Page 1

g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

edisi MAret 2014

ini UI !

Unduh Gerbatama Digital di www.suaramahasiswa.com // Twitter @sumaUI // Gratis

68


g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

edisi Maret 2014

ed i t o r i a l Kami sadar, media massa merupakan ruang publik. Di dalamnya, kita dapat melihat perbedaan dan berdebat secara terbuka. Dengan begitu, kita terbebas dari prasangka dan antagonisme yang berujung konflik. Hanna Arendt, filsuf perempuan yang perokok berat itu, yakin kalau hanya lewat ruang publik kita dapat berdiri setara di antara manusia lainnya. Itu lah ambisi kami di tahun ini: membuka ruangan itu bagi Sivitas UI. Kami juga, lewat wacana dan fakta yang diwartakan, ingin mengajak Sivitas UI untuk berpikir kritis dan berefleksi, karena terusmenerus taqlid dan membeo membuat kita terbelenggu dalam manipulasi sistem, membuat kita lupa, tak tahu siapa kita. Ini lah buletin Gerbatama: Ini UI! edisi pertama di tahun 2014 dengan susunan baru di redaksi. Akhir kata, kami mengucapkan selamat datang di ruangan ini!

Pemimpin Redaksi Syamsul Bahri Fikri Redaktur Artistik Nova Marina Sirait Redaktur Foto Hana Maulida Redaktur Riset Muhammad Ginanjar Reporter Dila Hanum, Dimas Andi Shadewo, Rosi Sofiya F.A Fotografer Diah Desita, Ivana Rahardja, Mohammad Toha Santoso Peneleti dan Pengembang Gema Nasution, Putri Diani Maharsi Desain Tata Letak Achmad Maulana Ibrahim, Lentara Pundi Syaina Sirkulasi Bayu Soleman


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

pengurus suara mahasiswa

KONTEN Kilas: Butuh Partisipasi untuk Cegah Bencana

4

PEMIMPIN UMUM Arief Hanifan

Laporan Utama: Butuh Partisipasi untuk Cegah Bencana

SEKRETARIS UMUM Agustina Pringganti

9

BENDAHARA UMUM Rahmalia Puteri Coraima Okfriani

Opini Sketsa Riset:

PEMIMPIN PERUSAHAAN Josua Roniasi

12

Manajer Proyek | Juliana Inderadjaja Manajer Branding | Wulan Suci Handayani Manajer Sirkulasi | Bayu Soleman Manajer Iklan | Dara Nanda Vitera

6

10

Laporan Khusus: Berorganisasi untuk Apa?

Teknologi: Waspada Banjir dengan Aplikasi Siaga Banji Minat: Mengenal Budaya Korea lewat Hanggugo Dongari

14

Resensi Buku: Sulap Romantis di Sirkus Impian

18

16

PEMIMPIN LITBANG Maulandy Rizky BK Kabag. Penelitian | M. Ginanjar Kabag. Kajian | Binar Asri L Kabag. Pusat Data Informasi | Fauzan W

20

PEMIMPIN PRODUK Lucky Indah

Opini Foto: UI Go Green Campus?

Website Suaramahasiswa.com | Rosseno Aji Buletin Gerbatama: Ini UI! | Syamsul Bahri Fikri Majalah Suara Mahasiswa |Dinda Larasati MANAJER SDM Carla Helsi A Kadiv Reporter | Andina, Faizah, Evita Nur, Luthfia Rizki, Ika Indah, Miranda Olga Kadiv Litbang | Putri Diani Kadiv Fotografer | M Hanbali Kadiv DTP | Dian Pratiwi Kadiv MM | Juliana Inderadjaja MANAJER KOMINFO/ WAKIL Sarah Sofiana Indrie Mutiasari

SURAT NYATA

‘‘

Universitas bukan lagi tempat pengetahuan berproses. Ia jadi pabrik tenaga yang mau serba praktis. Ia jadi tempat orang berbelanja "keterampilan" Goenawan Mohamad


04 k I L AS

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

Bencana kebakaran pada awal tahun di FISIP UI

BUTUH PARTISIPASI UNTUK CEGAH BENCANA Awal tahun 2014 ini UI terkena bencana: sebuah gedung di FISIP UI terlalap habis oleh si jago merah. Butuh partisipasi dalam penanggulannya OLEH: DIMAS ANDI SHADEWO FOTO: DIAH DESITA

P

eristiwa kebakaran Gedung C FISIP UI bukan satu-satunya keadaan darurat yang terjadi di UI. Wajar bila penanganan terhadap keadaan darurat menjadi sesuatu yang patut diperhatikan. Sebab, dengan wilayah kampus yang luas, kea-

manan dan keselamatan menjadi hal yang penting di UI. Sistem keamanan dan keselamatan di UI memang mendapat sorotan dalam hal ini. UI sendiri sebenarnya telah memiliki prosedur dalam hal mencegah dan me-

nanggulangi keadaan darurat yang dikoordinir melalui pihak Pembinaan Lingkungan Kampus (PLK) UI. Seperti pernyataan Yuni selaku Kordinator Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) UI, “UI itu mempunyai suatu konsep atau prosedur dalam satu


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

k I L AS

payung yang telah dikoordinir oleh Subdit PLK.” PLK pada dasarnya mempunyai fungsi mengatur keamanan dan keselamatan di lingkungan UI termasuk hal penanganan keadaan darurat seperti kebakaran, ancaman bom, dan bencana alam. Itu semua telah memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri mengenai pencegahan, penanggulangan, juga pihak yang menjadi komando bila terjadi keadaan darurat. Yuni mempunyai pendapat mengenai insiden di FISIP bulan Januari lalu dari segi keamanan dan keselamatan. “Insiden di FISIP kemarin lebih mengarah ke keselamatan bukan keamanan. Karena bila keamanan, maka akan ada asumsi lain mengenai insiden tersebut,” ujarnya. Bicara soal keamanan, PLK pada prinsipnya selalu mengawasi secara ketat namun tidak serta merta membatasi orang atau pihak yang melakukan kegiatan di kampus selama tujuannya jelas. Bila tidak, PLK tentu akan melakukan peringatan dan tindakan sesuai ketentuan yang berlaku. Sedangkan dalam hal keselamatan, pihak PLK sejak tahun 2006/2007 telah mengembangkan aspek K3 di wilayah kampus walaupun saat tahun-tahun pertamanya masih berorientasi di tingkat universitas secara sempit. Barulah di tahun 2009 aspek ini berkembang pada tingkat universitas secara luas melalui Deklarasi Rektor UI Tentang Komitmen Kebijakan K3 Lingkungan di UI. Seluruh sistem keamanan dan keselamatan di UI telah tercangkup dalam Standard Operation Procedure (SOP) yang telah terbentuk sejak tahun 2008. Dalam prosedur tersebut, PLK menyediakan SDM, sarana, juga pelatihan atau simulasi tanggap darurat di wilayah kampus. “PLK sudah menyusun konsep keamanan dan kesalamatan pada tahun 2008/2009 yang mencakup level prosedur. Itu berisi bagaimana kita membentuk tim di setiap gedung atau fakultas. Bila terjadi keadaan darurat, kita dapat mengetahui keadaan daruratnya seperti apa, tingkat berapa, siapa yang berwenang mengkordinir kead-

aan tersebut, dan apa yang harus dilakukan. Itu semua ada dalam prosedur,” sebut Yuni menjelaskan inti SOP sistem keamanan dan keselamatan di UI. Mengenai pihak yang berwenang menanggapi keadaan darurat, sesuai petunjuk teknis harus dilihat dulu tingkat daruratnya. Insiden di FISIP UI lalu masih termasuk darurat tingkat fakultas yang berarti pihak dekan lah yang berwenang mengomandoi penanggulangannya. Rektor baru akan menjadi komando dalam penanggulangan keadaan darurat bila terjadi insiden yang berisiko di seluruh wilayah UI. SOP tersebut juga membahas mengenai rencana yang dibuat PLK seperti penempatan aparat keamanan yang kompeten di setiap gedung di UI juga penambahan fasilitas tanggap darurat. Namun, ketika dikaitkan insiden di FISIP UI yang lalu, PLK menjelaskan belum saatnya UI membuat rencana pembangunan unit pemadam kebakaran yang juga termasuk fasilitas tanggap darurat. PLK tampaknya lebih ingin meminimalisir atau bahkan mencegah insiden-insiden buruk yang terjadi di UI. Tidak hanya kebakaran, tapi juga insiden lainnya seperti gempa bumi, banjir, dll. Faktor tempat dan sumber daya manusia menjadi alasan utama tidak dibangunnya pemadam kebakaran di wilayah UI. Seperti penjelasan Yuni, “Dalam penanggulangan bencana seperti kebakaran yang idealnya itu adalah jangan sampai itu kejadian dulu dong. Aspek pencegahan juga harus diperhatikan. Pembangunan pemadam kebakaran itu lebih merujuk pada pembentukkan tim bukan berarti harus ada ‘damkar’ (Pemadam Kebakaran—red) di UI.” Penjelasan tersebut menandakan bahwa UI lebih mementingkan aspek pencegahan keadaan darurat juga bencana ketimbang tindakannya saat keadaan tersebut terjadi. Lebih singkatnya preventif diatas represif. Pencegahannya tentu dimulai dari perilaku orang atau pihak di UI itu sendiri dan mekanismenya kembali merujuk pada aturan dan ketentuan yang berlaku.

05

Melihat efisiensi SOP yang dirancang pihak PLK, memang tidak dapat dikatakan sempurna. Segala aturan dan ketentuan mengenai keamanan, keselamatan, dan kesehatan lingkungan, serta keadaan darurat telah tercantum di dalamnya melalui media buku panduan. Akan tetapi masih ada yang perlu dibenahi oleh seluruh pihak di UI. Pada perjalanannya, selalu ada tantangan dalam hal menciptakan kondisi keamanan dan keselamatan lingkungan yang ideal. Selalu ada ruang di mana hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Begitu pun dalam segi fasilitas atau infrastruktur di UI yang belum sepenuhnya memenuhi kriteria sistem yang aman dan selamat. Salah satu mahasiswa Farmasi UI, Iksan berpendapat bahwa sistem keamanan dan keselamatan di UI belum lah sempurna dan belum mencapai seluruh komponen atau wilayah. “Kalau di fakultas saya sendiri sih keliatannya sudah benar, tapi kalau dilihat di UI secara keseluruhan kayaknya belum” ujarnya. Pernyataan hampir serupa juga diberikan oleh Izzun, mahasiswa MIPA UI. Ia berkata bahwa sistem keamanan dan keselamatan di UI sebenarnya sudah bagus namun masih ada yang perlu dibenahi seperti infrakstrukur lampu jalan yang dirasa masih kurang. Padahal itu sangat penting bagi aspek keamanan di UI. Menanggapi hal ini, pihak PLK mengakui bahwa faktor terbesar belum sempurnanya kondisi keamanan dan keselamatan terutama dalam penanggulangan keadaan darurat adalah SDM. “Kita butuh partisipasi dari semua pihak. Kita itu PLK orangnya cuma segitu dan kita masih butuh teknisi lebih kalau misalnya mau memperbaiki fasilitas,” kata Yuni. Lebih lanjut ia juga menyatakan, “Kita ingin bekerjasama juga dengan pihak mahasiswa. Kita pernah adakan sosialisasi namun sayang sekali yang datang dari mahasiswa itu sedikit sekali. Padahal kita berharap organisasi mahasiswa itu berperan aktif dalam hal sosialisasi keamanan dan keselamatan di kampus kita sendiri,” jelasnya.


06 la p o r a n u ta m a

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

BERORGANISASI UNTUK APA?

Masihkah banyak mahasiswa yang memilih bergerak di organisasi intrakampus?


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

la P O R A N u TA M A

07

Seringkah Anda temukan sekelompok mahasiswa yang duduk melingkar melakukan rapat di selasar atau pojokan gedung fakultas sesudah kelas di sore hari? Ide-ide hebat, yang sesekali diselingi gelak tawa, mengalir dalam rapat itu, hingga tak terasa senja sudah berubah menjadi gulita.

OLEH: OLIVINIA QONITA PUTRI FOTO: HANA MAULIDA

A

tau mungkin Anda pernah menyusuri Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia (Pusgiwa UI)? Dari kejauhan, setiap sore Anda akan disambut oleh musik yang dihasilkan oleh sejumlah kombinasi alat perkusi, alat tiup, dan pit dari kelompok orkes barisan Madah Bahana UI. Tak jauh dari tempat latihan mereka, sekelompok mahasiswa yang menggunakan seragam Taekwondo akan terlihat sedang giat berlatih tendangan. Beranjak ke lantai dua, Anda dapat menyaksikan ruang Badan Eksekutif Mahasiswa dan Dewan Perwakilan Mahasiswa UI yang berdampingan dan tidak pernah sepi dari rapat organisasi. Itulah kondisi yang sehari-hari ditemukan di Pusgiwa. Begitu banyak organisasi yang ada di UI. Tak kurang dari delapan Lembaga Kemahasiswaan dan 49 Unit Kegiatan yang dapat memfasilitasi keinginan mahasiswa untuk mencari pengalaman tambahan di luar jam kuliah. Jumlah ini pun baru di tingkat universitas, belum termasuk organisasi yang ada di 13 fakultas di UI. Kampus kuning menjadi tak pernah sepi dari aktivitas dan kegiatan mahasiswa.

Beragamnya organisasi yang ditawarkan sejalan dengan beragamnya motivasi mahasiswa dalam mengikuti organisasi tersebut. Ada yang mengaku sebagai media untuk pengabdian masyarakat sebagaimana yang tertuang dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Ada juga yang mengikuti organisasi karena punya minat pada bidang tertentu atau passion. “Passion saya adalah di kegiatan outdoor dan militer, oleh karena itu saya mengikuti Menwa (Resimen Mahasiswa—red) dan Pasatwa (Pecinta Alam FKM UI—red),” ujar Mega, mahasiswa FKM UI angkatan 2011. Namun, tak sedikit mahasiswa yang mengikuti organisasi karena ingin ‘mempercantik’ Curriculum Vitae (CV). Hal ini pun diakui oleh Dewi, mahasiswi Fasilkom UI angkatan 2013. Dewi, yang saat ini mengikuti Lembaga Dakwah Fakultas FUKI Fasilkom UI, mengaku bahwa ia berorganisasi karena ingin menambah pengalaman sehingga CV-nya nanti tidak terlihat kosong, selain alasan utama bahwa ia ingin lebih mendalami Islam. Hal yang sama juga diakui oleh Tiara, mahasiswi Teknik Lingkungan UI angkatan 2012. Di tahun pertama kuliah, Tiara belum mengi-

kuti organisasi apa pun karena masih beradaptasi dengan sistem perkuliahan di UI. Namun, memasuki tahun kedua, Tiara memutuskan untuk bergabung dengan Cartala, sebuah organisasi mahasiswa Departemen Teknik Sipil yang bergerak dalam bidang riset ilmiah serta memfasilitasi mahasiswa untuk mengikuti perlombaan. Pertimbangan Tiara dalam mengikuti Cartala adalah untuk menambah soft-skill dan menambah pengalaman organisasi. Ditemui sore hari di selasar Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan, Icha, mahasiswi FKM UI angkatan 2012, termasuk orang yang tidak mengikuti organisasi apa pun selama di UI. Icha, yang pernah mengikuti kegiatan OSIS selama di SMA, mengatakan bahwa alasan utamanya tidak berorganisasi adalah karena jarak dari rumah ke kampus yang lumayan jauh. Hal itu membuatnya merasa keberatan jika harus pulang malam hari seusai mengikuti kegiatan organisasi. Pertimbangan lainnya adalah karena dia belum menemukan organisasi yang cocok. Menurutnya, iklim organisasi di UI terlalu serius. Tetapi Icha juga memikirkan penilaian CV-nya ketika nanti melamar


08 lA P O R A N u TA M A

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

kerja. “(Karena) orang yang ikut organisasi biasanya dipandang lebih dapat bekerja dalam suatu tim,” ujarnya. Penilaian di Dunia Kerja Fenomena berorganisasi karena pertimbangan CV dinilai positif oleh Adi Respati, S.Psi, M.Si, Dosen Fakultas Psikologi UI. Ia menuturkan kalau mahasiswa yang mempertimbangkan penilaian CV adalah mahasiswa yang strategis. Orangorang seperti ini, menurutnya, akan berpotensi menduduki level strategis di dunia kerja. Bahkan, Adi menuturkan, lebih baik lagi bila mahasiswa terlibat di banyak organisasi daripada hanya menekuni satu organisasi saja. “Orang yang fokus pada satu organisasi akan menjadi spesialis. Sementara, (orang-orang) yang memilih banyak organisasi akan menjadi manajer level strategis,” katanya. Organisasi yang ditekuni mahasiswa, diakui Adi, dapat menentukan kesempatannya untuk diterima di dunia kerja. Perusahaan biasanya akan lebih memilih mahasiswa yang relevan antara organisasinya dengan pekerjaan yang nanti ditekuninya. Selain itu, perusahaan akan menanyai mahasiswa, yang calon pekerja, mengenai evaluasi di organisasinya. “Misalnya nih, di CV tertulis pernah menjadi ketua AIESEC UI. Biasanya akan ditanya lebih jauh seperti ‘Apa yang kamu lakukan selama menjadi ketua?’ ‘Bagaimana evaluasi organisasi di periode kamu?’,” terang Adi. Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan dinilai dan kemudian menentukan keberhasilannya diterima di perusahaan yang bersangkutan. Sementara itu, Surya Simanjuntak, Human Resources Development (HRD) di PT PGAS Solution, anak perusahaan dari PT. Pusat Gas Negara (PGN), mengatakan hal yang sedikit berbeda. Di perusahan tempatnya bekerja, kata Surya, ada beberapa komponen yang dinilai untuk calon pekerja. Penilaian tersebut bukan hanya dari daftar riwayat organisasinya saja. Tetapi juga, “Latar belakang pendidikan dan akreditasi kampusnya,” tuturnya.

Sesudah itu, Surya melanjutkan, transkrip nilai yang baik juga diperlukan bagi mahasiswa, yang calon pekerja. Karena, “Transkrip nilai mencerminkan penguasaan dan pengetahuan calon karyawan terhadap bidang yang dituju,” terangnya. Terakhir persuahaan baru melihat pengalaman berorganisasinya selama di kuliah. Mengenai mahasiswa yang mengikuti organisasi karena pertimbangan CV, Surya mengaku bahwa dulu dirinya juga menerapkan hal yang sama. Lulusan Fakultas Psikologi UI tersebut tidak menampik bahwa mahasiswa kerap mempertimbangkan kualitas CV-nya.

“Orang yang fokus pada satu organisasi akan menjadi spesialis. Sementara, (orangorang) yang memilih banyak organisasi akan menjadi manajer level strategis,” katanya.

Namun, alasan itu sah-sah saja selama ada proses pembelajaran ketika berorganisasi. “Sebetulnya organisasi adalah simulasi dunia kerja, bedanya di dunia kerja lebih professional saja,” tutupnya. Tak Selamanya CV Meskipun berguna di dunia kerja nanti, tidak selamanya mahasiswa memilih organisasi karena CV. Ketua BEM Fakultas Ilmu Keperawatan UI 2014, Dwanti Retno Asih tidak seperti mahasiswa yang hanya mengejar CV. Ia mengaku sama sekali

tidak memikirkan penilaian untuk CVnya. “Saya tuh pengennya melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan,” katanya bersemangat. Tetapi Dwanti tidak menampik dengan pandangan buruk bagi mahasiswa yang berorganisasi untuk memenuhi daftar di CV-nya. Menurutnya, hal itu adalah sesuatu yang positif. “Karena apa? Ia berjuang untuk suatu cita-cita,” tegasnya. Lagi pula, “Orang yang mengikuti organisasi berarti sudah ikut berkontribusi bukan? Untuk umat, fakultas, UI maupun Indonesia,” katanya. Namun, mahasiswa yang akrab disapa Dewe itu menyarankan agar mahasiswa berorganisasi sesuai minatnya. “Jangan sampai menuhin CV tapi kontribusinya kecil, di tengah-tengah kepengurusan hilang. Jangan sampai hanya ingin pamer nama di baliho,” sindirnya. Hal demikian, menurutnya, adalah bibitbibit penyakit yang semestinya tidak boleh ada dalam diri seseorang Ia menganggap, BEM juga harus siap menghadapi mahasiswa yang pragmatis. Hal itu dapat dilakukan, katanya, dengan cara membuat semacam program motivasi agar hal yang seperti itu dapat diluruskan. Dwanti mengharuskan juga agar BEM memberi fasilitas bagi mahasiswa yang pragmatis, tidak hanya memakai tenaganya saja untuk menjalankan program organisasi. “Nah, selain dia (mahasiswa pragmatis—red) harus menjalankan kepanitiaan di organisasi yang bersangkutan, harus ada program dari organisasi itu untuk mengembangkan kemampuan anak ini sesuai yang diinginkannya sejak awal,” katanya. * Organisasi menjadi salah satu pemberi warna dalam kegiatan perkuliahan di kampus UI. Motif organisasi beragam: bisa membela idealisme dan mimpinya dalam organisasi. Lainnya ada yang memiliki motivasi yang pragmatis, berhitung untung untuk diri-sendiri. Memberi makna atau sekadar menumpang nama: jadi, untuk apa Anda berorganisasi?


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

O p i n i s k e t sa

NMS/SUMAUI

09


10

g er b ata m a 6 8 // 03 03--22001144

Riset


ggeerrbbata atammaa6688////0033--22001 4 14

RISET

11


12

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

lA P O R A N K H U S U S

Ferdi (19) mahasiswa FISIP UI sedang membaca berita tentang calon legislatif


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

lA P O R A N k H U S U S

13

FORMULIR A5 UNTUK MAHASISWA DAERAH Mahasiswa asal daerah dapat memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di sekitar kampus dengan formulir A5. Namun hal ini kurang tersosialisasikan. OLEH: ANGGINO TAMBUNAN FOTO: QORIB

P

emilu tinggal menghitung hari. Informasi mengenai formulir A5 serta mekanismenya belum secara menyeluruh diketahui oleh mahasiswa asal daerah. Dengan menggunakan formulir ini, mahasiswa perantau dapat melakukan pemilihan di sekitar kampus. Oleh karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menganjurkan mahasiswa segera mengurus formulir A5 hingga H-3 pencoblosan untuk mempermudah menggunakan hak pilihnya pada 9 april 2014 mendatang. Lebih jelasnya, Komisioner KPU, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, menerangkan kalau “A5 adalah formulir pindah memilih, mahasiswa yang bersangkutan harus ke PPS (Panitia Pemungutan Suara—red) asalnya, misalnya saya tinggal di Bandung dan sedang kost di Jakarta, karena saya memilih di Jakarta, maka saya harus lapor ke PPS dimana saya tinggal; di desa kelurahan saya; kemudian saya dapat A5, nama saya dicoret di PPS asal dan formulir A5 yang telah didapat saya daftarkan di tempat saya memilih,” ungkapnya saat ditemui di Gedung KPU, Jakarta, Jumat (7/3/2014). Tetapi, khusus bagi mahasiswa, Ferry menuturkan kalau KPU memberi kemudahan. “Formulir A5 dapat juga diurus di KPU Jakarta atau di KPU kabupaten tujuan, tanpa harus mengurus di PPS asalnya,” jelasnya. Selain itu, Ferry mengharapkan agar mahasiswa lebih proak-

tif lagi dalam mencari tahu hal ini. “Harusnya mahasiswa merakyat, rakyat aja mau mengurus masa mahasiswa tidak mau mengurus,” ujarnya menambahkan. Kebijakan KPU tersebut dimanfaatkan oleh Ama, mahasiswi Ilmu Komunikasi UI 2013 asal Jember. Ama tidak dapat pulang ke daerahnya untuk melakukan pemilihan umum pada tanggal 9 April nanti lantaran berbenturan dengan jadwal ujian. Tetapi, ia merasakan kurangnya sosialisasi mekanisme formulir A5 ini bagi mahasiswa daerah seperti dirinya. Beberapa waktu lalu, ia sempat mengurus A5 di PPS asalnya di Jember, Jawa Timur. Namun gagal mendapatkan formulir A5 karena ia belum mengetahui PPS mana yang akan dituju. “Apakah mahasiswa yang tinggal di Asrama UI itu masuk daerah Jakarta Selatan atau Depok kemudian tidak ada sosialisasi yang dilakukan KPU terdekat,” ungkapnya. Ama bersama teman-teman paguyubannya akan mendatangi KPU terdekat untuk memastikan hal ini. Berbeda dengan Ama, Riyandi, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia UI 2010 memilih untuk mencoblos di Garut, Jawa Barat. Alasannya ia tidak mau ambil pusing terhadap informasi mengenai mekanisme A5 belum ia ketahui sama sekali. “Karna sampai sekarang saya belum mengetahui informasi

tersebut, saya rasa KPU kurang maksimal dalam bersosialisasi, harusnya KPU mengerti jangkauan anak muda sekarang dalam menggali informasi, di mana mahasiswa lebih sering dekat dengan gadgetnya ketimbang menonton televisi dan membaca surat kabar, contohnya KPU bisa mensosialisasikannya di portal dunia maya yang sering digandrungi anak muda,” ujarnya. Namun Ferry yakin, selaku Komisioner KPU, kalau pihaknya sudah menyosialisasikan tentang formulir A5 ini. “KPU tingkat provinsi dan tingkat kota juga telah melakukan aktivitas sosialisasi termasuk juga sosialisasi kepada pemilh pemula seperti goes to school dan goes to campus,” belanya. Mengenai kemungkinan kecurangan yang mungkin saja terjadi dari mekanisme formulir A5 ini, KPU akan selektif dan verifikasi dalam mengantisipasi adanya data ganda pemilih. Ia juga mengungkapkan harapannya terhadap pemilih pemula yakni minimal peran aktif pemilih pemula untuk mengetahui calon atau partai mana yang akan di pilih,maksimalnya ikut terlibat secara aktif untuk memilih. KPU, katanya, menargetkan untuk jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu ini sebanyak 75 persen dari jumlah pemilih, baik dalam mau pun luar negeri.


14

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

TEKNOLOGI

WASPADA BANJIR DENGAN APLIKASI SIAGA BANJIR Dua pengembang aplikasi, Fauzan dan Enreiner, merasa terpanggil melihat lingkungannya. Dalam waktu singkat mereka membuat aplikasi Siaga Banjir.

OLEH : DILA HANUM FOTO: IVANA RAHARDJA

B

anjir kembali melanda Jakarta di awal tahun 2014 ini. Hampir seperti tradisi, rumah penduduk seakan tenggelam, sarana dan prasarana ibukota pun lumpuh total. Banyak orang yang tidak siap terlambat menyadari bahaya ini dan lupa mencari tempat mengungsi untuk melindungi diri. Masyarakat dengan mobilitas tinggi juga kebingungan mencari jalan alternatif bepergian


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

T E K N O LO G I

Fauzan dan temannya merasa terpanggil melihat hal tersebut. Dalam waktu singkat, ia dan Enreina mengembangkan aplikasi Siaga Banjir. “(Itu) bentuk turun tangan kami sebagai pengembang aplikasi, guna membantu mengurangi dampak yang akan terjadi dengan berbagi informasi tentang status ketinggian pintu air,” kata Fauzan. Aplikasi Siaga Banjir merupakan aplikasi mobile untuk Android yang secara ringkas memberikan informasi mengenai ketinggian dan status di 14 pintu air di Jakarta berdasarkan sumber data dari halaman resmi data pantauan website DKI Jakarta. Aplikasi ini bekerja dengan mengambil data dari pusat jaringan (server) yang secara otomatis memperbarui datanya dengan data pintu air setiap 15 menit sekali sesuai website DKI Jakarta tersebut. Setelah aplikasi mendapatkan data terbaru, barulah pintu air dibagi dan ditampilkan di aplikasi Siaga Banjir sesuai statusnya masing-masing.

Aplikasi siaga banjir pada android untuk cegah bencana alam

karena kurang waspada terhadap banjir. Melalui teknologi, dua orang mahasiswa Fasilkom UI, yakni Fauzan Helmi dan Enreina Annisa merasa perlu memberikan kontribusi mereka sebagai pengembang aplikasi (developer) muda untuk membantu memecahkan masalah kewaspadaan terhadap banjir ini. “Kami melihat banyak pihak gotong royong membantu dengan cara masing-masing; musisi mengadakan konser amal untuk penggalangan dana, videographer yang membuat layar tancap di pengungsian untuk menghibur warga, dokter yang datang langsung ke posko untuk memberikan pengobatan secara gratis, dan masih banyak yang lain,” paparnya.

“...tidak menutup kemungkinan kami akan membuat aplikasi lain yang bisa membantu kehidupan warga DKI” Terdapat empat jenis status yang menjadi acuan. Mulai dari Siaga 4 (Normal), Siaga 3 (Waspada), Siaga 2 (Rawan), atau Siaga 1 (Kritis). Dengan informasi ini lah, pengguna bisa tahu dan waspada terhadap titik-titik daerah di Jakarta yang rawan banjir. Dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan seperti detail status dan ketinggian setiap pintu air selama enam jam terakhir, keterangan mengenai trend pintu air; apakah sama, turun, atau naik dari keadaan pada jam sebelumnya, hingga fitur share pintu air ke Facebook dan Twitter diharapkan dapat menjadi sarana informasi cepat dan akurat yang akan diperoleh masyarakat DKI Jakarta

15

ketika berhadapan dengan musim hujan. Namun begitu, fitur-fitur yang cukup lengkap masih belum memuaskan Fauzan dan Enreina untuk berhenti mengembangkan aplikasi Siaga Banjir. Mereka mengakui aplikasi ini belum cukup sempurna dan masih banyak fitur yang ingin ditambahkan lagi. “Masih jauh dari sempurna sih sebenarnya. Masih ada beberapa bug dan juga masih ada fitur yang ingin ditambahkan seperti fitur notifikasi dan peta lokasi pintu air. Informasi cuaca juga ingin ditambahkan karena sebenarnya di sumber data sudah ada,” ujar Enreina. Fauzan pun mengemukakan keinginannya untuk memberi fitur subscribe pada aplikasi Siaga Banjir, “Tentu ada banyak hal yang ingin kami kembangkan lagi. Fitur subscribe yang berfungsi untuk mendapatkan notifikasi saat ada pergantian status pintu air, belum sempat kami implementasi. Dari segi user interface rasanya juga banyak yang ingin diperbaiki. Semoga diberikan kesempatan untuk membuat Siaga Banjir lebih baik.” Mengingat manfaat luar biasa yang dapat diberikan oleh aplikasi ini secara gratis, memilikinya—terutama pada musim hujan seperti ini—mungkin dapat menjadi solusi bagi masyarakat ibukota seabagai pilihan sarana informasi praktis, baik untuk yang bepergian maupun yang tetap di rumah. Sambil pula menunggu inovasi lain dari developer-developer muda UI, seperti Enreina dan Fauzan yang terus konsisten membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat. “Banyak data publik pada halaman resmi pemda DKI Jakarta yang sebenarnya bisa dioptimalkan untuk masyarakat. Proyek timnya Reina kayaknya lagi ngerjain tuh. Kalau ada waktu luang lebih, tidak menutup kemungkinan kami akan membuat aplikasi lain yang bisa membantu kehidupan warga DKI,” tandas Fauzan. Ia juga mengakui sangat terbuka dengan pihak mana pun, di UI, untuk berkolaborasi dengannya, mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. “Untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan teknologi,” tutup Fauzan.


16

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

M I N AT

MENGENAL BUDAYA KOREA LEWAT HANGGUGO DONGARI Kegemaran mahasiswa UI terhadap budaya Korea membuat dua mahasiswa asal Korea, Icarus Han dan Kim Yunshik, membentuk Hanggugo Dongari. Anggotanya terus bertambah dari tahun ke tahun. OLEH : ROSI SOFIYA F.A FOTO: MUHAMMAD TOHA SANTOSO

M

enurut Dr. Jung-Sun Park, dalam artikelnya yang berjudul Hallyu (The Korean Wave): Transnational Flows of South Korean Popular Culture, disebutkan bahwa Korean Wave atau gelombang Korea adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya Korea pada berbagai negara di dunia. Biasanya Hallyu memicu orang yang sudah terkena demam korea tertarik untuk mempelajari Bahasa dan Kebudayaan Korea. Riak ‘gelombang Korea’ terdengar semakin riuh akhir-akhir ini, dan sepertinya semburan itu sampai di kampus kuning. UI Hangugo Dongari (HD) adalah salah satu percikannya. Klub pecinta Korea di UI ini telah berdiri sejak tahun 2006 silam. Komunitas yang didirikan oleh dua mahasiswa BIPA UI (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing UI) asal Korea yang bernama Icarus Han dan Kim Yunshik ini bertujuan untuk belajar dan mengenalkan budaya korea kepada para anggotanya. Anggota komunitas Hangugo Dongari sendiri terus meningkat setiap tahunnya, dimulai dari 30 orang pada HD batch 1 hingga 70 orang anggota di batch 6. Akhir Februari ini, komunitas yang sempat terbentuk dibawah BEM FIB

UI mengadakan open recruitment anggota baru HD batch 7. Khairunnisa, seorang mahasiswi Vokasi Komunikasi yang merupakan pendaftar Hangugo Dongari batch 7 mengaku sangat antusias dengan adanya komunitas pencinta Korea ini. “Seneng banget ada lahan gitu buat ketemu sama orang-orang yang suka Korea, jadi nggak sabar pengen segera gabung!” katanya bersemangat. Menurut dia, kecintaannya terhadap budaya Korea itu diawali dengan ketertarikannya terhadap drama Korea yang menampilkan cerita-cerita lebih fresh dan dinamis, yang dilanjutkan dengan ketertarikannya terhadap budaya-budaya Korea lainnya, seperti dance, bahasa, kuliner dan lain-lain. “Kegiatan pertama untuk anggota baru adalah welcoming party, setelah itu bakal menyusul acara-acara seru lainnya. Kami ada kelas bahasa korea, nonton film bareng, cover lagu, dance cover hingga main games-games seperti SBS dan running man,” ucap anggota komunitas Hangugo Dongari, Aliefaini Pryanissa. Mahasiswa Ilmu Politik 2010 yang kerap disapa Nessa ini juga menambahkan bahwa test wawancara calon anggota komuni-

tas ini dilakukan oleh orang Korea langsung, begitupun pada saat kelas bahasa korea. Beberapa orang Korea yang tergabung dalam komunitas ini adalah peserta BIPA UI. Selain mengajarkan bahasa dan budaya Korea, mereka juga turut belajar bahasa dan budaya Indonesia dari para anggota Hangugo Dongari. “Orang Korea yang belajar di UI kebanyakan main, nongkrong, dan tinggalnya juga sama temen Korea-nya. Jadi kan mereka jarang mempraktikkan bahasa Indonesia. Nah, berawal dari pendiri HD yang juga anak BIPA, dia ngajak temen-temennya buat gabung ke komunitas ini biar saling belajar dan mengajarkan budaya masing-masing. Bisa dibilang saling menguntungkan lah!” tutur Nessa. Membuktikan keseriusan mempelajari budaya Korea, beberapa anggota HD membuat sebuah kelompok dansa (group dance) yang mereka namai HD Crew. HD Crew sering mengikuti kompetisikompetisi menari. Mereka pernah masuk final dalam kompetisi dance yang diadakan majalah Animonster. Selain itu komunitas yang menjadikan Taman Lingkar Perpustakaan UI sebagai tempat berkumpul ini juga pernah mendapatkan juara 1 dalam


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4

M I N AT

17

Mempeljari budaya Korea melalui Hanggugo Dongari

acara Korean Culture Day (KCD) yang diadakan di Balairung UI pada tahun 2013 lalu dalam kategori dance cover. Saat ini anggota yang tergabung dalam Hangugo Dongari telah tersebar di semua fakultas di UI, mulai dari FIB hingga Vokasi. Komunitas yang sempat vakum 2 tahun (2009-2010) ini berencana akan mengajukan diri sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UI. “Untuk saat ini kami hanya menginginkan legalitas. Semoga rencana kami segera terealisasi,” jelas Nessa. Mencari Pangsa Pasar Berlalu-lalangnya orang Korea di UI bukan lah pemandangan yang asing lagi. Mengutip pernyataan Maman S. Mahayana dalam situs kotahujan. com, seorang kritikus sastra sekaligus dosen tamu di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) mengatakan “Kebetulan saat ini Korea sedang gencar mencari pangsa

pasar. Karena itu, Korea mempelajari hampir semua bahasa di dunia. Bahasa Indonesia adalah jurusan yang paling diminati dan lulusannya pun paling cepat mendapatkan pekerjaan baik di Indonesia ataupun di Korea,” jelas Maman mengenai latar bela-

“Kegiatan pertama untuk anggota baru adalah welcoming party, setelah itu bakal menyusul acaraacara seru lainnya.” kang motivasi bangsa Korea mempelajari bahasa Indonesia. Hal itu diamini oleh Lee Jin Hyeong, seorang peserta BIPA 1 itu

bercerita “I paid attention to economic potential of Indonesia. I wanna work here, so I learn more about Indonesia. I think the most important thing is a language!” tutur Jin. Ketika ditanya perbedaan Indonesia dan Korea, pria yang mengaku mengetahui BIPA UI dari temannya ini mengatakan “I think Indonesian people is more relaxed than Korean, and I felt kepanasan!” jawabnya sambil tertawa. Nessa yang telah banyak berinteraksi dengan orang Korea ini juga membenarkan hal tersebut. Meskipun motivasi belajar kebanyakan orang Korea berawal dari kepentingan ekonomi, menurutnya kita tidak usah khawatir akan hal tersebut. Malah sebaliknya, kita seharusnya lebih membuka diri untuk mau belajar budaya-budaya bangsa lain. Melalui Hangugo Dongari, ia ingin mengajak anak-anak UI yang tertarik dengan budaya Korea untuk lebih serius mempelajarinya


18

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

rESENSI

SULAP ROMANTIS DI SIRKUS IMPIAN Judul Penulis Penerbit Tahun Terbit Tebal Buku

: The Night Circus : Erin Morgenstern : Anchor Books : 2011 : 508 Halaman

“Opens at Nightfall, closes at Dawn�, begitulah yang mereka katakan mengenai sirkus yang hadir tanpa pemberitahuan, tanpa berita, dan menghadirkan keajaiban dalam hidup orang-orang yang mendatanginya. Satu hari ia tidak ada, hari berikutnya dia ada.�

OLEH : PUTRI DIANI PARAMITHA MAHARSI

M

eski begitu banyak pertanyaan memenuhi benak, semua tanya akan sirna sesaat setelah menginjakkan kaki ke dalam arena sirkus, sirkus dimana semua mimpi menjadi kenyataan, dan semua kenyataan berubah menjadi mimpi, Le Cirque des RĂŞves. Hal yang tidak diketahui orang lain, di balik semua keajaiban yang terjadi di sirkus, terdapat misteri lebih besar yang membayangi seluruh sirkus. Semua misteri ini dimulai dari pertarungan dua penyihir muda, Celia dan Marco. Terikat oleh sumpah, Celia dan Marco bertarung dan melupakan segala hal selain satu sama lain. Sirkus yang menjadi panggung pertarungan mereka menjadi semakin megah dan indah, mengundang penggemar-penggemar setia yang tidak hanya mencintai sirkus ini, tetapi memiliki keinginan untuk melindunginya. Semua elemen yang mengelilingi sirkus mejadi semakin rumit, dan disaat yang bersamaan hati keduanya semakin jelas bagi

mereka. Hingga pada akhirnya, cinta mengambil alih dan keduanya jatuh pada kebimbangan. Sirkus atau kebersamaan, itu pilihan yang perlu diambil. Seakan menyatakan bahwa waktu segalanya perlahan-lahan hancur. Buku ini merupakan salah satu kisah fiksi romantis yang walau memiliki tema fantasi, lebih sesuai ditujukan kepada pembaca dewasa. Perkembangan cerita, interaksi antartokoh, hingga alur cerita yang dimiliki buku ini dapat dikatakan rumit. Pada sudut pandang penceritaan, ada lebih dari satu sudut pandang yang diambil sehingga alur maju mundur dari cerita ini diceritakan oleh dua situasi dengan latar waktu yang juga berbeda. Perbedaan latar waktu ini mempengaruhi alur cerita, di mana kedua waktu ini seiring berjalannya cerita akan bertemu, sehingga sebagai pembaca kita harus tanggap dalam menyadari pertemuan kedua waktu itu. Kelebihan dari buku ini adalah deskripsi terperinci penulis

akan berbagai latar tempat dan peristiwa sehingga memudahkan bagi pembaca untuk membayangkan apa yang sedang mereka baca. Buku dengan tema fantasi memang selayaknya memiliki deskripsi yang terperinci karena banyaknya keterangan di luar realita. Kekurangan buku ini adalah kurangnya ekspresi penulis mengenai tokoh-tokohnya. Maksud hal ini adalah, ketika selesai membaca buku ini pun, akan sulit untuk menyatakan dengan jelas bagaimana sifat dan kepribadian dari tokoh-tokoh yang dimiliki buku ini. Walau begitu, buku ini tetap layak untuk dijadikan bagian dari daftar buku yang perlu dibaca karena buku ini menyajikan wajah lain dari karya fiksi fantasi sehingga sayang bagi penikmat fiksi fantasi jika melewtkan buku ini. Film adaptasi dari The Night Circus kini sedang dalam proses produksi dibawah Summit Entertainment dan rencananya akan tayang awal tahun 2014.


g e r b ata m a 6 8 / / 0 3 - 2 0 1 4


20 O p i n i f o t o

g er b ata m a 6 8 // 03- 2 0 1 4

UI “Green Campus� HANA MAULIDA

Kirimkan opini dan surat pembaca ke e-maiL

redaksi.suarahamahasiswaui@gmail.com dengan panjangan tulisan 600-800 kata.

Cantumkan data diri Anda: nama lengkap, fakultas, jurusan, angkatan. Tulisan yang masuk, jadi milik redaksi.

Gerbatama: Ini UI! edisi 68, "Berorganisasi untuk Apa?"  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you