Issuu on Google+

EDISI 33 | SEPTEMBER 2008

Pengabdian Masyarakat:

Cara Lain Untuk Bergerak


editorial

edisi 33, September 2008

A

da satu dongeng yang masih saya ingat sampai sekarang tentang seseorang yang bernama Buyung ingin pergi ke dua perhelatan. Tim Laporan Utama Perhelatan yang satu digelar di bagian hilir dan yang satunya lagi Sri Wulandah (Koord.), diadakan di hulu. Namun, ketika di tengah perjalanan melewati sungai, Chrissendy, Grandis Harlandi, Buyung lupa dalam memperkirakan waktu, terlebih lagi dengan mengguChoirul Nisa, Nilam Winanda nakan perahu dayung tentu waktu yang ditempuh untuk sampai ke hulu/ Tim Liputan Khusus hilir lama sekali. Alhasil Buyung tidak dapat datang ke kedua perhelatan Hesty Apriani (Koord.), tersebut karena waktu perhelatan sudah selesai dan Buyung tidak berhasil Yuliniar Vida, Ni Made Kumara Santi Dewi mendapatkan makan gratis. Lucunya adalah setiap saya mendengarkan kembali visi dan misi UI Cover untuk menjadi universitas riset bertaraf internasional dan kampus hijau, Foto: Salich Wicaksana saya jadi teringat akan dongeng tersebut. Alih-alih ingin menghadiri kedua Tata Letak: Friska Titi Nova perhelatan tersebut agar dapat keuntungan ganda si Buyung malah tidak Iklan dapat kedua-duanya. Hal yang sama bisa juga terjadi pada Universitas Dian Rousta Febryanti, Indonesia tatkala mengabarkan bahwa UI ingin menjadi universitas riset Ghita Yoshanti bertaraf internasional dan kampus hijau. Tapi, ada beberapa berita mengeSirkulasi dan Promosi nai kondisi riset dan kondisi lingkungan hijau di UI yang mengecewakan, Dita Sabariah, Karina seperti hasil riset dari Webometric Juli 2008 memberitahukan bahwa rating Universitas Indonesia berada pada peringkat ke 1291 di bawah UGM pada peringkat ke 819 dan ITB diperingkat 826,mengetahui hasil tersebut bukan berarti UI harus nomor pertama dari kedua universitas itu, namun selisih posisi tersebut diperkecillah. Begitu juga dengan kandang rusa yang terlihat tidak terlalu terawat sehingga menimbulkan kesan mubazir dan penerlantaran hewan. Kedua hal yang ingin dicapai tersebut tentunya memerlukan manajemen, koordinasi, dan keterbukaan yang sehat antara pihak Rektorat UI selaku yang berwenang dengan warganya yaitu para mahasiswa, para dosen, dan para pegawai per fakultas sebagai motor dari misi UI sehingga jika hal tersebut dilakukan apapun visi dan misi UI pasti bisa jaya dan bermanfaat demi nama UI dan kualitas warganya. Memang untuk mencapai kedua hal tersebut perlu waktu yang tidak cepat dan proses yang bertahap, tapi setidaknya sosialisasi dan kerja sama dengan warganya harusnya berjalan dengan jelas (jelas mengenai Rektorat maunya apa dan bagaimana, juga mendengarkan masukan-masukan/kritikan dari warga UI).Jika pihak yang berwenang bisa lebih bijaksana maka warganya pun akan senang untuk turut serta dalam menggolkan visi dan misi tersebut. Serius dan bertanggung jawab adalah sikap kuncinya! [Redaksi]

Ralat

opini foto

Gerbatama edisi 32

Atas kesalahan penulisan, redaksi mohon maaf.

“Konsisten dong...Civitas Academica atau Militer?�



foto: Reza

Pada rubrik Bentang tentang OKK terdapat kesalahan atas penulisan nama jurusan, tertulis Annisa Shaira mahasiswa Teknik Metalurgi 2007, seharusnya mahasiswa Teknik Kimia 2007.


laporan utama

ilustrasi: Hanif

Riset UI Yang Terseret Pihak rektorat tengah berusaha menjadikan UI sebagai universitas riset. Tapi, kenyataan pahit harus diterima karena berdasarkan data dari UI Innovation Meeting, UI hanya berhasil meraih satu penghargaan dalam Daftar Penerima 100 Inovasi Nasional. Visi UI menjadi Universitas Riset Bertaraf Internasional acana UI menjadi universitas riset menyeruak sejak Gumilar R.Soemantri terpilih sebagai Rektor UI periode 2007-2012. Sosok yang pernah menjadi dekan FISIP selama dua periode ini memperlihatkan kesungguhannya dengan

W

mengubah struktur kepemimpinan. Adanya wakil rektor 3 yang membawahi riset dan pengembangan ke arah bisnis diharapkan dapat mempermudah civitas academica untuk melakukan inovasi. Artikel berjudul “Melesat Bertumpu pada Teknologi Informasi� di Majalah Gatra edisi khusus 17 Agustus 2008 mencantumkan hasil riset dari Webometric Juli 2008 bahwa rating Universitas Indonesia sebagai salah satu universitas terkemuka yang masuk 5000 Dunia berada pada peringkat ke 1291 di bawah UGM pada peringkat ke 819 dan ITB diperingkat 826. Apa yang dimiliki UI belum bisa dibilang siap untuk menjadi research university. Terbukti, hanya satu inovasi UI yang berhasil masuk kategori 100 Inovasi Indonesia. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, bila dibandingkan IPB dan ITB yang masing-masing memperoleh 21 dan 3 penghargaan. Apresiasi pemerintah yang direalisasikan dalam

bentuk buku merupakan hasil kerja sama Kementrian Negara Riset dan Teknologi bersama BIC (Business Inovation Centre). Menanggapi hal tersebut, drh. Wiku Adisasmito, M.sc.,Ph.D, direktur DRPM (Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis), mengatakan bahwa ITB dan IPB memang telah lama dikembangkan ke arah sana. Secara garis besar, institusi tersebut memiliki titik fokus yang lebih jelas. Misalnya ITB, risetnya memfokuskan diri pada bidang teknik, kemudian IPB yang menitikberatkan dirinya pada bidang pertanian. Sedangkan, UI memiliki berbagai disiplin ilmu yang beragam, sehingga akan lebih sulit bagi UI untuk mengembangkan risetnya. Hambatan UI Mengedepankan Riset Kegiatan riset membutuhkan sokongan dana yang besar. Untuk itu, UI harus mampu berkompetensi dengan para




pesaingnya, seperti institusi dan lembaga-lemMenurut Pipin Sopian,S.Sos, selaku General baga penelitian. Manager UI Innovation Meeting, diperlukan Selain itu, fokus utama UI sebagai lembaga suatu langkah untuk mempublikasikan hasil pendidikan membuat waktu yang tersedia lebih inovasi yang dilakukan warga UI sehingga banyak dihabiskan untuk kepentingan mengajar. lebih mudah tersampaikan kepada masyarakat Berbeda dengan lembaga yang mengkhususkan dan lebih memadai untuk diaplikasikan. Dalam dirinya pada waktu dekat, UI Innovation Meeting akan penelitian,contohnya mengadakan UI Awards saja LIPI yang sebagai bentuk apresiasi berhasil menduduki kepada para inovator UI. “Kenyataannya, kebutuhan peringkat pertama Acara tersebut diadakan teaching itu lebih penting. dengan 28 inovasi. untuk meningkatan minat Untuk sampai ke riset, kita harus memahasiswa khususnya dan ngurangi jumlah mahasiswa. Namun, UI Innovation untuk meramaikan dunia kebutuhan masyarakat untuk bersekolah riset Indonesia. “Budaya Meeting sebagai di UI sangatlah tinggi,� Salah Satu Solusi riset seharusnya mulai Kini DRPM dikembangkan pada maWiku Adisasmito M.Sc.,Ph.D. menawarkan satu hasiswa S1 yang menjadi Direktur Kemitraan dan Inkubator Bisnis solusi dalam meninstock holder. Kini bukan gkatkan kontribusi lagi saatnya berkoar-koar civitas academica untuk membangun bangsa dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. ini. Namun, lebih kepada riset dan pe-ngabdian DRPM memiliki konsep sebuah acara kepada masyarakat,� solusi dari pria yang permeeting yang berkesinambungan dan terarah nah menjabat sebagai ketua umum DPM (Dewan dalam mempublikasikan inovasi-inovasi yang Perwakilan Mahasiswa) UI. dilakukan UI dalam menjawab permasalahan bangsa. [Tim Laput]

Jumlah Inovasi 30 25

IPB

20 ea e rk a tan P s a I i k s o ag a e on en nesi i iot done t T B r a gi str n do lit n In a u H a . n d d o B na In P T no l Ba klir I k EN bu L Te Nu . PT

15 10 5 0

I LIP jumlah inovasi

PT BP

ee rk a P si ek iot done B In lit Ba nan bu

ITB

tas rsi ia e v i s Un one d n I sumber: UI Inovation Meeting




Pengabdian Masyarakat: Cara Lain Untuk Bergerak Totalitas perjuangan! Kini dapat dilihat bahwa totalitas perjuangan bukan hanya semboyan bagi mahasiswa yang turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi rakyat. Perjuangan belum mati.

M

ahasiswa belum berhenti. Turun ke jalan bukanlah satu-satunya cara untuk bersuara. Turun langsung untuk mencerdaskan anak bangsa, apalagi mampu memperbaiki kehidupan mereka, bisa jadi cara lain yang lebih solutif untuk beraspirasi. Ketika gerakan mahasiswa dipertanyakan signifikansinya, teman-teman Divisi Pengabdian Masyarakat (Pengmas) BEM FE UI mampu membuktikan bahwa gerakan itu paling tidak masih bernyawa. Komunitas sosial yang dibentuk memberikan sebuah harapan akan eksisnya predikat kampus rakyat bagi UI. Dari komunitas sosial itulah dua orang anak yang menuntut ilmu di sekolah bantuan, di Terminal Depok, Jawa Barat, dibimbing, mampu bersaing, lulus SNMPTN, dan kuliah di UI. “Bukanlah prestasi yang mudah diraih, apalagi ketika disadari peluang dari tes masuk yang diadakan setelah UMB itu makin kecil,” ungkap Anis Wahyu Intan Maris selaku pengurus Social Community-Pengmas-FE UI. Divisi Pengabdian Masyarakat adalah sebuah departemen, baik di BEM UI maupun BEM fakultas, yang peduli akan kehidupan masyarakat sekitar. Kepedulian tersebut ditunjukkan dengan bentuk pengabdian langsung, “Banyak sekali kegiatan yang kami lakukan, seperti rumah belajar, peduli adik asuh, penyuluhan-penyulu-

foto: Salich

liputan khusus

han, dan masih banyak lagi, pokoknya kegiatan yang dapat membantu masyarakat secara langsung,” ujar Ketua Departemen Pengmas BEM Fasilkom, Fatimah Az Zahra. Kegiatan ini disambut baik oleh Direktur Kemahasiswaan UI, Dr. Kamarudin, S. IP, M.Si. “Keberadaan pengmas di setiap BEM fakultas dan BEM UI sangat membantu proses peningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk bidang pendidikan”, jelasnya. Direktorat Kemahasiswaan UI, kini, tengah mencoba merealisasikan K2N (Kuliah Kerja Nyata) de-ngan mengadakan kerjasama dengan Pengmas BEM fakultas dan BEM UI. Pergerakan kini dibuktikan bukan hanya dengan barisan pemuda berjaket kuning di banyak jalan-jalan utama ibukota. Memberikan sumbangsih nyata kepada rakyat menjadi hal yang lebih utama, ketika para pemimpin negeri ini terus menutup mata dan enggan menengok ke bawah. Pengmas mampu menjawab dimanakah pergerakan itu sekarang. Mahasiswa kini dituntut untuk pula memberikan aksi nyata untuk rakyat dan negeri ini. Dengan demikian, terbukti, bahwa pergerakan masih ada. [Tim Lipsus]




resensi

Judul Buku Penulis Penerbit Halaman Genre

: Black Interview : Andre Syahreza : Jakarta, Gagas Media, 2008 : xviii + 222 hlm; 11,5 x 19 cm : Lifestyle

Manusia memang tidak pernah berhenti mengeksploitasi imajinasinya. Saat ini, mari kita coba berimajinasi dengan laporan jurnalistik !

S

ekilas buku ini terlihat seperti kumpulan cerpen karena ceritanya pendek-pendek. Kesamaan buku ini dengan cerpen hanya pada isi cerita yang semuanya fiksi. Sang penulis lebih suka menyebut buku ini sebagai ”laporan jurnalistik imajinatif”. Ya, aroma jurnalistik sangat kental di dalam buku ini. Selain bergaya penulisan berita, tema cerita Black Interview setiap edisinya selalu dikaitkan dengan isu utama yang disepakati rapat redaksi (hal. viii). Hal yang sepertinya tidak dilakukan saat membuat cerpen. Black Interview adalah nama rubrik di majalah djakarta!. Rubrik ini muncul pertama kali di edisi 48, saat itu majalah djakarta! masih berformat bulanan. Ide awalnya isi rubrik ini hanya berupa wawancara imajiner untuk melengkapi isu utama tiap edisi. Format Black Interview kemudian berubah saat format



sumber istimewa

Berimajinasi Dengan Jurnalistik majalah menjadi freemagazine. Penekanannya bukan lagi pada wawancara imajiner, tapi ke setting waktu: bagaimana kira-kira kota Jakarta 100 tahun ke depan? Konsep baru ini tidak lagi mengutamakan wawancara, tapi lebih membalikkan logika-logika yang sedang berlangsung di masa sekarang. Di dalam buku ini terdapat pula format awal Black Interview yang disebut Classical Black. Chapter ini bercerita tentang wawancara imajinatif reporter dengan tokoh-tokoh yang hampir imajinatif plus bumbu humor tentunya. Seperti wawancara dengan Pitung yang masuk Plaza, Dr. A zahari yang ingin diwawancara, tukang pijat bernama Sofya Latjubah, sampai Chinese Vampire. Black Interview versi baru, dapat dikatakan imajinasi Andre lebih “edan” lagi. Provokatif. Isinya lebih menyindir (semacam black comedy) kehidupan ibu kota saat ini tapi dengan seting tahun 2100 -an. Sepertinya imajinasi-imajinasi liar yang tidak tertampung dalam otak penulis tercurahkan dalam rubrik Black Interview. Namun sayang, ending imajinasinya sering kali kurang menggigit dan menyengat. Hal ini diakui penulis sebagai akibat menulis sastra di bawah tekanan deadline jurnalistik. Tapi tetap memikat membaca peleburan genre jurnalistik dan sastra dalam Black Interview. [Fanny Fajarianti]


advertorial UI Innovation Meeting (UI Innova) Dari UI untuk Bangsa Apaan sih? Dalam rangka mewujudkan visi sebagai universitas riset berkelas dunia, Universitas Indonesia tengah merancang sebuah acara yang diharapkan menjadi ikon penting atas perannya di mata bangsa. Acara yang diberi tajuk UI Innovation Meeting ini (selanjutnya disebut dengan “UI Innova”) adalah sebuah acara diskusi ilmiah bulanan yang membahas masalahmasalah bangsa dan solusinya yang inovatif dari berbagai sudut pandang keilmuan. UI Innova dirancang khusus seperti layaknya sebuah acara off-air talkshow. Acara dipandu oleh seorang host tetap dan para pembicara yang kemudian akan disebut sebagai ‘tamu’. Konsep presentasi dan pemaparan masalah (sebagaimana aturan baku diskusi ilmiah) digeser menjadi konsep ‘bincang-bincang’ dan ‘eksplorasi ide’. Selain host, beberapa fitur lain yang menjadi ikonik dalam acara ini ialah: jingle, tata panggung, live SMS quiz, narator, multimedia presentation, dan segmen-segmen khusus. Karena format acara yang ringkas (compact) itulah, maka durasi acara dapat dipangkas hingga maksimal menjadi 120 menit Selain dikemas dalam format yang menghibur, seri dialog

lintas ilmu yang berkelanjutan (sustainable) ini diharapkan mampu menghimpun hasil riset dan kajian buah karya civitas academica UI yang relevan dalam menjawab permasalahan aktual bangsa.  Konsep Acara ? Apa yang membuat acara ini berbeda dari acara yang sudah ada? Apa yang membuatnya punya nilai orisinalitas sebagai produk UI? 1.UI Innova adalah acara ilmiah dalam kemasan populer, yang digarap secara profesional dan berkelanjutan; 2.Semua sumber daya inti berasal dari UI (host, tamu, panitia, tim kreatif, produser), 3. Sejauh ini, belum ada institusi pendidikan tinggi lain yang memiliki etalase opini, agenda dan solusi sebagaimana yang dirancang Universitas Indonesia melalui acara UI Innovation Meeting; 4. Acara dikemas sedemikian rupa untuk membangkitkan keingintahuan (curiosity) masyarakat dan sivitas akademika terhadap inovasi dan ide-ide yang berasal dari Universitas Indonesia dan perguruan tinggi lain; 5. Memiliki misi untuk membangun standar apresiasi dan ekspektasi yang tinggi dari audiens akan sebuah format diskusi ilmiah yang cerdas, solutif, renyah tapi elegan; 6.Wide

media-coverage bekerjasama dengan media elektronik dan media cetak Selain itu, sudut pandang terhadap tema-tema pilihan UI Innova disusun secara unik, kaya akan kedalaman dan solutif. Beberapa judul yang telah disiapkan diantaranya ialah: “Cerita di Balik Kenaikan Harga BBM”; “Selangkah Menuju Nobel: UI Medical Discovery”; “Solusi Multidisiplin Melucuti Korupsi”, dan “Mengintip ‘Sillicon Valley’ di Pinggir Jakarta”. Tim Kreatif UI-Innova Makara Creative Production Gedung Pusat administrasi UI, Lantai 8,5, Kampus UI Depok Pipin Sopiaan, S.Sos (02195188423), Eko Prasetyo, S.Psi (0819-1023-1909) , Hasyim Widhiarto, S.Sos (0856-9026464), Email : ui.innova@gmail.com Launching UI Innova telah dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2008 di Balairung, Kampus UI Depok Didukung oleh : Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis UI, PT. Makara Mas ( UI Holding Company) Sponsored By ( logo perusahaan) :PT. Bank Mandiri, Tbk, Medco Foundation, PT. 3M Indonesia, Polygon, Restoran Boloo-Boloo

kenali UI-mu, baca berita aktual | terpercaya | terbit rutin bulanan | investasi iklan menjanjikan

pemasangan iklan hubungi: ROUSTA 081359254023

bisa didapatkan di:

kantin dan kopma fakultas | perpustakaan pusat & fakultas | asrama mahasiswa | masjid ukhuwah islamiyah




bentang

foto: Dita

Yayasan Bina Insan Mandiri (PKBM YABIM): Oase di Tengah Padang Gurun Pendidikan Indonesia

PKBM YABIM mampu mencetak prestasi di tengah keterbatasan fasilitas, sekolah ini mampu membuktikan bahwa setiap individu bebas berhak memperoleh pendidikan.

S

ekolah gratis di halaman Masjid Al-Muttaqien Terminal Depok itu dikelola oleh Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM), sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan, bakti sosial, dakwah, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kegiatan pendidikan gratisnya berada di bawah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Bapak Nurrohim, pendiri YABIM sekaligus Ketua PKBM mengatakan bahwa PKBM memiliki visi membentuk masyarakat yang cerdas, mandiri, kreatif dan berakhlak mulia sehingga dapat meningkatkan taraf hidup. “Tujuan itu diwujudkan dengan pendidikan gratis berkualitas, pengembangan kemandirian melalui life skill dan pembinaan mental spiritual yang berkesinambungan,” paparnya. Serba minim PKBM YABIM memiliki sekitar 2000 siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu sekitar Jabodetabek. Sebagian besar siswa belajar tanpa menggunakan seragam sekolah. Kondisi lima ruang kelasnya pun hanya beratap-kan seng bahkan terdapat dua kelas tanpa dinding. Meskipun jam belajarnya berbeda dengan sekolah-sekolah umum, tapi materi yang diajarkan



sama. Siswa TK, SD, dan SMP Putri belajar pukul 08.00-12.00 dan siswa SMP Putra dan SMA belajar pukul 13.00-17.00 dan pukul 20.0022.00. “Sekolah ini mengacu pada kurikulum pendidikan nasional serta standar nasional,” ujar Pak Nurrohim. Tahun ini, PKBM YABIM menerima sekitar 500 siswa. Mayoritas pengajarnya adalah relawan sosial. Jumlahnya sekitar 60 orang, terdiri dari relawan tetap dan guru tamu. Banyak pula mahasiswa yang menjadi relawan. “Idealnya, siswa sekolah terbuka diajar oleh guru dari sekolah induk. Namun, guru bina (guru yang mengajar siswa sekolah terbuka;-red) tidak mau datang. Padahal mereka mendapat uang transport. Memang, siswa kami diberi kesempatan untuk belajar di sekolah induk. Namun, karena keterbatasan dana, kami hanya dapat belajar di sini,” ungkap bapak yang sudah mempunyai empat orang anak ini. Berdirinya YABIM berawal dari keprihatin Pak Nurrohim melihat anak-anak usia sekolah berkeliaran. Pada tahun 2000, ia dan temannya, Purwandiono, mendirikan YABIM dan PKBM. Sekolah ini telah mendapat legalitas pada tahun 2004. PKBM mendapat sokongan dana sebesar 2-3 juta per bulan

dari Pemda Jabar. Untuk sekolah terbuka, Dana BOSS diberikan ke sekolah induk. Bantuan itu jauh di bawah anggaran yang dikeluarkan oleh YABIM, yang sebagian besar diperoleh dari donatur. “Belum ada donatur tetap. Namun, untuk program kesehatan, kami mendapat dukungan penuh dari BAZNAS,” ujar Pak Nurrohim. Ia mengakui, awalnya, sangat sulit mengajak masyarakat bergabung. “Mereka agak apatis karena mereka curiga karenakan banyak yang mempermainkan orang miskin. Namun, setelah kami lakukan pendekatan, akhirnya mereka mengerti dan bersedia dibina. Berprestasi Minimnya fasilitas tidak menghalangi siswa-siswinya untuk mencetak prestasi. Tahun ini, dua dari tiga orang murid PKBM yang dipersiapkan mengikuti SNMPTN dan berhasil diterima di Program Studi Jawa FIB UI. Kedua murid itu mempunyai nama panggilan, Ais dan Ayat. Prestasi mereka membuktikan keberhasilan PKBM YABIM bahwa pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi kaum kaya. “Artinya bintang terang mereka (anak-anak tidak mampu;-red) ada di yayasan kami,” tutup Pak Nurrohim. [Susi Sakti]


sosok

AIS RAHIM

Semangat Dari Gorontalo Berbekal tekad kuat untuk meruntuhkan anggapan hanya orang kaya yang berpendidikan tinggi, seorang pemuda asal Gorontalo nekad meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di Jakarta. foto: Salich

”A

h, masa iya hanya orang-orang kaya yang bisa sekolah,” itulah pikiran yang terlintas di benak Ais Rahim ketika guru SDnya menyangsikan dirinya bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. Terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dengan orang tua yang berprofesi sebagai petani, menjadikan Ais, harus ekstra keras berusaha agar bisa tetap bersekolah. Mahasiswa angkatan 2008 yang kuliah di Program Studi Jawa FIB UI ini sudah terbiasa berdagang untuk membiayai pendidikannya. Sejak SD, pemuda yang berulang tahun pada tanggal 22 Desember ini sudah berjualan kantong kresek dan garam di pasar. Uang hasil dagangannya ia gunakan untuk membayar biaya sekolahnya sendiri sejak SMP hingga SMA. Setelah lulus dari SMA, Ais mengutarakan keinginannya untuk kuliah di Jakarta pada sang Ibu. Sang Ibu pun kaget,

mengingat kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, terlebih Ais tidak punya kerabat sama sekali di Jakarta. Ais berusaha meyakinkan ibunya, ”Saya bilang saya minta doa restu saja, dengan doa restu Insya Allah lancar,” terang Ais. Berbekal uang pinjaman sebesar tiga juta rupiah dan semangat tinggi, Ais dengan seorang diri nekad berangkat ke Jakarta yang asing baginya. Ais mengatakan bahwa per-jalanannya ini memang seakan sudah direncanakan oleh Allah SWT. Ada saja yang membantu saya,” ujar mahasiswa yang hobi menyanyi ini. Semenjak ia sampai di Bandara Sam Ratulangi, Manado, untuk naik pesawat ke Jakarta, selalu ada orang yang membantunya hingga ia akhirnya bisa sampai di Depok. Hal ini tak lepas dari saran kenalan Ais di Manado bernama Pak Safiudin yang menyarankannya untuk hijrah ke Depok saja. Melalui proses yang panjang, akhirnya Ais bisa

diterima di Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, yang kemudian membawanya mengenal mahasiswa dari Komunitas Sosial BEM FE UI. Atas segenap bantuan orang-orang yang mendukung termasuk Bapak Nurrohim, pimpinan Yayasan Bina Insan Mandiri, Ais bisa mengikuti bimbingan belajar untuk SNMPTN dan kemudian diterima di UI. Bagi Ais, meskipun harapannya untuk bisa mengecap bangku perguruan tinggi sudah tercapai, Ais merasa apa yang ia peroleh sekarang masih belum cukup. Ia ingin bisa lebih berprestasi lagi, ”Saya merasa apa yg saya raih sekarang itu masih sangat kurang, belum ada apa-apanya dibanding yg lain, namun dengan melihat orang tua bahagia, saya jadi bangga dan akan tetap terus berusaha,” ungkapnya dengan semangat. [Laras Larasati]




kilasan

suara nyata “Hal-hal yang kita sebut mustahil itu biasanya adalah hal-hal yang belum kita coba”

-Jim Goodwin-

reminder foto: Riomanadona

OKK UI 2008:

Langkah Awal Kebangkitan Gerakan Mahasiswa Selasa, 19 Agustus 2008, Balairung UI Depok beserta Lapangan Rotunda kembali menjadi saksi kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan kehidupan kampus kepada kurang lebih 5000 mahasiswa baru ini memiliki konsep berbeda dibandingkan tahuntahun sebelumnya. Mengusung tema “Bangkit Indonesia”, kegiatan OKK tahun ini diharapkan menjadi sebuah langkah awal menuju kebangkitan gerakan mahasiswa. Tak ayal jika konsep acara mengarah kepada pencapaian akan hal tersebut. Dimulai dengan tugas-tugas yang diberikan sebelum OKK, yakni karya tulis bertemakan “Indonesia di Masa Depan dan Kontribusi yang Akan Saya Berikan”, hingga monolog oleh Menpora Adhyaksa Dault beserta ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid guna memotivasi maba agar tetap optimis dalam mewujudkan bangkit Indonesia, dan ditutup dengan pembacaan ikrar bangkit Indonesia di penghujung acara. Moment kebangkitan ini tampaknya memang memiliki kesan tersendiri di benak para maba. Seperti yang diungkapkan oleh Reza, maba teknik sipil, “Orasiorasinya sama arahan-arahan yang dikasih bikin nambah semangat sebagai mahasiswa”, ketika ditanya mengenai kesannya setelah mengikuti kegiatan OKK tahun ini. [Nilam Winanda dan Sri Wulandah]

8 September : Hari Aksara Internasional 9 September : Hari Olahraga Nasional 11 September : Hari Radio 16 September : Hari Sandang Nasional 17 September : Hari Perhubungan Nasional Hari PMI 23 September : Hari Bahari 24 September : Hari Agraria (Pertanahan) 26 September : Hari Statistik 27 September : Hari Pos dan Telekomunikasi Hari Pariwisata Sedunia 29 September : Hari Sarjana 30 September : Hari Pemberontakan G30S/PKI

redaksi DITERBITKAN OLEH BADAN OTONOM PERS SUARA MAHASISWA UI Pemimpin Umum: Diponegoro Manajer Penerbitan: Hafizhul Mizan Piliang Pemimpin Redaksi: Achdiyati Sumi Permatasari Wakil Pemimpin Redaksi: Ardhitya Eduard Yeremia Redaktur Pelaksana: Aisyah Ilyas Redaktur Artistik: Buanawista Fajar G. Redaktur Foto: Lila Kesuma Hairani Reporter: Chrissendy, Grandis Harlandi Choirul Nisa, Hesty Apriani, Laras Larasati, Ni Made Kumara Santi Dewi, Nilam Winanda, Sri Wulandah Fitriani, Susi Sakti, Yuliniar Vida Fotografer: Dita Yustisia, Muhammad Reza Ramadhani, Salich Wicaksana Desain dan Tata Letak: Friska Titi Nova, Witianatalatas Dachi, Hanifah Ramadhani RISET. Manajer: Fanny Fajarianti Tim: Faishal Dwi Ismail, Fita Rizki Utami, Rizky Malinda, Rizky Sadali, Roy Nababan, Sarah Albar PERUSAHAAN. Manajer: Aghny Arisya Putra Kepala Unit Operasional Dian Rousta F. Iklan Ghita Yoshanti Pracetak: Iqbal Fitrah Hanif, Dian Kusumawardhani Sirkulasi dan Promosi Aghnia Kartika, Ayu, Christina Ken Maria, Cindy Fortuna, Dita Sabariah, Iqbal, Karina, Rifki Hidayat

ALAMAT REDAKSI, SIRKULASI, IKLAN DAN PROMOSI Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Lantai 2, Kampus Universitas Indonesia, Depok, 16424 email: gerbatama@sumaui.or.id website: http://suma.ui.edu contact person: Dian Rousta (081359254023) Redaksi menerima tanggapan, saran, kritik, maupun surat pembaca yang berkaitan dengan UI melalui email gerbatama@sumaui.or.id, atau sms ke 08561088010, 02192531521, atau sampaikan langsung ke sekretariat redaksi Gerbatama di Pusgiwa Lt. 2.

10


riset

Rokok, Bebas, dan Berbahaya

R

okok selalu menjadi masalah yang sangat kontroversial di Indonesia. Beragam pendapat masyarakat tentang barang yang dapat merusak tubuh ini seakan menunjukkan kalau masalah ini tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu yang cepat. Padahal jika hal ini dibiarkan terus-menerus akan semakin bermunculan korbankorban berikutnya, katakanlah seperti penderita kanker, serangan jantung atau gangguan pernafasan. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka tidak hanya merusak diri mereka sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar mereka yang bisa dikatakan sebagai perokok pasif. Hal inilah yang merupakan pertimbangan beberapa pemda untuk membuat peraturan terkait masalah larangan merokok. Katakanlah pemda DKI Jakarta yang mengeluarkan Perda nomor 2 tahun 2005 tentang larangan merokok di tempat-tempat umum dengan sanksi yang cukup berat, yakni kurungan badan selama 6 bulan penjara atau denda uang sebesar 50 juta. Namun kebijakan tersebut terkesan tidak diawasi dengan baik, hal ini terbukti dengan sangat mudahnya kita menemui perokok-perokok di tempat-tempat umum seperti di angkutan umum, terminal, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan,dan perkantoran. Para perokok sepertinya tidak menghiraukan perda itu sama sekali, bahkan ruangan yang dibuat khusus

Apakah Anda seorang perokok?

perokok juga tidak dimanfaatkan dengan baik. Baru-baru ini terdengar wacana bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mengambil tindakan atas masalah ini dengan mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok. Untuk itu Gerbatama edisi kali ini ingin mengetahui bagaimana pendapat mahasiswa UI terhadap perokok dan wacana MUI tersebut. Riset yang dilakukan terhadap 200 orang mahasiswa UI yang tersebar di 10 fakultas yang ada di Depok ini menunjukkan bahwa mayoritas responden bukanlah perokok, meskipun tercatat sekitar 40% responden adalah perokok. Tanggapan responden terkait kenyamanan dengan perokok, mayoritas responden atau sekitar 65% mengatakan sangat terganggu dengan perokok, 25% merasa terganggu, dan sisanya merasa biasa-biasa saja. Sebagian besar responden setuju diberlakukannya fatwa haram terhadap rokok. Hanya 34% yang tidak setuju, sedangkan sisanya tidak mengetahui wacana tersebut. Saat ini segala keputusan ada di tangan kita, apakah kita ingin hidup sehat atau rela menderita kesakitan karena rokok. Kita semua berharap pemerintah bisa segera mengeluarkan keputusan yang tepat dan dapat diterima masyarakat. [Roy Nababan]

jika tidak, apakah Anda merasa Apakah Anda setuju dengan wacana MUI mengharamkan rokok? terganggu dengan perokok? 10%

14% 40%

60%

25% 65%

tidak ya

52%

34%

sangat tergangggu

ya

biasa saja

tidak

terganggu

tidak tahu

Survey telah dilakukan terhadap 200 mahasiswa di kampus UI Depok pada tanggal 22 Agustus-11 September 2008. Tingkat kepercayaan terhadap survey ini adalah 95%. Metode penelitian dilakukan metode purposif. Hasil survey ini tidak mewakili pendapat seluruh mahasiswa UI. DIVISI RISET BO PERS SUMA UI

11


Sucikan hati dengan amal dan ibadah

mengucapkan:

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa


Gerbatama, ini UI! September 2008