Page 1


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Khusus

KONTEN Liputan Utama Relevansi dan Esensi Ospek: Menggali Lebih Dalam Metode Pengenalan Kampus

Gaya Hidup Ngopi Yuk!: Opini Pembaca Pendidikan dan Higienitas Kantin:

4 8

Seseruput Arabika yang Membudaya

Infografis Suma UI X UI Enak:

Sosok A.G. Sudibyo:

10

Resensi Wonder: Potret Perundungan dalam dalam Dunia Remaja

Opini Sketsa

11

Surat Pembaca Pro Kontra Danus

12

Membedah Kehidupan Orang Laut

Bedah Makanan Ikonis di Kantin Fakultas-Fakultas UI

17

Menyambut Mahasiswa Baru dengan Harmoni

TTS

Kantin di UI Higienis Nggak, Sih?

Galeri Foto

14

Relevansi Komisi Disiplin dalam Ospek

Advertorial Ekskursi Arsitektur UI:

Opini Foto

Struktur Redaksi

19

20 21 22 23 24

Suara Mahasiswa UI 2019 Pemimpin Umum: Halimah Ratna Rusyidah Pemimpin Produksi: Kezia Estha T Sekretaris: Ramadhana Afida Rachman Bendahara: Ajeng Riski Anugrah Kepala Divisi PSDM: Ika Madina Kepala Divisi Humas Eksternal: Victoria Yama Kepala Divisi Humas Internal: Nadia Farah Lutfiputri Kepala Divisi Media Partner: Nada Salsabila Kepala Divisi DTP: Vega Myland Kepala Divisi Audio Visual: Riardi Solihin Joyo Taruno Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan: Hani Nastiti Pemimpin Redaksi Gerbatama: Aniesa Rahmania Pramitha Devi Redaktur Pelaksana Gerbatama: Muhammad Insan Fadhil Pemimpin Redaksi Website: Grace Elizabeth Kristiani Redaktur Pelaksana Website: Muhammad Aliffadli Pemimpin Perusahaan: Shinta Farida

‘‘

SUara NYATA “Tentang nasib angkatan ini Itu adalah urusan sejarah Tapi tentang penegakan kebenaran Itu urusan kita”.

-Taufiq Ismail-


EDITORIAL Selamat datang, Pahlawan Muda. Begitulah setidaknya lirik pertama pada lagu yang dinyanyikan mahasiswa baru Universitas Indonesia saat sesi latihan paduan suara. Ya, bulan Agustus merupakan momen membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi para mahasiswa baru. Membahagiakan karena berhasil lepas dari masa putih abu-abu, mendebarkan karena harus melalui berbagai rangkaian acara Kegiatan Mahasiswa Baru

e d isiagust us 2019

(kamaba) agar dapat menyandang status Ikatan Keluarga Mahasiswa Baru (IKM) aktif UI dan fakultas, sekaligus mendapat jaket kuning yang diimpi-impikan. Rangkaian acara yang berjalan selama kurang lebih satu bulan tentu tidak hanya soal senangsenang belaka. Berkaca dari tahuntahun sebelumnya, ada saja keluhan yang datang dari mahasiswa baru. Hal yang dikeluhkan pun bermacam-macam, mulai dari sistem ospek sampai keberadaan komisi disiplin. Berbagai keluhan ini menimbulkan tanda tanya besar,

apakah ospek memiliki esensi atau sekadar bentuk formalitas untuk menyambut kehadiran ‘adik’ baru? Pada edisi ke-85 ini, Buletin Gerbatama mencoba mencari lebih jauh mengenai esensi ospek dan komisi disiplin bagi mahasiswa baru. Nilai-nilai relevansi dan urgensi ospek dan komisi disiplin juga akan kami hadirkan dalam artikel kami. Tak hanya itu, untuk menyambut mahasiswa baru, kami hadirkan buletin ini sebagai media untuk mengenal kampus tercinta ini.

STRUKTUR REDAKSI Buletin Gerbatama 85 Pemimpin Redaksi: Aniesa Rahmania Pramitha Devi Redaktur Pelaksana: Muhammad Insan Fadhil Reporter: Fannisa Shafira Ridfinanda Aqilla Shafira Iskandar Zakia Shafira Ahmad Thoriq Ramadhana Afida Rachman Trisha Dantiani Ersa Pasca Dwi N Penelitian dan Pengembangan: Hani Nastiti Ruth Margaretha Millania Putri Merlina Fotografer: Anggara Alvin Irmansyahputra Irene Paramitha Desain, tata letak, dan pracetak: Fajria Aulina Mulianingsidhi Ika Madina Dimas Alif Pradifta Syarifah Ni’mah Azzahra


04 Liputan Utama

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Relevansi dan Esensi Ospek: Menggali Lebih Dalam Metode Pengenalan Kampus Reporter : Fannisa Shafira R, Trisha Dantiani, Ahmad Thoriq Foto: Irene Paramitha

O

rientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) merupakan kegiatan awal dari mahasiswa baru dalam menempuh kehidupan pada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Hanya saja, ospek seringkali menuai pro dan kontra dalam masyarakat. Melihat berita-berita yang berseliweran di media cetak atau daring, kita akan menjumpai banyak kasus perundungan, perploncoan, sampai kematian dalam kegiatan ospek. Penerapan konsep yang tidak sesuai dengan tujuan dari ospek merupakan salah satu penyebab maraknya kasus-kasus tersebut. Lantas, bagaimana konsep ospek yang baik sesungguhnya? Jika menengok Keputusan Rektor Universitas Indonesia Nomor 1952/SK/R/UI/2014 pada Bab VII, Kegiatan Awal Mahasiswa Baru, Pasal 12, yang berbunyi “Kegiatan Awal Mahasiswa Baru wajib diikuti seluruh mahasiswa baru sesuai jadwal dan aturan yang ditetapkan”, Universitas Indonesia tidak lagi memakai istilah ospek dalam kegiatan menyambut mahasiswa baru. Istilah yang digunakan UI adalah Kamaba, atau Kegiatan Awal Mahasiswa Baru. Hal ini ditegaskan oleh Arman Nefi, Direktur Bidang Kemahasiswaan UI. “Jadi kita mengenalnya itu adalah Kegiatan

Awal Mahasiswa Baru (Kamaba),” ujarnya. Ia memaparkan bahwa UI tidak memakai istilah ospek karena istilah tersebut sering dinilai negatif dan identik dengan perploncoan. Berdasarkan hasil survei dari Suara Mahasiswa UI mengenai keberadaan kegiatan awal mahasiswa baru di lingkungan UI, 89,7% mahasiswa dari berbagai fakultas berpendapat bahwa adanya kamaba di lingkungan UI penting bagi mahasiswa baru, yaitu untuk memberikan pengenalan dan gambaran awal tentang kehidupan kampus serta beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) UI merupakan bagian dari kamaba yang diselenggarakan oleh pihak Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI dan dapat dikatakan sebagai ospek tingkat Universitas. Muhammad Dewo yono selaku Wakil Kepala Komisi Pembinaan DPM UI mengungkapkan bahwa OKK UI bertujuan untuk mengenalkan serta menanamkan nilai-nilai UI kepada mahasiswa baru. “Tujuan pembinaan itu memperkenalkan IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa -red) UI sebagai wadah bersama mahasiswa UI bersama perangkat-perangkatnya, memberikan pemahaman terkait kode etik IKM UI, UUD

IKM UI dengan perangkat yang ada pada dalam IKM UI, memperkenalkan IKM fakultas sebagai wadah bersama mahasiswa fakultas sama memberikan pemahaman pada anggota IKM fakultas untuk mengaplikasikan PD (Peraturan Dasar -red) fakultas dan aturan-aturan lain. Tujuan dari kamaba itu sendiri, kita ingin menginternalisasikan nilainilai sebagaimana mahasiswa itu seharusnya, tujuannya agar cita-cita utama yang mahasiswa sebagaimana itu bisa tercapai,” jelas Dewo, sapaan akrabnya. Setelah rangkaian OKK UI, rangkaian Kamaba juga diramaikan dengan adanya Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF) atau biasa dikenal sebagai ospek fakultas. Setiap fakultas memiliki PSAF dengan keunikannya masing-masing, disertai dengan perspektif yang berbeda-beda terhadap kegiatan ospek tersebut. Habibie Muhammad Ega merupakan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) jurusan Teknik Mesin angkatan 2015 yang diamanatkan menjadi Project Officer (PO) PSAF Teknik, yang diberi nama Masa Adaptasi Dunia Kampus (MADK) 2019. Ia memandang ospek sebagai sarana memperkenalkan orang baru kepada dunia baru. “Mereka tuh jadi mengerti tentang budaya, tentang ciri, tentang apa sih yang


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Utama

05

“Tujuan pembinaan itu memperkenalkan IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa -red) UI sebagai wadah bersama mahasiswa UI bersama perangkat-perangkatnya, memberikan pemahaman terkait kode etik IKM UI, UUD IKM UI dengan perangkat yang ada pada dalam IKM UI, memperkenalkan IKM fakultas sebagai wadah bersama mahasiswa fakultas sama memberikan pemahaman pada anggota IKM fakultas untuk mengaplikasikan PD (Peraturan Dasar -red) fakultas dan aturan-aturan lain. Tujuan dari kamaba itu sendiri, kita ingin menginternalisasikan nilai-nilai sebagaimana mahasiswa itu seharusnya, tujuannya agar cita-cita utama yang mahasiswa sebagaimana itu bisa tercapai,� Muhammad Dewoyono Wakil Kepala Komisi Pembinaan DPM UI.


06 Liputan Utama

GERBATAMA 85 // 08 -2019

akan mereka hadapi di lingkungan mereka, karena menurut saya orang baru dengan ciri khas mereka masing-masing tuh nggak bakal langsung nyambung gitu,” tutur mahasiswa yang biasa dipanggil Bob Ega tersebut. Selanjutnya Bob menambahkan bahwa ospek yang ideal harus menggunakan metode-metode yang melatih mahasiswa agar dapat berpikir open minded. Tidak seka dar memarahi, melainkan memberikan pressure melalui masalah yang dibuat sedemikian rupa berdasarkan tindakan mahasiswa. Metode ini menuntut mahasiswa berpikir sambil menerima tekanan. Hal ini terkadang membuat banyak orang beranggapan bahwa ospek FT bersifat keras dan memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Bob setuju bahwa metode kekerasan sudah tidak efektif maupun efisien karena banyak metode lainnya yang dapat digunakan untuk melatih kedisiplinan dan etika. “Kita udah melakukan pemilihan diksi atau kata, terus pemilihan intonasi juga. Terus metode-metodenya kalau dulu bener-bener cuma dimarahin, sekarang kita udah mulai pake games. Kita coba pake simulasi-simulasi gerak biar si mabanya nggak cuma diem doang,” jelas Bob. Ia juga mengakui bahwa ospek tujuannya bukan hanya murni melatih, melainkan juga untuk menciptakan memori bagi mahasiswa baru. Ospek di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI memiliki tujuan yang serupa, yaitu memperkenalkan mahasiswa baru ke lingkungan baru. Namun, berbeda dengan ospek di FT UI yang terkesan keras dan penuh tekanan, PSAF di

FISIP, yang dikenal juga sebagai PSAK, menggunakan metode-metode yang menyoroti kebiasaan dan budaya fakultas seperti budaya turun ke jalan dan budaya diskusi. “Nah, gua ngelihatnya ini ada fasenya gitu. Ada fase si mahasiswa ini masuk ke kampus dan pada akhirnya dia bisa sayang sama kampusnya. Lu kalau sayang ada jatuh cinta dulu, dan menurut gua PSAK ini bisa menjadi momen yang nge-trigger mereka untuk jatuh cinta dulu buat FISIP,” jelas Ihsan Indra, atau yang akrab dipanggil Nobi, mahasiswa Ilmu Politik 2015 sekaligus PO PSAK FISIP 2019. Selanjutnya menurut Nobi, PSAK dari tahun ke tahun sudah semakin demokratis dengan keterbukaan panitianya terhadap kritik. Hal ini membuat PSAK menjadi momen yang menyatukan satu angkatan dalam euforia kebersamaan tanpa adanya paksaan untuk mengikuti rangkaian ospek. “Jadi saat lu memutuskan untuk nggak ikut PSAK pun, itu emang hak lu juga, tapi dengan ada konsekuensi, ya. Mungkin lu nggak bakal mendapatkan euforia saat PSAK, lu engga mendapatkan euforia sebagai angkatan, sebagai satu angkatan nggak ada lagi momen setelah lu ikut ospek ini lu bisa ngumpul sama satu angkatan,” kata Nobi. Selain itu Nobi juga menambahkan bahwa ia memiliki sentimen negatif terhadap kekerasan dalam ospek. Ia mengatakan bahwa dari masa ke masa kekerasan tersebut sudah semakin berkurang dan sudah tidak lagi . Keberadaan komisi ketertiban umum (tibum) yang seringkali disamakan dengan komisi disiplin pada ospek fakultas lain, menurut Nobi sudah bertugas sewajarnya tanpa bersifat kasar pada mahasiswa baru.

Senada dengan Bob dan Nobi, Nurul Adabina selaku PO PSAF Psikologi menyampaikan bahwa tujuan PSAF adalah membantu mahasiswa baru psikologi dalam menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. “Kalau di psikologi, aku dan timku tahun ini sepakat kalau anak-anak 2019 ini adalah adik-adik kita yang baru masuk ke lingkungan kita, jadi harus kita sambut dan kita bantu mereka dalam beradaptasi dan menyesuaikan diri di lingkungan psikologi,”tuturnya. Ia menambahkan bahwa dalam kegiatan PSAF, mahasiswa baru dipandang sebagai individu yang mempunyai potensi tersendiri dan wawasan yang mumpuni, dengan kapasitas yang tidak jauh berbeda dengan senior-seniornya. Selanjutnya dalam kepanitiaan PSAF tidak pernah terlepas dari adanya divisi ketertiban umum atau komisi kedisiplinan untuk menertibkan serta mendisiplinkan mahasiswa baru selama kegiatan PSAF, sehingga identik dengan ketegasan dan intimidasi terhadap mahasiswa baru. Namun beberapa tahun terakhir, fakultas psikologi dinilai memiliki kegiatan PSAF lebih ringan dibandingkan fakultas lain, karena ketiadaan divisi tersebut. Hal tersebut dibenarkan oleh Nurul Adabina, “Fakultas makin lama makin banyak komprominya, kayak makin ngasih banyak syarat. Tadinya tuh cuman sedikit, lama-lama nambah. Akhirnya di 2017 itu kakak-kakaknya ngerasa kayak ‘oh ini mah daripada ada tapi banyak yang dilarang mending nggak usah sekalian’”, pungkasnya. Berbeda dengan penjelasan dari ketiga PO PSAF yang mendukung adanya PSAF untuk mahasiswa baru, terdapat be-


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Utama

berapa pihak yang tidak mendukung adanya PSAF. Hal ini terbukti dari hasil survei tim Litbang Pers Suara Mahasiswa UI tentang keberadaan kegiatan PSAF yang memperoleh hasil sebanyak 10,3% responden memilih untuk menolak keberadaan kegiatan tersebut karena dinilai menguras waktu, tenaga dan materi. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa terkadang tugas-tugas yang diberikan oleh senior kepada mahasiswa baru dinilai tidak ada relevansinya dengan kehidupan kampus. “Gua sih percaya ada metode

menurutnya sudah sulit dihilangkan. Ia menyatakan hal tersebut merupakan celah paling mudah masuknya kekerasan baik secara verbal maupun fisik. “Pasti atas nama solidaritas segala macem. Nah, ketika lu udah pake atas nama solidaritas, tekanannya itu seakan-akan kayak, ya, kultural aja wajar gitu, yaitu diperlukan kekompakan jurusan segala macem. Hal-hal itu kan yang membenarkan praktik-praktik yang diluar kontrol dari aturan itu. Oke udah dibikin aturan, rapi segala macem, tapi manusia yang ngurusin, para penyelenggaranya

07

berapa solusi terkait alternatif terhadap pelaksanaan ospek. Hal tersebut diantaranya adalah kegiatan mentoring jangka panjang yang membuat hubungan akrab dengan sang mentor berlanjut sampai lulus, pembuatan aplikasi tanya jawab untuk memberikan informasi terkait fakultas, membuat program pengenalan kampus intensif sebelum masuk UI, dan diadakannya kelas-kelas pengenalan fakultas dengan rundown jelas. “Lu bisa arahkan dateng ke AJS (Auditorium Juwono Sudarsono, auditorium di FISIP -red), dateng

Hasil survei dari Suara Mahasiswa terhad a p keb era da a n kegiatan awal m ah asiswa b a r u di li ngkunga n UI didu ku n g oleh 8 9 ,7 % m a h as i s w a da ri b er bagai faku ltas. lain yang harus dipikirkan,” tutur Dhuha Ramadhani, alumni Kriminologi FISIP UI 2013. Pada 2017 di akun wordpress-nya, e.gal.i.tar.ian, ia membuat tulisan yang berjudul Manifesto Menolak Ospek. Tulisannya menjadi viral di kalangan mahasiswa baru dan penyelenggara ospek karena isinya yang mengkritik ospek, khususnya PSAK FISIP 2017. Menurutnya, stuktur kultural dalam ospek masih mengandung relasi kuasa yang jelas. Subordinasi antara mahasiswa baru dengan kakak tingkat (kating) dirasa cukup mengekang maba dan ia menilai hal ini sebagai salah satu bentuk penyelewengan yang nyata. Bentuk ketimpangan kuasa yang mengakar dalam subordinasi tadi

juga kan belum bisa melepaskan power syndrome-nya (ketimpangan kuasa) gitu. Meskipun dia terlihat baik gitu secara penyelenggaraan, power syndrome itu masih ada apa nggak. Kalau misalnya itu masih ada, itu persoalan, ” jelasnya. Kemudian Dhuha juga menjelaskan bahwa persoalan tersebut dapat menjadikan ospek sebagai ruang bagi senior-senior untuk ‘berakting’ di depan mahasiswa baru dengan mempergunakan kuasa yang mereka miliki. Akibatnya, ospek tidak lagi menjadi sarana perkenalan, namun sebagai sarana untuk senior tampil lebih hebat dengan image yang lebih keren daripada realita. Tak hanya memberikan kritik, Dhuha pun memberikan be-

jam segini, lu kasih rundown. Waktu itu saran gua gitu kan, rundown ini harus dikasih ke peserta, jadi mereka nggak ngawang habis ini ngapain. Katanya (panitia lain -red) janganlah, nanti ketahuan kalau misalnya kita ngaret. Ya itu pelajaran buat kita, a****g. Evaluasi buat kita. Berarti lu nggak mau dilihat lu nggak sempurna dong. Berarti lu mau seakan-akan senior bagus aja gitu. Padahal itu kan hak juga. Gua udah menyerahkan nih maba, gua udah menyerahkan diri loh buat acara ini. Gimana kejelasannya. Itu kan lebih dewasa,” pungkasnya. (mif/arpd)


08 gaya hidup

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Ngopi, Yuk!

Seseruput Arabika yang Membudaya Reporter: Zakia Shafira Foto: Zakia Shafira dan Irene Paramitha

"Ada satu filosofi yang tidak pernah ditulis tapi selalu ada dalam setiap cangkir yang dibuat di kedai ini. Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa." ― Ben (Filosofi Kopi 2, 2017)

F

ilm Filosofi Kopi hadir di awal 2015 dan menceritakan petualangan Ben yang diperankan oleh Chicco Jerikho dan Jody yang diperankan oleh Rio Dewanto ke seluruh Indonesia untuk membagikan kopi-kopi terbaik dan kemudian mendirikan kedai kopinya sendiri. Munculnya Filosofi Kopi sedikit-banyak ikut membangun budaya dan gaya hidup ngopi masyarakat Indonesia. Tak heran, akhir-akhir ini bisnis kedai kopi menjamur cukup pesat. Bagi para pelaku bisnis, daya tarik kopi yang meningkat, apalagi bagi anak-anak muda, merupakan peluang emas. Banyak juga pemilik kedai yang menyalurkan hobi dan kecintaan mereka terhadap kopi. Begitu kompleks dan uniknya kopi hingga budaya ngopi ini hidup kembali, menjadi hobi dan budaya bagi masyarakat dengan jangkauan segmentasi yang lebih luas lagi. “Pokoknya awal Filosofi Kopi berjalan selama satu tahun, setelah adanya film, kedai kopi tuh, (kedai kopi -red) menjamur

di mana-mana.,� jelas Dodi, head barista kedai Filosofi Kopi Jakarta. Ia mengamini fakta bahwa sejak munculnya film Filosofi Kopi, kedai-kedai kopi di Indonesia bertambah jumlahnya, begitu juga dengan penikmat kopi. Kemudian, di waktu dan tempat lain reporter Pers Suara Mahasiswa UI juga mewawancarai Gema dan Ipung selaku pemilik kedai kopi Sahuta Coffee, sebuah kedai kopi yang mengincar segmen mahasiswa. Sahuta Coffee yang baru berdiri sejak November 2018 di wilayah Kukusan, persis di samping wilayah kampus UI Depok ini telah menjadi salah satu kedai kopi yang selalu ramai dituju oleh mahasiswa terutama di waktu-waktu tertentu seperti hari kerja. Ia pun melanjutkan penjelasannya bahwa Sahuta Coffee murni berdiri karena pengalaman pribadi si pemilik saat masih menjadi mahasiswa yang butuh tempat nongkrong, colokan, dan tentunya wifi yang cepat. Dengan ditunjang koneksi wifi, tempat yang nyaman dan berAC, jam buka yang panjang, dan harga yang terjangkau bagi mahasiswa (Rp3.000―Rp20.000). Sahuta Coffee yang selama dua

bulan pertamanya berjalan terseok-seok, kini telah menjadi warung kopi yang selalu ramai pengunjung dan mengerti akan kebutuhan mahasiswa. Selanjutnya, Gema pun memaparkan mengenai seni kopi itu sendiri. Ia mengatakan bahwa kopi sangat berseni, terlebih mengenai proses dari awal hingga akhir perjalanan sebuah minuman kopi sampai siap untuk dirasakan oleh konsumen. Mulai dari cara mengolah biji kopi (proses biji kopi menjadi green bean atau biji kopi yang sudah terkelupas dari kulitnya dan roasting), cara menggiling biji kopi agar mendapatkan aroma tertentu yang diinginkan (ditentukan dari ukuran bubuk kopi: agak halus, agak kasar, atau benar-benar kasar, dst.) sampai menentukan suhu dan proses penuangan air hingga mendapatkan aroma dan ketebalan tertentu. Ia juga menambahkan bahwa masyarakat Indonesia kini mudah terbawa dengan tren, sehingga pelaku bisnis harus dapat mengikuti tren dan mengikuti demand konsumen. Ketika buku maupun film Filosofi Kopi rilis, kopi hitamlah yang menjadi tren. Menurut Gema, saat ini giliran kopi susu yang


GERBATAMA 85 // 08 -2019

sedang naik daun disebabkan oleh hadirnya kedai kopi seperti Kopi Kenangan, Kopi Kulo, dll. Lalu, bagaimana pendapat mahasiswa soal budaya ngopi ini? “Menurut gue, kopi itu lebih kepada supporting system gue. Jadi, kopi tuh, nggak enak kalau kita ngopi ‘tok, tapi (harus -red) diselingi dengan misalnya, baca,” jelas Gallant, seorang mahasiswa FISIP UI. Menurut penuturannya, dalam sehari ia dapat menyesap dua hingga tiga gelas kopi, apalagi jika sedang dibebani tugas-tugas yang banyak. Meski ia rasa hal tersebut terkesan indie, menurutnya itu adalah esensi yang fundamental dari ngopi. Ia dapat lebih meresapi makna buku saat disertai ngopi dan pikiran juga menjadi lebih segar. Gallant mengaku ia mulai rutin menjadi penikmat kopi setelah ia kuliah disebabkan oleh tuntutan tugas-tugas perkuliahan. Ia juga merupakan penikmat kopi yang cukup idealis dan memiliki konsepnya sendiri terhadap kopi dan ngopi. “Kopi itu detail banget. Gue pernah diskusi sama pemilik kebun kopi. Jadi kopi itu, ketika air itu panasnya beda satu derajat atau dua derajat celsius, rasanya pun bisa beda,” tuturnya dengan semangat. Ia menjelaskan bahwa ia pernah merasakan kopi yang bahannya sama, sama-sama tidak memakai gula, hanya beda dua derajat suhu air dan keduanya memiliki rasa yang agak berbeda. Selain dari suhu air, cara mengaduk kopi pun jadi penentuan aroma dan rasa kopi tersebut. Dalam melihat maraknya budaya ngopi di masyarakat, Gallant menanggapinya dengan menempatkan dirinya sebagai penikmat kopi sejati. Ia kurang setuju dengan konsep budaya ngopi yang dipaksakan hanya karena tuntutan tren dan feed Instagram. “Kalau menurut gue pribadi, ya

gaya hidup

sebenarnya nggak masalah selama kita menjadikan kopi itu sebagai kopi seutuhnya,” tegasnya. Ia pun menghimbau untuk tidak menjadikan kopi sebagai instrumen yang dalam mencapai suatu hal yang lain, seperti pamer, padahal tidak benar-benar menyukai kopi. Baginya, kopi memiliki esensi lebih dari itu Pada akhirnya, mau kamu seorang penikmat kopi yang filosofis dan idealis, atau sekadar penikmat kopi yang nggak ngerti-ngerti kopi amat, menjamurnya kedai kopi tetap ada karena kehadiranmu. Petani kopi maupun pemilik kedai kopi sejahtera

09

sebab kehadiranmu yang mungkin cuma sekadar butuh satu-dua sesap asupan kafein untuk mendukung tugas-tugas makalah atau laporan praktikum. Seperti yang Ben bilang dalam Filosofi Kopi, “Kopi yang enak akan selalu menemukan penikmatnya.” (mif/arpd/ket)


10 Opini Pembaca

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Pendidikan dan Higienitas Kantin:

Kantin di UI Higienis Nggak Sih?

P

ersoalan makanan erat kaitannya dengan masalah higienitas, apalagi di instansi pendidikan Indonesia yang masih banyak menganaktirikan persoalan standar dan kualitas kantin untuk menjamin kesehatan konsumennya. Sebagai instansi pendidikan, mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengedukasi calon pelapak khususnya para vendor makanan yang ada di lingkungan instansi. Sebelum membahas higienitas lebih jauh, sebenarnya apa sih higienitas itu? Mari kita menelusuri arti dari higienis berdasarkan KBBI. Higienis berarti suatu hal yang berkenaan dengan atau sesuai dengan ilmu kesehatan; bersih; bebas penyakit. Lalu, apa parameternya? Kapan suatu tempat dan makanan dapat dikatakan higienis? Perkenalkan, ada namanya Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1096 Tahun 2011 Tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga. Masalah higienitas banyak dibahas di sini, lebih teknis lagi mungkin dibahas pada peraturan lain dan mahasiswa kesehatan atau jurusan gizi mungkin lebih tahu. Singkat cerita, sebelum menjalankan usaha, para pengusaha jasa boga harus memenuhi syarat legalitas dan rekomendasi dari suatu pihak apakah proses dan produk boga yang mere-

ka jual higienis dan layak jual. Itu tertuang jelas pada pasal 6 yang bebunyi “Setiap tenaga penjamah makanan yang bekerja pada jasaboga harus memiliki sertifikat kursus higiene sanitasi makanan, berbadan sehat, dan tidak menderita penyakit menular. Jadi, instansi pendidikan memegang peran penting dalam menjamin kesehatan sivitas akademika dan memastikan bahwa higienitas calon vendor kantin sudah sesuai dengan aturan yang berlaku sebelum mereka memasuki ranah bisnis.

Perubahan yang paling terlihat adalah kawasannya yang semakin nyaman, layout yang lebih teratur, bersih, pencahayaan yang cukup, penyediaan fasilitas kebersihan yang lengkap dan wow-nya lagi adalah terdapat ruangan khusus dan mesin sterilisasi untuk mensterilkan alat makan, loh. Jadi jangan heran, jika main ke kantin yang tadi disebutkan, alat makan yang disediakan terasa panas. UI Enak baru mengetahui kalau mesin sterilisasi ini ada di kantin Takor, Kantek, dan Kanjiw. Kalau di kantin RIK dan RSUI, ternyata para penyedia makanan di sini diawasi oleh dokter dan ahli gizi, loh. Jangan heran jika makanannya mungkin akan terasa kurang asin dan kurang gurih, karena memang kantin ini melarang penggunaan garam berlebih dan MSG. Wow nggak, sih? Sebagai kampus yang menyandang nama Indonesia, menurut UI Enak, perhatian yang dilakukan UI terhadap kantin-kantin yang ada mampu menjadi benchmark bagi instansi pendidikan khususnya kampus-kampus sejenis di Indonesia. Menurut UI Enak, rebranding kantin dan makanan di suatu instansi bisa jadi salah satu bentuk promosi kampus atau sekolah untuk menarik perhatian untuk meningkatkan kunjungan dan pendaftar. Memang belum ada datanya, tapi semoga UI Enak segera merilis data ini. Jangan lupa follow Instagram @ui.enak untuk informasi kuliner kampus UI

UI Enak cukup salut dengan upaya yang sudah dilakukan UI saat ini dalam menjamin kesehatan sivitas akademika sebagai konsumen nomor wahid di kantin-kantin yang ada di kampus kuning. Pada tahun 2017, terjadi perubahan yang signifikan dalam pengelolaan dan penyediaan fasilitas kantin. Jika ditenelusuri lebih jauh, tim UI Enak seringkali mengobrol bersama pemilik usaha di kantin yang ada di UI terkait legalitas mereka dan edukasi yang dilakukan oleh piPeraturan Menthak UI sebagai bentuk tanggung Sumber: jawab mereka dalam menjamin eri Kesehatan RI No. 1096 2011 Tentang Hikualitas dan kebersihan terkait. Tahun Sedikit demi sedikit perubahan giene Sanitasi Jasa Boga. kantin di UI mulai terasa higienisnya, sebagai contoh, Kantin FISIP, FT, RIK, RSUI, dan disusul pula oleh Kantin Sejiwa di Fakul- Oleh: Nadia Fatimah (Kontributor tas Psikologi. Apa yang spesi- UI Enak) al dari kantin-kantin tersebut? Foto: Dokumentasi UI Enak


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Galeri Foto

11

WE LM AB FOTO

Oleh: Anggara Alvin


12

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Infografis


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Infografis

13


14

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Khusus

Relevansi Komisi Disiplin dalam Ospek Pagi itu tak seperti biasanya. Stasiun Pondok Cina dan Stasiun Universitas Indonesia dipenuhi mahasiswa yang menggunakan tanda nama di depan dada dan seragam putih-putih. Sekonyong-konyong terdengar teriakan, “Percepat langkahnya, Dek!” Dengan keras, mereka menghentakkan kaki, berusaha berlari. Tetapi, kata-kata itu sudah tidak terdengar lagi di Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) 2018. Saat itu, kehadiran komisi disiplin atau komdis digantikan dengan bidang keamanan. Sesuai dengan namanya, tugas pokok komdis adalah mendisiplinkan. Namun, Satria Adhitama Sukma selaku PO (Project Officer) OKK 2018 mengakui bahwa ada berbagai poin minus yang ditimbulkan dari ketidakhadiran komdis, diantaranya mobilisasi mahasiswa baru (Maba) menjadi tidak maksimal, tugas keamanan yang sedikit membingungkan karena menggantikan komdis tanpa tensi, dan latihan yang harus dimulai lagi dari awal karena ketidakhadiran komdis merupakan hal yang baru bagi OKK 2018. Di bawah bayang-bayang relasi kuasa antara senior dan Maba, di beberapa fakultas, komdis erat dengan penggunaan tensi jika berkomunikasi dengan maba. Tidak hanya itu, mereka juga memberi sanksi jika maba melakukan kesalahan. Salah satu contoh penerapannya terdapat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). Komdis ospek fakultas di sini dikenal dengan sebutan ‘jenderal’. Menurut pengakuan Idham Aulia Shaffansyah selaku Koordinator Bidang Disiplin

PSAF FIB 2016, terdapat empat tensi yang digunakan ke maba yaitu tensi 0, 1, 2, dan 3. Setiap tensi memiliki diksi, gestur tubuh, dan mimik wajah yang berbeda. Tensi 0 digunakan untuk maba yang datang pagi. Diksi yang digunakan biasanya seperti, ‘perhatikan langkahnya, Dek’. Kemudian, tensi 1 dipakai ketika maba datang mendekati kegiatan dimulai. Dari ‘perhatikan’, berubah menjadi, ‘percepat langkahnya, Dek’. Selanjutnya, tensi 2 digunakan jika maba datang telat. Tidak lagi dipercepat, komdis menyerukan kepada maba untuk lari. Terakhir, tensi 3 merupakan tensi yang sangat jarang dipakai. Hanya digunakan ketika maba sudah bersikap berlebihan. “Hampir di semua kampus, komdis selalu terkesan tegas. Itu yang coba kita bangun. Namun, kita berusaha untuk tidak dalam konotasi negatif,” ucap Idham. Sebelum para komdis ini mendisiplinkan Maba, mereka sudah terlebih dahulu dilatih selama tiga bulan untuk mendisiplinkan diri sendiri. Setidaknya itu yang dilakukan oleh komdis FIB. Selain itu, mereka juga memiliki peraturan mengenai bagaimana bersikap ke Maba. Para komdis FIB tidak diizinkan bersentuhan fisik secara langsung dengan Maba. Misalnya, ketika memeriksa apakah Maba laki-laki menggunakan baju dalaman, komdis tidak menggunakan tangan, melainkan dengan spidol. Sama seperti FIB, Masa Bimbingan (Mabim) yang diterapkan Vokasi pun menggunakan tensi ketika

berkomunikasi dengan maba. Tidak hanya itu, Daffa Khoiri Rozan selaku Ketua Pelaksana Mabim Vokasi 2019 menjelaskan bahwa peran komdis juga untuk menanamkan nilai-nilai yang akan membuat Maba terbiasa dengan budaya dan aturan yang telah menjadi tradisi. Seperti menerapkan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (5S) yang coba dikenalkan pada setiap Mabim Vokasi. Diharapkan, ke depannya maba menjadikan hal tersebut sebagai bentuk kebiasaan dan dapat diaplikasikan dalam dunia perkuliahan. “Dengan adanya komdis, kita berusaha agar Maba bisa bersikap layaknya panitia yang telah memberi contoh attitude yang baik,” jelas Daffa. Selain dengan tensi, cara lain komdis melatih disiplin Maba adalah dengan pemberian tugas. Seperti Mabim Vokasi 2019, tugas yang diberikan akan menjadi dasar untuk menilai mahasiswa baru. Dalam hal ini, komdis akan mengapresiasi Maba yang mengerjakan tugas. Begitu pun sebaliknya, jika ada yang menyepelekan, Maba akan diberi evaluasi. “Argumentasi yang digunakan komdis pun tidak boleh hanya menyudutkan, namun memberi solusi ataupun memberi efek jera,” ungkap Achmad Esa Alfiat selaku komdis Mabim Vokasi Komunikasi 2018. Tetapi, nyatanya masih banyak yang beranggapan bahwa tensi yang dipakai komdis merupakan bentuk kekerasan verbal. Bagi para komdis, hal ini hanyalah sikap tegas dalam melatih kedisiplinan maba. Daffa menambahkan bahwa ma-


bim merupakan satu kesatuan dari tugas masing-masing bagian kepanitiaan. Mentor dalam hal menyayangi, keamanan sebagai pihak yang mengatur jalannya mabim, dan komdis dengan perannya yang memberikan pelajaran tentang kemandirian dan kedisiplinan Maba. Apabila dalam pelaksanaannya komdis melakukan tindakan-tindakan di luar Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, maka Komisi Pengawasan Dewan Perwakilan Mahasiswa sebagai pihak yang mengawasi jalannya Mabim Vokasi akan menindaklanjuti hal tersebut, baik dengan mengadakan komunikasi dengan pihak komdis yang bersangkutan, diberikan evaluasi beserta sanksi, maupun menempuh jalur hukum jika diperlukan. Kontra Kehadiran Komdis Berbeda dengan ospek di FIB dan Vokasi, di Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) tahun lalu, untuk pertama kalinya peran komdis ditiadakan. Satria mengatakan alasan ia menghapus komdis karena tidak sesuai dengan tujuannya, yaitu ingin melihat Maba melalui sisi posi-

Mentor

gian tugas yang memanfaatkan paras serta niat yang tidak sesuai pun menjadi alasan Satria tidak menggunakan komdis pada OKK 2018. “Gua ngerasa poin plus-nya (kehadiran komdis -red) adalah memang simple, praktis, gitu kan. Lo bisa shortcut (dalam mengatur maba -red) segala macam, tapi menurut gue dampaknya tuh nggak bagus,” tegasnya. Sebagai pengganti komdis, Satria menugaskan bidang keamanan untuk mengatur mobilisasi maba dan menyerahkan pembimbingan maba sepenuhnya kepada mentor. Memang ketika itu, Satria menerima penolakan, khususnya dari komdis tahun-tahun sebelumnya. Namun, Satria tetap melaksanakannya dengan cara menjelaskan tujuan yang ia bawa kepada mereka, merekrut orang-orang yang sepaham dengannya, serta berbagi peran dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) untuk menjelaskan hal tersebut kepada publik. Syahrul Ramadhan, anggota Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (Semar UI), menuturkan

dalam

hal

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Khusus

15

mun, sering kali di lapangan para senior atau panitia ospek mengabaikan asas-asas tersebut. Efektivitas Budaya Komdis Melihat terobosan baru dari OKK UI 2018, dapat diartikan sebagai pertanda bahwa tradisi komdis bisa dirombak dengan melihat relevansi konteks zaman. Syahrul pun menjelaskan jika sebuah aturan yang tidak sesuai terus dilanggengkan hingga menjadi budaya, maka di dalamnya terdapat permasalahan struktural yang terus mengakar. “Permasalahan adanya ospek dan komdis ini tuh sudah tradisi, sudah masuk ke ranahnya struktural. Kalau gue pernah ditindas, ah nanti kalau ada Maba gue mau jadi komdis lagi ah buat menindas,” ujar Syahrul. Selain itu, Rivaldo Apinoni selaku Koordinator Agitasi dan Propaganda Semar UI juga menegaskan bahwa pada dasarnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk beradaptasi dan mengenal lingkungan barunya. Bentuk yang

menyayangi,

keamanan sebagai pihak yang mengatur jalannya mabim, dan komdis dengan peran memberikan pembelajaran kemandirian dan kedisiplinan maba.” tif. Ketika di OKK masih terdapat komdis, paradigma yang terbentuk yakni memandang maba hanya dari kesalahannya saja. Selain itu, Satria juga percaya bahwa mengubah seseorang dalam waktu yang sangat singkat merupakan hal yang tidak mungkin. Terlebih, mereka berasal latar belakang yang berbeda-beda. “Menurut gue, poin plus-nya (kehadiran komdis -red) mobilisasi cepat dan orang akan segan memang. Tapi, kan, itu sebenarnya bukan dibangun secara natural,” jelas Satria. Di samping itu, secara pribadi, Satria juga mengaku bahwa ia kurang menyukai kultur komdis. Terdapat hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ia percayai, seperti pemba-

bahwa dalam ospek, bentuk hierarki yang muncul antara senior dan Maba pada dasarnya merupakan akibat absennya demokratisasi. Maba dipaksa menuruti aturan, tanpa diberi kesempatan untuk mempertanyakan. “Itulah bentuk penindasan yang aslinya, ketika si maba tidak punya hak atau tidak punya kebebasan untuk menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan,” jelas Syahrul. Sejalan dengan itu, dalam surat keputusan Kemenristekdikti nomor 096/B1/SK/2016 tentang Panduan Umum Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru, asas pelaksanaan ospek seharusnya berdasarkan keterbukaan, demokratis, dan humanis. Na-

sama pun tidak dapat terus diterapkan hanya karena dalih ‘tradisi’.

Sebenarnya, hal tersebut juga didorong oleh komdis FIB UI dalam menegakkan aturan. Para jenderal yang sudah tidak aktif, selalu menyerukan kepada komdis aktif atau panitia untuk tidak menyalin hal yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Aturan yang sudah tidak relemahasiswa. Ketika tradisi tetap dilakukan dengan dalih untuk menghargai senior, sebaiknya perlu diadakan dorongan agar maba bisa menampilkan tingkah laku yang memang diharap-


16

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Liputan Khusus

tidak sepatutnya diterapkan kembali. “Tapi, yang biasanya terjadi itu template, copy, terus dipakai lagi tahun ini, tahun kemarin-nya. Jadi, panitianya nggak mikir, sih, menurut gue,” ungkap Idham menjelaskan keadaan komdis FIB.

Utopis Eksistensi Komdis Pada akhirnya, kehadiran komdis kembali pada keputusan pemegang jabatan dalam ospek, baik di tingkat

Menilik hal tersebut, dosen psikologi pendidikan, Pratiwi Widyasari, M.Psi, menyebut bahwa pada dasarnya, sebuah tradisi baik untuk dilestarikan jika hal itu masih relevan dan tidak menjadi ancaman bagi Menilik hal tersebut, dosen psikologi pendidikan, Pratiwi Widyasari, M.Psi, menyebut bahwa pada dasarnya, sebuah tradisi baik untuk dilestarikan jika hal itu masih relevan dan tidak menjadi ancaman bagi mahasiswa. Ketika tradisi tetap dilakukan dengan dalih untuk menghargai senior, sebaiknya perlu diadakan dorongan agar maba bisa menampilkan tingkah laku yang memang diharapkan. “Mendidik berarti mendapat sesuatu dari apa yang dia pelajari. Intensitas hukuman dan frekuensi hukuman penting untuk dicermati karena tidak semua orang bisa tahan dengan semua hukuman,” jelasnya. Lebih lanjut, pemberian sanksi atau hukuman bukanlah solusi untuk menghentikan tingkah laku mahasiswa yang tidak diinginkan. Lebih baik mencari alternatif untuk menemukan benang merah dari tingkah laku yang sebenarnya diharapkan. Dengan adanya pemberian hukuman, dikhawatirkan akan memberikan efek mendalam seperti ketakutan atau bahkan memendam perasaan tidak nyaman.

universitas, fakultas, maupun jurusan. Untuk tingkat universitas seperti OKK, Satria yang kini menjabat sebagai ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia (DPM UI) 2019, berharap bahwa sistem yang digunakan di OKK 2018 dapat dilanjutkan dan menjadi tren di ospek fakultas. “Karena yang kita pengin adalah jangan sampai seolah-olah OKK-nya lho dibaik-baikin, tapi di fakultasnya beda,” ujarnya. Sedangkan, jika melihat langsung dari kacamata panitia ospek fakultas seperti FIB dan Vokasi, mereka memandang bahwa komdis masih diperlukan dalam ospek. Idham yang merupakan perwakilan komdis FIB berharap bahwa nantinya ada satu sistem yang menyamakan aturan untuk komdis di setiap fakultas, sehingga terdapat keselarasan antara satu sama lain. “Pejabat kampus juga jangan tutup mata, jangan lihat komdis dari sisi jeleknya

doang. Coba edukasi peraturan dari rektor yang nggak boleh dilanggar. Dua arah, kan, baik,” tutup Idham. (mif/arpd/ket) Reporter: Ramadhana Afida A, Ersa Pasca D. N, Aqilla Shafira I Foto: Aqilla Shafira I, Anggara Alvin, Aniesa Rahmania P. D


GERBATAMA 85 // 08 -2019

sosok

17

A. G. Sudibyo:

Menyambut Mahasiswa Baru dengan Harmoni Kalian adalah angkatan terbaik yang pernah saya latih!

B

agi mahasiswa Universitas Indonesia (UI), kalimat tersebut akan membawa mereka kembali ke hari-hari pertama mereka di UI. Ketika mereka masih mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru (kamaba), salah satu kegiatan yang harus mereka ikuti adalah latihan paduan suara. Mereka harus berlatih menyanyikan beberapa lagu seperti Hymne UI, Genderang UI, hingga Keroncong Kemayoran, bersama teman-teman satu angkatan mereka. Tanpa campur tangan Sudibyo paduan suara mahasiswa baru (maba) tersebut mungkin tidak akan terbentuk seperti sekarang ini. Pria yang akrab disapa Pak Dibyo ini merupakan pelatih atau konduktor dari paduan suara maba tersebut. Dia mengaku telah melatih paduan

suara maba sejak tahun 1983. “Jadi, kalau dihitung-hitung ya, hampir 36 tahun paduan suara maba itu ada,� ungkapnya.

pun harus dibagi menjadi dua, yaitu latihan pertama pukul 07.00 sampai 12.00 WIB, lalu latihan kedua pada pukul 13.00 sampai 17.00 WIB.

Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI tersebut mengaku bahwa saat pertama kali melatih paduan suara, ia masih berstatus sebagai mahasiswa semester tiga. Ia mendapat amanat dari rektor yang menjabat pada waktu itu untuk membentuk paduan suara mahasiswa yang sekarang bernama Paragita UI. Selain itu, ia juga ditugaskan untuk membentuk paduan suara yang melibatkan mahasiswa baru.

Dibyo mengaku senang mendapat kesempatan untuk melatih maba yang dianggapnya sebagai bagian dari putra-putri terbaik bangsa, karena berhasil menjadi mahasiswa UI. Dalam paduan suara tersebut, ia yakin terdapat nilai yang diperoleh oleh maba, seperti kebersamaan, tanggung jawab, dan disiplin. Selain itu, Dibyo juga mengatakan mengenai pentingnya menjaga harmoni ketika berlatih paduan suara. “Paduan suara itu harmoni, kan. Ada sopran, alto, tenor, bass. Itu berbeda, kan? Sehingga ketika perbedaan itu kita jadikan satu, jadi harmoni yang indah,� jelasnya.

Dibyo mengaku bahwa paduan suara memang passion-nya. Namun, ia tidak tahu siapa yang memberi tahu rektor sehingga ia mendapat amanat tersebut. Walaupun begitu, ia tetap menerima amanat tersebut dan menjalankannya hingga kini. Awalnya, Dibyo harus melatih maba sebanyak 1700 orang. Seiring berjalannya waktu, jumlah maba terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 7000 orang. Karena jumlahnya cukup banyak, waktu latihan

Selama menjalankan tanggung jawab sebagai konduktor, Dibyo lebih banyak merasakan suka daripada duka. Anak-anak yang kurang disiplin atau tidak bisa diatur ketika menyanyi bukan suatu masalah besar untuknya. Ia berkata bahwa hal tersebut wajar bagi anak muda. Terlebih lagi, mereka datang dari Aceh


18 sosok

GERBATAMA 85 // 08 -2019

ya sambil menunjukkan video paduan suara maba angkatan 1988 yang ada di akun Facebook-nya. Ia merasa bahwa hal tersebut dipengaruhi waktu latihan yang lebih lama. Latihan waktu itu berlangsung dari pagi hingga sore sebanyak tujuh kali pertemuan. Selain itu, perbedaan generasi juga menjadi faktor. Ia berkata, maba zaman dahulu ketika dilatih cenderung tenang dan diam. Namun sekarang, maba selalu asyik merekam dengan ponselnya. “Tapi ya, buat saya yang penting ketika penampilan, mereka tidak ada yang salah. Yang penting itu aja,” tegasnya.

sampai Papua dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Tidak hanya sekedar bernyanyi untuk mengiringi wisuda, rupanya paduan suara maba ini juga pernah menorehkan prestasi. Pada tahun 2005, paduan suara maba UI mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai paduan suara dengan peserta terbanyak. Peserta yang tercatat berjumlah 3700 maba. Tidak hanya itu, pada tahun 2008, telah rilis film dokumenter The Conductors yang salah satu isinya menayangkan paduan suara maba UI. Film tersebut mendapat penghargaan Piala Citra sebagai film dokumenter terbaik pada tahun tersebut. Selain itu, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-100, paduan suara maba diundang untuk turut memeriahkan pagelaran di Gelora Bung Karno. Tak tanggung-tanggung, peserta yang dikirimkan berjumlah 5000 orang yang diangkut oleh sekitar 200 bus. Selain melatih maba, pria yang menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Seni Budaya Direktorat Kemahasiswaan UI ini juga memiliki pengalaman melatih paduan suara tentara. Pada tahun 1999, Dibyo dipanggil ke mabes TNI di Cilangkap untuk melatih tentara, baik dari angkatan darat, laut, maupun udara. Latihan tersebut dilakukan dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun TNI ke 54.

Pengalaman pahit juga pernah dirasakan Dibyo. Pada bulan Oktober 2015, Dibyo terkena penyakit stroke yang membuat seluruh badannya lumpuh. Akibatnya, ia terancam tidak dapat melatih paduan suara lagi. Hingga bulan Desember pun, ia belum sembuh total. Namun, keajaiban pun terjadi. “Muk-

Selanjutnya memasuki tahun ajaran baru ini, Dibyo memiliki pesan khusus untuk maba 2019. Ia berpesan agar maba tidak hanya menggunakan waktunya untuk belajar, tetapi juga untuk aktif di berbagai organisasi kampus. “Jadi, jangan cuma belajar. Gunakan waktu seefisien mungkin, belajar dan beraktivitas.” tegasnya.

“Paduan suara itu harmoni, kan. Ada sopran, alto, tenor, bass. Itu kan, berbeda, kan? Sehingga ketika perbedaan itu kita jadikan satu, kan jadi harmoni yang indah.” jelasnya.

jizat, baru sekitar satu bulan saya sembuh dan Februari (2016, -red) sudah mimpin lagi,” kenangnya. Ia percaya bahwa semua itu berkat doa dan dukungan dari mahasiswa, keluarga, dan kawan-kawannya. Kemudian ketika ditanya mengenai angkatan berapa yang terbaik, ia tertawa. Ia berkata bahwa jargon tersebut hanya untuk memotivasi agar maba semangat ketika berlatih paduan suara. Namun, diakuinya memang ada satu angkatan yang menurutnya terbaik, yaitu angkatan 1988. “Ini lihat tuh, lantang, kan? Jernih (suaranya, -red), kan? Yang cowok suaranya juga keluar,” katan-

Ia juga berpesan kepada senior untuk menyambut maba dengan gembira. “Perlakukanlah mereka secara manusiawi, tidak ada bullying, kemudian hindari kekerasan.” tutupnya. (mif) Rep: Aniesa Rahmania Pramitha Foto: Anggara Alvin dan dokumentasi Sudibyo


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Wonder:

Resensi

19

POTRET PERUNDUNGAN DALAM DUNIA REMAJA Oleh Putri Melina Judul Film Tanggal Rilis Sutradara Durasi Genre Pemeran

: Wonder : 7 Desember 2017 : Stephen Chbosky : 113 Menit : Drama Keluarga : Jacob Tremblay, Julia Roberts, Owen Wilson, Izabel Vidovis, Noah Jupe, Bryce Gheisar

W

onder merupakan film yang diangkat dari novel Wonder (2012) karya R. J. Palacio. Film ini mengisahkan seorang anak laki-laki bernama Augustus Pullman (Jacob Tremblay) atau yang kerap dipanggil Auggie. Auggie memiliki kelainan pada bentuk wajahnya yang dikenal sebagai Mandibulafacial dysostosis. Ia harus melakukan serangkaian operasi plastik untuk mengatasi kelainan yang ia miliki. Dalam masa tersebut, ia juga harus belajar di rumah bersama ibunya (Julia Roberts). Film ini mengangkat konflik dalam hidup Auggie yang bermula ketika ibu (Julia Roberts) dan ayahnya (Owen Wilson) memutuskan agar Auggie bersekolah di sekolah umum. Orang tua Auggie berpendapat jika Auggie bersekolah di sana, Auggie dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan temanteman sebayanya. Pada hari pertama bersekolah di Beecher Prep, Auggie diantar oleh ibu, ayah, dan kakak perempuannya. Mereka sangat cemas dan sangat takut sesuatu yang buruk akan menimpa Auggie. Auggie selalu mengenakan helm NASA untuk menutup kelainan pada mukanya. Pada hari pertama sekolah ia harus membuka helm itu dan berbaur dengan teman-temannya yang terlihat normal secara fisik. Ketika Auggie berjalan menuju kelas, ia menjadi pusat perhatian siswa di sekolah itu. Semua orang memberikan tatapan yang membuat Auggie sedih. Hal ini terus berlanjut hingga saat Julian dan teman-temannya secara terus-menerus mengejek fisik Auggie.

Ejekan yang diberikan oleh teman-temannya di sekolah membuat ia menangis di kamarnya dan marah akan kekurangan fisiknya. Namun, ibunya memberikan Auggie pengertian bahwa setiap orang memiliki kekurangan pada fisiknya dan harus menerima kekurangan yang ada pada dirinya. Akhirnya Auggie menemukan teman yang dapat membuatnya nyaman dan ia dapat menjadi dirinya sendiri. Namun, sang sutradara, Stephen Chbosky, memberikan konflik-konflik dalam hubungan perteman antara Auggie dengan teman barunya. Selain menyajikan sudut pandang Auggie, film ini juga memberikan sudut pandang Via (Izabela Vidovic) yang merupakan kakak Auggie dan Miranda (Danielle Rose Russell) yang merupakan sahabat dari kakak Auggie. Dalam sudut pandang Via diceritakan kehidupan Via menghadapi konflik remaja dengan percintaannya dan hubungan pertemanannya. Sedangkan konflik remaja dalam mengahadapi permasalahan keluarga dan pencarian jati diri tergambar dalam sudut pandang Miranda. Namun, konflik-konflik yang dihadapi oleh kedua tokoh tersebut tidak digambarkan secara utuh dan tidak terselesaikan. Fokus utama film ini tetap pada Auggie. Dalam salah satu wawancara dengan media Inggris, penulis novel Wonder R. J. Palacio mengungkapkan bahwa buku dan film ini mempunyai cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Walaupun cerita kita tidak serupa dengan tokoh utama, mungkin cerita atau kes-

eharian kita serupa dengan tokoh lainnya, yakni Jack atau Summer. R. J. Palacio juga memperoleh banyak tanggapan mengenai buku dan film Wonder, salah satunya dari seorang nenek yang mengirimkannya sebuah pesan melalui pos-el. Nenek itu berkata bahwa ia direkomendasikan buku berjudul Wonder oleh cucunya. Ketika ia membaca novel ini, ia sangat menyukainya. Ia menceritakan novel ini ke anak-cucunya. Dalam alih wahana dari buku menjadi film, R. J. Palacio sebagai penulis buku Wonder sangat mengagumi kemampuan visual dan sinematografi dari Stephen Chbosky, sutradara sekaligus penulis naskah film Wonder. R. J. Palacio berpendapat bahwa Stephen Chbosky dapat membuat paragraf yang pendek menjadi sebuah adegan yang sangat menyentuh di film ini. Film Wonder merupakan film yang sangat menguras air mata penonton. Namun, sang sutradara mampu membuat film ini terlihat tidak monoton dengan menyelipkan beberapa humor di dalamnya. Wonder mengajarkan para penonton untuk berhenti mengolok-olok setiap orang yang memiliki kelainan secara fisik dan terlihat berbeda karena setiap orang berhak bahagia bagaimanapun kondisi fisik mereka. Film ini mampu dijadikan pembelajaran bagi para penonton untuk tetap sabar dalam menghadapi persoalan yang ada dengan bijak. (arpd)


20 TTS (Teka Teki Silang) GERBATAMA 85 // 08 -2019


GERBATAMA 85 // 08 -2019

Opini Sketsa

21

Desain oleh: AryodI Wahyu


22 Surat Pembaca GERBATAMA 85 // 08 -2019

PRO KONTRA DANUS Bagi kalian pengabdi proker (program kerja), pasti tidak asing dengan yang namanya danus atau dana usaha. Ya, danus merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan agar suatu kepanitiaan mendapat pemasukan. Namun, kehadiran danus justru mengundang pro dan kontra.

Bagaimana tanggapan mahasiswa UI mengenai danus ini, ya?

(PRO) Huda. FIB 2018. Saya setuju dengan diadakan kegiatan danus dalam suatu organisasi. Tentunya dengan adanya danus dapat membantu mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program kerja di organisasi. Selain itu, dapat meringankan beban tanggungan anggota yang wajib dikumpulkan atau SUC. Bukan hanya alasan itu saja, dengan adanya danus akan terlihat bahwa organisasi itu berjalan dengan baik karena anggotanya yang saling membantu dan kooperatif. Meskipun tidak semua anggota yang menginginkan melakukan kegiatan tersebut, tetapi justru dengan hal itu akan dirasakan anggota yang melakukan danus saat program yang direncanakan telah terlaksana dengan baik bahwa ada proses yang sulit di dalamnya.

(PRO) Intan. Vokasi 2018. Karena kalau dari sisi yang bukan divisi danus pasti bakal bilang, “Yang harusnya cari dana tuh divisi danus, kenapa kita-kita dibawa buat bantuin kerjaan dia.� Tapi karena semua kepanitiaan itu memerlukan dana yang kurang lebih banyak, maka dari itu anggota harus ikut partisipasi buat ngumpulin uang dengan cepat. Karena pada intinya harus ada kerjasama dari divisi satu ke divisi lain. Kalau nggak ada kerja sama buat cari dana, ya susah juga buat ngelancarin acara. Karena yang tadi di atas nambah dana dan sebenarnya tidak harus dikatakan paksaan karena danusan tersebut dikasih 2 pilihan kan mau danusan atau surplus. Apabila mereka nggak mau rugi atas danusan yang mereka jual mereka juga bisa surplus tanpa harus ada kata rugi. Danusan kan untuk nambah dana kepanitian yang mereka ikuti. Jadi, apabila mereka ingin ikut dalam suatu kepanitiaan, mereka juga harus ikut aturan yang telah dibuat, kalau nggak mau bayar SUC besar menurut Intan, lebih bagus danusan merata bagi semua pengurus dan anggota panitia.

(KONTRA) Inna. FMIPA 2018. Kalo menurutku kadang ganggu kegiatan kuliah, untungnya juga ga terlalu banyak. Kadang kalau di satu fakultas banyak acara dan danusnya juga barengan apalagi yang dijual juga kadang samaan itu bikin bingung yang beli sih wkwkwkw.

(KONTRA) Raul. FH 2018. Gue kalo denger danusan auto males. While jadi panitia udah spend so much time, money, effort, mental. Eh disuruh keliling jualan. Dikasih target. Kalo nggak mau, denda. Lah lohh wkwkwkk. Tapi setelah gue beneran terjun di per-sciencassional-an ini, gue tahu kenapa danusan di-push kayak kuda. Karena acara lo, buat nama lo, karier lo, emang butuh duit. Jadi nikmatin aja struggling with this kepanitiaan. Nggak penting sih menurut gue karena nambahnya tuh bener-bener dikit banget dan nggak signifikan. Tapi menurut gue dia berperan juga sih buat ngebuat orang-orang aware sama acaranya.


23

A

rsitektur merupakan salah satu elemen yang paling melekat pada kultur komunitas masyarakat tertentu. Arsitektur dapat mencerminkan kearifan budaya dan filosofi yang dipegang. Untuk menyajikan hal tersebut, dibuatlah kegiatan Ekskursi Arsitektur UI. Ekskursi Arsitektur UI merupakan program kerja tahunan yang Ikatan Mahasiswa Arsitektur (IMA) FT UI untuk mempelajari arsitektur vernakular. Arsitektur vernakular merupakan arsitektur yang terbentuk dari lokalitas dan keseharian masyarakatnya, sehingga dapat merepresentasikan pandangan hidup mereka. Pada tahun ini, Ekskursi mengangkat kehidupan Orang Laut di Lingga, Kepulauan Riau dan Indragiri Hilir, Riau. Orang Laut sejatinya adalah komunitas masyarakat yang hidup nomaden di perairan. Lautan adalah rumah mereka. Mereka menetap hanya pada musimmusim tertentu ketika angin laut sedang tidak bersahabat. Pada tahun 1980-an, Departemen Sosial mulai mendorong mereka untuk hidup menetap di daratan. “Kebetulan kami tertarik sama Orang Laut awalnya karena konsep arsitektur, space dan place, serta teritori mereka berbeda dengan apa yang dianggap hal yang standar bagi kita,� terang Maghrifasari Adhani selaku Ketua Pelaksana Ekskursi 2019. Kegiatan Ekskursi berfokus pada dua acara, yaitu ekspedisi dan pameran. Dalam ekspedisi yang telah dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2019 lalu, terdapat dua tim yang dikirim ke Lingga dan Indragiri Hilir. Tim-tim tersebut bertugas mengobservasi dan mendokumentasikan struktur arsitektur dan sosial dari Orang Laut. Hasil observasi dan dokumentasi akan diolah menjadi rekam jejak. Rekam jejak tersebut berupa buku dan film. Selain itu, Ekskursi juga akan menampilkan hasil dokumentasi berupa

maket tiga dimensi, sketsa, foto, serta video kultur dan keseharian dari Orang Laut yang saling membentuk dan dibentuk oleh lingkungannya. Hani, panggilan akrab Ketua Pelaksana Ekskursi tersebut, menyatakan bahwa Ekskursi berusaha menampilkan relasi antara arsitektur dengan kultur geografis dan sosial-budaya masyarakat, di mana hal tersebut tak dapat dipisahkan. “Di sini kami mau nunjukkin kalau yang namanya arsitektur nggak bisa lepas dari konteks lokasi dan subjek yang menggunakannya juga, jadi sedikit banyak (kami akan—red) ngebahas soal narasi hidup narasumbernya.�

Dalam menampilkan hasil dokumentasi dan rekam jejak dari Orang Laut, Ekskursi akan mengadakan pameran pada bulan November 2019 dan Januari 2020. Pameran di bulan November akan diselenggarakan di Perpustakaan Pusat UI dan pameran pada bulan Januari rencananya akan diadakan di Museum Nasional. Pameran di bulan Januari juga akan diisi oleh acara bedah buku dan film hasil rekam jejak tim ekspedisi. (arpd) Rep : Nada Salsabila Foto: Dokumentasi Ekskursi Arsitektur UI


24 Opini foto

GERBATAMA 85 // 08 -2019

Pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2019, Universitas Indonesia menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2019 dari jalur SBMPTN.

Dalam rangka menyambut junior-junior mereka, mahasiswa dari jurusan geologi membuat stand di bagian jurusan mereka dengan tenda-tenda yang bertujuan menunjukan ciri khas jurusan mereka dan untuk melindungi mahasiswa baru teriknya sinar matahari. Foto: Anggara Alvin

Profile for Suara Mahasiswa Universitas Indonesia

Gerbatama: Ini UI! Edisi #85: "Lika-Liku Mahasiswa Baru"  

Advertisement
Advertisement
Advertisement