Blue Bubbles Magazine 2018

Page 1

BLUE BUBBLES SCIENTIFIC - EDUCATION - CONSERVATION

MAGAZINE BY MARINE DIVING CLUB

EDISI 2018



SCIENTIFIC EDUCATION CONSERVATION DAFTAR ISI

BLUE BUBBLES MAGAZINE

2 3 4 5 6 7 8

SAMBUTAN 10 JEJAK MDC STRUKTUR KEPENGURUSAN 12 EKSPEDISI CORALLIUM OPEN RECRUITMENT 24 SHARING EMBRIO KNOWLEDGE SERTIFIKASI SELAM REEFCHECK KARIMUNJAWA MDC VAGANZA

1


MARINE DIVING CLUB

M ANAS KHAIRY MDC XXIII Assalamualaikum Wr Wb Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan ijinnya, majalah tahunan Marine Diving Club dapat dibentuk. Tak lupa ucapan terimakasih saya sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan majalah tahunan ini. Majalah tahunan Marine Diving Club ini berisikan rangkuman kegiatan-kegiatan Marine Diving Club selama satu periode kepengurusan. Berbagai

2

kegiatan disajikan dalam majalah ini sebagai salah satu media publikasi Marine Diving Club. Dengan diterbitkannya majalah ini, maka berakhir juga kepengurusan Marine Diving Club periode 2018/2019. Semoga kedepannya Marine Diving Club dapat lebih berinovasi dan menjadi suatu organisasi selam yang lebih baik. Akhir kata, kami menerima segala kritik dan saran agar majalah ini dapat lebih baik kedepannya. Mohon maaf bila ada tutur kata yang kurang pas. Wassalamualaikum Wr Wb

MARINE DIVING CLUB


STRUKTUR KEPENGURUSAN MARINE DIVING CLUB PERIODE 2018/2019

BLUE BUBBLES MAGAZINE

3


| OPEN RECRUITMENT

Open Recruitment

Menjadi seorang penyelam membutuhkan banyak persiapan. Dari persiapan fisik, persiapan teori, dan juga persiapan mental. Ketiga komponen tersebut diberikan kepada seluruh anggota kami di Marine Diving Club (MDC). Persiapan tersebut dilakukan sejak awal yaitu pada rekrutmen anggota baru. Rekrutmen anggota baru tahun ini dibuka untuk mahasiswa Departemen Ilmu Kelautan dan Departmen Oseanografi untuk menjadi MDC angkatan ke-25. Rangkaian rekrutmen cukup panjang, karena banyak yang harus dipersiapkan bagi para calon anggota sebelum mereka ikut dalam organisasi ini. Seluruh rangkaian terdiri dari persiapan para calon dari segi ilmu (teori), segi kemampuan fisik, beserta aplikasi nyatanya dalam bentuk penyelenggaraan ekspedisi yang akan dilakukan di akhir rangkaian.

Rangkaian rekrutmen dimulai dari tahap Diklat Kolam yang dilaksanakan di Kolam Watugong, Semarang pada akhir tahun 2017. Para peserta diajarkan kemampuan-kemampuan dasar kolam seperti cara berenang, watertrap, dan sebagainya. Lalu dilanjutkan dengan tahap Pendidikan Akademis Penyelaman (PAP) pada Bulan Februari kemarin di Basecamp MDC. Tahapan ini adalah dimana para peserta diperkenalkan kepada dunia penyelaman dari segi teori untuk pertama kalinya. Peserta diperkenalkan kepada sejarah selam, alat-alat selam, fisika dan fisiologi penyelaman dan juga tentang persiapan

4

sebelum penyelaman. Pemahaman teori penyelaman menjadi sangat penting karena selam adalah salah satu kegiatan yang paling berbahaya. Rangkaian selanjutnya adalah Latihan Keterampilan Kolam (LKK). Tahapan ini berlangsung selama 4 hari yaitu pada tanggal 22-25 Maret 2018 di Kolam Watugong, Semarang. Disini para peserta mengasah kembali kemampuan fisik mereka. Mereka juga diperkenalkan kepada penyelaman menggunakan alat SCUBA (self contained underwater breathing aparatus) dan metode pengambilan data dengan LIT (line intercept transect). Tahap ini menjadi tahap yang penting karena para peserta harus memersiapkan skill dan ketahanan fisik mereka sebelum terjun langsung ke alam yaitu laut. Menurut para peserta tahap ini lah tahap yang paling melelahkan.

Setelah mempersiapkan teori dan fisik, para peserta terjun langsung ke laut di tahap Latihan Perairan Terbuka (LPT) yang dilaksanakan pada tanggal 11-14 Mei 2018 di Pulau Panjang, Jepara. Diawali dengan penyebrangan dari Teluk Awur ke Pulau Panjang dengan fins swimming, pada tahapan ini para peserta harus berhadapan langsung dengan alam. Para peserta melakukan penyelaman di laut untuk pertama kalinya dan melakukan pendataan dengan obyek karang dan substrat secara langsung. Mereka berkenalan dengan air asin, gelombang, dan arus yang akan menjadi teman mereka saat kelak menjadi penyelam. Tahap selanjutnya adalah tahap Pembinaan Mental dan Pemantapan (Bintaltap) yang dilaksanakan 25-27 Mei 2018 kemarin dimana para peserta dibekali dengan materi dasar organisasi dan pengembangan softskill. Diisi dengan materi-materi seperti sejarah dan keorganisasian MDC dan juga tentang kepemimpinan, publikasi dan sebagainya yang dibawakan oleh para senior anggota MDC. Rangkaian rekrutmen memang panjang dan dapat dikatakan melelahkan. Namun sangat banyak ilmu yang didapatkan. Pengembangan kemampuan para peserta atau calon anggota dari berbagai aspek menjadi hal yang diperhatikan karena kelak mereka akan menjadi seorang penyelam dan penerus dari MDC. Waspada Dira Anuraga!

MARINE DIVING CLUB


| EMBRIO 7 sampai 14 September 2018, adalah titik awal perjuangan kami untuk kegiatan EMBRIO 2018, dengan niat, kami anggota muda MDC XXV dan anggota MDC lainnya mulai menarik minat serta antusias mahasiswa baru kelautan 2018 untuk mendaftar dan mengikuti kegiatan tahunan kelompok studi Marine Diving Club (MDC), Universitas Diponegoro. Suatu tanggung jawab besar bagi anggota muda MDC XXV untuk mengadakan acara EMBRIO ini dan juga sebagai pembelajaran awal yang sangat baik untuk kedepann-

EMBRIO

Kegiatan EMBRIO tahun ini berjudul “Efisien Menarik Belajar Renang dan Selam Ilmu Kelautan dan Oseanografi�, jadi kegiatan ini adalah kegiatan yang menarik dan memberikan banyak ilmu, namun dengan pembawaan yang sederhana. EMBRIO tahun ini diikuti oleh 34 peserta yang bercampur antara jurusan Ilmu Kelautan dan Oseanografi. Karena di sini juga merupakan sarana untuk mengembangan rasa kesatuan sebagai mahasiswa kelautan. Dalam kegiatannya, EMBRIO memberikan pembelajaran mengenai teknik berenang, water trap, dan rba (renang bawah air) pada hari ke 1 hingga ke 4 dengan tambahan pos alat dan entry. sehingga ada pertambahan ilmu selam. karena untuk mempersiapkan peserta mengikuti ujian mata kuliah selam. Senyum, tertawa, letih, semua itu bercampur jadi 1, dimana mereka berjuang untuk menjadi yang lebih baik sehingga mendapat hasil yang maksimal.

Di tengah proses kegiatan EMBRIO, anggota muda MDC XXV dan anggota MDC lainnya melakukan Ekspedisi Corallium XX di Pulau Krakal Kecil, Karimunjawa. Setelahnya, kegiatan EMBRIO dilanjutkan untuk hari ke 5 dan 6, kegiatan pada 2 hari ini adalah kegiatan mengenai selam dan dasar – dasarnya, seperti fin swimming, entry, pos alat, pos kompre, dan SCUBA. Pada tiap harinya, peserta dapat menunjukan perkembangannya dalam keberanian atau niat untuk mencoba dan dapat melakukan Teknik yang benar.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

5


| SERTIFIKASI SELAM

SERTIFIKASI SELAM: DIVE TO NATURE 2018 Sertifikasi selam merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh Marine Diving Club (MDC). Sertifikasi selam yang dibuka untuk masyarakat umum pada tahun ini bertemakan “Dive to Nature�. Tercatat 23 orang peminat selam yang mendaftar sebagai peserta baik untuk level open water maupun advance. Peserta berasal dari beberapa daerah di Indonesia, mulai dari Semarang, Purwokerto, Bandung, hingga Bali. Hal ini cukup menjadi bukti bahwa dunia penyelaman mulai diminati oleh berbagai macam kalangan masyarakat, karena jumlah peserta sertifikasi selam tahun ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Sertifikasi selam ini terdiri dari beberapa tahapan, seperti Pendidikan Akademis Penyelaman (PAP), Latihan Keterampilan Kolam (LKK), dan Latihan Perairan Terbuka (LPT). Tahapan pertama, yaitu PAP dilaksanakan pada tanggal 26 April 2018 di Aula Kelurahan Sumurboto, Tembalang, Semarang. Dalam tahap ini, para peserta diperkenalkan dengan pengetahuan dasar selam yang disampaikan oleh instruktur selam SSI yang berpengalaman, yaitu Rian Heri. Keesokan harinya para peserta menuju ke Kolam Renang Watugong, Semarang untuk mengikuti tahapan ke-2 sertifikasi selam, yaitu LKK. Pada tahapan ini para peserta mempraktikkan skill renang dan selam. Tahapan ini dilakukan dalam 2 hari pada tanggal 27-28 April 2018. Pada tahapan ini peserta fokus pada materi setting alat yang baik dan benar, fins swimming, dan trial scuba di kedalaman 2 - 5 meter. Materi ini diikuti dengan baik oleh peserta sebagai persiapan sebelum diterapkan langsung di laut lepas.

Tahapan terakhir, yaitu LPT, merupakan tahapan yang paling ditunggu oleh peserta, karena pada tahapan ini peserta akan mencoba menyelam di laut lepas. Rangkaian tahapan LPT dimulai dari tanggal 29 April – 2 Mei 2018 di Pulau Dewata, Bali. Rangkaian tahapan LPT dimulai dengan wisata ke beberapa destinasi. Destinasi pertama adalah Turtle Conservation and Education Center (TCEC). Disana peserta mempelajari tentang proses penetasan penyu dan upaya lembaga ini dalam menggalakkan konservasi penyu di Bali. Setelah belajar mengenai konservasi penyu, peserta beralih ke Tirta Gangga yang merupakan taman air bekas kerajaan Karanganyar yang indah. Destinasi selanjutnya yaitu Pura Lempuyang Luhur yang terkenal akan keindahan pemandangannya berlatarkan Gunung Agung.

6

Setelah cukup puas berwisata di beberapa destinasi di Pulau Bali, keesokan harinya peserta menyelam di Amed, Karanganyar. Peserta dipandu langsung oleh instruktur selam, Rian Heri dan beberapa instruktur lain. Site yang dipilih untuk penyelaman kali ini adalah Jemeluk Bay, yang merupakan site penyelaman yang cukup terkenal dan cocok untuk pemula di Bali. Di Amed, peserta melakukan 2 kali penyelaman dan menerapkan materi-materi yang sudah diajarkan sebelumnya namun dengan kedalaman mencapai 12 meter. Bahkan pada malam harinya, beberapa peserta advance berkesempatan merasakan penyelaman di malam hari/night dive. Benar-benar pengalaman menyelam yang luar biasa. Pada hari ke-3 LPT, peserta beranjak menuju Tulamben, Karanganyar dan melakukan penyelaman di 2 site yaitu Drop Off dan USAT Liberty Shipwreck, dimana terdapat bangkai kapal yang jaraknya tidak terlalu jauh dr bibir pantai.

Setelah selesai menjalankan berbagai rangkaian acara penyelaman, akhirnya kami kembali ke Semarang. Sebelum meninggalkan Pulau Bali peserta mampir di toko oleh-oleh untuk membeli buah tangan untuk keluarga dan teman-teman. Akhirnya kami semua kembali melanjutkan perjalanan pulang, dan sampai di Semarang dengan selamat. Para peserta sangat puas dengan kegiatan sertifikasi selam ini, karena dapat merasakan pengalaman menyelam yang berbeda. Tak hanya penyelamannya yang seru, namun juga keakraban peserta satu sama lain yang menjadikan acara ini selalu dilalui dengan canda tawa. Waspada Dira Anuraga!

MARINE DIVING CLUB


| REEFCHECK KARIMUNJAWA

Reefcheck Go! Eco melakukan kegiatan pendataan kesehatan terumbu karang di 5 site (Tanjung Gelam, Menjangan Kecil, Menjangan Besar, Cemara Besar dan Taka Malang) selama 2 hari. Kegiatan ini didampingi secara langsung oleh salah satu anggota Reefcheck Indonesia yaitu Mas Ayub, beliau mendampingi peserta dan panitia dari segi pendidikan pelatihan pendataan di ruangan yang sebelumnya di lakukan selama 2 hari di beskem MDC dan di lapangan yang bertujuan guna mendukung dan membantu dalam melakukan kegiatan pendataan ketika di lapangan dan sebagai salah satu langkah dalam prosedur sertifikasi EcoDiver yang akan dikeluarkan pihak Reef Check Indonesia ketika peserta dan panitia sudah melakukan kegiatan pendataan kesehatan terumbu karang. Pendataan kesehatan terumbu karang kita lakukan dengan metode point intersept transect (PIT) sepanjang 100 meter serta pendataan ikan dan inverteberata dengan menggunakan metode visual sensus yang masing – masing di kedalaman 5 dan 10 meter. Keadaan terumbu karang di berbagai site Cemara Besar cukup bagus karena dapat dilihat dari kerapatan karangnya yang beragam dimana jarang adanya kegiatan pariwisata disana, hanya saja di site Taka Malang yang merupakan zona inti dimana zona yang masih dilakukan rehabilitasi terhadap pertumbuhan terumbu karang yang rusak akibat kerusakan alam maupun campur tangan manusia dan tidak di ijinkan untuk wisatawan berkunjung disana kecuali hanya untuk suatu penelitian saja karena keadaan disana yang banyak rubble dan persentase kerapatannya kecil karena terjadi kerusakan. Kegiatan Reefcheck Go! Eco yang telah dilaksanakan tidak hanya melakukan monitoring kesehatan terumbu karang saja, tetapi juga melakukan kerjasama dengan PT PURA BARUNA JAYA dan kunjungan ke pulau Sambangan Karimunjawa untuk melakukan kegiatan pendidikan transplantasi karang. Setelah kegiatan transplantasi berlangsung, peserta dan panitia melakukan fundive di perairan daerah Gosong Kremis yang letaknya tidak jauh dari pulau Sambangan. Dikedalaman 8 meter masih di temukannya salah satu binatang langka yaitu penyu hijau yang berdiam diri di sekitar area terumbu karang. Hari terakhir kegiatan Reefcheck peserta dan panitia melakukan pendidikan pengolahan data di penginapan yang di pimpin oleh Mas Ayub untuk memperkenalkan peserta dan panitia bagaimana cara mengolah data Reefcheck yang telah di dapatkan di lapangan. Setelah itu acara di lanjutkan dengan kegiatan field trip yang di lakukan di tempat wisata di pulau Karimunjawa yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antara panitia dan peserta serta menyegarkan badan kembali setelah melakukan kegiatan monitoring Reefcheck. Field trip dilakukan di 3 tempat yaitu tracking mangrove, pantai dan bukit Anora serta melihat sunset di bukit Joko Tuo. Waspada Dira Anuraga!

BLUE BUBBLES MAGAZINE

7


Marine Diving Club tahun 2018 telah menginjak umur lebih dari seperempat abad, yaitu 27 tahun. Sudah banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh Marine Diving Club sendiri yangmengacu pada tagline itu sendiri, Scientific, Education, dan Conservation. Pada perayaan ulang tahun kali ini, Marine Diving Club merayakannya dengan mengadakan beberapa acara yang melibatkan anggota Marine Diving Club juga masyarakat umum. Rangkaian pertama dalam perayaan ulatg tahun MDC dimulai dengan mengadakan syukuran di hari ulang tahun MDC, 28 Oktober 2018, bagi anggota Marine Diving Club di Basecamp MDC. Syukuran ini tidak lepas dari adanya tumpeng yang menghiasi (dan juga dimakan setelahnya) dengan mengundang seluruh anggota dan juga pembina MDC yang juga merupakan senior MDC serta dosen Ilmu Kelautan UNDIP, Dr. Ir. Munasik, M.Sc untuk doa bersama dan juga kegiatan ramah tamah lainnya. Acara tumpengan ini pun sekaligus dilakasakan sebagai acara pelepasan anggota muda 25 yang akan menjalankan Ekspedisi Corallium XX di Kepulauan Karimunjawa.

Rangkaian acara selanjutnya dalam perayaan ulang tahun ke 27 adalah acara Marine Sharing. Acara Marine Sharing yang diadakan di Gedung F Kampus FPIK UNDIP pada hari Jumat, 9 November 2018 ini diadakan dengan tema The Impact of Marine Debris for Our Ocean. Pada Kegiatan Marine Sharing ini anggota MDC juga peserta diskusi diberikan materi bagaimana dampak dari sampah laut yang saat ini sering sekali dibahas di berbagai media yang langsung disampaikan oleh Dr. Subagiyo, M.Si, salah seorang dosen Ilmu Kelautan UNDIP yang memiliki fokus terhadap sampah laut khususnya mikroplastik. Selain dari dosen, Marine Sharing kali ini pun turut mengundang Wisanggeni Damar P, seorang founder bank sampah, yang menjelaskan bagaimana bank sampah bisa menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah yang juga dapat menguntungkan dan bermanfaat. Beberapa pertanyaan menarik mengenai hal ini pun disampaikan secara langsung oleh para peserta diskusi yang membuat kegiatan ini semakin hidup loh buddies!

8

MARINE DIVING CLUB


| MDC VAGANZA Setelah sebelumnya Marine Sharing dilaksanakan dalam bentuk diskusi, acara ketiga dalam rangkaian ulang tahun selanjutnya adalah Screening Film “Blue Planet 2� yang menjadi salah satu film dokumenter dengan cerita dan penggambaran lingkungan laut terbaik yang pernah ada. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 16 November 2018 di pelataran Auditorium Kampus FPIK UNDIP ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP dengan sanagt antusias. Acara diskusi selanjutnya dipimpin oleh Arya dan Erfian (MDC 22) yang ditanggapi dengan banyak tanggapan juga pertanyaan yang didiskusikan oleh para penonton yang hadur. Selain screening film, di akhir acara pun ada quiz berhadiah yang sudah disiapkan oleh panitia loh! Kegiatan ini memberikan kesempatan untuk teman teman mahasiswa untuk mendapatkan ilmu tentang dunia kelautan dengan cara yang asik banget!

Rangakaian acara terakhir dalam perayaan uang tahun MDC yang ke 27 adalah syukuran yang turut mengundang kawan-kawan MDC, dari sesama klub selam, pecinta alam, himpunan, juga dosen-dosen. Pada acara yang dilaksanakan di De Lasco pada hari Kamis, 22 November 2018 ini para kawan-kawan MDC disambut dengan peta Indonesia dan galeri foto perjalanan kegiatan MDC. Harapan-harapan dari kawan-kawan MDC juga secara langsung ditempelkan di peta Indonesia tersebut sebagai mimpi agar MDC bisa menyelam dan berkontribusi lebih jauh di laut Indonesia. Pada acara ulang tahun ini pun diperkenalkan anggota muda MDC XXV yang akan melaksanakan Seminar Hasil Corallium di bulan Desember. Selain itu, panitia pun sudah menyiapkan video yang ditampilkan mengenai harapan-harapan senior untuk MDC kedepannya. Acara ini pun dilengkapi dengan adanya quiz berhadiah dan diakhiri dengan berfoto bersama .

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Semoga dengan semakin bertambahnya usia Marine Diving Club, semakin banyak pula kontribusi positif yang diberikan bagi lautan dan masyarakat Indonesia. Waspada Dira Anuraga!

9


Sudahkah kamu menjadi Penyelam Aman? Jumat (23/11), Marine Diving Club bersama UDC dan ParaScuba menggelar kuliah umum dengan tema “Refleksi Kecelakaan Penyelaman 2018: Sebuah Upaya Preventif dan Penangan yang Lebih Baik�. Kuliah umum ini digelar di gedung UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro, mengundang Kolonel Laut (pur) dr. Budi Oetomo W. Acp DipIBE, SpS SpKL, PhD. seorang instruktur selam sekaligus dokter spesialis saraf, spesialis kedokteran kelautan, dan merupakan dokter Angkatan Laut.

Kuliah umum ini dihadiri tidak hanya oleh mahasiswa, namun juga oleh dosen dan juga para penyelam dari berbagai instansi di Pulau Jawa. Tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk membahas kecelakaan-kecelakaan yang sudah lalu, agar dapat dijadikan pembelajaran untuk penyelaman yang lebih aman nantinya. Yuk kita junjung #penyelAMAN dan #safediving untuk kegiatan penyelaman yang lebih aman. Ohiya buddies, materi Kuliah Umum dapat dilihat di website Marine Diving Club!

Berikut adalah beberapa Teknik Keamanan Penyelaman dari materi kuliah umum: > Pastikan sehat jiwa dan raga sebelum menyelam > Jangan pernah menyelam sendirian, selalu menyelam dengan buddy yang lebih berpengalaman. > Selalu lakukan safety stop selama 1-3 menit di kedalaman 3-5 meter Sampah plastik adalah salah satu isu yang sedang hangat khususnya di bidang konservasi. Plastik merupakan sumber utama pencemaran laut. Menurut sebuah riset, setiap tahunnya 8 juta ton meter kubik sampah plastik disumbangkan ke laut. Sampah plastik ini menjadi berbahaya karena sangat mudah untuk termakan oleh hewan-hewan laut seperti penyu. Selain itu, plastik adalah bahan yang tidak bisa terdegradasi. Plastik hanya dapat terurai menjadi kecil dan tidak bisa larut dalam air. Dengan mudah partikel kecil plastik tersebut dapat masuk ke dalam tubuh ikan yang akan menjadi tangkapan nelayan untuk kita konsumsi. Sebagai salah satu gerakan untuk mengurangi penggunaan plastik, anggota Marine Diving Club (MDC) memulai sebuah aksi kecil di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Pada suatu pagi di bulan April kemarin, sebuah dispenser air dibawa oleh salah satu anggota diikuti oleh anggota lain yang membawa galon. Mereka berjalan menuju lantai dua Gedung E, FPIK Universitas Diponegoro. Galon dipasang pada dispenser di salah satu sudut gedung dengan tulisan Say No To Plastic! Galon tersebut disediakan untuk seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus tanpa dipungut biaya. Mereka hanya perlu membawa botol minum masing-masing. Tujuannya sederhana, untuk memberi tahu bahwa tidak harus membeli air dalam botol plastik, cukup isi ulang. Para anggota Marine Diving Club ingin membudayakan penggunaan botol minum atau tumbler dimulai kepada para mahasiswa dan warga kampus lainnya. Dengan membawa botol minum, mereka bisa mendapatkan air minum gratis dan juga secara langsung

10

Galon untuk Gedung Biru

melakukan aksi nyata. Aksi ini adalah bagian dari sebuah gerakan ‘#YukBerubah’ yang bertujuan untuk merubah kebiasaan sehari-hari kita untuk mengurangi penggunaan plastik. Ternyata, instalasi ini mendapatkan respon yang cukup baik! Diharapakan aksi ini dapat secara langsung mengurangi penggunaan botol plastik dan meningkatkan rasa kepedulian warga kampus terhadap isu sampah plastik. Instalasi galon ini merupakan aksi kecil dan sederhana, namun semoga aksi ini dapat dilakukan dengan skala yang lebih besar untuk memberikan dampak yang jauh lebih besar lagi sebagai salah satu gerakan mengurangi penggunaan plastik.

MARINE DIVING CLUB


| JEJAK MDC

PENGETAHUAN TERUMBU KARANG UNTUK SEMUA Pada hari Sabtu, 18 Agustus 2018, perwakilan dari MDC, Nadia (MDC 24) dan Iit (MDC 24) berkesempatan untuk menjadi pemateri pada rapat koordinasi Pusat Koordinasi Daerah Mapala se-Jawa Tengah di UNISSULA, Semarang. Materi yang dibawakan adalah tentang Terumbu Karang dan Transplantasi Terumbu Karang. Di hari lainnya, yaitu Jumat, 31 Agustus 2018, MDC pun diundang menjadi pemateri di Kelompok Studi Coastal and Fisheries Community FPIK Undip. Arrico (MDC 23) dan Ghinaa (MDC 23) mengisi kajian rutin tentang perubahan lingkungan terhadap ekosistem terumbu karang. Selain presentasi mengenai pentingnya terumbu karang, ada pula sesi FGD dan tanya jawab kepada pemateri. Hal ini menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi Marine Diving Club karena dipercaya untuk memberikan materi mengenai terumbu karang yang memang menjadi fokus konservasi lingkungan bagi MDC. Dengan semakin mudahnya informasi yang dapat diakses tiap orang dan juga semakin banyaknya aktivitas wisata di daerah pantai dan laut, pemberian materi terumbu karang secara luas dapat menjadi langkah awal untuk mengedukasi masyarakat bahwa betapa pentingnya ekosistem tersebut. Semoga dengan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan peran dari ekosistem terumbu karang dan bagaimana bisa menjaganya dapat menyebarluaskan ilmu tersebut dan ikut sama-sama berperan dalam usaha konservasi lingkungan laut. Mudah-mudahan ya!

JURNAL ILMIAH HASIL EKSPEDISI CORALLIUM XIX: SUDAH BISA DIBACA DAN DIUNDUH! BLUE BUBBLES MAGAZINE

Ekspedisi Corallium XIX yang dilaksanakan pada akhir bulan November 2017 lalu ternyata membuahkan hasil yang manis loh buddies. Walaupun saat itu cuaca tidak sepenuhnya bersahabat, namun hasil pendataan ikan dan karang yang dilakukan di tiga lokasi di Pulau Bengkoang, Kepulauan Karimunjawa. Hasil pendataan yang juga sudah diseminar hasilkan ini selanjutnya diolah dan disusun kembali dalam bentuk jurnal oleh Nadia (MDC XXIV), Iid (MDC XXIV), Kharis (MDC XXII), dan Danie (MDC XXI). Hasil pendataan yang selanjutnya diajukan dan juga dipresentasikan pada Seminar Nasional Tahunan XV Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2018 pada hari Sabtu, 28 Juli 2018 di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun mendapatkan respon yang positif. Jurnal berjudul “Differences of Coral Reef and Coral Community Fish Abundance Condition Based on Zoning of Bengkoang Island, Karimunjawa� dapat diunduh melalui website Jurnal Kelautan Universitas Trunojoyo pada Volume 11 No 1. Sudah pasti menjadi suatu kebanggan untuk penulis dan juga Marine Diving Club yang dapat memberikan publikasi berskala nasional. Jurnal ini bisa memberikan pandangan dengan cukup jelas mengenai kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Bengkoang. Kira-kira, kondisi terumbu karang di pulau yang tidak berpenghuni ini termasuk baik sekali atau tidak ya? Untuk tahu jawabannya, yuk baca jurnal ini!

11


EKSPEDISI CORALLIUM XX Pulau KRAKAL KECIL, KEPULAUAN KARIMUNJAWA


| EKSPEDISI CORALLIUM

Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar di dunia, selain itu, Indonesia juga memiliki kelimpahan hayati di dalam lautan. Kelimpahan hayati yang meliputi terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya, memiliki nilai yang tinggi. Manfaat yang ada pada terumbu karang sangat beragam, dari manfaat yang akan didapatkan secara langsung maupun tidak langsung. Terumbu karang yang bermanfaat untuk tempat tinggal biota – biota laut, selain itu juga berperan sebagai sumber makanan. Terumbu karang juga dapat dimanfaatkan untuk nilai keindahan seperti pembukaan pariwisata dan pasir di ekosistem terumbu karang bermanfaat untuk pemecah gelombang. Di Indonesia terdapat 2,500 spesies moluska, 2,000 spesies krustasea, 6 spesies penyu laut, 30 mamalia laut, dan lebih dari 2,500 spesies ikan laut. Bahkan Luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 2,5 juta ha (Coremap 2013). Marine Diving Club (MDC) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Kepulauan Karimunjawa merupakan Kawasan Marine Universitas Diponegoro yang berorientasi pada penyelaman Protected Area (MPA) yang terletak di Kabupaten Jepara, ilmiah serta perlindungan dan konservasi lingkungan. Pada Jawa Tengah. Sejak 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan sebagai periode 2017, MDC mengadakan kegiatan Ekspedisi Corallium XIX denTaman Nasional oleh Pemerintah Jepara. Taman Nasional Karimunjawa gan tema “Sampahku Lawan, Karang ku Menawanan””. Kegiatan ini beterdiri dari gugusan 27 pulau yang tersebar di kawasan yang luas perai- rupa pendataan terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa denrannya ± 110.000 hektare dan luas daratan ± 1.500 hektare. Kepulau- gan menggunakan metodologi penelitian terumbu karang (MPTK) yang an Karimunjawa memiliki daya tarik tersendiri akan keindahan bawah dilakukan secara berkala dan pendataan ikan dengan menggunakan lautnya. Sehingga jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara metode belt transect untuk mendokumentasikan dan mendeskripsikan yang mengunjungi Kepulauan Karimunjawa semakin meningkat setiap keadaan ekosistem terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa. Selain tahunnya. Namun seiring bertambahnya jumlah wisatawan jika kawasan itu, pada kegiatan Ekspedisi Corallium kali ini dilakukan pendataan soini tidak dikelola dengan baik dan kesadaran masyarakat yang semakin sial ekonomi terhadap nelayan dan wisatawan untuk mengetahui dan minim untuk menjaga lingkungannya, maka dapat menimbulkan keru- mengindikasi aktivitas – aktivitas dari nelayan Pulau Karimunjawa sakan masif pada ekosistem terumbu karang yang ada di sekitarnya. dan Pulau Nyamuk serta wisatawan Pulau Karimunjawa yang dapat mempengaruhi ekosistem terumbu karang dan ikan herbivora. Dengan pemantauan ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa dan pendataan sosial ekonomi di Pulau Karimunjawa dan di Pulau Nyamuk, akan didapatkan data yang nantinya dapat digunakan bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan yang terbaik bagi lingkungan dan masyarakat Karimunjawa. Pada Ekspedisi Corallium XX, selain diadakannya kegiatan survey monitoring ekologi terumbu karang, juga dilakukan kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang untuk kelestarian ekosistem laut. Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan seluruh elemen masyarakat menyadari akan pentingnya menjaga terumbu karang serta melestarikan ikan herbivora . Sehingga ke depannya Indonesia tetap dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai konservasi, perlindungan lingkungan, dan ekosistem lautnya dapat tetap lestari.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

13


14

MARINE DIVING CLUB


| EKSPEDISI CORALLIUM

Ekspedisi Corallium XX dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober sampai dengan 2 November 2018. Waktu dan Lokasi Pendataan Pendataan Pertama Tempat : Pulau Krakal Kecil bagian barat Kedalaman : 5 meter dan 10 meter Tanggal : 31 Oktober 2018 Waktu : 11.00 WIB Koordinat : S : 05o51’38.7’’ E: 110o13’46.8’’ Pendataan Kedua Tempat : Pulau Krakal Kecil bagian utara Kedalaman : 5 meter dan 10 meter Tanggal : 31 Oktober 2018 Waktu : 15.00 WIB Koordinat : S : 05o51’33.8’’ E : 110o13’57.2’’

BLUE BUBBLES MAGAZINE

15


TERUMBU KARANG Berdasarkan hasil analisis prosentase tutupan terumbu karang hidup didapatkan hasil bahwa prosentase tutupan karang tertinggi berada pada sisi barat Pulau Krakal Kecil kedalaman 5 meter sebesar 82,37% dimana prosentase tersebut menurut ( Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, 2001), termasuk dalam kategori baik sekali. Prosentase penutupan karang terendah berada pada sisi utara Pulau Krakal Kecil kedalaman 10 meter sebesar 32,15% dimana besar prosentase tersebut menunjukkan kondisi terumbu karang di titik pengambilan data tersebut dalam kategori sedang karena menurut (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, 2001), karang termasuk dalam kategori sedang

16

apabila prosentase penutupan karang 25-44,9%. Prosentase penutupan karang pada kedalaman 5 meter dapat dilihat pada diagram. Diagram prosentase pada menunjukkan perbandingan antara satu genus karang dengan yang lain sehingga dapat diketahui besarnya komposisi jenis dan persen penutupan dari tiap genus karang serta perbandingan persentase genus karang di setiap sisi perairan Pulau Krakal Kecil.

MARINE DIVING CLUB


Dari grafik terlihat bahwa Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 5 meter masih didominasi oleh genus Acropora. Prosentase penutupan karang tertinggi pada sisi barat Pulau Krakal Kecil yaitu dari genus Acropora dengan nilai prosentase penutupan karang sebesar 25,125%. Pada sisi utara Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 5 meter didominasi Acropora dengan nilai prosentase sebesar 21,6%,sedangkan pada sisi barat Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 5 meter didominasi oleh Acropora dengan nilai prosentase sebesar 25,12%. Sedangkan, berdasarkan grafik lainnya terlihat bahwa prosentase penutupan karang tertinggi di Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 10 meter adalah di sisi barat. Di sisi barat Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 10 meter didominasi oleh Acropora dengan prosentase sebesar 17,68%. Prosentase penutupan karang tertinggi di sisi utara pada kedalaman 10 meter yaitu didominasi dari Porites dengan nilai prosentase tutupan sebesar 5,31%.

Komposisi karang di suatu perairan dapat menentukan bagaimana indeks ekologi di suatu perairan. Indeks ekologi dari suatu perairan terdiri dari indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominasi (C). Indeks ekologi terumbu karang dapat menggambarkan tekanan ekologi disuatu lokasi, baik dari kualitas perairan, komposisi biota penyusun komunitas, dan hal-hal lainnya dari aktifitas antropogenik.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

| EKSPEDISI CORALLIUM

Pada tabel 5 menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada sisi utara Pulau Krakal kecil kedalaman 10 meter yaitu sebesar 0,754 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori rendah dan indeks keanekaragaman (H’) terendah terdapat pada sisi utara Pulau Krakal Kecil kedalaman 5 meter yaitu sebesar 0,582 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori rendah. Pada sisi utara Pulau Krakal Kecil kedalaman 10 meter merupakan lokasi dengan indeks keseragaman (E) tertinggi yaitu sebesar 0,292 yang termasuk

17


dalam kategori komunitas tertekan dan lokasi dengan indeks keseragaman (E) terendah terdapat pada sisi utara Pulau Krakal Kecil kedalaman 5 meter dengan nilai 0,218 yang termasuk dalam kategori komunitas tertekan. Indeks dominansi (C) tertinggi berada pada sisi barat Pulau Krakal Kecil kedalaman 5 meter yaitu sebesar 0,343 sedangkan indeks dominansi(C) terendah berada pada sisi barat Pulau Krakal Kecil kedalaman 10 meter yaitu sebesar 0,250

IKAN TERUMBU 18

MARINE DIVING CLUB


| EKSPEDISI CORALLIUM

Berdasarkan diagram diatas, menunjukkan kelimpahan ikan terumbu yang berada pada sisi utara dan barat perairan Pulau Krakal Kecil. Kelimpahan ikan terumbu yang tertinggi pada kedalaman 5 meter adalah genus Pomacentrus dari famili Pomacentridae yaitu sebanyak 78 individu di sisi utara Pulau Krakal Kecil. Pada sisi barat Pulau Krakal Kecil ikan yang paling banyak dijumpai adalah dari genus Pomacentrus dari famili Pomacentridae dengan jumlah 51 individu. Diagram lainnya menunjukkan hasil komposisi ikan terumbu di perairan Pulau Krakal Kecil pada kedalaman 10 meter. Pada kedalaman 10 meter genus yang paling banyak ditemui adalah genus Thalassoma dari famili Labridae yaitu terletak pada sisi utara sebanyak 40 individu. Pada sisi barat Pulau Krakal Kecil, genus ikan yang paling banyak didominasi berasal dari genus Abudefduf dari famili Pomacentridae dengan jumlah sebanyak 26 individu. Berdasarkan tabel indeks ekologi, ditemukan bahwa indeks keanekaragaman (H’) tertinggi berada pada sisi barat Pulau Krakal Kecil kedalaman 10 meter yaitu sebesar 2,447 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori keanekaragaman jenis sedang. Pada sisi barat kedalaman 5 meter memiliki indeks dominansi (C) tertinggi yaitu 0,176 dimana apabila nilai indeks dominansi mendekati 1 maka ada kecenderungan suatu jenis mendominansi populasi. Indeks Keseragaman (E) tertinggi berada pada sisi barat kedalaman 10 meter yaitu sebesar 0,903 dimana termasuk kategori komunitas stabil. Pada sisi utara Pulau Krakal Kecil kedalaman 5 meter memiliki kelimpahan ikan tertinggi sebesar 7.980 individu/ ha.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

19


Beberapa jenis ikan terumbu (ki-ka): Abudefduf, Thalassoma, dan Pomacentrus (Sumber: reeflivesurvey.com )

PARAMETER OSEANOGRAFI

Data fisika yang diambil tersebut digunakan sebagai data pendukung untuk analisis lingkungan. Sehingga dari data tersebut dapat diketahui hubungan antara lingkungan dan biota yang berada di lingkungan tersebut

PENDATAAN SOSIAL EKONOMI 20

MARINE DIVING CLUB


| EKSPEDISI CORALLIUM Berdasarkan hasil pendataan sosial dan ekonomi di Pulau Karimunjawa dan Pulau Nyamuk, diketahui bahwa sampah di Pulau Karimunjawa sebanyak 71% dimanfaatkan kembali oleh nelayan, sedangkan pada Pulau Nyamuk sebanyak 75% sampah dibakar dan sisanya dibuang. Hasil lainya menunjukkan bahwa sebanyak 37% nelayan Pulau Karimunjawa membuang sampah di tempat sampah, sementara nelayan Pulau Nyamuk membuang sampahnya di lubang galian sebanyak 67%. Diketahui pula bahwa ketersediaan pengelolaan sampah di sekitar lingkungan nelayan Karimunjawa sebesar 50%, sedangkan 50% sisanya megatakan bahwa belum ada pengelolaan sampah. Berbeda halnya pada pernyataan nelayan Pulau Nyamuk, dimana 88% mengatakan belum ada pengelolaan sampah di lingkungan sekitar mereka, sedangkan 12% sisanya mengatakan sudah ada pengelolaan sampah. Sedangkan, dalam keseharian para nelayan melaut, berdasarkan diagram di samping dapat ditunjukkan bahwa jenis sampah dominan yang terdapat di perairan saat nelayan melakukan kegiatan melaut adalah botol plastik, yakni sebanyak 50% nelayan Pulau Karimunjawa dan sebanyak 71% nelayan Pulau Nyamuk.

Hasil dari wawancara sosial ekonomi lainnya mengenai pemahaman tentang terumbu karang telah digambarkan dalam diagram. Diagram di atas menunjukkan bahwa pemahaman nelayan Pulau Karimunjawa tentang terumbu karang adalah sebanyak 71% belum paham, dan 29% sudah paham. Berbeda dengan nelayan di Pulau Nyamuk yang sebanyak 62% sudah paham tentang terumbu karang, sementara 21% masih belum paham dan 17% sisanya tidak mengetahui sama sekali. Diagram di atas menunjukkan sebanyak 58% dari koresponden nelayan di Pulau Karimunjawa sudah paham tentang peranan terumbu karang bagi lingkungan, sementara 42% sisanya belum memahami peranan terumbu karang bagi lingkungan. Hal ini berbeda dengan nelayan di Pulau Nyamuk yang sebesar 75% sudah paham akan peranan terumbu karang bagi lingkungan dan sebesar 25% belum paham.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Dari pendataan sosial dan ekonomi yang dilakukan pada nelayan Pulau Karimunjawa dan Pulau Nyamuk yang masing-masing berjumlah 24 nelayan, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa tingkat pemahaman tentang terumbu karang maupun peranannya terhadap lingkungan pada nelayan Pulau Nyamuk lebih tinggi dibandingkan dengan nelayan Pulau Karimunjawa. Dari hasil wawancara terhadap nelayan Pulau Nyamuk, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa peranan dari ekosistem terumbu karang sebagai tempat tinggal dari ikan, yang apabila ekosistem ini rusak maka akan berpengaruh pada hasil pendapatan mereka. Lain halnya dengan nelayan Pulau Karimunjawa yang sebagian besar masih belum mengetahui apa itu terumbu karang dan apa manfaatnya bagi masyarakat sekitar.

21


Berdasarkan pendataan sosial ekonomi yang telah dilakukan, dengan koresponden wisatawan Karimunjawa, dari 16 sampel sebanyak 80% wisatawan merupakan wisatawan lokal dan sebanyak 20% nya merupakan wisatawan mancanegara. Sebanyak 80% wisatawan Karimunjawa telah paham mengenai dampak sampah bagi ekosistem terumbu karang, sedangkan 20% sisanya belum paham. Mayoritas dari wisatawan mancanegara yang diwawancara mengatakan bahwa di negara asal mereka tidak ada pendidikan mengenai terumbu karang, sehingga mereka kurang paham tentang terumbu karang. Beda halnya dengan wisatawan lokal yang sebagian besar sudah paham tentang

22

apa itu terumbu karang beserta peranannya bagi lingkungan sekitar. Tour guide di Karimunjawa yang diwawancarai sebanyak 16 sampel, dimana mayoritas dari para tourguide sudah memahami peranan bagi lingkungan mereka, terutama sosial dan ekonomi mereka sendiri. Terumbu karang dapat meningkatkan penghasilan di bidang mereka, yakni pariwisata karena keindahannya. Karena itulah para tourguide benar benar menjaga terumbu karang di spot snorkeling maupun diving yang ada di Karimunjawa, salah satunya dengan memungut sampah yang mereka temui di perairan Karimunjawa.

MARINE DIVING CLUB


| EKSPEDISI CORALLIUM Ekspedisi Corallium tahun ini juga mengangkat isu mengenai sampah, terutama sampah plastik. Menurut data dari Balai Taman Nasional Karimunjawa, sampah plastik merupakan masalah yang tidak ada habisnya menghantui kepulauan Karimunjawa. Maka dari itu, tim ekspedisi melakukan pemasangan plang di pulau Nyamuk yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan oleh sampah plastik. Pemasangan plang juga dibantu oleh masyarakat desa Nyamuk sendiri.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Selain itu, tim ekspedisi juga bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang dengan melakukan demonstrasi pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai solusi untuk memanfaatkan sampah organik di sekitar lingkungan rumah warga. Para warga yang ikut serta dalam demontrasi ini cukup antusias dalam mengikuti materi yang diberikan, dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh para warga kepada pemateri.

23


Sumber: fastcoexist.com

MDC SHARING KNOWLEDGE Sotong dapat melakukan kamuflase dengan variasi warna dalam substrat dan kulit hewan yang ditiru sehinnga terlihat sangat mirip. Walaupun hal ini pun tergantung pada spesiesnya, kulit sotong pun akan merespon terhadap perubahan substrat dengan cara yang berbeda. Sotong menggunakan penyamaran mereka untuk berburu dan menyelinap di antara mangsa mereka. Kemampuan lainnya dari sotong adalah mampu menembakkan sebuah jet air yang keluar dari siphon, untuk mencari mangsa yang terkubur di dalam pasir.

24

Nurhidayah MDC XXIV Pernahkah terfikirkan jika ada pena yang hidup di laut? Jika di kehidupan sehari hari kita menggunakan pena untuk menulis, di laut ada pena yang hidup. Ya, mahluk ini biasa di sebut Sea pen atau pena laut. Hewan ini termasuk dalam kelas Anthozoa dimana polip yang dimiliki menyerupai bunga. Biota ini termasuk dalam filum Cnidaria, Kelas Anthozoa dan Famili Pennatulacea. Ia termasuk ke dalam kelompok softcorals (octocorals) bersama gorgonia. Sampai saat ini sudah ditemukan 14 famili dengan 35 genus dan 450 spesies (Williams, 2011). Sesui dengan namanya, hewan ini memiliki bentuk silinder memanjang yang disebut polip sumbu dan bagian pangkal polip sumbu yang disebut tongkat sebagai alat untuk menancapkan diri ke substrat lumpuryang lunak. Hewan ini memiliki warna mulai dari putih jernih keabu abuan, kuning muda, oranye hingga merah jambu. Sumber: Monterey Bay Aquarium

Sotong adalah hewan laut dari ordo Sepiida. Mereka termasuk kelas Cephalopoda, dengan memiliki cangkang internal (cuttlebone) yang unik, atau dan oleh karena itu sotong juga sering disebut sebagai cuttlefish. Sotong memiliki delapan lengan, dan dua tentakel yang dilengkapi dengan pengisap untuk menangkap mangsanya. Mereka umumnya mempunyai ukuran antara 15-25 cm. Sotong adalah predator bagi kepiting, udang, ikan, octopodes, cacing, dan cumi-cumi lainnya. Namun, sotong pun menjadi memiliki predator yaitu lumba-lumba, hiu, ikan, anjing laut, burung laut, dan cumi-cumi lainnya. Meskipun tidak bisa melihat warna, tetapi sotong memiliki kemmapuan dapat merasakan polarisasi cahaya, yang juga meningkatkan persepsi mereka tentang kontras. Mereka memiliki dua tempat sel sensor yang terkonsentrasi di retina mereka (dikenal sebagai foveae), satu untuk melihat lebih ke depan, dan satu lagi untuk melihat lebih ke belakang. Perubahan mata sotong dilakukam secara fokus dengan menggeser posisi seluruh lensa sehubungan dengan retina. Berbeda dengan mata vertebrata, tidak ada blind spot, karena saraf optik sotong terletak di belakang retina. Mata tersebut telah dikembangkan sepenuhnya sebelum kelahiran dan juga terlatih untuk mulai mengamati lingkungan, termasuk mengenali makanan mereka, bahkan sejak masih dalam telur. Sotong seringkali disebut sebagai “bunglon laut�, ini karena kemampuan luar biasa mereka untuk secara cepat mengubah warna kulit mereka. Perubahan warna Sotong, pola (termasuk polarisasi gelombang cahaya yang dipantulkan), dan bentuk kulit dimaksudkan untuk berkomunikasi dengan sotong lainnya, menyamarkan diri mereka sendiri, dan sebagai tampilan untuk memperingatkan predator mereka. Sotong dapat dengan cepat mengubah warna kulitnya dan mencocokkannya dengan lingkungan mereka dan menciptakan pola warna yang kompleks. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menilai lingkungan mereka agar dapat sesuai dengan warna, kontras dan tekstur substrat bahkan dalam kegelapan total.

Sumber: Reefcheck Go! Eco

Offal MDC XXIII

MARINE DIVING CLUB


Sumber: Sigit Heru MDC XXVII

Anisa Nabila MDC XXIV Kuda laut termasuk ke dalam genus Hippocampus, dalam bahasa Yunani hippos berarti kepala kuda sedangkan campus berarti binatang laut sehingga dapat diartikan binatang laut berbentuk kepala kuda. Dilihat dari bentuk morfologinya yang unik membuat hewan ini banyak di perjual belikan sebagai ikan hias, selain itu hewan ini juga dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan tradisional orang Cina. Inilah yang menyebabkan kuda laut memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga banyak orang yang mengeksploitasi ikan ini secara besar-besarran. Menurut IUCN (Internationanl Union for Conservation of Nature and Natural Resources) tahun 2004, kuda laut berada dalam kategori terancam populasinya (Vulnerable).

Hippocampus satomiae merupakan salah satu spesies kuda laut yang di temukan oleh H. satomie. Spesies ini tersebar di Indonesia sekitar Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan juga Malaysia. Spesies ini merupakan spesies kuda laut yang paling kecil, ukurannya kurang lebih 13,8 mm. Spesies ini tidak terlihat pada siang hari, mereka hanya ditemukan saat malam hari dengan jumlah 3-4 individu pada sea fans dan berada pada kedalaman 15-20 m di

BLUE BUBBLES MAGAZINE

| SHARING KNOWLEDGE bawah permukaan laut. Sangat sedikit informasi yang diketahui mengenai makanan dan juga reproduksi spesies ini, tetapi biasanya kuda laut cendereung untuk mengkonsumsi crustacea seperti gammarid dan caridean udang, mysids, amphipods, dan copepod. Sedangkan untuk reproduksinya, kuda laut pada umumnya adalah ovovivipar. Kuda laut betina akan menghasilkan telur, setelah itu telur tersebut akan disimpan pada kantong perut kuda laut jantan. Di kantong ini kuda laut jantan akan membuahi telur-telurnya hingga menjadi embrio dan melahirkan anak kuda laut. Dapat dikatakan bahwa populasi spesies ini terancam karena habitatanya pada terumbu karang banyak yang mengalami pemutihan, selain itu juga banyak karang rusak akibat praktik memancing yang tidak ramah lingkungan seperti trawl dan peledakan bom, dan juga efek dari perubahan iklim termasuk naiknya suhu permukaan laut. Namun data ini hanya didapat dari beberapa lokasi, tentunya diperlukan penelitian lebih lanjut unutk menentukan ukuran populasi, kecenderungan ancaman, dan bagaimana keberlangsungan spesies ini.

Sumber: diving4images.com

Pennatulacea atau Sea Pen hidup dan tersebar di perairan pantai yang hangat, substrat yang lunak, meluas dari perairan dangkal sampai dalam. Persebarannya cukup tinggi, dari perairan tropis dan juga perairan sub-tropis di seluruh dunia, dan juga dapat ditemukan di kawasan intertidal hingga kedalaman lebih dari 6100m (Williams, 2011). Hewan ini mampu berpindah tempat (not permanently attached to bottom). Sea Pen memakan daging atau karnivora, makanannya berupa larva,telur dan zooplankton. Mangsa yang datang ditangkap oleh benang – benang tentakel entodermal yang berjumlah delapan buah. Mangsa akan diarahkan ke lubang mulut dan dicerna, sisa makanan dikeluarkan kembali melalui mulut karena anus tidak terdapat pada hewan ini. Hewan ini tidak termasuk berbahaya, bila tersentuh karena tidak menimbulkan efek apapun, selain itu karena tidak memiliki akar sehingga mudah sekai tercabut dan menjadi magsa hewan lain seperti bintang laut dan keong. Uniknya, saat terstimulasi, beberapa jenis pena laut ini dapat bersinar dengan warna hijau terang!

Maula Nadia MDC XXIV Pernahkah kamu mendengar nama hewan Bulu Seribu? Bukan ulat kaki seribu ya, tapi Bulu Seribu. Nama ini diberikan kepada bintang laut Acathaster planci yang juga dikenal dengan nama Crown of Thornes (secara harafiah berarti mahkota berduri). Namanya sangat pas untuk hewan yang tubuhnya dipenuhi oleh duri-duri beracun dengan ukuran 2 sampai 4 cm ini. Bulu seribu berukuran 25 sampai 35 cm dengan jumlah lengan yang bervariasi antara 8 dan 12 buah. Bintang laut ini menarik perhatian sejak pertama kali dilaporakan pada tahun 1962 di Green Island, Great Barrier Reef, Australia. Kenapa menarik perhatian? Karena mereka merupakan predator karang terbesar. Mereka mampu melahap karang sampai menimbulkan kehancuran yang meluas. Cara makannya cukup unik yaitu dengan mengeluarkan isi perut melalui mulut. Lalu ususnya akan menutupi permukaan koloni karang sehingga pencernaan terjadi di luar tubuhnya. Proses pencernaan ini membutuhkan waktu antara 4-6 jam. Selain karang, bintang laut karnivora ini juga memakan berbagai hewan seperti teritip, spons, dan gastropoda. Bintang laut A. planci merupakan

25


Sumber: Reefcheck 2006 Karimunjawa

Keberadaan hewan ini menjadi berbahaya saat terjadi ledakan populasi. Menurut Coremap (2004), A. planci dapat mengurangi persen tutupan karang hidup dari 25-40% menjadi kurang dari 1%! Dan terumbu karang membutuhkan waktu yang tidak kurang dari 10 tahun untuk pulih kembali. Faktor alami dan dukungan dari faktor manusia serta polusi adalah yang menyebabkan ledakan populasi tersebut. Pemburuan terhadap predator alami A. planci seperti ikan karang dan triton juga mendukung terjadinya ledakan populasi. Sampai saat ini terdapat beberapa cara penanggulangan ledakan populasi bintang laut ini. Dapat dilakukan dengan mengambil dan mengeluarkan bintang laut ini dari laut atau dengan pagar atau kandang di dalam air untuk individu dewasa. Menurut Suharsono (1991) dapat dilakukan dengan penyuntikan racun dengan Cupri sulfat pekat. Namun cara ini memerlukan biaya yang cukup besar.

Ghinaa MDC XXIII Cynarina merupakan salah satu genus karang soliter yang memungkinkannya menjadi The Most Delicate Beauty dalam dunia karang sebab karang ini sangat indah. Karang ini biasa disebut juga dengan button coral, doughnut coral, atau cat’s eye coral. Genus karang ini hanya memiliki 1 spesies, yaitu Cynarina lacrymalis. Karang ini sudah jarang ditemukan di alam karena ia biasa dimanfaatkan untuk

26

aquarium karena keindahannya. Walaupun sudah mulai dibudidayakan di penangkaran, namun karena pertumbuhannya yang lambat menyebabkan karang ini tidak selalu tersedia. Hal ini lah yang menyebabkan karang ini berharga tinggi. Taksonomi Berikut ini merupakan klasifikasi dari Cynarina lacrymalis, yaitu : Kingdom : Animalia Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa Ordo : Scleractinia Famili : Mussidae Genus : Cynarina Spesies : Cynarina lacrymalis

Sumber: Ghinaa MDC XXIII

Sumber: Reefcheck 2006 Karimunjawa

penghuni terumbu karang yang alami. Mereka ditemukan di wilayah daerah terumbu karang dengan persentase tutupan karang yang tinggi di perairan Indo-Pasifik.

Karang ini memiliki bentuk permukaan bulat, oval, maupun silinder. Cynarina lacrymalis mempunya 1 koralit yang besar yang mempunyai struktur rangka bulat atau oval. Ia memiliki gigi septa yang besar dan menonjol dengan ketinggian yang berbeda dan gigi tertinggi nya pasti lebih tebal. Karang keras jenis ini dapat tumbuh hingga 15 cm. Karang ini biasanya ditemukan berwarna hijau, coklat, merah, pink, dan terkadang warna lainnya. Cynarina lacrymalis memiliki tentakel yang hanya keluar saat malam hari dan digunakan untuk menangkap partikel planktonik untuk fotosintesis. Sedangkan pada siang hari mantelnya terisi dengan air bahkan hingga mencapai 2 kali diameternya. Ketika mantelnya mengabsorpsi air, mantelnya akan terlihat tembus cahaya/transparan sehingga septa costae nya yang bergigi terlihat jelas. Cynarina lacrymalis hidup melekat pada dasar namun sebenarnya karang ini hidup bebas. Karang yang masuk dalam famili mussidae ini ditemukan di Laut Merah, Teluk Aden, pantai timur Afrika, Jepang, Indonesia, Australia bagian utara maupun timur. Ia biasa hidup di substrat berpasir, reef slope hingga kedalaman 40 meter.

MARINE DIVING CLUB


| SHARING KNOWLEDGE Brillian MDC XXIV

Sumber: animalpot.com

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Sumber: JJun Imamoto

Clown trigger fish (Balistoides conspicillum) yang juga dikenal dengan triger biji nangka adalah ikan laut demersal dari family Balistidae. Balistoides conspicillum adalah ikan berukuran kecil yang dapat tumbuh hingga 50 cm. Tubuhnya berpenampilan kekar dan berbentuk oval. Dengan ciri khas kepala besarnya hingga sepertiga dari panjang tubuhnya ini dapat ditemukan di perairan bagian indonesia timur. Selain itu ciri yang paling menonjol dari ikan ini adalah memiliki corak seperti pola corak macan tutul Balistoides conspicillum tersebar di seluruh perairan tropis dan subtropis di samudra Hindia hingga samudra Pasifik bagian barat dan samudra Atlantik barat dari florida, karibia dan Teluk Meksiko. Ikan ini paling sering ditemukan di sepanjang perairan yang slope di perariran yang jernih hingga kedalaman 75 M. Juvenile biasanya hidup di kedalaman 20 M yang terlindung oleh terumbu karang dan goa. Ikan ini memakan organisme bentik seperti Moluska, Echinodermata, dan Krustasea. Ikan yang aktifitasnya kebanyakan di siang hari (diurnal) ini bersifat soliter dan sangat agresif akan wilayah tempat tinggalnya. Bentuk tubuh yang kokoh digunakan untuk mengesankan lawan atau untuk menghindari pemangsa yag dapat mengancam hidupnya. Sisi yang menarik dari ikan ini adalah warnanya, oleh karena itu ikan ini merupakan salah satu ikan hias paling berharga. Telah banyak trigger fish yang dijadikan hewan peliharaan, namun tentunya harus dari jalur yang legal. Penempatan aquarium untuk ikan trigger cukup rumit, ikan ini membutuhkan aquarium yang besar karena sifatnya yang soliter dan termasuk kedalam golongan karnivora. Ikan trigger bisa menjadi cukup jinak namun harus tetap waspada saat memberikan makan dengan tangan kosong karena giginya yang tajam.

Tau ga sih kalian ternyata ada yang namanya siput laut? Iyap ternyata ada loh siput yang bisa hidup didalam laut, tapi kalau siput ini tidak memiliki cangkang seperti siput yang ada di daratan. Tritonia atau yang biasa disebut siput laut masuk dalam sub-kelas Opisthobranch dimana jenis ini tidak memiliki cangkang dan biasanya berukuran kecil. Mereka juga memiliki warna warna yang cemerlang dengan pola eye-catching di kulit mereka, nah karena warnanya ini sering dianggap sebagai salah satu hewan terindah di dunia. Tritonia termasuk ke dalam famili Tritoniidae, merupakan Genus untuk siput laut atau nudibranch. Meskipun tubuhnya kecil tetapi hewan ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari makanan, mereka hanya menggunakan 3-5 jam sehari untuk beristirahat. Menurut David (2005), si siput laut mampu bergerak sejauh 10 meter per hari dengani kakinya yang berupa otot datar dan lebar.

Tritonia dapat berkamuflase untuk berbaur dengan lingkungan sekitar sehingga terhindar dari deteksi predator. Selain itu mereka senang memamerkan warna-warna mencoloknya sebagai peringatan bahwa mereka beracun. Beberapa spesies bisa mengeluarkan bau kimia untuk mencegah predator mendekat. Apabila predatot tetap mendekat, mereka mengembangkan strategi menyengat yang sementara melumpuhkan predator dan kemampuan menyengat ini digunakan untuk menangkap makanan juga.

Sumber: Bouphonia

Sumber: Jan Messersmith

Dayinta MDC XXIV

Hewan kecil ini dapat ditemukan di berbagai perairan IndoPasifik, termasuk Indonesia sampai perairan Antartika. Tritonia hidup di berbagai kedalaman dan biasanya berasosiasi dengan hewan-hewan invertebrata lainnya. Menurut Wyeth (2003) Tritonia juga ditemukan di kedalaman 200m!

27


Chiesa MDC XXIV

Sumber: Chiesa MDC XXIV

Arrico MDC XXIII

Yellow Tang Fish atau Zebrasoma flavescens merupakan jenis ikan hias air laut yang termasuk ke dalam family surgeonfish. Yellow Tang Fish sangat diminati oleh para pecinta ikan hias karena dapat hidup sehat di dalam aquarium dan memiliki daya tarik tersendiri, yaitu warna yang mencolok. Spesies ini ditemukan pertama kali pada tahun 1828 dan ikan ini saat dewasa dapat tumbuh hingga 20 cm atau 7,9 in dengan ketebalan 1 atau 2 cm (0,39-0,79). Ikan ini berwarna kuning cerah seperti namanya, namun warnanya akan memudar ketika malam hari. Hal ini dikarenakan sebagai bentuk adaptasi agar tidak tertangkap oleh predator. Berbeda dengan ikan lainnya, ukuran jantannya lebih besar dibandingkan ukuran para betina. Yellow Tang sangat cocok jika dijadikan ikan hias air laut dan ditempatkan di akarium. Ikan jenis ini dapat ditemukan di daerah terumbu karang yang dangkal dengan kedalamannya sekitar 2 sampai 46 meter. Spesies Zebrasoma flavescens tersebar di samudra Pasifik dan juga samudra Hindia bagian barat Hawaii dan juga bagian timur Jepang. Banyak yellow tang fish pada industri akuarium bersumber dari Hawaii. Penampilan ikan yellow tang yaitu berbentuk seperti panah. Hal ini karena dorsal dan juga sirip ikan yellow tang seperti perpanjangan tubuh mereka, selain itu ikan ini memiliki mulut yang panjang seperti tang sehingga digunakann untuk mencari makan di daerah terumbu karang. Jenis makanan spesies ini adalah alga, namun tak jarang pula Zebrasoma flavescens memakan telurtelur ikan bahkan invertebrata disekitarnya. Yellow Tang Fish sangat disukai oleh pengunjung industri akuarium khususnya anak-anak karena bentuknya yang lucu serta warnanya yang mencolok sehingga sering dijadikan sebagai objek foto.

Karang hidup berasosiasi dengan biota lainnya. Dalam kehidupan berasosiasi ini karang berperan sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Hal tersebut disebabkan karena karang bersimbiosis dengan zooxanthellae yang menghasilkan bahan organik, disamping itu karang juga memakan plankton untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Proses perkembangbiakan karang secara vegetatif dilakukan dengan cara membentuk tunas baru. Pertunasan dibedakan menjadi pertunasan intratentakuler yaitu pembentukan individu baru dalam individu lama serta pertunasan ekstratentakuler yaitu pembentukan individu baru di luar individu lama.

Sumber: Coral AIMS

Fungiidae merupakan hewan karang yang unik dikarenakan sifatnya yang soliter maupun berkoloni, hidup melekat maupun bebas (free living) (Suharsono,1996) dan bisa bergerak untuk berpindah tempat (Veron, 1986). Karang jamur ini merupakan karang hermatipik dimana zooxanthellae ditemukan pada jaringan endodermisnya. Halomitra merupakan salah satu jenis karang soliter atau penyendiri yang banyak di temukan di perairan Indo Pasifik. Karakteristik yang unik dan menjadi kunci identifikasi karang ini adalah bentuknya yang seperti piring dengan sisi warna merah muda. Diameter maksimum tubuhnya adalah sebesar 63 cm. Lalu koralitnya mengarah ke tengah dan memiliki bentol bentol. Taksonomi Kingdom : Animalia Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa Ordo : Scleractinia Famili : Fungidae Genus : Halomitra Ternyata salah satu jenis karang ini masuk ke dalam IUCN Redlist. Pada tahun 2008, Halomitra clavator ditetapkan sebagai vulnerable atau rentan. Selain H. clavator, spesies lain dari genus Halomitra adalah Halomitra pileus. Jenis karang ini ditemukan di lereng terumbu pada perairan yang cerah.

28

MARINE DIVING CLUB


| SHARING KNOWLEDGE Aldion MDC XXIII

Sumber: Klaus Stefel

Namun saat ini ikan bumphead parrotfish sedang mengalami penurunan terkait beberapa ancaman. Panduan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) tentang Spesies of Concern di tahun 2010 menjelaskan bahwa ancaman langsung yang utama bagi bumphead parrotfish diantaranya penangkapan berlebih, cara tangkap yang merusak, serta berkurangnya atau rusaknya terumbu karang yang menjadi habitat mereka.

Erlangga Diga MDC XIX

Source: Erlangga Diga MDC XIX

Salah satu ikan terumbu yang memiliki pesona unik dan bernilai ekologis tinggi bagi terumbu karang adalah bumphead parrotfish. Bumphead parrotfish, mempunyai nama latin Bolbometopon muricatum dan merupakan salah satu ikan terumbu yang paling terbesar (ukuran mencapai 120 cm dan berat mencapai 50 kg) dari anggota ikan kakatua, atau parrotfish. Selain ukuran antara bumphead parrotfish jantan yang lebih besar dari pada bumphead parrotfish betina, perbedaan lain ada pada bagian ‘dahi’ mereka. Bumphead parrotfish betina ditandai dengan dahi yang memiliki cekungan di bagian yang dekat tepi atas mulutnya. Sedangkan yang jantan memiliki dahinya lebih maju secara vertikal mulai tepi atas mulutnya (Munoz & Zgliczynski, 2014). Tidak seperti parrotfish umumnya, menurut Choat dan Randall (1986), bumphead parrotfish tidak menunjukkan perubahan warna tubuh saat jenis kelamin mereka beralih. Warna tubuh mereka cenderung tetap sama saat jenis kelamin mereka berubah menjadi betina atau jantan saat dewasa. Pada siang hari, bumphead parrotfish biasa memakan tanaman alga yang melekat di dasar terumbu dan karang. Saat makan, bumphead akan menabrakan kepala mereka ke dinding karang keras dan memecahkannya menjadi potongan kecil agar lebh mudah masuk ke mulut mereka. Alga yang ada di bongkahan karang akan dicerna dan karang dibuang bersama kotoran mereka. Kotoran bumphead kerap menyerupai butiran pasir halus hasil dari proses kalsifikasi (proses pembentukan kerangka kapur hewan karang di terumbu) yang jatuh kembali ke dasar.

If we talk about coral reef ecosystem, mostly in our mind is a part of coastal ecosystem that can be found in shallow water. But, did you know that some coral can live until 490 feet (150m) below the ocean surface? Also, did you know about the mesophotic zone? Here we’re giving some information about what is the mesophotic coral ecosystem (MCEs). This topic might be unfamiliar not just for common people, also for marine scientist especially in our country Indonesia. So, let’s talk about it. Mesophotic (‘meso’ meaning middle and ‘photic’ meaning light) usually called as a “twilight zone” because of the transition between the brightly form shallow to dark for the deeper depth. Mesophotic coral ecosystem, are dominated by the presence of both light-dependent coral, algae, and organisms which can be found in water with low light penetration. The MCEs can be found in tropical and subtropical waters between 30 – 40 m (around 130 feet) up to 150 m (490 feet) depth. Before, there were many limitations to learn about the MCEs because lack of technology to explore deeper depth. But recently, there are many scientists who are interested working in mesophotic coral ecosystem. They believed that the MCEs could be able as a lifeboat for shallow coral reef where this zone has more stable temperature rather than shallower depth also there are crossover for coral species from mesophotic to shallow or vice versa. They believed, these things could be a potential as coral restoration for shallow reef ecosystem.

Source: Erlangga Diga MDC XIX

BLUE BUBBLES MAGAZINE

29


Maula Nadia MDC XXIV

Frame diletakan pada titik 90cm pada setiap meternya (Hadi Alkharis MDC XXII, Lampung – 2018)

Terdapat beragam metode yang digunakan dalam pengambilan sampel untuk penilaian kondisi terumbu karang. Setiap metode memiliki kelebihan serta kekurangannya tersendiri dan digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Metode-metode yang dimaksud antara lain adalah manta tow, Line Intercept Transect (LIT), dan Point Intercept Transect (PIT). Namun selain itu ada metode yang dikenal sebagai Underwater Photo Transect (UPT) atau yang dikenal dengan Transek Foto Bawah Air. Metode UPT merupakan metode yang memanfaatkan perkembangan teknologi, karena dalam metode ini digunakan teknologi kamera digital dan juga perangkat lunak (software) komputer. Pengambilan data di lapangan hanya berupa foto-foto bawah air yang selanjutnya akan dianalisis lebih lanjut menggunakan komputer untuk mendapatkan data kuantitatif. Alat

Metode Transek Bawah Air Pengambilan data di lapangan dengan metode UPT dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital. Transek sepanjang 50 meter digelar dan pengambilan foto dengan batas frame dilakukan pada setiap meter. Pemotretan dilakukan dari meter ke-1 pada bagian sebelah kiri garis transek, dilanjutkan dengan pengambilan foto pada meter ke-2 pada bagian kanan. Pemotretan seteruskan dilakukan hingga akhir transek. Maka untuk meter gantjil (meter ke-1, 3, 5,..) diambil pada bagian kiri, sedangkan untuk meter genap (meter ke-2, 4, 6,..) pada bagian kanan. Pemotretan dimulai dari transek 90cm pada setiap meternya. Pemotretan harus dilakukan sekitar 60 cm dari dasar substrat dan dilakukan tegak lurus. Untuk memudahkan pekerjaan, dibutuhkan 2 orang yang memiliki dua peran yang berbeda yaitu sebagai fotografer dan yang memegang frame

Alat-alat yang digunakan untuk metode ini adalah sebagai berikut:

1. Peralatan selam SCUBA 2. Kamera digital bawah air (atau kamera digital yang diberi pelindung) 3. Roll meter 50m sebagai garis bantu transek 4. Frame besi (ukuran 58Ă—44 cm) 5. GPS untuk menandakan titik pengamatan 6. Kertas tahan air untuk menulis di bawah air 7. Komputer untuk menganalisis foto 8. Software CPCe 9. Sarung Tangan untuk melindungi tangan

30

MARINE DIVING CLUB


| SHARING KNOWLEDGE Ilustrasi Transek Bawah Air (Sumber: Giyanto, 2012)

Analisis Foto Foto-foto yang didapatkan selanjutnya dianalisis dengan software komputer seperti CPCe. Analisis ini bertujuan untuk mendapatkan data kuantitatif seperti persentase tutupan karang atau pun substrat lain. Pada software, sampel titik acak dipilih secara otomatis sebanyak 10 atau 30 titik. Selanjutnya ditentukan biota atau substrat apa yang ada di titik tersebut. Hasil analisis seluruh foto (50 foto) pada satu transek akan selanjutnya dikalkulasi secara otomatis oleh software yang digunakan. Maka data kuantitatif dapat didapatkan.

Kekurangan

Ketergantungan pada penggunaan kamera Metode ini sangat bergantung kepada teknologi, khususnya kamera digital. Jika kamera habis baterai atau pun rusak, metode ini tidak dapat dijalankan. Maka perawatan dan penggunaan kamera untuk metode UPT ini sangat penting untuk diperhatikan ya buddies!

Penggunaan Software CPCE

Setiap metode pengamatan kesehatan terumbu karang tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apa sih kelebihan dan kekurangannya metode Underwater Photo Transect (UPT)? Kelebihan Mempersingkat waktu pengambilan data di lapangan Pada metode UPT hanya diperlukan pemotretan transek yang dapat dilakukan dengan cepat. Metode ini tidak membutuhkan waktu untuk pengamatan atau pun pencatatan seperti pada metode LIT (Line Intercept Transect) maupun PIT (Point Intercept Transect).

Foto hasil dokumentasi dapat menjadi arsip yang sewaktu-waktu dapat dilihat kembali Foto hasil dapat menjadi pembanding untuk monitoring di tahun-tahun berikutnya. Karena bentuknya file foto, maka dapat disimpan dengan mudah.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Waktu analisis foto yang lebih lama Walaupun waktu pengambilan foto di lapangan relatif lebih cepat, namun untuk proses analisis foto membutuhkan waktu yang lebih lama. Jika 1 foto dianalisis dengan 10 atau 30 titik acak, bayangkan bahwa untuk satu transek ada 50 foto (50 x 30 titik = 1500 titik – dan itu hanya untuk satu transek / stasiun!)

Metode ini sudah banyak digunakan di berbagai penelitian tentang kesehatan terumbu karang di Indonesia. Salah satunya adalah oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dalam program COREMAP-CTInya.

31


| SHARING KNOWLEDGE Anisa Nabila MDC XXIV

Tahukah kamu bahwa batok kelapa dapat dijadikan media tanam terumbu karang? Bioreeftek adalah teknik baru yang sedang dikembangkan oleh Balai Riset dan Observasi Laut sejak tahun 2008, “Bio” adalah hayat atau hidup, “Reef” adalah batu atau gosong karang tapi biasa dikenal dengan sebutan terumbu, sedangkan “Tek” adalah singkatan dari teknologi. Disebut bioreeftek karena batok kelapa menjadi substrat dasar untuk perkembangan alami larva planula karang individu baru, selain itu teknik ini juga berfungsi untuk meningkatkan kompleksitas habitat dikarenakan bentuk batok kelapa yang memiliki rongga tertentu pada cekungan bagian dalam, sedangkan untuk cekungan bagian luar dapat mengubah pola arus dan gelombang. Batok kelapa tentunya sangat mudah ditemukan di daerah pesisir pantai, untuk mendapatkannya juga tidak diperlukan biaya. Teknik ini sangat mudah diaplikasikan untuk orang awam yang tidak banyak mengenal tentang terumbu karang. Selain itu, teknik ini juga snagat efisien karena tidak memerlukan waktu dan tenaga yang banyak. Batok kepala cukup di belah dua lalu disusun pada tiang alumunium seperti pada gambar. Setelah itu letakkan bioreeftek pada perairan yang terumbu karangnya masih baik sehingga larva planula karang cepat menempel. Bila planula sudah banyak yang menempel, pindahkan bioreeftek ke lokasi yang relative kurang atau rusak terubu karangnya. Sampai saat ini Balai Riset dan Observasi Laut telah menerapkan bioreeftek di Pemuteran dan Nusa Penida, Bali; Tablolong, Kupang dan Waingapu, Sumba, NTT; Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan; dan Alas, Sumbawa. Namun untuk saat ini sudah banyak organisasi yang mengembangkan bioreeftek di berbagai daerah. Berkaca dari tutupan terumbu karang yang semakin tahun semakin berkurang akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan rusaknya terumbu kaang akibat perubahan iklim. Teknik ini sangat cocok untuk diaplikasikan di berbagai daerah. Diharapkan masyarakat, nelayan dan juga wisatawan dapat membantu melestarikan ekosistem terumbu karang di seluruh Indonesia.

32

Tahun 2018 Marine Diving Club melakasanakan beberapa diklat gabungan bersama komunitas dan UKM lain di kelautan. Diklat gabungan ini bertujuan untuk saling berbagi ilmu dari tiap organisasi yang sama-sama dapat menambah pengetahuan mengenai bidang di kelautan lainnya dan juga dapat diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang tagline Marine Diving Club itu sendiri. Pada hari Sabtu (10/11) di sekretariat HMIK, para anggota MDC dan SONAR hadir untuk Diklat Gabungan MDC x SONAR. SONAR adalah salah satu komunitas di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang bergerak di bidang survei dan instrumentasi kelautan M. Nauffal Nurrahman dan M. Noval Agassi dari SONAR memberikan materi Survei Hidrografi dan Echosounder sedangkan Diaz Adiyoga (MDC XXI) membawakan materi tentang Coral Introduction. Di hari Sabtu (24/11) kemarin, MDC juga mendapatkan diklat tentang Hiu dari Gaia Conservation Kami mendapatkan ilmu tentang hiu sampai tentang pendataan enumerasinya. Teman-teman Gaia juga berbagi tentang pengalaman mereka melakukan enumerasi di Semarang dan Jepara Selanjutnya, pada hari Senin (26/11) dilakasakan diklat gabungan bersama Kelompok Studi SeaCrest yang berfokus pada konservasi lamun. MDC membawakan materi tentang terumbu karang dan Seacrest membawakan tentang identifikasi Lamun. Banyak banget ilmu baru yang kami dapatkan dan ungkapan dari Aldion, anggota MDC XXIII bahwa “Dulu kalau kita nyelem ngeliat lamun, didiemin aja” juga jadi berubah loh buddies! Semoga hubungan antar komunitas ini dapat semakin erat dan terus terjaga, serta semakin meluas ya. Waspada Dira Anuraga!

MARINE DIVING CLUB


w aspada d ira a nuraga

terima kasih kepada seluruh anggota marine diving club serta pihak pihak yang telah memberikan kontribusi positifnya sehingga majalah ini dapat terbit dan DIBACA oleh anda semua. teruntuk, lautan dan masyarakat indonesia, dari kami marine diving club.


check out our latest products on Instagram: @conserve_mdc