Page 1

EDISI LXIV/OKTOBER 2020 | TERBIT 16 HALAMAN | TELP. REDAKSI: +62 877-1465-7821 | SUREL: REDAKSI.INSTITUT@GMAIL.COM

Hati-Hati Investasi Warung Nasi

WAWANCARA

HALAMAN 11

Catatan Lagi untuk Amany

LAPORAN KHUSUS

HALAMAN 3

HALAMAN 2

LAPORAN UTAMA

Kontroversi Pernyataan Kemenag Soal Pemuda Good Looking

Tim Khusus di Atas Nama Baik Kampus Roshiifah Bil Haq & Aldy Rahman

Dengan dalih menjaga nama baik kampus Islam, UIN Jakarta kurang serius menangani kasus pelecehan seksual. Tak tinggal diam, mahasiswa membentuk Tim Khusus demi menciptakan kampus yang aman bagi seluruh civitas academica.

M

araknya kasus pelecehan seksual oleh dan pada mahasiswa kembali menyangkut Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya di tahun 2017, sesuai dengan catatan Institut, salah seorang mahasiswa baru UIN Jakarta sempat melaporkan kasus pelecehan yang menimpa dirinya ke pihak universitas, tetapi prosedur peleraian kasus tersebut dialihkan ke pihak fakultas yang bersangkutan. Di tahun 2020, kasus-kasus pelecehan seksual kembali tersiar di kalangan Mahasiswa UIN Jakarta. Pada awal Maret 2020, kasus begal payudara sempat menjadi bahan pembicaraan mahasiswa. Berawal dari tersebarnya pesan terusan melalui Whatsapp yang menyatakan bahwa ada mahasiswi yang mendapat perlakuan tidak senonoh dari orang tak dikenal. Sesuai pernyataan korban dari pesan tersebut, kejadian itu berlangsung pada Rabu (4/3) usai sang korban membeli obat di apotik samping Rumah Sakit Hermina, Ciputat. Dari arah yang berlawanan, korban mendapati oknum tengah menyerong ke arahnya dengan motor dan kemudian secara tiba-tiba menyentuh area dadanya. Kejadian itu berlokasi di belakang Gedung Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Jalan Haji Nipan, Ciputat Tangerang Selatan. Dilansir dari berita Kompas.com “Polisi Selidiki Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi UIN”, pihak Kepolisian Tangerang Se-

latan sudah turun ke lokasi kejadian untuk meminta keterangan para saksi setelah kasus tersebut viral. Tak hanya kasus tersebut, kasus pelecehan seksual lain juga dirasakan oleh seorang mahasiswi UIN Jakarta. Kali ini aksi yang dilakukan pelaku juga berbeda dari sebelumnya. Pada Rabu (11/3), seseorang yang tak diketahui identitasnya memamerkan alat kelaminnya ke hadapan mahasiswi. Halte UIN Jakarta menjadi lokasi pelaku melakukan hal tersebut. Menyadur dari laman Jakarta.tribunnews.com “Dugaan Motif Pelaku Pelecehan Seksual Pamer Kelamin di Halte UIN Jakarta”, Kapolsek Ciputat Komisaris polisi Endy Mahandika mengungkapkan kejadian itu terjadi pukul 16.00 WIB, saat mahasiswa ramai di halte pelaku juga berada disana. Ketika bus Transjakarta melintas, para mahasiswa naik dan hanya tersisa seorang mahasiswa dengan pelaku. Sesuai pernyataan korban, tiba-tiba pelaku berinisial AW ini berdiri dan mengeluarkan alat kelaminnya di depan korban sambil digenggam dan ditujukan ke arah korban. Institut berhasil mendapatkan pernyataan dari salah seorang penyintas pelecehan seksual yang mengaku sudah tiga kali kedapatan pelaku yang mengumbar alat kelaminnya. Peristiwa tersebut selalu Mawar—bukan nama sebenarnya—temui di persilangan Jalan Pesanggrahan, Ciputat. “Dari sudut mataku, aku melihat dia tengah memegang alat

vitalnya, dan menyodorkannya ke arahku, padahal disana banyak orang berlalu-lalang,” ungkap Mawar, Minggu (18/10). Menurut dugaan Mawar, pelaku menggencarkan aksinya secara terjadwal karena sudah dua kali ia melihat modus tersebut di minggu yang berbeda pada tiap hari Rabu. Dua bulan lalu kasus pelecehan seksual kembali terjadi. Nahasnya, pelaku pelecehan seksual sendiri merupakan mahasiswa UIN Jakarta. Ia menggencarkan aksinya tatkala masa Kuliah Kerja Nyata berlangsung. Insiden tersebut berlangsung pada Jumat (14/8). Namun, kasus pelecehan yang terjadi oleh dan pada sesama mahasiswa UIN Jakarta itu diakhiri secara kekeluargaan dari kedua belah pihak. “Alhamdulillah, semua perkara sudah selesai. Sudah dibicarakan baik-baik pihak internal,” ujar pelaku berinisial FD ketika dihubungi oleh Institut, Senin (17/8). Penanganan Kasus Pelecehan Seksual di UIN Jakarta Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta Ulfah Fajarini, PSGA sudah melakukan penelitian tentang human geographic dan pelecehan seksual terhadap perempuan di UIN Jakarta dengan melibatkan 300 mahasiswa.

Bersambung ke hal. 15...


2 | Edisi LXIV/Oktober 2020

LAPORAN UTAMA

SALAM REDAKSI

S

emenjak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) melanda Indonesia, ruang gerak masyarakat menjadi sangat terbatas. Gerakan 4M pun digalakan, yaitu mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, dan mematuhi protokol. Tak hanya itu, pemerintah juga beberapa kali bolak-balik memberlakukan pembatasan sosial, baik yang berskala makro maupun mikro. Adaptasi kebiasaan baru menjadi solusi andalan untuk membuka kembali berbagai sektor usaha. Tak terkecuali, sektor pendidikan turut terdampak pandemi, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Perkuliahan, praktikum, ujian, orientasi mahasiswa baru, hingga kegiatan kemahasiswaan harus beradaptasi dengan peraturan pemerintah yang telah ditetapkan. Begitu pula Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), mereka menjalankan hampir semua program kerja secara online. Lembaga Pers Mahasiswa Institut sendiri menjadi UKM yang memerlukan banyak penyesuaian atas berbagai program kerja yang sudah rampung disusun sebelumnya. Seharusnya, Institut menerbitkan tabloid pada Maret, April, Mei, September, Oktober, dan November. Selain itu, terdapat pula e-Newsletter untuk kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan serta Pemilihan Mahasiswa. Sebagai awal penyesuaian, Institut pun membatalkan penerbitan tabloid dan e-Newsletter serta fokus kepada laman web dan media sosial. Namun Oktober ini, Institut akhirnya kembali menerbitkan Tabloid Institut Edisi LXIV setelah satu tahun tidak menerbitkannya. Isu Covid-19 memayoritasi setiap rubrik yang ada, seperti Laporan Utama, Jajak Pendapat, Kilas, Sosok, Kampusiana, Seni Budaya, dan Tustel. Sementara pada rubrik lainnya, kami menyajikan isuisu terbaru yang tentunya dapat memberi informasi tepat, akurat, dan aktual kepada pembaca. Pada Tajuk Utama, kami mengangkat isu munculnya Tim Khusus Penanganan Kekerasan dan Pelecehan Seksual oleh Senat Mahasiswa yang kemudian dikaitkan dengan kinerja Pusat Studi Gender dan Anak UIN Jakarta. Sedangkan itu, Laporan Utama berisi kinerja Rektor UIN Jakarta Amany Burhanuddin Umar Lubis selama masa pandemi berhubungan adanya surat terbuka yang ditujukan kepadanya oleh seorang mahasiswa. Kami juga menyajikan informasi terkini— pada Laporan Khusus—terkait rumor investasi “bodong” Warsito yang hanya ada bungkam dari pemilik usaha rumahan tersebut. Pada Laporan Khusus lainnya, kami kembali menilik pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi terkait adanya radikalisme di balik pemuda good looking dan para hafiz Alquran. Bagaimana menurut beberapa civitas academica UIN Jakarta terkait hal tersebut? Walau berada dalam ruang gerak yang sangat terbatas, kami selaku insan pers akan selalu menyuarakan kebebasan, keadilan, dan kejujuran. Tak ada gading yang tak retak, tak semua hal harus selalu sempurna adanya. Kami berharap dengan terbitnya kembali Tabloid Institut, pembaca dapat mengambil manfaat serta hikmah yang ada di dalamnya. Akhir kata, terapkanlah selalu 4M pada aktivitas sehari-hari.

Baca, Tulis, Lawan!

Catatan Lagi untuk Amany Menyikapi segala keterbatasan dan kekurangan kampus selama pandemi Covid-19, seorang mahasiswa berinisiatif mengirimkan surat terbuka kepada Rektor UIN Jakarta.

S

ejak kali pertama didaulat sebagai Rektor Perempuan Pertama Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia, nama Amany Burhanuddin Umar Lubis tak pernah lepas dari sorotan civitas academica UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beragam reaksi dan kritik telah mewarnai dua tahun masa kepemimpinannya. Semasa pandemi Covid-19 ini, Amany kembali menyulut reaksi mahasiswa karena kebijakannya yang sarat kontroversi. Hal tersebut memicu Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Farid Abdullah Lubis mengutarakan segala keluh kesahnya perkara kepemimpinan Amany, serta kondisi kampus yang menurutnya masih perlu dibenahi. Melalui perangkat gawai yang dimilikinya, untaian kata demi kata ia rangkai dalam sebuah pesan bertajuk “Surat Terbuka kepada Rektor UIN Jakarta”, yang ditulis pada 21 Agustus 2020. Dalam suratnya, kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi salah satu poin yang paling banyak disinggung Farid. Menurutnya, UKT menjadi persoalan mendasar mahasiswa yang mestinya dijadikan perhatian utama. Dalam hal ini, kebijakan UKT yang dikeluarkan Amany belum sepenuhnya menjawab aspirasi mahasiswa. Ditambah dengan prosedur pengajuannya yang rumit hanya semakin mempersulit mereka yang terdampak. “Keputusan itu masih membuat kami

kesulitan,” tulis Farid dalam suratnya, Jumat (21/8). Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ini juga memandang, bahwa sarana dan prasarana yang kini dimiliki kampus nyatanya berbanding lurus dengan nominal UKT yang mesti dibayarkan. Hal ini nampak pada fasilitas kampus yang jauh dari kata standar, seperti pendingin ruangan dan proyektor yang tak berfungsi, pintu toilet yang rusak, serta jaringan internet nirkabel—Wi-Fi—yang sering kali bermasalah. Menurut Farid, demi menunjang proses perkuliahan, pihak kampus seharusnya meningkatkan mutu fasilitas tersebut. Tak lupa, Farid juga menyinggung persoalan kuliah daring yang kerap kali mengundang prahara di kalangan mahasiswa. Di tengah kondisi krisis, kampus harusnya dapat memberikan solusi konkret untuk mengantisipasi segala kendala yang akan menghambat mahasiswanya, salah satunya dengan memberikan tunjangan kuota internet. Farid juga mempertanyakan sikap UIN Jakarta yang enggan meniru kampus lain dalam memberikan subsidi biaya UKT. “Misal UIN Bandung yang memberikan potongan walau cuma sepuluh persen,” keluh Farid dalam suratnya, Jumat (21/8). Farid pun turut menyinggung sikap kampus yang dinilainya belum begitu tegas dalam memberantas kejahatan pelecehan seksual.

Menurutnya, kasus ini barang kali tak hanya terjadi dalam sekali atau pun dua kali di lingkungan kampus. Ia pun berharap agar pihak rektorat tidak menutup mata dalam persoalan ini. “Semoga pihak rektorat hari ini tidak mencontoh DPR yang seakan menutup mata dengan kasus pelecehan seksual dengan menghapus RUU PKS,” tegasnya, Jumat (21/8). Berkat sikapnya itu, Farid berhasil menarik banyak simpati, khususnya di kalangan kolega mahasiswa KPI. Pada mulanya, Farid memposting surat tersebut lewat unggahan media sosial miliknya, baik di saluran WhatsApp maupun di Instagram. Namun, hingga kini—setelah kurang lebih dua bulan berselang—pihak rektorat sendiri belum memberikan tanggapan apapun terkait surat itu. Farid mengonfirmasi langsung ketika dimintai keterangan oleh Institut. “Terkait surat itu, respon dari rektorat belum ada,” terangnya via saluran WhatsApp, Selasa (6/10). Sebelumnya, surat tersebut memang tak hanya disebar Farid seorang diri. Salah seorang rekanan seniornya Sabir Laluhu juga turut andil dalam menyebarluaskan surat tersebut. Sabir bahkan membantu Farid meneruskan suratnya—langsung ke nomor pribadi Amany. Namun hingga berita ini ditulis, Amany belum memberi respons apapun ihwal surat tersebut. “Sabtu itu juga, 22 Agustus, pukul 16.54 WIB, saya teruskan surat terbuka Farid ke nomor WhatsApp Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” jelasnya via pesan Twitter, Rabu (7/10). Salah seorang Staf Pengelola Surat Bagian Tata Usaha, Yudi. Mengenai perkembangan surat itu, nampaknya belum ada respons apapun dari pihak rektorat. Ia bahkan tak tahu menahu perihal surat yang dikirimkan Farid kepada Amany itu. “Kalau dikirim langsung ke beliau, kami tidak tahu,” ungkapnya ketika ditanya Institut via saluran WhatsApp, Selasa (13/10). Di samping pernyataan rektorat yang hingga kini masih simpang siur, Kepala Lembaga Penjamin Mutu (LPM) UIN Jakarta Mu-

hammad Zuhdi memberikan pandangannya mengenai pengembangan mutu di kampus UIN Jakarta. Menurut Zuhdi, menilai mutu suatu perguruan tinggi tak bisa dilihat dalam waktu yang singkat, apalagi jika mengingat dampak yang kini diakibatkan oleh pandemi. Zuhdi juga mengatakan, mahasiswa dapat melaporkan spot-spot fasilitas kampus yang rusak kepada dekan fakultasnya masing-masing atau kepala bagian umum. Bahkan menurut nya, pimpinan kampus juga tengah menyisir lokasi sarana-sarana di lingkungan kampus yang nantinya akan diperbaiki. Ihwal pembagian kuota internet, mahasiswa juga dapat melapor kepada wakil dekan (wadek) bidang kemahasiswaan di fakultasnya masing-masing. “Setahu saya beberapa fakultas sudah memberi kuota,” ujar Zuhdi via saluran WhatsApp, Rabu (14/10). Namun, hal demikian tak berlaku bagi Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Fauzi Rivai. Dirinya justru menyoal pemberlakuan kuota subsidi yang terkesan tak begitu maksimal. Ia merasa kecewa lantaran subsidi kuota tersebut hanya bisa diakses oleh layanan tertentu, misalnya Academic Information System (AIS). Terakhir, Fauzi juga menyoroti absennya subsidi biaya UKT. “Kita kan tidak pakai fasilitas yang ada di kampus,” protesnya saat ditanya via saluran WhatsApp, Rabu (14/10). Setali tiga uang, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta Riski Ari Bowo juga tak luput memberikan pandangan. Menurutnya, mahasiswa jangan hanya kritis mengenai persoalan kampus, melainkan juga harus memperhatikan kinerja dosen. Namun ia juga menambahkan, dirinya beserta DEMA-U akan senantiasa mendukung tulisan-tulisan kritis mahasiswa untuk kampus yang sifatnya membangun dan menginspirasi. “Harus menjadi pelajaran agar kita punya rasa empati terhadap teman-teman,” tutur pria yang akrab disapa Bowo ini, Sabtu (17/10). Maulana Ali Firdaus & Nurlailati Qodariah

Pemimpin Umum: Ika Titi Hidayati | Sekretaris Umum: Rizki Dewi Ayu | Bendahara Umum: Rizki Dewi Ayu | Pemimpin Redaksi: Sef i Raf iani | Redaktur Online: Muhammad Silvansyah Syahdi M. | Pemimpin Penelitian dan Pengembangan: Herlin Agustini | Pemimpin Perusahaan: Nurul Dwiana Anggota: Aldy Rahman, Amrullah, Fitha Ayun Lutvia Nitha, Maulana Ali Firdaus, Nurlailati Qodariah, Roshiifah Bil Haq | Koordinator Liputan: Roshiifah Bil Haq | Reporter: Aldy Rahman, Amrullah, Fitha Ayun Lutvia Nitha, Maulana Ali Firdaus, Nurlailati Qodariah, Roshiifah Bil Haq, Muhammad Silvansyah Syahdi M., Nurul Dwiana, Rizki Dewi Ayu, Sef i Raf iani, Ika Titi Hidayati, Herlin Agustini | Penyunting: Muhammad Silvansyah Syahdi M., Nurul Dwiana, Rizki Dewi Ayu, Sef i Raf iani, Ika Titi Hidayati, Herlin Agustini | Fotografer: Instituters | Desain Visual & Tata Letak: Maulana Ali Firdaus | Desain Sampul: Maulana Ali Firdaus | Info Graf is: Maulana Ali Firdaus, Muhamad Silvansyah S. M. | Penyelaras Bahasa: Muhammad Silvansyah Syahdi M., Nurul Dwiana, Rizki Dewi Ayu, Sef i Raf iani, Ika Titi Hidayati, Herlin Agustini.* *Setiap reporter Institut dibekali dengan tanda pengenal serta tidak dibenarkan memberi insentif dalam bentuk apapun kepada reporter Institut yang sedang bertugas!


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 3

LAPORAN KHUSUS

Hati-hati Investasi

Warung

Nasi

Nama Warsito banyak diperbincangkan beberapa bulan belakangan. Pasalnya, usaha rumah makan tersebut menawarkan investasi yang tak pernah jelas kelanjutannya dan selalu melenceng dari perjanjian yang berlaku.

A

ndi (nama samaran) hanya bisa melenguh pasrah saat membuka Short Message Service (SMS) di ponselnya. Sudah satu tahun lebih uangnya tidak dikembalikan. Dari Rp 15 juta modal yang ia tanamkan pada Mei 2019 silam, baru Rp 4 juta bagi hasil yang ia terima. Setiap Andi menagih sisa bagi hasil yang belum lunas, sang pemilik usaha selalu menghindar dan memberi alasan tak berujung. Pada perjanjian yang telah kedua belah pihak tanda tangani, Andi seharusnya telah mendapat bagi hasil setotal Rp 20 juta dengan angsuran Rp 2,5 juta selama delapan bulan. Namun seperti SMS yang Andi dapat pada Rabu (9/9), pihak Warsito lagi-lagi memberi janji palsu terkait pelunasan hutang-hutang-

nya. “Bilangnya hendak operasi kaki dan belum ada uang, selalu seperti itu,” ungkap Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, Sabtu (17/10). Investasi memang mulai populer di berbagai lapisan masyarakat. Menawarkan keuntungan berlipat ganda, investasi menjadi langkah penanaman modal yang cukup menjanjikan. Seiringan dengan itu, bermunculan pula praktik investasi di lingkup pendidikan tinggi, termasuk di UIN Jakarta. Akan tetapi, malah tuduhan investasi “bodong” yang kerap menjadi perbincangan saat ini. Tuduhan tersebut jatuh kepada Warsito, salah satu rumah makan yang mungkin tak asing di telinga Mahasiswa UIN Jakarta. Cukup dekat dengan Kampus

Tilik Radikal

di Balik

Good Looking Pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi mengenai paham radikalisme oleh pemuda good looking sempat menuai perbincangan. Hingga, sertifikasi penceramah pun digaungkan demi menjaga kapasitas para penyuluh agama.

I

su radikalisme kian marak di kalangan masyarakat. Radikalisme diartikan dengan paham yang menginginkan perubahan dalam tatanan sosial dan politik dengan drastis. Dalam perkembangannya secara global, isu radikalisme sering dikaitkan dengan ranah keagamaan. Pasalnya, sering ditunjukkan kepada masyarakat Indonesia dengan mendoktrin keyakinan. Desas-desus radikalisme kembali mencuat semenjak beredarnya pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang mengungkapkan paham radikal masuk melalui pemuda berpenampilan baik atau good looking. Bukan hanya itu, Menag pun mengusulkan adanya program sertifikasi penceramah. Sontak, pernyataan tersebut santer diperbincangkan oleh publik. Pernyataan akan pemuda good looking dan kaitannya

dengan isu radikal disampaikan oleh Menag dalam seminar web bertajuk Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara dalam kanal YouTube Kemenpan RB, Rabu (2/9). Seiring beredarnya pernyataan Fachrul Razi, isu radikalisme menjadi stigma negatif dan sering dianggap salah sasaran. “Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (penghafal Alquran), mereka mulai masuk,” begitu tutur Menag yang beredar. Walau sudah menyatakan maaf, beragam reaksi kian muncul menanggapi pernyataan Menag tersebut yang dinilai salah sasaran. Salah satu mahasiswa Perbandingan Mazhab Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Maulana Rifqi mengkritik pernyataan Menag

I, Warsito yang berada di Jalan Ibnu Rusdi II Nomor IV itu juga menjadi pilihan mahasiswa karena harganya yang terjangkau. Siapa sangka, nama Warsito sekarang tak sebaik hidangannya. Ayam Warsito merupakan salah satu menu favorit di sana. Setiap harinya, warung ini memang ramai pembeli. Itulah daya pikat yang Warsito tawarkan untuk menarik orang-orang yang mungkin ingin berinvestasi kecil-kecilan. Boro-boro mendapat untung, uang yang masuk tak pernah utuh kembali kepada si investor. Kasusnya mulai ramai ketika ada Mahasiswa UIN Jakarta yang turut menjadi korban dan menyuarakan investasi “bodong” Warsito. Sebut saja Budi (nama samaran)—ia menyatakan, penipuan investasi itu benar adanya. Kronologi terjadi pada akhir Juni, Budi bersama rekannya mendapat penawaran terkait investasi dan bagi hasil dari pihak Warsito. Berdalih lebih, Warsito mengatakan bahwa akan ada proyek katering dari perusahaan perbankan di daerah Jakarta. “Saya percaya karena Warsito ini rumah makan “legend”, terkenal di lingkungan kampus, harganya murah, dan rasanya pun lumayan,” jelas Budi, Sabtu (19/9). Budi dan rekannya pun menyerahkan uang senilai Rp 14 juta dengan kesepakatan bagi hasil Rp 2,5 juta per bulan. Minggu

(5/7), kedua belah pihak kemudian menyetujui nota kesepahaman bermaterai, lengkap dengan dokumentasi video dan audio. “Ada juga surat kontrak kerjanya dengan bank terkait,” imbuh Budi, Selasa (22/9). Awalnya, angsuran bagi hasil berjalan lancar pada bulan Agusus. Namun, ia mulai curiga ketika bagi hasil selanjutnya mulai sulit diminta dengan berbagai alasan. Makin merasa janggal, praduga Budi pun makin didukung oleh informasi temannya yang pernah menjadi korban investasi “bodong” Warsito. Sama seperti kasus Andi, pihak Warsito hanya terus-menerus menjanjikan pelunasan bagi hasil. Sampai saat ini, pihak Warsito masih belum memberikan keterangan terkait praktik investasinya. Berdasarkan pengamatan Institut, Warsito juga kerap kali terlihat buka tutup warung. Terpantau pada akun Google My Business milik Warsito, ada pula beberapa orang yang mengecam penipuan investasi ini. Pengguna dengan nama Alea Sesilia menulis, “Bilangnya mau dikasih untung tiap minggu, sial banget gue ditipu.” Pada ulasan tersebut, Warsito hanya melayangkan kata-kata kasar dan berkata bahwa hal itu tidak benar. Tak hanya itu, pengguna dengan nama Alan Tio pun menyebutkan bahwa pihak Warsito seringkali menawarkan

investasi dengan mengatasnamakan perusahaan perbankan dan lembaga filantropi. Setiap dimintai detail penggunaan dari modal yang diinvestasikan, pihak Warsito selalu menjawab gelagapan. Maka dari itu, Budi berharap dapat mengusut kasus tersebut dengan bantuan pihak kampus. “Sebelum ada korban lain. Karena, ini juga sudah masuk pencemaran nama baik perusahaan yang dibawa pihak Warsito,” pungkasnya. Menanggapi kasus tersebut, Kepala Pusat Layanan Humas dan Bantuan Hukum (PLHBH) UIN Jakarta Afwan Faizin mengatakan, pihaknya dapat membantu penyelesaian kasus hukum seperti halnya penipuan investasi. Sesuai dengan tugas dan fungsi dari PLHBH, mereka memberikan layanan serta informasi publik dan bantuan hukum bagi civitas academica UIN Jakarta maupun masyarakat umum. “Silakan konsultasi dengan membawa barang bukti penipuan,” terang Afwan, Jumat (25/9). Keberadaan badan hukum yang menaungi suatu invetasi harus jelas adanya. Selain itu, jangan tergiur nominal bagi hasil yang besar jika hendak berinvestasi. Seperti yang Afwan katakan, investasi tak ada yang pasti untung, apalagi dengan janji yang muluk-muluk. Afwan berharap, mahasiswa dapat lebih berhati-hati dalam praktik investasi. Fitha Ayun Lutvia Nitha

Fachrul Razi. Menurutnya, pernyataan Menag tersebut dinilai aneh mengingat kasus seperti ini tidak ada buktinya. Bahkan, belum ada jejaknya. Mengenai masalah radikalisme pun masih sangat problematik, baik dalam tataran definisi maupun ciri-cirinya. “Ciri-ciri yang diutarakan Menag tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk melabeli seseorang menganut paham radikalisme,” tutur Rifqi ketika diwawancarai via WhatsApp, Rabu (7/10). Namun Rifqi menambahkan, ia mendukung program Menag terkait sertifikasi penceramah dan pelibatan pemerintah dalam kepengurusan masjid. Mengingat pada era disrupsi ini sangat mudah seseorang menyebar konten-konten ceramah yang banyak keluar dari sanad-sanad kelimuan dalam Islam. Bahkan banyak bermunculan ustaz-ustaz dadakan yang tidak diketahui sanad keilmuannya. Juga beberapa pengurus masjid yang tidak kompeten dalam mengurusi masjid. “Secara esensial perlu adanya keterlibatan pemerintah dalam kepengurusan masjid dan sertifikasi dai,” jelas Rifqi. Mahasiswi lain, Karima dari Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus, menuturkan pernyataan Menag adalah hal yang jenaka. Pasalnya, hal tersebut jauh dari gambaran tentang

diri mereka. Tahfiz Alquran seperti Karima akan menganggap pernyataan Menag hanya angin lalu. “Para penghafal Alquran memandang pernyataan Menag adalah hal yang lucu. Mereka menghafal Alquran untuk tujuan akhirat bukan penyebar paham radikal,” ungkap Karima, Selasa (6/10). Terkait sertifikasi penceramah, anggota Dewan Penasihat (Advisory Board) Center for Study of Relegion and Culture (CSRC) UIN Jakarta, Irfan Abu Bakar buka suara mengenai hal tersebut. Menurutnya, Kemenag berfungsi sebagai fasilitator yang berkontribusi dalam menyediakan sumber dana dan sumber daya demi mendukung program-program dakwah moderasi di kalangan para juru dakwah. Tak hanya itu, Irfan menambahkan peran Kemenag seharusnya memberikan apresiasi para pengurus masjid berupa bentuk pengakuan, memberikan hadiah, penghargaan atau sertifikat. “Dalam hal ini saya berpendapat sebaiknya dihindari kebijakan yang dapat dikesankan top-down dan kurang partisipatif,” ujar Irfan, Rabu (30/9). Pengurus Masjid Al-Jamiah UIN Jakarta Habibie mengatakan, tidak perlu semua kepengurusan dan semua instansi

dipegang oleh pejabat negara sebab masih banyak masalah krusial lain yang harus diselesaikan. Menurutnya, para takmir masjid ini sudah berkompeten dalam pengetahuan agama dan mampu dalam menangkal radikalisme. Habibie juga mengungkapkan, paham radikalisme justru disebarkan dalam masjid yang terkesan inklusif. “Paham radikal tersebar di masjid-masjid yang terkesan inklusif dengan jamaah tertentu yang sudah biasa mengikuti kajian tersebut,” kata Habibie, Senin (12/10). Dosen Fakultas Ilmu Dawah dan Komunikasi Helmi Hidayat turut menuturkan, seseorang yang beragama memang harus radikal atau dalam hal ini mengakar kuat ajaran yang dianutnya dalam dirinya. Menurutnya, radikalisme bisa muncul dari kalangan pendakwah. Helmi menambahkan, orang yang terpapar radikalisme berasal dari kalangan yang memiliki ilmu pengetahuan agama minim. “Orang yang berpikir radikalis justru dari orang tidak banyak tahu tentang Islam sehingga menjadi korban ideologisasi ayat-ayat yang disampaikan oleh ustaz-ustaz karbitan,” pungkas Helmi Minggu (11/10). Amrullah


4 | Edisi LXIV/Oktober 2020

Maba Dilema

Kuliah Daring Semester awal biasanya menjadi titik untuk mengenal dunia kampus. Namun akibat pandemi, mahasiswa baru (maba) harus beradaptasi melalui media daring.

B

agi para mahasiswa baru (maba), memasuki dunia kampus merupakan hal yang paling ditunggu. Menyandang status sebagai mahasiswa membuat mereka cukup antusias mengikuti proses kegiatan perkuliahan. Namun, pandemi Covid-19 telah mengubah sistem perkuliahan menjadi serba dalam jaringan (daring). Maba pun tidak cukup merasakan euforia kehidupan kampus. Masa Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) yang menjadi ajang untuk memperkenalkan dunia kampus tak luput dari sistem daring. PBAK 2020 terpaksa harus dilaksanakan di rumah masing-masing melalui aplikasi Zoom Meeting. Alhasil, maba tidak dapat mengenal kampus secara lebih dekat. Seperti yang dialami oleh mahasiswa semester satu Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Aditia Anggit, ia men-

ganggap PBAK daring kurang efektif dan efisien. “PBAK lebih terasa jika dilaksanakan secara langsung. Di situ, harusnya kita benar-benar mengenal kampus lebih dekat dan mengenal teman-teman baru,” kata Anggit saat dihubungi via WhatApp, Jumat (9/10). Dari sisi sosial, perkuliahan daring dianggap menyulitkan para maba untuk bersosialiasasi dan mengenal satu sama lain. Walau terdapat media chatting, tetapi itu dirasa belum cukup dibanding dengan berkenalan secara tatap muka. Sebab dalam kegiatan belajar, mahasiswa membutuhkan teman untuk berdiskusi dan berbagi materi. Anggit juga menambahkan, perkuliahan daring membuat beberapa mahasiswa sulit beradaptasi dengan teman-teman baru. Sebab, tidak semua mahasiswa dapat langsung saling akrab secara vir-

KAMPUSIANA tual, sehingga dikhawatirkan komunikasi juga tidak berjalan dengan baik. “Belum lagi orang-orang yang pendiam itu, kasihan. Ke depannya, bagaimana mereka melakukan komunikasi dan diskusi melalui media sosial?” tutur Anggit. Sama halnya dengan Anggit, Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Gianluigi Fahrezi juga mengalami hal serupa. Perkuliahan secara online membuatnya susah mendapat momen untuk menjalin pertemanan dengan teman satu angkatan atau jurusan. Terlebih saat ini, pertemuan dilakukan secara virtual dan biasanya dilakukan hanya saat jam perkuliahan berlangsung. “Susah juga kalau memaksa untuk pendekatan, tapi kita enggak bertemu langsung,” ujar maba tersebut. Selain masalah sosialisasi, mahasiswa baru juga harus menghadapi kendala dalam megikuti proses perkuliahan. Seperti halnya penyampaian materi oleh dosen yang kurang jelas hingga masalah kuota internet. Mereka sedang berada dalam tahap adaptasi dengan sistem belajar perkuliahan yang berbeda dengan masa sekolah. Maba Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maghfira Syarifaningtyas turut merasakan hal tersebut. Ia mengatakan, beberapa dosen hanya memberi materi dan tugas saja tanpa menjelaskan dengan detail. Akan tetapi, di sisi lain karena perkuliahan dilakukan secara daring, ada juga dosen yang dengan mudah memberi

nilai. “Yang paling enggak enak, sih, belajar ilmu baru, tapi malah enggak paham apa-apa. Mengerjakan tugas asal selesai saja,” tutur Mahasiswi Ekonomi Pembangunan ini, Jumat (9/10). Tanggapan juga datang dari Maba Teknik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi Ayyub Ahmad. Baginya, perkuliahan daring jelas merupakan pengalaman baru dalam dunia pendidikan. Selama 12 tahun mengenyam pendidikan, Ayyub baru merasakan pembelajaran online. Namun dari sisi ekonomi, perkuliahan daring dianggap cukup memberatkan karena kuota internet menajadi bahan utamanya. Ayyub berpendapat, seharusnya pihak kampus membuat kebijakan tentang pembelajaran daring terkait kuota tersebut. “Kasihan juga sama teman-teman yang kurang mampu,” imbuh Ayyub. Tak hanya Ayyub, Gianluigi juga menyampaikan hal serupa. Dirinya berujar, pihak kampus harus bisa memberikan bantuan bulanan bantuan kuota internet, terutama bagi mahasiswa yang menggunakan mobile data, bukan Wi-Fi. “Kami sempat ditawari bantuan kuota, hanya saja pendataannya terlalu cepat dan berlangsung saat jam kuliah sehingga kami enggak bisa isi pendataan. Tolong sosialisasinya dilaksanakan dengan tepat,” pungkasnya. Rizki Dewi Ayu


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 5

JAJAK PENDAPAT

Tingkat Kepuasan

Maba

terhadap

PBAK Online

P

andemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah merubah sistem pendidikan dari yang semula tatap muka menjadi sistem daring, tak terkecuali perkuliahan. Praktik Pembelajaran Jarak Jauh pun diterapkan. Hal tersebut juga berimbas pada pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di berbagai kampus yang dilaksanakan secara daring. Hal itu juga yang diimplementasikan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Begitu pun semua elemen yang terlibat kegiatan PBAK dituntut untuk beradaptasi dengan situasi baru ini. Namun yang menjadi pertimbangan adalah, apakah para mahasiswa baru (maba) paham apa itu PBAK ketika penyampaiannya dilakukan secara online? Menanggapi hal tersebut, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Institut UIN Jakarta melakukan jajak pendapat terkait kepuasan maba mengikuti PBAK secara

online. Jajak pendapat dilakukan mulai tanggal 22 September hingga 30 September lalu dan mendapat 260 respons. Berdasarkan data yang sudah dikumpulin, sekitar 82,3% maba yang antusias mengikuti kegiatan PBAK online. Sedangkan sisanya, 17,7% merasa hanya mengikuti PBAK ini untuk memenuhi kewajibannya saja. Presentase kehadiran sendiri cukup maksimal. Dari data yang diperoleh, sekitar 96,8% maba mengikuti kegiatan tuntas hingga ahir penutupan. Kisaran 3,2% sisanya tidak mengikuti kegiatan sampai tuntas dikarenakan ada kegiatan lain. Ada pun terkait pemahaman penyampaian materi PBAK online tampak kurang efektif. Melihat dari hasil responden, maba yang menyatakan paham betul akan materi PBAK hanya sekitar 44,2% saja, sedangkan 55% sekedar tahu materinya. Bahkan, tercatat 0,8% mengaku benar-benar tidak paham dengan materi PBAK itu

sendiri. Sejatinya dengan kegiatan PBAK ini, setiap maba dituntut untuk memahami setiap materi yang disampaikan. Baik itu wawasan terkait sistem akademik, kemahasiswaan dan perkuliahan, serta memperkenalkan lingkungan kampus yang memiliki ciri dan cara khusus dalam pengelolaannya. Tampaknya, kegiatan PBAK online ini kurang efektif karena diketahui terdapat beberapa kendala. Sebanyak 133 Maba mengeluhkan terkait ganguan sinyal. Selain itu, 110 responden merasa keberatan karena terkendala kuota yang terbatas. Ada pun 38 orang lainnya PBAK ini bentrok dengan kegiatan lain. Sisanya menyatakan tidak terdapat kendala yang serius. Data terahir dari jajak pendapat ini terkait tingkat kepuasan maba selama mengikuti kegiatan. Sebanyak 60,4% responden merasa sangat puas, sedangkan 36,2% mahasiswa lainnya mengakui

kurang puas. Sisanya, 3,5% dari mereka justru tidak puas lantaran momen awal masuk kuliah yang terhambat lantaran pandemi yang tak kunjung pulih. Tidak dapat dipungkiri, kita masih perlu beradaptasi dengan berbagai kegiatan berbasis online ini. Sering kali terdapat kendala yang menghambat keberlangsungan acara tersebut—seperti banyaknya keluhan dari maba—yaitu terkait gangguan jaringan, keterbatasan kuota, dan sebagainya. Fitha Ayun Lutvia Nitha Jajak pendapat ini dikumpulkan mulai tanggal 22 September hingga 30 September lalu. Survei ini mengambil 260 responden maba dari berbagai fakultas di UIN Jakarta. Metode pengambilan dalam jajak ini adalah propotionated stratified random sampling. Hasil survey ini juga tidak bermaksud menyudutkan suatu lembaga atau pihak mana pun di UIN Jakarta.


6 | Edisi LXIV/Oktober 2020

INFOGRAFIK

Catatan Farid untuk Amany

“

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan,

maka hanya ada satu

LAWAN! ~ Widji Thukul ~

kata:


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 7

PERJALANAN

Pesona Alam Bukit Tangkeban Bukit Tangkeban menjadi destinasi wisata alam menarik bagi para wisatawan. Selain menawarkan panorama alam yang memukau, tempat wisata ini pun menyajikan spot-spot foto keren yang Instagramable.

B

ukit Tangkeban merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik di Jawa Tengah, menawarkan pemadangan bukit yang estetis membuat wisatawan tertarik untuk mengunjunginya. Lokasi Bukit Tangkeban sendiri berada di Desa Nyambleng, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Selain menampilkan pemandangan alam yang memukau, wisata Bukit Tangkeban turut menyajikan spot foto yang Instagramable. Untuk mencapai puncak Bukit Tangkeban, pengunjung harus menyusuri jalan setapak sejauh 100 meter dengan waktu tempuh kurang lebih 6 menit. Tiba di puncak, pengunjung disuguhkan hamparan hijau pepohonan yang luas. Sejauh mata memandang, wisatawan juga dapat menyaksikan panorama nan menawan Gunung Slamet. Setelah puas menikmati keindahan alam, pengunjung dapat mengabadikan momen di area foto yang sudah disediakan pengelola. Area foto di tempat ini cukup bervariasi, seperti jembatan kaca yang transparan dengan latar pegunungan. Selain itu ada konstelasi bulan sabit, bintang, dan bingkai sayap raksasa. Bahkan disediakan pula rumah bambu segitiga serta ayunan gantung yang bisa dijadikan spot foto menarik bagi para pengunjung. Spot-spot foto tersebut menghadap langsung ke arah Gunung Slamet yang tentunya memiliki pemandangan memukau dari atas bukit. Tak hanya area foto, Bukit Tangkeban juga menyajikan wahana permainan yang cukup menarik para wisatawan lokal, seperti flying fox, wahana sepeda terbang serta wahana berkuda. Bahkan tempat wisata Bukit Tangkeban juga menyediakan area pemancingan, dan wilayah Camping Ground. Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana camping di sekitar Bukit Tangkeban dapat merogoh kocek senilai Rp 75 ribu per malam. Khusus untuk spot-spot foto sudah tersaji di area Taman Langit. Destinasi wisata yang berada pada ketinggian sekitar 1.250 meter di atas permukaan laut ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap. Mushola, toilet, area parkir, kafe, dan warung-warung banyak berjejer di sepanjang wisata ini. Tiket masuk wisata Bukit Tangkeban ini pun terjangkau. Pengunjung cukup

merogoh kocek seharga Rp 12 ribu untuk bisa menikmati keindahan alam dan beragam spot foto yang tersaji di dalamnya. Rute untuk menuju wisata ini bisa dilalui melalui Jalan Moga-Guci. Kemudian mengambil arah kiri usai sampai di Pasar Pulosari. Wisata Bukit Tangkeban ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Adanya wisata ini pun turut meningkatkan penghasilan ekonomi masyarakat Dusun Tangkeban serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat seperti staf pengelola, penjaga loket, pedagang, tukang parkir, dan lain sebagainya. Salah satu wisatawan, Teguh Setiawan mengungkapkan kegembiraannya usai menikmati panorama alam Bukit Tangkeban. Menurutnya, wisata Bukit Tangkeban ini berbeda dengan tempat wisata lainnya. Mengingat, banyak spot-spot foto instagramable yang dipadukan pemandangan alam yang menarik. “Di sini spot-spot fotonya keren. Masyarakat cukup kreatif dalam mengemas area wisata ini,” tutur Teguh pada Minggu (16/8). Pengelola tempat wisata Bukit Tangkeban Agus Prasetya menuturkan meskipun Bukit Tangkeban baru beroperasi sekitar 3 tahun, tetapi area wisata ini cukup menunjukan perkembangan yang pesat. Terutama ditilik dari segi fasilitas, kelengkapan spot-spot wahana wisata yang ada, dan lonjakan pengunjung yang kian hari kian meningkat. Bahkan dari hasil laporan staf pengelola, rata-rata perbulan wisata ini bisa mencapai angka 10.000 hingga 15.000 pengunjung. “Untuk weekday kisaran 500 sampai 700 orang. Sedangkan weekend mencapai 1.000 wisatawan.” ujar Agus, Minggu (16/8). Agus menambahkan, asal mula penamaan wisata Tangkeban bermula dari riwayat nenek moyang yang sering menggunakan istilah tersebut yang memiliki arti perlindungan atau tempat berlindung. Asal katanya dari kata tungkeb yang diartikan sebagai tutup. Agus berharap adanya tempat wisata ini semakin menambah lapangan pekerjaan terutama bagi masyarakat sekitar dusun Tangkeban. “Target kita membuat tempat wisata itu untuk kesejahteraan masyarakat. Semoga kedepannya kita bisa menambah lapangan pekerjaan masyarakat,” pungkas Agus. Ika Titi Hidayati


8 | Edisi LXIV/Oktober 2020

OPINI

Foto: Tempo.co

Perlukah Dilakukan Sertifikasi Penceramah? Oleh: Zabaluddin Musa*

D

i akhir tahun 2019 sempat diwacanakan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Fachrul Razi, mengenai sertifikasi penceramah. Menurut Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, sertifikasi dilakukan dengan tujuan menyaring dai berpaham radikal yang dapat mengancam stabilitas nasional. Sertifikasi ini sempat menuai polemik, bahkan tidak sedikit yang menyatakan penolakan. Salah satunya ditolak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dikutip dari CNN Indonesia, penolakan tertuang dalam Pernyataan Sikap MUI Nomor Kep-1626/ DP MUI/IX/2020. Menurut Muhyiddin Junaidi, Wakil Ketua MUI, rencana program penceramah bersertifikat telah menimbulkan kegaduhan, kesalahpahaman dan kekhawatiran akan adanya intervensi pemerintah pada aspek keagamaan

di Indonesia. Ia menyatakan potensi intervensi itu dalam pelaksanaannya dapat menyulitkan umat Islam. Sebenarnya sertifikasi ini merupakan hal yang wajar, khususnya dalam dunia keilmuan jika dilakukan dengan maksud memberi standarisasi kualitas bagi penceramah khususnya. Dengan begitu, adanya sertifikasi dapat menunjukkan kompetensi dan kapasitas keilmuan keagamaan bagi para dai. Dikutip dari Republika.com, Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Islam) di Arab Saudi sudah lama melakukan sertifikasi terhadap para penceramah. Bahkan, setiap tahun Liga Dunia Islam mengundang mubalig-mubalig dari beberapa negara untuk disertifikasi. Selama enam bulan berada di Arab Saudi, para penceramah itu mengikuti sertifikasi.

Selain itu, dikutip dari Minews. com, di Malaysia Penceramah agama Islam harus mendapatkan sertifikat dari Dewan Keagamaan Islam Johor (MAIJ). Ini menunjukkan pentingnya sertifikasi, seperti halnya sertifikasi halal pada usaha produksi ataupun jasa oleh MUI. Namun, jika sertifikasi dilakukan dengan tujuan menyaring penceramah yang terpapar paham radikal, sepertinya tidak perlu diadakan sertifikasi tersebut. Sebab paradigma mengenai radikal sendiri berbeda-beda dari berbagai pihak. Narasi-narasi yang banyak dibangun oleh pemerintah belakangan ini menanggap radikal itu sesuatu yang sangat berbahaya, bertujuan menjatuhkan pemerintahan, sehingga diksi radikal menjadi negatif. Di sisi lain, radikal oleh beberapa pihak diartikan dengan

PUISI

Amartha Oleh Hurryyati Aliyah

Amartha hanya ingin keluar Amartha butuh mencari sesuap nasi Amartha hanya manusia biasa Amartha bukan lah benda mati Mimpi buruk tiba-tiba datang Berwujud virus yang menyerang Saksikan nyawa-nyawa melayang Kasihan sekali Amartha yang malang

Negeri & Pandemi Oleh Annisa Zahra Aulia

Beribu yang terjangkiti. Beribu yang menjangkiti. Kami gelisah dan resah, melihat keadaan yang kian parah. Tanah kosong yang dulunya lengang, kini jadi tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan orang. Kami miris dan frustrasi, namun masih saja ada yang menganggap bahwa ini hanyalah sebuah narasi.

Menanti janji-janji yang busuk Perut Amartha kian membusung Perut birokrat kian membuncit Urusan perut siapa yang peduli

Berpuluh-puluh hari kami lewati dengan harap, akan datang hari di mana wabah ini berhenti menetap. Namun harapan besar itu kian hari semakin surut, hingga kami akhirnya lelah dan mulai berhenti menuntut.

Tak ada yang peduli Bisa-bisa Amartha cepat mati

Ini negeri kami,

memegang teguh ajaran (agama) secara mengakar dan kaffah (komprehensif). Bahkan salah satu ormas Islam yang dikenal cukup moderat di Indonesia menggunakan kata radikal dalam falsafah pergerakannya. Ungkapan-ungkapan tersebut banyak menimbulkan rasa tidak percaya masyarakat terhadap pemerintah. Pemerintah dinilai tidak memberi kebebasan berpendapat bagi masyarakat, dengan memaksakan pemahaman mengenai bahaya radikalisme. Padahal dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat sangat dijunjung tinggi. Maka perlu adanya pembahasan bersama antara pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI dengan berbagai ormas Islam, para tokoh cendekiawan Islam, dan para dai mengenai konten sertifikasi, materi dan pelaksanaan sertifikasi pence-

Melecehi Diri Sendiri Oleh Rifqoh Al-Madya

Ku mengendap Dalam lindap Mengendap-endap Untuk tertangkap Senandikaku merayap Hingga ke atap Jelas tertangkap Namun tak hatiku harap Yang dianggap Hal gemerlap Adalah renjana dituruti Dijadikan simfoni? Dalam temaram selesa Maharaja Dan permaisuri Menciptakan malapetaka di bumi Saling menatap Dan berharap Melakukannya mantap Tanpa saling ucap Tangisan bumi menjadi saksi Mereka menuruti aturan diri

ramah. Itu dilakukan agar sertifikasi ini diterima semua kalangan dan tidak menjadi alat untuk menyudutkan salah satu kelompok beragama. Selain itu, sebaiknya sertifikasi ini jangan sampai diwajibkan untuk semua penceramah. Menurut Ustaz Das’ad Latif, jumlah penceramah khususnya di daerah-daerah tidak banyak. Jika sertifikasi ini wajib, maka semakin sedikit jumlah penceramah di Indonesia. Dan jangan sampai digunakan untuk kepentingan politik pribadi atau golongan. Jika tidak, penolakan-penolakan tersebut akan terus terjadi.

*Penulis merupakan mahasiswia Program Studi Akuntansi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Sedang naluri setiap pribadi Mulai menangisi kirana simfoni Terbiasa membuai diri Dengan keinginan sendiri Tak menghormati diri sendiri Pada pribadi lain? Apalagi Pelecehan marak terjadi Bermula melecehi diri sendiri Dengan taanpa menghormati diri sendiri Akhirnya menjadi orang yang dicari Di incar kulminasi sendiri Menjadi Korban pribadi yang menyerupai Dirinya yang tak menghormati Dilecehi Sakit hati Mengira negeri ini peduli? Asa setelah meghargai diri sendiri? Usai menduai Ilahi Menuruti kulminasi Mulailah menyadari Mesti membenahi diri Lalu ingin kembali Menghadap Pada ilahi Mohon ampun penuh harap


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 9

KOLOM

EDITORIAL Jika yang menjadi dalih mengapa kampus tak memberi pernyataan sikap yang jelas terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh sesama mahasiswa adalah karena untuk menjaga nama baik kampus Islam, lantas haruskah kampus tetap bergeming?

B

eberapa kasus pelecehan seksual marak terjadi di beberapa bulan silam. Hal tersebut membawa keresahan tersendiri bagi pihak mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Terlebih lagi pada 2017, saat penyintas pelecehan seksual mencoba melapor ke pihak kampus namun tak mendapat hasil yang sesuai harapan. Laporan kasus tersebut dialihkan ke pihak fakultas yang bersangkutan. Saat kasus pelecehan seksual kembali merebak di tahun ini, pihak kampus pun belum memberi solusi dan kebijakan yang serius untuk penanganan pelaku dan korban. Kampus tercinta ini sebenarnya sudah memiliki bagian Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) yang salah satu fokusnya adalah menangani kasus pelecehan seksual di lingkup UIN Jakarta. Bahkan, pihak PSGA juga telah melakukan survei penelitian tentang pelecehan seksual kepada 300 mahasiswa UIN Jakarta. Jika melihat data yang berhasil dikumpulkan oleh PSGA sebanyak 70% mahasiswa pernah mendapatkan pelecehan seksual secara lisan, dan sebanyak 30% mahasiswa mendapatkan pelecehan seksual secara fisik. Tak hanya itu, untuk menangani kasus pelecehan seksual, sebenarnya kampus sudah memiliki Kode Etik Mahasiswa yang mengatur tentang hal tersebut. Menurut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, pada Kode Etik Mahasiswa Bab 4 Pasal 5 serta pada Bab 5 Pasal 6, tertuang aturan dan sanksi bagi mahasiswa yang melakukan perbuatan dan asusila. Sanksi terberat yang menanti pelaku pelecehan seksual adalah dikeluarkan dari kampus. Namun pada kenyataannya, penyintas yang berani melaporkan kasus pelecehan seksual yang ia dapati di tahun 2017 merasa tak puas dengan kebijakan kampus yang malah mengalihkan kebijakan

laporannya ke fakultas. Kemudian pada tahun 2020, isu pelecehan seksual mulai menjangkit mahasiswa UIN Jakarta kembali, tetapi hingga kini pihak kampus belum memberi solusi pasti tuk penanganan kasus tersebut. Baik itu pemulihan trauma bagi para penyintas, maupun kebijakan yang tepat untuk para pelaku. Jika yang menjadi alasan kampus kurang serius menangani hal tersebut adalah karena sedikitnya jumlah mahasiswa yang melaporkan kasus pelecehan yang mereka hadapi—sebab para penyintas kebanyakan menganggap bahwa itu adalah aib bagi diri mereka—lantas, mengapa saat ada mahasiswa yang melapor pada tahun 2017 kampus malah terkesan tak memberi solusi dan kebijakan pasti? Kemudian jika yang menjadi dalih mengapa kampus tak memberi pernyataan sikap yang jelas terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh sesama mahasiswa adalah karena untuk menjaga nama baik kampus Islam, lantas haruskah kampus tetap bergeming? Padahal sebagai kampus Islam, sudah sepatutnya norma agama dapat ditegakkan, dengan begitu tindakan asusila bukan menjadi hal yang lumrah di UIN Jakarta. Beruntungnya, masih banyak mahasiswa yang peduli akan kasus ini, rasa peduli mereka patut diapresiasi. Pada September kemarin, mereka membentuk Tim Khusus Penanganan Kekerasan dan Pelecehan Seksual di UIN Jakarta. Saat ini, mereka sedang menyusun naskah kode etik yang tegas tentang kekerasan seksual sesuai dengan telaah dari beberapa kampus di Indonesia dan draf tersebut akan mereka ajukan ke pihak rektorat. Mereka juga telah membuat formulir pengaduan daring terkait kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang pernah dialami mahasiswa.

Child Grooming: Yang Melecehkan & Dilecehkan Oleh: Puji Handayani

P

erkembangan teknologi internet yang tidak terbatas memberikan dampak positif dan negatif pada aspek-aspek kehidupan. Dampak negatif dan positif dari perkembangan teknologi internet itu sendiri sama banyaknya. Dampak negatif menyebabkan banyaknya tindak kejahatan, salah satunya yaitu pelecehan seksual. Pelecehan seksual tidak hanya bertarget pada orang dewasa. Namun, anak di bawah umur juga bisa menjadi target. Pelecehan seksual pada anak dibawah umur dikenal dengan istilah Child Grooming. Child Grooming biasa dilakukan oleh groomer (pelaku pelecehan) dengan cara pendekatan emosional, pendekatan emosional bisa membangun hubungan yang dekat antara pelaku dan korban, jika hubungan tersebut telah terjalin maka selanjutnya pelaku bisa mengeksploitasi dan melecehkan korban. Cara tersebut paling mudah dilakukan karena para korban yang masih dibawah umur akan merasa bersalah jika tidak menuruti permintaan pelaku. Child Grooming marak dilancarkan pada media sosial ataupun game online. Para pelaku biasanya berkenalan dengan korban melalui fitur pesan yang tersedia. Kemudian mereka berinteraksi dalam kurun waktu yang beragam, bisa dalam hitungan jam, hari, bulan, dan tahun sampai si anak merasa percaya bah-

wa si pelaku bukanlah seorang penjahat. Setelah si anak percaya kepada pelaku, maka si pelaku akan meminta korban untuk membuat video erotis ataupun gambar-gambar bagian tubuh korban yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada orang lain. Pelaku akan menyimpan gambar dan video tersebut untuk kepuasan tersendiri ataupun menyebarluaskannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sang anak yang mendapatkan pelecehan seksual sukar untuk berkata jujur kepada orang tuanya mengenai apa yang ia alami, ia takut mendapat penghakiman dari orang tuanya jika ia berkata jujur, padahal hal demikian belum tentu terjadi. Orang tua bisa mengamati perubahan perilaku tidak biasa pada anak, pelecehan seksual tentu saja memiliki dampak buruk pada psikologis atau perilaku sang anak. Perilaku yang tidak biasa antara lain. Permisif, sang anak berpikir bahwa ia tidak berguna lagi karena merasa ada yang sudah diambil didalam dirinya, pada akhirnya sang anak menjadi muram, pendiam, dan susah untuk bergaul. Depresif, sang anak selalu merasa cemas dan sedih walaupun didalam situasi yang menyenangkan, bahkan sang anak dapat mengalami trauma pada hal yang berhubungan dengan pelaku. Agresif, sang anak menjadi berani untuk berontak dan melakukan hal-hal

Selamat

Hari Sumpah

Pemuda

28 Oktober 1928-2020

buruk, seperti: menggunakan narkotika, minuman beralkohol, dan merokok. Perilaku ini dapat menimbulkan masalah lain dan tentu saja merugikan si anak itu sendiri. Terakhir yaitu perilaku destruktif, sang anak merasa putus asa dan pemikiran buruk selalu bersemayam dipikirannya, sang anak pada akhirnya memiliki keinginan untuk melukai dirinya sendiri bahkan yang paling parah sang anak berkeinginan untuk bunuh diri. Anak yang mulai menampakkan perilaku tidak biasa tersebut patut dicurigai dan ditanyakan secara baik-baik apa yang sedang ia alami. Jika kondisi sang anak sudah semakin parah, orang tua bisa membawanya ke ahli agar mendapatkan perawatan yang intensif. Dampak psikologis yang didapatkan korban dengan hukuman yang diberikan kepada pelaku apakah sudah setimbal? Pelaku pelecehan seksual terjerat dalam beberapa pasal, beberapa diantaranya Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Namun, Undang-Undang khusus untuk Child Grooming belum ada di Indonesia ataupun di negara lainnya.


10 | Edisi LXIV/Oktober 2020

TUSTEL

ADA JUANG GARDA BELAKANG

Foto oleh Ikhwan Fajar Ramadhan, KMF Kalacitra

S

emua lapisan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Masyarakat umum kerap kali disebut sebagai garda terdepan, sedangkan garda belakang ialah tenaga medis dan kesehatan. Namun, masih ada para pejuang garda belakang bagi pasien-pasien yang gagal menjadi penyintas. Terlebih, angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia kian meningkat hingga saat ini—mencapai 12.268 per 15 Oktober 2020. Sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU) diperluas, termasuk TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Tanahtanah yang sebelumnya rata kini diberi nisan, menandakan adanya area kubur baru. Tampak pula para Petugas TPU yang bekerja ekstra hari itu, Kamis (11/9). Pasalnya di sana—dilansir dari Kompas.com—pemakaman terkait Covid-19 mencapai empat puluh jenazah dalam satu hari, jumlah yang tentu tak sedikit. Mengenakan Alat Pelindung Diri lengkap, pemakam menjalankan protokol yang tepat. Mereka wajib menjalankan protokol pemakaman jenazah Covid-19 guna menghindari penularan virus yang mungkin terjadi. Kepatuhan protokol pemakaman oleh garda paling belakang tak akan berarti jika kita—masyarakat sebagai garda terdepan—tak konsisten menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak mungkin merupakan hal kecil bagi kita, tetapi membawa dampak besar untuk mereka.

Teks oleh M. Silvansyah Syahdi Muharram, LPM Institut


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 11

WAWANCARA

Kontroversi

KILAS

Pernyataan Menag

Soal Pemuda

Good Looking Isu Radikalisme kembali mencuat di tengah publik. Terlepas dari stigma negatif yang mengarah kepada pemuda good looking, Menteri Agama hendak melakukan sertifikasi penceramah untuk menangkalnya.

P

ernyataan good looking Menteri Agama Fachrul Razi menjadi sebuah polemik baru kala itu. Sehingga, terlampau patut ditingkatkan kewaspadaan terhadap orang berpenampilan baik sebagaimana topik yang Fachrul Razi bahas. Dalam gagasan yang Fachrul Razi utarakan, good looking dan radikalisme memiliki keterkaitan. Seorang yang good looking memiliki penguasaan bahasa Arab serta hafiz Alquran mulai terjun ke dalam lingkungan hingga mendapatkan simpati masyarakat agar memperluas paham radikal dengan berpenampilan baik. Namun, stereotip good looking belum bisa dikatakan sebagai modus penyebaran radikalisme. Lantas, apa yang dimaksud terkait konteks good looking? Berikut hasil wawancara Reporter Institut Amrullah dengan anggota Dewan Penasihat (Advisory Board) Center for Study of Relegion and Culture Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Irfan Abu Bakar, Rabu (30/9). Bagaimana tanggapan Anda mengenai pernyataan Fachrul Razi terkait radikalisme yang datang dari pemuda good looking dan fasih berbahasa Arab dan kasusnya? Dalam riset-riset tentang radikalisasi di kalangan pemuda Muslim di Indonesia belum atau tidak ada variabel pemuda good looking sebagai modus dalam memengaruhi target, begitu pun dengan berbahasa Arab. Di beberapa kasus karakteristik para perekrut umumnya berpenampilan sopan, rajin ke masjid, ramah kepada tetangga dan tidak ada indikasi mencurigakan. Sementara kasus lain, beberapa jihadis pria ada yang mengenakan celana cingkrang dan

wanitanya ber-burqah. Selain itu, kalangan ideolog radikal umumnya mampu menyampaikan hadis-hadis serta ayat Alquran dalam bahasa Arab dengan baik. Sebagian ada yang mahir bercakap, sebagian lagi biasa saja, dan sisanya tidak bisa sama sekali. Akan tetapi, persoalan good looking terdengar baru di telinga sebagai daya tarik perekrutan paham radikal. Sedangkan, studi kasus di Jerman memang ada beberapa para rekruter Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menggunakan modus “memacari” remaja perempuan Jerman yang broken home sebagai taktik radikalisasi. Apakah solusi yang diberikan Fachrul Razi (melibatkan pemerintah dalam kepengurusan masjid dan mengadakan sertifikasi penceramah) sesuai dengan misi Kementerian Agama yakni mewujudkan moderasi beragama? Mewujudkan moderasi beragama dalam sikap dan perilaku keberagamaan masyarakat Muslim merupakan program yang memiliki tujuan dan dampak jangka panjang. Untuk menjalankannya perlu melibatkan banyak pihak, terutama organisasi massa seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Lembaga Swadaya Masyarakat, akademisi termasuk Dewan Masjid Indonesia beserta takmir masjid. Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) dalam hal ini berperan menjadi fasilitator dalam menjalankan kegiatan dakwah Islam Washatiyyah. Menurut saya Kemenag dapat memberikan otoritas kepada kampus-kampus karena sifatnya netral untuk ikut merumuskan dan menyeleksi juru dakwah mana yang layak diberikan sertifikasi. Dengan melibatkan stake-

holder moderasi Islam di masyarakat dan kampus. Apa saja dampak yang mungkin terjadi jika pernyataan Fachrul Razi tersebut diterapkan? Pernyataan Fachrul Razi perihal good looking bisa berdampak produktif dan kontra produktif. Produktif, apabila dapat memantik suatu dialektika dan debat publik yang berujung mendorong penguatan moderasi beragama atau Islam Wasathiyah. Kontra produktif, yakni pernyataan Fachrul Razi tersebut hanya menimbulkan kesalahpahaman dan distorsi dalam opini publik. Di mana kasusnya berhenti pada klarifikasi Kemenag mengenai pernyataan tersebut tanpa ada upaya menjelaskan kembali hal yang lebih fundamental, yaitu debat mengenai stategi moderasi beragama di Indonesia. Menurut Anda, hal-hal apa lagi yang dapat mewujudkan moderasi beragama? Moderasi beragama dapat diukur dari sikap toleran kepada penganut agama lain. Perilaku tersebut dibuktikan dengan menurunnya aksi kekerasan atas nama agama kepada kelompok minoritas baik antar agama maupun inter agama. Aparat dan masyarakat harus bersikap tegas dengan kelompok ekstremis, dan aparat menetapkan hukum seadil-adilnya jika kelompok tersebut membuat kerusakan antar agama dan anarkis, seperti penyerangan rumah ibadah agama lain. Indikator lain, kampanye Pemilu dengan memanfaatkan isu suku, ras dan agama oleh sekelompok politisi untuk mobilisasi politik, maka publik harus menunjukkan sikap ketidakpedulian terhadap kampanye seperti itu. Amrullah

...kasusnya berhenti pada klarifikasi Kemenag mengenai pernyataan tersebut tanpa ada upaya menjelaskan kembali hal yang lebih fundamental, yaitu debat mengenai stategi moderasi beragama di Indonesia.

UIN Jakarta Miliki

Laboratorium Pemeriksaan

Molekuler

Covid-19

U

niversitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kini memiliki Laboratorium Terpadu untuk melayani pemeriksaan molekuler Covid-19. Laboratorium diresmikan pada Selasa (2/6) dan berlokasi di gedung Fakultas Kedokteran (FK) UIN Jakarta. Laboratorium tersebut digunakan sebagai tempat pemeriksaan molekuler realtime—Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 dan sebagai laboratorium jejaring di wilayah Provinsi Banten. Saat ini, para tim yang bertugas sudah melakukan pemeriksaan pada 3.500 spesimen dari berbagai fasilitas kesehatan dan instansi. Laboratorium tersebut menyediakan layanan pemeriksaan gratis dengan dua hingga empat hari waktu penyelesaian. Sementara itu, pemeriksaan mandiri hanya butuh waktu sekitar satu hingga dua hari. Ketua Tim Layanan Molekuler Covid-19 Erike Anggraini mengungkapkan bahwa adanya laboratorium tersebut sebagai bentuk sumbangsih dari FK UIN Jakarta untuk turut aktif berkontribusi dalam melakukan diagnosis molekuler di masa pandemi. “Itu bentuk sumbangsih karena kami memiliki dokter di bidang mikrobilogi klinik, patologi klinik, dan lulusan di bidang molekuler,” tutur Erike, Rabu (30/9). Sefi Rafiani


12 | Edisi LXIV/Oktober 2020

RESENSI

Keberagaman Pulihkan Alam & Lingkungan Permasalahan lingkungan sering kita jumpai dipelbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Sebuah film dokumenter berjudul SEMESTA mengangkat isu tersebut beserta solusi yang memungkinkan.

Bekas PKI KETERANGAN BUKU

JUDUL PENULIS PENERBIT TAHUM TERBIT TEBAL

: : : : :

PULANG Leila S. Chudori Kepustakaan Populer Gramedia 2013 552 HALAMAN

Hidup sebagai tahan politik menjadi target operasi karena bersentuhan dengan PKI. Masuk daftar orang dicari dan menjalani hidup dalam pelarian yang singgah dibeberapa negara.

P

eristiwa berdarah itu datang menjadi malapetaka bagai mimpi buruk yang tidak berkesudahan. Ketika tanah air Indonesia dilanda kisruh pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 yang kembali terulang. Pertumpahan darah terjadi di berbagai belahan Indonesia dan merupakan sejarah kelam bagi tanah air. Bagian kisah kelam ini turut hadir dalam Kantor Berita Nusantara, ruang bertukar informasi para wartawan di dalamnya. Seorang pewarta bernama Dimas Suryo tergabung di sana. Bersama dengan Hananto Prawiro, Nugroho Dewantoro, Risjaf serta Tjai Sin Soe menjadi kawan sehidup sepelarian. Segala macam pemikiran serta isme ada di dalam Kantor Berita Nusantara. Ternyata teori hirarki media diaplikasi dalam kantor. Terbukti dari Hananto mempu-

nyai jabatan pemimpin redaksi berhaluan ideologi kiri. Adanya perselisihan di kantor antara kiri dan Amir seorang wartawan kompeten yang dikenal berbagai kalangan kecuali PKI dialihkan ke divisi pemasaran dan iklan. Gesekan ideologi kiri dan kanan membuat Dimas cenderung netral dengan julukan yang disemat “zona netral Swiss”. Dimas tak menetapkan pendirian, ia hanya suka mengarungi pesona pemikiran kiri dan kanan seperti berada di tengah perbatasan. Sebagai kawan dan senior, Hananto sempat mengajak Dimas masuk partai yang tentu saja ditolak. “Kau menolak masuk ormas. Apalagi masuk partai. Kau menolak memihak. Kau mengkritik Lekra tapi kau juga mengkritik para penandatangan Manifes Kebudayaan” untaian kata sindiran dari Hananto membuat Dimas terdiam. Dia tetap pada prinsipnya.

memiliki satu visi, yaitu berusaha keras merawat Indonesia. SEMESTA sebelumnya berhasil menjadi nominasi dalam kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia pada 2018. Tak hanya itu, film ini juga terseleksi dan telah melakukan World Premier di Suncine International Invironment Film Festival (SIEFF) yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, pada 6—14 November 2019. SIEFF merupakan sebuah festival film di Barcelona yang khusus untuk film dokumenter

yang bertemakan lingkungan. Film dokumenter yang diproduseri oleh aktor sekaligus pendiri Tanakhir Films— Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin—memberi pelajaran bagi para penontonnya tentang pentingnya lingkungan bagi kelangsungan makhluk hidup. SEMESTA menyajikan alur yang ringan. Tak ada adegan yang menampilkan dampak dari pemanasan global, tetapi lebih fokus pada langkah nyata yang dapat manusia lakukan untuk mencegahnya. Herlin Agustini

Sampai di mana kecurigaan Dimas muncul saat Hananto memberi perintah untuk hadir dalam International Organization of Journalist (IOJ) di Santiago bersama Nugroho. Seharusnya yang turut serta adalah Hananto sebagai pemimpi redaksi. Hendak menolak perintah, Hananto berdalih tetap berada di Indonesia demi menyelesaikan masalah dengan Istrinya Sutri. Mau tak mau Dimas akan terbang ke Santiago kalau menyangkut Sutri. Ia tahu penyebab masalah perkawinan kawannya dan juga Sutri, bunga yang pernah singgah di hati Dimas. Kemudian, Nug merencanakan setelah dari Santiago bergabung bersama Risjaf di Havana dan kawan-kawan untuk konferensi wartawan Asia-Afrika di Peking. Firasat Dimas ada yang disembunyikan Hananto berikut kepergiannya dengan Nug. Nyatanya, 12 September 1965 itu hari terakhir ia melihat wajah Hananto. Di tengah konferensi IOJ, mereka mendengar dari ketua panitia Jose Ximenez tentang meletusnya peristiwa 30 September. Kantor Berita Nusantara yang senantiasa memberikan mereka kesibukan habis digeledah karena dianggap sangat kiri. Simpatisan PKI maupun keluarga tak lepas diinterogasi sampai rumah Dimas di Solo diobrak-abrik. Kabar mengerikan lain terdengar bahwa Hananto menghilang sekaligus menjadi orang paling diburu. Pastinya Surti beserta tiga anaknya yang masih ke-

cil dimintai keterangan sampai Hananto ditemukan. Melanjutkan rencana Nug dan Dimas memutuskan menemui Risjaf di Havana, Kuba. Laksana dijatuhkannya bom, paspor Indonesia mereka dicabut. Peking adalah solusi dalam memecahkan masalah ini, agar mereka dapat bantuan dari kawan yang singgah di sana. Sejak kedatangan Dimas serta kawannya di tanah asing sebagai eksil politik kerja serabutan pun bukan menjadi persoalan. Lantaran kabar dari Indonesia yang menjadi masalah, nasib keluarga di tanah air beberapa kali didatangi dan diintimidasi digeledah, dan diinterogasi, tetapi tak pernah ditahan. Kekhawatiran itu sedikit reda sebab Pakde No, kakak Ibu Dimas ialah seorang kiai yang cukup dihormati di Solo sehingga Ibunya tetap dilindungi. Tak lama mereka bertiga di penghujung tahun 1966 mulanya berpencar, Dimas memilih Prancis, Nug memilih Swiss dan Risjaf Belanda. Di Paris, Dimas segera bertemu dengan Tjai dan Theresa istri nya yang sudah berdiam di sana sejak hari Natal. Memulai persembunyiannya di Paris, kota penuh romantisme. Sehingga Dimas menemukan tambatan hatinya pada wanita Paris berambut ikal brunette dengan bola mata hijau kebirubiruan bernama Vivienne Deveraux. Kini menjalanin keseharian jauh dari tanah kelahiran begitu asing, namun harus dibiasakan.

Tak ayal, rindu kampung halaman apabila kembali seperti mendatangi algojo yang siap menjegal kepala. Sampai berita Hananto yang sudah tiga tahun bersembunyi ditangkap di Jalan Sabang, Jakarta April 1968. Ketika empat kawan itu berkumpul kembali di Paris mendengar bahwa Hananto mata rantai terakhir yang diringkus. Walaupun sejarah meraka kelabu tetap hidup harus dilanjutkan. Mereka, Dimas, Nugroho, Risjaf dan Tjai memutuskan mebuat restoran Indonesia di sudut Paris hingga menjalani kehidupan berkeluarga. Dimas memiliki seorang putri, yakni Lintang Utara bersama Vivienne. Di mana ketika putrinya mulai tumbuh dewasa memiliki keingintahuan tentang sejarah sang ayah yang disembunyikan dari dunia serta menjadi saksi tragedi 65. Dalam buku bersampul kuning berjudul Pulang karya Leila S. Chudori bergenre drama keluarga, persahabatan, cinta membawa Leila memenangi penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori prosa, pada tahun 2013. Dari intrik kisah sejarah buku ini, dipadukan dengan latar belakang kekejaman tragedi G 30 S PKI. Dengan dua sudut pandang Dimas dan Putrinya serta alur cerita maju mundur mampu membuat pembaca dibawa menerka keterkaitan setiap babnya.

I

L

M

luar biasa. SEMESTA adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Chairun Nissa dan diproduksi oleh Tanakhir Films. Film yang juga diproduseri oleh Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin ini berkisah tentang tujuh sosok di tujuh daerah berbeda di Indonesia, yaitu Aceh, Bali, Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan, Flores, hingga Papua. Ketujuh sosok yang berperan dalam film ini dipilih untuk mewakili manusia dan alam Indonesia yang beragam. Mereka bergerak menekan dampak perubahan iklim dengan merawat alam Indonesia atas dorongan agama, kepercayaan, dan budaya masing-masing. Lima figur lain yang berperan ialah Agustinus Pius Inam, Romo Marselus Hasan, Muhammad Yusuf, Iskandar Waworuntu, dan Soraya Cassandra. Mereka juga

F

MESTA—katakan. Misal, upaya tersebut dilakukan oleh Almina Kacili bersama Kelompok Wanita Gereja di Kapatcol, Papua Barat. Mereka melakukan suatu tradisi, yaitu sasi—kearifan lokal guna melindungi wilayah dari eksploitasi, terutama nelayan-nelayan yang menggunakan peralatan ilegal. Tak hanya Papua, Bali juga menjadi sorotan di sini. Misalnya dalam Agama Hindu, Tokoh Budaya Tjokorda Raka Karthyasa bersama segenap umat Hindu di Ubud, Bali menjadikan momentum Hari Raya Nyepi sebagai hari istirahat alam semesta. Pada menit ke-9 detik ke-30, Tjokorda Raka Karthyasa menjelaskan, saat Nyepilah alam mengadakan pembenahan diri sementara. Walaupun hanya satu hari dalam setahun, itu bisa memberi dampak secara makro dan mikrokosmos yang

KETERANGAN

H

anya sekitar tujuh persen wilayah laut di dunia yang merupakan wilayah yang dilindungi. Naiknya temperatur air laut membuat makin banyak kerusakan habitat terumbu karang akibat pemutihan karang. Dengan menjaganya, kita—manusia—member biota laut punya kesempatan untuk melakukan regenerasi. Tak dapat dipungkiri, perubahan iklim selama beberapa dekade terakhir menjadi salah satu perbincangan dan isu penting di seluruh dunia. Menjaga lingkungan atau kelestarian alam menjadi kewajiban kita sebagai makhluk hidup. “Hal terpenting yang harus kita sadari di dalam kehidupan ini, alam itu sesuatu yang sebetulnya tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai manusia.” Itulah yang Iskandar Waworuntu—satu dari tujuh tokoh inspiratif dalam film SE-

JUDUL SUTRADARA PRODUKSI PRODUSER TANGGAL RILIS DURASI

: : : :

SEMESTA Chairun Nissa Tanakhir Films Nicholas Saputra & Mandy Marahimin : 30 Januari 2020 (Indonesia) : 90 menit

Nurul Dwiana


Edisi LXIV/Oktober 2020 | 13

SOSOK

Kerja Keras Tangani Covid-19 B

erbicara soal pandemi, sosok dr Erike Anggraini tak perlu diragukan lagi. Sepak terjangnya di bidang mikrobiologi klinik tak bisa diremehkan. Kini, dokter satu ini terpilih sebagai Ketua Tim Layanan Molekuler Corona Virus Disease (Covid-19) di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak hanya aktif praktik di laboratorium, ia juga menjadi bagian dari tenaga pengajar FK UIN Jakarta sekaligus tenaga medis di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat dan Karawaci. Lantas apa sebenarnya mikrobiologi klinik itu? Menurut pemaparan dr Erike, bidang mikrobiologi klinik merupakan ilmu

Kala orang lain dapat menikmati waktu lebih banyak di rumah karena pandemi, lain halnya dengan sosok satu ini. Ia menghilangkan rasa takutnya demi menjadi garda terdepan penanganan Covid-19.

yang mempelajari berbagai jenis mikroorganisme dengan sifat dan diagnostik berbeda. Dengan begitu, ia mengakui bidangnya masih belum dikenal publik secara luas dan belum banyak diminati. Namun, di masa pandemi Covid-19 membuat spesialisasi ini mulai banyak didengar publik. Hal ini karena dokter spesialis mikrobiologi klinik sangat diperlukan pada bidang diagnostik dan pengendalian infeksi di rumah sakit. Wanita kelahiran tahun 1981 ini mengawali langkahnya sebagai tenaga pengajar FK UIN Jakarta sejak tahun 2008. Pada awalnya, ia banyak membantu mengajar di bagian pendidikan dokter, namun lambat laun dr Erike ditempatkan di bidang

Selangkah Maju untuk Hobi yang

Lebih Menghasilkan Sandang merupakan suatu esensi dalam berpakaian dan berpenampilan. Kedua hal itu menunjukan seseorang dalam berekspresi, begitu pula dengan busana muslim saat ini yang kian marak dengan variasi mode desainnya.

G

aya busana muslim tak hanya potongan kain panjang hingga menutupi mata kaki yang terkesan monoton, tetapi dapat dipadukan dengan gaya kasual, klasik, bohemian sampai formal. Seraya pakaian matching dengan latar suasana photoshoot dapat menjadi sebuah karya yang memikat serta dibagikan melalui layar media sosial.

Bagi Nadiyah, persoalan model muslimah bisa mengeksplor diri bahwa dengan pakaian tertutup serta berhijab tetap mampu bergaya. Di sisi lain, sebagai seorang muslim senantiasa dalam menaati syariat Islam. Ia pun mempunyai beberapa panutan perihal ini, seperti Sivia Azizah dan Mitty Zasia yang menurutnya dapat berekspresi bebas meski berbalut hijab.

Media sosial membawa kegemaran Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Nadiyah Salsabila yang suka tampil berpose dengan busana muslim. Foto-foto tersebut terbingkai apik pada akun Instagram miliknya untuk mengekspresikan diri. Menurutnya, berhijab tak membatasi seseorang untuk tampil fashionable. “Memilih masuk ke dunia permodelan untuk menyalurkan hobi saya, mulai dari media sosial tentunya,” ungkap Nadiyah, Rabu (30/9).

Pada 2020 ini, untuk pertama kalinya Nadiyah mendapat tawaran dari Fiyya Indonesia milik Khairina Ririn untuk menjadi model dalam katalog busana miliknya. Tentu bukan hal yang mudah untuk sampai di tahap ini, berbagai tantangan pun harus ia lalui. Mengimbangi urusan bisnis dan kuliah, mengumpulkan keberanian, hingga membangkitkan rasa percaya dirinya berhasil Nadiyah lewati. “Ke depannya, saya juga ingin lebih mendalami ilmu modeling lainnya,” pungkasnya. Nurul Dwiana & Herlin Agustini

mikrobiologi. Karena penempatannya tersebut, ia memutuskan untuk mengambil spesialisasi mikrobiologi klinik di FK Universitas Indonesia. “Saat ini saya tengah menyelesaikan disertasi saya yang berjudul resistensi antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih,” ungkap dr Erike via WhatsApp, Jumat (2/10). Selain menangani pasien Covid di rumah sakit tempat ia melakukan praktik, dr Erike juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Layanan Molekuler Covid di Laboratorium FK UIN Jakarta. Jumlah sampel perhari yang harus ia periksa mencapai 70 hingga 100 sampel, dan seluruh hasil pemeriksaan sampel tersebut harus selesai sekitar dua hingga empat hari. Belum lagi saat mun-

culnya kasus resistensi antibiotik pada pasien Covid dengan infeksi bakteri sekunder, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi para spesialis mikrobiologi klinik di masa pandemi ini. Untuk menangani kasus tersebut, menurut Dokter Sari Asih Ciputat ini para spesialis mikrobiologi klinik harus bisa mengedukasi metode dan prinsip Polymerase Chain Reaction (PCR). PCR sendiri merupakan salah satu metode tes pendeteksi virus Corona yaeng memerlukan pemahaman khusus. Selain itu, solusi yang bisa dilakukan para spesialis mikrobiologi klinik adalah dengan memberikan sosialisasi tentang pencegahan dan pengendalian infeksi Covid baik di rumah sakit maupun komunitas rasional. Terlepas dari ada atau tidaknya resiko penularan Covid dari sampel dan pasien yang di uji swab di laboratorium, mem-

buat dr Erike harus siap menerima resiko apapun. Namun ia yakin bahwa laboratorium terpadu Covid-19 FK UIN Jakarta sudah memenuhi standar biosafety yang maksimal. Dari banyaknya aktivitas yang menyita waktu dan tenaganya, dokter satu ini mengorbankan waktu istirahatnya dengan tetap menjaga keseimbangan tubuh dengan makan-makanan yang bergizi. Ke depannya dr Erike berharap banyak dokter yang mengambil spesialis mikrobiologi klinik. Sebab Indonesia berada di daerah tropis yang mana banyak sekali penyakit infeksi yang berkaitan dengan mikroorganisme. Ditambah lagi dengan meningkatnya kejadian resistensi antibiotik, sehingga tidak banyak pilihan obat pada kasus infeksi, maka hal itu begitu membutuhkan peranan dan keahlian dokter spesialis mikrobiologi klinik. “Semoga nanti banyak yang tertarik dengan spesialisasi ini,” pungkas dr Erike, Jumat (2/10). Sefi Rafiani

FESYEN


14 | Edisi LXIV/Oktober 2020

SASTRA

Detak Rintihan Oleh: Annisah

Nurrahmatillah*

M

enanti Tuan tersenyum dan tertawa adalah hal yang paling aku benci di dunia ini, bahkan kebencianku melewati kekesalanku terinjak-injak oleh sosok bernama manusia. Tiap detik jam yang terdengar begitu kencang membuat telingaku panas dan sekujur tubuhku ingin memberontak dan mengadu kepada Tuhan bahwa aku hanya ingin mati dan berhenti mengabdi kepada Sang Tuan. Namun, aku tahu Tuhan tidak akan membiarkanku pergi, dia mempercayakanku yang sebenarnya tak ingin mengabdi kepada dirinya. Tuanku adalah seorang gadis dengan kehidupan yang pelik, jika ditanyakan soal fisiknya, dapat terlihat oleh mata telanjang bahwa dirinya tidak sedang baik-baik saja, atau bahkan hidupnya tidak pernah merasa baik dan aman. Begitulah dia di mataku semenjak Tuan hanyalah seorang manusia kecil dengan gigi ompong yang selalu tertawa lebar. Tawa itu aku lihat terakhir kalinya dari Sang Tuan, sampai kini aku tidak melihat ulasan kebahagiaan itu terlukis di wajahnya. Seumur hidupku akan selalu bersama gadis tersebut yang bertubuh rapuh dan pikirannya yang kalut. Aku pun tidak bisa meminta kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya saja agar aku pun bisa pergi dan ikut mati bersama bayangbayang kesengsaraan Tuanku, setidaknya itu lebih baik daripada harus berdampingan dengan tubuh yang tidak bahagia. Sebelum segerombolan ayam kampung saling beradu kejantanan, gadis itu telah memperlihatkan keberadaan dirinya di dalam redupnya malam tanpa bulan. Matanya membuka dan menyapu seluruh ruangan dengan kilatan kesedihan yang bahkan aku tidak sanggup untuk melihatnya. Satu tangannya dibiarkan terjatuh di samping ranjang, kurasakan jantungnya yang berdetak dengan irama yang cepat, napasnya tersengal-sengal, dan keringatnya yang mengucur dengan hebat. Mulutnya membuka sedikit untuk menghirup udara yang tidak segar dari kamar yang pengap. Mataku tidak bisa terlepas dari kegiatan yang dilakukan oleh Tuanku, setiap malam yang sama. Kesakitan yang sama. Kekesalan memang sudah tertanam pada diriku tentang gadis yang menjabat sebagai majikanku, tetapi aku pun tidak mau munafik tentang bagaimana aku kasihan melihat sosoknya yang selalu kesakitan dalam kesendiriannya. Hidupnya memang tidak sendiri, dia dikelilingi oleh manusia-manusia yang lain, tetapi aku tahu bagaimana Tuanku, seperempat abad aku mengabdi kepadanya dan aku tahu perihal isi hati terdalamnya. Dia sendirian, dia merasakan kekosongan dalam tiap langkah hidupnya. Aku tahu itu dan aku pun tidak tahu apa yang bisa aku lakukan utuk Tuanku sendiri. Jika aku tanya kepada Tuhan, Dia hanya

ingin aku selalu mengikuti tiap langkahnya, dia hanya gadis yang ingin mencari sebuah keadilan, dia hanya ingin sesuatu mengikutinya, akulah satu-satunya. Mata yang berkilat merah itu tidak akan terpejam lagi, aku terpaksa mengikuti dirinya yang terjaga di malam hari. Tangan kecil itu meraba sisi meja dan berusaha mencari segelas air putih yang sepertinya sudah tercampur dengan debu atau kencing nyamuk karena gelas tersebut dibiarkan terbuka tanpa tutup, Tuanku benar-benar bersikap bodoh untuk hidupnya, bahkan kepada dirinya sendiri, yang aku tahu dia pun membenci menjadi sosok manusia di dunia yang serba kejam. Jika Tuanku saja tidak menyukai dirinya, bagaimana denganku yang selalu mengikuti kemana pun dia melangkah dan merasakan seluruh aliran nadi kesedihannya juga ikut bersama jiwaku. Kami merasakan kehampaan dan kesulitan yang sama tentang hidup. Hangat air matanya mulai terjatuh di kedua pipi Tuanku, dia menangis lagi, lagi, dan lagi. Sebenarnya tidak aneh bagi aku yang selalu berada dekat dengannya, hanya saja aku sudah terlalu muak berdekatan dan akan terus mengabdi kepada Tuan yang lemah, bahkan jika dibandingkan denganku, aku masih jauh lebih kuat daripada dirinya. Tak ada yang dilakukannya pada pukul dua pagi kecuali menangis, menatap, dan membuat tubuhnya menjadi sekaku patung. Jika dilihat dalam cahaya yang cukup, aku dapat melihat rona pucat pasi yang tergambar di wajahnya, rona yang tidak menyenangkan dan selalu membuat orang lain bertanya perihal kabar tentang gadis yang kini sedang terbaring dengan sangat lesu di sampingku. Sekujur tubuhnya bergetar, keringat muncul kembali dengan sangat deras, tetapi tubuh gadis itu sedingin es, aku bisa merasakannya, dan akan selalu bisa merasakannya. Harum tubuhnya yang sebenarnya tidak tercium bau bunga atau rasa manis, sangat terasa di hidungku, aroma yang memilukan bagi gadis belia yang seharusnya tidak merasakan kesedihan berkepanjangan. Degup jantungnya juga sangat terdengar di telinga, aku selalu menyebutnya dengan detak rintihan, hal tersebut bukan tanpa alasan, setiap jantungnya berdetak, setiap denyut nadinya kurasakan, aku selalu mendengar suara rintihan yang tidak bisa dikeluarkan dari mulut gadis tersebut, aku merasakannya dan akan terus merasakan hal itu. Suara binatang malam yang semakin membuat suasana yang pilu sangat terasa seiring detik jam menuju ke arah fajar. Bisa kudengar suara burung yang melengking merdu menyeramkan, tetapi ada hal yang lebih membuatku ketakutan daripada suara burung kecil di gelapnya malam, Tuanku berjalan dengan langkah

yang gontai, menuju cermin berukuran tubuhnya, hanya berdiri menatap fraksi dirinya di sana. Hal baru yang ditangkap oleh mataku. Aku ketakutan, tetapi aku harus terus mengikuti langkah Tuanku, ke mana saja. Dan kini, kami sama-sama melihat diri kami di balik cermin yang usang dan penuh dengan guratan-guratan halus, melihat betapa buruknya masing-masing kami, melihat betapa payahnya kedua makhluk Tuhan ini dalam saling menjaga. Wajah gadis yang berada di depanku semakin mendekat ke arah cermin seolah ingin memberikan semangat dan ke- teduhan kepada dirinya sendiri. Jika dia melakukannya, maka aku akan melakukannya juga. Aku tidak bisa menolak apa yang sudah ditugaskan Tuhan olehku, walaupun sebenarnya aku hanya ingin bebas atau mati sekalian daripada mengabdi kepada gadis yang lemah. Namun, kemarahanku terhenti ketika aku mendengar suara isak tangis yang merdu keluar dari mulut Tuan, hal pertama lagi yang baru aku tahu karena sebelumya ia tidak pernah menangis dengan merdu, ia selalu menyembunyikan tangisnya dalam diam, menahan segala emosinya dalam dada dan aku tahu rasanya pasti sangat sesak. Kali ini, untuk pertama kalinya dia mengeluarkan segala jerat yang ada dalam tubuhnya, dia menangis dengan kencang. Urat tubuhnya menegang, mulutnya terbuka lebar, dengan ini aku merasakan betapa pedihnya menanggung beban menjadi seorang anak manusia yang dilahirkan sebagai seorang wanita. Tangan kanan Tuan memegang dada kirinya dengan kencang, mencoba untuk melukai bagian tersebut dengan sangat hebat. Aku sudah berusaha menghentikannya, tetapi suaraku tetap tidak akan terdengar ke telinga Tuan, dia semakin menjadi liar, kuku-kukunya yang panjang dan tidak terawat digoreskan secara kasar ke sekujur tubuhnya. Kesakitan yang dia buat sendiri semakin tidak terarahkan, aku hanya diam karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Mataku sudah melihat ke arah malaikat, tetapi mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali melihat ke arahku dengan nanar dan mencoba menyuruhku untuk menenangkan manusia lemah yang kini sedang melukai dirinya sendiri. Aku mencoba untuk keluar dari zona yang sudah ditetapkan oleh semesta, mencoba untuk berusaha membantu Tuan agar dia tidak berusaha membuat darah dari kulitnya keluar dengan ganas karena kukukuku tangannya yang digoreskan secara brutal. Aku memang menginginkan dia mati, tetapi tidak dengan cara ini, bahkan aku menarik ucapanku yang terlalu kasar dan semena-mena kepada seorang gadis lemah yang sebenarnya hanya butuh diriku sebagai seorang teman. Tanganku berusaha melekat di pundak sang gadis,

bisa kurasakan dinginya tubuh itu bercampur dengan desir kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan kesengsaraan yang beradu dalam aliran darahnya. Jika saja aku bisa mengeluarkan air mata, maka sudah keluarlah air mataku laiknya air bah yang deras. Begitu menyakitkan menjadi Tuanku, dan aku begitu bodoh untuk terus memikirkan diriku sendiri bahwa aku tidak mau mengabdi kepada sang gadis. “Jika mereka tidak percaya padaku? Apakah Tuhan tetap percaya kepadaku?� Suara lirihnya mulai terdengar, dia mengatakan hal tersebut bersamaan dengan melekatnya telapak tanganku di pundaknya. Andai saja tubuh tersebut bisa aku peluk dengan erat, maka akan aku kerahkan seluruh energiku untuk dirinya. Dia benar-benar sudah kehilangan dirinya sendiri, jauh sekali. “Mengapa aku menjadi seorang wanita? Wanita yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika iblis yang sedang menjadi manusia itu mencoba untuk mencuri tubuhku yang berharga? Mengapa aku hanya diam? Mengapa aku tidak memberontak? Mengapa aku bodoh? Mengapa aku yang menjadi sasaran manusia iblis tersebut? Mengapa harus aku yang sudah mencoba untuk menutupi semua bagian tubuhku yang mengundang hasrat laki-laki kehausan? Mengapa aku?� Monolog yang dikeluarkan dari dirinya semakin membuatku merasa bersalah. Aku bahkan selalu pura-pura lupa bahwa kejadian mengerikan itu pernah terjadi kepada Tuanku, seharusnya aku tahu bahwa hanya aku yang bisa menjadi teman yang bisa dipercaya oleh dirinya ketika manusia-manusia lain di sana selalu mengatakan bahwa Tuanku adalah wanita yang lemah dan kotor. Jika saja aku diberikan nyawa, aku sudah memukul habis mulut mereka. Tuanku bukanlah manusia yang kotor, Tuanku bukanlah gadis yang lemah, Tuanku memang akan bersedih sepanjang hidupnya, Tuanku akan selalu menyalahkan dirinya, Tuanku akan selalu ketakutan. Namun, bagiku dia adalah Tuanku yang suci, Tuanku yang berhak untuk hidup, Tuanku yang berhak untuk mendapatkan keadilan atas pelecehan yang dia alami, Tuanku yang berhak untuk dirangkul dan bukan untuk dicaci maki, manusia iblis sudah mencuri tubuh Tuanku, manusia iblis juga sudah mencuri kebahagiaan seorang anak manusia yang hanya ingin berjalan di dunia dengan layak. *Penulis merupakan mahasiswi Program Studi Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta


SENI BUDAYA

Selayar Ekspresi Pandemi konten berbeda-beda. Terdapat 218 karya yang memang sinematik, ada pula yang hanya menggunakan video sebagai perantara dokumentasi. Sebanyak 204 peserta pameran harus tetap menjaga esensi seni yang ada walau karya hanya dinikmati dalam jaringan (daring). Seperti salah seorang seniman Galangmonsart, karya berjudul “New Normal New Hope” merupakan hal yang tergolong baru baginya. Sebelumnya, ia hanya berkutat di bidang seni lukis manual maupun digital. Akan tetapi, kali ini Galangmonsart menuangkan karya dalam bentuk video selang waktu (timelapse) dari sebuah proses membuat lukisan digital itu sendiri. Di dalamnya, juga terdapat narasi penggambaran keadaan para penangan seni yang tak bisa mempersiapkan pameran secara aktual. Ia mencurahkan rasa rindu akan pekerjaannya sebagai seorang seniman dan harapan jika pandemi telah usai. Menurut Galangmonsart, unsur sosialisasilah yang paling membedakan antara pameran daring dan luar jaringan (luring). Pada pameran luring, antar pengunjung bisa berinteraksi dan peserta pameran pun

akan mendapat apresiasi secara langsung. “Itulah yang tidak bisa dirasakan dari pameran da ring, termasuk esensi dari suasana ramai pameran,” ungkap seniman asal Bekasi tersebut melalui Instagram, Kamis (24/9). Beda halnya dengan Galangmonsart, Tytton Sishertanto tak membatasi karyanya pada satu media spesifik saja. Walau biasanya kerap melukis di atas kanvas, kali ini ia membuat karya sinematik berjudul “Sound of Pandemic”. Tampak seorang anak perempuan bermain komedi putar dengan latar suara riuh pemberitaan pandemi. Dalam kolom deskripsi, Tytton menulis bahwa pandemi mengingatkan manusia akan berharganya kehidupan. “Melalui kedekatan emosi personal, visual menyajikan ketenangan dari audio yang saya hadirkan,” ujarnya, Kamis (24/9). Seniman asal Jakarta itu juga berpendapat, pameran daring merupakan alternatif, bukan untuk menggantikan atau menjadi perbandingan dengan pameran luring. “Pameran daring akan terus berlangsung pasca pandemi dan menjadi cara berpameran baru,” kata Tytton. Ia pun menambahkan, dua teknis pameran tersebut memiliki khas, lebih, dan kurang masing-masing. Bagaimanapun teknis pelaksanaannya, tentu terdapat para kurator yang berperan. Kurator MANIFESTO VII “PANDEMI” Bayu Genia Krishbie mengatakan, mereka sudah memper-

siapkan pameran sejak Januari 2020 dengan tema seni dan lingkungan hidup—berkenaan dengan isu global kebakaran hutan di Australia. Konsep pameran pun masih dirancang secara luring karena tak mengira Covid-19 akan menjadi pandemi global. “Mulai Maret 2020, pemerintah melarang operasional objek pariwisata sehingga kami menetapkan untuk beralih ke ranah daring,” cerita Bayu kepada Institut, Sabtu (26/9). Ini adalah pertama kalinya Bayu menguratori pameran daring. Tantangannya, para kurator dituntut memberikan pengalaman berpameran yang unik kepada pengunjung. Bentuk tur virtual sempat menjadi diskusi, tetapi pola tersebut dinilai minim pengalaman ruang untuk pengunjung. Maka dari itu,

mereka lebih memilih video untuk menyampaikan pesan dari karya para seniman. “Karya tetap dapat dinikmati jika seniman betul-betul mengeksplorasi media internet dan teknologi informasi,” pungkas Bayu. Menurut salah seorang pengunjung, tema yang diusung sangat menarik karena para seniman berkesempatan untuk menuangkan karya mereka pada kondisi pandemi. Secara keseluruhan, tampilan laman sudah cukup informatif dan memudahkan pengunjung guna melihat konten beserta deskripsinya. “Saran saya, mungkin perlu ada kolom komentar untuk perihal apresiasi seni,” ungkap Talitha Luthfira Nuswantari, Kamis (24/9). Muhammad Silvansyah Syahdi Muharram

membentuk Tim Khusus (Timsus) Penanganan Kekerasan dan Pelecehan Seksual. Hal ini telah ditetapkan oleh Surat Keputusan Senat Mahasiswa (Sema) UIN Jakarta pada Senin (7/9). Koordinator Timsus Penanganan Kekerasan dan Pelecehan Seksual Siska Irma Diana menyatakan, urgensi dari pembentukan Timsus ini untuk merespons keluhan dari mahasiswa tentang rendahnya tingkat kepedulian universitas terhadap kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. “Sangat disayangkan apabila sudah dibentuk lembaga penanganan kekerasan seksual namun tak dimaksimalkan,” keluh Siska, Rabu (30/9). Menanggapi hal tersebut, Ulfah menyatakan bahwa PSGA sudah berusaha maksimal jika ada pengaduan. Contohnya, ketika ada aktivis UIN Jakarta Wulan Sari Aliyatus Sholikhah yang mengadukan terjadinya pelecehan seksual pada mahasiswi yang dilakukan oleh ojek online. “Kami sangat terbuka dengan aduan dari mahasiswa dan membantu dalam menangani kasus pelecehan seksual,” tuturnya, Rabu (30/9).

Siska menambahkan, beberapa kasus pelecehan seksual yang terjadi di UIN Jakarta tidak pernah diselesaikan hingga ke jalur hukum di universitas. Ia juga menyarankan agar PSGA bisa bekerjasama dengan sebuah lembaga yang dapat menangani kasus pelecehan seksual. “PSGA bisa bekerja sama dengan lembaga eksekutif kampus atau komunitas yang fokus dengan isu pelecehan seksual,” saran Siska melalui Whatsapp. Sebagai aktivis, Wulan menyatakan bahwa gerakan apapun jika memiliki tujuan yang sama akan bagus sekali untuk sinergi. “Terkadang isu-isu pelecehan seperti ini bahkan korban sendiri abai untuk mengungkap karena menganggap ini menjadi aibnya,” ungkap Wulan ketika diwawancarai via Whatsapp, Selasa (29/9). Penanganan Kasus Pelecehan Seksual di Kampus Lain Kasus pelecehan seksual juga terjadi di berbagai kampus di Indonesia. Seperti kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan kasus pelecehan seksual yang

sempat viral di media sosial oleh mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dilansir dari laman uii.ac.id, sesuai dengan peraturan disiplin yang berlaku di UII, tindakan pelecehan dan kekerasan seksual dalam bentuk apapun tidak dapat diterima dan tergolong dalam pelanggaran berat. Pihak UII juga berkomitmen untuk memberikan empati, dukungan, dan perlindungan kepada korban atau penyintas. Pihak UII juga menunjuk Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Fakultas Hukum UII untuk memfasilitasi korban yang berkeinginan untuk menempuh jalur hukum. Menurut kepala Bidang Etika dan Hukum (BEH) UII Syarif Nurhidayat, Menanggapi dugaan tindak pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh IM, pihak UII sudah mengeluarkan pernyataan sikap secara tegas melalui rilis resmi di laman web UII. “Kami sudah melakukan tindakan upaya yang cukup dan sifatnya final,” tegas Syarif Nurhidayat yang diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (13/10). Tidak hanya di UII, kasus

pelecehan seksual juga menyangkut mahasiswa Unair. Mengutip dari laman persmercusuar.com, Pihak universitas juga mengadakan sidang komite etik sekaligus mediasi bersama pihak keluarga pelaku yang diwakili ibu dan kakaknya, dan memutuskan bahwa jajaran pimpinan Unair resmi memberikan sanksi tegas berupa drop out kepada mahasiswa Fakultas Ilmu dan Budaya (FIB) tersebut. Menurut Menteri Kajian Aksi dan Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Putu Ayu Agung Amoretta, BEM FIB juga berkomitmen untuk mengupayakan sosialisasi terkait kekerasan seksual dan pelecehan melalui cara edukasi baik dengan pengadaan diskusi, podcast, atau kajian. Selain itu pihaknya juga melakukan upaya advokasi dan pendampingan korban ketika terjadi kasus kekerasan atau pelecehan seksual. “Dalam periode ini, kami mengupayakan sebisa mungkin untuk melakukan sosialisasi terkait kasus-kasus seperti ini,” pungkas Amoretta via Whatsapp, Sabtu (17/10).

Pandemi melumpuhkan berbagai sektor, salah satunya pariwisata—termasuk para penangan seni. Pameran dalam jaringan menjadi alternatif mereka untuk tetap menyajikan karya dalam satu genggam gawai.

S

aat mengunjungi laman galnasonline.id, pengunjung akan disambut latar abstrak dan tulisan besar “Jelajahi Pameran Daring”. Tinggal menggulir ke bawah, poster pameran tersebut akan muncul beserta beberapa detail lainnya. MANIFESTO VII “PANDEMI” 8 Agustus 2020—6 Desember 2020, begitu katanya. Tombol “Kunjungi Pameran” yang menonjol cukup menjadi petunjuk untuk pengujung meneruskan penelusuran mereka. Ketika masuk ke menu “Jelajah Karya”, laman akan menyuguhi beberapa usulan keluku dari karya yang tersedia. Pihak penyelenggara—Galeri Nasional Indonesia—tak menggunakan paginasi untuk memuat keluku-keluku tersebut, semuanya berada dalam satu halaman. Namun, satu layar gawai tentu tak bisa menampakkannya secara keseluruhan, sehingga pengunjung dapat menggeser layar dan memilih karya yang ingin mereka lihat. Halaman pun dapat menampilkan usulan keluku yang berbeda jika dimuat ulang. Medium penyajian karya berbentuk video dengan durasi 2 hingga 5 menit, tetapi dengan Sambungan dari hal. 1...

Sejumlah 35% mahasiswa pernah menjadi subjek pelecehan seksual secara fisik sedangkan 70% mahasiswa mengalaminya secara verbal. Adapun sejumlah 29% mahasiswa mendapatkan pelecehan seksual secara isyarat dan sebanyak 39% mahasiswa mendapatkannya secara tertulis. Adapun sebanyak 25% mahasiswa mendapatkan pelecehan seksual secara psikologis. Ulfah sendiri menyatakan dengan tegas untuk mendukung pencegahan pelecehan seksual. PSGA juga telah bergabung diskusi dalam membentuk pedoman penanganan pelecehan seksual. “Kami ikut berdiskusi serta urun rembuk Forum Group Discussion (FGD) dengan diterbitkannya pedoman penanganan pelecehan seksual oleh Kemenag,” ungkap Ulfah ketika diwawancarai via Whatsapp, Rabu (30/9). Kendati demikian, para Mahasiswa UIN Jakarta masih merasa resah akan bertambah- nya kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Berangkat dari keresa- han ini, mahasiswa akhirnya

Edisi LXIV/Oktober 2020 | 15


Ketentuan Media Partner Mengajukan surat permohonan kepada LPM Insitut melalui surel: perusahaaninstitut@gmail.com Ikuti akun Instagram dan kanal YouTube LPM Institut sebanyak panitia Memberikan sertifikat berbingkai sebagai cindera mata Mencantumkan logo LPM Institut pada produk/selebaran acara

Baca, Tulis, Lawan!

Kunjungi portal berita dan media sosial LPM Institut! YouTube

youtube.com/c/lpminstitut

Instagram

@lpminstitut

Website

www.lpminstitut.com

Twitter

@lpminstitut Alamat Redaksi: Gedung Student Center Lantai 3 Ruang 307 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir. H. Djuanda No. 95 Ciputat, Tangerang Selatan 15412 Telepon: +62 877-1465-7821 Email: redaksi.institut@gmail.com

Profile for LPM INSTITUT UIN JAKARTA

TABLOID INSTITUT EDISI LXIV  

TABLOID INSTITUT EDISI LXIV  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded