Issuu on Google+


Position Paper

Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik


Position Paper

Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

Tim Penyusun Puji Rianto Iwan Awaluddin Yusuf Saifudin Zuhri Moch. Faried Cahyono Bayu Wahyono Rahayu Amir Effendi Siregar Masduki

Yogyakarta 2013


Daftar Isi Daftar Isi | v Pendahuluan | 1 Beberapa Hal Pokok Digitalisasi Penyiaran | 11 1. Frekuensi sebagai Barang Publik (Public Domain) | 11 2. D igitalisasi Harus Melindungi Hak dan Kepentingan Masyarakat  | 14 3. Migrasi: Tak Sekadar Alih Teknologi  | 21 4. Lembaga Penyiaran Publik dan Komunitas Bagian Penting Demokrasi  | 30 5. Lembaga Penyiaran Swasta: Punya Hak Hidup, tapi Harus Dibatasi  | 39 6. Regulator Terbaik adalah Lembaga Negara

Independen  | 41

7. Model Bisnis Televisi Digital  | 43 Penutup | 45


Pendahuluan

Digitalisasi penyiaran menjadi sebuah keniscayaan, dan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan dan ketidakefisienan penyiaran analog. Seperti diketahui, teknologi analog tidak dapat mengimbangi permintaan industri penyiaran dalam hal penyaluran program siaran yang terus bertambah karena terbatasnya jumlah kanal frekuensi yang tersedia. Selain itu, penggelaran infrastruktur penyiaran analog pun tidak efisien karena belum menyentuh konvergensi. Dalam sistem penyiaran analog, masing-masing lembaga penyiaran memiliki infrastruktur penyiarannya sendiri–sendiri seperti menara pemancar, antena, dan sebagainya. Akibatnya, biaya pemeliharaan relatif mahal, pemakaian daya listrik yang besar, serta pemanfaatan lahan yang lebih boros. Di sisi penerimaan siaran pun, kualitas siarannya tidak merata meski berada dalam wilayah layanan yang sama. Penerapan teknologi penyiaran digital diharapkan memberikan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi yang lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan penyediaan program siaran yang berlipat kali lebih banyak dibandingkan penyiaran analog. Dengan demikian, teknologi digital untuk penyiaran TV dan radio memberikan peluang yang lebih besar terhadap ketersediaan ruang bagi penyelenggaraan penyiaran,


Position Paper

baik pengembangan dari yang ada sekarang maupun permintaan penyelenggaraan penyiaran baru yang tidak dapat ditampung pada Masterplan penyiaran analog. Selain peningkatan di sisi kuantitas program siaran yang dapat disalurkan dalam satu kanal frekuensi, teknologi penyiaran digital pun menawarkan keuntungan lain, yakni kualitas penerimaan yang jauh lebih baik dibandingkan penyiaran analog. Program siaran yang dapat disalurkanpun lebih bervariasi jenisnya. Selain itu, teknologi penyiaran digital memungkinkan penggunaan menara pemancar bersama untuk menyalurkan semua program siaran pada suatu wilayah layanan sehingga akan tercapai suatu efisiensi infrastruktur yang sangat baik. Penerimaan siaran yang sampai di masyarakat pun akan merata. Di Indonesia, digitalisasi penyiaran sudah mulai dibahas dan menjadi perdebatan publik. DPR telah merancang undang-undang penyiaran baru sebagai ganti undang-undang penyiaran lama dengan memasukkan pengaturan penyiaran digital. Sementara itu, pemerintah sudah membuat Permen tentang penyiaran digital. Namun sayangnya, Permen itu mempunyai persoalan hukum (tidak sesuai dengan undang-undang penyiaran) dan kurang mengadopsi kepentingan publik karena lebih berpihak ke pasar dan lembaga-lembaga penyiaran yang sudah eksisting. Pemerintah Indonesia begitu antusias terhadap hadirnya teknologi baru ini sehingga segera mencanangkan program digitalisasi televisi. Berbagai persiapan telah dilakukan menyusul kebijakan Kementerian Komunikasi dan Telematika yang segera akan mengoperasikan televisi digital ke semua warga negara yang memiliki televisi analog. Antusiasme pemerintah itu mengindikasikan bahwa ia begitu percaya pada argumen kaum 2


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

“cyber optimists�. Di bidang politik, kaum �cyber-optimists� yang merupakan penganut developmentalistik yakin bahwa perkembangan teknologi informasi akan menghasilkan pendataran piramida penguasaan informasi sehingga setiap warga negara akan memiliki informasi yang memadai untuk mengambil keputusan politik. Ada tiga alasan pokok yang menyertai optimisme ini. Pertama, teknologi informasi ini akan membuka akses lebar-lebar pada semua lapisan masyarakat karena teknologi informasi ini akan mengurangi secara drastis biaya untuk memperoleh informasi. Harga komputer setiap tahun semakin murah dan akses terhadap internet pun semakin mudah. Alasan kedua, sekali seseorang memiliki sambungan internet, informasi yang diperlukan untuk keperluan pembuatan kebijakan politik dan individual akan dengan mudah didapatkan melalui internet. Ketiga, sifat interaktif media baru ini juga akan memperbaiki tingkat responsiveness dan akuntabilitas berbagai lembaga politik (termasuk pemerintah) karena warga dan berbagai kelompok sosial yang ada dalam masyarakat bisa berpartisipasi secara lebih efisien dalam berbagai bentuknya. Pandangan developmentalistik mempunyai keyakinan bahwa berdasarkan asumsi tersebut maka kesenjangan informasi yang mengikuti kesenjangan sosial ekonomi antara lapisan yang kaya dan miskin akan menyurut dan akhirnya menghilang. Pendeknya, digitalisasi televisi secara revolusioner akan mengakibatkan pendataran piramida penguasaan informasi sehingga partisipasi politik akan lebih efektif dan lebih bermakna. Kesetaraan dalam penguasaan informasi akan menghasilkan perbaikan terhadap kualitas pengambilan keputusan berbagai lapisan masyarakat. Jadi, kualitas demokrasi pun akan dengan sendirinya mengikuti. Sementara itu, asumsi kaum yang mendukung rezim transmisi 3


Position Paper

juga menjadi bagian dari kaum developmentalisme yang meyakini media berpengaruh besar terhadap khalayak. Pendukung ini meyakini bahwa media dapat dipakai sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemajuan pada masyarakat. Asumsi seperti itu biasanya berangkat dari realitas masyarakat yang telah memiliki latar belakang sejarah revolusi industri seperti masyarakat Eropa dan juga Amerika Serikat, misalnya. Pergulatan produksi yang bermoda kapitalisme telah menghasilkan kelas menengah dan dari kelas inilah kemudian menjadi motor penggerak demokrasi. Kelas menengah menyadarkan para pekerja bahwa terjadi eksploitasi besar-besaran dalam masyarakat industri sehingga membuat kaum buruh menderita. Kelas inilah yang kemudian mampu menjadi agen perubahan sosial politik bagi kesejahteraan bersama melalui jalan demokrasi. Struktur sosial politik yang tidak adil dan akumulasi modal yang memusat pada kaum pemilik modal, kemudian diubah oleh gerakan pekerja yang dipelopori oleh kelas menengah menjadi struktur masyarakat yang egaliter. Ini berarti mengandaikan adanya agen bagi upaya transformasi budaya politik yang demokratis. Persoalannya siapa yang berpotensi menjadi agen perubahan kultural ke arah perilaku politik demokratis secara masif? Dalam berbagai kajian ilmu politik, kelas menengah sering dianggap sebagai lokomotif demokrasi yang berpotensi menarik gerbong masyarakat yang berkehendak terhadap terwujudnya sistem pemerintahan yang demokratis. Di Negara-negara berkembang, kelas menengah sering diandalkan untuk tampil sebagai agen kekuatan pembaruan dari sebuah sistem politik yang anti demokrasi. Korea Selatan, misalnya, sering disebut-sebut sebagai cerita sukses kelas menengah yang mampu mendorong masyarakat ke arah pemerintahan demokratis, setelah 4


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

Negara tersebut berada dalam pemerintahan junta militer yang otoriter. Pertanyaannya dalam konteks Indonesia, apakah kelas menengah juga merepresentasikan kecenderungan semacam itu? Jawabannya sepertinya tidak demikian. Paparan di atas mengindikasikan bahwa optimisme kaum cyber optimists berangkat dari kondisi sosial politik yang berbeda, yaitu masyarakat yang memiliki kelas menengah progresif dan munculnya kesadaran kewarganegaraan (citizenships). Oleh karena itu, kehadiran teknologi yang mengubah moda produksi bukanlah semata-mata persoalan teknis, melainkan problem sosial politik. Dalam kaitan ini, satu hal yang perlu disadari bahwa kehadiran sebuah teknologi baru tiba-tiba atau serta merta mendatangkan kesejahteraan bersama. Asumsi seperti itu tidak berdasar dan terlalu menyederhanakan persoalan. Adopsi teknologi baru yang mengubah sebuah sistem kerja seperti digitalisasi, haruslah dipandang sebagai sebuah persoalan sosial politik dan historis. Artinya, perlu dipertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan politik yang memiliki latar belakang sejarah yang satu sama lain berbeda. Keberhasilan adopsi teknologi baru senantiasa berbanding lurus dengan struktur sosial masyarakat yang egaliter. Repotnya, para pemegang keputusan di Indonesia sering menggunakan pandangan simplistik. Mereka senantiasa mengira bahwa kehadiran teknologi secara otomatis mendatangkan kesejahteraan, tanpa mempertimbangkan tuntutan prasyarat sosio kulturalnya. Pertanyaannya kemudian Bagaimana mungkin sebuah negara akan berhasil mengadopsi teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama, jika struktur sosialnya non-egaliter? Termasuk dalam hal ini, karakter kultural masyarakatnya masih patrimonialistik.

5


Position Paper

Masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya masyarakat Jawa secara sosiologis merupakan apa yang disebut sebagai masyarakat patrimonialisme. Dalam masyarakat patrimonialistik, senantiasa ditandai oleh hubungan patronclient (Scott, 1976). Pola hubungan dalam konteks itu bersifat individual, antara dua individu, yaitu antara Patron dan Client, di mana terjadi interaksi yang bersifat resiprokal atau timbal balik dengan mempertukarkan sumber daya (exchange of resources) yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Patron memiliki sumber daya yang berupa kekuasaan, kedudukan atau jabatan, perlindungan, perhatian dan rasa sayang, dan tidak jarang pula berupa materi seperti harta kekayaan, tanah garapan, dan uang, atau alat produksi lainnya. Di sisi lain, client memiliki sumber daya berupa tenaga, dukungan, dan loyalitas. Pola hubunga tersebut akan tetap terpelihara selama masing-masing pihak tetap memiliki sumber daya tersebut. Jika salah satu kehilangan sumber daya, maka masingmasing akan mencari sumber daya lain dan kemudian membentuk hubungan patron-client yang baru, dan begitu seterusnya. Karakter birokrasi yang patrimonialistik seperti itu juga masih melekat hingga sekarang, terutama jika berkaitan dengan kehadiran investor asing. Birokrasi menempati posisi sebagai klien, sedangkan investor asing sebagai patron. Hubungan patrimonialistik seperti itu hingga sekarang sering mewarnai dalam relasi dagang melalui instrumen politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam transaksi berkait dengan digitalisasi televisi, misalnya, juga sarat dengan kepentingan ekonomi yang ujung-ujungnya menjadikan masyarakat Indonesia hanya sebagai pasar. �Cyber-pesimists�, yang merupakan pendukung perspektif kritis, di sisi lain, berargumen sebaliknya. Dalam pandangan mereka, penyebaran akses terhadap teknologi informasi akan mengikuti 6


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

pembelahan status sosial ekonomi. Mereka yang termasuk kalangan miskin tetap tidak akan mampu membangun akses terhadap kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, berlawanan dari kaum ”cyber-optimists”, kelompok yang percaya pada pandangan kedua ini berargumen bahwa kesenjangan informasi yang sudah muncul sebelum jaman internet akan tetap lebar – atau bahkan semakin melebar. Mereka yang kaya dan mampu mengikuti perkembangan teknologi akan memiliki sumber daya baru, yakni penguasaan informasi digital. Sebaliknya, mereka-yang karena kondisi sosial ekonominya-tetap atau semakin tertinggal dan semakin jauh dari kemampuan untuk menguasai informasi. Socio-economic divide, pembelahan sosial dan ekonomi yang bisa menyebabkan problem demokrasi, dalam pandangan yang pesimistis ini, akan dikuti dan diperkuat dengan munculnya digital divide atau pembelahan dan ”kesenjangan digital”. Perspektif develomentalistik yang menempatkan teknologi sebagai faktor menentukan juga mendapat perlawanan dari apa yang dikenal sebagai perspektif social-determinism atau social shaping. Pandangan ini mengatakan bahwa pada dasarnya teknologi merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, sebuah hasil konstruksi rekayasa masyarakat, bukan sebuah fenomena yang terpisah dari konteks sosial. Diterminisme sosial merupakan proses yang mutual di mana perkembangan teknologi dan praktik sosial saling menentukan kehidupan sosial.1 Perspektif diterminisme sosial ini kemudian menjadi perpektif alternatif dalam penelitian komunikasi, kajian budaya, dan kajian informasi sejak dekade 1990-an, dan bahkan kemudian menjadi perspektif yang dominan dalam kajian budaya. 1

Leah A Lievrouw dan Sonia Livingstone (eds.), 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ICTs, updated student edition, London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications

7


Position Paper

Senada dengan itu, pencapaian kemajuan masyarakat, demokratisasi, dan percepatan pertumbuhan ekonomi ternyata tidak dengan serta merta berjalan seiring dengan pemanfaatan ICT, terutama di Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hasil studi Francois Fortier menemukan kenyataan yang berbeda dan bahkan sebaliknya. Ia menguji sejumlah perspektif teoretik dalam hubungan antara teknologi informasi dengan masyarakat, yang ia klasifikasikan ke dalam 4 kelompok, yaitu functional neutrality, instrumentalist, ahistorical inherence, dan historical inherence.2 Fortier menemukan bahwa kehadiran teknologi komunikasi dan informasi dalam hubungan proses kerja ternyata tidak meningkatkan produktivitas, tetapi justru pengaruhnya dalam produktivitas perlu dipertanyakan. Ia berpendapat bahwa teknologi komunikasi dan informasi juga merupakan alat mengontrol buruh dengan memasukkan tenaga kerja dalam proses hubungan produksi sehingga yang terjadi justru peningkatan perampasan surplus-labour dan keuntungan, serta mengabaikan produktivitas. Dalam berbagai kesempatan, teknologi komunikasi dan informasi dikatakan mampu mengurangi ongkos transaksi dan memperkuat konsumen dengan memperbolehkan frictionfree capitalism. Namun, Fortier menunjukkan bahwa pola-pola pemasaran dan perilaku monopolistik ekonomi kuno memproduksi secara penuh ke dalam ekonomi baru, yang membuat pengguna ICT menjadi konsumen yang ditaklukan daripada diberdayakan. Dalam kaitan dengan penguatan demokratisasi, Fortier juga menemukan bahwa terutama dalam penggunaan internet, terjadi peningkatan dominasi melalui nilai tambah tinggi (highvalue-added) media yang oligopolistik yang terus mengontrol dan 2

8

Lihat Francois Fortier, 2001. Virtuality Check: Power Relations and Alternatif Strategies in Information Society, London: Verso


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

mengondisikan terjadinya mekanisme perampingan peran media konvensional sebelumnya. Akhirnya, Fortier membantah klaimklaim diskusi yang berkembang kuat selama ini yang menyatakan bahwa teknologi komunikasi dan informasi dan jaringan komputer mampu mencegah penyensoran dan monitoring informasi, mengikis kemampuan negara yang otoriter, korporasi yang monopolistik dan penjaga ideologi yang mengontrol wacana dan menekan perbedaan pendapat. Pada kenyataannya, klaim tersebut tidak terbukti. Fortier berpendapat bahwa memang teknologi komunikasi dan informasi mampu membuat pengawasan yang lebih ketat dan efisien, tetapi hasilnya baik teknologi dan isi informasi jaringan komputer justru telah disensor, diawasi, dan diatur oleh kekuatan dominan untuk memaksakan ideologi politik dominan yang dikehendakinya. Singkatnya, Fortier menunjukkan bahwa teknologi komunikasi dan informasi, dalam konteks ekonomi politik, tidak seperti yang dikatakan oleh banyak literatur yang dengan penuh keyakinan menyatakan jika teknologi komunikasi dan informasi akan banyak membantu kemajuan umat manusia seperti peningkatan produktivitas dalam proses hubungan kerja, mempermudah dan bahkan melindungi konsumen, dan memberdayakan rakyat. Dalam konteks digitalisasi, yang bisa diajukan adalah ketersediaan semakin banyak kanal dan dengan demikian akan menciptakan lebih banyak sumber-sumber informasi dan hiburan. Dalam pandangan Fortier, yang terjadi justru sebaliknya. Pada kenyataannya, teknologi komunikasi dan informasi hanyalah pelayan kaum kapitalis yang menundukkan kaum buruh, merekayasa konsumen, menghegemoni wacana, memperbudak warga masyarakat, dan merepresi adanya perbedaan pendapat. Oleh karena itu, teknologi komunikasi dan informasi 9


Position Paper

hanya sedikit memberikan kontribusi terhadap persamaan dan demokrasi. Revolusi informasi dan teknologi komunikasi dan informasi hanya menyengsarakan kaum miskin, menyebabkan ketidakadilan sosial. Perdebatan dua kubu yang disajikan dalam pendahuluan ini dalam melihat teknologi sebenarnya hendak menunjukkan bahwa teknologi tidak bisa dilihat secara hitam putih. Teknologi selalu mempunyai dua sisi dan ia tidak pernah bebas nilai. Dalam konteks digitalisasi televisi, barangkali, ia memang memberikan keuntungankeuntungan seperti telah disinggung di atas, tapi digitalisasi juga mengandung pula muatan kapital, struktur hegemonik, dan monopolisitik. Industri televisi syarat modal dan memang memerlukan modal besar sehingga monopoli dan oligopoli akan tetap terbuka di era televisi digital. Di sisi lain, digitalisasi sebagai suatu proses yang sarat teknologi akan berpeluang menciptakan pula kesenjangan digital sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu, agar digitalisasi penyiaran memberikan kontribusi positif bagi masyarakat maka beberapa hal harus diperhatikan dan dipikirkan dengan baik. Dengan kata lain, digitalisasi akan memberikan keuntungan bagi masyarakat jika prasyaratnya terpenuhi. Prasyarat-prasyarat itu mencakup diantaranya cara pandang kita terhadap frekuensi, regulasi dan regulator, kesiapan masyarakat, bagaimana migrasi dilakukan, dan juga bagaimana lembaga penyiaran publik dan komunitas dilindungi. Keseluruhan pandangan dalam position paper ini merepresentasikan sikap politik terhadap isu-isu penting tersebut, termasuk peraturan menteri yang menjadi dasar dilakukannya digitalisasi penyiaran hingga saat ini.

10


Beberapa Hal Pokok Digitalisasi Penyiaran

1. Frekuensi sebagai Barang Publik (Public Domain) Isu paling pokok dalam melihat digitalisasi adalah bagaimana frekuensi dilihat. Penyiaran menggunakan frekuensi, tidak peduli apakah ia menggunakan siaran analog ataukah digital. Oleh karena sifatnya terbatas, frekuensi ini merupakan domain public. Dalam literatur ilmiah, terdapat tiga pemaknaan atas status frekuensi sebagai suatu domain, yaitu sebagai (1) benda publik, (2) milik publik dan (3) ranah publik. Ketiganya mengandung substansi yang sama bahwa frekuensi sebagai entitas yang menjadi wilayah kekuasaan publik dan publik berhak memperoleh keuntungan sosial (social benefit) darinya. Publik melalui perwakilan mereka di parlemen berhak memberi lisensi atau pengakuan atas perlu tidaknya suatu bentuk lembaga penyiaran diberikan baik penyiaran komersial, publik maupun komunitas. Keterbatasan frekuensi ini mengharuskan negara berperanan sentral mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Kata publik dalam bahasa Inggris sinonim dengan kata rakyat atau langsung diserap dengan sedikit modifikasi huruf, yaitu dari publik ke masyarakat, terbuka, massa dan penduduk.


Position Paper

Istilah publik sering disalahartikan atau digeneralisasikan sehingga mengaburkan posisinya ketika berpadanan dengan negara. Publik sering dimaknai semua orang (all people) atau seluruh institusi yang mewakili masyarakat. Makna publik yang tepat adalah warga negara (citizens). Dalam konteks kebijakan publik, menjadi warga negara dan mendapatkan hak-hak sebagai warga negara adalah konsekuensi logis secara hukum dari kontrak sosial bersama yang melahirkan dan menjaga keberlangsungan negara dengan berbagai atributnya.3 Dalam media penyiaran, publik diartikan dalam dua hal. Pertama, khalayak atau pemirsa dan pendengar. Kedua, partisipan yang aktif memiliki dan mengontrol media penyiaran. Frekuensi yang digunakan oleh lembaga penyiaran adalah milik warga negara dan sifatnya terbatas. Jika sudah dimiliki dan digunakan oleh satu pihak, misalnya, saluran 37 UHF, maka pihak lain tidak bisa menggunakannya. Jika frekuensi itu tetap dipakai akan terjadi noise pada out-put siaran yang bukan hanya merugikan pemilik media, tetapi terutama merugikan publik. Dalam konteks ekonomi bisnis, akan terjadi konflik kepemilikan yang merugikan dunia usaha. Media yang menggunakan public domain regulasinya juga berbeda dengan media yang tidak menggunakan public domain. Menurut Dominick dkk, ada tiga alasan mengapa media yang menggunakan public domain ini harus diregulasi dengan ketat.4 Pertama, media tersebut menggunakan public domain, barang publik. Oleh karenanya, harus diatur secara ketat. Frekuensi adalah milik publik yang dipinjam sementara oleh lembaga penyiaran yang harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan 3 4

12

Fadillah Putra, 2003. Partai Politik dan Kebijakan Publik, Averroes Press-Pustaka Pelajar, Yogyakarta Joseph R Dominick, Messere, Fritz., Sherman, Barry L., 2012. Broadcasting, Cable,the Internet, and Beyond. McGraw-Hill, New York, USA, hal 238


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

dan kemakmuran rakyat. Dengan kata lain, pengaturan tersebut ditujukan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran publik yang luas, bukan perorangan atau kelompok. Kedua, public domain mengandung prinsip scarcity (scarcity theory). Scarcity theory ini menegaskan bahwa frekuensi yang berasal dari spektrum gelombang radio itu adalah ranah publik yang terbatas. Permintaan frekuensi jauh lebih banyak dari yang tersedia. Meskipun teknologi digital mampu membuat frekuensi dapat dimanfaatkan dengan lebih banyak saluran siaran, tapi ia tetap terbatas. Itulah sebabnya izin frekuensi untuk penyiaran mempunyai masa waktu yang terbatas, dapat 10 atau 15 tahun meskipun dapat diperpanjang. Dalam pengaturan spektrum frekuensi yang terbatas tersebut, dibutuhkan wasit yang adil dan demokratis untuk menjamin tersedia, terdistribusikan dan terawasinya ranah publik tersebut. Ketiga, sifatnya yang pervasif (pervasive presence theory). Pervasive presence theory menjelaskan bahwa program siaran media elektronik memasuki ruang pribadi, meluas dan tersebar secara cepat ke ruang-ruang keluarga tanpa diundang. Ketika seseorang membaca koran, misalnya, maka kontrol atas apa yang dibaca dan dimana membacanya akan sangat tergantung pada si pembaca. Namun, media-media yang menggunakan public domain karena sifatnya yang pervasif, muatan isi media hampir tidak bisa kita kontrol oleh siapapun. Media ini juga bisa hadir dimana-mana dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas. Oleh karena itu, perlu ada regulasi untuk media-media yang menggunakan public domain ini. Selanjutnya, oleh karena frekuensi sebagai benda publik atau public domain, maka ia harus diatur dengan memenuhi ketentuan norma pilihan publik. Secara diametral, barang publik dan barang pribadi memiliki jurang pemisah sehingga peran swasta komersial dan pemerintah harus terbatas dalam pengelolaannya dibandingkan 13


Position Paper

peran publik. Pembatasan itu wajar agar kepentingan publik tanpa intervensi pasar maupun pemerintah terhadap suatu pemanfaatan frekuensi terpenuhi secara memadai. Dari sisi permintaan pemakaian, barang privat dapat didasari kebutuhan individu pemohon, sedangkan barang publik harus berdasarkan kebutuhan-kebutuhan kolektif. Keputusan untuk memberikan izin atau memenuhi permintaan pemohon atas barang publik harus merupakan artikulasi dari pilihan publik (public choice). Pilihan publik adalah perspektif sosial-politik yang dipakai untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan kolektif atas berbagai fenomena nonpasar yang dipergunakan pula dalam disiplin ekonomi-politik. Teori public choice adalah proses dimana preference individu dikombinasikan ke dalam keputusan kolektif. Dalam konteks inilah, dikenal proses lelang frekuensi terbuka, partisipatif dan pro-publik.

2. Digitalisasi Harus Melindungi Kepentingan Masyarakat

Hak

dan

Salah satu masalah sosial yang paling mendasar dan senantiasa menjadi faktor kendala utama dalam usaha menjadi bangsa yang maju adalah terus mapannya struktur sosial yang non-egaliter. Membangun kemajuan bangsa dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi terus gagal karena terganjal oleh struktur sosial yang timpang. Memang demikianlah, tidak mungkin kita akan berhasil menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, jika tidak diawali dengan menciptakan struktur sosial yang egaliter. Teknologi informasi dan komunikasi merupakan produk teknologi tinggi dan modern yang berasal dari negara-negara maju. Bagi masyarakat Indonesia, teknologi informasi dan komunikasi 14


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

merupakan inovasi yang diperkenalkan secara meluas kepada masyarakat sejak pertengahan dekade 1990-an. Tawaran teknologi informasi dan komunikasi lebih masif lagi ketika masuk melinium ketiga, di mana pemerintah telah membangun jaringan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi hingga ke daerah pedesaan, terutama yang berkaitan dengan telekomunikasi. Teknologi telah merasuk dalam kehidupan masyarakat, dan dengan terpaksa, suka atau tidak suka, orang harus beradaptasi dengan teknologi tersebut. Oleh karena itu, kita harus mengubah kultur masyarakat. Mempersiapkan masyarakat dalam menerima realitas tersebut sebagai bagian dalam kehidupannya menjadi hal yang penting. Misalnya, kultur face to face yang mengandalkan kultur lisan berubah ke dalam telephone interaction atau kultur face to face yang mengandalkan kultur lisan menjadi electronic interaction melalui e-mail sehingga menjadi kultur tersendiri, yaitu kultur menulis. Hal tersebut menjadi kendala bagaimana sebuah e-government yang dikembangkan oleh pemerintah daerah tidak banyak digunakan oleh masyarakat daerah tersebut, karena kultur yang berbeda dengan layanan yang konvensional. Kemampuan dalam membaca dan menulis (melek huruf ) dan kemampuan menyusun kalimat menjadi hal yang penting. Belum lagi persoalan teknis tentang penggunaan perangkat kerasnya, bukan persoalan pengadaan, tetapi bagaimana menyiapkan orang terbiasa menggunakan teknologi sebagai bagian kerja yang utama. Mengubah kultur tidak dapat dilakukan secara sekejap melalui workshop dengan jangka waktu pendek. Di sisi lain, digitalisasi penyiaran akan menciptakan keberlimpahan informasi dan tidak menutup kemungkinan keberlimpahan itu justru akan berujung pada kelehahan 15


Position Paper

(communication fatique) (Potter, 2000). Oleh karena itu, kesiapan dan dampak-dampak digitalisasi televisi terhadap masyarakat harus diperhatikan betul mengingat teknologi televisi bukan hanya telah merepresentasikan diri sebagai media hiburan paling populer, tapi juga sumber kebudayaan yang paling populer. Jika digitalisasi yang berujung pada melimpahnya kanal ini tidak dipikirkan baik-baik dampaknya bagi masyarakat, maka akan sangat terjadi pergeseran kultur yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Jumlah stasiun televisi di Indonesia mengalami perkembangan sangat signifikan dari masa ke masa. Sejarah pertelevisian di Indonesia dimulai pada tahun 1962 dengan satu stasiun TVRI, yang kemudian berkembang di tahun 1990-an menjadi 6 stasiun TV (5 swasta + 1 TVRI), dan selanjutnya bertambah lagi dengan 5 stasiun swasta di tahun 2002. Hingga saat ini, terdapat sekitar 1.178 stasiun radio, sekitar 775 di antaranya radio komersial yang menjadi anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional/PRSSNI (Media Scene, 2011). Sisanya adalah stasiun radio komersial non-PRSSNI, radio publik lokal, dan radio komunitas lainnya. Kemudian ada sekitar 77 stasiun RRI5. Untuk televisi komersial, ada sekitar 400 lembaga penyiaran. Sebanyak 218 di antaranya dimiliki stasiun televisi nasional/jaringan yang dikuasai oleh lima perusahaan (Komisi Penyiaran Indonesia, 2012). Kemudian, ada TVRI dengan 27 stasiun televisi di seluruh Indonesia. Dari gambaran ini, dapat kita lihat lembaga komersial dominan di Indonesia6. Terbatasnya alokasi frekuensi yang tersedia bagi lembaga penyiaran swasta (LPS) merupakan salah satu pendorong diluncurkannya migrasi dari tv analog ke digital. Dengan terselenggaranya siaran digital yang dapat memuat 6 kali bahkan 5 6

16

Mengenai hal ini, lihat tulisan Amir Effendi Siregar di Koran Tempo, 23 April 2003, “Mencari Model Penyiaran Publik dan Komersial. Siregar, “Mencari..�, ibid


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

12 kali lebih banyak program siaran dalam satu kanal, diharapkan masalah ini dapat teratasi. Dengan demikian, digitalisasi siaran televisi akan memungkinkan pemirsa memperoleh suatu layanan yang “terintegrasi” dan “terkonvergensi” yang memberikan banyak keuntungan, diantaranya adalah penggunaan atau pemanfaatan kanal frekuensi secara lebih efisien karena dengan satu kanal frekuensi dapat digunakan untuk beberapa program siaran dalam waktu bersamaan, dibandingkan dengan siaran analog yang menggunakan satu kanal frekuensi untuk satu program siaran. Dengan standar DVB-T, dan menggunakan video compression MPEG-2, satu kanal frekuensi dapat dimanfaatkan untuk 6 program siaran SDTV atau 1 HDTV; dan dengan video compression MPEG-4, satu kanal frekuensi dapat dimanfaatkan untuk 10-12 program siaran SDTV atau 2-4 HDTV. Pada saat ini standar DVB-T sedang dikembangkan ke standar DVB-T2 yang akan memuat kira-kira 3 kali lebih banyak program dari DVB-T. Sebagai kebijakan yang menyangkut publik, berlimpahnya sejumlah manfaat praktis dari digitalisasi hendaknya tidak menyirnakan upaya untuk mengkritisinya. Berlipatnya saluran yang tersedia dan jenis siaran tv yang begitu banyak dan beragam akan membawa sejumlah implikasi bagi masyarakat. Bisa diandaikan bahwa teknologi ini akan menghadirkan ‘tsunami’ data informasi bagi khalayak. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti melesakkan – dengan kekuatan dan kapasitas ‘tsunami’ berbagai paket siaran tv digital ke dalam alam sadar kita yang secara tradisional terbiasa dengan jumlah input data yang lebih kecil dan kapasitas yang terbatas. Dalam situasi semacam ini, akan terjadi apa yang disebut “bencana data” yang menciptakan semacam “gegar data”, di mana kapasitas tradisional memori dan proses penyerapannya tak mampu menampung. Akhirnya, terjadi 17


Position Paper

semacam kekacauan dala proses pemahaman, penyimpulan, hingga ekspresinya. Dengan demikian, data informasi dan peristiwa akan berjalan dengan cepat tanpa teramati, terpahami, dan terpergunakan secara akurat. Akibatnya, tidak ada proses dialektika, internalisasi makna secara mendalam dimana subyek dengan tegas meneguhkan eksistensinya. Di hadapan pemirsa tv digital, memang tersaji banyak alternatif pilihan tayangan yang begitu beragam, tapi pada akhirnya hanyalah mendudukkan pemirsa dalam kebekuan obyek di hadapan layar tv. Oleh karena itu, dalam menganalisis fenomena industri komunikasi modern ini, ada baiknya diajukan konsep kritis Jurgen Habermas. Habermas memberikan jalan keluar untuk mengatasi patologi modernitas itu, yaitu dengan beralih dari rasionalitas instrumental menuju rasionalitas komunikatif yang mengandaikan adanya situasi pembicaraan yang ideal. Menurut Habermas, dalam pemikiran Hegel sendiri yang menjadi induk dari teori sosial kritis, praksis bukan hanya dimaknai sebagai kerja tetapi komunikasi. Kemudian, oleh karena praksis dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan menaklukkan alam dengan kerja melainkan juga dalam interaksi intersubjektif dengan bahasa sehari-hari.7 Sementara itu, teknologi digital dalam konteks globalisasi merupakan pintu masuk bagi paket-paket lanjutan globalisasi yang “terintegrasi� dan “terkonvergensi�. Kehadiran teknologi yang seakan tak dapat ditolak ini akan menggiring pada apa yang disebut sebagai virtual world atau dunia virtual, dengan punggawanya yang bernama internet. Sebuah dunia yang berkembang menjadi realitas alternatif. Di sana, berdiam orang dewasa, dan terutama anak muda dan remaja, dalam sebuah kenyamanan hidup (fiksional) yang tidak mereka temukan dalam hidup aktualnya sehari-hari. Dalam 7

18

Budi Hardiman, 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta: Kanisius.


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

virtualitas ini, kita bisa menciptakan klaim dengan kebebasan tak terperi. Kita bisa menyatakan diri, beraktualisasi, mengkreasi apa pun, bahkan menyisihkan siapa pun yang menghalangi. Kita menciptakan kebenaran kita sendiri, dunia kita sendiri, dengan kebebasan (artifisial) yang terberi. “Terberi” yang dimaksud adalah legitimasi yang diberikan oleh sistem (demokrasi dan kapitalisme) yang kita pilih dan terapkan. Hal yang menarik dan sangat berbahaya adalah ketika kenyaman realitas yang virtual itu kemudian dianggap sebagai “realitas sesungguhnya”. Lalu, sebagian dari mereka memindahkan “realitas sesungguhnya” itu ke dalam realitas aktual, dan menggunakannya sebagai acuan bahwa panduan bagi ia dalam menegaskan eksistensi, beraktualisasi dan mengonstitusi hidup nyata serta bagi orang lain. Di tengah kegagapan masyarakat dengan basis ilmu pengetahuan terbatas dan kapasitas rasionalitas yang minim, menjadikan sajian tayangan tv digital yang berlimpah seakan menjadi referensi utama. Mereka sudah tak lagi mampu mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengaktualisasi dunia pragmatis – praktis di sekitarnya. Jadilah mereka – masyarakat atau bangsa itu – sebuah adab baru yang virtual, fantasional, dan ilusional.8 Publik yang juga terdiri dari unit-unit sosial dan terderivasi dalam individu-individu yang otonom, mengingat demokrasi melazimkan itu, teknologi apapun, terutama digitalisasi media publik tetap membawa misi pencarian makna, signifikansi, dan hikmah dari pergulatan abadi manusia dalam dikotomi realitas tersebut. Jika kemudian kesadaran publik sudah “lari” dengan ekor terlipat ke wilayah unreal atau hyper – real, maka jelas ia menjadi indikasi telah terjadi keletihan luar biasa, bahkan frustasi, ketakutan 8

Kupasan menarik mengenai hal ini dapat dilihat dalam Radhar Panca Dahana, “Virtualitas Kita”, Kompas, 17 Juli 2012.

19


Position Paper

luar biasa bahkan kepengecutan, dalam menghadapi “realitas sesungguhnya�. Sebagian bahkan menganggap – secara filosofis dan ontologis, katanya – justru yang terakhir itu sebenarnya yang tiada. Apalagi agama menyiapkan apologi purbanya bahwa kenyataan nyata itu sesungguhnya fana dan yang sejati ada dalam baka. Mengantisipasi kebijakan migrasi teknologi dari tv analog ke digital menuntut adanya pengkritisan antar-berbagai stakeholder yang sinergis supaya kehadirannya menjadi berkah bagi demokratisasi dan peningkatan harkat kebudayaan, kemanusiaan kita. Bencana sebenarnya akan terjadi bukan ketika Negara menjadi gagal, tetapi ketika kita gagal mengidentifikasi realitas aktual dan faktual kita sesungguhnya. Di titik itu, bukan lagi Negara, tetapi kebudayaan yang gagal. Negara boleh gagal berkalikali, tetapi sekali kebudayaan gagal, bangsa pun binasa. Riwayatnya hapus, menyisa artefak lapuk di sejarah dunia. Terlepas dari kontroversi kebijakan digitalisasi televisi tentu satu hal yang menjadi impian bersama, yakni supaya kehadiran teknologi ini menjadi berkah bagi kehidupan bersama. Adanya social gap yang masih menjadi bagian dari persoalan hidup berbangsa dan bernegara tentu saja mengharuskan Negara hadir secara efektif namun bijaksana. Pembiaran tv digital dalam mekanisme pasar bebas bagaikan menggadaikan nasib demokrasi dari mulut buaya ke mulut singa. Oleh sebab itu, campur tangan Negara (bukan pemerintah) dalam pengelolaan tv digital amat diperlukan dalam konteks untuk melindungi kepentingan publik dan mengawal demokrasi. Intervensi dilakukan guna melindungi hak dan kepentingan warga negara, konsumen, dan masyarakat yang menjadi pemilik paling sah frekuensi. 20


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

3. Migrasi: Tak Sekadar Alih Teknologi Digitalisasi penyiaran merupakan terminologi untuk menjelaskan proses alih format media dari bentuk analog menjadi bentuk digital. Secara teknis, digitalisasi adalah proses perubahan segala bentuk informasi (angka, kata, gambar, suara, data, dan gerak) yang dikodekan ke dalam bentuk bit (binary digit) sehingga dimungkinkan adanya manipulasi dan transformasi data (bitstreaming), termasuk penggandaan, pengurangan, maupun penambahan. Semua jenis informasi diperlakukan bukan dalam bentuk asli, tetapi bentuk digital yang sama (byte/bit). Bit ini berupa karakter dengan dua pilihan: 0 dan 1, on dan off, yes dan no, ada informasi atau tidak. Penyederhanaan ini pada akhirnya dapat merangkum aneka bentuk informasi: huruf, suara, gambar, warna, gerak, dan sebagainya sekaligus ke dalam satu format sehingga dapat memproses informasi untuk berbagai keperluan: pengolahan, pengiriman, penyimpanan, penyajian, sekaligus dalam satu perangkat. Dalam praktiknya, digitalisasi menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan dan ketidakefisienan pada penyiaran analog. Proses teknologi dilakukan untuk mendapatkan efisiensi dan optimalisasi dalam berbagai hal, termasuk dalam teknologi penyiaran. Efisiensi dan optimalisasi yang paling nyata dalam penyiaran diantaranya adalah kanal siaran dan infrastruktur penyiaran seperti menara pemancar, antena, dan saluran transmisi. Di sisi lain, karena format digital kaya akan transformasi data dalam waktu bersamaan, digitalisasi televisi dapat meningkatkan resolusi gambar dan suara yang lebih stabil sehingga kualitas penerimaan oleh pemirsa akan lebih baik. Dengan kata lain, teknologi penyiaran berbasis digital menjanjikan tampilan gambar lebih bersih dan suara yang lebih jernih. 21


Position Paper

Dalam konteks penyiaran radio, digitalisasi radio berarti menerapkan teknologi radio yang membawa informasi dalam sinyal digital dengan metode modulasi digital. Dalam hal ini, umumnya, disebut dengan teknologi penyiaran digital audio. Sistem penyiaran radio digital berjalan melalui multiplexing dan kompresi yang menggabungkan sejumlah audio/data stream ke dalam satu kanal penyiaran. Setiap stasiun radio menempati slot di multiplex dengan bit rate yang sama atau berbeda sesuai kebutuhan. Sama dengan televisi, teknologi penyiaran radio berbasis digital menjanjikan suara yang lebih jernih. Teknologi multiplexing ini sendiri memungkinkan dilakukannya pelebaran kanal frekuensi. Dalam sistem analog, satu kanal (frekuensi) hanya bisa diisi satu saluran program, sedangkan dalam sistem digital satu kanal (frekuensi) bisa diisi dengan lebih dari enam saluran program sekaligus. Bahkan, penyiaran digital bisa menyebabkan satu frekuensi yang digunakan oleh satu stasiun televisi saat ini dapat menawarkan 12 slot siaran (saluran program). Kondisi ini dimungkinkan karena dalam sistem digital frekuensi bisa dibuat lebih efisien, artinya bisa menyalurkan lebih banyak program. Berbeda dengan teknologi analog yang memungkinkan hanya satu slot siaran/program siaran melalui satu frekuensi. Gelombang radio memiliki kaitan erat dengan frekuensi karena salah satu penciri gelombang radio dikenal dengan istilah frekuensi. Jika dianalogikan, frekuensi memiliki harga atau nilai dari 0 sampai tak terhingga. Peralatan pemancar radio jika memancarkan sinyal akan menempati satu rentang frekuensi tertentu. Jika dikaitkan dengan istilah lebih teknis, maka frekuensi menempati sebuah rentang, masing-masing rentang ini secara teknis disebut dengan channel/kanal.

22


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

Selain peningkatan di sisi kuantitas program siaran yang dapat disalurkan dalam satu kanal frekuensi, teknologi penyiaran digital pun menawarkan keandalan lain. Kualitas penerimaan dalam sistem siaran digital akan jauh lebih baik dibandingkan penyiaran analog serta program siaran yang dapat disalurkanpun lebih bervariasi jenisnya. Tidak kalah pentingnya, teknologi penyiaran digital memungkinkan penggunaan menara pemancar bersama untuk menyalurkan semua program siaran pada suatu wilayah layanan sehingga akan tercapai suatu efisiensi infrastruktur yang sangat baik dan penerimaan siaran yang sampai di masyarakat pun akan merata. Televisi digital memudahkan, memanjakan penonton di rumah, stasiun televisi, dan production house, hingga pemerintah. Penonton dimanja dengan berbagai fasilitas yang belum pernah dinikmati sebelumnya. Fitur picture-in-picture (PIP) mempersingkat langkah pindah-pindah saluran. Telinga dan mata penonton juga dibuai kualitas suara dan gambar bersih dan tajam. Bahkan, jika infrastruktur lainnya sudah saling mendukung, menjelajahi Internet juga tidak usah repot-repot menyalakan komputer jika konvergensi Internet dan broadcast sudah sempurna. Untuk stasiun televisi sendiri, penghematan biaya operasional sehari-hari menjadi tujuan utama digitalisasi ini. Mata rantai produksi-distribusi-eksibisi bisa menjadi lebih singkat dan lebih murah. Keputusan pemerintah dengan berbagai argumentasi untuk mengadopsi teknologi penyiaran digital menggantikan teknologi televisi analog, secara logis, memang dapat dipahami. Namun, migrasi teknologi analog menuju digital tidak dapat dilaksanakan secara terburu-buru tanpa persiapan matang. Transisi ini dalam praktiknya sangat terkait dengan kesiapan infrastruktur dan aspek nonteknologis seperti kondisi sosial-ekonomi-literasi masyarakat, serta payung regulasi yang memadai sehingga semua 23


Position Paper

yang berkepentingan, baik pemerintah, perusahaan siaran baik yang beroperasi di Jakarta maupun lokal, penyiaran komunitas, dan terutama masyarakat pada umumnya agar tidak dirugikan. Dalam konteks ini, fokus utama yang sangat menentukan berhasil tidaknya digitalisasi penyiaran adalah proses migrasi dari analog menuju digital. Migrasi dalam proses digitalisasi penyiaran meliputi beberapa aspek, yakni (1) kebijakan simulcast dan switch off (atau alternatifnya: tidak harus total switch off), (2) mekanisme sosialisasi, (3) pengadaan set-top-box, (4) ketersediaan pusat layanan informasi, dan (5) kejelasan regulasi sebagai aturan main bila terjadi pelanggaran selama proses migrasi. Beberapa aspek migrasi tersebut diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, kebijakan simulcast dan switch off. Pelaksanaan migrasi analog ke digital umumnya dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap “simulcast” (siaran TV analog dan digital disiarkan bersama-sama) dan tahap ”switch off” (siaran TV analog dihentikan secara total). Tahap simulcast bertujuan mempersiapkan masyarakat agar secara bertahap menggunakan alat bantu penerima siaran TV digital (set-top box/STB) atau sekaligus menggunakan pesawat TV digital, dan kepada Lembaga Penyiaran untuk mengalihkan siarannya dari analog ke digital. Pada masa simulcast ini, siaran analog dan digital dapat diterima bersama-sama. Tahapan simulcast ini sangat menentukan, dan karenanya harus memperhatikan kecukupan waktu. Lama jangka waktu simulcast harus dibedakan antara daerah “ekonomi maju” dan daerah “ekonomi kurang maju” sehingga dapat ditinjau kembali sesuai kesiapan masyarakat dan penyelenggara. Jika pada akhirnya TV analog dapat dihentikan secara total, maka tidak menimbulkan kesenjangan baru. Bahkan, jika masyarakat belum sepenuhnya

24


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

siap, perlu dibuka kemungkinan lain, yakni tidak harus dilakukan total switch off pada televisi analog. Dengan demikian, perlu dikaji alternatif yang bisa dikembangkan selain semata-mata arah menuju total switch off. Tentunya, dengan melihat kondisi masyarakat di lapangan yang tersebar di seluruh wilayah dengan potensi literasi teknologi yang tidak seragam. Apabila pilihannya hanya dilakukan penghentian secara total siaran analog pada tahun tertentu, sebagaimana roadmap Kominfo yang mengharuskan total switch off tahun 2018, dikhawatirkan setelah �analog switch off� dan ternyata masih ada kelompok masyarakat di pedalaman yang tidak terjangkau digitalisasi, maka komunitas tersebut sama sekali tidak dapat menerima siaran televisi. Padahal, penyiaran adalah hak seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali dan telah diakui sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia yang harus dihormati oleh siapapun termasuk negara. Salah satu contoh negara yang tidak melakukan switch off secara total adalah Canada. Canada ternyata lebih fleksibel dalam merencanakan switch off dari analog ke digital. Negara tersebut tidak memberlakukan deadline bagi stasiun televisi yang menggunakan pemancar analog bertenaga rendah (low power analog transmitter) dan juga stasiun televisi di luar 28 stasiun yang dimandatkan oleh the Canadian Radio-television and Telecommunications Commission (CRTC). Deadline switch off bagi 28 stasiun yang dimandatkan adalah 31 Agustus 2011. Dua puluh delapan stasiun yang dimandatkan untuk segera beralih ke penyiaran digital adalah stasiun yang bersiaran di wilayah ibu kota negara dan ibu kota provinsi, stasiun yang target pasarnya dilayani oleh berbagai stasiun, serta stasiun memiliki pasar dengan populasi di atas 300.000.9 9

http://www.crtc.gc.ca/eng/archive/2009/2009-406.htm

25


Position Paper

Dalam proses transisi dari analog ke digital, pemerintah Canada memiliki kebijakan yang berbeda dengan pemerintah Amerika Serikat. Jika di Amerika Serikat, pemerintah mendorong percepatan switch off dengan memberikan bantuan kepada broadcaster untuk pengadaan peralatan digital, memberikan subsidi bagi penduduk untuk pengadaan converter box, dan juga melakukan kampanye digitalisasi dan memberikan informasi kepada publik tentang rencana switch off, maka, di Canada, pemerintah sebatas membangun web portal (bernama: Canada’s Transition to Digital Television (DTV)) untuk memberikan informasi kepada publik dan menayangkan iklan tentang televisi digital di sejumlah media massa. Di negara ini, pengadopsian teknologi digital lebih bersifat sukarela. Ini karena sebagian besar broadcaster masih memandang bahwa transisi ke digital berbiaya tinggi dan belum melihat dengan jelas sisi keuntungannya. Kedua, sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi mengenai rencana digitaliasi penyiaran dan penghentian siaran TV analog harus terus menerus dilakukan hingga masyarakat benar-benar siap, sampai masa cut off siaran TV analog. Digitalisasi adalah proses migrasi yang tidak hanya melibatkan teknologi, melainkan perubahan cara berpikir (mindset) terhadap berbagai aspek yang lahir dari teknologi tersebut, maka sosialisasi perlu dilakukan secara intensif melalui publikasi dan publisitas di berbagai media, iklan layanan masyarakat, penyuluhan ke sekolah-sekolah, dealerdealer/toko-toko pesawat penerima TV, dan berbagai saluran yang memungkinkan. Dengan cara sosialisasi yang intensif, diharapkan masyarakat dapat memahami digitalisasi penyiaran, langkahlangkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menerima/menikmati siaran TV digital, dan juga memahami bahwa dalam jangka waktu tertentu, siaran TV Analog akan dihentikan atau menjadi sebuah 26


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

pilihan jika akhirnya Canada yang dijadikan alternatif pilihan. Pusat-pusat bantuan masyarakat atau �call center� dengan nomor yang jelas dan mudah dihubungi perlu disediakan oleh semua stakeholder: pemerintah, industri penyiaran, industri STB dan dealer-nya. Tujuannya tak lain agar migrasi dapat berjalan secara adil dengan kerugian seminimal mungkin bagi masyarakat dan industri. Pusat bantuan pemirsa perlu disiapkan dengan tujuan memberikan pelayanan dan bantuan secara aktif kepada masyarakat yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal teknis yang berkaitan dengan sistem penyiaran digital.



Ketiga, kebijakan teknologi. Dalam pelaksanaan siaran digital, diperlukan teknologi bernama Set Top Box, yakni sebuah perangkat tambahan berupa rangkaian konverter untuk menerima sinyal digital yang dipancarkan oleh sistem DVB-T2 (sistem terbaru yang diadopsi pemerintah) yang kemudian diubah ke dalam sinyal analog agar dapat ditampilkan pada monitor TV analog. Gambar 1. Arsitektur Siaran televisi Digital

 Gambar1. ArsitekturSiaranTelevisiDigital SumberGambar:HarianBisnisIndonesia.Kamis,10Mei2012

27


Position Paper

Selama masa transisi, masyarakat dapat menikmati siaran televisi digital dengan alat bantu penerima yang dihubungkan ke pesawat penerima TV analog yang telah dimiliki. Konsekuensinya, masyarakat yang menggunakan televisi analog seperti sekarang, mau tidak mau harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli set top box atau membeli televisi digital. Padahal, digitalisasi ini di satu sisi bukan kemauan masyarakat sehingga perlu dipikirkan mekanisme untuk membantu masyarakat sehingga tidak membebani, bahkan menghambat program digitalisasi. Dalam kaitan ini, pemerintah perlu membantu masyarakat yang tidak mampu membeli perangkat televisi digital dengan mengupayakan insentif harga untuk set top box. Ketimpangan sosial-ekonomi yang tinggi di Indonesia perlu dicermati sebelum menyongsong era digitalisasi penyiaran. Dalam konteks Indonesia, ketimpangan sebenarnya tidak hanya terjadi dalam masyarakat sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, tapi juga terjadi antardaerah. Oleh karena itu, regulator perlu mencontoh negara lain dalam proses migrasi ini. Misalnya, langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat yang bersedia mendanai perangkat set top box bagi masyarakat yang tidak mampu. Pemerintah perlu mendorong penyediaan STB dan alat penerimaan lain dengan harga terjangkau dan mudah diperoleh. Pemerintah akan melakukan tindakan penanggulangan terhadap keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi sehingga tidak bisa mendapatkan akses ke televisi digital. Dengan kata lain, perlu dipikirkan mekanisme subsidi kepada masyarakat. Dari segi infrastruktur, digitalisasi penyiaran membutuhkan berbagai persiapan seperti peralatan teknis dan program siaran yang sesuai dengan kondisi Bangsa Indonesia. Hadirnya teknologi baru ini jangan sampai hanya menjadi “karpet merah� bagi 28


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

pemodal asing yang memiliki kapasitas modal dan teknologi lebih unggul. Digitalisasi ini hendaknya menjadi momentum untuk membangkitkan dan menata teknologi nasional. Industri dalam negeri seharusnya dikondisikan untuk siap untuk mendukung migrasi sistem penyiaran dari sistem analog ke sistem digital. Pemerintah harus mendorong agar industri dalam negeri dapat memproduksi STB standar dengan harga terjangkau oleh masyarakat. Industri dalam negeri saat ini sesungguhnya telah mampu mendesain, merekayasa, dan memproduksi STB dengan harga terjangkau. Industri dalam negeri juga telah mampu memproduksi konten. Dengan migrasi analog ke digital, diharapkan kualitas dan kuantitas konten yang dihasilkan dapat terus ditingkatkan dan tidak menutup kemungkinan dipasarkan ke luar negeri. Selain hardware, Industri dalam negeri harus mampu membuat perangkat lunak aplikasi layanan (software) yang diperlukan untuk membangun sistem penyiaran digital. Di sinilah, perlu kebijakan teknologi karena pertimbangan bahwa teknologi memiliki posisi strategis dan membawa nilai-nilai tertentu. Arah kebijakan teknologi adalah untuk mengantisipasi teknologi dan tuntutan global yang sesuai standardisasi yang ditetapkan oleh standard nasional/ internasional, dan mendorong pertumbuhan produksi perangkat infrastruktur penyiaran buatan dalam negeri. Dengan kebijakan teknologi yang berpihak pada industri nasional, digitalisasi tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai sekedar pasar. Oleh karena itu, sebelum digitalisasi benar-benar dikerjakan, akan jauh lebih baik jika pemerintah terlebih dahulu mempersiapkan industri dalam negeri yang akan men-support perangkat keras (hardware) digitalisasi penyiaran. Ini, sekali lagi, perlu persiapan matang, tidak terkesan dipaksakan dan terburu-buru seperti sekarang. 29


Position Paper

4. Lembaga Penyiaran Publik dan Komunitas Bagian Penting Demokrasi Lembaga penyiaran publik dan komunitas merupakan elemen penting dalam sistem demokrasi. Oleh karenanya, keduanya harus diberi jaminan keberlangsungan hidupnya jika digitalisasi penyiaran hendak dilakukan. Jaminan atas keberadaan dan keberlangsung kedua lembaga penyiaran ini penting bukan hanya karena merupakan bagian dari hak warga negara untuk berkomunikasi dalam konteks lembaga penyiaran komunitas, tapi yang lebih penting bahwa keberadaan kedua lembaga ini merupakan penyeimbang lembaga penyiaran swasta yang sangat komersial. Ketiganya mempunyai imperatif yang berbeda, dan jika tidak mendapatkan ruang yang memadai akan berbahaya bagi demokrasi. Berlipatnya kanal hanya akan menciptakan budaya pasar yang lebih luas jika sebagian besar kanal yang ada diperuntukkan kepada lembaga penyiaran swasta dengan sedikit memberi ruang kepada lembaga penyiaran publik dan komunitas. a. Lembaga Penyiaran Publik Harus Didukung Negara Di negara-negara demokrasi modern, terutama negara-negara kesejahteraan rakyat (welfare state), lembaga penyiaran publik diberi peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka diberi dana yang cukup guna memberikan layanan informasi dan hiburan yang berkualitas kepada warga negara, tanpa berpretensi digunakan untuk kelangsungan rezim sebagaimana terjadi pada Orde Baru (lihat, Kitley, 2001). Pemberian dukungan dan peran besar kepada lembaga penyiaran publik itu didasari argumentasi bahwa lembaga penyiaran publik mempunyai paradigma, visi dan misi yang sangat berbeda dibandingkan 30


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

lembaga penyiaran swasta. Setidaknya, ada enam fungsi lembaga penyiaran publik, yang salah satu diantaranya adalah menjaga identitas nasional, memberi ruang publik yang memadai kepada kelompok-kelompok minoritas yang tidak dilayani dengan baik oleh lembaga penyiaran swasta, dan sebagainya.10 Dalam visi dan paradigma semacam itu, lembaga penyiaran publik terutama dalam konteks Indonesia sangat diharapkan bisa menjadi penyeimbang bagi lembaga penyiaran swasta yang sangat komersial. Berdasarkan World Radio and Television Council pada 2002, telah dirumuskan prinsip-prinsip utama PSB, yaitu lembaga ini bukan lembaga komersial dan juga bukan lembaga yang dikontrol oleh pemerintah. Alasan utama kehadirannya (raison d’etre) adalah melayani publik; berbicara kepada setiap warga negara; menawarkan dan merangsang akses dan partisipasi dalam kehidupan publik; membangun dan memajukan pengetahuan; memperluas cakrawala berpikir; serta memberdayakan masyarakat untuk bisa mengerti dirinya dengan lebih mengerti tentang dunia dan kehidupan sekitarnya (Banerjee dan Seneviratne, 2006).11 Berbagai studi yang pernah dilakukan12 menunjukkan bahwa lembaga penyiaran swasta banyak sekali melakukan pelanggaran terhadap Pedoman Penyelenggaraan Penyiaran dan Standart Program Siaran (P3SPS), misalnya, tayangan kurang mendidik, eksploitasi kekerasan dan seksualitas, berita-berita sensasional dan penuh prasangka, dan bahkan 10 11 12

Effendi Gazali, 2002. Penyiaran Alternatif tapi Mutlak: Sebuah Acuan tentang Penyiaran Publik dan Komunitas. Jakarta: Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Dikutip dari Siregar, “Mencari‌â€?, Op.Cit Kajian terbaru mengenai dominasi televisi swasta Jakarta dapat dibaca dalam studi yang dilakukan oleh Puji Rianto dkk. Dalam studi itu, dipetakan berbagai persoalan mengenai dominasi televisi swasta Jakarta yang melakukan siaran nasional. Puji Rianto dkk, 2012. Dominasi TV Swasta (Nasional): Tergerusnya Keberagaman Isi dan Kepemilikan, Yogyakarta: PR2Media dan Yayasan Tifa

31


Position Paper

program-program siaran yang melecehkan kaum disable. Oleh karenanya, keberadaan lembaga penyiaran publik harus mendapatkan dukungan yang memadai dari negara dalam bentuk regulasi terutama sebagai penyeimbang lembaga penyiaran swasta komersial. Dukungan itu bisa diwujudkan minimal dalam dua hal. Pertama, alokasi kanal yang proporsional. Idealnya, lembaga penyiaran publik mendapatkan alokasi kanal setidak-tidaknya 30% -40% dari keseluruhan alokasi kanal yang tersedia. Jika dalam satu zona terdiri dari 6 kanal, maka TVRI mendapatkan setidaknya dua kanal (tepatnya 2,4 ). Dengan demikian, ruang publik Indonesia di masing-masing zona tidak akan didominasi oleh siaran swasta yang sangat komersial. Besaran alokasi kanal untuk lembaga penyiaran publik TVRI ini sepertinya tidak adil bagi lembaga penyiaran swasta karena faktanya mereka lebih banyak. Saat ini, data yang teridentifikasi ada sekitar 2000 pemohon ijin siaran swasta. Suatu jumlah yang sangat besar sehingga seharusnya mendapatkan alokasi kanal yang jauh lebih besar. Namun, persoalannya bukan sekedar pada kuantitas, tapi menyangkut soal-soal yang lebih bersifat ideologis-paradigmatis. Ruang publik tidak boleh didominasi oleh pasar karena akan mendistorsi demokrasi dan memberi peluang lebih besar bagi terciptanya budaya pasar-kosumtif. Alasan yang selama ini muncul jika TVRI diberi alokasi frekuensi lebih banyak bahwa TVRI tidak siap untuk mengisi saluran tersebut tidaklah tepat. Sebagai contoh, ketika dilakukan uji coba siaran digital, TVRI menggunakan DVB-T/MPEG2 yang bisa 6 SDTV saja, TVRI hanya mampu mengisi 4 kanal, yakni kanal 1 untuk siaran nasional, 32


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

kanal 2 untuk siaran DKI, kanal 3 untuk siaran budaya dan kanal 4 untuk olah raga. Sementara lay out dan look-nya masih belum diolah karena belum ada anggaran. Belum ada fresh menu, dan masih re-run (siaran ulang) dari paket-paket nasional dan daerah. Dengan kondisi semacam itu, banyak pihak dan bahkan pemerintah menganggap jika TVRI tidak akan mampu mengisi keseluruhan kanal yang disediakan. Jika TVRI diberi banyak dan tidak terisi, maka kanal yang tersedia mubadzir sehingga akan jauh lebih baik diberikan ke pihak swasta. Dalam pandangan sementara orang, tv swasta lebih profesional (lihat Batubara, 2012). Namun, sekali lagi, alokasi kanal tidak sekedar terisi ataukah tidak, tapi menyangkut aspek ideologis-paradigmatis. Ia mencakup pula strategi komunikasi dan kebudayaan. Oleh karena itu, jauh lebih baik frekuensi yang dialokasikan untuk TVRI untuk sementara kosong hingga TVRI mampu mengisi keseluruhan slot kanal yang disediakan untuknya dibandingkan dengan menyerahkan ke swasta komersial karena, sekali lagi, peluang distorsi ruang publik demokratis akan jauh lebih besar. Pun dengan terciptanya budaya pasar komersial yang sangat merugikan kebudayaan. Di sisi lain, jika TVRI sebagai lembaga penyiaran publik hendak ditempatkan sebagai satusatunya media ‘perekat’ kesatuan dan budaya bangsa, maka alokasi ideal minimal bisa dihitung sebanyak 33 saluran kanal. Dengan asumsi, satu provinsi disediakan satu saluran stasiun TVRI lokal. TVRI lokal ini kemudian membuat program siaran yang sifatnya lokal. Jika ini bisa disiarkan secara nasional, maka masing-masing warga negara akan bisa mengenal dan belajar dari entitas budaya daerah lain. Komunikasi antarbudaya akan terbentuk dan integrasi sosial 33


Position Paper

akan mudah dicapai. Sebaliknya, jika siaran swasta nasional yang lebih dominan maka bukan proses belajar antarbudaya bangsa yang akan terbentuk, tapi sekedar peneguhan atas stereotipe daerah yang selama ini terbentuk. Misalnya, orang-orang Makassar dianggap sebagai orang-orang dengan tingkat kekerasan tinggi karena banyaknya demontrasi yang diliput di kota itu dibandingkan dengan dinamika lainnya. Di luar itu, siaran swasta yang sangat bias Jakarta itu mereproduksi wacana poskolonial yang melihat budaya lokal sebagai primitif dan terbelakang.13 Selain siaran-siaran TVRI lokal, adalah penting untuk menyediakan kanal siaran tambahan yang diorientasikan untuk general segmented, misalnya, saluran pendidikan, anak-anak, dokumenter, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Saluran-aluran ini penting sebagai ruang pendidikan masyarakat demi meraih apa yang sering diungkapkan sebagai ‘pencerahan’, yang mencakup pencerahan pengetahuan dan akal budi. Di luar itu, dalam rangka mendorong sistem penyiaran yang sehat, alokasi kanal frekuensi yang 40% itu sebagian bisa diserahkan ke swasta, tapi yang berorientasi layanan publik (public service broadcasting). Lembaga penyiaran swasta ini bisa mengisi saluran kanal yang diperuntukkan untuk TVRI tersebut jika programnya berisi pendidikan, film dokumenter, perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, dan sebagainya. Dengan demikian, antara lembaga penyiaran swasta dengan lembaga penyiaran publik dan atau lembaga penyiaran pelayanan publik akan berada dalam kisaran yang kurang lebih berimbang. 13

34

Lihat, misalya, tulisan Puji Rianto, 2011. “Membaca Realitas Media dalam Perspektif Poskolonial: Yang Modern dan yang Primitif�. Jurnal IPTEK-KOM, Volume 13, No. 2, Desember 2011


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

Kedua, dukungan dana dari negara. Ada tiga hal yang akan dihadapi TVRI jika mereka akan migrasi ke digital, yakni dana, infrastruktur dan sumber daya manusia. Alokasi dana menjadi bagian krusial bagi TVRI karena untuk memenuhi permintaan siaran digital dibutuhkan dana yang besar. Oleh karena itu, dukungan kedua yang bisa diberikan negara melalui regulasi adalah dana. Saat ini, alokasi anggaran yang diberikan oleh negara kepada TVRI sekitar Rp. 625 milyar per tahuan (2011). Kebutuhan ideal tentu jauh lebih besar dari itu. Jika negara ingin membangun sistem penyiaran demokratis, dan menjadikan komunikasi sebagai bagian dari strategi kebudayaan maka dukungan dana sebesar itu harus disediakan oleh negara agar TVRI mampu memproduksi program siaran yang bagus. Program-program siaran sekelas BBC atau Geografic Channel bisa sangat mungkin dikerjakan jika ada dukungan dana. Ketiga, sumber daya manusia. Jika alokasi kanal dan dana sudah tersedia, maka pekerjaan berikutnya adalah sumber daya manusia. Direktur Teknik TVRI di Harian Investor Daily (5 Juli 2012) mengemukakan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi TVRI dalam kerangka digitalisasi adalah kemampuan sumber daya manusia. Perekrutan pegawai TVRI, yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, tidak jarang menghasilkan kualifikasi sumber daya manusia yang berbeda. Sebagai contoh, rekruitmen SDM TVRI yang dilakukan Kemenkominfo sebagian besar berlatar belakang pendidikan sosial dan hukum. Padahal, kebutuhan riil saat ini yang relatif banyak adalah teknisi, terlebih ketika TVRI masuk ke penyiaran digital. Kebutuhan

35


Position Paper

sarjana-sarjana teknik lebih besar.14 Untuk itu, independensi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik jelas diperlukan sehingga kiranya benar jika ada yang mengatakan bahwa TVRI atau lebih tepatnya lembaga siaran publik dibuatkan undang-undang tersendiri.15 Dengan begitu, independensi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik bisa lebih dijaga. Independensi akan berujung pada otonomi sehingga persoalan-persoalan sumber daya manusia sebagaimana dihadapi sekarang tidak akan terjadi. Selain tentu saja, TVRI bisa men-setting insentif sumber daya manusia yang disesuaikan dengan bidang kerja profesionalnya. Jika ketiga prasyarat ini dipenuhi, maka tidak menutup kemungkinan jika kualitas siaran TVRI akan sederajat dengan lembagalembaga siaran publik dunia yang sudah lebih dulu maju seperti British Broadcasting Company (BBC) Inggris dan Nippon Hoso Kyokai (NHK) Jepang ataupun program siaran sekelas National Geografic Channel.

b. Jaminan Lembaga Penyiaran Komunitas Tetap Hidup dan Berkembang Kodrat teknologi digital sebagaimana sering dikemukakan adalah efisiensi dalam penggunaan frekuensi. Jika dalam siaran analog satu frekuensi untuk satu siaran televisi, maka dengan digital satu frekuensi bisa digunakan jauh lebih banyak. Sekarang ini, satu kanal frekuensi dengan teknologi yang baru bisa untuk 12 saluran siaran. Kenyataan ini juga berimbas bagi lembaga penyiaran komunitas. Logikanya, lembaga penyiaran komunitas akan mendapatkan

14 15

36

Seperti dikemukakan oleh Direktur Teknik Eryna Tobing di Harian Investor Daily, “Migrasi ke Digital, TVRI Kesulitan Dana dan SDM�, 5 Juli 2012 Lihat pernyataan Paulus Widianto di Bisnis Indonesia, 5 Juli 2012, “TVRI Siapkan Migrasi Digital: Model Bisnis jadi Faktor yang Perlu Dibahas�.


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

peluang lebih banyak kanal untuk digunakan sebagai siaran. Dengan demikian, akan lebih banyak lembaga penyiaran komunitas bisa dibangun. Di sisi lain, melalui digitalisasi, jangkauan atau coverage televisi komunitas akan semakin luas karena mengikuti pembagian zona. PP No. 50 yang membatasi jangkauan lembaga penyiaran komunitas sejauh 2,5 km atau yang power-nya hanya 50 watt menjadi tidak lagi relevan. Dalam konteks ini, memang perlu pendifinisian kembali mengenai media komunitas. Lembaga penyiaran komunitas tidak bisa lagi didefinisikan dalam batas-batas geografis, tapi lebih luas dari itu. Barangkali, definisi yang baru itu akan lebih pas jika lebih menekankan pada minatminat yang sama dibandingkan penekanan yang lebih besar pada batas-batas geografis. Sejalan dengan peluang-peluang tersebut, digitalisasi penyiaran ternyata juga mengancam keberadaan lembaga penyiaran komunitas. Pertama, dalam perspektif paling ekstrem, jika digitalisasi penyiaran benar-benar berlaku secara total maka akan menghilangkan lembaga penyiaran komunitas karena batasan teritorial dan daya jangkau sudah tidak relevan kecuali ada pendefinisian kembali. Dengan kata lain, digitalisasi penyiaran akan men-delete televisi komunitas. Kedua, televisi komunitas akan menghadapi kendala dana dan teknologi. Selama ini, media komunitas menggunakan siaran dan teknologi analog. Ketika dipaksa migrasi ke digital, maka mereka akan menghadapi persoalan pengadaan teknologi penyiaran digital. Di luar itu, mereka harus menyediakan dana untuk membayar sewa kepada penyelenggara multipleks atau network provider. Dana, dengan demikian, akan menjadi persoalan serius bagi lembaga 37


Position Paper

penyiaran komunitas. Terlebih, jika biaya sewa tersebut disamakan dengan biaya sewa lembaga penyiaran swasta. Padahal, bagi lembaga penyiaran swasta lokal yang profit oriented pun, biaya sewa ini masih menghadapi persoalan jika jumlahnya terlampau besar. Dalam sistem siaran analog berdasarkan undangundang N0. 32 tahun 2002, berbagai studi menunjukkan bahwa lembaga penyiaran komunitas mempunyai kontribusi besar bagi demokratisasi di tingkat lokal. Studi yang dilakukan (Eni Maryani, 2011) bahkan menunjukkan bagaimana media komunitas mampu mendorong terjadinya transformasi sosial. Oleh karena itu, digitalisasi penyiaran seharusnya justru membuka ruang bagi keberadaan dan perkembangan lembaga penyiaran komunitas. Dari perspektif demokrasi, keberadaan lembaga penyiaran komunitas atau tv komunitas mestinya juga dijamin sebagai bagian dari hak komunikasi warga negara dan demi menjamin keberagaman. Untuk itu, beberapa hal pokok mestinya dilakukan untuk lebih memperkuat keberadaan lembaga penyiaran komunitas ini. Pertama, undang-undang harus menjamin alokasi kanal untuk lembaga penyiaran komunitas. Misalnya, setiap penyelenggara multipleksing harus menyediakan setidaknya satu saluran siaran untuk lembaga penyiaran komunitas secara gratis, yang bisa dianggap sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan demikian, dalam setiap zona, akan ada kurang lebih 6 saluran penyiaran komunitas. Alternatif kedua, lembaga penyelenggara penyiaran multipleksing tetap harus menyediakan satu alokasi saluran siaran untuk lembaga penyiaran komunitas, tapi biaya sewa dibebankan kepada lembaga penyiaran komersial yang dilayani oleh lembaga 38


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

penyelenggara multipleksing tersebut kecuali penyelenggara multipleksing lembaga penyiaran publik TVRI. Ketiga, keseluruhan lembaga penyiaran komunitas ditampung dalam lembaga penyelenggara multipleksing lembaga siaran publik secara gratis. Dengan demikian, keseluruhan biaya atas sewa multipleksing menjadi tanggungan negara secara tidak langsung. Keempat, televisi komunitas tetap dibiarkan analog. Dengan demikian, sistem siaran digital menjadi sebuah pilihan. Bagi masyarakat, yang menghendaki digital maka bisa memilih siaran digital, sedangkan yang tetap menghendaki analog juga diberikan tempat. Dengan cara demikian, lembaga penyiaran komunitas akan tetap hidup dan tidak dimatikan oleh proyek digitalisasi.

5. Lembaga Penyiaran Swasta: Punya Hak Hidup, tapi Harus Dibatasi Di luar lembaga penyiaran publik, yang tidak kalah pentingnya adalah lembaga penyiaran swasta. Lembaga penyiaran swasta ini mempunyai kontribusi yang tidak sedikit dalam melayani sistem politik dan ekonomi. Namun, oleh karena sifatnya yang profit oriented dan karena frekuensi adalah milik publik maka keberadaan lembaga penyiaran swasta ini harus dibatasi. Di Amerika Serikat, misalnya, dalam rangka menjamin diversity, luas jangkauan penyiaran swasta di negara tersebut dibatasi. Berdasarkan Telecommunication Act 1996, seseorang atau suatu badan hukum dapat memiliki stasiun televisi sebanyak-banyaknya asalkan jangkauannya tidak melebihi 35% dari nation’s tv homes atau tv’s household. Angka ini kemudian diamandemen menjadi 39% sebagai bentuk kompromi. Setelah tahun 2003, FCC mengajukan batasan 39


Position Paper

menjadi 45%. Namun, lewat perdebatan panjang, termasuk melalui federal appeals court, FCC diminta menahan dan memperbaikinya. Akhirnya, pada bulan Januari 2004, kongres memutuskan batasnya 39%.16 Di Australia, model pembatasannya berbeda. Di negara ini, seseorang tidak boleh mengontrol atau menguasai melalui kombinasi izin televisi yang menjangkau lebih dari 75% penduduk. Kemudian, tidak boleh lebih dari satu izin di satu daerah. Oleh karena itu, di Australia, hampir tidak ada lembaga siaran swasta yang mampu menjangkau lebih dari 75% penduduk. The Seven Network (Seven Network Ltd) yang merupakan lembaga penyiaran terbesar di Australia memiliki 6 izin dan menjangkau 73% penduduk, sedangkan The Nine Network (PBL) memiliki 4 izin dan menjangkau 52%. Australia menetapkan batas maksimal 75% tentu karena tingkat kepadatan penduduk di negara itu tidak begitu tinggi. Fenomena di Amerika Serikat dan Australia tentu berbeda di Indonesia. Di Indonesia, meskipun undang-undang penyiaran membatasi lembaga penyiaran, tapi dalam praktiknya tidak demikian. Satu badan hukum di Indonesia bisa menguasai lebih dari satu lembaga siaran swasta. Sementara daya jangkauanya, tidak dibatasi sama sekali. Akibatnya, satu lembaga siaran atau badan hukum bisa menjangkau sangat besar penduduk sehingga mempengaruhi proses pembentukan opini publik. Oleh karena itu, di era digitalisasi penyiaran nanti, lembaga penyiaran swasta harus dibatasi.

16

40

Amir Effendi Siregar, “Menegakkan Demokratisasi Penyiaran: Mencegah Konsentrasi: Membangun Keanekaragaman�, Makalah Disampaikam Sebagai Ahli dalam Sidang Mahkamah Konstitusi Pada Perkara No. 78/PUU-IX/2011, hal. 11


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

6. Regulator Terbaik Independen

adalah

Lembaga

Negara

Dalam mengatur dunia penyiaran tak terkecuali penyiaran digital, pertanyaannya adalah institusi seperti apa yang pantas, kompeten dan terjamin independensinya untuk menjadi regulator frekuensi siaran, baik analog maupun digital? Untuk itu, studi empirik di berbagai negara perlu dilakukan. Di Amerika Serikat yang tergolong tua sejarah penyiaran dan regulasinya, meski beberapa kali terjadi pergantian UU, lembaga yang berwenang disebut Federal Communication Commisssion (FCC). FCC dibentuk 11 Juni 1934, tugas FCC diuraikan berikut: to classifiy stations and prescribe services, assign frequencies and power, approve aquipment and mandate standards for level of interference, make regulations for stations with network affiliations, prescribe qualifications for station owners and operators, etc. Di Australia, terdapat The Australian Communications and Media Authority (ACMA), sebuah otoritas yang dibentuk oleh undang-undang. ACMA berdiri pada 1 Juli 2005 melalui merger antara Australian Broadcasting Authority dan Australian Communications Authority.17 ACMA bekerja berdasarkan Broadcasting Service Act 1992 yang sudah diamendemen berkalikali. Itu sebabnya, menurut Siregar, peraturan perundang-undangan penyiaran di Australia sangat terperinci. ACMA, dengan 659 pekerja, bertanggung jawab atas regulasi broadcasting, Internet, radiocommunication, dan telecommunication. ACMA dipimpin oleh sebuah otoritas yang terdiri atas chair, deputy chair, seorang full-time member, empat orang part-time member, dan seorang part-time associate member. Keseharian ACMA dijalankan oleh sebuah tim eksekutif yang terdiri atas chairman, deputy chair, 17

Lihat tulisan Amir Effendi Siregar, “Regulator Penyiaran�, Koran Tempo, 2 April 2012

41


Position Paper

the full-time member, enam general manager, dan 15 executive manager. ACMA merencanakan penggunaan kanal dan saluran yang akan dipergunakan radio dan televisi, mengeluarkan dan memperpanjang izin, meregulasi isi dan mengatur kepemilikan, serta mengawasi pelaksanaan peraturan dalam industri penyiaran (ACMA, 2012).18 Di Kanada, penyiaran diatur oleh UU (Broadcasting Act) tahun 1991 yang menciptakan badan regulator mandiri bernama The Canadian Radio-Television and Telecommunication Commission (Komisi Radio, Televisi dan Telekomunikasi Kanada). Di Kanada, tata kelola penyiaran tercantum dalam UU tentang komisi telekomunikasi, radio dan televisi Kanada atau (CRTC Act). UU ini bersama dengan UU penyiaran mengatur keberadaan CRTC yang dibentuk parlemen sejak tahun 1968. CRTC mengatur dan mensupervisi semua aspek yang berkait sistem penyiaran di Kanada. CRTC badan independen yang aktif bekerja melalui pembuatan aturan main, penelitian dan dengar pendapat formal dan informal, mengatur keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial dan budaya dalam penyiaran. Memperhatikan beberapa pengalaman negara demokrasi di atas, Indonesia sebagai negara yang telah berkomitmen membangun dunia penyiaran yang demokratis, harus memegang teguh prinsip frekuensi sebagai benda publik dan membentuk atau memperkuat regulator independen yang telah ada (misalnya, Komisi Penyiaran Indonesia yang diatur UU 32/2002 tentang Penyiaran) untuk mengatur alokasi dan dsitribusi frekuensi digital. Perubahan UU 32/2002 yang kini sedang dilakukan DPR mutlak memenuhi tuntutan ini jika Indonesia tidak ingin melangkah mundur. Belajar dari kasus lelang terbatas frekuensi multiplexing pertengahan tahun 18

42

Dikutip dari Siregar, “Regulator‌â€?, Op.Cit.


Digitalisasi Penyiaran Harus Berpihak pada Kepentingan Publik

2012, tampak jelas Kementerian Kominfo tidak independen dan tidak kompeten selaku regulator.

7. Model Bisnis Televisi Digital Ada dua model bisnis siaran digital yang harus mendapatkan perhatian demi mengembangkan sistem penyiaran digital yang demokratis, baik secara ekonomi maupun politik. Pertama, model bisnis lembaga penyiaran publik dan komunitas. Kedua, model bisnis lembaga penyiaran swasta. Untuk lembaga penyiaran publik, TVRI menjadi multiplekser yang menyediakan frekuensi untuk televisi komunitas dan televisi pendidikan yang lebih berorientasi kepada publik.19 Di sisi lain, TVRI juga harus diberi kesempatan dan menjadi satu-satunya lembaga siaran yang diperkenankan siaran nasional. Iklan komersial bisa saja menjadi sumber pemasukan, tapi harus menempati porsi yang kecil saja dan iklan tersebut tidak bertentangan dengan misi lembaga penyiaran tersebut. Model bisnis kedua adalah lembaga penyiaran swasta. Untuk lembaga penyiaran swasta, perlu dibedakan antara penyelenggara multipleksing dan penyelenggara penyiaran demi menghindari conflict of interest dan kecenderungan monopoli. Bagaimanapun frekuensi adalah ranah publik dan karenanya tidak bisa dimiliki oleh perorangan atau badan hukum. Oleh karena itu, regulasi harus menjamin seluruh pihak untuk mendapat akses terhadap frekuensi tersebut. Selama implementasi siaran analog, frekuensi dikuasai oleh lembaga siaran Jakarta yang tergabung dalam ATVSI. Penguasaan tersebut terjadi dalam skala nasional sehingga menghalangi atau bahkan mematikan lembaga penyiaran swsta lokal. Akibatnya, terjadi dominasi dan penguasaan frekuensi pemilik tv Jakarta terhadap 19

Arif Wibawa, Subhan Afifi, dan Agung Prabowo, 2010. “Model Bisnis Penyiaran Digital di Indonesia, Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 8, Nomor 2, Mei-Agustus 2010, hal 129

43


Position Paper

frekuensi lokal yang sangat bertentangan dengan undang-undang otonomi daerah. Padahal, demokratisasi lokal hanya mungkin terbangun dengan baik jika di tingkatan lokal juga tumbuh media lokal dengan content lokal pula (Rianto, 2006). Dengan demikian, kualitas demokrasi akan semakin baik. Dominasi televisi Jakarta yang tergabung dalam ATVSI yang telah menggerogoti kualitas demokrasi ini melalui dominasi siaran komersial yang sangat Jakarta minded. Agar hal ini tidak terjadi, maka perlu pemisahan antara lembaga penyiaran multipleks dengan penyelenggara siaran. Konsorsium barangkali juga perlu dipertimbangkan sebagai model bisnis terbaik sehingga monopoli bisa dicegah. Dalam memberikan ijin siaran bagi penyelenggara siaran di setiap wilayah layanan haruslah diperhitungkan daya dukung ekonomi di wilayah tersebut untuk mengatur sumber daya iklan yang mungkin dapat diperoleh oleh stasiun televisi di daerah tersebut. Pemain lokal tentunya lebih diutamakan. Kemudian, untuk mencegah dominasi pada segelintir orang atau badan, kepemilikan untuk setiap daerah layanan harus dibatasi. Demi mendorong demokratisasi politik dan ekonomi lebih jauh, setiap badan hukum dalam satu zona layanan hanya diperkenankan menyelenggarakan satu ijin siaran. Beroperasinya di tingkatan nasional juga dibatasi dengan mempertimbangkan komposisi daerah maju dan kurang berkembang. Pembatasan itu bisa dilakukan berdasarkan daya jangkau masyarakat yang mempunyai akses televisi maupun populasi.

44


Penutup

Dari keseluruhan uraian mengenai digitalisasi penyiaran dan berbagai studi praktik-praktik digitalisasi penyiaran di luar negeri, beberapa hal pokok perlu diperhatikan dalam digitalisasi penyiaran di Indonesia. Beberapa hal pokok itu seyogianya menjadi bahan pertimbangan dan mesti ada dalam regulasi penyiaran digital, diantaranya sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya adalah sebagai berikut. Pertama, frekuensi adalah milik publik sehingga pengaturannya dan penggunaannya harus mempertimbangkan kepentingan dan hak publik. Kedua, berkait dengan yang pertama, prasyarat transfer teknologi digital di tingkatan masyarakat harus dijamin dalam undang-undang. Digitalisasi akan menciptakan keberlimpahan informasi dan memungkinkan terjadinya digital divide jika kesenjangan ekonomi yang saat ini ada tidak diselesaikan. Ketiga, migrasi harus dipersiapkan dengan baik dan memberikan peluang bagi adanya berbagai alternatif dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Oleh karenanya, perlu persiapan yang lebih hati-hati agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar dunia di era digitalisasi televisi nanti. Keempat, jaminan lembaga penyiaran publik dan komunitas melalui alokasi frekuensi yang memadai dan dukungan dana. Ini penting dilakukan agar digitalisasi justru membunuh atau menenggelamkan lembaga penyiaran publik dan komunitas.


Position Paper

Kelima, regulator terbaik adalah lembaga independen. Keenam, model bisnis penyiaran digital harus menjamin demokratisasi ekonomi dan politik. Beberapa hal perlu diatur dengan jelas dalam regulasi agar diversity of content dan ownership-nya terjaga. Regulasi yang ketat dalam bisnis siaran ini juga harus mempertimbangkan daya dukung ekonomi, kesenjangan ekonomi yang ada, dan kemungkinan penguasaan atau monopoli oleh segelintir orang. Akhirnya, berkaitan dengan keenam hal di atas, Permen No. 22 Tahun 2011 harus ditolak dan dinyatakan tidak berlaku karena bertentangan dengan Undang-undang dan dengan prinsip-prinsip universal penyiaran. Frekuensi adalah milik publik dan harus diatur demi dan dalam kerangka publik. Oleh karena itu, digitalisasi penyiaran harus diatur undang-undang melalui perdebatan di parlemen sebagai representasi paling sah rakyat sebagai pemilik paling sah frekuensi. Pemerintah—lebih-lebih kementrian komunikasi—bukanlah representasi dan publik atau rakyat dalam sistem demokrasi meskipun pemerintahan itu dipilih secara demokratis melalui pemilihan umum. Di samping, Permen itu tidak demokratis karena hanya mengukuhkan dominasi tv Jakarta di seluruh Indonesia. Lebih jauh, Permen telah menggabungkan otoritarianisme politik melalui kekuasaan kementrian untuk mengatur penyiaran dan otoritarianisme kapital melalui penguasaan siaran swasta Jakarta di seluruh Indonesia. Ini akan berdampak lebih mengerikan dibandingkan sekedar otoritarianisme politik sebagaimana terjadi pada masa Orde Baru ataupun otoritarianisme kapital.*******

46



Kertas Posisi: Digitalisasi Televisi di Indonesia