Issuu on Google+

CMYK

Ide/Grafis/Karikatur: Dedi/Faeza/Aai

ISSN: 1412-890X

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012


2

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Fajar

Saripati

Bila Mahasiswa ‘Kuasai’ Panitia Di Universitas Indonesia, PKKMB dikenal dengan Orientasi Kehidupan Kampus (OKK). Kepanitiaan sepenuhnya dipegang mahasiswa. Pematerinya pun mahasiswa. Dosen hanya sebagai penasehat. Rektorat bertugas sebagai pembina. Di sana, setiap mahasiswa diberi hak untuk membentuk tim dan menyusun konsep OKK dan melakukan proses bidding (permohonan resmi pengajuan kegiatan) dengan tim lain tingkat Universitas. Mereka harus mengikuti proses wawancara dan disidang sampai pagi. Pun harus mempresentasikan konsep tersebut di hadapan pemuka BEM, DPM, dan seluruh mahasiswa. Satu tim terdiri atas puluhan mahasiswa. Namun, bila konsep mereka lulus, kepanitiaan bisa mencapai ratusan orang. Selain kematangan ide, detail proposal, faktor kelulusan juga dilihat dari background organisasi ketua tim. Belum lagi dari segi dana, panitia OKK berupaya sendiri (swasembada), mencari dana sebanyak-banyaknya melalui sponsorship, seperti: pengajuan sponsor ke rektorat, penyebaran proposal oleh seksi dana-usaha, menjual souvenir dan kaus untuk mahasiswa baru dan lain-lain. Semua dilakukan untuk kelancaran OKK dan membuktikan bahwa mahasiswa mampu melaksanakan OKK dengan baik. Beberapa tahun terakhir, Ormawa UNP juga sedang ‘merayu’ pihak rektorat untuk menyerahkan kepanitiaan PKKMB secara menyeluruh kepada mahasiswa, baik konseptor, panitia lapangan dan pemateri. Hingga kini, permintaan tersebut belum dikabulkan secara sempurna. Tahun lalu, mahasiswa, dalam hal ini Ormawa hanya sedikit diberi ruang untuk bersosialisasi dengan juniornya. Tahun ini, Ormawa diberi waktu dua jam untuk menyampaikan materi organisasi kemahasiswaan. Penyampai materi selama tiga hari dikendalikan oleh dosen. Pun, masih ada fakultas yang mengambil ‘jatah bicara’ mahasiswa dalam mensosialisasikan Ormawa. Dalam hal ini, sebagian panitia selain mahasiswa menakutkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bila mahasiswa yang pegang kendali. Atau, panitia-mahasiswa akan mendoktrin adikadiknya dengan hal-hal yang kurang baik. Di sisi lain, sebagian panitia mahasiswa menilai konsep PKKMB versi mahasiswa dapat mencairkan kekakuan yang dimunculkan oleh melulu materin dari dosen tanpa menghilangkan apa-apa yang penting yang perlu diketahui ‘anak baru’. Keduanya seimbang. Hanya perlu pertimbangan yang lebih matang. Masih banyak yang perlu diperbaharui. Soal persiapan yang paling penting. Apalagi masalah jadwal pelaksanaan. UI bisa melaksanakan itu lantaran dipersiapkan dalam jangka panjang. UNP juga bisa bila persiapannya tidak seperti yang tahun lalu. Secara dasar, pelaksanaan orientasi mahasiswa baru di kampus sama dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMP atau SMA. Pada saat MOS, kepanitiaan seutuhnya dikendalikan siswa. Guru hanya bertugas memberikan materi sebab siswa SMP atau SMA belum mampu memberikan pengetahuan yang cukup kepada adik-adiknya. Sementara di kampus, ada begitu banyak mahasiswa pintar, rajin, baik, ramah, penuh teladan yang memahami sedikit banyak kegiatan perkuliahan, aturan berkuliah, adab-adat berinteraksi dengan warga kampus, dan apalagi berorganisasi. Tidak akan sia-sia bila sumber daya ini bisa dimanfaatkan dengan optimal sebagai bentuk kepercayaan yang diberikan oleh pihak kampus kepada mahasiswa-mahasiswa kebanggaannya.

Gantole

+ PKKMB di Bulan Puasa - Semoga menjadi amal-ibadah yang diridhoi Allah! + UNP Terketat No.2 bidang IPS setelah UI - Ketat Kuantitas atau Kualitas? + Pemilu pakai e-voting - Selamat!

Menjadi Mahasiswa Ideal sejak Tahun Pertama Menjadi mahasiswa yang ideal merupakan harapan orang tua, dosen, dan pimpinan kampus. Secara pribadi, setiap orang pun ingin menjadi mahasiswa ideal di kampus. Seperti apa sosok mahasiswa yang ideal tersebut? Setidaknya, dapat dipahami bahwa mahasiswa ideal itu adalah mahasiswa yang dapat melakukan aktivitas kemahasiswaannya sesuai dengan harapan dan tuntutan universitas. Harapan dan tuntutan universitas terhadap mahasiswa yakni mampu dan berhasil mengembangkan diri, baik dalam bidang akademik (kognisi) maupun ekstrakurikuler (psikomotor dan afektif). Keberhasilan mahasiwa akan selalu dipandang dari dua bidang tersebut, bidang akademik dan bidang ekstrakurikuler. Keberhasilan dalam bidang akademik dapat dilihat dari pengetahuan dan wawasan akademik itu sendiri. Indeks Prestasi Akademik (IPK) mahasiswa merupakan indikator penting keberhasilan dalam bidang akademik tersebut. Keberhasilan dalam bidang ekstrakurikuler dapat pula dilihat dari aktivitas dalam bidang organisasi kemahasiswaan yang ada pada tingkat jurusan, fakultas, dan universitas. Berdasarkan kedua sudut pandang tersebut, mahasiswa yang berhasil dapat pula dibedakan atas empat tingkatan. Pertama, mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan berprestasi pula dalam bidang ekstrakurikuler. Kedua, mahasiswa yang hanya berprestasi dalam bidang akademik dan tidak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Ketiga, mahasiswa yang tidak berprestasi dalam bidang akademik dan berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Keempat, mahasiswa yang tidak berprestasi

dalam bidang akademik dan juga tidak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Mahasiswa yang ideal dan menjadi harapan orang tua, dosen, dan pimpinan kampus adalah mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan berprestasi pula dalam bidang ekstrakurikuler. Setidak-tidaknya, pada tingkat kedua, mahasiswa yang berhasil itu adalah mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik. Tidak ada seorang mahasiswa pun yang ingin gagal dalam kedua-duanya. Menjadi mahasiswa yang ideal itu harus dirintis dan diusahakan sejak seorang mahasiwa pertama kali menginjakkan kaki di dalam kampus. Artinya, sejak kegiatan orientasi di dalam kampus, mahasiswa harus merencanakan dan melaksanakan aktivitas akademik dan aktivitas ekstrakurikuler sejak minggu pertama perkuliahan. Hingga dilanjutkan dalam proses perkuliahan dan bersosialisasi dengan warga kampus. Untuk menjadi mahasiswa yang ideal yakni mahasiswa yang berhasil dalam bidang akademik dan ekstrakurikuler tersebut, universitas telah menyediakan berbagai fasilitas. Dalam bidang akademik, universitas selalu mengembangkan berbagai sumber daya dan fasilitas yakni sumber daya manusia dan berbagai fasilitas. Dalam bidang ekstrakurikuler, universitas telah mengembangkan berbagai organisasi mahasiswa sejak tingkat jurusan, fakultas, dan universitas. Universitas juga telah menyediakan berbagai fasilitas dan dana untuk mengembangkan aktivitas mahasiswa. Untuk itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi mahasiswa yang ideal sejak tahun pertama kuliah. (Eto)

Pokok Padang Assalamualaikum, Wr, Wb “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” -Pramoedya Ananta ToerSemangat keberanian dari Pram ini selalu kami tanamkan untuk setiap edisi Ganto sampai ke tangan pembaca begitu juga untuk edisi 169. Semangat baru untuk mengikuti perkuliahan begitu terasa ketika kita menyaksikan bagaimana Mahasiswa Baru (Maba) mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) pada bulan Agustus lalu yang juga dibarengi dengan suasana Ramadahan. Inilah awal bagi Maba untuk mengenal bagaimana kehidupan kampus. Laporan Utama (Laput) Edisi 169 kali ini Ganto akan menyajikan kegiatan PKKMB yang berlangsung pada bulan Ramadhan. Dalam laporan ini pembaca akan menemukan apa tujuan sebenarnya dari sebuah PKKMB? Apakah hanya mengenalkan kampus, berbagai macam unit kegiatan mahasiswa yang ada di lingkungan kampus sebagai wadah untuk mengembangan diri. Ataukah PKKMB memang masih mewaris tradisi Ospek, seperti junior yang harus tunduk kepada senior? Selain itu, civitas akademika UNP pantas berbangga dengan posisi UNP saat ini karena menjadi salah satu universitas yang difavoritkan di masyarakat. Tidak hanya Sumatera Barat (Sumbar), namun peminat Maba dari luar Sumbar untuk menuntut ilmu dan mengembangkan diri di UNP kiat meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa fakultas menjadi favorit sehinga melakukan penyeleksian yang ketat dalam pelulusan Maba. Apakah yang membuat UNP menjadi salah satu kampus favorit? Dan fakultas apa yang menjadi target Maba setiap tahunnya Bisa pembaca temukan pada Laporan Khusus 169. Merangkum semua peristiwa penting dan menginformasikan kepada pembaca merupakan sebuah tanggungjawab yang diberikan kepada Ganto. Informasi-informasi seperti melihat progam SM3T yang sudah berjalan selama 1 tahun terakhir, UNP membuka

Sosialisasi Organisasi: Kru SKK Ganto tengah mensosialisasikan Surat Kabar Kampus Ganto di hadapan mahasiswa baru fakultas Ilmu Sosial yang tengah mengikuti rangkaian Krida Fakultas di Ruangan D81 FIS, Sabtu (13/10). f/Duni.

prodi baru, prodi Bahasa Jepang. Lalu bagaimana kondisi prodi baru ini? Dan masih banyak lagi beritaberita yang dapat dibaca pada halaman Teropong. Sebuah berita Belajar Narasi di Tanah Deli juga akan menambah pengetahuan pembaca pada rubrik Feature. Tulisan-tulisan yang berisikan opini yang dirangkai indah menjadi sebuah tulisan kreatif berupa artikel juga akan menambah informasi yang pembaca dapatkan. Begitu juga dengan halaman Sastra Budaya, pembaca akan diajak berpetualang dengan cerpen Lelucon untuk Aharoni. Beberapa agenda masih tetap dijalankan ditengah kesibukan menyiapkan edisi, tahap pemagangan anggota baru Ganto yang sudah masuk pada tahap reporter junior. Generasi penerus Ganto ini sudah mulai dilibatkan secara langsung dalam peliputan berita, yang dapat dibaca dalam edisi kali ini. Akhir kata, kritik dan saran yang membangun yang membuat kami terus belajar untuk memberikan terbaik pada pembaca. Tanpa pembaca apalah artinya kami, berkat doa dan kerja keraslah Ganto edisi 169 akhirnya sampai ketangan pembaca tercinta. selamat membaca. Viva Persma!

Surat Kabar Kampus Universitas Negeri Padang STT No. 519 SKK/DITJEN PPG/STT/1979, International Standard Serial Number (ISSN): 1412-890X, Pelindung: Rektor UNP, Penasehat: Pembantu Rektor III UNP, Penanggung Jawab: Prof. Dr. Ermanto, M. Hum, Dewan Ahli: Sari Fitria, Afdhal Ade H, Priondono, Qalbi Salim, Yudhi Irvan Syah, Heri Faisal, Rahma Dania, Arda Sani, Staf Ahli; Konsultasi Psikologi: Dr. Marjohan, M.Pd. Kons, Konsultasi Agama: Dr. Ahmad Kosasih, M.A, Konsultasi Kesehatan: dr. Elsa Yuniarti, dr. Pudia M. Indika, Kritik Cerpen: Mohammad Isa Gautama, M.Si, Kritik Puisi: Zulfadhli, S.S, M.A, Pemimpin Umum: Diana Besni, Pemimpin Redaksi: Dedi Supendra, Pemimpin Usaha: Mardho Tilla, Bendahara Umum: Fitria Ridhaningsih, Kepala Penelitian dan Pengembangan: Dwi Utari Kusuma (NA), Sekretaris: Ismeirita, Redaktur Pelaksana: Dila Monisa, Meri Maryati, Redaktur Berita: Aai Syafitri, Redaktur Tulisan: Ariyanti, Redaktur Bahasa Sastra dan Budaya: Elvia Mawarni, Redaktur Artistik dan Online: Anshar Firman Haryadi (NA), Layouter: Faeza Rezi S, Fotografer: Jefri Rajif, Reporter: Astuni Rahayu, Azizah Pratiwi, Siti Nurasyiyah, Staf Penelitian dan Pengembangan: Rahmi Jaerman, Sirkulasi dan Percetakan: Hasduni, Kesekretariatan dan Perlengkapan: Wezia Prima Zolla, Bagian Iklan: Winda Yevita Dewi, Penerbit: SKK Ganto Universitas Negeri Padang, Alamat: Gedung PKM UNP Ruang G 65 Universitas Negeri Padang, Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar. Kode pos 25131. Laman web: http://ganto.web.id, Post-el: redaksiganto@gmail.com, Percetakan: Unit Percetakan PT. Genta Singgalang Press (Isi di luar pertanggungjawaban percetakan), Tarif iklan: Rp1.500,- (permilimeter kolom-hitam putih), Rp3.000,- (permilimeter kolom full colour), 1/4 halaman belakang Rp1.000.000,-(full colour), Iklan Baris Rp1.000,- perbaris. Redaksi menerima tulisan berupa artikel, esei, feature, cerpen, resensi buku, puisi, dan bentuk tulisan kritis lainnya dari sivitas akademika UNP. Redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengubah esensinya. Tulisan yang masuk menjadi hak redaksi dan yang tidak dimuat akan dikembalikan atau menjadi bahan edisi berikutnya. Setiap tulisan yang dimuat akan diberi imbalan/uang lelah semestinya.


3

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Surat Pembaca SKK Ganto menerima surat pembaca baik berupa keluhan, kritikan, saran dan permasalahan tentang lingkungan sekitar UNP. Surat pembaca dapat dikirimkan melalui email: redaksiganto@gmail.com atau dapat diantar ke redaksi SKK Ganto, Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Ruang G65 UNP dengan dilampiri kartu identitas: KTP atau KTM.

Kode Etik yang Terlanggar Berdasarkan surat keputusan rektor UNP nomor 146/H35/KP/ 2004 tentang kode etik mahasiswa universitas negeri bahwasanya ada sekitar 18 point yang patut diperhatikan mahasiswa dalam bersikap dan bertindak terutama ketika berada di lingkungan kampus, diantaranya ada tiga point yang menjadi sorot perhatian saya yang belakangan ini dilanggar oleh mahasiswa yaitu: 1. Mahasiswa UNP wajib berpakaian sopan dan rapi, tidak memakai sandal dan celana pendek di lingkungan kampus. 2. Mahasiswa dilarang merokok, makan, minum dan menghidupkan handphone di dalam kelas. 3. Warga UNP wajib menjaga kebersihan di lingkungan kampus, ruang kuliah, work shop/labor/studio, memelihara komputer, perpustakaan, ruang diskusi dan kafetaria serta fasilitas lainnya Dalam surat keputusan itu juga dijabarkan beberapa sanksi yang diberikan bagi pelanggar kode etik tersebut, diantaranya: 1. Sanksi pertama; teguran lisan maupun tertulis, teguran tertulis ditembuskan kepada orang tua atau walinya. 2. Sanksi kedua; skorsing akademik; 3. Sanksi ketiga; dikeluarkan dari UNP dengan tidak hormat. Namun masih banyak mahasiswa yang memakai sandal ke kampus, ketika belajar ada juga mahasiswa yang sibuk sms-an, sempat update status pula, dan masih banyak yang lainnya. Dari fenomena tersebut rasanya kode etik itu tidak dipedulikan mahasiswa, dan sanksi yang telah dibuat tidak mampu mengatasi hal tersebut. Malahan pelanggaran itu semakin menjadi-jadi. Bagaimanakah jalannya aturan kode etik ini? Apakah peraturan tersebut hanya nota tertulis semata? Mohon perhatian dari pihak rektorat dan dosen. Nia - Mahasiswa UNP

Keluhan dari Kampus Cabang Saya merasa ada ketimpangan antara kampus pusat di Padang dengan kampus cabang di Bukittinggi. Fasilitas di kampus cabang masih kurang memadai dan dosen-dosen yang masih kurang kinerjanya. Apalagi penyediaan sumber buku yang masih terbatas. Intinya mahasiswa kampus cabang merasa dinomor-duakan. Hal ini terus berlanjut dalam hal penyebaran informasi beasiswa atau hal akademik lainnya. Saya mohon, pihak kampus lebih memperhatikan dan dapat memfasilitasi kampus cabang sebagaimana kampus pusat UNP. Terimakasih. JA - Mahasiswa Psikologi TM 2009

Kapan Pemilihan PR? Beberapa waktu lalu, saya datang ke Rektorat karena ada keperluan dengan Bapak Rektor. Namun, beliau tidak ada di tempat. Dari Ibuk yang ada di sana, saya mendapatkan informasi bahwa akhir-akhir ini Bapak Rektor cukup sibuk karena selain mengurus tugas Rektor, beliau juga harus menanggung jawabi tugas PR I. Saya ingin bertanya, kapan pemilihan pembantu Rektor akan dilaksanakan? Padahal pemilihan rektor sudah lama berlalu, kenapa pembantu rektor belum juga dipilih. Hal ini tentu saja berdampak pada aktivitas Rektor seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Terimakasih. Wassalam. DM – Mahasiswa UNP

Mahasiswa FE Butuh Musala Terimakasih kepada Ganto yang telah memuat keluhan saya ini. FE memiliki musala yang terletak di sudut Fakultas Ilmu Sosial. Cukup jauh dari tempat kuliah FE. Lagipula, saf yang berlaku untuk perempuan hanya satu saf, satu saf lainnya dipakai untuk duduk-duduk oleh mahasiswa yang beristirahat atau antri sholat. Apalagi ditambah pada pukul 1.20, saya mesti berpacu langkah dengan waktu, berlari ke lantai 3 atau lantai 4 agar tidak terlambat. Pada lantai dua terdapat suatu ruangan yang dijadikan mushola dan disediakan hanya untuk dosen dan pegawai saja. Terlihat mushola yang ada itu dilengkapi dengan fasilitas AC. Setiap semesternya mahasiswa FE membayar uang SPP, apakah tidak bisa dibangun musala yang layak untuk mahasiswa FE? IS - Mahasiswa FE

Grafis: Faeza

Refleksi

Dualisme Paham PSSI Oleh Hasduni (Mahasiswa Teknik Pertambangan TM 2010)

Dua tahun silam, euforia masyarakat Indonesia akan sepak bola sangat antusias, pasalnya prestasi Tim Nasional (Timnas) Indonesia di ajang Asean Football Federation (AFF) saat itu cukup membanggakan. Timnas berhasil mencapai babak final sebelum akhirnya dikalahkan Malaysia di partai puncak. Meskipun saat itu konflik tengah melanda PSSI, akibat banyaknya kesalahan yang dilakukan Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Khalid, sehingga masyarakat memintanya untuk mundur dari jabatannya, namun masyarakat Indonesia tetap bersemangat mendukung saat timnas berlaga. Terbukti dukungan tetap berlanjut pada ajang pra piala dunia tahun lalu. Masyarakat Indonesia mendapatkan asa baru ketika nama Djohar Arifin Husain terpilih untuk menggantikan Nurdin. Momentum pergantian tersebut dirasa sangat tepat, karena pergantian terjadi seiring dengan prestasi Timnas yang sedang membanggakan. Harapan untuk lolos di ajang piala dunia 2014 pun muncul, karena agenda Timnas terdekat saat itu adalah mengikuti kualifikasi pra piala dunia. Sayangnya, harapan itu perlahan hilang, bahkan hancur ketika satu persatu keputusan Djohar merugikan berbagai pihak. Djohar yang terpilih sebagai ketua umum PSSI secara prematur tersebut dianggap tidak mementingkan kepentingan bersama. Mulai dari pelanggaran statuta yang ada, pemecatan pelatih Alfred Ridle, melarang pemain ISL untuk memperkuat timnas, dan akhirnya membuat prestasi timnas menurun. Hingga akhirnya muncullah kompetisi tandingan dari PSSI yang diketuai La Nyala Matalitti versi KPSI (Komisi Penyelamat Sepakbola

Indonesia). Sebab musabab munculnya kompetisi tandingan tersebut merupakan bentuk buah penolakkan dari klub-klub yang menolak kebijakkan PSSI. Prestasi timnas sendiri, semenjak ditangani Djohar jauh dari kata berprestasi. Adanya dua PSSI, membuat keduanya merasa paling benar. Masyarakat Indonesia bagaikan satu pulau yang terbelah menjadi dua. Klub-klub yang dahulu dinaungi oleh satu PSSI, sekarang telah terbagi menjadi dua; PSSI versi Djohar Arifin dan PSSI

Pendukung tanah air sangat merindukan kembali euforia sepakbola yang sempat hilang, menikmati pertandingan dengan pulang tidak membawa kekecewaan. versi KPSI yang dipimpin La Nyalla Mattalitti. Dengan adanya dualisme tersebut, federasi sepakbola tertinggi dunia, FIFA akhirnya turut campur tangan dengan membentuk Tim Task Force Asosiasi Sepak Bola Asia (AFC). Dimana petinggi AFC tersebut akan mendamaikan kedua kubu yang “bertikai� dengan cara menyuruh keduanya menandatangani MoU yang telah disepakati. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, PSSI terkadung cacat di mata pencinta sepakbola. Antusias terhadap sepakbola pun mulai berkurang. Itu terlihat ketika klubklub dan pemain top berlaga uji coba dengan timnas, sangat sedikit sekali supporter yang menonton. Semua jelas, sekarang para pencinta sepakbola telah terhipnotis PSSI dengan kekisruhan yang tak kunjung usai. Dengan banyaknya konflik yang melanda, PSSI harusnya bisa mengevaluasi kinerja

yang lebih baik sebelum mengambil sebuah keputusan. PSSI yang idealnya membangkitkan prestasi Indonesia ditingkat internasional, semestinya bisa merealisasikan hal tersebut, mengingat Indonesia memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Bukan malah melarang pemain yang berlaga di kompetisi yang dianggap legal untuk membela negaranya. Lebih relevan lagi apabila bisa menaungi seluruh klub di Indonesia dalam satu kompetisi yang fair play. Pendukung tanah air sangat merindukan kembali euforia sepakbola yang sempat hilang, menikmati pertandingan dengan pulang tidak membawa kekecewaan. Tentunya semua pihak baik PSSI, klub, suporter, dan pencinta sepakbola tanah air tidak ingin kisruh ini menjadi berlarutlarut. Silahkan PSSI versi Djohar dan versi KPSI menyelesaikannya dan merumuskan kompetisi tanpa harus melanggar statuta yang ada. Jangan mementingkan kepentingan pribadi, tapi utamakan kepentingan bersama. Harus bisa menyinkronisasikan mana yang baik dan tidak. Egoisme dari masing-masing kubu akan semakin terlihat ketika keduanya tengah mempersiapkan timnas untuk berlaga diajang AFF November ini. Saat ini ada dua timnas yang terbentuk dengan komposisi manajemen, pelatih dan pemain yang berbeda. Kita tidak tahu yang mana nantinya akan mewakili nama Indonesia di ajang kompetisi antar negara Asia Tenggara tersebut. Namun yang jelas, seluruh masyarakat Indonesia mengharapkan hasil yang terbaik. Mengharapkan kelompok terkait yang memegang kepentingan memberikan hasil maksimal. Jangan saja berkoar-koar mengatakan paling benar, tapi bisa menyatukan kebenaran tersebut menjadi satu. Sesuai nama PSSI sendiri, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.


4

Laporan Utama

Keterlibatan Ormawa dalam PKKMB Beberapa tahun belakangan, mahasiswa yang aktif di Ormawa melalui BEM Universitas berusaha meminta kepada rektorat untuk diberikan kesempatan mengelola kegiatan PKKMB seperti yang dilakukan Universitas Indonesia. Disana, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengajukan bidding soal konsep orientasi kampus. Tim yang lulus sidang dan wawancara oleh BEM, DPM, dan mahasiswa biasa dibolehkan menjalankan Orientasi Kehidupan Kampus. Pendanaan keseluruhan ditanggung oleh mahasiswa secara swadaya melalui sponsorship dan penjualan kaus dan souvenir untuk Maba. Hal ini juga ingin dilakukan mahasiswa UNP. “Harapan kedepannya, setiap kegiatan mahasiswa memang mahasiswa yang mengambil peran,” terang Presiden Mahasiswa, Tunjung Budi Utomo, Rabu (1/8). Tetapi, sejauh ini pihak rektorat belum mau mengabulkan permintaan tersebut. Tunjung menilai keinginan mahasiswa untuk berperan aktif dalam PKKMB masih dibatas-batasi. “Pihak birokrat beralasan ormawa belum mampu dalam mengemban tugas tersebut,” terangnya ketika ditanyai pertimbangan birokrat mengambil keputusan tersebut. Meskipun begitu, Tunjung menilai keputusan pihak birokrat tersebut cukup beralasan. Hal ini dikarenakan kondisi ormawa masih belum kompak dan masih sibuk dengan ego masing-masing. Dari tiga hari pelaksanaan PKKMB, ormawa hanya diberi satu hari untuk mengisi acara. Selama satu hari tersebut, Maba disuguhkan berbagai acara seperti perkenalan pimpinan fakultas dan pengurus ormawa, organisasi dan kegiatan mahasiswa, perkenalan dosen dan informasi akedemik jurusan, serta tak lupa penampilan minat dan bakat. Namun, waktu satu hari tentu tidak lah cukup bagi Maba untuk mengetahui organisasi dan pergerakan mahasiswa secara utuh. “Jika perlu, kita akan mengadakan semacam UKM fair,” tambahnya. Satu hari yang disediakan bagi mahasiswa tersebut merupakan aspirasi mahasiswa yang didengarkan oleh pihak birokrat. Mengingat Maba juga perlu mengetahui organisasi dan pergerakan mahasiswa di dunia kampus. Hal itu disampaikan Presiden Mahasiswa, Tunjung disaat rapat pra PKKMB, Rabu (1/8).

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Ganti Nama, Ganti Cara, Tujuan Sama Oleh: Meri Maryati

Dari tahun ke tahun, Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru selalu mengalami perubahan. Nama diganti. Caranya pun beda-beda. Namun, tujuannya tetap sama. Pada setiap awal tahun ajaran, di kampus-kampus dilaksanakan pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru (Maba). Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan Maba pada lingkungan kampus, cara belajar di Perguruan Tinggi (PT) dan bagaimana berinteraksi dengan warga kampus. Jika di-flashback ke belakang, masa orientasi di UNP dinamai Orientasi Pendidikan Tinggi (Ospek). Pada masa ini, didikan didominasi dengan perpeloncoan yang sarat kekerasan. Para senior berdalih, kekerasan bertujuan untuk mendidik mental mahasiswa agar tidak memble dan membuat mereka menjadi pribadi yang menghormati dan mengenal para senior. Namun, kadang terjadi pelecehan harga diri Maba oleh senior, bahkan juga kekerasan. Alhasil, Direktorat Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) mengeluarkan surat edaran No. 38/Dikti/Kep/2000. Isinya adalah menghapus secara resmi Ospek yang sarat kekerasan. Ospek berganti nama menjadi Informasi Akademik Kampus (IAK). Kegiatan ini didominasi dengan penyampaian materi oleh dosen mengenai kehidupan kampus. Tindak kekerasan senior terminimalisir. Timbul masalah baru, Maba menjadi arogan dan tidak mau kenal dengan senior. Perombakan kembali terjadi. Kegiatan pengenalan Maba diberi nama Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) yang didesain dengan memadukan metode Ospek dan IAK yaitu penyampaian materi namun masih dibumbui dengan kegiatan semimiliter seperti merayap di rawa atau aspal. Dengan porsi masing-masing 50 banding 50. Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang digunakan hingga sekarang adalah nama lain setelah PMB. Perombakan demi perombakan dilakukan untuk mencapai tujuan luhur dari

Selamat Datang: Spanduk ucapan selamat datang bagi mahasiswa baru di fakultasfakultas menyemangati para mahasiswa untuk mengikuti proses PKKMB dengan baik dan benar, Kamis (16/ 8). F/Jefri.

PKKMB, yaitu mengenalkan kehidupan kampus bagi Maba sehingga dapat beradaptasi serta memperlancar program akademiknya serta menjunjung tinggi nilai akademiknya. Sedangkan tujuan khususnya diantaranya adalah memahami sistem PT, memahami organisasi dan kegiatan kemahasiswaaan dan lain-lain. Desain PKKMB pun tak jauh beda. Awalnya, jadwal PKKMB dipenuhi dengan pemberian materi oleh dosen. Kearoganan junior kembali terjadi. Akhirnya, PKKMB 2012 diadakan dengan memadukan metode penyampaian materi oleh dosen selama dua hari dan memberikan waktu satu hari bagi para senior untuk berintekasi dengan juniornya tanpa kekerasan. Hal ini dikarenakan bagi pihak yang melanggar sudah ditetapkan sanksi tegas, seperti: hukuman jabatan bagi dosen dan staff. Pemberian teguran, skorsing bahkan pemberhentian kepada mahasiswa. Perombakan sistem orientasi membuat Dosen Sosiologi UNP, Eka Vidya ikut berkomentar. “Ospek, PKKMB, atau apapun namanya pada substansinya ditujukan untuk memberi orientasi kepada mahasiswa baru,” jelasnya, Selasa (16/10). Orientasi ini penting bagi mahasiswa baru mengingat peran dan status mahasiswa jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan siswa.

Dalam konteks peran, status mahasiswa diharapkan dapat tumbuh dalam tiga ranah yakni ranah pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Untuk itu mahasiswa baru perlu diperkenalkan dari awal tentang kehidupan akademik yang notabenenya citra dari perguruan tinggi. Sistem belajar di PT juga berbeda. Di PT mahasiswa diperkenalkan sebuah sisitem SKS (Satuan Kredit Semester). Dengan SKS, mahasiswa dituntun untuk mengatur aktivitas akademiknya secara mandiri. PKKMB selayaknya mengarah pada tujuan tersebut. Ia menilai, kegiatan orientasi selama ini tidak lebih dari seremonial untuk menyambut Maba. Adapun materi-materi yang disusun untuk kegiatan PKKMB mesti sebahagian telah mengarah pada idealnya tujuan PKKMB. Namun dalam pelaksanaanya belum seperti yang diharapkan. “Jika Maba ditanya manfaat PKKMB maka sebagian akan menjawab menambah keakraban,” terangnya. Ia menilai ‘keakraban’ merupakan efek samping tapi substansinya adalah dua hal diatas. Sementara metode semimiliter, penyajian materi dan atau minat dan bakat adalah bagian dari startegi untuk mencapai tujuan tersebut. Meri/Dedi laporan: Via, Rita, Wai*, Nia*, Liza*, Gumala*, Fidi*

Untung Rugi PKKMB di Bulan Puasa PKKMB 2012 dilaksanakan pada bulan puasa. Hal tersebut tertera pada kalender akademik UNP. Ternyata pelaksanaannya pada bulan puasa itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sejak 2009, Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di UNP dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Hal ini bukan disengaja melainkan sudah dilaksanakan berdasarkan rancangan kalender akademik universitas. Alhasil, pada 14, 15 dan 16 Agustus lalu dipilih sebagai tanggal dilaksanakannya PKKMB tersebut. Pelaksanaan PKKMB yang bertepatan dengan bulan puasa ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Seperti halnya ketika bulan puasa mempengaruhi semangat peserta maupun panitia dalam mengikuti acara. “Saya

kecapean, kalau bisa acaranya sebelum atau sesudah lebaran saja,” terang Riski Reza, mahasiswa jurusan Teknik Elektronika TM 2012, Minggu (2/9). Hal senada juga diutarakan oleh Mardatila, mahasiswa jurusan Administrasi Negara. “Saya ngantuk, ditambah lagi dengan kondisi lokal yang diisi oleh 100 orang,” jelasnya, Minggu (2/ 9). Kondisi peserta yang mudah kecapean dan mudah ngantuk tersebut disebabkan perut dalam kondisi kosong saat puasa. Akibatnya, konsentrasi peserta berkurang. Ditambah lagi, acara banyak diisi dengan penyampaian materi. Namun, kondisi tersebut bisa ditanggulangi dengan ‘berpandai-pandai’ menjaga stamina. Salah satu caranya adalah sahur optimal ditambah suplemen agar fisik tetap fit. Meskipun ada beberapa komplain dari sivitas akademik mengenai pelaksanaan PKKMB di bulan puasa ternyata masih ada pihak yang mencoba mencerdasi bahkan menyetujuinya. Salah satunya adalah Alifa

Monica Jency, mahasiswa jurusan Pendidikan Anak Usia Dini TM 2008 yang mencoba mengambil hikmah dari pelaksanaan PKKMB pada saat puasa. Ia menilai pada bulan puasa, Maba lebih bisa berfokus kepada materi yang diberikan dan tidak bisa cabut kemana-mana. “Apalagi cabut ke kafe untuk sekedar makan,” jelasnya, Selasa (14/8). Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan Gian Kentara Maulana selaku panitia dari jurusan Ekonomi Pembangunan TM 2010. “PKKMB di bulan puasa kurang efektif namun irit dari segi biaya,” ungkapnya, Selasa (14/8). Tidak hanya peserta, mahasiswa senior selaku panitia juga harus kreatif demi menyukseskan acara. Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Sosial, Mujiono. “Bisa dengan menyuruh Maba yang ngantuk ke depan kelas untuk memberikan semacam hiburan kepada teman-temannya yang lain,” jelasnya, Rabu (15/8).

Pro dan kontra dari civitas akademis tersebut membuat Pembantu Dekan I Ekonomi, Idris ikut berkomentar. “Kalau seandainya PKKMB itu diundur maka kegiatan perkuliahan juga terancam mundur,” ungkapnya, Kamis (16/8). Sedangkan kegiatan PKKMB ini telah disusun berdasarkan kalender akademik universitas. Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Pembantu Dekan I Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam, Festiyet. “Kalau tidak pada bulan puasa berarti tidak ada kegiatan saat bulan puasa dong,” jelasnya, Rabu (1/ 8). “Itu malah semakin tidak efektif.” Selain itu, dari pihak birokrat telah berusaha untuk sengaja memilih materimateri yang penting dan aplikatif bagi mahasiswa. Tak hanya itu, dosen juga dituntut untuk bisa menyampaikan materi dengan lebih komunikatif. Hal tersebut diatas dilakukan untuk menanggulangi situasi yang menjemukan dan monoton saat penyampaian materi berlangsung.


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

5

Laporan Utama

Beda Kampus Beda Cara Oleh: Meri Maryati

Lain lubuk lain ikannya. Lain kampus, lain pula cara pelaksanaan ospeknya.

Bila di UNP, pengenalan kampus untuk Maba dikenal dengan istilah PKKMB. Di Universitas Andalas, kegiatan ini disebut Bina Aktivitas Mahasiswa dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI). Tahun ini, BAKTI dilaksanakan dua minggu lebih awal dari UNP, yaitu pada 1-5 Agustus 2012. BAKTI yang dilakukan di Unand merupakan salah satu dari serangkaian program yang sengaja dirancang untuk memperkenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru (Maba). Hal tersebut disampaikan Nasri Bakhtiar, Pembantu Dekan III, Fakultas Ekonomi (FE) Unand. “Secara keseluruhan masa perkenalan itu berlangsung selama dua minggu.” Demi menyukseskan acara orientasi Maba ini, jauh hari sebelumnya Bagian Kemahasiswaan Unand di bawah komando Pembantu rektor III memberikan instruksi ke seluruh Pembantu dekan III dan presiden mahasiswa untuk melaksanakan rapat persiapan BAKTI di rektorat. Kemudian, hasil rapat disosialisasikan kepada lembaga kemahasiswaaan di tingkat fakultas dan kepada masing-masing ketua jurusan oleh Pembantu Dekan III. Sementara itu, presiden mahasiswa bertugas menyosialisasikan hasil rapat tersebut ke seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa tentang konsep acara yang akan diadakan. Setelah itu, kepanitian disusun mulai dari tingkat jurusan hingga universitas. Pelaksanaan BAKTI di Unand juga bertepatan pada bulan puasa. Tidak dapat dipungkiri, kondisi fisik panitia maupun peserta yang lagi berpuasa berpengaruh

Menyimak: Mahasiswa baru dengan berbagai ekspresi mengikuti dan menyimak serangkaian proses Pengenalan Kehidupan Kampus di fakultas masing-masing, Kamis (16/8) . F/Jefri.

terhadap semangat dalam mengikuti acara tersebut. Namun disisi lain, waktu bisa dimanfaatkan secara efisien. Pada hari biasa pelaksanaan BAKTI sampai jam enam sore. Sedangkan pada bulan puasa hanya berlangsung sampai jam tiga sore. “Jadi hemat waktu tiga jam,” terang Agip Sudarta Pratama, aktivis Pengenalan Hukum dan Politik, Jumat (31/8). Lima hari yang dirancang untuk pelaksanaan BAKTI tersebut, dibagi dalam dua seksi. Selama dua hari yakni 1 dan 2 Agustus BAKTI dilaksanakan di tingkat universitas. Pada hari pertama, Maba sengaja dikumpulkan di Auditorium Unand untuk mendengarkan penjelasan mengenai sistem dan peraturan yang dipakai selama BAKTI. “Kegiatan ini hanya berlangsung sampai jam 12,” ungkap Melda Pramunika, anggota Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia, Jumat (31/8). Selanjutnya pada hari kedua,

kegiatan ditujukan kepada perkenalan civitas akademik Unand. Mulai dari rektor hingga jajaran di bawahnya. Selain itu, Maba juga diberitahu mengenai peraturan akademik yang berlaku selama kuliah di Unand. Tak hanya memperkenalkan para birokrat kampus, mahasiswa juga diberi waktu selama lima belas menit untuk mempromosikan Unit Kegiatan yang digelutinya. Selanjutnya selama tiga hari, yakni 3, 4 dan 5 Agustus, Maba dikembalikan ke fakultas masing-masing. Secara umum, kegiatan yang dilakukan di tingkat fakultas tidak jauh berbeda dengan tingkat universitas. Disini juga diisi dengan perkenalan civitas akademik namun setingkat fakultas. Pada hari ketiga dan keempat, Maba disuguhkan beberapa materi dan tidak lupa juga pemberian motivasi. Sedangkan pada hari kelima adalah acara penutupan.

Motivasi yang diberikan kepada Maba berupa kegiatan Emotional Spiritual Quation (ESQ). Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkam sikap berbudi luhur dan akhlak mulia dengan memberikan pemahaman tentang keyakinan beragama khususnya hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Kegiatan ini wajib diikuti bagi seluruh Maba selama dua hari. Selain itu, pembinaan Maba tidak berhenti ketika BAKTI saja. Sebagai follow-up nya, Maba diwajibkan magang selama satu semester di organisasi mahasiswa yang ada di Unand. Kemudian, mereka akhirnya mendapat sertifikat dari organisasi yang bersangkutan. “Hal ini tidak lain untuk menambah wawasan dan softkill mereka,” ungkap Mardiansyah, Ketua BEM Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), Jumat (31/8). “Tak hanya itu, di Fateta Maba tetap diberikan pembinaan seminggu sekali selama satu semester,” tambahnya. Berkaitan dengan pelaksanaan BAKTI pada bulan puasa dikomentari oleh Pembantu Dekan III, FE Unand. Ia menjelaskan pelaksanaan BAKTI pada bulan puasa, jauh hari sebelumnya sudah ditetapkan pada kalender akademik. Jadi, Unand hanya melaksanakan kegiatan seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya. Meskipun BAKTI dilaksanakan pada bulan puasa, hal itu tidak akan memberikan dampak buruk bagi Maba. Hal ini dikarenakan rentang waktu pelasanaaannya hanya berlangsung dari pukul 07.00 hingga 15.00 sore. Selain itu, dalam pelaksanaannya berupa pemberian materi dan dilakukan di dalam ruangan sehingga tidak begitu menguras tenaga. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa tidak ada larangan untuk mengundur waktu pelaksanaan BAKTI. Hanya saja, pihak universitas akan kewalahan menyusun kembali seluruh pelaksanaan program per tahun. “Seperti pelaksanaan wisuda, ujian tengah maupun akhir semester”, tambahnya Jumat (31/8). Meri/Dedi laporan: Faeza, Ami, Rian, Nunung, David*

Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FBS, Andre Febra Rilma

Magang di Ormawa Buat Maba Selain menuntut ilmu di ruang perkuliahan, mahasiswa baru diharuskan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan warga kampus, salah-satunya melalui berkegiatan di organisasi kemahasiswaan. Ormawa sebagai tempat untuk mewadahi minat-bakat mahasiswa, juga bisa menjadi sarana yang tepat untuk mengembangkan diri secara emosional. Bagaimana seharusnya Maba menyikapi hal tersebut? Apakah Maba UNP juga perlu melakukan pemagangan Ormawa seperti yang ada di Unand? Simak hasil wawancara reporter Meri Maryati dengan Andre Febra Rilma, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa, Fakultas Bahasa dan Seni, Rabu (24/10). Apa sebenarnya tujuan dari pemagangan di suatu organisasi? Tujuannya adalah memperkenalkan dan membiasakan mahasiswa baru dengan situasi real (nyata) dalam sebuah tubuh organisasi yang ada dalam kampus. Dengan begitu, ia nantinya bisa memutuskan apakah sanggup untuk terus berorganisasi atau mundur karena merasa kurang sanggup mengambil tantangan organisasi.

Siapa saja yang bisa mengikuti magang tersebut? Biasanya adalah mahasiswa yang baru masuk di suatu universitas atau mahasiswa tahun pertama. Berapa idealnya waktu untuk magang? Idealnya adalah enam bulan atau setengah periode kepengurusan. Kemudian diadakan evaluasi oleh pengurus inti organisasi yang bersangkutan. Disana akan terlihat siapa saja mahasiswa magang yang bisa ditarik menjadi anggota resmi. Bagaimana sistem penempatan posisi seseorang pada saat magang? Penempatan mahasiswa saat magang diatur oleh pengurus inti sebuah organisasi. Hal ini bertujuan agar mempermudah mengontrol serta melihat potensi yang ada pada mereka. Seberapa perlu magang di suatu organisasi bagi Maba? Magang adalah cara terbaik yang dimiliki untuk memperkenalkan sebuah organisasi kepada mahasiswa baru. Menurut saya, magang sangat diperlukan bagi mahasiswa terutama mahasiswa baru. Hal ini

dikarenakan magang akan menjadi pembeda antara mahasiswa yang tahan banting dan bermental baja serta mahasiswa yang tak tahan banting dan bermental kerupuk. Menurut Anda, apakah Maba UNP juga wajib melakukan pemagangan Ormawa seperti yang diberlakukan di Unand? Saya rasa belum. Saya berpendapat sesuai dengan fakta di lapangan. Waktu itu, meskipun bukan dalam rangka follow– up PKKMB, pernah diadakan pemagangan pada suatu organisasi. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Seseorang yang sedang kita kader malah menyalahgunakan kesempatan itu. Mereka tidak memahami proses kaderisasi sebagai tahap penempaan diri. Melainkan dijadikan sebagai ajang untuk pamer atau mamanggak. Jadi, jikalau pemagangan itu bertujuan untuk menggali potensi Maba, alangkah bagus. Namun, jika Maba yang berpotensi tersebut langsung ditempatkan maka tak jarang mereka akan besar kepala. Maka diperlukan proses kaderisasi secara menyeluruh meskipun membutuhkan waktu yang agak lama. Hal tersebut dilakukan tidak lain untuk mencetak kader yang militan.

Apa saran anda terhadap pelaksanaan magang yang sudah dilakukan di beberapa ormawa? Saya menyarankan agar adanya aturan baku yang membahas tentang pemagangan, salah satunya disana dibahas tentang hak dan kewajiban seorang mahasiswa magang.


6

Laporan Utama

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Artikel

PKMB : Pembekalan Menuju Mahasiswa Paripurna Oleh Drs. Suryanef, M.Si (Dosen Jurusan Ilmu Sosial Politik FIS UNP)

Sudah menjadi tradisi, bahwa mahasiswa baru yang akan memulai statusnya di Universitas Negeri Padang, harus melalui sebuah tahapan yang disebut dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru, atau lebih dikenal dengan PKMB. PKMB merupakan tahapan transisi dari lulusan SMA atau sederajat, dalam memasuki “dunia baru,” yaitu Pendidikan Tinggi. Melalui PKMB, semua mahasiswa baru mendapatkan pengetahuan sebagai upaya pembekalan untuk melalui proses pendidikan tinggi yang menuntut mereka lebih mandiri, bertanggungjawab, serta memiliki kematangan berpikir dalam menentukan sikap dan berperilaku. Dengan cara demikian, seorang mahasiswa dapat menjadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas dalam hal intelektual, tetapi juga spiritual. Pengalaman menunjukkan bahwa terdapat beragam respon mahasiswa baru terhadap PKMB. Ada yang merasa takut dan tertekan, karena menurut informasi yang mereka terima, para senior akan memperlakukan mereka semaunya. Sebagian merasa PKMB adalah ajang pembuktian diri, dimana mereka akan memanfaatkannya sebagai ajang promosi dari kelebihan potensi yang dimilikinya. Selain itu juga ada yang merasa bangga, karena dengan PKMB merupakan awal mereka untuk mendapatkan atribut baru, yaitu mahasiswa. Mahasiswa sebuah sebutan dari segmentasi masyarakat yang terdidik dan di dalamnya terkandung banyak harapan; pemimpin masa depan, agen perubahan, moral force, dan berbagai harapan positif lainnya, terutama berkaitan dengan masa depan yang lebih baik sebagaimana diimpikan oleh setiap orang khususnya para orang tua. PKMB merupakan entry point bagi perwujudan harapan tersebut, manakala si mahasiswa baru tadi memasang niat baik bagi keberhasilannya dalam penyelesaian studi. Bukankah mereka adalah para pilihan yang beruntung, mereka telah jadi elit masyarakat, khususnya pada perguruan tinggi negeri yang sampai saat ini masih memiliki kredibilitas dan reputasi positif dimata masyarakat. Karena itu, idealnya para

mahasiswa baru harusnya memanfaatkan momentum PKMB ini dengan baik. Mengapa demikian? Paling tidak terdapat empat alasan penting yang dapat dikemukakan terkait dengan pertanyaan ini. Pertama, PKMB memberikan sejumlah pengetahuan awal terkait dengan pendidikan tinggi. Mahasiswa baru, yang sebelumnya adalah pelajar SMA akan mendapatkan informasi bagaimana sistem pendidikan tinggi, mempersiapkan diri dan cara belajar di perguruan tinggi, pengambilan beban studi, serta mendapatkan pelayanan akademik dan sebagainya. Kedua, PKMB adalah wadah untuk mahasiswa baru bersosialisasi, baik dengan sesama mahasiswa baru, dengan para seniornya, dosen, dan staf administratif selaku sivitas akademika pada perguruan tinggi. Berbekal sosialisasi ini, mereka akan dapat membangun interaksi yang baik untuk saling mengenal, keakraban dan solidaritas. Ketiga, PKMB memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk mengekspresikan berbagai potensi diri yang dimilikinya, terkait dengan bakat, minat, dan kemampuan. Hal ini penting bagi mereka terutama dalam upaya menjadikan potensi tersebut sebagai bekal berprestasi pada even nasional maupun internasional. Apalagi pendidikan tinggi saat ini memberikan kesempatan untuk mereka mengembangkan diri sebagai peneliti dan kapasitas ilmiah lainnya melalui progam yang disebut dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Kontes Robot Indonesia,

menjadi aktivis yang kritis dan bertanggungjawab, baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat, termasuk dalam hal hidup berbangsa dan bernegara. Mengacu pada empat poin penting yang telah dikemukakan sebelumnya, sebuah keniscayaan apabila mahasiswa baru memanfaatkan momentum PKMB ini secara baik. Hanya saja dalam kenyataan, tidak semua mereka yang berhasil memetik manfaat ini. Sebagian

Grafis: Faeza

dan sebagainya. Keempat, PKMB memberikan bekal pemahaman terhadap organisasi kemahasiswaan, wadah dimana mereka memiliki peluang untuk belajar berorganisasi. Melalui organisasi kemahasiswaan, mereka belajar memimpin dan dipimpin, belajar berbeda pendapat, menggunakan logika dan akal sehat, serta toleran terhadap sesama. Dengan demikian, idealnya mahasiswa tidak hanya berkutat dengan buku, tapi juga

dari mereka justru menjalani PKMB tidak lebih dari sekadar memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa baru. Artinya, mereka tidak memiliki komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk mencapai sasaran PKMB sebagaimana yang ditetapkan, sehingga cenderung untuk “bermainmain” selama PKMB berlangsung. Walaupun demikian, “kegagalan” mahasiswa baru dalam mencapai

sasaran PKMB, sesungguhnya tidak semata disebabkan oleh diri mereka semata, tetapi masih ada variabel lain yang juga berkontribusi. Beberapa diantaranya yang dapat dikemukakan adalah; Pertama, kapasitas dan fasiltas kelas tempat penyelenggaraan. Dalam kenyataannya pelaksanaan PKMB dibagi ke dalam beberapa gugus dengan kapasitas minimal satu gugus 150 orang. Kondisi ini menjadikan para mahasiswa yang mengikuti PKMB termasuk juga para dosen sebagai pemateri merasa tidak nyaman. Implikasinya mereka tidak fokus, dan kalau saja terjadi gangguan teknis misalnya pengeras suara serta LCD tidak berfungsi dengan baik maka terjadi “kegaduhan”. Tambahan lagi, para mahasiswa hanya duduk di lantai sepanjang hari. Oleh karena itu persoalan kapasitas dan fasiltas penyelenggaraan PKMB menjadi penting untuk dikaji ulang. Kedua, materi dan metode PKMB. Hampir tidak ada perubahan yang signifikan dari materi dan metode PKMB yang telah dilaksanakan, paling tidak satu dekade terakhir, dimana diantaranya penulis juga pernah sebagai Pembantu Dekan III dalam rentang tahun 2004-2008. Perguruan tinggi sebagai institusi dengan dinamika yang tinggi, terutama terkait dengan kemajuan zaman khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi, kiranya perlu mengadopsi dan mengadaptasi perkembangan tersebut. Terkait dengan ini, perlu dipertimbangkan diadopsinya materi yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran. Disamping itu, materi yang terkait dengan pendidikan anti korupsi dalam upaya membangun kesadaran dan membentuk karakter yang peduli dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Seiring dengan itu, metode penyampaian materi juga perlu mendapatkan “sentuhan baru”, tidak hanya ceramah dan tanya jawab, tetapi juga metode yang memungkinkan bagi pengembangan berpikir tingkat tinggi dan kritis, seperti diskusi dan discovery. Ketiga, menjadikan rekomendasi dari buah evaluasi pelaksanaan PKMB yang dilakukan sebagai komitmen untuk menjadikan PKMB semakin lebih baik di masa depan. Sekaligus untuk memaksimalkan pencapaian sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Tiga poin tersebut, bisa jadi hanya sebagian saja dari banyak hal yang dapat kita lakukan untuk perbaikan pelaksanaan PKMB. Bagaimanapun, merupakan sebuah keniscayaan menjadikan PKMB ini sebagai entry point pembekalan menjadikan mahasiswa baru sebagai mahasiswa yang paripurna, yaitu pribadi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha esa, cerdas, terampil, bertanggungjawab, dan demokratis. Serta memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apa Kata Mereka

Materi Orientasi Memang Penting Khadijah Ramadhani Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra UNP Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru itu sangat diperlukan. Namun saya tidak setuju apabila ada perpeloncoan dalam masa orientasi bagi mahasiswa baru. Biasanya tindakan perpeloncoan itu memicu tindakan balas dendam karena dulu seniornya juga merasakan hal sama. Hal ini tidak baik dilakukan. Lebih baik dilakukan pembinaan mental dan mendekatkan hubungan antara senior dan junior sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Penyajian materi saat PKKMB itu penting, karena menambah pengetahuan saya saat ingin memasuki bangku kuliah.

Boby Darmanto Mahasiswa Adm. Pendidikan (Ketua Komisi III MPM UNP) Perpeloncoan dalam masa pembekalan bagi mahasiswa baru itu tidak perlu, hal penting yang perlu dipikirkan adalah bagaimana membangun hubungan emosional antara mahasiswa baru dengan seniornya. Pemberian materi untuk mendukung proses masa pembekalan juga tidak kalah penting karena sangat berguna bagi mahasiswa baru sebagai bagian dari civitas akademika, namun jangan sampai monoton sehingga menghilangkan kesempatan para mahasiswa lama berinteraksi dengan juniornya. Kedepan mahasiswa senior harus terlibat lebih jauh dalam masa orientasi bagi mahasiswa baru (PKKMB) sehingga mereka benar-benar bisa berinteraksi dengan para junior dan berbagi pengalaman seputar kehidupan seorang mahasiswa di kampus.

Prof. Dr. Marjohan, M.Pd, Kons Dosen Jurusan Bimbingan Konseling Prinsip dari masa orientasi adalah memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru untuk mengenal perguruan tinggi dan civitas akademika yang ada didalamnya. Masa pembekalan bagi mahasiswa baru berorientasi studi, jadi tidak masalah kalau ada penyajian materi. Namun materi yang diberikan harus benar-benar mengenai kehidupan dikampus. Seperti memperkenalkan fasilitas-fasilitas yang tersedia di kampus untuk mahasiswa, misalnya perpustakaan, gedung olah raga, pusat kegiatan mahasiswa dan fasilitas lain yang tentunya sangat berguna untuk mengembangkan potensi mahasiswa. Bila perlu para senior langsung membawa juniornya untuk mengunjungi tempattempat tersebut dan memberikan penjelasan langsung tentang pemanfaatan fasilitas tersebut. Melaksanakan kegiatan pembekalan dengan pelonco itu tidak perlu sebenarnya, karena kita berada pada ranah akademis yang tidak memerlukan hal tersebut.


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

7

Laporan Utama

Evaluasi PKKMB 2012 Oleh: Meri Maryati

Bagaimana Mahasiswa Melihat PKKMB tahun ini? Bagaimana seharusnya.

Ternyata, pelaksanaan PKKMB di bulan puasa tahun ini kurang efektif. Beberapa panitia mengeluhkan banyak kekurangan selama proses orientasi ini, diantaranya; masalah waktu. Kegiatan PKKMB yang dimulai pukul 07.00 WIB dan usai pukul 16.00 dinilai Wisman, Ketua HMJ Bahasa Indonesia kurang baik. Durasi waktu ini dalam bulan puasa, menurutnya, terlalu lama sehingga mudah menimbulkan bosan bagi Maba. “Hendaknya, jangan seperti ini lagi,” ujarnya, Minggu (12/8). Masih dari segi waktu turut dikomentari oleh panitia PKKMB tahun lalu, Riga. Berkaca dari tahun sebelumnya, ia memaparkan pelaksanaan PKKMB pada tahun lalu terkesan terlalu formal. Hal itu dikarenakan panitia terlalu mengikuti rundown yang disusun fakultas. Seperti halnya jeda antara pemateri pertama dan kedua yang hanya berdurasi 10 menit. “Inilah yang membuat PKKMB membosankan ditambah pelaksanaannya di bulan puasa” jelasnya, Senin (13/8). Pada tahun kemarin juga terjadi keterlambatan kedatangan pemateri sekitar 15 menit. Akibatnya, pemateri menggunakan waktu lebih dari waktu yang telah ditentukan. “Tentu hal ini berimbas pada acara berikutnya”. Ketika panitia memperingatkan pemateri dengan memberikan tanda bahwa waktu telah habis, pemateri malahan berpendapat bahwa waktu tidak

Penampilan Minat dan Bakat: Mengisi waktu PKKMB, Maba Fakultas Ekonomi melakukan aksi drama singkat di auditorium lantai 4 fakultas tersebut, Kamis (16/8). F/Jefri.

cukup. Ditilik dari segi desain PKKMB dikomentari oleh Ketua BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Yos Aprinaldi. Ia menilai pelaksanaan PKKMB yang hanya memakan waktu tiga hari tidaklah cukup untuk mendidik Maba. Mengingat banyak hal yang harus diketahui Maba seperti kehidupan kampus, pelayanan yang tersedia, organisasi mahasiswa yang ada beserta pergerakannya dan lain-lain. “Di UI saja kegiatan orientasi Mabanya diawali dengan 3 hari kemudian dilanjutkan dengan 3 bulan,” tambahnya, Selasa (14/8). Selain itu, ia mengeluhkan persiapan PKKMB yang mepet dan buku panduan PKKMB baru dibagikan hanya beberapa hari sebelum acara. Terkait desain PKKMB juga ditanggapi

oleh Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, Mujiono. Ia menilai metode penyampaian materi pada PKKMB tahun ini tidak sepenuhnya efektif. Hal itu dikarenakan ada materi yang disampaikan secara langsung seperti perkenalan ormawa di UNP dan ada materi yang tidak disampaikan secara langsung alias disuruh perintah baca saja seperti materi tentang Karakter Bangsa. “Resikonya, tidak semua maba akan membaca dan memahami materi tersebut,” ungkapnya, Rabu (15/8). Menurutnya, metode interaktif adalah metode yang bagus untuk menyampaikan materi. Dikarenakan terjadi hubungan timbal-balik antara pemateri dengan pendengar. Sebaiknya semua materi PKKMB itu disampaikan secara langsung supaya jelas dan tepat sasaran. Disamping itu, ia

menyarankan materi yang patut ditambahkan untuk PKKMB tahun depan seperti materi tentang sejarah kampus UNP. Tidak lucu ketika seorang mahasiswa tidak mengetahui sejarah kampusnya sendiri. Tidak hanya dari mahasiswa, kritikan juga dilontarkan oleh dosen jurusan Bimbingan dan Konseling, Marjohan. Ia mengusulkan agar mahasiswa senior juga diberi kesempatan untuk menyampaikan materi dalam PKKMB. “Mahasiswa baru membutuhkan tokoh langsung yang mampu membagikan pengalamannya tentang dunia kampus,” terangnya, Rabu (7/11). Selain itu, Marjohan malah setuju kalau PKKMB diadakan selama dua hari saja. Dengan catatan, selama dua hari tersebut acara benar-benar intensif dan memanfaatkan waktu seefektif mungkin. Kemudian, dilakukan follow-up pada harihari berikutnya. “Seperti hari Sabtu dan Minggu, kan mahasiswa tidak kuliah.” Pada hari tersebut dilakukan pembinaan secara rutin oleh para senior. Selanjutnya, ia juga mengomentari mengenai pemilihan materi yang akan disampaikan saat PKMMB. Ia menyarankan agar materi yang akan disampaikan tersebut sebaiknya erat kaitannya dengan kehidupan di kampus. Seperti halnya menerangkan sistem belajar di kampus, cara memilih koleksi di perpustakaan, cara memanfaatkan fasilitas kampus, menjelaskan hak dan kewajiban mahasiswa dan lain-lain. Kalau perlu dengan bantuan para senior, mahasiswa baru langsung diantar ke lokasi. “Hal seperti itu sempat saya alami ketika menempuh pendidikan di Australia.” Bukan malah menyampaikan materi seperti Pendidikan Pancasila. “Bukannya tidak penting, namun hal tersebut akan mereka dapatkan selama menjalani perkuliahan,” terangnya. Meri/Dedi Laporan: Via, Ami, Nia*, Wai*

Ketua Jurusan Sejarah, Hendra Naldi, S.S., M.Hum

PKKMB Masih Butuh Reformasi Tentu kita tak asing lagi dengan katakata “Keberhasilan yang besar juga butuh pengorbanan yang juga besar.” Demi memberikan suguhan terbaik dalam acara Perkenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), diperlukan perencanaan yang matang bagi pihak penyelenggara yang dalam hal ini adalah civitas akademik Universitas Negeri Padang (UNP). Mulai dari tingkat mahasiswa hingga petinggi UNP. Evaluasi, reformasi bahkan revolusi. Itulah yang terjadi pada pada acara orientasi bagi mahasiswa baru tersebut dari tahun ke tahun. Apakah masih ada hal lain yang perlu dibenahi demi pelaksanaan PKKMB yang lebih baik kedepannya? Simak hasil wawancara reporter Rahmi Jaherman dengan Hendra Naldi, S.S, M. Hum, Ketua Jurusan Sejarah, Senin (15/10). Apakah revisi PKKMB dari tahun ke tahun perlu dilakukan? Menurut saya, soal nama tidak ada pengaruhnya. Hal yang terpenting itu adalah substansi dari acara pembekalan terhadap mahasiswa baru itu sendiri. Orientasi dari acara PKKMB itu sebenarnya adalah bagaimana

mahasiswa baru bisa mengenal kehidupan civitas akademika di kampus barunya. Jangan sampai ada pandangan bahwa mahasiswa sekarang adalah segerombolan siswa yang sibuk mencari Indeks Prestasi Komulatif tinggi dan berpikir untuk cepatcepat mencapai gelar sarjana. Itu adalah pekerjaan rumah kita bersama untuk menyadarkannya. Beberapa tahun terakhir, pelaksanaan PKKMB berlangsung pada bulan puasa. Bagaimana pandangan anda? Menurut saya, itu tidak masalah. Waktu bukan halangan untuk melaksanakan suatu kegiatan, asalkan kegiatan yang akan dilaksanakan jelas dan terprogram dengan baik. PKKMB di UNP berlangsung selama tiga hari, menurut anda apakah tujuannya akan tercapai? PKKMB atau apapun namanya tidak akan cukup bila hanya dilaksanakan dalam waktu tiga hari saja. Menurut saya, sekurang-kurangnya dibutuhkan waktu satu minggu untuk kegiatan seperti ini. Hal ini dikarenakan mahasiswa senior membutuhkan waktu untuk mengenal potensi yang dimiliki oleh junior-juniornya. Kemudian, di follow-up setelah PKKMB yakni pada saat pelaksanaan KRIDA di fakultas. Pelaksanaan yang dalam satu minggu itu, sebaiknya dilaksanakan secara berjenjang. Satu hari

mereka digabung se-universitas. Kemudian mereka di pulangkan ke fakultas dan hari berikutnya di serahkan kejurusan masingmasing. Disinilah proses interaksi antara mahasiswa junior dengan mahasiswa senior serta sivitas akademik yang lain terjadi. Menurut anda, apakah ada hal lain yang ditambahkan pada PKKMB, agar mahasiswa baru memiliki pembekalan yang cukup? Pertama, tentu dibutuhkan sebuah tim solid yang mampu mendesain acara PKKMB secara komprehensif. Jangan sampai PKKMB hanya sebatas seremonial saja dan setelah PKKMB selesai, tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi mahasiswa baru. Misalnya melakukan pembinaan setelah PKKMB berlangsung. Untuk itu, mahasiswa baru selain dibina saat PKKMB juga seharusnya masih dibina pasca PKKMB. Contohnya dengan mengonsep acara PKKMB yang berkesinambungan dengan KRIDA. Selama ini, seolah-olah PKKMB dan KRIDA adalah acara yang terpisah. Satunya dikelola oleh Pembantu Dekan I dan satunya lagi dikelola oleh BEM. Menurut saya, kedua acara tersebut harus ada keterkaitan satu sama lain. Dimana, saat PKKMB mahasiswa senior mengenal potensi juniornya dan follow up-nya dapat dilakukan pada saat KRIDA. Di sana, mahasiswa baru yang berpotensi ditempa sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.


8

Artikel Umum

Konsultasi Kesehatan Jika Anda mengalami masalah kesehatan, silahkan manfaatkan rubrik ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas.

Diasuh oleh: dr. Elsa Yuniarti

Sesak Nafas Bila Marah Sejak lima tahun lalu, saya sering sakit kepala. Saya juga sering sesak nafas bila sedang marah. Sesak nafas ini baru saya rasakan beberapa bulan belakangan. Apakah kedua penyakit ini ada korelasinya? Kira-kira, apa penyebab kedua penyakit saya? Apa yang harus saya lakukan untuk mengobatinya? Saya mohon jawaban dari dokter atas masalah ini. Terima kasih. Sucita Fitriani Mahasiswa Pendidikan Ekonomi TM 2010

Saya mengucapkan terimakasih atas pertanyaan yang diberikan Sucita. Saya akan mencoba menganalisa keluhan yang telah diutarakan di atas. Menurut saya munculnya keluhan tersebut diakibatkan asupan kecukupan gizi yang kurang yakni makanan sehingga menyebabkan masalah pada sistem organ dan imunitas tubuh seseorang terutama dalam fase pertumbuhan dengan aktifitas yang padat. Tubuh perlu asupan gizi yang seimbang. Remaja termasuk mahasiswa merupakan kelompok yang rawan terhadap masalah anemia gizi. Hal ini dapat dimaklumi karena masa remaja adalah masa pertumbuhan yang lebih banyak membutuhkan zat gizi termasuk zat besi. Anemia adalah suatu keadaan kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang terutama disebabkan oleh kekurangan zat gizi (khususnya zat besi) yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Anemia ini sering juga disebut sebagai penyakit kurang darah yang biasanya ditandai dengan gejala cepat lelah, kurang semangat, tidak mampu berkonsentrasi, kurang selera makan, pusing, sakit kepala, sesak nafas, mudah kesemutan, merasa mual dan jantung berdebar-debar. Penyebabnya adalah jumlah zat besi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Selain itu berbagai faktor dapat mempengaruhi terjadinya anemia defisiensi besi antara lain: pola makan, pola haid, pengetahuan tentang anemia defisiensi besi, pengetahuan tentang zat-zat yang memicu dan menghambat absorpsi besi (vitamin C dan teh), konsumsi obat-obatan tertentu seperti antibiotik, aspirin, sulfonamide, obat malaria, kebiasaan merokok, kehilangan darah keluar tubuh (pendarahan), luka bakar, diare, dan gangguan fungsi ginjal. Saya punya tips buat kalian untuk menghindari anemia yaitu, 1. Dengan mengkonsumsi banyak makanan yang kaya zat besi seperti sayur-sayuran hijau,kacang-kacangan ,sereal dan daging 2. Dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang kaya dengan vitamin C 3. Dengan menghindari minum teh setelah makan karena minuman teh dapat menyerap zat besi yang dibutuhkan tubuh. 4. Dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan asam folat seperti buah jeruk dan pisang. 5. Khususnya mahasiswa ubah pola hidup yakni jangan lupa berolah raga dan jangan tidur larut malam sebab tubuh kita juga perlu istirahat setelah beraktifitas penuh. Semoga bermanfaat.

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Budaya Global dalam McD dan RM Minang Oleh Alia Azmi (Dosen Jurusan Ilmu Sosial Politik FIS UNP)

Restoran cepat saji McDonald, yang dibuka di kota Padang beberapa bulan lalu sampai saat ini tetap ramai dikunjungi pelanggan. Logo gambar badut, burger, dan Golden Arches, yaitu huruf M menyerupai dua gerbang lengkung berwarna kuning di latar belakang merah yang mencolok memenuhi berbagai media. McDonald, dengan logonya yang terkenal itu, adalah ikon globalisasi. McDonald bukanlah restoran waralaba biasa. Ia lekat dengan predikat produk multinasional yang sukses. Dengan jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia, outlet McDonald bisa dijumpai di kota-kota di berbagai negara. Walaupun bukan restoran pertama dan satu-satunya yang menerapkan konsep layanan cepat dan mandiri, jaringan McDonald yang luas berjasa menyebarkan tipe cepat saji dengan 30.000 restoran di lebih dari 120 negara, di lima benua dan melayani 35 juta pembeli setiap harinya. Tidak hanya menjual sejenis makanan Amerika, restoran ini juga merepresentasikan kulturnya; makanan yang praktis dan bisa dikonsumsi sembari berjalan dan menyetir, menyesuaikan dengan manusia global yang tidak ingin membuang waktu serta individualis. Cara pemesanan langsung di kasir dan penyiapan makanan dalam waktu singkat menunjukkan efisiensi dan layanan mandiri, sedangkan fasilitas drive-thru memanjakan pengendara yang tidak mau repot-repot turun dari mobil. Dengan kata lain, pembeli McDonald bukan hanya mengkonsumsi burger, tetapi juga menyerap gaya hidup global. Efek samping yang mungkin tidak pernah direncanakan oleh pendiri McDonald adalah peranannya dalam representasi globalisasi. Ia digunakan oleh para akademisi di universitas untuk menjelaskan fenomena globalisasi, dan dijadikan salah satu indikator globalisasi oleh lembaga riset. Suatu institusi ekonomi di Swiss, KOF, mengeluarkan Indeks Globalisasi untuk mengukur tingginya level integrasi suatu negara ke dalam globalisasi dari aspek ekonomi, politik, dan sosial. Salah satu indikator sosial yaitu kedekatan dengan budaya global yang diukur di antaranya dengan jumlah restoran McDonald per kapita. Majalah The Economist, yang berbasis di London menggunakan harga Big Mac, salah satu produk burger McDonald, untuk membandingkan nilai tukar dan biaya hidup masyarakat di suatu negara dengan negara lainnya. McDonald dipilih karena mudahnya menemukan restoran tersebut di hampir semua negara dunia, terutama kota-kota besar yang telah terintegrasi secara global. Lantas mengapa McDonald membuka gerainya di Padang? Apabila didasarkan pada indikator globalisasi dari aspek ekonomi politik, kota Padang maupun provinsi Sumbar tidak terlalu terekspos pada ekonomi internasional dan globalisasi. Padang tidak banyak

menampung warga negara asing, pariwisata belum mendunia, dan investasi asing masih minim. Apabila dibandingkan dengan kotakota lain di Sumatera yang juga tuan rumah jaringan McDonald, yaitu Medan dan Palembang, kota Padang seperti tidak cocok dengan bayangan kota global yang mempunyai McDonald. Medan lebih tampak global dengan jumlah ekspatriat yang signifikan dan adanya beberapa konsulat jenderal negara asing. Palembang adalah kota besar dengan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Outlet McDonald akan tampak lebih pas berada di provinsi tetangga Riau dan Kepri karena ramainya investasi asing dan industri-industri strategis. Ini berarti, globalisasi dan penyebaran budaya global begitu merasuk pada sudut-sudut dunia, bahkan ke kota yang tidak begitu besar dan meng-internasional seperti Padang. Manajemen pemilik izin waralaba tentu mempunyai alasan bisnis untuk membuka outlet McDonald di Padang, yang kemungkinan besar adalah karena kebiasaan latah masyarakat Indonesia, dan Padang khususnya, yang memandang bergengsi segala macam yang berbau luar negeri; alasan yang terlepas dari pertimbangan global

Grafis: Faeza

atau tidaknya suatu kota. Penyebaran restoran cepat saji telah menembus batas jarak dan bahkan perbedaan budaya yang tidak mungkin dihapuskan. Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengatasi serbuan budaya global ini? Integrasi budaya global tidak bisa dihindari. Pergerakan manusia dan sumber daya semakin cepat, dan siapa yang tidak dapat mengikutinya akan tertinggal. Demikian pula dari segi kepraktisan, manusia global akan lebih memilih segala sesuatu yang praktis, terutama dalam segi pelayanan produk barang dan jasa. Di sisi lain, masyarakat lokal masih menyimpan resistensi terhadap budaya luar, sehingga kebiasaan dan budaya lokal masih dijaga secara kuat. Inilah yang disebut dengan difersifikasi budaya. Globalisasi tidak menyebabkan penyeragaman budaya, melainkan perpaduan nilai-nilai global dengan lokal. Perpaduan budaya global dan lokal inilah yang dapat menyelamatkan nilai-nilai setempat. Budaya, karena sifatnya yang dinamis, akan selalu menyesuaikan dengan zaman, tetapi tetap menyisakan nilai-nilai inti masyarakat karena masih terikat erat dengan lingkungan tempat tinggalnya. Bisa dilihat di tengah serbuan

restoran cepat saji, restoran Minang masih eksis di Sumbar bahkan seluruh nusantara. Bila dibandingkan, restoran cepat saji dan restoran Minang tidak selalu berbeda dalam cara layanan yang khas masing-masing. Restoran Minang juga mempunyai efisiensinya sendiri dengan penyajian dan penghitungan harga langsung di meja makan dengan cepat sehingga dapat menghindari antrian di kasir. Di kota-kota besar di Indonesia, Restoran Minang masih menjadi pilihan ketika sedang bergegas dibandingkan warung pecel lele di mana pembeli cenderung menunggu lama. Restoran Minang juga mempunyai kemampuan ekspansi, walaupun bukan berupa jaringan tunggal, dengan mulai merambah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Sebagai tuan rumah restoran cepat saji McDonald, kita perlu berkaca pada kesuksesannya. Restoran cepat saji mempunyai standar layanan yang memastikan kenyamanan pelanggan. Mereka biasanya mempunyai standar waktu maksimal pelayanan yang tidak boleh dilanggar, sehingga bisa dipastikan pelayanan selalu cepat. Kebersihan outlet dan atmosfer nyaman selalu terjaga sehingga memberi kesan gengsi yang tinggi. Produk-produk menarik disediakan untuk setiap segmen; keluarga, anak muda, maupun anak-anak. Dan yang terutama, tidak takut mengadopsi budaya lokal untuk menjangkau pasar, seperti penyesuaian menu dengan menambah paket nasi. Resistensi terhadap serbuan nilai-nilai global tentulah sangat sulit, kalau tidak sia-sia, terutama ketika negaranegara semakin terbuka, seperti yang terjadi di Indonesia. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah meng adopsi nilai-nilai positif tersebut dan mengadakan “serbuan balasan�. Dengan meningkatkan standar pelayanan dan kenyamanan pelanggan, bukan tidak mungkin restoran Minang pun bisa melakukan ekspansi ke seluruh dunia. Kalau McDonald berani membuka gerai di ranah Minang yang terkenal dengan budaya kuliner fanatik karena lidah yang manja oleh santan, mengapa restoran Minang tidak bisa ekspansi ke negaranegara penikmat keju ataupun makanan laut mentah? Pengusaha restoran bisa memanfaatkan reputasi rendang sebagai makanan terenak di dunia menurut televisi internasional CNN dan integrasi budaya global itu sendiri. Masyarakat di negara maju dan kota global akan lebih terbuka terhadap produk budaya baru dan asing. Restoran Minang perlu menyesuaikan standar kebersihan, kenyamanan, dan efisiensi pelayanan dengan level masyarakat yang dituju agar mampu bersaing dengan restoran lain. Dengan keyakinan terhadap budaya kuliner lokal , dan tidak segan untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai positif dari luar, bukan tidak mungkin restoran Minang berkembang secara global, seperti McDonald.


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

9

Artikel Pendidikan

Labilitas Kebijakan Pendidikan Oleh Jefri Rajif Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika TM 2010

Calon mahasiswa baru pada tahun 2013 nanti sempat dibuat “kalang-kabut” oleh kebijakan baru yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa untuk jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di 2013, hanya akan dilakukan melalui dua jalur, yaitu jalur undangan dan jalur mandiri. Porsi yang besar dialokasikan untuk jalur undangan, yaitu dengan kuota 60%, sedangkan untuk jalur mandiri dengan kuota 40%. Pemerintah menetapkan untuk mengintegrasikan nilai Ujian Akhir Nasional (UN) dan nilai rapor sebagai indikator utama penentuan kelulusan disebuah Perguruan Tinggi melalui sistem jalur undangan ini. Artinya, nilai UN dan rapor dari kelas I hingga kelas III selama bangku sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA) akan diperhitungkan. Kebijakan ini dinilai oleh pakar pendidikan dan petinggi perguruan tinggi tidak adil dan tidak efektif. Mereka menilai hasil evaluasi rapor dan UN tidak bisa untuk menjadi acuan pemetaan kemampuan calon mahasiswa. Kenapa demikian? Sudah sering terdengar bahwa kasus kecurangan dalam pelaksanaan UN di sekolah-sekolah adalah hal yang biasa terjadi, bahkan oleh pihak sekolah sendiri. Ada yang sengaja memberikan kunci jawaban kepada muridnya atau berbagai cara lainnya hanya untuk menaikkan prestise sekolah mereka. Kasus seperti ini pernah terjadi di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo pada April 2011 lalu. Kepala sekolah dengan sengaja menyuruh guru untuk memberikan jawaban kepada siswa dalam pelaksanaan ujian di hari keempat dengan mata ujian Fisika. Hal ini menyebabkan sekitar 345 siswa dari delapan sekolah di Kabupaten tersebut mesti mengulang UAN kembali. Lain halnya dengan penilaian rapor. Ada sekolah yang dengan sengaja merubah nilai rapor peserta didiknya menjadi lebih baik hanya untuk memenuhi kriteria penilaian yang ditetapkan untuk bisa mengisi jalur undangan yang diberikan. Sehingga nilai yang tertera dalam raporpun menjadi tidak murni nilai yang didapatkan oleh siswa itu sendiri.

Hal lain yang menyebabkan kebijakan ini dipandang tidak adil adalah tertutupnya kemungkinan bagi lulusan SMA/ sederajat tahun lalu, untuk mengikuti ujian jalur undangan ini. Dalam artian sistem ini hanya berlaku untuk setahun berjalan. Dari sistem ini, lulusan tahun lalu atau dua tahun lalu hanya diberi kuota 10% dari keseluruhan kuota jalur masuk PTN 2013 nanti. Sehingga sedikit kemungkinannya untuk bisa melanjutkan pendidikan di PTN. Selang beberapa waktu, kini pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan baru yang memberikan angin segar kepada para calon mahasiswa baru setelah adanya berita penghapusan ujian tulis sebelumnya. Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membatalkan penghapusan jalur ujian tulis tersebut. Pemerintah menetapkan kuota baru untuk masing-masing jalur masuk dengan rincian jalur undangan menjadi 50%, jalur ujian tulis 30% dan jalur mandiri (yang dilaksanakan masingmasing kampus) menjadi 20%. Dengan kebijakan baru ini juga, siswa tamatan tahun lalu atau dua tahun sebelumnya bisa mengikuti ujian tulis seperti tamatan tahun berjalan. Kuota untuk jalur undangan dinaikkan dari tahun sebelumnya. Di 2012, kuota untuk jalur undangan berkisar sebesar 33% saja. Muhammad Nuh mengatakan dengan ditingkatkannya kuota jalur undangan pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 nanti, tidak ada lagi yang menganggap negatif kebijakan ini. Kenegatifan dalam memandang nilai UN dan rapor yang tidak objektif oleh beberapa kalangan. Berdasarkan dua contoh kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah tadi, kita bisa melihat bahwa pemerintah, khususnya di bidang pendidikan, terkesan tidak yakin dengan keputusan yang diambil. Tanpa memprakirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan dibuatnya sebuah keputusan tersebut. Hal-hal yang seperti ini lah nantinya yang akan membuat pendidikan di Indonesia semakin jauh tertinggal dari negara-negara lain. Perhatian pemerintah terhadap pendidi-

kan masih terasa minim. Gambaran ini tercermin dari dari beragamnya masalah pendidikan yang semakin rumit. Diantaranya yaitu kualitas siswa yang semakin rendah, hal ini diperlihatkan dengan banyaknya akhir-akhir ini siswa melakukan aksi tawuran yang bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Padahal pemerintah sebelumnya juga telah menerapkan sistem pembelajaran

Grafis: Faeza

yang namanya Pendidikan karakter. Kemudian lagi pengajar yang kurang profesional, adanya pendidik yang memberikan hukuman fisik kepada peserta didik yang dinilai tidak lagi mencerminkan sikap sebagai seorang pendidik yang baik. Biaya pendidikan yang masih mahal, kendati pemerintah telah menerapkan program wajib

belajar dan menggratiskan pendidikan, namun sumbangan-sumbangan lain yang diminta oleh pihak sekolah masih memberatkan siswa terutama siswa yang kurang mampu. Memang usaha pemerintah untuk memperbaiki pendidikan di indonesia bisa dibilang sudah banyak. Tapi semua itu belum memperlihatkan perkembangan yang baik hingga saat ini. Hal ini terbukti dengan peringkat Indonesia dibidang pendidikan diantara 12 negara yang ada di Asia. Menurut survey Political dan Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Sedangkan menurut laporan dari United Nation Development Program (UNDP) pada tahun 2005 lalu mengungkapan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia menempati posisi ke-110 dari 117 negara yang disurvey di dunia. Laporan hasil survey dari PERC dan UNDP tersebut mengindikasikan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih relatif rendah, hal ini membuktikan bahwasanya masih banyak yang perlu diperbaiki, baik dari segi kebijakan (undang-undang dan peraturan pemerintah) maupun segi pelaksanaannya. Artinya pendidikan Indonesia masih jauh dari tujuan utama pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan telah banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari kegagalan atas kebijakankebijakan ini, pemerintah harusnya dapat lebih mempertimbangkan kepentingan masyarakat banyak, agar kebijakan tersebut yang benar-benar bisa membuat pendidikan Indonesia jauh berubah menjadi lebih baik. Indonesia tidak lagi berada dilevel bawah untuk pendidikan. Hal yang perlu dingat adalah tidak hanya sistem dan kebijakan yang harus dirubah, hal pendukung lainnya juga mesti diperhatikan. Fasilitas pendidikan yang layak dan tenaga pendidik yang profesional. Pemerintah harus lebih responsif, peka terhadap permasalahan pendidikan. Mereka juga harus labih tegas, sehingga tidak lagi terkesan memberi ruang yang bebas terhadap kecurangan-kecurangan yang dilakukan dalam hal se-krusial pendidikan. Terakhir, mereka harusnya bukan lagi sibuk berputar-putar di kebijakan, menukar-nukar kebijakan yang satu dengan kebijakan lain sedangkan hanya berporos pada satu kepentingan. Pendidikan harusnya berjalan menaiki tangga naik kelas, bukan lagi berjalan mendatar.

Konsultasi Psikologi Untuk edisi kali ini konsultasi psikologi SKK Ganto tidak bisa disajikan kepada pembaca karena kendala teknis. Sebagai gantinya redaksi menampilkan tulisan seputar masalah Psikologi.

Pernahkah Anda mempunyai teman yang biasa tersenyum, namun tiba-tiba bisa dikuasai emosi. Ketika amarahnya meledak, Anda melihat wajahnya tiba-tiba berubah menjadi seperti orang lain? Apakah ini ada hubungannya dengan kepribadian ganda? Dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri, ada diagnosis gangguan identitas disosiatif yang dikenal dengan kepribadian ganda (Dissosiative Identity Disorder/DID). Secara sederhana, disosiatif diartikan sebagai terputusnya hubungan antara pikiran, perasaan, tindakan dan rasa seseorang dengan kesadaran atau situasi yang sedang berlangsung. Gangguan ini tidak terjadi karena efek

Kepribadian Ganda karena Trauma Masa Kecil psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam. Kepribadian ganda dapat didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang masing-masing memiliki nama dan karakter berbeda. Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa memiliki banyak identitas dengan cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda. Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun para psikolog sepakat penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil. Anak yang masih berusia di bawah tujuh tahun, kekuatan untuk menghadapi masalah belum muncul sehingga mereka akan mencari cara lain untuk bertahan terhadap pengalaman traumatis, yaitu dengan disosiasi. Dengan menggunakan cara ini, seorang anak dapat membuat pikiran sadarnya terlepas

dari pengalaman mengerikan yang menimpanya. Menurut Colin Ross yang menulis buku The Osiris Complex (1995), proses disosiasi pada anak yang mengarah kepada kelainan DID terdiri dari dua proses psikologis. Contoh pada pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak perempuan. Proses Pertama, anak yang berulangulang mengalami penganiayaan seksual akan berusaha menyangkal pengalaman ini di dalam pikirannya supaya bisa terbebas dari rasa sakit yang luar biasa. Ia bisa mengalami ‘out of body experience’ yang membuat ia “terlepas” dari tubuhnya dan pengalaman traumatis yang sedang terjadi. Identitas baru muncul. Proses Kedua, penghalang memori dibangun antara anak perempuan itu dengan identitas baru yang diciptakan. Pada fase ini, sebuah kesadaran baru telah terbentuk. Pelecehan seksual tersebut tidak pernah terjadi padanya dan ia tidak bisa mengingat apapun mengenainya. Apabila pelecehan seksual terus berlanjut, maka

proses ini akan terus berulang sehingga ia akan kembali menciptakan banyak karakter baru untuk mengatasinya. Setiap karakter ini bisa mengambil alih pikiran (switching) penderita hanya dalam hitungan detik dan biasanya dipicu oleh stres. Orang yang berkepribadian ganda tidak mampu mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya. Ketika kepribadian utama berhasil mengambil alih kembali, ia tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi ketika identitas sebelumnya berkuasa. Sebanyak 98% mereka yang mengidap DID mengalami amnesia ketika sebuah identitas muncul (switching). Banyak orang-orang yang dikenal memiliki kepribadian ganda. Kisah mereka bahkan sudah dibukukan dan difilmkan, semisal Shirley Ardell Mason memiliki 16 identitas yang berbeda dan kisahnya difilmkan dalam Sybil. Ada juga Billy Milligan, pemilik 24 kepribadian. Ceritanya dibukukan dalam 24 Wajah Billy.


10

Laporan Khusus

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

UNP Tetap Diminati Oleh: Dila Monisa

Tak jauh berbeda dari tahuntahun sebelumnya penerimaan mahsiswa baru UNP 2012 masih unggul dari segi kuantitas.

Spanduk ucapan selamat datang kepada Mahasiswa Baru (Maba) 2012 terpampang di depan Fakultas FMIPA, begitu juga dengan Fakultas Ekonomi, FBS dan fakultasfaklutas lainya di UNP. Ucapan selamat datang ini dipersembahkan bagi 6469 Maba yang diterima UNP tahun ini. UNP patut berbanga masuk menjadi 10 besar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Persaingan Paling Ketat. Berdasarkan berita okezone.com Juli 2012, untuk program studi IPS UNP menduduk posisi kedua setelah Universitas Indonesia, pada posisi ketiga ditempati Universitas Negeri Medan, kemudian posisi empat dan lima Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan Universitas Negeri Yogyakarta. Banyak alasan yang dikemukakan mahasiswa ketika ditanya mengapa memilih UNP sebagai tempat kuliah. Salah satunya Azizah Fadilla mahasiswa Pendidikan Fisika. Azizah mengatakan menjadi guru merupakan cita-citanya. Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, ia memutuskan memilih UNP sebagai tempat untuk mengwujudkan cita-cita itu. Keinginan untuk memilih UNP sebagai universitas tujuan juga didukung orang tuanya. Meskipun sudah mengetahui perihal keketatan penerimaan mahasiswa di UNP, ia tetap yakin untuk mendaftar. Keputusan ini diambil Azizah, karena masih banyak yang berpendapat pendidikan keguruan di UNP lebih baik dari pada universitas keguruan di kampung halamannya Pekanbaru. Keketatan penerimaan mahasiswa ini dapat dilihat dari standar kelulusan yang ditetapkan oleh masing-masing fakultas. Berdasarkan data Biro Akademik dan Administrasi Kemahasiswaa (BAAK) UNP, jurusan matematika merupakan salah satu jurusan yang paling banyak diminati dan paling ketat persaingannya, Matematika menerima 113 Maba. Tahun ini dengan 6469 Maba UNP juga kembali mencatatkan diri

Persaingan Ketat: Sambutan FMIPA kepada mahasiswa baru 2012. FMIPA patut berbangga pada penerimaan Maba tahun ini. Jurusan Matematika tercatat sebagai jurusan yang memiliki persaingan masuk terketat. Foto diambil Selasa (23/10). f/Jefri.

sebagai universitas yang menerima mahasiswa baru terbanyak. Menurut dekan FMIPA Prof. Dr. Lufri, Jum’at (31/8) lalu, sebenarnya kelulusan Maba di setiap universitas tidak ditetapkan lewat standar kelulusan tertentu. Standar kelulusan telah ditetapkan nasional, namun jumlah mahasiswa yang diterima tetap ditentukan pihak fakultas masing-masing universitas. “Walaupun jumlah yang mendaftar banyak, yang terbaiklah yang akan diterima”. Persaingan menjadi ketat disebabkan perbandingan jumlah peminat terhadap sebuah jurusan dengan daya tampung yang tersedia. Jumlah kursi yang disediakan sangat terbatas sedangkan jumlah peminat besar. Hal inilah menurut Lutfri yang menyebabkan standar kelulusan di FMIPA khususnya jurusan Matematika menjadi ketat. Meningkatnya jumlah peminat sebuah jurusan menurut Lutfi juga dipengaruhi beberapa hal. Salah satunya berbagai prestasi yang diperoleh. Tahun 2012 ini, mahasiswa dan dosen berprestasi UNP berasal dari FMIPA. Sistem perkuliahan yang dijalankan juga menjadi pertimbangan Maba. FMIPA melakukan dua sistem perkulihan, pertama itu dipusatkan pada Active Learning, yakni

Pengajaran yang berpusat pada mahasiswa sedangkan dosen Cuma menjadi pembimbing. Kedua metode Lesson Study, metode pengajaran yang diambil dari Jepang ini lebih mengarah ke kolaboratif. Dirancang bersama oleh dosen kemudian diperagakan oleh dosen model. Kemudian dosen yang lain menjadi pengamat yang mencatat segala kekurangan atau kelebihan dari sistem yang telah dirancang. Kemudian direfleksikan secara bersama untuk didiskusikan. Pengadaan sitem ini terencana. Ditentukan kapan akan diadakan perkuliahan yang seperti ini. Banyaknya calon mahasiswa baru yang memilih UNP juga membawa dampak lain bagi universitas yang bermotto: “Alam Takambang Jadi Guru” ini. Dikategorikan menjadi PTN dengan persaigan paling ketat, Dekan FMIPA berharap mahasiswa pilihan yang diterima saat ini bisa menjadi mahasiswa yang aktif, kreatif, kritis, inovatif dan relegius. Walaupun Lutfri mengaku belum pernah menerima data valid tentang prestasi yang dicapai UNP ini. Icha/Dedi Laporan: Jefri, Tilla, Tuni, Duni, Media*

Cukup Sulit Masuk UNP Harapan untuk bisa diterima sebagai mahasiswa UNP begitu besar bagi Aulia Rahmadiani, siswa asal Riau. Dengan saran orangtuanya, Aulia bercita-cita menjadi guru di masa depan. Memilih UNP sebagai tempat kuliah menurut Aulia merupakan cara yang tepat untuk mengwujudkan citacitanya. Setelah mengikuti tes SNMPTN dengan pilihan pertama Pendidikan Kimia UNP, ia menyadari ternyata masuk UNP tidak semudah yang ia bayangkan. Persaingan begitu ketat. Ini terbukti, ia gagal dalam ujian SNMPTN yang akan menjadikanya mahasiswa regular. Perjuang Aulia tak hanya sampai disitu, ia mengikuti tes regular mandari, dan akhirnya ia lulus dengan pilihan jurusan yang ia impikan walaupun tercatat sebagai mahasiswa reguler mandiri. Aulia berusaha ikhlas menerimanya. Berdasarkan pengalamannya inilah Aulia, yang ditemui Senin (3/9) lalu, mengaku lebih termotivasi dalam belajar. Ia menjadi mengerti petapa sulit dan pentingnya pendidikan itu sehingga ia bertekad menjadi seseorang yang bisa meningkatkan pendidikan itu sendiri. Keinginan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan juga tertanam dalam diri Azizah Fadilla yang ditemui Selasa (4/9) lalu. Ia sangat ingin menjadi guru dan untuk itulah ia memilih UNP sebagai tempat kuliahnya. Azizah memilih UNP karena menurutnya UNP merupakan universitas keguruan yang bagus. Ia lebih memilih universitas ini dari pada universitas keguruan yang berada di daerah asalnya Pekanbaru. Walaupun gagal lulus ujian SNMPTN dengan pilihan jurusan Pendidikan Kimia, Azizah mengikuti jalur reguler mandiri. Berkat usahanya tersebut ia sekarang diterima di Pendidikan Fisika, dan ia menjadi semakin bersemangat kuliah ketika mengetahui fakultas tempat ia menuntut ilmu termasuk salah satu fakultas terbaik di UNP.

Dosen Pascasarjana, Prof.Dr. Atmazaki, M.Pd.

Harus Ada Pengelolaan yang Baik Dari tahun ketahun jumlah calon mahasiswa yang ingin mendaftar di UNP semakin bertambah. Hal ini menyebabkan seleksi penerimaan semakin diperketat dengan harapan mahasiswa yang lulus adalah mahasiswa terbaik. Keketatan penerimaan mahasiswa baru ini juga membawa UNP menjadi universitas nomor 2 di Indonesia setelah UI dari segi keketatan penerimaan di bidang IPS. Apa yang membuat UNP begitu diminati? Sudah sanggupkan UNP menerima jumlah mahasiswa yang segitu banyak dan apa pula pendapat pengamat pendidikan tentag hal ini? Berikut hasil wawancara reporter Ganto Hasduni dengan Media Rahmi dengan Prof. Dr. Atmazaki, MPd yang ditemui di ruangannya, Senin (10/9). UNP menjadi universitas yang memiliki keketatan nomor dua dari segi penerimaan mahasiswa bidang IPS, tanggapan anda? Saya dengar memang iya adanya, dan itu harus disyukuri. Peningkatan ini bagus, karena hal ini menunjukkan adanya

peningkatan kualitas UNP itu sendiri. Ini menunjukkan UNP hanya menerima mahasiswa terbaik dari jumlah pendaftar yang ada. Dan apabila saat ini hanya untuk bidang MIPA saja, mudah-mudahan ke depan cangkupannya lebih luas lagi. Mengapa jumlah penerimaan mahasiswa di UNP meningkat? Pada dasarnya, peningkatan jumlah mahasiswa yang diterima oleh UNP merupakan himbauan menteri. Himbauan itu berupa tugas yang diberikan kepada UNP untuk meningkatkan kuantitas mahasiswa yang akan masuk, baik itu regular, maupun regular mandiri. Apa yang membuat UNP menjadi begitu diminati? Karena pengaruh tingkat keketatan penerimaan mahasiswa baru tersebut, membuat mahasiswa semakin memilih UNP. Selain itu, keunggulan dan kualitas proses belajar di UNP juga menjadi alasan kenapa UNP begitu diminati. Tak hanya itu, kedekatan antara dosen dan mahasiswa juga

menjadi alasan mahasiswa memilih UNP sebagai universitasnya. Dari dulu hubungan dosen dan mahasiswa di Sumatera Barat itu dikenal dengan kedekatannya, sehingga bisa menjadi daya tarik tersendiri. Melihat kondisi UNP sekarang dengan jumlah mahasiswa yang banyak, apakah itu sudah cukup? UNP harus sanggup untuk mengelola mahasiswa tersebut, karena UNP ini adalah salah satu LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Keguruan) yang akan melahirkan guru-guru sebagai tenaga pendidik yang berkualitas, sehingga sudah menjadi kewajiban UNP untuk meningkatkan kualitas calon guru tersebut. Apa yang harus dilakukan UNP untuk dapat memperbaiki kualitas pendidikan? UNP harus memperhatikan fasilitas yang akan menunjang proses pembelajaran, baik itu fasilitas untuk mahasiswa maupun untuk dosen. Apakah sarana yang telah ada sanggup untuk menampung jumlah mahasiswa yang ada atau tidak. Selain itu,

kemampuan dosen-dosen dalam mengelola jadwal mengajar juga harus diperhatikan. Pemberian jumlah jam mengajar terhadap dosen-dosen juga harus selayaknya, jangan sampai melebihi kemampuan kemampuan mereka sehingga tugasnya menjadi lebih terbengkalai.


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

11

Laporan Khusus

Semua Harus Sebanding Oleh: Dila Monisa

Ada beberapa pertimbangan yang harus dilakukan fakultas untuk menentukan jumlah mahasiswa yang akan diterima. Inilah yang menjadi penyebab berbedanya jumlah mahasiswa disetiap fakultas. Pada tahun ajaran 2012/2013 ini secara total UNP menerima 6494 Maba untuk tujuh fakultas dengan 47 program studi yang dimilikinya. Berikut merupakan rincian penerimaan Maba berdasarkan data yang diperoleh dari BAAK UNP 1458 diterima di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), 1364 di Fakultas Teknik (FT), 1032 di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), 872 di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), 659 di Fakultas Ilmu sosial (FIS), 580 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan 530 diterima di Fakultas Ekonomi (FE). Rincian tersebut jelas memperlihatkan FIP merupakan fakultas dengan jumlah mahasiswa paling banyak dan FE menerima jumlah mahasiswa paling sedikit. “Sepertinya profesi guru semakin menjadi idola di tengah masyarakat,” Ujar Prof. Dr. Firman, MPd, Dekan FIP menanggapi hal ini. Menurutnya saat sekarang ini dunia penididikan memang masih sangat membutuhkan tenaga guru dan sebagai universitas kependidikan sudah sepatutnya UNP menerima banyak mahasiswa kependidikan. Sedangkan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD)

Bencana Bukan Halangan Meskipun berada di daerah rawan bencana, tak mengurangi keinginan siswa SMA dari berbagai wilayah untuk menjadi bagian dari mahasiswa UNP. Buktinya beberapa mahasiswa baru dari luar Sumbarpun masih bergiat untuk mendaftar di UNP. Givva Putri Lyandari, Mahasiswa Teknik Bangunan UNP 2012 ini rela meninggalkan kampung halaman di Provinsi Riau untuk bisa kuliah di UNP. “Awalnya orang tua sempat khawatir, kalaukalau terjadi gempa dan tsunami, hingga beliau menyarankan saya untuk tidak tinggal di sekitar pantai,” ujarnya, Senin (24/9). Givva juga menuturkan, ia selalu berusaha menahan rasa takut akan ancaman gempa dan tsunami demi kuliah di UNP. Baginya, bencana bukan hambatan untuk maju. “Masuk UNP cukup susah, jadi harus ada perjuangan untuk itu,” ucapnya. Tak hanya Givva, Alfina yang diterima pada Jurusan Bimbingan Konsenling FIP melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan juga meninggalkan daerah asalnya di Sumatera Utara dan memilih tinggal dan kuliah di Kota Padang. Ia mengaku tertarik kuliah di UNP karena sering mendengar dari lingkungakan seperti teman-teman dan juga gurunya bahwa UNP merupakan salah satu universitas yang bagus dalam segi pendidikannya. Menurutnya bencana bukan alasan untuk kuliah tidak kuliah di UNP. Orangtuanya juga pernah khawatir, tapi Alfina berhasil meyakinkan mereka untuk tetap berfikir positif. Affina berharapnya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik sehingga bisa menjadi unggul di UNP dan berhasil memperoleh pekerjaan yang layak setelah lulus nanti.

menjadi jurusan yang paling diminati. Menurut Firman, ini membuktikan bahwa sampai saat ini FIP masih dipercaya masyarakat menghasilkan lulusan yang berkualitas terutama untuk lulus PGSD. Jumlah penerimaan ini merupakan quota maksimal yang bisa diterima FIP. Saat ditanya masalah fasilitas yang disediakan, mengingat FIP yang masih dalam tahap pembangunan, Firman juga tidak khawatir. Menurutnya saat ini perbaikan gedung FIP sudah hampir rampung. Nantinya ruang kelas, labor dan kantor administrasi untuk mahasiswa juga akan meningkat jumlahnya. “Banyak pertimbangan sebenarnya untuk menentukan jumlah mahasiswa yang diterima di masing-masing fakultas,” jelas Dr. Idris, M.Si, Pembantu Dekan I FE. Untuk saat ini hal yang menjadi pertimbangan bagi FE untuk menerima mahasiswa salah satunya disebabkan oleh jumlah yang sudah tidak seimbang antara dosen dengan mahasiswa. Terakhir perhitungan Januari-Juni 2012 perbandingan antara dosen dan mahasiswa FE 1:42. Sedangkan standar untuk non-eksata rasio perbandingan seharusnya 1:40 untuk eksakta 1:30. Jadi hanya masalah SDM saja sebenarnya yang membuat FE menerima paling sedikit mahasiswa. “Untuk masalah sarana dan prasarana sejauh ini tidak ada masalah”, tuturnya. Idris juga menanggapi tentang prestasi UNP yang menjadi salah satu universitas teratas dari segi keketatan penyeleksian penerimaan mahasiswa. Ia mengasumsikan jika yang mendaftar di UNP dan UI ada 1000 orang, dan UNP hanya menerima 50 orang sedangkan universitas lain menerima 80 orang. Dilihat dari sini tentu saja UNP akan menjadi yang paling ketat. Tapi dari segi kualitas belum tentu UNP lebih baik. Menurutnya prediket ini akan membingungkan masyarakat yang tidak tahu dasar

Pengembangan Bakat dan Minat: Sebanyak 580 orang mahasiswa baru FMIPA tengah mengikuti salah satu kegiatan wajib bagi mahasiswa baru, yaitu Krida. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat mereka, Sabtu (22/9). f/Jefri.

pemberian prediket ini. Namun setidaknya prestasi ini membawa rasa yang berbeda bagi universitas ditambah lagi UNP juga telah beberapa kali menjadi universitas teratas dalam segi jumlah mahasiswa. Menurut Dr. Jasrial, M.Pd, yang juga merupakan pengamat pendidikan dan dosen di Jurusan AIP FIP, hal ini menunjukkan bahwa UNP telah mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat dan siswa yang mengikuti SNMPTN. “Tapi kita tidak boleh terlalu berbangga,” ujarnya, Jumat (31/

8). Selama ini jumlah mahasiswa yang tidak ideal dengan jumlah dosen yang ada merupakan gambaran salah satu kondisi UNP yang masih belum sanggup mengelola mahasiswa yang begitu banyak ditambah dengan banyaknya sarana gedung yang belum rampung. Masalah klasik semacam ini harus terus dipikirkan cara bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di UNP. Icha/Dedi Laporan: Winda, Via, Duni, Media*, Sanul*

Presiden BEM UNP, Tunjung Budi Utomo

Masih Kekurangan Mahasiswa Kreatif Jumlah mahasiswa di UNP kini lebih dari 30ribu. Hal ini menimbulkan tanggung jawab tersendiri bagi pihak kampus untuk bagaimana menciptakan mahasiswa yang unggul tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas. Bagaimana mahasiswa menanggapi soal kuantitas UNP kini? Apa fenomena yang terjadi? Berikut hasil wawancara reporter Ganto, Mardho Tilla dengan Presiden Badan Eksekutif mahasiswa UNP Tunjung Budi Utomo, Rabu (7/11). Apa yang menyebabkan UNP begitu diminati oleh calon mahasisiwa baru? Menurut saya, karena UNP merupakan universitas keguruan sehingga sangat diminati oleh masyarakat menengah kebawah, ditambah lagi biaya kuliah yang

murah meriah. Juga bisa dibilang biaya kuliah di UNP termurah dari universitas negri lainnya. Selain itu UNP juga sudah menang nama sejak masih bernama IKIP. Sekarang ini masyarakat umum berlomba-lomba menjadi PNS untuk kehidupan yang terjamin dimasa depan, dan UNP memberikan peluang yang besar untuk itu. Apakah predikat ini sudah sebanding dengan kualitas yang dimiliki UNP? Untuk saat sekarang tentunya belum, karena masih banyak fasilitas yang belum lengkap. Kualitas yang ada harus seimbang dengan kuantitas mahasiswa yang dimiliki oleh UNP. Kreativitas atau suatu prestasi harus didukung dengan sarana dan prasarana yang lengkap karena ini sangat mempengaruhi semangat mahasiswa untuk berkarya. Menurut anda pengaruh apa yang dibawa predikat ini bagi UNP? Predikat ini menunjukkan bahwa UNP ternyata sudah merupakan universitas yang besar. Yang namanya prestasi memang harus selalu ditingkatkan agar UNP tetap unggul. Tapi besarnya UNP ini hanya dirasakan pihak UNP saja sedangkan di nasional UNP bisa dibilang tidak ada. UNP unggul dari segi kuantitas, bagaimana pendapat anda? Ini sebenarnya sangat bagus, karena bisa dikatakan UNP besar dari segi mahasiswanya. Tapi sayang dengan jumlah mahasiswa yang sebanyak itu, ditingkat nasional UNP masih belum bisa menunjuk-

kan dirinya. Untuk diketahui, besarnya suatu universitas bukan dilihat dari kuantitas namun kualitas dari orang-orang yang dihasilkan oleh universitas tersebut. Baik mahasiswa maupun wisudawan-wisudawatinya. Menurut anda apa hal yang paling dibutuhkan UNP untuk saat ini? UNP saat ini kekurangan kreativitas mahasiswa. Karena besarnya suatu universitas bukan dari banyaknya kuantitas, tapi kualitas orang-orang yang berada didalamnya. Sekarang bisa dilihat, tidak ada perkembangan atau pergerakan dari mahasiswa yang menyebabkan universitas kita tidak di kenal diluar. Mahasiswa UNP cenderung apatis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di UNP, apa yang anda rasakan tentang universitas ini? UNP ini sebenarnya sangat besar dengan jumlah mahasiswanya yang mencapai 35000an, tetapi dipandang dari luar, UNP ini sangat kecil karena belum banyaknya prestasi yang bisa di tunjukkan. Jika dilihat dari keadaan selama ini, mahasiswa UNP terlihat hanya mengikuti sistem yang ada tanpa bergerak untuk membuat perubahan. Padahal mahasiswa bisa membesarkan nama UNP dengan berbagai kreativitas yang bisa mereka lakukan, namun nama UNP malah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan. Misalnya saja acara seminar yang diadakan perusahaan atau instansi luar dengan mengusung nama UNP.


12

Kilas Foto

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Duka Korban Galodo Batu Busuak Belum kering duka masyarakat Batu Busuak, Kota Padang akibat banjir bandang yang melanda dan memusnahkan harta benda mereka pada bulan Ramadhan lalu (24/7), kini Galodo itu menghampiri mereka kembali dalam selang waktu yang tidak sampai dua bulan, tepatnya Kamis (13/ 9). Kerusakan parah terjadi dan memakan korban jiwa. Berikut beberapa foto yang diabadikan oleh kamera Ganto, sehari setelah kejadian, Jum’at (14/9). Foto & Teks Foto: Hasduni dan Jefri Rajif Desain & Tata Letak: Faeza Rezi S

Membangkit asa: Beberapa warga yang rumahnya terendam oleh tanah longsor, tetap semangat membersihkan tanah bekas galodo tersebut, berharap bisa kembali menempati rumah tinggal mereka. Warga baru kembali ke pengungsian ketika malam hari tiba, Kamis (13/9). f/Duni.

Licin dan Berbahaya: Seorang warga nekat melewati jalan yang tertimbun tanah basah bekas longsor yang licin dan bisa menyebabkan kecelakaan jika tidak berhati-hati. Motor satu-satunya kendaraan yang memungkinkan untuk melewati jalan tersebut, Kamis (13/9). f/Duni.

Air Bersih: Susahnya mendapatkan air bersih untuk melakukan aktifitas sehari-hari, membuat seorang warga mencuci piring menggunakan air bersih yang mengalir dari lereng bukit, Kamis (13/9). f/Duni.

Tempat Pengungsian: Masyarakat yang rumahnya masih terendam tanah longsor, mengandalkan tenda pengungsian sebagai tempat tinggal sementara hingga rumah mereka bisa ditinggali kembali, Kamis (13/9). f/Duni.

Wisata Bencana: Salah satu kebiasaan yang mempersulit penyaluran sumbangan pasca galodo adalah ramainya penduduk yang penasaran mendatangi daerah bencana. Datang sekedar untuk melihat dan berfotofoto dikawasan bencana, Kamis (13/9). f/Duni.


13

Teropong

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Efektifkan Pemilu dengan E-Voting Atas usul Dekan Fakultas Teknik, Drs. Ganefri, M.Pd., Ph.D., untuk pertama kalinya di Sumatera, Fakultas Teknik (FT) UNP menyelenggarakan sistem pemilihan baru berupa E-Voting (Electronic Voting). Gebrakan baru ini terselenggara atas kerja sama Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FT dengan salah satu pusat studi fakultas, Pusat Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Pada Selasa (30/10), pemilihan online ini telah dilakukan dalam memilih ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT periode 2012/ 2013. Ditemui di ruang kerjanya, Ganefri menjelaskan begitu banyak permasalahan yang muncul ketika pemilihan umum. Banyaknya kertas suara yang tidak sah sering memicu pertengkaran ketika proses perhitungan. Belajar dari pengalaman ini, Ganefri berhasil menantang mahasiswa untuk menciptakan E-Voting. “Saya ingin mahasiswa lebih menghargai demokrasi,” terangnya, Selasa (30/10). Di samping itu, tambahnya, perubahan era yang sekarang lebih mengandalkan teknologi juga menjadi faktor pencetusan E-Voting ini. Menurutnya, sudah seharusnya dilakukan pemanfaatan teknologi dalam segala hal. Ia menjelaskan lebih lanjut, keberadaan E-Voting akan mampu menghasilkan data yang bersih karena sebuah sistem tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, manfaat EVoting akan lebih terasa dari segi efesiensi dan efektifitasnya. Mahasiswa di manapun bisa menggunakan hak suaranya tanpa memakan waktu banyak. Dalam proses pembuatan EVoting ini, ketua Panitia Pemilihan Umum (PPU), Darwis Dom Hatateki menuturkan telah memakan waktu satu bulan.

Electronic Vooting: Mahasiswa selingkungan F T sedang melakukan pemilihan Ketua BEM melalui Electronic Voting. Kegiatan ini merupakan gebrakan baru atas kerja sama BEM FT dengan salah satu pusat studi fakultas, Pusat Studi Perekayasa Perangkat Lunak (RPL), Selasa (30/10). f/Jefri

Terlebih dahulu RPL perlu mempresentasikan rancangannya kepada pihak fakultas. Selain itu, lanjutnya, fakultas juga perlu bekerja sama dengan pihak Puskom untuk penyediaan jaringannya. Terakhir, peluncuran dari E-Voting itu sendiri sekaligus sosialisasi kepada mahasiswa yang diwakili Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Mekanisme pemilihannya sendiri dilakukan dengan mengakses evoting.ft.unp.ac.id dan memasukkan username serta password pemilih. Dengan begitu, pemilih bisa menggunakan hak suaranya dalam pemilihan BEM FT. Pada halaman itu para pemilih juga akan bisa melihat profil dari masing-masing kandidat dan

langsung memilih. Darwis mengaku sempat muncul ketakutan dari panitia mengenai segi keamanan pemilihan online ini. “Takut nanti diblokir,” terangnya, Rabu (24/10). Namun hal itu mampu diatasi dengan menetapkan satu admin yang akan mengawasi seluruh sistem. Dengan begitu, keamanannya tetap terjaga hingga waktu pemilihan selesai. Selain untuk memanfaatkan teknologi, lanjutnya, dengan adanya E-Voting sedikit mempermudah kerja panitia sendiri. Proses pemilihan yang dilakukan pada rentang waktu pukul 08.00-16.00 WIB ini, panitia tidak perlu lagi melakukan perhitungan suara. Secara otomatis, hasil pemilihan bisa

langsung dilihat pada hari itu oleh mahasiswa FT. “Nanti akan keluar jumlah suara yang diperoleh masing-masing kandidat,” jelasnya. Tidak hanya panitia, para pemilih pun juga merasakan

kemudahan dari E-Voting ini. Salah seorang pemilih, Aidil Putra, mahasiswa Teknik Otomotif TM 2012 mengaku lebih bebas dalam melakukan pemilihan. Meskipun panitia juga menyediakan posko pemilihan, ia bersama temannya memilih dengan laptop pribadi di salah satu sudut pekarangan FT. “Tidak harus di posko, di mana saja bisa”, ungkapnya, Selasa (30/ 10). Dari tiga kandidat yang diajukan, Azwar Hidayat dari Teknik Sipil TM 2009 berhasil memperoleh suara terbanyak dengan jumlah suara 863 suara. Sedangkan dua rekannya, Ichsan Nasution memperoleh 680 suara dan Misafridol, 414 suara. Besar harapan Darwis dengan adanya E-Voting ini mampu menjadi pedoman bagi fakultas lain dalam menyelenggarakan pemilihan umum. “Kalau bisa nantinya akan diajukan juga ke universitas,” harapnya. Setelah penyelenggaraan EVoting, Ganefri juga menegaskan akan dilakukan evaluasi berupa indikasi penyelenggaraan. “Nanti akan dilihat juga jumlah pemilih meningkat atau tidak dibandingkan cara manual,” jelasnya. Ia berharap kepada kandidat terpilih agar mampu membawa BEM bekerja lebih inovatif dan setiap kegiatan mahasiswa berkembang dengan baik. Aai

F KUS

Prakerin Dua Kali, MP Kejar SKS dengan SP Praktik Kerja Industri (Prakerin) Program Studi (Prodi) Manajemen Perhotelan (MP) Fakultas Teknik (FT) UNP menyisihkan beberapa kesulitan bagi mahasiswa. Prakerin yang berjalan pada semester kelima dan ketujuh ini dilaksanakan satu semester penuh dengan bobot delapan SKS. Selama prakerin mahasiswa tidak diperbolehkan mengambil mata kuliah. Akibatnya, banyak mata kuliah mahasiswa yang belum tertuntaskan. Untuk mengatasi masalah ini, banyak mahasiswa yang memilih semester pendek sebagai jalan untuk mengejar mata kuliah yang tertinggal. Salah seorang mahasiswa Manajemen Perhotelan, Santi Yusra TM 2009 menjelaskan banyaknya mata kuliah yang dituntaskan melalui SP membuatnya harus kuliah dari pagi hingga sore. Selain itu, ia juga sulit mengambil mata kuliah umum karena harus menyelesaikan mata kuliah jurusan terlebih dahulu. “Saya baru bisa menyelesaikan

mata kuliah umum Agama, itu pun ketika semester dua,” ungkapnya via e-mail, Rabu (1/8). Menanggapi hal ini, ketua Prodi Manajemen Perhotelan, Dra. Ira Meirina Chair, M.Pd., menjelaskan ada perbedaan kurikulum antarangkatan. Pada 2010, prodi melakukan perevisian terhadap kurikulum pada tahun sebelumnya. Ada beberapa mata kuliah yang digabung menjadi satu mata kuliah baru, sehingga beban sks berkurang menjadi 146 sks. Saat ini pun pihak prodi masih melakukan perevisian kurikulum demi perkembangan operasional perhotelan agar terus berkembang. Lebih lanjut Ira menjelaskan pada semester satu hingga empat, mata kuliah yang diberikan merupakan mata kuliah praktik. Hal ini dilakukan sebagai pembekalan keahlian dasar bagi mahasiswa. “Setidaknya mahasiswa MP ini sudah memiliki teori dasar untuk bekerja,” jelasnya, Kamis (20/9). Mengenai biaya, ia mengaku memang banyak yang dikeluarkan. Dari awal perkuliahan, tambahnya,

mahasiswa sudah ditegaskan mengenai hal ini dan memang menjadi tanggungan pribadi. “Ada beberapa prodi yang memang membutuhkan biaya besar,” tegasnya. Ira juga berharap agar mahasiswa MP nantinya bisa menjadi sumber daya manusia yang bisa diandalkan untuk kemajuan perhotelan. Sithy Fatimah, mahasiswa Manajemen Perhotelan TM 2010 membenarkan perbedaan kurikulum ini. “Hal inilah yang membuat pengambilan mata kuliah sedikit berbeda,” jelasnya, Senin (6/8). Untuk pengambilan mata kuliah SP, lanjutnya, harus berdasarkan arahan dari dosen pengajar. Mata kuliah yang dapat keluar pada SP juga tergantung kepada permintaan mahasiswa. Sithy mengaku memang mengeluarkan biaya cukup banyak. Mulai dari biaya SPP, biaya prakerin yang mencapai Rp 5 juta, hingga biaya semester pendek. “Selama masih dalam biaya pendidikan, bagi saya tidak masalah,” ujarnya, Senin (6/8). Tilla, Novi*

Sempit: Masih tidak memadainya lahan parkir di Gedung Mata Kuliah Umum, membuat mahasiswa memarkir kendaraan mereka diruas jalan umum di depan gedung itu. Hal ini menyebabkan jalanan menjadi sempit dan terjadi kemacetan pada jam tertentu seperti jam pertukaran pelajaran dan jam istrirahat, Selasa (25/9). f/Jefri.

Tetap dilanggar: Meskipun telah dipasang baliho yang besar berisi larangan dan sanksi mengenai pengunaan lingkungan kampus sebagai aset negara berdasarkan Surat Edaran Rektor UNP No. 2353/UN35/PS/2011, tetap saja ada angkutan umum yang parkir di depan kampus UNP. Malahan tepat di depan baliho itu terpasang, Selasa (25/9). f/Jefri.


14

Artikel Agama

Konsultasi Agama Jika Anda mengalami masalah keagamaan, silahkan manfaatkan Jika Anda masalah agama, silahkan manfaatkan rubrik rubrik ini.mengalami Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh ini. Kirimkan surat tentang masalah Anda kepada pengasuh rubrik rubrik ini ke email Ganto, redaksiganto@gmail.com atau Gedung ini ke alamat Ganto: Gedung PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap PKM UNP Ruang G 65 UNP. Setiap pertanyaan harap dilengkapi pertanyaan harap dilengkapi dengan identitas. dengan identitas.

Beragama Tapi Tidak dalam Agama Oleh Asdi Wirman

Diasuh oleh: Dr. Ahmad Kosasih,M.A.

Islam Tanggapi Kegalauan Terimakasih telah memuat konsultasi ini. Akhir-akhir ini, banyak kita temui para anak muda yang sering berkata ‘galau’. Bagaimana pandangan islam tentang permasalahan ini? Bagaimana pula seharusnya sikap kita sebagai seorang mahasiswa yang notabene berilmu menanggapinya? Syafdiani Pendidikan Bahasa Inggris TM 2011 Menurut pengarang Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘galau’ adalah kata yang berasal dari bahasa Minangkabau. Salah satu artinya ialah kacau (tak karuan). Di dalam kamus Indonesia-Inggris, kata ‘galau’ dipadankan dengan kata confusion. Jadi, kegalauan itu terkait derngan suasana hati yang sedang kacau-balau atau tak menentu atau kebingungan. Manusia sebagai makhluk berpikir dan berperasaan adalah wajar bila mengalami hal-hal semacam itu di suatu waktu, karena banyak persoalan yang menghadang dan harus diselesaikan di dalam menjalani kehidupan seharihari. Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan punya sifat keluh-kesah.” (Qs. Al-Ma’arij: 19). Hal penting yang harus kita lakukan adalah mencari penyebab kegalauan dan bagaimana cara mengatasinya. Segala sesuatu pasti ada penyebabnya dan setiap penyakit selalu ada obatnya. Hanya saja, ada penyebab yang mudah diketahui dan ada yang tidak mudah diketahui. Penyebab yang mudah diketahui misalnya; saat kita tengah menghadapi persoalan dengan orang lain, seperti; teman, orang tua, dosen dan yang lainnya. Dalam hal ini, Anda harus segera menyelesaikannya. Bila Anda merasa bersalah kepada manusia, segeralah minta maaf dan bila bersalah kepada Tuhan, maka segeralah memohon ampun kepada-Nya. Sebab, sebuah kesalahan yang kita pendam, makin lama akan menjadi bumerang bagi diri dan jiwa kita. Ia ibarat api dalam sekam, seperti duri dalam daging yang membuat kita sakit terus menerus secara batiniyah sehingga menyebabkan kita resah, gelisah dan galau. Dalam pandangan Islam, memberi atau menerima maaf akan membuat batin menjadi tenang sebab kita merasa tidak bermasalah lagi dengan orang lain. Dunia akan terasa lebih lapang karena tidak ada orang lain yang dibenci dan membenci kita. Sebaliknya, setiap dosa yang kita kerjakan atau dendam kejahatan yang kita pendam akan membuat titik noda di dalam hati. Apabila dosa semakin banyak, maka noda itu pun akan semakin banyak sehingga menutupi hati kita dan membuat hati menjadi buram dan kelam bahkan tidak bisa lagi menerima kebenaran. Inilah salah satu faktor yang membuat hati menjadi dipenuhi kegalauan. Cara mengatasinya perkara ini antara lain; Pertama, mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat. Firman Allah, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan punya sifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan (nikmat), ia menjadi amat kikir kecuali orang yang mengerjakan shalat secara tetap (rutin).” (Qs. Al-Ma’arij: 19-23). Kedua, tak pernah berhenti meminta pertolongan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya shalat itu adalah (perkara) yang berat, kecuali bagi orang-orang yang berhati khusyu,” Qs. Al-Baqarah: 183). Ketiga, berdo’alah seperti do’a yang diajarkan Rasulullah berikut ini; Allahumma inni a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali, wal jubni wal bukhli, wal harami, wa ‘adzabil qabri. Artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kelemahan jiwa, rasa malas, pengecut dan kikir, usia pikun dan azab kubur. (Kitab Shahihul Adzkar, hal. 332). Dalam versi riwayat lain, ditambahkan dengan kata hammi untuk berlindung dari angan-angan yang tak menentu alias galau. Keempat, banyaklah berzikir karena orang yang enggan berzikir (mengingat Allah) akan ditimpa oleh kehidupan yang sempit/ gundah gulana (termaktub dalam Qs. AtThaha; 124). Wallahu ‘alam bisshawab!

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

(Dosen Agama Islam MKU UNP)

Agama merupakan kebutuhan fitrah manusia. Gejala itu ditandai dengan kuatnya keinginan hati nurani yang paling dalam oleh manusia itu sendiri, untuk mencari Zat Yang Maha Tinggi sebagai tempat mengadu dan menyandarkan diri. Selain itu keterbatasan kemampuan dan ketidaktahuan pada berbagai aspek, menjadikan mereka rapuh dan berharap kekuatan dari Yang Maha Kuasa. Hal ini memperjelas bahwa manusia tidak dapat lari dari agama. Selanjutnya, agama yang dianut dijadikan sebagai dasar dan pondasi hidup. Keyakinan mendalam yang tertanam dalam jiwa, mempengaruhi segala aspek kehidupan yang dijalani. Bahkan keseluruhan aktivitas lahir, bathin, individu, dan sosial dipengaruhi dan diarahkan oleh ajaran agama yang dianut tersebut. Sehingga tidak satupun segi kehidupan yang dianggap di luar atau tidak berkaitan degan agama (sekularisme). Akhir-akhir ini, muncul beberapa fenomena dalam kehidupan beragama, terutama Islam. Seperti banyaknya aliran sesat, aliran-aliran aneh yang mengatasnamakan Islam dan fenomena terorisme. Bahkan fakta yang membuat hati miris yaitu banyaknya ditemukan umat Islam yang tidak merasa nyaman dan bangga dengan agama yang dianutnya sendiri. Hal ini tentu saja ironis. Karena idealnya, umat beragama memperlihatkan jati dirinya karena dia telah menyerahkan dan menggadaikan dirinya pada keyakinan yang dianutnya tersebut. Kenapa ada umat islam yang tidak mau memperlihatkan jati dirinya dan terkesan malu dengan agamanya sendiri? Bahkan ada yang menggangap ajaran agamanya tidak relevan atau malah menghalangi aktivitas dan menghambat kreativitas. Padahal ajaran agama mengatur supaya manusia tetap eksis dan survive sebagai makhluk mulia dan terbaik. Setidaknya agama berupaya menjaga jiwa, akal, harta, dan keturunan manusia supaya tetap terbaik. Sebagai contoh kenapa Allah mewajibkan menuntut ilmu dan hal itu seumur hidup karena Allah ingin menjaga akal manusia selama kehidupannya sehingga tidak pikun. Begitu juga kenapa Allah mengatur pergaulan manusia karena Allah ingin jiwa, akal, dan keturunan mereka tetap terjaga. Namun kebanyakan manusia sembrono, hal ini seperti yang difirmankan Allah dalam Al-qur’an. Manusia cenderung instan dan ceroboh dalam mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya sehingga banyak perilaku menyimpang yang dikerjakan. Selain itu, cepat menghakimi sesuatu masalah tanpa memikirkan secara mendalam sehingga mencelakai diri dan orang lain. Kenapa demikian? Ada beberapa alasan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, Beragama hanya warisan dari orang tua dan nenek moyang. Agama yang didasarkan pada peniruan dan mengikuti tradisi yang terjadi dikeluarga dan masyarakat, tidak akan pernah sampai pada ajaran agama yang sebenarnya. Sebab ketika mengikuti tradisi maka yang muncul itu cenderung dari fanatik golongan, mitos atau

bahkan ikut-ikutan. Bahkan ketika si penganut agama tidak mampu menjelaskan tradisi yang senantiasa diikuti maka akan dapat memicu fanatik buta. Kedua, Beragama tidak dari sumbernya. Ajaran Islam dijelaskan lengkap dalam alquran, hadist/ sunnah, ditambah oleh penjelasan para pakar dibidang agama (mujtahid) dengan ijtihadnya. Apapun masalah yang ingin dibahas atau dipelajari tiga sumber itu sebagai rujukan. Pernyataan ini jelas dan tegas dikemukakan Allah dalam surat Annisa ayat 59. Sebagai kritikan, berapa banyak umat Islam yang keluarganya konsisten mengarahkan anak-anaknya mempelajari alquran dan hadist dengan menfasilitasi buku-buku, atau menyerahkan kepada guru yang ahli dan memberikan biaya pendidikannya.

Grafis: Faeza

Ketiga, Memahami agama secara salah. Rasul dalam hadisnya menjelaskan bahwa pemahaman agama umat pada masa beliau dan masa sesudahnya itu lebih baik dari pada umat setelahnya dan begitu seterusnya. Ini sebuah signal bahwa tidak boleh mengabaikan penafsiran alquran dan hadist yang dikemukakan oleh para mufassir dan muhadist yang hebat keilmuwan dan ketaatan pada masa dahulu ketika pada masa sekarang sudah muncul ahli baru. Kesalahan yang terjadi pada hari ini adalah banyaknya para ahli yang arogan sehingga menganggap penafsiran dan penjelasan pakar dahulu itu merupakan pemikiran klasik yang tidak relevan dengan masa sekarang. Dampak terbesar cara berpikir ini bisa jadi akan mementahkan sunnah Nabi dan membuat penafsiran baru. Mirza Ghulam Ahmad (pendiri Ahmadiyah) karena saking menganggap kedalaman ilmunya dan kehebatannya sampai-sampai memproklamirkan diri bahwa dia sebetulnya nabi akhir

zaman. Berapa banyak pada dekade terakhir yang juga menyatakan dirinya titisan nabi, mendapat wahyu dan pernyataan aneh lainnya. Keempat, Beragama tidak total. Perintah Allah untuk beragama secara total (kaffah) adalah signal supaya istikomah dan kontiniu menggali alquran dan hadist di dalam kehidupan. Sebab rasul sendiri selama 23 tahun mendapat pembelajaran dari Allah perantara Jibril, mengamalkan dan menjelaskan isi Alquran kepada umat. Jadi Nabi menjelaskan dengan prilakunya secara nyata, bahwa agama bukanlah hal yang instan. Ada proses dan kegiatan rutin yang harus dilakukan yaitu menggali ayat demi ayat dari alquran yang menjelaskan berbagai masalah dalam kehidupan. Semua hal yang dicontohkan nabi tersebut mementahkan kebiasaan yang belajar agama beberapa tahun kemudian berhenti dan menganggap itu telah cukup dan memadai. Sehingga pada akhirnya beragama itu tembang pilih, ketika dalam shalat benar, dalam ekonomi tidak, dalam pergaulan betul dalam berpolitik salah. Inilah yang disentil Allah dalam surat Alhaj ayat 11. Terakhir, Beragama berdasarkan akal semata. Manusia memang diberi akal utuk berpikir. Bahkan kecerdasan akal pikiran ini menjadikan Adam dikagumi oleh malaikat. Namun yang perlu diingat bahwa firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 31 tersebut ketika Adam menjelaskan hal yang dipinta berdasarkan apa yang diajarkan Allah. Artinya bukan hanya semata penalaran logis dan penelusuran ilmiyah. Inilah yang dimaksud oleh Allah penyatuan antara tafakkaru (memikirkan ayat-ayat alamiyah) dengan tazakkaru (mengingat penjelasan Allah tentang alam tersebut). Menganggap akal mampu dalam segala-galanya adalah kesesatan sebab dalam prinsip ilmu bahwa pengetahuan ilmiyah itu berkembang dan besar kemungkinan akan ditemukan teori dan konsep baru setelah diteliti lebih jauh. Jadi, akal terbatas kemampuannya dalam mengkaji sesuatu karena dapat dikalahkan oleh pakar selanjutnya. Oleh karenanya, apabila beragama hanya mengandalkan logika ilmiyah semata tanpa mendasari pada wahyu Allah, maka kesesatan dalam beragama akan terjadi. Fakta inilah yang terjadi pada kelompok syiah yang sampai mencap bahwa Jibril salah dalam menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad karena yang seharusnya adalah pada Ali. Untuk mengantisipasi dan menyelesaikan masalah keagamaan di atas, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu seperti: melakukan gerakan beragama berdasarkan alquran dan sunnah dalam setiap lini kehidupan masyarakat, membiasakan perilaku agamis dalam setiap lingkungan mulai dari rumah, sekolah dan masyarakat, serta mengkritisi kebiasaan masyarakat dan meletakkan pada porsi agama, membumingkan kedekatan dengan alquran/hadist dan mewajibkan setiap anggota keluarga mempelajarinya tanpa batas usia dan waktu, selain itu juga dengan meningkatkan kepekaan terhadap tradisi dan perilaku beragama masyarakat sekitar.


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

15

Artikel Politik

Melirik Pelanggaran HAM dari Konflik Rohingya Oleh Ardiles (Mahasiswa Akutansi 2010)

Semua negara mengakui bahwa demokrasi adalah alat ukur dari keabsahan politik. Kehendak rakyat menjadi basis tegaknya sistem politik demokrasi. Demokrasi meletakkan rakyat pada posisi penting, hal ini karena masih memegang teguh rakyat selaku pemegang kedaulatan. Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara, pada umumnya memberikan pengertian bahwa pada tingkat terakhir, rakyat memberikan ketentuan dalam masalahmasalah pokok mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijaksanaan tersebut. Dengan demikian Negara demokrasi, adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atau kekuasaan warga negara, untuk dijalankan oleh pemerintah. Berbicara mengenai demokrasi, maka akan selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia (HAM), karena ia (demokrasi) menyangkut hak setiap warga negaranya. Maka, di dalam konstitusi negara yang menganut sistem demokrasi modern saat ini, banyak ditemukan undang-undang yang mengatur tentang HAM. Sebuah negara dan pemerintahan yang menjalankan sistem demokrasi, akan menempatkan HAM di dalam isi pokok konstitusinya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa HAM sebenarnya merupakan salah satu instrument untuk terciptanya negara demokrasi. Namun, konflik yang akhirakhir ini terjadi di Myanmar bisa saja mematahkan hubungan antara demokrasi dan HAM itu sendiri. Negara Republik Persatuan Myanmar merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menganut sistem demokrasi dan

menjunjung tinggi persatuan. Negara seluas 680 ribu km² ini, telah diperintah oleh pemerintahan militer sejak kudeta tahun 1988. Myanmar juga merupakan salah satu negara berkembang dan memiliki populasi lebih dari 50 juta jiwa. Menyikapi kasus yang terjadi di Arakan, Myanmar beberapa waktu yang lalu, maka akan membuat hati miris dan terhenyak. Pembantaian besar-besaran terhadap kaum minoritas etnis Rohingya mengakibatkan banyak korban. Sedangkan tidak ada perhatian yang cukup serius oleh pemerintah Myanmar. Ketegangan ini berujung pada aksi pembakaran terhadap rumah Muslim Rohingya dan pembantaian yang dilakukan oleh etnis Rakhine. Hampir lima ribu rumah terbakar dalam kejadian ini dan puluhan ribu orang lainnya terpaksa mengungsi. Bentrokan ini telah menewaskan sedikitnya 78 orang dan sebanyak 70 ribu orang kehilangan rumah mereka. Etnis Rohingya yang tinggal di Myanmar sekitar 800 ribu anggota, dianggap sebagai orang asing oleh pemerintahnya sendiri, meskipun Muslim Rohingya sebenarnya sudah berada di wilayah mereka sejak ratusan tahun lalu. Selain itu, Presiden Myanmar Thein Sein lebih menghendaki Muslim Rohingya dideportasi atau dipindahkan ke tempat penampungan. Sebenarnya negara Myanmar sudah terkena Pelanggaran HAM Pada tahun 1988, ketika terjadi gelombang demonstrasi besar menentang pemerintahan junta militer. Gelombang demonstrasi ini berakhir dengan tindak kekerasan yang dilakukan tentara terhadap para demonstran. Lebih dari 3000 orang terbunuh. Namun, negara Myanmar tidak belajar banyak dari kejadian masa lalu. Negara Myanmar tidak sepatutnya menya-

takan diri sebagai negara Republik persatuan, kalau tidak mampu menciptakan masyarakat demokratis dan saling menghargai antara satu kelompok agama yang satu dengan yag lainnya. Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya (Kaelan: 2002). Pelanggaran HAM yang terjadi di Arakan, Myanmar antara lain adalah; pembantaian, penahanan, penyiksaan, diskriminasi etnis dan religi, pencabutan kewarganegaraan,

Grafis: Faeza serta pengusiran warga Muslim Rohingya. Selain itu, ada pula larangan bepergian, larangan menikah, penghancuran kultur dan nilai-nilai adat, serta tekanan yang dilakukan warga Budha Myanmar terhadap Muslim. Penulis setuju dengan pernyataan “Myanmar tidak layak memimpin ASEAN 2012, jika arogansi dalam pembiaran diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum minoritas di Arakan tidak mereka hentikan,” Demikian pernyataan Ketua Komisi I DPR

RI Mahfudz Siddiq di Jakarta menyikapi kejadian adanya pembantaian terhadap warga muslim Rohingya (antaranews). Indonesia sendiri, juga pernah mengalami konflik serupa dengan yang saat ini terjadi di Myanmar. Kita tidak dapat melupakan begitu saja beberapa kasus konflik komunal yang pernah terjadi. Bermula dari kasus yang terjadi di kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (1997–1998). Kasus penyerangan penduduk asli dayak terhadap pendatang Madura di rumah-rumah mereka sehingga membuat puluhan ribu orang lari menyelamatkan diri. Dua tahun setelah peristiwa Sambas, pecah pertempuran antara orang-orang muslim dan orang Kristen di Ambon, pusat urban terbesar di timur Makassar. Mungkin kita bisa sedikit berbangga terhadap bangsa ini, Bangsa Indonesia. Bangsa yang memiliki banyak kebudayaan dan keberagaman yang sangat kompleks. Dengan dialek bahasa, adat istiadat, dan kepercayaan yang multi dimensi, Indonesia mampu menciptakan penerapan negara demokrasi. Meski pada pada pelaksanaannya, masih belum berjalan dengan sempurna, namun demokrasi di Indonesia saat ini telah berusia puluhan tahun dan akan terus berkembang dan membaik. Setiap konflik komunal yang terjadi, baik di Indonesia maupun Myanmar, Thailand dan negaranegara rawan konflik lainnya, selalu memakan banyak korban ratusan atau ribuan orang mati dan puluhan atau ratusan tergusur. Namun, yang menjadi sorotan utama tentang konflik komunal dan menjadi wacana publik, yaitu konflik tersebut hanya beredar di seputar masalah disintegrasi. Dari sini, dapat diketahui bahwa kekerasan atau konflik komunal terjadi akibat disintegrasi yang telah

mengakibatkan perpecahan di berbagai sektor atau sendi masyarakat. Disintegrasi itu sendiri timbul akibat banyak hal seperti; perbedaan hak, suku, agama dan kepentingan, perebutan lahan, saling mengklaim tanah, kepentingan kelompok, ketidak pahaman dengan kelompok lain, terjadi diskomunikasi dan lain sebagainya. Satu hal yang sangat rentan terjadi dalam masyarakat disintegrasi adalah mudahnya diprovokasi dan diadu domba. Hal ini tidak dapat kita pungkiri, perbedaan keyakinan, kemudian dipicu pengaduan atau provokasi, akan mudah melahirkan konflik. Seperti halnya isu adanya pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan kaum muslim Rohingya, maka berujung balas dendam besarbasaran oleh kelompok Buddha. Hal tersebut membuktikan lemahnya persatuan rakyat Myanmar. Dari satu sisi juga membuktikan bahwa Myanmar bukan negara yang demokratis dan melindungi serta menghormati hak asasi manusia. Permasalahan konflik Komunal di Arakan, Myanmar itu seharusnya bisa ditangani sendiri oleh masyarakat yang bersangkutan dan juga hendaknya ada pengawasan ketat oleh pemerintah. Tetapi pada kenyataannya, itu semua tidak dapat menghandle atau mengatasi permasalahan yang ada. Masyarakatnya yang cenderung temperamental, egoisme tinggi dan tidak menjunjung integrasi dan permusyawaratan, menjadi salah satu faktor pemicu konflik tersebut, terlebih kontrol dan kebijakan dari pemerintah yang banyak tidak mendukung demi terjadinya integrasi dalam penyelesaian konflik. Siapapun, tidak hanya pemerintah harusnya memahami paham keberagaman. Menjadikan berbagai perbedaan sebagai kekuatan, bukan hanya alat yang rentan dengan provokasi.

Gantopedia

Al-Khawarizmi Intan yang Disembunyikan Pengetahuan numeris seperti aljabar dan aritmetika sudah dipelajari manusia sejak dulu hinggga zaman modern. Berbagai penemuan seputar ilmu tersebut telah dipublikasikan kepada dunia. Kebanyakan informasi yang diterima publik selalu mengedepankan ‘orang barat’ sebagai penemu-penemu hebat di bidang ini. Namun, adakah yang tahu bahwa ternyata ada ‘orang non-barat’ yang telah lebih dulu membahas dan mengemukakan teori aljabar dan aritmatika ini? Namanya, Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi. Ia adalah tokoh matematika Islam yang banyak memberikan sumbangan berharga dalam bidang matematika, khususnya bidang aljabar dan aritmatika. Karya-karyanya menjadi dasar utama bagi penemuan-penemuan terkemuka di sepanjang zaman. Ia

adalah orang pertama kali memperkenalkan aljabar dalam suatu bentuk dasar yang dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. Contoh persoalan matematika dengan mengemukakan 800 buah masalah tentang ilmu matematika telah beliau ajukan. Pada tahun 780-850 M. AlKhwarizmi pindah ke Bagdad-Irak untuk menuntut ilmu kota tersebut dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Selama ia menuntut ilmu di Bagdad Al-Khwarizmi memperkenalkan penemuan konsep sifat dalam sistem nomor yang dipakai hingga saat ini. Karyanya yang satu ini memuat Cos, Sin dan Tan untuk penyelesaian persamaan trigonometri, teorema segitiga sama kaki dan perhitungan luas segitiga, segi empat dan lingkaran dalam geometri. Banyak lagi konsep dalam matematika yang telah diperkenalkan Al-khawarizmi. Para sejarawan matematika

seperti Gandz (1936), Berggren (1979), Boyer (1985) dan Rashed (1988) menyebutkan bahwa alKhwarizmi layak disebut sebagai “Bapak Aljabar”. Boyer dalam History of Mathemathics menyebutkan bahwa “Diophantus terkadang disebut sebagai Bapak Aljabar, tetapi sebutan ini sebenarnya lebih pantas dialamatkan untuk AlKhwarizmi,” Hal ini disebabkan karena pengetahuan aljabar yang ditulis oleh Al-Khwarizmi lebih mendekati dasar-dasar ilmu pengetahuan aljabar modern daripada yang dikemukakan oleh Diophantus. Seperti karyanya dalam kitab Aljabar Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan sebuah karya yang pertama kalinya dalam sejarah, dimana istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia.

Al-Khawarizmi pula yang pertama kali memperkenalkan angka 0 dalam prosedur penghitungan. Berkat beliau orang-orang Eropa dapat belajar menggunakan angka nol untuk mempermudahkan hitungan, baik puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Penemuan konsep persamaan linear, kuadrat, simbol positif (+), negatif (-), dan algoritma tidak lepas dari hasil penemua beliau. Bahkan para ilmuwan Barat seperti Copernicus, banyak menyalin teori-teori dari para ilmuwan muslim, salah satunya Al-Khawarizmi. Misalnya, tentang perhitungan ketinggian gunung, kedalaman lembah dan jarak antara dua buah objek yang terletak antara suatu daerah yang berpermukaan datar atau yang berpermukaan tidak rata. Namun, ilmuwan Barat tersebut tidak hanya menyalin teori hasil pemikiran Al-Khawarizmi, tetapi mereka mengakui bahwa mereka lah sebagai penemunya. Misalnya,

John Napies (1550-1617 M) dan Simon Stevin (1548-1620 M). Mereka mengklaim diri sebagai penemu rumus ilmu ukur mengenai segitiga, daftar logaritma dan hitungan persepuluh. Padahal, para ilmuwan muslim mengetahui bahwa AlKhawarizmi-lah orang yang pertama kali menemukannya. Sayangnya ilmuan muslim tidak mempertahankan kepemilikannya mengenai disiplin ilmu yang sudah dirampas oleh ilmuan Barat. Alhasil penemuanpenemuan yang diperoleh oleh Al-Khawarizmi hanya tinggal nama. Masyarakat dunia khususnya kaum pelajar lebih mengenal para ahli matematika adalah orang Eropa atau barat, tetapi sejatinya banyak ilmuan muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika Barat. Astuni Rahayu (dari berbagai sumber).


16

Teropong

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Cerita Setelah Setahun SM3T Program Sarjana Mendidik di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) sudah berjalan satu periode. Program yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia kepada para sarjana pendidikan yang belum bertugas sebagai guru selama satu tahun ini bertujuan untuk memeratakan pendidikan di Indonesia. Adapun tempat yang dijadikan sebagai sasaran pelaksanaan program ini adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Dengan adanya program SM3T ini, sekolah yang menjadi tempat sarjana mengabdi akan terbantu dengan adanya guru tambahan yang mengajar di sana. Salah seorang peserta SM3T angkatan pertama, Khairur Rahmi, Alumni Pendidikan Matematika 2007 yang ditempatkan di SMP 3 Tapak Tuan Kabupaten Aceh Selatan, mengatakan bahwa untuk mengajar di tempat yang ditentukan mesti siap dari segala sisi. Contohnya saja untuk mengajar, murid-murid disana masih terbatas dengan sumber bahan ajar sehingga bergantung dengan bahan ajar yang diberikan oleh guru. “Mereka tidak punya buku, jadi bahan ajar mesti diperbanyak dulu,” jelas Ami, Senin (16/7). Sedangkan untuk mencapai sekolah dari tempat tinggal, Rahmi beserta guru lainnya mesti mendaki dua buah bukit terlebih dahulu. Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan peserta lainnya, Aliyah Edi Putri yang mengajar di SMA Unggul Labuhan Haji Aceh Selatan. Di lapangan, ia menemukan anak didiknya banyak yang tidak semangat untuk belajar. “Mereka lebih memilih untuk bekerja mencari bijih emas dengan orang tua mereka,” jelas Aliyah, Senin (6/8). Untuk mengatasi hal itu, Aliyah beserta rekannya mencoba menggunakan strategi belajar yang disesuaikan dengan

Upacara Bendera: Salah seorang peserta SM3T angkatan pertama dari UNP, Irfan Dani tengah mengikuti upacara bendera di SMP Negeri 1 Kluet Utara, Senin (8/10). f/ Jefri

keadaan semangat anak didik tersebut. Selain itu, kendala juga didapati di tempat mengajar, yaitu tidak tersedianya fasilitas belajar seperti labor. Sehingga hal ini menghambat lajunya proses pengajaran. Satu tahun pelaksanaan program ini, peserta pun ada yang mempertanyakan janji yang diberikan kepada mereka sebelum diberangkatkan, yaitu perkuliahan selama dua semester untuk Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Rahmi mengatakan bahwa janji untuk dikuliahkan itu sudah ada terdengar. “Tempatnya ditentukan oleh pihak nasional, kita tidak bisa memilih,” jelasnya, Senin (6/8). Menurut kabar yang didengar Rahmi, PPG akan dimulai pada Februari 2013. Belum bisa dipastikan lokasi perkuliahan, namun ada tiga universitas yang menjadi pilihan, diantaranya Universitas

Akhirnya Jalan itu Diperbaiki Jalan Gurami yang selama ini terkesan diabaikan akhirnya mendapat perbaikan. Jalan yang tepat berada di depan gedung perkuliahan Mata Kuliah Umum (MKU) baru ini diperbaiki setelah dibiarkan rusak berat begitu lama. Lubang besar dan genangan air saat hujan terlihat beberapa waktu yang lalu dan kini sudah ditutupi dengan cor. Mengetahui perbaikan jalan ini, segenap civitas akademika turut senang karena kerusakan jalan ini sebelumnya sangat mengganggu pejalan kaki atau pengendara yang lewat di sana. Seperti Diperbaiki: Jalan kampus yang biasanya berlobang telah diperbaiki oleh pihak kampus, Selasa yang diutarakan Ainatul Mardiah, kini (23/10). f/ Jefri mahasiswa jurusan Manajemen TM 2008. Meskipun perbaikan ini hanya sampai batas perbaikan dituntaskan hingga persimpangan gedung MKU, ia mengaku perbaikan yang jalan tersebut. “Sebaiknya diperbaiki total,” dilakukan cukup bagus. “Sebaiknya harapnya, Selasa (31/7). Menurut Kepala Bagian (Kasubag) diperbaiki total, tidak hanya sampai batas MKU,” ujarnya, Selasa (17/7). Selain itu, Putri Rumah Tangga UNP, Nasarudin. H, Oviolanda Irianto, mahasiswa Jurusan keterlambatan perbaikan Jalan Gurami Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TM selama ini disebabkan oleh keterbatasan dana. 2011 yang juga mengetahui perbaikan jalan Selama ini pihak universitas harus menunggu ini, berharap agar perbaikan tersebut dapat dana dari pusat dulu sebelum melakukan benar-benar membantu akses mahasiswa ke perbaikan. Setelah dana turun, ternyata perbaikan hanya mampu dilakukan sampai kampus. Selain melakukan pengecoran, perbaikan batas gedung MKU. “Dana yang ada tidak juga dilengkapi dengan pendirian jalur cukup untuk memperbaiki jalan sepanjang khusus pejalan kaki. Para pejalan kaki akan gurami,” ungkapnya, Jumat (14/9). Ia juga menegaskan jalan gurami semakin nyaman ketika berjalan karena dilindungi atap pada jalur ini. “Kita jadi diperuntukan bagi kendaraan roda dua dan lebih nyaman dan terbebas dari kemung- pejalan kaki. Sedangkan mobil dilarang kinan kecelakaan,” ujar Nurkemala Sari, menggunakan jalan ini. Peraturan ini mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan dilakukan untuk menghindari kemacetan. Selain itu, lanjutnya, pembangunan jalur TM 2011, Senin, (8/10). Bagi masyarakat sendiri, perbaikan jalan khusus pejalan kaki rencannya juga akan tidak terlalu berpengaruh. Hal ini terjadi diteruskan di jalan-jalan kampus lainnya. karena perbaikan tidak total dilakukan. Hal “Agar mahasiswa yang jalan kaki merasa ini diutarakan Marcot, salah seorang anggota aman dan nyaman,” tutupnya. Zolla, Gumala* masyarkat sekitar. Ia mengharapkan

Negeri Medan (UNIMED), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Padang (UNP). Lain lagi dengan Aliyah, ia lebih mempertanyakan nasib ke depannya setelah menyelesaikan PPG nantinya. “Bagaimana fungsi dari sertifikat PPG yang didapat setelah perkuliahan nanti,” jelasnya, Senin (6/8). Menanggapi hal ini, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), Azhari Suwir mengatakan bahwa setelah mengikuti PPG, peserta akan mendapat nilai tambah dalam peluang kerja. “Bagi yang telah memiliki sertifikat PPG ini akan diutamakan saat tes CPNS,” jelas Azhari. Kini program SM3T ini telah memasuki tahun kedua. Wisudawan/wati UNP yang ingin mengabdi di daerah 3T kembali

dipanggil untuk mengikuti program ini. Proses pendaftaran yang dimulai sejak tanggal 8-21 Juli hingga penyeleksian administrasi dari calon peserta dan berakhir dengan pelaksanaan ujian pada tanggal 1-4 Agustus. Pelaksanaan ujian kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini ujian dilakukan secara online, tidak manual lagi. Peserta ujian tinggal duduk di depan komputer yang telah terhubung dengan jaringan internet dan menjawab semua pertanyaan yang telah disediakan. Dengan sistem yang baru ini, seorang calon peserta, Reni Jayusman yang merupakan alumni Jurusan PGSD Pendidikan Jasmani 2008 ini mengatakan mengaku sedikit kesusahan walaupun secara keseluruhan tidak sulit. “Dengan online, yang gagap teknologi akan sedikit kewalahan,” jelasnya, Kamis (14/8). Begitu juga jika hubungan internetnya bermasalah akan mengganggu. Meskipun demikian, lanjutnya, dengan sistem online ini, pelaksanaan ujian jauh lebih objektif dan efektif. Azhari menjelaskan perubahan sistem ini merupakan perbaikan dari SM3T sebelumnya. Melalui online ini bisa meniadakan tindak Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di dalam proses penyeleksiannya. “Dengan sistem ini, seleksi tahun sekarang lebih bagus dan objektif dari tahun kemarin,” jelasnya, Jum’at (8/9). Dengan adanya program kedua dari SM3T ini, Rahmi selaku angkatan pertama berharap agar daerah sasaran bisa ditambah dan untuk daerah sebelumnya tetap masuk daftar. “Nanti setelah kami pergi, siapa yang mengisi kekosongan itu,” ujarnya. Selain itu ia juga mengharapkan agar persiapannya jangan tergesa-gesa lagi. Terlebih untuk sosialisasi mengenai daerah yang akan ditempati lebih dipersiapkan lagi. Jefri, Wa’i*.

Penyuluhan UPBK untuk Mahasiswa Sejak Juli 2012, Unit Pelayanan Bimbingan Konseling (UPBK) menggagas sebuah layanan konseling yang bekerja sama dengan seluruh fakultas di UNP. Layanan ini lebih fokus kepada mahasiswa yang bermasalah dalam bidang akademik agar dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya. “Terutama untuk mahasiswa yang telah menjalankan studi lama,” ungkap Kepala UPBK, Prof. Dr. Mudjiran, MS.Kons., Rabu (29/8). Dalam pelaksanaannya, tambah Mudjiran, UPBK bekerja sama dengan seluruh Pembantu Dekan III (PD III) agar mengirimkan data mahasiswa yang memiliki masalah akademik. Fakultas yang juga dibantu oleh jurusan masing-masing mengutus mahasiswa tersebut ke UPBK untuk melakukan penyuluhan nantinya. Mahasiswa boleh menentukan konselornya sendiri atau UPBK yang menentukan. “Di UPBK ada 12 psikolog dan 39 konselor yang siap membantu,” jelasnya. Namun sayangnya, program ini belum bisa berjalan dengan baik. Mudjiran menjelaskan belum ada fakultas yang mengirimkan data mahasiswanya. Padahal ini telah disampaikan UPBK dalam pertemuannya dengan seluruh PD III fakultas Juli lalu. Seperti yang disampaikan PD III Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Drs. Ikhwan, M.Si., ia mengaku belum paham mengenai teknis pelaksanaan program ini. Hal ini disebabkan ketika pertemuan yang diselenggarakan UPBK, ia berhalangan hadir. Oleh karena itu, sampai saat ini fakultas belum juga mengirimkan data mahasiswa. Dari UPBK sendiri, lanjutnya, belum ada konfirmasi lebih lanjut. Agar program ini berjalan lancar, ia mengharapkan komunikasi lebih antara

UPBK dan fakultas. “Saya harap komunikasinya lebih ditingkatkan lagi,” terangnya, Jumat (28/9). Selain FIS, ada juga Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) yang belum merekomendasikan mahasiswanya kepada UPBK. Hal ini diungkapkan PD III FBS, Drs. Esy Maestro, M.Sn., fakultas sudah melakukan sosialisasi ke jurusan selingkungan FBS. Menurutnya, data mahasiswa yang mengalami masalah akademik tentunya ada di jurusan masingmasing. “Sampai saat ini belum ada jurusan yang mengirimkannya,” ungkapnya, Jumat (28/9). Pada dasarnya, Maestro menyatakan dukungannya terhadap program UPBK ini. Kehadiran UPBK diharapkan dapat menyelesaikan masalah mahasiswa, baik akademik maupun nonakademik. Namun, ia juga menyesalkan sosialisasi yang dilakukan UPBK masih kurang maksimal. Menurutnya masih banyak civitas akademika yang tidak mengetahui UPBK. Untuk itu, ia berharap agar UPBK semakin gencar melakukan sosialisasi kepada seluruh civitas akademika. “Untuk program ini, UPBK baiknya melakukan sosialisasi secara berkala,” tutupnya. Menanggapi hal ini, Mudjiran menyebutkan akan diadakan kembali pertemuan UPBK dengan PD III semua fakultas untuk membicarakan program ini. Pada pertemuan tersebut, tambahnya, semua fakultas akan diingatkan lagi agar segera mengirimkan data mahasiswa. “Rencananya dalam waktu dekat ini,” ungkapnya, Selasa (6/11). Segala upaya untuk memperkenalkan UPBK juga telah dilakukan, seperti penghimbauan kepada mahasiswa di sela-sela perkuliahan dan penyebaran pamflet. Faeza, Media*


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

FBS Lahirkan “Bahasa Baru” Tahun ini, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) telah melahirkan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang sebagai prodi baru. Rencana pendirian prodi ini sudah dirancang sejak 2005, namun baru bisa terealisasi pada 2012/2013. Hal ini disampaikan Dekan FBS, Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum., ia mengaku banyak kendala yang menghambat pendirian prodi ini sebelumnya. Untuk mendirikan sebuah prodi, jelas Zaim, prodi tersebut harus memiliki minimal enam dosen tetap yang sedang menyelesaikan strata 2 dan juga harus menimbang ketersediaan lapangan kerja bagi lulusan nantinya. Tak hanya itu, pendirian prodi ini juga terkendala dalam pengiriman proposal ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). “Saat itu Dikti belum menerapkan sistem online,” terangnya, Rabu (31/10). Lebih lanjut ia menyatakan pendirian prodi ini juga dilatarbelakangi banyaknya sekolah yang menerapkan mata pelajaran Bahasa Jepang pada kurikulumnya. Namun, tenaga pengajar yang ada pada umumnya berasal dari lulusan nonkependidikan. Untuk itulah, UNP mendirikan Prodi Pendidikan Bahasa Jepang untuk mencetak para calon guru yang berpengalaman nantinya. Untuk proses penerimaan mahasiswa baru, prodi yang berada di bawah Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini menyeleksi calon mahasiswa melalui nilai rapor dan Ujian Nasional (UN). Keterlambatan Surat Keputusan (SK) dari Dikti menjadi penghalang untuk menga-

dakan tes masuk. Pada tahun ajaran ini tersedia satu kelas Prodi Pendidikan Bahasa Jepang yang terdiri dari 36 mahasiswa. Salah seorang dosen pengajar, Hendrizalman menjelaskan, UNP baru diberi kesempatan Dikti untuk satu kelas saja. “Mudah-mudahan tahap berikutnya bisa lebih berkembang lagi,” terangnya, Kamis (30/8). Dari 36 mahasiswa tersebut, 25 diantaranya telah mempelajari bahasa Jepang di SMA. Melgi Sandi Putri, salah seorang mahasiswa baru Pendidikan Bahasa Jepang mengutarakan bahasa Jepang dapat menjamin prospek kerja nantinya. Hal ini menurutnya dapat dilihat dari banyaknya sekolah yang menerapkan mata perlajaran Bahasa Jepang. “Bahasa Jepang menjadi bahasa nomor dua dunia,” ujarnya ketika ditemui ketika PKKMB, Sabtu (1/9). Selain Melgi, ada juga Toni Hardi Prawira yang berharap agar lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Jepang ini menjadi contoh untuk tahun berikutnya dan mampu bersaing di luar. Saat ini di Prodi Pendidikan Bahasa Jepang telah tersedia enam orang tenaga pengajar yang berasal dari berbagai universitas, seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Padjadjaran (UNPAD). Empat orang diantaranya telah menjadi dosen tetap, sementara dua orang lagi merupakan dosen tidak tetap. Azizah, Liza*

Atlet UNP Eksis pada PON XVIII Sebanyak 84 mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNP telah mewakili Sumatera Barat di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke18 pada 9-20 September 2012. Para atlet tersebut berlaga di berbagai cabang olahraga, seperti pencak silat, futsal, sepak takraw, senam, atletik, dan taekwondo. Latihan persiapan menuju PON, menyebabkan mereka harus meninggalkan perkuliahan selama dua bulan. Hal ini disampaikan Tiska Permata Sari, atlet sepak takraw, ia mengaku perkuliahan yang ditinggalkannya diganti dengan tugas. “Tugas harus dikumpulkan pada waktu yang disepakati,” ungkapnya, Jumat (26/10). Hal yang sama juga diutarakan Zumroni, atlet sepak takraw pada PON 2012. Ia menjelaskan para atlet memperoleh izin tidak mengikuti perkuliahan demi persiapan yang matang. “Asalkan semua tugas yang diberikan selesai tepat waktu,” tegasnya, Senin (29/10). Baginya, merupakan suatu kebanggaan bisa mewakili universitas dan Sumbar dalam PON tahun ini. Salah seorang guru besar FIK, Prof. Dr. Syafruddin, M.Pd., keikutsertaan mahasiswa FIK pada PON merupakan kebanggaan FIK maupun UNP. Selain untuk menyukseskan kompetisi dan meraih prestasi, PON dapat menjadi ajang bagi FIK untuk meningkatkan

kebersamaan agar tetap diakui keberadaannya di mata masyarakat. Banyak prestasi yang diukir FIK pada PON ke-18 ini. Medali emas berhasil dibawa Weny Sasmita dari cabang pencak silat dan Randy Satria, dkk dari cabang futsal. Untuk medali perak berhasil diraih dari cabang sepak takraw putra dan cabang taekwondo. Sedangkan perunggu menjadi milik atlet dari cabang sepak takraw putri, senam, dan atletik. Sebagai penghargaan terhadap para pemenang, fakultas membebaskan biaya SPP selama dua semester untuk peraih medali emas dan perak. Sedangkan untuk perunggu, pemenang bebas SPP selama satu semester. Hal ini diungkapkan Dekan FIK, Drs. Arsil, M.Pd., ia menjelaskan bahwa hal ini sebagai bentuk apresiasi fakultas terhadap para atlet. “Ini sesuai dengan kerja keras dan prestasi yang telah dicapainya,” terangnya (9/11). Tidak hanya itu, dari Pemerintahan Sumatera Barat, para peraih medali ini juga mendapat perhatian khusus. Peraih medali emas memperoleh uang senilai Rp 150 juta, medali perak Rp 75 juta, dan perunggu Rp 50 juta. “Keberhasilan atlet Sumbar ini tidak terlepas dari usaha dan kerja keras para atlet dan pelatihnya,” tutupnya. Astuni

17

Teropong

Pelaksanaan Wisuda ke-95 Bersama Rektor Baru Pelaksanaan wisuda periode ke95 diadakan di Gelanggang Olahraga (GOR) UNP, Sabtu (29/ 9). Dalam pidatonya, Rektor baru UNP, Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram menjelaskan secara nasional UNP mendapatkan posisi teratas dari segi peminatnya. “Tahun sebelumnya program IPS mendapat peringkat keenam dan tahun ini UNP mendapatkan posisi ke empat,” ungkapnya, Sabtu (29/9). Yanuar menyampaikan bahwa pendidikan yang telah didalami lulusan selama kuliah merupakan tuntutan untuk membuka wawasan baru, terutama dalam sistem pendidikan tinggi. Hal ini agar dapat mendorong tumbuhnya kemampuan daya saing yang berwawasan IPTEK, keunggulan, dan dapat memicu masyarakat untuk belajar sepanjang hayat. Tujuan ini semata-mata upaya untuk meningkatkan jati diri dan kemandirian bangsa. Bersikap hati-hati, tambah Yanuar, merupakan keharusan dalam melakukan kebijakan dari dimensi substansi perubahan. Sebuah peluang yang baik tidak akan tersedia jika pembaharuan dilakukan dalam dimensi ruang dan waktu yang tidak memadai. Hal ini tentu menyebabkan kebijakan yang diinginkan tidak tercapai dengan baik. Di akhir orasinya, Yanuar juga berharap kepada wisudawan/wati UNP, agar menjadi sarjana yang lebih unggul dibandingkan sarjana perguruan tinggi lainnya. Selain itu, dapat menerapkan nilai humaniora, kebudayaan bangsa

Rektor Baru: Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram untuk pertama kali menghadiri upacara wisuda sebagai rektor baru UNP periode 2012-2012 di Gedung Olahraga UNP, Jumat (15/6). f/ Jefri

yang berkelanjutan yang berasas kebenaran ilmiah, penalaran, kejujuran, keadilan, manfaat, tanggung jawab, kebhinekaan, keterjangkauan, serta merespon perkembangan global dalam berbagai aspek kehidupan terhadap pengaruh kehidupan masyarakat. Dalam rangka menginginkan suatu perubahan, lanjutnya, sebaiknya jangan merespon dengan berlebihan yang justru menggugurkan perubahan yang ingin dicapai. “Akibatnya bangsa ini justru akan tenggelam dalam keterpurukan pembaharuan itu sendiri,” tutupnya. Ada tiga orang lulusan terbaik pada perayaan wisuda ke-95 kali ini. Peringkat pertama diraih oleh Yutimah dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dengan IPK 3,93. Peringkat kedua ditempati Nara Sani,

mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dengan IPK 3,89. Selanjutnya peringkat ketiga diraih Prischa Melvilona Yendi, dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan IPK 3,86. Tercatat 3466 wisudawan/i diwisuda pada periode ini. Jumlah lulusan tersebut terdiri dari 352 dari Program Pasca Sarjana, 12 dari Program Magister Manajemen (MM), 6 dari Program Magister Ilmu Ekonomi, 798 dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), 395 dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), 303 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), 223 dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS), 396 dari Fakultas Teknik (FT), 649 dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), dan 343 dari Fakultas Ekonomi. Astuni

Gencar Membangun Kerja Sama Sejak resmi menjadi jurusan pada 19 Juli 2011, Jurusan Teknik Pertambangan UNP semakin gencar melakukan kerja sama dengan instansi dan universitas di Indonesia. Fakultas Teknik (FT) UNP mewakili Jurusan Teknik Pertambang telah melakukan penandatanganan piagam kerja sama dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) di Jakarta, Senin (15/10). Kerja sama ini dinamakan dengan Tri Partit. Menurut ketua jurusan Teknik Pertambangan UNP, Drs. Bambang Heriyadi, MT kerja sama tersebut diselenggarakan untuk mengembangkan, meningkatkan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia di bidang pendidikan teknik pertambangan. Ia menjelaskan teknik pertambangan ITB merupakan tempat yang tepat dijadikan teladan bagi jurusan pertambangan UNP. Banyak ahli pertambangan Indonesia yang berasal dari ITB. “Tenaga pengajarnya sangat kompeten di bidangnya,” ujarnya, Jumat (7/9). Salah satu bentuk kerja sama tersebut, UNP mendatangkan dosen ITB untuk mengajar tiga mata kuliah, diantaranya: Geoteknik, Analisis Perencanaan Tambang, dan Mekanika Batuan.

“Hanya empat kali pertemuan untuk masing-masing mata kuliah,” tambah Bambang. Selain pemberian kuliah, dalam piagam kerja sama dinyatakan pihak ITB akan membina dan mengembangkan program pendidikan Teknik Pertambangan UNP, seperti: pembuatan catatan kuliah, pemberian bimbingan skripsi, penyusunan kurikulum, dan penelitian serta pengabdian pada masyarakat. Dalam waktu dekat ini, lanjut Bambang, Jurusan Teknik Pertambangan UNP akan menjadi tuan rumah penyusunan kurikulum pertambangan se-Indonesia. “Kurikulum itu nantinya akan menjadi acuan bagi seluruh jurusan pertambangan se-Indonesia,” paparnya. Terhadap APBI sendiri, UNP bekerja sama dalam bentuk penempatan kerja bagi dosen teknik pertambangan UNP di perusahaan batubara yang ada di Indonesia selama satu-dua bulan. Beberapa perusahaan tersebut diantaranya Kalimantan Prima Coal (KPC), Borneo, Indo Bara, Adani, Global Mandiri, Multi Harapan Utama (MHU), dan PT Bayan. Selain itu, APBI juga menyediakan biaya keperluan pelaksanaan kerja sama dan memberi masukan terhadap kegiatan yang akan berlangsung lima tahun ini.

Tak hanya itu, Jurusan Teknik Pertambangan juga telah berhasil menjembatani UNP dengan PT. Semen Padang. Kerja sama ini berbentuk MoU (Memorandum of Understanding) yang mencangkup: penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat, dan pemagangan bagi mahasiswa dan dosen UNP. Bentuk kerja sama ini juga mendatangkan beberapa perwakilan PT. Semen Padang untuk mengajar dua mata kuliah di Teknik Pertambangan UNP. “Agar mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman dari teknisi, tidak teori saja,” ujar Bambang. Dua matakuliah tersebut adalah Tambang Bawah Tanah dan Tambang Terbuka. Rencananya penandatanganan MoU tersebut akan langsung ditandatangani oleh Rektor UNP, Prof. Dr. Phil Yanuar Kiram dalam waktu dekat. Bagi mahasiswa pertambangan, hal tersebut merupakan tindakan positif yang harus diapresiasi. Yeza Khasybi, mahasiswa Teknik Pertambangan TM 2010 berharap mahasiswa bisa dimudahkan dalam mencari pekerjaan dan tempat praktik. “Semoga mahasiswa bisa praktik di perusahaan yang diajak kerja sama, jangan hanya sebagai acuan saja,” ungkap wakil Ketua Perhimpunan Mahasiswa Tambang (Permata) tersebut, Jumat (7/9). Duni


18

Inter

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

BEM UNP

PIKM UNP

FE UNP

Peduli Kesehatan Remaja Pada 24-25 November lalu, lahir Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru di UNP. UKM yang berkecimpung di bidang konseling tersebut bernama Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIKM) Persiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR). Semakin parahnya permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja (KKR) seputar Seksualitas, HIV/Aids dan NAPZA menjadi alasan berdirinya PIKM ini. PIKM berusaha mengajak mahasiswa mempraktekan prilaku hidup sehat. Selain itu, tujuan umum PIKM UNP adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja dalam mewujudkan Generasi Berencana (GenRe). Dalam usianya yang menginjak satu tahun, PIKM telah mengagendakan beberapa kegiatan, diantaranya; aksi social education. Aksi kampanye tersebut dipelopori oleh angkatan magang, yang meliputi penggalangan buku, pensil, baju, dan peralatan sekolah lainnya untuk disumbangkan kepada “anak pantai” di wilayah Air Tawar. Selain itu, dalam upaya memperingati hari HIV/AIDS sedunia

yang jatuh pada bulan Desember mendatang, PIKM UNP bekerjasama dengan PIKM dari universitas lain akan mengadakan long march dan diskusi panel mengenai isu kenakalan remaja saat ini. Namun, perkembangan PIKM di UNP selama ini masih banyak mengalami kendala, terutama tempat sekretariat. Saat ini PIKM belum memiliki sekretariat tetap, dan hanya menumpang di UPBK UNP. Hal itu dikeluhkan oleh Hendri Okfe rianto selaku Koordinasi Fund Raising. Hendri berharap ke depan PIKM bisa sejajar dengan Ormawa lain di UNP, sehingga bisa berkonstribusi lebih untuk kampus. “Kami berharap ada perhatian yang sama dari kampus, sehingga PIKM bisa sejajar dengan Ormawa lain,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Elektronika itu, Jumat (19/10). Hingga kini, Unit Kegiatan yang dipelopori oleh Muhammad Sugero ini telah mempunyai jumlah anggota sebanyak enam anggota tetap dan 25 anggota magang. Duni

BAAK UNP

Selangkah Lagi Menuju PIMNAS Rangkaian kegiatan menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) sudah sampai pada tahap seleksi proposal Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Dari 52 proposal yang masuk telah terpilih 15 proposal yang lolos seleksi tahap pertama. Selanjutnya, dilaksanakan seleksi tahap dua di Gedung A, MKU ruang NA 101-104, Sabtu (15/ 9). Format seleksi ini berupa presentasi proposal oleh tiap kelompok peserta di depan juri. Menurut Rian Saputra selaku ketua panitia, kegiatan yang diselenggarakan BAAK ini bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi peserta PIMNAS yang lebih matang dan bisa bersaing di tingkat nasional. Dua tahun belakangan, UNP tidak lulus PIMNAS. “Diharapkan, kegiatan ini

dapat memacu semangat dan kreatifitas mahasiswa untuk berkarya.” Ujarnya, Sabtu (15/9). Para pemenang PKM diumumkan pada hari Senin (17/9) melalui jejaring sosial di facebook. Pemenang yang menempati tiga besar nantinya akan dikirim untuk mengikuti PIMNAS Kegiatan ini disambut baik para peserta, seperti peserta PKM Penelitian dari jurusan Kimia TM 2010. “PKM ini sangat menarik karena dapat memacu semangat mahasiswa untuk lebih kreatif dalam mengembangkan ilmu dan kemampuannya.” tutur Wati, Kamis (20/9). Wati menyayangkan jumlah peminat dari PKM ini masih sedikit dibandingkan jumlah mahasiswa yang ada di UNP. Tilla

Bantuan untuk Korban Galodo Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNP menyerahkan bantuan berupa sembako kepada korban galodo (banjir bandang) yang melanda beberapa waktu lalu di daerah Batu Busuak, Padang, Minggu (30/9). Penyerahan bantuan ini dilakukan di posko utama bantuan galodo Batu Busuak. Vero Azhar, salah seorang anggota BEM mengatakan bantuan ini berasal dari penggalangan dana yang dilakukan pihak BEM selama tiga hari (18-20/9). Penggalangan tersebut dilakukan dengan cara turun ke fakultas-fakultas dan membuat posko di depan BEM UNP. Setelah penyerahan sembako, anggota BEM UNP

juga meninjau beberapa lokasi yang terkena longsor, Sabtu (18/8) lalu. Arnida, salah satu panitia penerima bantuan, posko akan ditutup pada tanggal 30 September. Namun ternyata bantuan masih tetap mengalir dari berbagai instansi, sekolah-sekolah maupun organisasi masyarakat. “Hari ini saja kami menerima bantuan dari SMA N 1 2x11 Kayu Tanam, BEM UNP, dan Majlis Ta’lim Mushala Muslimin Pasia Nan Tigo,” jelasnya. Lebih lanjut Arnida mengatakan penyerahan bantuan lebih diutamakan kepada keluarga korban yang mendapat dampak terparah dari galodo. Nia*,Novi*

FKPWI FBS

Menjadi Mahasiswa Luar Biasa Forum Kajian Pengembangan Wawasan Islam (FKPWI) FBS UNP menyelenggarakan acara Gema Awal Kampus Selatan Berprestasi (Galaksi) di Teater Tertutup FBS, Sabtu (15/9). Acara bertema Be a Transformer, dari Siswa Biasa Menjadi Mahasiswa Luar Biasa ini dihadiri oleh Pembantu Dekan III FBS, Drs. Esy Maestro, M.Sn. Dalam sambutannya Maestro berharap FKPWI bisa menjadi organisasi yang benar-benar dirasakan semua mahasiswa. “FKPWI tidak hanya untuk mahasiswa yang baik ke-

IMAPAR

islamannya namun mampu mengajak agar semua mahasiswa menjadi orang yang taat beragama,” Ungkap Maestro, Sabtu (15/9). Menurut Putra Satriawan, Ketua pelaksana, Galaksi merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru menjadi mahasiswa berprestasi baik di bidang akademik dan memiliki kepedulian untuk mengamalkan dan menyemarakkan nilainilai keislaman di kampus. “Mahasiswa luar biasa itu adalah mahasiswa intelek dan religius,” ungkapnya, Sabtu (15/9). Siti

Bangun Jiwa Kepemimpinan

Dalam rangka meningkatkan rasa kepemimpinan dalam diri mahasiswa, Ikatan Mahasiswa Pariaman (IMAPAR) mengadakan seminar bertajuk Kepemimpinan dan Pengembangan Diri dalam Organisasi, Jumat (14/9). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP itu menghadirkan tiga pemateri: M. Khadafi (Tokoh muda Pariaman), Ulil Amri (PB PMII) dan Keni Novandri (Aktivis muda). Dalam penyampaiannya, Khadafi mengatakan laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki jiwa kepemimpinan, tidak ada

batasan keduanya. “Kepemimpinan harus dimiliki oleh setiap insan,” ujarnya, Jumat (14/9). Ia mengharapkan, mahasiswa sekarang jangan sungkan untuk masuk organisasi, karena orang hebat banyak dibentuk melalui sebuah organisasi. Ketua pelaksana, Aldi Putra mengatakan acara yang dipelopori oleh mahasiswa asal Pariaman ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa yang berasal dari Pariaman saja yang berjumlah 150 peserta. “Banyak juga yang dari daerah lain, bahkan luar Sumbar,” katanya, Jumat (14/9). Duni

PPIPM UNP

UNP

Lawatan UNITEN Malaysia Universitas Tenaga Nasional (UNITEN) Malaysia berkunjung ke Universitas Negeri Padang (UNP), Selasa (2/10). Rombongan yang berjumlah 30 orang ini terdiri dari pengajar dan pelajar UNITEN diterima Rektor UNP, Prof. Dr. Phil. Yanuar Kiram di Ruangan Senat Universitas. Turut hadir pada pertemuan tersebut perwakilan mahasiswa dari fakultas, aktivis mahasiswa serta Dosen UNP. Lawatan UNITEN Malaysia ke UNP, disebut Professor Madya Dr. Shaari Md Nor sebagai langkah awal untuk menjalin networking antar kedua universitas. Hal ini juga disambut baik pihak UNP yang disampaikan Yanuar dalam sambutannya. “Networking perlu kita jalin agar calon pemimpin

(mahasiswa) nantinya mudah melakukan kerjasama dan tidak melalui birokrasi yang sulit” katanya, Selasa (2/10). Salah seorang pengajar UNITEN, Mahiah BT HJ Said mengaku senang berkunjung ke Sumatera Barat (Sumbar), khususnya UNP. Rombongan ini pun sudah berkunjung ke beberapa tempat wisata di Sumbar. “Bukittinggi sangat sejuk, kami juga sudah berkunjung ke Istano Pagaruyung, Maninjau, dan kelok ampek puluah ampek” tuturnya, Selasa (2/ 10). Mahiah juga berharap agar kunjungan mereka dapat menciptakan hubungan baik antara kedua universitas ini. “Kapan-kapan kita bisa buat project bersama” tambahnya. AmiJaer, Opi*

Pembelajaran Aktif Lewat Animasi Guna memberdayakan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) mahasiswa, Unit Kegiatan Pusat Pengembangan Ilmiah dan Penelitian Mahasiswa (PPIPM) UNP mengadakan Pelatihan Animasi, Minggu (24/9). Pelatihan yang diselenggarakan di ruang T77 tersebut dihadiri 51 peserta. Sesuai tema: Menyongsong Perkembangan IPTEK Melalui Pelatihan Animasi Sebagai Media Pembelajaran, pelatihan ini diarahkan pada penerapan animasi pada media belajar mahasiswa yang dewasa ini lebih menjurus pada IPTEK. Pemateri, Bayu Tirta Sukma memulai pemberian materi dengan menjelaskan teori dasar animasi. Peserta juga akan diperkenalkan dengan software pembuat animasi,

yaitu Macromedia Director. Setelah itu, diajarkan membuat animasi dalam bentuk frame dan gambar sederhana. Ahmad Fitra, ketua pelaksana mengatakan pelatihan ini merupakan tahap pengenalan pembuatan media animasi. PPIPM bisa memberikan pelatihan lanjutan kepada peserta. “Caranya, datang langsung ke Sekretariat PPIPM,” ujarnya, Minggu (24/9). Salah seorang peserta, Cindi Fregia mengaku tertarik dengan tema yang diangkat PPIPM. Ia menyukai animasi dan ingin menpelajari animasi tersebut melalui pelatihan animasi ini. “Saya berharap bisa tahu lebih banyak tentang animasi lewat pelatihan ini,” ungkapnya, Minggu (24/9). Novi*, Merri*

Indonesia Emas Dilatarbelakangi peninjauan perspektif ekonomi daerah dan negara setelah 100 tahun Indonesia merdeka, Fakultas Ekonomi (FE) UNP mengadakan Seminar Tax Center di Ruangan Auditorium FE UNP, Sabtu (14/9). Seminar yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat ini mengusung tema, “Menuju Indonesia Emas: Tantangan dan Prospek Ekonomi dalam Perspektif Pembangunan”. Acara ini diikuti oleh 232 peserta, dengan jumlah 45 orang umum, dan selebihnya dari mahasiswa S1 dan S2 UNP. Selain menghadirkan Keynote Speech, Prof. Armida Salsiah Alisjahbana, SE, MA, Ph.D, dua orang panelis Dr. Harry Azhar Aziz, MA selaku wakil komisi XI DPR RI dan guru besar FE UNP, Prof. Dr Syamsul Amar B. M.Si juga menjadi pembicara dalam seminar ini. Dalam sambutannya, Dekan FE, Prof. Dr. Yunia Wardi menyampaikan untuk mencapai perekonomian yang bagus akan memiliki tantangan yang beragam. Yunia berharap melalui seminar ini bisa meningkatkan perspektif ekonomi negara dan daerah ke depannya. “Bukan siap atau tidak siapnya, tapi kemauan yang kuat untuk mewujudkan ekonomi hijau,” ujarnya, Sabtu (14/9). Salah seorang peserta, Zaratul Khairi, Kepala Bagian Perekonomian Sektor Daerah Tanah Datar mengatakan acara seminar ini bagus untuk diikuti. “Dengan seminar ini saya mendapat informasi baru untuk dimanfaatkan dalam pekerjaan saya nantinya.” ujarnya, Sabtu (14/9). Novi*,Mai*

UKKPK UNP

Pengusaha Muda Seminar wirausaha yang dipioneri Unit Kegiatan Komunikasi dan Penyiaran Kampus (UKKPK) Universitas Negeri Padang yang dilaksanakan di Ruangan Serba Guna FT UNP dihadiri 208 peserta, Kamis (6/9). “Mengembangkan jiwa wirausaha dan menambah skill entrepreneurship adalah tujuan utama diadakannya seminar ini,” ungkap Elsa Martinalova selaku ketua pelaksana. Bertemakan “Good Communication for Entrepreneurship,” UKKPK mendatangkan Andre Rosiade sebagai pembicara. Mantan aktivis Trisakti yang merupakan putera asli minang ini, gencar diberitakan di beberapa media lokal atas gerainya sebagai pengusaha muda yang sukses. Andre, selaku Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Padang, selalu giat mencanangkan gerakan wirausaha terutama untuk kaum mahasiswa. Menurutnya, ada tiga modal utama dalam berusaha, yaitu: jujur, bila jatuh harus bangkit dan jangan malu bertanya pada pengusaha yang telah lebih dulu sukses. Minat yang lumayan besar terlihat dengan antusias peserta dalam berdiskusi dengan Andre Rosiade. Salah satu peserta, Doni Satria, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNP menuturkan bahwa seminar ini memberikan output yang positif. “Acaranya bagus, bisa dijadikan semangat motivasi dalam memulai berwirausaha sehingga kita tidak lagi berorienntsi pada PNS,” tutupnya. Ryan


Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

19

Feature

Perdalam Agama di Bulan Puasa Wassyamsi wa dhu haa haa. Wal qamara idza talaa haa. Wannahaa.... ri idza.... ya laa haa. Mutia Oktaria membaca Qs. AsSyam itu dengan terbata.…

Oleh Dila Monisa Ia tengah menyetor bacaan ayat pendeknya kepada Pembina. Tia harus mengulang beberapa kali sebelum akhirnya diterima, meskipun di beberapa bagian masih dibantu guru atau siswa lainnya. Saat itu, ba’da subuh di mesjid Afdal, Kec. Air Tawar Barat tengah berlangsung kegiatan pesantren Ramadhan, Selasa (20/ 7). Beberapa kelompok anak-anak SD hingga SMA terlihat sibuk melantunkan ayat alquran dan hadist. Mereka harus menyetor hafalan yang telah dipersiapkan dari rumah. Selama pesantren, mereka harus menghafal 30 surat Alquran dan 10 hadist. Setelah Tia, anggota kelompok lainnya yang harus melunasi hutang hafalannya. Guru pembina tak bosan mengoreksi bacaan kelompok siswa SMA ini. Kegiatan ini dilakukan mulai pukul 06.00 WIB sampai 07.30 WIB pagi, setelah mengikuti salat subuh berjamaah dan siraman rohani. Biasanya, jumlah anak yang datang untuk salat subuh dan menyetor ayat hanya sebagian kecil dari jumlah anak yang terdaftar sebagai peserta pesantren di masjid Afdal. Jumlah yang lebih besar akan datang pada kegiatan formal, pukul 07.30 WIB. Kegiatan ini dimulai dengan pemberian materi agama yang disampaikan pemudapemudi yang tinggal di sekitar lingkungan mesjid. Bahkan, ada pula mahasiswa UNP. Lalu, para siswa yang berasal dari beberapa

Pesantren Ramadhan: Pemerintah kota Padang sengaja meniadakan kegiatan belajar mengajar selama Ramadhan. Gantinya, para siswa diwajibkan untuk ikut Pesantren Ramadhan. Pihak sekolah bekerja sama. f/Dila.

sekolah di kota Padang ini akan mengikuti mentoring hingga pukul 10 pagi. Pemerintah kota Padang sengaja meniadakan kegiatan belajar mengajar selama Ramadhan. Gantinya, para siswa diwajibkan untuk ikut Pesantren Ramadhan. Pihak sekolah bekerja sama dengan pengurus mesjid memantau pelaksanaan kegiatan ini. Di akhir kegiatan, siswa memperoleh sertifikat yang akan diperhitungkan dalam nilai mata pelajaran agama. Sertifikat yang sama juga diberikan kepada guru sebagai bukti partisipasi sebagai Pembina. Alfi Rahmiwati, S.Pd, pembina dari MAN

2 Padang menjelaskan, para siswa diwajibkan untuk mengikuti pesantren untuk mempelajari lebih banyak hal tentang agama. Selama pesantren ini mereka akan dibina dengan baik sehingga menjadi pribadi yang lebih taat agama. *** Di Jorong Lundang, Kec. Ampek Angkek Agam, pembelajaran agama di Bulan Ramadhan juga dilakukan meskipun tidak ada peraturan soal Pesantren Ramadhan. Selain belajar agama, di sana juga diajarkan keterampilan untuk tampil di depan umum. Bahkan, dalam kegiatan Ramadhan, Jorong ini memberikan tugas kepada siswa SD

sampai SMA untuk mengisi acara. Ada yang bertugas sebagai pembawa acara, pembaca ayat pendek, pembaca Alquran dan sebagai penyampai ceramah agama. Tidak ada batasan bagi yang ingin berpartisipasi. Semua anak didorong dan diberi kesempatan untuk tampil. Seperti Andre, siswa kelas 5 SD yang bertugas sebagai pembawa acara Didikan Subuh di mesjid Nurul Iman, Sabtu (22/7). Di sepanjang jalan dari rumah ke mesjid, ia sibuk menghafal kata-kata yang akan disampaikan nanti. Doa pembuka, ucapan terima kasih, rangkaian acara beserta pengisi acaranya terus ia lafalkan berulang-ulang agar tidak lupa ketika tampil nanti. Kebetulan pada hari itu adiknya Fajar yang duduk di kelas 3 SD juga berpartisipasi sebagai pembaca Alquran. “Yang paling rajin datang ke mesjid dan tampil paling bagus nanti akan diberi hadiah,” ujarnya dengan semangat. Andre dan adiknya Fajar sudah terbiasa tidak tidur setelah sahur dan memilih ikut salat subuh berjamaah serta Didikan subuh selama ramadhan. Kegiatan ini diselenggarakan dan dipandu oleh pengurus mesjid yang sebagian besar juga guru di beberapa sekolah. Mereka memandang kegiatan ini harus dilaksanakan. “Waktu yang mereka miliki untuk belajar agama di sekolah cukup terbatas, paling hanya satu kali pertemuan dalam seminggu,” ujar Drs. Zulfahmi, salah seorang pengurus. Menurutnya waktu yang tersedia belum bisa diandalkan untuk menanamkan nilainilai agama dalam diri anak. Selain memberi pelajaran agama, kegiatan ini juga membiasakan anak datang ke mesjid. Hal ini menurut Zulfahmi bisa kembali meramaikan mesjid yang belakangan mulai sepi pengunjung. “Jika dilakukan di bulan Ramadhan tentu pahalanya juga akan berlipat ganda,” tutupnya, Minggu (23/7).

Belajar Menulis Panjang di Tanah Deli Bernarasi (narative journalism) sudah diperkenalkan sejak 1960an oleh Tom Wolf. Namun hingga kini di Indonesia belum banyak wartawan yang menerapkan genre ini. Itulah mengapa LPM Suara USU menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Salam Ulos 2012.

Pelatihan Menulis: Salah seorang pemateri, Chik Rini memberikan materi mengenai jurnalisme narasi dihadapan peserta pelatihan Salam Ulos yang diadakan oleh LPM USU di Parapat, Sumatera Utara, Rabu (24/ 10). f/ Dok.

Oleh Hasduni Seorang wanita dan seorang pria duduk di ruangan. Wanita itu berkacamata, berjilbab hitam dan mengenakan baju berwarna abuabu yang dilapisi sweater abu-abu juga. Dengan suara serak, wanita itu memperkenalkan tulisan ber-genre narasi kepada sekelompok orang yang duduk di hadapannya. Sementara pria berkacamata dan berambut kribo di sebelahnya sibuk mengulangi penjelasan yang keluar dari mulut wanita itu. Wanita itu sedang mengalami masalah dengan suaranya sehingga harus ada orang yang mengulangi perkataannya, agar dapat didengar dengan baik. Wanita itu adalah Chik Rini, wartawan lepas yang menulis “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” dan “Surat dari Geudong: Panglima, Cuak dan RBT”. Kedua tulisan tersebut bergaya narasi. Pagi itu Kak Chik— sapaan akrabnya, sedang memberikan materi kepada peserta Salam Ulos 2012, di Prapat, Sumatera Utara (24-29/9). Pria di sebelahnya bernama Guster Sihombing, panitia Salam Ulos 2012.

“Jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang menulis panjang,” ujar kak Chik, Selasa (24/9). Menulis panjang dapat memenuhi tujuan jurnalisme dalam menyediakan informasi yang diperlukan warga, agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi secara detail. Menulis panjang sangat mendukung dalam mengungkap fakta yang terkadang tersusun seperti puzzle, sehingga kebenarannya bisa diketahui seiring berjalannya waktu. Pada surat kabar, narative journalism dipakai untuk menambah kekuatan sajian koran atau majalah dalam mengulas berita dengan lebih detail sehingga surat kabar tersebut memberikan informasi yang pembaca inginkan, bukan hanya memberi apa yang pembaca butuhkan. Selain

membutuhkan inti informasi, pembaca juga menginginkan ‘kenikmatan’ dalam membaca dan mencerna sebuah berita. Hal ini bisa didapatkan dengan memasukkan unsur narasi dan deskripsi berupa data dan fakta dengan rinci. Seperti yang pernah dilakukan majalah ternama di Amerika, The Newyorker terhadap laporan Jhon Hersey yang berjudul Hiroshima. The Newyorker menjadikan laporan Jhon Hersey sebagai isi penuh majalah tersebut. Berkat laporan panjang yang penggarapannya membutuhkan waktu bertahun-tahun itu, majalah The Newyorker laku keras di pasaran. “Hiroshima tulisan klasik yang bisa dijadikan untuk belajar menulis panjang,” jelas kak Chik, yang juga pernah mengikuti kursus Investigative Re-

porting di Murdoch University, Perth. Selain Chik Rini, hadir juga Andreas Harsono. Andreas Harsono adalah salah satu wartawan Indonesia yang pernah menerima Nieman Fellowship on Jurnalism dari Universitas Harvard dan sekarang bekerja untuk Human Right Watch (Tokyo). Pada hari kedua, Andreas memaparkan mengenai teknik wawancara dengan melihat teknikteknik yang dikembangkan International Center for Journalist. Wawancara merupakan hal yang sangat penting karena tulisan narasi membutuhkan data yang lengkap dan akurat. “Wawancara yang baik akan membuat narasumber nyaman dalam memberikan data selengkap mungkin, sehingga akan sangat membantu dalam menulis narasi” ujarnya, (26/9). Narasi merupakan tulisan panjang yang bersifat non fiksi, melaporkan secara menyeluruh, penuh dan detail sehingga yang membaca akan seperti menonton video. Seiring perkembangannya, genre ini banyak mengalami perubahan nama, dari New Journalism, Jurnalisme Sastrawi hingga Narative Journalism. Nama Jurnalisme Sastrawi dianggap sebagian orang kurang tepat karena dinilai seperti berfiksi. “Sekarang genre ini dinamakan Narative Journalism,” tambah mantan wartawan Pantau itu. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penulisan narasi; fakta dan verifikasi, konflik, karakter, akses, emosi, perjalanan waktu dan kebaruan. Kebaruan tidak mesti sebuah kejadian yang baru-baru terjadi, namun kejadian masa lampau bisa diungkap kembali dengan gaya penulisan narasi yang menarik dan memiliki pandangan kebaruan dari penulisnya. “Seperti halnya laporan Hiroshima karya Jhon Hersey yang dimuat beberapa tahun setelah kejadian,” jelasnya sambil menayangkan slide.


20

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Resensi

Cerdas Memaknai Hidup Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: Si Cacing dan Kotorannya : Ajahn Brahm : Awareness Publication : 1, Maret 2012 : 308 Halaman

Hidup adalah cerita. Cerita yang dilakoni dengan telah ada tangan yang mengaturnya sehingga tak sepatutnya untuk mengeluh. Jika kita pandai menilik arti setiap kejadian dan peristiwa di alam ini, begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik. Namun itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang peka: peka terhadap diri sendiri, peka terhadap orang lain dan peka terhadap alam ini. Titik terangpun akan selalu tampak ketika kita bisa melihat seluruh aspek di kehidupan ini, baik saat susah maupun senang, beruntung maupun merugi, selalu ada hikmah dibaliknya. Di tangan Ajahn Brahm lahirlah karya dengan kemasan ringan membahas polemik hidup ini. Dengan berkelana mengelilingi dunia telah menambah coretan kenangan untuk memaknai arti dan hakikat hidup yang sebenarnya. Seolah tidak ingin memendam semua “harta” berharga itu sendiri, ia pun menuangkan berbagai kisah inspiratif lewat buku berjudul “Si Cacing dan Kotorannya” ini. Sebagai penggalan, Ajahn Brahm memaparkan suatu kisah seekor tikus yang dilema dan gundah akan ancaman yang diberikan oleh pak Tani. Ketika ia bertanya pada ketiga sahabatnya, sapi, ayam dan babi, ia hanya mendapatkan ketidakacuhan dari mereka. “Kan, perangkap itu, untuk tikus bukan untuk aku”, tutur ayam membalas pertanyaan yang dihantarkan tikus. Namun memang nasib baik selalu berpihak kepada siapa saja yang berhati baik, karena perangkap tersebut bukannya membuat tikus mati, tapi malah berimbas pada teman-

Serius dalam Menggapai Mimpi Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

temanya, sapi, ayam dan babi. Bahkan perangkap yang disediakan juga menjadikan ular sebagai korban. Imbasnya, ular yang terperangkap mengigit kaki bu Tani. Sehingga racun tersebut membuat istri pak Tani sakit parah. Dari penggalan cerita ini, dapat inspirasi menggugah ketika kita mulai ditegur dengan merasakan apa yang kita lihat. Dengan merasakanlah kita bisa mengetahui. Apa gunanya kita melihat dan mendengar jika kita tak turut merasakannya. Rasakan apa yang tengah terjadi pada diri kita, diri orang lain dan semuanya. Salah satu kutipan amanat yang terdapat disini: Kita sering berpikir, “Ini tidak akan mepengaruhiku, tak ada urusan denganku. Ini masalah orang lain.” Tapi pada buku ini diceritakan: “Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga.” Karya sekuel terakhir dari trilogi “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” menginsiparasi kita untuk menjadi lebih peka, mawas diri, dan tidak serius-serius amat dalam menghadapi setiap ketidakpastian kehidupan dan kematian. Masalah menjadi bukan masalah ketika kita bisa menyikapi hidup dengan penuh ketulusan, penerimaan dan kewelasan. Namun disamping itu, pemahaman kajian Ajahn Brahm dalam buku ini masih terbatas untuk kalangan tertentu, dalam artian intisari dari judul (si Cacing dan Kotoran Kesayangannya) hanya golongan tertentu saja yang bisa menemukan maknanya dalam buku ini. Resensiator: Ismeirita Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, TM 2010

: Sepatu Dahlan : Khrisna Pabichara : Noura Books (PT Mizan Publika) : 1, Mei 2012 : 392 Halaman

Sepatu merupakan kebutuhan primer dalam hidup manusia. Benda ini dengan mudah didapatkan oleh semua orang. Dengan kata lain sepasang sepatu bisa dikatakan wajib dipunyai oleh semua orang. Apalagi bagi mereka yang menempuh pendidikan dan bekerja yang mementingkan sebuah nilai kerapian. Ini karena sepatu selain sebagai alat pelindung kaki juga mempunyai nilai kerapian dan estetika. Cerita datang dari seorang anak yang berusia 12 tahun bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang anak yang tumbuh di dalam keluarga yang tidak mempunyai apa-apa, bertahun-tahun menyimpan segudang harapan untuk memiliki sepasang sepatu dan sepeda. Sejak kecil dia tidak pernah mencicipi bau dan rasa memakai sepatu. Meskipun dibandingkan dengan sepeda, harapan untuk memilki sepatu lebih besar. Dibesarkan di dalam keluarga yang keras dan disiplin membuatnya lebih dewasa. Keluarganya mengajarkan bahwa kemauan belajar tidak tergantung kepada apakah memakai seragam sekolah yang bagus ataupun sepatu yang mengkilat. Belajar hanya masalah keinginan dan kebutuhan untuk menjadi lebih baik. Nyeker berkilo-kilo meter kerap ia lakoni tiap hari demi sebuah kehausan akan ilmu pengetahuan. Ia tidak mempedulikan apakah kakinya melepuh oleh aspal yang panas. Dia hanya tahu bahwa ia harus bersekolah. Dengan keadaan keluarganya yang tidak berada inipun dia tidak terlalu berani menuntut untuk memiliki sepatu kepada kedua orang tuanya. Meskipun uangnya dari nguli

bisa ia kumpulkan untuk membeli sepatu, namun kerap kali uang itu diserahkan kepada ibunya. Dia lebih baik tidak memiliki sepatu ketimbang harus melihat keluarganya menahan lapar. Buku yang berjudul “Sepatu Dahlan” ini cocok dibaca oleh semua kalangan, terkhususnya bagi anak muda zaman sekarang. Rangkaian cerita yang dibuat dalam gaya bahasa yang ringan yang dibalut dengan kepolosan seorang anak cukup membuat pembaca mudah mengerti dengan alur cerita yang dibuat oleh penulis. Buku ini menyimpan pesan tentang arti dari sebuah keseriusan dalam hidup. Khususnya dalam meng gapai cita-cita. Kaum muda di tengah-tengah zaman sekarang sangat perlu untuk digugah bagaimana memaknai pentingnya mempunyai sifat serius dalam setiap hal. Tidak hanya cukup itu saja. Layaknya seperti memasak untuk mendapatkan makanan enak, bumbunya tidak hanya satu saja. Selain serius juga harus semangat dan pantang menyerah. Apapun itu, selama ada keinginan dan impian, keadaan akan bertekuk-lutut pada sebuah kegigihan. Disaat kedua cita-citanya antara sepeda dan sepatu dapat diraihnya, namun ada timbul keraguan dalam dirinya. Dia merasakan bahwa itu bukan akhir dari mimpinya. Ada mimpi baru yang muncul. Dia menyadari bahwa itu bukan mimpi besar yang selama ini ada dalam pikirannya. Ini hanya sebuah keinginan sederhana untuk semua anak-anak dari keluarga miskin. Resensiator: Winda Yevita Dewi Mahasiswa Kimia TM 2010

Dunia dalamGenggaman Ibuk Judul Penulis Penerbit Cetakan Tebal

: Ibuk, : Iwan Setyawan : PT Gramedia Pustaka Utama : Juni 2012 : 294 Halaman

Pepatah mengatakan; Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan. Jasa Ibu, pengorbanan Ibu, kasih dan sayang Ibu, tanpa mengkesampingkan peran ayah, adalah sesuatu yang murni dari hati, terwujud dalam tindakan sehari-hari yang dihitung dalam ketakterhinggaan. Lewat sebuah novel yang berjudul “Ibuk”, Iwan Setiawan membagi segala keluarbiasaan seorang ibu yang pada novel ini dilakoni oleh wanita bernama Ngatinah. Ngatinah, sosok Ibuk yang sederhana sekaligus seorang perempuan perkasa. “Cinta Ibuk telah menyelamatkan keluarga”. Kalimat itulah yang mewakili perasaan Iwan Setyawan untuk wanita luar biasa yang dipanggilnya Ibu. Doa Ibuk tak henti-hentinya dicurahkan guna mengiringi dan menguatkan anakanaknya dalam menghadapi banyak hal; kesedihan, kekecewaan dan kebahagiaan. Selama empat puluh tahun membangun

kepingan-kepingan hidup, Ibuk selalu setia menjadi Ibuk yang anak-anaknya, menjaga Bapak hingga akhir hayat. Semua karena cinta Ibuk. Memang tidak banyak kenangan yang bisa mereka abadikan lewat foto, namun Bayek, bungsu dan anak lelaki satu-satunya yang dimiliki keluarga Ibuk, mengabadikan semuanya lewat novel. Kebahagian ibuk senantiasa mekar saat melihat kelima anaknya bisa tumbuh besar. Lima anugrah yang diberikan kepadanya membuatnya bertekad untuk memberikan yang terbaik. Ibuk

menyiapkan sarapan, membangunkan Isa dan Nani setiap pagi sebelum mereka bersekolah, dan menyiapkan seragam. Barangkali cuplikan cerita dalam novel ini bisa mewakili betapa seorang ibu ingin anaknya sukses, ingin anakanaknya hidup lebih baik dari kehidupannya sekarang. Dalam novelnya, penulis menggambarkan sosok wanita yang perkasa sebagaima potongan cerita berikut. Ibuk, melakoni semuanya, memasak didapur, menyisihkan uang untuk bayaran SPP anakanaknya, menggadaikan barangbarang ketika uang jajan dapur tidak ada, mencari pinjaman ke Bang Udin untuk membelikan sepatu baru anak-anaknya. Bahkan, tidak

sedikit tetasan air mata Ibuk mewarnai kehidupan keluarganya, ketika Bayek harus menangis tersengak-sengak karna Ibuk belum bisa membelikan sepatu baru untuknya. Dari potongan cerita tersebut bisa dibayangkan kerasnya kehidupan tak melekangkan semangat seorang ibu untuk memberikan yang lebih dan terbaik untuk anak-anaknya. Ditengah kerasnya kehidupan itu pula kita juga akan dapat mengambil pesan dan kesan, bahwa kemiskinan, bukan menjadi hambatan bagi seorang anak desa untuk bisa meraih cita-cita setinggi langit sekali pun. Buku ‘Ibuk,’ ini melibatkan emosional pembaca terhadap pengorbanan seorang ibu. Seperti kata orang-orang bijak: tidak ada ibu yang tidak sayang pada anaknya, meskipun perutnya lapar dengan melihat anak-anaknya sudah makan dan kenyang ia pun juga akan merasa kenyang pula walau pun sesuap nasi pun belum ia dapatkan. Buku ini bisa dijadikan bahan pengajaran pula kepada anak-anak remaja yang kebanyakan sekarang ini yang sibuk dengan urusannya. Barangkali setelah membaca buku ini akan bertambah kuat nilai-nilai kekeluargaan bagi para pembaca. Resensiator: Fidia Oktarisa Mahasiswa Psikologi TM 2010


21

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Seputar Mahasiswa

Mahasiswa dan Perpustakaan Hai Pembaca! Sebelumnya Ganto mengucapkan terima kasih pada Pembaca yang telah berpartisipasi dalam mengisi angket edisi sebelumnya sehingga kini kami kembali hadir untuk edisi 169 Ganto. Sebagai insan akademik mahasiswa seharusnya dekat dengan perpustakaan. Perpustakaan menyediakan banyak buku, seperti kata bijak “Buku merupakan sumber ilmu.” Banyak buku di perpustakaan yang bisa dijadikan referensi bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas kuliah. Namun kenyataannya perpustakaan sering lengang dan jarang dikunjungi oleh mahasiswanya. Apa yang mengakibatkan perpustakaan menjadi sepi dengan segala sumber ilmunya? Apa saja yang dilakukan mahasiswa jika ke perpustakaan? Berikut hasil poling Ganto tentang mahasiswa dan perpustakaan.

3. Menurut kamu komponen apa yang paling penting dalam perpustakaan? a. Koleksi Buku lengkap dan mudah didapat b. Pelayanan ramah, cepat, dan terbaik c. Tempat bersih dan nyaman (tidak berisik) d. Fasilitas memadai e. Jaringan WIFI bagus

e. 8,56 % d. 15,62 % a. 53,15 % c. 8,56 % b. 14,11 %

1. Seberapa sering kamu ke perpustakaan? a. Minimal dua kali seminggu b. Dua minggu sekali c. Sebulan sekali d. Ketika ada keperluan saja e. Tidak pernah

e. 4,81 % a. 22,67 %

e. 8,71 % a. 6,60 % d. 16,97 %

d. 64,41 %

b. 5,41 % c. 2,70 %

b. 39,94 % c. 27,78 %

4. Menurut kamu bagaimana pelayanan di perpustakaan (baik pusat maupun fakultas)? a. Sangat baik b. Baik c. Cukup d. Kurang e. Sangat kurang

e. 14,11 % e. 28,53 %

a. 53,60 %

d. 1,20 % c. 10,06 %

2. Apa tujuan utama kamu ke perpustakaan? a. Mencari buku referensi b. Online c. Membaca buku d. Sebagai tempat untuk pacaran e. Menyelesaikan tugas kuliah

b. 6,61 %

5. Selain buku referensi untuk kuliah, jenis buku apa saja yang sering kamu cari ke perpustakaan? a. Buku fiksi (novel, antologi cerpen, antologi puisi,dll) b. Buku non fiksi (artikel, jurnal ilmiah, dll) c. Majalah d. Ensiklopedia e. Membaca koran

d. 10,51 %

a. 27,03 %

c. 7,06 % b. 41,29 % Grafis: Faeza

Kolom

Sosok

Figur Publik Oleh Dilla Monisa Akhir Juli 2012 lalu, seorang penyanyi pria asal Korea Selatan terlibat dalam kecelakaan kendaraan bermotor. Sang idola, yang merupakan salah satu anggota grup penyanyi pria terkenal ini, tidak sengaja menabrak seorang pengendara sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Korban tidak mengalami luka berat, namun tetap harus dilarikan ke rumah sakit. Si idola sendiri, juga tidak mengalami luka, tapi hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat 0,1% kandungan alkohol dalam aliran darahnya. Temuan ini yang menjadi masalah. Undangundang yang belaku di negara tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa mengemudi di bawah pengaruh alkohol sangat dilarang. Tak bisa mengelak, ia pun harus menerima ‘hadiah’ berupa beberapa hari penginapan di kantor polisi dan denda dalam bentuk sejumlah uang. Layaknya kasus kecelakaan dengan temuan sejumlah kecil kandungan alkohol dalam tubuh pengendara, harusnya hukuman kasus ini berhenti setelah pemeriksaan polisi selesai dan pelaku memberi ganti rugi kepada korban serta pembayaran denda. Sayangnya hal itu tidak bisa berlaku untuk kasus yang satu ini. Status korban sebagai idola dan tontonan masyarakat (public figure) membawa dampak lain bagi dirinya. Agaknya masyarakat negara tersebut sadar betul arti dari seorang public figure. Seorang yang diidolakan dan menjadi contoh bagi masyarakat.

Sepatutnya contoh, tentunya harus bisa memberikan yang baik, dan ketika si Contoh tidak bisa lagi meberikan yang baik, penolakan dari masyarakat tidak bisa dielakkan. Hal inilah yang menimpa pria ini. Seiiring kecelakaan yang melibatkan dirinya muncul di pemberitaan, protes dari masyarakat langsung terlihat. Beberapa merek produk yang menjadikannya sebagai model langsung menghentikan kontrak dan tidak lagi melibatkannya dalam promosi produk mereka. Acara-acara TV yang melibatkannya juga batal tayang. Hal serupa bukan tidak pernah terjadi di negara kita. Pernah. Hanya saja reaksi yang timbul dalam masyarakat jauh berbeda. Masih lekat diingatan, kasus asusila yang melibatkan seorang penyanyi pria kenamaan dan dua orang artis wanita yang tak kalah terkenalnya. Hanya berjarak beberapa waktu, si artis telah muncul kembali ditayangan televisi dan media juga sibuk memberitakannya. Masyarakat seaakan lupa dengan apa yang terjadi dan kembali mengelu-elukan nama mereka. Kurang cerdaskah masyarakat kita? Ataukah masyarakat kita sudah kehilangan tokoh untuk menjadi panutan, sehingga seseorang yang telah jelas melakukan kesalahanpun tetap diidolakan. Setidaknya peristiwa tersebut bisa menjadi gambaran, bahwa bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang idola/public figur. Segala tindakan, tingkah laku, dan sikap yang ditunjukkan akan menjadi perhatian. Sudah menjadi kewajiban bagi public figure untuk dapat memberikan contoh yang baik. Masyarakat juga harus lebih pandai memilih mana yang patut diidolakan dan mana yang tidak.

Belajar Berkata No

Dwi Utari Kusuma Semenjak dinyatakan lulus menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika TM 2009, Dwi Utari Kusuma mulai menuliskan semua cita-cita dan mempertinggi minat untuk sukses dalam perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Satu persatu impian yang dituliskan Tari, panggilan akrab sehari-harinya, berhasil menjadi nyata. Berbekal Indeks Prestasi 3,4 dan keaktifan dalam berorganisasi membuatnya dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2012 dan mengalahkan mahasiswa hebat perwakilan fakultas lainnya. Sederet seleksi berhasil dilewati Tari, seperti: seleksi administrasi termasuk kegiatan ekstrakurikuler, uji kemampuan berbahasa Inggris, tes kepribadian dan juga presentasi karya ilmiah di hadapan dewan juri. Saat ditemui, gadis ramah dan bersahaja ini mengaku tidak menyangka ia akan menjadi Mawapres. Namun, ia tetap senang dan bersyukur terhadap anugrah yang ia terima, sekaligus takut. “Tantangan jadi Mawapres itu tidak mudah,” kata gadis kelahiran Bonjol, 29 Mei 1990 ini, Kamis (1/8). Selain mematuhi

semua peraturan UNP, Tari juga harus lebih memperhatikan dan menjaga lingkungan sosial, serta menjadi teladan yang baik bagi mahasiswa lainnya. Hal itu harus dilakukan di tengah kesibukannya dalam perkuliahan, organisasi dan mengajar private. Pemilik motto: Kekuatan tidak datang dari kemampuan fisikal, tetapi datang dari semangat yang tidak pernah mengalah ini tak jarang diajak menjadi pengajar oleh dosennya. Mahasiswa kelas International Standard Teacher Education (ISTE) ini pernah menjadi Sekretaris Ikatan Mahasiswa Bonjol, Sekretaris Organisasi Pemuda Peduli Bencana Alam (PPBA) Pasaman, Anggota Bidang Penalaran dan Keilmuan HIMA Fisika UNP, BSDM jaringan internal Forum Studi Islam AL-Qalam, Anggota Einstein Community jurusan Fisika, Kepala Penelitian dan Pengembangan (KALITBANG) SKK Ganto UNP, Ketua umum Creatif English BEE club, Anggota Asosiasi Persma Sumatera Barat (ASPEM). Anak dari pasangan Desmiati dan Bondan Kasbianto memiliki setumpuk prestasi gemilang di bidang akademik. Seperti halnya Juara 2 lomba Explanation Physics Concept in English tahun 2009, Fifth Best Speaker West Sumatera College English Debate (WESCED) 2011, Juara 1 Miching Idol FISIKA CUP FMIPA 2012, serta baru-baru ini menjadi Mahasiswa Berprestasi 1 UNP 2012. “Semua ini saya dapatkan dengan kerja keras serta learn to say no,” tambahnya. Sejumlah prestasi yang sangat membanggakan ini tentu tidak lepas dari orang-orang yang selalu mendukungnya. Sosok seorang ibu yang dianggap my mom is my friend sekaligus motivator terbesarnya. “Setetes keringat ibuku, selangkah aku lebih maju,” ujarnya. Meri Susanti


22

Sastra dan Budaya

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Cerpen

Lelucon Untuk Aharoni Oleh Willy Adrian (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia TM 2008)

Bagi Tuhan, Aharoni begitu istimewa. Ia diberi wajah cantik, keberuntungan yang tiada henti, dan harta-benda yang melimpah. Bahkan, ketika kini umurnya sudah mencapai 60 tahunan, keberuntungan itu tak pernah luntur seperti kecantikannya yang bagai abadi dari hari ke hari. Walaupun sudah tua, kekayaannya seperti tak pernah habis, malah kian membukit dari waktu ke waktu. Bila awalnya Aharoni hanya tinggal di rumah sewaan semasa menjadi remaja belasan tahun, kini ia telah punya rumah tingkat empat dengan pembantu yang tidak sedikit. Keistimewaan Aharoni semakin lengkap dengan kehadiran anak dan cucunya. Aharoni telah mempunyai 25 orang anak dan 45 orang cucu. Jumlah yang sangat banyak bila dibandingkan dengan wanita-wanita umum lainnya. Tapi, begitulah, Aharoni memang spesial. Ia tak mesti susah-susah untuk melahirkan satu-dua orang anak. Tanpa perlu meregang nyawa, bahkan ia bisa punya lebih banyak anak. Anak-anak yang tanpa susah payah ia temukan di jalan, lalu diselamatkan dan diberi makan di rumah mewah. Anak-anak jalanan mana yang tak mau hidup senang dan tertarik hidup di rumah mewah dan makan makanan lezat setiap hari? Bagi Aharoni, semakin banyak anak semakin bagus. Tak penting, mereka anak siapa dan berasal darimana. Dulu, waktu anak-anak Aharoni masih kecil, ia mempekerjakan belasan jongos. Masing-masing untuk mengurusi anak-anak, membersihkan rumah, membersihkan kebun dan halaman, menjaga taman, memasak, dan jongon bagian gudang. Dulu juga, tiap anak diberi satu kamar untuk 3 orang. Kini, mereka sudah punya kamar masing-masing. Dari jauh, rumah itu sudah melebihi hotel apalagi bila dibandingkan dengan rumah Pak Kades, orang nomor dua kaya di kampung itu. Belum lagi, ditambah jumlah kamar-kamar jongos yang hidup bersama Aharoni. Seharusnya Bu Aharoni saja yang menjadi kepala desa, ujar salah seorang warga sana. Bagi orang kampung, ungkapan-ungkapan seperti itu sudah menjadi semacam candaan. Apa kau mau desa kita dikutuk Tuhan, heh?” ujar seorang lainnya sambil tertawa. Orang-orang hanya kagum. Tak ada yang mau mengangkat dia menjadi kepala desa. Orang-orang enggan dengan beragam alasan. Orang-orang kampung bahkan berharap dapat menjadi pembantu Aharoni lantaran ingin merasakan kemewahan harta Aharoni. Namun, tak satupun orang di kampung itu yang menjadi jongosnya. Jongos Aharoni didatangkan entah darimana. Tapi, yang jelas, kehidupan mereka selalu mengundang kecemburuan orang-orang kampung. Namun, orang-orang kampung pun tidak dapat melakukan apa-apa. Hampir setiap bulan, mereka diberi sumbangan oleh Aharoni. Kadang makanan, pakaian atau uang. Entah itu ikhlas dari hati Aharoni atau hanya sebagai uang tutup mulut agar tidak perlu repot-repot mengurus kehidupan Aharoni yang seorang pelacur. Pelanggannya adalah orang-orang teras, pejabat-pejabat kelas atas yang lelah memikirkan kehidupan rakyat yang tak kunjung membaik. Atau, pengusahapengusaha kaya yang kesepian karena istri-istri mereka yang tidak secantik Aharoni. Sebenarnya, banyak pula lelaki di kampung itu yang ingin meniduri Aharoni, tak peduli apakah mereka masih remaja, bujang tanggung, sedang bertunangan, berisitri, maupun duda dan aki-aki. Tapi, hidup miskin tampaknya membuat tubuh Aharoni terasa sangat mahal. Akhirnya, mereka yang punya istri hanya bisa berkhayal meniduri seorang pelacur bernama Aharoni saat meniduri istri-istri mereka. Dari sekian keberuntungan yang dimiliki Aharoni, hanya dua hal saja yang membuatnya resah; soal para wanita yang menyimpan dendam dan mendoakan kematiannya di seluruh warung di kampung lantaran kecemburuan yang mendalam dan keresahannya tentang lelaki. Meskipun, sudah terbiasa dengan tubuh para lelaki, tetapi Aharoni tetap tak bisa menemukan kebahagiaan di dalamnya. Sudah lama ia tidak menginginkan tubuh saja, Ia menginginkan cinta dan kasih sayang. Tetapi, bagi pelanggannya, seorang pelacur adalah kuda tunggangan. Tak

peduli, seberapa baik larinya, seberapa lelah nafasnya, kuda itu tetap harus dicambuk. Tuhan, kenapa hidupku bagai lelucon?” Saat Aharoni sedang sendiri di kamar, Ia sering ingat Tuhan dan menertawakan betapa lucu hidupnya. Orang lain sering menyanjung tentang kesempurnaan hidup yang Ia dapat. Sementara, ia malah merasa kesepian sepanjang waktu. Ia merasa tidak merasakan apa-apa. Kosong, dan Ia butuh seseorang mengisinya. Aharoni yakin, di usianya yang sudah tak muda ini, masih banyak lelaki yang ingin menjadi suaminya. Lagipula, wajahnya tak kalah muda dibanding wanitawanita beranak dua. Ia cukup percaya diri untuk mencari seorang suami. Tuhan, aku ingin seorang suami. Meskipun dia seorang setan bertanduk tiga, aku bersumpah akan menerimanya. Aku tak mau pelanggan lagi. Aku bosan. Katanya lagi. Entah apa yang ada di pikiran Aharoni, Ia bahkan menyuruh jongosnya untuk menyebarkan informasi bahwa ia mencari seorang suami. Siapapun yang ingin menjadi suami, silahkan datang ke rumahnya. Tak pelak, hampir semua lelaki berkumpul di halaman rumah Aharoni hari itu. Tua-muda dan kakek-kakek yang sudah kehabisan gigi. Para duda yang tak punya kerja. Para suami rela menceraikan istriistri mereka demi mencoba peruntungan menjadi suami Aharoni. Tetapi, adapula yang hanya ingin merasakan sensasi berada di rumah Aharoni untuk beberapa waktu. Informasi tersebar sampai jauh, sehingga lelaki dari kampung sebelah juga berdatangan. Tak ketinggalan, para jongos Aharoni ingin pula mencoba peruntungan. **** Semua anak Aharoni mulai bingung. Mereka mencoba mencari kejelasan. Karena tak sekalipun Aharoni menyampaikan keinginannya kepada mereka. Sebagai anak paling tua, Surti mewakili adik-adiknya untuk menemui Sang Ibu. “Ibu mau cari suami?” tanya Surti setelah berbasa-basi panjang lebar. Aharoni hanya menjawab dengan senyum manis. Si anak sulungpun keluar kamar. Diluar, keluarga yang lain menunggu jawaban dari nyonya besar di rumah itu. Ini gawat, ibu benar-benar mau mencari suami. Ujar si anak sulung. Gawat? tanya si anak bungsu. Kalau ibu menikah, bisa-bisa kekayaan ibu bakalan turun ke suami barunya. Kita sebagai anak dan cucu tidak akan mendapatkan apaapa.” Anak kelima Aharoni menimpali. Benar. Suami si anak sulung memantapkan jawaban adik iparnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan? tanya anak lelaki Aharoni yang ke lima belas. Kita harus menggagalkan sayembara ini. Kita harus menyingkirkan orang-orang yang mungkin akan dipilih Ibu. Usul anak kedua Aharoni. “Setuju! Ujar mereka serempak. **** Sayembara telah berlangsung tiga hari tiga malam, namun tak seorangpun yang sesuai dengan kriteria Aharoni. Setiap lelaki yang masuk ke kamarnya hanyalah lelaki yang ia pikir tak akan sepadan dengannya. Aki-aki keriput. Laki-laki muda kerempeng, kumuh dan tak terawat. Sangat jauh dari keinginan Aharoni. “Dasar orang kampung!” katanya. “Tak bisakah mereka membersihkan diri sebelum datang ke sini? Ia bergumam geram di dalam hati. Aharoni telah lupa dengan janjinya untuk lebih mengutamakan perasaan daripada fisik. Walau bagaimanapun, Aharoni mengimpikan lelaki yang gagah bak ksatria. Dalam benaknya setiap malam hingga kini, Aharoni selalu mengangankan

Grafis: Faeza

seorang pangeran berkuda datang mengetuk pintu kamarnya dan menggendongnya ke istana. Itu yang pantas menurut Aharoni. Sebenarnya, ada beberapa laki-laki berparas tampan dan berbadan tegap mencoba mendatangi rumah Aharoni. Tetapi, setiap sampai di gerbang, mereka akan dihadang oleh anak-cucu Aharoni. Beberapa dari mereka bisa diusir dengan cara mudah. Sebagiannya perlu digunakan cara yang lebih kasar. Mereka dibunuh! Semuanya tanpa sepengetahuan Aharoni. Aharoni mulai putus asa. Ia merasa tidak cantik lagi sehingga tak seorang pun lelaki yang ia inginkan datang meminangnya. Tapi, bukan Aharoni namanya bila tak diberkahi Tuhan. Pada hari keempat, seorang lelaki yang luar biasa tampan datang ke rumah Aharoni. Sepertinya, Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk Aharoni. Anak-cucunya yang telah berdiri di pintu gerbang menjadi terpesona dan tak sanggup melakukan apa-apa. Lelaki itu lewat dengan mudah. Lelaki itu masuk ke kamar Aharoni. Berselang sepuluh menit, Aharoni keluar menggandeng lelaki itu dan berkata kepada anak-cucunya. Dia Roman. Bapak dan kakek kalian.” Wajah Aharoni berseri-seri. Sungguh, Aharoni menjadi kian cantik saat. Apalagi, ada lelaki gagah bak malaikat di sampingnya. Semua keturunan Aharoni hanya terdiam. **** Aharoni berbahagia dengan suami barunya, dan melepas gelar pelacurnya. Namun, anak-anak Aharoni kembali gelisah. Jika kita tidak bisa mendapatkan warisan dari ibu, setidaknya kita bisa mendapatkan sebagian warisan dari bapak tiri. Kita harus mendekati bapak tiri! Ujar si anak sulung kepada suaminya. Tapi, kalau kita hanya mendapat sebagian, itu terlalu sedikit. Kita tidak bisa berbagi dengan yang lain. jawab suaminya. Tidak perlu berbagi. Kita dekati bapak angkat agar warisan hanya diwariskan untuk kita. Tapi jangan diketahui oleh yang lain. usul si anak sulung.

Suaminya hanya menjawab dengan senyuman culas. Namun sayang, dari sekian banyak anak angkat Aharoni, tak ada satupun yang tidak menginginkan harta Aharoni. Mereka pun sudah merencanakan banyak hal yang ujung-ujungnya berpulang pada bagaimana cara mendapatkan harta warisan yang paling banyak dari Aharoni. Roman mulai didekati, tiap ada kesempatan, tetapi tiap waktu itu pula terjadi pertentangan antar anak. Mereka saling serang mata, perang mulut yang tak jarang berlanjut pada perkelahian fisik. Lama-lama, perkara memperebutkan harta warisan makin lengang. Anak Aharoni hilang satu-satu. Aharoni tak sempat lagi mempedulikan anak-anaknya. Ia sudah bahagia dengan Roman dan tidak acuh lagi dengan dunia. Aharoni bahkan memilih tinggal jauh bersama Aharoni, meninggalkan segala hingar bingar warisan yang terjadi di belakangnya. Setiap ada anaknya yang baru kembali dari rumah baru Aharoni, esoknya tidak akan kelihatan lagi. Hingga, makin lama, anak-anak Aharoni makin sedikit dan makin garang. Rumah itu pengap dan panas. Jongos-jongos memilih pulang kampung, takut terkena imbasnya. Sampai suatu pagi di hari ke lima belas perkawinannya, Aharoni terbangun dari tidurnya lantaran melihat kilasan aneh di sebelahnya. Ia menemukan sesosok pria berbadan hitam legam, bermata merah, berambut botak, telanjang dan bertanduk tiga! Siapa kau?” Aku suamimu.” Kau bukan suamiku. Suamiku tak sejelek kau.” Apa kau lupa dengan sumpahmu? Soal setan bertanduk tiga?” Aharoni cemas bukan kepalang. Ia berpikir keras, bagaimana bila lelaki yang disebelahnya itu memang suaminya. Bagaimana bila doanya kepada Tuhan itu dikabulkan dengan tepat. Ia turun dari ranjang, lari dari kamar dan berencana pulang ke pangkuan anak-anaknya. Ah, Tuhan. Lelucon-Mu sungguh tidak lucu.”


Sastra dan Budaya

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus-September 2012

Sajak

23

Kritik Sajak

Ambang Angan

Oleh: Zulfadhli, S.S, M.A

liang-liang kehidupan tak lagi berjalan di bibir rencana pilar aurora dalam hening dingin membuatku pangling kemana mata kaki yang kaku ku arahkan? ini masih pagi, tapi geliat lesu membidik badan tangan-tangan gontai masih saja merujukku aku tak berpuisi pada embun, yang membuat hari selalu manis tapi untuk rumbai-rumbai waktu, yang menghantuiku untuk selalu bertahan di sini untuk rumah baru yang berusaha kumasuki ajari aku bertahan, di sini

Berkontemplasi melalui Puisi Dalam teori strata norma puisi, Roman Ingarden menyebutkan sebuah puisi terdiri atas beberapa lapis (strata). Salah satu lapisnya adalah lapis metafisis. Lapis metafisis merupakan lapis terakhir dalam urutan tersebut. Lapis metafisis memberi arti bahwa di dalam sebuah puisi terdapat peristiwa yang sublim, tragis, dan mengerikan sehingga membuat pembaca berkontemplasi merenung tentang ‘sesuatu’ yang tersaji dalam puisi tersebut. Sebuah puisi adalah sebuah ‘dunia’ ciptaan pengarang yang menyuguhkan pesan terdalam yang ingin dikomunikasikan kepada pembacanya. ‘Dunia’ tentang kematian, harapan, cita-cita, keputusasaan, kegelisahan, dan kesengsaraan yang pada akhirnya memberikan kontemplasi kepada pembacanya. Puisi-puisi yang dimuat Ganto edisi kali ini mengajak pembaca berkontemplasi melalui larik-larik puisi yang ditulis. Puisi “Ambang Angan” yang ditulis Novi Yenti mengisyaratkan sebuah angan dan harapan yang kadang kala tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Si aku berada pada ‘pintu’ yang akan mengantarkannya pada sebuah tujuan. Tetapi //liang-liang kehidupan tak lagi berjalan di bibir rencana//. Larik ini memberikan gambaran bahwa segala rencana yang telah ditetapkan manusia kadang kala berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya. Ada semacam kegalauan yang dirasakan oleh si aku ketika hal itu terjadi. Hal ini tampak pada larik //kemana mata kaki yang kaku kuarahkan?// Si aku merasakan bahwa kesempatan untuk melakangkah dan menatap masa depan masih terbuka luas karena //ini masih pagi// tetapi, kekuatan untuk menggapainya terasa tidak dimiliki. //tapi geliat lesu membidik badan// tangantangan gontai masih saja meru-

jukku//. Si aku terus berusaha untuk masuk ke //rumah baru/ / kehidupan baru, pintu gerbang baru, pengalaman baru, masa depan yang baru sehingga si aku terus berupaya untuk mampu bertahan //di sini//. Puisi “Entah” yang ditulis Wahida Nia Elfiza mengajak pembaca untuk kembali merenung tentang makna kehidupan. Pertanyaan yang dimunculkan adalah apakah kehadiran si aku telah memberi arti dan makna terhadap kehidupan. Waktu demi waktu yang terus berputar membuat si aku terus merenung tentang apa yang telah ia berikan untuk kehidupan bersama, lingkungan sosial, orang lain. //apakah aku bermakna?// pertanyaan ini selalu muncul dalam diri si aku yang membuat si aku terus berjuang agar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. // kutelaah detik detik//kutelusuri kembali jejak kehidupan//. Namun, tidak ada yang peduli akan arti hadirnya si aku. Hal ini tampak pada larik //seakan menepuk dada//sakit kurasa// tubuh anggun berputar membelakangi//tampak mencekik menimbang beban//tak ada yang peduli//. Pentingnya kehadiran orang lain dalam kehidupan kita, barangkali telah menjadi slogan yang sering dimunculkan dalam kajian-kajian sosial-budaya masyarakat, //sebenarnya tahu tapi tidak mengerti// Apakah memang seperti itu? ‘Entah’. Puisi “Sebuah Cerita” yang ditulis Gumala R.H. menceritakan sebuah kenangan masa lalu yang hangat, penuh kelembutan kasih sayang. Namun kehangatan itu telah hilang—gugur di tengah musim. Sebuah renungan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kebahagiaan, kesukacitaan, ternyata tidak selama bersama kita, mungkin suatu saat nanti berubah terbalik dengan apa yang kita rasakan saat ini.

pembicaraan tentunya informasi yang disampaikan tidak akan tertangkap dengan baik dan hasil yang muncul setelah komunikasi tersebut juga tidak akan maksimal. Bobroknya negara ini salah satunya disebabkan kebiasaan berbicara yang buruk. Kebanyakan calon wakil rakyat sangat senang berbicara dan mempromosikan kehebatan dan janji-janji yang menggiurkan. Pejabat tersebut kadang lupa, apakah sebagian besar rakyat sudah bosan dengan gaya berbicara yang seperti itu. Pun, pejabat tersebut lupa, janji-janji yang diungkapkan dalam pembicaraan juga akan dipertanggungjawabkan baik di dunia kepada manusia dan di akhirat kepada Tuhan. Akibatnya, kebanyakan rakyat sudah tidak percaya lagi dengan apa yang diucapkan oleh pejabat. Muncul-

lah semacam pesimisme dan skeptisme yang menyebabkan buruknya komunikasi yang akan terjadi berikutnya karena sudah tidak ada rasa percaya kepada si pembicara. Ada sebuah pepatah mengatakan diam itu emas. Tampaknya, pepatah ini mesti dipikirkan lagi oleh para pejabat. Untuk menarik simpati rakyat tidak hanya dengan bicara besar. Diam pun asal ada tindakan yang positif, maka rakyat akan mau menghargai dan mendengar para pejabat. Indonesia memang perlu membenahi lagi karakter bangsa ini, karena negara kita tidak butuh Beo untuk menjadi besar, tapi butuh Burung Hantu yang bijaksana untuk mndengarkan hal yang memang perlu didengar.

Novi Yenti Mahasiswa Sastra Indonesia TM 2011

Sebuah Cerita Satu patah kata Tak sanggup terujar Kehangatan Lembut kasih sayang Apakah akan selalu sehangat ini? Tiada yang tahu Bagaimana ini? Beberapa daun telah hilang Gugur di tengah musim Dedaunan berduka Mengenang sebuah cerita Gumala Resti Halin Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris TM 2011

Entah Merenung suasana terdiam Selidik penuh arti Kutelaah detik demi detik Kutelusuri kembali jejak kehidupan Apakah aku bermakna? Seakan menepuk dada Sakit kurasa Tubuh anggun berputar membelakangi Tawa mencekik menimbang beban Tak ada yang peduli Sebenarnya tahu tapi tidak mengerti Wahida Nia Elfiza Mahasiswa Pendidikan Kimia TM 2011

Catatan Budaya

Berbicara Oleh Mardho Tilla (Mahasiswa Kimia TM 2010)

Berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan, pikiran, dan perasaan. Artinya, dalam dunia komunikasi lebih dari lima puluh persen informasi disampaikan dengan berbicara. Berbicara adalah kegiatan yang disenangi banyak orang. Walaupun ada sebagian orang yang tidak bisa bercakap-cakap seperti manusia normal, namun setiap orang membutuhkan komunikasi untuk menyampaikan perasaannya. Bukan hal yang buruk sebenarnya ketika seseorang mampu untuk ber-

bicara di depan umum untuk menyampaikan keinginan dan pikirannya, justru ini bisa menjadi kelebihan tersendiri. Dalam obrolan sehari-hari antar teman, relasi kerja atau orang lain di lingkungan sekitar, bila diperhatikan banyak orang yang lebih suka berbicara dibandingkan mendengarkan. Orang-orang ini terkenal cerewet, nyinyir atau bisa juga dikatakan banyak bicara. Sebenarnya, tak salah bila menjadi orang yang senang berbicara karena tak banyak orang yang mampu bicara dengan baik. Kemampuan berbicara yang baik bisa mempengaruhi orang lain, dan apabila dimanfaatkan dengan baik akan dapat mengajak orang lain kepada kebaikan. Namun, ada kalanya seseorang banyak bicara tentang hal-hal yang

tidak perlu. Kadang, seseorang aktif berbicara saat memuji diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain. Kebiasaan seperti ini cenderung dimiliki manusia karena sifat manusia yang ingin kelihatan ‘lebih’ dibanding orang lain. Biasanya, orang yang senang membicarakan kebaikan diri sendiri dan keburukan orang lain sering lupa mengontrol diri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Antusiasme dan semangatnya untuk membesar-besarkan diri sendiri menyebabkan ia lupa bahwa orang yang mendengarkan apakah sudah bosan atau tidak. Mereka terkesan tidak peduli. Padahal, kepedulian untuk memperhatikan lawan bicara sebenarnya salah satu syarat untuk membangun komunikasi yang baik. Apabila pendengar tidak fokus lagi dalam


24

Edisi No. 169/Tahun XXIII/ Agustus -September 2012


SKK Ganto Edisi 169