mempersembahkan:
5 - 18 Maret 2015 Galeri Serrum | Jl. Gurame No. 3, Rawamangun, Jakarta Timur - 13320
Seniman: Gilang Nuari Kara Andarini Rega Ayundya Rishma Riyasa 2
Kurator: Maria Josephina Bengan Pembukaan Pameran: 5 Maret 2015. 19:00 WIB Pameran Berlangsung: 6-18 Maret 2015. Buka setiap hari | 13:00-20:00 WIB Bincang Seniman: 6 Maret 2015. 16:00 WIB Penanggap: Yuka Dian Narendra Kunjungan Pelajar: 17 Maret 2015.
Galeri Serrum Jl. Gurame No. 3 Rawamangun Jakarta Timur 13320
Desain dan tata letak: Angga Cipta Foto dan dokumentasi: Moch. Hasrul & Panji “Jin� Produksi Artists Merchandise: Anita Bonit (Share. Inc) Administrasi dan Keuangan: Deti Hapsari, Wulan Anggraeni Percetakan: Roman (SUGAR advertising&printing) Display: Amak dan Ramon Transportasi: Holik Publikasi: Dita Kurnia
Pengantar Galeri Setelah satu tahun Galeri Serrum berdiri pada akhir tahun 2013, program yang biasa dihelat yaitu pameran berbasis projek dan penelitian. Pada tahun 2015 ini Galeri Serrum mencoba memakai pendekatan baru dalam menggelar pameran, yaitu dengan menggundang seniman dari karakteristik karyanya serta mengundang kurator untuk membingkai sebuah pameran. Fever Pitch mengawali pameran pertama Galeri Serrum untuk tahun 2015 ini. Pameran ini menampilkan karya dari seniman muda yang mempunyai karakteristik tersendiri dan potensi menarik dalam medium gambar (drawing). Mereka adalah Gilang Nuari, Kara Andarini, Rega Ayundya, dan Rishma Riyasa. Fever Pitch merupakan judul yang dipilih oleh Maria Josephina Bengan —selaku kurator pameran— sebagai cara membaca intensitas seniman dalam proses berkarya dengan medium gambar (drawing) tersebut. Selain pameran, akan ada program publik berupa bincang seniman. Kurator dan Seniman akan mendiskusikan gambar (drawing) dalam perspektif budaya populer bersama Yuka Dian Narendra sebagai Penanggap. Galeri Serrum bersama Share. Inc (artshop Serrum) memproduksi artists merchandise edisi spesial dari karya seniman muda dalam pameran ini. Sebagai galeri yang mempunyai visi edukasi, Galeri Serrum juga mengundang siswa sekolah untuk berkunjung dalam pameran dengan nama program Kunjungan Pelajar. Dengan terselenggaranya pameran ini, Galeri Serrum berupaya untuk dapat mendukung potensi dan gagasan dari generasi muda dengan membuka ruang eksplorasi bagi kurator dan seniman muda. Keep Young and Restless.
Angga Wijaya Program Manager Galeri Serrum
3
Introduksi Fever pitch adalah ungkapan dalam Bahasa Inggris yang mendeskripsikan keadaan atau perasaan gembira yang biasanya diikuti oleh kegiatan yang intens. Ungkapan ini bila diurai terdiri dari fever atau ‘demam‘, yang memiliki fase yang fluktuatif, serta istilah pitch yang sebagai nomina adalah ‘pola titinada‘, juga ‘melempar (bola)‘ sebagai verba. Perpaduan frase ini tentunya melahirkan makna baru yang konotatif. Idiom ini bisa menjadi cara membaca proses artistik keempat seniman muda yang berpameran bersama kali ini.
4
Gambar adalah benang merah yang menjalin laku artistik keempatnya. Menggores pena, tinta, atau pensil pada bidang gambar adalah proses yang menyatu dengan mengolah gagasan. Kefasihan mengenai gambar mereka dapatkan melalui eksplorasi, sementara realisasi ide mereka melalui gambar adalah sebuah kesadaran, bahwa gambar adalah eksekusi yang merepresentasikan ide mereka, ketimbang menggunakan media lain seperti lukisan, video, fotografi, atau performans. Seniman kerap membuat karya gambar karena gambar menawarkan alternatif untuk memaknai sebuah pengalaman, pendeknya, gambar mengakomodasi seniman untuk menyatakan atau menyampaikan ide. Many artists have spoken of seeing things differently while drawing and have often mentioned that drawing puts them into a somewhat altered state of awareness. In that different subjective state, artists speak of feeling transported, “at one with the work,” able to grasp relationships that they ordinarily cannot grasp. Awareness of the passage of time fades away and words recede from consciousness. Artists say that they feel alert and aware yet are relaxed and free of anxiety, experiencing a pleasurable, almost mystical activation of the mind.1 Banyak seniman menggunakan gambar sebagai rancangan, studi, embrio, coratcoret yang menuju muara. Misal Christo (lahir 1935) sewaktu mengajukan proposal untuk membungkus Whitney Museum, New York (1968). Ia mengombinasikan fotografi, kolase, dan gambar untuk menghadirkan visualisasi bila Whitney Museum terbungkus kain. Gambar tersebut ditransformasi ke
litografi dan kemudian cetak digital. Pun gambar bukan sebagai garapan artistik seniman saja, ilustrator, desainer, arsitek, ilmuwan, dan teknisi juga menggunakannya untuk kepentingan praktis. C. Betti dan T. Sale 2 menyatakan bahwa menggambar adalah proses mengobservasi, seniman dapat membuat relasi atau diferensiasi dan pada akhirnya membuat citraan. Mereka kemudian membagi terminologi gambar dalam dua kategori: subjective drawing dan objective drawing. Subjective drawing menekankan emosi seniman serta mengangkat bahkan mempermainkan impresi audiens karena mengembangkan tingkat kesadaran akan visual, yakni mengetahui apa yang dirasakan mengenai suatu hal. Sementara itu, pada objective drawing penyampaian informasi lebih penting daripada aksentuasi emosi. Gambar memiliki hubungan yang dekat dengan persepsi. Citraan yang dibuat oleh seniman dapat dengan lugas atau subtil menstimulasi persepsi audiens. Persepsi di sini berlaku sebagai penalaran melalui pandangan (atau sentuhan) intuitif yang dibentuk melalui subjektivitas dan fakta-fakta aktual. Persepsi tersebut dibentuk oleh unsur-unsur formal yang ada dalam gambar serta medium aplikasi. Praktik Gambar dalam Sejarah Lantas, apakah gambar sebagai sebuah praktik? Hal ini tergantung pada pendekatan yang digunakan, apakah tematis, historis, atau filosofis. Secara tematis, fokus dapat diletakkan pada pokok pikiran, apakah mengenai potret, tubuh, atau persoalan sehari-hari, yang dapat dijajaki sebagai ekspresi atas ruang dan waktu. Secara historis, dapat diklasifikasikan berdasarkan langgam yang digunakan dalam gambar tersebut, misal era Abad Pertengahan, Renaisans, Modern, dst. Secara filosofis, kita dapat berargumen bahwa tanda apapun yang ditorehkan pada sebuah permukaan, sejak era prasejarah pun, telah memiliki peran dalam kehidupan manusia sebagai sebuah eksistensi dan menjadi alat komunikasi. Gambar turut berkembang seiring perkembangan masyarakat. Gambar dapat merujuk pada isu budaya yang berkembang, kanal ekspresi bagi nilai dan asumsi, dan juga sebagai bahasa untuk menyampaikan sesuatu yang konseptual dan kompleks. 3
5
Peran gambar dalam praktik berkesenian seniman sebagai individu, dulu sekali dimapankan pada era Renaisans, yang pada praktiknya adalah pengalaman personal, sesuatu yang bersifat privat. Salah satu perannya ialah sebagai sketsa awal yang mengandung observasi (merekam, merinci, merencanakan, dan menangkap) ide untuk karya patung atau lukisan. Kaum humanis pada masa itu menaruh minat yang besar pada anatomi, perspektif, serta komposisi yang terukur dan gambar menjadi moda yang dapat mengeksplorasi imajinasi masyarakat saat itu mengenai konsepsi tubuh yang ideal.4 Pada akhir abad XVIII, kecakapan untuk membuat gambar adalah suatu pencapaian sosial yang wajib, karena ia menjabarkan kelas, selera, sikap, bahkan sensibilitas. Gambar kemudian menjadi sebuah disiplin atau laku karena konvensinya, kecakapan, metode, bahkan kesadaran kognitif karena menghabiskan waktu dan determinasi. Konvensi ini kemudian menjadi cikal-bakal cara mendidik seniman di sekolah seni. Praktik Gambar sebagai Konsep
6
Penulis Kontemporer asal Inggris, Avis Newman, membedah “What is drawing?“ dalam arti yang mendasar. Newman melihat gambar sebagai proses membuat garis pada pemukaan bidang kosong. Karena gambar sedianya digunakan sebagai persiapan, bidang muka yang digarap pertama kali atau palimpsest (tulisan atau manuskrip yang digunakan kembali atau diubah, namun masih terlihat jejak sebelumnya atau dari bentuknya asalnya). Gambar mengungkapkan intensi tekanan tangan seniman, apakah lembut atau tegas. Melihat karya keempat seniman muda ini, dapat dilihat bagaimana unsur rupa garis begitu dirayakan dan dengan fasih digunakan oleh keempatnya sebagai bahasa visual yang menjadi identitas mereka. Garis merupakan elemen krusial dan seniman dapat memprovokasi audiens melalui kualitas garis yang dihadirkan. Jenis-jenis garis yang dapat dilihat dari karya keempatnya adalah: kontur, mekanis, liris, struktur, agresif-tegas, redudansi, distorsi, dan naif. Pada seri Lost in Translation Kara Andarini menggunakan garis sebagai media untuk berkomunikasi dengan para pengguna jalan yang ia temui. Gambaran peta yang ia hadirkan adalah saripati interaksi dan negosiasi arahan dari yang bersifat verbal (instruksi) menjadi logika visual yang dapat dipahami. Sementara itu, Gilang Nuari menangkap momen keseharian di lingkungan bantaran Sungai Winongo yang membelah Yogyakarta bagian Barat. Penjahit, sepeda, perabot rumah tangga, ikan ia hadirkan dalam potongan yang janggal dan arsiran garis yang ekspresif dalam Behind the House, dengan kontrol dan ketertiban yang menekan batas medium tinta pena yang ia gunakan. Ketekunan Rishma Riyasa bertolak dari kebiasaannya yang sering berpindah tempat, sehingga eksplorasi garis berupa arsiran lebih sangkil untuk digarap. Ia bermain dengan pekat dan ringannya gradasi warna kromatik pada seri SMDL (Seperti Menggunting Dalam Lipatan). Tinta digunakan karena karakternya fleksibel, sehingga kooperatif
dengan permukaan kertas yang kaku sebagai bidang datar. Sementara itu bagi Rega Ayundya, yang juga bergiat sebagai ilustrator, menggambar adalah aktivitas harian rutin yang prosesnya menyenangkan dan juga pahit pada saat yang bersamaan. Tendesi berkarya yang spontan ini membuat Rega nyaman menggunakan media kertas dan pulpen (awalnya). Berbekal eksplorasi anatomi tubuh manusia sewaktu belajar di studio patung, ia terkoneksi dan akrab dengan citraan tubuh yang melayang dan terdistorsi, seperti yang dapat diamati pada Picnic in Panic. Laku Artistik Pendekatan artistik yang dilakukan keempat seniman juga dapat dilihat dari pola produksi yang mekanis, yang mana hasil produksi mengalami transformasi melalui citraan yang dicetuskan oleh fotografi. Esei Walter Benjamin, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, membahas pergeseran persepsi dan efeknya setelah kemunculan film dan fotografi pada abad XX. Lithography enabled graphic art to illustrate everyday life, and it began to keep pace with printing. But only a few decades after its invention, lithography was surpassed by photography. For the first time in the process of pictorial reproduction, photography freed the hand of the most important artistic functions which henceforth devolved only upon the eye looking into a lens. Since the eye perceives more swiftly than the hand can draw, the process of pictorial reproduction was accelerated so enormously that it could keep pace with speech.5 Akal, cara pandang, dan cara kita melihat memiliki perbedaan, namun di dalamnya ada konsekuensi atau kesepakatan yang membatasi. Around 1900 technical reproduction had reached a standard that not only permitted it to reproduce all transmitted works of art and thus to cause the most profound change in their impact upon the public; it also had captured a place of its own among the artistic processes.6 Modernitas menerima kamera sebagai alat rekam dan dokumentasi dalam pelbagai rana, termasuk seni rupa. Salah satu responnya adalah membuka lebar persepsi untuk menggunakan fotografi sebagai pengganti gambar awal (misalnya untuk lukisan), karena lebih tangkas, realistis, dan akurat. Respon juga datang dari kalangan seniman, yang lebih kritis ‘membebaskan‘ diri mereka dari konsensus tradisional gambar, tanpa kamera mereka dapat lebih eksperimental mengekspresikan ide mereka. Elemen struktural gambar dan lukisan kini menjadi lebih mekanik. Seniman pun kembali bereaksi dengan perkembangan ini.
7
[‌]painters identify the impact that the invention of the photographic images has had on society and seek to reinvigorate approaches to painting, whilst tapping into the ubiquitous presence of the photographic image.7 Keempat seniman muda ini mengetahui kemudahan yang ditawarkan oleh fotografi, namun demikian mereka membatasi intervensi mekanis pada karya gambar mereka. Garapan manual dan intuitif menjadi daya tarik karya mereka. Alih-alih menggunakan bantuan penyuntingan digital, mereka memilih untuk bereksplorasi dengan media yang diaplikasikan pada bidang gambar.
8
Gilang mengekspansi gambar pada kertas menjadi kolase pada kayu dengan sapuan cat akrilik dan wood stain (semacam pernis yang dilarutkan dengan air) sehingga membaur dengan serat kayu. Sementara itu, Kara menggunakan akrilik sebagai bidang gambar yang bersifat multilapis karena dapat ditembusi cahaya. Sehingga garis-garis yang tertoreh pada akrilik menjelma menjadi citraan baru. Rekayasa manual dilakukan Rega pada seri gambar tubuh, figur, dan buste yang digambar secara manual kemudian dicetak, dan diberi sapuan cat akrilik serta garis-garis yang liris, agresif, dan tegas. Pengulangan citraan tersebut mengundang rasa ingin tahu dan keasyikan untuk menelusuri, karena ia meninggalkan masing-masing citraan dengan semburat, detail, dan komposisi. Bermain-main dengan peribahasa, tafsiran Rishma pada ’bagai serigala berbulu domba’ dilakukan dengan memberi identitas personayakni figur perempuan-yang disandingkan dengan stilasi hewan-hewan. Ia menggunakan simetri bilateral untuk mengomposisi objek dengan memberi patahan pada bagian tengah, yakni tangan yang memegang gunting. Pemilihan dan eksekusi media gambar tentunya tidak akan tepat sasaran bila mereka tak fasih dengan teknik yang mereka gunakan. Penutup Deanne Petherbride dalam bukunya The Primacy of Drawing: Histories and Theories of Practice (2010) menguraikan bagaimana gambar sebelumnya dikategorikan sebagai sebuah minoritas, meskipun ia adalah langkah mendasar dari proses penciptaan karya. Hal ini tak lepas dari sejarah seni rupa dan hierarkinya. Namun sejak abad XX, status tersebut telah berubah, menanggapi penemuan dan pembacaan kembali mengenai gambar sebagai praktik yang signifikan di sekolah seni, pameran, atau studio. Gambar dipraktikkan dengan lebih dinamis mengikuti praktik (kontemporer) dan kebutuhan seniman untuk berkarya dengan secara nonhierarkis, konseptual, kesadaran teknis, dan intervensi teknologi. Menyimak karya keempatnya dapat dilihat bahwa mereka menantang diri untuk mencari kemungkinan media gambar yang dapat mengaktualisasikan gagasan mereka. Pada skena seni rupa Indonesia sendiri karya-karya gambar, yang
kerap diaplikasikan pada kertas, bersanding bersama lukisan, patung, instalasi, atau video. Ini juga membebaskan keberadaanya, tidak lagi diaplikasikan pada kertas, namun juga pada kanvas bahkan objek tiga dimensional. Dengan demikian, Fever Pitch menawarkan pada audiens cara mengapresiasi karya dengan pengenalan dan pemahaman teknis keempat seniman muda ini. Intensitas dan keriaan menggarap karya gambar membentuk laku artistik, karena mereka menunjukan keintiman mengulik material dan pengetahuan bahan ketimbang tersesat dalam kontemplasi wacana yang (kerap) terlalu dalam. Catatan kaki: Edwards, Betty. The New Drawing on the Right Side of the Brain, Penguin Putnam, New York 1999, halaman 6. 2 Betti, Claudia, Sale, Teel. Drawing a Contemporary Approach 2nd edition, Holt, Rinehart and Winston, Inc, Florida 1986, halaman 6. 3 Margaret Marsh, Michele Watts and Craig Malyon A.R.T. 2 practice, Oxford University Press, Melbourne 2005, halaman 2. 4 Ibid, halaman 6 5 Benjamin, Walter. The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. http://www.nickkegeyan.com/work/2014/allthetext/pdfs/Benjamin%20 mechanical%20reproduction.pdf diakses pada 17 Februari 2015, 23:15 WIB. 6 Ibid 7 Marsh, op. cit. 1
Maria Josephina Bengan Senang bermain tanah liat dan menulis membuat Maria menggarap tugas akhir tahap sarjana yang menyinggung-menyinggung formalisme dan simbolisme dengan medium utama porselen di prodi Seni Rupa, FSRD-ITB pada 2012. Setelah lulus ia menjajal kemampuannya sebagai asisten kurator, membuat buletin bersama beberapa rekan, meneliti, menjadi asisten dosen, dan bekerja di bidang manajemen seni. Buku-buku mengenai asalusul kota, pergerakan perempuan, estetika dan sejarah seni rupa selalu menarik perhatiannya. Di waktu senggang ia suka memotret dan mengamati pola konsumsi di masyarakat. Saat ini ia tengah memperdalam Bahasa Jerman. Fever Pitch adalah projek kolaborasi pertamanya dengan Galeri Serrum dan empat orang seniman muda yang getol menggambar. Pada pameran ini Maria menggunakan pendekatan sejarah seni rupa dan pemahaman medium untuk menjembatani publik mengapresiasi karya keempat seniman.
9
Drawing mudah dilakukan di mana saja dan kapan saja. Pada drawing ada rasa yang subjektif dan objektif, sehingga pemilihan bentuk, warna, dan teknik kolase penting bagi saya. Saya selalu bertanya, kapankah itu selesai? Eksplorasi adalah untuk memunculkan emosi.
10
Behind The House Layering, pulpen, kertas, kolase, pada kayu 8 panel (19x15 cm dan 30x19 cm) 2015
Pisau Berkarat Kayu dan buku: layering, pulpen, kertas, kolase, pada kayu 30x19 cm 2015
Ketika menggambar, saya seperti ditantang untuk jujur. Goresan pena yang apa adanya, tanpa pembenaran dan alami muncul secara spontan, adalah goresan terjujur yang keluar dari diri. Di momen tersebut, gambar saya dan diri saya saling mempengaruhi satu sama lain.
11
Picnic in Panic Cat akrilik pada kertas yang dicetak ulang secara digital 95 x 50 cm (kiri), 95 x 85 cm (kanan), 190 x 85 cm (keseluruhan) 2014
Menarik garis, mengatur tekanan garis, dan arsir adalah proses yang menyenangkan, sehingga bagi saya menggambar adalah proses yang kontemplatif. Ada kesadaran yang hanya bisa didapatkan melalui eksplorasi.
12
Lost in Translation #1 Akrilik, tinta pada kertas (peta) 5 set (@30x30 cm) 2013 - 2015
Lost in Translation #2 Pena pada kertas dimensi bervariasi (@30 x 14,8 cm) 2015
Mengamati hal-hal di sekitar dan mengendapkannya kemudian diolah menjadi gambar sejauh ini proses yang paling nyaman bagi saya. Ada kesadaran sebagai pengamat, orang luar dan ada saatnya saya sebagai seniman merespon melalui karya saya, yakni sebagai bagian dari cerita tersebut.
MSTS (Mati Satu Tumbuh Seribu) Tinta pada kertas dimensi bervariasi (30 buah) 2015
SMDL (Seperti Menggunting Dalam Lipatan) Tinta pada kertas 100 x 76 cm (2 seri) 2014
13
14
Gilang Nuari Perupa yang lahir tahun 1989 di Yogyakarta. Gilang menyelesaikan studinya di jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta. Sejak 2004 aktif di ranah seni rupa, baik pameran maupun beberapa projek kesenian di luar disiplin ilmu seni rupa. Mendirikan program kesenian kampung di bantaran sungai Winongo kampung Sindurejan, Yogyakarta. Selain itu terlibat dalam komunitas multi disiplin Layar Maya dan komunitas seni grafis Koloni Cetak. Sebagai seorang perupa, Gilang cenderung memilih mengeksekusi visualnya dengan teknik drawing bermaterial pulpen, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk berproses di luar kecenderungannya tersebut. Menurutnya drawing sebagai salah satu media untuk mebicarakan hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan hubungan personal yang bersifat transendental melalui sudut pandang visual benda dan figur.
Kara Andarini Kara Andarini lahir di Jakarta, 10 Febuari 1989. Saat ini ia berdomisili di Jakarta dan bekerja sebagai tim kreatif dan desainer tas di sebuah usaha yang dijalani bersama seorang temannya. Ketertarikan Kara dengan drawing berawal dari masa kuliahnya di seni grafis di Bandung. Permainan garis, dan mengulik tekstur dengan arsiran pulpen diatas kertas merupakan hal yang sangat menarik bagi Kara karena setiap proses mengulik seringkali dirasakan sebagai hal yang kontemplatif. Beberapa karya Kara dapat diintip di instagram nya : @karandarini atau di : behance.net/karaandarini
Rega Ayundya Terlahir di tahun 1988 dengan nama Rega Ayundya Putri, Rega adalah seorang perupa yang banyak berkarya dengan medium drawing. Dia percaya bahwa aktivitas drawing, sebagai proses kreasi yang telah ditekuninya sedari ia kecil, adalah sebuah bentuk ekspresi dari alam bawah sadar, menjadikan drawingnya sebuah refleksi yang paradoks dari dirinya. Dia kini menetap di Bandung untuk menempuh pendidikan pasca sarjana Seni Rupa, sembari bekerja paruh waktu sebagai illustrator dan pengajar. Kunjungi cargocollective.com/ayundya untuk mengintip karya-karyanya.
Rishma Riyasa Rishma Riyasa yang biasa disapa Mamet ini mencintai seni dan memutuskan untuk belajar pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2008. Perupa kelahiran tahun 1990 ini memilih medium drawing dalam proses pembuatan karyanya. Selain menggambar, dia sangat menyukai makanan-makanan yang manis, pakaianpakaian bermotif dll. Hal tersebut cukup menginspirasi dalam setiap karya yang dia buat. Karena menurutnya inspirasi bisa datang dari mana saja baik yang kita rasa, lihat, dengar, dan cium dari panca indera kita. Beberapa karyanya pun terinspirasi dari rasa keingintahuan baik dari teknik maupun konten. Seperti dalam karya terbarunya, yang mengeksplorasi teknik-teknik pada media unconventional seperti bolpen dengan teknik cross hatching.
15 t-shirt: Kara Andarini Rp. 120.000
pouch: Gilang Nuari Rp. 45.000
totebag: Rega Ayundya Rp. 85.000
sketchbook: Rishma Riyasa Rp. 65.000
info lebih lanjut silahkan menghubungi Share.Inc Anita Bonit +62 856 833633
Serrum adalah organisasi mandiri berbasis Jakarta, yang didirikan sejak tahun 2006 dan bergerak dalam lingkup sosial-pendidikan melalui medium seni rupa. Serrum melakukan kegiatan studi kolaboratif melalui program-program pengkajian khusus mengenai masalah-masalah sosial kependidikan ataupun budaya yang dilaksanakan dalam kurun waktu berkala. Program-program ini melibatkan praktisi pendidikan, professional, media massa, ataupun organisasi dan individu yang mempunyai konsep relevan mengenai suatu permasalahan . Selain itu Serrum juga melakukan kegiatan yang mendukung produksi karya seni rupa, apresiasi dan pendokumentasian untuk mensosialisasikan hasil temuan studi sosial. Untuk mendukung kegiatan ini, serum melakukan pendekatan dengan organisasi atau individual yang mempunyai program searah dengan serrum. Mengawali tahun 2015 ini Serrum telah membentuk platform baru yaitu Ruang Residensi bagi Seniman yang ingin menetap untuk melakukan proses penelitian dan berkarya di Jakarta. Galeri Serrum merupakan galeri alternatif yang terbuka untuk berbagai gagasan, khususnya pada visi edukasi dalam setiap kegiatannya, seperti pameran, proyek seni, diskusi, workshop, dan pemutaran film. Galeri Serrum dengan terbuka menerima ajuan kerjasama, dengan cara mengirimkan proposal kegiatan.  Telp: +62 21 4896717 Email: galeriserrum@gmail.com Web: serrum.org Fb: Serrum ‘Share Room’ Twit: @serrum_ IG: @galeriserrum