Page 1

VOL. 2 EDISI

EDENTS Dinamika Intelektual Mahasiswa

WUJUDKAN EKONOMI MANDIRI

BERPOROS UMKM

ISSN 0215-0255

XXVII NOVEMBER 2017


DARI REDAKSI Edentser 2016-2017

Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) merupakan salah satu bisnis yang mulai banyak diminati masyarakat di Indonesia. Selain karena rasio benefit dan cost-nya yang dapat secara langsung diterima oleh rakyat, UMKM juga menjadi sebuah implementasi bagi pembangunan ekonomi yang bersifat bottom-up. Pembangunan ekonomi bottom-up di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sistem ekonomi kerakyatan, dimana di dalamnya UMKM berperan sebagai implementasi bergeraknya roda perekonomian negara atas partisipasi aktif dari rakyatnya. Jumlah pelaku UMKM di Indonesia dilaporkan mencapai 49 juta dan diprediksi menyerap lebih dari 107 juta tenaga kerja. Kontribusi sektor UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun semakin meningkat dalam lima tahun terakhir. Potensi dan kontribusi UMKM ini dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk mewujudkan perekonomian yang Berdikari (Beridiri di atas Kaki Sendiri). Untuk melihat potensi, kendala, dan hubungan UMKM dengan sektor lain, LPM Edents berinisiatif untuk mengangkat tema ini ke dalam majalah Volume 2 Edisi XXVII. Tema utama yang kami tuangkan dalam majalah ini adalah “Wujudkan Ekonomi Berdikari Berporos UMKM�, yang kemudian kami bagi dalam empat laporan utama dan dua laporan khusus. Pada laporan utama, kami membahas mengenai klasifikasi UMKM,

insentif kebijakan pemerintah terhadap UMKM, peran teknologi dalam memajukan UMKM, dan polemik (masalah) yang dihadapi UMKM. Sementara pada laporan khusus, kami membahas mengenai transformasi UMKM di Jawa Tengah dan peran koperasi dalam memajukan UMKM. Selain laporan utama dan laporan khusus, kami juga telah menyiapkan rubrik yang tentunya sayang bila Anda lewatkan, seperti kabar kampus, kabar prestasi, wisata Semarang, sudut profesi, review film, resensi novel, dan lain sebagainya. Simak pula berita mengenai kedatangan Presiden Joko Widodo ke acara Dies Natalis ke-60 Undip yang kami sajikan dalam rubrik kabar khusus. Puji dan Syukur tak lupa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat sehat dan karunia-Nya, kami mampu menyelesaikan majalah Volume 2 Edisi XXVII dengan baik. Segenap jajaran redaksi juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga Wadya Bala Edents yang telah bersungguh-sungguh menyelesaikan majalah ini. Majalah ini adalah bukti nyata persembahan kami untuk nusa dan bangsa. Terakhir, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia produk Edents yang selalu menantikan produk-produk kami. Tak ada gading yang tak retak, kritik dan saran selalu kami tunggu untuk LPM Edents yang lebih baik. Selamat membaca!

MAJALAH EDENTS diterbitkan oleh: Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents ISSN 0215-0255 Pelindung: Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., ; Pembina: Darwanto, S.E., M.Si., Surya Rahadrja, S.E., M.Si., Akt. ; Pemimpin Umum: Adhevyo Reza; Pemimpin Redaksi: Akhmad Sadewa S; Pemimpin Perusahaan: Dewi Setyoningrum; Pemimpin HRD: Gracye Atriana Pane; Pemimpin Marketing Communication: Samuel Petra N; Pemimpin Artistik: Henty Eka Palupy; Redaktur Pelaksana Majalah: Yulina Masyrifatun Nisa'; Redaktur Pelaksana: Dias, Fana, Afnurul; Staf Redaksi: Niki, Mutia, Oktapiyani, Eka; Layout: Rismanto, Alyani; Foto: Fajar; Illustrasi: Radey, Rahmat; Staf Artistik: Abdan, Hesti, Anum; Staf HRD: Vero, Agung, Emmanuela, Lin,ShieshieLia, Tio, ; Staf Perusahaan: Luthfi, Dian Fauziah, Cynthia, Dian Prastiwi, Dewi H, Susi, ; Staf Marcomm: Niri, Yayuk, Novi, Herdini, Sequoia, Anisa Fatmawati, Fajar Ayu Magang Edents : Aditya Mila, Alyani, Arvita, Asma, Ayu, Dirga, Fanny, Farah, Fatyatul Ulfa, Fendiawan, Haritz, Julian, Mahardika, Mariani, Muhammad Fauzan, Nadia, Nisa, Nisrina, Pearlytha, Rafi'qurnia, Rahmat, Rakintan, Sekar, Trinindita, Vefon, Wakhidatun, Yolanda.


Daftar Isi Laporan Utama Sinergisme UMKM dan Sistem Ekonomi Kerakyatan Wisata Semarang Melihat Keberagaman Jawa Tengah di Puri Maerakaca Polling Peran UMKM Dalam Menopang Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Tentang Mereka Sepercik Kisah Idealisme dan Loyalitas dari Mantan Edents Geliat Usaha Kost Clink, Solusi Kebersihan Terkini Sudut Profesi Berdikaribook Sebagai Aliran Toko Buku Alternatif EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

5 17 18 20 23 25 1


Daftar Isi Kabar Khusus Presiden Jokowi Sambangi Undip Laporan Khusus Transformasi UMKM di Jawa Tengah Sosial Budaya Menilik Perjalanan Seni Rupa Indonesia di Museum Galeri Nasional Komunitas Komunitas Asa Edu, Berdayakan dan Edukasi Masyarakat Pesisir

EDENTS

31 33 37 41

Kolom PU Sudah Tepatkah Keberpihakan Selama Ini?

43

Resensi Sophismata: Dunia Abu-abu. Tidak jelas, Tapi Memberi Lebih Banyak

48

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

2


Berdikari dengan

UMKM

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

33


EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

4


Dok: Bantennews.co.id

LAPORAN UTAMA

Sinergisme UMKM dan Sistem Ekonomi Kerakyatan Oleh : Fana Mustika Insanu, Hesti Hardana, Susi Susanti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan istilah sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Selain karena rasio benefit dan cost-nya yang dapat secara langsung diterima oleh rakyat, UMKM juga menjadi sebuah implementasi bagi pembangunan ekonomi yang bersifat bottom-up. Pembangunan ekonomi bottom-up di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sistem ekonomi kerakyatan, dimana di dalamnya UMKM berperan sebagai implementasi bergeraknya roda perekonomian negara atas partisipasi aktif dari rakyatnya. Selain itu, eksistensi UMKM yang berada di tengah masyarakat juga menjadi alternatif bagi pemecah masalah pengangguran. Hal inilah yang membuat UMKM menjadi sangat familiar bagi masyarakat.

Definisi UMKM dan Pengklasifikasiannya Pada dasarnya, pengertian UMKM akan dibedakan menjadi usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Perbedaan tersebut diatur dan diklasifikasikan sesuai kriterianya masing-masing. Pengklasifikasian tersebut berbeda-beda sesuai pendapat para ahli dan instansi yang terkait. Beberapa diantaranya adalah klasifikasi berdasarkan kriteria aset omset dan kriteria jumlah karyawan. Klasifikasi berdasarkan kriteria aset omset pada dasarnya diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM. Namun, sebelum masuk kepada tahap pengklasifikasian ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan definisi antara aset dan omset. Aset adalah seluruh sumber ekonomi dan hak yang dapat digunakan dalam proses operasi ekonomi dalam suatu perusahaan yang diharapkan dapat memberikan manfaat usaha pada masa mendatang. Sedangkan omset didefinisikan sebagai pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk atau

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

jasa yang ditawarkan pada kurun waktu tertentu. Uang yang didapatkan tersebut belum dikurangi harga pokok penjualan dan berbagai beban biaya. Bisa dikatakan omset adalah laba kotor yang dihasilkan dalam suatu usaha. Pada undang-undang tersebut, UMKM diklasifikasikan menjadi; (1) Usaha Mikro, yaitu usaha perorangan atau badan usaha perorangan yang memilki aset maksimal 50 juta dan omset maksimal 300 juta; (2) Usaha Kecil, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang memiliki kriteria aset sebesar 50 juta sampai dengan 500 juta dan omset sebesar 300 juta sampai dengan 2,5 miliar; (3) Usaha Menengah, yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang memiliki kriteria aset sebesar 500 juta sampai dengan 10 miliar dan omset sebesar 2,5 miliar sampai dengan 50 miliar. Klasifikasi UMKM berdasarkan jumlah karyawan juga dikemukakan oleh Bank Dunia. Bank Dunia mengemukakan bahwa UMKM dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu (1) Usaha Mikro, maksimal memiliki 10 karyawan; (2) Usaha Kecil, maksimal memiliki 30 karyawan; Usaha Menengah, maksimal memiliki hingga 300 karyawan. Selaras dengan definisi diatas, Puthut Indroyono, salah satu peneliti di Pusat Studi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga mengatakan hal yang sama perihal definisi UMKM. Puthut mengatakan bahwa UMKM merupakan small dan medium enterprises. “Istilah UMKM itu muncul di era 90-an, istilah yang namanya small dan medium enterprises. Jadi diartikan sebagai sebuah sektor yang hanya memiliki permodalan kecil dan

5


dok. Edents

LAPORAN UTAMA dikemukakan oleh Puthut, terdapat penurunan omzet yang signifikan yang dialami oleh para pelaku ekonomi kecil tersebut sejak era reformasi dimulai. Hal ini terjadi karena ketika orde baru runtuh dan era reformasi dimulai, terdapat kebijakan liberalisasi ekonomi yang dilakukan secara besar-besaran. Ini menyebabkan para pelaku ekonomi yang memiliki modal besar semakin menguasai sektor perdagangan. “Kalau dulu pelaku-pelaku ada aturan yang tidak membolehkan wilayah ekonomi untuk pelaku-pelaku ekonomi yang kecil maka sejakitulah mulai dibuka. Jadi tingkat persaingan semakin lama semakin besar dan bebas. Nah, dari angka yang ada tadi, dari porsi ekonomi akhirnya semakin lama dimiliki dan dikuasai oleh pelaku ekonomi besar tadi,” ungkap Puthut. Batik Mutiara Hasta dan Katun Ungu Berdasarkan kenyataan yang terjadi, memang tidak dapat dipungkiri usahanya pun juga kecil. Kalau misalkan tanah gitu ya bahwa kebijakan ekonomi yang tanahnya cuma kecil,” tutur Puthut. diciptakan dewasa ini semakin menjauh dari aturan yang diamanahkan oleh konstitusional. Dengan adanya kebijakan liberalisasi ekonomi, implementasi sistem ekonomi Berlandaskan Konstitusi kerakyatan yang berasaskan kepada kekeluargaan tersebut UMKM diibaratkan sebagai sebuah alat yang digunakan semakin hari semakin terkikis. Sektor perdagangan yang sebagai poros untuk memutar roda perekonomian yang seharusnya dapat menopang satu sama lain, kini bersifat berasaskan kerakyatan. Bicara mengenai ekonomi kerakyatan, individualis. Tentu kebijakan ini ibarat ‘mengebiri’ para pelaku maka kita juga berbicara mengenai sebuah sistem, yang usaha dengan modal yang terbatas, dimana para pelaku usaha terkait dengan variabel lain dan saling mempengaruhi satu yang memiliki modal besar dapat dengan leluasa menguasai sama lain. Hal yang menjadi pusat perhatian di sini adalah sektor perdagangan. Sedangkan di sisi lain, para pelaku usaha sistem perekonomian apa yang Indonesia jalankan. Untuk dengan modal kecil dan terbatas kehilangan daya saingnya. mencari jawaban tersebut, Puthut mengatakan bahwa Oleh karena itulah, hal ini menjadi tugas masyarakat semuanya tertuang pada landasan konstitusionalnya, yaitu Indonesia bersama untuk kembali menjalankan sistem Pasal 33 UUD 1945. Pasal 33 UUD 1945 ayat 1 berbunyi perekonomian yang diamanahkan oleh konsitusi. Sistem ‘Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan, atas asas kekeluargaan’. Puthut mengatakan bahwa dari pasal yang dijalankan atas usaha bersama-sama. UMKM adalah tersebut rakyat Indonesia harusnya dapat menyadari bahwa senjata yang ampuh untuk menerapkan sistem ekonomi ini, perekonomian negara tidak hanya dimiliki oleh segelintir sistem ekonomi yang diciptakan untuk melindungi seluruh masyarakat saja, melainkan seluruh lapisan masyarakat. warganya, yaitu sistem ekonomi kerakyatan. Istilah lapisan masyarakat juga muncul karena adanya istilah rakyat kecil, Puthut mengatakan bahwa istilah ‘rakyat kecil’ tersebut terjadi karena dua kemungkinan; Pertama karena UMKM dan Pasar Tradisional mereka tidak memiliki akses menuju sistem tersebut; Kedua Pelaku UMKM Indonesia mayoritas berada di sektor karena mereka tidak diberikan kesempatan menuju sistem pertanian dan perdagangan. Dengan keadaan seperti ini, tersebut. “Dalam kenyataanya, kondisinya memang seperti keberadaan pasar tradisional sangat strategis. Selain sebagai itu. Jadi regulasi yang ada tidak memberikan kesempatan indikator kestabilan harga pangan, pasar tradisional juga atau justru semakin meminggirkan usaha yang ada dalam merupakan wadah utama penjualan produk-produk berskala kategori ekonomi rakyat seperti UMKM,” pungkas Puthut. mikro, kecil, dan menengah. Pasar tradisional menjadi sandaran hidup banyak orang dan interaksi sosial yang terjadi Bergantung di Sektor Pertanian dan Perdagangan di sana masih sangat kental. Puthut mengatakan bahwa rakyat Indonesia saat ini Revitalisasi pasar tradisional diyakini mampu menggantungkan dirinya pada sektor pertanian dan sektor meningkatkan produktivitas perekonomian lokal dengan perdagangan. Berdasarkan data yang diambil dari Kementerian mengedepankan pemberdayaan koperasi. Sehingga ke depan Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, terdapat pengelolaannya tidak lagi dilakukan oleh pemerintah daerah, sekitar 17 juta pelaku ekonomi kecil di pasar tradisional melainkan oleh koperasi. Akan tetapi, keberadaan pasar yang menggantungkan dirinya di sektor perdagangan.Puthut tradisional saat ini terancam oleh menjamurnya ritel modern. memaparkan beberapa studi yang membuktikan bahwa porsi Masalah yang dihadapi pasar-pasar tradisional pun hampir perekonomian di Indonesia hanya dimiliki dan dikuasai oleh sama. Laporan Studi yang dilakukan oleh Pusat Studi Ekonomi segelintir orang. Studi ini membuktikan secara ironis bahwa Kerakyatan dengan Lembaga Ombudsman Daerah Istimewa landasan konsitusional berupa Pasal 33 tersebut belum Yogyakarta (DIY) menyebutkan, bahwa masalah klasik yang terealisasi dengan baik di Indonesia.Berdasarkan studi yang terjadi di pasar-pasar tadisional di DIY adalah tata kelola

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

6


LAPORAN UTAMA

pasar yang bersifat sentralistik. Pengelolaan pasar tradisional belum melibatkan organisasi pedagang pasar.Regulasi yang bersifat teknis dan terkait dengan penataan pasar, belum sepenuhnya merealisasikan daulat rakyat di pasar-pasar dan ritel lokal. Oleh karena itu dibutuhkan regulasi yang memuat dengan jelas arah dan peta jalan (roadmap) peningkatan kulitas Sumber Daya Manusia (SDM) di pasar tradisional.

Kendala yang Dihadapi Selain kendala yang dihadapi berupa kebijakan liberalisasi ekonomi yang bersifat makro, para pegiat UMKM juga mengalami kendala-kendala umum yang bersifat mikro. Kendala tersebut antara lain karena faktor modal, keahlian (skill), teknologi, dan akses terhadap pasar. Puthut mengatakan bahwa memang hampir semua studi yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan mendasar perihal kendala UMKM adalah masalah permodalan. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut, kendala mendasar yang dialami oleh pegiat UMKM tidak hanya masalah permodalan dan finansial. Puthut kembali memaparkan beberapa studi yang dilakukan oleh Pusat Studi Kerakyatan UGM perihal kendala mendasar yang dialami oleh UMKM. Target studi ini adalah UMKM Kopi yang terletak di Provinsi Lampung. Lampung terkenal sebagai supplier kopi terbesar dan dijuluki sebagai ‘gudangnya kopi di Indonesia’. Selain itu, Lampung juga memiliki persentase ekspor kopi yang besar, dimana proporsinya lebih besar daripada provinsi-provinsi lain di Indonesia. Namun, di balik itu semua terdapat realita yang cukup ironis. Supplier kopi terbesar di Provinsi Lampung terdapat di Kabupaten Lampung Barat, tempat inilah yang dijadikan sebagai tempat penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Kerakyatan UGM. Studi dilakukan untuk melihat bagaimana perkembangan UMKM kopi dari proses produksi, distribusi, hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi. Namun ironisnya, ternyata Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten yang tertinggal. Fakta ini tertulis pada

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok. Edents

Jadi kalau istilah UMKM itu merupakan sebuah istilah yang relatif baru dan muncul sejak tahun 90-an. Kalau dulu kita lihat di buku-buku teks itu yang lebih dikenal adalah ekonomi rakyat atau Perekonomian rakyat atau Small holder. Jadi diartikan sebagai sebuah sektor yang hanya memiliki permodalan kecil dan usahanya pun juga kecil, Puthut Indroyono, Peneliti Pusat Studi Kerakyatan UGM

Peraturan Presiden nomor 113 tahun 2015 menyebutkan puluhan kabupaten tertinggal di Indonesia, dan Kabupaten Lampung Barat adalah salah satu diantaranya. “Artinya kan sangat ironis, dia menunjukan dukungan yang besar terhadap perekonomian negeri ini tapi ternyata di lain pihak kondisi masyarakat yang ada di sana dan daerahnya sangat tertinggal. Mungkin juga angka kemiskinannya juga tinggi,” tutur Puthut. Fakta ini membuktikan bahwa sebenarnya kendala yang dialami oleh para pegiat UMKM di Indonesia tidak hanya sebatas masalah permodalan, teknologi, dan keahlian saja. Permasalahan yang dialami jauh lebih kompleks, yang terkait dengan sebuah sistem ekonomi yang salah. Puthut menyebutkan bahwa ini terjadi karena adanya ‘sistem ekonomi yang keliru’. Pendirian Sekolah Pasar Berangkat dari upaya perbaikan pilar sumber daya manusia dan pilar institusi dalam UMKM, Pusat Studi Kerakyatan UGM menciptakan Sekolah Pasar. Sekolah Pasar ini beranggotakan 100 orang yang terdiri dari relawan mahasiswa maupun alumni dari berbagai perguruan tinggi. Pendirian Sekolah Pasar ini berangkat dari kegigihan untuk perbaikan UMKM dari aspek sumber daya manusia, aspek intelektualitas, aspek institusi, dan aspek materialnya. Dalam pelaksanaannya, Sekolah Pasar menciptakan sebuah kurikulum agar pelatihan yang dilakukan sifatnya terarah dan dapat memberikan output yang jelas. Sedangkan dari sisi perbaikan institusi, Putut mengatakan bahwa pada saat itu Sekolah Pasar memunculkan sebuah inovasi baru terkait pelayanan delivery order. Meskipun terdapat beberapa kendala, rekayasa institusi menjadi hal yang penting dalam mendorong proses terciptanya inovasi baru. Jadi, Sekolah Pasar berusaha memastikan bahwa programprogram seperti revitalisasi pasar harus berjalan dengan baik, sehingga akan menciptakan inovasi-inovasi baru yang dapat menciptakan daya saing bagi pegiat UMKM kedepannya. (sdw)

7


Ilus. Edents/Henty

LAPORAN UTAMA

Menakar Kebijakan UMKM dan Implementasinya Oleh: Aradeya Tangguh P, Herdini Nur Islamiati

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah menjadi sebuah hal yang cukup diperhatikan oleh pemerintah. Golongan usaha yang kini lebih trendi dengan sebutan startup ini menjanjikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Untuk itu, pemerintah kerap meluncurkan kebijakan-kebijakan terkait UMKM di Indonesia guna menunjang perkembangannya. Sebagai dasar, kebijakan UMKM di Indonesia dilandaskan pada UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Kebijakan-kebijakan terhadap UMKM di Indonesia mencakup perizinan, fasilitas, pelatihan, dan lain sebagainya, termasuk akses kredit. Berdasarkan data Bank Indonesia, hingga tahun 2016 dana kredit UMKM yang telah digelontorkan oleh perbankan mencapai Rp 900,4 triliun. Porsi kredit terhadap UMKM di tahun 2016 berada pada angka 19,98%, angka ini menunjukkan bahwa porsi kredit untuk UMKM masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan porsi kredit ke perusahaan besar atau non UMKM. Peran Pemerintah Dalam perkembangannya, UMKM kerap ditunjang dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Salah satu bentuk nyatanya dalam skala nasional adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang melayani kredit bagi para pelaku UMKM guna menunjang bisnis mereka. Selain itu, kini seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sudah

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

secara langsung mendampingi usaha-usaha kecil yang ada di masyarakat. “Sekarang mereka mau dari yang kota, kabupaten, atau provinsi, mereka sekarang mendampingi UMKM semua,” ujar Aprilia Evy Presetyani selaku Konsultan Advokasi dan Pendampingan UMKM Center Jawa Tengah. Beberapa contohnya adalah pada Dinas Sosial yang mendampingi UMKM bagi penyandang disabilitas dan anak jalanan, juga Badan Narkotika Nasional (BNN) yang membantu para pecandu narkoba mengalihkan ketergantungannya untuk membuat sebuah usaha. Dalam skala regional, khususnya di Kota Semarang, Walikota Semarang telah membuat kebijakan kredit tanpa agunan (jaminan) bagi UMKM yang membutuhkan. “Itu bisa diakses melalui Dinas Koperasi Kota Semarang, di Jalan Pandanaran lantai tujuh, nanti disitu ada brosurnya dibawah 25 juta itu tidak menggunakan agunan,” pungkas Evy. Sebagai tambahan, pemerintah juga membuat pelatihan-pelatihan bagi UMKM yang ada. “Untuk fasilitas dari pemerintah dan kebijakan pemerintah baik dari segi pembiayaan atau fasilitas lain pemerintah juga membuat semacam pelatihan-pelatihan,” tambahnya. Beberapa diantaranya ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) yang ada di daerah Taman Lele dan di Dinas Koperasi yang bertempat di Balai Pelatihan Koperasi (Balatkop) di daerah Setiabudi, Banyumanik. Terkait kebijakan pajak, Evy menuturkan bahwa besarnya pajak yang dibebankan pada UMKM berbeda dengan ketentuan

8


LAPORAN UTAMA

Yang penting bahwa UMKM ini harus diberi link, akses termasuk juga mulai dari pendanaan, promosi, bahan baku, teknologi, termasuk fasilitas-fasilitas yang mereka memungkinkan untuk semakin berkembang, ya,”

Eksekusi Kebijakan di Lapangan Mengamati kebijakan pemerintah, Idris selaku akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menuturkan bahwa kebijakan-kebijakan yang ada terhadap UMKM sudah bagus, hanya saja dalam pelaksanannya di lapangan butuh disempurnakan lagi. “Artinya begini, saya selalu bicara terkait dengan UKM itu harus mulai dari database UKM, database UKM yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dan akuntabel,” ujar Idris. Menurut Idris, akibat database UMKM yang kurang ter-update, dana yang digelontorkan oleh pemerintah hanya menjangkau sebagian UMKM tertentu saja. “Kenapa sebagian tertentu? Karena para pemangku kebijakan, dalam hal ini dinas dan instansi terkait hanya dapat data itu-itu saja,” tambahnya. Ini mengakibatkan usaha-usaha yang belum terdaftar tidak mendapatkan fasilitas yang memadai, meskipun dari segi persyaratan mereka sudah memenuhi kriteria sebagai UMKM. Menilik ke bawah, usaha-usaha mikro dan kecil seperti pedagang kaki lima masih jarang mendapatkan fasilitas maupun dana layaknya UMKM pada umumnya. “Itu yang terus terang saya sedihnya begini, jadi pemerintah dengan berbagai peraturan dan kebijakan yang ada memang diutamakan yang juga sudah memiliki perijinan,” pungkas Idris.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Kebijakan Izin Ekspor Produk-produk UMKM di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menembus pasar ekspor. Dimulainya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk melebarkan sayapnya di pasar internasional. Hanya saja, masih banyak yang tidak tahu dan memahami bagaimana prosedur dan mekanisme yang harus dilalui supaya produknya bisa dieskpor ke luar negeri. Pelaku UMKM masih terkendala dengan adanya peraturan yang terlalu ketat. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), dari total 57 juta UMKM di Indonesia, hanya 15% produk yang sudah diekspor ke luar negeri dan hanya 0,8% yang masuk ke pasar Asia.Selama ini ekspor nasional hanya disumbang dari perusahaan- perusahaan besar, sementara

dok.FE.Undip.ac.id

Penyaluran Kredit Usaha Terkait kredit, Idris menuturkan bahwa kebijakankebijakan kredit yang dikeluarkan oleh pemerintah sebetulnya mudah dijangkau. Hanya saja, pelaku-pelaku UMKM yang ada justru terkadang menginginkan kucuran dana dalam bentuk hibah, sehingga nantinya tidak perlu dikembalikan. “Manja, gitu ya dalam tanda petik,” ujar Idris. Idris menganalogikan para pelaku UMKM sebagai pelajar yang wajib diberi tugas dan ujian untuk mengukur kapabilitas mereka. “Jadi sebetulnya bunga yang harus dibayar oleh pelaku UKM itu sendiri sebetulnya sudah menarik,” imbuhnya. Kredit yang sudah diberikan pun juga sering kali tidak dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya karena kurangnya kontrol dari pemerintah terhadap kredit yang sudah diberikan. Dana yang sudah diberikan bisa jadi digunakan

untuk keperluan sehari-hari dari pemilik UMKM, bukan untuk menunjang bisnis mereka. ”Seharusnya kan uang untuk keluarga, dan uang untuk bisnis, itu dipisahkan, kemudian uang untuk bisnis ada catatannya sehingga ini digunakan untuk apa, dapat darimana, dan seterusnya,” ujar Idris. Kendala dalam eksekusi kebijakan pemerintah dalam UMKM juga ada dalam bentuk birokrasi yang berbelit. Sudah menjadi rahasia umum bahwa birokrasi di Indonesia merupakan hal yang sulit dan menjadi kendala hampir di seluruh aspek dalam kegiatan bermasyarakat. “Misalkan KUR, dari pihak banknya sendiri beberapa wilayah itu kadang mempersulit, tidak mempermudah birokrasinya dari bank tersebut,” ujar Evy.

Idris selaku akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip)

9

Kunjungi! www.lpmedents.com

pajak usaha pada umumnya. Dari segi persentase, beban pajak pada UMKM lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan bisnis lain yang sudah tergolong usaha besar. “Wacananya kalau yang kemarin ini yang sudah berjalan (sebesar) 0,25% terus ini yang kebijakan terbaru pajaknya UKM itu 0,1%,” ujar Evy. Namun, ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut masih dalam proses pembahasan. “Belum diketok palu,” ujarnya.


LAPORAN UTAMA UMKM tidak mengambil peranan yang signifikan.

Selain izin ekspor yang berbelit, upaya untuk mengekspor produk UMKM juga masih terkendala beberapa masalah, terutama menyangkut pembiayaan, kemampuan sumber daya manusia, pemasaran, dan pemenuhan standar perdagangan internasional. Daripada direpotkan oleh persyaratan, UMKM baiknya dibantu oleh pemerintah untuk memasarkan produknya. Salah satunya membuat satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menampung dan memasarkan produk-produk UMKM keluar negeri. Sistem ini pernah diterapkan di Jepang. Nantinya, BUMN ini akan bertindak sebagai penampung produk-produk UMKM. Dengan adanya BUMN ini, UMKM cukup fokus untuk membuat produk yang berkualitas, tanpa harus dipusingkan oleh pemasaran.

perijinan-perijinan sederhana, sampai mungkin pembinaan, pendampingan, monitoring dari kegiatan yang seharusnya sebuah kegiatan unit bisnis itu harus punya atau harus ada, seperti itu,” imbuhnya. Ke depannya, Idris berharap fokus pemerintah dalam membuat kebijakan terhadap UMKM tidak hanya pada akses pembiayaan saja, namun harus mencakup seluruh aspek. “Yang penting bahwa UMKM ini harus diberi link, akses termasuk juga mulai dari pendanaan, promosi, bahan baku, teknologi, termasuk fasilitas-fasilitas yang mereka memungkinkan untuk semakin berkembang, ya,” pungkas Idris. Sementara, selain pemerintah yang berperan dalam mengeluarkan sebuah kebijakan, Evy berharap UMKM yang ada juga harus mau untuk selalu belajar. “Jangan hanya puas dengan hasil yang sekarang tapi harus bisa mengejar yang lebih dan lebih lagi. Intinya mau untuk belajar. Pengusaha besar pun masih tetap belajar,” ujar Evy. (sdw)

dok. Edents

Proteksi dan Proyeksi Salah satu kendala berkembangnya UMKM di Indonesia adalah masih banyaknya produk impor. Menurut Evy, kebijakan proteksi terhadap produk impor di Indonesia masih kurang intens.

“Belum ada proteksi secara intens untuk memproteksi masuknya impor, wong dari dulu aja impor,” pungkas Evy. Untuk itu, arah kebijakan saat ini adalah bagaimana pemerintah bisa mengedukasi UMKM yang ada agar dapat bersaing dengan produk impor. “Maka dari itu karena tidak ada proteksi jadi kita (UMKM Center, red) yang memberikan edukasi kepada UKM supaya produknya layak dan bisa menyaingi produknya luar negeri,” tambahnya. Idris mengungkapkan bahwa ke depannya ia tetap menaruh perhatian database UMKM yang ada agar kebijakan pemerintah bisa merata. “Saya masih concern bagaimana pemerintah memperbaiki database,” ujar Idris. Menurutnya, jika pemerintah mengalami kesulitan dalam menjangkau UMKM yang tersebar luas di banyak daerah di Indonesia, pemerintah dapat menggandeng perguruan tinggi untuk mewujudkannya. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah bahwa dalam perguruan tinggi terdapat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk meningkatkan akses UMKM. “Nah nanti di sana bisa dikembangkan mulai dari database, kemudian administrasi,

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

10


Digitalisasi UMKM: Bantu Indonesia Wujudkan Digital Energy of Asia 2020 Oleh : Cynthia Farah Sakina, Dias Wahyu Rawikarani, Sequoia Mohammad Satrio Ramadhon

Dewasa ini, tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan teknologi sudah masuk dan menyusup pada setiap lapisan kehidupan manusia. Teknologi pun sudah dianggap sebagai salah satu faktor produksi yang vital pada setiap sektor yang tidak menutup kemungkinan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Koperasi dan UMKM akan mengalami ketertinggalan apabila tidak segera melakukan inovasi di bidang teknologi informasi, khususnya dalam melayani anggotanya. Penerapan teknologi pada sistem kerja koperasi merupakan salah satu bagian dari program Reformasi Total Koperasi yang sudah digulirkan Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM). Reformasi total ini bertujuan untuk mengembangkan potensi koperasi. Reformasi Koperasi meliputi rehabilitasi koperasi, reorientasi koperasi, dan pengembangan koperasi. Tujuannya adalah untuk membangun koperasi yang berkualitas. Salah satu kontribusi nyata UMKM adalah sebagai penyedia lapangan pekerjaan. "Di Indonesia, UMKM selain berperan dalam pertumbuhan pembangunan dan ekonomi, juga memiliki kontribusi yang penting dalam mengatasi masalah pengangguran," ucap Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang UMKM, Koperasi, dan Ekonomi Kreatif, Erik Hidaya. Dengan banyaknya tenaga kerja yang diserap, Kadin menilai sektor UMKM mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, UMKM dianggap memiliki peran strategis dalam memerangi kemiskinan, dan pengangguran. Akan tetapi, hal ini belum

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dioptimalkan secara baik di Indonesia. Hal ini tercermin dari kontribusi sektor UMKM terhadap ekspor Indonesia tahun lalu hanya 15,8 persen. Angka tersebut tertinggal jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya, Thailand sebesar 29,5 persen dan Filipina dengan angka 20 persen. Gandeng Generasi Muda Kementerian Koperasi dan UKM mengajak generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan dalam berbisnis. Inovasi bisnis itu harus didukung dengan kemampuan Teknologi Informasi (TI) sehingga bisa memasarkan produk mereka secara digital. Siapa pun yang tidak mengikuti arus digital ini dengan sendirinya akan tertinggal. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pasar potensial untuk memasarkan produk UMKM. Pasar ini akan bisa berkembang lebih besar lagi jika ada sentuhan kreativitas dan jiwa wirausaha. Pada akhir tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen. Sehingga bila UMKM dapat berkembang ke arah digital secara signifikan, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kemenkop dan UKM memiliki beberapa program menuju digital economy, antara lain pendaftaran badan hukum secara online. Pelatihan SDM UMKM dan mahasiswa (vocational training) sebagai techno preuner. Ada pula program financial technology untuk para start-up business dan pendaftaran UMKM sebagai merchant di berbagai market place lainnya.

11

dok. ayobandung.com

LAPORAN UTAMA


LAPORAN UTAMA

Pihak Kemenkop UKM telah mendorong tumbuhnya pelaku UMKM digital di tanah air sehingga target Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai digital energy of Asia pada tahun 2020, dapat tercapai

Kampung Digital Di era digital seperti saat ini, siapa pun dapat dengan mudah melakukan bisnis. Karena berbisnis di era sekarang tidak memerlukan toko atau armada angkutan lagi akibat adanya e-commerce. Kemenkop dan UKM sendiri sudah merintis kampung digital untuk menampung produk-produk UMKM. Pihak Kemenkop UKM telah mendirikan Pusat Layanan Unit Terpadu (PLUT) yang tersebar di beberapa kota dan sistem pemasarannya menggunakan teknologi informasi. Kemenkop UKM juga memiliki Galeri Indonesia Wow yang bisa digunakan untuk pameran produk Indonesia dan kreasi generasi muda, semuanya berbasis e-commerce. Pihak Kemenkop UKM telah mendorong tumbuhnya pelaku UMKM digital di tanah air sehingga target Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia sebagai digital energy of Asia pada tahun 2020, dapat tercapai. Saat ini, jumlah pelaku UMKM yang sudah go online sebanyak delapan juta unit. Kemampuan berbisnis harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata. Digitalisasi bukan semata sebuah peralatan, tetapi digitalisasi adalah sebuah perubahan pola pemikiran. Perlu dilakukan kerjasama dengan para stakeholder untuk dapat menyamakan visi dan misi pengembangan gerakan digital. Prospek Penerapan TI Seperti kita ketahui beberapa UMKM di Indonesia sudah menerapkan Teknologi dan Informasi pada usahanya, terutama pada aspek pemasaran. Teknologi dan Informasi sendiri berperan penting untuk menjangkau pasar yang diinginkan oleh para pengusaha UMKM. Meskipun teknologi berperan penting dalam aspek pemasaran, akan tetapi pada aspek lainnya seperti aspek produksi, penerapan TI ini masih belum bisa dilakukan dan para pengusaha lebih memilih melakukan produksinya menggunakan cara tradisional. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) Semarang, Firmansyah, menjelaskan alasan tidak diterapkannya TI pada aspek produksi karena sifat UMKM yang didirikan dekat dengan sumber daya. “Misalnya pengusaha gula tebu, gula kristal itu basis produksinya nggak jauh-jauh dari tempat usahanya. Petani-petani penyedia sumber daya itu sendiri masih beroperasi menggunakan cara yang tradisional, itulah mengapa teknologi lebih banyak digunakan pada aspek pemasaran,.” jelasnya. Teknologi juga dipandang tidak efisien jika diterapkan pada aspek produksi karena para pengusaha UMKM lebih memilih untuk berkomunikasi langsung dalam melakukan produksi usahanya. Kelebihan dan Kelemahan Penerapan TI dalam UMKM Pada zaman modern saat ini, para pengusaha dituntut

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

untuk bisa berkembang mengikuti zaman agar bisa menjangkau pasar-pasar yang lebih luas dan besar. Jika pengusaha bisa meraih pasar yang lebih besar, tidak menutup kemungkinan pengusaha itu mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Teknologi juga dapat memudahkan pekerjaan para pengusaha agar lebih mudah berkomunikasi dengan konsumennya. Meskipun memiliki potensi yang besar jika menerapkan TI ke dalam usahanya, TI juga dapat menimbulkan potensi kerugian, misalnya produk dapat dengan cepat ditiru pihak lain.

Potensi Plagiasi Produk Produk yang dihasilkan oleh UMKM dapat dengan mudahnya ditiru oleh perusahaan kompetitor, semuanya merupakan dampak kerugian akibat adanya teknologi. Maka dari itu, perlu adanya pembatasan publikasi data oleh perusahaan, ”Biasanya UMKM itu keunggulannya di kekhasan (produk), itu dapat dengan cepat produknya diketahui atau diplagiat oleh orang lain maupun pesaing, kan itu terbuka foto-fotonya, modelnya terbuka sangat luas. Jadi kecepatan informasi itu dapat membuat kecepatan ditiru oleh pesaingnya. Dan itu membuat UMKM harus dengan cepat membuat inovasi. Jadi potensi kelemahannya ada, yaitu informasi yang sangat cepat itu dapat dimanfaatkan oleh lawan dengan cepat pula, dan itu membuat UMKM harus mengeluarkan ‘biaya’ untuk segera berinovasi supaya dia dapat bertahan di pasar.,” jelas Firmansyah. Untuk menghidari kerugian itu, para pengusaha harus dengan cepat membuat inovasi-inovasi baru agar bisa bersaing dengan pengusaha lain. Inovasi itu bisa berupa keunikan dan kekhasan pada produk mereka. Di Indonesia sendiri, kini keberadaan UMKM sudah mulai menjamur. Peran serta pemerintah untuk mengembangkan UMKM terlampau sudah mulai berbuah manis. Untuk mempertahankan keberadaan UMKM di Indonesia tersebut, pemerintah kini mulai gencar menyosialisasikan penerapan TI dalam dunia UMKM, dengan alasan utama yaitu sebagai wadah branding dari produk yang dihasilkan dari UMKM tersebut. Dewasa ini, menurut Firmansyah, sudah mulai jamak terlihat UMKM yang mulai menerapkan TI dalam usahanya. Teknologi pemasaran merupakan salah satu penerapan TI yang lumrah terjadi dalam dunia usaha mikro kecil dan menengah ini, “Sekarang sudah jamak UMKM yang menggunakan teknologi pemasaran, jamak tuh maksudnya banyak sekali, misalnya menjualnya melalui Tokopedia, Bukalapak ataupun media internet lainnya.” Penerapan TI dalam dunia UMKM sejatinya dapat menjadi pemantik pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Terdapat beberapa kelebihan serta kelemahan dalam penerapan TI dalam dunia UMKM sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Firmansyah, dengan menerapkan teknologi maka akan membuat pekerjaan menjadi lebih efisien, terlebih dalam

12


LAPORAN UTAMA proses produksi sampai dengan penjualan, dalam kasus usaha UMKM ini.

Memperluas Jangkauan Pasar Keberadaan teknologi, membuat jangkauan pasar menjadi lebih luas dan besar sehingga ranah pemasaran produk yang dihasilkan akan lebih mudah serta efisien, dengan adanya hal tersebut tentunya akan membuat perekonomian serta kondisi perusahaan akan meningkat dan jadi lebih baik. Senada dengan hal tersebut pula, dengan adanya penerapan teknologi dalam dunia usaha khususnya UMKM, maka diharapkan dari perusahaan yang bersangkutan akan mengalami peningkatan keuntungan atau laba yang diperoleh, dikarenakan ranah pemasaran atau distribusi yang lebih luas dan besar tersebut, “Teknologi yang pastinya mengefisienkan pekerjaan dari produksi dan penjualan. Selain itu teknologi juga mampu menjangkau pasar yang luas dan besar, jadi pertumbuhan perusahaan menjadi pesat, jadi begitu pula dengan keuntungan yang mengikuti.,� jelasnya. Firmansyah menilai, hingga dewasa ini sudah terlampzu banyak perusahaan yang menerapkan teknologi sebagai penunjang pertumbuhan perusahaan tersebut, bahkan sudah banyak perusahaan yang mulai mengembangkan aplikasi pengolah database maupun social media sendiri. Ia menambahkan bahwa, pemanfaatan teknologi kini sejatinya merupakan sesuatu yang free atau gratis, walaupun ranah atau jangkauan penggunaan teknologi terlampau sangat luas. Hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan hanyalah batasan publikasi data perusahaannya saja. Harapan dari Penerapan TI dalam Dunia UMKM Penerapan TI dalam UMKM, seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, menarik minat untuk mengulik lagi lebih dalam bagaimana cara kerja TI dalam dunia usaha Banyak pendapat yang muncul bahwa penerapan TI seperti dua mata pisau yaitu memiliki sisi positif maupun negatif. Seperti yang telah dijabarkan, sisi positif dari penerapan TI dalam dunia UMKM yaitu membuka seluas-luasnya pasar persaingan serta dapat meningkatkan keuntungan perusahaan. Akan tetapi, sisi negatif dari penerapan TI di UMKM ini yaitu adanya ancaman plagiarisme produk oleh perusahaan lain. Tentu banyak harapan yang dipanjatkan setelah penerapan TI ini mulai digencarkan. Firmansyah berharap agar nantinya dalam penerapan TI ini, masyarakat maupun pelaku usaha lebih memperhatikan etika dalam penggunaannya. Selain itu, baik masyarakat maupun pelaku usaha diimbau untuk menggunakan transaksi online yang memang telah terpercaya dan memiliki catatan yang baik. Dalam hal plagiarisme, Firmansyah mengungkapkan bahwa masyarakat maupun pelaku usaha lainnya harus lebih memperhatikan bahaya penjiplakan atau pembajakan karya serta produk yang dihasilkan, karena selain itu merugikan bagi pelaku usaha, hal tersebut juga merugikan bagi diri sendiri, “Dalam penerapan TI jangan main-main dalam hal pembajakan itu bawaannya ke bencana dan penjara, tidak hanya berdampak ke perusahaan, tapi juga konsumen kena juga,� ungkapnya. (sdw)

dok. Edents EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

13


LAPORAN UTAMA

Sengkarut Polemik UMKM di Indonesia Oleh : Akhmad Sadewa, Dewi Setyoningrum, Henty Eka P

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau yang biasa disebut UMKM merupakan pelaku bisnis yang bergerak pada berbagai bidang usaha, yang secara langsung menyentuh kepentingan masyarakat. UMKM telah diatur secara hukum melalui UndangUndang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Di Indonesia, UMKM saat ini dianggap sebagai cara yang efektif dalam mengentaskan kemiskinan. Selain sebagai salah satu alternatif penyedia lapangan kerja baru, UMKM juga berperan dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi pasca krisis moneter tahun 1998 (pada saat itu masih bernama Usaha Kecil Menengah/UKM).

Hadapi Fenomena Paradoks Jumlah pelaku UMKM di Indonesia dilaporkan mencapai 49 juta dan diprediksi menyerap lebih dari 107 juta tenaga kerja. Kontribusi sektor UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pun semakin meningkat dalam lima tahun terakhir. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mencatat lonjakan dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen di tahun 2016. Kendati demikian, UMKM di Indonesia seakan mengalami fenomena paradoks. Di balik semua potensi dan sumbangsih UMKM terhadap perekonomian nasional, UMKM di Indonesia masih menghadapi berbagai polemik dan permasalahan, baik dari segi internal maupun eksternal. Puthut Indroyono selaku peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengatakan bahwa ada banyak faktor yang menghambat perkembangan UMKM dalam negeri. “Jadi yang regulasi tidak memberikan akses. Nah selain itu banyak faktor, umumnya modal, ilmu pengetahuan, keahlian, dan akses teradap pasar. Jadi kalau melihat mengapa UMKM jadi seperti itu (sulit berkembang –red) ya kita harus melihatnya secara utuh, kalau dalam teks umunya hanya menyangkut pada faktor-faktor yang

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok. Edents

sifatnya mikro yang kaitanya dengan permodalan, teknologi, akses pasar,” ujar pria kelahiran Temanggung, 2 Desember 1966 ini. Regulasi yang Menghambat Faktor pertama yang menghambat pertumbuhan UMKM domestik adalah faktor regulasi. Regulasi dan perizinan di Indonesia sangat berbelit-belit dan terkesan memberatkan pelaku UMKM dalam negeri. “Dalam kenyataanya, kondisinya memang seperti itu. Jadi aturan yang ada tidak memberikan kesempatan atau justru semakin meminggirkan usaha yang dalam kategori ekonomi rakyat seperti UMKM,” ungkap Puthut. Misalnya saja untuk standarisasi produk menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Standarisasi memang dibutuhkan supaya produk-produk domestik mampu bersaing dengan produk dari luar. Akan tetapi masalahnya tidak semua pengusaha kecil memiliki SNI pada produknya. Selain itu, prosedur untuk mengajukan SNI juga sangat kompleks. Modal Material, Modal Manusia, dan Modal Sosial Faktor kedua adalah kepemilikan modal. Pada usaha yang telah berjalan, modal menjadi kendala lanjutan untuk berkembang. Lembaga keuangan bank adalah sumber modal terbesar yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Namun, untuk mengakses modal ke bank, para pelaku UMKM dituntut untuk menyajikan proposal pengajuan modal usaha yang feasible (layak/menguntungkan). Namun menurut Puthut, modal bukan hanya sebatas uang, tetapi modal juga berupa modal manusia dan modal sosial. “Yang dimaksud modal itu ada tiga. Yang pertama itu kaitanya dengan material termasuk fisik, uang, tanah, peralatan. Lalu modal yang kedua itu pelakunya atau SDM (Sumber Daya Manusia –red) tapi lebih ke modal

14


LAPORAN UTAMA

“Jadi yang regulasi tidak memberikan akses. Nah selain itu banyak faktor, umumnya modal, ilmu pengetahuan, keahlian, dan akses teradap pasar. Jadi kalau melihat mengapa UMKM jadi seperti itu (sulit berkembang –red) ya kita harus melihatnya secara utuh, kalau dalam teks umunya hanya menyangkut pada faktor-faktor yang sifatnya mikro yang kaitanya dengan permodalan, teknologi, akses pasar,”- Puthut Indroyono, Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta manusianya (human capital), terus yang berikutnya adalah modal sosial (social capital) atau biasanya orang menyebut institusional capital seperti halnya lembaga,” imbuh Puthut. Dari ketiga modal tersebut, lanjut Puthut, modal manusia dan modal sosial sering kali dilupakan dan hanya berfokus bagaimana mendapatkan modal fisik.” Jadi ketika modal ini menurut analisis kami di berbagai macam sektor seperti perdagangan dan juga pertanian, ada 2 modal yang lain tidak pernah disentuh,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Mubyarto Institute ini. Ia kemudian memberi contoh mengenai pentingnya modal sosial untuk mengembangkan UMKM. Pada tahun 2012, ia beserta tim melakukan penelitian terhadap 15 pasar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), salah satunya adalah Pasar Kranggan di dekat Monumen Jogja Kembali (Monjali). Di sana, ia beserta tim melakukan penelitian untuk mengidentifikasi aspek kelembagaan mulai dari lurah pasar, asosiasi pedagang, dan juga koperasinya. Hasilnya, apa yang dilaporkan lurah pasar dengan keadaan yang sebenarnya sangat berbanding terbalik. “Saat kita cek ke Pak lurah mengenai perkembangan Pasar Kranggan, dan jawabnya pun bagus. Dari waktu ke waktu pendapatan dari retribusinya naik. Selalu itu yang dipikirkan. Tapi kalau kondisi lingkungan masih kotor, biasanya menyalahkan pedagang karena ulah yang tidak tertib,” tutur Puthut. Kesenjangan antara pelaku pasar dengan pemangku pasar di sana juga cukup tinggi Rendahnya Keterampilan Pelaku UMKM Permasalahan ketiga adalah mengenai keahlian dan keterampilan pelaku UMKM. Seorang pengusaha haruslah memiliki keterampilan baik keterampilan dalam menjalankan bisnis maupun mengelola keuangan. Akan tetapi keterampilan pelaku UMKM di Indonesia masih tergolong rendah yang pada akhirnya menciptakan manajemen usaha yang buruk. UMKM di Indonesia cenderung juga stagnan dan kurang inovasi “UMKM itu dari waktu ke waktu ya seperti itu saja jadi tidak ada upskill, tidak ada kegiatan meningkatkan aktivitas dalam kegiatan berpikir dari kapasitas keahlianya. Itu kondisinya kan seperti itu,” ungkap Puthut. Masalah utama lainnya adalah kemampuan produksi UMKM domestik yang masih kalah dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini mengakibatkan produk UMKM domestik menjadi kalah saing dengan produk UMKM Negara Asia Tenggara. Jika dengan Negara Asia Tenggara saja produk UMKM kita tidak dapat bersaing, bagaimana produk UMKM dapat bersaing dengan produk UMKM dari seluruh dunia.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Hadapi Serbuan Ritel Modern Permasalahan yang tidak kalah penting adalah masalah aksesbilitas pasar produk UMKM, baik itu pasar domestik maupun pasar ekspor. Di dalam negeri, UMKM menghadapi akses pasar yang terbatas. Kemitraan usaha kecil dengan industri skala besar juga masih relatif rendah. Hal ini mengakibatkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional hanya sekitar 6,3%, masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 42,6%. Produk UMKM juga menghadapi persaingan dengan ritel modern. Menurut Buku ‘Menahan Serbuan Pasar Modern’, yang diterbitkan oleh Lembaga Ombudsman Swasta DIY, menyebutkan bahwa pertumbuhan ritel modern mencapai angka positif 31,4% per tahun. Angka yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan toko tradisional yakni minus 8,1% pertahun. Dominasi ritel modern dengan modal besar adalah fenomena negara berkembang. Keadaan ini akan berimbas pada petani dan UMKM yang menggantungkan toko tradisional sebagai tempat untuk menampung hasil produksinya. Menjamurnya mal-mal dan ritel modern hingga ke pelosok desa hanya akan menumbuhkan gaya hidup konsumtif yang pada akhirnya melemahkan modal sosial masyarakat. Fasilitas yang ditawarkan ritel modern bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ritel membawa manfaat bagi masyarakat berupa kepraktisan dan kenyamanan tetapi di sisi lain kenyamanan tersebut akan menyebabkan stagnansi produksi akibat terkikisnya modal sosial. Oleh sebab itu, pemerintah di negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Korea Selatan telah membatasi ekspansi ritel modern luar negeri yang melemahkan budaya produksi karena surutnya modal sosial. Izin Ekspor yang Berbelit Saat ini, masih banyak produk UMKM yang hanya bisa dipasarkan di lingkup nasional. Padahal, mutu dan kualitas produk mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu keunggulannya adalah produk UMKM Indonesia adalah buatan tangan (handmade) dan memiliki ciri khas daerah asal. Akan tetapi, keunggulan ini harus kalah dengan regulasi. Produk UMKM juga menghadapi masalah izin ekspor yang terlalu ketat. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), dari total 57 juta UMKM di Indonesia, hanya 15% produk yang sudah diekspor ke luar negeri dan hanya 0,8% yang masuk ke pasar Asia Pemerintah berusaha untuk menggenjot ekspor produk UMKM tetapi di saat yang sama justru mempersulit dengan

15


aturan yang berbelit. Selain izin yang sulit, minimnya jaringan (link) pemasaran di luar negeri juga menghambat produk UMKM Indonesia menembus pasar internasional. Jika tidak diantisipasi dengan baik, momentum pasar bebas akan menjadi boomerang bagi keberlangsungan pelaku UMKM nasional. Keterbatasan lainnya yakni berupa kendala penyesuaian pasar dimana UMKM belum memiliki kemampuan untuk melakukan ekspor secara sendiri. Terdapat pula kendala persaingan antara lain standarisasi, sertifikasi, pengemasan, dan pelabelan.

Kembali Pada Konstitusi Polemik pengembangan UMKM di Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil untuk ditanggulangi. Puthut mengatakan bahwa sudah saatnya pemerintah mengembalikan regulasi/ peraturan yang merujuk pada konstitusi. “Mestinya kita kembali kepada aturan yang ada. Terutama yang merujuk pada aturan main konstitusi atau menurut aturan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan. Jadi, sejauh mungkin sistem ekonomi harus didorong ke arah usaha bersama,� terangnya. Berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan. Pasal inilah yang sejatinya diharapkan dapat melindungi perekonmian rakyat, bahkan perekonomian nasional. Ia lalu memberi contoh bagaimana pelaku usaha di Amerika Serikat (AS) dengan usaha di Inggris. Pelaku usaha di AS cenderung lebih individualis sementara pelaku usaha di Inggris lebih mengusung asas kolektif atau kebersamaan. Penguatan Sistem Kelembagaan Solusi berikutnya adalah pembenahan dan penguatan sistem kelembagaan UMKM. Hal ini dapat diwujudkan dengan mendorong pelaku UMKM untuk berinteraksi secara aktif dengan melakukan kritik dan masukan terkait aturan atau kebijakan UMKM. Yang kedua, adalah dengan mengusung asas kebersamaan dalam menjalankan usaha. “Mestinya gagasan dalam pengembangan kelembagaan usaha kecil tadi sebenarnya yang dimiliki adalah pelakunya. Semestinya pedagangnya

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

itu dihimpun untuk melakukan pembelian secara bersamasama,� ujar Puthut. Kreativitas dan inovasi melalui dukungan penelitian wajib dilakukan, baik dari segi produksi maupun pemasaran. Kerjasama dan pembentukan jejaring bisnis, baik di dalam maupun luar negeri, baik dengan sesama UMKM maupun dengan pelaku usaha besar juga penting dikembangkan.

Ciptakan Produk Berdaya Saing Ekspor Pasar bebas menjadi peluang yang bagus bagi UMKM untuk menjangkau pasar internasional. Selain pembenahan regulasi, pelaku UMKM juga perlu meningkatkan kualitas produknya guna bersaing di pasar ekspor. Administrasi dan manajemen yang profesional perlu disiapkan sejak bisnis dimulai. Persiapan dalam hal ini sangat diperlukan manakala sebuah bisnis UMKM memutuskan untuk meluaskan pasar dengan melakukan ekspor barang. UMKM juga memerlukan legalitas usaha, baik berupa Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan dokumen legalitas ekspor. Dan yang terpenting adalah menentukan kualitas produk yang akan diekspor dan pemilahan produk yang khusus untuk konsumsi pasar lokal.

Mempertahankan Eksistensi Pasar Tradisional Cara terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan mempertahankan eksistensi pasar tradisional di tengah serbuan ritel modern. Pasar tradisional merupakan tempat yang berpotensi menjadi etalase bagi pelaku UMKM untuk menjual produk mereka. Pasar tradisional juga merupakan tempat yang mencerminkan tenaga produksi lokal dan nasional, yang perlindungannya pun diarahkan untuk melindungi kapasitas produksi nasional. Modal sosial dalam lingkup pasar tradisional juga potensial untuk didayagunakan. Revitalisasi pasar tradisional diyakini mampu meningkatkan produktivitas perekonomian lokal dengan mengedepankan pemberdayaan koperasi. Sehingga ke depan pengelolaannya tidak lagi dilakukan oleh pemerintah daerah, melainkan oleh koperasi. (sdw)

16


Wisata Semarang

dok. Edents

Oleh : Akhmad Sadewa

Melihat Keberagaman Jawa Tengah di Puri Maerakaca Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Provinsi ini terdiri atas 29 kabupaten dan 6 kota. Meski mayoritas dihuni oleh Suku Jawa, setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki kebudayaannya masing-masing. Keberagaman budaya Jawa Tengah dapat kita saksikan di salah satu objek wisata andalan Kota Semarang, yakni Puri Maerakaca. Objek wisata yang terletak 5 kilometer dari tugu muda ini akan menampilkan kebudayaan dan ciri khas dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, mulai dari rumah adat, pakaian adat, tarian, hingga bangunan ikonik.

Berasal dari Epos Mahabarata Puri yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 31 Juli 1993 ini berasal dari salah satu bagian Epos Mahabarata. Nama Puri Maerakaca diambil dari salah satu bagian epos Mahabarata yang menceritakan tentang keinginan salah seorang dewi memiliki seribu bangunan dalam waktu satu malam. Pembangunannya sendiri diresmikan oleh Gubernur Ismail pada tahun 1980. Taman Mini Jawa Tengah Puri Maerakaca benar-benar dirancang untuk menggambarkan kondisi geografis wilayah Jawa Tengah. Di sebelah sisi utara dan sisi selatan ada dua danau, yang menggambarkan kondisi Jawa Tengah yang diapit Laut Jawa dan Samudera Indonesia. Sementara di sisi barat dan sisi timur ada lahan kosong yang ditanami tanaman langka. Lahan ini simbol Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur yang merupakan provinsi yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Di Puri Maerakaca terdapat anjungan dan miniatur rumah adat dari 35 Kabupaten/Kota se-JawaTengah. Di dalam rumahrumah tersebut dipajang hasil–hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing–masing daerah. Di dalam anjungan juga terdapat display pakaian adat dan potensi pariwisata dari masing-masing daerah. Selain itu, di Puri Maerakaca juga menampilkan ciri khas dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah seperti replika Tugu Muda di anjungan Kota Semarang, patung tukang sate di anjungan Blora, dan tugu jangkar di

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Miniatur Menara Kudus

anjungan Kota Tegal. Selain menampilkan miniatur rumah adat dari kabupaten/kota se-Jawa Tengah, di Puri Maerakaca juga terdapat miniatur bangunan peninggalan sejarah, seperti miniatur Candi Sukuh, miniatur Menara Kudus, miniatur Masjid Demak, miniatur candi Pawon, dan miniatur Candi Borobudur.

Fasilitas Penunjang Konsep dari Puri Maerakaca ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Menampilkan berbagai macam kebudayaan namun dengan ruang lingkup yang lebih sempit, terbatas hanya wilayah Jawa Tengah. Oleh karena itu, Puri Maerakaca juga sering disebut Taman Mini Jawa Tengah. Selain menampilkan rumah– rumah adat, objek wisata ini dilengkapi juga dengan fasilitas rekreasi air seperti sepeda air, perahu, juga kereta bagi pengunjung. Tempat ini juga dilengkapi dengan musola bagi yang ingin menunaikan solat. Bagi pengunjung yang ingin masuk akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 7000 pada hari biasa dan Rp 8000 pada hari libur. Puri Maerakaca adalah tempat yang tepat untuk mengenal budaya Jawa Tengah lebih dalam. (sdw)

17


POLLING Peran UMKM Dalam Menopang Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Oleh : Mariani UMKM adalah peluang usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur oleh undang-undang. Menurut Undang-undang Nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, mendeeinisikan UMKM sebagai usaha kecil yang memiliki aset di luar tanah dan bangunan sama atau lebih kecil dari Rp 200 juta dengan omset tahunan hingga Rp 1 miliar. Sedangkan pengertian usaha menengah ialah badan usaha resmi yang memliki aset antara Rp 200 juta sd Rp 10 miliar. Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPM Edents mengadakan jajak pendapat pada 100 responden dari mahasi mahasiswa Strata satu (S1) dan program DIII Universitas Diponegoro. Jajak pendapat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa mengenai UMKM serta peranannya pada perekonomian di Indonesia.

1

2

3 Berdasarkan hasil survei, 97 dari 100 mahasiswa Undip mengerti mengenai UMKM di Indonesia. Sebanyak 39 responden mengatakan bahwa ia mengetahui UMKM dari sosial media dan 35 responden mengetahui UMKM dari televisi. 86 responden yakin bahwa UMKM dapat mengurangi kesenjangan ekonomi di Indonesia dan 100 responden setuju jika UMKM tetap dikembangkan di Indonesia.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

18


POLLING

5

POLLING

Mahasiswa Undip juga mengatakan bahwa pemerintah telah berperan aktif mengembangkan UMKM (52%) dan (48%) mengatakan sebaliknya. Dalam peningkatan ekonomi di Indonesia, 93 responden yakin jika UMKM dapat membantu meningkatkan ekonomi di Indonesia. Ditanya soal usaha pemerintah dengan memberikan bantuan modal kepada masyarakat untuk mengembangkan UMKM, 88 responden mengatakan setuju, 11 responden ragu-ragu dan 1 responden mengatakan tidak setuju. Permasalahan utama UMKM di Indonesia ialah (50%) daya saing, (26%) pemasaran dan (24%) modal. Dari 100 responden, 52 mahasiswa memahami klasiii klasiiikasi dan jenis-jenis UMKM.

6

4

Responden mengatakan untuk mendukung kemajuan UMKM di Indonesia perlu meningkatkan potensi diri, menggali kreatiiitas dan inovasi lebih dalam, menciptakan produk berdaya saing tinggi dengan mutu dan kualitas yang baik, berkontribusi aktif pada usaha pengembangan UMKM, minimalisir penggunaan produk luar negeri. Responden juga menyarankan UMKM di Indonesia agar setiap daerah yang memiliki potensi perlu dikembangkan kembali, baik dari segi sumber daya manusia maupun dalam hal pengembangan soft skill berwirausaha. Selain itu, juga diperlukan sosialisasi dari pihak pemerintah mengenai sistematika dalam pengajuan permodalan kepada pihak perbankan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketidaktahuan masyarakat perihal pengajuan modal untuk mengembangkan usaha UMKM. Pemerintah seharusnya lebih mensosialisasikan peraturan tentang UMKM, dan mengadakan pelatihan terutama dalam standar operasional agar lebih higienis atau bersih dalam pengemasan serta proses produksinya, pembelajaran teknik pemasaran sehingga berpengaruh terhadap daya saing dengan produk sejenis lainnya melalui berbagai media khususnya elektronik agar barang yang dijual dapat diketahui banyak orang bukan hanya disekitar lingkungan usahanya saja dan perizinan usaha yg dapat dilakukan dengan cepat serta birokrasi yang tidak rumit. (sdw)

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

1914


Tentang Mereka

dok. Edents

Sepercik Kisah Idealisme dan Loyalitas dari Mantan Edents Oleh: Arvita Kusuma dan Fendiawan Adams

Ketika idealisme sudah tidak ada di teman-teman Edents, ya bubar lah. – Edi Supeno – Lembaga Pers Mahasiswa Edents (LPM Edents) adalah salah satu organisasi mahasiswa yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB UNDIP) yang bergerak di bidang jurnalistik. LPM Edents sudah berdiri selama 41 tahun dan merupakan salah satu organisasi tertua di FEB Undip. Sejak pertama kali berdiri hingga sekarang banyak alumni Edents atau yang biasa disebut mantan Edents yang telah diberi amanah untuk menduduki jabatan penting baik di lembaga pemerintahan maupun swasta. Edi Supeno adalah salah satu dari sekian banyak mantan Edents. Ia sekarang bekerja sebagai kepala subbagian tata usaha di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang. Ketika masih aktif di Edents tahun 90-an, Edi menjabat sebagai Pemimpin Umum (PU) Bangkitkan Edents dari ‘Mati Suri’ Di awal cerita Edi mengatakan bahwa sebelum aktif di Edents ia sudah terjun di dunia jurnalistik dan sudah aktif menulis di beberapa media cetak. Awal mula keikutserataannya di Edents bermula dari ajakan kakak tingkatnya, Dwi Tri Waluyo. Karena Edents tengah mati suri kala itu maka timbullah gagasan dari Dwi untuk menghidupkan Edents kembali. Dwi kemudian merekrut mahasiswa - mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan Edents. Setelah terkumpul beberapa mahasiswa dan Edi salah satunya, diadakanlah rapat untuk membentuk kepengurusan. Dari hasil rapat, Edi ditunjuk menjadi redaktur pelaksana bersama Maman Karnyaman dan Imanul Yaqin, sementara Dwi menjabat sebagai Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi. Ketika masa jabatan Dwi habis, Edi kemudian ditunjuk untuk menggantikan Dwi sebagai Pemimpin Umum. Edi menuturkan bahwa di awal kepengurusannya ia dan para Edentser (sebutan untuk anggota Edents –red) cenderung lebih aktif untuk menghidupkan Edents yang telah lama mati suri. Ia menyadari bahwa menghidupkan sesuatu yang ‘mati’ tidaklah mudah. Berbagai hambatan mulai dari terbatasnya anggaran, peralatan menulis hingga tidak adanya ruang sekretariat untuk melangsungkan kegiatan Edents. “Tantangannya luar biasa sekali. Tahun 90-an itu kan nilai kuliah juga masih sedang. Ya pokoknya banyak lah rintangannya. Jarang orang kuliah lima tahun lulus zaman segitu. Enam, tujuh, delapan tahun itu sudah biasa,” kata Edi. Motivasi Bergabung Keadaan Edents yang memprihatinkan membuat Edi merasa dibutuhkan oleh Edents pada saat itu. Ia juga berpikir jika dirinya dan teman-teman yang lain tidak menanganinya, Edents tidak akan hidup kembali. Oleh karena itu, Edi ingin melakukan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

perubahan, mulai dari mengganti majalah yang kecil sepeti buku diganti menjadi ukurannya lebih besar. Edi dan teman-teman juga meminta ke pihak fakultas agar Edents diberi sekretariat. Dan akhirnya pihak fakultas memberikan sebuah ruangan kecil di area Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) sebagai seketariat.

Rutinitas di Edents Awal kegiatan di Edents, Edi lebih fokus menulis dan mempunyai idealisme tinggi untuk mengubah Edents. Pada era itu sempat ada kegiatan English Day yang diadakan setiap hari Rabu yang mewajibkan seluruh Edentser yang ada di ruang Edents untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Edi juga melatih anggota baru untuk bisa melakukan investigasi. “Kami mendidik anak-anak bisa investigasi itu luar biasa. Kalau mereka pas disuruh wawancarai, anak-anak magang itu. ‘Kamu cari yang namanya ini diwawancarai, atau kamu wawancarai orang kaya gini gini gini’. Contohnya kaya gitu,” ujar Edi. Tulisan Edents juga sangat terkenal waktu itu. Hampir setiap tulisan yang diterbitkan menjadi booming, hal ini dikarenakan tulisan Edents saat itu menceritakan dan mengungkap ‘borok’ yang ada di kampus. Tak jarang, Edents dibenci banyak orang karena hal itu.

Pengalaman yang tak terlupakan hingga ancaman yang datang Seakan menjadi legenda, pengalaman Edi saat di Edents menjadi cerita yang turun-temurun disampaikan oleh Edentser di bawahnya. Saat di bawah kepemimpinanya, Edents sempat mengalami ancaman dari pihak-pihak yang tidak senang. Bahkan pada waktu itu kotak surat yang ada di depan sekretariat dihancurkan. Bukan tanpa alasan, Edents pada waktu itu menulis tentang ‘borok’ yang ada di kampus. Para Edentser pun juga tak luput dari ancaman Bergabung dengan Edents bukan hanya semata – mata untuk berorganisasi. Banyak sekali manfaat serta pengalaman yang didapatkan saat bergabung di Edents. Edi menuturkan bahwa meskipun menulis menjadi kegiatan utama dalam Edents akan tetapi ada nilai-nilai yang dapat kita pelajari di dalamnya. “Jadi di situ kita bisa belajar berorganisasi serta mengorganisir temanteman. Di Edents ini dulu jargonnya ‘more than journalistic’ yang artinya lebih daripada seorang jurnalis. Jadi kita berprinsip lebih dari wartawan dan tidak hanya sekadar jadi wartawan”, tutur Edi. Menurutnya hal inilah juga yang nantinya dapat diterapkan dan berguna dalam jenjang karir kita. Pesan dan harapan bagi Edentser Edi berpesan kepada para Edentser agar terus menjaga kekompakan dan idealisme. “Ketika idealisme sudah tidak ada di teman-teman Edents, ya bubar lah,” ujar Edi. Jalinan komunikasi juga harus terus berjalan, karena dengan komunikasi kita bisa membuat sesuatu yang baru. Buktinya Edents sekarang sudah mempunyai beberapa usaha yang digagas oleh para mantan Edents, seperti koperasi dan usaha percetakan. “Semua ini karena kita sering ngumpul bareng, terus kepikiran untuk membuat gagasan ini. Dan hasilnya ya seperti ini”, tutur Edi. Loyalitas juga salah satu hal yang sangat dirasakannya sampai sekarang, meskipun berbeda generasi tetapi rasa loyal terhadap sesama Edentser masih tetap terasa. Sikap inilah juga harus dijaga kedepannya. (sdw)

20


Tentang Mereka

dok. Pribadi

Husna dan Sepenggal Kisahnya yang Inspiratif Oleh: Yolanda Bella Agnesia dan Muhammad Fauzan

Membuka Usaha saat Duduk di Bangku Kuliah Saat masih mengenyam bangku perkuliahan, ia sudah membuka jasa english translation bersama adiknya yang menempuh pendidikan di program studi Sastra Inggris. Husna mengatakan bahwa sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa. Ia dan adiknya menggunakan brosur sebagai alat untuk memasarkan usahanya tersebut. Menurut Husna, bekerja adalah suatu proses belajar, semuanya selalu dinamis, penuh dengan tantangan, semakin seseorang mampu menyelesaikan tantangan tersebut, maka semakin banyak nilai tambah seseorang tersebut. Dengan membuka usaha tersebut, ia dapat menambah ilmu, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, serta pengalaman berbisnis. Ia menjelaskan kesulitan dalam menghadapi usahanya yaitu belum adanya aplikasi translator seperti sekarang ini. ‘’Jadi kesulitannya saat itu belum ada google translate jadi benar-benar harus pegang kamus, kalau susah rajin ke perpustakaan cari kamus untuk bisnis,’’ ungkapnya. Pengalaman sewaktu kuliah Pada saat kuliah banyak hal yang bisa dilakukan guna menunjang produktivitas diri, sehingga kemampuannya dapat diasah dengan baik. Banyak alternatif tambahan ilmu yang bisa didapat, seperti meningkatkan kemampuan bahasa dengan mengambil kursus atau kegiatan English Club. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan semakin banyak pula manfaat yang didapatkan untuk masa depan. Saat kuliah, ia memaksimalkan waktunya dengan baik. Ia mampu mengatur waktu untuk kuliah, organisasi, kursus hingga bisnisnya, yang pada akhirnya membawa manfaat bagi dirinya. Ia mengatakan bahwa bisnis akan selalu melewati masa dinamis yang tidak bisa diprediksi. Kadang perlu untuk bertahan, dan ada waktunya harus berkembang. Hal itulah yang harus kita hadapi selama kerja. Ilmu kuliah dapat dikatakan sebagai dasarnya, sedangkan pengalaman yang lain menjadi pondasinya untuk mangatasi ketidakpastian dalam bisnis tersebut. Apabila hanya bermodal ilmu kuliah saja tanpa kemampuan untuk mengembangkan ide kreatif, mengembangkankan sistem yang baru kita tidak akan tahu apa yang diinginkan dari lingkungan dan bagaimana untuk memenuhi permintaan pasar. Selain

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Aktif Organisasi Selama Kuliah Menurut Husna, pengalaman organisasi sangat penting dalam memasuki dunia kerja. Saat kuliah ia merupakan mahasiswa yang aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Edents dan Rohani Islam (Rohis). Husna menjelaskan, dengan mengikuti organisasi tersebut, ia dapat mengasah soft skill untuk persiapan masuk dunia kerja. Ia menjelaskan bagaimana pentingnya meningkatkaan soft skill yang dimiliki. Ketika bekerja atau menjalankan usaha diperlukan semua aspek skill baik dari ilmu bidang usaha itu sendiri, dan juga skill untuk mengembangkan usaha tersebut.

Arti sukses menurut Husna Sukses bagi Husna adalah jika seseorang yang berhasil menjalankan prinsip-prinsip hidupnya dengan konsisten dan selalu bersyukur dengan hidup yang dijalaninya. Menurut Husna, seseorang dapat dikatakan sebagai sukses apabila dapat mengangkat derajat orang yang ada di sekitarnya. Husna tidak mengkategori dirinya sebagai orang sukses, karena masih banyak yang belum ia lakukan untuk mengangkat derajat orang yang berada di sekitarnya. Ia masih belajar untuk menjadi yang terbaik dengan memberikan manfaat kepada semua orang.

Pesan kepada Mahasiswa Husna berpesan kepada mahasiswa FEB Undip untuk memanfaatkan masa mudanya sebaik-baiknya. Mungkin zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu, sehingga perlu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Kehadiran teknologi seharusnya teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuannya di masa muda. ‘’Mungkin dengan cara mengambil kursus bahasa, dua bahasa jika perlu, mencoba segala sesuatu yang belum pernah dicoba, bisnis, jualan, membuat sesuatu, mencoba mencari beasiswa. Jangan malas, jangan terlena dengan kemudahan, manfaatkan waktu sebaik-baiknya,’’ tutup Husna (sdw)

21

Kunjungi! www.lpmedents.com

Sebagai salah satu fakultas ekonomi terbaik di Indoneisa, FEB Undip telah banyak melahirkan alumni-alumni hebat memegang jabatan penting di tempat kerjanya. Salah satunya ialah Husna, mahasiswi Akuntansi FEB Undip angkatan 1993 kini tengah menjabat sebagai General Manager (GM) di Perusahaan Export Furniture PT. Mamagreen Pacific yang beroperasi di Semarang. Husna pernah menempuh pendidikan di SMAN 3 Semarang dan mengambil program sarjana serta magister di FEB Undip.

aktif berorganisasi, Husna juga merupakan mahasiswa yang berprestasi terbukti dengan mendapatkan juara ketiga dalam ajang perlombaan English Debate Group yang diadakan oleh AIESEC Undip. Husna menjadikan ibunya dan Siti Khadijah (istri Nabi Muhammad –red) sebagai sosok yang menginspirasi hidupnya. Husna mengaku mengagumi sosok wanita tersebut karena keduanya merupakan wanita mandiri, seorang wirausaha yang sukses dengan kerja kerasnya, seorang istri yang dikagumi, dan selalu berusaha menjadi terbaik tanpa membuat orang lain susah. Lebih lanjut Husna mengatakan bahwa apabila seseorang harus memberi banyak manfaat kepada lingkungan sekitar, maka sebanyak mungkin juga jangan membuat susah orang di sekitar. Ia menambahkan bahwa masih banyak yang belum ia berikan kepada lingkungan sekitar, ‘’InshaAllah selalu ada niat menjadi mahluk yang terus sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW and will do the best,’’tambah Husna.


Tentang Mereka

Berprestasi Melalui Passion yang Kita Miliki dok. Pribadi

Oleh :Wakhidatun Nurrohmah

Mimpi itu untuk diciptakan dan diwujudkan. Kuatkan tekad dan percayalah bahwa mimpi itu tidak menghilang begitu saja, tetapi berubah dari satu keajaiban ke keajaiban yang lain.” -Gianina Dinda Pamungkas, Mawapres I Undip Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional merupakan salah satu ajang bergengsi bagi mahasiswamahasiswi dengan segudang prestasi. Gianina Dinda Pamungkas adalah salah satu mahasiswa yang mewakili Undip dalam Pilmapres Nasional tahun 2017 yang diadakan oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti) di Surabaya bulan Juli lalu. Sebelum terpilih menjadi wakil Undip dalam Pilmapres Nasional, Gianina harus melewati beberapa tahap pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tingkat departemen, fakultas, juga universitas. Proses yang dilalui untuk maju ke tingkat nasional dimulai dari pengumpulan berkas data pribadi, data pendukung organisasi, prestasi, karya tulis, dan ringkasan berbahasa Inggris ke pihak Kemenristek Dikti. Ada perbedaan antara Pilmapres Nasional tahun 2017 dengan tahun-tahun sebelumnya. Jikalau tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa yang terplih adalah mereka yang sudah menjalani bangku perkuliahan maksimal selama 8 tahun, maka di tahun 2017 ini maksimal hanya 6 semester. Ingin Menjadi Mawapres sejak Awal Kuliah Wanita kelahiran Semarang, 30 November 1996 ini merupakan sosok yang mandiri, ramah, dan mudah bergaul. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip angkatan 2014. Gia, begitu ia kerap disapa, mengaku bahwa keinginan untuk menjadi mawapres sudah tertanam dalam dirinya sejak awal memasuki bangku perkuliahan. Gia mulai mengikuti bagaimana perkembangan mawapres dari tahun ke tahun. Ada beban tersendiri bagi dirinya untuk bisa membawa Undip maju dalam Pilmapres Nasional tahun 2017. Pasalnya, 2 tahun terakhir yaitu tahun 2015 dan 2016 Undip belum bisa maju dalam Pilmapres Nasional.

Passion-ku, Prestasiku Aktif mengikuti berbagai macam perlombaan dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) menjadi nilai tambah bagi dirinya. Beragam prestasi sudah pernah diraihnya seperti Juara I Mahasiswa Berprestasi Undip, Gold International Young Inventor Awards (IYIA) Indonesia, Gold Asian Young Inventor Exhibition-Competition Malaysia, 10 Besar Kategori Inspiring People “Semarang Inspiring Awards”, Penerima Hibah Dikti PKM Penelitian (3 judul), Penerima Hibah Dikti PKM Gagasan Tertulis, Artikel Terbaik Lomba Artikel Nasional, Juara III Muslimah Inspiration Undip, Best International Invention, hingga Penerima Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Semua itu Gia dapatkan tidak dengan cara yang instan. “Saya percaya kalau kita melakukan hal yang kita suka itu pasti bakal lebih mudah. Nah, makanya saya kemarin mempersiapkan mawapres itu di track yang saya sukai, yaitu di bidang penelitian.”, ungkap Gia. Salah satu topik karya tulis yang dibuat oleh Gianina adalah bahan baku obat untuk obesitas bagi anak. Manajemen Waktu Tak hanya unggul dalam bidang akademik, Gia juga aktif

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dalam berbagai kegiatan organisasi. Satu tahun ia menjadi bagian dari Kesenian Tari FK Undip, Rohis KU Undip, dan ASIAN Medical Student Association (AMSA) Undip. Dua tahun pula ia aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK Undip sebagai Ketua Bidang Riset, serta yang paling terbaru ia menjabat sebagai Ketua Divisi Penelitian Multi Center – Kajian Ilmiah dalam Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional (BAPIN) – Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Dalam memilih organisasi, Gia tak sembarangan asal mengikuti organisasi. Mahasiswa yang mempunyai hobi dan minat di bidang Riset, Kepenulisan, dan Sastra ini cenderung memilih organisasi yang dapat menunjang hobi juga prestasinya, sehingga hardskill dan softskill-nya secara bersamaan dapat terasah. Menjalani semuanya; kuliah, mengikuti lomba, serta organisasi secara bersamaan membuat Gia sedikit kewalahan dalam membagi waktu. Tetapi menurutnya semua itu bisa berjalan beriringan asalkan kita sungguh-sungguh dan memiliki prioritas. Prioritas disini bukan berarti hanya memilih satu organisasi saja, lalu meninggalkan organisasi lainnya. Akan tetapi, ia harus memprioritaskan mana yang paling mendesak terlebih dahulu. “Tergantung skala prioritas sebenarnya, kalau yang mendesak itu organisasi, ya saya harus utamain organisasi terlebih dulu, kalau yang mendesak itu lomba dan sudah mendekati deadline, ya saya harus ngejar itu.”, tegas Gia Menginspirasi serta Memberi Manfaat bagi Lingkungan Sekitar Gia memberi sedikit tips bagi kalian yang ingin menjadi Mawapares. Pengalaman untuk bisa mendapatkan gelar Mawapres tidak bisa kita dapatkan ilmunya hanya dari bangku kuliah saja. “Harus bisa belajar dari banyak orang, harus mau kepoin kakak kelas, kepoin orang-orang yang keren. Saya tuh ngepoin tidak hanya orang yang ada di Undip, bahkan saya ngepoin orang UI, UGM.”, jelas Gia. Bukan sekadar pencapaian semata, bagi Gia menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) merupakan anugerahterbesardariTuhan. Berhasil mendapatkan status tersebut tak menjadikannya besar kepala. Terlepas dari status yang disandangnya tersebut, Gia selalu memotivasi dirinya untuk terus menginspirasi dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. “Walaupun ajang Pilmapres 2017 sudah selesai, tapi aku masih punya tanggung jawab untuk terus menginspirasi dan memberi manfaat bagi lingkunan sekitar.”, tutur Gia. Motto hidupnya adalah “Mimpi itu untuk diciptakan dan diwujudkan. Kuatkan tekad dan percayalah bahwa mimpi itu tidak menghilang begitu saja, tetapi berubah dari satu keajaiban ke keajaiban yang lain.” Gia berpesan kepada mahasiswa agar terus berkarya dan berprestasi sesuai passionmasing-masing. “Apapun passion kalian, pasti kalian bisa mengembangkan dan menjadikan prestasi dan bekal kalian buat masa depan kalian. Tidak hanya sekadar menjadi bekal untuk menjadi mawapres, tetapi menjadi orang yang lebih bermanfaat, yang punya nilai plus. Jangan takut untuk bermimpi. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, tetapi usaha dan tawakal yang belum cukup menyamai mimpi tersebut,” tutup Gia. (sdw)

22


Geliat Usaha

Kost Clink, Solusi Kebersihan Terkini

dok. Kost Clink

Oleh : Aditya Mila Karmila

Manusia dituntut untuk berpikir inovatif dalam menghadapi persaingan bisnis. Tidak hanya inovatif, namun juga harus pandai membaca peluang untuk meraih kesuksesan. Dari peluang itulah muncul bisnis yang sedang digeluti oleh wirausahawan muda, Izhar Gemilang dan rekan-rekannya. Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Diponegoro angkatan 2016 ini merupakan Co Founder Kost Clink. Kos Clink adalah sebuah penyedia jasa layanan kebersihan kamar kos profesional di Semarang. Usaha ini didirikan sejak bulan September 2016 dan berkantor di Jl.Gondang 74 No.66 B.

Awal Berdirinya Kost Clink Bisnis ini bermula saat para pendirinya masih menjadi mahasiswa baru. Saat itu organisasi-organisasi mahasiswa belum membuka open recruitment anggota baru sehingga belum ada diantara mereka yang menjadi anggota aktif organisasi mahasiswa.Banyak waktu luang yang mereka miliki dan alat-alat kebersihan yang menganggur. Munculah ide untuk mendirikan usaha Kost Clink ini. Kost Clink menyediakan paket standar dan premium.Paket standar hanya untuk kamar sedangkan yang premium itu untuk yang kamar dan kamar mandi. Pada awalnya, harga yang dipatok sama-sama Rp 35.000, namun setelah dipikir ulang akhirnya ada perbedaan harga antara paket yang standar dengan yang premium. Modal awal mendirikan usaha ini berasal dari kantong pribadi. Mereka hanya mengandalkan alat-alat kebersihan yang mereka miliki. Bicara omzet, Izhar mengatakan bahwa omzet yang diterimanya bersama rekan-rekan bersifat fluktuatif. “Omzetnya fluktuatif namanya juga bisnis baru, kalau dilihat rata-ratanya pesanan 45 per bulan itu sekitar 600 ribu rupiah,” tutur Izzhar. Kost Clink sendiri saat ini memiliki anggota berjumlah 21 orang termasuk Izhhar. Melihat perkembangan, Izhar mengatakan ada kemungkinan perekrutan anggota baru untuk bergabung bersama Kost Clink. Walaupun Kost Clink tersegmen untuk kamar kos, namun nyatanya Izhar juga pernah mendapat pesanan membersihkan kotrakan hingga kamar mandi di Politeknik Negeri Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, dan lain-lain. SistemPemesanan Konsumen dapat memesan layanan Kost Link dengan menghubungi akun resmi Kost Clink di aplikasi pesan singkat Line. “Prosedur sebelum bersihin harus kontak dulu, khawatir

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

ada yang mengatasnamakan Kost Clink. Kalau ada pesanan, mas dan mbak sendiri yang kontak konsumennya,” imbuhnya. Setelah semuanya siap maka mereka akan langsung bekerja membersihkan kamar kos sampai bersih. Pembayaran dilakukan ditempat setelah semuanya selesai. Apabila pesanan sedang penuh maka akan dapat re-schedule. Pada saat proses pembersihan kamar, pelanggan boleh meninggalkan atau menunggu kamar yang sedang dibersihkan. Dalam konteks ini, Kost Clink tidak memberikan perlindungan hukum bagi petugas yang melakukan tindak kriminal seperti mencuri atau merusak barang milik konsumen. Jika ada petugas Kost Clink yang terbukti melakukan tindak pidana seperti pencurian, urusan akan ditanggung antara pelanggan dengan petugas. Bicara bisnis pasti tidak lepas dari kendala yang dihadapi. Kendala yang dihadapi dalam menjalankan bisnis baru ini antara lain dalam sistem gaji pegawai. Ada pula kendala dalam hal waktu yaitu kesibukan antara petugas Kost Clink dengan keinginan konsumen. Rencana ke Depan Kost Clink sendiri mempunyai visi ingin menjadi primadona di pasar jasa kebersihan, tidak hanya kamar kos tetapi jasa laundry, cuci helm, dan sebagainya. Kost Clink baru saja bekerjasama dengan jasa cuci helm yang dinamakan Helm Clink. Ada juga keinginan untuk membuka cabang waralaba, tetapi hal ini masih terkendala jaminan mutu kualitas yang berbeda dan tidak sesuai. Tidak ada kriteria khusus jika ingin bergabung bersama tim Kost Clink. “Kost Clink ini lebih menerima orang yang tidak punya keahlian daripada orang yang tidak jujur karena orang yang tidak ahli itu bisa dilatih tetapi orang yang tidak jujur itu susah,” imbuh lelaki kelahiran Jakarta, 16 Februari 1998 ini.

Pesan untuk Mahasiswa Izhhar berpesan kepada mahasiswa untuk berani membuka usaha sendiri, apapun itu asalkan masih dalam koridor positif. Gagal adalah sebuah kewajaran, yang terpenting adalah bisa bangkit dan belajar dari kegagalan tersebut. Terakhir, Izhar menambahkan satu hal terpenting dalam menjalankan usaha, yakni jangan pedulikan komentar miring orang lain. “Sekalipun banyak komentar biarin ajakan emang dasarnya sifat manusia suka berkomentarkan? Ibaratnya seperti pemain bola dengan komentator, walaupun yang pintar yang main bola tetapi yang banyak komentar si komentator kan? Jadi biarkan saja,” pungkasnya. (sdw)

23


SOSOK

Kisah Inspiratif Dua Dalang Wanita Oleh: Nadia Shafira W, Vefon Hadamean

dok. Pribadi Dalang adalah seseorang yang memiliki keahlian khusus memainkan boneka wayang. Jika diibaratkan sebuah drama, dalang merupakan sutradara yang menentukan jalan cerita lakon wayang. Di zaman sekarang profesi dalang wayang sudah jarang diminati terutama oleh generasi muda. Profesi dalang pun biasanya dilakoni oleh pria. Namun hal ini tidak berlaku bagi Seruni Widaningrum dan Seruni Widawati. Dua bersaudara asal Kota Gudeg, Yogyakarta ini menggeluti dunia perwayangan dengan mengambil peran sebagai dalang.

Awal Ketertarikan dengan Dunia Pewayangan Seruni Widaningrum menceritakan awal mula ketertarikannya dengan dunia pewayangan, yakni ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ketika itu, ia pernah ikut sebuah sanggar di Yogyakarta bernama sanggar Sang Bumi tepatnya di Bale Budaya Minomartani. Awalnya, ia hanya diajarkan bermain gamelan dan akhirnya pihak sanggar menawarkan untuk bermain wayang. Wayang yang diajarkan pun hanya sebatas wayang dengan lakon cerita fabel (cerita dengan tokoh hewan). Lama kelamaan, rasa cinta terhadap wayang tumbuh di hati Widaningrum. Begitu pula yang dialami oleh Widawati. Akhirnya, Widaningrum dan Widawati meminta untuk diajarkan wayang kulit Dapat Pujian dan Cemoohan Memilih profesi sebagai dalang wayang kulit tak jarang membuat Widaningrum dan Widawati mendapat pujian. Pujian datang dari rekan seniman yang datang kepentas wayang mereka. Pujian juga datang dari masyarakat sekitar yang kagum dengan tekad Widawati dan Widaningrum untuk melestarikan wayang. Namun tak jarang, cemoohan pun datang kepada mereka. “Ya biasanya banyak orang bilang seperti, “Kalau jadi dalang tu besok mau makan apa?” Dilanjutkan dengan pertanyaan seperti, “Lha nek ora payu,kepriye? (Lah kalau tidak laku, bagaimana)”, ujar Widawati. Sebenarnya, ucapan tersebut adalah bentuk kekhawatiran yang ditujukan kepada semua seniman, mengingat tidak setiap hari seorang seniman menerima tawaran manggung. “Soalnya memang dalam satu tahun itu nggak semuanya bisa nge-job terus. Semisal bulan puasa itu saya dan Wati mencari akal supaya besok tetap dapat terus.,” ungkap Widaningrum. Keduanya pun bercita-cita ingin mengambil pekerjaan tambahan sebagai dosen untuk menunjang kehidupan mereka.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Dua bersaudara ini sudah sering mementaskan wayang kulit di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebut saja Yogyakarta, Magelang, Boyolali, Wonogiri, dan Klaten. Mereka bahkan pernah mementaskan wayang di depan tamu dari United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang datang ke Kota Surakarta.

Membagi Waktu dengan Kuliah Menjalani profesi sebagai dalang tak jarang membuat Widawati dan Widaningrum bekerja sampai larut malam. Di sisi lain, Widawati dan Widaningrum saat ini sedang mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pendidikan. Hal ini membuat keduanya harus seimbang dalam membagi waktu antara mendalang dengan kuliah “Kalau istirahatnya kan, semisal besoknya kuliah. Itu dosennya pengertian. Misal malamnya habis pentas, paginya saya disuruh berangkat. Tapi diperbolehkan untuk tidur di kelas,” ujar Widaningrum. Orang tua pun berperan dalam membagi waktu antara kuliah dengan mendalang. “Semisal saya mau pentas, orangtua yang ngurusin saya. Semisal ada yang kurang, ya orang tua yang memanajeri saya. Misalnya juga semisal ada job gitu, ya orang tua saya yang dihubungi. Jadi saya bisa fokus menyiapkan naskah dan melakukan persiapan,” tambahnya.

Tampil di depan Tamu UNESCO Dua bersaudara ini sudah sering mementaskan wayang kulit di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebut saja Yogyakarta, Magelang, Boyolali, Wonogiri, dan Klaten. Mereka bahkan pernah mementaskan wayang di depan tamu dari United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang datang ke Kota Surakarta. “Pernah, dulu waktu kedatangan tamu dari UNESCO, saya malah mementaskan wayang menggunakan Bahasa Inggris. Itu dulu sewaktu saya masih duduk di kelas 3 SMK I di Solo tahun 2015,” tutur Widaningrum. Meski menggunakan bahasa asing, namun wayang yang dipentaskan masih mengacu ada nilai budaya Jawa. Harapan untuk Generasi Muda Budaya nusantara akan perlahan punah apabila tidak dilestarikan oleh generasi muda. Hal inilah yang dikhawatirkan Widawati dan Widaningrum terhadap keberadaan wayang kulit. Widawati menyiasati agar anak muda menyukai kesenian wayang yakni dengan mengaransemen instrument gamelan. "Iya kita menyiasati itu, wayang tidak melulu harus seperti itu. Kita punya banyak cara tapi tidak meninggalkan tradisi yang ada,” imbuh Widawati. Widaningrum berharap agar anak muda lebih mencintai budaya nusantara, terutama wayang kulit. “Kalau dari saya, cintai budaya dan jangan tinggalkan,” tutup Widaningrum (sdw)

24


Sudut Profesi

Berdikaribook Sebagai Aliran Toko Buku Alternatif

Cuplikan kalimat di atas menjadi gambaran sedikit mengenai usaha yang ditekuni oleh Dana Gumilar dan kawan-kawannya. Alumnus Institut Pertanian Yogyakarta (INSTIPER Yogyakarta) ini bergiat sebagai penyedia buku dalam sebuah toko buku berbasis bukubuku alternatif, buku-buku yang berbeda dengan apa yang menjadi tren pasar. Dengan nama Berdikaribook, ia sukses menahkodai usahanya yang diisi oleh sejumlah awak usaha dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. ‘Bergerilya’ melalui jejaring internet dan e-commerce. Berdikari tetap menghadirkan tokonya secara konvensional di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Berbeda dengan toko buku lainnya, Berdikari menghadirkan konsep dan tujuan untuk tidak hanya membanjiri konsumen dengan gemerlap buku-buku alternatif yang dihadirkan, namun ia juga memantik kesadaran para pembacanya dengan meningatkan peran penting membaca melalui konten-konten yang menarik melalui jejaring media sosial.

Berdirinya Berdikaribook Dari Awal Hingga Sekarang Kehadiran Berdikaribook di ranah toko buku alternatif tak bisa dikatakan sebagai sebuah startup sekali jadi. Dalam perkembangannya dari awal berdirinya pada tanggal 28 Oktober 2014 hingga sekarang, Berdikaribook telah mengalami beberapa pergantian nama dua kali hingga akhirnya Dana dengan mantap menggunakan nama yang menjadi pilihannya kini. Meski demikian, Dana mengatakan bahwa sebenarnya ia tak begitu memerdulikan nama tokonya “Sebenarnya aku pun tak begitu memedulikan masalah nama ya. Tapi di mana di situ aku suka, maka di situ ya aku jalankan,” ujar pemuda lulusan INSTIPER ini. Berawal dari hobi suka membaca dan langkah iseng Dana untuk menjualnya melalui akun sosial medianya, Dana menawarkan buku-buku kepada teman-temannya di jaringannya dengan genre yang sama seperti yang ia giati sekarang. Selain itu, ia juga menyadari untuk mendapatkan buku dari berbagai penerbit luar kota seperti, Ultimus, Marjin Kiri, dan Intran kemudian ia komunalkan pada satu tempat sehingga dapat menghemat ongkos kirim (ongkir). Relasi Berdikaribook dengan Konsumen Sebagai toko buku yang bergerak dalam pasar sepi, Berdikaribook dengan keteguhan untuk menjaga identitas tentunya selalu menjalin dan menjaga hubungan baik dengan konsumen dan penerbit.. “Karena memang sebenarnya sebuah kebetulan ya, kita mampu menyediakan buku-buku yang mereka cari. Artinya apa, ya ketika sedang ada tren permintaan buku A, kebetulan kita sedang ada. Ungkapan aku ini mengatakan juga sebenarnya kita sering dalam keadaan kehabisan stok. Sehingga ketika itu terjadi, permintaan konsumen belum dapat terpenuhi. Dan itulah yang menjadi bahan pembelajaran kami untuk selalu berbenah buat ke depannya,” ungkap Dana. Dana menyebutkan, konsumen utama yang menjadi pelanggan utama adalah buruh dan mahasiswa. Banyaknya permintaan dari

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

“Kami kokoh bergerak di bidang alternatif, ini yang menjadi ciri khas dari kami”- Dana Gumilar, Pendiri Toko Berdikaribook

kelompok buruh digunakan untuk sarana pembelajaran mereka dalam menghadapi majikan pemilik pabrik yang terkadang membuat kebijakan yang menindas kaum buruh. Buku-buku ini nantinya digunakan sebagai kajian untuk mengaji hak-hak apa saja yang mereka miliki dan bagaimana mereka menghadapinya demi perbaikan nasib. Selain itu, mahasiswa juga turut memiliki andil sumbangsihnya terhadap penjualan buku di Berdikaribook. Banyak mahasiswa datang atau membeli secara online kepada Berdikari untuk digunakan sebagai langkah pergerakan mereka dalam mengawal isuisu yang terjadi di sekitar mereka. Melalui dua target konsumen ini, Berdikaribook secara konsisten melakukan penyediaan persediaan kembali buku-buku yang menjadi minat konsumen. Kini, Berdikaribook dapat menjual sekitar 1.000 hingga 1.200 buku tiap bulannya. Melihat dari segi omzet, angka yang dihasilkan pun tak tergolong kecil, yaitu 70 – 90 juta rupiah tiap bulannya. Naik turunnya penjualan pun dipengaruhi oleh salah satu faktor, seperti momen Lebaran yang dapat meningkatkan penjualan. Arah Layar Berdikaribook Selanjutnya Dana dan kawan-kawan memiliki tekad untuk terus mengembangkan usaha yang digiati bersama ini. Sebagai nahkoda Berdikari, Dana memiliki visi untuk meperbanyak buku yang diterbitkan dengan menggunakan nama Berdikaribook sebagai penerbit setelah sebelumnya terdapat 3 (tiga) judul buku yang sudah diterbitkan dengan nama penerbit Berdikaribook. Melalui hal ini, Dana juga mengakui terdapat kekurangan dan keterbatasannya dan awaknya dengan menyamaikan apa yang selama ini menjadi keluhan Berdikaribook. “Untuk saat ini, kami ingin mengembangkan diri untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik. Tapi kami pun juga punya beberapa keterbatasan seperti di bidang Ilmu dan Teknologi (IT), kami terkadang sedikit ketinggalan di situ jika kami melihat dengan pesaing yang juga menggeluti hal sama. Ketika ditanyai mengenai pembukaan cabang di luar kota, Dana dengan santai menjawab bahwa hal itu selama ini belum menjadi pertimbangan olehnya. Ia menegaskan bahwa Berdikari selama ini banyak menjalankan kegiatan operasional penjualannya melalui online. Oleh karena itu Dana merasa untuk membuka cabang di luar kota masih dirasa belum perlu, mengingat lagi bahwa perlu banyak hal untuk dipertimbangkan Dana dan awaknya mengenai biaya, dan berbagai permasalahan lainnya yang belum sempat dipikirkan. Dana mengungkapkan pesannya untuk mahasiswa dengan mengajak mahasiswa untuk menjadikan buku sebagai sebuah bahan konsumsi. Buku itu nantinya akan menjadi sebuah pantikan dari pemikiran, pergerakan, dan kemajuan dari kemampuan berpikir kita. Dana menyerukan agar mahasiswa menjadikan buku sebagai sebuah kewajibannya. Tidak harus seorang mahasiswa sampai berkoar-koar dan berteriak-teriak untuk membela rakyat, tetapi jadikan buku sebagai sebuah fundamental dalam rangka mengembangkan diri. (sdw)

25

dok. Edents

Oleh: Arsenio Wicaksono


Social Movement Young On Top : Sukses Tidak Harus Menunggu Tua Oleh : Rakintan Wahyurini dan Rafi Qurnia

Young On Top atau yang lebih dikenal dengan YOT merupakan sebuah komunitas berskala nasional yang memiliki cabang di beberapa kota besar di Indonesia, salah satunya di Kota Semarang. YOT sendiri bergerak di bidang pengembangan potensi pada pemuda dengan fokus pengembangan Skill, Knowledge, dan Attitude bagi para anggotanya yang nantinya akan berguna bagi para anggota YOT ketika memasuki dunia kerja.

Awal Mula YOT Semarang YOT Kota Semarang pertama kali dicetuskan ketika sebuah bank nasional menyelenggarakan seminar dengan pembicara yang merupakan salah satu pendiri YOT. Pasca seminar tersebut, lahir lah YOT Semarang dengan ketua pertamanya yaitu Faris dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (FH Undip) 2012, yang sekarang YOT di ketuai oleh Sarah Paquita yang juga merupakan mahasiswa Undip. Selayaknya komunitas atau organisasi, YOT menjalankan kegiatannya berdasarkan 35 nilai mengenai bagaimana cara generasi muda agar dapat sukses di usia mudanya, yang kini sudah bertambah menjadi 40 nilai. Nilai tersebut akhirnya diangkat menjadi asas yang digunakan sebagai dasar dalam menjalankan kegiatan YOT. Fokus kegiatan yang diadakan oleh YOT terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Katalis, Green, dan Energi. Katalis merupakan kegiatan YOT yang bergerak di bidang pendidikan/sosial. Green merupakan kegiatan YOT yang bergerak di bidang lingkungan, sedangkan Energi merupakan kegiatan YOT yang bergerak di bidang kesehatan. Salah satu program kerja terbesar dari YOT sendiri adalah Youth Share, yang tahun ini diselenggarakan 4 kali yang berbarengan dengan Hari Natal, hari kebesaran Agama Buddha (termasuk Waisak) dan hari kebesaran Agama Hindu. Selain Youth Share, YOT juga menggelar seminar yang merupakan salah satu program kerja terbesar dari YOT. Tahun lalu, seminar ini diberi nama IMPACT Semarang dan untuk tahun ini diberi nama CONNECT Semarang. Agenda dan Kegiatan YOT Kegiatan YOT yang bergerak di bidang energi salah satu contohnya adalah kegiatan Love Donation. Untuk bidang katalis sendiri YOT mengadakan Youth Class yang diadakan di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) dengan total 100

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

peserta. “Kalau katalis di bidang pendidikan mengadakan youth class, yang bekerja sama dengan EC dengan total 100 peserta yang diadakan di UNISULA. Lalu untuk energi love donation, kegiatannya 1 tahun sekali tapi tema yang diangkat bedabeda, salah satu contoh tema tahun kemarin adalah leukimia. Kalau untuk Green taun kemarin kita tidak melaksanakan sih meskipun kita juga sudah ada plan, karena taun kemarin banyak acara YOT yang bersamaan maka dari itu harus dilepaskan salah satunya, jadi Green tidak dilaksanakan,� ujar Sarah Paquita. Sebagai komunitas dengan segudang kegiatan, YOT merupakan sebuah komunitas yang Zero Cost atau yang tidak memungut biaya kepada anggotanya. Kegiatan Love Donation yang diadakan oleh di Mal Ciputra semua kebutuhan acara didukung oleh banyak sponsor yang telah bekerja sama dengan YOT. YOT juga merupakan organisasi nirlaba yang artinya tidak menghasilkan keuntungan. Sistem Keanggotaan Yang bisa menjadi anggota YOT Semarang adalah mahasiswa S-1 Perguruan Tinggi di Kota Semarang. Pendaftaran anggota menggunakan sistem batch dan tiap batchnya berbedabeda jumlah anggotanya. Seperti pada batch 1 yang berjumlah sekitar 30 anggota, lalu batch 2 yang berjumlah 36 anggota, serta batch 3 dengan jumlah sekitar 47 anggota. Namun kebijakan yang dimiliki YOT pada setiap kotanya berbeda, sehingga menyebabkan keanggotaan YOT di berbagai kota memiliki sistem dan keunikan yang berbeda-beda. Rangsang Generasi Muda Menggapai Cita-cita Sarah berharap YOT dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya untuk para anggota YOT agar dapat merangsang generasi muda untuk mencapai cita-citanya. Dalam meraih cita-cita tersebut, dibutuhkan usaha yang maskimal dan tetap tawakal kepada tuhan. “Kalau aku lihat itu semua temen-temen masih belum berani untuk mencapai segala yang diinginkan. Belum banyak pemuda yang punya target pendek dan panjang, harapannya sih setiap pemuda Indonesia juga mempunyai target pendek dan panjang, tapi tidak hanya punya target panjang atau pendek tapi ada aksi nyatanya�, tutup Sarah. (sdw)

26

Kunjungi! www.lpmedents.com

dok. pbs.twimg.com

Fokus kegiatan yang diadakan oleh YOT terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Katalis, Green, dan Energi.


1

POTRET * Batik Mutiara Hasta dan Katun Ungu

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

27


2

3

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

28


4

5

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

29


UMKM Zaman Now

Eko dan Nomi | Komik

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

30


Kabar Khusus Presiden Jokowi Sambangi Undip

dok. Edents

Oleh : Pearlytha Mayling, Dirga Ardian N

“Semoga, Universitas Diponegoro bisa ikut bersama-sama dengan komponen bangsa mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia, khususnya mahasiswa,” Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia. Tahun ini, Universitas Diponegoro merayakan Dies Natalis ke60. Berbagai acara digelar guna memperingati hari jadi Undip ini, termasuk acara orasi ilmiah yang diadakan setiap tahunnya. Jika pada orasi ilmiah tahun lalu Undip menghadirkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, maka pada orasi ilmiah tahun ini Undip menghadirkan orang nomor satu di republik ini. Tak lain dan tak bukan adalah Presiden Joko Widodo atau yang kerap disapa Jokowi. Acara yang digelar di Stadion Undip Tembalang ini dibuka dengan Rapat Senat Terbuka pada pukul 08.20 WIB. Dalam acara ini, juga turut hadir beberapa pejabat tinggi, diantaranya adalah Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Hevearita (Wakil Walikota Semarang), Mohamad Nasir (Menteri Ristekdikti), dan segenap anggota MPR/DPR RI. Turut hadir pula Rektor Undip, Yos Johan Utama, beserta jajaran wakil rektor, serta jajaran senat akademik. Presiden Jokowi tiba di Stadion Undip pada pukul 09.00 dan disambut oleh gemuruh tepuk tangan hadirin yang hadir. Sebelum menuju acara initi yakni orasi ilmiah, Yos Johan Utama menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, Yos Johan turut ‘memamerkan’ prestasi-prestasi Undip dalam setahun, diantaranya berhasil menduduki peringkat ke-6 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik se-Indonesia dan peringkat pertama dalam hal pengabdian masyarakat. Yos juga sempat memperlihatkan kepada presiden tentang hasil riset dari dosen peneliti Undip. Hal ini selaras dengan tema Dies Natalis ke-60 Undip, yakni Menuju Undip Sebagai Universitas 500 Besar Dunia: Riset Untuk Rakyat” Setelah Yos Johan memberikan sambutan, tiba lah acara inti yakni Orasi Ilmiah oleh Presiden Joko Widodo. Presiden mengatakan, kunjungannya ke Semarang khusus dalam rangka memberi orasi ilmiah pada Dies Natalis Undip. “Ke Semarang hanya khusus untuk Dies Natalis Undip ke 60. Waktu saya kesini hanya 1,5 jam terus balik lagi. Hanya khusus untuk Undip,” kata Presiden yang disambut riuh tepuk tangan hadirin. Dalam orasinya, presiden menyampaikan beberapa poin penting termasuk pentingnya membangun infrastuktur di seluruh pelosok tanah air. Presiden menyampaikan bahwa indeks persaingan global nasional Indonesia juga naik dari 41 ke peringkat 36. Hal ini dapat dicapai dengan membangun infrastruktur di segala lini.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Perguruan tinggi di Indonesia, lanjut Jokowi, harus menjadi garda terdepan perihal menghadapi transisi zaman. “Universitas tidak boleh stagnan dalam berproses. Harus berani dalam mendongkrak perubahan sistem offline menjadi online. Universitas sudah harus memikirkan tantangan globalisasi berbasis artificial intelligent,”terang pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini. Presiden juga membahas tentang pentingnya ‘membuka mata’ terhadap perubahan global yang bergerak sangat cepat. Perubahan yang dimaksud adalah mengenai teknologi dan era digital yang kini telah merambah ke segala bidang, seperti membaca koran, melakukan transaksi jual-beli, dan lain sebagainya. “Kita harus menyadari perubahan ini dalam 1015 tahun bahkan kurang, akan terjadi lanskap politik global, lanskap perilaku sosial juga akan berubah. Ini harus antisipasi betul, kita siapkan betul, kita harus rencanakan betul,” ujar mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta ini. Bahkan, guna menghadapi era digital, Presiden mengusulkan agar Undip segera mendirikan Fakultas Ekonomi Digital. “Ada perubahan kenapa tidak menyiapkan Fakultas Digital Ekonomi, sebelum universitas lain memiliki. Jurusannya bisa saja Toko Online,  jurusannya bisa saja Aplikasi Sistem, jurusannya bisa saja  Financial Technology, jurusannya bisa saja Meme,” ujar Presiden yang disambut gelak tawa hadirin. Di tengah orasinya, Presiden juga memberikan apresiasi kepada salah satu ilmuwan Undip yang telah menciptakan sistem penyimpanan produk pertanian dengan teknologi ozon yang diberi nama D’Ozone. Presiden sempat berbincang sedikit kepada Muhammad Nur, penemu D’Ozone, terkait teknologi yang ia ciptakan tersebut. Ia berharap agar teknologi ini selanjutnya akan bermanfaat bagi masyarakat. Di akhir orasinya, Presiden Jokowi berharap kepada Undip agar dapat ikut bersama mencerdaskan rakyat Indonesia. “Semoga, Universitas Diponegoro bisa ikut bersama-sama dengan komponen bangsa mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia, khususnya mahasiswa,” ujar Presiden Jokowi. Tercatat, orasi ilmiah yang disampaikan Presiden Jokowi hanya berdurasi kurang lebih 45 menit. Hal ini karena Presiden diagendakan juga akan menghadiri acara di Garut dan Bandung, Jawa Barat. (sdw)

31


dok. Pribadi

Kabar Prestasi

Undip Peringkat ke-6 PIMNAS 30, Mahasiswa FEB Turut Torehkan Prestasi Oleh : Pearlytha Mayling

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) merupakan ajang bagi para mahasiswa untuk mengukur prestasi penalaran dan kreativitasnya melalui karya tulis skala nasional. Dalam PIMNAS ke-30 yang diselenggarakan pada tanggal 23 – 26 Agustus di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Undip terbukti dapat meraih prestasi yang membanggakan. Undip berhasil meraih peringkat 6 dari 89 perguruan tinggi. Total medali yang didapatkan sebanyak 9 medali terdiri atas 1 medali emas, 2 medali perak, 1 medali perunggu, dan 1 medali favorit untuk kategori presentasi, serta 2 medali emas dan 2 medali perak dalam kategori poster. Jumlah tim yang dikirim Undip sebanyak 19 tim yang mencakup seluruh fakultas. Pada PIMNAS kali ini, FEB menunjukkan prestasi dengan diperolehnya medali perak dalam kategori PKM-PSH (Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora) yang berjudul Peningkatan Kinerja Keuangan Melalui Green Investment. Sebenarnya, ada 2 perwakilan FEB lagi namun mereka tergabung dengan fakultas lain. “Tim dari FEB tuh cuma satu, tapi ada juga anak FEB yang ikut di fakultas lain. Contohnya mas Khisnun Manajemen 2014 yang gabung sama anak FK. Terus adalagi mbak Siti Mutinah, nah itu dia gabung sama anak FKM. Yang murni isi timnya anak FEB ya cuma satu,” ungkap Bourinta, mahasiswi jurusan Akuntansi yang merupakan salah satu anggota tim yang mendapatkan medali perak tersebut. Anggota tim yang lainnya adalah Gretta Ratna dan Octrine Bethary dari Akuntansi 2013 serta Daisy Meirisa dari Akuntansi 2015. Usaha yang dilakukan Bourinta dan timnya hingga dapat lolos hingga puncak acara PIMNAS di Makassar kemarin tidak dapat dikatakan mudah. Ia menceritakan awal mula pembuatan proposal yang harus sesuai dengan aturan yang ada agar tidak ditolak dan dapat sesegera langsung diproses. Setelah pengajuan proposal, tahap selanjutnya adalah pengumuman lolos pendanaan dari Dikti. Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian monev (monitoring dan evaluasi) dan yang terakhir pengumuman tim yang lolos untuk mewakili Undip pada acara puncak PIMNAS di Makassar tersebut. Tak berhenti sampai di situ, Bourinta dan timnya harus melanjutkan perjuangannya di acara puncak PIMNAS yang membutuhkan persiapan lebih matang lagi. Persiapan dilakukan tidak hanya fisik dan materi yang akan disampaikan, namun juga termasuk mental yang kuat dan berani harus dipersiapkan. “Kalau untuk mental, kita dari Undip datang 2 hari sebelum hari

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

H supaya bisa memersiakan diri, otomatis kita punya waktu persiapan tuh 2 hari, selasa sama rabu untuk adaptasi dan latihan di sana,” ujarnya.

Dukungan dari Kampus Dukungan untuk Bourinta dan kawan-kawan datang dari berbagai pihak, termasuk dari pihak kampus. Menurut Bourinta, peran Undip dalam mendukung dan memfasilitasi mahasiswa yang mengikuti PIMNAS sudah dapat dikatakan baik. “Nah dari Undip sendiri itu seusaha mungkin mendukung kita gitu kayak misalkan waktu itu Undip bawain dokter dari Semarang. Jadi kalo misalkan ada masalah sama kesehatan kita gitu, itu dijaga banget. Sakit sedikit saja tuh harus melapor, kita juga dikasih vitamin, dikasih buah buahan segala macam,” ucapnya. Hambatan dan Kesan Pesan Hal yang paling sering menjadi hambatan bagi Bourinta dan timnya adalah birokrasi kampus yang seakan mempersulit jalannya untuk berprestasi. “ Buat tanda tangan aja susah. Kan harus minta sampai wakil rektor ya tanda tangannya, itu kan harus minta persetujuan dulu dari yang di bawah-bawahnya dulu, itu tuh kayak susah dicari bapaknya,” ujar Bourinta. Kemudian juga kendala dalam penelitian yang ia lakukan harus mengerti secara rinci bagaimana cara pengerjaannya. Di balik semua kendala yang ada, Bourinta dan timnya sangat senang dapat ikut berpartisipasi dalam PIMNAS kemarin dan membawa pulang medali juga. Ia beterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu timnya hingga dapat sampai ke titik ini. “Senang banget bisa harumin nama Undip, kayak gak nyangka juga kita bisa itu. Kita juga benar-benar berterimakasih banget sama pak Anis, yang benar-benar bimbing kita padahal bapaknya kemaren juga kondisinya lagi sakit. Tapi masih bela-belain, baru banget selesai dari rumah sakit langsung ke Makassar buat dampingin kita,” jelasnya. Ia berharap semoga ke depannya Undip dapat lebih memperhatikan mahasiswanya yang ingin berprestasi dan mempermudah birokrasinya, khususnya FEB. Ia juga berpesan kepada seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswa FEB untuk lebih giat lagi dalam pembuatan PKM. Ia merasa bahwa tingkat partisipatif dari mahasiswa FEB masih kurang dibandingkan fakultas lain. (sdw)

32


UMKM Jawa Tengah | Laporan Khusus

dok. dinkop-umkm.jatengprov.go.id

Transformasi UMKM di Jawa Tengah Oleh: Dewi Hastuti, Rismanto Irawan, Veronica Febriana N Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan jenis usaha yang berkembang di Indonesia. Saat ini UMKM telah diatur dalam Undang – Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Undang – Undang tersebut juga mengatur kriteria dari sebuah usaha akan digolongkan dalam usaha keci, mikro, atau menengah. UMKM memiliki perbedaan dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dalam taraf pembinaannya. Pembinaan UKM dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di tingkat kabupaten/kota, sedangkan UMKM oleh SKPD tingkat provinsi. Transisi dari Skala Mikro ke Kecil Setiap provinsi memiliki ciri serta karakteristik UMKM yang berbeda – beda. UMKM yang berada di provinsi Jawa Tengah, khususnya kota Semarang saat ini sudah mulai bertransisi dari jenis usaha mikro ke kecil. “Kalau khususnya di Semarang itu sekarang mereka sudah mulai transisi antara dari mikro ke kecil. Dan mereka sekarang sudah mulai kita sarankan rata – rata sudah mulai membenahi produksinya, keuangannya, sudah mulai tertata rapi dan kayaknya sudah mulai middle up. Jadi sudah mau (bertransformasi) dari mikro ke kecil,” ungkap Aprilia Evy Presetyani selaku Konsultan Advokasi dan Pendampingan di UMKM Center Jawa Tengah. Produk yang dihasilkan UMKM Jawa Tengah sebagian besar adalah bidang pengolahan pangan, seperti abon, kerupuk, sirup, serta jenis makanan lain. Selain makanan berbagai jenis batik pun juga menjadi produk dari UMKM Jawa Tengah.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Kerjasama dengan Perusahaan E-Commerce Seiring dengan perkembangan teknologi, pemerintah daerah telah menyusun program berkaitan dengan pemanfaatan teknologi untuk UMKM di Jawa Tengah. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) telah melakukan kerjasama dengan perusahaan – perusahaan e-commerce di Indonesia untuk membantu dalam pengiklanan produk. “Jadi setiap SKPD sekarang mereka melakukan kerjasama salah satunya kerjasama dengan e-commerce, mulai dari Blibli.com sampai BukaLapak dan Tokopedia. Mereka sudah diperkenalkan seperti itu. Salah satunya juga dari Kemenkominfo kemarin itu juga mereka membuat program free domain itu 1000 domain. Nah itu SKPD – SKPD juga ikut membantu gerakan e-commerce untuk UKM,” tambah Evy. Selain memanfaatkan teknologi untuk pemasaran, UMKM di Jawa Tengah juga menerapkan sistem keuangan dengan menggunakan aplikasi yang dibuat oleh UMKM Center ini. Tetapi penggunaan aplikasi untuk sistem keuangan masih terkendala berbagai hal yang menyebabkan pemakaiannya belum merata. Efek Pemanfaatan Teknologi pada UMKM Jawa Tengah Pemanfaatan teknologi dalam operasional UMKM di Jawa Tengah membawa dampak tersendiri baik positif maupun negatif. Salah satu keuntungan positif yang didapatkan yaitu cepatnya proses branding yang para pelaku UMKM tersebut dapatkan. Sedangkan, salah satu kendala negatif yang dihadapi pelaku UMKM tersebut yaitu para pelaku bisnis UMKM tersebut

33


Laporan Khusus | UMKM Jawa Tengah

“Kalau khususnya di Semarang itu sekarang mereka sudah mulai transisi antara dari mikro ke kecil. Dan mereka sekarang sudah mulai kita sarankan rata – rata sudah mulai membenahi produksinya, keuangannya, sudah mulai tertata rapi dan kayaknya sudah mulai middle up Jadi sudah mau (bertransformasi) dari mikro ke kecil,” -Aprilia Evy Presetyani, Konsultan Advokasi dan Pendampingan di UMKM Center Jawa Tengah.

dok. Edents

cenderung lebih fokus pada satu sisi, seperti lebih fokus terhadap proses produksi daripada penggunaan gadget untuk hal branding produk mereka pribadi.

Keunikan Produk UMKM Jawa Tengah Dibandingkan dengan provinsi lain, Jawa Tengah memiliki keunikan baik dari produk maupun mindset dari masyarakat. Provinsi Jawa Tengah memiliki berbagai macam jenis UMKM seperti pengolahan makanan hingga sandang khususnya batik, UMKM pengolah makanan sendiri mendominasi dari semua klaster UMKM yang berada di Jawa Tengah. Kebijakan pemerintah dalam melindungi produk UMKM dalam negeri dari persaingan dengan produk impor masih belum optimal. Menyadari proteksi produk dalam negeri yang belum maksimal, UMKM Center memberikan edukasi terhadap pelaku UMKM di Jawa Tengah guna memiliki daya saing terhadap persaingan dengan produk impor. “Karena tidak ada proteksi jadi kami yang memberikan edukasi kepada UKM supaya produknya layak dan bisa menyaingi produknya luar negeri,” imbuh Evy Aksesibilitas terhadap Fasilitas Penunjang Masyarakat yang berada di daerah Semarang memiliki akses yang dekat dengan pemerintah provinsi sehingga dengan mudah mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan Selain itu mereka juga berkesempatan mengikuti berbagai pameran. Sedangkan masyarakat yang berasal dari daerah cenderung memiliki akses yang lebih jauh sehingga terkadang merasa malas untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh pemerintah daerah. “.... Kendalanya untuk daerah sekitar biasanya mereka malas untuk datang ke provinsi untuk belajar juga kadang ada yang malas tapi tidak menutup kemungkinan kalau missal mereka itu gigih terus rajin menghadiri pameran mereka juga ikut mendapat fasilitas dari dinas biasanya,” lanjut Evy. Libatkan Berbagai Pihak Menurut data dari Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah, sampai dengan triwulan IV tahun 2016, jumlah UMKM yang ada di provinsi Jawa Tengah sudah mencapai angka 115.751 unit dengan laju pertumbuhan mencapai 6.25%, pada tahun 20152016. Adanya peningkatan jumlah UMKM tersebut, tentunya tidak luput dari peran serta pemerintah setempat maupun pemerintah pusat. Peran pemerintah saat ini salah satunya yaitu dengan mengadakan pembinaan serta pendampingan yang tidak hanya dilakukan oleh Dinas Koperasi, namun seluruh SKPD yang ada, seperti Dinas Koperasi, Badan Nrkotika Nasional (BNN), Dinas Sosial, dan lain sebagainya. Dinas Sosial berperan sebagai pembimbing sekaligus sebagai pembina pelaku UKM yang mengalami disable ataupun tunawisma dan anak jalanan BNN berperan sebagai pembimbing dan pembina bagi pelakupelaku UKM yang mengalami rehabilisasi karena kasus narkoba.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Peran KUR dan Mitra25 Kredit tanpa agunan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), dipilih sebagai kebijakan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu kebijakan yang berperan mendorong kemajuan UMKM di Jawa Tengah khususnya. Akan tetapi, adanya kebijakan tersebut tidak senantiasa didukung oleh kemudahan birokrasi dari bankbank penyedia KUR ujar Evi, “Biasanya itu tergantung dari pihak, misalkan KUR, dari pihak banknya sendiri beberapa wilayah itu kadang mempersulit tidak mempermudah birokrasinya dari bank tersebut.” Sehubungan dengan adanya hal tersebut, pemerintah setempat juga menyediakan kebijakan kredit bagi UMKM yang dinamakan sebagai Mitra25. UMKM Center sendiri, memberikan fasilitas untuk mengadakan pendampingan saat pengajuan Mitra25, “Rata-rata mereka (UKM di Jawa Tengah) mendapatkan pembiayaan dari mitra25 dan kemarin itu kita sarankan yang programnya pak Walikota (Semarang). Dengan sistemnya, UMKM nya yang datang dengan mengajukan bahwa UMKM tersebut butuh pembiayaan,” ujar Evy Bersaing dengan Usaha Skala Besar Keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan daerahdaerah lain yang terus mendorong UMKM di daerah masingmasing supaya memiliki daya saing di pasaran. Selain produk impor, UMKM juga bersaing dengan usaha-usaha yang memiliki modal besar dan hal ini menyebabkan kesenjangan ekonomi. Pelaku-pelaku ekonomi bermodal besar memiliki kekuatan untuk menyerap pangsa pasar yang lebih besar yang berakibat terhadap perkembangan UMKM di Indonesia. Seperti di Provinsi Yogyakarta yang semakin ketatnya persaingan antara UMKM dengan pengusaha-pengusaha besar yang semakin menimbulkan kesenjangan ekonomi. “kita cek di laporan BPS gitu tingkat kesenjangan ekonomi di DIY ini semakin menduduki peringkat yang tertinggi,” ujar Puthut Indroyono selaku Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi, diharapkan pelaku UMKM dapat terus belajar baik dari pengalaman maupun belajar melihat celah pasar untuk terus mengembangkan usaha yang mereka jalankan. (sdw)

34


UMKM Jawa Tengah | Laporan Khusus

Koperasi Sebagai Roda Penggerak UMKM Oleh : Yayuk, Tio Kurniawan

“Sudah tidak zamannya lagi koperasi dikelola dengan asal-asalan. Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UMKM dan instansi terkait lainnya perlu mengadakan pelatihan dan pembinaan secara intensif terhadap SDM koperasi. Pemerintah bisa melibatkan perguruan tinggi agar upaya tersebut bisa dilaksanakan dengan cepat dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan,” –Ria Kusumawardhani, Notaris dan Pengurus Koperasi Simpan Pinjam Artomoro, Semarang. Ilus. Edents/Henty UMKM (Usaha mikro kecil dan menengah) mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, UMKM juga berperan dalam mendistribusikan hasil-hasil pembangunan. Selama ini, UMKM telah memberikan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PBD) sebesar 57-60% dan tingkat penyerapan tenaga kerja sekitar 97% dari seluruh tenaga kerja nasional, dikutip dari Profil Bisnis UMKM oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Bank Indonesia (BI) pada tahun 2015. Jika UMKM memiliki dampak yang besar tersebut diberi perhatian lebih, maka problematika yang selama ini melanda Indonesia dari tahun ke tahun -seperti kemiskinan- akan teratasi. Jika dari jumlah UMKM yang ada di Indonesia ± 50 juta mengalami pertumbuhan yang baik, andaikan dari satu unit UMKM membutuhkan dua tenaga kerja saja, sudah bisa dihitung bahwa dari jumlah UMKM tersebut akan membutuhkan 100 juta tenaga kerja. Jika semua itu terjadi maka akan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Indonesia. Pertumbuhan UMKM akan semakin baik apabila di dukung dengan keuangan yang baik pula. Modal tentu sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu UMKM. Untuk itu, pemerintah harus berperan lebih dalam menyediakan lembaga keuangan yang dapat bermanfaat utamanya terhadap keberlangsungan UMKM. Kesejahteraan yang terdistribusi secara merata sampai tingkat masyarakat di pedesaan sudah menjadi impian panjang bangsa ini. Selama ini distribusi kesejahteraan masih berkutat pada kelompok tertentu sehingga muncul istilah ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’. Bagi negara Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah dan posisi geografis strategis dalam perdagangan dunia, kesejahteraan rakyat semestinya bisa diwujudkan. Ketika kesejahteraan tersebut belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat berarti ada kesalahan dalam proses pembangunan ekonomi bangsa ini. Beberapa kelompok masyarakat memiliki kekayaan melimpah dan beragam monopoli usaha sementara kelompok masyarakat yang lain berada di bawah garis kemiskinan.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Peran Nyata Koperasi Upaya untuk mewujudkan kemandirian ekonomi membutuhkan dukungan dari segenap elemen masyarakat. Salah satu elemen penting untuk mendukung upaya tersebut adalah peran nyata dari koperasi. Keberadan koperasi memiliki prospek yang bagus sebagai penggerak ekonomi rakyat karena kekhasan dari koperasi yang tidak dimiliki oleh lembaga ekonomi lain. Koperasi sangat sesuai dengan asas ekonomi yang di inginkan oleh ‘bapak bangsa’ kita untuk mengantar perekonomian Indonesia menuju pada suatu kemakmuran. Dengan asas usaha dari, oleh, dan untuk anggota, koperasi telah memposisikan diri sebagai mitra sejajar dalam berusaha. Beberapa keunggulan dari koperasi di antaranya, bukan sekadar lembaga yang berorientasi keuntungan, tetapi lebih mementingkan kesejahteraaan anggota. Jumlah koperasi yang tersebar sampai ke pelosokpelosok daerah menjadi modal yang besar untuk menggerakkan ekonomi rakyat.

Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Nasional Usaha produktif yang dimiliki koperasi akan melibatkan anggotanya sehingga secara otomatis membuka lapangan kerja. Perjalanan koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi nasional adalah perjalanan panjang sejarah ekonomi bangsa ini. Setelah Indonesia merdeka koperasi diterima sebagai satuan ekonomi yang sesuai untuk Indonesia dan ideologi Pancasila. Hal ini dikarenakan koperasi cocok dengan watak ekonomi Pancasila. Ekonomi Pancasila menekankan kemandirian dan pemerataan kesejahteraan sosial sebagaimana tercakup dalam sila kelima. Secara tersirat sila tersebut menggambarkan pentingnya distribusi keadilan dalam berbagai bidang termasuk ekonomi. Artinya kesejahteraan ekonomi bukanlah milik segelintir orang di Indonesia tetapi menjadi hak segenap rakyat. Perjalanan koperasi untuk mendukung perkembangan UMKM di Indonesia telah melewati proses panjang. Setelah koperasi diterima sebagai satuan ekonomi yang mendasar dalam mengembangkan ekonomi pribumi pasca proklamasi, maka hampir semua desa diarahkan untuk membentuk koperasi primer. Namun demikian, sejumlah masalah yang dihadapi

35


Laporan Khusus | UMKM Jawa Tengah koperasi membuatnya belum bisa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Selain kebijakan ekonomi di masa lalu yang belum berpihak pada koperasi dan UMKM persoalan lainnya yang dihadapi adalah kekurangan modal, manajemen lemah, kesulitan menjangkau pasaran dan tentu saja kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mengurus koperasi.“Pembentukan koperasi kontribusinya terhadap PDB hanya sekitar 6%, itu kan sangat kecil sekali. Padahal pelakunya jutaan namun hanya mampu menguasai sekecil itu. Sementara pelaku besar yang hanya beberapa nama saja mereka mampu menguasi lebih dari itu,” ujar Puthut Indroyono, Peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Koperasi dan Problematikanya Lemahnya kelembagaan merupakan problematika utama koperasi. Hal ini terjadi pada koperasi karena rendahnya pemahaman perkoperasian oleh para pengelola, pengurus maupun anggota. Partisipasi anggota dalam usaha dan pengelolaan koperasi cukup memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) oleh koperasi aktif. Rapat ini semestinya berfungsi sebagai evaluasi manajerial dan sekaligus membentuk rencana pengembangan bagi koperasi. Arah pengembangan koperasi kedepan semestinya tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah melainkan peningkatan efisiensi peran. Penambahan jumlah tanpa peningkatan efisiensi tentu tidak akan membawa pengaruh signifikan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Seperti yang terjadi di sebuah koperasi di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Puthut mengatakan, salah satu koperasi di sana sudah ada yang berusia lebih dari 25 tahun. Meski sudah berusia seperempat abad, lantas tak menjadikan koperasi ini maju dan berperan vital terhadap kesejahteraan pedagang di Pasar Kranggan. Koperasi tidak memiliki kaitan dengan tata kelola pasar. Bahkan, pembukuan yang dilakukan di koperasi ini masih sangat sederhana dan manual. “Di sana ada pegawai yang masih menggunakan metode tata buku seperti zaman dulu. Jadi semua nasabah atau anggotanya yang melakukan transaksi itu dicatat dalam buku kecil kemudian dijadikan satu dalam buku besar. Padahal itu koperasinya sudah berdiri sejak tahun 78 saat zamanya orde baru bikin koperasi,” ujar Puthut. Ini adalah contoh nyata bagaimana sistem kelembagaan adalah hal yang vital bagi kemajuan sebuah koperasi.

Prosedur Peminjaman yang Sulit Salah satu keluhan yang selama ini sering muncul dari pengusaha kecil adalah sulitnya prosedur yang ditetapkan oleh bank bagi UMKM sehingga timbul keengganan untuk mengajukan bantuan modal. “Faktor lain yang akhir-akhir ini memperburuk citra koperasi adalah rendahnya kredibilitas. Banyak koperasi yang dijadikan kedok untuk aksi penipuan dan usaha lain seperti rentenir sehingga hal ini menimbulkan keresahan di masyarakat,” ujar Ria Kusumawardhani, Notaris dan Pengurus Koperasi Simpan Pinjam Artomoro, Semarang. Seperti yang kita ketahui, kasus koperasi Langit Biru yang menipu hampir 120 ribu nasabahnya, menurunkan kredibilitas lembaga koperasi. Kondisi tersebut terjadi ketika tingkat kepercayaan masyarakat kepada koperasi semakin tinggi sehingga mengundang orangorang yang berniat jahat untuk melakukan tindakan penipuan. Beragam persoalan yang bisa menghambat perkembangan koperasi tersebut harus segera diatasi agar koperasi mampu memainkan perannya dengan baik. Oleh sebab itu, pemahaman atas nilai-nilai koperasi berupa keterbukaan, demokrasi, partisipasi, kemandirian, kerjasama, pendidikan, dan kepedulian pada masyarakat harus menjadi pilar utama dalam perkembangan suatu koperasi. Kerja keras dari insan perkoperasian bagi berkembangnya ekonomi kerakyatan adalah prestasi yang sangat ditunggu oleh bangsa ini agar keinginan untuk mandiri dan berdaya di bidang ekonomi dapat tercapai. “Sudah tidak zamannya lagi koperasi dikelola dengan asalasalan. Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UMKM dan instansi terkait lainnya perlu mengadakan pelatihan dan pembinaan secara intensif terhadap SDM koperasi. Pemerintah bisa melibatkan perguruan tinggi agar upaya tersebut bisa

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dilaksanakan dengan cepat dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan,” tutur Ria.

Terobosan Kebijakan Kredit Usaha Hal lain yang tidak kalah penting dalam upaya revitalisasi peran koperasi adalah terobosan dalam kebijakan kredit usaha. Bantuan modal untuk UMKM yang selama ini disalurkan oleh bank agar bisa dikelola oleh koperasi. Ini bertujuan agar kebutuhan permodalan bagi UMKM dapat segera terpenuhi. Salah satu keluhan yang selama ini sering muncul dari pengusaha kecil adalah sulitnya prosedur yang ditetapkan oleh bank bagi UMKM sehingga timbul keengganan untuk mengajukan bantuan modal. Dana masyarakat yang terkumpul di bank sudah mencapai Rp 2.100 trilliun. Sesuai dengan ketentuan perbankan, 80% dari dana masyarakat itu seharusnya dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pinjaman atau Loan Deposit Ratio (LDR). Untuk mempermudah dan memperpendek prosedur peminjaman, keterlibatan koperasi sangat diperlukan sebagai mitra perbankan. Penyederhanaan tersebut diharapkan dapat memicu semangat masyarakat untuk membuka usaha sendiri tanpa bergantung pada lapangan kerja yang disediakan pemerintah. Selain menyalurkan bantuan permodalan, koperasi juga harus secara aktif melakukan pembinaan terhadap masyarakat dan UMKM agar mereka membenahi kelemahan manajemen yang selama ini ada. Jika semakin banyak usaha kecil dan menengah yang tumbuh di tengah masyarakat maka ini berarti ekonomi rakyat telah mulai bangkit. Terkait dengan kelemahan yang masih dimiliki oleh koperasi, ada beberapa solusi yang sudah di jalankan oleh pemerintah seperti penambahan modal, pelatihan manajemen, dan bantuan perizinan agar koperasi memiliki posisi tawar lebih baik. Usaha lain yang harus didorong adalah melibatkan pemuda dalam pengelolaan koperasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya akselerasi pengembangan koperasi di Indonesia dikarenakan sebagian besar koperasi masih menganut asas senioritas. Sebagian besar koperasi dipimpin oleh orang yang sama dalam waktu puluhan tahun. Mereka yang sudah berusia tua relatif sulit untuk menerima perubahan dan melakukan percepatan aktivitas. Para pegiat koperasi kebanyakan kaum tua, biasanya pasca pensiun dari pekerjaanya mereka melirik koperasi untuk mengisi waktu. Pengelola koperasi tidak dilandasi oleh motivasi dan kapasitas keilmuan tentang jati diri koperasi yang benar, sehingga tidak heran jika koperasinya berjalan apa adanya. Di masa lalu, koperasi di pedesaan seperti Koperasi Unit Desa (KUD) dipimpin oleh kepala desa. Hasilnya banyak KUD yang tidak berkembang dan bahkan menjurus kepada ‘kematian’. Padahal KUD adalah salah satu basis sektor primer yang menggerakkan lapangan kerja di pedesaan. Ketidakmampuan koperasi bersaing dengan unit usaha lain salah satunya disebabkan rendahnya motivasi dan kapasitas manajerial pengelola sehingga tidak mampu mengantasipasi perkembangan usaha. Oleh karena itu peran pemuda untuk menggerakkan koperasi sangat diperlukan. Selain sebagai penerus keberlangsungan koperasi, peran pemuda juga dibutuhkan sebagai penggagas inovasi dalam menjalankan aktivitas koperasi. Namun perlu disadari, bahwa kondisi tersebut hanya bisa dicapai jika koperasi secara serius melakukan pembenahan internal dengan meningkatkan profesionalisme kerja sehingga ketika diberi kesempatan untuk membina dan mengembangkan UMKM mereka bisa melakukan dengan baik. Selain itu segenap anggota harus memegang teguh ‘rasa memiliki’ terhadap perjuangan koperasi karena hal ini merupakan faktor utama yang menyebabkan koperasi mampu bertahan pada berbagai kondisi sulit. Dengan mengandalkan ‘rasa memiliki’ yang berimbas pada loyalitas anggota dan kesediaan anggota untuk berjuang bersama menghadapi berbagai kesulitan, akan membuat koperasi mampu mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Hal tersebut menjadi faktor pembeda koperasi dengan lembaga usaha lain dimana dalam koperasi terdapat nilai-nilai dan prinsip yang tidak terdapat atau tidak dikembangkan secara sadar dalam organisasi lain. (sdw)

36


Sosial Budaya

Menilik Perjalanan Seni Rupa Indonesia di Museum Galeri Nasional Oleh : Sekar Anggit Nastiti

dok. Edents Ingin rekomendasi liburan yang tidak merogoh kocek yang banyak? Atau para pecinta lukisan, patung, atau fotografi yang ingin melihat karya seni dari seniman Indonesia? Bisa datang ke Museum Galeri Nasional di Jakarta. Museum yang akrab disebut GALNAS ini terletak di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat. Museum Galeri Nasional menyajikan kreasi karya anak bangsa maupun mancanegara. Terdapat tiga jenis pameran di museum ini, yaitu pameran tetap yang karya seninya akan seterusnya berada di Galeri Nasional, lalu pameran temporer yang pameran karya seninya akan berganti-ganti, dan yang terakhir yaitu pameran keliling yang diselenggarakan satu tahun sekali di

Saleh dibubarkan. Sekolah-sekolah beserta segala peralatannya diambil alih oleh pemerintahan Republik Indonesia dan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sampai pada akhirnya, pada 8 Mei 1999 Gedung Galeri Nasional diresmikan di bawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Sejarah Museum Galeri Nasional

Dilansir dari galeri-nasional.or.id, gedung Museum Galeri nasional sudah ada pada saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Pada tahun 1900 gedung ini merupakan bagian dari Gedung Pendidikan yang didirikan oleh Yayasan Kristen Carpentier  Alting Stitching (CAS) yang bernaung di bawah Van Vrijmetselaren.  Gedung yang berarsitektur kolonial Belanda ini dipergunakan untuk Asrama Khusus bagi wanita, sebagai usaha pendidikan yang pertama di Hindia Belanda.

Museum Galeri Nasional terdiri dari tiga gedung , yaitu Gedung A, gedung B, dan Gedung C yang masing-masing gedung memiliki pameran yang berbeda. Museum ini juga memiliki koleksi kurang lebih 1700 hasil karya seni Indonesia dan mancanegara mulai dari lukisan, patung, pahatan, sketsa , dan lain-lain. Seniman Indonesia yang menyumbangkan hasil karya seninya untuk museum ini diantaranya, Hariadi Selobingangun, Dullah, Hanafi, Setiawan Sabana, Hardi, Dede Eri Supria, dan masih banyak lagi.

Bangunan dan pengelolaan usaha pendidikan tersebut kemudian dialihkan kepada Yayasan Raden Saleh yang masih penerus CAS dan tetap dibawah gerakan Vijmetselaren Lorge. Lalu pada tahun 1962, gerakan Vijmetselaren Lorge dilarang dan Yayasan Raden

Pertiwi”. Pameran ini berlangsung dari tanggal 2-30 Agustus 2017 yang menampilkan koleksi lukisan dari beberapa Istana Kepresidenan dari berbagai wilayah di Indonesia contohnya, dari Istana Kepresidenan di Jakarta (Istana Merdeka), Bali,

dalam negeri maupun diluar negeri.

Pada tahun 1955, pemerintahan Republik Indonesia melarang kegiatan pemerintah dan masyarakat Belanda.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Ragam Koleksi Museum

Di gedung A, terdapat pameran lukisan kontemporer yang berisi koleksi lukisan Istana Kepresidenan “Senandung Ibu

37


Sosial Budaya Yogyakarta, Cimanggis, dan Bogor. Terdapat 48 koleksi lukisan dari 41 pelukis yang dipamerkan disini. Di pameran ini dibagi menjadi 5 subtema, yaitu subtema alam salah satu contohnya ‘Pemandangan Di Sekitar Gunung Merapi’ karya Abdullah Sartosubroto, kemudian subtema keseharian ‘Bertamasya

Ke Dieng’ karya Kartono Yudhokusumo, lalu subtema tradisi ‘Tari Roedjang’ karya Theo Meler, kemudian subtema mitologi

dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NonBlok di Indonesia. Di Galeri kedua, yaitu Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia

(1970-an) hingga Karya Seni Kontemporer (2000-an) menampilkan situasi politik di tanah air pada saat peritiwa Malari tahun 1974. Perjalanan pertama yaitu, Pra-Gerakan

terakhir subtema religi. Lukisan yang dipamerkan disini

Seni Rupa Baru (GSRB) dimulai 1969-1975, kemudian Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) tahun (1975-1980), hingga Seni Rupa Kontemporer (1980-1990).

Selanjutnya, di Gedung B terdapat dua pameran yang

Pahlawan dan Tokoh Perempuan” dan Pameran “Yes, The future

‘Lukisan Nyi Roro Kidul’ karya Basoeki Abdullah, dan yang merupakan lukisan asli yang dibawa dari Istana Kepresidenan di beberapa wilayah di Indonesia.

disuguhkan, yaitu pameran kontemporer dan pameran tetap. Di pameran kontemorer terdapat Pameran Tunggal Karya Budi

Ubrux “INDONESIA”. Pameran ini menyuguhkan berbagai macam lukisan, patung, dan replika kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dan berlangsung dari tanggal 03-13 Agustus 2017. Kemudian, pameran tetap yang karya seninya selalu berada di Galeri Nasional. Pameran tetap di sini dibagi menjadi dua galeri yaitu, Galeri Seni Rupa Modern Indonesia dan Internasional dan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1970-an) hingga Karya Seni Kontemporer (2000-an).

Di dalam Galeri Seni Rupa Modern Indonesia dan Internasional menjelaskan perjalanan seni rupa modern Indonesia mulai dari Masa Perintisan (1820-1880) pada masa pelukis Raden Saleh Sjarif Bustaman, pelukis terkenal dan handal karena menguasai teknik seni lukis modern yang sebelumnya tidak dijumpai di tanah Jawa. Kemudian, lanjut ke Mooi Indie (1920-an) berdirinya Bataviaasche Kunstkring (Lingkar/Kelompok seni Batavia) yang menyelenggarakan pameran pelukis Eropa tentang panorama alam dan akhirnya memengaruhi pelukis pribumi untuk melukis tentang alam. Pelukis Mooi Indie diantaranya Abdulah Suriosubroto, Surjo

Subanto, dan sebagainya. Selanjutnya, pada zaman PERSAGI (1938-1942) berdirilah organisasi seniman pribumi pertama yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia yang karya lukisnya mencerminkan semangat kebangsaan. Lalu, Era Pendudukan Jepang, Kemerdakaan Indonesia, dan Era Sanggar(1942-1949) di zaman ini berdiri Pusat Kebudayaan dan lahirlah Era Sanggar yang bernama Seniman Muda Indonesia, lalu Pelukis Rakjat, dan sebagainya. Hingga yang terakhir, berdirinya Akademi Seni Rupa dan Seni Rupa Modern (1947-1970) yang sekarang banyak dikenal diantaranya, Fakultas Seni Rupa dan Desain Intitut Teknologi Bandung (ITB), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPJK) atau yang dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kemudian koleksi karya Internasional, yang karyanya penah ditampilkan dalam pameran karya seni berskala Internasional, yakni pertama “Pameran Paris-Jakarta Masa 1950-1060” di Gedung Pameran Seni Rupa pada tahun 1992 dan Pameran

“Contemporary Art of The Non-Aligned Countries Unity in Diversity in Internatinal Art” pada tahun 1955, bersamaan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Kemudian, di gedung C juga terdapat dua pameran

kontemporer, yaitu Pameran Sejarah “Visualisasi Ekspresi

Has Been Sold”. Pada Pameran Sejarah Wanita berlangsung dari tanggal 07-21 Agustus 20107 dan diikuti oleh 37 pelukis

di pameran ini. Pameran ini bertujuan menyuguhkan kembali konteks sejarah ‘kekinian’ melalu lukisan, dan disisi lain menampilkan sosok perempuan dalam agen perubahan di dunia. Tokoh-tokoh wanita yang disuguhkan di pameran ini diantaranya, Nyi ageng Serang, Cut Nyak Dien, Martha Kristina Tiahahu, Tjoet Nyak Meutia, dan lain-lain. Selanjutnya, Pameran Yes, The future Has Been Sold” yang dapat diartikan sebagai waktu yang akan datang tetapi juga dapat diartikan sebagai situasi atau imajinasi manusia yang mungkin akan terjadi di masa depan. Sekitar 7 seniman Jakarta yang ikut serta dalam pameran ini. Kemudian di pameran ini lebih menunjukan teknik seni grafis, dan latar belakang pendidikan seni grafis dari setiap para pelukis. Kesan dan Harapan untuk Galeri Nasional

Salah satu pengunjung Galeri Nasional Indonesia memberikan kesan pada saat mengunjungi museum ini, bahwa Galeri Nasional terlihat rapi dengan penyusunan lukisan yang tertata dan museum yang penuh dengan ciri khas Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Chalida Ainun Nisrina mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) “Disini saya dapat belajar mengenai Indonesia di zaman dahulu lewat lukisan. Sangat nyaman bagi orang-orang yg memang ingin belajar dan menikmati seni. Alurnya juga tertata dengan rapi dan tidak lupa disediakannya informan disetiap sudut yang memang siap melayani tamu jika membutuhkan informasi tambahan.” Ujarnya. Selain itu, ia juga berharap supaya museum ini menjadi suatu potensi dan wadah yang cukup untuk mengembangkan potensi seniman Indonesia. “Dengan faktor di atas, saya rasa Galeri Nasional dapat membuat wadah tersebut menjadi lebih besar dan dapat dikembangkan menjadi tempat destinasi wisata yang baru yang tentunya rapih, kondusif dan nyaman namun tetap menjaga kualitasnya” tambahnya. Berada di tengah kota Jakarta, membuat museum ini tidak pernah sepi dikunjungi pengunjung dari beberapa wilayah. Galeri Nasional buka setiap hari Selasa-Minggu mulai pukul

09.00-16.00 dan tiket masuk yang gratis Anda bisa menambah ilmu tentang perjalanan seni rupa di Indonesia. (sdw)

38


Diantara Kita dok. solopos.com

Mengais Rezeki dengan Kendaraan Pribadi Oleh : Julian Karinena Berlianti

Transportasi menjadi hal yang penting bagi aktivitas ekonomi.

Pemerintah pun semakin gencar menyediakan transportasi

umum guna meningkatkan mobilitas penduduk. Akan tetapi, transpotasi umum roda empat yang disediakan pemerintah dirasa masih kurang untuk melayani mobilitas masyarakat

perkotaan yang ingin serba instan. Mengandalkan transportasi umum sepertinya bukan pilihan utama lagi untuk berpergian. Keberadaan ojek terutama ojek online membawa angin segar kepada masyarakat yang lebih menyukai berpergian menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi.

Ojek merupakan transportasi umum tidak resmi yang beroperasi di Indonesia. Meskipun tidak resmi, keberadaan ojek sangat membantu untuk melewati kemacetan kota metropolitan. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, menawarkan kemudahan bagi pelanggan, dan biaya yang lebih murah dari ojek pengkolan membuat ojek online menjadi primadona untuk sarana transportasi. Sugeng Riyadi, Satu diantara Ribuan Driver Ojek Online

Permintaan yang tinggi terhadap ojek online membuat banyak orang menjadikan ojek online sebagai profesi untuk menambah penghasilan. Sampai saat ini ada 500.000 driver (pengemudi) ojek online yang beroperasi di Indonesia dari berbagai perusahaan. Salah satunya yakni Sugeng Riyanto. Sugeng sudah menjadi driver ojek online kurang lebih tiga bulan. Sebelum menjadi driver ojek online, Sugeng berprofesi sebagai tukang ojek pengkolan. Sugeng memiliki 2 anak yang sudah bekerja sehingga pendapatan ngojek-nya digunakan untuk menghidupi istri dan menambah uang jajan cucu-cucunya. Menurut Sugeng, menjadi driver ojek online hanya memerlukan motor yang sehat dan bensin, Hal ini yang menjadi alasannya kenapa ia memilih menjadi driver ojek online. Keseharian Driver Ojek Online

Usai melaksanan salat subuh, Sugeng langsung menjalankan tugasnya sebagai pengemudi ojek online. Waktu untuk beroperasi juga fleksibel. Sugeng akan istirahat jika memang dirasa perlu istirahat. Sugeng menerima pesanan ojek maksimal hingga pukul sepuluh malam. Sugeng biasanya menunggu pesanan pertamanya di depan rumah, rute selanjutnya mengikuti pesanan yang masuk. Meskipun Sugeng dapat mengatur waktunya sendiri untuk bekerja dan lebih fleksibel, bukan berarti dalam

menjalankan pekerjaannya Sugeng tidak menemui kendala.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Penumpang yang banyak permintaan hingga penumpang yang tidak ramah sering ditemui Sugeng saat ia bekerja.

Layanan ojek online tidak hanya melayani jasa untuk

mengantar seseorang saja, namun layanan ini juga menyediakan fitur lain. Jasa untuk mengantarkan barang, mengisi pulsa, jasa untuk membelikan makanan, dan masih banyak lagi. Selain

jasa untuk mengantar berpergian, fitur yang sering digunakan adalah jasa untuk membelikan makanan. Sugeng juga kerap kali mendapat pesanan untuk membeli makanan. Pesanan dibatalkan begitu saja juga tak jarang terjadi padanya. Menurutnya hal

seperti itu membuat hubungan antara driver ojek dengan pembeli menjadi tidak harmonis, karena bagaimanapun ia akan merasa kecewa jika sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi pesan dibatalkan. Mendapat Teguran dari Penumpang

Penumpang memang memiliki hak untuk mendapat pelayanan yang baik saat menggunakan jasa ojek online. Meskipun driver ojek online sudah berusaha maksimal untuk memberi pelayanan yang terbaik, bukan berarti driver ojek tidak memiliki kesalahan. Sugeng mengaku dirinya pun pernah mendapat teguran dari penumpangnya karena saat berkendara sering melihat handphone. “Saya memang pernah ditegur oleh penumpang saya. Saat motoran itu saya pegang hp untuk buka peta,� ungkap Sugeng. Selain fokus pada handphone saat berkendara, kesalahan yang biasanya dilakukan oleh drivers ojek online adalah tidak memperhatikan jalan. Menurut pengalaman Sugeng, penumpang akan kesal saat driver ojek online tidak menghindari jalan yang berlubang. Suka Duka dan Harapan Menjadi Driver Ojek Online

Suka duka dalam menjalani aktivitas pasti selalu ada, termasuk menjadi driver ojek online. Ketika ia bertemu dengan penumpang ramah, Sugeng tidak akan sungkan untuk meminta bintang lima. Bintang lima untuk driver ojek online sangat berarti karena dengan bintang yang diberikan penumpang menunjukan performa mereka. Selain itu, hal yang membahagiakan adalah ketika penumpang memberi uang lebih. Penumpang yang ramah juga akan membuat Sugeng tidak sungkan untuk mengajak berbincang ringan saat perjalanan. Ketika bertemu dengan penumpang yang ramah, Sugeng selalu berharap dapat bertemu lagi dikemudian hari. Ke depannya, akan ada lebih banyak lagi

orang yang beralih menjadi driver ojek online. Sugeng berharap, semakin banyak masyarakat yang menggunakan jasa ojek online. (sdw)

39


Kabar Undip

International Scholarship Show 2017 : Selangkah Lebih Dekat dengan Beasiswa Luar Negeri Oleh: Asma Mutia

Kementerian Advokesma BEM Undip 2017 telah mengadakan International Scholarship Show 2017 di Aula Auditorium FPIK pada hari Minggu, 10 September 2017 silam. International Scholarship Show 2017 merupakan acara yang berisi talkshow tentang beasiswa luar negeri dan student exchange. Menariknya, acara ini didukung pula dengan adanya Expo berupa stand-stand beasiswa luar negeri dan dalam negeri serta konsultasi TOEFL dan IELTS sehingga dapat membantu peserta mendapatkan informasi lebih lanjut. International Scholarship Show 2017 ini dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia, Febri Daris Faidaturohmah. Ia mengatakan acara ini bertujuan untuk memotivasi dan memberi informasi tentang beasiswa baik dalam negeri maupun luar negeri. Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara muda yang merupakan para peraih beasiswa dan student exchange. Pembicara pertama adalah Muhammad Assad, seorang pembicara internasional dan penulis buku-buku national bestseller. Salah satu bukunya berjudul “Notes from Qatar” yang ditulis dalam 3 jilid. Penerima Rector’s Gold Award, The Best International Student Award, dan Chancellor Award ini mengatakan jika memang ingin mendapat beasiswa, kita harus punya impian. Jika tidak punya impian, kita tidak tahu ke mana tujuan kita. Assad mengatakan bahwa di mana pun kita berada, kita harus jadi yang terbaik. Kita harus berniat memberikan yang terbaik selama di luar negeri lalu kembali memberikan kontribusi pada Indonesia. Saat menentukan akan melanjut pendidikan magister di luar negeri, Assad menyarankan untuk membuat daftar universitas luar negeri dengan beasiswa beserta persyaratannya. Ada rumus 3P untuk mengejar beasiwa yaitu Positive, Persistent, dan Pray. Kemudian ada rumus 3H yang dilakukan setelah mendapat beasiswa yaitu humble, honest, dan helpful. Rumus tersebut tentang bagaimana kita bersosialisasi dan bergaul dengan orang lain. Salah satu syarat beasiswa adalah nilai TOEFL yang memenuhi kriteria. Assad kemudian memberikan dua tips untuk meningkatkan nilai TOEFL yaitu menonton program acara bahasa Inggris tanpa terjemahan dan membaca artikel berbahasa Inggris lalu mencari 5 kata yang sulit untuk diterjemahkan. “Tidak ada perkembangan di zona nyaman dan tidak ada kenyamanan di zona perkembangan. Tinggalkan zona nyamanmu untuk berkembang.” pungkas Assad. Pembicara selanjutnya adalah Annisa Fabatina Wardini. Faba adalah peraih Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pendidikan magister di Inggris. Ia baru saja lulus dari jurusan Teknik Kimia University of Manchester dalam kurun waktu satu tahun. Faba memaparkan mengenai pilihan bekerja dulu atau langsung melanjutkan pendidikan master di luar negeri. Bila memang ada rencana mengambil pendidikan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

magister, maka mulai mencari universitas dan jurusan yang akan dituju. Kemudian segera menyiapkan dokumen yang diperlukan serta membina hubungan yang baik dengan dosen agar mudah diberikan recommendation letter. Ia menyarankan untuk mengambil semua kesempatan dengan pertimbangan yang matang. Untuk belajar bahasa Inggris bisa dimulai setiap hari dengan belajar minimal dua jam disertai dengan mendengarkan radio BBC UK. “S2 ke luar negeri itu mudah banget kok, saya bisa kamu pasti juga bisa.” Imbuhnya. Kemudian ada pembicara terakhir yaitu Diana Purwaningrum, seorang guru Permata Bangsa School. Alumni sarjana jurusan Pendidikan Sastra Inggris UNNES ini pernah mengikuti Program Pertukaran Pelajar Antar Negara (PPAN) 2013 di Tiongkok yang diselenggarakan oleh KEMENPORA. Pada tahun 2014, ia menjadi salah satu penerima beasiswa LPDP Pendidikan Magister Jurusan Ilmu Pendidikan Baca dan Literasi Sastra Inggris Ohio University, Amerika. Diana menuturkan ada banyak sekali program pertukaran pelajar. Ada yang satu tahun, bulanan, mingguan, bahkan harian. Program pertukaran pelajar ada dua jenis yaitu on campus dan off campus. On campus artinya peserta mengikuti kegiatan di dalam kampus layaknya perkuliahan sedangkan off campus artinya peserta mengikuti kegiatan di luar kampus seperti kegiatan sosial dan kunjungan ke pusat usaha. Banyak manfaat yang didapat setelah mengikuti program ini. Beberapa diantaranya adalah kesempatan untuk magang di perusahaan luar negeri karena memiliki kenalan di negara tujuan dan kesempatan membuat program kolaborasi antaralumni dari Indonesia. Di akhir sesi ada presentasi beasiswa pemerintah. Presentasi pertama dari program beasiswa Australia Award. Beasiswa ini merupakan program kerjasama pemerintah Indonesia-Australia. Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan kesempatan mengenyam pendidikan magister dan doktor dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia alumni diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk perbaikan pembangunan di Indonesia dan menjadi bagian dari komunitas alumni secara global . Program ini tidak ada batasan usia dan terbuka untuk siapa saja untuk mendapatkan beasiswa ini. Setelah itu, ada presentasi dari peraih beasiswa LPDP dalam negeri yang mengenalkan tentang LPDP. LPDP merupakan lembaga yang berada langsung di bawah naungan Kementerian Keuangan. Tujuan dari program ini adalah menyiapkan generasi bangsa untuk membangun Indonesia. Annisa Nur Hidayah merasa senang dengan adanya International Scholarship Show ini. Annisa mengatakan bahwa ia mendapatkan motivasi dan informasi dengan adanya talkshow dan Expo ini. Begitu pula dengan Sekarnida Salsabila. “Saya yang pertamanya awam jadi lebih mengerti tentang cara mendapatkan beasiswa.” ungkap Sekar. (sdw)

40

dok. Edents

Tidak ada pertumbuhan di zona nyaman dan tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan. Tinggalkan zona nyamanmu untuk bertumbuh. -Muhammad Assad, Penulis Buku ‘Notes from Qatar’


Komunitas

dok. Twitter/Kmunitasasaedu

Komunitas Asa Edu, Berdayakan dan Edukasi Masyarakat Pesisir

Kunjungi! www.lpmedents.com

Oleh: Dirga Ardian Nugroho

Pengetahuan dan keterampilan adalah dua hal yang dapat memberi nilai tambah pada diri setiap manusia. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki pengetahun dan keterampilan yang seimbang. Hal tersebut dapat disebabkan karena ketidakmerataan pendidikan, alur informasi yang lambat, serta perbedaan masing-masing individu. Namun, bukan berarti kurangnya pengetahuan dan keterampilan tidak dapat diatasi. Hadirnya berbagai macam bentuk kelompok yang memberikan dampak positif di tengah masyarakat kini kian tak terbendung, contohnya adalah Komunitas Asa Edu. Komunitas Asa Edu adalah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan. Komunitas sosial ini giat dalam melakukan pengajaran kepada anak-anak di daerah pesisir, tepatnya di daerah Tambak Mulyo, Semarang. Tidak hanya itu, Asa Edu juga melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah tersebut. “Kita juga memberdayakan masyarakat, sehingga masyarakatnya lebih mandiri”, jelas Muhammad Ibnu Shina, pengurus Komunitas Asa Edu. Komunitas Asa Edu mulanya terbentuk dari projek-projek kecil yang dikembangkan oleh pengurusnya yang terdahulu, melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir. Berawal dari pendekatan personal, komunitas ini terus berusaha mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah pesisir. “Awalnya kita kayak pendekatan dulu, jadi lebih mengoptimalkan potensi yang ada di pesisir, mulai dari pendidikan, ekonomi, sampai sosialnya”, tukas Elin Kusuma, pengurus Komunitas Asa Edu. Komunitas Asa Edu memiliki kegiatan-kegiatan yang rutin mereka laksanakan. Kegiatan rutin yang biasa mereka lakukan eperti melakukan pengajaran setiap minggu terhadap anak-anak pesisir. Tidak hanya pengetahuan formal seperti membaca dan berhitung yang diajarkan, akan tetapi pendidikan moral juga diajarkan di sini. Komunitas ini juga mempunyai kegiatan-kegiatan khusus seperti 1000 Seniman saat bulan Ramadan,pesisir bersih, dan perayaan ulang tahun komunitas Semakin banyaknya orang yang ikut bergabung dalam komunitas ini, menunjukkan perkembangan yang dialami oleh Komunitas Asa Edu. “Banyak orang lain yang ikut bergabung seperti dari Unnes, Unisbank. Apalagi setiap bulan kita buka volunteer gitu, dan itu kita buka kesempatan untuk volunteer mengajar untuk tiap minggu”, kata Elin. Berdirinya komunitas ini bukan tanpa kendala. Shina mengungkapkan bahwa biaya merupakan hal yang cukup mengganggu keberlangsungan Komunitas Asa Edu. Kendala ini mereka tanggulangi dengan sistem uang kas. Shina dan Elin mengungkapkan bahwa mereka memiliki cerita tersendiri selama menjadi bagian dalam Komunitas Asa Edu. Shina mengungkapkan perihal dirinya yang merasa senang bisa lebih dekat dengan anak-anak pesisir dan dapat membimbing mereka secara langsung. Di lain sisi, Elin menjelaskan bahwa awalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan anak-anak dan daerah pesisir yang identik dengan panas dan kotor. “Ketika pertama kali saya melihat keadaan yang seperti itu, oke berarti memang ada tempat yang membutuhkan perhatian mahasiswa secara khusus,” Ujarnya. Namun kemudian ia berpikir bahwa peran yang diemban sebagai mahasiswa harus bisa memberikan aksi nyata kepada masyarakat. Komunitas ini memiliki struktur organisasi yang jelas. Ada pembina, ketua, divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Komunitas Asa Edu mulanya terbentuk dari projekprojek kecil yang dikembangkan oleh pengurusnya yang terdahulu, melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir. Berawal dari pendekatan personal, komunitas ini terus berusaha mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah pesisir. (PSDM), Program, dan Sponsorship. Komunitas Asa Edu juga melakukan open recruitment guna mencari relawan yang ingin ikut melakukan pengajaran terhadap anak-anak di daerah pesisir. Relawan ini tidak hanya terbatas anak-anak kuliah atau SMA, akan tetapi seluruh elemen masayarakat dapat bergabung dengan komunitas ini. Untuk penjaringan anggota sendiri, Komunitas Asa Edu melakukannya secara terstruktur yakni lewat media sosial, lalu melakukan seleksi dan wawancara, hingga akhirnya terpilih 10-20 orang yang berhak menjadi anggota baru. Komunitas Asa Edu sendiri mendapat respon yang baik dari masyarakat sekitar pesisir. “Sangat men-support, bahkan mengapresiasi dan terus dikembangkan agar masyarakat sekitar terus mandiri”, ungkap Shina. Elin berharap agar masyarakat di daerah pesisir terus berkembang. Ia juga berharap supaya pihak luar seperti swasta dan pemerintah melirik daerah pesisir dikarenakan potensinya yang sangat menjanjikan. Shina dan Elin juga membagikan ceritanya tentang alasan kenapa mereka ingin bergabung dengan Komunitas Asa Edu. “Sebagai mahasiswa aku ingin langsung mengabdi ke masyarakat, langsung terjun ke orang-orang pesisir, cara membagi ilmu dengan anak-anak, merupakan hal yang luar biasa”, jelas Shina. Sedangkan Elin mengungkapkan tentang dirinya sebagai mahasiswa rantau yang nantinya ilmu yang ia dapatkan bisa diterapkan di daerah asalnya ketika ia pulang. Keduanya juga merasakan dampak yang berbeda setelah bergabung dengan Komunitas Asa Edu. “Saya menjadi lebih peduli, dan ikut merasakan apa yang dirasakan masyarakat pesisir,” kata Elin. Di lain pihak, Shina merasa dirinya menjadi lebih peka serta kemampuan komunikasinya terus meningkat setelah bergabung dengan komunitas ini.. Shina berharap agar ke depannya Komunitas Asa Edu terus memberikan pembelajaran dan selalu memotivasi masyarakat pesisir untuk terus berkembang lagi. Senada dengan Shina, Elin berharap supaya komunitas ini semakin menggandeng banyak orang, yang nantinya dapat membantu anak-anak pesisir dalam menggapai mimpi dan cita-cita mereka. (sdw)

41


KABAR

KAMPUS

ENFUTION 2017: Persiapkan Diri Hadapi Dunia Kerja Oleh: Farah Nofri Pudjianti

dok. Edents

Himpunan Mahasiswa Departemen Manajemen (HMDM) kembali menyelenggarakan acara seminar dan talkshow Enfution ke-9 yang dilaksanakan pada 11 september 2017. Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB UNDIP, acara ini merupakan serangkaian dari dua acara sebelumnya yaitu Diponegoro Business Case Competition (DBCC) yang dilaksanakan pada 7 September dan Management Conference pada 8 September 2017. DBCC merupakan perlombaan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan kasus bisnis dari sebuah perusahaan. Untuk pesertanya terdiri dari 2 – 3 orang per tim dan perlombaan ini terbuka untuk seluruh mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia dan semua jurusan. Selanjutnya, management conference yaitu sebuah acara yang di dalamnya terdiri dari kompetisi esai, lomba pape, dan presentasi, workshop, idea pitching, dan panel diskusi dengan pembicara – pembicaranya. Acara ini juga terbuka untuk seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi dari seluruh kampus di Indonesia. Lalu, sebagai penutup dari kedua acara tersebut yaitu dilaksanakannya seminar dan talkshow enfution Berbeda dengan tahun sebelumnya yang bertema kreatifitas dalam bekerja, pada tahun ini tema Enfution berorientasi kepada menghadapi lingkungan kerja. Tema dari ketiga acara ini meliputi sekaligus tujuan utamanya yaitu “Discover, Learn, Elevate”. Discover mempunyai arti menghasilkan generasi muda untuk siap menghadapi lingkungan kerja yang menantang di masa depan. Learn yaitu meningkatkan kehidupan bangsa untuk mempersiapkan pertumbuhan ekonomi di masa depan dan Elevate yaitu meningkatkan diri sendiri melalui jaringan yang luas dan pemahaman ekonomi. Seminar talkshow enfution menjadi daya tarik tersendiri dari rangkaian acara enfution 2017. Dengan menampilkan pembicara-pembicara inspiratif, acara ini terbagi menjadi dua sesi yaitu sesi pertama untuk seminar dan sesi kedua yaitu talkshow. Dimulai dari pembicara pertama yaitu Yasa Singgih, seorang wirausahawan muda yang berhasil masuk dalam Under 30 Young Leaders & Entrepreneurs in Asia versi Forbes tahun 2017. Ia menceritakan pengalamannya bagaimana ia merintis usaha ketika masih kecil dulu sampai sekarang. Yasa harus mengalami kerugian yang sangat besar dalam usia yang masih sangat muda tetapi terus mencoba dan mencoba sehingga bisa sampai seperti saat ini yaitu mempunyai usaha merk dagang sendiri, Men’s Republic dengan omzet ratusan juta rupiah.“ Saya selalu bilang kunci sukses saya adalah tiga, yang pertama punya attitude yang baik, bisa dipercaya, jujur, beretika. Kedua, mempunyai motivasi, semangat, tahu mimpi dan tujuannya apa

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dan yang ketiga adalah menjadi seorang yang pembelajar,” ujar Yasa Singgih. Pembicara kedua dibawakan oleh Nina Moran salah satu pendiri dan CEO dari majalah remaja ternama di Indonesia yaitu Go girl! Sama seperti pembicara sebelumnya, Nina Moran membagikan kisah pengalamannya dalam memulai bisnis dan cara sukses dalam berkarir. Masalah – masalah pun dilewati oleh Nina Moran semasa itu, mulai dari hinaan yang diterima ketika ia ingin meminta modal ke bank hingga tertipu percetakan majalahnya. Belajar dari masalah yang dialaminya, ia menjelaskan bahwa entrepreneurship tidak segampang yang dipikirkan seperti hanya untuk mendapatkan laba. Banyak hal – hal yang membuat wirausahawan harus mempunyai mental yang kuat, dapat menghadapi tekanan yang tinggi, dan untuk mendapatkan kesuksesan itu membutuhkan waktu yang lama. Acara ini dilanjutkan dengan talkshow yang menampilkan pembicara – pembicara yang tidak kalah menarik dari seminarnya yaitu terdapat Muhammad Sadad sebagai Founder dan CEO Erigo Store, Patricia Gouw, dan Ge Pamungkas. Mereka juga membagikan kisahnya masing – masing seperti cara berwirausaha dan menghadapi dunia kerja di masa depan. Yang terakhir dari acara ini yaitu pengumuman pemenang Juara 1 DBCC yang diraih oleh tim dari Universitas Indonesia. Dengan banyaknya acara yang dilaksanakan, kendala – kendala pun pasti dialami oleh panitia. Kendala terbesar dari acara-acara tersebut yaitu masalah waktu. “Kendala terbesarnya sih ini ya, banyak peserta tuh yang datang pada ngaret (terlambat) gitu,” ujar Arif Naufal selaku Project Officer Enfution 2017. Terlepas dari kendala yang ada, acara – acara ini dikemas dengan sangat baik dan mendapat respon yang positif. Menurut salah satu peserta lomba, acara ini terselenggara dengan cukup baik. Hal senada disampaikan Nia, peserta seminar dan talkshow Enfution 2017 yang menanggapi positif acara ini. “Acara ini sudah sangat bagus dan juga memberikan manfaat dan menambah ilmu. Pembicaranya juga pas sekali sehingga bisa memberikan inspirasi bagi saya dan yang lainnya,” ujarnya. Ia juga berharap Enfution ke depannya akan lebih menarik lagi dengan tema yang berbeda dan lebih kreatif. Arif Naufal berharap agar Enfution tahun depan bisa menjadi lebih baik lagi baik dari segi peserta, pembicara, maupun pelaksanaan, “Harapan untuk peserta setelah menonton seminar ini, semoga peserta mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Jadi, mereka nonton seminar talkshow tidak akan sia-sia serta harapan untuk seminar enfution tahun depan semoga lebih bagus lagi dari tahun ini,” ujarnya. (sdw)

42


KOLOM PU

Sudah Tepatkah Keberpihakan Selama Ini? Oleh: Adhevyo Reza*)

Telah berjilid – jilid paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh rezim pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Barangkali tidak ada seorang pun bahkan ekonom yang hafal isi paket demi paketnya. Setidaknya per Agustus 2017 sudah ada 16 paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan. Dari semua jilid demi jilidnya tersebut kita menemukan sebuah benang merah yaitu semua paket kebijakan ekonomi tersebut untuk meningkatkan kinerja pereknomian. Mulai dari pengendalian harga pokok, belanja pemerinta, palayanan izin terpadu, deregulasi izin investor, dan lain – lain. Pada tulisan saya kali ini, saya ingin melihat bagaimana keseriusan pemerintahan Joko Widodo pada pengembangan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Berbicara UMKM, terdapat salah satu pionir pendorong sektor UMKM di Indonesia, Pedagang Kreatif Lapangan. “Apa?” mungkin terdengar asing di telinga kita semua, tapi bagaimana jika saya bilang Pedagang Kaki Lima?

Definisi UMKM Merujuk pada Undang – Undang No.28 Tahun 2008 tentang UMKM, definisi dari UMKM sendiri dibagi menjadi kata demi kata. Pada usaha Mikro, yang dimaksud dalam UU adalah usaha produktif milik perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro. Sedangkan usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar. Sedangkan untuk usaha Menengah memiliki pengertian yang serupa dengan usaha Kecil yang dibedakan atas jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Merujuk pada definisi mikro, usaha jenis mikro diatur dengan jumlah aset maksimal 50 juta dan omset maksimal 300 juta ruiah. Setelah kita mengetahui definisi dari masing-masing jenis usaha tersebut, sekarang kita pada pertanyaan mendasar dalam tulisan ini, “Apakah PKL (Silakan Anda pilih kepanjangan yang mana yang lebih nyaman untuk Anda bayangkan) adalah UMKM?” Dari penjabaran di atas kita dapat mengambil jawaban bahwa PKL memang bagian dari sektor UMKM. Karena pada definisi omset yang diatur adalah batas maksimal, yaitu 50 juta untuk aset dan 300 juta untuk omset. Maksimal, penting untuk digarisbawahi. Lalu bagaimana jika melebihi angka tersebut? Mudah saja, berarti PKL tersebut masuk kepada usaha kecil atau menengah. Mengapa penting untuk kita menjabarkan ini terlebih dahulu, karena muncul kebingungan yang mungkin dipikirkan banyak orang, apakah PKL yang melakukan usahanya dengan memanfaatkan prasarana yang bukan untuk peruntukanya seperti badan jalan atau trotoar adalah UMKM?

Sejarah PKL Hingga Hari Ini Mengenai penjelasan PKL sendiri acapkali terdapat sesat berpikir pada masyarakat. Selama ini PKL sering diartikan bahwa pedagang yang menggunakan gerobak sehingga terlihat seperti berkaki lima. Sebenarnya menarik mundur ke masa lampau, definisi PKL adalah badan usaha atau pedagang yang melakukan aktifitas jualanya diatas trotoar yang memiliki lebar 5 kaki. Pada tahun 2010, Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, bersama tiga instansi terkait Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Koperasi dan UMKM melalui SKB 3 menteri menghilangkan istilah Pedagang Kaki Lima dan menggantinya menjadi Pedagang Kreatif Lapangan. Adapun maksud dari

43


KOLOM PU

Dan yang menjadi kunci dari semua penataan PKL adalah komunikasi. Langkah-langkah persuasif lebih penting dan harus diuatamakan untuk dilakukan sebelum relokasi. Karena bagaimanapun yang penting adalah memanusiakan PKL dengan cara komunikasi bukan dengan kejar-kejaran, pentungan, apalagi tendangan, karena para PKL di banyak daerah bukanya tidak mau direlokasi tetapi tidak diberikan haknya berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah.

tujuan penggantian istilah ini adalah untuk menaikan derajat dari para pedagang karena perjuangan mereka yang luar biasa seperti yang dikatkaan  Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM saat itu, Ikhwan Asrih dikutip dari depkop.go.id. Namun adakah penggantian istilah ini menaikan derajat para pedagang atau hanya semu sekedar kata?

PKL. Memang benar adanya jika awalnya PKL ini datang tanpa diundang dan berada pada tempat yang tidak seharusnya, tetapi jadi kewajiban pemerintah pula untuk memfasilitasi PKL ini dan bukan saja berlindung di balik undang – undang penataan kota yang mengatasnamakan estetika. Agaknya sudah cukup jeli kita mendengar bagaimana aksi-aksi represif yang dilakukan oleh “oknum� aparat negara dalam penggusuran PKL. Alih – alih melakukan penataan, pemerintah kota lebih sering melakukan penggusuran, dan teracap kali pemerintah belum menyiapkan tempat relokasi dimana para pedagang tersebut akan berjualan selanjutnya. Hal ini seperti yang terjadi saat penggusuran PKL di Puncak, Bogor. Setelah dilakukan penggusuran, para stakeholder terkait baru melakukan perumusan di mana relokasi PKL selanjutnya. Masalah lainnya yang sering dikeluhkan oleh para PKL adalah tempat relokasi yang tidak menunjang mereka untuk berusaha. Seperti para pedagang di Tanah Abang, setelah pemberian kios-kios untuk relokasi, tetap saja para pedagang lebih memilih untuk berjualan di trotoar atau bahu jalan dengan alasan aksesibilitas tempat relokasi yang buruk. Dan yang menjadi kunci dari semua penataan PKL ini adalah komunikasi. Langkah-langkah persuasif lebih penting dan harus diuatamakan untuk dilakukan sebelum relokasi. Karena bagaimanapun yang penting adalah memanusiakan PKL dengan cara komunikasi bukan dengan kejar-kejaran, pentungan, apalagi tendangan, karena para PKL di banyak daerah bukanya tidak mau direlokasi tetapi tidak diberikan haknya berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah. Dan pada akhirnya, tidak ada satupun pembenaran atas segala tindakan represif yang mengatasnamakan keteraturan. (sdw)

PKL yang Dibutuhkan Pernahkah Anda membayangkan berwisata di Yogyakarta akan tetapi jalanan Malioboro lengang oleh pedagang? Tidak tentunya. PKL Malioboro adalah salah satu dari sekian banyak contoh bahwa PKL adalah salah satu aktor yang dipentingkan baik dari segi kebutuhan hingga pariwisata. Adapun mengapa PKL mengapa dirasa sangat dibutuhkan karena aksesibilitas dan harga yang ditawarkan yang jauh lebih murah dibandingkan sektor usaha lainya. PKL juga menjadi salah satu sektor yang menciptakan lapangan kerja cukup banyak. Seringkali kita lihat dengan adanya PKL sebuah daerah menjadi lebih hidup.

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok. Edents

Pendampingan Bukan Pentungan Dengan segala keuntungan yang disebut di atas bukan berarti PKL sendiri menjadi bebas dari masalah. Malah poin dari segala penjelasan di atas ada pada subbab ini. Setelah kita tahu segala keuntungan yang didapat dari PKL bukan berarti kita boleh untuk menampikan dampak negatif dari PKL. Saya berpendapat tidak boleh ada dalam penegakan hak dari sebagian golongan berhak untuk mengambil hak dari orang lain. Pejalan kaki memiliki hak untuk berjalan di tempat yang sudah disediakan, kendaraan memiliki hak untuk berkendara dengan lancar di jalan. Akan tetapi PKL juga memiliki hak untuk berjualan guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Di sinilah peran dari pemerintah diperlukan. Bukan sekadar kebijakan-kebijakan kemudahan investasi dan deregulasi yang dibutuhkan, tetapi kebijakan dan keberpihakanya pada masalah yang terlihat lebih kecil tetapi sebenarnya merupakan substansi yaitu kepastian usaha kepada siapapun termasuk

*) Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Edents Tahun 2016/2017

44


KOLOM REDAKSI

Koperasi, Kunci Utama Tingkatkan Kesejahteraan Petani Oleh : Akhmad Sadewa Suryahadi*)

dok. rumpunips.com Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Sebanyak 70 persen masyarakat Indonesia berptofesi sebagai petani. Mereka menanam tanaman pertanian seperti seperti padi, jagung, singkong, serta tanaman palawija lainnya. Tanah Indonesia yang subur menjadikan banyak penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Sangking suburnya, tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman, begitu katanya.

Pertanian adalah Sektor Vital Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan penting bagi perekonomian. Di sini perlu ditekankan bahwa sektor pertanian bukan sebatas pertanian atau perkebunan saja, tetapi dalam arti luas pertanian juga melingkupi sektor kehutanan, peternakan, bahkan perikanan (darat dan laut). Selain sebagai penyedia pangan bagi penduduk Indonesia, sektor pertanian juga berperan sebagai penyedia bahan baku industri baik industri makanan, tekstil, maupun kimia. Sektor pertanian yang masih menggunakan prinsip padat karya juga berperan sebagai penyedia lapangan kerja dan usaha. Terakhir, sektor pertanian juga berperan sebagai penghasil devisa negara lewat komoditas ekspor yang pada akhirnya turut menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional Rendahnya Kesejahteraan Petani Peran penting yang dipegang oleh sektor pertanian tersebut tak lantas membuat petani menjadi ‘anak emas’ di negeri ini. Buktinya, kesejahteraan petani di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

masih rendah. NTP adalah indikator proxy kesejahteraan petani dengan membandingkan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Jika NTP lebih besar dari 100, maka petani mengalami keuntungan. Jika NTP sama dengan 100, maka petani mengalami Break Even Point (tidak untung maupun rugi), dan jika NTP kurang dari 100, maka petani mengalami kerugian. Dikutip dari laman Badan Pusat Statistik (BPS), NTP nasional pada Juni 2017 sebesar 100,53 atau naik 0,38 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Meski NTP nasional berada di angka 100,53, namun angka ini hanya selisih sedikit dari angka BEP. Artinya, kesejahteraan petani nasional masih belum maksimal. Koperasi adalah Kunci Utama Menurut Margono dalam bukunya yang berjudul “10 Tahun Koperasi�, mendefinisikan bahwa koperasi ialah perkumpulan manusia seorang-seorang yang dengan sukanya sendiri hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya. Ada azas-azas yang harus dipatuhi oleh semua jenis koperasi dalam segala sistem ekonomi dan sosial. Azas-azas ini disebut dengan General Priciples. General Principles ini adalah hasil kerja dari sebuah komisi yang dibentuk oleh International Cooperative Alliance (ICA) untuk meninjau kembali azas-azas Rochdale. Dalam sistem ekonomi Indonesia,ada tiga pelaku ekonomi yang salah satunya adalah koperasi (Achma Hendra: 2011). Koperasi dapat diklasifikasikan menjadi banyak jenis, satunya adalah koperasi pertanian. Koperasi pertanian adalah koperasi yang beranggotakan para petani, buruh tani, dan orang-orang yang terlibat dalam usaha pertanian. Selain koperasi pertanian,

45


KOLOM REDAKSI

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok. Edents

koperasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat perdesaan khususnya petani adalah Koperasi Unit Desa (KUD). Kegiatan yang dilakukan KUD antara lain menyediakan pupuk, obat pemberantas hama tanaman, benih, alat pertanian, dan memberi penyuluhan teknis pertanian. Keberadaan koperasi sangat memberi manfaat bagi kehidupan petani. Hal ini berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang sebagian besar adalah petani. Di Kabupaten Semarang terdapat sebuah kecamatan yang merupakan pusat agrobisnis unggulan di Jawa Tengah, yakni Kecamatan Getasan. Bahkan pada Desember 2015 silam, Kecamatan Getasan telah dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang sebagai kawasan atau sentral pertanian hortikultura organik. Melalui pencanangan itu diharapkan para petani dapat memanfaatkan lahan-lahan pertanian yang mereka miliki untuk mulai ditanami atau beralih ke tanaman sayuran organik. Adapun produk pertanian yang dihasilkan di Getasan antara lain seledri, kol putih, tomat, ketumbar,buncis, bawang daun, dan lain sebagainya. Beberapa kelompok tani di kecamatan ini juga telah berhasil mengekspor hasil pertanian mereka ke pasar internasional. Seperti kelompok tani di Desa Tolokan yang mengekspor tanaman leather leaf ke Jepang serta Desa Batur yang mengekspor buncis organik ke Singapura. Keberhasilan kelompok tani dalam memasarkan produknya ke luar Jawa Tengah dan bahkan ke pasar internasional tak lepas dari peran koperasi yang berdiri di Kecamatan Getasan. Ada beberapa jenis koperasi yang ada di Kecamatan Getasan antara lain koperasi pertanian, Koperasi Unit Desa (KUD), dan koperasi simpan pinjam (Kospin). Masing-masing koperasi ini memiliki peran dan kontribusi dalam memajukan petani Getasan. Koperasi Pertanian Getasan melakukan proses produksi bibit bibit tanaman organik yang menjadi komoditas tanam bagi petani petani Getasan. Selain memproduksi bibit-bibit tanaman organik, Koperasi Pertanian Getasan juga memproduksi pestisida alami yang biasa digunakan oleh petani setempat, yaitu Pestisida Nabati CP (CesPleng) dan Biang PGPR (bakteri untuk fermentasi). Tidak hanya bergerak pada bidang produksi

Koperasi sebagai Soko Guru Nasional Dari penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa ketiga jenis koperasi (Koperasi Pertanian, Koperasi Unit Desa, dan Koperasi Simpan Pinjam) saling bersinergi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Getasan. Koperasi Pertanian menyokong dari segi penyediaan input, KUD menyokong dari segi menghimpun hasil produksi, dan Koperasi Simpan Pinjam menyokong dari segi pendanaan. Keberadaan koperasi dapat membantu pemerintah dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan kestabilan harga. Keberadaan koperasi (khususnya KUD) dapat memperpendek mata rantai produk pertanian, dengan kata lain KUD mempunyai potensi untuk menjadi stabilisator harga di tingkat petani. Getasan hanya satu dari sekian banyak contoh implementasi ekonomi berbasis koperasi dalam upaya memajukan kesejahteraan rakyat. Dengan melihat banyaknya manfaat koperasi bagi masyarakat, maka sudah selayaknya pemerintah kembali menggalakkan koperasi sebagai soko guru nasional. (sdw)

Kunjungi! www.lpmedents.com

Peran penting yang dipegang oleh sektor pertanian tak lantas membuat petani menjadi ‘anak emas’ di negeri ini. Buktinya, kesejahteraan petani di Indonesia masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih rendah.

saja, Koperasi Pertanian Getasan juga bergerak pada bidang jasa. Anggota koperasi akan dilatih kemampuannya dalam hal mengurusi ekspor produksi hasil pertanian. Hal ini sematamata guna mewujudkan tujuan dari Koperasi Pertanian Getasan ini, yaitu ingin mensejahterakan petani Getasan lewat jasa mengekspor hasil tani mereka untuk harga jual yang lebih tinggi. Di sisi lain, KUD Getasan mengemban tugas tersendiri dalam memberdayakan masyarakat Getasan. KUD Getasan berfokus untuk menghimpun produk pertanian warga khususnya komoditas susu sapi perah. Susu sapi ini kemudian akan disetor ke Gabungan Koperasi Susu Indonesia yang selanjutnya akan dibeli oleh perusahaan pengolah susu. Hal ini masih sejalan dengan asal muasal pendirian koperasi ini, yakni guna menghimpun dan mengoordinasi susu yang dihasilkan dari peternakan sapi perah yang banyak terdapat di Kecamatan Getasan. Selain dijual ke pabrik pengolahan susu, masyarakat Getasan juga mengolah susu sapi perah menjadi produk turunan lainnya yakni sabun mandi berbahan baku susu. Sabun mandi berbahan baku susu ini sudah dipasarkan di Semarang bahkan sampai ke Sulawesi. Terakhir, terdapat Koperasi Simpan Pinjam yang memberdayakan masyarakat dari segi pendanaan.

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi LPM Edents Tahun 2016/2017

46


OPINI

Nikmat Anugerah dan Kutukan di Atas Panggung Sandiwara Oleh: Aradeya Tangguh Pamungkas*

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Percayalah, manusia pada hakikatnya adalah mahluk yang istimewa. Anggapan anugerah maupun kutukan yang selalu muncul adalah fakta bahwa keistimewaan dalam diri setiap manusia itu ada. Rasa iri dan dengki yang mungkin kerap kali muncul terhadap anugerah orang lain secara tidak langsung adalah pengakuan diri bahwa terlahir di dunia adalah sebuah hal yang istimewa. Orang yang mau memahami perannya justru akan bertanya pada dirinya sendiri, “Dia punya keistimewaan, seharusnya saya juga punya, bukan?” Apapun anggapan kita tentang keberadaan diri di dunia ini, jika mau memahaminya, pada akhirnya akan menjadi sebuah anugerah tersendiri untuk disadari. Setiap manusia terlahir istimewa, tinggal bagaimana kita memahami keistimewaan tersebut. Pelangi terlihat indah karena warna-warna berbeda yang ada dan tiap-tiapnya menampakkan diri dengan penuh percaya diri. Dan warna-warna itu tidak pernah mempertanyakan keistimewaannya untuk bersama-sama hadir di depan setiap mata yang memandang. Oleh karena itu, pahamilah peranmu, kenali lawan mainmu, naiklah ke atas panggung sandiwara itu, dan kamu akan hidup untuk menikmatinya. (sdw)

dok. Edents

Sebagian orang memandang hidup sebagai sebuah anugerah. Sebagian lainnya menganggap hidup adalah sebuah kutukan. “Andai Tuhan tidak meniup ruhku ke dalam tubuh ini, aku pasti sudah tenang di akhirat sampai saat ini,” gumam seorang yang mengutuk kehadiran dirinya sendiri di dunia. Ya, setidaknya saya menganggapnya demikian. Padahal, hidup tidaklah seburuk apa yang orang sesalkan, meski kadang tak juga seindah apa yang orang agungkan. Bagi saya, terlahir di dunia bukanlah sebuah anugerah, bukan juga sebuah kutukan. Meskipun kita tahu bahwa Nabi Adam as.– dengan versi yang hampir sama di semua agama samawi–yang turun ke bumi adalah perkara sebab akibat dari dosa yang ia perbuat. Bagi saya hidup adalah sebuah panggung sandiwara, di mana tepuk tangan penonton menjadi anugerah dan ejekan penonton menjadi kutukan–yang secara linear sama dengan keberuntungan dan kesialan yang kita dapat selama hidup. Dan apa yang selanjutnya terjadi? Pertunjukan tetap dilanjutkan sebagaimana mestinya. Bukti bahwa hidup ada untuk dijalani, bukan perkara menanggapinya sebagai anugerah atau kutukan. Kembali bicara soal panggung sandiwara, tidaklah mungkin sebuah pertunjukan akan menarik dengan hanya satu peran saja yang dimainkan. Begitupun dengan hidup. Tuhan tidak meletakkan ruh-ruh suci ke dalam tubuh-tubuh mungil manusia yang akan lahir ke dunia untuk tidak menjadi apa-apa. Pun menjadi insan yang seragam satu dengan yang lainnya. Ada peran yang dititipkan kepada kita untuk kita jalani, ada perbedaan yang ditebarkan untuk kita syukuri, di kehidupan yang orang bilang keras ini. Yang harus dilakukan adalah bagaimana kita menempatkan diri dalam kehidupan dan melakoni peran sesuai anugerah kita masing-masing. Ada yang terlahir dengan bakat menulis. Ada pula yang terlahir dengan bakat menari. Salah ketika seorang penulis mengeluhkan dirinya yang tidak bisa menari dan ia menganggap bahwa hidup ini tidak adil. Bukannya membatasi ruang gerak, namun penting untuk mengenal diri sendiri dan tahu apa peran kita yang sesungguhnya. Dengan begitu, seharusnya kita tahu bahwa mengutuk kehidupan yang telah Tuhan berikan bukanlah sebuah hal yang pantas untuk dilakukan.

*) *Penulis merupakan Magang Edents 2015. Tulisan ini juga dapat dibaca di Seri Pemikiran Mahasiswa (SPM) LPM Edents dengan tema “Manusia dalam Bingkai Keberagaman”

47


Resensi

dok. twitter.com/alandakariza

Sophismata: Dunia Abu-abu. Tidak jelas, Tapi Memberi Lebih Banyak Oleh : Alyani Shabrina Judul Penulis Tahun Terbit Penerbit Sampul Tebal

: Sophismata : Alanda Kariza : 2017 : PT. Gramedia Pustaka Utama : Soft Cover : 272 halaman

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya—mantan aktivis 1998—yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Tetapi, semakin hari ia justru dipaksa menghadapi berbagai intrik yang baginya menggelikan. Semua itu berubah ketika ia bertemu lagi dengan Timur, seniornya di SMA yang begitu bersemangat mendirikan partai politik. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia pikir Mengidolakan seseorang dan dapat bekerja dengan idola adalah mimpi yang jadi kenyataan versi Sigi. Dia begitu mengidolakan sosok Johar Sancoyo, anggota DPR yang terkenal dengan programnya meningkatkan perekonomian desa dengan mengembangkan koperasi. Namun demikian, perannya dalam siklus kerja Johar tidak cukup untuk membuktikan Sigi memiliki kapasitas lebih dari sekadar pegawai administratif, selalu ada ambisi yang ingin dikejar manusia, begitu juga Sigi. Meskipun dia perempuan dan baru mengenyam pendidikan S-1, ia berharap bisa menjadi tenaga ahli seperti rekan-rekannya. Namun ternyata pemikirannya itu tidak sejalan dengan pemikiran Johar dan Catra yang ia anggap cenderung memiliki paham misoginis. Timur dan teman-temannya bercita-cita mendirikan partai yang setara yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Mereka memberi nama Partai Indonesia Setara dengan cita-cita bahwa setiap kali seseorang menyebut nama partai ini, baik secara lisan maupun tulisan, mereka akan teringat dengan gagasan bahwa Indonesia harus setara. Orang-orang di dalamnya, siapa pun itu, harus memiliki derajat setara, tidak peduli apa kasta, agama, suku, latar belakang pendidikan, dan ekonomi-sosialnya. Tak peduli apakah dia tentara atau warga sipil, perempuan, laki-laki, atau tidak mengidentifikasikan diri sebagai keduanya. Tak peduli apakah orangtuanya pejabat negara atau bukan, berasal dari Jawa atau Papua. Semua orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai kesejahteraan, pendidikan dan lainnya. Bukan cuma orangorang di dalam partai, tapi juga Indonesia sebagai bangsa dan negara. Kita harus berani memiliki tempat yang setara dengan negara-negara lain di dunia, bahkan negara-negara yang mereka bilang maju sekalipun. Meski tema ceritanya tentang politik, isinya pun tidak “melulu” soal politik, beberapa kali terselip sejumlah nama kue atau pastry yang menjadi hobi Sigi yaitu membuat kue. Romantisme ala Sigi dan Timur juga tidak berlebihan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

meskipun masih terlalu sedikit untuk disebut banyak. “Politik adalah tempat kepentingan yang berbeda-beda diakomodir. Seperti memiliki satu pizza yang hendak dimakan banyak orang. Potongan-potongannya dibagikan ke sana-sini. Berapa besarannya? Tergantung proporsi kontribusi mereka terhadap kemakmuran masyarakat. Contoh nyatanya bisa kamu lihat sehari-hari. Misalnya, ketika Presiden bagi-bagi jatah kursi di cabinet untuk birokrat, teknokrat, dan tentunya orang partai,” Membaca novel ini seperti mengajak kita untuk kembali membuka lembaran sejarah politik negeri ini. Betapa kadang kita masih menemukan lubang besar pada sejarah kita sendiri, masih belum paham sebenarnya pergolakan politik seperti apa yang terjadi di masa lalu. Hukum tanpa kekuasaan akan menimbulkan anarki. Sebaliknya kekuasaan tanpa hukum akan menimbulkan tirani. Walaupun secara keseluruhan novel ini cukup menarik mengingat tema yang diangkat cukup membosankan bagi sebagian orang, namun konflik yang dibangun terasa kurang greget. Kehadiran Megara yang tidak lain dan tidak bukan adalah ‘teman main’ Johar kurang bisa membuat konflik dalam novel ini memanas. Pada akhirnya konflik ini bisa selesai hanya dengan mengeluarkan sejumlah uang, seperti yang memang biasanya dilakukan para politikus di luar sana. Pada akhirnya, Sigi memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang lebih banyak bersinggungan langsung dengan politik tersebut. Keluar dari dunia yang menghalalkan segala macam cara untuk tetap terlihat baik di mata publik dan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Ia memilih untuk melanjutkan karier nya bekerja sebagai bagian dari staf kepresidenan, bekerja di bidang eksekutif seperti cita-citanya terdahulu. Walaupun dalam konten yang berbeda kita memang punya peranan dan punya hak untuk memilih peran apa yang ingin kita mainkan. Asalkan peran kita itu nantinya punya dampak yang baik bagi kemajuan bangsa ini. Eksekusi di akhir cerita tidak berakhir menyedihkan ataupun happy ending. Namun cukup sebagai penutup kisah Sigi dan Timur. Membaca novel ini akan membuka sedikit wawasan kita tentang dunia politik dan intrik-intrik di dalamya. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus bangsa, terbuka dengan dunia politik di negeri ini, karena setiap harinya kita akan bersinggungan dengan politik, mau tidak mau. Novel dengan tebal 272 halaman ini bisa jadi teman santai di akhir pekan. (sdw)

48


Review Film

Oleh : Fanny Dinda Aditya

Rilis : 30 Januari 2017 Durasi : 1 Jam 30 Menit Genre : Dokumenter Penulis Skenario : Chris Chuang Sutradara : Brian Oakes, Peter Kunhardt Produser : George Kunhardt, Teddy Kunhardt Pemeran : Warren Buffett, Aiden Linkov Becoming Warren Buffett adalah film yang menceritakan latar dan kisah hidup kesuksesan seorang pembisnis di Omaha, Amerika Serikat. Film ini akan membuat para penonton terinspirasi dengan kesederhanaan dan kendala yang dialami seorang Warren Edward Buffett. Brian Oakes dan Peter Kunhardt mengangkat film ini karena Warren Buffett merupakan salah satu orang pengusaha tersukses dan investor legendaris di Amerika Serikat. Film dokumenter ini menelusuri sejarahnya, mulai sejak kecil dan hingga sekarang. Sumber film ini tidak hanya dari Warren saja, namun dari banyak keluarga dekat dan rekan bisnis warren. Investor legendaris tersebut memulai semua karirnya sebagai anak laki-laki ambisius dan terobsesi angka, yang menjadikannya salah satu orang yang paling dihormati di dunia.

Cerita dan Penokohan Film dimulai berdasarkan urutan bagaimana karir Warren berawal, melalui ketertarikannya dengan membaca buku sejak kecil. Edie Tante dari Warren memberikan buku berjudul ‘The World Almanac’. Mulai sejak itu, Warren semakin terobsesi dengan angka. Saat berumur tujuh tahun dia menemukan buku berjudul A Thousand Ways To Make A Thousand Dollars, yang berisi teori mesin penghitung sen. Lalu, dia kalkulasikan dengan berbagai bayangan yang akan terjadi di perekonomian Amerika Serikat. Warren mewarisi kecerdasan intelektual yang luar biasa dari kedua orang tuanya. Ketertarikannya dengan angka dan sifat ambisius didapatkannya dari sang ibu, sedangkan keahlian strategi bisnis didapatkan dari sang ayah yang bahkan tidak disadari olehnya. Namun, ia pernah ditolak oleh salah satu universitas karena gagal saat tes wawancara. Tetapi, dia tidak menyerah begitu saja, dengan itu ia mencoba mendaftar kembali ke universitas yang lain dengan cara yang berbeda, yakni mengirimkan surat kepada penulis kesukaannya yang ternyata mengajar di sana. Kemudian, ia diterima di universitas tersebut dengan rasa syukur dan sejak saat itu ia sadar bahwa tidak ada apapun yang tidak bisa dilakukan. Berpikir secara kreatif dan mencari jalan yang berbeda adalah kuncinya. Semua orang akan diberikan tingkat kesulitan yang sama. Namun, penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan cara yang berbeda. Hal ini yang membuat ia sangat kompetitif dan ambisius. Kesuksesan Warren Warren memulai bisnis dengan menjual coca-cola dari pintu ke pintu dan menjual koran keliling. Dia sangat senang menjalani bisnis tersebut dan semakin yakin untuk terjun ke dunia bisnis. Perusahaan milik Warren, Berkshire Hathaway adalah perusahaan urutan empat terbesar di Fortune 500. Perusahaan induk ini membawahi antara 70 sampai 80 bisnis yang dioperasikan secara mandiri. Warren mendekor perusahaannya dengan menempelkan beberapa koran yang berisikan tragedi yang pernah terjadi di dunia bisnis, berfungsi

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok.amazon.com

Warren Buffett : Dari Penjual Soda Hingga Kaya Raya

sebagai pengingat bahwa dunia dapat berputar. Selain pembisnis, ia juga merupakan salah satu investor terkenal. Hal itu berawal dari buku investasi yang pertama kali Warrren baca ditemukan di kantor ayahnya. Sekarang ia menjadi orang kedua terkaya menurut Forbes. Dunia investasi sudah sangat dikuasai Warren dengan belajar pada Ben Graham. Maka tidak salah lagi jika perusahaan Berkshire Hathaway sangat sukses. Namun, Warren memiliki gaya hidup yang sangat sederhana dengan tidak menggunakan barang-barang mewah. Karena, dia memiliki prinsip kesopanan, moral, dan integritas yang telah dilakukan sejak dulu sebelum perusahaan ini menjadi sukses. Maka, sesukses apapun perusahaannya, ia akan selalu memberikan beberapa persen dari keuntungan perusahaan untuk disumbangkan. Sisi Positif Kesuksesan tidak dapat diraih dengan mudah, tentu ada banyak rintangan yang harus diselesaikan dengan teliti, cerdik, dan sabar. Walaupun, Warren mendapatkan segala kecerdikannya diturunkan dari kedua Orang tuanya, namun ia selalu memprioritaskan hal positif yang dapat dilakukannya sebaik mungkin. Karena, ia selalu menegaskan bahwa dunia akan berputar. Maka, selagi ia masih memiliki kesuksesannya, ia akan selalu memberikan amal dan hidup dalam kesederhanaan meski ia sebenarnya bisa berhidup mewah. Walaupun ia memiliki banyak uang, ia tidak pernah menghabiskannya dengan sia-sia. Ia selalu membeli barang yang hanya ia perlukan pada saat itu. Warren memiliki banyak sifat yang dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu teliti dalam mengawasi perusahaannya walaupun ia memiliki banyak anak perusahaan. Selain teliti, ia juga memberikan target kepada seluruh anak perusahannya dengan cara memberikan surat setiap tahunnya kepada para CEO yang bertujuan seluruh anak perusahannya sesuai dalam koridor dan berkembang setiap tahunnya. Ia juga selalu berhati-hati dalam memberikan perkembangan laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu, ia memberikan dua peraturan kepada para CEO-nya. Peraturan pertama adalah jangan pernah menghabiskan uang para pemilik saham dan peraturan kedua jangan melupakan peraturan pertama. Maka ia membuat tujuan yang jelas dan meyakinkan para CEO untuk selalu fokus ke tujuan. Warren memulai bisnis sejak tujuh tahun dan membeli saham sejak 11 tahun. Tidak ada salahnya untuk memulai bisnis sejak dini dan berani untuk menerima kegagalan. Marilah berbisnis mulai sekarang yang bisa dimulai dengan hal-hal kecil terlebih dahulu. Banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika terjun ke dalam dunia bisnis seperti, lebih bisa menghargai, mengatur uang, dapat membuka lapangan kerja untuk orang lain, lebih terbiasa untuk berbicara di depan umum, dan lainlakn. (sdw)

49


Apa Kabar Undip ?

Harga Miring, Bagaimana Pelayanan Rusunawa?

Oleh : Fatyatul Ulfa, M. Fauzan

Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) adalah fasilitas tempat tinggal yang disediakan pihak universitas untuk mahasiswa Undip dari luar Semarang. Gedung Rusunawa pertama dibangun pada tahun 2004-2005 dengan bantuan dana dari Kementerian Perumahan Rakyat. Gedung yang pertama dibangun yaitu gedung A. Pada tahun 2005-2006 mulai dibangun tiga gedung (B, C, D) dengan menggunakan bantuan dana dari Kementerian Perumahan Rakyat dan Kementerian Pekerjaan Umum. Tahun 2016, Undip kembali mendapatkan bantuan tambahan satu gedung yang terdiri dari 114 kamar untuk mahasiswi. Bantuan yang diberikan termasuk peralatan kamar seperti kasur, dipan, almari, dan meja belajar. Secara keseluruhan, pembangunan Rusunawa merupakan bantuan dari pemerintah. Pihak Undip hanya menyediakan lahan dan jaringan listrik.

Mahasiswa Bidikmisi Menjadi Prioritas Rusunawa Undip dibangun untuk tempat tinggal mahasiswa Undip khususnya bagi mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi “Jadi yang diutamakan itu Bidikmisi. Jadi sepanjang masih ada kamarnya bidikmisi itu diutamakan.” ucap Darmanto selaku Ketua Badan Pengelola Rusunawa Undip, Pendaftaran dapat dilakuakan melalui online sedangkan pembayarannya dapat dilakukan dengan sistem transfer. Tenggat waktu mahasiswa untuk tinggal di rusunawa adalah satu tahun, tetapi dapat diperpanjang jika penghuni dianggap berkelakuan baik, seperti melakukan pembayaran tepat waktu, tidak membuat keributan, dan tetap menjaga kebersihan. Aturan Ketat Demi Keamanan Susunan pengurus rusunawa atau bisa disebut staff yang terdiri dari empat susunan yaitu, Ketua Pengelola Rusunawa, Bagian Administrasi Rusunawa, Teknisi Rusunawa, serta Satuan Pengamanan (Satpam) Rusunawa. Satpam di tempat hunian ini beranggotakan sekitar 7 orang yang bergantian dalam menjaga, serta memiliki satu penanggung jawab kebersihan di tiap lantai. Rusunawa Undip memiliki peraturan guna untuk mengontrol dan menjaga anggota dan perangkat rusunawa agar tetap tentram, aman dan nyaman. Pertama, untuk tamu yang ingin berkunjung harus melapor serta menulis nama tamu di daftar pengunjung kepada satpam dan meninggakan identitas diri. Kedua, tamu tidak diperbolehkan untuk menaiki tangga ke lantai atas (masuk ke kamar penghuni) kecuali keluarga tamu bersangkutan. Ketiga, diberlakukan jam kunjungan khusus tamu yakni Senin s.d. Jumat batas maksimal kunjungan pada pukul 22.00 WIB, sedangkan untuk penghuni rusunawa memiliki batas maksimal pulang pada pukul 24.00 WIB. Ada Harga, Ada Kualitas Harga sewa yang dibebankan kepada penghuni rusunwa yaitu sebesar Rp 500.000,00 per kamar untuk kamar mandi luar, sedangkan untuk kamar mandi dalam sebesar Rp 700.000,00 per kamar. Satu kamar diperuntukkan dihuni maksimal dua orang. Meski biaya sewanya ‘miring’, Darmanto membeberkan beberapa keunggulan Rusunawa yang memiliki moto Bersih,

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dok. Edents Aman, dan Tenang. “Satu, jadi rusunawa di sini itu meronggak satu kampus. Satu pintu inikan pertama keamanan. Yang kedua coba dipersani penataan lingkungan, tanaman-tanaman itu semua memberikan oksigen bagi kita semua, kemudian ada pengelolaan limbah jadi limbah yang buat mandi di sana disaring dan masuk jadi kolam ikan kan ada,” terang Darmanto. Selain itu, bekas air wudhu di rusunawa juga disaring dan dimanfaatkan untuk kolam ikan. “Jadi aspek lingkungan itu kan juga sangat ini, pengelolaan limbah juga. Jadi penataan landscape, kabersihan itu kita tekankan. Jadi kenyamanan, keamanan, kebersihan itu merupakan moto kita,” tutur Darmanto. Keamanan lingkungan Rusunawa juga terjamin, karena petugas satuan pengamanan (satpam) melakukan pergantian kerja 3 kali sehari sehingga rusunawa terjaga selama 24 jam. Darmanto tidak menampik jika rusunawa juga memiliki kelemahan, baik dalam hal pelayanan maupun fasilitas, “Jadi yang namanya kelemahan itu ya tadi kan ada riak-riak kecil seperti helm. Sebenarnya juga ngga hilang, usil. Jadi langsung pinjam tidak bilang nanti kembali ditaruh di sini nah yang punya tadi kan bingung gitu. Saya kira kekurangannya itu kemudian kalau lingkungan kebersihan saya kira cukup. Air juga cukup. Kadang-kadang ada pompanya itu terbakar. Kamudian kita beli sampai satu hari itu 12 tanki. Tetapi jarang terjadi.” ujarnya.

Rusunawa di Mata Penghuninya Mahasiswa yang menetap di Rusunawa Undip juga memiliki pendapat tentang pelayanan dan fasilitas di rusunawa. “Keunggulannya murah tentu saja, sudah bisa mendapatkan fasilitas wifi, listrik, air dan corner belajar untuk gedung A, ditambah ada dapur kering dan juga kamar mandi dalam untuk gedung B. Dapat mengenal banyak teman dari fakultas lain, keamanan terjaga, serta (tempat) parkir yang luas,” tutur Andi Eko, salah seorang penghuni rusunawa. Selain itu, Andi juga menuturkan keunggulan rusunawa Undip lainnya yakni dekat dengan fasilitas olahraga seperti stadion dan waduk Undip. Andi turut megeluhkan kekurangan dari rusunawa Undip. “Kekurangannya seperti kamar hanya sebatas plester saja, jadi harus pasang karpet plastik sendiri. Banyak kucing yang sering buang kotoran sembarangan. Akses wifi kurang luas untuk jangkauannya,” tutur Mahasiswa Departemen Akuntansi 2015 ini. Selain itu, ia juga mengeluhkan kantin yang tidak beroperasi lagi, petugas satpam yang kurang ramah, dan kurangnya teknisi untuk menyelesaikan masalah di rusunawa. Hal senada juga dituturkan Wibowati, mahasiswa Akuntansi 2015 “Keunggulannya harganya murah, kamar mandi dalam dan ada dapurnya di dalam kamar. Untuk kekurangannya wifinya kadang mati, airnya kadang mati.” jelasnya. Terlepas dari kekurangan yang ada, rusunawa Undip terus berbenah demi mewujudkan pelayanan optimal bagi penghuninya. Kini, penghuni rusunawa semakin dimanjakan dengan adanya halte Bus Rapid Transit (BRT) koridor V dan VI yang beroperasi di dekat rusunawa. BRT koridor V melayani rute PRPP-Mesteseh sementara koridor VI melayani rute Undip Tembalang-Unnes. (sdw)

50


Mengenal Lebih Dekat Badan Audit Kemahasiswaan (BAK) dok. Edents

Oleh : Nisrina Nuril Mala

Hingga saat ini, baru lima universitas di Indonesia yang sudah mempunyai BAK, yaitu Universitas Indonesia, Politeknik Keuangan Negara STAN, Universitas Padjadjaran, Universitas Telkom, dan Undip. Kelimanya menjadi inisiator terbentuknya BAK seluruh Indonesia. Badan Audit Kemahasiswaan (BAK) adalah lembaga independen yang bertugas memeriksa pengelolaan laporan keuangan organisasi mahasiswa yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip). Berdirinya BAK diprakarasi oleh Senat Mahasiswa (Sema) FEB Undip. Awalnya, pada tahun 2016 Sema FEB Undip melakukan kunjungan ke DPM FEB UI yang sudah terlebih dahulu membentuk BAK. Kemudian senat mahasiswa FEB Undip berinisiatif untuk membentuk Badan Audit Kemahasiswaan di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Sebelum terbentuknya BAK, mereka melakukan pembentukan panitia khusus (pansus) yang diprakarsai oleh Galuh Novinda (Ketua Sema FEB 2016). Pansus ini diketuai oleh Vita (Akuntansi 2014) yang bertugas untuk memersiapkan berdirinya BAK FEB Undip. “Karena masa jabatan senat mahasiswa 2016 sudah berakhir, maka pembentukan BAK dilanjutkan oleh fungsionaris tahun 2017. Sampai kemudian dilaksanakan oprec BAK yang merupakan bentuk keseriusan dari fungsionaris sebelumnya ke fungsionaris berikutnya,� ungkap Wakil Ketua BAK, Renny Hapsari Kusmaningrum. BAK sendiri sudah diresmikan oleh senat mahasiswa FEB Undip dengan Mustofa Hanif Jatmiko sebagai ketuanya. Wujudkan Tata Kelola Keuangan Sesuai Standar Saat ini anggota BAK sebanyak 25 orang yang terdiri dari angkatan 2014, 2015 dan 2016. Renny mengatakan salah satu tujuan BAK yaitu mewujudkan tata kelola keuangan yang sesuai dengan standar di semua organisasi mahasiswa (ormawa). Hal ini dimaksudkan agar terjadi kesetaraan setiap ormawa dalam menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan standar. Jihan Maulana Fikri, Wakil Ketua Sema FEB Undip 2017, mengungkapkan dibentuknya BAK berhubungan dengan status Undip yang menjadi Perguruan Tinggi Negeri-Berbadan Hukum (PTN-BH). Pihak Rektorat Undip secara periodik akan diaudit oleh BPK RI. BAK inilah yang nantinya akan membantu BPK dalam melakukan audit di lingkup mahasiswa atau ormawa. Hasil audit kemudian akan disetor ke pihak dekanat. Hingga saat ini, baru lima universitas di Indonesia yang sudah mempunyai BAK, yaitu Universitas Indonesia, Politeknik Keuangan Negara STAN, Universitas Padjadjaran, Universitas Telkom, dan Undip. Kelimanya menjadi inisiator terbentuknya BAK seluruh Indonesia. Bekerjasama dengan BPK RI Regional Jateng Tahun 2017 ini merupakan tahun pembinaan bagi seluruh

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

organisasi mahasiwa FEB Undip agar dapat menyusun laporan keuangan yang sesuai standar. Pembinaan tersebut baru akan dilaksanakan setelah BAK melakukan pelatihan pada bulan Agustus dan September. Sebagai bentuk keseriusan dalam melatih anggotanya, BAK bekerjasama dengan BPK RI Regional Jateng. Di sini, anggota BAK akan dilatih oleh praktisi yang profesional dan andal. Mereka juga akan memperoleh sertifikasi dari BPK yaitu Sertifikat Auditor Taraf Mahasiswa, sehingga bisa melakukan audit dan memberikan opininya. Hasil audit ini nantinya akan disetorkan kepada senat mahasiswa sebagai tolak ukur kinerja ormawa yang bersangkutan. Selain itu, hasil audit ini nantinya juga akan dipublikasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan dana ormawa. Apabila nanti ditemukan kesalahan dalam penyajian laporan keuangan, maka BAK tidak akan memberikan sanksi. Reny menegaskan bahwa BAK hanya melakukan audit dan memberikan opini atas hasil audit. Senat mahasiswa-lah yang nantinya akan mengambil tindakan atas kesalahan tersebut, baik berupa teguran ataupun sanksi. Namun karena tahun ini masih merupakan tahun pembinaan, BAK belum bisa melakukan audit kepada semua ormawa. BAK sendiri menargetkan, setidaknya tahun ini ada satu ormawa yang dapat dijadikan sebagai percontohan audit. Harapannya tahun ini semua kesalahan yang terjadi dalam pelaporan keuangan dapat diminimalkan sehingga tahun depan audit dapat dilakukan kepada semua ormawa. Dalam melakukan audit, BAK menggunakan metode CACM (Continue Audit Continue Management). Program kerja ormawa yang berbeda-beda membuat BAK akan menyesuaikan kinerjanya dengan ormawa yang ada. Inilah alasan mengapa BAK menggunakan metode CACM dalam melaksanakan pemeriksaan. BAK juga tak bisa memastikan bahwa audit akan dilaksanakan secara berkala, misalnya tiga bulan sekali. Proses audit akan dilaksanakan secara continue selama periode berjalan. BAK sendiri memiliki rencana jangka panjang untuk memberikan reward bagi omawa yang dapat bekerjasama dengan baik selama proses pengauditan. Badan yang memiliki kedudukan setara dengan Unit Kegiatan Mahasiswa-Fakultas (UKM-F) lainnya ini berharap bisa melatih mahasiswa sejak dini untuk memberikan keterbukaan informasi dalam bentuk laporan keuangan. Sehingga dapat membentuk sikap tanggung jawab organisasi mahasiswa untuk merealisasikan laporan keuangan yang transparan, akuntabel dan kredibel. (sdw)

51


PENA ALUMNUS

Perempuan dan UMKM Oleh: Gita Suksesi*

dok. library.com

Modal yang sedikit dan manajemen yang sederhana menjadi alasan mengapa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin menjadi tren di Indonesia. Bersumber dari Kementrian Koperasi dan UMKM, selama tahun 2011 sampai 2012 terjadi pertumbuhan pada UMKM serta penurunan pada usaha besar. Usaha besar turun sebesar 1,03 persen dari yang sebelumnya mencapai 41,95 persen menjadi 40,92 persen pada 2012. Sebaliknya, UMKM mengalami peningkatan sebesar 4,04 persen. Jika pada 2011 UMKM hanya 58,04 persen, maka pada 2012 naik menjadi 62,08 persen. Meski memiliki skala usaha yang kecil, namun UMKM menunjukkan eksistensinya saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998. Saat itu, UMKM relatif mampu bertahan dibandingkan perusahaan besar. Hal ini dikarenakan UMKM tidak terlalu tergantung pada modal yang besar atau pinjaman dari luar dalam mata uang asing. Potensi Perempuan Indonesia Di balik tren UMKM yang kian meningkat, ternyata tak lepas dari peran para perempuan di Indonesia. Jumlah pengusaha perempuan memang lebih banyak berada dalam skala mikro, kecil, dan menengah. Data dari Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2015 menunjukkan bahwa dari sekitar 52 juta pelaku UMKM yang ada di Indonesia, sebanyak 60 persen usaha dijalankan oleh perempuan. Pengusaha perempuan semakin meningkat tiap tahunnya. Asia Foundation menunjukkan bahwa sekitar 23 persen pengusaha di Asia adalah perempuan. Selain itu, jumlahnya bertambah 8 persen setiap tahunnya. Pilihan atau Kebutuhan (?) Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih banyak terjun di usaha mikro atau skala kecil. Hal ini

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

dikarenakan perempuan lebih memilih jenis bisnis yang masih berada dalam lingkup keseharian. Terdapat beberapa alasan mengapa perempuan mendirikan usaha. Alasan pertama adalah karena pilihan. Sebagian perempuan menjalankan usaha dengan alasan ingin mandiri atau menganggap bahwa wirausaha adalah passion mereka. Di sisi lain, banyak juga perempuan yang mulai membuka usaha karena kebutuhan atau faktor ekonomi. Tak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan atau dapat dikategorikan sebagai penduduk miskin. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada September 2016 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70%). Oleh karena itu, para perempuan utamanya yang sudah menikah dan merasa penghasilan dari pasangan tidak mencukupi kebutuhan hidup, akhirnya memilih membuka usaha. Pada akhirnya, baik itu masalah pilihan atau kebutuhan, keberadaan perempuan sebagai pengusaha UMKM perlu diberdayakan. Hal ini mengingat UMKM mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.

Nilai Positif Menjamurnya pengusaha perempuan, tentunya akan membawa dampak positif juga bagi lingkungan sekitarnya. Menurut data dari BPS, usaha mikro mampu menyediakan 99,04% lapangan kerja nasional. Data tersebut menunjukkan bahwa UMKM mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Kemudian, dengan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan, diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pengangguran pada 2016 mencapai 5,5 persen atau sekitar 7,02 juta orang. Selanjunya, jika jumlah pengangguran berkurang, maka

52


PENA ALUMNUS

Data dari Kementerian Koperasi dan UMKM tahun 2015 menunjukkan bahwa dari sekitar 52 juta pelaku UMKM yang ada di Indonesia, sebanyak 60% usaha dijalankan oleh perempuan.

dok. Pribadi

penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pun diharapkan terus berkurang. Dampaknya, tingkat kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi untuk membantu perekonomian keluarga serta negara.

Hambatan dan Kendala Dari berbagai potensi pengembangan UMKM bagi perempuan, nyatanya juga tak lepas dari beberapa kendala atau hambatan. Secara garis besar, persoalan yang dihadapi perempuan digolongkan menjadi dua aspek, yaitu ekonomi dan politik. Aspek ekonomi berkaitan dengan teknis pelaksanaan usaha. Manajemen keuangan yang masih sangat sederhana menjadi salah satu hambatannya. Perempuan biasaya masih menggabungkan uang usaha dengan uang untuk keperluan rumah tangga. Alhasil, modal usaha pun seringkali terkikis guna mencukupi kehidupan sehari-hari keluarga. Tak dapat dipungkiri, dalam berwirausaha modal menjadi peran utama. Maka, kekurangan modal pun turut menjadi hambatan bagi pengembangan usaha. Hambatan lainnya ialah keterbatasan penguasaan teknologi yang tepat guna. Para perempuan, utamanya yang hidup di daerah pedesaan kurang memahami teknologi sehingga usaha yang dijalankan kurang berkembang. Terbatasnya penguasaan ketrampilan manajemen dan penguasaan teknis produksi juga menjadi hambatan yang lainnya. Selain itu, mobilitas yang dimiliki oleh perempuan juga terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Tak ayal, usaha yang dirintis oleh perempuan, setelah semakin berkembang, pada akhirnya bergeser kepemilikan formalnya kepada laki-laki. Aspek selanjutnya ialah aspek politik atau yang berkaitan secara struktural. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa modal menadi faktor penting. Selanjutnya dalam rangka mengumpulkan modal, perbankan menjadi salah satu alternatif. Proses peminjaman ke bank inilah yang menjadi salah satu hambatan dari aspek politik. Pinjaman yang diberikan oleh pihak perbankan masih menekankan kepada kepala keluarga sebagai penerima manfaat. Jika dalam membangun usaha, para perempuan didukung sepenuhnya oleh pasangannya, hal ini nampaknya tidak menjadi masalah. Namun, pada kenyataannya masih terdapat perbedaan paham mengenai kedudukan permpuan berdasarkan struktur dan budaya di Indonesia. Kesensitifan gender menjadi salah satu hambatan

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

perempuan dalam mengembangkan usahanya. Semakin majunya usaha yang dimiliki oleh perempuan, pada akhirnya seringkali menimbulkan kesenjangan terhadap pasangan dan keluarganya. Beberapa kendala yang telah disebutkan, semestinya harus segera diatasi. Misalnya, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mempermudah pemberian pinjaman kepada perempuan. Selain itu, sosialisai mengenai teknologi dalam pengembangan UMKM juga harus dimaksimalkan. Seiring kemajuan zaman, maka diharapkan dari mulai proses produksi hingga pemasaran UMKM dapat memanfaatkan teknologi sehingga lebih modern.

Usaha Pemerintah Pemerintah pun mulai menyadari pentingnya memberdayakan perempuan di bidang UMKM. Dikutip dari kemenkeu.go.id, Mardiasmo selaku Wakil Menteri Keuangan menyampaikan bahwa saat ini pemerintah telah menggerakkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit UMKM. Melalui program tersebut, pemerintah ingin memperbesar akses kepada perempuan yang berkecimpung di usaha kecil atau industri rumahan. Perhimpunan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) juga menyatakan komitmen untuk mengembangkan UMKM bagi kaum perempuan. Dilansir dari sindonews. com, PPLIPI memposisikan diri sebagai mitra bagi UMKM perempuan untuk memasarkan produknya. Selain itu, PPLIPI juga sedang menjajaki pola kerja sama dengan organisasi internasional untuk mengembangkan rumah belajar. Melalui rumah belajar, peempuan dan masyarakat luas dapat meningkatkan wawasan, ilmu, ketrampilan dan eksistensinya dengan mendapatkan berbagai pelatihan, pendampingan, penyuluhan, dan konsultasi. Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan dalam pengembangan UMKM harus terus diupayakan. Hal ini mengingat jumlah UMKM lebih banyak daripada usaha besar namun masih memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) yang sedikit. Dengan adanya perhatian dari pemerintah dan masyarakat luas, UMKM diharapkan dapat semakin berkembang dan menjadi peran utama dalam pembangunan ekonomi nasional. (sdw) *Penulis merupakan Pemimpin Redaksi LPM Edents tahun 2015

53


Kajian Jurusan

Tax Amnesty: Dari Pengkhianatan Hingga Penjahat Berkerah Putih Oleh: Endang Kiswara*

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

Seperti yang tadi saya bilang, terlalu mahal. Memberi bonus pada mereka yang tidak taat membayar pajak sementara mencederai yang patuh. Saya kemarin usul agar terobati kekecewaan bagi wajib pajak yang patuh, bagaimana kalau satu tahun wajib pajak yang patuh itu dibebaskan dari membayar pajak. Jadi, itu seimbang. Tetapi coba bayangkan, dalam setahun tidak bayar pajak, padahal 80% penerimaan negara itu bersumber dari pajak. Tetapi jika untuk asas keadilan, mengapa tidak? Menanggapi pernyataan Ibu Sri Mulyani yang membangga-banggakan Tax Amnesty sebagai prestasi yang luar biasa dari Indonesia karena memecahkan rekor pengumpulan dana deklarasi pajak, maupun dana repatriasi terbesar di dunia, bahkan mengalahkan Italia, saya tidak setuju. Itu bukan prestasi! Justru itu menunjukkan betapa buruknya sistem perpajakan Indonesia selama ini. Dana repatriasi sebanyak 147 T yang terkumpul itu sumbernya dari orang yang selama ini luput dari identifikasi pemerintah s e b a g a i pembayar pajak,

dok. Pribadi

Periode Tax Amnesty (pengampunan pajak) sudah berakhir sejak 31 Maret 2017 lalu. Ini merupakan ketiga kalinya Indonesia menerapkan kebijakan Tax Amnesty dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak yang nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan negara, salah satunya pembangunan infrastruktur. Namun, apakah Tax Amnesty ini merupakan sebuah contoh kebijakan yang efektif? Saya dari awal sudah pernah dimintai pendapat tentang Tax Amnesty, sebelum mulai diberlakukan Tax Amnesty pada Juli 2016 lalu. Saya sebagai wajib pajak, sebagai warga negara tidak setuju dengan Tax Amnesty ini. Karena apa? Tax Amnesty ini mencederai atau melanggar ketentuan perpajakan tentang sanksi pajak, karena dia memberikan potongan terhadap sanksi administratif. Artinya tidak sesuai dengan KUP untuk kondisi pelanggaran pajak, Tetapi karena saya memahami kebutuhan pemerintah, di mana Presiden Jokowi sedang berobsesi untuk membangun infrastruktur sebanyak mungkin, padahal tidak punya uang. Nah, Tax Amnesty ini menjadi salah satu alternatif. Walaupun menurut saya, dengan cara seperti itu pun, terlalu mahal. Artinya hanya dapat uang kira-kira 140 T padahal kebutuhan untuk infrastruktur ini menurut Menteri PUPR sebanyak 4500 T, jadi tidak material menurut bahasa Akuntansi. Ditambah lagi, mencederai ketulusan dari orang-orang yang selama ini taat membayar pajak. Dengan bahasa yang kasar, mengkhianati. Mereka taat membayar pajak sebagai wujud bakti mereka kepada negara, ingin membantu negara dalam pembiayaan. Yang kedua, mereka patuh karena untuk menghindari sanksi. Nah sekarang Tax Amnesty ini kan malah memberikan diskon pada mereka yang melanggar. Tax Amnesty jika sering dilaksanakan akan buruk, karena tujuannya adalah titik tolak untuk menuju sistem yang lebih baik. Baik dalam sistem penagihan, administrasi maupun sistem pengelolaan pajak. Menurut data, dana yang terkumpul dari deklarasi harta mencapai 4881 T, dengan rincian dari dalam negeri 3698 T, dan luar negeri 1036 T. Nah dari sini kita sudah bisa melihat kalau tujuan utama dari Tax Amnesty ini gagal, karena yang seharusnya diutamakan adalah repatriasi, tapi ternyata lebih banyak yang berasal dari dalam negeri. Padahal kalau deklarasinya lebih banyak dari dalam negeri, justru menampar sistem perpajakan kita selama ini. Artinya pajak tidak bisa mengidentifikasi objek pajak dengan benar.

54


Kajian Jurusan

dok. bisnis.com

padahal mereka berpotensi memiliki kekayaan yang pantas dikenai pajak. Jadi seharusnya Ibu Sri Mulyani itu tidak bangga, itu buruk. Kemudian Tax Amnesty ini juga digunakan oleh wajib pajak yang tidak terdaftar untuk mendaftar, kemudian juga mengejar UMKM. Itu salah treatment dan berarti salah judul. Harusnya judulnya bukan Tax Amnesty, tapi Revolusi Pendataan Pajak. Kedua hal ini berbeda. UMKM apakah salah? Orang yang belum terdaftar pajak apakah salah? Itu bukan salah mereka, yang salah itu aturan dari Dirjen Pajak, kenapa tidak bisa mengidentifikasi mereka. Berarti sistem negara ini ada yang salah, ada lubang. Ada sesuatu yang tidak ter-record dengan baik. Ada data yang menarik tentang Tax Amnesty kemarin. Bahwasanya peserta Tax Amnesty yang dari non UMKM mencapai 61.873 WP, atau sekitar 16%. Sedangkan yang UMKM mencapai 14.338 WP. Lalu, peserta Tax Amnesty yang berupa badan itu mencapai 76.211 WP. Ini adalah sebuah ironi! Karena WP badan itu seharusnya yang paling mudah teridentifikasi karena mereka pasti butuh izin. Tetapi kenapa bisa sampai lepas? Dan lebih ironi lagi, di saat-saat terakhir penutupan Tax Amnesty kemarin, ada seorang WP yang membayar tebusan hampir 1 T. Jika 1 T itu hanya 5% dari hartanya, maka berapa jumlah harta yang ia miliki? Mencapai 20 T, kok bisa sampai tidak teridentifikasi? Nah ini menunjukkan bahwa sistem pajak bermasalah. Lebih mengejutkan lagi, WP yang membayar 1 T itu dia adalah termasuk WP besar, yaitu WP yang menjual sahamnya di bursa. Kan sangat mudah terlihat? Terang benderang. Tetapi kenapa sampai 20 T hartanya itu sampai tidak teridentifikasi oleh pajak? Kasus lainnya yaitu, sumber dari Pak Ken (Dirjen Pajak), ada seorang WP yang membayar repatriasi karena

dia punya uang tunai 150 T. Itu sebenarnya dia bisa kena aturan mengganggu stabilitas moneter, dia bisa ditangkap. Tetapi dalam aturan Tax Amnesty kan harus dilindungi, dia ada jaminan untuk dilindungi jati dirinya, makanya Pak Ken tidak bicara apa-apa. Tetapi justru itu adalah indikasi buruk bahwa di Indonesia ternyata banyak sekali penjahat berkerah putih (mafia). Menanggapi hal lain, mengenai rencana pemisahan Dirjen Pajak dari Kemenkeu menjadi badan mandiri, dengan Dirjen Pajak di bawah Presiden langsung, menurut saya itu tidak penting. Memang apa bedanya jika Dirjen Pajak di bawah Kemenkeu atau tidak? Yang menjadi masalah saat ini yaitu performance. Sistem penagihan, pengelolaan pajak, itu yang menjadi masalah, sangat buruk di Indonesia. Tax Amnesty dikatakan berhasil atau tidak, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Jika dilihat dari sudut pandang pemerintah, dikatakan berhasil. Sedangkan dari sudut pandang saya sebagai ilmuwan Akuntansi Perpajakan, itu menampar sistem perpajakan Indonesia selama ini. Itu menandakan betapa buruknya sistem perpajakan Indonesia. Dari sudut pandang peserta Tax Amnesty, sukses. Mereka berhasil menyembunyikan harta mereka selama ini, dan mendapatkan diskon yang sangat besar. Sesuai perkataan Adam Smith, sistem perpajakan adalah suatu cermin kebijaksanaan. Negara mempunyai niat untuk mensejahterakan rakyatnya, tapi tidak punya uang. Lalu ia mengetuk hati rakyatnya untuk membayar pajak, yang nantinya akan dikembalikan lagi kepada rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika dilihat dari perspektif Adam Smith ini, Tax Amnesty dikatakan tidak bijaksana. (sdw)

* Penulis merupakan akademisi FEB Undip

EDENTS

Volume 2 Edisi XXVII Tahun 2017

55


Sa hn i za T, S. E

Ty as W ,S . E

Di l l a Z, S. E

I da M ,S . E

M us l i m ah ,S . E

Da r a A, S. E

Ai sy ah ,S . E

An as t an i a S, S. E

Pa nj al u, S. E Al an F, S. E

Fa j ar S, A. M d

Be nn a A, S. E

Di ch a, S. E

Le on ar du sA ,S . E

E S. uh l a G Al ph on so Y, S. E


Majalah vol 2 edisi XXVII November 2017  
Majalah vol 2 edisi XXVII November 2017  

LPM Edents mempersembahkan Majalah Edents Volume 2 Edisi XXVII dengan tema utama "Wujudkan Ekonomi Mandiri Berbasis UMKM". Tema utama ini...

Advertisement