Page 1

4

Antara Romantisme Reformasi dan Pergerakan

8

Apatisme Mahasiswa UI Pasca Reformasi

4 edisi khusus MEI 2018

ini

Produk Pers Suara Mahasiswa UI

Unduh Gerbatama Digital di www.suaramahasiswa.com

Twitter

@sumaUI

GRATIS

UI!

83


g erbatam a 83 // 05 -2018

e d is i K hu s u s MEI 20 1 8

edi to ri al Dua dasawarsa telah berlalu semenjak suara lantang mahasiswa dan pergerakannya yang progresif mampu mengulang sejarah tahun 1966 dengan warna berbeda. Mei 1998 merupakan puncak harapan yang menjadi kenyataan. Bentrok, ricuh, suka, duka, dan perjuangan seluruh mahasiswa Indonesia dibayar dengan turunnya Soeharto sebagai simbol dari sistem pemerintahan. Sebulan setelahnya, muncul pertanyaan apa yang harus dilakukan mahasiswa berikutnya? Reformasi total masih dituntut oleh mahasiswa kepada kabinet reformasi. Namun pergerakan mahasiswa 98 berumur pendek, pergeseran menyebabkan suara mereka tidak berpengaruh di periode berikutnya. Tuduhan pada gerakan mahasiswa 98 yang anarki, pelemahan peran forkot yang dituduh komunis semakin menjauhkan estafet perjuangan kepada pemain baru. Hanya beberapa kampus yang punya wadah khusus reformasi, seperti di Trisakti. Tidak demikian dengan UI yang baik lembaga formal dan nonformal berubah setelah 98. Senat Mahasiswa berubah menjadi BEM dan KB UI tidak memiliki penerus. Sepuluh tahun reformasi berlalu majalah Suara Mahasiswa mempertanyakan kemana aktifis 98 mewujudkan idealismenya? Narasumber yang berhasil ditemui saat itu dan narasumber Gerbatama 83 masih dalam caranya memonitor bangsa. Kini dua puluh tahun reformasi diperingati dengan kondisi zaman yang berubah signifikan. Revolusi industri 4.0 menjadi tantangan generasi muda. Dinamika pergerakan mahasiswa tidak boleh tertidur, sejarah menjadi kunci pembelajaran. Gerbatama 83 mencoba membuka kembali kisah gerakan mahasiswa 98 dan keadaan mahasiswa saat ini. Hari ini mahasiswa perlu beritanya lagi, masihkah romantisme reformasi menjadi jiwa pergerakan mahasiswa?

Pemimpin Redaksi Affifah Tata Tanjung Redaktur Pelaksana Elsa Manora Reporter Alfa Tirza Aprilia, Aniesa Rahmania Pramitha D., Khairunnisa Hadisti, Jati Setyarini, Eliza Pricilia Purba, Legia Nurul Azmi, Diana Litbang Ahmad Helmi, Ariobimo Herlambang Foto Cherryl Syadera, Riardi Solihin, Fariz Bagus Pradana Desain Tata Letak dan Pracetak Angelica Giovani, Fajria Aulina Mulianingsidhi


KONTEN 4

g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

Liputan Utama: Antara Romantisme Reformasi dan Pergerakan

8

Liputan Khusus: Apatisme Mahasiswa UI Pasca Reformasi

10

Infografis

Bergerak!

15

Galeri Foto Kilas:

Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Menyelenggarakan 7th Southeast Asian Studies Symposium 2018

18

Berani Berbeda, Kebab Kelinci Buatan Anak UI Warnai Kuliner Nusantara

19

Liputan Khusus: Catatan perjalanan : Sepenggal Cerita dari Timur Indonesia Advertorial

24

16

Kuliner:

Sketsa Opini

20

12

23

Foto Opini

‘‘

SUara NYATA “Tentang nasib angkatan ini Itu adalah urusan sejarah Tapi tentang penegakan kebenaran Itu urusan kita”.

-Taufiq Ismail-


04 LAPORAN UTAMA g erbatam a 83 // 05 -2018

ANTARA ROMANTISME REFORMASI DAN PERGERAKAN OLEH: ALFA TIRZA APRILIA & KHAIRUNNISA HADISTI FOTO: ARSIP


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

Laporan UTAMA Peringatan dua puluh tahun reformasi semarak pada setiap platform dan terekspos dengan baik hingga ke tangan mahasiswa. Romantisme reformasi ditilik dari berbagai sudut pandang. Namun generasi pasca reformasi hidup pada kondisi yang jauh berbeda. Pembangunan dan perkembangan teknologi yang cepat memberi jarak antara mahasiswa dan makna reformasi, buah pergerakan mahasiswa 1998. Sebelum menentukan arah aksi, atau berdiskusi tentang problematika negeri. Masihkah mahasiswa ingat apa makna reformasi?

05

A

wal Februari 2018, dunia pergerakan mahasiswa diguncangkan dengan aksi kartu kuning yang dilakukan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Taqwa di depan Presiden Jokowi saat Dies Natalis UI (02/02). Aksinya menjadi sorotan publik dan menuai banyak komentar dari beragam sudut pandang. Pembahasan dari sudut pandang etika, substansi tuntutan, sampai identitas Zaadit. Peristiwa ini akan menjadi berbeda jika terjadi pada tahun 1998. Pasalnya saat itu konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) dan intensifikasi proses belajar-mengajar di kampus melemahkan aktivitas politik mahasiswa. “Dulu ada Dema, Dewan Mahasiswa. Kemudian setelah ada peraturan NKK/BKK, Dewan Mahasiswa itu enggak punya kegiatan lagi karena mereka dibatasi,� tutur Bonnie Triyana, sejarawan yang saat ini menjadi pemimpin redaksi Majalah Historia. Dewan Mahasiswa yang merupakan organisasi intrauniversitas setara dengan BEM memiliki peran penting dalam mengorganisasi aksi mahasiswa sebelum akhirnya dibekukan pada tahun 1978. Keadaan tersebut diatasi mahasiswa lewat pembentukan kelompok studi, mempraktikkan pemikiran kritis di dalam LSM, dan komite-komite aksi sebagai wadah baru. Dua puluh tahun setelah dibekukan dan tanpa mengeliminasi kejadian-kejadian penting di selang waktunya hingga pecah tragedi 1998, gerakan mahasiswa berkembang. Isu keterbukaan dalam kehidupan berpolitik dibicarakan dalam media, diskusi-diskusi di koridor kampus, pembacaan sajak, hingga teriakan reformasi. “Pada 1997 (di UI -red) sudah banyak kelompok-kelompok diskusi. Banyak organ-organ mahasiswa bagian resmi ataupun yang non resmi. Jadi waktu 1997 itu kita itu sebenarnya sudah mulai diskusi dari kampus ke kampus,� ungkap Agus Gede Mahendra, anggota BPM FISIP UI 1998.


06 Laporan UTAMA g erbatam a 83 // 05 -2018

Dede Suryadi, Ketua Senat FS UI Tahun 1997-1998 menambahkan, “Sastra bikin juga. Sebelum ada pergerakan mahasiswa 1998 memang sering banyak kegiatan. Dulu di Fakultas Sastra ada koridor perpustakaan. Di tengah itu ada teater kolam, itu tempat mengekspresikan (aspirasi –red) mahasiswa, tempat membuat acara.” Muridan dalam bukunya Penakluk Rezim Orde Baru mencatat terdapat 154 aksi demonstrasi memasuki tahun 1997 di berbagai kota. Aksi kian meningkat dengan jumlah besar di bulan-bulan menuju kejatuhan Soeharto. Awal tahun 1998, aksi di bulan Februari berjumlah 49 aksi melonjak hingga 247 aksi pada Maret, April 299 aksi, dan 445 aksi terhitung 1 Mei-20 Mei. Kendati demikian, aksi mahasiswa UI tergolong terlambat dibandingkan kampus lainnya. “Nah, kita udah lihat yang pertama bergerak tuh UGM, UGM udah ngumpul-ngumpul tuh. UI mana nih, enggak bergerak? Memang UI agak lambat. Terutama konsolidasinya enggak ada, komisi gerakan itu enggak ada” jelas Elfansuri, Ketua Senat FISIP UI Tahun 1997-1998. Permasalahan saat itu adalah UI sudah lama tidak turun ke jalan untuk aksi. Agus Gede mengakui adanya proses yang panjang untuk membangkitkan kesadaran politik sampai dapat turun aksi. Diskusi-diskusi dan mimbar bebas juga merupakan sarana untuk menanamkan hal ini. Menurut Agus Gede, mahasiswa UI perlu belajar dan berhati-hati agar nasib mahasiswa jangan sampai seperti peristiwa Malari. Kesadaran akan tujuan besar reformasi dengan pergantian pemimpin nasional sudah dipahami sejak awal, namun perlu disertai dengan strategi. “Strategi kita waktu itu adalah bagaimana caranya kita mengedukasi mahasiswa UI. Kedua, melatih supaya teman-teman bisa turun ke jalan walaupun masih di dalam kampus. Ketiga, menyosialisasikan wacana reformasi total.” tambah Agus Gede. Dua Sayap Pergerakan Desakan untuk mengambil langkah yang lebih cepat tanpa terhambat jalur birokrasi lembaga formal memunculkan wadah baru baik intra

maupun antaruniversitas. Forum Kota (Forkot) merupakan bentuk nonformal dari perkumpulan mahasiswa perguruan tinggi Jabodetabek. Di UI, lembaga nonformal dalam aksi pergerakan mahasiswa yang satu tujuan tetapi beda cara dengan Senat Mahasiswa (SM) adalah Keluarga Besar UI (KB UI). “Jadi ada dua sayap di UI, sayap KB UI dan sayap Senat UI. Dua tipe ini bergerak dengan cara yang berbeda,” ungkap JJ Rizal, alumni Se-

“Strategi kita waktu itu adalah bagaimana caranya kita mengedukasi mahasiswa UI. Kedua, melatih supaya temanteman bisa turun ke jalan walaupun masih di dalam kampus. Ketiga, menyosialisasikan wacana reformasi total.”

jarah Fakultas Sastra UI saat itu. KB UI terbentuk pada Februari 1998, dengan sebagian besar aktivisnya dari Keluarga Mahasiswa UI (KM UI). Lembaga ini tidak memiliki pemimpin formal karena menghindari penokohan. Anggotanya disebut presidium yang dalam aksi dapat ditunjuk sebagai jenderal lapangan ataupun koordinator lapangan. Suma Miharja, alumni Fakultas Hukum UI menjadi salah satu koordinator lapangan pada aksi KB UI. Suma dianggap sebagai pentolan KB UI dan memiliki keterlibatan besar dari awal terbentuknya. “Suma itu sangat progresif orangnya, dia leader, dia juga korlap kalo itung-itungan kita tuh. Korlap

se-KB UI. Saya memang melihat keterlibatan Suma.” ungkap Elfansuri. Saat ditemui, Suma menceritakan periode terbentuknya KB UI. Berawal dari kerusuhan 27 Juli 1996 munculah KM UI. “Kemudian beberapa kawan akhirnya mengisyaratkan kita harus mengambil nama yang lebih besar, bukan hanya untuk kemahasiswaan tapi juga untuk memfasilitasi jaringan dengan universitas lain. Sehingga akhirnya disepakatilah namanya Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI (KA KBUI). Lalu setelah Mei 1998 terjadi kerusuhan hingga akhirnya disepakati lagi, udah lah pakai nama KB UI.” jelas Suma Mihardja, Dewan Koordinator Umum KB UI. Agus Gede, sebagai Sekjen KB UI kala itu, menceritakan bahwa tonggak gerakan KB UI adalah press release di Pusgiwa UI yang dilakuan sekelompok mahasiswa. Kelompok mahasiswa tesebut berasal dari elemen-elemen mahasiswa di fakultasfakultas. “Nah yang setuju sama gerakan reformasi total itu banyaknya berangkat dari FISIP, Sastra, Ekonomi, Teknik, Psikologi, dan Hukum awalnya. Terus ngga lama kemudian, Hukum mengundurkan diri. Sejak awal itu gerakan kita bukan gerakan kekerasan, kita itu gerakan aksi damai. Tujuan utama kita bagaimana memperbesar, memperluas wacana reformasi total.” kata Agus Gede. Aksi yang dilakukan oleh KB UI dimulai dari diskusi di posko, mimbar bebas, hingga menarik mahasiswa UI Depok untuk melakukan aksi di Salemba. Salah satunya yang terekam dalam harian bergerak! produk BO Pers Suara Mahasiswa saat aksi 98 seperti aksi di Salemba pada Hardiknas. Kekhasan gerakan mahasiswa 98 terlihat pada aksi-aksi yang melibatkan banyak komponen masyarakat seperti buruh, pelajar, petani, kaum intelektual, seniman, dan lainnya, yang juga hadir pada aksi KB UI tersebut. Cara berbeda ditunjukkan oleh SM seperti aksinya membagikan sembako ke seluruh administrasi kota di Jakarta pada 22 Februari dan 15 Maret 1998. Memaknai Reformasi “Di awal diskusi, enggak semua tau kalau misalnya reformasi itu apa, taunya kalau misalnya reformasi itu perubahan. Cuman peru-


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

Laporan utama

bahan, tapi kalau wacana Soeharto turun itu enggak tau.” ungkap Agus Gede. Pemahaman berpolitik itu dibangun pada spektrum yang luas dalam kegiatan mahasiswa. Diskusi di tongkrongan mahasiswa, mimbar bebas yang belum dapat dukungan hingga demo besar di bawah nama KB UI. Di awal pergerakan, isu ekonomi menjadi fokus pada aksiaksi kampus di awal tahun 1998. Jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar pada tahun 1997 masih terasa dengan melambungnya harga sembako, hingga ancaman putus kuliah. Keprihatinan terhadap kondisi krisis Indonesia saat itu memuncak dengan ditutupnya tulisan “Kampus Perjuangan Orde Baru” di UI Salemba pada 25 Februari 1998. Pada mimbar bebas tersebut, sivitas akademika yang terdiri dari mahasiswa dan Ikatan Alumni UI (Iluni UI) secara simbolis menunjukkan berkurangnya dukungan terhadap rezim Soeharto. Seiring dengan isu-isu hangat politik maupun ekonomi yang berkembang, pergerakan mahasiswa terwadahi, reformasi dikemas dengan tuntutan ringkas. Termasuk dosa besar Soeharto yang mengharuskan pemimpin tersebut turun tahta. “Mereka bisa membuat materi yang gampang sekali dimengerti. Mereka merumuskan dosa besar. Soeharto itu dalam 3 hal, KKN,” tutur JJ Rizal. Kualitas dan kuantitas aksi mahasiswa semakin meningkat memasuki bulan mei. Represi militer yang brutal semakin memancing protes mahasiswa. Tragedi tertembaknya 7 mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 semakin menaikkan tensi protes. Aparat telah tidak lagi

mengeluarkan peluru karet melainkan timah pada mahasiswa yang menyuarakan suara rakyat. Ketegangan pada setiap aksi pada akhirnya mendesak pemerintah untuk ambil sikap. Pada 21 Mei 1998, setelah tiga hari mahasiswa menduduki gedung kura-kura MPR/DPR, tepat pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. “Soeharto pada waktu itu dibuat sebagai simbol. Jadi dianggap jatuhnya Soeharto adalah tumbangnya semua sistemnya. Jadi yang orang banyak lupa, kejatuhan Soeharto itu nggak disertai dengan perubahan besar.” Kata Bonnie saat ditemui di Kantor Majalah Historia, Tanah Abang, Jakarta. Meskipun aksi tetap dilakukan sebagian mahasiswa yang tidak setuju dengan kabinet reformasi, namun pergerakan mahasiswa mengalami disorientasi. “Perubahannya seperti apa, ndak mikir terlalu jauh, bisa survive atau ditangkap tim mawar lebih mengkhawatirkan daripada mikir habis turun apa yang harus dilakukan.” kata Adianto Wibisono, Ketua Senat Fasilkom 1998. Langkah pemerintah membentuk Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa) mempersempit gerakan mahasiswa. Dalam buku Muridan dibahas kondisi tersebut menarik gerakan mahasiswa kepada isu-isu horizontal, hingga Forkot yang menjadi ujung tombak demonstrasi berskala besar dituduh komunis. Perubahan kondisi paska reformasi secarara langsung mempengaruhi eksistensi gerakan mahasiswa. Dari KB UI sendiri tidak terlaksana kaderisasi dengan baik. Para pelopor dan penggerak KB UI pada

07

masa reformasi sudah fokus untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa. Menurut pengamatan Elfansuri, rekan-rekan yang masa studinya tiga atau empat tahun di UI masih aktif di kampus, tapi mereka tidak membina anakanak baru. “Buat saya setelah (Soeharto-red) turun agak blur karena fokus nyelesain tugas akhir yang tertunda. Rasanya saya sudah balik jadi mahasiswa yang apatis setelah itu, mikir kuliah dan nyari beasiswa,” kata Adianto. “Umurnya pendek sekali reformasi.” ungkap JJ Rizal. Namun makna reformasi belum terwujud secara total. KKN masih dirasakan di negeri ini. Orang-orang dibalik orde baru yang berganti baju saat reformasi masih bertahan. Namun, bukan berarti buah hasil perjuangan aktivis 1998 tidak ada. Bagi Elfansuri, buah reformasi yang masih dinikmati sampai saat ini adalah kebebasan pers. “Itu satu-satunya yang masih betul-betul suci, tidak terkotori. Yang lain apa, KKN. Korupsinya berserakan di mana-mana. Ada KPK memang betul anak reformasi, tapi coba lihat korupsi itu kan enggak selesai-selesai.” tambahnya. Bagi generasi berikutnya, masih banyak tugas yang belum selesai menurut Bonnie. “Penegakan hak asasi manusia, penyelesaian kasuskasus pelanggaran kemanusiaan, kemudian reformasi di bidang hukum. Kemudian masalah korupsi.” Agus Gede memberi pesan bahwa apapun kondisinya, mahasiswa jangan pernah melupakan tingkat diskusi, sebagai mahasiswa. Kedua, tingkat kritis mahasiswa, dalam artian mahasiswa bebas mengeluarkan pendapat. Menurut Agus Gede reformasi itu adalah perubahan yang terjadi terus menerus dan tidak akan pernah berhenti. “Nah, kalau dulu aku sebagai mahasiswa berpikir, apa yang bisa diberikan, terbaik buat negara, karena mungkin saat itu tidak akan kembali untuk yang kedua kalinya.” (ATT)


08 LIPUTAN KHUSUS g erbatam a 83 // 05 -2018

APATISME MAHASISWA UI PASCA REFORMASI Paruh tahun ini telah diwarnai dengan berbagai isu yang menarik bagi mahasiswa. Isu tersebut adalah Undang-undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3), Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), gizi buruk, PLT Gubernur, dan draft Permenristekdikti. Beberapa isu tersebut ada yang diwadahi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun yang perorangan. Akan tetapi, aksi-aksi mahasiswa untuk menanggapi isu itu cenderung sepi, terdapat ketidak pedulian pada politik kampus dan gejala lainnya dalam pergerakan mahasiswa pasca pergerakan mahasiswa 98. Apakah fenomena tersebut merupakan indikasi apatis dalam pergerakan? OLEH :SINDI FANTIKA & ANIESA RAHMANIA PRAMITHA DEVI FOTO : DIANA

P

asca reformasi, pergerakan mahasiswa dengan segala dinamikanya kembali mengalami perubahan. Apabila melihat kondisi mahasiswa sekarang, tentu akan berbeda dengan mahasiswa pada era awal terwujudnya reformasi di Indonesia. Di era ini, pergerakan mahasiswa tidak seaktif dahulu. memiliki standar sendiri dalam menentukan arah gerakan. Semua gerakan memiliki fungsi masing-masing dan tidak tidak bisa diubah sesuka hati. Menurut Dr. Phil. Panji Anugrah Permana, dosen pengajar ilmu politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, faktor yang mengakibatkan redupnya aksi mahasiswa saat ini adalah perbedaan sistem politik yang sedang berjalan. Ruang berekspresi semakin terbuka. Mengutarakan pendapat atau kritik pun cukup melalui media sosial, selama itu bukan hoax atau ujaran kebencian. Selain itu, perubahan orientasi mahasiswa turut mempengaruhi redupnya pergerakan mahasiswa. Saat ini mahasiswa cenderung fokus pada pendidikan. Faktor biaya kuliah yang mahal membuat mereka harus segera menuntaskan studinya dan bisa langsung bekerja. Hal ini kemudian diamini oleh Muhammad Luthfie Arif atau yang akrab disapa El, mahasiswa ju-

rusan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI angkatan 2014. Berdasarkan penuturannya, apatis terjadi ketika sebuah lembaga yang ingin mengajak orang berpartisipasi tidak mampu menghadirkan sebuah tawaran yang baik serta tidak mampu memberikan jawaban atas pemasalahan para mahasiswa. “Menurut gue selama ini BEM belum mampu memberikan keresahankeresahan tersebut,” ujarnya. Perihal faktor yang menyebabkan sikap acuh mahasiswa terhadap perpolitikan kampus, El mengatakan, “Beban akademis dan persepsi publik yang sangat memengaruhi mahasiswa untuk turun ke jalan,” paparnya. Kemudian, ketika ditanya soal perpolitikan kampus serta partisipasi mahasiswa UI di dalamnya, El mengungkapkan bahwa partisipasi mahasiswa UI terhadap perpolitikan kampus masih tergolong rendah. Menurutnya, rendahnya partisipasi mahasiswa UI dalam perpolitikan kampus ini dapat ditinjau dari jumlah pemilih dalam Pemira UI dan peserta aksi yang kerap dimotori oleh BEM UI. “Kalau misalkan dalam konteks Pemira, maka gue bisa bilang rendahnya itu dari (jumlah –red) partisipasi pemilih. Kalau dilihat di Pemira, baru tahun lalu yang lebih dari 15.000 pemilihnya. Pun kalau kita lihat dari aksi-aksi, pada akhirnya hanya aksi monumental yang bisa bawa massa yang sangat besar di UI,

sampai ratusan,” imbuhnya. Di samping jumlah peserta dalam Pemira dan massa yang ikut aksi, El mengatakan bahwa parameter lain yang dapat digunakan untuk melihat partisipasi mahasiswa UI dalam perpolitikan kampus adalah melalui dialektika. Menurutnya meskipun sekarang ini tersedia banyak wadah diskusi di UI, tapi tidak ada dialektika-dialektika yang terbangun di dalamnya. “Jarang banget ada yang memberikan antitesis dari sintesissintesis yang ada. Kan Hagelman bilang tesis tambah antitesis sama dengan sintesis. Ketika lo memberikan gagasan kemudian gagasan lo dilawan argumen, maka akan muncul sebuah argumen baru. Itu menurut gue sesuatu yang kurang. Diskusinya nggak ramai, yang datang itu-itu aja, pada akhirnya dialektikanya bertahan di situ-situ aja,” ujar El memberi contoh tentang dialektika yang dimaksud. Hal serupa diungkapkan oleh Muhammad Syaeful Mujab, mantan Ketua BEM UI tahun 2017. Menurutnya mahasiswa kurang mengerti tentang isu yang sedang berkembang di kampus. Tantangan terbesar bagi pihak BEM adalah bagaimana caranya agar mahasiswa bisa paham terhadap isu politik yang diangkat oleh BEM. “Kenapa edukasi isu itu sangat penting? Karena kita ingin mahasiswa itu

Tak hanya angkutan umum, mobil pribadi pun suka membandel


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

LIPUTAN KHUSUS berpartisipasi secara politik, dalam arti partisipasi bisa ikut diskusi, ikut aksi, dan sebagainya,” ungkap Mujab . Mujab menambahkan, ukuran partisipasi politik mahasiswa juga bisa dilihat dari kultur mengkritik. Beberapa tahun terakhir, Mujab mengatakan jika kultur untuk mengkritik atau mengimbangi BEM mulai berkurang. Padahal, kritik terhadap BEM dibutuhkan agar perpolitikan kampus berjalan dinamis. Ditanya mengenai reformasi, Mujab membandingkan pergerakan mahasiswa sebelum dan sesudah reformasi. Menurut Mujab, perbedaan yang paling mencolok adalah cara mahasiswa melakukan aksi. Dulu mahasiswa lebih menggunakan perjuangan fisik, tapi sekarang perjuangan fisik tersebut mulai berkurang. Mahasiswa harus dapat beradaptasi dari cara lama ke cara baru yang sesuai dengan kondisi mahasiswa sekarang. Hal ini mengakibatkan cara pandang masyarakat terhadap mahasiswa berubah. Ia mencontohkan kejadian Kartu Kuning lalu. Karena kejadian tersebut, mahasiswa dianggap tidak memiliki etika oleh masyarakat. Sementara El menambahkan bahwa yang menjadi pembeda adalah dulu kritik dan dialektika mahasiswa mampu dikonversi ke dalam sebuah gerakan yang konkret. Apatisme terhadap Perpolitikan Kampus di Kalangan Mahasiswa UI Bukan tanpa alasan mahasiswa memilih untuk tidak peduli terhadap dunia politik, terutama politik kampus. Tingkat partisipasi mahasiswa yang rendah dalam PEMIRA UI, sedikitnya massa peserta aksi, serta tidak terbentuknya dialektika dalam forum diskusi mahasiswa menjadi bukti bahwa mahasiswa pada masa ini cenderung acuh terhadap dunia politik. Pandangan mahasiswa terhadap perpolitikan kampus yang berbeda-beda mungkin saja merupakan salah satu yang mendasari sikap acuh tersebut. Misalnya saja AD, mahasiswa asal Fakultas Ilmu Budaya UI ini mengaku tidak menyukai dunia politik karena ia tidak menyukai sesuatu yang tidak jelas hitam dan putihnya. “Maksudnya kita nggak tau, kita nggak bisa menyimpulkan

juga apa yang kelihatannya di mata orang lain buruk itu belum tentu buruk kalau di politik. Karena di politik tuh bener-bener abu-abu banget,” terang AD . AD mengaku tidak menggunakan hak suaranya dalam PEMIRA. Bahkan ia tidak mengenali calon ketua BEM UI dan BEM fakultasnya pada saat itu. Namun, ia tak memungkiri bahwa menggunakan hak suara dalam PEMIRA sebenarnya adalah hal yang penting untuk mahasiswa. “Kalau misalnya emang lo tau apa yang lo pilih, apa yang lo mau, itu ya lo harus milih,” ungkapnya . Berbeda dengan AD, ketidakpercayaan pada organisasiorganisai yang mewakili mahasiswa membuat LI memilih untuk tidak peduli terhadap dunia politik. Ia beranggapan bahwa apa yang dibawa atau diangkat oleh organisasi tersebut tidak sepenuhnya mewakili aspirasi mahasiswa. “Kadang tuh dia (organisasi –red) cuma mewakili pihak lain gitu.” ungkap mahasiswa dari FMIPA UI tersebut. Meksipun memberikan pemakluman terhadap sikap mahasiswa sekarang yang terkesan tidak teralalu memprioritaskan perpolitikan kampus, Panji tetap menyayangkan absennya pergerakan maha-

09

siswa saat ini terhadap pemerintah. “Kekuatan alternatif mahasiswalah yang menurut saya masih bisa dianggap sebagai kekuatan yang independen ya dalam mengkritik kebijakan pemerintah,” ungkap mantan aktivis 98 tersebut. Panji berharap mahasiswa bisa kembali kritis terhadap dunia politik, minimal dengan mengadakan diskusi, misalnya mengenai kritik atau apresiasi terhadap pemerintah. Selain itu, memasuki 20 tahun reformasi ini mahasiswa harus mampu memaknai apa yang telah terjadi sepanjang dua dekade tersebut. Apakah Indonesia sudah mulai melangkah, atau masih jalan di tempat. Mahasiswa harus mampu memberikan inovasi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Indonesia, utamanya masalah perpolitikan. “Untuk bisa sampai kesana tentu pengetahuan mahasiswa tentang politik menjadi sangat mutlak, jadi bukan lagi hal yang sekadarnya, tapi mereka harus betul-betul paham tentang sistem politik yang bekerja baik di Indonesia maupun perubahan geopolitik, dan sebagainya. Supaya mereka semakin siap menjadi global citizen,” tutupnya. (ATT/EM/LNA)

“Kenapa edukasi isu itu sangat penting? Karena kita ingin mahasiswa itu berpartisipasi secara politik, dalam arti partisipasi bisa ikut diskusi, ikut aksi, dan sebagainya,”


10

g erbatam a 83 // 05 -2018

Infografis


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

INFOGRAFIS

11


12 bergerak!

g erbatam a 83 // 05 -2018

MAHASISWA TRISAKTI TEWAS TERBANTAI PELURU PENGUASA

D

i depan gedung Syarif Thayeb kampus A Universitas Trisakti Grogol kini terdapat sebuah karangan bunga duka kecil. Terlalu kecil artina bila dibandingkan dengan duka yang disimpan benda-benda didekatnya. Di samping anggrek-anggrek ungu anggun itu terlihat bercak-bercak merah kering serta bongkah-bongkahan kecil lembek berwarna putih keruh. Inilah benda-benda yang menyimpan sebuah cerita nestapa. Percayalah, ini bukan rekaan. Benda-benda yang ada di tempat itu adalah darah dan serpihan otak Hendriawan seorang mahasiswa yang kepalanya tertembus peluru timah, bukan peluru karet, yang ditembakkan oleh polisi anti huru-hara. Benda inilah bukti nyata telah terjadinya pembantaian biadab terhadap mahasiswa oleh penguasa.

H

endriawan adalah salah satu mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) yang tewas dibunuh oleh aparat keamanan kemarin (12/5) ketika sedang menyuarakan aspirasi mereka di kampus A Usakti Grogol yang terletak di depan Jl. S. Parman, salah satu jalan paling ramai di Jakarta. Sampai saat ini tercatat tujuh mahasiswa yang jiwanya melayang, belasan sedang meringkuk di rumah sakit, puluhan tak diketahui rimbanya (Lihat box). Ini semua terjadi ketika aparat berusaha menghalau ribuan mahasiswa yang tenga mengadakan aksi duduk selama 4 jam di Jl. S. Parman setelah ditolak kehendaknya untuk long march ke Gedung DPR/ MPR RI. Berdasarkan keterangan berbagai sumber, aparat menghalau mahasiswa tanpa rasa kemanusiaan. Mereka tidak memberi peringatan dini berupa pengumuman atau tembakan pendahuluan. Melainkan langsung menyerbu mahasiswa dengan berondongan peluru dari senapan otomatik laras panjang yang diarahkan ke tubuh dan kepala mahasiswa. Sejumlah saksi mata –termasuk awak tv 3 Malaysia- yang tengah berada di tingkat enam gedung rektorat Usakti (Syarif Thayeb) melihat penembakpenembak tepat (Sniper) berada di atap Citraland untuk membantai mahasiswa. Saksi lain melihat mereka berada pula di tempat lain. “Mereka menembak dari jembatan penyembrangan.” Ungkap satu saksi. Feby, koordinator SM Usakti untuk insiden kemarin menyatakan,’’Mereka menembak dari helikopter yang terbang rendah di atas kampus kami.” Tetapi penuturan seorang

saksi mata mahasiswa Teknik Sipil yang melihat kebiadaban di depan mata mungkin dapat mewakili kekejian aparat. Ia mengatakan bahw diantara kerumunan mahasiswa Usakti yang berusaha menghindari serangan aparat, ia melihat seorang mahasiswi tersungkur yang kemudian berusaha dilingsungi oleh teman lakilakinya. Mereka kemudian berusaha untuk terus tiarap agar tidak dilukai aparat. Namun setan telah membutakan mata petugas dan sepertinya tak puas bila tak menuai hasil. Ia mendatangi si mahasiswa laki-laki itu dan menembak kepalanya dari jarak sangat dekat. Dor! Satu mahasiswa pun tumbang dan tubuhnya dilempar ke truk. Kisah-kisah yang bergerak! dapatkan tadi malam langsung di lokasi seakan tak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin aparat keamanan bisa menjadi begitu sadis? Bagaimana mungkin mereka mereka menembak langsung ke kepala mahasiswa? Bukankah itu melanggar semua apa yang didotrinkan kepada mereka sebagai pelindung rakyat. Tetapi kisah-kisah yang dituturkan oleh tiap mahasiswa dan dosen Usakti yang hingga dini hari tadi masih ada di kampus universitas swasta itu semua bernada sama. Walau berlainan dalam segi detail, kisah mereka semua punya kesamaan dari segi sikap keseluruhan petugas. Polisi anti huru-hara yang dikenali dari Brimob telah menjadi penjagal mahasiswa. “Kita bukan binatang. Bukan penjahat. Masa kita ditembak seperti itu,” ujar Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Industri Usakti Ir. Husein Aziz kepada bergerak! yang langsung mendatangi ruangan jenazah RS Sumber Waras Grogol begitu

mendapat kabar terjadinya pembantaian. Sampai berita ini diturunkan , rumah sakit itu sendiri masih penuh dengan handai-taulan mahsiswa yang menjadi korban. Isak tangis, gejolak emosi pengutukan dan wajahwajah marah campur sedih teramat sangat. Semua seakan tak percaya bahwa kekejian seperti itu bisa terjadi dirinya, temannya, keluarganya atau kenalannya. Kronologi Bila ditelusuri secara kronologis, indikasi ke arah pembantaian sebenarnya tidak terlihat di awal aksi. Aksi dimulai jam 10.30 WIB di halaman parkir kampus A. Sampai jam 12.00, mahasiswa masih bisa menahan diri untuk tidak turun kejalan. Mereka mengadakan mimbar bebas dengan mengkritisi penguasa yang semakin lama semakin tak mempedulikan rakyat. Namun niat untuk turun ke jalan akhirnya tak tertahankan. Mereka kemudian keluar kampus ke Jl. S. Parman dan berusaha unttuk mengadakan long march ke Gedung DPR/MPR yang terletak sekitar 3 km di jalan yang sama. Melihat hal ini, aparat tentu saja mencoba mengahdang sesuai prosedur yang saban mereka katakan di media umum. Massa Usakti yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Hukum Usakti Adi Andojo Soetjipto berusaha bernegosiasi dengan aparat keamanan yang diwakili Komandan Kodim Jakarta Barat Letnan Kolonel Amril. Dengan alasan dapat memacetkan lalulintas, sang Dandim melarang massa untuk melakukan niatnya. Sementara itu, mahasiswa kadung telah berada di luar kampus. Mereka memenuhi Jl. S. Parman sampai Gedung Walikota Jakarta Barat terletak 200 m dari kampus. Dan


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

BERGERAK!

13

Senjata mereka memuntahkan peluru-peluru tajam yang diarahkan langsung ke tubuh mahasiswa. Apapun yang berada di depan mereka sikat, tembak, hancur-

FOTO: SUMBER ISTIMEWA

memang sudah nyata bahwa terjadi kemacetan di daerah itu. Melihat massa tak mau mundur, aparat pun mulai menabah pasukannya. Kedatangan 2 truk polisi anti-huruhara dan 5 panser yang dipimpin oleh Kolonel Polisi Arthur Damanik menandakan bahwa aparat tak mau sedikit pun membiarkan mahasiswa untuk bergerak. Massa mahasiswa melihat hal ini mengurungkan niat untuk long march. Mereka sepakat menggantinya dengan melakukan aksi duduk di jalan raya itu. Pukul 14.00, hujan mengguyur Kawasan Grogol seperti hendak membubarkan massa. Namun mahasiswa tetap tidak bergeming. Kurang lebih pukul 15.30 WIB ada pemberitahuan dari pihak keamanan bahwa aksi mahasisw Usakti harus bubar sebelum jam 16.00 WIB. Saat itu tinggal 2000 mahasiswa yang berada di luar, sementara 6000 lainnya menunggu di dalam kampus Usakti yang teduh. Para dosen mendengar ancaan ini membujuk mahasiswa untuk mundur dan kembali ke kampus, namun mahasiswa meminta aparat mundur dulu. Aparat saat itu sudah berlapis delapan dengan peralatan lengkap. Beberapa petugas terlihat di atas jembatan penyebrangan di depan kampus Usakti. Beberapa sudah stand by di Mal Ciputra yang berada di seberang. Mahasiswa tak tahu apa maunya mereka

yang berada di tempat-tempat itu. Fungsi prajurit itu baru ketahuan setelah pembantaian terjadi. Massa mahasiswa kemudian mundur teratur setelah bujukan dosen dan alumni semakin dapat diterima. Namun ternyata aparat malah mendekat dan mengurung mahasiswa. Melihat gelagat tak baik dari aparat, mahasiswa naik emosi,�Kita mundur kok mereka maju.� Teriak beberapa mahasiswa yang mencoba untuk tidak terbawa arus mundur dan dorongan aparat. Reaksi maju mahasiswa ternyata dibalas dengan suara sebuah tembakan. Setelah itu pembantaian pun terjadi. Mahasiswa tungganglanggang berusaha menghindari yang seakan mata gelap. Pentungan berkelabatan manghantam badan mahasiswa yang terdekat. Puluhan gas air mata dilemparkan ke dalam kampus Usakti. Senjata mereka memuntahkan peluru-peluru tajam yang diarahkan langsung ke tubuh mahasiswa. Apapun yang berada di depan mereka sikat, tembak, hancurkan. Ada dua cara yang dipakai untuk menembak mahasiswa. Pertama membidik secara sengaja ke tubuh dan kepala mahasiswa dari belakang. Ini terlihat dari sebagian besar luka tembakan ada di bagian belakang tubuh mahasiswa termasuk di tubuh Ketua Senat Mahasiswa Usakti Julianto Hendro yang terluka parah akibat dua peluru logam bersarang

di pinggangnya. Cara kedua adalah mengangkat senjata tinggi-tinggi di ats kepala dan menembak massa di depan dengan membabi buta. Darah berceceran dimana-mana. Cipratan cairan otak pun mengenai bangunan Usakti yang telah jadi saksi bisu sebuah pembantaian mahakeji terhadap insan intelektual bangsa. Banyak pula mahasiswa yang jatuh, namun tetap dihantam da diinjak-injak oleh aparat. Jeritan-jeritan mereka tak juga dapat meredakan kebrutalan aparat yang sudah tak segan lagi masuk ke dalam wilayah kampus dalam pesta pembantaiannya. Saat itu tembakan seakan berasal dari setiap sudut. Dari seberang jalan, dari gedung universitas yang sedang dibangun, dari helikopter yang terbang rendah di atas kampus, dari Jl. S. Parman dan Jl. Kyai Tapa yang mengelilingi kampus utama Usakti itu. Bahkan dari tengah-tengah kampus sendiri. Ratusan selongsong peluru ditemukan , ceceran darah dan bekas tembakan di kaca adalah bukti nyatanya. Beberapa korban yang jatuh dibawa ke RS Sumber Waras yang berada dekat kampus Usakti. Tragisnya, banyak korban yang tak dapat diselamatkan dari tangan aparat. Beberapa tubuh dilemparkan kedalam truk militer yang sepertinya sudah siap untuk menghilangkan bukti. Tetapi rasanya, penghilangan bukti adalah tindakan bodoh sementara beribu-ribu mahasiswa menyaksikan pembantaian dengan mata kepala sendiri. CNN pun da di lokasi dan terus menerus menyiarkan kondisi Usakti ke seluruh dunia tiap satu jam. Demikan pula media massa lainnya tak segan-segan lagi memberitakan kekejian ini. Di rumah sakit sendiri, timbul masalah baru. Pihak RS Sumber Waras tidak mau melakukan visum.


14

g erbatam a 83 // 05 -2018

Bergerak!

Menurut Husein Azis, penyambutan rumah sakit tidaklah tanggap. Mereka menunda visum karena belum mendapat laporan polisi.” Pada pukul 12.45 WIB, tim dokter RS Sumber Waras baru mulai menvisum setelah didampingi beberapa dokter militer. Kehadiran dokter militer ini memicu reaksi dari mahasiswa. Mahasiswa yang kadung benci dengan aparat mengusir dokter-dokter meliter itu. “Pergi jangan ke sini. Udah mayat juga masih mau diculik !” teriak mahasiswa-mahasiswa itu. Dari visum jelas terbukti bahwa mahasiswa tewas akibat tembakan peluru timah sungguhan dan bukan peluru karet, yang katanya merupakan senjata paling keras yang bakal digunakan militer dalam membubarkan aksi mahasiswa. Berita pembantaian di Usakti ini begitu cepat tersebar dan langsung ditanggapi oleh badan-badan yang punya kredibilitas. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang diawali Marzuki Darusman dan Araujo telah berada di rumah sakit malam tadi. “Kejadian ini merupakan shock bagi kita semua. Setiap tindakan kekerasan seperti ini merupakan pelanggaran HAM.” Terlihat pula pakar politik Dr. Hermawan Sulistyo, aktivis dari beberapa LSM, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi jabodetabek, matan aktivis kampus UI dan juga Dan. Pomdan Jaya Kol. CPM Hendrardji yang disambut oleh teriakan cemooh oleh mahasiswa. Hendrardji diteriaki oleh puluhan mahasiswa selama ia ada situ. “ Pembunuh Rakyat! PKI! Apa gunanya ABRI! Pengecut!” Sang Komandan Pomdam V Jaya yang mukanya sudah begitu tegang itu sendiri hanya bisa mengeluarkan komentar generik, “Kita akan memprosesnya sesuai dengan hukum yang ada.” “Hukum apa? ABRI anjing pembunuh rakyat! Sekarang ngomong hukum! Dasar ABRI tak beda dengan PKI!” lantun mahasiswa-mahasiswa yang terus mendesak Hendrardji yang kemudian berusaha keluar rumah sakit. Bahkan sebuah mobil dinas CPM sempat dirusak massa. Di sudut lain rumah sakit, seorang ibu sedang meratap. Tangisnya yang berkepanjangan menandakan betapa sakit hatinya. Ia adalah Ibu Rasmiyati, orang tua dari Heri Herianto, mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 1996 yang tewas di dalam kampus tempat ia belajar. “Dia pamit untuk beajar dengan teman dua hari yang lalu,” isaknya. “ Dia bukan penjahat. Dia bukan penjahat. Kok, harus ditembak. Kan enggak perlu ditembak.” Mahasiswa memang bukan penjahat. Mahasiwa hanyalah pembawa surat rakyat yang jujur. Mereka yang embantai mahasiswa itulah yang penjahat. Semoga Tuhan menghujat mereka dengan laknat. MAD BAS/WIN/GUS/ISK/DEN/ITU


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

GALERI FOTO

galeri foto

15

“…Jika kami bunga Engkau adalah tembok itu Tapi di tubuh tembok itu Telah kami sebar biji-biji Suatu saat kami akan tumbuh bersama Dengan keyakinan: engkau harus hancur!” -Wiji Thukul, Bunga dan Tembok FOTO : ARSIP


16

g erbatam a 83 // 05 -2018

KILAS

SEKOLAH ILMU LINGKUNGAN UNIVERSITAS INDONESIA MENYELENGGARAKAN 7TH SOUTHEAST ASIAN STUDIES SYMPOSIUM 2018

S

ekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Universitas Indonesia (UI) bekerjasama dengan Indonesian Environmental Scientists Association (IESA) dan Project Southeast Asia, University of Oxford, Inggris, menyelenggarakan acara 7th Southeast Asian (SEA) Studies Symposium 2018, pada tanggal 22 sampai 24 Maret 2018. SIL berdiri pada tahun 2016, merupakan sekolah pertama yang didirikan oleh UI dan sebagai Sekolah Ilmu Lingkungan pertama di Indonesia. IESA merupakan kumpulan para ahli lingkungan Indonesia yang mempunyai kesamaan visi untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang lingkungan hidup dalam rangka menjaga keberlanjutan kehidupan manusia dan lingkungannya. Acara simposium ini berlangsung di Gedung IMERI, Kampus UI Salemba dan Balai Sidang, Kampus UI, Depok dengan mengambil tema: “What is Southeast Asia? Exploring Uniqueness and Diversity (Apakah Asia Tenggara? Mengeksplorasi Keunikan dan Keberagaman).” Simposium ini secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden RI (H.E. Dr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla), yang dalam pidato pembukaannya menekankan pentingnya wilayah Asia Tenggara dengan keanekaragaman dan kekayaan alamnya. Indonesia berperan besar dalam mencapai kedamaian di kawasan ini. Pada pidato pembukaannya, Rektor UI Prof. Dr.Ir. Muhammad Anis, M.Met., menyambut para peserta dan menyatakan “kegiatan

ini memberikan platform untuk menggandeng para akademisi, pembuat kebijakan, kalangan bisnis dan masyarakat sipil mendekati masalah Asia Tenggara kontemporer dengan kajian multi-disipliner dalam semangat sebagai masyarakat global.” Simposium ini adalah kegiatan rutin University of Oxford melalui Project Southeast Asia sebagai ajang pertemuan para peneliti, akademisi dan profesional dari berbagai disiplin ilmu dan kebangsaan untuk berbagi ide dan pelajaran. Rangkaian simposium tahunan ini telah diselenggarakan sejak tahun 2011 dan pertama kalinya pada Simposium yang ke-7 SEA Symposium ini diselenggarakan di Indonesia, di Universitas Indonesia. SIL UI merasa terhormat menjadi tuan rumah penyelenggaraan SEA Symposium dan mewakili UI bekerjasama dengan University of Oxford. Pembukaan symposium ini juga dihadiri oleh Chairman of Project Southeast Asia Oxford (Dr Philip Kreager), Co-ordinator of Project Southeast Asia, University of Oxford (Dr. Pingtjin Thum), ASEAN Deputy Secretary-General for Community and Corporate Affairs (H.E. DSG AKP Mochtan), Mantan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus sebagai Pendiri Sekolah Ilmu Lingkungan UI (Prof. Emil Salim, M.A., Ph.D), serta Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas (Prof. Dr. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D). Simposium internasional ini dihadiri oleh 400 partisipan dari 20 negara dan 95 universitas. Partisipan berasal dari unsur akademisi,

pemerintah pusat dan daerah, tokoh masyarakat, sektor swasta, dan peserta internasional. Panitia simposium telah menerima lebih dari 300 abstrak paper akademis. Simposium ini terdiri atas 35 paralel sessions, 2 workshop, 3 roundtable, dan 4 special sessions. Acara ini dihadiri oleh Walikota Surabaya (Ibu Tri Risma Harini), Kepala Badan Informasi Geospasial (Bapak Hasanudin Zainal Abidin), Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (Bapak Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dan sejumlah pihak lain dari berbagai instansi seperti KLHK, Kemenko Maritim, Badan Restorasi Gambut, dan lain sebagainya. Pada hari pertama acara ini, Kamis 22 Maret 2018, terselenggara 17 paralel sessions dengan tema: rice politics, vulnerability, cultural identity, marine, community engagement, environment, urban politics. Terdapat 3 Round Table dengan tema diskusi menarik seputar: the environmental dimension, health impact, and mapping topographies of violence di Asia Tenggara. Tematema riset yang sangat menarik dipresentasikan juga pada 25 poster akademik yang dipajang di ruang pameran. Pada hari pertama, diselenggarakan Special session mengenai “Sustainable Waste Reduction Program Based on Community Engagement in Climate Change” membahas bahwa dalam kaitannya dengan perubahan iklim, pengelolaan sampah diperlukan karena sebagai salah satu sektor mitigasi.perubahan iklim. Masih rendahnya kesadaran publik, infrastruktur yang belum


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

KILAS

17

FOTO: ISTIMEWA

Pada hari pertama, diselenggarakan Special session mengenai “Sustainable Waste Reduction Program Based on Community Engagement in Climate Change” membahas bahwa dalam kaitannya dengan perubahan iklim, pengelolaan sampah diperlukan karena sebagai salah satu sektor mitigasi.perubahan iklim. Masih rendahnya kesadaran publik, infrastruktur yang belum memadai, serta anggaran pengelolaan sampah yang belum menjadi prioritas mendorong pentingnya partisipasi masyarakat untuk mengelola sampah, yakni melalui pengurangan sampah secara terpadu dan berkelanjutan. Special session “Toward Implementation of Indonesia’s New Urban Agenda menekankan bahwa New Urban Agenda adalah penegasan komitmen global untuk tujuan ke 11 pada Sustainable Development Goals. Mengingat bahwa perkotaan menghadapi permasalahan seiring peningkatan penduduk yang berimplikasi padatnya pemukiman sehingga perlu dilakukan reklasifikasi desa-kota. Selain itu, pembangunan kota-kota di Asia Tenggara bervariasi, konsep kota masa depan sangat bergantung pada aspek sosio-ekonomi suatu Negara.

Pada hari ke-2 simposium, 23 Maret 2018, terselenggara 18 paralel session dan terdapat 2 round table dengan tema masing-masing: living with earthquake hazard dan the urban poor in politics. Pada hari ke-2 ini juga terdapat speech on heritage dan 2 spesial session. Pada special session “Sustainable Peatland Restoration and Management” dijelaskan studi kasus kebakaran lahan gambut 2015 di Riau dari perspektif Ekologi, Ekonomi & Masyarakat. Salah satu hal yang paling penting dilakukan adalah mengamankan partisipasi masyarakat yang lebih kuat melalui peningkatan hak. Special session “Sustainable Maritime Management” membahas mengenai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) sebagai instrumen untuk melindungi dan mengelola lingkungan masih memiliki celah, seperti indikator yang tidak merefleksikan kondisi lingkungan Indonesia. Hari terakhir simposium diselenggarakan pada 24 Maret 2018 di Balai Sidang, Kampus UI Depok, dihadiri oleh Gubernur Jakarta (Anies Baswedan), Wakil Gubernur (Sandiaga S. Uno), dan Rektor UI, serta mahasiswa UI dari berbagai fakultas. “Kerap kali kita merayakan keber-

agaman secara berlebihan padahal, keberagaman itu diberikan, tanpa perlu mengusahakan, siapa pun kita memang ditakdirkan menjadi bagian dari kisah keberagaman di dunia, namun yang perlu kita usahakan bersama adalah persatuan” tutur Anies. Selama acara simposium juga digelar pameran dari berbagai lembaga dan penerbit internasional, panel sessions, poster session, gala dinner dan cultural night. Pada cultural night, partisipan menggunakan pakaian daerah serta memperkenalkan jenis dan asal daerah pakaian serta tarian-tarian dan seni musik tradisional Indonesia. Semua perhelatan tersebut sebagai bentuk penguatan eksplorasi budaya nusantara Indonesia selaku tuan rumah SEA Studies Symposium ke-7. SIL UI berharap, kegiatan simposium dapat menghubungkan berbagai pihak untuk saling berbagi pembelajaran dalam rangka membangun jejaring antara para pembuat keputusan di berbagai bidang sehingga dapat berkontribusi pada perwujudan pembangunan berkelanjutan.


18

g erbatam a 83 // 05 -2018

kuliner

Berani Berbeda, Kebab Kelinci Buatan Anak UI Warnai Kuliner Nusantara

FOTO: JATI SETYARINI

Lazimnya, daging yang digunakan dalam kebab adalah daging sapi, ayam, atau pun kambing. Lantas bagaimana jika daging tersebut diganti dengan daging kelinci? Sebuah inovasi baru yang kemudian ditangkap oleh Abdurrahman WS, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, sebagai suatu peluang. Ia bersama dengan delapan rekan tim-nya mulai menggeluti bisnis kebab kelinci ini sejak lima bulan yang lalu. Binatang yang satu ini memang imut dan lucu sehingga jarang sekali ditemukan pada inovasi panganan. Namun, daging kelinci memiliki kandungan protein yang lebih tinggi daripada daging ayam, kambing, sapi

dan babi serta memiliki kadar kolestrol yang paling minimal. Kebab Kelinci Nusantara menjadi pelopor kebab isi daging kelinci diantara 233 brand kebab yang bersaing di Indonesia. Selain dagingnya yang berbeda, pembeli akan merasakan pelayanan layaknya membeli martabak, menentukan isi dan jumlah telurnya. Pertama memilih base atau jenis tortilla yang pilihannya bervariasi seperti tortilla gandum, dan tortilla crispy cheese. Ditambah olahan daging kelinci menjadi rabbit satay atau rabbit crispy, sayuran dan aneka sambal nusantara. Sambal menjadi kunci rasa pedas dari inovasi panganan Turki ini. Sambal ikan roa, sambal ijo, sambal

“Pedesnya pas, kulitnya tidak terlalu tebal juga, secara isi lebih terasa. Kenyang makan satu ini. Sayuran dan saus tidak terlalu mengacaukan rasa daging sama kulitnya. So far sih enak�,

petis, sambal terasi, dan aneka sambal lainnya menggoda selera lidah Indonesia. “Pedesnya pas, kulitnya tidak terlalu tebal juga, secara isi lebih terasa. Kenyang makan satu ini. Sayuran dan saus tidak terlalu mengacaukan rasa daging sama kulitnya. So far sih enak�, ujar Gunawan Saputra (29 tahun) , pembeli kebab kelinci. Ia menambahkan agar kebab kelinci dapat menyesuaikan dengan selera anak-anak baik ukuran dan sausnya. Dengan harga Rp15.000,00/itemnya, panganan ini cocok menjadi referensi menu buka puasa di bulan suci Ramadhan. Tersedia di Jalan Raya Lenteng Agung No.36, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang buka setiap hari kecuali Jumat mulai pukul 16.00 sampai 21.30 WIB. Harganya yang relatif terjangkau untuk kantung mahasiswa, serta dekat dengan lokasi kampus. Sobat gerbie, berani coba makanan kekinian yang satu ini untuk takjil sore nanti? (ATT)


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

OPINI SKETSA

19


20 liputan khusus g erbatam a 83 // 05 -2018

CATATAN PERJALANAN: SEPENGGAL CERITA DARI INDONESIA TIMUR

K

ejadian gizi buruk dan campak yang melanda masyarakat Asmat, Papua menjadi perbincangan hangat di awal tahun ini. Tim Gerakan Asmat Bebas Gizi Buruk (Gabruk!) yang terdiri dari aliansi BEM UI dan BEM Fakultas bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Gabruk! berencana membagikan bantuan sembako pada beberapa distrik di Asmat, Papua. Suara Mahasiswa UI mencoba merekam keadaan Asmat dan memberikan pandangan baru pada mahasiswa UI.

Hari Ke-1 (Selasa, 13 Februari 2018): Tiba di Agats Kami bertolak dari Pusgiwa UI menuju Bandara Soekarno-Hatta. Setelah menempuh sekitar tujuh jam perjalanan udara, sampailah kami di Bandara Mozes Kilangin, Timika pukul 05.53 WIT. Untuk menuju ke Kabupaten Asmat, kami harus menempuh perjalanan udara dengan menggunakan pesawat kecil jenis twin otter dari Bandara Mozes Kilangin baru. Kedua bandara tersebut berada di area yang sama, tetapi kami harus menggunakan mobil selama sepuluh menit untuk berpindah ke bandara baru yang telah diambil alih oleh pemerintah. Bandara ini melayani rute penerbangan ke daerah-daerah lain di Papua, misalnya Wamena dan Asmat. Terlihat banyak orang lokal berlalu-lalang dengan membawa berbagai macam sembako yang akan dijual kembali. Saya juga melihat ada seorang pria yang membawa ayam hidup ke dalam bandara. Jadwal penerbangan ke Bandara Ewer, Asmat hanya tiga kali, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu. Sayangnya, jadwal ke Ewer untuk hari ini sudah penuh sehingga saya dan tim tidak bisa berangkat. Meski ternyata ada dua kursi yang tersedia, pihak bandara mendahulukan seorang perempuan dari salah satu rumah sakit yang membawa obat ARV (antiretroviral). Kami pun ditawari oleh seseorang yang mengusahakan agar kami tetap bisa terbang hari ini dengan menggunakan pesawat milik TNI. Setelah sekitar enam jam menunggu, kami akhirnya kami mendapatkan kursi di pesawat carteran menuju Ewer. Harganya tentu jadi lebih mahal, Rp2 juta per orang. Syukurlah kami dapat berangkat dengan harga yang lebih murah karena pesawat tersebut dicarter oleh ‘bos bandara’.

Perjalanan menuju Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat selama 45 menit di udara. Setelah mendarat di Bandara Ewer, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu bermotor (speed boat) karena kondisi geografis Asmat yang merupakan rawa. Di tepi sungai terlihat ada beberapa anak yang sedang memancing udang yang digunakan sebagai umpan memancing ikan. Lima belas menit perjalanan, saya pun tiba di Agats. Penginapan yang akan disinggahi terletak di Kampung Cemnes, sehingga kami menggunakan ojek karena jarak yang cukup jauh. Hampir semua jalan di Asmat menggunakan papan kayu karena terletak diatas rawa. Hanya ada beberapa ruas jalan yang menggunakan beton atau aspal. Motor-motor di sini menggunakan listrik sebagai sumber energi karena sulit mendapatkan BBM. Suara dari mesin motor terdengar jauh lebih halus, bahkan hampir tidak terdengar. Motor listrik yang didatangkan dari Surabaya ini tidak dipunguti pajak kendaraan seperti pada umumnya, tetapi berupa retribusi parkir berlangganan motor elektrik sebesar 150.000 rupiah setiap tahunnya. Motor ini sangat cocok untuk di daerah dengan mayoritas jalan yang terbuat dari papan kayu karena lebih ringan. Salah satu pengemudi ojek memberikan keterangan bahwa motor tersebut digunakan dari pagi hingga sore, kemudian diisi hingga pagi lagi. Sepanjang jalan menuju penginapan di Cemnes, terlihat ada berbagai macam toko, seperti toko pakaian, sepatu, perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, kios pulsa, apotek, bank, rumah makan, dan lain-lain. Tidak jarang juga saya melihat para pendatang yang sebagian besar berasal dari Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Bahkan, merekalah yang mendominasi perekonomian di sini. Saya sendiri jarang sekali menemukan masyarakat lokal yang membuka kios atau toko di sini. Penginapan Firda, tempat kami menginap merupakan rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu. Warga sini memanfaatkan air hujan sebagai sumber air bersih yang digunakan untuk mencuci dan mandi. Di


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

liputan khusus

21

OLEH: DIANA FOTO : DIANA

penginapan terdapat warung kecil yang menjual masakan matang, air mineral dalam kemasan, dan kebutuhan harian lainnya. Jika dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa, harga barang disini jauh lebih mahal. Eni, salah satu pengelola penginapan berasal dari Soppeng, Sulawesi Selatan. Ia sudah lima bulan berada di Asmat dengan suami dan anak-anaknya. Meski begitu, ia mengaku kepada kami bahwa keadaan di sini lebih menyenangkan dibandingkan dengan kampung halamannya, “Lebih senang di sini, alhamdulillah,�. Salah satu alasan dari sebagian besar pendatang adalah untuk mencari rezeki dan kehidupan yang lebih baik. Hari Ke-2 (Rabu, 14 Februari 2018): Kampung Ayam dan Kampung Waw Cesau Pagi hari sekitar pukul 9.30 WIT, kami menuju Distrik Akat untuk distribusi bantuan pangan di Kampung Ayam dan Kampung Waw Cesau. Perjalanan dengan menggu-

nakan speed boat butuh waktu sekitar satu jam, sedangkan jika menggunakan long boat butuh waktu dua jam. Perjalanan kami tempuh melalui sungai Aswet yang berliku-liku. Airnya tampak kotor dan berwarna kecokelatan dan tak sedikit kami menemukan sampah-sampah tumbuhan di sungai. Banyak warga lokal yang sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu Chi. Ketika kami sampai, banyak anak-anak yang sedang bermain di tepi sungai tempat kami berlabuh. Mereka bermain buah batu dan buah jambu laut dan saling tertawa dan melempar buah tersebut. Kami juga bertemu dengan dua anak yang berusia sekitar dua belas tahun, Ika dan seorang temannya yang menawari kami kelapa muda. Harganya lima ribu rupiah per butir. Kedua anak itu memanjat dan memetik buahnya langsung dengan menggunakan parang yang mereka bawa. Sembari menunggu tim yang menggunakan long boat, kami berjalan-jalan di sekitar kampung. Ja-

lan papan di kampung ini banyak yang renggang dan kayunya yang sudah mulai rusak. Kayu-kayu tersebut harus diganti secara rutin sekitar dua sampai tiga tahun sekali. Tidak ada motor listrik dan tidak ada jaringan telepon seluler. Jarak antar rumah di sini lebih lengang jika dibandingkan di Agats. Terlihat ada beberapa kios yang menjual kebutuhan sehari-hari, dan lagi-lagi dikelola oleh pendatang. Hanya terdapat satu TK dan SD di kampung tersebut. Saya bertemu dengan salah satu siswa di SD YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) di sana. Namun sayang, karena bertepatan dengan Rabu Abu, anakanak pulang lebih awal untuk berkegiatan di gereja. Seharusnya, siswa kelas 6 SD pulang pukul 13.30 WIT setiap harinya. Cukup berbeda dengan keadaan di Agats, saya menemukan beberapa parit yang membuat kondisi tanah di kampung ini lebih kering sehingga bisa digunakan untuk menanam. Tidak hanya kelapa, kami juga ditawari nanas oleh seorang mama-mama seharga sepuluh


22 liputan khusus g erbatam a 83 // 05 -2018

ribu rupiah per buah. Ia menanamnya di depan rumah dan biasa berjualan dengan cara mendatangi rumah-rumah di sekitar sini. Beberapa warga juga terlihat beternak ayam yang membuat kampung tersebut dinamai Kampung Ayam. Selanjutnya tim kami datang memberikan bantuan berupa beras masing-masing 20 karung untuk setiap kampung di Asmat. Ada juga satu karton minuman dalam kemasan dan beberapa bungkus rokok sebagai ‘pelicin’. Rumah bujang Kampung Ayam ini terlihat sangat lebar. Di bagian bawah rumah bujang juga terdapat patung-patung ukiran. Seluruh rumah bujang ini terbuat dari daun nipah yang dianyam, rotan, dan kayu besi. Bagian alas atau lantainya terbuat dari kulit kayu. Ketika ada kegiatan di rumah bujang, saya melihat bahwa warga langsung datang berbondong-bondong ke dalam rumah bujang. Mama-mama menggendong anaknya dan langsung duduk berbaris rapi di bagian sebelah kanan rumah bujang. Sedangkan, para bapak duduk tersebar di sisi kiri. Kampung Ayam terdiri lebih dari 200 KK dengan lebih dari 600 jiwa. “Penduduk hanya pencari dan bertani,” ucap Karl Ken, Sekretaris Kampung Ayam. “Kami memang mengalami kesulitan yang terjadi pada tahun 2018 ini, awalnya dari bulan Desember 2017, kami mulai lihat ada gejala. Kemudian Januari 2018 mulai,” jelasnya saat menceritakan kondisi Kampung Ayam pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB). Yunus Askoman, Kepala Kampung Waw Cesau ikut memberikan keterangan mengenai kondisi anak-anak di sana, “Dari 28 anak, meninggal 5 anak. Yang sehat kembali ada 24, ada yang terkena campak pada saat masih dalam kandungan,” Efandi, keponakan Yunus merupakan salah satu korbannya. Tidak hanya itu, Efandi juga memiliki gangguan penyakit kulit yang membuat sekujur tubuhnya terasa gatal atau biasa disebut kaskado. Hari Ke-3 (Kamis, 15 Februari 2018): Kampung Ewer dan Kampung Sau Pagi hari ini hujan rintik-rintik turun membasahi tanah Asmat. Ketika hujan mulai berhenti, kami langsung menuju Kampung Ewer, hanya lima belas menit melintasi sungai Aswet yang berkelok-kelok itu. Ada satu sekolah, SD YPPK yang memiliki sekitar 200 orang murid. Sedangkan, untuk tingkat SMP hanya terdapat di Agats. Anak-anak di

sini cenderung terlambat bersekolah, rata-rata murid kelas 1 SD berusia 8-9 tahun. Saya bertemu Marlina (9) yang duduk di kelas 1 SD dan teman-temannya yang sedang beristirahat. Guru-guru di sini hanya berjumlah 10 orang termasuk kepala sekolah. Delapan di antaranya adalah PNS dan sisanya merupakan guru honorer. Tujuh pelajaran dalam satu hari membuat mereka berada di sekolah dari 7.30 sampai 12.00 siang. “Kurikulum KTSP, buku dari dinas kurikulum 2013 tapi tidak diganti,” terang salah satu guru kelas 5 SD YPKK mengenai kurikulum yang digunakan. Anak-anak di Kampung Ewer tidak ada yang menjadi korban pada saat KLB campak. Rumah bujang di kampung ini juga sudah mulai terinstalasi listrik. Jaraknya juga sangat dekat dengan sekolah dan bandara tempat kami mendarat kemarin. Mayoritas masyarakat di sini bercocok tanam dan juga menangkap ikan. Kami juga menemukan lapak tempat mama-mama menjajakan noken buatannya. Butuh waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan satu buah noken. Tas adat khas Papua itu dijual dengan harga 100 ribu rupiah yang berukuran kecil, sedangkan yang besar bisa sampai 150, bahkan 200 ribu rupiah. Kampung selanjutnya yang kami kunjungi adalah Kampung Sau. Ada yang terlihat berbeda dari kampung ini. Budaya patriarki yang begitu kental membuat mama-mama di sini terbiasa bekerja keras. Merekalah yang membawa pasokan beras ke dalam Balai Kampung Sau. Beberapa anakanak juga ikut membawa kardus yang berisi biskuit. Hari Ke-4 (Jumat, 16 Februari 2018): Keuskupan dan RSUD Hari ini kami tidak pergi ke kampung-kampung untuk distribusi bantuan. Ketika waktu salat Jumat, saya mengunjungi Keuskupan Agats yang bertempat persis di sebelah RSUD Asmat. Di sana saya bertemu dengan pastor, pengurus gereja, dan seorang dokter. Kritikan datang terhadap aksi yang dilakukan dengan membagi-bagikan beras karena beras bukan merupakan makanan pokok masyarakat lokal. “Tidak sedang membantu menyelesaikan masalah, tapi sedang menciptakan masalah baru dan melanggengkan pola-pola yang

sudah sering dilakukan,” ujar Pastor Hendrik. Terjadi pergeseran makanan yang dikonsumsi sehari-hari, yaitu makanan yang sulit didapatkan di alam. “Mereka lebih suka makan mi instan dan minuman bergula yang manis sekali. Sedangkan sagu rasanya tawar sekali,” tambahnya. Salah satu solusinya adalah dengan mengenalkan berbagai macam olahan dari sagu. Selain itu, Dokter Yenny juga meragukan sistem pemberian bantuan pangan selama ini, “Belum tentu akan sampai ke masyarakat,” tambahnya. Dengan adanya bantuan beras, masyarakat juga akan berpikir bahwa jika mereka berada di hutan untuk mencari makanan, nanti tidak akan mendapatkan bantuan beras yang dibagikan. Pada akhirnya, mereka hanya menunggu bantuan, menahan rasa lapar selama berhari-hari, dan pada akhirnya mengalami busung lapar. Mengenai masalah kesehatan yang menimpa masyarakat sini, Dokter asal Makassar tersebut mengatakan salah satu alasannya bahwa pola hidup sehat yang masih belum diterapkan. Air yang digunakan untuk konsumsi berasal dari air sungai tanpa direbus ketika hujan yang jadi satu-satunya sumber air bersih tidak turun selama beberapa hari. Selain itu, pergeseran makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari juga membuat daya tahan tubuh mereka kurang, “Anak-anak kecil bukan minum susu di sini, tapi minum kuku bima, minum kopi,” imbuhnya. Ditambah lagi dengan kondisi udara yang buruk karena anak-anak terpapar oleh asap rokok yang diisap oleh para bapak-bapak di sini. Anak-anak memiliki gangguan pernafasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), Asma, dan tidak sedikit anak-anak yang hidungnya mengeluarkan lendir atau biasa dikatakan ingusan. Di RSUD Asmat, masih ada beberapa pasien gizi buruk dan campak yang dirawat di sana. Sayangnya, kami tidak bisa mendapatkan data terbaru mengenai pasien di sana. Sama seperti rumah-rumah warga, rumah sakitnya juga terbuat dari kayu-kayu juga. Di sana saya bertemu dengan Priskila (4) salah satu pasien gizi buruk yang sudah dua bulan dirawat di sana.


g e rb atama 8 3 // 0 5 - 2 0 1 8

OPINI FOTO

Aksi atau Presensi? Riardi Solihin

Akses Catatan Perjalanan di youtube dan website suaramahasiswa.com

23


24 advertorial

g erbatam a 83 // 05 -2018

Gerbatama: Ini UI! Edisi Khusus #83: 20 Tahun Reformasi  
New
Advertisement