Page 1

PAMERAN TUNGGAL M HARYO HUTOMO Onthel Cafe, Kelapa Gading 10-24 Mei 2013


Jumat, 10-24 Mei 2013 Onthel Cafe Kelapa Gading Jl. Kelapa Gading Nias Raya Lb 20 no. 5, Kelapa Gading, Jakarta Indonesia Kurator Angga Wij aya Inisiator Topan Darmawan & Bopik Coret Fotografer Galang, Sarah Fidyanti, Duchhan Hartoko Soewondo Design Moch Hasrul & Amy Zahrawan

www.haryohutomo.com

PENGANTAR KURATORIAL

SIGN SICK Pameran Tunggal M Haryo Hutomo

SIGN|SICK Pengantar Pameran Tunggal M. Haryo Hutomo Sebelum kita masuk dalam pembahasan karya-karya M. Haryo Hutomo, sebaiknya kita perlu tahu lebih jauh siapakah Moh. Haryo Hutomo? Bagamanaikah kepribadiannya? Dari mengetahui kepribadian tersebut, terceminlah bagaimana pemikirannya terhadap konsep dan proses kerjanya dalam berkarya. Haryo adalah seorang yang kritis terhadap fenomena sosial di sekitarnya, namun Ia tidak mempunyai sikap atas itu. Sebagai seorang pemikir, Ia tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam benaknya, sehingga dalam sikap Ia memilih untuk netral dan apatis. Keadaan tersebut yang membuat Haryo terjebak dalam ambiguitas diri, dan kesenian merupakan pola politis yang Ia terapkan secara malu-malu, karena Ia merasa tidak bisa apa-apa dalam pemberontakan sesungguhnya. Satu-satunya yang menjadi jalan keluar bagi Haryo melalui proses berkarya, yang menurutnya adalah sebuah kesenangan. Kecenderungan proses berkaryanya yaitu melukis, pada awalnya Ia mencoba menekuni melukis dengan object yang realis; visual manusia. Namun Ia tidak mampu dengan cara seperti itu, maka dapat dikatakan Ia memerlukan sebuah upaya bagaimana kesenian menjadi bentuk katarsis bagi dirinya. Proses berkarya Haryo terutama dalam melukis tidak banyak memperhitungkan sesuatu hal seperti dalam mengolah medium dan visual, yang lebih penting adalah bagaimana pemikirannya dapat tersalurkan. Haryo tidak terlalu mementingkan bentuk, bidang dan komposisi, namun hal itu akan membentuk dengan sendirinya selama proses berkarya, begitu pula dengan pemakaian medium, dengan tingkat eksplorasi yang nekat terkadang tidak memperlakukan medium dengan sesuai, namun Ia mempunyai jawaban tersendiri akan caranya itu. Mengingat Dada Dalam prinsip berkarya Haryo mengingatkan pada gerakan Dadaisme (1916) di Eropa, tapi bukan kepada kecenderungan hasil karya-karya atau dalam perlawanan yang dilakukan oleh gerakan itu, namun lebih terhadap semangat yang sama darinya. Herbert Read menyebut Dada sebagai Spiritual Chaos, yang dalam proses penciptaan karya tidak mempunyai kharakteristik formal, karena sifat manifestasi seninya yang ambiguitas. Dengan demikian dapat dikatakan enegi kreatif kaum dada sangat ambiva-lent, mereka eksis dengan ideal jelas sekaligus kabur, sikap mendua antara formalitas dan informalitas, antara presisi dan inprecician (Bangun, 2011:89-90). Ambiguitas diri yang dialami Haryo membuktikan bahwa Ia sulit memodifikasi apa yang harus disajikan dalam karya-karyanya. Reaksi terhadap fenomena sosial dihayati dalam benaknya sebagai sesuatu hal yang simultan, kacau, gelisah, acuh tak acuh, hingar bingar, warna-warni, suara pekikan, jeritan, khaos,


absurd dan lain sebagainya. Dalam kondisi pemikiran berat tersebut telah menghabiskan energinya dalam proses pengendapan, sehingga cara ungkap Haryo menjadi begitu sederhana, dapat dikatakan simbolisasi pesan pada karyanya terombang-ambing, tidak sinkron atas apa yang dikehendakinya dalam gagasan. Namun dengan sangat personal seperti itu Ia merumus-

Namun Haryo bukanlah seorang penderita Skit zofrenia dalam artian sebuah penyakit, melainkan di dalam karya-karya lukisnya tampak akan gejala sakit itu. Bahasa skit zofrenia post-modern adalah bahasa yang dihasilkan dari persimpangsiuran penanda, gaya dan ungkapan dalam satu karya, yang menghasilkan makna-makna kontradiktif, ambigu, terpecah atau samar-samar (Ibid:171).

Muatan Skit zofrenia Skit zofrenia adalah sebuah istilah psikoanalisis, yang pada awalnya digunakan untuk menjelaskan fenomena psikis dalam diri manusia. Kini istilah ini digunakan secara metaforik untuk menjelaskan fenomena yang lebih luas, termasuk diantaranya fenomena bahasa (Lacan), fenomena sosial-ekonomi, sosial-politik (Deleuze & Guattari), dan fenomena estetik (Jameson) (Piliang, 1999:167).

Mencapai Jouissance ST. Sunardi dalam pembahasannya di diskusi seni, Serambi Salihara, 05 Februari 2013, mengenai Seni sebagai Peristiwa harus dipahami sebagai kritik. ST. Sunardi menggunakan perspektif Lacan, yang menjelaskan proses sublimasi dalam perkembangan subjek, karena dari sublimasi itu menciptakan penanda-penanda baru dari ketiadaan. Seni sebagai sublimasi dimaksudkan untuk menghadapi subjek yang terus-menerus terombang-ambing antara keinginan manusia untuk senantiasa mencapai Jouissance (orgasme) dan keniscayaan manusia yang terkukung bahasa.

kan konsep artistiknya sendiri.

Pada pengertian masa kini karya-karya Haryo bermuatan skit zofrenia, selain semangat Dada sebagai sebuah sejarah masa lalu. Mengenai ambiguitas Haryo yang telah dij elaskan di atas, sama halnya dengan kesimpangsiuran dalam penggunaan bahasa yang terjadi dalam pengertian Skit zofrenia; kekacauan pertandaan. Pemakaian simbol yang tidak sinkron itu memperlihatkan keterputusan mulai dari gagasan, proses sampai pada hasil karyanya, yang membuat elemen-elemen tanda di dalam setiap karya-karya tidak saling berkaitan untuk menjadikannya suatu pesan yang jelas, sehingga makna karya tersebut sulit untuk dipahami secara umum. Dalam skit zofrenia semua tanda dapat digunakan untuk menyatukan satu konsep, dengan demikian seorang Skit zofenik hidup dalam dunia simbol yang berlapis-lapis (bukan absolout). Penggunaan penanda dalam bahasa skit zofrenik yang tanpa batas itu terungkap dalam satu konsep seperti contoh di bawah ini: Saya akan pergi ke pasar besok pasir pusar kasar Seorang skit zofrenik bisa saja menggunakan kata yang berbeda - pasir, pusar, kasar untuk menyatukan satu konsep yang sama (Ibid:169). Dan saat ini, dimana Haryo hidup dengan segala fenomena disekitarnya yang mengacaukan pemikiran akan segala keterbukaan jenis penanda dan makna. Ia hidup di dalam kegalauan hutan-rimba tanda-tanda dan makna-makna, sehingga Ia kehilangan arah dari kondisi itu. Maka hasil karya lukis dengan visual dekoratif naif yang dihadirkannya terjadi karena Ia terbagi di dunia dalam dua klasifikasi yang berhubungan, makna ekspresi yang Ia lakukan seperti fenomena yang dialami anak-anak, yang diungkapan secara teknis menghias bebas, liar, kekanak-kanakan, tak terkekang masalah proporsi figur, dimensi, dan komposisi.

Karya-karya Haryo yang nampak dengan referensi seperti karya Jean Michel Basquiat atau Bob Sick tanpa sengaja terjadi karena bentukan dari penada utama yang sudah ada. Serta keterjebakan yang menyulitkannya mencapai Jouissance ditandai karena Haryo belum dapat merepresi tanda dan makna dalam proses sublimasi tersebut. Tapi seberapa pentingkah Haryo harus mencapai Jouissance? Karena dari itu Ia dapat mengetahui siapakah dirinya. Namun terdapat keraguan jika Jouissance itu dicapai sebagai sebuah keharusan, mungkin saja dalam prosesnya bisa tidak menemukan kebebasan dari segala penjara yang sesungguhnya kita ciptakan sendiri, apalagi kesenian sudah menjadi suatu hal yang rutinitas dan monoton. Karya seni harus diciptakan terus menerus untuk memenuhi “Lingkaran Permintaan Jahanam� yang diistilahkan Lacan dalam pengantar diskusi ST. Sunardi tersebut. Jadi sudah seharusnya apa yang Haryo lakukan kembali kepada karya seni itu sendiri, sehingga keterombang-ambingan yang dialami dalam karya-karyanya itu tidak hanya selesai sebagai symptom (gejala orang sakit).

Angga Wij aya, Mei 2013.


“ bunga pot ” acrylic on board 89x34cm

“ all star ” acrylic on canvas, 60x60cm


“ ditendang ” acrylic on board 120x33cm

“fruu#1 “ acrylic on canvas 65x55cm


“ emansipasi wanita “ acrylic on canvas 100x70cm


“love “ Acrylic on canvas 55x65cm

“ fruu#2 “ acrylic on canvas 65x55cm


“ muka bunga “ acrylic on board 89x34cm

“ perempuan penggoda “ Acrylic on canvas 65x55cm


“ sabda kalam (saya) “ Acrylic on canvas 55x65cm

“love “ Acrylic on canvas 55x65cm


“love “ Acrylic on canvas 55x65cm “ muka bunga “ acrylic on board 89x34cm


“ ular kepala dua “ acrylic on canvas 175x140cm “ u rudit im rudit, u work im work “ acrylic on canvas 100x100cm


“ untitled “ acrylic on board 34x89cm


Nama Alamat Lahir No. TLP E-mail

o y r

M

Ha

o m to u H

: M. Haryo Hutomo : Jl. Bambu kuning V, cengkareng, Jakarta barat : Jakarta, 7 November 1990 : 089650691766 : haryohutomo7@gmail.com mohamadharyohutomo@yahoo.com

Haryo Hutomo, lahir di Jakarta, saat ini sedang sekolah di Universitas Negeri Jakarta jurusan pendidikan seni rupa. Selain berkesenirupaan, mengajar juga salah satu aktifitas berkarya yang digeluti…: P

Pengalaman Berkesenian •

Solo Exhibition, “sign [sick]”, Ontel Café, Jakarta, 2013

• Group Exhibition, “DJAMOE TJAP IKIP“, UPI Bandung, 2010 • Group Exhibition, “Art Up”, Museum Bank Mandiri, Jakarta, 2010 • Group Exhibition, “Seni dan Pendidikan”, Aula Daksinapati UNJ, 2010 • Performance art, “ hospital without wall“, TIM, Jakarta, 2011 • Group Exhibition, “RAST”, Plaza Seni Rupa ISI, Jogjakarta, 2011 • Group Exhibition, “good bye” , Circuit idea, Malang, 2012 • Group Exhibition, “Ps. Senen VS Lempuyangan“, Tujuh Bintang Art Space, Jogjakarta, 2012 • Performance art, “Jakarta 32”, Galeri Nasional, Jakarta, 2012 • Group Exhibition, “kartu pos nusantara“, Kersan Art Studio, Jogjakarta, 2012 • Group Exhibition, “Animal Instinct”, Galeri Cipta III TIM, Jakarta, 2013 • Group Exhibition, “a s soon as possible”, Galeri Cipta II TIM, Jakarta, 2013 • Group Exhibition, “festival seni rupa Indonesia”, Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, 2013


DIA BUKAN ORANG BIASA Ini bukan permasalahan kita mengenal atau kenal tentang dia. Bila kita bicara sebuah perdebatan, bila kita bicara masalah cara, bila kita bicara masalah mengenal atau tidak mengenal. Tapi ini permasalahan siapa dia. Sosok manusia yang saya kenal sekitar hampir 5 tahun yang lalu, siapa dia? Ya dialah M Haryo Hutomo, seorang yang mempunyai tinggi sekitar 168 cm bila saya tidak salah kira, apa yang dia pikirkan berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Pada dasarnya dia sama dengan teman-teman saya pada umumnya, mempunyai permasalahan yang sama dengan saya dan lain sebagai. Lalu apa yang berbeda dengan dia dong ya? Seorang manusia dengan banyak kelebihan dan juga banyak kekurangan. Ketika anda baru kenal dengan M Haryo Hutomo mungkin anda akan mendapatkan kesan yang sama ketika anda bertemu dengan orang lain. Bila bernyanyi dan bila sudah dia rasa menjadi biasa, dia mengubah nadanya atau mengubah huruf vokalnya, bila menggambar dan menurut dia sudah sampai titik biasa, dia menggambar yang tidak biasa. Bila dia bermain sepak bola dan bertemu dengan titik biasa, dia langsung bermain dengan tidak biasa, bila dia diam dan sudah bertemu dengan titik biasa dia mengeluarkan tingkah yang luar biasa. Kebanyakan teman-teman menyebut dirinya “sakit� tetapi saya bertanya sakit apa dia. Dan saya berasumsi dia sakit yang tidak biasa. Pernah ketika sedang santai di sebuah taman dan dia tercetus secara spontan untuk melakukan sesuatu di taman tersebut. Pernah ketika sedang berdiam di sebuah taman, dengan spontan dia mengusulkan hal-hal lucu. Pernah ketika di boncengi dengan vespanya yang sudah tiada dia berbicara masalah serius dan perbincangan tersebut jarang saya dengar dari dia. Dan itulah dia, M Haryo Hutomo. Banyak hal yang tentunya saya tidak ceritakan disini karena berbagai permasalahan yang tidak biasa. Sekian dan shalom. Oleh Moch Hasrul


KATALOG SIGN SICK  

PAMERAN TUNGGAL M HARYO HUTOMO

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you