Blue Bubbles Magazine 2017

Page 1

BLUE BUBBLES MAGAZINE

MARINE DIVING CLUB 2017

SCIENTIFIC - EDUCATION - CONSERVATION


SAMBUTAN

Daftar Isi 3Sambutan 4Struktur Kepengurusan 6Open Recruitment 7EMBRIO 8HOLY DIVE : 9Sertifikasi Selam 1026 Tahun MDC

KETUA MARINE DIVING CLUB 2017/2018

11 Caretta X Savu 12 Cerita dari Laut Sawu 19Ekspedisi Corallium 34Artikel Ilmiah Populer

2

MARINE DIVING CLUB

Asalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta dengan ijinya sehingga majalah tahunan Marine Diving Club dapat dibentuk. terimakasih diucapkan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan majalah tahunan ini. Majalah ini merupakan majalah tahunan yang setiap tahun disusun untuk merangkum cerita dari perjalanan di satu kepengurusan. Berbagai kegiatan, prestasi dan juga informasi menarik yang di sajikan dalam majalah ini. Semoga dengan disusunya majalah ini bisa menjadi salah satu media publikasi untuk memperkenalkan MDC dalam bentuk yang menarik. BLUE BUBBLES MAGAZINE

Dengan diterbitkanya majalah ini juga berarti merupakan akhir dari pejalanan kepengurusan periode 2017/2018. Pengurus mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membangun MDC selama berjalanya kepengurusan tahun ini. Semoga MDC terus berbenah dan berkembang seiring berjalanya zaman, dan selalu bisa menjadi wadah belajar yang baik bagi anggota dan memberikan manfaat bagi yang lain. Tak lupa kritik dan saran juga kami harapkan untuk perbaikan dalam penyusunan majalah selanjutnya. Semoga majalah ini bisa memnberikan manfaat bagi kita semua. Sekian dari saya, mohon maaf apabila ada kata yang kurang pas. Wasalamualaikum Wr.Wb

3


STRUKTUR KEPENGURUSAN

4

MARINE DIVING CLUB

BLUE BUBBLES MAGAZINE

5


OPEN RECRUITMENT Hi Buddies! Open Recruitment Marine Diving Club 24 dengan tema “Challenge yourself to seek the greatness of our sea, because life looks better under the water” merupakan kegiatan tahunan MDC yang dilakukan untuk mencari anggota baru. Pada kegiatan oprec, terdapat 6 tahapan yaitu Diklat, PAP, LKK, LPT, Bintaltap, dan Ekspedisi Corallium yang harus diikui oleh peserta sebelum menjadi anggota Marine Diving Club. Peserta dalam kegiatan oprec ini merupakan mahasiswa Ilmu Kelautan dan Oseanografi UNDIP angkatan 2015 dan 2016.

oleh peserta sendiri. LATIHAN PERAIRAN TERBUKA LPT (Latihan Perairan Terbuka) menjadi tahapan selanjutnya bagi peserta yang dilakukan secara langsung di alam, yaitu di Pulau Panjang, Jepara. BINTALTAP Pada tahapan selanjutnya, yaitu Bintaltap (Pem-

DIKLAT Tahapan diklat yang merupakan tahapan pertama berisi kegiatan tes kolam dan tes pengetahuan tentang dasar selam. Dalam tahapan pertama ini, selain dilakukan tes juga diajarkan beberapa teknik renang dan dasar selam yang dapat diaplikasikan pada tahapan lapangan selanjutnya. PENDIDIKAN AKADEMIS PENYELAMAN Tahapan kedua, yaitu PAP (Pendidikan Akademis Penyelaman) merupakan tahapan dimana peserta diajarkan materi tentang penyelaman, mulai dari fisika penyelaman, lingkungan penyelaman, alat-alat penyelaman, dan lain-lain. Materi ini dijelaskan agar peserta mengerti secara teoritis apa-apa saja yang harus dipersiapkan sebagai seorang penyelam. Selain itu, peserta mendapatkan nama keren khas MDC yang peserta gunakan pada tahapan-tahapan berikutnya. LATIHAN KETERAMPILAN KOLAM Tahapan selanjutnya, yaitu LKK (Latihan Keterampilan Kolam) merupakan kegiatan fisik untuk memaksimalkan kemampuan peserta, selama empat hari di Kolam Renang Diponegoro. Setelahnya, peserta yang telah melalui tahapan LKK pun melaksanakan kegiatan LKK tambahan yang dipanitiai

6

binaan Mental dan Pemantapan) peserta diberikan pengenalan mengenai organisasi MDC dan juga berkenalan lebih dekat dengan senior-senior MDC. Pada tahapan terakhir, peserta yang telah berstatus sebagai anggota muda setelah kegiatan bintaltap, mempersiapkan acara EMBRIO dan Ekspedisi Corallium yang dipanitiai sepenuhnya oleh anggota muda. EKSPEDISI CORALLIUM Ekspedisi Corallium 19 sendiri, yang dilakukan di bulan November dilaksanakan di Pulau Karimunjawa, Kemujan, dan Pulau Bengkoang. Sebelumnya, selain mempersiapkan acara, mereka pun mempelajari pendataan secara intensif, baik yang berfokus pada ikan karang dan karang. Kegiatan yang menjadi ekspedisi pertama ini sangatlah berkesan bagi anggota muda, karena selain banyak hal yang tidak terduga seperti perubahan cuaca dan pengalaman baru bagi anggota muda. Pada akhir kegiatan open recruitment, sembilan anggota muda membuat Seminar Hasil Ekspedisi Corallium Selain menampilkan hasil pengamatan yang dilakukan sepanjang ekspedisi, anggota muda pun secara resmi dilantik menjadi anggota MDC. Kesembilan anggota MDC angkatan 24 adalah Gilang (coordinator), Bima, Dayinta, Annisa, Faruq, Nurhidayah, Maula, Chiesa, dan Brillian. Selamat dating anggota Marine Diving Club 24, semoga kontribusimu bias berarti banyak dan juga mendapatkan pelajaran berharga di MDC ya!! Waspada Dira Anuraga!

MARINE DIVING CLUB

EMBRIO 2017

“Efektif Menyenangkan Belajar Renang Ilmu kelautan dan Oseanografi ” EMBRIO merupakan acara tahunan yang di selengarakan oleh anggota muda 24 Marine Diving Club Universitas Diponegoro yang di tujukan kepada mahasiswa Departemen ilmu kelautan dan Departemen Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Pada kegiatan EMBRIO 2017 ini memiliki tagline “Sa, Bisa! Bisa! Bisa berenang, Semua senang!” sebagai penyemangat dalam melaksanakan kegiatan EMBRIO ini. EMBRIO 2017 sendiri memiliki tujuan untuk memberikan sarana bagi mahasiswa untuk dapat belajar bersama teknik berenang yang benar dengan teknik yang efektif dan efisien. Pada EMBRIO2017 ini diadakan enam kali pertemuan yang di laksanakan pada tanggal 8,14,15 oktober dan 5,13 November 2017 di kolam renang watugong kodam dengan peserta lebih dari 80 Mahasiswa Kelautan Universitas Diponegoro. Kegiatan EMBRIO 2017 ini diisi dengan berbagai materi renang dan selam dasar, pada materi renang terdapat materi seperti mempelajari teknik berenang yang benar , watertrap, Renang bawahair, dan lompat podium, dan pada materi selam dasar

peserta EMBRIO2017 mendapat materi mengenai entry permukaan, entry kedalaman, pengenalan peralatan selam dan Scuba trial. Pengenalan selam dasar dalam kegiatan EMBRIO2017 ini merupakan materi tambahan yang bertujuan untuk sebagai bekal untuk diaplikasikan nantinya pada kuliah selam di semester 2. Jihad, ilmu kelautan undip2017 salah satu peserta EMBRIO2017 mengatakan “menurut saya Embrio merupakan media ideal bagi anak kelautan untuk mengenal dasar2 selam yang nantinya akan berguna di semester berikutnya. Dengan mengikuti embrio, saya mampu mendapat nilai A pada mata kuliah renang dengan persyaratan berenang gaya bebas 200m yang pada awalnya saya kira sulit untuk dilakukan. Namun alhamdulillah saya bisa langsung mencapainya pada pertemuan pertama. Pembimbing2nya embrio juga memberikan tips2 jitu untuk menjalani perkuliahan di kelautan yang notabenenya pasti sangat sibuk pada semester awal hingga semester 5. Pembimbing embrio juga baik2 dengan para peserta. Untuk kedepannya semoga mdc semakin berkembang dengan program embrionya”.

#EMBRIO2017 #Waspadadiraanuraga!!

BLUE BUBBLES MAGAZINE

7


HOLY DIVE : SERTIFIKASI SELAM

Marine Diving Club melaksanakan kegiatan tahunan nya yaitu Sertifikasi Selam pada tanggal 28 April 2017 sampai dengan 5 Mei 2017 yang diikuti oleh lima orang peserta. Sertifikasi kali ini bertema-kan “Holydive”. Tema tersebut dipilih karena pada sertifikasi kali ini , para peserta diajak untuk mengunjungi tempat-tempat suci umat Hindu yang berada di pulau Bali. Dalam pelaksanaan sertifikasi selam ini, Marine Diving Club bekerjasama dengan Scuba School Internatioanal (SSI) Bali yang dalam rangkaian pelaksanaan-nya diintrukturi oleh SaudaBali Tim sertifikasi mengunjungi 2 obyek wisata suci ra Rian Heri Pamungkas. Kerjasama ini merupakan yang berada di pulau bali yaitu Sangeh Monkey kali kedua, dimana pada tahun sebelum-nya MDC juga bekerjasama denga SSI dalam kegiatan sertifi- Forest dan Uluwatu. Pada tanggal 3 Mei 2017 yang merupakan hari ke-3 dari kegiatan LPT, Tim sertifikakasi selam. si melakukan dua kali penyelaman di Daerah Amed, di daerah ini terdapat lokasi Artificial Reefs ( Terumbu Karang Buatan) yang disusun dengan bentuk yang menarik. Selain menikmati keindahan Artificial reef, para peserta sertifikasi juga mempraktikan keterampilan-keterampilan selam yang telah didapatkan di dua rangkaian sebelumnya. Perairan Amed yang dijadikan lokasi penyelaman ini memiliki dasar perairan yang landa dengan substrat pasir, dimana kondisi tersebut mendukung para peserta untuk melatih keterampilan selam-nya. Tim sertifikasi berangkat menuju Daerah Tulamben untuk melakukan penyelaman berikutnya , di Rangakaian Kegiatan sertifkasi sendiri terdiri dari Tulamben terdapat dive site yang sangat terkenal 3 tahap, rangkaian pertama adalah Pendidikan Ak- yaitu USAT Liberty Shipwreck dan Drop Off. Penyelaman pertama dilakukan di USAT Liberty Shipwreck, ademis Penyelaman (PAP),kegiatan ini dilaksanakan dimana pada lokasi tersebut terdapat kapal perang di kampus FPIK UNDIP Semarang pada tanggal 28 USAT Liberty milik Amerika Serikat yang ditengApril 2017, kegiatan ruangan ini merupakan pemgelam kan oleh Jepang pada perang dunia kedua. bekalan awal berupa penyampaian teori-teori dan Para peserta menikmati panorama bawah laut beruketerampilan dasar selam yang dibutuhkan para peserta sebelum turun langsung ke perairan terbuka pa kapal karam yang dijadikan rumah oleh banyak biota laut yang sangat menarik. Penyelaman kedua . Setelah itu para peserta mengikuti kegiatan Latidilakukan di divesite “Drop Off” dimana pada site han Keterampilan Kolam (LKK) pada tanggal 29ini para peserta sertifikasi menikmati pemandangan 30 April 2017 yang dilaksanakan di kolam Kodam Watugong Semarang, latihan ini dimanfaatkan oleh dengan menyusuri tebing curam yang berada di para peserta untuk mempraktek-kan teori dan keter- bawah laut. Penyelaman di “Drop Off” merupakan penyelaman terakhir pada Kegiatan LPT. Semoga ampilan yang sebelumnya sudah disampaikan pada ilmu yang telah didapat dalam kegiatan sertifikasi kegiatan PAP. ini dapat berguna untuk para peserta, dan semoga Setelah menjalankan kedua rangkaian kegiatan di kota Semarang, para peserta selanjutnya mengi- kita dapat bertemu lagi di penyelaman-penyelaman berikutnya. kuti kegiatan yang paling di tunggu-tunggu, yaitu Latihan Perairan Terbuka yang dilaksanakan di Pulau

8

MARINE DIVING CLUB

TOGETHER WE KEEP MOVING FORWARD

26 TAHUN MARINE DIVING CLUB

26 tahun merupakan waktu yang tidak singkat, tetapi itu lah yang sudah di lewati MDC untuk terus menjaga konsistensi sebagai club selam yang bergerak di bidang scientific, education dan conservation. Ulang tahun MDC pada tahun 2017 ini membuat berbagai kenangkan kembali dimana pada acara ulang tahun kali ini di meriahkan dengan berbagai kegiatan baik itu untuk internal anggota MDC sendiri dan mitra MDC selama ini. Pada ulang tahun kali ini ada 3 rangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk memeriahkan ulang tahun ke 26 ini, yaitu mdc “vaganza”, “coral garden”, dan “malam puncak 26 tahun”

CORAL GARDEN Pada ulang tahun kali ini MDC melakukan transplantasi karang yang dilaksanakan di pulau Sambangan, Karimunjawa. Transplantasi dilakukan pada media besi yang bentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk bunga, Harapannya dengan adanya kegiatan inidapat membantu memperbaiki ekosistem terumbu karang, dan dapat digunakan sebagai bahan penelitian anggota MDC ke depannya.

MDC VAGANZA Acara MDC vaganza sendiri merupakan acara yang di tujukan untuk anggota internal MDC, pada kegiatan ini para anggota MDC disuguhkan berbagai macam perlombaan yang dimana setiap angkatan di MDC beradu skill demi menjadi pemenang, lomba lomba yang di hadirkan antara lain panco, joget balon, UNO, PES, renang, SAR skill, buddy goal, dan lain lain. Acara ini di tutup dengan makan bersama, dimana masakan yang disajikan berasal dari masakan para peserta lomba, dan ada sesi potong tumpung dan doa bersama sebagai harapn harapan untuk MDC kedepannya.

MALAM PUNCAK 26 TAHUN Pada acara malam puncak ini mengundang seluruh anggota MDC dan para mitra kerja MDC. Pada perayaan ini dilakukan juga pengenalan CORAL GARDEN yang sudah dibuat sebelumnya. adanya acara ini di harapkan dapat mempererat tali silaturahmi kepada para sahabat MDC dan anggota MDC itu sendiri. Acara dilaksankan di DU’CAFE banyumanik. Puji syukur kami panjatkan kepada tuhan atas 26 tahun yang sangat luar biasa ini, semoga kedepannya MDC biasa terus berkontribusi untuk laut Indonesia dan dunia.

WASPADA DIRA ANURAGA!!!

BLUE BUBBLES MAGAZINE

9


CARETTA X SAVU “a Smile for Savu Sea�

Indonesia memiliki begitu banyak pesona alam, yang membuat kita takjub dan bersyukur akan nikmat sang maha kuasa. Salah satu alam yang dimiliki Indonesia yaitu lautan, hampir 1/3 bagian wilayah Indonesia adalah perairan laut. Perairan laut memiliki pesona memukau pada setiap ekosistemya salah satunya ekosistem terumbu karang, yang memiliki kompleksitas alamnya sehingga setiap organisme fauna atau flora yang hidup dalam ekosistem tersebut saling berkaitan satu sama lainnya menghasilkan ke-elokan bagi siapa saja yang dapat menikmatinya. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marine Diving Club (MDC) merupakan organisasai mahasiswa yang berada di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, yang memiliki tigeline Saintifik, Edukasi, dan Konservasi menjalankan suatu ekspedisi yang diberi nama Caretta. Ekspedisi Caretta ini diberi nama karena terinspirasi dengan spesies penyu yaitu Caretta caretta yang dapat menjelajahi perairan nusantara bahkan perairan dunia sekalipun. Ekspedisi Caretta pada hal ini sudah diselenggarakan yang ke sepuluh (X), yang bertempat di Taman Nasional

10

MARINE DIVING CLUB

EKSPEDISI CARETTA X LAUT SAWU

Perairan (TNP) Laut Sawu, Nusa Tenggara Timr, bekerja sama dengan Yayasan Reef Check Indonesia, TNC-ICOP, dan didukung penuih oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Negara (BKKPN) Kupang. TNP Laut Sawu terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan merupakan Kawasan Konservasi Periaran yang terluas di Segitiga Karang Dunia dengan luas 3,35 juta hektar dan merupakan daerah sebagai jalur migrasi hewan laut karismatik seperti mamalia laut, lumba-lumba, pari manta, dan paus. Kegiatan ekspedisi ini dilakukan dengan tujuan sebagai monitoring kesehatan terumbu karang, edukasi masyarakat pesisir tentang biota karismati melalui pembelajaran anak-anak SD didaerah laut sawu, dan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Ekspedisi ini dilakukan Kegiatan ekspedisi ini dilaksanakan pada 3 periode waktu yang berbeda yang mengambil lokasi di 8 Kabupaten dalam kawasan TNP Laut Sawu yaitu Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, dan Kupang, dan tediri dari 11 lokasi target dan 4 lokasi kontrol.

11


CERITA DARI LAUT SAWU: Pesona Tanah Flobamora Corina Dewi Ruswanti

hewan-hewan megafauna. Kemunculan dari hewan-hewan megafauna seperti lumba-lumba, paus, ikan pari manta di Laut Sawu merupakan hal yang sudah biasa bagi masyarakat NTT, namun bagi saya yang seumur hidup tinggal di tanah Jawa, merupakan pengalaman yang tidak terlupakan karena dapat melihat hewan-hewan tersebut berlalu lalang di lautan bebas. Sontak secara cepat saya mengeluarkan kamera setiap ada teman saya yang berteriak “Woy! Lumba-lumba tuh!�, beberapa kali saya menyangkal karena tidak percaya dan ternyata benar mereka Tanah Flobamora, begitulah mereka menyebut tanah di sebelah Timur Indonesia yang tepatnya adalah Nusa Tenggara Timur, nama yang indah sebagai awal perkenalan saya dengan tanah timur yang baru pernah saya pijak untuk pertama kalinya. Banyak sekali terdengar cerita tentang keindahan alam yang dimiliki oleh tanah Flobamora ini, tidak sedikit orang yang rela berkelana jauh dari seluruh penjuru nusantara dan mancanegara untuk mengunjungi tanah timur ini. Bukan hanya alamnya saja namun budaya yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu daya tarik yang sangat diminati, walaupun masih dalam satu provinsi ternyata banyak sekali perbedaan dari mulai bahasa daerah, budaya, adat, sampai hasil pangan dari masing-masing daerah.

muncul bahkan beberapa kali saya melihat lumba-lumba dengan asiknya menari di lautan, sambil melompat dengan indahnya, dan itulah momen yang sangat terekam di fikiran saya sampai sekarang. Saya tidak sendirian disana melainkan bersama Tim Ekspedisi Caretta X yang beranggotakan 8 orang dengan di dampingi 1 supervisor dari Reef Check Indonesia, jadi kami ber 9 lah yg menjadi saksi akan keindahan tanah Flobamora.

M. Danie

Bagaimana cerita penyelaman saya di Pulau Sumba ? sungguh menyenangkan jika sekarang saya menceritakannya, karena kegiatan di Pulau Sumba ini telah berakhir. Saat saya berfikir kembali bagaimana indahnya bawah air Pulau Sumba yang diwakili dengan 4 site penyelaman saya merupakan suatu keindahan tersendiri bagi saya. Desa sebagai tempat transit sebelum saya dan tim berlanjut menggunakan perahu untuk menyelam bernama Desa Mamboro yang terletak di utara Pulau Sumba, sebuah desa yang mayoritas nelayan penduduknya di utara Sumba. Kami bermalam di sebuah rumah milik salah satu masyarakat desa ini yang juga kami pakai kapal bermotornya untuk kegiatan penyelaman esok harinya. Perjalanan laut dimulai dari sini untuk menuju ke lokasi penyelaman pertama di Pulau Sumba ini yaitu site Lokory. Sepanjang perjalanan menuju site terdengar cerita dari bapak pemilik kapal yang sekaligus sebagai nelayan bahwa site yang akan kita tuju ini merupakan site target lokasi dari pengoboman ikan, yang paling miris lagi menurut ceritanya, nelayan yang melakukan pengebomam untuk mengambil ikan dengan cara merusak itu dilakukan oleh nelayan dari luar Pulau Sumba. Cerita si bapak langsung dibuktikan dengan penyelaman saya yaitu pada kedalama 3-6 meter dari permukaan laut, saya melihat bentangan pecahan karang yang tersebar luas, hanya menyisakan beberapa karang-karang saja, yang miris jika membayangkan ikan tidak mempunyai tempat tinggal untuk melangsungkan hidupnya, bagaimana kita sebagai manusia akan menyambung hidup dari hasil perikanan laut jika tempat tinggal ikan tidak ada ?. Mari kita sendiri yang menjawab dengan kearifan yang kita punya.

Lokasi penyelaman kedua masih daerah Sumba timur yaitu site Lenang, site ini merupakan site (control) artinya site ini merupakan daerah yang bukan termasuk area konservasi laut sawu, tetapi jika saya berkata wow berarti itu site yang mengagumkan. Saya bertemu dengan segerombolan lumba-lumba yang baru saya lihat berenang dekat pantai, dan saya melihat sepasang penyu jantan dan betina yang sedang kawin dipermukaan air, sungguh pemandangan luar biasa yang baru saya alami dalam hidup saya. Saya rasa site ini diperlukan pemberlakukan untuk perlindungan agar kelestari==-annya selalu dijaga. Lokasi penyelaman ketiga yaitu di sumba barat bernama site Tanambanas yang merupakan salah satu zona inti dari TNP Laut Sawu. Ya, indah sekali bentangan terumbu karang dan banyaknya ikan ekonomis penting seperti Snapper, Serannidae, dan Sweatlips mengumpul disitu. Saya rasa site ini menjadi bank perikanan yang baik terhadap keberlanjutan perikanan jika terus dijaga dengan baik.

Gambar Tanambanas banyaknya ikan ekonomis seperti digambar salah satu ikan ekonomis penting yaitu Snapper atau Ikan Kakap Site terakhir atau keempat saya, yaitu Nappu. Terlihat bentangan Acropora garden atau taman Acropora yaitu sejenis karang keras yang memiliki bentuk pertumbuhan yang bercabang. Saat mempersiapkan penyelaman gelombang sangat tinggi membuat saya mual dan pusing saat berlama diatas kapal, tapi setelah menyelam saya langsung tenang melihat bentangaan Acropora garden bersama ikan-ikan nan-indah dihati.

Saat ini banyak yang sedang menyoroti keindahan tanah Flobamora, terutama gugusan pulau yang tidak diragukan lagi keindahan alam bawah laut dan pesisir nya, selain itu Laut Sawu yang ada di dalamnya sangat terkenal dengan jalur perlintasan

12

CERITA DARI LAUT SAWU: PENYELAMANKU DI LAUT UTARA SUMBA

Gambar Bentangan Pecahan Karang

MARINE DIVING CLUB

EKSPEDISI CARETTA X LAUT SAWU

13


CERITA DARI LAUT SAWU: Buddy Musuh Dalam Selimut Diaz Adiyoga

Sebelum menulis lebih lanjut saya mungkin minta maaf terlebih dahulu kepada teman-teman tim ekspedisi yang terkait. Mungkin disini anda akan bertanya- tanya “kok sudah minta maaf duluan?” . “iya, dari judulnya juga sudah seperti itu buddy. Baca saja judulnya itu sudah tak enak, apalagi kalau dibaca isinya ditambah baca dengan hati bukan dengan mata”. Ok mungkin langsung saja saya tuliskan sepenggal cerita biasa saja bagi pembaca, namun bagi penulis tulisan ini akan selalu dikenang. Sebenarnya saya bingung akan menulis cerita ini darimana mulainya. Yah supaya singkat dan tidak terlalu bosan mungkin banyak yang akan saya skip saja ceritanya

Yah 3 hari awal kami di Kupang untuk melakukan semua kordinasi ke pihak terkait dan mempersiapkan setiap keperluannya untuk kegiatan ekspedisi. Dari sini sudah terlihat kami agak memanas tiap anggota timnya, salah dikit dalam kerjaan yang ditanggung jawabkan “senggol bacok” lah antar tim. Apalagi yang hobi jadi tukang “bacok” kaya saya, mas Abdul, dan aa Jibriel. Kena semua sudah anggota tim kena “bacok”. Setelah semua persiapan di kupang selesai, kita berangkat ke pulau Rote untuk melakukan pengamatan ekosistem terumbu karang dan berkunjung ke SD untuk mengedukasi mereka. Hari pertama pendataan bisa dikatakan berjalan dengan mulus, maklum masih adaptasi dengan laut sawu. Yah setelah pendataan pertama malamnya biasa kita mengevaluasi dari kegiatan pendataan pertama sebagai ajang “senggol bacok” dan di lanjut briefing. Disinilah suasana tim memanas,

14

berhubung pendataan hari ke dua tepat jatuh pada hari jum’at yang biasanya kaum adam berbondong bondong untuk sholat jum’at di masjid. Suasana sudah panas, ditambah panas lagi oleh mas Danie yang kekeh untuk menjalankan kewajibannya untuk beribadah jumat di Masjid, tapi mas Abdul yang juga satu keyakinan mempunyai pandangan lain untuk tidak jumatan karena kita keterbatasan dari segala hal. Yah kedua orang tersebut cekcok mulut hampir 2 jam kali ya. Dalam hatiku “gini caranya kapan aku ngisi tabung kalau ndengerin mereka berdebat dan tak ada yang mengalah”. Mungkin bukan aku saja yang dongkol saat itu. Pikir saya tinggal ngisi tabung aja kali ya daripada mendengarkan debat mereka yang melebihi debat pilkada. Satu tim kok malah debat, pada akhirnya kita ambil jalan tengahnya saja. Yang mau jum’atan ikut dahulu untuk pendataan nanti setelah pendataan di site pertama kita turunkan untuk mereka jum’atan, masalah clear. Setelah semua site di rote berhasil kami garap, lalau kami kembali ke Kupang. Dari Kupang kita menuju pulau Sumba, disinilah benar-benar yang paling menguras tenaga. Dari mobil mogok di padang sabana malam-malam dalam perjalanan menuju desa Mamboro. Lalu di penyelaman hari pertama kapal tidak bisa menipi dan bersandar, alhasil malam-malam sekitar jam 11 malam kita turun naik dari sopek ke pantai untuk mengangkut tabung agar bisa digunakan hari selanjutnya. Horor juga larut malam bolak balik nyemplung ke laut, antara takut dengan buaya dan makhluk lainnya yang tampak maupun tak tampak. Tapi secara keseluruhan pendataan di Sumba berjalan sukses lah meski harus kuras keringat ekstra dan selalu “senggol bacok” antar anggota tim. Yah inilah sepenggal kisah saling senggol bacok saat kami ekspedisi. Sudah seperti musuh dalam selimut. Musuh dalam satu tim, teman sekaligus musuh. Namun kita tau kalau kita musuh dalam selimut, yang kita artikan disini musuh sebagai pendorong agar kita lebih baik dari musuh kita. Toh walaupun musuh kita masih dalam satu selimut, yaitu MDC selimut kita. Selimut yang selalu menghangatkan dari udara dingin. Sudahlah saya akhiri saja sampai disini kisah Buddy Musuh Dalam Selimut.

MARINE DIVING CLUB

CERITA DARI LAUT SAWU: Nuca Molas, Pulau Titipan Putri Surga. Fabian Panji

Nuca Molas, Pulau titipan putri surga Nuca Molas yang berarti adalah Pulau Mules. Sebuah pulau yang berada di daerah negara Indonesia bagian timur tepatnya di provinsi Nusa Tenggara Barat yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Manggarai. Nuca Molas terletak di sebelah selatan Pulau Flores dan di sebelah utara atau tepat di atas Pulau Sumba yang termasuk ke dalam Kawasan konservasi Laut Sawu Taman Nasional Perairan Terluas di Indonesia.

Pulau ini cukup sulit untuk di akses karena jalur yang cukup di bilang ekstream karena melewati daerah pegunungan dan juga jurang. Serta tidak ada tranportasi umum untuk menuju pulau Mules sendiri hanya mengandalakan dari kapal nelayan. Perjalanan dapat di mulai dari bandara komodo atau badara Labuan Bajo kemudian di tempuh dengan jalur darat 6-7 jam perjalanan ke desa terdekat Pulau Mules kemudian menaiki kapal nelayan.Pulau ini hanya terdiri dari satu desa saja yaitu Desa Mules itu sendiri penduduk di Mules sangat ramah dan mayoritas beragama muslim, Sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga peternak. Seperti halnya daerah dengan daerah timur lainya yang terkenal akan sabana yang di miliki karena berdekatan dengan daerah subtropis sehingga tak heran sangat mudah menemui sabana di daerah timur yang menjadi unik di daerah Nuca Molas adalah sebuah pulau jika di lihat dari jauh sangat indah dengan sabana dan bukit yang men-

EKSPEDISI CARETTA X LAUT SAWU

jadi khas sendiri di banding dengan daerah timur lainya. Pulau ini memiliki bukit batu yang sangat tinggi yang menjadi ikon dari Nuca Molas itu sendiri. Pada daerah sebelah barat daya pulau terdapat pantai dengan pasir putih yang sangat luas dan juga keadaan pantai yang sangat bersih putih tanpa terlihat sampah karena jarang orang yang menjamah pantai ini. Keadaan ombak di pantai ini tidak terlalu besar sehingga dapat di buat untuk bermain air sehingga dengan gabungan bukit batu, sabana , pohon pohon ombak dan juga pasir putih menjadikan pulau ini sangat cantik. Melihat ke arah pulau besar flores akan langsung di hadapkan dengan pemandangan

gunung yang sagat megah sehingga akan terlihat sempurna jika berwisata ke Nuca Molas sehingga Pada daerah inilah menjadi ikon wisata dari Pulau Mules itu sendiri banyak media yang sudah meliput dari keindahan Nuca Molas.

15


CERITA DARI LAUT SAWU: Bermain sambil Mengenal Fauna Laut di TNP Laut Sawu Jibriel Firman

Rote, 26 November 2016. “ Pulau Rote tepi laut, siapa suka boleh ikut, ada penyu ada hiu, ada paus lumba-lumba, kita semua cinta laut !” teriak siswa – siswi SD Negeri Oenggae saat menyanyikan yel – yel pada kegiatan kelas edukasi tentang fauna laut. Kegiatan adalah serangkaian dari Ekspedisi Caretta X TNP (Taman Nasional Perairan) Laut Sawu yang dilaksanakan oleh Marine Diving Club – Semarang dan Reef Check Indonesia dalam mendukung pengelolaan adaptif TNP Laut Sawu oleh BKKPN (Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional) Kupang dan The Nature Conservation – Indonesia Coastal and Ocean Program, pada Sabtu (26/11) di SD Negeri Oenggae Kabupaten Rote Ndao. Angelia Siagian, Staff Reef Check Indonesia menjelaskan bahwa berdasarkan data yang telah dihimpun oleh tim dari BKKPN Kupang dan TNC – ICOP, TNP Laut Sawu memiliki keragaman hayati spesies yang sangat tinggi, serta beberapa jenis fauna yang langka dan kharismatik. “Berdasarkan data-data yang ada, ada 22 jenis setasea (mamalia laut), termasuk 2 spesies paus yang langka dan kharismatik yaitu Paus Biru dan Paus Sperma ditemukan di TNP Laut Sawu. Ditambah lagi, pantai-pantai di wilayah ini telah teridentifikasi sebagai lokasi peneluran penyu yang termasuk dalam daftar jenis langka dan terancam pada IUCN Red Data Book dan CITES.” Jelas Angelia Siagian. Dengan kayanya sumberdaya laut di TNP Laut Sawu, perlu diimbangi dengan pengenalan dan pengingkatan kesadartahuan ke masyarakat, salah satunya ke siswa sekolah, yaitu melalui edukasi intramaupun extra-kulikuler di sekolah. Kegiatan edukasi ini dilakukan dengan permainan sehingga diharapkan dapat mudah dipahami oleh siswa-siswi sekolah, yaitu melalui kegiatan mewarnai dan bermain “ular tangga” yang telah didesain menjadi sebuah cerita yang menggambarkan ekosistem laut serta penjelasannya.

16

Abdulhakim, Koordinator Kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan fauna-fauna apa saja yang selama ini ada di perairan TNP Laut Sawu dan Rote Ndao kepada siswa-siswi sekolah. Lebih lanjut lagi, pengenalan fauna tersebut juga disertai kesadartahuan tentang fungsi pentingnya keberadaaan dan kelestarian dari fauna-fauna tersebut. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mengenalkan dan meningkatkan kesadartahuan akan fauna-fauna laut yang terdapat di perairan Rote Ndao secara khusus dan TNP Laut Sawu umumnya, yaitu fauna-fauna yang perlu untuk dilestarikan.” Tambah Abdulhakim.

Alfred Bocah dari Pulau Sumba (Semangat Alfred dan Kawan – Kawan)

Kharis Bocah kelas satu Sekolah Dasar Inpres Maudolung Pulau Sumba bernama Alfred. Jarak yang harus di tempuh ia dan teman-temanya untuk menuju sekolah tidaklah dekat. Perjalanan ia tempuh hanya dengan berjalan kaki saja di tengah kondisi Pulau Sumba yang berbukit dan cukup gersang. Tempat Alfred bersekolah berada di dekat pantai dan berada di sekitar bukit karang. Pemukiman penduduk di sekitarnya masih jarang dengan jarak antar rumahnya cukup jauh. Kami (Tim #carettaXsavu) berkunjung ke SD Inpres Maudolung dengan tujuan untuk menjalankan program edukasi dan penyadartahuan tentang pentingnya pelestarian ekosistem laut khususnya di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu. Pihak dari sekolah yang diwakili oleh kepala sekolah (Bapak Jusak) menyambut kami dengan senyuman hangat. Terlihat juga dari lorong-lorong kelas, nampak wajah anak – anak para siswa yang melongok penasaran terhadap kedatangan kami.

MARINE DIVING CLUB

Setelah sekilas berkenalan dan berbincang dengan bapak sekolah, kamipun dipersilahkan masuk ke salah satu kelas yang didalamnya telah menunggu anak –anak. Wajah mereka terlihat bersemangat dengan kedatangan kami. Detik itu kami mulai dengan bernyanyi “Nenek Moyang Seorang Pelaut” dan dengan sentuhan pertanyaan ringan tentang biota laut serta dilanjutkan dengan berkenalan. Di materi inti, kami mengajak para siswa mewarnai biota laut yang sudah terancam, yaitu ada Hiu Paus, Hiu, Paus, Penyu, dan lain-lain. Saat hari mulai siang kami bersama anak-anak menuju halaman untuk bermain ular tangga raksasa yang berisikan ajakan untuk menjaga laut. Walau matahari sudah mulai menyengat, terlihat anak-anak masih sangat antusias untuk mengikuti permainan. Selesai kita bermain kita menuju kelas kembali dan diakhiri dengan membagikan bingkisan ke siswa berupa alat tulis dan buku bacaan. Kondisi yang terbatas tidak membuat anakanak di Desa Maudolung putus semangat untuk memperoleh pendidikan. Bapak Jusak adu mengatakan bahwa kebanyakan orang tua juga sadar akan pentingnya pendidikan, walau kebanyakan bermatapencarian nelayan mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya, dan banyak yang sudah menjadi lulusan S-2. Namun kondisi tersebut tidak dibarengi dengan fasilitas yang mendukung, “Kita punya perpustakaan tapi bukunya masih sedikit, kami baru mendapat 1 kali suplay buku” ucap salah satu guru. Hal ini sangat disayangkan dan semoga segala kekurangan dapat cepat di atasi sehingga alfred dan teman-temanya dapat media yang cukup untuk menyaurkan semangat belajarnya.

nya saya sudah banyak mendengar kalau di NTT ini masih banyak buaya liarnya. Jam 5 pagi kami sudah terbangun, dan kemudian saya menyiapkan barang - barang pribadi yang akan saya bawa pada saat survey ke lokasi, sedangkan untuk peralatan SCUBA (alat selam) dan peralatan penelitian lainnya sudah dimasukan ke kapal pada malam harinya, jadi tidak perlu repot-repot kembali menyiapkan peralatan yang super menguras tenaga karena beratnya.

Lokasi pertama penyelaman berada di perairan Desa Lokori. Disela - sela menunggu penyelam selesai melakukan penyelaman saya ngobrol dengan para ABK (crew kapal) yang berjumlah 4 orang, ternyata mereka tertarik menggunakan alat - alat yang kita pakai karena biasanya meraeka hanya menggunakan google itu pun terbuat dari kayu dan kaca yang meraka buat dengan tangan sendiri. Akhirnya saya meminjamkan masker, snorkel, dan fins saya, setelah memberi tahu cara memakainya mereka langsung lompat ke laut untuk mencoba. Sangat lucu melihat mereka mencoba satu persatu secara bergantian, “wah Gondrong enak yah pakai sepatu (fins) ini jadi cepat berenangnya” ucap pak kapten kapal, ya mereka memanggil saya PEGAL – PEGAL MEMAKAI FINS Abdul dengan sebutan Gondrong karena rambut saya yang (KAKI KATAK) panjang menjuntai melebihi pundak saya pun hanya Muggi Bachtiar menjawab dengan tawa, hahahaha. Setelah cukup Pulau Sumba. Malam itu saya dan temanlama mereka berenang renang mencoba sambil cari teman tim #carettaXsavu menginap dirumah pak gurita akhirnya mereka selesai dengan mengeluh Abdul yang merupakan seorang nelayan sekaligus pegal - pegal karena tidak terbiasa memakainya. pemilik kapal yang akan kita gunakan untuk melaku- Matahari sudah berada tepat di atas kepala ini lah kan survey ekosistem terumbu karang Pulau Sumba. waktu yang ditunggu, ya makan siang! Saya dan Rumahnya terletak dipinggir pantai sekali, jadi apa- team kembali ke rumah pak Abdul dan ternyata ikan bila kita kebelakang rumahnya kita bisa langsung bakar dengan sambal spesial yang masih hangat melihat lautan yang tak berujung. sudah siap untuk dihabiskan sungguh nikmat sekali Uniknya, istri pak Abdul sempat bercerita makan siang dengan pemandangan laut sumba yang kepada kita kalau ia memiliki rutinitas yang tidak eksotis. biasa yaitu memberi makan buaya setiap jam 7 pagi. Pernyataan tersebut sungguh membuat saya kaget sekaligus penasaran atas kebenarannya. Tapi tidak terlalu heran juga bagi saya, karena sebelum-

EKSPEDISI CARETTA X LAUT SAWU

17


CERITA DARI LAUT SAWU : HATTRICK!!! Muggi Bachtiar

Site berikutnya pada CARETTA X SAVU adalah Lenang, Setelah sampai saya langsung menyiapkan alat penyelaman, setelah semua siap dan tabung bertekanan 200 bar sudah digedong saya langsung masuk air kedalaman 10 m dengan back roll. Buddy saya kali ini adalah Diaz yang bertugas menjadi big fish observer dan saya yang bertugas sebagai small fish observer. Jarak pandang cukup baik dengan arus yang lumayan kuat membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra agar dapat

menyusuri transek sepanjang 250 m. Ikannya tidak telalu banyak dan banyak terlihat rubble konon katanya bekas nelayan yang menggunakan bom untuk mencari ikan. 250 m sdah dilalui dilanjutkan dengan long swim, ketika sedang asik mengamati Diaz memanggil saya dengan mengetuk ngetuk tabung dengan pisau saya pun langsung menoleh kearahnya melihat dia yang memberikan hand signal penyu dan menunjuk ke satu arah yang disitu ada ekor penyu sisik yang sedang tidur! Wah beruntung sekali saya berbiara didalam hati karena di daerah jawa sudah cukup sulit untuk melihat penyu secara langsung pada saat diving. Saya pun sigap langsung mengarahkan mata lensa ke arah penyu tersebut untuk mengambil foto dan video penyu tersebut, setelah menyadari kehadiran saya penyu tersebut langsung berenang menjauh. Setelah melakukan surface interfal yang cukup saya melanjutkan penyelaman kedua dikadalaman 5 meter, kali ini buddy saya adalah mbak angel yang bertugas sebagai roll master dan saya bertugas untuk mengambil dokumentasi. Dan lagi lagi baru saya masuk kedalam air saya langsung disuguhi dengan pemandangan yang sangat eksotis yaitu seekor penyu yang berenang perlahan an-

18

ggun sekali, sambil memegang kamera dan mengambil videonya saya berenang mengikuti penyu tersebut. Ya lagi lagi saya beruntung!! Hehehehe di kedalaman 5 meter kondisi terumbu karang jauh lebih baik dibanding dengan di kedalam 10 meter tadi dan saya banyak menemukan macrobenthos yang unik seperti nudibranch dan tripang yang ukurannya sangat besar. Lagi lagi arus melawan laju saya pada saat saya sedang menggulung transek dan saya melihat mbak Angel merasakan apa yang saya rasakan yang cukup kesulitan tapi dapat teratasi dengan teknik yang benar Penyelam hari ini telah selesai saya merasa cukup beruntung dengan melihat penyu 2 kali di site yang sama, tetapi ternyata keberuntungan saya tidak sampai situ setelah berjalan beberapa ratus meter dari tempat awal ada sesuatu yang bergerak gerak di permukaan air dan seisi kapal berteriak “PENYU!!!� lagi lagi saya melihat penyu, tapi saya sempat bingung melihat gerakan gerakn penyu yang tidak biasa ternyata setelah kapal mendekat yang kita dapatkan sungguhlah menakjubkan, bukan hanya sekedar dan seekor penyu yang saya lihat tapi 2 penyu yang sedang mating! Ini pengalaman pertama sasya melihat penyu sedang mating secara langsung lagi lagi saya beruntung tapi merasa sedikit berdosa karena nontonin penyu yang sedang kawin hehehehe. Sumba merupakan pulau yang sangat eksotis menurut saya, dengan daratan yang dipenuhi bukit bukit bhak bukit teletubies, lautan yang berwarna biru bersih, pasir pasir putih yang menjadi penghubung keduanya, dan ditambah kuda kuda yang berlarian di pantai dikala sunset menambah kesan eksotis pada pulau ini dan ini ada di Indonesia negara yang sangat saya cintai. Mari kita jaga keindahan ini agar tetap ada sampai cucu kita nanti meneruskan tongkat estafet dalam menjaga keindahan ini.

EKSPEDISI CORALLIUM XIX PULAU BENGKOANG, KEPULAUAN KARIMUNJAWA

19 - 26 November 2017

MARINE DIVING CLUB


Pendahuluan Kepulauan Karimunjawa merupakan Kawasan Marine Protected Area (MPA) yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sejak 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh Pemerintah Jepara. Taman Nasional Karimunjawa terdiri dari gugusan 27 pulau yang tersebar di kawasan yang luas perairannya ± 110.000 hektare dan luas daratan ± 1.500 hektare. Kepulauan Karimunjawa memiliki daya tarik tersendiri akan keindahan bawah lautnya. Sehingga jumlah wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Kepulauan Karimunjawa semakin meningkat setiap tahunnya. Namun seiring bertambahnya jumlah wisatawan jika kawasan ini tidak dikelola dengan baik dan kesadaran masyarakat yang semakin minim untuk menjaga lingkungannya, maka dapat menimbulkan kerusakan masif pada ekosistem terumbu karang yang ada di sekitarnya.

20

Menurut Direktori Pulau Pulau Kecil Indonesia, Pulau Bengkoang secara administratif merupakan Pulau yang tidak berpenduduk dengan luas 105 Ha yang termasuk dalam wilayah Desa Kemujan Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, yang secara geografis terletak pada posisi 050° 44’24’’LS dan 110° 24’28’’BT. Secara administratif Pulau Bengkoang sebelah timur, barat dan utara berbatasan dengan Laut Jawa sedangkan Pulau Bengkoang sebelah selatan berbatasan dengan Pulau Karimun Jawa. Pulau Bengkoang masuk dalam Kawasan Balai Taman Nasional Karimunjawa berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. SK. 79/ IV/Set.3/2005 tentang Revisi Zonasi/ Mintakat Taman Nasional Kepulauan Karimunjawa tanggal 30 Juni 2005. Kementrian Kehutanan menetapkan kawasan Pulau Bengkoang bagian selatan termasuk dalam Zona/Mintakat kawasan Pemanfaatan Wisata Bahari.

MARINE DIVING CLUB

Marine Diving Club (MDC) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang berorientasi pada penyelaman ilmiah serta perlindungan dan konservasi lingkungan. Pada periode 2017, MDC mengadakan kegiatan Ekspedisi Corallium XIX dengan tema “Warna Warni Karangku, Ikan Herbivor Penyelamatku”. Kegiatan ini berupa pendataan terumbu karang, ikan karang, parameter oseanografi dan sosial ekonomi di Taman Nasional. Dengan pemantauan ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa dan pendataan sosial ekonomi di Pulau Karimunjawa dan di Pulau Kemujan, akan didapatkan data yang nantinya dapat digunakan bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan yang terbaik bagi lingkungan dan masyarakat Karimunjawa.

EKSPEDISI CORALLIUM XIX

Pada Ekspedisi Corallium XIX, selain diadakannya kegiatan survey ekologi terumbu karang, juga dilakukan kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang untuk kelestarian ekosistem laut. Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan seluruh elemen masyarakat menyadari akan pentingnya menjaga terumbu karang serta melestarikan ikan herbivora . Sehingga ke depannya Indonesia tetap dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai konservasi, perlindungan lingkungan, dan ekosistem lautnya dapat tetap lestari.

21


Lokasi Pendataan Ekspedisi Corallium XIX telah dilaksanakan pada tanggal 19 - 26 November 2017 di Pulau Bengkoang, Kep. Karimunjawa. Waktu dan Lokasi Pendataan Pendataan Pertama Tempat : Pulau Bengkoang Bagian Utara Kedalaman : 5 meter dan 10 meter Tanggal : 22 November 2017 Waktu : 09.00 WIB Koordinat : 05o 43’54.6’’ LS ; 110 o24’55.9’’ BT

Pulau Bengkoang

Pendataan Kedua Tempat : Kedalaman : Tanggal : Waktu : Koordinat :

Pendataan Ketiga Tempat : Kedalaman : Tanggal : Waktu : Koordinat :

Pulau Bengkoang Bagian Selatan 5 meter dan 10 meter 25 November 2017 09.00 WIB 05o 44’57.4’’ LS ; 1o 024’34’0’’ BT

Pulau Bengkoang Bagian Timur 5 meter dan 10 meter 22 November 2017 13.00 WIB 05o44’36.1’’ LS ; 110o25;05.0’’ BT

1

Pulau Karimunjawa

2 3

22

MARINE DIVING CLUB

EKSPEDISI CORALLIUM XIX

23


Hasil Pengambilan Data

TERUMBU KARANG

Tabel 1. Prosentase Tutupan Karang

24

Berdasarkan hasil analisis prosentase tutupan terumbu karang hidup pada tabel 3, didapatkan hasil bahwa prosentase tutupan karang tertinggi berada pada sisi Utara Pulau Bengkoang kedalaman 5 meter sebesar 81,5% - 85% dimana prosentase tersebut menurut (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup,2001), termasuk dalam kategori baik sekali. Prosentase penutupan karang terendah berada pada sisi timur Pulau Bengkoang kedalaman 5 meter sebesar 2,8% - 8,3% dimana besar prosentase tersebut menunjukkan kondisi terumbu karang di titik pengambilan data tersebut dalam kategori rusak karena menurut (Keputusan Menteri Lingkungan Hidup, 2001), terumbu karang termasuk dalam kategori rusak apabila prosentase pen utupan karang 0-24 %.

MARINE DIVING CLUB

Prosentase tutupan karang pada kedalaman 5 meter dapat dilihat pada (Grafik 1). Diagram persentase pada Grafik 1 menunjukkan perbandingan antara satu genus karang dengan yang lain sehingga dapat diketahui besar nya komposisi jenis dan persen penutupan dari tiap genus karang serta perbandingan persentase genus karang di setiap sisi perairan Pulau Bengkoang. Dari Grafik 1 terlihat bahwa Pulau Bengkoang pada kedalaman 5 meter masih didominasi oleh genus Acropora. Prosentase penutupan karang tertinggi pada sisi selatan Pulau Bengkoang yaitu dari genus Acropora dengan nilai persentase penutupan karang sebesar 48,4%. Pada sisi utara Pulau Bengkoang pada kedalaman 5 meter didominasi Acropora dengan nilai persen-

tase sebesar 31,6%,sedangkan pada sisi timur Pulau Bengkoang pada kedalaman 5 meter didominasi oleh Montipora dengan nilai persentase sebesar 3,7%. Dari Grafik 2, terlihat bahwa persentase tutupan karang tertinggi di Pulau Bengkoang pada kedalaman 10 meter adalah di sisi utara. Di sisi utara Pulau Bengkoang pada kedalaman 10 meter didominasi oleh Acropora dengan persentase sebesar 20,56%. Persentase tutupan karang tertinggi di sisi selatan pada kedalaman 10 meter yaitu didominasi dari Montipora dengan nilai persentase tutupan sebesar 10,3%. Sedangkan pada sisi timur perairan Pulau Bengkoang pada kedalaman 10 meter persentase tutupan tertinggi yaitu genus Montipora dengan nilai persentase tutupan karang sebesar 4,3%.

Grafik 1. Presentase Tutup an

Terumbu Karang Kedalam

Tutupan Terumbu Karang Kedalaman 10m 2. PresentaseXIX EKSPEDISIGrafik CORALLIUM

an 5m

25


Grafik 3. Komposisi Karang

Karang Acropora

Karang Porites Tabel 2. Indeks Ekologi

Pada tabel 2 menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada sisi utara Pulau Bengkoang kedalaman 10 meter yaitu sebesar 1,92 – 2,65 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang dan indeks keanekaragaman (H’) terendah terdapat pada sisi timur Pulau Bengkoang kedalaman 10 meter yaitu sebesar 1,46 – 2,47 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Pada sisi selatan Pulau Bengkoang kedalaman 10 meter merupakan lokasi dengan indeks keseragaman (E) tertinggi yaitu sebesar

26

0,91 – 1,05 yang termasuk dalam kategori komunitas stabil dan lokasi dengan indeks keseragaman (E) terendah terdapat pada sisi utara Pulau Bengkoang kedalaman 5 meter dengan nilai 0,06 – 0,68 yang termasuk dalam kategori komunitas labil. Indeks dominansi (C) tertinggi berada pada sisi timur Pulau Bengkoang kedalaman 10 meter yaitu sebesar 0,24 – 0,53 sedangkan indeks dominansi(C) terendah berada pada sisi timur Pulau Bengkoang kedalaman 5 meter yaitu sebesar 0.001 – 0,06.

MARINE DIVING CLUB

Karang Montipora

Tabel 3. Kemunculan Genus Karang

EKSPEDISI CORALLIUM XIX

27


Hasil Pengambilan Data

IKAN KARANG Grafik 4 menunjukkan kelimpahan ikan terumbu yang berada pada sisi utara, timur, dan selatan perairan Pulau Bengkoang. Kelimpahan ikan terumbu yang tertinggi pada kedalaman 5 meter adalah genus Chrysiptera dari famili Pomacentridae yaitu sebanyak 170 individu di sisi timur Pulau Bengkoang. Pada sisi utara Pulau Bengkoang ikan yang paling banyak dijumpai adalah dari genus Caesio dari famili Caesionidae dengan jumlah 91 individu. Sedangkan pada sisi selatan Pulau Bengkoang ikan yang paling banyak dijumpai adalah dari genus Chlorurus dari famili Scaridae dengan jumlah 50 individu.

Ikan Caesio

Grafik 5 menunjukkan hasil komposisi ikan terumbu di perairan Pulau Bengkoang pada kedalaman 10 meter. Pada kedalaman 10 meter genus yang paling banyak ditemui adalah genus Amblyglyphidodon dari famili Pomacentridae yaitu terletak pada sisi selatan sebanyak 195 individu. Pada sisi utara Pulau Bengkoang, genus ikan yang paling banyak didominasi berasal dari genus Pterocaesio dari famili Caesionidae dengan jumlah sebanyak 165 individu. Sedangkan pada sisi timur Pulau Bengkoang ikan yang paling banyak dijumpai adalah dari genus Abudefduf dari famili Pomacentridae dengan jumlah 55 individu.

sumber: Fishes of Australia

Ikan Crysiptera sumber: wikipedia.org

Ikan Abudefduf sumber: wikipedia.org

Tabel 4. Kemunculan Genus Ikan Karang

Grafik 4. Komposisi Ikan Terumbu Ked

alaman 5m

Tabel 5. Indeks Ekologi dan Kelimpahan

28

Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa indeks keanekaragaman (H’) ter tinggi berada pada sisi utara Pulau Bengkoang kedalaman 5 dan 10 meter yaitu sebesar 2,49 dimana nilai tersebut termasuk dalam kategori keanekaragaman jenis sedang. Pada sisi timur kedalaman 10 meter memiliki indeks dominansi (C) tertinggi yaitu 0,69 dimana apabila nilai indeks dominansi mendekati 1 maka ada kecenderungan suatu jenis mendominansi populasi. Indeks Keseragaman (E) tertinggi berada pada sisi selatan kedalaman 10 meter yaitu sebesar 0,81 dimana termasuk kategori komunitas labil. Pada sisi selatan Pulau bengkoang kedalaman 10 meter memiliki kelimpahan ikan tertinggi sebesar 15.640 individu/ha.

Ikan Clorurus

Grafik 5. Komposisi Ikan Terumbu Ked

alaman 10m

MARINE DIVING CLUB

EKSPEDISI CORALLIUM XIX

29


Hasil Pengambilan Data

PARAMETER OSEANOGRAFI

Tabel 6. Hasil Pengamatan Parameter Oseanografi

PENDATAAN SOSIAL - EKONOMI Pendataan Kondisi Sosial Ekonomi dilakukan di Desa Karimun dan Desa Kemujan kepada para nelayan dan wisatawan

30

MARINE DIVING CLUB

Grafik 6. Diagram Lokasi penangkapan ikan nelayan Karimunjawa

Grafik 7. Diagram Lokasi penangkapan ikan nelayan Kemujan

Dari hasil pendataan sosial ekonomi nelayan Karimunjawa di peroleh persentase lokasi penangkapan ikan di setiap pulau di karimunjawa dimana pada pulau Karimunjawa paling banyak persentasenya yaitu sebesar 28%. Sedangkan hasil pendataan pada nelayan Kemujan diperoleh persentase lokasi penangkapan ikan sebesar 35% pada Pulau Bengkoang. EKSPEDISI CORALLIUM XIX

Grafik 8. Diagram alat tangkap nelayan Karimunjawa.

Grafik 9. Diagram alat tangkap nelayan Kemujan

Berdasarkan hasil sosek di Pulau Karimunjawa dan Pulau Bengkoang, diketahui bahwa alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh nelayan di Pulau Karimunjawa yaitu speargun, dengan persentase sebesar 42%. Sedangkan jenis alat tangkap yang lebih dominan digunakan oleh nelayan di Pulau kemujan adalah pancing dengan persentase sebesar 76%

31


Grafik 12. Diagram perlakuan bycatch nelayan Karimunjawa

Grafik 16. Diagram Aktifitas yang dilakukan wisatawan di Karimunjawa

Grafik 10. Diagram hasil tangkapan

ikan target nelayan Karimunjawa

Grafik 13. Diagram perlakuan bycatch nelayan Kemujan

Grafik 15. Diagram Domisili wisatawan Karimunjawa Grafik 17. Diagram pengetahuan wisatawan Karimunjawa tentang peran ikan herbivor terhadap ekosistem terumbu karang

Grafik 11. Diagram hasil tangkapan

ikan target nelayan Kemujan

Berdasarkan hasil sosek di Pulau Karimunjawa dan Pulau Bengkoang, diketahui bahwa ikan yang paling banyak dijadikan target tangkapan oleh nelayan di Pulau Karimunjawa yaitu ikan ekor kuning, dengan persentase sebesar 30%. Sedangkan target tangkapan ikan yang lebih dominan digunakan oleh nelayan di Pulau Kemujan adalah ikan tongkol dengan persentase sebesar 64,70%. 85,52% nelayan di Karimunjawa tetap mengambil ikan bukan target yang tidak sengaja tertangkap (bycatch) dan sebanyak 14,47% nya melepas ikan bukan target yang tertangkap. Sedangkan nelayan di Pulau Kemujan sebanyak 76,47% melakukan mengambil bycatch, dan 23,52% nya merilis kembali ikan bukan target yang tidak sengaja tertangkap.

32

Grafik 18. Diagram ikan yang di konsumsi Wisatawan selama di Karimunjawa Grafik 13. Diagram Pengetahuan Nelayan Karimunjawa tentang peran ikan herbivor terhadap ekosistem terumbu karang

Grafik 14. Diagram Pengetahuan Nelayan Kemujan tentang peran ikan herbivor terhadap ekosistem terumbu karang

Diagram diatas menunjukkan bahwa 67% nelayan di Karimunjawa dan 79,62% nelayan di Pulau Kemujan belum tahu tentang peran ikan herbivor bagi ekosistem terumbu karang. MARINE DIVING CLUB

Wisatawan yang didata merupakan wisatawanlokal Karimunjawa sebanyak 87% dan wisatawan mancanegara sebanyak 13%. Dimana wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Karimunjawa berdasarkan data sosial ekonomi yang diperoleh, berasal dari Perancis, Jerman, Australia, Singapura, Belanda. Aktifitas wisata yang dilakukan wisatawan saat berkunjung di Karimunjawa dimana angka tertinggi terdapat pada aktivitas snorkeling yaitu sebesar 22,36%. Persentase masing masing ikan yang di konsumsi wisatawan selama di Karimunjawa, dimana ikan Kakap merah menjadi ikan yang paling banyak di konsusmsi selama di Karimunjawa dengan persentase sebesar 32,89% diikuti dengan ikan kakak tua, yaitu ikan herbivor, dengan persentase sebesar 17%. EKSPEDISI CORALLIUM XIX

Didapatkan bahwa 52% wisatawan yang disurvey belum tahu mengenai peran ikan herbivor terhadap ekosistem terumbu karang.

33


Cromileptes altivelis, Kerapu Konsumsi Berharga Jual Tinggi Anas MDC 23

Ikan merupakan salah satu sumber daya yang kerap dimanfaatkan oleh manusia. Sebagai sumberdaya yang dapat pulih kembali atau renewable resources, banyak manusia yang tergiur untuk memanfaatkannya baik sebagai ikan konsumsi atau ikan hias. Salah satu ikan konsumsi yang banyak dicari karena memiliki harga jual yang tinggi yaitu jenis ikan kerapu (Serranidae). Menurut Putri et al (2013), ikan kerapu dengan nilai ekonomis tertinggi adalah Cromileptes altivelis. Harga kerapu ini di pasaran bisa mencapai Rp 300.000 per kg dan untuk benihnya bisa dihargai Rp 1500 per cmnya. Cromileptes altivelis biasanya berwarna putih dengan bintik-bintik hitam disekujur tubuhnya. Ciri-ciri lain dari kerapu ini adalah kepalanya yang kecil dan mulutnya meruncing. Kepalanya yang kecil menyerupai seekor bebek, sehingga ada yang menyebut kerapu ini kerapu bebek. Selain itu ada juga yang menyebutkan mulut dari kerapu ini menyerupai moncong tikus, sehingga kerapu ini juga dikenal dengan kerapu tikus.

pai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar atau ketika umurnya bertambah tua. Dalam reproduksinya, menurut Baskoro et al (2010), ikan ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat hidupnya. Faktor lingkungan tersebut antara lain : suhu, cahaya, salinitas, dan arus. Fluktuasi kedaan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap periode, migrasi musiman, serta keberadaan ikan ini. Keadaan perairan serta perubahannya juga mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan kerapu tikus ini.

Sumber : Google

Sumber Google Menurut Weber and Beofort (1940) dalam Evalawati et al (2001) taksonomi ikan kerapu tikus adalah sebagai berikut: Phylum : Chordata Subphylum : Vertebrata Class : Osteichthyes Ordo : Percomorphi Famili : Serranidae Genus : Cromileptes Spesies : Cromileptes altivelis Spesies C.altivelis merupakan satu-satunya spesies dari genus Cromileptes. Ikan ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap perkembangan menca-

34

Habitat favorit kerapu tikus adalah perairan pantai yang pasirnya berkarang. Pada siang hari, biasanya ikan ini tidak muncul ke permukaan air, sebaliknya pada malam hari, ikan ini banyak muncul ke permukaan air. Hal ini sesuai dengan sifat kerapu jenis lainnya sebagai organisme nocturnal, yakni pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang dan pada malam hari aktif bergerak di kolom air untuk mencari makanan (Subyakto, et. al. 2003). Daerah penyebaran kerapu tikus yaitu Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, kerapu tikus banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Buru dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu tikus adalah perairan karang yang terhampar hampir diseluruh perairan pantai di Indonesia.

MARINE DIVING CLUB

HIU KARPET : Penghuni Indahnya Laut Papua Ghina MDC 23

Hiu Karpet adalah salah satu biota khas perairan Raja Ampat, Papua Barat. Hiu karpet termasuk dalam famili Orectolobidae, dengan nama latin Orectolobus dasypogon (Bleeker, 1867) . Hiu karpet disebut juga dengan Tasseled Wobbegong Shark. Selain ikan manta, hiu karpet juga menjadi primadona di Raja Ampat. Hewan ini bisa ditemukan di perairan Raja Ampat, khususnya di Waiwo. Dari namanya, hiu ini memang mirip dengan karpet. Bentuknya yang rata, tidak seperti kebanyakan hiu lainnya yang besar dan bersirip, membuat hewan ini khas dan unik. Hiu karpet mempunyai mulut yang lebar, dan dua sirip atas yang terletak jauh di belakang tubuh. Kepala yang hampir rata, dengan jenggot yang juga dikenal dengan dermal lobes yang menutupi tepian kepala. Jenggot ini berfungsi untuk membantu menyamarkan kepala hiu dengan vegetasi atau karang yang berada dibawahnya. Warna hiu ini biasanya coklat kekuningan atau coklat keabu-abuan, dengan banyak corak dan totol. Warna dan jenggotnya yang menutupi tepian kepalanya sangat efektif untuk berkamuflase dan menyamarkannya dengan dasar laut. Hiu ini bisa tumbuh sampai ukuran 3 – 4 meter.

ikan kecil dan crustaceans ini hidup di laut dengan substrat berpasir dan karang dangkal sampai dengan kedalaman hingga 40 meter. Hiu karpet termasuk dalam kelompok predator penyergap yang menunggu mangsanya lewat dengan mengandalkan kamuflase pada substrat dasar laut. Pada siang hari, hewan ini dapat ditemukan pada gua-gua karang dan dibawah celah karang. Sedangkan pada malam hari ia lebih sering meninggalkan tempat peristirahatan mereka di siang hari dan aktif berburu ikan dan nocturnal crustacean.

Hewan yang bereproduksi dengan cara ovovivipar ini tidak terlalu menguntungkan secara ekonomi, selain untuk penarik minat para penyelam, dan pecinta biota laut. Akan tetapi hiu karpet termasuk didalam daftar “NEAR THREATENED� oleh IUCN. Meski hiu karpet terkenal tidak berbahaya, tapi tetap harus berhati-hati dan tidak mengganggunya. Ikan ini menggigit manusia yang menginjaknya, penyelam yang menyentuh atau menusuknya, atau siapa saja yang berusaha menghalangi jalan mereka. Sumber : Google Hiu karpet hidup di perairan tropis dengan temperatur rendah seperti Samudera Pasifik dan Samudera Hindia bagian timur. Persebaran hiu karpet adalah di Bagian Barat Pasifik Selatan, Bagian Timur Indonesia, Papua New Guinea, Australia Bagian Utara. Hewan yang biasa memakan

BLUE BUBBLES MAGAZINE

35


SHARKSUCKER & DUMBO OCTOPUS Offal MDC 23

TransverseFabian Fission MDC 22 Teripang adalah hewan bentik atau hewan laut yang hidup didasar perairan dengan gerak yang lambat (Darsono, 2007). Makanan teripang adalah pasir yang didalamnya terdapat beberapa material atau komponen sebagai asupan nutrisin-

ya seperti hewan epifit dan bahan organik lainya. Dalam ekologinya teripang berperan sebagai penyubur subtrat dasar suatu perairan (Elfidasari et al., 2012). Dari beberapa jenis teripang tergolong dalam nilai ekonomi yang tinggi contohnya adalah teripang pasir atau Holothuria scabra yang sering dijadikan makanan kelas atas dengan harga yang cukup mahal dari berat basah ataupun berat kering. Beberapa jenis teripang dapat melakukan reproduksi secara seksual dan aseksual. beberapa hal yang unik dari teripang adalah reproduksi aseksualnya seperti contohnya dari jenis Holothuria atra atau teripang hitam yang sangat banyak di temukan di seluruh perairan tropis dan hidup berasosiasi dengan tumbuhan lamun (Dissanayake et al., 2010). Teripang ini dapat melakukan reproduski yang unik yaitu dengan membelah dirinya menjadi 2 bagian yang nantinya akan tumbuh organ baru untuk melengkapi tubuhnya yang terbelah dan menjadi teripang yang utuh. Reproduksi aseksual ini digunakan sebagai reproduksi alternative bagi teripang jika seksual tidak dapat dilakukan dikarenakan lingkungan yang tidak mendukung seperti suhu atau temperature yang berubah secara ekstrem. Kejadian reproduksi teripang membelah diri ini disebut dengan Transverse Fission atau Fission (Chao et al., 1993).

36

SI BESAR ANEMON UNGU Aricco MDC 23

Anemon laut diklasifikasikan dalam filum Cnidaria, kelas Anthozoa, dan subclass Hexacorallia. Termasuk dalam Anthozoa karena sering ditemui memiliki polip besar, yang memungkinkannya untuk mencerna mangsa yang lebih besar. Digolongkan cnidaria, karena anemon laut mempunyai sengat. Salah satu jenis anemon laut yaitu Heteractis Magnifica atau yang biasa di kenal dengan sebutan anemon ungu yaitu jenis anemone yang tidak mematikan sengatannya dan bentuknya salah satu yang paling banyak kita jumpai di perairan. Racunnya sendiri adalah campuran beberapa racun, termasuk neurotoksin, yang melumpuhkan mangsa sehingga anemon dapat memindahkannya ke mulut untuk kemudian mencernanya dalam gastrovaskuler. Ada pula racun actinotoxins sangat beracun memangsa spesies ikan dan krustasea.

Walaupun beracun, si ikan badut, tidaklah terpengaruh oleh sengatan anemon. Bahkan sebagai tuan rumah, melindungi mereka dari predator di antara tentakelnya. Beberapa spesies hewan laut lain, juga memiliki adaptasi yang sama dengan ikan badut dan juga tidak terpengaruh oleh racun anemon. Seluruh jenis anemon bersifat menetap. Mereka hidup menempel pada bebatuan, karang, atau pasir di dasar laut. Ada beberapa spesies yang bahkan membenamkan diri di pasir hingga separuh tubuhnya. Menurut Hunter (1979), tidak ada anemon yang memiliki fase medusa di dalam hidupnya. Artinya, mereka tidak dapat bermetamorfosis seperti uburubur dan memiliki fase bebas berenang. Anemon dapat ditemui dari area pantai hingga laut dengan

MARINE DIVING CLUB

Sharksucker (Echeneis naucrates) atau seringkali juga disebut sebagai remora merupakan jenis ikan yang sangat mudah dibedakan. Hal ini dapat

dilihat dari sirip dorsal mereka yang telah termodifikasi sehingga berbentuk cakram oval sebagai alat penghisap. Seperti yang sering teramati, ikan remora seringkali menempelkan dirinya pada hewan lain, seperti hiu, penyu, paus, ikan besar lainnya, dan kadang kepada penyelam ataupun kapal. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan makanan berupa parasit atauu sisa makanan dari inangnya. Remora sendiri dapat ditemukan pada perairan yang bersuhu hangat, seperti pada perairan di Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan Samudra Pasifik. Pada masa juvenil, remora seringkali berasosiasi dengan ikan kakaktua (Parrotfish) dan berperan sebagai pembersih ikan tersebut. Hal ini pula yang menyebabkan ikan remora dapat ditemukan pada kedalaman sekitar 20-50 meter dibawah permukaan air. Ikan remora seringkali ditemukan berenang dalam bentuk kelompok. Beberapa penelitian pun menunjukkan bila ikan remora sudah menempel pada inangnya dengan sangat kuat sejak awal masa hidupnya. Hubungan antar inang dan ikan remora merupakan symbiosis komensalisme. Ikan remora seringkali dimanfaatkan oleh beberapa nelayan sebagai umpan untuk mengambil ikan yang lebih besar setelah ikan itu menempel pada inangnya. Namun, pada beberapa kasus ikan remora dianggap memiliki sifat negatif pula pada manusia, dilihat dari kelakuannya yang menempel pada penyelam yang akan sulit untuk dilepaskan dan meninggalkan rasa sakit, ataupun saat ikan ini menempel pada bagian bawah kapal yang lama kelamaan mampu merusaknya.

BLUE BUBBLES MAGAZINE

Dumbo octopus, atau yang dapat disebut sebagai gurita “dumbo” merupakan jenis gurita yang hidup di kedalaman 3000-4000 m dibawah permukaan laut, menjadikannya jenis gurita yang hidup pada kedalaman paling dalam diantara jenis gurita lain yang dapat ditemukan. Grimpoteuthis spp yang merupakan nama latinnya, telah dditemukan di beberapa daerah seperti New Zealan, Australia, California, Oregon, Filipina, dan Papua Nugini. Beberapa jenis spesies yang ditemukan berukuran 20-30 cm, dengan jenis terbesar yang pernah tercaat memiliki panjang 1.8 cm dan berat 5.9 kg. Sebagai jenis yang hidup pada kedalaman ekstrem, gurita “dumbo” memiliki jenis makanan berupa coepopods, isopods, amphipods, dan cacing berbulu yang dapat ditemukan pada ekosistem dasar atau mengapung disekitarnya. Gurita ini akan memakan mangsanya dengan langsung menelan seluruh bagian tubuhnya setelah ditangkap oleh tentakelnya, tidak seperti gurita kebanyakan yang akan memotongnya terlebih dahulu dan menghaluskannya. Hal inilah yang menjadikan cara makan dari genus Grimpoteuthis unik, dibandingkan gurita lainnya Sirip yang terbentuk seperti telinga di bagian atas mantel dari gurita inilah yang membuatnya dinamakan sebagai gurita “dumbo”, layaknya karakter Gajah Dumbo dari Disney. Terdapat sekitar 17 spesies gurita “dumbo” yang masuk dalam ka-

teori gurita paying, berhubungan dengan kemampuan mengapungnya dengan bentuk sseperti paying pada mantelnya. Sebagai jenis hewan yang secara daya apungnya seimbang dengan tekanan yang kuat disekitarnya, gurita “dumbo” dapat melakukan beberapa gerakan seperti mengepakkan sirip yang terbentuk seperti telinga Dumbo, melebarkan tentakelnya dan menyemprotkan air untuk pergerakan yang lebih cepat menjauhi predator, dan juga seperti pada gurita pada umunya, yaitu berjalan merayap menggunakan tentakelnya.

37


KODOK DARI LAUT APAKAH ADA?

Fawzia MDC 22 Kodok laut merupakan sebutan dari Antennaius pictus, ikan ini disebut dengan kodok laut karena ikan ini jarang menggunakan kemampuan berenangnya di laut, tetapi lebih sering menggunakan siripnya untuk berjalan di dasar laut. Kodok laut memiliki sirip dada yang miring bersama dengan sirip perutnya, sirip-sirip inilah yang membantunya berjalan di dasar laut. Kodok laut mempunyai warna tubuh yang bervariasi, dikarenakan kodok laut beradaptasi fisiologis dan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan hidup mereka. Ikan ini mempunyai kemampuan seperti bunglon, yaitu ikan ini dapat mengubah warna dan pola pigmen da-

lam beberapa minggu di tubuhnya sesuai dengan lingkungan sekitar, dengan tujuan untuk mengelabuhi mangsanya ataupun predator. Kodok laut dapat berkembang hingga panjangnya mencapai 12 inch dan mempunyai mulut yang cukup besar, dengan mulut besar yang dimiliki maka kodok laut dapat menangkap mangsanya dengan mudah bahkan kodok laut dapat memangsa hewan dengan ukuran yang ukurannya hampir sama dengan ukuran tubuhnya. Kodok laut memiliki 3 buah tulang belakang punggung. Tulang belakang punggung pertama (illicium) digunakan sebagai alat pemancing. Alat pemancing ini terlihat sebagai umpan yang selalu bergerak dan memancing ikan kecil untuk mendekatinya. Tulang punggung kedua lurus dan fleksibel. Tulang punggung yang ketiga membungkuk ke arah belakang. Kodok laut memiliki gaya hidup yang soliter. Mereka hanya berkumpul saat musim reproduk-

38

si, bila proses fertilisasi selesai, namun masih ada betina yang mendekatinya maka sang jantan akan memangsa si betina. Kodok laut ini dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis, Sering ditemukan bersembunyi di daerah berbatu dan terumbu karang di kedalaman 15m-75 m.

MAMALIA CERDAS DARI LAUTAN.

Erfian MDC 22

Stenella Longirostris, atau bernama lokal lumba-lumba paruh panjang, terkenal dengan tingkah laku melompat tinggi di udara, hidup pada perairan sub-tropis dan tropis termasuk lumba-lumba yang sering dijumpai di Indonesia. memiliki paruh yang panjang dan tubuh ramping dengan memiliki 3 warna gelap pada bagian punggung ,abu-abu pucat pada bagian sisi dan perut yang berwarna keputihan, Panjang tubuh lumba-lumba paruh panjang dewasa antara 1,3-2,1 m dengan berat 45-75 kg, sedangkan bayi yang baru dilahirkan memiliki panjang tubuh 80 cm. Masa kehamilan adalah 11 bulan dan interval kelahiran anak adalah 2-3 tahun sekali. Makanan utamanya adalah ikan, cumi-cumi, dan udang. Memiliki distribusi yang sangat luas, mencakup seluruh perairan tropis dan sub-tropis di Samudera Atlantik, Pasifik dan Hindia.Distribusi di Indonesia Bali, Kalimantan Timur, Jawa, Maluku, Papua, NTB, NTT, Sulawesi Sumatera Sumber : Studi Karakter Suara Beberapa Spesies Odontoceti Di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur (2007) Pengenalan jenis mamalia laut indonesia (2013)

MARINE DIVING CLUB

Mengungkap Manfaat Dari Akar Bahar yang Terancam Punah Kharis MDC 22

Hallo readers! Pernah lihat atau memakai gelang nan cantik diatas? Cantik bukan? Memang hebat para seniman Indonesia membuat hal semacam ini menjadi begitu bagus. Namun mungkin pernah terlintas sedikit pertanyaan tidak dari bahan dasar apa hal itu dibuat? Kalau belum mari simak ulasan berikut ini. Bahan dasar tersebut terbuat dari semacam kayu tapi bukan kayu biasa, kayu tersebut berasal dari dalam air laut dan mereka hidup

layaknya tumbuhan di darat, biasa banyak orang menyebut sebagai Akar Bahar. Nah selanjutnya apa itu Akar Bahar?, lalu apasih fungsinya? Mungkin pertanyaan ini yang banyak muncul ketika kita mendengar nama akar

bahar. Akar yang satu ini memang terdengar asing bagi banyak orang karena memang banyak orang yang belum mengetahuinya. Namun walau namanya akar bahar sebenernya akar bahar termasuk hewan dan masuk ke dalam genus Anthiphates atau biasa disebut Gorgonian. Gorgonian sendiri merupakan Hard Coral yang juga memiliki polip seperti Cor-

BLUE BUBBLES MAGAZINE

al lainya. Dalam kurun waktu hampir dua dekade terakhir akar bahar banyak sekali di manfaatkan dan eksploitasi oleh orang yang kurang bertanggung jawab, sehingga dikeluarkanlah PP No7 Tahun 1999 yang mengatur bahwa akar bahar atau coral hitam merupakan satu-satunya hewan dari genus Anthozoa yang dilindungi. Keindahan keunkan akar bahar, banyak situs jual beli online yang menawarkan gelang berbahan akar bahar ini. kebanyakan dari mereka menawarkan akar bahar sebagai gelang untuk perhiasan tangan. Dan banyak juga yang mempercayai akar bahar memiliki sebuah energi yang bisa menambah kewibawaan dan kharisma bagi yang memakainya, tak hanya itu akar bahar juga bisa memberikan tuah bagi yang memakainya. Hal ini tidak lain adalah karena akar bahar dipercayai mampu menjaga kesehatan dan menaikan kemampuan tubuh bagi pemakainya. Berawal dari kepercayaan itu banyak orang yang memanfaatkan akar bahar sehingga pemanfaatan berlebihan pun terjadi. Tak hanya dimanfaatkan untuk perhiasan, akar bahar juga dimanfaatkan sebagai obatobatan. Salah satu contohnya masyarakat Sabu Raijua yang memanfaatkan akar bahar sebagai obat rematik atau nyeri sendi dengan cara akar bahar dikeringkan lalu di tumbuk dan serbuknya di seduh dengan air panas. Beberapa riset tentang akar bahar juga menyatakan bahwa akar bahar memilki manfaat di bidang farmatologi, diantaranya adalah spesies Gorgonian Rumphella antipathies menunjukan penghambatan turunan anion superoksida dan pelepasan elastase oleh neutrofil manusia (Chung et al. 2013; Chung et al. 2014 dalam Hapynes teffu et al, 2015). Akar bahar teridentifikasi sebagai Rumphella sp. dan Hicksonella sp. Akar bahar komponen protein yang tertinggi juga mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid, triterpenoid, dan saponin (Hapynes teffu et al, 2015). Melihat banyak sekali manfaat dari akar bahar pastilah membuat banyak orang untuk memanfaatkanya, akibatnya eksploitasi akar bahar seacara berlebihanpun bisa terjadi. Dengan status akar bahar sebagai hewan yang dilindungi, baiknya kita bersikap bijak dan menaati peraturan yang ada dengan tidak mengeksploitasi akar bahar.

39


SI CANTIK, KUPU KUPU LAUTAN PEMBERSIH TERUMBU

Si Besar yang Hobi Berjemur! Muggi MDC 22

Rifky MDC 22

mencolok. Biasa hidup di terumbu karang walau ada sebagian jenis ditemukan juga di daerah estuaria dan perairan dalam, hidup dalam suatu kelompok atau berpasangan. Ikan kepe-kepe hidup di daerah karang yang pertumbuhannya subur, ini disebabkan karena ikan kepe-kepe umumnya memakan polip karang walaupun jenis lain ada yang memakan kombinasi dengan invertebrata kecil yang hidup di dasar perairan dan algae. Dari hasil pemantauan kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode reffcheck yang berlokasi di Kepulauan Karimunjawa tepatnya di perairan Taka Malang, perairan TanIndonesia adalah negara dengan luas lautan jung Gelam , dan Pulau Menjangan Kecil presentase dua per tiga dari luas keseluruhan. Dengan luas lau- tutupan substrat berturut-turut pada kedalaman tan yang cukup besar dengan kondisi iklim tropis ten- 10 meter sebesar 75%, 46%, dan 53% memiliki tunya sangat mendukung untuk terciptanya beraneka kelimpahan ikan kepe-kepe berturu-turut sebesar 65%, 25%, dan 45%. Dengan data ini tentunya ragam kehidupan di laut. Salah satu ekosistem yang memperkuat pernyataan di atas atau dapat dikamendukung kehidupan di laut adalah ekosistem terumbu karang. Di Indonesia luas total terumbu karang takan bahwa ikan kepe-kepe dapat menjadi indikasekitar 51.000 km2 yang merupakan 18% luas total tor kondisi terumbu karang yang baik. Kebiasaan ikan kepe-kepe memakan polip karang ataupun terumbu karang di dunia. Dan sebuah kajian yang algae merupakan hubungan timbal balik yang saling dilakukan pada tahun 2002 diketahui bahwa ada menguntungkan dimana karang akan bersih dari 537 jenis karang dan 1.704 jenis ikan di Indonesia. Ada interaksi yang saling menguntungkan antara ter- algae yang tentunya pertumbuhan karang akan Tumbu karang dengan ikan, dan salah satu ikan yang semakin baik dan untuk ikan kepe-kepe sendiri akan mempunyai interaksi dengan terumbu karang adalah mendapatkan makanan dari karang. Di perairan Indonesia dijumpai 44 jenis ikan kepe kepe (buterflyfish). ikan kepe-kepe. Indonesia sendiri merupakan salah Ikan kepe kepe (buterflyfish) termasuk ke satu negara yang memiliki kelimpahan jenis ikan dalam famili Chaetodontidae biasanya ditemukan pada terumbu karang di perairan tropis memiliki mu- kepe-kepe yang cukup banyak yaitu 45 jenis. Ikan kepe-kepe di dunia berjumlah 120 jenis yang termalut yang kecil dan kadang ada yang panjang, banyak dari jenis ikan ini yang mirip dengan kupu-kupu suk kedalam 10 genera. Genus Chaetodon adalah genera yang terbesar yang lebih dari 90 jenisnya berdasarkan warnanya yang bervariasi dan sangat ditemukan di terumbu karang.

40

MARINE DIVING CLUB

Bagi semua orang yang memiliki hobi menyelam atau diving pasti sangat mengenal Mola mola yaitu ikan bertulang keras yang memiliki ukuran lebih besar dari ikan pada umumnya, coba kalilan bayangkan berenang bersama ikan yang memiliki ukuran panjang bisa sampai 4 meter dan memiliki berat 2,2 ton! Dengan ukuran sebesar ini sun fish merupakan hewan yang termasuk jinak atau tidak berbahaya oleh karena itu pastinya sebagai seorang diver, diving bersama Mola mola merupakan pencapaian dan pengalaman yang luar biasa hebatnya. Di Indonesia sendiri Nusa Penida merupakan salah satu tempat yang tepat untuk bertemu dengan ikan yang satu ini pada bulan juli sampai September semua diver dari seluruh dunia datang ke tempat ini.

parasit parasit yang menempel. Mola mola ikan yang tidak memiliki sirip ekor tetapi dia memiliki sirip menyambung dari atas sampai bagian bawah perut yang disebut calvus. Mola mola merupakan salah satu predator dari ubur-ubur, kepiting, zooplankton, dll. Aktifitas aktifitas pelayaran kapal kapal bisa membahayakan Mola mola karena ia sering terkena baling baling kapal kerena pergerakan Mola mola yang cenderung lamban, perburan hewan ini untuk dikonsumsi di beberapa daerah, dan banyaknya sampah plastik yang ada di laut juga sering termakan karena menyerupai ubur ubur sebagai makanannya akibatnya dapat merusak sistem pencernaan dari Mola mola itu sendiri. Oleh karena itu aktifitas manusia sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup hewan yang sudah sulit untuk ditemukan ini, oleh karena itu kita dapat menjaganya dengan cara seperti membuat penelitian tentang pola kemunculan hewan ini agar bisa menentukan jalur pelayaran yang tidak menggangu hewan ini dan tidak membuang sampah sembarangan dan cara cara lainnya untuk menjaga hewan laut yang lain sekalipun. Terima kasih ď Š Sumber: http://www.mongabay.co.id student.unud.ac.id/

Sun fish memiliki banyak keunikan sendiri selain memiliki ukuran yang sangat besar Sun fish memiliki hobi berjemur, ya ini lah yang membuat ia memiliki julukan “Sun fish�, kebiasaan berjemurnya ini merupakan cara ia untuk menghangatkan tubuhnya agar memiliki suhu tubuh yang ideal sebelum / setelah berenang di perairan yang dalam sampai 600 m karena ikan ini hanya bisa hidup pada suhu diatas 12 derajat celcius. Selain untuk mendapatkan suhu yang ideal kegemaran berjemurnya ini pun salah satu cara ia untuk membersihkan parasit yang ada pada tubuhnya karena pada saat berjemur ikan ikan terumbu dan burung burung laut datang untuk membersihkan dengan memakan

BLUE BUBBLES MAGAZINE

41


Tim Penyusun: Muggi Bachtiar Maula Nadia M. Naufal Prinanda Erfian Raditiaz Kontributor: M. Rifky Firdaus Andre Rivaldo Arya Muhammad Hadi Alkharis Ken Dyah Hanggita Faith Dibri Kimberly Fauzia Hanum Fabian Panji Ayodya Fathin Nazariano Anggi Tsamara Amirah Aldion Adin Nugroho M. Anas Khairy Arrico Fathur Y.B Ghinaa Shabrina Diaz Adiyoga Corina Dewi M. Abdul Hakim Jibriel Firman

Sumber Fota: Marine DIving Club Google

42

MARINE DIVING CLUB