Blue Bubbles Magazine 2019

Page 1

BLUE BUBBLES SCIENTIFIC - EDUCATION - CONSERVATION

MAGAZINE BY MARINE DIVING CLUB EDISI 2019


Cover Pendata Karang (CoralliumXXI/2019) Back Amphiprion oceallaris di Anemone (MDCReefCheck/2019)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

3

Pengurus Marine Diving Club Periode 2019

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah karena berkat izin dan kehendak-Nya majalah tahunan Marine Diving Club dapat terbit.

Ketua M. Chiesa Fathirayan

Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses penerbitan ajalah tahunan ini. Semoga hal yang kita susun bersama dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat di masa yang akan datang. Majalah tahunan Marine Diving Club merupakan salah satu media publikasi yang berisi rangkuman kegiatan yang dilalui selama satu tahun kepengurusan. Majalah ini berisikan kegiatan Marine Diving Club baik internal maupun eksternal serta pencapaian Marine Diving Club selama satu tahun kepengurusan. Mudah-mudahan rangkuman ini dapat menjadi acuan bagi Marine Diving Club untuk menjadi kelab selam yang lebih baik lagi kedepannya. Majalah ini masih jauh dari kata sempurna dalam penyusunannya. Maka dari itu, kami menerima segala bentuk kritik dan saran agar menjadi lebih baik lagi kedepannya. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih.

Sekretaris Nurhidayah Bendahara Dayinta Andayani Divisi Pelatihan dan Pengembangan Bima Fatah Alam M. Jihad El Fikry Divisi Diklat dan Ekspedisi Anisa Nabila Gilang Rizki A. Fikri Irwan Maulana Divisi Humas dan Dana Usaha Maula Nadia

Waspada dira anuraga!

Abdan Faruq A.

Mufqi Egy W.

M. Chiesa Fathirayan (MDC XXIV) Ketua MDC Periode 2019

Divisi Alat Brillian Abdillah Destin Riski Erdana

DAFTAR ISI Paradive: Dive Certification 2019 EMBRIO 2019 Ekspedisi Corallium XIX Pulau Menyawakan Kunjungan ke Yogyakarta ReefCheck Monitoring 2019 Pelatihan CPCe bersama BTNKJ Marine Sharing Jejak MDC Monitoring di Sumbawa Bertemu Manta di Nusa Penida

4 5 7 10 11 12 12 22 22

Sharing Knowledge Ocean Sunfish Belut Pita Dotted Nudibranch Blacktip Grouper Sandperch Golden Spine Rabbttfish Kima Reef Manta Eight Band Butterflyfish Ghost Pipefish Kompresor

13 14 15 15 16 16 17 18 19 19 21


BLUE BUBBLES MAGAZINE

4

Paradive: jalan jalan dan menyelam di bali bersama mdc Apa yang tercetus di benak kalian saat mendengar kata ‘Bali’? Mungkin pantai, berjemur, liburan dan alam. Ya, Bali memang sebegitu indahnya sehingga beberapa orang-pun mengatakan Bali sebagai paradise on earth. Keindahan bawah air di Bali pun tak kalah dengan keindahan daratnya. Berbagai jenis ikan, mulai dari yang kecil hingga besar serta warna-warninya yang menarik perhatian. Hal ini membawa Marine Diving Club (MDC) UNDIP untuk kembali mengadakan acara sertifikasi selam untuk umum di Pulau Bali. Acara sertifikasi selam merupakan agenda tahunan MDC yang dibuka untuk umum. Tahun ini, acara sertifikasi selam mengagkat tema ‘Paradive: Dive in Paradise’. Kegiatan sertifikasi ini diikuti oleh 13 peserta yang mengambil sertifikasi Open Water Diver dan 1 orang yang mengambil sertifikasi Advance Adventurer yang dinaungi oleh Scuba Schools International (SSI) dengan instruktur Riyan Heri Pamungkas. Rangkaian kegiatan berlangsung pada 5-12 September 2019, diawali dengan Pendidikan Akademis Penyelaman (PAP) pada Kamis (5/9), dimana peserta belajar mengenai teori dasar penyelaman berupa hukum fisika dasar, alat, fisiologi dan penyakit penyelaman serta lingkungan penyelaman. Kemudiann di hari selanjutnya peserta diberi materi kolam (pool session di kolam renang KODAM IV Diponegoro selama dua hari untuk mendalami kemampuan penyelaman sebelum akhirnya berangkat ke Bali pada hari Minggu (8/5) untuk melakukan latihan perairan terbuka. Trip darat ke Taman Tirta Gangga (PARADIVEMDC/2019)

Keseruan menyelam di USAT Liberty Shipwreck, Tulamben (PARADIVEMDC/2019)

Hari pertama di Bali diisi dengan kegiatan trip darat menuju Sangeh Monkey Forest, Pura Besakih dan Taman Air Tirtagangga dan istirahat di penginapan di kawasan Amed. Penyelaman pertama dilakukan pada keesokan harinya. Site penyelaman pertama dilakukan di Pantai Jemeluk, Amed. Peserta-pun menerapkan ilmuilmu yang sudah diberikan saat PAP dan pool session. Terlihat ikan-ikan yang berwarna-warni serta terumbu karang yang menempel pada patung-patung di bawah air Pantai Jemeluk. Pada sore hari, peserta yang mengambil sertfikasi Advance Adventurer bergerak menuju Tulamben untuk melakukan night dive di USAT Liberty Wreck, yaitu bekas kapal perang milik Amerika Serikat yang sudah tenggelam di Bali. Kegiatan night dive berlangsung mengasyikkan, terlihat ikan-ikan besar seperti giant grouper dan bumphead parrotfish. Kegiatan diakhiri dengan evaluasi penyelaman dan waktu bebas untuk peserta. Di hari selanjutnya peserta melakukan penyelaman pada site kedua di Tulamben. Penyelaman dilakukan di Coral Garden dan USAT Liberty Wreck. Penyelaman di Tulamben dihadiri pula oleh senior-senior MDC UNDIP yang bekerja di Bali dan terman-teman dari UKM selam Basic Universitas Udayana. Kembali, telihat banyak sekali ikanikan yang berwarna-warni serta ikan-ikan besar seperti yang terlihat pada saat night dive. Kegiatan penyelaman diakhiri dengan evaluasi penyelaman dan dilanjutkan dengan menuju Toko Krisna untuk membeli oleh-oleh dan kembali ke Semarang. Chiesa Fathirayan (MDC XXIV)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

5

Peserta melakukan Entry Backroll (kiri) dan Pemanasan Darat (kanan) (EMBRIOMDC/2019)

Belajar Renang dengan Menyenangkan di EMBRIO 2019 EMBRIO merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Marine Diving Club sebagai wadah pengajaran renang dan ilmu – ilmu dasar selam untuk mendukung kegiatan perkuliahan renang dan selam pada semester ini dan semester selanjutnya. EMBRIO tahun ini mengambil tema Edukasi Menyenangkan Berenang untuk Mahasiswa Ilmu Kelautan dan Oseanografi Kegiatan EMBRIO ini dimaksudkan untuk menyambut mahasiswa baru dan membimbing dalam kegiatan berenang yang juga merupakan mata kuliah wajib semester 1 di Departemen Ilmu Kelautan dan Sseanografi. Kegiatan EMBRIO berlangsung selama 6 kali pertemuan. Tidak hanya materi, setiap pertemuan diselingi dengan games dan sharing session. Kegiatan yang dilakukan selama embrio diantaranya adalah pengenalan alat dasar selam, latihan renang, scuba trial, dan games.

Pada Hari Pertama hingga Kelima, para peserta mendapatkan materi dasar renang dan selam yang meliputi renang gaya bebas, RBA, watertrap, entry permukaan dan kedalaman, dan juga fins swimming. Selain itu mereka mendapatkan materi pengenalan alat dasar skindive dan alat selam juga. Puncak kegiatan EMBRIO adalah pada Hari Keenam dimana para peserta mencoba SCUBA untuk pertama kalinya. Hampir semua peserta yang mengikuti ini belum pernah mencoba sebelumnya, maka scuba trial di EMBRIO ini menjadi pengalaman pertama. Kegiatan EMBRIO ditutup dengan games dan talkshow tentang dunia penyelaman dari senior – senior MDC yang tentunya keren – keren banget. Selanjutnya ada kejutan nih dari panitia EMBRIO yaitu kami membagikan hadiah sebagai bentuk apresiasi kami untuk para EMBRIOners yang terbagi menjadi beberapa nominasi dengan hadiah yang berbeda – beda. Walaupun setiap kelompok mendapatkan hadiah yang berbeda- beda tetapi mereka menghabiskannya bersama – sama antar kelompok. Kekompakan mereka sudah terbentuk dan rasa kepedulian antar sesame sudah terbangun. EMBRIO menjadi salah satu ajang untuk mereka mengenal teman satu angkatannya dan tempat untuk mereka mendapatkan ilmu yang nantinya akan berguna bagi mereka di dunia kelautan. Mila Azizah (MDC XXVI)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

Ekspedisi Corallium XXI: Pulau Menyawakan

6


BLUE BUBBLES MAGAZINE

“

7

Ekspedisi Corallium dilakukan untuk ke-21 kalinya oleh Marine Diving Club di perairan Pulau Menyawakan dan Pulau Karimunjawa. Ekspedisi kami ini bertemakan ecotourism dimana terbagi atas 3 poin utama yaitu: Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang, Sustainable Seafood dan Sampah Plastik.

3 bulan lamanya kami, anggota MDC angkatan 26, mempersiapkan ekspedisi yang diselenggarakan selama 6 hari ini. Tidak hanya untuk menyelam atau sekedar jalan-jalan di Karimunjawa, tetapi kegiatan kami sangat banyak seperti aksi kampus dan wisatawan, pendataan ekosistem terumbu karang, parameter oseanografi, serta pendataan sosial ekonomi para nelayan di Karimun Jawa. Sebelum berangkat ke Karimunjawa, kami melaksanakan AKSI di kampus FPIK dan Student Center Universitas Diponegoro, Tembalang pada (21/08) sebagai kegiatan pra-ekspedisi. Aksi ini berupa edukasi kepada masyarakat, khususnya mahasiswa mengenai ketiga poin tema kami yaitu menjelaskan tentang bagaimana kerusakan karang itu terjadi dan hubungannya dengan pariwisata, bagaimana sustainable seafood itu bisa mempengaruhi pariwisata serta sampah plastik yang juga berpengaruh terhadap pariwisata. Awalnya kami hanya memiliki target keseluruhan 170 orang, namun diluar ekspektasi kami kami mendapatkan lebih yaitu hampir 300 orang pengunjung AKSI! Pada hari keberangkatan ekspedisi, rangkaian kegiatan pelepasan tim ekspedisi dilakukan di basecamp MDC. Pembukaan ini dibuka dengan adanya sabutan dari ketua Ekspedisi Corallium kami yaitu Eriska Florentina Manurung (MDC XXVI) dan perwakilan ketua MDC yaitu Nurhidayah (MDC XXIV). Pada hari yang sama, kami melakukan simulasi pendataan ikan dan karang sebagai persiapan dan pemantapan terakhir untuk kegiatan pendataan kami di Pulau Menyawakan nanti. Kegiatan ekspedisi memang dirangkai sangat padat, kegiatan kami banyak dengan waktu yang terbatas. Setelah menempuh perjalanan 6 jam dengan kapal dari Jepara ke Karimunjawa, kami langsung melaksanakan diklat penyelaman di Pelabuhan Perintis, Karimunjawa. Diklat ini menjadi latihan menyelam terakhir sebelum kami akan turun di Pulau Menyawakan keesokan harinya. Selain itu, diklat pengambilan

Tim Ekspedisi Corallium XXI pada Acara Pelepasan di Basecamp MDC (CORRALIUMMDC/2019)

Diklat Penyelaman di Pelabuhan Perintis (kanan) Pengambilan data sosial ekonomi kepada salah satu pramuwisata (tourguide) di Karimunjawa (bawah)

data parameter oseanografi juga dilakukan untuk merefresh ingatan kami. Hari tidak selesai disitu, setelah diklat kami melaksanakan AKSI dan pendataan sosial ekonomi terhadap wisatawan di Alun Alun Karimunjawa. Kami bertemu berbagai wisatawan lokal maupun mancanegara yang menceritakan pengalaman mereka berwisata di Pulau Karimunjawa. Tidak hanya kepada para wisatawan, kami juga melakukan pendataan sosial ekonomi kepada para nelayan lokal Karimunjawa.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

8

Peresmian Spot Foto dari Tim Ekspedisi Kepada BTNKJ di Pelabuhan Perintis, Karimunjawa (atas) Anggota tim melakukan pengambilan data ekologi di Pulau Menyawakan (bawah)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

9 Puncak dari kegiatan ekspedisi adalah kegiatan pendataaan ekosistem terumbu karang. Sebelum matahari menampakan diri, kami sudah mempersiapkan alat dan melakukan pemanasan. Kami melakukan pendataan di 4 site Pulau Menyawakan: Utara, Timur, Selatan, dan Barat sebagai representasi pulau selama 2 hari. Kami membagi tugas, ada yang mengambil data karang, ikan, megabenthos, dan parameter oseanografi. Dihari ketiga dan keempat ekspedisi ini, kami terkena gelombang yang cukup kuat terutama di hari keempat kami terkena angin muson timur yang membuat sopek kami bergoyang dengan sangat keras. Tapi kendala tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk melakukan pendataan. Kami bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ) untuk melakukan pemasangan mooring buoy di beberapa titik. Mooring buoy itu adalah pelampung tempat kapal mengikat tali kapalnya sehingga karang tidak rusak akibat jangkar yang dibuang semena mena oleh pemilik kapal. Mooring buoy dipasang di 3 titik pada perairan Pulau Menjangan Kecil, salah satu lokasi favorit untuk pariwisata di Karimunjawa. Pada hari terakhir, kami meninggalkan sebuah kenang-kenangan di Karimunjawa yaitu sebuah spot foto! Pemasangan spot foto ini bertujuan agar para wisatawan dan masyarakat lebih peduli terhadap sampah dan lebih menjaga laut dengan baik. Pesermian spot foto ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Perhubungan (Dishub) untuk meresmikan. Setelah kegiatan peresmian, kami langsung kembali ke Jepara, lalu bertolak ke Semarang untuk pulang. Berakhir sudah kegiatan ekspedisi kali ini. Lelah? Iya. Puas? Sangat! Senangnya dapat mengaplikasikan semua ilmu yang telah kami dapat selama tidak kurang dari 3 bulan. Dari ilmu penyelaman, ilmu identifikasi ikan dan karang, dan tentunya manajemen kegiatan ekspedisi. Pengalaman Ekspedisi Corallium ini merupakan pengalaman pertama kami, anggota MDC XXVI dan akan menjadi pengalaman yang selalu kami ingat. Eriska Florentina Manurung (MDC XXVI)

Penurunan Mooring Buoy Hasil Kerjasama MDC dan BTNKJ


BLUE BUBBLES MAGAZINE

10

Mengunjungi Buddies di kota Yogyakarta

MDC Buddies: UAJYK (kiri), UNYIL (tengah), Klub Sleam Arkeologi UGM (kanan)

Dalam dunia penyelaman, buddy adalah komponen yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan. Buddy bisa dikatakan sebagai pasangan, partner, ataupun rekan menyelam. Di bawah air dimana kondisi lingkungan tidak menentu, memiliki buddy menjadi hal yang penting agar ada yang mengetahui kondisi kita setiap waktu dan tentunya dapat membantu kita jika ada masalah. Makanya sering dikatakan, “Never dive alone� Kalau untuk Marine Diving Club (MDC), buddy bukan hanya rekan menyelam di dalam air, melainkan juga teman-teman yang memiliki ketertarikan yang sama dalam dunia penyelaman. MDC buddies! Sebutan yang sering kami gunakan untuk teman-teman dari klub selam lain. Pada Minggu (24/11), MDC melakukan perjalanan ke kota Yogyakarta untuk mengunjungi buddies disana dalam rangka MDC MEET UP! Selain ingin menjalin tali silaturahmi, kami ingin bertukar informasi, pengalaman, dan tentunya.. curhat tentang kegiatan dan dinamika kegiatan klub selam di kota Yogyakarta. Destinasi pertama kami adalah ke Universitas Gadjah Mada, UGM untuk bertemu klub selam terbesar disana yaitu Unit Selam UGM yang disebut Unyil. Unyil menjadi salah satu klub selam yang sering mengirimkan atlit bidang selam ke kancah Nasional hingga Internasional. Ini menjadi salah satu hal yang menarik bagi kami dari MDC. Tidak hanya itu, Unyil sendiri memiliki bidang yang fokus menyalurkan minat dari para anggotanya, seperti minat dalam olahraga selam, fotografi, jurnalistik, konservasi, dan lain-lain. Setelah dari UGM, kami bertolak ke Sentra Selam Yogyakarta untuk bertemu Klub Selam Arkeologi UGM. Klub Selam Arkeologi UGM merupakan salah satu divisi di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Arkeologi UGM.

Tentunya fokus dari Klub Selam Arkeologi ini berbeda dengan MDC. Saat MDC bergerak di bidang penyelaman ilmiah ekosistem terumbu karang, Klub Selam Arkeologi bergerak di bidang arkeologi. Saat kami belajar mengidentifikasi biota-biota laut, mereka belajar untuk mengungkap temuantemuan sejarah yang ada di dalam laut salah satunya adalah dari wreck kapal. Kami mendapatkan banyak ilmu baru pada pertemuan singkat tersebut. Nah buddy terakhir yang kami temui di kota Yogyakarta adalah dari Unit Selam Atma Jaya. Sambutan hangat kami dapatkan dari temanteman di sekretariat UAJY di kampus Atma Jaya. Kami banyak bertukar pengalaman dari segi kepengurusan hingga kegiatan klub selam masing-masing. Kami menemukan beberapa kesamaan dari sistem organisasi. Ternyata UAJY juga memiliki site transplantasi karang di Karimunjawa! Mungkin kapan-kapan, MDC bisa ikut turun dan melihat. Satu hari terasa sangat cepat berlalu saat kami mengunjungi para buddies. Berbagai pengalaman dan cerita seperti tidak ada habisnya. Semoga kedepannya kami bisa bekerja sama dan bekolaborasi secara langsung dalam kegiatan penyelaman dengan bidangnya masing-masing. Terima kasih buddies atas sambutan hangat dan tentu ilmu yang sangat bermanfaat. Maula Nadia (MDC XXIV)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

11

mdc kembali melakukan reefcheck monitoring Reef Check adalah suatu metode pemantauan terumbu karang telah dilaksanakan selama dua dekade di Indonesia. Reef Check yang berbasis pada pendidikan, penelitian dan konservasi terumbu karang menjadi satu solusi praktis untuk diterapkan di Indonesia. Metode ini diperkenalkan di dunia sejak tahun 1997 oleh Gregor Hodgson, dan masuk ke Indonesia pertama kali di TN Karimunjawa pada tahun yang sama. Pada tahun 1999, survei dilanjutkan oleh mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Marine Diving Club. Tidak hanya berhenti disitu, Reef Check di Karimunjawa juga bahkan ikut mengajak sukarelawan dari luar propinsi di pulau Jawa. Tercatat dari Karimunjawa saja, sukarelawan Reef Check yang awalnya hanya beberapa orang saja, meingkat menjadi 300 pada tahun 2006. Usaha penyadartahuan juga dibantu oleh media massa, baik stasiun televisi regional Jawa Tengah (Borobudur TV) dan TV Nasional (INDOSIAR), radio regional di Semarang (Sonora FM, Radio Corpora FM, Radio Smart FM),

maupun media cetak (KOMPAS, Suara Merdeka dan Kedaulatan Rakyat). Bahkan pada tahun 2006, MURI (Museum Rekor Indonesia) mencatat rekor Catur Bawah Air pertama yang dilaksanakan berbarengan dengan aktivitas Reef Check. (Habibi et. al. ,2007). Pada tahun 2019, Reef Check dilaksanakan kembali oleh Marine Diving Club pada pertengahan November. Kegiatan ini berkolaborasi dengan LPPM UPN Veteran Yogyakarta dan dilaksanakan selama 6 hari di Kepulauan Karimunjawa. Monitoring dilakukan di 4 lokasi, yaitu: Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Besar, dan Cemara Kecil. Sebelum kegiatan monitoring, seluruh anggota tim monitoring dibekali oleh materi dan sertifikasi EcoDiver dari instruktur ReefCheck, Ayub Markus dari Yayasan Reefcheck Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 10 anggota MDC. Semua peserta berhasil mendapatkan lisensi EcoDiver 3-Star, yang artinya telah tersertifikasi untuk melakukan pendataan substrat, ikan, dan invertebrata dengan protokol ReefCheck. M. Jihad El Fikry (MDC XXV)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

PELATIHAN CPCE BERSAMA BTNKJ

12 Selasa (17/12), Marine Diving Club Kelautan Universitas Diponegoro bersama LPPM UPN Veteran Yogyakarta melaksanakan Pemaparan Hasil Reefcheck Karimunjawa 2019 dan Pelatihan Analisis Metode Coral Point Count With Excel Extention di Balai Taman Nasional Karimunjawa, Semarang, Jawa Tengah. Acara ini dihadiri oleh 15 peserta dari mahasiswa kelautan Universitas Diponegoro serta perwakilan Balai Taman Nasional Karimunjawa salah satunya yaitu Bapak Sutris Haryanta, S.H. selaku Kepala Subbag Tata Usaha. Kegiatan ini merupakan pemaparan hasil Reefcheck Karimunjawa 2019 “Create a Better Reefs and Ocean With Reefcheck” yang telah dilaksanakan pada tanggal 10– 15 November 2019 lalu di Kepulauan Karimunjawa. Pemaparan ini dilaksanakan untuk menambah tingkat kepedulian mahasiswa dan masyarakat umum terhadap kelestarian terumbu karang dan lingkungan laut serta dapat menjadi rekomendasi kepada Balai Taman Nasional dan instansi-instansi terkait untuk pengelolaan kawasan konservasi lebih lanjut. Setelah pemaparan hasil reefcheck dilaksanakan pelatihan analisis metode Coral Point Count With Excel Extention (CPCe). Pelatihan ini diberikan oleh Andy Achmad Romadhoni sebagai trainer pemantauan kondisi. Pelatihan ini dilaksanakan kurang lebih selama 3 jam yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama penjelasan secara umum mengenai pengambilan data terumbu karang dengan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan sesi kedua pelatihan analisis CPCe. Pada sesi ini peserta secara langsung mempraktikan analisis CPCe tingkat menengah (intermediet) dan identifikasi terumbu karang tingkat genus. Analisis CPCe dilakukan untuk menganalisa hasil pendataan terumbu karang dengan metode UPT yang saat ini sedang dikembangkan oleh Coremap CTI LIPI. Anisa Nabila (MDC XXIV)

Pada Sabtu (7/12), telah diadakan Marine Sharing yang berkolaborasi dengan Yayasan TAKA. Kegiatan ini diisi dengan pemutaran film OCEAN AND US dan diskusi yang dipimpin oleh Novita (Gaia Conservation). Acara ini diadakan di café Noir, Tembalang dan dihadiri oleh 16 mahasiswa. OCEAN AND US sendiri membahas mengenai isu Shark finning yang masih marak terjadi. Hal ini dikarenakan belum adanya produk regulasi yang melarang penangkapan hiu secara menyeluruh. Padahal, hiu memiliki peran sebagai top predator pada ekosistem yang memakan ikanikan yang sudah tua dan sakit. Selain itu, karena perannya sebagai top predator, hiu memiliki akumulasi logam berat yang tinggi. Diskusi Marine Sharing dikemas dengan sangat menarik dan para partisipan terlihat sangat antusias. Diharapkan dengan adanya acara ini, dapat terlaksananya forum diskusi mahasiswa yang membahas tentang isu-isu terkini. M. Jihad El Fikry (MDC XXV)

MEMBAHAS isu HIU DI MARINE

SHARING


BLUE BUBBLES MAGAZINE

UNIKNYA IKAN MATAHARI, IKAN TERBESAR DI LAUTAN Dayinta Andayani (MDC XXIV)

13

Nama Mola berasal dari bahasa latin yang artinya adalah batu giling (millstone), dimana batu giling berbentuk bulat pipih, berat, berwarna abu abu dan digunakan untuk menggiling biji-bijian. Jadi penamaan mola mola merujuk pada bentuk tubuh ikan mola mola yang seperti batu giling. Raksasa seberat 1000 kg ini adalah ikan bertulang sejati terberat yang pernah ditemukan. Ikan mola mola memiliki ekor yang tidak seperti ikan pada umumnya, pada bagian belakang tubuhnya berbentuk seperti perpaduan antara sirip dorsal dan sirip anal yang disebut dengan clavus. Meskipun memiliki ekor yang lemah, ikan mola sering terlihat meloncat keluar dari air seperti paus. Tubuh ikan Mola Mola berwarna coklat, abuabu, putih bahkan becorak titik- titik. Selain warna yang beragam, kulit mola biasanya diselimuti oleh banyak lendir dan meskipun kulitnya terlihat halus, sebenernya kulit mola terasa kasar bila diraba. Ikan mola terkenal sebagai pembawa parasit di tubuhnya, pernah dijumpai 40 generasi parasit yang menempel di kulit ikan mola. Untuk menghilangkan parasit – parasit tersebut, ikan mola biasanya “berjemur” dengan salah satu sisi dan juga meminta bantuan ikan pemakan parasit di perairan karang. Makanan kesukaan ikan mola adalah uburubur, selain ubur-ubur ikan mola juga memakan salpa, ikan kecil, plankton, alga, moluska dan bintang laut. Habitat ikan mola tersebar di seluruh perairan di dunia, kecuali kutub Utara dan Selatan. Ikan mola hidup di perairan tropis dan beriklim sedang, mereka dapat dijumpai di Samudera Atlantik, Samudera Pasifik, Samudera Hindia dan Laut Mediterania. Ikan Mola merupakan ikan tersubur di dunia. Satu ekor mola bisa memiliki 300 juta telur di dalam ovariumnya (terbanyak di antara hewan bertulang belakang lainnya). Saat menetas, ukuran larva ikan mola berukuran sangat kecil (sekitar 2 mm) dan berbentuk seperti ikan buntal dengan duri – duri dan memiliki ekor. Semakin tumbuh besar, duri – duri dan ekor tersebut lambat laun akan menghilang, dan dari larva berukuran 2 mm, ikan mola akan terus tumbuh hingga mencapai ukuran 2m atau lebih saat dewasa.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

mengenal belut yang berubah-ubah warna Mufqi Egy W (MDC XXV)

Sumber: RAO, D.V., KAMALA DEVI & P.T. RAJAN (2000): An account of Ichthyofauna of Andaman and Nicobar Islands, Bay of Bengal. Rec. zool. Surv. India, Occ. Paper. 178: 1-434. Rhinomuraena quaesita Garman 1888. Bull. Essex. Inst. Pp. 114. Rhinomuraena quaesita: 1990. Randall et al. Fishes of the Great Barrier Reef and Coral Sea. Pp. 41. Vetrano SJ, Lebowitz JB, Marcus S Foto : dwibeautiful.blogspot.com

14

Rhinomuraena quaesita atau dikenal dengan Belut Pita, gerakan tubuhnya seperti menari dengan corak tubuh yang indah nan menarik. Biota warna-warni ini sebenarnya adalah spesies belut morray. Warna belut pita tergantung pada tahap kehidupannya, mungkin tampak hitam, biru dan atau kuning. Mereka tumbuh hingga satu meter panjangnya dan dapat hidup sampai 20 tahun di alam liar. Sayangnya, belut pita kadangkadang ditangkap untuk akuarium dan jarang bertahan lebih dari satu bulan di penangkaran. Semua belut pita berawal sebagai laki-laki dan berwarna hitam dengan sirip punggung kuning. Saat mereka dewasa, belut jantan akan berwarna biru sebagian besar cerah dengan aksen kuning di sekitar mulut dan sirip punggung. Perubahan tidak berhenti di situ. Setelah belut jantan mencapai panjang tertentu, ia mulai menguning dan akan mengembangkan bagian-bagian ke-betina-annya sampai ia mampu bertelur. Ya, anda tidak salah baca. Mereka adalah hermafrodit sekuensial. Belut pita cenderung hidup di laguna atau terumbu karang pantai sepanjang Samudra Hindia dan Pasifik, dari Afrika Timur ke Polinesia Prancis, dari utara di Jepang selatan, hingga ke selatan ke Australia serta Kaledonia Baru. Jika Anda menyelam di salah satu wilayah ini dan berharap untuk melihat belut pita, maka lihatlah dengan seksama. Belut pita biasanya bersembunyi di celah-celah karang. Berdasarkan perubahan warna yang diamati, belut pita secara umum dianggap sebagai hermaprodit protandric (pertama jantan kemudian berubah menjadi betina) meskipun hal ini belum di teliti secara mendalam. Perubahan warna terkait dengan perubahan jenis kelamin ini tidak dimiliki oleh spesies belut moray lainnya pada belut remaja dan sub-adults diduga berwarna hitam legam dengan sirip punggung kuning dan menginjak usia dewasa pada bulat jantan warna hitam akan digantika oleh warna biru dan belut betina dewasa dengan beberapa warna biru untuk bagian posterior.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

SI SIPUT LAUT polkadot: JORUNNA FUNEBRIS Brillian Abdillah Destin (MDC XXIV) Sumber: Prinngenies. et al. 2015. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Nudibranch Polka-Dot (Jorunna funebris) Terhadap Bakteri MDR. Ilmu Kelautan. Vol.20

blacktip grouper: EPINEPHELUS FASCIATUS Nurhidayah (MDC XXIV)

15 Ini dia biota lucu, unik dan bertotol si siput laut Jorunna funebris. Siput laut yang mirip kelinci ini termasuk dalam family Nudibranchia. Spesies ini termasuk kedalam filum moluska, kelas gastropoda. J. funebris merupakan salah satu spesies nudibranch dengan distribusi terbesar di dunia.Siput laut ini dapat ditemukan di seluruh perairan Indonesia. Biota unik ini adalah hermaprodit! Apakah itu? Hermaprodit adalah biota yang memiliki organ jantan dan betina pada satu individu. Siput laut ini memiliki ukuran maksimal 70mm, kecil ya! Badannya yang membulat memiliki papila (sepertin bintil) hitam yang memberi kesan tubuhnya tajam. Ia memiliki 6 insang bercabang yang membentuk lingkaran pada bagian anus. Nudibranchia identik dengan memiliki rhinophore. Rhinophore adalah reseptor aroma atau rasa yang ditemukan pada nudibranchia. Rhinophore juga dikenal sebagai organ chemosensory yang terletak di permukaan dorsal kepala. Mereka terutama digunakan untuk chemoreception jarak dan reoreception (respon terhadap arus air). Rhinophore J.funebris berbentuk seperti tankai transparan dengan clavus hitam. Selain lucu dan unik biota satu ini dapat dimanfaatkan sebagai anti tumor. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Yan (2004), bahwa Jorunna funebris menghasilkan senyawa potensial sebagai antimikroba dan anti tumor. Blacktip Grouper (Epinephelus fasciatus) atau biasa dikenal dengan nama Kerapu Blacktip mampu tumbuh hingga 40 cm dan berat mencapai 2 kg, namun pada umumnya Kerapu ini ditemukan hanya memiliki rata – rata panjang 22 cm. Ikan ini memiliki ciri morfologi yaitu terdapat duri punggung yang terdiri dari 15 -17 duri lunak, 3 duri dubur dan 8 duri lunak anal. Sirip punggung ikan ini memiliki warna hitam dan pada sirip ekornya memiliki bentuk membulat. Pada bagian tubuhnya terdapat corak berupa garis transversal berwarna gelap. Ikan ini memiliki warna diantaranya yaitu abu – abu kehujauan dan merah pucat. Ikan ini masuk ke dalam famili Serranidae atau Grouper. Blactkip Grouper termasuk binatang hermafrodit dimana individu setelah dewasa biasanya akan kehilangan fungsi betina atau berubah menjadi jantan. Hewan ini memakan krustasea dan ikan kecil dengan menyergap mangsa. Habitatnya berada di perairan Terumbu karang dari kedalaman 4 meter hingga 15 meter. Persebaran ikan ini cukup luas diseluruh perairan tropis di wilayah Indo – Pasifik dari Laut Merah hingga Afrika Selatan.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

sandperch: parapercis tetracantha

16 Ikan kecil ini memiliki nama latin Parapercis tetracantha. Ikan ini termasuk dalam kategori ikan Sandperch. Sandperch ini memiliki warna tubuh yang unik dengan 3 spot berwarna pucat yaitu abu-abu gelap, abu-abu muda dan coklat. Selain itu juga memiliki warna hitam yang melingkar di sekitar ingsang dan 3 bintik bintik hitam di setiap sisi perut. Ikan ini memiliki panjang tubuh maksimal 26 cm dan memiliki 5 sirip belakang, 20-21 sirip lunak belakang, 1 sirip anal, 16-17 sirip lunak anal. Parapercis tetracantha termasuk ke dalam famili Pinguipedidae (bukan penguin ya!) Ikan ini banyak ditemukan di Pulau Christmas, Samudera Hindia. Spesies lain ditemukan juga di daerah Indo-Pasifik bagian barat dari Jepang hingga ke Indonesia. Ikan ini hidup berkelompok kecil disekitar lereng terumbu karang dengan kedalaman kurang lebih 12-25 m. Dengan coraknya, ikan ini mampu berkamuflase diantara substrat.

Anisa Nabila (MDC XXIV)

Sumber: Dianne J. Bray, Parapercis tetracantha in Fishes of Australia, accessed 27 Oct 2019, http://fishesofaustralia.net.au/home/species/5011 Lacepède. 1801. Parapercis tetracantha in Fishbase. Diakses pada 27 November 2019. http://fishbase.sinica.edu.tw/Summary/speciesSummary. php?ID=6674&genusname=Parapercis&speciesname=tetracantha Foto: M Abdul Hakim (MDC XXI)

baronang, si pemakan alga Riski Erdana (MDC XXV) Sumber: WWF-Indonesia. 2015. Panduan Penangkapan dan Penanganan Ikan Baronang dan Ikan Kakatua Allen, G.R., Steene, R., Humann, P., Deloach, N.2003. Reef Fish Identification Tropical Pacific.

Siganus lineatus dikenal sebagai Ikan Baronang. Siganus lineatus merupakan salah satu spesies dari Ikan baronang yang memiliki ciri khusus tersendiri yaitu pada bagian didekat ekor terdapat warna kuning . Siganus Lineatus merupakan salah satu ikan konsumsi dipasaran, oleh karena itu kita juga harus memperhatikan kalau hendak mengkonsumsi Seafood apakah sudah sesuai dengan ukuran yang dikonsumsi. Ukuran rata-rata untuk ikan baronang dikonsumsi adalah 20 cm. Apabila teman teman sedang memancing atau memegang ikan ini hidup hidup berhati hati dikarenakan durinya mengandung racun! Tetapi tenang saja ikan ini aman untuk dikonsumsi. Biasanya ikan baronang akan schooling bersama ikan lainnya dan mencari makan disekitar terumbu karang. Makanan favorit ikan baronang alga yang berada disekitar karang. Oleh karena itu sering kita temukan di terumbu karang ikan baronang menggerogoti alga yang tumbuh di karang mati. Oleh karena itu mereka menjadi bagian dari kelompok ikan herbivor. Jadi agar ikan ini berlangsung kelestariannya kita harus paham ikan baronang layak dikonsumsi harus dengan ukuran tertentu, jikalau tidak maka kita akan tidak mendapatkan hasil laut yang bisa kita nikmati nantinya di masa depan.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

tridacna maxima: raksasa yang kecil M. Chiesa Fathirayan (MDC XXIV)

Sumber: Ambariyanto. 2007. Pengelolaan Kima Di Indonesia: Menuju Budidaya Berbasis Konservasi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang BPSPL Padang. 2017. Kerang Kima. http://bpsplpadang.kkp.go.id/kerang-kima. Diakses pada 22 Juni 2019 Pukul 23:33 Smith, Stephen D. A. 2011. Growth and Population Dynamics of The Giant Clam Tridacna Maxima (RÜding) at its Southern Limit of Distribution in Coastal, Subtropical Eastern Australia. National Marine Science Centre, Southern Cross University. Molluscan Research 31(1): 37–41. ISSN 1323-5818

17

Kima merupakan salah satu jenis kerang-kerangan, namun ukuran cangkangnya sangat besar dan berat sehingga disebut kerang raksasa (giant clams). Salah satu spesies kima yang terkenal adalah Tridacna maxima atau yang biasa disebut kima kecil. T. maxima merupakan salah satu spesies moluska-bivalvia yang ditemukan di perairan Indo-Pasifik. Tubuh T. maxima berwarna biru cerah, hijau atau kecoklatan dan dapat tumbuh tidak lebih dari 20 cm. Mantelnya yang memiliki sistem sirkulasi khusus, menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae. Warna T. maxima dipengaruhi oleh pigmen kristalin, yang mana nantinya berfungsi untuk melindungi diri dari paparan cahaya matahari yang kuat serta mengumpulkan cahaya untuk membantu fotosintesis zooxhanthellae. T. maxima adalah spesies filter feeder, yang berarti menyerap dan menyaring makanan yang berupa materi organik tersuspensi di air. T. maxima merupakan organisme sesil dimana hidupnya menempel pada substrat lainnya seperti batu atau karang. T. maxima mencari akan mencari substrat yang cukup terang sehingga dapat bersimbiosis dengan alga yang ada dalam tubuhnya. Spesies ini merupakan spesies yang persebarannya paling luas di antara jenis kima lainnya, yaitu meliputi Afika Timur, India, Tiongkok, Asia Tenggara, Australia, Laut Merah dan Kepulauan Pasifik. T. maxima adalah salah satu spesies yang dilindungi oleh pemerintah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan dan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Penetapan tersebut berdasarkan kenyataan bahwa populasi kima di alam sudah sangat menurun terutama disebabkan pemanfaatan manusia. Kima memberikan peran penting bagi ekologi terumbu karang seperti sebagai tempat memijah untuk berbagai organisme karang lainnya, kima dijadikan makanan dan diperdagangan untuk aquarium. Saat ini kima telah mengalami eksploitasi berlebihan (over exploitation). Walaupun di Indonesia diperkirakan masih ada, beberapa lokasi diduga telah mengalami penurunan jumlah populasi bahkan kehilangan kima akibat eksploitasi.


BLUE BUBBLES MAGAZINE

reef manta ray: ikan pari yang ramah

M. Jihad El Fikry (MDC XXV)

Sumber: https://www.fishbase.se/summary/65179 https://mantawatch.com/ Marshall, A., Kashiwagi, T., Bennett, M.B., Deakos, M., Stevens, G., McGregor, F., Clark, T., Ishihara, H. & Sato, K. 2018. Mobula alfredi (amended version of 2011 assessment). The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T195459A126665723. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2011-2.RLTS. T195459A126665723.en. Downloaded on 02 June 2019. Sumber Foto: Aksa Siregar, Seambodive team at Manta Point, Nusa Penida, 2019

18

Reef Manta yang sebelumnya berganti nama dari Manta alfredi menjadi Mobula alfredi ini ramah banget loh sama penyelam! Banyak orang mengira kalau hewan ini beracun pada ekornya seperti pari pada umumnya. Namun itu jelas salah karena ada dua jenis pari yang ekornya tidak beracun yaitu, Mobula birostris dan Mobula alfredi. Itulah yang membuat penyelam seneng banget kalo ketemu mereka. Ditambah lagi perilaku mereka yang suka loncat-loncat ke atas permukaan air. Reef manta ini memiliki panjang tubuh rata-rata berkisar antara 370-390 cm pada usia dewasa, dan bahkan dia bisa tumbuh hingga 500 cm loh buddies. Ia bisa berenang hingga kecepatan 24km/jam. Hewan ini termasuk pada hewan benthopelagic yang biasanya hidup di kedalaman 1-120m. Mobula jenis ini tersebar di daerah Indo-Pasifik hingga Australia barat. Mobula pada umumnya adalah hewan soliter, namun pada beberapa kesempatan mereka terlihat berkumpul dalam suatu barisan. Nah mereka ini sebenarnya sedang ‘mengantri’ untuk menunggu giliran di stasiun pembersihan atau cleaning station yang disana ada ikan wrasse dan ikan lainnya yang siap menyantap parasite di permukaan kulit dan mulut manta. Mobula ini termasuk dalam ikan jenis filter feeder yang artinya mereka memangsa organise mikroskopis seperti plankton. Manta dewasa dapat menyantap hingga 27 kg organisme mikroskopis dalam sehari. Mobula termasuk dalam kategori ovovivipar seperti pari dan hiu pada umumnya. Uniknya ada suatu ‘ritual’ yang biasa mereka lakukan kalo udah musim kawin, itulah Manta train. Mereka ini juga hewan yang pintar loh, mengingat mereka merupakan ikan dengan rasio otak dan berat badan terbesar dari ikan hidup yang memberikan kecerdasan yang cukup untuk membuat rata-rata lumba-lumba iri. Sayangnya menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) redlist hewan ini dimasukkan dalam kategori Vulnerable atau terancam. Yuk sama-sama kita jaga laut kita supaya hewan pintar ini tetap ada!


BLUE BUBBLES MAGAZINE

bukan hantu! ini dia ghost pipefish Bima Fatah Alam (MDC XXIV)

Sumber: Hutchins, B. & R. Swainston. 1986. Sea Fishes of Southern Australia. Complete Field Guide for Anglers and Divers. Swainston Publishing. Pp. 180. Orr, J.W. & R.A. Fritzsche. 1993. Revision of the ghost pipefishes, family Solenostomidae (Teleostei: Syngnathoidei). Copeia 1993: 168–182

si ikan bergaris delapan Maula Nadia (MDC XXIV)

Sumber: Fish Base (https://www.fishbase.se/summary/Chaetodon-octofasciatus.html) IUCN Redlist (Myers, R. & Pratchett, M. 2010. Chaetodon octofasciatus. The IUCN Red List of Threatened Species 2010: e.T165623A6070690. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2010-4. RLTS.T165623A6070690.en. Downloaded on 01 June 2019)

19 Ini adalah Solenostomus paradoxus atau biasa yang di sebut Ghost Pipefish. Ikan cantik dengan berbagai macam corak ini malah disebut dengan ikan hantu, hmm aneh yaaa. Ikan ini disebut ikan hantu salah satunya dikarenakan ikan ini terkenal dengan kemampuannya yaitu dapat menyamar dengan lingkungan sekitarnya seperti bunglon di pohon sehingga sulit untuk ditemukan di laut. Ikan hantu ini tersebar luas di lautan Pasifik Barat dan Samudra Hindia dan tinggal di sepanjang tepi terumbu karang. Spesies ini ditemukan di perairan pantai yang dilindungi, terutama di dekat karang. Ini adalah spesies umum yang sulit ditemukan karena bentuk tubuhnya yang samar. Di Australia spesies ini telah ditemukan di Australia Barat, di sekitar Utara tropis, dan Selatan ke Shellharbour di Pantai New South Wales. Hal ini biasanya diamati pada kedalaman antara 3 m dan 25 m Ciri khas dari ikan Solenostomus dapat dikenali dengan bentuk tubuh yang khas dengan pelengkap ramping pada tubuh dan sirip. Mereka memiliki mulut yang panjang berbentuk pipa, mereka dapat tumbuh dengan panjang maksimal 12 cm, dengan warna yang cukup bervariasi dari hampir sama sekali hitam hingga semi transparan dengan warna merah, kuning, dan putih, bintik dan blotches. Chaetodon octofasciatus atau yang dikenal dengan Eightband Butterflyfish adalah salah satu spesies ikan dari famili Chaetodontidae (Ikan Kepe-Kepe). Nah walaupun namanya ‘8 band’ atau 8 garis, sebenarnya pada sisi ikan ini hanya terdapat 7 garis hitam, namun ditambah dengan garis hitam pada mulut ikan dan garis hitam pada tepi sirip belakang. Sebagian besar tubuhnya berwarna putih dan memiliki bagian kuning di bawahnya. C. octofasciatus dapat ditemukan di kedalaman 3 hingga 20 meter di perairan tropis. Distribusinya di kawasan Indo-Pasifik Barat, Cina Utara hingga Samudera Hindia, Maldives, India, dan Sri Lanka pada perairan dengan terumbu karang yang baik. Saat dewasa, ikan ini hidup di kawasan terumbu karang secara berpasangan, sedangkan pada masa juvenil ditemukan bergerombol atau schooling di kawasan yang terdapat karang Acropora. Kelompok ikan Chaetodontidae memang merupakan ikan indikator. Artinya keberadaan ikan-ikan tersebut menandakan bahwa kondisi perairan baik, salah satunya adalah ikan C. octofasciatus. Ikan ini ternyata makan polip karang loh! Maka kehidupannya sangat tergantung pada kondisi ekosistem terumbu karang.


BLUE BUBBLES MAGAZINE Materi Pengoperasian Kompresor pada EMBRIO 2019 Menggunakan Kompresor Bauer Poseidon PE 100-T MDC (EMBRIOMDC/2019)

20


BLUE BUBBLES MAGAZINE

21

mengenal kompresor,

alat pengisi tabung

Saat membahas alat penunjang kegiatan penyelaman, tidak hanya alat skindive atau alat SCUBA aja loh Buddies. Ada alat yang sangat berguna juga.. yaitu kompresor. Alat ini mungkin tidak asing lagi bukan di telinga kita? Iya kompresor adalah alat yang biasa digunakan untuk memampatkan oksigen, eh bukan oksigen buddies! Namun memampatkan udara sekitar. Kompresor berasal dari kata dasar kompres yang berarti sebuah proses memampatkan. Kompresor sendiri merupakan alat atau mesin yang berfungsi untuk memampatkan suatu fluida (gas dan liquid) yang pada awalnya memiliki tekanan yang rendah menjadi bertekanan tinggi / kuat. Kompresor pertama kali ditemukan oleh Otto Von Guiricke seorang Jerman kelahiran Magdeburg (20 November 1602 – 11 Mei 1686) di usia 83 tahun pada tahun 1650. Prinsip kerja kompresor dapat dilihat mirip dengan paru-paru manusia. Misalnya ketika seorang mengambil napas dalam – dalam untuk meniup api lilin, maka ia akan meningkatkan tekanan udara di dalam paru-paru, sehingga menghasilkan udara bertekanan yang kemudian digunakan atau dihembuskan untuk meniup api lilin tersebut. Terdapat berbagai jenis kompresor untuk berbagai jenis penggunaan. Dalam dunia penyelaman, kompresor digunakan untuk mengisi tabung SCUBA Kompresor untuk pengisian tabung memiliki dua mesin didalamnya, yaitu: mesin penggerak berupa diesel dan mesin pemampat udara. Beberapa jenis yang dimaksud adalah kompresor sederhana dan mesin kompresor raksasa yang dapat memampatkan udara lebih cepat. Biasanya kompresor raksasa ini terpasang di suatu ruangan khusus pengisian tabung udara, selain cepat slot untuk pengisian tabung lebih banyak. Pada kompresor sederhana, biasanya waktu aman penggunakan kurang lebih 1 – 2 jam dengan slot pengisian per tabung tidak bisa langsung lebih dari 1. Kompresor juga ada yang menggunakan listrik loh! Tentunya setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, harus disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya.

Nah sekarang, ada beberapa tips dari Brillian A. Destin, Koordinator Bidang Alat MDC 2019 tentang tata cara penggunaan kompresor: 1. Pastikan udara disekitar pengoperasian kompressor bersih (tidak berasap, bau dll) dan posisikan knalpot (exhaust) kompressor serarah arah angin. 2. Hidupkan kompressor dengan cara menekan tombol “ON�. Pastikan katup bensin telah dibuka dan starter tali pada mesin dengan cara menariknya. 3. Ketika kompressor telah menyala, buka katup pengisian pada valve tabung lalu buka valve pada tabung yang akan diisi. Jangan lupa untuk memastikan tekanan udara pada kompressor lebih tinggi dari pada yang ada di dalam tabung. Saat pengisian tabung berlangaung selalu ingat untuk menguras kondensat secara teratus selama 15 menit sekali. 4. Ketika pengisian tabung telah selesai, tutup valve tabung terlebih dahulu kemudian tutup katup pengisian kompressor. 5. Tabung siap digunakan, nah sekarang kita siap menyelam

Mufqi Egy W (MDC XXV) Sumber: Manual Book BAUER POSEIDON PE-100T https://insinyurpedia.com/2018/03/kompresor.html


BLUE BUBBLES MAGAZINE

jejakmdc Pada September 2019, aku terpilih menjadi salah satu volunteer untuk kegiatan monitoring Wildlife Conservation Society (WCS) di Nusa Tenggara Barat. Senangnya bukan main! Karena aku akan menyelam di Indonesia bagian Timur untuk pertama kalinya. Aku menjadi bagian dari Tim Monitoring Ekologi bersama 3 orang lainnya (Cahya Himawan – Universitas Mataram, Muggi Bachtiar – MDC XXII/Universitas Diponegoro, Mufti Aprizan – Institut Pertanian Bogor). Tugas kami adalah melakukan pengamatan langsung terhadap ekosistem terumbu karang. Terdapat 3 indikator yang kami amati: ikan, karang, dan megabenthos (atau invertebrata). 3 indikator tersebut lah yang dapat menilai sehat atau tidaknya suatu ekosistem. Aku menjadi salah satu dari pendata ikan dalam tim tersebut Kami melakukan monitoring di 4 lokasi yaitu: Teluk Cempi, Pulau Satonda, Pulau Moyo, dan Pulau Medang

akhirnya bisa bertemu manta ray! Salah satu motivasi ku mengikuti club selam di kuliah adalah ingin mengexplore keindahan bawah laut dan mengenal berbagi macam biota yang hidup di dalamnya salah satunya adalah Manta Rays Ini merupakan salah satu bagian dari cerita Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang ku lakukan di Denpasar, Bali. Salah satu rencana yang telah aku agendakan adalah menyelam. Salah satu destinasi yang aku inginkan adalah Nusa Penida, alasan aku memilih Nusa Penida karena berharap bisa bertemu Manta Ray! Etsss aku ga sendiri loh, rencana diving ini aku bicarakan dengan teman-teman Afifa (MDC XXVI) dan Mas Jibril (MDC XXI). Rencana kami pun telah setengah terwujud karena telah mendapatkan tanggal pasti untuk menyelam di lokasi yang kami inginkan yaitu Manta point dan Crystal Bay pada tanggal 1 Februari 2020. Aku dan teman – teman memutuskan untuk berangkat pada hari jumat yaitu tanggal 31 Januari dengan menggunakan kapal cepat dari pantai sanur menuju Nusa Lembongan, perjalanan ini kami tempuh sekitar 30 menit. Pagi yang cerah telah menyambut kami sejak bangun tidur semoga cuaca seperti ini bertahan sampai kami melakukan penyelaman. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WITA dimana kami

22

MENGAMATI IKAN DI NUSA TENGGARA BARAT pada 30 titik pengamatan. Kondisi ekosistem di keempat lokasi sangat beragam. Salah satu lokasi terbaik adalah titik penyelaman terakhir di Pulau Moyo yaitu Takad Sagele. Terumbu karang di Takad Sagele membentuk dinding vertikal yang mencapai kedalaman 30 meter. Lebih dari seratus spesies ikan warna-warni dalam berbagai ukuran berhasil ditemukan disana. Namun tidak semua lokasi dalam keadaan baik, terdapat beberapa lokasi yang terkena imbas dari penggunaan bom untuk kegiatan perikanan masyarakat. Kegiatan monitoring di NTB yang dilaksanakan selama 2 bulan tersebut sangat berkesan. Walaupun aku sebagai satu-satunya perempuan dalam tim, hal tersebut tidak membatasiku dalam bekerja dan aku bisa berkontribusi sebesar rekan-rekan timku yang lain. Maula Nadia (MDC XXIV)

dan rombongan satu kapal akan berangkat menuju lokasi pertama penyelaman. Perjalanan diawali dengan doa yang dipimpin oleh salah satu dari kami dan perjalanan pun dimulai Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu ±45 menit kami pun sampai di lokasi pertama yaitu Manta Point. Berbagai persiapan dilakukan sebelum penyelaman serta briefing dari instruktur kami. Berbekal ilmu penyelaman yang aku pelajari di Marine Diving Club menjadi salah satu kunci yang dapat aku terapkan saat menyelam disana. Ini adalah pengalaman pertamaku menyelam di tempat yang berarus cukup kencang, temperatur yang rendah dan visibility yang tergolong tidak cukup bagus. Tetapi, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untukku. Tidak membutuhkan waktu lama bagi aku dan teman- teman untuk bertemu dengan salah satu megafauna yang menarik ini, hanya dalam waktu beberapa menit saja aku pun melihat dan bertemu dengan salah satu megafauna yang selalu di cari – cari siapa lagi kalau bukan Manta Ray. Suatu kesempatan dan kebanggaan tersendiri dapat melihatnya dalam waktu dekat ini. Keberuntungan pun datang bertubi–tubi karena kami bertemu tiga manta sekaligus yang seakan–akan saling berbaris menunggu antriann ditambah dengan dua manta yang selalu menampakkan diri mereka di sepanjang penyelaman pada hari itu. Sebuah pengalaman yang sangat tak terlupakan buat aku bisa mewujudkan keingananku. Mila Azizah (MDC XXVI)


BLUE BUBBLES MAGAZINE

Mendata Ikan di Takad Sagele, Pulau Moyo (WCS/2019)

Menyelam di Nusa Penida, Manta Ray (kanan) (M. Azizah/2019)

23


BLUE BUBBLES MAGAZINE

24

Penggelaran Transek oleh Tim Ekspedisi Corallium (CORALLIUMMDC/2019)

waspada dira anuraga



Marine Diving Club Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro www.mdcundip.com mdc.undip92@gmail.com