondisi tersebut juga dimiliki oleh seorang bocah di Cina yang jumlahnya mencapai 31 jari.

Tapi kelebihan jari anak asal Cina itu, telah dioperasi. Meski demikian namanya tetap tercatat sebagai pemegang rekor manusia pemilik jari terbanyak. Orangtua Akshat yang penasaran mencoba mengecek informasi tersebut lewat internet. Setelah mengetahui kebenarannya, teman pemberi informasi itu menyarankan agar mendaftar ke Guinness Record disertai bukti-bukti otentik tentang kondisi Akshat. Pendaftaran tersebut segera direspon pihak Guinness yang langsung melakukan verifikasi. Hasilnya, barubaru ini pihak Guinness mengumumkan tentang pemecahan rekor baru yang dilakukan bocah asal Uthar Pradesh, India Utara, itu. “Teman keluarga kami mengaku membaca informasi tentang rekor dunia itu di internet. Dia merasa bayi kami dapat memecahkan rekor dunia karena jumlah

Akshat Saxena

jarinya lebih banyak. Itu sebabnya dia memberi informasi ini,” tutur ibu Akshat. Tak lama setelah mereka mengirim permohonan ke Guinness Record, kembali mereka mendapat kabar bahwa rekor manusia pemilik kaki terbanyak versi Guinness World Record telah diperbaharui, dan nama anaknya tercantum di sana. “Saya awalnya tidak percaya, lalu mengecek informasi tersebut lewat internet. Ternyata benar! Ini sungguh sulit dipercaya, anak saya te-

lah memecahkan rekor dunia,” ungkapnya. Meski telah terdaftar sebagai pemegang rekor dunia, namun itu tidak menghalangi niat orangtua Akshat untuk mengoperasi kelebihan jari pada anaknya. Seperti halnya pemegang rekor di Cina, orangtua Akshat pun menempuh cara yang sama dengan mengamputasi sejumlah jari untuk membuatnya normal kembali. Pihak dokter juga membuat jempol yang diambil dari jari-jari yang diamputasi. —dia

Mencuci Pakaian

Akshat Saxena bersama ayahnya

Bosan terus menerus membeli baju baru karena baju yang lama cepat belel? Atau warnanya pudar dan bahannya jadi melar? Mungkin ini akibat cara mencuci dan menyimpan yang salah. Agar baju terlihat senantiasa baru, ini triknya. 1. Jangan terlalu sering dicuci. Jika baju bersih hanya dipakai selama 2-3 jam dan tak terkena kotoran atau keringat, tak usah langsung dicuci. Gantung dan angin-anginkan saja. Proses pencucian dan pengeringan bisa memengaruhi kualitas bahan pakaian. 2. Jangan pakai deterjen murahan. Deterjen murah memang membuat belanja bulanan jadi lebih hemat. Tetapi, budget belanja pakaian akan membengkak karena warna pakaian jadi cepat memudar. Berinvestasilah pada produk deterjen yang berkualitas bagus. Atau, gunakan cara natural: sebelum mencuci baju, rendam selama 10-15 menit di dalam bak berisi air yang sudah dicampur 2 sendok makan cuka. Ini berfungsi untuk menahan warna agar tak mudah luntur. 3. Pisahkan cucian. Akan lebih baik jika kita memisahkan cucian ke dalam 4 tipe: pakaian berwarna putih, pakaian berwarna gelap (hitam, biru tua, coklat tua), pakaian berwarna cerah (pink, merah, kuning, dan warna-warna pelangi lainnya), pakaian lembut (yang harus dicuci dengan tangan seperti pakaian dalam, lingerie sutra, bikini). 4. Noda darah, minyak, minuman, dan makanan seringkali sulit dihilangkan dari pakaian. Trik untuk menghapusnya adalah dengan merendam pakaian di dalam air yang sudah dibubuhi satu sendok teh MSG alias vetsin. Setelah itu, cucilah seperti biasa. 5. Jangan bergantung pada mesin pengering. Meski memudahkan bagi kita, ada baiknya sesekali tinggalkan mesin pengering. Bahan pakaian yang dikeringkan secara alami akan lebih tahan lama dibanding yang selalu dimasukkan ke mesin pengering.

Halo Dura, Saya Putu dari Denpasar. Kulit saya berjerawat dan sangat berminyak. Sudah banyak dokter kulit yang saya kunjungi tapi hasilnya nihil. Yang ada, kulit saya memerah menggunakan produk yang diberikan. Kira-kira perawatan wajah apakah yang cocok untuk kulit saya? Putu Yanthi (dikirim melalui email) Halo Putu, Saat ini jerawat (acne) menjadi salah satu masalah kulit yang banyak dikeluhkan orang, terutama remaja. Penyebab jerawat sesungguhnya karena dua faktor, yaitu hormonal dan bakteri. Jerawat tak hanya muncul di wajah, tetapi bisa muncul di seluruh permukaan kulit, seperti punggung dan dada. Selain faktor tersebut, kecenderungan untuk jerawat membekas juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Langkah pencegahan yang dapat diambil adalah dengan menjaga kondisi kulit melalui gizi yang baik dan istirahat yang cukup. Jika jerawat sudah sangat meradang/memerah, tidak dianjurkan memakai kosmetik atau produk kecantikan apa pun, termasuk pelembab dan tabir surya. Tetapi, Anda tidak perlu putus asa, kami dari House of Dura mengerti bagaimana sulitnya mengatasi masalah jerawat. Oleh karena itu kami memperkenalkan Acne Management Program (AMP), yang mengombinasikan beberapa jenis perawatan untuk mengatasi masalah jerawat. Karena ada bermacam-macam tipe jerawat, penanganannya pun berbeda-beda. Dokter konsultan kami akan mengevaluasi kondisi jerawat dan kulit masing-masing pasien sebelum membuat program yang sesuai. Obat-obatan mungkin akan diresepkan oleh dokter untuk membantu proses penyembuhan. Semoga jawaban dari kami dapat membantu masalah Saudari Putu. Untuk Saudari Putu, kami berikan perawatan AMP gratis. Salam hangat dari House of Dura Bali.

Konsultasi Kecantikan Rubrik konsultasi kecantikan ini ditujukan khusus membahas seputar masalah kecantikan yang diasuh A.A. Ayu Ketut Agung. Bagi para pembaca Koran Tokoh yang memunyai masalah seputar kecantikan, silakan kirim pertanyaan ke Kursus Kecantikan dan Salon Agung di Jalan Anggrek 12 Kereneng, Denpasar dan sertakan kupon cantik.

Tips agar Blush On Terpancar Yth. Ibu Agung Saya ingin menanyakan, apakah ada tips khusus yang dapat saya lakukan untuk membuat warna blush on pada pipi dapat terpancar lebih kuat, khususnya untuk makeup yang digunakan pada saat menghadiri undangan dan acara resmi lainnya? Dan mohon ditampilkan contoh busana modifikasi sederhana tanpa memakai srinata yang mudah untuk dibuat. Wulandari, Denpasar

Dari berbagai sumber Yth.Adik Wulandari Berikut ini cara yang dapat Adik coba untuk menyempurnakan tampilan make-up Adik terutama untuk membuat warna blush on terpancar lebih kuat. Buat base blush on dengan menggunakan lipstick. Caranya totolkan velvet finish lipstick (yang matte) di satu titik pada tulang pipi, lalu baurkan dengan menggunakan tangan. Setelah itu baru bubuhkan bedak Face Coloring Powder warna green dan tambahkan blush on. Ini akan membuat warna blush on pada pipi lebih terpancar kuat. Berikut ini contoh busana modifikasi sederhana tanpa menggunakan srinata yang dapat Adik coba untuk dibuat. Selamat mencoba.


16

Tokoh

31 Juli - 6 Agustus 2011

Setahun Bali Royal Hospital (BROS) Menuju Persaingan Global BALI Royal Hospital (BROS) merupakan buah pikiran seorang dokter yang berkompeten di bidang obgyn dr. Ida Bagus Putra Adnyana, Sp.OG(K) dan seorang arsitek Ir. Ida Bagus Indra Jaya.

T

ahun 2001 mereka berdua mendirikan satu perusahaan terbatas dengan nama PT Putra Husada Jaya yang mewujudkan klinik Merdeka Medical Centre (MMC) pada 12 Mei 2002. MMC merupakan klinik yang diwujudkan dengan konsep one stop medical services yang bergerak di pelayanan out patient. Dengan pertimbangan untuk dapat melayani rawat inap, manajemen MMC mewujudkannya ke dalam sebuah ide dengan dibangunnya Bali Royal Hospital. Bali Royal Hospital merupakan perpaduan konsep one stop medical services MMC dan kenyamanan hotel berbintang lima. Pembangunan dimulai Maret 2009 dan diresmikan Juli 2010. Bali Royal Hospital memiliki empat keunggulan yakni bayi tabung, endoscopic centre, cosmetic surgery, neuro science centre. Menurut dr. Ida Bagus Putra Adnyana, Sp.OG(K), sebagai seorang dokter dia mempunyai cita-cita membuat satu rumah sakit yang memiliki satu keunggulan. “Saya sadar tidak mungkin mendirikan rumah sakit seorang diri. Selain modal, fasilitas, sumber daya manusia, dan sistem merupakan satu kesatuan sehingga saya mengajak beberapa teman untuk bekerja sama. Selain modal dari teman-teman yang bergabung modal juga kami dapatkan dari fasilitas bank. Hal itu kami lakukan agar kami lebih termotivasi dalam membangun dan memajukan rumah sakit,” paparnya. Untuk mengembangkan rumah sakit, ia mempunyai beberapa kiat

khusus yakni komitmen, profesionalisme, bertanggung jawab, transparansi, dan bisa bekerja sama. Kiat ini yang terus-menerus digaungkan kepada semua tim yang bergabung dalam Bali Royal Hospital agar visi, misi dan tujuan rumah sakit dapat terwujud yakni untuk memberikan pelayanan berkelas internasional. Untuk mewujudkan itu, kata Dokter Putra, begitu ia akrab disapa, selain rumah sakit dibangun dengan konsep layaknya hotel berbintang lima, Bali Royal Hospital juga berhasil menjadi rumah sakit termuda yang sudah mendapatkan ISO 9001-2008. “Rumah sakit merupakan suatu bisnis jangka panjang. Dengan memiliki layanan unggulan bayi tabung, endoscopy, cosmetic surgery, dan neuro science centre kami tidak berkompetisi dengan rumah sakit lainnya. Keamanan dan kenyamanan pasien menjadi prioritas,” ujar Ketua Tim Bayi Tabung Bali Royal Hospital itu. Dengan keunggulan ini, ia berharap, pasien tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke Singapura. Dengan supporting partner yang berkomitmen tinggi serta kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Bali Royal Hospital, akan mampu menjejakkan langkah dalam persaingan dunia kesehatan yang sangat berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi yang pesat. Mengenang sejarah berdirinya BROS tidak dapat dilepaskan dari Merdeka Medical Centre (MMC). Menurut Direktur PT Putra Husada Jaya Ida Bagus Indra Jaya, MMC didirikan pertamakalinya karena melihat kondisi sebagian besar tempat

dr. Putu Arya Yudanegara, Sp.OG, MARS

praktik dokter adalah di rumah atau menyewa ruko. Belum ada tempat khusus praktik dokter yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang. Saat dibangun tahun 2002, MMC satu-satunya klinik yang memberikan fasilitas ruangan yang ber-AC, ruang tunggu nyaman, toilet bersih, dan paling utama parkir yang luas. “Kesan yang timbul MMC mahal karena mengadopsi konsep hotel. Tapi kami menginginkan membuat suatu standar ideal karena sebelumnya kami sudah melakukan survei ke beberapa klinik di Bali bahkan di luar negeri. Orang lain belum berani melakukan ekpansi seperti itu, tapi MMC mencoba maju selangkah ke depan,” paparnya. Ia mengatakan, MMC sudah dibangun dengan konsep yang jelas sejak awal. Dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung dan fasilitas penunjang yang lengkap seperti ruangan yang nyaman, tersedia laboratorium, radiologi, klinik 24 jam, apotek, dan 14 dokter spesialis. Untuk lebih memperkenalkan MMC, promosi dilakukan melalui banjar terdekat dengan memberikan paket khusus. Artinya, masyarakat

juga ikut membantu promosi dari mulut ke mulut. “Ini menjadi kebanggaan juga bagi para dokter dan pasien,” ujarnya. Atas permintaan pasien agar pelayanan yang diberikan lebih sempurna, pengembangan mulai dilakukan untuk mewujudkan rawat inap. Tahun 2008 melangkah ke proses pengembangan, tahun 2009 sudah mulai ke pembangunan gedung rumah sakit, dan 2010 bulan Juli Bali Royal Hospital sudah mulai beroperasi. “Konsepnya tidak berbeda dengan MMC, kami tetap ingin memberikan pelayanan yang terbaik. Rumah sakit ini memang sudah direncanakan dari awal dengan satu konsep yang jelas sehingga alurnya lebih efektif. Survei telah dilakukan ke berbagai rumah sakit di Jakarta, Singapura dan Thailand,” jelasnya. Konsep bangunan minimalis modern, dengan sistem komputerisasi berjaringan. Semua ini, kata Ida Bagus Indra Jaya, untuk memberikan pelayanan cepat dan maksimal demi kepuasan pasien. Sistem keamanan gedung dan tenaga kebersihan, Bali Royal Hospital menggunakan pihak ketiga demi mewujudkan kepuasan pelanggan. Peralatan medis terbaru dan berusaha bisa bersinergis dengan rumah sakit lain. “Harapan kami, pasien yang datang tidak merasa dirinya sakit, tapi mereka beristirahat di hotel sehingga penyembuhannya lebih cepat,” tandasnya. Momen ulang tahun pertama BROS bagi Direktur Utamanya, dr. Putu Arya Yudanegara, Sp.OG, MARS adalah momen sangat penting. Pertama, karena tanggapan positif dan penerimaan masyarakat atas kehadiran BROS sebagai rumah sakit unggulan. Kedua, karena perasaan syukur atas pencapaian di

tahun yang menentukan ini. Ketiga, karena fungsi evaluatif peringatan ulang tahun, yaitu untuk meninjau perjalanan di tahun pertama ini dengan jernih. Keempat, kesempatan berbagi kebahagiaan melalui rangkaian kegiatan peringatan serta corporate social responsibility. “Astungkara, kami dapat melewati tahun pertama dengan baik, terutama diukur dari target respon masyarakat atas komitmen BROS untuk memberikan pelayanan paripurna, yaitu layanan yang lengkap, terukur, didukung peralatan terkini dan terstandar, dan tentu saja keramahan khas BROS”, ungkapnya. Rasa syukur dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan jebolan Universitas Udayana yang meraih gelar Magister Administrasi Rumah Sakit dari Universitas Airlangga ini bertambah lengkap dengan “kado” berupa sertifikat ISO 9001 : 2008, sekaligus rekor MURI sebagai Rumah Sakit Swasta yang meraih sertifikat ISO Termuda, yaitu hanya dalam 1 tahun. “Kalau kita mau bertahan dan unggul dalam persaingan global, sertifikasi model ISO 9001-2008 itu harus dianggap minimal yang harus kita lewati di awal fase perkembangan. Mengingat Bali sebagai destinasi wisata dan konvensi internasional, pulau dengan komunitas ekspatriat yang cukup besar, sekaligus tantangan untuk menjadi tuan rumah yang memiliki keunggulan kompetitif. BROS lahir dengan idealisme dan dukungan kuat untuk mewujudkan itu,” papar dokter yang juga Ketua Badan Pendiri Yayasan Vargahita Sevagram Br. Tengah Sesetan ini. –ast

Profil Pendiri dr. Ida Bagus Putra Adnyana, Sp.OG(K) putra pertama dari pasangan IB Bandjar (alm.) dan IA Putu Adi. Memulai kariernya sebagai staf Divisi Fertilitas Endokrinologi SMF Obgyn FK Unud/RSUP Sanglah. Penghargaan yang pernah diraih, sebagai dokter teladan I Provinsi Bali Kabupaten Badung yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia 23 Oktober 1988. Prestasi lainnya, Dokter Puskesmas Terbaik Kabupaten Badung tahun 1988. Berbagai pengalaman kerja dan organisasi telah meman- dr. I.B. Putra Adnyana,Sp.OG(K) tapkan langkah dr. Putra dalam pengabdiannya kepada masyarakat terutama di bidang obgyn dan kesehatan masyarakat. Ia mempersembahkan hidupnya untuk membantu masyarakat yang belum berkempatan memiliki keturunan untuk bisa memperoleh keturunan dengan pendekatan teknologi. Karya tulisnya, penanganan terkini pasangan infertile dibacakan pada acara seminar sehari penanganan terkini pasangan tidak subur (20 April 2003). Karakteristik kasus-kasus yang menjalani program fertilisasi in vitro di poliklinik bayi tabung RS Sanglah periode 19 April 2001 s.d. 28 Februari 2003. Ir. Ida Bagus Indrajaya, kelahiran 31 Mei 1964, putra ketiga Ida Pedanda Gde Putra Karang (alm.) dan Ida Pedanda Istri Oka Karang. Suami dari Ida Ayu Oka Purnama wait, S.S. dan ayah Ida Bagus Govinda Indra Karang dan Ida Bagus Bianta Indra Karang. Ia memulai kariernya sebagai arsitek muda dengan berbagai talenta. Kariernya dimulai dengan membangun vila dan rumah tinggal sebelum membangun Klinik MMC pada Mei 2002 yang terus berkembang pesat seiring dengan perkembangan tekIr. Ida Bagus Indrajaya nologi yang sampai saat ini masih menjadi salah satu klinik ternyaman yang pernah ada di Bali. Dengan perjuangan yang dimulai dengan pertemuan dengan beberapa investor dan unit terkait serta inspeksi ke beberapa hotel akhirnya mimpi arsitektur muda ini tertuang pada suatu konsep rumah sakit Bali Royal Hospital. –ast


tkh_654_31_juli-_6_agustus_2011